Chapter 8
Langit yang Lembut
Aku
mengenakan yukata di atas pakaian dalamku. Motifnya adalah bunga peoni putih
yang bermekaran di atas latar belakang ungu tua.
Aku
diam-diam membeli yang baru, khusus untuk hari ini. Setelah sedikit ragu, aku
mengikatkan sabuk obi dengan bunga berwarna ungu senada menggunakan simpul
bunga windflower.
Aku
menyertakan perasaanku ke dalam simbolisme bunga tersebut. Aku, Yua Uchida,
memandangi diriku sendiri di cermin.
Entah kenapa,
sebuah bayangan nostalgia muncul dari ingatanku. Mungkin aku terlihat sedikit
mirip Mama.
Pikiran itu
membuatku tersenyum. Aku senang saat-saat seperti ini memberiku lebih banyak
kehangatan daripada kesepian saat ini.
Hal itu membuatku
memikirkan Saku. Dia tampak kecewa melihatku memakai pakaian biasa terakhir
kali.
Dia pasti akan
memberiku beberapa pujian yang berlebihan kali ini. Dia akan melakukan itu pada
siapa pun karena dia baik kepada semua orang.
Akhir-akhir
ini, dia selalu terlihat sangat depresi. Aku berharap bisa membuatnya sedikit
tersenyum.
Sembari
pikiran-pikiran itu berputar di benakku, aku merapikan rambutku. Sebenarnya
lebih efisien melakukannya sebelum mengenakan yukata.
Aku
bertanya-tanya mengapa aku menyisakannya di akhir? Mungkin aku menginginkan
waktu untuk merenung seperti ini hari ini.
Kalau
dipikir-pikir, menurutku, ini benar-benar mirip dirinya... Rambut yang mulai
kupanjangkan dengan harapan-harapan lembut kini sudah cukup panjang.
Aku menyisirkan
jari-jariku di sela-selanya. Aku memikirkan bagaimana panjang ini melambangkan
waktu yang kami habiskan bersama.
Berbagai emosi
bergejolak di dadaku. Malam saat kau menemukanku, hari-hari yang kuhabiskan
bersamamu, dan perasaan yang kau ajarkan padaku.
Juga rasa sakit
yang kau buat aku sadari. Serta perasaan yang kusembunyikan darimu selama ini.
Sambil mengambil kanzashi
untuk rambutku, aku melihat sebuah kulit kerang yang indah di mejaku. Aku
menyelipkannya ke dalam tas kecilku sebagai jimat keberuntungan.
Kemudian aku
selesai berpakaian dan turun ke lantai satu. Aku mengambil Geta kayu dari rak
sepatu.
Tok. Salah satu bakiak kayu itu jatuh
miring dan mengeluarkan suara berat yang terasa kosong.
Saat aku
menjulurkan tangan untuk menegakkannya kembali, ujung jariku sedikit gemetar.
Aku meletakkan tangan di dada dan menarik napas dalam-dalam.
"Tidak
apa-apa." Aku menggumamkan kata-kata itu lagi.
Perlahan, aku
menyelipkan jari-jari kakiku ke tali pengaitnya.
◆◇◆
Aku, Saku
Chitose, berdiri di depan gerbang Torii kuil. Kuil ini berjarak beberapa
menit jalan kaki dari kantor prefektur Fukui.
Yua dan aku
berencana bertemu jam lima sore. Meski sudah akhir musim panas, matahari masih
bersinar terang.
Di dalam area
kuil, anak-anak kecil berlarian. Mereka menggenggam stik kembang gula dan apel
permen.
Di taman yang
bersebelahan, kelompok remaja seusiaku tampak tertawa bersama. Festival ini
seharusnya diadakan lebih awal, tapi aku dengar sempat ditunda tahun ini.
"Bagus juga
diadakan di akhir Agustus," pikirku.
—Tok,
tok, tok. Sembari menikmati suasana, aku mendengar suara langkah bakiak
kayu yang berhati-hati.
"Terima
kasih sudah menunggu, Saku," kata Yua malu-malu. "Bagaimana...
bagaimana penampilanku?"
Ini adalah
pertama kalinya aku melihatnya mengenakan yukata. Dia tampak memancarkan pesona kecantikan
tradisional Jepang yang anggun.
Tangannya
terlipat lembut di depan tubuh, dengan postur punggung yang tegak. Jari-jari
kakinya sedikit mengarah ke dalam.
Anggun,
bersahaja, dan cantik. Seolah-olah dia baru saja keluar dari buku foto
festival.
Tapi aku
tidak mengatakan semua itu. "Sudah kuduga, Yua. Kau sangat cocok
memakainya."
Aku
membatasi diri pada penilaian umum saja. Bulu mata Yua bergetar, lalu dia
tersenyum lebar seolah menutupi emosi lain.
Tas
kecilnya bergoyang, seolah dia mencengkeram talinya lebih erat. Ujung jarinya
dihiasi cat kuku berwarna ungu pucat yang tidak biasa.
Bibirnya,
yang lebih cerah dari biasanya, tampak bergerak hati-hati. "Terima kasih.
Aku sempat khawatir karena tidak terbiasa mengikat Obi sendiri."
"Aku
senang kau berkata begitu. Sekarang
aku bisa santai menikmati festival."
Tampaknya dia
menggunakan kata-kata lebih banyak dari yang diperlukan. Ucapan terima kasih
ganda itu menyiratkan sesuatu yang tidak dia katakan.
Dadaku terasa
sedikit sesak, tapi tidak apa-apa begini. Aku menepis ingatan tentang senyum
palsu Nanase di sudut pikiranku.
"...Saku,
kau memakai baju biasa...," gumam Yua pelan. Dia seolah berbicara pada
dirinya sendiri.
Melihat ke bawah,
aku melihat sandal olahraga usangku sendiri. Aku hanya memakai celana denim
ringan dan kaus putih.
Aku sengaja
memilih pakaian ini. Aku tidak ingin menjadikannya hari yang istimewa.
Aku tidak ingin
menjadikannya sebuah acara besar. "Kalau begitu, aku juga akan memakai
yukata lain kali, jadi ayo pergi ke festival bersama lagi, oke?"
Aku yakin, saat itu... Yua tidak mengatakan "kita
berdua" saat berbicara tentang berdandan.
Meski aku
paham, aku berpura-pura tidak menyadarinya. Salah satu yukata yang kupunya
adalah pemberian Yuuko.
Setelah
hari aku dan Nanase berdandan untuk festival, Yuuko merasa kesal. Jadi aku
tersenyum palsu dan berkata:
"Aku
sepertinya tidak pernah bisa memakainya dengan benar sendirian." Itu
hanyalah alasan.
Yua
tersenyum agak sedih. "Yah, lain kali aku akan membantumu memakainya
lagi."
Dia
berbicara seolah aku adalah anak anjing yang tersesat. "Ayo pergi,
Saku."
"...Baiklah."
Maka kami
berangkat ke festival musim panas, hanya kami berdua. Langkah kami beradu menimbulkan suara di atas
jalanan.
Jalan setapak
yang sempit membuatku merasa tidak nyaman. "Aku tidak memikirkan ini
dengan matang, ya?" aku memarahi diriku sendiri.
Aku
setuju untuk datang. Aku setuju datang bersamamu. Setidaknya, aku ingin kau menikmatinya.
Jika terus
begini, aku akan merusak suasananya. "Yua, ada yang ingin kau makan?"
aku mencoba memaksakan diri untuk ceria.
"Hmm,
mungkin sesuatu yang ringan untuk saat ini."
"Yakitori
atau semacamnya?"
"Apa itu
termasuk makanan ringan bagimu, Saku?"
"Kalau
begitu, bola kue mini?"
"Itu untuk
berbagi. Aku lebih baik menyimpannya untuk nanti."
"Kau
ternyata sangat detail, ya? Bahkan di festival, kau sudah merencanakan
semuanya."
"Hi-hi, maaf
ya?"
"Kau tahu,
Yua..."
"Ya-aa,
Saku?"
"Jika kau
memakai yukata, tidak ada yang akan sadar jika perutmu sedikit buncit."
"—Itu
serangan yang telak. Tidak ada kata maaf."
Kami akhirnya
menemukan ritme normal kami.
Pada akhirnya,
kami tidak menyentuh makanan dan pergi ke stan permainan menembak. Aku
mendapatkan banyak bola plastik warna-warni.
Aku membelikan
topeng rubah untuk Yua, yang terlihat sangat tidak terkesan. Namun saat aku
memasangkannya di samping kepalanya, itu terlihat sangat cocok untuknya.
Kami
merasa haus dan mengantre di gerai minuman. Tiba-tiba Yua bertanya.
"Saku, jam
berapa sekarang?"
Yua
bertanya sambil melihat sekeliling. Aku mengeluarkan ponsel dari saku.
"Bahkan
belum lewat setengah jam. Hampir jam tujuh tiga puluh."
"Begitu ya;
terima kasih."
Hari masih sore,
tapi lampu-lampu di gerai mulai menyala. Suara pria-pria tua yang
meminum bir terdengar makin keras.
Lengan dan keliman yukata warna-warni berkibar di udara.
Musik festival yang diputar di seluruh area kuil seakan makin memanas.
Saat tiba giliran kami, aku mengambil sebotol soda Ramune.
"Bagaimana denganmu, Yua?"
"Hmm, sepertinya aku pesan yang sama."
"Siap."
Saat aku mengambil botol kedua, Yua menyingsingkan lengan
yukatanya. Dia merogoh kotak
es dan mengambil satu untuk dirinya sendiri.
"Tidak
apa-apa, Yua. Biar aku yang traktir sebagai terima kasih atas semua makan
malamnya."
"Oke, terima
kasih."
"..."
"..."
"Anu, apa
kau tidak akan mengembalikan yang itu?"
"Tidak
apa-apa; aku tetap membeli yang ini."
"Apa kau
sehaus itu?"
"Jangan
khawatirkan itu."
Pada akhirnya,
kami membeli tiga botol Ramune dan meninggalkan gerai. Aku khawatir
dengan perilakunya yang tidak biasa.
Aku menoleh ke
arahnya dan berdeham. Tapi saat melihat profil samping wajahnya, aku menelan
kembali kata-kataku.
Kenapa
dia...? Yua melilitkan tali elastis topeng di lengan atasnya.
Dia
menggenggam botol Ramune erat-erat dengan kedua tangan. Dia menatap
gerbang Torii dengan pandangan yang sedih dan penuh doa.
Dia
melangkah menuju gerbang, kakinya menyeret bakiaknya. Seolah dia tidak ingin ke sana, tapi tetap
tertarik ke arah itu...
Aku tidak bisa
mengatakan apa-apa. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah.
Lambat laun, dia memangkas jarak, dan... Buk.
Aku menjatuhkan kantong plastik yang kubawa di tangan kiri.
Bola plastik warna-warni menggelinding di atas trotoar batu.
Semburat
merah matahari terbenam menyinari sekeliling dengan lembut. Salah satu bola
mengenai seseorang yang berdiri di dekat gerbang Torii dan berhenti.
"Yuuko...?"
Rasanya
sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali aku menyebut nama itu dengan keras.
Tanpa
ragu lagi, itu adalah Yuuko. Tangannya mencengkeram roknya dengan mata
tertunduk.
Dia tampak
seolah-olah bisa menghilang dalam sekejap mata. Kenapa dia ada di sini?
Apa ini hanya
kebetulan? Tidak, tidak mungkin. Mengabaikan kebingunganku, Yua melangkah maju.
"Kau datang,
Yuuko."
Yuuko akhirnya
mengangkat kepalanya perlahan dan menatap Yua serta aku bergantian.
"Saku... Ucchi..."
Suaranya terdengar seolah hampir pecah oleh tangisan.
Kami bertiga berdiri membentuk segitiga sama sisi yang
sempurna. Bayangan kami yang memanjang membuat kami seolah berdiri
berdampingan.
"Saku di sini. Yuuko di sini. Begitu juga aku."
Yua
berdiri tegak dan melipat tangannya di depan tubuh.
"Mungkin
masih ada hal-hal yang belum kita katakan."
Tok,
tok.
Dia
menggandeng tangan Yuuko.
"Kita telah
menyembunyikan perasaan kita, baik untuk diri sendiri maupun orang
lain..."
Tok,
tok, tok.
Dia
menggandeng tanganku juga.
"...Mempertahankan
ikatan dengan seseorang setelah terjalin adalah hal yang baik."
"Jadi...,"
kata Yua sambil tersenyum lembut menatap tangan kami yang bertautan.
"—Ayo
kita bicara."
Dia
meremas ujung jariku dengan erat.
◆◇◆
Pada hari
pertama Obon, aku, Yua Uchida, berbohong pada Saku. Aku bilang ada urusan di
rumah.
Padahal
aku sudah selesai bersih-bersih dan mencuci baju saat hari masih terang. Kemudian, saat matahari mulai terbenam,
aku pergi sendirian ke rumah Yuuko.
Sejak saat aku
mengejar Saku, aku tidak menghubunginya sekali pun. Bukan karena Yuuko tidak
merespons, tapi aku yang menghindar.
Aku
sengaja tidak mengirim pesan LINE atau menelepon. Ada beberapa alasan di baliknya.
Aku sedikit marah
pada Yuuko. Aku juga sedikit khawatir tentang apa yang mungkin dia pikirkan
tentangku.
Lagipula aku
tidak tahu harus bicara apa padanya. ...Perubahan yang cukup besar juga telah
terjadi di hatiku.
Jadi aku
mengambil waktu—untuk Yuuko, untuk Saku, dan untukku sendiri. Aku pikir itu
akan lebih baik bagi semua orang.
Namun di tengah
semua pemikiran itu, aku mendapati diriku sudah berada di depan rumah Yuuko.
Aku melihat Kotone sedang berjongkok di teras depan.
Sepertinya dia
sedang menyalakan api penyambutan kecil untuk festival Obon. Asapnya mulai
membubung ke udara.
Aku tidak
menyangka Kotone akan mengikuti ritual semacam itu. Dadaku terasa sesak
memikirkannya.
Yuuko dan Kotone
berhubungan sangat baik. Dia pasti sudah menceritakan semuanya pada Kotone,
termasuk tentangku.
Apakah Kotone
akan marah padaku? Atau sedih, kecewa, atau...?
Musim gugur lalu,
setelah aku berteman dengan Yuuko, aku sering main ke sini. Setiap kali datang,
Kotone menyambutku dengan sangat hangat.
Dia memberiku kue
dan jus, memasakkan makanan, bahkan mengantarku belanja. Saat aku bercerita
tentang situasi keluargaku, dia menangis dan memelukku.
"Kau sudah
berjuang keras setelah ibumu pergi. Datanglah ke sini kapan saja." Aku
meletakkan tangan di dada dan menarik napas dalam-dalam.
Aku mendekati
jalan masuk dan ragu sejenak memikirkan sapaan yang tepat. Akhirnya, aku
bersuara...
"Selamat
malam." Aku memanggil Kotone dari balik gerbang.
Raut wajahnya
saat menoleh perlahan... dia tampak sedikit lelah. "Ucchi?!"
Begitu mengenali
siapa yang memanggilnya, wajahnya langsung cerah. Dia bergegas berdiri dan
membuka gerbang dengan suara berisik.
"Wah, aku
baru saja bertanya-tanya kapan kau akan datang!" Dia memelukku erat.
Parfum anggunnya tercium olehku.
"Anu, itu..." Aku tidak yakin harus berkata apa.
"Maafkan aku, Ucchi. Putriku benar-benar membuat kekacauan," gumamnya
pelan.
"Oh, tidak, justru akulah yang membuat Yuuko—"
"Tidak, tidak."
Kotone
memotongku dan mundur selangkah.
"Aku sudah dengar seluruh ceritanya. Tentu saja, Yuuko
sedang merenungi dirinya sendiri."
"Tapi sepertinya dialah yang memulai dan menyakitimu
serta Chitose juga."
"Tolong,
maafkan dia," kata Kotone sambil menundukkan kepala. Sebelum aku bisa
menjawab, dia melanjutkan lagi.
"Tapi tahu
tidak, sebagai ibunya, aku senang dia mengutarakan perasaannya."
"Jadi aku
juga minta maaf atas beban yang menimpa kalian berdua."
Dia
membungkuk dalam sekali lagi.
"Tunggu
sebentar. Aku akan panggilkan Yuuko."
Saat melihatnya
menghilang di balik pintu, aku tersenyum sedikit. Reaksinya sangat berbeda dari
dugaanku, tapi sangat cocok dengan kepribadiannya.
Bagaimanapun, dia
adalah ibunya Yuuko. Pada akhirnya, Yuuko tetap tidak mau bicara padaku hari
itu.
Kotone meminta
maaf berulang kali dan mencoba menghiburku. Dia tidak mau bicara padaku, bahkan
tidak mau melihatku.
...Tidak,
mengenal Yuuko... dia hanya tidak sanggup melakukannya. Aku rasa itulah yang
terjadi.
Dalam
setahun terakhir, aku menghabiskan waktu dengan Yuuko sebanyak waktuku dengan
Saku. Awalnya aku merasa dia baik karena mau berteman denganku.
Tapi pada
suatu titik... Yuuko menjadi
sahabat sejati pertama yang pernah kupunya. Jadi aku bisa sedikit merasakan apa
yang dia rasakan.
Aku yakin besok
Yuuko akan merasa menyesal dan mau bicara denganku. ...Benar, kan?
Aku pikir aku
sudah siap ditolak oleh sahabatku sendiri. Tapi tetap saja ada rasa sakit dan
kecemasan yang menusuk.
Apakah aku
benar-benar bisa bicara dengannya besok? Atau apakah dia akan memanggil namaku
lagi?
Aku menahan
rengekan lemah di dalam batinku sekuat tenaga. Tidak apa-apa.
Aku memberi tahu
Kotone bahwa aku akan kembali besok. Aku berbalik meninggalkan pintu depan itu.
Wah, ternyata aku
tidak perlu repot-repot mengarang cerita alasan kenapa aku telat. Lagipula aku
bisa saja langsung pergi memasakkan makan malam untuknya.
◆◇◆
Malam di hari
berikutnya. Saat aku menekan bel di gerbang depan...
"Ucchi...,"
Yuuko menjawab melalui interkom, persis seperti harapanku. "Selamat
malam."
Aku menarik napas
lega, lalu tercipta keheningan sejenak. Aku menunggu tanpa terburu-buru sampai
Yuuko akhirnya bersuara lagi.
"Maaf soal
kemarin. Tapi aku masih..."
"Tidak
apa-apa. Apa kau mau bicara lewat interkom saja hari ini?"
"...Apa... tidak apa-apa?"
"Jika ini
lebih mudah bagimu, Yuuko, aku tidak keberatan sama sekali."
Saat berbicara,
aku merasakan semacam nostalgia.
"Hi-hi. Kau
tahu, Yuuko, kau sekarang mirip Yamazaki."
"Hei!"
Yuuko memekik. Setelah momen memalukan itu, dia bertanya, "Ucchi, kau
marah, ya...?"
Ada nada pilu
dalam suaranya.
"Ya, aku
marah," jawabku terus terang.
"..." Aku bisa mendengar dia menahan napas melalui
interkom.
Tanpa menjelaskan
lebih lanjut, aku mengajukan pertanyaanku sendiri.
"Bagaimana
denganmu, Yuuko? Apa kau marah padaku karena mengejar Saku?"
"Aku
tidak... marah. Hanya sedikit sedih, mungkin?"
"Bukan,
sepertinya 'maaf' adalah yang paling mendekati perasaanku."
"Begitu
ya."
"Ucchi, aku
rasa—"
"Kau tahu,
Yuuko," potongku. "Kita sudah membicarakan banyak hal bersama,
kan?"
"Ya."
"Fashion,
kecantikan, klub, tugas, masa lalu, masa depan, dan Saku." Yuuko tertawa
singkat.
"Yang
terakhir itu—rasanya cuma aku yang terus bicara."
Aku
melanjutkan dengan senyum tipis. "Kau ingat bagaimana semua itu bermula?"
Yuuko berpikir
sejenak sebelum menjawab.
"Mungkin
setelah kita pergi ke Hachiban bersama untuk pertama kalinya?"
"Bukan, itu
mungkin pemicu kita berteman, tapi bukan alasan kita sedekat ini."
"Sedekat
ini...?"
"Kita
sahabat. Boleh aku bilang begitu?"
"Jika kau
masih merasa begitu, Ucchi... tentu saja boleh!"
Suaranya sedikit
pecah di akhir kalimat. Kata-katanya menenangkanku, tapi di saat yang sama aku
ingin meminta maaf.
"Pemicu yang
sebenarnya," kataku menahan getaran di suara. "...adalah hari
itu."
Aku memalingkan
wajah dari kamera, meski Yuuko mungkin sedang melihatku.
"...Karena
kita saling berbagi kelemahan masing-masing."
Tapi aku tetap
menghadapinya dengan jujur.
"Hah...?"
"Benar,
Yuuko. Apa kau pikir hanya kau yang menyimpan rahasia besar sendirian?"
"Maksudku..."
"Kau dan aku
itu sama." Aku bersandar di tembok untuk menghindari tatapan kamera.
Aku bersyukur
kami melakukan ini lewat interkom. Saat ini, aku tidak sanggup membiarkan siapa
pun melihat ekspresiku.
"Aku pulang
sekarang. Aku akan
datang lagi besok."
"Oke."
"Tapi
itu akan menjadi yang terakhir kalinya."
"Hah...?"
"Sampai
jumpa besok, Yuuko."
Tanpa
menunggu jawaban, aku melangkah pergi.
Hari
tiba-tiba menjadi gelap. Aku bertanya-tanya apakah Saku makan malam dengan
benar malam ini.
◆◇◆
Malam di
hari terakhir Obon. Saat aku mengunjungi rumah Yuuko, aku melihat Kotone sedang
menyalakan api unggun.
Aroma kayu
terbakar mengingatkanku pada hari musim panas yang jauh. Kotone tersenyum tipis
dan mengangguk, lalu masuk ke rumah tanpa kata.
Saat aku menekan
interkom, Yuuko langsung muncul seolah sudah menunggu. "Ucchi?!"
"Selamat
malam."
"Setelah apa
yang kau katakan kemarin, aku merasa khawatir..."
"Aku
sudah bilang akan datang lagi hari ini." Aku tersenyum dan bertanya, "Hei, Yuuko,
sampai kapan kau mau begini?"
"Begitu
bagaimana...?"
"Kau akan
terus lari dari Saku dan kami semua?"
"Apa... apa
hakmu bertanya begitu? Aku sudah mencoba menghadapi Saku, tahu!"
"Setelah
hasilnya begitu, bagaimana kau bisa menyalahkanku?"
"Aku bahkan
tidak tahu cara menghadapinya! Ini bukan salahku!"
"Apa kau
benar-benar menghadapi Saku dengan jujur?"
Aku tahu
sahabatku sedang terluka, tapi aku tetap mengutarakan pikiranku.
"Apa
maksudmu...?"
"Setidaknya,
bagiku tidak terlihat seperti itu."
"Tega
sekali! Kenapa kau bicara begitu?!"
"Apa
kau benar-benar tidak punya penyesalan?"
"..."
"Apa kau
rela jika semuanya berakhir begitu saja?"
"Kau aneh
sejak kemarin, Ucchi. Kau
tidak sedang bersikap baik."
"Ya, aku
sadar akan hal itu."
"Maaf, aku
ingin kau pulang saja hari ini."
"Kau masih
tidak mau menemuiku?"
"Maaf,
maafkan aku..."
"Kalau
begitu... uhuk..."
Suara tetesan air
mulai terdengar.
"Tunggu,
Ucchi, suara apa itu?"
Oh benar, Yuuko
tidak sedang melihat monitor.
Lagipula aku
berdiri di luar jangkauan kamera agar tidak terlihat.
"Anu,
sepertinya sudah mulai hujan sejak tadi."
Setelah kata-kata
itu, percakapan terhenti dan pintu depan terbuka lebar.
"Ucchi?!"
Dan Yuuko
akhirnya menunjukkan wajahnya padaku.
"Lama tidak
jumpa." Dia tersenyum. "Agak memalukan melihatku berpakaian seperti
ini."
Hujan
tiba-tiba turun dengan deras dalam sekejap. Sebelum kusadari, aku sudah basah
kuyup sepenuhnya.
Wajah
Yuuko berkerut seolah hendak menangis.
"Bodoh!
Kenapa tidak bilang dari tadi?! Kau bisa sakit!"
Dia berlari
keluar hanya mengenakan piyama.
"Maaf; aku
sedang di tengah pembicaraan penting."
"Jangan
bercanda!"
Dia
menarik tanganku masuk ke lorong depan rumah.
"Ibu!
Bawakan handuk mandi!" teriaknya. Kotone muncul dari bagian dalam rumah.
"Oh, itu
semua salahmu, Yuuko! Maaf ya, Ucchi!"
"Bukan
waktunya bercanda, Bu!"
"Baiklah,
aku bawakan handuk. Bungkus dia dan bawa langsung ke kamar mandi."
"Air
hangatnya sudah siap."
Aku panik
dan melambaikan tangan di depan wajah.
"T-tidak
perlu sampai sejauh itu..."
Kotone tertawa
dan menghela napas.
"Handuk saja
tidak cukup kalau kau basah kuyup begini. Yuuko, cepat bawa dia."
"Siap! Aku
akan siapkan baju ganti dan pakaian dalam baru untukmu."
"Tunggu sebentar... Wah!"
Akhirnya,
mereka berdua menyeret aku ke kamar mandi.
◆◇◆
Setelah
aku mandi sebentar, Yuuko memanggilku dari ruang ganti.
"Ucchi, aku
taruh baju ganti di sini ya."
"Oke, terima
kasih. Maaf merepotkan."
"Tidak...
akulah yang minta maaf."
Melalui kaca
buram, aku melihat Yuuko duduk di kursi.
"Tadi
kita sedang bicara, kan?" tanyanya ragu.
Aku
menaruh lenganku di pinggiran bak mandi. "Hi-hi. Aku sudah di dalam rumah,
tapi kita tetap bicara lewat pintu."
"Ahaha,
benar juga." Setelah tertawa canggung, Yuuko bergumam.
"Apa
maksudmu dengan 'berakhir'? Kau mengatakannya kemarin." Aku bisa mendengar
kecemasannya tanpa perlu melihat wajahnya.
"Maksudku
memutuskan hubungan sepenuhnya."
"...Tidak,
aku tidak mau itu!"
Meskipun aku
merasa tidak enak, semangat Yuuko membuatku tertawa. Dia pasti sudah memikirkan
arti kata-kataku sejak lama.
Itu memang
tujuanku, tapi mungkin aku agak terlalu jahat. "Tunggu sebentar, Yuuko.
Mau dengarkan aku?"
"Ucchi, kau
tadi bilang soal memutuskan hubungan..."
"Bukan,
dengarkan dulu. Maksudku, tidak seperti kedengarannya."
"Aku
tidak paham."
"Kau
terlalu cepat menyimpulkan."
"Aku
tidak pernah tahu cara menjawab kalau orang bicara begitu..."
"Yah,
selama ini kan kau yang terus bersembunyi, Yuuko."
"Kau
bicara pedas lagi."
Aku
menenggelamkan bahuku ke dalam bak mandi lagi.
Air
hangatnya sedikit berwarna merah muda karena garam mandi. Aromanya manis,
bunga-bungaan, dan sangat menenangkan.
Aku
membuat pistol air dengan tangan dan mencoba menembakkannya. Tapi air hangat
itu justru memercik ke wajahku.
"Yuuko..."
Aku menyandarkan
kepala dan menatap langit-langit.
"Hari ini
adalah terakhir kalinya aku datang bicara padamu seperti ini."
"Hah...?"
"Itu
maksudku dengan memutuskan hubungan kita yang sekarang."
"Jadi kau
tidak mau bersamaku lagi?"
"Hmm, bukan
begitu."
Aku meraup air
hangat dan membiarkannya tumpah lagi.
Setelah
mengulanginya beberapa kali, aku keluar dari bak mandi. Aku berdiri tepat di depan pintu.
"Itu
rencanaku jika kau terus begini—jika kau mengisolasi diri dan tidak mau
bicara." Yuuko juga berdiri di balik kaca buram itu.
Aku
menempelkan tanganku di pintu dengan lembut.
"—Aku
akan bersama Saku setelah ini."
Aku
berbicara dengan sangat jelas.
"U...
Ucchi?"
Yuuko menempelkan
tangannya di titik yang sama denganku dari sisi lain.
"Semua orang
bilang kau adalah gadis 'pilihan terakhir'."
"Tapi jika
kau minggir, tidak masalah kalau aku yang maju, kan?"
"Tunggu sebentar, maksudmu...?"
"Di festival. Tanggal dua puluh empat Agustus. Jam
setengah enam sore."
Aku memberitahunya nama kuil tempat kami akan bertemu.
"Maukah kau datang jika kita bertiga berbincang
bersama? Jika kau tidak datang pun... tidak apa-apa. Sebagai gantinya, aku akan
pergi berkencan dengan Saku."
"..."
Aku mendengar pintu terbanting tertutup saat Yuuko
meninggalkan ruang ganti.
Aku menarik napas dalam-dalam dan membuka pintu kamar mandi.
Aku mengeringkan tubuh dengan handuk, lalu mengenakan
pakaian dalam bersih dan gaun yang sudah disiapkan Yuuko untukku.
Oh, aku ingat gaun ini.
"Ini tidak terlalu cocok denganku, jadi bagaimana kalau
kuberikan padamu, Ucchi?" Begitu kata Yuuko dulu, sambil mengirimkan
fotonya padaku.
Aku menempelkan tangan di dada sejenak.
Setelah itu, aku segera mengeringkan rambut dan berterima
kasih kepada Kotone sebelum meninggalkan rumah.
Sepertinya Yuuko
sudah naik ke kamarnya lagi.
"Aku akan
menunggumu, Yuuko," gumamku sambil menatap jendela dari teras depan, lalu
aku pergi.
Aku tidak akan lama... Saku.
◆◇◆
—Kembali ke hari ini.
Yuuko benar-benar datang ke festival.
Aku percaya semuanya akan baik-baik saja.
Namun, sebagian diriku merasa khawatir.
Jika kami melewatkan kesempatan di hari senja ini, kami
tidak akan pernah bisa kembali ke hubungan kami yang semula.
Entah bagaimana, aku mengetahuinya.
Saat melihat Yuuko berdiri di balik gerbang Torii,
tiba-tiba aku ingin memeluknya dan menangis, tapi aku berhasil menahannya.
"Ayo kita
bicara."
Benar. Itulah
yang kukatakan.
Tangan yang
menghubungkan kami terasa hangat, dan hatiku sedikit membuncah.
Kami mulai
berjalan beriringan. Saku, Yuuko, dan aku.
Mereka berdua
tampak sedikit bingung, tapi mereka ikut saja tanpa mengatakan apa-apa.
Lokasi festival
agak terlalu ramai bagi kami untuk membicarakan sesuatu yang sepenting ini.
Kami pergi ke
Taman Yokokan, yang berjarak sekitar lima menit berjalan kaki dari kuil.
Kami membayar
biaya masuk dan melangkah ke dalam.
Tempat ini
dulunya adalah kediaman klan Matsudaira, penguasa feodal Fukui.
Aku tidak tahu
banyak tentang tempat ini, tapi fasad mansion-nya bergaya rumah teh tradisional
Jepang. Arsitektur era itu sangat indah, dan tampak memukau saat diterangi
lampu di malam hari.
Pada hari tanpa
festival, tempat ini biasanya cukup tenang.
Aku sempat
berpikir untuk pindah ke taman terdekat jika ada terlalu banyak orang, tapi
saat melihat sekeliling, sepertinya hanya ada kami bertiga.
Masih banyak
waktu sebelum jam tutup, jadi kami punya kesempatan bagus untuk berdiskusi
dengan tenang.
Sudah lama aku
tidak ke sini, dan aku berharap bisa meluangkan waktu untuk berkeliling, tapi
sebagai gantinya kami melewati jalan setapak dan duduk di beranda panjang
mansion tersebut.
Posisinya adalah
Saku, aku, lalu Yuuko.
Matahari terbenam
tumpah menyinari taman hijau yang berkilau di depan kami dan permukaan kolam di
baliknya.
Angin sepoi-sepoi
yang masuk melalui mansion membawa aroma kayu dan Tatami yang
menenangkan.
"Nah, dari
mana kita harus mulai?" tanyaku, dan aku merasakan bahu di kedua sisiku
berkedut.
Duduk begitu
dekat, aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan.
Setelah
keheningan singkat, Saku berbicara lebih dulu.
"Yah, sebagai permulaan... Apa sebenarnya yang harus
kita bicarakan?"
Aku tersenyum kecil lalu menjawab.
"Kurasa ada beberapa hal. Saku, tidakkah kau punya
sesuatu yang ingin kau tanyakan pada Yuuko?"
"..."
Tidak ada jawaban, jadi aku melanjutkan.
"Kalau
begitu, aku yang punya."
Aku menatap
mereka berdua satu per satu.
"—Misalnya,
kenapa kau menyatakan perasaanmu pada Saku, Yuuko?"
Aku sudah lama
menunggu untuk menanyakan hal itu.
""...""
Keduanya menarik
napas tajam.
"Maksudku..."
suara Saku terdengar tegang. "Bukankah itu sudah jelas?"
"Jadi, Yuuko
ingin menjadi pacarmu... Karena itulah alasannya?"
"Benar."
"Tapi,
apakah itu benar-benar nyata?" tanyaku.
"...Apa
maksudmu?" Dia tampak sedikit marah, seolah mengira aku menganggap remeh
perasaan Yuuko.
Tidak, bukan itu
maksudku.
Aku menggelengkan
kepala dalam hati, lalu melanjutkan. "Saku, tidakkah kau merasa ragu saat
dia menyatakan perasaannya?"
Setelah
memikirkan pertanyaanku sejenak, Saku berbicara.
"...Sejujurnya,
aku bertanya-tanya, Kenapa sekarang?"
"Itu tepat
setelah perjalanan belajar musim panas berakhir. Mungkin aku hanya kurang peka,
tapi aku merasa situasinya tidak benar-benar tepat untuk sebuah pernyataan
cinta yang besar..."
"Tentu
saja," kataku. "Aku sendiri tidak punya pengalaman soal itu, tapi
biasanya saat teman dekat menyatakan perasaan padamu, itu adalah proses yang
bertahap, bukan?"
"Tapi kurasa
Yuuko tidak pernah merahasiakan fakta bahwa dia menyukaimu. Jadi mungkin ini
bisa menjadi pengecualian."
Saku menunduk
sedih, tidak diragukan lagi dia sedang mengenang masa lalu.
Yuuko menarik
ujung lengan yukataku.
Aku
meletakkan tanganku dengan lembut di atas tangannya dan terus berbicara.
"Hanya
itu yang terasa aneh bagimu?"
"...Ya,
kurasa begitu."
"Kurasa
ada hal lain tentang situasi itu yang tampak tidak wajar."
"Tidak
wajar bagaimana?"
Jari-jari Yuuko
mencengkeram pergelangan tanganku. Seolah dia memohon padaku untuk tidak
mengatakan apa pun.
Maafkan aku,
tapi... jika aku tidak melakukan ini, kita akan terus terjebak di tempat yang
sama.
Aku menatap lurus
ke depan.
"—Aku
bertanya-tanya mengapa Yuuko memilih kesempatan itu untuk menyatakan
perasaannya."
Saku tampak
terkejut.
"Maksudku,
kita baru saja membuat kenangan yang akan bertahan lama bersama-sama."
Saat aku
berbicara, aku menyipitkan mata, meraba-raba ingatanku.
Kurasa Saku juga
menyadari ketidaksesuaian yang aneh ini.
Aku
menggenggam tangan Yuuko dengan erat.
"Bukan,
maksudku adalah: Kenapa dia secara spesifik melakukannya di depan semua
orang?"
""...""
Aku tidak
menunggu jawaban.
"Maksudku,
sudah jelas, jika kau ingin menyatakan perasaan, biasanya saat sedang berdua
saja, kan? Bisa lewat telepon atau obrolan LINE."
"Maksudku,
jika kalian berdua berteman, kalian berdua menginginkan sesuatu yang lebih, dan
kalian berdua mengetahuinya, salah satu harus memecah kebuntuan dan menyatakan
perasaan."
"Tapi
bukan itu yang terjadi. Jika Yuuko ditolak, itu akan membahayakan pertemanan
semua orang, termasuk pertemanannya dengan Saku."
"Kurasa
Yuuko tahu itu akan memberikan dampak besar, kan? Tapi anggaplah impiannya
menjadi kenyataan sebagai gantinya."
"Bagaimana
jika Yuzuki, Haru, dan aku juga menyukaimu, Saku? Bukankah agak kejam
melakukannya di depan kami?"
"Kita semua
tahu Yuuko sering membuat orang repot tanpa sengaja, tapi aku tidak bisa
melihat alasan dia tidak menyadari kemungkinan itu... Kita berteman, jadi aku
tahu."
Yuuko menempelkan
tanganku ke dahinya, dan aku membelai rambutnya dengan tanganku yang bebas.
"Dan lebih
dari itu semua..."
Aku melanjutkan,
menekankan setiap kata.
"...Yuuko,
apakah kau pernah memiliki harapan, sekecil apa pun, bahwa pernyataan cintamu
akan berjalan lancar?"
Saku tampak
bingung dengan pertanyaan itu.
"Ucchi..."
Mata Yuuko
berkaca-kaca.
Aku mengeluarkan
saputangan dari tas dan menyeka matanya.
"Mungkin ini
ada hubungannya dengan hari itu?"
Yuuko menunduk
dan mencengkeram rok di atas lututnya erat-erat.
"Bisakah kau
memberi tahu kami?"
"Aku tidak
bisa... aku tidak bisa mengatakannya padamu..."
"Tidak
apa-apa. Aku di sini bersamamu, oke?"
Aku menepuk
punggung sahabatku saat dia sedikit gemetar.
◆◇◆
Aku, Yuuko
Hiiragi... adalah jalang yang licik.
Apa yang memicu
ketertarikanku pada Ucchi adalah hari itu, di kelas.
Tindakanku
membuatnya terpojok, jadi aku pergi untuk meminta maaf lagi padanya keesokan
harinya.
Awalnya, hanya
itu yang akan kulakukan, tapi rasanya agak lucu melihat bagaimana Ucchi yang
tenang dan pendiam bisa begitu agresif terhadap Saku.
Aku
bertanya-tanya apakah dia mungkin menyembunyikan sebagian dari dirinya, seperti
yang kulakukan. Aku ingin tahu lebih banyak, jadi aku mencari kesempatan ekstra
untuk berbicara dengannya.
Ucchi selalu
sangat sopan.
Dia memilih
kata-katanya dengan hati-hati, berusaha memastikan dia tidak menyinggung siapa
pun.
Dia juga seperti
itu saat insiden di kelas. Aku cenderung berbicara tanpa berpikir, jadi ini
terasa segar dan menarik bagiku.
Saat kami
berbicara, dia memberikan efek menenangkan padaku. Dan aku bahkan mulai merasa
sedikit kesepian.
Aku selalu merasa
ada dinding transparan di sekitarku yang membuatku mendapat perlakuan khusus
dari anak-anak lain di sekolah.
Tapi Ucchi
sepertinya telah mengelilingi dirinya dengan dinding transparan buatannya
sendiri, dinding yang dirancang untuk menjauhkan orang lain.
Bagiku, dia
tampak seperti menahan sesuatu, dan ruang kedap udaranya itu membuatnya sesak.
Tapi entah
kenapa, dia tidak pernah seperti itu kepada Saku, sejak awal.
Dia menunjukkan
kekesalan. Dan kata-katanya seolah dirancang untuk menyengat.
Saat mereka
berbicara, Ucchi tampak bernapas sedikit lebih lega.
Kurasa, dalam
beberapa hal, dia mengingatkanku sedikit pada diriku sebelum aku bertemu Saku.
Aku terus mencoba
mengenalnya lebih baik. Kemudian semester kedua tiba.
Aku memutuskan
untuk mengajak Ucchi makan ramen.
Aku ingin
mengenalnya lebih baik, tentu saja, tapi juga... kupikir Saku bisa menjadi
orang yang meruntuhkan dinding kaca Ucchi.
Jadi...
Saat Ucchi panik
dan lari keluar dari restoran ramen...
"Saku, kejar
Ucchi! Biar kami yang urus tagihannya!"
Aku benar-benar
bersungguh-sungguh saat mengatakannya.
...Dan kemudian
hari berikutnya tiba.
Ucchi memanggilku
Yuuko untuk pertama kalinya.
Dia
berbeda. Seluruh aspek dirinya telah melunak dan menjadi hangat.
Dan
alih-alih senyum canggung yang selalu dia pakai, senyum barunya ini mekar cerah
seperti bunga dandelions.
Wah. Bahkan
Ucchi bisa tersenyum seperti itu, pikirku.
Aku senang aku
menyerahkannya pada Saku.
Dia membutuhkannya... Sama seperti aku membutuhkannya, waktu
itu.
"Sejujurnya,
Yuuko, Yua, repot sekali hanya karena masalah nama panggilan."
"Kau jangan
ikut campur, Saku."
Hah? Saku...?
Itu hanyalah
perubahan kecil.
Dia telah
mengubah cara dia memanggil kami. Kami berdua.
Nada bicara Ucchi
terdengar ramah terhadap mereka yang telah dia buka hatinya; jarak di antara
kami terasa jauh lebih dekat daripada sehari yang lalu.
Tidak ada
yang aneh sebenarnya.
Saku juga
baru-baru ini mulai memanggilku dengan nama depanku.
Aku mengajaknya
makan ramen, berpikir akan menyenangkan jika hal ini terjadi suatu hari nanti.
Aku menyuruh Saku
mengejarnya, berpikir Saku akan bisa membantunya.
Jadi ini tidak
apa-apa. Inilah yang
aku inginkan terjadi, kan?
Lalu,
kenapa?
Bahkan
saat kami semua menyambut Ucchi bersama-sama, rasanya seperti ada sesuatu yang
tersangkut di tenggorokanku, membuatku sulit bernapas.
Setelah
seminggu dalam kebingungan batin yang sunyi, jam istirahat makan siang tiba.
Grup
kami, yang sekarang termasuk Ucchi, menyatukan meja kami dan membuka bekal
makan siang.
"Hei! Saku!
Dari mana kau dapat bento buatan rumah itu?!" seru Kaito.
"Kecilkan
suaramu." Saku tertawa dan memutar bola matanya.
"Itu sama
dengan punya Ucchi!"
"Yah,
begitulah adanya."
"Tidak?
Bagaimana maksudnya?!"
Ucchi dan Saku
punya bento yang sama...?
Tunggu sebentar.
Apa artinya itu?
Saku mengerutkan
kening dan menatap Ucchi di sampingnya.
Ucchi mengedikkan
bahu sedikit, seolah berkata "Tidak apa-apa."
Seperti bentuk
telepati rahasia yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua.
"Tahu
tidak," kata Ucchi, "Orang tuaku bercerai saat aku masih SD, dan
ibuku pergi. Jadi aku melakukan semua pekerjaan rumah, termasuk memasak."
"Dan Saku
tinggal sendirian, kan? Jadi aku memberinya beberapa sisa makanan kami karena
aku memasak terlalu banyak."
"Apa? Wah,
Saku! Beruntungnya! Bagaimana denganku, Ucchi?" tanya Asano padanya.
"Kau selalu
bawa makan siang yang banyak, kan? Kau tidak butuh lagi."
"Tidaaaak!!!"
Aku tidak tahu
harus berbuat apa saat percakapan itu berlangsung di depanku.
Aku hanya tidak
mengerti.
Apakah Saku makan
bento buatan rumah dari Ucchi?
Tidak, yang lebih
penting...
Sama seperti
Saku, keluarga Ucchi juga bercerai. Dan ibunya sudah pergi.
Mereka memahami
rasa sakit dan kesedihan satu sama lain lebih dari siapa pun.
Mereka
punya hubungan spesial yang tidak akan pernah bisa kumengerti.
Hatiku terasa
perih.
Ini tidak adil.
Kata mengerikan itu tiba-tiba muncul di benakku, dan aku
merasa ngeri.
...Apa... yang aku lakukan?
Itulah hal pertama yang terlintas di pikiranku saat
mendengar tentang hal-hal buruk yang terjadi pada keluarga Ucchi?
Aku benar-benar jalang.
Meskipun hanya sesaat, aku tidak bisa menahan diri untuk
tidak memikirkan masa lalu sahabat baruku yang sangat menyakitkan sebagai
sesuatu yang menguntungkan, alat untuk memperpendek jarak antara aku dan
laki-laki yang kusukai.
Membayangkan ibuku sendiri pergi saja... sudah menjadi
pikiran yang tak tertahankan.
Mencoba
mengalihkan perhatian, aku memasukkan sesuap makanan ke mulutku. Itu adalah
steak daging, dengan setengah saus tomat dan setengah saus Worcestershire.
Mama tidak
terlalu pandai memasak, tapi dia selalu bangun pagi setiap hari dan
membuatkanku bento. Biasanya dari sisa makanan atau bagian makanan beku.
Tapi hari ini...
makanannya terasa seperti karton, dan aku tidak bisa menelannya.
Meskipun aku tahu
aku tidak seharusnya melakukannya, aku tidak bisa menghentikan pikiran-pikiran
buruk ini.
Apa yang terjadi
setelah Saku mengejar Ucchi?
Apa yang Saku
pikirkan tentang Ucchi, dan apa yang Ucchi pikirkan tentang Saku?
Kenapa mereka
bisa begitu akrab padahal baru saja berteman?
Kenapa mereka
berjalan masuk ke sekolah bersama hari itu?
Dan itu adalah
pertama kalinya aku melihat Ucchi memakai kemeja yang kusut...
Apa yang harus
kulakukan?
—Ucchi akan
mencuri posisi terdepan dariku.
Padahal aku yang
jatuh cinta padanya duluan.
Padahal aku yang
sudah berada di sisinya lebih lama.
Padahal aku yang
mengajak Ucchi ke Hachiban.
Padahal aku yang
menyuruh Saku mengejar Ucchi.
Ini pertama
kalinya dalam hidupku aku merasa seperti ini.
Aku selalu
berhubungan baik dengan laki-laki maupun perempuan.
Saat seseorang
jatuh cinta, aku menyemangati mereka, dan saat ada pasangan yang jadian, aku
memberi selamat dari lubuk hatiku yang paling dalam.
Tapi sekarang
aku...
—Aku bukan
satu-satunya gadis yang menyukai Saku—atau yang mungkin disukai balik oleh
Saku.
Aku menyadari
fakta yang sangat nyata itu.
Banyak gadis yang
menyukainya sejak sekolah dimulai.
Dia tidak pernah
menceritakannya padaku, tapi aku tahu dari desas-desus bahwa beberapa gadis
telah menyatakan perasaan padanya.
Namun pada
dasarnya, Saku mencoba menjaga jarak dari mereka, dan satu-satunya yang
menjalin hubungan sangat baik dengannya hanyalah Yuzuki dan Haru di tim basket.
Tapi bahkan
dengan mereka, itu hanya obrolan santai di koridor.
Aku adalah
satu-satunya gadis yang selalu berada di sisi Saku. Apakah aku salah mengira
bahwa aku spesial?
Aku berasumsi
akulah satu-satunya yang benar-benar mencintai Saku.
Setidaknya,
akulah satu-satunya gadis yang paling menjaga dan memahami Saku.
Aku naif.
Dan itu adalah
kesalahan besar.
Tepat di depan
mataku, jarak antara Saku dan Ucchi semakin mengecil.
Mungkin mereka
sudah menjadi lebih dekat daripada dia dan aku.
Mungkin aku
bisa menjadi pacar Saku suatu hari nanti..., pikirku. Tuhan, aku sungguh delusi.
Harapanku itu
bisa berakhir kapan saja... Jika tidak hari ini, mungkin besok.
Bagaimanapun
juga, Saku telah menyelamatkan Ucchi dengan cara yang sama seperti dia
menyelamatkanku—tidak ada jaminan Ucchi tidak akan jatuh cinta pada Saku dengan
cara yang sama.
Tidak ada jaminan
Ucchi tidak akan langsung menyatakan perasaannya.
Saat jam
istirahat makan siang berakhir...
"Ucchi,
apakah kau punya waktu sepulang sekolah?" tanyaku, dan aku tidak
benar-benar yakin kenapa.
"Ya! Kita
tidak ada klub hari ini, jadi tidak apa-apa."
Hatiku sakit
mendengar betapa ringan dan bahagianya suara Ucchi.
Aku tidak
mengenal cinta sampai aku bertemu Saku.
Kecemburuan
dan iri hati tumbuh di hatiku—aku tidak bisa menahannya, tapi aku juga tidak
bisa mengakuinya.
Sepulang
sekolah, aku meminjam kunci dari Saku dan Ucchi, dan aku menuju ke atap.
Aku
berbohong pada orang yang kusukai, mengatakan bahwa aku hanya ingin
menunjukkannya kepada Ucchi sekali saja.
"Aku tidak
tahu kita bisa naik ke sini." Ucchi melihat sekeliling di tepi pagar, menghirup udara segar.
Aku
berdiri di sampingnya. "Sebenarnya, kita butuh izin untuk naik ke sini.
Meskipun Saku mendapat kunci dari Kura, jadi dia datang dan pergi
sesukanya."
"Ahaha.
Ya, kedengarannya seperti dia sekali," kata Ucchi. "Kalau
dipikir-pikir, Pak Iwanami pernah memberitahuku bahwa Saku dan aku itu
mirip."
"B-benarkah?"
"Meskipun,
aku tidak yakin dia tahu apa yang dia bicarakan. Kami sama sekali tidak
mirip."
Menatap langit
yang jauh, rambutnya berkibar, matanya menyipit karena cinta.
Oh, aku tahu itu.
Hanya dengan
melihat profilnya, aku bisa tahu.
Saat Ucchi
menyebut nama Saku... dia merasakan hal yang sama denganku.
Tapi mungkin
sekarang...
"Dengarkan!"
kataku, mengejutkan diriku sendiri.
Alis Ucchi
terangkat.
"Mungkin
tidak sopan menanyakan hal ini secara tiba-tiba, tapi... bolehkah aku
menanyakan sesuatu yang penting padamu?"
"Apa?"
Aku mengangguk
sekali. "Aku ingin berhubungan lebih baik denganmu, jadi aku ingin
memperjelas ini dulu."
"Ya,
aku mengerti."
Ucchi
berbalik menghadapku dan berdiri tegak. Dia menangkupkan tangannya di depan
tubuh dengan anggun, dan aku sempat teralihkan oleh pemandangan itu sejenak.
"Anu,
um..."
Aku menarik napas
dalam-dalam.
"Ucchi,
apakah kau sedang naksir seseorang sekarang? Karena aku naksir Saku!"
Sebelum kusadari,
aku telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya kukatakan.
Sebenarnya, aku
hanya ingin bertanya apakah ada seseorang yang dia sukai.
Aku tadinya ingin
menahan diri.
Tapi aku malah
membeberkan perasaanku sendiri...
"Hah...?"
Mata Ucchi membelalak terkejut, dan... "Anu, uh..."
Dia melihat
sekeliling, lalu memejamkan matanya rapat-rapat.
Kerutan
kecil terbentuk di antara alisnya, dan dia mengatupkan bibirnya.
Jari-jarinya
sekarang melebar, mencengkeram lipatan roknya dengan erat.
Dia
membuka mulutnya sebentar untuk berbicara, lalu menutupnya lagi.
Setelah
mengulanginya beberapa kali, dia meletakkan tangan kanannya di dada, memejamkan
mata, dan menarik napas dalam-dalam beberapa kali.
Saat berikutnya
Ucchi menatapku, dia tersenyum persis seperti saat pertama kali kami bertemu.
"Aku
tidak sedang naksir siapa pun."
Dia
sangat jelas dan langsung.
Matanya
diwarnai dengan kelembutan.
"Ah...,"
gumamku.
Ini tidak
benar. Aku tidak seharusnya melakukan ini.
Aku harus menarik
semuanya kembali dan meminta maaf...
—Cklek.
Tepat saat itu,
pintu atap terbuka, dan...
"Hei,
aku terpikir untuk segera pulang, sekadar memberi tahu kalian."
Dengan
tangan di saku, Saku datang berjalan santai.
Tidak
apa-apa. Aku masih punya waktu.
Maaf, Ucchi.
Lupakan apa yang kukatakan. Mari kita bahas ini lagi besok.
Aku mengepalkan
tinjuku dan menatap langit biru...
"Kau tahu,
Saku..."
kataku.
"Hmm?"
Dia menguap dan
menatapku, dan aku berkata...
"...Aku
menyukaimu."
Sebelum kusadari,
bibirku membentuk senyuman tipis.
Di sudut mataku,
bahu Ucchi bergetar.
"Oh, tentu.
Kau adalah cinta sejatiku, dan sebagainya."
Dia
menganggapnya sebagai lelucon.
"Bukan!"
Aku
mengambil satu langkah, dua langkah lebih dekat.
"Dalam arti
romantis! Maksudku, seperti laki-laki dan perempuan! Aku ingin jadi pacarmu!
Aku sangat menyukaimu!"
Aku memastikan
dia bisa melihat keseriusan di mataku, jadi dia tidak bisa mengabaikannya.
Tapi...
"...Ada apa
dengan semua ini?"
Saat aku melihat
kesedihan di wajahnya, aku tahu.
Aku bisa
melihat langsung ke dalam jantung yang berdetak itu.
Oh, benar
juga.
"Yuuko,
aku..."
Jadi
aku...
"Tunggu
sebentar! Kau tidak perlu menjawabnya sekarang!"
Aku memaksa
kata-kata dan perasaanku ke dalam bentuk yang berbeda.
"Hah...?"
Aku terus maju,
sebelum dia bisa mengatakan apa pun.
"Aku hanya
ingin kau tahu bahwa aku memikirkanmu seperti itu, Saku. Tapi aku tidak butuh
jawaban sampai aku menyatakannya dengan benar suatu hari nanti."
"Aku
ingin tetap berteman, seperti sebelumnya. Apakah itu tidak apa-apa...?"
Untuk sesaat,
Saku hanya terlihat tercengang, seperti Ucchi tadi.
Lalu perlahan...
"...Aku
mengerti. Jika ini bukan pernyataan cinta yang sungguhan, maka tidak mungkin
aku bisa menolakmu. Untuk sekarang, aku akan menerima perasaanmu."
"Oke! Kalau
begitu kita bertiga harus jalan pulang bersama!!!"
Aku adalah jalang
yang licik.
Meskipun aku
sendiri yang mencoba berteman dengan Ucchi, meskipun aku yang meyakinkan Saku
untuk mengejar Ucchi dan membantunya, meskipun aku senang kita akhirnya
berteman, meskipun aku yakin Ucchi menyukai Saku...
Aku masih
melakukan ini.
Dan aku masih
menikmati sisa-sisa perasaan manis itu.
Saku tidak
menolakku.
Dia bilang dia
akan menerima perasaanku.
Licik,
cerdik, mengerikan, egois.
Namun...
Ada senyuman di
wajahku.
Namun...
Hatiku menangis.
◆◇◆
—Sekitar satu
tahun telah berlalu sejak saat itu.
Yua dan aku hanya
mendengarkan Yuuko berbicara dalam diam.
Rasanya sangat
menyakitkan.
Sangat jelas
betapa sedih perasaannya saat dia berbicara. Kedengarannya seolah dia akan
menangis.
Aku terus
mencoba membuatnya berhenti, berulang kali. Aku mengatakan padanya tidak apa-apa, kau tidak
perlu melakukan ini.
Tentu saja aku
ingat kejadian di atap itu, tapi ini pertama kalinya aku mendengar tentang
percakapan di antara mereka berdua.
Juga tentang
perasaan rahasia di balik deklarasi cinta Yuuko yang begitu terbuka.
Oh, benar juga.
Yuuko dan aku, Yuuko dan Yua, serta trio kami bertiga...
Pertemanan kami
telah bertahan hingga liburan musim panas ini. Dan aku merasa segalanya
benar-benar dimulai pada hari itu.
"Guh...
Ngh..." Yuuko terisak, tapi dia tidak berhenti bicara.
Dia tampak sangat
menyesali apa yang telah dia lakukan. "Maafkan aku, maafkan aku, maafkan
aku; aku benar-benar minta maaf, Saku."
Sembari
mendengarkan, Yua terus mengusap punggung sahabatnya itu. Sesekali dia menyeka
air mata Yuuko dengan saputangan.
Namun tindakan
baik itu justru tampak makin menyakiti Yuuko. "Maafkan aku, maafkan aku,
maafkan aku..."
Yuuko terus
meminta maaf berulang kali, seperti anak kecil yang sedang dimarahi. "Aku
tidak pantas bilang kalau kau mengkhianatiku sebagai teman..."
"Atau bilang
kalau aku adalah gadis pilihannya... Aku tidak punya hak untuk
menjauhkan orang lain... Tapi tetap saja..." Aku ingin memberitahunya
bahwa dia salah.
Tak peduli bagaimana semua ini bermula, aku bisa saja bilang
bahwa waktu yang kami habiskan bersama itu nyata. Namun aku tidak bisa
mengucapkan kata-kata penghibur yang dangkal seperti itu.
Yuuko melanjutkan
dengan ekspresi kesakitan. "Sejujurnya... aku seharusnya mengatakannya
lebih awal; aku seharusnya meminta maaf... Itulah yang terus kupikirkan. Tapi
aku takut."
Yuuko
mencengkeram yukata Yua. "Karena jika aku membicarakannya, semuanya akan
berakhir. Aku salah, aku tahu itu."
"Aku telah
membohongi kalian berdua selama ini. Aku tahu aku tidak boleh melakukannya,
tapi aku tetap..." Dia menarik napas panjang, suaranya pecah saat dia
bicara...
"Aku tidak
ingin kalian berdua membenciku!" Teriakannya terdengar seperti doa yang
tercekik.
"Gak,
ak," dia terbatuk. Bahunya naik-turun saat dia berjuang untuk bernapas.
Melihatnya
bergantung pada Yua seperti itu benar-benar menghancurkan hatiku. "Aku
pikir aku sudah siap, tapi... aku tidak menginginkan itu."
"Tidak
masalah jika kita bukan teman lagi. Tidak masalah jika aku tidak bisa menjadi
pacarmu."
"Yang
kupedulikan hanyalah berada di dekatmu. Jadi tolong... jangan benci
aku..."
Apa yang harus
kukatakan? Apa yang bisa kuucapkan agar dia merasa lebih baik?
Apa yang bisa
kulakukan...? Saat aku berdiri di sana dengan perasaan bingung yang luar
biasa...
"Tidak
apa-apa." Yua bersuara sambil membelai rambut Yuuko.
"Aku
sudah bilang padamu, kan? Kita
berdua berbagi kelemahan kita hari itu."
"Ucchiii..."
"Jadi
biarkan aku bertanya sekali lagi," lanjutnya. "Yuuko, apakah kau
pernah memiliki harapan, sekecil apa pun, bahwa pernyataan cintamu akan
berjalan lancar?"
Kenapa? Aku
bertanya-tanya. Kenapa Yua...?
Kenapa dia masih
terpaku pada hal itu? Dengan sangat lembut, dia seolah sedang menyudutkan
Yuuko.
"Aku
tahu..." Aku menyadari tangan Yuuko gemetar.
Dia berjuang
untuk bernapas dan menyeka air matanya. —Buk.
Dia
bangkit berdiri, seolah sedang menantang Yua. Dia menatap kami bergantian
dengan mata yang dipenuhi campuran rasa sedih dan marah...
"Aku
tahu itu tidak akan berhasil!!!" Yuuko berteriak sekuat tenaga.
"Aku telah
memperhatikan Saku selama ini, sejak hari aku jatuh cinta padanya! Setiap hari
aku tertidur memikirkan Saku, dan saat bangun, aku juga memikirkannya!"
"Aku tahu
lebih baik dari siapa pun bahwa aku tidak akan pernah bisa menjadi spesial bagi
Saku dengan cara itu—belum saatnya!!!"
"Hah...?"
Itu adalah sesuatu yang tidak pernah kuduga akan kudengar, dan aku menanyakan
apa yang kupikirkan.
"Lalu
kenapa...?" Yuuko mencengkeram roknya erat-erat dan menunduk.
"Kau mungkin
tidak percaya, tapi..." Perlahan, dia mulai bicara.
"Memang
benar aku terus berpikir bahwa suatu hari aku harus memperbaiki kesalahan yang
kubuat."
"Tapi
hubungan kita bertiga, waktu yang kita habiskan bersama, membuatku sangat
bahagia. Aku jadi tidak waspada."
"Aku mulai
berpikir... tidak apa-apa jika tetap seperti ini selamanya." Dia
menyipitkan mata, seolah sedang bernostalgia. "Tapi...," lanjutnya.
"Di tahun
kedua, kita semua berteman dengan Yuzuki dan Haru. Yuzuki punya masalah
penguntit itu... Dan ada masalah Haru dengan bisbol dan basket..."
"Lalu mereka
makin dekat denganmu, Saku, sama seperti Ucchi... Saat aku menyadarinya, kita
bukan lagi segitiga yang seimbang."
Dia memutar-mutar
jarinya di depan tubuh, seolah sedang mencari alasan.
"Sejujurnya...
aku merasa gugup saat melihat pengumuman pembagian kelas di tahun kedua."
"Dan saat
Yuzuki serta Haru segera mengajak kita bicara di kelas. Kelompok kita adalah
Saku, Ucchi, Kaito, Kazuki, dan aku. Aku pikir kita tidak butuh orang
lain."
"Aku tahu
Yuzuki dan Haru cocok dengan Saku. Itulah kenapa aku bercanda kalau Saku dan
aku adalah pasangan utama, dan Ucchi hanyalah selingan—agar aku bisa menjaga
posisi mereka. Aku benar-benar jalang."
Air mata yang
tadinya mulai mengering kini mengalir di pipinya lagi. "Ugh, mereka
berdua... Akan jauh lebih baik jika mereka sejahat aku."
Yuuko tersenyum sedih. Matanya yang berkaca-kaca memerah
terkena cahaya matahari terbenam, cahaya yang tampak fana dan singkat.
Sebelum aku sempat menjulurkan tangan, Yua berdiri dan
dengan lembut merangkul Yuuko. Yuuko melanjutkan dengan air mata yang masih
menggenang.
"Awalnya, aku pikir Yuzuki akan menjadi musuh
bebuyutanku. Dia langsung
mendekati Saku, seolah mencoba memprovokasiku."
"Meskipun
itu hanya sementara—dan diperlukan—tapi tetap saja. Dia memainkan peran yang
selama ini kuimpikan—menjadi pacar Saku."
"Jadi
dia dan aku sempat berselisih. Tapi aku belum pernah bertemu gadis lain yang
bisa bicara banyak soal fashion dan kecantikan."
"Kami
berjanji akan pergi belanja bersama di Kanazawa. Dia keren tapi terkadang keras
kepala, dan sulit untuk tidak menyayangi cara dia berusaha keras demi orang
yang dia pedulikan. Aku benar-benar menyukai Yuzuki."
Dia
terkekeh, air mata masuk ke mulutnya yang terbuka, dan aku mendengarnya menelan
ludah dengan susah payah. "Dan Haru—kau tahu, aku pikir dia benar-benar
keren sejak awal. Dia punya sesuatu yang dia perjuangkan seumur hidupnya."
"Kupikir dia
seperti Saku saat masih bermain bisbol. Jadi masuk akal kalau Haru-lah yang
membuatmu berurusan kembali dengan bisbol."
"Oke, dia memang payah soal fashion, makeup, dan
hal-hal feminin. Tapi dia berusaha
keras untuk itu juga demi orang yang dia sukai."
"Dan
bagaimana mungkin aku menolak membantunya saat dia mendatangiku dengan begitu
tulus? Aku benar-benar menyukai Haru juga." Suaranya gemetar.
Sambil
sesenggukan, dia menarik ingus dengan keras. Ekspresi di wajahnya adalah
ekspresi yang biasanya tidak akan pernah dia tunjukkan pada siapa pun.
"Kau tahu,
Saku... aku memperhatikannya." Yuuko menunduk, sedikit merasa bersalah.
"Pada hari
festival kembang api, saat aku mencarimu. Aku melihat Yuzuki memegang lengan
yukatamu saat kalian menonton kembang api bersama."
"—Dengar, itu..."
Tapi Yuuko memotongku.
"Aku
bertanya pada semua orang, malam itu, saat perjalanan belajar musim panas...
'Apakah ada yang sedang naksir seseorang? Karena aku naksir Saku!' Aku
menggunakan kata-kata yang persis sama dengan yang kuucapkan pada Ucchi hari
itu."
Ekspresinya berkerut, seolah dia sudah kehilangan kendali
atas dirinya sendiri.
"Tapi tidak ada... Tidak ada yang siap untuk jujur.
Tidak Yuzuki, tidak Haru, dan tidak juga Ucchi."
"Tentu saja,
aku tidak tahu pasti apakah semua orang juga menyukaimu, Saku. Mungkin mereka
hanya tidak ingin memberitahuku."
"Tapi...
tapi kau tahu...!"
Dia mengepalkan
tinju di atas lututnya, seolah sedang mencoba menahan diri agar tidak hancur.
"Yuzuki
sangat bahagia menonton kembang api bersamamu... tidak mungkin dia tidak punya
perasaan yang dalam! Dan Haru—tidak mungkin seorang gadis akan bersorak
seantusias itu di pertandingan bisbolmu tanpa menyimpan harapan!"
"Dan
lagi," gumam Yuuko. "Lagi-lagi, aku menghalangi orang-orang yang
kuanggap sebagai sahabat berharga. Ini salahku."
"Aku
berlagak bodoh dan menempel padamu seperti lem dan bicara soal betapa aku
menyukaimu—aku bukan pacarmu, tapi aku bertingkah seolah aku memang
pacarmu."
"Beberapa
gadis bersikap baik dan menyimpan perasaan mereka sendiri demi orang lain. Dan
beberapa gadis tidak bisa benar-benar menghadapi perasaan mereka sendiri."
"Sejak
kecil, yang kuinginkan hanyalah memiliki teman yang kusayangi dan seseorang
yang kucintai." Tunggu sebentar, jadi itu artinya...
"Jadi
aku pikir aku harus membawa situasi ini ke sebuah kesimpulan. Hari itu di atap,
akulah yang pertama kali melakukan sesuatu yang tidak adil. Aku benar-benar tidak ingin menyatakan
perasaan seperti itu!"
"Tapi—tapi—tapi..."
Dia mengatupkan
bibirnya, lalu memaksanya terbuka lagi.
"Aku tahu
jika tidak ada yang berubah... Ucchi, Yuzuki, dan Haru..."
Dia mencengkeram
dadanya, seolah sedang merasakan sakit secara fisik. "Dan Saku,
yang paling kucintai... Aku tahu selama aku menghalangi, kau akan bersikap
terlalu baik untuk membiarkanku terluka."
"Kau akan mencoba untuk tidak melihat kesedihan di
wajahku. Aku ragu untuk mengambil langkah pertama karena aku membohongi diriku
sendiri."
"Karena aku akan kehilangan kesempatan untuk memberi
tahu orang-orang yang kucintai betapa berartinya mereka bagiku. Itulah alasannya!!!"
Dengan kedua mata
yang penuh air mata, dia menatap tepat ke arahku.
"Aku
ingin laki-laki yang spesial bagiku... menemukan orang yang spesial
baginya!!!"
Dia meneriakkan
kata-kata itu dengan sepenuh hati dan jatuh berlutut, seperti boneka yang
tali-talinya telah diputus.
"Yuuko!"
"Yuuko!"
Yua berjongkok di sampingnya, dan aku segera menyusul.
Yuuko bernapas
terengah-engah karena tangisan dan pembicaraan tadi. Yua perlahan mengusap
punggungnya.
"Maafkan
aku, Yuuko. Itu menyakitkan, bukan? Pasti rasanya sangat sakit. Terima kasih
sudah menceritakannya pada kami." Aku menggigit bibir saat mendengarnya.
Aku muak dan
lelah dengan kebodohanku sendiri. Aku tidak menyadari semua ini, padahal Yuuko
selalu berada di sisiku.
Seharusnya aku
tahu dia gadis seperti apa. Aku tidak bisa mempercayainya. Selama ini...
—Pernyataan
cintanya bukan tentang memulai sesuatu yang baru. Itu adalah tentang mengakhiri sesuatu.
Baru
sekarang aku mengerti apa yang ingin disampaikan Yua. Aku mendapati mulutku
bergerak sebelum sempat merapikan pikiranku.
"Jadi alasan
kau sengaja melakukannya di depan semua orang..." Yuuko, yang sudah
sedikit tenang, terkekeh pelan.
"Seperti
yang kubilang, Saku, kau itu baik. Jika aku menyatakan perasaan padamu saat
kita sedang berdua, aku yakin kau hanya akan berpura-pura hal itu tidak pernah
terjadi."
"Kau akan
merahasiakannya dari yang lain, dan kita akan terus seperti ini sebelumnya."
"Itu tidak akan berhasil. Aku harus mengakhirinya secara nyata, di depan semua orang. Aku harus memastikan semua orang tahu bahwa itu sudah berakhir."
"...Kau
konyol sekali, Yuuko."
Tangannya yang
gemetar terulur dan menyentuh pipiku.
"Aku sudah
merepotkanmu, Saku. Tapi kau adalah pahlawanku. Aku tahu hal seperti ini tidak
akan cukup untuk menghancurkanmu."
Air mata bagaikan
butiran kaca tumpah membasahi pipinya; matanya menyipit sedih, tampak seperti
surat yang tidak akan pernah terkirim.
Aku
menggenggam tangannya erat-erat.
Sambil
bersandar di bahuku, Yuuko perlahan berdiri.
Dia
memikul beban seberat itu dengan tubuhnya yang serapuh itu.
Yua dan
Yuuko duduk kembali di beranda.
Yuuko tampak malu
saat dia berbicara. "Jadi, begitulah ceritaku."
Yua mengangguk
pelan. "Ya." Masih di samping Yuuko, dia menatapku. "Dan
sekarang giliran Saku."
Dia menatap
mataku.
Aku tidak
terkejut dengan apa yang dia katakan.
Yuuko telah
menelanjangi isi hatinya.
Aku di sini bukan
hanya untuk menonton dan mendengarkan.
Lalu, apa?
Saat aku terdiam,
Yua berbicara mewakiliku.
"Mau aku
beri pancingan?"
Wajahnya sama
sekali tidak berubah saat dia berkata...
"—Saku,
kenapa kau memilih kata-kata itu saat kau menolak Yuuko?"
Aku tidak pernah
membayangkan dia akan menyinggung hal itu juga.
"...Yua..."
Di sampingnya,
Yuuko memiringkan kepala.
"Apa
maksudmu, Ucchi?"
Sambil melirikku,
Yua menjawab.
"Dia
bilang, 'Ada gadis lain di dalam hatiku'."
Yuuko menundukkan
kepala dan meringis, tak pelak teringat kembali momen itu.
"Kurasa itu sudah jelas... Saku menyukai orang
lain."
"Bukan."
Yua menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Kalau itu benar, kurasa dia
akan mengatakannya dengan jelas, 'Ada gadis lain yang aku sukai'. Mengingat
Saku menyampaikannya seperti itu di saat seperti itu... Ini terasa samar, tidak
seperti dirinya biasanya."
Mata Yuuko
membelalak. "Ya, tapi kalau begitu..."
"Benar, jadi sekarang..." Yua menatapku lagi.
"Aku bertanya pada Saku."
Aku berdiri di depan mereka, menundukkan kepala, dan
mengepalkan tinjuku erat-erat.
"...Maaf.
Aku tidak bisa membicarakan itu."
Itu adalah
rahasia yang kurencanakan untuk kusimpan seumur hidupku.
Karena itu
terlalu menyedihkan.
Karena itu
terlalu egois.
Karena aku
terlalu sombong.
Karena itu tidak
indah.
Karena itu bukan
Saku Chitose.
Dan... karena aku
tidak bisa melakukan itu pada Yuuko.
"Aku tidak
bisa memberitahu kalian."
Maafkan aku,
Yuuko.
Maafkan aku, Yua.
Maafkan aku,
semuanya.
—Saat itulah
sesuatu mulai berteriak padaku dari kedalaman ingatanku.
Kata-kata yang
diucapkan Kenta...
"Cobalah
untuk saling memahami sedikit saja!!!"
Kata-kata yang
diucapkan Nanase...
"—Jadi,
Chitose, jangan mati di tempat yang salah, oke?"
Kata-kata yang
diucapkan Haru...
"—Kita semua
penting sebagai teman, baik perempuan maupun laki-laki."
—Oh, aku
mengerti.
Aku merogoh saku
untuk mencari kunci rumah yang kusimpan.
Aku meraba
gantungan kunci kulit yang kubeli bersama Yuuko, gantungan kunci yang serasi.
Bagaikan potongan
puzzle yang menyatu, wajah semua orang muncul di benakku. Klik. Klik. Klik.
Teman-temanku
yang luar biasa sudah mengajarkanku sesuatu yang penting.
Kaito menjadi
sangat berapi-api demi gadis yang dia sukai.
Bahkan
Kazuki yang keren pun berjuang dengan sisi dirinya yang tidak begitu keren.
Bahkan
putri polos seperti Yuuko menghadapi kelemahannya sendiri dan menyentak kami
keluar dari jalan buntu yang sulit.
"Mari
kita bicara."
Aku
bertanya-tanya seberapa banyak yang Yua ketahui.
Setelah menatap
wajah mereka, aku memejamkan mata sejenak, dan...
"...Hari
itu, satu tahun yang lalu..."
Dengan gugup, aku
mulai berbicara.
"Yuuko, saat
kau menyatakan perasaanmu padaku di atap, hal pertama yang terlintas di
pikiranku adalah 'Lagi?' dan 'Tolong, kasihani aku sedikit'."
Yuuko tersentak.
"Aku minta
maaf. Sampai SMP, begitu banyak gadis yang kuanggap teman menyatakan perasaan
padaku, dan saat aku menolaknya, mereka bukan temanku lagi. Aku muak. Aku mulai
merasa terganggu dengan hal-hal seperti itu."
Dan di tahun
pertamaku, aku masih mencoba mengukur jarak dengan orang lain jauh lebih
hati-hati daripada sekarang. Aku bahkan tidak sepenuhnya terbuka pada
teman-temanku.
"Tapi di
saat yang sama, aku senang berkumpul dengan semuanya... Yuuko, Kazuki, Kaito,
dan kemudian Yua juga. Aku sungguh bersungguh-sungguh—kalian semua sangat
istimewa bagiku. Itu bukan cinta, tapi aku benar-benar ingin bersamamu, Yuuko,
selamanya."
Jika itu adalah
seseorang yang tidak kau pedulikan, kau bisa saja bilang maaf dan selesai.
Itulah sebabnya
aku begitu bingung saat itu.
"Jadi saat
kau bilang padaku bahwa kau tidak butuh jawaban, aku benar-benar berpegang pada
itu. Tentu saja, aku senang ada gadis cantik sepertimu yang menyukaiku, Yuuko.
Jadi kupikir jika aku mempertahankan status quo, kita semua bisa terus berteman
dengan cara yang sama, untuk sedikit lebih lama lagi."
Aku menggigit
bibirku, lalu melanjutkan.
"Jika aku
benar-benar memikirkan perasaanmu, Yuuko, maka aku seharusnya memberimu
penolakan yang jelas. Aku tahu hubungan ambigu ini tidak bisa berlangsung
selamanya, tapi semakin banyak waktu yang kita habiskan bersama, aku semakin
merasa nyaman dengannya. Aku mengulur-ulur waktu. Itulah sebabnya..."
Aku tertawa,
seolah-olah sedang mengejek diriku sendiri.
"Jika kau
menyebut dirimu licik, Yuuko, yah, kita berdua sama saja."
Selagi aku
berbicara, Yuuko melangkah maju.
"Sejujurnya,
aku tahu betapa bodoh dan payahnya kedengarannya." Aku mengangkat kepala
dan menatap wajah mereka lagi. "Tapi bisakah... biarkan aku mengatakan
satu hal?"
Yuuko dan Yua
mengangguk tanpa berkata apa-apa.
Merasa malu, aku
memaksa diriku untuk tidak gemetar.
"—Kau ada di
sana, Yuuko. Di dalam hatiku."
Aku tidak pernah
mengatakan itu pada siapapun sebelumnya.
"Hah...?"
Yuuko membuka
matanya lebar-lebar karena terkejut.
Aku perlahan
menggelengkan kepala dan melanjutkan.
"Saat kau
menyatakan perasaanmu di atap... Bagiku, kau adalah teman dekat, tidak lebih dan tidak kurang. Tapi sudah sekitar satu tahun sejak saat
itu, dan... yah, sebenarnya sejak aku mulai sekolah di sini. Kau selalu berada
di sisiku, Yuuko. Kupikir kau akan bosan pada akhirnya dan meninggalkanku. Tapi
tidak. Kau tidak mendekati itu sama sekali. Semakin lama waktu berlalu, semakin
kau percaya padaku, mengandalkanku, dan memperlakukanku seperti seorang
pahlawan. Yah, sejujurnya, aku mungkin merasa sedikit tertekan di saat yang
sama."
"Saku,
aku..."
Aku mengangkat
tangan, tersenyum kecut saat Yuuko hendak beranjak.
"Aku tidak
tahu apa yang kau sukai dariku. Saku yang kau lihat tampak jauh lebih baik
daripada kenyataannya. Kau pasti membayangkan banyak ilusi tentangku. Saat kau
menyatakan perasaan di kelas, perasaan itu menjadi lebih kuat. Aku tidak
menyangka itu dipicu oleh sesuatu yang bahkan aku lupa pernah mengatakannya.
Kupikir, 'Bukankah itu cuma cinta pandangan pertama?'... Tapi ternyata bukan
itu sama sekali. Kau selalu berada di dekatku, memperhatikanku, jadi kau punya
ekspektasi tinggi padaku. 'Saku bisa melakukan apa saja', katamu. Aku harus
menjadi orang sombong yang keras kepala agar tidak mengecewakanmu. Aku yakin
itulah yang kupikirkan. Begitulah... kau selalu menunjukkan perspektif yang
benar-benar baru padaku, Yuuko."
Sejak Yuuko dan
aku terpisah, aku menyadari perasaanku sendiri untuk pertama kalinya.
Aku harus
mengatakannya padanya, dari lubuk hati yang paling dalam.
"Awalnya aku
tidak menyadarinya, tapi kau telah menjadi seseorang yang sangat penting
bagiku, Yuuko."
Kemudian, sebelum
emosiku yang tumpah menyebabkan kesalahpahaman...
"Namun!"
Aku
mendengar ketegangan dalam suaraku sendiri.
Aku harus
menahan diri agar tidak melarikan diri.
Aku harus
menghentikan diriku dari kebiasaanku menjadikan semuanya sebagai lelucon.
Setelah
menggigit bagian dalam bibirku yang gemetar hingga berdarah...
"...Tapi ada
gadis lain di hatiku."
Aku mengucapkan
hal terburuk yang bisa kukatakan secara terburu-buru.
Pandanganku
kabur; lututku lemas.
Ha-ha. Aku payah
sekali.
Siapa yang sangka
berbicara dengan seorang gadis bisa semenakutkan ini?
"Hei, Saku,
itu..."
Yuuko tampak
sedang mencari kata-kata.
"Kuharap aku
tidak jadi orang bodoh dan salah paham, tapi..."
Tapi menurutku
kita tidak boleh melanjutkan alur pemikiran ini.
Dengan suara bug,
aku menghantamkan kepalanku ke pahaku sendiri.
Yuuko telah
membeberkan segalanya.
Dia menghadapiku
dengan hal-hal yang tidak ingin kulihat dan mengajariku hal-hal yang tidak
ingin kuketahui.
Jadi aku harus
melakukan hal yang sama.
"Aku sangat
menghargaimu sebagai seorang gadis, Yuuko. Tapi ada gadis lain yang aku hargai
sama tingginya. Dan ada lebih dari dua..."
Aku harus
menggali kejujuran maksimal dari hatiku yang tidak jujur ini.
"Masing-masing
telah memberiku hal-hal yang tidak akan pernah bisa tergantikan."
Seseorang
yang sudah seperti keluarga. Seseorang yang merupakan cerminanku.
Seseorang
yang menantangku. Seseorang yang aku kagumi.
"Kau
sudah begitu terbiasa dicintai, tapi kau tidak tahu cara mencintai, kan?"
Persis seperti
yang dikatakan Asuka.
Aku hanya
belajar cara menghindar.
Cinta
dari orang lain selalu datang dengan tanggal kedaluwarsa. Dan saat saat itu tiba, perasaan itu akan remuk
dan dibuang ke tempat sampah seperti surat sampah. Jika penerimanya tidak ada
di rumah, kau bisa dengan mudah mengirimnya ke alamat lain. Seperti mencentang
nama dalam daftar.
Saat aku menolak
mereka, mereka akan segera beralih ke orang berikutnya.
Tapi sekarang,
untuk pertama kalinya...
—Aku
sedang memikirkan tentang cinta.
Di antara
barisan kotak surat terkunci yang berwarna-warni, hanya satu surat yang bisa
dikirimkan.
Begitu
pengirimnya sudah diputuskan, surat itu tidak bisa ditarik kembali.
Tanpa kusadari,
air mata menetes dari sudut mataku.
Bibirku
bergetar.
Aku
mendengus pelan.
Itulah
sebabnya aku—aku...
"Aku
tidak tahu perasaan mana yang termasuk cinta romantis."
Memilih satu saja
terlalu menakutkan untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Keheningan yang
mencekam pun terjadi.
Aku telah
mengekspos diriku sendiri dan membeberkan hal-hal memalukan dalam hatiku, di
depan orang-orang yang begitu berarti bagiku.
Aku adalah pria
yang bimbang dan menyedihkan, yang tidak pernah ingin benar-benar dikenal oleh
siapapun.
Yuuko
perlahan berdiri dengan bingung.
"Jika itu benar... Jika kau jujur... Jika ini adalah
perasaanmu yang sebenarnya... Maka aku akan menunggu jawabanmu selamanya jika
memang itu yang diperlukan."
"Tapi
aku tidak bisa!"
Suaraku
meninggi karena frustrasi, dan Yuuko tersentak lagi.
Tapi aku
tidak bisa berhenti. Rasanya seperti bendungan yang jebol.
"Apa yang
sebenarnya kau ingin aku katakan? 'Aku menyukaimu, Yuuko, tapi ada gadis-gadis
lain yang membuatku tertarik, jadi tolong tunggu sampai aku memutuskan'? 'Aku sedang dalam proses memilih
sekarang, jadi tolong antre dan tunggu giliranmu'?"
Aku
mengertakkan gigi, mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang kumiliki.
"Aku
tidak pernah ingin menjadi pria yang memaksa orang lain menanggung beban
perasaan ini, bahkan jika itu terasa mengerikan."
Karena itu bukan
Saku Chitose yang membuat Yuuko jatuh cinta.
Itu bukan
pahlawannya.
"Tapi
setidaknya, kita bisa mengesampingkan ini sampai nanti, dan..."
Aku menggelengkan
kepala sedikit.
"Kurasa
itulah yang membuat kita sampai di posisi ini, bukan?"
"..."
Itu saja yang
harus kukatakan.
Saat ini, aku
tidak bisa memberi Yuuko jawaban.
Di sisi lain,
hubungan yang terdistorsi seperti ini hanya bisa bertahan lama.
Itulah sebabnya
momen senja ini adalah akhirnya.
Saat kami berdua
menatap ke tanah...
"—Tapi
bagiku itu terdengar baik-baik saja?"
Yua tiba-tiba
berdiri.
""Hah...?""
Yuuko dan aku
sama-sama bingung.
Yua menyisir
poninya dengan jari kelingking sebelum melanjutkan.
"Yuuko masih
mencintai Saku. Saku masih mencari apa arti cinta baginya. Apa yang
salah dengan itu?"
"Tapi... Itu tidak jujur..."
"—Saku."
Yua memotongku dengan cepat.
"Kenapa hanya kau yang boleh memilih?"
"Aku tidak..."
Apa?
"Sama seperti kau punya hak untuk memilih, Yuuko,
Yuzuki, Haru, dan tentu saja aku juga punya hak itu. Kami punya hak untuk
memilih cinta kami sendiri."
Dia melangkah lebih dekat.
"Kau bebas berpikir yang sama juga, Saku. Tapi kau
tidak punya hak untuk menghakimi ketulusan atau ketidakjujuran cinta kami
berdasarkan nilai-nilaimu sendiri."
Ada nada tajam
dalam bicaranya yang mengingatkanku pada saat kami pertama kali bertemu.
"Kita bisa
menunda jawabannya, atau tetap bersikap samar—tapi selama masih ada
kemungkinan, kurasa cinta seperti itu masih memiliki nilai."
Nadanya sedikit
melembut, tapi dia tidak kurang bersemangat.
"Kurasa
tidak ada yang salah dengan memintamu menunggu sampai kau memproses perasaanmu
dengan benar."
Aku merenungkan
kata-kata itu: hak untuk memilih cinta kami.
"Kau tahu
Saku, kau tidak perlu memikul tanggung jawab atas cinta orang lain. Begitu juga
Yuuko."
Yua melanjutkan
dengan nada menasihati.
"Ingat saat
aku bilang, 'Jika kau meminta maaf padaku dalam situasi ini... kurasa kau
sebaiknya berpikir baik-baik tentang apa artinya itu'?"
"...Tentu
saja."
Itu menancap
seperti duri di pikiranku, dan aku belum bisa mencabutnya.
"Lalu
bisakah aku bertanya padamu sekarang? Kenapa kau harus minta maaf padaku karena
pergi bersama Nishino?"
"Maksudku,
saat kau berhenti datang ke rumahku, aku malah pergi dengan orang lain..."
"Hmm,"
gumamnya. Ada banyak
hal yang terjadi di balik matanya. "Kau pikir aku akan merasa tidak enak
saat mendengarnya, kan?"
"Hah...?"
"Dengan
kata lain, secara tidak sadar kau berpikir aku mungkin akan cemburu?"
Aku menarik
napas. "Aku tidak..."
"Bukankah
itu agak sombong, Saku?" Yua seolah menegurku.
Tentu saja aku
tidak bermaksud seperti itu.
...Atau
setidaknya, aku tidak memikirkannya seperti itu.
Ini bukan soal
pergi dengan perempuan atau laki-laki. Tapi saat Yua berhenti datang untuk
mendukungku, aku langsung pergi dengan orang lain. Aku hanya bermaksud... aku
merasa bersalah karenanya.
Tapi
sekarang kalau dipikir-pikir, bagaimana jika itu Kazuki atau Kenta? Aku tidak
akan repot-repot minta maaf pada Yua.
Aku tidak
menyadarinya sebelumnya. Apakah
itu implikasi dari permintaan maafku?
Tidak, mungkin
aku sendiri secara tidak sadar mengatakannya dalam artian itu.
Betapa sombongnya
kata-kata itu. Pantas saja Yua kesal.
Sedikit melunak,
Yua mendesah. "Yah, tadi aku bercanda lalu jadi marah, jadi kurasa kita
bisa menyalahkan suasana percakapannya. Bagaimanapun juga," lanjutnya.
"Misalkan kau melakukan sesuatu yang membuat seorang gadis cemburu atau
sedih... Terus kenapa? Apakah ada alasan bagimu untuk harus bersikap terlalu
berhati-hati?"
Dengan
sungguh-sungguh, dia mendekati kesimpulannya.
"Aku sudah
mengatakannya sebelumnya, tapi jika kalian pacaran, kurasa ceritanya akan
berbeda. Kau tidak perlu merasa bertanggung jawab atas perasaan gadis yang
bahkan tidak kau kencani. Adalah tugas orang yang jatuh cinta untuk menanggung
beban itu."
"Yua..."
Dia memejamkan
mata sejenak, lalu...
"Tidak
peduli siapa pun orangnya, kau selalu punya kebebasan untuk tidak memilih cinta
itu."
Dia merendahkan
suaranya.
"...Jika
mereka tidak ingin terluka, mereka bisa pergi dan memilih cinta yang
lain."
Tiba-tiba
aku teringat hari terakhir kamp belajar musim panas.
Meskipun
aku sendiri belum jatuh cinta, aku merasa cemburu yang menyedihkan di tengah
acara barbeku itu.
Apakah
Nanase yang salah, karena menghabiskan waktu bersama Kazuki dan tidak
memikirkan perasaanku?
Apakah
itu salah Nanase karena dengan senang hati membicarakan Kazuki di depanku?
Haruskah Nanase bertanggung jawab atas kecemburuanku?
—Tentu saja tidak.
"Biar aku ubah kalimatnya," lanjut Yua. "Yuuko merasa sedih setelah kau
menolaknya. Di saat yang sama, aku datang ke tempatmu, Saku. Yuzuki juga
datang, begitu pula Haru. Apakah itu licik bagi kami?"
"Tidak!
Kalian semua hanya berusaha menghiburku."
Yua tidak
menanggapi itu dan mengubah topik pembicaraan. "Yuuko, kau tidak bertemu
dengan siapa pun sampai aku datang ke rumahmu, kan?"
Yuuko
menggelengkan kepala sambil menunduk. "...Kaito datang ke rumahku setiap
hari setelah itu untuk menghiburku."
Yua menatapku
lagi. "Hei, Saku. Apakah Yuuko bersikap licik? Dia dihibur oleh laki-laki
lain tepat setelah penolakan besar itu, kan?"
"Mana
mungkin, tidak sama sekali. Wajar saja mengandalkan teman saat kau
membutuhkannya."
Sebenarnya, aku
merasa sangat lega saat mendengar Kaito menjaga Yuuko.
"Sebagian
besar, akulah yang menolak perasaan Yuuko. Setelah itu, tidak peduli apa yang
Yuuko lakukan atau dengan siapa, aku tidak punya alasan untuk
menyalahkannya—Tunggu."
Tiba-tiba, aku
merasakan sensasi déjà vu tentang kata-kataku sendiri.
Yua memiringkan
kepalanya sedikit dan tersenyum lembut.
"Ya,
aku juga berpikir begitu. Dan
aku merasakan hal yang persis sama terhadapmu, Saku."
Tentu saja itu
terdengar familiar.
"Tapi kau
menolak Yuuko dengan cukup jelas di depan aku dan semua orang. Jadi tidak perlu
bagimu untuk merasa tidak enak tentang apa pun yang kau lakukan dengan siapa
pun ke depannya, kan?"
Yua sudah
mengatakan itu tepat di awal.
Kenapa? Aku
bertanya-tanya.
Kenapa aku merasa
itu salahku?
Aku bisa saja
menanggung rasa sakitku sendirian, terobsesi dengannya, menolak menghabiskan
waktu dengan gadis lain mana pun setelah menolak Yuuko. Aku bisa saja menolak
kebaikan dari Yua, dari semua orang, lalu mengutuk dan menyalahkan diriku
sendiri selamanya.
Apakah aku
menginginkan hal yang sama untuk Yuuko? Tidak.
Aku ingin
seseorang ada di sisinya. Aku ingin seseorang mendengarkannya dan menghiburnya,
jika memang dia bisa dihibur setelah semua itu. Lupakan aku, tolong saja... tolong buat dia merasa
lebih baik. Secepat mungkin.
...Ya, itulah
yang kuinginkan untuknya.
Apakah
satu-satunya perbedaan hanyalah yang satu menyatakan perasaan dan yang lain
menolaknya?
Tapi bahkan jika
perannya dibalik...
Kurasa... Tidak, aku tahu aku akan tetap menyalahkan diriku
sendiri dan tidak ingin Yuuko merasa sakit hati.
Seolah dia telah
menunggu saat yang tepat, Yua melanjutkan.
"Jadi kali
ini juga sama, kan? Kau memilih jawaban itu berdasarkan rasa bersalahmu
terhadap Yuuko, kan?"
"Singkatnya,
kurasa begitu..."
"Pada
akhirnya, menurutku kau mencoba mengambil tanggung jawab atas cinta orang lain.
Jika Yuuko juga ada di hatimu, kau seharusnya tidak ingin memberinya jawaban
yang pasti di sini dan saat ini, bukan begitu? Kau harus mempertimbangkannya sedikit lagi dan
benar-benar memproses perasaanmu. Dan jika begitu, bukankah tidak apa-apa untuk terus seperti ini?"
"Tapi..."
"Yuuko-lah
yang jatuh cinta, jadi dia yang berhak memutuskan sendiri apakah itu benar atau
tidak."
Yua melangkah
lebih dekat.
Lalu dia dengan
lembut meletakkan tangannya di dadaku.
"Kurasa kami
berdua, Yuuko dan aku... kami tidak ingin kau menjadi satu-satunya yang
memendam dan menanggung hal-hal sulit atau berkorban demi kami."
Mencengkeram
kaosku dengan erat...
"Saku, kau
sendiri yang bilang kita harus menjadi teman yang bisa mengisi potongan puzzle
satu sama lain yang hilang, seperti keluarga sungguhan, kan? Kau yang membuatku
menyadari betapa frustrasinya tidak bisa menyuarakan isi pikiranmu, dan betapa mengecewakannya
merasa orang lain tidak bisa mengandalkanmu. Benar, kan?"
Dia mendongak
dengan sedih.
"Jika kau
benar-benar peduli pada kami, biarkan kami memikul beban kami sendiri."
Dia
dengan lembut mengambil tanganku dan menahannya di depan dadanya.
"Kau
juga, Yuuko."
Dia
mengulurkan tangannya yang bebas kepada Yuuko, lalu meletakkannya di atas
tanganku.
Ketiga
tangan kami saling tumpang tindih—Yua di bawah, lalu aku, lalu Yuuko.
Yua perlahan
memejamkan matanya dan berbicara.
"Kau tidak
perlu mengakhiri cintamu demi orang lain. Jangan khawatirkan gadis-gadis di
sekitarmu. Jika kau mencintai seseorang, katakan saja. Itu bukan kelemahan; itu
adalah kekuatan."
"Tapi,
Ucchi..."
"Dibutuhkan
banyak keberanian untuk memberitahu seseorang bahwa kau mencintai mereka.
Terutama jika mereka adalah teman baik. Merahasiakannya itu lebih aman; kalian
bisa tetap berteman seperti biasa."
Aku bisa
merasakan tangan Yuuko berkedut di atas tanganku.
Yua perlahan
membuka matanya dan melanjutkan.
"—Tapi
kamilah yang memilih untuk tidak angkat bicara, dalam hal itu. Jadi tidak perlu
bagi Yuuko untuk memikul beban itu."
Dalam beberapa
hal, kedengarannya dia sedang berbicara pada dirinya sendiri.
"Sejak hari
itu, aku telah mengawasi kalian berdua. Saku rela mengorbankan dirinya demi
orang lain. Dan, Yuuko, kau hanya memikirkan orang-orang yang kau anggap lebih
penting daripada dirimu sendiri."
Tangan di bawah
tanganku terasa hangat.
"Tidak baik
bagi dua orang seperti itu untuk saling salah paham seperti ini, apalagi saat
keduanya sama-sama berusaha keras untuk bersikap perhatian."
"Yua..."
"Ucchi..."
"Kita tumbuh
di lingkungan yang berbeda, dan nilai-nilai serta kepribadian kita benar-benar
berbeda. Kita tahu itu, namun kita tetap berkumpul bersama. Kurasa setiap orang
harus bisa menemukan cinta dengan cara yang mereka inginkan, bahkan jika itu berarti
merepotkan orang lain atau bersikap licik demi keuntungan mereka sendiri."
Itu...
"Kau tahu
kau yang mengajarkanku hal itu, kan, Saku?"
Dia menunjukkan
ekspresi yang sedikit nakal.
"Jadi,"
lanjut Yua.
"Mungkin
akan ada saat-saat di masa depan di mana seseorang terluka, atau orang lain
menyakitimu. Tapi jika kau masih ingin bersama, maka menurutku adalah..."
Dia meletakkan
tangannya yang lain di atas dan dengan lembut menekan tangan kami di antara
kedua tangannya.
Seolah-olah dia
sedang menguji kekuatan di mana kami bersatu.
"—Mari kita
berpegangan tangan dan maju bersama-sama."
Dia, seperti
namanya, adalah langit yang lembut dan menyelimuti.
"Dan
kemudian, suatu hari nanti, kita semua akan memutuskan untuk menghadapi
perasaan cinta kita sendiri."
Ya... aku
mengerti sekarang, betapa dekatnya Yua mengawasi kami semua.
Pangkal hidungku
tiba-tiba terasa perih, dan aku mendapati diriku meremas tangan kami yang
berlapis-lapis.
Bolehkah aku
bersandar pada kebaikan dan kehangatan ini?
Apakah tidak
apa-apa jika aku pergi mencarinya?
Aku
bertanya-tanya apakah aku telah melewatkan sesuatu yang lain.
Apakah aku salah
selama ini?
Kemudian...
"—Tunggu
sebentar!!!"
Yuuko memekik,
seolah-olah akhir cerita ini tidak cukup memuaskan baginya.
Melepaskan tangan
kami yang berlapis, Yua melonjak kaget.
"Bagaimana
denganmu, Ucchi?! Bagaimana dengan perasaanmu sendiri?!"
"Hah...?"
—Menetes.
Setetes air mata mengalir di pipi Yua.
◆◇◆
Kenapa
aku menangis?
Aku, Yua
Uchida, menyentuh pipiku dengan lembut. Ujung jariku terasa dingin dan basah,
dan saat aku mengangkatnya ke hadapanku, cahaya matahari terbenam membuatnya
berkilau.
Aku tidak pernah
memakai cat kuku karena itu membuatku merasa terlalu mencolok.
Namun, kali ini
aku memilih warna ungu violet agar serasi dengan Yukata-ku.
Aku harus
berlatih memakainya selama beberapa hari karena aku sangat takut akan
mengacaukannya.
Ternyata hasilnya
sangat bagus. Syukurlah.
"Um, uh... Ha-ha."
Bibirku membentuk senyuman palsu.
Kau pernah memarahiku karena hal itu, bilang kalau itu sudah
menjadi kebiasaan.
Tapi kurasa,
senyum ini mungkin sedikit berguna di saat-saat seperti ini.
Lucu sekali;
padahal aku sudah memutuskan untuk tidak menangis sampai akhir.
Dua orang lainnya
menatapku dengan cemas.
...Oh, Saku.
Kenapa kau malah memakai baju biasa?
Bukan saat yang
tepat untuk memikirkan itu, tapi ya sudahlah.
Aku mengatur
pertemuan kami setengah jam lebih awal dari waktu yang kuberitahukan pada
Yuuko.
Aku melakukannya
berdasarkan insting.
Waktu di festival
kembang api tempo hari, dia tampak agak kecewa saat menyadari aku tidak memakai
Yukata.
Saat kami
berjanji untuk pergi ke festival bersama... dia terlihat sangat bahagia.
Jadi, ada
bagian dari diriku yang berharap...
"Ah..."
Padahal
aku masih belum mendengar jawaban mereka.
Padahal aku tahu
aku harus menghentikan semua ini. Air mataku terus saja mengalir.
"Ucchi!"
Yuuko
melompat dan memelukku erat-erat.
Aku merindukan
aroma ini, kehangatan ini. Sudah lama sekali rasanya.
"Tidak
apa-apa jika ingin pelan-pelan. Tapi aku ingin kau bicara, ya? Kali ini,
harus!"
Dia menepuk
punggungku dengan lembut, persis seperti yang kulakukan padanya beberapa menit
yang lalu.
"Kami belum
mendengar bagaimana perasaanmu, Ucchi."
Benar.
Yuuko menyadarinya.
Selama
ini aku selalu bersikap samar tentang hal-hal ini dan menghindarinya.
Aku
menjadikan dua orang lainnya sebagai fokus pembicaraan. Yuuko selalu menyadari hal itu.
"...Hari
itu... maksudku... di atap."
Aku perlahan
mulai bicara, didorong oleh kehangatan sahabatku.
"Aku juga
berbohong."
Aku bisa
merasakan keterkejutan Yuuko dari bahasa tubuhnya. Meski begitu, dia tidak berhenti mengusap
punggungku.
"Sehari
sebelum aku mulai memanggilmu dengan nama depanmu, hari saat kau mengajakku
makan malam—Saku menyelamatkanku."
"Dia
menghancurkan dinding kaca yang kugunakan untuk menjauhkan orang-orang selama
bertahun-tahun. Dia membebaskanku."
Pelukannya di
tubuhku semakin erat.
"Dia
mengembalikan warna pada kenangan tentang ibuku dan membantuku untuk kembali
menatap ke depan, bukannya menunduk."
"Saat itulah
aku mengambil keputusan—dia akan menjadi sosok yang sama pentingnya bagiku
seperti anggota keluargaku sendiri."
"Jika suatu
hari aku harus memilih... Sakulah yang akan kupikirkan pertama kali."
Aku merasakan
asinnya air mata di bibirku.
"Tapi di
atap sekolah, Yuuko, kau bertanya padaku apakah ada seseorang yang kusukai...
Aku tidak mengerti."
"Apa pun
yang tumbuh di hatiku saat itu masih sangat baru. Apakah itu cinta pertama,
atau rasa terima kasih kepada seorang teman?"
"Aku belum
pernah jatuh cinta. Aku
tidak punya teman dekat."
"Itulah
sebabnya aku... aku menjadikanmu dan Saku sebagai alasan."
Aku terisak, dan
napasku tercekat.
"Aku yakin
Saku akan menjadi pasangan yang hebat untuk orang sepertimu, Yuuko."
"Aku tidak
punya kelebihan apa-apa; aku tidak punya peluang. Bahkan jika aku memberitahu
perasaan jujurku, itu hanya akan menimbulkan masalah."
"Aku
meyakinkan diriku untuk tidak membuat keributan—untuk mundur dan memperhatikan
kalian berdua bersatu."
"Itulah
akhir paling bahagia yang bisa kuharapkan. Bagiku, sudah cukup untuk mundur dan
mendukungnya saat dia membutuhkanku."
"Aku
bahagia hanya dengan berada di sisinya..."
Sejujurnya, pada
saat itu, aku merasa sangat bahagia.
Aku menggenggam
tangan laki-laki yang seharusnya kubenci itu. Tangannya terasa kuat, baik, dan
hangat.
Aku merasa tangan
itu akan membawaku ke tempat-tempat yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Malam itu, aku
akhirnya menginap. Dia
bilang aku adalah yang pertama.
Padahal dia
sangat populer di kalangan perempuan. Padahal dia selalu bercanda ke sana
kemari.
—Aku menjadi
gadis pertama baginya.
Kurasa, sejak aku
mengganti kacamata menjadi lensa kontak, aku selalu sadar akan apa yang Saku
lihat ketika dia menatapku.
Mana yang kau
suka? Apa yang kau pikirkan? Apa yang akan kau katakan?
Kau. Saku.
Betapa konyolnya,
aku perlahan-lahan tertarik pada laki-laki yang dulu kubenci.
Rasanya aku telah
menjadi klise dalam manga shoujo, dan itu agak membuatku tertawa.
Lalu hari itu.
Aku masih ingat
bagaimana perasaanku saat Yuuko bilang padaku kalau dia menyukai Saku.
Rasanya seperti disiram seember air dingin.
Rasanya seolah seluruh minggu yang lalu adalah sebuah
kebohongan. Aku terbangun dari mimpiku.
Aku merasa seolah jiwaku terpisah dari tubuhku.
—Aku merasa malu.
Aku merasa terhina.
Aku sudah salah
sangka.
Memangnya aku
pikir aku ini siapa, merasa sangat bersemangat padahal aku hanyalah salah satu
teman sekelasnya?
Saku adalah orang
baik, jadi dia membagikan kebaikan itu kepada semua orang.
Sangat gila
bagiku untuk berpikir bahwa aku ini istimewa.
Tapi seharusnya
aku sudah tahu itu sejak awal. Yuuko selalu ada di sekitar Saku.
Aku bahkan tidak
punya tempat duduk di meja itu. Aku hanya kebetulan duduk di sana sesaat karena
keinginan sesaat.
Tapi itu tidak
bisa dihindari.
Sampai sekarang,
aku ingin menjauhkan perasaan itu.
Dan Yuuko...
sejak upacara penerimaan siswa baru, dia terus mencoba bicara padaku, padahal
yang bisa kulakukan hanyalah memberikan senyum palsu.
Dialah yang
menciptakan kesempatan bagiku untuk membuka diri pada Saku.
Dia menemukan
sisi asli Saku jauh lebih awal dariku. Dan dia menghabiskan jauh lebih banyak
waktu bersamanya.
Tidak ada ruang
bagiku untuk menyela.
Jadi demi
Yuuko... aku memutuskan untuk menerima takdirku hanya sebagai salah satu teman
Saku.
Dan demi
Saku... aku ingin menghindari masalah yang lebih besar lagi. Lebih baik begini.
Begini saja sudah cukup.
"Aku
melimpahkan kelemahanku pada kalian berdua..."
Bahu
Yuuko, tempat daguku bersandar, basah oleh air mata.
"Aku
juga licik dan mengerikan."
Aku menghela
napas, hendak bersandar kembali, ketika...
"Kau
salah!"
Tangan yang tadi
memelukku tiba-tiba mendorongku menjauh.
Aku terhuyung dan
hampir kehilangan keseimbangan.
Aku berhasil
tetap berdiri dan menatap Yuuko. Matanya berkilat sementara tinjunya gemetar.
"Kau sudah
membuat pilihan, Ucchi!"
Aku belum pernah
menjadi sasaran kemarahannya sebelumnya...
"Yuuko...?"
Come to think of it, kami tidak pernah bertengkar.
Kami selalu hanya tersenyum dan membicarakan hal-hal konyol
bersama, tidak pernah masuk terlalu dalam ke perasaan masing-masing.
"Di saat
itu, Ucchi, kau mengabaikanku dan mengejar Saku."
Yuuko praktis
berteriak.
"Kau
mencampakkanku demi dia! Seorang laki-laki yang jelas-jelas lebih berarti
bagimu daripada sahabatmu sendiri!"
"Kau memang
memilih siapa yang paling penting! Namun di sini kau malah bicara seolah-olah
kau telah menunjukkan pengendalian diri yang luar biasa!!!"
"Tidak..."
Aku
mencengkeram tangan yang memegang lenganku. Aku menyeka air mataku dan membuka mulut.
"Karena aku
harus mengejarnya saat itu."
Aku
menggigit bibirku yang gemetar sejenak.
"Kupikir
semuanya akan hancur! Semuanya akan runtuh!!!"
Aku ikut
berteriak.
"Saat ibuku
pergi, aku tidak bisa melakukan apa-apa."
"Sebelum aku
menyadarinya, semuanya sudah berakhir, dan keluargaku berkurang satu
orang."
"Jadi kali
ini, aku harus mengejarnya! Hanya aku yang bisa melihat kalian berdua dan tahu
kalau kalian menyembunyikan perasaan yang sebenarnya."
"Hanya aku
yang bisa memegang tangan kalian berdua dan memberitahu kalian untuk sadar.
Hanya aku!"
"Aku sangat
menderita memikirkannya. Sangat menyakitkan sampai aku tidak bisa melihatnya
sampai akhir."
"Semua orang
bersama Yuuko. Jadi aku... aku pergi bersama Saku."
"Jika kau
benar-benar sahabat dekat, kau seharusnya tahu sebanyak itu!!!"
Nadaku menjadi
kasar, saat aku akhirnya mengeluarkan semua perasaanku.
Yuuko menundukkan
matanya dengan sedih sesaat, lalu memelototiku lagi.
"Itu
bohong!!!"
"Apa? Apa
maksudmu?!"
"Kau tidak
terlihat seperti kesulitan saat memutuskan! Kau bahkan tidak melihatku."
"Kau
langsung lari mengejar Saku. Kau bahkan tidak menoleh."
"Kau
mengatakan semua ini setelah semuanya terjadi! Aku tahu itu karena kita adalah
sahabat dekat!!!"
"..."
Bukannya menelan
kata-kataku, aku segera membalasnya.
"Lalu,
bagaimana denganmu, Yuuko? Kau bahkan tidak pernah memberitahuku kalau kau akan
menyatakan perasaan pada Saku."
"Kau bilang
kau ingin mengakhirinya demi semua orang. Tapi kau menghindari beberapa hal,
bukan?"
"Apa yang
akan terjadi jika Saku bilang ya? Apa yang akan kau lakukan jika dia bilang dia
juga menyukaimu?"
"Bukankah
kau akan langsung berpacaran dengannya?!!!"
Aku sadar
bahwa aku sedang mengatakan sesuatu yang kejam, tapi bendungannya sudah
benar-benar jebol sekarang.
"Oh,
kalau begitu, bagaimana denganmu, Ucchi? Kau yang bilang 'Mungkin aku akan maju
lebih dulu'."
"Kalau aku
tidak muncul, mungkin kalian akan pergi kencan festival bersama. Bukankah itu
yang sebenarnya kau rasakan?"
"Bagaimana
jika aku tidak datang hari ini? Kau merasa senang berada di sisi Saku di saat
dia sedang terpuruk!!!"
"Kaulah yang
terus mengoceh tentang betapa buruknya dirimu, Yuuko!"
"Tapi saat
kau bersamaku, yang ingin kau bicarakan hanyalah Saku!"
"Kau tidak
mau diam tentang ke mana kau pergi bersamanya, apa yang kau lakukan, dan siapa
bilang apa!"
"Kau
memamerkannya di depanku dengan seringai lebar! Apa kau merasa bersalah tentang
apa yang terjadi hari itu?!"
"Argh,
ini menyebalkan! Ucchi, kau tidak pernah terbuka tentang apa pun! Aku sudah
bertanya berkali-kali!"
"Tapi
setiap saat, kau menghindar dan hanya tersenyum padaku."
"Kaulah
yang bahkan tidak mencoba membicarakannya denganku!!!"
"Itu
karena—!"
Saat aku lari
keluar dari kelas malam itu, aku memutuskan tidak akan menangis.
Aku tidak akan
membiarkan siapa pun melihatnya, tidak sampai semuanya terselesaikan.
"Kau kuat,
Yuuko..."
Wajah sahabatku
membayang di depan mataku.
"Kau selalu
begitu jujur..."
Aku merasa kakiku
seolah akan lemas.
"Tidak, kau
salah."
Tapi suara Yuuko
tiba-tiba melembut saat dia bicara.
"Maafkan
aku. Aku minta maaf, Ucchi."
Lalu dia
memelukku erat lagi, seolah dia sedang membantuku agar tetap tegak.
"Maaf karena
sengaja mengatakan hal yang kejam. Tapi aku harus mengatakannya... atau kau
akan memikul semua beban itu sendirian lagi."
"Jika aku
tidak mengatakan yang sebenarnya... kau hanya akan menahan diri lagi... Itulah
yang kupikirkan..."
Aku menyadari
Yuuko juga menangis.
Saat pipi kami
yang basah saling bersentuhan, air mata kami bercampur, lalu menetes ke leher
kami.
Yukata-ku mulai
lembap.
"Terima
kasih, Ucchi. Terima kasih karena telah mengikuti Saku."
"Terima
kasih karena telah datang menjengukku. Terima kasih karena telah memegang
tangan kami."
"Terima
kasih karena telah menemukanku dan menarik keluar perasaan yang mencoba
kusembunyikan."
"Ah...
Ngh."
Pangkal hidungku
terasa perih, dan aku tidak bisa merangkai kata-kata.
"Aku sudah
berusaha sebaik mungkin, kau tahu, Yuuko..."
"Mm-hmm, kau
sudah melakukannya."
"Saat aku
lari keluar dari kelas itu, kupikir semuanya akan hancur jika keadaan tetap
seperti ini."
"Kau, dan
Saku, dan aku—kita benar-benar akan menempuh jalan masing-masing..."
"Ya, aku
tahu persis apa maksudmu. Kau punya hati yang baik, Ucchi."
"Saat aku
pergi, aku menatap matamu saat kau menangis... Tapi aku berpura-pura tidak melihat."
"Ya.
Itu berat bagimu juga, Ucchi."
Sambil tetap memeluk Yuuko, aku melanjutkan.
"Kau tahu,
apa yang kau katakan tadi juga benar, Yuuko. Saat itu, aku memang memilih Saku
daripada dirimu tanpa ragu sedikit pun."
"Aku tahu,
Ucchi. Kau itu hebat, kuat, dan keren. Aku minta maaf karena membuatmu memendam
semuanya sendirian setelah hari itu. Itu tidak adil. Maafkan aku."
"Aku selalu
berpikir bahwa berada di sisinya sebagai teman biasa saja sudah cukup. Bahwa
hanya akulah yang bisa mendukung Saku di saat dia terpuruk. Begitu aku mulai
menyadari bahwa Saku mengandalkanku..."
"Mm-hmm."
"Ada
saat-saat di mana aku melupakanmu, Yuuko... Aku bertanya-tanya apakah tidak
apa-apa jika hal ini berlanjut selamanya... Itu pemikiran yang
mengerikan."
"Mm-hmm."
"Saat aku
mencoba membujukmu... Nishino, Yuzuki, dan Haru, mereka semua juga berusaha
menghibur Saku... Dan hal itu membuatku kesal."
"Yah, tentu
saja begitu."
"Aku
benar-benar takut selama ini! Apa yang harus kulakukan jika Yuuko membenciku
sekarang setelah aku meninggalkannya? Bagaimana jika kita tidak bisa berteman
lagi? Masih banyak tempat yang ingin kukunjungi bersamamu dan hal-hal yang
ingin kubicarakan."
"Mm-hmm, aku
juga, Ucchi."
"Tapi... tapi... Maafkan aku; aku benar-benar minta
maaf. Kau bukan nomor satuku, Yuuko."
"Nomor... nomor satuku... juga bukan dirimu,
Ucchi."
"Oh,
Yuuko... ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu."
"Aku juga
punya banyak hal yang ingin kukatakan padamu."
"Aku
berjanji pada diriku sendiri tidak akan menangis sampai sekarang. Aku akan
mendukung kalian berdua... dan menyatukan tangan kalian... karena aku
benar-benar ketakutan semuanya akan berakhir!"
"Terima
kasih, Ucchi, terima kasih."
"Tapi tidak
apa-apa untuk menangis sepuasnya sekarang, kan? Bolehkan aku menumpahkan
semuanya? Saku, Yuuko, kalian akan tetap bersamaku, kan?"
"Tidak
apa-apa. Kami akan di sini sampai semua air matamu mengering."
"Apa kau
masih mau menjadi sahabatku?"
"Tentu saja,
Ucchi, dasar bodoh!"
"Aku tidak
keberatan jika harus disakiti olehmu, Yuuko."
"Aku juga
tidak apa-apa disakiti, asalkan itu olehmu, Ucchi."
"Yuuko... Yuuko..."
"Ucchi, Ucchi, Ucchi..."
Kami berdua saling berpegangan tangan untuk waktu yang
sangat, sangat lama...
Kami
saling mendekap hingga seluruh air mata kering sepenuhnya.
◆◇◆
Setelah
Yuuko dan Yua berhenti menangis, kami bertiga duduk berdampingan lagi di
beranda.
Hatiku terasa
seperti akan meledak saat mendengarkan mereka berdua.
Aku merasa sangat
jahat. Payah. Dan memalukan.
Aku sudah
merasakan apa yang Yua rasakan, setidaknya secara samar.
Tidak mungkin dia
tidak peduli pada Yuuko. Dia pasti sangat ingin bersama sahabatnya itu.
Namun, akulah
yang dia kejar.
Kurasa aku perlu
mengeluarkan makna tersembunyi yang kusimpan rapat dalam kotak malam itu dan
menghadapinya.
Tapi itu sulit
dipercaya...
Aku tidak percaya
dia menjalaninya dengan tekad semacam itu sejak hari pertama.
Aku sudah
mengenal kedua gadis ini cukup lama, namun aku tidak mengerti satu hal pun
tentang kedalaman kekuatan, kebaikan, atau kelemahan mereka yang sebenarnya...
Dalam situasi
seperti ini, kupikir... tidak mungkin aku bisa memilih seseorang dan
menyebutnya sebagai cinta.
"Ah..."
Yuuko meregangkan tubuh, seolah dia merasa segar kembali. "Aku merasa jauh
lebih baik."
"Hee-hee,"
sahut Yua. "Aku tidak pernah menangis sebanyak ini sejak hari ibuku
pergi."
"Hei, jangan
katakan hal sedih tiba-tiba begitu."
"Tidak
apa-apa. Aku sudah tidak sedih lagi, berkat Saku."
"Begitu
ya."
"Sebenarnya,
kalau dipikir-pikir, aku juga menangis tersedu-sedu di depan dia sekitar waktu
yang sama tahun lalu."
"Aww, itu
tidak adil, Ucchi."
"Eh,
apa yang tidak adil?"
"Hee-hee,
hei, kau tahu tidak?" Yuuko menyeringai. "Aku selalu bermimpi bisa
bertengkar dengan sahabatku."
Yua tertawa dan
memutar matanya. "Apa? Aneh sekali."
"Ayo kita
sering bertengkar mulai sekarang!"
"Yah,
mungkin sedikit saja, sesekali."
Mereka
berdua saling berpandangan dan tertawa terbahak-bahak.
"Jadi
sekarang bagaimana?" gumam Yuuko beberapa saat kemudian. "Kita sudah
puas menangis, tapi kita belum benar-benar mencapai resolusi apa pun..."
Yua menggaruk
pipinya. "Yah, Yuuko, sebelum kau membelokkan pembicaraan, aku baru saja
mau menarik benang merahnya."
"Itu karena
kau terlalu keras kepala, Ucchi."
"Nah, Yuuko,
apa tidak ada hal lain yang ingin kau bicarakan?"
Yuuko merenungkan
kata-kata itu sejenak.
"Ya,
ya, ya! Ada!"
Dia
mengangkat tangan sambil berdiri. Aku menyadari hari sudah senja.
"Hee-hee. Saaaku..." Yuuko menarik tanganku dan
memberi isyarat agar aku berdiri. Dia menatapku, wajahnya masih sembap karena
air mata. "Tadi kau bilang kau tidak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta
padamu, kan? Kau bilang itu cuma cinta pandangan pertama."
"...Benar."
"Yah, kau salah besar!"
Dia menusuk dadaku dengan jari telunjuknya.
Lalu dia
perlahan membuka jemarinya dan meletakkan telapak tangannya tepat di atas
jantungku.
Deg-deg.
deg-deg.
Jantungku
berpacu lebih cepat, yang sejujurnya terasa agak menggelisahkan.
"Benar,
mungkin awalnya memang seperti itu. Kau adalah orang pertama yang bersikap
normal padaku setelah orang lain dalam hidupku selalu memberiku perlakuan
istimewa."
"Aku telah
menemukan laki-laki yang kusukai. Aku terlalu bersemangat. Aku terbawa suasana.
Ya, mungkin itu kekanak-kanakan."
"Tapi,"
lanjut Yuuko.
"Tidak ada
gadis yang cukup romantis untuk mempertahankan cinta pandangan pertama yang tak
terbalas selama satu setengah tahun penuh!"
"Hah...?"
Yuuko
menggembungkan pipinya, seolah mencoba terlihat marah.
"Aku tidak
percaya kau mengira perasaanku sedangkal itu, Saku! Wah, itu membuatku marah
sekali! Serius!"
Yuuko menundukkan
pandangannya. Bulu matanya yang panjang dan lentik membentuk bayangan samar di
bawah sinar matahari terbenam.
"Sejak hari
aku jatuh cinta... aku selalu memperhatikanmu, Saku. Kau punya sisi baik dan
buruk. Kau keren, dan kau juga payah. Aku suka banyak hal tentangmu, dan ada
beberapa hal yang tidak kusuka."
Dia
mengambil beberapa langkah mundur, menautkan tangan di belakang punggungnya.
"Hei,
kau tahu tidak?"
Dia
menoleh padaku dengan senyum yang sedikit manis. Rambut panjangnya tergerai
seperti sayap diembus angin malam.
"Setiap
kali kau akan beraksi sok keren, kau menyempitkan matamu sedikit seperti ini.
Aku suka kebiasaanmu itu. Sangat manis."
"Saat
kau berbohong, atau mencoba menipu seseorang, kau mengangkat sedikit sudut
kirimu, dan muncul lesung pipit kecil yang mungil. Jadi saat kau bilang kau tidak akan ikut Kenta
menemui teman lamanya... aku tahu. Kau ternyata sangat mudah dibaca. Aku suka
itu."
"Oh, dan
saat aku meneleponmu larut malam. Kau terdengar kesal, tapi sebenarnya, kau
selalu merasa sedikit kesepian. Aku suka mengobrol denganmu berjam-jam pada
malam-malam seperti itu."
"Yuuko..."
Yuuko
mendeskripsikan bagian-bagian dari diriku yang tidak pernah kuketahui
sebelumnya.
"Aku suka
bagaimana kau ingin menjalani hidupmu dengan cara yang keren, tapi aku tidak
suka betapa mudahnya kau mengabaikan rasa sakitmu sendiri."
"Aku suka
seringai kekanak-kanakanmu. Tapi aku tidak suka tatapan sinismu atau cara
bibirmu mencibir. Aku suka kau baik kepada semua orang, dan aku juga
membencinya."
"Aku sedikit
khawatir dengan caramu yang selalu memaksakan diri menjadi pahlawan. Tapi dalam
prosesnya, kau memang benar-benar menjadi pahlawan. Dan aku mencintaimu."
Matahari terbenam
yang seolah menyinari hatiku terasa menyilaukan, dan tanpa sadar aku
menyempitkan mataku.
"Meski ini
dimulai dengan cinta pandangan pertama, menghabiskan setiap hari bersama, di
sisimu, menemukan semakin banyak hal yang kusukai darimu, mengumpulkan kenangan
indah—rasanya seperti aku sedang merangkai buket bunga yang sangat besar sampai
tidak bisa kupegang dengan kedua tangan."
"Aku
tidak sedang hidup dalam ilusi tentangmu. Di mataku... kau selalu menjadi dirimu apa
adanya."
Setetes air mata
tiba-tiba meluncur turun di pipiku, mengejutkanku sendiri.
Ya ampun... Aku benar-benar kasus yang tidak tertolong.
Perasaannya
begitu tulus dan lugas. Aku sempat ragu karena prasangka konyolku sendiri.
Aku terlalu
terjebak di masa lalu sehingga tidak bisa melihat apa pun dengan jelas.
Kata-kata Yuuko,
perasaannya, dan waktu yang kami habiskan bersama perlahan-lahan seolah meresap
ke dalam hatiku.
Pipiku basah
kuyup, seolah dia telah memberiku begitu banyak hal sampai meluap keluar.
Aku tidak ingin
mereka melihatku seperti ini, jadi aku memalingkan muka.
Permukaan kolam
memantulkan langit merah cerah seperti cermin.
Benar. Hal itu
selalu berada dalam jangkauan, seperti ini. Kau memperhatikanku. Seharusnya aku
menyadarinya lebih cepat.
Aku bahkan pernah
memikirkannya sendiri. Pergi terlalu cepat hanya akan membuka jalan menuju
kekecewaan. Selalu begitu.
Tapi bukan itu
yang terjadi kali ini.
Aku mencoba
menertawakannya, tapi akhirnya aku membiarkan mereka melihatku yang payah dan
terluka. Aku membiarkan mereka melihat semua emosi memalukanku.
Tapi tidak ada
yang berubah, setidaknya di pihakmu.
Karena gadis
pertama yang kujadikan teman di SMA... telah menghabiskan waktunya, lebih lama
dari siapa pun yang pernah peduli.
Apakah dia
perlahan dan hati-hati memupuk perasaannya selama ini?
Yuuko
menatapku dengan matanya yang bening dan transparan, lalu dia menyeringai.
Sama seperti...
"Lihat, itu
yang kukatakan di sini. Aku mencintai laki-laki yang selalu berada di
sisiku—Saku Chitose."
Persis seperti
danau di kala senja yang memantulkan cahaya bulan.
"...Terima
kasih, Yuuko."
Apa pun hal lain
yang kukatakan akan terdengar hambar, jadi aku hanya menggumamkan kata-kata
itu. Yuuko mengangguk puas.
"Ya, ya, ya,
baiklah; sekarang giliran Ucchi!"
Dia menarik
tangan Yua, memaksanya untuk berdiri.
"Bukankah
ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?"
"Um,
ya..."
Yua menatap
bolak-balik antara kami, lalu perlahan membuka mulutnya dengan tekad tertentu.
"Hari itu,
hari saat kau menyelamatkanku, Saku... Mungkin agak berlebihan, tapi aku
berencana untuk selalu memikirkanmu terlebih dahulu seumur hidupku. Aku
mengharapkan kebahagiaanmu lebih dari kebahagiaanku sendiri. Tidak masalah jika
bukan aku yang membuatmu tersenyum. Berada di sisimu saja sudah cukup."
Dia menarik kerah
Yukata-nya.
"Tapi kurasa
aku salah. Karena apa yang kau ajarkan padaku, Saku... adalah bahwa aku adalah
Yua Uchida. Aku bersedia memikirkan kembali caraku menjalani hidup—mencoba
untuk tidak pernah merepotkan keluargaku seperti yang dilakukan ibuku—karena
dirimu."
"Aku tadinya
akan mengulangi siklus itu dan menyerah pada banyak hal. Jadi..."
Yua mengulurkan
tangannya. "Yuuko, Saku."
Kami bertiga
saling memandang. Lalu Yuuko dan aku menyambut tangannya. Yua memiringkan
kepalanya dengan jenaka.
"—Mulai
sekarang, bolehkah aku menjadi sedikit lebih egois?"
Dia menyeringai,
meskipun seringainya terasa sedikit malu-malu.
"Kau baru
saja menceramahiku tentang hal itu, bukan?" jawabku. Aku masih mencoba
bersikap keren, meskipun wajahku sudah sembap karena menangis.
"Tentu saja
boleh!" teriak Yuuko. "Baiklah, sekarang giliranmu, Saku!" Dia mengambil tanganku
dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Kalau kita
terus bicara seperti ini, aku akan terlihat semakin payah."
"Eh, anggap
saja ini seperti pidato olahraga."
"Tolong
sadari kalau itu malah jadi lebih memalukan saat kau membuat analogi seperti
itu."
Yuuko sudah pulih
sepenuhnya sekarang, dia menyeringai dan melepaskan tanganku sejenak.
Tapi ikatan di
antara kami bertiga sepertinya tetap utuh, terpantul di permukaan air.
Aku tahu apa yang
ingin kukatakan.
Dan ya, aku malu
mengatakannya keras-keras, tapi mereka telah menunjukkan bahwa itu tidak
apa-apa.
Yua, yang
berdiri di tengah, meremas tanganku erat-erat dua kali. Seolah dia
memberitahuku bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Jadi
aku...
"Pada
akhirnya, kurasa aku tidak bisa mengabaikan fakta bahwa aku menolak pengakuan
Yuuko."
Aku
berbicara dengan jelas.
""Hah?""
Yua dan Yuuko
menjawab bersamaan. Aku bisa merasakan mereka berdua menoleh ke arahku.
Aku melanjutkan,
menatap lurus ke langit senja.
"Jangan
salah paham. Apa yang kau katakan benar-benar meresap dalam diriku, Yua. Itu
menyengat. Bukannya aku mencoba bersikap keren atau keras kepala atau
semacamnya."
Aku menyeka air
mata dengan lengan kaosku.
"Ini bukan
untuk orang lain melainkan untukku sendiri. Ini agar aku bisa menghadapi cinta
dengan kejujuran yang pantas... Agar aku bisa menghadapi dirimu dengan benar,
Yuuko, dan juga dirimu, Yua. Serta... semua orang juga."
Suaraku semakin
pelan saat aku berbicara.
"Aku tidak
ingin berpura-pura seolah itu tidak terjadi—bahwa Yuuko tidak pernah
memberitahuku perasaannya, dan aku tidak pernah menolaknya, dan kita tidak
pernah membicarakan ini hari ini. Aku ingin mengingat musim panas ini apa
adanya."
Aku menarik napas
dalam-dalam dan berbicara dengan jelas lagi.
"Jadi aku
minta maaf. Aku tidak bisa berpacaran denganmu sekarang, Yuuko."
"...Benar,
oke."
Suara Yuuko
bergetar, meski hanya sedikit.
"Namun..."
Aku melanjutkan
dengan pelan.
"Aku tidak
bisa menjanjikan apa pun. Jawabannya mungkin tidak akan berubah meski aku
membuatmu menunggu. Dan
mungkin akan datang hari di mana aku berpacaran dengan gadis lain."
"..."
"Tapi
meskipun begitu, suatu hari nanti..."
Yuuko memberiku dorongan. Yua memberiku ceramah. Mereka berdua menarikku keluar. Jadi mulai
sekarang, kali ini—
—sebagai Saku
Chitose—sebagai seorang pria, bukan sebagai pahlawan—
"Bagaimana
jika, suatu hari nanti di masa depan, perasaanku pada Yuuko bisa disebut
sebagai cinta? Bolehkah aku mengatakannya padamu saat itu?"
—Aku tidak akan
memalingkan mata dari perasaan orang lain maupun perasaanku sendiri. Aku akan
menghadapinya secara langsung.
—Aku akan
memegang ujung benang biru yang belum diwarnai merah.
Yuuko terdiam
sejenak untuk berpikir, lalu...
"Baiklah!"
Ucapnya.
"Tapi kalau
kau membuatku menunggu terlalu lama, aku mungkin akan menyatakan perasaan
padamu sekali lagi. Karena perasaanku padamu adalah milikku, kan?"
"Benar!"
Permukaan kolam
bergelombang, seperti hati kami. Tidak pasti, rapuh, transparan. Diterangi oleh
bulan dan matahari, dan mudah tertiup angin.
Senja telah
hilang, tapi danau ini akhirnya akan memantulkan matahari pagi lagi.
Saat kami
mendongak, itu selalu ada di sana... seperti langit lembut yang merengkuh kami.
◆◇◆
Setelah kami
bertiga meninggalkan Yokokan, Yua berbicara.
"Mumpung
kita di sini, kenapa kita tidak pergi ke festival saja?"
"Ya, aku mau
pergi!" kicau Yuuko segera.
Aku
tersenyum dan memperhatikan mereka berdua berjalan bergandengan tangan di
depanku.
"Oh ya, Saku..." Yua menoleh padaku. "Aku tidak terlalu memikirkan apa
yang kau katakan tadi!"
Tapi nadanya lembut.
"Tadi...?" kataku.
Bukannya aku
tidak tahu apa yang dia maksud. Tapi karena kami membicarakan banyak hal, aku
tidak yakin bagian mana yang dia maksud.
"...Saat aku
bertanya tentang kesanmu terhadap Yukata-ku."
Di sampingnya,
Yuuko memiringkan kepala karena penasaran. "Apa yang dia katakan?"
"'Sudah
kuduga darimu, Yua. Kau sangat cocok memakainya.'"
"Dia bilang
apa?" Teriakan Yuuko keras dan bernada menuduh.
Yuuko melepaskan
tangan Yua dan mendekatiku.
"Apa-apaan?
Cuma itu yang bisa kau katakan tentang Yukata seorang gadis? Itu terlalu
kering dan teknis! Padahal Ucchi sudah berusaha keras berdandan! Tidak bisa
dipercaya!" Dia menusukkan jari ke dadaku.
"Maksudku,
aku tidak ingin terdengar terlalu genit setelah aku menolak pengakuan cintamu,
Yuuko; itu saja."
"Itu masalah
yang sama sekali berbeda! Ini acara spesial! Kau harus memuji gadis itu dan
bilang kalau dia terlihat luar biasa!!!"
"Tapi kita
baru saja membicarakan ini; seorang pria yang belum membuat keputusan tidak
boleh mengatakan hal-hal seperti itu kepada gadis-gadis..."
"Apa? Aku
tidak mengerti. Kau sangat menyebalkan, Saku."
Yua memperhatikan
hal ini. "Dengar, Yuuko," katanya. "Kurasa Saku benar-benar
percaya akan hal itu. Jika dia memberikan pujian dengan santai kepada seorang
gadis, gadis itu mungkin akan salah paham dan jatuh cinta padanya."
"Tunggu
dulu, Yua!" aku memekik keberatan.
Saat dia
mengatakannya seperti itu, terdengar ada benarnya. Tapi aku tidak boleh
memberikan pujian sembarangan kepada seorang gadis jika aku tidak bisa
memastikan kalau aku menyukainya. Aku benar-benar merasa itu adalah hal yang
salah untuk dilakukan.
Yuuko
menatapku, tidak terkesan. "Iuh."
"Ayolah,
kalian tidak perlu sekejam itu!"
Mereka
berdua saling berpandangan dan terkikik. Lalu Yuuko memutar matanya. "Kau
pikir seorang gadis bakal salah paham cuma karena pujian sederhana? Kau meremehkan kami."
"Kau sangat
kolot, Saku," kata Yua. "Dan berlebihan."
"Kau terus
melakukan hal seperti itu, dan kau tidak akan pernah tahu gadis mana yang
benar-benar kau sukai. Tolong, berbaikanlah dengan semua orang supaya kau bisa
lanjut membuat keputusan."
"Biasanya,
sifat santai Saku adalah salah satu kelebihannya."
"Hei!"
Aku benar-benar
dipojokkan di sini. Tapi mungkin mereka benar.
Aku menggaruk
pipi dan bergumam, "Yua, um, Yukata itu terlihat sangat cocok
untukmu. Maksudku, saking bagusnya
sampai-aku-ingin-perangko-edisi-terbatas-dirimu."
Yua tampak
terkejut sesaat, lalu berkata, "Er, itu pujian yang aneh, tapi
kuterima." Dia tersenyum.
Kami bertiga
terus berjalan. Tak lama kemudian, kami memasuki hiruk-pikuk festival.
Hari sudah
beranjak malam, dengan matahari yang sudah terbenam sepenuhnya sekarang. Aku
bisa melihat gerbang Torii dari kuil yang diterangi oleh lampu-lampu
kedai.
""Hah...?""
Yuuko dan aku
bicara bersamaan. Berdiri diam di sana, memperhatikan kami, adalah...
"Kalian..."
"Teman-teman..."
Nanase, Haru,
Kazuki, Kenta, dan entah kenapa, Asuka. Serta... Kaito.
Aku melihat mata Yuuko berbinar karena rasa akrab dan kasih
sayang, dan dia berlari maju dengan kecepatan penuh.
"Yuzuki, Haru!"
Dia memeluk kedua gadis itu, yang berdiri berdampingan.
"Maafkan
aku, maafkan aku, maafkan aku!"
Dia mengatakannya
berulang kali.
Nanase dengan
lembut mengelus kepala Yuuko, dan Haru menepuk punggungnya dengan canggung.
"Yua, apa
kau...?"
Yua menjulurkan
lidahnya dengan jenaka. "Ya, aku memanggil semua orang ke sini."
"Bahkan
Asu—er, Nishino?"
"Kupikir
akan menyenangkan jika dia ikut malam ini. Sebenarnya, aku menebak kalau dia
ada di sini, kau akan menggoyangkan ekormu dan merasa senang. Aku meminta
bantuan kakak kelas di klub musik untuk mendapatkan kontak dia."
"Kau tidak
perlu mengatakannya seperti itu."
"Itu karena
aku masih sedikit kesal!"
Kalau
dipikir-pikir, saat kami berkeliling kedai makanan tadi, Yua menghindari
makanan berat atau yang dimaksudkan untuk berbagi.
Dia tahu ini akan
terjadi... Tidak, dia percaya ini akan terjadi.
Saat kami
mendekati rombongan itu, Yuuko menoleh pada kami dengan mata bersinar.
"Ucchi! Kau dan Saku tadi sama sekali tidak berniat pergi kencan berdua
saja ya!"
Yua tersenyum
sedikit. "Entahlah; mungkin tidak."
"Apa yang
akan kau lakukan kalau aku tidak datang?"
"Yah kalau
begitu, kau akan ditinggal sendirian."
"Hei, itu
jahat! Tapi kau jadi tidak bisa kencan, Ucchi..."
"Sayangnya, kencan itu sudah berakhir."
"Apa maksudmu?"
Yua mengeluarkan topeng dari lengan Yukata-nya dan
memasangnya di samping kepalanya. "Maksudku ini!"
Dia membuat gerakan memanggil dengan tangan seperti cakar
kucing.
"Manis
sekali!"
"Hee-hee,
Saku yang membelikannya untukku."
"Aw, tidak
adil! Saku, belikan aku satu juga!"
Ledakan tawa pun
pecah.
Haru
mengangkat tangannya ke arah kami. "Hubby, cepatlah, ayo kita makan sesuatu. Aku lelah menunggu, dan aku
lapar sekali."
"Maaf,
salahku. Aku akan mentraktirmu Marumaru Yaki kalau begitu."
Asuka angkat
bicara, wajahnya memerah dan menunduk. "Um, maaf sudah mengganggu..."
"Ah tidak,
terima kasih sudah datang, justru."
Itu adalah
pertukaran yang sangat canggung. Lalu aku bertatapan mata dengan Nanase. Aku
menggaruk kepala dan berdehem.
"Waktu itu,
saat kau bertanya apa pendapatku tentangmu yang memakai apron... aku minta maaf
karena sudah ketus. Kau terlihat sangat cocok memakainya."
Sesaat, Nanase
mengangkat alisnya karena terkejut, lalu...
"Benarkah?!
Jujur saja, aku tadi murung, tapi aku tidak mau bereaksi di depanmu, dan
akhirnya aku jadi khawatir memikirkannya..."
Wajahnya
berkerut, dan aku sempat berpikir dia akan menangis. Aku tersenyum tipis.
"Tapi
kau lebih terlihat seperti model poster daripada ibu rumah tangga."
Nanase memutar
matanya padaku.
"...Apa? Kau
bodoh sekali!"
Dia menjulurkan
lidahnya dan menggoyangkan bahunya.
Lalu...
"Saku..."
Kaito tertunduk
lesu.
“Kaito.”
“Hei... Waktu
itu, aku... aku lepas kendali. Maaf.”
“Heh.”
Aku tersenyum
tipis dan mengulurkan tangan kananku.
Kaito mendengus,
lalu menjabatnya dengan erat.
“Baiklah. Kalau
begitu kita impas.”
Dia tersenyum
hingga memperlihatkan giginya.
“Benar.”
Aku menarik Kaito
mendekat, seolah ingin memeluknya, lalu...
“Graaagh!”
Begitu saja, aku
menghantam perut sampingnya.
“Guh!!! Gack!
Kenapaaa?”
Aku menyeringai
menatapnya yang berdiri membungkuk menahan sakit.
“Sekarang baru
impas.”
“Hei, sobat, itu
jahat sekali!”
“Aku cuma
memukulmu dengan tangan kiri. Bukan salahku kalau aku ini sangat kuat.”
Lalu kami
berjabat tangan dengan sungguh-sungguh.
Kazuki memutar
bola matanya, tapi dia juga ikut tersenyum.
“Sial, kalau cuma
itu yang kalian butuhkan, seharusnya kalian lakukan saja sejak awal.”
“Maaf. Sepertinya
aku membuat kalian sangat khawatir.”
Kenta, yang
berada di sampingku, membuka suara dengan ragu.
“King...”
“Ya. Jangan
khawatir. Kami sudah mencoba untuk saling memahami.”
—Dan begitulah,
sebagai satu kelompok, kami berkelana di festival malam akhir Agustus itu.
Kami membeli
kembang gula, apel karamel, mi goreng, crepes, kue bola, dan botol Ramune.
Kami membeli
cukup banyak untuk dibagikan ke seluruh anggota grup.
Rasanya
hampir seperti kami sedang berada di tengah-tengah liburan musim panas yang
sangat normal.
Namun,
dari cara kami bertukar pandang, jarak saat kami berjalan berdampingan,
kehangatan suara kami, dan percakapan yang sedikit canggung... jelas bahwa
hubungan kami semua telah melangkah satu tahap lebih maju.
Meski
begitu, tidak ada kesedihan yang terlihat di wajah-wajah kami yang diterangi
cahaya lampu, dan tidak ada keraguan dalam suara langkah kaki kami di atas
jalan setapak berbatu.
Akhirnya,
festival pun mencapai penghujung acara.
Kios-kios
yang sibuk kini mulai mengemasi balon air, bola plastik, ikan mas, dan Yukata
mereka.
Kehidupan
sehari-hari bergegas kembali untuk membereskan sisa-sisa acara istimewa itu,
keping demi keping.
Ini adalah ritual terakhir dari festival musim panas.
Kami pindah ke taman terdekat, membawa kembang api lidi yang
entah didapat Kaito dari mana.
Di bawah bayang-bayang yang jarang dan terpencar, kami
menyalakan kembang api kami, mengisi ember dengan air, dan menciptakan pola
kaleidoskop di kegelapan malam.
Yuuko menggambar
kata "cinta" di udara ke arahku. Nanase dan Haru berlarian sambil menggenggam
segenggam penuh kembang api lidi. Yua dan Asuka berjongkok dengan sopan sambil
memperhatikan percikan api yang terbang.
Pada satu
titik, aku berhenti sejenak dan mendongak untuk melihat bulan putih yang tampak
seperti tetesan air mata besar di langit malam.
Krik, krik. "Sampai jumpa musim panas
depan," seru para jangkrik.
Ri ri ri. "Sampai jumpa lagi," musim
gugur melambai.
Tak lama
kemudian, satu paket besar kembang api itu habis tak bersisa.
Semua orang
membentuk lingkaran, dan kami membuka botol Ramune kami dengan bunyi
letupan keras.
Kelereng yang
tenggelam di dalamnya berguling, memantulkan cahaya hiasan festival.
Benar... Persis seperti ini.
Seseorang
berada di hati orang lain. Dan orang lain lagi sedang memperhatikan.
Terombang-ambing
di tengah gelembung yang bergolak.
Profil
orang yang kita pedulikan, terperangkap di dalam binar mata kita.
Akhirnya,
kami masing-masing mengambil satu kembang api lidi terakhir dan menyalakannya
seperti api perpisahan.
Musim
panas kami akan segera berakhir.
“Sampai
jumpa tahun depan...”
Seseorang
bergumam pelan.
—Satu per
satu ujung kembang api itu jatuh ke tanah, bagaikan serangkaian anggukan dalam
keheningan.



Post a Comment