Skala Henderson
1.0 Versi 0.1
Akibat penyimpangan fatal, pencapaian menuju ending
menjadi mustahil.
◆◇◆
Di perkampungan mana pun, pasti ada orang-orang yang
dijuluki sebagai "Untouchable". Alasannya beragam... bisa karena adat istiadat, atau karena kemampuan
mereka yang luar biasa.
Di pinggiran
kampung, seorang pria tampak merintih. Ia menekan perutnya kuat-kuat, seolah
berusaha menahan ususnya agar tidak terburai keluar karena tekanan perut.
Ia tahu betul;
sekali saja benda itu tumpah dan menyentuh tanah, tidak akan ada cara baginya
untuk selamat.
Sebab, ia sudah sering melihat pemandangan itu. Di medan
perang, di hutan, di jalanan, hingga di desa-desa dan perkampungan.
Namun, ia tidak pernah membayangkan akan melihatnya sambil
memegangi perutnya sendiri.
Pemandangan itu
seharusnya hanya milik musuh, para wanita, anak-anak, atau pedagang—sosok-sosok
"mangsa" yang mereka "panen".
Benar-benar bukan posisi yang pantas bagi seorang penyerang
seperti dirinya, seorang pemimpin yang membawahi tiga puluh perampok.
Ia mencoba
mengingat bagaimana semua ini bisa terjadi, namun ingatannya samar. Padahal,
segalanya terasa normal seperti biasa.
Persiapannya
seharusnya sudah sempurna. Ia telah mengirim pengintai untuk mempelajari jadwal
patroli utusan pemerintah serta pasukan penguasa wilayah demi menghindarinya.
Ia juga mengirim
beberapa orang yang menyamar sebagai pengelana untuk masuk ke desa dan
memastikan tidak ada prajurit di sana.
Mereka bahkan
diperintahkan menetap selama beberapa hari untuk memantau kapan menara pengawas
diisi dan kapan pergantian penjaganya dilakukan.
Lalu, pada malam
sebelum hari istirahat—satu-satunya malam di mana penduduk desa tidur dengan
lelap—keberuntungan seolah berpihak padanya karena awan tebal menutupi cahaya
bulan.
Di bagian mana rencananya cacat?
Pasukan
bela diri desa paling banyak hanya sepuluh orang. Bahkan jika semua orang yang
bisa memegang senjata dikumpulkan, jumlahnya tak akan lebih dari tiga puluh.
Melakukan
serangan kejutan—Surprised You—seharusnya memberikan keuntungan mutlak.
Masuk ke rumah anggota bela diri terlebih
dahulu, atau membakar bangunan, dan sisanya hanyalah perburuan yang
menyenangkan.
Menikmati mangsa
yang lembut dan lezat selama beberapa hari, lalu setelah bosan, tinggal
bersih-bersih dan pergi.
Dengan mengikuti
rutinitas ini, ia telah menjarah desa dan perkampungan di negara tetangga
selama tujuh tahun.
Bahkan di
Kekaisaran Miezo—wilayah yang membuat rekan seprofesinya gemetar karena
frekuensi dan kemampuan patrolinya—ia sanggup melanjutkan bisnis banditnya
selama setahun penuh.
Kali ini pun, ia
tidak lengah. Seharusnya begitu. Namun, lihatlah keadaannya sekarang.
Ia merangsek
masuk setelah melihat anak buahnya yang menyusup memberikan sinyal
"aman" dengan mengayunkan dua obor secara bergantian.
Mereka melompati
pagar batu rendah yang mengelilingi area pemukiman dengan semangat membara.
Akan tetapi,
sambutan bagi orang-orang yang baru saja melewati pagar itu adalah hujan anak
panah.
Bagaikan air
terjun dari langit, atau tebasan mendatar, anak panah tak terhitung jumlahnya
melesat ke arah mereka.
Anak buahnya yang
sedang lengah karena ekspektasi penjarahan pun bertumbangan.
Setengah dari
mereka tewas atau luka-luka. Meski mereka memakai perlengkapan tempur hasil
jarahan dan setidaknya mengenakan baju zirah rantai, semua itu tidak berguna
menghadapi busur kuat yang ditembakkan dari jarak dekat.
Memang benar
zirah mereka cukup kokoh untuk menahan anak panah dari jarak jauh, tapi tidak
cukup sempurna untuk menahan tembakan mendatar dari busur panjang atau busur
silang.
Berikutnya, yang
melompat masuk adalah sebilah pedang yang mengamuk bagai dibalut badai.
Di bawah cahaya
obor yang dibawa anak buahnya, pedang itu menari dengan kecepatan yang hanya
menyisakan bayangan. Setiap kali kilatan perak yang mengancam itu melesat
meninggalkan garis cahaya, jeritan pun membubung.
Jari, urat
tendon, paha; bagian tubuh mereka terpotong satu per satu.
Anak buahnya yang
seharusnya terlindungi zirah lengkap tumbang dalam sekejap mata.
Ia tidak tahu
berapa lama waktu yang berlalu, tapi yang pasti, semua itu terjadi secepat
kilat.
Bahkan sang
pemimpin yang bangga akan kemampuannya pun kini sekarat, karena satu tebasan
telak telah membelah celah antara pelindung dada dan zirah tubuhnya.
Ia
merangkak, mencoba melarikan diri sambil menekan lukanya. Padahal, ia hampir
tidak bisa bergerak karena kehilangan banyak darah.
Sekalipun
ia berhasil kabur, ia telah kehilangan seluruh anak buahnya dan tak akan bisa
bertarung lagi.
Ia hanya
tidak ingin mati. Selama ini ia telah membunuh begitu banyak orang, namun ia
tidak memiliki sedikit pun kesiapan untuk dibunuh.
Membunuh
dan dibunuh; baginya kedua hal itu bukanlah satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Ia tak pernah menyangka dirinya akan menjadi pihak yang terakhir.
Namun,
pemahaman itu salah.
Sesuatu
menabrak hidungnya yang sedang merangkak. Butuh waktu baginya untuk menyadari
bahwa benda lembut berbau minyak itu adalah ujung sepatu bot.
Secara kebetulan, awan tebal yang menutupi bulan tersapu
angin.
Di bawah sinar bulan yang mulai menyinari, akhirnya ia
menyadari keberadaan sepatu bot itu.
Begitu pula dengan sosok pria yang memakainya.
"A... aa......"
Saat
menengadah, seorang pendekar pedang berdiri tegak di sana. Zirah kulit ringan,
helm dengan bagian depan terbuka lebar untuk memastikan pandangan, serta pedang
yang disandarkan di bahu; tidak ada yang menonjol dari penampilannya.
Namun,
meski berdiri membelakangi cahaya bulan, mata birunya berkilat dengan ketajaman
yang dingin.
"Kau
pemimpinnya, ya? Ah, tidak perlu dijawab. Zirahmu sudah cukup
menjelaskan."
Kata-kata
yang tenang namun tajam bagai udara malam yang membeku itu menusuk jauh ke
dalam benak sang pemimpin—bukan, pria yang kini jatuh menjadi sekadar bandit
malang setelah kehilangan seluruh anak buahnya. Begitu tajam, hingga ia
menyadari bahwa hidupnya sudah berakhir.
Dalam
keputusasaan, ia menunduk, namun ujung pedang diselipkan di bawah dagunya,
memaksa wajah yang tadinya menatap bot itu untuk mendongak.
Tertembus
oleh tatapan mata yang dingin, pria itu mengeluarkan kata-kata yang telah
sering ia dengar, namun baru pertama kali ia ucapkan.
Secara
tidak sadar, hanya karena insting murni yang tidak ingin mati.
"To...
tolong... ja-jangan bunuh aku... kumohon...!"
Mendengar
permintaan nyawa yang menyedihkan bercampur jeritan itu, sang pendekar pedang
memasang wajah seolah baru saja menggigit sesuatu yang pahit dan gagal
menelannya.
Seakan-akan,
keberadaan pria di hadapannya itu sendiri adalah sesuatu yang memuakkan.
"Permintaan
yang sangat mewah. Apa kau juga pernah mendengarkan permintaan seperti
itu?"
Mendengar
kata-kata sinis itu, si pria menoleh pada masa lalunya dan menyadari; tak
pernah sekalipun permohonan nyawa seperti ini mampu menghentikan bilah
pedangnya.
Namun,
pedang sang pendekar tidak menusuk tanpa ampun. Bilah itu perlahan dijauhkan
dari dagunya, lalu dengan gerakan halus, dimasukkan kembali ke dalam sarungnya.
"Tapi,
aku tidak berniat jatuh ke level yang sama dengan bandit. Tenang saja, kalian
semua belum mati."
Mendengar
kalimat yang terdengar lunak itu, si pria hampir saja menarik sudut bibirnya.
Ia berpikir jika lawannya adalah tipe orang yang naif seperti ini, ia bisa
melakukan sesuatu nanti.
"Malah,
jangan harap kau bisa mati di sini, bajingan."
Dan sebelum ia
sempat menyusun rencana, kesadaran pria itu direnggut. Tanpa ampun, sebuah
tendangan menghantam telaknya di bagian samping kepala....
Tips: Di Kekaisaran Miezo, demi memberantas bandit
dengan tegas, hadiah pasti diberikan meskipun mereka tidak terdaftar dalam
daftar buronan. Untuk kroco, satu Libra
sudah pasti di tangan, sementara untuk pemimpin, minimal satu Drachma.
Jika mereka punya catatan kriminal, hadiah besar sebanyak tiga puluh Drachma
bisa diberikan. Dan terkadang, Bonus juga akan dibagikan....
◆◇◆
Aku menarik pria
bandit yang baru saja kutendang, lalu melilitkan kain pada lukanya agar ususnya
tidak keluar.
Bukannya aku
merasa iba dan berpikir dia akan menjadi orang baik jika disembuhkan.
Bajingan macam
ini, yang sudah biasa memangsa orang lain, biasanya isi kepalanya sudah penuh
kotoran sampai ke sumsum tulang.
Meski dicuci di
sungai suci sekalipun, kain yang sudah terlanjur basah oleh warna merah tak
akan pernah bisa kembali putih bersih.
Daripada
mengharapkan pertobatan yang mustahil, menebas leher mereka langsung justru
lebih bermanfaat bagi dunia dan sesama.
Alasan kenapa aku
masih membiarkan kepala itu menempel di lehernya sederhana saja: dia lebih
berguna dalam keadaan hidup.
"Ooh, kerja
bagus."
Mendengar suara
itu, aku menoleh. Di sana berdiri Tuan Lambert. Sejak "aku berumur dua
puluh tahun", beliau sudah cukup berumur, tapi aku kagum karena beliau
masih aktif bertugas.
"Tapi,
kau benar-benar jadi pria yang mengerikan sekarang."
Mendapat
penilaian "mengerikan" dari orang yang aku kagumi rasanya agak
keterlaluan.
"Mencincang
dua puluh orang dalam sekejap, ya?"
"Tolong
jaga bicaranya."
Tuan
Lambert memasang wajah masam sambil memegang obor dan melihat para bandit yang
bergelimpangan. Aku pun tak sengaja ikut memasang wajah masam.
"Aku
tidak membunuh satu orang pun."
Sebab
malam ini, aku memang benar-benar tidak membunuh siapa pun.
Mungkin
ada yang sial dan tewas karena terkena hujan anak panah dari busur panjang atau
busur silang saat penyergapan, tapi saat aku merangsek masuk "seorang
diri" dan mengamuk, aku tidak membunuh siapa pun.
Aku hanya
membuat salah satu anggota tubuh mereka tidak bisa digunakan lagi, atau memberi
luka di celah zirah yang cukup untuk membuat mereka tak bisa bergerak.
"Justru
karena itulah kau mengerikan."
Tuan
Lambert menghela napas panjang seolah tak habis pikir, sambil merentangkan
kedua tangannya ke arah kerumunan bandit yang telah dilumpuhkan.
"Sekacau
apa pun situasinya, biasanya orang tidak bisa membidik dan menebas jempol atau
tendon para bandit yang sudah terbiasa bertarung itu dengan sengaja. Aku pun
ogah melakukannya."
"Ogah"
berarti Anda sebenarnya bisa melakukannya, ya? Saya mengerti. Terlepas dari itu, mau bagaimana
lagi. Hadiah untuk bandit akan lebih tinggi jika mereka ditangkap hidup-hidup.
Saat aku
mengatakan itu sambil tertawa, Tuan Lambert kembali menggaruk bagian belakang
kepalanya dengan wajah yang sulit dijelaskan.
Aku heran apa
yang membuat orang ini merasa sungkan. Binatang-binatang yang berniat masuk ke
kampung dan berbuat sesuka hati ini pantas menerima apa pun yang terjadi pada
mereka.
Bodohnya mereka,
mengirim pengintai itu boleh saja, tapi cara mereka terlalu ceroboh.
Untuk ukuran
pengelana, senjata yang mereka bawa terlalu berorientasi untuk perang—benda
seperti itu berat, jadi pengelana berpengalaman biasanya menghindarinya—bahasa
Kekaisaran mereka pun tidak lancar dengan intonasi aneh, sangat tidak alami
jika dibandingkan dengan identitas yang mereka akui.
Ditambah lagi,
memperhatikan gudang atau menara pengawas bela diri desa sih silakan saja, tapi
terang-terangan memelototi para wanita desa itu benar-benar perbuatan bodoh.
Bukan menyapa,
malah sibuk memperhatikan rumah mana yang mereka tinggali; itu benar-benar
puncak kebodohan.
Itu sama saja
seperti berbaris sambil membawa bendera bertuliskan "Kami sedang
merencanakan hal buruk".
Mungkin mereka
terlalu santai karena pekerjaan sebelumnya berjalan terlalu mulus.
Justru karena
metode mereka sebenarnya hati-hati dan sulit ditangani, sekali mereka lengah,
kesalahan yang muncul jadi sangat besar.
Terutama,
berani-beraninya menggoda istri orang bahkan sebelum mulai bekerja; apa sih
yang ada di pikiran mereka?
Aku yang sudah
curiga langsung naik pitam. Setelah melakukan sedikit "Interogasi
Obrolan" untuk memastikan kebenarannya, aku segera menyiapkan
"Balasan Backstab".
Sebab, tidak ada
yang lebih lunak daripada wajah seseorang yang merasa dirinya berhasil menipu.
Dan hasilnya,
seperti yang bisa kalian lihat. Semuanya berjalan lancar, kerugian kampung nol.
Dan aku akan
mendapatkan pendapatan tambahan yang lumayan besar; benar-benar luar biasa.
"Sungguh,
fakta bahwa kau tetap tinggal sebagai anggota bela diri cadangan adalah
kesialan bagi mereka."
"Mendengar
itu dari orang yang memancingku dengan bilang 'Mau coba merangsek masuk
sendirian sekali-sekali?', aku merasa ada unsur kesengajaan di sini."
Aku membalas sindiran Tuan Lambert yang terdengar
dibuat-buat itu. A
h, benar juga. Meski melalui banyak rintangan, akhirnya aku
memutuskan untuk tetap tinggal di kampung ini.
"Iya, iya, kalian berdua masih akrab seperti biasanya,
ya."
"Mergit...
seharusnya kau tunggu saja di rumah."
Demi keluarga
baruku. Sekarang, sambil terdaftar sebagai anggota bela diri cadangan, aku
bekerja sebagai pemburu di perkampungan ini. Itu karena aku masuk ke keluarga Mergit
sebagai menantu.
Padahal dulu aku
sesumbar ingin jadi petualang, bahkan sudah melakukan persiapan, tapi alasan
kenapa bisa jadi begini sama sekali tidak rumit. Setelah terjadi berbagai hal
dan kami menjadi "akrab"...
"Karena Ayah
terlalu bersemangat, Tuan Putri jadi tidak bisa tidur, kan?"
Mergit memasang
wajah jengkel. Padahal usianya sudah dua puluh dua, tapi kecantikannya sejak
saat pertama kami bertemu tidak pudar sedikit pun.
Di lengannya, ia
menggendong seorang anak perempuan yang saking miripnya bisa dikira adik
perempuannya. Seorang malaikat manis yang memiliki kaki laba-laba yang sama
dengannya, serta "rambut emas berkilau dan mata Kitten Blue".
"Ayah......"
"Isolde,
tidak boleh, lho. Kamu harusnya tidur."
"Nggak
mau... mau sama Ayah saja......"
Namanya adalah
Isolde.
Putri
tunggal tercinta yang dianugerahi padaku enam tahun lalu. Ya, hal seperti ini
bisa terjadi, kan?
Namanya juga
manusia.
Eh, ini bukan
salahku ya, dia yang duluan mendekatiku, lho!?
Tapi kenapa
rasanya tidak adil ya kalau pria yang harus bertanggung jawab!? Yah, aku tidak
keberatan sih!?
Begitulah, karena
berbagai alasan, aku menetap di kampung—meski orang tuaku senang tapi heran,
dan kakakku memasang wajah yang sangat aneh—aku hidup bahagia.
Meski kadang ada
masalah seperti ini, dan butuh usaha keras untuk mendapatkan pengakuan dari Elisa
yang sedang merajuk.
Tapi, ini
bukanlah kehidupan yang buruk. Meski jauh dari petualangan, tidak bisa
dipungkiri bahwa setiap hari penuh dengan kejutan.
Putriku yang
berusia enam tahun itu tidak mirip denganku dan sangat manis, benar-benar
menyenangkan melihat pertumbuhannya.
Aku hanya bisa
berterima kasih padanya karena telah membuatku merasakan bagaimana perasaan
seorang orang tua. Meski tidak direncanakan, setidaknya bagiku, dia adalah
simbol kebahagiaan yang nyata.
"Ah—...
bagian beres-beres biar kami yang urus, kau pulanglah sana."
"Hah?
Tapi..."
Saat aku menerima
putriku dari tangan istriku dan menimangnya, Tuan Lambert menatapku dengan
tatapan curiga lalu mengibaskan tangan seolah mengusir anjing.
"Mana
mungkin kubiarkan anak kecil ada di tempat bau darah begini. Mergit, kau juga,
pilihlah tempat kalau mau membawa anak."
"Aduh,
maafkan kelancangan saya, Kapten. Tapi anak ini cuma memperhatikan ayahnya
saja, jadi Anda tidak perlu khawatir."
Masih
banyak hal yang harus dilakukan. Masih ada begitu banyak "persiapan"
sebelum menyerahkan para bandit ini kepada utusan pemerintah.
Luka-luka mereka
juga harus diobati; akan merepotkan jika mereka mati karena pendarahan atau
infeksi sebelum sempat diserahkan.
Belum lagi urusan
bersih-bersih, namun Tuan Lambert tetap bersikeras dan kembali mendesakku untuk
segera pulang.
"Benar,
benar. Kau pulang saja, Erich."
"Kasihan
kan kalau si kecil Isolde bangun terus."
"Kau
sudah melakukan bagian yang paling berbahaya, sisanya biarkan kami yang
bereskan."
Kalau
sudah dibilang begitu oleh anggota bela diri lain yang ikut dalam pertahanan,
rasanya aku hanya akan merusak suasana jika tetap bersikeras untuk ikut
membantu....
"Ayah......"
"......Baiklah,
aku mengerti, Isolde. Ayo kita segera pulang dan tidur."
Kalau begitu, aku
terima tawaran baik mereka dan mohon pamit lebih dulu. Entah kenapa, putriku
ini susah sekali tidur jika aku tidak ada di sampingnya.
Karena aku
"tidak terkena cipratan darah" sedikit pun, lebih baik aku segera
masuk ke tempat tidur dan membujuknya agar segera terlelap....
Tips: Bandit yang ditangkap hidup-hidup akan dihargai
lima puluh persen hingga dua kali lipat dari harga pasaran. Untuk pemimpinnya, hadiahnya bisa melonjak hingga
tiga sampai lima kali lipat.
◆◇◆
Terkadang,
membunuh seseorang secara langsung justru merupakan bentuk belas kasihan yang
luar biasa—begitulah pikir pria itu.
Tidak, pria yang
telah kembali menjadi pemimpin bandit itu kini gemetar hebat. Atau lebih
tepatnya, ia dipaksa kembali ke posisinya semula.
Suara teriakan
yang menggema serempak hingga memekakkan telinga.
Pekikan yang sama
yang beresonansi berkali-kali itu sama sekali tidak harmonis, bahkan terdengar
seperti dengung yang menyakitkan.
Namun, ia tahu
jelas apa yang diteriakkan suara-suara itu. Sebab, keinginan yang terkandung
dalam suara itu menghantamnya dengan begitu kuat hingga seolah memiliki wujud
fisik.
"""Bunuh
dia!!!"""
Para hadirin yang
berkumpul hanya meneriakkan hal itu. Pria, wanita, bahkan yang di antaranya.
Tua, muda, hingga penduduk lama.
Setiap entitas
yang berkumpul di kota itu berteriak dengan satu tujuan.
Menantikan
kematian mengerikan bagi sang pemimpin dan komplotan bandit yang ia bentuk.
Ia dan seluruh
anak buahnya dikirim ke sebuah kota besar antah berantah di Kekaisaran Miezo
setelah menerima pengobatan ala kadarnya.
Karena masuk
daftar buronan, mereka tak pernah berani mendekati kota besar sebelumnya,
sehingga mereka buta arah dan bahkan tidak tahu di mana mereka berada sekarang.
Terlebih lagi,
semua orang telah dipersiapkan dengan saksama oleh penduduk perkampungan
sebagai "bahan pertunjukan".
Agar mereka tidak
akan pernah bisa melakukan kejahatan lagi dan mustahil untuk melarikan diri,
"urat tendon tangan dan kaki" mereka telah diputus sepenuhnya.
Saat pertama kali
dibawa ke kota, mereka dirantai di penjara alun-alun dan dijadikan tontonan.
Itu adalah tempat
yang mengerikan di mana segala macam kotoran—batu, limbah, ikan busuk, hingga
buah-buahan busuk—dilemparkan ke arah mereka.
Namun saat itu,
mereka masih punya tenaga untuk berteriak dan melawan.
Sebab mereka
punya harga diri; rakyat jelata yang berteriak dari luar jeruji itu hanyalah
mangsa yang selama ini sering mereka habiskan.
Namun, segalanya
berubah di pertunjukan hari ketiga. Sebab beberapa anak buahnya diseret keluar
dari jeruji, dijadikan mainan rakyat, lalu mati.
Tiga orang anak
buahnya yang paling muda—salah satunya adalah pemuda yang baru pertama kali
ikut menyerbu—diseret keluar dari penjara dan dirantai pada tiang yang
menjulang di alun-alun.
Meski penampilan
ketiganya masih meragukan apakah sudah dewasa atau belum, penduduk kota tetap
bersikap dingin.
Mereka memungut
batu seukuran kepalan tangan yang telah disediakan pihak kota di alun-alun,
lalu mulai melemparkannya begitu penjaga memberi izin.
Bukan dengan
lemparan kuat dari atas kepala (overhand). Melainkan dengan lemparan bawah
(underhand) yang terukur, atau lemparan samping (sidearm) yang pelan.
Betapa kejamnya
hal ini. Jika batu seukuran kepalan tangan dilemparkan dengan segenap tenaga
orang dewasa, kepala seseorang pasti akan hancur bak buah delima.
Itu akan
memberikan kematian yang relatif cepat, dan kematian akan membebaskan jiwa dari
segala penderitaan fisik.
Namun, dengan
lemparan yang pelan, hanya rasa sakitlah yang terus berlanjut.
Ukuran batunya
cukup besar untuk memberikan rasa sakit dan penderitaan yang hebat, namun
lemparan yang lambat membuat mereka tidak bisa langsung mati.
Tetap saja,
luka-luka itu terus terakumulasi tanpa henti, dan setelah waktu yang terasa
abadi dan tak tertahankan, akhirnya mereka menemui ajal.
Ia tidak tahu
apakah itu memakan waktu tiga atau lima hari, yang pasti itu terjadi setelah
penderitaan yang sangat, sangat panjang.
Melihat anggota
baru itu perlahan-lahan disiksa oleh lemparan batu setiap hari hingga sulit
dibedakan apakah ia manusia atau sekadar "daging berbentuk manusia",
semua bandit yang tersisa dicekam ketakutan.
Mereka mulai
menyadari urutan giliran mereka. Mulai sekarang, mereka akan dijadikan peringatan dengan berbagai
metode.
Ketakutan
itu benar-benar terwujud. Setelah anggota baru terakhir mati—ironisnya, dia
adalah pria yang gagal dalam penyerbuan pertamanya dan belum membunuh satu
orang pun—beberapa orang berikutnya diseret keluar.
Mereka mati
"dipanggang" oleh mesin raksasa.
Sebuah mesin
mirip alat pengasapan yang menyemburkan angin panas yang bisa ditahan dalam
waktu singkat, di mana para penonton bisa bebas memasukkan kayu bakar sesuka
hati.
Mereka disiksa
dengan hawa panas terus-menerus hingga mati, layaknya membuat daging awetan.
Penduduk kota
menunjuk dan tertawa, mengatakan bahwa tubuh yang membengkak karena luka bakar
akibat panas yang berkepanjangan itu sangat mirip dengan anak domba yang
disajikan dalam festival.
Kematian yang
lambat dan tak tertahankan seperti itu terus berlanjut berulang kali.
Dan sang pemimpin
dipaksa untuk menyaksikan itu semua. Ia dipaksa minum air dan dijejali makanan
agar tidak mati kelaparan.
Dalam waktu yang
terasa seperti keabadian, mentalnya terkikis oleh makian yang tak
henti-hentinya dilemparkan baik dari anak buahnya sendiri maupun dari para
penonton.
Kini, ia tidak
tahu lagi apakah suara makian yang menggema di telinganya itu nyata, atau
sekadar sisa-sisa ingatan masa lalu yang diputar berulang kali oleh otaknya
sendiri.
Lalu, setelah
orang terakhir mati dimakan tikus secara perlahan, tibalah gilirannya.
Tali tambang
kasar dililitkan ke leher sang pemimpin yang kini kembali menjadi pria sebatang
kara.
Pada titik ini,
ia merasa lega. Jika ia mati karena digantung, meski memakan waktu lama, itu
masih jauh lebih baik daripada nasib anak buahnya yang lain. Namun, algojo itu
tidak melewatkan ekspresi tersebut.
"Ho, kau
senang melihat tali ini, bajingan? Tapi, aku tidak sebaik penduduk kota,
lho."
Algojo yang
menutupi wajahnya dengan kain itu menendang si pria agar terjatuh lalu
menggiringnya dengan santai seperti menendang kerikil, membawanya menuju sungai
yang mengalir di tengah kota.
Sebuah sungai
besar yang juga digunakan untuk transportasi air, dengan jembatan berhias indah
yang melintas di atasnya. Begitu megah hingga siapa pun tahu itu adalah ikon
kebanggaan kota tersebut.
Ia diseret ke
tengah jembatan, lalu tali ditambatkan pada pagar jembatan untuk
menggantungnya. Bagaikan umpan untuk memancing. Tidak, lebih seperti pelampung
yang menandakan adanya tarikan ikan.
Di tengah sungai
yang alirannya tenang, sebuah panggung telah dibangun.
Panggung itu
dibuat sedemikian rupa agar tidak muncul ke permukaan air; tingginya
disesuaikan agar saat si terpidana berdiri, air akan merendam tubuhnya hingga
setinggi pusar.
Di sanalah ia
dipaksa berdiri dengan tali yang melilit lehernya.
Awalnya, sang
pemimpin tidak mengerti maksud dari hukuman ini.
Apa yang
sebenarnya mereka lakukan padanya? Namun, ia segera menyadarinya.
Ia sudah lelah,
tapi tidak bisa duduk. Ia tidak bisa tidur, dan jika ia tidak sengaja terlelap,
ia akan terbangun karena tersedak air yang masuk ke saluran pernapasannya.
Terlebih lagi,
karena panggung itu, ia tidak bisa hanyut terbawa arus. Bahkan saat ia menyerah
dan mencoba menenggelamkan diri... ia tidak bisa.
Begitu
menyakitkannya mati tenggelam, hingga sesering apa pun ia mencoba, tubuhnya
secara otomatis akan berpegang teguh pada kehidupan, tangannya akan
mencengkeram tali yang menghubungkan lehernya dengan pagar jembatan.
Lalu, ia akan
kembali berputus asa karena gagal mati, sementara para penduduk yang melintas
akan menertawakan penampilannya yang bodoh itu.
Nah, kitab
undang-undang hukum pidana di Kekaisaran Miezo dianggap sebagai "Kitab
Rahasia".
Para hakim,
pengacara, dan penguasa wilayah menutup rapat kitab tersebut agar tidak
diperlihatkan kepada rakyat jelata.
Semua itu
dilakukan agar warga tidak meremehkan hukum dengan berpikir "hanya segini
hukumannya" lalu dengan mudah melakukan kejahatan.
Dan kata
pengantar dari kitab hukum pidana itu dihiasi oleh kalimat ini: "Satu
hukuman untuk mencegah seratus kejahatan."
Kebijakan
Kekaisaran Miezo yang mengutamakan ketegasan dan tindakan nyata tetap terjaga
hingga hari ini.
Sama seperti
seorang ayah di perkampungan yang mengayunkan pedang demi melindungi
keluarganya, hukuman ini pun merupakan pemandangan yang lumrah di dunia ini.
Meskipun pasir di pantai habis, benih orang jahat di dunia ini tak akan pernah
punah. Namun, memetik tunasnya adalah perkara mudah....
Tips: Hukuman bagi penjahat sebagai peringatan adalah
sebuah keharusan yang dianggap perlu di mana pun di dunia ini.
◆◇◆
"Selimut malam, bantal rembulan, ranjang awan, tidurlah
anak baik. Bintang-bintang menjagamu, semoga mimpimu indah. Kedua kelopak mata
bersahabat, menjaga mata anakku yang berharga......"
Saat aku menyanyikan lagu pengantar tidur buatanku sendiri
sambil mengusap punggungnya, Isolde langsung terlelap dengan napas yang tenang
dan berkelana ke dunia mimpi.
Melihatnya tidur secepat ini, aku jadi sombong dan merasa
kalau aku ini komposer dan penyanyi yang hebat.
Anak ini dulu benar-benar susah tidur. Apalagi saat masih
bayi, tangisan malamnya parah sekali. Mergit yang secara ras memang butuh waktu
tidur singkat (short sleeper) maupun aku yang punya karakteristik tidur singkat
pun sampai kewalahan.
Lagu ini kubuat dengan susah payah demi menidurkannya. Aku bersyukur dia menyukainya dan
jadi langsung tidur setelah mendengarnya.
Karena
menguasai keterampilan menyanyi tingkat tinggi itu mahal, aku berusaha keras
dengan menggabungkan karakteristik murah seperti Permeating Voice dan Calm
Voice.
Aku ingat sampai
menangis terharu saat itu.
Yah, meski rasa
haru itu langsung hancur karena Mergit melarangku menyanyi di depan orang
lain—bukan cuma lagu pengantar tidur, tapi lagu apa pun.
Mungkin nilaiku
tadi agak berlebihan karena rasa sayang orang tua kepada anaknya.
Nah, sampai kapan
ya kira-kira anak ini akan puas dengan lagu pengantar tidurku?
"Sudah
tidur? Aku jadi merasa tidak berguna sebagai ibunya."
Saat aku sedang
bersantai melihat wajah tidurnya yang manis, istriku berbisik tepat di
telingaku tanpa aku merasakan kehadirannya sedikit pun.
Rasanya aneh
karena aku bahkan tidak merasakan ranjangnya berderit atau kasurnya miring.
Saat aku menidurkan Isolde, dia sedang membereskan zirahku, tapi entah kapan
dia menyelesaikannya.
Sambil merasakan
sensasi menggelitik yang menyenangkan di tengkukku, aku menghitung satu poin
kekalahan dalam hati.
Aku mencoba
berbalik, tapi sebelum sempat, Mergit sudah menyandarkan dadanya di lenganku
saat aku sedang berbaring menyamping.
Aku tidak
bisa bergerak karena posisinya yang sangat pas. Poros tubuhku dikunci
sepenuhnya, sehingga aku tidak bisa berbaring telentang maupun telungkup.
Meskipun
dia adalah tipe laba-laba yang tidak membuat sarang, saat ini aku benar-benar
seperti mangsa yang tertangkap.
"Apa yang
akan kau lakukan setelah menangkap suamimu sendiri?"
"Entahlah?
Enaknya diapakan ya. Apa kumasukkan ke dalam sangkar dan kupelihara saja? Atau
lebih baik kupasangi kalung leher?"
Wajah yang
mengintipku sambil menyandarkan berat tubuhnya itu... matanya tidak tersenyum.
Meski bibirnya
melengkung membentuk senyuman, matanya yang berubah keemasan karena pantulan
cahaya bulan yang jernih sama sekali tidak menunjukkan kegembiraan.
Aku pun merasa
jantungku berdegup kencang melihat kecantikan mengerikan yang sanggup menutupi
kesan kekanak-kanakan di wajahnya, wajah yang tak berubah sejak pertama kali
kami bertemu.
"Aku tadi
sedikit berpikir... kenapa ya anak kita jadi secengeng ini."
Ah, ini firasat
buruk. Seketika aku mencoba melawan, tapi kaki laba-laba yang menancap di kasur
bergerak dengan lincah dan mematahkan gerakanku.
Sebelum sempat
kusadari, aku sudah dipaksa telentang, dan dia sudah berada di atas tubuhku
sambil menahan kedua lenganku di samping badan.
Karena khawatir
gerakan tadi membangunkannya, aku melirik ke arah putriku. Ternyata dia sudah
dipindahkan ke sudut ranjang agar tidak terjatuh.
Ditambah lagi,
dia sudah diselimuti dengan kain tambahan agar tidak masuk angin; harus kuakui
itu adalah bentuk perhatian luar biasa dari seorang ibu.
Eh, tapi ini
bukan waktunya untuk kagum, Erich.
"Bukankah
karena dia sendirian? Dia memiliki ayah dan ibu yang memanjakannya, juga kakek
dan nenek yang sangat sayang padanya."
"Yah,
begitulah..."
Tubuh kami
semakin merapat, dan dia meletakkan dagunya di atas dadaku sambil tersenyum
jahil. Namun, seperti biasa, matanya tidak tersenyum.
Ya, dia sangat
cantik. Seperti yang pernah kukatakan dulu, bukannya dia cantik sampai terasa
mengerikan, tapi dia mengerikan sekaligus cantik.
Dan karena
rasanya kengerian serta kecantikannya terus bertambah setiap tahun, itu
benar-benar menakutkan bagiku.
"Karena
itulah... aku rasa dia butuh adik perempuan atau adik laki-laki."
Menghadapi Mergit
yang memasang wajah seolah itu adalah ide yang cemerlang, aku tidak bisa
menemukan kata-kata untuk membantah.
Itu bukan
pemikiran yang aneh. Kenyataannya, aku pun anak bungsu di kehidupan sebelumnya,
tapi setelah Elisa lahir, kesadaranku sebagai kakak muncul dan aku merasa
banyak berubah.
Kalau
dipikir-pikir, itu masuk akal, tapi....
"Kau tidak
sedang berpikir 'aku lebih senang begini saja karena putriku terus bermanja
padaku', kan?"
"Tentu saja
tidak—"
Kok ketahuan,
sih?
Mendengar
sanggahanku yang datar, dia menghela napas panjang karena heran. Ia kemudian
menopang dagu di atas dadaku, lalu mengusap pipiku dengan tangan kirinya yang
bebas.
"Benar-benar
ayah yang terlalu lunak, ya... Tapi, dengar ya, Erich."
Memanggil
namaku "setelah sekian lama", dia mengangkat tubuhnya dan mendekatkan
wajahnya ke arahku.
"Kau
memang seorang ayah... tapi jangan sampai kau lupa kalau kau adalah suamiku,
ya?"
Bersamaan
dengan senyuman itu, bibirnya pun mendarat. Sebuah kecupan lembut yang hanya
sekadar bersentuhan.
Namun,
setelah menyisakan sensasi lembut yang seolah melelehkan kesadaran, sang
predator mulai menunjukkan taringnya.
Yah,
sejak awal aku memang tidak berniat menolak. Mungkin ini yang disebut kelemahan
karena jatuh cinta—atau lebih tepatnya, kelemahan karena sudah
"dimangsa".
Memang
benar bahwa kejadian "akrab" di tengah perkemahan dulu adalah pemicu
pernikahan kami.
Namun,
seberapa pun emosionalnya masa puber itu, aku tidaklah segegabah itu sampai
kalah oleh nafsu dan melakukan hal yang bisa membuahkan anak.
Saat itu
tubuhku sudah cukup terlatih, jadi kalau aku mau menolaknya, tentu saja aku
bisa. Tapi aku tidak melakukannya.
Alasannya
kurasa tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata lagi. Jangan paksa aku mengatakannya, memalukan tahu.
"Jadi,
bagaimana?"
Menanggapi
pertanyaan yang bercampur godaan itu, aku menjawab dengan memejamkan mata.
Karena hari ini adalah kekalahanku, biarlah aku menjadi mangsa yang penurut
saja....
Tips: Dalam kasus persilangan ras di mana pejantannya
adalah ras Manusia (Human), hampir dipastikan bahwa benih yang dikandung
akan mengikuti ras dari pihak betina.



Post a Comment