Bonus Cerita Pendek
Konser Bak Mandi
Bak mandi
adalah surga bagi orang Jepang. Tentu saja, aku sekarang adalah warga negara
Kekaisaran, tapi tetap saja, jiwa lamaku tidak bisa berbohong.
"Baiklah,
kurasa ini sudah cukup."
Aku menyeka
keringat dari dahi sambil menatap hasil kerja keras selama beberapa hari di
tepi sungai kecil di hutan dekat kantonku.
Setelah membayar
lunas dengan keringat dan penderitaan yang menyertai setiap mahakarya, aku
akhirnya berhasil mewujudkan seluruh kecerdikan dan rasa frustrasiku ke dalam
bentuk fisik.
Melihat bak kayu
besar yang berdiri megah di hadapanku, rasanya aku hampir ingin menitikkan air
mata.
Ukurannya pas
untuk merendam miso atau kecap, tapi aku tidak berniat menciptakan kembali cita
rasa tanah airku—yang kuinginkan hanyalah mandi.
Wilayah kami
terlalu pelosok untuk memiliki fasilitas selain pemandian ala Turki yang hemat
biaya.
Sauna memang
punya kelebihan sendiri, tapi jiwaku yang terbentuk di Negeri Matahari Terbit
mendambakan berendam di air panas sedalam bahu.
Setiap kali pergi
ke pemandian uap, hasrat itu semakin berkobar, hingga akhirnya aku kehilangan
kesabaran dan membangun pemandianku sendiri.
Wah, aku
jadi terdengar sombong sekali.
Awalnya
kupikir membuat ember besar akan mudah dengan skill mengukirku, tapi prosesnya
ternyata sangat sulit.
Menjajarkan
semua papan kayu agar menciptakan sambungan kedap air benar-benar membutuhkan
tangan seorang pengrajin ahli.
Kurasa aku tidak
akan bisa menyelesaikan proyek ini tanpa saran dari pandai besi setempat.
Setelah tiga kali
gagal menyatukan papan-papan cacat yang kuselamatkan dari tempat penggergajian
kayu, aku akhirnya berhasil membuat wadah yang mampu menampung air pada
percobaan keempat.
Aku juga telah
menambal lubang pada tungku kayu bakar tua dari tumpukan sampah kanton, lalu
menaruh panci berkarat di atasnya untuk merebus air.
Aku tidak mampu
membuat sistem pemanas yang rumit, jadi rencana sederhanaku adalah mengencerkan
air mendidih dengan air segar dari sungai agar suhunya pas untuk satu orang.
"Sungai di
dekat sini benar-benar memudahkan segalanya," gumamku sambil melemparkan
kayu bakar ke dalam tungku.
Aku
bermandikan keringat saat menyendok air ke dalam bak, tapi aku melakukannya
dengan senang hati.
Bagaimanapun,
tidak ada yang lebih nikmat daripada berendam di air panas saat tubuh sedang
lelah dan berkeringat.
"Hampir
siap..."
Menaikkan
suhu air ternyata lebih melelahkan dari dugaanku, tapi akhirnya persiapanku
selesai. Berendam dalam air yang sedikit terlalu panas adalah
"Kebenaran" bagiku.
Aku
merasa sangat puas saat mencelupkan tangan untuk memeriksa suhunya—sampai
tiba-tiba rasa dingin menjalar ke tulang belakangku.
"Akhir-akhir
ini kau terasa begitu jauh, tapi aku tidak pernah menyangka kau bersembunyi dan
membangun sesuatu seperti ini."
Suara
sensual yang masuk ke telingaku itu disertai dengan sensasi beban di
punggungku. Leherku berputar seperti engsel berkarat yang butuh diminyaki untuk
melihat teman masa kecilku yang sedang menyeringai.
"Semua orang
pasti ingin ikut mencoba jika berita ini tersebar. Bukankah itu akan sangat
merepotkan?"
"...Bagaimana
ceritanya sampai jadi seperti ini?" tanyaku pasrah.
"Ahh,
menyegarkan sekali," gumam Margit, mengabaikan pertanyaanku sepenuhnya.
Meskipun
situasinya menyimpang jauh dari rencana awal, beberapa menit kemudian aku sudah
berada di dalam air. Gadis yang tadi mengancamku dengan senyum ceria kini duduk
dengan tenang di pangkuanku.
Aku membuat bak
mandi ini dengan ukuran minimalis agar lebih cepat diisi; orang dewasa pasti
akan berdesakan di dalamnya, dan dua anak kecil pun sebenarnya tidak akan muat.
Namun, karena
tubuh Margit kecil, masih ada sedikit ruang tersisa, asalkan dia melipat
kakinya dan bersandar pada tubuhku.
Hanya saja, ada
satu masalah besar: sesi mandi yang seharusnya menenangkan ini telah berubah
menjadi "sup ketegangan" yang sangat nyata bagi mentalku.
"Mmm, aku
pernah mendengar tentang berendam air panas sebelumnya, tapi aku tidak pernah
tahu kalau rasanya akan senikmat ini, Erich," katanya sambil melirik dari
balik bahu dengan senyum nakal.
Kuncir rambutnya
yang biasa kini terurai, dan pesona misterius yang ia pancarkan sama sekali
tidak meninggalkan jejak kepolosan anak-anak seusianya.
"Aku senang
kalau kau menyukainya..."
"Sangat
suka," sahutnya. "Bagaimana kalau kita melakukannya lagi lain
waktu?"
Sambil bicara,
lengannya melingkari leherku dan dia menyandarkan seluruh berat tubuhnya ke
dadaku.
"Apa—hei!"
"Tapi sayang
sekali airnya cepat mendingin. Oh, jadi itu sebabnya kau tetap merebus air
meskipun kita sudah di dalam bak. Coba kupikir, berapa banyak air panas yang
harus kutambahkan lagi?"
Margit sebenarnya
bisa meraih air panas dengan mudah jika dia mencondongkan tubuh sedikit ke
depan.
Tapi dia malah sengaja melakukannya sambil menempel
padaku... Benar-benar mengerikan! Anak
laki-laki lain seusia kami pasti sudah kehilangan kendali dalam berbagai hal
jika berada di posisiku!
"Tetap saja,
aku akan sangat menghargai jika kau memberiku peringatan lebih dulu."
Dia menyendok air
panas lagi untuk menyesuaikan suhu, lalu menatapku dengan tatapan menuduh.
"Aku tidak
tahu kalau harus membawa sabun, jadi aku tidak bisa mencuci badan."
"Tunggu
sebentar," sela aku cepat, "kau tidak boleh melakukan itu."
"Apa? Tapi
tujuan mandi 'kan untuk membersihkan tubuh."
"Bukan
begitu. Di bak mandi ini, kau harus menjaga airnya tetap bersih."
"Hah?
Tapi rasanya aneh kalau tidak sambil memakai sabun..."
"Pokoknya
kau sama sekali tidak diperbolehkan mengotori air di bak mandi ini!"
Baik atau
buruk, ceramah panjangku tentang etika mandi yang benar membuatku benar-benar
lupa akan detail "berbahaya" dari situasi kami saat ini.
Namun,
Margit yang hanya pernah mencoba sauna seumur hidupnya tetap tampak tidak
yakin, tidak peduli seberapa antusias aku menjelaskan posisiku.
[Tips] Warga Kekaisaran biasanya juga membersihkan diri sebelum masuk ke tempat pemandian, namun menggunakan sikat badan di dalam air masih dianggap sebagai hal yang wajar.
Cinta
yang Bergetar dan Cepat Berlalu
Tatapan sendu
seorang gadis muda jatuh pada seorang anak laki-laki seusianya.
Bermandikan sinar
matahari lembut yang tersaring melalui celah pepohonan di hutan kanton, Erich
sedang tertidur lelap.
Di wilayah
Rhinian, Erich bukan sekadar anak laki-laki biasa; ia menikmati ketenaran lokal
yang bukan hanya bersumber dari rambut pirang dan mata birunya yang menawan.
Ada banyak alasan
mengapa namanya dikenal di seluruh kanton mereka. Pertama dan yang paling sederhana: ia populer
di kalangan wanita.
Di dunia
yang belum mencapai kematangan budaya ini, Erich memiliki daya tarik paling
mematikan yang bisa dimiliki seorang pria: kemampuan untuk menghasilkan uang.
Normalnya,
seorang putra keempat yang tidak punya harapan mewarisi harta keluarga tidak
akan dilirik lebih dari sekadar ranting jatuh.
Namun,
Erich adalah topik utama dalam gosip setiap kali gadis-gadis muda berkumpul.
Patung
Dewi buatannya begitu indah hingga pihak gereja memborongnya, dan papan
permainan kayu hasil ukirannya menarik perhatian para perajin profesional.
Bahkan,
ada rumor bahwa ia membiayai sendiri pengobatan adik perempuannya yang
sakit-sakitan.
Di era di mana
kelaparan adalah hukuman mati, siapa pun yang bisa menyediakan makanan pasti
akan memenangkan hati lawan jenis.
Namun,
ketertarikan gadis ini berbeda. Seperti Erich, ia adalah seorang Mensch,
dan masa pubertasnya datang lebih awal dibanding teman sebaya—karena itu, makna
di balik tatapan gairahnya pun berbeda.
Kisahnya
klise dan biasa saja; namun bagi gadis berusia sepuluh tahun, itu terasa
seperti takdir.
Suatu hari,
teman-temannya mengejek pertumbuhan tubuhnya yang pesat.
Mereka tidak
bermaksud jahat; gadis itu menjadi semakin cantik, dan teman-temannya hanya
menggoda untuk menutupi rasa minder mereka sendiri.
Namun, bagi gadis
muda yang rapuh, kata-kata tajam itu sangat menyakitkan. Ia merasakan luka
dalam di hatinya dan hanya bisa berdoa agar dirinya menghilang.
Saat itulah Erich
melangkah maju. Dengan Silver Tongue yang tak tertandingi, ia
memutarbalikkan suasana hingga sebelum mereka sadar, mereka semua sudah bermain
bersama lagi.
Gadis itu kembali
menemukan tempatnya, dan di saat yang sama, ia terpikat oleh tatapan lembut
Erich yang mengawasi mereka.
Bagi orang luar,
kefasihan bicara Erich mungkin terlihat mencurigakan, namun bagi gadis itu,
Erich adalah sosok yang paling bisa diandalkan. Rasa syukurnya pun perlahan
bermutasi menjadi cinta.
Sejak saat itu,
ia tidak bisa mengalihkan pandangan setiap kali Erich muncul.
Namun, ia memilih
untuk tetap diam dan tidak ikut campur dalam gosip teman-temannya.
Bagi gadis itu,
nilai terbaik Erich bukan karena uangnya. Erich itu baik, peduli, dan tidak
akan meninggalkanmu di masa sulit. Terlebih lagi, ia mendengar Erich menjalani
latihan berat bersama Konigstuhl Watch karena satu alasan yang
menggetarkan hatinya: Erich tidak ingin orang lain merasakan sakit yang sama. Betapa
gagah dan muliakah dia?
Tak satu pun
gadis lain memahami nilai aslinya. Uang bukanlah hal utama.
Gadis itu hanya
bisa membayangkan betapa besarnya perhatian yang akan Erich berikan pada wanita
yang dianggapnya paling berharga.
Fantasi itu
mengirimkan sensasi geli yang manis ke seluruh tubuhnya.
Namun, hari ini
perasaannya sedikit berbeda. Ketakutan sedingin es menjalar dari tulang
belakangnya.
Terkejut karena
kehangatan bahagianya terganggu, ia berbalik dan bertemu dengan sepasang mata
emas yang bersinar tajam.
"Permisi,
apakah kau keberatan bergabung denganku untuk mengobrol santai?"
Suara itu
terdengar ramah sekaligus mengancam. Hawa dingin yang dibawanya seketika
menenggelamkan perasaan hangat sang gadis—dan itu adalah terakhir kalinya ia
merasakan getaran cinta tersebut.
[Tips] Dahulu kala dalam sejarah manusia, kemampuan mencari penghasilan tambahan di musim dingin jauh lebih memikat daripada ketampanan atau suara nyanyian yang merdu.
Seni
Pembunuhan Rahasia
Hanna memiringkan
kepalanya saat mendengar ketukan pelan di pintu. Ia tidak mengharapkan tamu,
dan kerabatnya biasanya tidak akan bersikap sopan dengan meminta izin masuk.
Saat ia membuka
pintu, berdirilah seorang gadis muda yang membawa keranjang.
"Oh,
ternyata Margit!"
"Apa kabar,
Ibu Hanna?" ucap si gadis laba-laba sambil membungkuk anggun layaknya
seorang bangsawan.
Hanna sangat
menyukai teman putranya ini. Baginya, Margit sangat menggemaskan, mulai dari
rambut kastanya hingga mata cokelat keemasannya yang jernih.
Di pedesaan yang
minim hiburan, drama kehidupan menjadi tontonan utama, dan tidak ada yang lebih
menarik bagi seorang ibu daripada kisah cinta anaknya.
Sebagai putra
keempat yang sulit mencari pasangan, melihat Erich terlibat dalam romansa muda
membuat Hanna sangat gembira.
Terlebih lagi,
Margit adalah pekerja keras yang santun. Jelas sekali bahwa gadis itu sangat
mencintai Erich.
Hanna, yang juga
pernah menjadi gadis yang jatuh cinta, bisa melihatnya dengan jelas.
"Ini dari
ibuku, sebagai balasan karena telah meminjamkan minyak tempo hari."
Keranjang
itu berisi potongan daging rusa yang diproses dengan sangat rapi. Para pemburu
di sini mencari nafkah dengan melindungi cagar alam, dan daging rusa adalah
komoditas mahal.
Karena
sering membuat sabun dari lemak buruan, para pemburu membutuhkan banyak minyak
untuk merawat peralatan mereka. Keluarga Johannes yang memiliki ladang zaitun
sering membantu mereka.
"Wah,"
puji Hanna, "ini potongan daging bagian bahu!"
"Iya, aku
dengar kalian sekeluarga menyukainya."
Hanna pun
mendapat pencerahan. "Kau tahu, Margit... Erich sedang keluar
menjalankan tugas kecil."
"Iya, aku
tahu," jawab Margit. "Aku tidak ingin mengganggu, jadi aku pamit—"
"Aku akan
memasak salah satu hidangan kesukaannya. Mau ikut membantu?"
"Tentu
saja!"
Hanna
tersenyum lebar melihat antusiasme Margit. Ia teringat masa mudanya saat
menghabiskan waktu di dapur bersama calon ibu mertuanya. Ia merasa sangat
beruntung; ada seorang gadis yang mencintai Erich bukan karena kekayaan, tapi
tulus karena pribadinya.
"Untuk
bahan utamanya, kita akan mencari anggur yang paling asam."
"Hah? Tapi Erich suka anggur manis..."
"Hehe, benar. Tapi kita akan menyeimbangkan rasanya
dengan madu agar tidak terlalu tajam."
Melihat Margit mendengarkan dengan serius seolah sedang
menyimak khotbah uskup, Hanna dengan senang hati mengajarkan "seni
rahasia" untuk menaklukkan hati seorang pria.
[Tips] Sauerbraten adalah hidangan daging
rendam bumbu yang merupakan masakan klasik di Kekaisaran. Biasanya menggunakan
daging babi atau rusa yang direndam dalam saus berbahan dasar anggur.
◆◇◆
Suara riang
bergema di meja makan keluarga. Makan siang porsi besar adalah ciri khas warga
Rhinian untuk mempersiapkan diri menghadapi pekerjaan berat di sore hari.
"Wah, ini
luar biasa seperti biasanya!"
Saat aku sedang
asyik menyantap hidangan favoritku, ibu tersenyum penuh arti. Ia mulai
bercerita dengan nada merdu bahwa hidangan hari ini dibuat bersama Margit yang
mampir tadi pagi.
"Oh, jadi
ini dari gadis itu," sahut ayah. "Pantas saja dagingnya lebih lembut,
pengolahan dari keluarga pemburu memang beda."
"Heinz, kau
jenius!" seru Michael. "Erich, kalau kau menikah dengan Margit, apa
kita bisa makan daging babi hutan dan burung sesuka hati?!"
"Itu
ide bagus," Hans menimpali. "Jadi, Erich, kapan kau akan meminang keluarga mereka?"
Ucapan
saudara-saudaraku membuatku mengernyitkan dahi. Cara Margit memasang jebakan ini benar-benar
licik! Pikirku sambil terus mengunyah.
"Tuan Kakak,
jangan menikah!" seru Elisa tiba-tiba.
"Kenapa
tidak, Elisa? Memangnya kau tidak mau makan daging enak setiap hari?" goda
abangku.
Aku hanya bisa
menghela napas, menikmati pembelaan dari adik perempuanku sambil terus memakan
hidangan yang sebenarnya adalah "perangkap kuliner" ini. Rasanya
memang lezat, tapi kenyataan bahwa rasa ini bisa menentukan masa depanku
membuatku sedikit getir.
[Tips] Pernikahan biasanya lebih banyak ditentukan oleh orang-orang di sekitar pasangan daripada keinginan pasangan itu sendiri.
Ibu yang Agresif
Aku mengetuk pintu sebuah rumah yang hampir tidak mirip
dengan kediamanku sendiri, lalu sebuah suara lembut menjawab dari dalam.
Rumah batu yang berdiri di bawah bayang-bayang hutan ini
adalah rumah bagi pemburu resmi yang ditunjuk oleh hakim kanton—yang sekaligus
merupakan tempat tinggal Margit. Namun, bukan Margit yang menyambutku di depan
pintu.
"Wah, wah! Selamat datang!"
"Maafkan
aku, Sayang. Margit sedang pergi keluar sebentar. Kenapa kau tidak masuk saja dulu?"
Rambut
kastanye yang familier dan mata cokelat besar yang manis menyambutku.
Wajahnya
bulat dan tampak sangat muda, seolah-olah kami sebaya jika hanya dilihat dari
penampilannya.
Namun, instingku
berkata lain; wanita berkaki delapan ini sama sekali bukan saudara perempuan
teman masa kecilku.
Rambutnya
sedikit bergelombang, dan auranya benar-benar berbeda dari Margit. Jika putrinya memancarkan aura kenakalan,
wanita ini memiliki ketenangan layaknya wanita dewasa yang matang.
"Apakah kau
mau teh?" tanya ibu Margit yang terhormat kepadaku.
Sikapnya
benar-benar berbenturan dengan penampilannya: dia jelas tidak terlihat seperti
wanita berusia tiga puluhan.
Meskipun ia bisa
saja dikira sebagai kakak perempuan Margit yang masih remaja, ekspresi dan
tingkah lakunya memancarkan keanggunan seorang wanita dewasa.
Aku bisa melihat
anting yang menjuntai di telinganya dari balik helai rambutnya, dan pakaian
longgarnya memperlihatkan kulit yang dipenuhi tato di baliknya.
Ini bukan pertama
kalinya aku terkejut dengan gaya penampilannya yang berani.
Saat festival
sebelumnya, ia mengenakan pakaian tradisional suku laba-laba dengan potongan
rendah yang memperlihatkan tato laba-laba di perut bawahnya, serta sepasang
sayap kupu-kupu tepat di atas tulang ekornya.
"Tidak,
terima kasih, Tuan Putri—maksudku, Bibi. Saya baik-baik saja," jawabku
sopan.
"Tidak
baik bersikap terlalu sungkan sejak usia muda. Ayo, duduklah, aku baru saja
menyeduh teh baru."
Wanita
"berpengalaman" itu mendorongku ke kursi dan menuangkan secangkir teh
merah.
Teh itu
tidak hanya segar, ia bahkan mencampurnya dengan buah kering buatan sendiri
agar aku tidak segera beranjak pergi. Harga diriku tidak akan membiarkanku
menyia-nyiakan teh seenak ini.
Ah,
sudahlah, nikmati saja.
"Anak
muda memang luar biasa," katanya sambil terkekeh. "Kalian semua
begitu penuh dengan gairah hidup."
Pernyataannya
sarat akan makna mendalam yang mengirimkan getaran aneh ke tulang belakangku.
Jika
bisikan Margit terasa seperti tetesan es yang tiba-tiba, maka suara ibunya
terasa seperti bulu yang mengelitik punggungku dengan lembut.
"Kau tahu,
saat aku masih muda dulu—"
"Ibu! Apa
yang sebenarnya Ibu lakukan?!"
Suara familier
sahabatku memecah suasana manis yang menggoda telingaku.
Dengan keranjang
di lengannya, entah mengapa ia masuk melalui jendela yang terbuka.
Ia melompat ke
arahku dengan kelincahan luar biasa hingga aku sempat kehilangan jejak
gerakannya, dan sebelum aku sempat bereaksi, ia sudah menerjang ke dadaku.
Senyum cerianya
menghilang, digantikan tatapan tajam yang ditujukan kepada ibunya dari balik
bahuku.
"Kenapa Ibu
merayu Erich?!"
"Apa
maksudmu? Ibu hanya menuangkan teh untuknya."
Kemarahan Margit
yang tidak biasa membuatnya tampak seperti serigala muda yang agung, alisnya
berkerut saking marahnya.
Aku mencoba
menenangkannya dan segera menghabiskan tehku agar bisa segera pergi. Kami sudah
janji akan latihan memanah di hutan hari ini.
"Apa yang
membuatmu begitu kesal?" tanyaku heran.
"Aku melihat
betapa kau terpikat pada ibuku," gerutunya.
"Apa?! Tidak, tunggu dulu..." Aku mencoba
meredakan kecurigaannya, tapi ia tetap merajuk, dan latihan memanah hari itu
berubah menjadi siksaan yang melelahkan.
[Tips] Ras Arachne mencapai kematangan fisik
relatif cepat dan penampilan mereka hampir tidak berubah setelah itu.
◆◇◆
"Margit
terdengar sangat marah. Apa yang terjadi?"
Seorang
lelaki kurus berjalan turun dari lantai dua sesaat setelah putrinya menyeret
temannya pergi dengan kemarahan yang meluap-luap.
Lelaki itu
menanggalkan sarung tangan kerjanya dan mengibaskan serpihan kayu dari
pakaiannya.
Ia tampak berusia
sekitar lima puluh tahun; meskipun ia terlihat seperti kakek bagi Margit,
hubungan mereka sebenarnya adalah ayah dan anak.
Sedikit orang
yang akan percaya bahwa usia lelaki ini dan istrinya sebenarnya tidak terpaut
jauh.
"Hm? Aku hanya memberinya sedikit 'dorongan'."
Sang pemburu sejati duduk di sebelah istrinya. Berbeda
dengan senyum riang sang istri, ia membiarkan otot-otot wajahnya rileks.
"Apa yang akan kau lakukan jika kau malah membuatnya benar-benar
bergairah?"
"Tapi Sayang, menurutku tidak baik jika dia terlalu
percaya diri dengan posisinya sekarang." Sang istri meletakkan tangan di
pipi dan memiringkan kepalanya, menyebabkan sensasi familier menjalar ke tulang
belakang suaminya. "Jika seorang pemburu ceroboh dan membiarkan buruannya
lolos... yah, itu bukan hal yang patut dibanggakan, bukan?"
Alasan sang suami merinding sangatlah sederhana: ekspresi
istrinya saat ini adalah ekspresi predator murni.
Mengingat sejarah mereka, sang suami tersadar bahwa meskipun
ia berstatus sebagai pemburu, dulu ia hanyalah mangsa tak berdaya yang terjerat
dalam jaring laba-laba wanita ini.
Menurut pandangan istrinya, putri mereka memang kandidat
terkuat dalam kompetisi cinta ini, namun keberhasilan itu membuatnya sombong
dan mulai "bermain-main dengan makanannya".
Tentu saja sang ibu tidak melarang periode manis tersebut,
namun baginya, tidak bisa diterima jika Margit lengah dan melupakan bahaya dari
para pesaing romantis lainnya.
"Gadis kecil kita punya banyak pesaing berat. Kau tahu
itu, kan?"
"Masuk
akal," jawab sang suami. "Anak itu punya reputasi yang sangat
baik."
Wajah
Erich terlintas di pikiran sang pemburu kurus. Anak itu tekun, jujur, dan
populer berkat hasil ukirannya yang bernilai tinggi.
Para janda dan
keluarga tanpa anak laki-laki di kanton sangat menyukainya.
Sang ayah
sebenarnya terkesan dengan kemampuan putrinya menjaga posisi di samping Erich.
Namun, jika
Margit terus mengulur waktu, ia berisiko kehilangan mangsanya akibat sergapan
predator lain.
Lagipula, ada situasi di mana seorang pria
tidak punya pilihan selain "bertanggung jawab".
"Jadi,
begitulah..." sang istri terkekeh nakal.
Tawa itu
membuat sang suami dipenuhi firasat buruk. Ia diam-diam bersimpati pada Erich.
Ini
akan menjadi jalan yang berduri untukmu, Nak.
"Ada apa,
Sayang? Ada yang salah?"
"...Mana
mungkin. Aku hanya berpikir betapa cantiknya istriku hari ini."
"Wah, merayu
istrimu sendiri tidak akan memberimu hadiah apa-apa, tahu? Tapi tentu saja, aku
akan dengan senang hati menerima apa pun yang kau 'berikan' padaku nanti."
Sang istri
menyeringai menanggapi gurauan suaminya. Kedua senyum mereka, meski memiliki
arti yang berbeda, terus bertahan untuk beberapa saat di dalam rumah batu itu.
[Tips] Istilah "Tanggung Jawab" umumnya dibebankan kepada pihak laki-laki, bahkan ketika sebenarnya ialah yang dipojokkan.
Pandangan Arachne tentang Cinta
Setiap percakapan di dalam lingkaran gadis-gadis muda pasti
akan bermuara pada topik tentang asmara, lengkap dengan aroma kelopak bunga
yang seolah menari di udara.
Bibir yang telah dibasahi alkohol dalam dosis yang pas
biasanya akan mulai membocorkan nama pria idaman mereka, atau bahkan rahasia
terdalam mengenai kriteria pria yang mereka sukai.
"Kenapa aku
jatuh cinta padanya?" Margit mengulang pertanyaan itu untuk meyakinkan
diri.
Menghadapi
pertanyaan tersebut, senyumnya yang biasa kini berganti menjadi seringai yang
jarang ia perlihatkan.
Ocehan asmara
para gadis lokal saat mabuk sebenarnya cukup membosankan baginya.
Terlebih lagi, ia
merasa tidak pantas membicarakan hal sepribadi itu secara terbuka. Margit
sangat menikmati "posisi" yang ia tempati saat ini: bukan kekasih,
tapi lebih dari sekadar teman.
Hubungan manis
yang menyisakan sedikit rasa asam itu memberikan rangsangan yang menyenangkan
bagi indranya.
Di atas
segalanya, Margit sadar betul bahwa ia tidak sendirian dalam usahanya
memenangkan hati sang pujaan. Ia tidak berniat memberikan amunisi sedikit pun
kepada para pesaingnya.
Namun, karena
terus didesak tentang alasan ia begitu mencintai Erich, sang pemburu kecil itu
akhirnya mengalah—sebab menonjol secara negatif di antara teman-temannya
bukanlah hal yang ideal. Terkadang, kemampuan untuk "mengalah" adalah
sebuah skill yang berguna.
Sosok yang
mengisi hati Margit tentu saja teman masa kecilnya, Erich.
Dorongan rasa
ingin tahunya mungkin sederhana, namun akar cintanya tumbuh sangat dalam.
Ia memikirkan
alasan yang jumlahnya lebih banyak dari jemarinya, mencoba mencari alasan yang
paling fundamental.
"Biar kupikir..." Setelah jeda yang cukup lama, ia
memulai. "Mungkin karena keteguhan tekadnya."
Erich adalah orang yang tidak mudah goyah. Ada kalanya ia
berhenti sejenak untuk berpikir, namun ia tidak akan pernah mengabaikan
nilai-nilai inti yang telah ia pilih.
Sesulit atau serumit apa pun tugas yang dihadapi, ia selalu
menuntaskan apa yang sudah ia mulai. Begitu pula dengan janji; ia tidak pernah
mengingkarinya.
Watak itu juga tercermin secara fisik: Erich tidak pernah
membiarkan Margit terjatuh saat gadis itu menerkamnya.
Melompat ke arah seseorang bukanlah hal sepele; kesalahan
kecil bisa berakibat cedera serius bagi si pelompat maupun yang ditubruk.
Apalagi bagi ras laba-laba yang memiliki tubuh
padat—hantaman dalam kecepatan penuh bisa mematahkan satu atau dua tulang jika
tidak diantisipasi dengan benar.
Namun, Erich selalu menangkapnya dengan penuh kasih sayang.
Margit memiliki kepercayaan mutlak saat menerjang Erich, sama seperti saat ia
melompat ke dahan pohon tua yang besar dan kokoh.
"Kalian tahu, daftar hal yang bisa dilakukan tanpa
persiapan itu sangatlah terbatas," ucap si gadis laba-laba sambil
menghabiskan minumannya.
Kata-katanya hanya menyulut api kecemburuan di hati
gadis-gadis lain.
Berapa banyak 'tempat' di dunia ini yang bisa dipercayai
untuk menyerahkan seluruh berat tubuh mereka?
Bahkan bagi kebanyakan orang, sulit untuk benar-benar rileks
saat berbaring di tempat tidur sendiri dengan keyakinan bahwa segalanya akan
baik-baik saja.
Kepercayaan diri Margit meninggalkan kegelisahan di benak
teman-temannya: apakah gebetan atau tunangan mereka sanggup menerima
mereka sepenuhnya, baik secara fisik maupun emosional?
Rasa frustrasi para
penonton dan efek mead (yang diperparah oleh toleransi alkohol Margit
yang rendah) mendorong si gadis laba-laba untuk terus memamerkan sifat-sifat
Erich yang menawan.
Ia bercerita tentang hal-hal kecil yang dilakukan Erich
dengan santai saat menggendongnya; tentang betapa perhatiannya Erich menyiapkan
apa pun yang ia inginkan bahkan sebelum diminta; tentang sifat pemaafnya dan
kesediaannya membantu Margit belajar dari kesalahan tanpa sedikit pun celaan;
dan yang terpenting, tentang bagaimana Erich selalu tahu kata-kata yang ingin
ia dengar di setiap kesempatan.
Berapa banyak orang di dunia ini yang akan peduli padanya
sedalam itu?
"...Oh, dan kalau dipikir-pikir lagi, rambutnya sangat
indah."
Pujian Margit atas ketampanan Erich justru muncul di akhir
ceritanya sebagai sekadar pemikiran lewat, membuat gadis-gadis di sekitarnya
merasa semakin rendah diri.
Tanpa menyadari—atau mungkin tidak peduli—dengan gejolak
batin mereka, ia bangkit dari meja untuk pergi sambil berujar, "Nah, lihat
saja sendiri."
Baru saja Margit membicarakannya, sosok yang dimaksud pun
muncul.
Erich tampaknya baru saja mendapatkan 'undian buruk' lagi,
terlihat dari wajah lelahnya saat berjalan membawa minuman di tangan.
Si gadis laba-laba menyiapkan kuda-kuda untuk manuver
rutinnya.
Sebagai gadis yang sedang dimabuk cinta, pertunjukan
bombastis ini adalah hak yang diberikan Dewa untuknya.
Ia menyembunyikan kehadirannya dengan skill Stealth,
menyelinap ke belakang Erich tanpa suara, lalu menggunakan seluruh kelincahan
khas Arachne untuk melompat langsung ke arahnya.
Hasilnya tak perlu dijelaskan lagi dengan kata-kata—melihat
banyaknya gelas yang dikosongkan dengan penuh frustrasi oleh gadis-gadis di
meja tadi sudah menjadi bukti kesuksesannya.
Setelah serangan diam-diamnya berhasil, Margit dengan riang
membenamkan wajahnya ke rambut emas Erich yang lembut dan tersenyum penuh
kemenangan.
Previous Chapter | ToC | End V1



Post a Comment