NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saikyou Degarashi Ouji no An’yaku Teii Arasoi V10 Chapter 3

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Chapter 3

 Gabungan Peringkat SS

Bagian 1

“Divisi Ketujuh Garnisun Barat yang bertugas menghadang telah hampir seluruhnya hancur! Naga itu masih terus bergerak menyerbu kota kita!” 

“Keuh...”

Vengerov, penguasa Karelia—kota terbesar di wilayah barat Kekaisaran Suci—hanya bisa mengerang menanggapi laporan yang begitu putus asa. 

Rambut panjang memutih dan janggut putih. Usianya telah lewat enam puluh tahun. Selama hidupnya sebagai penguasa kota terbesar di barat, dia berkali-kali bertempur melawan Kekaisaran Adrasia, seorang veteran yang telah melewati banyak medan perang. Namun sekalipun, dia belum pernah menghadapi monster yang mampu memusnahkan pasukan penghadang secepat itu. 

“Apa pendapat dari Guild Petualang?” 

“Mereka mengatakan kemungkinan itu adalah naga yang pernah disegel di masa lampau... Atau, mengingat betapa tuanya dungeon tempat kemunculannya, bisa jadi monster yang berhubungan dengan iblis.” 

“Omong kosong... Naga raksasa tiba-tiba muncul di dalam wilayah negara besar... Naga yang pernah disegel di masa lalu!? Apa dulu para penyihir bisa melakukan apa saja sesuka hati!?” 

Vengerov menghentakkan pedang yang dia genggam ke lantai. 

Pedang yang telah menemaninya bertahun-tahun di medan perang itu kini tak berbeda dari sebatang kayu baginya. 

“Ciri-ciri naganya?” 

“Tubuhnya tertutup sisik hitam legam, berkaki empat... panjang tubuhnya puluhan meter. Memiliki dua tanduk dan mata merah. Kemampuannya tidak diketahui... hanya itu yang berhasil kami dapatkan.” 

“Jadi para petualang pun tak sempat mengumpulkan informasi yang memadai sebelum tumbang...” 

Vengerov menatap tembok kota Karelia yang menjulang tinggi. 

Kota-kota di wilayah barat, dekat perbatasan Kekaisaran, sudah dipersiapkan sepenuhnya untuk mengantisipasi invasi. Di antara semuanya, Karelia adalah kunci utama pertahanan, dengan sistem pertahanan terbaik. Tapi itu hanya berlaku untuk melawan manusia. 

“Tak kusangka ada hari ketika Karelia tampak begitu rapuh...” 

Dia berbisik, lalu terdiam. 

Vengerov tak lagi punya keluarga. Istrinya meninggal saat masih muda, dan putra sulungnya gugur di medan perang saat melindungi dirinya dari serangan Kekaisaran. 

Bagi Vengerov, rakyat Karelia adalah keluarga. 

Karena itu, dia membuat satu keputusan. 

“Kumpulkan anak-anak, wanita, dan para lansia. Kita evakuasi mereka keluar dari Karelia.” 

“B-Baik! Tapi ke mana? Melarikan diri ke pusat Kekaisaran Suci sangat berbahaya!” 

Jalur menuju pusat Kekaisaran Suci justru berada di arah naga itu bergerak. Menuju ke sana adalah pilihan terburuk. Namun mengungsi ke kota-kota sekitar pun tak menjamin keselamatan, ancaman sang naga tetap menghantui. 

Tidak ada tempat dan jalur yang aman. 

Kecuali satu. 

“Kita arahkan mereka ke perbatasan timur Kekaisaran.” 

“K-Ke perbatasan timur Kekaisaran!? Apa Anda waras!?” 

“Tentu saja. Aku telah berkali-kali bertempur melawan Kekaisaran. Karena itu, aku sangat mengenal keluarga Ardler. Keluarga pemimpi yang berkuasa di pusat benua. Setiap pangeran dan putri yang turun ke medan tempur semuanya berbakat, menakjubkan.” 

“Itu benar! Bahkan Tuan Muda pun, wafat di tangan mereka!” 

“Aku yang membunuh putraku. Dialah yang menentang perang. Tapi aku menyeretnya ke medan tempur. Pasukan Kekaisaran hanya menghalau pasukan kita yang menyerbu mereka. Setelah itu pun kita tetap berperang. Saling membunuh. Dan setiap kali jeda perang, keluarga kekaisaran muncul di garis depan. Aku ingin membunuh mereka... sangat ingin. Namun justru karena itu, aku tahu mereka adalah orang-orang yang bisa dipercaya. Mereka tak akan meninggalkan warga sipil.” 

“Tapi! Kekaisaran sedang dilanda perang saudara! Mereka tak punya kapasitas menampung pengungsi!” 

“Kamu tidak mengerti. Bagi mereka, urusan pribadi tidak penting. Mereka akan menampung rakyat, dan akan mencari cara untuk menyelamatkannya. Dan mereka cukup mumpuni untuk mewujudkannya. Terutama sang Putri Jenderal, dia adalah sosok yang luar biasa. Dalam situasi seperti ini, tidak ada jenderal yang lebih bisa diandalkan.” 

Sebagai tanda bahwa diskusi sudah selesai, Vengerov kembali mengeluarkan perintah. 

“Kumpulkan para warga yang akan dievakuasi di gerbang barat! Yang masih bisa bertarung, berkumpul di gerbang timur! Kita tahan naga itu walau hanya sedetik lebih lama!” 

“B-Baik, Tuan! Jika saja para petualang peringkat SS sempat tiba...” 

“Petualang peringkat SS yang muncul di mana-mana... Jika yang datang adalah Silver, yang katanya selalu muncul tak terduga, mungkin saja dia bisa. Tapi sayang... dia adalah petualang SS dari Kekaisaran. Dia tak akan datang ke pihak kita. Begitu pula No Name, tak mungkin sempat. Kejadiannya terlalu mendadak.” 

Permintaan bantuan untuk petualang SS sebenarnya sudah dikirim. 

Namun menghadapi monster yang mampu memusnahkan pasukan dalam sekejap, bahkan petualang berperingkat tinggi pun hanya bisa menjadi penghambat kecil. 

Dalam keadaan seperti itu, hukum umum benua adalah kirimkan kekuatan terbesar, berapa pun berlebihnya. Dan karena itu pula petualang SS ada. 

Tapi serangan mendadak kadang mustahil dihadapi tepat waktu. Dan Vengerov tahu bahwa kali ini adalah salah satu contoh dari itu. 

Karena itulah dia memilih untuk memerintahkan evakuasi. 

“Kalau begitu, aku berangkat.” 

Bertekad untuk mengorbankan nyawanya, Vengerov mengambil kembali pedangnya dan memasangnya di pinggang.


* * *


Razeff, seorang petualang peringkat A dari cabang Guild Petualang Karelia, adalah pemuda yang penuh mimpi. 

Dia menjadi petualang karena ingin menjadi pahlawan. 

Dia selalu percaya bahwa suatu hari nanti dia akan berhadapan dengan monster kuat, bertarung mati-matian, dan akhirnya menaklukkannya, lalu namanya akan dikenal semua orang. 

Namun kini, ketika “monster kuat” yang selama ini dia impikan berdiri tepat di depan mata, Razeff tidak bisa menggerakkan satu langkah pun. 

Monster yang mendekat sampai begitu dekat ke Karelia itu adalah seekor naga hitam. 

Seekor naga raksasa dengan panjang tubuh puluhan meter. Jika membentangkan sayapnya, ukurannya akan jauh lebih besar. Hanya dengan bergerak maju, ia menebar bencana. Naga itu sama sekali tidak berbeda dari bencana alam. 

Di hadapan naga seperti itu, Razeff bahkan tak mampu mengangkat pedang kesayangannya. 

“Ha, haha...” 

Tawa kering lolos dari bibirnya. 

Di atas tembok kota, penguasa wilayah, para kesatria, dan para petualang menembakkan panah maupun sihir sebagai bentuk perlawanan putus asa, namun tak terlihat sedikit pun efeknya. 

Kenyataan jauh lebih kejam dibanding khayalan yang dia impikan. 

Razeff selalu mengira bahwa bahkan monster yang harus ditangani petualang peringkat SS sekalipun, setidaknya masih bisa dia hadapi sedikit saja. 

Namun kini dia benar-benar mengerti. 

Ini bukan pertarungan. 

“Kita ini cuma batu kerikil di jalan...”

Seperti manusia yang tak pernah peduli dengan batu di jalan, begitu pula naga itu tak akan peduli dengan manusia. 

Dan seperti halnya batu tak mungkin melawan manusia, manusia pun tak mungkin melawan naga ini. 

Sekalipun berdiri di arena yang sama pun mereka tidak layak. 

Teknik pedangnya yang selama ini ampuh, pengalaman bertahun-tahun sebagai petualang, semuanya tak ada artinya. 

Skalanya terlalu berbeda. 

Kenapa dulu dia bermimpi seperti itu? 

Razeff merasa ingin menyalahkan dirinya yang masih kecil. 

Dia pernah bermimpi menjadi petualang yang dapat menolong siapa pun. Dan karena mimpi itu, dia berdiri di sini sekarang, untuk kemudian menyadari bahwa semua itu sia-sia. 

Selama tetap menjadi manusia, mustahil menang melawan sesuatu yang berada di luar nalar. 

Itulah batas spesies yang disebut manusia. 

Dengan pikiran itu, Razeff menunduk. 

Lalu langit mendadak menggelap. 

Bingung, Razeff mendongak dan berbisik, “Ah... Sungguh mimpi bodoh...”

Di atas tembok berdiri kaki depan monster itu. 

Kaki itu turun dengan sangat cepat. 

Seperti menginjak batu kerikil di jalan, sang naga menginjak tembok kota dan menerobos Karelia. 

Dengan itu, Razeff menggigil. 

Bukan karena takut. 

Melainkan karena dia marah. 

“Konyol... Jangan remehkan manusia!!” 

Walau tahu tak ada gunanya, Razeff mengangkat pedangnya ke langit. 

Walau ida sadar tindakan itu sia-sia, dia ingin memberikan sedikit saja perlawanan. 

Asal naga itu merasa sedikit sakit pun sudah cukup. 

Itulah harapannya saat mengangkat pedang itu. 

Namun. 

“Eh...?” 

Pada saat yang sama, naga itu terpental jauh keluar kota. 

Razeff sempat salah paham dan mengira kekuatan tersembunyi dalam dirinya akhirnya bangkit dan mementalkan sang naga. 

Dia sempat merasakan seberkas kegembiraan. 

Namun seketika itu juga, rasa itu hancur oleh tekanan luar biasa yang menyeruak dari atas. Perlahan, dia menengadah ke langit. 

Di sana, melayang seorang penyihir berbalut jubah hitam, dengan wajah tertutup topeng perak. 

“Kalian sudah bertahan dengan baik. Para kesatria dan petualang Karelia, dengarlah. Mulai saat ini, monster musuh akan ditangani oleh lima orang petualang peringkat SS. Aku ulangi—monster musuh akan ditangani oleh lima orang petualang peringkat SS. Serahkan sisanya pada kami.” 

Suaranya menjangkau semua orang di atas tembok. 

Namun sebelum mereka dapat bersorak bahagia, satu pertanyaan muncul serempak. 

“Lima orang...?”


Bagian 2

Seekor naga raksasa berusaha menginjak hancur tembok kota Karelia.

Serangan dari kaki depannya berhasil ditahan oleh penghalang, lalu penghalang itu mendorong tubuh raksasanya ke belakang, menghentikan gerakannya. 

Kemudian... 

“Kalian sudah bertahan dengan baik. Para kesatria dan petualang Karelia, dengarlah. Mulai saat ini, monster musuh akan ditangani oleh lima orang petualang peringkat SS. Serahkan sisanya pada kami.”

Peringatan bagi mereka yang berada di sekitar tembok.

Bahwa kekuatan yang dikerahkan untuk menghadapi monster raksasa ini sebenarnya berlebihan. 

“Kalian datang juga, rupanya...” 

Di atas tembok kota

Seorang pria tua dengan ciri khas janggut putih bergumam kecil.

Di sekelilingnya berdiri beberapa kesatria yang tampak seperti pengawal. 

“Kamu yang merupakan Tuan Penguasa wilayah?” 

“Benar. Aku Vengerov, penguasa Karelia. Aku ingin bertanya: apa kamu Silver?” 

“Ya. Kebetulan aku sedang berada di markas pusat, jadi kukira sekalian saja mampir. Empat orang lainnya juga ikut.” 

“S-Soal itu... apa artinya lawan kali ini sampai harus menghadirkan kalian berlima...?”

“Tidak begitu.” 

“Kami datang karena sedang senggang saja.” 

Entah sejak kapan, No Name sudah berdiri di sampingku di udara.

Sementara itu, Egor tiba-tiba sudah duduk di sebelah penguasa, entah dari mana membawa kursi dan menyeruput teh tanpa suara. 

Kemunculan mendadak itu membuat Vengerov tersentak mundur dan hampir kehilangan keseimbangan. Namun seseorang sigap menopangnya. 

“Pikirkan dulu cara bicaramu, Kakek Egor. Ah, maaf ya, Tuan Penguasa.” 

Yang menopang Vengerov adalah Lienares.

Secepat itu gerakan mereka. Memang luar biasa. 

Kami melakukan teleportasi ke pinggiran kota. Aku langsung bergerak menuju tembok dengan teleportasi, tetapi mereka bertiga menyusul hanya dengan bergerak biasa. Bahkan Egor entah bagaimana sempat mengambil kursi dan teh. 

“Di mana Jack?” 

“Katanya dia mau pergi minum.” 

“Begitu ya. Mohon maaf, Tuan Penguasa. Yang akan bertarung ada empat orang.” 

“Satu saja sudah cukup.” 

Begitu aku mengoreksi, No Name langsung menimpali dan mencabut pedang sihir Dis Pater.

Aku segera menonaktifkan penghalang yang menahan naga itu, lalu menggantinya dengan penghalang lain yang mengurung area di sekitar raksasa naga, agar serangan pedang sihir itu tidak menghancurkan sekeliling. 

No Name mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, lalu mengayunkannya sekuat tenaga. 

Seketika itu juga, tebasan raksasa yang tersusun dari sihir pekat meluncur menuju naga.

Tebasan itu menghantam telak, dan debu tanah membubung memenuhi area. 

“Entah itu naga atau iblis, tidak ada bedanya. Aku seorang diri pun sudah cukup.” 

Aku menghela napas mendengar kesombongan No Name.

Lalu aku bertanya pada Egor, sosok yang paling paham soal monster di sini. 

“Kakek Egor. Apa kamu mengenali naga itu?” 

“Tidak. Kalau sampai disegel, besar kemungkinan itu terkait dengan iblis.” 

“Aku sependapat. Dulu aku pernah membaca dokumen tentang naga dengan ciri-ciri yang mirip.” 

“Kalau begitu, kemungkinan besar memang itu.” 

“Kalau benar, ini tidak akan mudah.” 

“Tak ada naga yang mudah ditangani,” gumam Egor sembari menyeruput teh. 

Debu perlahan tersibak.

Dan di baliknya, naga raksasa itu berdiri tanpa luka sedikit pun. 

“Tadi aku terlalu menahan diri agar tidak merusak medan.” 

“Itu mungkin juga penyebabnya, tapi... pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan.” 

Bagaimanapun kuat dan tangguhnya naga itu, tubuhnya terlalu bersih. No Name tidak pernah menahan serangan sedemikian lunak.

Buktinya, penghalang yang aku buat untuk melindungi medan sudah hancur.

Satu-satunya yang selamat hanyalah naga itu. 

“Kelihatannya lebih kuat dari dugaanku. Kalau begitu, bukankah lebih baik kita semua saja yang turun tangan?” 

“Memang. Badan juga perlu olahraga.” 

Egor bangkit dari kursinya. Lienares memutar bahu, bersiap.

No Name mulai memadatkan lebih banyak sihir pada Dis Pater, mungkin berniat melancarkan serangan yang jauh lebih kuat. 

Aku memperingatkan mereka bertiga. 

“Kalian boleh bertarung, tapi jangan mengubah bentuk medan.” 

“Itu sulit. Kami harus menebas cukup serius.” 

“Kalau ingin melenyapkannya total, dua gunung di belakangnya pasti ikut hilang.” 

“Sebagai petualang peringkat SS dari Kekaisaran, apa kamu menahan diri? Tidak perlu sungkan. Jika dibiarkan, kerusakannya bisa lebih besar.” 

“Kalian tidak dengar? Clyde sudah bilang tadi, jangan mengubah geografi.” 

Egor mengernyit, Lienares menghela napas kecil sambil menempelkan tangan di pipinya.

No Name tetap bersiap dengan pedangnya. 

“Dalam kondisi di mana Clyde sedang unggul seperti ini, kalau kita menyebabkan kerusakan besar di wilayah ini, dampaknya bisa saja ditimpakan pada Clyde. Jadi jangan mengubah geografi.” 

“Benar juga. Lagi pula kita datang berlima, jadi sebaiknya kita tepati janji kita.” 

“Meski begitu, lawannya tidak bisa dikalahkan sambil menahan diri. Bagaimanapun juga, ia baru saja menahan satu tebasan No Name.” 

“...Kalau begitu, karena ada lima orang, bukankah kalian bisa kembali saja? Kalau kalian tidak ada, kami bisa bebas bertarung.” 

“Jangan pikir kalian bisa seenaknya setelah memaksaku memakai teleportasi. Aku tidak akan mengizinkan ada perubahan medan di sini.” 

“Aneh sekali. Jika Kekaisaran Suci terluka, Kekaisaran justru diuntungkan, bukan? Pasukan penjaga perbatasan timur bisa dipindahkan.” 

“Ini bukan soal negara. Yang harus ditolong adalah rakyat. Warga di sekitar sini sudah menderita akibat monster itu. Kita harus mencegah kerusakan lebih jauh.” 

Sambil mengatakannya, aku menyapu pandangan ke sekitar. 

Meski wilayah ini rusak, kekuatan militer Kekaisaran Suci tidak akan goyah. Itu memang sifat negara itu.

Yang akan susah justru para prajurit dan warga di sini. 

Dan yang lebih penting, saat ini aku bukan pangeran Kekaisaran. 

Aku seorang petualang.

“Aku jelaskan dulu quest-nya. Kita harus meminimalkan kerusakan di sekitar sambil menaklukkan naga itu. Ada sesuatu yang menjadi kunci dari ketahanan tubuhnya yang luar biasa. Pertama-tama, kita cari tahu itu.” 

“Aduh... untuk sekadar mengisi waktu luang, tingkat kesulitannya tinggi sekali.” 

“Aku jadi bingung. Aku itu tidak pandai menahan diri.” 

“Serangan terakhir biarkan aku yang melakukannya. Itu syaratku.” 

“Terserah kalian. Baiklah... untuk sekarang kita sambut serangannya. Dia datang.” 

Begitu aku mengucapkannya... 

Naga itu membuka mulutnya. Sihir terus berkumpul dan semakin terkonsentrasi. 

Lalu terbentuklah sebuah massa cahaya hitam. Sepertinya itu adalah napas serangannya. 

“Ngomong-ngomong, Silver. Kamu bilang pernah membaca tentang naga itu di literatur kuno. Apa namanya?” 

“Naga Dunia Lain... Nidhoggr. Kabarnya berasal dari dunia iblis.” 

“Astaga. Menyusahkan sekali. Kelihatannya jauh lebih kuat dari bayangan kita.” 

“Tidak relevan.” 

Dia melepaskan tebasan besar dengan memanfaatkan sihir yang telah dia kumpulkan dalam Dis Pater.

Serangan itu disusul oleh tebasan Egor, dan pukulan lurus Lienares. 

Ketiga serangan itu bertabrakan dengan napas Nidhoggr. Sementara menahan gelombang kejut yang mengamuk di sekeliling, aku menghela napas pelan. 

“Sepertinya menjaga kota dari mereka bertiga lebih sulit daripada menghadapi naganya sendiri...”


Bagian 3

Cahaya menyilaukan memancar. Sesaat kemudian, hentakan dahsyat meledak meluas ke segala arah. 

Namun sebelum guncangan dan ledakan itu mencapai kota, semuanya terhenti oleh penghalang. 

Meski begitu, menyaksikan pertarungan yang jelas-jelas melampaui nalar manusia, para kesatria dan petualang di atas tembok kota sudah lemas tak berdaya, sebagian bahkan jatuh terduduk. 

“Aku bisa menjamin keselamatan kota dan wilayah sekitarnya, tapi bagi yang hatinya lemah, sebaiknya tetap berdiam di rumah. Termasuk kamu, Tuan Penguasa.” 

“Terus terang... aku ingin segera kembali ke kediaman. Tapi kota ini adalah segalanya bagiku. Jika aku tak setidaknya menyaksikan apa yang terjadi, bagaimana aku bisa menyebut diriku penguasa dengan kepala tegak setelah ini?” 

“Kalau begitu, aku tak akan mencegahmu.” 

Sambil mereka bercakap, hembusan ledakan perlahan mereda. 

Karena dilindungi penghalang, kerusakan pada medan sangat minimal. Dan Nidhoggr tetap tak tergores satu luka pun. Meski bagi pihak naga itu sendiri, mungkin fakta bahwa napasnya berhasil dinetralisir jauh lebih mengejutkan. 

“Kalau ini dibiarkan berlarut, lama-lama daerah sekitar berubah jadi tanah hangus.” 

“Kalau kamu sudah tahu, cepat selesaikan.” 

“Egor, Lienares. Bantu aku. Aku akan mendekat dan menebasnya.” 

No Name, yang sejak awal meminta syarat untuk mendapatkan serangan terakhir, langsung memberi instruksi pada Egor dan Lienares. Dia mungkin menilai bahwa pertarungan jarak jauh tidak akan menuntaskan apa pun. 

Penilaian itu benar. Namun sepertinya lawan juga berkesimpulan sama. 

Kabut hitam pekat mulai menyelimuti tubuh Nidhoggr. 

Dan dari dalam kabut itu, sesuatu mulai melesat keluar serentak.


* * *


Yang terbang keluar adalah seekor burung. Namun itu jelas bukan burung biasa. Burung itu hanyalah rangka tulang belaka. 

Asap hitam yang sebelumnya menyelimuti Nidhoggr berubah menjadi kawanan burung-burung tulang itu. 

Bentuknya saja sudah tidak wajar, dan kecepatannya pun jauh melampaui burung normal. 

Kawanan itu, berjumlah ribuan, melesat menuju kota. 

“H-Hiii!?!?” 

“Apa itu!?” 

“Mereka ke sini!!” 

Teriakan bergema dari berbagai titik di atas tembok kota. 

Namun aku tidak melakukan apa pun untuk menanganinya. 

“Pertahanan kota kuserahkan pada kalian. Aku fokus melindungi sekitar dari serangan No Name.” 

“Urusan seperti itu memang paling cocok untukmu, bukan?” 

“Kalau kalian bisa menjaga medan tetap utuh sambil mengalahkan naga itu, silakan ambil alih.” 

“Jawaban menyebalkan. Seakan-akan kami ini tidak berguna, duh.” 

Lienares memalingkan wajah dengan kesal. 

Memang benar, baik Lienares maupun Egor bukan orang yang cocok untuk pertahanan. Keunggulan mereka sepenuhnya ada pada daya hancur yang luar biasa. Bukan untuk melindungi, tapi menyerang. Yang terbaik adalah membiarkan mereka menghadapi musuh kuat satu lawan satu. 

Namun No Name bersikeras ingin mendaratkan serangan terakhir pada Nidhoggr. Mau tak mau formasi ini yang paling aman. Tidak peduli seberapa banyak makhluk kecil itu muncul, ancaman yang sesungguhnya tetaplah Nidhoggr. Mustahil membiarkannya. 

“Mereka datang.” 

Begitu aku berkata begitu, Lienares langsung bergerak. 

Kawanan burung tulang itu mulai mendekati kota. 

Lienares menembakkan rentetan pukulan ke udara. 

Pukulan berkecepatan tak terlihat itu memicu gelombang kejut yang menyapu dan menghancurkan kawanan burung sedikit demi sedikit. 

Namun jumlah mereka terlalu banyak untuk dimusnahkan seluruhnya. 

“Harus menahan diri itu merepotkan. Sisanya boleh kuserahkan padamu?” 

“Baiklah.” 

Sisa burung yang belum hancur berjumlah sedikit. 

Mereka menembus garis pertahanan dan menuju ke balik tembok. 

Banyak warga belum sepenuhnya mengungsi. Jika kawanan itu masuk kota, masalah besar akan muncul. 

Meski begitu, Egor tidak bergerak. 

“S-Silver! Burung-burung itu menuju kota!!” 

Tak tahan melihat Egor tetap diam, Vengerov memohon padaku. 

Namun aku tengah menahan gerakan Nidhoggr dengan penghalang sambil menyiapkan penghalang kuat lainnya. No Name sedang menumpuk kekuatan di sampingku, jadi aku pun harus bersiap. 

Sebagai gantinya, Egor hanya berucap pendek. 

“Sudah kutebas.” 

“Eh...?” 

Vengerov memandang burung-burung yang tersisa. 

Di sekitar pusat kota, burung-burung itu seketika tercerai-berai dan hancur hingga tak menyisakan bentuk sedikit pun. 

“Cepat bereskan. Kami tidak cocok untuk urusan pertahanan.” 

“Meski kamu mendesak, ini tetap merepotkan. Menahan tubuh sebesar itu sambil menyiapkan penghalang untuk menjaga medan juga bukan pekerjaan mudah.” 

“Bagaimana kalau kamu pindahkan saja ke udara? Di langit, tak ada medan yang perlu kamu lindungi, bukan?” 

“Kamu pikir berapa banyak sihir yang harus kukuras hanya untuk melayang-layangkan tubuh raksasa itu? Baik teleportasi atau metode lain, menghancurkannya jauh lebih hemat.” 

Kalau memang tak ada pilihan lain, mau bagaimana lagi. Tapi di sini ada banyak petarung kuat. 

Mengandalkan teknik melelahkan semacam itu terlalu membuang tenaga. 

Apalagi setelah ini aku harus memakai teleportasi lagi untuk mengembalikan mereka. Aku tak mau membuang lebih banyak energi. 

Baru saja pulih, aku tidak mau sampai perlu tidur lama lagi. 

Selain itu, kemunculan Nidhoggr ini terasa sangat disengaja. 

Jika aku satu-satunya yang sedang menjalani sidang di markas tadi, akulah yang harus menghadapi makhluk ini seorang diri. Dan untuk mengalahkannya, aku pasti akan menggunakan teknik yang mengubah bentuk medan. Itu hanya akan membuat sidang menjadi lebih pelik. 

Pada akhirnya aku tak bisa menghindari konsumsi sihir.

Energi sihir dan waktu. Ada yang mengambil celah dari kedua itu

Seseorang telah merencanakannya, entah dari Kekaisaran atau negara lain. 

Tujuannya tidak jelas, tapi pastinya ada pihak yang dirugikan jika seorang petualang bernama Silver ada di wilayah Kekaisaran. Orang-orang itu pasti yang menggerakkan semua ini. 

Ya, aku bisa paham mengapa mereka ingin menyingkirkanku. Dengan semua aksiku yang secara terang-terangan menguntungkan Kekaisaran, mereka tentu ingin menyingkirkanku. 

Jika sidang dan semua ini adalah ulah mereka... maka mengikuti skenario mereka adalah hal terakhir yang ingin kulakukan. Memang merepotkan, tapi aku akan memanfaatkan para pembuat onar ini seefektif mungkin untuk menghemat tenaga. 

“Karena itu, sedikit kerusakan medan seharusnya bisa dimaklumi.” 

“Kalau petualang SS sebanyak ini berkumpul dan tetap tidak bisa melakukannya tanpa merusak medan, kita hanya akan ditertawakan.” 

“Kalau begitu... aku berharap pada usahamu.” 

No Name mengangkat Dis Pater tinggi-tinggi. 

Lalu dia mengayunkannya. Cahaya menyilaukan memancar bersamaan dengan gelombang sihir yang mengalir deras menuju Nidhoggr. 

Aku menahan gerakan naga itu sekuat tenaga dan menegakkan penghalang di sekelilingnya. 

Tak ada tanda-tanda dia hendak mengeluarkan napas serangan. Bahkan naga dari dunia iblis takkan lolos tanpa luka jika terkena serangan ini secara langsung. 

Atau begitulah dugaanku... Namun di hadapan Nidhoggr, kabut hitam pekat muncul kembali. Jauh lebih tebal daripada sebelumnya. 

Kabut itu menerima serangan No Name sebagai gantinya. 

Setelah ledakan, Nidhoggr masih berdiri tanpa luka sedikit pun. Jadi serangan pertama pun ditahan oleh kabut itu. 

Meski kabut itu hilang setelah menerima serangan, artinya ia bukan tak terkalahkan. Namun bagi kami yang harus menahan diri agar medan tidak rusak, kemampuan itu sangat menyulitkan. 

Namun masalah sesungguhnya bukan pada kemampuan itu, melainkan sosok yang menggunakannya. 

“Pantas kemampuan itu terasa aneh untuk Nidhoggr...”

Di atas kepala naga itu, berdiri sesosok siluet manusia. 

Mengenakan jubah biru seperti penyihir. 

Tapi wajahnya tengkorak. 

Wujud mengerikan dengan aura yang sama mengerikannya. Aku langsung tahu. 

Orang itu. 

“Jadi bukan cuma naga, tapi iblisnya ikut bangkit juga rupanya...”

Naga yang disegel pada masa Perang Besar melawan iblis. Tak aneh bila ada iblis yang ikut tersegel bersamanya. 

Ini jelas mengubah keadaan.


Bagian 4

“Begitu terbangun, aku tak menyangka orang kuat macam kalian datang... benar-benar nasib buruk.” 

“Sisa pasukan Raja Iblis, ya. Baru bangun sekarang? Tidurnya lama sekali.” 

Suaranya menggema hingga ke tempat kami berdiri di atas tembok kota. Aku pun membalas dengan suara yang diarahkan padanya. Iblis itu terkekeh pelan. 

“Aku tak bisa menyangkalnya. Dari informasi yang kukumpulkan, tampaknya sudah lima ratus tahun berlalu. Orang-orang yang menyegel aku dan Nidhoggr pasti sudah tiada. Menyebalkan, tapi sekaligus menguntungkan. Manusia tanpa seorang pun Pahlawan bukanlah ancaman. Sebagai permulaan, aku akan melenyapkan Kekaisaran yang terus membandel, dan para keturunan Pahlawan!! Minggir!” 

Iblis itu merentangkan kedua tangan. 

“Aku adalah Gamzin. Kini saatnya aku menagih utang lima ratus tahun lalu!” 

Dari Gamzin, asap hitam pekat menyebar luas. 

Iblis memiliki kekuatan khusus yang disebut “Otoritas”. Setiap iblis memiliki Otoritas yang berbeda, dan jangkauan serta dampaknya jauh melampaui sihir mana pun. 

Banyak sihir terlarang diciptakan dengan meniru Otoritas iblis. Bahkan tiruannya saja dianggap terlalu berbahaya, hingga akhirnya ditetapkan sebagai sihir terlarang. Begitu besarlah kekuatan asli para iblis. 

Lima ratus tahun yang lalu, ketika para iblis menyerang dipimpin oleh Raja Iblis, umat manusia menang hanya dengan mukjizat.

Perang itu masa-masa pertempuran habis-habisan di mana manusia hampir sepenuhnya tersudut. 

Dan kini salah satu sisa pasukan Raja Iblis kembali bangkit. Bahkan membawa seekor naga. 

Lawan yang merepotkan. Tapi zaman sekarang pun tidak kalah kuat. 

Jika aku sendirian, aku pasti harus menguras otak menghadapi iblis seperti ini. 

“Kapan terakhir kita menghadapi iblis?” 

“Sudah lama sekali. Iblis yang bangkit waktu itu tidak terlalu kuat. Ini akan lebih menyenangkan.” 

“Silver, naganya kuberikan padamu. Tapi iblis itu biar aku yang akan menebasnya. Itu tak bisa diganggu gugat.”

Tiga orang yang tadi tidak terlalu antusias, langsung berubah sikap begitu mendengar kata “iblis”. 

Terutama No Name. Aku bisa merasakan jelas hawa membunuh darinya. Kata “Pahlawan” sepertinya memancing rasa kompetitifnya. 

Iblis dari lima ratus tahun yang lalu memang jarang bangkit, tapi bukan pertama kalinya. Aku sudah pernah membunuh satu, begitu juga Lienares dan Egor. 

Kakekku dulu juga pernah dirasuki iblis. Ada beberapa kasus serupa. Dari semua pengalaman itu, iblis memang kuat, namun bukan lawan yang tak bisa ditangani petualang peringkat SS. 

Kalau yang bangkit itu Raja Iblis, barulah lain cerita. Tapi kalau hanya iblis biasa hanya sedikit merepotkan

Tidak sampai menjadi ancaman bagi kami. 

“Maaf memotong semangat kalian, tapi pertimbangan terhadap sekitar tetap berlanjut, ya?” 

“Masih juga soal itu?” 

“Bagi kita mungkin sepele. Tapi bagi warga yang tinggal di sini, itu masalah besar. Selama ada cara menghindarinya, kita wajib melakukannya. Dengan kekuatan sebanyak ini, tak ada alasan untuk bilang tidak bisa.” 

“Dari dulu kupikir kamu aneh, Silver. Kamu serius di saat-saat yang aneh.” 

“Namun memang ada benarnya. Kita harus menahan diri semampunya.” 

“Dan kalau kita menahan diri lalu korban malah bertambah, kamu mau bertanggung jawab?” 

“Kalau tidak bisa bilang saja. Biar aku yang lakukan.” 

“...Baiklah. Aku terima tantangan murah itu. Beri perintahmu.” 

“Pertama, cari tahu dulu Otoritas iblis itu.” 

Aku memusatkan pandangan pada asap pekat yang membentang luas. 

Sebelumnya, dari sana muncul burung-burung bertulang. 

Kali ini apa yang akan datang? Aku mengamatinya. 

“Benar-benar jelek.” 

“Tidak berubah sejak dulu.” 

Yang keluar adalah kawanan monster. Semuanya tinggal kerangka. 

Jumlahnya lebih dari seribu. 

“Dengan ini cukup jelas. Dia seorang necromancer.” 

Dia mengendalikan jiwa yang sudah mati dan membangkitkannya sementara. Semua itu pasti monster-monster yang pernah mati di sekitar sini. 

Kalau begitu, kita tak boleh membiarkannya mendapat waktu lebih. 

“Egor, menurutmu iblis bisa bangkit sepenuhnya dengan itu?” 

“Tidak bisa dipastikan. Tapi baik iblis maupun manusia kuat, membangkitkan seseorang butuh waktu dan kekuatan.” 

“Berarti kita harus mencegahnya bersiap?” 

“Itulah tujuan kawanan monster itu.”

Dia memakai monster untuk mengulur waktu, demi membangkitkan sesuatu yang lebih kuat. Dengan Nidhoggr di sana saja sudah merepotkan, apalagi ditambah pasukan baru. 

“Kita segera hancurkan mereka dan...”

Begitu aku hendak memerintah, Nidhoggr membuka mulut, bersiap menghembuskan napasnya. 

“Biar aku yang urus monster. Sisanya kuberikan pada kalian.” 

Tiga orang itu langsung bergerak untuk menahan serangan napas sang naga, sama seperti sebelumnya. Sementara itu, aku menyiapkan ribuan peluru cahaya dengan kekuatan yang sudah kutahan, cukup untuk memastikan musuh tewas tanpa merusak area sekitar. 

Namun tiba-tiba... 

Gamzin memunculkan kawanan burung lagi dan mengirimnya dari udara menuju kota. 

Sungguh merepotkan. Satu hal datang setelah yang lain. 

Aku menghela napas, bersiap mengalihkan sebagian sihir untuk menembak burung-burung itu, meski akan menguras lebih banyak sihir. 

“Sedikit yang lolos tidak apa. Di dalam kota ada Jack.” 

“Kamu menyuruhku percaya pada pemabuk itu?” 

“Jangan meremehkannya. Dia tetap seorang petualang. Dia tidak akan membiarkan monster berkeliaran.” 

“...Kalau begitu, aku percaya pada penilaianmu.” 

Aku tetap menembak burung-burung itu sebisaku tanpa boros, sambil memastikan kawanan monster utama dimusnahkan seluruhnya. 

Di saat yang sama, napas Nidhoggr ditembakkan dan Egor, Lienares, serta No Name menghancurkannya. 

Sambil menahan dampaknya dengan penghalang, aku mendesah. 

Tidak sampai menghabiskan energi sebanyak melontarkan sihir besar, tapi semua gangguan kecil ini justru menguras energi sihirku sedikit demi sedikit. 

Tidak ada hal yang berjalan semulus yang diinginkan.

“Tak kusangka Egor bisa menaruh kepercayaan sebesar itu pada Jack.” 

“Tentu saja! Tidak ada orang jahat di antara para peminum!” 

“...Jika warga kota tampak akan terkena dampaknya, aku serahkan penanganannya padamu, Silver. Sementara itu, aku akan segera melenyapkan iblis itu.” 

“Mari berharap semua itu tidak perlu terjadi.” 

Sambil sedikit menyesali sudah mempercayai penilaian Egor, yang jelas tanpa dasar, aku menguatkan penghalang sihir agar Nidhoggr tetap terbelenggu dan tidak bisa bergerak bebas. 

Kalau keadaan mendesakku, aku tak punya pilihan selain melenyapkan semuanya tanpa memikirkan kerusakan. 

Mereka benar-benar memilih untuk membangkitkan sesuatu yang sebegitu berbahaya di wilayah Kekaisaran Suci. Jika sampai menimbulkan kerusakan besar, negeri ini pasti akan bergolak. Bahkan bisa-bisa dampaknya merembet hingga ke Kekaisaran sendiri. 

Pihak yang paling mungkin berbuat kebodohan seperti ini adalah Grimoire, tapi apakah mereka terlibat kali ini, aku belum tahu. 

Jika memang benar mereka yang berada di balik semua ini...

“Berapa banyak bencana lagi yang harus mereka sebarkan agar mereka puas...” 

Aku sudah menganggap mereka musuh sejak lama, tapi melihat keadaan seperti ini, mungkin memang lebih baik organisasi itu dihancurkan selama petualang peringkat SS masih ada di sini. 

Sambil memikirkan hal itu, dari sudut pandangku aku melihat semakin banyak burung-burung tulang itu menerobos masuk ke dalam kota, dan aku mengeklik lidahku pelan.


Bagian 5

Setibanya di kota Karelia, Jack segera berpisah dengan para petualang peringkat SS lainnya dan memulai perjalanan mencari minuman yang lezat. 

Namun... 

“Kenapa nggak ada satu pun yang buka...?”

Melangkah di jalanan yang sepi, Jack bergumam begitu. 

Tentu saja, tidak ada orang waras yang akan membuka toko ketika seekor naga tengah mengancam kota. 

Sebagian besar warga pun sudah mengungsi ke gerbang barat, sehingga membuka toko pun tak ada gunanya. 

“Arak, arak, arak... apa nggak ada arak, hah...?”

Berkeliaran tanpa tujuan, Jack terus berjalan mencari minuman. 

Saat itulah dia melihat sebuah penginapan kecil yang masih buka. 

“Penginapan!? Minimal pasti punya arak!” 

Begitu menemukannya, Jack langsung membuka pintu tanpa ragu. 

Di dalam, beberapa orang tua sedang minum sedikit arak dan menatap Jack dengan penasaran. 

“Siapa kamu? Kayaknya belum pernah lihat wajahmu.” 

“Aku sedang dalam perjalanan. Lagi mau minum. Ada arak?” 

“Datang di waktu kayak begini, nasibmu lagi jelek, Nak.” 

Para sesepuh itu tertawa getir sambil berkomentar begitu. 

Mereka tampak sudah pasrah untuk tidak melarikan diri lagi. 

“Kami ini orang tua renta. Kalau mesti pindah ke tempat lain, mana bisa hidup? Kami mau mati di kota ini. Tapi kamu beda, kan? Dengarlah nasihat orang tua, pergilah.” 

“Aku udah sengaja datang ke Karelia buat minum araknya. Aku nggak akan pergi sebelum minum.” 

“Aneh juga kamu ini. Hei, Nina! Ada satu orang aneh lagi nih datang!” 

Para lansia itu memanggil seseorang ke bagian dalam. 

Lalu muncul seorang gadis remaja akhir mengenakan celemek. 

Rambutnya cokelat, wajahnya dihiasi sedikit bintik-bintik, dan dia tersenyum ramah sambil mempersilakan Jack duduk. 

“Halo! Selamat datang! Kamu sendiri saja?” 

“Iya, sendiri. Kasih aku arak. Sama camilan apa saja, terserah.” 

“Baik! Ditunggu sebentar!” 

Sepertinya dia mengurus penginapan ini sendirian. 

Gadis yang dipanggil Nina itu kembali ke dalam dengan sibuk, mengantar makanan ke para lansia. 

Sambil memperhatikannya, Jack menunggu araknya. 

Tak lama kemudian, minuman dan camilan pun sampai di hadapannya. 

“Makasih, Nak.” 

“Sama-sama! Arak Karelia itu luar biasa enaknya! Silakan dinikmati!” 

“Nina. Kamu udah melayani arak ke pelanggan, sekarang kamu harusnya pergi menyelamatkan diri. Dengarlah kata orang tua.” 

“Kalaupun aku pergi, siapa yang bisa jamin aku selamat? Karena itu, aku mau menjaga Ayah dan penginapan ini. Ayah membuka tempat ini demi para petualang. Kalau cuma gara-gara monster tempat ini ditutup, apa gunanya penginapan ini ada!?” 

Jack menuang arak ke gelas dan meneguknya habis. 

Bahkan bagi Jack yang sudah sangat banyak minum arak, rasanya benar-benar enak. Pantas saja kota ini terkenal sebagai kota arak. Merasa terkesan, Jack menanyakan sesuatu pada Nina. 

“Kamu gadis yang hebat... Ayahmu di mana?” 

“Sedang sakit di kamar. Nggak terlalu parah, tapi nggak mungkin buat Ayah untuk pergi jauh...” 

Untuk pertama kalinya, raut cerah Nina berubah muram. 

Melihat itu, Jack menenggak araknya lagi, namun rasanya tidak seenak tadi. 

Memang benar, arak paling enak diminum ketika suasana hati sedang senang, pikir Jack. 

Pada saat itulah, terdengar suara benda jatuh dari lantai dua. 

Nina menoleh ke tangga dengan kaget. 

“Eh!? Ayah! Ayah lagi ngapain!?” 

“Itu harusnya pertanyaanku... cepat lari...!”

Dengan bertumpu pada pegangan tangga, ayah Nina turun dengan susah payah. 

Lalu dia menatap Jack, yang sedang minum sendirian. 

“Kamu... petualang, ya...?” 

“Kalau iya?” 

“Tolong bawa lari anakku...”

Membuka penginapan untuk para petualang dan menghabiskan hidup bersama mereka membuat ayah Nina sedikit banyak bisa menilai kemampuan seseorang. 

Fakta bahwa Jack tetap tenang dan bahkan minum arak di tengah situasi gawat seperti ini bukan hal yang mungkin dilakukan petualang amatir. 

Petualang amatir biasanya akan menganggap situasi seperti ini sebagai kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dan akan maju melawan musuh. Petualang yang berpengalaman akan paham bahwa tak ada gunanya tetap di sini dan akan mengawal warga yang mengungsi. 

Jack bukan keduanya. Bagi ayah Nina, itu membuatnya tampak istimewa. Karena itu dia menitipkan Nina padanya. 

“Percuma kabur sekarang. Naganya sudah di depan tembok benteng. Harapkan saja petualang yang menahan di garis depan.” 

“Kalaupun naganya tertahan... sisa pertarungannya bisa menghantam ke sini...” 

“Di tembok sekarang ada petualang berperingkat tinggi yang dikirim oleh guild. Mereka nggak akan sampai ceroboh begitu.” 

“Kita nggak tahu apa yang akan terjadi...! Tolonglah...!” 

“Cukup jangan ganggu aku. Sekalipun kamu membayarku, aku nggak akan ambil permintaan itu. Aku nggak suka memaksa orang kabur kalau mereka sendiri nggak mau.” 

“Betul! Ayah! Aku akan tetap di sini bersama Ayah dan penginapan ini! Aku sudah memutuskannya!” 

Nina berkata begitu sambil mendorong ayahnya kembali ke lantai dua. 

Mungkin karena memaksakan diri, ayahnya terbatuk keras dan tak mampu melawan. 

Beberapa saat kemudian, Nina kembali. 

Dia lalu meletakkan segelas arak yang tidak dipesan di depan Jack. 

“Aku nggak pesan ini.” 

“Anggap ini permintaan maaf. Maaf soal Ayah.” 

“...Itu hal yang wajar dilakukan oleh seorang ayah.” 

Betapa bahagianya seorang ayah ketika putrinya ingin melindungi dirinya dan tempat yang dia bangun. 

Namun justru karena itu, sulit untuk menerimanya. 

Perasaan itu, Jack bisa memahaminya. 

Tapi... 

“Kalau begitu, kenapa kamu tidak menerima permintaannya...?” 

“Karena orang tua nggak boleh mematahkan tekad anaknya sesuka hati. Aku juga punya anak perempuan...”

Justru karena dia merasakan tekad kuat Nina untuk tidak lari, Jack menolak permintaan itu. 

Keinginan agar anaknya lari adalah ego orang tua. Seorang anak juga punya pendiriannya sendiri.

Bagi Jack, yang karena keegoisannya sendiri membuat istri dan putrinya menjauh, permintaan itu mustahil untuk dia terima. 

“Putrimu itu gadis seperti apa?” 

“Entahlah. Sudah lama sekali aku nggak ketemu dia. Aku berharap suatu hari bisa nanti bertemu lagi... tapi ada satu hal yang sudah kupastikan. Apa pun jalan hidup yang dia pilih, aku nggak akan pernah melarangnya.” 

Jack menenggak araknya sambil mengingat putrinya yang dulu masih kecil. 

Namun rasanya, arak itu semakin tidak enak. 

Wajar saja. Ingatan terakhirnya tentang putri kecilnya adalah sosoknya yang menangis sambil mengulurkan tangan, memohon dia untuk tidak pergi saat Jack berangkat menjalankan misi. 

Meski sang putri memintanya tinggal, Jack tetap tidak menoleh. 

Dia hanya memikirkan menyelesaikan misi dan naik ke puncak sebagai petualang. Dia percaya waktu bersama keluarga akan selalu ada nanti, setelah semuanya selesai. 

Kenangan pahit itu selalu membuat arak terasa tidak enak. 

Memang selalu begitu. Enak hanya pada tegukan pertama. Setelah itu, rasanya terus menurun. 

“Kamu ayah yang baik, Pak.” 

“Ayah yang baik? Aku? Dengar, aku ditinggalkan istri dan anakku, tahu? Karena aku terlalu egois.” 

“Tapi kamu tetap memikirkan anakmu, ‘kan? Sama seperti Ayahku.” 

“Hah... aku nggak sebaik ayahmu, Nak.” 

Saat Jack menertawakan dirinya sendiri.

Kegaduhan mendadak meletus dari para lansia. 

“Nina! Nina! Ada monster di luar!” 

“Cepat sembunyi!” 

Tepat saat itu, seekor burung menerjang masuk dari luar. 

Jendela pecah, dan para lansia serta Nina berteriak kaget. 

Namun pada detik yang sama, burung itu berubah menjadi debu. 

“Eh...?”

“Apa-apaan yang mereka lakukan...”

Dengan napas panjang yang lelah, Jack menyampirkan busur yang entah sejak kapan sudah dia angkat. 

Kemudian dia merogoh saku dalam. 

“Hmm? Kayaknya aku masih punya satu keping... Ah, ini dia.” 

Dia melihat koin yang dia keluarkan, dan wajahnya sedikit meringis. Nilainya jauh lebih tinggi dari yang dia kira. 

Namun dia menyerah dan meletakkan koin itu di atas meja. 

“Araknya enak. Camilannya juga. Terserah untuk apa kembaliannya.” 

“Eh? Eh... e-ehhh!?!?” 

Nina menatap koin di meja itu, tubuhnya bergetar melihat warna koin di meja. 

Itu karena yang diletakkan di sana adalah koin pelangi.

“K-Kembaliannya...?”

“Pakai aja buat biaya pengobatan ayahmu. Aku cuma punya itu.” 

“T-Tapi! Ini terlalu banyak! Aku nggak bisa menerimanya!” 

“Itu biaya untuk arak, dan untuk nyalimu, Nak. Kalau nanti aku datang lagi dan masih ada sisanya, kasih aku minum gratis.” 

“...Siapa kamu sebenarnya...?”

“Aku Jack. Peringkat SS. Aku ini pemanah terbaik di seluruh benua, tahu? ...Walau istri dan anakku lari dariku.” 

Jack mengatakan itu lalu keluar dari penginapan. 

Dia mengangkat wajah, mendesah. 

“Seriusan? Mereka lagi main-main apa?” 

Di langit kota, ratusan burung beterbangan. 

Tampaknya Egor dan lainnya mencoba menahan mereka agar tidak masuk ke kota, tapi jumlahnya terlalu banyak dan beberapa sudah mulai lolos. 

Melihat itu, Jack mengambil satu anak panah kecil dari kantongnya. 

Anak panah itu tampak seperti mainan, namun ketika dia mengalirkan sihir ke dalamnya, wujudnya berubah menjadi panah panjang dan ramping. 

Dia memasangnya pada busur, membidik ke langit. 

“Demi satu taruhan nasib!

“Meluncur mengarungi langit, menjadi hujan, dan kembalilah ke Bumi!

“Teknik rahasia busur sihir!

“Hujan Cahaya Surgawi, Menyebar dan Menyatu!!”

Ini jurus pamungkas busur sihir yang saat itu pernah digunakan Mia. Jack melafalkan mantra yang sama, lalu melepaskan panahnya.


Panah raksasa itu, berselimut cahaya, melesat tinggi ke langit sebelum menukik ke arah kota. 

Dan pada saat yang sama, panah cahaya itu mulai menyebar. 

Penyebarannya jauh melampaui milik Mia, belasan ribu anak panah kecil terbentuk dan turun membasuh kota seperti hujan cahaya.

Yang mengejutkan adalah tak satu pun dari seluruh panah itu yang terbuang percuma. 

Setiap panah kecil menangkap seekor burung di udara dengan presisi. 

Hanya dengan satu serangan, burung-burung yang memenuhi langit kota lenyap seluruhnya. 

Setelah memastikan semuanya hilang, Jack berpindah ke tembok kota dalam sekejap mata. 

“Angin apa yang bawa kamu ke sini, Jack?” 

“Kamu dan yang lain terlalu banyak main-main. Gara-gara itu arakku jadi nggak enak. Cepat bereskan semua ini.” 

Mengatakan itu, Jack menatap lurus ke Nidhoggr yang menghadang di depan kota, dan iblis yang berdiri di atas kepalanya.


Bagian 6

“Seperti yang diharapkan dari Jack, ya. Burung sebanyak itu hilang tanpa tersisa satu pun.” 

“Jumlah tidak ada artinya bagi pemanah sihir. Lebih penting, kalian itu sebenarnya lagi ngapain? Lawannya memang terlihat merepotkan, tapi kalau berempat, harusnya kalian bisa membereskannya dalam sekali serang, ‘kan?” 

Jack menatap kami dengan raut penuh kecurigaan. 

Aku langsung menjawab tanpa menunda. 

“Kami membatasi kekuatan serangan untuk meminimalkan kerusakan di sekitar.” 

“Membatasi kekuatan? Membatasi satu-satunya hal yang jadi kelebihan kalian itu, kalian ini bodoh apa? Itu di sana naga dan iblis, tahu? Topengmu tidak salah pasang, kan? Lihat baik-baik.” 

“Tidak sepenuhnya salah jadi aku maklumi. Untuk seorang pemabuk, pendapatmu lumayan masuk akal.” 

“Hah?” 

Jack menyipitkan mata dan menatapku dengan aura mematikan. 

Tanpa sadar aku hampir membalas dengan membiarkan tekanan auraku keluar. 

Tenang. Aku orang yang masih punya akal. 

“Untuk berjaga-jaga, kamu sudah dengar penjelasan Clyde?” 

“Hah? Dia ngomong sesuatu?” 

Sudah kuduga jawabannya. Aku menghela napas. 

Ya, sebenarnya bukan masalah dia tidak mendengarkan. Dari awal saja dia tidak berniat ikut dalam penaklukan ini, jadi tentu saja tidak tahu. Bahkan kalau dia berniat ikut pun, belum tentu dia mendengarkan dengan benar. 

“Clyde bilang jangan merusak medan. Jadi, naga dan iblis itu harus ditaklukkan dengan kerusakan sekecil mungkin. Karena itu aku mendukung dari belakang, sementara tiga orang ini bertarung sambil menahan diri.” 

“Menahan diri? Mereka? Mending suruh naga itu merajut kain, hasilnya lebih bagus.” 

“Aku juga berpikir begitu, tapi kita kurang personel. Lagipula, kalau saja kamu ada dari awal, semua masalah selesai.” 

“Kami sedang dihina, kah?” 

“Mau bagaimana lagi. Kami memang buruk dalam menahan diri.” 

“Sudah kubilang berkali-kali, mempertimbangkan kerusakan medan itu sendiri sudah salah.” 

Ketiganya memberi reaksi masing-masing. 

Lienares yang terlihat rumit, Egor yang pasrah, dan No Name yang sejak awal menganggap pendekatan ini salah. 

Karena mereka orang yang mengandalkan kekuatan mentah, jelas mereka tidak berguna di situasi seperti ini. 

Kalau lawannya iblis tipe kuat tunggal, mereka masih bisa mengatasinya. Tapi Gamzin jelas iblis pemakai trik. Iblis yang bertarung dengan kecepatan dan jumlah serangan. 

Menghadapi serangan bertubi-tubi, mereka cenderung menciptakan kehancuran di mana-mana, jadi mereka dan Gamzin adalah kombinasi yang buruk. 

Ya, sebenarnya tidak seharusnya ada masalah kecocokan begini, tapi... 

“Siapa pun akan mengira aneh melihat empat petualang peringkat SS cuma main aman begini. Sampai-sampai aku harus turun tangan.” 

“Terimalah. Lebih dari setengah pasukan tidak bisa diandalkan.” 

“Gimana kalau hadiahnya dibagi dua aja sama Silver? Iblisnya biar aku yang urus. Naganya serahkan ke kamu.” 

“Itu tidak sesuai kesepakatan. Bukankah kalian akan menyerahkan penyelesaiannya padaku?” 

“Aku juga ingin sedikit bergerak.”

“Aku juga.” 

“Haa...” 

Mereka ini benar-benar masih dalam mode bermain. 

Meskipun memakan waktu karena ada batasan, kalau mau serius, mereka bisa menyelesaikannya dalam satu gebrakan. 

Tenaga penuh dan kesungguhan? Itu tidak akan keluar karena lawan di depan tidak pantas untuk itu.

Justru jika sendirian, mungkin mereka akan bertarung dengan lebih serius.

“Jadi, Silver? Iblisnya terserah, tapi bagaimana kamu menaklukkan naga itu? Jangan bilang kamu tidak menyiapkan apa-apa.” 

“Jangan meremehkan aku. Tentu saja aku sudah menyiapkannya.” 

Aku menunjuk ke kaki Nidhoggr. 

“Aku sudah memasang sihir tolakan. Dengan itu, aku bisa mengangkat Nidhoggr ke udara. Begitu dia melayang, kita patahkan sayapnya, lalu lanjut lemparkan dia lebih tinggi. Di udara, kalian bisa menyerang tanpa perlu menahan diri.” 

“Kalau ujung-ujungnya mau dilempar ke udara, kenapa tidak langsung pakai teleportasi saja dari awal?” 

“Jangan memaksaku untuk mengulangnya. Energi sihirku itu berharga.” 

Aku menanggapi No Name lalu melanjutkan rencana. 

“Kesempatannya hanya sekali. Dan pertama-tama, kita harus memisahkan iblis itu dari naga. Siapa yang mau melakukannya?” 

“Maka biar aku saja.” 

“Jangan maju kalau tidak berguna. Kalau kamu gagal, bagaimana?” 

“Siapa yang kamu bilang tidak berguna?” 

“Kamu. Topeng yang tidak berguna itu.” 

“...Jack. Aku tidak keberatan bertarung melawanmu dulu sebelum menghadapi iblis dan naga itu.” 

“Hah! Tidak bisa menahan diri saja mau melawan aku? Jangan mengigau.” 

“Untuk menghadapimu, aku tidak perlu menahan diri.” 

“Dari ucapannya barusan sudah kelihatan bedanya. Sebagai petualang, kamu masih kalah dari Silver. Bertarung denganku tanpa menahan diri di negara tempat kamu bernaung? Negara ini bisa hancur.” 

“Itu yang kuinginkan. Aku tidak punya rasa keterikatan dengan Kekaisaran Suci.” 

Aura mematikan Jack dan No Name meningkat tajam. 

Egor dan Lienares hanya menghela napas, tidak menunjukkan niat untuk melerai. 

Sungguh, punya rekan dengan kepribadian kuat seperti ini memang menyulitkan. 

“Sudah cukup perdebatan yang tidak berguna. Kalau kalian mengaku petualang, tunjukkan hasilnya.”

“Hasil?” 

“Tidak mungkin kalian jadi petualang peringkat SS hanya untuk gaya. Siapa pun yang bisa bergerak dalam alur ini, dialah yang menaklukkan.” 

Aku sama sekali tidak mau pertarungan antar petualang peringkat SS terjadi di sini. 

Bisa-bisa penaklukan monster malah terlupakan. 

“Kalau menang dalam duel itu, apa hadiahnya?” 

“Aku kasih bagian hadiahnya.” 

“Hah! Lumayan juga.” 

“Aku tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. Aku tidak kekurangan uang, dan awalnya kita sepakat kalau penyelesaiannya harus diserahkan padaku.” 

“Apa? Tidak percaya diri? Kalau begitu, biar aku saja yang menyelesaikannya. Minggir.” 

“...Baiklah. Menyaksikan wajahmu yang arogan itu remuk juga bisa jadi hiburan.” 

Setelah No Name mengungkit kesepakatan awal, Jack langsung menantangnya dengan provokasi murahan, dan No Name terpancing begitu saja. 

Sulit dipercaya ini percakapan antara petualang peringkat tertinggi. Tapi ya, beginilah kaliber tertinggi di dunia ini. 

“Lienares, Egor. Begitu situasinya. Naga itu bisa kalian tangani? Nidhoggr baru bangun dan gerakannya masih lamban. Kalian berdua harusnya cukup.” 

“Baiklah. Kalau begitu, aku pasang taruhan pada No Name saja, untuk hadiah kali ini.” 

“Kalau begitu, aku pasang di Jack. Dan kalau tanganku terpeleset sedikit saat memberi dukungan, tidak apa-apa ‘kan, Silver?” 

“Terserah...”

Sungguh. Mereka tetap bermain-main sampai akhir. Semua itu karena keyakinan mereka bahwa kalau tidak perlu menahan diri, penaklukan ini bisa selesai dalam satu pukulan. Kenyataannya, Nidhoggr yang lama tersegel itu masih seperti orang baru bangun tidur—bukan ancaman sama sekali—dan Gamzin bukan iblis yang unggul dalam pertarungan langsung. Kemungkinan besar, dia mengandalkan sinergi dengan Nidhoggr. 

Kesalahan mereka adalah bergerak sebelum kekuatan pulih. Kalau mereka bersembunyi, hasilnya bisa berbeda. Mungkin kami tidak datang berlima. 

Kali ini, permintaan dari guild hanyalah mengirim seorang petualang SS. Kenyataan bahwa lima orang datang itu murni karena kebetulan. 

Upah standar untuk penugasan individu biasanya tiga koin pelangi. Tapi kali ini sepertinya tidak. Mungkin hanya satu atau dua koin per orang. Dan mereka mempertaruhkan uang sebanyak itu cukup gila. 

Jumlah itu bisa mengguncang perekonomian negara kecil. 

“Maaf, Tuan Penguasa. Ada revisi. Petualang SS yang ikut serta ada lima orang. Dan sungguh menyesal, penaklukan kali ini dilakukan dalam format permainan.” 

“Y-Ya... selama kalian tetap menaklukkannya...”

“Kalau keadaan memburuk, aku yang akan melindungi medan dengan penghalang. Mereka ini kalau sedang terbawa suasana tidak tahu lagi mau melakukan apa.” 

Sambil menjelaskan itu pada Vengerov, aku melirik kepada Egor dan Lienares yang tampak antusias, dan merengut di balik topengku. 

Kalau semuanya terbawa suasana, menjaga medan tetap utuh bakal sangat sulit.

“...Pertarungan ini menentukan siapa yang menaklukkan iblis. No Name didukung Lienares. Jack didukung Egor. Aku mendukung semuanya. Begitu iblisnya lepas dari kepala naga, aku aktifkan sihirnya. Dukungan hanya sampai saat itu. Tentu saja, tidak boleh ada sabotase langsung. Dan kalau ada yang merusak medan, pertandingan batal. Jelas? Ini berlaku untuk semuanya.” 

“Serahkan padaku.” 

“Aman saja.” 

“Cepat mulai. Aku habisi sekejap.” 

“Siap kapan saja.” 

Ini benar-benar membuatku waswas. 

Apa yang harus kulakukan? 

Kalau begini terus, aku bakal terpaksa memasang penghalang yang sangat padat. 

Tiba-tiba aku terpikir sesuatu. 

Ya. Arahkan dari sudut berbeda. 

“Kalau ada yang merusak medan, dia yang bayar perbaikan. Setuju?” 

“Apa!? Itu tidak masuk kesepakatan!” 

“Baik. Serahkan saja padaku.” 

“Dan, kalau tidak terlihat ada usaha menghindari kerusakan, dianggap kalah, paham? Jangan berpikir bisa merusak tanah sambil bilang ‘nanti kubayar’ ya?” 

“...Tentu saja.” 

Dia pasti terpikir begitu. 

Dasar... 

Nyaris saja jadi bencana. 

Tidak bisa lengah sedikit pun. 

Tapi dengan ini, apa pun yang terjadi masih bisa dikendalikan. 

Sudah dilakukan semua tindakan pencegahan. 

Sisanya serahkan pada dewa. 

“Kalau begitu, ayo. Penaklukan dimulai!” 

Bersamaan dengan deklarasiku, Jack melepaskan anak panah dengan kecepatan yang pantas digambarkan sebagai “kilat”.


Bagian 7

“Aduh, aduh. Pria yang terlalu terburu-buru itu tidak disukai, kamu tahu?” 

Orang pertama yang bereaksi terhadap tembakan cepat Jack justru Lienares. 

Lebih tepatnya, dia sudah memperkirakan itu dan bergerak dalam waktu yang sama. 

Lienares melompat ke depan, lalu menjadikan anak panah Jack sebagai pijakan, dan dari sana dia meloncat lebih tinggi ke udara. 

“Heh!?” 

Anak panah yang dijadikan pijakan itu keluar dari lintasan dan jatuh ke tanah sebelum mencapai Gamzin. 

Kalau itu panah Jack yang ditembak normal, lintasannya hampir mustahil dibelokkan, tapi dipakai sebagai pijakan ya jelas saja. Seperti menerima tendangan. 

“Hei! Silver! Itu boleh kah!?” 

“Itu bukan sabotase langsung.” 

“Sial! Jangan main-main!” 

Mengumpat, Jack kembali bersiap, sementara Lienares sudah masuk ke posisi menyerang. 

“Bagaimana kabarmu, Tuan Iblis?” 

“Tidak bisa dibilang baik.” 

Gamzin memanggil sejumlah besar burung untuk menyambut Lienares yang mendekat. 

Burung-burung itu bergerak dengan kecepatan tinggi, tak beda jauh dengan panah berlintasan abnormal. 

Namun...

“Wah? Pijakan yang bagus.” 

Lienares dengan mudah menjadikan burung-burung itu pijakan, mendekat lebih jauh ke arah Gamzin. 

Burung yang diinjak meledak karena tidak mampu menahan benturan. 

Kalau terus seperti itu, Lienares pasti mendarat di kepala Nidhoggr. 

Akan tetapi... 

“Kejam sekali, Tuan Egor!” 

“Oh? Ternyata itu pijakanmu juga? Waduh, waduh tidak sengaja.” 

Egor tertawa kecil sambil berdiri tenang di atas tembok benteng. 

Tidak terlihat dia bergerak, tapi semua burung yang tercipta telah ditebas habis. 

Gerakannya terlalu cepat hingga momen pedangnya terhunus pun tak terlihat. 

Kalau dia sampai benar-benar menebas dengan pose siap, mungkin medan perang sudah berubah bentuk. 

Lienares kehilangan pijakan dan terpaksa mendarat. Gerakannya terhenti sejenak, dan saat itu No Name sudah bergerak. 

Di antara para petualang SS, hanya No Name dan aku yang bisa terbang. 

No Name menyelinap ke jarak dekat Gamzin, ketika perhatian iblis itu menyorot Lienares. 

Tidak boleh ada sabotase langsung. Dan Gamzin jelas bukan iblis yang kuat dalam pertarungan jarak dekat. Ini harusnya akhir baginya. 

Jack juga melepaskan panah ke arah Gamzin, tapi No Name lebih cepat. 

“Inilah akhirnya.” 

Ucap No Name, sambil mengayunkan Dis Pater. 

Namun di saat itu, dua pendekar tengkorak muncul dan menahan bilah Dis Pater. 

“Keduanya pendekar pedang terlatih. Mampukah kamu mengalahkannya?” 

“Sebaiknya jangan meremehkan kematian. Nasib mati yang buruk menunggumu.” 

“Aku tidak akan mati.” 

“Kalau begitu, biar aku yang membunuhmu.” 

No Name langsung bertarung melawan dua pendekar tengkorak itu. 

Di atas kepala naga yang labil, dalam kondisi dua lawan satu. Hanya dengan melihatnya sekilas, jelas para pendekar pedang tengkorak itu adalah ahli pedang tingkat tinggi yang diciptakan dari miasma. 

Meski begitu, No Name mengungguli mereka dengan duel pedang yang murni mengandalkan teknik. Pedang Dis Pater hanyalah salah satu kekuatannya.

Kemampuan pedangnya sendiri juga kelas atas. Itulah sebabnya dia petualang SS. 

Namun tetap saja dia tertahan. Dan itu berarti satu orang menjadi berbahaya. 

“Hah! Kemenangan milikku!” 

Jack menembakkan panah untuk menusuk Gamzin. 

Panah yang tak diganggu itu melesat lurus ke arah Gamzin, tetapi Nidhoggr dengan gigi besarnya menggigit dan menghancurkan panah itu. 

Karena itu bukan serangan untuk naga, dayanya kurang. 

“Sial!” 

Jack ingin menembakkan panah berikutnya, namun saat dia membidik... 

Targetnya bergerak besar. 

Lebih tepatnya, pijakannya—Nidhoggr—ambruk. 

Sebab Lienares memukulnya. 

“Sedih sekali kalau diabaikan.” 

Lienares melompat dari tanah, dan melesakkan pukulan lurus yang sangat kuat ke perut Nidhoggr. 

“Terus saja kalian!” 

Gamzin memerintahkan Nidhoggr menyerang Lienares. 

No Name dan dua pendekar tengkorak yang tadinya di kepala naga segera pindah ke punggungnya, tidak suka pijakan yang terus berguncang. 

Nidhoggr mengabaikan No Name dan langsung mengarahkan taringnya pada Lienares. 

Namun... 

Lienares menahan taring itu. Dari depan. Dua taring naga raksasa. 

“Kukira naga itu makhluk yang jauh lebih kuat.” 

“Dukungan yang bagus, Kakak Otot!” 

“Kamu ini...” 

Dengan Lienares menahannya, gerakan Nidhoggr berhenti total. Gerakan Gamzin juga ikut membeku. Jack tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan kembali menembak panah, namun sebelum panah itu mencapai sasaran, Lienares sudah melepaskan Nidhoggr. 

“Hei!?” 

“Terima kasih atas kerja kerasnya. Silakan, No Name.” 

“Aku berterima kasih atas bantuanmu.” 

Entah kapan, para pendekar tengkorak sudah dikalahkan. No Name kembali menuju Gamzin. 

Gamzin memanggil banyak monster dari asap pekatnya untuk menghalangi No Name, tapi No Name menebas mereka tanpa memperlambat langkah bahkan sedetik pun, terus mendekat. 

Selesai. 

Begitulah pikirku.

Kemudian Egor mengayunkan pedangnya. 

“Tidak kubiarkan.” 

Tebasan Egor mengenai Nidhoggr. 

Sayap naga itu terpotong bersih, dan Nidhoggr jatuh tidak mampu menahan dirinya. 

Melihat itu, Gamzin menjauh dari Nidhoggr sambil menyelimuti diri dengan asap pekat.

Dia menganggapnya lebih aman untuk menjauh daripada tetap di sisinya. 

Karena itu, No Name kembali kehilangan kesempatan untuk menyerang. 

Yang menjadi masalah adalah tebasan barusan. 

Jauh dari kekuatan penuh, tapi kalau aku tidak refleks memasang penghalang di belakang Nidhoggr, sudah pasti ada kerusakan besar. 

“Tidak ada kesempatan kedua, Kakek Egor.”

“Jangan begitu dong. Dan tentu saja, aku tidak akan melakukan itu lagi.” 

“Tentu.” 

Jack sudah bersiap menembak. Sepertinya ini akan benar-benar mengakhiri semuanya. 

Sasarannya—Gamzin yang melarikan diri ke udara—sudah terkunci. Jack bukan tipe pria yang akan meleset. 

Namun, Gamzin menciptakan burung dalam jumlah besar, mungkin sebagai pengalih. Burung-burung itu terbang menuju kota Karelia. 

Meski Jack berhasil menembaknya, tidak ada jaminan Gamzin akan langsung lenyap begitu ditembak. 

Saat aku hendak bersiap melakukan pencegahan...

“Cih!” 

Dengan satu klik lidah, Jack menembak jatuh semua burung itu. 

“A-Apa yang kau lakukan!?”

Egor menjerit, tepat ketika No Name sudah melesat mengejar Gamzin di udara. 

“Mustahil...! Seorang manusia biasa yang bahkan bukan Pahlawan berani menantangku!?” 

“Zaman ketika Pahlawan adalah satu-satunya kekuatan umat manusia sudah lama berakhir.” 

“Kamu...!” 

“Sekarang, bersiaplah merasakan kematian.” 

Pedang hitam bersinar muram, Dis Pater, menusuk Gamzin. Cahaya hitam itu menelan seluruh tubuh Gamzin, menghancurkan keberadaannya sampai tidak tersisa. 

Pada saat yang sama, aku mengaktifkan sihir tolakan. Tanpa sayapnya, Nidhoggr terpental jauh ke udara. 

Tepat di bawahnya, Lienares sudah memasang kuda-kuda. 

“Kekuatan hidup seekor naga tidak bisa dianggap enteng. Jadi, kali ini aku akan memukulnya benar-benar sungguhan. Lima ratus tahun... Rasakan inti dari pukulan yang umat manusia asah selama itu.” 

Sambil menarik tangan kanannya, Lienares menghentak tanah. Retakan menjalar dari kakinya. 

Seperti letusan gunung berapi. 

Dengan kecepatan mengerikan, dia melesat ke langit, mendekati Nidhoggr yang kehilangan kebebasan terbangnya. Nidhoggr merespons dengan menembakkan napas hitamnya. 

Arus gelap yang mengamuk. Hembusan naga yang mengancam segalanya mengarah tepat ke Lienares. 

Namun Lienares menghadangnya dengan pukulan lurus. 

Di seluruh benua, mungkin hanya dia yang nekat menantang napas naga dengan pukulan telak. 

Cahaya hebat meledak di langit. 

Awalnya seimbang. Tapi lambat laun, Lienares mulai mendominasi. 

Dia adalah salah satu dari dua petarung terkuat di antara para otak otot di jajaran petualang SS, sejajar dengan Egor. 

Tinju yang ditempa tubuhnya bisa menandingi sihir agungku. 

Setiap pukulan adalah serangan mematikan. 

Yang membuatnya lebih mengerikan, itu hanya pukulan. 

Artinya, dia bisa melancarkan rentetan serangan tanpa henti. 

Ketika Lienares mulai mendorong balik napas naga itu, tangan kirinya ikut bergerak. Kanan, kiri, bergantian menembakkan serangan beruntun. 

Napas Nidhoggr akhirnya buyar diterjang rentetan pukulannya. Dengan penghalang lenyap, tinju Lienares menghantam langsung tubuh naga itu. 

Dan itu jadi masalah. Pukulan yang terlalu kuat membuat Nidhoggr terpental lebih tinggi lagi. 

“Aduh? Berlebihan rupanya. Astaga... tidak indah sama sekali.” 

Jarak antara Lienares dan Nidhoggr melebar. Lienares mulai jatuh, sementara sayap naga itu mulai beregenerasi. 

Seandainya dia mau, Lienares pasti bisa mengejarnya. Tapi tampaknya semangatnya padam total karena pukulan pamungkasnya malah membuat naga itu melambung jauh. 

“Aku serahkan sisanya padamu, Silver.” 

“Betul-betul egois.” 

Jika ingin melakukan sesuatu, lakukan sampai akhir, tapi Lienares sudah kehilangan motivasi. Dan memaksa orang yang hidup dengan estetika sendiri jauh lebih merepotkan daripada aku melakukannya sendiri. 

Lagipula, sebagai naga dunia iblis, Nidhoggr beregenerasi dengan kecepatan mengerikan. 

Jika dibiarkan, dia akan terbang entah ke mana. Sekarang adalah waktu terbaik untuk menghabisinya. 

Kupikir aku bisa menghemat energi sihir... rupanya tidak semudah itu. 

Pelan-pelan aku mengangkat tangan kanan ke langit. 

Dengan kemampuan regenerasi seperti itu, tidak ada pilihan selain memusnahkannya sepenuhnya. Tanpa Gamzin yang memegang kendali, naga ini terlalu berbahaya untuk dilepas ke dunia. 

“Dia adalah Penguasa Surgawi, 

“Seluruh Sembilan Surga berpihak padanya.

“Sang penguasa langit.

“Yang mengawasi seluruh dunia.

“Seluruh langit gemuruh dalam genggamannya.

“Seluruh Bumi tunduk dalam pandangannya.

“Tombak Suci Kehendak Ilahi.

“Kilau Penghancuran.

“Aku memanggil tombak-Nya dengan kehendak surgawi.

“Gungnir!”


Cahaya biru jernih, mengingatkan pada langit yang luas, memancar ketika sebuah lingkaran sihir raksasa terbuka di udara. 

Dari pusat lingkaran itu, muncul sebuah tombak yang berkilauan dengan warna pelangi. 

Sasarannya adalah Nidhoggr yang melayang tinggi di langit. Dengan ketinggian itu, aku tidak perlu mengkhawatirkan kerusakan di sekitar. 

Nidhoggr telah sepenuhnya meregenerasi sayapnya dan mulai bersiap menembakkan napas untuk menangkis serangan. Tidak kabur, dalam arti tertentu, itu sangat khas seorang naga. 

Dia pasti yakin napasnya bisa menetralkan serangan ini. Dan memang, setelah pulih sepenuhnya, aku bisa merasakan kekuatannya lebih besar daripada sebelumnya. 

Tapi hasilnya tidak akan berubah. 

Vonis sudah dijatuhkan. Entah ia mencoba melarikan diri atau melawan, semuanya tidak ada gunanya. 

Bersamaan dengan Nidhoggr membuka mulut dan menembakkan napasnya, tombak surgawi melesat ke atas. 

Tombak itu membesar sedikit demi sedikit, lalu beradu dengan napas Nidhoggr. 

Dalam sekejap, tombak itu melahap serangan tersebut, dan segera setelah itu, tubuh Nidhoggr sendiri pun dilenyapkan oleh cahaya pelangi itu. 

Tombak itu terus melaju, menembus langit tinggi, hingga akhirnya meledak dengan keras. 

Dentuman dahsyat dan getaran tanah menyusul beberapa detik kemudian, mengguncang kota. 

Namun karena semuanya terjadi di udara, baik medan sekitar maupun kota hanya mengalami guncangan ringan.

Iblis dan naga. 

Mereka memang kuat, tapi dengan kekuatan sebanyak ini, mereka bukanlah lawan yang bisa membuat kami kewalahan. Bukan tanpa alasan kami menyandang gelar petualang peringkat SS. 

Kami bisa menghadapi ancaman yang mampu menghancurkan satu benua, itulah sebabnya kami layak menyandang gelar tersebut. 

Dengan demikian, penaklukan iblis dan naga oleh lima petualang peringkat SS pun berakhir. Memang memakan waktu terlalu lama, tetapi fakta bahwa kami berhasil menyelesaikannya tanpa merusak medan sekitar bisa dibilang sebuah kabar baik.


Bagian 8

“Apa yang kalian lakukan!? Tak banyak petualang yang akan menargetkan sisi itu, tahu!?”

“Berisik! Sudah terlanjur kupilih targetnya, mau bagaimana lagi, hah! Dasar kakek sialan!”

“Kamu pikir untuk apa ada unit pendukung!? Apa kamu mabuk sampai lupa kerja sama!?”

“Mabuk nggak ada hubungannya! Lagian, kalian itu lambat banget!”

“Kalau bukan aku, Silver sudah menanganinya!”

“Jangan mengandalkan orang lain, dong!” 

Jack dan Egor saling babak belur di atas tembok benteng, adu pukul tanpa sedikit pun kemauan mengalah.

Saking tinggi level keduanya, kebanyakan orang yang tadinya berada di atas tembok langsung turun supaya tidak ikut terseret. 

Astaga... 

“Sudah cukup. Kalian berdua, hentikan.”

“Pertarungan sudah selesai, jadi jangan ribut lagi! Dasar kakek sialan!”

“Bodoh! Jangan seenaknya hanya karena tidak keluar uang dari kantongmu sendiri!”

“Hah!? Apa...?”

Ucapan Egor membuat Jack berhenti bergerak. Dia tampak berpikir sejenak. 

Benar juga. Jack memang tidak rugi apa pun meskipun kalah.

Kalau Jack menang, aku akan memberinya hadiah. Tapi No Name tidak pernah meminta bagian dari hadiah itu.

Dia juga bilang dia tidak butuh uang, jadi dia tidak akan menagih apa pun. 

Sementara itu, Lienares dan Egor yang saling mendukung tadi rupanya memasang taruhan di antara mereka. Karena kalah, hadiah Egor kali ini berpindah ke Lienares. Tapi Jack tetap akan menerima hadiahnya seperti biasa. 

Dalam kejadian barusan pun, Egor sebenarnya punya alasan kuat. Aku dan Egor ada di atas tembok justru untuk menghadapi serangan seperti tadi.

Kalau Jack turun tangan lebih dulu, keberadaan kami di atas tembok jadi tak ada artinya. Wajar kalau Egor merasa lebih baik dia yang maju ke garis depan. 

Sadar bahwa dia tidak rugi apa pun, Jack menyeringai ke arah Egor. 

Dan kemudian... 

“Rasain, dasar kakek bau!”

“Menurutmu ini salah siapa!?”

“Kamu sendiri yang mulai taruhan! Nyalahin siapa pun cuma buat menutupi kebodohanmu!”

“Apa katamu!? Aku lakukan ini karena kita teman minum! Kamu... bayari aku minum!”

“Aku jelas nolak! Uangku cuma buat beli minuman untuk diriku sendiri!”

“Aku tak bisa memaafkanmu lagi!”

“Sini!” 

Pertarungan yang sempat reda kembali meledak. 

Saat keduanya sibuk baku hantam lagi, No Name dan Lienares kembali ke atas tembok. 

“Oh, bertengkar, ya? Memalukan sekali, kalian.”

“Kami bukan teman!”

“Itu kalimatku!” 

Meski menanggapi Lienares, keduanya tetap saling mengayunkan tinju, begitu cepat hingga petualang biasa tidak akan bisa melihatnya. 

“...Jack. Aku ingin bertanya.”

“Hah?” 

“Sekarang!”

“Mimpi sana!!” 

Begitu Jack menoleh pada No Name, Egor langsung melepaskan sebuah pukulan kanan tanpa ampun.

Jack merespons dengan pukulan kanan yang sama. 

Dua tinju itu mengenai pipi lawan masing-masing, dan keduanya terlempar ke belakang. 

“Gueh!?”

“Berani juga kamu!?” 

Mereka yang sudah bersiap maju lagi langsung dihentikan oleh No Name yang berdiri di antara keduanya. Dia menatap Jack lurus-lurus. 

“Aku ingin bertanya.”

“Ngeselin banget... apa lagi?”

“Mengapa kamu tidak menargetkan iblis itu?”

“Apa peduliku? Badanku bergerak sendiri.”

“Dengan levelmu, reaksi spontan seperti itu seharusnya bisa kamu kontrol.”

“...Karena minuman di kota ini enak. Itu saja.” 

Usai menjawab, Jack berdecak dan berbalik badan.

Sepertinya dia sudah tidak berniat melanjutkan perkelahiannya. 

“Yah, kita akan kembali, tapi mungkin masih ada sesuatu yang muncul. Seseorang harus berjaga di sini.”

“Aku saja.”

“Tidak, biar aku.” 

Setelah Jack menawarkan diri, No Name justru yang maju. 

Jarang sekali... 

“Ada angin apa? Kamu bilang tak punya ketertarikan pada Kekaisaran Suci, bukan?”

“Aku yang paling cocok berjaga di sini.”

“Itu benar. Tapi apa untungnya untukmu?”

“Kadang-kadang aku ingin melakukan hal seperti petualang juga.”

“Merasa kalah dari Jack, ya?”

“...Silakan tebak sendiri.” 

No Name turun dari tembok tanpa memberi penjelasan lebih jauh.

Jack tampak sangat curiga, tapi tidak menunjukkan tanda-tanda menolak keputusannya. 

“Yang lain ada yang mau berjaga?”

“Tidak ada.”

“Aku juga tidak.”

“Kalau dia yang berjaga, ya biarkan saja.” 

Setelah mendengar pendapat ketiganya, aku membuka gerbang teleportasi menuju markas pusat Guild Petualang.

Kami pun kembali ke markas.


* * *


Keesokan harinya.

Aku berada di kamar Fine. 

“Untuk sementara, masalah di sisi ini sudah beres.”

“Itu semua berkat bantuan semua orang.”

“Meski rasanya kalian juga menambah masalah baru.” 

Saat aku menarik napas panjang, Fine tersenyum lembut.

Namun senyum itu segera berubah menjadi serius. 

“Tapi ini belum berakhir.”

“Benar. Masalah Kekaisaran belum ada yang terselesaikan. Kamu akan berangkat hari ini juga?”

“Ya. Saya akan kembali secepat mungkin.” 

“Tidak perlu memaksakan diri. Bantuanmu sudah lebih dari cukup. Jangan terburu-buru untuk pulang.”

“Tidak bisa begitu. Kalau saya tidak segera kembali, Kapten Ines juga tidak bisa pulang.” 

Memang benar. Dalam situasi sekarang, keberadaan Kapten Kesatria Pengawal sangat penting.

Begitu Ines kembali ke ibu kota, para kapten lainnya akan lebih leluasa bergerak. Itu berarti akan lebih banyak hal yang bisa mereka lakukan. 

Namun.

“Meski begitu, kembalilah dengan hati-hati. Dan, yah, sejujurnya aku tidak terlalu khawatir kalau Ines ikut denganmu.”

“...Anda menganggap tidak akan ada ruang untuk negosiasi?”

“...Untuk Gordon, negosiasi sudah tidak ada artinya. Pilihan yang tersisa hanya membunuhnya.” 

“Begitu ya...”

Fine menunjukkan ekspresi muram.

Bukan karena dia merasa kasihan pada Gordon.

Aku atau Leo.

Salah satu dari kami harus menghabisi kakak kami sendiri. 

“...Ini masalah keluarga kekaisaran. Adalah hal yang wajar bila keluarga kekaisaran sendiri yang menuntaskannya.”

“Namun, keluarga kekaisaran pun tetap manusia.”

“Itu benar. Karena itu... saat aku dan Leo kembali dari medan perang, aku ingin kamu sudah berada di ibu kota.” 

“Baik. Pasti.” 

Fine menggenggam tanganku dengan lembut saat mengatakan itu.

Untuk sementara, aku harus berpisah dengan kehangatan itu. 

Fine akan kembali ke ibu kota, sementara aku baru akan menyusul setelah mengantar para petualang peringkat SS lainnya.

Aku bisa saja membawa Fine dan yang lain sekaligus, tapi membawa seluruh rombongan beserta pengawal akan memakan terlalu banyak energi sihir. 

“Kalau begitu, jaga dirimu.”

“Ya. Anda juga, Tuan Al.” 

Dia sengaja memanggilku “Tuan Al” karena mulai dari sini aku akan bertarung sebagai Arnold.

Itu cara Fine menunjukkan kekhawatirannya. 

“Semoga keberuntungan menyertai langkah Anda.”

“Ya, doakan saja. Karena kali ini... banyak darah yang mungkin tertumpah.”

“Saya percaya Anda adalah bisa meminimalisir darah itu.”

“Kamu benar-benar memberi tugas yang berat. Tapi baiklah, aku akan berusaha.” 

Dengan senyum masam, aku mengaktifkan teleportasi dan berpisah dari Fine.


Bagian 9

“Kalau begitu, kita berangkat.” 

Mengatakan itu, aku membawa ketiga petualang peringkat SS bersamaku dan melakukan teleportasi.

Mengantar mereka satu per satu akan terlalu merepotkan, jadi lebih efisien jika dilakukan sekaligus. 

Tujuan pertama adalah Lienares. 

“Kita sudah sampai.”

“Aaah, udara di sini enak sekali. Kulit dan rambutku hampir rusak dibuatnya.”

“Kalau cuma pindah tempat saja sudah bikin rusak, berarti itu tanda kamu sudah tua.”

“Jack? Mau aku terbangkan sampai ke Kerajaan?” 

Bagi Lienares, membahas umur adalah pantangan.

Senyum yang dia arahkan pada Jack lebih dipenuhi niat membunuh dibanding saat dia berhadapan dengan naga. 

Sepertinya Jack pun sadar situasi sedang tidak baik dan buru-buru menjaga jarak. 

“Cepat buka gerbang teleportasinya, Silver!”

“Aduh? Sudah mau pergi? Ayo minum teh denganku dulu.”

“Nggak mau! Hei kakek! Bilang sesuatu dong!”

“Wah, arak ini enak sekali. Luar biasa, Silver.”

“Senang mendengarnya.” 

Sejak kembali ke markas guild, Egor terus murung karena tidak mendapat bayaran dan tidak bisa minum. Jadi aku memberinya arak super mahal sebagai hadiah.

Berkat itu dia terus menyesapnya dengan wajah bahagia, bahkan di depan Jack. 

Merasa tidak bisa diandalkan sama sekali, Jack menatap Egor dengan pandangan seperti melempar boomerang, lalu mulai lari menjauhi Lienares yang mendekat dengan aura mengancam. 

“Haaah...” 

Untuk mencegah pertengkaran pecah di sini, aku membuka gerbang teleportasi. 

“Bagus!!” 

Begitu melihatnya, Jack melompat masuk seperti orang terjun ke air.

Benar-benar bodoh. Padahal tujuan teleportasi bukan sungai atau laut. 

“Kalau ketemu lagi, Jack bakal kena bogem mentah dariku.”

“Entah kapan itu terjadi. Tak ada pertanda baik kalau kita sampai berkumpul lengkap lagi.”

“...Benar juga. Semoga tak perlu lagi ada situasi yang memaksa kita untuk berkumpul.”

“Walau begitu, rasanya tetap sedih juga.” 

Egor pun masuk ke dalam gerbang. 

Aku hendak menyusul ketika Lienares menahan langkahku. 

“Silver.”

“Ada apa?”

“Jangan terlalu memihak dengan Kekaisaran.”

“...Perebutan takhta kali ini terlalu aneh. Ada sesuatu yang gelap di baliknya.”

“Dan menurutmu itu tugasmu untuk mengusutnya?”

“Siapa tahu. Tapi aku sudah terlanjur melibatkan diri. Sekarang sudah tidak mungkin untuk mundur.”

“...Begitu ya. Kalau begitu, hati-hati.”

“Terima kasih atas nasihatnya. Juga... terima kasih untuk semua bantuannya kali ini.” 

Saat aku mengucapkan terima kasih, Lienares tersenyum masam.

Lalu aku masuk ke gerbang. 

Tempat yang menjadi tujuan berikutnya adalah Desa Dwarf. 

Di sana... 

“Setelah membuat rumahku berantakan, kamu masih minum-minum seenaknya!?”

“Jangan pelit lah!” 

Jack dan Egor sudah berkelahi lagi, kali ini berebut minuman. 

Mendengar keributan itu, Sonia keluar. 

“Oh, selamat datang kembali! Urusan kalian sudah selesai?” 

“Kurang lebih. Aku serahkan Kakek Egor padamu.”

“Jangan perlakukan aku seperti barang! Aku yang menjagamu tahu!?”

“Aaah! Minum lagi!? Aku sita araknya!” 

“Aaaa!!?” 

Sonia merebut arak super mahal yang dikulum Egor sejak tadi, dan Egor menjerit pilu.

Jack yang melihat adegan itu terbelalak kaget. 

“Gadis ini menyeramkan...”

“Satu teguk! Satu teguk saja!!”

“Tidak! Bilangnya satu teguk, tapi habis diminum semua! Kakek, kesehatanmu penting!”

“Arak itu bagus untuk tubuh...”

“Kebanyakan minum, obat pun jadi racun!” 

Sonia menaruh botol itu di rak tinggi.

Egor mungkin bisa mengambilnya, tapi kalau dia coba, Sonia pasti akan marah habis-habisan. 

“Kalian pulang tiba-tiba jadi aku nggak sempat siapkan apa-apa. Aku panggil Ayah dulu ya.”

“Tidak perlu. Aku akan berangkat segera.”

“Oh? Padahal Ayah ingin bertemu denganmu...”

“Lain kali saja. Aku titip Egor padamu.”

“Baik, serahkan padaku.” 

Sonia tersenyum.

Senyum polos tanpa kepalsuan. Dia pasti bahagia hidup di sini. 

Baguslah.

Melihat senyum seperti itu membuat tindakan kami terasa tidak sia-sia.

Membuat dan menjaga senyum seperti ini, itulah cita-cita Leo untuk dunia. 

“Ada apa?”

“Tidak. Bukan apa-apa. Aku pamit dulu.” 

Aku membuka gerbang teleportasi. 

Jack masuk lebih dulu, lalu aku menyusul. 

Namun tempat yang kami datangi bukanlah kota minuman Bayeux. 

“Haah!? Ini di mana?”

“Perbatasan timur Negara Bagian.”

“HAAH!?”

Tempat yang kami datangi adalah hutan di dekat perbatasan timur Negara Bagian Cornix.

Bagi Jack, ini pasti tempat yang membuatnya ingin berteriak. 

“Apa maksudnya ini? Apa kamu juga ingin memaksaku berhenti minum?”

“Itu upahmu.”

“Apa!? Ini kamu bilang upah!? Aku mau kamu bantu aku buat nyari sesuatu...!”

Jack terdiam, menampilkan ekspresi seolah tak percaya.

Aku mengangguk pelan untuk menjawabnya. 

“Aku tidak tahu apakah dia benar-benar putrimu. Tapi aku tahu seorang gadis muda yang menggunakan busur sihir. Dan dia bukan sembarang pemanah, dia sangat hebat. Kalau dia murid dari gurumu, aku bisa mengerti.”

“D-Di mana!? Dia di mana!? Tidak, kenapa dia ada di sini!? Di negara berbahaya begini!” 

“Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, dia sedang melakukan sesuatu yang lumayan berbahaya di negeri ini.”

“...Katakan. Apa yang dilakukan gadis yang mungkin putriku itu?” 

“Dia seorang bandit dermawan. Namanya Kesatria Bulan Merah, Vermillion. Kamu pasti pernah dengar namanya, kan?”

“Hanya namanya... Bandit dermawan? Putriku?” 

Jack bergumam tak percaya.

Lalu dia menjatuhkan diri duduk di atas batu besar di dekatnya. 

“Kenapa? Tidak mau mencarinya?”

“...Kalau pencuri itu memang putriku... menelusuri jejaknya bisa berbahaya...” 

“Kamu mungkin bisa menemukannya. Tapi sekali ketahuan, dia pasti akan kesulitan bersembunyi.” 

Para bangsawan Negara Bagian, yang merupakan musuh Mia, sama sekali belum mampu menemukan identitas si pencuri.

Namun, jika Jack melacaknya lewat informasi rinci, para bangsawan itu bisa menyadarinya. 

Kemungkinannya memang sangat kecil.

Tapi sekecil apa pun, Jack tidak ingin menempatkan putrinya dalam bahaya. 

Dasar orang menyebalkan. 

“Kesatria Bulan Merah memusuhi para bangsawan Negara Bagian dan organisasi Grimoire. Kalau kamu mengikuti gerakan mereka, mungkin kamu akan bertemu dengannya.”

“...Menghancurkan organisasi kriminal tidak akan jadi masalah, ‘kan?”

“Tidak. Tapi menyerang para bangsawan akan berbahaya. Negara ini tidak punya fungsi membersihkan diri. Sekalipun kamu membongkar kejahatan para bangsawan, kamu hanya akan dimusuhi. Itu sebabnya dia memilih cara itu.” 

“Tch... Andai saja aku bisa nembak dari jauh dan beres...”

“...”

“Apa?”

“Tidak, tidak ada.” 

Mungkin saja ada hubungan darah di antara mereka.

Pola pikir dan tingkah lakunya hampir sama. 

Aku mengajukan tawaran pada Jack. 

“Jack. Ini sebuah transaksi.”

“...Apa?”

“Kesatria Bulan Merah mungkin saja putrimu. Kamu ingin mencarinya, dan kalau bisa, menolongnya. Benar?”

“Jelas. Jadi pencuri yang menolong rakyat tidak masalah. Itu pilihannya. Tapi tetap saja berbahaya. Kalau bisa, aku ingin menghentikannya.” 

“Tentu. Tapi menyentuh para bangsawan itu berbahaya. Kamu bisa diusir dari negeri ini.”

“Yah, negara ini mungkin saja melakukan itu.” 

“Karena itu, dengar baik-baik. Serang para bangsawan tanpa ketahuan. Hajar mereka habis-habisan sampai tidak bisa bangkit lagi. Pokoknya buat kekacauan di kalangan atas negara ini.” 

Jack menatapku dengan tatapan ragu.

Aku melanjutkan tanpa peduli. 

“Jika kamu melakukannya, aku akan membicarakannya dengan keluarga kekaisaran. Bila nanti kami melakukan serangan balasan dan berhasil menduduki negeri ini, mereka akan segera memprioritaskan menghukum para bangsawan korup itu.” 

“...Jadi, kamu ingin aku membuat kekacauan di balik layar?”

“Benar. Kekaisaran sekarang sedang dalam kondisi perang saudara, tapi pada kenyataannya kami sedang diserang dari utara dan barat. Untuk mengatasinya, salah satu harus dipukul mundur. Dan demi harga diri, keluarga kekaisaran pasti akan mengincar Pangeran Gordon. Dan masalahnya adalah Negara Bagian ini, yang menjadi penghubung antara Persatuan Kerajaan dan faksi Gordon. Kalau negara ini kacau, Persatuan Kerajaan pun akan sulit bergerak.” 

“Kalau perang saudara selesai, apa ada jaminan Kekaisaran akan melakukan serangan balasan?”

“Rakyat Kekaisaran tidak akan memaafkan negara yang menyerang saat perang saudara. Dan sebagai tempat melampiaskan amarah itu, Negara Bagian ini cocok sekali, apalagi mereka yang membunuh Putra Mahkoa. Kaisar pun pasti tidak akan membiarkannya.” 

“Aku mengerti...” 

Yang kuinginkan dari Jack hanyalah membuat kekacauan di balik layar. 

Para bangsawan Negara Bagian memang korup, tapi karena itulah mereka hanya peduli pada diri sendiri.

Dalam kondisi apa pun, demi keuntungan pribadi mereka bisa saja mengabaikan negeri mereka. 

Jika Jack mengamuk di dalam negeri, fokus mereka akan terpecah. Dan itu akan memutus hubungan antara Persatuan Kerajaan dan Gordon.

Jika distribusi pasukan dan logistik tersendat, pengaruh Gordon akan runtuh. 

Sementara itu, yang kuberikan kepada Jack adalah kebebasan bagi Mia.

Jika Negara Bagian dibersihkan, Mia akan terbebas dari perannya menjadi bandit dermawan. Meski sedikit merepotkan, tapi jika bisa mendapat bantuan Jack, itu harga yang murah. 

“...Baiklah. Aku terima tawaranmu.”

“Terserah kamu bagaimana kamu bertindak. Tapi jangan sampai identitasmu terbongkar. Kalau kamu sampai diusir, selesai sudah. Dan kalau sampai ketahuan pun, jangan mengamuk. Kalau kamu bikin ulah, aku pasti akan disuruh memburumu sendiri.” 

“Kamu banyak maunya... tapi baiklah. Akan kulakukan.” 

Setelah berkata begitu, Jack berjalan menuju wilayah Negara Bagian.

Aku mengikutinya dengan pandangan, lalu menghela napas pelan. 

Setidaknya langkah mengacaukan di balik layar telah dimulai.

Sisanya tinggal ditangani kekuatan dalam negeri. 

Dengan pikiran itu, aku lalu pindah ke ibu kota Kekaisaran. 

“Selamat datang kembali, Tuan.”

“Ah, aku kembali. Bagaimana situasinya?” 

Sebas, seperti biasa, menyambutku ketika aku muncul di kamarku.

Padahal belum seminggu aku pergi, tapi rasanya seperti sudah lama sekali. 

Namun rasa rindu itu langsung lenyap oleh laporan Sebas. 

“Pasukan yang dipimpin Pangeran William berhasil memukul mundur para penguasa utara yang membentuk bagian dari lingkaran pengepungan. Akibatnya, garis pertahanan yang dibangun Tuan Leonard runtuh, dan situasi di utara kini memihak pemberontak.” 

“Seperti kuduga, Pangeran Naga itu memang tangguh. Tidak ada pilihan lain, aku akan membantu mereka.” 

“Baik. Paduka Kaisar sedang mengadakan rapat darurat di ruang takhta.”

“Bagus. Ayo, ikut aku. Sekarang saatnya... bergerak di balik bayangan medan perang.” 

Dengan itu, aku mengenakan mantel keluarga kekaisaran dan melangkah menuju ruang takhta.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close