NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saikyou Degarashi Ouji no An’yaku Teii Arasoi V11 Chapter 1

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Chapter 1

Kesatria Naga Keluarga Ardler

Bagian 1

“Sejauh apa keadaan sudah berubah?”

Dalam perjalanan menuju ruang takhta, aku bertanya pada Sebas sambil terus melangkah. 

Selama aku bergerak sebagai Silver, Kekaisaran tidak hanya terjebak dalam perang saudara, tetapi juga menerima serangan dari negara-negara lain. Begitu satu sisi mulai bergerak, semuanya ikut berubah. 

“Yang paling genting adalah wilayah utara. Tuan Leonard sempat membentuk garis pengepungan dengan tiga pasukan: Aliansi Bangsawan Utara, pasukan utama yang beliau pimpin, serta pasukan yang dipimpin para jenderal bawahan. Namun, Aliansi Bangsawan Utara terpukul mundur dan tercerai-berai, sehingga pengepungan tak bisa dipertahankan. Saat ini, Tuan Leonard bertahan di dalam benteng dengan membawa pasukan utama, tetapi benteng itu sendiri mulai dikepung.” 

“Keputusan yang bagus untuk tidak mundur terlalu cepat. Kalau Leo mundur, sebagian besar bangsawan utara akan beralih ke pihak Gordon. Dan hanya dengan itu, arah pertempuran akan langsung ditentukan.” 

“Namun sebagai gantinya, Tuan Leonard kini terkepung. Pasukan jenderal bawahan juga tertahan oleh pasukan lawan yang berhadapan langsung dengan mereka, jadi tak bisa bergerak memberi bantuan.” 

“Itu sebabnya muncul pembicaraan soal mengirim bala bantuan dari ibu kota, ya. Leo pasti kesulitan menghadapi Pangeran Naga. Bagaimanapun juga, pasukan bantuan dari Persatuan Kerajaan sudah tiba, bukan? Di pihak mereka ada pasukan Kesatria Naga.” 

“Benar. Awalnya baik pasukan musuh maupun Tuan Leonard sama-sama berjumlah empat puluh ribu. Namun, dua puluh ribu bala bantuan dari Persatuan Kerajaan dan Negara Bagian ikut tergabung, ditambah kemunculan langsung pasukan Kesatria Naga di bawah komando Pangeran Naga. Aliansi Bangsawan Utara tak mampu menanganinya.” 

“Bukan tak mampu, lebih tepatnya mereka tak berniat menanganinya. Bangsawan utara tidak punya alasan untuk berjuang demi keluarga kekaisaran sejauh itu.” 

Aku menghela napas. 

Tiga tahun lalu, sejak Putra Mahkota wafat di perbatasan utara, para bangsawan utara diperlakukan dingin. Mereka dicaci karena dianggap membiarkan Putra Mahkota mati, bahkan dituduh sengaja membiarkannya terbunuh. 

Dalam acara-acara besar di ibu kota pun jarang ada utusan dari utara. Hubungan sudah benar-benar membeku. 

Lagipula yang disebut Aliansi Bangsawan Utara bukan berarti semua bangsawan utara bergabung. Dan mereka yang ikut pun jelas tidak punya semangat juang tinggi. 

“Lagi pula, wilayah utara adalah tempat asal Selir Keempat. Bisa dibilang itu wilayah kekuasaan kubu Gordon. Konon hubungan mereka memang tidak terlalu baik, tapi tetap saja, mereka pasti segan untuk bertempur habis-habisan. Duke Lowenstein bersikap netral, ‘kan?” 

“Ya. Dengan alasan sakit, beliau tidak memihak siapa pun.” 

Duke Lowenstein adalah bangsawan terbesar di utara. 

Ayah dari Selir Keempat. Dulu dia pernah dikenal sebagai Dewa Petir, seorang jenderal veteran yang ditakuti. Kalau dia turun tangan, keadaan akan langsung berbalik. 

Tapi dia sangat membenci keluarga kekaisaran. Baik Gordon maupun Leo tetaplah keluarga kekaisaran, meskipun mereka cucunya atau kerabatnya. Dia sama sekali tak tertarik mencampuri perselisihan internal itu. 

“Baik, utara sudah jelas. Bagaimana dengan wilayah barat?” 

“Komandan wilayah barat adalah Pangeran Traugott. Nona Leticia ikut serta sebagai pendampingnya. Para Kesatria Griffon dari Kerajaan Perlan tampaknya enggan bergerak setelah mengetahui Nona Leticia memihak Kekaisaran. Karena itu, invasi Kerajaan tertahan dan keadaan tetap buntu hingga sekarang.” 

“Kalau tidak salah Elna juga ikut sebagai pengawal, ya? Karena keberadaan Pedang Suci tak bisa ditebak, Kerajaan pasti tak bisa tenang. Tapi aku heran Kak Trau mau turun ke medan perang, bukan begitu?” 

Saat terjadi pemberontakan di ibu kota mungkin berbeda, tapi pergi jauh ke wilayah barat itu bukan sekadar langka. Aku kira dia termasuk orang yang takkan pernah bergerak dari istana. 

“Itu perintah dari Paduka Kaisar. Beliau ingin memastikan kendali pasukan dengan menempatkan anggota keluarga kekaisaran dan pasukan pengawal di bawah komando militer yang dapat dipercaya.” 

“Kalau di dekatmu ada keluarga kekaisaran dan pasukan pengawal, para jenderal juga tak bisa bertindak sembarangan. Tapi itu juga berarti jumlah pasukan yang bisa digerakkan jadi terbatas, bukan?” 

“Ya. Dan tampaknya hal itu yang sedang dibahas oleh Paduka.” 

Pasukan yang paling bisa dipercaya sekarang berada di bawah Kakak Trau dan Leo. Masih banyak pasukan di pusat Kekaisaran, tapi masalahnya apa mereka dapat dipercaya atau tidak. 

Ayahanda pasti menilai terlalu berbahaya mengirim pasukan yang tidak benar-benar loyal. Namun Leo tetap membutuhkan bantuan. 

“Tak ada lagi keluarga kekaisaran yang bisa bergerak. Tak mungkin mengirim Christa atau Rupert ke medan perang, dan kalau Ayahanda atau Pahlawan maju, skala perang akan membengkak.” 

Jika kedua tokoh itu turun tangan, pasukan mereka akan sangat kuat dan besar. Sebagai balasan, Persatuan Kerajaan dan Negara Bagian pasti mengirim lebih banyak bala bantuan. Perang bisa makin berkepanjangan. 

“Benar. Meski ini bukan skenario yang Anda inginkan, seharusnya Anda yang memimpin pasukan menuju utara untuk membantu.” 

Mendengar kata-kata Sebas, aku mengangkat bahu. 

Untuk musuh biasa, itu tak masalah. 

Tapi kali ini musuhnya bukan orang biasa dan kami punya sejarah panjang. 

“Kalau lawannya hanya Gordon dan pasukan Kekaisaran, tidak apa-apa. Tapi di pihak mereka ada Pangeran Naga. Setelah dikelabui di ibu kota, dia pasti sangat waspada padaku. Kalau aku berangkat besar-besaran, mereka akan langsung bergerak menanggapi, menghalangi pertemuanku dengan Leo, dan kemungkinan besar langsung berusaha menghabisi Leo.” 

“Kalau begitu, apa rencana Anda?” 

“Seperti biasa. Bergerak diam-diam.” 

“Begitu rupanya. Anda berniat melakukan pergerakan di balik bayang-bayang bahkan di medan perang.” 

“Kamu benar. Lagipula itu lebih cocok untukku. Soal memimpin pasukan besar, biar Leo saja yang urus.” 

Aku menyeringai tipis saat mengatakannya.


Bagian 2

Bagi pasukan Kekaisaran, penilaian mereka terhadap diriku tak akan berubah begitu saja. Julukan Pangeran Sisa sudah terlanjur melekat kuat. Tetapi Pangeran William berbeda. 

Dia pasti telah menganalisis pemberontakan di ibu kota dengan baik, dan menyadari bahwa akulah yang diam-diam mengacaukan situasi di sana. 

Leo unggul sebagai kekuatan garis depan. Aku unggul dalam membuat kekacauan dari bayang-bayang. Mereka pasti selalu menganggap bahwa membiarkan kami bergabung adalah hal yang paling berbahaya. 

Di situlah celah muncul. Aku sengaja tidak berdiri di garis depan, aku bergerak diam-diam. Namun keberadaanku akan tetap kubiarkan sedikit. Selama mereka memikirkan dan waspada padaku, itu sudah cukup. 

Bagaimanapun juga, keadaan di utara tidak akan berubah dalam waktu dekat. 

Kunci kemenangan ada pada para bangsawan utara. Jika mereka tidak benar-benar bergerak, perang takkan mendapat titik terang. 

Leo berperang sambil bertahan di dalam benteng, dan itu menguntungkan. Dia memang butuh bantuan, tetapi selama keadaannya begitu, perhatian Pangeran William akan tetap tertuju pada Leo. Dia tak akan sempat mengulurkan tangan untuk merayu para bangsawan utara. 

Dalam waktu itu, aku akan menyatukan para bangsawan utara dan menerobos garis musuh dalam satu gebrakan. 

Untuk penyelesaian cepat, itu satu-satunya cara yang mungkin. 

“Kalau perang saudara tidak segera diakhiri, urusan perebutan takhta jadi tidak ada artinya. Dan... kelalaian keluarga kekaisaran harus diselesaikan oleh keluarga kekaisaran sendiri.” 

Gordon tetaplah keluarga kekaisaran. Begitu dia memberontak, beban tanggung jawab itu jatuh pada kami seluruhnya. 

Tak ada yang akan mengatakan secara terbuka bahwa itu salah keluarga kekaisaran atau salah Kaisar. Namun dalam hati, mereka pasti berpikir begitu. Kami para anggota keluarga kekaisaran pun harus menyadari kebenaran itu. 

Saat memikirkan hal itu, aku sudah sampai di depan ruang takhta. 

Para kesatria yang menjaga memandangku dengan wajah terkejut. 

Dan dari dalam terdengar suara bentakan keras. 

“Jika kita mengirim pasukan yang tidak sepenuhnya bisa dipercaya, itu sama saja mengirim bala bantuan kepada musuh! Apa tidak ada ide lain!?” 

Itu suara Ayahanda. 

Pasti para menteri hanya bisa memberikan jawaban klise, sehingga membuatnya kesal. 

Kasihan juga mereka. 

Aku meletakkan kedua tanganku pada pintu besar ruang takhta dan mendorongnya perlahan. 

Pintu itu terbuka dengan suara berat, dan seluruh tatapan di dalam ruangan langsung tertuju padaku. 

“Untuk membantu Leo, biar aku saja yang pergi. Oh tenang saja, pasukan akan kukumpulkan di sana nanti.” 

Tolong pinjamkan padaku unit-unit terbaik. 

Setelah aku menambahkan itu, Ayahanda tampak sedikit tersentak. 

“P-Pangeran Arnold!?” 

“Anda sudah sadar!?” 

Para peserta sidang dewan berseru kaget. 

Mengabaikan mereka, aku menatap Ayahanda dan Franz yang berdiri di sebelahnya. 

“Kamu ini... tidak berubah meskipun lama tidur.” 

“Manusia tidak berubah hanya dalam satu setengah bulan.” 

“Itu memang benar... bagaimana tubuhmu? Tidak ada masalah?” 

“Tidak ada. Aku baik-baik saja. Maaf sudah membuat Ayahanda khawatir.” 

“Baiklah... senang sekali kamu bangun.” 

Ayahanda tersenyum tipis. Senyum lega. Rupanya aku membuatnya cukup cemas. 

Namun senyum itu segera hilang, digantikan wajah seorang kaisar. Dia memberi isyarat pada Franz. 

“Jika Pangeran Arnold sudah sadar, maka ada banyak hal yang bisa dia lakukan.” 

“Benar. Tapi sepertinya Arnold sudah punya rencana sendiri.” 

“Tidak juga sampai disebut rencana. Aku sudah mendengar situasinya dari Sebas. Berdasarkan itu, tolong jangan jadikan aku komandan bala bantuan. Aku masih ingin hidup.” 

“Pasukan pengawal akan mendampingimu.” 

“Aku bukan khawatir soal itu. Masalahnya musuh punya Pangeran Naga. Setelah dihina di ibu kota, dia tidak akan pernah memaafkanku. Jika mereka mendengar aku ikut berangkat, aku pasti jadi sasaran utama.” 

“...Kemungkinan itu sangat besar.” 

Ayahanda melirik Franz, dan Franz mengangguk pelan. 

Tidak ideal jika aku, yang dikirim sebagai bala bantuan, justru menjadi targetnya. 

Kalau musuh memusatkan perhatian pada diriku, Leo memang bisa bergerak bebas, tapi aku akan menerima serangan yang sangat keras. Dan kalau aku memimpin pasukan yang tingkat kepercayaannya masih diragukan, apa aku bisa menahan itu? 

Jelas mencurigakan. 

“Lalu bagaimana?” 

“Jadi seperti yang kubilang. Aku akan pergi diam-diam. Tolong katakan saja aku masih beristirahat di ibu kota.” 

“...Leo sedang dikepung. Setidaknya dia butuh bantuan logistik. Untuk itu kamu tidak butuh pasukan?” 

“Pasukan besar pun belum tentu bisa mengirimkan suplai. Musuh pasti menguasai bukan hanya darat, tapi udara juga.” 

Ayahanda mengernyit mendengar perkataanku, sementara mata Franz menyipit tajam. 

Dia pasti langsung menangkap apa yang sebenarnya aku inginkan. 

“Coba jelaskan. Bagaimana kamu berniat menerobosnya?” 

“Aku akan memakai unit tercepat dari pasukan pengawal. Regu Keenam Kesatria Pengawal. Mereka adalah kekuatan udara paling berharga di Kekaisaran.” 

Begitu aku mengatakan itu, para menteri langsung ribut. 

Memang wajar. Kekuatan udara paling berharga dan disimpan selama ini karena alasan yang sangat kuat. 

“Regu Keenam adalah regu upacara! Untuk pengintaian atau penyampaian pesan mungkin masih bisa, tapi mengirim mereka ke pertempuran tidak bisa diterima!” 

“Mereka menunggangi makhluk legenda yang dahulu disembah Elang Surgawi! Jumlah individu Elang Surgawi sangat sedikit di seluruh Kekaisaran, dan hanya lima puluh penunggang dari Regu Keenam yang mampu mengendalikan mereka! Tahukah Anda berapa tahun yang dibutuhkan kalau sampai hilang!?” 

Badai protes pun pecah. Sudah tentu. Semua orang memikirkannya, tapi tak berani mengucapkannya. 

Regu Keenam adalah para kesatria yang menunggangi Elang Surgawi, makhluk legenda yang mampu terbang jauh lebih cepat daripada wyvern Persatuan Kerajaan maupun griffon Kerajaan. Kekuatan mereka luar biasa, tetapi sulit dilatih dan jumlahnya sedikit. 

Mereka adalah makhluk suci yang dahulu disembah di Kekaisaran, sehingga regu itu ditugaskan sebagai pasukan upacara dalam festival-festival besar. 

Kekuatan mereka tak perlu diragukan. Namun jumlahnya sedikit, tak bisa diganti, dan melibatkan mereka dalam perang besar juga dianggap mencoreng martabat negara.

Alasan untuk tidak mengirim mereka ke medan perang sudah lebih dari cukup. 

Namun...

“Kalau kita menahan mereka dan salah satu calon pewaris takhta dari utara tewas, para bangsawan utara tidak akan punya jalan untuk mundur lagi. Selama ini saja mereka sudah diperlakukan dingin; kali ini entah perlakuan apa lagi yang menanti mereka. Maka sudah pasti mereka akan memilih berpihak pada Gordon. Kalau itu terjadi, segalanya akan terlambat, bukan?” 

“...Jika kita mengerahkan mereka, kita harus menang.” 

“Tentu saja. Perang tidak ada artinya kalau tidak dimenangkan. Karena itu, suplai untuk Leo tidak boleh terputus. Kita akan memanfaatkan mereka untuk melakukan suplai dari udara.” 

“Itu juga sudah dipikirkan Franz. Tapi menyuruh Elang Surgawi membawa perbekalan akan menghilangkan keunggulan mereka.” 

“Benar, karena itu Regu Keenam hanya akan bertugas sebagai pengawal. Yang membawa barang akan kita serahkan pada yang lain.” 

Para menteri menatapku dengan wajah penuh kebingungan saat mendengar penjelasanku. 

Di dalam Kekaisaran, kekuatan udara memang sangat sedikit. Di darat kami mampu mengungguli Persatuan Kerajaan, namun di udara kami sangat terdesak. Itulah salah satu alasan mengapa pihak utara terus menderita kekalahan. 

Tidak seperti Kerajaan Perlan, kami tidak punya Kesatria Griffon. Menghadapi Persatuan Kerajaan, yang mampu mengerahkan banyak wyvern, berarti kami tidak boleh membiarkan para Kesatria Naga musuh bergerak bebas di langit. 

“Pangeran Arnold. Sepertinya Anda belum sadar, tapi Kekaisaran memang kekurangan kekuatan udara. Itu bukan sesuatu yang bisa muncul begitu kita menginginkannya.” 

“Mungkin benar bahwa kekuatannya sedikit. Tapi ada yang tidak termasuk ke dalam unit tempur. Di utara, sudah sejak lama dilakukan pelatihan wyvern dan penunggangnya. Memang hanya sedikit yang cukup layak untuk dijadikan kekuatan tempur, tapi untuk membawa barang, itu seharusnya bisa. Regu Keenam akan merebut supremasi udara, dan mereka akan mengangkut perbekalan.” 

Dalam pertempuran udara, kemampuan bermanuver sangat penting. Wyvern yang terlalu besar hanya akan menjadi sasaran tembak dan tidak bisa diterjunkan ke medan perang. Persatuan Kerajaan punya pengetahuan soal itu, tapi tidak dengan Kekaisaran. 

Kami masih berada pada tahap uji coba. Karena itu, banyak wyvern yang bisa terbang tetapi tidak bisa bergerak lincah. Untuk menjadi kekuatan tempur memang belum bisa, tapi untuk tugas transportasi, seharusnya mereka memadai. 

“Memang benar, di wilayah utara Kekaisaran ada pelatihan Kesatria Naga. Yang memimpin adalah Marquis Gleisner. Sekarang seharusnya dia berada di sisi Pangeran Leonard.” 

“Kalau dia ternyata memihak musuh, itu akan jadi masalah besar... Tapi kalau begini, masalahnya selesai. Jujur saja, menurutku memang tidak ada cara lain.” 

Mendengar ucapanku, Ayahanda tampak tenggelam dalam pikirannya. Kesunyian berlangsung beberapa saat sebelum beliau memanggil Franz. 

“Bagaimana pendapatmu?” 

“Ini memang rencana yang sangat bergantung pada Regu Keenam, namun saya tidak menganggapnya buruk. Ada risiko keamanan, tetapi sekarang bukan saatnya bersikukuh pada hal itu.” 

“...Aku pun berpikir demikian. Tapi setelah itu kamu berniat bagaimana, Arnold?” 

Ya, itu memang pertanyaannya. Andaikata suplai sampai ke Leo, bagaimana mengubah situasi perang di utara?


Mengirim perbekalan saja hanya akan memperpanjang waktu bagi Leo. 

Itu bukan solusi mendasar untuk masalah yang ada. 

Karena itu, kita harus mendorong mereka yang masih enggan bergerak. 

“Aku akan membentuk Aliansi Bangsawan Utara.” 

“Itu sudah tidak berbentuk lagi. Kamu ingin membangunnya kembali?” 

“Hanya sebagian kecil bangsawan yang ikut serta, itu tidak bisa disebut Aliansi Bangsawan Utara. Para bangsawan utara harus bersatu dan menggabungkan kekuatan. Untuk itu, aku yang akan turun langsung dan meyakinkan mereka.” 

“...Bangsawan utara membenci keluarga kekaisaran.” 

“Tentu saja. Mereka disalahkan atas kematian Putra Mahkota dulu. Memang, kalau saja mereka bergerak lebih cepat, mungkin Putra Mahkota tidak akan mati. Tapi itu hanya kemungkinan. Meski begitu, mereka diperlakukan seakan-akan penyebab utama. Mereka selalu dipinggirkan. Fakta bahwa mereka belum berkhianat hanyalah karena peluangnya masih imbang, dan karena Gordon juga anggota keluarga kekaisaran. Itu saja.” 

“Walau Anda memahami itu, apa Anda yakin bisa meyakinkan mereka?” 

Mendengar pertanyaan Franz, aku merenung sejenak. 

Aku tidak bisa mengklaim dengan pasti bahwa aku bisa. Bagaimanapun, itu menyangkut perasaan dan keputusan pihak lain. 

Namun mereka pasti setidaknya mau mendengarkan ucapanku. Leo kemungkinan bahkan tidak akan diberi kesempatan bicara. Itu saja sudah jadi perbedaan besar, dan jika mereka mau mendengar, sisanya bergantung padaku. 

“Mereka adalah para bangsawan yang kesetiaan mereka sudah terkikis habis. Dan aku adalah pangeran yang kemampuannya dianggap habis. Sebagai orang yang dianggap sisa-sisa, mungkin kami bisa saling memahami. Aku tahu rasanya diremehkan dan diperlakukan dengan dingin.” 

“...Kamu dan para bangsawan utara itu berbeda.” 

“Kami sama saja. Mereka terpaksa belajar untuk menahan diri. Karena mereka hanya bisa menahan diri... Ayahanda. Mohon biarkan aku menangani urusan ini. Bangsawan yang selama ini dipinggirkan oleh keluarga kekaisaran, dan pangeran yang terus ditertawakan seluruh kekaisaran. Bukankah itu kombinasi yang menarik?” 

Aku menundukkan kepala. 

Demi para bangsawan utara, aku ingin Ayahanda mempercayakan urusan ini padaku. 

“...Baiklah. Jika kamu bertekad sejauh ini, aku mempercayakan Regu Keenam Kesatria Pengawal padamu.” 

“Paduka!?” 

“Mohon pertimbangkan kembali! Regu Keenam adalah kekuatan udara terkuat Kekaisaran! Kehilangannya akan membuat musuh sangat tersulut semangatnya!” 

“Tidak ada pilihan lain. Aku telah memutuskan menyerahkannya kepada Arnold.” 

“Ini menyangkut masa depan Kekaisaran! Setidaknya serahkan pada Marsekal Lizelotte di perbatasan timur!” 

“Aku tidak menerima bantahan. Kalian menganggap Arnold tidak bisa diandalkan... tapi saat itu juga Kekaisaran terancam kehancuran. Dan Arnold bergerak dengan cara yang tak seorang pun bisa prediksi. Atas prestasi itu, aku mempercayakan ini padanya.” 

“Terima kasih.” 

“Tapi ingat, Arnold. Jika kamu gagal, aku akan mengambil langkah keras. Jangan pernah lupakan itu.” 

“Baik, Ayahanda.” 

Aku tahu maksud beliau. 

Entah Ayahanda sendiri yang akan memimpin langsung pasukan pengawal, atau Pahlawan yang akan turun tangan. 

Apa pun bentuknya, pertempuran di utara pasti akan kian memanas. 

Demi para bangsawan utara, dan demi rakyat mereka, aku tidak boleh gagal. 

“Pangeran Ketujuh Arnold Lakes Ardler, aku memberimu perintah. Dengan memimpin Regu Keenam Kesatria Pengawal, kamu akan menyelamatkan Pangeran Kedelapan Leonard.” 

“Baik.” 

Aku berlutut dan menerima pedang dari Ayahanda. 

Saat pemberontakan di ibu kota, aku sempat merasa terlalu menonjol. Tapi melihat situasinya sekarang, mungkin itu justru jadi keuntungan. 

Mereka yang benar-benar tidak kompeten tidak akan pernah diizinkan turun ke medan perang. Hanya karena aku menonjol waktu itu, aku bisa menerima pedang ini sekarang. 

Sebenarnya aku ingin tugas seperti ini diemban orang lain, tetapi kini hampir tidak ada anggota keluarga kekaisaran yang bisa bergerak. Barisan keluarga kekaisaran semakin menipis. 

Jika Eric tidak hadir di pertemuan ini, berarti dia berada di Kekaisaran Suci atau di perbatasan timur. 

Mungkin dia sedang mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menahan Kekaisaran Suci. 

Benar-benar merepotkan. Sebanyak apa pun prestasi Leo di garis depan, semakin besar kekacauan yang terjadi, semakin banyak pula prestasi yang diraih Eric di tempat lain. Dia menghentikan Kekaisaran Suci dengan koneksi yang dibuatnya sendiri.


Bagian 3

Ketika aku berdiri, Franz memanggilku. 

“Yang Mulia. Regu Keenam Kesatria Pengawal saat ini sedang melakukan uji coba senjata prototipe di dekat ibu kota.” 

“Senjata prototipe?” 

“Itu hasil pengembangan Menteri Teknologi. Kalau Yang Mulia datang langsung, Anda akan memahami seperti apa benda itu. Menurut saya, alih-alih memanggil mereka kembali, akan lebih baik bila Anda sendiri yang melihatnya. Bagaimana?” 

Itu adalah saran dari Kanselir negeri ini. 

Menolaknya akan tampak bodoh. 

Lagipula, senjata prototipe itu juga cukup membuatku penasaran. 

“Kalau begitu, aku sendiri yang akan pergi ke sana.” 

“Baik. Akan saya kirimkan kurir pesan segera. Lagi pula, Menteri Teknologi tampaknya sangat menantikan kabar bahwa Yang Mulia sudah bangun.” 

“Menteri Teknologi? Dia menungguku?” 

“Benar. Sepertinya beliau juga membuatkan satu prototipe khusus untuk Yang Mulia.” 

“Memang tak kapok-kapok, orang itu.”

Aku menghela napas panjang sambil berkata begitu.


* * *


Di dalam hutan besar yang terletak tak jauh dari ibu kota Vilt. 

Tanpa diketahui banyak orang, uji coba operasional senjata prototipe tengah dilakukan di sana. 

“Jadi itu tongkat sihir, ya.” 

“Tongkat yang bisa memicu sihir hanya dengan mengalirkan energi sihir. Sepertinya akhirnya mereka berhasil menciptakan sesuatu yang dapat digunakan dalam pertempuran sungguhan.” 

Sambil berjalan menembus hutan, aku mengangguk menanggapi kata-kata Sebas.

Tongkat sihir adalah alat yang memungkinkan seseorang yang bukan penyihir untuk menggunakan sihir. 

Selama ini, mereka hanya bisa mereproduksi sihir sederhana. Senjata sihir yang benar-benar efektif di medan tempur, terutama untuk menyerang prajurit, belum pernah ada. 

Untuk berjaga-jaga menghadapi Kekaisaran Suci, negara ahli sihir, Kekaisaran kita sudah sejak lama memulai penelitian tongkat sihir itu. Keseriusan itu terlihat dari dibentuknya posisi khusus, yakni Menteri Teknologi, dan bagaimana mereka mengundang peneliti jenius ke dalam Kekaisaran. 

Usaha itu tampaknya akhirnya membuahkan hasil, meski kelihatannya tidak semuanya berjalan mulus. 

“Bagaimana kabarmu, Menteri Kuber?” 

“Oh? Oooh! Pangeran Al! Akhirnya Anda bangun dari hibernasi!” 

Saat melihat wajahku, pria kurus paruh baya itu melontarkan ucapan yang entah apa maksudnya. Berkacamata, memakai jas putih yang penuh noda, dia lebih mirip ilmuwan gila daripada seorang menteri Kekaisaran. 

Dia mendapat pengecualian, sehingga tidak wajib menghadiri rapat para menteri, dan orang aneh yang menghabiskan sebagian besar tahun dengan mengurung diri di ruang penelitian.

Tapi dialah Menteri Teknologi, Kuber.

“Bukan hibernasi, tapi ya aku akhirnya bangun. Jadi itu senjata prototipe yang dipakai Regu Keenam?” 

“Ya, ya! Anda benar! Itu adalah Tongkat Tempur Sihir Tipe 61! Cukup dengan mengalirkan sihir ke dalamnya, lalu sihir api akan ditembakkan! Kekuatannya cukup untuk mengatasi prajurit!” 

“Kelihatannya begitu.” 

Sambil menghindari batang pohon besar, aku mengamati anggota Regu Keenam menembakkan api pada sasaran yang sudah disiapkan. 

Mereka menunggangi burung elang raksasa berbulu hitam-putih, Elang Surgawi. 

Dengan kecepatan luar biasa, mereka menembus hutan dalam penerbangan rendah. Itu saja sudah mengagumkan, mereka juga mampu mengenai target dengan peluru api. Benar-benar tingkat latihan yang mengagumkan. 

Yang mereka pegang tampak seperti tombak pendek. Itu pasti Tongkat Tempur Sihir Tipe 61. 

Panjangnya sedikit lebih pendek dari tombak panjang biasa, tetapi beratnya jelas jauh lebih besar. Para kesatria mengikatkannya ke sabuk untuk menopang beban yang tak mungkin ditahan oleh tangan saja. 

“Jadi tak terhindarkan kalau ukurannya besar?” 

“Betul, betul! Struktur internalnya sama sekali tidak bisa diperkecil! Tapi Kanselir mengusulkan Regu Keenam untuk menggunakannya!” 

Senjata sihir yang kuat namun besar itu akhirnya digunakan oleh pasukan yang menguasai udara, sebuah cara untuk menciptakan penyihir terbang. 

Dalam pertempuran udara, pertarungan jarak dekat adalah standar. Jika kita bisa menembak dari jarak menengah, bahkan tanpa benar-benar jauh, itu sendiri menjadi keuntungan besar. 

Musuh hanya bisa menembakkan panah, sedangkan di pihak kita, ada sihir yang kuat dengan akurasi yang tidak buruk juga. 

Mereka telah mengambil Regu Keenam dan membuatnya lebih mematikan lagi. Dari caranya, jelas Kanselir memang berniat memakai pasukan ini dalam perang suatu hari nanti. 

Namun, mengirim mereka ke pertempuran dengan senjata yang masih dalam uji coba jelas berisiko, itulah mengapa Kanselir menunda penggunaannya. Sikapnya memang sangat berhati-hati. 

“Saat ini kami sudah memulai penelitian agar manusia yang menunggang kuda bisa menggunakannya, tapi itu... sulit sekali! Namun! Justru itu bagian terbaiknya!” 

“Semangatmu memang tak pernah surut. Lalu? Kudengar kamu membuat senjata untukku?”

“Ah! Ya! Ya, benar sekali! Dan kali ini, saya benar-benar percaya diri!” 

Dia selalu mengatakan itu. 

Melihat Kuber bersinar seperti anak kecil yang ingin memamerkan mainan barunya, aku hanya bisa tersenyum kecut. 

Kuber sudah lama terpikat oleh situasiku, memiliki energi sihir, tetapi tidak bisa memakai sihir. Itulah mengapa dia terus mencoba membuatkan senjata untukku. 

Sejauh ini belum ada yang berhasil. Energi sihir yang kualirkan selalu menghancurkan alat ciptaannya. 

“Pangeran Al! Ini dia! Tongkat Tempur Sihir Tipe 62! Tidak berhasil diperkecil, tetapi seluruh performanya melampaui Tipe 61!” 

“Apa kelemahannya?” 

“Konsumsi sihir yang sangat besar! Namun! Bagi Anda, itu bukan masalah, bukan!?” 

Dengan penuh semangat, Kuber menyeretku menuju lokasi Tipe 62 diletakkan. 

Tongkat itu tidak terlalu berbeda dari Tipe 61 dalam bentuk maupun ukuran, tetapi dilapisi dengan cat emas, terlihat mencolok dan mewah, benar-benar edisi khusus. 

“Kamu tidak pernah kapok, ya. Padahal selalu rusak.” 

“Kali ini tidak apa-apa!” 

“Dulu kamu juga bilang begitu.” 

Aku menggumam sambil menerima bantuan dari para asistennya untuk mengangkat tongkat itu. 

Meski telah dikaitkan pada sabuk, beratnya luar biasa. Para asisten memegangi tubuhku agar aku tak terjatuh. Kalau mereka melepas tangan, aku pasti langsung tumbang. 

“Berat sekali... bisa dimulai?” 

“Tidak apa-apa! Silakan alirkan sihir Anda!!” 

Dengan kegirangan berlebihan, Kuber memberi aba-aba. 

Aku melakukan seperti yang dia minta dan mengalirkan energi sihir. 

Lalu... 

“Ah...”

“AaAAAAAaAaAAAAAA!?!?!?” 

Tongkat Tipe 62 bahkan tidak sempat menembakkan sihir. Ia hanya patah menjadi dua. 

Sudah biasa, tapi Kuber tetap berteriak pilu dan berlari menghampirinya. 

Seperti orang tua yang mengangkat tubuh anaknya yang jatuh, dia dengan hati-hati memungut bagian tongkat yang patah dan berbisik lirih. 

“...Hancur...”

“Begitu ya. Yah, seperti biasa.” 

“Sial! Kenapa selalu gagal!? Kenapa!?” 

Kuber memukul tanah berkali-kali dengan ekspresi frustrasi. 

Alasannya karena tongkat itu tidak cukup kuat untuk menampung energi sihirku.

Aku buruk dalam mengendalikan sihir. Tidak, lebih tepatnya bukan karena aku tak berbakat.

Anggaplah sihir yang digunakan dalam sihir modern atau dalam tongkat sihir ini berada pada skala puluhan. Aku hampir tidak bisa mengatur sihir pada skala itu.

Biasanya, aku selalu mengendalikannya pada skala ratusan. 

Kalau begitu, hampir semua alat sihir akan berakhir seperti ini. 

Sihir kuno membutuhkan jumlah energi sihir mulai dari skala ratusan, jadi masalah itu tidak muncul. Itu salah satu alasan kenapa aku cocok menggunakan sihir kuno.

Meskipun begitu, bukan berarti siapa pun yang punya banyak cadangan sihir bisa memakai sihir kuno. 

“Sudahlah, ganti suasana. Ini kan selalu terjadi, bukan?” 

“Saya selalu bersedih setiap kali terjadinya!” 

Kuber langsung merajuk sambil mulai mencungkil-cungkil tanah dengan jarinya.

Benar-benar orang aneh. Yah, meskipun kemampuan penelitiannya memang luar biasa. 

“Kuber, bisa kamu buat satu lagi?” 

“Sebenarnya dua unit yang kami buat untuk uji coba, jadi masih ada satu lagi...” 

“Kalau begitu, kita coba berikan pada Leo. Aku akan berangkat ke garis depan setelah ini.” 

“Apa!? Artinya Anda akan membawa Regu Keenam, bukan!? Bersama Tipe 61 buatan kami!” 

“Kurang lebih seperti itu.” 

Saat aku menjawab Kuber, seorang kesatria pengawal perlahan mendarat di sampingku.

Dia mengenakan jubah putih khusus yang hanya diperbolehkan dipakai oleh para kesatria pengawal, dan detail pada jubahnya menunjukkan bahwa dia adalah seorang kapten. 

“Sudah lama tidak bertemu, Kapten Lambert. Maaf mendadak, tapi mulai sekarang kamu akan ikut denganku ke garis depan.” 

“Kami sudah menerima kabar dari Yang Mulia Kanselir. Kami sudah menunggu perintah Anda. Kami bisa berangkat kapan saja.” 

Kapten Regu Keenam, Lambert von Meyer, tersenyum saat berkata begitu. 

Lambert, kapten dari Regu Keenam Kesatria Pengawal, adalah pria yang berkulit sawo matang.

Usianya sekitar awal tiga puluhan.

Lahir sebagai putra keempat dari keluarga bangsawan daerah, hampir mustahil baginya untuk mewarisi kedudukan keluarga. Dia menargetkan karier dalam militer, namun bakatnya dalam menunggang Elang Surgawi membuatnya terpilih menjadi Kesatria Elang Surgawi. 

Kemampuannya meningkat pesat, dan setelah masuk Regu Keenam, Lambert banyak berjasa dalam tugas-tugas seperti penyampaian informasi dan pengintaian ke berbagai daerah.

Namun dirinya selalu menginginkan tugas tempur di garis depan. 

Mereka percaya bahwa para Kesatria Elang Surgawi adalah yang terkuat di udara, dan itu bukan sekadar kepercayaan diri. Tapi yang selalu disorot justru para Kesatria Naga dan Kesatria Griffon.

Selama tak turun ke medan perang, mustahil mereka disebut yang terkuat. 

Karena itu, kesempatan kali ini jelas sangat dia nantikan.

Meskipun, tentu ada alasan lain kenapa dia ingin pergi ke medan perang. 

“Para Kesatria Naga dari Persatuan Kerajaan akan kami libas habis.” 

“Menjanjikan. Tapi ada satu hal yang harus kamu ingat.” 

“Apa itu?” 

“Tujuan kita adalah menyelamatkan Leo. Itu prioritas utama. Tanamkan baik-baik dalam kepalamu.” 

“Tentu saja. Anda tak perlu mengingatkannya.” 

“Benarkah? Kamu tidak berniat membalas dendam untuk sahabatmu?” 

Ucapan itu membuat Lambert terdiam. 

Lambert memiliki seorang sahabat, sesama kapten kesatria pengawal yang seumuran dengannya, Oliver.

Saat pemberontakan terjadi di ibu kota, Lambert sedang berada di perbatasan utara untuk menyampaikan kabar kemungkinan invasi dari Negara Bagian. 

Itu memang tugas Regu Keenam, dan dia pasti memahami itu. Tapi pastinya dia menyesali tidak berada di ibu kota saat itu. 

Oliver ditemukan dalam keadaan tubuh penuh tusukan. Dia benar-benar menahan musuh sampai akhir.

Namun penyebab utama kematiannya adalah luka di perut. Serangan mendadak dari belakang.

Kapten kesatria pengawal yang berkhianat, Raphael, adalah orang yang membunuh Oliver. Dan Raphael kini berada di pihak Gordon. 

Jika Lambert ikut ke front utara, kemungkinan bertemu Raphael sangat besar.

Dan saat itu terjadi apa dia bisa tetap tenang? 

“...Apakah salah bila aku ingin membalaskan kematian sahabatku...?”

“Tidak salah. Itu pemikiran yang sangat wajar. Tapi Oliver sampai akhir tetap seorang kesatria pengawal. Dia melakukan apa yang harus dia lakukan demi Kekaisaran. Bila kamu abaikan tugas dan hanya mengejar balas dendam, itu berarti kamu mengkhianati apa yang Oliver perjuangkan.” 

“...Saya mengerti, tetapi...”

“Kalau kamu mengerti, itu sudah cukup. Lakukan tugasmu dengan benar. Kamu adalah kapten kesatria pengawal. Setelah tugas selesai, barulah kamu urus urusan balas dendam. Selama misinya berhasil, aku tidak akan komplain.” 

“Yang Mulia...”

“Terus terang, aku juga ingin memukul Raphael saat bertemu nanti. Kalau kamu melihatnya lebih dulu, hajar saja sebagai gantiku. Tentu saja, tetap dahulukan tugasmu.” 

Orang yang terhanyut emosinya tidak akan bisa dilarang dengan kata-kata. Saat waktunya tiba, dia pasti bergerak mengikuti nalurinya.

Kalau begitu, lebih baik mengakuinya sejak awal. Namun ada hal yang tidak bisa kutawar, misi harus berhasil. 

Selama dia melakukan bagiannya, aku tidak akan mengeluh. 

Namun. 

“Dan pastikan jangan sampai kamu yang mati. Dari para kapten kesatria pengawal, satu sudah gugur, satu berkhianat. Banyak lainnya sedang bertugas di luar ibu kota. Kalau jumlah kalian berkurang lagi, menjaga Ayahanda saja akan menjadi tugas yang nyaris mustahil.” 

“Baik. Akan saya tanam dalam-dalam di hati.” 

Lambert menunduk perlahan, penuh kesungguhan.


Bagian 4

Keesokan harinya.

Sebenarnya aku berniat berangkat sejak kemarin, tetapi Kanselir menahanku.

Katanya dia ingin menambahkan pasukan elite lagi, jadi mau tak mau aku menghabiskan waktu dengan memilih beberapa barang dari penemuan-penemuan Menteri Kuber yang tampaknya bisa dipakai. 

Dan pasukan yang datang ternyata tidak terduga. 

“Mendengar akan turun ke medan perang, kami langsung terbang ke sini.” 

“Kanselir ternyata cukup protektif juga. Tidak hanya memberi kesatria pengawal, tapi juga mengirim kalian.”

Di depanku berdiri sekitar seratus orang pasukan.

Pemimpin mereka adalah seseorang yang sangat kukenal.

Kolonel Lars, komandan Narberitter. 

Tampaknya Kanselir sengaja memanggil sekitar seratus orang dari Narberitter untuk diberikan padaku.

Tugas utama Narberitter adalah mempertahankan wilayah pusat Kekaisaran. Di tengah kondisi di mana tidak ada yang tahu pasukan mana yang akan memberontak, kepercayaan terhadap mereka, yang bergegas datang saat pemberontakan ibu kota, sangatlah tinggi.

Karena itu pula mereka ditahan di pusat. 

Meski hanya seratus orang, termasuk Kolonel Lars sendiri, dipinjamkannya pasukan ini padaku adalah perlakuan yang benar-benar istimewa. 

“Sejak hari itu, semua orang berharap bisa berperang di bawah komando Yang Mulia. Kami menyerahkan nyawa kami pada Anda.” 

“Kurasa waktu pemberontakan ibu kota, aku sudah memimpin kalian?” 

“Pimpinan pada tingkat itu tidak layak disebut kepemimpinan, Yang Mulia. Semua berharap dapat melihat Anda bertarung dengan sungguh-sungguh.” 

“Sudahlah, hentikan pujian seperti itu.” 

Aku mengangkat bahu, lalu mengenakan mantel hitam berkerudung.

Secara resmi, aku masih dianggap sedang tidur.

Aku tidak bisa seenaknya lagi merasa aman dan yakin tidak akan ketahuan, seperti biasanya. 

“Kalau begitu, kita berangkat. Pertama kita menuju wilayah barat. Musuh pasti punya mata-mata di ibu kota. Sampai malam kita akan terlihat seolah bergerak ke barat.” 

“Dan saat malam tiba, kita berbelok menuju utara, memanfaatkan kegelapan. Begitu maksud Anda?” 

“Kira-kira begitu. Kebetulan kita membawa cukup banyak barang, jadi kita bilang saja bahwa ini misi pengangkutan.”

Aku menunjuk beberapa kereta yang sudah disiapkan. Di dalamnya penuh dengan barang-barang hasil penemuan Menteri Kuber.

Menurutnya sih kebanyakan adalah kegagalan, tapi kalau tahu cara menggunakannya, beberapa bisa menjadi kekuatan tempur yang lumayan.

“Apakah Regu Keenam akan berangkat lebih dulu?” 

“Ya. Kalau mereka bergerak bersama kita, mereka terlalu mencolok. Kita akan bertemu kembali di wilayah utara. Sebas, urusan pengawasan sekitar kuserahkan padamu.” 

“Baik.” 

Sebas menghilang tanpa suara.

Kalaupun musuh mencoba mengikuti kami, Sebas pasti bisa menanganinya.

Walaupun tanpa Sebas pun, hampir mustahil menguntit Narberitter tanpa ketahuan.

Mereka dilatih ketat dan memiliki kemampuan tinggi, mampu melakukan tugas apa pun, dari serangan paksa hingga operasi penyusupan.

Tak ada orang waras yang akan mengambil risiko mengawasi mereka dari dekat.

Mata dan telinga yang mereka miliki di ibu kota jauh lebih berharga bagi musuh; mereka tidak akan membuangnya hanya untuk mengikuti pasukan yang tampak bergerak ke barat. 

“Bagaimanapun juga, dengan Regu Keenam dan Narberitter diberikan padaku, kegagalan bukanlah pilihan.” 

“Sejak awal Anda tidak berniat gagal, jadi berhentilah berpura-pura khawatir.” 

“Hei, aku tidak sepercaya diri itu, tahu? Aku benar-benar berpikir masih mungkin untuk gagal.” 

“Wajah Anda tidak mengatakan demikian. Ekspresi Anda seperti sedang memikirkan bagaimana menipu musuh kali ini.” 

“Jangan menggambarkan aku seperti penipu.” 

“Menurut saya, penipu malah lebih lembut. Jadi, bagaimana rencana Anda kali ini? Jika berkenan, mohon beri kami petunjuk.” 

“Tidak ada yang rumit. Akan kujelaskan di perjalanan. Kalian juga akan bergerak sesuai rencana.” 

Aku hendak naik ke atas kudaku. 

Namun seorang kesatria bergegas menghentikanku. 

“Yang Mulia! Paduka Kaisar memerintahkan agar Anda memperlihatkan wajah Anda sebelum berangkat!” 

“Haah? Bukankah aku sudah memberi salam perpisahan?” 

“Itu memang benar, tetapi...” 

Kesatria itu tampak bingung.

Tidak ada gunanya membuatnya semakin kesulitan. 

“Baiklah. Aku akan menemui beliau sebentar.” 

Dengan itu, aku pun kembali menuju istana.


* * *


Aula takhta. 

Di sana hanya ada aku dan Ayahanda. 

Dan alasan kami bertemu hari ini tampaknya terletak pada sebuah panji perang besar yang diletakkan di depan takhta.

Dasarnya merah, dengan dua pedang hitam dan putih yang bersilangan.

Sebuah bendera baru yang belum pernah kulihat sebelumnya. 

“Jadi Anda ingin aku membawa ini?”

“...Awalnya itu adalah panji perang milik Leonard. Hanya saja, warna kedua pedangnya dibalik dari milik Leonard.” 

“Apa ini salah buat?”

“Dasar bodoh, itu sengaja. Aku memikirkan penggunaannya ketika kamu menghadiri upacara-upacara nanti, jadi aku buatkan.” 

“Lagi-lagi membuat sesuatu yang merepotkan... Jadi aku harus membawanya?” 

“Benar.” 

“Aku bukan berniat memimpin pasukan, dan di medan perang pun orang tidak bisa membedakannya.” 

“Terserah bagaimana kamu memakainya. Pokoknya bawa saja.” 

Ayahanda berkata begitu lalu terdiam. 

Melihat sikapnya itu, aku bergumam pelan. 

“Sekarang baru merasa khawatir?” 

“Siapa yang tidak khawatir. Begini jadinya, aku justru menyesal tidak membuatmu belajar lebih banyak kalau pada akhirnya kamu harus turun ke medan perang.” 

“Sudah terlambat sekarang.” 

“Memang terlambat.” 

Keheningan kembali turun di antara kami. 

Ayahanda duduk di atas takhta sebagaimana layaknya seorang kaisar, namun wajahnya adalah wajah seorang ayah. 

Jika Kanselir tidak berada di sampingnya, sifat rapuh itu sesekali muncul. 

Sisi itu mulai terlihat setelah Putra Mahkota wafat. 

Dan kini Zandra juga sudah tiada. 

Wajar bila kehilangan anak satu per satu membuatnya sedih. 

Tapi.

“Aku ini anggota keluarga kekaisaran. Dan Ayahanda adalah Kaisar.” 

“...Aku tahu.” 

“Kalau begitu, kita hanya bisa menerimanya. Aku kira Ayahanda juga sudah mendengar, Oliver sudah meminta maaf kepada Ayahanda. Dia pasti merasa bertanggung jawab.” 

“Ya, aku sudah mendengarnya. Traugott dan Christa yang menyampaikannya.” 

“Masalah kali ini disebabkan oleh keluarga kekaisaran. Maka semuanya adalah tanggung jawab keluarga kekaisaran. Namun para kesatria pengawal justru merasa bersalah. Aneh sekali. Padahal yang mati nanti adalah para prajurit, para kesatria, dan rakyat. Suara ratapan itu tidak pernah sampai pada kita. Semuanya disebarkan seolah-olah Gordon-lah yang bersalah.” 

“Benar juga...” 

“Tapi rakyat melihat. Para prajurit melihat. Para kesatria melihat. Suara ratapan yang tak sampai kepada kita itu tersimpan dalam diri mereka masing-masing. Masalah ini harus diselesaikan dengan cepat. Keluarga kekaisaran harus mengerahkan seluruh kekuatan, menumpahkan darah sendiri, mempertaruhkan nyawa sendiri untuk menuntaskan ini. Ayahanda adalah Kaisar, dan aku adalah putra dari Kaisar. Turun ke medan perang adalah kewajiban bagiku.” 

“Pada keluarga kekaisaran lain, masuk akal memakai logika itu. Tapi kamu berbeda. Kamu telah meninggalkan kewajibanmu, dan karena itu kamu dihina bertahun-tahun. Mengikatmu lagi pada kewajiban keluarga kekaisaran sekarang adalah hal yang aneh. Bahkan bila kamu menjalankan kewajiban itu dengan sempurna, hinaan yang telah kamu terima tidak akan hilang. Kamu tidak marah? Kamu tidak sedih? Bukankah kamu merasa ini tidak adil?” 

Itu pasti suara hati Ayahanda yang sesungguhnya. 

Keluarga kekaisaran dihormati karena darah yang mereka warisi, dan karena kewajiban yang mereka emban.

Aku meninggalkan kewajiban itu, dan karena itu aku tidak dihormati. 

Jadi, benar bila Ayahanda berkata bahwa mengikatku pada kewajiban keluarga kekaisaran sekarang adalah hal yang aneh. 

Namun... 

“Itu semua pilihanku sendiri. Atas tanggung jawabku sendiri aku meninggalkan kewajiban itu dan dijuluki Pangeran Sisa. Itu bukan salah siapa pun. Dan sekarang aku turun ke medan perang pun karena pilihanku. Karena aku merasa itu kewajiban. Tapi alasan aku menuju medan perang bukan untuk kepentingan Kekaisaran. Itu untuk keluarga dan orang-orang terdekatku. Aku tidak ingin melihat masa depan di mana mereka menyesali sesuatu di saat-saat terakhir mereka.” 

Karena itu aku akan pergi. 

Setelah mengatakannya, aku membungkuk pada Ayahanda dan berbalik. 

Saat aku hendak pergi, Ayahanda memanggilku dengan satu kalimat. 

“...Semoga keberuntungan menyertaimu.” 

“...Mohon tunggu kabar baiknya, Paduka Kaisar.” 

Tanpa menoleh lagi, aku meninggalkan aula takhta dan kemudian meninggalkan ibu kota.


Bagian 5

Wilayah timur di bagian utara Kekaisaran. 

Kota menengah bernama Vismar, yang saat ini dijadikan pangkalan oleh Gordon. 

Penguasa wilayah ini sebelumnya telah mencoba bersama beberapa tuan tanah lain untuk menghadang Gordon dan pasukannya yang, setelah gagal dalam pemberontakan di ibu kota, datang ke timur utara untuk membangun basis baru. Namun mereka dipukul mundur, dan kini Gordon menjadi penguasa tunggal daerah tersebut. 

Di gedung terbesar di Vismar, seorang Pangeran Naga dari Persatuan Kerajaan, William, sedang berada di sana. 

“Permisi. Nyonya Bianca, bagaimana kondisinya?” 

“Oh, Pangeran William. Kesehatanku baik. Begitu pula anak ini.” 

Bianca, seorang wanita berambut pirang, mengalihkan pandangannya ke arah ranjang. 

Di sana, seorang bayi perempuan berambut merah tidur dalam gendongan pelayan. 

Dia terlelap dengan damai. Melihat itu, William tersenyum lembut. 

“Sepertinya dia tenang seperti ibunya. Padahal aku khawatir kalau dia sampai mirip ayahnya, meski dia perempuan.” 

“Hehehe, itu belum bisa dipastikan. Bayi berubah banyak setiap harinya.” 

Bianca tertawa kecil. 

Dalam senyum itu, meski dia baru saja menjadi seorang ibu, sudah terasa kuatnya naluri keibuan. 

Ketika William hendak mendekat untuk melihat sang bayi, si kecil justru menggeliat gelisah seolah tak menyukainya. 

“Oh, sepertinya dia membenciku...” 

“Sepertinya anak ini tidak menyukai suara baju zirah. Bahkan kalau dia mendekat sambil mengenakan zirah, anak ini langsung menangis.” 

“Begitu rupanya. Pendengarannya bagus.” 

William menjauh sedikit dengan perlahan, lalu memberi isyarat pada Bianca. 

Memahami bahwa ada hal yang ingin dibicarakan, Bianca bangkit dari tempat duduk dan keluar ruangan bersama William. 

Mereka berpindah ke kamar sebelah. 

Di sana William mulai menyampaikan maksud kedatangannya. 

“Terkait permintaanmu untuk pindah ke Persatuan Kerajaan, sepertinya akan diizinkan dalam waktu dekat.” 

“Benarkah? Terima kasih banyak.” 

“Tidak perlu berterima kasih. Tempat ini bisa berubah menjadi medan perang kapan saja. Aku mengerti sepenuhnya alasanmu.” 

“...Dia menentangnya, tapi... aku tidak bisa meninggalkan anak ini di tempat seperti ini.” 

“Hmm... aku yakin dia berkata akan buruk kalau istri komandan melarikan diri, bukan?” 

“Kamu benar sekali.” 

“Kita teman, bukan?” 

Mendengar itu, Bianca merasakan ketenangan yang berasal dari lubuk hatinya. 

Suaminya, Gordon, tidak memiliki banyak orang yang benar-benar dia percaya. Selama masih ada William, yang tetap menyebut dirinya teman, Bianca merasa apa pun yang terjadi, dia bisa menghadapi semuanya. 

“Tolong... jaga suamiku. Sejak kekalahan di ibu kota, rasanya dia kembali menjadi tidak stabil.” 

“Guncangannya memang sebesar itu. Tenang saja. Aku dan Persatuan Kerajaan ada di pihaknya.” 

“...Suatu hari nanti, aku pasti akan membalas budi ini.” 

Bianca menundukkan kepala dalam-dalam. 

Namun hatinya terasa rumit. Dia telah menikah dengan Gordon lima tahun lalu. 

Bianca awalnya adalah putri bangsawan Persatuan Kerajaan. Suatu hari, saat berjalan di dalam istana kerajaan, dia bertemu William dan seorang pria yang belum pernah dia lihat sebelumnya. 

Karena pria itu berjalan bersama sang pangeran, Bianca hanya mengira dia seseorang yang berkedudukan tinggi. 

Beberapa hari setelah pertemuan singkat itu, pria tadi datang ke rumah Bianca. 

Dan tanpa basa-basi, dia menyatakan pada ayah Bianca bahwa dia ingin meminang putrinya. 

Ayah Bianca, tidak mengetahui siapa pria itu, marah besar, mengusirnya sambil berteriak bahwa dia takkan menyerahkan putrinya pada orang asing yang tidak jelas asal-usulnya. Namun pria itu tidak menyerah; dia datang berulang kali. 

Itu adalah cinta pada pandangan pertama. Baginya, tidak ada wanita lain selain Bianca yang pantas menjadi istrinya. 

Dengan segala kata yang dapat dia rangkai, pria itu berkali-kali menyampaikan ketulusannya kepada Bianca. 

Melihat kegigihan yang hampir naif itu, sang ayah akhirnya mulai melunak. Dia berkata, jika Bianca menginginkannya, maka dia mengizinkan. 

Baru setelah mendapat izin, Bianca dipanggil untuk bertemu pria itu secara langsung. 

Pertemuan sebelumnya hanya sebatas salam singkat. Dan anehnya, percakapan pertama mereka adalah lamaran. Bianca saat itu hanya bisa merasa bingung. Namun ketika pria itu menatapnya dengan mata jujur dan memperkenalkan diri. 

“Namaku Gordon Lakes Ardler, Pangeran Ketiga Kekaisaran Adrasia. Aku jatuh cinta padamu. Kumohon jadilah istriku.” 

Perkataan yang begitu terus terang itu hampir membuat Bianca tertawa. Dia melihat wajah ayahnya yang terkejut setengah mati, tak menyangka pria itu adalah Pangeran Ketiga Kekaisaran Adrasia, dan tak bisa menahan diri untuk meledak tertawa. 

Dan setelah tertawa, dia langsung menjawab: Dengan senang hati. 

Dia terpikat oleh ketulusan Gordon yang tidak pernah menggunakan status pangerannya untuk menemui Bianca lebih cepat. Dia menunggu izin resmi baru mengungkap identitasnya, dan memberi tahu bahwa menikah dengannya berarti pindah ke Kekaisaran. 

Sejak itu Bianca pindah ke Kekaisaran dan menjalani hidup sebagai istri Gordon. 

Jumlah pangeran dan putri Kekaisaran banyak, tetapi yang sudah menikah hanya Putra Mahkota dan Pangeran Kedua. Keduanya pun tidak memiliki anak. 

Harapan terhadap Bianca besar, tetapi dia sendiri lama tak dikaruniai anak. 

Namun akhirnya dia hamil anak pertama. 

Kebahagiaan Bianca saat itu tak terkira. Bahkan ketika Gordon diasingkan ke perbatasan utara setelah insiden di wilayah selatan, kebahagiaannya tidak pudar. 

Dia bersikeras mengikuti Gordon ke utara. Dia ingin melahirkan di sisi suaminya. 

Dan anaknya pun lahir. 

Tetapi keadaan saat itu sudah berbeda jauh dari ketika kehamilannya diketahui. 

Gordon, sibuk menaklukkan wilayah utara, hampir tidak berada di sisinya. Kaisar, yang menantikan cucu pertamanya dengan penuh harap, kini berada di pihak yang berseberangan dan menjadi musuh Gordon. 

Bagaimana bisa keadaan berubah sejauh ini? Sejak Gordon mengikuti perebutan takhta sebagai Pangeran Ketiga, dia perlahan berubah. 

Pria yang Bianca pilih sebagai suami bukanlah pria yang akan mengangkat senjata melawan negara. 

Namun perubahan mental yang dialami Gordon justru diperbesar oleh Persatuan Kerajaan. William sebagai sahabat, dan Bianca sendiri yang berasal dari sana. 

Persatuan Kerajaan telah memutuskan mendukung Gordon sejak awal. Sehebat apa pun ambisinya, Gordon tidak akan melakukan pemberontakan bila benar-benar tidak ada peluang untuk menang.

Namun Persatuan Kerajaan telah menunjukkan bahwa mereka memiliki peluang untuk menang. 

Karena itulah perasaan Bianca menjadi rumit. 

“Tak perlu merasa berutang budi. Justru aku yang berutang padamu.” 

“Pangeran William merasa berutang? Apa pula yang sudah kulakukan?” 

“Sejujurnya, aku tak berniat menggerakkan negara meskipun itu perintah Ayah. Rencana Gordon terasa terlalu tipis untuk menang. Tapi kamu menuliskan surat bujukan itu untukku.” 

“Aku menuliskannya karena suamiku memintaku.” 

“Itu tetap menjadi pemicunya. Situasi sekarang memang sangat buruk, dan aku tak punya selain penyesalan... tapi berkat surat itu, aku ada di sini. Kalau aku tetap tidak bergerak, aku pasti akan terus dihantui rasa bersalah karena meninggalkan seorang sahabat. Dibandingkan itu, kondisi sekarang masih lebih baik.” 

“...Jadi karena itu kamu memenuhi permintaanku?” 

Hanya segelintir orang yang tahu bahwa Bianca telah melahirkan dengan selamat. 

Gordon sebenarnya ingin mengumumkan kelahiran itu secara besar-besaran, tetapi Bianca menolaknya, dan William yang mendengar permintaan Bianca akhirnya membujuk Gordon untuk membatalkan gagasan itu. 

Jika bayinya laki-laki, barangkali semangat pasukan akan terdongkrak; namun seorang bayi perempuan tidak akan memberi dampak sebesar itu. Selain itu, bila Kaisar mengetahui dia kini memiliki cucu, besar kemungkinan dia akan mencoba merebutnya dan memusatkan kekuatan ke arah ini. 

Karena itu, sampai keadaan membaik, kelahiran itu harus dirahasiakan. 

Dan selama masa itu, William terus berhubungan dengan negara asalnya, berulang kali mengirim surat untuk mengatur pemindahan Bianca dan bayinya ke Persatuan Kerajaan. 

Dia bahkan berhasil meyakinkan ayahnya yang semula enggan, dan semua persiapan akhirnya rampung pada hari sebelumnya. 

Untuk menyampaikan kabar itu, William kembali dari garis depan ke tempat ini.

“Aku memenuhi permintaanmu karena pendapatmu masuk akal. Tak perlu dipikirkan.” 

Mengatakan itu, William membungkuk sedikit lalu pergi meninggalkan ruangan. 

Tugas yang diemban William adalah memimpin pengepungan terhadap benteng tempat Pangeran Kedelapan Leonard bertahan. 

Di darat benteng itu sudah dikepung, sementara di udara para Kesatria Naga mengawasi. Formasi yang tampak tak tertembus. Namun kegelisahan tetap tak hilang dari hati William. 

Leonard pernah memperdayainya di ibu kota. 

Karena itu, mereka memasang kewaspadaan tertinggi. Meski begitu, sumber kegelisahannya bukan hanya itu. 

“Kapan kamu muncul...? Arnold.” 

Pangeran Ketujuh Arnold, yang kabarnya terus tertidur di ibu kota. 

William tidak menelan mentah-mentah berita itu. 

Dia selalu diliputi kecemasan bahwa Arnold sengaja membuat semua orang percaya dia tak bergerak, hanya untuk tiba-tiba muncul di medan perang. 

“Kali ini aku takkan membiarkanmu berbuat sesuka hati. Kalian takkan bersatu lagi, Pangeran Kembar Hitam.” 

Membiarkan dua orang itu bersatu.

Itulah, menurut William, kesalahan terbesarnya di ibu kota. 

Keduanya sudah berbahaya secara individual; bila mereka bertemu, tingkat bahayanya melonjak drastis. 

Kali ini, mereka tak boleh dipertemukan. 

Menguatkan tekad itu, William naik ke udara bersama naga kesayangannya.


Bagian 6

Dengan berpura-pura bergerak ke wilayah barat, lalu memanfaatkan kegelapan malam untuk mengarah ke utara, akhirnya kami tiba di kota menengah bernama Thale. Kota ini terletak di sisi selatan wilayah utara, tidak jauh dari ibu kota. 

Penguasa wilayah ini adalah Marquis Gleisner. 

Dia adalah sosok progresif yang, setelah menyadari bahwa wilayah pegunungannya sangat cocok untuk membiakkan wyvern, telah menghabiskan lebih dari sepuluh tahun untuk mengembangkan para wyvern dan pasukan Kesatria Naga. Meski awalnya mereka tidak memiliki pengetahuan maupun sistem, dia berhasil mengatasi kesulitan demi kesulitan, hingga kini wilayah itu telah memiliki kekuatan tempur yang layak disebut pasukan Kesatria Naga. 

Di antara para bangsawan utara, Gleisner termasuk yang langka, dia mendukung keluarga kekaisaran. Dia juga menjadi tokoh pemersatu para bangsawan utara yang berpihak pada Leo. 

Setelah Aliansi Bangsawan Utara terpukul mundur, dia kemudian bergabung bersama pasukan utama Leo dengan membawa bala tentaranya sendiri, menopang pertahanan Leo yang saat ini bertahan di dalam benteng. 

Karena itu, urusan pemerintahan wilayah kini dipegang oleh putra sulungnya. 

“...Mohon maaf karena saya tidak dapat memberikan penyambutan yang pantas”

“Tidak masalah. Justru kalau berlebihan, itu akan menyulitkanku.” 

Di dalam kediaman sang penguasa wilayah.

Putra sulungnya, Bernar von Gleisner, memperlihatkan ekspresi kebingungan. 

Bernar adalah pemuda berusia awal dua puluhan. 

Rambutnya cokelat, sosoknya pun sangat biasa. Mungkin itulah sebabnya dia terlihat begitu kebingungan. 

“U-Um... Yang Mulia...” 

“Ada apa?” 

“Saya... ingin menanyakan satu hal. Apakah pasukan bantuan hanya Yang Mulia dan unit yang menyertai Anda...?”

“Ya. Kenapa?” 

Bernar menunjukkan reaksi terpukul yang begitu jelas. 

Benar-benar orang yang jujur. Kalau dia bukan pewaris bangsawan, kejujurannya itu mungkin bisa dianggap kelebihan, tapi tanpa kemampuan menutupi perasaannya, dia akan kesulitan. 

Yah, itu seharusnya tugas ayahnya untuk mendidiknya, bukan aku. 

“Tidak puas?” 

“Bukan begitu... Hanya saja, Pangeran Leonard dan ayah saya saat ini sedang bertahan di dalam benteng. Mereka membutuhkan bantuan sesegera mungkin...”

“Aku tahu. Karena itu aku datang ke sini.” 

Thale juga berfungsi sebagai basis logistik, dan di sinilah tersimpan persediaan makanan yang menjadi nyawa bagi Leo dan pasukannya. Namun Bernar tidak dapat mengirimnya. 

Karena benteng tempat mereka bertahan telah benar-benar terkepung, mereka tak bisa menembus pengepungan itu. 

“Bala bantuan dari pusat hanyalah Regu Keenam Kesatria Pengawal dan sejumlah kecil Narberitter. Tak akan ada bala bantuan yang besar. Situasinya cukup rumit.” 

“Saya memahami hal itu. Saya tahu bahwa di kemiliteran hanya sedikit unit yang bisa dipercaya. Namun... yang memimpin pengepungan adalah Pangeran Naga dari Persatuan Kerajaan. Tampaknya mustahil menembus formasi mereka dengan jumlah sekecil ini...” 

Kenapa tidak meminta Paduka Kaisar lebih banyak bantuan?

Meskipun Bernar berkata sopan, nada itu menyiratkan keyakinan bahwa hal itu tak mungkin dilakukan. 

Memang, dalam pandangan umum, itu mustahil. 

Leo memiliki beberapa puluh ribu pasukan di bawahnya, tetapi mereka terkepung dan tidak bisa bergerak. Mereka tidak bisa dianggap sebagai kekuatan tempur. 

Secara teori, solusi yang benar adalah mengirim pasukan besar untuk memecah pengepungan, lalu membawa Leo keluar. 

Namun tentu saja, Pangeran Naga itu tidak akan membiarkannya. 

Para bangsawan utara memahami betul betapa menakutkannya William. Alasan Gordon dapat menaklukkan sepertiga wilayah utara dengan cepat juga karena keberadaan William. 

Tetapi tidak ada orang yang sempurna. 

“Kalau kami melakukannya, kamu mau apa?” 

“...Kita tidak bisa beralasan gagal setelah mencobanya.”

“Benar. ‘Mari coba saja dulu’ adalah kata-kata yang tak bertanggung jawab. Kalau gagal, lalu apa? Aku mengerti itu. Tapi... ada kalanya kita tak punya pilihan selain melakukannya. Kamu ingin menunggu sambil melihat ayahmu mati? Aku diutus ke sini atas perintah Kaisar. Artinya, selama aku tidak gagal, Kaisar tidak akan turun tangan. Kita harus bergerak. Kalau kamu ingin menyelamatkan keluargamu.” 

“Tapi! Ini terlalu mustahil!” 

“Benar. Musuh berdiri dengan formasi yang kokoh. Di darat mereka terkepung, di udara mereka dijaga pasukan kebanggaan mereka: Kesatria Naga. Selain sang komandan, Pangeran William, sebagian besar dari mereka mungkin berpikir seperti ini, ‘Tak peduli siapa yang datang, tak ada yang bisa menembus kami.’ Dan itulah celah mereka.” 

Tidak ada lagi pangeran Kekaisaran Adrasia yang dapat bergerak. Bahkan jika Kaisar atau sang Pahlawan turun langsung, jika pasukan besar digerakkan, musuh pasti mengetahuinya lebih awal. Dengan pasukan kecil, menembusnya tampak mustahil. 

Pemahaman umum itu telah menumbuhkan rasa puas diri dalam barisan musuh. 

Kenyataan bahwa Leo telah berhasil mereka jebak ke dalam benteng hanya memperkuat rasa percaya diri mereka. 

“Itu rasa percaya diri yang berdasar. Memang, menembus dengan pasukan kecil...” 

“Kita bisa. Kita akan menembus titik yang paling mereka percaya sebagai pertahanan terkuat. Mulai sekarang, seluruh kekuatan Thale berada di bawah komandoku. Bernar, pastikan keberadaanku tidak bocor ke luar.” 

“...Baik. Tapi, Thale hampir tidak memiliki kekuatan tempur...”

“Itu karena kamu terjebak dalam cara pandang lama. Apa pun bisa berguna asal tahu cara menggunakannya.” 

Mengatakan itu, aku bangkit dari sofa dan meninggalkan ruangan.


* * *


Keesokan harinya. 

Lambert, kapten dari Regu Keenam Kesatria Pengawal, tiba di Thale. 

Regu Keenam yang lebih dulu memasuki wilayah utara telah mendirikan kemah di tempat terpisah dari kota, agar tidak menarik perhatian musuh. Kedatangan Lambert ke Thale adalah demi rapat strategi. 

“Baik, meski aku sudah jelaskan di perjalanan kepada Kolonel Lars, dengarkan sekali lagi.” 

“Siap!” 

Dalam ruangan itu hanya ada aku, Lars, dan Lambert.

Bernar tengah mulai bersiap memindahkan persediaan. Wajar bila dia khawatir, tapi pada akhirnya dia pasti sadar bahwa tak ada pilihan selain bergerak. Selama dia mau bergerak, itu sudah cukup baik. 

“Pengepungan musuh nyaris sempurna. Benteng dikepung sepenuhnya, sementara langit dijaga ketat oleh pasukan Kesatria Naga. Meski kita ingin Leo dan orang-orang di dalam benteng bergerak serempak, mereka sudah terpukul mundur dan kini terputus dari persediaan. Jika hanya Leo yang diselamatkan, mungkin bisa, tetapi pasukan utamanya akan menderita kerugian fatal.” 

“Kalau begitu, kita tidak sempat melakukan serangan balik.” 

“Benar. Selain itu, bila mereka melarikan diri, para bangsawan utara akan meninggalkan Leo. Itulah mengapa Leo memilih bertahan daripada mundur. Karena itu pula, kita tak bisa mengubah sikap kita. Dengan tidak adanya pasukan besar di tangan kita, mustahil kita bisa mematahkan pengepungan sepenuhnya. Namun sebagian kecil bisa kita bobol. Asal persediaan makanan bisa disampaikan kepada Leo, dia bisa bertahan jauh lebih lama. Dalam kondisi itu, Pangeran Naga tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Leo.” 

“Aku mengerti maksud Anda. Tapi cara menyampaikan persediaan itulah yang menjadi masalah besar.” 

“Tidak juga. Sebenarnya sederhana. Kita kirim lewat udara. Dan untuk pengawalannya, aku ingin meminta bantuan Regu Keenam.” 

Mendengar rencanaku, Lambert mengerutkan wajah.

Aku tahu apa yang ingin dia katakan: terlalu berbahaya. 

Dan memang begitu. 

Musuh tak menduga ada pasukan datang dari udara. Karena itu serangan mendadak dari atas mungkin berhasil. 

Namun... 

“Wyvern yang tersisa di Thale memang berukuran besar, cocok untuk mengangkut persediaan. Tapi karena itu pula mereka lamban. Apalagi kalau membawa beban berat. Mereka bisa ditembak jatuh sebelum sempat menukik turun.” 

“Kalian tidak bisa melindunginya?” 

“Ini persediaan untuk puluhan ribu pasukan. Wyvern besar memang kuat, mereka bisa membawa muatan besar. Tapi itu tetap butuh waktu. Dan mempertahankan dominasi udara sendirian selama itu nyaris mustahil.” 

“Yah, memang. Tapi bagaimana kalau langit musuh dibuat menjadi lengah?” 

“...Bisa dibuat lengah?” 

Dia membalas pertanyaanku dengan pertanyaan.

Aku hanya menyeringai dan mengangguk. 

“Musuh sedang melakukan serangan kelaparan. Efektif, tapi punya kelemahan. Mereka juga membutuhkan persediaan untuk menjaga pasukan pengepung itu.” 

“Begitu rupanya. Jadi Anda ingin melakukan serangan kelaparan balik?” 

“Tidak sampai serangan kelaparan. Tapi tidak adil kalau hanya kita yang pusing memikirkan persediaan, ‘kan? Biarkan mereka juga merasakan hal yang sama. Tugas itu kuberikan kepada Kolonel Lars dan Narberitter.” 

“Serahkan pada kami. Kalau hanya membuat mereka panik, itu mudah.” 

Musuh yakin bahwa tak akan ada serangan.

Jadi bagaimana jika persediaan mereka di belakang dihancurkan? 

Unit tercepat pasti akan dikirim untuk menangani masalah itu.

Yakni para Kesatria Naga. 

William mungkin bisa membaca itu sebagai pengelabuan. Tapi kalau dia menyadarinya, tak masalah. Kalau Kesatria Naga tidak bergerak, kami akan terus membakar persediaan mereka tanpa ampun. 

Leo akan menderita, namun musuh pun akan ikut menderita.

Persediaan bagi puluhan ribu pasukan tidak mudah diperoleh begitu saja. 

Di antara Persatuan Kerajaan dan wilayah utara Kekaisaran terdapat Negara Bagian. Persediaan pasti datang dari sana.

Tapi Negara Bagian itu rawan kejahatan, dan para bangsawannya buruk. Selain itu, aku sudah menyiapkan langkah agar negeri itu semakin kacau. 

Hanya untuk menyerahkan persediaan saja mereka pasti kesulitan. 

“Namun, Yang Mulia, membakar persediaan musuh memang ide bagus. Tapi... apakah Anda tahu di mana lokasinya?” 

“Mana mungkin aku tahu?” 

“...”

Wajah Lambert membeku.

Mungkin dia tidak menyangka aku akan menjawab begitu lugas. 

Melihat itu, Lars tertawa kecil. 

“Anda memang kejam, Yang Mulia.” 

“Aku hanya menjawab jujur. Yah, memang ada beberapa hal yang belum kukatakan.” 

“Artinya Anda punya rencana?” 

“Rencana yah, lebih tepatnya, lokasi persediaan untuk puluhan ribu pasukan itu pasti sangat luas. Artinya tempat untuk mendirikannya terbatas. Apalagi di sekitar benteng tempat Leo bertahan tidak ada kota milik musuh. Mau tak mau mereka pasti membuat gudang persediaan sementara. Pastinya di tempat yang tidak mudah ditemukan.” 

Dengan melihat distribusi pasukan, lokasi itu bisa diperkirakan. 

Mendengarnya, mata Lambert terbuka lebar karena kaget. 

Rencana operasi pun ditetapkan.

Yang tersisa hanya menunggu saat yang tepat. 

Sebas sudah kukirim untuk menyelidiki posisi pasukan musuh.

Begitu informasi yang diperlukan lengkap dan pergerakan musuh cocok, operasi akan dijalankan. 

Sementara itu, kota Thale sibuknya luar biasa.

Mereka harus menyiapkan persediaan dalam jumlah besar. 

“Jadi ada sekitar tiga ratus ekor wyvern besar.” 

Agar lebih lincah, ukuran wyvern biasanya tidak dibuat terlalu besar.

Namun karena Thale dulu masih meraba-raba dalam pengembangannya, banyak wyvern besar yang tidak cocok menjadi tunggangan kesatria. Jumlahnya mencapai tiga ratus ekor. Seekor di antaranya memiliki kekuatan untuk mengangkat beban setara lima kereta. 

Artinya, secara kasar, mereka bisa mengangkut persediaan setara seribu lima ratus kereta lewat udara. 

Tentu saja, keretanya tidak diangkat apa adanya.

Bagian bak kereta telah dihubungkan agar lebih mudah dibawa oleh wyvern besar. 

Yang menungganginya adalah para calon Kesatria Naga. Hampir semua Kesatria Naga yang sudah mahir sedang turun ke medan perang, jadi tidak ada pilihan lain selain menggunakan mereka yang masih mentah. 

Meski begitu, para kandidat itu telah menjalani latihan berat. Walau membawa muatan, bagi mereka menerbangkan wyvern dengan stabil bukan masalah. 

Jadi, tidak ada kendala berarti pada unit transportasi. 

Yang lebih membuatku cemas adalah Regu Keenam sebagai pembuka jalan. 

Bukan masalah kemampuan. Namun tetap saja, mereka hanya sedikit jumlahnya.

Meskipun ada Tipe 61 yang memberi keunggulan besar dalam pertempuran udara, tetap saja akan butuh waktu bagi mereka untuk merebut penguasaan langit. 

Selama itu, para Kesatria Naga yang terpancing oleh pengalihan bisa saja kembali. 

Begitu kendali udara tidak bisa dipertahankan, pengiriman persediaan harus dihentikan. 

Mungkin sebagian persediaan masih bisa sampai, tapi apakah jumlahnya akan memadai atau tidak, semuanya bergantung pada keberuntungan. 

“Aku bahkan tidak tahu seberapa bisa diandalkannya para Kesatria Naga yang berada di bawah Leo...”

Sambil bergumam begitu, aku mendongak menatap langit. 

Di atas sana, para Kesatria Naga sedang melakukan semacam latihan tempur. Gerakan mereka, sejujurnya, jauh dari kata rapi. Dari tampakannya, mereka baru mulai menjalani pelatihan. Mungkin mereka para calon kesatria yang bahkan tidak akan diikutsertakan dalam operasi. 

Saat aku mengamati lebih lama, aku menyadari suatu hal. 

Latihan itu adalah latihan satu-lawan-banyak. 

Satu kesatria dikejar oleh lima kesatria lainnya. 

Namun kelima kesatria yang mengejar itu sama sekali tak mampu menyentuh kesatria tunggal yang kabur itu. 

Alasannya jelas. dia terlalu cepat. 

Baik kecepatan lurus maupun kecepatan beloknya jauh berbeda. Begitu mereka merasa telah mengambil posisi di belakang, detik berikutnya posisi itu justru direbut kembali oleh si kesatria tunggal. 

Kalau itu pertempuran sungguhan, lima kesatria itu sudah habis sejak tadi. 

Kesatria Naga yang tampaknya menjadi instruktur itu menunggangi seekor naga terbang berwarna putih, sesuatu yang jarang kulihat. Namun naga putih itu sangat kecil, bahkan lebih kecil dari wyvern biasa. 

Penunggangnya juga bertubuh kecil. 

Tapi justru karena itulah, mereka melaju bebas di udara, bergerak ke mana pun sesuka hati seakan tanpa hambatan. 

Meski menghadapi lima kesatria sekaligus, terasa jelas bahwa dia bahkan belum mengeluarkan kemampuan penuhnya. 

“Padahal para Kesatria Naga veteran seharusnya sudah berada di garis depan...” 

Kesatria yang mampu mengendalikan naga sebaik itu jarang ditemukan, bahkan di Persatuan Kerajaan sekalipun. Selain itu, kelincahan dan respons naga kecil putih itu bisa saja menyaingi, atau bahkan melampaui Elang Surgawi. 

Barner bilang bahwa tidak ada pasukan yang berarti di Thale. Artinya penunggang itu tidak dianggap bagian dari kekuatan tempur. 

Pasti ada alasannya. 

Sambil memikirkan itu, aku mulai melangkah menuju penunggang yang baru saja menyelesaikan latihan dan mulai turun ke tanah.


Bagian 7

Tujuanku membawaku ke kandang naga.

Di sana, kulihat seorang pemuda kecil yang tampaknya Kesatria Nagayang tadi kulihat, sedang memberi makan seekor naga putih. 

Umurnya mungkin enam belas atau tujuh belas tahun. 

Tubuhnya kecil dan wajahnya kekanak-kanakan, jadi sulit menebaknya dengan tepat. Wajahnya cukup rupawan hingga sekilas tampak seperti perempuan. Namun karena dia berlatih sebagai Kesatria Naga, tubuhnya, meski ramping, tetap terlihat terlatih. 

Tinggiku memang lebih tinggi darinya, tapi kalau soal adu kekuatan, aku mungkin kalah. 

Dia mengangkat makanan yang tampak berat dengan mudah, lalu memberikannya pada naga putih itu dengan wajah ceria. 

“Kerja bagus hari ini juga, Nova.” 

“Kyu!” 

Ketika dia mengusap kepalanya, naga putih itu menyipitkan mata dengan gembira, lalu menggesekkan kepala seolah meminta lebih. 

“Dia sangat dekat denganmu, ya.” 

Aku menyapa begitu saja, dan pemuda itu menoleh. 

Setelah memandangku dengan tatapan bingung sesaat, dia tersenyum tipis. 

“Siapa, ya?” 

“Tak penting siapa aku. Aku hanya melihat latihan tadi, lalu penasaran.” 

“Ah, begitu. Mereka itu para pemula.” 

“Kalau lawannya para pemula, kamu bisa mengalahkan lima orang sekaligus dengan mudah, ya. Hebat sekali Kesatria Naga di Thale.” 

Tentu saja aku tahu bukan itu alasannya. 

Meski lawannya pemula, lima lawan satu tetap bukan hal yang mudah. Yang membuatnya mudah adalah kemampuan luar biasa naga putih itu, serta keahlian pemuda ini dalam mengendalikannya. 

Penunggang lain takkan bisa melakukan hal yang sama. 

Pemuda itu tampaknya sadar bahwa aku tahu, karena dia hanya tersenyum kecut sambil mengangkat bahu. 

“Aku ingin tahu namamu, Kesatria Naga Putih.” 

“Nama sekeren itu tidak cocok untukku.” 

“Tolonglah.” 

“...Aneh juga kamu ini. Namaku Finn. Finn Brost.” 

Sikapnya lembut, tapi dia memakai kata ganti ‘aku’. Itu agak mengejutkanku, kupikir dia akan memakai ‘saya’ atau ‘aku’ yang lebih halus. Mungkin karena tidak ingin disangka perempuan.

Saat aku memikirkan itu, Finn menoleh pada naga putihnya. 

“Dia ini Nova. Rekanku.” 

“Kyu!” 

Nova bersuara riang, mungkin karena mendengar kata “rekan”. 

Melihat itu, aku merasa ada sesuatu yang janggal. 

Aku memikirkannya sebentar, lalu akhirnya memahami apa yang terasa aneh. 

Situasi inilah yang aneh. 

“...Kudengar wyvern membenci orang-orang dengan kadar sihir tinggi?” 

Baik griffon maupun elang surgawi tak menyukai orang bersihir terlalu kuat. Griffon dan elang surgawi masih bisa ditolerir jika hanya didekati. Tapi wyvern berbeda, mereka akan mengancam hanya karena seseorang dengan sihir tinggi mendekat. 

Karena itu, keluarga kekaisaran cenderung dibenci wyvern. 

Wyvern yang sudah dilatih jarang menyerang, tapi tetap saja kami disarankan tidak mendekat. 

Aku adalah salah satu yang paling tinggi sihirnya dalam keluarga kekaisaran. Alasan aku bisa menunggang griffon Leo hanyalah karena Leo ada bersamaku, dan karena griffon itu dibesarkan oleh Leticia yang juga bersihir tinggi. 

Tanpa itu, aku takkan bisa menungganginya. 

Namun... 

Nova sama sekali tidak menunjukkan ketidaksukaan. Bahkan bersuara riang. Dan lebih dari itu... 

Dari apa yang kulihat, Finn sendiri juga punya sihir yang cukup tinggi. 

“Dia ini istimewa. Dia bahkan membiarkanku menungganginya.” 

“...Dan itu alasan kamu ada di sini.” 

“...Benar. Aku hanya bisa menunggang Nova. Dan Nova, karena kecil dan begitu cepat, tidak bisa bertarung jarak dekat. Hanya dengan benturan ujung tombak saja dia bisa terpental. Itulah alasan kami tak bisa turun ke medan perang...”

Finn berkata begitu dengan nada getir. 

Nova menggosokkan kepala ke dahinya seakan ingin menghiburnya. 

Dalam pertempuran udara, dasar segalanya adalah serangan tombak panjang. Jika setiap kali berpapasan dia terpental, memang mustahil untuk bertempur. 

Seekor wyvern yang tak bisa bertarung, dan seorang penunggang yang hanya bisa menunggang wyvern itu. 

Memang menyedihkan. 

Tidak, mungkin dulunya menyedihkan. 

“Kalau... kamu bisa bertarung, apa kamu mau?” 

“Tentu saja! Aku sudah berlatih sepuluh tahun untuk menjadi Kesatria Naga! Aku membesarkan Nova sejak dia masih bayi, sampai sejauh ini! Semua orang bilang perang bukan segalanya! Tapi! Teman-teman masa kecilku, yang tumbuh bersama denganku, semuanya ada di medan perang! Hanya aku yang tertinggal! Dalam hal teknik aku tidak kalah! Nova juga tak kalah cepat! Kalau saja ada cara untuk kami bertarung, kami bisa menyelamatkan banyak orang! Tapi... kami tidak bisa.” 

“...”

“Itu mimpiku... bertarung sebagai Kesatria Naga dari keluarga Marquis Gleisner... tapi meski kampung halamanku dalam bahaya, meski teman-teman masa kecilku pergi ke medan perang... aku masih di sini...” 

Yang terpancar darinya adalah rasa tak berdaya. 

Kekecewaan ketika usaha bertahun-tahun tidak membuahkan hasil. 

Dan kerinduan pada teman-teman masa kecilnya. 

Aku juga pernah merasakannya. 

Karena itu, aku berkata padanya. 

“...Kalau kamu bisa bertarung, apa kamu bisa melakukan apa saja?” 

“Eh...?”

“Jawab aku, Kesatria Naga Finn. Kalau bisa bertarung, apa kamu bisa melakukan apa pun? Kalau demi menyelamatkan sahabat masa kecilmu, apa kamu bisa membuang segalanya?” 

“...Siapa kamu sebenarnya...?”

Tidak memahami maksud pertanyaanku, Finn terlihat kebingungan. 

Kepada Finn yang seperti itu, aku kembali menyampaikan dengan jelas. 

“...Namaku adalah Arnold Lakes Ardler, Pangeran Ketujuh Kekaisaran. Jawablah, Kesatria Naga Finn. Jika bertarung adalah satu-satunya jalan... apa kamu sanggup membuang mimpimu?” 

Mendengar perkenalanku, Finn hanya bisa melongo. 

Ketika aku tersenyum tipis melihat reaksinya, dia tersadar dan buru-buru menjatuhkan diri berlutut. 

“!? S-Saya tak tahu kalau Anda Yang Mulia! Mohon maaf atas kelancangan saya!!”

“Tak perlu formalitas pada pangeran yang sudah dicap gagal. Kalau sempat berlutut seperti itu, gunakan waktumu untuk menjawab. Apa kamu punya tekad untuk membuang mimpimu?” 

“Itu... Apa itu berarti saya harus berhenti menjadi Kesatria Naga keluarga Marquis Gleisner...?” 

“Tepat sekali.” 

Aku bisa memberinya cara untuk bertarung. 

Tapi jika aku melakukannya, impian Finn tak akan bisa diwujudkan. 

Perlengkapan Tipe 62 yang diciptakan Menteri Kuber sebenarnya kuperuntukkan bagi Leo, tetapi Finn jauh lebih cocok. 

Seorang Kesatria Naga dengan kecepatan dan teknik tingkat tinggi. Dia pasti serasi dengan persenjataan tembak jarak menengah hingga jauh.

Masalahnya hanya pada kapasitas sihir, tapi itu pun tidak lagi menjadi kendala. 

Dengan majunya pengembangan senjata, konsep pertempuran di medan perang akan berubah. 

Dogma bahwa pertarungan udara selalu berlangsung jarak dekat akan runtuh, dan wyvern akan dituntut menjadi lebih kecil dan lebih lincah. 

Selama ini, karena wyvern tidak menyukai manusia dengan sihir kuat, tak pernah lahir atau diciptakan Kesatria Naga bersihir besar. Tapi ke depannya, mereka akan dibiasakan, dan era untuk mencetak Kesatria Naga seperti itu akan tiba. 

Tongkat sihir Kekaisaran akan membuat para Kesatria Naga masa kini terlihat usang. 

Tidak, yang membuat dunia berubah adalah kombinasi tongkat sihir itu, Finn dan Nova. 

Sampai hari ini Finn dan Nova dipandang rendah sebagai yang terbelakang. Namun jika mereka memakai Tipe 62, mereka justru akan menjadi contoh ideal bagi generasi berikutnya. Mengingat pelatihan wyvern dan Kesatria Naga memakan waktu panjang, mereka akan menguasai langit setidaknya dalam sepuluh tahun ke depan. 

Namun di situlah masalah muncul. 

Seorang Kesatria Naga yang menggunakan prototipe senjata tercanggih Kekaisaran, dan diprediksi akan menunjukkan prestasi luar biasa.

Tak mungkin dia dibiarkan bekerja di bawah seorang marquis biasa. 

Bukan hanya karena kekuatannya, tetapi karena nilai strategisnya bagi masa depan. 

Itulah sebabnya, jika Finn memilih jalan bertarung, dia tak bisa lagi menjadi Kesatria Naga keluarga Gleisner. 

“Kamu telah berjuang demi mimpimu. Tapi mimpi itu kini terlalu kecil untukmu. Jika kamu ingin bertarung, kamu akan menjadi kesatriaku. Itulah satu-satunya syarat agar kamu bisa bertarung.” 

“...”

“Kita masih punya waktu sebelum keberangkatan. Tapi aku tidak akan menunggu selamanya. Putuskan hari ini.” 

Setelah mengatakan itu, aku membalikkan badan. 

Namun Finn memanggilku. 

“Mohon tunggu!” 

“...Jadi kamu sudah menentukan jawabannya?” 

“...Sudah. Impianku adalah menjadi Kesatria Naga keluarga Marquis Gleisner. Tapi... bila aku tetap berpegang pada itu dan tinggal di sini, aku tahu aku akan menyesal. Kalau aku punya kekuatan untuk menyelamatkan teman yang tumbuh bersamaku... kumohon, berikan kekuatan itu padaku.” 

Finn berlutut dan menundukkan kepala sedalam-dalamnya. 

Keputusan yang cepat. Luar biasa. 

Bukan berarti tanpa keraguan. Tapi itu justru yang benar. 

Orang yang bisa langsung membuang mimpi lamanya tanpa bimbang, tak mungkin bisa dipercaya. 

Finn menimbang nyawa temannya dengan mimpinya, dan dia memilih. 

Keputusan itu pantas diberi imbalan. 

“Bagus. Mulai sekarang kamu adalah kesatriaku. Tapi bersiaplah. Kekuatan yang kuberikan sangat besar, dan mau tak mau akan membuatmu menonjol. Sekutumu akan memercayaimu, sementara musuh akan membakar tekad hanya untuk menjatuhkanmu. Kamu bukan hanya turun ke medan perang, kamu akan memanggul kewibawaan militer Kekaisaran. Bila itu sedikit saja membuatmu takut, lebih baik mundur sekarang. Hidupmu akan jauh lebih tenang.” 

“...Apa gunanya hidup tenang? Merawat seekor wyvern butuh biaya besar. Cepat atau lambat, Nova akan dianggap tak berguna dan dibuang. Itu jauh lebih menakutkan. Jika aku tidak menunjukkan nilai diriku, aku akan kehilangan rekanku. Jika aku tak memilih bertarung di sini... aku akan kehilangan teman, rekan, dan kepercayaanku pada diri sendiri. Dibandingkan itu, apa yang Anda sebutkan tadi bukan apa-apa.” 

Finn mengangkat wajahnya. 

Di matanya terpantul tekad yang kuat. 

Mata orang yang telah menerima seluruh risiko dan tetap memilih maju. Bukan keputusasaan, bukan keberanian bodoh. 

Di sana ada kepercayaan dan keyakinan yang nyata. 

Mata yang bagus. 

“Ikut aku. Kita akan langsung mencobanya.” 

Aku berkata begitu, lalu membawa Finn menuju kediaman sang penguasa wilayah.


Bagian 8

“Tongkat Tempur Sihir Tipe 62. Aslinya senjata sihir terbaru Kekaisaran ini hendak kuberikan pada adikku, Leo. Hanya ada satu, jadi gunakan dengan baik.” 

“Tongkat sihir yang cukup kuat untuk dipakai dalam pertempuran... ternyata sudah selesai dibuat, ya...”

Finn menyentuh Tipe 62 itu dengan penuh rasa takjub. 

Lalu dia mengangkatnya. 

“Berat juga... sulit digerakkan dengan bebas.” 

“Tapi untuk Kesatria Naga, itu bukan masalah.” 

“...Ide yang luar biasa. Dengan ini, pertempuran udara akan berubah.” 

“Yang memikirkan konsepnya adalah Kanselir. Dan bukan idenya yang akan mengubah segalanya, melainkan kamu dan Nova.” 

Kalau para kesatria yang terbang di udara diberi tongkat sihir, bukankah mereka akan sangat kuat? 

Bahkan anak kecil pun bisa memikirkan hal semacam itu. Karena penyihir yang bisa terbang bebas memang kuat. Tapi penyihir yang bisa terbang leluasa tidaklah banyak. 

Di antara para kesatria pengawal memang ada beberapa yang mampu, namun mereka pengecualian.

Tidak mungkin menarik mereka ke garis depan setiap saat. 

Itulah alasan tongkat sihir dikembangkan dan pertama kali diberikan kepada Regu Keenam. Jika hasilnya baik, cepat atau lambat peralatan itu akan dibagikan kepada para Kesatria Naga Thale. 

Namun itu pun butuh beberapa tahun lagi. Tipe 61 masih memiliki banyak kekurangan. 

Memberikan tongkat sihir ini pada Finn di tahap sekarang adalah pengecualian besar.

Terus terang, ini tindakan yang bisa membuatku dimarahi habis-habisan. 

“...Saya berterima kasih.” 

“Tidak perlu berterima kasih. Rasa terima kasih tidak akan memenangkan pertempuran.” 

Begitu aku mengatakan itu pada Finn, suara gaduh terdengar dari luar lorong. 

Itu suara Bernar, wakil pemilik wilayah, dan Lambert, Kapten Regu Keenam. 

Keduanya memang sudah kukirimi pesan sebelumnya.

Kepada Bernar, bahwa Kesatria Naga Keluarga Gleisner—Finn—akan kuambil alih.

Kepada Lambert, bahwa aku menemukan Kesatria Naga yang menarik dan berniat membiarkannya mencoba Tipe 62. 

Tentu saja aku tak bisa langsung mengirim Finn ke medan perang. Jadi aku berniat meminta Regu Keenam menjadi lawan latihan dalam pertarungan simulasi. 

“Sepertinya agak gaduh...”

“Wajar. Wakil pemilik wilayah pasti marah karena salah satu Kesatria Naga-nya kuambil begitu saja.” 

Tepat saat aku mengatakannya. 

Pintu ruangan terbuka lebar. 

Di sana berdiri Bernar, wajahnya jelas menunjukkan ketidakpuasan. 

“Yang Mulia! Apa maksud Anda mengatakan bahwa Anda akan mengambil alih Kesatria Naga keluarga kami!? Mohon penjelasan yang lebih rinci!” 

“Sama seperti yang kamu dengar. Finn akan kuambil. Dan aku tak punya niat mengembalikannya. Setelah perang saudara ini berakhir, dia akan menjadi Kesatria Naga langsung di bawah keluarga kekaisaran.” 

“Ini semena-mena! Bagaimana mungkin anggota keluarga kekaisaran boleh mengambil kesatria bawahan kami!?” 

“Lebih baik daripada kalian membiarkannya membusuk tanpa dianggap sebagai kekuatan tempur. Paling banter kalian hanya akan memaksanya jadi pengintai atau pengirim pesan, bukan? Aku benci pemborosan.” 

“Itu bukan alasan! Ini benar-benar keterlaluan!” 

“Kalau begitu anggap saja memang keterlaluan. Tapi aku sudah mengatakan sebelumnya: seluruh kekuatan Thale berada di bawah komandoku sekarang. Kalau mau protes, lakukan setelah perang selesai.” 

Aku menepis keluhan Bernar dan mengalihkan pandanganku ke Lambert. 

Lambert tidak tampak marah. Dia lebih terlihat seperti sedang menilai kemampuan Finn dengan saksama. 

“Kita butuh uji kemampuan, bukan begitu, Kapten Lambert?” 

“Tentu saja. Jika dia akan dilibatkan dalam operasi, para pasukan harus diyakinkan. Selama dia punya kemampuan, kami akan mengakuinya. Kami tidak punya kemewahan untuk menyia-nyiakan kekuatan.” 

“Bagus. Kita adakan simulasi. Pilih beberapa orang dari pihakmu.” 

“...Bukan satu lawan satu?” 

“Memangnya kalian bisa menang satu lawan satu?” 

Bagi kesatria pengawal, kalah adalah aib. Bahkan dalam latihan.

Dan kalau lawannya hanya orang yang lemah, para kesatria takkan puas. 

Yang penting adalah membuat mereka menerima. Jadi yang mereka kalahkan adalah orang kuat.

Menyadari maksudku, Lambert tersenyum kecil dan mengangguk. 

“Kalau begitu, saya akan mengirim wakil kapten kami.” 

“Dengar itu? Wakil Kapten Kesatria Pengawal. Lawan yang sangat cukup bagimu.” 

Finn tampak menegang mendengar lawannya, tapi matanya tidak menunjukkan ketakutan. 

Sepertinya sesuatu yang menarik akan terjadi. 


Di tempat latihan yang berjarak sedikit dari kota Thale, dua kesatria melakukan pertarungan simulasi di udara. 

Biasanya, dalam pertempuran udara, kedua pihak akan beberapa kali berpapasan.

Karena untuk menyerang, mereka harus mendekat. 

Namun kali ini, mereka hampir tidak pernah saling bersilangan. 

Karena mereka bisa menyerang meski berada pada jarak jauh. 

“Sebenarnya, seberapa kuat wakil kaptenmu itu?” 

“Dalam hal mengendalikan elang surgawi, hanya saya yang berada di atasnya. Dalam pelatihan Tipe 61 pun dia mencatat nilai yang sangat baik.” 

“Artinya kalau Finn bisa menang, dia bisa dianggap kekuatan tempur?” 

“Tidak. Jika dia mampu meladeni saja, itu sudah cukup menjadikannya kekuatan tempur.” 

Lambert menatap langit dengan ekspresi serius. 

Melihat wajah itu, jelas bahwa wakil kapten tidak sedang menahan diri. 

Pertarungan di udara berlangsung seimbang.

Keduanya berebut posisi belakang, lalu sesekali menembakkan sihir dari tongkat mereka. 

Aturannya satu tembakan yang mengenai tubuh lawan berarti menang. 

Untuk mengontrol kekuatan, permata inti pada tongkat keduanya dilepas.

Ini adalah mode latihan.

Kena pun hanya sakit sedikit. 

Tipe 61 menembakkan bola api. Tipe 62 menembakkan petir. Dari segi kekuatan dan kecepatan, Tipe 62 lebih unggul, tapi dalam kondisi latihan seperti ini, tidak banyak perbedaan. 

Dengan kata lain, Finn dan Nova benar-benar bertarung seimbang berkat kemampuan mereka sendiri. 

“Sepertinya tidak akan selesai cepat, ya?” 

“Belum tentu. Wakil kapten tampaknya kewalahan hanya dengan bertahan.” 

“Kewalahan? Kalau begitu kenapa hasilnya masih imbang?” 

“Mungkin karena Finn tidak ingin mengambil risiko dan memaksa serangan.” 

“...Tak kusangka dia cukup hati-hati.” 

“Itu penting. Tapi dalam pertarungan udara, keberanian untuk mengambil risiko juga perlu.” 

Tepat saat Lambert mengatakannya. 

Finn bergerak. 

Dari pola terbang yang membentuk lingkaran, dia tiba-tiba menukik naik dan melakukan putaran balik di udara. 

Gerakan horizontal dipaksa berubah menjadi vertikal dalam sekejap. 

Wakil kapten berusaha berputar untuk menghindari posisi ekornya diambil, tetapi tunggangan udara tidak bisa berputar kembali pada titik yang sama secara instan.

Gerakannya pasti melebar. 

Terlebih, kemampuan manuver elang surgawi dan Nova berbeda jauh. 

Dalam hal kelincahan, Nova unggul mutlak. 

“Aku kira tidak ada wyvern yang bisa mengalahkan elang surgawi dalam duel satu lawan satu... Dunia ini ternyata luas sekaligus sempit.” 

“Di Kekaisaran memang ada.”

Saat wakil kapten berputar, Finn memanfaatkan celah itu untuk segera merapat dari belakang. 

Tongkat sihir memungkinkan serangan jarak jauh, tapi tetap saja, sasaran mereka adalah lawan yang bergerak dengan kecepatan tinggi. 

Mendekat justru meningkatkan peluang mengenai target. 

Entah karena sudah membaca gerak Finn, sang wakil kapten memaksa menggerakkan tongkat sihirnya dengan satu tangan dan melepaskan bola api ke belakang. 

Biasanya, tongkat sihir itu dipasang di pinggang. Mengendalikannya dengan satu tangan saja sudah luar biasa. 

Dan bidikannya pun tepat. 

Aku sempat mengira pengalamanlah yang membuat perbedaan, tetapi Finn memutar tubuhnya ke samping tepat di tempatnya berdiri dan menghindari bola api itu. 

“Dia bisa berputar seperti itu dengan kecepatan itu...!” 

“Memangnya itu hebat?” 

“Mau coba, Yang Mulia? Anda pasti terpental ke langit.” 

“Kalau aku sedang dibonceng, jangan lakukan itu.” 

Setelah menghindari serangan wakil kapten, Finn dengan santai melancarkan serangan petir ke arahnya. 

Lalu keduanya perlahan turun kembali ke tanah. 

“Bagaimana? Wakil kapten?” 

“Apa lagi yang bisa kukatakan? Seperti yang Anda lihat. Aku kalah telak.” 

Wakil kapten menjawab pertanyaan Lambert sambil tersenyum pahit. 

Meski kalah, wajahnya tampak benar-benar lega. 

Bagaimanapun, itu hanya pertandingan latihan. Di medan perang nanti mereka berada di pihak yang sama. Dia bahkan tampak menganggapnya melegakan. 

Kesatria pengawal murni berdasarkan kekuatan. 

Mereka tidak keberatan mengakui yang kuat, bahkan jika orang itu adalah seorang Kesatria Naga. 

“Kerja bagus. Kesatria Naga Finn.” 

“Siap! Semua ini berkat Tipe 62 yang Yang Mulia percayakan!” 

“Sudahlah, jangan merendah. Perbedaan kemampuan senjata tidak banyak. Lagipula, di medan perang, kemampuan senjata juga bagian dari kemampuanmu.” 

“Betul sekali. Hebat sekali, Finn. Bagaimana? Setelah perang ini selesai, maukah kamu bergabung menjadi kesatria pengawal?” 

“Eh? A-Ah, itu...” 

Lambert memuji Finn dengan tulus lalu langsung berusaha merekrutnya. 

Menjadi kesatria pengawal bukan hal buruk. 

Namun... 

“Regu Keenam adalah pasukan elang surgawi. Mereka pasti keberatan menerima Kesatria Naga.” 

“Itu bisa Yang Mulia bantu dengan satu-dua kalimat.” 

“Sudah jelas aku tidak mau. Para menteri pasti langsung mengomel. Lebih baik masuk ke regu lain, lebih mudah urusannya.” 

“Di regu lain Finn akan sendirian. Karena itu, tentu saja kami menginginkannya di Regu Keenam!” 

“Begitu katanya. Cukup gigih, ya?” 

“U-Uh... Saya akan mengikuti keputusan Yang Mulia.” 

Finn berkata begitu sambil menunduk, tampak berhati-hati agar tak menyinggung Lambert. 

Dengan jawaban seperti itu, Lambert tak bisa memaksa lebih jauh. 

Meski wajahnya masih menunjukkan rasa tidak puas, dia menghentikan upaya merekrut Finn. 

Namun Lambert bukan satu-satunya yang tampak tidak puas. 

“Finn! Kamu adalah Kesatria Naga keluarga Marquis Gleisner! Bukankah kamu bermimpi bertarung bersama semua orang!?” 

Wakil tuan wilayah, Bernar, mendekati Finn dan mulai membujuknya. 

Agak tak sopan memang, tapi mengingat aku yang sebenarnya merebut kesatria bawahannya secara sepihak, aku tak bisa menyalahkannya. 

“Tuan Bernar. Memang itu dulu impian saya. Dan saya tidak pernah melupakan jasa keluarga Marquis Gleisner. Tapi saya ingin bertarung. Saya ingin pergi ke tempat semua orang berada. Mohon dimaklumi.” 

“Jika itu yang kamu inginkan, Yang Mulia pun tak akan memaksamu! Kamu kuat! Kamu sudah membuktikannya! Keadaannya jelas berbeda dari sebelumnya!” 

Karena Finn terbukti kuat, hampir pasti dia akan dimasukkan ke dalam rencana operasi. 

Sekarang tidak mungkin lagi mengambil Tipe 62 darinya. 

Berner memanfaatkan posisi itu untuk menyuruh Finn menyatakan pendapatnya. 

Wajar saja dia begitu putus asa. 

Kesatria Naga adalah aset langka, butuh sepuluh tahun untuk melatih satu orang. Mengambilnya saja sudah masalah, ditambah lagi Finn baru saja menunjukkan kemampuan barunya. 

Dia akan menarik perhatian teman maupun lawan. 

Jika sampai orang seperti itu direbut sang pangeran selagi tuan wilayah tidak ada, itu akan mencoreng nama Bernar. 

Bahkan bisa dianggap Finn pergi karena ketidakpuasan pada Bernar. 

Kenyataannya, Bernar memang menilai Finn tidak berguna sebagai kekuatan tempur, begitu pula wyvern besar lainnya. Dia tak pernah memikirkan bagaimana memanfaatkannya. Itulah alasannya dia dianggap biasa-biasa saja. 

“Bernar, sudahlah.” 

“Yang Mulia, mohon diam! Apakah merebut kesatria bawahan seorang bangsawan adalah sesuatu yang patut dilakukan oleh keluarga kekaisaran!?” 

“Penarikan kesatria bukan hal baru.” 

“Itu jika ada persetujuan kedua belah pihak! Mengambil kesatria tanpa memberi tahu tuannya sama sekali adalah tindakan melampaui wewenang!” 

“Mungkin kamu benar. Tapi mau dijadikan masalah? Silakan katakan kepada Kaisar bahwa Kesatria Naga Finn yang kini menggunakan senjata prototipe terbaru Kekaisaran adalah kesatria milikmu. Semua orang pasti mengira Keluarga Gleisner hanya mengincar senjata prototipe itu.” 

“Uh!! Meskipun begitu, saya tidak peduli! Finn adalah Kesatria Naga keluarga kami! Dan adikku, seorang Kesatria Naga, berharap Finn kelak menjadi instrukturnya! Bertindak semaunya seperti ini tidak bisa saya terima!” 

Adiknya seorang Kesatria Naga? 

Jadi putri Marquis Gleisner juga seorang Kesatria Naga, ya. 

Berarti sekarang dia ada bersama Marquis Gleisner di bawah Leo. 

Saat aku memikirkan itu, aku melihat Finn menunduk sedikit. 

Dia berbeda dari saat menghadapi wakil kapten tadi. Padahal dia tidak gentar sedikit pun saat bertarung. 

Apa nona Kesatria Naga itu sebegitu menakutkannya? 

Atau mungkin... 

“Sudahlah. Kita bahas ini nanti. Bila ada keberatan, aku akan mendengarnya, tapi mendahulukan keberhasilan operasi itu yang utama.” 

“...Jangan menunda untuk mengaburkannya begitu saja.” 

“Aku janji. Akan kuadakan pertemuan untuk membicarakannya. Walau hasilnya, kurasa sudah jelas.”

Sambil berkata begitu, aku mendekati Finn dan berbisik pelan agar hanya dia yang mendengar. 

“Kamu ingin pergi ke garis depan demi sang nona?” 

“Ah!? B-Bukan begitu! Aku melakukannya demi semuanya!” 

“Baiklah, anggap saja begitu.” 

Aku hanya menyeringai pada Finn yang panik sebelum meninggalkan tempat itu.


Bagian 9

“Akan kujelaskan rencananya.” 

Dengan itu, aku mulai memaparkan strategi kepada Lambert dan para anggota unit tempur udara. 

Sebas, yang sebelumnya menyelidiki pergerakan musuh, telah kembali dan memberikan gambaran umum mengenai posisi mereka. 

Posisi-posisi itu kini ditandai dengan pion pada peta besar yang dibentangkan di atas meja. 

“Pertama, kita ulang sedikit mengenai situasi pihak kita dan musuh. Benteng yang Leo pertahankan adalah Benteng Dick. Meski sering disebut kastel, kenyataannya tempat itu lebih mirip benteng besar yang amat kokoh. Asalnya dibangun saat perbatasan Kekaisaran masih berada di sekitar sini, lalu diperkuat dan diperluas hingga bentuknya seperti sekarang.” 

“Berarti pertahanannya nyaris sempurna?” 

“Benar. Saat ini, pasukan musuh mengepung Benteng Dick, tapi pengepungannya tidak berjalan mulus. Alasannya, mereka belum bisa merebut benteng kecil yang berdiri di dekat Benteng Dick.” 

Benteng Dick memang pertahanan yang kokoh. 

Namun tetap saja, bila diserang hebat setiap hari, persediaan dan pasukannya akan terkikis. 

Agar bisa memulai serangan besar-besaran, musuh harus menjatuhkan benteng kecil itu dulu. 

Jika dibiarkan, garis pengepungan bisa ditembus dari sana. 

“Benteng kecil itu berada di atas bukit. Leo menempatkan tiga ribu prajurit elite di sana untuk menghalangi pergerakan musuh. Serangan dari atas dan bawah membuat musuh goyah. Kudengar mereka sudah beberapa kali mencoba menyerang setelah pengepungan dimulai, tapi semuanya dipukul mundur, jadi mereka terpaksa mengubah strategi.” 

Selama bukit berada dalam penguasaan pasukan Leo, musuh tidak bisa memanfaatkan medan. 

Meski mencoba merebut benteng kecil itu dulu, posisi bukit yang terjal membuatnya sulit diserang namun mudah dipertahankan. 

Jumlah pasukan musuh yang besar pun tidak terlalu berguna, dan bila mereka memaksakan diri, mereka hanya akan menderita kerugian besar. 

Kalau korban terlalu banyak bahkan sebelum mencapai benteng utama, penyerangan benteng selanjutnya jadi mustahil. 

Karena itu musuh beralih pada metode pengepungan dan kelaparan. 

“Selama benteng kecil itu masih bertahan, Benteng Dick juga aman. Tapi, cepat atau lambat musuh akan memperkuat pasukan mereka. Sebelum itu terjadi, kita harus mengirimkan suplai makanan pada Leo dan pasukannya. Tanpa suplai, mereka bahkan tak bisa bergerak.” 

Pada saat yang sama, kita juga ingin membakar sebanyak mungkin persediaan musuh. 

Tanpa logistik, mereka pun tak bisa bergerak. 

Situasi saat ini kurang lebih begitu. 

Dan di sinilah inti pembahasan dimulai. 

Aku menatap peta. 

Musuh mengepung Benteng Dick, menempatkan pasukan penahan di benteng bukit untuk memblokir pergerakan Leo.

Mereka menempatkan pasukan cadangan di belakang mereka. Lebih jauh lagi di belakang, pegunungan membentang luas.

Pegunungan itu menjadi tempat yang jelas paling mungkin untuk lokasi gudang logistik musuh. 

Masalahnya, di mana tepatnya? 

“Gudang logistik musuh pasti ada di dalam pegunungan. Dan lokasinya sangat sulit ditemukan.” 

“Kalau memang di gunung, bukankah lebih mudah kalau kami lakukan pengintaian dari udara?” 

“Kalau tempatnya sulit dijangkau, pasti ada alasannya. Musuh menempatkan gudang jauh di dalam gunung karena mereka punya pasukan Kesatria Naga. Pengawasannya jauh lebih ketat dari udara daripada dari darat.” 

“Begitu rupanya... Jadi kita harus mencarinya perlahan-lahan?” 

Aku menggeleng. 

Tak ada waktu. Lambat sedikit saja, musuh akan sadar kita sedang bergerak. 

“Kita tidak akan mencarinya satu per satu. Itu hanya meningkatkan risiko ketahuan. Kali ini kita bergerak berdasarkan prediksi.” 

“Dan kalau prediksinya salah?” 

“Tidak akan. Tenang saja.” 

Sambil menjawab begitu, aku meletakkan beberapa pion kecil di peta.

Pion yang menandai posisi unit-unit kecil musuh yang sudah diketahui. 

Kemungkinan besar itu unit penghubung atau pengirim logistik dari gudang. 

Dengan memeriksa pergerakan mereka, aku mulai menyimulasikan jalur-jalur yang mungkin mereka tempuh di kepalaku. 

Jika gudang berada di Gunung A, tetapi pergerakan salah satu unit terlihat janggal atau tidak masuk akal, berarti Gunung A bukan lokasinya. 

Bila proses ini diulang terus, maka akan tersisa satu gunung yang paling logis. 

Dan benar saja, pergerakan unit-unit itu seluruhnya mengarah tanpa celah ke satu titik. 

Sebuah gunung di sisi luar rentang pegunungan. Aku menunjuknya. 

“Gudang logistik musuh ada di sini.” 

“Maaf, tapi apa dasar pastinya?” 

“Pergerakan unit-unit kecil itu. Jika mereka menempatkan gudang di lokasi yang sulit diakses, mereka tak akan repot-repot membuat jalur umpan palsu. Musuh tidak sedang dalam kondisi terdesak sampai butuh penyamaran serinci itu. Lagipula itu hanya akan memperlambat distribusi logistik. Jadi dengan mengamati unit-unit di sekitar sini, kesimpulannya mengarah ke titik ini.” 

“...Kalau tidak salah, nilai pelajaran taktik dan strategi Yang Mulia dulu sangat buruk?” 

“Aku bolos atau tidur waktu itu. Lagipula analisis seperti ini tidak butuh teori. Asal bisa membaca gerakan lawan, selesai.” 

Teori strategi hanyalah kumpulan pengalaman perang yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun. 

Tentu berguna kalau dipelajari, tapi kalau tidak pun masih bisa diatasi. 

Meski sebenarnya aku juga diajari hal itu ketika belajar sihir kuno pada Kakek.

Tapi tidak perlu kusampaikan di sini. 

“Serangan mendadak ke gudang logistik akan diserahkan pada Narberitter. Sampai titik tertentu aku akan ikut serta, lalu setelah operasi selesai, kita menuju utara untuk membujuk para bangsawan di sana.” 

“Bahkan kalau operasinya gagal?” 

“Ya. Meski gagal sekalipun. Jika gudang tidak ada di sana dan pasukan wyvern musuh tidak terpancing, Narberitter akan langsung bergerak mengacaukan barisan belakang musuh. Itu akan menarik perhatian mereka setidaknya sedikit. Sementara itu, kalian membawa suplai sebanyak mungkin menuju Benteng Dick.” 

“Yang Mulia mengatakannya seolah itu mudah sekali...”

“Aku percaya kalian bisa melakukannya. Nah, ini rencana gerakanku. Masalahnya ada pada kalian.” 

Meski kami berhasil menarik perhatian pasukan Kesatria Naga, jumlah Kesatria Naga yang mengelilingi Benteng Dick pasti lebih banyak daripada kami.

Kualitas kami unggul, tapi jumlah mereka jauh di atas.

Itu harus diseimbangkan. Dan inilah strategi untuk melakukannya. 

“Kita unggul dari sisi tunggangan, senjata, dan teknologi. Keunggulan ada di pihak kita. Tapi sebisa mungkin, aku ingin menang tanpa korban.” 

“Bukankah itu meminta terlalu banyak?” 

“Meminta bukanlah kesalahan. Sekarang, pikirkan pasukan musuh. Saat pengepungan, apakah para Kesatria Naga terus-menerus mengawasi langit? Jawabannya tidak. Hanya sebagian kecil yang berjaga. Mayoritas berada di darat.” 

Wyvern tidak bisa terus-menerus terbang, begitu pula konsentrasi penunggangnya tidak akan bertahan lama.

Mereka pasti bergiliran berjaga. 

Karena itu... 

“Finn. Kamu terbang sendirian mendahului pasukan dan menyerang para Kesatria Naga yang menunggu di darat. Kalau bisa, lukai wyvern mereka. Asal mereka tidak bisa naik ke udara, itu sudah cukup.” 

“A-Aku sendiri...?”

“Benar. Terbanglah sendirian menerjang puluhan ribu pasukan. Lakukan serangan mendadak dari udara, lalu kembali ke wilayah udara Benteng Dick. Tentu saja musuh akan mengejarmu. Saat itulah Regu Keenam akan menyambut mereka dengan hujan tembakan.” 

Finn memiliki dua peran.

Melumpuhkan wyvern musuh dan menjadi umpan. 

Jika mereka mengejar Finn yang lari ke udara Benteng Dick, mereka harus naik lebih tinggi.

Regu Keenam akan menukik dari atas dan menembak jatuh mereka.

Kalau berhasil, kami bisa menyingkirkan cukup banyak Kesatria Naga musuh. 

“Begitu mereka melihat sosok elang surgawi, mereka akan sadar bahwa itu adalah Regu Keenam. Dan kita memerlukan daya tembak Tipe 62.” 

Tipe 62 memiliki dua mode.

Mode standar yang menembakkan satu sambaran petir, dan mode penyebar yang menembakkan banyak sambaran sekaligus.

Mode kedua mengonsumsi lebih banyak sihir, tetapi mampu melumpuhkan banyak musuh sekaligus. Mode eksklusif Tipe 62.

Untuk operasi kali ini, itu sangat tepat. 

“Bagaimana? Kalau tidak mau, kita bisa pikirkan strategi lain. Tidak ada yang akan menilaimu pengecut. Tidak pernah ada cerita penunggang baru melakukan serangan tunggal terhadap pasukan musuh.” 

“...Yang Mulia yakin saya bisa melakukannya?” 

“Aku pikir itu akan mudah bagimu.” 

Mendengar jawabanku, Finn terdiam sejenak.

Lalu perlahan membuka mulut. 

“...Akan saya lakukan. Mohon izinkan saya melakukannya.” 

“Kalau gagal, seluruh operasi bisa hancur. Bagaimana dengan rasa percaya dirimu?” 

“...Saya tidak yakin. Tapi ada satu hal yang bisa saya pastikan.” 

“Oh? Apa itu?” 

“Nova lebih cepat dari tunggangan mana pun. Menyerang lalu kabur, kami pasti bisa melakukannya.” 

Mendengar itu, aku mengangguk sekali.

Selama dia tidak gentar, tidak ada masalah. 

“Kalau begitu sudah diputuskan. Kita jalankan rencana ini. Aku serahkan padamu.” 

Mendengar keputusanku, semua yang berada di tempat itu memberi jawaban tegas.


Bagian 10

Rencana operasi sudah ditetapkan.

Namun, pelaksanaannya tidak bisa dilakukan segera. 

Pertama-tama, Narberitter harus bergerak ke belakang pasukan musuh tanpa terdeteksi.

Setelah Lars memeriksa semuanya dengan saksama, kesimpulannya butuh dua hari untuk mengambil posisi di belakang musuh tanpa ketahuan. 

Karena itu, mulai sekarang aku dan Narberitter akan berangkat lebih dulu. 

“Semoga keberuntungan menyertai Anda, Yang Mulia.” 

“Kalian juga, Kapten Lambert.” 

“Kami akan baik-baik saja. Kalau keadaan memburuk, kami cukup mundur. Tapi Yang Mulia akan bergerak bersama Narberitter.” 

“Hanya sampai titik tertentu. Serangan mendadak akan dilakukan oleh Narberitter. Setelah aku memeriksa pangkalan logistik untuk terakhir kalinya, aku akan menunggu dari kejauhan.” 

“Meski begitu, tetap saja Anda akan mendekati musuh. Bukankah itu berbahaya?” 

Dengan jumlah pasukan yang sedikit, wajar jika Lambert merasa khawatir.

Toh, tugas mereka sebenarnya adalah menjaga keselamatanku. 

Aku terlalu percaya diri soal keselamatanku, sampai-sampai saat menyusun strategi aku otomatis menempatkan diriku di garis depan. Aku kurang mempertimbangkan orang-orang di sekitarku. 

“Memang berbahaya, tapi menunggu Narberitter kembali akan memakan terlalu banyak waktu. Selain itu, untuk meyakinkan para bangsawan utara, aku harus menemui bangsawan yang berada di garis depan. Bagaimanapun juga, bahaya tak bisa dihindari. Tenang saja. Narberitter adalah unit serba bisa. Kalau hanya untuk melarikan diri, mereka pasti bisa melindungiku.” 

“Anda terlalu optimis... Mohon berhati-hati. Dengan begini, Anda tidak akan bisa membuat para pencemooh Anda bungkam.” 

“Tidak perlu membungkam siapa pun. Aku sendiri tidak keberatan dengan sebutan Pangeran Sisa. Lagipula, aku tidak suka orang-orang yang tiba-tiba berubah sikapnya. Melihatnya saja membuatku muak.” 

Silakan saja meremehkanku. Kalau mau mengejek, silakan lanjutkan. 

Tapi jangan membalikkan telapak tangan hanya karena aku kebetulan berprestasi.

Tersenyum manis setelah meremehkanku hanya membuatku jengkel. Jika mereka sudah mengejekku sejak dulu, aku ingin mereka tetap melakukannya bahkan setelah aku berprestasi. 

Boleh saja mereka mengakui jasaku kali ini, tapi setidaknya akuilah juga bahwa aku tak pernah berhenti hidup dengan cara yang semrawut sampai sekarang. Orang yang sikapnya konsisten justru lebih mudah dipercaya dan jauh lebih enak dilihat. 



“Anda mungkin tidak menginginkannya, tetapi pandangan orang-orang terhadap Anda akan berubah karena perang ini. Bahkan tidak, pandangan itu sudah mulai berubah. Baik musuh maupun sekutu, lewat pemberontakan di ibu kota, mereka mulai memahami bahwa Anda adalah seseorang yang sulit diprediksi. Meski setelah bersama Anda, saya menyadari bahwa anggapan mereka masih terlalu naif.” 

“Masalah lagi. Aku ingin tetap seperti ini, tetapi tampaknya tidak ada yang akan mengizinkannya. Yang paling menyebalkan kalau aku bertindak serius sebagai pangeran dan mengatasi krisis negara, keinginan pribadiku justru tidak akan terwujud.” 

“Yang Mulia memang berbeda. Orang seperti Anda mungkin disebut jenius.” 

“Jenius, ya? Kayaknya itu lebih cocok untuk Leo.” 

“Saya juga sempat berpikir begitu. Tapi sepertinya Pangeran Leonard adalah orang yang dibentuk oleh kerja keras. Berbeda dengan Anda. Anda adalah jenius yang hidup dari kilatan intuisi. Saya selalu heran, Pangeran Leonard selalu dibandingkan dengan Anda sejak kecil. Normalnya, jika seseorang selalu dipuji karena lebih unggul dari kakaknya, dia akan cepat besar kepala. Namun, Pangeran Leonard justru bekerja lebih keras. Sekarang saya mengerti sebabnya. Karena dia tumbuh di samping Anda. Dia melihat kehebatan Anda secara langsung.” 

“Berlebihan. Leo hanya kebetulan rajin.” 

“Kalau Yang Mulia berkata begitu, biarlah begitu.” 

Aku menghela napas, dan Lambert hanya tersenyum getir.

Dia menunduk lalu mundur.

Begitu dia pergi, Finn datang menghampiriku. 

“Yang Mulia, mohon berhati-hati.” 

“Tenang saja. Asal kamu berhasil melakukan bagianmu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” 

“Kalau begitu, mohon percayakan pada saya.” 

Finn menatapku lurus.

Tatapan tanpa sedikit pun keraguan. 

“Memang bisa bikin tenang, ya. Kalau begitu, buat penyegaran, mari ngobrol sedikit. Bagaimana orangnya Putri dari Marquis Gleisner itu? Seorang wanita yang menunggangi wyvern. Jelas bukan orang biasa, ‘kan?” 

“K-Kenapa tiba-tiba...!” 

“Tidak apa-apa. Jawab saja. Dia orang seperti apa?” 

“...Dia orangnya sangat lurus. Melakukan apa yang dia yakin benar, dan dia punya kekuatan untuk benar-benar melakukannya. Dan sama kuatnya dengan itu, dia juga sangat baik hati.” 

Finn tersenyum lembut.

Senyuman seseorang yang bangga pada sang nona. 

“Sejak kapan kamu menyukainya?” 

“Kalau ditanya suka atau tidak suka, mungkin jawabannya suka. Tapi apakah itu perasaan cinta, aku tidak tahu. Aku yatim piatu. Dia menyelamatkan aku yang sudah ditinggalkan sendirian. Dia memberiku jalan sebagai Kesatria Naga, dan berjalan bersamaku sampai sejauh ini. Dia adalah seseorang yang telah memberiku begitu banyak. Ada keinginan dalam diriku untuk membalas jasa itu.” 

“...Begitu, ya. Biasanya perasaan terhadap teman masa kecil memang begitu. Lama-lama rasa suka atau tidak suka juga bisa menghilang.” 

“Tampaknya Anda cukup paham soal ini. Kalau tidak salah, Yang Mulia juga punya teman masa kecil, putri dari Keluarga Pahlawan... Bagaimana hubungan Anda dengannya?” 

Finn balik bertanya tentang Elna sebagai bentuk serangan balik.

Namun, serangan seperti itu tidak mempan padaku.

“Kalau ditanya suka atau tidak suka ya, aku menyukainya. Bagaimanapun juga, dia adalah cinta pertamaku.” 

“...Maaf?” 

Finn memasang ekspresi seperti baru saja mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan.

Pangeran yang jatuh cinta pada sang anak ajaib dari Keluarga Pahlawan, itu pasti terdengar penting. Tapi bagiku, itu sudah tak relevan lagi sekarang. 

“Aku juga memiliki utang besar pada teman masa kecilku. Aku selalu ingin membalasnya. Dan aku ingin terus berjalan menghadap ke arah yang sama dengannya. Entah pada akhirnya kami akan berjalan berdampingan atau tidak... kami tidak akan berubah. Ikatan ajaib yang sudah kami bangun sejak kecil, tidak akan terputus bahkan oleh Pedang Suci, dan tidak bisa dibatalkan bahkan oleh Silver. Teman masa kecil yang berharga itu memang seperti itu... Jadi pergilah dan selamatkan dia. Kamu sekarang sudah punya kekuatan untuk melakukannya.” 

Perasaan tak berdaya yang pernah dia rasakan.

Keputusasaan saat usahanya tak membuahkan hasil. 

Semua itu tidak pernah sia-sia.

Karena justru perasaan itulah yang membuat seseorang bisa mengatakan bahwa dirinya ada di sini sekarang.


Dan setiap kali dia mengingatnya, dia akan kembali teringat pada rasa terima kasih terhadap teman masa kecil yang selalu berada di sisinya.

Saat dirinya masih lemah, saat dia tidak bisa melakukan apa pun... 

Seseorang yang tetap berada di sampingmu tanpa syarat adalah sosok yang langka, sangat berharga. 

Itulah mengapa mereka penting. Itulah mengapa layak bagimu untuk berjuang mati-matian. 

“Yang Mulia...” 

“Finn, ini pertempuran pertamamu. Di medan perang, pasti ada saat-saat kamu akan kebingungan. Saat itu terjadi, ikuti suara hatimu. Kamu melangkah maju karena ingin melindungi seseorang. Jadi jangan abaikan suara itu. Jika kamu mengabaikannya, kamu akan memikul penyesalan besar. Tapi bila kamu mengikutinya dan situasi jadi buruk sekalipun... sekarang kamu sudah punya kekuatan untuk membalikkan keadaan itu.” 

Jika seseorang lemah, dia tidak akan mendapatkan apa pun.

Jika seseorang hanya biasa-biasa saja, dia hanya bisa mempertahankan satu hal.

Jika kamu kuat, segalanya bisa diraih.

Itu adalah hak istimewa untuk mereka yang kuat. Melindungi teman masa kecil, menyukseskan operasi.

Finn memiliki kekuatan untuk mewujudkan semuanya. 

“...Akan saya tanamkan dalam hati.” 

“Tunjukkan pada mereka. Buktikan. Kekuatanmu itu. Langit Kekaisaran ini adalah milikmu.” 

“Ya... Saya akan menjawab harapan Yang Mulia dengan seluruh jiwa raga. Saya pasti akan membawa kabar kemenangan.” 

Finn menjawab dengan tatapan yang tegas.

Di mata itu terpancar tekad untuk mempertahankan sampai akhir.

Saat pertama kali bertemu, yang kulihat hanyalah keinginan untuk melindungi.

Lalu keinginan itu berubah menjadi tekad untuk melindungi. Dan kini telah menjadi kekuatan kokoh untuk mempertahankan sampai akhir. 

Sisa kecemasan yang tadinya masih mengendap pun sirna.

Dengan ini, kecil kemungkinan dia akan gagal. 

Aku berpisah dengan Finn dan mulai melangkah. Di sana telah menunggu Narberitter, mengenakan mantel berkerudung hitam.

Aku pun menarik kerudungku hingga menutupi kepala, lalu menaiki kuda yang telah mereka siapkan. 

“Ayo. Hati-hati, tapi tetap berani. Kita ambil posisi di belakang musuh tanpa seorang pun menyadari.” 

“Siap!” 

Dan demikianlah, aku dan para prajurit Narberitter meninggalkan kota Thale.


Bagian 11

“Pangeran William. Jenderal Barthel dan Jenderal Fidesser meminta untuk bertemu dengan Anda.” 

Mendengar laporan prajurit itu, William menghela napas lagi.

Namun dia tahu dia tak bisa terus-menerus mengeluh. Dia memerintahkan agar keduanya diizinkan masuk, lalu menyingkirkan rasa malas dari benaknya. 

“Mohon maaf mengganggu, Pangeran William.” 

Yang masuk adalah dua pria.

Barthel dan Fidesser, keduanya sebelumnya berada di bawah komando Gordon, namun kini berada di bawah komando William.

Mereka adalah pria paruh baya, Barthel yang berjanggut lebat, dan Fidesser yang pendiam tapi bermata tajam. Keduanya lahir sebagai putra bungsu keluarga bangsawan, lalu menempuh jalan keras hingga naik menjadi jenderal murni dengan kemampuan mereka sendiri. 

Mungkin karena bangga akan riwayat hidup itu, sikap keduanya tampak arogan. 

“Kami meminta perintah untuk melakukan serangan besar, Pangeran William,” kata Barthel seakan itu adalah keputusan paling wajar di dunia, sementara Fidesser mengangguk penuh keyakinan. 

Namun William menanggapinya dengan tenang. 

“Strategi kita tidak berubah. Kita tetap akan mengepung dan memutus logistik.” 

“Logistik musuh sudah hampir habis! Sekarang waktu terbaik untuk menyerang!” 

“Benar. Moral mereka juga terus merosot.” 

“Pengepungan adalah permainan ketabahan. Bergerak gegabah hanya akan memancing serangan balasan yang menyakitkan. Kalian tidak mungkin lupa, bukan?” 

Dulunya, setelah garis pengepungan runtuh dan Leo mundur ke benteng, Barthel dan Fidesser-lah yang melakukan pengejaran.

Mereka memulai pengepungan terlalu cepat dan gagal menjatuhkan benteng tambahan, itulah sebabnya William datang sebagai bala bantuan. 

Padahal seharusnya Gordon sendiri yang turun sebagai bala bantuan, namun William meyakinkannya untuk tidak melakukannya.

Gordon adalah poros pemberontakan; jika gugur, segalanya tamat. 

William-lah yang mengusulkan agar Gordon meyakinkan pasukan dari pihak Kekaisaran untuk bekerja sama, dan Gordon diberi tugas menjaga stabilitas pasukan.

Sementara William bergerak sendiri untuk membunuh Leo. 

Walau demikian, dua jenderal itu tidak senang berada di bawah komando seorang pangeran dari negara lain. Karena itulah mereka menentang strategi William, yang mengganti pengepungan agresif dengan pemutusan logistik setelah kegagalan awal. 

“Keadaan sekarang berbeda dari waktu itu.” 

“Sama saja. Mereka masih menunggu kesempatan untuk membalas. Serangan gegabah hanya akan membuat kita kehilangan banyak prajurit.” 

“Tugas seorang komandan bukan mengasihani prajurit! Tugasnya adalah meraih kemenangan!” 

“Kemenangan itulah alasan kita melakukan pengepungan. Komando pasukan ini dipercayakan kepadaku. Jika kalian tidak puas, adukan saja pada Pangeran Gordon.” 

“Yang Mulia sedang sibuk!” 

“Kalau begitu, patuhilah aku.” 

Dengan itu, William memerintahkan keduanya keluar. 

Kedua jenderal itu mendelik jengkel sebelum meninggalkan tenda. 

Setelah pengganggu pergi, William mengembuskan napas panjang di dalam tendanya sendiri.

Dia tidak pernah berpikir memimpin pasukan negara lain akan mudah. Namun kenyataannya jauh lebih sulit daripada yang dia bayangkan. 

“Seharusnya aku membungkam mereka dengan hasil...”

Bergerak sembarangan hanya akan memancing serangan balik.

Dia harus menekan musuh sampai pada titik mereka benar-benar tidak bisa membalas, lalu menghabisinya. William tidak berniat menyimpang dari prinsip itu. 

Saat ini dia lebih berhati-hati dari biasanya. 

Penyebabnya adalah kekuatan Leo yang dia lihat di ibu kota, serta sikap diam ibu kota itu sendiri.

Keadaan sudah berubah. Kebutuhan akan bala bantuan tidak terbantahkan.

Namun tidak ada gerakan dari ibu kota. 

“Tidak mungkin mereka tidak bergerak...”

William menatap kosong ke satu titik. 

Yang dia lihat adalah masa lalu. Momen terakhir pemberontakan di ibu kota.

Sejak Leo muncul, keadaan dibalikkan dalam sekejap. Tidak diragukan lagi.

Namun sebelum itu, lawan telah menunda waktu dengan teliti. Mereka memprediksi Leo akan datang, dan dengan sengaja mengulur waktu. 

Yang melakukan itu adalah kakak Leo, Al. 

“Benarkah dia masih tidur? Tidur selama ini?” 

Ada kasus seseorang tertidur lama karena racun atau sihir.

Namun William sulit mempercayainya mentah-mentah. 

Jika itu hanya jebakan untuk melakukan serangan mendadak, akibatnya bisa fatal. 

Karena itu, William membantu Gordon memastikan kekuasaan di sepertiga wilayah utara.

Dia menyemangati Gordon yang terpuruk setelah melihat kekuatan Silver, menegurnya, mendorongnya bangkit kembali. Lalu melalui Negara Bagian, dia mengamankan jalur logistik, menguasai wilayah timur yang paling mudah ditembus, dan menjadikannya pangkalan. 

Sampai titik ini, mereka sudah sangat jauh. Jika bekerja sama dengan Kerajaan Perlan, mereka bahkan bisa menguasai seluruh utara.

Dengan demikian, mereka bisa menarik pasukan dari Negara Bagian maupun pasukan Persatuan Kerajaan ke wilayah utara. Dari sana mereka bisa langsung bergerak ke selatan menuju ibu kota Kekaisaran, atau menyesuaikan strategi dengan Kerajaan Perlan. Peluang semakin besar. 

Namun musuh tidak bodoh. 

Cepat atau lambat, aliansi dengan Kekaisaran Suci pasti akan terbentuk. Saat itu terjadi, pasukan penjaga perbatasan timur pasti akan bergerak ke utara. 

Pasukan Leo awalnya memang kecil dibandingkan kekuatan Kerajaan Perlan. Karena tugas mereka hanya tinggal mengulur waktu. 

Dan itu tidak berubah sampai sekarang.

Bertahan dalam benteng tanpa harapan bala bantuan biasanya merupakan strategi buruk. Namun jika mereka tahu bahwa bala bantuan terkuat di Kekaisaran sedang bergerak menuju mereka, itu justru menjadi strategi terbaik. 

“Kalau Kaisar hilang kesabaran dan memutuskan turun tangan sendiri, masih ada harapan...” 

Jika Kaisar turun tangan, Persatuan Kerajaan pasti mengerahkan kekuatan utamanya.

Saat ini mereka hanya sekutu terbatas, namun jika Kaisar turun, mereka akan berbaris bersama.

Karena jika Kaisar dikalahkan, perang akan berakhir langsung dengan kemenangan mereka. 

Para pewaris takhta mungkin akan melawan, namun perlawanan mereka kecil. 

Karena itu, Kaisar tidak akan keluar. Dalam situasi normal, sang Pahlawan yang akan bergerak. Namun William yakin Pahlawan tidak akan muncul. 

Saat pemberontakan di ibu kota, Pahlawan dan pasukannya memang bersiap.

Namun dia terlambat tiba. Sebagian karena pasukan penahan yang menghadangnya, namun sebagian besar karena geraknya sendiri yang lamban. 

Mengapa dia terlambat?

Karena terjadi perselisihan pendapat. 

Keluarga Pahlawan memiliki tiga cabang. Salah satu cabang itu menentang keputusannya dan membuat langkah mereka tidak sinkron. Itulah sebabnya Pahlawan terlambat turun dalam situasi genting. 

Berdasarkan informasi itu, William menyimpulkan bahwa Pahlawan tidak akan turun tangan sekarang. 

“Aliansi dengan Kekaisaran Suci belum terbentuk. Kaisar tidak bisa keluar. Pahlawan pun tidak akan maju.”

Dia memiliki cukup banyak informasi untuk menyimpulkan bahwa bala bantuan takkan datang.

Namun, bolehkah dia memutuskan hanya berdasarkan informasi yang terlihat?

Mungkin saja musuh memasang jebakan di suatu tempat. 

“Licik sekali...”

William bergumam sambil membayangkan sosok Al yang tak terlihat.

Justru karena tak terlihat, dia semakin memikirkan kemungkinan yang ada.

Andai saja orang itu menunjukkan dirinya. 

Tepat saat William berpikir demikian, laporan datang mendadak.

“Kabar darurat! Asap terlihat dari gudang logistik di garis belakang! Kemungkinan besar diserang!!” 

“Apa!?” 

Gudang logistik itu adalah fasilitas yang didirikan oleh William sendiri.

Jika musuh hendak menyerang, target paling jelas adalah logistik. Dia sudah memilih lokasi yang seharusnya mustahil ditemukan, namun kini keberadaannya terbongkar. 

William sontak terkejut. 

Tidak ada pergerakan dari Leo. Bagaimanapun juga, selama dia terkurung dalam benteng, mustahil Leo bisa menggerakkan pasukan luar. 

Artinya, pelakunya bukan Leo. 

“Sial!” 

Bayangan Al dengan senyum sinis melintas di benaknya.

Dia sudah mempertimbangkan kemungkinan jebakan. Namun jika dibiarkan, logistik mereka akan dibakar habis.

Jika gudang logistik hancur dan jalur persediaan diputus, William akan terisolasi.

Sebagai pemimpin pasukan negara lain, posisinya sangat rapuh, dan kehilangan logistik bisa memicu pemberontakan dalam pasukannya sendiri. 

Saat dia memikirkan itu, Barthel datang tergesa-gesa. 

“Pangeran William! Logistik kita diserang!” 

“Aku sudah mendengar laporan. Sedang kupikirkan langkahnya.” 

“Tak ada waktu untuk santai! Segera pimpin pasukan Kesatria Naga ke sana!” 

“...Itu permintaan resmi, bukan?” 

“Tentu saja!” 

Mendengar kalimat yang dia tunggu, William mengangguk sekali.

Dengan begitu, meski ini jebakan, tanggung jawab tak lagi berada padanya. 

“Kalau begitu, komando di sini kuserahkan pada Jenderal Barthel. Bertindaklah dengan fleksibel.” 

“Siap! Serahkan pada saya!” 

“...Untuk berjaga-jaga, sebagian pasukan Kesatria Naga tetap tinggal. Mereka fokus menjaga langit. Mereka adalah bawahanku. Jangan keluarkan perintah sembarangan.” 

“...Baik.” 

Setelah menegaskan hal itu, William keluar dari tenda. 

Dengan ini, serangan benteng menggunakan Kesatria Naga tidak bisa dilakukan. Melakukannya berarti melanggar perintah.

Jika kedua jenderal itu ingin menyerang hanya dengan pasukan darat, biarkan saja. Sedikit pelampiasan tidak masalah. Jika mereka terpukul mundur, keluhan dua jenderal itu juga akan mereda. 

Masalahnya adalah jika serangan terhadap logistik hanyalah pengalih perhatian. 

Betapa menjengkelkannya rencana itu. Meski curiga bahwa itu jebakan, dia tetap harus menanggapinya.

Ini adalah strategi yang pasti dirancang oleh seseorang yang sangat paham bagaimana membuat orang lain kesulitan. 

“...Akhirnya kamu muncul, Arnold.” 

Dengan keyakinan yang semakin menguat, William bergumam lirih.

Sambil menahan rasa tak nyaman, seolah dirinya sedang menari di atas telapak tangan musuh.


Bagian 12

“Seperti yang diharapkan dari Anda, Yang Mulia.” 

“Tak perlu memujiku. Dengan sebanyak itu informasi, siapa pun yang sedikit saja bisa berpikir pasti akan menemukannya.” 

Sambil memandang gunung yang sejak awal menjadi tujuan kami, aku dan Lars saling bertukar percakapan seperti itu. 

Kami juga sudah memastikan kalau dari gunung itu, rombongan pengangkut logistik mulai keluar. 

Itu pasti pangkalan logistik mereka. 

Persediaan makanan pasukan Gordon dikumpulkan dari Persatuan Kerajaan dan Negara Bagian. 

Bahan makanan yang dihimpun oleh Persatuan Kerajaan masuk ke Negara Bagian, lalu dari sana dikirim melalui celah perbatasan utara menuju markas Gordon. 

Dan untuk mempertahankan pasukan William yang terus mengepung garis depan, logistik mereka disimpan menumpuk di tempat ini. 

Tentu saja persediaan itu bukan tanpa batas. 

Mengangkutnya dari negeri lain saja sudah memakan biaya besar, dan celah perbatasan utara terlalu sempit untuk konvoi besar. Kalau rombongan pengangkut berskala besar bergerak, pasukan perbatasan utara pasti langsung bergerak untuk mencegahnya. 

Karena itu, mereka hanya bisa mengirim sedikit demi sedikit. 

Tentu bukan berarti mereka sepenuhnya menggantungkan diri pada pasokan dari luar. Tapi jelas pihak sana pun tidak berada dalam posisi yang nyaman. 

Dan di situlah kami akan menusuk kelemahan mereka. 

“Setelah menyerbu pangkalan logistik itu, segera bakar lalu pindah tempat.” 

“Kalau dibakar begitu saja, tidak akan habis seketika, bukan?” 

“Kita hanya perlu membuat mereka sibuk memadamkan api. Lagipula tujuan kita memang bukan membakar habis semuanya.” 

Pasukan tanpa logistik tak ubahnya bandit. Mereka akan menyerbu desa-desa sekitar dan melakukan penjarahan. 

Selama kami belum bisa menumbangkan mereka dalam sekali serang, membakar habis logistik musuh adalah hal yang harus dihindari. 

Tujuan kami hanyalah mengulur waktu. 

“Tapi musuh itu para Kesatria Naga. Begitu melihat asap, mereka pasti langsung datang. Kalau mereka menilai kerusakannya kecil, ada kemungkinan mereka segera berbalik.” 

“Karena itu kita bergerak. Kita buat mereka merasa ada sesuatu yang lebih berbahaya.” 

Aku berkata demikian sambil menyunggingkan senyum tipis. 

Panglima mereka adalah William. Mengendalikan pasukan dari negeri lain pasti membuatnya kewalahan. 

Soal logistik, dia pasti sangat berhati-hati. 

Cara mereka menyembunyikan pangkalan logistik di tempat seperti ini saja sudah menunjukkan betapa dia menaruh perhatian. 

Kalau begitu, hanya ada satu cara untuk menarik perhatiannya. 

“Ada rencana tertentu, Yang Mulia?” 

“Kita incar pasokan logistik berikutnya. Yah, lebih tepatnya membuatnya seolah-olah kita mengincarnya.” 

Jika logistik mereka terkena serangan, maka pengiriman berikutnya menjadi sangat penting. 

Kalau mereka curiga bahwa pengiriman berikutnya akan diserang, mereka tetap harus menyelidiki keberadaan kita walau ini hanya pengalihan. 

“Begitu. Lalu bagaimana membuatnya seolah-olah kita sedang menuju pasokan berikutnya?” 

“Dengan sengaja membuat asap mencolok.” 

“Terang-terangan? Menurut Anda mereka akan terpancing?” 

“Mereka tak punya pilihan. Kalau dibiarkan, kita benar-benar akan membakar pasokan berikutnya.” 

Kalau mereka tidak terpancing pun tak masalah. 

Setelah kami menarik mereka sejauh ini, langit di sekitar benteng musuh akan menjadi lengang. Kita bisa mengamankan supremasi udara dan mengirim logistik tanpa gangguan. 

Kalau William memilih mundur, mereka memang tak bisa mengirim semua logistik, tapi sebagai gantinya kami bisa mengurangi logistik musuh. 

Aku tak mau melakukannya. Dengan logistik yang menipis, kemungkinan besar rakyat sipil akan menjadi sasaran. Tapi kalau tidak dilakukan, kami takkan menang. Dan aku juga percaya pada William. 

Jika logistiknya tak bertahan, William pasti akan mundur tanpa memaksakan diri. Dia adalah komandan yang mampu mengambil keputusan seperti itu. 

Jadi kalau mereka tidak terpancing oleh pengalihan ini, aku tidak akan segan. 

“Baiklah, Kolonel Lars. Sisanya kuserahkan kepadamu.” 

“Serahkan pada saya.” 

“Aku akan bergerak lebih jauh ke belakang. Rute pengiriman logistik musuh sudah kutandai di peta. Tidak perlu terlalu tepat, cukup naikkan asap di sekitar jalur itu. Mereka pasti paham maksudnya.” 

“Baik.” 

Setelah menegaskan bahwa mereka harus langsung mundur setelah selesai, aku memberi beberapa tanda di peta. 

Melihat asap yang menjulur memanjang hingga jalur logistik berikutnya, William pasti akan pucat. 

Saat dia melihat itu, pasukan Narberitter sudah meninggalkan area. Tapi mereka tak bisa membiarkannya begitu saja. 

Jika kami bersembunyi dan membakar logistik mereka, itu akan menjadi bencana. Mereka pasti akan melakukan pencarian dan mengirim pengawal ke konvoi logistik berikutnya. 

Mereka pun harus membagi tenaga untuk memadamkan kebakaran, dan sebagian besar pasukan Kesatria Naga akan terhambat. 

Yang bisa dilakukan William hanyalah mempercayakan tempat ini pada orang yang dia percaya, lalu kembali hanya dengan pasukan kecil. 

Namun pasukan kecil tidak akan mengubah keadaan secara drastis. 

“Tidak bisa bertarung sebagai Kesatria Naga biasa, dan sebagai komandan pun kamu kekurangan orang terpercaya... Maafkan aku, tapi aku akan mengacaukanmu habis-habisan, Pangeran William.” 

Sambil berkata begitu, aku mengangkat tangan kananku tinggi-tinggi dan menurunkannya dalam diam. 

Itu menjadi aba-aba, dan pasukan Narberitter bergerak tanpa suara.


* * *


Operasi itu berhasil. 

Melihat asap yang membubung dari pangkalan logistik, para Kesatria Naga yang berada di sekitar benteng bergegas datang. 

Ketika mereka melihat asap yang membentang dari pangkalan logistik hingga ke arah belakangnya, mereka langsung membagi pasukan dan bergerak sesuai perkiraan kami. 

“Mereka terpancing dengan sangat baik.” 

“Benar juga.” 

Sambil memandangi para Kesatria Naga yang terbang tergesa-gesa di kejauhan, aku menyipitkan mata. 

Aksi mereka berjalan persis seperti perkiraan, tetapi lebih cepat dari yang kuduga. 

Itu menunjukkan betapa cepatnya mereka mengambil keputusan. 

Seperti yang diharapkan dari William. Meski dia memahami bahwa ini adalah pengalihan, begitu sadar bahwa dia tak bisa mengabaikannya, dia segera menyerahkan pasukan pada orang yang dia percaya dan langsung kembali. 

Dia pasti merasakan ada sesuatu yang aneh. 

Namun, sekalipun dia kembali sekarang, tak mungkin dia bisa menghentikan apa yang sudah terjadi. Situasinya tak semudah itu diatasi. Di sini kami sudah mengerahkan kartu as yang sulit ditandingi. 

Yah, meski begitu, aku tidak percaya Pangeran Naga itu akan berakhir begitu saja. 

“Itu bukan urusanku lagi, sih.” 

“Maaf?” 

“Hanya bicara sendiri. Ayo, kita pergi. Ini awal perjalanan untuk membujuk para bangsawan utara.” 

“Sepertinya akan menjadi perjalanan yang menyenangkan, Yang Mulia.” 

“Tidak akan menyenangkan. Sama sekali tidak. Dan berhentilah memanggilku ‘Yang Mulia’. Kita bukan pangeran lagi, bukan pula Narberitter.” 

Aku menarik tudung jubah hitam hingga menutupi seluruh kepalaku, menyembunyikan wajah. 

William pasti sudah menyadari keberadaanku, tapi orang lain takkan percaya. 

Di depan umum aku sedang terbaring sakit di ibu kota, dan sekalipun mereka diberi tahu bahwa operasi ini adalah rencanaku, mereka takkan mudah menerimanya. 

Tapi jika ada yang membuktikan keberadaanku, mereka terpaksa harus percaya. 

Karena itu, identitasku harus tetap tersembunyi. 

“Mulai sekarang kita adalah rombongan prajurit bayaran keliling. Aku kaptennya, dan kalian para bawahanku. Untuk sementara begitu saja. Pada para tuan tanah setempat akan kujelaskan identitas yang sebenarnya, tetapi sebisa mungkin jangan sampai informasi bocor.” 

“Dimengerti. Namun bukankah Anda agak terlalu muda untuk seorang kapten?” 

“Aneh, ya?” 

“Sedikit aneh. Jadi, bagaimana kalau kami memanggil Anda ‘Tuan Muda’ saja? Kami dulu melayani ayah Anda. Bagaimana menurut Anda?” 

“Boleh juga. Tidak bohong, dan masuk akal.” 

Detail selebihnya bisa kupikirkan sambil dalam perjalanan. 

Yang penting, kami tinggalkan tempat ini dan menuju tujuan berikutnya. 

“Tujuan kita adalah wilayah Marquis Zweig, bukan? Ada urusan apa di sana?” 

“Marquis Zweig dalah satu-satunya bangsawan utara yang bisa kupercaya. Dulu dia pernah menolongku. Dia orang yang benar-benar bisa kuhormati.” 

Dengan mengatakan itu, aku pun menggerakkan kudaku maju.


Bagian 13

Dalam pandangan Finn, warna biru luas memenuhi segalanya. 

Asal warna biru itu adalah cakrawala. 

Langit jernih yang membentang jauh, sangat jauh hingga terasa tak berujung. 

Langit yang begitu besar dan begitu luasnya sehingga seolah hanya dirinya seorang yang ada di dunia ini. 

Finn menatap langit yang seakan hendak menelannya, lalu menarik napas panjang dan perlahan. 

Saat ini Finn berada di atas awan. 

Sebelum naik ke ketinggian, dia sudah memastikan bahwa sebagian besar pasukan Kesatria Naga musuh telah pergi menjauh. 

Dengan bersembunyi di balik awan, Finn berniat mendekati area musuh dari atas dan melancarkan serangan mendadak. 

“Rasanya aneh ya... Nova.” 

“Kyuu.” 

Saat dia membelai leher naga kesayangannya, Nova mengeluarkan suara geli yang manis. 

Kesatria Naga dilindungi oleh kekuatan sihir dari naga tunggangannya, sehingga tubuh mereka pun terlindungi dari tekanan udara yang ganas. 

Meski begitu, terbang di atas awan adalah tindakan berisiko tinggi, namun bagi Finn hal itu tidak jauh berbeda dari berjalan-jalan biasa. 

Yang berbeda hanyalah, kali ini tangannya menggenggam senjata untuk bertempur, dan di kedua bahunya terpikul beratnya keberhasilan sebuah misi. 

“Pertempuran... selama ini aku menginginkannya... tapi begitu saatnya tiba, ternyata menakutkan juga.” 

“Kyuu...” 

“Ini satu-satunya jalan. Kalau aku ingin tetap bersamamu... hanya ini caranya.” 

Baik Kesatria Naga yang dianggap tak berguna, maupun naga yang dianggap tak berguna, keduanya tidak punya tempat. 

Rencana untuk menjadikan Finn sebagai instruktur para Kesatria Naga hanyalah ide sepihak dari putri Marquis Gleisner. Ada kepentingan pribadi di sana, itu pun benar. 

Dia tidak boleh terlena hanya karena status teman masa kecil. Posisinya tidak stabil, dan dia hanya bisa bertahan jika menunjukkan nilai dirinya. 

Karena itulah Finn memilih langit medan perang. 

Namun. 

“Membunuh seseorang... membunuh naga lain...”

Mengangkat senjata demi mengamankan posisinya berarti menjatuhkan pihak lain. 

Dalam serangan mendadak ini, berapa banyak Kesatria Naga musuh yang akan mati? Berapa banyak naga yang akan terluka? 

Mereka juga punya keluarga, juga punya rekan. Mereka punya waktu-waktu berharga yang dihabiskan bersama naganya. 

Mereka sama saja seperti dirinya. 

Selama ini dia menekan keraguan dalam hati. Tapi melihat langit seperti ini, dia mulai bertanya-tanya apakah dia benar. 

Rasa takut dalam dirinya tumbuh semakin besar. 

Namun dia tidak bisa terus terjebak dalam keraguan. 

Finn menggenggam erat Tipe 62 di tangannya. 

Kekuatan bertarung yang dia miliki. Senjata yang telah dipercayakan kepadanya. 

“...Yang Mulia sedang menunggu.” 

Dia menarik napas panjang. 

Misi yang dia terima adalah melumpuhkan musuh. 

Selama para naga musuh tidak dapat terbang ke langit, itu sudah cukup, demikian katanya. Baru sekarang Finn menyadari bahwa kata-kata itu untuk menghiburnya. 

Dia meminta untuk bertarung, dan permintaannya dikabulkan. 

Dia memohon agar bisa melindungi teman masa kecilnya, dan keinginannya dikabulkan. 

Dia diberi perhatian sebesar mungkin dan dilepas pergi. 

Dia tidak boleh menambah beban lagi. 

Dia ragu. Namun dia diberitahu, jika dia ragu, dengarkan suara hatinya. 

Maka Finn memilih mengikuti suara paling besar dalam dirinya. 

“Ayo, Nova... demi Yang Mulia.” 

“Kyuuu!” 

Saat dia menarik tali kekang, Nova sedikit menanjak lalu melipat sayapnya dan menukik menembus awan. 

Awan tebal menjadi dinding yang menyembunyikan keberadaan mereka. 

Selama mereka tetap bersembunyi, musuh takkan pernah menyadari Finn dan Nova berada di atas mereka. 

Tapi dia tidak bisa terus bersembunyi. 

Dia sudah berjanji. 

Bahwa dia akan membawa kabar kemenangan. 

Bukan hanya dirinya yang maju ke garis depan. 

Ada orang-orang yang sebenarnya bisa tetap berada di belakang tanpa ada yang memprotes, tetapi tetap memilih mengambil risiko. 

Demi Kekaisaran, demi rakyat, demi keluarga. 

Finn tidak bisa merasakan hal yang sama persis seperti mereka. Tapi dia ingin membantu mereka. 

“Ayo, Nova!” 

Dengan teriakan itu, mereka menerobos keluar dari awan dan meluncur tepat di atas pasukan musuh. 

Belum ada seorang pun yang sadar. 

Mereka sama sekali tidak mengantisipasi serangan dari atas. 

Tanpa mengurangi kecepatan, Finn menukik menuju formasi musuh. 

Sasarannya adalah kandang naga, tempat paling banyak naga berkumpul. 

“Itu dia!” 

Finn memindai area dengan cepat, mencari keberadaan naga-naga musuh, sampai akhirnya dia menemukan lokasi di mana banyak naga dikumpulkan. 

Itu adalah kandang naga musuh. 

Meski hanya bangunan sementara, ukurannya begitu besar hingga Finn belum pernah melihat yang sebanding. Itu menunjukkan betapa banyaknya Kesatria Naga musuh. 

Kini dia benar-benar memahami maksud dari perintah “jangan biarkan mereka terbang”. 

Dia menyesuaikan posisi lalu mempercepat turunnya. 

Tentara di bawah sana akhirnya mulai menyadari sesuatu. 

“Hei... Apa itu?” 

“Hah? Kesatria Naga lah. Pasti pasukan kita.” 

“Tidak, tapi...”

Meski menyadari ada yang aneh, mereka tidak segera bereaksi. 

Kekuatan utama pasukan adalah Tentara Kekaisaran. Bagi mereka, mayoritas Kesatria Naga adalah sekutu, ditambah lagi mereka tidak terbiasa menghadapi serangan dari udara. 

Gerakan yang tidak pernah dilatih tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba. 

Sementara kebingungan dan keraguan menyebar di bawah, Finn menukik laksana meteor. 

“Tolong, Tipe 62...”

Dia mengalirkan sihir ke Tipe 62. 

Mode sebar dapat menjatuhkan banyak musuh sekaligus, tetapi membutuhkan waktu untuk mengumpulkan energi. 

Sihir yang Finn salurkan semakin penuh, hingga ujung Tipe 62 memercikkan kilatan listrik. 

Pengisian energi telah selesai. 

Pada saat bersamaan, kandang naga sudah masuk ke dalam jarak tembaknya. 

Mulai dari sini dia harus menyesuaikan situasi. 

Di bawah, para Kesatria Naga musuh yang menyadari ada yang tidak beres mulai bersiap terbang. 

Tapi sudah terlambat. 

“Haaaaaaaah!!!” 

Sebuah anak panah yang ditembakkan dari bawah melesat ke Finn. 

Dia memutar tubuhnya dan menghindar, dan di saat yang sama melepaskan tembakan Tipe 62 dalam mode sebar. 

Rentetan petir menghantam kandang naga. 

Bangunan itu langsung terbakar, dan naga-naga yang terkena sambaran di sayapnya meraung kesakitan. 

Namun serangan itu belum selesai. 

Sambil terus mendekat, Finn menembakkan kilatan demi kilatan petir. 

Dengan sambaran yang datang bertubi-tubi, seluruh kandang naga jatuh ke dalam kekacauan total. 

Saat para Kesatria Naga yang berjaga di udara dekat benteng akhirnya tiba, kandang itu sudah nyaris hancur, dan naga serta penunggang yang berada di dalamnya tak lagi mampu untuk terbang. 

Amarah para Kesatria Naga yang kehilangan rekan-rekan mereka langsung meluap hingga ke titik didih.

“Jangan biarkan dia kabur! Jangan biarkan dia lolos! Bunuh Kesatria Naga putih itu, apa pun caranya!!” 

Puluhan Kesatria Naga memenuhi langit.

Dari kandang naga yang letaknya agak jauh, para Kesatria Naga lain juga terus naik ke udara satu demi satu.

Di antara mereka yang terus bertambah banyak itu, para Kesatria Naga tercepat ditugaskan mengejar Finn. 

Mereka adalah para elite di antara Kesatria Naga kebanggaan Persatuan Kerajaan.

Namun Finn sama sekali tidak panik. 

“Bagus... terus saja kejar aku!” 

Dia mempermainkan para Kesatria Naga itu di udara, tak membiarkan siapa pun mendapat posisi di belakangnya.

Bahkan, di sela-sela manuvernya, Finn sempat melancarkan serangan balasan dan mengurangi jumlah musuh sedikit demi sedikit. 

Tak lama kemudian, para Kesatria Naga Persatuan Kerajaan menyadari bahwa musuh yang mereka hadapi benar-benar bukan lawan yang bisa diremehkan. Mereka menyerah pada pengejaran yang gegabah dan beralih pada strategi pengepungan, memanfaatkan jumlah mereka yang besar.

Meski Finn dan Nova unggul dalam kelincahan di udara, semua itu tak berguna jika mereka sampai terkepung. Begitu ruang gerak dihimpit, tak ada lagi yang bisa dilakukan. 

Begitulah, dulu memang begitu. 

Namun sekarang, Finn punya senjata yang bisa memaksakan terciptanya ruang gerak. 

“Apa itu!? Apa yang dia pakai!?”

“Itu tongkat sihir! Dia menembakkan sihir! Hah!? Uwaaahhh!!” 

Finn menembak jatuh para Kesatria Naga yang menghadang, terus membuka celah untuk kabur.

Jika mereka tidak bisa menghentikannya, tidak mungkin ada yang mampu menyusul Finn dan Nova. 

Sementara para Kesatria Naga terus dibuat kewalahan, di bawah sana pasukan besar pemanah telah bersiap.

Toh dia hanya satu Kesatria Naga. Cukup menembaknya jatuh dengan hujan panah, pikir mereka.

Namun Finn justru turun rendah, terbang sangat dekat dengan barisan pemanah itu. 

“Uwaaahh!?!”

“Dia menyelam ke arah kita!?”

“Jangan tembak! Terlalu dekat!!” 

Tanpa menyerang, hanya dengan terbang rendah saja, Finn sudah membuat pasukan di darat kacau balau. Dia kemudian mengarahkan jalurnya menuju Benteng Dick. 

Setelah bermanuver lincah di atas pasukan musuh, akhirnya Finn dan Nova bergerak dalam garis lurus.

Melihat itu, para Kesatria Naga Persatuan Kerajaan kembali mempercepat laju mereka. 

“Jangan biarkan dia lolos!”

“Biar kubelah dia hidup-hidup!” 

Suara penuh kebencian menggema menyusul Finn dan Nova.

Ketika tiga puluh Kesatria Naga mengejar mereka, disusul dua puluh lainnya di belakang. 

Memastikan jumlah pengejar itu, Finn kemudian menukik lurus ke arah dinding benteng.

Banyak Kesatria Naga melambat, mengira Finn hendak menabrakkan diri. Namun ada pula yang tak mengurangi kecepatan dan terus fokus mengejar Finn. 

Finn, seolah mengejek mereka, menarik Nova naik tepat pada jarak yang sangat tipis. 

“Sial!? Uwaaahhh!!” 

Tak sempat berhenti, beberapa Kesatria Naga pun menabrak dinding benteng.

Meski demikian, jumlah pengejar masih belum berkurang banyak. 

“Dia naik ke atas! Tidak ada lagi yang menghalangi! Percepat!”

“Habisi mereka!” 

Sekitar empat puluh Kesatria Naga mengejar Finn dan Nova lurus menuju langit di atas Benteng Dick.

Sedikit lagi, hanya sedikit lagi. 

Ketika salah satu Kesatria Naga sudah berada cukup dekat hingga ujung tombaknya nyaris dapat menjangkau Finn.

Finn dan Nova melesat maju. 

Mereka memutus jarak seolah semua pengejaran sebelumnya hanya ilusi, meninggalkan Kesatria Naga yang mengejarnya. 

“A-Apa...?” 

Tak butuh waktu lama bagi mereka menyadari bahwa sejak awal mereka telah dipancing.

Tapi mengapa? 

Jawabannya baru muncul ketika awan terbelah, dan dari dalamnya tampak para kesatria berjubah putih menunggang burung hitam raksasa. 

Para Kesatria Naga yang hanya fokus naik ke atas itu benar-benar tanpa pertahanan.

Tidak ada kesiagaan. 

“Sial... Kekaisaran!”

“Hindar! Menghindar!!”

“Tidak sempat! Mereka terlalu cepat!” 

Sementara itu, Regu Keenam turun dengan formasi yang begitu teratur, menyerupai kawanan burung pemangsa tengah memburu mangsanya. 

Ketika berpapasan, hujan bola api menembak jatuh para Kesatria Naga Persatuan Kerajaan. 

Para kesatria berjubah putih itu kemudian menyebar, menjaga langit di atas benteng, seolah menunjukkan keberadaan mereka dengan bangga. 

“Itu Regu Keenam Kesatria Pengawal... Pasukan Elang Surgawi!”

“Bala bantuan! Bala bantuan Kaisar telah tiba!”

“Kita bisa menang! Kita bisa menang!!” 

Di dalam benteng, para prajurit yang telah lama bertahan dalam pengepungan pun bersorak kegirangan. 

Namun sorak kemenangan itu tak dibiarkan begitu saja.

Para Kesatria Naga Persatuan Kerajaan yang tersisa berkumpul dan melancarkan serangan balik.

Jumlah mereka masih lebih banyak daripada jumlah Regu Keenam. 

“Bersiap menyergap! Rebut penguasaan udara! Atas nama Paduka Kaisar! Jangan biarkan satu pun mendekati benteng ini!” 

Dengan komando Lambert, Regu Keenam membentuk formasi.

Para Kesatria Naga musuh pun membalas dengan formasi mereka sendiri. 

Namun mereka lupa. Mereka tak menyadari.

Di atas mereka ada sang meteor. 

“Musuh adalah Regu Keenam Kesatria Pengawal! Burung elang takkan menang melawan naga! Mereka cuma pasukan upacara! Tunjukkan siapa penguasa langit yang sesungguhnya!” 

Mendengar teriakan musuh, Lambert menyeringai dan memerintahkan para pasukannya untuk merapat. 

Dengan begitu, kekuatan tembakan bisa difokuskan. 

“Tembak ketika formasi mereka kacau!”

“Formasi mereka takkan kacau!”

“Pasti kacau.” 

Dengan santai Lambert mengangkat Tipe 61 miliknya. 

Merasa ditantang, komandan musuh langsung memimpin pasukannya menerjang maju. 

Namun pada saat itu juga.

Kilatan petir dari langit menghantam sayap para naga di barisan depan. 

“Apa!?!?” 

Bukan hanya naga sang komandan.

Semua naga di barisan depan ditembus oleh kilat itu. 

Dalam keadaan menyerbu, jika barisan depan kacau, mustahil mereka bisa mempertahankan formasi.

Dan Regu Keenam tidak membiarkan kesempatan itu berlalu. 

“Tembak!!” 

Atas komando itu, rentetan bola api ditembakkan dari Tipe 61.

Naga-naga yang sayapnya terluka tidak bisa lagi menghindar.

Bahkan jika ditangkis dengan tombak, tidak ada gunanya. 

“B-Bajingannnn!!!” 

Sang komandan tersambar bola api di bahunya dan jatuh menukik ke bawah sambil menjerit.

Para kesatria lain ingin menolong, namun mereka pun dihujani bola api. 

Sebagian yang berhasil kabur secara terpisah kini dikejar oleh elang surgawi, yang unggul dalam manuver. 

“Semua unit menyebar! Habisi sisa musuh yang ada!”

Menerima perintah itu, para Kesatria Elang Surgawi dari Regu Keenam terus memburu para Kesatria Naga. 

Itu semua sudah menyerupai pekerjaan rutin. 

Formasi musuh benar-benar hancur. Mereka tak bisa lagi bekerja sama. Dan sekalipun mencoba bertahan dengan kemampuan masing-masing, lawannya terlalu kuat. 

“Jangan buang-buang waktu! Cepat!” 

Sambil mendesak anak buahnya, Lambert mengalihkan pandangan kepada Finn, yang perlahan turun dan mendarat di sisinya. 

“Kamu sudah bekerja keras. Hebat sekali.” 

“Tidak, musuh hanya lengah.” 

“Mungkin begitu. Tapi tetap saja, kemampuanmu menarik mereka sejauh itu sudah luar biasa. Kamu berhak membanggakannya.” 

“...Itu hanya karena rencananya bagus. Lagi pula, pasukan inti musuh masih tersisa.” 

Lambert mengangguk pada ucapan Finn. 

Mereka sudah menerima informasi mengenai kekuatan lawan. 

Pasukan Kesatria Naga elite yang dibanggakan Persatuan Kerajaan, Pasukan Kesatria Naga Hitam. 

Sebagai pasukan langsung di bawah William, mereka seharusnya ada di sini, namun sejauh ini belum terlihat. 

Naga hitam dikenal bertemperamen liar dan dianggap tidak cocok untuk ditunggangi. Namun para Kesatria Naga Hitam mampu menjinakkan mereka; kemampuan para kesatria itu berada di kelas yang berbeda dari Kesatria Naga lainnya. 

Jika mereka muncul, pertempuran tidak akan berjalan semudah ini, itu sudah jelas. 

“Kamu mundur dulu.” 

“Tapi, pasukan darat juga mulai bergerak.” 

“Dari jarak sejauh itu, panah mereka tidak akan bisa mengenai kita. Tidak perlu dipikirkan. Bersiaplah menghadapi pasukan utama.” 

Menegaskan perintahnya kepada Finn, Lambert melayangkan pandangan ke sekeliling. 

Sebagian besar Kesatria Naga yang sempat naik ke udara sudah berhasil ditembak jatuh. 

Berkat serangan Finn, banyak di antara mereka bahkan masih terkapar dan hanya bisa menatap langit dengan penuh frustrasi. 

Merasa waktu sudah tepat, Lambert mengangkat satu tangan. 

“Penguasaan udara berhasil diamankan! Pertahankan posisi!” 

Mengikuti instruksi Lambert, Regu Keenam melingkari udara di atas benteng. 

Formasi melingkar terlukis di langit.

Sebuah barisan pertahanan yang tidak mengizinkan siapa pun menerobos dari luar. 

Tongkat Tipe 61 diarahkan keluar, memungkinkan penembakan anti-udara ke segala arah. 

Dan tepat ketika formasi itu sempurna, seekor wyvern raksasa mulai turun dari langit.


Bagian 14

Wyvern besar yang sedang menurunkan ketinggiannya membawa sebuah keranjang raksasa.

Para prajurit di dalam benteng, yang segera menyadari bahwa itu adalah logistik makanan, bersorak kegirangan. 

“Persediaan makanan! Persediaan makanan datang!”

“Dengan makanan, kita tak perlu takut pada mereka lagi!”

“Paduka Kaisar tidak meninggalkan kita!”

“Hidup Kaisar! Hidup Kekaisaran!!” 

Di tengah sorak-sorai itu, Marquis Gleisner menatap langit dengan wajah terperanjat.

Seorang pria gagah dengan rambut cokelat gelap yang dipotong pendek. Itulah Marquis Hagen von Gleisner. 

“Tidak cuma Finn... Mereka sampai menggunakan wyvern besar seperti itu...”

“Pastinya bukan ide Kakak,” gumam seorang gadis berambut cokelat gelap yang diikat rapi di sampingnya. 

Namanya adalah Katrina von Gleisner, putri sulung keluarga Gleisner sekaligus kapten pasukan Kesatria Naga yang berada di bawah keluarga Gleisner. 

Para Kesatria Naga yang ditinggalkan di wilayah sendiri karena tidak dianggap mampu untuk menjadi kekuatan tempur, kini muncul di medan perang dengan peran masing-masing. Katrina tidak terkejut melihat hal itu. Sebab metode penerjunan semacam ini mungkin saja dilakukan di masa mendatang, begitulah dia pernah berpikir.

Namun, pengangkutan logistik menggunakan wyvern besar membutuhkan pengawalan mutlak, dan tongkat sihir yang dimiliki Finn dan Nova seharusnya tidak ada sebelumnya. 

Sesuatu yang hanya berupa teori di atas kertas, kini menjadi kenyataan nyata.

Dan ada seseorang yang membuatnya nyata.

Dan itu jelas bukan kakaknya yang tidak pernah berpikir nyeleneh. 

“Nona Katrina! Persediaan makanan sudah tiba! Masih banyak lagi yang datang! Tidak hanya Finn, semua orang datang membantu!”

“Benar. Dari kiriman pertama, berikan sebagian makanan pada para naga. Jika makan sedikit saja, anak-anak itu pasti bisa terbang lagi.” 

Pasukan Kesatria Naga keluarga Gleisner telah berkurang banyak selama pengepungan.

Penyebabnya adalah karena Kesatria Naga musuh adalah Kesatria Naga sejati dari tanah kelahiran mereka, dan karena kurangnya makanan membuat naga mereka jauh dari kondisi terbaik.

Karena Kesatria Naga yang tidak prima akan terus berkurang jika dipaksa bertempur, Leo melarang mereka terbang ke udara. Meski hal itu memberi kebebasan mutlak pada Kesatria Naga musuh, betapapun berbahayanya mereka, Kesatria Naga tidak bisa menjatuhkan benteng sendirian. 

Katrina mematuhi perintah itu dengan patuh karena tidak punya pilihan lain.

Tetap saja, dia tidak pernah melupakan rasa frustrasinya.

Dia memiliki kehormatan sebagai Kesatria Naga Kekaisaran. 

“Meski tidak bisa bertarung, kita masih bisa mengarahkan logistik. Tidak ada waktu. Cepatlah.”

“Baik! Dimengerti!” 

Kesatria Naga yang melapor itu mengusap air mata di matanya sebelum berlari pergi.

Itu wajar. Persediaan makanan makin menipis setiap hari dan mereka bahkan tak bisa memberi makan naga mereka dengan layak.

Mereka mengurangi jatah makan sendiri demi naga, namun ada batasnya. Melihat naga kesayangan yang semakin lemah setiap hari, tak ada Kesatria Naga yang tidak merasa sakit hati.

Jika bukan karena posisinya sebagai pemimpin, Katrina pun pasti akan meneteskan air mata lega.

Namun, dia tidak bisa melakukannya.

“Kamu akan naik ke udara?”

“Ya. Kami akan lakukan apa yang bisa.”

“Kamu bisa kupercayakan hal itu?”

“...Finn bertarung di udara. Tak mungkin aku hanya berdiri melihat ke atas. Perasaan kami semua sama. Kami menunggu hari ini sejak lama.”

Mereka tumbuh bersama dan membesarkan naga mereka bersama.

Berkali-kali latihan, berkali-kali gagal.

Dalam hal teknik, Finn selalu lebih unggul dari siapa pun.

Namun Finn tidak punya cara untuk bertempur. Itu pasti membuat Finn frustrasi, dan Katrina beserta semua teman masa kecilnya juga merasakan hal yang sama. 

Mereka selalu berharap bisa bertarung bersama suatu hari. Itulah yang mereka inginkan selalu.

Dan sekarang keinginan itu akan terwujud.

Mereka tidak bisa tinggal diam. 

“Bolehkah aku menitipkan laporan kepada Yang Mulia?”

“Baik. Pergilah.” 

Marquis Gleisner tidak menghentikan putri tercintanya.

Karena dari sisi strategi perang, itu memang perlu.

Wyvern besar yang membawa logistik harus turun dengan keranjang besar di tangan. Itu luar biasa sulit, dan mereka tidak bisa disebut lincah. 

Mereka sudah merebut kendali udara. Selama itu masih bertahan, pengiriman harus diselesaikan.

Karena itu, pemandu sangat dibutuhkan.

Sambil memikirkan hal itu, Marquis Gleisner berlari menuju Leo.

Dan ketika dia tiba di pos komando tempat Leo seharusnya berada, dia mendengar sebuah laporan tak terduga. 

“Marquis Gleisner! Perintah dari Yang Mulia! Beliau menyerahkan seluruh komando pasukan kepada Anda!”

“Apa!? Apa maksudnya!? Di mana Pangeran Leonard!?”

“Itu... Beliau bilang akan naik ke udara...”

“Yang Mulia...?”

Selama pengepungan berlangsung, Leo tidak pernah terbang sekali pun.

Dia mencurahkan seluruh tenaga pada komando.

Dan kini dia terbang ke langit.

Artinya situasi di udara membutuhkan dirinya, di sana lah panggung utama pertempuran. 

“Apa beliau mengatakan hal lain...?”

“Kapan lawanku segera tiba...” 

“Pangeran Naga dari Persatuan Kerajaan! Sampaikan peringatan kepada seluruh pasukan! Kekuatan utama musuh akan datang!!” 

Sambil berteriak, Marquis Gleisner tahu betul bahwa perintah itu sebenarnya tidak ada artinya. 

Medan pertempuran kali ini berada di langit. 

Pasukan darat pasti akan bergerak selaras, tetapi pergerakan yang menentukan akan terjadi di udara. Karena itulah Leo naik ke langit. 

Sebanyak apa pun pasukan darat berjaga, mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadap musuh yang datang dari udara. 

Terlebih lagi, musuh mereka adalah sang Pangeran Naga yang terkenal beserta unit elite di bawah komandonya langsung. 


“Aku tidak bisa membayangkan Regu Keenam bisa kalah, tapi...”

Dia juga tidak bisa merasa yakin bahwa mereka pasti menang. 

Perasaan itu dia tekan dalam-dalam. Dengan sikap tegar, Marquis Gleisner memerintahkan agar lebih banyak personel dikerahkan untuk mengurus pengangkutan perbekalan.


Bagian 15

Melihat beberapa Kesatria Naga dari istana terbang naik, Finn berniat untuk menuju ke arah mereka.

Dia pun tidak punya pekerjaan lain setelah diperintahkan untuk berjaga. 

Namun Lambert mencegahnya. 

“Kalau hanya mau menyapa setelah lama tak bertemu, nanti saja. Tidak ada waktu untuk itu.” 

“Eh?” 

“Kekuatan utama musuh.” 

Mengatakan demikian, Lambert mengalihkan pandangannya lebih jauh ke dalam formasi musuh. 

Dari sana, sekitar tiga puluh Kesatria Naga muncul dalam formasi teratur dan meluncur menuju mereka. 

Sebuah unit Kesatria Naga berwarna hitam pekat. 

“Pasukan terkuat milik Persatuan Kerajaan, Kesatria Naga Hitam. Dan yang memimpin...”

“Pangeran Naga dari Persatuan Kerajaan...!”

Di posisi paling depan, menunggang seekor naga merah, adalah William.

Finn mengenal nama Kesatria Naga Hitam, tentu saja, namun nama Pangeran Naga pun sudah lama dia ketahui.

Bagi Finn, tokoh itu bahkan merupakan sosok ideal yang patut dicita-citakan oleh seorang Kesatria Naga. Dan kini, ideal itu datang sebagai musuh. 

Yang tegang bukan hanya Finn.

Lambert dan para anggota Regu Keenam juga tegang. 

Mereka sudah siap bertempur. Musuh ini pun termasuk lawan yang telah mereka perhitungkan sejak awal. 

Namun begitu sosoknya muncul di depan mata, tak bisa tidak mereka terkejut oleh tingkat kemampuan para Kesatria Naga itu. 

Sebagai pasukan yang bertempur di langit, Lambert dan yang lain bisa menilai kemampuan seseorang hanya dari cara mereka terbang.

Baik William maupun para Kesatria Naga Hitam yang mengikutinya memiliki teknik yang benar-benar berada di tingkat berbeda. 

Karena itulah tingkat kewaspadaan mereka meningkat tajam. 

Namun... 

“Tidak perlu tegang. Kalau mereka adalah pasukan terkuat Persatuan Kerajaan, kalian adalah pasukan terkuat Kekaisaran. Jubah putih yang kalian kenakan itu bukan hiasan. Jangan menilai lawan lebih besar daripada mereka sebenarnya.” 

“Yang Mulia...” 

“Terima kasih sudah datang membantu, Kapten Lambert. Berkat kalian aku sangat terbantu.” 

“Ya! Ini semua atas perintah Kaisar.” 

Naik ke langit, Leo menenangkan ketegangan Regu Keenam. 

Dalam hal latihan, mereka tidak kalah. Tapi dalam pengalaman tempur, ada kesenjangan yang tidak bisa disangkal.

Kesenjangan itulah yang menumbuhkan rasa rendah diri dan membuat mereka menganggap musuh lebih menakutkan dari kenyataannya. 

Leo menghapus perasaan itu. 

“Paduka Kaisar mengirim kalian pada waktu yang sangat tepat. Aku tadi sempat ragu apakah harus bergerak atau tidak. Syukurlah aku memutuskan untuk tidak bertindak.” 

“Semua ini buah dari pandangan jauh ke depan Paduka Kaisar maupun Yang Mulia Kanselir.” 

“Benar juga. Memanfaatkan para Kesatria Naga keluarga Gleisner dengan baik, strategi yang bagus. Bahkan menyerang logistik musuh untuk menarik perhatian mereka. Perancang rencana ini tampaknya tahu betul bagaimana membuat orang lain kesal.” 

“...”

Saat Leo tersenyum kecil, Lambert hanya bungkam. 

Keberadaan Al adalah rahasia mutlak. Bahkan kepada Leo mereka dilarang mengungkapkan apa pun.

Mereka diperintahkan untuk bertingkah seolah ini hanyalah operasi pengangkutan atas perintah Kaisar. 

Namun dari cara bicara Leo, seakan-akan dia sudah memahami semuanya. 

Lambert tidak bisa berkata apa-apa selain diam. 

Leo kemudian mengalihkan pandangan kepada Finn sambil tersenyum tipis. 

“Kamu sudah bertarung dengan sangat baik, Kesatria Naga Putih. Boleh kutahu namamu?” 

“Y-Ya! Nama saya Finn Brost! Terkait afiliasi, saya...”

Finn terdiam.

Dia hendak menjawab bahwa dia Kesatria Naga dari keluarga Gleisner, tapi perkataan itu terhenti.

Dia tidak tahu bagaimana seharusnya menjawab. 

Lambert mengembuskan napas kecil melihat sifat Finn yang terlalu jujur. Dia hanya perlu menyebut dirinya penunggang naga keluarga Gleisner, tetapi Finn merasa itu akan menjadi kebohongan. 

Melihat Finn, Leo mengangguk kecil. 

“Tongkat sihirmu bagus. Sepertinya berbeda dari yang lain.” 

“Ah, itu... um...”

“...Senjata prototipe yang dibuat untukku, ya? Memberikannya kepada dia adalah keputusan yang tepat, Kapten Lambert.”

“Ya. Mohon maaf bertindak tanpa izin.”

Lambert menundukkan kepala pelan.

Finn yang mulai merasa tertinggal hanya melirik ke sana ke mari dengan bingung.

Di depannya, Leo menghunus pedangnya.

Lalu...

“Afiliasimu berada langsung di bawah keluarga kekaisaran. Artinya, kamu adalah Kesatria Naga Ardler. Mampukah kamu memenuhi harapanku, Kesatria Naga Finn?”

“Y-Ya! Saya janji!” 

“Mata yang bagus. Baiklah. Kita akan menahan kekuatan utama musuh. Aku akan menghadapi Pangeran William. Kamu menarik perhatian sebanyak mungkin. Tapi ingat, nyawamu penting. Perjalanan belum selesai sampai kamu bisa pulang ke rumah.” 

Setelah berkata begitu, Leo tertawa. 

Dia kemudian mengangkat pedangnya tinggi, lalu dengan suara lantang yang menggema ke seluruh benteng dia berseru. 

“Regu Keenam Kesatria Pengawal!! Mulai sekarang aku yang memimpin kalian! Musuh kita adalah Kesatria Naga Hitam di bawah Pangeran Naga! Lawan itu tidak kurang untuk kita! Masa menahan diri telah berakhir! Sekarang saatnya kita terbang! Siapa penguasa langit sesungguhnya!? Kita akan mengakhiri perdebatan itu di sini dan sekarang! Ikuti aku, para kesatria! Tunjukkan bahwa langit Kekaisaran adalah milik kalian!!” 

“Ayo! Ikuti Yang Mulia!!” 


Pengangkutan persediaan masih belum selesai. 

Dibandingkan bala bantuan musuh, Regu Keenam unggul dalam jumlah. Namun jika sebagian harus ditinggalkan untuk mengawal pasukan pengangkut, maka jumlah mereka menjadi nyaris seimbang. Keunggulan jumlah hampir tidak bisa dihitung sebagai keuntungan. 

Senjata mereka memang lebih baik, tetapi musuh adalah para veteran yang telah melalui banyak medan maut.

Keunggulan senjata mudah tertutupi oleh pengalaman tempur.

Mereka tidak bisa memandang enteng lawan.

Karena itu Leo sendiri maju di garis depan, langsung mengarah ke William. 

“Keluar juga kamu, Leonard!” 

“Akhirnya aku bisa lepas dari tugas komandan.”

“Kebetulan! Aku juga begitu!” 

Serangan dari udara tidak dapat dicegah oleh pasukan besar di darat.

Karena itu, tidak ada alasan lagi bagi seorang komandan pasukan besar untuk bersikap hati-hati.

Yang menyerang maupun yang bertahan.

Mereka berdua kini terbebas dari segala batasan.

Sebagai petarung, mereka akhirnya bisa bertarung dengan seluruh kemampuan.

“Kelihatannya tanganmu tidak tumpul!”

“Kamu juga!” 

Setelah beberapa kali saling bersilang, keduanya mengambil jarak dengan cepat. 

Di ruang kosong di antara mereka.

Para Kesatria Naga Hitam dan para Kesatria Elang Surgawi menerobos masuk. 

Keduanya mengincar jenderal lawan, tetapi sama-sama gagal. Pertempuran pun langsung berubah menjadi duel udara tingkat tinggi. 

Di segala arah—atas, bawah, kiri, kanan—pertarungan udara berlangsung serentak.

Benar-benar menjadi pertempuran jarak dekat. 

Namun kemampuan kedua pihak seimbang. Tidak ada satu pun yang jatuh. 

Karena itulah keadaan tidak berubah. 

Tetapi wajah William tampak menegang. 

Dengan hasil yang hanya seimbang, mustahil untuk menerobosnya. Dan lebih dari itu. 

“Tidak kusangka Kekaisaran punya kartu truf sekonyol itu!” 

“Kekaisaran juga tidak lengah dalam meneliti teknik pertempuran udara.”

“Penelitian macam apa yang bisa melahirkan monster seperti itu!? Di mana kalian menemukannya? Tidak, siapa yang menemukannya!?” 

“Paduka Kaisar.” 

“Berhentilah berbohong! Kenapa tidak bilang saja kalau itu kakak yang kamu bangga-banggakan!?” 

William memaksa maju dan menekan Leo ke dalam pergumulan sengit.

Kekuatan mereka saling beradu, dan gerakan keduanya berhenti. 

Itulah momen yang ditunggu seorang Kesatria Naga Hitam muda yang langsung menerjang Leo. 

“Leonard!!! Kepalanya jadi milikku!” 

“Maaf, tapi tidak semurah itu.” 

Detik Leo mengucapkan kata-kata itu

Kilatan petir menghantam masuk di antara Leo dan sang Kesatria Naga Hitam. 

Kesatria itu menghindar secepat kilat. Begitu dia bergerak, dia merasakan hawa dingin yang menusuk dari belakang. 

Dia tidak berani menoleh dan memilih bergerak secepat mungkin. 

“Sial!” 

Itu adalah keputusan yang benar. 

Di belakangnya, Finn sudah menempel, mengarahkan Tipe 62 tepat ke arahnya. 

Namun karena bergerak spontan dan secepat kilat, kesatria itu berhasil selamat. 

Dia baru menoleh untuk memastikan jarak telah tercipta.

Dan tidak ada siapa pun di belakangnya. 

“Apa...? Menghilang...?”

Itulah kata-kata terakhirnya. 

Dalam sekejap, beberapa kilatan petir menghujaninya dari atas.

Tanpa sempat berbuat apa pun, dia jatuh ke tanah. 

Finn segera mendekat ke sisi Leo. 

“Apakah Anda baik-baik saja, Yang Mulia!?” 

“Ya, terima kasih.” 

Leo menjawab sambil kembali menatap William. 

William memandang Finn dengan sorot tajam, lalu menarik napas panjang dan dalam.

Orang yang mampu menjatuhkan seorang Kesatria Naga Hitam, dan itu adalah elite di antara elite. 

Hanya sedikit yang bisa menandinginya. 

Dia harus menghentikan Finn dengan segenap tenaga.

Dengan itu di benaknya, William hendak menyerahkan Leo pada Kesatria Naga Hitam lainnya. 

Namun tepat di belakang William, seorang Kesatria Naga Hitam lain menerjang masuk.

Dia tak melihat kiri-kanan, langsung mengarah ke Finn. 

Merasa firasat buruk, Finn menjauh sambil menembakkan petir. Tetapi Kesatria Naga Hitam itu menepis semuanya dengan sebuah pedang besar berwarna hitam, lalu menutup jarak seketika. 

“Aku yang akan mengurus orang ini, Pangeran William!” 

Usianya mungkin di atas empat puluh. Rambut dan janggutnya hitam.

Disertai dengan wajahnya yang kasar.

Jika tidak sedang menunggang naga, dia lebih mirip perompak atau bandit. Dengan seringai lebar, dia mengayunkan pedang besarnya. 

Finn memutar tubuh dan menghindar dalam putaran kecil. 

“Ohh! Itu pun kamu hindari!?” 

“Roger! Apa maksudmu!? Aku memerintahkanmu menjaga persediaan!” 

“Persediaan yang hilang bisa dicari lagi, tapi Yang Mulia tidak punya pengganti! Jadi kupercayakan pada anak buah! Lagipula itu hanya pengalih perhatian!” 

“Kamu ini memang...!”

William menggerutu dengan wajah lelah. 

Roger, demikian namanya, mengejek sambil menghunus pedangnya ke arah Finn. 

“Kamu lawan yang bagus! Sebutkan namamu! Kesatria Naga Putih!!” 

“...Finn Brost. Kesatria Naga Keluarga Ardler.” 

“Kesatria Naga langsung di bawah keluarga kekaisaran! Bagus! Namaku Roger! Dari Kesatria Naga Persatuan Kerajaan! Kapten Kesatria Naga Hitam! Kepalamu akan jadi milikku!!” 

Roger langsung memacu naganya. 

Finn pun mempercepat Nova untuk mengimbangi. 

Kuat.

Finn, yang melihat Roger mengejarnya tanpa jeda, membatin demikian. 

Ini pertama kalinya dia tidak bisa lepas walau bergerak secepat mungkin.

Dan seolah membaca gerakannya, Roger selalu mendahului dan memaksa serangan masuk. 

Untuk saat ini dia masih bisa menghindar, tetapi entah sampai kapan. 

“Ini Kesatria Naga terkuat dari Persatuan Kerajaan...!” 

Seorang kapten yang memimpin pasukan paling elite. Kemampuannya bahkan melampaui William. 

Dia adalah Kesatria Naga terkuat di Persatuan Kerajaan, baik dari nama maupun kenyataan. 

Dalam teknik pertempuran udara, Finn tidak kalah, tetapi juga tidak bisa mengungguli Roger. 

Karena itu dia ingin mengubah keadaan dengan serangan. Namun Roger menggunakan pedang besar sebagai tameng, menepis setiap petir yang ditembakkan Finn. 

Sempurna dalam menyerang maupun bertahan. Tidak ada celah. 

Baik dari sisi kualitas senjata, maupun kekuatan wyvern, Finn seharusnya unggul. Tetapi Roger menutupi semuanya dengan pengalaman. 

“Ugh...!” 

Untuk menjauh dari Roger, Finn naik ke atas. Namun Roger sudah membacanya dan ikut naik pada waktu yang sama, menolak untuk memberi jarak. 

“Menggunakan kecepatan untuk naik, ya! Itu mungkin berhasil kalau lawan kesatria lain...!” 

Tapi tidak padaku. 

Roger mengayunkan pedang besarnya sekali.

Finn membelokkan tubuh dan menghindar. Dalam celah itu, Roger memutar naganya. 

Buntut naga melesat dan menghantam. 

Serangan yang tidak terduga. 

Nova melindungi Finn, menerima pukulan itu. 

Tidak fatal, tetapi perbedaan ukuran membuat Finn dan Nova terpental keras.

“Guuuuuh!! Nova! Kamu baik-baik saja!?” 

“Kyuu!” 

Nova menjawab seolah berkata masih sanggup bertarung kapan saja. 

Melihat itu, Finn merasa lega, namun bahaya sama sekali belum berlalu. 

Roger masih utuh berdiri, tetap menghadang di hadapan mereka. 

Jika Finn kalah, musuh akan menerobos dengan menjadikan Roger sebagai poros penyerangan. Jika itu terjadi, operasi pengangkutan pasti harus dihentikan. 

Sebaliknya, bila Finn berhasil menumbangkan Roger, musuh akan kehilangan kunci penentu mereka. 

Pertarungan kedua orang itu menjadi penyeimbang nasib seluruh medan perang. 

Dia tidak boleh jatuh. Kesadaran itu membuat gerak dan penilaian Finn tumpul. 

“Mulai pengecut, ya!” 

Melihat Finn berusaha kembali menjaga jarak, Roger langsung menutup jarak dalam sekali terjangan. 

Sebuah tindakan sia-sia yang tidak menyelesaikan apa pun. 

Finn tersentak menyadari bahwa dia melakukan hal itu tanpa sadar, namun Roger tidak berniat menunggu. 

Dia mengejar Finn yang mencoba kabur, membuatnya tersudut. 

Meski berpikir ini gawat, begitu seseorang terperosok ke posisi tertekan, membalikkan keadaan menjadi jauh lebih sulit. 

Finn memusatkan seluruh perhatian hanya untuk menghindari serangan. 

Di tengah situasi itu, suara Lambert mencapai telinganya. 

“Yang Mulia! Ada pasukan baru!!”


Bagian 16

Finn melirik ke arah pasukan pengangkut. 

Tiga Kesatria Naga musuh memanfaatkan celah dan berhasil menyusup masuk ke dalam formasi pertahanan. 

Pertempuran antara Kesatria Naga Hitam dan Regu Keenam benar-benar masuk ke fase buntu. Karena itulah mereka terlambat menyadari keberadaan para Kesatria Naga yang terbang rendah dari arah lain. 

Selain itu, para Regu Keenam yang terluka telah dialihkan untuk mengawal pasukan pengangkut. Sebagai gantinya, kesatria-kesatria yang semula mengawal kini ikut bertarung dalam kekacauan pertempuran. 

Itu pun menjadi salah satu alasan keterlambatan mereka menyadari bahaya. 

Para kesatria yang terluka melepaskan bola-bola api sekuat tenaga, tetapi para Kesatria Naga itu menepisnya dan terus meluncur lurus, sepenuhnya fokus menuju pasukan pengangkut. 

Wyvern-wyvern besar yang sedang menuruni ketinggian tidak memiliki cara untuk menghindar. 

Jika mereka menjatuhkan persediaan dari ketinggian setengah, para pasukan di bawah bisa tertimpa muatan. 

Karena itu, Katrina dan para Kesatria Naga Marquis Gleisner yang bertugas mengawal arah terbang, langsung menerjang masuk di antara para Kesatria Naga musuh. 

“Jangan biarkan mereka lewat lebih jauh!” 

“Minggir! Dasar Kesatria Naga setengah matang!” 

Memang sejak awal, kemampuan mereka berbeda jauh. 

Kini, naga tunggangan mereka pun sudah kelelahan, dan kondisi mereka sendiri jauh dari kata prima. 

Meski begitu, Katrina dan yang lain tetap menghadang. 

Mereka tidak menghindari tombak yang menerjang, tetapi menahan dengan tombak mereka sendiri dan bahkan menabrakkan naga tunggangan ke arah musuh. 

Dalam situasi itu, lawan tidak bisa mengabaikan mereka. 

“Kalian!” 

“Di sini kamu tidak akan lewat!” 

“Jangan besar kepala!” 

Saat kedua naga saling berbenturan, pertarungan tombak jarak dekat pun dimulai. 

Biasanya, bila dalam posisi tidak menguntungkan, mereka akan mengambil jarak. Tapi jika mereka mundur, musuh bisa langsung menerobos menuju pasukan pengangkut. 

Karena itu, Katrina dan para kesatria lainnya sama sekali tidak mundur. Begitu lawan mencoba membuka jarak, mereka segera mendekat lagi. 

Tetapi itu bukan hanya membatasi gerakan musuh, itu juga berarti menempatkan diri sendiri ke dalam wilayah maut. 

Tombak salah satu Kesatria Naga musuh menancap dangkal di bahu Katrina. Sebagai balasan, Katrina meraih dan mencengkeram tombak itu. 

Para kesatria lain pun melakukan hal yang sama. 

Mereka benar-benar menghentikan musuh dengan tubuh mereka sendiri. 

“Ugh! Lepaskan!!” 

“Jangan meremehkan Kesatria Naga Kekaisaran!” 

Setiap kali lawan menggerakkan tombak, rasa sakit yang tajam menyergap tubuhnya. 

Namun Katrina tidak melepaskan pegangannya. 

Dia tahu benar betapa berharganya satu detik yang bisa mereka dapatkan sekarang. 

Dengan pertarungan normal, mereka tidak mungkin bisa menahan waktu lebih lama. Para Kesatria Naga dari keluarga Gleisner—yang tadi membagi sebagian persediaan untuk wyvern mereka—termasuk Katrina, semua bahkan hampir tidak sanggup berdiri. 

Melihat Katrina dan lainnya berusaha menahan meski terluka, para Kesatria Naga penyerang merasakan semacam ketakutan yang sulit dijelaskan. Namun mereka juga tidak bisa berhenti. 

Mereka melepaskan pegangan dari tombak dan mengambil jarak. 

Lalu mereka mencabut pedang, berniat menghabisi Katrina dan para kesatria yang pergerakannya melambat karena rasa sakit. 

Melihat hal itu dari kejauhan, Finn mengarahkan Tipe 62 ke arah mereka, lalu membatalkannya. 

Apa yang terjadi bila dia meninggalkan Roger sekarang? 

Bila mempertimbangkan kondisi pertempuran, dia tidak bisa bergerak dari sini. 

Itulah kesimpulan yang dia ambil meski hatinya ragu, dan Finn kembali menghadapi Roger. 

Namun hatinya sudah tidak lagi sepenuhnya berada di sana. 

“Lengah sedikit saja, kamu pikir aku tidak melihatnya!?” 

Berbeda dari gerakan cermat dan berkarakter yang dia tampilkan sebelumnya, Roger kini menyerang dengan langkah kasar dan lurus, mengayunkan pedang besarnya ke arah Finn. 

Sambil menatap pedang besar itu, Finn teringat kata-kata Al. 

Ini pertempuran pertamamu. Di medan perang, pasti ada saat-saat kamu akan kebingungan. Saat itu terjadi, ikuti suara hatimu. 

Bila mempertimbangkan medan perang, dia memang tidak boleh pergi. 

Satu-satunya yang bisa menghadapi Roger hanyalah dirinya. 

Namun Finn ingin pergi menuju Katrina dan para kesatria lainnya. Itu alasan dia datang ke sini. 

Dia tahu ini tindakan gegabah dan tidak menguntungkan. 

Kepalanya memahami itu. 

Namun hatinya terus berteriak. 

Meski begitu. 

“Ayo... Nova.” 

Begitu dia berbisik, Finn melompat ke belakang. 

Pedang besar itu melintas tepat di tempat Finn berada sebelumnya. 

Roger membelalakkan mata. 

Untuk pertama kalinya, Finn melakukan sesuatu yang sama sekali di luar perkiraannya. 

Bagi seorang Kesatria Naga, punggung naga tunggangan sudah seperti rumah. Tidak ada yang terpikir untuk melompat turun darinya. 

Namun Finn melakukannya. 

Dia melompat turun dari Nova, membuka jarak, lalu mengarahkan Tipe 62 ke Roger. 

“Pertarungan ini kutitipkan padamu.” 

Finn mengucapkannya, lalu melepaskan tembakan petir yang menghantam pedang besar Roger dan membuatnya terpental. 

“Guooh!?” 

Sudah berapa lama sejak terakhir kali dia kehilangan senjata? 

Roger terkejut, kemudian kagum, dan akhirnya sebuah senyuman terbit di wajahnya. 

“Apa-apaan bocah ini...!”


* * *


Sambil jatuh, Finn menatap ke arah Katrina dan yang lain. 

Situasi mereka berada pada sisi yang sangat tidak menguntungkan. 

Mundur tidak bisa, memukul balik pun tidak sanggup. 

Meski begitu, mereka tetap berhasil menahan gerakan para Kesatria Naga musuh. 

Sementara itu, para kesatria Regu Keenam juga sedang bergegas menuju lokasi. 

Pasti mereka akan sempat tiba. Namun itu bukan jaminan keselamatan bagi Katrina dan rekan-rekannya. 

Justru karena Katrina dan yang lain mempertaruhkan nyawa, para Kesatria Naga musuh tidak dapat mengabaikan mereka dan terpaksa meluangkan waktu untuk menghabisi mereka. 

Karena itulah bantuan bisa tiba tepat waktu. 

Finn tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. 

Al telah mengatakannya. 

Pergilah dan tolong mereka. 

“Aku akan menolong mereka!!” 

Sambil menjatuhkan diri, Finn terus menuangkan sihir ke dalam Tipe 62. 

Dia tidak memikirkan kemungkinan dirinya menabrak tanah atau diserang saat jatuh. 

Hal-hal yang tak perlu dipikirkan itu dia singkirkan. 

Dia tahu. 

Dia tahu bahwa rekan yang dia percaya sepenuh hati pasti sedang menuju ke sisinya. 

Karena itu Finn bisa memusatkan perhatian sepenuhnya pada penyelamatan Katrina dan yang lain. 

“Hiaaaahhh!!” 

Lebih dari sepuluh kilatan petir ditembakkan. 

Semua itu melesat lurus ke arah benteng, langsung menghantam para Kesatria Naga yang sedang berhadapan dengan Katrina dan rombongannya. 

Serangan itu datang dari luar kewaspadaan mereka. 

Para Kesatria Naga itu tidak punya cara untuk menangkalnya. 

Tepat di depan Katrina dan yang lain, tubuh mereka terpental dan jatuh lunglai ke tanah. 

Katrina segera menoleh ke arah asal petir. 

Di sana, Finn sedang jatuh dari langit. 

“Finn!?” 

Melihat pemandangan yang tak masuk akal itu, Katrina secara refleks mengulurkan tangan. 

Tentu saja, tangannya tidak akan pernah sampai. 

Sebagai gantinya, dia melihat Nova—yang menyesuaikan kecepatan jatuhnya dengan Finn—muncul di dalam pandangan. 

Dia melihat Finn meraih tali kekang Nova, lalu kembali naik ke punggungnya tepat di udara. 

“Nekat sekali...”

Itu luar biasa. 

Bahkan bila tidak dalam pertempuran pun, orang lain tidak akan sanggup melakukannya. 

Tanpa rasa percaya mutlak pada naga kesayangannya, juga pada kemampuan diri sendiri, hal semacam itu mustahil dilakukan. 

Finn melakukannya saat bertarung, bahkan sempat melancarkan serangan dalam proses jatuhnya. 

Namun rasa lega itu hanya berlangsung sekejap. 

Satu Kesatria Naga Hitam kini meluncur cepat mengejar dari belakang Finn. 

“Sial! Bertahanlah, Nova!” 

“Kyuu!!” 

Nova, dengan Finn di atasnya,mulai perlahan memperlambat laju dari terjun cepatnya. 

Dengan susah payah ia mengembangkan sayap, menghambat momentum, dan akhirnya mendarat di tembok benteng. 

Begitu kakinya menyentuh batu kokoh benteng melalui tubuh Nova, Finn mengembuskan napas lega. Namun tepat di belakang mereka, Kesatria Naga Hitam itu sudah menerjang. 

“Akan kuambil kepalamu!” 

“!?” 

Dia sepenuhnya telah mengambil posisi di belakang Finn. 

Nova, yang baru saja mendarat, belum bisa bergerak lincah. 

Finn menoleh cepat, dan bertekad menahan tombak yang menusuk dengan satu tangan dan membalas dengan Tipe 62 bila perlu. 

Pada titik ini, dia sudah tidak takut lagi untuk terluka. 

Tahap itu sudah lama dia lewati. 

Namun. 

“Lompatanmu bagus, Kesatria Naga muda.” 

“Huh?” 

Di atas kepala Finn. 

Sesuatu mendarat, dan berbicara. 

Tombak yang mengarah padanya terpental, dan Kesatria Naga Hitam itu terlempar dari punggung wyvernnya. 

Apa yang terjadi? 

Belum sempat otaknya memahami, sosok itu berdiri di depan Finn. 

“Hadir dengan penuh gaya! Tuan Sieg!” 

“...B-Beruang?” 

“Menggemaskan, bukan?” 

Melihat anak beruang itu menyeringai lebar, wajah Finn pun menegang.


Bagian 17

Saat pertempuran udara sengit berkecamuk di atas benteng, gerakan lain terjadi di darat. 

“Seluruh pasukan maju! Kesempatan ini kita gunakan untuk merebut benteng! Kalau bentengnya jatuh, persediaan makanan tidak lagi berarti!” 

Jenderal Barthel, yang bertugas sebagai komandan sementara, mengeluarkan perintah serangan itu. 

Secara taktis, itu memang langkah yang tepat. 

Jika tekanan dari darat meningkat, musuh tak akan bisa mengerahkan cukup orang untuk mengurus pengangkutan. Selain itu, dengan makan dan beristirahat, para prajurit tentu akan pulih. 

Ada pula maksud untuk tidak memberi mereka kesempatan beristirahat sama sekali. 

Namun, selain alasan itu, ada kegelisahan lain dalam diri Jenderal Barthel. 

“Keparat...! William sialan itu!” 

Dialah yang meminta agar pasukan dikerahkan menuju pangkalan logistik. 

Artinya, sebagian besar tanggung jawab karena jatuh ke dalam perangkap akan dibebankan padanya. 

William pura-pura berpikir panjang dan pada akhirnya menimpakan seluruh kemungkinan tanggung jawab kepada Jenderal Barthel. 

Jika logistik berhasil masuk dengan selamat, Jenderal Barthel pasti disingkirkan dari garis depan. Bahkan gelar jenderalnya mungkin ikut terancam. 

Dia tidak bisa membiarkan logistik itu tiba dengan selamat, apa pun yang terjadi. 

Dengan wajah mengernyit, Jenderal Barthel terus mengeluarkan instruksi demi instruksi. 

Sebagai seseorang yang naik menjadi jenderal berkat keberhasilannya di medan tempur, dia memang mampu menangani situasi seperti ini dengan fleksibel. 

Dia mempersempit pengepungan benteng dan menekan musuh dengan lebih banyak serangan dari mesin-mesin pengepung. 

Memang serangan katapel mustahil mengenai wyvern, tetapi bisa saja secara kebetulan mengenai unit pengangkut. Hanya dengan membuat musuh berpikir demikian saja sudah memberi efek tekanan. 

Sisanya bergantung pada hasil di udara. 

Jika William berhasil menembus musuh, pengangkutan itu bisa dipaksa berhenti. 

Dia harus mengandalkan William yang sudah melemparkan tanggung jawab padanya. Itu membuat Jenderal Barthel merasakan kejengkelan, tetapi dia menekannya dalam hati. 

“Suruh seluruh pasukan menyerukan nama Pangeran William. Jika moral naik, peluang kita menang juga meningkat.” 

Pengaruhnya kecil. Tapi tetap lebih baik daripada tidak mencoba sama sekali. 

Namun Jenderal Barthel tidak mendengar jawaban dari prajurit yang berada di sisinya, membuatnya bertanya-tanya. 

Saat ini dia berada di pos komando sementara. Banyak perwira berada di situ, menyampaikan perintahnya ke tiap unit. 

Selalu ada prajurit kurir yang standby, jadi tidak mungkin ada yang sampai melewatkan perintahnya. 

“Jangan-jangan...!?”

Jenderal Barthel meraih gagang pedangnya dan hendak menoleh ke belakang. 

Semua orang di pos itu sedang menatap ke arah benteng di depan. 

Perubahan yang terjadi di belakang sulit mereka sadari. 

Sudah kena. 

Begitu dia menyadarinya, sebuah bilah pedang sudah menembus perutnya. 

“Guh...!” 

“Tepat sekali, Jenderal. Aku datang untuk mengambil nyawamu.” 

Orang di belakangnya adalah seorang prajurit bertubuh kecil. 

Namun jelas bukan bawahan Jenderal Barthel. 

Dan tentu saja bukan bawahan William. 

“Kamu... dasar pengecut...” 

“Kalian yang memberontak tak pantas menyebut kami pengecut. Lagi pula, serangan tipu daya juga bagian dari taktik.” 

Sambil berkata begitu, prajurit itu menarik pedangnya. 

Jenderal Barthel roboh, tubuhnya jatuh keras ke lantai. 

Barulah orang-orang di pos komando sadar bahwa dia diserang. 

Kepanikan langsung pecah. 

Namun. 

“Tenang! Rawat Jenderal! Kita kejar si pembunuh itu!” 

Pasukan kavaleri yang kebetulan dekat menertibkan keadaan dan mengejar prajurit pembunuh tersebut. 

Orang-orang di pos komando menyerahkan pengejaran kepada mereka dan berlutut di sisi Jenderal Barthel. 

“Jenderal! Sadarlah!” 

“Tahan lukanya! Pendarahannya parah!” 

“Kalian bodoh...”

Jenderal Barthel menghentikan usaha mereka mengobatinya. 

Lukanya tidak mungkin tertolong. 

Dia langsung tahu ini dilakukan dengan sengaja. Sebuah luka yang tidak membuatnya mati seketika, tetapi cukup parah agar dia tewas karena kehabisan darah. 

Apa alasannya? 

Agar para bawahan sibuk mengurusi dirinya. 

Selama mereka sibuk merawatnya, pasukan darat kehilangan komandan, membuat kekacauan. Semakin lama ini berlangsung, semakin buruk hasilnya. 

Dan ada satu alasan lagi. 

“Di sini... tidak ada... pasukan kavaleri...” 

Sambil batuk darah, Jenderal Barthel bergumam. 

Dia hafal posisi unit terdekat. 

Tidak ada pasukan kavaleri di area ini. Semuanya berada di garis depan. 

Dengan kata lain. 

“Pasukan itu... Mereka musuh kita...” 

“Apa!? Jenderal!? Tolong ulangi! Kami tidak mendengarnya dengan jelas!” 

Mendengar itu, Jenderal Barthel menyerah untuk berbicara lebih jauh. 

Bahkan mengejar si pembunuh pun mungkin sudah terlambat. 

Dia merelakan semuanya dan melepaskan tenaga terakhirnya. 

Hanya ada satu penyesalan. 

“Maafkan ketidakmampuan hamba... Pangeran Gordon...”

Dia tidak sempat menyaksikan jalan sang tuan meraih kejayaan. 

Namun dia merasa itu tidak terlalu buruk. 

Jika hasilnya gagal, dia pun tidak perlu melihatnya. 

Jika dia bisa mati sambil berdiam dalam mimpi yang bahagia, itu sudah cukup baginya. 

Membayangkan Gordon duduk di atas takhta, Jenderal Barthel perlahan menutup matanya.


* * *


“Mengesankan, Tuan Wynfried.” 

“Mengesankan apanya. Musuh hanya lengah.” 

Melihat Wyn yang tampak tidak puas, yakin bahwa dia masih bisa melakukannya lebih baik, Lynfia, yang menyamar sebagai kurir pesan, hanya bisa tersenyum kecut. 

Wyn, sang penasihat militer Leo, memiliki penilaian diri yang menakutkan rendahnya. 

“Tapi Anda berhasil menumbangkan sang jenderal dan melarikan diri dengan sempurna.” 

“Itu cuma meniru tingkah Al si monyet. Kalau mau bilang mengesankan, ya yang mengesankan itu idenya Al.” 

Wyn memang bukan jenis ahli strategi yang gemar membuat taktik aneh atau luar biasa. 

Dia bukan orang yang menciptakan hal baru dari dirinya sendiri. 

Karena itu, Wyn menilai dirinya sebagai ahli strategi kelas teri. 

Namun bagi Lynfia, hal itu jelas tidak benar. 

Buktinya, Wyn mampu memimpin tiga ribu pasukan elite bertahan dalam benteng kecil dan menahan serangan musuh yang jumlahnya berkali lipat. 

Benar bahwa taktik yang dia gunakan tidak ada yang baru. Tapi dalam situasi itu, dia justru mampu dengan cepat memilih taktik yang paling tepat. 

Meskipun dia tidak bisa menciptakan ide penyusupan seperti operasi kali ini, dia mampu menyesuaikannya dengan cepat. 

“Saya rasa Anda terlalu keras pada diri sendiri.” 

“Aku bukan keras pada diri sendiri. Aku adalah penasihat masa depan Kaisar. Wajar saja bila aku harus mampu melakukan banyak hal.” 

Dia memasang standar setinggi langit dan menjadikan mereka yang berada di atas dirinya sebagai patokan. 

Itulah sisi diri Wyn yang bisa disebut bengkok. 

Namun ambisi kuat itu mirip dengan yang dimiliki Leo. 

Seorang bawahan mencerminkan tuannya. 

Sambil memikirkan bahwa mungkin mereka berdua memang pasangan yang cocok, Lynfia melirik ke arah istana. 

“Kira-kira Sieg sempat sampai atau tidak?” 

“Siapa tahu. Tapi di medan perang, sekalipun ada anak beruang yang berjalan lewat, tidak akan ada yang peduli. Dia pasti bisa masuk benteng dengan santai.” 

Saat pasukan Kesatria Naga musuh mulai bergerak, Wyn membentuk unit penyergap untuk menumbangkan sang jenderal musuh. 

Di tengah operasi itu, dia mengirim Sieg menuju benteng. 

Dia merasa, setidaknya satu orang ahli sebaiknya ada di sisi Leo. 

Pertempuran utama berada di udara. Sebaik apa pun kemampuan seseorang, mereka tidak bisa terbang. 

Entah Sieg bisa berguna atau tidak, tetapi lebih baik ada daripada tidak sama sekali. 

Namun sambil memikirkan itu, Wyn dilanda frustrasi pada kekurangannya sendiri. 

Jika Sieg ternyata tidak berguna, dia hanya menyia-nyiakan satu buah pion berharga. 

Kenaifannya sendiri membuatnya muak, dan melihat Wyn yang tampak semakin buruk mood-nya, Lynfia hanya bisa menghela napas.


Bagian 18

“Sekarang! Jatuhkan Pangeran Leonard!!” 

Ketika Finn turun hingga mendekati tanah, formasi musuh ikut kacau. 

Para Kesatria Naga Hitam tidak melewatkan celah itu dan segera bergerak mengejar Leo. 

Namun, Regu Keenam Kesatria Pengawal segera membentuk pertahanan rapat di sekeliling Leo, tidak memberi mereka kesempatan. 

Namun.

“Bukan! Sasaran mereka bukan aku!” 

Jika musuh benar-benar berniat membunuh Leo, William dan Roger pasti berada di garis depan. 

Tetapi keduanya menghilang dari pandangan Leo. 

Berarti sasaran utama mereka berbeda. 

Dan Leo langsung menyadarinya. 

“Lindungi diri kalian! Sasaran mereka adalah tongkat sihir!” 

Alasan dia memerintahkan kesatria pengawal yang terluka untuk mundur ke belakang adalah agar musuh tidak mencuri tongkat sihir mereka. 

Walaupun penjagaan terhadap unit pengangkut jadi sedikit berkurang, nilai tongkat sihir jauh lebih besar. 

Itulah keunggulan besar di udara. 

William dan Roger datang untuk merebutnya. 

Regu Keenam pun memperketat lingkaran di sekitar Leo. Formasi yang tadi melebar kini menyusut, membuat pertahanan padat. 

Tetapi beberapa kesatria pengawal yang sedang bertarung jauh dari titik pusat tidak sempat kembali. 

Sebuah momen singkat di mana mereka terpisah. 

William dan Roger tidak menyia-nyiakan hal itu dan langsung membidik kesatria pengawal yang terisolasi itu. 

“Tch!” 

“Kanan, Roger!” 

“Baik!” 

Terjepit dari dua sisi oleh William dan Roger, sang kesatria pengawal tidak bisa lagi bergerak bebas. 

Dan ketika dia sadar dirinya tidak mungkin menang, dia merangkul tongkat sihirnya dan terjun dari wyvern. 

Dia tidak boleh membiarkannya jatuh ke tangan musuh. 

Jika tongkat itu jatuh ke tanah, mungkin bisa diambil kembali nanti. Tetapi jika dia tewas di udara, benda itu pasti dirampas. 

Itulah kesetiaan seorang kesatria pengawal. 

Namun tepat pada saat dia melompat.

Pedang Roger menembus tubuhnya, dan William meraih lengan yang memegang tongkat sihir itu, memotongnya sekaligus mengambil tongkat tersebut. 

“Semua pasukan mundur! Kita tak bisa lagi menghentikan pengangkutan logistik! Jangan menambah korban!” 

“Sial! Kejar! Jangan biarkan Pangeran Naga kabur!” 

Lambert memberi komando, Regu Keenam bergerak untuk mengejar. 

Finn pun melesat naik kembali ke udara untuk bergabung. 

Namun. 

“Tidak perlu mengejarnya. Kita hanya akan menambah korban.” 

“Tapi!” 

“Tidak perlu.” 

Leo maju sedikit ke depan, berdiri sendirian. 

Melihat itu, William yang sedang mundur menghentikan langkah dan menatap Leo. 

“Biarlah kalian mendapatkan logistik itu. Sebagai gantinya, teknologi ini akan kami ambil.” 

“Luar biasa, Pangeran Naga. Kamu memang tidak pernah pulang dengan tangan kosong.” 

“...Terlalu percaya diri, ya?” 

“Memangnya begitu?” 

Leo tidak menunjukkan perubahan ekspresi atau intonasi. 

Namun William bisa merasakan kepercayaan diri yang seakan tidak tergoyahkan. 

Dia menarik napas, menegakkan kembali tekadnya, lalu memutar wyvern-nya untuk mundur. 

“Finn Brost! Kesatria Naga Keluarga Ardler! Pertarungan kita kutunda! Lain kali, aku pasti mengambil kepalamu!” 

Setelah berteriak demikian, Roger pun menyusul William. 

Leo mengawasi mereka sampai menghilang dari pandangan, lalu segera memberi perintah untuk mempercepat distribusi logistik dan pengangkutan. 

“Sudah selesai...” 

“Tidak. Ini baru permulaan.” 

“Yang Mulia?” 

“Selama aku ada di sini, Pangeran William tidak bisa bergerak bebas. Aku akan menahannya sebisa mungkin. Mulai sekarang, itulah tujuan pertempuran kita. Dan kamu akan membantuku, bukan?” 

“Siap! Saya pasti akan berguna!” 

Finn membungkuk dalam. 

Dengan demikian, operasi pengangkutan logistik pun berhasil sepenuhnya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close