Epilog
Akhir
— Adegan terakhir
dari sebuah sesi. Tidak
peduli jalan mana yang ditempuh, ini adalah pemberhentian terakhir.
Apakah malam itu
berakhir dengan kemenangan PC yang menggembirakan atau kekalahan yang
menyedihkan, akhir selalu datang. TRPG adalah skrip yang belum selesai tanpa
jaminan hasil, dan akhir cerita adalah contoh utamanya. Tidak adanya jaminan
"akhir yang bahagia" adalah salah satu kenyataan pahit dari permainan
papan.
◆◇◆
Dipeluk erat,
gadis itu memejamkan mata dan menarik napas panjang. Sesuatu di dalam dirinya
membisikkan bahwa ia tidak akan pernah menghirup udara lagi setelah ini.
Namun, ia tidak
menderita. Bahkan saat tangan dan kakinya mulai hancur, ia tidak merasakan
sakit—hanya kedamaian. Anak laki-laki yang memeluknya saat mereka jatuh dari
langit terasa begitu hangat, dan ia bisa merasakan kebaikan di mata biru yang
indah itu.
"Permisi... Tuan Muda?"
Setelah serangan itu, ia akhirnya mampu melihat siapa sosok
yang mendekapnya. Dia sama sekali bukan ayahnya—hanya orang asing malang yang
terjebak dalam kekacauan ini.
"Ada
apa?" tanya bocah itu.
"Aku sangat
lelah," jawabnya lirih.
Sejak
awal, keduanya memang tidak mirip. Rambut ayahnya jauh lebih panjang dan warna
emasnya lebih redup, seperti cahaya bulan purnama. Anak laki-laki ini jauh lebih muda, dan suara
mereka pun berbeda sama sekali.
Namun, saat ia
didekap seperti ini, ia merasa seolah telah kembali ke pelukan ayahnya. Hal
itu membuat gadis merasa bahagia.
"A... aku yakin begitu. Jika kau lelah, sebaiknya kau beristirahat."
Suara anak
laki-laki itu terdengar seperti sedang menahan tangis. Tak lama kemudian, ia
benar-benar mendengar isak tangisnya. Gadis itu menganggap ini konyol.
Anak laki-laki
ini tidak perlu menahan diri, dan lebih tidak perlu lagi menangis untuknya.
Bagaimanapun juga, ia merasa sangat diberkati.
"Kurasa aku
bisa melakukannya," katanya.
Sejujurnya, gadis
itu ingin mengucapkan terima kasih. Di tengah kemarahan dan kegilaannya tadi,
akhir yang setenang ini sungguh tak terbayangkan.
Sisa-sisa
kesadaran yang ia miliki memberitahunya bahwa kematiannya seharusnya
menyakitkan. Namun, ini jauh lebih baik dari apa pun yang pernah ia harapkan.
"Tapi,"
ucapnya, "sebelum itu..."
Gadis itu ingin
mengucapkan terima kasih, namun ia mengurungkan niatnya.
Ia merasa anak
laki-laki ini akan semakin sedih jika ia melakukannya.
Ia lebih suka
melihat mata indah itu berseri karena gembira daripada tenggelam dalam
kesedihan.
Meskipun ia tidak
tahu mengapa, keinginan ini muncul tulus dari lubuk hatinya.
"Maukah kau
menyanyikan sebuah lagu untukku?" pintanya. "Saat aku tidur... aku
selalu tidur dengan nyenyak jika seseorang bernyanyi untukku."
Sebagai ganti
rasa terima kasih, ia mengajukan sebuah permintaan. Kaum bangsawan hampir tidak
pernah tidur bersama orang tua mereka, tetapi ayah gadis itu sering membawanya
ke tempat tidur untuk menyanyikan lagu pengantar tidur.
"Aku bukan
penyanyi yang baik," jawab anak laki-laki itu.
"Aku tidak
keberatan," balasnya. "Aku hanya ingin kau yang menyanyikannya... itu
saja."
Gadis itu merasa
permintaannya mungkin terlalu berlebihan. Di sinilah ia, sudah menikmati akhir
yang tenang; siapakah dirinya hingga berani meminta sebuah lagu sebagai
tambahan?
"Wahai
malam yang tenang... wahai malam yang lembut..."
Namun, bocah itu
tetap bernyanyi. Gadis itu belum pernah mendengar lirik sesederhana dan tanpa
hiasan ini sebelumnya, tetapi ia merasa bahwa orang-orang biasa yang baik di
negeri ini sering menyanyikan lagu ini untuk menidurkan anak-anak mereka.
"Wahai
malam yang diterangi rembulan... biarkan lengan cahayamu yang penuh kasih
mendekap kami... biarkan jiwa-jiwa yang tertidur beristirahat dengan tenang..."
Anak laki-laki
itu bernyanyi, bahkan jemarinya menepuk-nepuk kepala gadis dengan lembut.
Tangan itu lebih kecil dan lebih kasar daripada tangan dalam ingatannya, tetapi
tetap saja, sentuhan itu membuatnya merasa utuh.
Gadis itu
benar-benar merasa seolah sedang terlelap seiring tubuhnya mulai meluruh.
Setelah anggota
tubuhnya memudar menjadi debu, seluruh raga gadis mulai berubah menjadi
bintik-bintik cahaya pucat yang menari di udara, tidak akan pernah kembali lagi
ke bumi. Ikatan-ikatan kutukan yang kosong kini saling tumpang tindih, seolah
mengutuk gadis yang telah berhasil lolos dari cengkeraman mereka.
"Selamat
malam," bisiknya penuh kebahagiaan.
Akhirnya, ia
menemukan tidur nyenyak yang akan menemaninya selamanya.
Saat kepalanya
menghilang sepenuhnya, sebuah batu jatuh ke pangkuan anak laki-laki itu. Itu
adalah batu permata berwarna biru es yang sangat disukai gadis.
Jejak terakhir
dari Changeling yang pernah dicintai dengan nama Helga itu berkilau
bangga di bawah sinar bulan, seolah berbisik bahwa memang beginilah seharusnya
segalanya berakhir.
[Tips] Saat makhluk agung menemui ajalnya, emosi yang
kuat dapat menyatu menjadi jejak fisik keberadaan mereka.
Kristal sentimen yang sangat langka ini pasti akan melindungi siapa pun yang menggunakannya dengan hasrat tulus yang sama seperti saat ia tercipta.



Post a Comment