NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

TRPG Player ga Isekai de Saikyou Build wo Mezasu Volume 2 Interlude 1

Henderson Scale 0.1




Henderson Scale 0.1 - Istilah untuk peristiwa yang menggagalkan rencana awal namun tidak berdampak signifikan pada keseluruhan cerita.

Namun, beberapa penyimpangan kecil dapat mengarah pada konsekuensi yang lebih besar saat Skala Henderson berputar di luar kendali…

◆◇◆

Elisa sangat sedih dan menderita. Tenggorokannya sakit karena terus berteriak, matanya perih karena menangis, dan anggota tubuhnya lemas setelah mengamuk hebat—tetapi semua rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan kesedihan di hatinya.

Selama ini, Elisa tidak pernah mendapati keinginannya ditolak. Ia pasti mengerti jika ia meminta sesuatu yang buruk; Mama dan Papa memang baik, tetapi mereka tetap akan memarahinya jika ia melakukan kesalahan.

Namun kali ini, ia hanya bisa berkubang dalam kebingungan.

Ia ingin Ayah menepuk kepalanya. Ia ingin Ibu memeluknya erat saat tidur.

Ia ingin tinggal bersama kakaknya, Heinz, dan istrinya, Mina.

Ia ingin bermain dengan si kembar, Michael dan Hans, lalu meminta mereka membantunya naik ke punggung Holter. Ia ingin bertemu dengan semua orang di desa.

Apakah keinginan itu salah?

Karena tidak mengerti, Elisa hanya bisa menangis. Air mata mengalir begitu deras hingga ia bertanya-tanya apakah tenaganya akan habis.

Kehidupan sehari-hari yang ia pikir akan berlangsung selamanya kini hancur berantakan, dan itu sangat, sangat menakutkan. Amarah dan frustrasi membuatnya tak bisa berhenti terisak.

Elisa senang karena kakak tercintanya, Erich, ikut bersamanya. Ia suka saat Erich memeluknya dan berjanji akan selalu melindunginya… tetapi Erich bisa melakukan itu di rumah.

Sebaliknya, ia justru jauh lebih bahagia karena mereka sudah berada di rumah.

Yang diinginkan Elisa hanyalah tinggal di rumah mereka yang hangat bersama kakak laki-lakinya yang baik hati. Ia membenci akademi itu.

Ia membenci wanita berjubah merah yang terus mengucapkan hal-hal aneh.

Ia tidak peduli dengan sihir. Ia tidak butuh rumah yang lebih besar dan mewah jika itu berarti harus meninggalkan tempat ini.

Semua pakaian lucu dan makanan lezat di dunia pun tak akan bisa membujuknya pergi.

Satu-satunya permintaan Elisa adalah hidup bahagia bersama orang-orang yang ia cintai di rumah kecil mereka yang indah.

Ayahnya kuat dan baik; ibunya cantik dan pandai memasak; kakak-kakaknya lucu dan asyik diajak bermain; bahkan ia baru saja mendapatkan kakak perempuan baru yang tahu segalanya tentang mode. Elisa sudah sangat Bahagia.

Terlebih lagi, ia tidak ingin meninggalkan teman-teman yang tinggal bersamanya.

Kadal merah lucu yang menghuni tungku dan selalu menghangatkan Elisa di malam yang dingin.

Anjing hitam besar di halaman yang selalu menangkap serangga dan tikus menakutkan; anjing baik yang membiarkan Elisa bermain dengan ekor lebatnya setiap kali ia sendirian di rumah.

Juga gadis kecil yang lembut di sudut kamar dan kakek tua berambut putih yang selalu mendengarkan ceritanya sejak ia mulai bisa bicara.

Elisa tidak ingin mengucapkan selamat tinggal pada mereka. Mereka semua sudah sangat baik padanya.

Sudut pandang gadis kecil itu sangatlah sempit: keluarga dan teman-temannya adalah seluruh dunianya.

Direnggut dari mereka terasa seperti jiwanya sedang diiris, dan tiap kepingannya dibawa ke negeri jauh untuk tidak pernah kembali lagi.

Tak peduli seberapa besar ia mencintai kakak yang menemaninya. Tak peduli seberapa tertarik ia pada kota besar saat mendengar cerita Ayah.

Tak peduli ia akhirnya bisa naik kereta pos yang megah. Ia tetap tidak ingin pergi.

Sayangnya, tak peduli seberapa keras Elisa menendang atau berteriak, hari keberangkatan tetap tiba.

Tidak ada yang bisa menenangkannya: baik itu pakaian indah jahitan Ibu, permen es kesukaannya, bahkan rambut palsu pemberian Mina pun tak mempan.

"Elisa, tidak apa-apa. Kakak di sini bersamamu."

Digendong oleh kakak kesayangannya biasanya membuat Elisa senang, tapi hari ini hanya ketakutan yang ia rasakan.

Kakaknya sedang membawanya ke suatu tempat yang tidak ingin ia kunjungi.

"Tidak! Kakak, aku tidak mau! Aku suka di sini!"

Elisa baru menyadari betapa menakutkannya saat kakinya tidak menyentuh tanah. Pintu keluar rumah yang ia pikir tak akan pernah ia tinggalkan kini semakin mendekat.

"Ini demi kebaikanmu." Suara Erich terdengar kaku, seolah ia sedang meyakinkan dirinya sendiri ketimbang adiknya.

Elisa sudah mendengar kalimat itu berulang kali selama beberapa hari terakhir. Ia mencengkeram erat pakaian perjalanan kakaknya. Kain linen yang kasar itu menggores wajahnya, namun kehangatan di balik kain itu adalah satu-satunya pegangan yang tersisa di dunianya.

Jika ini benar-benar demi aku, mengapa semua orang melakukan hal yang membuatku sangat tidak bahagia?

Elisa benar-benar tidak paham.

"Kakak janji, suatu hari nanti aku akan membawa kalian kembali ke sini. Apa Kakak pernah membohongimu?"

Gadis kecil itu tidak punya pilihan selain bergantung pada kakaknya dan janji yang diucapkannya.


[Tips] Peri dan Roh tinggal di alam eksistensi yang berbeda dari manusia biasa. Namun, mereka selalu hadir meski tidak terlihat oleh mata telanjang.

◆◇◆

Melihat putri bungsu mereka menangis di tengah tumpukan barang bawaan, keluarga itu mengucapkan selamat tinggal dengan perasaan bersalah yang mendalam.

Hanna menyelipkan sekantong kue panggang kesukaan putrinya. Mina menyematkan rambut palsu usangnya ke rambut Elisa, tahu betul betapa gadis kecil itu mengagumi keindahannya.

Heinz, putra sulung, menyelimuti Elisa dengan jubah indah agar ia tidak kedinginan.

Michael dan Hans memberikan sekantong penuh buah-buahan hutan yang mereka kumpulkan sendiri.

Johannes mengalungkan sebuah jimat yang telah diberkati oleh Dewa Perjalanan ke leher anak bungsunya.

Ia sengaja pergi ke gereja dan memohon kepada uskup untuk mendapatkan kalung itu; melihat lempengan perak berbentuk tongkat dan sepatu bot itu saja sudah cukup untuk mengetahui harganya sangat mahal.

Jimat itu telah diberikan kekuatan melalui Miracle. Pelancong lain pasti akan sangat gembira menerima hadiah seperti itu, tetapi air mata seorang gadis muda tidak peduli pada kegunaan mistisnya.

Elisa terus berpegangan pada kaki mereka, pada pintu, lalu pada pagar dalam upaya putus asa untuk bertahan, hingga akhirnya Erich berhasil membawanya masuk ke dalam kereta yang megah.

Yang tersisa hanyalah keluarga yang kesepian, meratapi ketidakberdayaan mereka sendiri, sementara sesosok Methuselah memperhatikan mereka dengan rasa ingin tahu yang dingin.

"Baiklah, jangan khawatir. Aku akan menggunakan nama keluargaku untuk melindunginya semampuku. Dia adalah murid resmiku."

Magus benar-benar tidak bisa memahami mereka. Ia tidak mengerti prinsip apa yang membuat air mata orang tua itu mengalir, atau emosi apa yang berkecamuk di dada para pemuda itu saat melepas saudara mereka.

Wajar saja, karena kaum Methuselah memang diciptakan seperti itu.

Emosi telah lama meninggalkan mereka, dan indra fisik mereka pun tumpul demi mencegah pengikisan jati diri dalam aliran keabadian yang menjemukan.

Baik yang fana maupun yang abadi, semua makhluk selalu berubah—bahkan emosi pun berubah bentuk saat disadari.

Namun Methuselah hampir tidak peduli pada apa pun di luar satu minat yang melekat dalam jiwa mereka.

Dalam praktiknya, Agrippina tidak bisa memahami cinta kekeluargaan.

Bukan berarti orang tuanya menyiksanya—meskipun membawa bayi berkeliling dunia selama satu abad mungkin bisa dianggap penganiayaan bagi sebagian orang—tetapi bagi Agrippina, pengetahuan abadi yang ia dapatkan adalah sebuah kemenangan telak dalam "transaksi" tersebut.

Namun, selama perjalanan panjang itu, ia tidak pernah merasakan momen kehangatan orang tua. Mereka tidak pernah memangku atau memegang tangannya.

Tidur di samping mereka adalah hal yang tak terpikirkan. Percakapan mereka selalu mengikuti tata krama aristokrasi; jujur namun tanpa kehangatan.

Sebagai penikmat sastra, Agrippina memahami konsep psikologis cinta dan mengapresiasinya dalam fiksi, namun emosi itu tetap asing baginya.

Saat mencoba mengingat pesan dari orang tuanya, ia hanya teringat satu nasihat bijak:

"Sembunyikan selalu belati pengetahuan di dalam pikiranmu. Hanya itu pilihan terakhirmu; senjata yang tidak akan pernah bisa dirampas oleh siapa pun."

Ayah Agrippina telah menjejalkan segala hal tentang sihir, politik, dan ekonomi ke kepalanya.

Ia tidak tahu apakah itu pepatah ciptaan ayahnya sendiri atau warisan turun-temurun, tapi kata-kata itu terukir sangat dalam di benaknya.

Kalau dipikir-pikir, mungkin transfer pengetahuan ini adalah bentuk sentimen tersendiri.

Biasanya, kaum bangsawan tidak membesarkan anak mereka sendiri; mereka menyewa cendekiawan untuk itu.

Kekayaan keluarga du Stahl dianggap "tak ternilai" oleh kerajaan, jadi Tuan Stahl pasti sanggup menyewa guru terbaik. Namun, ia memilih mendidik putrinya secara pribadi.

Aneh sekali. Sepertinya aku baru saja menyaksikan sebuah drama cinta orang tua yang cukup intim, pikir Agrippina sambil melihat keluarga petani itu melepas kepergian Erich dan Elisa.

Mungkin pengetahuan yang akan ia berikan pada kakak beradik itu kelak juga akan menjadi bentuk emosinya sendiri.

"Aku bersumpah: Aku akan menjadikannya seorang Magus yang hebat."

Mempelajari hal baru selalu menyenangkan bagi Agrippina. Meskipun ia tidak memahami kesedihan keluarga itu, ia tidak bisa menutupi rasa antusiasnya akan "proyek" barunya ini.

Agrippina kembali ke keretanya. Ia mengaktifkan Mantra, dan roda pun mulai berputar.

Akhirnya, waktu kepulangannya tiba setelah dua puluh tahun perjalanan.

Perjalanan pulang ini pasti akan penuh dengan penemuan yang menakjubkan.

penyihir berwajah datar itu menekan kegembiraannya. Alih-alih tersenyum, ia memilih untuk mengembuskan asap rokoknya ke udara.


[Tips] Demi melepaskan diri dari belenggu kehidupan kekal, banyak Methuselah yang memenuhi pikiran mereka dengan pemikiran hedonistik yang instan.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close