Masa Remaja Awal
Musim Gugur Usia
Dua Belas Tahun
Sesi (Session) Paling baik jika dianggap sebagai satu
bab dari suatu kampanye. Setiap sesi adalah waktu bagi seluruh pemain dan GM
untuk bertemu dan memajukan cerita.
◆◇◆
Biarlah hanya mereka yang harga dirinya tidak goyah oleh
pujian manis orang lain, yang melemparkan batu kepadaku.
"Demi
Dewi... ini benar-benar luar biasa."
"Apa
Anda benar-benar bersungguh-sungguh?" Aku mendapati diriku menggaruk pipi
dengan malu-malu saat kepala bengkel pandai besi di kanton ini—seorang Dvergar
(aku harus menahan diri agar tidak memanggilnya kurcaci)—terpaku menatap hasil
kerjaku.
"Aku
tahu tanganmu sangat terampil, tapi aku tidak menyangka kau bisa menyelesaikan
satu set secepat ini," katanya sambil membelai jenggot tebalnya dengan
kagum.
Di meja
dapur di depannya, berjajar satu set ukiran kayu. Dua puluh lima jenis figur
berbeda yang masing-masing mewakili bidak dari permainan papan yang sangat
populer di Rhine dan negara-negara tetangganya.
Ehrengarde adalah permainan strategi serupa
shogi yang dimainkan di papan petak 12x12. Misinya adalah mengalahkan kaisar
dan pangeran musuh.
Aturan
gerak dan serangannya memang mengingatkan pada shogi klasik, tapi tidak
semuanya terasa familier.
Dari dua
puluh lima jenis bidak, hanya kaisar dan pangeran yang wajib ada di kedua
pihak; sisanya, pemain bebas memilih dua puluh delapan bidak tambahan untuk
mengisi empat baris pertama mereka. Total, ada tiga puluh unit yang
dikendalikan.
Banyaknya
variasi bidak ini memberikan nuansa seperti permainan kartu koleksi (trading
card game), dan kompleksitas taktiknya pun serupa.
Meskipun
dikenal sulit, pemain pemula bisa menggunakan lembar panduan yang merangkum
aturan-aturan khusus.
Berkat
tingkat literasi yang cukup tinggi di negara ini, permainan ini menjadi hiburan
utama di Rhine dan wilayah sekitarnya.
Beberapa
bidak kuat hanya boleh diambil satu kali, sementara pion biasa diizinkan hingga
dua belas buah.
Keseimbangan
ini melahirkan berbagai arketipe strategi, namun tidak ada satu pun yang
terlalu dominan hingga merusak permainan.
Saking
populernya, aku pernah mendengar cerita tentang ras Methuselah yang
mendedikasikan waktu berabad-abad hanya untuk mendalami olahraga asah
otak ini.
Orang
mungkin mengira papan 144 petak dengan total enam puluh bidak akan memakan
waktu lama, namun asimetri antara unit kuat dan lemah membuat permainan sering
kali berakhir cepat begitu salah satu pihak berhasil mengepung kaisar lawan.
Untuk
skala permainan strategi seberat ini, tempo permainannya tergolong cukup cepat.
Tentu
saja, permintaan untuk set bidak Ehrengarde sangat tinggi. Harganya
bervariasi tergantung kualitas, namun setiap set dijamin laku.
Bagiku
sebagai pengrajin, ini adalah pasar yang sangat menggiurkan.
Dengan
total 140 keping dalam satu set lengkap, aku tidak pernah kekurangan pekerjaan.
Terlebih
lagi, ini adalah komoditas langka yang bisa dijual baik kepada kaum bangsawan
maupun rakyat jelata.
Satu set
potongan kayu dengan tulisan di atasnya mungkin murah, tapi koleksi ukiran
indah yang dibuat khusus untuk bangsawan bisa dihargai sangat tinggi.
Konon,
ada set mahakarya yang harganya setara dengan rumah bangsawan.
Karena
itulah, aku mendedikasikan seluruh musim panas di tahun kesebelas ini untuk
memoles sekumpulan figur yang akan digunakan sebagai cetakan dasar.
"Aku
masih sulit percaya ini dikerjakan hanya dalam satu musim panas," gumam si
pandai besi. "Jika aku punya murid sepertimu, aku yakin pandai besi lain
akan membanting pahat mereka ke meja karena menyesal tidak menemukanmu lebih
dulu."
"Ah,
Anda berlebihan," jawabku. "Anda hanya sedang menyanjungku."
"...Hm,
ya, anggap saja begitu. Bersyukurlah kau tumbuh di desa. Akan sulit bagi
orang-orang yang tidak bisa menerima masukan jika tinggal di kota besar."
Hah?
Apa perasaanku
saja atau dia baru saja menghinaku terang-terangan?
Aku mengabaikan
komentar kasar itu saat pria setinggi pinggangku itu mengambil patung kaisar
sambil menggerutu.
Patung itu
menggambarkan seorang pria paruh baya yang mengibarkan bendera tinggi-tinggi:
motif kaisar heroik yang bersama putranya berhasil menangkis invasi ke Rhine
sekitar 120 tahun lalu.
Melihat sang
pandai besi membelai jenggotnya saat menatap ukiran bendera yang tampak
berkibar ditiup angin itu, aku tahu dia terkesan.
"Aku sangat
bangga dengan bagian itu," kataku. "Aku membuatnya berdasarkan potret
Black Flag yang kulihat di gereja."
"Tentu saja,
kaisar yang legendaris. Dia dan Pangeran Perak adalah duo ayah-anak yang hebat.
Aku yakin bidak kaisar dan pangeran ini akan sangat laku."
Meski tidak
selalu dijual satu set lengkap, figur-figur individu yang berkualitas tinggi
tetap dicari kolektor.
Banyak pelanggan
yang hanya membeli satu karakter yang mereka sukai.
Karena kaisar dan
pangeran adalah bidak yang wajib ada, aku mencurahkan energi ekstra untuk
menjadikan keduanya sebagai karya seni setinggi jari telunjuk.
"Jadi,
bagaimana menurut Anda, Tuan?" tanyaku hati-hati setelah dia selesai
memeriksa semuanya.
"Hrmm... Baiklah." Dia menyilangkan tangan dan mengangguk mantap.
"Kesepakatan tercapai.
Aku akan membuatkanmu satu set baju zirah."
"Terima
kasih banyak!!!"
"Aku tidak
menyangka kau benar-benar bisa menyelesaikannya. Kupikir butuh waktu setidaknya
setengah tahun. Kau hebat, Nak."
Aku tertawa
malu-malu. Rasanya luar biasa saat kerja keras kita diakui, apalagi ketika bisa
ditukar dengan barang yang sangat kunantikan.
"Ayo, mari
kuukur tubuhmu. Kau sedang dalam masa pertumbuhan, kan? Aku akan membuatnya
agar bisa disesuaikan nanti."
Pria itu melompat
turun dari bangkunya dan menuntunku ke bagian belakang bengkel.
Bahunya bergerak
santai saat berjalan. Aku merinding memikirkan kerja keras sebulan ini akhirnya
membuahkan hasil.
Semua berawal
musim panas ini, menjelang ulang tahunku yang kedua belas: aku butuh uang.
Peralatan dan
senjata adalah kebutuhan dasar bagi seorang petualang, namun harganya sangat
mahal.
Satu set baju
zirah rantai (chainmail) dengan lapisan kulit keras di dalamnya bisa
memakan biaya setara uang makan keluargaku selama sebulan penuh.
Harga
bahan baku logam dan kulit memang sangat tinggi. Meskipun aku memiliki sistem TRPG, hal itu
tidak berlaku pada kondisi ekonomi di sekitarku.
Dunia ini tidak
seramah itu sampai-sampai menginap beberapa malam di penginapan saja bisa
membuatmu sanggup membeli baju zirah lengkap.
Di dunia fantasi
nostalgia, senjata mungkin seharga uang saku anak-anak, tapi di sini, pedang
perunggu biasa pun harganya selangit.
Sebagai anak
keempat, aku tidak bisa terus-terusan mengemis pada orang tua.
Apalagi keluarga
kami baru saja membangun pondok untuk pernikahan kakakku, sehingga keuangan
rumah sedang sangat ketat.
Dengan biaya
pertunangan dan upacara yang menanti, aku tidak tega meminta uang dari mereka.
Satu-satunya
jalan adalah mencarinya sendiri. Aku tidak sebodoh petualang pemula yang
langsung terjun ke reruntuhan berbahaya demi mencari harta karun tanpa
persiapan.
Karena itu, aku
fokus mengasah Wood Whittling milikku hingga mencapai level VII:
Virtuoso. Aku juga mengambil skill Artistic untuk memperhalus
detail ukiran, serta tambahan Realistic Depiction di level V: Adept
untuk memaksimalkan nilai jual karyaku.
Awalnya aku hanya
ingin menjual hasil ukiranku dan menggunakan uangnya untuk memesan zirah.
Namun
saat aku membawa sampel pada sang pandai besi, dia begitu terkesan hingga
menawarkan barter langsung. Tentu saja aku langsung menyambarnya.
Proses
mengukir dua puluh lima jenis bidak berbeda memang sangat melelahkan, tapi
bayangan tentang baju zirah pribadi membuatku terus memacu diri. Aku bahkan
merelakan waktu istirahatku.
Bahuku
memang sering kaku—sebagian besar karena beban tambahan dari Mergit yang sering
bergelantungan di punggungku untuk meminta perhatian—tapi setidaknya dia
membalasnya dengan pijatan yang sangat menyegarkan.
Hati
pecinta fantasi mana pun pasti akan berkobar membayangkan memiliki baju zirah custom
pertama mereka.
Dengan
waktu tersisa dua tahun sebelum aku meninggalkan rumah, aku bekerja dengan
kecepatan yang belum pernah kucapai sebelumnya.
"Hmph,
kepalamu sepertinya masih akan tumbuh satu atau dua jengkal lagi," kata si
pandai besi sambil memegang pita pengukur.
Aku
memang mencurahkan banyak EXP untuk pertumbuhan fisikku di masa depan,
jadi aku memproyeksikan diriku mencapai tinggi 180 cm saat dewasa nanti.
"Anda
bisa tahu?"
"Dulu
aku menangani banyak petualang dan prajurit di bengkel besar Innenstadt,"
jelasnya sambil mencatat ukuran lengan dan bahuku.
"Hanya
dengan menyentuhnya saja, aku sudah tahu perkembangan ototmu."
Innenstadt adalah kota besar di sebelah
barat Konigstuhl. Puluhan ribu orang tinggal di sana.
Ayahku sering ke
sana untuk menjual panen, dan kakak-kakakku pun pernah ke sana untuk belajar
keterampilan.
Aku sendiri belum
pernah ke sana, yang membuatku penasaran: mengapa pandai besi sehebat dia mau
pindah dari kota besar ke desa kecil seperti ini?
"Tubuhmu
adalah tubuh pendekar pedang," gumamnya. Lalu dia berhenti sejenak.
"Tapi ada sedikit otot ekstra di punggung dan dadamu di sebelah sini...
Apa kau juga berlatih busur?"
"Wah, Anda
benar sekali."
Aku kagum
indranya begitu tajam. Pedang adalah senjata utamaku, tapi aku juga belajar
memanah dari Mergit. Aku ingin punya opsi serangan jarak jauh untuk
berjaga-jaga.
Awalnya aku ragu
meminta Mergit mengajariku karena itu adalah keahlian keluarganya, tapi
ternyata dia langsung setuju. Di waktu luang, dia sering mengajakku berlatih
busur.
Berkat dia, aku
berhasil membuka skill Archery serta serangkaian skill Sneak
dan Tracking saat kami mengintai di pegunungan berhutan.
Aku bersumpah
semua ini demi persiapanku sebagai petualang, bukan sekadar alasan untuk
menghabiskan stok EXP-ku yang semakin menipis. Lagi pula, latihan ini
adalah investasi masa depan yang bagus.
"Busur, ya... Sayangnya itu bukan bidangku. Aku tidak
bisa membuatkannya untukmu, tidak peduli apa yang kau tawarkan."
"Benarkah?"
"Aku hanya punya izin untuk membuat baju zirah
non-pelat (non-plate), pedang, dan ujung tombak. Membuat busur dilarang
bagiku. Memiliki bengkel pandai besi bukan berarti aku bisa membuat apa saja
sesukaku."
Dalam bayanganku, pandai besi desa adalah orang serba bisa
yang bisa membuat apa saja, tapi ternyata ada keterbatasan regulasi di sini.
Dia menjelaskan bahwa dia adalah anggota Craftsmans Guild—semacam
serikat pekerja—yang mengeluarkan izin usaha.
Untuk mencegah kebocoran teknik peleburan dan pengecoran ke
negara musuh, setiap bengkel harus terdaftar. Serikatlah yang menentukan
spesialisasi tiap pengrajin.
Terdengar ketat, tapi mengingat implikasi militernya, itu
adalah kebijakan yang masuk akal.
Intinya, pandai
besi memerlukan kualifikasi nasional... Orang-orang yang membuat paku atau
lingkaran besi untuk ember di kanton kecil ini tiba-tiba tampak jauh lebih
mengesankan bagiku.
Selama ini, aku
hanya menganggap pandai besi di sini sebagai pemilik toko paku dan pisau dapur
biasa.
Mungkin aku akan
terus mencari tempat untuk memesan baju zirah tanpa tujuan jika Tuan Lambert
tidak mengarahkanku ke sini.
"Tapi
Anda bisa membuat pedang, kan?"
"Semua
yang tergantung di ikat pinggang para penjaga itu adalah hasil tempaanku. Jika
kau menginginkannya satu untukmu sendiri, bawakan satu set ukiran lagi,"
katanya, merujuk pada bidak kayu tadi.
Harganya
agak mengejutkan, tapi penguasa wilayah kami telah menetapkan harga batas bawah
untuk senjata militer demi keamanan publik.
Setiap
kali pandai besi membuat senjata untuk individu selain pihak penguasa, ia
terpaksa menjualnya dengan harga yang tidak masuk akal.
Kebijakan
itu masuk akal; mempermudah akses terhadap senjata praktis hanya akan
mengundang terbentuknya kelompok bandit. Meskipun ini dunia fantasi,
realitasnya jauh dari fantasi indah yang kubayangkan.
Tidak
hanya itu, setiap pedang ditandai dengan nomor seri dan didokumentasikan dengan
sertifikat kepemilikan.
Apa
ini, senapan berburu?
Sang Dvergar
menguliahiku bahwa pengendalian ketat terhadap alat pembunuh adalah hal yang
lumrah—sesuatu yang seharusnya sudah dipahami oleh orang yang pernah tinggal di
Jepang modern.
"Yah,"
tambahnya, "kudengar hanya di wilayah ini regulasinya seketat ini."
Setelah
selesai mengukur tubuhku, ia menutup buku catatan dan duduk di meja tulis
pendek, lalu mengeluarkan selembar kertas tipis berserat.
Di titik
ini, aku sudah terbiasa melihat kertas diperlakukan sebagai barang sehari-hari
di dunia abad pertengahan ini.
Namun,
karena kertasnya selalu kasar dan rapuh, dokumen jangka panjang tetap
menggunakan perkamen.
"Coba
lihat, aku punya banyak tumpukan pesanan paku dan pasak..."
Si pandai
besi menghitung pesanan dengan jarinya dan bergumam tentang salah satu pesanan
untuk rumah baru kakakku.
"Baiklah,
aku akan menyelesaikannya sebelum musim semi."
Aku tidak tahu
apakah setengah tahun adalah waktu standar untuk pesanan semacam ini.
Aku sering
membeli setelan bisnis di kehidupanku sebelumnya, tapi ini pertama kalinya aku
memesan baju zirah (tentu saja), jadi aku tidak yakin harus bereaksi bagaimana.
Sejujurnya, aku
sempat ragu apakah nilai barter set Ehrengarde-ku cukup untuk menutupi
biayanya.
Namun, di kanton
kecil tempat semua orang saling mengenal, aku ragu dia akan menipuku.
Ras Dvergar,
seperti sepupu Dwarf mereka di permainan meja, memiliki umur
panjang—sekitar tiga ratus tahun. Jika dia menghabiskan seluruh waktu itu di
desa ini, maka reputasi adalah segalanya.
Tanpa menunjukkan
keraguan sedikit pun, aku menundukkan kepala dan berterima kasih padanya.
[Tips] Para Dvergar terkenal karena perawakan
mereka yang pendek, bahkan kurang dari setengah tinggi rata-rata Mensch
(Manusia). Mereka adalah ras dengan kerangka sekeras besi dan darah yang
mendidih. Berasal dari pegunungan yang kaya mineral, mereka diberkati dengan
kekuatan fisik besar, ketahanan terhadap panas, dan kemampuan Darkvision.
Para prianya bertubuh tegap dengan janggut yang mengesankan, sementara
wanitanya tampak menawan meskipun wajah mereka terlihat awet muda.
◆◇◆
Beberapa hari
setelah kunjungan ke bengkel, aku mulai melakukan persiapan panen.
Aku membersihkan
minyak pengawet dari sabit dan cangkul kami, mengasahnya hingga mengilap di
batu asah.
Hal ini akan
membuat pemotongan gandum dan gandum hitam menjadi jauh lebih mudah.
Sambil menatap
kilatan samar dari bilah alat tani kami, bayangan tentang setelan baju zirahku
muncul kembali.
Pada akhirnya,
aku menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan build karakter seperti
apa yang kuinginkan, namun belum menemukan jawaban konkret.
Skill keagamaan masih terasa meragukan, jadi
aku belum berniat mengambilnya.
Aku juga belum
menemukan katalis yang tepat untuk sihir, dan demi menjaga
"realisme", tidak ada gunanya memaksakan diri mendapatkan pengalaman
mistis sebelum aku dewasa.
Satu-satunya
jalur petualang yang realistis bagiku saat ini adalah menjadi Swordsman
atau Scout; dan menggabungkan keduanya di dunia ini tidaklah sulit.
Kelas Scout
dalam TRPG umumnya adalah karakter kecil dan lincah (seperti Mergit)
yang kelemahannya terletak pada Armor Rating yang rendah dan daya serang
yang kecil.
Namun, berkat
tumpukan EXP-ku dan tidak adanya batasan sistemik pada kemampuanku, aku
bisa mengasah kedua peran tersebut secara maksimal.
Jika aku menjaga
beban perlengkapan tetap ringan, aku bisa menjadi Combat Scout yang
efektif.
Rencana
tentatifku adalah terus meningkatkan kemampuan pedang sambil menyisakan ruang
untuk bertransformasi menjadi Holy Knight atau Magic Swordsman di
masa depan.
Inilah alasan
mengapa aku rela mencurahkan tenaga untuk membuat figur kayu tadi. Berada di
garis depan dengan Armor Class rendah itu sangat berbahaya dan
"memalukan" bagi seorang pemain veteran.
Mencoba mendaftar
ke sebuah party sebagai "pendekar pedang" tapi hanya
bermodalkan pakaian biasa dan tongkat pasti akan ditertawakan.
Baju zirah ini
adalah langkah nyata pertamaku untuk membentuk masa depan. Kemahiran
menggunakan pedang dan tombak akan selalu berguna untuk pertahanan diri, di
mana pun aku berada.
Jika suatu saat
aku beruntung bisa mempelajari sihir atau memutuskan mendalami agama, aku
selalu bisa menggabungkannya ke dalam gaya bertarungku yang sekarang.
Sekolah ilmu
perang yang kupelajari dari Lambert bersifat hibrida, sehingga aku bebas
menggunakan senjata apa pun yang paling cocok dengan situasi.
...Yang berarti,
sebenarnya tidak banyak yang berubah dari rencanaku.
Tapi aku tidak
bisa menahannya; semuanya masih bersifat sementara karena aku sangat ingin
menggunakan sihir jika ada kesempatan.
Pria mana yang
tidak ingin menebas musuh sambil merapalkan sihir yang memukau?
Aku melihat
impian masa depanku terpantul di bilah sabit yang tajam dan terkekeh sendiri.
Aku ingin menjadi
setajam baja ini. Namun untuk saat ini, tugasku adalah merawat Holter, kuda
pekerja kami.
Musim panen akan
segera tiba, dan kami semua akan menjadi sangat sibuk.
Aku merapikan
gudang dan berjalan menuju kandang saat merasakan ada "kehadiran"
yang melompat keluar dari rumah dan mulai membuntutiku.
"Kakak!
Kakak!"
Apa pun yang
membuntutiku ini terdengar sangat menggemaskan, dan itu hanya bisa berarti satu
orang: adik perempuanku.
"Hai, Elisa. Ada apa?"
Elisa jatuh
terjerembab ke arahku dan mencengkeram ikat pinggangku.
Sekarang berusia
enam tahun, adik perempuan kesayanganku ini baru saja mulai berani keluar
rumah.
Kondisi fisiknya
belum membaik sejak demam pertama yang hampir merenggut nyawanya dulu.
Mungkin karena
itu, perkembangannya terhambat; nafsu makannya rendah dan penampilannya lebih
mirip balita usia empat tahun.
Tak mengejutkan,
mengingat dia belum pernah melewati satu musim pun tanpa jatuh sakit, dan
selalu terbaring di tempat tidur setiap musim dingin.
Sungguh sebuah
keajaiban melihatnya bisa keluar di hari yang hangat seperti hari ini. Meski ia
tampak seperti versi mini dari Ibuku, tubuhnya benar-benar rapuh.
Jangan pernah
meremehkan flu biasa. Di dunia tanpa antibiotik, biaya dokter dan Healer—yang
biasanya merupakan penyihir atau pendeta—sangatlah mahal.
Anak-anak
yang lemah sering kali meninggal karena penyakit sederhana. Aku telah melihat
balita di kanton ini meninggal bahkan sebelum mereka bisa berjalan.
Setiap
tahun, flu merenggut nyawa anak-anak, dan orang dewasa pun tidak luput dari
maut jika terjadi komplikasi.
Kesehatan
yang baik adalah harta tak ternilai di sini, jauh lebih berharga daripada di
Bumi modern. Mereka yang tidak memilikinya harus membayar mahal jika ingin
melihat matahari terbit keesokan harinya.
Untungnya, aku
memberikan penghasilan tambahan bagi keluarga.
Jika ada karavan
pedagang lewat, kami menjual hasil karyaku. Jika tidak, Ayah akan pergi ke kota
terdekat untuk menukar patung kayu buatanku dengan obat-obatan.
Bahkan, saat aku
benar-benar bekerja keras membuat ukiran yang rumit, uskup terkadang bersedia
memberikan Miracle kepada adikku sebagai balasan atas "donasi"
kami yang murah hati.
Pernah sekali aku
memperbaiki roda dan as kereta yang rusak; hasilnya cukup untuk membawa Elisa
ke Healer tepat saat ia terserang pneumonia. Waktunya sangat tepat.
Donasi ekstra
dariku cukup untuk menyelamatkan nyawa gadis kecil yang seharusnya sudah tiada
bertahun-tahun lalu.
Seluruh anggota
keluarga bekerja keras menjaga keajaiban kecil ini agar ia bisa berjalan dengan
kakinya sendiri.
Namun entah
mengapa, orang tuaku selalu memposisikanku sebagai pahlawan.
Setiap kali Elisa
menolak obat pahitnya, mereka akan berkata, "Kakakmu sudah berjuang keras
mendapatkan ini untukmu, jadi minumlah."
Hal itu
menjadikanku sosok yang sangat ia kagumi, itulah sebabnya ia sekarang
mengikutiku ke mana-mana seperti anak bebek.
Sebenarnya
aku bukan orang istimewa, tapi aku tidak tega
menghancurkan
citra pahlawan di mata kekanak-kanakannya. Aku memasang senyum kakak terbaikku
dan berlutut untuk menepuk kepalanya.
"Mama nggak
mau main! Dia sibuk sama jarum terus." Caranya mendengus dan
menggembungkan pipi sangat lucu hingga aku refleks tersenyum.
"Aww, tapi
kau tahu kan, sebentar lagi pernikahan Heinz. Ibu pasti sangat sibuk
mempersiapkannya."
Saat ini aku
berusia dua belas tahun, dan kakak sulungku, Heinz, akan menginjak usia lima
belas tahun musim gugur ini. Artinya, ia sudah cukup umur untuk menikah.
Kami telah
menyelesaikan pembangunan sebuah paviliun untuknya dan calon istrinya.
Pernikahan mereka dijadwalkan bersamaan dengan dua pasangan lainnya saat
Festival Panen di akhir musim gugur nanti.
Di Kekaisaran
Rhine, pernikahan selalu diadakan di musim gugur. Dewi Panen bukan hanya
memimpin siklus alam, tapi juga otoritas tertinggi atas pernikahan.
Teorinya,
sebagaimana tanaman yang subur adalah hasil reproduksi yang sukses, manusia pun
sebaiknya menikah saat kekuatan Sang Dewi berada di puncaknya.
Pragmatisnya,
akan sangat merepotkan mengadakan pesta berkali-kali di desa kecil.
Menggabungkan
semua upacara ke dalam Festival Panen, saat uang sedang banyak berputar di
kanton, adalah pilihan paling masuk akal.
Terlebih lagi,
uskup akan memberikan sejumlah uang saku bagi pengantin baru—meskipun pajak
pernikahan (yang membuat otak "Bumi"-ku pening) akan langsung
memotong uang tersebut.
Namun, acara
besar ini membuat rumah kami kacau balau di tahap akhir persiapan.
Terutama soal
pakaian. Menampilkan pakaian resmi yang lama dianggap menurunkan status
keluarga, jadi pernikahan putra pertama selalu menjadi mimpi buruk bagi sang
ibu.
Sementara itu,
putra kedua dan seterusnya biasanya hanya mengenakan pakaian turun-temurun yang
disesuaikan ukurannya.
"Pernikahan
itu apa?" tanya Elisa polos.
"Yah, itu
acara yang sangat membahagiakan," jelasku. Bagi gadis kecil yang suatu
hari akan menjadi pengantin, dan putra keempat yang ditakdirkan pergi dari
rumah, semua ini terasa masih jauh.
"Akan ada
banyak makanan lezat. Elisa ingat pengantin cantik yang kita lihat di festival
panen dulu?"
"Yang pakai
gaun putih?"
"Iya.
Pengantin wanita dengan gaun putih yang cantik."
Anehnya, dunia
ini juga mengenal tradisi gaun pengantin putih. Uniknya, meski uskup yang
memberkati, pernikahan di sini dianggap sebagai kontrak sipil yang diajukan
kepada hakim.
Ini adalah
perpaduan unik antara elemen Romawi Kuno dan Eropa Abad Pertengahan.
Lebih aneh lagi,
mode wanitanya memiliki pengaruh gaya Victoria dan Art Deco Inggris abad
ke-20, namun bercampur dengan pakaian berlapis kuno dan desain tradisional
Timur Jauh. Semuanya campur aduk.
Aku sudah menduga
ini sejak lama: pasti ada orang seperti aku yang terlempar ke sini dari waktu
ke waktu.
Mode di sini
membentang dari prasejarah hingga abad ke-20. Belum lagi proses pembuatan
kertas dan sistem pemerintahan yang sangat terstruktur... Aku yakin peradaban
ini adalah hasil pengaruh luar.
Tapi tentu saja,
itu bukan hal buruk. Melihat para wanita mengenakan pakaian warna-warni
(pewarna itu mahal!) jauh lebih menyenangkan daripada melihat baju kerja yang
kusam.
"...Aku juga
mau," bisik Elisa.
"Kau mau
memakai gaun pengantin?"
"Hmm!"
Wajar jika gadis
kecil jatuh cinta pada gaun pesta yang mengembang dengan renda dan rumbai.
"Tapi Elisa,
kau kan belum punya siapa-siapa untuk dinikahi."
"Umm, kalau
gitu, sama Kakak saja."
"Hm?"
"Aku mau
menikah sama Kakak."
Aww, kau manis
sekali. Sebagai anak
bungsu di kehidupanku dulu, aku tidak pernah tahu rasanya memiliki adik
kecil... ini benar-benar membuat ketagihan. Aku sekarang paham kenapa ada
istilah "Sister Complex".
"Hahaha, kau
mau jadi pengantinku, Elisa?"
"Hmm!"
Aku tahu dia
tidak benar-benar mengerti, jadi aku menggendongnya dan mendudukkannya di
bahuku. Awal musim gugur masih terasa panas, dan aku harus berhati-hati karena
ia lemah terhadap suhu ekstrem.
"Begitu ya?
Kalau begitu kita harus minta Ibu membuatkan gaun yang cantik."
"Mm!"
dia mengangguk penuh semangat.
Ibu pasti akan
sangat termotivasi membuatkan gaun untuk putri bungsunya.
Aku yakin Elisa
akan menjadi pengantin kecil yang paling cantik.
Sisi rasional
otakku bertanya-tanya apakah aku boleh sebahagia ini menantikan adikku memakai
gaun, tapi yah, ini membuatku senang, jadi anggap saja sah-sah saja.
[Tips] Hukum keluarga di Kekaisaran Rhine sangat
mendasar. Pria dilarang menikahi kerabat dekat, yaitu kerabat tingkat kedua
atau lebih dekat (saudara kandung).
◆◇◆
Musim gugur
berlalu dalam sekejap mata. Meskipun aku sudah menjadi buruh tani selama
sepuluh tahun dengan level IV: Craftsman di hampir semua skill
pertanian, derasnya beban kerja saat panen tetap tidak kenal ampun.
Namun, karena
rutinitas ini sudah mendarah daging, perolehan EXP-ku mulai berkurang.
Setelah melewati
kerja keras yang memusingkan, rasa lega karena sanggup membayar pajak dan
kegembiraan festival menciptakan suasana yang luar biasa.
Rasanya mirip
seperti mendapatkan promosi setelah menyelesaikan proyek besar di kehidupanku
dulu.
Aku tidak lupa
memanjatkan doa. Tidak
seperti di Bumi, para dewa di sini merespons pemujaan yang tulus dengan cepat.
Perayaan untuk
Dewi Panen diberkahi langit yang sangat cerah. Alun-alun kota dipenuhi
meja-meja penuh hidangan mengepul.
Konon, selama
hari festival, kemurahan hati Ilahi membuat makanan tetap panas dan minuman
tetap dingin. Sang Dewi tampaknya gemar membagikan mukjizat kecil di hari ini.
Suasana riang
menyelimuti kanton. Ada yang menanti upacara pernikahan, ada yang hanya ingin
makan besar, dan ada yang mengincar pertemuan romantis.
Musik
terdengar di setiap sudut, dan semua orang berdansa hingga lelah. Di era tanpa
gawai, berdansa adalah hiburan terbaik.
Gandum di
dunia ini tumbuh tinggi, menyediakan tempat persembunyian sempurna bagi
pasangan muda yang ingin "bermain" di sela festival.
Hubungan
yang dimulai di ladang gandum sering kali berakhir di pelaminan, atau
setidaknya menjadi rahasia manis. Bahkan ada lagu rakyat yang mirip Comin’
Thro’ the Rye untuk menggambarkan ini.
Dua kakak
laki-lakiku juga menghilang entah ke mana, padahal mereka seharusnya membantuku
mempersiapkan pernikahan Heinz.
Aku hampir
meledak karena kelelahan menata meja sementara mereka sibuk bermain.
Tapi begitulah
manusia, makin mendekati usia dewasa, makin besar keinginan mereka untuk bebas.
Akhirnya hanya anak-anak sepertiku yang tersisa membantu dengan serius.
Sorakan keras
menyadarkanku. Aku menoleh dan melihat Mergit beserta keluarganya menarik
kereta raksasa yang membawa seekor babi hutan luar biasa besar.
Panjangnya hampir
dua meter. Bagaimana para pemburu mungil itu bisa menjatuhkan monster seperti
itu tanpa racun?
Aku teringat Mergit
pernah menyuruhku menantikan hidangan spesial keluarganya. Kurasa, inilah
hidangannya.
"Hei, dengar
tidak? Hakim mengundang penyihir untuk menyalakan kembang api!"
"Wah,
serius? Luar biasa!"
Percakapan para
pembantu di meja makan itu tertangkap oleh skill Listening dan Presence
Detection-ku yang semakin sensitif. Kembang api, ya?
Aku selalu
menyukainya. Kembang api selalu mengingatkanku pada pria tua yang memberiku
cincin itu. Aku tidak sabar menantikan hari di mana cincin di leherku ini
menjadi sesuatu yang berarti.
[Tips] Berkat Ilahi sering diberikan selama festival,
terutama jika dewa yang dirayakan sedang dipuja. Beberapa dewa bahkan diketahui
turun langsung menggunakan Avatar untuk berbaur dengan umatnya.
◆◇◆
Menjelang siang,
pesta makin meriah. Pidato sang hakim, Eckard Thuringia, berlangsung singkat.
Ia muncul dengan
zirah dada yang berwibawa, berdoa memohon musim dingin yang tenang dari atas
kudanya, lalu pamit untuk mengunjungi kanton lain.
Khotbah uskup pun
singkat, bukan hanya karena festival itu sendiri adalah bentuk doa, tapi juga
karena uskup kami sangat menyukai anggur.
Ia seolah-olah
berteriak, "Doanya nanti saja, mari kita minum!" dan langsung
bergabung ke meja pesta.
"Mmhee,"
Mergit terkikik di sampingku, "kau mau minum?"
"Tentu
saja."
Mergit, yang
biasa bergelantungan seperti kalung di tubuhku, sudah mulai merah wajahnya. Air
bersih cukup mahal untuk dikonsumsi harian karena harus disaring dengan kerikil
dan arang, jadi biasanya air minum disanitasi dengan alkohol.
Rhine selatan
adalah ibu kota produksi anggur Kekaisaran. Di musim seperti ini, kereta-kereta penuh tong
anggur terus mengalir masuk ke desa.
Bahkan
gereja mengeluarkan simpanan anggur terbaik mereka. Orang-orang mulai menenggak
minuman keras tanpa diencerkan, menciptakan aroma asam alkohol di sekitar
alun-alun.
Melihat
kondisi kanton yang mulai mabuk massal ini, aku jadi khawatir: apa
pernikahan Heinz akan baik-baik saja?
Yah, kurasa
semuanya akan tetap berjalan lancar. Risiko terburuknya hanyalah pengantin baru
yang terlalu bersemangat hingga memulai "bulan madu" mereka sebelum
sampai ke paviliun.
Setengah populasi
yang terlalu mabuk mungkin tidak akan ingat apa-apa besok.
"Heiii, jangan abaikan akuuu..." Mergit merengek
manja dengan wajah yang semakin memerah.
Sudah lama sejak terakhir kali aku mendengar Mergit mengoceh
dalam bahasa sehari-hari. Aku menunduk dan melihatnya cemberut dengan pipi
menggembung, masih bergelantungan di tempat favoritnya.
"Sudah kubilang jangan minum terlalu banyak..."
kataku.
"Aku cuma
minum sedikit. Sedikit sekali," tegasnya.
Sejujurnya, dia
tidak sepenuhnya salah. Dua atau tiga cangkir biasanya masih masuk kategori
"sedikit", namun sayangnya logika itu tidak berlaku bagi ras Arachne.
Meskipun
kemampuan metabolisme mereka lebih hebat dari Mensch, tampaknya mereka
harus membayar mahal dengan toleransi alkohol yang sangat rendah.
Aku tidak tahu
apa yang dia pikirkan sampai berani minum sebanyak itu.
"Tidakkah
kau ingin melihat-lihat kios di pinggir jalan? Kau tidak akan bisa berjalan
kalau kondisimu begini," aku memperingatkan.
"Tidak
apa-apa," Mergit mendengkur pelan. "Kau akan menggendongku ke sana,
kan, Erich?"
Laba-laba kecil
ini tampak seperti anak kucing manja saat menempelkan pipinya yang kemerahan di
dadaku.
Aku sempat
khawatir riasan merah jambunya akan menodai bajuku, tapi kemudian aku sadar...
apa ras Arachne bisa menjadi semerah ini tanpa riasan?
Sayangnya, aku
tidak bisa menuruti permintaannya. "Aku tidak bisa," jelasku.
"Pernikahan Heinz akan segera dimulai. Aku harus segera pulang dan berganti
pakaian."
"Jangan
perggiii!" jeritnya manja.
Berhenti
merengek padaku! Kau baru berusia empat belas tahun—tinggal satu musim panas
lagi sebelum kau dianggap dewasa secara hukum, Nona Muda.
Mergit
memang hampir tidak tampak lebih tua dari Elisa, tapi aku tidak lupa bahwa dia
dua tahun lebih tua dariku.
Tidak
peduli betapa lucunya dia saat mengamuk, aku tidak akan... Aku tidak boleh...
"Sudah,
cukup!" kataku tegas. "Ayo, lepaskan tanganmu."
"Erich
jahat!!!"
Aku harus
mengerahkan seluruh tekadku untuk menahan diri agar tidak balik menggoda Mergit.
Aku mengangkat ketiaknya dan melepaskan dekapannya dari leherku.
Saat
menurunkannya, aku baru menyadari bahwa aku sudah tumbuh begitu tinggi sehingga
kepalanya kini bahkan tidak mencapai pinggangku.
Dia
menatapku dengan mata berkaca-kaca yang seolah menuduhku telah melakukan
kejahatan besar—pemandangan yang benar-benar menguji kewarasanku.
Lebih
buruk lagi, kami sedang berada di tempat umum. Ada banyak pria bermasker di
sekitar alun-alun, dan beberapa dari mereka adalah teman bermain lama kami.
"Ayolah,
Erich! Jangan terlalu
kaku!"
"Ya, ajak
dia 'jalan-jalan' sedikit, Bung!"
"Andai aku
jadi dirimu, wahai Pemuja Vitalitas yang terkutuk!"
Pemabuk adalah
tukang gosip yang ulung, dan aku tahu kata-kata lembut tidak akan mempan pada
mereka.
Aku
berteriak balik, "Enyahlah, kalian pengangguran! Akan kuhajar kalian kalau tidak pergi!"
Meskipun aku
mengacungkan tinju, mereka hanya membalas dengan siulan datar.
Ngomong-ngomong,
istilah "jalan-jalan" dalam konteks festival ini adalah kode untuk
mencari semak-semak terpencil dan menghilang dari pandangan; aku sendiri sudah
melihat beberapa pasangan melakukannya tadi.
Di sisi lain,
"Pemuja Vitalitas" adalah cara halus untuk menyebutku Lolicon.
Konon, ada seorang pria suci di masa lalu yang sangat menyukai kaum demihuman
yang terlihat "muda" menurut standar manusia.
Saat ditegur atas
perilaku menyimpangnya, dia berdalih bahwa dia hanya mencintai "vitalitas
luar biasa" mereka dengan hati yang murni. Kisah itu menjadi anekdot
sejarah yang bertahan hingga sekarang.
Hm?
Kau ingin tahu
apa yang terjadi pada pria itu?
Karena dia
mengincar demihuman di bawah umur, dia dipukuli habis-habisan oleh semua
pihak dan dikucilkan oleh gereja.
Otoritas agama di
negara ini sangat tegas dalam hal moralitas, bahkan mereka berani memecat
anggota keluarga kekaisaran jika terbukti menyimpang.
Aku mengabaikan
fakta bahwa teman masa kecilku baru saja memicu serangan sosial terhadap
reputasiku hanya dengan menangis.
Aku tidak
ingin mendapatkan gelar yang tidak diinginkan di usia ini. Namun... aku tidak
bisa menyangkal bahwa aku tidak sepenuhnya keberatan dengan ide menghabiskan
sisa hidupku bersama Mergit setelah semua waktu yang kami lalui.
"Hei,
Erich, kau terlambat."
Aku
sampai di rumah dan mendapati kakak sulungku sudah berpakaian rapi di ruang
tamu.
Doublet putih itu sebenarnya agak kontras
dengan wajah tegasnya yang mirip Ayah, tapi hari ini dia menyisir rambut
cokelatnya dengan gel, membuatnya tampak jauh lebih rapi.
Mungkin
berlebihan jika menyebutnya seperti bangsawan mengingat tangan kapalan dan
kulitnya yang terbakar matahari, tapi begitulah sosok gagah putra sulung
keluarga kami.
"Bagaimana?
Apa aku terlihat pantas?"
"Ya, kau
tampak hebat, Heinz."
"Benarkah?"
katanya sambil mengusap hidung dengan malu-malu.
Dia tampak
seperti bocah yang dulu kuberikan pedang kayu; melihat pertumbuhannya sekarang
membuatku merasa bangga—perasaan yang jarang kurasakan selama hampir lima puluh
tahun total hidupku.
Aku mengenang
kembali masa-masa kami berburu koin peri dengan senjata buatan tangan, atau
saat aku membantunya memperbaiki aksen bahasa istananya agar tidak terlalu
kaku. Masa depan
keluarga kami akan aman di tangannya.
Kami
berbincang sebentar tentang masa depan dan anak-anak. Aku pun berganti pakaian
formal—tentu saja pakaian turun-temurun dari kakak-kakakku yang sudah agak
usang—saat menyadari kedua kakak kembarku tidak terlihat.
"Oh,
mereka pulang dalam keadaan mabuk berat... Kurasa Ayah membawa mereka ke sumur. Kami tidak
ingin Elisa melihat mereka seperti itu, jadi kami menyuruhnya ke rumah Mina
untuk bersiap-siap."
Si kembar tolol itu... Mereka tidak hanya membolos kerja,
tapi juga mabuk-mabukan diam-diam.
Aku bisa membayangkan Ayah mendidih saat memompa air sumur
yang sedingin es dan menyiramkannya ke kepala dua putra bodohnya itu.
Aku hanya bisa berdoa semoga mereka tidak masuk angin,
meskipun suara bersin keras dari halaman belakang langsung memupuskan
harapanku.
[Tips] Alkohol digunakan di seluruh Kekaisaran
sebagai cara mensterilkan air minum. Namun, ras-ras tertentu yang secara alami
tahan terhadap air terkontaminasi biasanya justru sangat lemah terhadap minuman
beralkohol.
◆◇◆
Pernikahan di
kanton kami bukanlah upacara yang anggun, melainkan pesta yang riuh rendah.
Sudah menjadi
tradisi bagi orang-orang mabuk untuk menyoraki pengantin baru dengan ejekan
kasar, sementara pengantin pria biasanya membalas dengan umpatan balik—sebuah
dinamika unik yang sering berakhir dengan pengantin wanita atau uskup memukul
kepala pengantin pria agar dia diam.
Prosesnya
sederhana: pasangan berjalan menuju altar yang dipenuhi kelopak bunga di tengah
hinaan jenaka warga untuk menerima berkat uskup dan menandatangani kontrak
sipil.
Setelah itu,
pesta dimulai. Makan, minum, dan menari sampai ambruk.
Saat matahari
terbenam, pengantin baru akan diarak keliling desa dan akhirnya
"dilempar" ke dalam kamar pengantin mereka diiringi sorakan gemuruh.
Pesta itu mungkin
terasa biadab bagi orang kota, tapi menurutku ini jauh lebih jujur dan
menyenangkan daripada resepsi kaku yang pernah kulihat di kehidupanku dulu.
Upacaranya
sendiri berjalan lancar. Heinz tampak sangat bahagia saat menuntun tangan
istrinya.
Dia dan Nona Mina
yang tampak rapuh menjadi pasangan yang terlihat kontras—melihat Heinz yang
besar bersanding dengan Mina membuat istilah "penculikan" sempat
terlintas di benakku—tapi rona bahagia di wajah Mina menghapus pikiran itu.
Pernikahan di
sini mungkin melibatkan faktor praktis seperti keuangan keluarga, tapi bukan
berarti tidak ada cinta di dalamnya.
"Kakak,"
panggil Elisa sambil menarik ujung kemejaku.
"Hm?"
Aku sedang duduk
santai di sudut alun-alun dengan Elisa di pangkuanku. Keluarga khawatir dia
akan pingsan jika ikut berdansa di tengah kerumunan, jadi aku ditugaskan
menjaganya.
"Kakak tidak
mau berdansa?"
"Aku tidak
terlalu suka berdansa," jawabku. Itu hanya setengah jujur.
Aku yakin
kemampuan pedangku bisa diaplikasikan ke dalam langkah dansa, tapi... aku tidak
punya pasangan.
Mergit sudah
tidak sadarkan diri setelah menghabiskan sebotol penuh Mead sulingan,
meninggalkanku sendirian.
Tentu saja aku
bisa mengikuti jejak Michael dan Hans yang mencoba mengajak gadis mana pun
berdansa.
Namun, entah
kenapa gadis-gadis seusiaku mulai menghindariku belakangan ini.
Aku curiga seekor
laba-laba kecil yang sering membisikkan ancaman pada mereka adalah penyebabnya.
"Tapi Kakak
berdansa dengan Elisa tadi."
"Itu karena
kau istimewa," kataku padanya. Satu-satunya tarian yang kulakukan hari itu
adalah saat aku menggendong Elisa dan memutarnya perlahan karena dia ingin ikut
merasakan suasana pesta.
Dia tampak sangat
bahagia, dan itu sudah cukup bagiku.
"Istimewa!"
Elisa mendengus puas dan bersandar padaku dengan nyaman. Benar-benar
menggemaskan.
Namun,
sebagai adik perempuan sungguhan... dia mungkin akan mulai mengatakan hal-hal
seperti, "Duh, Kakak menyebalkan banget," dalam beberapa tahun ke
depan. Memikirkannya saja sudah membuatku ingin menangis.
Jika hari
itu benar-benar tiba, aku bisa membayangkan diriku meratapi nasib tanpa henti.
Membayangkannya saja sudah membuat dadaku sesak.
"Oh,
aku tahu. Elisa, mau pergi melihat-lihat kios?"
"Kios?"
ulangnya.
"Iya. Ada
makanan langka dan penyair pengembara di sana!"
Aku mengusir
pikiran melankolis itu dengan saran sederhana. Karena Elisa lebih sering
terkurung di dalam rumah, rasa ingin tahunya sangat besar.
Gagasan
melihat kios festival langsung membuatnya terpikat. Dia menjawab dengan antusias, "Aku mau!"
Ayah memberiku
sejumlah uang receh untuk dibelanjakan, jadi aku yakin bisa membelikan satu
atau dua barang untuknya.
Sulit menebak
apakah masih ada sisa es serut mengingat betapa populernya camilan itu, tapi
jika aku berhasil menemukannya, skor "Kakak Terbaik"-ku pasti akan
naik drastis.
Dengan adikku
yang gembira dalam pelukanku, aku berangkat menuju deretan kios.
[Tips] Dewa Anggur, pelindung pesta dan kegembiraan,
memiliki pengikut yang jumlahnya menyaingi Dewi Panen. Beliau menyatakan, "Rasa sakit akibat mabuk
adalah bagian dari pesona minuman keras." Karena itu, tidak ada Miracle
yang bisa menyembuhkan sakit kepala akibat mabuk. Di mata-Nya, pencinta alkohol
sejati harus mencintai seluruh efeknya.
◆◇◆
Kenapa festival
terasa jauh lebih menyenangkan bagi anak-anak? Di kehidupanku dulu, selembar
uang 10.000 yen sudah cukup untuk membeli apa saja.
Namun, sensasi
saat meninggalkan rumah sambil menggenggam erat koin seratus yen selalu membuat
hati berdebar lebih kencang.
Aku menikmati
nostalgia saat melihat jajaran kios para pedagang keliling. Mereka membawa stok
barang dari luar negeri dan mampir ke kota-kota seperti kanton kami untuk
menjajakan dagangan.
"Pisau
obsidian dari utara! Sangat tajam untuk memetik herbal!"
"Lihat
ini! Barang pernis dari rute timur! Tidak ada yang lebih berkilau dari
ini!"
"Ramuan
dari semenanjung barat! Memar, lecet, atau luka luar akan sembuh
seketika!"
Para
pedagang berteriak dari gerobak mereka. Lorong ini sebelumnya sangat ramai,
namun karena sebagian besar penduduk sudah terlalu mabuk untuk berdiri, suasana
menjadi sedikit lebih tenang.
Ini
adalah waktu yang tepat bagi pembeli yang ingin berbelanja santai atau mencari
barang sisa yang mungkin didiskon.
Banyak
hal menarik perhatianku, tapi hari ini aku mengikuti perintah "Putri
Kecil" keluarga kami. Aku
tidak perlu bertanya ke mana dia ingin pergi.
Tatapannya
tertuju pada satu titik: kios perhiasan. Pemiliknya tampak seperti saudagar
kelas atas yang duduk santai di kursi lipat dengan pengawal raksasa di
sampingnya.
Semangat
jualannya sudah memudar seiring sepinya pengunjung.
"Kakak!
Cantik! Cantik sekali!!!" Elisa memekik pelan.
"Iya,
semuanya sangat indah," aku setuju.
Adikku
berjalan mendekat dengan mata berbinar. Untungnya, sang penjual tidak
mengusirnya.
Meski
biasanya anak-anak tanpa uang dianggap pengganggu, karena sedang sepi, dia
justru menyambut Elisa dengan suara lembut.
"Matamu
tajam juga, Nona Kecil! Ini adalah mutiara yang diambil oleh para duyung di
laut dalam wilayah selatan. Lihat betapa bulat dan murninya! Dan yang ini
adalah mutiara mentah—masih tampak asli seperti saat diambil dari air."
Kurasa
pria berbadan besar ini penyayang anak-anak. Dia menunjukkan keindahan mutiara itu pada Elisa
seolah-olah adikku adalah calon pembeli serius.
Berapa harganya? ...Urp, tiga drachma emas?
Sistem
mata uang Kekaisaran berbasis desimal. Satu Drachma Emas bernilai
seratus Libra Perak; satu Libra Perak bernilai seratus Assarius
Tembaga. Sederhana dan mudah dipahami.
Rata-rata petani
independen menghasilkan lima Drachma dalam setahun. Satu Drachma
diambil untuk pajak cair, dan lima puluh Libra lainnya untuk pajak
komoditas lain.
Biaya hidup dan
tani sekitar dua Drachma, jadi sisa uang bersih per tahun hanya sekitar
satu Drachma dan lima puluh Libra.
Keluargaku bisa
menabung sekitar tiga Drachma setahun berkat pekerjaan sampinganku.
Artinya, kami
harus menguras seluruh tabungan setahun hanya untuk membeli satu
butir mutiara ini.
"W-Wah,
permata yang luar biasa," kataku gagap sambil menegang. Pasar desa bukan tempat untuk
barang begini, Paman!
"Hahaha,"
pria itu tertawa ramah. "Pemuda ini sepertinya punya selera yang sama
dengan adiknya. Memang, ini adalah koleksi yang biasanya kami simpan untuk toko
utama di ibu kota. Ini adalah perhiasan yang biasanya menghiasi leher wanita bangsawan."
Dilihat dari
cincin di jarinya, dia mungkin agen dari perusahaan besar di ibu kota. Orang
penting, ya? Aku tahu Anda sedang senggang, tapi tolong jangan buka lapak di
pedesaan. Buruk untuk jantungku.
"Ah, pantas
saja sangat indah. Kami tidak akan pernah sanggup membelinya," jawabku
canggung.
"Jangan
berkata begitu. Ada tradisi di kalangan duyung untuk membeli satu mutiara
sebagai kalung pernikahan. Tradisi itu juga populer di kalangan Mensch!
Mengapa tidak bicara pada ibumu untuk membelikan satu untuk adikmu yang manis
ini?"
Manusia macam
apa yang Anda maksud? Petani borjuis? Kapitalis kaya? Mutiara itu bisa membelikan baju zirahku dan
masih ada kembaliannya.
"Maaf,
Tuan," kataku dengan senyum paling sopan. "Kakak sulungku baru saja
menikah, jadi tabungan kami sedang menipis. Harta karun ini di luar jangkauan
kami."
"Oh?"
pria itu membuka mata lebar-lebar. "Kau bukan anak sulung?"
"Bukan, saya
anak keempat."
"Benarkah?!
Caramu berbicara sangat fasih dan teratur, kupikir kau adalah pewaris keluarga
kaya."
Gawat. Dia pikir
aku anak sekolahan dari keluarga kaya. Apa yang harus kulakukan jika dia
benar-benar mencari orang tuaku?
"Yah, aku
hanya belajar sedikit dari Ayah dan teman-temanku. Aku ingin sekali membelinya
untuk adikku, tapi harganya..."
"Hei, Nak.
Bagaimana kalau mencoba itu?"
Di tengah usahaku
untuk kabur, sebuah suara berat memanggilku. Aku mendongak dan melihat sosok raksasa dengan
taring tajam menjulang di atasku.
Tingginya
setidaknya tiga meter. Kulitnya berwarna biru logam, otot-ototnya menonjol
seperti pelat baja. Dia adalah pengawal sang saudagar.
"Hadiahnya
lima Drachma," katanya sambil menunjuk kios penjual pedang.
Di sana,
sebuah papan pengumuman bertulisan cakar ayam menyatakan: Siapa pun yang
bisa membelah helm ini dengan satu ayunan, akan mendapat lima koin emas.
Biaya satu kali
percobaan adalah lima puluh Assarius. Penjualnya adalah seorang Stuart
(Manusia Tikus) yang tampak bosan.
Tantangan seperti
ini adalah jebakan klasik di festival. Helm itu kemungkinan besar terbuat dari
baja standar, tapi aku pasti disuruh memakai pedang murahan yang sudah tumpul.
Kebetulan Ayah memberiku tepat lima puluh Assarius.
"Menarik
juga," gumamku.
"Apa?!" seru si penjual perhiasan kaget.
Pamer sedikit sebagai kakak tidak ada salahnya. Aku berjalan
ke kios itu.
"Wah,
legenda masa depan!" sapa si manusia tikus sambil menyeringai. "Mau
coba?"
"Iya. Lima
puluh Assarius, kan?"
Saat aku
memberikan koin tembaga besar (Quarters), dia mendengus. "Hmm,
kualitas cetakannya agak buruk, tapi ya sudahlah. Anggap saja bonus suasana
festival."
Bilah pedang yang
disediakan semuanya terbuat dari baja murah.
Namun, berkat skill
Aesthetic Sense, aku bisa melihat bahwa helm itu memiliki lapisan tipis Mystarille
meskipun bodinya terbuat dari baja biasa.
Mystarille adalah logam legendaris yang
sangat keras dan mampu menangkis serangan fisik.
Namun,
helm ini sudah sangat tua dan memiliki banyak goresan. Lapisan pelindungnya
tidak lagi sempurna.
Sebagai
seorang Munchkin, ini adalah kesempatan emas untuk menguji batas
kemampuanku.
"Ayo,
Kakak!!! Semangat!!!" Elisa bersorak dari samping si penjual perhiasan.
"Hup!"
Cring!
Helm dan
penyangganya terbelah rapi menjadi dua.
"Luar
biasa!" raksasa itu bersorak.
Si penjual pedang
hanya bisa melongo. Kecekatanku sudah mencapai level VIII: Ideal,
ditambah Hybrid Sword Arts dan Enchantment di level VI: Adept.
Dengan skill
Insight, menemukan titik lemah struktural pada logam yang sudah
"lelah" seperti helm tua itu menjadi sangat mudah.
Insight memberiku intuisi visual yang luar biasa,
mirip dengan teknik Zanshin Miyamoto Musashi.
Aku bisa melihat
celah pertahanan lawan—atau dalam hal ini, titik retak pada logam—dengan sangat
jelas.
Tiga
bulan yang kuhabiskan untuk mendapatkan skill ini benar-benar terbayar.
Helm itu
mungkin sudah dipukul ratusan kali oleh orang-orang kuat sebelum aku, membuat
struktur internalnya rapuh.
Aku hanya
perlu menghantam titik yang tepat. Pedang murahan yang kugunakan memang bengkok
setelahnya, tapi tujuanku tercapai.
"Baiklah,"
kataku tenang, "aku ingin mengklaim lima Drachma milikku."
Si
manusia tikus gemetar. Dia ingin protes, tapi dengan raksasa biru yang melotot
di belakangku dan kerumunan yang bertepuk tangan, dia tidak punya pilihan.
Dia
merogoh kantongnya dan menyerahkan uang hadiahnya.
Namun,
saat melihat kepingan emas di tanganku, alisku berkerut.
"Ada
apa? Kau tidak senang?" tanya si raksasa biru. Dia lalu melirik koin itu
dan menggeram pada si pedagang tikus, "...Jelaskan ini, sampah."
"Lihat
tandanya! Aku tidak berbohong!" tikus itu mencicit ketakutan.
Kepingan
emas itu berkilauan, tapi gambar wajah yang tercetak di atasnya adalah Jose
I. Ini adalah Jose’s Scratch—emas dengan kadar kemurnian paling
rendah.
Kilauan
kecil yang menyedihkan dari kelima koin ini terhalang oleh sidik jari kotor
yang mengotori permukaannya—bukti sejarah panjang koin ini berpindah tangan di
kalangan rakyat jelata.
Jika
dikonversi, koin-koin ini paling banyak hanya bernilai dua Drachma dan
lima puluh Libra.
Dasar
licik...
Siapa
yang mengira pedagang tikus itu punya "asuransi" tambahan seperti
ini?
Sekarang
setelah kuperhatikan lagi, papan iklannya memang menuliskan lima keping emas,
bukan lima Drachma.
Secara
teknis dia tidak berbohong, tapi tetap saja ini sangat menjengkelkan.
Saat aku
gagal menyembunyikan kekecewaanku, tangan raksasa yang mengancam itu kembali
menjulur ke arahku, membuatku tersentak.
Namun,
cakar mengerikan di ujung jarinya ternyata bergerak lembut saat mengambil tiga
keping koin dari tanganku.
Sebelum
aku sempat bertanya, dia sudah kembali ke arah majikannya dan berbicara dengan
nada tegas.
"Majikanku,
apakah Anda menyaksikan serangan gemilang dari pendekar pedang kecil ini?"
"Tentu
saja," jawab sang pedagang perhiasan, "Atas nama keluarga Gresham,
aku menyaksikannya sendiri."
Aku belum
pernah mendengar nama keluarga Gresham, tapi mereka pasti cukup berpengaruh
jika pedagang itu merasa perlu mendeklarasikannya dengan begitu bangga.
Tunggu,
mungkinkah dia sponsor utama dari seluruh karavan pedagang ini?
"Dan
kepingan emas ini," lanjut Lauren, sang pengawal raksasa, "nilainya
akan setara tiga Drachma setelah menjadi bukti kemenangan seorang juara.
Apakah Anda setuju?"
"Benar,
tidak diragukan lagi," bosnya mengangguk mantap.
Tuan
Gresham kemudian meletakkan mutiara raksasa tadi ke dalam sebuah kotak cincin
beludru.
Sambil
tersenyum lebar, ia menyerahkannya kepada adikku yang kebingungan dan berkata,
"Kau memiliki kakak yang luar biasa, Nona Muda."
"Terima
kasih banyak," jawab Elisa.
Upaya
kekanak-kanakannya untuk meniru caraku berbicara yang sopan justru membuat
senyum pria itu semakin lebar.
Oho, sekarang
aku paham. Satu tindakan
dermawan di sini akan menjadi bahan pembicaraan di seluruh karavan,
meningkatkan reputasi namanya di mata pedagang lain.
Di zaman di mana
hubungan personal lebih berharga daripada kontrak tertulis, nama baik
benar-benar senilai dengan emas.
Benar-benar
pengusaha yang cerdik.
Bagi
mereka, selisih satu Drachma dan lima puluh Libra hanyalah
investasi kecil untuk nama besar.
Tetap
saja, perbuatan baik tetaplah perbuatan baik.
Aku baru saja
hendak mengucapkan terima kasih saat tiba-tiba kakiku kehilangan pijakan.
"Wah?!"
Raksasa biru itu
mencengkeram ketiakku dan mengangkatku hingga posisi mata kami sejajar.
"Tadi, aku
mendorongmu melakukan ini dengan janji bahwa kau akan mendapatkan lima Drachma."
"Benar,"
kataku, masih agak bingung. "Tapi Anda sudah melakukan lebih dari cukup
untuk—"
"Itu artinya
kau masih kekurangan satu Drachma lagi," potongnya sambil menarikku
lebih dekat.
Dari jarak
sedekat ini, aku bisa melihat dengan jelas warna biru kulitnya yang berkilau
metalik, taring tajam yang menghiasi senyumnya, dan iris mata keemasan yang
menjadi ciri khas setiap ras Devil.
Matanya sangat
indah, dengan bulu mata panjang yang lentik. Hidungnya yang simetris dan rambut
merah kemerahan yang tertata rapi memancarkan aroma minyak rambut berkualitas
tinggi yang menyenangkan.
Jarak antara
wajah raksasa yang menawan itu dan wajahku terkikis habis sebelum aku sempat
bereaksi. Iblis yang memukau itu memberiku kecupan kecil—sentuhan lembut yang
formal.
"Apakah ini
cukup?" tanyanya.
Ini adalah ciuman
pertamaku dalam hidup ini; sebuah pertukaran bibir yang formal sebagai tanda
hormat. Menerima perlakuan seperti itu dari wanita yang lebih anggun daripada
model papan atas mana pun di kehidupanku dulu membuatku hanya bisa mengangguk
spontan.
"Baiklah.
Orang-orangku akan memperlakukanmu dengan baik jika kau menyebut nama Lauren
dari Suku Raksasa. Aku akan memberi tahu mereka bahwa aku menemukan pemuda yang
menarik." Lauren tersenyum lebar saat menurunkanku.
Sambil menepuk
kepalaku lembut, dia menambahkan, "Aku menantikan hari saat kau datang
menantangku sebagai pendekar pedang sejati."
Sensasi geli di
bibirku tertinggal, membawa serta beban masa depan yang harus kuhadapi.
[Tips] Ogre berasal dari sisi
barat Benua Tengah. Mereka hidup berkelompok dalam suku-suku yang menghargai
kekuatan tempur. Ras ini mengalami dimorfisme seksual yang ekstrem: betina
biasanya menjulang setinggi tiga meter dan memiliki kekuatan absolut yang
sering disewa oleh negara sebagai aset militer. Sebaliknya, jantannya relatif
kecil (sekitar dua meter) dan biasanya mengerjakan pekerjaan domestik dalam
masyarakat matriarki mereka.
◆◇◆
"Bersulang
untuk pendekar pedang legendaris kita!" "Bersulang!!!"
Baru
setengah jam berlalu sejak kemenanganku, dan para pemabuk di alun-alun sudah
mengangkat cangkir mereka atas namaku.
Sinar
matahari terbenam yang merah lembut berpadu dengan aroma alkohol yang
menyengat.
Provokator
utamanya tidak lain adalah Heinz, kakakku yang kini sedang mabuk berat,
mengabaikan istrinya yang mulai memutar bola mata di sampingnya.
Aku
sendiri terjepit di tengah kegilaan ini, memegang cangkir berisi Mead
yang tidak diencerkan.
Berkat
sifat Heavy Drinker yang kuambil sebagai persiapan menjadi petualang,
aku masih bisa mempertahankan kesadaran.
Namun,
lidah kekanak-kanakanku masih memberontak terhadap rasa herbal yang kuat ini.
Aku
melirik Ayah yang sedang menjaga Elisa yang tertidur. Ia hanya menatapku dengan pandangan minta maaf
lalu memalingkan muka.
Tampaknya, ia
sengaja membiarkan keributan ini terjadi setelah ia membawa uang hadiahku ke
Ibu dan mengumumkan, "Erich yang traktir!" agar gereja mengeluarkan
lebih banyak tong minuman keras.
Meski sedikit
kesal, aku lega melihat kebahagiaan mereka. Setidaknya, mutiara Elisa kini aman
karena semua orang sedang bersenang-senang.
Saat piala
keduaku diisi dengan anggur madu yang lebih manis, aku menghela napas.
Bukankah sudah
waktunya pengantin baru pulang ke kamar mereka?
Heinz masih
meracau tentang masa depanku sebagai petualang, sementara Tuan Lambert yang
juga mabuk justru mulai memberikan nasihat taktis yang terlalu berguna untuk
ukuran orang mabuk.
Keadaan menjadi
canggung hingga akhirnya Mina, sang pengantin wanita, meledak marah.
"Heinz!!!
Masa depan kita yang utama, dasar tolol!!!" teriaknya, membungkam
seluruh alun-alun. Ia menjewer telinga suaminya dan menyeretnya pergi,
menetapkan dinamika kekuatan dalam rumah tangga mereka sejak hari pertama.
Aku menyelinap
pergi, mencari semangkuk bubur panas untuk menenangkan perutku.
[Tips] Alkohol adalah sumber daya strategis di
Kekaisaran. Selain untuk sanitasi air, pemerintah menetapkan harga nasional
agar alkohol tetap terjangkau guna menjaga stabilitas mental masyarakat,
terutama saat musim panen melimpah.
◆◇◆
Pagi berikutnya, bau asam sisa pesta menyambutku. Aku
terbangun dengan perasaan mual melihat dua kakak kembarku terkapar tidak
berdaya.
Aku menuju dapur dan mendapati Ibu sudah bangun, mengaduk
panci sup akar seledri—menu wajib pasca-festival untuk mengatasi mabuk.
"Selamat
pagi, Tuan Pendekar Pedang," goda Ibu dengan seringai nakal.
"Selamat
pagi, Ibu."
Aku
menikmati sup hangat dan roti gandum, ditemani teh merah dari akar chicory.
Menatap
punggung Ibu yang sedang menyiapkan sarapan membuat rasa kesepian mulai
merayap.
Heinz
sudah menikah dan punya rumah sendiri. Suatu saat nanti, aku juga harus pergi
untuk memberi ruang bagi keluarga baru di rumah ini.
Orang
tuaku telah memberiku segalanya—kebebasan untuk belajar ilmu pedang, memesan
baju zirah, dan memilih jalan hidupku sendiri.
Mereka
tidak pernah melarangku, dan itu adalah bentuk cinta yang paling murni.
Aku tahu
bahwa sekali aku melangkah keluar sebagai petualang, perjalanan pulang akan
sangat sulit dan jauh.
Namun,
aku ingin menjadi pahlawan seperti dalam kisah-kisah yang kucintai.
Aku harus
mengatakannya sekarang.
"Ibu."
"Ya, Sayang?
Ada apa?"
Aku menarik napas
dalam, memantapkan hati. "Aku telah memutuskan masa depanku."
[Tips] Moda transportasi paling umum adalah kereta pos. Meskipun murah, kereta ini memiliki rute tetap dan jadwalnya berkurang di musim tertentu. Jika tidak ingin bergantung pada kereta, satu-satunya cara adalah menggunakan "kendaraan" paling kuno: sepasang kaki.



Post a Comment