NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

TRPG Player ga Isekai de Saikyou Build wo Mezasu Volume 1 Chapter 5-6

Masa Kanak-Kanak

Musim Gugur Usia Delapan Tahun


Fumble (Meleset) Puncak dari segala nasib buruk. Sebagai lawan dari Critical Hit, sebuah Fumble biasanya berujung pada kegagalan mutlak, tidak peduli seberapa tinggi bonus hasil perhitunganmu.

Seranganmu akan meleset total; jika kau sedang berjalan, kau akan terperosok ke lubang got; bahkan mencoba membaca buku pun bisa membuat otakmu terasa meledak.

Dalam sistem 2D6, Fumble diwakili oleh Snake Eyes (dua angka satu), angka 95–100 untuk 1D100, dan angka 1 untuk lemparan 1D20. Beberapa permainan menyertakan "Tabel Fumble" yang menakutkan—kumpulan kemalangan seperti memberikan kerusakan pada diri sendiri.

Dalam aturan yang lebih ketat, Fumble bahkan bisa mengubah hubungan antar karakter.

GM sering kali dibuat pusing saat seorang PC tiba-tiba terungkap memiliki sisi jahat layaknya penjahat super di kartun Minggu pagi akibat lemparan dadu yang buruk.

Namun, sesekali, kegagalan fatal semacam ini justru menjadi bumbu legendaris dalam sebuah cerita yang akan terus dikenang oleh teman-teman bermainmu.

◆◇◆

Seorang pilot Virgo dan Flag yang menyebalkan pernah menyebut dirinya sebagai "orang yang tidak sabaran".

Betapapun aku benci perbandingan itu, sekarang aku bertanya-tanya apakah fakta bahwa ulang tahunku jatuh di awal musim gugur adalah alasan di balik kurangnya pengendalian diriku.

Setelah merayakan ulang tahun kedelapanku (mengherankan, Rhine menggunakan kalender matahari dua belas bulan—artinya planet ini memiliki skala waktu yang mirip dengan Bumi), aku menyempatkan diri memeriksa menu statusku.

Bukti tak terbantahkan dari kebiasaan burukku yang tak tersembuhkan membuatku bergidik.

Begini, ketika aku punya waktu luang untuk memilah-milah skill dan menemukan kategori skill umum jangka panjang—dengan harga yang sangat murah—aku tidak bisa menahan diri.

Kau mengerti, kan?

Kau mungkin memeras otak untuk membeli sesuatu yang besar, tetapi saat melihat barang murah, kau akan dengan cepat berkata, "Kenapa tidak?" ke dompetmu sendiri.

Dan di akhir bulan, tumpukan pengeluaran kecil itu berujung pada tagihan yang membuatmu mengumpat habis-habisan.

Singkatnya, aku telah menguras tabunganku beberapa kali tahun lalu untuk mengambil beberapa Traits dalam kategori Body. Feline Physique memberiku fleksibilitas tinggi; membuatku tidak mudah cedera, meningkatkan kemampuan mendarat, membantuku menahan serangan grapple, dan memberikan bonus pada Acrobatics.

Bahkan ada bonus koreksi saat jatuh dari ketinggian.

Flexible Skeleton memperkuat tulangku agar terhindar dari patah tulang saat dewasa nanti.

Cat Eyes memungkinkanku melihat jelas di malam hari, cukup tajam untuk membaca buku di bawah cahaya redup bintang.

Terakhir, Steel Stomach memperkuat sistem imun dan ketahananku terhadap keracunan makanan serta beberapa jenis racun.

Semua ini sangat krusial; lagipula, aku tidak ingin mati konyol karena jatuh dari tangga atau semacamnya.

Aku merasa rangkaian skill ini sangat cocok untuk menjamin kehidupan sehari-hari yang sehat.

Ya, itu selama aku mengabaikan alasan konyol di balik pembelian tiap Traits tersebut.

Aku mengambil Feline Physique dan Flexible Skeleton hanya agar bisa mengimbangi Mergit dan anak-anak lain saat permainan kami semakin liar.

Anak-anak desa benar-benar gaduh saat bermain. Satu-satunya alasanku mengambil Cat Eyes adalah karena aku frustrasi betapa sulitnya mengerjakan "pekerjaan sampingan" di malam hari, dan Steel Stomach adalah pembelian panik saat aku tak sengaja menggigit buah ara yang rasanya aneh.

Sungguh luar biasa betapa impulsifnya aku. Pengendalian diri jelas bukan kata yang ada dalam kamusku.

Namun, aku berhasil menarik garis batas di satu titik: aku belum menyentuh Job Skills tingkat tinggi.

Lagipula, pilihanku tidak sepenuhnya tidak masuk akal. Ini masih dalam cakupan rencana awalku.

Mungkin. Tubuh yang kuat adalah aset abadi, dan penglihatan malam hampir tidak akan pernah menjadi penghalang di era tanpa lampu jalan ini.

Aku hanya perlu pura-pura tidak melihat saat orang tuaku sedang melakukan "olahraga malam" yang meriah.

Sebenarnya, strategi awalku untuk meningkatkan statistik dasar berjalan lancar, jadi jalan memutar ini tidak berdampak buruk dalam jangka panjang.

Saat dewasa nanti, aku diprediksi akan tumbuh hingga 180 cm dengan struktur otot yang padat dan atletis, bukan besar menggelembung.

Aku sempat berpikir akan menyenangkan jika aku meniru Ibu dan menjadi pemuda cantik dengan lekuk tubuh ramping, tapi sayangnya kategori Appearance sudah terkunci bersama Innate Traits lainnya.

Mungkin sistem menguncinya agar wajahku tidak menjadi terlalu tampan sampai membuat siapa pun yang menatapku menjadi buta.

Karena gigih, aku mengambil Mother’s Son dan Soothing Visage sebagai bentuk protes kecil pada sistem. Aku bersemangat membayangkan akan jadi seperti apa aku di masa depan, meski sedikit khawatir juga kalau-kalau aku bertindak terlalu jauh...

Meskipun aku sudah menghabiskan banyak poin, statistik dasarku yang terendah adalah Strength di level IV: Average, yang berarti aku bergerak lebih cepat dari jadwal.

Targetku adalah memiliki semua statistik di level V: Good saat berusia sepuluh tahun, tapi sepertinya aku akan menyelesaikannya setahun lebih awal.

Bicara soal statistik dasar, aku baru tahu bahwa jumlah EXP yang diperoleh berkorelasi langsung dengan Intelligence dan Memory. Aku menyadari peningkatan bertahap ini saat menaikkan level keduanya secara bersamaan.

Interaksi ini tidak disebutkan di mana pun; semacam pengubah tersembunyi (hidden modifier) yang menegaskan bahwa orang pintar belajar lebih cepat.

Hal seperti ini umum di gim video lama—seperti gim pasca-apokaliptik tentang gurun nuklir Amerika yang menggunakan mekanisme serupa pada statistik INT.

Semuanya adalah bagian dari sistem.

Ini menjelaskan mengapa Intelligence dan Memory agak lebih mahal untuk ditingkatkan. Jika aku tahu bisa mendapatkan return on investment berupa EXP, aku pasti sudah menaikkannya sejak dulu.

Saat aku sedang duduk meratapi dompet tipis sekaligus mensyukuri kemajuanku, tiba-tiba hawa dingin menjalar di leherku.

Skill Presence Detection memberitahuku ada pihak ketiga. Aku tidak mendengar langkah kaki atau napas, jadi itu tidak mungkin keluargaku.

Terlebih lagi, kehadiran itu ada di atas atap. Tanpa pikir panjang, aku melompat maju. Sedetik kemudian, terdengar suara samar seseorang mendarat di tumpukan kayu bakar yang baru saja kutinggalkan.

"Sayang sekali," kata Mergit sambil mendecakkan lidah. Aku menoleh dan melihat wajah kecewanya karena gagal menangkap mangsanya.

Mergit tumbuh sedikit sejak tahun lalu, tapi tetap sulit dipercaya dia dua tahun lebih tua dariku. Di sisi lain, keahlian berburunya semakin tajam. Aku sudah meningkatkan Presence Detection ke level V: Proficient, tapi dia masih bisa lolos dari radarku dengan mudah.

"Bisa tidak, kau datang lewat pintu seperti orang normal?" tanyaku.

"Kalau begitu, tidak seru," jawabnya dengan dialek sopan. Lalu, sambil mengerucutkan bibir, dia menambahkan, "Mana asyiknya melakukan sesuatu yang membosankan?"

Hmm... dia benar-benar tahu betapa imutnya ekspresi itu. Aku tidak keberatan dia menggunakan pesonanya, karena jujur saja, dia memang imut.

Tapi aku merasa malu karena terus-menerus menahan diri untuk tidak membalas godaannya. Aku bersumpah gadis di bawah umur tidak pernah masuk dalam radar "seranganku"...

Mergit melangkah ke samping dan menepuk tempat dudukku, memberi isyarat agar aku kembali duduk. Meskipun penampilannya kekanak-kanakan, pembawaannya dalam situasi seperti ini sungguh memikat.

Aku duduk dengan patuh, hanya untuk mendapati dia melompat ke pangkuanku seolah itu hal wajar—menghadap ke arahku. Posisi duduk kami sekarang... semacam posisi lotus.

Namun, sebagai anak laki-laki "polos", aku tidak memiliki fantasi mesum seperti orang lain. Aku tahu mencoba berontak hanya akan membuatnya semakin gencar menggoda, jadi aku memutuskan untuk mengabaikannya saja.

Aku baru tahu belakangan bahwa Arachne adalah spesies matriarkal.

Seperti spesies lain di mana betina mendominasi jantan, konsep kesopanan dan seksualitas mereka adalah kebalikan dari Mensch (manusia).

Selain itu, mereka punya kebiasaan aneh untuk menolak hidup bersama pasangannya jika keduanya sama-sama Arachne.

"Jadi, ada perlu apa?" tanyaku.

"Hm? Aku hanya ingin melihat wajahmu."

Dipadukan dengan senyum menawan, pernyataan Mergit terasa penuh makna tersirat.

Cara dia memiringkan kepala benar-benar menyentuh hatiku, meski aku punya pengalaman mental puluhan tahun sebagai pria dewasa.

Aku bersyukur dia masih anak-anak; kalau tidak, aku akan dalam masalah besar... Tunggu, bukankah aku memang sedang dalam masalah sekarang?

"Apa maksudnya itu...?" tanyaku ragu.

"Pekerjaan membantu keluargaku hari ini sudah selesai," katanya mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana denganmu...?"

"Aku akan segera sibuk." Aku menepis rasa sedih yang muncul dan kembali pada realitas bahwa ulang tahunku telah tiba. Itu berarti musim panen sudah di depan mata.

Memanen, mengirik, dan distribusi hanya menyisakan sedikit waktu istirahat. Bahkan setelah itu masih banyak pekerjaan sampingan.

Tak terhitung berapa banyak barang yang harus dikemas sebelum salju turun.

Menyadari pekerjaanku menentukan kesejahteraan keluarga, bahkan orang pelit sepertiku bersedia menginvestasikan banyak EXP untuk meningkatkan kecakapan bertaniku.

Dengan enam anggota keluarga, seekor kuda, dan bantuan kerabat, kami baru saja sanggup melewati kerja lapangan yang berat, hanya untuk kemudian harus membantu mereka yang sudah membantu kami.

Belum lagi urusan dokumen penjualan untuk membayar pajak sekaligus menjaga stok cadangan makanan.

Gelombang kesibukan ini terasa seperti utang kebebasan musim panas yang harus dibayar dengan bunga tinggi.

Endurance dan Stamina milikku berada di level VI: Excellent, tapi musim panen tetap membuat tubuh kecilku kelelahan.

Memikirkannya saja membuat perutku mual, tapi aku tidak boleh mengeluh; keluarga kami beruntung punya kuda dan empat anak laki-laki.

"Begitu ya," kata si laba-laba kecil. "Kami pun akan segera sibuk." Dia terkikik, tapi aku tahu para pemburu punya banyak tugas saat musim gugur dan dingin.

Mergit baru saja mendapatkan busur pertamanya tahun ini dan dengan riang bercerita bagaimana orang tuanya mengajarinya dasar-dasar berburu. "Kurasa kita harus bersenang-senang selagi bisa."

"Hanya berdua?" tanyaku tanpa sadar. Begitu mendengar itu, wajah Mergit berubah seperti mau menangis.

Ekspresimu dramatis sekali!

"Apa tidak boleh?" bisiknya tepat di telingaku.

Suaranya seperti bulu yang menggelitik tulang belakangku, mengirimkan sensasi geli ke seluruh otak.

Aku tahu kau perempuan, tapi kau tidak boleh sepandai itu menggoda, Nona Muda! Apa semua laba-laba memang begini?

Seperti kebanyakan pria, aku punya kelemahan pada wanita menawan. Aku hanya bisa menggelengkan kepala dengan kikuk.

Aku tidak merasa bodoh, tapi aku mulai bertanya-tanya apakah aku tanpa sadar sudah memicu "rute romansa" di sini.

Kapan dan bagaimana alur cerita ini muncul?

Aku tidak membencinya, tapi pria dengan usia mental empat puluh tahun dan seekor laba-laba yang belum genap belasan tahun adalah pasangan yang cukup dipertanyakan.

Orang aneh macam apa yang menjalankan skenario dunia ini?

Aku ingin menghindari situasi yang lebih rumit, jadi aku mencoba mengalihkan topik.

Meskipun aku tidak keberatan dengan kasih sayangnya, secara teknis aku masih berusia delapan tahun. Aku harus menjaga martabatku.

"Baiklah, kalau begitu ceritakan apa yang kau pelajari di sekolah," usulku.

"Kau ingin aku mengajarimu?" tanyanya. Wajah sedihnya lenyap seketika dan dia memiringkan kepalanya dengan ceria. Lucu sekali.

"Ya. Semua orang bilang sekolah itu membosankan, tapi aku penasaran apa saja yang dilakukan di sana."

Awalnya aku berharap kakakku yang mengajariku, tapi yang kudapat darinya cuma keluhan.

Ayahku cukup tegas mendidiknya agar mahir dalam tata bahasa dan tulisan indah, tapi sejarah, puisi, dan matematika dianggap angin lalu oleh kakakku.

Aku yakin dia akan lupa semua pelajaran itu saat sekolah dibuka kembali musim dingin nanti.

"Mari kita lihat," gumam Mergit. "Kami belajar cara bicara dengan dialek istana, membaca, menulis... ada juga hukum dasar. Selain itu, sebagian besar waktu dihabiskan untuk sejarah dan puisi."

Di sisi lain, Mergit adalah siswa teladan, terlihat dari kefasihannya berbicara.

Orang tua dan gurunya pasti mendesaknya menggunakan dialek kelas atas dalam keseharian agar tidak lupa.

Pengucapannya yang indah dan melodius sangat kontras dengan bahasa kekanak-kanakan yang biasa digunakan aku dan saudara-saudaraku.

Satu kalimat darinya saja sudah cukup menunjukkan betapa keras usahanya belajar.

"Kedengarannya seru! Maukah kau mengajariku?" seruku.

"Hm? Kurasa boleh saja."

Kemampuan bertutur kata yang halus sangat penting untuk sukses di dunia ini, seperti yang sering Ayah nasihatkan pada kakakku. Tentu saja, aku pun ingin menguasainya, tapi Ayah sibuk dan kakakku bukan guru yang baik.

Ini kesempatan sempurna bagiku untuk membuka prasyarat mempelajari dialek tersebut.

Sihir bukan satu-satunya bidang yang tidak bisa kupelajari secara autodidak; gaya berpedang, sastra, hukum, dan sejenisnya tidak mungkin kukuasai sendiri.

Dugaanku, sistem skill ala TRPG ini tidak bisa menciptakan pengetahuan jika konsep dasarnya benar-benar asing bagiku.

Alasan mengapa beberapa karakter "jenius" bisa belajar bahasa dengan mudah mungkin karena proses mencari guru dan membaca buku dianggap terlalu membosankan untuk ditampilkan dalam gim.

Kalau tidak, mana mungkin bahasa asing bisa dikuasai hanya dengan 1.000 EXP yang murah itu.

"Kalau begitu, mari kita mulai dengan kosakatamu."

"Yeay! Terima kasih, Mergit!" teriakku dengan nada kekanak-kanakan yang sengaja kulebih-lebihkan.

Sampai sekarang, aku selalu terdengar seperti balita setiap kali bicara, tidak peduli seberapa dewasa pikiranku.

Aku lega akhirnya punya cara untuk belajar bicara dengan normal.

"Kita mulai dengan ini," kata Mergit.

"Hah?"

Otakku membeku mencoba mencerna apa yang dia lakukan. Mergit membuka mulutnya lebar-lebar dan menjulurkan lidahnya, seolah sedang memamerkannya padaku.

Belum sempat aku bereaksi, jari tangannya yang mungil mulai menelusuri lidahnya sendiri dengan gerakan yang menggoda.

"...Mergit?"




Di tengah kebingunganku, dia menggenggam tanganku sambil tersenyum menggoda. "Pelafalan adalah nyawa bagi lingkungan istana kekaisaran.

Cara lidahmu bergerak harus benar-benar berbeda dari ucapan normal, kau tahu? Ini adalah metode pengajaran yang diajarkan guruku.

Kau harus menggunakan jarimu untuk merasakan bentuk lidah pembicara yang fasih, lalu letakkan jari itu ke mulutmu sendiri untuk meniru gerakannya.

Tentu saja, guruku tidak akan membiarkanku melakukan hal itu padanya," tutupnya sambil terkekeh.

Senyum puasnya membuatku panik. Ia pun bertanya, "Apa? Kau tidak mau?"

"Eh, anu," aku tergagap, "Hanya saja..."

Sungguh memalukan untuk mengakui betapa canggungnya situasi ini. Wajahku terasa panas membara dan keringat dingin mulai mengalir di punggungku.

Apa dia melakukan ini dengan sengaja? Gadis ini benar-benar terlalu provokatif!

"Oh, apa kau lebih suka metode yang lain?" tanya Mergit. "Ada cara lain yang diperkenalkan ibuku padaku..."

"Benarkah?! Apa itu?!"

Tawa Mergit semakin keras, dan sudut mulutnya membentuk seringai cantik yang mencolok.

Dia mencondongkan tubuh lebih dekat hingga hidung kami bersentuhan dan napas kami saling beradu.

Mata cokelatnya sedikit berbinar, seolah ingin menatap langsung ke dalam isi pikiranku. Inikah rasanya menjadi mangsa yang akan dimakan laba-laba?

"Menurut ibuku... akan lebih cepat jika kau merasakan lidahku langsung dengan lidahmu. Tidakkah kau setuju?"

"Apa?!" teriakku.

Ibu Nyonya Mergit?! Apa yang Anda ajarkan pada putri Anda?! Dia baru berusia sepuluh tahun!

"Tapi kurasa kita harus menyimpannya sampai kita dewasa nanti. Bagaimana kalau kita lanjutkan dengan metode untuk anak-anak?"

"Kurasa keduanya tidak dimaksudkan untuk—"

Tepat saat aku mencoba memprotes, sebuah sensasi basah tiba-tiba menyelimuti jariku.


[Tips] Menjadi seorang Tutor dapat memberikan poin EXP tambahan atau menurunkan ambang batas (Threshold) perolehan sebuah skill. Dalam beberapa kasus, hal ini bahkan bisa menyebabkan skill atau Trait tersebut mengalami perubahan efek.

◆◇◆

Saat kesibukan musim gugur hampir berakhir, Johannes dan Hanna kembali dilanda keputusasaan karena masalah lain.

Banyaknya tanggung jawab di ladang membuat mereka tidak sempat mengawasi pelajaran putra sulung mereka, Heinz.

Akibatnya, ia melupakan hampir semua materi yang telah dipelajarinya selama musim panas.

Setelah beberapa tahun bersekolah di bawah bimbingan magistrat, sudah menjadi tradisi bagi para siswa untuk mengucapkan terima kasih kepada sang magistrat secara langsung selama perayaan musim semi.

Di sana, masing-masing siswa akan membacakan puisi menggunakan bahasa formal kekaisaran yang mereka pelajari.

Syair musim semi ini terkenal sebagai "Gerbang Kesuksesan". Para bangsawan di negeri itu biasanya bersedia membiayai studi lanjutan bagi anak-anak yang menunjukkan bakat luar biasa.

Beberapa orang yang beruntung bahkan bisa mendapatkan masa depan sebagai birokrat jika sang magistrat tertarik pada kinerja mereka.

Johannes dan Hanna sebenarnya tidak memiliki ambisi setinggi itu. Mereka mencintai putra mereka, tapi mereka cukup realistis untuk tidak berharap terlalu banyak.

Yang mereka minta hanyalah agar Heinz bisa menyelesaikan pembacaan puisinya tanpa memancing kemarahan siapa pun di antara kerumunan.

Namun, harapan sederhana itu berubah menjadi keputusasaan ketika mereka menguji putra mereka setelah ladang-ladang kosong. Rasanya mustahil tingkat bahasanya akan membaik secara drastis dalam satu musim dingin.

Saat pasangan itu gemetar ketakutan (yang kali ini bukan karena hawa dingin), putra bungsu mereka muncul di hadapan mereka suatu malam dengan kepala tegak.

Ia mengumumkan bahwa ia telah menciptakan sebuah puisi sebagai bentuk rasa terima kasih kepada orang tuanya.

Rupanya, anak laki-laki itu telah mempelajari bahasa istana dari seorang teman, dan ingin menghibur orang tuanya yang kelelahan dengan sebuah lagu.

Pasangan itu terkejut sekaligus antusias mendengarkan penampilan si bungsu.

Meski masih agak kasar, puisinya disusun dengan sangat baik. Beberapa pemilihan katanya sedikit kekanak-kanakan, tapi hal itu justru membuatnya terasa lebih tulus.

Suaranya yang belum mengalami pubertas terdengar sangat pas saat ia mengucapkan setiap kata dengan hati-hati.

Puisinya sempurna. Pelafalannya tanpa cela. Liriknya mengikuti pakem tradisional dengan sangat teliti.

Dan yang tak kalah "sempurna" adalah penggunaan dialek feminin yang sangat anggun oleh anak laki-laki itu.

Saat pertunjukan berakhir, Erich menunggu reaksi orang tuanya dengan senyum berseri-seri. Baik Johannes maupun Hanna hanya bisa terdiam dengan mulut ternganga.

Sepanjang musim dingin berikutnya, si sulung terpaksa ditemani oleh adik laki-lakinya yang kebingungan saat kedua orang tua mereka mulai mengajari kembali dasar-dasar bahasa kekaisaran yang "benar".


[Tips] Terdapat beberapa sub-dialek dalam bahasa istana kekaisaran. Beberapa dibedakan berdasarkan jenis kelamin, sementara yang lain didasarkan pada status sosial: gaya bicara bangsawan kelas atas akan sangat berbeda dengan bangsawan kelas bawah.




Masa Kanak-Kanak

Musim Panas Usia Delapan Tahun


GM (Game Master) Seorang Game Master bertanggung jawab atas kekuatan yang berada di luar kendali pemain. Mereka menulis skenario, mempersiapkan musuh, dan melemparkan dadu untuk para penjahat.

Mereka adalah tuan rumah yang ramah, sekaligus bos terakhir yang kejam.

Banyak permainan memiliki varian sebutan tersendiri, seperti Hand of Fate, Keeper, atau Ruler.

Seseorang sering kali dapat mengetahui jenis TRPG apa yang biasa dimainkan orang lain hanya dengan mendengar istilah yang mereka gunakan untuk peran ini.

◆◇◆

Beberapa bulan setelah aku melakukan kesalahan bahasa fatal yang pasti akan menghantuiku sampai ke liang lahat, pidato Heinz di hadapan magistrat berakhir tanpa insiden.

Dengan kenangan akan "tipu muslihat kewanitaan" yang kukubur dalam-dalam di bawah tanah bersama benih-benih musim semi, aku kini mendapati diriku berada di pinggiran desa.

"Senang melihat kalian semua di sini."

Aku melihat ke sekeliling dataran kosong yang dipenuhi anak-anak petani dari kanton kami.

Semuanya adalah wajah-wajah yang sudah kukenal dengan satu kesamaan: tidak satu pun dari kami adalah putra tertua di keluarga masing-masing.

Semua yang hadir hari ini adalah anak-anak lelaki yang tidak memiliki hak waris atas pertanian orang tua mereka.

Kami dipaksa berdiri tegak dalam satu barisan oleh seorang pria paruh baya di hadapan kami.

Pria jangkung dan tegap itu mengenakan baju besi kulit kecokelatan dan menyandang pedang panjang yang tumpul.

Matanya yang cekung serta helaian uban yang mencuat dari rambut cepaknya membuat pria bernama Lambert itu tampak sangat berwibawa dalam jabatannya sebagai Kapten Konigstuhl Watch.

"Selamat datang di sesi pelatihan pertama kalian," katanya.

Kami semua berkumpul untuk mengikuti proses seleksi sekaligus sesi pelatihan yang diselenggarakan oleh milisi Konigstuhl Watch.

Berdasarkan apa yang kupelajari tentang pemerintahan Kekaisaran dari Mergit, hierarki militer saat ini ternyata sangat modern dan sistematis.

Setiap wilayah dipimpin oleh bangsawan berpangkat tinggi, yang kemudian memberi wewenang kepada bangsawan rendahan untuk mengelola distrik administratif di bawah kendali mereka.

Lalu, anggota kelas bangsawan terendah atau ksatria kehormatan ditugaskan memimpin kanton dan kota sebagai magistrat lokal.

Seluruh sistem berjenjang ini tampak kuno dan klise, tetapi pembagian kekuasaannya sangat mirip dengan sistem birokrasi modern Jepang—hanya saja pemilihan umum digantikan oleh garis keturunan.

Artinya, kanton Konigstuhl dijalankan oleh Klan Ksatria Kekaisaran Thuringia yang tinggal di Kastil Konigstuhl, namun mereka bukanlah otoritas tertinggi. Tuan Thuringia mungkin ditunjuk oleh penguasa setempat untuk memerintah, tetapi dengan wilayah yurisdiksinya yang luas, ia tidak punya waktu untuk mengurus administrasi harian di Konigstuhl.

Lebih jauh lagi, ia tidak memiliki cukup personel untuk melindungi seluruh wilayahnya secara terus-menerus.

Di sinilah letak perbedaannya dengan Bumi modern. Memelihara tentara tetap adalah "lubang hitam" bagi keuangan penguasa.

Biayanya sangat mahal sehingga baru di era modern tentara tetap berubah dari sekadar barang mewah menjadi standar negara.

Tuan Thuringia mempekerjakan ksatria dan memiliki wewenang merekrut warga sipil guna menjaga perdamaian di wilayah perbatasan.

Namun, pasukan ini adalah unit penjaga perdamaian aktif, bukan penjaga keamanan pasif; mereka menghabiskan sebagian besar waktu bersiaga di kastil menunggu pengerahan.

Militer tetap menghabiskan banyak uang, apalagi jika harus dikerahkan jauh.

Menempatkan mereka di lokasi strategis yang memungkinkan operasi militer cepat adalah langkah yang lebih masuk akal secara finansial.

Hal ini relevan karena setiap kanton harus mampu membentuk pasukan pertahanan darurat guna mengulur waktu sampai bala bantuan tiba.

Teknologi di sini lebih maju dari dugaanku, tapi tetap tidak sebanding dengan kemajuan ilmiah yang pernah kulihat sebelumnya.

Jika terjadi serangan, seorang utusan butuh waktu lebih dari setengah hari untuk mencapai kastil. Mungkin seseorang yang memacu kudanya hingga batas maksimal bisa sampai dalam seperempat hari.

Apa pun itu, waktu tersebut sudah lebih dari cukup bagi sekelompok perampok biadab untuk membumihanguskan kota kami.

Karena itulah Konigstuhl Watch dibentuk—milisi penduduk lokal yang akan mempertahankan benteng hingga bantuan datang.

Kelompok ini disponsori resmi oleh magistrat, yang menyediakan barak dan gaji bagi mereka yang terlibat, membuat mereka hampir setara dengan prajurit reguler.

Gaji ini adalah satu-satunya sumber pendapatan bagi anak-anak kedua sepertiku tanpa harus meninggalkan kanton.

"Aku Lambert, Kapten Watch," pria itu mengumumkan singkat.

"Yah, aku yakin pernah bertemu sebagian besar dari kalian di festival, tapi karena ini hari pertama, anggap saja ini perkenalanku. Kalian tahu sendiri ada prosedur yang harus diikuti."

Lambert menyeringai buas, memperlihatkan deretan giginya. Anak-anak di sekitarku mungkin menyukai pedang, tapi mereka terlalu naif untuk membayangkan bahwa mereka bisa terluka—atau lebih buruk lagi, mati.

Wajah kasar pria itu cukup mengintimidasi untuk membuat mereka bergidik. Aku tidak mengharapkan yang kurang darinya.

Lambert bukan sekadar orang kasar yang membual; dia adalah prajurit karier yang ditunjuk langsung setelah pensiun.

Menurut rumor, ia telah melewati banyak pertempuran, menerima penghargaan dua belas kali, dan yang paling impresif, telah memenggal dua puluh lima jenderal musuh.

Dia adalah prajurit sejati, sosok yang sangat layak memimpin program perekrutan ini.

"Wah, kalian datang berbondong-bondong... Yah, setidaknya kalian punya tangan dan kaki lengkap. Tapi entahlah apa yang bisa dilakukan bocah-bocah kurus seperti kalian."

Lambert mulai membentak kami persis seperti instruktur latihan militer yang pernah kulihat di film. Tampaknya "Sekolah Instruksi Kasar" ala sersan pelatih masih eksis di dunia ini.

"Aku senang melihat kalian semua—para pemuja pahlawan, pecinta dongeng konyol—ketakutan setengah mati seperti ini."

Sebenarnya, aku tidak datang ke sini atas kemauan sendiri. Kakak ketigaku, Hans, terlalu takut untuk datang sendirian, jadi dia menyeretku saat aku sedang asyik mengukir kepingan papan permainan.

Namun, setelah merenungkan karier masa depanku, aku sadar bahwa aku memang perlu mengenal persenjataan.

Di dunia di mana prajurit bisa meminta makanan dan penginapan di musim dingin, memiliki sedikit pengalaman tempur adalah aset berharga.

"Pekerjaan ini tidak menyenangkan. Ini adalah hidup yang kotor, di mana lengan dan jari patah seperti ranting, dan ususmu bisa terburai keluar. Kita beruntung tidak ada yang mati dalam dua tahun terakhir, tapi kalian dengar sendiri kan bagaimana nasib Lukas yang berakhir di rumah sakit jiwa?"

Dengan pedang tumpul di bahunya, Lambert berjalan mondar-mandir mengintimidasi barisan.

Anggaran milisi ini terbatas dan proses seleksinya brutal; dia jelas sedang berusaha menyaring mereka yang bermental lemah sedini mungkin.

Kudengar sebagian besar pelamar akan ditolak. Bahkan jika sanggup mengikuti pelatihan, keterbatasan dana membuat pilihan terbaik bagi kami hanyalah dipulangkan dan dijadikan penjaga cadangan.

Namun, status cadangan saja sudah cukup terampil untuk mendapatkan potongan pajak, jadi usaha ini sangat sepadan.

"Ini sangat HARD. Bayangkan lenganmu ditarik sampai putus oleh maniak haus darah. Jika kau tidak mati, itu murni keberuntungan. Petarung terbaik pun bisa mati secepat orang biasa."

Gambaran mengerikan itu sukses membuat seorang bocah di barisan menjerit ketakutan. Suaranya terdengar menyedihkan.

"Jadi, biar kutunjukkan seperti apa kenyataan itu." Tanpa jeda, Lambert mengayunkan pedangnya ke arah bocah itu.

Gerakannya begitu luwes sehingga sedetik aku mengira dia hanya akan menepuk kepala si bocah.

Namun, suara benturan logam dan daging yang keras membuktikan sebaliknya.

Melihat bocah itu berguling-guling sambil memegangi kepalanya, aku yakin dia dipukul dengan bagian datar dari pedang Lambert.

"Lari! Hanya itu yang bisa kalian lakukan!"

Aku hanya sempat melihat seringai jahatnya sesaat sebelum rasa sakit tiba-tiba menghantam tubuhku.


[Tips] Tunjangan bagi pegawai negeri (milisi) cukup menjanjikan di wilayah ini.

◆◇◆

Lambert mendengus melihat pemandangan di depannya—anak-anak yang berlarian sambil menangis ketakutan. Tentu saja, ini bukan dilakukan karena sadisme, melainkan bentuk "cinta yang keras".

Dia tidak berbohong soal kengerian yang ia ceritakan. Hidup tentara bayaran itu menyedihkan, dan milisi Watch tidak jauh berbeda.

Mereka harus membersihkan sarang monster di dekat desa, dan jika para pemburu menemukan kawanan serigala gila yang tak tertangani, para milisi inilah yang harus mengangkat tombak dan berbaris.

Belum lagi ketika gerombolan bandit lapar atau pasukan musuh datang mengetuk pintu.

Kejayaan yang dinyanyikan dalam puisi tidak ada di sini. Yang ada hanyalah darah dan rasa sakit.

Lukas beruntung saat perburuan goblin tahun lalu hanya berakhir gila; meski sudah sepuluh tahun damai, banyak yang telah tewas di Konigstuhl.

Pertempuran bukanlah tarian indah. Itu adalah tindakan dingin membunuh atau dibunuh.

 Maka, Lambert bertekad menghancurkan ilusi anak-anak itu dengan rasa sakit yang terkontrol agar mereka kembali menjadi petani yang realistis.

Ia tidak ingin mereka mati sia-sia karena melarikan diri dari rumah untuk menjadi petualang atau tentara bayaran tanpa persiapan.

Kenaifan hanya akan berujung pada maut. Pengenalan pada rasa sakit yang sesungguhnya adalah cara terbaik menyelamatkan nyawa mereka.

Lambert akan dengan senang hati melatih siapa pun yang memiliki keberanian untuk bangkit kembali setelah dijatuhkan.

Karena pada akhirnya, saat pedang musuh mendekat, keinginan untuk bertahan hidup hanya bisa datang dari dalam diri sendiri.

Sayangnya, tahun ini tampaknya akan menjadi tahun yang buruk.

Sang kapten sudah menahan kekuatannya agar mereka semua masih bisa berjalan pulang, namun hampir semuanya hanya bisa merintih dan menangis.

Tidak ada yang berani menatapnya dengan kemarahan atau tekad.

Jika pedang Lambert tidak tumpul, kepala mereka pasti sudah terbelah.

Jika mereka sudah menangis karena luka sepele seperti ini, mereka tidak akan pernah bisa menjadi penjaga. Keberanian adalah segalanya di medan perang.

Sang Kapten mendesah. Sepertinya tidak ada anggota baru tahun ini.

Tepat saat ia hampir menyerah, ia melihat seseorang dari sudut matanya mencoba bangkit dari tanah.

Lambert menggali ingatannya; itu putra Johannes yang hampir berusia sembilan tahun.

Seingatku, dia anak pintar yang membuat papan permainan untuk ruang publik. Dia kurus, tapi masih ada harapan, pikir sang kapten saat bocah penuh lumpur itu berdiri tegak.

Mengesampingkan wajah lembut yang ia warisi dari ibunya, Lambert bisa melihat potensi besar.

Meski bahunya sempit, tulang-tulangnya tampak kokoh dan struktur ototnya sangat ideal untuk dilatih.

Tatapan matanya saat menyeka darah dari bibirnya yang robek tidak menunjukkan ketantangan, melainkan tekad seorang pria dewasa.

Bocah ini lebih cocok menjadi ksatria atau pelayan bangsawan daripada milisi desa, pikir Lambert sambil menyeringai lebar, memperlihatkan taringnya.

"Oh? Sepertinya ada satu orang yang punya nyali di sini."


[Tips] Breakfall dapat mengurangi Damage jatuh atau hantaman secara signifikan.




Wah, Breakfall benar-benar luar biasa, pikirku sambil menyeka darah yang merembes dari bibir.

Aku tidak tahu apakah Endurance level VI: Excellent milikku atau rangkaian skill Breakfall yang kumiliki yang membuat perbedaan, tapi aku berhasil meredam sebagian besar dampak dari ayunan pedang Lambert.

Tanpa bonus-bonus itu, aku yakin saat ini aku sudah berguling-guling di tanah sambil mengerang kesakitan seperti teman-temanku yang lain. Tapi tetap saja, menahan hantaman itu rasanya sakit sekali.

"Oh? Sepertinya ada satu orang yang punya nyali di sini."

Melihat Lambert tersenyum saat memujiku, aku tidak bisa menahan rasa kagum pada kedewasaannya.

Dia sedang mengajarkan semua anak di kota ini betapa tipisnya jarak antara impian kepahlawanan mereka dengan kematian, dan dia melakukannya hanya dengan modal beberapa luka memar.

Rasa sakit yang kurasakan sekarang adalah hasil dari kendali kekuatannya yang luar biasa.

Pedangnya memang tumpul, tapi itu tetaplah bongkahan logam yang berat—teknik pedangnya yang halus adalah satu-satunya alasan rekan-rekan calon prajuritku masih bisa menggeliat tanpa ada tulang yang patah.

Jangan salah paham: ini sebenarnya agak terlalu kasar untuk seleraku.

Kunjungan singkat untuk melihat luka Lukas di rumah sakit jiwa saja sudah lebih dari cukup untuk membuatku—aduuh!

Aku lengah setelah dipuji, dan sebuah pukulan keras lainnya mendarat tepat di pipiku.

Aku terpelanting ke samping, namun aku membiarkan momentum serangan itu mengalir dengan berguling pada bahuku.

Namun, tidak peduli seberapa baik aku menetralisir dampaknya, rasa sakit akibat dihantam baja tetap saja menyengat.

Gigiku tidak patah, kan? Ya Tuhan, mulutku terasa penuh darah...

Serangan kedua ini memberiku orientasi arah, dan aku berhasil memanfaatkan momentum berguling untuk segera melompat kembali ke posisi berdiri.

Meski pada serangan pertama aku sempat merasa, Oh, dia akan memukulku, serangan yang satu ini benar-benar mengejutkanku dan jauh lebih menyakitkan.

Kombinasi rasa sakit dan gerakan akrobatik yang kupaksakan membuat kepalaku terasa linglung.

Jadi, beginilah rasanya bertarung. Duniamu yang sebelumnya benar-benar diberkati, Erich.

Seseorang yang lahir dari keluarga baik-baik di negara damai hanya akan mengenal kekerasan dalam bentuk perkelahian kekanak-kanakan. Aku tidak pernah sekalipun mengangkat tinju untuk menjatuhkan musuh, dan tidak pernah ada musuh yang melakukannya kepadaku.

Sekarang setelah aku merasakan sedikit aroma pertempuran, aku akhirnya mengerti mengapa begitu banyak NPC dalam RPG virtual maupun tabletop memilih meninggalkan kehidupan militer.

Jika ini adalah rasa sakit saat dia menahan diri, seberapa menyiksa pertarungan yang sebenarnya?

Seberapa menyakitkan anak panah yang menancap di daging?

Pedang yang mengiris tulang?

Gada yang menghancurkan otot?

Atau api sihir yang melelehkan kulit?

Membayangkannya saja sudah cukup membuatku merinding. Jika pukulan lemah yang sudah diredam dengan Breakfall berkali-kali saja sudah seburuk ini, aku tidak bisa membayangkan dampak fisik dan mental yang akan kuterima dari haus darah yang tak terkendali.

Membayangkan tubuhku tercabik-cabik di tengah aura kebrutalan membuatku gemetar... dan aku tidak sanggup membayangkan jika keluargaku yang menjadi korbannya.

Jadi, inilah alasan mengapa orang-orang mengangkat senjata sebagai polisi atau tentara: untuk melindungi keluarga dan orang-orang tak bersalah dari penderitaan semacam ini.

Jika memang begitu, maka sedikit pembelajaran sangatlah diperlukan. Kemampuan bertarung akan sangat berguna di dunia yang penuh ketidakadilan di setiap sudutnya.

Begitu banyak kisah tentang desa yang diserbu bandit atau monster; aku sudah menyelamatkan lebih banyak desa dari yang bisa kuhitung sebagai pemain, dan menciptakan lebih banyak lagi penderitaan saat duduk di kursi GM.

Namun sekarang, aku membutuhkan kekuatan nyata untuk memastikan kampung halamanku tidak berakhir secara tragis.

Saat aku memegangi pipiku yang berdenyut dan menggelengkan kepala untuk menjernihkan pikiran, sebuah notifikasi kecil muncul di sudut pandanganku. Aku akhirnya membuka kategori Combat.


[Tips] EXP bukanlah satu-satunya cara untuk membuka Skills. Beberapa kemampuan diberikan berdasarkan tekad dan kemauan kuat sang pengguna.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close