Translated by: Nels-chan
Proofreader by: Nels-chan
Edited by: Nels-chan
Chapter 1
Dunia Ini Tidak Bisa Dipercaya
"Siapa saja! Apa ada orang di dalam!?"
Terdengar suara teriakan dari luar yang diarahkan ke dalam rumah.
Tempatku berada sekarang adalah jauh di dalam hutan yang terpencil dari pemukiman manusia.
Orang-orang yang datang ke tempat seperti ini biasanya hanyalah segelintir teman, atau mereka yang punya tujuan tertentu.
Karena suaranya tidak terdengar familier, aku mengira itu adalah yang terakhir (yang punya tujuan tertentu), jadi aku menghentikan pekerjaanku dan menuju pintu depan.
"Iya, iya, tunggu sebentar..."
Saat aku mengulurkan tangan ke gagang pintu untuk membukanya, gerakanku terhenti.
Saat ini, ada belasan orang di luar rumah.
Jika mereka adalah orang-orang yang datang dengan 'tujuan tertentu' itu, mereka tidak akan datang dengan jumlah sebanyak ini, dan pasti akan langsung menyerang rumah tanpa banyak bicara.
Berarti, mereka bukan orang-orang yang datang karena tujuan tersebut.
Siapa sebenarnya mereka? Aku bertanya-tanya dalam hati, namun di saat yang sama para pengunjung itu masih terus memanggil dengan suara keras.
Karena merasa mulai terganggu, aku memutuskan untuk menegur para pengunjung yang berisik itu.
"Berisik sekali!! Kalian tidak berpikir apa kalau ini mengganggu!? Siapa kalian ini!?
Bersamaan dengan kata-kataku, aku melepaskan tekanan sihir ke arah mereka, membuat mereka semua jatuh terduduk lemas.
Melihat ke arah mereka yang ketakutan, ada beberapa pria yang mengenakan baju zirah seragam yang mewah, dan beberapa pria lagi dengan baju zirah biasa.
Lalu, ada seorang wanita yang mengenakan pakaian yang tampak seperti hanya dipakai oleh orang-orang berkedudukan tinggi.
"Hah? Siapa kalian?"
Saat aku menanyakan identitas rombongan yang tidak jelas ini, pria-pria dengan baju zirah mewah itu langsung berdiri dengan sigap.
"Kurang ajar! Beraninya kau bicara seperti itu di hadapan siapa!?"
"Hah? Mana kutahu. Memangnya kau siapa?"
Ini kan pertemuan pertama, mana mungkin aku tahu. Apa dia bodoh?
Padahal aku mengatakan hal yang sangat wajar, tapi ekspresi pria berbaju zirah mewah itu—sebut saja ksatria biar nggak ribet—langsung dipenuhi amarah.
"Be-Berani sekali kau, sungguh tidak sopan..."
"Tunggu sebentar."
Saat ksatria itu hendak mengatakan sesuatu, wanita yang tampak berderajat tinggi itu menyela.
Berdasarkan
teriakan tentang ketidaksopanan terhadap dirinya, ksatria ini sepertinya adalah
orang yang memiliki kedudukan cukup tinggi. Fakta bahwa wanita ini bisa menyela
perkataannya berarti wanita ini memiliki kedudukan yang lebih tinggi lagi.
Hah... aku hanya merasakan firasat buruk yang merepotkan.
"Bawahanku
telah bersikap tidak sopan. Namaku Victoria, Putri Pertama dari Weimar Kingdom.
Apakah benar Anda adalah Kenta Maya-dono?"
Wanita yang
mengaku bernama Victoria itu adalah seorang wanita cantik luar biasa dengan
rambut pirang indah yang menjuntai hingga ke pinggang, serta kulit putih bersih
tanpa noda. Penampilannya memang sangat luar biasa.
Meski begitu,
ternyata dia adalah seorang tuan putri, benar-benar semakin merepotkan saja.
"...Ya.
Benar."
Begitu aku
menjawab untuk mengonfirmasi identitas, ksatria yang tadi dihentikan oleh sang
putri langsung naik pitam.
"Kurang ajar
kau!! Beraninya kau berbicara seperti itu di hadapan Yang Mulia!!"
"..."
Melihat sikap
ksatria itu, aku paham posisi seperti apa yang mereka bawa saat datang ke sini.
Benar-benar, dunia ini sama sekali tidak ada bagus-bagusnya.
"Hentikan!
Saya minta maaf! Mohon jangan dimasukkan ke dalam hati!"
Tuan putri itu
berkata begitu, namun mana mungkin aku tidak merasa kesal setelah diperlakukan
dengan sikap seperti itu. Apa sebenarnya yang dia bicarakan.
"...Lalu?
Ada urusan apa?"
Karena aku memang
sudah terlanjur kesal, aku bertanya dengan sikap tidak bersahabat. Ksatria itu
hendak mengatakan sesuatu lagi, namun ia segera ditahan oleh ksatria lainnya.
Dia benar-benar bodoh. Apa dia tidak punya kemampuan belajar?
Mungkin menyadari
bahwa aku sedang menatap ksatria itu dengan pandangan dingin, tuan putri itu
mulai menjelaskan maksud kedatangannya seolah ingin memperbaiki keadaan.
"Se-Sebenarnya,
saya ingin memohon bantuan dari Maya-dono!"
"Bantuan?"
"I-Iya.
Sebenarnya, setelah Anda mengalahkan Raja Iblis, kami mengira negara para iblis
akan hancur... namun, mereka telah mengangkat raja baru dan mulai menyerang
kota serta desa manusia lagi."
"Ooh."
Karena aku tidak
tertarik, aku menjawab dengan seadanya, dan aku bisa melihat tuan putri itu
tampak tersentak. Mungkin dia tidak menyangka ceritanya akan ditanggapi dengan
begitu acuh tak acuh.
"Ka-Kami
juga sudah berusaha menanganinya... namun, bagaimanapun juga, bangsa iblis
lebih kuat dari kami bangsa manusia dalam hal sihir. Sudah banyak jatuh korban
yang tidak sedikit. Karena itulah, saya ingin memohon kekuatan Anda yang dulu
pernah mengalahkan Raja Iblis itu!"
Setelah
mengatakan itu, tuan putri itu menatapku dengan mata yang penuh kesungguhan.
Ekspresinya tampak sangat serius, namun...
"Aku
menolak."
Saat aku menolak
permintaan tuan putri itu mentah-mentah, wajahnya langsung melongo. Mungkin dia
sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa permintaannya sebagai seorang putri
akan ditolak.
Namun bagiku,
tidak peduli apakah itu tuan putri ataupun raja, aku sama sekali tidak berniat
untuk menuruti permintaan para penguasa di dunia ini.
"Ke-Kenapa..."
Mendengar gumaman
tuan putri yang entah salah sasaran, bodoh, atau tidak peka itu, aku merasa
kesal tanpa sadar.
"Kenapa?
Justru itu pertanyaanku, kenapa kalian bisa berpikir kalau aku akan meminjamkan
kekuatan demi 'bangsa manusia di dunia ini'?"
"..."
Mendengar
pertanyaanku kembali, tuan putri itu terdiam. Mungkin bagi tuan putri,
perintahnya adalah mutlak dan tidak akan pernah dibantah. Hal itu membuatku
semakin kesal.
"Kalian
menculikku dari dunia lain seolah-olah aku barang curian, membohongiku dan
memaksaku ikut perang melawan iblis, lalu setelah aku berhasil mengalahkan Raja
Iblis dan pulang, yang menungguku bukanlah kepulangan ke dunia asalku,
melainkan hukuman mati sebagai pengkhianat, kan? Untuk dunia sampah seperti
ini, buat apa aku meminjamkan kekuatanku?"
Begitu aku
mengatakannya, tuan putri itu mulai memberikan alasan dengan putus asa.
"I-Itu! Itu
bukanlah perbuatan Weimar Kingdom, melainkan perbuatan Lindor Kingdom..."
"Saat aku
menghancurkan separuh ibu kota Lindor untuk melarikan diri dari hukuman mati,
aku dijadikan buronan dengan hadiah atas kepalaku di seluruh dunia, kan?
Termasuk di Weimar juga."
"I-Itu..."
Mendengar
perkataanku, tuan putri itu akhirnya benar-benar kehilangan kata-kata.
Sebenarnya, alasan aku mengasingkan diri jauh di dalam hutan yang tidak
didatangi orang ini adalah karena aku dijadikan buronan dunia akibat
menghancurkan separuh ibu kota dan melibatkan mayoritas keluarga Lindor Kingdom
yang memanggilku saat aku melarikan diri dari eksekusi. Berkat itu, di mana pun
aku berada di dunia ini, aku menjadi pihak yang dikejar, sehingga aku berakhir
mengasingkan diri di dalam hutan seperti ini. Namun, sepertinya tempat ini
sudah menjadi rahasia umum, karena terkadang ada pemburu hadiah yang datang
menantangku demi hadiah yang terpasang di kepalaku. Itulah yang kumaksud dengan
'tujuan tertentu' tadi.
Sebagian besar
dari mereka percaya bahwa aku adalah penjahat besar dan merasa silau dengan
jumlah hadiah yang tinggi sehingga mencoba menantangku, tetapi orang-orang
seperti itu akan berhenti mengganggu setelah aku menunjukkan perbedaan kekuatan
yang sepihak.
Yah, di antara
mereka ada juga yang datang bukan demi hadiah, melainkan dengan sungguh-sungguh
ingin menghabisi aku yang dianggap sebagai penjahat besar demi kebaikan dunia.
Setelah aku kalahkan dan aku ceritakan perlakuan yang kuterima, orang itu
menitikkan air mata dan bersimpati padaku. Omong-omong, sampai sekarang kami
masih berhubungan. Dia sering membantu mencarikan barang-barang yang kurang
dalam kehidupan mandiriku di pengasingan ini.
"Sepertinya
kalian sudah paham. Kalau begitu, segera pergi. Ini mengganggu."
"Ah,
tidak..."
Aku mendesak
mereka untuk segera pulang, tetapi tuan putri itu masih tampak enggan dan
mencoba mengatakan sesuatu. Padahal, apa pun yang dikatakannya sekarang akan sia-sia
saja.
Saat aku berpikir
demikian, ksatria yang tadi sepertinya sudah mencapai batas kesabarannya dan
menyalak.
"Betapa
tidak sopannya terhadap Yang Mulia Victoria!! Apa manusia rendah sepertimu
berpikir bisa menolak keinginan Yang Mulia!?"
"Tu-Tunggu
sebentar..."
Tuan putri
mencoba menahan ksatria itu, tetapi ksatria yang sudah terlanjur emosi itu
tidak bisa berhenti.
"Atau
jangan-jangan kau! Ada alasan kenapa kau merasa keberatan jika bangsa iblis
dibasmi!? Hahaha, aku paham. Kau menaruh dendam terhadap Lindor Kingdom. Untuk
membalas dendam itu, kau menghasut bangsa iblis, kan!?"
"..."
Melihat ksatria
yang dengan penuh percaya diri melontarkan teori yang sangat tidak masuk akal
itu, aku merasa tercengang hingga kehilangan kata-kata. Bagaimana caranya dia
bisa sampai pada kesimpulan seperti itu?
"Kau tidak
bisa membantah karena itu adalah fakta, kan!?"
Aku menghela
napas panjang menanggapi ucapan ksatria bodoh ini.
"Hah... kau,
apa kau tidak lupa sesuatu?"
"Apa
itu!?"
"Yang
membunuh Raja Iblis itu adalah aku, tahu?"
"Lalu kenapa
dengan itu!!"
"...Bagi
bangsa iblis, sosok seperti apakah aku ini?"
"Tentu saja!
Sosok yang membunuh raja mereka, musuh, be..."
Dengan menjawab
pertanyaanku, sepertinya dia akhirnya menyadari kebenaran tersebut, karena
suara ksatria itu berangsur-angsur mengecil. Sebenarnya, aku tidak sudi
menyebut hal seperti ini sebagai sebuah kebenaran. Kenapa dia tidak terpikirkan
sejak awal?
"Bagi bangsa
iblis yang menganggapku musuh bebuyutan, bagaimana cara aku menghasut mereka?
Beritahu aku."
"I-Itu..."
Membiarkan
ksatria yang tiba-tiba terbata-bata itu, aku berbalik menatap tuan putri.
"Lagipula,
sejak awal, memilih orang yang menganggap wajar untuk memerintah orang lain
sebagai pendamping menunjukkan posisi seperti apa kalian saat datang ke sini.
Kalian menyebutnya sebagai permintaan, tetapi kalian menganggap keinginan
kalian sudah sewajarnya dikabulkan. Jika aku keberatan, kalian berniat
memaksaku, kan?"
"I-Itu tidak
benar!"
"Selama ada
orang seperti itu di pihakmu, kata-katamu tidak punya kekuatan untuk
meyakinkanku."
Begitu aku
melontarkan kata-kata pedas itu, tuan putri menatap tajam ksatria tadi. Ksatria
yang ditatap menunjukkan ekspresi terkejut, yang kemudian berubah menjadi
ekspresi putus asa. Rasakan itu.
"Oleh karena
itu, segera pergi. Kalian mengganggu pemandangan."
Hanya itu yang
kukatakan, lalu aku memutar badan dan bermaksud kembali ke rumah.
"Tu-Tunggu!
Jika demikian, maka kami..."
"Berisik!
Cepat pergi!!"
Karena mereka
terlalu gigih, aku mengeluarkan sedikit tekanan sihir yang kuat untuk
mengintimidasi rombongan tuan putri tersebut. Tuan putri dan yang lainnya
seketika wajahnya memucat dan tidak bisa bergerak sedikit pun.
Karena masa lalu
yang menyakitkan diungkit-ungkit kembali, aku akhirnya menumpahkan segala isi
hatiku kepada tuan putri dan yang lainnya yang sedang mematung.
"Urus saja
masalah kalian sendiri!! Jika tidak sanggup, menyerah saja dan hancur sana!! Kenapa aku yang
harus melakukan sesuatu!? Aku! AKU!!"
Aku...
"Aku
ini orang luar di dunia ini, tahu!?"
Sosok
yang sebenarnya tidak ada di dunia ini. Padahal aku orang luar. Kenapa kalian berpikir aku akan melakukan sesuatu?
Jangan bercanda.
Setelah mendengar
teriakan duniaku, tuan putri terdiam terpaku untuk beberapa saat, lalu bahunya
terkulai lemas.
"...Saya
mengerti... Maaf telah membuat keributan, saya memohon maaf."
Tuan putri
berkata demikian, lalu untuk pertama kalinya sejak tiba di sini, dia
menundukkan kepalanya.
"Yang
Mu..."
"Diam.
Jangan buka mulutmu lagi."
Saat
ksatria berisik tadi mencoba memanggil tuan putri, dia memotong ucapan ksatria
itu dengan suara rendah yang belum pernah dia keluarkan sebelumnya. Ah, dia
benar-benar marah.
Mungkin
tuan putri berpikir bahwa seandainya ksatria itu tidak bersikap angkuh, dia
mungkin bisa bernegosiasi sedikit lebih lama. Padahal tetap saja akan aku
tolak.
"Kalau
begitu, kami pamit undur diri. Maaf telah mengganggu."
Tuan
putri berkata demikian, lalu memimpin rombongannya meninggalkan depan rumahku.
Saat itu, orang-orang di sekitarnya menatap tuan putri dengan penuh rasa
khawatir, lalu menatapku dengan pandangan penuh dendam.
Ya ampun,
bahkan setelah bicara sebanyak itu pun mereka tetap tidak paham, ya. Melihat sikap itu, keinginanku untuk
membantu mereka semakin hilang sepenuhnya.
Hancur saja sana
atau apa pun, pikirku sambil mengumpat dalam hati. Begitu aku masuk ke rumah,
terdengar suara langkah sandal yang mendekat.
"Kenta, ada
apa? Sepertinya keadaanmu berbeda dari biasanya?"
Yang muncul dengan wajah khawatir adalah seorang wanita cantik dengan kulit kecokelatan, rambut perak panjang, dan telinga yang sedikit runcing. Wanita cantik itu memelukku dengan tubuhnya yang sintal sambil mengenakan celemek.
"Ah, jangan khawatir Mayleen. Hanya saja, tuan putri dari negeri manusia datang memohon bantuan karena bangsa iblis berulah lagi."
Begitu aku menjawab sambil membalas pelukan wanita cantik itu—Mayleen—wajahnya berubah menjadi sedih.
"Ini semua
salahku... karena aku tidak bisa memimpin mereka semua."
Mendengar Mayleen
yang berucap dengan penuh penyesalan, aku menyahut bahwa itu bukan salahnya.
"Merekalah
yang berkhianat dan tidak mengakuimu sebagai ratu penerus, Mayleen. Sebaliknya,
kekacauan ini terjadi karena aku telah menghabisi ayahmu..."
Ya, Mayleen
adalah putri dari Raja Iblis yang aku bunuh. Dengan kata lain, aku adalah musuh
bebuyutan orang tuanya. Namun, Mayleen menggelengkan kepalanya pelan.
"Sejak awal,
adalah sebuah kesalahan bagi Ayah untuk memiliki ambisi menguasai seluruh
negeri manusia. Itu adalah akibat dari perbuatannya sendiri."
Di mata Mayleen
saat mengatakan itu, terpancar kebencian yang jelas. Mayleen pernah memohon
kepada ayahnya, sang Raja Iblis, untuk menghentikan invasi ke negeri manusia
yang telah berubah dari sekadar pertikaian kecil menjadi upaya penjajahan skala
penuh. Namun, sang Raja Iblis sama sekali tidak mau mendengarkan dan justru
mencium rencana Mayleen yang ingin menghentikannya, sehingga nyawa Mayleen pun
diincar oleh ayahnya sendiri.
Jika aku tidak
kebetulan menyelamatkannya, dia pasti sudah terbunuh. Saat aku menolongnya, dia
menaruh kebencian yang sangat dalam kepada ayahnya yang mencoba membunuhnya.
Dia mengatakan bahwa dia tidak akan pernah memaafkan ayahnya dan jika
dibiarkan, negeri bangsa iblis akan hancur, bahkan dia sampai membantuku dalam
upaya penaklukan tersebut.
Namun, setelah
Raja Iblis dikalahkan, Mayleen yang kemampuan bertarungnya tidak terlalu
tinggi—di tengah bangsa iblis yang menjunjung tinggi kekuatan—berusaha keras
untuk membangun kembali negeri iblis sebagai ratu baru. Sayangnya, dia tidak
diakui oleh para bawahan yang tersisa dan diusir dari takhtanya, hingga
akhirnya terpaksa menjalani hidup dalam pelarian.
Tepat pada saat
itu, aku yang juga menjadi buronan dunia dan berkelana tanpa tujuan, secara
tidak sengaja bertemu kembali dengan Mayleen yang sedang menjalani hidup dalam
pelarian di sebuah desa terpencil. Kami berdua, yang memiliki nasib serupa dan
mengalami pertemuan kembali yang begitu dramatis, merasakan adanya ikatan
takdir. Kami saling bergantung satu sama lain, dan dalam waktu singkat,
hubungan kami berkembang menjadi sepasang kekasih. Setelah itu, kami mencari
tempat tinggal yang aman bersama-sama, hingga akhirnya membangun rumah di
tempat ini.
"Jadi,
Kenta, apakah kamu akan menerima tawaran bangsa manusia itu?"
"Tidak,
aku langsung menolaknya. Untuk apa aku harus menolong orang-orang di dunia
ini."
Saat aku
menjawab dengan nada tidak senang, Mayleen tersenyum getir sambil mengelus
pipiku.
"Aku
mengerti jika Kenta membenci dunia ini. Tapi, kamu tidak membenci segalanya di
dunia ini, kan?"
Mayleen bertanya
sambil memiringkan kepalanya. Seolah-olah dia sedang bertanya, "Bagaimana
dengan saya?". Jika dia sudah menunjukkan ekspresi seperti itu, aku tidak
akan bisa menang.
"Benar juga.
Mayleen adalah pengecualian di dunia ini. Aku mencintaimu."
Setelah aku
mengatakannya dan mengecupnya, Mayleen menunjukkan wajah tersipu namun tampak
tersenyum bahagia.
"Hanya Aku? Bagaimana dengan Ivern-san atau Yulia-san?"
"Mereka itu
cuma petugas pengadaan logistik."
"Ya
ampun."
Mayleen tertawa
kecil mendengar ucapanku. Sebagai informasi, Ivern dan Yulia adalah penjelajah
yang datang untuk memburuku karena percaya bahwa aku, sang buronan, adalah
penjahat besar. Karena mereka bukanlah orang-orang picik yang haus hadiah
melainkan orang yang datang untuk menegakkan keadilan, setelah aku kalahkan dan
aku ceritakan kebenarannya, mereka justru bersimpati padaku.
Sejujurnya aku
membenci dunia ini, tetapi itu terutama karena para penguasanya. Rakyat biasa
bukanlah target kebencianku. Duniaku saat ini hanya terdiri dari Mayleen yang
kucintai, serta Ivern dan Yulia yang ya... bolehlah kalau mau dibilang teman.
Semuanya sudah cukup dengan ini saja. Aku tidak butuh apa-apa lagi. Itulah yang
kupikirkan, namun...
"...Ugh."
Tiba-tiba Mayleen
menutup mulutnya dan berlari menuju dapur. Dapur di rumah ini adalah hasil
buatanku yang mereproduksi keran air dan peralatan masak dari dunia asalku
dengan menggunakan sihir, dan Mayleen sangat menyukainya. Mayleen berlari ke
arah wastafel itu dan muntah-muntah.
"A-Apa kau
baik-baik saja, Mayleen!?"
Melihat kondisi
Mayleen yang tiba-tiba memburuk, aku bergegas menghampirinya dan berniat
menggunakan sihir penyembuhan, tetapi...
"Tu-Tunggu
sebentar..."
Mayleen menahanku
dengan tangannya, tidak mengizinkanku menggunakan sihir.
"Ta-Tapi..."
Karena aku tidak
tega melihat Mayleen kesakitan, aku tetap mencoba menggunakan sihir
penyembuhan, namun Mayleen meminta hal lain.
"Tolong,
jangan gunakan sihir penyembuhan, bisakah kamu menggunakan sihir
pendeteksi?"
"Sihir
pendeteksi?"
"Iya,
sekarang aku tidak bisa menggunakannya dengan baik..."
"B-Baiklah.
Tapi, ke tubuh Mayleen?"
"Iya."
Mendengar permintaan
yang tiba-tiba itu, aku merasa bingung namun tetap menggunakan sihir pendeteksi
pada Mayleen. Kemudian...
"...Eh?"
Dalam sihir
pendeteksi, terpancar mana milik Mayleen, dan satu lagi mana yang kecil, sangat
kecil.
"Eh?
I-Ini...?"
Aku menatap
kosong ke arah mana yang sangat kecil yang terpancar dari dalam perut Mayleen.
Melihat reaksimu, Mayleen pun tersenyum.
"Ah,
ternyata benar. Aku sudah mengiranya."
"M-Mayleen...
i-ini..."
Saat aku bertanya
dengan suara gemetar, Mayleen tersenyum dengan sangat cantik.
"Sepertinya
aku mengandung."
Sambil berkata
demikian, Mayleen mengelus perutnya sendiri.
"Bayi
kita."
Begitu mendengar
kata-kata itu, aku langsung memeluk Mayleen. Aku menarik kembali kata-kataku
sebelumnya. Duniaku kini telah lengkap dengan adanya Mayleen, beberapa teman,
dan anak ini. Meskipun anak ini nantinya menjadi pemicu konflik di dunia ini
karena merupakan anak dari orang dunia lain dengan kekuatan yang lebih besar
dari siapa pun dan mantan ratu bangsa iblis. Namun, hal itu tidak mengubah
kenyataan bahwa dia adalah salah satu dari sedikit keberadaan yang kucintai di
dunia ini.
***
"Kau tahu,
Kenta? Sekarang Weimar Kingdom sedang diserang bangsa iblis dan keadaannya
sangat gawat."
"Oh,
begitu."
Aku menanggapi
ucapan Ivern dengan seadanya sambil memeriksa barang logistik seperti bumbu
dapur, buah-buahan, dan kebutuhan sehari-hari yang dibawanya.
"Apa-apaan,
kau masih saja tidak tertarik dengan urusan duniawi seperti biasanya."
"Sama sekali
tidak... Ya, terima kasih ya, Ivern, kau selalu membantu."
"Bukan
masalah. Lagipula, aku merasa upah yang kuterima terlalu banyak. Barang-barang yang kau berikan
nilainya sepuluh kali lipat dari barang logistik ini, tahu?"
Ivern
tetaplah orang yang sangat jujur seperti biasanya. Di rumah ini, daging bisa
didapat dengan berburu monster di sekitar sini, dan sayuran ditanam di kebun
rumah, tapi kami tidak bisa membuat bumbu dapur dan buah-buahan sulit ditanam
sehingga kami tidak membudidayakannya. Selain itu, aku meminta Ivern membawa pakaian dan kebutuhan sehari-hari
lainnya secara berkala. Sebagai
gantinya, aku memberikan bahan-bahan seperti tanduk, taring, dan kulit monster
yang kudapat saat berburu daging. Namun, dia selalu mengeluh karena nilai
bahan-bahan tersebut tidak sebanding dengan harga barang logistik yang dia
bawa.
"Tidak
apa-apa. Bahan-bahan itu bisa kudapat sebanyak apa pun hanya dengan berburu
monster untuk dimakan. Karena kami tidak bisa pergi ke tempat yang ramai orang,
anggap saja itu sebagai biaya jasa."
Begitu aku
mengatakannya, Ivern menghela napas kecil.
"Mungkin
sekarang masih tidak apa-apa, tapi mulai sekarang kau tidak bisa bilang begitu
lagi, kan?"
Sambil berkata
demikian, Ivern mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan. Di sana, Yulia yang
merupakan kekasih Ivern, sedang asyik mengelus perut Mayleen sambil bercanda.
"Hei,
apa dia belum bergerak?"
"Bagaimanapun
juga ini masih terlalu dini. Setelah beberapa bulan berlalu dan perutku
membesar, dia pasti akan mulai bergerak."
"Begitu
ya."
Setelah melihat
mereka berdua, Ivern kembali menatapku.
"Anak dari
orang dunia lain dengan kekuatan terkuat di dunia dan mantan ratu bangsa iblis,
ya... Itu topik yang akan membuat dunia gempar jika sampai ketahuan."
Wajah Ivern saat mengatakannya
tampak tulus mencemaskan kami.
"Berhati-hatilah.
Jika pihak manusia tahu, mereka mungkin akan menjadikan anak itu sebagai
kekuatan tempur untuk memusnahkan bangsa iblis. Dan jika pihak bangsa iblis
tahu, mereka mungkin akan menjadikannya raja berikutnya."
Memang benar,
jika dunia tahu, mungkin akan jadi seperti itu. Namun, aku tidak akan
membiarkan hal itu terjadi.
"Jika mereka
berani merencanakan hal seperti itu, aku akan menghancurkan mereka sampai
mereka tidak akan pernah bisa menyentuh kami lagi. Baik manusia maupun bangsa
iblis."
Mendengar
ucapanku, Ivern tersenyum getir.
"Kau
radikal seperti biasanya ya..."
"Benarkah?
Menurutku, aku sudah cukup rasional karena tidak memusnahkan seluruh manusia di
dunia ini, baik manusia maupun bangsa iblis."
Saat aku
mengatakannya, wajah Ivern berkedut.
Di dunia
ini, bangsa manusia dan bangsa iblis dikategorikan ke dalam golongan manusia
yang sama. Bangsa manusia unggul dalam kemampuan fisik, sedangkan bangsa iblis
unggul dalam sihir. Berbeda dengan bangsa manusia yang secara ras tidak
memiliki banyak perbedaan penampilan, bangsa iblis memiliki berbagai macam ciri
fisik yang khas. Mayleen memiliki ciri khas berupa telinga yang runcing. Kulit
kecokelatan dan rambut perak cukup sering ditemukan di dunia ini. Sebagai
catatan, ras yang disebut Elf tidak ada di sini.
Selain
itu, ada orang yang tubuhnya sangat besar atau sangat kecil, ada yang memiliki
tanduk atau taring, bahkan ada yang memiliki sayap—dan orang-orang seperti itu
semuanya diklasifikasikan sebagai bangsa iblis. Alasan mengapa ciri-ciri fisik
tersebut muncul adalah karena besarnya energi sihir yang tersimpan di dalam
tubuh sehingga memberikan pengaruh pada fisik mereka. Dengan kata lain, bangsa
iblis tidak lain adalah manusia yang memiliki cadangan energi sihir yang besar.
Lalu,
mengapa pembagian kategori seperti ini bisa ada? Sepertinya penyebabnya adalah
seorang raja dari suatu negara beberapa ratus tahun yang lalu. Raja itu berasal
dari bangsa manusia, dan dia mulai mendiskriminasi serta menganiaya manusia
selain bangsa manusia karena menganggap mereka yang tidak sama dengannya
bukanlah manusia.
Ciri khas
lain dari bangsa manusia adalah tingkat reproduksi yang tinggi, mungkin karena
kemampuan fisik mereka yang hebat. Secara jumlah, bangsa manusia jauh lebih
banyak. Oleh karena itu, penganiayaan yang awalnya dimulai dari satu negara
tersebut akhirnya menyebar ke seluruh dunia. Orang-orang yang awalnya hanya
menjadi korban penganiayaan akhirnya berkumpul dari seluruh dunia, menamai diri
mereka sebagai "Bangsa Iblis" yang unggul dalam sihir, dan membangun
negara bangsa iblis.
Di
sinilah bangsa manusia dan bangsa iblis terpisah secara mutlak. Sejak saat itu,
bangsa manusia dan bangsa iblis terus berada dalam keadaan berperang. Dan aku,
tidak memercayai sekaligus membenci keduanya secara setara.
"Syukurlah
kau tidak berniat begitu. Jika kau serius, kau mungkin sudah menjadi Dewa
Penghancur yang melenyapkan dunia ini."
"Biarpun aku
sedang merasa muak, mana mungkin aku melakukan hal semacam itu."
Orang ini
menganggapku sebagai apa, sih? Aku sadar kalau aku memang sedang merasa muak
dengan keadaan, tetapi aku tidak pernah membunuh siapa pun kecuali jika mereka
memerintahku dengan paksa atau mengincar nyawaku.
"Hei..."
"Hm?"
"...Jika kau
serius... apa kau juga akan membunuhku?"
Tiba-tiba
Ivern menanyakan hal yang sangat tidak masuk akal. Aku membunuh Ivern?
"Jika kau
memusuhiku. Aku akan membunuhmu tanpa ragu."
"...Jika aku
tidak memusuhimu?"
"Yah,
sepertinya kau sudah masuk dalam kategori temanku. Aku tidak akan melakukan
apa-apa padamu."
Saat aku
mengatakannya, Ivern tersenyum kecil. Orang ini lumayan tampan, jadi gestur
seperti itu terlihat cocok padanya dan itu membuatku kesal.
"Begitu ya,
teman, ya."
"Kalau kau
keberatan juga tidak apa-apa. Mulai hari ini kau adalah pedagang
keliling."
"Tunggu!
Apa-apaan pedagang keliling itu!? Teman! Aku ini temanmu!"
"Begitu
ya."
Bagiku, mau
dianggap pedagang keliling atau kenalan pun tidak masalah. Aku memasukkannya ke
dalam kategori teman hanya karena Mayleen bilang bahwa Ivern dan Yulia adalah
teman kami.
"Yah,
aku senang kau menganggapku begitu. Karena bagaimanapun juga, awalnya aku salah
paham terhadap Kenta dan datang untuk menghabisimu."
"Ah,
benar juga. Ternyata kau memang musuh, ya."
"Sekarang
sudah beda kan! Aku selalu membawakan barang logistik, dan kali ini aku bahkan
berniat membelikan baju hamil untuk Mayleen-san!!"
"Benar
juga. Ternyata kau memang pedagang keliling."
"Tolong
biarkan statusku tetap sebagai teman!"
Karena
Ivern bersuara cukup keras, sepertinya Mayleen dan Yulia sudah melihat
interaksi kami sejak tadi. Tepat saat Ivern menundukkan kepalanya, terdengar
suara tawa dari mereka berdua.
"Fufufu.
Sudahlah Kenta. Jangan menggoda Ivern-san terus, ya?"
"Baiklah.
Maaf, Ivern."
"Ahahaha!
Kenta Maya si 'The Wicked Summoner' ternyata bertekuk lutut di bawah perintah
istrinya!"
Yulia
tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Sebagai informasi, "The
Wicked Summoner (Summoner Paling Keji)" adalah julukanku semenjak menjadi
buronan. Benar-benar sangat norak. Namun, alasan mereka menggunakan kata
"Keji" dan bukan "Terkuat" sepertinya karena mereka tidak
ingin kekuatanku yang sebenarnya diketahui secara luas. Sepertinya mereka ingin
membuat kesan bahwa aku adalah penjahat kejam yang membantai keluarga kerajaan
Lindor Kingdom yang baik hati, dan jika berusaha keras, aku bisa dikalahkan.
Padahal
penculik dan pengkhianat yang sebenarnya adalah mereka.
Ngomong-ngomong,
di negeri bangsa iblis, aku dianggap sebagai musuh yang membunuh raja mereka.
Singkatnya,
aku dibenci oleh kedua belah pihak, baik bangsa manusia maupun bangsa iblis.
Yah, aku
tidak peduli apa pun yang dipikirkan orang-orang di dunia ini tentangku.
"Bukan
begitu, aku bukan bertekuk lutut, aku hanya menuruti perkataan Mayleen karena
dia yang mengatakannya."
"Ahaha!
Justru itu yang namanya bertekuk lutut!"
Aku
mencoba meyakinkan Yulia, tetapi dorongan tawanya tidak kunjung mereda. Apa
sebenarnya yang menurutnya lucu?
"Astaga,
jika kau begitu memuja mantan ratu bangsa iblis itu, sepertinya mustahil kau
akan menerima permintaan bantuan dari Weimar Kingdom."
"Hm? Kalau
soal itu, sudah kutolak."
"...Hah?"
Sepertinya aku
belum memberi tahu mereka.
"Beberapa
hari lalu putri dari Weimar datang ke sini. Dia memohon bantuan, jadi langsung
kutolak."
Mendengar
ucapanku, Ivern menaruh tangan di dahinya dan menghela napas panjang.
"Sudah
ditolak rupanya... kalau begitu, apa kau akan menerima permintaan bantuan dari
bangsa iblis?"
"Mana
mungkin aku menerimanya. Bangsa iblis menganggapku sebagai musuh, dan mereka
adalah orang-orang yang mengusir Mayleen dan berusaha melenyapkannya.
Sejujurnya, aku ingin pergi membakar mereka semua sekarang juga."
Amarahku
benar-benar meluap jika mengingat mereka.
Sebenarnya aku
ingin membakar habis seluruh negeri bangsa iblis, tetapi negeri itu adalah
tempat yang dilindungi Mayleen dengan sekuat tenaga. Dia memohon padaku untuk
tidak menyentuh siapa pun selain mereka yang memberontak terhadapnya.
Yah, dia juga
bilang bahwa aku tidak perlu memberi ampun kepada mereka yang telah berkhianat.
"Berarti,
kau tidak akan memihak kubu mana pun dan memilih untuk menjadi penonton."
"Begitulah.
Biarkan saja mereka saling serang sendiri."
Pertikaian
antara bangsa manusia dan bangsa iblis benar-benar tidak ada hubungannya
denganku. Silakan saling membunuh sesuka hati.
"...Tapi,
menolak keluarga kerajaan begitu saja... semoga saja mereka tidak melakukan sesuatu."
Hei,
jangan bicara seperti memberikan pertanda buruk begitu. Bagaimana jika masalah merepotkan benar-benar
terjadi?
◆
Sebuah
ruangan di dalam kastil Weimar Kingdom.
Di sana,
seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian mewah sedang menatap tajam
seorang pria dewasa yang berotot kuat.
Pria paruh baya
itu adalah raja negeri ini, dan pria berotot itu adalah komandan ksatria
kerajaan.
"Bagaimana
situasi perangnya?"
"Siap!
Kinerja para prajurit kita sangat mengagumkan, setiap orang berjuang dengan
gigih!"
Mendengar jawaban
sang komandan, raja menghela napas panjang.
"Jangan
berikan kesan abstrak seperti itu. Berikan laporan yang lebih akurat, hanya
fakta saja."
Mendengar
teguran raja, komandan ksatria ragu sejenak sebelum mulai berbicara dengan
suara lesu.
"Sejujurnya,
situasinya buntu. Kita unggul dalam jumlah dan pertempuran jarak dekat, tetapi
mereka lebih unggul dalam kekuatan sihir dibandingkan kita. Kami kesulitan
melakukan serangan karena sulit mendekati mereka. Namun, mereka juga tidak bisa
mendaratkan sihir pada kami yang memiliki kemampuan fisik lebih tinggi,
ditambah jumlah mereka sedikit, sehingga mereka tidak bisa menyerang
sepenuhnya... begitulah situasinya."
Raja
menatap tajam sang komandan seolah berkata "ternyata kau bisa lapor dengan
benar", namun ia segera menunduk dan menghela napas lagi.
"Masih
sama seperti sebelumnya. Ternyata kegagalan membujuk Maya-dono sangatlah
merugikan..."
Begitu
raja berkata demikian, sang komandan mengerutkan badannya.
Hal itu
karena dia telah menerima laporan bahwa penyebab kegagalan membujuk sang "The
Wicked Summoner", Kenta Maya, adalah karena bawahannya bersikap angkuh
terhadap Kenta sehingga memancing kemarahannya.
Bawahannya
itu adalah anak dari keluarga bangsawan, namun sang komandan yang sangat marah
atas kegagalan besar ini telah mencabut status ksatrianya dan menurunkannya
menjadi prajurit biasa.
Tujuannya adalah
untuk melatihnya kembali dari nol.
Namun, raja
berbicara dengan nada kesal.
"Kalau tidak
salah, kau menjatuhkan hukuman penurunan pangkat pada pria itu. Mengingat
kegagalan yang terlalu besar ini, aku rasa hukuman mati pun pantas."
"I-Itu! Dia
adalah anggota keluarga Count! Jika dihukum mati, kita akan memancing kemarahan
keluarga Count!"
"Bukankah
demi negara akan lebih baik jika kita sekalian menghancurkan keluarga Count
yang memberikan pendidikan seperti itu?"
"I-Itu...
namun jika hal itu dilakukan, kita akan memiliki sumber konflik baru di dalam
negeri."
"Aku tahu.
Hah, Victoria juga sudah angkat tangan dan bilang tidak mungkin membujuknya.
Benar-benar menjengkelkan."
Kenta adalah
orang yang telah membunuh raja dari bangsa iblis yang kini membuat mereka
kewalahan.
Raja Weimar
memperhitungkan bahwa dengan kekuatan itu, prajurit iblis tingkat rendah bisa
disapu bersih dengan mudah.
Saat ini, Kenta
sedang menjadi buronan di seluruh dunia. Raja Weimar berpikir bahwa jika dia
menawarkan untuk mencabut status buronan tersebut, dia bisa membujuk Kenta
dengan mudah. Namun, rencana itu hancur berantakan karena kebodohan seorang
ksatria tolol. Meskipun sang Raja ingin menghukum mati mantan ksatria itu dan
menghancurkan keluarga Count yang menjadi asalnya, kemarahannya tampaknya tidak
akan mereda. Namun, dia juga tahu bahwa melakukan hal seperti itu akan
memancing rasa tidak suka dari para bangsawan di dalam negeri. Karena segala
sesuatunya tidak berjalan lancar, kekesalan Raja Weimar pun meningkat dari hari
ke hari.
"Aku terlalu
berharap pada bantuan Kenta, makanya jadi memalukan seperti ini. Karena bantuan
darinya tidak bisa lagi diharapkan, susun kembali strategi perang dengan
anggapan tersebut. Itu saja."
"Siap! Saya
mohon undur diri!"
Komandan ksatria
berkata demikian lalu bergegas keluar ruangan.
"Benar-benar
memprihatinkan. Padahal, Summoner itu ternyata tidak sesuai harapan. Tadinya
kukira dia akan sedikit lebih berguna."
Raja berkata
demikian sambil menghela napas untuk ketiga kalinya.
Sementara itu, di
ruangan lain di dalam kastil, Putri Pertama Victoria sedang menerima kunjungan
dari adiknya, Putri Kedua.
"Onee-sama.
Katanya Onee-sama gagal membujuk Summoner itu, ya?"
"...Apa kau
sedang begitu senggang sampai sengaja datang hanya untuk mengatakan hal seperti
itu, Wimpel?"
Putri Kedua,
Wimpel, yang datang dengan niat untuk mengejek kakaknya, sesaat wajahnya
berkedut karena sindiran tajam itu, namun dia segera memperbaiki ekspresinya
dan berbicara kepada Victoria.
"Tidak
juga. Saya sangat sibuk. Lagipula, saya sedang bersiap untuk pergi membujuk Summoner
yang gagal Onee-sama bujuk itu."
Berhasil melakukan apa yang gagal dilakukan oleh kakaknya—dengan begitu, dia mungkin bisa menyalip kakaknya yang dianggap sebagai kandidat terkuat untuk menjadi ratu berikutnya, dan dia sendiri yang akan naik takhta. Wimpel yang dadanya dipenuhi oleh harapan manis itu memberitahu Victoria dengan wajah penuh percaya diri. Mendengar perkataan itu, Victoria sesaat menunjukkan ekspresi terkejut, namun segera berubah menjadi wajah yang pahit.
"Hentikanlah.
Maya-dono sudah mengatakan kalau dia sama sekali tidak akan mau bekerja sama.
Memang benar, dia tampak tersinggung oleh sikap ksatria itu, tapi itu bukan
satu-satunya alasan."
Victoria berkata
demikian, tapi bagi Wimpel, itu hanya terdengar seperti alasan dari kakaknya
semata.
"Fufu.
Onee-sama berkata begitu, tapi intinya Onee-sama hanya tidak bisa menawarkan
keuntungan padanya, kan? Kalau saya, saya bisa menawarkan keuntungan
untuknya."
"...Keuntungan?"
Memang benar,
Victoria ditolak bahkan sebelum sempat menawarkan penghapusan status buronan
sebagai keuntungan, sehingga dia hanya sekadar pergi untuk memohon kepada
Kenta. Kenyataan bahwa dia sempat berpikir kalau rakyat jelata pasti akan
gemetar terharu dan patuh jika mendengar perkataan dari dirinya yang seorang
putri adalah sebuah kebenaran. Dia menyadari bahwa dia tidak menawarkan
keuntungan yang nyata.
"Ya.
Kudengar Summoner itu adalah pria yang masih sangat muda, bukan?"
"Kalau tidak
salah... saat dipanggil dia berumur 17 tahun, dan karena sekarang sudah tiga
tahun berlalu, berarti dia berumur 20 tahun."
"Fufu. Pria
berumur 20 tahun itu hanyalah gumpalan nafsu. Seseorang seperti dia yang hidup
bersembunyi dalam pelarian pasti sedang kewalahan mengendalikan hasrat
seksualnya."
Mendengar poin tersebut, mata Victoria membelalak.
"K-Kau jangan-jangan! Tidak boleh! Kau adalah seorang
putri, jadi..."
"Mana
mungkin saya menggunakan tubuh saya sendiri!! Saya sudah menghubungi
orang-orang dari bisnis semacam itu!"
Wimpel, yang baru
saja mengalami kesalahpahaman luar biasa dari kakaknya, mengoreksi dengan wajah
merah padam.
"A-Ah.
Begitukah."
Sambil merasa
lega mendengarnya, Victoria menggigit birbirnya karena metode itu tidak pernah
terpikirkan olehnya. Melihat
hal itu, Wimpel mengangkat sudut mulutnya dengan seringai licik.
"Saya yang
akan membereskan kekacauan Onee-sama. Onee-sama silakan tunggu kabar baik di
kastil ini."
Wimpel berkata
demikian lalu keluar dari kamar Victoria sambil tertawa "hohoho".
Victoria menatap
punggung adiknya dengan kesal sambil teringat kembali sosok Kenta yang
ditemuinya kemarin. Ekspresi dan kata-kata Kenta mengandung kebencian yang
sangat dalam. Itu adalah...
"...Maya-dono
membenci dunia ini yang telah menculiknya dan berniat membuangnya setelah tidak
lagi berguna. Dosa Lindor Kingdom sangatlah berat."
Sejak awal, Kenta
dipanggil oleh Lindor Kingdom sebagai Summoner, dibohongi untuk berperang, dan
setelah membuahkan hasil, yang diberikan kepadanya bukanlah penghargaan
melainkan hukuman mati karena dianggap sudah tidak berguna. Seluruh alasan
Kenta menaruh kebencian pada dunia ini disebabkan oleh Lindor Kingdom.
Di mata publik,
Lindor Kingdom adalah negara korban, tapi setiap keluarga kerajaan mengetahui
kebenarannya. Saat ini Lindor sedang berusaha membangun kembali negaranya
dengan mengangkat raja baru dari sisa keluarga kerajaan yang ada, tapi hal ini
justru membuat mereka dijauhi oleh berbagai negara dan terisolasi dari
masyarakat internasional. Runtuhnya negara itu hanya tinggal menunggu waktu.
"Tapi,
jebakan wanita, ya. Aku tidak pernah terpikirkan hal seperti itu... tapi
mungkin saja itu akan berhasil."
Tidak peduli
seberapa bencinya dia pada dunia ini, dia adalah pria sehat berusia dua puluh
tahun. Jika diberikan seorang wanita, mungkin saja dia akan terpikat dengan
mudah.
"Tapi, bukankah hal itu justru akan memancing murka
Maya-dono?"
Ada kekhawatiran seperti itu, tapi Victoria sendiri adalah
pihak yang sudah gagal sekali. Jika dia menghentikan Wimpel dan menyuruhnya
lebih berhati-hati, pada akhirnya dia hanya akan dituduh iri karena rencana
adiknya tampak akan berhasil.
"Hah... aku hanya bisa berdoa agar amarah Maya-dono
tidak mengarah ke sini."
Victoria bergumam sambil menatap langit yang mendung melalui
jendela, persis seperti suasana hatinya saat ini.
◆
Saat aku sedang merawat sayuran di ladang yang ada di
halaman, tiba-tiba sebuah kapak tangan terbang ke arahku.
"Ups,
bahaya sekali. Siapa yang melempar benda ini?"
Aku
menangkap kapak yang terbang itu dan melihat ke arah asalnya. Seorang pria
berbaju zirah tampak terkejut dengan posisi setelah melempar sesuatu.
"A-Apa...
dia menangkap kapak yang kulempar dari jarak sejauh ini?"
Dia
bergumam sendiri, tapi fakta bahwa dia melemparkan benda mematikan seperti
kapak dan terkejut saat benda itu tertangkap, berarti dia memang memiliki niat
membunuh terhadapku. Itu artinya, orang ini adalah pemburu hadiah atau
perampok.
Yah,
karena dia sendirian dan pakaiannya cukup rapi, dia pasti seorang pemburu
hadiah. Karena merasa sedikit kesal karena diserang mendadak, aku memutuskan
untuk memprovokasinya sedikit.
"Serangan
mendadak, ya? Ternyata perampok memang suka melakukan cara yang pengecut."
Saat aku
mendekati pria itu sambil memainkan kapak yang kutangkap, keterkejutannya
berubah menjadi kemarahan, lalu dia mencabut pedang yang terpasang di
pinggangnya.
"Kau...
siapa yang kau sebut perampok!?"
Yah, meskipun
sepertinya tidak ada orang yang akan menantang buronan secara terang-terangan,
sebagai orang yang dijadikan buronan secara tidak adil, serangan mendadak
seperti ini pun cukup membuatku naik darah.
Terhadap pemburu
hadiah yang mengayunkan pedangnya dengan amarah, aku melemparkan kapak tangan
yang sedang kupegang.
"Apa!?"
Kapak tangan yang
kulemparkan menghantam bagian samping pedang dan mematahkan pedang pemburu
hadiah itu menjadi dua.
Pemburu hadiah
itu terpaku menatap pedangnya yang patah dan berputar di udara.
Begitu ujung
pedangnya menancap di tanah, pemburu hadiah itu melihat ke arah ujung pedang,
lalu melihat sisa pedang yang patah di tangannya, kemudian menatapku.
Seketika, pemburu
hadiah itu jatuh terduduk lemas di tanah. Sepertinya dia benar-benar ketakutan.
"To-Tolong...
jangan bunuh aku..."
Melihat pemburu
hadiah yang memohon dengan menyedihkan sambil gemetar hebat itu, aku merasa
semangatku hilang seketika.
"Apa-apaan,
menyedihkan sekali. Jika kau tidak memiliki tekad untuk mempertaruhkan nyawa,
jangan datang ke tempat seperti ini, dasar bodoh."
Aku mencabut
ujung pedang yang menancap di tanah, lalu melemparkannya ke arah si pemburu
hadiah.
"Hii!"
Ujung pedang itu
melesat melewati samping wajah pemburu hadiah yang meringkuk ketakutan, dan
kembali menancap di tempat yang sedikit lebih jauh. Ujung pedang tadi sempat
menyerempet pipinya, membuat darah mulai merembes tipis dari luka goresan
tersebut.
"Bawa
itu dan segera pergi. Lalu, jangan pernah datang lagi. Aku sudah ingat wajahmu.
Jika kita bertemu lagi..."
Sampai di
situ, aku mendekatkan wajahku ke arah pemburu hadiah tersebut.
"Akan
kubunuh kau."
"Hi-Hiii!!"
Begitu aku
mengancam dengan suara rendah, pemburu hadiah itu lari tunggang langgang tanpa
sempat mengambil ujung pedangnya yang patah.
Belakangan ini
sepertinya beredar rumor bahwa aku tidak bisa dikalahkan dengan mudah, jadi
kupikir yang datang adalah orang yang ahli. Ternyata hanya orang yang matanya
silau karena uang saja.
Aku melihat ke
arah pria itu berlari sambil menimbang-nimbang apa yang harus kulakukan dengan
kapak tangan yang masih ada di tanganku.
"Yah, dia
tidak bilang minta dikembalikan, jadi kusimpan saja."
Lalu, sambil
memainkan kapak tangan itu sekali lagi, aku memanggil mereka.
"Nah. Hei,
sampai kapan kalian berniat mengintip diamdiam?"
Aku memanggil
mereka, namun tidak ada jawaban.
"Begitu
ya. Berarti kalian adalah musuh, kan? Kalau begitu..."
"Tu-Tunggu
sebentar!!"
"Hah?"
Melalui sihir
pendeteksi, aku sudah tahu bahwa sejak tadi ada beberapa orang yang bersembunyi
di balik semak-semak. Karena tidak ada jawaban saat dipanggil, aku berniat
melemparkan kapak tangan ke arah sana, namun seorang wanita tiba-tiba melompat
keluar dari semak-semak.
Wanita itu
mengenakan pakaian yang tampak hanya dipakai oleh orang berkedudukan tinggi,
sehingga aku bisa menduga bahwa dia adalah wanita dengan status yang cukup
tinggi. Wajahnya sedikit mirip dengan tuan putri yang datang ke sini kemarin.
Setelah wanita
itu keluar, ksatria berbaju zirah dan beberapa wanita yang mengenakan pakaian
perjalanan yang cukup bagus muncul satu per satu.
"Siapa?
Kalian ini siapa?"
Saat aku
bertanya, ekspresi para ksatria itu tampak dipenuhi amarah.
Ah,
ternyata golongan yang sama dengan orang-orang kemarin. Datang lagi orang-orang
yang merepotkan.
"Sa-Saya
adalah Putri Kedua dari Weimar Kingdom, Wimpel. Apakah benar Anda adalah Kenta Maya-sama?"
Sambil sedikit
terkejut dengan pertanyaanku yang tidak sopan, wanita yang mengaku sebagai
Putri Kedua itu memberikan salam. Para ksatria juga menunjukkan amarah di wajah
mereka, namun mereka tidak berani menyela. Sepertinya mereka sudah belajar dari
kejadian sebelumnya. Lagi pula, kalau dia Putri Kedua, berarti dia adik dari
wanita yang kemarin.
"Ya,
tidak salah lagi. Lalu? Sebagai tuan putri dari Weimar, apa kau datang untuk
meminta bantuan lagi?"
Karena
aku tidak suka bertele-tele, aku langsung menuju ke inti pembicaraan. Mungkin
tidak menyangka aku akan langsung membahas inti masalah, sang adik tuan putri
sempat terkejut sesaat, namun dia segera memperbaiki sikapnya.
"I-Iya.
Inti pembicaraannya memang itu, namun pertama-tama, saya ingin memohon maaf
atas apa yang telah dilakukan Onee-sama. Saya benar-benar minta maaf."
Sambil
berkata demikian, sang adik tuan putri menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Onee-sama
telah meminta bantuan secara tiba-tiba tanpa menunjukkan keuntungan apa pun
bagi Maya-sama, bukan? Saya menyadari bahwa itu adalah tindakan yang sangat
tidak sopan."
Adik tuan putri
itu berkata demikian, namun sepertinya dia juga tidak memahami inti masalah
yang sebenarnya. Entah bagaimana dia menafsirkan reaksiku yang hanya menatapnya
tanpa berkata apa-apa, sang adik tuan putri tersenyum manis dan mulai
membicarakan tentang apa yang dia sebut sebagai keuntungan bagiku.
"Saya
mendengar bahwa Maya-sama terpaksa menjalani kehidupan pelarian yang panjang.
Oleh karena itu, kami dari Weimar Kingdom akan mencabut status buronan
Maya-sama dan menjamin kebebasan bertindak di dalam negeri."
Mencabut status
buronanku, ya.
Aku tidak yakin
hal seperti itu bisa diputuskan dalam waktu sesingkat ini sejak kunjungan sang
kakak tuan putri. Kemungkinan besar, kakak tuan putri yang datang tempo hari
juga berniat memberikan tawaran yang sama. Sepertinya sebelum pembicaraan
sampai ke sana, aku sudah menolaknya, atau karena ksatria bodoh itu mengacau
sehingga pembicaraan tidak bisa berlanjut sejauh itu.
"Selain
itu..."
Sang adik tuan
putri tersenyum tipis, lalu memajukan barisan wanita yang sejak tadi bersiap di
belakangnya.
"Saya pikir
tubuh dan pikiran Anda pasti sangat lelah karena kehidupan pelarian yang lama.
Oleh karena itu, demi sedikit menghibur hati Anda, saya membawa putri-putri
cantik pilihan dari negara kami."
Sambil berkata
demikian, dia menatapku tajam. Tatapan yang seolah berkata, "Tidak mungkin
kau menolak tawaran ini, kan?". Benar-benar, aku sangat membenci para
penguasa di dunia ini sampai rasanya ingin muntah.
"Bawa wanita-wanita
ini dan segera pergi."
Begitu aku
mengatakannya, tidak hanya sang adik tuan putri, tetapi para wanita yang
dibawanya pun menunjukkan ekspresi terkejut.
"Tu-Tunggu
sebentar! Apa ini masih belum cukup!? T-Tentu saja kami juga menyiapkan uang!
Jadi tolong..."
"Begini
ya."
Begitu aku
memotong ucapan sang adik tuan putri, dia langsung terdiam.
"Aku tidak
akan melakukan apa pun demi dunia ini. Bukankah aku sudah mengatakannya saat
kunjungan sebelumnya?"
Apa kalian tidak
mendengar?
"I-Itu
karena cara negosiasi Onee-sama yang buruk..."
"Ini bukan
masalah tentang dibayar atau tidak, atau dimensi semacam itu. Tidak peduli apa
yang terjadi pada kalian bangsa manusia, atau apa yang terjadi pada bangsa
iblis, aku tidak peduli. Silakan saling membunuh sesuka hati."
Mendengar
ucapanku, ksatria yang sepertinya sudah menahan diri sejak tadi berdiri dan
mulai menyalahkanku.
"K-Kau! Apa
kau tidak peduli apa pun yang terjadi pada orang-orang di negara ini!?"
Bagi ksatria ini,
sepertinya aku terlihat seperti orang yang membiarkan orang-orang mati begitu
saja. Kepada ksatria yang tampaknya memiliki rasa keadilan yang tinggi ini, aku
memberikan jawaban.
"Ya.
Benar."
Mungkin karena
aku menjawab dengan jujur, tidak hanya ksatria itu, bahkan sang adik tuan putri
pun menunjukkan wajah melongo.
"Be-Betapa..."
"Kau mau
bilang aku jahat? Itu sudah sewajarnya, kan? Sejak awal aku bukan orang dunia
ini. Aku diculik paksa ke sini. Lalu dibohongi, hampir dieksekusi, dan saat aku
melawan, aku dijadikan buronan di seluruh dunia dan terpaksa hidup dalam
pelarian. Bagaimana caranya aku bisa bersimpati pada orang-orang di dunia
sampah seperti ini? Nah, beritahu aku."
Begitu aku
mengatakannya, ksatria itu tidak bisa berkata apa-apa lagi dan terdiam.
"Kalau sudah
paham, segera pergi. Benar-benar mengganggu."
Saat aku memutar
badan untuk kembali, seorang wanita memanggilku.
"Tunggu
sebentar!"
"Hah?"
Masih ada lagi?
Saat aku menoleh, yang memanggil adalah salah satu wanita yang dibawa untuk menghiburku.
"Saya sama
sekali tidak tahu kalau Anda mengalami perasaan sesedih itu! Karena itu,
tolong, tolong izinkan saya menghibur hati Anda!? Ini tidak ada hubungannya
dengan permintaan atau imbalan apa pun, saya sendiri yang ingin menghibur
Anda!"
"...Hah?"
Itu artinya, dia
hanya ingin melakukan 'hal itu' denganku, kan? Eh? Kenapa? Tidak mungkin dia
jatuh cinta padaku dalam waktu sesingkat ini, kan? Aku sadar kalau aku baru
saja melontarkan banyak kata-kata kasar.
"...Aku
tidak butuh hal semacam itu. Karena ini mengganggu, segera pergi."
"Ta-Tapi!
Saya..."
"Berisik!"
"Hii!"
Karena dia
terlalu gigih, tanpa sadar aku mengarahkan energi sihirku kepada wanita itu.
"Sudah
kubilang aku tidak butuh. Jangan memaksakan perasaanmu padaku."
"Eh,
a-anu... ini bukan memaksakan..."
"Kalau
begitu, karena aku bilang tidak butuh, kau akan pulang, kan?"
Begitu
aku mengatakannya sambil tersenyum manis namun penuh intimidasi kepada wanita
itu, dia mengangguk berkali-kali.
"Aku tidak
akan menuruti negosiasi apa pun. Aku sama sekali tidak berniat terlibat dengan
dunia ini. Jadi, jangan pernah datang lagi, ya?"
Aku meninggalkan
kata-kata itu lalu kali ini benar-benar kembali ke rumah. Saat aku memantau
hawa keberadaan mereka dengan sihir pendeteksi, aku tahu bahwa rombongan sang
adik tuan putri mulai pergi dengan gontai.
Tapi tetap saja,
tak kusangka mereka akan mencoba memasang jebakan madu.
Bahkan jika bukan
karena alasan itu, aku tetap tidak bisa memercayai seseorang yang mengaku jatuh
cinta padaku dalam situasi seperti tadi.
Aku tidak tahu
apa yang mereka pikirkan.
Untuk saat ini,
aku akan tetap waspada.
◆
"Anda,
apakah Anda benar-benar jatuh cinta kepada pria itu?"
Di tengah
perjalanan dari rumah Kenta menuju kereta kuda yang diparkir tersembunyi,
Wimpel bertanya kepada wanita yang tadi mencoba mendekati Kenta.
Ia benar-benar
penasaran mengapa wanita itu melakukan tindakan seperti itu setelah interaksi
singkat dan merasakan kebencian yang dilontarkan oleh Kenta.
Namun, jawaban
yang keluar dari mulut wanita itu melampaui imajinasi Wimpel.
"Mana
mungkin. Dia menolak kita sampai sejauh itu, bukan? Tidak ada satu pun alasan
bagi saya untuk jatuh cinta padanya."
"Eh!?
Lalu, mengapa Anda bersikap seperti itu?"
Wimpel
terkejut dengan jawaban wanita itu dan ingin tahu alasannya.
"Bukankah
Yang Mulia sendiri yang mengatakannya? Bahwa dalam kehidupan pelarian yang
lama, pria itu pasti sedang menumpuk hasrat seksualnya. Namun, dia sama sekali
tidak melirik kami yang merupakan nomor satu dari masing-masing rumah bordil. Dari sana saya berkesimpulan. Ah, pria
ini, dia punya wanita."
Wimpel
terperanjat mendengar kata-kata itu, sementara para wanita lainnya mengangguk
setuju secara bersamaan.
"Ah,
ternyata Anda juga berpikir begitu. Saya juga berpikiran sama."
"Benar. Jika
dia adalah pria muda yang sedang menumpuk nafsu, hal pertama yang akan dia
lakukan adalah memandangi tubuh kita dengan penuh rasa lapar."
Salah satu wanita
memberikan tatapan penuh arti ke arah para ksatria.
Para
ksatria yang ditatap segera membuang muka dengan gugup. Sepertinya mereka
memang melihat dengan tatapan mesum.
"Tapi, itu
hanyalah kesimpulan sementara. Karena itu, saya berpikir untuk mencoba
mengetesnya."
"Begitu ya,
jadi itu alasan Anda melakukan tindakan tadi."
"Iya. Dan
hasilnya sesuai dugaan. Dia sedang menyembunyikan seorang wanita."
Setelah berkata
demikian, wanita itu menatap Wimpel dengan bangga.
"Jika dia
tidak bisa digerakkan dengan kehormatan atau imbalan, bukankah sebaiknya kita
menyandera seseorang agar dia mau menuruti perkataan kita?"
Wimpel menatap
wanita itu dengan seksama.
Ia tidak bisa
mengharapkan Kenta bergerak atas kemauannya sendiri. Namun, jika ada sandera,
ia mungkin bisa membuatnya patuh.
Dia adalah pria
yang bahkan tidak melirik para putri cantik pilihan dari Weimar Kingdom. Sudah
pasti dia sangat memuja wanita yang disembunyikannya itu.
Nilai wanita itu
sebagai sandera sudah lebih dari cukup.
"Mungkin
memang hanya itu satu-satunya cara."
Mendengar
hal itu, sang wanita tersenyum manis.
"Begitu
ya. Kalau begitu, Yang Mulia Wimpel."
"Ada
apa?"
"Saya
telah mengambil risiko yang cukup besar untuk membuktikan kebenaran informasi
tersebut. Tentu saja, saya boleh mengharapkan imbalan, bukan?"
Mendengar
tuntutan wanita licik itu, Wimpel menghela napas pasrah.
"Baiklah.
Berapa yang Anda inginkan?"
Mendengar
itu, wajah wanita tersebut dihiasi senyuman lebar.
Wimpel
dan yang lainnya yang sedang berbicara dengan santai tidak mengetahui, bahwa
wanita yang mereka incar adalah garis merah bagi Kenta yang tidak boleh
disentuh.
◆
"Ooh, jadi
karena itu kau begitu waspada."
Beberapa hari
setelah sang adik tuan putri dari Weimar Kingdom datang, Ivern berkunjung ke
rumahku membawa pakaian hamil untuk Mayleen, perlengkapan bayi, dan barang
logistik lainnya.
"Iya.
Padahal kemarin aku sudah mengusir mereka dengan kata-kata kasar, tapi mereka
masih saja datang tanpa kapok. Aku tidak tahu cara apa lagi yang akan mereka
gunakan nanti. Karena itu, aku pikir sebaiknya aku tetap waspada."
Dalam perjalanan
menuju ke sini, Ivern sempat tersesat karena jaringan peringatan yang kupasang,
jadi aku menjelaskan kepadanya alasan aku melakukannya.
Jaringan
peringatan yang kupasang adalah sebuah penghalang sihir agar orang yang tidak
memiliki izin tidak bisa sampai ke sini. Saat aku memasangnya, aku belum
memberikan izin kepada Ivern, sehingga dia tidak bisa sampai ke rumah.
Jika
seseorang terperangkap dalam penghalang ini, aku akan menerima sinyal. Karena
sinyal itu muncul, aku pergi memeriksanya dan ternyata Ivern serta Yulia sedang
tersesat.
"Aku
benar-benar panik saat tersesat di jalan yang biasanya kulewati. Yulia bahkan
sampai menangis sesenggukan, tahu."
"Maaf,
maaf. Waktunya tidak tepat sehingga aku tidak sempat memberitahu kalian. Aku akan memberikan tanda izin, jadi
terimalah ini sebagai permohonan maaf."
Aku
berkata demikian sambil memberikan tanda izin berbentuk liontin kepada Ivern.
"Ooh.
Jadi ini tanda izinnya."
Ivern
menatap liontin izin yang kuberikan dengan penuh rasa ingin tahu.
"Kalau tidak
membawa itu, kau tidak akan bisa sampai ke sini. Lalu, bisa tolong alirkan
sedikit energi sihirmu?"
"Energi
sihir ya... aku tidak begitu ahli."
Karena
Ivern adalah bangsa manusia, dia tidak pandai mengolah energi sihir. Meski begitu, bukan berarti dia tidak bisa
melakukannya sama sekali. Demi keamanan, tindakan mengalirkan energi sihir ke
tanda izin ini adalah hal yang harus dilakukan.
"Ngh! Nghh!! ...Fuuuh! Bagaimana dengan ini?"
"Ya, itu sudah cukup."
Aku merapal sihir pengunci pada tanda izin yang sudah terisi
sedikit energi sihir Ivern itu.
"Sekarang, tanda izin ini sudah menjadi milik khusus
untukmu. Bahkan jika orang lain membawanya, mereka tidak akan bisa menembus
penghalang ini."
Memberikan
tanda izin itu kembali pada Ivern, dia sekali lagi menatapnya dengan saksama
sambil bergumam kagum.
"Luar biasa.
Keamanannya sempurna. Kenapa baru kau lakukan sekarang?"
Wajar jika dia
berpikir demikian. Jika penghalang ini ada sejak dulu, para pemburu hadiah yang
merepotkan itu tidak akan pernah bisa sampai ke sini.
"Kalau aku
memasang penghalang seperti ini, itu sama saja dengan mengumumkan kalau aku
sedang bersembunyi karena melakukan kejahatan, kan? Untuk apa aku harus
bertindak sembunyi-sembunyi seperti itu?"
Alasanku adalah
karena aku tidak ingin membuang-buang tenaga demi dunia ini. Ivern tampak
menerima alasan tersebut.
"Yah, memang
benar sih. Kau yang seharusnya menjadi penjahat paling kejam dengan nilai
buruan sangat tinggi di seluruh dunia, justru sama sekali tidak pernah berbuat
jahat. Orang-orang di
kota dan desa sekitar pun merasa aneh. Mereka bertanya-tanya, apakah kau
benar-benar seorang penjahat?"
"Hah?
Apa mereka bicara seperti itu?"
Mengejutkan.
Sangat mengejutkan.
"Awalnya
semua orang memang takut. Nilai buruanmu sangat tinggi dan belum pernah ada
sebelumnya, apalagi kau tinggal di dekat sini. Kota dan desa di sekitar sini
mengadakan rapat penanggulangan setiap hari."
"Oh,
begitu ya."
"Bisa-bisanya
kau cuma bilang 'begitu ya'..."
"Itu
tidak ada hubungannya denganku. Mereka sendiri yang takut dan waspada tanpa alasan. Mengapa aku harus
merasa bersalah?"
Begitu aku
mengatakannya, Ivern menunjukkan ekspresi pasrah.
"Yah,
sekarang pun kalau kau bicara begitu, aku bisa paham. Tapi waktu itu, aku pun
sempat berpikir serius bahwa aku harus melakukan sesuatu padamu."
"Jadi itu
alasanmu datang untuk memburuku, ya."
"Asal kau
tahu, aku sama sekali tidak menyesali tindakanku waktu itu. Saat itu aku belum
tahu apa-apa tentangmu, dan aku yakin kalau itu adalah tindakan yang
benar."
"Aku tidak
menyalahkanmu, kok."
Walaupun hubungan
kami belum terlalu lama, aku tahu dia orang yang seperti apa. Ivern bertindak
berdasarkan pemikiran dan keyakinannya sendiri, bukan karena pendapat orang
lain. Hubungan persahabatan kami sekarang pun adalah hasil dari penilaian Ivern
sendiri setelah melihat dan mendengar penjelasanku. Aku tidak berniat
mengungkit tindakannya sebelum itu.
"Begitu ya.
Syukurlah kalau begitu. Tapi, kau tahu tidak? Saat aku pulang dan mereka tahu
kalau aku gagal menghabisimu, kekecewaan semua orang benar-benar luar
biasa."
"Sepertinya
aku diperlakukan seperti raja iblis dalam cerita dongeng, ya?"
Ivern tersenyum
getir mendengar ucapanku.
"Waktu itu
memang suasananya seperti itu. Tapi, setelah aku menceritakan apa yang kudengar
darimu dan menjelaskan kalau kau bukan orang jahat, persepsi mereka mulai
berubah sedikit demi sedikit."
"Hah? Kau
menceritakannya?"
"Tentu saja.
Kalau tidak, kau akan terus-menerus disalahpahami. Waktu itu aku ingin berteman denganmu. Tidak
menyenangkan melihat teman sendiri disalahpahami seperti itu, kan?"
Aku
sampai tidak bisa berkata-kata melihat Ivern yang mengatakannya tanpa rasa
bersalah.
"Sudah
sekian lama kau tidak berbuat jahat. Sekarang semua orang sudah tahu kalau kau
sebenarnya bukan orang jahat. Termasuk fakta kalau aku sering membawakan
logistik untukmu. Meskipun waktu aku membeli baju hamil, orang-orang sempat
salah paham dan mengira kalau Yulia yang hamil."
Ivern tertawa,
tapi aku justru merasakan firasat buruk dari kata-kata itu.
"...Berarti,
orang-orang di kota sudah tahu kalau Mayleen hamil?"
Menyadari
ekspresi seriusku, Ivern tampak sedikit terkejut namun tetap mengangguk.
"A-Ah, iya."
"...Hei, Ivern. Saat kau di kota, apa kau pernah disapa oleh orang asing, atau merasakan
ada tatapan yang aneh?"
Ivern tampak
mencoba mengingat-ingat pertanyaanku.
"Yang
menyapaku cuma orang-orang yang sudah kukenal. Lalu tatapan ya... aku tidak
begitu ahli dalam hal mendeteksi hawa keberadaan seperti itu..."
Wajar saja, Ivern
adalah bangsa manusia. Akan sulit baginya melakukan pendeteksian hawa
keberadaan jika bukan dari bangsa iblis.
"Itu tidak
bisa dihindari. Lagipula, jika di kota sudah menjadi pembicaraan seperti
itu..."
Aku mengalihkan
pandangan ke luar.
"Mungkin ada
baiknya aku memasang penghalang ini."
Mendengar
perkataanku, Ivern juga menunjukkan ekspresi sedikit cemas.
"Omong-omong,
kenapa kali ini kau terpikir untuk memasang penghalang?"
Ivern menanyakan
hal itu, namun alasannya sudah jelas.
"Mayleen
sedang hamil, tahu? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?"
"Ah, jadi
demi Mayleen ya."
"Tentu
saja. Oh, jangan beritahu orang-orang di kota tentang penghalang ini, ya?"
"Eh?
Kenapa?"
"Selain
itu, Ivern, bertindaklah seperti biasa. Jangan bersikap waspada secara
aneh."
"Makanya,
kenapa?"
Karena
Ivern mulai tidak sabar, aku menjawab sambil tersenyum menyeringai.
"Jika
beruntung, mungkin saja kita bisa memancing orang bodoh."
Begitu
aku mengatakannya, wajah Ivern berkedut dan dia bergumam pelan.
"...Aku
sangat berharap kerajaan bisa menahan diri agar hal itu tidak terjadi."
Yah,
entahlah bagaimana nantinya.
◆
Beberapa
hari setelah Ivern pulang, aku sedang merawat Mayleen di rumah. Masa mual-mual
telah dimulai. Segala sesuatu yang berminyak tidak bisa dia terima, dan dia
tidak lagi bisa memakan daging. Dia hanya sanggup memakan sayur dan buah, dan setiap hari dia terlihat
sangat lemas.
"Maafkan
aku, Kenta. Aku hanya menyusahkanmu saja."
Mayleen berkata
dengan nada penuh rasa bersalah di atas tempat tidur, lalu aku menggenggam
tangannya untuk menyemangatinya.
"Apa yang
kau katakan. Ini sama sekali bukan gangguan. Bukankah ini demi anak kita?"
"Kenta..."
Meski begitu, aku
tidak tahu harus berbuat apa lagi. Di dunia sebelumnya, aku hanya bersekolah
sampai pertengahan SMA, jadi aku tidak memiliki pengetahuan tentang kehamilan
atau persalinan. Jika dibiarkan begini, Mayleen dan anak kami mungkin akan
kekurangan nutrisi. Menghadapi persalinan hanya dengan kami berdua yang tidak
memiliki pengetahuan medis sangatlah berisiko. Dia perlu diperiksa oleh dokter.
Namun, pergi ke kota juga memiliki risiko. Setelah terus-menerus merasa
bingung, akhirnya aku memutuskan untuk membawa dokter ke sini.
Faktor penentunya
adalah cerita yang kudengar bahwa orang-orang di kota tidak lagi takut padaku.
Jika aku tidak mendengar itu, aku harus menunggu sampai kunjungan Ivern
berikutnya. Dia benar-benar memberitahuku di saat yang tepat.
Oleh karena itu,
aku memutuskan untuk membawa dokter, namun untuk melakukannya, pertama-tama aku
harus menghubungi Ivern. Aku tidak tahu di mana ada dokter kandungan atau bidan
di kota ini.
Aku mengenakan
penyamaran klise berupa topi dan kacamata berbingkai hitam, lalu menuju ke
kota. Aku menggunakan sihir teleportasi sampai dekat kota, lalu masuk ke kota
dengan berjalan kaki. Karena ini bukan kota yang besar, tidak ada pemeriksaan
semacam razia di gerbang masuk. Meski begitu, tetap ada penjaga untuk mencegah
monster masuk.
Setelah masuk ke
kota, tempat pertama yang kutuju adalah Asosiasi Saling Bantu Penjelajah.
Sebuah organisasi yang membeli bahan-bahan yang dikumpulkan oleh para
penjelajah seperti Ivern dengan harga pantas, lalu mendistribusikannya ke
berbagai tempat. Sebenarnya bisa saja bertransaksi langsung dengan pedagang
tanpa melalui organisasi ini, namun lawannya adalah para pedagang licin yang
penuh pengalaman. Penjelajah yang tidak berpendidikan sering kali menjadi
sasaran empuk penipuan atau pemerasan, sehingga sebagian besar dari mereka
menggunakan jasa asosiasi ini. Karena itu, kemungkinan besar Ivern ada di sana.
Saat masuk ke
asosiasi, bagian dalamnya terdiri dari konter resepsionis dan ruang tunggu.
Para penjelajah pertama-tama menerima nomor antrean di konter resepsionis, dan
setelah nomornya dipanggil, mereka membawa bahan-bahan ke masing-masing loket
penyerahan. Kemudian mereka mendapatkan nomor lagi, dan setelah dipanggil ke
konter pembayaran, mereka menerima upahnya di sana. Oleh sebab itu, cukup
banyak orang yang menunggu di ruang tunggu.
Ruang
tunggu terdiri dari bangku panjang dan meja kursi, di mana orang-orang bisa
makan sambil menunggu. Karena
dia tidak ada di bangku panjang, aku memeriksa area meja kursi... dan
menemukannya.
"Yo."
"Astaga!
K-Kau mengejutkanku!!"
"Eh? Jarang
sekali, ada apa?"
Saat aku menepuk
bahunya, Ivern terkejut seolah-olah baru saja melihat hantu. Yulia juga
terkejut, namun keterkejutannya lebih ke arah mengapa aku bisa ada di sini.
"Apa-apaan.
Kenapa kau terkejut sekali?"
"Ti-tidak,
soalnya aku tidak pernah bermimpi kalau kau akan datang ke sini."
"Yulia tidak
seterkejut itu, tuh."
"Eh?"
"Iya. Aku
memang bertanya-tanya kenapa kau ada di sini, tapi ya sudah."
Benar juga, aku
harus menyampaikan tujuanku.
"Ivern...
tidak, sepertinya lebih baik aku bertanya pada Yulia saja?"
"Hm? Ada
apa?"
"Hei. Kenapa
kau bertanya pada Yulia dan bukan padaku?"
Ivern menatapku
dengan penuh rasa curiga, tapi ya wajarlah.
"Memangnya
kau tahu dokter kandungan?"
"Dok...
hmmm! Kalau itu, benar juga, Yulia lebih cocok."
"Kan.
Jadi, apa kalian tahu dokter kandungan yang hebat atau bidan yang
berpengalaman?"
Mendengar
pertanyaanku, wajah Yulia menjadi serius dan dia berbisik.
"Apa terjadi
sesuatu pada Mayleen?"
Yulia dan
Mayleen memang berteman baik. Dia khawatir jika terjadi sesuatu pada temannya itu.
"Mual-mualnya
sangat parah. Dia hampir tidak bisa makan apa-apa. Aku tidak tahu makanan
bergizi apa yang bisa dimakan ibu hamil tanpa merasa mual. Selain itu,
seharusnya dia rutin diperiksa dokter atau bidan, tapi itu belum
dilakukan."
Setelah mendengar
penjelasanku, Yulia tampak sedikit lega, namun ekspresinya segera berubah
menjadi tegas.
"Aku
mengerti. Aku dengar ibu kost di apartemen kami adalah bidan yang hebat, jadi
aku akan mengenalkannya padamu."
"Terima
kasih. Itu sangat membantu."
"Ayo, kita
segera pergi."
Saat Yulia
menarik tanganku untuk berdiri, Ivern dengan terburu-buru menghentikan kami.
"Tunggu! Aku
sedang menunggu pembayaran, jadi tunggu sebentar!"
"Mou!
Cepatlah sedikit!"
"Iya, tapi
jangan salahkan aku..."
Setelah melalui
drama kecil itu, tak lama kemudian pembayaran selesai dan kami menuju apartemen
tempat Ivern dan Yulia tinggal bersama. Apartemen yang kami datangi cukup besar,
mungkin setingkat kondominium jika di Jepang.
"Ibu kost
tinggal di lantai satu ini. Permisi! Ibu Kost!"
Begitu sampai, Yulia
langsung mengetuk pintu rumah ibu kost sambil memanggil. Terdengar jawaban
"Iya, iya" dari dalam, dan tak lama kemudian pintu terbuka.
"Siapa...
Oh, Yulia-chan. Ada apa?"
Yang muncul
adalah seorang wanita paruh baya yang tampak ramah. Yulia segera menyampaikan
maksud kedatangannya.
"Bennett-san,
halo! Sebenarnya hari ini aku ingin meminta bantuan Bennett-san sebagai seorang
bidan."
Mendengar itu,
wanita bernama Bennett itu membelalakkan matanya, menatap Yulia dan Ivern
bergantian, lalu tersenyum lembut.
"Oh, begitu
ya. Akhirnya kalian berdua dikaruniai anak."
"Hah?"
Ivern yang tidak
paham maksud perkataan Bennett hanya memiringkan kepala, sementara Yulia yang
langsung mengerti langsung tertawa terbahak-bahak.
"Bukan
begitu, Bennett-san. Bukan aku, tapi temanku."
"Oalah,
begitu ya."
"Iya.
Dan orang ini adalah suami teman itu."
Suami. Ini pertama kalinya aku diperkenalkan
seperti itu. Betapa menggelitik kedengarannya.
Setelah mendengar
ucapan Yulia, Bennett-san baru menyadari keberadaanku dan sesaat membelalakkan
matanya lebar-lebar. Namun setelah itu, dia segera kembali tenang dan berbicara
dengan nada yang tenang pula.
"Kau...
'anak itu', kan?"
"Iya. Saya Kenta
Maya."
"Begitu
ya."
Bennett-san
menatap wajahku dengan seksama. Tatapannya begitu serius sampai aku tidak bisa
menyela dan hanya bisa diam diperhatikan. Setelah beberapa saat, seolah telah
meyakinkan sesuatu, dia mengangguk sekali.
"Lalu?
Apa yang terjadi dengan istrimu?"
"Mual-mualnya
sangat parah, sejauh ini dia hanya bisa makan buah-buahan. Saya tidak bisa
menilai apakah nutrisinya sudah cukup atau bagaimana kondisi ibu dan anak saat
ini. Tolong bantu saya."
Aku mengatakan
itu sambil menundukkan kepala kepada Bennett-san.
Orang
yang paling terkejut melihat pemandangan itu adalah Ivern.
"Ke-Kenta
menundukkan kepalanya..."
Dia adalah orang
yang akan memeriksa Mayleen, tahu? Sudah sewajarnya aku menundukkan kepala.
"Angkat
kepalamu. Aku adalah seorang bidan. Jika ada ibu hamil yang menderita dan
meminta bantuan, sudah sewajarnya aku menolong, bukan?"
Bennett-san
tersenyum lembut seolah ingin menenangkanku.
"Terima
kasih."
Saat aku
mengucapkan terima kasih, Bennett-san menatap Ivern.
"Dia
sopan dan tampak seperti anak baik yang menyayangi istrinya. Kenapa dia sampai dijadikan buronan?"
"Itu...
kalau di sini agak sulit..."
Ivern menjawab
sambil melirik ke arahku, jadi aku yang menjawab Bennett-san.
"Saya akan
menceritakannya di rumah saya. Di sana kita bisa membicarakan apa pun dengan
aman."
Mendengar itu,
Bennett-san menunjukkan wajah curiga.
"Rumahmu
itu... kalau tidak salah ada di dalam hutan, kan? Kita tidak bisa sampai ke
sana dengan cepat."
"Ah,
perjalanan akan selesai dalam sekejap jadi tidak masalah. Bisakah Anda membawakan
barang-barang yang diperlukan saja?"
Bennett-san,
meski masih tampak curiga, menyiapkan peralatan pemeriksaan lalu kembali.
"Kalau
begitu, mari kita pergi. Bennett-san, tolong sentuh lengan saya."
"Beginikah?"
"Ah, aku
boleh ikut juga?"
"Aku juga
ikut."
Saat aku bersiap
pergi bersama Bennett-san, Yulia dan Ivern juga menyentuh tubuhku.
"Kita
berangkat. Teleportation."
Begitu aku
mengucapkannya, pemandangan berubah drastis dan kami tiba di halaman depan
rumahku.
Berbeda dengan
Bennett-san yang masih melongo, Yulia langsung masuk ke dalam rumah.
"Mayleen!"
Yulia sudah hafal
seluruh denah rumah kami, jadi dia langsung menuju kamar tidur.
"Bennett-san,
lewat sini."
"A-Ah,
iya... ini sihir teleportasi?"
"Iya."
Saat aku menjawab
pertanyaan Bennett-san, dia menunjukkan wajah terpana.
"Sihir
tingkat legendaris seperti itu dilakukan semudah ini..."
"Itulah
sebabnya setiap negara mengincar Kenta."
Mendengar
perkataan Ivern itu, Bennett-san sepertinya sudah bisa mengira-ngira
situasinya.
"...Kau juga
mengalami kesulitan ya. Baiklah, mari kita mulai pemeriksaan ibu
hamilnya."
Bennett-san
berkata demikian lalu mengikutiku dari belakang.
Dengan begini,
aku mendapatkan satu lagi sekutu yang berharga di dunia ini.
"Mayleen,
kamu tidak apa-apa?"
Saat kami sampai
di kamar tidur, Yulia sedang menggenggam tangan Mayleen yang duduk bersandar di
tempat tidur sambil bertanya dengan cemas.
"Iya.
Rasanya agak mual karena mual-mual kehamilan ini, tapi aku tidak apa-apa."
Mayleen berkata
sambil tersenyum meski wajahnya pucat, agar Yulia tidak merasa khawatir.
"Benarkah?"
"Benar,
benar. Jadi jangan terlalu khawatir, ya?"
"Iya...
Anu..."
"Ada
apa?"
Yulia tampak
ingin menanyakan sesuatu pada Mayleen, namun terlihat sungkan.
Jarang
sekali melihat dia bersikap seperti itu. Apa yang ingin dia tanyakan?
Saat aku
mengamati gerak-gerik Yulia, akhirnya dia mulai bicara.
"...Mual-mual itu, rasanya berat?"
Mendengar pertanyaan itu, aku dan Ivern sama-sama merasa
bingung, namun Bennett-san tampaknya mengerti dan langsung tertawa
terbahak-bahak.
"Ada apa, Yulia-chan? Melihat temanmu yang tampak
kesakitan, apa kau jadi takut dengan mual-mual kehamilan?"
"Ah, benarkah begitu?"
"U-Ugh... Ha-Habisnya! Mayleen yang biasanya ceria
sampai jadi sepucat ini dan terlihat kesakitan..."
Ah, jadi begitu rupanya.
Yulia merasa takut jika dia hamil nanti akan menjadi seperti
itu setelah melihat Mayleen menderita karena mual-mual kehamilan.
Setelah memahaminya, aku melirik Ivern dan melihat wajahnya
sudah merah padam.
Padahal mereka sudah tinggal bersama, pasti sudah melakukan
hal-hal semacam itu, kenapa dia malah malu-malu begini.
"Hmm,
permisi sebentar ya. Namaku Bennett, aku seorang bidan. Kau ini Mayleen-san, benar?"
"Ah, iya.
Nama saya Mayleen. Mohon bantuannya, Bennett-san."
"Iya. Lalu,
sejauh ini, apakah ada gejala lain selain rasa mual? Misalnya, perut terasa
kencang, nyeri, atau ada pendarahan yang tidak wajar?"
"Ah, tidak.
Sejauh ini hanya mual saja, yang lainnya tidak ada kelainan khusus."
"Begitu ya.
Sepertinya kau tipe tubuh yang mual-mualnya berat. Apa kau tidak pernah
mendengar cerita seperti ini dari ibumu?"
Mendengar
pertanyaan Bennett-san, Mayleen tersenyum getir.
"Maaf. Saya
hampir tidak pernah berbicara dengan ibu saya."
"……Begitu
ya."
Bennett-san
mungkin salah paham dan mengira ibu Mayleen sudah meninggal. Padahal bukan
begitu kenyataannya……
Mayleen tampak
ragu sejenak, lalu berbicara kepada Bennett-san.
"Anu……
bisakah Anda merahasiakan apa yang akan saya katakan nanti?"
"Tentu,
menjaga rahasia pasien adalah kewajiban kami."
Kepada
Bennett-san yang menjamin hal itu, Mayleen mulai menceritakan tentang dirinya.
"Anu, ibu
saya adalah permaisuri di negeri bangsa iblis, jadi beliau hampir tidak bisa
ikut campur dalam pengasuhan saya. Yang membesarkan saya adalah ibu susu,
pelayan, dan para guru privat."
Mendengar
pengakuan itu, Bennett-san membelalakkan matanya lebar-lebar, lalu menatap
perut Mayleen.
"……Berarti,
anak dalam perutmu ini adalah anak dari putri negeri bangsa iblis dan seorang
Summoner?"
"Ah, karena
saya pernah dinobatkan sebagai ratu, saya adalah mantan ratu."
"……"
Mendapat
serangan balasan dari Mayleen, Bennett-san yang sedang duduk pun tampak limbung
dan goyah.
"A-Apakah
Anda baik-baik saja, Bennett-san?"
Saat aku
menyangga Bennett-san, dia mencengkeram erat tanganku yang menahan bahunya.
"Kau……
anak ini benar-benar bom waktu, bukan!? Jika pihak bangsa manusia atau bangsa
iblis tahu, mereka pasti akan datang untuk merebutnya!"
Bennett-san
berteriak dengan wajah ketakutan, namun aku sudah sangat menyadari hal itu.
"Aku tidak
akan membiarkan itu terjadi. Jika mereka datang untuk merebutnya……"
Saat membayangkan
saat itu, hatiku seketika mendingin.
"Akan
kuhabisi mereka semua."
Begitu aku
mengatakannya, aku tahu Bennett-san tersentak dan menahan napas.
"Jadi,
tolong rahasiakan hal ini, ya."
Karena sepertinya
aku sudah membuatnya ketakutan, aku mengatakannya sambil berusaha tersenyum
semanis mungkin, namun Bennett-san dengan wajah pucat hanya mengangguk
berkali-kali.
Apakah aku
semenakutkan itu sampai wajahnya sepucat itu? Padahal aku sudah berusaha
memberikan senyuman terbaikku……
"Kenta, kau
membuat Bennett-san ketakutan, tahu."
"Eh?
Kan aku menanggapinya dengan senyuman?"
"Senyummu
itu justru yang menakutkan!"
Aku
merasa suasana ruangan yang membeku mencair berkat perkataan Yulia.
"Maafkan
saya, Bennett-san. Saya tidak akan melakukan apa pun kepada Anda, jadi jangan
khawatir."
"A-Ah……
selama aku menepati janji, kan?"
Kepada
Bennett-san yang cepat mengerti itu, aku mengangguk dengan senyuman.
"Hah……
aku benar-benar menerima permintaan yang luar biasa."
Sambil
menghela napas, Bennett-san menatapku lalu tersenyum menyeringai.
"Sudah
lama aku tidak menerima permintaan yang menegangkan seperti ini sejak aku
menangani persalinan anak haram keluarga kerajaan waktu masih muda dulu."
Waduh,
ternyata Bennett-san sudah melewati banyak situasi sulit.
Mendengar
itu, kepercayaanku pada Bennett-san langsung meningkat drastis, namun Ivern
yang baru pertama kali mendengarnya tampak sangat panik.
"Anak haram
keluarga kerajaan!? Apa itu!? Aku tidak pernah mendengarnya!!"
"Kan sudah
kubilang itu waktu aku masih muda. Anak dan ibunya itu sudah lama sekali
menjadi istri kedua dari seorang bangsawan di suatu tempat, dan sekarang
seharusnya sudah menjadi kepala keluarga."
"……Berarti,
saudara dari Yang Mulia Raja saat ini ada di suatu tempat……"
Mendengar
perkataan Ivern itu, sebuah pertanyaan muncul di benakku.
"Hei, ini
mungkin sudah terlambat, tapi boleh aku bertanya?"
"Apa
itu?"
"Tempat di
mana aku berada sekarang ini, apakah ini Weimar Kingdom?"
Begitu aku
bertanya, suasana ruangan sekali lagi membeku.
"……Eh?
Jangan-jangan, selama ini kau bahkan tidak tahu hal itu?"
"Ahahahaha!
Benar-benar khas Kenta!"
Ivern dan
Bennett-san menatapku dengan wajah terpana, sementara Yulia tertawa
terbahak-bahak, tapi bukankah itu wajar?
"Aku bukan
orang dunia ini, tahu? Aku sudah kabur ke sana kemari, aku tidak tahu lagi ini
negara mana."
Saat aku
mengatakan itu, Ivern sempat menunjukkan ekspresi seolah baru menyadarinya,
namun dia menggelengkan kepala dan menjawab.
"Dua
putri dari Weimar Kingdom datang berturut-turut, kan? Sadar dong dari
situ."
"Aku cuma berpikir kalau mereka
benar-benar menjengkelkan."
Saat aku
mengatakannya, Ivern menghela napas panjang, sementara Yulia kembali tertawa
terbahak-bahak. Bennett-san sempat tersenyum getir sejenak, lalu menatap
Mayleen.
"Kau, apa
tidak apa-apa punya suami seperti pria ini?"
"Tunggu
sebentar, Bennett-san, apa maksud perkataan Anda?"
"Ya itu tadi
maksudku. Dia tidak punya rasa hormat pada bangsawan, tidak tertarik pada dunia
ini, dan bilang akan menghabisi semua musuhnya. Apa tidak apa-apa bersama pria
berbahaya seperti ini?"
Tiba-tiba saja
Bennett-san menjadi sangat blak-blakan. Mungkin setelah mendengar percakapan
dengan Ivern dan yang lainnya tadi, dia menemukan batasan di mana aku tidak
akan marah. Batasan bahwa selama tidak dikhianati, aku tidak akan melakukan apa
pun.
Mendapat
pertanyaan dari Bennett-san, Mayleen sempat terkejut sesaat, namun ia segera
menjawab dengan senyuman.
"Iya.
Bagiku, tidak ada pria lain yang bisa kupikirkan selain Kenta."
Mungkin karena
Mayleen mengatakannya sambil tersenyum tulus, Bennett-san tampak menunjukkan
wajah yang tidak menyangka.
"Aku sudah
berkali-kali diselamatkan oleh Kenta. Saat nyawaku diincar oleh ayahku sendiri,
saat aku diusir dari negeri bangsa iblis dan hancur dalam keputusasaan, yang
menyelamatkanku adalah Kenta."
Mayleen berkata
demikian, lalu tersenyum ke arahku.
"Kenta
dikhianati oleh negeri bangsa manusia, dan aku dikhianati oleh negeri bangsa
iblis. Aku tidak bisa memaafkan negeri bangsa manusia yang mengkhianati Kenta
yang kucintai, dan Kenta yang mencintaiku tidak bisa memaafkan negeri bangsa
iblis yang mengkhianatiku. Karena itu..."
Setelah terdiam
sejenak, Mayleen berkata dengan senyuman yang sangat cerah.
"Kenta
menyatakan dengan tegas bahwa dia akan menghancurkan segalanya demi
melindungiku, dan aku mencintai Kenta yang mencintaiku ini dari lubuk hatiku
yang terdalam."
Melihat Mayleen
yang melemparkan senyuman seperti itu padaku, aku merasa dia benar-benar sangat
berharga.
"Mayleen..."
Aku duduk di tepi
tempat tidur dan memeluk tubuh Mayleen.
"Fufu. Aku
mencintaimu, Kenta."
Melihat kami yang
sedang berpelukan, Bennett-san bergumam.
"Astaga,
kalian benar-benar pasangan suami istri yang sangat mirip satu sama lain."
Mendengar
kata-kata itu, Yulia kembali tertawa terbahak-bahak.
◆
Setelah selesai
memeriksa Mayleen dan memberikan resep makanan cair padat nutrisi yang mudah
dimakan ibu hamil dengan mual-mual berat kepada Kenta, Bennett kembali ke kota
bersama Ivern dan yang lainnya melalui sihir teleportasi Kenta.
Setelah
memastikan Kenta sudah kembali dengan sihir teleportasinya, Bennett menghela
napas panjang.
"Wah, wah,
kalian benar-benar menyeretku ke dalam urusan yang gawat."
Bennett memberikan
tatapan tajam kepada Ivern dan Yulia.
"Ahahaha...
habisnya, tidak ada orang lain yang bisa diandalkan selain Bennett-san."
Yulia, meskipun
tampak merasa tidak enak, menegaskan bahwa ia tidak punya pilihan lain demi
menolong temannya. Mendengar itu, Bennett tersenyum getir.
"Sepertinya
Mayleen benar-benar berharga bagimu, ya."
"Iya! Dia
teman terbaikku!"
Melihat Yulia
yang menjawab dengan senyum lebar, Bennett teringat sesuatu. Bahwa Yulia pun
memiliki latar belakang keluarga yang cukup malang.
"Rasa sakit
karena tidak dianggap berharga oleh keluarga sendiri hanya bisa dipahami oleh
orang yang mengalami hal yang sama. Apalagi, dikhianati oleh orang-orang yang
seharusnya ia lindungi, itu terlalu menyedihkan."
Yulia berkata
demikian dengan wajah sedih. Bennett yang sudah mendengar detail situasi mereka
berdua di rumah Kenta pun turut bersimpati dalam hal itu.
Meskipun wajah Yulia
sempat tampak sedih sesaat, dia segera kembali tersenyum.
"Karena itu,
aku sangat memercayai Kenta yang akan melindungi Mayleen apa pun yang terjadi.
Aku benar-benar ingin mereka berdua bahagia!"
Melihat Yulia
yang berbicara dengan senyum tanpa beban, Bennett beralih menatap Ivern. Ivern
pun sependapat dengan Yulia.
"Aku juga
merasakan hal yang sama. Kurasa mereka berdua berhak untuk bahagia. Itu adalah
sesuatu yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapa pun."
Karena itu, Ivern
melanjutkan.
"Bahkan jika
hati mereka berdua sudah sedikit hancur, aku akan tetap memberkati mereka. Yang
membuat mereka menjadi seperti itu adalah manusia yang tinggal di dunia ini.
Bahkan jika mereka membalas dendam pun, dunia ini tidak punya hak untuk mengeluh,
tapi nyatanya mereka tetap diam dan tenang. Untuk itu saja kita seharusnya
sudah bersyukur."
Mendengar
perkataan Ivern, mata Bennett membelalak.
"Kau... kau
menyadari kalau hati mereka berdua sebenarnya sudah hancur?"
Mendengar
pertanyaan Bennett, Yulia dan Ivern mengangguk.
"Kalau
tidak begitu, mana mungkin seseorang bisa bilang akan membunuh orang lain
dengan semudah itu. Kenyataannya, beberapa pemburu hadiah yang benar-benar
picik sudah menghilang tanpa jejak."
"Mayleen
juga biasanya adalah orang yang lembut dan baik. Tapi kalau sudah bicara soal
negeri bangsa iblis, dia akan bilang dengan wajah datar bahwa sebaiknya semua
orang di pemerintahan baru mati saja."
Mendengar
cerita mereka berdua, Bennett merasa ngeri menyadari bahwa kondisi pasangan
Kenta dan Mayleen jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.
Bennett
menelan ludah, lalu berkata kepada mereka berdua dengan wajah serius.
"Dengar
baik-baik. Alasan mereka berdua masih bisa mempertahankan sisi kemanusiaan
adalah karena kalian berdua berteman dengan mereka. Karena kalian membuat
mereka berpikir bahwa di dunia ini masih ada manusia yang bisa dipercayai.
Jadi, ingat ini. Jangan pernah mengkhianati mereka berdua, paham? Jika kalian
sampai berkhianat..."
Bennett
mengambil napas sejenak sebelum melanjutkan.
"Kali ini
mereka berdua benar-benar akan menunjukkan taringnya pada dunia ini."
Ivern dan Yulia
mendengarkan kata-kata itu dalam diam.
"Jika itu
terjadi, dunia ini akan benar-benar berakhir. Sadarilah bahwa nasib dunia ini
ada di tangan kalian."
Mendengar
perkataan Bennett, Ivern dan Yulia saling bertatapan sejenak, lalu tersenyum
getir ke arah Bennett.
"Hal itu
berlaku untuk Bennett-san juga, lho."
"……"
Kalau
dipikir-pikir, memang benar. Karena telah memeriksa Mayleen dengan tulus, Kenta
dan Mayleen sepertinya juga sudah cukup membuka hati kepadanya.
"……Benar-benar,
aku terjebak dalam urusan yang sangat merepotkan."
Bennett tersenyum getir sambil menggoyang-goyangkan liontin izin penghalang buatan Kenta yang diberikan kepadanya sebelum pulang.



Post a Comment