Masa Kanak-Kanak
Musim Dingin Usia Tujuh Tahun
Fixed Value
(Nilai Tetap) Angka
statis yang digunakan dalam perhitungan yang tidak bergantung pada lemparan
dadu.
Di luar lemparan
kritis seperti Snake Eyes (dua angka satu) atau Boxcars (dua
angka enam), TRPG umumnya menggunakan rumus aditif: [Fixed Value
(Kemampuan Dasar)] + [Hasil Lemparan Dadu] = Hasil Akhir. Misalnya, katakanlah Strength
seseorang adalah 5 dan ia ingin mendorong batu.
Jika tingkat
kesulitan (Difficulty Class) untuk berhasil adalah 12, maka pemain
membutuhkan total angka 7 dari lemparan 2D6. Lemparan dadu ini
memberikan elemen keberuntungan agar permainan lebih dinamis.
Namun, jika Fixed
Value ini berada di angka 6 atau 7, hasil dadu minimum yang dibutuhkan
untuk berhasil akan lebih rendah. Karena itu, nilai tetap yang lebih tinggi
menunjukkan karakter yang lebih kuat dan stabil.
◆◇◆
Musim panas di
sini cukup kering dibandingkan tanah airku dulu, dan tahun itu dengan cepat
berganti menjadi musim gugur.
Dewa-dewi yang
mengawasi Rhine dan wilayah perbatasannya termasuk Dewi Panen.
Beban kerja yang
luar biasa saat musimnya tiba membuat waktu berlalu tanpa kusadari.
Aku tidak punya
waktu untuk menikmati pemandangan romantis hamparan gandum yang berkilauan
diterpa angin di bawah sinar matahari musim gugur.
Aku juga
tidak sempat merasa sentimental atas bertambahnya usiaku. Aku dan saudara-saudaraku justru sibuk membantu di
pertanian kapan pun kami bisa.
Dengan segala
kesibukan saat panen, seorang anak berusia tujuh tahun sudah dianggap sebagai
tenaga kerja yang mumpuni.
Keluargaku
benar-benar memanfaatkan tenagaku; stamina kekanak-kanakan yang dulu kukira tak
terbatas ternyata terkuras habis dalam sekejap.
Bahkan,
satu-satunya kenangan yang kupunya tentang musim gugur hanyalah bekerja di
ladang dan tidur. Aku sampai kagum melihat kakak-kakakku yang masih sanggup
bermain di luar setelah seharian bekerja keras.
Ladang yang kami
urus bukan hanya milik keluarga kami. Konsep kanton bukan sekadar nama—sebagian
pajak kami dibayarkan melalui pemeliharaan ladang milik bangsawan wilayah.
Lahan luas
tersebut dibagi-bagikan kepada setiap rumah tangga di kanton untuk dikelola,
dan itu berarti kerja ekstra.
Lagipula, aku
juga harus membantu di ladang kakak-kakakku. Meski melelahkan, aku tidak bisa
meremehkan kerja sama semacam ini.
Di zaman yang jauh dari kemudahan modern dan
mesin pertanian canggih, tenaga manusia adalah segalanya.
Gandum di
ladang tidak akan pernah habis dipanen jika kami tidak saling membantu.
Kami juga
harus menabur benih pupuk sebelum salju turun agar tanah kembali subur saat
musim semi tiba. Jika tidak, panen tahun depan bisa hancur.
Panen
akhirnya selesai sebelum Dewi Panen mengakhiri tahunnya.
Saat
keriuhan musim gugur mulai berganti dengan persiapan musim dingin, sebuah
ingatan samar muncul di benakku.
Pertanian
Jepang modern biasanya hanya menanam satu jenis tanaman yang ditanam di musim
semi dan dipanen di musim gugur, jadi awalnya aku tidak terlalu memikirkannya.
Namun
tiba-tiba aku sadar, tanaman yang kami urus adalah gandum.
Jenis
gandum yang kami tanam adalah sereal musim dingin, yang berarti ditanam pada
musim gugur dan dipanen menjelang akhir musim semi.
Meskipun
aku tidak pernah melihat akhir ceritanya, aku pernah membaca manga yang
membahas detail industri pertanian, jadi ingatanku cukup jelas.
Iklim
Konigstuhl memang tidak memiliki salju setebal di manga tersebut, tapi aku ragu
karakteristik gandumnya bisa sangat berbeda. Aku pun mencoba bertanya pada
orang dewasa di sekitarku.
"Apa
maksudmu, Erich?" tanya Ayah bingung. "Kita menanam gandum di musim
semi. Itulah waktu yang ditentukan Dewi Panen untuk menabur benih."
"Bumi
adalah gaun yang dibuat untuk Dewi Panen," Ibu menjelaskan. "Kami ingin menghiasinya dengan gaun
terindah saat masa panen, jadi kami menabur benih di musim semi."
Jawaban yang
kuterima terasa kurang ilmiah. Satu-satunya benang merah adalah penyebutan dewa
kami, Dewi Panen.
Tidak ada gunanya
berteori sendiri, jadi aku memutuskan bertanya pada orang yang lebih ahli.
Lagipula, aku
sudah terbiasa melakukan penyelidikan awal semacam ini dalam sebuah kampanye.
Bagian terpenting
adalah bertanya "Apa itu?" setiap kali menghadapi istilah asing.
Di sela kesibukan
persiapan musim dingin, aku menyelinap ke gereja dan menanyakan hal yang sama
kepada Uskup.
Akhirnya, aku
mendapat jawaban yang memuaskan. Seperti kata orang tuaku, Dewi Panen
menggunakan kekuatan ilahinya untuk menentukan musim tanam.
Ini adalah
sesuatu yang sudah kuduga dari berkat-berkatku sendiri, tetapi penjelasan Uskup
menegaskan bahwa dewa-dewi di dunia ini adalah eksistensi nyata, berbeda dengan
konsep dewa di kehidupan sebelumnya.
Mereka melakukan
mukjizat, membisikkan wahyu kepada orang beriman, dan menghukum mereka yang
ingkar. Mereka memerintah dunia dengan kekuatan absolut dan hadir dalam
kehidupan sehari-hari.
Intinya, mereka
adalah dewa-dewi TRPG klasik yang akan langsung menjawab doa yang
sungguh-sungguh dengan berkat surgawi.
Berkat inilah
yang mengubah siklus musim dan tumbuhan sesuai kehendak ilahi. Dewi Panen
memimpin kesuburan manusia dan ladang.
Sebagai pemberi
kehidupan, Beliau meminta manusia untuk menghiasinya saat kehidupan paling
melimpah. Karena tanah adalah wujud jasmaninya, maka panen harus direncanakan
pada musim gugur.
Uskup cukup baik
hati menjelaskan mitos suci ini lebih detail. "Pada musim semi, kami
membuat piyama dari rumput hijau agar Beliau bangun dengan nyaman.
Lalu kami
mengolah tanah dan menanam tanaman sebagai kerudung tipis untuk melindunginya
dari panas musim panas.
Gaun emas dari
berbagai buah kemudian ditenun di musim gugur untuk merayakan siklus tahunan.
Setelah semua selesai, Dewi Panen akan tidur di bawah selimut salju
putih."
Aku yakin Uskup
bersedia mengajariku di tengah musim yang sibuk ini hanya karena aku adalah
jemaat yang teladan. Aku hafal semua himne gereja, dan jelas aku bertanya bukan
untuk meremehkan iman.
Sambil membelai
janggut putihnya, ia menambahkan, "Kami juga menyesuaikan jadwal panen
dengan negara tetangga untuk menghindari konflik kepentingan." Rupanya,
informasi ini bersifat rahasia di kalangan pendeta, tapi ia hanya menepuk
kepalaku dan menyuruhku pulang setelah memberitahuku.
Aku merasa
duniaku berkembang pesat, sama bersemangatnya seperti saat aku membeli buku
aturan tambahan (supplement book) pertamaku dulu.
Ada kepuasan
tersendiri saat membenamkan diri dalam lore dunia ini, sesuatu yang
tidak bisa kudapatkan hanya dengan melihat statistik kemampuanku. Menyenangkan
sekali!
Sangat penting
untuk selalu penasaran pada hal-hal menarik. Tidak ada hasil tanpa data, dan
keberhasilan di dunia yang digerakkan oleh kombinasi skill ini sangat
bergantung pada seberapa banyak informasi yang kumiliki.
Berkat penjelasan
Uskup, aku menghabiskan sisa hari dengan riang sambil menyelesaikan tugas
persiapan musim dingin. Meski tidak terkubur salju, hawa dingin musim dingin
tetap menjadi ancaman nyata.
Suhu sering turun
di bawah titik beku, terbukti dari air di stoples yang membeku di pagi hari.
Bahkan bagi
anak-anak, ada banyak tugas: mengumpulkan kayu bakar, ranting, atau mencari
buah-buahan yang tahan lama. Namun, anak-anak Konigstuhl dengan senang hati
membantu.
Tugas-tugas ini
dilakukan di hutan tempat kami bermain, jadi rasanya lebih seperti perpanjangan
waktu bermain.
Ditambah lagi,
ini adalah kegiatan setahun sekali yang membuat orang tua kami bangga.
Bagaimana mungkin kami tidak ingin membantu?
Namun, suasana
ceria itu tidak bertahan lama. Di tengah persiapan musim dingin, adik
perempuanku, Elisa, yang hampir berusia dua tahun, terserang demam tinggi yang
membuat keluarga kami dalam keadaan darurat.
[Tips] Para dewa adalah eksistensi tinggi yang nyata.
Jika dunia ini adalah sebuah PC, maka para dewa adalah Administrator yang dapat
menjalankan berbagai perangkat lunak di dalamnya. Mereka mengawasi makhluk fana dan memperoleh
kekuatan dari keyakinan mereka.
◆◇◆
"Tak ada
yang tahu kapan jiwa yang tak berdosa akan kembali kepada Dewa, karena
kemurnian mereka tak sanggup menanggung kejamnya dunia fana."
Johannes
mengenyahkan pepatah kuno Rhinian itu dari pikirannya dan menyeka keringat dari
dahi bayinya yang terengah-engah.
Putri bungsunya
tampak memerah, menggeliat di tempat tidur sambil berjuang mencari udara. Elisa
kecil lahir di satu malam musim dingin yang membeku dua tahun lalu.
Ia lahir di dunia
yang dingin, di bawah naungan bulan baru. Ia lahir lebih kecil dari bayi normal
dan tumbuh dengan sangat lambat.
Anak-anak lain
biasanya sudah bisa mulai bicara dan berjalan di usia satu tahun.
Namun Elisa
hampir berusia dua tahun dan belum bisa memanggil ibu atau ayahnya. Ia bahkan
belum bisa berdiri. Ia baru saja berhenti menyusu bulan lalu.
Biarawati yang
merawatnya sempat menenangkan Johannes dan Hanna, mengatakan bahwa Elisa lahir
prematur dan memberikan mukjizat untuk meningkatkan daya tahannya.
Namun tetap saja,
pertumbuhannya sangat lambat.
Awalnya mereka
mengira Elisa sakit, lalu menduga ia tuli, atau bahkan ada kerusakan saraf di
otaknya.
Namun semua teori
itu tidak terbukti. Mereka hanya bisa menerima bahwa memang begitulah kondisi
putri mereka.
Dan sekarang,
tubuhnya terasa lebih panas dari api unggun. Elisa memuntahkan semua air dan
bubur yang diberikan.
Tenggorokannya
terlalu serak dan hidungnya terlalu tersumbat bahkan untuk menangis. Pasangan
itu menyadari betapa rapuhnya nyawa putri mereka.
Keluarga mereka
selalu harmonis sebelum Elisa lahir. Tiga putra tertua mereka tumbuh sehat dan
kuat seperti sang ayah. Erich memang kurus seperti ibunya, tapi ia pun tumbuh
dengan sangat sehat.
Mereka tidak
pernah perlu meminta mukjizat uskup atau memanggil dokter, kecuali untuk
mengobati luka ringan. Mereka menjadi terlalu tenang, berpikir bahwa semua anak
mereka akan selalu sehat.
Johannes berhenti
sejenak dari menyeka keringat Elisa dan menoleh ke arah istrinya. "...Apa
kita masih sanggup membeli obat dosis berikutnya?" tanyanya berat.
Dokter setempat
telah pergi bersama karavan ke wilayah Selatan untuk menghindari musim dingin,
dan membeli obat adalah beban fisik sekaligus finansial yang luar biasa.
"...Akan
sangat sulit," jawab Hanna pelan.
Johannes sering
diejek tidak pantas mendapatkan istri secantik Hanna, tapi kini kecantikan
Hanna tertutup raut kuyu dan lelah saat ia memeriksa kantong koin mereka.
Pajak musim gugur
dan biaya persiapan musim dingin telah menguras tabungan mereka; yang tersisa
hanyalah beberapa koin perak dan segenggam koin perunggu. Simpanan darurat di
ruang bawah tanah pun tidak akan banyak membantu.
Mereka baru saja
menghabiskan banyak uang untuk memperluas lahan pertanian atas izin hakim.
Sebagian lagi
digunakan untuk membeli ternak dan benih padi untuk mengolah lahan baru. Jika
musibah ini terjadi setahun lalu, mereka mungkin bisa mengatasinya dengan
mudah. Waktunya benar-benar tragis.
Harga obat-obatan
sangat mahal. Ramuan obat membutuhkan perawatan khusus agar tidak rusak dan
tidak akan berguna tanpa keahlian dokter untuk meracik dosisnya.
Apalagi, para
herbalis ini meracik obat secara khusus berdasarkan gejala dan usia pasien.
Harga selangit adalah hal yang wajar.
Sisa obat yang
mereka punya hanya cukup untuk satu atau dua dosis lagi.
Jika itu tidak
segera menyembuhkan Elisa, maka harapan mereka akan sirna. Kematian anak di
usia muda karena penyakit adalah hal yang lumrah di dunia ini.
"...Begitu ya," gumam Johannes getir.
Tangannya mencengkeram pahanya erat-erat.
Ayah macam apa aku ini, bahkan tidak bisa menyelamatkan
putriku sendiri?
Dengan kelahiran Elisa, ia berencana memperluas lahan demi
masa depan yang lebih baik bagi seluruh keluarganya... Namun kini bahunya yang
tegap itu terkulai lemas oleh beban keputusannya sendiri.
Ada cara
untuk mendapatkan uang dengan cepat. Johannes mengenal beberapa lintah darat,
dan dalam kondisi terburuk, ia bisa menggadaikan lahan barunya.
Namun,
tegakah ia mengorbankan masa depan istri dan keempat putranya yang sehat demi
menyelamatkan satu nyawa yang belum pasti?
Hatinya menjerit
ingin melakukan apa pun demi Elisa, tetapi logika sebagai kepala keluarga
menahannya.
Ia memegang nyawa
putrinya di satu tangan, namun beban masa depan istri dan anak-anak lainnya ada
di tangan yang lain.
Ia tidak bisa
membenarkan menghabiskan sisa harta mereka demi sebuah kemungkinan
kecil, sementara risiko kelaparan mengintai seluruh keluarga di musim dingin
nanti.
"Sayang,"
bisik Hanna, "menurutmu..."
"Kita..."
Johannes terdiam sesaat. "Kita mungkin harus bersiap untuk kemungkinan
terburuk."
"Sayang!"
"Jangan
paksa aku mengatakannya! Kau juga tahu kenyataannya!"
Begitu obat
terakhir habis, mereka harus merelakannya. Tidak ada pilihan yang benar di
sini. Pikiran mereka berputar kacau, hingga tiba-tiba suara derit papan lantai
terdengar.
Keduanya menoleh
kaget. "Erich?!"
Di ambang pintu
berdiri putra bungsu mereka dengan langkah gontai karena mengantuk. Erich
seharusnya sudah tidur bersama kakak-kakaknya sejak tadi. Mereka tidak ingin
anak-anak mendengar pembicaraan seberat ini.
"Mama,
Papa..." gumam Erich.
Anak itu memang
dewasa untuk usianya, tapi ia tetaplah seorang anak. Ada hal-hal yang belum
saatnya ia ketahui. Johannes dan Hanna panik, bersiap menenangkannya, namun
gerakan mereka terhenti saat melihat benda di tangan putra mereka.
Tangan kecil
Erich memegang sebuah patung kayu. Patung itu menggambarkan sosok wanita anggun
dengan rambut panjang terurai yang memancarkan aura keibuan—Dewi Panen. Detail
pada helai rambut dan kehalusan pahatannya begitu memukau, bahkan sepasang
petani seperti mereka pun bisa melihat kualitas luar biasa dari karya tersebut.
"Kalau kita
menjual ini, apa Elisa bisa sembuh?" tanya Erich polos.
Wajah Johannes
dan Hanna memucat seketika. Dalam benak mereka, putra mereka baru saja
melakukan tindakan kriminal. Meskipun hukum kekaisaran tidak menghukum anak
atas dosa orang tua, namun orang tua bertanggung jawab penuh atas kesalahan
anak mereka.
Pencurian adalah
kejahatan serius. Hukuman bagi pelanggar pertama biasanya berupa denda berat
atau dipermalukan di depan umum dengan belenggu kayu.
Namun jika barang
yang dicuri sangat berharga, ada kemungkinan hukuman potong tangan sebagai
ganti rugi.
Bahkan bagi orang
awam sekalipun, patung di hadapan mereka jelas merupakan karya yang sangat
canggih. Kayu itu seolah telah dimurnikan menjadi avatar sang Dewi.
Meski belum
dicat, patung itu pasti akan laku dengan harga yang sangat mahal. Karya seperti
ini seharusnya bertahta di altar kuil, bukannya berada di tempat tinggal mereka
yang sederhana.
"Erich, dari
mana kau dapatkan ini…?" tanya Johannes sambil mencengkeram bahu putranya.
Sesaat kemudian,
ia melihat celana compang-camping milik putranya—celana bekas yang sudah
diwariskan turun-temurun melalui tiga kakaknya—dan menyadari masih banyak
serutan kayu yang menempel di sana.
Patung itu juga
tercium sangat kuat seperti aroma kayu baru, tanpa jejak bau pernis sedikit
pun.
Meskipun hasil
akhirnya halus, jelas terlihat bahwa itu adalah hasil kerja keras yang
melelahkan menggunakan kikir kasar.
Tekstur pohon
konifer, jenis kayu yang biasa digunakan keluarga itu untuk kayu bakar, tampak
samar dari bawah permukaannya.
"Aku yang
membuatnya," jelas Erich. "Tapi butuh waktu yang sangat lama. Aku
mencoba meniru patung yang ada di gereja."
Kini setelah dia
menjelaskannya, patung itu memang terlihat seperti miniatur; panjangnya
kira-kira sebesar lengan bawah orang dewasa. Masuk akal jika patung itu diukir
dari sepotong kayu bakar.
Namun, betapapun
cekatannya putra mereka, hampir mustahil membayangkan ia menciptakan karya
sehebat ini tanpa alat yang memadai.
Tidak
mengherankan jika hasil karyanya bisa menghasilkan beberapa keping emas jika
diberi sentuhan akhir—kepingan emas?! Suami istri itu terkesiap
serempak.
"Erich,"
Johannes bertanya sekali lagi untuk memastikan, "apakah kau benar-benar
membuatnya? Sendirian?"
"Iya,"
jawab Erich sambil membersihkan serpihan kayu dari tangannya. Ia menahan kantuk
dan melanjutkan, "Aku mengerjakannya sedikit demi sedikit, karena aku
mendengar Ayah dan Ibu membicarakan berapa banyak uang yang kita butuhkan sejak
Elisa sakit."
Kedua orang
tuanya terpaku dalam rasa malu. Mereka selalu berbisik-bisik lama setelah
matahari terbenam agar anak-anak tidak mendengar, namun putra bungsu mereka
ternyata bisa menangkap pembicaraan itu dengan sangat jelas.
Tidak ada orang
tua yang ingin anak mereka memikul beban kekhawatiran seberat itu.
"Aku sibuk
di siang hari," jelas Erich, "jadi aku bekerja saat bulan naik tinggi
di langit. Saat itu cuacanya cukup cerah."
Johannes
membenamkan wajah di antara kedua tangannya.
Putranya yang
masih kecil harus berjuang melawan kantuk setiap malam demi membantu keluarga.
Ia merasa telah
gagal menjadi seorang ayah.
"Apa menurut
Ayah ini bisa membantu membayar obatnya?" tanya Erich polos.
"…Ya. Kau
melakukannya dengan sangat baik. Kau luar biasa." Setiap kali Johannes
memuji putra-putranya, ia selalu mengakhirinya dengan kalimat, "Kau
benar-benar putraku."
Namun malam ini,
ia tidak sanggup mengatakannya. Kata-kata itu terasa tidak pantas keluar dari
mulut seorang ayah yang mengecewakan untuk putra sehebat ini.
Menjual patung
itu ke gereja pasti akan menghasilkan cukup uang untuk membeli obat.
Bahkan, jika
mereka mendedikasikannya kepada gereja, mereka bisa memohon penggunaan Miracle
sebagai gantinya.
Kekuatan
penyembuhan Dewi Panen memang tidak sekuat Dewi Malam yang memimpin urusan
medis, namun itu sudah lebih dari cukup untuk menyembuhkan penyakit Elisa.
"Kau
hebat," ulang sang ayah. "Kau benar-benar… kakak yang baik bagi
Elisa."
"Kakaknya?"
ulang sang bocah pelan.
"Ya, kau
kakak yang luar biasa… sungguh." Johannes menggendong putranya yang mulai
mengangguk-angguk karena kantuk untuk membawanya ke kamar tidur.
Erich pasti tidak
bisa beristirahat dengan baik selama beberapa hari terakhir karena bekerja di
bawah sinar bulan.
Ditambah lagi
dengan tugas-tugas rumah tangga, rasa lelahnya kini tampak begitu nyata. "Sekarang
tidurlah. Serahkan sisanya pada Ayah."
"Baiklah… Ayah…" Erich pun jatuh terlelap.
Sambil
menggendong putranya yang tertidur, Johannes menarik napas panjang.
Aku
akan pergi ke gereja segera setelah fajar menyingsing.
Putranya
telah memberikan segalanya; kini giliran sang ayah untuk membalas
perjuangannya.
Johannes
mengabaikan rasa lelahnya sendiri dan bersumpah di hadapan rembulan yang dingin
di balik jendela bahwa ia akan berhasil.
Malam ini
bulan purnama. Dalam jajaran dewa-dewi Rhinian, lingkaran sempurna di langit
melambangkan manifestasi dari separuh dewa induk: Dewi Malam, yang memimpin
peran sebagai ibu dan pelindung.
Disaksikan
oleh Sang Dewi Ibu dan para pelayan surgawinya, Johannes membaringkan putranya
yang pekerja keras itu dengan lembut, lalu kembali ke sisi putrinya dalam
keheningan.
[Tips] Miracle adalah tindakan ilahi yang menciptakan realitas yang sebelumnya dianggap mustahil. Kehendak para dewa membelokkan realitas menuju "Kebenaran" dan mampu mengubah hukum fisika maupun alam untuk mewujudkannya. Mereka yang memiliki kekuatan untuk memanggil Miracle melakukannya dengan kesungguhan hati yang penuh, terlepas dari apa pun keyakinan mereka. Miracle tetaplah menjadi sebuah keajaiban karena ia tidak terjadi begitu saja tanpa pengorbanan atau kemauan yang kuat.
Masa Kanak-Kanak
Musim Semi Usia Tujuh Tahun
Beberapa waralaba
permainan populer memberi label pada lemparan dadu tertentu sebagai
"Serangan Kritis" atau "Serangan Putus Asa", tergantung
siapa yang menyerang.
Dalam sistem 2D6,
ini biasanya berupa Boxcars (dua angka enam). Sistem 1D100
mungkin membutuhkan angka 01–05, sementara 1D20 memerlukan angka 20
sempurna, dan seterusnya.
Lemparan sempurna
yang langka ini hampir selalu menjamin keberhasilan untuk segala jenis
tindakan.
Dalam pertempuran, Critical Hit adalah serangan yang
sangat dahsyat.
Misalnya, beberapa sistem memungkinkan nafsu membunuh yang
tak terbendung dengan memberikan kesempatan lemparan ulang jika pemain berhasil
mendapatkan angka 10 atau lebih dari 2D6.
Beberapa pemain "sesat" bahkan sengaja menurunkan
ambang batas ini dan menghabiskan seluruh permainan dengan menghujani musuh
lewat serangan kritis.
◆◇◆
Kabar baik. Pada musim semi tahun ketujuhku, aku pertama
kali menyaksikan apa yang bisa disebut sebagai "Sihir".
Aku telah menghabiskan akumulasi EXP untuk
meningkatkan keterampilan Wood Whittling milikku ke tingkat VI:
Expert, dan berkat itu adik perempuanku berhasil bertahan melewati musim
dingin.
Itu saja sudah
cukup untuk membuat musim semi ini terasa luar biasa, tetapi musim ini ternyata
membawa kejutan lain.
Sihir adalah inti
dari fantasi tingkat tinggi, muncul di berbagai media melampaui sekadar
permainan papan. Sihir dapat menyembuhkan luka, menghancurkan musuh,
menenangkan alam, hingga meracik ramuan.
Meskipun sistem
dan aplikasinya beragam, sihir selalu menjadi faktor krusial dalam setiap latar
cerita. Aku sendiri sudah memerankan penyihir berkali-kali dalam sesi TRPG.
Aku pernah
menjadi anak laki-laki yang mengejar teman masa kecilnya yang menjadi pahlawan
dengan modal bakat sihir pas-pasan.
Aku pernah
menjadi pendekar pedang terkutuk yang diasingkan karena mempelajari sihir
terlarang demi membayar hutang. Aku juga pernah menjadi peneliti berusia empat
puluhan yang bertualang demi mencari cara memperpanjang umur pendek pasangan
buatannya.
Di seluruh sistem
yang tersebar dalam sesi tak terhitung, sihir konsisten memainkan peran—baik
sebagai berkah maupun kutukan.
Aku tahu sihir
ada di dunia ini berkat menu statusku, tapi sayangnya, kampanye hidupku ini
dibumbui dengan tamparan realitas yang keras. Sangat sulit bagi orang biasa
untuk bisa menggunakan sihir.
Hari ini adalah
hari raya keagamaan, di mana bajak pertama kali ditancapkan ke tanah yang mulai
melunak untuk merayakan berakhirnya musim dingin dan berdoa demi kedamaian
tahun ini.
Pesta kecil
dengan hidangan daging kering dan sisa makanan musim dingin diadakan di
alun-alun kota. Di tempat inilah aku pertama kali melihat sihir.
Terus terang, itu
bukan hal yang spektakuler. Karavan-karavan dagang di Rhine mulai kembali
beroperasi, dan mereka mendengar tentang festival lokal ini.
Mereka membuka
beberapa kios dengan harapan mendapatkan sedikit keuntungan.
Seorang juru
tulis sekaligus penyihir tua yang bepergian bersama karavan itu mengeluarkan
bubuk mesiu dari karung kecil—dan bum, kembang api meledak di langit.
Warnanya memudar
di langit siang hari, tetapi suara letupan dan cahayanya cukup untuk membuat
jantung berdebar.
Hakim setempat
sering mendanai tontonan semacam ini; para penyihir pengembara mencari nafkah
melalui pertunjukan ini dan berbagai kegiatan lainnya. Aku menunggu dengan
napas tertahan.
Apakah ini
akan menjadi pemicu untuk membuka kategori kemampuan sihirku?
Sayangnya,
harapanku pupus. Kabar baik tadi berubah menjadi keputusasaan.
Di tengah
kerumunan anak-anak yang berteriak meminta kembang api tambahan, aku bertanya
pada penyihir tua itu bagaimana cara belajar sihir.
Ia lalu menatapku
dan bertanya, "Mari kita lihat... Anak muda, ada berapa bulan di langit?"
Aku
bergabung dengan paduan suara anak-anak di sekitarku dan menjawab serentak,
"Satu!"
Ah, sial,
tunggu dulu. Aku ingat pernah melihat beberapa skill terkait sihir yang
bahkan tidak mengizinkanku membaca flavor text-nya; di antaranya banyak
yang memiliki nama yang berkaitan dengan bulan.
Apakah
penyihir melihat bulan kedua—atau mungkin lebih dari itu?
Namun,
tidak ada penjelasan lebih lanjut. Orang tua itu hanya menepuk kepalaku sambil
tersenyum simpatik.
Anak-anak
lain menganggap perilakunya aneh dan menjauh, tetapi aku terlalu keras kepala
untuk menyerah begitu saja.
Mengingat
dia sedang bekerja, aku pasti terasa sangat mengganggu. Secara rasional,
tindakanku cukup memalukan.
Mungkin
kondisi mentalku memang mulai dipengaruhi oleh tubuh kekanak-kanakan ini,
hingga kegembiraanku melunturkan pengendalian diri dan tata krama.
Namun,
tampaknya dia adalah orang yang baik hati. "Baiklah, tunggu sebentar di sini,"
katanya. "Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku begitu saja."
Dan benar saja,
dia kembali menemuiku setelah pertunjukan kembang api usai.
Setelah bubuk
mesiunya habis, lelaki tua itu membersihkan tangan dengan sapu tangan dan
sebotol air.
Tak lama
kemudian, ia mengeluarkan pipa tua yang sudah usang dari saku bajunya dan
mengisinya dengan tembakau dengan gerakan terlatih.
"Anak
muda," lanjutnya, "yang tadi itu cuma mantra hiburan—bukan Magic
yang sesungguhnya. Lagipula, itu bukan sesuatu yang bisa dipelajari dalam
semalam."
"Apa
maksudnya?" tanyaku.
Ujung jarinya
tiba-tiba menyalakan api kecil, yang ia gunakan untuk menyulut tembakau di
pipanya. Ia tersenyum. "Bisa kau tebak yang mana ini? Sihir sejati, atau
cuma sihir pagar (hedge magic) biasa?"
Kerendahan hati
untuk mengakui ketidaktahuan adalah langkah pertama menuju kebijaksanaan.
Aku bisa saja
mencoba menebak dengan teori-teoriku, tetapi aku memilih untuk menyimpannya
sendiri dan menggelengkan kepala.
"Sihir pagar
memanfaatkan hukum alam; sihir sejati membengkokkannya."
Penjelasan
selanjutnya agak abstrak, jadi biar kuterjemahkan dengan bahasaku sendiri.
Pada dasarnya, Hedge
Magic adalah seni menggunakan Mana dalam tubuh sebagai pemicu reaksi
kimia semu.
Sedangkan True
Magic menggunakan Mana yang sama untuk membengkokkan atau sepenuhnya
menimpa hukum dasar alam—misalnya, meniadakan gravitasi.
Api di ujung jari
lelaki tua itu bisa jadi merupakan reaksi kimia pembakaran biasa, atau konsep
"Pembakaran" itu sendiri.
Api yang dibuat
dengan mantra Hedge Magic akan membakar tembakau sekaligus mengonsumsi
oksigen di sekitarnya.
Elemen magisnya
hanya berada di awal: Mana adalah pemantik, sisanya api akan menyala
secara alami lalu padam.
Di sisi lain, api
dari True Magic bisa diatur hanya untuk membakar daun tembakau tanpa
memengaruhi pipanya, dan tidak membutuhkan oksigen sama sekali.
Namun, begitu Mana
yang disalurkan habis, api itu akan lenyap tanpa bekas—bahkan tidak
meninggalkan sisa panas atau bara api normal. Api ini akan berhenti secara
spontan.
Artinya, api
sihir sejati bisa tetap menyala di tengah hujan lebat atau di planet tanpa
oksigen sekalipun. Ia hanya mengikuti aturan mantranya sampai Mana habis
atau dihentikan si perapal.
Meskipun sekilas
tampak serupa, keduanya berada di level yang berbeda.
Sebagai contoh, Fireball
dari penyihir pagar bisa dipadamkan dengan cara berguling di tanah.
Namun, Fireball
dari penyihir sejati akan terus membakarmu meskipun kau mengubur diri di dalam
lumpur.
Jujur saja, itu
adalah kekuatan yang sangat mengerikan.
Saat aku masih
terpaku heran, lelaki tua itu melanjutkan ke topik syarat untuk menggunakan
sihir.
Menurutnya,
teknik sihir tidak bisa digunakan hanya dengan melepaskan Mana secara
acak.
Semua makhluk
hidup memiliki Mana. Perbedaannya terletak pada kapasitas penyimpanan
dan pengeluaran. Bayangkan itu seperti ukuran tangki air dan diameter selang
yang terhubung dengannya.
Hal terakhir yang
membedakan penyihir dengan orang biasa adalah "Penglihatan". Penyihir
memiliki mata khusus yang dapat melihat struktur dunia.
Sihir mereka
ibarat sengaja melewatkan satu jahitan saat merajut sweter untuk menciptakan
pola baru.
Itulah sebabnya
dia bertanya berapa banyak bulan yang kulihat. Aku akhirnya paham.
Beberapa orang
terlahir dengan kemampuan persepsi ini; yang lain baru mendapatkannya setelah
dewasa melalui peristiwa tertentu.
Penyihir
ras Mensch biasanya termasuk kategori kedua.
Dengan
nada menenangkan seperti orang dewasa yang membujuk anak kecil, ia menambahkan,
"Ada cara untuk memicu proses ini secara buatan, tapi itu sangat
langka."
Mudah
ditebak alasannya. Sihir dan ilmu sihir adalah komoditas eksklusif.
Jika
setiap anak petani bisa merapal mantra, nilai sihir akan anjlok, begitu pula
pengaruh politik para penyihir dan bangsawan yang memanfaatkannya. Tidak ada
untungnya membiarkan pendidikan sihir menyebar luas.
Akibatnya,
komunitas penyihir sepakat untuk menjaga rahasia mereka rapat-rapat. Terlebih
lagi, aspek teknisnya sangat berbahaya.
Jika
seseorang yang belum siap tiba-tiba membangkitkan mata ketiga dan merapal
mantra sesuka hati, mereka bisa menyebabkan kebakaran yang tak terpadamkan atau
ledakan berantai.
Kalau
cuma membakar satu-dua rumah mungkin tragedi kecil, tapi dalam kasus terburuk,
kanton ini bisa musnah. Wajar jika mereka sangat tertutup.
Yah,
secara teknis, aku bisa membangkitkan kekuatanku sendiri. Penyihir
pertama di sejarah pasti melakukannya, dan aku sudah menemukan beberapa Traits
dan Skills yang mungkin mengizinkanku menggunakan sihir... tapi itu
terlalu tidak efisien untuk seleraku.
Mantra-mantra
awal ini memiliki peluang keberhasilan rendah, biaya Mana tinggi, serta
akurasi dan damage yang sangat acak.
Seperti
yang kubilang, aku adalah penganut setia Fixed Values, karena Dewi
Keberuntungan sudah lama mencampakkanku.
Aku tidak
bisa membenarkan membuang EXP untuk sesuatu yang sangat tidak stabil.
Seandainya ada statistik Luck yang bisa kuisi poinnya, mungkin ceritanya
akan berbeda.
Bagaimanapun,
hanya ada satu jalan masuk akal untuk mempelajari sihir: menabung.
Aku harus belajar
pada seorang penyihir atau masuk ke akademi sihir resmi Kekaisaran di ibu kota.
Kedua pilihan itu
membutuhkan biaya fantastis yang tidak akan sanggup dibayar keluargaku, bahkan
jika kami menjual seluruh ladang pertanian kami.
"Jadi aku tidak bisa mempelajarinya...?" tanyaku
lesu.
"Begitulah adanya, Nak. Maafkan aku... Aku sudah
terlalu tua untuk mengambil murid sekarang," katanya sambil mengembuskan
asap pipa
Ia mengamati
sekeliling, lalu dengan senyum simpatik, ia merogoh saku bajunya lagi.
"Hm,
aku bicara terlalu banyak hari ini... Bisakah kau menjaga rahasia ini?"
Aku mengangguk
semangat. Aku yakin wajahku saat ini benar-benar mencerminkan anak tujuh tahun
tanpa perlu berakting.
"Bagus.
Sebagai gantinya, ambillah ini. Aku sudah tidak membutuhkannya lagi."
Pria itu
mengeluarkan sebuah cincin tua yang kusam. Warnanya abu-abu keruh, antara perak
dan timah, tanpa hiasan apa pun.
Meskipun tampak
polos, cincin itu terasa cukup berat di tanganku, dan ukurannya terlalu besar
hingga mudah terlepas dari jempolku.
"Jika suatu
saat ada kesempatan, cincin ini akan meminjamkan kekuatannya padamu,"
katanya.
"Terima
kasih, Tuan," jawabku. "Tapi kenapa Anda memberiku sesuatu yang
begitu..."
"Tidak
bermutu?"
Aku
menggeleng kuat-kuat. Harus
kuakui pikiran itu sempat terlintas, tapi aku merasa ada sesuatu yang lebih
dari sekadar penampilan luarnya.
Orang tua ini
adalah seorang penyihir. Mana mungkin hadiah darinya cuma barang rongsokan? Ini
pasti barang penting.
"Sesuatu
yang sangat berharga," koreksiku.
Lelaki tua itu
terkekeh hingga terbatuk. "Itu cuma barang yang kupakai saat masih muda.
Cincin tua seperti itu tidak ada nilainya sama sekali."
Tidak, aku
yakin ini adalah Unique Item yang krusial, pikirku.
Beginilah cara
kerja TRPG: pria tua di depanku ini pasti sebenarnya adalah orang bijak
yang tak tertandingi, dan cincin ini dibuat seribu tahun lalu dengan teknik
kuno yang hilang, dan seterusnya.
Suatu saat nanti,
aku pasti akan bertemu seseorang dengan skill Appraise tinggi
yang akan berteriak, "Mungkinkah ini?!" Percayalah padaku soal ini.
"Yah, jalan
menuju keajaiban itu memang tak terduga. Mungkin kau akan terseret takdir aneh dan
sampai di sana. Jaga dirimu, Nak," katanya dengan senyum jenaka.
Setelah
menepuk kepalaku, ia mengeluarkan bubuk mesiunya lagi dan menyuruhku kembali
bermain.
Begitulah,
dengan kabar baik dan buruk yang berkecamuk di kepala, aku menerima sebuah
"Harta Karun" di musim semi tahun ketujuhku.
[Tips] Ada ras yang membutuhkan katalis untuk
menggunakan sihir (seperti Mensch) dan ada yang tidak. Katalis kimia juga dapat digunakan untuk
meningkatkan efisiensi atau daya ledak mantra.
◆◇◆
Sebenarnya, aku
sudah melihat "Mukjizat" jauh sebelum aku melihat "Sihir".
Tak perlu
dikatakan lagi, aku menyaksikan Miracle yang menyembuhkan adikku musim
dingin lalu, dan Uskup juga sering menunjukkan Miracle kecil saat
perayaan.
Aku menganggap
diriku lebih saleh dari kebanyakan orang. Aku memuja makhluk agung di dunia ini
tanpa mempedulikan keuntungan pribadi.
Aku yakin orang
Jepang sepertiku bisa memahaminya—bahkan mereka yang tidak religius pun akan
menundukkan kepala saat melewati gerbang Torii atau menjaga jimat
keberuntungan mereka baik-baik.
Aku punya niat
tulus untuk memuja dewa-dewi dunia ini. Sumpah...
"Ugh...
Klien dari Alam Atas ini benar-benar..."
Sampai
akhirnya, pada usia lima tahun, aku menerima sebuah sinyal—atau mungkin lebih
tepatnya "Wahyu Ilahi"—dari Dewi Panen saat misa Minggu.
Saat itu,
aku merasakan firasat aneh bahwa aku sedang "disuruh" berdoa, dan
sejak saat itu aku agak ragu untuk mengambil bagian iman dalam pohon
keterampilanku.
Kemudian,
aku meminta Uskup mengajariku lebih banyak soal agama. Ternyata kebanyakan
orang di sini penganut politeisme, menerima bahwa dunia dipenuhi banyak dewa.
Mengingat
betapa nyata kehadiran mereka, aku tidak heran. Alih-alih menyebarkan pengaruh
lewat kata-kata, para dewa di sini langsung campur tangan dalam urusan manusia.
Para dewa
melindungi pengikut mereka sebagai imbalan atas keimanan, dan menggunakan
energi itu untuk bersaing satu sama lain.
Konon mereka
terlibat konflik langsung di masa lalu, tapi sekarang mereka melakukan
"perang proksi" melalui umat fana demi meraih supremasi.
Akibatnya,
lanskap keagamaannya sangat beragam dan kacau. Ada dewa-dewi yang berkelompok
seperti mitologi Yunani (seperti di Kekaisaran ini), ada yang mengaku sebagai Dewa,
dan ada pula roh alam yang dipuja hingga menjadi dewa.
Aku yakin
dunia ini sudah sering melihat orang bijak yang bisa berjalan di atas air atau
memberikan nubuat luar biasa pada zamannya.
Namun,
meskipun mereka adalah Dewa, makhluk-makhluk tingkat atas di dunia ini hanyalah
bagian dari dunia ini.
Dengan
kata lain, mereka bukanlah Bodhisattva atau Siwa yang menguasai seluruh ruang
dan waktu; kekuasaan mereka terbatas pada planet ini.
Beberapa flavor
text pada Skills keimanan tingkat tinggi bahkan menjelaskan bahwa
masa pemerintahan mereka di dunia ini hanyalah bentuk "pelatihan"
untuk mendapatkan hak menciptakan dunia baru di masa depan.
Intinya,
posisi mereka mirip dengan "karyawan alih daya" yang sedang magang
menjadi pencipta dunia.
Menyadari
bahwa bahkan para Dewa pun tidak bisa lepas dari birokrasi semacam ini
membuatku ingin menitikkan air mata saking simpatinya.
Kategori Skills
berbasis iman milikku memang sudah terbuka setelah aku menerima wahyu tersebut,
tetapi perlakuan istimewa yang terlalu mencolok ini justru meredam
antusiasmeku.
Maksudku,
pikirkanlah: posisiku akan menjadi seperti karyawan baru yang memiliki
"jalur khusus" ke CEO. Itu situasi yang canggung bagi kedua belah
pihak.
Tentu
saja, aku paham bahwa kemampuan religius sangatlah berguna. Miracle
mirip dengan sakramen; ia menggunakan hak istimewa seseorang sebagai penganut
taat untuk memicu perubahan ilahi pada dunia.
Hebatnya,
ini tidak memerlukan Mana dan kekuatannya murni bergantung pada
keteguhan iman seseorang.
Selain itu,
karena secara teknis kita meminjam kekuatan Dewa, risiko kegagalannya hampir
nol (terlepas dari masalah akurasi dan resistensi target). Aku sama sekali
tidak meragukan efisiensinya.
Tapi... aku tetap
tidak bisa menghilangkan rasa canggung ini. Toleransi beragama dan pengalaman
berorganisasi yang kudapat di kehidupan sebelumnya benar-benar tidak sinkron
dengan perilaku penganut fanatik.
Ditambah lagi,
fakta bahwa semua Skills berbasis agama ini memiliki "harga"
poin yang lebih murah dari seharusnya, memberiku firasat buruk.
Ini terasa
seperti umpan untuk menyeretku ke dalam rencana ilahi yang belum terungkap.
Meskipun kuat, hal itu justru menurunkan nilainya di mataku.
Segala kecurigaan
ini mengancam "Iman"—syarat utama yang memungkinkanku menggunakan
kemampuan ini. A
ku bisa saja
memompa seluruh EXP ke dalam kemampuan ini, tapi siapa yang tahu apa
yang akan terjadi jika kondisi mental dan loyalitasku menurun sedikit saja?
Para Dewa itu menakutkan.
Dengan campur
tangan mereka yang begitu nyata dalam urusan sehari-hari, memancing kemurkaan
mereka adalah masalah serius.
Lagipula, rak
buku gereja dan mulut Uskup sendiri penuh dengan kisah tentang
"Penghakiman Surgawi".
Untungnya, tidak
ada mekanisme pembatas seperti, "Belajar ilmu sihir akan membuatmu tidak
bisa melakukan Miracle!"
Ada bagian dari
diriku yang merasa tidak ada salahnya sesekali memuji para Dewa, tetapi saat
melihat Uskup menaburkan debu suci sambil merapal doa pada bunga-bunga selama
festival musim semi, rasa pahit yang kontradiktif kembali menyelimutiku.
[Tips] Faith Skills diaktifkan langsung oleh
para Dewa. Akibatnya, mustahil menggunakannya untuk tindakan yang melawan
kehendak ilahi. Penipuan, menyakiti orang tak bersalah, atau memicu perang suci
tanpa alasan adalah beberapa tindakan yang dilarang keras oleh otoritas surgawi.
◆◇◆
Stamina
anak-anak benar-benar sumber daya yang tak terbatas. Melihat cara
saudara-saudaraku langsung berlari keluar rumah untuk bermain setelah seharian
bekerja keras benar-benar memperkuat teori itu.
Energi
mereka yang meluap-luap sungguh luar biasa. Itu mengingatkanku pada pemandangan
anak-anak sekolah yang bermain saat jam olahraga, lanjut bermain saat
istirahat, lalu lanjut lagi setelah sekolah hingga matahari terbenam.
Tubuhku
di kehidupan sebelumnya sudah berderit karena bertahun-tahun bekerja di balik
meja dan menyetir.
Bagi
seorang lelaki tua yang bahkan tidak sanggup berlari sepuluh menit untuk
mengejar kereta, aktivitas mereka terasa seperti fenomena asing bagiku.
"Ayo,
Erich!" seru kakak-kakakku. "Apa yang kau lakukan?! Cepat ke
sini!"
Baiklah,
karena sekarang aku berada dalam tubuh anak-anak, aku seharusnya bisa
mengimbangi mereka.
Namun,
aktivitas ini tetap melelahkan secara mental. Aku hanya ingin bersantai setelah
seharian bekerja keras di ladang.
"Hari
ini aku yang jadi pemimpin!" seru Michael. "Aku akan jadi pendekar
pedang legendaris, si Dullahan Emil!"
"Wah,
keren!" sahut Hans. "Kalau begitu aku jadi pengintai kita, Tuan
Carsten si pengembara!"
"Hei, tunggu
dulu! Aku yang tertua, jadi aku yang harus memilih duluan!" protes
Heinz. "Oke, aku jadi Nicolaus, sang Api Surga!"
"Apa?! Tapi
kalau begitu kita punya dua orang di barisan depan!" Michael memprotes.
"Iya, kita
tidak butuh dua pendekar pedang!" Hans setuju.
"Diam! Aku
tidak tahu apa-apa soal penyihir!" balas si sulung tak mau kalah.
Rasa lelahku
seolah terbang terbawa angin sepoi-sepoi saat melihat kelompok kakakku bersiap
masuk ke hutan.
Dengan senjata
mainan kayu buatanku di tangan, mereka siap beraksi menjadi petualang.
Dari awal musim
semi hingga musim panas, setiap pertanian memiliki jadwal kerja yang berbeda.
Karena itulah, anak-anak biasanya hanya bermain dengan saudara kandung mereka.
Tidak seperti
musim panas yang lebih santai, hampir mustahil mengumpulkan semua anak tetangga
di musim ini, jadi pilihan teman bermain kami terbatas.
Dan pilihan yang
selalu ada adalah permainan pura-pura. Aku yakin setiap orang pernah memerankan
pahlawan favorit mereka di taman atau halaman sekolah setidaknya sekali seumur
hidup.
Hal ini berlaku
juga di dunia ini; bedanya, karakter TV dan manga digantikan oleh pahlawan
rakyat dari lagu dan legenda.
Meskipun
sebelumnya kubilang petualang hanyalah "tukang serabutan", secara
historis mereka adalah pelindung umat manusia selama konflik ilahi di zaman
para Dewa. Di masa ketika binatang buas menguasai daratan, pahlawan-pahlawan
kuat muncul untuk melindungi mereka yang lemah—dan dari sanalah petualang
pertama lahir.
Asosiasi
Petualang modern didirikan berdasarkan citra pahlawan masa lalu tersebut.
Rupanya, itulah
alasan mengapa petualang diizinkan melintasi perbatasan negara dengan bebas,
bahkan di era di mana globalisasi masih dianggap lelucon.
Organisasi ini
menjangkau berbagai negara dan benua demi bersiap menghadapi hari ketika
ancaman mistis kembali muncul.
Tentu saja, itu
cuma alasan formal, karena setiap negara pasti lebih memilih mengerahkan
militer mereka sendiri jika masalah besar benar-benar terjadi.
Terlepas
dari realitasnya, anak-anak tetap memuja para petualang legendaris.
Michael
memakai identitas Emil, Dullahan legendaris yang membunuh ngengat raksasa
beracun.
Hans
memilih nama Tuan Carsten, ksatria yang tetap mengembara meski dikutuk para
Dewa hingga akhirnya mendapatkan pengampunan dan kekuatan Miracle.
Terakhir,
Heinz terinspirasi pembunuh naga dengan pedang api abadi.
Mereka
semua adalah legenda, tapi komposisi tim yang terdiri dari dua pendekar pedang
dan satu pengintai membuat jiwaku sebagai pemain RPG ingin meledak
karena kesal.
Komposisi tim itu
krusial, sialan! Mungkin strategi ini jalan untuk tim berisi lima orang, tapi
untuk kami yang hanya berempat, satu Frontliner dengan skill
penarik Aggro sudah lebih dari cukup. Sisanya harus diisi oleh Mid-liner, Healer,
dan Mage. Begitu baru seimbang!
Petualangan
yang dirancang untuk kelompok pasti melibatkan musuh yang tangguh. Sangat tidak
masuk akal menantang mereka dengan tim yang pincang seperti ini.
Aku mulai
membayangkan skenario buruk: tim tanpa penyihir akan gagal melacak jejak sihir,
atau lebih parah lagi, mereka tidak akan bisa membaca petunjuk untuk menemukan
alur Quest utama!
"Um..."
kataku menyela, "aku akan menjadi Saint Raymond saja."
"Kau selalu
memilih pendeta atau penyihir," ujar Hans. "Apa tidak bosan?"
Tentu saja
tidak! Aku heran kenapa
Hans meremehkan barisan belakang. Apa dia mau mencoba melawan musuh tipe Incorporeal
(tanpa wujud fisik) tanpa sihir? Mengayunkan pedang ke arah hantu yang tidak
bisa disentuh itu benar-benar menguras kewarasan, tahu!
"Biarkan
saja dia, Hans," sela Michael. "Ayo berangkat! Koin Peri sudah menunggu!!!"
"Ayo!!!"
teriak dua lainnya serempak.
Pada akhirnya,
ini semua cuma permainan anak-anak. Kami bukan pendekar pemburu binatang buas;
kami hanyalah bocah yang memburu dongeng orang tua.
Tidak perlu
terlalu serius soal komposisi tim. Tentu saja, aku pasti sudah membalik meja
jika ini adalah permainan sungguhan.
Kakak-kakakku
menghunus pedang kayu dan busur mainan mereka, lalu melangkah mantap ke dalam
hutan.
Aku
mengambil tongkat penyihir (yang tetap tidak populer meski sudah kubuat sekeren
mungkin) dan bergegas mengejar mereka.
Tujuan kami
adalah "Koin Peri". Itu hadiah yang remeh bagi kelompok pahlawan,
tapi bagi kakak-kakakku, mengejar harta karun terasa jauh lebih menarik
daripada memburu monster yang tidak akan pernah muncul.
Terkadang, memang
ada cahaya kecil menyerupai peri di sudut mata jika kita berada di hutan ini,
jadi legenda tentang koin itu terasa semakin nyata.
Meskipun begitu,
peri dalam cerita rakyat biasanya lebih sering membawa masalah daripada
keberuntungan.
Jika koin ini
benar-benar ada, siapa yang tahu apakah itu sebuah berkah atau justru kutukan?
Aku mengikuti
mereka yang sibuk merapal mantra "keren" saat masuk lebih dalam ke
hutan.
Melihat mereka
berbaris dalam satu barisan (yang cukup rapi untuk ukuran anak-anak) sambil
membawa ransel penuh senjata kayu buatanku, aku tidak bisa menahan senyum
tulus.
Bukankah semua
orang pernah punya kenangan petualangan masa kecil seperti ini?
Reputasi
petualang di dunia nyata memang buruk, tapi aku mulai bertanya-tanya; apakah
mustahil untuk melakukan perjalanan yang menyenangkan bersama teman-teman demi
mengejar mimpi?
Mungkin kami
bahkan bisa mengukir nama dalam sejarah seperti pahlawan yang mereka tiru.
Saat memikirkan
itu, berbagai kisah petualangan hebat yang pernah kubaca kembali terlintas.
...Mungkin
menjadi petualang tidak seburuk itu. Lagipula, aku belum pernah mencobanya
sendiri.
Siapa
tahu, mungkin orang dewasa sengaja menceritakan hal-hal buruk agar anak-anak
mereka tidak menjadi pengembara profesional.
Saat kami
memulai petualangan kecil ini, aku menyadari satu hal: tidak peduli seberapa
banyak ceramah yang kuterima, gairah yang dipicu oleh kata
"Petualangan" tidak akan pernah bisa padam sepenuhnya.
[Tips] Asosiasi Petualang adalah organisasi kolektif yang menjamin identitas masyarakat sipil yang dilayaninya. Meskipun melampaui batas negara, pada praktiknya setiap cabang bersifat otonom dan hanya mengurus pekerjaan di dalam wilayah mereka sendiri. Komunikasi antar cabang sangatlah minim.



Post a Comment