NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saikyou Degarashi Ouji no An’yaku Teii Arasoi V11 Chapter 2

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Chapter 2

Schwartz

Bagian 1

Wilayah kekuasaan Marquis Zweig terletak di dekat pusat bagian utara.

Karena sisi timurnya telah dikuasai Gordon, wilayah itu kini menjadi daerah yang dekat dengan garis front. 

Kota utama wilayah Marquis Zweig, Deuce.

Kami sedang menuju ke sana. 

“Kalau tidak salah Marquis Zweig adalah seorang tetua yang menjadi tokoh utama faksi pro-keluarga kekaisaran. Apakah beliau punya hubungan khusus dengan Anda?” 

Ketika kota Deuce mulai tampak.

Lars mengajukan pertanyaan itu padaku.

Aku sempat ragu harus menjawabnya bagaimana.

Pertanyaannya sendiri sudah keliru. 

“Pertama-tama... Marquis Zweig bukanlah orang pro-keluarga kekaisaran.” 

“Hah?” 

“Setelah wafatnya Putra Mahkota, Marquis Zweig tidak pernah absen menghadiri upacara dan perayaan di ibu kota. Sebagai wakil kaum bangsawan utara. Karena itulah dia dianggap sebagai pihak yang mendukung keluarga kekaisaran, padahal sebenarnya tidak.” 

“Dilihat dari tindakannya, beliau tampak seperti orang pro-keluarga kekaisaran, bukan?” 

“Dari tindakannya, ya.” 

Setelah Putra Mahkota meninggal, perlakuan dingin terhadap bangsawan utara pun dimulai.

Awalnya hanya sikap yang terasa lebih dingin. Namun, para bangsawan utara yang merasa kematian Putra Mahkota bukan kesalahan mereka, tidak bisa menerima hal itu. 

Seandainya pada saat itu bangsawan utara mau sedikit memahami perasaan mereka yang berada di ibu kota, hubungan mungkin tak akan memburuk. Atau, jika orang-orang di ibu kota bisa menahan emosinya sedikit saja... 

Namun pada akhirnya, hubungan kedua pihak justru makin membeku.

Satu demi satu bangsawan utara menjauh dari pusat. Dan karena mereka menjauh, gunjingan terhadap mereka tidak berhenti, dan perlakuan terhadap bangsawan utara kian keras. 

Di tengah semua itu, satu-satunya yang tidak memutus hubungan dengan pusat pemerintahan adalah Marquis Zweig.

Tapi itu bukan karena dia adalah pendukung keluarga kekaisaran. 

“Yang dia pikirkan adalah Kekaisaran itu sendiri. Jika pertentangan antara keluarga kekaisaran dan bangsawan utara terus berlangsung, negara pada akhirnya akan terpecah. Karena itu, dia terus tampil sebagai wakil bangsawan utara. Dia terus menjadi sasaran setiap suara kebencian. Betapa pun tidak adilnya perlakuan yang diterima, beliau tidak pernah membalas. Jika dengan begitu duka karena kehilangan Putra Mahkota sedikit mereda, jika dengan begitu amarah tidak diarahkan ke seluruh utara, maka itu sudah cukup baginya.” 

Bukan karena dia ingin mengunjungi ibu kota. Sudah pasti semua itu tidak menyenangkan baginya.

Namun dia tetap datang. 

Kekaisaran goyah setelah kehilangan Putra Mahkota. Untuk menstabilkan keadaan, Ayahanda tidak bisa menggunakan cara paling mudah, yakni menyerang Negara Bagian.

Tanpa pelampiasan, amarah akan terus membara. 

Yang diarahkan kepada bangsawan utara adalah kesedihan karena kehilangan Putra Mahkota, dan amarah yang seharusnya ditujukan kepada Negara Bagian. Sebagai gantinya, bangsawan utara dijadikan sasaran.

Perasaan bahwa itu semua tidak adil, aku mengerti. Ayahanda tahu hal itu, tapi tidak melakukan apa-apa. Kalau dia meminta agar perlakuan dingin terhadap bangsawan utara dihentikan, harus ada tempat pelampiasan yang lain.

Ayahanda tidak mampu menyediakannya. Beliau pun sudah kewalahan. 

Bagi Ayahanda, keberadaan Marquis Zweig adalah semacam penyelamat. 

Demi negara, Marquis Zweig menjadi wadah bagi segala kebencian.

Gunjingan saja tidak cukup, amarah yang dipendam terlalu besar sehingga butuh sesuatu untuk menyalurkannya. Karena itulah kedatangan Marquis Zweig memiliki arti. 

“Dia terus bertahan. Dia menanggung sendirian setiap kebencian tak masuk akal yang ditujukan kepada bangsawan utara. Bukan karena dia menyukai keluarga kekaisaran lalu melangkah riang ke ibu kota. Dia menguras hatinya demi negara, demi rakyat, dan datang ke ibu kota tanpa boleh mengeluarkan bantahan, hanya untuk menerima semua celaan itu.” 

Padahal, seharusnya itu adalah peran keluarga kekaisaran.

Jika Putra Mahkota telah tiada, maka keluarga kekaisaran harus menyiapkan panji pengganti dan menenangkan negara dengan baik.

Namun hal itu tidak terjadi. Dan karena itu, semua beban itu ditimpakan pada satu orang tua saja. 

“Begitu rupanya... Jadi itulah alasan Yang Mulia menghormati beliau.” 

“Kurang lebih begitu.” 

Aku mengakhiri percakapan di situ.

Selebihnya bukan sesuatu yang perlu diceritakan kepada orang lain.

Itu adalah kenangan berharga yang kusimpan dalam hati. 

Saat aku masih kecil, ketika Putra Mahkota masih hidup.

Aku sering diganggu oleh Geed dan kawan-kawannya. 

Itu terjadi terus-menerus, dan yang merepotkan bukan hanya Geed, tapi juga para pengikutnya.

Sejak kecil aku sudah tahu bahwa jika aku memakai statusku sebagai anggota keluarga kekaisaran untuk melawan, aku bisa melukai orang lain.

Karena itu aku tidak pernah menggunakannya. Aku tidak bisa.

Aku takut. 

Aku diganggu.

Bila aku mengatakan itu pada Ayahanda, bayangkan hukuman seperti apa yang akan mereka terima. 

Semakin kupikirkan, semakin aku tidak bisa mengatakannya. Lama-lama itu menjadi kebiasaan, dan dosa mereka pun semakin berat. Itu membuatku semakin tidak bisa membuka mulut. 

Aku pengecut. Dan bodoh.

Karena tidak segera mengatakan apa yang terjadi, masalah jadi makin membesar. 

Mungkin kalau hanya Geed, aku bisa mengatakannya. Dia adalah putra seorang bangsawan besar. Mungkin dia hanya akan mendapat teguran keras. Tapi bagaimana dengan para pengikutnya? 

Ada juga anak-anak bangsawan yang, karena hubungan dengan keluarga Duke Holtzwart, terpaksa mengikuti Geed. Mereka tak bisa menolak perintah Geed. 

Kalau aku bicara, keluarga mereka pasti akan dibubarkan.

Yang menyeret mereka dalam masalah memang Geed. Tapi akulah yang tetap diam, yang terus menjadi sasaran tempat dia melampiaskan stres. 

Akhirnya makin banyak anak bangsawan yang terseret. Lama-lama aku dijuluki Pangeran Sisa, menjadi bahan ejekan. 

Dan setelah sejauh itu, aku semakin tidak bisa mengatakan apa pun. 

Aku sangat mengenal sifat Ayahanda. Jika aku tidak mengatakan apa-apa, beliau tidak akan bertindak. Maka aku pun memilih diam. Kupikir, selama aku menahan diri, semuanya akan baik-baik saja.

Pada akhirnya, aku pun terbiasa. 

Saat itulah aku bertemu Marquis Zweig.

Beliau membentak Geed dan yang lain, dan menyelamatkanku. 

Waktu itu, aku pasti terlihat kesal.

Sebagian besar bangsawan tidak akan turun tangan untuk membantu. Mereka lebih takut pada putra sulung keluarga Holtzwart daripada pada seorang pangeran yang tidak pernah menunjukkan pendirian. 

Meski begitu, bukan berarti tidak ada bangsawan yang pernah mencoba membantu. Di awal-awal, masih ada beberapa. Aku justru merasa terganggu, karena melindungi mereka dari akibatnya benar-benar merepotkan. 

Namun, Marquis Zweig tidak membantuku semata karena niat baik.

Kata-kata yang dia ucapkan waktu itu masih takkan pernah kulupakan. 

“Senang akhirnya bisa bertemu dengan Anda. Saya Marquis Zweig, bangsawan dari utara Kekaisaran. Yang Mulia... tindakan Anda sungguh terpuji. Saya, Zweig, benar-benar kagum dari lubuk hati. Luar biasa.” 

Aku pernah ditepuk bahu.

Pernah dimarahi agar tidak menyerah.

Tapi ini pertama kalinya aku dipuji. 

Marquis Zweig memahami alasan mengapa aku diam dan tidak melawan. 

“Yang Mulia begitu lembut, dan begitu kuat. Andai saja saya bisa menjadi seperti Anda.” 

Mengucapkan itu, Marquis Zweig pergi.

Dia menegur Geed dan kawan-kawannya hanya untuk menyampaikan kata-kata tersebut kepadaku, bahkan memberi hormat sebagai tanda kesetiaan. 

Mungkin karena itulah aku bisa percaya bahwa apa yang kulakukan tidaklah salah.

Memperbaiki keadaan sebenarnya mudah, tetapi jika kulakukan, pasti banyak darah yang tumpah. 

Lihat saja Laurenz. Sebisa apa pun seseorang mencoba meredakan keadaan, tetap akan ada yang mati. Kerusuhan memang selalu begitu.

Jika waktu itu, saat aku masih anak-anak yang tak mampu mengubah keadaan, aku pergi menangis pada Ayahanda, hasilnya pasti sesuatu yang tidak kuinginkan. 

Karena itu aku bersyukur. Aku menghormatinya.

Dan aku ingin membalas budi suatu hari nanti. 

Namun selama tiga tahun ini, aku tidak bisa melakukan apa pun untuk Marquis Zweig.

Dia pun tidak pernah meminta bantuanku. 

Satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah, sebagai Silver, menyingkirkan masalah yang mengancam Kekaisaran. Tapi sekarang berbeda. 

Kini aku kembali bergerak sebagai seorang pangeran.

Di kesempatan ini, aku harus mengubah hubungan antara bangsawan utara dan keluarga kekaisaran. Jika itu gagal, tidak ada artinya semua perjuangan ini. 

Andai aku bisa melakukannya bersamanya.

Setidaknya aku bisa menunjukkan bahwa aku telah sedikit tumbuh dewasa.

Aku ingin Marquis Zweig berpikir bahwa lutut yang dia tekuk di hadapanku waktu itu bukanlah sebuah kesalahan. 

“Yang Mulia, sebentar lagi kita bisa melihat Deuce.” 

“Begitu ya. Baiklah, lakukan sesuai rencana.” 

Di perjalanan, kami telah menyusun pengaturan dengan rinci.

Selama Narberitter tidak membuat kesalahan besar, tidak akan ada yang menyadari jati diriku.

Bangsawan utara hampir tidak pernah berurusan dengan pusat. 

Artinya, mereka hampir tidak tahu seperti apa wajah anggota keluarga kekaisaran.

Ciri-ciri umum mungkin mereka tahu, tapi hanya berbekal rambut hitam dan mata hitam tidak cukup untuk menyadari bahwa itu aku.

Lagipula, aku seharusnya sedang berada di ibu kota, tertidur di istana. 

Yang bisa menyadari jati diriku pasti hanya orang yang benar-benar tidak biasa. 

Sambil memikirkan hal itu, kami akhirnya tiba di dekat kota Deuce.

Namun di sana... 

“Yang Mulia! Ada asap! Sepertinya terjadi sesuatu!” 

“Sudah kulihat! Terus maju!” 

Aku menekan perut kudaku dan melesat.

Narberitter segera menyusul dari belakang. 

Ketika kami tiba di gerbang kota Deuce.

Terdengar suara ledakan petir yang begitu besar dari dalam kota. 

Padahal sekarang siang hari. Langit cerah biru.

Itu jelas bukan fenomena alam. 

“Ini sihir.” 

“Dan sihir yang sangat kuat.” 

Tidak diragukan lagi itu sihir modern, dan penggunanya pasti sangat berlevel tinggi.

Ada penyihir tingkat atas di dalam sana. 

Apa yang sedang terjadi? 

Tidak ada penjaga gerbang sama sekali, terlalu lengah untuk sebuah kota besar. 

Kami memasuki kota Deuce begitu saja.

Aku bisa merasakan detak jantungku semakin cepat oleh firasat buruk.

Firasat burukku biasanya selalu tepat. 

Karena itu aku semakin mempercepat laju kuda. 

Ketika mencapai alun-alun kota Deuce, aku melihat sebuah pertentangan. 

Kedua belah pihak memiliki kesatria. Namun salah satunya bersama sekelompok orang yang jelas-jelas seperti bandit, sementara pihak satunya berdiri melindungi para warga yang menangis di belakang mereka. 

Sekilas lihat jelas siapa yang memihak pada rakyat. 

Di sekeliling, beberapa rumah tampak habis dibakar dan dirusak.

Jumlah bandit jauh lebih banyak. 

Namun bagiku itu semua tidak penting. 

Di tengah alun-alun.

Tanahnya menghitam terbakar. Mungkin di situlah petir tadi jatuh.

Di depannya. 

Sebuah peti mati hitam diletakkan. 

Dilihat dari bentuk dan penataannya, itu adalah suatu upacara pemakaman yang megah.

Dan sepertinya para bandit menyerbu di tengah jalannya upacara. 

“Shillings! Kamu berani mengkhianati tuan wilayah yang telah berjasa padamu!?” 

“Tuan wilayah itu sudah mati! Tidak ada lagi yang mengikatku! Aku akan memihak Pangeran Gordon! Dia bilang bakal bayar mahal!” 

Suara-suara itu masuk ke telingaku, tapi isinya seperti tidak dipahami otakku.

Aku hanya terus menggerakkan kudaku perlahan. 

Di belakang, sepertinya Lars berteriak sesuatu, tapi aku tidak memahaminya. 

Tanpa sadar, aku maju dan berada tepat di antara kedua pihak.

Melihat orang asing muncul tiba-tiba, salah satu bandit menghalangiku. 

“Hah!? Siapa kamu!? Tempat ini sudah jadi milik kami!” 

“...Diam. Atau mau kubunuh?” 

“H-Hiii!?!?” 

Dengan tatapan penuh niat membunuh, aku menatapnya.

Bandit itu jatuh terduduk dan mundur ketakutan. 

Setelah itu, aku turun dari kuda dan berjalan gontai ke arah peti mati. 

Nama yang terukir di sana...

“Marquis Adam von Zweig...!”

Itu adalah nama lengkap Marquis Zweig. 

Kenapa? Mengapa ini bisa terjadi?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku, tapi pikiranku menolak memahami arti kata “mati”. 

Ada aku yang berusaha menerima dengan tenang bahwa dia telah tiada, dan ada aku yang tak mampu memahami apa pun dan hanya kacau. 

Perasaanku tercampur-aduk dan tidak bisa kukendalikan. 

Perlahan aku meraih peti itu. Yang menyambutku hanyalah dingin. 

Dingin itu membuatku mengerti bahwa dia benar-benar telah tiada.

Orang yang berjasa padaku sudah tiada. 

“Apa yang kalian lakukan!? Cepat bunuh dia!” 

Kesatria muda yang disebut Shillings itu berteriak.

Melihat dari situasinya, dialah pengkhianat yang menjual Marquis Zweig dan membawa bandit-bandit ini ke tengah upacara pemakaman. 

Orang bodoh yang terjebak dalam bujuk rayu Gordon.

Para biang keladi yang menodai upacara pemakaman Marquis Zweig dan membuat kekacauan di kota ini.

Ah, benar.

Ada satu kata yang bisa merapikan semua perasaanku.

Kata yang pernah diucapkan Shillings.

Jika aku memerintahkan untuk membunuh, semua emosi yang berjejal ini pasti akan tersapu bersih.

Aku punya bawahan yang, bila diperintah, akan melakukannya tanpa ragu.

Mengamankan keadaan pun mudah saja. Tinggal habisi semua.

Namun tetap saja...

Kata sederhana itu tak juga keluar. Semakin ingin kuucapkan, semakin hatiku menolak. 

Aku tahu alasannya.

Aku ingin menunjukkan pada Marquis bahwa aku sudah tumbuh. Ingin membuktikan bahwa lutut yang pernah dia tekuk di hadapanku dulu bukanlah kesalahan.

Karena itu aku tak bisa gagal, aku tak bisa memperlihatkan sisi memalukan, bahkan untuk hal yang dulu bisa kulakukan. 

Marquis Zweig pernah mengakui diriku bukan karena emosi, melainkan karena aku melihat jauh ke depan.

Bahkan waktu itu pun, dia tidak mengucapkan jalan yang mudah. Dia tidak memilih solusi yang ringan.

Maka sekarang, aku tidak boleh memilih jalan itu. 

“Kembali aku dibuat sadar betapa hebatnya Anda...” 

Mengendalikan emosi itu sulit.

Marquis Zweig menahan segala yang tidak adil dalam diam.

Dia terus menekannya demi masa depan yang menantinya.

Karena dia percaya itulah langkah terbaik. 

Di hadapan orang seperti itu, bagaimana aku bisa memperlihatkan kelemahan?

Benahi emosimu sendiri. Apa gunanya memerintahkan pembantaian? Itu hanya akan memuaskan hatiku sesaat.

Ada perintah yang lebih penting untuk disampaikan. 

Tujuanku adalah bergerak dalam bayangan.

Lalu meyakinkan para bangsawan utara.

Kalau begitu, hanya satu hal yang harus kulakukan. 

“Wilayah ini pernah diperintah oleh bangsawan terbesar di utara. Kekacauan tidak pantas ada di sini. Dan para bandit pun... kita tidak membutuhkan mereka. Lindungi rakyat! Jangan biarkan ada korban lagi!!” 

“Serahkan pada kami!” 

Dengan itu, Lars melompat ke hadapan para bandit dan dalam sekejap melumpuhkan beberapa orang.

Lalu dia menoleh. 

“Cukup dilumpuhkan saja, benar begitu?” 

“Ya. Minimalkan pembunuhan. Tangkap dalangnya.” 

“Siap!” 

Para Narberitter berjubah hitam menghunus pedang dan mulai menekan para bandit.

Kesatria-kesatria yang bekerja sama dengan mereka pun segera ditangkap.

Seperti yang diharapkan dari Narberitter, tak satu pun berhasil melarikan diri. 

Kalau tadi aku memerintahkan pembunuhan, kekacauan pasti akan semakin besar. Korban pun meningkat, dan para bandit yang berhasil kabur pun akan ada.

Ini lebih baik. Meski begitu, rasa hampa tetap tersisa di dada. 

Hampir semua sudah terkendali.

Aku mengalihkan pandangan ke peti jenazah dan kembali menyentuhnya. 

“Masih dingin saja...”

Kenapa semuanya tidak pernah berjalan lancar?

Penyakit Ibu tak kunjung sembuh, dan orang yang sangat berjasa padaku telah tiada saat aku baru tiba.

Aku mendorong Leo naik takhta demi negara dan rakyat, tetapi perebutan takhta itu justru membuat negara dan rakyat menderita.

Kenapa aku tak pernah berhasil melakukan apa pun dengan baik? 

“Aku ingin sekali mendengar nasihatmu...” 

Perlahan, tangan yang menyentuh peti itu mengepal.

Ada sensasi dingin mengalir di pipiku. 

“Kamu menangis...?”

Saat menoleh, ada seorang gadis berambut pirang cantik yang berdiri dengan bantuan seorang pelayan.

Rambut panjangnya diikat twintail. Dia mengenakan gaun putih sederhana yang panjang. Wajahnya pucat, tampak begitu sakit hingga berdiri pun seolah menyakitkan.

Benar-benar sosok seorang pasien lemah. 

Mata gadis itu, mata kirinya hijau dan mata kanannya cokelat kemerahan.

Heterokromia, barangkali itulah penyebab besarnya aura sihir yang kurasakan dari dirinya.

Kedua matanya dipenuhi air mata. 

“Kamu juga menangis rupanya...” 

“Tentu saja. Bagaimana aku tidak menangis... orang yang kamu sentuh petinya itu adalah kakekku...”

“...Begitu. Bagaimana Marquis meninggal?” 

“Beliau sudah lama terbaring. Beberapa hari lalu kondisinya memburuk... Semua karena perang ini. Beban pikiran memperpendek umur kakek.” 

“...Turut berduka.” 

Kusampaikan kata itu dengan berbagai emosi, lalu aku berlutut di hadapan gadis itu. 

“Namaku Schwartz. Aku memimpin sebuah kelompok prajurit bayaran. Dulu Marquis pernah menolongku. Aku datang ke sini karena ingin membalas budi.” 

“Hitam... Apa itu nama samaran?” 

“Itu warisan dari ayahku.” 

“Oh... Namaku Charlotte. Senang bertemu denganmu, Tuan Schwartz. Berkat Anda... kami bisa menggelar pemakaman dengan tenang. Maukah Anda... ikut hadir?” 

“Tentu.” 

“Terima kasih...” 

Charlotte berkata lirih, lalu batuk dengan suara yang menyakitkan.

Entah kenapa, sosoknya tampak begitu mirip Ibu, membuatku spontan mengalihkan pandangan.


Bagian 2

Upacara pemakaman berlangsung dengan khidmat.

Tiada kemewahan, namun seluruh rakyat menitikkan air mata. 

Lalu malam pun tiba.

Karena telah membantu, aku diberi sebuah kamar di kediaman sang tuan wilayah.

Padahal awalnya aku berniat berbicara dengan Marquis Zweig tentang masa depan. Namun semuanya berubah total. 

Untuk membujuk para bangsawan utara, aku berencana meminjam pengaruh Marquis Zweig. Untuk bisa membujuk, aku harus membuat mereka bersedia bertemu denganku.

Aku membutuhkan kekuatan jaringan. Bagaimanapun, aku saat ini hanyalah ketua muda dari kelompok prajurit bayaran tanpa prestasi berarti.

Kalau aku harus mengungkap jati diriku kepada setiap orang hanya demi diizinkan bertemu, keberadaanku akan tersebar dan posisiku diremehkan.

Aku harus memilih sendiri waktu yang tepat untuk mengungkap siapa diriku. 

Namun Marquis Zweig yang memiliki pengaruh mutlak di kalangan bangsawan utara sudah tiada.

Semua bangsawan utara berutang budi padanya, dan tak ada yang akan menolak bila beliau yang meminta.

Aku sempat berniat mengumpulkan para bangsawan berpengaruh dan meminta beliau mengadakan pertemuan. Tapi sekarang cara itu tak bisa digunakan lagi. 

“Sungguh merepotkan.” 

“Apa yang merepotkan?” 

Meski hanya bergumam, ada yang menjawab.

Ketika menoleh ke balkon, Charlotte sudah ada di sana.

Dan dia duduk di atas pagar balkon. 

Siang tadi dia terlihat seperti orang sakit parah, tapi sekarang dia tampak sangat segar. 

“...Itu berbahaya, tahu?” 

“Tidak apa. Hari ini kondisiku bagus.”

Dia tersenyum lebar, senyum nakal yang sulit dipercaya. 

Benar-benar tidak bisa dipercaya. 

“Ini bukan soal kondisi tubuh. Kalau jatuh bagaimana?” 

“Hmm... pasti sakit.” 

“Kalau sudah tahu, jangan lakukan itu.” 

“Tapi anginnya enak sekali. Schwartz, kamu juga sini.” 

Dia tertawa kecil, ceria.

Dia ini benar-benar cepat berganti suasana hati.

Sama sekali tidak terlihat seperti cucu yang baru kehilangan kakeknya. 

“Aku ini sedang berduka, tahu?” 

“Aku juga sedang berduka. Justru itu, aku ingin bicara dengan seseorang. Temani aku.” 

“Haa...”


Sepertinya baginya tidak ada pilihan selain memaksaku tinggal.

Akhirnya aku menyerah dan melangkah ke balkon. Charlotte menggantungkan kedua kakinya sambil menatap langit.

Bintang-bintang tampak indah malam itu. 

“Kamu punya utang budi apa pada kakek?” 

“Waktu kecil, dia menyelamatkanku. Bukan hanya itu, dia menunjukkanku jalan yang harus kutempuh.” 

“Itu memang khas kakek. Dia selalu terlalu baik.” 

“Orang baik yang sayang sekali harus tiada. Andai saja aku bisa datang lebih cepat...” 

“Dia sudah lama tidak bisa bangun dari tempat tidur. Jadi jangan dipikirkan. Dokter pun bilang tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Kakek selalu menanggung banyak beban pikiran, mau bagaimana lagi.” 

Setelah mengucap itu, Charlotte menghela napas panjang.

Penyebab beban pikiran itu tak lain adalah konflik antara bangsawan utara dan keluarga kekaisaran.

Kakeknya yang selama ini menjaga keseimbangan rapuh itu seorang diri. Tidak mungkin itu tidak merusak kesehatannya. 

“...Boleh aku bertanya satu hal?” 

“Tanya saja. Apa pun boleh.” 

“Mengapa kamu membiarkan pemberontakan terjadi? Hanya itu jumlah kesatria wilayah ini?” 

“...Kamu tahu tentang perang yang terjadi di utara, ‘kan? Karena itu keamanan di mana-mana memburuk. Para kesatria tersebar menjaga wilayah. Itu sebabnya pemberontakan lolos dari pengawasan. Lalu sisanya salahku.”

“Salahmu?” 

Aku tak menyangka dia akan mengatakan itu tentang dirinya sendiri.

Karena tak terduga, aku sampai balik bertanya. 

Charlotte mengangguk tanpa terlihat terganggu. 

“Iya, salahku. Meski begini, aku sebenarnya seorang penyihir yang super kuat.” 

“...”

“Ah, kamu ragu, ya? Padahal aku jujur loh.” 

“Aku tidak meragukanmu. Aku tahu kamu punya kekuatan sihir yang besar. Dan sebelum masuk kota aku juga melihat kilat besar jatuh.” 

“Benar, itu sihirku. Tapi setelah itu aku jadi lemas... Kalau tubuhku lagi sehat, jumlah mereka yang segitu sih bukan masalah.” 

Dan itu tidak sepenuhnya salah.

Jika dia bisa menembakkan sihir seperti itu dengan mudah, mengalahkan mereka pasti tidak sulit.

Sepertinya para kesatria disebar ke berbagai wilayah karena mengandalkan kekuatannya. Karena itu dia merasa itu kesalahannya. 

Aku mengerti maksudnya.

Namun. 

“Tidak bijak mengandalkan orang yang sedang sakit sebagai kekuatan tempur.” 

“Penyakitku itu unik. Sebagian besar waktu aku baik-baik saja. Hanya kadang tiba-tiba kambuh sampai berdiri pun sulit. Nggak tahu kapan datangnya, kadang cepat pulih, kadang lama. Aku tidak menyangka setelah menembakkan sihir, penyakitnya langsung kambuh...”

“Berarti beruntung kami datang.” 

“Benar. Terima kasih.” 

Dia sungguh-sungguh berterima kasih.

Nada itu sarat perasaan. 

Dalam kekacauan itu tidak ada rakyat sipil yang tewas. Hanya beberapa orang luka. Kerusakan bangunan pun minimal.

Untuk kasus penyusupan bandit ke dalam kota, hasil itu sungguh sebuah keajaiban.

Karena itu kami mendapat ucapan terima kasih. 

Tapi ucapan itu seharusnya bukan ditujukan padaku.

Kenapa wilayah utara kacau?

Karena Gordon mendirikan pangkalan di utara, dan Leo berangkat untuk memburunya. 

Ketegangan kedua pasukan itu memperburuk keamanan. Munculnya bandit yang terbentuk dari tentara yang membelot, pencuri yang menargetkan pasokan perang, dan kejahatan lainnya.

Itu semua adalah tanggung jawab keluarga kekaisaran. 

Saat aku memikirkan itu, Charlotte menatap kota dengan ekspresi dingin. 

“...Kalau sampai kota ini rusak, apa jadinya ya?” 

“Entahlah. Mungkin tuan wilayah lain akan bergerak?” 

“Benar juga. Kakek dihormati banyak orang... tapi aku benci para bangsawan utara. Mereka menyerahkan semua beban pada kakek. Sekarang kalau mereka menolong pun aku tak akan berterima kasih.” 

“...Kalau begitu, kamu pasti lebih membenci keluarga kekaisaran?” 

“Ya. Mungkin mereka itu yang paling kubenci di dunia. Mereka memakai kakek sebagai tempat untuk menampung keluhan, lalu akhirnya malah memicu perang di utara. Karena perang itu, kakek...”

Perasaannya sangat mudah dipahami.

Jika dia keluarga Marquis Zweig, itu wajar.

Keluarga kekaisaran tidak pernah membalas jasa, tidak kepada bangsawan utara, tidak kepada Marquis Zweig. 

Marquis Zweig berjuang keras agar tidak terjadi konflik di utara. Nyatanya perang tetap pecah gara-gara perebutan takhta. 

“Aku benci sang Kaisar. Benci semua pangeran dan putrinya. Tapi yang paling tidak bisa kumaafkan adalah Gordon.” 

“Memang sewajarnya. Dia seharusnya jadi pangeran yang berada di pihak bangsawan utara.” 

“Benar! Tapi dia tidak melakukan apa-apa! Dia hanya mencari muka pada Kaisar, lalu ketika gagal memberontak, dia lari ke utara dan membawa perang ke sini! Tidak akan kumaafkan! Tempat ini... adalah tanah yang kakek lindungi seumur hidup!” 

“Aku setuju. Itu sebabnya aku datang ke sini. Aku tak percaya dia akan diam saja menghadapi pangeran itu. Kupikir aku bisa membantu.” 

“...Kakek sebenarnya sudah bergerak diam-diam. Dia menulis surat kepada para bangsawan utara. Surat untuk mengajak mereka membicarakan masalah di utara.” 

“Memang khas beliau.” 

Dia tak akan asal menyuruh mereka bekerja sama dengan Leo.

Itu hanya akan menyinggung perasaan bangsawan utara. Dia ingin mereka berdiskusi dan menemukan jawaban yang masuk akal.

Itu benar-benar sikap yang sesuai dengan Marquis. 

“Di mana surat itu?” 

“Disimpan dengan baik.” 

“Kalau begitu, bagaimana kalau kamu yang meneruskannya? Aku akan membantumu.” 

Surat itu bisa dibilang adalah wasiat Marquis.

Jika itu ditunjukkan, banyak bangsawan utara pasti akan tergerak.

Apalagi jika cucunya sendiri yang berdiri memimpin. 

Namun... 

“Tidak bisa. Tidak ada surat untuk orang yang hanya bisa dibujuk oleh kakek.” 

“...Duke Lowenstein?” 

“Iya. Selama dia tidak bergerak, bangsawan utara tidak akan bergerak. Dia keras kepala. Apa pun yang dikatakan tidak akan mempan. Satu-satunya yang mungkin bisa menggerakkannya hanyalah kakek. Tapi kakek sudah tiada.” 

“Kamu pun tidak bisa?” 

“Justru karena aku, malah tidak mungkin. Dia bukan orang yang akan bergerak hanya karena kata-kata cucu kandungnya. Dan lagi, aku benci kakek yang satu itu.” 

“...Apa?” 

Apa yang baru saja Charlotte katakan?

Cucu kandung?

Apa maksudnya? 

“Ah, aku belum bilang, ya. Aku Charlotte von Lowenstein. Ayahku adalah putra Duke Lowenstein, dan ibuku adalah putri Marquis Zweig.” 

Artinya. 

Dia juga sepupunya Gordon.


Bagian 3

“Sebas?”

“Saya di sini.” 

Keesokan paginya.

Aku memanggil Sebas. 

Karena tidak wajar bila seorang pemimpin kelompok tentara bayaran membawa serta seorang kepala pelayan, aku memerintahkannya mengumpulkan informasi.

Yah, selain itu aku juga menugaskannya macam-macam hal lainnya.

Tapi yang kubutuhkan sekarang adalah informasi. 

“Siapa sebenarnya Charlotte itu?”

“Beliau adalah putri dari putra kedua Duke Lowenstein. Duke Lowenstein memiliki tiga anak: putra sulung, putra kedua, dan putri bungsu. Meski telah ditetapkan bahwa putra sulung akan mewarisi kedudukan kepala keluarga, karena kesehatannya lemah dan dia dianggap kurang dapat diandalkan, di dalam keluarga Lowenstein ada suara-suara yang mendukung agar Nona Charlotte kelak menjadi penerus kepala keluarga.” 

“Putra sulung itu punya anak?”

“Hanya seorang putri. Masih sangat kecil.” 

“...Lalu orang tua Charlotte?”

“Sudah tiada. Sampai tiga tahun lalu, Nona Charlotte dibesarkan sebagai calon penerus keluarga Marquis Zweig, namun atas keinginan sang Marquis sendiri, beliau dipulangkan ke keluarga Duke Lowenstein.” 

Kalau kuingat, Marquis Zweig hanya memiliki seorang putri.

Sementara keluarga Lowenstein setidaknya memiliki pewaris resmi. Dalam keadaan normal, Charlotte seharusnya dibesarkan sebagai penerus keluarga Marquis Zweig. Kalau tidak begitu, Marquis tidak akan merestui pernikahan putrinya, keluarga mereka bisa terputus. 

Namun, beliau mengirim kembali satu-satunya calon penerusnya ke keluarga Lowenstein.

Tentu itu bentuk pertimbangan. 

“Karena dirinya terus-menerus menjadi sasaran fitnah, Marquis menjauhkan Charlotte...?”

“Sepertinya demikian. Nona Charlotte datang untuk merawat Marquis ketika kondisi beliau memburuk. Karena awalnya memang calon penerus, setelah beliau wafat, Nona Charlotte mengambil alih pengaturan urusan keluarga.” 

“Lalu bagaimana kemampuan sebenarnya?”

“Konon beliau mewarisi bakat terbesar dari Duke Lowenstein yang dijuluki Dewa Petir. Bila reputasinya benar, dia adalah penyihir dengan spesialisasi petir. Sebagai pengguna sihir modern, mungkin salah satu yang terbaik di seluruh Kekaisaran.” 

Salah satu yang terbaik.

Mendengarnya saja aku langsung mengernyit. 

Tentu saja. Salah satu penyihir modern terkuat baru saja meninggal.

Mendengar nada suaraku, Sebas menundukkan kepala. 

“Mohon maaf. Saya kurang berhati-hati.”

“Tidak apa-apa. Hanya perasaan sentimental. Aku yang bodoh karena larut di dalamnya.” 

Apa gunanya merasakan perih setiap kali mengingat masa lalu?

Apakah rasa sakit itu bisa mengembalikan orang yang telah tiada? 

Kakak Zandra tidak akan kembali. Begitu pula Marquis Zweig.

Yang masih hidup tidak boleh tenggelam dalam kenangan. 

Waktu untuk mengenang akan datang setelah kedamaian tercapai. 

“Karena Marquis Zweig sudah tiada, Charlotte harus mengambil alih peran tersebut.”

“Apakah Anda yakin? Artinya Anda akan memanfaatkan cucu sang Marquis?” 

“Itu bukan hal yang baru. Lagi pula, Marquis pasti memang berniat menyerahkannya pada Charlotte sejak awal.” 

“Apa maksud Anda?”

“Dia pasti tahu hidupnya tidak akan lama. Tapi meski begitu, surat yang paling penting, yang seharusnya pertama kali ditulis, tidak ditulisnya. Surat untuk Duke Lowenstein. Justru itu yang dia tunda. Karena beliau bermaksud menyerahkan urusan itu pada Charlotte.” 

Membujuk Duke Lowenstein tentu tidak mudah.

Namun bukan berarti mustahil. 

Charlotte adalah cucu Marquis Zweig sekaligus pernah dititipkan pada Duke Lowenstein, maka mungkin hanya dia yang bisa menggerakkan hati Duke itu. 

Itulah sebabnya Marquis meninggalkan surat untuk para bangsawan lainnya. Selama Duke Lowenstein mau bergerak, pertemuan para bangsawan utara pasti bisa terlaksana. 

“Yang jadi masalah apakah Charlotte sendiri bersedia.”

“Saya pribadi menentangnya. Memberi tanggung jawab sebesar itu kepada seorang gadis yang baru kehilangan keluarganya, kita tidak tahu kapan dia akan runtuh.” 

“Memang. Tapi dia cucu Marquis Zweig. Hanya itu saja sudah cukup untuk dijadikan harapan.” 

Setelah aku berkata begitu, Sebas tidak menambahi apa-apa lagi.


* * *


“Tuan Schwartz, setelah ini kamu mau bagaimana?”

Saat aku diundang ke meja makan pagi, Charlotte menanyakan itu padaku. 

Apa yang seharusnya kulakukan?

Sebenarnya, yang memegang jawabannya bukan aku, melainkan Charlotte sendiri. 

“Turun ke garis depan memang salah satu pilihan, tapi ini perang saudara. Kalau kalah, pekerjaanku setelahnya akan jadi repot.”

“Menjadi tentara bayaran memang susah, ya. Bagaimana kalau kamu bekerja untuk keluarga Marquis Zweig? Kami kekurangan orang.”

“Aku tidak keberatan, tapi aku tidak mau bekerja untuk majikan yang tidak punya masa depan. Lalu, kamu sendiri bagaimana?” 

“...Menjaga wilayah ini, kurasa.”

“Kalau Pangeran Leonard kalah, apa yang akan kamu lakukan? Bertekuk lutut pada para pemberontak?”

“Kalau sudah sampai begitu, aku akan melawan.”

“Kalau pada akhirnya tetap bertarung, lebih baik pasang taruhan pada kuda yang menang. Lebih masuk akal mendukung Pangeran Leonard selagi dia masih hidup. Peluang menang lebih tinggi.” 

Jika Leo kalah, Gordon pasti menajamkan taring pada para bangsawan utara yang tidak mau tunduk.

Meski bangsawan utara bersatu melawan, tidak jelas apakah mereka bisa mengimbangi Gordon yang sedang di atas angin. 

Bahkan jika kekuatan Gordon terkuras karena perang melawan Leo, bala bantuan dari Persatuan Kerajaan dan Negara Bagian akan tiba.

Perbatasan utara bertahan hanya karena Leo berada di sana. Jika dia tumbang, mereka pasti segera meruntuhkannya. 

Pada akhirnya, bangsawan utara harus memilih pihak. 

“Meski peluang menang lebih besar, aku tidak mau berpihak pada keluarga kekaisaran. Kupikir sebagian besar bangsawan utara berpikiran yang sama.”

“Tapi sepertinya ada juga yang mendukung Pangeran Leonard?”

“Itu bangsawan yang sudah kehilangan wilayah, atau bangsawan yang memang dekat dengan keluarga kekaisaran. Mereka... pintar, kurasa.” 

Hanya itu sudah cukup untuk memahami cara berpikirnya.

Charlotte tahu benar untung-ruginya berpihak pada Leo.

Hanya saja perasaannya menghalangi keputusan itu. 

“Kalau Pangeran Leonard menang melawan Gordon, dia akan jadi pewaris takhta sejajar dengan Pangeran Eric. Kalau kita menjual jasa kepada calon kaisar, perlakuan dingin terhadap utara bisa dihentikan. Itulah motivasi mereka, bukan?”

“Aku tahu. Itulah pilihan paling bijak. Aku juga pernah mendengar reputasi Pangeran Leonard. Pangeran Pahlawan yang menyelamatkan Selatan. Kelihatannya pangeran yang baik.” 

“Tapi saat ini keadaannya tidak menguntungkan. Sebagus apa pun reputasinya, kalau kalah tidak ada artinya.”

“Memang pendapat yang khas tentara bayaran. Sebagai referensi, kalau kamu di posisiku, kamu akan bagaimana?” 

Charlotte menatapku lurus-lurus.

Mata hijau-cokelatnya seolah sedang menilai jawabanku. 

Jawaban ini penting. Instingku mengatakan begitu.

Kalau aku salah jawab, aku tidak akan mendapatkan kepercayaannya.

Tapi kalau jawabannya benar, aku bisa mendapatkannya. 

“...Kalau aku, aku akan meneruskan kehendak Marquis Zweig.”

“...Maksudmu, menyatukan bangsawan utara?”

“Bukan itu. Marquis tidak ingin menyatukan mereka. Dia hanya ingin mengadakan pertemuan, menyediakan wadah untuk berdiskusi. Sampai di situ saja keinginannya.” 

“...Tapi kita tidak bisa mengadakan pertemuan itu. Tanpa keikutsertaan Duke Lowenstein, pertemuan itu tidak punya wibawa.”

“Kalau begitu, buat dia ikut.” 

“Jangan konyol. Dia itu bukan orang tua biasa.”

“Tapi Marquis tampaknya yakin kamu bisa. Dia tidak menulis surat untuk Duke Lowenstein. Artinya, dia memang berniat menyerahkan urusan itu padamu, untuk membujuknya.” 

Atau mungkin dia tahu kata-katanya sendiri tidak akan menggerakkan Duke.

Kalau orangnya keras kepala, kemungkinan itu ada. 

“Kakek mempercayakannya padaku?”

“Kalau Duke Lowenstein bergerak, para bangsawan lain akan ikut. Maka seharusnya surat pertama ditujukan padanya. Kenyataannya tidak ada surat itu. Artinya Marquis tidak berniat memakai cara itu.” 

“...Kamu pintar juga. Aku bahkan tidak terpikir sampai sejauh itu.”

“Aku ini pemimpin pasukan. Berpikir sejauh itu sudah jadi peranku. Percaya atau tidak, itu terserahmu. Tapi kalau kamu ingin meneruskan kehendak Marquis, aku akan membantumu.” 

Aku pun berdiri.

Perasaanku cukup baik. Sekarang semuanya tergantung Charlotte. 

Saat aku hendak pergi, Charlotte memanggilku dari belakang. 

“Tuan Schwartz.”

“Tidak perlu memanggilku dengan sebutan ‘Tuan’. Kamu cucu dari orang yang sangat berjasa bagiku, dan kamu adalah bangsawan di atas itu semua.”

“Kalau begitu, Schwartz. Menurutmu... apa aku bisa meneruskan kehendak Kakek?” 

“Aku belum pernah bertemu Duke Lowenstein, jadi aku tidak tahu apa kamu akan berhasil. Tapi ada satu hal yang pasti. Kamu mewarisi darah Marquis Zweig dan dibesarkan sebagai pewarisnya. Aku iri, jujur saja. Ada banyak hal yang ingin kupelajari dari Marquis.” 

Itu sungguh-sungguh dari hatiku.

Masih banyak hal yang harus kupelajari.

Dan seandainya Marquis masih hidup, aku bisa belajar jauh lebih banyak. 

“Kamu itu... aneh ya. Mendengar kata-katamu, aku merasa seperti bisa melakukannya.”

“Membangkitkan semangat adalah bagian dari tugas seorang pemimpin.”

“Baiklah... Beri aku beberapa hari untuk berpikir. Untuk saat itu, tetaplah tinggal di sini.” 

“Oke.”

“Dan... panggil aku ‘Sharl’. Kurasa usia kita juga tidak jauh berbeda.” 

Setelah berkata begitu, Sharl kembali ke kamarnya dengan langkah cepat.


Bagian 4

Beberapa hari kemudian, pada malam hari.

Aku sedang termenung di dalam kamar.

Sharl masih belum memberi jawaban.

Waktu sudah tidak banyak. Jika terus berlarut-larut, pihak sana akan mulai bergerak. 

“Ada lagi wajah sulit itu.”

“Menurutmu ini gara-gara siapa?” 

Suara itu terdengar lagi.

Dari arah balkon.

Ketika aku menoleh ke sana, Sharl sudah duduk di atas pagar balkon. 

“Kubilang dulu, itu berbahaya, tahu?”

“Aku baik-baik saja.” 

Dia berkata begitu sambil mengayun-ayunkan kaki dan tertawa lepas.

Padahal, serangan penyakitnya bisa kambuh kapan saja. Sungguh ceroboh. 

Aku mendekati balkon dan bertanya padanya. 

“Haa... Kalau kamu datang ke sini, berarti kamu sudah punya jawabannya?”

“Hampir. Aku datang ke sini cuma untuk memastikan, mungkin.” 

“Memastikan?” 

Sharl mengangguk.

Lalu, sambil menatap langit, dia mulai bercerita tentang masa lalunya. 

“Orang tuaku meninggal saat aku masih kecil, jadi Kakek yang menjadi pengganti mereka. Beliau-lah yang mengajariku banyak hal.”

“Aku sungguh iri.” 

“Benar, ‘kan? Dan salah satu ajaran Kakek itu begini: jaga baik-baik keraguanmu.” 

“...Kedengarannya sangat seperti Marquis Zweig.” 

Keraguan bisa muncul di mana saja.

Jika terlalu terikat padanya, manusia tidak akan bisa membangun hubungan.

Namun, keraguan memang berharga.

Justru karena keraguan itu penting, ketika keraguan bisa diatasi, barulah seseorang bisa dipercaya. 

“Tidak peduli seberapa baik seseorang berperilaku, jika dia terus memunculkan keraguan, jangan pernah percaya pada mereka. Sebaliknya, meski perilakunya buruk, jika dia mampu menghapus keraguan yang kamu miliki, maka dia layak dipercaya. Itu ajaran Kakek.”

“Begitu ya... Jadi, kamu ragu tentang aku?” 

“Benar. Beberapa hari ini, aku menanyai para orang kepercayaan Kakek. Termasuk yang sudah pensiun. Aku tanya apakah Kakek pernah menolong suatu kelompok tentara bayaran.” 

“Dan jawabannya?” 

“Tidak seorang pun tahu.” 

Tatapan Sharl yang sebelumnya tertuju pada langit berbintang kini beralih padaku.

Yang tercermin di sana adalah keraguan.

Jika aku tidak mengatasi ini, aku tidak akan pernah mendapat kepercayaannya. 

“Schwartz, siapa kamu sebenarnya?” 

Seorang mantan bangsawan dari negara di wilayah perbatasan.

Saat keluarga dan para pengikutnya berubah menjadi kelompok tentara bayaran, mereka ditolong oleh Marquis Zweig.

Itu adalah latar belakang yang kami ciptakan. 

Mudah saja menutupinya. Tapi itu hanya akan melahirkan keraguan baru.

Benarkah bangsawan seperti itu pernah ada?

Sharl tidak punya cara untuk memeriksanya. Dan aku pun tidak punya cara untuk menghapus keraguan itu. Tidak mungkin aku menyiapkan bukti palsu sejauh itu. 

Memang, Marquis Zweig meninggalkan ajaran yang baik.

Bagi kepala keluarga bangsawan, tak banyak kata-kata yang seberguna itu. 

Jagalah keraguanmu, lihat bagaimana seseorang menghadapi keraguan itu. Itu cara menilai manusia. 

Kendali ada di tangan orang yang mempertanyakan. Jika ingin dipercaya, hilangkan keraguannya. Tidak ada pilihan lain selain menunjukkan kejujuran. 

Sulit menciptakan kebohongan yang sama sekali tidak menimbulkan keraguan. Apalagi jika pihak lain sudah mulai curiga.

Yang merepotkan adalah, semua ini tergantung pada cara kita menanggapinya. 

“Kalau kamu tidak bicara apa-apa, aku juga tidak bisa mengatakan apa-apa.”

“...Kamu benar-benar belajar banyak dari Marquis Zweig.”

“Tentu saja. Aku berniat mewarisi apa yang dimilikinya.” 

Benar.

Yang berdiri di depanku adalah penerus Marquis Zweig.

Meski dia juga cucu dari Duke Lowenstein, dia lebih dulu dibentuk oleh didikan Marquis Zweig.

Padanya, aku tidak bisa—dan tidak boleh—bertindak tidak jujur. 

“Aku juga punya seorang guru. Dan dia sering berkata, ‘Tidak ada yang lebih rapuh daripada kebohongan yang dipaksakan’.”

“Maksudnya?” 

“Kamu tidak membohongi dirimu. Kalau kamu merasa tidak bisa menipu orang lain, kibarkan saja bendera putih.” 

Kakekku adalah kaisar yang memenangkan perebutan takhta.

Setiap perkataannya selalu penuh bobot. 

Manusia bisa berbohong pada orang lain, tapi sulit untuk membohongi diri sendiri.

Untuk menipu diri sendiri dibutuhkan tenaga yang besar, dan jika seseorang sudah menghabiskan energinya untuk itu, dia tidak akan sanggup menipu orang lain. 

Karena itu, jika diri sendiri merasa mustahil, maka memang mustahil.

Tidak bisa berbohong. Tidak ingin membohongi.

Tidak bisa menipu. Tidak mau menipu.

Saat hatimu tidak sanggup, janganlah berbohong.

Perlahan, aku melepas tudung kepalaku.

Lalu sekali lagi memperkenalkan diri. 

“Aku adalah Pangeran Ketujuh Kekaisaran, Arnold Lakes Ardler. Meski terpaksa, aku tetap menipumu, dan aku meminta maaf, Nona Charlotte von Lowenstein.” 

“...Kenapa tidak sembunyikan saja? Kalau kamu mau, kamu pasti bisa. Kamu tahu aku membenci keluarga kekaisaran, tapi tetap mengungkapkan jati dirimu?” 

“Mungkin memang ada cara. Tapi aku merasa aku tidak bisa menipu diriku sendiri. Dan setelah sampai pada titik itu, tidak ada jalan lain selain mengaku.”


Sharl tidak melepaskan tatapannya dariku.

Namun, keraguan yang tadi ada di sana sudah hilang. 

Jika saat ini Sharl memutuskan untuk berteriak bahwa dia membenci keluarga kekaisaran, aku tak punya langkah lain.

Yang bisa kulakukan hanyalah pergi secara paksa ke hadapan Duke Lowenstein. Meskipun belum tentu berhasil, itu jauh lebih mudah daripada mencoba menipu Sharl di sini.

“...Wah, ini sulit.”

“Apa yang membuatmu sulit?” 

Saat pertama kali berbicara di tempat ini, perannya terbalik.

Sharl terkekeh sambil menatap ke langit berbintang. 

“Kakek pernah bilang, dulu beliau menolong seorang pangeran berambut hitam dan bermata hitam. Karena itu aku hampir yakin kamu pasti dari keluarga kekaisaran.”

“Marquis itu ternyata cukup cerewet juga, ya.”

“Kakek memang suka bercerita. Tapi kisah tentang menolong pangeran itulah yang paling dia sukai. Setiap kali beliau menceritakannya, ekspresinya selalu puas. Di akhir cerita, beliau selalu menambahkan bahwa beliau benar-benar terkesan.” 

“Begitu ya...”

“Ada dua pangeran berambut hitam dan bermata hitam dalam keluarga kekaisaran. Kamu dan adik kembarmu. Kakek menolong yang mana?” 

“Sayangnya, itu aku.”

“Begitu... Kalau itu Pangeran Leonard, aku masih bisa mengerti kenapa Kakek terkesan. Tapi ternyata justru kamu, pangeran yang dikenal Pangeran Sisa.” 

Tidak ada kebencian dalam kata-kata Sharl.

Dia hanya mengutarakan isi hatinya. 

“Setelah Putra Mahkota wafat, Kakek maju ke depan untuk mencegah pecahnya perang yang bisa membelah negara. Sementara keluarga kekaisaran tidak melakukan apa pun. Mereka hanya memanfaatkan keadaan itu karena menguntungkan bagi mereka. Karena itu aku membenci keluarga kekaisaran.”

“Ya... itu benar.” 

Aku tidak bisa mengatakan “Aku mengerti” atau “Aku paham”.

Tidak mungkin aku memahami sepenuhnya. Akulah pihak yang menyakiti. 

Aku bisa membayangkan, tapi itu jauh dari memahaminya.

Rasa sakit hanya dipahami oleh mereka yang dipukul dan mereka yang berada di sisinya. Yang memukul tidak akan pernah tahu rasa itu. 

“Tapi... aku lebih tidak bisa memaafkan Gordon, yang mengkhianati harapan terakhir Kakek. Kalau dibiarkan, mungkin Gordon akan menang. Bagi keluarga Duke Lowenstein itu mungkin tidak masalah. Tapi tidak bagi keluarga Marquis Zweig. Masa depan seperti itu tidak akan pernah kubiarkan.” 

Sharl mengatakannya dengan suara penuh tekad.

Dia turun dari pagar balkon dan berdiri tepat di depanku.

Mata heterokromianya menembusku. 

“Seberapa besar peluangmu membujuk Duke Lowenstein?”

“Setengah-setengah. Tergantung sejauh apa dia memikirkan keluarganya dan wilayah utara.”

“Bukan peluang yang buruk. Baiklah. Keluarga Marquis Zweig akan berpihak padamu.” 

“...Bukannya kamu benci keluarga kekaisaran?”

“Aku memang benci. Tapi Kakek bilang, gelar hanyalah gelar. Lebih dari gelar kekaisaranmu, aku percaya pada mataku sendiri. Kamu sudah menunjukkan ketulusan untuk menjawab keraguanku, dan aku tahu kamu orang baik. Jujur saja, karena kamu bagian dari keluarga kekaisaran, aku yakin kamu pasti akan mencoba menipuku. Dan begitu kamu melakukannya, aku berniat menyetrummu sampai gosong. Tapi... kamu tidak bergerak seperti yang kubayangkan. Karena itu aku memilih untuk percaya, bukan pada prasangka tentang gelarmu, tapi pada kesan dan penilaianku sendiri terhadapmu.” 

Sharl mengucapkannya lalu berlutut tepat di depanku. 

“Salah satu dari 47 Bangsawan Utara, keluarga Marquis Zweig, akan menjadi kekuatan Yang Mulia. Pengetahuan yang diwariskan Kakek dan petirku, mulai saat ini, kupersembahkan untuk Yang Mulia.” 

“...Terima kasih. Apa yang kamu inginkan?”

“...Setelah perang selesai pun tidak apa-apa, tapi izinkan aku mewarisi keluarga Marquis Zweig. Tidak ada nama keluarga lain yang bisa kusandang selain Zweig.” 

“Baik. Permintaan yang mudah untukku.” 

Keluarga Marquis Zweig tidak memiliki pewaris.

Jika ingin mempertahankan garis keluarga, pasti harus mengangkat anak angkat. Jika begitu, menjadikan Sharl sebagai pewaris jauh lebih masuk akal. 

Masalahnya adalah Duke Lowenstein, tapi itu pun akan kutangani sekaligus. 

“Kebencian Duke Lowenstein terhadap keluarga kekaisaran sangat dalam, tahu?”

“Aku tahu. Karena itu aku yang harus datang. Kalau soal adu nasib tentang masa lalu yang menyakitkan, aku juga tidak akan kalah.” 

Aku tersenyum miring saat mengatakannya.


Bagian 5

Di sisi timur wilayah utara Kekaisaran.

Berbeda dari pasukan utama Leo yang bertahan di sisi barat wilayah Gordon, ada satu pasukan lain yang berhadapan langsung dengan pasukan Gordon dari arah selatan. 

Itu adalah pasukan yang dinilai dapat dipercaya di antara jajaran militer.

Jenderal yang memimpinnya bernama Harnisch. 

Dia adalah seorang pria muda di akhir usia dua puluhan, yang sebelumnya menjabat sebagai ajudan Jenderal Estmann. 

Saat pemberontakan terjadi di ibu kota, dia tengah terlibat dalam kegiatan pemulihan wilayah selatan, dan atas rekomendasi Estmann, dia kemudian bergabung di bawah komando Leo. 

Dengan tiga ribu prajurit bawahan Jenderal Estmann, yang kini kehilangan satu kaki dan praktis sudah setengah pensiun, ditambah sepuluh ribu prajurit dari pasukannya sendiri, dia memimpin total tiga belas ribu orang. 

Dia sangat menyayangi Jenderal Estmann seperti ayahnya sendiri, dan perlakuan yang diterima sang jenderal membuat Harnisch dipenuhi amarah. Dia datang ke medan perang untuk menumpahkan amarah itu kepada Gordon. Namun untuk saat ini, dia terpaksa menekan amarah itu jauh di dalam dada. 

“Ada tanda-tanda musuh bergerak?”

“Tidak ada, Jenderal.” 

Jawaban yang tidak berubah membuat Harnisch menghela napas sambil menatap pasukan yang mereka hadapi. 

Dia ingin pergi memberikan bantuan kepada pasukan utama Leo, tetapi lawan yang berdiri di depannya tidak mengizinkan itu. 

Kekuatan musuh sekitar dua puluh ribu.

Yang memimpin adalah komandan tertinggi itu sendiri, Gordon. 

“Benar-benar meremehkan.” 

Gordon datang langsung ke medan perang untuk membujuk Harnisch agar berpihak padanya, juga karena dia yakin dirinya takkan terbunuh. 

Sudah berkali-kali Harnisch ingin menghancurkan keyakinan itu dengan tangan sendiri, namun setiap kali dia tahan diri. 

Memang benar Gordon sedang menahan Harnisch di sini, tetapi di sisi lain, keberadaan Harnisch juga menahan Gordon.

Jika dia mampu menarik pasukan dua puluh ribu prajurit dan sang komandan tertinggi sekaligus, itu bukanlah posisi yang buruk. 

Tentu saja keadaan tidak membaik. Namun, setidaknya tidak menjadi lebih buruk. 

“Bagaimana dengan suratnya?”

“Datang lagi, Jenderal. Ditulis langsung oleh Gordon.” 

“Kalau itu tulisan tangan Yang Mulia Lizelotte, sudah kupajang di ruangan. Tapi kalau Gordon, bakar saja. Tidak perlu.” 

“Siap.” 

Surat pertama dia baca. Setelah itu, satu pun tidak lagi dia sentuh. 

Gordon berusaha keras menarik Harnisch ke pihaknya.

Dan tentu saja ada alasannya. 

Jumlah pasukan Kekaisaran yang bergabung ke pihak Gordon ternyata tidak sebanyak yang diperkirakan. Memang benar ada banyak unit militer yang berada di bawah pengaruh Gordon.

Namun sebagian besar masih menunggu perkembangan situasi. Semuanya ragu setelah Gordon gagal dalam pemberontakan di ibu kota. 

Para jenderal itu bimbang apakah layak ikut orang yang sudah melewatkan kesempatan terbaiknya? 

Kaisar pun menyadari itu. Karena itulah dia hanya mengirim para jenderal yang benar-benar dapat dipercaya ke garis depan. 

Namun jika Harnisch berpihak pada Gordon, arus akan berubah drastis. 

Karena jika seseorang yang tidak termasuk lingkaran Gordon memilih berpihak padanya, itu berarti kemenangan Gordon terlihat cukup meyakinkan. Para jenderal yang condong pada Gordon akan berbondong-bondong bergabung. 

Dan itulah yang Gordon incar. 

“Hmph, dasar orang tak tahu diri.” 

Harnisch bisa menebak bahwa ide ini pasti berasal dari bangsawan yang berdiri di sisi Gordon. 

Pasukan Gordon memang menutup jalur untuk bergabung dengan Leo, namun mereka tidak menutup jalan mundur.

Meskipun mereka gagal membujuk Harnisch, jika bisa memaksanya mundur, keadaan akan berpihak pada Gordon. 

Karena mundur berarti meninggalkan Leo.

Gerakan itu memiliki daya pengaruh besar. 

Licik.

Ini adalah strategi yang hanya bisa dibuat oleh seseorang yang paham benar permainan politik dan yakin akan keunggulan posisinya. 

Semakin lama waktu berlalu, keadaan Leo akan semakin genting. 

Aliansi dengan Kekaisaran Suci tidak akan terbentuk dalam waktu dekat. Tidak ada keuntungan cepat bagi mereka.

Dan pihak yang bertanggung jawab menyelesaikannya adalah Eric. Seseorang yang jelas tidak akan terburu-buru melakukannya untuk menolong Leo. 

“Hmph... Duke Holtzwart, dasar biang keladi.” 

Dengan menyebut nama bangsawan besar yang kemungkinan besar sedang berdiri di sisi Gordon saat ini, Harnisch menatap tajam ke arah pasukan musuh.


* * *


“Tidak ada gerakan dari pasukan musuh, Yang Mulia Gordon.” 

“Hmph! Sudah kuduga.” 

Di dalam perkemahan Gordon. 

Laporan itu disampaikan kepada Gordon oleh seorang pria paruh baya berambut panjang cokelat. Suasananya tenang, namun mata dinginnya menjadi ciri khasnya. Nama pria itu adalah Duke Rolf von Holtzwart.

Dia kepala keluarga bangsawan besar Holtzwart dari Kekaisaran. 

Saat pemberontakan di ibu kota terjadi, Rolf berpihak pada Gordon. 

Dalam perebutan takhta sebelumnya, Rolf memilih langkah aman. Dia sendiri masuk ke kubu Gordon, sementara putra keduanya dikirim ke kubu Eric, agar siapa pun yang menang, keluarga Holtzwart tetap selamat. 

Keluarga Holtzwart telah menjaga kedudukan mereka selama ini dengan cara seperti itu. 

Namun, ketika pemberontakan pecah, Rolf memutuskan untuk mempertaruhkan seluruh keluarganya demi Gordon. Baik putra sulungnya, Geed, maupun putra keduanya, Reiner, semuanya dibawa ke pihak Gordon. 

Melihat keputusan itu, banyak bangsawan lain mengikuti langkahnya. Berkat hal itu, Rolf telah membangun kedudukan yang kokoh di antara kubu Gordon. 

Gabungan para kesatria bangsawan yang mengikutinya pun menjadi kekuatan yang tidak bisa diremehkan, dan Gordon pun menghormati Rolf sebagai sosok penting. 

Justru karena itu, meskipun merasa strateginya terkesan berputar-putar, Gordon tetap mematuhi siasat Rolf. 

“Duke Holtzwart. Kudengar William membiarkan musuh mendapatkan persediaan. Apa kita boleh terus bersantai seperti ini?” 

“Tidak ada perubahan dalam situasi. Meski perbekalan tiba, Pangeran Leonard tidak punya pilihan selain bertahan di dalam benteng. Selama situasi tidak berubah, aliansi dengan Kekaisaran Suci tidak akan terjadi.” 

“Artinya, meski mereka bertahan, bantuan tidak akan datang?” 

“Benar. Dan seiring waktu berjalan, semakin banyak jenderal yang akan berpihak pada kita. Pangeran William berhasil memperoleh senjata prototipe sebagai ganti perbekalan yang dilepas. Analisisnya sudah dimulai. Waktu berada di pihak kita.” 

Mendengar penjelasan Rolf, Gordon mengangguk puas. 

Keinginan untuk segera menghancurkan musuh yang ada di depan mata memang besar, namun kalah hanya karena terburu-buru jelas tidak bisa diterima. 

Dengan waktu, kemenangan sudah di genggaman. 

Sekarang Gordon sedang haus akan kemenangan. 

Itulah yang membuat Rolf menyarankan perang berkepanjangan. Dalam kondisi Kekaisaran yang dikepung banyak negara, yang paling ingin mereka hindari adalah perang yang lama. 

“Ngomong-ngomong, Pangeran Henrik meminta izin untuk turun ke medan perang.” 

“Henrik, ya... Menurutmu dia akan berkhianat?” 

“Sulit dikatakan. Dia memang adik dari Yang Mulia Zandra, dan dari sifatnya dia tampak seperti orang yang akan berkhianat. Tetapi sekarang dia tidak punya tempat lagi di Kekaisaran. Saya rasa dia tidak punya keberanian untuk melakukannya.” 

“Aku sependapat. Conrad dan ibuku sedang bergerak terpisah dari kita. Kita kekurangan bidak. Menggunakannya mungkin bukan ide yang buruk.” 

“Apakah kita akan memberinya komando pasukan, kalau begitu?” 

“Benar. William juga membutuhkan bala bantuan. Angkat saja dia sebagai komandan. Suruh putramu yang sulung ikut bersamanya.” 

“Baik. Lalu, bagaimana dengan putra kedua saya, Reiner?” 

“Dia itu berbakat. Dia dibutuhkan untuk urusan dalam negeri di Vismar. Biarkan dia tetap di sana.” 

“Dimengerti.” 

Setelah selesai memberikan instruksi, Gordon bangkit dari kursinya. 

Dia tahu betul bahwa pasukan musuh tidak akan bergerak. 

“Aku mau tidur. Jangan bangunkan aku kecuali ada sesuatu yang benar-benar penting.” 

“Baik, Yang Mulia.” 

Rolf menundukkan kepala dengan anggun. 

Gordon merasa ada sesuatu yang mencurigakan dalam gerakan itu, tetapi dia mengabaikannya. 

Apa pun rencana yang disembunyikan Rolf, selama dia masih berguna, itu sudah cukup. 

Jika dia berkhianat pun, tidak masalah. 

Tinggal dihancurkan saja. 

Lagipula, sekalipun Rolf berbalik arah, keunggulan Gordon di wilayah utara tetap tidak akan berubah. 

“Aku juga masih punya kartu truf untuk saat genting.” 

Dengan bergumam seperti itu, Gordon pun bersiap untuk beristirahat.


Bagian 6

“Tuan Schwartz. Aku sudah menyerahkan suratnya kepada tuan wilayah di sini.” 

Kami sedang dalam perjalanan menuju wilayah Duke Lowenstein bersama Sharl. 

Namun, jika kami terlebih dahulu membujuk Duke lalu baru membagikan surat kepada para tuan wilayah lainnya, itu akan memakan waktu terlalu lama. Jadi, setiap kali kami melewati wilayah seorang bangsawan, Sharl yang menyerahkan surat tersebut. 

Untuk para bangsawan yang tinggal jauh, para anggota Narberitter berangkat dengan menunggang kuda. Surat dari Marquis Zweig dan surat dari Sharl disampaikan sekaligus. 

Isinya adalah pemberitahuan bahwa kami akan pergi membujuk Duke Lowenstein, dan bila Duke bergerak, mereka diharapkan mendukung isi surat dari Kakek. Para bangsawan yang jauh pasti akan mengamati gerakan Duke Lowenstein dan bahkan kemungkinan besar meninggalkan wilayah mereka untuk bergerak mendekati wilayah tersebut. Jika itu terjadi, mengumpulkan para bangsawan utara tidak akan sulit. 

Yah, itu semua berjalan baik-baik saja, tapi... 

“Kenapa kembali memanggilku dengan ‘Tuan’ lagi?” 

“...”

Hanya ada aku dan Sharl di ruangan ini. 

Aku mengerti kalau dia tidak bisa memanggilku ‘Arnold’, tapi aku tidak paham alasan dia kembali menggunakan panggilan formal seperti itu. 

“Apa itu perintah, Yang Mulia?” 

“...Kamu benar-benar benci keluarga kekaisaran, ya. Dan, ya, kamu tidak perlu memakai bahasa formal.” 

“Kalau begitu, maaf. Aku sudah memutuskan untuk mempercayaimu. Aku bahkan sudah berlutut padamu. Tapi itu berbeda dengan menjadi dekat denganmu. Aku benci keluarga kekaisaran.” 

“Bukannya kamu tidak menilai orang dari kedudukannya?” 

“Itu soal keseluruhan wilayah utara. Untuk urusan seperti itu, aku tidak menilai dari gelar. Tapi kalau masalah pribadiku, itu lain cerita.” 

Sharl menampilkan ekspresi yang sulit dijelaskan. 

Seolah jijik dan akrab muncul bersamaan. Ekspresi itu saja sudah cukup untuk menunjukkan betapa rumit perasaannya. 

“Begitu, ya. Padahal aku ingin kita bisa akur.” 

“Tidak mungkin. Memaksakan diri makan sesuatu yang kamu benci itu menyiksa, kan?” 

“Kurasa berusaha mengatasinya juga bisa jadi pengalaman yang baik?” 

“Orang yang memaksa orang lain makan sesuatu yang mereka benci itu merepotkan, tahu?” 

“Benar juga.” 

Sharl tampaknya sudah mantap dengan kesimpulannya sendiri. 

Rasa muak terhadap keluarga kekaisaran tidak akan hilang, karena itu dia ingin menjaga jarak dariku. 

Dan orang yang tetap berusaha mendekat meski tahu itu hanya akan menyulitkannya memang menyebalkan. 

Namun, dalam waktu dekat kami harus membujuk Duke Lowenstein. Kalau hubunganku dengan Sharl saja renggang, itu akan menyulitkan. 

Bahkan, jika aku tidak bisa akur dengan Sharl, sudah jelas membujuk Duke akan mustahil. 

“Tapi begini, hubungan kita yang buruk itu merugikan untuk negosiasi dengan Duke Lowenstein.” 

“Aku bisa berpura-pura.” 

“Dia akan tahu itu dengan sekali pandang. Karena itu, bagaimana kalau kamu mencoba sedikit berusaha untuk akrab?” 

“...Lalu apa yang harus kulakukan?” 

Dengan mata menyipit dan aura kesal yang memancar jelas, Sharl duduk di kursinya. 

Tampaknya dia bersedia bekerja sama. 

Baiklah, hambatan pertama terlewati. 

“Sebagai awalan, boleh kutanya, apa tepatnya yang kamu benci dari keluarga kekaisaran?” 

“Darahnya. Aku sudah tak tahan lagi dengan darah kekaisaran.” 

“Kamu langsung menyasar akar masalahnya, ya...”

Soal garis keturunan jelas tidak bisa diganggu gugat. 

Dia sungguh-sungguh menolaknya dari awal. 

Tapi aku bukan orang yang menyerah hanya karena itu. 

Aku menyingkapkan tudung jubahku dan merapikan rambutku sedikit. 

“Di keluarga kekaisaran turun-temurun jarang sekali ada orang yang berambut hitam. Alasannya aku punya rambut hitam adalah karena ibuku berasal dari Timur.” 

“Lalu?” 

“Kalau bicara soal darah, ibuku itu rakyat biasa. Artinya separuh darahku adalah darah rakyat jelata. Hampir tidak ada ciri khas keluarga kekaisaran pada diriku. Unsur-unsur yang katanya membuatmu tidak tahan pada darah kekaisaran itu nyaris tidak ada padaku.” 

“Tapi kamu tetap keluarga kekaisaran, ‘kan?” 

“Bukan mau pamer, tapi aku hampir tidak pernah mendapat perlakuan selayaknya keluarga kekaisaran. Dari semua saudaraku, hanya aku satu-satunya yang pernah dimasukkan ke penjara sewaktu kecil.” 

“Membanggakan hal seperti itu juga aneh...” 

Sharl menghela napas panjang.


Di antara seluruh anggota keluarga kekaisaran, akulah yang paling jauh dari perlakuan sebagai seorang keluarga kekaisaran. Bahkan jika ada yang bilang mereka membenciku karena aku seorang anggota keluarga kekaisaran, pada kenyataannya nyaris tidak ada unsur kekaisaran dalam diriku. 

Bagi diriku, teori itu tidak masuk akal. 

“Bagaimana? Apa kamu masih melihatku sebagai anggota keluarga kekaisaran?” 

“Masih.” 

“...Kenapa?” 

“Soalnya kamu memang anggota keluarga kekaisaran. Ada para pengikut yang memandangmu sebagai Yang Mulia.” 

“...Aku punya seorang teman masa kecil, dan dia sudah berulang kali mencoba membunuhku dengan pedang kayu. Secara teknis, dia juga termasuk bawahanku...” 

“Yang mengejutkan adalah, meski kamu hampir dibunuh, tidak seorang pun berusaha menghentikannya...” 

Aku hanya bisa tersenyum pahit mendengar komentar Sharl. 

Orang-orang dewasa di sekelilingku saat itu cukup abai dengan anak-anak. 

Mereka tidak suka ikut campur dalam setiap hal kecil yang dilakukan anak-anak. 

“Karena aku tidak pernah berkata apa pun. Kalau aku menggunakan hak istimewa sebagai anggota keluarga kekaisaran, hubungan kami tidak akan pernah bisa setara lagi.” 

“...Jadi karena itu kamu hanya diam dan menerima perlakuan seperti itu? Dan saat itulah kakekku menolongmu?” 

“Benar. Kalau aku mengadu pada Ayah bahwa aku dirundung, mungkin semuanya akan beres, tapi anak-anak yang lemah itu bisa saja dijatuhi hukuman mati. Menyeramkan, bukan? Bayangkan, hasil dari perundungan kekanak-kanakan antara anak-anak berujung pada hukuman mati. Karena itulah aku tidak bicara apa pun. Saat itu, Marquis Zweig-lah yang menolongku. Dia mengerti semuanya, dan berkata bahwa dia kagum padaku. Aku senang waktu itu.” 

“...Kamu ini memang sudah dewasa sejak kecil. Kalau itu terjadi padaku, aku pasti langsung menangis dan lari ke orang tuaku. Aku bahkan tak terpikir apa yang mungkin terjadi setelahnya.” 

“Aku tidak kekurangan teladan. Dalam hal itu, mungkin aku memang menikmati manfaat menjadi anggota keluarga kekaisaran.” 

Saat aku masih kecil, di sekitarku ada Putra Mahkota dan Kakak Lize. 

Ada contoh nyata tentang bagaimana seharusnya seorang keluarga kekaisaran bersikap. 

Karena itu aku bisa mewujudkan versi terbaiknya dalam diriku sendiri. Sesederhana itu. 

“Kamu... benar-benar tidak seperti anggota keluarga kekaisaran. Tapi... keluarga kekaisaran mengabaikan kakekku, itu fakta.” 

“Itu benar, dan itu tidak akan hilang. Tapi karena itulah aku datang. Karena utang budi harus dibayar.” 

“Utang budi?” 

“Benar. Keluarga kekaisaran punya utang yang tidak terbayarkan pada Marquis Zweig. Setelah Putra Mahkota wafat, Kekaisaran dilanda kekacauan. Ada terlalu banyak hal mendesak yang harus ditangani sampai tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain. Lalu muncullah Marquis Zweig yang menyelesaikan masalah di wilayah utara. Itu sangat menguntungkan bagi kami. Karena itu, keluarga kekaisaran tidak melakukan apa pun. Aku tidak akan membenarkannya. Keluarga kekaisaran memanfaatkan rasa tanggung jawab para bangsawan utara terhadap wilayah mereka.” 

“Kamu bicara dengan cara yang cukup keras...” 

“Faktanya tidak berubah. Ayah membuat penilaian yang dingin dan rasional. Dan Ayah bahkan tidak membayar utang itu. Seharusnya sesuatu dilakukan lebih awal. Tapi itu ditunda. Dan itu tidak bisa dihapuskan. Namun, perbuatan di masa depan bisa menebusnya. Utang budi memang untuk dibalas.” 

“...Yang mengabaikan kakekku adalah Kaisar. Bukan kamu.” 

“Sama seperti kamu yang akan mewarisi posisi Marquis Zweig, aku juga adalah putra dari Kaisar. Dan kamu sendiri mengatakan keluarga kekaisaran sebagai satu kesatuan. Itu sudah cukup sebagai alasan. Aku adalah anggota keluarga kekaisaran, dan aku akan mengembalikan utang budi yang diterima Kaisar. Pertama-tama, aku akan mempersatukan para bangsawan utara. Karena yang seharusnya menyelamatkan utara adalah para bangsawan utara itu sendiri.” 

Aku dan para bangsawan utara itu serupa. 

Aku menahan diri demi melindungi anak-anak bangsawan yang merundungku. 

Para bangsawan utara menahan perlakuan dingin demi melindungi wilayah mereka. 

Mereka bisa saja mengajukan protes kapan pun. Namun yang mereka lakukan hanyalah menjaga jarak. Mereka bahkan bisa saja secara terbuka membicarakan kematian Putra Mahkota. 

Namun saat itu, topik tersebut terlalu sensitif. Keadaan bisa menjadi lebih buruk daripada sekarang. 

Karena itu mereka diam, menerima perlakuan dingin. Semua demi mencegah wilayah utara menjadi medan perang. 

Justru karena mereka yang menanggung semuanya, maka mereka pula yang seharusnya menyelesaikan situasi ini. 

“Apa ada orang yang menyebutmu aneh?” 

“Banyak orang bilang begitu.” 

“Pantas saja. Bahkan sebagai bangsawan pun kamu sudah terbilang aneh. Kamu sendiri yang bilang bahwa kamu tidak diperlakukan sebagai anggota keluarga kekaisaran... Tapi kenapa kamu tetap menjalankan tugasmu sebagai salah satu dari mereka?” 

“Kamu juga pernah disingkirkan dari posisi sebagai pewaris Marquis Zweig. Tapi sekarang kamu bertindak demi keluarga Zweig. Kenapa?” 

“Aku bergerak karena aku merasa itu yang harus kulakukan.” 

“Itu juga jawabanku. Kedudukan atau gelar itu hanya menjadi salah satu bahan pertimbangan, tapi itu tidak menentukan segalanya. Yang memutuskan adalah diri kita sendiri. Aku ada di sini karena aku pikir aku harus menunaikan tugas sebagai anggota keluarga kekaisaran. Perlakuan di masa lalu sudah tidak penting lagi, bukan?” 

Disebut sebagai Pangeran Sisa dan tetap datang untuk menjalankan tugas sebagai anggota keluarga kekaisaran, semua itu adalah keputusanku sendiri. Begitulah aku dibesarkan. 

Segalanya adalah tanggung jawabku sendiri. 

“...Kurasa sekarang aku mengerti arti sebenarnya dari kalimat ‘jabatan hanyalah jabatan’.” 

Setelah mengatakannya, Sharl bangkit dan hendak keluar ruangan. 

Aku memanggilnya. 

“Sharl. Biasanya aku dipanggil Al. Bisakah kamu memanggilku begitu?” 

“...Kalau nanti kamu berhasil membalas semua utang itu, aku akan memanggilmu begitu. Sampai saat itu tiba, Schwartz adalah panggilanmu.” 

Dengan itu, Sharl meninggalkan ruangan. 

Aku tidak yakin kami bisa dibilang lebih akrab, tapi setidaknya lebih baik daripada dia memanggilku dengan sebutan ‘Tuan’. 

Namun. 

“Kalau Sharl saja begini, aku pasti akan lebih kewalahan menghadapi Duke Lowenstein...” 

Menghela napas panjang, aku bersandar pada kursi.


Bagian 7

Pusat dari wilayah kekuasaan Duke Lowenstein. 

Ibu kota wilayah, Loa. 

Kota terbesar di seluruh utara, sebuah tempat yang dapat disebut sebagai pusat utara baik dalam nama maupun kenyataan. 

Kami berada di tengah kota Loa itu, di dalam sebuah kediaman raksasa. 

“Nona Charlotte. Mohon tunggu sebentar. Duke Lowenstein sedang mengikuti rapat.” 

“Baik.” 

Sharl mengangguk tanpa mengeluh sedikit pun atas kata-kata sang kepala pelayan. 

Melihat itu, aku bersuara pelan dengan nada terkejut. 

“Cucunya pulang, tapi rapat tetap jadi prioritas, ya?” 

“Kakek memang orang seperti itu. Dia tidak mencampuradukkan urusan pribadi dan pekerjaan. Tentu saja, dengan pengecualian bila keluarga kekaisaran terlibat.” 

“Aduh...”

“Sebaiknya kamu buang jauh-jauh sikap optimis itu. Kalau identitasmu ketahuan, petir bakal menyambar. Orang itu benar-benar berniat membunuhmu.” 

“Jangan bilang hal yang menakutkan seperti itu...”

“Ini bukan bercanda. Dia memang bisa melakukan hal itu. Jadi hati-hati memilih waktu untuk mengungkapkan jati diri.” 

Aku mengangguk pada peringatan Sharl. 

Sudah sering aku berhadapan dengan orang-orang yang meremehkan Pangeran Sisa, tapi menghadapi seseorang yang menyimpan dendam, aku tak punya banyak pengalaman soal itu. 

Begitu kuatnya posisi keluarga kekaisaran di dalam kekaisaran. 

Tidak boleh lengah. Bahkan Sharl tidak perlu mengingatkanku soal itu. 

Terlebih, lawanku adalah Dewa Petir Lowenstein. 

Aku pernah bertemu dengannya sekali, di pesta ulang tahunku yang ke sepuluh. Kami sempat bercakap-cakap sedikit. Kekuatan aura orang itu masih kuingat jelas sampai sekarang. 

Putra pewaris gelar duke, namun justru masuk militer dan berjaya sebagai Jenderal Sihir. 

Seorang veteran perkasa yang menaklukkan musuh demi musuh di medan perang, berperan besar dalam ekspansi Kekaisaran. 

Prestasinya sepanjang hidup tidak pernah kalah. Benar bahwa dia membawa para elite Lowenstein sebagai para pengikutnya, dan memimpin pasukan utama Kekaisaran yang terkenal kuat, membuatnya unggul dalam kualitas maupun kuantitas, namun tetap saja, rekornya luar biasa. 

Kemenangan tanpa kekalahan bagi seorang kaisar bukanlah hal yang sama; sang Kaisar tidak akan turun ke medan paling berbahaya dan selalu memimpin para kesatria pengawal terbaik. Mustahil kalah. 

Di seluruh Kekaisaran saat ini, hanya ada satu orang yang prestasinya dapat melampaui Kakak Lize, dan itu adalah Duke Lowenstein. 

Saat musuh masih berada jauh, dia menunjukkan sisi sebagai jenderal cerdas dengan strategi yang tajam. Saat musuh sudah berada dalam jangkauan, dia sendiri yang memimpin barisan terdepan dan memperlihatkan keberanian yang luar biasa. 

Seorang jenderal besar yang memadukan kecerdasan dan keberanian. 

Itulah Duke Lowenstein. 

“Kamu gugup?” 

“Entahlah. Aku cuma berpikir kalau gagal, akibatnya bisa besar.” 

“...Kalau Kakek marah, aku akan melindungimu. Setidaknya aku bisa menghentikannya.” 

“Aku mengandalkanmu.” 

Ketika aku tersenyum mengatakan itu, Sharl membelalakkan mata sejenak, lalu mengerutkan alis. 

Mungkin dia menganggapku terlalu santai. 

“Kamu memang aneh.” 

“Masa, sih?” 

“Di antara keluarga kekaisaran yang ada sekarang, siapa yang punya nyali berdiri sendirian di hadapan Kakek?” 

“Hmm. Mungkin hanya Kakak Lize.” 

Baik Eric maupun Leo, keduanya berada di posisi yang terlalu penting. Mereka tidak akan mengutamakan harga diri pribadi lalu menghadapi bahaya sendirian. Mereka pasti membawa pengawal. 

Saat aku memikirkan itu, Sharl menghembuskan napas panjang. 

“Aku yakin aku tak akan kalah dari Putri Jenderal. Tapi kamu sendiri?” 

“Aku juga percaya diri.” 

“Percaya diri bagaimana?” 

“Aku percaya diri kalau kamu akan melindungiku. Tolong jadi pengawal pribadiku.” 

“Haa... Kamu tidak mempertimbangkan kemungkinan bahwa aku tidak akan melindungimu?” 

“Kamu akan melindungiku, ‘kan?” 

“Kalau itu cuma kata-kata?” 

“Kalau begitu, berarti aku salah menilai orang. Lagipula, Duke Lowenstein tidak akan sampai membunuh seorang pangeran. Paling cuma mematahkan satu atau dua lengan.” 

Sharl mengerutkan wajah mendengar kata-kataku. 

Dia hendak mengatakan sesuatu, namun saat itu terdengar ketukan di pintu. 

Aku segera menarik tudung kepalaku. 

Sharl menjawab panggilan itu, dan pintu pun terbuka. 

“Permisi, Nona Charlotte.” 

“Goldberger? Ada apa? Dia adalah orang kepercayaan Kakek.” 

Sharl berbisik menjelaskan. 

Yang masuk adalah seorang pria tua berambut putih. Bertubuh tinggi, dengan wajah yang membuatku yakin bahwa muda dulu dia pasti populer. 

Sebagai mantan ajudan seorang jenderal, dia pasti terus melatih tubuhnya. Fisiknya masih tampak kuat, dengan aura seorang petarung kelas atas. 

“Pertama-tama... izinkan saya mengucapkan belasungkawa. Bagi kami yang tinggal di wilayah utara, Marquis Zweig adalah sosok yang sangat berjasa. Kami kehilangan seseorang yang amat berharga.” 

“Terima kasih. Aku yakin Kakek juga senang mendengarnya. Tapi kamu datang bukan hanya untuk itu, kan?” 

“Nona Charlotte datang untuk membujuk Duke Lowenstein dan menyatukan para bangsawan utara... bukan begitu?” 

“Benar.” 

“...Saya sarankan Anda menyerah saja. Anda memang bergerak demi mendiang Marquis Zweig, namun... Duke tidak akan bergerak.” 

Goldberger menyatakannya tegas. Namun nada suaranya terdengar ragu. Lebih terasa seperti pendapat pribadinya ketimbang fakta pasti. 

“Saran itu kuterima. Tapi aku tidak mau menyerah sebelum mencobanya.” 

“Tidak mungkin Duke berpihak pada keluarga kekaisaran. Anda tahu wataknya!” 

Cukup memaksa, ya. Kalau benar-benar mustahil, dia tidak perlu menahannya dengan begitu keras. Seakan dia tidak ingin Duke disatukan, atau tidak ingin Sharl mencoba. 

Meskipun Goldberger mungkin hanya khawatir pada Sharl, tingkahnya agak janggal. 

“Aku tahu. Tapi ini adalah tugasku. Demi utara.” 

“Anda sungguh berpikir... berpihak pada keluarga kekaisaran adalah demi utara...?” 

“Aku mengerti perasaanmu. Tapi sekarang saatnya melihat gambaran besar. Itu yang akan kusampaikan kepada Kakek.” 

“Begitu, ya...” 

Dengan tampak sangat kecewa, Goldberger menunduk dan meninggalkan ruangan. Ternyata jawaban Sharl bukan jawaban yang dia harapkan. 

Meski begitu, pemikirannya bukan hal aneh. Bahkan ucapannya sendiri tidak salah. 

Duke memang tidak mudah dibujuk. 

Saat aku memikirkan itu, kepala pelayan muncul.

“Rapatnya sudah selesai. Silakan masuk.” 

“Eh!?” 

“Tidak pergi?” 

“Aku pergi. Berdirilah di belakangku. Janji, ya?” 

“Iya, iya.” 

Sambil mengangkat bahu, aku menjawab begitu.


Bagian 8

Ruangan yang kami tuju adalah sebuah aula audiensi yang luas.

Biasanya, tempat ini dipakai oleh rakyat untuk menyampaikan permohonan kepada tuan wilayah. 

Di bagian paling dalamnya, seorang pria tua berambut merah duduk di kursi.

Tubuhnya besar, khas keluarga Gordon, dan sebagai mantan jenderal, punggungnya tegak tanpa cela.

Mata merahnya tajam, dia menatap Sharl terlebih dahulu, lalu beralih padaku. 

Pria tua itu adalah sang Dewa Petir, Duke Victor von Lowenstein. 

“Charlotte datang untuk menyampaikan salam sepulangnya, Kakek.” 

“Terima kasih atas kerja kerasmu. Apakah Marquis Zweig mengatakan sesuatu sebelum mengembuskan napas terakhir?” 

“Tidak...”

“Begitu... dasar teman tak kenal rasa. Padahal kami punya janji untuk minum bersama.” 

Setelah berkata begitu, Duke Lowenstein menutup mata pelan.

Dia pasti sedang mengenang Marquis Zweig. 

Mereka adalah sekutu yang lama menopang wilayah utara bersama.

Anak-anak mereka menikah, menjadikan mereka keluarga. Jika keadaan tidak seperti ini, Duke sendiri pasti sudah datang mengunjungi langsung. 

Para pengikut pun memahami itu, suasana aula audiensi dipenuhi keheningan sendu. 

“...Bagaimana kondisi tubuhmu?” 

“Sehat. Memang sempat kambuh sesekali, tapi setelah itu tidak apa-apa.” 

“Syukurlah.” 

“Kakek, sebenarnya aku ingin memperkenalkan seseorang. Saat upacara pemakaman Marquis Zweig, muncul gerombolan bandit. Waktu itu aku sedang kambuh dan tidak bisa menangani mereka, tapi Schwartz yang ada di belakangku, bersama prajurit bayarannya, menanganinya. Dia berutang budi pada Marquis Zweig, dan juga sudah banyak membantuku.” 

“Oh?” 

Duke Lowenstein menunjukkan ketertarikan padaku.

Aku menundukkan kepala dan memberi salam. 

“Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda. Nama saya Schwartz.” 

“Begitu ya. Cucu perempuanku sudah kamu bantu rupanya.” 

“Tidak, saya memiliki utang besar pada Marquis Zweig. Saya datang sejauh ini untuk membalas jasa itu, tapi tidak sempat. Karena itu, saya ingin membalasnya melalui Nona Charlotte.” 

“Semangat yang terpuji. Jadi? Surat-surat yang Charlotte kirim ke berbagai bangsawan itu karena kamu?” 

Tatapannya tiba-tiba menjadi tajam.

Melihat itu, Sharl buru-buru membuka mulut. 

“K-Kakek! Itu keputusanku sendiri! Dalam situasi genting di wilayah utara, Marquis Zweig berpendapat bahwa para bangsawan harus menyatukan suara. Karena itu, aku mengirim surat agar mereka mendukung diadakannya pertemuan!” 

“Begitu. Lalu apa ada surat untukku?” 

“Tidak... aku berniat meyakinkan Kakek sendiri.” 

“Marquis Zweig memang tahu betul. Bahkan sekalipun surat itu datang darinya, aku tidak akan bergerak. Karena itu dia menitipkannya padamu. Aku mengerti... tapi membawa masuk tikus itu sebuah kesalahan.” 

“Schwartz adalah pengawal. Aku yang akan membujukmu!” 

“Bukan itu maksudku. Sungguh, aku diremehkan sekali. Apa ini kali pertama kita bertemu? Jangan bercanda. Saat kamu berulang tahun yang kesepuluh, para bangsawan berkumpul. Aku ada di sana. Bahkan sebelumnya, aku pernah menggendongmu ketika kamu masih bayi, tahu?” 

Duke Lowenstein perlahan berdiri dari kursinya.

Dalam sekejap, suasana menjadi berat. Bahkan para penasihat di sekelilingnya pun mengucurkan keringat dingin. 

“Hmph... Tak kusangka penyamaranku dipatahkan dengan begitu mudah.” 

“Kalau ingin menyembunyikan identitasmu dariku, seharusnya kamu menutupi mata itu. Kamu persis seperti pria yang menculik putriku hanya demi memperkuat garis keturunannya. Sekilas pandang saja aku sudah tahu. Tidak ada lelaki di dunia ini yang lebih kubenci matanya selain dia!” 

Suara Duke Lowenstein meledak keras.

Mendengarnya, aku perlahan berdiri dan menurunkan tudungku. 

“Aku minta maaf karena berusaha menipumu. Aku hanya tidak ingin mati dibunuhmu.” 

“Hah! Kamu tumbuh jadi pria yang cukup angkuh. Sikapmu, cara bicaramu. Kamu persis seperti Kaisar saat masih muda.” 

“Yah, kami memang ayah dan anak. Tak kusangka kamu mengingat pertemuan lama itu. Kita hanya bicara sebentar... tapi dendammu pada keluarga kekaisaran benar-benar luar biasa.” 

“Dan sadar akan hal itu, apa yang kamu lakukan di sini? Arnold Lakes Ardler!” 

Dengan itu, Duke Lowenstein menyebut jati diriku dengan tepat. 

Aku terkejut.

Bukan karena dia menebak aku adalah pangeran, yang itu memang mungkin terjadi, walau tidak kuduga akan terbongkar secepat ini.

Yang membuatku benar-benar terkejut adalah dia menyebut namaku dengan tepat. 

“Informasinya bocor? Harusnya aku sedang ‘beristirahat’ di ibu kota.” 

“Hanya dugaanku. Sebelum pertempuran di utara dimulai, adikmu datang menemuiku. Hanya ditemani segelintir kesatria pengawal, semuanya rahasia besar. Aku saja yang menemuinya.” 

“Begitu. Dan kamu membandingkan kami, lalu tahu siapa aku.” 

“Itu juga benar. Tapi adikmu bilang satu hal. Bahwa bila perang berkepanjangan, kamu pasti akan datang. Bahwa urusan membujukku akan dia serahkan padamu. Karena itu aku langsung tahu.” 

“Sialan dia...” 

Aku menghela napas panjang sambil mengacak rambutku.

Aku tidak heran Leo datang. Wajar saja. Itu menunjukkan betapa pentingnya posisi Duke Lowenstein.

Namun tetap saja, aku terkejut mendengar bahwa aku yang dikatakan akan datang.

Semakin lama perang berlangsung, semakin besar pula kemungkinan aku bangun.

Melihat keadaan para anggota keluarga kekaisaran yang sedang berada di ibu kota, memang bisa diprediksi bahwa aku akan muncul. 

Tapi, apakah aku akan datang untuk membujuk Duke Lowenstein, itu bukan sesuatu yang bisa ditebak hanya dari situasi.

Ada kemungkinan aku akan memimpin pasukan secara terang-terangan. Ada pula kemungkinan Leo tidak berada dalam posisi terdesak.

Ini bukan soal memperkirakan keadaan. Ini adalah memikirkan, Jika aku berada di posisi itu, apa yang akan kulakukan? 

Aku tidak suka memimpin pasukan besar.

Aku juga tidak suka membiarkan masalah para bangsawan utara begitu saja.

Meskipun menang perang, jika masalah di wilayah utara dibiarkan, itu hanya akan menjadi sumber masalah baru. 

Karena itulah, jika aku, aku pasti akan mencoba menyelesaikan masalah para bangsawan utara. Dan bila itu tujuannya, membujuk Duke Lowenstein adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. 

Sungguh, adikku itu benar-benar mengerti diriku. 

“Pangeran Pahlawan itu sepertinya percaya kamu bisa membujukku. Tapi kalau cuma bisa membuat penyamaran sepele seperti itu, kamu punya harapan tipis.” 

“Aku menyembunyikan identitasku karena ingin menyembunyikan keberadaanku sendiri. Bukan demi membujukmu.” 

“Oh? Kalau begitu, apa bahan negosiasi yang kamu bawa? Kamu sengaja mendekati cucuku. Jika hal itu sepele, jangan harap bisa pulang ke ibu kota.” 

Saat dia berkata begitu, tubuh Duke Lowenstein memercikkan kilatan petir yang menyambar lantai.

Dia jelas tidak suka karena aku mendekati Sharl untuk bisa masuk ke dekatnya.

Wajar saja. 

Dari cara bicaranya, jelas sekali bahwa awal kebenciannya pada keluarga kekaisaran adalah karena putrinya direnggut darinya. Tentu dia tak ingin cucunya diperlakukan sama. 

“Tidak bisa pulang, ya... Aku memang tidak berniat kembali ke ibu kota sambil membiarkan masalah di utara terbengkalai. Kamu bilang tadi bahwa aku meremehkanmu? Biarkan kata-kata itu kukembalikan utuh. Sebagai pribadi, aku tidak akan lari saat adikku sedang berjuang. Sebagai anggota keluarga kekaisaran, aku tidak akan membiarkan masalah di utara membusuk lebih jauh. Jangan terlalu meremehkanku. Sekalipun aku disebut Pangeran Sisa, aku tetap seorang pangeran.” 

Duke Lowenstein kembali duduk.

Tatapannya kini semakin tajam. 

“Apa maksudnya Pangeran Sisa? Kamu hanya berpura-pura seperti lampu siang yang tidak berguna, bukan? Ayahmu pun begitu. Dia tampak tidak punya semangat pada apa pun, lalu perlahan menunjukkan cakarnya di tengah perebutan takhta. Begitu seseorang meremehkan lawannya sekali saja, sulit baginya untuk mengantisipasi. Para pesaingnya kalah sebelum menunjukkan kemampuan mereka. Dan dari dirimu, aku mencium hawa yang sama.” 

“Ayahku, Kaisar Johannes, punya ambisi. Ambisi untuk menjadi kaisar. Karena itu dia menyembunyikan cakarnya. Tapi aku berbeda. Aku hanya ikut terlibat dalam perebutan takhta karena jika tidak, aku dan keluargaku tidak punya masa depan. Itu saja alasannya. Jika perebutan takhta tidak pernah terjadi, aku akan tetap menjadi Pangeran Sisa sepanjang hidup, dan aku tidak akan mengeluh.” 

“Jadi tanpa perebutan takhta, kamu akan dibiarkan diremehkan seumur hidup? Jangan membuatku tertawa.” 

“Itu benar. Dan aku sudah membuktikannya selama belasan tahun.” 

Ayahanda menyembunyikan cakarnya demi merebut takhta. Sedangkan aku tidak berniat menunjukkan apa pun, aku hanya terpaksa saja.

Ayahanda punya tujuan yang jelas, sedangkan aku tidak punya tujuan yang pasti.

Menyamakan kami sungguh tidak sopan untuk Ayahanda. 

“Hmph, baiklah. Jadi bagimu perebutan takhta ini sesuatu yang tidak kamu inginkan? Bukan panggung untuk menunjukkan kemampuanmu? Bukan kesempatan untuk menjatuhkan orang-orang yang meremehkanmu?” 

“Semuanya benar. Lagipula aku tidak punya minat membuat orang berlutut demi menunjukkan kekuasaan. Aku tidak seperti para tetua kuno itu.” 

“...Berlutut adalah tradisi kuno. Ada makna dalam hal itu.” 

“Tanda kesetiaan, bukti pengabdian. Aku tahu. Justru karena aku mengerti, aku tidak menginginkannya. Apa artinya memaksa orang berlutut hanya karena aku menunjukkan kekuatan? Jika seseorang berlutut karena dia benar-benar mengakui diriku, aku bisa menerimanya. Tapi kalau tidak, itu hanya membuatku muak.” 

“...Untuk seorang anggota keluarga kekaisaran, kamu cukup memahami prinsip. Tindakan tanpa makna tak memiliki jiwa. Jika kamu mengerti itu, apa tujuanmu membujukku? Untuk menyelamatkan adikmu?” 

Sepertinya dia mulai mengakuiku sedikit.

Bagus. Kalau tidak, obrolan ini tidak akan pernah sampai ke inti masalah. 

“Tentu saja itu salah satunya. Leo diperlukan untuk masa depan Kekaisaran. Aku tahu ada yang menyebutnya idealis. Dia memang masih belum matang. Tapi seorang kaisar yang tidak punya gagasan tidak punya masa depan.” 

“...Demi Kekaisaran, ya.” 

Raut kekecewaan menyelimuti wajah Duke Lowenstein.

Jawaban klise seperti itu pasti bukan jawaban yang ingin dia dengar.

Dia bahkan mengalihkan pandangannya, seakan nilai pembicaraan ini telah habis. 

Pada saat itulah aku melanjutkan. 

“Karena itu, masalah yang ada sekarang tidak boleh dibiarkan. Aku ingin Kekaisaran yang akan Leo pimpin menjadi lebih baik. Karena itu... aku akan menyelesaikan masalah bangsawan utara.” 

“...Keluarga kekaisaran selalu begitu. Membutakan orang dengan kata-kata manis.” 

“Benar. Berdiri di atas orang lain memang begitu. Membuat mereka terpesona, memberi mereka mimpi. Karena manusia tidak bisa hidup tanpa mimpi.” 

“Manusia tidak bisa hidup tanpa mimpi? Mungkin benar. Tapi manusia pun tidak bisa hidup hanya dengan mimpi.” 

“Aku tahu itu. Karena itu, di sekitar Kaisar selalu ada orang-orang yang berbakat. Untuk mewujudkan mimpi yang ditunjukkannya. Menyelesaikan masalah bukan tugas Kaisar.” 

Leo mempercayakannya padaku.

Maka aku tidak boleh gagal.

Tidak mungkin dia membayangkan aku akan gagal.

Sebagai kakaknya, aku harus membuktikan diri, bukan? 

“Jadi kamu mengatakan dirimu adalah orang yang berada di sisinya? Kamu yang akan melakukannya? Kalau begitu jawab! Bagaimana kamu akan menyelesaikan masalah bangsawan utara!? Bahkan bila sekarang kami berpihak pada Kaisar, sudah terlambat! Yang menunggu hanyalah hukuman! Tidak ada jalan keluar bagi kami! Bagaimana kamu akan merusak keadaan ini!?” 

“Tidak juga. ‘Karena sejak awal, kamu sudah bergerak’.”

Duke Lowenstein menatapku bingung. Dia tidak mengerti maksud dari kata-kataku. 

Aku tersenyum tipis. 

“Sebas.” 

“Di sini.” 

Sebas muncul di belakangku tanpa suara.

Saat aku mengulurkan tangan, dia menyerahkan setumpuk berkas. 

“Setelah perang berakhir, rakyat Kekaisaran pasti berpikir, ‘Tidak mungkin Pangeran Sisa itu tiba-tiba meraih prestasi besar’. Seperti yang kamu katakan sendiri, sekali meremehkan seseorang, sulit untuk menghargainya kembali. Menilai pun sama sulitnya. Karena itu, tidak seorang pun akan percaya pada prestasiku.” 

“Rakyat memang begitu. Tapi bila kamu mengulanginya, mereka akan mengakuinya.” 

“Benar. Tapi aku tidak berniat membuat mereka mengakuiku. Aku suka julukan Pangeran Sisa.” 

Dengan itu, aku menyerahkan berkas tersebut kepada salah satu ajudan Duke Lowenstein.

Ajudan itu langsung menyerahkan surat itu kepada Duke Lowenstein. 

“Surat?” 

“Benar. ‘Surat yang kamu tulis untukku’.” 

“...Kamu...! Jangan-jangan kamu berniat menyerahkan seluruh prestasi itu padaku!?” 

“Seperti yang diharapkan dari seorang Duke. Ketajamanmu luar biasa.” 

“Apa maksudmu...?”

Sharl menatap dengan wajah bingung. 

Melihat itu, Duke Lowenstein merobek segel surat itu dengan gerakan kasar dan membaca isinya. Lalu, sambil tetap menatapku tajam, dia menyodorkannya kepada Sharl. 

“Ini...!? Tulisan Kakek!?” 

“Tentu saja bukan aku yang menulisnya. Namun tiruannya sangat halus. Hanya kami yang mengenal tulisan aslinya yang bisa membedakannya.” 

“Pelayanku ahli dalam memalsukan surat.” 

“Sudah lama saya tidak melakukannya, tapi hasilnya lumayan. Kebetulan ada contoh asli di kota Deuce.” 

Di kota Deuce, aku memerintahkan Sebas untuk mengumpulkan informasi dan memalsukan surat dari Duke Lowenstein. 

Di ruang arsip rumah itu, tersimpan banyak surat yang pernah dipertukarkan antara Marquis Zweig dan Duke Lowenstein. 

Kalau Sebas tidak mampu, aku sendiri akan turun tangan. Tapi dengan banyaknya contoh itu, tentu kualitasnya terjamin. Dan karena profesinya, Sebas memang ahli meniru tulisan orang lain. 

“Kirimkan persediaan dengan wyvern besar, markas logistik musuh berada di pegunungan... Ini perintah?” 

“Benar. Pasukan utama Pangeran Leonard tadinya dikepung secara logistik. Untuk mengatasi itu, Regu Keenam yang datang sebagai bala bantuan melancarkan operasi pengiriman perbekalan. Dengan gagah mereka mengirimnya dari udara, dan satu-satunya yang mampu menanganinya hanyalah Pangeran Naga.” 

“Itu berarti...”

“Dilihat dari situasinya, satu-satunya yang mungkin memikirkan rencana sekonyol itu hanyalah pangeran di depanku ini. Tetapi, dia berkata akan menyerahkan seluruh jasanya padaku.” 

“Jika tokoh besar di utara sepertimu bergerak, maka musuh akan waspada. Dan sejak awal kamu telah bertindak demi Kaisar dan Kekaisaran. Melalui Sebas, kamu menghubungiku dan memberi instruksi yang tepat. Jasa-jasa yang telah lalu dan yang akan datang semuanya adalah hasil campur tanganmu. Kalau begitu, tidak mungkin kamu bisa dihukum.” 

Mungkin ada yang merasa janggal. 

Namun dengan kesaksianku dan surat sebagai buktinya, dengan dua hal itu bersatu, tidak akan ada yang berani mempersoalkannya. 

“Kamu datang ke Deuce secepat itu demi ini?” 

“Aku datang untuk berkonsultasi dengan Marquis Zweig tentang rencana ini. Pada akhirnya kami tidak sempat membahasnya, tapi Marquis Zweig tadinya merencanakan rapat para bangsawan utara. Sepertinya dia tidak akan menolak. Jadi aku melaksanakannya. Maaf karena aku menyembunyikannya.” 

“Tidak apa-apa... tapi kalau ada surat seperti ini, jasa besarmu...”

“Aku tidak membutuhkan prestasi. Aku tidak tertarik. Dengan ini, tidak ada yang bisa menyebut bahwa para bangsawan utara tidak kooperatif. Prestasimu adalah prestasi para bangsawan utara. Wilayah utara dan keluargamu akan terlindungi, tentunya tergantung tindakanmu setelah ini.” 

Dengan kata-kata itu, aku menunjukkan jalan bagi Duke Lowenstein. 

“Wilayah utara dan keluarga juga terlindungi...”

Duke Lowenstein bergumam sambil meletakkan tangan pada sandaran kursinya. 

Kartu yang kupunya telah kutunjukkan. 

Melihat situasi semata-mata, Duke Lowenstein pasti menerima usulanku. 

Para bangsawan utara awalnya tidak membantu Leo. Selain karena kebencian terhadap keluarga kekaisaran, membantu Leo tidak memberi keuntungan apa pun. 

Gordon kalah di ibu kota dan kehilangan momentum. Untuk menghadapi Gordon, strategi terbaik hanyalah mengepung dan menunggu. Hasil akhirnya, prestasi besar itu, pasti akan direbut Kak Lize yang sedang bergerak menuju utara. 

Selama tidak ada peluang mendapat prestasi, tidak ada alasan untuk ikut berperang. Banyak bangsawan menolak permintaan Leo dengan berbagai alasan. Saat itu posisi Leo sedang unggul. 

Namun situasi berubah drastis. 

Dalam waktu singkat, William memulihkan kekuatan kubu Gordon, Leo berada dalam posisi terjepit, dan para bangsawan utara kehilangan kesempatan untuk membantu. 

Bahkan penyebab Leo menjadi terdesak adalah kekalahan bangsawan utara yang berada di pihaknya. 

Jika mereka membantu sekarang pun, mereka akan dihujani kritik atas keterlambatan dan atas kekalahan sebelumnya. 

Karena itu mereka tidak bergerak. 

Namun dengan usulanku, para bangsawan utara akan dianggap bergerak secara diam-diam sejak awal. 

Dengan begitu, keterlambatan bukan masalah, dan dengan menyerahkan prestasiku kepada mereka, kesalahan yang menyebabkan Leo terdesak pun dapat dihapus. 

Setelah itu, selama mereka membantu mengalahkan Gordon, mereka akan menjadi penolong besar keluarga kekaisaran. Perlakuan baik di masa depan sudah pasti. 

“Wajahmu seakan bilang semuanya berjalan sesuai rencana, ya?” 

“Tidak juga. Kalau semuanya berjalan sesuai rencana, aku sudah tidur nyenyak di ibu kota saat ini.” 

Keberadaanku di sini saja sudah bertentangan dengan keinginanku. 

Mendengar itu, Duke Lowenstein tertawa kecil. 

“Pria yang seenaknya saja. Kamu bilang berbicara denganku di sini adalah hal yang tidak kamu inginkan?” 

“Tentu saja. Kalau Leo tidak dalam bahaya, aku tidak akan datang ke utara.” 

Seolah baru menangkap pengakuanku, Duke Lowenstein menyipitkan mata, puas. 

Melihat itu, aku mengangkat bahu. 

Karena aku memang mengucapkan jawaban yang ingin dia dengar. 

“Yang dalam bahaya adalah adikmu, dan apa pun yang terjadi, kamu ingin menyelamatkannya. Bukan begitu?” 

“Benar.” 

“Dan untuk itu kamu butuh kekuatan kami. Maka kendali negosiasi ada di tangan kami.” 

“Kamu pikir masih ada jalan untuk berpihak pada Gordon?” 

“Aku tidak akan berpihak pada tiran. Tapi Pangeran Naga dari Persatuan Kerajaan adalah orang hebat. Tidak buruk juga bekerja sama dengannya dengan syarat keamanan utara.” 

“Bukan pada Gordon, tapi bernegosiasi dengan Pangeran Naga?” 

Memang bukan langkah yang mustahil. 

Jika mereka membenci keluarga kekaisaran, meninggalkan Kekaisaran adalah satu pilihan. 

Untungnya, Persatuan Kerajaan mengakui otonomi bagi Negara Bagian. Dengan pola itu, wilayah utara juga bisa diperintah secara mandiri. 

Jika seluruh bangsawan utara membelot, garis perbatasan utara tidak akan bertahan. Pasukan Negara Bagian dan Persatuan Kerajaan akan bergerak. Situasi akan berubah total. 

Namun Duke Lowenstein pasti tidak akan memilih itu. 

Jika itu terjadi, Kekaisaran akan membuang semua etika yang tersisa. 

Mereka akan menandatangani perjanjian non-agresi dengan Kekaisaran Suci meski merugikan, dan Kak Lize akan bergerak ke utara. 

Dan jika itu pun gagal, mereka bahkan akan mempertimbangkan penggunaan Pedang Suci.

Jika sampai terjadi demikian, wilayah utara akan diinjak dan dihancurkan habis-habisan. Karena utara akan menjadi garis depan tempat dua pasukan besar saling bertempur. 

Para bangsawan utara yang selama ini menahan perlakuan dingin demi menjaga tanah kelahiran mereka tidak akan menerima akhir seperti itu. 

Mereka memang sudah kehilangan loyalitas terhadap keluarga kekaisaran. Namun mereka belum kehilangan kebanggaan untuk melindungi wilayah dan rakyat mereka.

Seandainya mereka sudah kehilangan itu, mereka pasti sudah sejak awal berpihak pada Gordon. 

Aku sengaja menyinggung hal tersebut demi mengarahkan negosiasi ke pihakku. 

Seperti yang kuduga, dia tidak akan menerimanya dengan mudah. 

“Apa keinginanmu?” 

“Aku tidak punya keinginan apa pun.” 

“Itu ucapan yang aneh. Kalau begitu, kenapa kamu menyiratkan kemungkinan bernegosiasi dengan Pangeran Naga?” 

“Hanya ingin memastikan kamu tahu bahwa segalanya tidak akan berjalan sesuai rencanamu.” 

“Aku sudah mengusulkan cara yang paling mungkin menghindarkan rakyat utara dari kerugian terbesar. Apa yang tidak kamu suka?” 

Meskipun berbicara denganku, Duke Lowenstein tidak berhenti mengamatiku.

Yang tampak di matanya hanyalah kecurigaan. 

Dia tidak mempercayaiku. Karena itulah negosiasi tidak berjalan. 

Aku harus mendapatkan kepercayaannya, atau negosiasi ini tidak akan pernah selesai. 

Awalnya aku berniat meminta Marquis Zweig menjadi perantara. Itu cara paling mudah mendapat kepercayaan. Namun karena hal itu tidak dapat dilakukan sekarang, aku menanggung akibatnya. 

“Yang tidak kusukai adalah dirimu. Aku tidak percaya pada keluarga kekaisaran. Apalagi pada pangeran yang mirip betul dengan sang Kaisar, itu lebih buruk lagi.” 

“Kamu berpikir aku akan melanggar janjiku?” 

“Janji sudah dilanggar. Aku mengirim putriku untuk menjadi istri Kaisar demi berjaga-jaga jika terjadi sesuatu pada wilayah utara. Dan bagaimana akhirnya? Para bangsawan utara dipaksa menanggung kesalahan atas kematian Putra Mahkota dan diperlakukan dengan hina!” 

“Itu adalah dosa keluarga kekaisaran. Tapi saat itu, Kaisar memiliki terlalu banyak hal yang harus dia tangani. Mengabaikan masalah utara adalah satu-satunya hal yang bisa dia lakukan. Kamu pun pasti mengerti itu.” 

Pada saat itu, proses peralihan kekuasaan sebenarnya sudah dimulai. 

Namun pewaris kekuasaan itu tewas. Ayahanda harus kembali menyatukan Kekaisaran di bawahnya dari awal.

Tentu saja bukan itu satu-satunya alasan. Dia juga, di lubuk hatinya, pasti menyimpan dendam karena tak sempat menyelamatkan Putra Mahkota. 

Itulah sebabnya dia tidak banyak bergerak. Bisa dibilang wilayah utara dibiarkan sampai masalah lain selesai, dan masalahnya ada banyak sekali. 

Dan itu pula yang tidak bisa diterima oleh Duke Lowenstein. 

“Itu tidak ada hubungannya! Putriku, yang sejak muda dikenal sebagai pendekar pedang terbaik di wilayah utara, hanya ingin hidup di jalan pedang! Setelah kehilangan istriku, aku membesarkan anak-anakku sendirian! Aku ingin dia bahagia! Aku ingin dia hidup demi mimpinya! Namun meski begitu, aku tetap menyerahkannya! Semua demi wilayah utara!” 

Saat Ayahanda menikahi Selir Keempat, beliau masih seorang Putra Mahkota. Namun proses peralihan kekuasaan hampir rampung dan penobatannya tinggal menunggu waktu. Dia sudah memiliki istri lain, dan tentu saja bukan pernikahan karena cinta. 

Itu semata-mata pernikahan politik demi memperkuat garis keturunan dan stabilitas kekuasaan. 

Bagi Selir Keempat, yang mendambakan hidup sebagai pendekar pedang, dijadikan alat politik pastilah sebuah penghinaan. 

Tapi begitulah kehidupan seorang putri bangsawan. 

Ada banyak wanita bangsawan yang dengan senang hati akan menikahi kaisar. Yang tragis adalah putri Lowenstein bukan salah satunya. 

“Ketika mengirimnya pergi, aku menundukkan kepala sambil dan memohon untuk melindungi wilayah utara. Mereka menerima putriku sebagai selir, namun tetap saja mengabaikan wilayah utara! Bagaimana aku bisa percaya pada Kaisar dan anaknya!?” 

“Percaya atau tidak, hanya ada satu jalan yang bisa kamu ambil. Dan kamu pasti mengerti itu lebih dari siapa pun.” 

“Jika kamu mengingkari janji, apa yang akan terjadi? Siapa yang menjamin kamu akan menyerahkan semua prestasi itu? Sekarang kamu ingin bantuan para bangsawan utara demi adikmu. Tapi bagaimana setelah perang berakhir? Bukankah yang berikutnya kamu inginkan adalah prestasi untuk memenangkan perebutan takhta? Jika kamu bersinar, itu justru akan menguntungkan adikmu!” 

“Aku tidak akan melakukan itu. Jika aku meraih terlalu banyak prestasi, suara dukungan akan terpecah. Aku juga kehilangan kepercayaan bangsawan utara. Aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu. Jauh lebih baik bekerja demi kepentingan kalian dan mendapatkan dukungan kalian.” 

“Semua itu hanya omong kosong!” 

Ini aneh.

Terlalu keras kepala. 

Tidak ada manfaat bagi Duke jika dia terus menunda. 

“Jika ingin bernegosiasi denganku, bawalah Kaisar sendiri atau Kanselir! Tanpa membuat mereka menulis surat perjanjian, aku tidak akan percaya!” 

“Jangan mengada-ada. Dalam situasi seperti sekarang, mustahil bagi Kaisar atau Kanselir meninggalkan ibu kota.” 

“Kalau begitu bawa surat perjanjiannya. Gunakan kecerdikanmu dan bawakan surat perjanjian demi utara. Itulah yang kuinginkan.” 

Setelah berkata demikian, Duke Lowenstein berdiri seolah menandai akhir percakapan. 

Namun sesaat, tubuhnya goyah. 

Dia menahan batuk, kemudian pergi seolah tak terjadi apa-apa. 

“Kakek! Tunggu!” 

Sharl mengejarnya, tapi Duke Lowenstein tidak menghiraukannya. 

Sharl adalah cucu dari sahabat dekatnya, sekaligus anak dari putra kesayangannya.

Bagi Duke Lowenstein, dia jelas seseorang yang sangat berharga. 

Amarah yang ditunjukkannya sebelum negosiasi pun membuktikan hal itu. 

Namun sikapnya sekarang sangat dingin. 

“Bagaimana menurutmu?” 

“Seperti yang Tuan Arnold pikirkan.” 

“...Begitu.” 

Mendengar jawaban Sebas, aku berbalik. 

Mungkin Duke sedang sakit. Karena itulah dia membutuhkan bukti yang jelas dan tidak dapat disangkal. 

Semua demi saat ketika dia sudah tiada.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close