Epilog
Jika kelompok yang terpecah itu berhasil dalam usaha mereka,
mereka akan berkumpul kembali untuk berbagi cerita—meskipun tidak ada jaminan
bahwa semuanya akan layak untuk berpartisipasi dalam petualangan berikutnya. Namun jika ceritanya berlanjut, kebenaran
harus diterima, apa pun nasibnya.
◆◇◆
Meskipun aku
mulai terbiasa bangun di bawah langit-langit yang tidak kukenal, saat terbangun
kali ini, aku merasa hampa.
"Aku...
hidup?"
Butuh beberapa
menit bagiku di bawah siraman cahaya fajar, menatap kanopi tempat tidur yang
disulam dengan indah, untuk menenangkan pikiranku yang kacau. Aku benar-benar
mengira aku sudah mati.
Meskipun aku
masih ingat pertolongan yang datang, kehilangan hampir seluruh anggota tubuh
sudah lebih dari cukup untuk membuatku menyerah. Aku ingat penampilan mulia
penyelamatku, tapi seni penyambungan anggota tubuh adalah rahasia yang dijaga
ketat oleh Akademi.
Nona Celia
mungkin seorang pendeta, tetapi aku pernah mendengar bahwa mukjizat yang mampu
mencapai efek seperti itu hanya bisa dikuasai di puncak pengabdian. Peluangnya
terasa sangat tipis. Karena perawatan medis tradisional tidak akan mungkin
berhasil, aku berasumsi bahwa aku sudah berada di ujung tanduk, tapi...
"Apa
benda-benda ini tumbuh begitu saja?"
Orang jahat level
tinggi itu telah mencabik-cabik diriku, dan aku tidak dapat membayangkan Cheat
Code macam apa yang bisa mengembalikan lengan dan kakiku pada tempatnya
seolah-olah tidak pernah hilang.
Dengan
hati-hati, aku mencoba menggerakkan lenganku. Tidak ada rasa sakit, bahkan tidak ada rasa tidak
nyaman sedikit pun. Saat menyibak lengan baju pakaian tidurku yang lembut—yang
jahitannya terlihat sangat mahal hingga aku takut menanyakan harganya—kutemukan
kulit yang mulus tanpa bekas luka. Tidak ada satu pun keropeng.
Kakiku juga sama.
Aku mampu menggoyangkan ujung jari kakiku, membuktikan bahwa seluruh sistem
sarafku berfungsi dengan sempurna.
Aku menghela
napas lega, namun kemudian menyadari hal lain. "Bernapas pun tidak
sakit."
Tulang rusuk
patah yang selama ini menyiksaku kini telah membaik. Dengan mengusap dadaku lembut, aku tidak
merasakan sakit atau geli. Turun ke perut, yang kurasakan hanyalah bentuk otot
perutku yang mulus, tanpa ada retakan yang tidak wajar.
Aku
adalah gambaran kesehatan yang sempurna. Sejujurnya, aku mulai curiga bahwa
seluruh pertarungan itu hanyalah ilusi.
Satu-satunya
bukti bahwa itu nyata adalah rasa pusing yang sedikit terasa, mungkin karena
aku sangat lapar dan haus—tapi itu juga bisa dijelaskan oleh fakta bahwa aku
belum makan sejak siang hari sebelumnya.
Tapi, sebenarnya
di mana aku?
Aku tidak bisa
menarik kesimpulan hanya dengan melamun, jadi aku mengesampingkan pikiran itu
dan mulai mengamati sekeliling. Dilihat dari situasinya, keadaanku tampak agak
rumit.
Aku berbaring di
ranjang berkanopi raksasa, dengan tirai tipis hampir transparan yang memisahkan
tempat tidurku dari dunia luar. Kualitas pakaian tidurku sudah tidak perlu
diragukan lagi.
Kasur yang
kutempati memiliki Spring yang tertanam di dalamnya—aku pernah mendengar
bahwa hanya orang-orang terkaya yang bisa menikmati kemewahan seperti ini—dan
selimut di atasku diisi dengan bulu-bulu halus yang sangat nyaman.
Ketika setiap
jengkal tempat tidurku begitu menyenangkan untuk disentuh hingga menggelitik
dorongan kleptomaniaku, jelas sekali aku berada di wilayah kaum berdarah biru.
Tempat tidur sebesar ini bisa menampung "pesta" beberapa orang
sekaligus, jadi aku yakin aku berada di kediaman bangsawan yang sangat
berpengaruh.
Ada banyak
kemungkinan yang bisa membawaku ke sini, tetapi merenungkannya tidak akan
memberikan jawaban. Memahami
lingkungan sekitar adalah aturan praktis yang berlaku bahkan di luar TRPG.
Oke, GM. Apa yang kulihat?
Sambil melontarkan lelucon batin yang tidak akan dipahami
siapa pun di dunia ini, aku melihat sekeliling dan menemukan sebuah bel kecil
di samping tempat tidur. Ada sebuah memo tertempel di sana, bertuliskan,
"Sudah Bangun?" dalam kaligrafi yang indah.
Ah, begitu. Jadi aku harus membunyikannya saat bangun.
Senang melihat instruksi di sini mudah dipahami. Aku mengambil bel yang jelas
tak ternilai harganya itu dan membunyikannya.
"Hah?"
Namun, aku tidak mendengar suara apa pun. Karena bingung,
aku membaliknya dan melihat bahwa alat itu tidak memiliki alat pemukul di
dalamnya.
Itu saja sudah bisa membuat alat itu disebut rusak, tentu
saja, tetapi saat menyipitkan mata, aku bisa melihat ukiran-ukiran kecil yang
membentuk Magic Formula. Rasanya semua benda di sini adalah produk
premium yang digerakkan oleh sihir.
Aku mengamati susunan mantra itu dengan kagum selama
beberapa saat, sampai aku mendengar ketukan pelan di pintu. Setelah beberapa
saat hening, aku memiringkan kepalaku: mengapa mereka tidak masuk?
Butuh waktu semenit penuh sebelum aku menyadari, Oh...
aku seharusnya memberi mereka izin terlebih dahulu.
Meskipun aku cukup sering meminta izin masuk ke ruangan
orang lain, aku tidak pernah berada dalam posisi sebaliknya. Satu-satunya saat
seseorang mengetuk pintu untuk orang sepertiku hanyalah ketika aku berada di
ruang ganti toko pakaian favorit Nona Leibniz.
"Eh... Masuk?"
Rasa gugup membuat nada bicaraku naik-turun dengan
menyedihkan. Aku tidak bisa menahannya! Aku benar-benar orang desa; mempelajari
seluk-beluk etika bangsawan tidak banyak membantuku saat aku sendiri yang harus
bertindak sebagai tuan rumah.
"Permisi."
Wanita yang masuk dengan suara pintu yang hampir tak
terdengar itu tak lain adalah seorang pelayan sungguhan.
Wah, Maid! Maid sungguhan! Meski ibu kota bersifat
multikultural, gaya pelayan yang berasal dari pulau jauh di timur ini sangatlah
langka. Tradisi terasa kental dalam setiap detailnya: ia mengenakan gaun hitam
panjang polos dengan manset menonjol, ditutupi celemek berenda, dan rambut yang
dirapikan dengan penutup kepala.
Ia adalah
perwujudan hidup dari seorang pelayan klasik. Kulitnya putih, matanya hijau,
dan rambutnya berwarna merah muda—semuanya berpuncak pada fitur wajah muda yang
membuat jantungku berdebar.
Sistem pengabdian
di Kekaisaran Trialist memang rumit karena percampuran ide feodal dan modern.
Kaum kelas atas biasanya menerima putra atau putri kedua dari keluarga lain
sebagai pelayan, atau memiliki garis keturunan yang memang dikhususkan untuk
melayani mereka.
Sementara itu,
pelayan kelas bawah biasanya adalah warga biasa yang karakternya dijamin oleh
pemimpin daerah mereka. Mereka mengabdi sebagai imbalan atas gaji atau potongan
pajak yang dikirimkan ke keluarga di desa.
Di sisi lain, ada
juga pembantu yang dipekerjakan oleh pedagang kaya. Setelah masa kerja
tertentu, mereka bisa menggunakan keterampilan yang dipelajari untuk
mendapatkan pekerjaan lain. Kontrak mereka terikat oleh gaji, bukan oleh
loyalitas keturunan.
Menghabiskan
waktu di Akademi adalah cara termudah untuk memahami perbedaan ini. Para
penyihir selalu punya uang, tetapi mereka yang hanya punya uang
menggunakan jenis pelayan yang sangat berbeda dari keluarga bangsawan lama.
Golongan
bangsawan lama dilayani oleh orang-orang dengan silsilah yang cukup—bahkan
mungkin pelayan berdarah murni yang telah mengurus urusan keluarga mereka
selama berabad-abad.
Para pelayan dan
kepala pelayan ini menguasai bahasa istana yang paling sopan dan secara harfiah
dilahirkan untuk melayani kaum elit. Membandingkan mereka dengan anak yang
dilatih tergesa-gesa sepertiku sama saja dengan membandingkan kuda peternakan
dengan kuda perang militer.
Dengan ingatan
itu, aku mengamatinya dan... wow. Sepertinya aku berada di rumah seseorang yang
berada di puncak piramida sosial.
Kualitas tingkah
lakunya, ucapannya, dan pakaiannya tidak perlu diragukan lagi. Namun, setelah
diamati lebih dekat, ada dua telinga runcing yang menyembul dari balik
rambutnya.
Seberapa tinggi
kedudukanmu sampai bisa mempekerjakan seorang Methuselah sebagai
pelayan?!
"Tidak ada
yang lebih menyenangkan bagiku selain melihat Anda telah bangkit. Namaku
Kunigunde, dan aku telah diberi tanggung jawab untuk melayani Anda. Jangan ragu
untuk memberikan perintah demi memenuhi semua kebutuhan Anda."
"O-Oke."
Aku hanya bisa
menjawab singkat. Dengan segala upaya yang telah kukerahkan untuk memahami
bahasa formal, diksi yang benar-benar sempurna darinya membuatku merasa ingin
berlutut dan bersujud hormat.
Lebih parah lagi,
dia menggunakan dialek yang seharusnya hanya digunakan untuk tamu yang sangat
terhormat. Aku bukan orang terhormat, aku bahkan bukan seorang birokrat; aku
hampir tidak bisa mencerna kata-kata indah yang masuk ke telingaku.
Serius, apa
yang sebenarnya terjadi padaku?
"Meskipun
saya bersimpati dengan kebingungan Anda dan yakin Anda memiliki banyak
pertanyaan, izinkan saya terlebih dahulu mempersiapkan Anda untuk hari ini.
Tuan saya akan menjelaskannya pada waktunya. Jika Anda berkenan, saya
permisi..."
Berbalut sarung
tangan sutra, tangannya meraih nampan beroda di belakangnya untuk mengambil
seember air panas. Dia segera menyeka wajahku dengan handuk basah dan mulai
menyisir rambutku sebelum aku sempat tersadar dari keterkejutanku.
Rambutku tumbuh
cukup panjang hingga orang bisa mengira aku seorang wanita jika dilihat dari
belakang. Dia menyisirnya dengan telaten, bahkan mengoleskan minyak rambut.
Segalanya berjalan begitu cepat sehingga aku hanya bisa duduk diam, tidak mampu
mengimbangi kecepatannya.
"Rambut Anda
indah sekali," katanya. "Apakah Anda merawatnya dengan sesuatu yang
khusus?"
"Hah? Tidak
juga..."
...kecuali
jika kau menghitung berkat-berkat sihir.
Namun rambutku
bukanlah masalah utamanya. Masalah yang lebih mendesak adalah dia menyuruhku
duduk di tepi tempat tidur dan melakukan pekerjaannya tepat dari depan.
Dada yang
bergoyang tepat di depan wajahku jauh lebih mengesankan daripada rambutku
sendiri, dan itu sangat tidak baik bagi kesehatan jiwaku. Untungnya, rasa
pusing akibat anemia ringan menyelamatkanku dari reaksi memalukan yang biasanya
dialami laki-laki di pagi hari.
Tetapi, aku harus
aktif melawan pikiran liar seperti: aku bertanya-tanya apakah aku bisa
mencari alasan untuk membenamkan wajahku di sana...
Terlalu fokus
mengendalikan pikiran kotorku, aku baru menyadari bahwa aku sudah berpakaian
lengkap. Aku kembali ke tempat tidur dengan punggung bersandar pada bingkai
ranjang. Pelayan itu kemudian mengeluarkan meja lipat entah dari mana dan
menatanya dengan berbagai hidangan.
"Mohon maaf
karena saya hanya bisa menyiapkan hidangan sederhana, karena kami tidak tahu
kapan Anda akan terbangun. Namun, jika Anda memiliki permintaan khusus, saya
akan menyiapkannya sebisa mungkin. Apa ada yang Anda inginkan?"
"Seder…… hana……?"
Teh hitam yang aromanya tak bercela, roti danish yang takkan
ada di pasar—jelas baru dipanggang pagi ini—sosis rebus Wurst yang kaya
rempah dan mahal, serta keju berlapis madu yang biasanya hanya ada saat
festival. Jika hidangan yang membuat Festival Panen Musim Semi terasa suram ini
disebut "sederhana", lalu apa yang selama ini kumakan?
Apa yang
salah dengan babi-babi borjuis ini?
Tolong ambilkan
palu dan sabit untukku!
"Jika
hidangan ini terlalu berat untuk seleramu, aku akan segera menyiapkan sup atau
bubur ringan."
Pelayan itu salah
mengartikan keherananku sebagai tanda kesehatan yang buruk dan mencoba
menebusnya. Aku
menolak dengan panik dan segera mengambil nampan itu dengan senang hati.
Aku tidak
tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku tidak bisa menyebut diriku seorang
laki-laki sejati jika membiarkan secangkir teh merah yang mengepul ini menjadi
dingin.
Begitu
melihatku mulai makan, Nona Kunigunde, sang pelayan, melangkah menjauh dari
tempat tidur dengan lega. Meskipun
dia hanya mundur satu langkah, tiba-tiba saja sulit untuk memastikan di mana
posisinya berdiri.
Dia tampaknya
secara alami menggunakan sihir di setiap kesempatan—mungkin dia memanfaatkan trait
dari Arcane Attendant yang pernah kubaca sekilas di lembar karakterku.
Kurasa warisan kelas dua memang tidak akan cukup untuk melayani bangsawan
sejati.
"Matahari
sudah tinggi. Nona serta Tuan Putri sedang beristirahat saat ini.
Jadi, saya mohon Anda untuk merasa seperti di rumah sendiri dan menunggu mereka
bangun di sini."
Aku memegangi
perutku setelah menghabiskan makanan mewah yang sama sekali tidak siap diterima
oleh lambungku. Belum sempat aku beristirahat sejenak, dia sudah menjatuhkan
"bom" ini padaku.
Kata "Tuan
Putri" membangkitkan satu kemungkinan. Aku sempat mengabaikannya saat
baru sadar tadi, tapi tampaknya dialah yang telah menyelamatkanku. Fakta bahwa
adegan terakhir sebelum aku terjerumus ke jurang keputusasaan itu ternyata
nyata, membuatku ingin mendesah panjang.
"…Oh. Tunggu
sebentar."
Pelayan itu
menghentikan ucapannya. Ia menutup satu mata dan meletakkan tangan di
pelipisnya. Aku mengenali reaksi itu: reaksi seseorang yang sedang menerima
pesan telepati tak terduga.
Beberapa penyihir
menggunakan pose itu untuk merenungkan Mystic Semantics lebih dalam,
tetapi seorang pengikut yang tiba-tiba memotong kalimatnya sendiri biasanya
menandakan adanya pesan dari sang tuan.
"Saya minta
maaf," katanya. "Sepertinya sudah terlambat."
"Hah?
Terlambat?"
Sebelum aku
sempat bertanya apa maksudnya, pintu ruangan itu terbuka dengan sendirinya.
"Kau sudah bangun, Nak?! Luar biasa sekali!"
Sesaat,
kupikir seseorang telah menghantam pintu dengan pendobrak. Namun, saat menoleh,
aku tidak melihat apa pun kecuali sosok wanita cantik yang memikat mata.
Wanita
bermata merah, berambut hitam, dan mengenakan toga itulah yang telah menangkal
serangan bangsawan bertopeng tadi. Sosoknya begitu mencolok hingga terpatri
dalam ingatanku, bersanding dengan keindahan Nona Celia.
Meski aku
tidak ingat warna tunik yang dikenakannya saat pertama kali kami bertemu, kini
dia mengenakan pakaian merah tua cerah yang dihiasi sulaman benang emas.
Saat dia berjalan
melewati pintu masuk yang kini kosong, pelayan Methuselah itu memejamkan mata.
Ia melangkah mundur sambil menggelengkan kepala dengan pasrah. Pesannya jelas:
aku tidak boleh meminta bantuannya, karena dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi
untukku.
"Astaga,
malam ini sungguh melelahkan. Ketika Thaumagram tiba tanpa diundang
membawa berita buruk, aku bergegas keluar hanya untuk menemukanmu
bermalas-malasan di ambang pintu kematian."
Wanita itu
menghela napas, suaranya terdengar megah namun tajam.
"Keponakan
perempuanku tersayang tidak bisa melepaskanmu karena khawatir, sementara
keponakanku yang tidak waras terus menggonggong tanpa henti. Ah, itu
mengingatkanku—si tolol itu sangat menjengkelkan hingga aku terpaksa
meninggalkannya dalam keadaan setengah mati. Sayang sekali ambisiku untuk
membunuhnya tidak tercapai."
Sungguh tak dapat
dipercaya. Wanita cantik yang mengingatkanku pada Nona Celia itu duduk di sisi
tempat tidurku tanpa mempedulikan apa pun. Namun, terlepas dari segala
kemiripan mereka, wanita ini tidak memiliki keanggunan yang rapuh layaknya
seorang biarawati.
Sebaliknya, dia
memancarkan kepercayaan diri yang meluap-luap. Alisnya yang tipis dan
melengkung menaungi sepasang permata yang berkilau dengan kebanggaan yang
mengintimidasi.
Menurutmu apa
yang akan terjadi jika seseorang secantik ini menatapku dari jarak sedekat itu?
Jawabannya adalah seluruh untaian pikiranku yang baru saja tertata, kini
kembali kusut berantakan. Benar-benar parah.
"Jangan
salah paham. Mempersingkat jamuan makan demi kekasihku yang berharga tidak akan
membuatku marah. Aku juga tidak akan bersedih atas usahaku yang sia-sia saat
menghajar keponakanku yang konyol itu. Terlebih jika usaha itu dilakukan demi
seorang anak yang sangat aneh sepertimu."
Kecantikannya
adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa diraih oleh Nona Celia, tak peduli
seberapa dewasanya dia nanti. Itu adalah daya tarik predator dari seorang
vampir ganas yang terpampang nyata.
Sambil mengulas
senyuman, wanita yang belum memperkenalkan diri itu mengusap daguku dengan
kukunya yang tajam... lalu tertawa. Tawanya sangat unik, bahkan terdengar
hampir mengejek.
Suara dan dialek
kunonya menyelinap ke dalam otakku, mengunci kesadaranku di sana hingga
membuatku linglung.
"Ah,
bagaimana mungkin aku tidak menyebutkannya? Kau harus menyampaikan rasa terima
kasihmu kepada keponakanku pada waktunya. Agar dagingmu tetap utuh seperti saat
kau baru lahir, pengorbanan kekasihku adalah harga yang harus dibayar."
Kira-kira, inilah
yang disebut sebagai karisma sejati. Dia menghujaniku dengan berbagai
pernyataan tanpa memedulikan reaksiku, tetapi anehnya aku tidak merasa
keberatan.
Setiap tindakan
dan kata-katanya terkubur dalam ingatanku tanpa niat untuk pergi. Dia
dikaruniai watak seorang penguasa. Diberkati dengan daya tarik yang mampu
menyerap siapa pun di sekitarnya.
Bakatnya
membangkitkan citra seorang negarawan yang kuat, namun ada aura tirani kejam
yang tak diragukan lagi mengintai di balik pesonanya. Seolah-olah personifikasi
martabat yang telah mengukir sejarah kini ada di sini, duduk tepat di
hadapanku.
"Meskipun
keponakan kesayanganku itu telah membuatku menderita dengan segala macam
kesengsaraan. Pertama-tama dia menangis karena mengetahui keberadaan orang
lain, lalu menuntut agar kurir segera dikirim setelah menemukannya..."
Wanita itu
menatapku lekat-lekat.
"Sebagai
orang yang sangat dia sayangi, aku rasa kau juga sangat menginginkan bantuanku.
Tidakkah kau menginginkannya?"
Meskipun dia
mengajukannya seperti sebuah pertanyaan, ada nada perintah sekeras batu dalam
suaranya yang mendorong jiwaku untuk mengiyakan. Namun, ada hal lain yang
mengusik pikiranku.
"Bolehkah
aku bertanya... mengapa Kamu tidak mengenakan pakaian di balik toga itu?"
Aku bisa
menjelaskannya. Dia sudah bicara panjang lebar tentang hal-hal yang ingin
kuketahui, dan yah, aku hanya penasaran. Tunik adalah kain besar yang menutupi
tubuh, tapi biasanya hanya berfungsi sebagai lapisan luar.
Namun
entah mengapa, dia telanjang di baliknya. Dia benar-benar telanjang bulat. Hal itu sangat menyita perhatianku hingga
aku harus memikirkannya dua kali.
Kehadirannya yang
luar biasa telah menguasai pikiranku yang kacau sampai-sampai aku tidak dapat
menahan rasa ingin tahuku. Lebih tepatnya, ada sesuatu yang mengganggu
kemampuan mentalku, merampas kemampuanku untuk memikirkan hal-hal mendalam.
Mengapa aku ada
di sini? Apa yang terjadi kemarin? Bagaimana anggota tubuhku bisa tumbuh
kembali? Aku tahu aku punya banyak hal untuk ditanyakan, tetapi tetap saja
fokusku teralihkan!
"Hm.
Alasannya sederhana."
Aku bisa
merasakan tatapan tak percaya dari pelayan itu menusuk ke arahku. Namun, sang
vampir yang setengah telanjang itu hanya melompat satu langkah sebelum
menjawab.
"Orang bodoh
menghiasi dan memperindah diri; sedangkan aku memikat banyak orang hanya dengan
keberadaanku yang apa adanya!"
Si cantik itu
memamerkan tubuhnya dengan pose yang berlebihan, bak seorang aktris yang bangga
dengan penampilannya di atas panggung.
Anggota tubuhnya
yang lentur berpadu dengan lekuk tubuh yang sempurna, semuanya terbungkus di
bawah kulit yang halus dan murni. Lebih memikat daripada karya marmer terhebat
mana pun.
Kain toga itu
menyembunyikan bagian pribadinya dengan ketidakpastian yang menggoda—sebuah
rayuan yang sangat jelas. Jika seseorang membekukannya saat ini juga dan
menempatkannya di museum, orang-orang dari seluruh dunia pasti akan datang
berkunjung.
"Oh... Um... Yah... Kamu memang sangat cantik."
"Benarkah? Kau punya selera yang bagus, Nak. Kalau
begitu, bicaralah. Jika ucapanmu itu bukan sekadar bualan, katakan dengan jelas
apa yang membuatmu terpesona oleh pesonaku."
Aku membiarkan naluri dasarku mengambil alih dan membocorkan
pendapat yang sejujurnya, namun kini dia berniat membuatku membayar kata-kata
itu dengan pujian nyata.
Mengingat
gelar bangsawannya, aku ragu dia benar-benar menginginkan sanjungan. Mengapa
pula dia memancing anak bodoh sepertiku untuk memujinya?
Aku pun
menyerah untuk menenangkan otakku yang kacau. Mulailah aku memuji penampilannya
dengan kalimat yang panjang lebar, sesekali tergagap karena takut menyinggung
sosok dengan status setinggi dirinya.
Sementara itu,
aku terpaksa menelan kembali pertanyaan yang mungkin paling penting saat ini: Siapa
sebenarnya kamu?
[Tips] Para pengikut mencakup rentang perbudakan
feodalistik hingga magang dan kerja berbayar. Biasanya, ini merujuk pada
pengurus profesional seumur hidup, bukan sekadar perbudakan sementara.
◆◇◆
Di Kekaisaran Trialist, anak-anak berdarah biru sering
menghabiskan waktu melayani tuan rumah lain sebagai bagian dari pelatihan
etiket mereka.
Ada juga keluarga pelayan yang memiliki sejarah dan pengaruh
yang jauh lebih besar daripada banyak bangsawan baru yang kaya raya. Skandal
akibat meremehkan para pembantu tanpa tahu kedudukan asli mereka adalah hal
yang lumrah terjadi.
Bangsawan adalah makhluk yang membosankan—hewan yang
ditopang oleh sesuatu yang disebut "kebanggaan." Seluruh kekuatan mereka berasal dari nilai dan
pengaruh citra mereka.
Tidak ada
kekayaan materi yang dapat membeli rasa hormat yang lahir dari sejarah dan
karakter. Akibatnya,
pengeluaran mereka cenderung tampak sangat boros dari sudut pandang finansial.
Mereka
membangun rumah-rumah besar, memasang karpet mewah, dan mempercantik diri
dengan pakaian terbaik. Tampil
pelit di mata sesama bangsawan akan menjatuhkan reputasi mereka.
Tampak tidak
dapat diandalkan di mata bawahan akan membuat para pengikut meninggalkan
mereka. Bahkan, bertemu pesaing asing dengan pakaian lusuh dianggap bisa
merusak seluruh prestise bangsa.
Kesombongan ini membawa masalah lain: formalitas upacara
yang membosankan. Bertemu seseorang secara santai adalah hal yang mustahil
dilakukan.
Seseorang tidak ingin terlihat kesepian atau tampak seolah
mereka bisa diperintah begitu saja. Urgensi hanya berlaku bagi atasan yang
kedudukannya jauh di atas, itu pun hanya bagi mereka yang berada di kelompok
yang sama.
Kadang-kadang, ksatria biasa bahkan bisa menolak panggilan Imperial
jika kesetiaan faksi mereka tidak selaras. Oleh karena itu, kaum bangsawan
menganggap prosedur rumit sebelum pertemuan sebagai suatu keharusan.
Mereka akan mengirim surat untuk menanyakan ketersediaan,
dan baru menawarkan undangan resmi setelah jadwal diatur sedemikian rupa.
Jika terjadi kesalahan—dan itu sering terjadi—dua orang
bangsawan bisa saling berbalas surat berkali-kali sebelum akhirnya benar-benar
bertemu tatap muka.
Ketika sebuah pertemuan dianggap sangat penting, seorang
bangsawan mungkin akan berpura-pura "tidak sengaja" bertemu di tengah
perjalanan berburu.
Atau, mereka mungkin mengaku terjebak badai saat kebetulan
berada di lingkungan tersebut. Singkatnya, mereka sengaja menciptakan kebetulan
demi menjaga etiket agar tetap terlihat tidak langsung.
Orang-orang seperti Theresea dan Martin adalah pengecualian.
Memanggil langsung seorang peneliti yang dimuliakan oleh mahkota asing adalah
hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Memasuki ruangan orang lain tanpa pemberitahuan adalah hal
yang tak terpikirkan. Hal itu di luar imajinasi bagi mereka yang hidup dalam
budaya di mana orang tua dan anak sekalipun diharapkan mematuhi aturan-aturan
ini.
"Erich, kamu baik-baik saja?!"
Namun, Cecilia—sang pendeta wanita setia Night—tampak begitu
putus asa. Tanpa ragu, ia mewujudkan gagasan yang sebelumnya tak terbayangkan.
Meski telah lama menjalani kehidupan biara, latar belakang
kelahirannya membuat ia cukup terdidik. Ia memahami seluk-beluk serta intrik masyarakat kelas atas dengan baik.
Setelah
melewati kekacauan malam sebelumnya, Cecilia mengikuti saran bibi buyutnya
untuk beristirahat sejenak. Meski Dewi Malam telah memberkati kediaman mereka
agar terlindung dari mentari, cahaya siang tetaplah terasa tidak nyaman.
Kebanyakan
vampir akan mengunci diri dalam kegelapan sepanjang hari. Namun bagi Cecilia,
kebahagiaan karena petualangan yang usai dan kelegaan atas keselamatan bocah
itu bercampur aduk.
Hal itu
menghasilkan tidur yang menyenangkan namun dangkal—sebuah istirahat yang tidak
bertahan lama.
Di sisi
lain, setelah berjuang keras mengurus sang adipati yang nyaris menjemput ajal,
Mechthild akhirnya bisa kembali ke sisi tuannya. Saat fajar menandai
berakhirnya malam tanpa tidur lainnya, ia membangunkan gadis itu.
Meski
dipekerjakan oleh Martin, kesetiaan Mechthild sepenuhnya milik Cecilia. Ia
terus bekerja dengan patuh meski wajahnya tampak sangat lelah.
Sebagai seorang Immaculate
yang tinggal di biara, Cecilia tidak bisa banyak dibantu. Namun, Mechthild
tetap menangani semua tugas bangsawan yang memberatkan wanita itu.
Meski hari sudah
larut, Cecilia merasa bersalah pada pengikutnya. Ia tahu Mechthild mengejarnya
karena khawatir seseorang dengan kedudukan tinggi sepertinya akan jatuh ke
tangan jahat saat pelarian impulsif itu.
Sang mensch
itu tentu tidak ingin melihat Cecilia dilucuti dari keyakinannya lalu dipaksa
menikah dengan seluruh Kekaisaran.
Cecilia
menyadari, jika saja Mechthild ada di pihak mereka sejak awal, situasinya pasti
akan berbeda. Namun, ia tahu itu hanyalah sebuah fantasi.
Wanita mensch
itu memimpin pelayan lain yang bersumpah setia langsung kepada Martin. Ia tidak
akan mungkin bisa membiarkan mereka pergi begitu saja.
Begitu mendengar
tuannya telah kembali, Mechthild langsung berlari menuju perkebunan tua yang
sepi itu. Tempat itu memang disediakan khusus saat sang nona muda pemilik rumah
sedang berada di kota.
Pandangan
Mechthild terasa kabur, tersilaukan oleh warna kuning cerah fajar keempat tanpa
tidur. Sayangnya, tak ada waktu untuk reuni yang mengharukan.
Ia segera
menyampaikan berita yang dikirimkan Kunigunde kepadanya melalui telepati.
"Kepala
pelayan melaporkan bahwa 'bibi buyut Anda sedang mempermainkan Erich'."
Mendengar itu,
Cecilia menyingkirkan segala batasan tata krama seorang wanita terhormat. Ia
menerobos masuk ke dalam rumah tanpa memedulikan penampilannya.
Ia berlari cepat
menyusuri lorong dengan kaki telanjang. Diabaikannya tatapan bingung para
pelayan saat ia menuju kamar tempat Erich beristirahat.
Padahal, ia
berniat menjelaskan semuanya malam ini setelah suasana sedikit tenang. Namun,
ia lupa bahwa bibi buyutnya tidak bisa menahan diri di sekitar
"mainan" potensial.
Bukankah semua
keluarga Erstreich berbagi penderitaan mental yang sama? Bahkan Cecilia sendiri
rela menerjang sinar matahari demi hobi favoritnya, Ehrengarde.
Pintu kamar itu
sudah terbuka sedikit karena pernah didobrak sebelumnya. Saat melangkah masuk,
pemandangan pertama yang menyambut Cecilia adalah...
"Kulitmu
yang putih hampir tembus cahaya, namun tetap mempertahankan kemurnian salju
yang dalam. Begitu lentur dan lembut, seolah akan meleleh jika disentuh."
"...Aku
sulit mempercayai warna mempesona ini dihasilkan oleh makhluk hidup. Kontur
garis luar yang memikat di balik toga merahmu itu membuktikan bahwa—"
Ternyata, seorang
anak laki-laki sedang merayu bibi buyutnya—yang berarti adik dari neneknya
sendiri—dengan tatapan mata yang benar-benar mati.
[Tips] Prosedur undangan adalah praktik umum bagi
para bangsawan. Mereka yang meraih gelar kehormatan melalui prestasi sering
kali mengabaikan formalitas. Sebagai contoh, para profesor di Kolese lebih
menghargai penyelesaian tugas yang cepat selama penelitian mereka.
◆◇◆
Meski begitu, banyak yang tetap mempelajari aturan undangan
formal demi menghadapi para penyokong terkemuka.
Mencapai posisi dari bangsawan satu generasi menjadi
penyokong sejati di lapisan atas adalah hal sulit. Biaya dan usahanya setara
dengan perjuangan menembus masyarakat kelas atas sejak awal.
"Cecilia-ku yang manis! Apa yang membuatmu gelisah di
bawah matahari yang terik ini? Lupakan itu, dengarkan ini: Aku baru saja
dihibur oleh kalimat cabul pemuda ini."
"Mungkin kepercayaan diriku memang sudah seharusnya
memudar," ucap wanita itu dengan nada menggoda.
Tidak.
Oke, dia tidak sepenuhnya salah jika dilihat dari sudut
pandang objektif, tapi tetap saja tidak begitu!
Tentu, jika ditanya apakah aku ingin menghabiskan malam
bersamanya, aku akan dengan senang hati menjawab 'Ya'—ehem.
Bagaimanapun, ini fitnah. Dan Nona Celia, bisakah kau
berhenti menatapku dengan terkejut? Aku bisa tahu kau sedang berpikir, 'Kau
suka MILF?!' hanya dari ekspresimu saja!
Sayangnya, jika aku menolaknya sekarang, itu berarti aku
membohongi seorang bangsawan, dan keadaan pasti akan memburuk.
Hal terbaik yang bisa kulakukan adalah memalingkan wajah. Aku ingin sekali membela diri, tapi rasa
malu bukanlah alasan untuk melakukan pelanggaran sosial.
Pada titik ini,
hanya ada satu pilihan yang tersisa: menyerah dan mengakuinya.
"Baik ras
maupun usia tidak berpengaruh dalam hal memikat seseorang. Mereka yang memiliki
pesona sejati akan menarik perhatian hanya dengan kehadirannya saja."
"Meskipun
saya kurang pandai berbicara, saya hanya berusaha mengungkapkan keindahan itu
melalui kata-kata."
"Dengar!
Kau dengar itu, Sayang?! Astaga,
aku benar-benar wanita jahat. Aku sempat berpikir bisa merayu seorang pemuda
hanya dengan kehadiranku!"
Semakin keras
wanita itu tertawa, semakin dingin tatapan Cecilia.
Uh, aku mulai
khawatir kalau bangsawan bertopeng itu hanyalah mid-boss untuk mempersiapkan
pertarungan klimaks di sini.
Bisakah aku
beristirahat? Aku kehabisan sumber daya dan Stamina-ku telah terkuras
hingga hampir nol—terutama secara mental.
Sungguh aneh
melihat pujian remeh dariku bisa menyenangkan wanita ini. Namun, karena dia
adalah orang dengan jabatan tertinggi di sini, aku harus menjaganya tetap
senang.
Meski batin ini
menangis, aku berhasil tersadar dari linglung dan mencoba mengalihkan
pembicaraan ke hal yang lebih penting.
"Meskipun
Anda telah menghormati saya dengan kehadiran yang anggun ini, saya mohon satu
permintaan tambahan. Bolehkah hamba mengetahui nama dari sang ikon kecantikan
ini?"
"Hm? Ah, aku
memang lupa memperkenalkan diri," ucapnya, seolah baru menyadari hal itu.
Ia
meletakkan jari di dagunya dan bergumam sejenak, lalu berhenti.
"Franziska.
Aku Franziska Bernkastel."
"Aku rasa
kau pasti punya nama belakang."
Di Kekaisaran,
nama keluarga bukanlah sekadar identitas; itu adalah lambang kehormatan yang
hanya diperuntukkan bagi kelas penguasa dan mereka yang memiliki koneksi dengan
mereka.
Nama-nama
tersebut dijaga dengan sangat ketat. Cara termudah untuk mendapatkannya adalah
dengan mengelola tanah milik bangsawan dan menghasilkan Harvest yang
melimpah selama puluhan tahun.
Ada pula mereka
yang mewariskan nama-nama tersembunyi, berbisik kepada anak-anak mereka tentang
garis keturunan terhormat di masa lalu. Namun, pengecualian semacam itu jarang
ada gunanya.
Di dunia mana
pun, orang-orang memang gemar membanggakan hubungan jauh dengan mereka yang
berkuasa. Jika setiap klaim itu dianggap serius, aku yakin setengah dari
penduduk Kekaisaran akan mengaku sebagai putra Richard sang Pencipta.
Terlepas dari
candaannya, fakta bahwa ia tidak memiliki daftar nama yang panjang tidak
mengubah kenyataan bahwa kedudukannya jauh melampaui diriku.
Sebuah kebetulan
yang menyenangkan bahwa ia berbagi nama dengan penyair favoritku.
"Tunggu,"
sela Nona Celia, "tapi—"
"Biarlah,
biarlah. Serahkan padaku, sayangku." Nona Franziska menoleh ke arahku.
"Nah, Nak, fakta bahwa kau menanyakan identitasku menunjukkan ada
pertanyaan yang belum terjawab. Aku tidak menyalahkanmu; terbangun di rumah
asing tanpa sehelai pun atribut pribadimu tentu membuatmu mencari jawaban."
Sambil menutup
mulutnya saat tertawa, ia menambahkan, "Jika aku jadi kau, aku pasti sudah
menghancurkan tempat ini sejak lama."
Ada sesuatu yang
terasa ganjil dari percakapan mereka, namun aku tidak bisa menebak arahnya.
Apakah Nona Celia khawatir nama keluarga mereka akan dibocorkan begitu saja?
Ataukah...
"Ceritanya
panjang," kata Nona Franziska sembari berdiri dengan riang.
"Aku rasa kau belum benar-benar menemukan
pijakanmu. Kami tidak akan menyakitimu, jadi beristirahatlah sejenak. Lepaskan
pakaian tidurmu dan carilah pakaian yang lebih pantas. Aku sedang dirasuki
selera humor yang luar biasa hari ini. Bersantailah—pikiranku sedang penuh
dengan kegembiraan."
Nona Kunigunde
sempat menyembunyikan diri dengan ekspresi acuh tak acuh, namun ia segera
kembali ke posisinya atas perintah wanita tua itu. Kurasa ada pakaian ganti yang tersedia di
dalam mansion mewah ini.
"Dan meskipun aku tidak peduli... Cecilia, apa
yang sebenarnya kamu kenakan itu?"
"Hah? ...Oh."
Baru menyadari penampilannya, kulit Nona Celia seketika
memerah, lebih merah dari api di balik gaun tidurnya yang tipis.
Ia pasti bergegas ke sini dalam keadaan waspada—yang
menyiratkan bahwa bibinya ini sangat berbahaya hingga ia merasa perlu
terburu-buru. Masalahnya, ia hanya mengenakan gaun dalam sutra yang sangat
tipis.
Dalam hal eksposur, Nona Franziska sebenarnya sedang
melempar bumerang besar mengingat pakaiannya sendiri jauh lebih terbuka.
Namun, cara cahaya memantulkan siluet tubuh Cecilia di balik
selapis kain itu... yah, itu jauh lebih berbahaya bagi mata daripada seseorang
yang tampil telanjang bulat dengan berani.
Garis
lengan dan kakinya yang masih muda terlihat jelas. Kontur samar yang menembus
pakaian itu memperlihatkan tubuhnya yang mulai mendewasa; sebuah daya tarik
mempesona yang diperkuat oleh filter kain yang buram. Jika aku harus memilih
kata yang paling sederhana, aku akan menggambarkannya sebagai... sangat seksi.
Aku tidak
bisa menahannya! Aku menghabiskan kehidupan pertamaku di negara yang menganggap
ambigitas tepat sebelum terekspos adalah puncak dari sensualitas! Tuntut saja aku!
Lagi pula,
sekarang aku berada di tubuh anak SMP! Kalian seharusnya tahu apa artinya itu!
Ya Tuhan, betapa
bersyukurnya aku karena tidak memiliki darah yang bisa tumpah untuk keperluan
yang tidak perlu ini.
"Aku... eh!
Uh!"
Nona Celia
melambaikan tangannya dengan panik, mencoba menutupi dirinya dalam upaya yang
sia-sia.
Otaknya yang
kepanasan seolah berhenti bekerja, membuat kata-katanya menghilang. Ia mencoba
mencari alasan beberapa kali, namun akhirnya hanya bisa menganga tanpa suara
seperti ikan yang baru dipancing, sebelum akhirnya kabur dari ruangan.
Kepergiannya yang
terburu-buru membuat karpet yang tertata rapi itu berantakan, dan aku bisa
mencium aroma sesuatu yang terbakar. Suara gesekan yang mengerikan terdengar, mungkin akibat friksi yang
sangat kuat. Rasa malu itu terasa nyata, tercium dari bau hangus yang mengarah
padaku.
"Betapa
naif dan polosnya dia," komentar Nona Franziska. "Menyenangkan sekali
melihatnya—apakah kau tidak merasa lebih muda hanya dengan melihat pemandangan
tadi?"
"Saya
mohon maaf yang sebesar-besarnya," jawab Kunigunde. "Sayangnya, saya
terlalu muda untuk memahami selera Anda."
"Apa
katamu? Apakah kau sudah lupa
berapa tahun yang kau habiskan di sisiku sendirian?"
"Jika
dibulatkan ke bawah, saya tidak lebih dari bayi yang baru lahir."
"Betapa
mudahnya pembantuku ini melupakan usia tiga digitnya..."
Mengabaikan
olok-olok konyol antara tuan dan pelayan itu, aku menggelengkan kepala dan
memijat mataku.
Sia-sia saja aku
mencoba menghapus gambaran mengganggu yang sudah terpatri di retinaku.
Terus terang,
tubuh gadis yang tampak seusia denganku itu jauh lebih membebani pikiranku
daripada aura kecantikan berbahaya dari wanita tua di depanku.
Saat aku
menggelengkan kepala, sebuah suara peringatan terngiang di telingaku.
[Tips] Kekaisaran Trialist menganut pandangan yang
lebih kaku mengenai kebajikan feminin dibandingkan Bumi modern. Pria sering
kali menghadapi konsekuensi berat akibat mengintip secara tidak sengaja—baik
'dibunuh' secara sosial maupun dihukum mati secara langsung, tergantung
situasinya.
◆◇◆
"Bolehkah saya meminta penjelasan?"
Cecilia mengerutkan kening, menarik pakaian santai yang baru
dikenakannya dengan tergesa-gesa sambil menatap tajam ke arah bibi buyutnya.
Theresea masuk tanpa menunggu gadis itu selesai berganti
pakaian sepenuhnya. Apakah ia benar-benar berniat menyembunyikan senyumnya atau
tidak, itu masih diragukan, mengingat betapa jelas binar geli terpancar dari
balik kipasnya.
"Dalam penafsiran yang paling sederhana, Keponakanku
tersayang: wanita tua ini tidak menghabiskan tahun-tahunnya hanya dengan tidur.
Aku berpikir untuk menggunakan kebijaksanaanku demi kebaikanmu."
Sambil berbaring di sofa, sang permaisuri mengucapkan
kata-kata klise yang sering diulang oleh orang dewasa di seluruh dunia. Orang
dewasa umumnya pernah menjadi anak-anak, dan justru karena kesalahan masa muda
itulah, mereka merasa perlu menguliahi dan membatasi generasi setelahnya. Ada
beberapa peristiwa dalam hidup yang hanya memberikan satu pelajaran: bahwa
peristiwa itu sebaiknya tidak pernah dialami.
"Darah yang mengalir di pembuluh darah kita jauh lebih
gelap dan lebih kental daripada yang kau bayangkan."
Biarawati itu mencoba membalas bahwa ia sudah tahu banyak,
tetapi kata-katanya tercekat di tenggorokan. Ia menatap bibi buyutnya. Meskipun
mata wanita itu menyipit mengikuti senyum yang mencolok, binar di dalamnya
benar-benar hampa dari rasa bermain-main.
"Darah membentuk manusia; demikian pula dengan akhir
hidupnya. Semuanya sudah ditetapkan seperti garis bintang. Seperti pepatah
kuno, biarkan kuda bekerja sebagaimana mestinya."
Theresea
menyampaikan pernyataannya sambil terkekeh tanpa suara. Senyumnya sempurna,
suaranya tepat, dan tubuhnya bergetar karena geli, tetapi di intinya,
tindakannya tidak memiliki emosi yang tulus.
Kata-kata wanita
itu adalah sebuah peringatan: manusia adalah produk dari darah mereka—sejak
mereka lahir. Sama seperti kuda pekerja yang tidak akan pernah bisa menjadi
kuda perang yang gagah, orang yang lahir rendah tidak akan pernah bisa
mengenakan aura bangsawan.
Mereka yang
terlahir dengan takdir biasa akan mati dalam kematian yang biasa; mereka yang
terlahir dengan gelar bangsawan harus menyerahkan diri pada warisan mereka.
Keduanya tidak akan pernah bisa bercampur. Memaksakan dua bagian yang tidak
cocok hanya akan menghasilkan tragedi. Sama seperti setetes kotoran yang
merusak satu tong anggur berkualitas, atau anggur terbaik yang tidak akan
pernah bisa menjernihkan air selokan.
"Kau telah
terpikat oleh manusia fana itu, bukan? Dengarkan bibimu yang peduli ini: jangan
anggap enteng beban darahmu. Darah adalah pencipta kita, dan ia akan terus
mengalir bersama mereka yang berada di arusnya selama dunia ini ada."
Karena itu, latar
belakang kekaisarannya harus tetap disembunyikan. Mungkin ada beberapa orang
yang akan menerimanya apa adanya. Namun, mereka pasti akan memandangnya dengan Different
Status.
Semakin pintar
pasangan tersebut, semakin sempurna mereka akan meniru hubungan yang normal
sambil secara perlahan mendistorsi posisi mereka di dalamnya.
Bagaimana mungkin
seseorang bisa berharap untuk bergaul secara setara dengan orang paling
bergengsi di tanah air mereka?
Mungkin ada
peluang jika Cecilia menghadapi seseorang dengan gelar bangsawan yang setara.
Sejarah memiliki
banyak contoh pengikut setia yang menjaga persahabatan dekat dengan tuan
mereka.
Namun, anak
laki-laki itu berasal dari keluarga rendahan; dia adalah bangsawan tanpa
sejarah atau latar belakang.
Dari sudut
pandang Kekaisaran, satu tarikan napas saja bisa melenyapkan ribuan orang
seperti dia. Seorang rakyat jelata tanpa tujuan hidup tidak akan mampu melawan
otoritas yang memerintah negara.
Cecilia mungkin
bisa menerimanya, tetapi kelas atas tidak akan pernah membiarkan seseorang
merusak nilai-nilai mereka, atau lebih buruk lagi, harga diri mereka.
Seorang anak
mungkin menemukan batu paling berkilau di seluruh negeri dan memeluknya setiap
malam, tetapi tidak akan ada orang dewasa yang mengakui nilainya.
Jika dianggap
tidak pantas, batu itu akan dibuang ke sungai dan tidak akan pernah terlihat
lagi oleh anak itu.
Agar dianggap
berharga, sebuah barang harus sesuai dengan pemiliknya. Atau, pemiliknya harus
turun ke level yang sama rendahnya.
"Sayangnya,
tertarik pada bara api kehidupan yang singkat adalah penyakit yang diderita
semua makhluk abadi yang belum matang. Sebuah wabah manis yang akan
menghantuimu seumur hidup."
Cecilia selama
ini hanya mengenal wanita ini sebagai bibi buyut yang manis.
Ia lupa bahwa
Theresea Hildegarde Emilia Ursula von Erstreich pernah menjadi seorang
permaisuri sejati.
Dahulu, sang
'Permaisuri yang Lembut' menyembunyikan sisi kelamnya demi kasih sayang kepada
cucunya. Namun kini, aura penguasa yang mengintimidasi mulai mewujud nyata.
Theresea menutup
kipasnya, memperlihatkan senyum sempurna yang memikat keponakannya.
Suaranya merayap
ke belakang kepala Cecilia seperti ular kobra berbisa, mengunci kata-kata ini
di dalam benaknya selamanya:
"Jangan
ganggu dia."
Saat kata-kata
itu meresap ke dalam jiwanya, sang pendeta muda itu pun mengerti: Ahh, dia
masih membawa penyesalannya sendiri.
Itulah
satu-satunya alasan mengapa bibinya bersusah payah mencegah Cecilia mengulangi
kesalahan yang sama di masa muda.
"Baiklah,
kurasa teguranku akan membuat anak anjing itu—ah, maksudku ayahmu—patuh selama
satu abad lagi. Berperilakulah sebagaimana mestinya. Menjadi putri dari
keluarga terhormat tetaplah lebih bebas daripada menjadi seorang bangsawan,
ingat itu."
Saat ia
mengembangkan kipasnya dan bangkit, senyum hampa vampir kuno itu perlahan
kembali diisi oleh emosi yang nyata.
"Waktu yang
cukup untuk mengantarnya pergi, kau pasti setuju, bukan?"
Biarawati itu
tetap membeku, tidak mampu mencerna racun kognitif yang diwariskan oleh nenek
moyangnya. Theresea
berputar, meletakkan tangannya di bahu gadis itu, dan tersenyum lembut.
"Anggaplah
seratus tahun ini sebagai hadiah dariku atas kerja kerasmu... tapi aku juga
merasa kasihan pada dia yang harus menunggu. Pelajari peranmu dengan
cepat—jangan khawatir, naskah sandiwara ini tidak akan hancur. Meskipun dibuat hanya dalam lima menit,
latar belakang kita akan bertahan sangat lama."
Maka, gadis itu
mengenakan identitas baru untuk sementara waktu. Entah itu hasil dari
pertimbangan yang tulus atau bagian dari rencana lain, ia sendiri tidak tahu.
Satu hal yang ia
yakini hanyalah sebuah nama; kini ia adalah Cecilia—Cecilia Bernkastel.
[Tips] Seseorang akan lebih cepat menemukan
perkawinan antara ular dan ayam di Rhine daripada melihat pernikahan antara
kaum bangsawan dan rakyat jelata.
◆◇◆
Mungkin ucapan terima kasih ini pantas kuberikan kepada Von
Leizniz yang terhormat karena telah membiasakanku dengan pakaian-pakaian bagus.
Atau, mungkin lebih baik aku merajuk karena malu, sebab aku
telah membiarkan fetish-nya memengaruhiku hingga aku terbiasa.
Meskipun ini adalah dilema yang tak kunjung usai, untuk saat
ini aku menatap bayanganku dan merasa puas dengan penampilanku.
Aku mengenakan Doublet hitam berkerah tinggi dengan
celana pendek yang menutupi celana ketat putih yang ramping. Meskipun
pakaiannya elegan, kesan keseluruhannya tetaplah sederhana.
Aku mungkin terlihat seperti seorang pelayan, namun cukup
bergaya agar tidak mencolok saat melayani tamu kelas atas. Pakaian itu memang
mengagumkan, tetapi jelas tidak sebanding dengan apa pun yang mungkin dikenakan
oleh sang tuan rumah. Sebuah sentuhan halus yang secara terang-terangan
menunjukkan betapa banyaknya kekayaan di tempat ini.
Hanya ada satu penjelasan mengapa mereka menyimpan stok
barang berkualitas tinggi seperti ini: kebutuhan. Kepemilikan mereka atas satu
set pakaian cadangan yang layak dikenakan di depan para elit menunjukkan bahwa
mereka memiliki relasi yang setara.
Selain itu, kemampuan para staf untuk mengenakan pakaian ini
tanpa terlihat konyol membuktikan bahwa mereka telah melalui pelatihan yang
sangat menyeluruh.
Serius deh, seberapa terhormat keluarga ini?
Aku memperhatikan bahwa Nona Franziska tidak menggunakan
kata "bangsawan". Namun, aku pernah mendengar tentang klan-klan
berpengaruh yang mencabut status bangsawan mereka demi alasan politik, sembari
tetap mempertahankan pengaruh yang besar.
Ada juga segelintir keluarga yang diberi hak atas nama
belakang karena terus mengabdi kepada Kekaisaran, mirip dengan sistem pengurus
tanah milik era Edo.
"Wah, ini sangat cocok untukmu."
Nona Kunigunde tampak agak terkejut saat aku keluar dari
ruang ganti. Jenis pakaian ini cenderung ketat di bagian-bagian yang tidak
biasa dikenakan pada kemeja atau Doublet biasa, sehingga orang awam
biasanya tidak akan bisa memakainya dengan benar.
"Yah," jawabku, "aku sudah melalui banyak
hal."
"Saya rasa Anda akan cocok menjadi petugas di sini
karena seragam Anda tampak sangat bagus."
Kami menikmati
obrolan ringan saat ia menuntunku jalan. Namun sayangnya, aku tidak memiliki
latar belakang yang cukup untuk bergabung dengan jajaran pelayan tingkat atas.
Sebagai tambahan,
ia membocorkan di tengah perdebatan kami bahwa upah awal untuk pelayan tingkat
atas di istana ini ditentukan dalam Drachmae. Dalam hal ini, mungkin
lelucon lama tentang kepala pelayan dari keluarga besar yang berpenghasilan
lebih dari Baron pedesaan memang ada benarnya.
Aku mengikuti
pelayan itu sejenak, menikmati obrolan santai sambil terpana melihat kekayaan
yang dibutuhkan hanya untuk melapisi lorong-lorong panjang ini dengan karpet.
Akhirnya, kami melangkah keluar menuju jalan setapak beratap yang mengarah ke
rumah kaca.
Bangunan itu
berstruktur seperti sangkar burung dengan kaca murni—lembaran kaca seragam yang
praktis merupakan permata dalam teknologi Rhinian saat ini. Tempat itu tampak
lebih seperti ruang pesta minum teh di kebun daripada sekadar pembibitan
tanaman, tetap nyaman bahkan di tengah musim dingin.
Namun, ada satu
keanehan: meskipun dindingnya terbuat dari kaca, aku tidak dapat melihat apa
pun ke arah luar. Bagian dalamnya gelap gulita.
"Silakan
tunggu di sini untuk sementara waktu."
Ketika ia membuka
pintu, aku tidak mampu mencerna pemandangan di depanku hingga otakku seolah
mati mendadak. Di dalam sana, hari masih Night.
Aku melangkah ke
rumah kaca berumput itu dan mendapati diriku berada di sebidang tanah lapang di
tengah malam. Sambil mendongak, aku melihat bulan bundar memimpin
bintang-bintang setianya dalam cahaya yang menyilaukan.
Ini bukanlah
tipuan kaca yang dicat untuk menipu anak-anak, bukan pula rekayasa mistis
pemandangan jauh seperti studio milik Nona. Udara yang sejuk dan tenang ini
jelas merupakan atmosfer tengah malam yang nyata.
"Tidak mungkin... Blessing macam apa ini?"
Aku tidak perlu berpikir terlalu dalam untuk mengetahui
bahwa ini adalah hasil dari keajaiban. Baik ekspresi maupun pemahamanku tidak
memiliki celah: ini adalah mukjizat yang benar-benar terjadi atas kehendak para
dewa.
Vampir hanya bisa
merasakan istirahat yang sebenarnya di malam hari. Ini tidak diragukan lagi
merupakan peninggalan dari Dewi Ibu agar para pengikutnya dapat beristirahat
dengan tenang bahkan di siang hari bolong.
Kekuatan ilahi
yang hadir begitu kuat hingga aku pun bisa merasakannya. Karena berasal dari
zaman kuno, aku tahu bahwa ini adalah hadiah yang diberikan atas dasar pilih
kasih yang luar biasa.
Itu berarti, Nona
Cecilia adalah keturunan seseorang yang layak mendapatkan Divine
Intervention tingkat ini.
Setelah merapikan
diri, aku duduk di kursi paling bawah pada meja bundar yang telah disiapkan di
tengah ruangan. Kini, selagi aku punya waktu untuk sendiri, aku bisa mencoba
mencari tahu bagaimana aku bisa sampai di sini... atau aku bisa memeriksa Experience
Points milikku.
Bagian otakku
yang waras mendesak agar aku tidak mengalihkan perhatian dari kenyataan, tetapi
semua ini begitu kacau hingga sulit kupahami. Pengalaman hampir mati telah
mengaburkan ingatanku, dan aku terus dihujani serangan kejutan yang gagal
kuhadapi.
Aku cukup yakin
bahwa rata-rata keberuntunganku hari ini lebih rendah dari biasanya. Jadi, mengalihkan perhatian dengan
sedikit bersenang-senang tidak masalah, kan?
"Wah."
Sambil membuka Character Sheet, aku mendesah kagum melihat betapa banyak
poin yang telah kukumpulkan.
Dikombinasikan
dengan hasil kerja kerasku sehari-hari, insiden yang nyaris merenggut nyawaku
ini memberiku bonus yang lebih besar daripada petualangan besar pertamaku.
Mungkin "menyambut fajar baru" memberiku Bonus Reward karena
telah menyelesaikan sebuah kampanye besar.
Aku
sangat gembira. Bahkan, aku hampir bisa memaafkan sang GM atas kegagalannya
menyeimbangkan setiap pertemuan yang kualami.
Tentu saja, jika
seorang GM sungguhan melakukan itu kepadaku, aku dan teman-temanku akan
mengejeknya, "Apa? Permintaan maaf yang tidak tulus?! Itu menyedihkan!
Beri kami lebih banyak!"
Kami biasanya
baru akan memaafkannya setelah meletakkan beberapa dadu D4 di dalam sepatunya
hingga kami semua tertawa terbahak-bahak.
Bagaimana
dengan sesi berikutnya, Anda bertanya? Nah, sifat santai dari permainan ini
langsung dibuang. Kami meningkatkan karakter kami dengan Optimal Build
dan menggagalkan setiap konspirasi di negeri ini dengan kekuatan kasar,
menghancurkan setiap tipu muslihat yang disiapkan GM.
Rencana
tidak berarti apa-apa di hadapan seseorang yang Strength-nya cukup kuat
untuk memukul musuh hingga mati.
Pokoknya,
hari gajian ini sangat spektakuler. Mimpiku untuk menggandakan Scale IX
dalam Dexterity dan Hybrid Sword Arts kini bisa menjadi
kenyataan. Aku bahkan masih punya cukup sisa untuk bereksperimen dengan New
Combo atau mencoba hal-hal yang selama ini kutunda.
Dan
sekarang setelah kulihat lebih dekat... aku menyadari telah membuka beberapa High-Tier
Miracle dari elemen Malam untuk dibeli. Mungkin ini adalah cara-Nya untuk berterima kasih
karena aku telah membantu salah satu pengikut-Nya.
Bagaimanapun, aku
harus melewatkannya. Sebagai sosok keibuan dalam jajaran dewa kami,
repertoarnya terutama berkaitan dengan pertahanan dan penyembuhan. Bukan
maksudku bersikap kasar, tetapi itu tidak sesuai dengan gaya bertarungku.
Meskipun Passive
Blessing seperti kualitas tidur yang lebih baik atau Night Vision
sangat menggoda, aku akan merasa tidak enak jika menyatakan iman hanya demi
keuntungan praktis semata.
Perilaku
keagamaan di dunia ini berbeda dengan di Jepang. Mengunjungi kuil dewa
pendidikan hanya saat menjelang ujian masuk tidak akan bisa diterima di sini.
Dengan
adanya dewa yang benar-benar bisa mengirimkan pesan kenabian yang nyata,
mengklaim kesetiaan demi tujuan praktis akan menjadi bumerang dan dianggap
sebagai penghinaan.
Memilih
beberapa opsi mewah akan menyenangkan, tetapi mungkin sudah waktunya untuk
mulai bersiap berangkat. Aku telah berhasil bertahan dengan skill Camping
tingkat Apprentice sampai sekarang, tetapi Mika telah mengajariku
beberapa prinsip dasar bangunan yang memungkinkan aku membuka skill Basic
Construction.
Hal-hal seperti Campfire Cooking, First Aid,
dan Basic Medicine juga tampak sangat penting jika aku berencana
melakukan perjalanan jauh.
Nantinya, jika aku akhirnya memimpin sekelompok petualang,
keterampilan dan sifat kepemimpinan akan sangat dibutuhkan. Bukan jenis yang
sering muncul dalam adegan murahan—aku membutuhkan Leadership Perks yang
praktis untuk mengatur pasukan kecil.
Selain itu, aku selalu bisa mengambil nilai dari skill Negotiation,
dan serangkaian sifat yang meningkatkan kesan orang lain terhadapku juga sangat
menarik perhatian. Lebih jauh lagi, ada bagian dari diriku yang terpendam sejak
masa kecil yang kini mendorong seleraku ke arah sejumlah keterampilan
tertentu...
"Maaf telah membuatmu menunggu."
Ember berisi air dingin—bukan, nitrogen cair—seakan
membasahi benakku yang mulai memanas. Bahwa aku berhasil berdiri tanpa
menjatuhkan kursi ke belakang mungkin adalah sebuah mukjizat.
Mengapa wanita
ini harus muncul tanpa peringatan? Bahkan Nona Leizniz pun selalu mengirim
pelayannya—yaitu aku—untuk mengumumkan kedatangannya sebelum memasuki ruangan.
"Wow..."
Kemarahanku sirna
seketika. Berbalut gaun yang indah, keanggunan Nona Celia mencuri seluruh
perhatianku. Aku kehilangan daya komputasi hanya untuk merenungkan
keluhan-keluhan sepele tadi.
"Eh,"
gumamnya, "aku malu kalau kamu melotot begitu."
"Maukah kau
memaafkan keterlambatan kami karena pesona keponakanku ini? Memilih pakaiannya
ternyata sulit sekali. Ada keributan yang tidak perlu; dia ingin jubahnya lah,
atau dia tidak ingin lekuk tubuhnya terlihat lah..."
"Tentu saja
tidak! Lagipula—sudah lama sekali sejak pakaian yang Anda tawarkan dianggap
bergaya, Bibi Franziska! Sekarang, kami tidak terlalu mengekspos bahu, dan kami
tidak punya belahan gaun untuk memperlihatkan kaki!"
Nona
Cecilia berdandan dengan gaun sore klasik. Mengembang di bagian bahu dan rok,
itu adalah prototipe busana yang paling sering dibayangkan saat mendengar kata
"gaun". Kilauan kainnya yang elegan bagaikan air di bawah cahaya,
menonjolkan keindahan rambut hitam legamnya.
Motif bunga
dijalin pada permukaannya dengan warna senada. Bukan kelopak bunga besar yang
mencolok, melainkan bunga-bunga kecil tersebar yang menonjolkan keanggunan
alaminya. Meskipun mungkin warisan dari bibinya, gaun itu sangat pas untuknya,
seolah-olah penjahit telah mempersiapkannya khusus sejak awal.
"Katakan apa
yang kau mau, tapi wajahmu itu mirip denganku—paling bagus jika dibingkai
dengan mewah. Pakaian sederhana dan bedak tipis hanya akan merusak martabat
leluhurmu. Lihatlah tragedi ini: kau tidak ada bedanya dengan orang tua. Kalau
saja kau mau menerima sedikit perona pipi, setidaknya."
"Aku
baik-baik saja! Dan
bagaimana denganmu, Bibi Franziska?! B-Bagaimana kau bisa menyebut pakaian itu layak?! Itu pada dasarnya
hanya kain dan tali! Apa kau bodoh?! Lupakan pergelangan kakimu, pahamu saja
terlihat jelas!"
Rambut Cecilia
diikat dengan gaya feminin dan disangga ornamen yang tidak berlebihan. Ia
adalah gambaran sempurna seorang gadis bangsawan; auranya seolah memaksaku
untuk berlutut.
Ada sesuatu
tentang sikapnya yang menunjukkan martabat yang diwariskan—sesuatu yang tidak
dapat dicapai oleh seorang amatir—dan itu meninggalkan kesan mendalam. Mungkin
aku akan terlihat seperti ini di mata orang lain jika aku dapat memanfaatkan Aristocratic
Traits.
...Tahukah
Anda? Saya pikir statistik yang memengaruhi cara pandang orang terhadap saya
itu cukup penting. Saya harus memikirkannya dan mengambil beberapa, mengingat
saya sudah hampir dewasa.
"Ini
adalah mode Timur," kata Nona Franziska. "Ketika Lintasan Timur
mengalir bebas, aku mengamankan pakaian ini dengan gaya tradisi dinasti kuno.
Jangan mengejek budaya kerajaan asing."
"Tetapi
mereka mengatakan untuk tidak mengisi piala dalam negeri dengan minuman keras
asing! Dan Kaisar yang bertakhta telah membuka kembali Jalur Timur!"
Selama
ini aku terhanyut dalam penampilan Nona Celia, tetapi intensitas percakapan
yang meningkat membawaku kembali ke realitas. Aku menarik kursi agar mereka
bisa duduk, meski aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka perdebatkan.
"Apa yang
kau pikirkan, Nak? Apakah kau tidak ingin melihat keponakanku meninggalkan gaya
nenek tua ini untuk memanfaatkan kecantikannya dengan lebih baik?"
"Permisi?"
Suaraku bergetar karena terkejut ditarik masuk ke dalam obrolan. Tolong puji
aku karena tidak menjawab dengan ekspresi bodoh seperti, "Hah?".
"Lengan
dan kaki yang panjang paling baik dilihat tanpa busana. Meniruku mungkin lebih
baik daripada dirimu sekarang, tapi haruskah kamu memilih gaun berlengan untuk
pakaian malammu? Dan jubah celaka itu yang kamu pegang erat-erat..."
"Seorang
wanita akan terlihat lebih cantik jika berpakaian sopan! Erich, kau setuju,
kan?!"
Hah?
Benar. Oh, kurasa mereka sedang membicarakan pakaian. Sejujurnya, kupikir Nona Celia
akan terlihat bagus dalam pakaian apa pun, tetapi mengatakannya dengan lantang
mungkin akan terdengar tidak sopan.
Di
kehidupanku sebelumnya, aku pernah mengatakan hal serupa kepada seorang wanita
dan berakhir diceramahi selama setengah jam. Padahal aku tidak sedang
memberikan jawaban mengelak—aku benar-benar bersungguh-sungguh.
"Bicaralah,
Nak. Apakah kau tidak penasaran? Tidak tertarik menyaksikan daya tarik
kekasihku dalam cahaya yang berbeda dari pakaian tidurnya tadi?"
Suara Nona
Franziska memancarkan aura menggoda; seakan ia telah merapal mantra untuk
membangkitkan ingatanku tentang gaun tidur tipis Nona Celia tadi.
Gambaran
itu memicu rentetan imajinasi pakaian yang menggoda—kenapa otakku selalu berada
dalam kondisi "fajar liburan" yang permanen?!—hingga membuat pipiku
memerah.
Meski
begitu, aku tidaklah bodoh. Aku tersenyum dan menjawab dengan sopan tanpa
menunda, "Menurut saya pakaiannya saat ini sangat cocok untuknya."
Aku tahu pria
tertampan sekalipun tidak akan bisa lolos jika menunjukkan nafsu
terang-terangan di luar bar.
"Lagipula,"
imbuhku, "menurutku dia terlihat paling cantik dalam jubah sucinya."
Tunggu, apa?
Kenapa aku mengatakannya keras-keras?
Meskipun itu
adalah kejujuran tanpa rekayasa, aku sadar betul pernyataan itu berisiko
dianggap sebagai penghinaan terhadap pakaian yang ia kenakan sekarang.
Tiba-tiba,
terdengar suara dentuman keras. Aku menoleh dan melihat Nona Celia membenturkan
dahinya ke meja.
Kulitnya yang
pucat kini berubah menjadi merah terang hingga ke ujung telinga.
Rupanya, aku baru
saja menginjak ranjau darat yang membuat jantungku sendiri berdebar kencang.
Nona Franziska
membuka kipasnya dan tertawa melihat keponakannya yang mendadak membisu.
Setelah beberapa saat, ia membunyikan bel kecil untuk memesan teh.
"Astaga. Aku
akan menganggapnya sebagai keberuntungan karena kita belum menyiapkan cangkir.
Aku tadi sedang merenungkan hadiah apa yang pantas untukmu, Nak. Tapi mungkin
jawabannya sudah ada di sini."
Jantungku
berdebar saat melihat nampan saji yang dipenuhi teh merah dan camilan mewah.
Tak seorang pun di Kekaisaran bisa memulai waktu minum teh tanpa rasa gembira
di hati mereka.
"Mungkin
lebih baik jika aku memberikan keponakanku sebagai hadiahmu?"
"Bibi
Franziska?!"
Astaga, wanita
ini benar-benar ahli dalam memicu keributan.
Aku hampir
menjatuhkan cangkir teh yang baru saja kupegang, dan Nona Celia nyaris
menghancurkan meja saat ia berdiri mendadak dan memarahi bibinya karena telah
melewati batas.
Kesan pertama Nona
Franziska mungkin dramatis, tetapi ia benar-benar luar biasa dalam segala hal.
Kau tahu, mungkin
sebaiknya aku mempertimbangkan untuk menyimpan poin pengalamanku demi masa
depan yang tidak pasti...
[Tips] Bangsawan adalah penentu tren, dan mereka
cenderung mencari gaya yang paling mencolok. Akibatnya, para pedagang
menjelajahi negeri asing demi bahan baru yang kemudian disesuaikan dengan
selera eksotis para penguasa. Namun, budaya yang diangkut melalui rute
perdagangan internasional tidak selalu seotentik yang diharapkan.
◆◇◆
Meskipun kami sempat mengalami kejadian di mana seorang Tank
dengan Racial Bonus penuh—perlu dicatat, aku tidak akan berkomentar
apakah dia bisa memberikan Damage atau tidak—mengamuk di sekitar Healer
tipe pendukung, kami tetap melanjutkan acara minum teh sebelum suhunya turun.
Membiarkan teh menjadi dingin adalah kesalahan besar.
Bagaimanapun, kami adalah warga Kekaisaran. Hal itu akan merendahkan martabat kami.
"Baiklah,
mari kita kesampingkan candaanku. Mari kita bahas kembali masalah
hadiahmu."
Aku menyesap teh
harum itu dan membiarkan rasa manisnya meresap. Setelah merenungkan
kesalahannya, Nona Franziska menempelkan jari di dahi dan mendesah pelan.
"Namun,
jujur saja, lebih tepat menyebutnya sebagai 'perbaikan' daripada sekadar
'hadiah'."
"Hamba tidak
merasa ada hal yang membuat Anda perlu meminta maaf—"
"Tidak
juga." Sang matriark memotong ucapanku dan menutup kipasnya. Meskipun
senyumnya masih ada, ia dengan cekatan membentuk ekspresi tegas dan menjelaskan
dengan nada yang berwibawa.
Menurutnya,
melibatkan rakyat jelata dalam krisis keluarga yang menyebabkan orang tersebut
mengalami cedera fatal adalah skandal yang tidak terpikirkan bagi mereka yang
mengaku sebagai atasan. Lebih buruk lagi, insiden ini melibatkan wanita muda
dari keluarga utama yang kelak akan memimpin klan.
Kabar bahwa
seorang anak rendahan telah menyelesaikan masalah itu sendirian pasti akan
merusak citra mereka di mata keluarga bawahan dan kerabat cabang. Tentu saja,
mereka bisa menyembunyikan kejadian ini sepenuhnya. Proses pertunangan itu
hanya diketahui di lingkup internal, dan calon pasangannya adalah orang baik
yang akan mengerti.
Bagaimanapun, tak
peduli apa yang diketahui dunia luar, penghuni rumah ini akan selamanya ingat
bahwa Erich dari wilayah Konigstuhl telah menyelamatkan orang yang mereka
sayangi.
Mereka, jika
tidak ada yang lain, adalah makhluk abadi. Puluhan tahun tidaklah cukup bagi
mereka untuk menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan. Persepsi mereka sangat
berbeda dari manusia yang menganggap kisah berusia berabad-abad sebagai legenda
belaka.
Kenangan yang tak
tergoyahkan membuat setiap dosa menjadi tak terhapuskan; rasa tidak tahu terima
kasih di masa lalu akan melekat selamanya. Karena itulah, meski mereka sering
mengasihani kami, jiwa-jiwa yang pelupa ini...
"...kadang-kadang,
kami iri padamu. Beban kenangan yang kekal mengikat lebih kuat daripada
belenggu apa pun."
Mereka iri
pada kami. Vampir kuno itu memainkan manisan keras berbentuk bunga—mirip rakugan,
rasa manis berkelas yang cocok dengan teh—dan menyipitkan mata ke arahku.
Seolah-olah aku adalah sesuatu yang terlalu menyilaukan untuk dipandang secara
normal.
Makhluk abadi
memiliki kesengsaraan abadi. Berasal dari ras mensch, keabadian terasa
sangat panjang bagi vampir. Hak istimewa untuk bisa mati yang dimiliki makhluk
duniawi seperti kami pasti tampak begitu manis di mata mereka. Kalau tidak,
mengapa ada kisah tentang mereka yang sengaja mengembalikan diri ke pelukan
Matahari?
"Terimalah
ini, wahai anak berdarah hangat. Janganlah menjadi duri yang menyiksa hati kami
selamanya."
Sekuntum bunga
akasia yang manis jatuh dari sela jarinya. Debu-debunya jatuh ke dalam cangkir
yang remang-remang, mengaduk emosi di lubuk hatiku. Pada akhirnya, aku hanya
bisa menerima tawarannya dengan rendah hati.
Kami memang
makhluk yang berbeda sejak awal.
"Penerimaanmu
sangat kami hargai. Sekarang, pertama-tama, izinkan aku mengganti barang-barang
milikmu."
Baru saja ia
menyebutkannya, aku bertanya-tanya di mana baju zirahku.
"Meskipun
sudah rusak parah, aku akan membuatkan yang baru—"
"Eh, tunggu
dulu! Baju zirah itu punya nilai sentimental yang besar bagi hamba!"
Itu adalah
perlengkapan petualangan pertama yang kupersiapkan dengan kerja keras sendiri.
Tukang besi di Konigstuhl telah menyesuaikannya agar pas untukku selama
bertahun-tahun ke depan. Aku tidak sanggup berpisah dengannya.
"Benarkah?
Sentimen memang sesuatu yang... Apakah kau tidak lebih suka satu set Full
Plate Armor terbaik?"
Meski tampak
menarik, itu sebenarnya bukan pilihan bagus. Baju zirah pelat penuh memang
hebat untuk pertahanan, tapi aku meniru gaya samurai galaksi, dan itu akan
terlalu berat.
Kelemahan
paling mencolok adalah logam merupakan konduktor Mana. Jika tubuhku
tertutup logam, itu akan menghambatku dalam merapal Spell. Chainmail
dan pelat di dadaku saja sudah cukup merepotkan; Full Plate mungkin akan
mengurangi separuh Dexterity milikku.
Terakhir,
faktor kepraktisan. Logam yang tidak bisa dilipat akan membutuhkan wadah besar,
sulit dikenakan tanpa bantuan, dan aku akan terlihat sangat mencolok. Itu
terlalu berlebihan bagi seorang petualang pemula.
"Begitu
ya," kata Nona Franziska. "Kalau begitu, aku akan mengirimnya ke kenalanku di serikat pekerja
setempat untuk diperbaiki. Apakah itu cukup?"
"Hamba tidak
bisa meminta lebih. Mohon maaf karena telah menolak tawaran Anda yang murah
hati, dan terima kasih banyak telah mempertimbangkan keinginan hamba."
"Ha,
tenanglah. Perasaan adalah 'bagasi' yang ideal bagi anak manusia. Hargailah
itu, Nak."
Aku sungguh
sangat bersyukur. Memperbaikinya sendiri pasti akan menghabiskan biaya yang tak
terhitung; aku tidak ingin dompetku yang tipis ini menguras dana sekolah Elisa.
"Kurasa
hadiah paling sederhana adalah koin," lanjut Nona Franziska.
Jantungku
berdebar kencang saat mendengar tentang hadiah yang paling kucintai. Namun, ia
kemudian meletakkan tangan di dagu dengan alis yang berkerut ragu.
"...Berapa
sebenarnya upah rakyat jelata akhir-akhir ini? Satu Drachma setiap bulan, kurasa?"
Aku nyaris
menyemburkan tehku. Aku tahu ia tidak akan mengerti nilai finansial kelasku,
tapi ini sudah konyol. Nona Agrippina dan Leizniz setidaknya memiliki gambaran
realistis tentang kelas pekerja. Namun, kurasa majikanku memang sering
melakukan kerja lapangan, dan Dekan memang mempekerjakan pembantu kelas bawah.
"Tidak, Bibi
tersayang. Kurasa paling banyak hanya setengah dari itu," sela Cecilia.
"Hm,
benarkah? Kerajaan mana yang sedang kupikirkan ya? Aku ingat biaya perbaikan
istana sangat mahal."
"Mungkin
Anda memasukkan biaya mediasi yang dibayarkan kepada serikat pekerja
juga?"
Tidak, lima puluh
Librae sebulan pun masih terlalu banyak. Seseorang harus bekerja di toko
besar di kota utama untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Tuan Putri yang
terlindungi di sini pasti mendasarkan perhitungannya pada para donatur kaya
yang menyumbang ke gereja.
Sulit untuk
menggeneralisasi tingkat pendapatan Kekaisaran. Meskipun bersifat federal, biaya hidup berbeda
drastis antara kota dan pedesaan. Namun, aku tidak bisa menerima jika ada
seseorang yang mendapatkan gaji tahunan petani dalam satu bulan saja.
Aku tahu
memutuskan hubungan dengan pihak istimewa adalah tindakan buruk, tapi akan jadi
pertanda buruk pula jika aku membiarkan mereka menentukan imbalanku dengan pola
pikir seperti ini. Aku pun memberi tahu mereka perkiraan yang lebih akurat
tentang kehidupan biasa.
Sebagai
anak kecil, aku mungkin akan menerima jumlah yang tidak masuk akal itu lalu
kabur. Namun, aku tidak ingin merusak hubungan dengan orang yang kuharap bisa
terus berinteraksi denganku. Koneksi jauh lebih kuat daripada sekadar koin.
Antara kepingan emas yang akan habis dan ikatan yang bisa membantuku melewati
berbagai ujian, jelas mana pilihan yang paling menguntungkan.
Yang lebih penting, Nona Celia telah memandangku dengan
tulus. Aku tidak akan berani menipu gadis yang merupakan malaikat
pelindungku—itu akan membuatku menjadi orang jahat, bukan sekadar pemain yang
buruk. Seperti kata Nona Franziska, kenangan akan membawa beban rasa bersalah
yang berat.
"Begitu ya... Tak kusangka biaya hidup di ibu kota bisa
semurah itu." Wanita tua itu mengangguk heran dan mulai menghitung. Ia
mengungkapkan bahwa sejak berdirinya Berylin, biaya sewa saja minimal sepuluh Librae
sebulan. "Betapa zaman telah berubah... Kurasa aku harus mengesampingkan
drama kunoku sejenak dan mempelajari aturan modern."
Entah dari mana
asalnya, vampir kuno itu mulai menulis catatan di setumpuk kertas. Upaya
terus-menerus untuk memperbarui pengetahuan lama agar bisa mengikuti
perkembangan manusia tampak sangat melelahkan.
"Terpisah
dari kehidupan awam dan tenggelam dalam fiksi, aku merasa ditinggalkan oleh
waktu. Baiklah, kalau begitu—hmm... Menurutmu, lima ratus Drachmae
adalah jumlah yang cukup?"
"Sialan!"
"Ih! A-Apa
kau baik-baik saja?!"
Kali ini
bukan sekadar nyaris: Aku benar-benar menyemburkan tehku. Apa Anda
mendengarkanku tadi?!
"Meskipun
jumlah itu tidak sebanding dengan nilai keponakanku tersayang, kurasa harta
yang terlalu banyak justru bisa merusakmu. Jadi, itulah jumlah yang
kuusulkan."
Karena
mengira aku terserang penyakit mendadak, keponakannya mulai berdoa memohon
mukjizat, sementara bibinya hanya memiringkan kepala dengan heran.
"Masih
terlalu tinggi?"
"Tolong
jangan sebutkan angka yang bisa menghabiskan seluruh hidup dan harta keluarga
hamba hanya untuk melihatnya!"
Aku sampai lupa
cara bicara sopanku, karena aku benar-benar terguncang. Tentu, petualangan ini
hebat, tapi hasilnya sangat tidak masuk akal. Rumah tangga petani pemilik tanah
saja hanya menghasilkan sekitar lima Drachmae setahun. Angka yang
disebutkannya benar-benar asing bagiku.
Para petualang
memang cenderung memiliki akal sehat yang gila—menghabiskan emas seharga kastil
untuk senjata, tapi tidur di kandang dingin sambil minum miras murah. Namun,
mendengar angka pasti itu tetap membuatku gentar.
Aku menghentikan
Nona Celia sebelum ia merapal mukjizat dan segera menyeka mulutku. Aku sudah
punya alternatif sempurna dalam pikiranku: harga yang pantas, tidak akan
menyiksaku, dan pasti akan diterima dengan senang hati oleh Nona Franziska.
"Jika hamba diperbolehkan... Apakah Anda bersedia
mendanai kegiatan akademis saudara perempuan hamba?"
"Hm? Beasiswa?"
Mencoba mengambil jauh lebih sedikit dari apa yang
ditawarkan seseorang bisa saja memicu amarah mereka. Itu sama saja dengan
mengejek nilai yang mereka berikan. Maka, tidak mengherankan jika tindakanku
saat ini terasa seperti sedang memancing kemarahan wanita itu.
"Ya. Karena kegemarannya pada ilmu sihir dan beberapa
keadaan tak terduga, adik perempuan saya telah diasuh oleh seorang peneliti di
Universitas."
"Benarkah? Imperial College of Magic? Biaya di
sana akan menjadi beban yang sangat besar bagi mereka yang tidak mampu secara
finansial."
"Biaya kuliahnya saja lima belas Drachmae per
tahun—lebih dari pendapatan rumah tangga kami selama dua tahun. Belum lagi
biaya hidup, pakaian, dan segala hal lain yang dibutuhkan untuk memenuhi
tanggung jawabnya sebagai mahasiswa. Total sebenarnya bisa lebih dari dua kali
lipat."
Nona Agrippina memang menyediakan kamar dan makan, tetapi
tidak semuanya gratis, dan daftar kebutuhan Elisa seolah tidak pernah berakhir.
Begitu dia resmi terdaftar sebagai mahasiswa, dia akan membutuhkan jubah dan
tongkat sebagai simbol seorang Magus yang sedang dalam pelatihan.
Apa pun yang terlalu lusuh hanya akan membuatnya menonjol
secara negatif di antara teman-teman kelas atasnya. Para Changeling
sebenarnya tidak memerlukan tongkat sihir untuk merapal Spell, tetapi
aku ingin adikku memiliki perlengkapan yang bagus agar studinya lancar.
Bagaimanapun, beasiswa adalah investasi besar—hanya saja
tidak segila "lima ratus Drachmae". Dalam benakku, skill Negotiation
membisikkan bahwa angka ini cukup besar sehingga tidak akan membuat Nona
Franziska tersinggung. Ya, aku
pasti akan meningkatkan skill itu nanti.
"Ah,"
wanita itu merenung. "Sepertinya aku harus melanjutkan hobiku yang
biasa."
"Apa pun
itu, Yang Mulia?"
"Patronase.
Aku sangat kurang dalam hal apresiasi musik, kau tahu. Menteri Keuangan selalu
punya banyak komplain setiap kali aku membiarkan pundi-pundiku menumpuk tanpa
guna. Karena itu, aku sering mencari pemuda menjanjikan untuk terjun ke dunia
seni."
Tentu saja, pikirku.
Siapa pun yang
memiliki waktu dan uang berlebih diharapkan mengambil peran ini. Pelukis,
penulis naskah, dan inovator telah hidup dari anugerah para bangsawan sejak
awal peradaban.
Sebagai gantinya, mereka menghasilkan karya
yang sesuai dengan selera dermawan mereka.
"Baiklah.
Kalau begitu, mulai sekarang biarlah dukunganku menjadi milik adikmu. Aku akan
menanggung semua biayanya dan mendanai semua eksperimennya. Aku tidak akan
menetapkan batas waktu, dan aku tidak akan mengganggunya demi kemajuan yang
instan. Dukunganku akan bersifat mutlak."
Hubungan antara
seorang Patron dan pihak yang didukung mirip dengan hubungan orang tua
dan anak, tetapi dengan satu perbedaan utama: dukungan bisa ditarik jika hasil
tidak tercapai.
Mika dan
mahasiswa lain yang kuliah dengan uang hakim setempat adalah contoh nyata. Jika
mereka gagal membuktikan diri, mereka akan kehilangan kepercayaan, dilupakan,
dan disingkirkan.
Karena itu,
dijanjikan sponsor berkelanjutan sebagai hadiah adalah hal yang luar biasa.
Adikku yang manis tidak perlu khawatir akan jatuh miskin karena keinginan
tuannya yang plin-plan. Terharu, aku menahan rasa merinding dan bangkit dari
kursi untuk berlutut di kaki Nona Franziska.
"Hamba
sangat berterima kasih kepada Anda. Jika ada hal yang bisa hamba bantu, jangan
ragu untuk memanggil hamba."
"Mm. Usahamu
mengagumkan, Erich dari Konigstuhl. Aku akan menulis surat resmi mengenai
hadiahmu dan mengirimkannya dalam beberapa hari mendatang."
Sambil menikmati
kemurahan hatinya, aku menunggu izin untuk berdiri—sampai tiba-tiba sebuah
tangan terjulur ke arahku. Kulit pucat khas vampir itu bersinar lebih halus
daripada marmer atau porselen terbaik di bawah sinar bulan.
"Tetapi hak
istimewa ini adalah milikmu. Apakah menurutmu tidak menyedihkan jika kau
sendiri tidak menerima apa pun yang bisa disebut milikmu?"
"...Suatu
kehormatan yang lebih dari yang seharusnya hamba dapatkan."
Bagi seorang
pria, mengecup punggung tangan wanita adalah tanda penghormatan tertinggi.
Namun jelas, ini adalah tradisi yang seharusnya dilakukan oleh dua orang dengan
status sosial yang setara. Aku tidak seharusnya terlibat dalam hal ini.
Namun,
mendapatkan hak tersebut melambangkan bahwa aku telah dianggap layak. Aku
menggenggam tangannya, memegangnya seperti kaca yang rapuh, dan berpura-pura
menempelkan bibirku di atasnya. Aku pernah membaca di perpustakaan bahwa
kecupan nyata bukanlah bagian dari ritual sosial ini.
"Hm,
kau sangat rendah hati. Kemarilah—betapa
hambarnya jika aku menjadi satu-satunya pemberi hadiah."
Nona
Franziska menyeringai lebar saat menarik tangannya dan berdiri. Ia berjalan ke
arah Nona Celia—yang sedari tadi menatap kami dengan tidak setuju—dan menarik
keponakannya itu dengan memegang ketiaknya.
"Hah?!
Apa?! Bibi Franziska?!"
"Tidakkah
kau akan memberinya hadiahmu sendiri? Kau memiliki tangan seorang wanita
muda—selimut beludru dari salju murni milik gadis yang sangat dicintai para
dewa. Tentunya tanganmu akan memberikan berkat besar dari surga."
Wanita
itu menggendong keponakannya ke arahku layaknya menggendong anak kucing malang,
lalu menepuk punggungnya untuk membujuknya.
Nona
Franziska tidak memerintahkannya secara paksa, yang menunjukkan karakternya:
meskipun ia ingin menikmati segala hal yang menghiburnya, ia tidak memaksa
orang lain melakukan hal yang benar-benar mereka benci.
"Um... Er..." Nona Celia menundukkan kepala dan
menatapku. Tatapan dan
tangannya bergerak gelisah karena ragu.
Aku
sangat mengerti. Meskipun hanya punggung tangan, seorang biarawati yang
dibesarkan di biara tentu akan keberatan jika diperintahkan menyerahkan kulit
telanjangnya kepada seorang pria secara tiba-tiba.
Namun, tepat saat
aku mulai memikirkan cara untuk menyelamatkannya dari situasi canggung ini...
"Di
sini."
"Hah?"
Ia mengulurkan tangannya. Bahkan, ia berusaha melepaskan sarung tangan panjang yang menutupi kulitnya.
Kulitnya
benar-benar semurni salju. Melihatnya saja sudah membuat ludah menggenang di
mulutku; suhu tubuhku melonjak bak air mendidih yang terlalu panas untuk
ditelan kembali.
Nona Franziska
menatap kami dengan seringai lebar, tatapannya bagaikan jaring yang menjerat
mangsa. Sementara itu, mata Nona Celia tertunduk lesu saat menatapku.
Meski memiliki
banyak kemiripan fisik, aura di antara kedua wanita di hadapanku ini sangatlah
berbeda.
Karena tak
sanggup menahan tekanan tatapan mereka, aku pun memegang tangannya. Aku tahu
jika aku ragu sekarang, aku hanya akan mempermalukannya.
Sama seperti
sebelumnya, aku berusaha mendekatkan bibirku lalu berencana menariknya kembali
dengan cepat... Namun, aku tidak bisa melakukannya.
Tangan di
depanku, yang kini kian memerah, justru menyambutku di tengah jalan. Cukup
hangat untuk membangkitkan sensasi yang menggetarkan pikiran, kulitnya menempel
di bibirku dengan suara kecupan yang sangat lembut.
Seorang pengamat
mungkin akan bertanya-tanya apakah jantungku baru saja meledak, karena sedetik
kemudian, seluruh wajahku memerah hebat.
[Tips] Ciuman di punggung tangan melambangkan cinta,
penghormatan, dan kesetiaan. Sapaan ini biasanya digunakan oleh mereka yang
berpangkat rendah kepada mereka yang berpangkat tinggi. Namun, terkadang wanita
bangsawan akan mengizinkan seseorang yang disayanginya untuk memegang
tangannya—sebuah undangan untuk ikatan yang lebih dalam.
◆◇◆
Membiarkan kami terkatung-katung dengan ucapan santai
seperti, "Aku akan meninggalkan kalian menikmati masa muda,"
benar-benar tidak membantu. Apalagi setelah kejadian memalukan seperti itu.
Nona Celia sama sekali tidak bergerak, ia hanya menunduk
dengan rona merah menyala di wajahnya. Aku segera mengalihkan pandangan dan
meraih cangkir tehku yang masih mengepul demi mencari sedikit ketenangan.
Apa yang harus
kukatakan sekarang?
Aku tidak
benar-benar merasa tidak nyaman, tetapi waktu terus berlalu dengan suasana
canggung yang menyelimuti udara. Saat ketel sudah kosong dan camilan pun habis,
akhirnya aku mendengar sebuah suara.
"...Maukah
kamu ikut bermain denganku?"
"Hah?"
Aku mendongak dan
melihat Nona Celia yang tampak gelisah. Wajahnya masih semerah dan semuram
sebelumnya.
"A-Aku sudah
mengirim pesan ke Kampus mengenai kepulanganmu yang selamat, lengkap dengan
undangan ke kediaman ini. Jadi, kurasa Elisa akan segera bergabung dengan kita.
Bibiku juga berhasil menemukan Mika dan mengiriminya panggilan serupa. Kurasa
mereka berdua akan tiba hampir bersamaan..."
"J-Jadi,
selagi kita menunggu, maukah kau bertanding denganku?" lanjutnya.
Otakku terlalu
tumpul untuk berpikir jernih, jadi aku hanya mengangguk. Ia meraih bagian bawah
meja dan mengeluarkan satu set perlengkapan Ehrengarde dari laci
tersembunyi.
Dengan tatahan
kayu yang indah, papan tebal itu berkilauan bagaikan aula dansa di bawah sinar
rembulan. Di dalam kotaknya, bidak-bidak putih yang terbuat dari marmer murni
bersanding kontras dengan bidak hitam dari obsidian asli.
Aku
mengambil salah satu bidak dengan tangan yang masih gemetar. Seketika aku
menyadari betapa jauhnya kualitas set ini dibandingkan dengan hasil karya hobi
milikku sendiri.
Berkat kemampuan Keen
Eye dan selera artistikku, aku menyadari satu hal: mahakarya ini dibuat
khusus untuk suasana ini.
Setiap detail
diperhitungkan dengan sempurna agar tampak memukau di bawah cahaya bulan. Aku
yakin ini adalah karya seniman ternama; Nona Celia benar-benar berasal dari
keluarga yang luar biasa.
"Jika aku
tidak salah ingat, langkah pertama..."
"...Seharusnya
menjadi milikku," jawabku menyambung kalimatnya.
Rasanya hampir
berdosa menyentuh mahakarya ini, tetapi aku tetap mengulurkan tangan dan
meletakkan Kaisar putih berwajah tegas itu ke atas papan. Bidak putih
mendapat giliran pertama.
Aturan menentukan
bahwa kedua pemain harus memulai dengan menempatkan Kaisar dan kemudian Putra
Mahkota mereka. Untuk beberapa saat, suara bidak yang beradu bergema indah
layaknya instrumen musik saat kami menyusun pasukan di lapangan.
Kami mengisi
papan dengan kecepatan Blitz seperti biasa, hanya lima detik per
giliran. Namun, ada yang terasa berbeda. Kami berdua biasanya lebih menyukai
pembukaan yang fleksibel, tetapi hari ini ia memulai dengan serangan yang
sangat agresif.
Permaisuri kesayangannya berada di garis depan,
dikawal regu penuh bidak utama—termasuk Kaisar-nya—yang merangsek maju
tanpa niat bersembunyi.
Aku mulai
menempatkan para pembela di area tengah, tetapi ia bisa saja menerobos
pertahananku jika aku lengah sedikit saja.
Kami
bergantian menempatkan unit, mengembangkan medan perang dengan alur yang alami.
Nuansa posisi berubah dalam sekejap mata; mengubah bidak yang awalnya tak
berharga menjadi kunci pertahanan, atau unit vital menjadi beban mati. Inilah
keindahan klasik dari Ehrengarde.
Rasa
canggung itu perlahan memudar saat kami selesai menyiapkan papan. Perasaan itu
tinggal menjadi kenangan samar pada langkah kelima, dan benar-benar lenyap saat
ia menantangku secara serius di langkah kesepuluh.
Setiap
gerakannya terasa seperti sebuah perkenalan baru yang seolah berkata, "Halo,
ini aku," dan aku mendorong bidak-bidakku dengan niat membalas pesan
tersebut.
Meskipun
kami berada di lokasi yang berbeda dan bermain dengan alat yang jauh lebih
mewah, pada dasarnya tidak ada yang berubah. Ia tetaplah pemain yang kuat dan
jujur.
Knight-nya menembus celah yang dibuat
dengan pengorbanan Pion. Magus yang dengan berat hati kutempatkan
untuk menghalangi serangannya justru jatuh ke tangan seorang Dragon Knight,
yang semakin membuka lebar benteng pertahananku.
Permainannya
terasa seperti rentetan emosi mentah yang berat. Setiap dorongan dari bidak
utamanya cukup tepat untuk membuat posisiku berderit, dan para pembelaku
bertumbangan satu demi satu.
Aku
menyerap perasaan yang terkandung dalam setiap bidaknya dan membalas dengan
serangan balik. Mengabaikan upaya panik untuk menutup celah, aku menggeser
unitku, menukarnya demi mengalihkan arah barisan depan musuh.
Percakapan bisu
kami mencapai puncaknya saat momentum majunya mulai melemah. Unit kecilnya
tidak lagi mampu mengimbangi unit besar di depannya, memberiku celah untuk
menghancurkan formasinya dengan seorang Dragon Knight.
Seorang Archer—yang
hanya bisa memakan bidak satu petak di depannya—kini menghalangi jalan
mundurnya. Ia harus memilih: menyelamatkan Knight atau Dragon Knight-nya.
Terlebih lagi, serangan balikku kini memiliki kekuatan untuk mengakhiri
permainan.
"Permainan
ini telah selesai."
Ia meletakkan
satu bidak terakhir. Bunyi
kliknya bergema di udara seperti lonceng. Itulah kata-kata pertama yang terucap setelah
puluhan menit kami terdiam dalam konsentrasi.
Suara bidak Kaisar
yang ia majukan untuk serangan terakhir terdengar sangat berat dan menyenangkan
saat mengenai papan.
"Masih
terlalu dini untuk mengatakannya."
Ini bukan
sekadar basa-basi. Aku hampir memenangkannya, tetapi kekhasan permainan ini
adalah bagaimana pemain yang diunggulkan harus tetap waspada. Satu pergeseran
bidak saja sudah cukup untuk mengubah Checkmate yang mustahil menjadi
kenyataan.
Pemain
yang berada di ambang kemenangan justru harus mengeluarkan kemampuan terbaiknya
hingga akhir. Secara umum, mempertahankan keunggulan jauh lebih melelahkan
secara mental daripada mengejarnya.
Sisa
pasukannya berkumpul untuk serangan terakhir yang sembrono, melemparkan diri ke
dalam kematian demi harapan tipis. Aku dengan hati-hati memisahkan para
penyerang dan melancarkan pukulan telak satu per satu.
Knight-nya terjatuh, Dragon Knight
terhempas ke tanah, dan sang Guardian menemui ajalnya saat membela sang
penguasa.
"Sudah
berakhir."
Papan dan
bidak itu menghasilkan suara yang dramatis saat Kaisar-nya yang terpojok
akhirnya tumbang. Sang penguasa memilih "bunuh diri" sebelum aku
sempat melancarkan serangan pemungkas. Aku menatap sisa pasukanku dan menghela napas panjang.
"Kamu
benar-benar menjadi dirimu sendiri," kataku pelan.
Permainan yang
melelahkan ini akhirnya menenangkan pikiranku. Meskipun hubungan kami baru
seumur jagung, aku sempat takut bahwa setelah diselamatkan oleh Nona Celia, ia
akan menjadi sosok yang jauh dari dunia lain.
Hingga
saat ini, hubungan kami hanya tentang "aku dan dia". Namun kini, aku
mengenalnya sebagai Cecilia Bernkastel, bangsawan yang memiliki ikatan darah
dengan Nona Franziska.
Ikatan bisa
mempersatukan, tetapi juga bisa memisahkan—terutama bagi mereka yang terhalang
batasan kelas sosial.
Namun, tumbangnya
Kaisar-nya melambangkan satu hal yang pasti: Nona Celia tidak pernah
berpura-pura selama kami bersama. Ia tetaplah orang yang sama.
Jika ia mau, ia
bisa saja menarik mundur pasukannya beberapa giliran sebelumnya untuk memulai
perang saraf dan menunggu kesalahanku. Namun, ia memilih terus maju mengejar
kemenangan dan mengakhiri permainan dengan terhormat.
Permainannya
tetap jujur—ia adalah Cecilia yang kukenal.
Aku pun mengambil
keputusan: meskipun posisinya menuntut pertimbangan khusus, aku akan
memperlakukannya seperti biasa.
"Kalau
begitu, aku juga harus mengatakan hal yang sama tentangmu, Erich."
Matanya yang
semerah darah menatapku dengan tekad, lalu perlahan melunak menjadi senyuman.
Bukan senyum yang lemah, melainkan senyum yang penuh kelegaan—mungkin ia
merasakan hal yang sama denganku.
Pertandingan ini
terasa seperti pertemuan pertama kami kembali. Pesan yang disampaikan melalui
papan catur ini memperkuat kesan yang tak tergoyahkan tentang dirinya di
benakku.
Aku adalah
aku, kamu adalah kamu. Selama kita memahami hal ini, itu sudah cukup.
"Ya ampun, Guardian ini benar-benar
menyebalkan!"
"Sebenarnya
aku sempat mengira aku salah menempatkannya, sampai... di bagian ini. Di
sinilah permainan berbalik, dan aku berpikir, 'Aku bisa menang!' tepat setelah
melihat gerakanmu ini."
Sambil
tersenyum, kami berdua mulai melakukan bedah strategi atas permainan tadi.
Suasana canggung telah mencair. Pada dasarnya, semuanya bermuara pada satu
janji bisu: Mari kita tetap berteman baik.
Nona
Celia tiba-tiba membeku di tengah upayanya menyusun kembali bidak di papan. Ia meletakkan tangan di pelipis dan
memejamkan mata. Sesaat kemudian, ia tersenyum ke arah pintu.
Sebuah ketukan
mendahului kedatangan dua tamu yang sangat kami tunggu.
Meskipun tampak
agak lelah, Mika terlihat sangat sehat. Sementara Elisa berusaha tampil rapi,
seperti saat ia datang menjengukku di rumah tempo hari.
Pesta minum teh
di bawah sinar rembulan ini pun berubah menjadi pesta kemenangan yang
membahagiakan.
[Tips] Aturan resmi tidak mengatur hal ini secara tertulis, tetapi etiket umum menetapkan bahwa beban untuk menyatakan kekalahan berada di pundak pihak yang kalah.



Post a Comment