NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

TRPG Player ga Isekai de Saikyou Build wo Mezasu Volume 4 Chapter 2

Masa Remaja

Musim Dingin, Usia Tiga Belas


Ikatan dengan Koneksi — Beberapa permainan menyertakan sistem hubungan untuk mendefinisikan interaksi pemain dengan NPC yang bersahabat. Rentang hubungan ditetapkan mulai dari kemitraan profesional, persahabatan yang dibangun atas ikatan timbal balik, hingga cinta romantis yang abadi.

Namun berhati-hatilah: setiap tindakan yang diambil selama sesi pasti akan memengaruhi Social Link seseorang.

◆◇◆

"Mm... Dingin sekali..."

Meskipun aku tidak tahan dengan suhu yang menusuk tulang, aku selalu menghargai udara musim dingin yang segar. Pagi yang dingin itu menusuk hidung saat aku menghirupnya, tetapi aku bisa merasakan paru-paruku seolah dibilas bersih saat mengembuskan napas.

Hawa dingin ini adalah cara paling ampuh untuk membangunkanku, bahkan saat seprai hangat mencoba menarikku kembali ke alam mimpi.

Di bawah pengawasan ketat sang Ashen Fraulein, jalanan distrik bawah ibu kota kekaisaran masih diselimuti kegelapan pagi yang beku. Musim dingin membuat sinar matahari menjadi barang langka. Aku bahkan harus menggunakan Cat Eyes hanya untuk melihat sekitar, meski aku tidak bangun lebih awal dari biasanya.

"Di sini memang jauh lebih dingin daripada di rumah..."

Si Burung Sutra cukup baik hati untuk menyiapkan seember air hangat untukku. Air sumur pada musim seperti ini sangat dingin, hingga rasanya kulitku bisa terkelupas hanya dengan menyentuhnya.

Sumur-sumur di ibu kota tidak terhubung langsung dengan air tanah alami; airnya dipompa dari sistem saluran air yang membentang di bawah dan di atas tanah, sehingga suhunya sangat bergantung pada musim.

"Tapi mereka bilang di sini turun salju setiap tahun," gumamku dalam hati. "Kurasa suasananya pasti akan berbeda."

Berylin terletak di wilayah utara Rhine, dan aku belum pernah mengalami cuaca sedingin ini di kampung halamanku, Konigstuhl.

Aku telah menghabiskan bertahun-tahun tanpa salju di sana. Membandingkan iklim rumahku dengan negeri yang sering dilanda hujan es ini mungkin adalah sebuah kekeliruan sejak awal.

Namun, di atas langit masih ada langit. Ibu kota ini bukanlah tempat terdingin di Kekaisaran. Semakin jauh ke utara, elemen alam akan semakin kejam menembus pakaian pelindungmu. Aku masih beruntung karena tidak mati kedinginan begitu api pemanas padam.

Sambil meyakinkan diri tentang keberuntunganku, aku menyeka wajah. Saat membuka mata, sebuah botol kecil yang sebelumnya tidak ada di sana muncul di hadapanku.

Aromanya samar-samar seperti perpaduan susu dan zaitun. Itu adalah salep pelembap untuk menangkal udara kering. Barang seperti ini terlalu mahal untuk dibeli orang biasa. Aku tidak tahu dari mana dia mendapatkannya.

"Terima kasih atas niat baikmu, Fraulein."

Mempertanyakan asal-usulnya tidak akan memberiku jawaban, jadi aku memutuskan untuk menikmatinya saja. Aku duduk di depan cermin berkabut peninggalan penyewa lama, lalu melepas perban yang menutupi luka sisa pertempuran...

"Hah?"

Aku mengintip ke cermin dan mendapati wajahku benar-benar tanpa cela. Bukan berarti aku menggunakan Skill atau sifat tertentu untuk mencapai ketampanan yang tak tertandingi; maksudku, keropeng yang sebelumnya menghiasi wajahku telah berubah menjadi kulit halus seperti sutra.

Bukan hanya itu, bekas luka yang selama ini kunantikan pun menghilang tanpa jejak!

Aku mengusap pipiku dengan jari karena tak percaya, tetapi satu-satunya sensasi yang kurasakan hanyalah kulit yang lembut seperti pantat bayi. Padahal aku berani bersumpah mendengar sang penyembuh mengeluh bahwa luka-lukaku akan meninggalkan bekas permanen.

Apa? Bagaimana bisa? Ke mana perginya bekas luka itu?!

Padahal aku sudah begitu gembira karena akhirnya mulai terlihat seperti pria sejati.

Bagiku, bekas luka di wajah menceritakan kisah hebat dari sejarah pribadi yang penuh konflik. Setelah menaklukkan musuh yang begitu perkasa, aku sudah siap menanggung kenangan fisik dari pertempuran sengit tersebut.

Bayangkan di masa depan nanti, para petualang muda akan menatapku dan bertanya, "Dari mana Anda mendapatkan bekas luka itu?" dan aku akan menceritakan kisah heroikku dengan seringai penuh arti...

Atau setidaknya, aku akan melakukannya jika saja bekas luka itu tidak lenyap bersama khayalan sekilas itu. Menghilangkan koreng memang menyenangkan, tapi bagaimana mungkin mereka hilang tanpa meninggalkan bekas sedikit pun?

Terlebih lagi, seharusnya kumis mulai tumbuh di wajahku sekarang. Kalau dipikir-pikir, aku ingat kakakku, Heinz, pernah memamerkan kumisnya saat ia seusia denganku.

Kekaisaran Trialis Rhine—dan sebagian besar bangsa di Barat—memandang janggut sebagai simbol kedewasaan. Menumbuhkan janggut mungkin mudah, tetapi merawatnya agar tetap rapi adalah tantangan besar.

Memiliki rambut wajah yang indah adalah bukti dari waktu dan tenaga yang dihabiskan. Beberapa ras bahkan menghiasi janggut mereka dengan pita emas.

Seperti bekas luka, aku diam-diam ingin menumbuhkan rambut wajah sendiri suatu hari nanti. Selama di Jepang dulu, aku tidak punya alasan untuk itu. Namun, semua aktor tampan dalam film fantasi favoritku selalu tampil gagah dengan rambut panjang di dagu mereka.

Ayahku memiliki janggut yang rapi, dan janggut kakak tertuaku sudah tumbuh penuh saat ia dewasa. Secara genetika aku tidak punya masalah. Aku sudah menghabiskan banyak waktu berkhayal tentang gaya janggutku nanti.

Namun kenyataannya, wajahku tetap selembut beludru. Aku mengusap daguku dengan Dexterity yang tidak manusiawi, tetapi ujung jariku yang sensitif tidak merasakan hambatan apa pun. Kejadian ini mulai terasa sangat mencurigakan.

"...Ursula."

"Apakah engkau memanggil, wahai Kekasih? Betapa sibuknya dirimu hingga harus bangun sebelum bulan menghilang."

Aku memanggil sang Svartalf untuk memastikan kecurigaanku. Ia muncul dari kegelapan seolah sudah ada di sana sejak tadi. Fajar belum menyingsing, dan di bawah cahaya False Moon yang hampir purnama, aku melihat bayangan peri malam itu di sudut cermin.

Meskipun aku tidak suka dia bersantai di tempat tidurku seolah dia pemiliknya, aku mengabaikan sopan santun buruknya demi mendapatkan jawaban.

"Luka-lukaku sembuh total dan janggutku tidak tumbuh. Apa kau tahu sesuatu?"

Menyadari tidak ada gunanya berdebat secara verbal dengan wanita berlidah perak, aku bertanya langsung pada intinya. Ia mengangkat kepala dari bantal dan menjawab dengan nada acuh tak acuh.

"Hmm, aku tidak tahu apa-apa soal luka atau bulu wajah. Secara pribadi, aku lebih suka laki-laki dengan bekas luka. Kegilaan bersinar paling terang di bawah sinar bulan, dan aku merasa noda bekas pertempuran itu terlihat puitis dan indah."

Aha, jadi kau tidak tahu apa pun 'secara pribadi', ya?

"Lotti."

"Hai! Butuh sesuatu?"

Tersangka kedua segera merespons panggilanku dan perlahan melayang turun ke kepalaku. Cahaya Hollow Moon yang sedang membesar selaras dengan keanggunan sang Sylphid. Ia menyelipkan dirinya di sela-sela rambutku.

"Apakah kau melakukan sesuatu pada lukaku dan janggutku?"

"Hah?! Uh... Um..."

"Sudahlah. Tidak perlu menjawab."

Di antara kesaksian Ursula yang berputar-putar dan kegagapan Charlotte yang jelas, pelakunya sudah terlihat. Aku terhuyung ke depan dan membenamkan wajah di lenganku. Sang Sylphid melayang menjauh agar tidak terjatuh, lalu mendekati wajahku dengan mata memelas seperti anak anjing.

"Eh... Maafkan Lottie. Lottie cuma berpikir kamu pasti sedih kalau punya luka yang tidak bisa hilang. Orang-orang biasanya khawatir kalau ada bekas di wajah mereka, kan? Dan... teman-temanku juga bilang kalau punya luka di sana itu tidak lucu..."

Begitu rupanya. Jadi para Alfar telah melakukan sesuatu untuk mencegah lukaku meninggalkan bekas. Kalian benar-benar punya banyak trik rahasia.

"Tidak," kataku lembut. "Jangan khawatir. Sungguh, tidak apa-apa. Aku tidak marah."

Melihatnya menundukkan kepala karena malu membuatku merasa bersalah, meskipun aku tahu ini bukan salahku. Aku benar-benar tidak marah, karena aku tahu dia melakukan ini karena sangat peduli padaku.

Meski begitu, aku tetap akan mengurangi porsi permen yang kuberikan padanya saat waktu camilan.

Kekaisaran berdagang gula dengan harga yang menguntungkan, jadi tidak terlalu mahal untuk mendapatkannya... tapi juga tidak bisa dibilang murah.

Hm?

Apa itu?

Aku pelit?

Maafkan aku, tapi aku tidak bisa menahan rasa perih saat melihat dompetku menipis.

Sepuluh Drachmae yang kudapat dari Tuan Feige sebagian besar kugunakan untuk memperpanjang beasiswa Elisa, sisanya kuberikan pada orang tuaku dan keponakanku yang baru lahir.

Mulut Charlotte menganga dan ia mulai merajuk. Namun, ada satu hal yang menggangguku: dia tidak menyinggung soal janggut.

"Yang berarti, urusan janggut ini adalah hasil karya..."

Saat aku menyuarakan keraguanku, terdengar suara keramik berdenting seolah pemegangnya tersentak kaget.

Aku melirik ke arah cermin dan melihat ember di samping tempat tidurku telah diganti dengan secangkir teh merah chicory yang mengepul.

Belum pernah sekalipun aku mendengar suara peralatan makan berdenting di rumah ini saat menerima minuman pagi. Aturan yang dilanggar ini menunjuk pada satu kesimpulan pasti.

"...Nona Ashen."

"Dia bilang, 'Aku tidak bisa menahannya. Janggut itu tidak lucu sama sekali'." Ursula berbicara mewakili sang pelayan yang pendiam itu.

...Yah, sudahlah. Lakukan saja sesuka kalian. Aku terkejut pengasuhku yang pendiam dan bertanggung jawab itu ikut mengerjaiku, tapi aku ingat Silk Bird memang punya reputasi gemar membuat keonaran.

Sambil mengusap daguku yang mulus dengan sedih, sebuah kesadaran muncul. Para Alfar menyukai anak-anak berambut pirang dan bermata biru.

Dua hal itu yang menarik perhatian mereka padaku sejak awal, tapi mungkinkah kepolosan masa muda juga sangat penting bagi mereka?

Ursula bilang dia tidak tahu soal "luka atau janggut," tapi dia sengaja menyembunyikan keterlibatannya dalam hal lain.

"Hei, Ursula."

"Mm? Ada apa lagi, Sayang? Aku mulai mengantuk..."

"Melihat anggota keluargaku yang lain, aku pasti akan tumbuh cukup tinggi nanti."

Faktanya, aku sudah mengalokasikan poin untuk melewati batas 180 sentimeter saat dewasa nanti.

Bangsawan kekaisaran memang diberkati dengan fisik yang besar, jadi tinggi badan itu tidak akan terlalu mencolok... kecuali bagi mereka yang terobsesi dengan keimutan kekanak-kanakan.

"Ke-kenapa kau tiba-tiba membahas itu?"

Aku tidak pernah mendengar Ursula terbata-bata sebelumnya. Pandangan matanya yang tidak tenang menjadi bukti terakhir yang kubutuhkan.




Huh, begitu. Jadi begitulah caramu memainkannya.

Aku berputar cepat, memanggil Invisible Hand untuk melepaskan lilitan tali kepercayaanku dan mendorongnya ke arah tempat tidur.

Aku tidak menggunakannya sebagai cambuk; jari-jari tak kasat mataku menjepit ujungnya, mengarahkan tali itu untuk menjerat peri yang bersalah tersebut.

Begitu aku menarik tali itu, Ursula menghilang dengan teriakan pendek, hanya menyisakan selimutku di dalam laso.

Aku mendengar Ashen Fraulein menjatuhkan sesuatu dengan panik saat merasakan kemarahanku; angin musim dingin yang tak beraturan pun berembus kencang keluar dari jendela yang kubuka.

"Kalian semua?! Hei! Ini tidak lucu, sialan! Sebaiknya kalian tidak melakukan apa pun lagi! Kembali ke sini! Tunjukkan diri kalian!"

Ini adalah pertama kalinya aku kehilangan kesabaran hingga berteriak pada teman-temanku yang tidak kekal itu. Tinggi badan lebih dari sekadar masalah preferensi pribadi: aku membutuhkannya untuk pekerjaanku sebagai pendekar pedang!

Setiap inci yang hilang memengaruhi panjang lenganku dan memperpendek jangkauan ayunan pedang. Hanya orang bodoh yang menganggap ini masalah sepele; dalam pertarungan, hidup dan mati sering kali hanya bergantung pada selisih milimeter.

Lebih jauh lagi, berat badan adalah segalanya dalam pertarungan jarak dekat. Beban otot yang dapat ditanggung tubuh berbanding lurus dengan tinggi badan.

Jika aku harus menghadapi lawan besar dengan keterampilan yang setara, peluangnya akan sangat tidak menguntungkan bagiku. Kalau tidak, mengapa asosiasi tinju di Bumi memberlakukan pembatasan kelas berat yang begitu ketat?

Kemarahanku karena hidupku dipermainkan meluap dalam teriakan. Sayangnya, semua amarahku menghilang tanpa jawaban dalam keheningan pagi.


[Tips] Berkat dan perlindungan membutuhkan kemauan dari pemberi, tetapi tidak selalu dari yang diberi. Jika tidak, nuansa warna emas dan biru tidak akan begitu umum muncul di antara jiwa-jiwa muda yang berangkat ke surga atau mereka yang tidak pernah kembali dari hutan terdalam.

◆◇◆

Salju yang turun semalam mewarnai kota dengan lapisan putih bersih yang berderak di bawah kakiku.

Warna merah bata dari bangunan-bangunan mengintip di balik lanskap yang memutih, sementara cahaya biru samar dari lampu jalan mistis menciptakan pemandangan yang seperti mimpi.

Saat aku menghirup udara dingin itu, rasanya seperti meminum segelas besar air es. Langit yang perlahan cerah terasa segar dan manis, sebuah aroma yang hanya bertahan sesaat di hidung.

Aku menghela napas panjang dan dalam; kemarahanku akhirnya mereda.

Pada tingkat ini, Ursula maupun Lottie tidak akan menampakkan diri untuk sementara waktu, dan Ashen Fraulein memang tidak pernah muncul sejak awal.

Mereka tampaknya memilih untuk menunggu hingga "amukan kekanak-kanakanku" reda. Mereka sebaiknya sadar bahwa aku tidak akan melupakan ini begitu saja.

Tidaklah pantas jika aku datang bekerja dalam suasana hati yang buruk. Jadi, aku memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati pemandangan kota yang mulai terbangun.

Meski begitu, aku tidak ingin terlalu santai hingga jatuh sakit karena kedinginan. Aku mengaktifkan Insulating Barrier dengan add-on Selective Screening untuk mengusir hawa dingin, serta menerapkan lapisan hidrofobik pada sepatu botku.

Ini adalah salah satu hasil belanjaku dari gaji di Ichor Maze. Pertarungan memang inti dari TRPG, tetapi aku selalu ingin memiliki akses ke Lifestyle Skills praktis yang muncul selama segmen roleplay.

Jawabanku adalah mengambil Mystic Barrier di level III: Apprentice. Secara konseptual, ini hanyalah lapisan tipis yang menghalangi fenomena yang tidak diinginkan.

Pada Scale V, aktivasi akan menjadi sangat cepat, sehingga dapat digunakan sebagai Counter-Reaction untuk menangkis anak panah atau pedang. Dengan sedikit kecerdikan, aku bisa menggunakannya untuk menangkis air, angin, dan dingin sekaligus.

Berjalan di tengah salju tanpa khawatir pakaian dan rambut menjadi basah adalah perasaan yang luar biasa. Wah, ini penemuan yang sangat bagus. Aku bahkan bisa melilitkannya di tanganku saat mengambil air untuk mencegah kulitku pecah-pecah. Aku mengambil ide ini dari sarung tangan sihir milik Nona Agrippina. Jelas, aku telah membuat keputusan yang tepat.

Aku tiba di Kampus dengan perasaan senang dan langsung menuju kandang kuda.

"Hai, wah. Selamat pagi untuk kalian semua."

Aku menenangkan kerumunan kuda yang ingin bermain—aku mengambil jalan memutar jauh untuk menghindari Unicorn bodoh itu—dan akhirnya tiba di kandang Castor dan Polydeukes.

Mereka tetap bersemangat meskipun fajar baru saja menyingsing. Makhluk-makhluk ini sangat hangat, bahkan menghasilkan uap panas setelah latihan, membuktikan bahwa mereka tidak butuh sihir untuk menahan cuaca.

"Hei, hei, berhentilah menggigitku... Apa? Kau bosan?"

Polydeukes menggesekkan tubuhnya ke punggungku saat aku membersihkan kotoran dan mengganti alas tidurnya. Ia menggigit pakaianku sambil mendengus, memohon agar aku mengajaknya keluar. Seekor kuda perang harus berlari untuk menjaga fungsinya, dan aku sadar mereka sangat ingin berolahraga.

"Aku akan meminta mereka mengizinkanmu berlari hari ini, oke? Aku janji akan mengajak kalian jalan-jalan sebelum salju menumpuk."

Aku membelai wajahnya. Iris ungunya yang muram menatapku seolah bertanya, "Apakah kau bersumpah?"

"Aku tidak akan berbohong padamu," kataku sambil menepuk bahunya. "Aku akan mengundang Mika agar kita berempat bisa pergi."

Dioscuri bersaudara itu akhirnya tenang. Berkomunikasi dengan mereka membuatku merasa mereka sangat manusiawi. Mereka tidak akan menerima perlakuan buruk begitu saja; mereka adalah tipe hewan sombong yang akan menjatuhkan joki yang tidak mereka sukai.

Mungkin itu sebabnya mereka menanggapi ketulusanku dengan baik. Tentu saja, aku harus adil. Jika aku memanjakan yang satu, yang lain akan kesal. Jadi, aku memberikan perlakuan yang sama pada Castor hingga wajahku penuh dengan air liur mereka—aku tidak tega menggunakan Barrier pada mereka.

Aku mengucapkan mantra Clean pada diriku sendiri dan pada barisan pengawal kuda lainnya yang sudah menunggu dengan koin tembaga di tangan. Sekarang, banyak dari mereka yang cukup ramah untuk menyapaku di kota.

"Maaf," kataku pada pengurus kandang. "Jika tidak terlalu merepotkan..."

"Jangan khawatir, aku tahu aturannya. Aku akan membiarkan mereka berlari sepuasnya."

Setelah memberikan tip dan layanan Clean gratis pada sang direktur latihan, aku berjalan masuk ke Krahenschanze.

"Hah," gumamku dalam hati, "ada apa dengan orang-orang ini?"

Suasana musim dingin mereda saat aku melangkah masuk. Aula utama yang biasanya hanya berisi mahasiswa yang melihat papan pengumuman, kini tampak berbeda.

Beberapa kelompok bangsawan kaya sedang berkunjung ke Sekolah Tinggi. Mereka mengenakan pakaian dari benang sutra dan emas dengan kancing permata yang berkilau. Aku melihat mantel dengan kontrol iklim pribadi dan tongkat sihir mewah yang lebih mengutamakan estetika daripada fungsi.

Pelayan mereka mengenakan pakaian mewah bergaya kuno, sementara para pengawal dilengkapi dengan pedang bergaya namun praktis. Mereka mengobrol dengan senyum yang terlukis sempurna. Aku penasaran apa urusan para bangsawan sombong ini di Kampus.

Biasanya, para Magia adalah pihak yang mencari pelindung, bukan sebaliknya. Para bangsawan yang kembali ke Berylin untuk acara sosial musim dingin biasanya lebih suka mengirim utusan daripada datang sendiri.

Waduh, pikirku sambil berpaling. Rasa ingin tahuku membuat para pengawal tajam itu menyadari tatapanku. Aku memutuskan untuk mundur secara taktis sebelum ditegur. Tidak ada hal baik yang datang dari orang biasa sepertiku yang mencoba ikut campur—sebuah pelajaran yang diajarkan oleh Nona Agrippina dengan segenap jiwanya.

"Wah, kau sudah di sini? Waktu memang cepat berlalu."

Aku memasuki rumah kaca milik Nonaku yang misterius itu. Ruangan itu bermandikan cahaya matahari lembut yang sama sekali tidak cocok dengan musim dingin di luar.

Namun, dari semua hal yang kuharapkan, melihat tubuhnya yang telanjang bulat bukanlah salah satunya.

Rambutnya yang biasa disanggul kini terurai basah, menempel pada lekuk tubuhnya yang putih.

Meskipun ia malas berolahraga, tubuhnya memiliki proporsi otot yang sangat normal dengan daya tarik estetika menyaingi patung marmer zaman Renaisans.

"Aku punya banyak hal untuk dikatakan," keluhku, "tapi pertama-tama, aku mohon padamu untuk tidak berkeliaran sebelum mengeringkan rambutmu."

Meskipun tuanku sering bermalas-malasan dengan pakaian tipis, ini pertama kalinya ia benar-benar tanpa pakaian sama sekali. Ia benar-benar tidak peduli soal kesopanan, tapi aku bahkan tidak perlu melempar dadu untuk menolak pesonanya.

"Tiba-tiba aku ingin mandi," jelasnya, "tapi buku yang kubaca ternyata terlalu menarik. Jadi aku mengangin-anginkan tubuhku agar pakaianku tidak basah karena keringat."

"Ya, ya, terserah Anda," jawabku. "Aku ingin menata rambutmu, jadi, bisakah Anda duduk?"

Nona Agrippina duduk dengan angkuh seolah-olah dialah yang telah berjasa membantuku, padahal catatan menunjukkan bahwa semua kenyamanan yang ia nikmati adalah hasil kerja kerasku.

Karena tidak ingin air dari tubuhnya menetes ke seluruh karpet dan menambah pekerjaanku nanti, aku menggunakan sihir untuk menghilangkan sisa air di kulitnya.

Aku mulai menyisir rambutnya dengan hati-hati dan mengeringkannya dengan handuk. Aku bisa saja menyelesaikannya dengan sihir pembersihan cepat, tetapi hasilnya tidak akan pernah sehalus jika dikerjakan secara manual.

"Ahh," desahnya pelan. "Sungguh menenangkan. Tolong pijat kulit kepalaku juga, ya?"

"Saya khawatir hari ini tidak cukup panjang untuk melayani permintaan itu, Nona."

Sungguh luar biasa betapa wanita ini bersikeras untuk berjalan sesuai iramanya sendiri. Dengan sabar, aku memeras handuk setiap kali helai rambut peraknya yang panjang mulai mengering.

Sisir di tanganku terasa hampir tidak berguna karena rambutnya sangat halus tanpa simpul sedikit pun. Aku merasa seolah baru saja membuang waktu merawat sesuatu yang sudah sempurna sejak awal.

"Mm, bagus sekali... Sekarang, berikan sisirnya padaku."

"Sesuai keinginanmu."

Majikanku yang masih tanpa busana itu dengan anggun mengeluarkan sebuah buku untuk menyibukkan diri, tetapi tangannya tetap terentang menunggu. Begitu sisir itu berpindah tangan, kobaran api kecil menjalar di permukaannya, membakar sisa rambut yang tertinggal.

Tubuh seorang Methuselah adalah mesin yang sangat efisien dengan limbah hampir nol, kecuali rambut mereka. Rambut bisa digunakan sebagai bahan rahasia dalam sihir pelacakan atau kutukan target.

Tuanku sangat sadar akan bahaya dendam di dunia penyihir, karena itu ia sangat cerewet soal menutup celah keamanan—bahkan di hadapan pelayannya sendiri yang nyawanya ia genggam.

"Hmm," Nona Agrippina merenung, "apakah aku akan sarapan hari ini atau tidak?"

"Nona, saya mohon, berpakaianlah terlebih dahulu."

"Tapi sepertinya tidak ada yang memperhatikan."

Mengabaikan komentar sosiopatnya, aku memaksa wanita itu bertransformasi dari seorang gelandangan tak tertolong menjadi wanita cantik yang sanggup menyaingi Helen dari Troy—dalam artian dia juga bisa membuat sebuah negara bertekuk lulut, meski lewat kekuatan fisik. Aku membawakannya jubah yang biasa ia kenakan karena bertanya soal pilihan pakaian hanya akan membuang waktu.

Sambil menyiapkan sarapan, aku bergumam pelan bahwa dunia akan lebih baik jika dia bisa membuang sedikit saja sifat anehnya itu. Layanan kamar mengantar pesanan tepat waktu, dan aku segera pergi untuk membangunkan Elisa setelah menata meja.

Kamar Elisa adalah yang paling "sempit" di seluruh bengkel ini, meski dalam standar normal, ruangan seluas dua puluh enam meter persegi ini bisa ditempati tiga orang dewasa dengan nyaman. Setiap kali aku berkunjung, kamar itu terlihat semakin berantakan dengan hadiah-hadiah mewah dari Nona Leibniz.

"Wah, ini pasti... sesuatu yang luar biasa."

Persembahan terbarunya benar-benar gila. Adik perempuanku tersayang tidur lelap di atas tempat tidur yang cocok untuk seorang putri.

Kasurnya begitu luas hingga tiga orang dewasa bisa melakukan rutinitas yoga di atasnya tanpa bersentuhan, lengkap dengan tirai sutra halus pada kanopinya. Elisa tidur dalam kondisi yang jauh lebih mewah daripada tempat tidur gantung milik tuannya sendiri.

Belum lagi meja tulis kuno kelas satu yang tingginya bisa disesuaikan, serta lemari pakaian yang secara ajaib telah ditingkatkan menjadi ruang penyimpanan multi-dimensi. Meja itu dipenuhi kertas dan pena mewah yang mengisyaratkan keinginan memuakkan si pengirim untuk menerima surat balasan dengan tulisan tangan Elisa yang imut.

Hatiku terasa hangat saat melihat Elisa tidur sambil memeluk erat sebuah boneka beruang lusuh.

Kamar itu penuh dengan boneka mewah mahal yang bahkan belum dibuka bungkusnya, tetapi dia justru memilih boneka kain perca buatanku yang mulai rusak karena diremas setiap malam.

Melihatnya menghargai hasil karyaku lebih dari segalanya membuat dadaku sesak oleh kegembiraan.

"Elisa," bisikku lembut, "sudah pagi."

"Mmgh... Kakak?"

"Mhm, selamat pagi, Elisa. Aku di sini, mari kita sarapan."

Aku menggendongnya dari tempat tidur dan membantunya bersiap. Aku sempat bertanya-tanya, siapa yang mengurusnya saat aku pergi? Tidak mungkin Nona Agrippina, kan? Membayangkan wanita itu mengurus orang lain saja sudah membuat bulu kudukku merdiri.

Jadwalku sedikit berubah karena Elisa kembali bersikap manja. Bagaimana aku bisa menolak saat matanya berkaca-kaca sambil bertanya, "Kakak tidak akan terluka lagi, kan?"

Aku yakin Nona Agrippina mengizinkanku ikut kuliah paginya hanya karena dia malas menghadapi tangisan Elisa.

Jadi, aku bertahan sampai tengah hari, mengikuti ceramah tentang bahasa istana dan etiket.

Materinya jauh lebih rumit daripada yang kubayangkan. Elisa sedang belajar puisi, merangkai rima, dan motif sejarah dengan tingkat linguistik yang bahkan belum pernah kusentuh.

"Kamu juga boleh mencobanya, Kakak!"

"Terima kasih, Elisa. Tapi habiskan dulu makananmu, oke?"

Aku tersenyum untuk menyembunyikan keringat dingin saat melihat harga Krantz Cake di piringnya. Pikiran kelas pekerjaku tidak bisa berhenti menghitung berapa biaya hidangan semewah ini jika aku harus membayarnya sendiri.

"Ah," Nona Agrippina melambaikan tangan saat aku membereskan pekerjaan rumah. "Aku hampir lupa."

Ia memberikan sebuah catatan dalam bentuk kupu-kupu origami. "Itu reservasi yang kau minta. Gunakan namaku. Jika ada yang bertanya, katakan kau sedang menjalankan tugas percobaan."

Kertas di tanganku adalah tiket masuk ke fasilitas pengujian Sekolah Tinggi.

Melakukan eksperimen sihir di sembarang tempat adalah tindakan tidak bertanggung jawab, jadi aku meminta Nona Agrippina memesankan ruang penahanan khusus untukku.

Fasilitas ini adalah "kotak" yang cukup kuat untuk menahan eksperimen paling berbahaya sekalipun tanpa membahayakan warga kota.

Mendapatkan izin ini dalam waktu singkat bukanlah hal mudah, menunjukkan betapa kuatnya pengaruh politik Nona Agrippina di balik layar, terlepas dari reputasi buruknya.

"Beri tahu saja Lift itu ke mana kau ingin pergi," jelasnya. "Ingat, aku hanya bisa mendapatkan ruang bersama untuk mahasiswa karena fasilitas sedang padat. Pastikan kau tidak melakukan sesuatu yang terlalu mencolok."

Penyihir macam apa yang dia bayangkan tentangku?

Aku tahu cara mengendalikan diri. Lagi pula, mantraku tidak sedahsyat itu sampai-sampai aku harus menahan diri hanya karena punya beberapa tetangga di bilik sebelah.

Ini hanyalah pengembangan dari sihir kilat yang kubuat: murah, efisien, sederhana, namun berdampak besar.

"Jangan khawatir, Nona. Saya sangat menyadari posisi saya."

"Benarkah?"

Aku mengabaikan nada bicaranya yang meragukanku dan melepaskan diri dari tatapan memohon Elisa agar aku tidak pergi ke Laboratorium Stahl.


[Tips] Area pengujian di Kampus ini dibangun lebih dalam daripada bengkel bawah tanahnya. Ruang yang paling dangkal berukuran kecil, tetapi ruang yang paling besar membentang hingga seolah tak berujung.

Ruangan-ruangan ini dipisahkan ke dalam dimensi mereka sendiri oleh Conceptual Boundary yang tak tertandingi. Berdasarkan catatan sejarah, kaisar terdahulu menginvestasikan lebih dari setengah perbendaharaan negara demi mewujudkan perlindungan ini—yang menyiratkan bahwa sebelumnya, para penyihir melakukan riset praktis secara semena-mena di mana pun mereka mau.

◆◇◆

Pemandangan di depanku terasa begitu familiar hingga sebuah institusi dari dunia lamaku muncul di benakku.

Ingatan manusia membusuk lebih cepat daripada tulisan di batu. Bahkan memori paling jelas pun akan memudar setelah satu abad. Aku mulai kehilangan wajah dan nama keluarga serta sahabat dari kehidupanku yang dulu; mereka berubah menjadi ide tak berbentuk. Namun, ada satu hal yang tetap melekat kuat: delusi fantastis yang kulihat di meja permainan TRPG.

Aku bisa mengingat setiap karakter pemain (PC) di luar kepala, meski aku hanya ingat pemainnya secara samar. Misalnya, kisah saat rekan setimku melamar naga yang seharusnya kami bunuh, memaksa GM mengubah alur menjadi drama romantis. Kenangan yang terkait emosi kuat tidak memudar bahkan setelah tiga belas tahun.

Selain itu, konsep teknis juga bertahan lama. Itulah alasan kenapa aku berada di tempat yang hanya bisa kugambarkan sebagai shooting range ini.

Ruangan ini dibagi menjadi lorong-lorong sempit untuk menguji mantra jarak jauh. Setiap jalur diisolasi dinding tebal agar mantra berbahaya tetap tertahan dan rahasia penelitian tidak bocor. Di sini, plagiarisme adalah ancaman nyata, karena sebuah terobosan bisa berarti promosi instan.

Semangat di udara terasa sangat kental, terutama karena pameran teknis tahun baru sudah dekat. Para mahasiswa berlomba-lomba menarik perhatian profesor agar riset mereka didanai. Aku sangat beruntung memiliki dua mentor hebat—meski secara kepribadian mereka agak dipertanyakan—sehingga aku tidak perlu ikut dalam persaingan berdarah ini.

Aku bergegas menuju bilikku agar tidak dikira mata-mata yang sedang mengintai pesaing. Namun, langkahku terhenti saat melihat seseorang.

Seorang pria gagah bersandar di dinding. Penampilannya sangat luar biasa, bahkan bulan pun mungkin akan tersipu melihatnya. Ia tampak berusia pertengahan dua puluhan, memancarkan aura bangsawan yang dingin dan cerdas. Jubah ungu kebiruannya menunjukkan otoritas tinggi, namun siluetnya yang tegap lebih cocok menjadi agen rahasia.

Satu elemen yang paling menarik perhatian adalah kilauan keperakan di matanya. Sepanjang aku di Berylin, ini pertama kalinya aku melihat iris mata berwarna perak murni. Menatapnya langsung rasanya bisa membuat jantung berhenti berdetak sesaat.

Wah... aku benar-benar bertemu banyak orang cantik di Kampus ini.

Aku segera masuk ke jaluru pengujianku agar tidak dianggap tidak sopan karena menatap bangsawan. Aku sempat bertanya-tanya apa yang dia lakukan di lorong ini, karena dia tidak bisa melihat eksperimen apa pun dari luar. Tapi sudahlah, waktuku terbatas.

Di dalam bilik, privasi benar-benar terjamin. Aku mengeluarkan peralatan yang kubawa: pipa-pipa besi kecil menyerupai anak panah besar yang kuperoleh dari kenalan Nona Agrippina.

Tabung ini adalah katalis yang bagian dalamnya berongga, siap diisi dengan reagen misterius. Aku membongkar satu kartrid untuk memastikan isinya.

"Bagus," gumamku.

Isinya adalah zat penghambat api yang telah kuubah secara alkimia menggunakan sihir Mutation. Di dinding bagian dalam tabung, aku telah menuliskan ritual menggunakan darahku sendiri.

Dengan bantuan Invisible Hand dan ketepatan jemariku, aku bisa menulis dengan detail luar biasa di ruang sempit tersebut.

Rencanaku sederhana: mengubah komposisi pipa besi dan bahan kimia di dalamnya secara bersamaan. Aku telah menginvestasikan banyak poin pada Add-on: Feather Fingers yang membuat tangan tak kasat mataku bisa bergerak dengan kecepatan yang belum pernah ada sebelumnya.

Aku mengambil tongkat lempar itu. Dalam sekejap, logam itu melesat lebih cepat dari anak panah dan menancap di sasaran di ujung aula. Mana di dalamnya memicu mantra yang sudah diatur. Reaksi kimia yang biasanya butuh pabrik industri besar terjadi dalam sekejap. Batang besi itu menyerap oksigen dari udara, beroksidasi seketika, dan menciptakan percikan api kecil di dalam penjara logamnya.

Lalu—

"Wah?!"

Ledakan dahsyat terjadi hingga aku refleks menutupi wajah. Kilatannya menyilaukan. Meskipun aku sudah memasang Barrier, gelombang panasnya tetap terasa menyengat. Target logam di ujung sana meleleh dalam hitungan detik.

"Gila..."

Aku merintih melihat kehancuran yang melampaui perhitunganku. Aku bisa mendengar orang-orang di bilik sebelah bergumam kaget, tapi hei, bukankah tempat ini memang untuk pengujian?

Baiklah, aku mengaku: aku baru saja menciptakan Thermite.

Tawas yang digunakan untuk bahan tahan api mengandung aluminium, dan aku telah memisahkannya menggunakan sihir.

Aku menggabungkan ekstrak murni tersebut dengan sisa logam, secara alkimia mengubah semuanya menjadi aluminium untuk meningkatkan persediaanku.

Jika dicampur dengan oksida besi dan dipicu oleh percikan, reaksi reduksi tersebut akan menghasilkan panas sebesar empat ribu derajat dalam sekejap.

Empat ribu derajat. Titik leleh hampir semua zat di dunia ini berada jauh di bawah angka itu. Sangat sedikit benda yang sanggup menahan panas seekstrem itu.

Di Bumi, reaksi ini digunakan untuk mengelas rel kereta api—itu jika tidak sedang digunakan sebagai bom pembakar.

Sihir memang bisa digunakan untuk mencairkan logam, jadi fenomena ini bukanlah hal baru. Namun, teknik tersebut biasanya hanya bisa dilakukan oleh Magus berpengalaman yang memiliki kapasitas Mana besar.

Aku, di sisi lain, telah mengembangkan rangkaian mantra yang jauh lebih efisien. Dengan memanfaatkan prinsip alkimia, aku bisa meniru pencapaian Magia legendaris tanpa perlu menguras tenaga. Melihat hasil kombo baruku ini, teoriku terbukti benar.

Zat yang secara teoritis cukup panas untuk melelehkan logam kemungkinan besar juga akan menembus Mystic Barrier maupun sihir ketahanan panas tingkat umum. Lebih hebatnya lagi, reaksi eksotermik ini tidak membutuhkan oksigen, sehingga tetap bisa membara bahkan di dalam air.

Aku telah memodifikasi arah ledakannya agar menyembur ke depan dari dalam anak panah. Jika senjata ini menembus kulit lawan, penambahan yang tidak etis ini akan membakar mereka dari dalam ke luar.

Meskipun banyak ras monster membanggakan Regeneration secepat kilat, aku ragu mereka bisa menyembuhkan diri saat logam mendidih sedang merebus organ dalam mereka.

Sederhana, murah, kuat, dan sulit dilawan. Awalnya aku merasa bersemangat menemukan cara untuk menghadapi monster yang "tidak bisa dibunuh", tapi...

"Astaga, ini mengerikan."

Sasaran logam paduan mewah yang dirancang untuk menahan serangan sihir itu telah lenyap. Sisa-sisanya menyatu dengan termit yang menetes ke tanah, tidak membentuk genangan, melainkan sebuah lubang yang menggerogoti lantai.

Ini benar-benar tidak boleh digunakan pada makhluk hidup apa pun—mereka akan hancur tanpa jejak.

Selain itu, aku harus mengatasi efek samping berupa radiasi ultraviolet dan gelombang panas yang menghantamku.

Jika aku melepaskan serangan ini dalam jarak dekat, aku dan sekutuku akan ikut terpanggang.

Aku menerapkan kemajuan ilmu pengetahuan abad ke-20 dan menggunakan sihir untuk membengkokkan hukum fisika.

Hasilnya? Sebuah kekuatan penghancur yang tak terkendali.

Saat aku masih terpaku melihat hasil eksperimenku, aku menyadari sesuatu yang gawat: lantainya mulai bergelembung.

Oh, sial! Aku lupa bahwa aku menambahkan mantra Heat Retention—yang aslinya untuk menjaga makanan tetap hangat—demi memperpanjang durasi panasnya! Aku tidak tahu apa yang ada di bawah ruangan ini, tapi aku tidak mau terlibat masalah karena membuat lubang di langit-langit seseorang.

Karena air tidak akan bisa memadamkannya, aku akhirnya membuang massa logam panas itu ke dimensi lain menggunakan sihir pembengkok ruang. Krisis terhindari, tapi kepalaku langsung berdenyut sakit karena memaksakan sihir ruang tersebut.


[Tips] Fasilitas pengujian Imperial College dibagi menjadi beberapa tingkatan. Blok mahasiswa dirancang agar tidak menyebabkan kerusakan permanen, sementara sektor peneliti dilengkapi sel penahanan total untuk eksperimen berisiko tinggi. Selama pengguna beroperasi dalam batasan yang ditentukan, ruangan tersebut adalah puncak keamanan eksperimental.

◆◇◆

Pria bermata perak itu memperhatikan dari kejauhan saat seorang anak laki-laki berambut pirang lari tunggang-langgang meninggalkan ruang ujian. Ia mendekati pintu yang diamankan dengan mantra kriptografi kuat. Namun, begitu tangannya menyentuh kenop, kunci itu seolah "lupa" akan fungsinya dan terbuka begitu saja.

"Wah," gumamnya takjub.

Gelombang udara panas langsung menerjang keluar, menandakan ledakan di dalam cukup kuat untuk menciptakan arus atmosferik. Pria itu merapikan rambutnya dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang berbau logam terbakar. Ia menjepit hidungnya yang mancung, lalu berjalan menuju sumber panas tanpa ragu.

"Sebuah mantra, kah?"

Lantai batu telah mencair; permukaannya menunjukkan tanda-tanda telah mendidih. Meskipun sumber panas utamanya sudah menghilang secara misterius, lubang sedalam itu tetap membara. Sisa panas yang menetap ini menunjukkan adanya penggunaan sihir pendukung yang sangat cerdik.

"Didorong oleh sesuatu yang lebih dari sekadar Mana, sepertinya."

Pria itu tahu bahwa mencairkan logam dengan sihir murni membutuhkan biaya Mana yang luar biasa besar. Namun, jejak Mana di ruangan ini sangat sedikit. Hanya ada sisa-sisa dari beberapa sihir kecil. Ia sulit percaya bahwa anak laki-laki yang panik tadi mampu menyembunyikan jejak sihirnya dengan begitu sempurna.

"Dan tidak ada setetes minyak pun."

Penyihir biasa sering menggunakan lemak atau minyak sebagai katalis mantra api, yang selalu meninggalkan bau menyengat dan udara yang terasa "tebal". Di sini, aroma itu tidak ada. Pria perak itu mengintip ke dalam lubang yang masih berasap.

"Tanda-tanda ini menunjukkan pelelehan yang lambat, bukan ledakan seketika. Panasnya konstan dan terus merayap ke bawah."

Ia menduga ada zat kental mirip besi cair yang digunakan untuk memerangkap panas. Namun, menghasilkan panas setinggi itu adalah tugas yang terlalu berat bagi mahasiswa yang menyewa bilik kecil seperti ini.

Didorong rasa ingin tahu yang memuncak, pria itu menyentuh pinggiran lubang yang masih membara merah tanpa ragu sedikit pun.

"Hm."

Kulit jarinya terbakar dalam sekejap; panasnya menguapkan darah dan memasak dagingnya.

Namun, pria itu tidak menunjukkan rasa sakit sedikit pun. Ia hanya mengangkat alis saat mencium bau dagingnya sendiri yang terbakar.

Dengan tatapan analitis, ia memperhatikan tangannya yang hancur seolah sedang meneliti spesimen serangga langka.




Di saat orang lain mungkin akan meratapi kerusakan permanen pada tubuh mereka, pria itu justru mendesah kagum.

Rasa sakit yang membakar dari daging yang meleleh maupun kesedihan karena kehilangan bagian tubuh tidak mengganggunya sama sekali; bahkan, sejak awal ia memang tidak bisa merasakan keduanya.

"Panasnya setara dengan sihir agung Great Work."

Jika ia merasakan sesuatu, itu adalah kegembiraan murni karena menemukan sihir yang belum diketahuinya.

Panas yang dihasilkan eksperimen tadi mirip dengan "api neraka" pemurnian yang digunakan Kekaisaran untuk menyapu bersih medan perang—sebuah sihir seremonial yang membutuhkan sekelompok Polemurgist dan izin langsung dari Kaisar.

"Menarik. Kekuatannya melampaui apa yang terlihat, dan batu yang meleleh itu meratakan dirinya sendiri untuk menyembunyikan bukti. Kombinasi fitur yang tidak biasa ini menunjukkan sebuah mantra yang sama sekali baru... Sangat menarik."

Sambil berbalik, pria itu merogoh saku dadanya. Tangannya muncul kembali, menjepit sebuah sarung tangan baru untuk menutupi jarinya yang kini sudah kembali bersih dan tidak terluka.

"Haruskah aku menyelidikinya? Ah, tapi betapa kasarnya itu... Siapa pun yang datang ke sini pasti sedang memoles karyanya untuk dipamerkan."

Kejutan selalu lebih baik jika tidak ternoda. Dengan langkah sedikit bersemangat, pria itu memutuskan untuk pergi menuju istana kekaisaran guna membereskan pekerjaan yang sebelumnya sangat ia hindari.


[Tips] High Magic—dikenal juga sebagai sihir seremonial—memerlukan banyak penyihir, lingkaran misterius yang besar, katalis yang tak terhitung jumlahnya, dan mantra yang sangat panjang. Ilmu ini hanya dapat dilakukan oleh Magia paling terampil yang telah berlatih selama puluhan tahun.

◆◇◆

Aku belajar sebuah pelajaran pahit: omelan normal jauh lebih baik daripada ejekan sinis.

Berlutut di lantai selama tiga puluh menit sambil mendengarkan Nona Agrippina bernyanyi, "Apakah kau sadar di mana kau berdiri?" hampir membuatku menangis. Namun, jika dia bersedia membayar biaya perbaikan fasilitas dan mengurus birokrasinya, aku akan menerima penghinaan itu kapan saja. Harga diri itu murah—terutama harga diriku.

Untungnya, Elisa datang menyelamatkanku. Ia melangkah di antara kami dan menatap tuannya sendiri dengan berani. "Aku akan benar-benar marah jika Anda terus menindas Kakak tersayang!"

Melihatnya melindungiku seperti itu terasa seperti memiliki malaikat pelindung. Menghadapi pertumbuhan emosional murid kesayangannya, sang "Nona Sampah" akhirnya menyerah. Di akhir ejekannya, ia memberikan pujian kecil. "Ya ampun, betapa hebatnya hal kecil yang telah kau ciptakan."

Setelah bebas, aku mulai membersihkan kamar Elisa. Aku menggunakan Invisible Hand secara paralel untuk merapikan buku-buku yang berserakan. Saat itulah Elisa memanggilku. Ia mengenakan piyama sutra tipis yang sangat mahal—lagi-lagi hasil selera menjijikkan Nona Leibniz.

"Kakak tersayang?"

"Hm? Ada apa, Elisa?"

Ia memegang buku besar pekerjaan rumahnya, menggoyangkan kaki dengan ekspresi bingung. "Kakak, mengapa Kakak membuat sihir yang menakutkan seperti itu?"

Kepalanya yang miring dan tatapan murninya menghancurkan hatiku. Pertanyaannya yang tulus membuat dadaku sesak.

"Aku penasaran... Mengapa Kakak memilih melakukan hal-hal yang menakutkan?"

Kenaifan yang polos itu merasuki jiwaku. Aku mengembangkan senjata baru untuk tujuan petualangan, tetapi keraguan yang ia perkenalkan kini mulai meluluhkan keyakinanku. Aku tidak memiliki tugas suci atau ramalan dewa yang harus kupenuhi. Aku hanyalah seorang pemuda yang menuruti keinginan egois untuk menjadi petualang.

Jalan ini penuh pertumpahan darah. Aku bukanlah pahlawan dongeng yang ditakdirkan menegakkan keadilan. Menjadi petualang berarti memilih jalan dengan lebih banyak rasa sakit. Mempertahankan desa atau mencari harta di labirin; pada akhirnya semuanya adalah transaksi hidup dan mati.

"Aku tahu Kakak sangat kuat. Aku tahu Kakak melindungiku dari orang jahat..." Elisa menatapku dalam. "Tapi aku tidak bisa tidak berpikir bahwa Kakak sengaja mencari bahaya."

Perkataannya bagai palu yang menghantam tengkorakku.

"Saat di rumah tengah hutan, aku yakin Master pasti akan melakukan sesuatu jika Kakak tidak melangkah maju. Master sangat kuat dan kaya." Ia melanjutkan, "Dan musim dingin lalu, Kakak tidak perlu memaksakan diri melakukan perjalanan mengerikan itu. Jika Kakak tidak melakukannya, bukankah Master tetap akan membeli buku itu dan membereskan semuanya?"

Logika Elisa sangat kuat, dan itu membuatku tersudut. Aku bisa saja menyebut Nona Agrippina sebagai bajingan yang suka mempermainkan hidup orang demi hiburan, namun kenyataannya, dia tidak pernah memaksaku melakukan sesuatu jika aku menolak dengan keras.

Jika dia benar-benar ingin memeras nilai dari hidupku, dia bisa saja menyerahkanku kepada Nona Leibniz sebagai murid kehormatan. Dengan Elisa yang terperangkap di sisinya, aku akan menjadi alat tawar-menawar yang sempurna bagi Dekan. Namun, Nona Agrippina memilih untuk tidak melakukannya. Dia mengejekku dan memberiku tugas aneh, tapi dia tidak pernah menggunakan kekuasaan perbankannya untuk menjerat kami dalam kontrak riba yang mustahil dibayar.

Dalam hal ini, hanya ada satu alasan yang tersisa mengapa aku terus terjun ke medan perang: keinginanku sendiri.

Aku tidak bisa menyangkal bahwa Nona Agrippina sanggup menyelesaikan hampir semua masalahku. Insiden Labirin Ichor pun mungkin tidak akan terjadi jika aku tidak mencoba "menjadi pintar". Aku beruntung bisa pulang hidup-hidup, tapi bahaya itu sebenarnya bisa dihindari.

Hadiah besar dari petualangan memang mengurangi masa perbudakanku, tapi bagi Elisa, itu tidak sepadan dengan risiko kehilangan kakaknya.

"Mengapa kamu tidak tinggal dan belajar bersamaku di ibu kota?" tanya Elisa. "Aku akan menjadi mahasiswa, lalu peneliti—aku akan menghasilkan cukup uang untuk membayar kelasmu juga. Kamu masih bisa mencari uang di Berylin... seperti yang selama ini kamu lakukan."

Aku terdiam. Dia benar. Bayaranku sebagai tenaga serabutan di Kampus saja sudah sangat tinggi. Apalagi Nona Agrippina tidak mengenakan bunga pada pinjaman pendidikan Elisa—sebuah tindakan altruisme yang langka. Jika Elisa menjadi peneliti, utang itu akan lunas dengan sendirinya melalui tunjangan pemerintah. Kami tidak perlu bertaruh nyawa.

"Jadi, Saudaraku… tidak bisakah kau berhenti? Tolong?"

Argumennya menghancurkan pembenaranku. Mengapa sihirku harus menakutkan? Mengapa aku harus bertarung?

Mimpi petualanganku yang berkilau kini berhadapan dengan benih keraguan yang nyata. Apakah kau tega meninggalkan adikmu yang khawatir demi masuk ke rahang singa? Apakah itu yang kau sebut moralitas?

"...Tapi kau tahu, Elisa," kataku akhirnya, mencoba menghindari interogasi itu. "Dunia ini penuh dengan orang jahat. Itulah mengapa kita butuh sedikit sihir yang menakutkan: supaya mereka tidak bisa menyakiti kita. Aku akan mati karena sedih jika sesuatu terjadi padamu."

Aku sadar mungkin tidak ada "jawaban yang benar". Di kehidupan lamaku, saat kanker menggerogoti tubuhku, aku juga berjuang dengan pertanyaan eksistensial serupa. Pada akhirnya, tidak ada perenungan yang memberikan kepuasan, hanya kelelahan mental.

"Hrm… Untuk menghentikan orang jahat…" Elisa bergumam, merenungkannya seperti pahlawan yang mencoba memecahkan dilema moral.

"Jadi," tanyanya, "apakah ini semua untukku?"

"Benar sekali," kataku cepat. "Untukmu. Kalau aku mati, aku tidak akan bisa melindungimu. Dunia ini punya lebih banyak orang jahat daripada yang kau kira, Elisa. Itu sebabnya aku ingin menjadi lebih kuat dari mereka semua."

Dunia memang membutuhkan pejuang, tak peduli betapa dangkal alasan mereka. Aku membaringkan adikku di tempat tidur, sementara alisnya masih berkerut tanda belum sepenuhnya puas.


[Tips] Asosiasi Petualang pernah melakukan survei: 38% anggota mencari ketenaran dan kekayaan, 25% merasa ini satu-satunya jalan hidup, dan 20% karena mencintai kisah heroik. Begitulah hidup; terkadang nyawa manusia lebih ringan daripada sekeping koin perak.

◆◇◆

Bagi para Methuselah, manusia fana selalu tampak tergesa-gesa. Mereka yang bisa hidup ribuan tahun tanpa makan atau minum dalam perlindungan sihir melihat urgensi manusia akan "hari esok" sebagai hal yang menggelisahakn.

Agrippina adalah salah satunya. Namun akhir-akhir ini, ia mulai menikmati irama hidup yang asing ini. Ia terkekeh dalam hati, merasa nyaman memiliki "taji" yang bisa ia gunakan di sekitarnya.

Sambil menggunakan kemampuan Multi-threading untuk menulis mantra kursif di udara dan membaca buku secara bersamaan, ia mendengar panggilan muridnya.

"Master."

"Ya?"

Eufemisme puitis jarang digunakan di kalangan penyihir, tetapi karena bangsawan negeri ini sangat benci dengan janji yang lugas, Agrippina tidak punya pilihan selain mengajari Elisa bahasa diplomasi yang penuh kiasan.

Selesai dengan pekerjaannya yang penting namun melelahkan, anak itu meletakkan pena bulu elang yang terasa terlalu besar untuk tangannya dan menatap gurunya.

Sang Magus menangkap sekilas ekspresi muridnya dari sudut mata dan segera menutup bukunya. Apa pun yang ingin dikatakan gadis itu, jelas itu bukan pertanyaan tentang pekerjaan rumah.

Meskipun Agrippina dikenal bejat dan egois, ia cukup bijaksana untuk menjaga waktu luangnya yang berharga.

Jika muridnya menginginkan nasihat serius, Agrippina menyimpulkan bahwa mendengarkan cerita yang menarik ini adalah penggunaan waktu terbaik.

Keadaan mental Elisa baru-baru ini melonjak maju, memicu kemajuan akademis yang luar biasa: penguasaan kata-katanya kini bahkan melampaui kakaknya.

Methuselah memiliki firasat tentang apa yang memacu terobosan ini, dan ia tahu persis ke mana arah pembicaraan ini.

"Kapan aku bisa mulai belajar sihir?" tanya Elisa.

Pertanyaan yang bagus. Bukan karena pertanyaannya sendiri, melainkan implikasi gelap yang ada di baliknya.

Pelajari kata-kata untuk membuat saudaramu tetap dekat; pelajari sihir untuk mengusir alfar saingan; dapatkan kekuatan untuk melindunginya.

Begitulah bisikan-bisikan jahat yang membakar tekad sang murid. Agrippina menyadari bahwa Elisa mulai kehilangan ketergantungannya—bukan secara perilaku, melainkan dalam ranah jiwa.

Di permukaan, ia tetaplah bayi mungil yang menempel pada kakaknya, namun warna aslinya mulai terlihat: sedikit monomania, sedikit fiksasi, dan rona khas Alfar.

"Coba kulihat," kata Agrippina. "Aku akan membawamu ke suatu tempat sebagai ujian sopan santunmu. Jika kau berhasil memerankan wanita muda yang baik, aku akan mempertimbangkan untuk memulai pelajaran sihir."

Seorang anak berusia delapan tahun tetaplah anak-anak. Namun, jiwa yang terperangkap dalam tubuh Elisa bukanlah jiwa manusia biasa.

Begitu sisi angkuh peri dalam dirinya bangkit, ia akan kembali ke wujud aslinya. Kemampuannya mempelajari tulisan dan bahasa istana hanya dalam satu musim panas adalah bukti kejeniusan yang tidak wajar.

Agrippina menganggap motivasi Elisa—yang ingin belajar sihir demi "melindungi" kakaknya dari orang-orang jahat—sebagai hal yang sangat ironis. Ia penasaran apa yang akan dipikirkan Erich jika mengetahui kebenaran di balik motivasi adiknya ini.

"Kapan itu akan terjadi?" desak Elisa.

"Kurasa dalam bulan ini."

Sang Methuselah mengamati ekspresi tegas muridnya dan tertawa pelan. Ini bukan senyum penuh kasih seorang guru, melainkan seringai sinis seorang wanita yang menatap bom yang sedang menyala, membayangkan ledakan fantastis di ujung sumbu.

Aku penasaran, dari golongan Alf macam apa anak ini berasal? pikir Agrippina.

"Tapi bukankah ini agak mendadak?" tanya Agrippina memancing. "Apakah kau begitu tertarik dengan mantra hebat yang dikembangkan saudaramu?"

"Tidak..." Elisa menggelengkan kepala. "Kakakku tersayang mengatakan bahwa dunia penuh orang jahat, itulah sebabnya dia harus berjuang melindungiku. Itulah sebabnya dia bekerja keras."

Elisa melanjutkan dengan kemauan yang sangat kuat bersinar di mata kuningnya—yang sesaat memancarkan cahaya keemasan samar seperti bulan. Ia menutupi bibirnya dengan anggun, sesuai ajaran etiket Agrippina.

"Tapi kalau aku jadi lebih kuat—begitu kuat hingga aku bisa melindunginya dari apa pun—maka Kakak tidak perlu melakukan hal berbahaya lagi, kan?"

Elisa tersenyum, namun senyum itu sama sekali tidak lucu.

"Dan ketika itu terjadi, aku berpikir dia tidak perlu lagi meninggalkan rumah. Dia akan selalu berada di sisiku, dan kita bisa bermain dan bahagia selamanya... Apakah aku salah, Master?"

Erich adalah perwujudan kebodohan manusia yang mendambakan kejayaan singkat. Kini Elisa mengikuti jejaknya, namun dengan kebodohan peri; ia tidak berbeda dengan para penari abadi di bukit senja yang terobsesi pada satu hal selamanya. Agrippina harus menahan tawa saat menjawab.

"Tidak, kau tidak salah. Kau benar-benar hebat, asal kau menjadi lebih kuat dari semua orang di dunia, termasuk kakakmu."

Jika Agrippina punya integritas, ia akan membimbing kedua saudara ini ke jalan yang "normal".

Tapi si bajingan ini justru memilih menyiramkan bensin ke api tekad Elisa demi hiburannya sendiri.

"Jika itu yang kauinginkan, kau harus bergegas. Jadilah profesor, jadilah tak terkalahkan. Tumbuhlah begitu kuat sehingga bahkan Erich tidak akan mampu mengangkat satu jari pun melawanmu. Dia akan tahu bahwa lenganmu adalah tempat teraman di dunia—bahwa tinggal di sana adalah hadiah terbesarnya."

"Aku? Menjadi lebih kuat?" tanya Elisa meyakinkan diri.

"Tentu saja. Erich mengumpulkan kekuatan karena dia lebih kuat darimu sekarang. Dia menanggung bahaya demi Elisa yang lemah. Sekarang, bayangkan apa yang terjadi jika posisinya dibalik?"

"Aku... akulah orangnya..."

Agrippina menyeringai melihat Elisa yang kini berseri-seri seolah baru menemukan wahyu. Dua makhluk tanpa etika ini terus melanjutkan ceramah dengan emosi gelap yang meresap ke hati mereka.

Sementara itu, di tempat lain, sang kakak yang malang sedang berendam di bak mandi untuk menenangkan diri, sama sekali tidak menyadari bahwa adiknya sedang menyusun rencana untuk "mengurungnya" demi keselamatannya sendiri.


[Tips] Pada akhirnya, Changeling hanyalah seekor Alfar dalam kerangka tubuh manusia (Mensch).



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close