Masa Remaja
Klimaks
Party yang Terpisah — Ada saat-saat ketika para Player
Character (PC) mendapati diri mereka terpisah. Hal ini bisa terjadi karena
rencana jahat musuh atau karena salah satu anggota kelompok memilih menetap
demi mengulur waktu bagi rekan-rekannya. Dalam situasi apa pun, setiap divisi
harus berjuang dalam pertempuran mereka sendiri.
Selama petualangan di atas papan permainan mengambil alih
realitas, akan tiba saatnya ketika kekuatan diri sendiri menjadi satu-satunya
hal yang bisa diandalkan.
◇◆◇
Sambil menata dan memadatkan gumpalan pakaian di
sekelilingnya, Cecilia berusaha meredam detak jantungnya yang berdebar kencang.
Untuk sementara waktu, ia mengesampingkan sumpahnya kepada
Dewi Malam dan menyelipkan diri ke dalam koper milik penghubung
gerejanya—Kepala Biara Kapel Agung sendiri.
Di atas kertas, aksi ini tidak berbeda dengan saat ia masih
menjadi gadis nakal berusia dua puluh tahun yang bermain petak umpet di rumah
sedekah. Memperagakan kembali permainan anak berusia lima tahun di usianya yang
menginjak empat puluh tiga tahun terasa sangat memalukan, namun jantungnya
berdebar karena alasan yang jauh berbeda.
Begitu kuatnya dentuman jantung itu hingga ia khawatir
orang-orang di luar sana bisa mendengarnya. Keranjang tempat ia meringkuk
tadinya penuh sesak dengan pakaian ganti—ia telah mengeluarkan hampir semuanya
untuk memberi ruang bagi dirinya sendiri. Ia bertanya-tanya dengan rasa takut
sekaligus gembira, bagaimana bisa rencananya berjalan begitu lancar?
Tentu saja lancar, karena sosok yang membawa koper tersebut
adalah awak kapal yang secara tidak sadar sedang menggendongnya naik ke atas
dek.
Meskipun barang bawaan itu milik pejabat tinggi, para pelaut
tetap melakukan pemeriksaan preventif untuk memastikan isinya tidak mengandung
sesuatu yang mencurigakan. Terlepas dari apakah pemiliknya seorang bangsawan
atau bukan, setiap tas diperiksa dengan saksama.
Malam
ini, Yang Mulia Emperor sendiri akan naik ke kapal. Sebagai orang
terpenting di seluruh negeri, perintahnya melampaui hak-hak bangsawan tertinggi
sekalipun. Pengikutnya yang setia tidak akan pernah membiarkan barang berbahaya
masuk ke kapal, tidak peduli seberapa penting pemilik barang tersebut.
Akan tetapi,
"para pembantu" tak kasatmata milik Erich membuat semua sistem
keamanan ini menjadi sia-sia. Meskipun koper itu seharusnya sangat berat,
anehnya beban tersebut terasa ringan saat dibawa. Ketika penjaga membuka
tutupnya, mereka hanya melihat tumpukan pakaian yang terlipat rapi. Akhirnya,
Cecilia berhasil sampai di palka kapal.
"Berhasil,"
bisiknya kagum.
Meski rencananya
terlaksana, ia masih merasa ragu. Sejujurnya, menyelinap di dalam koper
seharusnya akan langsung membuatnya tertangkap. Ini bukan sekadar dugaan; dia pasti
akan ditemukan dalam keadaan normal.
Tanpa
sepengetahuan sang vampir, setiap paket yang dibawa ke kapal udara rahasia ini
telah dipindai bukan hanya oleh mata, melainkan juga oleh para Magia
dengan sihir pelacak. Mereka menggunakan mantra tingkat tinggi yang mampu
melacak gelombang pikiran untuk mengungkap keberadaan makhluk hidup, bahkan
menyelidiki niat jahat di dalam benak mereka.
Namun,
bahkan para akademisi bergengsi dari Kolese tidak sebanding dengan Alfar.
Sebagai makhluk yang selaras dengan konsep alam, para peri itu hampir tak
terkalahkan dalam elemen mereka. Meski sering menyesatkan manusia, terkadang bimbingan peri justru menuntun
pada keselamatan.
Kurangnya niat
jahat dalam diri Cecilia serta perlindungan dari Dewi Malam juga turut membantu
infiltrasinya. Sementara banyak orang memuja bulan karena cahayanya yang
lembut, ada kisah tentang bagaimana sinarnya dapat menabur kegilaan dalam
pikiran manusia.
Dewa Bulan
memberikan Divine Barrier kepada pengikut mereka untuk menjaga kewarasan
pikiran, tak terkecuali bagi Dewi Ibu Rhine. Terpapar cahayanya terlalu lama
bisa membuat seseorang kehilangan akal sehat. Setelah membagi peran dengan Dewa
Matahari, Sang Dewi memimpin bintang-bintang di cakrawala malam; namun jangan
pernah lupa bahwa Beliau juga penengah dari segala hal yang dianggap jahat.
Dengan sedikit
keberuntungan dan bantuan kekuatan mistis yang besar, sang pendeta wanita
berhasil menyelundupkan diri. Kini ia memiringkan kepala, bertanya-tanya apa
yang harus dilakukan selanjutnya.
Ruang
kargo yang ia tempati sangat luas dan menyediakan banyak tempat persembunyian.
Akan sangat mudah bagi para pembantu tak kasatmatanya untuk menyembunyikannya
hingga mencapai Lipzi. Jika ia bergerak sendiri, sensor mistis kapal pasti akan
membunyikan alarm saat personel tak berwenang lewat, namun dengan bantuan para
Alfar, penjaga yang berpatroli tidak menjadi ancaman berarti.
Terlebih
lagi, dia adalah seorang vampir. Dia tidak butuh makan atau minum, juga tidak
perlu membuang sisa metabolisme. Yang perlu ia lakukan hanyalah duduk diam
selama sehari; doa yang khusyuk sudah cukup untuk membunuh waktu. Setelah
mencapai tujuan, ia tinggal mengungkap identitasnya dan mereka pasti akan
membawanya ke tempat yang ia inginkan.
Namun,
satu pikiran terus mengusik benaknya: Apa yang terjadi pada pemuda baik hati
itu?
Jika
semuanya lancar, Erich dan Mika pasti sudah pulang bersama Elisa sekarang,
merayakan keberhasilan mereka dengan teh hangat. Namun Cecilia tidak senaif
itu. Sebagai pemain Ehrengarde yang baik, ia selalu mempertimbangkan
kemungkinan terburuk.
Sebagian
dirinya percaya bahwa Erich dan Mika—pasangan yang telah menyelamatkannya dari
jurang keputusasaan—akan mampu lolos dengan mudah. Namun, mereka bukanlah
dirinya; mereka hanyalah Ordinary Humans. Tulang yang patah butuh waktu
berbulan-bulan untuk sembuh, leher yang terpenggal tidak akan pernah bisa
disambung, dan organ yang pecah akan membuat mereka meregang nyawa di tempat.
Kemampuan
mentah untuk melawan seluruh penjaga kota selama sehari penuh adalah sesuatu
yang hanya dimiliki oleh individu paling luar biasa di negeri ini. Pasangan itu
mungkin cerdas, tapi mereka tidak sekuat itu.
Berbagai
skenario tragedi melintas di benak Cecilia: tubuh mereka yang digantung,
kematian di tangan segerombolan penjaga, atau ajal yang sunyi di sudut gang
akibat luka-luka setelah berhasil melarikan diri. Saat ia membayangkan kepala
mereka berjejer di dalam kotak, rasa menggigil menjalar di sekujur tubuhnya.
Semua kemungkinan
itu sangat masuk akal. Sambil memeluk tubuhnya yang gemetar, sang pendeta
wanita hanya punya satu pemikiran: Masa depan tragis itu bisa saja terjadi
tanpa perlu nasib buruk sekalipun... dan aku tidak bisa membiarkannya begitu
saja.
Bisakah ia
membiarkan mereka menolongnya dengan taruhan nyawa tanpa memberikan imbalan apa
pun? Sanggupkah ia menatap wajah Dewinya jika ia bersikap pengecut? Jawabannya
sudah jelas.
Tidak akan ada
yang tahu tentang dosanya, dan bahkan jika ada yang tahu, mengorbankan dua
orang biasa sebagai pion dianggap hal lumrah bagi bangsawan. Namun Cecilia
tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia berani bicara
tentang iman—mengaku menghormati Ibu yang penyayang—sementara menyimpan rasa
bersalah sebesar itu di hatinya?
Teman-temannya
telah mempertaruhkan hidup mereka yang rapuh demi menolongnya. Meninggalkan
mereka dan bersembunyi di biara tanpa harga diri adalah hal yang mustahil. Ia
lebih suka membuang keabadian tidak sempurna yang menopang hidupnya dan kembali
menjadi debu. Menyerahkan nyawanya kepada para dewa adalah takdir yang jauh
lebih baik—bahkan, itulah takdir yang pantas bagi seorang penganut agama dan
manusia yang bermartabat.
Hanya dengan cara
itulah ia bisa kembali ke sisi Sang Dewi tanpa rasa malu.
Cecilia tidak
didorong oleh romantisme atau kerinduan dangkal akan pengorbanan tragis.
Sumpahnya didasarkan pada prinsip teologi yang kuat: Jika keduanya—atau
bahkan salah satunya—menemui ajal sebelum waktunya, maka aku pun akan
membaringkan diri di bawah sinar matahari.
Ini bukan soal
kewajiban atau tanggung jawab sosial; ini adalah bagian dari perjalanan
spiritualnya. Berpegang pada ketidakegoisan yang suci, alur pemikiran sang
vampir melahirkan kesimpulan yang sedikit egois: kehidupan yang tidak bisa ia
persembahkan dengan bangga kepada Dewi adalah kehidupan yang tidak layak
dijalani.
Didorong oleh
pemikiran ini, Cecilia mulai merenung dalam. Bagaimana cara ia bisa membantu
Erich dan Mika? Pilihannya terbatas, sampai sebuah pencerahan muncul.
Cecilia memang
awam soal sihir, namun ia tahu satu hal: cara menghubungi orang dari jarak
jauh. Di kapal sebesar ini, yang merupakan aset berharga kerajaan, alat
komunikasi jarak jauh pasti terpasang di dalamnya.
"Maukah
kalian membantuku?"
Sang pendeta
wanita berbicara dengan penuh rasa hormat, dan cahaya-cahaya yang berkibar itu
menari di sekelilingnya sebagai tanggapan.
"Mereka yang
memberi, perhatikanlah: berikanlah semua yang kau miliki. Mereka yang menerima,
perhatikanlah: terimalah hanya untuk satu kali saja."
Sambil
menggenggam medalinya, Cecilia melafalkan pepatah yang paling ia pegang teguh.
Itu adalah pengingat sekaligus resolusi: ia tidak boleh mengambil apa pun yang
diberikan hidup kepadanya secara cuma-cuma. Ia percaya inilah ajaran utama Sang
Dewi, dan hal itu memberinya kekuatan untuk keluar dari koper pakaian tersebut.
Sambil melompat
keluar, ia merasa sedikit bersalah kepada Kepala Biara yang akan kekurangan
pakaian ganti, namun ini adalah masalah prinsip. Mengenakan pakaian yang sama
selama satu atau dua hari bukanlah akhir dunia.
Cecilia menutup
kembali keranjang itu sambil meminta maaf dalam hati, lalu melangkah keluar
menuju bagian dalam kapal yang luas.
Kapal udara itu
saat ini berlabuh di luar ibu kota untuk memudahkan para tamu VIP, terutama
Sang Kaisar, untuk naik. Jika uji terbang ini berjalan lancar, pelabuhan udara
raksasa pasti akan dibangun di lokasi ini di masa depan. Bagaimanapun, penguasa
yang sibuk selalu membutuhkan transportasi yang cepat.
Tentu saja,
interior kapal yang ditujukan bagi kaum berdarah biru ini dilengkapi dengan
fasilitas mewah; lampu-lampu antik menghiasi setiap aula lorongnya.
"Aku tidak
melihat siapa pun."
Cecilia
melongokkan kepalanya ke kiri dan kanan, mendapati lorong yang terang benderang
itu kosong melompong. Ia menduga para awak kapal telah selesai mengangkut
barang.
"Tidak kusangka, meski sudah lewat jam malam, bagian dalam kapal ini bisa begitu terang. Sungguh mewah..."
Lentera-lentera
di sini ditenagai oleh batu mana, persis seperti lampu jalan di ibu kota.
Cahaya hangatnya sangat kontras dengan eksterior kapal yang kaku, menyinari
lantai kayu dan kertas dinding yang tertata rapi dalam suasana menenangkan.
Jika bukan karena jendela kapal yang berbentuk bulat, orang mungkin akan
mengira tempat ini adalah sebuah rumah besar yang terawat baik.
"Yang lebih
penting," Cecilia merenung, "di mana aku sekarang?"
Sayangnya, gadis
itu tidak memiliki naluri pelaut. Ia juga tidak cukup ahli dalam orientasi
spasial untuk melacak arah dan jarak yang ditempuh saat dibawa dalam koper
tertutup. Hal terbaik yang bisa ia lakukan hanyalah mengintip ke luar jendela
kaca mewah itu, lalu berspekulasi bahwa ia berada di tingkat bawah karena
daratan tampak relatif dekat.
Meski
dari luar terlihat sangat asing, interior kapal udara ini dirancang mengikuti
desain maritim tradisional. Bagian bawah diperuntukkan bagi muatan yang tidak
terlalu krusial—barang-barang yang bisa dikorbankan tanpa membahayakan
nyawa—sementara bagian atas berisi kamar-kamar hunian yang kualitasnya makin
mewah di tiap lantainya. Para perancang tampaknya telah berjuang keras
memastikan kemampuan bertahan hidup kapal demi melindungi sistem utama agar
tidak jatuh ke bumi.
Mengingat
jalinan mantra yang mengendalikan penerbangan, berbagai fasilitas dan instrumen
operasional berkumpul di dekat buritan. Banyak tungku mistis berkobar di lantai
bawah, sementara menara komando belakang berdiri tepat di atas dek.
Di ujung
lainnya, bagian haluan meruncing tajam, menyisakan sedikit ruang untuk kamar
atau kargo. Sebaliknya, seluruh kepala kapal ditempati oleh menara komando
depan—meski secara teknis ini bukan menara—yang dilengkapi peralatan untuk
mengawasi daratan, jalur navigasi, dan bagian bawah kapal.
Dalam
praktiknya, kru pilot dipusatkan di menara komando belakang, sementara petugas
di bagian depan bertugas memberikan informasi penting kepada kapten untuk
mengambil keputusan tepat.
"Seperti dugaanku... poin-poin terpenting tidak
dicantumkan."
Cecilia menyadari bahwa kapal sebesar ini pasti akan
menampung banyak tamu yang tidak patuh, sehingga peta umum pasti tersedia di
aula. Tebakannya benar, namun peta itu dirancang hanya untuk tamu dan pelayan
mereka; hanya merinci lokasi hunian dan tempat penyimpanan barang. Titik-titik kritis kapal ditulis
dengan tinta abu-abu dan hanya diberi label "Dilarang Masuk".
"Kurasa
aku harus bersyukur setidaknya tahu posisiku sekarang."
Setidaknya,
ini memperjelas lokasinya. Pembuat
peta cukup bijaksana untuk menandai posisi pengamat saat ini dengan titik
merah.
Cecilia berada di
lantai pertama lapisan bawah—pembagian kapal ini tampaknya hanya menggunakan
garis horizontal sederhana untuk memisahkan bagian bawah, tengah, dan
atas—dekat gudang penyimpanan barang penumpang bangsawan. Jika naik satu
lantai, ia akan sampai di lapisan tengah yang berisi ruang makan dan aula
perjamuan. Naik lebih tinggi lagi, ia akan memasuki lantai pertama lapisan
atas, tempat kamar penumpang bermula. Tiga lantai lagi akan membawanya ke zenith
suite di puncak tertinggi, namun di peta, area tersebut juga berwarna
abu-abu.
"Hmm... Jika
ini mirip biara, aku ragu mereka menempatkan ruang kerja dekat area
penumpang—terutama suite terhormat itu."
Menurut selera
Kekaisaran, urusan operasional sehari-hari sebaiknya dijauhkan dari pandangan
tamu. Estetika ini bahkan merambah ke nilai keagamaan; dapur dan ruang cuci
tempat para biarawati bekerja selalu tersembunyi di bagian belakang, jauh dari
para peziarah. Demikian pula, meski kantor Kepala Biara berada di lantai atas,
letaknya berada di sisi belakang Kapel Agung.
Kesimpulannya,
tujuan Cecilia bukanlah area tamu atau kargo, melainkan area operasional
pelaut: antara buritan atau haluan.
Saat jemari sang
biarawati muda bergerak ragu di atas peta, sebuah ingatan terlintas. Ketika
Erich menyebarkan boneka untuk mengalihkan sihir pelacak, ia meminta bantuan
Alfar. Mungkin peri-peri ini bisa membantunya mencari jalan tanpa menarik
perhatian.
"Permisi,
Nona Alfar. Apakah kalian tahu ke mana aku harus pergi?"
Kedua bola cahaya
itu berkedip, seolah saling bertukar pandang secara manusiawi. Akhirnya, bola
hijau berkedip gembira dan mengitari Cecilia sebelum lenyap seketika.
"Aku...
anggap itu sebagai jawaban 'ya'?"
Sang vampir
memiringkan kepala dengan bingung dan memutuskan untuk menunggu. Pikiran bahwa seseorang mungkin
datang memeriksa koper atau merapikan barang membuatnya berkeringat dingin.
Akhirnya, cahaya hijau itu kembali dari lorong yang menuju ke bagian depan
kapal.
Cahaya
itu berkedip beberapa kali memberi kode agar Cecilia mengikutinya, lalu
berbalik arah.
"Kau sudah
menemukannya?! Wah! Terima kasih banyak!"
Setelah mengejar
peri itu dengan tergesa-gesa, Cecilia tiba di sebuah tangga besar yang
membentang dari atas hingga bawah kapal. Tangga itu cukup lebar untuk dilewati
lima atau enam pelayan sekaligus, terasa sangat luas dan terbuka.
Namun, di sana
terlihat segelintir pelaut yang sedang beristirahat sambil minum air.
Sang vampir
segera mundur kembali ke aula dengan panik. Mengingat betapa kosongnya area
tersebut, mustahil baginya untuk menyelinap melewati mereka begitu saja.
Apalagi peri hijau itu tampaknya tidak peduli dengan situasinya dan sudah
terbang melintasi tangga.
Cecilia bukanlah
seorang peri; tubuhnya nyata dan ia tidak bisa menghilang secara gaib. Tidak
ada tanaman pot atau tumpukan kargo yang bisa dijadikan tempat
persembunyian—barang-barang semacam itu dilarang demi keselamatan
penerbangan—sehingga ia tidak bisa menghindari garis pandang mereka.
Oh tidak, pikirnya sambil berjalan gelisah di
tempat, bisakah kalian pergi ke tempat lain?
Kini giliran
cahaya hitam yang menarik perhatiannya. Cahaya itu berkedip tepat di depan
matanya sebelum meluncur ke titik remang-remang di antara lampu mistis. Lewat
sini, cahaya itu seolah memanggil.
Cecilia ragu.
Jalan yang disarankan peri itu terlihat gelap, meski sebenarnya hanya gelap
jika dibandingkan dengan aula utama yang benderang. Tempat berlindung sekecil
itu rasanya tidak mungkin bisa menyembunyikannya.
Namun, karena
Alfar yang memintanya, Cecilia memilih untuk percaya. Sambil menguatkan hati,
ia melangkah ke area terbuka.
Ajaibnya, para
pelaut itu sama sekali tidak menyadari kehadirannya meski ia melintas hanya
beberapa meter dari mereka. Pakaiannya jelas mencolok—bukan pakaian penumpang
maupun kru kapal. Namun, para pelaut itu tidak hanya mengabaikannya, mereka
bahkan tidak melirik sedikit pun ke arahnya.
"...Eh?
Bagaimana bisa?" Cecilia sangat bingung dengan kemudahan ini hingga ia
bergumam tidak percaya.
Tentu saja, ia
tidak tahu bahwa titik hitam itu adalah milik seorang Svartalf yang memiliki
kekuatan penyembunyian. Malam adalah wilayah kekuasaan Ursula; kekuatannya
sedang berada di puncaknya. Mengubah bayangan tipis menjadi tabir kegelapan
yang tak tembus pandang adalah tugas mudah baginya demi melindungi seorang
"anak".
Gumaman ceroboh
Cecilia diredam oleh embusan angin dari cahaya hijau dan Sylphid yang
melindunginya. Hal yang sama berlaku untuk suara langkah kaki dan gesekan kain
jubahnya; semuanya lenyap begitu saja.
Di bawah
bimbingan para Alfar, sang pendeta wanita menyelesaikan perjalanannya yang
berbahaya tanpa ketahuan—baik oleh pelaut, petugas patroli, maupun penyihir
yang kebetulan lewat.
Satu-satunya
kendala kecil adalah pintu ajaib yang mengunci otomatis, yang menuju ke area
tak bertanda di peta. Beruntung, seorang pelaut kebetulan keluar dan membiarkan
pintu terbuka cukup lama baginya untuk menyelinap masuk. Lelaki itu sempat
heran mengapa pintu tersebut butuh waktu lama untuk menutup, namun ia
menganggapnya sebagai gangguan mekanis biasa.
"Oh, memang
ke arah sini!"
Sektor kerja
kapal ini sangat berbeda dari bagian tengah yang mewah. Dindingnya hanya
dilapisi pelat logam polos, tanpa kehangatan maupun nilai estetika.
Api adalah
ketakutan terbesar di kapal mana pun, terutama di langit di mana tidak ada laut
untuk melarikan diri. Bahan yang mudah terbakar dihilangkan sebanyak mungkin.
Meski area tamu menggunakan kayu tahan api ajaib, lorong kru hanya terbuat dari
paduan alkimia tanpa hiasan.
Di dinding logam
tersebut tergantung peta kerja untuk para pelaut. Banyak rambu petunjuk arah
agar kru bisa bertindak cepat dalam keadaan darurat tanpa harus berhenti
membaca peta. Bagi Cecilia, rambu-rambu itu menuntunnya tepat ke tujuan: ruang
komunikasi yang dilengkapi dengan Thaumagram dan pengeras suara mistis
gelombang pendek.
Biara di Bukit
Fullbright adalah kuil utama Dewi Malam yang terletak di wilayah sangat
terpencil. Lereng bukit yang curam membuat perjalanan menuju peradaban terdekat
menjadi sangat lama. Karena sulitnya korespondensi darurat, para pendeta di
sana akhirnya menelan harga diri mereka dan menggunakan penemuan paling unggul
dari Imperial College: Thaumagram.
Teknologi ini
revolusioner; alat ini bekerja dengan menghubungkan dua unit terpisah sehingga
apa pun yang ditulis pada kertas di Unit A akan muncul secara identik pada
kertas di Unit B. Hebatnya, alat ini bisa dioperasikan oleh Non-Mage dan
memungkinkan pengiriman informasi dalam jumlah besar secara instan. Bahkan
pihak gereja pun tidak bisa menyangkal kemudahannya.
Dan Cecilia tahu
persis cara menggunakan mesin itu.
Meski
teknologinya diadopsi, sebagian besar pendeta masih menganggap sihir sebagai
pelanggaran terhadap kesucian dewa. Sedikit sekali yang mau menjadi operator
alat tersebut. Namun, Cecilia berbeda. Ketika operator lama pensiun, ia
mengajukan diri sebagai pengganti. Ia merasa berhutang budi karena
rekan-rekannya memperlakukannya seperti biarawati biasa meski ia memiliki
warisan vampir.
Ia tidak pernah
menyangka keterampilan ini akan menjadi sangat berguna. Dunia memang penuh
kejutan; pengabdian yang ia anggap terlupakan kini kembali untuk memberkatinya.
Sekali lagi
dengan bantuan gaib, Cecilia mencapai depan ruang komunikasi tanpa ketahuan.
Namun, saat hendak memutar kenop pintu, ia menarik tangannya kembali—ada
suara-suara dari dalam.
Tentu saja ada.
Ruang komunikasi adalah jantung informasi darurat; tidak mungkin dibiarkan
kosong tanpa penjagaan petugas.
"A-Apa yang
harus kulakukan?"
Cecilia merasa
telah mencapai jalan buntu. Meski ia seorang vampir, ia adalah anggota Circle
Immaculate yang sangat taat. Dalam Ritual of Forbearance, Cecilia telah
bersumpah untuk melepaskan hak menggunakan kekerasan demi Sang Dewi.
Secara teori,
Cecilia bisa menggunakan kekuatan vampirnya untuk mengambil alih ruangan itu
dengan paksa. Para petugas di dalam pasti bukan petarung berpengalaman. Namun,
janji kepada Dewi adalah hal yang berat. Jika dilanggar, hukumannya akan sangat
fatal bagi jiwanya.
"Oh...
Tapi..."
Cecilia bimbang.
Imannya adalah harta tak ternilai, namun nyawa teman-temannya juga tak kalah
berharga—dan mereka sedang bertaruh nyawa di luar sana demi dirinya. Sumpah
kepada surga memang mutlak, namun apakah Sang Dewi akan memaafkannya jika ia
membiarkan teman-temannya mati demi keselamatannya sendiri?
Tidak, bahkan
jika Dewi memaafkan, Cecilia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
Erich dan Mika telah memperlakukannya sebagai teman dan melangkah ke dalam
bahaya demi dirinya. Jika ia meninggalkan mereka hanya untuk sampai ke Lipzi
dengan selamat, ia lebih suka matahari membakar habis kehidupan abadinya.
"Erich! Mika!" seru Cecilia dalam hati.
"Tunggu aku!"
Sang pendeta wanita—Suster Cecilia yang baik hati—meraih
kenop pintu dan memutarnya dengan kekuatan penuh. Suara dentuman keras menggema saat mekanisme kunci
logam itu hancur berantakan; baut pengaman kapal udara itu terasa seperti
kertas di hadapan kekuatan seorang vampir.
Cecilia mendobrak
pintu itu dan melompat masuk, hanya untuk mendapati tiga pria... sudah terkapar
tak berdaya di kursi mereka.
"Hah?"
Terperangah,
sebuah suara memalukan yang belum pernah ia keluarkan sebelumnya lolos dari
bibirnya.
Setelah berjuang
melawan keyakinannya dan memutuskan untuk menodai kontrak ilahi, ia menerjang
masuk hanya untuk menemukan bahwa situasinya telah tuntas diselesaikan.
“Gadis kecil yang
tak berdaya.”
Suara merdu
seorang gadis muda menyentak sang pendeta wanita dari lamunannya. Sementara
itu, pintu yang tadinya ia dobrak perlahan menutup, menyembunyikannya dari
pandangan luar.
“Suara itu…”
Begitu ia
berbicara, cahaya hitam itu muncul. Meskipun Cecilia butuh beberapa saat untuk
mencerna situasi tersebut, pertanyaannya tentang siapa yang telah menolongnya
terjawab dengan pasti.
“Nona Alfar!”
Itu adalah para
peri. Karena tidak tega melihat pergumulan batin gadis itu, Ursula meminta
Lottie untuk berhenti berkeliaran santai dan melumpuhkan para pria di dalam
sana.
Dengan otoritas
atas angin dan udara yang menyusunnya, sang Sylphid hanya memerintahkan
oksigen untuk menjauh sejenak sampai para operator di dalamnya jatuh pingsan.
Sejujurnya,
sang Alfar tidak peduli dengan gadis itu. Bahkan, mereka mungkin akan mengatakan bahwa
mereka tidak menyukainya.
Vampir adalah
makhluk suci sejak awal, dan cara hidup mereka sangat bertentangan dengan
nilai-nilai gaib para peri. Namun, Erich menyukainya.
Jika mereka
meninggalkannya, Erich akan menderita luka batin yang akan membuat anak
laki-laki itu merasakan sakit yang sama.
Meskipun Ursula
suka menggoda dan mempermainkan orang, dia bukanlah tipe yang suka melihat
tetesan air mata kesedihan.
Di sisi lain,
Lottie adalah sosok polos yang hanya berharap agar anak-anak kesayangannya
menjalani hari dengan senyuman yang tak terputus.
Tanpa
sepengetahuan dunia, minat unik ketiganya saling terkait erat, menyebabkan sang
Alfar membantu Cecilia melampaui persyaratan permintaan awal Erich.
Namun, sang Svartalf
tidak dapat menahan diri untuk tidak melontarkan satu komentar
sarkastis—pernyataan yang dipaksakan dari lubuk hatinya.
“Terima kasih
banyak, Nona Alfar. Saya sangat berterima kasih atas semua bantuan Anda."
"Berkat
Anda, saya dapat memenuhi kewajiban kepada sahabat-sahabat saya tanpa harus
melepaskan kepercayaan saya. Saya tidak yakin apakah saya dapat membalas budi
ini, tetapi saya bersumpah untuk mencobanya!”
Begitu selesai
mengungkapkan rasa terima kasihnya, Cecilia bergegas menuju Thaumagram—sebuah
model canggih yang disempurnakan oleh para insinyur Universitas, namun memiliki
fungsi dasar yang sama dengan versi lama.
Satu-satunya
perbedaan praktis adalah bahwa batu mana yang menentukan penerima dapat dilepas
hanya dengan menekan sebuah tombol, membuatnya jauh lebih mudah ditangani.
“Umm, pertama aku
akan mengambil batu yang tidak terdaftar, dan kemudian, jika aku ingat, kode
untuk tanah Lipzi miliknya seharusnya adalah…”
Thaumagram hanya dapat berkomunikasi jika keduanya
diatur untuk koneksi tunggal. Namun, mesin yang hanya bisa membaca dapat
dilengkapi dengan batu kosong untuk memungkinkan siapa pun dengan nomor
identifikasi yang tepat mengirimkan pesan.
Perbaikan ini
merupakan hasil dari darah, keringat, dan air mata banyak pemikir
hebat—meskipun sebagian besar pengguna saat ini cenderung menganggap kontribusi
berusia seabad itu sebagai sesuatu yang lumrah.
Usaha mereka
jelas telah terbayar dengan baik, karena alat itu bekerja persis seperti yang
seharusnya.
Dahulu kala,
Cecilia diberi nomor ini untuk menulis surat jika dia membutuhkannya; betapa
bersyukurnya dia karena masih mengingatnya.
Siap menuliskan
pesannya, gadis itu mencelupkan pena bulunya ke dalam tinta.
[Tips] Bagian dalam kapal terbang ini memiliki berbagai
fasilitas penting, namun juga cocok untuk gaya hidup pecinta kuliner.
◆◇◆
Sebuah reservoir internal mendistribusikan air ke setiap
sudut kapal melalui sistem perpipaan, bahkan menyediakan pemandian umum.
Seolah itu belum cukup untuk membingungkan pelaut biasa, air
tersebut dimurnikan oleh Slime kecil yang dipisahkan dari saluran
pembuangan Berylinian milik Universitas.
Mendarat di air berarti kematian yang pasti; aku tahu ada
sistem TRPG yang menyertakan ini sebagai mekanisme, jadi tidak ada ruang
untuk perdebatan.
Aku ingat sistem yang murah hati memberikan poin gratis
untuk akting karakter yang baik, dan itu cukup menyenangkan bagiku hingga aku
bisa menutup mata terhadap lubang mencolok dalam aturan permainannya.
Meskipun kurangnya perlindungan dan kedermawanan yang
berlebihan telah mengubah setiap permainan menjadi pesta anak-anak, aku
benar-benar menikmati permainannya.
“Aduh, aduh! Glargh!”
Meski begitu, membersihkan kotoran saat aku menyeret diri
keluar dari air adalah puncak perjuangan tak terlihat yang terjadi di balik
layar kebangkitan heroik seorang Player Character.
Aku jelas
tidak sedang bersenang-senang sekarang.
Lihat,
aku tak bisa menahannya: manusia tidak diciptakan untuk berenang dengan baju
zirah. Dan kami menjadi sangat tidak berdaya saat anak panah menancap di salah
satu lengan kami.
“Semua,
ugh, sesuai rencana…”
Bersamaan
dengan air kotor yang keluar, aku batuk-batuk dengan nada getir di telinga yang
tak ada. Unseen Hands menarik tubuhku yang basah kuyup ke dinding, dan
aku bersandar padanya karena kelelahan.
Kalau
saja aku tidak menggunakan mantra untuk menarik diriku, baju besiku yang berat
dan darah yang terus terkuras akan membuatku berteman dengan batu-batu di dasar
sungai saat ini.
Sejujurnya,
saat pengejaran pertama kali dimulai, aku sempat mempertimbangkan untuk
mengecoh para pengejarku dengan cara menyelam ke salah satu saluran air di atas
tanah yang mengalir melalui kota.
Jika aku
berpura-pura tertembak, aku bisa jatuh ke dalamnya dan mengelabui para penjaga
agar mengira aku sudah mati. Pencarian mayat di selokan yang dialiri air pasti akan mengalihkan
perhatian.
Setelah itu, aku
bisa dengan santai menghilang ke bawah tanah dan dengan tenang menunggu Nona
Celia dan Mika kembali dengan selamat di studio… atau begitulah rencanaku yang
optimis.
Semuanya berjalan
lancar sampai bagian di mana aku berpura-pura terkena serangan. Masalahnya,
menerima kerusakan yang nyata bukanlah bagian dari perhitunganku.
Jika lintasan
anak panah itu sedikit saja meleset, aku mungkin sudah menjadi santapan lezat
bagi ikan dan serangga di kota ini.
“Sial.
Aku juga hampir mencapai tiga digit.”
Aku
bersumpah dalam hati untuk meredakan rasa sakit dan mulai melepaskan baju
besiku agar bisa melihat lukanya dengan lebih jelas.
Batang
kayu yang tertancap di lengan kiri atasku memiliki kualitas yang luar biasa,
dan rasa sakit menyengat yang tidak kunjung hilang membuktikan bahwa ujung
logam di dalamnya juga sama hebatnya.
Setelah
beberapa kali dikepung polisi dan berkelahi untuk melarikan diri, panah
kritikal ini melesat tepat ke arahku.
Aku
bahkan tidak melihat penembak jitu itu dan kehadiran mereka hampir tidak
terdeteksi. Fokusku dalam pertempuran berada di ambang batas maksimal, dan aku
baru menyadarinya ketika proyektil itu sudah terlalu dekat untuk dihindari.
Aku telah
mencoba untuk mengawasi jalur tembak yang terbuka, tetapi tidak berhasil. Aku
yakin itu penembak jitu yang sama yang melepaskan anak panah pertama yang
kuhindari tadi.
Aku punya
firasat bahwa itu mereka; mungkin aku membuat mereka serius setelah menghindari
tembakan pertama.
Jika aku
terlambat bereaksi sedikit saja, tembakan itu akan mendarat tepat di bahu saya,
merobek ligamen, dan membuat saya benar-benar tidak berdaya.
Ya Tuhan, para Jaeger
itu mengerikan. Seharusnya tidak ada yang memiliki keterampilan seperti itu.
Apa yang
dipikirkan Kekaisaran Trialist dengan mempekerjakan orang-orang tidak manusiawi
seperti ini?
Sayangnya,
aku menyadari bahwa negara itu tidak ragu untuk mengumpulkan individu dari
setiap watak, tetapi ini sungguh tidak masuk akal.
Teman
masa kecilku, Margit, adalah seorang pemburu yang menakutkan, tetapi bahkan dia
tidak mampu melepaskan tembakan dari luar jangkauan pengamatanku.
Memikirkan
bahwa aku berhadapan dengan seorang pemanah yang mungkin lebih hebat darinya
sekali lagi menunjukkan betapa buruknya keberuntunganku.
“Hrgh…”
Di tengah
segala keluhanku tentang takdir, upaya untuk mencengkeram tangan kiriku
menghasilkan rasa sakit yang hebat. Untungnya, saraf dan ototku masih selamat.
Melihat
anak panah itu tertanam di lenganku membuatku ngeri, tetapi ukurannya yang
ramping—dirancang untuk menembus zirah rantai—menjadi keuntungan tersendiri
bagiku. Tentu saja, itu bukan berarti aku merasa beruntung.
Pokoknya,
aku harus memikirkan langkah selanjutnya. Aku menatap langit-langit pipa yang
bersih dan mengembuskan semua udara dari paru-paruku sambil mendesah keras.
Kurasa aman untuk
mengatakan bahwa aku berhasil menarik perhatian para penjaga sampai taraf
tertentu.
Langit sudah
gelap saat perburuan kacau itu berakhir di saluran air; aku telah membeli waktu
beberapa jam.
Meskipun aku
ingin menghilang ke dalam tabir malam selama beberapa jam lagi, atau bahkan
sampai siang hari… yah, ini sudah cukup. Aku tidak ingin melampaui batas dan
kehilangan segalanya.
Bagaimanapun, hal
pertama yang harus kulakukan adalah menyingkirkan "tamu tak sopan" di
lenganku ini. Aku tidak berada di tempat yang higienis; risiko infeksi
membuatku khawatir.
Aku mencengkeram
anak panah itu untuk melihat apakah aku bisa menariknya keluar, tetapi
otot-ototku menegang dan tidak mau melepaskannya.
Rasa sakit
menyiksa yang menyertai usaha ini memberitahuku bahwa mata panah itu mungkin
memiliki duri pengait.
“Ya
ampun… aku benar-benar tidak mau. Ugh…”
Menariknya hanya
akan memperparah luka. Luka itu jelas tidak mengenai pembuluh darah utama, yang
berarti aku punya jalan keluar, tetapi "apakah itu akan membunuhku"
dan "apakah itu akan menyakitkan" adalah dua hal yang berbeda.
Bahkan aku
sendiri belum cukup gila untuk menusukkan anak panah menembus dagingku sendiri
tanpa ragu-ragu.
“…Persetan!”
Aku butuh
beberapa detik untuk menenangkan napas, menggigit tepian bajuku agar tidak
menggigit lidah sendiri karena kesakitan, lalu mendorong anak panah itu
kuat-kuat dengan tangan.
Kalau saja aku
bisa memanggil Unseen Hands ke dalam tubuhku, aku tidak perlu memaksanya
secara manual.
Aku bersumpah
akan berinvestasi pada Add-on seperti itu atau semacam Medical Skill
di masa depan. Atau
mungkin aku akan berteman dengan seseorang yang ahli dalam penyembuhan. Apa pun itu, sumpahku ini sungguh-sungguh.
“Mmmh?!”
Dunia seketika
menjadi putih karena rasa sakit yang membakar.
Gumpalan logam
yang dibentuk untuk menyebabkan kerusakan maksimum itu tanpa ampun merobek
dagingku, menembus kulit dari dalam hingga keluar ke sisi yang lain.
Terlalu
terdistraksi oleh penderitaan hebat, aku tidak bisa lagi mempertahankan mantra
itu.
“Hah… Hagh…
Augh…”
Rasa sakit yang mengerikan itu begitu menyiksa hingga
napasku menjadi tidak teratur.
Jika aku dapat kembali ke masa ketika aku mempertimbangkan
untuk mengambil Pain Resistance, aku akan langsung mengatakannya tanpa
ragu. Mungkin aku harus mencari mesin waktu.
“Urgh… Hrrrgh…”
Tentu, aku sudah mengalami cukup banyak penderitaan di
Labirin Ichor, tetapi kesengsaraan yang mengundang air mata ini berbeda dengan
migrain akibat kehabisan mana.
Tangisanku disertai hidung tersumbat dan erangan menyedihkan
yang tidak bisa ditahan. Dari semua luka yang telah kuhadapi selama
bertahun-tahun sebagai anak petani, tidak ada yang seburuk ini.
Aku dengan asal-asalan mematahkan anak panah itu dan menahan
sensasi memuakkan dari benda asing yang meluncur melalui rongga di dagingku,
sambil menangis sepanjang waktu.
Akhirnya selesai mencabut anak panah terkutuk yang
mengabaikan Armor demi mengurangi Health Points, aku membuangnya
ke dalam selokan untuk melampiaskan amarah.
“Sial,” gerutuku.
“Aku bisa mengerti mengapa semua NPC itu menyerah pada pekerjaan ini.”
Sakit sekali.
Sakit sekali sampai-sampai kosakataku menjadi kacau.
Membayangkan
seseorang mencoba bertarung tanpa mencabut anak panah saja membuatku
mempertanyakan kewarasan mereka.
Seorang Pure
Tank diharapkan bisa menerima banyak serangan demi barisan belakang mereka,
dan sekarang mereka mendapatkan rasa hormat dariku sepenuhnya. Para prajurit di garis depan
benar-benar orang-orang hebat.
Aku
meraih tas di pinggangku dan mengeluarkan sebotol minuman keras untuk mulai
mengobati lukaku.
Mengulur
waktu dari para penjaga telah menghabiskan banyak tenagaku, dan aku tidak akan
menyia-nyiakannya dengan menangis tersedu-sedu selamanya.
Air mata tidak
akan mengembalikan lenganku jika aku kehilangannya karena infeksi. Dengan
dompetku yang sekarang, aku tidak mampu membayar operasi mewah seperti saat
melewati labirin zombie.
Aku
bertanya-tanya berapa lama lagi sampai pesawat itu berlayar. Begitu lepas
landas, aku bisa bernapas lega.
Satu-satunya hal
yang tersisa adalah menemukan Mika dan membawanya bersembunyi di laboratorium Nona
Agrippina sampai bibi Nona Celia datang untuk membereskan semuanya.
Sayangnya, kapal
terbang yang baru saja diluncurkan itu mungkin tidak terburu-buru untuk
berangkat. Aku menduga pesawat itu akan membawa beberapa bangsawan berpengaruh
berkeliling ibu kota untuk beberapa waktu dalam pelayaran meriah.
Aku
benar-benar meremehkan betapa sulitnya hal ini…
Saat aku
menggerutu dalam hati, sesuatu yang putih terbang lewat: seekor ngengat. Ia
terbang dengan sayap lembut yang begitu pucat hingga tampak menonjol dalam
kegelapan bawah tanah.
Tersiksa
oleh rasa lelah dan sakit, pikiranku yang kacau menganggapnya sebagai makhluk
biasa yang menghuni selokan… tapi aku seharusnya lebih waspada. Terutama saat
aku berada di tengah perang mantra penangkal.
Serangga
adalah mainan bagi Magia, dapat dimodifikasi untuk tujuan apa pun.
Setelah
melihat burung gagak Mika—Floki—yang sedang berjaga di rumah, seharusnya aku
sudah tahu akan hal ini.
[Tips] Di Rhine, Familiar merujuk pada
makhluk-makhluk yang telah dijinakkan dan ditingkatkan secara artifisial
melalui penggunaan sihir.
Mereka terutama
digunakan untuk korespondensi dan pengintaian. Penggunaannya di wilayah ini
sudah ada bahkan sebelum berdirinya Kekaisaran.
◆◇◆
Ketidakpastian
mengenai etika makhluk berakal telah membawa seni ini ke dalam sorotan kritis
di zaman modern. Namun, kreasi para ahli biologi masa lalu tetap memiliki
kegunaan yang luar biasa hingga hari ini.
Aku terbangun
karena kepalaku terbentur lantai.
Oh, sial. Karena merasa lega operasi dadakanku
telah selesai, pertahananku melemah hingga aku jatuh pingsan sesaat.
Aku mungkin
penggemar pahlawan yang menganggap luka fisik dengan seringai nihilistik,
tetapi aku terlalu kesakitan untuk meniru mereka. Kurasa aku bisa dimaafkan
karena tidak sadarkan diri sejenak.
Lagipula, aku
sendirian. Menunjukkan ketangguhan tidak ada gunanya tanpa ada orang yang bisa
dibuat terkesan.
“Aduh… Aku tidak mau bangun. Aku hanya ingin tidur sebentar di sini…”
Aku
menyuarakan harapan tidak realistis itu hanya untuk mengingatkan diri sendiri
betapa sia-sianya hal tersebut. Aku tahu aku tidak bisa berhenti sekarang, dan
beristirahat di sini hanya akan memperburuk risiko infeksi.
Pelan
dan mantap,
kataku pada diri sendiri saat aku mengangkat tubuhku dari lantai yang dingin.
Setiap
langkah mengirimkan sentakan perih ke lenganku, tetapi aku terus berjalan
dengan susah payah di sepanjang selokan untuk menyelesaikan pelarianku.
Aku
menerangi jalan dengan Mystic Light paling redup yang bisa kukumpulkan
dan mencari jalur paling kotor yang tersedia.
Tujuanku adalah
pergi tanpa meninggalkan jejak. Pipa yang kotor kemungkinan akan dibersihkan
oleh para Slime, dan kehadiran mereka merupakan rintangan yang bahkan
tidak bisa diatasi oleh para Jaeger.
Tetap saja,
mereka adalah Jaeger. Aku baru saja menjadi sasaran tembakan jitu dari
jarak jauh, jadi mungkin ideku ini sia-sia.
Siapa tahu?
Mungkin mereka bisa berjalan terbalik di langit-langit dan melewati blokade
slime dengan mudah.
“Wah,” gerutuku.
“Satu lagi rintangan.”
Aku mencoba
menyusup melalui pipa kecil, namun malah bertemu dengan gumpalan gelatin yang
menggeliat dan bekerja keras. Unit ini telah memisahkan diri untuk menyumbat
saluran air; ia bertugas melahap kotoran yang menempel di dinding serta sampah
lain yang ditemukannya.
Melihat seekor
tikus menggeliat tak berdaya di dalam gumpalan tembus pandang itu membuat
perutku mual. Begitu tubuh tikus itu meleleh di dalam cairan pekat tersebut,
aku tersadar bahwa satu langkah salah bisa membuatku mengalami nasib yang sama.
Ini benar-benar buruk bagi kesehatan mentalku.
Tentu, bahayanya
bisa dihindari, tapi mengapa infrastruktur kerajaan ini harus mematikan? Aku
ingin pergi dari tempat ini secepat mungkin.
"Wah, ini
benar-benar menyebalkan..."
Sayangnya,
penyumbatan ini menimbulkan masalah nyata. Pilihanku hanya dua: kembali atau
masuk lebih dalam ke bawah tanah. Aku memilih rute ini sebagai jalan pintas,
tapi tampaknya keberuntungan tidak berpihak padaku. Jalan tembus ini baru saja
dibersihkan saat aku membereskan para Slime seminggu lalu, jadi aku yakin
sekarang pun seharusnya bersih.
Sambil
menggaruk kepala dengan kesal, aku terpaksa mengambil jalan memutar. Aku bisa
saja mencoba membuka jalan dengan Unseen Hands, tapi risiko kegagalan
demi menghemat beberapa menit sungguh tidak sebanding. Aku sedang tidak ingin
bermain-main dengan badut saat harus berhadapan dengan jutawan berkostum.
"Hm?"
Setelah
beberapa kali berbelok, keraguan mulai merayapi hatiku. Sepertinya setiap jalan yang ingin kutempuh selalu
tersumbat oleh para penjaga selokan itu.
Apakah aku sedang
dituntun ke suatu tempat? Oleh siapa? Dan yang lebih penting, mengapa dan
bagaimana?
Jika tujuan
mereka adalah menangkapku, proses ini terasa sangat berlebihan. Mereka jelas
tahu posisiku, jadi seharusnya akan lebih mudah jika mereka langsung
menyergapku.
Saat aku berbalik
untuk mundur secara taktis, sebuah gema yang meresahkan terdengar di kejauhan.
Suara itu adalah peringatan yang jelas: suara cairan kental yang tidak sekadar
mengalir, melainkan menggeliat. Seekor Slime raksasa terdengar merayap melalui
pipa, menggesek segalanya dari lantai hingga langit-langit.
Tidak,
ini tidak mungkin terjadi.
Aku sudah
sering mendengar deskripsi tentang musuh yang memicu keputusasaan, tapi bahkan
GM paling dramatis sekalipun tidak bisa menanamkan rasa takut sehebat suara
jauh ini. Mendengarnya saja membuatku membayangkan massa pekat yang menghantam,
disertai sirene mental yang berkedip-kedip bertuliskan "BAHAYA" dalam
huruf yang tak sanggup diproses akal sehat. Aku seolah mendengar instruksi:
"Ulangi—jangan lawan makhluk ini. Mengerti?"
Harus kuakui, aku
pernah terjun ke pertempuran melawan monster seperti itu sekali atau dua kali.
Atau tiga kali. Mungkin lebih. Bagaimanapun juga, aku adalah tipe pemain yang
mencari kesenangan, dan biasanya hal itu memberikan hasil yang paling menghibur.
Namun,
melakukannya sekarang adalah kemustahilan; makhluk itu tidak bisa dilawan.
Slime jenis ini adalah tipe "game over" instan yang akan membuat GM
putus asa menutup layar mereka jika pemainnya tidak bisa diajak berpikir
jernih. Tanpa ruang untuk merenung, aku terus maju menyusuri jalan setapak yang
mulai terasa seperti jebakan.
Akhirnya, aku
sampai di sebuah ruangan yang luas. Aku tidak tahu fungsi ruangan ini—kemudian
aku baru tahu bahwa ini adalah tangki penyimpanan darurat untuk banjir—tapi
tempat ini cukup luas untuk menampung banyak pilar. Entah mengapa, fasilitas
ini bahkan dilengkapi dengan lentera mistis; lampu-lampu itu bersinar pucat
dengan interval yang teratur.
Langkah kaki yang
kuambil dengan hati-hati masih bergema hingga ke ujung ruangan. Lentera ungu
kebiruan membanjiri pemandangan dengan aura yang mengerikan. Aku merasa sulit
untuk terus berjalan dalam suasana menyeramkan ini, namun karena jalan keluar
telah terhalang, aku tidak punya pilihan.
Aku terus
menghitung jumlah pilar agar jarak yang kutempuh tetap akurat; hitunganku
mencapai tiga puluh. Mengingat setiap pilar berjarak sekitar lima meter, aku
sudah menempuh jarak yang cukup jauh ketika sesosok figur melangkah keluar dari
balik pilar di depanku.
Kemunculan pria
itu tiba-tiba, namun tetap anggun. Setiap kali ia melangkah, sepatu botnya yang
bersih menghasilkan bunyi klik yang menggema di seluruh aula seperti
irama lagu yang indah.
Ramping dan
berwibawa, sosok pria itu mengubah rona biru dan ungu yang mengerikan menjadi
sorotan yang elegan. Berbalut setelan pesta sutra hitam dengan jahitan
sempurna, penampilan bangsawan itu tanpa cacat—bahkan lebih dari itu.
Penampilan luarnya begitu agung sehingga mampu membuat siapa pun percaya bahwa
tidak ada yang bisa menyaingi kelasnya.
Namun, topeng
mencolok yang menutupi wajahnya menunjukkan bahwa ia jelas-jelas gila. Aku
yakin pernah melihat karakter seperti dia di kartun hari Sabtu.
Bangsawan aneh
ini pasti orang berpangkat tinggi. Sayang sekali ia mengenakan topeng itu,
karena jika tidak, anggukannya yang gagah akan menjadi puncak kewibawaan.
Setelah menyelesaikan salamnya yang mulia, ia menjentikkan jarinya.
Tiba-tiba,
tangannya yang terbungkus sarung tangan sutra memegang sebuah tongkat panjang.
Itu bukan sekadar tongkat jalan biasa. Tongkat itu dihiasi batu rubi berkilau
yang memancarkan kilau merah menyeramkan. Aku tidak mungkin salah mengenalinya
sebagai alat sihir tingkat tinggi—jenis yang digunakan para profesor di Kolese
untuk melancarkan mantra penghancur.
Naluri dan
pengalamanku berteriak kencang, membunyikan semua alarm di otakku. Merenung
sia-sia hanya akan membuatku terjebak; aku mengabaikan pikiran logis dan segera
melompat berlindung di balik pilar.
Pada saat yang
sama—atau sepersekian detik kemudian—ruang tempatku berdiri tadi meledak.
Gelombang kejut melemparkanku keluar jalur dan mendorongku keras melampaui
titik pendaratanku.
Apa-apaan
itu?! Aku tidak merasakan
panas—itu bukan ledakan api biasa! Rasanya seolah udara itu sendiri runtuh
secara mendadak!
Ketidakmampuanku
menguraikan apa yang terjadi membuatku bingung, namun aku segera menguasai
diri. Aku baru saja gagal dalam pemeriksaan stat Knowledge (Arcana).
Sambil berguling karena benturan, aku melompat tinggi dan memanggil Unseen
Hands.
Pertama, aku
menggunakan beberapa tangan untuk memantulkan tubuhku seperti bola; ini
mencegahku menabrak pilar sambil mengurangi kecepatan secara bertahap. Aku tidak ingin berhenti mendadak
karena itu akan menghancurkan organ dalamku secara mengerikan.
Sebagai
perbandingan, ledakan tadi tidak hanya meledakkan tudung kepalaku, tapi juga
menghancurkan ikatan rambutku. Jika aku melambat terlalu cepat sekarang, aku
akan memuntahkan organ tubuhku seperti pai ginjal yang tumpah.
Begitu
kecepatanku terkendali, aku menggunakan sepasang telapak tangan raksasa untuk
menahan pendaratan, lalu melesat maju di atas platform tak terlihat tanpa
kehilangan momentum. Aku menendang setiap Hand dengan kekuatan penuh
hingga hancur, melompati jarak lima pilar dalam satu tarikan napas.
"Wah,"
gumam pria itu takjub.
Aku
mengabaikannya dan mengayunkan kedua tanganku ke bawah. Aku tidak berada dalam
jarak untuk menggunakan karambit, dan aku yakin dia memiliki penghalang
permanen di sekelilingnya... jadi aku memanggil namanya: bilah terkutuk
yang selalu menghantuiku.
"—!"
Ratapan
senjata itu terdengar seperti akhir dari suara itu sendiri, namun terselip
kegembiraan luar biasa di dalamnya. Senjata itu meratap dengan suara logam yang
beradu, dan aku bisa merasakan beratnya membebani tanganku. Menyanyikan syair
cinta yang sama seperti yang diteriakkannya di samping tempat tidurku setiap
malam, Craving Blade melompati ruang untuk menjawab panggilanku.
Pedang
itu terasa menyakitkan di genggamanku, mengaduk udara dengan erangan penuh
gairah yang memuakkan—sorak kegembiraan karena keinginannya yang lama terpendam
untuk digunakan akhirnya terpenuhi. Rasa "cinta" dan "terima
kasih" yang menggema di kepalaku membuatku mual, tapi aku tidak bisa
mengeluh; aku membutuhkan kekuatannya yang tak tertandingi.
Petualang
yang berubah menjadi zombie itu tampaknya telah mengikatkan harga
dirinya pada Zweihander jahat ini. Aku benar-benar ingin tahu seperti apa pria itu dulu. Dari buku hariannya,
ia tampak memiliki hubungan baik dengan teman-temannya dan tidak menunjukkan
tanda-tanda karakter yang buruk.
Apapun
masalahnya, senjata ini memungkinkanku beralih dari tangan kosong ke ayunan
penuh dalam waktu sekejap. Setiap pemain TRPG pasti sadar betapa hebatnya
melakukan Equip Item tanpa memakan Action Point.
Dengan memanggil
pedang dari udara tipis untuk mengubah serangan tanpa senjataku menjadi tebasan
vertikal, aku berhasil melancarkan serangan kejutan dari depan. Satu-satunya
reaksi yang sempat dilakukan bangsawan itu adalah membuka matanya lebar-lebar
di balik topeng.
Saat ujungnya
membelah udara, pedang itu mengubah deru angin menjadi teriakan gila. Mungkin
terlihat seperti serangan kasar, tapi aku telah mengoordinasikan setiap gerakan
untuk mentransfer setiap Joule energi ke ujung bilah. Dikombinasikan dengan
percepatan gravitasi, serangan ini adalah sebuah mahakarya permainan pedang.
Bagi kebanyakan
orang, tubuh manusia terlalu keras sekaligus terlalu lunak untuk dibelah
dua—namun sensasi saat pedangku menghantam memberitahuku bahwa ini adalah
sebuah pengecualian. Sayangnya, seranganku terhenti di tengah jalan sebelum
mencapai sasaran.
"Hrgh?!"
Aku menghancurkan
satu, dua, tiga, hingga empat lapisan Adamantine Barrier sebelum
terhenti di lapisan kelima. Craving Blade dan kekuatan ototku telah
mencapai titik keseimbangan dengan layar tak terlihat yang menghalangi kami.
"Hm. Kupikir
kau hanya akan mampu menghancurkan setengah dari tujuh penghalangku."
Dengan suara
memukau yang lebih cocok untuk gedung opera daripada saluran air yang lembap,
pria itu menyebutkan angka yang mencengangkan. Aku tidak punya waktu untuk
berpikir. Jika aku berhenti menekan serangan ini sedetik saja, aku akan terkena
serangan balik.
Aku
mengaktifkan mantraku sekali lagi: sederhana, efisien, dan sangat familier. Unseen
Hands milikku tidak hanya untuk bergerak dan bertahan.
"Oh?!"
Keenam Hands
itu berkumpul menjadi satu tinju besar untuk mendorong seranganku.
Dengar,
aku tidak berkhayal. Kekuatan masing-masing tangan didasarkan pada Base
Strength milikku, yang hanya sedikit di atas manusia biasa. Aku tahu enam
pukulan tambahan tidak akan berarti banyak terhadap penghalang yang mampu
menghentikan senjata mistik ini.
Jadi, aku
tidak memukul pria itu atau penghalangnya; sebaliknya, aku memukul bagian
belakang Craving Blade.
Logikanya
sederhana: seperti menekan bagian belakang pisau saat memotong labu yang keras.
Aku mengganti berat badan dengan enam kepalan tangan yang mampu menumbangkan
pria dewasa, dan menggunakan pedang mistik ini sebagai pisaunya.
Pria itu
mencoba menghindar dengan panik, tapi sudah terlambat. Ia hanya sempat
menggeser sudut luka dari ubun-ubun kepala ke tulang selangkanya. Dan maaf
saja, aku tidak cukup dewasa untuk menahan diri terhadap bajingan psikotik yang
menyapaku dengan serangan mematikan!
Aku tidak
peduli jika tanganku harus berlumuran darah lagi. Itu salah si cabul itu
sendiri karena mempermainkanku saat aku sedang berjuang hidup di sini. Kearifan
tradisional mengatakan bahwa pemenggalan kepala saja terkadang tidak cukup
untuk merasa aman di dekat seorang penyihir.
Maafkan aku:
hidupku bukan milikku sendiri. Aku masih harus menjaga Elisa; aku punya janji
dengan Margit; aku punya tempat-tempat yang ingin kukunjungi bersama Mika. Dan
yang terpenting, mati di sini berarti meninggalkan luka di hati Nona Celia
selamanya. Jika orang gila ini ingin menyalahkan seseorang, salahkan dirinya
sendiri karena memilih pertarungan ini hanya untuk kesenangan pribadi.
Sensasi logam
mencabik otot dan melewati celah tulang membuat bulu kudukku berdiri. Masuk
melalui bahu, Craving Blade menyelesaikan lengkungannya dengan keluar di
antara kedua kakinya. Tebasannya begitu bersih sehingga aku kesulitan menahan
agar bilahnya tidak menghantam tanah.
Aku segera
melompat mundur setelah menyerang, dan itu menyelamatkanku. Pria itu
mengayunkan tongkatnya ke arahku sesaat kemudian. Permata itu melesat dengan
kekuatan yang sanggup menghancurkan tubuhku, menyisakan rasa panas di hidungku
dan menerbangkan beberapa helai rambut. Jika terkena, aku pasti sudah jadi
bubur.
"Mm,
lumayan. Tidak buruk sama sekali."
Terlebih lagi,
bangsawan bertopeng itu masih berdiri dengan satu kaki yang tersisa, sama
sekali tidak terpengaruh. Bagian kiri tubuhnya yang terputus jatuh tanpa
tongkat untuk menopangnya, tapi itu tidak mengganggunya sedikit pun.
...Ya, sudah
kuduga. Musuh yang bisa
dibunuh dengan cara biasa tidak akan mungkin menunggu di panggung yang
dirancang sedemikian rupa untuk pertunjukan teatrikal seperti ini.
Dewi
takdir benar-benar GM yang sadis. Apa susahnya memberiku musuh kroco yang bisa
kubersihkan dengan mudah tanpa konsekuensi berat, setidaknya sekali
saja?!
"Benar-benar
di luar ekspektasiku, tapi tetap patut dipuji. Metodologi di balik susunan
mantramu sungguh efisien dan menakjubkan. Untuk ini, aku memberimu nilai A.
Namun, rumusnya agak hambar bagi seleraku. Kurang anggun dan kurang redundansi.
Pada tingkat ini, anak muda, musuhmu akan dengan mudah mengganggu susunan
sihirmu. Jika kita di kelas
yang sama, aku tidak akan memberimu nilai lebih dari C."
Tiba-tiba, si
gila itu mulai menilai kemampuanku seperti seorang guru. Demi Tuhan, mengapa
semua orang di sekitarku harus seperti ini? Aku sudah punya cukup banyak orang
aneh dan monster abadi dalam hidupku. Bisakah mereka berhenti bermunculan?
Setengah tubuhnya
yang termutilasi dengan cekatan merangkak kembali ke tubuh utamanya menggunakan
lengan dan kaki; begitu bersentuhan, daging pria itu menempel kembali dengan
menyebalkan, seolah-olah itu adalah hal yang lumrah.
Mati lagi. Hebat.
Lebih menyakitkan
lagi, bahkan pakaian ini pun harus dijahit sendiri, yang menunjukkan betapa
konyolnya situasi ini. Aku harus memperbaikinya dengan susah payah atau
membayar orang lain setiap kali aku tertimpa masalah.
“Mari kita
lanjutkan kuliah kita. Jam pelajaran kedua dimulai.”
Bangsawan itu
menghentakkan permata pada tongkatnya ke lantai. Sebelum aku sempat
bertanya-tanya apa yang ia lakukan, dua bayangan bergerak dari balik pilar di
sisi sayapnya; aku sama sekali tidak menyadari kehadiran mereka.
Bulu-bulu yang
mengilap berkilauan di bawah cahaya mistis, menutupi otot-otot padat yang siap
meledak. Meski terlihat buas, tubuh lentur mereka menunjukkan kelincahan yang
melampaui manusia mana pun.
Dan tentu saja,
ciri khas yang melengkapi bentuk tubuh sempurna itu adalah tiga kepala yang
menatapku dengan kecerdasan anjing terlatih.
Aku sudah sering
melihat Triskeles di sekitar kota, tetapi tidak ada yang memiliki
anatomi seperti kedua anjing ini. Jika yang lain hanya seukuran anjing besar,
makhluk ini mengintimidasi dengan tubuh sebesar singa.
Dengan
binatang-binatang abnormal di bawah komandonya, pria itu sekali lagi membungkuk
dengan sopan dan ramah.
“Ini adalah
kesayanganku. Lihatlah bulu-bulu mereka yang indah. Para tetangga pun sangat
menyukai keramahan mereka.”
Mereka memang
tidak bisa menelanku bulat-bulat, tapi mereka cukup besar untuk memutuskan
anggota tubuhku dalam sekali gigit. Memperkenalkan mereka padaku seperti anak
anjing yang menggemaskan… yah, tidak, enyahlah! Sosok pemberani macam apa yang tinggal di
lingkungan orang ini?
“Yang di
sebelah kananmu adalah Gauner. Dia anak yang sangat energik dan suka bermain
bola. Di sebelah kirimu adalah Schufti, putri kecil manja yang selalu tidur
sambil memeluk boneka kesayangannya. Mereka menghabiskan mainan mereka dengan cepat, tapi mereka sangat manis.”
Sudah kubilang, enyahlah,
kawan. Berhenti bersikap seolah mereka hewan peliharaan biasa.
Dari sudut
pandangku, mereka adalah mesin pembunuh organik yang lebih besar dari sepeda
motor. Jika komentar tentang mainan itu dimaksudkan sebagai daya tarik imut,
dia benar-benar perlu merevisi naskahnya.
Siapa sebenarnya
orang ini? Aku tidak tahu apa tujuannya, dan misteri ini mengancam akan
membuatku gila. Aku bisa langsung menyangkal bahwa dia di sini untuk
menangkapku, karena mantranya terlalu mematikan.
Upaya pembunuhan
yang "biasa saja" serta komitmennya pada drama membuat pria ini
mustahil berafiliasi dengan penjaga kota yang lurus. Sifatnya yang sulit
ditebak dan pengambilan keputusan yang hanya berdasarkan nilai hiburan
membuatnya terasa lebih dekat dengan jenisku.
Bisakah kau
berhenti mengutamakan kesenanganmu dan keluarkan kepalamu dari pantatmu
sebentar untuk menjelaskan dirimu dengan cara yang bisa kupahami?!
“Terlihat hidup,
anak muda.”
Astaga! Jangan
langsung melanjutkan cerita melodramamu yang menyebalkan itu seolah-olah kita
sepaham! Argh, aku
merasa seperti terjebak di satu meja dengan Game Master yang sok
penting!
Semua
aktivitas ini membuat lukaku berdenyut, tapi aku tidak punya waktu untuk
berhenti. Dengan Independent Processing yang menyala-nyala, aku
menguatkan diri menghadapi anjing pemburu yang menyerbu.
[Tips] Triskeles adalah makhluk misterius dan
merupakan anjing pilihan untuk urusan militer Kekaisaran. Mereka sangat cerdas,
dan mereka yang dilatih oleh pawang ahli mampu memahami ucapan manusia serta
mengikuti perintah yang rumit.
Meskipun sebagian besar bertugas bersama polisi kota,
beberapa bekerja untuk mendukung unit pengintaian yang lebih spesialis.
Sebagai organisme buatan yang ditempa murni dari ilmu Thaumaturgic,
Triskeles jantan dan betina tidak dapat berkembang biak tanpa bantuan
seorang Magus; orang-orang menganggap mereka sebagai keturunan hewan
peliharaan buatan.
◆◇◆
Apakah manusia lebih kuat dari binatang? Rasanya ada argumen
yang meyakinkan untuk kedua belah pihak. Namun satu hal yang pasti: tidak
banyak makhluk yang dapat dikalahkan manusia dalam pertarungan yang adil.
“Ih!”
Dua baris gigi tajam menjepit udara kosong, nyaris mengenai
kakiku. Taring mereka tidak hanya lebih tajam dari pisau, tapi rahang besar itu
memiliki kekuatan yang mengerikan; mereka bisa merobek kakiku semudah aku
mengunyah pretzel.
Triskele yang melompat ke arahku dari posisi
rendah—selanjutnya kusebut Anjing A—mengarahkan kepala tengahnya sebagai
serangan awal, lalu kepala kirinya mencoba menggigit bagian perutku sesaat
kemudian.
Aku menendang moncong kedua ini untuk mengalihkan serangan
dan melompat tinggi untuk memberi jarak.
Meskipun penampilannya mengancam, anjing itu merintih
seperti anak anjing saat kutendang; apakah ia mencoba membuatku merasa
bersalah? Sayang sekali, trik itu tidak berhasil. Sementara itu, rekannya—si
Anjing B—dengan cerdik melompat untuk menangkapku tepat di tengah busur
lompatanku.
Aku mencoba memanggil Unseen Hands untuk bertindak
sebagai pijakan agar aku bisa menyelinap melakukan tebasan melewati Anjing B…
“Wah?!”
…tapi Unseen Hands milikku tidak muncul, dan
hilangnya tumpuan di kakiku membuatku jatuh terguling di udara. Saat aku
berputar menuju tanah, aku melihat bangsawan bertopeng itu bergumam dan
menggerakkan tongkatnya. Bajingan itu menghapus mantraku!
“Wah, hampir saja!”
Aku menendang mulut kiri Anjing B hingga tertutup untuk
menangkis serangannya, lalu mendarat tepat di atas Anjing A yang sedang
berusaha berbalik. Dengan cepat aku bangkit, meringkuk, dan mengayunkan pedang
ke arahnya sebagai hadiah perpisahan… tapi serangan itu hanya menyerempet.
Mata pisau Craving Blade yang sempurna memungkinkan
aku memotong langsung lapisan bulu yang kuat dan menggores dagingnya; pedang
biasa pasti akan kesulitan memotong bulu tersebut.
Sayangnya, aku
bukan tokoh utama manga. Tebasan yang dilakukan tanpa pijakan yang kuat tidak
memiliki tenaga yang cukup untuk luka yang dalam. Meskipun tampaknya aku
merobek sebagian besar daging, aku bahkan belum menyentuh organ di bawahnya.
Dengan kata lain,
aku berhasil melakukan Saving Throw dan hanya memberikan sedikit Chip
Damage—bukan sesuatu yang bisa dibanggakan. Sayangnya, dunia ini tidak
memberiku indikator Health Points atau angka kerusakan yang membuat
serangan sekilas ini terasa bermanfaat.
Terlebih lagi,
darah merah yang mengalir dari Triskele pertama justru memicu amarahnya,
dan lukanya sudah mulai menutup. Tidak diragukan lagi, mereka memiliki
semacam mantra penyembuhan yang dijalin ke dalam sel mereka untuk mempercepat Regeneration.
Mereka adalah Vanguard
utama: kuat, cepat, dan ahli dalam melindungi barisan belakang. Yang lebih
menyebalkan lagi, mereka terdiri dari empat bagian berbeda—tiga kepala dan satu
badan—yang membuat mereka sulit ditaklukkan sekaligus. Memenggal satu kepala
saja tidak akan cukup; aku tidak bisa bermain jujur selamanya.
Aku ingin kembali
mengatur pijakan setelah mendarat, tetapi anjing-anjing itu tidak memberiku
kesempatan. Anjing A dan B berputar dengan kecepatan yang mustahil bagi hewan
seukuran mereka dan melesat ke arahku.
Sementara aku
harus menunggu momen untuk menyerang lewat Reaction Roll, kedua anjing
ini telah mengatur spesifikasi tubuh mereka untuk mengambil Initiative
di setiap ronde—ini benar-benar tidak adil!
Baiklah, mari
kita lihat siapa yang lebih licik!
Anjing A
menyerang langsung, mengabaikan tipu daya untuk menghancurkanku dengan berat
badannya. Tepat di belakangnya, Anjing B melompat tinggi untuk menyerang dari
udara.
Apakah
benda ini benar-benar hewan?! Sinergi mereka bahkan membuat para petualang
berpengalaman terlihat amatir!
Kepala-kepala
di sisi tubuh mereka memungkinkan jangkauan serangan lateral yang luas, dan
kaki mereka dirancang untuk mengikuti gerakan tiba-tiba ke arah mana pun.
Mundur selangkah hanya akan menunda kematian, dan bayangan besar yang meluncur
dari atas membuatku hampir tak punya tempat untuk lari.
Sambil
menahan keinginan untuk menangis, aku meluncur ke satu-satunya jalan keluar
yang tersisa: celah lebar di bawah perut Triskele yang besar itu.
Lapisan tipis air di lantai memercik dahsyat saat aku menyelam, dan aku
mendorong diriku dengan Unseen Hands untuk melewati zona bahaya.
Gangguan
dari penyihir itu menyebabkan Unseen Hands menghilang segera setelah
terbentuk, tetapi momentum yang diberikannya tetap ada. Meskipun medan gaya itu
adalah sihir, efek fisiknya terhadap dunia nyata tidak dapat dihapus.
Aku
sempat mempertimbangkan untuk menyerang lagi sambil meluncur, tetapi aku
mengurungkan niat itu.
Meskipun
tergoda untuk merobek perut anjing yang terbuka guna menghancurkan jantung atau
organ dalamnya, itu akan membuat kecepatanku berkurang drastis. Anjing yang
tersisa pasti akan menumpuk mayat temannya untuk menghancurkanku hidup-hidup.
Jadi,
sebagai gantinya, aku meninggalkan "hadiah kecil" untuk mereka.
Setelah
menyelesaikan manuver yang membuatku menggigil di bawah kaki Triskele,
aku berlari cepat menuju dalang di balik semua ini. Tangan yang kugunakan untuk
mendorong tubuhku kembali berdiri menghilang dalam sekejap, tetapi mantra itu
cukup murah untuk diproduksi massal.
Rasanya
seperti aku seorang pemboros di restoran mewah, mengeluarkan lebih banyak Mana
Boost setiap detik hanya untuk memaksa tubuhku maju.
Jika
dipikir-pikir, aku bersyukur bangsawan itu membuang-buang waktu hanya untuk
menghapus mantraku. Aku hanyalah manusia kecil yang rapuh dan sudah terluka;
jika dia mulai merapal sihir serangan yang menembus pertahananku, aku pasti
sudah tamat.
Ditambah
lagi, menghadapi Triskeles saja sudah cukup merepotkan, jadi aku tidak
ingin ada serangan jarak jauh yang harus dihindari. Aku benci mengakuinya,
tapi aku memang tidak cukup kuat untuk melawan Boss ini sendirian, oke?!
“Ya
ampun. Kau berhasil melewati mereka berdua! Sayang sekali, sebelum kau bisa
memangkas jarak…”
…Anjing-anjingmu
akan mengunyahku, kan? Jangan khawatir soal itu: Aku sudah menyiapkan
jebakannya. Sebelum pria bertopeng itu sempat menyelesaikan kalimatnya,
semburan cahaya menyilaukan menerangi area di belakangku.
“Apa?!”
Bahkan
dengan posisi membelakangi ledakan dan Triskeles yang menghalangi
pandangan, kilatan cahaya itu tetap menyilaukan; anjing-anjing itu menelan
cahaya tersebut dari jarak yang sangat dekat.
Ledakan
melengking yang menyertainya membuat saluran telingaku terasa sakit dan
menghancurkan keseimbangan. Sebagai sentuhan akhir, aku telah memodifikasi
ramuan Flash Grenade mistis kesayanganku dengan mantra pemicu yang
memiliki jeda beberapa detik.
Aku tidak tahu
berapa lama ini akan melumpuhkan para Triskele.
Mereka tampak
lebih kuat dari manusia biasa, jadi ada kemungkinan mereka akan pulih lebih
cepat. Terlebih lagi, binatang itu cerdas; trik yang sama mungkin tidak akan
berhasil untuk kedua kalinya.
Tetap saja, aku
sudah memutuskan bahwa inilah saatnya memainkan kartu as milikku. Jika aku bisa
melumpuhkan bangsawan bertopeng itu, anjing-anjingnya tidak akan lagi menjadi
ancaman besar.
Kau tahu apa kata
orang: selalu ada hari yang baik untuk mati—meski tentu saja, aku tidak
berencana mati hari ini.
Aku
berlari kencang ke depan sambil menggenggam Craving Blade. Aku harus
memangkas jarak selagi anjing-anjing itu lumpuh dan si penyihir masih tersentak
akibat sisa kilatan cahaya.
Kualitas teriakan
semangatku sulit diungkapkan dengan kata-kata, bahkan oleh diriku sendiri. Yang
bisa kukatakan hanyalah energinya setara dengan intensitas pedang besarku saat
aku mengubah momentum lari menjadi ayunan samping yang kuat.
Benturan keras
merambat dari mata bilah hingga ke gagang pedang. Aku tahu aku telah menghantam
lebih dari sekadar penghalang tipis... tapi kali ini, bilahku berhasil menebas
dengan tepat.
Aku tidak tahu
apakah mantra penangkalnya yang melemah atau fokusnya terbagi untuk
mengendalikan para Triskele, namun jumlah penghalang milik bangsawan itu
telah berkurang dari tujuh menjadi lima.
Mungkin dia
mengira dua lapis terakhir tidak diperlukan untuk menangkis serangan
sederhana—sayangnya baginya, serangan yang dilakukan di atas tanah kokoh jauh
lebih tajam daripada apa pun yang bisa kulakukan di udara!
Kepalanya
melayang. Aku ingin sekali menebasnya lagi tanpa ampun, tetapi instingku
merasakan bahaya mengintai dari belakang, memaksaku untuk segera mundur.
Sial, mereka
sudah bangun?! Bahkan Wyvern pun tidak akan bisa pulih secepat ini!
Kedua
anjing pemburu itu melompat menyerang. Aku mencegat kaki depan mereka dengan Craving
Blade dan mendorongnya kuat-kuat, memanfaatkan gaya tolaknya sebagai
pendorong untuk menciptakan jarak.
Kali ini,
baik Anjing A maupun B tidak melanjutkan serangan. Sebaliknya, mereka berdiri
di samping tubuh sang bangsawan dalam posisi bertahan sembari terus menggeram
ke arahku.
Aku
merasa kekhawatiran mereka tidak berdasar saat melihat tubuh tanpa kepala itu
berdiri tegak, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Lihat,
kan?
Tubuh
yang dipenggal itu berjalan santai ke arah kepalanya sendiri, mengangkatnya ke
udara dengan jentikan tongkat, lalu menangkapnya dengan tangan kiri. Tongkat
sihir panjang itu bersinar aktif, membersihkan kotoran dari seringai di balik
topeng yang kini telah kembali sempurna.
Aku
sedang berhadapan dengan wujud kematian yang paling nyata: dia tidak akan mati
meski aku membunuhnya.
Melihat
bagaimana dia mengabaikan luka fatal, bakat sihirnya, dan fakta bahwa fisiknya
sama sekali tidak cacat, tebakan terbaikku adalah dia seorang Vampire.
Ini masalah besar.
Tanpa
senjata perak—logam yang memicu reaksi alergi mendalam pada mereka—atau seorang
pendeta yang memohon kekuatan dewa, aku tidak punya cara untuk menghabisinya
selamanya.
Tentu
saja, itu bukan berarti makhluk undead bisa memulihkan diri tanpa batas.
Regenerasi dari luka fatal membutuhkan sumber daya yang besar. Jika terus
dihancurkan, proses bangkitnya pasti akan melambat.
Satu-satunya
persoalan adalah aku tidak bisa memperkirakan berapa kali lagi aku harus
membunuhnya.
Sangat
disayangkan, aku tidak punya waktu barang sedetik pun untuk memeriksa Character
Sheet demi mencari Skill baru—lagipula, aku tidak bisa memaksakan
diri menyembah dewa secara mendadak hanya demi kenyamanan.
Mengingat
para dewa sudah harus menghadapi tekanan di tempat kerja mereka, aku hanya bisa
membayangkan betapa kesalnya mereka jika pengikutnya menggunakan kekuatan suci
hanya saat terdesak.
Selain
itu, Skill berbasis Faith benar-benar didasarkan pada pengabdian.
Aku ragu bisa berdoa dengan tulus dalam kondisi seperti ini; keajaiban apa pun
yang muncul pasti akan terlalu lemah untuk membuat perbedaan.
"Ya
ampun, sungguh mengejutkan. Aku tak menyangka kau bisa melumpuhkan kedua
kesayanganku—meski hanya sesaat—dan mengarahkan pedangmu ke tubuhku tidak hanya
sekali, tapi dua kali!"
Bangsawan
itu berbicara dengan nada santai.
"Sudah
lebih dari seperempat abad sejak terakhir kali tubuhku dibelah dua, dan ingatan
tentang kehilangan kepalaku sudah berlalu lebih dari satu abad. Kau membuatku
merasa agak segar, anak muda."
Pria itu
memutar tongkatnya dengan riang, sebuah gestur yang berubah dari sikap acuh tak
acuh menjadi ejekan terbuka terhadap manusia.
Tingkah
lakunya begitu memuakkan. Jika aku tidak terbiasa dikelilingi orang-orang
sarkastis dalam kehidupan sehari-hari, aku pasti sudah kehilangan kesabaran dan
memaki-makinya habis-habisan.
"Permainan
pedang sama sekali bukan keahlianku, tapi jelas bahwa teknikmu luar biasa.
Caramu memadukannya dengan sihir juga hebat. Sama seperti nilaimu dalam
penyusunan rumus, aku akan memberimu nilai A untuk aplikasi praktis."
Dia
mengamati sejenak sebelum melanjutkan.
"Meskipun,
harus kukatakan, mengganti setiap mantra yang kuhapus dengan cepat secara
teknis memang sebuah solusi, namun hal itu gagal merangsang kecintaanku pada
keindahan. Yang kuinginkan darimu adalah kecerdikan untuk menulis ulang rumus
itu saat itu juga guna mencegah gangguan lebih lanjut."
Terima kasih
atas analisisnya yang sok tahu. Mungkin aku bisa melakukan itu jika kedua
anjingmu tidak mencoba menggigit tumitku!
"Namun, aku
harus mengakui, mantra terakhir itu hebat sekali. Sayangnya, konstruksinya
tetap tersembunyi di balik siluet kesayanganku—apakah kau keberatan
menunjukkannya lagi padaku? Aku akan memberikan penilaian setelah melihatnya
dengan saksama."
Oh, tunggu
dulu. Aku harus mengubah mantraku selagi dia sibuk meracau.
Aku sudah
berinvestasi besar pada Parallel Processing, jadi akan sia-sia jika
tidak mendedikasikan sebagian pikiranku untuk menambal kelemahanku. Aku
menemukan beberapa permutasi baru yang akan kuputar secara acak, membuat Invisible
Hand milikku sedikit lebih sulit dihapus... kurasa. Wah, kuharap ini
berhasil. Mungkin aku memang harus berdoa.
"Baiklah,"
pungkasnya, "kuliah dilanjutkan. Berusahalah untuk mengikuti pelajaran di
periode ketiga, anak muda."
Bunyi tongkatnya
yang menghantam lantai terdengar sekali lagi, diikuti oleh getaran yang
menggelitik gendang telingaku.
Meski awalnya
berupa dengung pelan, suara itu makin lama makin keras hingga membuat kulitku
merinding. Akhirnya, gelitik ringan itu berubah menjadi garukan kasar yang
membuatku menggigil saat telingaku berteriak melawan gelombang suara yang
memuakkan.
Itu adalah suara
kepakan sayap serangga dalam jumlah masif.
Massa putih yang
menyatu merayap mendekat dari bagian belakang ruangan. Setiap serangga berkibar
dalam harmoni yang aneh, membuat seluruh kawanan tampak seperti satu organisme
tunggal yang memicu rasa jijik alami dalam naluriku.
Menghadapi
gumpalan putih serangga tersebut, secara refleks aku memberikan apa yang
diinginkan sang bangsawan.
Aku menggerakkan Invisible
Hand ke dalam saku, mengambil seluruh katalis yang tersisa, lalu
melemparkannya ke arah kawanan itu. Alih-alih memadatkannya, aku menyebarkan
katalis tersebut untuk menutupi seluruh bidang pandangku demi melenyapkan awan
serangga itu.
Cahaya
menyilaukan muncul saat bubuk dolomit meledak menjadi kilatan dan suara. Cahaya
sebesar 75.000 candela menyala bersama dentuman 150 desibel, membakar dan
mengejutkan reseptor sensorik serangga hingga mereka tak mampu terbang lagi.
Dinding hama yang
terus mendekat itu kini jatuh menghantam bumi seperti gelombang yang pecah.
Setelah diamati lebih dekat, ternyata mereka adalah ngengat putih.
"Eugh!"
Saat
ngengat-ngengat itu menghujani rekan mereka yang telah tumbang, tubuh mereka
hancur dan melepaskan bau tajam yang menyengat hidungku.
Cairan apa pun
yang mengalir dalam tubuh mereka jelas tidak normal; mereka mungkin adalah
makhluk yang dirancang sejak awal untuk menghancurkan diri sendiri.
Beberapa waktu
lalu, aku sempat membaca buku tentang Familiar setelah melihat betapa
kerennya Floki. Kau tidak bisa menyalahkanku, kan? Bayangkan seorang pendekar
pedang mistis dengan seekor gagak di bahunya—siapa yang bisa bilang itu tidak
keren?
Sayangnya,
memelihara mereka sangat merepotkan dan tidak fleksibel. Kelemahan utamanya
adalah biaya, karena membesarkan Familiar yang tepat membutuhkan waktu
dan uang yang sangat banyak.
Sejujurnya
aku tidak punya kesabaran untuk menghabiskan waktu bergenerasi-generasi hanya
demi membiasakan hewan dengan kontak misterius.
Mika
memang mendapat hadiah kuda ras murni dari tuannya dan cukup beruntung bisa
menjinakkannya dengan segera, tapi keberuntungan semacam itu tidak akan terjadi
padaku.
Sihir
modern menganggap seni itu hanyalah hobi bagi orang kaya, dan tidak mungkin Nona
Agrippina punya koneksi dengan orang-orang seperti itu.
Lagipula,
majikanku dan hantu bejat yang dia sebut guru itu berasal dari Daybreak
School—kritikus utama dalam hal pembiakan Familiar.
Mengesampingkan
mimpi lamaku, aku bergegas menjauh dari racun menyengat itu sambil mengaktifkan
Insulating Barrier yang kudapatkan pada suatu musim dingin, lengkap
dengan tambahan Selective Screening.
Meskipun
biasanya aku hanya menggunakannya untuk menjaga tubuh tetap hangat atau kering,
perubahan perspektif dalam sekejap menjadikannya pakaian pelindung terhadap
zat-zat berbahaya.
"Ahh,
pintar sekali dirimu, anak muda. Hm, mungkin aku perlu mengevaluasi ulang:
anggap saja nilaimu dalam struktur mantra kunaikkan menjadi B. Rumusmu beraneka
ragam—sungguh sangat menyenangkan."
Dia
kembali berkomentar dengan nada menggurui.
"Sederhana
dan serbaguna. Kurasa trik hebat ini akan menghambat banyak orang untuk
sementara waktu. Lumayan juga. Aku ingin membeli hak ciptanya setelah semua ini
selesai, jadi mulailah pikirkan harganya sekarang, ya?"
Bisakah kau
berhenti meremehkan semua usahaku hanya dengan sekali pandang?! Aku tidak
mengumpulkan semua Experience ini hanya agar kau bisa memandang rendah
diriku!
Meskipun lapisan
depan ngengat telah musnah, kawanan itu terus maju tanpa henti. Saat aku
mundur, aku bisa merasakan kemarahan mulai memuncak di dadaku.
Aku tahu
betul—percayalah, aku sangat tahu—bahwa bangsawan bertopeng itu jauh lebih kuat
dariku... tapi melihatnya meremehkanku sampai sejauh ini benar-benar membuatku
geram.
Sudah terlambat
untuk lari. Satu-satunya jalan yang tersisa adalah menumbangkan raksasa ini.
Waktunya telah
tiba untuk mengungkap salah satu kartu trufku. Setelah hampir mati di tangan undead,
tidak masuk akal jika aku berkeliaran tanpa membawa semacam penangkal, bukan?
Asal kau tahu,
pada hari itu, berbulan-bulan yang lalu, ketika Nona Agrippina menertawakanku
sampai aku meringkuk menyedihkan karena merusak lapangan tembak kampus... itu
bukanlah satu-satunya mantra yang kurencanakan untuk diuji.
Sambil berlari
kencang menjauh dari kumpulan ngengat, aku memasukkan Invisible Hand ke
dalam tas untuk mengeluarkan kartu as milikku—atau mungkin lebih tepat jika
dikatakan aku sedang merobek segel Kotak Pandora.
Aku
menyembunyikannya karena ingin menyimpannya untuk saat yang tepat, tapi alasan
utamanya adalah karena aku tahu fasilitas yang tidak bisa menangani Liquid
Thermite pasti tidak akan sanggup menahan benda ini.
Saat aku
mengemasnya kembali di bengkel waktu itu, aku sempat membatin: aku yakin
tidak akan pernah menggunakan ini—bahkan, aku akan tertawa jika sampai berakhir
dalam kesulitan yang memaksaku menggunakannya.
Aku melemparkan
katalisatornya. Meski tampak seperti gumpalan sampah yang dibungkus kain, ini
adalah hasil perasan otakku untuk menciptakan pembersih medan tempur yang
paling tidak etis di dunia.
Saat bungkusan
itu menghilang di balik tabir ngengat, aku bisa merasakan sensasi sentuhan Invisible
Hand milikku yang hancur karena serbuan serangga yang masif.
Oh. Kurasa
menghancurkan diri sendiri bukanlah satu-satunya trik mereka...
Bagaimanapun,
usaha mereka justru membantuku mengaktifkan mantra itu lebih cepat. Lapisan
pengaman luar seharusnya diaktifkan dengan cara dihancurkan secara manual, jadi
kehancurannya bukanlah masalah.
Cangkang
pengaman itu berfungsi ganda sebagai pemicu. Penghancurannya secara otomatis
mengaktifkan mantra yang mengelilingi katalis di dalamnya.
Sedikit
migrasi dan mutasi sederhana sudah cukup untuk mengubah isinya, sementara Insulating
Barrier sepertiku mengelilingi titik nol untuk membatasi radius zona
ledakan sebelum akhirnya mengubah hukum realitas sesuai keinginan.
Dan
langkah terakhir ada di tanganku.
Setelah
reaksi alkimia selesai dan lapisan kain terakhir lenyap, partikel campuran yang
berubah menjadi aerosol membanjiri ruang terisolasi dalam sepersekian detik...
"Kelopak
bunga Daisy, dengarkan aku dan bertebaranlah!"
Di titik
itu, aku menggunakan salah satu nyanyian "berlebihan" yang sangat
tidak disukai dunia sihir—aku sendiri menganggapnya agak memalukan—untuk
meledakkannya.
Dunia
meledak dalam sekejap.
Meskipun
telah dikarantina oleh penghalang mistis, ledakannya begitu kuat sehingga angin
kencang yang menerobos membuatku terpental.
Aku tidak
akan jatuh dengan memalukan jika aku mengendalikan ledakan ini dari awal hingga
akhir dengan sihir murni, tetapi aku sengaja memilih metode ini untuk menghemat
penggunaan Mana.
Gelombang
udara membara mengaduk-aduk gelembung penghalang tersebut, membawa kekuatan
ledakan layaknya palu besi tak terlihat yang menghantam apa pun di jalurnya.
Liquid
Oxygen yang
kuhamburkan telah tersebar seketika dan meledak; mengatakan bahwa udara itu
sendiri telah meledak bukanlah sebuah hiperbola.
Percikan
kecil saja sudah cukup. Permulaan yang sepele itu memicu reaksi berantai
pembakaran di udara beroksigen tinggi, menghasilkan panas hampir 2.000°C yang
menghanguskan seluruh ruang di dalam penghalang.
Aku
pernah mendengar bahwa daya rusak bahan peledak sebenarnya jauh lebih kecil
daripada yang terlihat. Seseorang bahkan bisa selamat dari kobaran api ledakan
yang dahsyat—meski tetap akan terluka—selama mereka berhasil menghindari titik
pusat benturan.
Inilah
alasan mengapa setiap bahan peledak modern di Bumi, mulai dari granat hingga flechette,
memanfaatkan ledakan awal hanya sebagai sarana untuk melontarkan proyektil
logam yang jauh lebih mematikan.
Hal ini
memunculkan sebuah realisasi yang berada di ambang batas antara brilian dan
biadab. Karena gelombang kejut kehilangan kekuatannya saat menyebar, bagaimana
jika seseorang menyebarkan bahan bakar ke seluruh area yang ingin dihancurkan?
Hasilnya,
seluruh area tersebut akan meledak secara merata tanpa kehilangan kekuatan
ledakan awal akibat penyebaran alami! Aku kebetulan meminjam konsep yang oleh
para ilmuwan disebut sebagai Fuel-Air Explosive.
Aku
memang belum mampu menyintesis bahan bakar rumit yang digunakan dalam senjata
termobarik mutakhir. Menghabiskan waktu berjam-jam di meja alkimia dengan
sedikit bantuan dari Sang Nona hanya cukup untuk menghasilkan versi purwa-rupa
yang mengandalkan Liquid Oxygen.
Bahkan
saat itu, aku telah merusak banyak peralatan hanya untuk menjaga cairan
tersebut tetap di bawah titik didih. Jika Nona Agrippina yang hobi menyeringai
itu tidak memberikan satu atau dua saran, aku pasti sudah menghabiskan banyak Experience
Point hanya untuk mencoba mengembangkan kartu as ini.
Sejujurnya,
bagian ini lebih baik kusimpan sendiri; apakah aku harus merasa senang atau
sedih karena akhirnya bisa melihat daya hancurnya secara langsung adalah
pertanyaan yang sulit dijawab.
Namun
yang terpenting saat ini adalah ledakan itu cukup kuat. Segala sesuatu dalam
radius sepuluh meter dari titik asal telah diisolasi oleh penghalang, menahan
apa yang seharusnya menjadi ledakan sesaat selama beberapa detik.
Angin
kencang yang tercipta berpadu dengan tekanan hampa udara yang menyiksa
paru-paru yang sudah kosong akibat guncangan benturan. Lebih buruk lagi, reaksi
kimia tersebut memenuhi udara dengan karbon monoksida.
Semuanya
menyatu menjadi sebuah mimpi buruk yang mustahil untuk ditinggali oleh makhluk
apa pun yang masih bernapas... atau setidaknya, begitulah menurut standar Bumi.
[Tips] Revisi rumus adalah bentuk tertinggi dari Spell
Jamming, di mana seseorang memodifikasi mantra orang lain untuk
melenyapkannya atau justru membuatnya menjadi bumerang. Melakukan hal itu sama
saja dengan membaca pikiran orang lain untuk menulis ulang rumus mistik mereka,
sebuah pertunjukan penguasaan sihir yang luar biasa.
Hal ini mirip dengan memasukkan variabel yang salah ke dalam
sebuah persamaan matematika. Jika harga barang atau jumlahnya diubah dalam
perhitungan seorang pedagang, maka hasilnya akan kehilangan makna. Bahkan
terkadang, hasil akhirnya dapat menyebabkan kerugian langsung bagi si pemecah
soal.
◆◇◆
Pikiran sebuah bentuk kehidupan. Bentuk kehidupan akan
selalu berpikir. Itulah tujuan di balik penciptaannya; itulah keinginan yang
melatarbelakangi penerimaannya; dan begitulah pemikiran yang membuatnya
dicintai.
Dilengkapi dengan kapasitas berpikir masif yang memungkinkan
perhitungan cepat dan akurat, ia memahami bahwa sebagian besar dari dirinya
telah musnah dalam satu tarikan napas.
Delapan puluh lima persen unit siap tempur yang telah
dipisahkan dan dibina dengan hati-hati hancur berantakan dalam ledakan dahsyat
yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ledakan yang membakar dan meledak jauh
lebih lama dari yang diantisipasi.
Mantra misterius itu menghancurkan gerombolan tersebut
secara menyeluruh hingga tidak ada satu pun unit yang terkena ledakan dapat
didaur ulang. Setiap panggilan kepada kesadaran mereka tidak mendapat jawaban.
Cairan beracun yang mereka keluarkan pun telah terbakar
habis. Pikiran pragmatisnya menilai bahwa mereka tidak lagi dalam posisi untuk
memenuhi tugas. Di saat yang sama, tuannya pun tidak mampu bergerak.
Meskipun ia akan baik-baik saja jika luka bakarnya hanya di
permukaan, kerusakan pada tubuhnya begitu parah hingga sulit menentukan bagian
mana yang masih utuh.
Gejolak tak henti-henti dari ledakan berkepanjangan itu
telah mengaduk organ dalamnya layaknya pai daging, dan tulang-tulangnya hancur
akibat tekanan ekstrem. Panas yang tak terbendung melelehkan kulitnya menjadi
cairan kental yang menetes ke pakaian yang hangus, menciptakan sosok yang
menyedihkan.
Manusia normal
dari lapisan masyarakat mana pun pasti sudah mati dengan cara yang mengerikan.
Namun, makhluk hidup itu tahu melalui ikatan yang tak terpisahkan bahwa tuannya
masih hidup.
Ditolak oleh
kematian bahkan saat tubuhnya telah hancur secara menyakitkan menimbulkan
sebuah pertanyaan: apakah kondisi ini benar-benar bisa disebut sebagai berkah?
Vampire adalah makhluk yang kuat. Mereka bisa
kehilangan kewarasan atau isi perut mereka, namun tetap melanjutkan hidup.
Hanya ada tiga hal yang benar-benar bisa membunuh mereka. Namun, sumber
kehidupan yang tampak tak terbatas itu tetap bisa terkuras jika mereka terluka
parah.
Meskipun makhluk
hidup itu mengakui tuannya sebagai seorang Vampire, pria itu secara
pribadi menolak jalan hidup tersebut. Ia hampir tidak pernah meminum darah, dan
pada kesempatan langka saat ia melakukannya, kekuatannya jauh lebih rendah
dibandingkan kaum sejenisnya.
Kekuatan kasar
yang diwarisinya membuat hidup dalam keadaan lapar bukanlah sebuah bencana,
namun pola makan tersebut tetap tidak cukup untuk mendukung pertumbuhan yang
kuat.
Keabadian adalah
sebuah penjara tanpa sesuatu untuk digenggam. Jika bukan darah hangat, lalu apa
yang ia pilih?
Tidak puas hanya
dengan menyerah pada takdir kelahirannya, pria itu menemukan makna dalam hasil
ketekunannya sendiri, sesuatu yang tak bisa dirampas oleh siapa pun:
kecerdasannya.
Ia belajar
memanipulasi Mana dengan menanamkan pelajaran ilmu sihir ke otaknya,
mewujudkan banjir ide kreatif untuk membuktikan eksistensinya kepada dunia.
Dia bukan
sekadar seorang Erstreich yang lahir dengan nasib istimewa. Tidak, dia adalah
seorang individu: dia adalah Profesor Martin von Erstreich, anggota Midheaven
School di Akademi—dan dia telah mengasah dirinya sendiri agar sesuai dengan
cita-citanya melalui kecerdasannya sendiri.
Sejarah studinya
sanggup membuat pikiran siapa pun mati rasa. Memanfaatkan keabadiannya
sepenuhnya, sang penyihir menghabiskan hari demi hari hanya untuk mendalami
riset ilmu sihir.
Hasilnya, ia
mencapai puncak kekuatan yang agung. Bahkan pengisap darah yang meningkatkan
kekuatannya melalui dosa pun tidak lebih baik dari tumpukan abu di hadapannya.
Namun, ini juga
berarti bahwa ia tidak sempurna sebagai seorang Vampire. Kemampuan
regenerasinya jauh lebih rendah dibandingkan sesamanya yang memiliki tingkat
kekuatan yang sama.
Hari ini, dia
telah menderita dua pukulan fatal—di tangan seorang anak kecil yang seharusnya
bisa dia musnahkan dengan mudah. Harga yang harus dibayar untuk kesenangan
sesaat itu ternyata sangat mahal.
Meskipun ia
bersikap seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Vampire yang lemah
dalam posisinya pasti sudah lama hancur menjadi debu. Setelah mengalami dua
serangan yang biasanya membutuhkan waktu pemulihan sangat lama, sang pelayan
mulai merasa khawatir.
Lebih buruk lagi,
sang pelayan menganggap tindakan tuannya yang sengaja menerima serangan ketiga
hanya karena "tampak unik" sebagai sebuah kegilaan total. Meskipun
telah lama melihat makhluk abadi memprioritaskan rasa ingin tahu di atas
keselamatan, ia tetap tidak bisa menerima ini sebagai keputusan yang sehat.
Proses
bangkitnya kini berlangsung lebih lambat. Seorang Vampire seusianya yang
rajin mengonsumsi darah pasti akan dengan mudah mengabaikan kerusakan semacam
itu, namun sang pelayan tahu luka tuannya cukup dalam untuk mencegahnya
bergerak selama beberapa saat.
Jika
diberi waktu beberapa puluh detik, kesehatannya akan pulih. Lukanya akan
tertutup, pakaiannya akan kembali utuh, dan dia akan kembali melontarkan pujian
dengan nada mengejek seperti biasanya.
Tetapi
bagi sang pelayan, waktu beberapa puluh detik itu terasa terlalu lama.
Anak yang
tidak sedap dipandang itu memang sempat terhempas ke pilar yang jauh, namun
keinginan bertarungnya terus membara. Meskipun ia kehilangan senjatanya saat terlempar, tubuhnya tetap penuh
dengan vitalitas.
Sang pelayan
merasa tidak tega membiarkan anak itu mendekati tuannya sebelum proses
penyembuhan selesai sepenuhnya. Ia tidak punya waktu untuk memanggil kembali
pasukan yang ditempatkan jauh di sana. Unit yang tersisa di dekatnya tidak
lebih dari seperduapuluh dari kekuatan penuhnya.
Namun, itu bukan
alasan untuk menyerah. Sang pelayan mengumpulkan sisa-sisa dirinya yang semakin
menipis untuk menciptakan senjata yang jauh dari kekuatan aslinya.
Meski begitu, itu
sudah cukup. Ia hanya perlu mengulur waktu sebentar. Dalam waktu kurang dari
satu menit, tuannya akan bangkit dan membereskan masalah ini.
Sang pelayan
tidak punya harapan untuk memahami maksud sebenarnya dari tuannya, tapi itu
tidak masalah. Proses berpikir tidaklah penting baginya. Yang penting adalah ia
mencintai tuannya; sebagai sebuah alat, sudah menjadi kewajibannya untuk
membalas budi.
Maka, bentuk
kehidupan itu tidak ragu-ragu. Dengan hanya menyisakan bagian minimum yang
dibutuhkan untuk menjamin keberadaan egonya, ia merangkak keluar dari
persembunyian.
[Tips] Keunggulan seorang Vampire
ditentukan oleh dua poin utama. Pertama adalah kekuatan garis keturunan: Vampire
yang lahir dari orang tua perkasa akan mewarisi kekuatan mereka. Kedua adalah
jumlah darah yang dikonsumsi: cairan sisa jiwa asing akan memuliakan mereka.
◆◇◆
Akan tetapi,
aturan ini hanya menunjukkan kemampuan seseorang sebagai Vampire dan
tidak cukup untuk mengukur kekuatan tempur secara keseluruhan.
Setelah
melepaskan senjata rahasiaku—dalam artian aku ingin itu tetap menjadi
rahasia—ledakan itu membuatku terpental dan langsung menghantam pilar.
Karena aku tidak
sempat berlatih, aku tidak yakin seberapa besar dampak ledakan yang akan bocor
dari penghalang. Aku sama sekali tidak siap untuk menstabilkan pijakan atau
mengurangi momentum secara bertahap seperti saat aku menangkis serangan pria
bertopeng itu.
Tetap
saja, sepertinya insting tempurku tidak terlalu buruk hari ini. Beruntungnya,
aku terbang pada sudut yang menghindari tabrakan selama beberapa puluh meter,
membuatku berguling cukup lama sebelum akhirnya menghantam pilar.
Dalam
kasus terburuk, aku bisa saja terbang langsung ke salah satunya dan hancur
berceceran seperti buah delima.
"Aduh!
Blegh, ack!"
Akhirnya
aku menderita luka dalam yang tidak bisa diabaikan.
"Hrgh... Ugh... Kurasa tulang rusukku patah..."
Setiap tarikan
napas membuat perutku kejang karena rasa sakit, seolah-olah ada sesuatu yang
menusuk dari dalam. Aku tidak cukup ahli untuk mendiagnosis berapa banyak
tulang rusuk yang patah, dan aku juga tidak cukup gila untuk menertawakannya
sebagai luka ringan.
Ketika setiap
tarikan napas terasa seperti tenggelam, yang terbaik yang bisa kulakukan adalah
membungkam tubuhku yang mengerang dengan kekuatan pikiran.
Oke,
tenanglah—aku harus tenang. Aku tidak punya waktu untuk meronta kesakitan.
Meskipun tergoda
untuk mencatat pelajaran bahwa daya ledak tadi mungkin berlebihan dan aku perlu
memperkuat penghalang mistisnya, aku tahu pekerjaanku masih belum selesai.
Seorang manusia
sepertiku harus memiliki sifat-sifat khusus yang luar biasa agar tidak hancur
menjadi debu saat melangkah melintasi batas kemanusiaan. Hal itu terlihat jelas dari dua Triskele
raksasa yang kini tergeletak telentang sembari berkedut dan berbusa.
Namun,
aku tidak cukup bodoh untuk berharap kekuatan penghancur tadi bisa melenyapkan
seorang undead selamanya, terutama saat melawan ras yang paling kuat
secara fisik.
Lagipula,
meledakkan sesuatu yang besar hanya untuk kemudian berkata, "Apakah kita
berhasil mengalahkannya?" atau "Dia tidak mungkin selamat dari
itu!" sama saja dengan mengundang musuh untuk bangkit kembali.
Meskipun
beberapa orang menganggap methuselah sebagai "mayat hidup,"
mereka sebenarnya adalah organisme yang wajar yang akan mati jika kepala mereka
dipenggal atau isi perut mereka dicabik.
Tentu
saja, pertanyaan tentang bagaimana seseorang seperti Nona Agrippina bisa
kehilangan kepalanya adalah teka-teki yang terlalu rumit untuk dipikirkan
sekarang.
Tidak,
masalah sebenarnya terletak pada mereka yang tidak pernah benar-benar mati
kecuali kondisi tertentu terpenuhi—dan Vampire adalah yang terburuk dari
semuanya.
Cara
paling efektif untuk menghabisi mereka secara permanen adalah dengan menjemur
mereka di bawah sinar matahari langsung atau menusuk jantung mereka dengan
pasak suci yang diberkati untuk menghentikan regenerasi.
Namun,
kedua cara itu bukanlah metode pembunuhan satu pukulan yang instan. Jika
dibiarkan begitu saja, mereka akan bangkit kembali setelah bertahun-tahun
pemulihan; kegigihan mereka benar-benar menjengkelkan.
Pilihan
lainnya sangat terbatas. Merasa getir karena istrinya memberikan perlindungan
kepada mereka meski telah ditipu, Dewa Matahari menganugerahi para pengikutnya
kekuatan penyucian yang kuat.
Di sisi
lain, Dewi Malam menyadari bahwa Vampire terlalu kuat secara individu
dan membelenggu mereka dengan kelemahan mematikan terhadap perak. Tanpa salah satu metode ini, Vampire
pasti akan menyatukan tubuh mereka lagi dan lagi.
"Menakjubkan."
Lihat? Dia masih
hidup. Saat debu mulai mengendap, aku bisa melihat siluet di antara reruntuhan.
Aku sudah menduga dia masih hidup, tapi kenapa tubuhnya masih berbentuk manusia
sempurna?
Namun,
pemulihannya belum tuntas dan ia tampak belum bisa bergerak. Kesempatan singkat ini akan segera
berlalu, jadi aku harus bergegas.
Sambil
menahan rasa sakit dengan beberapa bantuan Invisible Hand—kupikir korset
darurat lebih baik daripada tidak sama sekali—aku memanggil kembali Craving
Blade ke sisiku.
Pedang
itu mendekat ke tanganku yang terulur seperti anak anjing yang patuh, meskipun
hasratnya untuk mencabik dan menebas sama sekali tidak ada manis-manisnya.
Sambil
menopang diri dengan pedang besarku, jiwaku memberikan perintah brutal pada
tubuhku untuk mulai berlari. Setiap langkah terasa seperti mengucurkan air mata
karena rasa sakit, tetapi aku menahannya—rasa sakit tidak akan menjadi masalah
jika aku berani berhenti di sini.
Aku akan
membunuhnya, di sini dan sekarang juga. Saat aku mulai menyusun Invisible
Hand dengan tekad baja... dia muncul.
"Hah?!"
Permanent
Battlefield
terpicu oleh hentakan kegelisahan yang menjalar ke sekujur tubuhku. Sesaat kemudian, aku merasakan haus darah
yang tumpul namun anehnya terasa buatan.
Bertindak dalam
gerakan lambat di bawah pengaruh Lightning Reflexes, aku berhasil
mengayunkan Craving Blade ke punggung untuk memblokir serangan yang
mengincar jantungku dari belakang. Keberhasilanku melakukan ini hanyalah sebuah
keajaiban yang tak lebih dari sekadar keberuntungan.
Aku telah
memposisikan diri dalam usaha putus asa untuk bertahan hidup, namun pukulan
berat itu dengan mudah menghancurkan keseimbanganku yang goyah.
Tidak butuh waktu
lama bagiku untuk kembali tenang. Aku sudah tahu sejak awal bahwa aku tidak
bisa menangkis dengan sempurna dalam posisi mendadak, jadi aku sengaja melompat
ke arah yang sudah kupilih.
Memanfaatkan
momentum dari pukulan tersebut untuk kesekian kalinya hari ini, aku menyalurkan
hentakan itu ke lenganku untuk mengayunkan tangan kananku yang tampak
"kosong".
Setelah
mengalihkan hampir seluruh energi kinetik ke gerakan ini, lenganku bergerak
dengan kecepatan luar biasa. Craving Blade sekali lagi menjawab
panggilanku dengan cepat.
Pedang itu sempat
terlepas saat aku menangkis, namun kini sudah kembali ke genggamanku dengan
sempurna saat aku mengayunkannya untuk mencegat serangan musuh misterius itu
dan menyayat lengan kanan mereka.
"Apa— Siapa
bajingan ini?!"
Pikiranku
terlontar keluar menjadi kata-kata. Musuh yang kini menjauh dariku itu
mengucurkan darah berwarna ungu.
[Tips] Kemampuan regenerasi Vampire sangat
bervariasi pada setiap individu.
◆◇◆
Ketika Adipati Martin dari Keluarga Erstreich menerima
laporan dari pembantunya, ia tidak merasa marah atau khawatir. Sebagai sosok
yang cerdas dan berpikiran jernih, reaksi sang jenius itu hanya dua: "Aku
mengerti," dan, "Aku sudah tahu."
Gadis itu tidak diragukan lagi adalah miliknya. Awalnya dia
mengira gadis itu sangat mirip dengan ibunya—baik hati sampai-sampai terasa
salah—namun sang Adipati terkekeh saat menyadari bahwa darah tetaplah lebih
kental daripada air.
Sekarang setelah ia punya waktu untuk merenung, rangkaian
kejadian ini tidak hanya masuk akal, tapi sudah bisa diduga.
Dari sekian banyak wanita yang pernah memimpin Kekaisaran
Trialist sebagai Permaisuri, salah satunya berasal dari klannya.
Kalau dipikir-pikir, ketika wanita itu pertama kali
mengisyaratkan rencana untuk mundur sebagai kepala keluarga, Martin melihat
sekeliling dan menyadari bahwa dialah satu-satunya yang layak menggantikannya. Apa yang ia lakukan saat itu?
Dia mencoba
melarikan diri. Dia membuang harga diri dan reputasinya, mengepak apa pun yang
bisa dibawa, dan berusaha keras mencari suaka di negeri timur.
Sayangnya, semua
usahanya diinjak-injak seperti ranting patah saat wanita itu merobek ruang
kargo kapal tempatnya bersembunyi sembari menyeringai anggun.
Momen saat wanita itu melepaskan cincin kepemimpinan
Erstreich dari jarinya dan memasangkannya ke jari Martin akan selalu terukir
dalam ingatannya. Hingga
kini, Martin masih sering mengalami mimpi buruk tentang hal itu.
Apa yang
dilakukan ayahnya, kini diulangi oleh putrinya.
Sambil
terkekeh, sang Adipati memanggil seekor ngengat dari saku dalamnya. Itu adalah
ulat sutra yang sudah dewasa sepenuhnya—serangga yang paling jinak di antara
jenisnya.
Serangga
yang berkibar itu merupakan satu cabang dari spesies yang sudah ia kenal selama
berabad-abad. Ulat sutra sudah sepenuhnya bergantung pada manusia, dan ini
adalah titik ekstrem yang logis.
Dipenuhi
dengan sifat-sifat yang menjadikannya pelayan unggul, mahakarya organik itu
menjadi bukti dari kegigihan keinginan sang pencipta.
"Pergi
dan temukan dia."
Nama
Martin Werner von Erstreich memikul beban sejarah yang besar di Kekaisaran
Trialist. Ia adalah kepala Wangsa Erstreich sekaligus mantan Kaisar.
Namun
bagi segelintir orang, ia lebih dikenal sebagai sesosok bioengineer
misterius dari Sekolah Midheaven. Dalam lingkaran itu, namanya selalu dikaitkan
dengan mahakarya yang menjadi puncak dari segala ciptaannya: Triskele.
Ngengat-ngengat
yang terbang itu membelah diri sesuai kehendaknya. Mereka berkembang biak dan
menyebar ke seluruh penjuru kota, mengikuti jejak aroma seorang gadis.
Meski
ngengat sutra biasa tak memiliki fungsi setangguh itu, sang tuan telah
menitahkan perintah untuk menemukan putrinya. Karena itu, makhluk ini diberkati
kemampuan untuk menciptakan New Ability demi menghadapi situasi apa pun.
Alat ini sungguh
serba guna. Selama satu basis perkembangbiakan tetap ada, ngengat-ngengat itu
mampu berperan sebagai pembawa pesan, penyelidik, pelindung, hingga penyerang.
Singkatnya,
mereka adalah manifestasi untuk memenuhi hasrat terliar sang adipati. Jika ia
ingin menulis memo, sayap-sayap itu akan tumbuh dengan tekstur yang tak
tertandingi, mengedipkan warna sisik untuk mencatat setiap katanya.
Jika disatukan,
sayap-sayap itu bisa bermetamorfosis menjadi senjata apa pun, mulai dari
perisai hingga tombak. Saat ia membutuhkan seseorang, sayap itu akan memanggil
mereka melalui Semantic Search yang merambah alam gaib untuk mengunci
sasaran.
Namun kali ini,
keberadaan targetnya tersebar di seluruh kota. Oleh karena itu, para ngengat
memilih untuk melacak aroma yang tersimpan dalam ingatan kolektif mereka,
menjelajahi setiap sudut kota demi menemukan kecocokan yang sempurna.
Indra penciuman
mereka begitu tajam, mampu menempel pada partikel terkecil yang bahkan luput
dari penciuman anjing pemburu, apalagi manusia. Hingga akhirnya, pencarian itu
membuahkan hasil: seorang anak laki-laki dan seorang perempuan.
Aroma yang lebih
kuat terpancar dari sang gadis yang tengah berlari di saluran bawah tanah.
Namun, setelah memeriksa jejak keberadaannya dalam realitas, jelas bahwa dia
bukanlah putri sang adipati.
Meski sang
adipati tak cukup tahu mengenai hubungan sosial putrinya, pemikiran bahwa
putrinya memiliki seorang teman yang bersedia membantunya telah menghangatkan
hatinya. Seolah-olah, sang putri bukanlah sosok yang ingin dihindari oleh semua
orang.
Tiba-tiba, sebuah
lamunan terlintas di benaknya. Apakah segalanya akan berbeda jika aku
memiliki seseorang yang bisa kupercaya seperti ini?
Ia pun bersumpah
tidak akan mengusik teman pertama putrinya itu. Perhatiannya kemudian beralih
kepada si anak laki-laki. Pemuda berkerudung yang tengah berlari menghindari
penjaga kota itu memang tak mirip dengan putrinya, tetapi pelacakan aroma tidak
menunjukkan kecocokan lain yang lebih penting selain mereka berdua.
"Tapi aroma
ini begitu kuat. Pasti mereka mengetahui sesuatu."
Ada dua orang
yang mungkin memegang kunci kejadian ini. Namun, orang yang berada di selokan
itu berhasil mendarat di luar ibu kota—mengejarnya hanya akan menjadi tugas
yang merepotkan.
Jika sang adipati
harus mengunjungi salah satunya, anak laki-laki itu berada jauh lebih dekat dan
lebih mudah dijangkau. Sambil membelai makhluk familianya, sang adipati
menyelinap keluar istana.
Tak lama lagi,
seorang pengikut akan mengetuk pintunya untuk mengabarkan bahwa pertunjukan
pesawat terbang segera dimulai—lalu orang itu akan berteriak ngeri saat
melihatnya menghilang. Namun, itu bukan urusannya.
Toh, anggota
senior lain dari tim pengembangan pasti ada di sana untuk memberi penjelasan.
Jika tidak pun, Kaisar sudah sering datang untuk meninjau kemajuan mereka.
Sang adipati pun
terbang menjauh. Ia berpikir bahwa jika Yang Mulia ingin memamerkan
proyek kesayangannya, beliau bisa melakukan perkenalan itu sendiri.
Di sisi lain dari
mantra Farsight, sang vampir melihat anak laki-laki itu jatuh ke dalam
saluran air. Seorang penembak jitu Jager telah mendaratkan anak panah
yang mendorongnya melewati pagar pembatas, terlempar ke aliran air di bawahnya.
Meski posisinya
menuntutnya untuk memberi selamat atas keberhasilan itu, baginya ini hanyalah
masalah sepele. Jika anak itu mati, itu baru akan menjadi masalah—meski tidak
terlalu besar—dan ia hanya ingin menghindari beban kerja tambahan.
Untungnya,
kekhawatirannya tidak berdasar. Ia merasakan jejak samar Mana di bawah
permukaan air. Jejak itu menunjukkan sebuah mantra yang sangat mentah, sebuah
formula yang tak mengenal konsep penyembunyian jejak.
Seorang Magus
yang ahli dalam perang penangkal sihir tidak akan pernah menulis formula
sekasar itu. Namun yang lebih menarik, hal itu membangkitkan sebuah kenangan
dalam ingatan sang adipati.
Musim
lalu, ia sempat melarikan diri dari tugas-tugasnya yang membosankan untuk
mencari bakat baru di tempat pengujian Universitas. Lintasan mantra ini identik
dengan sihir menarik yang gagal muncul di gala tahunan.
Sungguh
memalukan. Bagaimana mungkin pemuda itu menembus penghalang fasilitas
eksperimen Universitas hanya dengan residu mistis sekecil itu?
Sama
seperti pisau murahan yang tak mampu menggores kulitnya, atau api standar yang
tak bisa membakar rambut vampirnya, zat misterius itu justru berhasil melukai
tangannya. Martin pun tidak sabar untuk menemukan mahasiswa muda yang cerdas
itu dan menghujaninya dengan dana penelitian yang besar.
Tak
disangka, takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara seperti ini!
Ah,
tapi mungkin ini adalah berkah tersembunyi, pikir sang adipati. Bukannya ia menginginkan
mantra anak itu untuk dirinya sendiri; ia tidak menekuni ilmu sihir demi
mengejar kejayaan semata.
Sebagai
seorang profesor, ia sangat mencintai kegembiraan saat melukis ulang hal-hal
yang tidak diketahui dengan warna pengetahuan. Baginya, tidak ada yang lebih
menggembirakan selain menemukan ide yang tak pernah terpikirkan oleh benaknya
sendiri.
Inilah
satu-satunya bahan bakar yang mendorongnya bertahan selama empat ratus tahun.
Pemuda gila yang mampu menciptakan mantra semacam itu dan terlibat dalam
pelarian seorang gadis bangsawan pastilah sosok yang menarik.
Ia pasti akan
membawa cukup banyak hal baru hingga sang adipati bisa tertawa terbahak-bahak.
Dibutuhkan usaha keras agar kehidupan abadi tidak berubah menjadi sebuah
kebosanan yang menyesakkan.
Pikiran untuk
menangkap seseorang yang unik yang mungkin bisa mencerahkan hidupnya—selain
menemukan putrinya—membuat sang adipati bersemangat. Dengan riang, ia
memutuskan untuk memanggil anak-anak kesayangannya yang tengah bermalas-malasan
di rumah.
Bagaimanapun,
seorang pelopor sangatlah diperlukan saat berhadapan dengan calon Magus
yang menjanjikan. Setelah menentukan langkahnya, sang adipati mengalihkan
perhatian kembali ke selokan.
Sementara penjaga
kota akan sibuk mencari mayat untuk sementara waktu, hanya masalah waktu
sebelum mereka menyadari bahwa bocah itu tidak tenggelam. Para Mermaid Jager
sudah bersiaga di parit megah yang mereka sebut rumah, dan mereka akan segera
mengungkap kebenaran jika mulai bergerak.
Jelas, ia perlu
mencegah campur tangan seperti itu. Sang adipati memasuki lubang akses dan
berjalan menuju lorong besar yang mengarah langsung ke dasar jurang terdalam.
Tak seorang pun
tahu lokasi ini. Ini adalah bukti bahwa jalur air adalah infrastruktur paling
krusial di kota. Satu rekayasa mengerikan di sini bisa menyebabkan seluruh ibu
kota tenggelam.
Tentu saja,
lokasi-lokasi kunci di bawah tanah dirahasiakan dengan sangat ketat. Rute
pelarian dari istana kekaisaran hingga ruang pemurnian terakhir yang menjadi
rumah bagi para penjaga selokan berbahan bakar sihir adalah rahasia tertinggi.
Jumlah orang di
seluruh Kekaisaran yang mengetahui jalur ini bisa dihitung dengan jari.
Mengambil satu jalur integral tersebut, sang adipati turun menuju tangki
pemurnian terakhir.
Pilar-pilar yang
tak terhitung jumlahnya membentang setinggi puluhan meter seperti tiang-tiang
suci. Di sela-selanya, gumpalan gelatin hidup yang sangat primitif memenuhi
ruang yang ada.
Suara dari massa
yang menggeliat itu lebih pekat dari lautan malam, bergema seperti rintihan
kematian yang terdistorsi, mengubah tempat itu menjadi neraka di bumi. Namun,
meski awan kematian yang menguap memenuhi udara, sang vampir justru
menertawakan bahaya tersebut.
Ia memandang
gumpalan yang dijuluki Pollution President itu—anak-anak sekaligus
murid-muridnya—dengan senyum penuh kasih sayang.
"Sudah cukup
lama, Tuan-tuan yang baik. Sayang sekali kalian tidak bisa memahamiku—aku sudah
mengenal kalian sejak kalian masih berupa bintik-bintik kecil di cawan
petri."
Sang
Adipati sebenarnya bukan bagian dari tim pengembangan awal. Sosok Methuselah
yang bertugas mengumpulkan peneliti dan mengarahkan proyek itu hanya pernah
berada di bawah naungannya. Ia sendiri hanya sesekali mampir untuk memberikan
nasihat singkat jika diperlukan.
Namun,
melalui kunjungan-kunjungan itulah ia mengetahui seluk-beluk tempat ini. Ia memahami keanehan karakteristik para slime
itu… dan tahu cara meminta sedikit 'bantuan' dari mereka.
Pengetahuan
semacam ini sanggup membuat seisi kota bertekuk lutut. Kini, sang Adipati
menggunakannya untuk menggiring anak laki-laki itu menuju tempat penampungan
banjir yang luas.
Jika para
birokrat dari cabang pengelolaan air pemerintah kekaisaran mengetahuinya,
mereka pasti akan murka dan menulis tumpukan surat protes. Meski Kekaisaran
tidak memandang rendah rakyat kelas bawah yang menyuarakan ketidaksenangan,
nasib kritik semacam itu sudah bisa ditebak. Hampir pasti berakhir di tempat
sampah, atau tertimbun selamanya dalam map masalah yang baru akan ditangani
kaum bangsawan atas "ketika mereka sedang mood."
Bagaimanapun,
pria itu telah menghabiskan empat abad tenggelam dalam hobinya. Ketololan
irasionalnya tidak berhenti begitu saja saat ia muncul di hadapan si anak
laki-laki.
Pemuda ini adalah
perapal mantra yang andal. Meskipun struktur rumusnya tidak terlalu istimewa,
Martin dapat memaklumi tujuannya. Pemuda itu hanya menggunakan trik-trik
misterius sederhana untuk memperkuat ayunan pedang, menopang fisik, atau
menciptakan perisai dadakan.
Sang profesor
sejujurnya ingin melihat lebih banyak sistem Redundancy untuk menangkal
upaya penghapusan sihir, tetapi jelas bahwa itu bukan fokus utama si pemuda.
Sebaliknya, keterampilan pedang anak laki-laki itulah yang paling mengesankan
sang Adipati.
Sihirnya hanyalah
kerangka pendukung berupa semburan mantra cepat demi memungkinkan serangan
pedang yang mematikan. Luar biasa, anak itu menggunakan sihir jauh lebih
efisien daripada beberapa Magia.
Maju, tebas,
maju, bunuh, maju—serangan gencarnya yang tak kenal lelah sungguh memukau.
Pendekar pedang biasa akan kesulitan menembus bahkan satu lapisan penghalang
milik Martin.
Sejujurnya,
Martin terpesona saat bocah itu berhasil membelah ketujuh lapisannya sekaligus.
Serangan itu telak membelah jantungnya. Ia tahu vampir mana pun yang hancur
seperti itu akan kembali menjadi debu, tak lagi mampu memulihkan diri.
Apa yang bisa
mendorong seseorang semuda itu mencapai puncak kekuatan seperti ini? Terutama
bagi manusia yang lemah dan fana, yang akan kembali ke pelukan dewa begitu
jantungnya berhenti berdetak?
"Hebat..."
desah sang Adipati sambil memuntahkan darah.
Dihadapkan
dengan mantra yang tak dikenal, ia sengaja membiarkan dirinya terkena serangan
hanya untuk menemukan sesuatu yang jauh lebih hebat dari dugaannya. Tidak, itu
tidak adil. Dengan betapa efisiennya mantra anak itu, ia pasti mampu mengulang
langkah-langkah sepele itu berkali-kali.
Untuk
mengatasi Redundancy semacam itu, sang profesor kemungkinan besar harus
melenyapkan sang katalis secara keseluruhan.
Pada
akhirnya, pikir
sang vampir sambil tertawa sinis, aku tetap melangkah maju dengan kekuatan
hak kesulunganku.
Namun,
mantra itu tetap saja mencengangkan. Sambil memindai dirinya dengan sihir, sang
profesor menyadari bahwa organ-organnya telah hancur total. Tekanan dahsyat
dari ledakan itu telah merusak bentuk tubuhnya; ia kini praktis hanya sekantung
daging yang dipaksa menyerupai manusia.
Meskipun
ia telah mencurahkan perhatian besar untuk memoles Schufti dan Gauner
kesayangannya, mereka berdua kini terkapar dengan mulut berbusa. Mereka mengalami kerusakan serius pada
saluran pernapasan yang memicu pingsan. Mereka tidak akan mati, tapi ia harus
membawa mereka ke rumah peristirahatan dengan udara bersih sampai pulih.
Ia tak perlu
memindai untuk tahu bahwa Schnee Weiss kesayangannya telah dimusnahkan.
Kekuatan utama yang bersembunyi di Isolated Space akan baik-baik saja,
namun ia tak bisa berbuat banyak terhadap sisa cadangan kawanan tempur yang
terpisah. Memaksakannya lebih jauh hanya akan menjadi kesalahan fatal.
Martin kembali
memusatkan perhatian pada mantra itu. Bagaimana mungkin trik sulap mistis yang
sederhana bisa menghancurkan penghalang berlapis dan meremukkan tubuh vampir
yang seharusnya sangat kuat? Rasa ingin tahunya tak terbendung.
Saat ia melihat
anak laki-laki itu berdiri tegap dengan semangat juang yang membara, sebuah
pikiran asing bergema di benaknya—berkat bantuan dari sosok yang baru saja ia
janjikan tidak akan ia ganggu.
[Tips] Julukan "Pollution President"
adalah kode rahasia yang digunakan selama pengembangan lendir selokan
kekaisaran. Dua ratus tahun lalu, seorang peneliti Methuselah memiliki
ide revolusioner untuk membangun metode pemurnian yang menekan biaya
pemeliharaan sistem air ibu kota. Keberhasilannya terbukti dari keberadaan
lendir yang terus memantul di bawah tanah; kini, replika mereka menjaga
kebersihan air di setiap kota besar.
Lawan di
hadapanku ini… sulit dijelaskan.
"Dia"
memiliki dua lengan dan dua kaki layaknya manusia—yang menarik adalah setiap
inci kontur kewanitaannya ditutupi oleh karapas putih yang menyilaukan. Kilauan
cangkang luarnya jelas bersifat organik dan terbuka secara alami pada jahitan
di persendiannya; "baju zirah" aneh itu pastilah rangka luar (exoskeleton).
Namun,
karakteristik yang paling membingungkan adalah kepalanya yang menyerupai kepala
seekor ngengat yang diperbesar. Dua mata majemuk raksasa menggantikan rongga
mata manusia, dan antena seperti sisir menonjol dari dahinya. Sebagai ganti
rambut, ia memiliki sesuatu yang tampak seperti sayap yang mengembang di
ujungnya.
Meskipun
Kekaisaran adalah rumah bagi banyak demihuman serangga, ini pertama
kalinya aku melihat makhluk yang secara harfiah adalah serangga bipedal.
Seberapa dominan pun genetika serangga seseorang, demihuman biasanya
tetap memiliki ciri manusia; entah itu hidung atau bibir yang familiar.
Makhluk ini
berbeda. Rasanya seolah aku sedang melihat evolusi akhir dari garis keturunan
serangga yang mencapai bentuk manusia…
Tunggu! Apakah
ini kelompok di balik ngengat sutra beracun sebelumnya?!
Merasakan
kebingunganku, ngengat aneh itu mengabaikan tangannya yang terputus dan
mendekat untuk melanjutkan pertarungan. Ia dengan cekatan mengayunkan anggota
tubuhnya yang panjang seperti cambuk, nyaris mengenaku.
Serangan
langsung pasti akan mematikan. Baju zirah dari pandai besi Konigstuhl
miliku mungkin dibuat dengan sangat ahli, tapi tetap takkan mampu menahannya.
Jika aku mencoba menahan pukulan itu dengan bagian kulit terkeras di dadaku,
aku yakin serangan itu akan menembusnya hingga ke baju zirah rantai di dalamnya
dengan mudah.
Lapisan
biologis unik ngengat itu mengeras di ujung jarinya hingga tingkat yang
mengerikan. Bagaimana aku tahu? Karena dia menggunakan tangannya untuk
menangkis Craving Blade.
"Sial!
Aku tidak bisa menembusnya!"
Karapas
yang menutupi seluruh tubuhnya hampir tidak lebih lembut, dan dia membuatku
kesulitan dengan terus bergeser untuk mengacaukan sudut seranganku. Tidak
peduli seberapa tajam Craving Blade itu jika ujungnya tidak menemukan
celah masuk yang tepat.
Ini tidak
akan jadi masalah jika aku lebih kuat—aku bisa saja mengandalkan beban
pedangku—tapi aku telah mengalokasikan seluruh kemampuanku pada pedang satu
tangan, bukan pedang dua tangan.
Aku tidak
dalam bahaya kalah, tapi… dia tidak membiarkanku menang.
Bukannya ngengat
itu mencoba menjatuhkanku. Memang, serangan mendadak pertamanya jelas mengincar
organ vitalku, tapi semua yang terjadi setelah itu hanyalah upaya untuk
mengulur waktu.
Mengetahui bahwa
satu gerakan salah akan membuatku menghabisinya, dia terus melanjutkan
pertarungan ini dengan niat sengaja untuk menahan pergerakanku.
Waktu—selalu soal
waktu! Butiran pasir yang mengalir lewat terasa lebih berat daripada emas;
berapa lama lagi sampai bangsawan itu bangkit kembali? Dua porsi Triskele
sudah lebih dari cukup bagiku, dan aku tidak tahu kapan durasi mereka akan
habis. Aku harus mengakhiri ini secepatnya, atau peluang kemenanganku yang
tipis akan menguap sepenuhnya.
"Grah!
Terima ini!"
Aku berteriak
untuk memprovokasi sekaligus memacu diriku sendiri, melesat maju dengan posisi
yang sama saat aku mengambil kepala bangsawan bertopeng itu. Dengan
perawakanku, pegangan seperti ini membuatku bisa mengendalikan bilah pedang
panjang itu lebih baik daripada sekadar menyiapkannya di depan.
Terlebih lagi,
tubuhku menjadi tameng untuk menyembunyikan arah ayunanku hingga detik terakhir
sebelum benturan. Aku sudah tidak bisa menghitung berapa kali Tuan Lambert
menggunakan trik ini untuk menjatuhkanku; kini aku meniru gayanya karena aku
menggunakan senjatanya.
Wanita ngengat
itu mengambil posisi bertarung untuk mencegatku.
Sempurna.
Tetaplah seperti itu… karena aku tidak bermaksud menyerang dengan cara biasa!
Mungkin aku hanya
berhalusinasi, tapi sesaat, aku merasa bisa melihat emosi yang bergejolak di
dalam mata hitam pekat itu. Jika harus kusebutkan, itu adalah kebingungan.
Lagipula, siapa yang tidak terkejut saat melihat seorang pendekar melemparkan
pedangnya?
"—!!!"
Aku
menghentakkan kaki dan berputar untuk melemparkan Craving Blade sekuat
tenaga. Saat pedang itu berputar di udara, aku bisa merasakan teriakan
sedihnya—“Mengapa kau melakukan ini?!”—bergema di otakku.
Inilah
yang dimaksud dengan Hybrid Sword Skill. Saat jalan menuju efisiensi memanggil, aku akan
menjawabnya. Pedang terkutuk itu boleh mengeluh sepuasnya nanti, tapi prioritas
utamaku saat ini adalah membuka jalan menuju kemenangan demi menjauhkan sang
malaikat maut.
Ngengat itu ragu
antara menghalangi atau menghindar, namun akhirnya ia menguatkan diri untuk
menangkis Craving Blade. Aku menduga dia tidak lagi melihatku sebagai
ancaman tanpa senjata.
Dugaannya salah
besar.
"Maaf, aku
hanya tahu cara bertarung yang kotor!"
Dia menepis
pedangku dengan satu tangannya yang tersisa, memaksa pertahananku terbuka
lebar.
Aku segera
menghantamnya dengan Fairy Karambit yang kugenggam erat, lalu menebas
tenggorokannya dengan gerakan kilat.
Bilahnya menyayat
langsung menembus karapas luar dan menghantam Endoskeleton yang berada
jauh di dalamnya.
Pisau yang selalu
kubawa ini sangat cocok untuk mengeksploitasi kelemahan leher yang dimiliki
semua makhluk hidup. Meskipun aku selalu menyiapkannya untuk saat-saat
mendesak, aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak menggunakannya jika tidak
terpaksa.
Kemampuan
untuk mengiris daging targetnya terlalu luar biasa. Seorang pendekar pedang
butuh nyali, dan aku takut intuisiku akan tumpul jika terus-menerus
mengandalkan senjata yang mengabaikan Armor Class.
Namun tentu saja,
aku tidak akan menahan diri saat keadaan mendesak. Mati bukanlah pilihan
bagiku.
Aku menendang
perut monster tak berkepala yang sudah tak bereaksi itu untuk menjauhkannya...
hanya untuk melihat tubuh yang terpenggal itu mulai menggeliat setelah
menyentuh tanah.
Aku tahu
pilihanku untuk tetap waspada setelah melancarkan serangan fatal adalah tepat. Monster ini menyerupai serangga, bahkan
saat sedang sekarat.
Menurut
perkiraanku, kebanyakan orang pernah bermain dengan serangga di masa muda
mereka, sebelum akhirnya rasa benci terhadap hewan merayap itu muncul. Jika
asumsi itu benar, aku menduga banyak yang tidak sengaja meremukkan kepala
serangga saat mencoba menangkapnya.
Nasib spesimen
malang itu umumnya adalah menggeliat tak keruan, seolah mereka lupa bahwa
kepalanya sudah hilang dan maut sudah di depan mata.
Hal ini terjadi
karena sistem saraf serangga memiliki beberapa titik pusat gugus saraf.
Sementara otak bertanggung jawab untuk pemikiran tingkat lanjut, sering kali
ada gumpalan saraf lain yang menentukan pergerakan otot lokal di toraks, perut,
kaki, atau sayap.
Dibangun seperti
versi serangga yang sangat maju, bentuk kehidupan aneh itu kemungkinan besar
memiliki pusat saraf serupa—bahkan mungkin cukup rumit untuk berfungsi sebagai
otak sekunder.
Aku bermain
ekstra aman karena sama sekali tidak lucu jika aku mati akibat serangan acak
dari musuh yang sudah kubunuh. Namun, pada titik ini, tubuh tanpa otak itu
tidak bisa lagi menyakitiku. Sekarang setelah perhatianku bisa teralihkan,
akhirnya tiba saatnya untuk maju dan menyelesaikan bagian terakhir.
[Tips] Meskipun banyak Demihuman memiliki
ciri-ciri menyerupai serangga, sebagian besar tidak menyimpang jauh dari desain
dasar manusia; tidak ada yang mampu melakukan hal luar biasa seperti
mengoperasikan otak tambahan.
◆◇◆
Melihat Schnee Weiss—ciptaan yang dia sayangi hampir setara
dengan putrinya sendiri—berkorban, membuat Sang Adipati hampir menitikkan air
mata.
Kelompok ngengat itu adalah kawanan yang tidak memiliki
ekspresi dan tidak pernah secara terang-terangan membalas kasih sayangnya.
Namun, melihat bukti bahwa mereka peduli padanya sedemikian rupa benar-benar
membuatnya terharu.
Selain unit pusat yang bertanggung jawab atas pelestarian
diri, seluruh kawanan ngengat itu telah tumbang dalam sebuah pertunjukan
penghormatan yang menyentuh hati.
Namun, saat untuk
bersukacita bukanlah sekarang. Schnee Weiss telah dengan nekat menciptakan
tubuh manusia demi melindungi Sang Adipati dengan segala cara. Pemuda yang
menjatuhkannya harus ditangani sebagai prioritas utama.
Saat Martin mulai
mengerahkan segalanya untuk Regeneration, pemuda itu melemparkan katalis
lain ke arahnya. Botol kecil itu meledak di tengah lintasan, menghujani cairan
kental yang langsung menyambar menjadi api.
Sesaat,
sang profesor mengira itu adalah bom minyak biasa—tapi hanya sesaat. Saat itu,
oksigen di udara sangat sedikit hingga ia hampir tidak bisa bernapas; lalu
mengapa apinya belum padam?
Ia
mencoba mantra pemadam api sederhana untuk melenyapkan oksigen di sekitarnya,
tetapi cairan api lengket itu tetap tidak mau padam. Setiap detik yang berlalu
membakar tubuhnya yang melemah, menimbulkan gelombang rasa sakit yang menyiksa.
Api dan
neraka terkutuk yang dibawanya adalah putra sulung yang setia kepada Dewa yang
dendamnya belum tersalurkan. Baik rasa sakit maupun bekas luka yang
ditimbulkannya pada Vampire terasa lebih pedih dibandingkan ras lain.
Luka
bakar ini sembuh jauh lebih lambat daripada luka normal—hampir seburuk
penolakan fisiologis mendalam yang disebabkan oleh perak.
Panas
yang berkepanjangan terus menyiksanya, hingga akhirnya membakar bola matanya
sampai pecah. Api tersebut tidak hanya sulit dipadamkan, tetapi suhu yang
dihasilkannya juga luar biasa tinggi.
Namun, meski rasa
sakitnya cukup kuat hingga memicu ketakutan akan kematian, Sang Adipati masih
bisa menahannya. Ia telah hidup cukup lama, dan ia mengakui bahwa pembunuh di
hadapannya cukup mengesankan hingga layak mendapatkan pujian.
Ia pernah
ditikam, ditenggelamkan, dikurung dalam peti mati baja, dan tentu saja, dibakar
berkali-kali. Jika ia berhasil selamat dari hantaman api metafisika yang secara
konseptual hanya membakar target, maka api ini bukanlah sesuatu yang perlu
dikhawatirkan.
Martin dengan
cepat memanipulasi darahnya sendiri untuk meledakkan seluruh tubuhnya.
Daging berhamburan ke mana-mana, membawa serta kobaran api
yang membara. Serat-serat ototnya terekspos menyakitkan ke dunia luar, namun
itu lebih baik daripada membiarkan api menghalangi proses bangkitnya lebih lama
lagi.
Pertama-tama, ia
membangun kembali organ sensoriknya. Organ-organ ini adalah keharusan untuk
memberlakukan perubahan mistis pada dunia fisik secara akurat, dan lebih
sederhananya, ia membutuhkannya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
Kelopak matanya
yang kempis terisi kembali seolah waktu mengalir mundur, memulihkan kilau perak
yang tersembunyi di balik topengnya.
Hal pertama yang
dilihat Vampire itu dengan mata barunya adalah pemuda itu tengah berlari
ke arahnya dengan pedang di bahu, sembari meraih sesuatu yang berkilauan dari
tasnya.
Pengalaman dan
naluri bertabrakan, lalu berteriak di benak Sang Adipati: Dia tahu cara
membunuh Vampire.
Profil samping
Uskup Agung Lampel yang tegas berkilauan di tangan pemuda itu. Disertasi teolog
Night yang terkenal, The Covenant of the Endowed, telah memelopori
filosofi vampirisme tingkat tinggi yang melambungkan namanya.
Koin yang dicetak
untuk menghormatinya terbuat dari perak murni, menjadikannya jimat
keberuntungan populer bagi para Vampire yang menginginkan
perlindungannya... sekaligus bagi mereka yang ingin memburu para pengisap darah
yang dicemooh dunia.
Koin itu adalah
maut. Tidak ada Vampire, baik yang baru lahir maupun yang sudah setua
bumi, yang mampu bertahan hidup setelah koin itu menembus jantung mereka.
Sinar matahari,
keajaiban, dan perak adalah tiga belenggu berat yang menyertai keabadian
mereka. Matahari yang pendendam menghukum mereka yang berani menipu-Nya; Bulan
yang melindungi mengikat mereka agar mereka tetap tahu batasan diri. Inilah
hal-hal yang tidak dapat ditoleransi oleh Vampire—demikianlah hukum
dunia menetapkan.
Karena lalai
melatih naluri liarnya, mengerahkan kekuatan Vampire pun tidak ada
gunanya bagi Sang Adipati; bocah itu tetap menang. Bahkan, pendekar pedang itu
berhasil menebas seluruh anggota tubuhnya, melenyapkan pilihan terakhirnya.
Maka, Martin
mengerahkan segenap kemampuannya. Selama sepersekian detik, ia melepaskan sihir
terkuatnya yang luar biasa, menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya.
Ia takut mati.
Masih banyak kesenangan di dunia ini yang belum sempat ia saksikan.
Lagi pula, entah
masa depan akan terbukti menghibur atau membosankan, semua itu tidak ada
artinya jika cangkang daging dan tulang ini hanya menampung hati yang takkan
pernah berdetak lagi.
[Tips] Ajaran Uskup Agung Lampel dimulai dengan
kalimat terkenal: "Nasib kita ditentukan oleh permintaan cinta yang rendah
hati. Jangan biarkan vampir jatuh ke dalam pelanggaran hukum, terkutuk menjadi
iblis." Meskipun Kekaisaran Trialist menetapkan standar perilaku vampir
modern, risalah ini ditulis untuk kelompok agama yang telah ada jauh sebelum
Kekaisaran Rhine.
Pria itu sendiri
telah wafat, namun ia masih dikenang sebagai santo pelindung kaum
vampir—julukan yang secara resmi didukung oleh penguasa jajaran dewa
kekaisaran. Ia mendapat penghormatan khusus dari mereka yang memuja Dewi Malam.
Legenda
mengatakan bahwa jiwanya telah kembali ke sisi Bulan untuk selamanya mengawasi
saudara-saudaranya, memberikan penghiburan serta peringatan di saat yang paling
dibutuhkan.
Sial, aku
membuang terlalu banyak waktu.
Di tengah
panasnya pertempuran, setiap detik terasa sangat padat, padahal sebenarnya aku
baru menghabiskan waktu hampir satu menit. Meski terdengar singkat, itu lebih
dari cukup bagi seorang vampir untuk membuat kemajuan nyata menuju kebangkitan.
Aku menyimpan
karambit peri itu dan memanggil kembali Craving Blade. Sesaat, pedang
itu seolah merajuk dan enggan menanggapi—bercanda, aku hanya bercanda.
Pedang itu muncul
di tanganku seperti biasa, meskipun aku tidak mengarang bagian tentang rasa
tersinggung yang ia pancarkan karena merasa ditelantarkan. Aku tahu dia lebih
menyukai gaya permainan pedang ortodoks yang elegan, tapi aku benar-benar
berharap ia bisa menyimpan drama itu untuk nanti.
Aku beralih
menatap pria bertopeng itu; dia memang hampir pulih sepenuhnya. Sial, dia
cepat sekali… Aku harus bergegas sebelum dia sempat meraih tongkatnya.
Sambil berlari,
aku mengeluarkan prototipe Anti-Undead terakhir yang rencananya akan
kuuji di laboratorium kampus hari ini. Meskipun aku sudah berhemat, aku tetap
menghabiskan sebagian besar poin pengalaman dari labirin ichor untuk
ketiga mantra ini.
Kurasa setiap
pemain bisa terlalu terobsesi pada teori setelah hampir kalah sekali. Tentu
saja, GM yang paling kejam sekalipun jarang menggunakan tipe musuh yang sama
untuk seluruh kampanye, tapi memang begitulah kenyataannya sekarang.
Aku melepaskan
proyektil terakhir sebelum bangsawan itu pulih sepenuhnya. Tabung logam berisi
katalis itu melesat di udara dan pecah dengan sendirinya, mirip seperti ledakan
bom udara.
Namun kali ini,
hanya satu sisinya yang hancur, menyebabkan seluruh isinya menyembur ke depan.
Ini bukan kebetulan; aku telah memodifikasi rumusnya untuk memprogram
penyebaran muatan agar jatuh tepat ke arah musuhku.
Komitmenku
terhadap kesederhanaan sangat jelas dalam desain ini. Tujuannya adalah
kebalikan dari bom termit: mempertahankan panas tinggi selama mungkin.
Singkatnya, aku menciptakan Mystic Napalm untuk mencegah monster undead
beregenerasi.
Api menyembur
keluar dengan raungan dahsyat, memaksa sang bangsawan berdansa dalam panas yang
membara. Aku mencampur minyak sulingan dan gelatin hewani dengan bahan
pengental untuk menghasilkan bom pembakar yang kasar namun sangat efektif.
Campuran
lipofilik itu tidak mudah padam. Aku bahkan memasukkan sedikit True Magic
agar api tetap menyala tanpa oksigen untuk sementara waktu—sebuah perwujudan
mengerikan dari pembakaran abadi.
Tanpa bensin, aku
terpaksa menggunakan minyak murni, namun dorongan mistis itu sudah lebih dari
cukup untuk menghasilkan daya tembak yang kuharapkan. Tidak peduli seberapa
cepat ia beregenerasi, daging yang baru terbentuk itu akan langsung hangus
terbakar.
Satu-satunya cara
baginya untuk menyingkirkan bahan pembakar itu adalah dengan mencukur bagian
tubuh mana pun yang bersentuhan dengannya. Inilah alasan mengapa napalm begitu
ditakuti di Bumi; siapa pun yang terkena akan benar-benar hancur.
Meski
begitu, definisi normalitas di dunia ini memiliki spektrum yang jauh lebih
luas. Mungkin ada banyak orang yang bisa mengabaikannya sambil bersiul santai,
atau mungkin bahkan—
Duar!
Sebuah
ledakan terdengar. Tubuh bangsawan yang tadinya merupakan obor manusia itu
meledak dengan suara berdecit yang menjijikkan, melontarkan api ke segala arah.
Bara api melesat dengan kecepatan yang melampaui refleksku, bahkan sempat
menghanguskan rambutku saat melintas.
Tidak mungkin… Apa dia meledakkan seluruh permukaan
tubuhnya sendiri demi memadamkan api itu?!
Aku bisa melihat langsung isi perut berwarna merah tua yang
biasanya tersembunyi. Beberapa bagian tubuhnya tampak sedang memulihkan
kerusakan secara instan di depan mataku.
Sial! Apa dia membuang semua bagian yang tidak berguna
dalam pertempuran agar bisa segera bangkit?! Itulah sebabnya tulang dan ototnya
beregenerasi lebih dulu!
Aku kehabisan
kartu as. Tanpa katalis, aku tidak punya satu pun mantra serangan yang tersisa.
Meskipun aku bisa menebasnya selama memegang senjata, membunuhnya tidaklah
sesederhana menyelesaikan pertarungan.
Dalam skenario
terburuk, monster buatannya bisa melancarkan serangan balik saat sekarat, lalu
membutuhkan waktu lama untuk pulih kembali. Dia benar-benar curang. Aku seperti
anak kecil di pusat arkade yang bermain dengan koin recehan melawan pria dewasa
yang menghabiskan seluruh gajinya.
Aku
membangkitkan jiwaku yang hampir layu dengan teriakan perang yang paling
lantang. Aku mengayunkan pedangku ke arah manekin berdarah itu.
Tiba-tiba,
ia mendecakkan lidahnya yang tanpa daging dengan cekatan. Ia mengangkat tangan
cacatnya—tangan dengan cakar panjang khas vampir yang siap bertempur.
Aku tahu kau
bisa melakukannya! Kenapa kau tidak melakukannya dari tadi?! Apa kau sedang
bermain-main?! Apa kami manusia begitu lemah sampai kau harus mempermainkan
kami alih-alih menggunakan tinjumu, dasar bajingan tua?!
Namun, sudah terlambat untuk mundur. Aku harus melancarkan
serangan ini dan menggunakan tiga Termite Arrow yang tersisa untuk
mengkremasinya—tunggu!
Sebuah ide jenius muncul. Tadi aku menyamakan sifat
kekanak-kanakan pria ini dengan permainan arkade dan koin, dan itu
mengingatkanku… aku punya satu. Sesuatu yang terbuat dari perak murni.
Dengan satu aliran pikiran, aku membentuk Invisible Hand
untuk merogoh tas dan mengeluarkan dompetku yang tipis. Di dalamnya, aku menemukan koin berharga yang
kusimpan untuk keadaan darurat.
Itu adalah koin
perak mutu tinggi dari Uskup Agung Lampel, hadiah karena aku
"menjual" Nona Celia. Aku tidak pernah membayangkan koin ini akan
berubah menjadi Magic Bullet yang sesungguhnya.
Aku bisa
menang. Yang harus
kulakukan hanyalah membelah dadanya dan memasukkan koin ini tepat ke jantungnya
yang terbuka. Maka vampir yang mustahil dibunuh ini akan menemui ajalnya. Para
dewa telah menetapkan sejak lama bahwa begitulah hukum dunia ini bekerja.
Aku hanya punya
satu kesempatan. Medan
perang tidak pernah menawarkan pengulangan. Namun, ini adalah taruhan yang
layak untuk kepingan perak terakhirku. Aku mengambil satu langkah terakhir dan
mengeluarkan kartu tersembunyi dari balik bilah pedangku.
Baiklah.
Sekarang mari kita lihat siapa yang memegang kartu lebih bagus.
Namun,
pertama-tama, aku harus menghentikan pergerakannya. Dia tampak tidak terbiasa dengan adu tinju.
Aku berhasil memanipulasi gerakannya dengan tipuan tatapan dan gerakan tubuh;
gertakan cepat ke kanan sementara berat badanku di kiri sudah cukup untuk
mengelabui dia.
Tangan
kanannya terbuka lebar saat aku menebasnya, dan aku segera mengunci tangan
kirinya setelah dia mencoba membalas dengan panik. Tiga Termite Arrow
melayang di atasku dengan Invisible Hand, sementara jemari kiriku
menggenggam peluru perak itu untuk mengakhiri segalanya.
Jika aku gagal di
sini, semuanya berakhir. Dek kartu di tanganku sudah kosong.
Jika aku
mundur, semuanya juga berakhir. Bertarung dalam kondisi lelah melawan
penyembuhan tanpa batas sama saja dengan bunuh diri.
Keraguan adalah
kematian. Mundur adalah kematian. Semuanya bergantung pada satu serangan
ini—detik ini juga.
Aku setuju
sepenuhnya.
"—!!!"
Tepat
saat aku bersiap memberikan pukulan penentu, Craving Blade mulai
menjerit. Ini bukan
permohonan manis yang biasanya ia keluarkan agar digunakan. Ini adalah
desakan—bukan, ia menuntutku untuk melakukan sesuatu.
Namun, gumpalan
pikiran yang samar itu gagal diterjemahkan menjadi makna apa pun di kepalaku.
Saat aku baru menyadari bahwa itu adalah sebuah peringatan, segalanya sudah
terlambat.
"Awgh?!"
Derit
mengerikan mengiringi distorsi ruang yang mendadak. Aku sedang berada di udara,
nyaris mendarat untuk langkah terakhirku, ketika pandanganku menangkap sesuatu
yang tak terpikirkan.
Lengan
dan kaki yang selama ini setia menemaniku melalui setiap inci pengalaman
hidupku... kini terbang menjauh. Lightning Reflexes milikku terpicu,
menyeret adegan mengerikan itu ke dalam visual gerak lambat tanpa izin.
Lengan kananku
putus dari bahu. Kaki kananku patah di bagian tulang kering. Kaki kiriku
terpelintir lepas pada pangkal paha. Anggota tubuh yang kugunakan dengan penuh
kasih sejak egoku pertama kali terbangun di Konigstuhl, kini telah lenyap.
Meskipun aku
tidak bisa memahami apa yang baru saja terjadi, anehnya aku tidak merasakan
sakit. Mungkin karena panasnya pertempuran, atau mungkin otakku menolak
memproses kenyataan yang tidak masuk akal ini.
Aku hanya
terhuyung mundur, menyerap sisa kekuatan yang meresap ke dalam tubuhku. Pedang
di depan dadaku mengerang rendah. Aku tidak tahu kapan pedang itu sampai di
sana, tapi mungkin berkat dialah leherku tidak terpelintir dan aku tidak mati
seketika.
Pedang
itu menyadari aku tidak bisa lagi membela diri. Dia datang untuk melindungi bagian vitalku di
saat-saat terakhir.
Satu-satunya
anggota tubuhku yang tersisa kini patah seperti tusuk gigi bekas, namun masih
bertahan berkat seutas benang—tak diragukan lagi karena permata yang berkilau
di tangan kiriku.
Cincin Bulan itu memancarkan warna biru es yang cemerlang,
bersinar seindah biasanya. Sayang
sekali, permata itu hanya bisa memperpanjang ajalku selama beberapa detik.
Kekuatan
yang berputar itu belum hilang. Aku bisa merasakan tornado tak kasat mata yang
tidak akan puas sampai bangkaiku hancur menjadi daging cincang.
Kurasa
aku seharusnya sadar. Tidak peduli seberapa jenaka ucapan dan tingkah laku pria
itu, dia tetaplah monster yang berusaha membunuhku. Mengancam nyawanya tentu
saja akan memicu reaksi kekerasan yang berada di luar nalar.
Namun,
aku tidak akan mati sendirian.
Aku
akan membunuhmu. Aku akan membunuhmu meski ini adalah hal terakhir yang
kulakukan.
Kematian yang
mengintai membuat waktu terasa berjalan sangat lambat. Aku masih bisa merangkai
mantra selama ingatan Helga masih bersinar terang dan otakku mampu menyusun
rumus.
Aku akan
menyelesaikan misiku. Tanganku memang telah terkoyak, membuat tongkat Thermite
dan Fairy Knife beterbangan. Namun, jika aku bisa menangkapnya dan
menghujamkan koin perak biarawan muram itu tepat ke jantungnya yang terbuka,
dia pasti akan jatuh.
Aku tahu tidak
ada gunanya mencoba bertahan hidup. Ini bukan jenis serangan langsung yang bisa
kualihkan dengan penghalang pembengkok ruang; ruang di sekitarku sendiri adalah
jangkauan serangannya.
Pendekar
pedang tidak diciptakan untuk menghindari serangan semacam ini. Mungkin seorang
Tanker sejati bisa menerobosnya, tapi bocah lemah sepertiku tidak punya HP
yang cukup untuk bertahan.
Jadi,
satu-satunya yang tersisa adalah tidak mati sia-sia. Aku sudah sampai sejauh
ini dengan memikul segala janji dan mimpi. Aku tidak akan menyerah begitu saja
dan menerima nasib seperti korban kecelakaan lalu lintas di hadapan musuh yang
sudah hancur!
Pekerjaan ini
memang neraka—naga jatuh dari langit, karakter level tinggi berkeliaran di
kota, atau anjing kampung yang mengejarmu jika lemparan dadumu buruk. Namun,
itu tidak berarti aku bisa menerima diinjak-injak seperti serangga hanya karena
sedikit nasib buruk.
Aku akan
membawamu bersamaku!
"Kamu
terlalu banyak berlari, anak anjing."
Tepat saat aku
hendak meluncurkan serangan balasan, derit mengerikan dan segala tekanan di
sekitarku dipatahkan oleh suara lembut seorang wanita.
"Ketahui
tempatmu. Mengendalikan pelawak yang suka bercanda adalah tugasmu."
Kabut merah
tiba-tiba menyelimuti ruangan, menelan sang bangsawan. Sedetik kemudian, aku
mendengar suara dahsyat—suara mengerikan dari sesuatu yang keras yang berderak,
seolah-olah sebuah massa raksasa baru saja menghancurkan seseorang secara utuh.
Suara itu terasa
seperti seseorang sedang mengampelas jiwaku, menjadi latar belakang saat
tubuhku jatuh tak terkendali.
"Oh?
Mungkin aku agak terlambat."
Sambil
terus mengeluarkan suara-suara mengerikan—aku yakin mendengar teriakan atau
mungkin permohonan ampun—awan merah itu mulai memadat. Kabut merah tua yang tak
berbentuk itu menghilang, menampakkan sosok wanita bangsawan seolah-olah dia
memang sudah ada di sana sejak awal.
Wanita
itu mengenakan toga yang, meskipun tampak kuno, membangkitkan citra luhur dari
zaman puitis klasik. Wibawanya terpancar jelas pada pandangan pertama.
Pakaiannya
diwarnai dengan ungu kekaisaran yang langka. Ia mengenakannya dengan anggun,
meski entah mengapa, ia tampak seolah tidak mengenakan apa-apa.
Ketelanjangannya yang provokatif berbenturan dengan keanggunannya, memberikan
kesan eksentrik yang kuat.
Mata
merah darah dan rambut hitam pekat menghiasi tunik ungunya dengan pesona gaib.
Kilau kulit putih susunya memperlihatkan kelembutan yang melampaui awan.
Meskipun matanya terkulai seolah sedang melamun, taring panjang yang menonjol
melewati bibirnya adalah tanda Vampire yang tak terbantahkan.
Sosoknya
terasa familier. Saat rasa sakit mulai menjalar dan kehilangan darah
mengaburkan pandanganku, wajah lain yang sangat mirip dengan wanita cantik itu
muncul.
Gadis
dengan pakaian suci yang merangkak keluar dari kabut merah itu adalah gadis
yang sama yang berpisah denganku tadi.
Oh, pikirku. Tentu saja. Dia mirip Nona
Celia.
Sambil menatap sang biarawati yang berlari ke arahku sambil
menangis, aku mendapati penemuan tak berguna ini sangat menghibur. Aku menutup
mataku dengan senyuman kecil di bibir.
[Tips] Ungu kekaisaran adalah warna terlarang yang
paling berharga di antara semua warna yang dilarang di Kekaisaran. Hanya Kaisar
dan mantan kaisar yang diizinkan memakainya. Pewarna ini sangat langka dan
membutuhkan tenaga kerja yang masif, menjadikannya simbol status selama
berabad-abad. Namun, karena warnanya terlalu mencolok, kaisar modern cenderung
menghindarinya di luar upacara resmi.
◆◇◆
"Tunggu—tunggu! Ini tidak adil! Kenapa Anda ada di sini?!"
Itulah kata-kata
pertama sang Adipati saat ditarik paksa keluar dari kabut merah.
Meskipun ia
berhasil menyatukan kembali sesuatu yang menyerupai kepala dan dada, anggota
gerak dan tubuh bagian bawahnya telah hancur hingga tak bisa dikenali lagi.
Bahkan tatanan rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan total. Topeng yang
sangat ia banggakan pun tergeletak hancur berkeping-keping di lantai.
"Oh?
Kecerdasanmu sungguh luar biasa, Anak Anjing."
Wanita itu
membiarkan jubah ungu kekaisarannya terkulai dengan anggun namun menghina. Ia
menyeringai, memamerkan taring khasnya. Senyumnya dipenuhi aura intimidasi yang
menyesakkan.
Meskipun
kata-katanya terdengar halus, bahasa Rhinian Kuno yang ia gunakan sanggup
membuat sang Adipati menggigil ketakutan. Martin membenci cara bicara yang
bertele-tele; ia membenci pelafalan ini; tapi yang paling utama, ia membenci
wanita di hadapannya.
Itulah alasan
mengapa Martin selalu berusaha keras agar cara bicaranya tidak terdengar kuno
seperti para vampir tua lainnya.
"Jika aku
harus menilai masalah ini dengan adil, kaulah yang pertama kali melakukan
kesalahan. Lihatlah kehancuran yang kau timbulkan pada anak laki-laki ini.
Lihatlah cucu perempuanku tercinta, yang menangis tersedu-sedu sambil
memelukku."
Wanita itu
tersenyum lembut dengan etiket murni seorang wanita terhormat—semua itu ia
lakukan sambil melakukan kekerasan yang tak terkatakan.
"Dan
terakhir, lihatlah aku, yang perjamuannya harus terhenti karena ulahmu."
Di sinilah
berdiri salah satu dari sedikit wanita yang pernah memimpin Kekaisaran
Trialist. Theresea Hildegarde Emilia Ursula von Erstreich, yang dikenal dalam
sejarah sebagai The Slender Empress, tengah meremukkan leher
keponakannya sendiri.
"Grghleg…"
Jari-jari
mungilnya, yang seharusnya lebih cocok menggenggam alat makan perak atau kipas
sutra yang indah, kini meremas dengan kekuatan penghancur. Ia mematahkan
ketujuh tulang leher Martin. Tubuh Martin yang lentur tak mampu melepaskan diri
dari cengkeraman maut itu; sang Permaisuri memegangnya erat agar pria itu tidak
bisa memulihkan diri.
Vampir sangat
jarang menerima berkah ilahi untuk mengalahkan sesama mayat hidup.
Ketidakmampuan mereka untuk menggunakan senjata perak yang mematikan membuat
pertikaian internal selalu berujung pada satu hal: kekerasan fisik yang murni.
Pertarungan
antarvampir adalah adu tekanan luar biasa yang baru akan berakhir ketika salah
satu pihak menyerah secara mental. Meskipun raga mereka mungkin abadi,
eksistensi diri mereka berada di alam pikiran.
Jiwa, sebagai
sesuatu yang merah dan fana, jauh lebih sulit untuk dibunuh. Itulah sebabnya
Martin mengembangkan mantra untuk terus-menerus memampatkan ruang; kekuatan
puntir yang tak henti-hentinya adalah caranya menghadapi kaum Undead.
"Sebaliknya,
seseorang yang pernah diangkat menjadi Kaisar tidak boleh merengek seperti ayam
betina di pagi hari saat melihat kerabatnya. Saat ini aku hanyalah seorang
penulis drama yang sudah pensiun; jari-jari ramping ini tidak bisa memegang apa
pun kecuali pena."
Meskipun sang
Adipati mencoba mengejek, "Memang ramping," tenggorokannya
yang hancur hanya bisa mengeluarkan gelembung darah. Nasib buruknya telah
lengkap.
Jika Martin telah
mengasah dirinya hingga mencapai puncak ilmu sihir, maka bibinya ini adalah
puncak dari kekuatan fisik vampir… dan ia berada dalam jarak jangkauan
serangan. Pertarungan sudah diputuskan sejak awal saat bibinya masuk ke jarak
dekat.
The Slender
Empress mampu mengubah
tubuhnya menjadi kabut, melesat menembus ruang, dan menelan darah untuk
memperoleh kekuatan yang tak terbayangkan. Ia mengambil setiap aspek kekuatan
yang membuat ras lain takut pada kaum pengisap darah.
Ia dengan bangga
mengumumkan bahwa itulah makna sejati dari menjadi vampir. Strateginya
tak terkalahkan justru karena kesederhanaannya yang mematikan.
Hancur dan babak
belur, sang Adipati dikutuk dalam siklus kematian dan kelahiran kembali yang
menyakitkan, tanpa kesempatan untuk merapal mantra. Yang bisa ia lakukan
hanyalah membalas tatapan jijik bibinya dengan tatapan penuh kebencian, persis
seperti yang ia lakukan di atas kapal itu bertahun-tahun yang lalu.
Sementara itu, Theresea dengan acuh tak acuh mengabaikan
kebencian keponakannya. Ia mengalihkan perhatian pada cucu perempuannya yang
sedang duduk bersimpuh di samping bocah laki-laki yang tak sadarkan diri.
"Pandanglah kekasihku yang berhati lembut itu. Betapa
dia mengingatkanku pada masa mudaku; oh, betapa aku merindukan Tuan Richard saat
aku masih gadis dulu," desah Theresea penuh gairah.
Biarawati vampir itu berlutut di samping nyawa manusia yang
kian memudar, merapatkan tangan pada simbol sucinya.
Terpicu oleh aroma darah yang pekat, taringnya secara
naluriah menyembul keluar; ujung runcingnya menggelitik lidahnya seolah
berbisik langsung ke dalam sukma.
Untuk sesaat, rasa candu itu merayap kembali dari
ingatannya, memicu kerakusan yang berbicara pelan dari sudut gelap otaknya.
Di sini ada
pesta, bisik suara itu. Dewa
Siklus telah mengatur takdir untuk menyajikan hidangan terlezat yang pernah kau
dambakan.
"…O,
Dewi."
Namun,
sang pendeta wanita tetap teguh. Ia berpegang kuat pada nama Dewi sambil
menggigit lidahnya sendiri dalam-dalam.
Dia
bukanlah Constance Cecilia Valeria Katrine von Erstreich, vampir yang bertekad
lemah; dia adalah Suster Cecilia, pendeta wanita Malam yang rendah hati yang
akan menyelamatkan nyawa anak laki-laki ini.
"Wahai
Dewi Malam yang penyayang, Engkau yang mengawasi kami dari surga."
Ia
membiarkan tetesan darah dari bibirnya mengalir turun ke dagu tanpa peduli,
lebih memilih menggerakkan lidahnya untuk mengucapkan doa-doa sakral. Setiap
suku kata mengandung makna—kekuatan laten dari keyakinannya yang belum pernah
ia gunakan hingga saat ini.
"Akulah
dia yang berdoa untuk memberi, dia yang menolak untuk sekadar menerima. Bunda
yang penuh kasih, aku mohon kepada-Mu untuk membebaskan jiwa ini dari
penderitaan."
Kesungguhan
mantranya disambut dengan cahaya lembut yang entah dari mana asalnya,
melenyapkan aura mencekam di ruangan itu. Cahaya bulan sejati bersinar terang:
tatapan Sang Ibu menembus kegelapan untuk menuntun domba-Nya yang tersesat.
"Bawalah
aku ke dalam debu, dan selamatkan anak-Mu yang terkasih dari penderitaan,
karena begitulah jalan yang telah Engkau gariskan."
Doa
Cecilia yang khidmat dijawab oleh kekuatan surgawi yang mendistorsi kenyataan
menjadi sebagaimana mestinya. Sebuah keajaiban—keajaiban sejati yang dampaknya
bahkan tak bisa ditiru oleh sihir paling agung sekalipun.
Ketika
sang biarawati menyatukan kembali anggota tubuh pemuda itu, daging yang koyak
itu menyatu kembali seolah tak pernah terpisah. Tanpa meninggalkan bekas luka atau tanda kerusakan
sedikit pun, kulitnya kembali sehat dan berkilau.
Hal ini mustahil
dilakukan dengan sihir biasa. Namun, apa yang mustahil bagi sihir menjadi
sangat mungkin bagi Miracle. Para Dewa menggunakan kekuasaan terbatas
mereka untuk mewujudkan keinginan orang-orang yang beriman.
Namun, para Dewa
tidak pernah memanjakan manusia. Mereka adalah pelindung sekaligus penjaga
keseimbangan dunia: memberi tanpa meminta imbalan adalah hal mustahil bagi
keajaiban berskala besar ini.
Jika dibiarkan,
manusia akan berhenti menjadi manusia dan hanya menjadi budak surga.
"Urgh… agh!
Aurgh! Hgraaah!"
Tiba-tiba,
anggota tubuh sang biarawati mulai terkoyak dengan suara retakan yang
memilukan. Otot, urat, dan tulang—semuanya hancur berantakan sebagai harga yang
harus dibayar atas keajaiban yang tidak masuk akal tersebut.
Anggota tubuh
manusia tidak diciptakan untuk diganti. Bahkan di dunia futuristik yang jauh
lebih maju sekalipun, menyambung kembali bagian tubuh yang terputus adalah
sebuah pengecualian, bukan norma. Meminta para dewa untuk mewujudkan hal yang
mustahil pasti akan menuntut balasan yang setimpal.
Daging
dibayar dengan daging, tulang dibayar dengan tulang.
Keajaiban
ini adalah sebuah mukjizat di mana penggunanya menerima luka orang lain ke
dalam tubuhnya sendiri untuk menyembuhkan mereka. Menciptakan kembali anggota
tubuh yang hilang adalah puncak dari ilmu penyembuhan. Hal ini sangat berbeda
dengan pengusiran setan kecil atau berkat sederhana untuk memulihkan
kelelahan—dedikasi semata tidak akan pernah bisa menghasilkan keajaiban seluar
biasa ini.
Lengan
kanan Cecilia dan kedua kakinya kini terkoyak, persis seperti kondisi Erich
sebelumnya. Lengan kirinya terlipat mengerikan layaknya permainan cat’s
cradle, dengan tulang-tulang yang menyembul keluar menembus kulit. Itulah
harga yang harus dibayar demi memanggil Sang Dewi ke alam fana.
"Mmgh…
grah! Hng!"
Sudah
jelas bahwa seorang Vampire tidak akan mati hanya karena kehilangan
anggota tubuh. Terlebih lagi, efek samping dari keajaiban itu hanyalah
memindahkan kerusakan fisik kepada si pengguna.
Begitu
prosesnya selesai, Cecilia diizinkan untuk menyembuhkan luka-lukanya sendiri—ia
bahkan bisa menggunakan sihir lain untuk mempercepat pemulihannya. Bisa
dikatakan, ini adalah lambang belas kasihan dari Bunda Malam; tanpa
bantuan-Nya, lengan yang terputus selamanya akan hilang.
Namun,
bagi seorang biarawati yang selama ini terlindungi dan tidak mengenal rasa
sakit, cobaan dari Sang Dewi terbukti terlalu berat untuk ditanggung. Penderitaan karena kehilangan seluruh
anggota tubuhnya terasa sama menyakitkan dengan apa yang dirasakan Erich.
Tidak, faktanya, karena akal sehat Erich telah tumpul di tengah pertempuran
yang intens, siksaan yang dirasakan Cecilia jauh lebih buruk.
Dalam kondisi
tubuh yang tercabik, instingnya mulai kelaparan akan darah. Sifat jahat yang ia
kira telah tenang kini berkobar hebat di dalam dirinya. Insting itu membisikkan
bahwa menyesap darah sekarang adalah harga yang sepadan untuk nyawa yang telah
ia selamatkan.
Betapa nikmatnya
jika ia menancapkan taring ke tubuh yang lemas ini—oh, betapa menggiurkannya
tubuh ini. Tak diragukan lagi, itu akan menjadi simfoni rasa yang takkan pernah
hilang dari benaknya. Sesuatu di lubuk hatinya mengatakan bahwa saripati
semurni ini mungkin takkan pernah muncul lagi di hadapannya seumur hidup.
"Hng… tidak! Augh, agh… aaaugh!"
Hasrat
ini adalah kutukan bagi spesiesnya yang gila. Namun, dengan memaksakan diri
menahan dahaga terkutuk yang tak terbayangkan oleh manusia, sang biarawati
memaksakan diri untuk berdiri. Sambil mencambuk egonya layaknya mandor yang
kejam, ia menopang dirinya dengan kaki yang masih cacat.
Akhirnya,
sang Vampire muda menghadapi akar dari semua kekacauan ini. Sang Ayah
yang lahir di era cahaya pertama hanya bisa menatapnya selagi masih tergantung
lemas di tangan bibi buyutnya—sosok yang lahir sejak tahun-tahun berdirinya
Kekaisaran.
"Ayah,
izinkan aku menjelaskan maksudku dengan jelas."
Mengenakan jubah
suci yang berlumuran darah, sang putri melotot ke arah ayahnya yang egois. Ia
memutuskan untuk bertindak tegas. Meskipun ia percaya pada bakti kepada orang
tua, pikiran bahwa ia akan dipaksa mengikuti jejak ayahnya membuatnya muak.
Hanya karena bibi buyutnya memaksakan posisi itu, bukan berarti ayahnya bisa
melakukan hal yang sama kepadanya.
"Saya tidak
akan naik takhta. Bagaimana mungkin saya, dengan segala ketidakpengalaman ini,
memegang tampuk pimpinan Keluarga Erstreich dan Kekaisaran sementara saya
bahkan belum cukup umur? Saya yakin Paman Tersayang dan Kaisar Kedua yang
terhormat akan setuju."
Sang Adipati
tampak ingin membantah, tetapi jerat daging di lehernya tidak mau lepas. Selain
itu, dia sedang berada di hadapan pemimpin klan—siapa yang berani menentang
Theresea? Berbicara sekarang tidak akan membantunya. Hewan peliharaan
kesayangannya masih tidak responsif, dan meski mereka akan segera bangun,
satu-satunya yang punya peluang bertahan lebih dari lima menit melawan Theresea
hanyalah Schnee Weiss.
"Saya telah
memilih untuk mengabdikan diri pada iman saya. Anda dan Ibu mungkin menempatkan
saya di biara demi keamanan, tetapi sekarang saya menganggap tempat itu sebagai
rumah atas kemauan saya sendiri."
Di atas
segalanya, Martin bisa melihat dari mata putrinya bahwa tidak ada lagi yang
bisa ia lakukan. Permata merah darah khas Vampire itu dipenuhi
kemandirian yang mengingatkannya pada istrinya. Wanita itu lembut, tetapi
keinginannya selalu tak tergoyahkan.
Kekuatan
bersemayam dalam keanggunan; ketegasan bersemayam dalam cinta. Meskipun sang
istri mendukungnya sepenuh hati, wanita itu memiliki keteguhan untuk tidak
kehilangan jati diri demi suaminya—keuletan yang kini hidup kuat dalam diri
putri mereka.
Martin telah
kalah. Meskipun ia mungkin akan mengambil alih beberapa tanggung jawab dalam
keadaan darurat, tidak ada yang bisa ia katakan untuk membuat putrinya menerima
jabatan itu sekarang.
Jelas sekali
bahwa Cecilia sangat serius, bahkan ia sudah siap menghadapi intrik politik
keluarga besar dan bibi buyutnya yang mengerikan itu.
"Biarkan aku
ulangi: aku tidak akan menjadi Ratu, dan aku juga tidak akan memimpin
klan."
Karena ditolak
mentah-mentah dengan kekuatan keluarga yang tak terduga berada di pihak
putrinya, sang Adipati tidak punya pilihan selain menyerah. Namun, saat ia
hendak mengangguk pasrah, ia melihat sesuatu yang aneh: luapan amarah murni
yang berkobar di mata merah putrinya.
Mengapa putrinya
begitu marah? Tentu, rencana menjadikannya Duchess Erstreich berikutnya dan
mengatur pernikahan politik dengan Kekaisaran adalah alasan yang logis.
Dia juga baru
saja terlibat pertarungan hidup dan mati. Namun, insting Martin mengatakan
bahwa sebagian besar kemarahan putrinya berasal dari hal lain.
"Dan satu
hal terakhir…"
Martin
bertanya-tanya apa penyebabnya.
Apakah karena dia
mengintimidasi gereja agar membawanya ke ibu kota?
Ataukah karena
rencana perjamuan suksesi yang berlebihan itu telah bocor, lengkap dengan tujuh
gaun mewah yang sudah ia siapkan?
Jika bukan itu,
mungkin Cecilia hanya kesal karena ayahnya menggunakan segala cara dalam
keluarga untuk memuluskan rencana ini sejak awal…
"Jangan
pernah bicara padaku lagi! Aku benci Ayah!"
Kilatan petir
seolah menyambar tubuh sang Adipati. Ini adalah guncangan terbesar yang ia
rasakan sepanjang hari—bahkan mungkin peristiwa paling traumatis sepanjang
hidupnya. Bahkan saat belati perak menggores jantungnya tadi, ia tidak merasa
seputus asa ini.
"S-Stanzie?!"
Begitu hebat
histerianya hingga ia berhasil mengeluarkan sepatah kata meski bibinya
mencengkeramnya dengan kuat. Ia meneriakkan nama depan putrinya dengan wajah
yang mengernyit sedih.
"Namaku Cecilia!
Berapa kali harus kukatakan padamu untuk memanggilku dengan nama
baptisku?!"
"Kau suka
nama yang kupilih, ya? Ha ha! Luar biasa! Menawan—oh, betapa menawannya dirimu,
sayangku. Sudahlah, jangan khawatir. Biarkan kelelawar tua ini yang mengatur
semua urusan sesuai keinginanmu." Theresea menimpali dengan nada mengejek.
Memalingkan badan
dari ayahnya yang tercengang, Cecilia berjalan mendekati pemuda yang masih tak
sadarkan diri.
Jika bibi
buyutnya menawarkan diri untuk menangani sisanya, lebih baik ia menunggu dengan
sabar.
Namun, membiarkan
Erich tergeletak di lantai yang keras itu terlalu berlebihan—bagaimanapun,
Erich adalah pahlawan yang telah menyelamatkannya dari jerat takhta.
"Ke-kenapa… Stanzie…"
"Guk,
guk—gonggonganmu membuatku merasa kasihan. Kebodohan apa yang membuat
pria begitu tergoda dengan janji cinta abadi dari pasangan dan keturunannya?
Sayang sekali. Aku akan memberimu banyak pelajaran malam ini, anjing
kecil."
Meskipun tanah
yang kotor mengancam akan menodai jubah sucinya, Cecilia duduk dan mengangkat
tubuh bagian atas Erich ke pangkuannya.
Meskipun ia telah
memindahkan seluruh luka—bahkan goresan terkecil sekalipun—mukjizat itu tidak
memulihkan darah yang telah hilang. Tubuh Erich terasa dingin.
Pemuda itu tidur
dengan nyenyak. Kepalanya miring ke satu sisi, memperlihatkan leher yang telah
menarik perhatian Cecilia sejak mereka berbagi cangkir anggur itu. Kulitnya
yang halus tampak memanggil-manggilnya.
Sungguh
pembunuh Vampire yang terlahir alami, pikir Cecilia sambil terkekeh pelan. Ia menarik
kerah baju besi Erich agar pemuda itu tidak kedinginan.
Nalurinya
berbisik: Dasar bodoh. Mangsa yang sempurna ada di depan matamu, tapi kau
menolak menunjukkan taringmu. Jika kau bertindak sekarang, akan sangat mudah
untuk menjadikannya kekasihmu—sebagai budakmu yang akan selalu berada di
sisimu.
Ia berbisik balik
pada nalurinya: Bukankah itu menjadikanku seorang bandit? Sama seperti para
pengisap darah yang dikutuk Uskup Agung Lampel sebagai puncak kejahatan? Aku
memang Vampire, tapi aku juga penganut Bunda Malam. Karena itu, aku akan
membalas kebaikan dengan kebaikan—aku tidak akan pernah mencuri nyawanya demi
keuntunganku sendiri.
Sejujurnya, gadis
itu menganggap situasi ini sedikit menyenangkan. Ia teringat sebuah drama
tentang gadis bangsawan yang menyelinap keluar rumah dan bertemu seorang
pahlawan. Dalam cerita itu, sang putri tidak melakukan hal buruk. Ia hanya
menggenggam tangan sang pahlawan dengan senyum ramah dan memeluknya saat sang
pahlawan kelelahan. Tugasnya adalah memberikan dukungan dari jauh.
Sang Dewi pasti
tidak akan mencelanya karena menikmati fantasi polos ini. Cecilia ingin
menghabiskan sedikit waktu lagi untuk meresapi kenyataan bahwa ia telah
diselamatkan. Seolah menegaskan mimpinya, medali bulan di lehernya
berdenting pelan.
[Tips] Bangsawan sering kali memiliki beberapa nama pemberian. Meskipun sebagian besar biasanya menggunakan nama depan (pemberian ayah mereka), banyak juga yang memilih menggunakan nama kedua atau ketiga yang mereka sukai. Hal ini terutama terjadi jika ada tokoh terkenal yang mencoreng reputasi nama utama mereka.



Post a Comment