Akhir Musim Semi,
Usia Dua Belas — Bagian 1
Koneksi (II)
Sistem yang berbeda memanfaatkan Connection dengan
cara yang beragam, namun beberapa di antaranya dapat memainkan peran pendukung
langsung yang memengaruhi alur cerita pihak PC.
Mereka bisa memberikan bantuan finansial, meminjamkan
perlengkapan, bahkan membantu tim secara langsung menggunakan kemampuan mereka
sendiri.
Terkadang, mereka mengembangkan hubungan intim dengan PC
sebagai kekasih atau justru menjadi musuh bebuyutan. Mereka adalah instrumen
penceritaan yang berguna untuk menambahkan warna dalam petualangan apa pun.
◆◇◆
Seminggu telah
berlalu sejak perjalanan kami tertunda karena sebuah pesta suci.
Waktu yang
berjalan tenang setelahnya membuat kekacauan di hari pertama terasa seperti
mimpi yang jauh.
Meskipun aku
tidak tahu pasti mengapa Elisa berhenti menangis dan mulai berinteraksi dengan Nona
Agrippina secara normal, aku yakin magus itu telah melakukan sesuatu yang
cerdik untuk memicu gairah belajar adik perempuanku.
Seluruh keluarga
kami telah mencoba membujuknya dengan mengatakan bahwa dia akan menjadi guru
hebat, bahwa kami akan bangga padanya, dan banyak hal lainnya, namun semua itu
sia-sia.
Aku tidak punya petunjuk bagaimana Nona
Agrippina berhasil meyakinkannya, tapi yang penting semuanya berakhir baik.
Rasa dingin yang
aneh sempat menjalar di tulang belakangku, namun aku memilih untuk
mengabaikannya, menganggapnya sebagai sisa udara musim semi yang masih cukup
dingin.
Aku
meregangkan punggung sambil duduk di tempat prioritasku: kursi kusir kereta
kuda.
Selama
beberapa hari terakhir, aku bertugas mengendalikan bagian depan kereta dan dua
kuda hitam yang menariknya. Kendaraan ini adalah kereta pos standar, tipe yang
sering dinaiki para bangsawan dalam komik atau film.
Biasanya,
pengendalian kendaraan ini diserahkan pada mantra—sihir memang terlalu
praktis—sehingga aku sebenarnya tidak perlu berada di sini.
Ini
hanyalah caraku untuk menjauh dari kabin agar Elisa bisa belajar dengan tenang.
Saat aku ada di dekatnya, dia
sulit berkonsentrasi karena terus-menerus berusaha menarik perhatianku.
Meski begitu,
perjalanan pertamaku dengan kereta kuda tidaklah buruk. Melaju sambil menatap
langit terbuka terasa menyenangkan, dan sesekali kami berpapasan dengan
prajurit berkuda yang sedang berpatroli dengan gagah.
Mereka berbaris
dengan perlengkapan minimalis namun sangat teratur; tombak panjang mereka
dipegang dengan santai namun penuh kewaspadaan.
Sulit diungkapkan
dengan kata-kata betapa disiplinnya para simbol perdamaian dan keselamatan ini
memberikan rasa aman bagiku.
Aku bahkan sempat
melihat sekelompok orang yang kuyakini adalah petualang. Ada seorang pria
berbaju zirah dan seorang gadis muda yang memanggul tongkat sihir di bagian
belakang kereta penumpang.
Di samping
mereka, ada seorang wanita yang memegang lambang suci dan seorang pemanah
bertubuh sangat pendek yang sedang memasang kembali tali busurnya—menilik
tinggi badannya, mungkin dia adalah ras floresiensis.
Melihat kelompok
pemula yang khas seperti itu membuat hatiku berdebar penuh antusiasme.
Berpetualang
tidak seburuk yang dikatakan orang-orang, pikirku.
Harapanku
membuncah. Suatu hari nanti, aku juga ingin mengumpulkan rekan-rekan dan
berangkat seperti mereka.
Aku akan
mengerahkan upaya terbaik untuk membasmi bandit, menikmati kemewahan
menjelajahi reruntuhan kuno yang terlupakan, dan memecahkan berbagai masalah
hingga perjalananku tercatat dalam sejarah.
Sambil merenung,
aku menyadari bahwa jalan kerajaan ini memiliki pesonanya sendiri. Sekali lagi aku bertekad untuk
melakukan yang terbaik demi maju ke depan.
Minggu
lalu, aku menerima banyak sekali instruksi tentang ilmu gaib di waktu luangku.
Berbeda
dengan mukjizat seperti Purify yang bisa langsung memurnikan apa pun,
mulai dari botol air kotor hingga sungai yang tercemar dengan kekuatan dewa,
sihir tidak memiliki solusi instan yang mudah.
Urusan
rumah tangga yang ditangani dengan sihir mengharuskan aku menyusun beberapa
mantra menjadi formula yang rumit.
Hal-hal
yang tidak dijelaskan dalam teks sihirku (alias buku panduan tugas), diajarkan
langsung oleh Nona Agrippina.
Secara
khusus, ia menjelaskan bahwa sihir dapat diklasifikasikan menjadi tiga sifat
umum: mutasi, migrasi, dan manifestasi.
Betapapun
rumitnya sebuah mantra, ketiga elemen ini dapat digunakan untuk
mendefinisikannya.
Mutation merujuk pada perubahan sesuatu
yang sudah ada. Seseorang dapat mengubah detail fenomena yang sudah ada
sebelumnya, seperti memperkuat atau melemahkan nyala api unggun.
Selain
itu, seseorang dapat mengambil sejumlah energi kinetik positif dan mengubahnya
menjadi defisit; atau dalam contoh lain, memicu reaksi kimia atau pemutusan
fisik.
Sebagai
kategori yang menentukan perubahan wujud, ini bisa dikatakan sebagai sifat yang
paling "ajaib" dari ketiganya.
Berikutnya
adalah Migration. Seperti namanya, ini berkaitan dengan pergerakan
objek.
Menggeser
massa secara fisik melalui ruang secara alami termasuk dalam kategori ini,
begitu pula pengalihan berbagai jenis energi. Ini bahkan melibatkan pemindahan
sifat dari satu benda ke benda lain, di mana seseorang bisa menimpa
karakteristik objek sepenuhnya. Mantra mencolok yang membangun dinding atau
memungkinkan penggunanya bergerak secara tidak manusiawi biasanya masuk dalam
kategori ini.
Terakhir
adalah Manifestation. Sifat ini sedikit berbeda dari yang dibayangkan:
ini adalah properti yang menjelaskan bagaimana seseorang secara artifisial
mewujudkan sesuatu—dari Tiada menjadi Ada.
Manifestation adalah cabang ilmu sihir yang paling
canggih. Meskipun mantra cenderung memutarbalikkan hukum fisika, prinsip
umumnya adalah tetap menghormati hukum tersebut sembari menghasilkan efek yang
luar biasa.
Dunia tidak menyukai keberadaan dari ketiadaan, dan
membengkokkan realitas sesuai keinginan hingga tingkat ini secara praktis
adalah pekerjaan para dewa.
Jadi, Manifestation pada dasarnya adalah praktik
memberikan bentuk fisik pada Mana dan menciptakan materi darinya.
Dengan menggantikan ketiadaan menggunakan Mana yang
nyata, para penyihir seolah berkata pada dunia, "Tidak, lihat? Ada sesuatu
di sini untuk membuat sesuatu yang baru." Atau, mereka menipu kenyataan
agar menganggap mereka hanya menggunakan sihir untuk mendukung sesuatu yang
sudah ada.
Akan tetapi, penjelasan teoritis mengenai cara kerja Manifestation
sangat bervariasi di antara berbagai faksi di akademi.
Seseorang bisa memenuhi seluruh buku jika mempelajari
masalah ini terlalu serius.
Faktanya, dua atau tiga masa hidup manusia tidak akan cukup
untuk memahaminya sepenuhnya—dan bagi seorang methuselah yang berusia
hampir 150 tahun, pernyataan itu memiliki bobot yang besar.
Aku memutuskan
untuk memahaminya di tingkat dasar saja: "Kau bisa menciptakan
sesuatu."
Secara umum, aku
memiliki lima tugas utama: memasak, membersihkan, mencuci, menata, dan
menjahit. Dari daftar tersebut, tugas yang terutama kulakukan dengan sihir
adalah membersihkan dan mencuci.
Memasak dengan
sihir dapat memicu hasil yang tidak terduga (misalnya, mantra untuk membuat
makanan instan yang sudah jadi bisa kembali ke bentuk bahan mentah setelah
makanan itu masuk ke perutmu), jadi sihir hanya digunakan untuk tugas tambahan
saja.
Mengenai
penataan, aku diperintahkan untuk tidak terlalu memusingkan kerapihan.
Terakhir, karena
sulit meninggalkan efek fisik yang permanen pada apa pun yang kujahit dengan
sihir, Mana milikku dialokasikan untuk memberi daya pada mesin jahit
otomatis.
Tampaknya dunia
ini memadukan kenyamanan TRPG dengan ketidaknyamanan eksistensi fisik.
Tentu saja, jika
mantra saja cukup untuk menciptakan makanan, keseimbangan ekosistem akan
hancur.
Ditambah lagi,
tidak akan ada orang yang mau repot-repot membeli perlengkapan makan portabel
lagi.
Selain itu,
segalanya akan terasa hambar jika semua terlalu mudah dilakukan.
Aku yakin
beberapa orang tidak setuju, tapi secara pribadi, menurutku garis tipis antara
kemudahan dan kesulitan inilah yang memberi cita rasa pada dunia.
Penyesuaiannya
begitu luar biasa sehingga aku yakin bisa berbagi minuman nikmat dengan siapa
pun yang merancang hukum dasar dunia ini.
Pikiranku
dipenuhi khayalan dan perhitungan sembari mempelajari beberapa mantra yang
sekiranya akan Useful. Untungnya, cadangan Experience milikku
sangat banyak berkat pertemuan dengan para penculik dan tabungan yang ada.
Mantra pertama
yang kupelajari adalah mantra non-tempur dari kategori Arcane Attendant,
yaitu: Clean.
Seperti namanya,
mantra ini membuang semua kotoran dari suatu lokasi dan mengumpulkannya di satu
titik.
Penguasaan lebih
lanjut memungkinkan aku menargetkan area yang lebih luas dan jenis kotoran
baru.
Bahkan di tingkat
III: Apprentice, mantra praktis ini memungkinkanku mengangkat semua
debu, pasir, dan lumpur di dinding seluas enam tikar tatami.
Aku membayangkan
setiap ibu di kekaisaran akan sangat senang mempelajari mantra ini.
Sungguh
menakjubkan. Aku berharap memilikinya di kehidupanku yang sebelumnya.
Akhirnya aku
menghabiskan banyak poin untuk meningkatkannya ke V: Adept, dan sekarang
aku bisa melenyapkan segala jenis kekotoran kecuali sesuatu yang sudah rusak
atau korosi.
Tidak hanya itu,
mantra ini bisa membersihkan seluruh area apartemen studio sekaligus.
Debu dan kotoran
sudah pasti hilang, bahkan noda minyak dan jelaga yang membandel di dapur pun
lenyap.
Mantra ini
benar-benar membuat iri siapa pun yang menghargai kebersihan.
Satu-satunya
kendala adalah kekhasan yang mengharuskanku membayangkan jenis kotoran yang
ingin dibersihkan saat merapalnya; ini berarti aku perlu menyelidiki asal-usul
noda sebelum menanganinya.
Batasan ini
berasal dari sistem keamanan yang terpasang dalam formula sihir untuk mencegah
seseorang secara tidak sengaja "membersihkan" wallpaper—atau
lebih buruk lagi, dinding itu sendiri—alih-alih kotoran di atasnya.
Mengingat
membangun kembali selalu lebih sulit daripada menghancurkan, ini adalah fitur
yang sangat diperlukan.
Tetap saja, aku
bisa menggunakannya untuk pertumpahan darah yang cukup sadis jika aku mau.
Bukannya aku
berniat melakukannya, ya? A
ku yakin siapa
pun bisa membayangkan sihir seperti yang ada di pikiranku: dengan mengelupas
kulit seseorang langsung dari tubuhnya, aku bisa mengubah orang yang masih
hidup menjadi model anatomi.
Itu adalah mantra
"pilihan terakhir" yang sangat kuat, tapi aku sadar itu juga
merupakan jenis sihir yang biasa digunakan oleh antagonis yang berakhir di
ujung pedang petualang.
Aku mengalihkan
perhatian dari pikiran gelap itu. Mantra Clean memungkinkanku
menghilangkan noda pada cucian tanpa perlu merendam kain dalam air.
Dengan ini,
setidaknya aku bisa memenuhi tugas minimum sebagai seorang pelayan. Aku pikir
aku akan mempelajari lebih banyak kemampuan saat dibutuhkan nanti.
Aku menatap
langit. Matahari sudah tinggi, yang berarti kami harus beristirahat sejenak.
"Nona,
bolehkah hamba bertanya?"
Aku berbicara
melalui mantra yang telah kupasang dan langsung mendapat balasan.
Sebagai catatan,
ada beberapa aturan etika yang membuatku tidak bisa memanggilnya
"tuan", aku juga tidak bisa memanggil namanya langsung karena
perbedaan kelas sosial, dan kami belum cukup akrab untuk menggunakan nama
panggilan.
Akhirnya, aku
memilih panggilan yang sederhana: "Nona".
Menariknya, dia
menuntut agar aku tidak memanggilnya dengan sebutan "Nona besar" atau
sejenisnya. Mungkin ada semacam trauma yang terpendam.
Sebagai wanita
belum menikah yang memiliki otoritas besar, menurutku istilah itu sangat cocok,
tapi tatapannya menjadi sangat tajam saat aku menyarankannya.
Mantra Voice
Transfer yang kugunakan memungkinkanku mengirim bisikan ke dalam simbol
mistik dan menyampaikannya langsung kepada pembuatnya; mantra ini sempurna bagi
seorang Arcane Attendant.
Satu-satunya
kekurangan adalah ketidakmampuannya untuk komunikasi dua arah, jadi untuk
percakapan pribadi, kedua belah pihak harus memiliki kemampuan yang sama.
"Ada
apa?"
Di sisi lain,
suara yang bergema di pikiranku dikirim menggunakan mantra Thought Transfer
dari kategori Magus.
Mantra ini mampu
memulai komunikasi dua arah dan mengabaikan kebutuhan untuk bicara secara
fisik, sehingga mengurangi risiko pembacaan gerak bibir.
Di antara kedua
pilihan tersebut, mantra ini jauh lebih unggul dalam segala hal.
Meski begitu,
untuk memperoleh Thought Transfer di tingkat I: Fledgling
membutuhkan Experience yang setara dengan menaikkan Voice Transfer
ke tingkat VII: Virtuoso. Aku merasa kesenjangan fitur ini adalah
cerminan akurat dari harganya.
Meskipun sangat
membantu, aku memiliki prioritas lain; jadi untuk sekarang, versi tiruannya
sudah cukup.
Sungguh
meresahkan betapa mahalnya setiap mantra yang berhubungan dengan jiwa.
Setelah itu, aku
memberi tahu majikanku bahwa hari sudah siang, dan beliau memutuskan sudah
waktunya makan siang.
Aku menepikan
kereta di pinggir jalan raya dan mulai bersiap untuk istirahat. Namun, bukan
berarti aku harus melakukan banyak hal.
Nona Agrippina
bukan tipe orang yang sangat menyukai alam terbuka hingga ingin berkemah,
karena itulah kami sering singgah di penginapan.
Senada dengan
itu, resep makanan api unggun yang sederhana tidak sesuai dengan selera
lidahnya; makanan kami adalah sesuatu yang beliau beli di penginapan terakhir.
Dijaga agar tetap
hangat dan tidak basi dengan sihir, aku ragu untuk menyebut jamuan mewah yang
beliau nikmati di siang hari ini sebagai sekadar "kotak makan siang",
tapi pada dasarnya memang begitulah adanya.
Tugasku hanyalah
kembali ke kereta setelah interiornya diubah menjadi ruang makan untuk menata
meja. Begitu selesai, Elisa diminta untuk mempelajari tata krama makan.
Dia tidak pernah
mendapat kesempatan sekolah formal, jadi majikan kami berusaha keras
mengajarinya hal-hal ini.
Sebenarnya,
pelajaran Elisa masih pada tahap dasar: dia belajar huruf dan bahasa istana,
sehingga suasana makan siang hari ini terasa membosankan seperti biasanya.
Menurut Nona
Agrippina, ilmu sihir bukanlah sesuatu yang begitu aman atau mudah sehingga
orang awam yang tidak berpendidikan bisa mempelajarinya dengan benar.
Argumennya cukup meyakinkan.
Bagaimana
denganku?
Aku tidak sanggup
makan makanan mewah yang sama dengan mereka, jadi aku menyelesaikan makanku
dengan roti murah dan produk susu.
Aku menggunakan
pisau untuk membelah roti besar menjadi dua dan mengisinya dengan apa pun yang
kupunya untuk membuat roti lapis, yang bagiku sudah lebih dari cukup.
Sejujurnya, aku
merindukan sedikit mayones atau mustard, tapi mungkin aku akan mencoba
membuatnya dengan kemampuan Cooking di kemudian hari.
Aku mengabaikan
tatapan merendah dari Elisa saat dia melihatku menyiapkan makanan rakyat
jelata, lalu aku kembali ke atas kereta untuk menikmati roti lapisku di bawah
langit biru.
Roti dari
penginapan berkualitas ini hanya dibuat dari gandum hitam terbaik; berbeda
dengan roti di losmen murah yang keras, tekstur roti ini enak dan lembut.
Rasa asam yang
halus berpadu sempurna dengan rasa asin dari asinan kubis dan ham. Aku yakin
ini akan sangat cocok jika dipadukan dengan sarden berminyak atau apa pun yang
sedikit berlemak.
Aku menghabiskan
makananku yang sederhana namun lezat, lalu memutuskan untuk berolahraga
sedikit.
Sistem suspensi
kereta ini sangat luar biasa—setelah kuperhatikan, as rodanya bahkan tidak
terhubung langsung ke badan utama; bagaimana bisa benda ini bergerak?—jadi aku
tidak perlu khawatir punggungku pegal atau semacamnya.
Meski begitu, aku
tetap perlu meregangkan kaki.
Kita sudah
mendekati akhir musim semi. Biasanya pada waktu-waktu seperti ini, aku akan
sibuk membantu persiapan musim panas.
Tanah yang mulai
mencair perlu diolah, benih perlu disemai, dan masih banyak pekerjaan tani
lainnya.
Tubuhku yang
sudah terbiasa bekerja keras seolah membunyikan alarm, berteriak, "Hei,
kenapa kita tidak bergerak?! Ini waktunya bertani, kan?!" Jika aku
hanya berdiam diri sekarang, aku pasti akan kesulitan tidur nanti.
Nona tampaknya
sangat menikmati waktu makannya, dan aku memperkirakan setidaknya punya waktu
dua jam sebelum kami melanjutkan perjalanan.
Aku melepas jubah
pelindung debu dan pasir, lalu menarik Schutzwolfe dari sarungnya. Aku
selalu membiarkan pedang itu tergantung di pinggul agar terbiasa dengan
pergeseran pusat gravitasi tubuhku.
Pedang
kesayanganku ini memiliki panjang lebih dari setengah tinggiku—menghunusnya
memerlukan sentuhan yang sangat halus.
Meski ukurannya
lebih kecil dari kebanyakan longsword, Schutzwolfe terasa seperti
pedang dua tangan yang pas untuk proporsi tubuh anak-anak sepertiku.
Jika Strength
atau Hybrid Swordmanship milikku tidak mencukupi, aku ragu bisa
mengayunkan bilah ini dengan satu tangan.
Aku
menggenggam gagangnya dengan tangan kanan dan memegang sarungnya dengan tangan
kiri.
Bukannya
menarik dengan kekuatan lengan, aku memutar seluruh tubuhku untuk melepaskan
baja itu dari ikatannya.
Teknik
ini memungkinkanku menarik pedang tanpa gerakan yang canggung.
Aku
memulai rutinitas latihan seperti biasa agar tubuhku terbiasa dengan ayunan
pedang.
Tebasan
dari atas, samping, bawah, dan tusukan, diikuti dengan perubahan postur serta
pengulangan pola serangan yang sama. Aku mengayunkan pedang ke arah musuh
imajiner.
Sasaranku
adalah persendian: bahkan zirah terkeras sekalipun tidak bisa menutupi seluruh
tubuh.
Bagian
ketiak, siku, dan paha dalam harus tetap terbuka agar pengguna bisa bergerak
bebas, dan biasanya hanya dilindungi oleh chainmail.
Dengan
presisi dan keterampilan yang cukup, mengincar titik lemah ini adalah hal yang
mudah.
Semakin kuat
lawan tak kasat mata yang bisa kubayangkan, semakin baik hasil latihannya.
Layaknya seorang
praktisi bela diri, aku mencoba membayangkan musuh terampil yang menyerangku
dengan niat membunuh yang nyata.
Karena belum bisa
melakukannya sendiri, aku memutuskan untuk memvisualisasikan "Tuan Lambert++"
sebagai lawan tandingku.
Bagus, aku sudah cukup panas.
Sekarang waktunya menguji beberapa gerakan yang sudah
kurencanakan.
Seperti biasa, aku menghabiskan lebih dari setengah poin Experience
yang terkumpul untuk satu pembelian besar: Parallel Processing.
Kemampuan ini sangat krusial bagi gaya bertarung
"pendekar pedang pengguna sihir" yang ingin kutekuni.
Aku ingin mengambil jenis mantra yang biasanya digunakan
sebagai Main Action dan mengubahnya menjadi Bonus Action.
Faktanya, sihir membutuhkan konsentrasi pikiran yang besar.
Siapa targetnya?
Bagaimana cara kerjanya?
Kapan waktu yang tepat?
Berapa
banyak energi yang harus digunakan?
Pertanyaan-pertanyaan
ini harus terjawab dalam sekejap untuk menghindari kegagalan fatal.
Mengatur
semua variabel itu tanpa fokus penuh adalah tugas yang sangat berat. Tingkat multitasking
yang dibutuhkan jauh melampaui kemampuan mengetik pesan sambil menelepon.
Tanpa kemampuan
ini, secepat apa pun aku merapal atau sehemat apa pun penggunaan Mana,
fokusku akan mudah terpecah.
Begitu
konsentrasiku goyah, aku akan kehilangan akses ke kemampuan mistisku—dan itu
berarti menyia-nyiakan seluruh Experience yang telah kudedikasikan.
Solusinya adalah Parallel
Processing: kemampuan yang memungkinkanku menjalankan beberapa alur
pemikiran yang tidak berhubungan secara bersamaan.
Ini bukan sekadar
melamun saat mendengarkan orang bicara; otakku kini benar-benar memiliki unit
pemrosesan kedua yang fungsional.
Sihir bukan
satu-satunya hal yang menyita pikiran; seni pedang pun memiliki kompleksitasnya
sendiri.
Sadar bahwa
tingkat Intelligence saja tidak akan memberiku daya komputasi yang cukup
untuk melakukan keduanya sekaligus, aku memutuskan berinvestasi pada kemampuan
yang pasti akan kubutuhkan di masa depan ini.
Aku
memang belum terbiasa dengan sensasi memikirkan dua hal berbeda secara
serentak.
Ada rasa
tidak nyaman yang aneh, semacam konflik internal. Namun, karena keduanya adalah
bagian dari diriku, aku yakin akan segera terbiasa.
Setengah
kesadaranku mulai merangkai mantra. Mana menyembur keluar dari cincin
bulan di jari tengah kiriku dan membentuk Invisible Hand. Dengan
"tangan ketiga" yang tak kasat mata ini, aku akan mampu—
Tepat saat itu,
sebuah sensasi mengerikan menyergapku. Kemampuan Adept Listening milikku
menangkap suara yang sangat familiar dari kejauhan.
Ini adalah suara
anak panah yang dilepaskan.
[Tips] Seni pedang satu tangan di Barat
berbeda dengan tradisi Timur. Alasan seorang pendekar pedang hanya menggunakan
tangan kanan adalah agar mereka bisa membawa perisai.
Demikian
pula dengan Hybrid Swordmanship: baik tangan kiri memegang perisai atau
dibiarkan bebas untuk serangan balik, menjaga tangan yang tidak dominan tetap
luang sangat dianjurkan.
◆◇◆
Aku tidak
ingat kapan tepatnya aku mendengar informasi ini di kehidupan sebelumnya, tapi
aku tahu kecepatan anak panah bisa mencapai empat puluh lima meter per detik,
tergantung kualitas busurnya.
Artinya,
anak panah bisa melesat sejauh empat puluh meter sesaat setelah ditembakkan.
Namun,
kecepatannya tidak sebanding dengan listrik. Sinyal saraf yang bergerak cepat
di antara sinapsis otak jauh lebih cepat daripada proyektil tersebut.
Terlebih
lagi, hambatan udara dan gravitasi akan mengikis kecepatan awal anak panah;
dengan latihan yang cukup, siapa pun bisa bereaksi tepat waktu.
Berkat Lightning
Reflexes yang sempurna, aku langsung bergerak begitu mendengar suara itu.
Aku
berjongkok dan berbalik ke arah sumber suara, sambil menggunakan Parallel
Processing untuk mengalihkan fungsi Invisible Hand yang sedang
aktif.
Anak
panah itu melesat dari tepi hutan kecil yang agak jauh dari jalan raya, namun
langsung tertahan oleh Invisible Hand milikku sebelum sempat mengenai
sasaran.
Tangan
ini adalah Mana yang diberi wujud fisik—bukan sekadar kekuatan tanpa
bentuk—sehingga bisa memblokir benda padat di udara. Intinya, aku bisa
menggunakannya sebagai perisai darurat.
Tunggu,
apa yang sebenarnya terjadi?!
Apa aku melakukan
kesalahan sampai diserang begini?!
Tapi yang
lebih penting... luar biasa! Aku keren sekali!
Sambil
memuji diri sendiri karena berhasil menangkis anak panah (meski sebenarnya aku
sedang panik ringan), aku menatap ke arah hutan.
Di sana,
aku melihat bayangan yang bergerak. Ada beberapa orang, dan mereka tampaknya
sadar bahwa serangan mendadak mereka telah gagal.
Beberapa
sosok bangkit dari semak-semak dan mulai mendekat.
Bandit!
Pakaian dan kulit mereka sangat kotor, dengan rambut yang berantakan.
Persenjataan
mereka yang tidak seragam memperkuat kesan bahwa mereka adalah perampok klise. Tidak
ada penjelasan lain untuk identitas mereka.
Jumlahnya... Hmm, cukup banyak. Ada enam orang: si pemanah
tetap di posisinya, sementara lima orang lainnya berlari menyerbu ke arahku.
Argh, kenapa
kalian ada di sini?! Kita jauh dari jalan utama dan tidak ada apa-apa untuk
dirampok! Tunggu, apa mungkin karena tempat ini terpencil makanya kalian belum
tertangkap? Patroli Kekaisaran benar-benar harus bekerja lebih keras!
Sejuta pikiran
berkecamuk di kepalaku. Aku akui aku sedang dalam kondisi kacau; jika tidak,
aku pasti akan memilih untuk menyerah atau melarikan diri alih-alih langsung
bertarung.
Nantinya, setelah
aku tenang, aku baru menyadari sesuatu: tidak ada yang mengharuskan pelayan
sepertiku mempertaruhkan nyawa menghadapi lawan seperti ini.
Nona adalah orang
yang sangat kuat; seharusnya aku menyerahkan masalah ini padanya. Beliau pasti
bisa melenyapkan para bandit ini hanya dengan jentikan jari.
Namun aku tidak
melakukannya, karena saat itu aku tidak terpikir untuk meminta bantuan.
Pikiranku sudah terlalu panas karena adrenalin dari pertarungan sungguhan
keduaku.
Lawan pertama
yang menyerangku bukanlah seorang mensch, melainkan raksasa berkulit
biru.
Apakah raksasa
pria memang terlihat seperti itu?
Dia tampak kecil
jika dibandingkan dengan Lauren, pengawal yang kutemui dulu.
Meski berotot
luar biasa, kepalanya hanya setinggi dada Lauren, dan perlengkapannya sangat
menyedihkan: zirahnya compang-camping, dan senjatanya hanyalah batu besar yang
diikatkan ke gagang kayu—mungkin semacam kapak atau palu kasar?
Matanya yang
merah dan mulutnya yang berliur sama sekali tidak mencerminkan reputasi raksasa
sebagai pejuang yang bermartabat dan disiplin.
Yang
paling jelas, dia tidak memiliki teknik bertarung—dan ini adalah penilaian dari
seorang anak yang minim pengalaman tempur. Cara dia berlari dan penampilannya
menunjukkan kurangnya pelatihan.
Kami
beradu dalam sekejap. Dia melepaskan niat untuk menyerang secara teknis dan
mencoba menabrakku dengan tubuh besarnya.
Aku
melangkah ke samping dengan sudut tertentu untuk menghindar, dan sambil
bergerak, aku mengangkat Schutzwolfe dengan tenaga minimal untuk
mengiris ketiaknya.
Pedangku
terasa berat, seperti sedang memotong benda yang sangat kaku.
Meskipun
kulit dan tulang raksasa itu sekeras logam, teknik pedangku dan ketajaman Schutzwolfe
jauh lebih unggul.
Aku
melirik ke belakang dan melihat darah biru menyembur dari lukanya saat dia
berguling di tanah.
Aku telah
menebasnya dari bawah lengan hingga ke bagian atas tubuhnya, hampir memutuskan
bahunya.
“GURUAAAAAA!”
Apa dia tidak
bisa bicara bahasa umum?
Meskipun aku merasa raksasa itu aneh, aku tidak punya waktu untuk melamun.
Masih ada lima musuh tersisa.
Berikutnya yang
mendekat adalah empat goblin. Mereka adalah salah satu ras demonfolk
terkecil. Meski tinggi mereka hampir sama denganku, masing-masing memiliki
kekuatan setara pria dewasa.
Bertubuh pendek
dan gesit, mereka dikenal sebagai penjelajah reruntuhan dan pengumpul relik.
Karena sifat reproduksi mereka yang mirip dengan mensch, mereka sangat
mudah ditemui di seluruh benua.
Ada keluarga goblin
di kota kelahiranku, dan beberapa anak mereka bahkan sering bermain denganku,
jadi aku langsung mengenali ras mereka.
Namun, ada yang
aneh dari kelompok ini. Senjata mereka sangat buruk—bukan dari logam, hanya
kayu yang diruncingkan—dan serangan mereka sama sekali tidak terorganisir.
Apa
mereka benar-benar bandit?
Aku
menggerakkan bilah pedangku ke sisi kanan tubuh, menangkis tusukan tombak kayu
dari salah satu dari mereka.
Sadar
bahwa dia bisa menggunakan momentum itu untuk mengayunkan ujung tombaknya jika
aku menangkis terlalu keras, aku hanya memberikan ketukan ringan.
Tujuanku
adalah menciptakan celah.
Sejujurnya,
dengan cara bertarung mereka yang serampangan, keterampilanku terasa agak
berlebihan.
Tetap saja, bukan
hal lucu jika aku terluka atau mati karena sombong. Kelalaian tidak punya
tempat di sini; aku bersumpah akan menjalani setiap pertarungan seolah-olah aku
adalah pihak yang terdesak.
“GUAAAAAAAA?!”
Tangkisanku
langsung diikuti dengan ayunan tangan yang memutuskan tangan kiri si pembawa
tombak malang itu.
Goblin itu tersungkur, mencengkeram pergelangan
tangannya. Dia sudah tidak bisa bertarung; dua tumbang, sisa empat.
Sejauh ini aku
menghadapi dua pertarungan satu lawan satu. Namun kali ini, dua goblin
yang tersisa langsung menyerbu dari sisi rekan mereka yang jatuh.
Satu membawa
belati berkarat, dan yang lainnya membawa batu. Dengan kekuatan fisik orang
dewasa, senjata-senjata itu tetap mematikan.
Penyerbu terakhir
yang berada di depan tidak bersenjata, namun dia punya ide cerdik. Saat salah
satu rekannya berjongkok, dia melompat dari punggung temannya itu ke arahku.
Meskipun aku ragu
itu adalah hasil kerja sama tim yang terencana, aku kini menghadapi serangan
dari tiga arah sekaligus.
Sial sekali
aku! Siapa sih yang sedang mengocok dadu keberuntunganku?!
Bahkan aku pun
akan kesulitan bertahan jika hanya menggunakan pedang. Jika hanya ada dua
lawan, aku bisa menangkis satu dan menghindari yang lain.
Namun, serangan
dari atas memperumit keadaan. Biasanya, skenario ini mengharuskan aku mundur
beberapa langkah untuk mencari ruang napas; dan aku pasti akan melakukannya...
jika ini terjadi minggu lalu.
Tanpa
ragu sedikit pun, aku menebas pengguna belati yang paling berotot.
Menjatuhkannya
sangat mudah karena dia berlari lurus untuk menusukku dengan posisi belati
terbalik, sementara jangkauan pedangku jauh lebih panjang.
Satu tusukan di
bahu sudah cukup untuk melumpuhkannya.
Pertanyaannya
adalah, apa yang terjadi selanjutnya? Aku bergerak tanpa bimbang.
“APA?!”
Aku
mengaktifkan mantra yang telah kupelajari, dan sebuah sensasi nyata memenuhi
otakku—datang langsung dari medan gaya yang dipanggil oleh Invisible Hand.
Perlu
diketahui, mantra ini lebih dari sekadar alat praktis untuk mengambil sendok
yang jatuh di belakang lemari.
Dengan
sedikit penyesuaian, mantra ini bisa menjadi sihir tempur yang mematikan.
Lagipula,
"tangan" lemah yang hanya bisa mengambil peralatan makan tidak akan
mungkin sanggup menghentikan anak panah, bukan?
Goblin yang tidak bersenjata itu kini
meronta-ronta tak berdaya di udara, kehilangan pijakan. Invisible Hand
milikku mencengkeram kepalanya, lalu aku menghempaskannya langsung ke arah
rekannya yang sedang berlari membawa batu.
Daya
benturannya sangat dahsyat. Meskipun berat seorang goblin hanya sekitar
tiga puluh kilogram, kombinasi kekuatan lemparanku dan gravitasi mengubah
mereka menjadi senjata tumpul yang mengerikan.
Bayangkan
saja tiga karung beras jatuh tepat di atas kepala seseorang; itu sudah lebih
dari cukup untuk membuat siapa pun mengucapkan doa terakhirnya.
Suara
daging yang saling menghancurkan bergema saat kedua tubuh itu bertabrakan dan
jatuh.
Pemandangan itu
terasa sangat tidak nyata hingga aku mungkin akan menertawakan mereka jika saja
anak panah lain tidak melesat ke arahku.
Tentu saja,
memprediksi lintasan anak panah itu mudah asalkan aku melihatnya lepas dari
busur. Tuan Lambert biasanya menangkap benda-benda itu dan melemparkannya
kembali dengan tangan kosong.
Namun, aku
memilih pendekatan yang jauh lebih elegan. Sihir adalah bidang yang memahami
konsep augmentasi.
Mantra yang
diucapkan para penyihir adalah persamaan mistik dalam arti yang
sebenarnya—sebagai program berkode untuk menipu dunia dan membelokkannya sesuai
keinginan.
Mantra tersebut
dapat ditulis ulang agar sesuai dengan berbagai kebutuhan.
Layaknya pengguna
perangkat lunak yang memiliki kebutuhan praktis namun tim pengembangnya tidak
kooperatif, aku harus menangani masalah ini sendiri.
Aku benar-benar
terkejut saat pertama kali melihat lembar kemampuanku setelah memperoleh sihir.
Setiap mantra memiliki slot untuk serangkaian add-on guna memodifikasi
fungsinya.
Pada tingkat ini,
satu jenis sihir saja bisa memenuhi rak buku dengan panduan yang tebal. Namun,
segunung informasi yang merumitkan pikiran itu justru menjadi perjamuan mewah
bagi orang sepertiku.
Aku telah
menambahkan tiga modifikasi pada Unseen Hand.
Pertama adalah Steadfast Arm. Dalam kondisi normal,
kekuatan efektif tangan ini hanya bergantung pada atribut Strength
milikku saja, tidak peduli seberapa banyak Experience yang kuberikan
pada mantranya.
Namun, modifikasi
ini memungkinkanku mengalirkan Mana ekstra untuk meningkatkan
kekuatannya secara signifikan.
Kedua,
aku mengambil Giant’s Palm. Mantra standar hanya memungkinkanku
menciptakan tangan sebesar tanganku sendiri dengan jangkauan terbatas.
Tambahan ini
memungkinkan penggunaan Mana ekstra untuk menciptakan massa yang lebih
besar. Jika aku memaksakan diri hingga batas maksimal, aku bisa menciptakan
tangan yang hampir sebesar kasur ukuran twin, dengan jangkauan sejauh
pandangan mata—meminjam istilah dari gim favoritku.
Terakhir, aku mengambil Third Hand. Dua modifikasi
pertama cukup masuk akal dan murah, tetapi yang terakhir ini sedikit lebih
mahal. Kemampuan ini memberikan indra peraba pada Unseen Hand milikku.
Sebagai informasi, tangan-tangan gaib itu awalnya tidak
memberikan umpan balik sensorik; mereka hanyalah medan gaya yang melaksanakan
perintah.
Tanpa indra peraba, mengendalikan kekuatan dan kecepatan
mereka secara halus adalah tantangan yang mustahil—ibarat bermain mesin capit
arcade yang capitnya tidak terlihat.
Dengan modifikasi ini, tanganku yang tembus pandang memiliki
respons sentuhan, sehingga aku bisa mengendalikannya dengan akurasi tinggi.
Kalian mungkin
bertanya untuk apa aku menginginkan ini. Meski aku yakin beberapa orang akan
langsung berpikir ke arah yang mesum... menurutku, ini paling baik digunakan
sebagai serangan jarak jauh yang kuat.
"APA?!"
Tanganku bergerak
lebih cepat daripada suara dan mencengkeram leher pemanah raksasa itu saat ia
mencoba memasang anak panah lagi.
Aku meniru teknik
para ksatria pedang yang saling beradu di galaksi yang sangat jauh. Aku penggemar berat karakter
"Darth" saat masih kecil, tahu sendiri kan...
Namun,
aku menahan diri untuk tidak mengikuti jejak mereka sepenuhnya; aku memilih
untuk tidak mencekik raksasa itu sampai mati.
Sebaliknya,
aku hanya mencengkeram lehernya dengan erat untuk membatasi aliran darah selama
beberapa detik hingga ia kehilangan kesadaran.
Menekan
arteri karotis terbukti ampuh mencegah darah mengalir ke otak, dan makhluk
berakal mana pun akan bertekuk lutut melawan teknik ini.
Dengan
demikian, pembantaian dalam pertarungan standar pertamaku berakhir dalam waktu
kurang dari dua puluh detik.
Aku
pernah berpikir bahwa satu ronde dalam TRPG seharusnya mewakili waktu yang
lebih lama dari lima atau sepuluh detik, tetapi sekarang aku harus menarik
kata-kataku.
Setiap
detik dalam pertarungan terasa jauh lebih padat. Bahkan dengan melibatkan
beberapa petualang dan musuh, lima detik adalah waktu yang sangat lama dalam
duel maut.
Tanganku
gemetar. Beban hidup yang kupertaruhkan akhirnya mulai terasa. Aku hanya bisa
tetap tenang selama pertempuran berkat latihan keras Tuan Lambert yang nyaris
merenggut nyawa.
Aku
sangat senang... Aku sangat luar biasa senang karena masih hidup, dan karena
aku tidak perlu membunuh siapa pun.
"Apa
yang sedang kau lakukan sekarang?" tanya sebuah suara penasaran dari atas.
Aku
mendongak dan melihat Nona Agrippina duduk santai di atas celah dimensi, persis
seperti yang dilakukannya pada malam bulan merah yang mengerikan itu.
Saat
itulah aku menyadari bahwa seharusnya aku mundur saja dan membiarkannya
menghadapi para penyerang kami.
Tunggu
sebentar. Kenapa Anda tidak membantu hamba jika sudah menyadarinya sejak tadi?
Tepat
saat aku bersiap untuk memprotes, beliau memotongku dengan pernyataan
tiba-tiba.
"Mengapa
kau bermain-main dengan daemon-daemon ini?"
Apa?
[Tips] Walaupun demonfolk dan daemon
tercipta secara berbeda, secara fisiologis mereka identik.
◆◇◆
Agrippina du Stahl, pewaris pertama Baroni Stahl, adalah
seorang magus yang sangat berbakat. Tentu saja, ia tahu betul risiko yang bisa
merenggut nyawanya dan tidak pernah sekalipun lengah.
Meskipun sering bersikap lesu dan riang, ia selalu menjaga
kewaspadaan pada tingkat tinggi.
Tubuhnya selalu diselimuti sihir pelindung, dan ia tidak
pernah berhenti merapal mantra deteksi sebagai tindakan pencegahan.
Pertahanan tersembunyi ini melilitnya bagaikan benteng; jika
seseorang menyerangnya secara fisik dengan pisau, mereka bahkan tidak akan bisa
memotong sehelai rambut pun dari poninya.
Dan, seperti biasa, benteng mistiknya tetap aktif saat ia
mendidik muridnya sembari menikmati makan siang dengan anggun.
"Elisa,
supnya jangan diseruput."
"Aduh..."
"Kau juga
tidak diperbolehkan menggigit peralatan makanmu."
"Apaaa..."
"Memasukkan
seluruh sendok ke dalam mulut adalah hal yang tidak terpikirkan."
"Hah...?"
Agrippina
memperhatikan muridnya memiringkan kepala dengan bingung, seolah berkata tidak
ada cara lain untuk makan.
Pada saat yang
sama, salah satu helai kesadaran magus mendeteksi suatu kelainan.
Mantra deteksi
yang dipasangnya di sekitar kereta telah memicu respons dari segelintir makhluk
hidup di dekat mereka.
Hal ini
sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa. Meskipun mereka berada jauh dari
jalan utama menuju hotel terdekat, rute yang mereka lalui masih cukup sering
dilewati.
Biasanya, ia akan
menganggapnya sebagai kereta karavan atau penumpang, tetapi itu tidak
menjelaskan keberadaan sosok-sosok yang ia rasakan muncul dari dalam hutan.
Agrippina menolak
mengabaikan ancaman, meskipun itu hanyalah daemon remeh.
Namun,
"remeh" di sini adalah relatif. Ada empat goblin dan dua ogre,
semuanya bersenjata (meskipun lusuh), dan satu bahkan siap menyerang dari jarak
jauh.
Masing-masing
dari enam penyerang itu bisa dengan mudah menang melawan manusia biasa.
Sementara bagi
seorang methuselah mereka bukan apa-apa, bagi sekelompok petualang
pemula, para daemon ini akan menjadi lawan yang sangat berat.
Bahkan raksasa
kasta rendah sekalipun hampir kebal terhadap serangan fisik biasa.
Mantra Mutation
atau Manifestation setengah hati tidak akan banyak membantu menghadapi
ketangguhan mereka. Sementara itu, goblin memang hanya memiliki kekuatan
setara manusia biasa, tetapi mereka jauh lebih cerdik.
Ditambah lagi,
gerakan cepat dari makhluk bertubuh kecil umumnya lebih sulit ditangkap oleh
mata telanjang.
Di sisi lain,
kereta Agrippina hanya dijaga oleh seorang anak laki-laki muda yang menjadi
target serangan kejutan.
Usianya
baru dua belas tahun, fisiknya belum berkembang sepenuhnya. Ia hanya dibekali
sebilah pedang dan segenggam mantra utilitas yang baru saja ia pelajari.
Terlebih
lagi, ia bahkan belum mengenakan baju zirah rantai; pakaian perjalanannya hanya
akan memberikan pertahanan yang sangat minim.
Jika ada arena
judi, bandar pasti akan membatalkan taruhan—peluang menang bagi anak laki-laki
itu terlalu rendah.
Taruhan justru
akan bergeser pada berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai anak malang itu
hancur menjadi daging cincang.
"Elisa,"
kata Agrippina, "miringkan sendokmu perlahan agar supnya mengalir ke
mulutmu."
"Susah..."
magus
tetap anggun meski dalam situasi yang menurut orang lain mengerikan. Ini adalah
waktu makan siang, dan makanannya terlalu lezat untuk disantap terburu-buru.
Anak panah
pertama melesat, ditujukan untuk melukai si anak laki-laki... Namun, anehnya,
hal itu tidak terjadi.
"Hm?"
gumam Agrippina.
Awalnya ia
berpikir untuk membisikkan dinding pelindung ke realitas untuk melindunginya,
tetapi anak panah itu berhenti di udara jauh sebelum mencapai sasarannya.
Dengan
mata yang terlatih melihat aliran sihir, ia mengenali Invisible Hand.
Mantra
itu biasanya hanya digunakan untuk mengambil barang jarak dekat, tetapi
hebatnya, pelayannya itu berhasil menangkap anak panah di tengah penerbangan.
"Oh?"
gumamnya dengan sedikit kagum.
"Ada
apa, Kak?"
Efek
sihir ada di tangan penggunanya: bahkan mantra Clean yang sangat umum
pun bisa digunakan untuk "membersihkan" kulit seseorang di tengah
pertempuran.
Satu-satunya
kelemahannya adalah kesederhanaannya yang membuatnya mudah ditangkis, tetapi
masalah itu bisa diatasi dengan jumlah Mana yang besar.
Faktanya,
Agrippina memiliki kenalan di antara para Polemurge yang menggunakan
taktik mengerikan semacam itu.
"Tidak
ada apa-apa," jawabnya pada murid.
Yah,
bagaimanapun juga, selembar tisu pun bisa digunakan untuk membunuh seseorang
dengan kecerdikan yang tepat. Kedalaman ilmu sihir menjamin hal yang sama. Ini
menunjukkan bahwa haus darah pelayannya jauh lebih luas dari yang ia duga
sebelumnya.
Agrippina
sudah lama menyadari bahwa pelayannya itu sering menghabiskan waktu menatap
langit dan bergumam sendiri saat sendirian, tetapi ia tidak menyangka waktu itu
digunakan untuk mempersiapkan mantra seperti ini. Mungkin anak itu perlu
dievaluasi ulang.
Pikiran
anak itu terarah ke segala sudut, persis seperti seharusnya pikiran seorang
magus.
Ia
melihat ide dari berbagai perspektif untuk menerapkan mantra di luar tujuan
aslinya—keterampilan krusial bagi magus mana pun.
Agrippina
mulai mempertimbangkan kemungkinan untuk mempekerjakannya sebagai pelayan resmi
setelah masa pengabdiannya selesai, dan memutuskan untuk mengawasinya dalam
diam. Meskipun rencana
awalnya adalah melenyapkan para bandit itu, si anak laki-laki tampak sangat
bersemangat.
methuselah pernah membaca: ketika seorang anak
termotivasi melakukan sesuatu, yang terbaik adalah tidak menghalangi mereka.
Karena tidak
ingin mematikan rasa ingin tahu dan ambisi anak itu, ia memilih untuk mengikuti
nasihat tersebut.
Pada akhirnya,
pembantunya melakukan pekerjaan luar biasa dalam menumbangkan musuh yang
seharusnya bisa menghancurkan tim petualang pemula.
Namun, satu
pertanyaan tersisa: mengapa dia membiarkan mereka hidup?
Jika mereka
bandit manusia biasa, Agrippina pasti paham—mereka punya nilai jika ditangkap.
Beliau pasti akan
membantu melumpuhkan dan menyeret mereka. Namun, tidak ada keuntungan apa pun
dari membiarkan daemon tetap hidup.
Kebingungan ini
membuat methuselah tidak nyaman, sehingga ia meletakkan sendoknya
setelah menghabiskan sup.
"Elisa,"
katanya tiba-tiba, "jadilah anak baik dan tetaplah di sini."
"Hah,
apa?"
Untuk memastikan
niat sebenarnya dari pelayannya, magus merobek celah di ruang hampa dan
melompat ke dalamnya.
[Tips] Polemurge adalah penyihir yang paling
ahli dalam pertempuran di antara semua kasta penyihir akademi. Mereka mencari nafkah melalui pembunuhan mistis.
Kehadiran mereka sangat dihargai, karena satu orang Polemurge setara
dengan ratusan tentara. Penyihir biasa tidak berani menyandang gelar ini karena
takut mempermalukan diri sendiri; seorang Polemurge sejati dapat
menghancurkan pasukan dengan mudah.
◆◇◆
Ketika aku
memberi tahu Nona Agrippina bahwa aku belum pernah mendengar tentang daemon
sebelumnya, beliau tampak sangat terkejut. "Pertama soal magia, dan
sekarang ini? Apakah semua penduduk desa benar-benar hidup tanpa pengetahuan
seperti ini?"
Singkatnya,
transformasi menjadi daemon adalah akhir yang tak terelakkan bagi kaum demonfolk
yang terpapar terlalu banyak Ichor—zat misterius yang sama tidak
terpahaminya dengan False Moon.
Yang diketahui
hanyalah zat itu terkandung dalam Mana, dan ketika konsentrasinya sangat
tinggi, ia akan membuat siapa pun yang bersentuhan dengannya menjadi gila.
Zat ini adalah
subjek ketakutan yang besar.
Namun, manusia
dan demihuman tidak menumpuk Ichor secara alami.
Kami tidak
memiliki organ untuk menyimpannya, sehingga zat itu terbuang keluar dari tubuh
setiap kali kami mengeluarkan Mana.
Anehnya,
proses ini terdengar seperti fungsi ginjal dalam menyaring urine...
Di sisi
lain, kaum demonfolk diklasifikasikan demikian justru karena mereka
memiliki organ yang menampung cairan tersebut sejak lahir.
Sebagai
hasilnya, mereka dianugerahi fisik luar biasa dan pemahaman intuitif tentang Mana.
Ini masuk
akal bagiku, karena aku ragu teori evolusi standar bisa menjelaskan adanya
makhluk berkulit metalik atau makhluk kecil yang kekuatannya menyamai pria
dewasa.
Seiring
meningkatnya kadar Ichor di tubuh mereka, mereka tumbuh lebih besar dan
kuat.
Jika
mereka terus memburu kekuatan melalui zat itu, mereka akan mencapai titik
kritis: mereka akan berakhir seperti enam bandit di hadapanku ini—atau lebih
tepatnya, menjadi daemon.
"Ichor cenderung menumpuk melalui tiga
cara," jelas Nona Agrippina. "Menggunakan sihir yang membutuhkan Mana
dalam jumlah yang tidak wajar, tinggal di dekat sumber kekuatan misterius yang
mengerikan, atau kontak terus-menerus dengan sisa-sisa mantra yang kuat.
Seharusnya, kehidupan normal bebas dari risiko seperti itu, dan sebagian besar demonfolk
mati dalam keadaan normal."
Di pedesaan,
fenomena ini secara halus disebut sebagai "tersentuh kegilaan." Kaum demonfolk
biasanya akan berduka atas kematian kerabat mereka sebagai manusia
setelah mereka ditundukkan.
Pengetahuan saat
ini menunjukkan bahwa kerusakan akibat Ichor tidak dapat disembuhkan.
Yang hilang dari
mereka bukan sekadar akal sehat, melainkan etika dan nurani.
Mereka berubah
menjadi binatang buas yang menyerang dan memangsa non-daemon hanya untuk
menambah jumlah mereka.
Akibatnya,
beberapa negara di luar Kekaisaran Trialist menganiaya semua jenis demonfolk
tanpa ampun.
Kisah
yang sangat... suram. Benar-benar mengerikan.
"Bagaimanapun,
biarkan mereka beristirahat, ya? Tidak ada gunanya membiarkan mereka seperti
ini. Tidak perlu memperpanjang penderitaan mereka."
Akhirnya aku
menunduk, menatap mata para daemon yang menggeliat di tanah.
Mereka tampak
kesakitan, namun haus darah di tatapan mereka tidak berkurang sedikit pun.
Mereka
menggertakkan gigi dan mengabaikan luka parah demi mencoba merangkak dan
membunuhku—kewarasan memang telah meninggalkan mereka.
Kalau saja aku
seorang pahlawan yang naif, aku pasti akan bimbang.
Apakah
benar-benar tidak apa-apa membunuh mereka? Aku pasti akan bertanya, apakah benar-benar
tidak ada cara lain?
Namun, aku tidak
ragu saat mengayunkan pedang ke leher raksasa terdekat.
Alasanku
sederhana: tidak ada seorang pun yang akan diuntungkan oleh belas kasihanku di
sini—bukan aku, bukan Nona Agrippina, bukan penduduk kota setempat, dan bahkan
tidak juga bagi daemon menyedihkan yang ingin ku-“selamatkan”.
Nona Agrippina
memang selalu berusaha menghindari tanggung jawab dan bersikap seperti anak
nakal yang tidak bisa diperbaiki, tetapi dari waktu singkat kebersamaan kami,
aku tahu beliau menanggapi masalah intelektual dengan sangat serius.
Terlebih lagi,
Imperial College mengajarkan kebijaksanaan tingkat tertinggi di dunia ini.
Aku sendiri
bahkan belum bisa mengklaim telah memulai perjalanan ilmiahku. Apa
gunanya aku meminta sesuatu yang mustahil?
Jika doa tulusku
saja cukup untuk menyelamatkan mereka, ceritanya pasti akan berbeda; namun
kenyataannya tidak. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengembalikan
kesadaran mereka.
Membiarkan mereka
tetap hidup jelas merupakan kejahatan yang lebih besar, karena pada akhirnya
akan ada seseorang, di suatu tempat, yang terluka.
Secara pribadi,
aku tidak bisa membayangkan hal yang lebih hina daripada membiarkan orang lain
menderita akibat kelalaianku sendiri.
Jika aku memang
tidak berdaya menghentikan kekejaman, atau sama sekali tidak menyadari
konsekuensi tindakanku, aku mungkin bisa memaafkan diriku.
Namun, menyadari
kebodohanku sendiri namun tetap menolak bertindak adalah hal yang tidak bisa
dibenarkan. Ini bukan lagi soal apakah aku tega membunuh orang lain; aku hanya
tidak akan kuat menanggung rasa bersalah jika aku pergi begitu saja.
Mungkin suatu
hari nanti akan ditemukan obat untuk overdosis Ichor ini... tapi
basa-basi sok suci seperti itu tidak akan bisa menenangkan keluarga yang
dibantai oleh monster yang kubiarkan berkeliaran bebas.
Jadi, aku
menyerahkan diriku pada kehendakku—atau lebih tepatnya, pada apa yang kuyakini
sebagai tugasku.
Dunia ini
tidak dibangun dari hal-hal yang mutlak. Suatu hari nanti, seseorang mungkin
akan mengembangkan pencegahan atau obat untuk noda daemonik ini.
Namun,
hari ini bukanlah hari itu, dan aku bukanlah orang itu. Yang bisa kulakukan hanyalah meminimalisir jatuh
korban sebisa mungkin.
“Bagus, bagus,”
komentar Agrippina santai. “Kupikir anak seusiamu akan mengabaikan tugas ini
karena perasaan, tapi ternyata kau anak yang cerdas.”
“Hamba senang
menerima pujian Anda,” jawabku.
Wanita ini
benar-benar ahli dalam mempermainkan emosiku.
Sejujurnya, aku
tidak tahu apakah beliau melakukannya dengan sengaja atau tidak.
Jika sengaja, itu
menyebalkan; jika tidak, itu hanya membuat percakapan dengannya menjadi semakin
sulit.
“Sekarang,”
katanya cepat, “waktunya panen.”
Suara jentikan
jarinya yang tajam diikuti oleh pemandangan mengerikan dari tubuh yang meledak.
“Waaaaah!!!”
Kalian mungkin
menganggapku penakut, tapi tolong bayangkan apa yang baru saja kusaksikan.
Tanpa peringatan, semua makhluk yang baru saja kutebas meledak menjadi semburan
darah yang memuakkan. Ini terjadi pada enam tubuh berbeda secara bersamaan.
Suara berderak
dan berdecit yang menyusul kemudian adalah racun bagi telinga dan pikiran, saat
tulang rusuk mereka terbuka lebar untuk memperlihatkan jantung mereka.
Di samping organ
yang kini telah berhenti berdetak itu, tampak kristal hitam yang mengancam di
setiap rongga dada.
“U-Urp! Kenapa?!
Apa yang baru saja Anda lakukan?!”
Bahkan setelah
bertahun-tahun terbiasa dengan pemotongan hewan di peternakan, ini tetap
terlalu mengerikan. Serius, ini bukan lelucon!
“Lihat, inilah
yang kucari,” ucapnya saat keenam kristal itu melayang keluar dari inang
aslinya. “Kaum demonfolk mengumpulkan cairan ketuban di organ yang
terletak tepat di samping jantung.”
Batu-batu
berharga itu berputar-putar di udara, namun yang terpikirkan olehku hanyalah
asal-usul batu tersebut.
Melihat mereka
berkelap-kelip dengan aneh terasa sangat mengganggu, dan aku berdoa agar beliau
segera berhenti memainkannya.
“Kami menyebutnya
Mana Stone. Benda kecil yang sangat luar biasa.”
“Luar biasa
bagaimana?” tanyaku.
“Benda ini
digunakan sebagai bahan baku peralatan bertenaga Mana.”
Ketika
dilebur ke dalam logam, kristal ini meningkatkan konduktivitas magisnya. Jika dipasangkan dengan batu permata yang
tepat, ia meningkatkan kemampuan katalisnya.
Kristal ini juga
berfungsi sebagai baterai untuk menyimpan Mana. Kegunaannya sebanding
dengan harganya, karena para penyihir bersedia menukarnya dengan uang dalam
jumlah besar.
Aku mulai
memahami alasan pragmatis mengapa negara-negara asing menganiaya kaum demonfolk.
Dengan melabeli
mereka sebagai mangsa, kaum tersebut masuk ke dalam roda ekonomi nasional hanya
sebagai sumber daya belaka.
“Dengan
ukuran sebesar ini, hm...” Agrippina merenung. “Aku yakin ini bisa laku seharga
lima Libra per buah.”
“Lima Libra?!”
Maksud
Anda, ada tiga puluh Libra di hadapanku?! Tiga puluh perak?! Apa?! Serius?!
Aku harus menarik
napas dalam-dalam. Ini
adalah sumber pendapatan yang sangat menggiurkan.
Tentu
saja, waras atau tidak, daemon pada umumnya sulit ditundukkan dan haus
darah mereka sangat mengerikan... tapi lima Libra itu sangat banyak.
Mengapa benda ini lebih berharga daripada
nyawa seorang bandit?!
“Oh,
perlu kucatat bahwa itu adalah harga pasar saat aku membelinya. Sebagai
penjual, kau mungkin hanya akan mendapatkan sepuluh hingga dua puluh persen
dari harga tersebut.”
Kegembiraanku
langsung sirna. Seharusnya aku sudah menduga. Jika harga dari pemasok setinggi itu, dunia ini
tidak akan kekurangan petualang.
Sebaliknya, tidak
akan ada yang mengejek petualang karena pilihan karier mereka yang buruk.
Sepuluh hingga
dua puluh persen berarti sekitar lima puluh Assarii hingga satu Libra,
belum lagi jika harus dibagi dengan anggota kelompok lain.
Pada akhirnya,
totalnya hampir sama, atau hanya sedikit lebih menguntungkan daripada bekerja
sebagai buruh harian.
Ah,
tapi berapa besar peluang bertemu daemon sendirian? Hmm, tapi tetap saja...
Aku
menghitung ulang logika keuangan yang buruk itu di dalam kepalaku dan menyadari
bahwa pekerjaan ini sebenarnya tidak sepadan.
Jika
ditimbang dengan nilai nyawaku sendiri, angkanya tidak masuk akal.
Hanya
mereka yang merasa terpanggil atau mereka yang terpikat oleh romansa kehidupan
yang tidak realistis yang sanggup menjalani hidup seperti ini.
“Selain itu,
nilai kristal ini akan turun jika rusak. Padahal, beberapa ras demonfolk
menggunakan Mana Stone sebagai wadah kesadaran tambahan—yang berarti
mereka tetap bisa bergerak meski kepala mereka sudah dipenggal. Terkadang,
menghancurkan gumpalan Ichor padat ini adalah satu-satunya cara untuk
menaklukkan mereka.”
“Wow...”
Aku
merasa sistem ini agak berlebihan. Kau harus memburu daemon kuat untuk
mendapatkan batu kualitas unggul, tapi membunuh inangnya berisiko merusak
produknya—sedangkan membiarkan batunya utuh berarti gagal menghentikan si daemon.
Ini
mengerikan. Siapa yang mengatur keseimbangan dunia ini? Aku ingin
protes.
“Baiklah,” Nona Agrippina memotong lamunanku. Beliau telah
mengamati batu-batu itu layaknya seorang pedagang kawakan, lalu akhirnya
berkata, “Jika kau menjualnya kepadaku, aku tidak keberatan membelinya dengan
harga lima puluh persen dari harga pasar.”
“Hah?!” Apa
katanya? Lima puluh? Lima-nol?! “Totalnya lima belas Libra?!”
“Um, ya? Benar... Ternyata kau pintar matematika.”
Meskipun si Nyonya memangkas separuh harganya, rasanya
sedikit seperti aku sedang dirampok; namun tetap saja, aku mendapatkan nilai
dua setengah kali lipat lebih banyak dibandingkan berdagang secara normal.
Jika aku berurusan dengan pedagang abal-abal, bisa-bisa aku
tidak mendapatkan satu Libra pun per batu. Kami berdua mendapat untung,
jadi aku sangat bersyukur!
Aku langsung menerima tawaran itu tanpa menunda—apa pun demi
biaya sekolah Elisa.
Jika aku bisa terus menghasilkan uang secepat ini, aku tidak
perlu lagi mengabdi bertahun-tahun; aku bisa menutupi biaya hidup dan
sekolahnya sekaligus.
Tiba-tiba semangat membara dalam diriku, namun kembali
disela oleh tuanku.
“Baiklah, sekarang pergilah.”
“Hah?”
Perintahnya yang tiba-tiba membuatku berdiri terpaku dengan
mulut menganga.
[Tips] Mana Stone adalah organ yang ditemukan
pada kaum demonfolk yang mengumpulkan Ichor. Teori yang paling
diterima di Kekaisaran saat ini adalah bahwa batu ini memungkinkan mereka
mempertahankan kualitas genetik yang secara fisik mustahil, serta bertindak
sebagai otak kedua yang mengubah hukum dunia hanya dengan keberadaannya.
Meskipun dianggap bahan penting, ada beberapa wilayah yang menganggap
penggunaan batu ini tidak etis.
◆◇◆
Sekitar satu jam telah berlalu sejak majikanku
memerintahkanku pergi secara tiba-tiba. Kini aku berada di dalam hutan yang
disebutkan tadi, berdiri di depan sebuah rumah besar.
Menurut beliau, daemon bukan tipe yang suka
berkeliaran tanpa tujuan. Mereka secara tidak sadar tertarik ke tempat yang
kaya akan polusi mana dan membentuk koloni di sana.
Tempat tersebut bisa berupa gua tersembunyi, ruang bawah
tanah di pegunungan, atau dalam kasus ini, sebuah rumah besar yang telah lama
ditinggalkan karena kejadian mengerikan.
“Ugh, ternyata benar-benar ada.”
Saat ini, aku berhadapan dengan rumah tersebut dengan
persiapan tempur penuh.
Bangunan dua lantai itu tampak membusuk perlahan, dan
kemegahan masa lalunya kini tertutup oleh keheningan yang mencekam.
Lingkungan sekitarnya pun tidak membantu: tajuk pohon yang
rapat menutupi sinar matahari, menenggelamkan seluruh rumah dalam kegelapan.
Kediaman ini
letaknya jauh dari jalan utama. Melihat danau tenang di belakangnya, aku
berasumsi ini dulunya adalah vila peristirahatan bangsawan yang ingin menjauh
dari hiruk-pikuk kota.
Aku datang ke
sini murni karena saran dari wanita "baik hati" yang kulayani—dengan
kata lain, beliau mengusirku dengan riang, mengatakan ada peluang bagus bagi
orang yang sangat butuh uang sepertiku.
Jika enam daemon
muncul, katanya, pasti ada titik pusat Ichor di dekat sini. Dan beliau
menunjuk ke arah ini. Kalian bisa melihat sendiri hasilnya.
Mungkin aku
harus mengalokasikan poin pada Mana Detection...
Aku menundanya
karena harganya sangat mahal, tapi aku mulai iri membayangkan bisa merasakan
aliran mana secara naluriah; itu pasti sangat berguna dalam pertempuran.
Beruntung bagiku,
sisa poin dari insiden penculikan dulu belum habis, jadi kesempatan itu masih
ada.
Sayangnya, waktu
untuk melamun sudah habis. Nona Agrippina memang tidak memaksaku, aku ke sini
atas kemauanku sendiri.
Semua ini demi
masa depan Elisa. Pelayan biasa akan menghabiskan seumur hidupnya hanya untuk
melunasi utang, jadi aku harus berani mengambil tugas-tugas di luar nalar.
Selain itu, jika
rumah ini penuh dengan mereka yang dulunya adalah manusia, hal manusiawi yang
bisa kulakukan adalah membebaskan mereka dari penderitaan.
Meskipun aku
tidak tahu apa yang ada di pikiran daemon, hidup dalam kekerasan tanpa
henti bukanlah cara hidup yang damai.
Aku menghunus
pedang andalanku dan bersiap melangkah masuk, ketika tiba-tiba kemampuan Presence
Detection milikku membunyikan alarm: Aku sedang diawasi. Mencari sumber
tatapan itu, aku menyadari bahwa itu berasal dari pinggangku sendiri.
Aku memiliki
kantong kecil yang tergantung di ikat pinggang, sejajar dengan sarung pedang,
dan seketika firasat buruk menyergapku.
Kantong itu
berisi mawar hitam yang kuterima dari gadis yang mengaku sebagai svartalf.
Mawar hitam itu
benar-benar misterius. Bunga itu tidak layu, dan kelopaknya bahkan tidak bisa
dipetik apalagi dibedah.
Aku pernah
meninggalkannya di atas meja di salah satu penginapan, tapi entah bagaimana
bunga itu sudah kembali ke dalam kantongku sebelum aku menyadarinya.
Aku ingin
membuang benda terkutuk ini, tapi sayangnya, hubungan kami tidak semudah itu
diputus.
Tentu saja aku
tidak nyaman diawasi oleh sekuntum bunga, terutama saat aku hendak memasuki
rumah tua menyeramkan yang tampak seperti lokasi sempurna untuk dikejar zombi
dan teka-teki tak masuk akal.
Namun, karena
merasa tidak ada gunanya mengabaikan pertanda yang sudah ada, dengan berat hati
aku mencabut mawar itu. Bunganya tidak lagi mekar penuh seperti terakhir kali,
melainkan menyusut menjadi kuncup, meski tetap tampak segar.
Saat aku bersiap
menghadapi apa pun yang akan terjadi, bunga muda itu tiba-tiba mekar.
Kelopaknya
membentang di telapak tanganku seolah baru bangun dari tidur siang. Sosok
mungil duduk di tengah mawar itu: dialah gadis yang kutemui pada malam bulan
merah itu.
“Ya, wahai
Kekasihku? Apa yang sekiranya Anda butuhkan?”
“Hah? Kau ada di
sana selama ini?”
Ukuran si alf
kini kira-kira setinggi ibu jariku. Dia meregangkan punggung dan menyipitkan
mata melihat sinar matahari samar yang menembus celah pepohonan.
“Tidak juga?”
jawabnya, seolah itu hal yang sudah jelas. “Aku hanya menunggu sampai Anda
membutuhkan bantuan hamba.”
“Apa maksudnya?”
tanyaku.
“Manusia
kesulitan melihat dalam kegelapan, bukan?”
Begitu selesai
bicara, dia terbang ke arahku dengan sepasang sayap yang sangat lebar.
Aku tidak
melihatnya saat pertemuan pertama karena sayapnya tersembunyi di balik rambut
panjangnya.
Sayap putih itu
bersinar redup; sangat mirip dengan sayap ngengat bulan.
“Jadi kupikir aku
akan membantumu,” katanya, sambil mengepakkan sayapnya dengan cara yang khas
dan anggun. Saat dia berada tepat di depanku, dia berhenti sejenak untuk
mengecup kelopak mataku.
Seketika, hutan
gelap yang tadinya sulit ditembus oleh pandangan Cat’s Eye milikku
berubah menjadi terang benderang seperti lapangan terbuka.
Segala hal yang
tadinya tersembunyi di balik bayang-bayang dedaunan kini terlihat jelas—aku
bahkan bisa melihat bagian dalam rumah besar yang gelap itu melalui celah
jendela.
“Apa yang
kau—”
“Aku
adalah peri yang terbang tinggi di langit berbintang. Kegelapan setelah senja
adalah waktu yang paling menyenangkan dalam sehari, dan yang kulakukan hanyalah
berbagi sebagian persepsiku denganmu.” Peri kecil yang melayang di hadapanku
itu tersenyum lembut dan menambahkan, “Aku tidak ingin kau terluka.”
Apakah
itu berarti seperti yang kupikirkan? Apakah ini semacam momen "Lebih baik
kau tidak mati sebelum aku sendiri yang menghabisimu"?
“Lagipula,”
lanjutnya, “aku butuh bantuanmu untuk menyelamatkan adikku yang malang.”
“Adik
perempuanmu?”
“Benar.
Aku tidak akan menceritakan detailnya sekarang. Aku punya hadiah untuk anak
laki-laki baik yang bisa melakukan apa yang kuminta,” katanya sambil tertawa.
Kemudian dia menghilang begitu saja, dan mawar hitam itu kembali ke bentuk
semula.
Hrm... Jadi, aku
baru saja menerima sebuah misi? Menerima permintaan dari seseorang yang pernah
mencoba menculikku rasanya agak menakutkan; kalimat "kamu masuk ke dalam
perangkapku" terus terngiang-ngiang di benakku.
Tetap saja,
Nyonya juga menyuruhku masuk ke dalam. Menyelesaikan dua jalur misi (quest)
sekaligus adalah tawaran yang menggiurkan.
“Baiklah! Ayo!”
Aku tidak punya
waktu untuk ragu; aku bersiap sekali lagi dan menyelinap masuk ke dalam rumah
besar itu.
[Tips] Alfar tidak hanya suka berbuat
jahil—mereka juga sering memberikan banyak berkat. Masalahnya, bantuan mereka
biasanya dipaksakan, bukan ditawarkan. Hidup dengan "berkat bermata
dua" adalah nasib yang cukup mengerikan.
◆◇◆
Waktu telah menghapus identitas rumah besar itu: kapan
dibangun dan oleh siapa, detailnya telah hilang selamanya.
Namun itu tidak penting, karena mereka yang berjalan di
lorong-lorongnya saat ini tidak akan peduli.
Karpet yang lusuh, patung-patung indah, dan paviliun yang
dulunya dimaksudkan untuk minum teh sore yang tenang, semuanya tidak berarti
bagi mereka.
Seekor goblin berjalan santai di lorong. Didorong
oleh rutinitas, ia menjelajahi wilayahnya tanpa tujuan yang jelas.
Ego dan moralitas yang dulu menggerakkan makhluk-makhluk ini
telah lenyap, menyisakan hanya kecerdasan dan keterampilan yang ditujukan untuk
mengakhiri hidup orang lain.
Terbebas dari kebutuhan dasar seperti makan dan tidur,
mereka kehilangan keinginan paling fundamental sebagai makhluk hidup. Yang
mengisi raga ini hanyalah kegelapan murni yang tertanam dalam kekejaman.
Mereka melakukan
tindakan kekerasan hebat yang hanya bisa dijelaskan sebagai intrik makhluk
dunia lain. Tak ada lagi garis kemanusiaan yang tersisa di dalam diri mereka.
Beberapa ahli magia
berteori bahwa daemon adalah "sampah dunia" yang dihasilkan
oleh False Moon.
Melihat binatang
buas ini berkeliaran tanpa tujuan sudah lebih dari cukup untuk memahami
bagaimana mereka sampai pada kesimpulan tersebut.
Sama seperti
rumah yang ia tempati, si goblin telah melupakan segalanya tentang
dirinya sendiri. Ia membiarkan instingnya menuntunnya ke dapur seperti biasa.
Dulu, ruangan ini
digunakan untuk menjamu bangsawan dan pengikutnya; namun kini, bau apek dan
busuk memenuhi udara. Si
goblin melewati bangkai hewan malang yang setengah dimakan yang tersesat
di dalam bangunan.
Goblin itu melihat sekeliling. Setelah
memastikan tidak ada yang aneh, dia berbalik ke pintu untuk kembali ke jalan
yang sama.
Dia
berencana berdiri tanpa berpikir di luar ruangan selama beberapa detik lalu
pergi ke ruangan lain, seperti biasa.
Namun,
saat ia mencoba membiarkan alam bawah sadarnya menuntun langkahnya, si goblin
mendapati kakinya tidak mau bergerak.
Karena
penasaran, ia menundukkan kepala—namun kilatan perak yang memantulkan cahaya
remang dari jendela pecah menyambar pandangannya sebelum ia sempat melihat jari
kakinya.
Jika
diberi waktu satu detik lagi, ia mungkin akan bertanya-tanya apa yang terjadi.
Sayangnya, tubuh lemasnya langsung jatuh berlutut, membebaskannya selamanya
dari dorongan gelap yang selama ini menggerakkannya.
[Tips] Berubah menjadi daemon tidak
menyebabkan demonfolk kehilangan kemampuan asli mereka. Dengan kata
lain, kecakapan bertarung mereka hampir tidak terpengaruh.
◆◇◆
Kombinasi antara Stealth dan Backstab selalu
ampuh; satu-satunya kelemahannya adalah kesempatan menggunakannya yang jarang
muncul.
Mencoba bersembunyi di tengah pertempuran sangat tidak
efisien, sehingga biasanya lebih cepat untuk langsung mengangkat senjata.
Aku menggulingkan raga tak bernyawa goblin yang baru
saja kutikam ke sudut ruangan, lalu mendengarkan dengan saksama kalau-kalau ada
tanda-tanda kehadiranku disadari.
Bagus. Untungnya,
semua berjalan lancar. Aku menyelinap lewat pintu belakang dan menggunakan Unseen
Hand untuk mengarahkan pisau ke arah goblin guna melakukan serangan
diam-diam.
Mantra
ini terbentuk dengan sangat baik. Umpan balik taktil dari modifikasi yang
kuambil membuatnya sangat berguna sebagai alat pengintaian, dan pengujianku
terhadap kemampuan menusuk dari belakang dari jarak jauh berjalan mulus.
Tetap
saja, meski aku menghargai penguasaan mantra ini, aku khawatir jika terlalu
bergantung pada satu mantra saja akan membuatku tidak berdaya saat mantra itu
gagal.
Sihir
sederhana bisa diabaikan oleh mereka yang memiliki pertahanan magis, dan yang
satu ini khususnya bisa diganggu secara fisik—dengan kekuatan yang cukup,
seseorang bisa melepaskan cengkeraman Unseen Hand langsung dari leher
mereka.
Aku perlu
mempertimbangkan hal ini dalam proses peningkatanku nanti.
Bagaimanapun,
sekarang bukan waktunya melamun: aku sedang berada di tengah misi yang
melelahkan. Untuk saat ini, aku akan mencurahkan seluruh upaya untuk
menyelesaikan tugas ini dengan metode yang sudah teruji.
Peralatan masak
di rumah besar itu sudah berantakan. Bahkan seorang petualang tidak akan sudi
menjarah pisau berkarat atau panci bocor. Meskipun bisa dijual sebagai besi
tua, hasilnya tidak sebanding dengan kerja keras untuk membawanya keluar.
Aku memutuskan
untuk menunda pengambilan Mana Stone dari makhluk itu nanti dan menuju
kusen pintu kosong yang mengarah kembali ke lorong. Di saat seperti ini, cermin
saku akan sangat membantu pekerjaanku.
Aku menjulurkan
kepala dengan hati-hati dan memanfaatkan berkat dari svartalf untuk
memastikan lorong itu kosong.
Ini adalah sayap
timur rumah—yang simetris dengan sisi barat aula tengah—dan dilihat dari adanya
dapur, sisi ini diperuntukkan bagi para pelayan.
Menurut kiasan
klasik, biasanya kamar atau ruang kerja utama tuan rumah akan menyimpan barang
penting atau menjadi lokasi pertarungan bos...
Namun, tujuanku
hari ini murni untuk membasmi ancaman yang mengintai. Daemon-daemon ini
harus disingkirkan untuk mencegah jatuhnya korban tak bersalah.
Jika kelompok
yang menyerangku tadi berhasil menemukan orang lain, kemungkinan besar akan ada
yang terbunuh.
Aku
berjongkok dan merangkak melewati aula. Kemampuan Perception Block, Silent
Step, dan Stealth yang kupoles selama bertahun-tahun melalui
permainan "rubah dan angsa" tidak boleh diremehkan.
Kau
mungkin menganggapku pecundang karena begitu serius dalam permainan anak-anak,
tapi aku tidak peduli. Bagaimanapun, kemampuan itu sangat berguna sekarang.
Lagipula, ada individu menyimpang tertentu yang selalu mengalahkanku dalam
permainan itu.
Menariknya,
zirahku tidak banyak menghambat gerakan senyapku.
Pandai
besi di Konigstuhl telah melapisi sambungan zirahnya dengan bahan lembut untuk
meredam suara gesekan.
Dia
bilang dia pernah bekerja dengan para petualang dulu, jadi dia punya banyak
pengalaman dalam membuat pesanan khusus untuk operasi rahasia.
Fakta bahwa dia menyertakan fitur ini tanpa
kuminta membuktikan keahliannya yang luar biasa.
Namun,
kalau dipikir-pikir lagi... aku sekarang pada dasarnya adalah seorang pembunuh
bayaran (assassin).
Aku
menyimpan krisis identitas kelas ini di dalam hati—belum lagi kenyataan bahwa
kemampuanku adalah campuran kacau dari berbagai kelas—dan terus bergerak ke
sayap timur, meninggalkan lima mayat di belakangku.
Sebut
saja aku pengecut, tapi memicu alarm di tempat seperti ini adalah cara pasti
untuk memicu pertempuran beruntun.
Tidak
peduli seberapa keras aku berlatih, aku tidak memiliki Stamina untuk
menangkis puluhan musuh sekaligus, aku juga tidak memiliki kemampuan Area-of-Effect
(AoE) untuk menghancurkan gerombolan.
Aku tidak
peduli metodenya monoton; aku tidak ingin mengambil risiko. Lagipula, aku tidak
sedang menyiarkan petualanganku; tidak ada alasan untuk pamer dengan
menghancurkan musuh secara bombastis.
Ketika
musuh sudah dekat, aku menggunakan Unseen Hand untuk membungkam mulut
mereka dan menusuk mereka dari belakang; jika mereka agak jauh, tangan gaibku
akan mencekik mereka sampai mati. Strategi sederhana ini telah mengakhiri hidup
lima goblin tanpa kendala.
Anehnya,
aku tidak menemukan apa pun selain goblin. Dalam latar fantasi, mereka
memang sering dianggap sebagai musuh level pemula, tapi kupikir jumlah mereka
yang banyak di sini lebih dikarenakan tingkat reproduksi mereka yang tinggi.
Namun,
tetap saja misterius bagaimana bisa satu koloni goblin berubah menjadi daemon
secara bersamaan.
Sayangnya,
tidak ada cukup petunjuk untuk memuaskan rasa ingin tahuku.
Aku
menyingkirkan spekulasi itu dan mengumpulkan semua mayat di satu titik
sementara aku terus menjelajah.
Ini bukan
dunia pasca-apokaliptik di mana musuh tidak peduli pada rekannya; jika ada daemon
yang melihat mayat temannya, mereka pasti akan curiga. Plus, aku ingin memanen
semua Mana Stone sekaligus di akhir nanti.
Ngomong-ngomong,
aku belum menemukan barang jarahan (loot) sama sekali. Satu-satunya
"zirah" yang dipakai para daemon ini adalah kain
compang-camping, dan beberapa belati serta pedang patah yang kutemukan sama
sekali tidak layak diambil.
Sisa-sisa
perabotan rumah ini juga sudah hancur dimakan usia. Tampaknya penghuni aslinya
tidak pergi dengan terburu-buru; mereka punya waktu untuk mengemasi barang
berharga.
Aku benar-benar
berharap musuh-musuh ini akan menjatuhkan koin emas seperti di video gim, tapi
itu terlalu muluk.
Aku menyelesaikan
penyelidikan di sayap timur tanpa menemukan jurnal misterius atau pesan tragis
apa pun. Setelah selesai, aku melewati aula tengah dan langsung menuju sayap
barat.
Secara pribadi,
aku tipe orang yang suka menjelajahi ruang bawah tanah dari pinggiran—menyimpan
ruang bos untuk terakhir. Aula tengah kemungkinan besar adalah area penerima
tamu dan ruang makan, tempat yang sempurna untuk pertempuran final.
Tiba-tiba, sebuah
kenangan terlintas. Dulu aku pernah bermain dengan kelompok karakter jahat
dalam kampanye yang dipandu oleh GM yang suka dengan gaya bermain hack-and-slash.
Pembantaian yang
kami lakukan saat itu mirip dengan penyerangan tengah malam seperti sekarang.
Menurutku, mereka
yang membiarkan bos musuh menyelesaikan pidatonya adalah pemain kelas dua;
seorang munchkin sejati tidak akan memberi mereka kesempatan bicara.
Kegelapan, tabir
asap, dan enam tusukan dari belakang akan menjatuhkan bos dalam sekejap tanpa
suara. Aku ingat betul bagaimana GM itu mulai menggunakan banyak Golem
yang tidak butuh tidur setelah kejadian itu.
Sayap barat
tampaknya adalah area tempat tinggal pribadi keluarga bangsawan pemilik vila
ini.
Meski
terbengkalai, kemewahan yang dulu ada masih terasa. Karpet-karpet indah kini
telah berubah menjadi lapisan debu dan tanah, namun sekilas saja sudah terlihat
bahwa dulu ini adalah lantai yang sangat berkelas.
Di era di mana
karpet sangat mahal, lantai ini jelas merupakan simbol status tinggi.
Tentu saja, para daemon
tidak tahu nilai barang-barang ini. Aku menemukan satu daemon
berkeliaran di aula, dan aku belum pernah melihat jenis seperti dia.
Makhluk yang
tampak seperti anjing yang berdiri dengan dua kaki itu ternyata adalah sosok Cynocephalus.
Aku pernah
membaca bahwa ras ini bisa diklasifikasikan sebagai Kobold atau Gnoll
tergantung struktur wajahnya, tapi ilustrasi di buku itu terlalu abstrak
sehingga aku tidak tahu pasti mana yang sedang kuhadapi.
Apapun jenisnya,
tingginya yang mencapai 190 sentimeter membuatku gentar.
Menghadapi
perpaduan kecerdasan manusia dan fisik buas dengan tubuh anak-anakku bukanlah
hal yang kuinginkan. Pertarungan jarak dekat secara langsung sudah pasti
mustahil.
Saat aku
mengamatinya, dia tiba-tiba mengarahkan moncongnya ke arahku—lubang hidungnya
yang hitam bergerak-gerak di udara.
Gawat. Apa dia
mencium bauku?!
Aku segera
merapal mantra untuk mengendalikan tali tambang yang kutemukan tadi.
Tali itu dalam
kondisi yang cukup baik dan tidak akan putus meski ditarik dengan Unseen
Hand. Tali itu menerjang si Cynocephalus seperti ular yang marah dan
melilit lehernya.
Tubuh manusia
anjing itu sangat mengesankan—terutama lehernya yang berotot.
Menggunakan
seluruh Mana untuk Steadfast Arm hanya memberiku kekuatan
beberapa kali lipat dari tenaga anak kecil, karena itu aku butuh bantuan alat
untuk meningkatkan daya cekikku.
Tali tambang itu
berderit saat menjerat tenggorokan daemon.
Tali itu menekan
dagingnya hingga ia tidak punya celah untuk melepaskannya; cakarnya yang tajam
justru hanya melukai lehernya sendiri saat mencoba menarik tali itu.
Setelah hampir
satu menit meronta, mata si Cynocephalus terbalik ke belakang dan
tenaganya hilang sepenuhnya.
Aku menghela
napas lega. Dengan bantuan tali, aku menyeret bangkainya yang sangat berat ke
sudut tersembunyi.
Pemeriksaan
singkat menunjukkan bahwa lehernya dilindungi oleh surai bulu yang sangat
tebal. Bulu itu jauh lebih kuat dari perkiraan, berfungsi seperti pelindung
yang meredam benturan dan gigitan.
Dengan
perlindungan alami seperti itu, aku mungkin tidak akan sanggup mencekiknya
hanya dengan tangan gaibku. Itu tadi sangat berisiko—jika dia sempat berteriak
minta tolong, tamatlah riwayatku.
Aku memantapkan
tekad untuk lebih teliti mengamati musuh. Kenangan akan kekalahan telak akibat
persiapan yang buruk kembali terlintas sebagai pengingat.
Karena ukuran
ruangan yang kecil, aku berhasil membersihkan sayap barat tanpa harus
menghadapi dua musuh sekaligus.
Aku akui ini
adalah cara menjelajahi ruang bawah tanah yang paling membosankan, tapi tanpa
ada kemampuan untuk hidup kembali, nyawaku adalah aset paling berharga.
Aku masih harus
membayar biaya sekolah Elisa dan pergi bertualang bersama Margit. Aku tidak
punya waktu untuk mati konyol.
Sayangnya, di
sayap barat ini pun aku tidak menemukan harta karun—tapi aku menemukan sesuatu
yang lebih penting.
Ada ruang kerja
yang penuh rak buku di samping kamar tidur utama, tapi penempatan dua rak
bukunya terasa ganjil. Saat kulihat lagi dari lorong, aku merasa jarak antar
pintu tidak sesuai.
Berdasarkan
perkiraan lebarnya, seharusnya ada sisa ruang seluas satu ruangan di antara
kamar-kamar itu... Dan saat aku masuk kembali untuk mengetuk rak buku besar di
ruang kerja, aku mendengar suara bergema dari baliknya.
Ya! Ini adalah
kiasan klasik: Ruang Rahasia!
Dengan
girang, aku mendorong rak tersebut, membuatnya bergeser dengan suara berat.
Di
lantai, aku melihat jalur rel yang memungkinkan rak besar itu digeser tanpa
tenaga berlebih. Meski sudah bertahun-tahun tidak diberi pelumas, dorongan yang
cukup sudah bisa membukanya.
Begitu
rak itu tergeser sepenuhnya, aku menemukan diriku di sebuah ruangan rahasia.
Karena
tidak ada jendela, bau menyengat langsung menusuk hidung: campuran debu dan
bahan kimia yang berbau asam. Mungkin ini adalah sebuah laboratorium.
Ada rak
lain yang penuh buku-bua lembap dan meja kecil berisi gulungan perkamen yang
sudah rusak.
Meja
kerja yang lebih besar dipenuhi peralatan seperti tungku peleburan, penyuling
air, dan lainnya.
Di antara
tumpukan kaca yang rapuh dan kayu yang rusak, beberapa peralatan logam tampak
masih dalam kondisi baik.
Apa-apaan
ini?
Ruangan
ini tampak seperti laboratorium alkemis, tapi aku tidak bisa membayangkan
alasan bangsawan pemilik rumah ini memilikinya.
Aku
mencoba memeriksa botol obat dari lemari, tapi labelnya sudah tidak terbaca.
Namun,
warna hijau neon yang mencurigakan di dalam botol-botol ini jelas tidak normal.
Aku bisa merasakan sisa-sisa aliran sihir, jadi ramuan ini pasti telah dicampur
dengan Mana.
Aku mulai
merasa tidak enak. Sepertinya para daemon ini tidak berkumpul di sini
secara kebetulan.
Mereka
mungkin tertarik ke sini karena sesuatu; tidak ada bangsawan waras yang
butuh peralatan mencurigakan sebanyak ini.
Meski
begitu, barang-barang di sini mungkin laku dijual, jadi aku berencana
membawanya nanti.
Namun,
memindahkan semua peralatan gelas yang mudah pecah ini akan sangat merepotkan.
Saat aku berkeliling memeriksa hasil jarahanku, sebuah sangkar yang tergantung
di sudut ruangan menarik perhatianku.
Sangkar itu
dihiasi pola rumit dengan jeruji halus, sepertinya untuk menyimpan serangga
kecil. Namun, sosok seukuran telapak tangan di dalamnya bukanlah
serangga—melainkan seorang gadis kecil.
Mengenakan gaun
hijau dari rumput segar dengan sayap serangga di punggungnya, gadis itu
benar-benar mirip peri.
Bahkan,
sosok yang tengah tertidur lelap itu tampak sangat mirip dengan si pemberi
misi, si svartalf.
Jadi ini
yang dia maksud dengan "adik yang malang".
Pikiranku
terdistraksi oleh gerakan di pinggangku. Aku melihat si svartalf mungil
sedang berusaha keluar dari kantongku.
Dia tampak
kesulitan, jadi aku membuka penutup kulitnya, dan dia terbang keluar lalu
mendarat di tanganku.
“Terima kasih,
Kekasihku,” ucapnya dengan senyum tipis. “Anda sungguh baik hati.”
“Sama-sama,”
kataku. “Ngomong-ngomong, apakah gadis ini yang kau maksud?”
“Memang benar. Sylphid
ini telah terperangkap di puri terkutuk ini sebagai objek penelitian—dan dia
adalah salah satu saudari malang yang kuminta kau selamatkan.”
Secara perlahan, svartalf
mengungkap sejarah kelam perkebunan ini.
Rupanya, vila di
tepi danau ini dimiliki oleh pasangan bangsawan yang cukup berpengaruh hingga
beberapa dekade lalu.
Tuan dan nyonya
muda itu sangat saling mencintai, hingga akhirnya bukti cinta mereka bersemayam
di rahim istri.
Nasib buruk
menimpa ketika ibu meninggal dunia tak lama setelah melahirkan. ayah
mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada putri yang tersisa, memenuhi semua
keinginannya.
Namun suatu hari,
gadis kecil itu mulai bisa melayang di udara dan berbicara dengan sosok yang
tidak terlihat.
Anak perempuan
itu ternyata adalah changeling (anak yang ditukar oleh peri).
Karena tidak
sanggup menerima kenyataan, lelaki itu kehilangan akal sehatnya.
Ia mulai
bertanya-tanya: apakah komplikasi yang membunuh istrinya adalah ulah anak palsu
ini?
Keraguan tersebut
menutup pintu hatinya.
Kegilaan berubah
menjadi amarah. Lelaki itu memenjarakan putrinya sendiri dan mulai mencari cara
untuk mendapatkan kembali anaknya yang asli.
Ia mengumpulkan
berbagai risalah, memanggil para praktisi magia, dan menjelajahi setiap
kemungkinan penelitian. Tanpa memedulikan biaya, ia bahkan membeli sangkar yang
mampu menjebak makhluk paling tak kasat mata sekalipun.
Sayangnya, putri
yang dicarinya tidak pernah ada. Makhluk gaib itu tidak pernah mencuri anaknya.
Akhirnya, pria
itu bangkrut. Hartanya habis, keluarganya muak, dan para pengikutnya pergi.
Kerabat
terdekatnya tidak bisa memaafkan tindakannya, dan pemborosan harta besarnya
akhirnya dijatuhi hukuman oleh otoritas hukum Rhinian—sementara peri tetap
terkurung di sana.
Konon, hukuman
mati bagi lelaki itu dilakukan oleh kerabatnya sendiri.
Mereka datang
untuk menyita barang-barangnya, namun tidak pernah menyadari adanya
laboratorium tersembunyi di balik tembok.
Peri yang ditahan
di sana hanya bisa meratapi kesialannya dalam kegelapan.
Mendengar
kisah itu, hatiku terasa sesak. Aku bisa merasakan rasa perih di perutku. Syukurlah Dewi Elisa tidak berakhir tragis
seperti ini.
“Sekarang,
bebaskan dia, jika Anda berkenan.”
“Tentu saja. Biar
kucari kuncinya...”
Saat aku
menemukannya, pengikatnya terasa sangat rapuh. Meskipun bentuknya seperti kotak
harta karun mainan, itu sudah cukup untuk memerangkap peri kecil yang lengannya
hanya seukuran ranting.
Aku menusukkan
pisau ke mekanismenya; satu putaran saja sudah cukup untuk melepaskan ikatan
yang telah bertahan selama puluhan tahun.
“Terima kasih.
Sesuai dugaanku,” kata si svartalf.
Ia mengepakkan
sayapnya dengan anggun dan menyelinap ke dalam kandang segera setelah aku
membuka pintunya.
Sambil
mengguncang temannya yang tertidur, ia berseru, “Hei, ayo bangun!”
“Mmmaaah... Ngantukkkkk.”
“Aku tahu udara
diam ini menguras tenagamu, tapi kuatkan dirimu! Ayo, bangun!”
“Hmm? Siapa?”
Menyaksikan kedua
peri itu memerankan sandiwara komedi pagi hari membuat suasana sentimental tadi
lenyap seketika.
Pasti ada cara
yang lebih anggun untuk membangunkan seseorang yang telah dipenjara selama
puluhan tahun.
“Aduh... Selamat pagi.”
“Jangan panggil aku 'Pagi'!” tegur svartalf. “Apa kau tertidur selama ini?”
“Mhm...
Aku tidak bisa pergi. Lagipula,
Lottie suka tidur siang!”
Peri baru itu,
dengan senyum cerahnya, adalah perwujudan angin musim semi yang malas.
Melihatnya begitu
ceria membuatku merasa dia akan tetap bahagia entah aku datang menyelamatkannya
atau tidak. Aku merasa bodoh telah berusaha begitu keras.
“Oh! Manis
sekali!”
Si sylphid
mengabaikan omelan temannya dan terbang keluar dari kandang—ia jelas tidak
menyadari betapa berharganya kebebasan yang baru ia dapatkan—lalu hinggap di
rambutku.
Ketidaksiapanku
menghadapi sikapnya membuatku tertegun dengan mulut menganga.
“Emas! Lembut!
Enak!”
“Tunggu, itu
tidak adil! Aku bahkan belum sempat melakukan itu!”
Aku memang sudah
melepas helm untuk memperluas pandangan, tetapi itu bukan undangan bagi siapa
pun untuk menjadikan rambutku sebagai seprai baru.
Hei, aduh?!
Jangan gulat di atas kepalaku!
Melihat helai
rambutku berguguran akibat perkelahian mereka, suasana hatiku langsung anjlok.
[Tips] Sebagai entitas spiritual, alfar dan
roh memiliki persepsi waktu yang samar. Hanya individu paling luar biasa di jenisnya yang bisa menghitung bulan
dan tahun secara akurat. Akibatnya, tamu yang mengunjungi alam peri bisa
mendapati dunia luar sudah berganti abad saat mereka kembali.
◆◇◆
Tokoh
kartun masa kecilku sering dihukum dengan dipukul di pelipisnya. Aku tidak
menyangka akan melihatnya langsung—apalagi dilakukan oleh dua peri seukuran
boneka yang menggemaskan.
“Waaaah!
Aduh...”
“Itu
akibatnya kalau kau langsung bermain sebelum berterima kasih!”
“Tapi dia
imut...”
svartalf tidak peduli dengan air mata si sylphid,
dan tatapan tajamnya segera membuat si sylphid diam.
“Mm, ehm,” kata svartalf.
“Izinkan aku berterima kasih sekali lagi, Wahai Kekasihku.”
“Ya, tentu saja...” Meskipun dia berusaha membangun suasana
serius, otakku masih memikirkan keributan memalukan barusan.
“Sekarang, sudah
waktunya kau menerima hadiahmu. Aku menawarkan dua pilihan.”
Peri itu
mengacungkan dua jari, lalu melipat satu jari hingga hanya telunjuknya yang
terentang. Suaranya yang merdu menggelitik gendang telingaku.
Anehnya, dia
tampak berwibawa seperti saat malam pertama kami bertemu—sayang citra itu sudah
rusak oleh lelucon tadi.
“Pilihan pertama
adalah membiarkanmu menyimpan berkatku selamanya. Mystic Eyes itu dapat
melihat dalam kegelapan dan menemukan inti dari sihir itu sendiri.”
“Inti dari
sihir?”
Dari informasi
singkat ini, jelas dia memberiku lebih dari sekadar penglihatan malam. Dia
berbagi persepsinya denganku.
Aku sempat
mengira hadiahnya mirip kemampuan Darkvision (versi lebih kuat dari Cat
Eyes-ku), tetapi Darkvision biasanya masih butuh sedikit cahaya.
Sangat luar biasa betapa jelasnya aku bisa melihat di laboratorium tanpa
jendela ini.
Namun, pertanyaan
sebenarnya adalah soal "esensi sihir."
“Aku dengar
penyihir manusia yang paling terampil pun memerlukan banyak upaya untuk melihat
aliran sihir,” kata si peri malam sambil terkekeh. “Dengan mata seorang alf,
struktur, koneksi, rumus, dan anomali sihir semuanya akan terpampang jelas.”
Kedengarannya
hebat, tapi... aku tidak ingin melihat lebih dari yang sanggup kutanggung.
Sebagai penggemar TRPG, aku suka fantasi, tapi beberapa sistem favoritku
memiliki unsur horor kosmik di mana pengetahuan berlebih justru merusak
kewarasan pemain.
Aku teringat satu
pelajaran: pengetahuan yang melampaui kapasitas manusia hanya akan membawa
kehancuran. Mata Alf mungkin akan memperlihatkan hal-hal yang seharusnya
tetap tersembunyi.
Jika egoku yang
rapuh ini melihat realitas yang terpelintir di luar nalar manusia, jiwaku bisa
lenyap. Tikus di balik dinding, bisikan dari negeri mimpi—terlalu banyak kisah
tentang orang yang melihat hal yang tak seharusnya dilihat dan berakhir tragis.
Mengetahui
rahasia akar segala sihir mungkin adalah beban yang terlalu berat untukku.
“Pilihan kedua,”
lanjut svartalf, “adalah sepasang bibir khusus. Dengan ini, aku akan
mendengarmu memanggil namaku di mana pun kau berada.”
“Apa maksudnya—”
“Artinya, aku
akan mendengarkan permintaanmu, asalkan tidak terlalu berlebihan.”
Apakah aku
akan menjadi penjinak peri?
Namun dari
kalimatnya, sepertinya dia tetap memegang kendali dan hanya akan membantu jika
suasana hatinya bagus—mirip dengan keajaiban dalam kategori Faith di
lembar kemampuanku.
Meski tidak
sepenuhnya bisa diandalkan, risiko pilihan ini jauh lebih kecil. Setelah
menimbang sebentar, aku akhirnya memilih hadiah kedua.
Lagipula, aku
tidak berencana menghabiskan hidupku dengan berbicara pada dinding kosong.
“Aku pilih yang
kedua,” kataku.
“Benarkah? Kalau
begitu, ambillah.”
Gerakannya masih
terlalu cepat untuk diikuti mataku. Dia mematuk bibirku sebelum aku sempat bereaksi.
Gambaran
peri kecil mencium pahlawan mungkin terdengar seperti dongeng, tetapi kenyataan
bahwa aku memakai zirah lengkap dengan pedang terhunus merusak estetika
tersebut.
Ciuman
itu hanya sesaat. Dia menjilati bibirku yang pecah-pecah saat menjauh,
menertawakan wajahku yang melongo.
Kenapa semua
ciuman yang kudapat selalu seperti ini?
Melihatnya
terkekeh, aku merasa kata-kataku tadi mungkin disalahpahami. Kedengarannya
seolah aku yang memohon dicium. Wajahku sekarang pasti merah padam.
“Maksudku, aku
ingin hadiah kedua,” aku mencoba mengklarifikasi.
“Oh, aku tahu—aku
baru saja memberikannya padamu. Panggil aku kapan pun aku punya kekuatan, dan
aku akan datang. Aku jarang memberitahukan namaku pada orang lain, tapi
untukmu, akan kuberi tahu.” Dia mencondongkan tubuh ke telingaku dan
membisikkan sebuah nama yang langsung terukir di benakku: “Ursula.”
Dengan sedikit
malu-malu, Ursula svartalf duduk di bahuku.
“Biar kubantu
sekarang juga,” katanya. “Masih banyak pertempuran yang harus—”
“Tidak
adil!”
“Hngh?!”
Sayangnya,
tingkat kekacauan hari ini sepertinya sedang tinggi. Tidak ada yang berjalan
sesuai rencana. Setiap kali aku mencoba melakukan aksi yang keren, semuanya
berantakan.
Terkadang,
dadu memang tidak berpihak padamu. Jika itu terjadi, yang bisa kau lakukan
hanyalah menyerah dan ikut dalam kekacauan tersebut.
Si sylphid
yang tadi hanya menonton tiba-tiba menyeruduk perut Ursula dengan kepalanya.
Ursula
terjatuh ke lantai dengan suara geraman, dan kedua peri itu pun melanjutkan
perkelahian mereka di tanah yang berdebu.
“Tidak
adil, tidak adil, tidak adil! Lottie juga ingin ikut!”
“Tunggu, aduh,
sakit sekali! Berhenti! Aku yang menemukannya duluan!”
Aku bingung harus
menghentikan mereka atau membiarkannya saja. Aku menatap langit-langit untuk
melarikan diri dari kenyataan bahwa dua makhluk mungil yang sedang bergulat ini
sebenarnya punya kekuatan untuk meratakan rumah ini menjadi debu. Langit-langitnya
jelek sekali...
[Tips] Alfar yang memahami konsep
individualitas dikenal sebagai yang terkuat di jenisnya. Kekuatan mereka jauh
melampaui peri standar, dan mereka ditakdirkan untuk menjadi raja atau ratu.
◆◇◆
“Umm, aku ingin
berterima kasih, oke? Jadi... Lottie punya hadiah.”
Sikap peri angin
yang blak-blakan ini sedikit mengingatkanku pada Elisa. Aku terkesan bahwa
meskipun baru saja bergulat di lantai kotor, tidak ada setitik debu pun yang
menempel padanya.
“Tentu, apa yang
ingin kau berikan?” tanyaku.
“Umm, yang
pertama adalah nama Lottie.”
Yah, aku sudah menduga yang itu.
“Dan yang
satunya lagi... um? Mmm...
Oh, aku tahu!” Setelah jeda lama, dia mulai merogoh tubuhnya. “Ratu bilang anak
laki-laki suka senjata. Um, oh! Ini dia!”
Lottie(?) sylphid
melingkarkan lengannya ke punggung dan mengeluarkan sebuah senjata mengerikan
yang jelas-jelas ukurannya terlalu besar untuk disembunyikan di balik tubuh
mungilnya.
Benda apa itu?
Pisau yang
berlubang?
Ujung gagangnya
memiliki cincin kosong yang cukup untuk dimasuki satu jari.
Pegangannya
dibentuk sedemikian rupa agar pas di genggaman, sementara bentuk bilahnya
melengkung tajam, sangat mirip dengan alat pembuka kaleng.
Aku merasa pernah
melihat ini sebelumnya. Mungkin
di film—tidak, mungkin di buku panduan militer?
Ayolah,
aku sudah menghabiskan banyak poin untuk stat Memory. Berpikir, otak,
berpikir!
Oh!
Akhirnya aku ingat namanya: Karambit. Aku pernah mendengar bahwa asalnya
adalah alat pertanian dari Indonesia, tetapi karena kegunaannya sebagai bilah
tersembunyi, senjata ini menjadi pilihan favorit bagi para petarung jarak
dekat.
“Hei, hei,
tahukah kau?” tanya si sylphid. “Pisau ini seperti sayap kami. Hanya alfar dan orang-orang
yang kami izinkan yang bisa melihatnya. Dan, ummmm? Pisau ini hanya bisa
memotong daging.”
“Maksudmu
pisau steak?” celetukku tanpa sengaja.
“Maksudnya,”
sela Ursula dengan nada jengkel, “adalah bilah itu tidak bisa dihentikan oleh
logam kasar.”
Apa?! Senjata
ini mengabaikan pertahanan armor?! Ini benar-benar senjata tingkat dewa!
Meskipun
bentuknya yang unik dan jangkauannya yang pendek membutuhkan waktu untuk
pembiasaan, kemampuan untuk mengabaikan Armor Class (AC) musuh
benar-benar sepadan dengan usahanya.
Fakta
bahwa senjata ini bisa menangkis tapi tidak bisa ditangkis adalah keuntungan
yang luar biasa.
“Pisaunya,
tolong!” kataku dengan antusias.
“Apaaa?!” Dia
melemparkan—bagaimana mungkin dia tega?!—pisau itu begitu saja, lalu
menggunakan tangan mungilnya untuk mencengkeram kerah bajuku. “Kenapa kenapa
kenapa?! Tapi kau menanyakan nama Ursula! Kenapa kau tidak bertanya pada
Lottie?!”
“Hah?” kataku
gagap. “Uh, yah... pisau itu kelihatannya sangat kuat.”
“Pikirkan
baik-baik apa yang akan kau tawarkan sebagai gantinya, ya?” sindir Ursula.
Sekarang aku
akui, baik aku maupun Ursula punya sisi buruk: aku menyerah pada keserakahan
akan peralatan kuat, dan dia hampir saja mengakui telah memberiku tawaran licik
yang dia tahu akan kutolak.
Namun, ada yang
aneh dengan keinginan Lottie untuk memberiku sesuatu yang begitu kuat.
Slot tangan
kiriku masih kosong, dan aku masih bisa bertarung menggunakan pisau seperti
ini, jadi kurasa aku tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas sifat rakusku ini.
“Um! Ummm! Oh,
aku tahu!” Dalam sebuah pencerahan mendadak, si sylphid dengan cekatan
memanggil hembusan angin untuk mengumpulkan debu di ruangan dan menutupi pisau
tersebut. “Ah. Oh tidak. Ups. Aku kehilangannya!”
Setelah
menyelesaikan monolognya yang datar, dia melirik ke arahku dengan penuh harap.
Aku
bertanya-tanya bagaimana reaksinya jika aku meminta senjata lain.
Rasa ingin tahu
hampir menguasaiku, tapi itu terasa terlalu kejam untuk dilakukan pada peri
sekecil dia.
Konflik batin ini
berlangsung sedikit lebih lama dari yang kuinginkan, tapi akhirnya aku bertanya
kepada si peri angin tentang namanya.
Lagipula, cerita
rakyat selama berabad-abad mengajarkan bahwa mereka yang menindas makhluk gaib
pasti akan menemui akhir yang mengerikan.
Senyum gadis itu
bersinar lebih terang dari matahari saat dia membusungkan dadanya dengan
bangga. “Nama Lottie adalah Charlotte! Ayo kita main yang banyak!”
“Uh, ya, tentu
saja,” kataku, merasa sedikit lelah. Aku menjulurkan jari telunjuk untuk
berjabat tangan, menyadari bahwa Lottie hanyalah nama panggilan. “Halo...
Lottie? Ada sesuatu yang ingin
kutanyakan padamu.”
“Mm? Ada apa,
Sayang?”
Oh, jadi
kalian berdua akan memanggilku seperti itu?
Aku yakin jika
mereka menulis namaku, mereka pasti akan membubuhkan tanda hati di atas huruf
"i". Mengesampingkan hal itu, aku menunjuk ke tumpukan debu dan
bertanya apakah aku boleh mengambil apa yang ada di bawahnya.
Setelah
merenung sejenak, dia berseru, “Entahlah! Lottie lupa!” dan memutuskan untuk pura-pura tidak
tahu.
Jadi... ini
berarti aku boleh memilikinya?
Aku agak khawatir
suatu hari nanti akan ada alf yang berwibawa yang marah besar padaku,
tapi jika Lottie sendiri tidak keberatan, aku tidak akan menolaknya.
Aku
mengambil senjata dewa itu dan membersihkan debunya dengan hati-hati.
Begitu
menggenggamnya, aku yakin senjata ini terbuat dari material sayap peri:
warnanya kehijauan dan jauh lebih ringan dari dugaanku.
Aku
menggali ingatanku bahwa karambit biasanya dipegang dengan posisi terbalik (reverse
grip) dengan jari telunjuk masuk ke dalam cincinnya.
Dengan
pegangan ini, taktik utamaku adalah menghindari serangan dan menggunakan celah
untuk menusuk atau menyayat musuh saat aku lewat.
Aku butuh waktu
untuk menyesuaikan diri, tetapi potensi kerusakannya akan meroket.
“Ngomong-ngomong,
apa yang bisa kalian berdua lakukan?”
Belati hebat
memang bagus, tapi imbalan sebenarnya adalah kerja sama mereka. Peri yang mengendalikan angin dan
malam terdengar seperti rekan yang sangat praktis.
“Baiklah,”
kata Ursula, “dengan matahari yang sudah terbit dan bulan yang masih jauh dari
purnama, aku tidak bisa melakukan sesuatu yang terlalu megah. Namun, aku bisa
menyembunyikan keberadaanmu dari mereka yang ingin menyakitimu, atau merampas
penglihatan mereka untuk sementara waktu.”
“Umm,” kata
Lottie, “tempatnya sempit, jadi aku tidak bisa melakukan yang terbaik... Tapi
Lottie bisa mencari tahu berapa banyak yang masih bernapas!”
Menarik. Kekuatan
cadangan periku tampaknya berfluktuasi seiring fase False Moon.
Namun, kemampuan
menyembunyikan keberadaan (Presence Suppression) adalah keuntungan besar
dalam pertempuran jarak dekat, dan mengetahui jumlah musuh sebelum bertarung
adalah hal yang sangat vital.
Aku segera
meminta Lottie untuk menggunakan kemampuannya.
Dia tampak sangat
gembira karena diandalkan dan mulai berputar-putar, menghisap udara hingga
membentuk tornado kecil.
“Ugh?! Blagh!”
Aku terbatuk hebat.
“Hentikan!”
perintah Ursula. “Lihat sekelilingmu! Berbahaya melakukan ini di ruangan yang
penuh debu!”
Tentu saja,
siklon Lottie telah mengaduk puing dan debu yang terkumpul selama puluhan
tahun, menghantam paru-paruku hingga memberikan critical damage.
Senang melihatnya
bersemangat, tapi aku berdoa agar dia lebih tenang lain kali. Alfar
mungkin tahan, tapi paru-paru manusiaku ini sangat rapuh.
“Ah! M-Maaf... Tapi Lottie sudah menghitung! Lima! Lima napas!”
Lottie melapor
setelah aku berhenti batuk-batuk. Rupanya, dia telah memetakan seluruh rumah
besar ini hanya dalam beberapa detik badai tadi.
“Umm, ada tiga
anjing kecil berwarna hijau, satu anjing besar berwarna biru, dan satu lagi
anjing besar berwarna biru!”
Jika aku tidak
salah mengartikan kodenya: makhluk hijau kecil adalah Goblin, anjing
kecil adalah Cynocephalus, dan makhluk biru besar kemungkinan adalah Ogre.
Aku sudah biasa
dengan dua yang pertama, tapi Ogre akan membuat pertarungan menjadi
sangat sulit. Mereka kuat, tangguh, dan bukan tipe yang ingin kuhadapi secara
frontal.
Tunggu
sebentar. Sekarang aku punya rekan yang bisa melindungiku. Mungkin aku harus mencoba melawannya?
Kelemahan
terbesarku saat ini adalah kurangnya pengalaman. Meskipun punya kekuatan besar,
aku masih "hijau".
Mengingat aku
punya bantuan kali ini, ini adalah kesempatan bagus untuk membiasakan diri
dengan pertarungan hidup dan mati.
Aku pernah
menjalani kehidupan yang damai sebelumnya, lahir di negara tanpa perang, dan
punya hak istimewa untuk tidak pernah berkelahi.
Namun,
aku tahu jalan di depanku penuh dengan konflik. Sensitivitasku yang manja ini akan membawa bencana
jika tidak diasah.
Aku tidak bisa
terus bersembunyi di zona nyaman: aku harus belajar hidup di tengah
pertempuran.
Kedua alfar
itu memperhatikanku yang sedang merenung. Aku membuka mulut untuk meminta
bantuan mereka, memantapkan tekadku.
[Tips] Anak-anak manis berambut emas dan bermata biru mungkin akan terbebani dengan sifat Alfish Favor. Mereka menjadi magnet peri tanpa mereka inginkan dan bisa memperoleh kekuatan besar dari interaksi tersebut. Namun, kasih sayang seorang alf melampaui pemahaman manusia. Salah satu langkah saja, dan nasibmu bisa berubah drastis...
Akhir Musim Semi,
Usia Dua Belas — Bagian 2
Pertemuan
Monster Pengembara
Skenario
pertempuran kecil dan semi-acak yang sering muncul dalam TRPG dengan penekanan
pada mekanisme pertempuran. Hal ini dapat meningkatkan taruhan pada pertempuran
terakhir dengan menghabiskan sumber daya, menambah rasa urgensi pada kampanye,
atau bertindak sebagai katalisator untuk poin plot utama.
Namun,
menghabiskan terlalu banyak waktu di sini dapat menyebabkan sesi kehabisan
tenaga menjelang klimaks. Ini berfungsi sebagai ujian bagi persiapan GM dan
kecakapan para pemain.
◆◇◆
Aku suka
kemudahan. Dulu, keinginanku akan hal-hal baru dan kemudahan berbelanja daring
membuat keserakahan mudah menguasai akal sehatku.
Namun,
sekarang aku harus mempertanyakan apakah aku sedang memanjakan diri sendiri
lebih dari sebelumnya.
"Alfar
itu benar-benar mengerikan..."
Berhadapan
dengan empat mayat daemon di ruang tahanan yang diperuntukkan bagi para
pelayan di sayap ruang makan utama, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain
gemetar melihat kebrutalan Racial Skill yang unik itu.
Beberapa
saat yang lalu, Lottie membawaku ke sini dan memberitahuku bahwa ada empat daemon
di dalam—yang membuatku sontak berteriak, "Ugh...". Kalau saja ini bukan dunia fantasi, aku
pasti sudah meminta granat.
Melawan empat
lawan sekaligus sendirian itu sangat melelahkan. Ini bukan lagi masalah menang
atau kalah; terlepas dari hasilnya, membayangkan staminaku yang berharga
terkuras habis saja sudah membuatku putus asa.
Sejujurnya, aku
cukup percaya diri—aku berhasil menghadapi enam daemon sekaligus sebelum
menginjakkan kaki di gedung ini—tetapi aku merasa terlalu mengandalkan serangan
Backstab jarak jauhku.
Meskipun secara
fisik aku belum kelelahan, cadangan Mana milikku mulai menipis; aku
telah mengerahkan banyak tenaga untuk memperkuat mantraku.
Aku menyadari
bahwa sebagian energi mentalku yang biasa telah hilang. Jika seperti ini
rasanya menggunakan sekitar setengah dari Mana milikku, maka aku hampir
dipastikan akan pingsan jika menghabiskan semuanya.
Rupanya, aku
tidak dilahirkan di dunia di mana seseorang dapat memeras setiap poin HP
dan MP tanpa konsekuensi apa pun.
Para desainer
dunia ini jelas tidak mengikuti nasihat lama bahwa ada titik di mana simulasi
yang terlalu nyata justru akan membuat pemain menjauh...
Mengesampingkan
candaan itu, aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya.
Aku meminta
Ursula untuk membutakan para daemon itu sementara, lalu aku masuk dan
segera menghabisi mereka dengan pisau peri baruku. Rasanya terlalu mudah,
seperti sebuah kecurangan.
Kombo ini begitu
kuat sehingga aku takut akan terbiasa dengannya.
Seperti pemain
yang memilih karakter overpowered dalam gim pertarungan, aku bisa
melihat diriku terdegradasi hingga pada titik di mana hanya ini yang bisa
kulakukan.
Kenyamanan memang
menyenangkan, tetapi aku harus mengingatkan diri sendiri untuk tidak terlalu
memanjakan diri. Pada akhirnya, akan tiba saatnya aku harus berjuang dengan
kekuatanku sendiri.
"Benar
sekali, Kekasihku. Alfar memang harus ditakuti. Aku senang menerima
cintamu, tetapi pastikan untuk tidak terlalu bergantung pada kami. Meski
begitu, harus kukatakan: menari di bukit senja tanpa beban apa pun di dunia ini
sungguh menggairahkan."
Ursula tampak
sangat gembira saat berbicara. Aku tidak mengerti mengapa semua sosok dengan
wajah polos di sekitarku suka membisikkan hal-hal traumatis ke telingaku.
Untuk pertama
kalinya setelah sekian lama, aku merasakan getaran menjalar dari tulang ekorku
saat aku menyimpan pisau itu.
Meskipun aku
menggunakan senjata itu dengan ganas, bilahnya tetap bersih tanpa noda. Ini
juga sesuatu yang tidak boleh kubiarkan menjadi kebiasaan—dengan menggunakan
bilah yang sesempurna ini, aku mungkin kehilangan naluri mendasar untuk
mengarahkan pedangku dengan benar.
Setelah keempat
makhluk itu disingkirkan, yang tersisa hanyalah satu Ogre, yang sudah
dikonfirmasi oleh Lottie sedang menunggu di ruang makan.
Apakah
penempatan ini disengaja?
Jika aku menyerbu
masuk tanpa berpikir, aku akan dikepung oleh keempat daemon yang
menunggu di belakang tadi.
Ini adalah jenis
jebakan yang biasa digunakan GM untuk membunuh karakter pemain yang bodoh.
Meskipun aku
menggigil merasakan betapa kuatnya nafsu membunuh mereka, aku menguatkan diri
saat mendorong pintu ruang makan.
Mari kita
selesaikan ini dengan adil dan jujur.
Dulu, resep-resep
mewah mungkin berjejer di meja ini; sebuah keluarga saling bertukar senyum
hangat; para tamu memuji juru masak atas masakan lezat mereka.
Namun, yang
tersisa hanyalah pemandangan yang menyedihkan. Tanpa ada yang merawat, meja
panjang itu telah hancur dan teronggok di satu sisi.
Karpet merah
telah membusuk menjadi hitam, dan dekorasi yang kusam menjadi saksi bisu
kemerosotan tempat ini.
Di ujung ruangan
yang bobrok ini, sebuah kursi yang dulunya digunakan oleh tuan tanah tetap
berdiri tegak. Di atasnya, duduklah sosok raksasa yang gagah perkasa dan tampak
sangat terawat.
Cahaya matahari
sore yang masuk melalui jendela pecah samar-samar menyinari kulit biru yang
mengintip dari balik Leather Armor. Kulitnya sebagian besar masih utuh,
dengan otot-otot yang menonjol menunjukkan aura kegagahannya.
Aku memperhatikan
Ogre betina itu dalam kemegahannya; sebuah Great Shield di tangan
kiri dan sebuah Great Sword di tangan kanannya.
"Tunggu,
tunggu, serius?"
Tatapannya yang
mengancam bertemu dengan mataku. Permata berkilau yang menyembul dari celah
poni rambut nilanya memiliki kecerdasan yang tak terbantahkan tersembunyi di
dalamnya.
Seni bertarung
yang telah diasahnya semasa hidup kini membungkusnya seperti baju zirah dan
terpancar melalui matanya.
Dia berbeda
dengan Ogre jantan yang telah sepenuhnya kehilangan akal sehat dan hanya
digerakkan naluri primitif yang kuhabisi siang tadi.
Dia bangkit
perlahan, seolah-olah tugas untuk berdiri saja membuatnya bosan.
Wajah cantiknya
tampak lesu karena kemalasan saat dia mengambil pedang dan perisainya.
Pedang besar itu,
yang dibuat khusus untuk kaumnya, memiliki jangkauan setara tombak menurut
standar manusia.
Setelah memutar
lehernya beberapa kali untuk mencari arah... dia melompat ke arahku.
Pertarungan telah
dimulai. Tidak ada kata yang terucap: kami hanya mengadu nyawa satu sama lain
untuk melihat siapa yang lebih tangguh—sebuah eksperimen yang akan terus
berlanjut hingga salah satu dari kami hancur tak bersisa.
Si
raksasa mendekat dalam garis lurus, perisainya terangkat dengan beban tubuh
berada di belakangnya.
Tekniknya
menggunakan pedang dan perisai sangat sempurna sehingga aku ingin memasukkan
diagram gerakannya ke dalam buku teks.
Perisainya
diposisikan dengan sempurna untuk melindungi organ vital, sedikit miring untuk
menangkis benturan.
Di sisi
lain, bilah pedang besarnya tersembunyi di balik tubuh, membuatnya sulit
ditebak dari mana dia akan menyerang.
Langkah
maju yang tidak tepat waktu akan disambut dengan hantaman perisai yang kuat,
dan setiap upaya setengah hati untuk menghindar akan menjadikanku sasaran empuk
pedangnya.
Dalam
menyerang, serangan yang ragu-ragu hanya akan memantul dari perisainya dan
memberinya kesempatan untuk melahapku.
Dia
mempraktikkan teknik dasar hingga batas absolut; strateginya terlalu sederhana
untuk ditembus dengan mudah, tetapi begitu halus sehingga aku hampir tidak
percaya dia telah kehilangan kewarasannya.
Terlebih
lagi, tingginya tiga meter dan beratnya mungkin lebih dari truk lapis baja.
Kehadirannya begitu menekan sehingga orang normal mana pun akan berbalik
melarikan diri atau mencari cara tercepat untuk mati sambil mengutuk nasib
mereka.
Dihadapkan
dengan "tangker" berdaging dan bertulang ini yang akan
menghancurkanku jika aku lengah, aku menurunkan posisi pedang Schutzwolfe
milikku dan berlari ke depan.
Aku tidak
akan berbohong: seluruh situasi pertarungan ini membuatku takut.
Namun,
semangatku tidak patah—bagaimanapun juga, Tuan Lambert telah melatihku untuk
pertarungan seperti ini.
Apa yang paling
penting dalam pertempuran?
Kekuatan?
Kecepatan?
Kecerdasan?
Tentu saja semua
itu penting. Namun, bukan itu jawabannya. Seorang pejuang sejati selalu
waspada.
Ia memahami jarak
antara dirinya dan lawan, mengevaluasi jarak tersebut setiap saat, dan
menempati posisi yang sempurna di setiap detik!
Begitu aku
memasuki jangkauannya, pedang yang tersembunyi di balik tubuh besarnya berubah
menjadi pusaran abu-abu gelap.
Pedangnya
menyambar dari bawah, dan aku tahu ayunannya yang megah hanyalah kedok bagi
teknik halus yang tersembunyi dalam gerakannya.
Menyadari bahwa
serangan dari bawah sulit dihindari, dia mengincar titik lemahku yang
menggunakan perlengkapan ringan dan tanpa perisai.
Kekuatan
ayunannya menyebabkan ujung pedang itu tampak kabur. Jika terkena, kaki dan
tubuhku akan terpisah seketika, persetan dengan baju zirah.
Malapetaka
yang mendekat membangkitkan Lightning Reflex milikku. Saat dunia terasa
melambat, aku menggunakan Insight untuk merencanakan lintasan
serangannya yang tak tertandingi itu.
Oh,
betapa hebatnya keahlianmu.
Lengkungan
bilahnya tidak akan bisa lebih sempurna bahkan jika digambar dengan kompas.
Setiap anggota tubuhnya berkoordinasi dengan sangat presisi.
Itu jauh
lebih baik daripada serangan membabi buta dari orang bodoh yang mengayunkan
pedang hanya dengan lengan tanpa melibatkan pinggul mereka...
Namun,
meskipun menangkis serangan sembrono itu mudah, serangan yang berdasar pada
teknik justru lebih mudah diprediksi.
Bentuk
tubuhnya yang sempurna seperti buku teks membuatku tahu persis apa yang akan
dia lakukan.
Saat waktu terasa
melambat, aku melompat sedikit. Menendang sisi datar pedangnya dengan kaki kanan, aku mendarat dengan
kaki kiri.
Perubahan posisi kecil dalam sepersekian detik itulah yang menjadi pembeda antara terbelah dua atau meluncur ke posisi aman saat dia menerjangku.
Aku
mendengar desis angin yang mengikuti ayunan pedang raksasa itu di belakangku.
Dia berhasil memangkas beberapa helai rambutku—punggungku pasti sudah dikuliti
jika aku terlambat bergerak sedetik saja. Keringat dingin mengalir di
tengkukku.
Bagaimanapun,
reaksiku berhasil, meski sangat tipis. Di saat-saat kritis seperti ini, mundur
karena takut adalah hal terburuk yang bisa dilakukan.
Menjaga
jarak tidak akan membantuku melakukan serangan balik; bagi lawan, itu hanya
memberinya ruang untuk menyiapkan serangan berikutnya.
Bertarung—maksudku
menyerang, bukan sekadar mengulur waktu untuk kabur—berarti harus tetap
merangsek maju bahkan saat menghindar.
Namun, aku masih
jauh dari kata aman. Musuhku menggunakan perisai yang ukurannya sebesar Tower
Shield manusia. Meskipun kata "perisai" terdengar defensif, benda
itu pada dasarnya adalah lempengan raksasa dari kayu dan baja. Massanya sangat
luar biasa—sebuah senjata tumpul yang mengerikan.
Si raksasa tidak
menunjukkan keterkejutan maupun kepanikan saat melihatku menghindari
tebasannya. Iris emasnya mengikutiku dengan tenang.
Ia menyentakkan
tubuhnya sementara pedangnya masih tertahan tinggi di puncak ayunan.
Mengayunkan
tangan kanan ke atas tentu akan membuat tangan kiri menukik, dan menariknya ke
belakang berarti sedang menghimpun kekuatan.
Ia melepaskan
lengannya yang tegang bagai pegas, menghantamkan perisai itu ke tanah dengan
kekuatan dahsyat untuk menghancurkan apa pun di depannya.
Itu adalah
serangan yang luar biasa: bingkai baja yang memperkuat tepi perisai menghunjam
lantai, menghancurkan karpet dan serpihan kayu dengan dentuman yang memekakkan
telinga.
Kontak langsung
akan membuatku menjadi jeli, bahkan jika aku mengenakan baju zirah termewah
yang pernah ada.
Meski terpukau,
aku tidak punya waktu untuk bengong. Aku menjatuhkan diri ke kiri, merapat di
sisi kanan si raksasa.
Serpihan yang
berhamburan menghantamku, tetapi baju zirahku meredamnya hingga hanya terasa
seperti sengatan kecil.
Melangkah
masuk ke dalam jangkauan jarak dekatnya sungguh mengerikan.
Pedangnya
adalah badai baja, perisainya adalah dinding benteng, dan tinju raksasanya
adalah pilar penghancur.
Namun,
aku sudah terlanjur terlalu dekat—menelan rasa takut, aku berhasil
menyelinap ke titik butanya, menembus pertahanan dindingnya yang menjulang.
"Aaargh!"
Aku tidak menahan momentum saat melesat lewat, hampir bersentuhan dengan
pahanya. Dengan teriakan perang, aku menebas Schutzwolfe ke atas,
mengincar pergelangan tangannya yang terbuka di celah antara pelindung lengan
dan sarung tangan bajanya.
Setiap
atom dalam tubuhku bergerak serempak untuk mengoordinasikan langkah dan
serangan, mengalirkan seluruh momentum maju ke lenganku.
Setelah
menemukan sasarannya, bilah pedangku menusuk dan mencabik, memotong daging dan
tulang.
Sensasi tumpul
yang melumpuhkan menjalar ke tanganku.
Umpan baliknya
terasa seolah aku tidak sedang menebas makhluk hidup.
Rasanya
mengecewakan karena ayunan seluruh tubuh dengan kekuatan penuh masih terasa
sangat lambat. J
ika sudut
tebasanku meleset satu atau dua derajat saja, aku pasti akan terpental dan
pergelangan tanganku bisa terkilir.
Namun tampaknya,
kesemutan di tanganku terbayar lunas. Ujung bilah pedangku meneteskan darah
biru yang kental.
"GUIIII..."
Aku berputar
sembari mundur dan melihat raksasa itu menjatuhkan pedangnya dengan dentingan
keras. Aku berhasil menusuk lengannya dan hampir memutuskan pergelangan
tangannya.
Lightning
Reflexes memberiku
persepsi gerakan yang sempurna, Insight menawarkan pemahaman intuitif
tentang titik vital yang harus diincar, dan Parallel Processing
memungkinkanku menyusun strategi dengan mempertimbangkan setiap kemungkinan.
Terakhir,
kombinasi level VI dari Expert Hybrid Sword Arts dan Enchanting
Artistry menjadikannya taring yang mampu membelah tulang baja.
Si
serigala legendaris telah mencakar urat di pergelangan tangan kanan si raksasa.
Karena tidak bisa lagi menggenggam dengan benar, ia meraba-raba pedangnya yang
terjatuh dengan sia-sia.
Itu
sebuah celah,
pikirku.
Aku
berlari secepat mungkin, tidak memberinya waktu untuk memulihkan posisi.
Dengan
pedang di bahu, aku menerjang punggungnya yang tak berdaya dengan kecepatan
penuh.
"GURUUUUUUUUUU!"
Sayangnya, aku
meremehkan kecepatan reaksinya. Ia berbalik cukup cepat untuk menutupi
kesalahannya, siap menghantamku dari atas dengan perisai yang diposisikan
mendatar.
Mengingat
kekuatannya, ia pasti bisa menghancurkan mobil kecil dengan gerakan ini.
Menghadapi serangan balik itu secara langsung akan membuat kepalaku pecah
seperti buah delima.
Jadi, aku
menugaskan Unseen Hand dengan pekerjaan baru. Aku merunduk untuk
menghindari "langit-langit" perisainya yang jatuh, hanya untuk
disambut dengan tendangan jarak dekat yang mematikan.
Meskipun tekanan
udara dari gerakannya terasa menyakitkan, aku memaksakan diri untuk menghindar
dengan sedikit sihir tepat pada waktunya.
Aku menciptakan Unseen
Hand untuk menopang tubuhku, mengamankan keseimbangan dan membenahi
pijakan.
Bergeser ke
kanan, aku menyelinap melewatinya sambil memberikan "hadiah
perpisahan"—aku menarik pelindung kulitnya dengan Unseen Hand dan
mengiris dagingnya yang terbuka.
Inilah perpaduan
antara sihir dan permainan pedang yang kubayangkan.
Gayaku tidak
bergantung pada salah satu, melainkan keduanya sekaligus, mempersempit jarak
antara pedangku dan nyawa lawan.
Setiap aspek dari
paradigma pertarungan ini berfungsi untuk memaksimalkan hasil dari keterampilan
murni.
Cipratan darah
menyembur keluar, meninggalkan noda biru di dadaku. Sensasi otot asing yang menegang lalu terkoyak
menjalar hingga ke lenganku.
"GOAAAAAAAAAAAA!"
Dan tepat
pada detik berikutnya, sebuah ledakan kekuatan membuatku melayang di udara.
Si
raksasa berhasil menstabilkan diri hanya dengan gerakan tubuh, menendangkan
kakinya yang baru saja terluka ke arahku.
Meskipun
ia tidak punya waktu untuk menyiapkan serangan yang sempurna, tulang keringnya
sangat kokoh, dan urat-urat yang melilitnya setebal kabel jembatan gantung.
Dampak dari tendangan seperti itu tidak bisa diremehkan.
Betapa
uletnya—betapa haus darahnya!
Aku
membayar mahal untuk pikiran naifku yang mengira memotong uratnya sudah cukup
untuk melumpuhkannya.
Napasku terasa
sesak; perutku seolah ingin keluar dari mulut. Rasa sakit yang luar biasa di
dadaku bergema ke seluruh tubuh saat aku terpental di lantai.
Aku diselamatkan
oleh Unseen Hand yang nyaris berhasil kupanggil untuk meredam hantaman
kaki itu... Kalau saja aku terlambat sepersekian detik, aku pasti sudah mati.
Saat tersungkur,
aku berusaha mencengkeram karpet untuk memperlambat lajuku.
Rasa sakit di
dadaku membuatku ingin menangis, dan seluruh tubuhku terasa remuk karena
terbanting ke lantai, tapi untungnya tidak ada tulang yang patah.
Yang lebih
penting, aku masih hidup. Serangan sebesar itu seharusnya bisa
mematahkan tulang rusukku seperti ranting dan menghancurkan jantungku.
Jelas,
investasiku pada zirah mahal akhirnya membuahkan hasil.
Aku memuntahkan
darah yang mengalir dari luka di dalam mulutku.
Si raksasa
kehilangan keseimbangan tak lama setelah menendangku, dan usahanya untuk
menumpu beban di sisi kanan membuatnya tersungkur dan berlutut.
"GUOOOO..."
Aku tidak akan
menyebut pemandangan dia yang mencoba bangkit sambil memegangi kakinya sebagai
sesuatu yang menyedihkan—tetapi itu sangat tragis.
Meskipun aku yang
melakukannya, melihat prajurit yang gagah ini bertekuk lutut membuat hatiku
pedih.
Namun, keinginannya untuk bertarung masih membara.
Begitu ia menyadari kakinya tidak bisa digunakan, ia mulai
menggigit pengait pada perisainya—dan sebelum aku sempat menyadarinya, perisai
itu sudah melesat terbang ke arahku.
"Wuaa?!" teriakku, nyaris menghindar.
Cakram terbang mengerikan itu melesat melewati tempat
kepalaku berada beberapa saat sebelumnya.
Benda itu menghancurkan pintu ruangan dan terbang ke lorong
seolah mencari kebebasan... dan aku bahkan tidak mendengarnya jatuh.
Lupakan soal
meremukkanku—benda itu bisa membelahku jadi dua.
Hasratnya untuk
membunuh sungguh menakjubkan. Bahkan setelah kehilangan fungsi separuh anggota
tubuhnya, hanya pembunuhan yang ada di pikirannya.
Tidak seperti
enam daemon sebelumnya yang merintih kesakitan, keinginannya untuk
bertarung hingga napas terakhir menunjukkan sisa-sisa martabat dan kekuatan
yang ia miliki saat masih waras.
Merupakan
suatu kehormatan bertemu denganmu sebelum ajal menjemput.
Ia menoleh sekali
lagi, tangan kirinya yang kini bebas meraih pedang besarnya. Ia belum menyerah,
dan tidak akan menyerah selama jantungnya masih berdetak.
Sambil
menggertakkan gigi, aku mengerahkan sisa-sisa Mana yang mengering untuk
menyingkirkan pedang raksasa itu dan menarik pedangku sendiri yang tadi
terlepas.
Aku menggenggam
erat gagang Schutzwolfe seolah ia adalah anjing setia yang kembali pada
tuannya. Menahan rasa sakit yang menjerit dari setiap pori, aku melangkah maju.
Tinju yang
menungguku tidak lagi memiliki tenaga. Bahkan tanpa Lightning Reflexes,
serangan selambat ini mudah dihindari.
Sesuatu tentang
pukulannya yang lemah memenuhi hatiku dengan kesedihan saat aku menghindarinya
untuk mengayunkan pedangku.
Ujung bilah Schutzwolfe
meluncur ke lehernya, menyayat sedalam seperempat jalan.
Kabut biru muncul
saat arterinya menyemburkan darah, dan aku tetap waspada, melangkah mundur
untuk menghindari cipratan itu.
Bukan sekadar
masalah tidak ingin mandi darah: setiap pergolakan kematiannya memicu badai
yang berembus melewati wajahku.
Ia berteriak
seolah menolak kekalahan, dengan kasar melemparkan tangan kanannya yang hampir
putus ke arahku. Terlambat satu atau dua detik saja, aku akan terlihat seperti
katak yang berlumuran darah.
Bahkan setelah
semua ini, hasrat membara untuk menghabisiku masih bersinar di matanya.
Hasrat itu
meresap ke dalam otakku, mengeras menjadi rasa takut. Belum pernah sebelumnya
aku diserang dengan semangat sekuat itu—sebuah kehidupan yang begitu
intens.
Tidak ada
kebaikan maupun kejahatan dalam haus darahnya saat ia mengintimidasi jiwaku dan
mencekik tubuhku.
Apa yang akan
terjadi jika aku melihat kilatan merah di mata ini saat kami bertarung tanpa
bantuan Insight?
Itu adalah
situasi yang tidak ingin kubayangkan.
Masih berusaha
menahan aliran darah yang tak kunjung henti, si raksasa berusaha berdiri namun
akhirnya terjatuh.
Namun tatapannya
tetap terpaku padaku, penuh dengan keinginan yang tak padam untuk mengambil
nyawaku.
Matanya seolah
berteriak bahwa, jika tidak bisa secara fisik, ia akan membunuhku dengan
kekuatan kehendaknya.
Darah yang
berdenyut perlahan-lahan menguras habis hidupnya, dan akhirnya, cahayanya
benar-benar padam.
Yang bisa
kulakukan hanyalah terpaku melihatnya, terpesona dalam kekaguman... Jadi,
inilah artinya bertarung sampai mati.
Sungguh
mengerikan. Aku terguncang hingga ke inti jiwaku, dan aku bisa merasakan
batinku merintih.
Kekuatan
meninggalkanku hingga berdiri saja terasa sangat berat. Kebencian raksasa yang
membara tadi telah memicu perang mental, dan menahan gempuran tersebut
sangatlah melelahkan.
Saat itu, aku
tidak merasakan kemenangan atau kegembiraan; yang kurasakan hanyalah kelegaan
yang luar biasa karena aku berhasil bertahan hidup.
Sekarang aku
sadar bahwa beberapa menit yang lalu, aku sama sekali tidak mengerti apa
artinya beradu pedang.
Mengalahkan musuh
yang jauh lebih lemah dariku bukanlah pertempuran—itu adalah pembantaian.
Untuk pertama
kalinya, aku berada dalam sebuah pertempuran, di mana satu kesalahan
kecil dari pihak mana pun berarti kematian.
Dalam keadaan
mati rasa, aku memaksa udara masuk ke paru-paru dan memaksakan diri untuk
berdiri.
Apa gunanya jika
aku goyah sekarang?
Tidak ada gunanya
merenungkan nyawa yang telah kuambil, atau bersumpah untuk terus hidup demi
kami berdua.
Dari sudut
pandang pecundang, yang paling kupikirkan hanyalah, "Kau berhasil
mengalahkanku, dasar bajingan."
Tidak ada yang
peduli apakah pembunuh mereka akan terus berjuang dengan gagah berani
menggantikan mereka; aku bisa menyimpulkan itu dengan membayangkan diriku
berada di posisi si pecundang.
Aku teringat
kembali alasanku mengambil pedang ini: Aku tidak ingin orang-orang yang
kucintai mengalami teror ini.
Aku di sini
sekarang sebagai saudara Elisa untuk merebut kembali masa depannya. Aku tidak
punya waktu untuk meratap di sini.
"Semoga jiwa
pejuang agung ini mendapatkan ketenangan di sisi Dewa Perang," ucapku
sembari melantunkan doa dari panteon Dewa Perang kami.
Saat aku menyeka
darah dari pedangku, tubuhku akhirnya mencapai batasnya.
Kakiku lemas, dan
aku jatuh terduduk. Detak
jantung di dadaku yang perih terasa seolah akan meledak.
Ya Tuhan,
aku tidak menyangka akan menjadi babak belur dua kali dalam satu musim.
"Pasti
melelahkan," kata Ursula, muncul dari kegelapan.
Aku menatapnya
sambil menyiram tubuhku dengan air.
"Wah, hebat
sekali!" Lottie muncul kembali bersama embusan angin, menghiburku dengan
mengusap pipiku.
"Ya,
aku benar-benar lelah. Tapi
sekarang, semuanya akhirnya selesai."
Angin musim semi
yang lembut menyejukkan kulitku yang panas; jika ini adalah hadiah dari dunia
atas usahaku, rasanya hampir cukup untuk membuatku menangis.
Sekarang, yang
tersisa hanyalah mengumpulkan Mana Stone dan kembali ke kereta untuk
mengambil upahku.
"Oh, tapi
belum benar-benar berakhir, kan?"
"Hah?"
Rasa bangga yang
baru saja kurasakan tiba-tiba sirna. Aku membuka mataku lebar-lebar karena
terkejut, sementara Ursula menyuruhku untuk kembali berdiri.
Hah? Bukankah daemon
itu seharusnya sudah mati? Apa ada bos tersembunyi atau semacamnya? Kalau iya,
aku benar-benar ingin memprotes desain encounter dari GM ini.
"Ini bukan
pertarungan," ujar Ursula, seolah membaca pikiranku. Sambil berkacak
pinggang, ia mendengus dan melanjutkan, "Masih ada satu lagi dari kaum
kami yang belum kau tolong."
"Satu
lagi?"
"Ya,
bukankah sudah kukatakan? Saat kami menemukan Lottie, kurasa aku menyebutnya
sebagai salah satu saudari yang harus kuselamatkan."
Kalau dipikir-pikir lagi... "Tapi aku sudah menerima
hadiahnya," kataku.
"Itu
tadi, ini sekarang. Ini masalah yang berbeda dari hadiahmu. Lagipula, aku punya... kekhawatiran
tentang hal ini."
"Apa
maksudmu?" tanyaku. Ursula menghindari kontak mata dariku.
"Sekarang,
ikutlah," kata svartalf. "Dia juga disegel dengan cara yang
tidak bisa dibatalkan oleh alfar."
"Oke, oke!
Berhentilah menarik rambutku, aku bisa botak."
"Tidak perlu
khawatir soal itu. Rambutmu tidak akan pernah botak—bahkan uban pun tidak akan
tumbuh."
"Ya, itu
tidak lucu!" Lottie menimpali.
Apa yang baru
saja kalian katakan?
Aku merasa
pernyataan terakhir mereka bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja,
tetapi hembusan angin kencang mendorongku untuk berdiri dan kedua peri kecil
itu menarik tanganku menuju bagian belakang ruang makan.
Kami melintasi
beberapa lorong hingga sampai di sebuah pintu yang miring.
Mereka memintaku
untuk membukanya, dan saat aku melakukannya, terlihatlah tangga menuju ruang
bawah tanah.
Anehnya, koridor
yang menurun itu seakan terus berlanjut tanpa ujung, padahal aku sudah
menggunakan penglihatan dari Ursula.
Penjara bawah
tanah ini memiliki lebih dari satu ruangan tersembunyi? Seberapa luas tempat
ini sebenarnya?
Udara yang naik
dari bawah memenuhi tangga sempit itu seperti erangan dari tenggorokan raksasa.
Tubuhku yang
lelah hampir menyerah karena protes. Aku tidak sanggup menghadapi pertarungan
lain tanpa istirahat.
"Jangan
khawatir!" kata Lottie, menyadari keraguanku. "Semua yang menakutkan
sudah hilang!"
"Baiklah,"
kataku. "Kalau begitu, mari kita lanjutkan." Oke, kau ingin aku
pergi? Aku mengerti, aku akan pergi.
Aku menarik napas
dalam-dalam beberapa kali dan perlahan mulai turun.
Jejak-jejak
peralatan sihir berjejer di dinding yang mengapitku; mungkin jalan ini pernah
menyala ketika ada orang yang lewat.
Ada mantra-mantra
yang ditulis di mana-mana dengan tingkat kerumitan yang terlalu tinggi untuk
kupahami.
Meskipun aku
ingin berhenti dan mencatat semuanya, ini jelas bukan saat yang tepat.
"Butuh waktu
yang sangat lama hingga Mana yang memberi daya pada mantra-mantra ini
habis," kata Ursula.
Dua puluh delapan
anak tangga ke bawah, sebuah lantai datar pendek membuka jalan menuju anak
tangga lainnya.
Lantai itu juga
ditandai dengan simbol aneh, tetapi ketika aku membersihkannya, tinta yang
menyusun strukturnya memang telah memudar seiring waktu.
"Hei, tempat
ini sepertinya memang dimaksudkan untuk mengurung sesuatu yang sangat
berbahaya," kataku, menyuarakan kekhawatiranku yang semakin besar.
Dan, tahukah kau,
tangga kedua juga memiliki dua puluh delapan anak tangga—angka sempurna
yang dianggap suci oleh beberapa kepercayaan.
Dinding yang
dipenuhi ritual di tangga yang memiliki sifat mistik ini menunjukkan ada sesuatu
di bawah sini... dan, yah, aku punya firasat tentang apa itu.
"Teruslah
maju. Tidak ada yang perlu ditakutkan."
"Tidak
apa-apa, dia sangat baik!"
Kedua alfar
itu memberi isyarat agar kakiku yang membeku kembali bergerak.
Ketika aku
berbelok di tikungan terakhir, aku berhadapan dengan sebuah pintu ganda yang
besar. Namun, pintu ini jelas berbeda dari tangga sebelumnya.
"Apakah
sihir di sini masih aktif?" tanyaku dengan bingung.
Lingkaran sihir
misterius yang terpasang di pintu itu masih berfungsi dengan baik.
Tidak seperti
coretan di atas, mantra ini telah tertanam di pita logam yang menyangga pintu
itu sendiri.
Sebuah batu
permata besar di tengah pintu ditetapkan sebagai baterai, dan cahayanya yang
redup masih bertahan hingga sekarang.
"Aku
tidak mengerti detailnya, tapi..."
Satu
sentuhan saja sudah cukup bagi insting pemulaku untuk mengenali maksud di
baliknya: ini adalah kunci yang dimaksudkan untuk memastikan bahwa apa pun yang
ada di dalam tidak akan pernah melihat cahaya matahari lagi.
Pintu ini
dipenuhi dengan simbol karantina—diperkuat dengan mantra yang kuat agar sifat
pengurungnya menyebar ke seluruh ruangan.
"Ursula,
bagaimana cara membukanya?"
"Aku
yakin kau sudah tahu caranya."
Melihat
apa yang menantiku, aku punya dugaan kuat tentang apa yang perlu kulakukan. Aku
tetap bertanya, tetapi peri itu tampaknya tidak ingin bertele-tele.
"Aku
harus menghancurkannya, kan?"
"Memang
benar."
"Yuuup!"
Sudah
kuduga. Berharap pintu itu bisa terbuka dengan cara halus, aku mencoba memutar
kenopnya tetapi tidak berhasil.
Aku mendesah;
permata itu mungkin lapis lazuli, ukurannya besar dan tampak kuno.
Benda seperti itu
bisa bernilai banyak koin emas jika aku bisa mengambilnya dalam keadaan utuh,
tapi sepertinya itu mustahil.
Sial, kurasa
aku harus mengutuk diriku sendiri karena tidak membawa seorang Rogue di
kelompokku untuk membobol kunci. Mengapa aku harus menjelajahi dungeon sebagai seorang prajurit
solo?!
Dalam
keputusasaan, aku menebasnya dengan Schutzwolfe, yang mengiris permata
itu seperti mentega.
Harapan samarku
untuk mendapatkan potongan yang utuh sirna seketika, karena permata itu
langsung hancur menjadi debu seolah mengejekku.
Ahh...
Tidak... biaya sekolah Elisa...
Berbeda dengan
keresahanku melihat serbuk emas berhamburan di sela-sela jari, alfar
tampak cukup gembira saat mereka menggunakan kekuatan misterius untuk membuka
pintu.
"Ugh!"
Pemandangan di baliknya cukup dingin untuk menguras habis semua sisa panas
pertempuran di tubuhku.
Langit-langit,
dinding, dan lantai sepenuhnya tertutup coretan yang tidak dapat dipahami. Di
tengah-tengah lemari obat dan rak buku yang tak terhitung jumlahnya terdapat
meja kerja yang dipenuhi dengan peralatan aneh.
Di bagian
paling belakang ruangan, seorang gadis berdiri sendirian, dirantai ke dinding.
Pemandangan itu melampaui semua ekspektasi kengerianku.
Dibungkus
perban dari kepala sampai kaki, setiap inci kain di sekelilingnya dipenuhi
tulisan gila yang menunjukkan kedalaman kegilaan manusia.
Kain kasa
gelap melilit erat tubuhnya yang kekurangan gizi, kedua pergelangan tangan dan
kakinya dirantai—dan saat kuperiksa lebih dekat, borgolnya menusuk
dagingnya—pada pilar-pilar raksasa.
Terakhir,
paku keling besar di dada dan setiap anggota tubuhnya memaku dirinya ke dinding
di belakangnya.
Aku tahu
aku akan melihat nasib seorang putri yang dipenjara oleh ayahnya yang gila...
tapi ini? Ini terlalu berlebihan.
Kertas-kertas
terkutuk menutupi setiap jengkal kulit gadis yang dulunya adalah putri
bangsawan rumah ini.
Di sana
berdiri seorang gadis yang disiksa oleh orang gila demi seorang putri
"asli" yang tidak pernah ada.
Sekarang,
puluhan tahun kemudian, gadis malang itu tetap terlupakan di ruang bawah tanah
yang mengerikan ini—si anak yang ditukar (changeling) itu ditinggalkan
begitu saja di sini.
"Apakah
dia..."
"Sayang
sekali. Ini saudari lainnya yang ingin aku selamatkan, tetapi aku tidak
menyertakannya sebagai hadiah karena... aku tidak yakin apakah kau bisa
melakukannya," bisik Ursula sambil melangkah masuk.
Ia telah
kembali ke ukuran manusia seperti saat pertama kami bertemu, lalu berjalan
mendekati gadis yang disalib dengan menyedihkan itu. "Kasihan sekali,
Helga yang malang. Begitu terpesona dengan kehidupan fana hingga kau berakhir
seperti ini."
"Maaf... Lottie tidak bisa menyelamatkanmu..."
Kedua alfar itu terbang mengitari Helga selama
beberapa saat, mengamati, hingga akhirnya mereka menggelengkan kepala.
Mata mereka yang berkilauan menatap ke bawah, mengirimkan
kesimpulan yang tidak menyenangkan ke dalam pikiranku: kami terlambat.
"Dia tidak mati," kata Ursula, sambil
mengusap wajah gadis itu.
Kesedihannya berubah menjadi kemarahan saat ia melanjutkan,
"Dia masih hidup—oh, mereka tidak akan membiarkannya mati."
Pikiran mengikuti raga; bahkan seorang alf akan
bergeser ke arah kepekaan manusia jika mereka memperoleh tubuh fisik. Lembut
dan rapuh, jiwa bisa retak hingga tidak dapat kembali.
Kesendirian dan siksaan abadi ini terlalu berat bagi gadis
muda itu. Itulah alasan alfar menggelengkan kepala.
Pada titik ini, satu serangan terakhir adalah satu-satunya
belas kasihan yang dapat kami berikan.
"T-Tapi dia masih hidup, kan?" tanyaku dengan
suara yang tanpa sengaja meninggi.
Dadaku naik turun sejak aku melihat gadis yang mereka
panggil Helga.
Sejujurnya, aku
memproyeksikan sosok Elisa padanya. Satu langkah salah, dan adikku bisa
berakhir seperti ini. Sensasi mengerikan ini telah menghantuiku sejak kami
memasuki ruangan tersembunyi pertama tadi.
Menghadapi
skenario terburuk ini, hatiku terasa sesak karena tekanan.
Logikaku goyah
saat hasratku muncul dan berteriak bahwa aku ingin menyelamatkan gadis ini.
Secara intelektual, aku tahu.
Ursula sudah
mengatakan bahwa dia adalah target opsional—dia telah memberiku hadiah meskipun
dia tahu bahwa Helga mungkin tidak dapat diselamatkan.
Dari semua
kemungkinan, dia sudah sehancur para daemon yang telah kubantai.
Saudari-saudarinya sendiri yang mengatakannya.
Aku tidak punya
alasan untuk menolak logika mereka, dan aku tahu itu... tetapi hatiku
tidak mau berhenti berteriak: jika dia masih memiliki wujud, maka mungkin
ada kesempatan.
"Sayangnya,
kami alfar tidak bisa berbuat apa-apa. Perban ini telah direndam dalam
darah Naga Kuno—tanpa bentuk fisik, kami tidak berdaya untuk membebaskannya.
Jujur saja, dari mana pria itu mendapatkan benda ini? Menstabilkan fenomena
dalam aliran waktu adalah jenis prestasi ilahi yang hanya bisa dilakukan di
zaman para dewa."
"Tapi, tapi!
Orang yang punya tubuh fisik bisa menghancurkannya. Jadi..."
"Aku tidak
akan menaruh dendam padamu, tidak peduli apa pun yang terjadi nanti."
Akulah yang harus
memilih. Para alfar menyerahkan keputusan di tanganku. Mereka tidak akan
menyalahkanku atas apa pun pilihan yang kuambil—atau bagaimana pilihan itu
berakhir.
Dan aku... aku...
[Tips] Tubuh adalah wadah bagi pikiran, namun diri
akan menyesuaikan diri dengan wadahnya.
◆◇◆
Tercabik-cabik, ego yang besar melayang di sudut kecil mimpi
yang tak berujung.
Deretan mimpi tak berbentuk yang tak terhitung jumlahnya
melayang tanpa pola, menari bersama hingga menghilang menjadi ketiadaan seperti
gelembung dalam air.
Kenangan indah berlalu begitu saja—tepatnya, hanya ada dua.
Wajah
seorang pria yang tampak samar. Rambut keemasan. Mata biru es yang muncul dari
bayangan wajahnya yang kabur.
Suara
yang lembut dan dalam yang meresap ke telinga. Tangan yang besar, pangkuan yang
hangat, detak jantungnya yang menenangkan, dan bau tembakau yang samar.
Pesta ulang
tahun. Pakaian yang dibuat khusus. Boneka besar. Permen es yang manis, perahu
karet di tepi danau, dan nyanyian dari kejauhan.
Begitulah
sisa-sisa hari bahagia yang telah berlalu. Terpilin dan hancur, egonya menyusun
kembali dirinya sendiri sesekali untuk melihat ini dan tersenyum.
Namun, betapapun
ia berusaha mengumpulkan saat-saat bahagia itu, permata-permata langka ini
berakhir terlalu cepat. Kenangannya yang paling nikmat pun tidak dapat
memuaskannya. Yang tersisa hanyalah rasa pahit.
Kenangan
menyakitkan pertama: batu nisan yang tidak dikenal; suara yang menghakimi;
ratapan penyesalan.
Kenangan
menyakitkan kedua: sebuah ruangan gelap; boneka dan pakaian kesayangannya
dibakar; sebuah kotak batu dingin tanpa tempat tidur. Kenangan menyakitkan
ketiga: omelan tiada akhir; rasa karat; bau lumpur.
Kenangan
menyakitkan keempat: kepahitan obat; sensasi kelumpuhan; rasa sakit yang tak
tertahankan.
Kenangan
menyakitkan kelima: rambut emas kesayangannya, mata biru, dan suara berat pria
itu; belati tajam yang dibencinya, gergaji berkarat, dan besi panas. Kenangan
menyakitkan keenam, ketujuh, kedelapan, dan kesembilan...
Diri yang hancur
melihat dunia sebagai tempat penuh penderitaan.
Pernah ada saat
di mana semuanya dipenuhi kebahagiaan, tetapi itu terlalu singkat.
Kegembiraan
hanyalah sebuah papan kayu kecil yang mengapung di lautan penderitaan yang
merupakan cobaan beratnya.
Dunia ini
seharusnya begitu bahagia. Ia dilahirkan untuk bahagia. Ia seharusnya tahu apa
itu kebahagiaan—namun ia tidak tahu.
Terjebak dalam
tidur panjang yang hampir tidak bisa disebut istirahat, ego yang terpecah itu
tenggelam, menunggu hari di mana ia akan terbangun, sambil merasa takut
sekaligus merindukannya.
Tiba-tiba, sebuah
suara—suara yang ia benci, namun ia cintai—memanggilnya:
Kerja bagus,
Helga. Itu gadisku, Helga. Aku sangat bangga padamu, Helga. Kau tumbuh menjadi
seperti ibumu, Helga.
Berikan
putriku padaku! Dasar iblis! Apa kau pikir seorang alf bisa menipuku? Kau akan
mengembalikan tubuh putriku!
Ia tak sanggup
lagi menahannya. Ia berharap semuanya berakhir begitu saja; ia berharap
semuanya kembali seperti semula.
Ketidakpastian
yang tak terbatas menyelimuti jiwa yang hancur saat ia tenggelam dalam
kesedihan.
Meskipun memohon
untuk mati, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain terus tidur. Ini berlanjut
selamanya. Rangkaian kesedihan itu berulang tanpa henti. Tidak ada akhir yang
terlihat.
Terjebak dalam
penjara abadi, ego menyadari rangsangan yang telah lama terlupakan. Tabir
dingin dan tak berujung yang menutupi nerakanya mulai terkoyak.
Ia tidak ingin
dibebaskan: dunia lebih kejam dari pikirannya. Ia ingin dibebaskan: dunia
seharusnya begitu bahagia.
Kesadaran yang
tak terkendali memadukan konsep-konsep yang bertentangan ini menjadi harmoni
yang kacau.
Keinginannya
untuk hidup dan mati menyatu dengan cara yang tidak dapat dipahami oleh makhluk
lain—karena itulah ia disebut hancur.
Helga, anak yang
telah kehilangan tempatnya sebagai seorang putri, muncul ke permukaan.
Dari sudut
pandang dunia materi, dia terbangun untuk pertama kalinya dalam lebih dari
setengah abad.
Bagaimana
kenangannya tentang cinta akan berubah ketika bercampur dengan ingatan tentang
penyiksaan? Hanya mereka yang ada di sana untuk membuka "kotak" itu
yang akan tahu.
[Tips] Alur pikiran yang dapat diurai dengan
logika tidak dapat disebut gila. Kegilaan sejati, menurut definisinya,
tidak mungkin dapat dipahami.
◆◇◆
Aku memutuskan untuk melepaskan paku keling yang menahan
gadis itu seperti spesimen serangga dan melepaskan ikatannya. Aku membuka
sebagian perban yang melilit kepalanya, perlahan memperlihatkan wajahnya ke
dunia.
Aku tidak tahu
apakah tindakanku ini memiliki arti. Aku tahu betul ini mungkin hanya usaha
yang sia-sia.
Aku hanya
berharap tanpa kepastian bahwa di antara masa depan yang tak terhitung
jumlahnya yang bisa Elisa hadapi, akan ada satu lagi yang memiliki keselamatan
pada akhirnya.
Doaku yang bodoh
akhirnya menang... meskipun aku tahu bahwa kebebasan melalui kematian mungkin
adalah apa yang sebenarnya ia butuhkan.
Sebelum aku
terlahir kembali sebagai Erich, hari-hari terakhirku sebagai Fukemachi Saku
sangat menyiksa.
Kenangan akan
kematian akibat kanker pankreas masih membuat wajahku pucat hingga hari ini.
Setiap tarikan
napas terasa seperti neraka.
Setelah mengalami
apa yang hanya dapat digambarkan sebagai akhir yang mengerikan, aku seharusnya
tahu bahwa kematian tidak selalu merupakan takdir terburuk.
Rambut yang telah
memudar warnanya terurai dari kain kasa yang terlepas.
Apa yang dulunya
berwarna cokelat kastanye kini telah memucat, seolah-olah tertutup lapisan es
tipis.
Berikutnya muncul
wajah kurus yang menunjukkan ciri khas bangsawan.
Dilihat dari
penampilannya, dia tampak beberapa tahun lebih tua dariku.
Meskipun memiliki
wajah kekanak-kanakan, ada kantung mata tebal di bawah matanya.
Ekspresi
ketakutan yang membeku dalam waktu itu menghancurkan hatiku.
Aku menyentuh
pipinya dan mendapati kulitnya sangat dingin—seperti tertutup embun beku. Aku
hampir tidak percaya dia masih bernapas. Apakah manusia bisa bertahan hidup
pada suhu serendah ini?
"Dia hampir
menjadi seorang alf," gumam Ursula.
"Apa?"
tanyaku. Peri malam itu pasti melihat sesuatu yang tidak bisa kami lihat; ia
menyipitkan mata merahnya ke arah gadis yang sedang tidur itu.
"Aku tidak
percaya. Seorang alf yang mendapatkan tubuh fisik, mencoba kembali ke
bentuk aslinya? Apakah ini berarti..."
Gumaman Ursula
memberikan secercah harapan, tetapi aku tidak sempat mendengarnya sampai
tuntas.
Begitu aku
selesai melepaskan segel kutukan di wajah Helga, matanya terbuka—meskipun aku
tidak bisa menyebut kebangkitannya sebagai sesuatu yang damai.
Kelopak matanya
terbuka lebar seperti seseorang yang baru saja terbangun dari mimpi buruk, dan
iris matanya tidak fokus, masing-masing berkedut secara liar.
"Ghghh!"
"Helga!"
seru Ursula.
"Kau sudah
bangun?!" Lottie bertanya. "Helgaaa!"
Kedua peri itu
bergegas menghampiri teman mereka dengan gelisah, tetapi gadis itu tidak
mengatakan apa pun yang berarti.
Erangannya
hanyalah suara parau dari sisa udara di paru-parunya. Tidak peduli seberapa
banyak para alfar mengguncangnya atau berteriak di telinganya, dia tidak
menunjukkan tanda-tanda kesadaran.
Berpikir bahwa
aku telah gagal dan hanya menyebabkan penderitaan tambahan, aku hampir
menangis... hingga mata kami bertemu.
Pandangannya yang
kabur mulai terfokus. Dilihat dari cara dia menatapku, otaknya mulai memproses
gambar yang masuk. Di suatu tempat di dalam sana, dia masih hidup.
"Helga?"
tanyaku dengan suara gemetar.
"Ffghh..."
Akhirnya,
erangannya mulai terdengar jelas.
Mulutnya terbuka
sedikit, dan aku bisa melihat lidahnya—yang baru kusadari juga telah disumbat,
seolah-olah tidak ada satu pun bagian tubuhnya yang boleh dibiarkan
bebas—menggeliat dalam upaya menyampaikan sesuatu.
"Frgh,
agh..."
Kami bertiga
terus menyemangatinya, berpegangan erat pada harapan bahwa dia masih bisa
selamat secara utuh.
Kami berdoa agar
dia menunjukkan senyum cemerlang dan berterima kasih karena telah diselamatkan.
Selama ini, aku
menganggap alfar sebagai makhluk yang menakutkan dan sulit dipahami,
tetapi dari teriakan mereka yang penuh semangat, aku tahu bahwa mereka—sama
seperti manusia—sangat peduli pada kaumnya.
Aku tidak tahu
apakah Ursula dan Lottie memiliki ikatan pribadi dengannya atau sekadar ingin
saudari mereka bahagia, tetapi kepedulian mereka itu nyata.
"Ada apa?"
Namun kami... Tidak. Hanya aku yang dipaksa menyadari sebuah kenyataan pahit: mimpi itu
sangatlah singkat.
Gadis itu
menatapku dan memanggilku "Ayah". Sebenarnya itu masih bisa
dimaklumi.
Terkadang,
penglihatan dan ingatan samar saat seseorang baru terbangun dari tidur lelap
bisa membuat mereka salah mengenali orang lain sebagai keluarga.
Aku sendiri
pernah mengalaminya; terkadang aku tertukar mengenali saudaraku di pagi hari.
Namun, ada yang salah di sini—sangat salah.
"Ah...
Tidak! Ayah... kumohon, kumohon, jangan lakukan lagi. Maaf... aku yang salah,
kumohon..."
Kesadaran Helga
telah tertambat pada era di mana tuan tanah masih berdiri di ruangan ini.
Deliriumnya memburuk; ia tidak mampu mendengar suara kami.
Rambutnya
bergoyang ke depan dan ke belakang saat ia tersentak dan menggeliat melawan
ikatannya.
Aku mendengar
suara tulang yang patah dan daging yang tercabik saat ia memaksa melepaskan
diri dari rantai, dan perban yang melilitnya mulai terlepas.
Bercak-bercak
kulit kini menyembul dari celah perban, membuatku tertahan napas.
Bekas luka
tersebar di setiap sudut kulitnya; jahitan-jahitan kasar membuatnya tampak
seperti boneka yang ditambal dengan buruk—sebuah bukti penyiksaan yang tak
terbayangkan.
Aku terlalu naif.
Bisakah jiwa yang masih murni tetap waras setelah mengalami kengerian seperti
itu di tangan ayah tercintanya sendiri? Jawabannya adalah tidak.
Ocehannya berubah
menjadi teriakan yang menyedot habis semua suhu panas dari udara di sekitar
kami.
Tanpa sistem
keamanan sihirnya, ruang bawah tanah ini telah berubah menjadi gudang yang tak
terawat.
Belenggu
berterbangan, dan jaket pengaman yang telah terbuka itu tidak sebanding dengan
kekuatan seorang changeling.
"Tidakkkkkkk!"
teriak Lottie. Setengah detik kemudian, segala sesuatu di sampingku membeku
seketika. Kalau saja si sylphid tidak menyelimutiku dengan lapisan udara
hangat untuk melindungiku, aku pun pasti sudah membeku jadi es.
"Wah?!"
"Urk!
Helga!" teriak Ursula. "Tenanglah!"
"Tidak!
Ayah, berhenti!"
Helga
melayang dari lantai, dikelilingi oleh badai es yang berputar-putar dan
mengubur ruangan itu dalam salju.
"Jangan
bunuh aku! Jangan hancurkan aku! Jangan ambil diriku dari diriku
sendiri!"
Rak buku
retak karena perubahan suhu yang ekstrem, dan botol-botol yang menumpuk pecah
saat isinya membeku. Ruang di sekitar kami berubah menjadi api penyucian di
bawah nol derajat yang mustahil untuk ditinggali.
Si changeling
yang psikotik itu memohon belas kasihan berulang kali sambil menghujani kami
dengan kekuatannya yang liar.
Akhirnya,
kekuatannya mulai membekukan hal-hal yang belum pernah kulihat membeku
sebelumnya. Lantai batu yang retak dan pecahan kaca yang berserakan berubah
menjadi kristal es.
Oh
tidak, kalau terus begini...
Aku
bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, ketika tiba-tiba angin kencang bertiup
melewatiku.
Kemudian,
semuanya kembali seperti semula, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Hah?
Apa?" Helga telah menghilang, hanya menyisakan teriakan mengerikan yang
masih bergema di pikiranku.
Aku menoleh dan
melihat bahwa aku tidak sendirian dalam kebingungan ini: para alfar
tampak sama tercengangnya denganku.
Aku tidak tahu ke
mana dia pergi, atau mengapa. Yang kutahu hanya satu hal: aku telah melakukan
kesalahan fatal, persis seperti yang kutakutkan.
[Tips] Mereka yang telah menyimpang terlalu jauh dari rancangan asalnya hampir tidak dapat disebut sebagai makhluk yang sama seperti sebelumnya.
Akhir Musim Semi,
Usia Dua Belas — Bagian 3
Musuh — Entitas yang bersifat antagonis. Beberapa
telah dipersiapkan sebelumnya menggunakan materi sumber, sementara yang lain
diciptakan khusus oleh GM.
Terkadang, mereka menggunakan Unique Trait atau Skill
yang sangat kuat demi memenuhi peran mereka sebagai rintangan hidup.
GM yang sangat teliti bahkan membangun setiap musuh penting
dengan dedikasi yang sama besarnya seperti saat pemain menciptakan PC mereka.
Namun, satu benang merah yang menyatukan semua musuh adalah
kenyataan bahwa mereka semua adalah NPC yang dirancang untuk mengabaikan
dialog.
◆◇◆
Setelah menggaruk kepalanya dengan gestur yang kurang
anggun, Agrippina mendorong kacamata berlensa tunggalnya kembali ke posisi
semula.
"Aku sudah
memiliki anak ini selama sepuluh hari," gumamnya.
Nada suaranya
merupakan perpaduan antara kekesalan dan kekaguman saat ia mengamati ruang
bawah tanah lembap tempatnya berada.
Setelah dilucuti
paksa dari segala makna mistisnya, ruangan itu tak lebih dari sekadar ruang
bawah tanah kuno.
Namun,
jejak-jejak sihir yang melekat di dindingnya sudah lebih dari cukup untuk
membuatnya terkesan.
Di tempat ini,
terukir bahasa-bahasa kuno dari setiap penjuru benua; bahasa-bahasa yang telah
punah yang ditujukan kepada dewa asing, serta huruf-huruf suci yang sengaja
ditulis menyimpang untuk mengubah fungsinya. Buah harapan telah matang hingga
membusuk dari pohonnya, dan Agrippina dapat merasakan keyakinan sesat serta
kegilaan pekat yang melahirkan kegigihan semacam itu.
Methuselah
bergidik membayangkan seorang pria yang melakukan semua ini demi putrinya hanya
karena sebuah obsesi; ia ragu apakah ia bisa terpaku pada dirinya sendiri
dengan cara seperti ini, apalagi terhadap orang lain.
Dapat dikatakan
bahwa ritual di sini telah berhasil, dalam arti tertentu.
Saat pelayannya
mengirimkan pesan penuh ketakutan dan kepanikan melalui Voice Transfer
yang memintanya untuk memeriksa sesuatu, Agrippina tidak menyangka pelayan itu
akan membawakannya sesuatu yang begitu luar biasa.
Jika diingat
kembali, Magus pertama kali mendapati bocah itu terlibat dalam perkelahian
besar-besaran dengan segerombolan bandit, namun ia justru bertemu dengan Peri
tawanan dan Changeling yang hancur tepat setelah mereka berangkat.
Biasanya, jadwal
padat berisi peristiwa-peristiwa berintensitas tinggi seperti ini adalah hal
yang mustahil.
Tentu saja,
setiap orang pasti menemukan beberapa peluang petualangan besar dalam hidup
mereka, namun frekuensi di sini terasa tidak wajar.
Melihat
asistennya tersandung oleh serangkaian kejadian tak terduga—yang masing-masing
sebenarnya sudah cukup untuk memuaskan hasrat pencari sensasi normal selama
sisa hidup mereka—Methuselah tidak bisa menahan perasaan seolah-olah
bintang-bintang telah sangat tidak selaras pada malam kelahiran bocah itu.
Dan jika firasat
Agrippina benar, episode ini tidak akan berakhir semudah itu.
Ia memang telah
memindahkan anak laki-laki yang dimaksud kembali ke kereta, tetapi itu tidak
menjamin bocah akan terhindar dari masalah.
Setidaknya, Magus
memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa anak itu tidak akan bangun untuk
melihat matahari terbit tanpa terjadi sesuatu yang krusial.
Tampaknya si Changeling
yang cacat itu telah pergi setelah memperoleh kebebasannya.
Bahkan, orang
mungkin berasumsi bahwa dia ingin menjauh sejauh mungkin dari tempat terkutuk
ini.
Secara logika,
masuk akal baginya untuk melarikan diri agar tidak pernah terlihat lagi.
Agrippina tidak
tertarik dengan kekacauan yang mungkin ditimbulkan gadis itu di tempat lain.
Lagipula, tidak akan ada cara bagi siapa pun untuk menyelidiki asal-usulnya.
Namun, kemalangan
yang terus mengikuti pelayannya sejauh ini mulai membuatnya terusik.
Meskipun
menyebalkan harus meminjam kata-kata dari golongan orang bodoh terpelajar yang
ahli dalam ramalan dan urusan roh, ada sebuah pepatah di akademi yang sangat
cocok dengan situasi ini:
"Sembilan
kali dadu menawarkan angka satu; yang kesepuluh tidak boleh berdarah merah...
bukan begitu?"
Peluang untuk
mendapatkan angka satu sebanyak sembilan kali berturut-turut sangatlah rendah.
Lalu, berapa
peluang untuk mendapatkan angka lain pada lemparan kesepuluh?
Sebagai seorang
realis pragmatis dari Sekolah Fajar, Agrippina seharusnya langsung menjawab
"seperenam" tanpa ragu sedikit pun.
Namun,
probabilitas statistik hanya menunjukkan realitas sebagaimana yang dilihat oleh
para dewa di akhir eksistensi yang tak terbatas—dan hanya di sana, setelah
melampaui batas replikasi yang realistis, ia mencapai bentuk sempurnanya.
Gerakan tangan,
kemiringan meja, dan ketidaksempurnaan dadu itu sendiri membantah keberadaan
peluang satu-per-enam yang sempurna.
Percaya bahwa
angka satu ditakdirkan untuk mengikuti sembilan angka serupa lainnya adalah hal
yang tidak masuk akal... namun Agrippina mendapati dirinya merasakan hal yang
sama.
Meskipun pepatah
tersebut memiliki berbagai penafsiran di antara berbagai sekolah di akademi,
pada saat ini, Methuselah hanya dapat meyakini satu hal: kebetulan ditentukan
oleh apa yang memang seharusnya terjadi.
Anak laki-laki
berambut pirang dengan mata biru layaknya anak kucing ini memiliki seorang
saudara perempuan yang merupakan seorang Changeling, dan ia telah
meninggalkan desanya untuk menolongnya.
Segera setelah
itu, ia memikat seorang Elf—entah sengaja atau tidak. Sebagai puncaknya,
sekarang ia justru menemukan seorang Changeling lain dalam lingkungan
yang sangat mirip dengan kerabatnya yang belum berhasil ia selamatkan.
Rangkaian
kejadian ini terlalu sempurna; seolah-olah para dewa sendiri yang telah menulis
naskah dramanya.
Meminjam struktur
cerita kesayangan Agrippina, anak laki-laki itu seakan ditakdirkan untuk
memerankan kisah ini.
Jika ada satu
ketukan saja yang meleset, perjalanannya tidak akan terasa semengerikan ini.
Agrippina merasa
seperti seorang penulis dengan delusi keagungan yang melihat setiap karyanya
dan mengklaim bahwa segala sesuatu terjadi demi momen ini... termasuk
kehadirannya sendiri di ruangan ini.
"Absurd."
Si jenius
Methuselah itu mengejek seraya mengakhiri rangkaian pemikiran yang membosankan
tersebut.
Apa pentingnya
takdir yang tampaknya selaras?
Bahkan satu
setengah abad hidupnya yang menyedihkan sudah cukup untuk memberitahunya bahwa
dunia tidak tersusun dengan rapi.
Jika memang
begitu, seorang pertapa seperti ayahnya tidak akan pernah lahir dari kekacauan
yang tidak terikat.
Agrippina
mengakui bahwa situasi saat ini merupakan serangkaian anomali statistik yang
sulit dipercaya, tetapi implikasi di baliknya bukanlah urusannya.
Yang perlu ia
lakukan hanyalah mengarahkan segala hal agar menguntungkannya—baik ruang bawah
tanah ini maupun si Changeling itu.
Manusia adalah
pihak yang melempar dadu, dan ia akan mengambil setiap kesempatan untuk
memutarbalikkan hasil sesuai keinginannya.
Pertama-tama, ia
memutuskan untuk membongkar ruangan itu. Aura tempat yang tercemar oleh kasih
sayang yang tidak sehat ini tampak tidak berarti jika dibandingkan dengan nilai
ilmiahnya.
Dari sudut
pandang tertentu, ini adalah gudang harta karun. Meskipun embun beku yang
terus-menerus membuat beberapa barang tidak dapat diselamatkan, ruang bawah
tanah itu masih dipenuhi dengan artefak-artefak aneh yang akan memikat
perhatian seorang Magus.
Agrippina tidak
ragu bahwa banyak peneliti yang dipanggil oleh ayah gila itu telah dipelintir
dengan cara mereka sendiri.
Ia tidak dapat
menemukan penjelasan lain untuk mutasi menyakitkan yang diakibatkan oleh
mantra-mantra rusak tersebut.
Sementara
pertanda malapetaka mulai merayap ke arahnya, Magus memilih untuk mengutamakan
kesenangannya sendiri saat ia terjun ke dalam lautan pengetahuan tersebut.
[Tips] Pengguna sihir pengendali ruang yang berpengalaman dapat berpindah ke lokasi orang yang membawa penanda yang sesuai secara instan (Instant Teleportation), tidak peduli seberapa jauh target telah bergerak… bahkan jika target berada di dalam kereta besar yang sedang melaju.
◆◇◆
Seorang
gadis melayang sendirian di langit yang tak terbatas, terbang tinggi di atas
awan bersanding dengan bulan yang tengah membesar.
Pandangannya
kosong, tanpa arti, saat menatap rupa rembulan. Ia sama sekali tidak
menunjukkan tanda-tanda adanya kesadaran yang cerdas.
Hanya
disembunyikan oleh segel mengerikan bertuliskan kutukan, bekas luka yang
menjalar di sekujur tubuhnya yang kurus kering adalah pemandangan menyakitkan
yang meredupkan kehadirannya yang kian memudar.
Masihkah ada
sosok gadis di sana? Mungkin sosok yang dicintai semua orang dengan nama Helga
itu sudah tidak ada lagi—yang tersisa hanyalah bayangan yang melayang dalam
rupa dirinya.
Bukan Mensch
maupun Elf, gadis itu adalah perwujudan kekacauan yang nyaris tak mampu
memahami kebebasannya sendiri selagi ia menuruti insting anehnya untuk melayang
di udara.
Entah mengapa,
bulan yang kian benderang itu memanggilnya; ia tertarik padanya seperti
seseorang di ambang kematian yang masih mendambakan setetes air untuk memuaskan
dahaga.
Saat ia menikmati
cahaya bulan yang telah lama terlupakan dengan seluruh raga, sebuah gelembung
ingatan naik ke permukaan benaknya, persis seperti gelembung-gelembung yang
kerap mengganggu pikirannya yang tak beraturan dalam tidur panjangnya.
Rambutnya
berwarna emas, bersinar terang bahkan dalam kegelapan. Satu asosiasi berganti
menjadi asosiasi lain, dan terus berlanjut.
Rambut emas
melahirkan ingatan tentang mata biru; mata biru membangkitkan suara yang berat.
Saat
serpihan-serpihan itu terkumpul, ingatan akan kebahagiaan yang terpecah-pecah
ini berubah menjadi sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan: berpikir.
"Ayah..."
Suara serak
seorang gadis muda menggema di udara tipis yang sunyi.
Kata-kata pertama
yang ia ucapkan dalam lebih dari setengah abad itu membangkitkan kembali memori
yang hilang... hari-hari penuh kebahagiaan bersama ayahnya yang penuh kasih.
Mungkin, pikirnya, ayahku yang baik telah
datang menjemputku.
Meskipun hal itu
mustahil, kelelahan dan kerusakan mental yang mengikutinya keluar dari neraka
tanpa akhir di dalam penjara pikirannya membuatnya tak mampu menyadari
kenyataan.
Baik
ketidakmungkinan bahwa penyiksanya akan datang menyelamatkan, maupun
bertahun-tahun waktu yang telah ia habiskan di dalam penjara, semuanya luput
dari puing-puing pikirannya yang kacau.
"Oh, Ayah.
Ayah!"
Begitu tersulut,
ide-ide menyimpangnya melahirkan fantasi dengan kecepatan yang kian pesat; ia
mengusik lumpur yang mengendap di dasar otaknya, mengungkap cinta cacat yang
menyatukan kelainan unik dari belahan otak manusianya (Mensch) dan belahan otak
peri (Elf).
"Kau datang
untukku! Kau bahkan memelukku, dan aku..."
Diri yang hancur
itu menambal bagian-bagiannya yang hilang dengan pecahan pikiran yang tersisa:
sosok anak laki-laki yang sempat ia lihat sekilas kini menindih kekosongan
memori yang sebelumnya berisi rasa sakit mengerikan yang sengaja ia buang.
Awan-awan di
sekelilingnya membentuk rupa baru seiring gumpalan uap bergabung dan terpisah;
dengan cara yang sama, ingatannya bergeser di setiap detik yang berlalu.
Gadis itu dicintai. Dia tidak pernah terluka.
"Ayah" telah datang untuk membawanya pulang.
"Oh, aku
harus minta maaf! Ayah, aku minta maaf. Ayah, oh ayah... Ayah!"
Nada suaranya
berubah-ubah, namun kian lama kian manis. Iris matanya yang gila bergetar saat
tatapannya kembali tajam.
Ayahnya pernah
memuji kelopak matanya yang lembut dan sayu sebagai kenangan terindah dari
ibunya; namun pesona masa lalu itu tak lagi berbekas.
Yang tersisa
hanyalah kegilaan yang nyata. Air mata mengalir di mata biru es gadis itu saat
ia mulai tertawa.
"Ayah, oh
ayah! Helga-mu akan datang! Kita akan bersama lagi! Mari kita menjadi keluarga
yang bahagia, sekali lagi!"
Ingatannya tidak
cukup kuat untuk dipegang teguh, namun karena tak ada hal lain yang tersisa,
gadis itu melayang di udara sambil tertawa terbahak-bahak.
Baik kilatan
petir yang menembus awan maupun hujan yang membasahinya hingga ke tulang tak
mampu menghentikannya—bahkan, air di sekitarnya mengembun menjadi bongkahan es,
yang justru menambah kekuatannya.
"Ke bukit
tanpa batas itu! Bergabunglah denganku di bukit senja abadi! Di mana tak
seorang pun dapat memisahkan kita lagi!"
Itulah hak
lahirnya. Meski tak mampu memahami asal-usul Mensch maupun Elf-nya, kekuatan
yang bersemayam di dalam dirinya tidak membutuhkan niat untuk terwujud.
Kekuatannya
adalah kekuatan es: di mana musim dingin mengundang para pemimpi untuk tidur
tanpa pernah terbangun, ia akan mengumumkan kedatangannya.
Hawa dingin yang
mematikan ini adalah inti keberadaannya bahkan sebelum ia terbentuk dalam
rahim.
Embun beku tidak
sekeras salju, namun jauh lebih kelam daripada sekadar dingin; Reifalf
yang memimpinnya berasal dari garis keturunan roh musim dingin.
Terikat oleh
naluri, peri itu terbang mengejar aroma nostalgia—menuju orang yang ia anggap
sebagai kekasihnya. Bulan menyaksikan tanpa kata saat tawa histeris itu
menyebar ke setiap sudut langit malam.
[Tips] Setiap individu Elf menguasai beberapa konsep;
mereka yang menguasai subjek yang lebih abstrak dianggap jauh lebih berkuasa.
◆◇◆
Sambil menatap bulan tengah malam yang cemerlang, aku
akhirnya mulai merasakan sedikit kedamaian.
Nona Agrippina telah memutuskan untuk menghentikan kereta
kudanya guna menyelidiki rumah besar itu.
Setelah membatalkan reservasi kami di penginapan berikutnya,
kami kembali ke tempat aku menghadapi serangan siang hari tadi untuk berkemah
malam ini.
Rupanya kereta itu terus melaju menuju penginapan setelah
aku pergi, tetapi semuanya segera beres begitu aku mengiriminya pesan yang
menjelaskan situasinya.
Nyonya itu muncul dari distorsi ruang-waktunya yang biasa
dan melemparkanku kembali ke dalam kereta.
Aku masih berkutat dengan rasa sakit yang mengerikan karena
ditinggal sendirian setelah melakukan kesalahan besar.
Aku bisa merasakan perutku bergejolak, sama seperti yang
sering kurasakan dalam ingatanku tentang kehidupan sebagai pekerja kantoran
dulu.
Meski begitu, aku sangat lelah sehingga aku harus mengakui
bahwa aku juga merasa bersyukur.
Setelah meminum sedikit obat yang ia campurkan ke dalam
tehku, rasa sakit yang menyengat di tubuhku perlahan menghilang seperti
fatamorgana.
Elisa adalah
satu-satunya penyelamatku.
Begitu dia
mendengar bahwa kami akan makan di meja yang sama dan tidur di ranjang yang
sama untuk malam ini, suasana hatinya langsung membaik.
Meskipun dia
tampak khawatir dengan bau darah yang masih mengikutiku, dia langsung tertidur
begitu aku membaringkannya.
Sayangnya, aku
merasa begitu gelisah sehingga aku merangkak keluar dari tempat tidur dan
berakhir di sini, menghirup udara malam.
Aku teringat
kembali pada anak yang telah kuubah wujudnya, yang terbangun di rumah bangsawan
tadi.
Helga begitu
menyita pikiranku hingga rasa kantuk tak mampu menyentuh jiwaku yang lelah.
"Rambut
ini..."
Di ambang
kesadaranku, aku mengacak-acak rambutku sendiri. Warna keemasan samar di ujung
penglihatanku adalah sedikit kebanggaan yang kuwarisi dari ibuku; aku tak
pernah menyangka akan merasa sebal seperti sekarang.
Meskipun
mengesankan bahwa aku berhasil mewarisi beberapa sifat resesif dari orang
tuaku, sifat-sifat itu terbukti hanya merepotkan.
Jika aku tidak
memiliki penampilan yang sangat disukai para Elf itu, apakah segalanya akan
berbeda?
"Lelah
karena hari yang panjang, wahai Kekasih?"
Sebuah suara
memanggilku dari belakang saat aku tengah merenungkan berbagai kemungkinan masa
depan.
Aku tidak perlu
menoleh untuk mengetahui bahwa Svartalf yang memanggilku ke rumah danau itu
kini sedang duduk di atas kereta.
"Aku akan
memberitahumu bahwa kau salah jika ingin meminta maaf padaku."
Ursula
benar-benar membaca pikiranku, hingga napas kering terhenti di tenggorokanku.
Mengapa semua orang di sekitarku tahu persis apa yang kupikirkan di saat-saat
kritis seperti ini?
Aku ingin meminta
maaf—bukan kepada siapa pun secara khusus—dan aku tidak ingin dimaafkan. Aku
ingin disalahkan.
Secara prinsip,
mencela diri sendiri tidak mungkin dilakukan sendirian—jika bisa, maka tidak
akan ada masalah. Aku mencari cara yang vulgar agar orang lain bisa mengutukku
sebagai gantinya.
Jauh lebih mudah
untuk bertindak seperti orang malang yang selalu menunggu dimaafkan oleh orang
lain daripada benar-benar memaafkan diri sendiri.
Aku memang
menyedihkan: pikiranku kacau balau memikirkan konsekuensi dari tindakanku
sendiri... tetapi sebenarnya tidak ada jawaban yang benar sejak awal.
Jika aku
menebasnya saat itu juga, aku pasti akan tetap menyesali pilihanku.
"Lagipula,
bukankah aku sudah mengatakannya?" Tanpa peringatan, si Svartalf itu
memelukku dengan lembut dari belakang. Aroma bunga yang menggelitik, sensasi
kelembutan kulitnya, dan kehangatan yang merambat ke leherku dari jari-jarinya
yang lentur menyita seluruh perhatianku.
"'Aku tidak
akan menaruh dendam padamu, apa pun yang terjadi,' ingat?"
Sungguh kata-kata
yang manis; begitu baik, namun terasa begitu kejam.
Dia tidak
memaafkan—dia hanya menerima.
Meskipun aku
merasa perlakuannya lebih baik daripada hukuman yang pantas kuterima atas
dosa-dosaku, kenyataannya adalah setitik penerimaan saja sudah cukup untuk
meringankan rasa sakitku.
Dimanjakan adalah
bentuk cinta yang lebih manis daripada sekadar perhatian... tetapi aku tidak
bisa membiarkan diriku terus dimanjakan olehnya.
Aku merasa bahwa
aku tidak akan pernah bisa bangkit kembali jika aku menyerah pada kenyamanan
ini.
"Terima
kasih." Namun, aku tidak menolaknya, karena aku tidak cukup kuat untuk
menolak kebaikan hati orang lain.
Ugh… Andai saja aku lebih kuat.
Empat puluh tahun total usia jika digabungkan, dan hanya ini
kemampuanku?
Aku tidak lebih baik dari anak nakal lain seusiaku.
Ketidakberdayaan yang menyayat hati ini hampir membuatku
menangis.
Aku
menggenggam tangan yang tergantung di depan dadaku. Saat aku meremas kehangatan itu, Ursula
melingkarkan jari-jarinya ke jemariku.
Luapan emosi yang
selama ini kutahan di mataku akhirnya luruh dan jatuh ke punggung tanganku...
membeku seketika layaknya kristal es.
"Apa—"
Seketika, malam
musim semi yang tenang mulai bergejolak. Suhu yang semula nyaman tiba-tiba
merosot drastis menjadi dingin yang menusuk, menyebabkan kulitku merinding di
balik pakaian tidur yang tipis.
Burung-burung
terbang panik dari pepohonan sekitar, dan aku bisa merasakan keputusasaan pada
hewan-hewan yang melarikan diri dari daerah itu.
Mereka semua
dikejar oleh musim dingin yang tak diundang, serta tidur lelap mengerikan tanpa
akhir yang menyertai hawa dingin tersebut.
"Kenapa?"
gerutu Ursula.
Aku tidak butuh
gumaman Svartalf untuk mengetahui apa yang telah terjadi.
Aku sudah
merasakan hawa dingin yang meninggalkan lapisan es pada jiwa itu sendiri: dia
datang—puing-puing kehidupan yang sebelumnya tersegel di dalam rumah besar itu.
Saat
mendongak, aku bisa melihat siluet melayang membelakangi bulan.
Cahaya
putih yang bersinar di belakangnya terasa sama tajamnya dengan hawa dingin yang
menyelimuti perwujudan hidup dari dosaku itu.
"Hehe..."
Helga, si
Reifalf, ada di sini. Begitu dia melihatku, wajahnya yang kaku berubah menjadi
senyum penuh pesona.
Dengan
kedua tangan menempel di pipi, dia memanggilku seolah ingin mengumumkan
delusinya ke seluruh dunia. "Aku menemukanmu, A-yah..."
Meskipun
hal itu wajar bagi seseorang yang dikurung dalam kondisi mengenaskan selama
ini, melihatnya kembali membuatku sadar betapa hancur kondisi mentalnya. Dia
tampaknya tidak mampu memahami bahwa tuan tanah telah meninggalkan wilayah ini
jauh sebelum rumah itu runtuh.
Terlebih
lagi, aku ingat lukisan-lukisan lapuk yang menghiasi aula utama: selain
kemiripan dangkal pada warna rambut dan mata, aku tidak punya kemiripan apa pun
dengan pemilik rumah yang mulia itu.
Di antara
potret seorang pria yang tegang namun berwibawa dan seorang wanita berambut
cokelat yang tampak lembut, terdapat ruang kosong yang cukup untuk satu bingkai
lagi dengan ukuran yang sama.
"Ayo pulang,
Ayah. Ke rumah kita, di bukit senja itu."
Helga benar-benar
telah kehilangan akal sehatnya hingga ia harus menyamakan orang asing dengannya
ayahnya demi bisa bertahan.
Betapa mudahnya
jika aku memanggil namanya dan memeluknya seperti yang pernah dilakukan
ayahnya... tetapi apa yang akan terjadi setelah itu?
Aku tidak
bisa bermain peran dengannya selamanya. Aku adalah Erich, warga negara kanton
Konigstuhl, putra keempat Johannes, kakak laki-laki Elisa, dan pelayan
Agrippina du Stahl.
Aku tidak
bisa mengesampingkan semua yang telah kusumpah untuk kulindungi demi memeluk
erat jiwa yang tersesat ini.
"Yang
Terkasih..."
"Aku tahu,
Ursula."
Aku
memotong bisikan khawatir Elf dengan berdiri dan melepaskan diri dari
pelukannya. Secara alami dan tanpa sedikit pun rasa cemas, aku mendekati gadis
yang melayang itu. Tanpa perlengkapan maupun senjata, aku maju sesosok mungkin
agar tampak tak berdaya.
Sungguh
menyedihkan untuk mengakuinya, namun menjaga ketenangan ini hampir melampaui
batas kemampuanku.
Kakiku terasa
bisa lumpuh kapan saja, dan aku tak bisa merasakan kekuatan apa pun dalam
kepalan tanganku.
Terkubur dalam
rasa bersalah dan penyesalan, nuraniku memohon agar terhindar dari tugas
mematikan ini.
Namun, ini adalah
konsekuensi dari tindakanku, dan akulah yang harus mengakhirinya.
Kalau saja aku
tidak bersikap selunak itu, Helga mungkin tidak akan menderita seperti ini.
Jadi, aku juga
harus ikut menderita: setelah dirundung kecemasan hingga akhir, setelah terluka
hingga akhir, aku harus menjalani ini tanpa penyesalan lagi.
Harga dari
kebodohan tidak bisa diutang, dan dia sudah cukup menanggung beban kesalahanku.
"Oh, Ayah! Itu benar-benar Ayah! Ayah di sini untuk memelukku, bukan? Ayah di sini
untuk menerimaku, kan? Ayah di sini untuk mengusir mimpi buruk itu!"
Helga
menukik dengan anggun di udara ke arahku. Aku merentangkan tangan untuk
memeluknya... sembari menggunakan Unseen Hand untuk menarik pisau ajaib
dari lengan bajuku ke tangan kanan.
Aku
sempat berharap dia tidak akan datang malam ini, tetapi aku telah mempersiapkan
diri, tahu bahwa peristiwa sebesar ini tidak akan berakhir begitu saja.
Sama
seperti sesi permainan yang tidak akan berakhir hanya dengan satu pertemuan
acak, setiap cerita pasti berlanjut hingga mencapai konklusinya.
Batu yang
menggelinding tidak akan berhenti hingga mencapai dasar bukit atau hancur
berkeping-keping.
Aku sudah
sangat menyesalinya. Apa yang akan kulakukan sekarang tidak akan kusesali lagi.
Aku
mengulang-ulang mantra itu di dalam kepala.
Jarak
kami kian dekat, dan tak lama lagi Helga akan berada dalam dekapanku.
Kesempatan
sempurna ini adalah peluang terakhirku. Kegagalan bukanlah pilihan; jika aku
gagal, dia akan kehilangan kesempatan terakhirnya untuk beristirahat dengan
tenang.
Pada saat yang
menentukan itu, aku menusukkan belatiku ke depan tanpa ragu, membidik lehernya.
Kelemahan ini
tidak hanya berlaku pada manusia; hanya mereka yang tidak lagi menghargai raga
fana yang bisa mengabaikan serangan pada organ vital.
Terjebak dalam
tubuh manusia, seorang Changeling tetaplah rentan di bagian ini.
"Ayah...?"
Di detik
terakhir, gerakanku untuk memeluknya terpotong oleh kilatan pisau saat aku
menggorok lehernya yang kurus.
Itu sama sekali
bukan sensasi yang menyenangkan, tetapi aku tidak membiarkan hal itu
menghentikanku; keraguan apa pun hanya akan dianggap sebagai tindakan tidak
manusiawi.
Aku telah membuat
luka yang begitu lebar; sedikit lagi saja, kepalanya pasti akan terpenggal.
Tidak mungkin seseorang bisa selamat dari luka separah ini... tetapi kenyataan
berkata lain.
"Apa?!"
Tanpa setetes
darah pun, pisauku terlepas dari tubuhnya dengan perlawanan yang bahkan lebih
ringan daripada memotong udara.
Menatap karambit
yang masih bersih tanpa noda itu, aku menyadari kesalahan fatalku. Helga telah
lama meninggalkan dunia mahluk fana.
"Oh, Ayah,
kenapa?! Apa Ayah benar-benar... Hah? Tapi tidak, ini tidak nyata, ini pasti mimpi buruk... tapi ini nyata. Dan
Ayah membawa pisau. Ayah, oh, persetan dengannya, AUGH!"
Racauan gila
keluar dari lehernya yang terbuka, dan warna biru dingin di matanya kontras
dengan air mata merah yang mengalir di pipinya.
Sial! Apakah
semua keberuntunganku seburuk ini hari ini?!
Begitu aku
menyesali keputusan salahku, udara di sekitar Helga meledak. Hawa dingin yang
menusuk mengoyak kulitku, namun tidak sekeras butiran-butiran es yang melesat
tertiup angin dan membuatku terpelanting.
Namun, aku belum
mati; aku hampir tidak merasakan sakit saat berguling saat terjatuh. Hanya ada
satu penjelasan mengapa aku selamat dari amukan badai itu tanpa satu pun jari
yang patah.
"Ptooie!
Nyaris saja!" Aku tidak tahu kapan dia masuk ke sana, tetapi Lottie
menyembul dari saku dalamku dan menciptakan bantalan udara besar untuk
melindungiku. Tanpa dia, aku pasti sudah teriris-iris oleh bilah-bilah es yang
berputar-putar.
"Sayangnya,
Helga yang malang telah tersesat sepenuhnya," kata Ursula.
"Helga!"
teriak Lottie. "Berhenti! Jangan marah lagi! Kau tidak akan menjadi Elf
ataupun manusia lagi—kau akan berubah menjadi sesuatu yang sangat jahat!"
Gadis itu
menggeliat dengan cara yang melampaui batas gerak fisik seiring ia
bermetamorfosis menjadi sesuatu di luar nalar manusia maupun Elf.
Aku tidak tahu
apakah ini dipicu oleh kondisi mentalnya atau eksperimen yang ia terima, tetapi
satu hal yang pasti: jika aku tidak menghentikannya di sini, dia akan menderita
lebih hebat lagi.
"Ursula,
Lottie, dukung aku!"
Aku beralih ke
taktik lain dan bersiap untuk bertempur. Ini bukan lagi upaya untuk
menyelesaikannya secara diam-diam; situasi telah berubah menjadi pertempuran
terbuka.
Dengan genggaman
erat pada pisau peri, aku melesat maju sembari merapal Unseen Hand—namun
kali ini berbeda.
Saat Nona
Agrippina mengirimku kembali ke kereta, aku telah bersiap untuk kemungkinan
terburuk dengan melakukan modifikasi pada skill tersebut.
Sejauh
ini, tidak ada mantra lain yang bisa menandingi fleksibilitasnya.
Tanpa
peningkatan, skill ini hanya berguna untuk mengambil peralatan masak
yang jatuh, tetapi dengan penyesuaian yang cerdik, ini adalah pisau serbaguna
yang ajaib.
Pertarunganku
dengan Daemon raksasa sebelumnya telah memberiku banyak pengalaman.
Aku
menyadari satu hal setelah pertemuan dengan para penculik: setiap tindakan yang
mempertaruhkan nyawa akan menghasilkan keuntungan besar.
Melihat
angka yang melonjak pada Status Window milikku, aku tidak segan-segan
mengalokasikan poin, tahu bahwa situasi seperti ini mungkin terjadi.
Aku
membentuk Unseen Hand: lebih tebal, lebih panjang... dan dalam jumlah
yang lebih banyak. Satu per satu, enam lengan hantu terbentuk di sekelilingku.
Semuanya
menjangkau bagian atas kereta kami untuk mengambil rampasan perangku: pedang
dan perisai raksasa milik musuhku di ruang makan tempo hari.
Peralatan
raksasa itu pasti terbuat dari bahan khusus, karena aku tidak bisa
mengangkatnya dari tanah dengan kekuatan fisikku saat ini, berapa pun Mana yang
kucurahkan ke dalam mantra. Saat memikirkan teka-teki itu, aku mendapat
pencerahan.
Ada add-on
untuk memanggil tangan tambahan, jadi bagaimana jika aku menumpuknya menjadi
satu?
Taruhanku
membuahkan hasil. Senjata-senjata mengerikan yang dulu hampir membelahku kini
melayang di udara, siap melayaniku.
Aku menempatkan
perisai di sisi kiri dan pedang di sisi kanan—dari jauh, aku pasti terlihat
seperti anak kecil dengan lengan raksasa.
Jika aku harus
memberi nama pada kombinasi ini, aku akan menamainya Invisible Behemoth.
Sayangnya, aku
tidak bisa membawa barang-barang seberat ini ke mana-mana, jadi aku hanya bisa
menggunakan teknik ini jika menemukan senjata besar untuk "dipinjam".
Rencana awalku
sebenarnya adalah melengkapi setiap tangan dengan pedang standar, tetapi
pertemuan mendadak ini mengubahnya menjadi sesuatu yang jauh lebih dahsyat.
Karena tubuhku
masih kecil, perisai itu praktis menjadi dinding bergerak yang melindungiku
sepenuhnya saat aku merangsek maju.
Dengan posisi
miring, aku menggunakannya untuk membelah angin kencang. Perisai itu mengerang
di bawah tekanan badai es.
Yang paling
menakutkan adalah jari-jariku mulai mati rasa, bahkan dengan penghalang milik
Lottie.
Helga mengubah
lingkungan sekitarnya menjadi musim dingin hanya dengan keberadaannya
saja—bukti kekuatan besarnya sebagai Elf di masa lalu.
Aku hampir
menyerah beberapa kali saat berjuang melawan badai untuk maju perlahan.
Sementara itu,
teriakan mengerikan menusuk otakku jauh lebih keras daripada deru angin.
Suara Helga terdengar seperti jiwa yang dihancurkan dan sisa-sisanya disebar ke udara. Suaranya sendiri mungkin adalah sebuah mantra; entah dari mana, segenggam bayangan muncul di tengah badai, sama sekali tidak terpengaruh oleh angin puyuh di sekitar mereka.
Dengan kemampuan
bahasaku yang terbatas, aku kesulitan menggambarkan bayangan-bayangan
menjijikkan itu.
Mereka tampak
seperti boneka cacat yang terbuat dari bongkahan es dan batang pohon
berserakan, tidak jauh berbeda dengan hasil prakarya tanah liat anak-anak yang
gagal.
Siluet-siluet
berkerudung ini dibentuk dengan kikuk, kecuali bagian tangan mereka yang
dipoles dengan sangat buruk.
Lengan mereka
mengecil dan meruncing menjadi gergaji, bor, pisau, palu, dan berbagai jenis
senjata tajam lainnya—semuanya terasa familier.
Seperti instrumen
penyiksaan uyang ditinggalkan di ruang bawah tanah, sosok-sosok berkerudung ini
adalah perwujudan dari trauma masa lalunya.
Para penyihir dan
Magia yang pernah menyiksanya kini mengambil bentuk es yang dingin
sebagai senjatanya.
Helga hanya
memproyeksikan apa yang membuatnya takut dan mencoba menggunakannya untuk
melawanku. Aku tidak bisa tersenyum, meskipun aku memahami maksudnya yang naif.
Para pengikutnya
itu membelah diri dengan sangat cepat hingga aku berhenti menghitung jumlah
mereka.
Gawat. Jika aku
tidak menghentikan mereka, mereka akan menyerang kereta!
Boneka-boneka
beku yang cacat itu berlari kikuk ke arah luar. Mereka tidak memusatkan
serangan padaku; para pelari cepat yang kacau ini hanya mencoba menghancurkan
apa pun yang bisa mereka jangkau. Mereka didorong oleh gagasan kekerasan yang
kekanak-kanakan.
Betapapun
menyedihkannya ini, aku tidak dapat bertarung di tengah badai.
Aku harus menjauh
dari pusat badai yang paling kuat agar dapat menggunakan senjataku dengan
benar.
Menghadapi
seorang gadis sendirian adalah satu hal, tetapi melawan gerombolan musuh dalam
kondisi seperti ini adalah hal yang mustahil.
"Tidak perlu
khawatir, Kekasihku." Aku menoleh ke arah bisikan di telingaku dan
mendapati Ursula telah kembali ke wujud kecilnya dan duduk di bahuku.
"Izinkan aku
menunjukkan kepadamu kekuatan sejati seorang Svartalf. Mereka tidak perlu
memiliki nyawa agar aku bisa membutakan mereka."
Terdengar suara
benturan keras. Aku menoleh dengan terkejut saat melihat dua bayangan saling
bertabrakan.
Pemandangan
monster-monster ini saling hantam dengan kecepatan penuh dan meledak menjadi
serpihan es sungguh mengerikan.
Jika aku mencoba
melawan seseorang yang dapat melakukan manipulasi seperti ini, aku pasti akan
kalah seketika.
Sambil menyerap
aura dahsyat makhluk gaib itu ke dalam diriku, aku menguatkan tekad dan
mengayunkan pedang raksasa di tanganku.
Tanpa kecerdasan
atau keterampilan untuk menghindar, bayangan-bayangan itu hancur
berkeping-keping seperti patung kaca.
Wah,
sepertinya aku bisa melakukannya.
Berbekal
kepercayaan diri yang baru, aku menebas boneka-boneka yang kebingungan
itu—secara individu, mereka ternyata bukan ancaman besar.
Kekuatan pedang
besarku yang dahsyat tidak memerlukan teknik rumit untuk menimbulkan kerusakan.
Beban yang tak
terhentikan yang diayunkan dalam lengkungan lebar adalah resep sempurna untuk
kehancuran.
Namun, aku
menyadari adanya kekurangan saat mempertahankan kereta. Baik saat mengayunkan
pedang atau bersiap dengan perisai, tubuhku ikut bergerak sedikit demi sedikit
untuk menyesuaikan momentum.
Gerakan bebas
lenganku yang sebenarnya justru menunjukkan ketidakmampuanku untuk
mengendalikan banyak tangan secara sempurna.
Mirip dengan
kecenderungan intuitif seorang anak yang sedang bermain gim balap, aku secara
refleks meniru gerakan yang aku lihat di pikiranku.
Ini kurang ideal.
Untuk saat ini, aku hanya memegang dua benda dan tidak ada senjata utama yang
dipasecara fisik, tetapi ini tidak cukup efektif untuk penggunaan optimal.
Jelas, aku
membutuhkan upgrade berupa Parallel Processing; aku tidak boleh
membiarkan celah seperti ini membahayakanku di lain waktu.
Tentu saja, itu
jika aku masih hidup untuk melihat waktu berikutnya.
Bahkan dengan
bantuan Ursula, aku hampir tidak bisa bertahan, dan pasukan yang tak ada
habisnya itu mulai mengepung kami.
Langkah mundur
taktisku untuk menghindari badai Helga justru membuatku terpojok, terkepung
dari segala arah.
Menghancurkan
musuh yang mendekat sebenarnya mudah: cukup tebasan atau hantaman tanpa pikir
panjang.
Aku teringat pada
video gim di kehidupan sebelumnya, di mana level-level dipenuhi dengan unit
kroco tak terhitung yang menunggu untuk dibantai.
Namun, meskipun
adegan ini sangat mirip, aku tidak dapat menyebutnya sebagai gim musou.
Menghancurkan
manusia es ini sama sekali tidak terasa melegakan.
Setiap detik yang
kuhabiskan di sini memberi waktu bagi pasukan tak terbatas itu untuk
mengabaikan korban dan melanjutkan serangan gencar mereka.
Sederhananya, aku
tidak punya cukup daya tembak. Mereka akan segera mencapai kereta—di mana putri
yang sedang tidur harus kulindungi.
Kepanikan yang
memuncak membuat gerakanku tumpul, dan pengeluaran Mana yang besar untuk
membawa dua senjata raksasa itu membuat kepalaku pening.
Ini
buruk. Kalau terus begini…
"Adakah
yang bisa menjelaskan mengapa pelayan kecilku selalu mendapat masalah setiap
kali aku berkedip?"
Dalam
sekejap mata, bola hitam kematian merobek kumpulan siluet itu dan melenyapkan
sebagian besar gerombolan musuh.
Mereka
tidak hancur; tidak, mereka menghilang begitu saja. Sambil berputar, aku
melihat majikanku berdiri di atas kendaraannya sendiri.
"Aku
kembali setelah merasakan fluktuasi sihir, dan sepertinya instingku benar. Wah,
lihatlah betapa compang-campingnya dirimu."
Nada
bosan khas Nona Agrippina dalam menghadapi situasi genting berasal langsung
dari kepercayaan dirinya yang tak tergoyahkan—dan pada saat ini, tidak ada yang
lebih menenangkan hatiku selain itu.
"Tetap saja,
ini adalah tontonan yang luar biasa. Makhluk apa itu? Aku bahkan tidak bisa
mulai memahami bagaimana seorang Changeling bisa menjadi seperti
itu."
Helga masih
meronta-ronta, sama sekali tidak menyadari berkurangnya pasukannya.
Sang
Nyonya menatapnya dengan ragu. Pandangannya kosong dari minat ilmiah; peneliti
yang boros itu hanya tampak jijik melihat penampakan asing di hadapannya.
"Bagaimana
sesuatu dapat terus hidup setelah menyimpang begitu jauh dari hukum dunia,
sungguh di luar nalar," katanya.
Bahkan
Agrippina du Stahl tidak dapat menemukan tujuan dalam keberadaan Helga.
"Kau
benar-benar punya bakat untuk menemukan hal-hal aneh. Memikirkan kau akan
menyihir makhluk yang sudah hancur tepat di ambang kematiannya. Apakah kau
yakin dirimu tidak dikutuk?"
Uraiannya
yang tak berperasaan hampir membuatku marah, tetapi aku tidak punya waktu atau
tenaga untuk membalasnya.
Tetap
saja... jelas bahwa bahkan Magus, dengan segala kebijaksanaannya, menganggap
Helga sebagai sosok yang tak tertolong.
Dia tidak
mengatakannya dengan gamblang, tetapi aku tahu dari suaranya bahwa dia tidak
keberatan memusnahkan gadis itu.
"Baiklah,"
katanya. "Mengganggu tetaplah mengganggu. Aku akan—"
"T-Tunggu
dulu!" teriakku.
"Hm?"
Wanita itu berhenti sejenak, padahal beberapa detik lagi ia akan menyelesaikan
mantra yang akan mengakhiri segalanya.
Jangan. Tidak
akan ada artinya jika Anda yang melakukannya.
Akulah yang
memulai tragedi ini; akulah yang harus mengakhirinya.
Kalau tidak,
mengapa Ursula dan Lottie bersikap pasif dalam membantuku?
Salah satu dari mereka bisa saja memusnahkan
musuh ini ratusan kali… tetapi mereka juga pasti berpikir ini adalah akhir
terbaik yang bisa diharapkan Helga.
Itulah sebabnya
para Elf menyerahkannya padaku.
Mereka berkata
bahwa mereka tidak akan menaruh dendam padaku, apa pun yang terjadi: aku yakin
itu termasuk masa depan di mana aku gagal di tangan Changeling yang
hancur.
Peri memang
mengatakan hal-hal yang terdengar manis, tetapi nilai-nilai mereka sangat
berbeda dengan manusia.
"Lakukan
sesukamu. Aku tidak akan rugi apa-apa," kata Nona Agrippina setelah jeda
sejenak. Dia mendesah dan duduk dengan lesu di tepi kereta, menyilangkan kaki
rampingnya dengan anggun.
Sambil menarik
pipa kesayangannya dari celah dimensi, dia menambahkan, "Aku akan mengurus
bagian belakang. Buku-buku bilang kita harus membiarkan anak-anak memiliki
kebebasan mereka sendiri."
"Terima
kasih banyak!"
Begitu tuanku
menerima permintaan egoisku, aku mendengar deru pelan bola-bola hitam pekat di
sekelilingku.
Mengetahui
kekuatan mereka, sungguh menenangkan memiliki mereka sebagai pendukung; tetap
saja, aku tidak bisa menahan rasa khawatir jika salah satunya meleset.
Ada cara untuk
memodifikasi mantra guna mencegah friendly fire, tetapi… aku ragu dia
tipe orang yang peduli pada keselamatan barisan depan.
Meskipun dia
mungkin akan menghindari kerusakan tambahan demi efisiensi, aku bisa
membayangkan dia berkata bahwa itu adalah tanggung jawabku untuk menghindar.
Bagaimanapun
juga, fakta bahwa aku tidak perlu lagi mengkhawatirkan punggungku berarti yang
tersisa bagiku adalah—
"Kakak?"
Aku mendengar
derit pintu kereta dan suara lembut yang mengiringinya, terdengar jelas meski
angin bertiup kencang.
Saat aku
berbalik, kudengar Nona Agrippina bergumam, "Ya ampun," dan aku
melihat Elisa mencoba turun dari kereta.
Hanya mengenakan
gaun tidur sederhana dan memeluk bantal besar, dia pasti baru saja terbangun
karena semua keributan ini.
Begitu menyadari
aku tidak ada di sisinya, insting pertamanya adalah mencariku.
Aku hanya
bermaksud keluar sebentar, jadi aku membiarkan pintu tidak terkunci; Nona
Agrippina jelas tidak memperhitungkan hal ini dalam pengawasannya.
"Elisa,
tetaplah di dalam! Berbahaya!"
"Tapi, tapi!
Kakak, ini menakutkan! Siapa dia?"
Upayaku untuk
mendorongnya kembali ke dalam sia-sia, karena Elisa berjalan terhuyung-huyung
dengan kaki kecilnya keluar dari kereta.
“AAUUUUUGHHHH?!”
Ratapan tajam
yang keluar dari paru-paru Helga menyampaikan emosi yang lebih dalam daripada
cekikikan, erangan, maupun jeritan yang mendahuluinya.
Rasa sakit yang
amat dalam di jiwanya tidak mengenal nama lain selain Despair. Helga
telah melihat satu hal yang seharusnya luput dari pandangannya.
Jika ia
benar-benar percaya bahwa aku adalah ayahnya, maka bagaimana pikirannya akan
berubah saat melihatku mendekap gadis muda lainnya?
Kau pasti tahu
jawabannya.
Aku segera
melepaskan pedang raksasa itu dan mengarahkan kembali Unseen Hand-ku
untuk mendekap Elisa.
Aku menarik
tubuhnya yang mungil erat-erat ke arahku dan menempelkan punggungku ke perisai
untuk menopangnya melawan angin kencang yang kian mengganas.
Saat raungan
keputusasaan menyerang telinga kami, kami tidak bisa berbuat apa-apa selain
bertahan melawan badai dahsyat tersebut.
[Tips] Mantra yang dikeluarkan secara alami oleh para
Elf merambah wilayah keajaiban. Di bidang yang terkait dengan otoritas mereka, mantra tersebut secara
praktis dapat mendatangkan bencana alam.
◆◇◆
Apakah
rasa sakit itu berasal dari tubuhnya, atau merupakan hadiah perpisahan dari
sisa-sisa pikirannya yang tak bernyawa?
Dengan
leher yang nyaris putus, ia tak lagi mampu mengerti.
Ia
seharusnya bahagia. Ia seharusnya pulang. Ia seharusnya mengakhiri mimpi buruk
ini. Ia seharusnya tidak perlu lagi mengucapkan kata-kata terkutuk itu:
“Aku
bukan putrimu. Maafkan aku karena telah menculik Helga.”
Helga
adalah dirinya sendiri. Ia hanya pernah melihat ibunya dalam lukisan, namun ia
tampak persis seperti ibu. Tidak ada orang lain yang lahir dari ibunya yang
cantik dan ayahnya yang tercinta.
Setiap
orang yang ditanya selalu mengatakan betapa baik dan luar biasanya ibu—dan ia
tampak persis seperti ibunya.
Namun suatu hari,
ayahnya mencampakkan Helga. Pada hari yang menentukan itu, ketika jantungnya
mulai berdebar kencang dan ia melayang ke udara, Helga merasa bahagia.
Ia terbang ke
langit layaknya peri dan malaikat dalam kisah-kisah yang disewa ayahnya untuk
dibacakan oleh para penyair. Dengan hati yang murni, ia yakin petualangannya
baru saja dimulai.
Sayangnya,
kenyataan berkata lain. Kegelisahan menyelimuti kediaman mereka, mengubah rumah
bahagianya selamanya. Semua yang dimiliki Helga dirampas; ia dikurung di sebuah
kamar sunyi di sayap barat.
Dan
setelah itu?
Ia tidak
ingin mengingatnya. Lagi pula, ia tidak perlu mengingatnya. Itu semua hanyalah
mimpi buruk yang mengerikan.
Seharusnya
memang begitu. Tapi, mengapa ayahnya justru menggorok lehernya dengan pisau?
Tak ada
pemikiran yang mampu memecahkan teka-teki ini—yang terjadi hanyalah kebangkitan
memori demi memori tentang penyiksaan di tangan sosok ayah yang sebenarnya
tidak ada. Berhenti, teriaknya, kau berbohong!
Namun
suaranya yang tak bersuara gagal meredakan penglihatan mengerikan itu. Ia
mengerahkan setiap tetes kekuatan asing yang bergejolak di dalam dirinya untuk
menghancurkan segalanya dalam embusan angin dingin, tetapi mimpi buruk itu
tetap bertahan.
Helga
memohon agar kenangan yang tak dapat diterima ini lenyap bersama orang yang
mirip ayahnya.
Sambil
memeras setiap tetes terakhir dari keberadaannya, ia tetap tidak mampu
mengakhiri segalanya.
Aku
berharap dunia ini membusuk dan membawaku serta.
Saat jiwa yang
hancur itu menjerit kesakitan, ia melihat sekilas seorang gadis muda. Gadis itu
memiliki rambut pirang yang cantik.
Matanya cokelat
dan manis. Tubuhnya kecil dan kurus. Sesuatu tentang gadis itu mengingatkan
Helga pada ayahnya, dan pada kebahagiaan yang telah sirna.
Siapa
dia? Mengapa dia begitu dekat dengan ayahnya? Mengapa dia berada di sana? Itu
adalah tempat Helga… dan ia tidak akan menyerahkannya kepada siapa pun.
Saat
kognisinya memutarbalikkan kenyataan demi mempertahankan ego, ia memilih untuk
melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain: semuanya adalah kesalahan gadis
itu.
Itu semua karena dia. Dia mencuri ayahku. Dia menipunya. Itulah sebabnya Ayah jahat
padaku!
Karakter baru ini
tidak pernah muncul dalam ingatannya dan tidak mungkin ada di sana, tetapi
serpihan hatinya tak mampu lagi menghubungkan logika.
Dengan kebencian
yang lebih besar dari sebelumnya, ia meledak dengan kekuatan untuk melenyapkan
pemandangan yang tidak menyenangkan di hadapannya.
Es yang tajam dan
keras berhamburan layaknya pusaran air mematikan dengan satu keinginan:
menghancurkan segalanya.
Badai itu menari
kian cepat di telapak tangannya, dan ia melepaskannya dengan ratapan yang
mewujudkan penderitaan agung yang tak terlukiskan.
Saat indranya
meluas, ia mulai memahami dunia dengan cara yang tak pernah terbayangkan oleh
manusia.
Amukan badai
bagaikan kulit kedua. Embun beku menyelimuti segalanya, namun di tengah sensasi
panas yang menguras tenaga, satu hal tetap berdiri teguh.
Helga tidak
peduli kereta itu telah menjauh. Meskipun ketenangan wanita yang duduk di
atasnya menyinggung kepekaannya, menghancurkan kendaraan itu bukanlah
prioritasnya.
Di balik
lempengan kayu dan logam yang berdiri tegak, ia merasakan sisa
kehangatan. Mereka belum mati.
Mereka masih
belum mati.
Baik gadis keji
yang telah mencuri ayahnya maupun ayah yang begitu mudah ditipu masih bernapas.
Hm? Apakah aku
membenci ayahku? Tidak, tentu saja tidak. Aku mencintai dan menghormatinya dari
lubuk hatiku.
Lalu siapa
dia? Ayahku pergi ke suatu tempat yang sangat jauh. Apakah itu dia?
Ayah pergi
karena dia membenciku, tapi itu hanya mimpi, jadi dia masih di sini, tapi itu
tidak mungkin ayahku karena—
Seperti roda gigi
yang geriginya sudah terlalu aus untuk mengunci, pikiran Helga berputar-putar
tanpa akhir.
Begitu tenggelam
dalam kekacauan pikirannya, ia bahkan tidak menyadari bahwa sumber Mana tak
terbatas yang ia lepaskan telah mendorong tubuhnya ke ambang kehancuran.
Semuanya berubah
menjadi kekacauan yang tak terpahami. Namun kemudian… ia menyadari sesuatu.
Mungkinkah mereka
berdua sebenarnya adalah dia dan ayahnya dari masa lalu? Ketika ia sedih atau
terluka, ia ingat pernah didekap seperti itu.
Keinginan tulus
untuk kembali ke pelukan itu seketika melemahkan badai musim dingin. Namun,
serpihan nostalgia itu bukan satu-satunya alasan: ia telah melampaui batas
ketahanan mentalnya dan terus menguras sisa Mana yang kian menipis.
Tepat saat badai
mulai reda, perisai raksasa itu pun jatuh. Ayah Helga—bukan, bocah berambut
emas yang tidak dikenalnya itu—menerjang maju, meninggalkan pedang besar yang
melindungi teman kecilnya.
Bahkan dalam
badai yang mulai surut, hujan es yang beterbangan masih mengiris kulitnya
layaknya sejuta belati. Namun bocah itu tetap teguh, menyerbu ke arah Changeling
yang mengambang.
Es menggores
kulit, rambut, dan mencabik dagingnya—namun ia terus maju. Di tengah amukan
itu, mereka berdua saling menatap. Dengan tatapan yang bebas dari kebencian
maupun haus darah, bocah itu melompat ke arahnya.
"Oh,"
gumam Helga.
Mata itu begitu
hangat, namun terasa asing. Mata ayahnya berwarna biru yang lebih dingin dan
jernih.
Warna mata bocah
ini lebih gelap, seperti mata anak kucing yang belum pernah ia lihat
sebelumnya… tetapi tatapannya begitu lembut.
Tidak ada rasa
sakit, penderitaan, maupun ketakutan. Padahal sebelumnya, ia sangat membenci
pisau itu.
Anehnya, Helga
merasa sangat tenang. Tubuhnya menjerit kesakitan dan jiwanya yang hancur terus
meratap, namun kesadarannya menatap langit yang kini bersih dari awan—langit
yang sama seperti yang ia lihat saat badai terbelah.
Sambil menatap
rembulan yang indah, ia merasakan bentuk aneh dari pisau yang menembus ikatan
kutukannya dan menusuk dadanya.
Tubuhnya tidak
berdarah, tetapi ada sesuatu di hatinya yang terasa sangat hangat.
Diselimuti
kehangatan akhir yang lembut, gadis itu perlahan melayang jatuh ke bumi,
terlepas dari ikatan abadinya.
Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ia
merasakan kedamaian saat memejamkan mata.
[Tips] Kematian adalah penyeimbang yang adil bagi
semua yang memiliki jiwa.
◆◇◆
Angin menderu kencang ke arahku. Aku mendekap Elisa erat-erat, berusaha mati-matian
mencari celah.
Adikku yang
berharga memelukku dengan air mata ketakutan yang mengalir deras.
Saat aku
merasakan kehangatan tubuhnya yang mungil di kulitku, pikiranku hanya tertuju
pada satu hal: Aku adalah orang yang sok lembut dan bodoh.
Apa yang
kukatakan saat mengeksekusi keenam Daemon itu?
Aku menyatakan
bahwa menyelamatkan mereka adalah hal yang mustahil—bahwa membebaskan mereka
dari penderitaan adalah jalan terbaik.
Lalu lihatlah
diriku sekarang.
Aku telah menjadi
orang bodoh yang berpura-pura mengerti segalanya.
Begitu
aku bertemu dengan seorang gadis yang menyedihkan, aku menyerah.
Aku
mengabaikan fakta bahwa para Elf telah meninggalkannya, dan justru berpegang
teguh pada harapan mustahil di benakku bahwa aku bisa menyelamatkannya.
Tentu
saja. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa kenyataan akan bersikap lunak
terhadap gadis muda yang diperlakukan buruk oleh dunia.
Berapa
kali upayaku membantu orang-orang sepertinya membuahkan hasil dalam kampanye
permainanku?
Kenyataan
tidak peduli. Gelas yang retak tidak akan bisa menampung anggur, dan hatinya
yang hancur tidak akan bisa diperbaiki.
Tidak ada
mukjizat yang murah, tidak ada perubahan nasib yang bisa memulihkan
kewarasannya, dan tidak ada item sihir apa pun yang bisa menyelamatkannya dari
jurang kehancuran.
Akulah yang
melakukan ini padanya.
Ini adalah penebusan dosaku karena telah menuruti fantasi manis itu, dan aku
akan menyelesaikannya meski harus menghabiskan napas terakhirku.
Bagaimana aku
bisa menyebut diriku kakak yang baik jika tekadku yang setengah matang ini
justru menempatkan Elisa dalam bahaya?
Bagaimana aku
bisa menyebut diriku seorang petualang yang siap berangkat?
Aku ingin kembali
ke masa lalu hanya untuk merobek lidahku sendiri dan memukuli diriku sampai
mati.
Di bawah serangan
hawa dingin, aku gemetar bukan karena suhu, melainkan karena amarah pada diriku
sendiri.
Tiba-tiba, badai
mereda. Meski angin masih kencang, suasananya tidak seganas sebelumnya.
"Dia
kehabisan Mana," kata Ursula. "Tentu saja—dia tidak bisa melampaui
batasnya selamanya…"
"Seorang Reifalf
hanya bertugas memanggil musim dingin atau memperkuatnya," tambah Lottie.
"Badai dan es hanya bisa dilakukan oleh Elf tingkat tinggi…"
Helga kian
melemah. Jika aku hanya diam—jika aku membiarkan diriku bertahan tanpa
melakukan apa pun—dia akan mati dengan sendirinya dalam kehampaan.
Oh, jangan.
Apa pun kecuali itu.
"Ursula,
Lottie, aku punya permintaan."
"Ada apa,
Kekasihku?"
Aku memiliki
keinginan—atau lebih tepatnya, kewajiban. Aku tahu persis betapa menyakitkannya
kehabisan Mana sebagai manusia.
Lalu bagaimana
dengan seorang Elf?
Betapa
mengerikannya bagi sekumpulan energi magis yang memiliki kesadaran untuk
menghancurkan eksistensi mereka sendiri hingga lenyap menjadi ketiadaan?
"Aku ingin
kalian melindungi Elisa."
Helga sudah cukup
menderita: hidupnya hanyalah rangkaian rasa sakit. Baginya, menderita hingga detik terakhir
adalah beban yang terlalu berat.
"Sepertinya
kami tidak punya pilihan lain."
"Ya! Kami
tidak bisa menolakmu, Sayangku!"
Kedua peri itu
bertukar pandang dan tersenyum, seolah merasa kasihan padaku.
"Elisa,"
kataku, "bisakah kau berjanji satu hal?"
"Kakak?
Apa?"
"Sampai aku
kembali menjemputmu, jangan bergerak sedikit pun."
Aku menjauhkan
wajah adikku yang terisak dari dadaku dan mendekapnya erat di bawah
perlindungan.
Perisai itu sudah
mencapai batasnya, tetapi Elisa cukup kecil untuk berlindung di balik pedang
raksasa dengan bantuan sihir peri.
Ini adalah
balapan melawan waktu: apakah berkat para Elf akan tiba lebih dulu, ataukah
perisai itu akan hancur lebih awal?
Tanpa menunggu
jawaban, aku menyerahkan segalanya pada takdir dan berlari kencang ke depan.
Bahkan sekarang,
badai itu masih mematikan. Embun beku merampas indra perabaku dan hujan es
tajam menghantamku dari segala arah—tapi persetan dengan itu semua.
Aku bisa menahan
rasa sakitnya. Dengan sisa Mana yang ada, aku merentangkan Unseen Hand-ku
untuk melindungiku, menggunakannya sebagai pijakan.
Maafkan aku,
Helga. Ini semua salahku. Aku akan selalu mengingatmu dan memohon maaf; aku
tidak akan pernah mengulangi kesalahan ini lagi.
Aku minta
maaf.
Helga, aku
tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri. Jadi, aku minta kau pun melakukan
hal yang sama. Tidak peduli siapa pun yang berani memaafkanku, kau dan aku…
Aku menatap
matanya yang bergetar hingga saat terakhir, mengukir bayangannya ke dalam
jiwaku.
Akhirnya, aku
menusukkan pisau ajaib itu ke tubuh kecilnya, memastikan serangan itu menembus
inti keberadaannya.
[Tips] Organ vital yang berisi Mana Stone milik kaum iblis terletak di sebelah jantung. Hal yang sama berlaku bagi banyak makhluk yang mengikat kehadiran fisik mereka pada bagian dada.



Post a Comment