Musim Semi, Usia
Dua Belas — Bagian 1
Selebaran (Handout) Informasi yang diberikan
oleh GM kepada para pemain sebagai modal awal untuk memulai permainan.
Dengan meletakkan dasar umum bagi cerita dan karakter, handout
memberikan arahan pada kampanye yang akan dijalankan.
Sementara beberapa handout disusun rapi untuk
mengatur suasana sesi, yang lain hanya menawarkan deskripsi samar—lagipula,
akan selalu ada pemain yang mengabaikannya sama sekali.
Di dunia Barat, handout sering kali menjadi alat
tematik yang digunakan untuk memikat pemain agar tenggelam dalam dunia yang
mereka jelajahi.
◆◇◆
Mataku terbuka tiba-tiba saat indra penciumanku diserang
oleh aroma asam yang asing.
"Oh, kau sudah bangun."
Aku melihat sekeliling dengan kaget. Di samping tempat tidurku, berdiri Methuselah
dengan botol obat di tangannya. Ia tampak lelah saat menutup botol tersebut dan
bertanya malas tentang kondisiku.
Perlahan
dan hati-hati, aku mencoba duduk. Anehnya, rasa sakit yang seharusnya membuatku
menangis kini telah lenyap dari tubuhku.
Beberapa
gigiku memang patah, tapi untungnya itu semua adalah gigi susu yang memang akan
tanggal. Aku pasti akan putus
asa jika yang hilang adalah gigi permanen.
Yang tersisa
hanyalah rasa berat karena kelelahan. Terus terang saja, dengan hantaman
sebelumnya, aku seharusnya mengalami patah tulang di beberapa bagian.
Ketiadaan rasa
sakit ini justru terasa meresahkan bagiku.
"Di
mana aku...?" Aku bergumam bingung sampai akhirnya mengenali kamar ini. Ini adalah kediaman Kepala Desa;
satu-satunya tempat di kanton ini yang memiliki kamar tamu layak huni.
Saat melihat
wanita itu duduk di kursi samping tempat tidur dengan wajah letih, ingatanku
kembali: aku pingsan karena ledakan amarah yang luar biasa.
"Ada yang
sakit?" tanyanya datar.
"Tidak, saya
baik-baik saja," jawabku sesopan mungkin.
"Wah,
syukurlah. Aku tidak begitu ahli dalam memanipulasi jaringan tubuh dan tulang,
tahu... Ah, dan jangan khawatir, kau baru pingsan sebentar. Matahari baru saja
terbenam, tidak lebih."
Penyihir berambut
perak itu menyimpan botol-botol kecilnya sambil mengabaikan fakta bahwa ia baru
saja melakukan sesuatu yang nyaris mustahil dalam medis.
Ia menjentikkan
jari, memanggil sebuah kotak tembakau dari udara hampa.
Benda pernis
putih berhias mutiara itu berisi tembakau cincang dan asbak; sebuah barang yang
jelas tak ternilai harganya.
Pipa emas yang ia
keluarkan kemudian mungkin cukup untuk membeli rumah keluargaku berkali-kali
lipat.
Tunggu, siapa
sebenarnya wanita yang kumaki habis-habisan tadi?
"Sekarang,
dari mana aku harus mulai?" tanyanya.
Gerakannya tampak
anggun saat ia mengisi pipanya. Ia menempelkan pipa itu ke bibir tanpa
repot-repot mencari api, namun sesaat kemudian, asap tipis mulai mengepul.
Tampaknya, ia
bahkan tidak perlu menyulut api secara fisik.
"Normalnya,
sangat aneh jika aku yang menjelaskan ini padamu. Tapi orang tuamu sepertinya
tidak mampu memahami detail teknisnya, jadi aku tidak bisa menyerahkan urusan
ini kepada mereka."
"Saya...
mengerti?" sahutku ragu.
Aku merasa
kemarahanku sebelumnya sudah keterlaluan, tapi dia tampaknya tidak keberatan.
Jelas sekali dia
meremehkanku—hal yang sudah biasa kualami hingga aku tidak merasa
terganggu—tapi aku tidak mengerti mengapa dia repot-repot memberi penjelasan
panjang lebar padaku.
"Sebaliknya,
kau adalah yang paling aneh di antara semuanya. Bagaimana mungkin kau
belum menyadarinya?"
Aku memiringkan
kepala karena bingung, dan dia hanya meniru gerakanku.
"Maksudku,
kau memiliki kapasitas sihir sebanyak ini, tapi matamu tetap tertutup?
Ini pasti semacam lelucon," katanya, menatapku seperti spesimen
laboratorium.
Setidaknya,
tindakannya memperjelas bahwa dia tidak memandangku sebagai manusia.
"Apakah kau
tidak pernah merasakan gelombang Mana mengganggu tubuhmu? Tidak pernah
kewalahan oleh dorongan tiba-tiba atau diserang sakit kepala yang tak
tertahankan?"
"Tidak,
tidak pernah," jawabku jujur.
"Aneh
sekali..." gumamnya. Dari caranya membuang asap rokok yang beraroma manis,
tampaknya ia menaruh sedikit rasa hormat padaku. Namun, ada sesuatu yang
mengganggu: mata biru dan hijaunya yang menatapku itu tidak sedang menatap
seorang manusia.
Jadi ini
alasan kenapa orang-orang tidak menyukai Methuselah.
Buku-buku yang
kubaca hanya menuliskan bahwa mereka "tidak diterima dengan baik oleh ras
lain"—sebuah eufemisme yang sangat diperhalus.
Aku sempat
menduga itu karena kesombongan mereka yang berumur panjang, tapi... aku sulit
membayangkan ada makhluk berakal yang sanggup bertahan di bawah tatapan
sedingin ini.
"Normalnya,
seseorang dengan bakat sepertimu seharusnya sudah memiliki tingkat kognisi
tertentu sebagai seorang penyihir."
Sejujurnya, aku
memang sengaja meningkatkan statistik dasar Mana Capacity dan Mana
Output dengan harapan suatu hari bisa menggunakan sihir.
Aku telah mendorong keduanya hingga ke level V: Good.
Namun, karena aku tidak suka ketidakpastian dalam belajar sihir secara
otodidak, aku belum mengambil Skill aktif apa pun untuk membangkitkan
kekuatan itu.
Bisa dibilang, ini adalah celah dalam kekuatanku.
Secara umum, Skill yang "seharusnya"
kumiliki tidak diberikan secara otomatis; sistem hanya memberitahuku bahwa aku bisa
mempelajarinya sendiri melalui pengalaman jika aku mau.
Inilah alasan
mengapa aku belum menguasai sihir satu pun meski punya bakat.
Tapi aku tidak
keberatan. Keuntungan terbesarku justru ada di sisi lain: saat orang normal
tanpa sadar membuang Experience Points untuk Skill atau Trait
yang tidak berguna, aku bisa menghindarinya.
Kategori Vice
penuh dengan bakat sampah seperti Shifty Imagination atau Petty Theft,
dan fakta bahwa aku bisa memilih untuk tidak mengambilnya membuat pertumbuhanku
jauh lebih efisien.
Tetap saja,
statistik Mana-ku seharusnya hanya sedikit di atas rata-rata. Aku tidak
yakin mengapa penyihir ini tampak begitu terkejut.
Mungkin karena
kebanyakan manusia di dunia ini sangat lemah, sehingga level Good
milikku menempatkanku di jajaran elit di mata mereka.
"Baiklah,
kurasa aku akan menganggapmu sebagai sebuah anomali dan berhenti di situ
saja," ucapnya sambil mengetukkan pipa ke kotak tembakau untuk membuang
abu.
penyihir kembali
mengisi pipanya dengan seringai nakal. Dia mungkin tampak seperti peri
bijaksana dari buku dongeng, namun senyumnya yang tajam menegaskan bahwa ada
perbedaan fatal antara dirinya dan literatur fantasi di duniaku sebelumnya.
"Izinkan aku
mengungkap kebenaran yang sesungguhnya."
Satu bagian dari
buku yang pernah kubaca melintas di benak saat aku mencoba mengingat perbedaan
mendasar antara Elf dan Methuselah: tidak seperti Elf
pecinta alam yang menghargai kesehatan dan kesederhanaan, kaum penyihir ini
adalah keturunan peradaban yang sangat maju.
Methuselah mendirikan monumen-monumen tinggi yang
jauh dari jangkauan tangan kotor ketidaktahuan. Hasil sampingan dari kehausan
mereka akan pengetahuan adalah budaya canggih yang sangat mendalam.
Mereka adalah
orang-orang kota yang lebih menyukai batu pahat daripada kayu; pesta-pesta
megah mereka hanyalah salah satu cara untuk menikmati hal-hal baru demi mencari
cita rasa yang mutakhir.
Dalam upaya
meredakan kelelahan mengerikan akibat kehidupan kekal, masing-masing dari
mereka telah menyerah pada hedonisme dan memiliki kegemaran membelanjakan uang
demi hiburan dan studi.
Hasilnya, mereka
memegang pengaruh politik yang sangat besar, meskipun jumlah populasi mereka
jauh lebih sedikit daripada manusia.
Dari tujuh
majelis elektorat yang memahkotai Kaisar Rhine, dua di antaranya dipimpin oleh Methuselah.
"Aku
tegaskan sekali lagi, adik perempuanmu bukanlah seorang Mensch."
Aku
merasakan darah mengalir deras ke kepalaku lagi. Namun, sebelum aku sempat
mendebatnya, jari seputih salju milik wanita itu menyentuh bibirku,
membungkamku seketika.
Aku menuruti
perintahnya, dan dia terkekeh pelan, tampak puas karena aku masih memiliki
sedikit sopan santun.
"Adikmu
adalah seorang Changeling."
Apa katanya?
Bayi yang
tertukar?
Elisa kita yang
menggemaskan?
Berita itu sangat
sulit untuk diterima. Mitos tentang bayi yang tertukar—atau Changeling—adalah
tradisi lama dari duniaku sebelumnya; peri yang menculik bayi manusia dan
menggantinya dengan kaum mereka sendiri karena rasa benci atau sekadar iseng.
Sering kali kisah itu berakhir tragis.
Namun di dunia
ini, peri bukanlah sekadar mitos—mereka nyata. Koin peri yang kucari bersama
kakak-kakakku saat kecil bukan hanya bualan orang tua.
Peri adalah
entitas metafisik yang berbeda dari manusia, iblis, maupun kaum demi-human.
Mereka adalah
fenomena berakal yang tak kasat mata bagi orang awam. Hanya penyihir dengan Mystic
Eyes atau anak-anak dengan ego yang belum berkembang yang bisa melihat
mereka.
"Kau tahu,
peri terkadang bisa lahir ke dunia dalam wujud fisik dengan meminjam rahim
makhluk hidup lain."
Hei, bagian
itu tidak tertulis di buku mana pun!
"Karena
terpesona oleh kehangatan sebuah keluarga," lanjutnya, "jiwa mereka
mendambakan raga, dan hasrat itu terwujud menjadi seorang Changeling.
Aku berani menjamin ceritaku ini asli, karena sumbernya berasal dari—bisa
dikatakan—sumber primer."
Aku masih belum
bisa mencerna kata-katanya. Elisa—gadis yang kurawat selama tujuh tahun
ini—bukan manusia?
"Sayangnya,
proses ini sangat melelahkan. Para Changeling muda sering kali tumbuh
lambat, memiliki fisik yang lemah, atau terlalu disfungsional untuk bertahan
hidup lebih dari beberapa tahun."
Penjelasan itu
menghantamku tepat di ulu hati. Itulah alasan mengapa Elisa selalu
sakit-sakitan.
Aku ingat betul
bagaimana kami bergantian merawatnya setiap kali dia demam. Dia memang sangat
kekanak-kanakan untuk ukuran usianya.
"Dan
terakhir, peri sangat menyukai rambut pirang dan mata biru... Kau mengerti
maksudku, kan?"
Tentu saja.
Ibuku, Hanna, dan aku sendiri adalah bukti hidup yang paling menarik bagi
mereka.
"Gadis itu adalah Changeling," simpulnya. "Aku berani bertaruh dia akan
segera menyadari bakatnya. Begitu kabut masa balita menghilang dari pikirannya,
egonya yang tumbuh akan membangkitkan kekuatan yang menjadi hak lahirnya."
Aku tahu
dia benar. Dan bagi seorang penyihir setingkat dia untuk menjelaskan ini secara
gamblang, dia pasti sudah sangat yakin. Tindakannya menyelamatkan kami bukan
sekadar iseng.
Lagipula,
aku telah mengalami sendiri kekuatan aneh Elisa. Aku sempat bertanya-tanya
mengapa hawa panas dari mantra penyihir bandit itu lenyap seketika.
Dari
sudut pandang pemula, mantra tingkat itu tidak mungkin gagal total seolah-olah
tidak pernah dirapal jika bukan karena campur tangan pihak lain. Bandit itu pun terkejut karena Mana
miliknya menghilang begitu saja.
Satu-satunya
penjelasan logis adalah seseorang telah menghapusnya.
Dan aku jelas
mendengar Elisa meneriakkan namaku sekuat tenaga... tepat saat cahaya maut itu
padam. Aku tidak diselamatkan oleh keberuntungan, tapi oleh Elisa.
Roda takdir mulai
berputar. Sesuatu yang besar mengancam untuk mengubah hidup kami. Namun, bahkan
saat menyadari itu semua...
"Lalu?"
tanyaku tenang. "Apa hubungannya dengan kami?"
Bagiku, keluarga
bukan sekadar masalah genetik. Ikatan kekerabatan ditemukan dalam cinta dan
penerimaan.
Darah mungkin
tempat keluarga bermula, tapi bukan tempat keluarga itu berakhir.
Apakah Elisa itu Changeling
atau Goblin sekalipun, itu tidak mengubah hubungan kami sebagai saudara.
Tercengang
mendengar reaksiku, Methuselah menatapku heran. Ia menggelengkan kepala
seolah mencoba mengusir emosi yang tidak nyaman. "Apa aku salah ingat?
Apakah manusia punya budaya untuk membesarkan ras lain sebagai anak
kandung?"
"Ini bukan
soal membesarkan anak. Ini soal ikatan," tegasku, membuat wanita itu
mendesah jengkel. "Apakah orang tuaku mengatakan hal yang sama?"
Nada bicaraku
yang percaya diri membuatnya mengangkat alis. Setidaknya, aku berhasil
membuatnya sedikit lengah. Dia bilang dia sudah menyerah bicara dengan orang
tuaku, dan aku tahu alasannya.
Di kanton
terpencil ini, nilai-nilai "berbudaya" miliknya sama sekali asing.
Ayah dan Ibu pasti menolak keras menyerahkan putri mereka, tak peduli apa pun
asal-usulnya.
Cinta yang mereka
berikan selama tujuh tahun ini telah membeku menjadi ikatan yang tak
tergoyahkan.
"Menyebalkan
sekali melihatmu begitu percaya diri," gerutunya. "Terlalu cerdas itu
tidak baik untuk masa depanmu, tahu?"
"Saya tidak bermaksud bergurau, Nona. Saya hanya berbicara atas nama ikatan keluarga
kami."
"Ikatan,
ya?" gumamnya pelan.
Aku teringat
bahwa Methuselah adalah kaum individualis yang ekstrem. Mereka bisa
hidup puluhan tahun tanpa memberi kabar pada orang tua mereka.
Mereka yang tidak
peduli pada gelar bahkan enggan menyebutkan nama keluarga saat berkenalan.
"Aku
bayangkan dia akan dikejar-kejar jika berada di tanah airku," katanya
lagi. "Perbedaan nilai antara dua negara kita memang sangat jauh."
Seperti dugaanku,
dia bukan dari sekitar sini. Dia tidak memahami bahwa di pedesaan seperti ini,
hubungan manusia jauh lebih rumit daripada sekadar logika hukum.
"Baiklah,
cukup soal ikatan itu. Semua itu tidak akan berpengaruh pada hukum."
"Hukum?"
tanyaku waspada.
"Benar. Aku
yakin kau sudah mengerti bahwa adikmu adalah seorang Changeling,
bukan?" Setelah memastikan aku menyimaknya, ia mulai mengucapkan setiap
kata dengan perlahan, seolah sedang mengajari orang bodoh yang bebal. "Changeling
menemukan bakat sihir luar biasa mereka saat kesadaran mereka mulai matang.
Kekuatan mereka begitu hebat, bahkan bisa dibilang berbahaya."
Aku tidak butuh
kepintarannya untuk memahami hal itu setelah melihat Elisa menghapus bola
energi raksasa sebelumnya. Tidak perlu jenius untuk menebak apa yang akan
terjadi begitu tubuh dan cadangan Mana-nya matang sempurna.
Negara tidak akan
pernah membiarkan ancaman alami terhadap keamanan publik dibiarkan tanpa
pengawasan.
Sebagai pemegang
otoritas dan pemungut pajak, pemerintah pasti akan mengambil tindakan untuk
mencegahnya melukai siapa pun.
"Dalam kasus
terburuk, aku yakin dia mampu menghapus satu kanton kecil dari peta tanpa
jejak, melihat betapa mengesankannya Mana Capacity miliknya. Aku menduga dia berasal dari garis
keturunan peri yang sangat unggul. Mungkin rumah kecilmu ini memiliki sesuatu
yang patut membuat iri..."
penyihir
terdiam dan mulai berpikir sambil memegangi dagunya.
Aku
memanfaatkan waktu itu untuk bertanya apa yang akan terjadi pada Elisa, karena
itulah yang terpenting.
Dalam kasus
terburuk...
"Singkirkan
niat jahatmu itu," potongnya tajam. "Aku tidak akan memperlakukannya dengan
buruk."
Astaga,
aku ketahuan. Aku
memang mulai menyusun rencana cadangan untuk membawa Elisa bersembunyi jika
situasi memburuk.
"Jangan
khawatir, aku akan menjaminnya. Aku tidak bisa berbohong soal sihir—kami para Magia
terikat oleh banyak aturan."
Ia tertawa,
menyebutkan bahwa upaya memutarbalikkan kebenaran mistis bisa berakhir dengan
kepala yang terpental, tapi aku terlalu terpaku pada gelarnya yang tidak biasa.
Apa sebenarnya Magia itu?
"Meskipun
begitu, makhluk mistik yang berbahaya harus dikontrol ketat oleh
pemerintah."
Itu terdengar
masuk akal, tapi tetap sulit kuterima. Malaikat kesayangan keluarga kami tidak
mungkin membakar kota; dia adalah gadis termanis di dunia.
Namun, aku sadar
bahwa membiarkannya tanpa kendali adalah risiko besar. Aku tidak ingin
melihatnya secara tidak sengaja menyakiti orang-orang yang ia cintai.
"Jika negara
yang menanganinya," lanjutnya, "aku menduga dia akan diperlakukan
sebagai objek penelitian. Aku yakin banyak peneliti yang haus akan spesimen berumur panjang
seperti dia."
Setiap
pori di tubuhku meremang mendengar kata "spesimen". Kata itu
mengisyaratkan bahwa dia akan digunakan seperti reagen sihir dalam eksperimen
mengerikan.
Faktanya,
di era di mana nyawa tidak dianggap berharga, apa pun yang tidak dilarang hukum
akan menjadi sasaran empuk.
"Dalam
kasus terbaik, dia akan langsung dibedah untuk diambil sampel penelitiannya.
Namun, dalam kasus terburuk, siapa yang bisa menjamin betapa
menyedihkannya—"
"Cukup
ancamannya," potongku. "Pasti ada sesuatu yang Anda inginkan sehingga
seseorang dengan kedudukan tinggi seperti Anda bersedia bicara dengan orang
seperti saya."
Intimidasi itu
sia-sia; aku sudah bersedia memberikan apa pun. Jelas sekali, jika dia tidak
membutuhkanku, dia tidak akan membuang waktu bicara dengan anak kecil. Aku
bersumpah demi namaku sebagai kakak untuk melindungi Elisa.
"Bagus
sekali. Aku menghargai ketajaman otakmu. Begini, Changeling hanya
berbahaya karena ketidakstabilan yang berasal dari buruknya kontrol sihir
mereka."
"Yang
berarti..." aku mulai menyadari arah pembicaraannya.
"Benar.
Selama mereka belajar memanipulasi Mana, mereka tidak akan berbahaya.
Kekaisaran tidak sekejam itu untuk menganiaya makhluk hidup yang tidak
berbahaya dan menganggap dirinya sebagai warga negara."
Secercah harapan
muncul. Namun, pertanyaannya: bagaimana ia bisa menguasai kekuatannya?
Ia tidak
bisa belajar sendiri.
"Aku
akan menjadikan adikmu sebagai muridku," penyihir mengumumkan. "Aku
akan mendidiknya menjadi seorang Magus sejati. Dengan begitu, hak-haknya
sebagai warga negara akan dipulihkan dan ia bebas menjalani kehidupan yang
layak."
"Kedengarannya
bagus, tapi..."
"Benar,
kau pasti memikirkan soal kompensasi. Sejujurnya, aku tidak peduli soal hal
itu."
Dia tidak
butuh imbalan? Methuselah ini terdengar seperti pahlawan, namun nada
bicaranya yang acuh tak acuh dan kepulan asap pipanya menyiratkan motif lain.
"Sejujurnya,
aku tidak kekurangan uang. Bahkan, aku bersedia membayar untuk menyelesaikan
'tugas lapangan' yang merepotkan ini."
Tugas
lapangan?
"Namun, aku
tidak bisa menerima murid begitu saja. Magia tidak suka penyebaran ilmu
sihir yang tak terkendali, jadi aku harus menarik biaya pendidikan untuk murid
resmi."
"Apa
sebenarnya Magia itu?" tanyaku.
Wanita bangsawan
itu tampak mulai bosan dengan ketidaktahuanku, namun ia tetap menjelaskan
tentang Imperial College of Magic.
Lembaga tersebut
adalah pusat penelitian negara bagi para penyihir jenius yang memegang gelar Magus.
Magia sendiri adalah praktisi berlisensi yang
kedudukannya setara birokrat sihir negara.
Untuk menjaga
kerahasiaan ilmu sihir, mereka menetapkan biaya kuliah yang sangat mahal.
"Adikmu
harus menjadi Magus resmi agar bisa bertahan hidup," katanya
serius. "Tapi biayanya sangat tinggi."
Ia menyebutkan
angka: lima belas Drachmae per tahun bagi murid magang yang memiliki
rekomendasi.
Sebagai gambaran,
keluarga petani rata-rata hanya menghasilkan lima Drachmae per tahun.
Angka itu mustahil bagi kami.
"Yah,"
katanya santai, "kurasa itu di luar jangkauanmu?"
"Jika
menolak makan selama setahun hanya untuk mendapatkan setengah dari jumlah itu
disebut 'kurang', maka Anda benar, Nona."
"Benarkah?
Apakah petani hidup semiskin itu?"
Aku ingin
sekali membalasnya! Tapi
aku menahan diri. Dia adalah bangsawan yang hidup di dunia yang berbeda.
"Cukup soal
uang," katanya mengalihkan pembicaraan. "Aku punya usulan yang akan
menyelesaikan masalahmu. Maukah kau menjadi pelayanku?"
"Pelayan?"
Sistem perbudakan
kontrak masih berlaku di Kekaisaran. Ini adalah bentuk bimbingan: sebagai
imbalan atas tempat tinggal dan makan, seorang pekerja kontrak bekerja tanpa
upah sampai mereka cukup umur.
"Aku akan
menjadikanmu sebagai pengurusku (Steward). Uang muka kontrakmu akan
kuberikan kepada orang tuamu untuk membiayai sekolah adikmu. Bagaimana? Ini
tawaran yang cukup menguntungkan," katanya sambil menyeringai—tidak, ia
mencibir.
Magus benar: kesepakatan itu adalah semua yang
kubutuhkan. Seorang anak petani sepertiku tidak punya harapan mendapatkan
pekerjaan dengan upah sebesar itu. Pengaturan ini terlalu bagus untuk menjadi
kenyataan.
Betapapun
meragukannya tawaran itu, aku tidak bisa berpaling. Aku rela menghancurkan masa
depanku sendiri asalkan Elisa bisa tumbuh dengan aman. Aku melipat selimut,
turun dari tempat tidur, dan berlutut di hadapannya.
"Hamba
dengan rendah hati menerima tawaran Yang Mulia."
"Bagus
sekali. Anak baik," katanya sambil mengangguk puas.
"Mohon
maaf atas kelancangan hamba, namun sebagai pelayan resmi, bolehkah hamba
mengetahui nama majikan hamba yang terhormat?"
Magus akhirnya menyadari bahwa kami
belum memperkenalkan diri. Ia tampak tidak tertarik mengingat nama rakyat
jelata, namun ia akhirnya menyilangkan kakinya dan memulai perkenalan.
"Namaku Agrippina," katanya. "Agrippina du
Stahl, peneliti formal di Imperial College of Magic Kekaisaran Trialis
Rhine, anggota faksi Leibniz, School of Daybreak."
Kesan pertamaku adalah bahaya. Namanya terkenal di
kehidupanku sebelumnya sebagai ibu dari salah satu penjahat terbesar dalam
sejarah.
"Hamba Erich," kataku dengan suara yang
dimantapkan. "Erich dari kanton
Konigstuhl, putra keempat Johannes."
"Tidak
masalah. Aku akan melakukan apa saja demi keselamatan Elisa. Kerja paksa bukan apa-apa
dibandingkan harus beradu pedang dengan segerombolan bandit." Sambil tetap
berlutut, aku menundukkan kepala dalam-dalam di hadapan wanita yang kini
menjadi majikanku.
"Mm.
Baiklah, Erich. Lakukan yang terbaik untuk membuatku senang. Aku akan bertindak
sesuka hatiku, jadi jangan ragu untuk melakukan apa pun yang kau bisa demi
mencapai tujuanmu sendiri."
Aku
merasa tidak perlu memberikan kesetiaan sepenuh hati selama aku menjalankan
peranku dengan baik—lagipula, dia tampaknya memikirkan hal yang persis sama. Kami
hanya dua pihak yang saling memanfaatkan.
[Tips] Indentured Servitude (Kerja Kontrak)
adalah sistem yang mencegah pergolakan sosial besar namun tetap mengakomodasi
kebutuhan lapangan kerja dan mobilitas sosial masyarakat.
Konsep serupa yang dikenal sebagai Sistem Decchi digunakan di Jepang feodal, di mana pekerja magang muda akan bekerja keras hingga mereka diakui sebagai pengrajin penuh. Di Kekaisaran, kerja kontrak adalah salah satu dari sedikit jalur hukum bagi anak di bawah umur untuk mendapatkan pekerjaan.
Agrippina du Stahl adalah seorang wanita muda—setidaknya
menurut standar ras Methuselah—yang berasal dari Kerajaan Seine, salah
satu negara satelit di sebelah barat kekaisaran.
Partikel bangsawan "du" pada namanya
membuktikan silsilah keluarganya yang terpandang, dan wilayah Baroni milik
ayahnya cukup luas untuk memperkuat kedudukan tersebut.
Akan tetapi, para penguasa tanah dari ras Methuselah
biasanya tidak terlalu memedulikan wilayah kekuasaan mereka.
Tuan Stahl, ayah
Agrippina, terkenal karena kecintaannya pada perjalanan. Ia memiliki kebiasaan
buruk menyerahkan pengelolaan tanah miliknya kepada para pengikutnya, sementara
ia sendiri menghabiskan sebagian besar waktunya mengembara ke seluruh penjuru
dunia.
Kadang-kadang,
raja mencoba memanggilnya kembali, namun tidak ada yang tahu ke mana harus
mengirimkan surat panggilan tersebut.
Sebagai gambaran
betapa santainya pria itu, ia pernah menghabiskan waktu dua puluh tahun tanpa
sekalipun menginjakkan kaki di tanah airnya.
Bahkan, ia sama
sekali tidak menyadari adanya perang saudara yang terjadi selama tiga tahun
masa liburannya. Kata-katanya saat kembali ke istana kerajaan kini terukir
dalam sejarah:
"Apa? Ada
raja baru? Kapan kakek tua itu meninggal?"
Tentu saja,
Agrippina menghabiskan masa mudanya dengan bepergian ke berbagai tempat karena
mengikuti hasrat berkelana keluarganya.
Selama seratus
lima puluh tahun masa hidupnya, ia hampir tidak pernah menghabiskan waktu di
kerajaan yang memberinya gelar bangsawan tersebut.
Saat merayakan
ulang tahunnya yang ke-100, ia seolah "meludahi" wajah kaum bangsawan
dan lebih memilih untuk mendaftar di Imperial College di Rhine.
Pilihannya itu semata-mata didasari oleh kegemarannya pada masakan dan cuaca di
wilayah Rhine.
Orang tuanya
hanya menanggapi dengan, "Baiklah, lakukan saja sesukamu," lalu
memerintahkan bawahan mereka untuk mengiriminya uang saku dalam jumlah yang
tidak masuk akal.
Mereka pun sama
eksentriknya, tapi itu bukan inti masalahnya. Methuselah memang
didefinisikan oleh perilaku semacam ini. Sia-sia saja bagi manusia atau makhluk
fana lainnya untuk mencoba memahami cara berpikir mereka.
Sama seperti kita
yang tidak bisa memahami apa yang dirasakan semut saat berbaris, kaum Methuselah
yang abadi gagal memahami nilai-nilai kehidupan yang fana.
Mungkin sebagai
reaksi atas masa kecilnya yang terus berpindah tempat, kemalasan Agrippina
memuncak dalam satu pernyataan sederhana: "Kurasa aku sudah cukup puas
dengan perjalanan."
Jika ayahnya
adalah layang-layang tanpa tali, maka Agrippina ditakdirkan menjadi pemberat
kertas yang tidak bisa digerakkan.
Agrippina
memanfaatkan sepenuhnya sistem pencernaan rasnya yang sempurna dan minimnya
pembuangan limbah tubuh untuk menghabiskan tujuh tahun berturut-turut
terkurung di perpustakaan besar kampus. Wanita luar biasa itu menghabiskan
seluruh waktunya hanya untuk membaca.
Orang normal
pasti akan kehilangan kewarasan dengan gaya hidup seperti itu.
Fakta bahwa ia
memilihnya atas kemauan sendiri sambil tetap menikmati kemewahan memicu
pertanyaan: mungkinkah seorang Methuselah benar-benar dianggap waras?
Terlebih lagi,
setelah lima tahun berlalu, ia hanya berkomentar, "Aku sudah tahu cara
menata buku-buku di sini."
Sejak saat itu,
ia menyeret tempat tidurnya ke ruang baca dan tidak berpindah posisi selama dua
tahun terakhir. Itulah gambaran jati diri seorang Methuselah.
Mereka
membenamkan diri dalam apa pun yang mereka sukai tanpa memedulikan hal lain.
Dari sudut pandang manusia, mereka mungkin dianggap sebagai organisme yang
"rusak".
Namun, masa
indahnya tidak bertahan lama. Meski ia adalah putri bangsawan asing, kepala
arsiparis perpustakaan memiliki otoritas absolut di wilayahnya. Akhirnya,
kesabaran pustakawan mencapai batasnya.
Ketika sumbangan
emas dan hasil transkripsi Agrippina tidak lagi mampu meredam amarah
pustakawan, ia dipaksa keluar.
Sejak saat itu,
ia harus memulai hidup baru di bengkel penelitian yang telah ditentukan.
Sayangnya,
kejadian itu tidak membuatnya bertobat. Sebaliknya, jika ras Methuselah
begitu mudah mengevaluasi diri setelah mengalami kegagalan, mereka pasti sudah
menguasai planet ini sejak lama.
Setelah terusir
dari perpustakaan, ia hanya berpindah tempat mengurung diri di bengkelnya
sendiri.
Tentu saja, Imperial
College bukanlah tempat yang lunak. Baik peneliti maupun profesor memiliki
kewajiban untuk menghadiri kuliah dan debat berkala.
Aturan ini
berlaku teguh bagi siapa pun, tak peduli seberapa berkuasanya mereka.
Dalam kasus
terburuk, seseorang bisa diturunkan jabatannya atau dicopot gelarnya.
Gelar Magus
lebih dari sekadar sebutan—itu adalah julukan kehormatan bagi mereka yang
memajukan ilmu sihir.
Para profesor
awalnya membiarkan Agrippina selama tujuh tahun karena sumbangan besar Tuan
Stahl.
Namun, setelah
insiden perpustakaan, mereka tidak punya alasan lagi untuk bersikap baik. Dewan
profesor menuntutnya untuk berperan aktif sebagai peneliti sejati.
Agrippina,
perwujudan kemalasan, menanggapi tuntutan itu dengan cara yang unik: ia
menggunakan mantra Remote Vision atau bantuan makhluk famili untuk
menghadiri kuliah.
Ia menyerahkan
laporannya dengan melipat kertas menjadi bentuk kehidupan buatan yang akan
terbang ke tujuannya.
Puncak
kemalasannya adalah saat ia menemukan selembar perkamen yang disinkronkan
dengan isi debat secara real-time agar ia tidak perlu hadir secara
fisik.
Ia adalah orang
pertama dalam sejarah yang melakukan hal ini secara ekstrem.
Meskipun
penggunaan Remote Vision secara teknis diizinkan bagi mahasiswa yang
bekerja paruh waktu, para dosen tidak pernah membayangkan ada "badut"
yang menggunakannya untuk setiap kelas.
Agrippina tidak
diragukan lagi adalah Methuselah pertama yang menyia-nyiakan waktu
sebanyak itu demi kemalasan.
Karena
tindakannya secara teknis tidak melanggar hukum, pihak kampus menemui jalan
buntu. Sampai akhirnya, Dekan fakturnya kehilangan kesabaran.
Meski kamar
Agrippina telah diisolasi dengan sihir pembengkok ruang, Dekan tetap memaksa
masuk dan memerintahkannya untuk segera berangkat melakukan kerja lapangan.
Agrippina menolak
keras perintah untuk mengawal karavan layaknya penyihir bayaran, namun ia
terpaksa menyerah ketika Dekan mengancam akan mengusirnya dari School of
Daybreak.
Baginya,
kehilangan status faksi sama saja dengan terusir dari perguruan tinggi
sepenuhnya.
Dekan mengirimnya
dalam perjalanan penelitian dan melarangnya kembali tanpa izin tertulis.
Namun, di tengah
khotbah panjang Dekan saat keberangkatannya, Agrippina mengingat satu detail
penting: "Aku rasa kau baru boleh kembali jika kau menerima seorang murid
karena suatu keajaiban, tapi ketahuilah bahwa..."
Tentu saja, Dekan
yakin Agrippina yang malas tidak akan pernah mau membimbing siapa pun.
Namun hari ini,
keberuntungan berpihak padanya. Ia menemukan seorang anak yang harus menjadi
muridnya agar bisa bertahan hidup.
Agrippina tidak
butuh uang; sebagai bangsawan, ia memiliki tabungan yang melimpah. Yang ia
butuhkan hanyalah "tiket" untuk kembali ke bengkel penelitiannya
secara sah.
Dengan adanya
murid ini, ia punya alasan hukum untuk mengakhiri masa pengasingannya.
Terlebih lagi,
kontrak ini memberinya seorang pelayan kecil yang tampak sangat berguna.
Hari ini
benar-benar menjadi hari yang luar biasa bagi Agrippina.
[Tips] Ada tiga gelar utama di Imperial College:
1.
Student (Mahasiswa):
Penyihir yang tengah menjalani pelatihan.
2.
Researcher (Peneliti): Mereka yang telah memiliki
bengkel penelitian sendiri.
3.
Professor (Profesor): Pemimpin yang membawahi mahasiswa
dan peneliti.
Student dan Researcher biasanya bernaung di bawah faksi yang dipimpin oleh Profesor mereka. Memiliki hubungan baik dengan Profesor adalah kunci untuk mendapatkan akses ke pengetahuan eksklusif atau pendanaan laboratorium.
Musim Semi, Usia
Dua Belas — Bagian 2
Buku Peraturan (Rulebook)
Buku yang berisi seluruh informasi mengenai dunia permainan
papan, serupa dengan data yang tersimpan dalam cakram permainan video.
Buku ini memuat aturan dasar dan profil karakter untuk
menyusun latar belakang sebelum petualangan dimulai. Mungkin juga terdapat
beberapa halaman rahasia yang tidak boleh dilihat oleh pemain…
◆◇◆
Butuh waktu
seharian penuh untuk menyelesaikan semua rincian kesepakatan itu.
Setelah diskusi
selesai, Nona Agrippina mendorongku kembali ke tempat tidur. Meskipun ia telah
menggunakan sihir penyembuhan, tubuhku masih sangat babak belur. Ia
mengembuskan asap pipa ke arahku, dan seketika aku jatuh pingsan.
Rupanya, aku
mengalami patah tulang di lima titik, luka di berbagai bagian tubuh, dan memar
yang menutupi hampir seluruh kulitku.
Fakta bahwa aku
sudah bisa bergerak setelah tidur sebentar membuktikan bahwa majikan baruku
adalah seorang penyihir yang luar biasa.
Saat aku
terbangun untuk kedua kalinya, kediaman kepala desa sudah sesak oleh orang
tuaku, kepala desa sendiri, uskup, bahkan juru tulis setempat. Keributan besar
terjadi. Bagaimana dengan kontraknya?
Bisakah seorang
anak bekerja?
Bagaimana nasib
Elisa?
Pertanyaan dan
kekhawatiran membanjir, hingga butuh waktu seharian bagi semua orang untuk
membubuhkan tanda tangan dan segel darah pada dokumen resmi.
Akhirnya aku
bebas, namun para orang dewasa masih terus meributkan hal-hal sepele di dalam
rumah.
Aku merasa
pembicaraan mereka kehilangan sosok kunci—yaitu aku—tetapi orang dewasa memang
tidak suka melibatkan anak-anak dalam diskusi yang rumit.
Jika aku berada
di posisi ayahku, aku pun tidak akan membiarkan anakku melihatku berdebat
sengit seperti itu.
Tetap saja,
semuanya jadi berantakan… Aku tahu suatu hari aku akan meninggalkan Konigstuhl,
tetapi aku tidak menyangka kepergianku akan secepat ini.
Terlebih lagi,
aku tidak menyangka akan memboyong adik perempuanku ke ibu kota, jantung dari
Kekaisaran Trialis.
Ini
terlalu berlebihan, bahkan untuk biodata karakter PC. Situasiku jauh lebih parah daripada
selamat dari kecelakaan pesawat. Aku bersumpah daduku dicurangi!
"Aku lihat
banyak hal telah berubah ke arah yang tidak terduga."
Aku menoleh kaget
dan mendapati sahabat masa kecilku yang muram berdiri di sana.
Jarang sekali
Margit terlihat begitu serius, dan lebih jarang lagi baginya untuk tidak
melakukan serangan kejutan seperti biasanya. Melihatnya seperti ini, hatiku
terasa hancur.
"Aku sudah
menunggumu dengan cemas. Rumor sudah menyebar ke seluruh kanton."
Ia berjalan
mendekat perlahan dan diam-diam dengan kaki-kaki laba-laba kecilnya, sementara
sinar redup terpantul dari matanya yang berwarna kuning.
"Apakah kau
punya waktu luang?"
Pertanyaan Margit
lebih terasa seperti perintah. Aku mengangguk canggung, meraih tangannya yang
terulur, dan mulai berjalan di sampingnya.
Aku tidak bisa
menolaknya; nada bicaranya membuatku kehilangan keinginan untuk membantah.
Suaranya yang dingin membuatku merasa seperti seekor laba-laba jantan yang
sedang ditatap oleh betinanya.
Kami berjalan
dengan kecepatan aneh ke sebuah bukit besar di tepi kanton dalam keheningan
total.
Tidak ada yang menarik di sini—bahkan bunga
pun tidak mekar. Paling-paling, kami hanya punya pemandangan jelas ke arah
rumah kami dan hutan tempat kami biasa bermain sejak kecil.
Saat aku duduk di
tanah, Margit tidak memilih posisi duduk yang biasanya; sebaliknya, ia melipat
kakinya tepat di depanku. Ia tampak semanis kucing di dalam kotak, tetapi ini
bukan saatnya untuk merasa terpesona.
Jika aku berani
mengucapkan sesuatu yang bodoh, aku merasa taring panjang yang mencuat dari
bibirnya akan mencabik leherku—setidaknya, itulah aura yang ia pancarkan.
Tatapan kosongnya
mendesakku untuk mengakui segalanya, jadi aku membiarkan kebenaran mengalir
bebas dari mulutku.
Aku
bercerita tentang Elisa, tentang Changeling, dan tentang masa depanku.
Margit
tidak mengangguk ataupun berkomentar. Ia hanya mendengarkan sampai akhir, lalu
mengembuskan napas terberat yang pernah kudengar—napas yang seolah meresap
hingga ke dasar jiwaku.
"Semuanya
benar-benar sudah di luar kendali," katanya dengan suara yang sarat emosi.
Aku merasa tidak
bersalah, namun keseriusan pernyataannya membuatku ingin meminta maaf.
"Menjadi
Servant kontrak bagi seorang penyihir di ibu kota... Ini jauh lebih
rumit dari dugaanku. Siapa yang mengira keterkejutanku atas penculikan Elisa
akan tertutup oleh berita ini begitu cepat?"
Aku melihatnya
menutup mata kanan dengan tangan, menatap langit seolah menahan sakit migrain.
Aku tidak punya
kata-kata untuk menghiburnya—karena aku pun merasakan hal yang sama.
Secara
intelektual, aku tahu Elisa adalah seorang Changeling. Namun, jauh di
lubuk hati, aku masih tidak benar-benar mempercayainya; sulit menerima
kenyataan bahwa ia mungkin akan dijadikan "spesimen".
Di suatu bagian
hatiku, aku masih berharap ini semua hanya lelucon, dan aku akan terbangun di
tempat tidurku sendiri setelah mengerjap sekali lagi.
Lalu semuanya
kembali normal. Elisa menjadi gadis kecil biasa, aku tidak perlu ke ibu kota,
tumbuh besar di Konigstuhl, dan suatu hari pulang dari petualangan untuk
merayakan pernikahan Elisa.
Itu adalah mimpi
indah... ya, hanya mimpi. Aku sedang berpegang teguh pada fantasi.
Namun
kenyataan menghantam. Elisa akan berangkat sebagai murid Magus, dan aku
akan menyertainya sebagai Servant untuk membayar biaya pendidikannya.
"Bukan
berarti aku akan menjadi pelayan selamanya," kataku, lebih kepada diriku
sendiri. "Aku tidak berniat menghabiskan seluruh hidupku melayani seorang Magus."
"Tapi
itu bukan jenis pekerjaan yang bisa kau tinggalkan setelah setahun, bukan?
Mengingat besarnya uang yang harus kau hasilkan, biasanya orang akan
menghabiskan seumur hidup untuk melunasinya."
Logika temanku
langsung mematahkan pertahananku. Ia benar: biaya minimum untuk belajar di
bawah bimbingan seorang Magus adalah lima belas Drachmae per
tahun. Rakyat jelata seperti kami hampir tidak dapat membayangkan kekayaan
sebanyak itu.
Uang itu
berstatus pinjaman. Gajiku sebagai pelayan akan langsung digunakan untuk
membayar utang biaya kuliah dan kebutuhan Elisa.
Aku tidak
akan bebas sampai utang itu lunas. Penyihir jahat itu sendiri yang
mengatakannya: ia tidak bisa mengubah peraturan, jadi aku harus bekerja untuk
membayar iuran tersebut.
Pertanyaannya,
berapa gaji seorang pelayan?
Jika
dihitung dengan biaya kamar dan makan, awalnya aku mungkin tidak akan menerima
sepeser pun. Gundukan utang itu mustahil dilunasi dengan gaji normal.
Apalagi,
rata-rata siswa membutuhkan minimal lima tahun sebelum bisa mendapatkan posisi
penelitian.
Artinya,
aku harus menghitung pengeluaran setidaknya selama lima tahun.
Total
biaya kuliah saja sudah tujuh puluh lima Drachmae. Seorang rakyat jelata
harus mengulang hidupnya puluhan kali untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Dan
itu hanyalah perkiraan kasar.
Sebagai
orang yang pernah kuliah di kehidupan sebelumnya, aku tahu mahasiswa sangat
cepat menghabiskan uang.
Elisa akan
membutuhkan pakaian baru seiring pertumbuhannya. Di era ini, pakaian sangat
mahal. Bahkan kain katun pun membutuhkan biaya tenaga kerja yang besar.
Elisa akan
dikelilingi oleh anak-anak bangsawan atau orang kaya. Aku tidak ingin ia dihina
karena pakaiannya compang-camping.
Penampilan adalah
alasan utama perundungan, terutama bagi makhluk tidak biasa seperti Changeling.
Lalu ada buku
pelajaran. Perkamen di zaman ini harganya selangit. Buku biasa bisa seharga dua
hingga tiga Drachmae, sementara buku langka bisa seharga satu Province.
Belum lagi biaya
hidup kami berdua di ibu kota. Aku tidak yakin Nona Agrippina akan memedulikan
kebutuhan harian kami.
"Sepuluh
tahun?" tanya Margit tiba-tiba. "Dua puluh tahun? Erich, berapa lama
kau berniat pergi?"
"Aku harap
bisa selesai dalam lima tahun," jawabku setelah jeda yang menyesakkan.
Saat aku mencapai
usia dewasa, aku berencana mencari pekerjaan tambahan secara legal.
Dengan
memanfaatkan berkah "Masa Depan" yang kumiliki, aku yakin bisa
menciptakan sumber pendapatan baru.
Demi Elisa, aku
tidak akan pelit. Jika aku bisa membeli nyawa adikku dengan Experience
Points, aku akan melakukannya tanpa ragu.
"Lima tahun,
ya? Kau optimis sekali."
"Aku akan
melakukan apa pun agar bisa bebas saat itu."
"Tetap saja,
lima tahun lagi aku akan berusia sembilan belas tahun. Semua orang akan
menertawakanku karena belum menikah," katanya sambil cemberut.
Di Rhine, usia
umum untuk menikah adalah lima belas hingga tujuh belas tahun.
Aku tidak berani
menanggapi implikasi dari perkataannya—itu akan terlalu tidak bijaksana.
Aku sangat sadar
ke mana arah hubungan kami jika kami terus bersama.
"Aku akan
berusaha sebaik mungkin," kataku akhirnya.
"Dan kau
akan kembali sebelum kita terlalu tua untuk berpetualang?"
"Akan
kucoba."
"Benarkah?"
Tanpa suara,
bagian tubuh bawahnya bergerak-gerak dan ia merangkak ke pangkuanku.
Mata cokelatnya
menatap lurus ke arahku dengan kilatan jingga yang berbahaya.
"Apakah kau
bersumpah? Kau bersumpah akan menyelesaikan masa tugasmu sebagai pelayan, lalu
kembali untuk mengajakku berpetualang?"
Margit
bicara dengan nada kasar.
Biasanya
suaranya membelai lembut benakku, namun kali ini suaranya menusuk tepat di ulu
hati.
Ini lebih
dari sekadar pertanyaan—ini adalah bilah tajam yang mengiris dasar keinginanku.
"Ya,"
jawabku mantap. "Aku bersumpah. Kita sudah mempersiapkan diri begitu lama;
aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku akan menjadi petualang dan memastikan Elisa lulus dengan selamat. Aku
akan melakukan keduanya."
Interogasinya
yang tajam justru membuat jawabanku semakin tulus.
Pisau bedah itu
tak perlu menyayat lebih dalam, karena aku telah menarik jawaban itu dari lubuk
hatiku yang terdalam.
Aku sudah membuat
keputusan sejak lama: jika aku bisa menjadi apa pun di dunia ini, aku akan
mengejar apa yang benar-benar kuinginkan.
Menjadi petualang
bukanlah jalan yang kupilih secara asal; aku memulai jalan ini karena semua
orang percaya aku mampu melakukannya.
Di saat yang
sama, aku ingin menjadi kakak yang baik; aku ingin tetap berdiri tegak saat
Elisa menatapku dengan penuh kekaguman.
Ini adalah
manifesto tulusku. Setelah menghabiskan dua belas tahun sebagai Erich dari
kanton Konigstuhl, kata-kata ini adalah wujud resolusiku.
Aku memiliki
kewajiban untuk memegang teguh tekad ini guna memberi makna pada dua belas
tahun kasih sayang keluarga dan teman-temanku—untuk mempertahankan keaslian
tujuh tahun yang kujalani sebagai diriku sendiri.
Untuk itu, aku
rela mendedikasikan semua Experience Points yang telah kusimpan. Aku
bahkan siap mencurahkan semuanya ke dalam Domestic Skills jika memang
diperlukan.
Lagipula, dengan
levelku saat ini, aku masih bisa bertahan sebagai seorang pendekar pedang.
Ini memang jalan
memutar. Namun, aku menolak untuk membohongi diri sendiri.
Aku akan
melakukan apa pun yang kumau, seperti para pahlawan dalam permainan papan yang
dulu membuatku lupa waktu.
Aku selalu
menyukai perasaan luar biasa di akhir sesi permainan yang bagus.
Melihat sebuah
cerita menjadi nyata dan karakter yang kami ciptakan mencapai konklusi sungguh
menggetarkan.
Bahkan ketika
mereka ditakdirkan mengalami nasib buruk, itu tetap menyenangkan karena aku dan
teman-temanku merajut cerita itu bersama di ruang klub tua yang berantakan.
Kegembiraan
terbesar adalah saat semua karakter kami mencapai tujuan mereka di babak akhir.
Kami telah
menghabiskan waktu yang tak terhitung jumlahnya untuk mengejar kejayaan itu
lagi dan lagi. Situasiku sekarang pun sama. Ini adalah hidupku sendiri, namun
prinsipnya tidak berubah.
Aku akan mengejar
keinginanku untuk menjadi sosok yang kuinginkan. Bukankah itu alasan
"Buddha Masa Depan" mengirimku ke sini?
"Lakukan
apa yang kau mau,"
begitu katanya?
Kalimat dari dewa
jahat yang sudah kukenal itu kini menjadi titah surgawi termanis yang pernah
kudengar.
Tanpa adanya
mandat ilahi yang mengekang, aku diizinkan mengejar impianku. Sungguh sebuah
Injil yang membebaskan.
Benar. Aku akan
menjadi seorang petualang… sekaligus pahlawan bagi Elisa.
Aku memantapkan
keyakinanku dan menatap lurus ke dalam sepasang permata cokelat milik Margit.
Entah berapa lama
kami saling bertatapan. Warna merah senja yang lembut mulai memudar menjadi
ungu redup. Saat siang dan malam menyatu, bintang-bintang mulai menempati
posisinya di samping bulan sabit.
Bulan yang kian
memudar itu memiliki julukan puitis di tanah airku yang dulu: Fukemachi-zuki.
Aku pernah
menyebut nama itu—bahwa kita berdua harus menunggu masa depan yang jauh untuk
kembali menjadi utuh, tepat saat malam bersiap menelan sisa-sisa diri kita yang
lama.
Oh, betapa aku
berharap bisa bersinar sepenuhnya seperti dirimu.
"Benarkah?
Yah… itu memang sangat mirip denganmu." Margit bicara dengan nada santai dalam dialek
umum.
Tatapannya
tak pernah lepas dariku, namun ekspresinya yang kaku tiba-tiba melunak saat ia
tersenyum.
"Baiklah, aku akan percaya padamu. Tidak ada gadis lain yang sebaik
aku di luar sana, tahu?"
"Aku
tahu," jawabku. "Terima kasih, Margit."
Aku yakin ia akan
terus menunggu petualangan kami dimulai. Lagipula, ia tidak pernah membohongiku
sebelumnya—tidak sekali pun, bahkan sebagai lelucon.
Namun, meski aku
memercayai janjinya, aku harus waspada agar tidak menjadi sombong.
Pria adalah
makhluk yang rentan terhadap delusi egois seperti, "Dia akan selalu
mencintaiku selamanya."
"Saat aku
memulai petualanganku nanti, tempat pertama yang akan kutuju adalah untuk
menjemputmu," aku bersumpah.
Hanya sumpah
sungguh-sungguh inilah yang bisa kuberikan sebagai balasan atas kepercayaannya.
Sebagian orang
mungkin menganggap janji tanpa bentuk itu hampa, namun janji yang tulus akan
mengakar di hati mereka yang memercayainya.
Tak
peduli apa kata orang, aku memegang teguh kebenaran ini.
Margit
menanggapinya dengan tawa kecil yang sangat lembut. Tiba-tiba, ia mengangkat
kepalanya dan melingkarkan tangannya di belakang leherku.
Kembali
ke posisi yang sangat kukenal, hidung kecil Arachne yang menggemaskan
itu bersentuhan dengan hidungku.
Tatapan
pantang menyerah di matanya berubah menjadi senyum yang lesu.
Meski
gigi taring rampingnya mencuat dari sisi mulut, bibirnya tetap tampak
mempesona.
Wajahnya memiliki
perpaduan antara keimutan gadis muda dan aura menawan dari seorang wanita
sejati.
Napas kami saling
beradu, dan bulu mata kami saling bertautan. Aku hampir tak bisa bernapas.
"Kalau
begitu, aku akan memastikan kau tidak bisa melupakanku." Rasa menggigil
yang Margit tanamkan ke tubuhku muncul sekali lagi. Suaranya yang manis selalu
menggelitik bagian belakang otakku. "Tutup matamu…"
Tunggu, apakah
dia akan melakukannya? Serius? Apakah ini benar-benar terjadi?
Aku tidak pernah
mengalami momen semanis ini di kehidupanku yang dulu.
Bolehkah aku
membanggakan ini?
Aku sudah menjadi
pria sejati sekarang, kan?
Aku akan
merayakannya malam ini!
Pikiranku
berputar histeris hingga napas yang kurasakan di bibirku tiba-tiba berbelok ke
samping.
Saat otakku mulai
bekerja kembali, aku merasakan kehangatan kulit Margit di pipiku dan napasnya
menggelitik telingaku.
Hah? Tunggu
sebentar, apa yang terja— "Aduuuh?!"
Rasa sakit yang
luar biasa menyerang telingaku. Aku terlonjak kaget, tapi cengkeramannya di
leherku terlalu kuat.
Setiap upaya
untuk melihat apa yang terjadi dihalangi oleh kepala Margit.
Bahkan, ia masih
menjepit cuping telingaku dengan mulutnya. Aku sama sekali tidak bisa berkutik.
Hah? Apa-apaan ini?! Apa yang dia lakukan padaku?!
Setelah beberapa
detik kebingungan dan penderitaan, Margit akhirnya melepaskan telingaku.
Dengan rasa ingin
tahu sekaligus ngeri, aku menyentuh telingaku dan mendapati bagian itu basah
oleh ludah dan darah. Namun, aku juga merasakan sebuah lekukan di ujung jariku.
Apakah ini
sebuah lubang?
Setelah meraba
sedikit lebih lama, jelas sudah bahwa ia telah melubangi cuping telingaku.
"Terima
kasih atas makanannya," katanya sambil menjilati darahku yang menetes dari
bibirnya.
Sisa-sisa cahaya
matahari masih terpantul pada taring tidak manusianya itu.
Tampaknya ia
dengan cekatan menggunakan taringnya untuk menusuk daging telingaku.
"A—tapi
kenapa?! Kenapa kau menggigitku?!"
"Sudah
kubilang, kan? Aku akan memastikan kau tidak akan pernah melupakan janji
kita."
Saat Margit
bicara, ia menarik tanganku yang tadinya melindungi telinga, lalu memasukkan
sesuatu ke dalam lubang yang masih berdenyut itu.
Aku meliriknya;
itu adalah kerang laut merah muda yang telah diubah menjadi anting-anting.
Anting yang
dikenakan gadis itu tampak sederhana. Jenis aksesoris yang biasa dibeli
anak-anak di festival dengan harga sekitar satu keping perak.
Aku ragu ia sudah
lama memilikinya. Mungkin ia membelinya di sebuah kios saat aku terjebak di
dalam rumah tadi—tapi mengingat ia terus menunggu di dekat rumah kepala desa,
dugaanku mungkin salah.
"Jangan
dilepas, ya? Ini bukti janji kita. Ingatlah aku setiap kali kau
melihatnya."
Sekarang
tunggu dulu, niat di balik anting ini memang manis, tapi bagaimana bisa kau...
Hmm...
Senyum Margit langsung melenyapkan semua amarahku.
Anehnya,
melihatnya tampak puas justru membuatku berpikir, Yah, setidaknya dia tidak
merobek telingaku sampai putus.
Waduh,
menjadi cantik itu benar-benar tidak adil.
Saat aku
sibuk merenungkan absurditas dunia ini, Margit meletakkan benda lain di
tanganku. Aku menunduk dan melihat sebatang jarum panjang.
Jarum itu
besar dan kokoh—lebih cocok untuk kerajinan kulit daripada sulaman. Jarum itu
masih terasa lembap dan berbau alkohol tajam yang biasa kami gunakan untuk
disinfektan.
"Sekarang,
bisakah kau membalas budiku?" katanya sambil menjulurkan telinga kanannya.
"Hah?" Apa?
Maksudmu... aku juga harus menusuk telingamu? Tunggu dulu, ini terlalu ekstrem bagiku. Fetis
aneh macam apa ini?
"Apa
yang kau tunggu?" tanyanya mendesak. "Aku sudah memastikan kau tidak akan
melupakanku. Tidakkah kau ingin memastikan bahwa aku juga tidak akan
melupakanmu?"
Entah mengapa,
tatapan matanya yang melirik saat ia mengangkat rambutnya menghancurkan
pertahananku dalam sekejap.
Fakta bahwa ia
bisa terlihat begitu menggoda meskipun sedang memintaku melakukan sesuatu yang
gila pasti lebih dari sekadar pengaruh status setengah manusianya.
"Bersiaplah,
karena ini mungkin akan sangat menyakitkan. Aku pun merasakan hal yang
sama."
"Tidak
apa-apa. Maukah kau tunjukkan padaku seperti apa rasa sakit itu?"
Ya ampun, semua
nada sugestif ini bisa membuatku kena serangan jantung!
Aku
menenangkan detak jantungku yang menggila dan menekan jarum itu ke telinganya.
Hanya
butuh satu dorongan kuat untuk menembus cuping telinganya yang lembut, membuat
butiran merah menari di udara.
Di bawah
siraman cahaya matahari terbenam dan rembulan yang mulai naik, keindahan di
hadapanku sungguh tak terlukiskan.
"Hngh..."
Margit
mengeluarkan erangan provokatif saat aku mencabut jarum tersebut. Ia mengusap
bekas luka itu dengan jarinya, dengan tatapan yang mencampurkan rasa pedih dan
kasih sayang.
Tanpa
menghentikan darah yang menetes, ia menyerahkan belahan anting lainnya
kepadaku.
Aku pun harus
melakukan hal yang sama, begitulah dugaanku. Kami pernah menyaksikan ritual
serupa musim gugur lalu, meski ini terasa jauh lebih aneh dari yang
kubayangkan.
Namun, melihat
Margit tampak begitu bahagia... kurasa tidak apa-apa.
Terpapar cahaya
merah tua yang sekilas, senyumnya yang berlumuran darah itu pasti akan melekat
dalam ingatanku seumur hidup.
[Tips] Bagi pria, anting di telinga kiri melambangkan keberanian dan kebanggaan; bagi wanita, anting di telinga kanan melambangkan kebaikan dan kedewasaan. Mengambil masing-masing satu bagian dari satu set anting merupakan simbol dari ikatan yang tidak dapat terputuskan.
Musim Semi, Usia
Dua Belas — Bagian 3
Suplemen (Supplement) Buku panduan tambahan
untuk melengkapi aturan dasar sebuah permainan. Isinya bisa berupa Skills
dan Items baru bagi PC, latar petualangan baru, NPC
tambahan, hingga variasi musuh untuk dihadapi.
Melihat dunia yang semakin berkembang memang menyenangkan,
namun ekspansi yang tanpa batas terkadang justru menimbulkan kebingungan besar.
◆◇◆
Setelah kejadian tak terlupakan di bukit senja, aku pulang
ke rumah tanpa harapan akan mendapatkan ketenangan. Menidurkan putri kecil kami
benar-benar menjadi sebuah mimpi buruk.
Dan itu sangat wajar. Elisa baru berusia tujuh tahun, dan
secara mental ia bahkan lebih muda dari usianya. Ia pasti merasa terguncang
setelah diculik, menyaksikan pertumpahan darah, dan tiba-tiba diberi tahu bahwa
ia harus meninggalkan rumah dalam dua atau tiga hari ke depan.
Bagi seorang anak kecil dengan pandangan dunia yang
terbatas, orang tua dan keluarga adalah seluruh dunianya.
Aku mungkin kakak favoritnya, tetapi ia mencintai setiap
anggota keluarga kami dengan besaran yang sama.
Elisa selalu berseri-seri saat Ayah mengangkatnya ke udara.
Ia menyukai masakan Ibu dan selalu berjanji akan membantu di dapur saat ia
dewasa nanti.
Ketiga kakak laki-laki kami sangat memanjakannya, dan ia
memainkan peran sebagai putri kecil yang manis di tengah mereka.
Ia juga sangat menyayangi Mina, kakak iparnya, layaknya
saudara kandung sendiri.
Karena dikelilingi laki-laki sepanjang hidupnya, ia selalu
gembira setiap kali Mina meluangkan waktu di sela pekerjaan untuk menata
rambutnya.
Elisa jarang
sekali merasakan suasana "feminim" di rumah yang penuh laki-laki ini,
sehingga kegembiraannya selalu terasa tulus.
Apa pun
alasannya, seorang anak tidak akan sanggup menerima kenyataan bahwa ia harus
dipisahkan dari keluarga tercinta.
Seperti pepatah
lama, ia hanyalah seorang anak kecil.
Kami semua
mencoba menjelaskan bahwa aku akan menemaninya dan ini demi kebaikannya
sendiri, namun amarah Elisa tidak kunjung reda.
Mudah bagi orang
lain untuk menganggap tangisannya sebagai bentuk ketidakdewasaan, tetapi siapa
pun yang masih mengingat masa kecil mereka pasti akan memandangnya dengan rasa
iba.
Jika aku berada
di posisinya, aku ragu akan sudi mengikuti orang asing mencurigakan itu ke ibu
kota.
Aku tahu dengan
jiwaku saat ini bahwa langkah ini perlu diambil demi kedamaian keluarga dan
kanton kami.
Namun, jika aku
kembali menjadi diriku yang asli saat berusia tujuh tahun, meyakinkanku akan
menjadi misi mustahil.
Rasa sakit yang
dirasakan Elisa mendorong kami untuk terus berusaha menenangkannya. Di tengah
malam, ia akhirnya kehabisan tenaga dan tertidur—meskipun kami tahu ia akan
kembali mengamuk keesokan paginya.
Begitu
"pertempuran sengit" yang sanggup memicu protes tetangga apartemen
mana pun itu berakhir, semua orang tampak lunglai.
Pasangan muda itu
menyeret diri ke tempat tinggal mereka, dan si kembar berjalan ke kamar seperti
sepasang mayat hidup.
Ibu menggendong
Elisa ke tempat tidur, namun ia sendiri ikut pingsan kelelahan di sana.
Terkulai lemas, hanya Ayah dan aku yang tersisa di ruang tamu.
"Ayah ingin minum sesuatu?"
"Ya, tolong," jawabnya letih. Ia menjatuhkan diri ke kursi. "Bisa kau
ambilkan makanan spesial itu di dapur?"
Aku membuka papan
rahasia di lemari dapur untuk mengambil minuman keras kesayangan Ayah (ia sudah
menunjukkan tempat penyimpanannya karena tahu aku tidak akan mencurinya).
Cairan emas itu
adalah wiski gandum hitam, minuman staples dari wilayah utara kekaisaran.
Aku sudah tidak
lagi terkejut dengan keberadaan barang-barang yang secara historis terasa
"salah tempat" ini, dan dengan hati-hati mengeluarkan botol kaca
bening tersebut.
Sekali lihat
saja, aku tahu harganya mahal. Transportasi utama di sini adalah karavan kuda,
jadi barang impor memiliki harga selangit.
Tidak seperti
abad ke-21, di mana satu klik tombol cukup untuk mencicipi rasa dari belahan
dunia lain.
Harga wiski ini
pasti melonjak tiga kali lipat selama perjalanan panjang ke sini, dan Ayah
hanya meminumnya dalam dua kesempatan.
Pertama, saat
merayakan pencapaian besar. Aku ingat ia menyesapnya dengan penuh sukacita saat
Elisa sembuh dari demam parah.
Kedua, saat
menghadapi situasi yang terlalu berat untuk ditanggung dalam keadaan sadar.
Dengan sepertiga
botol yang tersisa, Ayah menuangkannya ke gelas kecil dan menenggaknya tanpa
campuran.
Aromanya saja
sudah membuktikan betapa kuat kadarnya.
Aku sempat
tertegun, lalu menyadari bahwa mungkin ini satu-satunya cara baginya untuk
menghadapi kenyataan; aku belum pernah melihat sosok Ayah yang dapat diandalkan
ini tampak begitu rapuh.
Tegukan pertama
belum cukup. Ia meminum tegukan kedua, lalu ketiga, hingga akhirnya tangannya
berhenti.
"Erich, kau
mau mencoba?"
Cairan kuning
keemasan itu bergoyang di gelas kecil yang ia sodorkan. Aroma alkohol yang
menyengat sebenarnya tidak cocok untuk lidah anak dua belas tahun, jadi
biasanya aku akan menolak. Namun malam ini, aku pun merasa ingin minum.
Saat meneguknya,
rasa panas yang membakar meresap ke dalam perutku. Rasa asam yang tertinggal
tidaklah buruk; kupikir aku akan sangat menikmati minuman ini setelah beberapa
tahun lagi.
"Hebat.
Kau benar-benar anakku," katanya sambil tertawa kecil.
Ia
mengangkat gelasnya lagi, menuang, dan menenggaknya kembali. Karena minumannya
begitu kuat, aku mengambil sisa daging kering dari musim dingin sebagai
camilan. Ayah mulai memotongnya tanpa sepatah kata pun.
"Aku
tidak pernah menyangka akan jadi seperti ini. Takdir memang kejam."
Alkohol
mulai melunakkan lidahnya. Setelah gelas keempat, ia menatapku lekat-lekat
dengan bibir bergetar ragu, sebelum akhirnya mulai bicara dengan suara sangat
pelan.
"Kurasa
aku belum pernah menceritakan ini padamu, tapi sebenarnya aku adalah anak
kedua."
"Benarkah?"
Aku sungguh tidak tahu.
Kakek dan
nenekku meninggal sebelum aku lahir—hanya Heinz yang pernah melihat mereka, itu
pun saat ia masih sangat kecil.
Kerabat kami di
kanton tidak punya alasan untuk menceritakan hal ini.
Paman dan
bibiku pun tidak pernah menyinggungnya. Aku jadi penasaran, bagaimana Ayah bisa
mewarisi rumah ini di era di mana hak sulung begitu diagungkan?
"Benar.
Kakakku meninggal saat aku... berusia delapan belas tahun?" Ia bergumam
memastikan pada diri sendiri.
Rupanya,
kakak laki-laki dan kakak ipar Ayah terserang wabah lokal sebelum aku lahir.
Sebagai
pewaris berikutnya, ia dipanggil pulang untuk mengurus rumah dan pertanian.
Kepergian
putra sulung membuat kakek-nenekku sangat terpukul hingga mereka meninggal
sesaat sebelum si kembar lahir.
"Itulah
sebabnya aku tahu betapa sakitnya harus menyerah pada impianmu karena sesuatu
yang di luar kendalimu." Ia bicara seolah sedang menelan kesedihan yang
tak kasat mata.
Aku yakin
ia sangat mengerti. Ayahku dulunya adalah pemuda yang mengejar mimpinya
sendiri. Ia pasti kabur dari rumah agar tidak perlu hidup di bawah
bayang-bayang sebagai anak kedua.
"Kau tahu, Erich... dulu aku adalah seorang tentara
bayaran."
"Hah? Ayah?!"
Aku pikir tidak ada lagi yang bisa mengejutkanku setelah
fakta Elisa adalah seorang Changeling, namun harapanku pupus sebelum
hari ini berakhir. Ayahku?
Petani teladan ini dulu seorang tentara bayaran?
Citra tentara bayaran di Kekaisaran Trialis tidaklah bagus;
mereka dianggap penjagal karier yang mencari nafkah dari darah.
Ayah memang kuat, tapi aku tidak pernah membayangkan ia
cocok berada di kelompok itu.
"Tujuh perang dan lima belas pertempuran kecil adalah
semua yang kulalui dalam tiga tahun. Aku mengalahkan dua jenderal dan
mendapatkan cukup uang. Itulah alasan kita bisa membeli lebih banyak tanah
beberapa tahun lalu. Aku membeli Holter dari seorang kawan lama."
Hari ini benar-benar memusingkan. Informasi mengejutkan
menghantamku bertubi-tubi.
Adikku seorang peri, teman masa kecilku melubangi telingaku,
dan sekarang ayahku ternyata mantan tentara bayaran. Jika ini terus berlanjut,
otak kecilku bisa meledak.
"Tapi ketika ayahku datang menangis padaku dengan
kondisi hancur... aku tidak bisa menolak. Tangan yang dulu keras itu
mencengkeramku dengan sangat lemah..."
Ayah menatap ke arah kejauhan. Aku bisa membayangkan mengapa
seorang tentara bayaran yang sanggup mematahkan lengan prajurit lawan, justru
tidak berdaya menghadapi tangan keriput seorang petani tua yang sekarat.
"Aku tidak
pernah menyangka akan memaksamu melakukan hal yang sama."
Aku yakin Ayah
juga menderita saat itu. Tentara bayaran memang sering dianggap dekat dengan bandit, tapi mereka
adalah profesional yang bekerja dengan koordinasi kompi. Melanggar sumpah kepada rekan-rekan seperjuangan
pasti sangat menyiksa baginya.
"Maafkan
aku. Aku tahu kau punya keinginan sendiri. Aku sangat menyesal kami memaksakan
nasib buruk ini padamu."
Melihat Ayah
terisak, hatiku terasa sakit. Tidak ada orang tua yang sanggup melepas anaknya
memikul beban utang yang mungkin tak akan lunas seumur hidup tanpa rasa
bersalah. Namun demikian...
"Aku tidak
melihatnya sebagai nasib buruk, Yah."
"Hah?"
Tekadku sudah
bulat: aku akan menjadi sosok yang kuinginkan. Dan aku ingin menjadi kakak yang
keren bagi Elisa.
Selain itu, utang
kami memang besar, tapi bukan berarti tidak bisa dilunasi.
Aku bisa
mendapatkan uang sebanyak yang kubutuhkan. Terlalu dini untuk menyerah pada
keputusasaan.
"Aku ini
kakak Elisa. Bukankah memang tugasku untuk pamer di depan adikku sendiri?
Bagaimana mungkin aku membenci Ayah karena melakukan sesuatu yang memang ingin
kulakukan?"
Aku
mengucapkannya sambil tersenyum, lalu mencuri gelasnya dan menghabiskan sisa
wiski di sana. Alkohol itu membakar tenggorokanku dan mendidih di perut.
"Tidak ada
yang salah. Bukan Ayah, bukan Ibu, bahkan bukan Elisa. Jadi, tolong berhentilah
meminta maaf. Lagipula, aku pergi ke ibu kota hanya untuk pamer."
Aku membuang rasa
malu untuk menghibur Ayah yang sedang patah hati.
"Hah, begitu
ya? Kau hanya ingin pamer?"
"Benar
sekali. Dan setelah urusanku selesai, aku akan kembali untuk mengejar apa yang
benar-benar kuinginkan. Aku bersumpah."
"Ha ha ha,
benarkah?" Ia tertawa riang lalu tiba-tiba bangkit. Ia menyuruhku menunggu
dan pergi ke ruang penyimpanan bawah tanah. Dengan kemampuan Listening-ku,
aku tahu ia sedang menggali sesuatu.
Tak lama
kemudian, Ayah kembali dengan tas yang berlumuran tanah.
Ia
mengeluarkan sebilah pedang yang terbungkus kertas minyak. Meskipun hiasannya
sudah dilepas, baja pedang itu berkilau indah di bawah cahaya lilin.
"Dulu aku
memakainya sebelum aku berhenti. Tombak, perisai, dan baju besiku sudah kujual,
tapi pedang ini kudapatkan setelah mengalahkan seorang jenderal sungguhan. Aku
tidak bisa melepaskannya begitu saja," Ayah membanggakan senjatanya sambil
membersihkan sisa minyak dengan kain lap.
"Pedang ini
memang bukan sekelas Mystarille atau Mystic Blade, tapi
kualitasnya sangat bagus. Pandai besi bilang ini dibuat dengan teknik tingkat tinggi bernama Pattern
Welding."
Aku baru
tahu belakangan bahwa teknik itu melibatkan penempaan berbagai senyawa logam
yang dilapis menjadi satu bilah, menciptakan pedang yang kuat dan sangat tajam.
"Dulu
kau menatapku seolah aku orang tua yang cerewet, tapi saat itu aku merasa
sangat bahagia."
Maksudnya
pasti saat festival musim gugur di mana aku berhasil membelah helm.
Saat itu
aku memang heran mengapa ia menghabiskan satu Drachma untuk mentraktir
semua orang. Namun sekarang aku mengerti.
Bagi
seorang pria yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk mencari nafkah, melihat
putranya sendiri menunjukkan bakat pendekar pedang yang luar biasa pasti
membuatnya sangat bangga.
"Pedang ini
milikmu sekarang."
Ia menyeka sisa
minyak dan menyerahkannya padaku. Di sisi bilahnya, terdapat ukiran seekor
serigala di samping sebuah batu nisan yang sudah agak pudar.
"Wicked Wolf?"
"Ya. Namanya diambil dari monster tua dalam
legenda."
Aku pernah mendengar mitosnya. Seekor serigala yang
berkeliaran di malam hari; meski ia akan memangsa orang-orang yang kasar, ia
akan melindungi orang-orang lemah dan mereka yang menunjukkan rasa hormat ke
tempat yang aman.
Pedang itu pasti diberi nama dengan harapan agar dapat
menuntun penggunanya kembali kepada orang-orang yang menantikannya… Ironisnya,
pedang itu justru berakhir di tanganku.
Bagaimanapun, ini
adalah senjata yang luar biasa. Titik beratnya sangat seimbang meskipun bentuknya mencolok.
Satu
ayunan saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa pedang ini tidak hanya ringan
secara fisik, tetapi juga terasa "ringan" saat digerakkan.
Efektivitas
pedang bergantung pada perpaduan berat dan kecepatan untuk menebas musuh, dan
pedang ini adalah contoh sempurna dari keseimbangan tersebut.
Aku
merasa seolah sanggup membelah helm yang terbuat dari Mystarille murni
dengan senjata ini.
"Aku
serahkan padamu. Jaga Elisa tetap aman untuk kami, Tuan Kakak." Setelah
berkata demikian, Ayah menutup kembali botol wiskinya dengan rapi dan diam-diam
mengembalikannya ke tempat persembunyian semula.
"Aku akan
melakukannya." Saat ia bergumam tentang rasa pening karena terlalu banyak
minum dan berjalan sempoyongan menuju kamar tidur, aku tetap berdiri dengan
kepala tertunduk penuh hormat.
[Tips] Ada tiga jenis Bilah Mistis (Mystic Blades):
1.
Adamant Blades:
Dibuat melalui proses magis yang dikenal sebagai Arcane Forging.
2.
Enhanced Blades: Pedang yang ditingkatkan secara permanen
dengan sihir penguat.
3.
Conceptual Blades: Perwujudan fisik dari konsep
"pedang" atau "tebasan" itu sendiri. Umumnya, orang-orang
merujuk pada jenis pertama, kedua, atau gabungan keduanya saat membicarakan
Bilah Mistis.
◆◇◆
Sebuah
boneka latihan berdiri di hadapanku. Boneka itu terdiri dari satu set baju besi
tua lusuh yang dililitkan pada inti kayu, telah dihantam ratusan, bahkan ribuan
kali oleh para penjaga kanton selama bertahun-tahun.
Pelat
logam bersisik itu bernoda darah yang telah lama mengering; aku berasumsi itu
adalah kenang-kenangan terakhir dari bandit bodoh yang mencoba menyerang kanton
kami.
Apa pun
ceritanya, ia tidak bisa lagi bicara.
Yang kutahu
hanyalah kayu di dalamnya sangat kokoh dan baju besi itu sendiri tetap
mempertahankan bentuknya meski telah bertahun-tahun digunakan secara berlebihan
oleh Pasukan Penjaga Konigstuhl.
Namun, ini sudah
lebih dari cukup—setidaknya, tidak ada manusia yang sekuat balok kayu berlapis
baja.
"Hup!"
Aku tidak lagi berteriak atau melompat secara berlebihan; aku hanya mengayunkan
pedang dengan lincah. Pedang
digerakkan oleh kekuatan dada dan kaki, bukan sekadar lengan. Aku menggerakkan
seluruh tubuh secara serempak, menjejakkan kaki dan menyerang dengan sudut yang
tepat untuk memperkuat ayunan bawahku dengan energi dari tanah yang kupijak.
Dengan
bentuk yang sempurna, bahkan seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun
dapat membelah logam menjadi dua.
Bilah
pedang menembus sasarannya tanpa tersangkut di kayu atau memberikan guncangan
balik yang melumpuhkan tanganku. Yang tersisa hanyalah kepuasan luar biasa dari
sebuah serangan yang elegan.
Angin
sepoi-sepoi bertiup melewati kami, menyebabkan separuh bagian target meluncur
turun, seolah baru menyadari bahwa ia telah terkena luka fatal.
Taring
ramping Schutzwolfe benar-benar sesuai dengan namanya.
"Demi
Dewi!" teriak si pandai besi dengan nada kagum.
Ia dengan
senang hati menerima permintaanku yang tidak masuk akal untuk membuat sarung
dan pegangan baru dalam dua hari, bahkan bersedia memoles pedang itu meski aku
membangunkannya saat fajar menyingsing.
Bagus,
ini sudah cukup.
Dengan
pedang berkualitas seperti ini, memotong daging akan menjadi hal yang mudah
selama aku mengikuti prinsip dasarnya.
Aku telah
meningkatkan Hybrid Sword Arts hingga mencapai level VI: Expert
dalam empat tahun pelatihanku.
Hasil ini
sudah bisa diduga jika memperhitungkan seluruh Skills dan Traits
pendukungku.
Kerendahan
hati mungkin sebuah kebajikan, tetapi kemampuanku telah memberiku hak untuk
menyandang pedang kesayangan Ayah.
Ke
depannya, aku mungkin mengakui bahwa aku kurang berpengalaman, tetapi aku tidak
akan pernah membiarkan diriku disebut lemah.
Aku telah
bersumpah untuk melindungi adikku dan mewarisi impian Ayah dengan tanganku
sendiri.
Aku
bersumpah dengan sungguh-sungguh tidak akan pernah menodai harga diri mereka
maupun harga diriku.
"Wah,
mataku tidak sedang menipuku, kan?"
Si pandai
besi mendekat untuk melihatku menguji Schutzwolfe dengan dalih memeriksa
kualitas karyanya, meskipun aku tahu itu hanya alasan.
Matanya yang
terlatih tidak dapat menemukan satu pun goresan, apalagi lekukan pada logamnya.
"Bilahnya
tetap lurus sempurna dan bahkan tidak ada goresan setelah membelah baju besi
itu? Ini tidak normal."
Sejujurnya,
bahkan pedang terbaik pun biasanya tidak dirancang untuk membelah baju besi
menjadi dua, jadi keterkejutannya sangat beralasan.
Aku pun tidak
akan mencoba aksi ekstrem seperti ini jika bukan untuk menguji batas
kekuatannya. Namun kali ini saja, aku ingin merasakan sensasi mengayunkan
pedang dengan kekuatan penuh.
"Nak, kau
yakin kau bukan avatar dari Dewa Perang?"
"Tolonglah,
aku ini Erich. Putra keempat Johannes, seorang petani dari kanton
Konigstuhl."
Aku
menyarungkan pedangku sambil tersenyum. Meskipun dibuat dengan tergesa-gesa,
sarungnya sama bagusnya dengan hasil karya pandai besi ras Dvergar
lainnya.
Tidak ada
setitik debu logam atau serpihan kayu yang tertinggal pada bilah yang baru
diasah itu; sarung barunya sangat pas.
"Menurutku,
Dewa Penempa pasti telah memberkatimu dengan kasih sayangnya. Kau yakin tidak
memiliki darah dewa?"
"Diamlah,
bocah nakal. Jangan bicara sembarangan."
Aku
merasa segar kembali. Sekarang, besok adalah harinya. Sebaiknya aku segera
membantu menyeka air mata putri kecil kita yang masih menangis itu.
[Tips] Di tangan seorang ahli, sebilah pedang sanggup
menebas rintangan apa pun.



Post a Comment