Penerjemah: Chesky Aseka
Proffreader: Chesky Aseka
Epilogue
Di sebuah benteng di wilayah utara Kekaisaran.
Di sana, Leo menyaksikan cahaya berwarna pelangi naik ke langit.
“Sepertinya terjadi sesuatu di Kekaisaran Suci.”
“Tampaknya begitu. Tapi itu bukan urusan kita sekarang. Aku akan kembali ke benteng cabang malam ini. Waktu kita tidak banyak.”
Wyn, sang penasihat militer Leo, membentangkan peta di atas meja dan mulai menempatkan bidak-bidak di atasnya.
Bidak yang melambangkan pasukan mereka berada di dalam benteng, terkepung oleh banyak bidak musuh. Jumlah musuh jauh lebih banyak.
“Mari kita tinjau situasinya. Karena Aliansi Bangsawan Utara yang sejak awal tak punya niat bertarung dengan cepat kabur, pasukan utama kita juga terpaksa mundur. Kita memang berhasil bertahan di benteng ini, tapi kita tidak bisa selamanya bertahan. Sementara itu, untuk menerobos musuh, kekuatan kita tidak cukup. Hampir tidak ada langkah yang bisa kita ambil.”
“Iya, maafkan aku. Tapi kita harus melakukan sesuatu.”
“Kalau mau minta maaf, lebih baik dari awal dengarkan saranku. Aku sudah bilang jangan percaya pada Aliansi Bangsawan Utara.”
“Memang, tapi aku berada pada posisi di mana aku harus menunjukkan bahwa aku percaya pada mereka juga. Mereka membenci keluarga kekaisaran. Kalau aku bersikap seolah mereka tidak ada, yang ada hanya menambah musuh.”
“Mungkin. Tapi kalau kita kalah di sini, mereka akan langsung berpihak pada musuh. Saat ini mereka belum membantu musuh karena kita masih bertahan. Tapi kalau situasinya semakin menguntungkan musuh, mereka akan beralih ke pihak itu. Memilih mundur adalah langkah terburuk.”
“Kalau begitu, apa langkah terbaik?”
“Bukankah sudah kubilang? Hampir tidak ada langkah yang bisa kita ambil. Benteng sedang dikepung, para bangsawan yang menguasai utara tidak bisa dipercaya, dan kesempatan datangnya bala bantuan pun amat kecil... Tapi meski begitu, satu-satunya pilihan adalah tetap bertahan dan berharap bantuan untuk datang.”
“Artinya sekarang masa untuk bertahan?”
“Kalau aku seorang ahli strategi kelas kakap, mungkin aku bisa membalikkan situasi buruk seperti ini dengan taktik yang tidak terduga... tapi aku ini hanya kelas teri. Yang bisa kuusulkan cuma langkah-langkah wajar. Maaf.”
“Wyn, kamu itu hebat. Lebih daripada yang kamu kira. Situasinya juga tidak seburuk itu sampai kita perlu bertaruh dan bertindak gegabah. Kita bertahan, menunggu kesempatan membalikkan keadaan. Menurutku, itu langkah terbaik.”
Sambil berkata begitu, Leo menaruh satu bidak di sebelah bidak-bidak mereka dari pinggir papan.
Bidak itu melambangkan bala bantuan.
“Kenyataannya tidak semudah itu. Pasukan tidak bisa muncul begitu saja.”
“Masih ada pasukan di pusat Kekaisaran yang bisa bergerak.”
“Pusat pemberontakan adalah pihak militer itu sendiri. Pasukan yang tidak bisa dipercaya tidak bisa digunakan. Karena itu Paduka Kaisar menempatkan para anggota keluarga kekaisaran sebagai komandan. Tapi jumlah mereka tidak cukup. Kalau berharap bantuan, pasti dari timur.”
“Tidak, kupikir bala bantuan akan datang dari pusat.”
“Atas dasar apa?”
“Kakak pasti datang. Aku punya firasat.”
Leo tersenyum tipis sambil menatap ke arah pusat Kekaisaran.
Previous Chapter | ToC |



Post a Comment