Epilog 1
Kenormalanmu
Aku ingin menjadi
istimewa. Namun, aku tahu aku tidak bisa.
Jawaban atas rasa
janggal yang mengganjal di dadaku ternyata begitu sederhana, hingga terasa
antiklimaks. Padahal aku benci diperlakukan secara istimewa.
Padahal aku
sangat senang saat bisa menjadi orang normal untuk sekali saja. Tanpa kusadari,
aku ingin menjadi sosok istimewa bagimu, dan ingin kau menjadi sosok istimewa
bagiku.
Tapi untuk waktu
yang sangat lama, kau tidak membiarkanku mendekati hatimu. Hei, sejujurnya...
Aku berharap bisa
melihatmu setiap hari. Aku berharap ada kursi istimewa yang dipesan khusus
untukku di sisimu.
Hanya itu yang
kuinginkan. Setelah kehilangan cintaku dan merasa begitu hampa, perasaan itu
akhirnya berputar dan kembali lagi padaku.
Tapi aku tidak
perlu merasa terbebani dan menguncinya rapat-rapat agar tetap aman. Jika kita
bisa berjalan berdampingan saat pulang, jika kita bisa terus mengobrol
sepanjang waktu.
Jika aku bisa
memanggil namamu, dan kau memanggil namaku... itu sudah lebih dari cukup
bagiku. Segala hal yang kuinginkan ternyata sudah ada di genggaman tanganku.
Karena bentuk
"keistimewaan" yang kuinginkan darimu... ternyata bukanlah sesuatu
yang benar-benar istimewa. Seorang gadis istimewa menyadarkanku akan hal itu,
dan segalanya tepat seperti yang dia katakan.
Orang yang
kucintai... akan menjadi nomor satuku. Aku akan mendukungnya dengan lembut
setiap kali dia merasa terpuruk, dan aku akan menghiburnya setiap kali dia
merasa kalah.
Aku akan
mendengarkan dengan saksama saat pipinya basah oleh air mata, dan menegurnya
saat dia tampak menempuh jalan yang salah. Dan pada malam-malam gelap saat dia
meringkuk memeluk lututnya... aku akan menggenggam tangannya erat-erat.
Aku akan berada di sisinya, menatapnya, dan membiarkannya tahu bahwa rembulan ada di sini. —Karena yang benar-benar kuinginkan hanyalah menjadi orang biasa bagimu.



Post a Comment