Penerjemah: Chesky Aseka
Proffreader: Chesky Aseka
Chapter 1
Keberadaan Permata Pelangi
Bagian 1
Saat Fine dan yang lainnya memasuki jalur pelarian, matahari di luar hampir sepenuhnya tenggelam.
Pemberontakan Gordon yang dimulai sejak tengah hari belum juga berakhir, dan kini tampak akan berlanjut hingga esok hari.
“Marsekal, serangan musuh mulai melemah.”
“Mereka takkan menyerang saat matahari terbenam rupanya. Gordon itu, akhirnya dia mulai tahu caranya berpikir.”
Lize bergumam pelan sambil menatap pasukan musuh di hadapannya.
Pasukan Lize yang menjadikan gerbang timur sebagai titik pertahanan berjumlah sekitar dua ribu orang. Sementara pasukan Gordon yang mengepung mereka mencapai delapan ribu.
Bahwa mereka masih mampu bertahan menghadapi serangan dari musuh dengan jumlah empat kali lipat, merupakan hasil dari kepemimpinan Lize, keberanian para kesatria pengawal yang dulunya melindungi Kaisar, dan perbedaan mutu pasukan di kedua belah pihak. Semuanya berpadu menjadi satu.
Namun, fakta mereka kalah jumlah tidak berubah. Sebagian besar jenderal yang tidak ikut serta dalam pemberontakan telah ditangkap, dan tidak ada lagi bala bantuan yang bisa diharapkan dari dalam ibu kota.
Semakin lama perang ini berlangsung, semakin tidak menguntungkan bagi mereka. Namun di sisi lain, justru waktu yang berlalu juga bisa menghadirkan secercah harapan. Keadaan mereka kini berada di antara dua ujung yang rapuh.
Jika waktu terus berjalan, prajurit akan kelelahan, dan pertahanan pasti akan mulai retak. Tetapi jika dalam waktu itu jika Pahlawan atau Elna datang menyusul, maka segalanya akan berubah total.
Dalam situasi seperti itu, Gordon memutuskan untuk tidak memaksakan serangan malam.
Dia tahu, pasukan Lize bukanlah pasukan yang mudah goyah hanya dengan tekanan semacam itu, dan dia pun takut menghadapi risiko serangan balasan dalam kondisi gelap dengan jarak pandang terbatas.
Pasukan Lize terdiri dari para prajurit perbatasan. Mereka terlatih untuk bertahan, bahkan dalam pertempuran malam sekalipun mereka bisa bertarung dengan tenang.
Mereka bahkan bisa melancarkan serangan kejutan dan menembus kepungan jika diperlukan.
Jika mereka bisa memanfaatkan kegelapan untuk meloloskan sang Kaisar, posisi mereka akan jauh lebih menguntungkan.
Lagi pula, pusat dari pemberontakan ini adalah Gordon. Jika Gordon tumbang, semuanya akan berakhir saat itu juga. Bahkan Gordon yang terlalu percaya diri pun tidak cukup bodoh untuk menanggung risiko sebesar itu.
Lize sebenarnya berniat melancarkan serangan balik jika musuh menyerang lebih dulu, namun karena Gordon memilih menunggu, rencana itu pun tak bisa dijalankan.
“Bagaimana menurutmu, Lizelotte?”
“Kalau Ayahanda tidak ada di sini, aku sudah menyerbu dan menebas leher Gordon dari tadi. Tapi karena Ayahanda ada di sini, itu jadi sulit. Jadi, yah, kita agak terhambat.”
“Maafkan aku...”
Johannes menundukkan bahunya, sadar bahwa anaknya baru saja secara halus menyebutnya pengganggu.
Namun Lize malah balik bertanya padanya.
“Soal peperangan, serahkan saja padaku. Gerbang timur berfungsi baik sebagai benteng, dan di sana pun masih ada penghalang dari Putri Pertapa. Tidak ada masalah sejauh ini. Tapi yang lebih penting... dalam perang pertahanan seperti ini, hal terpenting adalah kapan bala bantuan datang. Menurut Ayahanda, siapa yang akan tiba lebih dulu?”
“Maksudmu, Elna atau Pahlawan?”
“Benar. Dalam situasi sekarang, hanya pengguna Pedang Suci yang mampu mengubah keadaan dalam sekejap. Dan di seluruh Kekaisaran, hanya ada dua orang yang bisa menggunakan Pedang Suci. Elna yang pergi untuk menyelamatkan Santa, dan Pahlawan yang sudah bersiap sejak awal. Menurut Ayahanda, siapa yang akan tiba lebih dulu?”
Mendengar pertanyaan itu, Johannes terdiam sejenak.
Secara logika, seharusnya Pahlawan yang akan tiba lebih dulu.
Elna tidak bisa kembali sebelum menyelamatkan Santa, sedangkan sang Pahlawan bebas bergerak atas keputusannya sendiri. Perbedaan itu sangat besar.
Namun akhirnya Johannes berkata, “Jika ada yang datang lebih dulu, mungkin Elna.”
“Boleh tahu alasannya?”
“Karena di istana masih ada Arnold. Keluarga Pahlawan Armsberg terkenal karena kesetiaan mereka. Meski punya kekuatan untuk merebut Kekaisaran kapan pun, mereka tetap setia menjadi pedang kaisar. Elna, yang lahir dari keluarga itu, tak terkecuali. Kesetiaannya sudah tertuju pada Arnold sejak kecil. Begitu juga dengan Leonard yang ada di sisinya. Bila keduanya tahu keadaan Arnold, mereka pasti akan berjuang mati-matian untuk menolongnya. Dalam hal semangat juang, tak ada yang bisa menandingi keduanya. Bagi mereka, bahaya yang menimpa Arnold adalah urusan hidup dan mati. Dan Arnold pun sadar betul akan hal itu.”
“Jadi pikir Ayahanda, Al sudah mempersiapkan semua ini?”
“Dia punya pengamatan yang tajam. Bahkan dia tahu kalau kematian Santa itu hanya rekayasa. Mustahil dia tidak menyadari gelagat Gordon. Meski begitu, dia tetap mengirim Sebas untuk menjaga Leonard. Sekilas tampak seperti dia mempercayakan semua kekuatan pada Leonard, tapi kalau dilihat dari sisi lain, itu berarti dia menempatkan pasukan di luar ibu kota, untuk berjaga-jaga bila sesuatu terjadi. Jika memang begitu, maka begitu Elna dan Leonard selesai menyelamatkan Santa, mereka akan segera kembali ke sini.”
“Jadi dia tidak ikut bersama mereka justru agar keduanya terdorong untuk kembali dengan segenap kekuatan mereka. Ya, memang terdengar seperti sesuatu yang akan dilakukan Al.”
“Dia memang pandai memanfaatkan orang, tapi lebih pandai lagi memanfaatkan dirinya sendiri. Nilainya sebagai sandera mungkin tak seberapa, tapi bagi Elna dan Leonard, Arnold adalah sandera yang tak ternilai. Dengan tetap tinggal, Arnold sengaja menjadikan dirinya belenggu bagi keduanya.”
Selama Al berada di ibu kota, Elna dan Leo pasti akan kembali. Itu pasti menjadi prioritas utama mereka.
Tak ada ruang bagi mereka untuk berpikir lain.
Mereka akan kembali secepat mungkin dan bertarung melawan Gordon dengan segenap tenaga.
“Jadi Sebas bertugas menahan mereka agar tak terlalu lepas kendali, begitu?”
“Mungkin begitu. Selain itu, Sebas juga sangat berguna. Saat nanti mereka menyerbu ke ibu kota, dia akan jadi kekuatan utama. Meskipun penghalang sudah hancur, selama gerbang istana belum diterobos, satu-satunya jalan masuk ke kota hanyalah dari udara. Tapi dengan cara itu, hanya sedikit pasukan yang bisa dikirim. Dalam situasi seperti itu, Sebas adalah orang yang paling tepat untuk memimpin serangan kecil untuk menembus gerbang.”
“Kalau begitu, di dalam istana pun Al mungkin sudah mulai bergerak.”
“Aku pun berharap begitu. Kamu masih ingat, kan? Arnold dan Leonard dulu sering mencari-cari lorong rahasia di dalam istana.”
“Tentu saja aku ingat. Dalam setiap suratnya, dia selalu menyombongkan diri kalau menemukan lorong baru. Waktu itu aku pikir dia ingin membuat peta seluruh istana. Siapa sangka sekarang hal itu bisa berguna. Dia memang yang paling mengenal seluk-beluk istana .”
“Benar, bahkan permainan masa kecil pun bisa jadi berguna. Andai saja aku ikut bersama mereka waktu itu, mungkin sekarang aku bisa mengirim pasukan dari luar lewat jalur rahasia...”
Johannes berkata sambil menatap ke kejauhan.
Dulu dia sering memarahi Al yang bermain-main di dalam istana. Anak itu jarang menunjukkan rasa bersalah, dan kini hasil dari permainan itulah yang justru menjadi harapan mereka.
“Hidup ini aneh. Tak pernah terbayang sedikit pun hal seperti ini akan terjadi. Aku pun tak pernah menyangka akan ada saatnya aku menaruh harapan pada Arnold. Benar-benar aneh...”
“Kalau kita bisa selalu melihat masa depan, tentu hidup takkan sesulit ini. Baik kematian Kakak maupun pemberontakan Gordon ini. Semua yang sudah terjadi tak bisa diubah. Yang bisa kita lakukan hanyalah menentukan bagaimana cara mengakhirinya. Dalam hidup, hampir semua hal datang terlambat. Kita merasa sudah menyiapkan segalanya, tapi tetap saja selalu ada hal yang di luar dugaan. Namun, tak semuanya buruk. Kadang hal yang melampaui dugaan juga bisa terjadi. Al adalah contohnya.”
Al sejak dulu dicemooh seluruh negeri sebagai Pangeran Sisa.
Johannes sangat memahami hal itu.
Dulu, dia sering marah mendengar rakyat menghina putranya. Namun karena Al sendiri tidak pernah membantah atau membela diri, Johannes sebagai kaisar pun hanya bisa diam.
Satu-satunya yang bisa dia lakukan hanyalah menegur Al, menyuruhnya untuk memperbaiki diri.
Dan setiap kali dia berkata begitu, di dalam hatinya selalu terselip satu harapan kecil.
Buktikan pada mereka. Bangkit dan tunjukkan pada mereka.
Sambil memikirkan itu, johannes memarahi Al, dan Al terus saja mengabaikannya.
Namun keadaan telah mengubah Al.
Saat Leo ikut ambil bagian dalam perebutan takhta, Al mulai menampilkan sisi yang selama ini tak pernah terlihat. Wajah Al yang dulu hanya pernah dia tunjukkan demi Elna, wajahnya yang Johannes ingin lihat, sekaligus yakin takkan pernah dia saksikan, mulai muncul.
“Semua orang memanggilnya Pangeran Sisa. Meski dia berprestasi, titik awalnya terlalu rendah sehingga sedikit yang mau mengubah penilaian itu. Pasti Gordon meremehkan dan merendahkannya juga. Barangkali justru itulah yang akan menjeratnya.”
“Kalau sampai sejauh itu, mungkin tak akan ada lagi yang menyebut Al ‘Pangeran Sisa’.”
“Entahlah. Kurasa Arnold sendiri menyukai julukan dan perlakuan itu. Memang, dia kekurangan keinginan yang tampak. Sulit menilai mereka yang hanya bergerak saat darurat.”
“Kalau dipikir, jelas bedanya. Mereka yang berusaha lalu unggul disebut jenius; mereka yang unggul tanpa usaha disebut jenius. Al jelas yang kedua. Dia punya bakat bawaan untuk melampaui orang lain. Bakat bawaan itu langka dan pantas dihargai.”
“Kalau semua orang bisa melihat nilai itu, tentu tak akan merepotkan. Selain itu, Arnold sengaja bersikap seakan tak ingin dinilai. Pasti, dia masih menyimpan sisi yang bahkan tak kita ketahui.”
Johannes menghela napas setelah mengatakan itu.
Kemudian dia menatap Lize sambil bergumam.
“Aku mungkin terlalu sombong. Kupikir diriku sudah menjadi kaisar yang cukup baik, namun aku tak mampu melihat hakikat putraku. Justru karena itu pemberontakan ini bisa terjadi. Maafkan aku. Aku hanya membuat kalian menderita.”
“Anak yang membantu orang tuanya itu hal yang wajar. Marsekal yang membantu Kaisarnya juga hal yang wajar. Tiada siapa pun yang harus meminta maaf. Justru aku yang harus minta maaf. Setelah Kakak meninggal, aku mengurung diri di perbatasan karena begitu berat rasanya. Namun seharusnya, sebagai putri sulung, aku ada di sisi Ayahanda untuk mendukung. Ayahanda yang paling menderita... Jika aku ada di sana, mungkin pemberontakan ini takkan terjadi. Maafkan aku.”
Mendengar kata-kata Lize, Johannes tersenyum tipis.
Lalu berkata, “Pemberontakan ini tak sepenuhnya buruk. Aku bisa bicara jujur dengan putriku... Lize. Kalau kelak musuh sudah terlalu dekat denganku, kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan, bukan?”
“...Ya. Saat itu, aku akan mengambil nyawamu, Ayahanda.”
“Lakukanlah. Sebagai Kaisar, aku tak boleh terbunuh oleh pemberontak. Kalau harus dipenggal olehmu, itu bukan hal yang buruk.”
Johannes mengatakan itu sambil tertawa, lalu meninggalkan tempat itu.
Lize yang tertinggal menatap perlahan pasukan musuh yang mengepung dan istana di hadapannya.
“Jangan khawatir... Setelah Ayahanda tewas, akan kukirim juga mereka para orang bodoh itu. Biarkan mereka menyesali kebodohan mereka di alam sana.”
Dengan harap itu tak menjadi kenyataan, Lize mengelap darah yang menempel di pedangnya hingga bersih.
Bagian 2
Malam itu, Gordon menghentikan serangannya.
Bagi ibu kota kekaisaran, Vilt, di mana pertentangan antara Kaisar Johannes dan Pangeran Ketiga Gordon masih berlanjut, malam itu terasa sunyi dan mencekam.
Di tengah malam seperti itu, sekelompok pasukan melaju menembus kegelapan malam.
“Seperti yang diharapkan dari Santa. Aku tak menyangka kamu bisa meningkatkan kecepatan semua orang sekaligus.”
Pasukan itu terbagi menjadi dua kelompok, yang satu melaju di darat, dan yang lainnya di udara.
Di darat, ada lebih dari seribu pasukan kavaleri. Sementara di udara, para penunggang griffon terbang berdampingan bersama para kesatria yang mampu melesat secepat makhluk-makhluk bersayap itu.
Di antara mereka ada Leo dan rekan-rekannya.
“Tapi bebannya pasti sangat berat.”
“Aku tahu. Sama seperti saat menggunakan Pedang Suci, rasanya sangat menguras tenaga. Tapi sekarang, yang kita butuhkan hanyalah kecepatan. Tak ada waktu untuk menghemat tenaga,” jawab Elna di samping Leo.
Pemegang Tongkat Suci, Leticia, sedang mengaktifkan kekuatan artefaknya untuk meningkatkan kecepatan seluruh pasukan.
Berkat kekuatan itu, Leo dan pasukannya kini hanya berjarak setengah hari perjalanan dari ibu kota.
Namun, harga yang harus dibayar tidaklah ringan.
Meski kecepatan mereka meningkat, tidak dengan daya tahan tubuh mereka.
Banyak prajurit Narberitter yang tumbang satu per satu karena kelelahan, dan bahkan para Kesatria Griffon mulai kesulitan menutupi rasa letih mereka.
Meski begitu, Leo—yang seharusnya paling lelah—masih memimpin di barisan terdepan.
Mengendarai griffon dengan kecepatan di atas normal menguras tenaga luar biasa, namun bagi Leo, itu bukan masalah.
Memang terasa berat, tapi dibandingkan dengan apa yang sedang dipertaruhkan, rasa sakit itu tak berarti apa-apa.
“...Benar. Leticia mengerti perasaan kita. Dia tetap menggunakan Tongkat Suci-nya meski dalam keadaan sesulit itu. Aku yang salah karena khawatir berlebihan,” ujar Leo seraya menoleh ke belakang.
Leticia, yang tengah memfokuskan diri menjaga kekuatan Tongkat Suci, duduk di belakang salah satu Kesatria Griffon.
Tubuhnya hampir tak sanggup bertahan, tak ada yang tahu kapan dia akan pingsan.
Namun Leticia terus mengaktifkan Tongkat Suci itu.
Pasukan penting Kekaisaran harus meninggalkan ibu kota demi menyelamatkannya. Lebih dari itu, Al telah menyerahkan sebagian besar kekuatannya pada Leo untuk menyelamatkan dirinya, membuat posisinya sendiri dalam bahaya.
Semua itu, pikir Leticia, adalah kesalahannya sendiri. Karena itu, dia menggenggam Tongkat Suci dengan lebih erat lagi.
Namun yang mendorongnya bukan hanya rasa bersalah.
Dia memiliki firasat, bila terjadi sesuatu pada Al, Leo akan hancur. Karena itu, Leticia memaksa tubuhnya yang letih agar terus bertahan.
Demi Leo, dan demi dirinya sendiri.
“Kalau nanti ternyata tak ada pemberontakan sama sekali, itu bakal jadi lelucon paling buruk.”
“Semoga saja begitu... Tapi Wyn selalu memperhitungkan banyak kemungkinan sebelum bertindak. Kalau dia menilai ini bisa terjadi, berarti ada hal yang pasti sedang terjadi di ibu kota.”
Sang penasihat militer, Wyn, memang telah memprediksi pemberontakan Gordon dengan akurat.
Itulah sebabnya sejak awal mereka bergerak bersama pasukan Narberitter, semuanya untuk bersiap menghadapi hal ini.
Bagi Wyn dan Arnold, pemberontakan Gordon bukanlah hal yang tak terduga. Yang benar-benar di luar dugaan hanyalah penculikan Leticia.
Padahal, seharusnya posisi Narberitter cukup dekat untuk segera bergerak menuju ibu kota. Namun karena insiden itu, mereka terpaksa bergerak lebih jauh dari perkiraan.
Sekarang, mereka menggunakan kekuatan Leticia untuk menutupi selisih jarak tersebut, tapi tetap saja, waktu berjalan cepat.
Dan itulah yang membuat Leo gundah.
“Dalam pemberontakan, kecepatan adalah segalanya. Semakin lama mereka menunda, semakin besar peluang datangnya bala bantuan. Aku yakin Gordon dan para jenderalnya tahu itu.”
“Jadi menurutmu pemberontakan itu mungkin sudah berakhir?”
“...Ya. Kalau semuanya berjalan lancar bagi mereka, mungkin saja pemberontakan itu sudah berhasil.”
“Tapi Paduka Kaisar masih ada di sana. Begitu juga dengan Kanselir. Aku tak percaya mereka akan lengah begitu saja.”
“Aku juga berpikir begitu. Pertanyaannya, langkah apa yang mereka ambil? Karena seberapa banyak waktu yang bisa mereka peroleh tergantung pada keputusan itu.”
Waktu yang bisa mereka peroleh dengan langkah setengah hati tentu tak akan lama.
Jika mereka memang ingin memberontak, maka hari terakhir turnamen bela diri adalah langkah yang tepat.
Jika pemberontakan benar-benar direncanakan untuk terjadi pada saat itu, yang dimulai siang tadi, maka sekarang sudah lebih dari setengah hari berlalu sejak awal pemberontakan.
Apakah mereka masih sempat tiba tepat waktu?
Kegelisahan mulai menggerogoti hati Leo, tapi dia memaksa dirinya untuk tetap tenang.
Gelisah tidak akan mempercepat perjalanan mereka, dan karenanya tidak akan mengubah apa pun.
“Al... Apa dia akan baik-baik saja?”
“Aku yakin begitu. Kakak tidak akan memulai pertempuran tanpa peluang untuk menang. Fakta bahwa dia mengirim Sebas ke sisi kita berarti dia yakin bisa menang tanpa bantuan itu. Sekarang, kita harus percaya pada Kakak.”
“Benar juga. Kalau itu Al, dia pasti punya rencana. Seperti biasa.”
Elna berkata seolah untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Mendengar itu, Leo menarik napas dalam-dalam.
Perasaan negatif mudah menular. Bila dia menunjukkan rasa takut, semua orang yang mengikutinya akan merasakannya juga.
“Ya. Meskipun kita tidak ada di ibu kota, masih ada orang-orang yang bisa diandalkan di sana. Ayahanda ada di sana, juga ada Kanselir. Dan kalau keadaan benar-benar genting, masih ada Kakak Trau. Semuanya akan baik-baik saja.”
“Entah kenapa, setiap kali nama Pangeran Traugott disebut, aku justru makin cemas...”
“Ya, dia memang sedikit aneh, tapi sebenarnya dia orang hebat, sungguh.”
Sambil berusaha menenangkan Elna yang tampak makin gelisah, Leo kembali menatap ke depan.
Kalau Al benar-benar sendirian, dia mungkin sudah tak bisa menahan kecemasannya. Namun, Al masih memiliki banyak keluarga yang bisa dia andalkan.
“Tidak apa-apa. Kakak itu orang yang sangat menyayangi keluarganya. Selama dia bersama keluarganya, dia akan kuat.”
Itu adalah kata-kata yang tulus.
Al adalah seseorang yang tidak bisa berjuang demi dirinya sendiri, dan mungkin juga tidak mau.
Namun justru karena itulah, Leo merasa tenang saat tahu ada orang-orang di sisi kakaknya.
“Aku yakin sekarang Kakak sedang berjuang sekuat tenaga. Tapi di saat yang sama, dia pasti juga menunggu kita. Kakak tidak suka memaksakan diri terlalu lama. Dia pasti ingin menyerahkan sisanya pada kita. Jadi, ayo cepat.”
“Ya, kalau itu Al, pasti begitu.”
Dengan kata-kata itu, keduanya pun mempercepat langkah mereka, bergegas menuju ibu kota Kekaisaran.
* * *
Di gerbang timur ibu kota.
Di sebuah ruang yang biasanya dipakai sebagai ruang istirahat prajurit, dua orang terkurung di sana.
Mereka adalah Conrad, adik kandung Gordon, dan Henrik, adik kandung Zandra.
“Pangeran Eric! Aku sungguh tidak tahu apa-apa! Tolong bebaskan aku!”
Di hadapan kedua pemuda itu, Eric muncul.
Tubuhnya masih berlumuran darah.
Baru beberapa saat yang lalu dia masih memegang pedang dan berada di garis depan.
Dia bukanlah orang yang pandai pedang sejak lahir, tapi dia tak pernah lalai berlatih. Orang yang hanya bermodalkan otak tak akan disegani. Bila tiba saat genting, orang yang tak sanggup mengangkat pedang pun tak akan memenangkan hati para prajurit. Eric, yang sejak lama mengamati Putra Mahkota, tahu betul akan hal itu.
Dia tidak perlu menjadi yang terkuat, cukup hanya dengan keberanian untuk turun ke medan dan membakar semangat prajurit.
“Itu saja yang ingin kamu katakan? Di tengah keadaan ini kamu bahkan tak tahu keselamatan Ayahanda, apa kamu masih layak disebut keluarga kekaisaran?”
“Ugh...”
“Kalau Eric selamat, berarti Ayahanda pasti juga selamat. Hal yang menggembirakan.”
Conrad, yang berbaring di lantai ruangan, menguap lebar. Melihat itu, Eric mengerutkan dahi.
“Kalau Henrik tidak tahu sesuatu, setidaknya kamu pasti tahu, Conrad?”
“Kalau aku tahu, tentu aku tetap di dalam istana. Kalau mereka memberontak di sana, aku yang bakal ditangkap. Nyawaku ini penting.”
“Hmph. Entah bagaimana. Kamu memang pengecut. Setelah ini kamu akan dimintai keterangan. Siapkan mentalmu.”
“Ah, menakutkan sekali. Baiklah, aku akan mempersiapkan diriku.”
Conrad kembali merebahkan diri di lantai, ogah-ogahan.
Melihat itu, Eric meninggalkan tempat itu.
Dia datang ke ruangan itu dengan harapan mungkin mereka tahu sesuatu yang berguna, tetapi tingkah laku mereka menunjukkan sebaliknya, tampaknya mereka tak tahu apa-apa.
“Bagaimana hasilnya, Pangera Eric?”
“Kanselir, ya. Percuma saja. Baik Gordon maupun Zandra bukan orang yang peduli pada keluarga. Anggap saja dua orang itu diabaikan.”
“Begitu, ya. Benar juga. Kalau begitu, mereka tak akan menjadi sandera.”
“Benar. Menempatkan pengawal untuk dua orang yang tak akan dijadikan sandera tentu hanya menyia-nyiakan sumber daya. Pinjamkan beberapa pengawal yang kosong padaku.”
“Oh? Anda punya rencana?”
“Ibu kota masih membutuhkan kekuatan. Aku akan memimpin mereka.”
Eric tak perlu menjelaskan panjang, Kanselir cepat menangkap maksudnya.
“Begitu. Bukankah berbahaya untuk memanfaatkan kegelapan dan menembus kepungan mereka? Dan aku rasa mereka tak akan mudah bergerak begitu saja.”
“Aku mengerti risikonya. Tapi saat ini aku putra tertua. Aku memiliki kewajiban untuk melindungi Ayahanda. Aku juga harus sanggup menanggung risiko itu. Selain itu, aku pandai berunding.”
Kanselir mengangguk atas perkataan Eric.
Menerima persetujuan itu, Eric segera bergegas melaksanakan aksinya.
Bagian 3
“Aaah, ngantuk banget...”
“Akhirnya, cari-cari semalaman juga hampir nggak nemu orang, ya...”
“Kamu kan tahu sendiri, orang penting pasti kabur ke ruang takhta lebih dulu.”
Prajurit-prajurit paling bawah tak diberi waktu istirahat. Mereka kelelahan setelah berjam-jam menyisir malam.
“Hari ini kita bakal ke ruang takhta, kan...”
“Pasti. Tempat lain sebagian besar sudah dikuasai.”
“Tapi katanya yang jaga ruang takhta itu Komandan Kesatria Pengawal, kita yang kayak kita ini bakal ada gunanya nggak?”
“...Kayaknya kita cuma cari mati.”
Sekonyong-konyong wajah banyak prajurit di situ menghitam. Di tengah suasana itu, ada suara yang berkembang jadi pertanyaan.
“Kami bukan ikut pemberontakan hanya untuk mati...”
“Aku juga gitu... Katanya Jenderal Estmamn ikutan, jadi ya... Aku terpaksa ikut.”
“Diamlah. Kalau didengar orang lain, bisa repot.”
“Tapi tetap aja...”
Aku mengerti perasaan mereka.
Mukan karena mereka semangat, melainkan karena atasannya ikut, ikut-ikutan terasa lebih mudah.
Jika mereka menolak, mungkin nyawa jadi taruhannya.
Prajurit-prajurit rendahan tak pernah punya pilihan.
Dan mereka meragukan pemberontakan ini. Sebab hasilnya tak terlihat.
Seandainya banyak sandera yang berhasil diamankan, mereka pasti akan percaya diri. Tapi nyaris semua sandera berhasil kabur.
Cara paling mudah untuk menyatukan orang-orang adalah dengan menghasilkan sesuatu. Kalau hasilnya ada, banyak protes bisa dibungkam.
Kalau tidak ada hasil, kegelisahan mulai muncul.
Apalagi kelompok yang tersusun asal-asalan seperti ini.
“...Aku dengar rumor,” mustahil aku bisa mengabaikan kegelisahan itu.
Aku mulai berbaur dengan para prajurit dan membuka mulut dengan suara rendah.
Mereka terlalu lelah dan terlalu terkuras secara mental oleh keadaan tidak normal ini untuk menaruh curiga. Jadi, mereka mendengarkanku.
“Katanya Jenderal Estmann dipaksa ikut pemberontakan.”
“Akhirnya...”
“Jenderal kan pendukung Kaisar... Harusnya sih begitu.”
“Masalahnya bukan cuma itu. Rumor bilang Yang Mulia tak suka sikap sang jenderal. Kalau pemberontakan ini berhasil, katanya sang jenderal bakal dihukum mati. Kalau itu terjadi, kita bakal jadi apa, coba?”
“Apa!? Jenderal!?”
“Bukan nggak mungkin kita...”
“Kalo jenderal dieksekusi, kita bakal dikirim ke bawah komando jenderal lain...?”
“Pasti makin tersisih... Kita bakal dikirim paling depan terus...”
Kegelisahan langsung merebak.
Kulihat itu, aku tersenyum samar dan berbisik, “Setidaknya kita harus tahu apa yang dipikirkan jenderal.”
“Benar! Kita prajuritnya! Kita udah berperang bersama!”
“Tapi sejak pemberontakan dimulai, dia belum terlihat satu kali pun!”
“Andai aku bisa dengar suaranya...”
Setelah semakin mengobarkan kecemasan mereka, aku menjauh.
Topik ini tak lagi cuma urusan orang lain, diskusi akan terus berjalan tanpa kehadiranku.
Dengan begitu aku terus menyebar gosip di sana-sini.
Kisah palsu seperti tadi pasti tak sepenuhnya meleset.
Jenderal Estmann punya banyak kepercayaan dari prajurit, dan bahkan dipercaya oleh Ayahanda.
Sulit dipercaya tokoh yang berintegritas seperti Estmann tiba-tiba membangkang ke pihak Gordon tanpa alasan.
“Kalau kubuat keributan sebegini, perhatian prajurit pasti akan tertuju pada sang jenderal,” gumamku sambil berjalan menuju bagian bawah istana.
Jenderal Estmann berada di lantai bawah istana ini.
Di bawah istana ada banyak perwira. Kalau aku terlihat mencurigakan, aku akan segera dicegah.
Jadi aku mengubah wujudku dengan ilusi.
Sebenarnya aku agak enggan memakai sihir demikian, tapi aku tak punya pilihan.
“Sungguh, aku benci menyamar menjadi wanita...”
Sambil bergumam, aku mengubah rupa menjadi Zandra dengan ilusi.
Lalu aku meniru cara jalannya dan menyelinap ke lantai bawah istana.
Seorang perwira melihatku dan memberi hormat.
“Yang Mulia Zandra. Bagaimana dengan para sandera?”
“Para prajurit bergerak lambat. Di mana sang jenderal?”
“Ada beberapa jenderal, Yang Mulia...”
“Tentu saja maksudku Jenderal Estmann! Apa kamu tidak tahu itu!?”
“E-Eh! Maafkan saya! Jenderal Estmann dikurung di sebuah ruangan!”
“Bawa dia kemari!”
“D-Dia... Ah... Beliau dalam kondisi mengerikan sehingga kalau dilihat prajurit lain...”
“Jadi maksudmu aku harus datang sendiri? Berani sekali kamu. Kamu tidak mau menuruti perintahku? Ada banyak yang bisa menggantikanmu sekarang juga.”
Aku sedikit menggerakkan tangan kananku.
Perwira itu segera paham aku hendak menggunakan sihir, lalu lari memenuhi permintaanku.
Sambil suaraku bergema, para perwira di lantai bawah berkumpul, tapi tak seorang pun berani menentang.
Mereka tahu akibatnya kalau mereka membuat Zandra marah.
Tak lama kemudian, beberapa prajurit datang menggotong Jenderal Estmann dengan tandu.
Kenapa dia sampai dibawa dengan tandu?
Itu karena kaki kiri Jenderal Estmann telah dipotong.
Banyak perwira menunduk dan mengalihkan pandangannya saat melihat pemandangan itu. Mereka pasti para bawahannya.
“K-Kami membawa beliau...”
“Bagus sekali, ya, Jenderal Estmann.”
“...Kalau pamannya saja seperti itu, begitu pula dengan keponakannya, Yang Mulia Zandra. Darah pemberontak tampaknya tak bisa disucikan bahkan dengan darah kekaisaran...”
“Apa maksudmu...?”
“Bunuh saja aku sekarang...”
Jika di sini aku membunuh Jenderal Estmann, para pengikutnya pasti akan serentak memberontak.
Mungkin itu memang tujuannya.
Setidaknya mereka ingin membalaskan dendamnya.
Aku meraih kerah Jenderal dan menariknya mendekat.
“Kamu ingin mati, hah...? Kalau memang begitu, mau kubiarkan?”
“Kesalahan terbesar Paduka adalah meninggalkan putra-putrinya seperti dirimu dan Pangeran Gordon...”
Mendengar itu, aku menarik Estmann lebih dekat lagi dan berbisik di telinganya.
“Jika kamu mau menolongku, aku bisa membantumu kalau mau.”
“...Siapa kamu?”
“Aku si penasihat kelana, Grau.”
“...Penasihat yang pernah membantu Count Zimmel... Kamu butuh bantuanku?”
“Lebih baik ada daripada tidak.”
“Baiklah...”
“Ini akan sedikit sakit. Sesuaikan dengan benar.”
“Tak masalah... Lakukan saja.”
Aku melepaskan cengkeramanku dari kerah Jenderal Estmann, lalu menepuk-nepuk sekitar luka di kaki kirinya.
“Guuuuahhhh!!!!”
“Jangan banyak mulut! Apa kamu tak peduli nasib para prajurit!?”
“A-Aku tak peduli dengan diriku... Tapi para prajurit... Tolong, tolong...”
“Hmph! Seharusnya kamu tunjukkan sikap seperti itu sejak awal! Bawa dia ke dalam ruangan! Ada yang ingin kutanyakan padanya!!”
Dengan itu, aku menyuruh mereka membawa Jenderal Estmann ke dalam ruangan.
Para bawahan Jenderal Estman yang berkumpul di sekitar menatapku dengan mata yang menampakkan niat membunuh. Tanda yang bagus.
Tidak semua prajurit di istana berada di bawah komando Estmann.
Namun, di garis depan yang dekat dengan ruang takhta, hampir semuanya memang anak buah Estmann.
Hal itu karena, sejak semula, Jenderal Estmann-lah yang dipercayakan untuk menjaga ruang takhta, dan ada kekhawatiran bahwa menempatkan pasukan di lantai bawah bisa memicu pemberontakan.
Kekhawatiran itu akan kukekalkan menjadi kenyataan. Jika kudorong pemberontakan Jenderal Estmann, pencarian kami akan menjadi lebih mudah, sekaligus menjadi bantuan bagi Alida dan pasukannya.
Ya, pasukan Estmann mungkin tidak ditempatkan untuk menjaga alas permata langit, tapi setidaknya tanpa gangguan dari mereka semuanya akan jauh lebih baik.
Dengan pikiran seperti itu, aku melangkah memasuki ruangan.
Bagian 4
“Hei, kamu di sana!”
“Ya!”
“Bawakan teh dan kue. Tenggorokanku kering.”
“Baik! Akan saya beritahu yang lain.”
“Aku menyuruhmu! Cepat bawa! Kalau nggak enak, kamu akan kubunuh!”
Kucibir prajurit yang bertugas menjaga ruangan dengan ancaman.
Permintaan tak terduga itu membuatnya gemetar, dia lari menyiapkan teh.
Kini di ruangan hanya ada aku dan Jenderal Estmann.
Aku membatalkan ilusiku dan segera mendekat ke sisi Estmann.
“Maaf atas kelancangan ini.”
“Tidak apa-apa... Bagaimana dengan rencanamu selanjutnya...?”
“Aku akan membebaskanmu, lalu menarik prajurit lantai atas ke pihak kita.”
“Jangan bilang semudah itu... Kita dikelilingi banyak musuh...”
“Aku punya rencana.”
Aku kembali berubah menjadi Zandra.
Tak lama kemudian prajurit yang gugup tadi kembali membawa cangkir teh.
Kuhabiskan teh itu lalu melempar cangkirnya ke arahnya.
“Eh!?”
“Busuk! Kamu mau mati!?”
“M-Maaf!”
“Sudah cukup! Bawa semua para bawahan dekat Jenderal Estmann! Aku akan membunuh mereka di depan Jenderal!!”
“T-Tapi...”
“Kamu mengabaikan perintahku!? Bahkan kamu pun bisa jadi gantinya!”
Prajurit itu lari lagi. Sementara itu kuberikan instruksi singkat pada Estmann.
“Aku akan menaruh ilusi padamu, biarkan prajurit-prajurit melihatnya. Bertingkahlah seperti prajurit yang dipukuli oleh Putri Zandra, lalu keluar dari ruangan.”
“Lalu setelah itu...?”
“Kacaukan suasana sehingga tak ada yang mengejar. Pergilah ke lantai menengah istana, ke ruangan Pangeran Arnold. Di sana Pangeran akan membuka lorong rahasia dan menunggumu.”
“Yang Mulia... Sungguh menyedihkan... Seharusnya tugasku melindunginya, tapi...”
“Kalau kamu merasa begitu, lakukan tugasmu sekarang. Tugasmu belum selesai.”
“Baik... Kamu benar... Aku akan menunaikan tugasku.”
Jenderal Estmann mengeratkan rahang, menahan diri dan bangkit dengan bertumpu pada meja.
Meskipun hanya bertumpu pada satu kaki, matanya tetap tegas.
Meski dikenal sebagai orang tua yang ramah dan murah senyum, Estmann adalah veteran perang dan sifatnya memancarkan semangat seorang pejuang.
Wajar jika Ayahanda mempercayainya.
Beberapa prajurit datang membawa para baahan dekat Estmann.
Mereka semua menatapku.
Saat prajurit yang tadi kugertak menutup pintu, kulumpuhkan dia dengan ilusi, kubuat dia terbenam dalam mimpi. Sekarang pasti dia sedang bermimpi indah.
“Kalian akan membawa Jenderal kabur. Bersiaplah.”
“Hah...?”
“Apa-apaan...”
Kuperlihatkan kembali wujud asliku, Grau, kepada para bawahannya.
Estmann lalu bicara, “Dia sekutu kita... Kita harus lari ke lantai atas istana...”
“Y-Ya! Siap, dimengerti!”
“Aku butuh kalian berpura-pura. Mulai sekarang, Jenderal Estmann akan tampak seperti prajurit yang dipukuli Putri Zandra.”
Setelah memberi instruksi singkat, aku kembali jadi Zandra.
Aku mulai melempar benda-benda ke prajurit di dekat sana.
“Kalau para bawahan jenderal mati di sini, apa kamu mau melihatnya begini saja!?”
Aku melempar berulang kali, tapi para bawahannya belum sepenuhnya mengikuti aktingku. Jadi aku berbisik, “Berteriaklah. Minta tolong.”
“Hah? Eh...”
“Cepat! Kamu mau menolong Jenderal atau tidak? Atau kamu mau mereka benar-benar dipukuli?”
“T-Tentu tidak... Ahhhh! Tolong! Putri Zandra!!”
“Jenderal!! Kalau kamu masih enggan kerja sama, kamu akan kusiksa juga seperti mereka!”
Aku melempar benda sehingga mengenai kaki kiri salah satu prajurit.
Dia lalu berteriak histeris, berakting seolah kakinya terputus.
“Ahhhh!!! Kakiku!! Kakikuuu!!!”
Dengan teriakan itu, orang di luar pasti akan percaya bahwa Zandra melampiaskan amarah dan memotong kaki salah satu prajurit.
Setelah beberapa saat berakting, kukenakan ilusi pada Estmann agar para prajurit melihatnya.
Lalu para bawahannya menggotongnya keluar dari ruangan.
“Aah! Gila, bikin sakit jiwa!”
Untuk memastikan tak ada yang masuk, aku keluar dari ruangan sambil berteriak menyesali keadaan.
Semua orang takut pada Zandra, tak ada yang berani masuk.
Tentu saja mereka takut. Siapa pun yang membuat Zandra murka, dia akan langsung mengutuk mereka dengan sihir.
Aku melempar dan mengamuk di sekitar agar perhatian tak tertuju pada Estmann dan rombongannya.
Saat itulah sosok yang tak terduga muncul.
“Sungguh! Apa-apaan ini!? Aku dipermainkan! Kamu berani menyiksaku dengan ilusi, takkan kumaafkan! Akan kubunuh kamu! Tidak, tidak cukup! Kalau dapat, akan kubuat kamu menderita sampai hampir mati! Baru setelah kamu menyesal akan perbuatanmu, akan kubunuh kamu! Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri! Takkan pernah kuampuni! Takkan pernah!!!”
Yang asli memang level histerianya beda.
Aku tidak bisa berakting seperti yang aslinya.
Sambil terkesima, kulirik sosok yang muncul, Zandra.
Para prajurit terdiam, tak tahu harus berkata apa.
Aku berteriak pada mereka, “Kenapa ada yang meniruku!? Tangkap dia!!”
“Apa!? Apa maksudnya!? Apa yang terjadi!?”
Para prajurit bingung dengan perintahku, tapi mereka bergerak.
Kalau mereka mengenal Zandra, mereka pastinya akan menganggap diriku yang pura-pura memotong kaki prajurit dan bersikap tantrum adalah yang asli.
“Kamu! Kamu yang menenggelamkanku dalam ilusi! Takkan kuampuni!”
“Dasar pembohong! Aku penyihir keluarga kekaisaran dan ahli sihir terlarang! Mana mungkin aku kena ilusi dari sembarang orang!”
Kubengkokkan dagu, memberi isyarat pada prajurit agar menghadap Zandra.
Percakapan itu tampaknya menyudahi keraguan di antara mereka.
Zandra, sebagai penyihir keluarga kekaisaran, penguasa sihir terlarang, tak mungkin terpengaruh ilusi biasa.
Itu yang seharusnya terjadi.
Namun Zandra mengamuk mendengarku.
“Apa yang kamu bilang!? Tangkap si palsu itu sekarang!!”
“Diam! Dia yang palsu!”
“Jangan sok! Aku bisa bunuh kamu kapan saja! Kalau tak mau mati, cepat tangkap orang palsu itu, dia penyihir ilusi!”
“Kamu mau kami percaya omong kosong semacam itu?”
“Oh ya? Kalau begitu, mati saja.”
Rasa amarahnya mencapai puncak. Tiba-tiba, Zandra berubah tenang.
Kemudian dia melambaikan tangannya. Bilah-bilah angin muncul dan memenggal leher seorang prajurit.
Bodoh sekali. Kupikir benar kamu memang akan bertindak seperti itu.
“Tidak akan kumaafkan, tidak akan kumaafkan, tidak akan kumaafkan, tidak akan kumaafkan, tidak akan kumaafkan, tidak akan kumaafkan... Aku bunuh kalian semua!!”
“Itu seharusnya kalimatku! Tangkap dia! Tak akan kuampuni orang yang berani menyamar jadi aku!”
Para prajurit berdiri terpaku, ragu menentukan siapa yang benar-benar asli.
Tapi mereka tahu, jika hanya berdiri diam, mereka akan dibunuh oleh Zandra tanpa sempat bicara.
Zandra sudah sepenuhnya masuk dalam mode pembantaian, dan bagi para prajurit, satu-satunya jalan untuk hidup adalah melawan.
Di tengah kekacauan itu, aku meninggalkan ilusi Zandra yang sudah kusiapkan dan pergi dari sana.
“Baiklah, untuk sementara, kekacauan di bawah sana akan cukup parah.”
Cepat atau lambat, mereka pasti sadar siapa yang asli. Tapi saat itu pun tiba, Zandra tidak akan memaafkan para prajurit yang sempat meragukannya, dan prajurit-prajurit itu juga takkan memaafkan Zandra yang menebar korban di antara mereka sendiri. Kekuatan utama pemberontakan ada di tangan para prajurit dan secara garis besar, mereka adalah orang-orang yang berpihak pada Gordon.
Sejak awal hubungan antara Zandra dan Gordon sudah penuh celah. Sekarang, jurang di antara mereka hanya akan makin dalam.
Bagus.
Semoga cepat pecah konflik di antara mereka, lalu hancur dari dalam. Itu akan sangat membantu.
Sambil memikirkan hal itu, aku berpindah kembali ke kamarku, lalu mengubah diri ke wujud asliku.
“Sekarang tinggal berharap Jenderal Estmann bisa sampai dengan selamat.”
Kalau pun dia gagal mencapai tempat ini, mau tak mau kami harus bergerak tanpa dirinya.
Jenderal Estmann, pun rencana ini bisa berjalan. Hanya saja, beban yang harus ditanggung Alida akan sedikit bertambah, dan lebih banyak darah para prajurit yang enggan memberontak akan tumpah sia-sia.
Dan itu terlalu menyakitkan untuk diterima begitu saja.
Karena itu, aku benar-benar berharap Jenderal Estmann bisa sampai ke sini dengan selamat.
“Semoga rombongan yang melarikan diri juga aman...”
Aku sudah melakukan semua yang bisa kulakukan untuk membantu mereka kabur, tapi aku tetap khawatir.
Di luar istana pun banyak prajurit yang berjaga.
Menembus kepungan itu dan berhasil mencapai Ayahanda pastilah bukan tugas yang mudah.
“Kurasa yang bisa kulakukan hanya menaruh harapan pada mereka...”
Aku bergumam pelan, memandang ibu kota yang terbentang di bawah sana.
Bagian 5
Karena ulah Zandra yang mengamuk di bawah, seluruh istana kini berada dalam kekacauan, baik di atas maupun di bawah.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Jenderal Estmann dan rombongannya akhirnya tiba di dekat ruanganku.
Sebelum mereka masuk, aku melepaskan sihir ilusi yang sebelumnya kupasang pada Jenderal, lalu menunggu mereka di dalam.
Perlahan, pintu terbuka. Jenderal Estmann muncul, disangga oleh para bawahannya.
“Kamu datang.”
“Yang Mulia...”
“Benar-benar buruk, ya, Jenderal.”
Mendengar kata-kataku, Jenderal Estmann melepaskan diri dari pegangan para pengawalnya, lalu berlutut di lantai dan menundukkan kepala sedalam-dalamnya.
“Maafkan saya...!! Semua ini salah saya...! Tidak hanya gagal memenuhi amanah menjaga istana yang dipercayakan oleh Paduka Kaisar, saya juga menjadi tawanan, hingga para prajurit saya mengangkat pedang melawan keluarga kekaisaran...!”
Air mata jatuh di pipinya saat kata-kata maaf itu keluar.
Sambil membuka pintu menuju lorong rahasia di dinding, aku berkata, “Tanggung jawab itu ada di pihak keluarga kekaisaran. Yang memulai pemberontakan adalah Gordon, dan yang membantunya adalah Zandra. Kegagalan menahan keduanya adalah kesalahan Ayahanda maupun Pangeran Eric. Bahkan aku dan Leo pun turut bersalah karena membiarkan keadaan sampai sejauh ini. Jadi jangan pikirkan itu. Kamu tidak perlu menanggung dosa keluarga kekaisaran.”
“Yang Mulia...”
“Tapi, kamu tetap harus menunaikan tanggung jawabmu sebagai seorang jenderal. Sekarang, banyak prajurit yang terpaksa ikut dalam pemberontakan ini tanpa kehendak mereka sendiri. Nasib mereka ada di tanganmu. Hentikan mereka. Itulah tugas yang hanya bisa dilakukan olehmu. Bila tugas seorang jenderal adalah memberi arahan bagi para prajurit, maka saat inilah alasan keberadaanmu yang sesungguhnya. Jangan bilang kamu tak sanggup. Hidup dan mati banyak orang tak bersalah bergantung padamu. Lakukan apa yang harus dilakukan.”
Jenderal Estmann menggertakkan giginya. Dengan tekad membara di matanya, dia menolak bantuan bawahannya dan berdiri tegak dengan satu kaki.
“Serahkan pada saya... Saya bersumpah akan menunaikannya sampai akhir.”
“Baiklah. Kalau begitu, kita berangkat.”
Aku membawa mereka masuk ke lorong rahasia.
Waktu tak banyak. Matahari sudah mulai terbit. Alida dan rombongannya pasti sudah bergerak meninggalkan ruang takhta.
Setiap detik yang terbuang hanya akan memperbanyak korban tak perlu dan menambah beban di pundak mereka.
Aku mempercepat langkah. Meski bagi Jenderal Estmann, yang kehilangan satu kaki dan harus disangga oleh anak buahnya, itu jelas perjalanan yang menyakitkan, namun dia tak sekali pun mengeluh.
Tatapannya menyala-nyala, dipenuhi dengan tekad.
Aku tahu, dia sudah berniat untuk mati di istana ini. Aura khas seseorang yang telah memutuskan tempat kematiannya terasa jelas darinya.
Itu bukan hal yang buruk. Setiap orang berhak memilih bagaimana untuk mengakhiri hidupnya.
Namun tetap saja.
“Jenderal, ada satu hal yang ingin kukatakan.”
“Ya, Yang Mulia. Apa pun itu...”
“Jangan mati sia-sia.”
“!?”
Mata Jenderal Estmann melebar terkejut.
Lalu perlahan dia menundukkan kepala, menampilkan senyum yang bernuansa nostalgia.
“Yang Mulia... Anda sudah tumbuh besar rupanya.”
“Sudah 18 tahun, Jenderal.”
“Ah, waktu sungguh cepat berlalu. Dalam ingatanku, Anda masih bocah nakal yang suka berlarian dan selalu dimarahi oleh Paduka... Tapi kini, Anda tampak seperti Paduka Kaisar di masa mudanya.”
“Jangan berlebihan. Aku tidak suka menerima pujian seperti itu. Lagipula, hari ini aku sudah bekerja lebih keras dari seumur hidupku. Setelah semua ini berakhir, aku tidak berniat keluar kamar untuk sementara waktu. Jadi tolong, jangan ceritakan kesanmu ini pada Ayahanda. Nanti aku malah dibebani urusan baru.”
“Bahkan cara berpikir Anda pun mirip dengan Beliau.”
Aku mendesah kesal melihat tawa nostalgia Jenderal.
Dia pun tersenyum lembut.
“Saya pikir tak akan punya muka untuk bertemu Paduka lagi... Tapi kini, entah kenapa saya menantikan pertemuan itu. Semua ini berkat Anda, Yang Mulia.”
“Sudah hentikan...”
Aku bergumam sambil melangkah mendekati ujung lorong.
Setelah memeriksa area sekitar dan menggunakan sihir untuk memastikan tidak ada orang di sisi lain, aku membuka pintu keluar.
“Tempat ini satu lantai di atas kamarku. Prajurit yang berjaga di sekitar sini seharusnya kebanyakan anak buahmu.”
“Saya rasa itu benar... Serahkan pada saya. Saya akan mengamankan lantai ini terlebih dahulu.”
“Oke. Oh, Komandan Alida akan memimpin serangan ke pihak musuh. Jangan ganggu mereka.”
“Mereka tidak perlu bantuan?”
“Bantuan setengah hati hanya akan membebani mereka.”
“Hmm, bisa dimengerti. Baiklah. Lalu bagaimana dengan Anda, Yang Mulia?”
“Aku akan memanfaatkan kekacauan ini untuk mencari sesuatu.”
“...Anda punya petunjuk?”
Dia tak menanyakan apa yang kucari.
Dalam situasi seperti ini, hal yang mungkin kucari sudah jelas.
“Tentu saja. Semua kekacauan ini memang kuciptakan untuk itu.”
Aku sudah punya petunjuk, hanya saja tempatnya sulit dijangkau tanpa mengacaukan keadaan terlebih dahulu.
Sekarang, waktunya sudah tepat.
“Anda akan pergi sendirian?”
“Grau akan ikut denganku. Tidak ada masalah. Fokus saja pada tugasmu, Jenderal.”
“Kalau dia yang menemani Anda, saya tak perlu khawatir. Semoga beruntung.”
Setelah berkata demikian, Jenderal Estmann bersama para pengawalnya meninggalkan ruangan.
Aku menatap punggung mereka sampai menghilang, lalu kembali masuk ke lorong rahasia, aku berubah ke wujud Grau dan berteleportasi.
Aku berpindah di sebuah kamar.
Ruangan ini terlihat seperti kamar keluarga kekaisaran, setiap perabotan di dalamnya bernilai luar biasa.
Selimut di ranjang masih kusut, tanda seseorang baru saja tidur di sana.
Aku tidak tahu ingin berkata apa.
“Tidak kusangka aku harus menggeledah kamar kakakku sendiri.”
Ya, ini kamarnya Zandra.
Zandra yang terkena ilusi pasti beristirahat di sini.
Keributan yang aku buat tadi bertujuan untuk menarik Zandra turun ke bawah. Terkena ilusi seperti itu, dia pasti akan beristirahat di sini. Bahkan jika sudah pulih, selama tidak ada keributan, dia akan menjadikan ruangan ini sebagai markasnya.
Pertimbangkanlah waktu yang dibutuhkan untuk mencari, itulah mengapa aku harus mengeluarkan Zandra dari ruangan ini.
Pada dasarnya, memang mustahil membayangkan permata pelangi ada di tempat seperti ini. Tapi, Kanselir itu memang ahli dalam memperdaya musuh.
Zandra sangat tinggi hati. Dia pasti tidak akan mengizinkan para prajurit mengobrak-abrik kamarnya.
Jika itu terjadi, konflik antara Gordon dan Zandra pasti akan memuncak.
Lagipula, menyembunyikan harta yang paling ingin kamu lindungi di kamar seseorang yang berpotensi menjadi musuh jelas bukan hal yang lumrah.
Kalau tidak ada di sini, mungkin permata itu ada di kamar Gordon. Tapi kemungkinan terbesarnya tetap di kamar ini.
Zandra sudah lama dikurung di harem, jadi pasti mudah menyembunyikan sesuatu di kamarnya.
Bahkan jika Zandra tidak bekerja sama dengan Gordon, Gordon pasti tidak akan menyangka barang itu ada di kamar Zandra. Tempat persembunyian yang cukup cerdas.
Mengingat musuh mereka adalah keluarga kekaisaran, menyembunyikannya di dalam mekanisme istana pun pasti akan ditemukan. Lebih baik disembunyikan di tempat yang tak terpikirkan.
Masalahnya sekarang adalah di mana disembunyikannya permata itu di kamar ini.
"”Sepertinya tidak ada cara lain selain mencari secara teliti...”
Kamar keluarga kekaisaran memang luas.
Sambil menghela napas, kuputuskan untuk mencari dengan sabar, sesal pun muncul karena tidak membawa serta seseorang untuk membantuku.
Bagian 6
Pada saat Al sedang bergerak di dalam istana.
Fine dan yang lainnya juga tengah menuju ke tempat Kaisar Johannes berada.
Jalur pelarian dari ruang takhta mengarah ke lapisan atas ibu kota, dan dari sana Fine beserta rombongannya berpindah ke lapisan menengah.
Namun, Kaisar berada di gerbang timur, lebih jauh lagi, di luar lapisan terluar ibu kota.
Selain itu, Gordon telah menempatkan dua lapis pengepungan terhadap sang Kaisar.
Pengepungan pertama melingkupi gerbang timur. Pengepungan kedua berada di sekitar lapisan menengah, untuk menghalangi siapa pun yang mencoba menuju gerbang timur.
Kini, Fine dan kelompoknya telah sampai di wilayah pengepungan kedua itu.
“Aku tahu ini mungkin ide bodoh, tapi menerobos langsung di sini jelas bukan langkah yang bijak...”
Biasanya Mia akan memilih untuk menerobos dengan kekuatan, namun kali ini dia bergumam begitu sambil melihat barisan besar pasukan yang telah membentuk garis pertahanan di depan mereka.
Fine hanya tersenyum tipis melihat Mia dan berpikir sejenak.
Jika mereka menimbulkan keributan di sini, maka akan semakin sulit bagi mereka untuk melangkah lebih jauh ke dalam.
Bagaimanapun juga, ini jelas bukan garis pertahanan terakhir. Menurut informasi, Kaisar menjadikan gerbang timur sebagai markasnya. Tidak masuk akal bila Gordon hanya mengepung dari jarak sejauh ini. Hampir bisa dipastikan bahwa di sekitar gerbang timur pun ada pengepungan lainnya.
Jika mereka gegabah, bisa-bisa mereka terjepit di antara dua barisan musuh dan dihancurkan habis-habisan.
Karena itulah, mereka harus bisa menyelinap lewat tanpa ketahuan.
Namun, melintas tanpa menarik perhatian bersama rombongan sebesar ini, termasuk Rupert, Alois, Mitsuba, dan Gianna, adalah hal yang nyaris mustahil.
Jumlah mereka terlalu banyak untuk tidak mencolok.
Meski mereka memiliki pengawal seperti Mia dan para pengawal Fine, menghadapi pasukan dalam jumlah besar tetaplah bukan pilihan yang bijak.
Apa yang sebaiknya mereka lakukan?
Fine menatap ke depan dan berpikir, “Apa yang akan Tuan Al lakukan jika berada di posisiku?”
Al selalu mahir menemukan celah sekecil apa pun dalam pilihan yang terbatas. Dia mampu mengamati dan menganalisis segalanya, baik kawan maupun lawan.
Kekuatan musuh luar biasa besar dalam hal jumlah, meski mungkin tidak semuanya unggul dalam kualitas. Sebaliknya, mereka memang sedikit, tapi kualitasnya tinggi.
Tujuan utama mereka adalah agar Rupert bisa mencapai Kaisar Johannes. Tujuan kedua mereka adalah memastikan agar tidak ada seorang pun yang tertangkap sebagai sandera.
Setelah berpikir sejauh itu, Fine akhirnya menemukan satu ide.
“Pangeran Rupert, bolehkah saya berbicara sebentar?”
“E-Eh? Ada apa, Fine?”
“Jika saya dan Mia tidak berada di sisi Anda, apakah Anda akan baik-baik saja?”
Rupert sempat terdiam, tak langsung memahami maksud perkataannya.
Namun Mitsuba dan Alois segera menyadari niat Fine.
Mitsuba memandang Fine dengan cemas, sementara Fine menanggapinya dengan senyum lembut.
“Yang paling penting adalah agar Pangeran Rupert dapat bertemu dengan Paduka Kaisar. Saya akan mengalihkan perhatian mereka.”
“P-Pengalihan!? Kenapa!? Lagipula benda yang kubawa ini palsu, ‘kan!? Menjadi umpan hanya demi membawa barang palsu ini sama saja sia-sia!”
“Pangeran, apakah Anda lupa? Benda itu adalah yang asli. Karena itu, apa pun taruhannya, kita harus mengantarkannya kepada Paduka.”
Itu yang asli.
Rupert teringat kata-kata Al saat menyerahkan benda itu padanya. Dia menatap kantung yang dibawanya dengan mata ragu, terdiam lama.
Dia telah berjanji untuk memperlakukan benda itu seolah asli.
Namun kini, menyadari bahwa seseorang mungkin akan mempertaruhkan nyawanya demi benda yang dia tahu palsu, hatinya terasa memberontak.
Fine menggenggam lembut tangan Rupert.
“Saya sangat berterima kasih atas kepedulian Anda. Tapi, ini satu-satunya cara yang mungkin. Saya pasti akan dikejar, namun ada Mia bersama saya. Dan... ada satu tempat yang ingin saya kunjungi.”
“Tempat yang ingin kamu kunjungi?”
“Ya. Saya tidak tahu apakah itu benar-benar tempat yang harus saya tuju, tapi saya rasa layak dicoba. Karena itu, saya dan Mia akan bertindak terpisah. Gunakan kesempatan yang tercipta ini untuk bergerak.”
“Tapi kalau terjadi sesuatu padamu, Fine... Aku... Aku tidak tahu harus berkata apa pada Kak Arnold...”
“Tidak apa-apa. Semua orang sedang melakukan apa yang mereka bisa. Tuan Al, dan mungkin juga Tuan Leo. Kakak-kakak Anda pun sedang berjuang sekuat tenaga. Maka, Anda juga harus melakukan yang bisa Anda lakukan sekarang.”
Dibujuk oleh kata-kata lembut Fine, Rupert akhirnya mengangguk pelan meski dengan wajah muram.
Fine lalu menoleh pada Mia.
“Maaf, bisakah aku memintamu untuk menemaniku?”
“Tentu saja!”
“Terima kasih. Kalau begitu, kita pergi ke tengah lapisan ini. Kita akan menerobos.”
“Pasti akan ada banyak pengejar yang datang...”
“Kalau perhatian mereka tertuju padaku, justru itu akan memudahkan yang lain. Yang Mulia, larilah sejauh mungkin. Menghadapi bahaya memang butuh keberanian, tapi melarikan diri pun memerlukan keberanian yang sama. Menekan perasaan dan membuat keputusan yang benar tidaklah mudah... tapi Anda adalah adiknya Tuan Al. Anda pasti bisa. Apa pun yang terjadi, jangan berhenti melangkah. Kami melakukan ini demi memastikan Anda bisa terus maju.”
Kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan kepada anak sekecil Rupert, namun Fine harus mengatakannya. Karena begitulah tugas seorang keluarga kekaisaran. Fine mengelus kepala Rupert yang tampak hendak menangis, lalu berlari.
Bersamaan dengan itu, Mia menembakkan panah ke langit.
Anak panah itu meledak di udara, memecah menjadi beberapa dan menghantam para prajurit, menciptakan celah di garis pertahanan.
“A-Apa itu!?”
“Sihir!?”
“S-Serangan! Kita diserang!!”
Di tengah kepanikan para prajurit, Fine dan Mia berlari menembus garis pertahanan.
Salah satu prajurit berteriak kaget ketika melihat mereka.
“Itu Putri Camar Biru!! Putri Camar Biru muncul!! Tangkap dia!!”
“Kamu populer sekali...”
“Aku tidak terlalu senang menerima perhatian dari orang yang tidak kukenal... tapi untuk saat ini, cukup menguntungkan.”
Fine tersenyum sambil terus berlari bersama Mia.
Mia menendang dan menghantam para prajurit yang mendekat, satu per satu.
“Kalian tak pantas melawanku! Pulang saja sebelum kalian menyesalinya!”
“Ada pengawal tangguh bersamanya! Yang bicara aneh itu kuat!!”
“Apa!? Siapa yang barusan mengejek caraku bicara!? Kamu!? Aku ingat wajahmu! Nanti akan kuberi hukuman dari jauh!!”
Sambil berteriak begitu, Fine dan Mia terus bergerak menuju pusat lapisan tengah.
Semua perhatian pasukan kini tertuju pada mereka. Wajar saja, karena Fine adalah sosok terkenal dan penting.
Dia benar-benar menjadi umpan yang sempurna.
“Pangeran... Sebaiknya kita bergerak sekarang.”
“Ya...”
Didorong oleh Alois, Rupert akhirnya berpaling dari arah Fine dan mulai bergerak.
Garis pertahanan yang tadinya rapat kini penuh celah, dan mereka berhasil melewatinya dengan mudah.
Sementara Fine menarik perhatian pasukan, Rupert dan rombongannya menuju lapisan luar.
Pengepungan pertama difokuskan ke arah Kaisar di gerbang timur, dan pengepungan kedua sibuk menghadapi Fine. Karena itu, perjalanan mereka berlangsung sangat lancar.
Kendati demikian, di saat semuanya tampak berjalan mulus, biasanya di sanalah jebakan muncul.
Saat mereka memasuki jalan utama, Rupert melihat sekelompok orang yang sedang bertempur di kejauhan.
“Itu...! Bukankah itu Putri Christa dan rombongannya!?” seru Alois.
Tampaknya Christa dan yang lain telah ditemukan oleh musuh dan tengah bertarung.
Masalahnya, lawan mereka bukan pasukan biasa.
“Kesatria Naga...”
Di langit, pasukan Kesatria Naga dari Persatuan Kerajaan Egret mengudara.
Mereka menyerang Christa dan yang lainnya dari langit.
Dia ingin membantu.
Namun sebelum dia sempat bergerak, matanya menangkap sosok mengejutkan di antara mereka.
Di antara rombongan Rupert dan Christa.
Muncullah pasukan kavaleri dari jalur sempit.
Mereka dipimpin oleh seorang pria berambut merah menyala.
“Kak Gordon...”
Gordon menatap ke arah Christa dan rombongannya, lalu memutar pandangan sebentar ke arah Rupert dan rombongannya.
Gordon dan Rupert saling memandang walau hanya sesaat.
Seketika, Rupert diliputi dengan rasa takut.
* * *
Waktu sedikit berputar ke belakang.
Sebelum Fine dan yang lainnya mencapai jalur itu, Trau dan rombongannya sudah lebih dulu melewati lorong dan berhasil menembus garis pengepungan kedua.
Keberhasilan itu berkat Wendy. Dengan ilusi yang diciptakannya, Wendy membuat para prajurit kehilangan arah, sehingga mereka bisa melewati pengepungan kedua tanpa perlawanan yang berarti.
Kini, mereka tengah bergerak menuju pengepungan pertama.
Namun, ada satu hal yang tak mereka perhitungkan.
Mempertimbangkan beban besar yang ditanggung Wendy, Trau memutuskan untuk hanya mengalihkan pandangan musuh dengan sihir ilusi. Tapi cara itu tidak bisa menipu mata yang mengawasi dari langit.
“Begitu kita keluar dari jalan besar ini, gerbang timur sudah tak jauh lagi. Musuh pasti menunggu di sana, tapi biarlah kami yang menjadi umpan.”
“Yang Mulia sebaiknya menerobos bersama Putri Christa dan yang lain.”
“Aku serahkan pada kalian.”
Trau mengangguk atas usulan Reiffeisen bersaudara.
Dia bukanlah orang yang menganggap pengorbanan bawahan demi keluarga kekaisaran sebagai sesuatu yang wajar, namun dia tahu, kali ini hanya itu satu-satunya pilihan yang mereka miliki.
Mengeluh dan menolak keadaan memang mudah, tetapi bila dia terus menuruti keinginan pribadi, maka hal yang benar-benar harus dia lindungi mungkin akan hilang selamanya.
Kalau saja dia memiliki kekuatan untuk melindungi tanpa mengalah, tentu lain cerita, tapi Trau tak menilai dirinya setinggi itu.
“Semua, sedikit lagi. Kalian masih sanggup?”
“Aku baik-baik saja...”
“Rita juga!”
“Aku... juga tidak apa-apa.”
Christa, Rita, dan Wendy menjawab Trau. Hanya Wendy yang terlihat lelah. Sejak pagi, dia telah berkali-kali menggunakan ilusi.
Mengandalkannya lebih jauh mungkin berisiko. Jika konsentrasinya pecah di tengah-tengah sihir, mereka semua akan langsung terlihat oleh musuh. Menahan kekhawatiran itu, Trau memberi isyarat agar mereka menyeberangi jalan besar.
Dengan pengamatan tajamnya, dia sudah memastikan tak ada pandangan musuh yang mengarah ke arah mereka.
Waktu yang tampak sempurna.
Namun, suara khas deru angin dari langit memberitahu mereka bahwa mereka salah besar.
“Yang Mulia!!”
Markus, kakak tertua dari Reiffeisen bersaudara, segera mencabut pedangnya dan menangkis tombak lempar yang meluncur ke arah Trau.
“Bersiap untuk bertempur!!”
Perintahnya cepat dan tegas.
Dalam sekejap, formasi pertahanan terbentuk mengelilingi Trau dan rombongannya.
Beberapa sosok turun perlahan dari langit, para Kesatria Naga.
“Jadi benar kabar itu, Reiffeisen bersaudara sendiri yang berada di sini. Sepertinya firasatku masih tajam,” ujar seorang pria yang menunggangi naga merah.
Dia berambut pirang keemasan dengan semburat merah dengan mata berwarna magenta.
Dia memiliki wajah tampan dengan aura liar yang samar.
Pria itu adalah William van Dramond.
Pangeran Kedua dari Persatuan Kerajaan Egret, dikenal dengan julukan Pangeran Naga.
“Jadi ini Pangeran Naga dari Persatuan Kerajaan... Kudengar Anda seorang kesatria yang menjunjung tinggi kehormatan. Tapi ikut campur dalam pemberontakan pengecut seperti ini, tampaknya semangat kekesatriaan kerajaan Anda sudah jatuh sedalam tanah.”
“Kamu keras sekali, tapi aku tak bisa menyangkalnya. Aku terima tuduhan itu. Benar, aku pengecut. Namun, semua ini demi tanah airku. Kalian pun, yang kembali ke medan ini setelah diturunkan dari barisan depan, bukankah melindungi tanah air sendiri?”
“Kami kembali demi Pangeran Traugott. Bukan demi Kekaisaran, melainkan karena kesetiaan pribadi.”
William menyipitkan mata mendengar si adik Manuel.
Kemudian dia mencabut pedangnya dari pinggang.
“Luar biasa. Tampaknya kamu memang diberkahi bawahan yang setia, Pangeran Traugott.”
“Benar sekali. Mereka terlalu berharga untukku. Namun, Pangeran William... Apakah kamu bermaksud menambahkan kepalaku sebagai catatan kebanggaan dalam riwayat kejayaanmu?”
“Hentikan kesopanan itu, Pangeran. Sebagai adik kandung Putra Mahkota, kedudukanmu sangat istimewa. Kamu berada di luar istana dengan para pengawal. Mungkin kamu membawa sesuatu yang penting. Apa mungkin, Komandan Kesatria Pengawal mempercayakan permata pelangi padamu?”
Pandangan William tertuju pada kantung di pinggang Trau.
Sebenarnya, William dan para Kesatria Naga awalnya hanya diperintahkan untuk berjaga di istana. Dia mengira urusan pemberontakan adalah wewenang Gordon sepenuhnya.
Ayahnya, Raja dari Persatuan Kerajaan, memutuskan untuk mendukung Gordon. William sendiri menentang keputusan itu. Dia memiliki hubungan pribadi dengan Kekaisaran, dan datang karena itu. Di matanya, Gordon seharusnya tidak melakukan pemberontakan demi meraih takhta.
Lagi pula, Kaisar Johannes tak melakukan kesalahan besar. Tidak ada cacat dalam pemerintahannya. Pemberontakan militer hanyalah ambisi pihak bersenjata. Tidak adanya perang justru hal baik bagi rakyat, hasil dari diplomasi yang cermat.
Menumbangkan pemerintahan semacam itu dengan kekuatan militer hanya akan memancing kebencian.
Para bangsawan daerah takkan mengakui Gordon, para pewaris takhta lain akan memberontak di seluruh wilayah, dan Kekaisaran akan terjerumus ke dalam perang saudara besar-besaran.
Dan justru itulah yang diinginkan banyak negara tetangga, baik Persatuan Kerajaan Egret maupun Negara Bagian Cornix.
Kekaisaran yang menguasai pusat benua selama berabad-abad adalah tembok besar yang tak bisa mereka lampaui. Setiap kali mereka mencoba memperluas wilayah, Kekaisaran selalu menghadang. Menyerang Kekaisaran hanya berujung pada kekalahan dan balasan yang lebih kejam.
Namun, bagi William, meraih tanah dari negara yang hancur bukanlah kemenangan sejati. Rakyatnya tak akan berpihak, dan yang didapat hanyalah beban besar.
Dendam tak berkesudahan akan berlangsung selama ratusan tahun. Kecuali jika mereka bisa menaklukkan seluruh Kekaisaran sekaligus, tetapi jika wilayah itu diperebutkan banyak negara, yang lahir hanyalah perang baru.
Dia tahu, Benua Vogel akan memasuki zaman kekacauan. Ayahnya memilih berpihak pada Gordon demi tidak tertinggal, namun William lebih memilih menunggu dan mengamati. Tetapi ide itu diabaikan.
Sebagai negeri kepulauan, Persatuan Kerajaan sebenarnya punya waktu untuk menunggu dan mengamati.
Bahkan sekarang pun dia tidak mengubah pikirannya. Dia menanggap pemberontakan ini hanyalah omong kosong.
Namun pemberontakan itu sudah dilakukan. Maka, satu-satunya hal yang bisa dia lakukan sekarang adalah mengubah hal bodoh itu menjadi langkah cerdas. Sebagai pangeran dari Persatuan Kerajaan dan seorang panglima yang memimpin pasukan, William tahu apa tanggung jawabnya.
Karena itu, pemberontakan Gordon harus berhasil.
Saat mendengar laporan bahwa Komandan Kesatria Pengawal melindungi permata pelangi di ruang takhta, William segera memerintahkan pengawasan dari udara. Jika ada jalan keluar dari ruang itu, maka cepat atau lambat seseorang akan muncul di sana.
Sekilas, keadaan tampak menguntungkan bagi Gordon. Namun, dengan hanya tiga permata, masih ada kemungkinan mereka dikalahkan oleh Pedang Suci.
Mereka butuh permata keempat.
Dan kini, dengan insting tajam serta pandangan strategisnya, William tahu siapa yang membawanya. Karena itulah dia muncul di hadapan mereka.
“Apa yang kamu bicarakan?”
“Silakan bertingkah bodoh, tapi akan kupaksa kamu buka mulut.”
Kata William lalu menyerang Trau dan yang lainnya bersama para anak buahnya.
Para Kesatria Naga sungguh kuat.
Walau naganya berukuran kecil, naga tetaplah naga. Mereka punya kekuatan yang tak tertandingi oleh prajurit biasa.
Bahkan pengawal Trau yang terdiri dari bawahan dekat sang Putra Mahkota tak dapat menghindar dari pertarungan sengit itu.
Mereka harus mengelak gigi dan cakar naga sambil mewaspadai pedang serta tombak Kesatria Naga.
Pertempuran berjalan seimbang. Namun itulah yang diharapkan William.
“Seperti yang diharapkan dari sayap kanan dan kiri Putra Mahkota. Meski tak berada di garis depan, kalian masih berani bertarung denganku.”
“Kamu yang bicara sok tenang padahal dua lawan satu.”
William meladeni Reiffeisen bersaudara tanpa mundur selangkah pun.
Trau mengamati dan mengakui bahwa julukan Pangeran Naga sama sekali bukan sekadar nama kosong.
Kekaguman itu segera berubah menjadi kewaspadaan.
William menyunggingkan senyum tipis.
Merasakan bahaya dalam senyum itu, Trau menengadah tanpa ragu.
“Tajam juga intuisimu, Pangeran.”
“Ugh!”
Tatkala Trau menoleh ke langit, beberapa Kesatria Naga lagi turun menukik.
Serangan selang waktu. William sengaja mengulur perhatian pengawalnya, lalu menyerang saat perlindungan Trau longgar.
Kesatria Naga yang menukik melemparkan tombak ke arah Trau.
Tiga tombak beterbangan.
Dua tombak berhasil ditangkis Trau, tetapi tombak ketiga hanya sempat dia ubah arahnya.
“Guh!?”
Tombak itu menggores sisi kiri perut Trau.
Rasa sakit membuatnya meringis.
Namun dia tidak bisa rebah. Saat seperti ini bukan waktu untuk menyerah pada nyeri.
Kantung yang tergantung di pinggangnya terlepas tersenggol oleh hantaman itu.
Trau melacak kantung yang terjatuh ke tanah dengan pandangan.
Barang itu berarti lebih dari nyawanya sendiri, dan William menyadari itu.
“Rebut kantung itu! Itu permata pelangi!”
Mendengar suara William, para Kesatria Naga bergerak serentak.
Pengawal Trau berusaha mencegahnya, formasi mereka runtuh, dan medan berubah menjadi pertempuran kacau.
Di tengah kekalutan itu, suara yang mengerikan terdengar.
Derap kuda kavaleri.
Trau melirik ke arah derap kuda.
Dari lorong muncul Gordon dan pasukan kavalerinya.
“Gawat!”
Trau berteriak lalu merayap meraih kantung.
Namun dari samping, Kesatria Naga menerjang.
Tombak menembus bahunya. Kesatria itu lalu mengalihkan pandang ke kantung.
Itulah saat yang menentukan nasibnya.
“Jangan anggap remeh aku!!”
Walau bahunya ditusuk, Trau dengan tangannya yang lain menebas dan menumbangkan si kesatria.
Dia berusaha meraih kantung itu, tetapi rasa sakit membuat kepalanya melayang dan lututnya menyerah ke tanah.
Menyesal karena tubuhnya tak sekuat dulu melatihnya, Trau memaksa kakinya untuk bergerak.
Namun kakinya tak kunjung bergerak, sementara musuhnya semakin mendesak.
Cepat, kantung itu. Tatkala Trau meregangkan tangan, seseorang mengambil kantung itu.
Tangan itu kecil dan sudah tak asing di matanya.
“Serahkan padaku...!”
“Jangan! Christa!!”
Yang mengambil kantung adalah Christa.
Para Kesatria Naga melayangkan tombak ke arahnya, namun Rita menangkisnya.
“Terobos lewat jalan! Ku-chan!”
“Ya...!”
Begitu memasuki deretan rumah, para Kesatria Naga kehilangan ruang gerak.
Gordon dan kuda-kudanya pun agak kesulitan menghadapi anak kecil yang berlari lincah.
Keputusan yang tepat.
Karena itulah William berteriak dengan suara paling keras yang pernah didengarnya sejauh ini, “Jangan biarkan dia kabur!!”
Dia memerintah sembari bergerak.
Di tengah semua orang yang menargetkan Christa, Rupert malah terpaku ketakutan di saat tatapan dingin Gordon menyorot padanya.
Apa yang harus dia lakukan?
Haruskah dia menantangnya atau kabur?
Dia harus memilih, tetapi kakinya tak mau bergerak.
Dia terdiam kaku, pilihan yang paling buruk.
Dia tahu itu salah.
Namun tubuhnya tak mengikuti keinginannya. Rasa takut membeku dalam hatinya.
Bagi Rupert, kakak-kakaknya adalah perwujudan ketakutan, dan Gordon terasa paling menakutkan dari semuanya.
Namun suara Alois di sisi memecah kebekuannya.
“Yang Mulia! Yang Mulia! Aku di sini! Tenanglah!”
“A-Alois...?”
Alois menggenggam tangan Rupert yang menjadi putih sekali karena dingin.
Itu menjadi tanda betapa tertekannya Rupeet.
Meski begitu, dia harus membuat keputusan.
Pilihannya untuk membantu, atau melarikan diri.
Kalau mereka maju membantu, Gordon pasti akan menghalanginya.
“Yang Mulia, putuskanlah!”
“Keputusan...”
Alois mendesak Rupert, dan pandangannya tertuju melewati Gordon, melihat Christa yang dikejar.
Dia ingin membantu. Minimal, mengirim Alois dan yang lain untuk membantu.
Namun jika begitu, Rupert sendiri akan terjebak.
Dengan adanya pengepungan pertama, mereka butuh kekuatan untuk menerobos ke gerbang timur.
Jika dia membantu mereka, jalan ke gerbang itu akan tertutup.
Namun dia adalah umpan. Dengan keberadaan benda asli di sana, sudah semestinya dia melindunginya.
Dengan demikian Rupert memutukan untuk mengirim seluruh pengawalnya untuk membantu mereka.
“Membantu...”
Baru saja dia bergumam.
Lalu bisikan Al melintas di benaknya.
Jangan membantu siapa pun yang berada dalam bahaya tepat di depanmu.
Kalau kamu mau membantu, kamu akan mengungkapkan dirimu sendiri yang menjadi umpan.
Kalau itu terjadi, semua kekuatan musuh akan terkonsentrasi.
Jika perannya adalah untuk menyesatkan musuh, maka dia tidak boleh pergi menolong sekarang.
Bahkan untuk melarikan diri pun dibutuhkan keberanian.
Rupert merasakan berat makna kata-kata Fine itu.
Dia tidak ingin meninggalkan mereka. Dia ingin membantu mereka.
Betapa menyakitkan rasanya menekan keinginan itu bagi Rupert.
Namun, dengan gigi terkatup rapat dan air mata yang mengalir, Rupert akhirnya membuat keputusan.
“Kita pergi... Kita akan menarik perhatian pasukan kavaleri itu.”
“Yang Mulia... Dimengerti!”
Alois melindungi Rupert sambil menyeberangi jalan besar, menuju gerbang timur.
Melihat mereka, Gordon mendengus geli.
“Hmph, dasar pengecut. Jijik rasanya memikirkan bahwa pengecut seperti itu adalah adikku.”
“Apa kita biarkan mereka begitu saja?”
“Kejar mereka saja. Tak mungkin pengecut sepertinya membawa permata pelangi. Sasaran utamanya tetap Traugott. Aku akan ke sana.”
“Baik, sergap mereka!”
Pasukan berkuda segera berbalik mengejar Rupelt.
Sementara itu, Gordon yang tertinggal perlahan melangkah ke arah Trau dan rombongannya.
Pandangan matanya tertuju pada William yang berhasil menangkap Christa.
Bagian 7
William berhasil menangkap Christa dalam jangkauan serangannya.
Para Kesatria Naga lainnya sedang sibuk menahan pasukan pengawal, dan satu-satunya yang melindungi Christa hanyalah Rita.
Melompati Rita dengan mudah, William menyusul Christa yang berlari dan meraih lengannya.
“Ah...!”
“Ku-chan!!”
William menarik Christa ke pelukannya, lalu naga yang ditungganginya mulai terbang naik.
Dia bermaksud membawa Christa langsung ke istana.
Namun.
“Uooooooh!!! Aku tak akan membiarkanmu pergi!!!”
“Rita...!!”
Rita berpegangan pada kaki naga yang tengah terbang naik, lalu mulai merangkak ke arah Christa.
Melihat itu, William memperingatkannya.
“Lepaskan tanganmu, gadis kecil. Aku tak ingin membunuhmu.”
“Aku bukan gadis kecil! Aku adalah kesatria pengawal!!”
“Kesatria pengawal?”
Mendengar kata-kata Rita, William sempat mengira itu hanya ocehan anak kecil.
Tapi begitu melihat jubah putih di punggungnya, dia mengubah pikirannya.
Itu memang jubah milik seorang kesatria pengawal. Lambang kebanggaan kesatria terkuat di seluruh benua, yang bergema di setiap negeri.
Bahkan William sendiri menaruh rasa hormat dan kekaguman pada para kesatria itu.
“Jadi kamu tidak membual... Kurasa tidak.”
“Mana mungkin omong kosong! Lepaskan Ku-chan! Kalau tidak, aku akan mengikutimu sampai ke dasar neraka!”
“...Aku iri pada keluarga kekaisaran.”
Christa bukanlah sosok yang menorehkan prestasi di medan perang, atau berjasa dalam diplomasi dan politik. Dia hanyalah seorang putri.
Namun ada orang yang rela mempertaruhkan nyawanya demi dirinya. Seorang anak sebaya yang mengaku sebagai kesatria pengawal, bahkan berani melakukan tindakan nekat dengan bergelantungan di tubuh naga kesatria musuh.
Ketika William seumuran Christa, dia tidak memiliki teman seperti itu. Mungkin ada yang berkata akan melindunginya, tapi tidak satu pun yang benar-benar bertindak seperti gadis itu.
“Keberanianmu layak dipuji... Atas nama keberanian itu, aku akan mengampunimu. Lepaskan tanganmu.”
William perlahan menurunkan ketinggian.
Jika Rita melepaskan tangannya sekarang, dia akan jatuh di atap rumah.
Mungkin dia akan terluka, tapi tidak akan mati.
Namun, Rita justru memanfaatkan kesempatan itu untuk terus memanjat naik.
“Aku tidak mau berpisah dengan Ku-chan!”
“...Kamu akan mati.”
“Sekalipun mati, aku takkan melepaskannya!!”
Rita memanjat tubuh naga yang bergoyang, meraih tangan Christa.
Christa pun mengulurkan tangannya kembali.
Namun tepat saat tangan mereka hampir bertemu, William tiba-tiba menaikkan ketinggian terbang.
Keseimbangan Rita goyah, dia tak punya pilihan selain kembali berpegangan erat pada naga.
“Apa yang kamu lakukan, William!?”
William menaikkan ketinggian karena Gordon datang dari bawah.
Jika dibiarkan, Gordon mungkin akan menyerang Rita.
Maka William harus menghindarinya.
“Jangan ikut campur! Serahkan padaku!”
“Jangan bodoh! Ini bukan waktunya bicara begitu!”
“Bukan punya waktu? Itu urusanmu! Tapi aku juga punya urusanku sendiri! Bayangkan, seorang Pangeran Naga meminta bantuan untuk menyingkirkan seorang anak kecil, kamu ingin seluruh benua menertawakanku!? Jika kamu ikut campur, maka bersiaplah untuk kutebas!”
Setelah berkata demikian, William menjauh dari Gordon.
Dia kembali menurunkan ketinggian dan berbicara pada Rita.
“Jubah itu, siapa yang memberikannya padamu?”
“Kapten Oliver!”
“Begitu... Jadi dia menitipkannya padamu.”
Seorang kapten kesatria pengawal takkan menyerahkan jubah putih itu pada anak kecil tanpa alasan.
Mungkin dia telah melihat masa depan dalam diri gadis ini?
Melenyapkannya akan mudah.
Tapi William tak bisa memaksa dirinya melakukan itu.
“Sebutkan namamu, kesatria pengawal.”
“Rita!!”
“Baiklah, Kesatria Rita. Jubah itu masih terlalu berat bagimu. Jubah itu adalah simbol kekuatan. Saat kamu cukup pantas mengenakannya, kita akan bertemu lagi.”
Usai berkata demikian, William mengambil tombak yang terpasang di pelana naganya, membalik ujungnya, dan menggunakan pangkal besinya untuk mendorong Rita dengan kuat.
Rita terhempas dari naga dan jatuh ke atap rumah. Meski menahan sakit, dia mencabut pedangnya dan melemparkannya ke arah William.
“Uwaaaaah!!!”
“Ugh!”
Pedang itu terbang tepat mengarah ke wajah William.
Namun pedang itu kurang cepat. William memiringkan kepala, menghindar, meski bilah pedang itu sempat menggores pipinya tipis.
Sebagai gantinya, Rita jatuh keras ke atap tanpa sempat menahan tubuhnya.
Melihat itu, William bergumam singkat.
“Hebat.”
Dia menghadiahkan kata pujian bagi Rita, lalu menoleh pada Gordon.
“Aku mendapatkan permata pelangi! Ayo menuju istana!”
“Bagus! Aku sendiri yang akan menempatkannya di atas altar!”
Dengan penuh kemenangan, Gordon menyatakan hal itu, menaiki salah satu naga bawahan William, dan bersama-sama mereka terbang ke langit.
Trau dan yang lainnya mencoba mengejar, tapi saat kedua naga itu terbang semakin tinggi, mereka tak bisa berbuat apa-apa.
Sihir untuk terbang di udara adalah kemampuan tingkat tinggi, hanya segelintir orang yang sanggup bertarung di langit melawan para Kesatria Naga.
“Ugh...! Ayo ke istana!”
“Yang Mulia! Dengan luka itu, Anda tidak boleh memaksakan diri!”
“Cuma goresan sedikit!”
Dengan berkata demikian, Trau—meski darah terus mengalir dari tubuhnya—berusaha melangkah menuju istana.
Namun Wendy menghadangnya.
“Yang pertama harus dilakukan adalah perawatan, Yang Mulia.”
“Nona Wendy...”
“Yang Mulia telah kehilangan terlalu banyak darah. Jika Anda memaksakan diri, nyawa Anda akan terancam.”
Trau memang sudah kehilangan banyak darah saat mengaktifkan Panji Kekaisaran, dan kini lukanya semakin parah.
Jika dia pergi ke istana tanpa dirawat, dia pasti akan tumbang di tengah jalan.
Namun.
“Nyawa tidak penting! Jika aku hidup tanpa bisa menyelamatkan adikku, lebih baik aku mati di sini!”
“Tanpa nyawa, Anda tak akan bisa menyelamatkannya! Tolong, biarkan Anda dirawat terlebih dahulu!”
Trau berusaha menyingkirkan Wendy untuk maju, tapi Wendy tidak bergeming, berdiri teguh menghalanginya.
Saat itu, salah satu pengawal datang sambil menggendong Rita yang terluka parah.
“Dia butuh perawatan segera! Dia juga tak sadarkan diri!”
“Rita...”
Wendy menatap Rita yang tak sadarkan diri dengan pandangan cemas.
Karena tidak sempat menahan tubuhnya saat jatuh, bahu kanannya terkilir, dan tubuh mungilnya penuh dengan luka lecet.
Melihatnya, Trau mengepalkan gigi.
“Tak akan kuampuni mereka...! Bagi pasukan jadi dua! Sisakan pengawal untuk anak-anak, sisanya ikut denganku ke istana!”
“Yang Mulia, itu terlalu berbahaya. Memecah pasukan sekecil ini adalah tindakan bodoh.”
“Jadi kamu ingin kita hanya diam dan menonton!?”
“Itu satu-satunya pilihan. Kita hanya bisa berharap pada Komandan Alida dan Pangeran Arnold yang ada di istana.”
Trau ingin membantahnya.
Dia benci harus bergantung pada harapan yang tak pasti.
Namun tubuhnya sudah mencapai batasnya.
“Guh!?”
Pandangan matanya mengabur. Kakinya tak mampu menopang tubuh lagi.
Ini harga yang harus dibayar setelah kehilangan banyak darah.
“Segera baringkan beliau! Aku akan menutup lukanya! Letakkan juga Rita di sini!”
Dengan wajah yang hampir menangis, Wendy mulai mengerahkan sihir penyembuhan pada keduanya.
Dia sendiri ingin menolong Krista.
Ketika dikepung oleh para elf gelap waktu itu, rasa takut hampir menghancurkan jiwanya. Yang menyelamatkannya saat itu adalah Christa dan Rita. Kebersamaan mereka bertiga adalah waktu yang paling berharga bagi Wendy.
Ketika pemberontakan meletus, Christa bahkan datang menemuinya. Dia tidak meninggalkannya.
Betapa bahagianya Wendy saat itu.
Namun kini, dia harus memilih dengan kepala dingin.
Jika Trau dipaksa bergerak, dia akan mati. Rita juga dalam kondisi kritis.
Bahkan jika Christa bisa diselamatkan, Wendy tahu Christa takkan bahagia jika kedua orang itu kehilangan nyawanya demi dirinya.
Maka dia mencurahkan seluruh tenaga untuk menyembuhkan mereka berdua.
Meskipun sihir penyembuhan bukanlah keahliannya, Wendy tak punya pilihan lain.
Untungnya, pasukan berkuda yang dibawa Gordon telah berbelok mengejar Rupert dan yang lainnya.
Itu memberi mereka waktu untuk melakukan perawatan.
Namun, kenyataannya tetap, mereka tertahan cukup lama di sana.
Dan setiap menit yang terbuang berarti angin kemenangan semakin berpihak pada Gordon. Itulah sebabnya, di langit tinggi, Gordon tertawa lepas.
“Hahahahaha!! Kemenangan sudah di tanganku!!”
Sambil mendengar tawa itu, William menunduk melihat Christa yang dipeluknya.
Gadis itu diam, matanya terpaku ke bawah, ke arah tempat Rita jatuh.
Dia yakin Rita masih hidup, tapi luka gadis itu pasti sangat parah.
Bahkan di ambang kematian, Rita masih sempat menargetkan lehernya dengan pedang.
William yakin, bila gadis itu tumbuh dewasa, dia akan menjadi kesatria yang luar biasa.
Akan tetapi...
“William, kamu ceroboh. Bisa-bisanya kamu terluka oleh anak kecil, nama Pangeran Naga ternodai.”
“Itu bukan karena aku ceroboh. Aku tetap waspada sampai akhir. Karena itu, kepalaku masih ada di sini.”
“Hmph, kamu tampak kesal. Luka kecil itu membuatmu murung, ya?”
“Yang membuatku murung adalah tawamu yang menjijikkan, Gordon. Dan dengarkan baik-baik. Apakah luka ini memalukan atau terhormat, aku yang menentukannya. Luka ini adalah bukti keberanian seorang kesatria yang melindungi tuannya tanpa peduli nyawa sendiri. Tak berbeda dengan luka yang kudapat dari lawan-lawan terhormat di medan perang. Ini adalah luka kehormatan. Dan terhadap luka ini, maupun kesatria yang memberikannya, aku takkan membiarkan siapa pun menghinanya.”
Usai berkata demikian, William menjauh dari barisan dan terbang sendirian menuju istana.
Lalu dia berbisik pelan.
“Jadi kamu bahkan tak mampu lagi menghormati musuhmu, Gordon...”
Waktu telah mengubah sahabat lamanya.
Menyadari itu, William merasa gelisah akan masa depan.
Mereka yang sombong selalu terpeleset oleh kesombongan mereka sendiri. Sejarah telah membuktikan itu.




Post a Comment