Prolog
Kenormalanku
Aku selalu
menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja. Aku tidak benar-benar unggul dalam
banyak hal, tapi aku juga tidak tertinggal dalam aspek apa pun.
Aku tidak punya
teman yang benar-benar istimewa, tapi aku bisa bergaul baik dengan semua orang.
Bahkan beberapa anak di kelasku terkadang mengandalkanku untuk beberapa hal.
Aku tidak terlalu disukai, tapi juga tidak dibenci.
Aku melewati
hari-hari dengan tenang dan sederhana, menghindari keterikatan yang mendebarkan
maupun kesedihan yang muncul saat semua itu berakhir tiba-tiba. Menjadi
rata-rata itu tidak apa-apa, begitulah aku selalu meyakinkan diriku.
Seolah-olah aku
bertekad untuk membuktikan bahwa menjadi rata-rata akan membawa kebahagiaan.
Maka seiring berjalannya waktu, aku membangun dinding transparan di
sekelilingku.
Aku tidak akan
menjalin ikatan yang mendalam dengan siapa pun, dan aku juga tidak akan
membiarkan siapa pun terhubung terlalu dalam denganku. Ya. Aku berpura-pura
bahwa itulah yang kuinginkan.
Aku menyelimuti
sosok gadis kecil yang menangis di dalam diriku dengan senyuman ramah. Namun
hari itu, di dalam ruang kelas itu...
Aku bertemu
denganmu. Aku bahkan belum pernah berbicara denganmu sebelumnya, tapi kau
melangkah masuk begitu saja ke bagian paling menyakitkan dalam diriku dengan
sepatu beratmu, lalu menggeledah laci-laciku yang terkunci tanpa meminta izin.
Bahkan saat aku
mengenangnya sekarang, kesan pertamaku tentangmu adalah aku membencimu. Namun
malam itu, dalam sebuah momen yang hening...
Kau menemukanku.
Kau mengambil kata itu, "normal", yang sebenarnya tidak pernah ingin
aku akui. Kau mengambil cara hidupku yang menyesakkan yang telah kupeluk selama
bertahun-tahun. Kau mengambil kenangan-kenangan yang sebenarnya sangat ingin kusimpan
baik-baik...
...dan kau
menerangi semuanya di sana, dalam kegelapan. Kalau dipikir-pikir lagi, emosi
yang diam-diam terikat di jari kelingkingku adalah...
Yah, bagaimanapun
juga, itulah alasan aku memanjatkan permohonan pada rembulan yang tidak bisa
kulihat. Tidak apa-apa jika aku bukan orang yang istimewa bagimu. Aku tidak
harus menjadi pacarmu, atau bahkan teman baikmu.
Tapi jika kau
membutuhkan seseorang... aku ingin namakulah yang pertama kali kau panggil.
Aku hanya ingin berada di sisimu, dengan cara yang biasa saja. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup.



Post a Comment