NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yasagure Shoukan-sha wa Ugokanai Volume 1 Chapter 3

Translated by: Nels-chan

Prooftreader by:  Nels-chan

Edited by: Nels-chan



Chapter 3

Terlalu Banyak Orang Bajingan


"Selamat datang. Terima kasih atas kerja kerasnya."

 

"……?"

 

Ivern memiringkan kepalanya sambil melihat kopi yang disodorkan Mona, lalu ke arah Mona, dan terakhir ke arahku secara bergantian.

 

"Apa yang kau lakukan? Padahal dia sudah bersusah payah menyeduhnya, nanti kopinya dingin."

 

"Ae? Ah, iya. Terima kasih……"

 

Ivern meminum kopinya setelah berkata demikian.

 

"Tunggu sebentar! Maksudku, SIAPA INI!?"

 

Dia datang membawakan logistik seperti biasa, disambut oleh Mona, lalu diantar ke meja ruang tamu, dan baru mengucapkan kalimat itu setelah meminum seteguk kopi.

 

"Yah, telat sekali reaksimu."

 

"Aku bingung karena tiba-tiba muncul orang yang tidak kukenal! Mengertilah sedikit!"

 

"Kalau begitu, katakan saja saat pertama kali bertemu dengannya. Apa-apaan suara "Ae?" tadi itu. Aku mati-matian menahan tawa, tahu."

 

Saat pintu rumah dibuka dan yang menyambutnya adalah Mona, kata-kata pertama Ivern saat itu adalah "Ae?". Aku benar-benar berpikir orang ini berniat membuatku mati tertawa.

 

"Berisik!"

 

Mungkin karena merasa malu teringat kejadian itu, wajah Ivern memerah padam saat berteriak.

 

"Jadi? Siapa orang ini sebenarnya?"

 

Ivern sangat mengenal aku dan Mayleen. Karena dia paham bahwa orang yang masuk ke rumah ini harus sangat dibatasi, dia menanyakan identitas Mona.

 

"Ini Mona."

 

"Saya Mona."

 

Saat aku memperkenalkan Mona, dia membungkuk dengan sopan.

 

Ngomong-omong, pakaian Mona saat ini adalah gaun apron. Sebenarnya, pelayan istana biasanya memakai gaun biasa dan gaun apron adalah pakaian pelayan yang boleh kotor, tapi karena pekerjaan utama Mona di rumah ini adalah pekerjaan rumah tangga, dia memakai gaun apron. Sederhananya, itu adalah baju pelayan klasik.

 

"Iya. Mona-san, ya."

 

"Ya."

 

"Benar."

 

"……"

 

"……"

 

"……"

 

"Terus?"

 

"Hm?"

 

Karena Ivern sepertinya menunggu kelanjutan ceritanya, aku memiringkan kepala, dan urat saraf muncul di dahi Ivern.

 

"Aku bertanya Mona dari mana!! Kau tahu kan betapa berbahayanya posisi Mayleen-san!"

 

Ah, benar juga, aku belum menceritakan asal-usul Mona.

 

"Katanya Mona adalah pelayan Mayleen saat masih di keluarga kerajaan. Sepertinya Mona juga yang membantu Mayleen melarikan diri dari istana setelah beliau digulingkan."

 

Mendengar itu, Ivern akhirnya meredakan amarahnya.

 

"Begitu ya. Kalau begitu, itu berarti Mona-san tidak akan menjual atau memusuhi Mayleen-san."

 

"Tidak akan, kan?"

 

Saat aku melemparkan pembicaraan kepada Mona, dia menjawab dengan wajah yang tampak tersinggung.

 

"Tentu saja. Saya adalah seseorang yang telah mempersembahkan kesetiaan abadi kepada Mayleen-sama. Walaupun tubuh ini harus hancur, saya berniat untuk terus melindungi Mayleen-sama."

 

"Begitulah katanya."

 

Mendengar perkataan Mona, Ivern akhirnya mengembuskan napas lega.

 

"Begitu ya, syukurlah kalau begitu."

 

"Apa-apaan? Kau sensitif sekali soal keamanan Mayleen."

 

Saat aku mengatakan itu, Ivern mengalihkan pandangannya ke lantai dua tempat Mayleen dan Yulia berada. Hari ini morning sickness Mayleen cukup parah, jadi dia sedang beristirahat di tempat tidur.

 

"Hehe... aku hamil," ucap Yulia.

 

Mendengar itu, Ivern hendak melompat ke arah Yulia yang sedang berbaring di tempat tidur.

 

"Guekh!"

 

Aku menghentikannya dengan mencengkeram kerah bajunya.

 

"Dasar bodoh!! Apa yang kau pikirkan mencoba menerjang ibu hamil di masa awal kehamilan!!"

 

"Masa awal kehamilan adalah saat yang paling rentan keguguran, tahu?"

 

"Aduh, tidak boleh, Ivern," timpal Mayleen.

 

Ivern yang ditegur habis-habisan oleh para wanita seketika tampak lesu, namun setelah itu ia perlahan menggenggam tangan Yulia.

 

"Yulia, aku... aku tidak tahu harus berkata apa..."

 

Ivern menangis tersedu-sedu sambil terus memegang tangan Yulia.

 

"Ehehe. Hei Ivern."

 

"Apa?"

 

"Mari kita besarkan anak ini dengan penuh kasih sayang, ya."

 

"Iya. Iya! Tentu saja!"

 

Meskipun cara bicaranya agak membuatku penasaran, intinya sekarang Yulia, sahabat terbaik Mayleen, juga telah menjadi sesama calon ibu. Senang rasanya mengetahui mereka bisa menjalin hubungan pertemanan yang baik bahkan setelah melahirkan nanti.

 

"Nah, kalau begitu Kenta-kun, maaf kalau ini mendadak, tapi bisakah kau membawa Yulia-chan pulang ke rumahnya?"

 

"Aku?"

 

"Iya. Tadi pelayan di sana juga sudah bilang, kan? Masa awal kehamilan itu rentan keguguran. Jarak dari sini ke kota cukup jauh. Karena takut terjadi sesuatu, aku ingin kau membawanya pulang dengan cepat menggunakan sihir itu."

 

Begitu ya, jadi itu alasannya. Tapi...

 

"Maaf, Bennett-san. Saya tidak menyarankan hal itu."

 

Begitu aku mengatakannya, wajah Bennett-san berubah menjadi serius.

 

"Apa maksudmu? Apa kau tidak mengkhawatirkan istri sahabatmu?"

 

"Justru karena saya khawatir, makanya saya mengatakannya."

 

Mendengar jawabanku, kali ini Bennett-san tampak bingung.

 

"Apa maksudnya?"

 

"Sihir teleportasi secara harfiah adalah sihir yang memindahkan tubuh. Tidak ada literatur yang mencatat dampak apa yang akan terjadi—atau tidak terjadi—pada janin saat melewati dimensi ruang."

 

"……Jadi begitu alasannya."

 

"Tidak mungkin saya bereksperimen menggunakan tubuh sahabat baik Mayleen, bukan? Karena itu, saya tidak menyarankan perpindahan menggunakan teleportasi."

 

"Hmm……"

 

Setelah memahami penjelasanku, Bennett-san mulai berpikir keras.

 

"Baiklah kalau begitu, Kenta-kun. Maaf merepotkan, tapi bisakah kau menitipkan Yulia-chan di rumah ini untuk sementara waktu?"

 

"Eh!?"

 

"Tentu saja, boleh."

 

"Eeeh!?"

 

Ivern berteriak terkejut, namun aku langsung menyetujui permintaan Bennett-san.

 

"Eh, kalau begitu, aku juga mau tinggal di sini."

 

"Tidak, kau pulang saja."

 

"Kenapa begitu!?"

 

Karena Ivern mulai merengek ingin ikut tinggal, aku menyuruhnya untuk segera pulang.

 

"Kenapa kau tanya? Kau punya pekerjaan sebagai penjelajah, kan?"

 

"Ugh……"

 

"Kau juga punya tugas membawakan logistik ke rumahku."

 

"U-ugh……"

 

Ivern sempat bimbang cukup lama, namun akhirnya ia setuju untuk pulang sendirian.

 

"Yulia, aku akan sering-sering datang untuk menjengukmu!"

 

"Tidak perlu dipaksakan, tidak apa-apa kok. Ah, tapi……"

 

"A-ada apa?"

 

"……Kalau kau selingkuh, akan kupotong 'itu'-mu, ya?"

 

"!?"

 

Mendengar pernyataan mengerikan Yulia, Ivern merapatkan kakinya dan mengangguk berkali-kali dengan panik.

 

"Hahaha! Tenang saja Yulia-chan. Aku akan mengawasinya dengan baik untukmu."

 

"Tolong bantuannya ya, Bennett-saaan."

 

Setelah percakapan itu, Ivern dan Bennett-san pun pulang kembali ke kota.

 

"Mona-san! Mohon bantuannya untuk beberapa waktu ke depan!"

 

"Baik. Anda adalah sahabat berharga Mayleen-sama. Saya akan merawat Anda dengan sepenuh hati."

 

"Fufu, mulai sekarang akan jadi ramai ya."

 

Mayleen mengatakan itu dengan gembira, namun tak lama setelah itu ia kembali merasa mual karena morning sickness dan suasana kembali gaduh.

 

Beberapa waktu telah berlalu sejak Yulia disambut di rumah kami. Morning sickness Mayleen sudah reda, dan perutnya sudah mulai membesar. Yulia masih sedikit mual, tapi menurut Bennett-san, kondisinya sangat lancar. Segalanya berjalan dengan baik, sampai suatu hari Ivern datang menjenguk Yulia dan berbicara padaku dengan wajah serius.

 

"Ada orang yang mengendus-endus tentang diriku di kota?"

 

"Iya. Sepertinya ada orang yang menyelidiki apa saja yang aku beli."

 

"Bukan stalkermu, kan?"

 

"Stal... apa?"

 

Ah, benar juga. Di dunia ini tidak ada kata stalker.

 

"Itu kata dari dunia asalku. Artinya orang yang sangat terobsesi menempel pada seseorang yang mereka sukai secara tidak wajar."

 

Saat aku menjelaskan tentang stalker secara singkat, dia bergidik sesaat karena mungkin terbayang.

 

"Memang itu terdengar menakutkan... tapi rasanya bukan seperti itu, katanya dia mengikuti dari belakang secara sembunyi-sembunyi saat aku sedang berbelanja."

 

Sepertinya bukan Ivern sendiri yang menyadarinya, melainkan diberitahu oleh orang sekitar.

 

"Apa-apaan, sadarilah hal semacam itu sendiri."

 

Wajah Ivern tampak kesal saat aku berkata demikian.

 

"Aku ini manusia biasa yang energi sihirnya lemah, berbeda denganmu! Mana mungkin aku bisa menggunakan sihir tipe pendeteksi!"

 

"Sebagai gantinya, kemampuan fisikmu kan unggul? Kau bisa menajamkan pendengaran atau melakukan berbagai cara lain, bukan?"

 

"……Itu adalah titik butaku."

 

Astaga. Padahal manusia memiliki kemampuan fisik yang unggul, yang berarti pendengaran atau penglihatan pun bisa diperkuat. Dasar mereka ini, pikirannya selalu tertuju pada otot.

 

"Jadi? Sejak kapan kau diikuti?"

 

Ivern memasang wajah sulit saat aku bertanya.

 

"Jujur saja, aku tidak tahu pasti."

 

"Apa-apaan itu."

 

"Mau bagaimana lagi. Yang menyadarinya adalah sesama rekan penjelajah, katanya orang itu bersembunyi dengan sangat rapi. Dia bilang menyadarinya hanya karena kebetulan."

 

"Berarti, mata-mata dari suatu negara ya."

 

Mata-mata, ya.

 

"Mona."

 

"Baik."

 

Saat aku memanggil Mona, ia yang sedang merawat Mayleen dan Yulia segera datang ke sampingku. Mona adalah mantan anggota departemen intelijen negeri bangsa iblis. Aku mencoba mengonfirmasi padanya apakah ada pergerakan seperti itu.

 

"Apakah departemen intelijen negeri bangsa iblis menyelidiki pergerakan Ivern di kota?"

 

"Tidak. Sejujurnya, prioritas utama negeri bangsa iblis adalah menata kembali sistem pemerintahan, jadi departemen intelijen mengawasi apakah negara bangsa manusia akan menyerang selama masa itu. Karena itu, kami tidak punya waktu luang untuk menyelidiki pergerakan Kenta-sama."

 

"Baiklah. Untuk saat ini, negeri bangsa iblis dicoret dari daftar. Terima kasih, kau boleh kembali."

 

"Baik. Permisi."

 

Mona membungkuk hormat lalu kembali ke sisi Mayleen dan Yulia. Sambil memperhatikannya pergi, Ivern bergumam.

 

"Berarti, itu adalah negara bangsa manusia yang mengincarmu……"

 

"Omong-omong, apakah kau baru menyadarinya belakangan ini?"

 

"Iya."

 

"Kalau begitu, Weimar juga dicoret."

 

"Berarti negara lain ya……"

 

Ekspresi Ivern menjadi tegang karena menyadari ada mata-mata negara lain yang menyusup. Tapi, yah……

 

"Tidak perlu terlalu dipikirkan, kan."

 

"Hah?"

 

Jujur saja, karena hal seperti ini sudah sering terjadi, aku berniat mengabaikannya saja, tapi Ivern menjadi sangat tidak senang.

 

"Bukankah ini sudah biasa? Tempat ini kan sudah menjadi rahasia umum. Selama ini pun sudah ada orang-orang yang mengendus-endus seperti itu, kan."

 

"Yah, memang ada, tapi... kalau dipikir-pikir, bagaimana keadaannya waktu itu? Aku berhenti melihat mereka, jadi kupikir sudah lama sekali mereka tidak muncul kembali."

 

"……Entahlah?"

 

Sejujurnya, jika aku menjawab dengan jujur, Ivern pasti akan sangat ngeri, jadi aku memilih untuk menyamarkannya. Namun, sepertinya Ivern menyadari maksudku.

 

"……Senyum licikmu itu. Kau pasti akan bilang mereka terkubur di sekitar sini, kan?"

 

"Hah? Dasar bodoh, kalau aku melakukan itu, nanti banyak serangga bermunculan."

 

"……Sudah, aku mengerti. Tidak usah bicara lebih banyak lagi."

 

"Begitukah? Kau tidak mau kepastian?"

 

"Tidak mau! Jangan katakan! Benar-benar jangan katakan, ya!"

 

Apakah itu sebuah tantangan? Aku sempat berpikir begitu, namun karena Ivern mati-matian menutup telinganya, aku memutuskan untuk tidak memberitahukan kebenaran padanya.

 

"Lalu? Fakta bahwa kau sengaja datang melaporkan ini, berarti kau mengkhawatirkanku?"

 

Saat aku mengatakannya sambil menyeringai, Ivern menjawab dengan wajah serius, "Bukan."

 

"Di sini ada Yulia, kan. Meskipun kau tidak apa-apa, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Yulia?"

 

"Oalah, jadi bukan aku, tapi Yulia yang kau khawatirkan."

 

"Juga Mayleen-san."

 

"Kalau aku?"

 

"……Ff."

 

"Apa kau tidak mengkhawatirkanku?" Saat aku bertanya begitu, dia tertawa mengejek.

 

"Bukankah itu terlalu kasar?"

 

"Sama sekali tidak. Memangnya ada orang di dunia ini yang bisa mencelakaimu?"

 

"Entahlah?"

 

Jujur saja aku tidak tahu. Sejauh ini aku belum pernah bertemu orang seperti itu.

 

"Apa orang sepertimu perlu dikhawatirkan?"

 

"Yah, kurasa tidak."

 

"Benar, kan?"

 

Entah bagaimana, aku malah dibuat setuju oleh Ivern.

 

"Intinya, fakta bahwa kegiatan belanjaku diawasi berarti mereka juga melihatku membeli perlengkapan ibu hamil dan bayi. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan para petinggi negara manusia. Lebih baik berhati-hati daripada menyesal nanti."

 

Benar, para petinggi negara—para penguasa di dunia ini—hampir semuanya sampah. Jika mereka tahu ada ibu hamil di tempatku...

 

"……Kasus Weimar adalah contoh buruknya, ya."

 

"Begitulah."

 

Sial, sejak Tuan Putri dari Weimar itu datang, tidak ada satu pun hal baik yang terjadi. Seharusnya bukan cuma adiknya, sekalian saja aku ledakkan seluruh istananya waktu itu.

 

"Mungkin sudah agak terlambat, tapi aku juga akan berhati-hati. Kau juga harus lebih waspada dari sebelumnya."

 

"Iya. Terima kasih informasinya."

 

Setelah itu, Ivern menghabiskan waktu bersama Yulia sebelum akhirnya pulang.

 

Nah, soal waspada, sebenarnya jika seseorang menyentuh penghalangnya, aku akan langsung tahu karena ada notifikasi yang masuk. Satu-satunya hal yang mengkhawatirkan adalah saat menjemput Bennett-san, tapi berbeda dengan Ivern, aku bisa menggunakan sihir pendeteksi, jadi aku selalu waspada saat memasuki kota. Bagaimanapun juga aku adalah buronan.

 

Yah, kira-kira begitu. Meskipun ada peringatan dari Ivern, aku tetap menjalani keseharianku seperti biasa.

 

Sampai pada suatu hari.

 

Ada reaksi pada penghalang. Terlebih lagi, jumlahnya banyak.

 

"Oi, oi, apa yang dilakukan para penjaga di pintu masuk?"

 

Tugas kalian kan menahan orang-orang seperti ini. Saat aku mencoba memeriksa dengan sihir pendeteksi...

 

"Wah, wah."

 

Di pintu masuk hutan, tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia.

 

"Haa... sepertinya keadaannya jadi merepotkan."

 

Aku tidak bisa membiarkan lawan yang sepertinya menggunakan cara kasar ini, jadi aku menuju ke lokasi di mana ada reaksi penghalang. Di sana, aku melihat pemandangan yang sangat tidak menyenangkan.

 

"……Jadi begitu cara kalian bermain ya."

 

Di sana aku melihat Bennett-san yang diikat dengan pisau menempel di lehernya, serta Ivern yang dikelilingi oleh banyak ksatria dengan pedang terhunus ke arahnya, dipaksa untuk menunjukkan jalan.

 

Bajingan-bajingan yang mengendus-endus tentangku ternyata tidak mengincarku, melainkan menjadikan Ivern dan Bennett-san sebagai target.

 

Jujur saja, kupikir Ivern harusnya bisa mengatasinya sendiri, tapi Bennett-san beda cerita. Beliau adalah pemilik apartemen tempat Ivern tinggal sekaligus seorang bidan. Seorang wanita paruh baya yang sama sekali tidak memiliki kemampuan tempur. Beraninya mereka menjadikan orang seperti itu sebagai sandera……

 

Aku merasa sangat tidak senang, tapi untuk saat ini aku akan mencoba mendengarkan percakapan mereka. Dalam situasi seperti ini, mustahil ada kesalahpahaman, tapi sekadar memastikan saja. Sambil menghilangkan keberadaanku, aku mengaktifkan sihir pengumpul suara.

 

'Apa kau yakin jalan ini benar?'

 

'...Iya. Tidak salah lagi. Lebih dari itu, jika aku menuntun kalian dengan benar, kalian akan melepaskan Bennett-san, kan?'

 

'Itu tergantung hasil kerjamu.'

 

'……'

 

Ah, ini benar-benar busuk. Lagipula, meskipun Ivern menepati janjinya, pihak lawan sama sekali tidak berniat menepati janji. Cara bicara seperti itu berarti ujung-ujungnya mereka akan bilang kerja Ivern buruk, lalu menghabisi Ivern maupun Bennett-san. Itu pola yang sudah jelas.

 

Kesimpulan.

 

Mereka adalah sampah tingkat rendah. Kalau begitu, aku tidak perlu menahan diri.

 

"Ivern-kun! Jangan pedulikan aku! Larilah sendiri! Jika kau sendirian, kau pasti bisa mengatasinya, kan!?"

 

"Berisik, dasar tua bangka! Mau m-pekh!?"

 

"……Eh?"

 

Bennett-san menoleh ke arah pria yang menangkapnya karena ia mengeluarkan suara aneh tadi……

 

"Hiih! Kyaaaa!!"

 

Beliau menjerit kencang karena terkejut melihat bagian atas wajah pria itu telah lenyap.

 

"Ups, maaf ya. Aku memperlihatkan sesuatu yang menjijikkan."

 

Aku segera menghampiri Bennett-san, menyelamatkannya, dan menjauh dari tempat itu.

 

"Eh? Eh? Ah, Kenta-kun!?"

 

"Halo."

 

"Halo katamu…… Barusan itu perbuatan Kenta-kun?" tanya Bennett-san sambil melihat mayat yang menjijikkan tadi.

 

"Benar sekali. Yah, sihir untuk meledakkan kepala orang tidak butuh daya yang besar, jadi aku bisa melakukan tembakan presisi."

 

"Be-begitu ya……"

 

Saat kami sedang berbincang seperti itu, para prajurit akhirnya menyadari bahwa mereka diserang dan mulai gempar.

 

"Apa!? Serangan musuh!?"

 

"Hoi, Ivern!! Sandera sudah tidak ada! Cepat keluar dari sana!!"

 

"!! Mengerti!!"

 

Ivern mengatakan itu lalu merebut pedang dari orang yang menodongnya, dan langsung menebasnya. Para prajurit yang sedang bingung dan tidak bisa memahami situasi ini dengan mudah dibantai, lalu Ivern pun menghampiriku.

 

"Maaf, Kenta! Tak kusangka sasaran mereka bukan aku atau kau, melainkan Bennett-san!"

 

"Aku pun berpikiran sama. Maaf ya, Bennett-san. Saya sudah membuat Anda merasa takut."

 

"Ah, iya. Tidak apa-apa. Sejak aku memutuskan untuk terlibat denganmu, aku sudah menyiapkan mental untuk hal seperti ini."

 

"Meski begitu, saya minta maaf."

 

Walaupun beliau sudah bersiap, bukan berarti aku boleh melibatkannya. Saat aku sedang meminta maaf kepada Bennett-san, seseorang yang tidak tahu diri berteriak.

 

"Ka-kalian bajingan! Apa kalian pikir setelah melakukan ini, kalian akan lolos begitu saja!?"

 

Melakukan ini?

 

"Aku hanya menyelamatkan sandera dari komplotan yang menggunakan cara sangat licik seperti menyandera orang, kok? Memangnya ada masalah?"




Saat aku menjelaskan situasi sekarang secara singkat, Bennett-san dan Ivern menyemburkan tawa "Pffft!", sementara komplotan yang terlihat seperti tentara itu wajahnya memerah padam.

 

"Ka-kau!! Beraninya kau menghina kami, prajurit Adomos yang terhormat!?"

 

"Hee, jadi kalian orang Adomos ya."

 

Orang-orang ini benar-benar cuma mengandalkan otot. Mereka malah membongkar identitas sendiri. Ngomong-omong, Adomos adalah negara yang berbatasan langsung dengan Weimar dan Lindor.

 

"Benar! Kami adalah prajurit reguler dari militer Adomos! Melawan kami berarti kalian akan bermusuhan dengan Adomos! Apa kau siap!?"

 

"Siap."

 

"...Hah?"

 

Mereka bertanya seperti memberikan ancaman apakah aku siap berurusan dengan sebuah negara, dan aku sudah menjawabnya dengan benar, tapi entah kenapa tentara Adomos itu malah melongo.

 

"Kenapa bengong? Sejak awal tidak ada hubungan persahabatan dengan Adomos, jadi tidak masalah mau bermusuhan atau apa pun."

Premisnya saja sudah salah sejak awal. Saat aku menunjukkan hal itu, para tentara Adomos mulai gemetar karena marah.

 

"K... KAUUU!!"

 

Dasar tentara pengecut. Mereka semua yang tersisa menyerangku sendirian. Ada lima orang yang menyerang. Mereka melancarkan pertarungan jarak dekat dengan menonjolkan kemampuan fisik mereka yang tinggi, tapi...

 

"Nih."

 

'Nuwaaa!'

 

Saat aku membalas mereka dengan sihir angin yang agak kuat, mereka terpental dengan mudah karena mungkin tidak terbiasa melawan sihir.

 

"Ivern, pinjam pedangnya sebentar."

 

"Eh? Anu, ini bukan punyaku, sih..."

 

Aku meminjam pedang yang dipegang Ivern, lalu menebas tentara Adomos yang terpental tadi. Orang yang kehilangan keseimbangan karena sihir hanyalah sasaran empuk. Dengan teknik pedang yang diajarkan padaku secara intensif setelah dipanggil ke dunia ini, serta bantuan sihir penguatan fisik, aku menebas dua orang dalam satu ayunan, lalu menebas dua orang lagi dengan ayunan balik.

 

Melihat dua orang tertebas di setiap kilatan pedang, satu orang terakhir yang tersisa kehilangan nyali untuk bertarung dan jatuh terduduk, bahkan ia sampai mengompol saat aku menodongkan pedang ke depan matanya.

 

"To, tolong..."

 

"Ou, bergembiralah. Aku akan membiarkanmu tetap hidup."

 

"!?"

 

Saat aku bilang akan menyelamatkan nyawa tentara yang memohon pengampunan itu, wajahnya seketika berubah menjadi sangat gembira. Bodoh sekali orang ini. Dia bahkan tidak tahu kenapa nyawanya dibiarkan hidup.

 

"Setelah ini, aku akan membawamu ke ibu kota Weimar."

 

"!?"

 

Ahaha, wajahnya yang tadi terlihat senang kini berubah menjadi penuh keputusasaan.

 

"Aku akan melaporkan bahwa kalian telah membunuh prajurit Weimar. Jika dibiarkan, ada kemungkinan hal ini akan dituduhkan padaku."

 

"Ka, kalau kau melakukan itu, akan terjadi masalah internasional..."

 

"Kalian sudah memicu masalah besar itu sendiri. Kenapa tidak paham juga?"

 

"……"

 

Orang ini malah membuang muka. Benar saja, mereka memang berniat melimpahkan kesalahan padaku. Yah, karena aku sudah tahu, makanya aku akan membawanya.

 

"Kalau begitu, aku akan pergi ke ibu kota membawa orang ini, mayat-mayat di sekitar sini, dan mayat prajurit penjaga. Ivern, kau bawa Bennett-san ke rumah."

 

"Ah, oke."

 

Nah, aku akan menghubungi Mayleen lewat telepati, lalu pergi ke ibu kota Weimar lagi. Dengan begitu, aku mengikat tentara Adomos, mayat prajurit penjaga Weimar, serta satu-satunya tentara Adomos yang selamat dengan tali, lalu berteleportasi ke ibu kota Weimar.

 

"Hup. Sampai."

 

"Uwoaah!?"

 

Aku berteleportasi ke depan gerbang masuk ibu kota Weimar, dan prajurit penjaga yang melihat hal itu terkejut hingga berteriak kencang.

 

"Ah, aku mengagetkanmu? Maaf ya."

 

"Eh? Ah, ka-kau adalah..."

 

"Maaf karena sudah mengejutkan, tapi bisakah kau panggilkan petinggi pertahanan nasional?"

 

"Eh? Ah, eh?"

 

Cih, apa-apaan orang ini. Cuma bisa panik, benar-benar tidak berguna. Saat aku berpikir untuk mencari orang lain, aku melihat bayangan seseorang yang berjalan ke arah kami.

 

"Ini sebenarnya ada keributan apa!?"

 

Ah, aku pernah melihat orang itu. Dia adalah orang yang aku ajak bicara di sini tempo hari.

 

"Yo. Sudah lama ya."

 

Saat aku menyapa sambil mengangkat satu tangan, wajah pria itu tampak sangat terkejut.

 

"Ke, Kenta Maya!?"

 

"Yo. Kau saja cukup. Bisakah kau panggilkan petinggi pertahanan nasional?"

 

"A, apa ada masalah merepotkan lagi?"

 

"Bisa dibilang begitu."

 

Aku berkata demikian sambil melirik ke arah tali yang aku pegang. Pria itu pun ikut mengalihkan pandangannya, lalu ia berseru "Ugh" sambil menutup mulutnya.

 

"Ini prajurit dari tempatmu, kan?"

 

"Huekk... eh?"

 

Pria yang tadi hampir muntah karena melihat mayat itu kini menatap mayat-mayat tersebut dengan ragu setelah mendengar perkataanku.

 

"……Benar, baju zirah ini adalah perlengkapan resmi negara kami…… tapi jangan-jangan……"

 

Haa, sudah kuduga. Dia malah mencurigaiku.

 

"Apa matamu itu cuma pajangan? Lihat juga mayat yang lain."

 

"Yang lain? Ah, i, ini!?"

 

"Baju zirah Adomos, tidak salah lagi kan?"

 

Mendengar pertanyaanku, pria itu mengangguk berkali-kali.

 

"Prajurit Adomos membunuh prajurit penjagamu lalu menyusup ke dalam hutan. Orang ini adalah saksinya."

 

Aku berkata demikian sambil melemparkan satu-satunya prajurit Adomos yang selamat ke hadapan pria itu.

 

"Prajurit Adomos membunuh prajurit kami!? I, ini masalah besar!"

 

"Makanya, aku bilang panggilkan petinggi pertahanan nasional."

 

"Ba, baiklah. Hei! Seseorang! Laporkan hal ini ke istana!!"

 

Seorang prajurit segera memacu kudanya menuju istana setelah mendengar perintah pria itu. Sambil memperhatikannya pergi, pria itu menundukkan kepala ke arahku.

 

"Ada apa?"

 

"Ma, maafkan saya karena telah mencurigai Anda tanpa bukti."

 

"Oh. Tidak apa-apa kalau sudah paham."

 

Akan melelahkan jika aku terus marah karena hal sepele seperti ini. Jika dia sudah minta maaf dengan tulus, maka urusan selesai. Setelah menunggu selama beberapa menit, pemandangan yang tidak asing muncul. Sebuah kereta kuda dengan lambang kerajaan melaju dengan kecepatan tinggi ke arah kami.

 

"Rasanya aku pernah melihat ini. Jangan-jangan Tuan Putri akan melompat keluar lagi?"

 

"En, entahlah……"

 

Saat aku sedang berbincang dengan pria itu, kereta kuda berhenti, pintunya terbuka lebar dengan kasar, dan Tuan Putri melompat keluar dari dalam. Sampai di sini, semuanya persis sama dengan kejadian sebelumnya.

 

"Dejavu."

 

"Ha, haha."

 

Tuan Putri berlari ke arahku, namun sejak saat itu ia menunjukkan pergerakan yang berbeda dari sebelumnya.

 

"Sa, saya benar-benar minta maaf!!"

 

Ia melakukan sliding dogeza tepat di depan mataku.

 

"……Permintaan maaf itu untuk apa?"

 

"I, itu……"

 

"Karena tidak menepati janji?"

 

"!?"

 

Mendengar kata-kataku, Tuan Putri mengangkat wajahnya dengan sangat terkejut. Wajahnya pucat pasi.

 

"Yah, kalian sudah meremehkanku, kan? Gara-gara itu, aku jadi harus membuang-buang tenaga."

 

Maksudku adalah soal penghancuran menara tempat adik sang Tuan Putri dikurung. Tuan Putri yang menyadari hal itu mulai gemetar hebat.

 

"Sejujurnya, aku sempat berpikir untuk meledakkan seluruh istana, tahu? Tapi aku pikir tidak perlu sampai semarah itu hanya karena janji yang dilanggar. Jadi aku mengampuni kalian dan hanya membereskan pelakunya dengan tanganku sendiri."

 

"Sa, saya berterima kasih atas belas kasihan Anda yang begitu besar……"

 

"Ya. Lalu, hari ini ada urusan lain yang berbeda dari hal itu."

 

"Be, begitukah."

 

Aku melemparkan prajurit Adomos yang terikat itu ke hadapan Tuan Putri.

 

"Guekh!"

 

Karena mulutnya disumpal, hanya suara erangan yang terdengar, tapi baju zirah yang dipakainya sepertinya memang perlengkapan resmi Adomos. Sebagai anggota keluarga kerajaan, Tuan Putri sepertinya memahami hal itu dan mengerutkan keningnya saat melihat prajurit Adomos tersebut.

 

"Prajurit Adomos, kenapa mereka ada di sini?"

 

"Mereka membantai prajurit penjaga yang kau tempatkan di pintu masuk hutan, lalu menyusup ke dalam."

 

"Apa!?"

 

Barulah saat itu Tuan Putri menyadari keberadaan mayat prajurit negaranya sendiri.

 

"Be-beraninya mereka melakukan hal itu!!"

 

"Prajurit Adomos membantai secara kejam prajurit Weimar di dalam wilayah Weimar sendiri. Ini masalah besar, kan?"

 

"Te-tentu saja!"

 

"Kalau begitu, Weimar akan memberikan tindakan tegas terhadap Adomos, kan?"

 

"……Eh?"

 

Mendengar perkataanku, wajah Tuan Putri kembali pucat pasi.

 

"Lho? Prajurit negaramu dibunuh oleh prajurit negara lain, tapi negaramu tidak melakukan apa-apa? Aduh, aduh, negara yang dingin sekali ya."

 

"Ah, tidak, bukan begitu maksudnya!"

 

"Lagi pula ya."

 

"I-iya!"

 

"Mereka menyusup ke hutan dengan menyandera kenalanku. Jujur saja, aku sangat marah. Jika kalian tidak menanganinya, aku sendiri yang akan menginvasi Adomos."

 

"Ba-baik, saya mengerti! Kami yang akan menanganinya! Jadi tolong! Tolonglah Paduka tetap tinggal dengan tenang!!"

 

"Begitu? Kalau begitu, aku serahkan sisanya padamu."

 

"Ba-baik!!"

 

"Jika lain kali kau melanggar janji lagi, saat itu…… kau tahu kan apa yang akan terjadi?"

 

"Ba-baik!!"

 

Tuan Putri berkata demikian lalu kembali bersujud dalam-dalam. Melihat pemandangan itu, aku meninggalkan mayat dan saksi di sana, lalu pulang ke rumah dengan teleportasi.

 

Ngomong-omong……

 

Tuan Putri itu, apa dia salah paham mengira aku ini seorang Raja? Pakai "Paduka" atau "tinggal dengan tenang" segala, itu terlalu berlebihan.

 

 

Setelah Kenta pulang dengan teleportasi, petugas pemeriksaan yang tadi melayani Kenta menyapa Victoria yang masih belum berhenti bersujud.

 

"Tu-Tuan Putri, Maya-dono sudah pulang……"

 

"……Benarkah?"

 

"Benar. Beliau melakukan teleportasi tepat di hadapan saya."

 

Begitu petugas itu mengatakannya, Victoria akhirnya mengangkat wajahnya dan mengembuskan napas lega.

 

"Saya sempat mengira Maya-dono akhirnya datang untuk menyerang ibu kota…… Syukurlah ternyata bukan begitu."

 

"Ha, hmmm…… Meski begitu, apakah Maya-dono adalah orang yang harus diperlakukan dengan begitu hormat? Sebagai bawahan, hati saya merasa sedih melihat Tuan Putri Victoria menundukkan kepala sedalam itu."

 

Saat petugas pemeriksaan itu menyampaikan keluhannya, wajah Victoria tampak kesal.

 

"……Lawan kita terlalu berat. Maya-dono adalah orang yang mampu menghancurkan negara ini sendirian. Kita sudah terlanjur memancing ketidaksenangannya. Cobalah untuk menyinggung perasaannya lebih jauh lagi, maka negara kita akan lenyap tanpa bekas."

 

"……"

 

Mendengar penilaian Victoria terhadap Kenta, petugas pemeriksaan itu menelan ludah.

 

"Ja-jadi, tindakan Tuan Putri tadi adalah demi melindungi kami……"

 

"Fu…… Kau mungkin berpikir ini memalukan, tapi tidak ada cara lain selain melakukan itu. Aku sudah membuatmu kecewa ya."

 

"Ti-tidak mungkin begitu!"

 

Petugas itu berteriak, lalu berlutut dengan satu kaki dan menundukkan kepalanya. Orang-orang di sekitarnya pun melakukan hal yang sama. Melihat pemandangan itu, Victoria mengembuskan napas lega.

 

"Saya bersyukur niat saya tersampaikan kepada kalian semua. Kalau begitu, saya akan pergi melaporkan hal ini kepada Baginda Raja. Seseorang! Angkut pengacau itu dan mayat prajurit Adomos ke istana! Dan bagi prajurit negara kita yang gugur dalam tugas, bawalah mereka ke gereja dan makamkan dengan penuh penghormatan!"

 

"Siap!"

 

Atas perintah Victoria, para prajurit di sekitar mulai bergerak dengan sigap. Setelah memastikan hal itu, Victoria naik ke kereta kuda dan kembali ke istana. Kemudian, setelah beraudiensi dengan Baginda Raja, Victoria menyarankan untuk menyatakan perang terhadap Adomos.

 

"Pe, pernyataan perang!? Hanya karena prajurit kelas rendah dibunuh? Bukankah itu terlalu berlebihan? Seharusnya meminta ganti rugi saja sudah cukup, bukan?"

 

"……Bukan hanya itu saja."

 

"……Jangan-jangan, ini ada hubungannya dengan Maya-dono?"

 

Mendengar pertanyaan Raja, Victoria mengangguk dalam diam. Melihat reaksi tersebut, Raja memegang dahi sambil menatap ke langit.

 

"Prajurit Adomos tidak hanya membunuh prajurit penjaga, mereka juga menyandera kenalan Maya-dono dan mencoba menyusup ke rumahnya."

 

"!? Bo, bodohkah mereka? Adomos itu……"

 

Raja sama sekali tidak menyangka Adomos akan menggunakan cara seperti itu terhadap Kenta, sehingga ia benar-benar tidak bisa memahami tindakan Adomos.

 

"Mungkin mereka memang bodoh. Maya-dono sangat murka karena tindakan itu. Meskipun beliau tersenyum…… saya belum pernah melihat senyuman semengerikan itu seumur hidup saya."

 

Victoria gemetar saat teringat pertemuannya dengan Kenta barusan.

 

"Sampai sebegitunya kah……"

 

"……Kita sudah pernah mengkhianati Maya-dono sekali. Dan seperti yang diduga, Maya-dono mengetahui hal itu."

 

"……Begitu ya."

 

"Beliau tahu, namun membiarkannya. Jika kita kembali mengambil langkah yang setengah-setengah, kali ini Maya-dono benar-benar akan menjadi musuh kita. Jika itu terjadi……”

 

"……Hari di saat hal itu tersampaikan kepada Maya-dono, akan menjadi hari kehancuran negara ini……”

 

"Sudah pasti."

 

Melihat Victoria yang menegaskan hal itu, Raja terdiam sejenak sebelum mengembuskan napas panjang.

 

"Haa…… Baiklah. Kita nyatakan perang terhadap Adomos yang telah membantai prajurit kita demi kepentingan pribadi, serta membahayakan negara dengan mengusik pihak yang tidak boleh diusik! Sampaikan itu kepada Adomos!"

 

"Bagaimana dengan prajurit Adomos yang selamat?"

 

"Penggal kepalanya dan kirimkan bersama mayat prajurit lainnya!!"

 

"Baik, saya mengerti."

 

Victoria berkata demikian lalu meninggalkan ruangan. Dengan begitu, tak lama setelah konflik dengan bangsa iblis berakhir, kali ini Weimar menyatakan perang terhadap tetangganya sesama bangsa manusia, Adomos. Hal ini membuat situasi di antara negara-negara bangsa manusia semakin kacau. Di saat yang sama, sebuah rumor mulai beredar di negara-negara bangsa manusia. Rumor itu mengatakan bahwa Weimar telah jatuh ke tangan Summoner paling berbahaya, Kenta Maya.

 

 

"Woi, kau sudah dengar belum?"

 

"Apa? Dasar pedagang keliling."

 

"……Berhentilah menjahiliku soal itu. Aku sudah bosan."

 

"Menjahili? Itu kan murni kesan dariku."

 

"Itu malah makin membuatku kesal."

 

"Jadi, informasi apa lagi yang kau dapatkan kali ini?"

 

Suatu hari, Ivern yang datang tidak hanya untuk menjenguk Yulia tapi juga membawakan logistik, bercerita tentang informasi yang didapatkannya.

 

"Weimar menyatakan perang terhadap Adomos."

 

"Hee, kali ini mereka menanganinya dengan benar ya."

 

Saat aku berkata demikian, Ivern tertunduk lesu.

 

"Ya ampun, sudah kuduga ini ulahmu……"

 

"Yah, begitulah. Aku bilang tidak masalah jika aku yang menyerang Adomos, tapi mereka memohon-mohon padaku agar menghentikan niat itu. Jadi aku bilang, 'Kalau begitu kalian saja yang urus'."

 

"……Caramu mengancam itu sungguh keterlaluan."

 

"Masa sih?"

 

"Iya. Target Adomos itu bukan cuma kau, tapi Mayleen-san juga. Aku tidak yakin kau akan ragu menghadapi lawan seperti itu. Kau pasti berniat membumihanguskan Adomos, kan?"

 

"Ooh, kau paham sekali ya."

 

Saat aku membenarkan perkataan Ivern, dia tersenyum kecut.

 

"……Yah, karena kita sudah cukup lama saling mengenal. Bagi Weimar, Adomos adalah negara tetangga. Jika negara itu lenyap……”

 

"Kau mau bilang Weimar bakal kesulitan kalau diinvasi bangsa iblis?"

 

Saat aku mengatakan itu, Ivern memberikan tatapan tajam.

 

"Kau... melakukannya dengan sadar..."

 

"Bukan begitu? Saat itu aku benar-benar berpikir untuk menghancurkan Adomos sendiri, tapi menghancurkan satu negara itu butuh banyak tenaga, kan? Rasanya jadi merepotkan. Lagipula, kalau aku sendiri yang menghancurkan satu negara, nanti masyarakat akan menyebutku penjahat lagi. Padahal yang salah kan Adomos."

 

"...Bukankah kau disebut penjahat karena menjadikan seluruh negara sebagai target?"

 

"Begitukah? Ah, mungkin saja. Makanya, daripada aku yang melakukannya secara langsung, kalau aku menyuruh Weimar, bukankah kebenciannya akan tertuju pada Weimar?"

 

Jujur saja, hanya itu yang kupikirkan.

 

"Haa... yah, Weimar mungkin juga berpikir kalau kau yang menyerang, Adomos akan menjadi tanah gersang. Makanya mereka pikir lebih baik mereka sendiri yang menanganinya, tapi..."

 

"Tapi apa?"

 

"Sayangnya, sepertinya kebencian itu tidak tertuju pada Weimar."

 

"Hah? Kenapa?"

 

"Menurut rumor yang beredar, alasan Weimar menyatakan perang terhadap Adomos adalah karena diperintah olehmu."

 

"Hah?"

 

Kenapa jadi begitu? Apa Weimar berulah lagi? Apa ini perlu "hukuman" lagi? Saat aku sedang berpikir demikian, Ivern mulai menjelaskan situasinya.

 

"Kau membuat Tuan Putri Victoria bersujud di depan umum, kan?"

 

"Bukan. Dia yang tiba-tiba bersujud sendiri."

 

"Begitukah?"

 

"Iya."

 

"Yah, meskipun kenyataannya begitu, banyak orang yang melihat Tuan Putri bersujud. Lalu setelah itu Weimar menyatakan perang. Wajar saja kan kalau rakyat berpikir begitu?"

 

"Serius? Benar-benar ya, keluarga kerajaan itu tidak ada gunanya sama sekali. Apa kuhancurkan saja ya?"

 

"Oi, jangan berpikiran aneh-aneh! Kalau kau melakukannya, kali ini benar-benar akan lahir aliansi dunia untuk menundukkanmu."

 

"Apa-apaan kau? Apa kau sekarang bisa membaca pikiranku?"

 

Menjijikkan.

 

"Sudah kubilang kita sudah cukup lama berteman. Melihat wajah jahatmu itu, aku tahu kau sedang menimbang-nimbang untuk 'menghancurkan Weimar?'."

 

"Ooh, benar sekali."

 

"Haa... aku tidak senang tebakanku benar. Pokoknya hentikan itu, ya? Meskipun kau mungkin bisa menang melawan aliansi dunia, kalau itu terjadi dunia benar-benar akan berakhir, tahu? Jika itu terjadi, kau tidak akan bisa mengirim logistik untuk Mayleen-san dan bayimu."

 

"Itu masalah besar. Baiklah, aku batalkan."

 

Membuat Mayleen dan anakku kelaparan itu sama sekali tidak masuk hitungan.

 

"...Serius, cara paling efektif untuk menghentikanmu adalah dengan membawa-bawa keluarga."

 

"Apa itu hal yang pantas dikatakan langsung kepada orangnya?"

 

Ivern memang jujur, tapi bukankah ini terlalu jujur?

 

"Tidak masalah, aku hanya mengatakan fakta."

 

"Kau benar-benar terlalu jujur."

 

Suatu hari dia pasti akan kena batunya.

 

"Tidak apa-apa. Aku sudah memutuskan untuk hidup dengan jujur. Aku tidak mau berbohong."

 

"Hoo."

 

Sepertinya ada alasan kenapa Ivern hidup sejujur ini. Yah, aku tidak akan bertanya karena tidak ingin terlibat masalah yang merepotkan.

 

"Nah, sebagai orang jujur, aku akan memberitahumu satu rumor lagi."

 

"Apa lagi? Masih ada?"

 

Aku bertanya balik dengan perasaan sedikit jengah, lalu Ivern menyeringai.

 

"Kabarnya, Weimar telah menyerah dan tunduk di bawah perintahmu."

 

...Hah?

 

"Hah!? Rumor merepotkan macam apa lagi yang tersebar itu!? Woi!!"

 

"Apa Weimar membiarkan rumor itu begitu saja?"

 

"Mungkin mereka tidak sempat mengurusnya karena sibuk persiapan perang."

 

"Serius... Apa aku perlu pergi untuk 'meminta' mereka memperbaikinya?"

 

"Yang kau tulis sebagai 'permintaan' tapi dibaca sebagai 'ancaman' itu ya. Sudahlah, jangan. Lagipula, bukankah itu malah menguntungkan bagimu?"

 

"? Apa maksudnya?"

 

Aku benar-benar tidak paham, dan saat aku bertanya, Ivern mulai memasang wajah licik.

 

"Jika orang-orang percaya bahwa Weimar telah tunduk kepadamu, maka jumlah negara yang mencoba merekrutmu akan berkurang, kan? Lagipula, tempat ini ada di dalam wilayah Weimar. Jika mereka ingin mendekatimu, mereka harus menyusup ke Weimar. Bagaimana jika mereka salah paham dan mengira Weimar telah menyerah kepadamu?"

 

"……Artinya mereka akan memperhatikan gerak-gerik Weimar dan tidak akan berani bertindak sembarangan, ya?"

 

"Begitulah."

 

Haa, begitu rupanya. Rumor yang salah pun ternyata ada cara pemanfaatannya seperti itu.

 

"Hebat juga kau bisa memikirkan hal seperti itu."

 

Aku ini tipe yang fokus pada kekuatan tempur, sih. Politik atau strategi militer, aku sama sekali tidak paham.

 

……Eh? Ini jangan-jangan, aku sudah menjadi orang yang hanya mengandalkan otot?

 

Saat aku gemetar menyadari kenyataan pahit itu, Ivern melanjutkan bicaranya.

 

"Yulia ada di sini, kan. Demi melindungi Yulia, aku akan menggunakan cara apa pun."

 

Wajah Ivern saat mengatakan itu terlihat seperti orang yang sudah menetapkan tekadnya.

 

"Ooh, kau mulai bicara seperti penasihat organisasi jahat, ya."

 

"Kalau begitu, itu berarti pemimpin organisasi jahatnya adalah kau, tidak apa-apa?"

 

"……Maaf, aku kelewatan."

 

Itu terlalu berlebihan untuk seleraku.

 

Bagaimanapun juga, aku memutuskan untuk membiarkan rumor tentang Weimar itu tetap beredar. Tampaknya hal itu akan lebih praktis dalam berbagai hal, lagipula bukan aku yang menyebarkan rumor itu. Silakan saja jika ingin salah paham sendiri.

 

 

Adomos Kingdom, sebuah negara yang berbatasan dengan Weimar Kingdom, Kerajaan Lindor, dan negeri bangsa iblis. Kerajaan tersebut saat ini sedang berada di tengah kekacauan.

 

"Weimar menyatakan perang!? Apa-apaan maksudnya ini!?"

 

Raja Adomos terperanjat mendengar laporan dari pejabatnya, lalu membentak pejabat yang membawakan laporan tersebut.

 

"Meskipun Baginda berkata demikian…… barusan utusan dari Weimar tiba-tiba mengatakannya."

 

"Apa sebenarnya maksudnya!? Bukankah hubungan negara kita dengan Weimar tidak sedang bermusuhan!?"

 

"I-itu……"

 

Pejabat itu menjeda perkataannya sejenak, lalu menyampaikan pesan dari utusan Weimar kepada sang Raja.

 

"Adomos telah membantai prajurit Weimar secara kejam, dan terlebih lagi telah menempatkan kelangsungan hidup Weimar dalam bahaya. Kami sama sekali tidak bisa memaafkan hal ini. Weimar menyatakan perang terhadap Adomos dan menegaskan kebenaran di pihak Weimar…… begitulah bunyinya."

 

"A-aku tidak mengerti maksudnya……"

 

Raja Adomos benar-benar tidak paham dan merasa bingung hingga memegang kepalanya. Jika soal mereka tidak bisa memaafkan prajurit Adomos yang membunuh prajurit Weimar, itu masih bisa dimengerti. Tapi bagian setelahnya. Menempatkan kelangsungan hidup Weimar dalam bahaya? Sebenarnya apa yang sedang dibicarakan? Lalu, menegaskan kebenaran dengan menyatakan perang? Hubungan sebab-akibatnya tidak nyambung. Alasannya seolah sengaja dicari-cari.

 

"Apa sebenarnya yang dipikirkan Weimar…… Omong-omong, apakah benar prajurit kita membunuh prajurit Weimar?"

 

"Sepertinya hal itu memang benar."

 

"……Kenapa bisa jadi seperti itu……"

 

Saat Raja Adomos sedang pusing, pejabat itu menyampaikan sarannya dengan ragu-ragu.

 

"Sebenarnya…… kepala dari prajurit yang membunuh prajurit Weimar telah dikirimkan ke sini……"

 

"Apa!? Maksudmu mereka dieksekusi di Weimar!?"

 

"I-iya. Saya sendiri sudah memastikannya. Tidak salah lagi, itu adalah prajurit dari militer kita."

 

Raja Adomos merasa ragu dengan laporan pejabat tersebut.

 

"Apakah Weimar adalah negara yang sebegitu haus perangnya? Tentu saja ada kemarahan jika prajuritnya dibunuh, tapi bukankah biasanya mereka hanya akan meminta ganti rugi sebagai penukaran tahanan?"

 

"……Saya tidak tahu. Intinya, memang benar prajurit kita pulang hanya dalam bentuk kepala saja."

 

"Haa…… Lalu? Apa yang terjadi sampai prajurit itu membunuh prajurit Weimar?"

 

"Mereka tidak memberikan jawaban mendetail…… namun prajurit yang dihukum itu adalah mereka yang bertugas dalam operasi tersebut."

 

Operasi tersebut adalah rencana untuk menyandera orang terdekat Maya-dono demi bernegosiasi untuk merekrutnya. Raja Adomos memasang wajah pahit menyadari kegagalan operasi tersebut, namun pertanyaan lain segera muncul.

 

"Dalam menjalankan operasi tersebut, kenapa prajurit kita harus membunuh prajurit Weimar? Apakah Weimar selama ini memberikan perlindungan pribadi bagi orang itu?"

 

Mendengar kata-kata Raja Adomos, pejabat itu teringat akan sesuatu.

 

"Omong-omong... hanya Weimar yang mencabut status buronan orang itu ya..."

 

Setelah mengatakan itu, Raja Adomos dan sang pejabat memasang wajah terperanjat.

 

"Sialan Weimar... mereka sudah tunduk di bawah perintah orang itu!!"

 

Raja Adomos berseru kencang.

 

Status buronan yang dicabut.

 

Pertempuran dengan prajurit Weimar yang terjadi saat operasi perekrutan Kenta.

 

Artinya, Weimar telah tunduk kepada Kenta, dan mereka bertempur dengan prajurit yang sedang melakukan perlindungan pribadi untuk Kenta.

 

Semua misteri telah terpecahkan! Raja Adomos merasa yakin.

 

"Kalau begitu, pernyataan perang kali ini harus dianggap sebagai perintah dari Kenta Maya."

 

"Kemungkinan besar memang begitu."

 

"Cih! Dasar Weimar, memalukan sekali sampai tunduk begitu saja di bawah perintah individu! Hei!! Segera panggil seluruh menteri kabinet! Persiapan perang!!"


"Si, siap!!"

 

Pejabat itu menjawab lalu segera keluar ruangan.

 

Raja Adomos yang memperhatikannya pergi, duduk kembali di kursinya.

 

"Dasar Weimar. Tidak peduli seberapa kuatnya, berani-beraninya mereka menjilat kaki satu individu. Tak kusangka mereka sudah jatuh serendah itu."

 

Raja Adomos menyeringai.

 

"Yah, tidak apa-apa. Negara yang sudah jatuh seperti itu, malah akan kami serang dan aneksasi oleh Adomos. Dengan begitu kekuatan negara akan berlipat ganda. Kita akan bisa berhadapan dengan negeri bangsa iblis secara setara atau bahkan lebih. Jika itu terjadi..."

 

Raja Adomos membayangkan masa depan cerah yang akan dibawa oleh perang ini, lalu ia tersenyum licik sendirian di ruang kerjanya.

 

 

Di kantin dalam markas militer negeri bangsa iblis, seperti biasa Decker dan Cornell saling berhadapan.

 

"Perang antara Adomos dan Weimar sepertinya jadi sangat berlarut-larut ya."

 

Decker berkata sambil menusuk sisa sayuran di piringnya dengan garpu.

 

Cornell yang duduk di hadapannya menatap Decker dengan wajah pahit.

 

"...Cih. Padahal kau pemilih makanan begitu, tapi kenapa badanmu besar sekali."

 

"Lho!? Kau malah menanggapi yang itu!? Lagipula ini kan faktor fisik, mau bagaimana lagi!"

 

"...Ff, sudahlah. Jadi, pembicaraan soal perang antar negara manusia?"

 

"Ah, kau mau kembali ke topik ya... Benar, orang-orang Weimar itu, padahal baru saja berperang dengan kita kemarin, tapi sekarang sudah langsung menyatakan perang dengan negara tetangga. Benar-benar negara yang haus perang ya."

 

Mendengar perkataan Decker, Cornell menyilangkan tangan dan mulai mengerang.

 

"Ada apa?"

 

"...Tidak. Aku mengerti kalau di akhir konflik kemarin semangat mereka meningkat karena kasus tuduhan palsu itu. Tapi, Weimar seharusnya bukan negara yang sehaus perang itu."

 

"Begitukah?"

 

"Kau tidak tahu keadaan negara yang berbatasan dengan kita?" Cornell merasa kesal, tapi ia menahan amarahnya agar pembicaraan tetap berlanjut.

 

"Benar. Saat negara kita sedang kacau karena urusan dalam negeri dan pergantian Raja, seharusnya itu jadi kesempatan bagi Weimar untuk menyerang. Tapi mereka tidak melakukannya. Mungkin karena hasil saling menahan diri dengan Adomos... tapi kabarnya mereka adalah negara yang sangat menjunjung tinggi pertahanan pasif, jadi kurasa mereka tidak akan menyerang duluan..."

 

"Ah, benar juga. Kalau kau bilang begitu, rasanya memang aneh."

 

"Kan? Tapi aku dengar perang ini dipicu oleh Weimar terhadap Adomos. Ini terlalu berbeda dengan informasi tentang Weimar yang kudengar sebelumnya. Ada yang aneh."

 

Saat Cornell berkata demikian, mereka berdua menyilangkan tangan dan mulai berpikir keras.

 

Lalu muncullah Yarman-sama yang merupakan atasan mereka berdua.

 

"Ada apa? Kalian berdua sedang merundingkan sesuatu lagi?"

 

Yarman-sama berkata demikian lalu duduk di meja yang sama dengan mereka.

 

"Ah, Yarman-sama, selamat siang."

 

"Selamat siang."

 

"Ya. Jadi? Apa lagi yang kalian pusingkan?"

 

"Anu, itu..."

 

Cornell menceritakan isi pembicaraannya dengan Decker tadi kepada Yarman-sama.

 

Setelah selesai mendengar, Yarman-sama juga menyilangkan tangan dan mulai berpikir keras.

 

"Kalau dipikir-pikir, memang aneh ya. Bagi kita, kita hanya berpikir bahwa negara-negara yang berbatasan dengan kita itu sedang saling serang, sehingga kita bisa menjadi pengamat untuk sementara waktu."

 

"Saya juga berpikir begitu."

 

"Saya juga. Tapi, tadi timbul keraguan karena Decker mengira Weimar adalah negara yang haus perang. Apakah Weimar memang negara yang sebegitu agresifnya?"

 

"Benar, dalam ingatanku pun Weimar adalah negara dengan pertahanan pasif. Seharusnya mereka hampir tidak pernah melakukan perang invasi atas kemauan sendiri."

 

"Kecuali terhadap kita... ya."

 

"Iya. Bagi bangsa manusia, menempatkan bangsa iblis di bawah kendali mereka bukan sekadar cita-cita, melainkan sudah menjadi obsesi. Tapi, seharusnya Weimar tidak pernah memulai perang melawan sesama negara manusia."

 

Yarman-sama mengatakan itu lalu menyilangkan tangan dan mulai berpikir lagi.

 

"……Coba kita selidiki sekali saja."

 

Sebelumnya pun, ketika menyelidiki pergerakan Weimar yang tidak wajar, terungkap fakta yang tak terduga. Kali ini pun, mungkin saja akan muncul fakta baru lainnya.

 

Berpikir demikian, Yarman-sama memutuskan untuk mengirim unit intelijen ke Weimar.

 

Beberapa hari kemudian.

 

"Hasil penyelidikan sudah keluar."

 

Yarman-sama memanggil Decker dan Cornell ke ruang kerjanya.

 

"Memanggil kami khusus ke sini…… apakah ini informasi rahasia yang cukup penting?"

 

Yarman-sama mengangguk pelan mendengar ucapan Decker.

 

"Meskipun kebenarannya belum pasti, muncul sebuah pembicaraan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Ini adalah berita yang tidak boleh dibocorkan sampai kita mendapatkan bukti yang kuat."

 

Mendengar perkataan Yarman-sama, mereka berdua menelan ludah.

 

"Jadi, berita seperti apa itu?"

 

Saat Cornell memberanikan diri bertanya, Yarman-sama menatap laporan itu dengan wajah serius.

 

"……Kabarnya, Weimar telah menyerah dan tunduk di bawah Kenta Maya."

 

"Hah!?"

 

Mereka berdua berseru secara bersamaan mendengar laporan Yarman-sama.

 

"Dia menempatkan negara manusia di bawah kendalinya!? Apa maksudnya ini!?"

 

"Entahlah."

 

"……Dia sedang diincar oleh negara-negara manusia. Mungkin karena merasa terganggu dengan hal itu, ia menempatkan negara manusia di bawah kendalinya dan memperbudak mereka……"

 

"……Mungkin saja, tapi belum ada bukti kuat."

 

Yarman-sama hampir mengangguk setuju pada pendapat Cornell, namun karena laporan tersebut masih di tingkat rumor tanpa bukti, ia tidak langsung membenarkannya.

 

Namun, Decker yakin bahwa ucapan Cornell adalah kebenaran.

 

"Benar juga, kekuatannya melampaui Baginda Raja sebelumnya yang disebut terkuat sepanjang sejarah. Pasti mudah baginya untuk memperbudak negara manusia."

 

"……Maksudmu Baginda Raja sebelum yang sebelumnya."

 

Saat Cornell mengoreksi ucapan Decker, Decker memasang wajah masam dan mendecak.

 

"Cih! Aku tidak sudi mengakui wanita menjadi penguasa! Raja sebelumnya tetaplah Raja bagiku!"

 

Mendengar ucapan Decker, Cornell menghela napas panjang.

 

"Haa…… Karena ada orang yang berpikiran sepertimu, Mayleen-sama digulingkan dari takhta dan menghilang. Sungguh menyedihkan."

 

"Apa!? Maksudmu aku salah!?"

 

"Iya! Kau salah! Di masa kekacauan pasca-perang, sosok yang cerdas seperti Mayleen-sama lah yang paling pantas menjadi penguasa! Memang Baginda Raja saat ini sangat kuat! Tapi, butuh waktu lebih dari satu tahun untuk menata kembali urusan dalam negeri yang kacau! Itu pun semuanya dilimpahkan kepada bawahan! Kau pikir berapa banyak pejabat yang mengundurkan diri gara-gara itu!?"

 

"Aku tidak peduli soal itu!"

 

"Kalian berdua, hentikan!!"

 

Yarman-sama membentak untuk menghentikan pertengkaran mereka yang semakin memanas.

 

"Decker. Bagaimanapun juga, Mayleen-sama adalah sosok yang pernah bertahta sebagai Ratu. Jangan melontarkan perkataan yang menghina beliau hanya karena alasan pribadimu."

 

"……Maafkan saya."

 

"Cornell juga. Perkataanmu tadi merupakan penghinaan terhadap Baginda Raja saat ini."

 

"……Saya tidak bermaksud begitu…… hanya saja, urusan dalam negeri lebih cocok untuk Mayleen-sama…… karena Baginda Raja saat ini adalah sosok yang kekuatannya lebih maksimal dalam pertempuran."

 

Yarman-sama menghela napas pelan mendengar ucapan Cornell.

 

"Haa…… Aku mengerti akan hal itu. Hanya saja, aku bilang jangan mengatakannya dengan suara keras."

 

"……Maafkan saya."

 

"Untuk saat ini, masalah ini biarlah aku sendiri yang menyimpannya. Ke depannya, jangan melontarkan perkataan seperti itu lagi."

 

"Siap."

 

"Sudah, kalian boleh pergi. Ah, jangan ceritakan pembicaraan tadi kepada siapa pun, ya? Karena ini benar-benar masih di tingkat rumor."

 

"Siap."

 

Decker dan Cornell menjawab demikian lalu meninggalkan ruang kerja Yarman-sama.

 

Yarman yang melepas kepergian mereka berdua bergumam pelan sambil mengenang kembali isi pertengkaran mulut tadi.

 

"Padahal akan sangat baik jika kedua kakak beradik itu bisa menyatukan kekuatan..."

 

Yarman berkata demikian sambil menatap ke luar jendela.

 

"……Apakah Mayleen-sama selamat?"

 

Ia menerima laporan bahwa saat Mayleen terusir dari takhta, beliau meninggalkan istana hampir hanya dengan pakaian yang melekat di tubuh. Ia sama sekali tidak mengira sang putri yang dibesarkan dalam perlindungan istana bisa bertahan hidup di kalangan rakyat biasa dalam kondisi seperti itu. Namun, jika seandainya beliau masih hidup……

 

"Pastinya akan menjadi pemicu keributan kembali……"

 

Yarman sangat berharap agar masa depan seperti itu tidak pernah datang.

 

 

"Mayleen-sama! Mohon jangan terlalu banyak bergerak!"

 

"Tapi Bennett-san juga bilang, kan? Ibu hamil juga harus sedikit berolahraga."

 

"Itu benar, tapi untuk barang berat seperti cucian biar saya yang bawa. Mohon batasi aktivitas Anda hanya sebatas jalan santai saja. Anda sudah memasuki bulan kesembilan, lho?"

 

Waktu berlalu begitu cepat, kini kandungan Mayleen sudah mencapai bulan kesembilan dan perutnya sudah sangat besar, seolah bisa melahirkan kapan saja. Meskipun begitu, Mayleen yang sepertinya tidak tahan hanya berdiam diri tetap ingin melakukan pekerjaan rumah tangga, sehingga Mona selalu panik menghampirinya setiap saat.

 

"Mayleen, hebat ya bisa bergerak aktif begitu. Aku saja merasa perutku berat dan malas bergerak."

 

Yulia yang berkata demikian juga perutnya sudah sangat besar, ia sedang bermalas-malasan di sofa rumah kami.

 

"Kau saja yang terlalu malas. Dasar penumpang."

 

"Aah, Kenta jahat sekali. Akan kuadukan pada Ivern."

 

"Oh, silakan."

 

"Gunuuu…… Orang yang sadar kalau dirinya terkuat itu memang tangguh ya…… Semua serangan mulutku diblokir habis."

 

Yulia berkata demikian sambil merengek manja pada Mayleen.

 

"Aduh, tidak boleh begitu Kenta. Yulia juga sedang hamil, jadi kau harus bersikap lembut padanya."

 

"Membiarkannya tinggal di rumah ini tanpa stres sampai hari persalinan saja sudah cukup lembut, kan?"

 

Saat aku berkata demikian, Yulia yang tadi berpura-pura menangis langsung tersenyum lebar.

 

"Berkat Mona-san, aku benar-benar tidak merasa stres! Berkatnya juga, aku bisa hidup nyaman hanya dengan bermalas-malasan tanpa perlu bekerja, ini yang terbaik!"

 

"Saya merasa tersanjung."

 

Mona yang dipuji oleh Yulia membungkuk hormat tanpa mengubah ekspresi wajahnya layaknya pelayan istana, namun suasana bahagianya entah bagaimana terasa sampai ke kami. Mona mungkin menganggap Yulia sebagai sosok penolong karena Yulia adalah sahabat yang diakui oleh Mayleen yang sangat ia hormati. Itu sebabnya ia memperlakukan Yulia dengan sangat sopan. Dipuji oleh orang seperti itu pasti membuatnya senang.

 

Saat kami sedang asyik berbincang di ruang tamu, terdengar suara ketukan di pintu.

 

"Baik, saya buka sekarang."

 

Mona membuka pintu tanpa menanyakan siapa yang datang. Untuk mencapai tempat ini sekarang, seseorang harus melewati penghalang, dan hanya ada satu orang yang bisa melewatinya. Yulia yang memegang izin masuk ada di sini, dan Bennett-san selalu aku jemput sehingga tidak pernah datang sendiri. Jadi, secara otomatis yang datang pastilah Ivern.

 

"Yo."

 

Ivern memberikan salam singkat padaku, lalu ia langsung menuju ke arah Yulia.

 

"Apa kau sehat, Yulia?"

 

"Iya! Sehat sekali! Berkat Mona-san yang merawatku dengan baik!"

 

"Begitu ya. Terima kasih banyak seperti biasanya, Mona-san. Juga Mayleen-san."

 

Mona menerima ucapan terima kasih dari Ivern, namun karena Ivern mengucapkannya bersamaan untuk Mayleen, Mona hanya membalasnya dengan membungkuk hormat. Itu dilakukan agar tidak memotong ucapan Mayleen. Benar-benar pelayan yang sangat cakap.

 

"Fufu. Rumah ini jadi terasa lebih cerah jika ada Yulia. Justru aku yang berterima kasih karena berkat Yulia setiap harinya terasa menyenangkan."

 

"Oi Ivern. Buatku mana?"

 

Karena aku tidak termasuk dalam ucapan terima kasih tadi, aku melayangkan protes. Ivern melirikku sejenak lalu tertawa mengejek "Ff".

 

"Oh? Kau punya nyali juga ya? Boleh saja kalau mulai sekarang hanya kau yang dilarang masuk ke sini?"

 

"Memangnya boleh? Kalau aku dilarang masuk, tidak akan ada lagi orang yang membawakan logistik ke sini, tahu?"

 

"Gunuuuu……"

 

Dasar Ivern……

 

"Padahal cuma Ivern tapi berlagak sekali!"

 

"……Kenapa ya, rasanya kata-katamu itu membuatku sangat kesal."

 

Ah, gawat. Sisi bocah nakal dalam diriku keluar.

 

"Yah, sudahlah. Nih, logistik kali ini."

 

Ivern mengatakan itu sambil meletakkan tas punggung yang lebih besar dari biasanya di atas meja.

 

"Lebih besar dari biasanya, ya."

 

"Mayleen-san sebentar lagi melahirkan, kan? Bennett-san bilang bawa kain perca, popok, dan pokoknya bawa dalam jumlah banyak."

 

Saat aku membuka tasnya, isinya memang benar-benar hanya produk kain. Pantas saja dia bisa membawanya meski sebesar ini.

 

"Lalu, yang ini bahan makanannya."

 

Satu lagi tas punggung yang ia dekap di depan tubuhnya diletakkan di atas meja.

 

"Terima kasih banyak seperti biasanya."

 

Mona yang sudah memastikan isinya membungkuk hormat pada Ivern, lalu membawanya ke lemari es. Lemari es itu adalah alat sihir buatanku sendiri. Tentu saja, aku tidak berniat menyebarkannya ke dunia ini. Kenapa juga aku harus membantu perkembangan dunia ini.

 

"Lemari es praktis banget ya. Buatkan satu dong untuk rumahku."

 

"Eh?"

 

Di rumah Ivern? Soal itu, bagaimana ya. Saat aku ragu untuk membuatnya karena alasan tertentu, Yulia bersuara dengan nada sedih.

 

"Eeeh? Kau tidak mau membuatkannya? Kenapa kau pelit sekali?"

 

"Benar juga. Bukankah lebih baik buatkan saja untuk mereka."

 

Bukan cuma Yulia, Mayleen pun ikut bicara begitu. Padahal aku bicara begitu bukan bermaksud pelit.

 

"Dengar ya, lemari es itu tidak ada di dunia ini, kan? Kalau benda semacam itu diletakkan di rumah, bukankah itu bakal jadi sasaran empuk bagi perampok?"

 

Mendengar perkataanku, mereka bertiga tampak terperanjat.

 

"Benar juga. Lemari es memang alat sihir yang revolusioner. Jika keberadaannya diketahui, dalam sekejap kita akan jadi incaran para perampok."

 

"Aaah, begitu ya. Sayang sekali."

 

Ivern tampak maklum, namun Yulia masih terlihat kecewa. Namun, tiba-tiba Yulia berseru "Ah!" dengan keras. Apa-apaan? Saat aku bertanya-tanya, ia mengatakan sesuatu yang tidak terduga.

 

"Hei hei, Mayleen! Bolehkah kami juga tinggal di sini?"

 

"Eh?"

 

"Tentu saja kami akan membangun rumah sendiri. Kalau di sini, kita tidak perlu khawatir soal perampok, dan kita bisa membesarkan anak dengan aman, kan?"

 

Yulia memberikan usul seperti itu. Selama ini aku menganggap Ivern dibutuhkan sebagai penghubung dengan kota, jadi aku tidak pernah terpikir soal itu.

 

"Eh? Tu-tunggu sebentar, Yulia. Kalau begitu, bagaimana dengan pekerjaanmu sebagai penjelajah?"

 

"Bukankah lebih baik berhenti saja?"

 

"Eeeh?"

 

"Habisnya, sisa bahan yang diberikan Kenta itu nilainya sangat besar, lho. Jujur saja, daripada jadi penjelajah yang berbahaya, jauh lebih aman dan untungnya lebih besar jika kau fokus menjadi penghubung antara Kenta dan kota."

 

"I-itu memang benar, sih……"

 

Benar juga, dia pernah bilang begitu sebelumnya. Selama ini dia sudah berkali-kali bolak-balik antara sini dan kota, bukankah tabungannya sudah sangat banyak? Argumen Yulia sangat meyakinkan, tapi sepertinya Ivern belum sepenuhnya setuju.

 

"Apa-apaan, Ivern. Apa kau sebegitu bangganya dengan pekerjaan penjelajahmu?"

 

Ivern menggelengkan kepalanya dan menjawab "Tidak".

 

"……Aku cuma berpikir, kalau mengikuti usul Yulia, aku benar-benar akan menjadi pedagang keliling."

 

“Yah, apa salahnya. Sekarang pun tidak jauh beda, kok.”

 

"Guekh."

 

Waduh, Yulia datang untuk memberikan serangan pamungkas. Saat aku mengira dia akan melakukan overkill pada Ivern, tiba-tiba suasananya berubah dan ia mulai mengelus perutnya.

 

"Lagipula, sebentar lagi anak kita akan lahir, lho. Jika ada pekerjaan yang lebih aman dan penghasilannya lebih baik daripada menjadi penjelajah, aku ingin kau pindah ke sana saja."

 

Yulia mengatakan itu sambil menatap Ivern seolah memohon.

 

Ivern, yang ditatap dengan mata berkaca-kaca, tampak menyerah setelah berpikir sejenak sambil menghela napas "haah".

 

"Baiklah. Aku juga tidak punya kebanggaan atau keterikatan khusus pada pekerjaan penjelajah. Maaf, Kenta. Boleh kami membangun rumah di sebelah rumahmu?"

 

"Ya, boleh saja."

 

Begitu aku mengatakannya, Mayleen dengan gembira memegang tangan Yulia.

 

"Aku senang sekali, Yulia! Kupikir setelah kau melahirkan, kita tidak akan bisa sering bertemu lagi. Kalau kita jadi tetangga, kita bisa terus bersama selamanya!"

 

"Un! Aku juga senang!"

 

Saat kedua ibu hamil itu sedang bersorak gembira berpegangan tangan...

 

"……Ah."

 

"Hm?"

 

Mayleen yang tadi ceria tiba-tiba terdiam dan melihat ke arah kakinya.

 

"……Kenta."

 

"Ada apa?"

 

Nada suara Mayleen berbeda dari suara gembiranya tadi, terdengar sangat serius. Karena merasa cemas, aku pun melihat ke arah kaki Mayleen dan……

 

"Bisakah kau memanggilkan Bennett-san?"

 

Di kaki Mayleen, sebuah genangan air telah terbentuk.

 

"Air ketubanku pecah."

 

Begitu mendengar kata-kata itu, seluruh rumah termasuk Mona menjadi panik, dan aku pun terburu-buru berteleportasi ke kota, membawa Bennett-san layaknya seorang penculik.

 

"Astaga, kupikir ada apa…… Tidak perlu panik begitu, bayinya tidak akan langsung lahir kok! Apa-apaan, orang yang berani menantang negara kok malah kelabakan begini. Tegakkan kepalamu!!"

 

"I-iya! Maafkan saya!!"

 

Aku menundukkan kepala sedalam-dalamnya setelah dibentak oleh Bennett-san. Pasalnya, biasanya saat menjemput Bennett-san, aku berteleportasi ke luar kota lalu masuk ke kota dan mengunjungi rumahnya baru membawanya pergi, tapi karena situasi darurat, aku berteleportasi langsung ke dalam rumah Bennett-san. Saat aku tiba-tiba muncul, sepertinya Bennett-san sedang waktu minum teh, sehingga ia menyemburkan teh yang sedang diminumnya dengan hebat. Tanpa memedulikan kondisi Bennett-san, aku langsung membawanya pergi, sehingga di tangan Bennett-san masih tergenggam cangkir teh dan piring kecilnya. Ini sudah pasti masuk kategori menerobos tanpa izin, dan situasinya hampir tidak ada bedanya dengan penculikan, tapi karena kami saling kenal dan ini demi keadaan darurat Mayleen, mau bagaimana lagi, kan? Begitu penjelasanku, tapi aku tetap dimarahi habis-habisan.

 

"Ooh…… Kenta menundukkan kepala dan minta maaf……"

 

"Sangat langka."

 

Di belakangku yang sedang dimarahi, Ivern dan Yulia mengatakan hal semacam itu. Kalian bajingan…… padahal tadi kalian juga sama-sama kelabakan……!

 

"Ja-jadi, Bennett-sama! Apa yang harus kami lakukan sekarang!?"

 

Melihat Mayleen yang mulai menunjukkan tanda-tanda persalinan, Mona yang biasanya tenang pun tampak panik, hal yang jarang terjadi. Kalau dipikir-pikir, Mona bilang dia belum menikah, tidak punya pengalaman melahirkan, dan belum pernah mendampingi proses persalinan. Dia pasti tidak tahu apa yang harus dilakukan saat proses melahirkan. Tentu saja, aku pun tidak tahu.

 

"Pokoknya, saat bayi itu benar-benar lahir masih lama sekali. Kalau kalian sudah gugup begini sekarang, tenaga kalian tidak akan cukup. Tenanglah dulu."

 

"Ba-baik."

 

Setelah menenangkan Mona, Bennett-san menuju ke kamar tidur.

 

"Ya, permisi."

 

Saat Bennett-san masuk ke kamar tidur, Mayleen sedang duduk di tempat tidur dengan tubuh bagian atas tegak.

 

"Bagaimana rasa mulesnya?"

 

Tanya Bennett-san sambil duduk di kursi samping tempat tidur. Melihat sikap tenangnya, rasanya seolah tidak ada masalah sama sekali, sungguh ajaib.

 

"Tadi sempat terasa sekali…… tapi sekarang sudah hilang."

 

Mendengar kata-kata Mayleen, Bennett-san mengangguk-angguk.

 

"Seperti yang pernah kubicarakan, kan? Sekarang jeda mulesnya masih panjang. Itu artinya bayinya belum akan lahir. Jadi, jangan mengejan dulu sekarang, lemaskan saja tubuhmu secukupnya."

 

"Ba-baik."

 

Kalau dipikir-pikir, Bennett-san tidak hanya datang untuk memeriksa kondisi bayi, tapi juga memberikan pelajaran tentang proses persalinan. Sepertinya pelajaran itu membuahkan hasil, karena Mayleen tidak tampak sepanik kami.

 

...Mona pun seharusnya sudah mendapatkan pelajaran itu. Sepertinya, dia tidak bisa tetap tenang saat melihat majikan yang dicintainya menderita karena rasa mulas? ...Aku pun sama. Bagaimanapun juga, begitulah persalinan Mayleen dimulai. Awalnya berlangsung cukup lambat, Yulia pun menyemangati Mayleen di sisi tempat tidur, namun saat jeda mulas semakin pendek dan saatnya melahirkan tiba, Bennett-san menyuruhnya keluar ruangan. Karena Yulia juga sedang hamil, dikhawatirkan dia akan merasa stres jika melihat proses persalinan Mayleen. Jadi, Ivern dan Yulia menunggu di luar kamar. Aku? Karena aku bisa menggunakan sihir penyembuh dan merupakan suami Mayleen, aku malah disuruh tetap di dalam. Berkat itu...

 

"Berjuanglah! Ayo! Sedikit lagi!!"

 

"Ugh, uuuuh... Aaaaaaaaah!!!!"

 

"Ngaaaaaah!!"

 

"Bagus! Sudah lahir!!"

 

Aku bisa menyaksikan momen kelahiran anakku sendiri.

 

"Hah! Hah!"

 

"Mayleen, Mayleen! Terima kasih! Terima kasih! Benar-benar terima kasih atas perjuanganmu..."

 

"Haa... Kenta..."

 

Aku memegang tangan Mayleen yang terkulai lemas setelah persalinan selesai, memberikan ucapan terima kasih dan apresiasi atas perjuangannya. Mayleen yang kesadarannya masih samar pun menatapku sambil tersenyum meski wajahnya terlihat sangat lelah. Bayinya belum kulihat karena segera dibawa oleh Bennett-san untuk dimandikan. Anak memang penting, tapi aku harus mengapresiasi Mayleen terlebih dulu. Saat aku sedang merawat Mayleen, Bennett-san memanggilku dengan suara keras.

 

"Hei Kenta-kun! Penanganan pasca melahirkan sudah selesai, cepat gunakan sihir penyembuh!!"

 

"I-iya!!"

 

Persalinan memberikan dampak yang besar pada tubuh ibu. Dalam beberapa kasus, ada ibu yang sampai meninggal dunia. Persalinan adalah pertaruhan nyawa. Agar situasi seperti itu tidak terjadi, aku segera merapalkan sihir penyembuh ke tubuh Mayleen setelah penanganan pasca melahirkan selesai. Berkat itu, meski Mayleen masih merasa sangat lelah, kesadarannya mulai pulih sepenuhnya.

 

"Haa... terima kasih Kenta. Berkatmu rasanya jadi jauh lebih lega."

 

"A-ah. Kau benar-benar tidak apa-apa?"

 

"Ahaha, aku memang lemas sekali. Tapi rasa sakitnya sudah hilang."

 

"Begitu ya, syukurlah kalau begitu."

 

Saat aku merasa lega melihat kondisi Mayleen yang tampaknya baik-baik saja, Bennett-san menyapa kami.

 

"Nah, maaf menunggu lama. Bayi laki-laki yang sehat."

 

Bennett-san berkata demikian sambil membawa bayi yang dibalut kain bedong.

 

"Wah..."

 

Mayleen menerima bayi itu dari Bennett-san dan mendekapnya dengan erat meski gerakannya masih agak kaku.

 

"Au."

 

Bayi itu menangis kencang saat lahir, tapi sekarang ia sudah berhenti menangis dan menatap Mayleen dengan lekat. Seharusnya penglihatannya belum berfungsi dengan baik, namun matanya seolah benar-benar mengenali ibunya.

 

"Haa... manis sekali... akhirnya kita bisa bertemu. Halo, ini Mama."

 

"Au."

 

"Fufu."

 

...Apa-apaan ini? Bolehkah pemandangan semulia ini ada? Melihat pemandangan yang sangat mulia itu, aku merasa seolah akan tersucikan sendirian.

 

"Ayo, Papa juga beri salam padanya."

 

"...Papa."

 

Tergerak karena untuk pertama kalinya dipanggil Papa, aku merasa tersucikan lagi, tapi aku menahan diri dan mendekati bayi itu.

 

"...Halo, ini Papa."

 

"Uu?"

 

Ugh... lu-lucu... Karena sangat lucu, tanpa sadar aku mencubit-cubit gemas pipi bayi itu.

 

"Auu."

 

"Haa, lucunya..."

 

Tanpa sadar aku bergumam demikian sambil terus mencubit-cubit gemas pipinya, sepertinya bayi itu merasa terganggu sehingga ia mulai menangis.

 

"Wah! Ma-maaf!"

 

"Aduh-aduh. Cup cup, tidak apa-apa ya."

 

Mayleen menenangkan bayi itu, dan ia pun segera berhenti menangis.




"Astaga, sepertinya kau akan menjadi tipe orang tua yang dibenci karena terlalu mengganggu anak."

 

"Eeeh!? Jangan begitu!"

 

"Ufufu. Ah, benar juga, Kenta."

 

"Apa?"

 

"Nama untuk anak ini, apa kau sudah memutuskan ingin memberinya nama apa?"

 

"Nama, ya……"

 

Aku menyebutkan nama yang sudah kupikirkan seandainya bayinya laki-laki.

 

"……Bagaimana kalau Leon?"

 

Saat aku mengucapkannya dengan ragu-ragu, Mayleen menatap bayi itu lekat-lekat.

 

"Leon…… Leon Maya…… Iya. Mulai hari ini namamu adalah Leon."

 

"Au."

 

Sepertinya Mayleen juga menyukainya, ia segera memanggil bayi itu Leon. Lalu, seolah menjawab perkataan Mayleen, bayi itu mengeluarkan suara, membuat kami semua yang ada di sana tertawa. Saat itulah, pintu kamar tidur diketuk.

 

"Oiii. Sudah boleh masuk belum?"

 

"Kedengarannya seru sekali di dalam!! Sudah boleh masuk!?"

 

Ah, benar juga, aku lupa kalau Ivern dan yang lainnya masih di luar ruangan. Sepertinya semua orang di sini juga lupa, semuanya memasang wajah "Ah". Mona bergegas membuka pintu, lalu Ivern dan Yulia masuk ke dalam kamar. Dan saat melihat Mayleen yang sedang mendekap bayi, mata Yulia berbinar-binar sambil menghampiri kami.

 

"Selamat ya Mayleen! Wah…… lucunya…… Hei hei, laki-laki atau perempuan?"

 

"Terima kasih Yulia. Dia laki-laki."

 

"Begitu ya. Apa sudah diputuskan namanya?"

 

"Iya. Mulai hari ini anak ini namanya Leon."

 

"Wah…… salam kenal ya Leon-kun. Ini Bibi Yulia. Mohon bantuannya ya."

 

"U?"

 

"Kyaaa, lucu sekali!"

 

Yulia benar-benar terpesona oleh anak yang dilahirkan sahabatnya, Mayleen. Lalu, Ivern yang melihat dari belakang……

 

"Kok kelihatan seperti monyet ya."

 

Gara-gara ucapan yang tidak peka itu, dia langsung dihajar hingga terpental oleh Yulia. Astaga, nyawamu benar-benar tertolong, Ivern. Kalau Yulia tidak menghajarmu, aku yang akan melakukannya. Benar-benar deh, dia memang cocok jadi pedagang keliling saja selamanya. Dengan begitu, anggota keluarga baru telah bertambah di rumah kami.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close