Penerjemah: Chesky Aseka
Proffreader: Chesky Aseka
Epilogue
Perbatasan timur Kekaisaran.
Pasukan penjaga perbatasan timur selalu berada dalam kondisi siap tempur, bersiaga menghadapi kekuatan besar terakhir dari Tiga Raksasa Benua yang belum menunjukkan gerakan apa pun, Kekaisaran Suci.
Semangat para prajurit tinggi. Suasana di dalam benteng seolah berkata bahwa mereka siap kapan saja musuh datang. Namun, panglima tertinggi mereka tidak sepenuhnya menyambut suasana seperti itu.
“Kalau mereka melihat kita terlalu siap dan terlalu bersemangat, musuh justru tidak akan lengah. Prajurit kita ini memang masih terlalu polos.”
“Kalau begitu, bagaimana dengan Anda sendiri, Nona Lizelotte?”
Di ruang pribadi Lizelotte, Marsekal Kekaisaran yang memimpin pasukan penjaga perbatasan timur, Jurgen berdiri menemani.
Setelah pemberontakan di ibu kota berakhir, Lizelotte kembali ke perbatasan timur. Keberadaannya di sini penting. Sekadar berada di garis perbatasan saja sudah membuat posisi negosiasi Eric menjadi lebih kuat. Hanya dengan kehadirannya, pergerakan negara besar seperti Kekaisaran Suci sudah terhalangi.
Menempatkan kekuatan tempur terkuat dari keluarga kekaisaran di perbatasan timur adalah langkah yang paling efektif.
“Aku sangat tenang, tentu saja.”
“Kalau begitu, silakan duduk. Akan kubuatkan teh.”
Dengan senyum lembut, Jurgen mengisyaratkan Lizelotte yang masih berdiri untuk duduk. Namun.
“Hmm... Tidak usah. Kita tidak tahu kapan musuh menyerang.”
“Kalau menunjukkan kesiapan, bukankah justru musuh tidak akan menyerang?”
Mendengar itu, Lizelotte terdiam. Melihatnya seperti itu, Jurgen hanya bisa tersenyum kecil.
Memang benar, kalau mereka terlalu menunjukkan semangat, musuh tidak akan bergerak. Dari sudut pandang pertahanan perbatasan, itu benar. Yang terbaik memang mencegah musuh menyerang.
Namun bagi Lizelotte saat ini, justru masalah kalau musuh tidak menyerang.
Dia ingin musuh datang cepat-cepat, supaya bisa langsung mengalahkan mereka. Begitulah perasaan Lizelotte.
Keinginannya itu bukan karena dia terpengaruh oleh Kekaisaran Suci. Berbeda dengan para prajurit bawahannya, alasan dia begitu bersemangat sama sekali lain.
“Sayangnya, selama Anda ada di sini, Kekaisaran Suci tidak akan berani bergerak. Itu artinya, Anda juga tidak punya alasan untuk meninggalkan tempat ini. Jadi, silakan duduk. Saya mengerti Anda mengkhawatirkan Yang Mulia Leonard, tapi tegang di sini pun tidak mengubah apa pun.”
“Jurgen, ingat baik-baik. Aku benci ketika orang memaksakan logika pada diriku.”
“Mohon maaf. Namun kalau Anda terus menegangkan diri, Anda akan kelelahan. Situasi tidak akan berubah untuk sementara waktu. Cobalah sedikit santai.”
“...Jurgen. Kamu pasti sudah mendengarnya, ‘kan? Ada utusan langsung dari Kanselir.”
“Benar. Saya dengar Yang Mulia Arnold juga berangkat ke wilayah utara.”
“Benar! Dua adikku yang manis sedang berada di wilayah utara! Di garis depan, mereka bahkan tidak bisa menikmati teh atau kudapan dengan layak. Kalau sebagai kakak, aku bersantai di sini dan menikmati hal-hal mewah, itu tidak pantas!”
“Berbagi penderitaan rakyat bukan tugas seorang raja. Berbagi penderitaan prajurit bukan tugas seorang panglima. Berbagi penderitaan adik-adik bukan tugas seorang kakak. Tugas Anda adalah mengatasi penderitaan itu, bukan merasakannya.”
Sambil menjelaskan, Jurgen menyeduh teh. Dia juga mengeluarkan kudapan yang dia bawa dan meletakkannya di meja.
Melihatnya, Lizelotte melangkah tiga langkah mendekati meja. Tapi kemudian cepat-cepat menjauh dua langkah sambil bergumam bahwa itu tidak boleh.
Jurgen yang melihatnya duduk sambil berpikir, Tadi dia tidak sedekat itu.
“Aku paham maksudmu. Kalau mereka yakin kita bisa menyerang kapan saja, Kekaisaran Suci takkan berani bergerak. Setelah itu kita baru menyerang balik dan langsung menuju utara, itu yang terbaik... Tapi Kekaisaran Suci baru saja dipukul mundur oleh serangan monster. Mereka tidak akan bisa bergerak cepat.”
“Kalau begitu, kehadiranku di sini tidak diperlukan?”
“Andai Anda pergi, barulah Kekaisaran Suci bergerak. Waktu Anda meninggalkan perbatasan sebelumnya, itu sebenarnya kesempatan besar bagi mereka. Karena mereka tidak memanfaatkannya, kali ini mereka pasti lebih berniat.”
“Aku sudah tidak tahan! Aku akan menyerbu Kekaisaran Suci dan memberi mereka pukulan yang membuat mereka tidak bisa bangkit lagi!”
“Itu akan membuat kita berperang di tiga front sekaligus. Itu keputusan yang buruk.”
Dinasihati dengan sudut pandang militer, Lizelotte menggerakkan pipinya dengan kesal. Hampir tidak ada orang yang bisa berbicara padanya seperti ini. Apalagi seseorang yang dapat menolak pendapatnya sedrastis ini, hanya Jurgen yang masih berani.
“Leo sedang terkepung, dan Al masih berada di tengah bangsawan utara yang belum jelas sikapnya! Aku tidak bisa minum teh santai-santai! Ini berbeda dengan situasi di ibu kota!”
“Bukankah Anda percaya pada mereka?”
“Aku percaya, tapi apakah salah jika sebagai kakak aku ingin membantu?”
“Tidak sama sekali. Mereka beruntung memiliki kakak seperti Anda. Tapi justru karena Anda berjaga di sini, mereka bisa mencurahkan seluruh tenaga mereka di utara. Bukankah Anda yang paling paham tentang itu?”
“Hari ini kamu cukup menantang, ya, Jurgen?”
“Kalau tampak begitu, mungkin karena Anda sedang kehilangan sedikit rasa tenang itu. Silakan duduk. Menunggu perubahan situasi juga adalah strategi.”
“...Aku membayangkan Leo bahkan kesulitan mendapat air minum...”
“Ada laporan bahwa persediaan berhasil dikirim. Jadi tidak perlu khawatir. Selain itu, Yang Mulia Arnold juga sudah bergerak. Dalam waktu dekat pasti ada perkembangan besar. Harap bersabar sampai saat itu.”
“...Baiklah. Aku akan menganggap kata-katamu benar.”
Begitu berkata, Lizelotte pun akhirnya duduk.
Teh yang sudah dingin disisihkan oleh Jurgen untuk dirinya sendiri, dan dia menyeduhkan teh baru untuk Lizelotte.
Saat semuanya sudah siap, barulah Jurgen berkata, “Semuanya akan baik-baik saja. Bagaimanapun, mereka adalah adik-adik Anda.”
“Hmm, itu benar juga. Baiklah, Jurgen. Aku akan memenuhi permintaanmu dan menemanimu minum teh. Ayo, buat aku senang.”
“Dengan senang hati.”
Sambil berkata begitu, Jurgen meletakkan kudapan di hadapan Lizelotte.
Previous Chapter | ToC |



Post a Comment