Misalnya, Nama yang Pertama Kali Dipanggil
(Bonus Khusus Bundel Komik Volume 1 / Yua)
Malam itu,
setelah Pak Kura memintaku menangani masalah Yamazaki-kun, aku segera menelepon
Yua.
"Halo?"
"Hah, hah...
kamu lagi pakai piyama apa sekarang?"
Klik. Sambungan langsung diputus tanpa
ampun.
Aku
mengetuk kembali nama Yua yang tertera di layar ponselku.
"Nomor
yang Anda tuju sedang—"
"Maaf, maaf!
Itu cuma salam pembuka yang keren ala Saku-kun!"
"Chitose
Saku dari kelas lima menelepon seorang gadis selarut ini..."
"Jangan
langsung ditulis di situs rahasia sekolah dong!"
Setelah
menyelesaikan candaan rutin kami, terdengar suara tawa elegan yang halus dari
balik ponsel.
"Iya,
selamat malam. Jarang sekali kamu menelepon jam segini, ada apa?"
"Maaf ya,
aku ingin konsultasi sedikit."
Aku pun
menjelaskan situasi Yamazaki-kun yang kudengar dari Pak Kura kepadanya.
"Begitulah
ceritanya. Jadi, aku berniat menemuinya besok. Kalau boleh, apa kamu mau
menemaniku?"
"Apa... aku
tidak apa-apa?"
Suara Yua terdengar agak ragu.
"Aku merasa
tidak akan terlalu membantu. Bukankah lebih cocok jika mengajak Yuko-chan atau
yang lainnya?"
Yah, jika bicara
soal tidak merasa gentar saat menghadapi orang yang baru pertama kali ditemui,
itu memang benar.
"Misalnya
begini, Yua," kataku.
"Menurutmu,
bagaimana sesi wali kelas hari ini?"
"Bagaimana... apanya?"
"Tentang Chitose Saku."
"Oh, begitu maksudmu. Menurutku sih sudah seperti
biasanya kamu banget."
"Tapi yah, kurasa ada juga orang yang merasa antipati
secara normal."
"Ada yang menganggap suasananya garing, lelucon
internalmu tidak lucu, atau kamu sengaja pamer sejak awal."
"Lalu, intinya keberadaan si berengsek tukang main
perempuan itu benar-benar merusak pemandangan."
"Oi, bukannya yang terakhir itu keterlaluan?"
Aku spontan memprotes, lalu kami berdua tertawa bersama.
"Tapi ya, karena kamu bisa bicara jujur seperti itulah
aku ingin memintamu."
Yuko pasti hanya akan berpikir, "Wah, semuanya tadi
seru ya!"
Karena dia
memperlakukan siapa pun tanpa mengubah sikap, dia jarang mencurigai perasaan
negatif di balik sikap orang lain.
Tentu saja itu
adalah sisi baik Yuko. Namun, seandainya Yamazaki-kun tiba-tiba memanggilku
"berengsek tukang main perempuan", Yuko pasti akan langsung mengajak
duel saat itu juga.
Dalam hal ini,
Yua pasti akan mempertimbangkan bagaimana Chitose Saku dipandang oleh orang
lain.
Dia akan
merespons sambil tetap memikirkan perasaan lawan bicaranya.
Seolah bisa
membaca pikiranku, Yua mulai berbicara.
"Fufu,
Yuko-chan itu tipe yang bergerak berdasarkan intuisi."
"Pikiran
atau ketulusan di balik sikapmu itu sudah dia tangkap secara tidak sadar."
Kata-katanya
terasa sedikit menggelitik, jadi aku melanjutkan pembicaraan untuk mengalihkan
rasa malu.
"Karena
itulah, aku senang kalau kamu mau membantu."
"Iya,
serahkan saja padaku."
Suara lembut yang
menenangkan terdengar membalas.
Tadinya aku
berpikir akan meminta bantuan Nanase jika ditolak, tapi jika Yua mau ikut, itu
adalah pilihan terbaik.
"Bagi
Yamazaki-kun, ini mungkin hanya campur tangan yang tidak perlu."
Sebagai reaksi
dari rasa lega, aku bergumam tanpa sengaja.
"Iya, aku
yakin dia akan merasa sangat terganggu."
"Kalau kamu
mengatakannya sejelas itu, aku jadi merasa cemas, lho."
"Untuk saat
ini saja, kan?"
"...Begitu
ya."
"Tidak
apa-apa, Saku-kun kan keren."
"Aku tidak
bisa memastikan sebelum bertemu langsung, tapi kurasa memperlakukannya dengan
santai adalah cara terbaik. Seperti saat itu."
Aku teringat
masa-masa saat pertama kali berbicara dengan Yua, dan senyum kecil pun
tersungging di bibirku.
"Terima
kasih, Yua. Sampai jumpa besok."
"Sama-sama.
Selamat tidur, Saku-kun."
"Selamat
tidur."
Lalu, kami
memutus sambungan telepon.
Aku berpikir,
misalnya saja...
Seperti saat nama
Uchida-san berubah menjadi Yua-chan, lalu Yua-chan menjadi Yua.
Seperti saat kata
'kamu' berubah menjadi Chitose-kun, lalu Chitose-kun menjadi Saku-kun.
Kuharap,
pertemuan ini akan menjadi sesuatu yang seperti itu.
Di Luar Jendela
(Termuat dalam Komik Volume 1 / Yua)
Dalam
perjalanan pulang setelah mengunjungi rumah Yamazaki-kun bersama Yua, kami
mampir ke sebuah toko buku besar yang kebetulan berada di dekat sana.
Sesuai
dugaan, kami diusir mentah-mentah, tapi kurasa itu hal yang wajar.
Meskipun aku
punya alasan kuat karena diminta oleh Pak Kura, itu hanyalah pembelaan sepihak
dariku.
Bagi dia, aku
pasti terlihat seperti si berengsek tukang main perempuan yang datang membawa
gadis hanya demi mencari muka.
Apalagi aku
sempat memprovokasinya sedikit di akhir demi menggali informasi.
Saat ini
dia pasti sedang meradang dan berpikir bahwa orang-orang populer memang sampah.
Karena
itulah, aku memutuskan untuk setidaknya membaca light novel yang dia sebutkan
tadi.
Ini
adalah etiket minimal yang kubutuhkan untuk bisa berbicara jujur dengannya
nanti, meski saat ini aku bukan siapa-siapanya.
"Maaf
ya, sudah membuatmu menemaniku," ucapku.
Yua
menggaruk pipinya dengan ekspresi sedikit bingung.
"Aku sama
sekali tidak keberatan. Tapi, aku tidak terlalu ingat judul buku yang
disebutkan Yamazaki-kun, jadi mungkin aku tidak akan banyak membantu."
"Iya ya. Aku
sendiri cuma ingat samar-samar sekitar setengahnya saja."
"Dia bicara
cepat sekali tadi, hebat juga kamu bisa ingat setengahnya?"
"Yah, sejak
dia mulai bicara, aku memang sudah berniat membacanya. Jadi di bagian akhir aku
cukup konsentrasi mendengarkan."
Judul-judul yang
dia sebutkan punya kecenderungan yang sangat berbeda dengan buku yang biasa
kubaca, jadi memang berkesan.
Namun, yang bisa
kusebutkan di luar kepala paling hanya satu atau dua judul saja.
Ujung-ujungnya,
aku harus memeriksa rak pojok light novel satu per satu untuk mencari judul
yang terasa familier.
Yua tersenyum
tipis.
"Sisi yang
seperti itu, benar-benar Saku-kun sekali ya."
"Maksudmu,
biarpun terlihat tampan dan pecicilan, sebenarnya aku ini jenius serbabisa yang
keren karena bisa mengingat isi percakapan dan mengambil langkah terbaik,
begitu?"
"Sisi yang
seperti itu juga, benar-benar Saku-kun sekali."
Reaksinya yang
seolah bisa melihat tembus isi kepalaku itu terasa menggelitik, jadi aku
memilih fokus mengejar judul-judul di punggung buku.
◆◇◆
Akhirnya, dari
semua judul yang disebutkan Yamazaki-kun, hanya empat yang ditemukan di toko
buku ini.
Meski begitu,
karena masing-masing adalah seri yang sudah terbit banyak volume, kantong
kertas di tanganku kini terasa berat berisi hampir dua puluh buku.
Sekali aku sudah
memantapkan hati, aku tidak berniat menarik kembali ucapanku.
Tapi kalau
ditambah enam seri sisanya, pengeluaran ini benar-benar di luar dugaan sampai
membuatku pening.
Selagi aku
bersusah payah meraba ingatan yang samar, tanpa sadar tirai malam sudah jatuh
sepenuhnya di luar sana.
"Yua,
aku antar pulang ya."
"Iya, terima
kasih. Tapi jujur, sepertinya aku sedikit lelah."
Yah, kupikir itu
wajar saja.
"Mau mampir
minum teh dulu di sekitar sini?"
"Mau!"
Tadi aku
mengatakannya dengan gaya yang agak sedikit sok keren.
Sayangnya, Fukui
bukanlah kota yang punya banyak kafe tempat mampir minum teh di setiap
sudutnya.
Kami pun membeli
minuman untuk berdua di minimarket, lalu duduk beristirahat di tepi sungai
dekat sana.
Aku baru
menyadari kalau sekarang benar-benar sudah musim semi.
Bunga sakura yang
tidak mendapat pencahayaan khusus tampak samar-samar diterangi lampu jalan yang
seadanya.
Angin malam yang
hingga kemarin masih terasa dingin, kini membelai kulit dengan suhu yang terasa
sedikit lebih nyaman.
"Saku-kun,"
Yua mulai bicara sambil memegang Hojicha Latte hangat dengan kedua
tangannya.
"Apa yang
kamu pikirkan tentang Yamazaki-kun?"
Aku menyeruput Iced
Cafe Latte-ku sebelum menjawab.
"Kurasa dia
orang yang murni."
"Murni?"
"Kamu sering
melihatku dihujat, jadi kamu pasti paham. Manusia itu tidak selamanya bisa
bersikap baik kepada orang lain."
"Hal yang
lumrah jika orang yang kita anggap dekat ternyata menjelek-jelekkan kita di
belakang."
Kenyataannya,
pernah ada rahasia yang hanya kuberitahukan pada satu orang, tapi tiba-tiba
sudah tertulis di situs rahasia sekolah.
Itu cukup
membuatku patah hati.
"Aku sadar
kalau kasusku memang luar biasa banyak, tapi biasanya anak SMA pasti pernah
mengalaminya sekali atau dua kali, kan?"
"Yah,
mungkin saja begitu," Yua tersenyum getir.
"Yamazaki-kun
sepertinya bukan tipe yang pandai berkomunikasi. Mungkin dia baru pertama kali
menghadapi masalah semacam itu di usia sekarang."
"Karena
itulah dia menjadi seagresif itu terhadap orang lain."
Masalah seperti
ini menjadi sulit karena perbedaannya.
Diserang oleh
orang yang kita benci atau orang yang jelas-jelas membenci kita, itu masih
biasa.
Namun, dikhianati
oleh orang yang kita anggap teman itu level sakitnya jauh berbeda.
Tentu saja, semua
ini hanyalah spekulasi tanpa bukti karena aku belum bisa mengobrol banyak
dengannya.
Yua mulai bicara
dengan nada suara yang lembut.
"Padahal
kamu dicaci-maki seperti itu oleh orang yang baru pertama kali bertemu, tapi
hebat ya kamu masih bisa berpikir sejauh itu."
"Yah, aku
sudah terbiasa dihujat. Malah terasa lebih lega kalau dikatai langsung di depan
muka."
Lagi pula, aku
melanjutkan.
"Biarpun
kesan pertamanya buruk, pada akhirnya bisa saja menjadi hubungan yang awet,
kan? Seperti
seseorang yang kukenal."
"Duh,
aku tidak ingin mengingat bagian itu, lho."
Melihatnya
menggaruk pipi dengan malu-malu, aku spontan tertawa.
Yua
sempat cemberut sebentar, sebelum akhirnya ikut tertawa karena tidak bisa
menahannya lagi.
"Seandainya,"
kataku.
"Seandainya
Yamazaki-kun sudah mau masuk sekolah lagi, mari kita buat dia meralat
kata-katanya tadi."
"Soal
budak seks?"
"Yap.
Lalu kita adu kepalan tangan dan berbaikan."
"Fufu,
kalau begitu aku juga harus memarahinya dengan benar."
Suara air
yang tenang terdengar bergema pelan.
Lalu
suara bel sepeda berdenting singkat di suatu tempat.
Bulan
bundar yang menggantung di langit kembali menyinari dasar malam dengan lembut
hari ini.
Apakah tirai di
kamar Yamazaki-kun masih tertutup rapat?
Sayang
sekali, pikirku.
Padahal
di luar jendela, waktu mengalir dengan begitu tenang seperti ini.
Kantong
kertas berisi light novel itu berdesis tertiup angin.
Nah, akan
jadi seperti apa akhirnya nanti.
Di Luar Rumah
(Termuat dalam Komik Volume 2 / Yuko)
Dalam
perjalanan pulang setelah mengunjungi rumah Kenta bersama Yuko, kami berjalan
santai menyusuri area pemukiman yang tenang.
Saluran
air yang diterangi cahaya temaram dari rumah-rumah warga mengalir di ujung
malam, seolah sedang terlelap dengan tenang.
Bayangan
Kenta yang melambai dengan kaku di depan pintu saat kami pulang terlintas di
benakku.
Ekspresinya
campur aduk; antara cemas dan penuh harap, penyesalan dan semangat, rasa malu
yang membuatnya ingin menggali lubang untuk bersembunyi, serta sedikit rasa
bangga.
Aku
menggulir layar ponsel yang menampilkan sebuah situs web, lalu tanpa sadar
tertawa kecil.
Aku sadar
cara yang kugunakan sangatlah memaksa, tapi setidaknya dia sudah mau keluar
dari kamarnya.
Meski
ibunya membungkuk berkali-kali sampai membuatku merasa tidak enak, aku hanyalah
orang yang memberikan pemicu.
Jika
penyebab dia mengurung diri dianggap sebagai tanggung jawab Kenta, maka
keberanian untuk melangkah keluar pun harus diakui sebagai miliknya sendiri.
"...ku,
Saku!"
Karena
terlalu asyik melamun, ujung almamaterku ditarik dengan kencang.
"Ih!
Padahal kita sedang pulang bareng, tapi dari tadi kamu malah main ponsel
terus!"
Aku
segera menoleh ke samping dan melihat Yuko yang sedang menggembungkan pipinya.
"Maaf, maaf.
Apa tadi kamu mengatakan sesuatu?"
"Aku bilang,
mumpung sudah di sini, ayo mampir ke taman yang biasa! Sudah tiga kali
kutanyakan, tahu!"
Sepertinya aku
benar-benar terlalu fokus.
Saat aku hendak
memasukkan ponsel ke saku, Yuko sedikit memiringkan kepalanya dengan tatapan
penasaran.
"Apa yang
kamu lihat? Jarang sekali Saku bersikap begitu saat sedang bersama
seseorang."
"Oh, ini
cuma riset kecil..."
Aku langsung
memperlihatkan layar ponselku padanya.
"Aku sedang
memikirkan mana yang kira-kira cocok untuk Kenta."
Layar itu
menampilkan situs web JINS, merek kacamata yang juga punya gerai di mal Elpa.
Berbagai macam model dan warna bingkai berjajar di sana.
Aku memutuskan
bahwa hal pertama yang harus diubah saat menemani Kenta belanja nanti adalah
kacamatanya, jadi aku mulai mencari beberapa pilihan.
"Ehh,
hal seperti itu kan bisa dipikirkan nanti sambil mencobanya langsung."
"Yah,
memang benar sih. Tapi aku kan tidak berkacamata. Kalau tidak punya pengetahuan
dasar, aku tidak bisa memberi saran yang tepat untuk Kenta, kan?"
Yuko tertegun
sejenak, lalu bahunya berguncang pelan karena menahan tawa.
"Sisi yang
seperti itu, benar-benar terasa seperti Saku ya."
Entah kenapa,
percakapan dengan Yua seminggu yang lalu tiba-tiba melintas di pikiranku.
'Sisi yang
seperti itu, benar-benar Saku-kun sekali ya.'
Rasa menggelitik
itu muncul lagi, dan aku pun ikut tertawa.
Yuko yang
berkilauan seperti bintang pertama di senja hari, dan Yua yang anggun layaknya
selimut lembut di tengah malam.
Sekilas mereka
tampak bertolak belakang, tapi terkadang aku merasa mereka mirip seperti
saudara.
Karena itulah,
agar waktu dan hubungan seperti ini bisa terus berlanjut, aku berniat
melontarkan candaan sambil menyelipkan doa kecil di dalamnya. Namun, Yuko
bicara lebih dulu.
"Maksudku,
biarpun terlihat tampan dan pecicilan, sebenarnya kamu itu pahlawanku yang
bersemangat, hangat, dan selalu memikirkan Kentatchi dari lubuk hati meskipun
sikapmu suka ketus!"
"...Bisa
berhenti menghancurkan pancingan lelucon orang dengan polos begitu tidak?"
"He?"
Benar-benar anak
ini, pikirku. Setelah menghela napas dengan suhu yang samar seperti malam di
musim semi, aku memasukkan koin ke mesin penjual otomatis di dekat kami.
◆◇◆
Di taman yang
berada di jalur perjalananku mengantar Yuko pulang dari SMA Fujishi, kami
membuka kaleng kopi.
Taman ini
terletak di antara Jalan Raya Nasional Rute 8 dan pusat latihan memukul bisbol
yang sudah ada sejak lama. Kami terkadang mampir ke sini.
Ada lapangan
kecil dan area bermain dengan peralatan standar seperti palang besi, perosotan,
dan ayunan. Area bermain itu posisinya lebih tinggi satu meter, dan tangga
pendek di perbatasan itulah tempat duduk tetap kami.
Tanganku yang
memegang kaleng di sebelah kanan dan sikut kiri Yuko saling bersentuhan,
membuat kami berdua sedikit merapatkan lengan.
Di musim ini,
setiap kali aku bermimpi di atas tempat tidur, musim seolah melangkah maju
dengan cepat. Angin malam yang melewati celah kecil di antara kami berdua
terasa jauh lebih lembut daripada angin di tepi sungai saat aku bersama Yua.
"Hei,
Saku," ucap Yuko setelah meminum Iced Cafe Latte-nya.
"Bagaimana
cara kamu membujuk Kentatchi? Tentu saja aku percaya akhirnya kamu pasti bisa
melakukan sesuatu, tapi dia tidak terlihat seperti orang yang akan mendengarkan
pembicaraan dengan mudah, kan?"
Aku berpura-pura
menyesap kopi hitam dingin sedikit demi sedikit sambil memikirkan bagaimana
cara menjawabnya.
Memang benar ada
banyak alasan yang saling berkaitan, tapi pemicu yang membuat Kenta mau
mendengarkan adalah—
"Cuma
sedikit kisah orang hebat yang sudah usang."
Sebisa mungkin,
aku tidak ingin berbohong kepada Yuko.
Layaknya
jungkat-jungkit yang memudar di taman bermain di belakang kami, aku mencari
titik keseimbangan antara kejujuran maksimal yang kupaksakan dengan kelicikan
yang ingin kuremas dan kubuang ke tempat sampah.
"Itu...
tentang masa lalu Saku?"
Makna
yang tersirat di dasarnya ternyata terbongkar dengan mudah.
Selama ini, sudah
berkali-kali Yuko memintaku menceritakan masa laluku.
Seperti apa
hidup Saku selama ini? Apa
pernah ada kesedihan atau penderitaan yang tak tertahankan? Kenapa kamu
bisa menjadi sekuat itu?
Sebenarnya dia
bertanya dengan kalimat yang jauh lebih hati-hati seolah sedang meraba dasar
laci, tapi setiap saat pula aku menghindarinya dengan lelucon garing yang
itu-itu saja.
Cerita saat SD,
cerita saat SMP, bahkan alasan kenapa aku berhenti bermain bisbol di SMA,
akhirnya tidak ada satu pun yang kuceritakan pada Yuko.
Jika kuberitahu
anak ini tentang masa SD dan SMP-ku, dia pasti akan menjadikan setiap kejadian
itu sebagai drama yang berlebihan, lalu merasa sedih seolah itu terjadi pada
dirinya sendiri.
Jika kuberitahu
alasan aku berhenti dari klub bisbol, dia pasti akan marah dari lubuk hatinya
dan bersikeras bahwa aku sama sekali tidak salah.
—Karena itulah.
Mungkin untuk ke
depannya pun, aku akan terus mengangkat sudut bibirku dan terus berpura-pura.
"Aku cuma
menceramahi dia panjang lebar soal betapa luar biasanya gadis tiga dimensi.
Omong-omong, aku menggunakanmu sebagai contoh konkretnya, jadi maaf ya."
Sedikit warna
kesedihan merembes di ekspresi Yuko, lalu dia menyipitkan mata dengan rindu.
"Yah,
bersikap seperti itu kepada orang yang baru ditemui memang sudah jadi kebiasaan
Saku, sih. Malah aku ingin memuji Kentatchi karena memutuskan untuk
mengikutimu~"
Lalu, dia
melanjutkan dengan nada riang.
"Lagi pula,
biarpun kesan pertamanya sangat buruk, pada akhirnya bisa saja berubah jadi
sangat suka, kan? Seperti aku!"
"Hentikan,
jangan ingatkan aku pada sejarah kelam itu..."
Saat aku memegang
kepala dengan kedua tangan, Yuko tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi
perutnya.
"Seandainya
saja," dia menyolek pipiku.
"Nanti kalau
dia sudah benar-benar membuka hati, aku ingin mengobrol banyak hal dengannya.
Hal yang ingin disampaikan, hal yang ingin ditanyakan, bahkan keluhan pun,
masih ada jauh lebih banyak lagi, lho."
Siapa yang
dimaksud? Aku tidak perlu bertanya.
Karena ini adalah
jalan pulang dari rumah Kenta, dan kami sedang membicarakan dia.
"Berjalan
pelan-pelan saja tidak apa-apa. Kita masih tujuh belas tahun."
Tahun kedua SMA.
Sudah saatnya untuk berhenti diam di tempat, tapi masih terlalu dini untuk
terburu-buru mencari jawaban.
Apakah saat ini
Kenta juga sedang memandangi malam biru yang indah dengan cahaya bulan ini dari
jendela kamarnya?
Cobalah sedikit
saja, pikirku.
Keluarlah dari
rumah, lalu cobalah bertengkar seperti hari ini, bersemangat saat membicarakan
gadis yang disukai, atau patah hati lagi dan merasa depresi.
Sepertinya hal-hal semacam itu disebut dengan masa muda.
Hujan, Hujan, Turunlah, Turunlah
(Festival Novel
Melonbooks / Yua)
Shito-shito, picchan, shito-picchan.
Sejak
lewat tengah hari, hujan yang tenang terus mengguyur. Padahal baru bulan April,
tapi langit mendung khas wilayah Hokuriku terasa seberat musim penghujan,
menyelimuti kota pedesaan ini dengan lembap.
Sudah dua
minggu berlalu sejak aku diminta oleh wali kelasku, Pak Kura, untuk membawa si
penyendiri Kenta Yamazaki kembali ke sekolah.
Di satu
sisi, aku dikenal sebagai kasta tertinggi kaum populer di SMA Fujishi. Namun di
sisi lain, aku dihujat sebagai si berengsek tukang main perempuan di belakang
punggungku. Terlepas dari itu, belakangan ini aku sedang tidak ada jadwal main
dan lebih sering menghabiskan waktu sepulang sekolah bersama Kenta.
Hari ini dia
sepertinya punya urusan lain, jadi ini adalah waktu luang pertamaku setelah
sekian lama. Begitu pelajaran usai, aku segera berkemas dan keluar dari kelas.
Katan, koton. Suara lantai kayu tua di area pintu masuk
sekolah bergema pelan.
Aku mengenakan
sepatu Stan Smith yang kuambil dari loker, mengikat ulang tali sepatu yang
hampir terlepas, lalu menatap ke luar. Hujan yang tadinya tenang perlahan mulai
terdengar bising.
Lebih baik segera
pulang. Saat aku mulai melangkah, tiba-tiba sebuah suara memanggilku dari
belakang.
"Eh,
Saku-kun? Hari ini sudah mau pulang?"
Saat menoleh, aku
melihat Yua yang menatapku dengan wajah penasaran.
Dia adalah
anggota kelompok populer di kelas 2-5 bersamaku. Dia memang tidak punya aura
kemewahan yang mencolok, tapi senyum hangat yang merebak di sudut matanya yang
lembut itu selalu meninggalkan kesan mendalam. Dari rambut panjangnya yang
diikat satu ke samping dan disampirkan di bahu, tercium aroma sampo organik
yang harum dan menenangkan.
"Yah,
cuacanya juga begini. Kamu sendiri, bagaimana dengan klub tiup?"
"Hari ini
libur. Mumpung senggang, aku berencana membeli reed saksofon sebelum
pulang."
Yua menyebutkan
nama toko alat musik yang berada di dekat sekolah.
"Begitu ya.
Kalau begitu kita berpisah di gerbang sekolah hari ini."
Aku dan Yua
searah jalan pulangnya, jadi terkadang kami pulang bersama jika waktunya pas.
Tapi toko alat musik itu berada di arah yang berlawanan. Melihat barang yang
akan dibelinya, dia pun pasti tidak akan memintaku untuk menemaninya.
Yua
mengambil sendok sepatu kecil dan mengenakan sepatu pantofelnya dengan
hati-hati.
Begitu
kami berdua keluar setelah menunggunya selesai, ternyata hujan sudah semakin
deras.
"Wah,
hujannya hebat. Sepertinya bakal tetap basah walau pakai payung."
Yua
mengeluarkan payung lipat dari tas sekolahnya sambil tersenyum pasrah.
"Umu,
luar biasa. Fenomena baju tembus pandang karena basah itu penuh dengan romansa
pria. Aku jadi menantikan
perjalanan pulang kita—maaf, itu cuma bercanda, tolong jangan tekan nadi
leherku begitu."
Saat kami sedang
bercanda, tiba-tiba mataku menangkap sosok seorang siswi yang tampaknya murid
baru. Dia berdiri di bawah emperan bangunan sambil menatap langit dengan wajah
kebingungan.
Sepertinya dia
lupa membawa payung. Melihatnya berkali-kali memeriksa waktu di ponsel, mungkin
dia punya urusan yang mendesak. Dia tampak begitu cemas sampai-sampai wajahnya
mengernyit seolah hampir menangis.
Di sampingku, Yua
mengembangkan payung lipatnya yang berwarna biru pastel lembut.
Ton, ton. Aku mengetukkan ujung payung plastik di
tanganku ke tanah, lalu berjalan mendekati gadis itu dan menyodorkannya.
Terkejut dengan tindakan yang tiba-tiba, dia menoleh ke arahku dengan wajah
curiga.
"Kalau kamu
tidak keberatan, mau pakai ini?"
Begitu aku
bicara, gadis itu menatap wajahku lekat-lekat. Ekspresinya kini berubah menjadi
campuran antara rasa malu dan tidak enak hati.
"Eh, tapi,
saya merasa tidak enak. Lagipula, Kakak Kelas... bagaimana?"
"Jangan
dipikirkan. Ini payung rongsokan yang memang biasa kutinggalkan di sekolah.
Lagi pula..."
Aku menjeda
kalimatku sejenak, lalu melirik ke arah Yua sebelum melanjutkan.
"Kalau kamu
membawa payung itu, aku jadi punya alasan untuk berbagi payung dengan pacarku.
Anggap saja ini sebagai pancingan, jadi apa kamu mau membantuku?"
Gadis itu
memandangi aku dan Yua bergantian, lalu mengembuskan napas kecil. Dia tersenyum
sedikit canggung, kemudian menerima payung itu dengan ragu-ragu.
"Kalau...
alasannya begitu. Saya pasti akan mengembalikannya nanti. Anu, Kakak Kelas,
boleh saya tahu nama Anda?"
"Chitose
Saku dari kelas 2-5. Tidak perlu repot-repot dikembalikan, tapi kalau memang
perlu, tanya saja 'di mana kakak kelas si tukang main perempuan itu', pasti ada
yang memberitahumu."
Aku menyeringai
saat mengatakannya. Gadis itu menutup mulutnya sambil tertawa kecil dan
membungkuk berkali-kali sambil mengucap "Terima kasih," lalu berlari
menuju gerbang sekolah di bawah naungan payung.
Aku melambaikan
tangan ke arah punggungnya.
"...Saku-kun,
sisi yang seperti itu benar-benar terasa seperti Saku-kun sekali. Padahal aku
sudah bilang arah kita berbeda hari ini."
"Karena ada
umpan lezat di depanku, aku jadi lupa dan langsung menyambarnya. Kupikir ini
kesempatan untuk pulang menempel dengan Yua yang basah kuyup."
Aku meregangkan
tubuh, lalu mengambil handuk olahraga dan menaruhnya di atas kepala.
"Nah, mari
kita pulang—"
Baru saja aku
hendak melangkah, almamaterku ditarik pelan.
"...Kita
akan berbagi payung, kan?"
Yua
merapat ke arahku dengan lembut, dan sebuah langit biru kecil pun membentang di
atas kami berdua.
"Tidak
apa-apa? Belanjaanmu?"
"Tidak
apa-apa. Itu tidak
harus hari ini."
"Sedangkan
yang ini harus hari ini, begitu?"
"Kenapa hal
seperti itu harus diucapkan, sih?"
Aku menerima
payung dari tetangga di sampingku yang kini memalingkan wajah karena enggan
bertatapan, lalu aku melangkah setengah tindak lebih dekat lagi.
Dengan langit
yang kecil dan lembut ini, saat sampai di rumah nanti mungkin lengan kananku
dan lengan kiri Yua akan basah kuyup dan kedinginan.
Sambil mulai
berjalan dengan langkah yang lebih kecil dari biasanya, aku berbicara seperti
bergumam pada diri sendiri.
"Kuharap
besok cerah."
"...Entahlah.
Mungkin tidak juga."
Di bawah jarak yang hanya tersisa lima sentimeter, dua siluet yang saling bersandar itu dihiasi oleh pelangi yang hangat.
Bayangan yang Memanjang di Kejauhan
(Pekan Masa Muda Melonbooks / Asuka)
Di tepi sungai
saat senja, Kak Asuka tampak melamun menatap aliran air—sebuah pemandangan
langka karena dia tidak sedang membaca buku.
Agar tidak
merusak suasana yang entah kenapa terasa sulit diusik itu, aku duduk di sisi
kanannya dengan jarak sekitar satu meter, sembari menjaga gerak-gerikku
seformal mungkin.
Potongan rambut
pendek yang sangat cocok dengan profil wajahnya yang tegas dan bening itu
tertiup angin. Di sana, aku bisa melihat kabel berwarna biru turquoise
menjuntai dari telinganya yang mungil dan indah. Rupanya dia sedang
mendengarkan musik.
Sadar akan
keberadaanku, Kak Asuka melepas earphone sebelah kiri lalu tersenyum tipis yang
menyejukkan.
"Pas sekali,
aku baru saja memikirkanmu."
Hanya dengan satu
kalimat itu saja, hatiku rasanya ingin melayang.
"Lagi
dengerin apa?"
Aku
membalas dengan lagak sok keren. Kak Asuka kemudian menggunakan tangan dan
pinggulnya yang ramping untuk mengikis jarak satu meter di antara kami, lalu
duduk menempel tepat di sampingku.
Lengan
yang bersentuhan itu terasa lebih hangat dari yang kukira, sekaligus jauh lebih
rapuh dari yang kubayangkan.
Kemudian,
dengan gerakan yang sangat alami, dia menyodorkan earphone yang tadi
dilepasnya.
Aku menerimanya,
lalu memasangnya di telinga kiri.
Kak Asuka suka
mendengarkan lagu J-POP lama. Lagu yang mengalir adalah tentang perasaan sedih
saat berpisah dengan sahabat, namun tetap mengucapkan selamat tinggal dengan
senyuman sambil memercayai pertemuan kembali sepuluh tahun kemudian.
"Hei, apa
kamu ingat kejadian sepuluh tahun yang lalu?"
"Waktu itu
aku masih kelas rendah di SD. Paling-paling, aku cuma ingat memori saat bermain
ke rumah nenek setiap liburan musim panas."
"...Begitu
ya."
Kak Asuka tertawa
seolah merasa geli, lalu melanjutkan.
"Lalu,
bisakah kamu membayangkan dirimu sepuluh tahun ke depan?"
"Mana
mungkin. Setidaknya, aku tahu aku tidak bisa menjadi pemain bisbol profesional.
Kalau Kakak?"
Kotsun. Kepala mungilnya bersandar di bahuku.
Terpikat oleh
aroma sampo yang begitu menenangkan, aku melirik sedikit. Kak Asuka sedang
menatap lurus ke arah langit senja yang kian meredup di kejauhan.
"Aku juga
tidak tahu. Di mana aku akan berada, atau apa yang akan kulakukan.... Mungkin
saja, aku sudah menikah."
Suaranya
terdengar seolah akan larut dan menghilang ditelan melodi nostalgia lagu itu.
"Jika itu
orang yang Kakak pilih, dia pasti sosok yang luar biasa."
Aku mengucapkan
kalimat yang sama sekali tidak puitis.
Kak Asuka tertawa
kecil, seolah bisa melihat tembus isi hatiku yang masih bocah dan sempit ini.
"Apakah itu,
misalnya, orang sepertimu?"
Mata dan ekspresi
yang menatapku dari jarak sedekat itu sudah benar-benar kembali menjadi Kak
Asuka yang seperti biasanya.
"...Tadi
Kakak menggodaku, ya?"
"Hehe,
kira-kira bagaimana, ya?"
"Dasar,
ya!"
Saat tanganku
hendak mengacak-acak rambutnya, dia menghindar dengan lihai. Kak Asuka mencabut
earphone, memungut tasnya, lalu berlari ringan menyusuri jalan di sepanjang
tanggul sungai.
"Ayo, kejar
aku ke sini~!"
Sambil mengejar bayangannya yang memanjang seperti saat kami masih anak-anak, aku berpikir bahwa aku ingin waktu seperti ini terus berlanjut selamanya.
Cafe Latte yang Biasa, Tea Latte yang Biasa
(Bonus Toranoana Volume 2 / Yua)
Beberapa hari
setelah Kenta berkonfrontasi dengan teman-teman lamanya. Memasuki pertengahan
liburan Golden Week, aku yang dipanggil oleh Yuko kembali datang ke Elpa tanpa
merasa kapok. Katanya sih, karena dia sedang belanja bersama Yua, sekalian saja
dia ingin aku melaporkan perkembangan masalah Kenta.
"—Lalu ya,
dengan gaya 'jangan berani-berani menghina Kenta', Saku-kun membentak anak
laki-laki itu."
"Heh, jarang
sekali Saku-kun bisa menjadi segegabah itu."
Sudah sejak tadi
suasananya seperti ini; Yuko terus menceritakan kejadian hari itu kepada Yua.
Mendengar cerita dari sudut pandang orang ketiga memang terasa segar, tapi
entah kenapa kedengarannya jadi sangat berlebihan sampai-sampai aku merasa malu
sendiri.
Sudah lebih dari
satu jam aku tetap berada satu langkah di belakang mereka, mendedikasikan diri
sepenuhnya sebagai pembawa barang belanjaan.
"Tapi,
Yuko-chan juga hebat ya karena sudah bersiaga dengan baik."
Yua tersenyum
lembut.
Mengenai hal itu,
aku setuju sepenuhnya. Seandainya Yuko tidak ada di tempat itu waktu itu,
mungkin perjalanan pulang kami berdua—sesama laki-laki—akan terasa jauh lebih
tidak menyenangkan.
Si subjek
pembicaraan, Yuko, menjawab seolah itu bukan masalah besar.
"Masa sih?
Kalau Ucchi berada di posisiku, kamu pasti akan melakukan hal yang sama
kok."
Yua tetap
mempertahankan senyumnya seperti tadi, namun dia menggelengkan kepala perlahan.
"Kurasa
tidak akan begitu. Karena hal yang dianggap biasa bagi Yuko-chan, belum tentu
menjadi hal yang biasa bagiku."
"Tapi
bukankah itu berarti hal yang biasa bagimu juga bukan hal yang biasa bagiku?
Kalau kamu mendukung Saku dan Kentatchi dengan caramu sendiri, menurutku itu
tetap hal yang sama, lho—"
Yuko yang ceria
dan blak-blakan, serta Yua yang anggun dan bersahaja.
Dari luar, mereka
berdua mungkin terlihat bertolak belakang, tapi entah bagaimana mereka bisa
berteman baik sejak tahun lalu. Pasti karena mereka saling menghargai satu sama
lain seperti ini.
Saat aku sedang
memikirkan hal itu, tiba-tiba—
—Hei,
sepertinya sebentar lagi hujan.
Percakapan orang
yang lewat tertangkap oleh telingaku. Benar saja, sejak pagi langit mendung
sudah membentang luas, dan ramalan cuaca pun bilang hujan mungkin akan turun
sebelum sore.
"Ayo
pulang sebelum hujan turun dengan deras. Aku akan antar kalian berdua."
Begitu
aku mengatakannya, Yuko menjawab, "Ayo kalau begitu, aku lupa bawa
payung."
Kami juga
sudah cukup menikmati belanja, dan laporan soal Kenta pun sepertinya sudah
tersampaikan secara garis besar.
Tiba-tiba,
Yua tersenyum manis dan mulai bicara.
"Ah, aku
masih ada tempat yang ingin dikunjungi, jadi kalian bisa pulang duluan.
Saku-kun, tolong jaga Yuko-chan ya."
"Eh, kalau
begitu kami temani saja?"
Yuko menawarkan
dengan nada yang wajar.
"Tidak
apa-apa, kok. Ini urusan pribadi. Sampai jumpa di sekolah ya."
"Begitu
ya..."
Sambil membawa
Yuko yang terlihat berat hati untuk berpisah, kami pun berpisah dengan Yua.
◆◇◆
—Setelah
mengantar Yuko sampai ke rumahnya, aku kembali ke Elpa dan masuk ke gerai
Starbucks di dalam areanya.
Sesuai dugaan,
aku melihat Yua yang sedang duduk di kursi dekat jendela, menatap ke luar
dengan tatapan sayu.
"Lagi minum
apa?"
Begitu aku
menyapanya, dia membuka mata lebar-lebar dengan wajah yang tampak tidak enak
hati, lalu mengembuskan napas panjang seolah menyerah. Aku pun duduk di kursi
di hadapannya.
"...Starbucks
Latte dengan tambahan espresso shot."
"Memangnya
kamu tipe orang yang suka memesan kustomisasi begitu?"
"Lagi pengin
saja."
Aku meminum
minumanku sedikit, lalu melanjutkan.
"Mampir
yang 'pribadi' sekali, ya."
"...Sisi
yang seperti itu darimu, Saku-kun, menurutku tidak baik, lho."
"Sisi yang
seperti itu darimu juga, Yua, menurutku tidak baik."
Aku tidak tahu
apakah dia melakukannya karena tidak enak pada Yuko, atau karena dia ingin
mencoba berada di tempat di mana dia tidak bisa hadir sebelumnya.
Tapi bagaimanapun
itu, aku tidak ingin dia tenggelam dalam perasaan seperti itu sendirian.
Ekspresi Yua
sedikit melunak dibarengi tawa kecil.
"Ternyata
kamu bisa melihat tembus semuanya, ya."
"Hubungan
kita sudah cukup lama, kan. Setidaknya, sudah sampai pada level hafal kesukaan
satu sama lain."
Aku menyodorkan
cangkir ukuran short di depanku dengan ujung jari, menggesernya ke
arahnya.
Yua menerimanya
dengan wajah penasaran, lalu menyesapnya.
"Hojicha... Tea Latte. Kenapa?"
"Lagi pengin saja."
Saat aku menirukan ucapannya tadi, tawa kecil yang tidak
tertahankan pun tumpah darinya.
"Menyebalkan ya, seperti biasanya."
"Daripada merana sendirian sambil memandangi hujan,
dijadikan bahan candaan begini setidaknya masih lebih mending, kan?"
"Ihh!!"
Melihat Yua yang wajahnya memerah sambil meminum Hojicha Tea
Latte itu, aku sedikit berpikir bahwa seharusnya tadi aku memesan ukuran grande
saja.
Boyfriend Sepulang
Sekolah bagi Mereka Berdua
(Bonus Animate
Volume 2 / Yuzuki x Haru)
Aku, Nanase Yuzuki, sedang mengobrol santai bersama Haru di
ruang klub setelah latihan selesai. Di tanganku ada segelas tapioca milk tea
yang tadi dibelikan adik kelas di minimarket dekat sini.
"Terus ya, si Chitose itu..."
Mendengar nama itu tiba-tiba disebut, jantungku sedikit
berdegup kencang.
Hari ini pun dia pasti sedang sibuk membimbing Yamazaki agar
bisa menjadi kaum populer bersama Yuko.
Aku bahkan belum memberitahu Haru kalau tadi malam aku
meneleponnya untuk pertama kali.
Bukannya aku ingin menyembunyikannya, tapi aku merasa malu
sendiri kalau ingat betapa senangnya aku saat menyadari ternyata Chitose adalah
orang yang sangat mirip denganku, sampai-sampai aku mengoceh terlalu banyak.
"Biru muda
pucat seperti langit bulan April," kalau dipikir-pikir lagi, kata-kataku
itu memalukan sekali.
"—Terus
akhirnya kami taruhan 1 on 1 dan aku menang!!"
Haru
membusungkan dadanya dengan bangga.
Katanya
sih, dia "memberi sedikit gertakan karena Chitose sedang galau," tapi
aku sulit membayangkan sosok Chitose Saku yang seperti itu.
Selama
beberapa minggu sejak kami berada di kelas yang sama di tahun kedua ini, aku
mulai menyadari bahwa dia mungkin orang yang lebih bersemangat dari dugaanku.
Meski
begitu, menurutku dia bukan tipe orang yang akan menunjukkan kelemahan di depan
perempuan.
Apa
dia sengaja pura-pura menunjukkan kelemahan untuk mengelabuinya ya? Pikirku sambil menggelengkan
kepala dalam hati.
Bagaimanapun,
ini tentang Haru. Berbeda denganku yang tipe orang yang menyerang perlahan dari
luar, Haru punya keteguhan hati yang murni yang bisa berlari lurus menuju pusat
hati seseorang.
Haru,
yang membuat si Chitose itu tak sengaja ingin menunjukkan kelemahannya. Dan
aku, yang hanya bisa menunjukkan bagian terkuatku saja.
Mungkin
begitulah jarak antara aku, Haru, dan Chitose saat ini. Sejujurnya aku
penasaran apa yang mereka bicarakan setelah taruhan itu selesai, tapi bertanya
sampai sejauh itu rasanya tidak sopan.
Chitose
mungkin akan menjadi orang yang spesial bagiku, tapi perasaan itu jelas-jelas
bukanlah cinta biasa.
"Hei, hei,
Yuzuki."
Haru memanggilku
yang sedari tadi melamun.
"Boleh aku
foto terus kukirim ke Chitose?"
"He?
Kenapa?"
Aku menyahut
dengan suara yang cukup konyol menanggapi partnerku yang kini menatap dengan
pandangan penuh arti.
"Habisnya,
dia kan tadi sedang melankolis. Mungkin kalau dikirimkan foto gadis cantik, dia bisa semangat lagi. Dia kan
suka perempuan."
"Logika
macam apa itu. Kalau begitu, kirim saja foto dirimu sendiri."
"Yah, aku
tidak memungkiri kalau Haru-chan ini memang gadis cantik. Tapi Chitose pasti
lebih suka tipe gadis seperti Yuzuki, kan?"
Melihat Haru yang
menyeringai lebar, aku merasa bukan begitu kenyataannya.
Anak laki-laki
yang sangat mirip denganku itu tidak akan tertarik pada gadis yang juga mirip
dengannya.
Kami bisa
menjadi pemberi pengertian yang baik. Kami bahkan bisa menjadi rekan kriminal
untuk menjalani kehidupan SMA yang lancar.
Namun,
seseorang selalu jatuh cinta ketika mereka menemukan "sesuatu yang
berkilau" yang tidak mereka miliki di dalam diri orang lain.
Karena
itulah, Chitose yang mirip denganku tidak akan memilihku, dan aku yang mirip
dengan Chitose juga tidak akan memilihnya.
Meski
pemikiran ini mungkin terlalu mencampuri urusan orang, menurutku gadis seperti
partner di depanku inilah yang paling cocok untuk orang seperti dia.
"Haru..."
Apa pendapatmu tentang Chitose?
Aku hendak
melanjutkan kalimat itu, tapi urung.
Entah kenapa, aku
merasa lebih baik tidak menanyakannya sekarang.
Aku pun kembali
membuka suara.
"Haru
tidak ikut masuk foto? Kalau begitu, ayo foto bareng saja."
"Hmm,
foto two-shot dua gadis cantik itu rasanya terlalu banyak servis, tapi
ya sudahlah."
Haru
memberikan ponselnya pada adik kelas di dekat kami sambil berkata "Tolong
fotokan ya~". Anggota baru yang menerima ponsel itu langsung melompat
kegirangan, "Eh! Foto
Kak Aumi dan Kak Nanase? Tolong kirimkan padaku juga ya!". Apa-apaan itu,
manis sekali!
Adik kelas itu
dengan semangat berkata, "Mumpung lagi bagus, ayo ke luar saja!".
Kami pun menurutinya.
"Satu, dua,
tiga—"
Cik-cik-cik-cik-cik! Adik kelas itu mengambil foto beruntun dengan
sangat banyak.
Haru
memilih salah satu, lalu memperlihatkan foto yang sudah diedit dengan aplikasi
hingga kami terlihat seperti kucing. Ya, harus kuakui, aku terlihat cantik di
sini.
Kalau
tiba-tiba dikirimi foto ini, reaksi apa yang akan diberikan Chitose? Kurasa dia tidak akan tersipu, mungkin dia
hanya akan mengirimkan satu atau dua kata pujian yang cerdik.
Lewat ponsel
Haru, kami mengirim pesan LINE disertai teks "Hadiah Miaw♡". Tak butuh waktu lama, pesan itu langsung dibaca dan ada balasan
masuk.
『Sebenarnya aku
lebih suka adik kelas baru yang masih polos...』
""Apa-apaan
itu, menyebalkan!""
—Tuh, kan.
Chitose yang
menghindar seperti ini memang tidak akan memilihku, dan aku pun tidak akan
memilih orang seperti Chitose.
Mungkin, Orang yang Disukai Temanku
(Pekan Masa Muda Melonbooks / Haru)
"Chitooose!
Apa-apaan, kamu baru mau pulang?"
Saat aku hendak
keluar dari gerbang sekolah, sebuah suara sangat ceria yang kukenal memanggil
dari belakang. Bahuku ditepuk keras, dan saat aku menoleh, sosok yang
kubayangkan sudah berdiri di sana.
Meskipun
dia ace klub basket putri, Haru setingkat lebih pendek dariku. Dia menatapku
sambil menyeringai lebar dari arah dadaku. Kuncir kuda pendek yang menjadi ciri
khasnya bergoyang, dan sialnya, jantungku sedikit berdegup kencang.
"Yo.
Kamu sendiri, bagaimana dengan klub?"
"Ah,
Misaki-chan bilang karena kemarin dia memaksa ada pertandingan latihan, jadi
hari ini diliburkan seharian~"
Misaki-chan yang
dimaksud adalah Ibu Guru Misaki, pembina klub basket putri.
Beberapa hari
lalu, pertandingan latihan yang kutonton itu dilakukan di masa tenang menjelang
ujian yang seharusnya semua kegiatan klub libur. Hari ini mungkin dianggap
sebagai hari libur pengganti.
"Makanya,
Chitose lapar tidak? Ayo makan, makan!"
"Kenapa
meski klub libur kamu tetap lapar. Lagipula, masa seorang gadis bilangnya
'makan'..."
Haru tiba-tiba
berpose genit yang dibuat-buat.
"Chi-to-se-sa-yang♡ Haru ingin makan sesuatu yang enak, lho♡"
"—Bfuh!"
Sial, aku
langsung tersedak.
"Oke, oke.
Aku temani, jadi hentikan akting itu. Mau berapa kali pun, itu selalu berhasil
buatku geli."
Sambil berkata
begitu aku mulai berjalan, dan Haru mengikutiku sambil menuntun sepeda cross
bike Gios birunya.
"Terus makan
apa? Ramen Hachiban atau katsu-don?"
"Ehh,
padahal ini kencan dengan gadis cantik tapi pilihannya cuma itu?"
"Habisnya
kan ini Haru..."
"Saku-san
ja-hat♡"
"Uhyahyahya!
Berhenti, tolong jangan menusuk-nusuk punggungku begitu!"
Saat kami sedang
bercanda begitu, Haru seolah teringat sesuatu.
"Ah, aku
ingin pergi ke sana. Kafe yang ada egg benedict-nya, yang tempo hari
kamu datangi bersama Yuzuki."
Itu adalah tempat
di mana Nanase Yuzuki, teman sekelas sekaligus rekan Haru di klub basket,
berkonsultasi padaku karena merasa diincar oleh penguntit.
"Oh, ya
sudah kalau begitu."
Mendengar itu,
Haru menaiki sepedanya dan menunjuk ban belakang. Aku meletakkan kedua tanganku
di bahu Haru, lalu berdiri di pijakan yang ada. Aroma deodoran yang segar
seperti laut dari tengkuknya tertinggal di belakang saat sepeda melaju kencang,
terbawa angin entah ke mana.
◆◇◆
Sesampainya di
kafe, dua porsi egg benedict tersaji di meja. Keduanya rasa bacon
& onion.
"Dengar ya Haru. Egg benedict itu pertama-tama
harus dibelah dua tepat di tengah..."
"Itu kan cuma pengetahuan yang kamu dapat dari
Yuzuki."
"Kok tahu?"
Haru memotongnya sesuai instruksiku, memakan satu suap, lalu
pipinya melunak, "Enak~".
"Ini rasanya seperti... Egg McMuffin versi mewah
ya."
"Kamu ini
aku, ya?"
Aku tertawa
karena dia punya kesan yang sama denganku saat pertama kali memakannya. Saat
aku mulai menyantap bagianku, Haru bergumam pelan.
"Terima
kasih ya, Chitose."
Kata-katanya
terdengar agak kesepian, jadi aku membalasnya dengan candaan.
"Aku
tidak ingat pernah bilang mau mentraktirmu, lho."
Haru
tersenyum dengan sangat lembut, kecil, dan terasa rapuh.
"Dasar
bodoh. Maksudku, terima kasih
sudah menolong Yuzuki."
"Aku tidak
melakukan apa-apa. Nanase sendiri yang memutuskan untuk melangkah maju."
Seolah tidak
mendengar kata-kataku, Haru melanjutkan.
"Anak itu,
dia tidak pernah menunjukkan kelemahannya padaku. Makanya, aku yang menyuruhnya
untuk coba berkonsultasi pada Chitose."
Ini fakta
yang baru kuketahui. Tentu saja, aku tidak tahu apakah Nanase berkonsultasi
padaku karena disuruh atau atas keinginannya sendiri. Tapi yang lebih
mengejutkan adalah kenyataan bahwa Haru memilihku sebagai orang tempat dia
menitipkan rekannya yang berharga.
"Kalau
menurutku, orang yang paling dipercayai Nanase itu kamu, Haru."
"Memercayai
dan menitipkan hati itu hal yang berbeda, Chitose. Aku merasa, jika kepadamu,
dia mungkin bisa menitipkan hal-hal yang berharga baginya."
Aku tidak
tahu harus merespons apa pada kata-kata Haru yang tidak seperti biasanya ini,
jadi aku bungkam.
Menyadari hal
itu, dia melanjutkan seolah bicara pada diri sendiri.
"Aku tidak
ingin kalah dari Yuzuki. Tapi, aku juga tidak ingin melihat Yuzuki kalah. Jika
aku ingin menang melawan orang yang benar-benar tidak ingin kulihat kalah, apa
yang harus kulakukan ya?"
Senyumnya
terlihat seperti anak kecil yang sedang tersesat.
"Aku...
tidak punya jawaban cerdas untuk pertanyaan itu. Tapi bagi seorang atlet,
bukankah kita tidak akan membenci lawan yang sudah mengalahkan kita dengan
segenap kemampuan?"
Haru menepuk
kedua pipinya dengan keras seolah sudah merasa lega.
"Benar juga.
Ujung-ujungnya anak klub olahraga memang harus beradu langsung untuk menentukan
siapa yang menang. Kalau suatu saat nanti aku menantangmu bertarung, jangan
kabur dan terima tantanganku ya?"
"Hah, saat
itu tiba, aku akan membalasmu habis-habisan."
"...Begitulah
kata si penyebut dirinya sendiri manusia super serbabisa yang memalukan karena
kalah taruhan 1 on 1 melawan seorang gadis."
"Oi, ayo ke
luar sebentar, Bocah. Akan kubuktikan sekarang siapa yang lebih hebat."
◆◇◆
Tepi sungai sudah
sepenuhnya berwarna jingga senja. Suara roda sepeda yang berputar dan suara gagak yang terbang tumpang
tindih seperti musik latar. Dua bayangan yang memanjang berjalan pelan, menjaga
jarak yang ambigu—tidak terlalu dekat tapi juga tidak menjauh.
"Apa
barusan aku mengatakan sesuatu yang tidak seperti diriku?"
Haru tertawa
malu.
"Menurutku
itu sangat mirip dirimu. Lurus dan bersemangat."
"Kalau si
'Tuan Suami' yang bilang begitu, rasanya aneh ya."
"Apa
maksudnya?"
"Karena
orang yang paling lurus dan bersemangat menurutku adalah kamu."
Setelah
mengatakannya, dia memalingkan wajah.
Melihatnya
bersikap begitu terasa lucu, tapi juga membuatku malu, jadi aku ikut
memalingkan wajah. Namun karena diam saja terasa canggung, aku mulai bicara
dengan hati-hati.
"Hei Haru, egg
benedict saja tidak cukup, kan?"
"Sejujurnya,
aku juga berpikir begitu."
"Mau cari
makan lagi?"
"Ramen
Hachiban atau katsu-don?"
"Ujung-ujungnya
itu lagi?"
"Yah,
ujung-ujungnya kita kan memang begitu?"
Kami
berdua tertawa terpingkal-pingkal.
"Bonceng
aku ya, Haru."
"Naiklah,
seperti biasanya."
Aku meletakkan
tanganku di bahu Haru, menitipkan sedikit beban padaku padanya.
Sama seperti
jalan pulang yang warnanya tercampur antara putih, hitam, dan jingga ini, aku
berpikir bahwa aku ingin keseharian yang ambigu namun indah ini terus berlanjut
sedikit lebih lama lagi.
Biru dan Biru
Rahasia
(Bonus Gamers
Volume 2 / Yuko)
"Dewa,
apakah ada yang bisa kulakukan untuk membantu Kak Nanase? Aku akan melakukan
apa saja."
Kenta
mengatakannya dengan ekspresi yang sangat serius. Sepertinya dia ingin membalas
budi pada Yuzuki yang sudah banyak membantunya dalam proses keluar dari status non-populer.
Aku mengangguk
tanda mengerti, lalu dengan wajah khidmat aku memanggil Yuko.
"Begitulah ceritanya, Yuko-chan. Tolong carikan satu
celana dalam wanita yang sangat seksi dan imut untuk anak ini~"
Wajah Yuko
dipenuhi tanda tanya, tapi...
"A-aku tidak
terlalu mengerti maksudnya, tapi kalau Saku yang minta, siaaap!"
Dia
mengangkat tangannya dengan semangat lalu berdiri.
Kenta hanya bisa
ternganga tanpa memahami sedikit pun apa yang akan diperintahkan kepadanya.
◆◇◆
—Kami sampai di
toko pakaian dalam wanita di dalam Elpa. Di depan toko, berdiri manekin-manekin
yang mengenakan pakaian dalam yang sangat mencolok.
"Mustahil,
mustahil, mustahiiil!!"
Sepanjang jalan
tadi, aku sudah menjelaskan rencana untuk menyiapkan foto seksi palsu guna
memancing penguntit Yuzuki agar kita bisa memastikan identitasnya, dan aku
meminta Kenta untuk menjadi modelnya. Sejak saat itu Kenta terus bersikap
seperti ini. Sekarang pun dia sedang berusaha keras menahan diri agar tidak
ditarik masuk ke dalam toko oleh Yuko.
"Katanya mau
melakukan apa saja? Sebenarnya aku juga tidak tega memberikan peran ini, tapi
pantatku, Kazuki, dan Kaito itu terlalu keras, benar-benar 'pantat laki-laki'.
Sedangkan pantatmu yang putih, kurus, dan tidak berotot itu sangat pas untuk jadi
samaran. Sabar ya!"
"Bohong!
Dewa pasti dari awal memang sudah merencanakan ini dan mengarahkan
pembicaraannya!"
"Ma-sa
sih?"
Saat kami berdua
sedang berdebat di depan toko, Yuko menggembungkan pipinya.
"Hei,
kalian! Kita tidak punya banyak waktu, jadi ayo cepat. Kentatchi, serahkan
padaku, aku tidak akan membuatmu terlihat buruk kok."
Aku merasa tidak
bertanggung jawab karena tidak yakin bagaimana situasi ini bisa berakhir tidak
buruk, tapi aku tetap melambaikan tangan dengan santai pada mereka berdua yang
hendak masuk ke toko. Kenta menatapku dengan penuh dendam, tapi karena tempo hari
dia juga menjebakku di laboratorium biologi, anggap saja kita impas.
Tapi ya, toko
pakaian dalam wanita itu memang membuat canggung hanya dengan melihatnya dari
luar. Rasanya seperti area terlarang bagi laki-laki. Sebaiknya aku cari cara
untuk membunuh waktu di sekitar sini saja.
Saat aku sedang
berpikir begitu, Yuko tiba-tiba berbalik dan menarik tanganku.
"Kenapa diam
saja, Saku juga ikut!"
"—He? Tidak,
mustahil, mustahiiil!!"
Sama seperti
Kenta tadi, aku pun mengeluarkan suara payah saat ikut diseret masuk ke dalam.
"Hei Saku,
Yuzuki itu imejnya warna apa ya?"
Tanya Yuko sambil
dengan cekatan memilih beberapa potong celana dalam. Aku dan Kenta yang bingung
harus melihat ke mana akhirnya malah saling menatap lekat-lekat satu sama lain.
Apa-apaan kami ini.
Sesaat, aku
teringat percakapanku dengan Yuzuki waktu itu. Aku hampir menjawab "biru
muda pucat seperti langit bulan April", tapi aku menahan diri dan menjawab
dengan ragu, "Ah, mungkin... nuansa biru?"
"Benar juga
ya, menurutku juga imejnya begitu. Kentatchi, sini sebentar."
Karena celana
dalam tentu tidak bisa dicoba, Yuko mulai mengukur pinggul Kenta dengan pita
pengukur yang dipinjam dari pelayan toko.
"Meskipun
laki-laki, pantatmu kecil ya. Sepertinya ukuran L muat."
Si subjek utama
hanya berdiri sambil bersedekap dengan jantan, memejamkan mata rapat-rapat
seolah sudah menyerah pada segalanya. Yuko berjongkok, menempelkan celana dalam
yang dipegangnya ke arah depan dan belakang Kenta sambil mulai bicara.
"Omong-omong, Saku suka warna biru?"
Melihat ekspresinya yang penuh arti, dia pasti sedang
membicarakan pakaian dalam yang akan dipilih ini.
Biasanya ini pertanyaan yang sulit dijawab, tapi karena saat
ini aku dikelilingi oleh berbagai pakaian dalam yang mencolok, aku merasa sudah
tidak peduli lagi.
"Yah, biru muda, biru tua, atau hijau kebiruan... aku
suka semua warna dalam spektrum itu."
"Antara seksi dan imut?"
"Hmm, aku suka gap seperti gadis tipe imut yang
ternyata seksi, atau gadis tipe seksi yang ternyata imut. Itu sangat
menarik."
"Suka yang banyak motif dan hiasan? Atau yang
simpel?"
"Sama saja. Gadis yang terlihat polos tapi ternyata
pakaian dalamnya mewah, atau gadis yang terlihat glamor tapi ternyata pakaian
dalamnya polos. Hal-hal seperti itu membuatku sangat bahagia."
"Hmm, hmm, siaaap!"
Sebenarnya
apa yang sedang kubicarakan dengan serius begini?
Yuko
mengangguk berkali-kali seolah sudah paham, lalu berdiri.
"Aku
beli yang ini ya. Saku dan
Kentatchi boleh keluar duluan—"
Aku sempat
berpikir, kalau akhirnya membeli yang sedang dipegangnya itu, apa perlu
menanyakan seleraku tadi? Tapi aku dan Kenta segera lari tunggang langgang meninggalkan tempat
itu.
—Sepuluh menit kemudian, Yuko keluar dengan senyum lebar yang sangat ceria. Di tangannya, dua tas belanja bergoyang beriringan.
Kalau Bisa Selamanya, Kapan-Kapan Lagi
(Bonus Animate Volume 3 / Yuko x Yua)
Setelah
selesai menyantap masakan yang dibuat oleh Yuko dan Yua yang tiba-tiba datang
berkunjung, kami menikmati obrolan santai sejenak sambil memegang secangkir
kopi.
Yuko
memegang mug dengan kedua tangannya, lalu meniupnya perlahan sebelum bicara.
"Rasanya
kalau makan bareng-bareng begini, aku jadi ingin mengadakan acara menginap
bersama, ya—"
Baru saja
aku hendak menimpali, "Kalau begitu ayo tidur berjejer bertiga...",
Yua langsung melirik tajam ke arahku sehingga aku buru-buru menelan kembali
kata-kataku.
Sebagai
gantinya, aku melemparkan pertanyaan balik.
"Kalian
tidak pernah melakukan hal seperti itu?"
Keduanya
saling berpandangan dengan ekspresi sedikit bingung.
"Kalau
dipikir-pikir," Yua mulai angkat bicara.
"Aku belum
pernah menginap berdua saja dengan Yuko-chan, ya."
"Benar
juga~. Padahal waktu SD atau SMP dulu aku sering melakukannya dengan
teman-teman."
Yah, begitu masuk
SMA, hari Sabtu dan Minggu pun biasanya terisi dengan kegiatan klub, jadi
mungkin memang begitu keadaannya.
Yuko
dengan mata berbinar-binar berkata.
"Ucchi,
kapan-kapan menginaplah di rumahku!"
"Mungkin
sesekali boleh juga ya, hal seperti itu."
Yua pun tersenyum
lembut.
"Apa yang
biasanya dilakukan anak perempuan di acara seperti itu?" tanyaku.
Yuko memiringkan
kepalanya sambil berpikir.
Omong-omong, jika
Kazuki atau Kaito menginap di sini, biasanya kami hanya bermalas-malasan sambil
membicarakan hal-hal bodoh.
"Misalnya
kalau Ucchi datang," Yuko mulai mengutarakan idenya.
"Bak
mandi di rumahku besar, jadi kita bisa mandi bareng—"
"Hm, coba
jelaskan lebih detail."
"—Saku-kun?"
Seketika Yua
memberikan tatapan sedingin es.
Seandainya dia
duduk di sampingku sekarang, aku pasti sudah dicubit dengan keras.
Yuko melanjutkan.
"Kita bisa
saling mencoba produk perawatan kulit masing-masing, atau aku mengajari Ucchi
cara menata rambut. Terus saling memperlihatkan album kelulusan!"
"A-aku agak
kurang percaya diri kalau soal album kelulusan," Yua tersenyum getir
sambil menggaruk pipinya.
"Lalu pesta
piyama itu wajib! Makan
camil sambil mengobrol ala gadis!"
Membayangkan
mereka berdua berbisik-bisik rahasia sambil mengenakan piyama membuatku merasa
hangat.
Saat baru
masuk sekolah dulu, Yuko dan Yua hampir tidak pernah bertegur sapa, tapi
sekarang siapa pun bisa melihat kalau mereka adalah sahabat sejati yang tak
tergantikan.
"Apa saja
yang kalian bicarakan kalau sedang berdua?"
Yua menjawab
pertanyaanku.
"Hmm, biasa
saja. Tentang pelajaran, kegiatan klub, baju, kosmetik, atau... tentang
Saku-kun yang berbuat ulah lagi?"
"Memangnya
aku topik yang se-rutin itu sampai masuk ke dalam daftar?"
Begitu aku
memprotes, mereka berdua saling berpandangan dan tertawa kecil.
Rasanya
menyenangkan ya, pikirku.
Orang sering
bilang persahabatan perempuan itu rapuh atau menakutkan, tapi Yuko dan Yua
terlihat seperti kakak beradik yang akur.
Bukan hubungan
yang kasar dan kaku seperti antar laki-laki, tapi mereka saling memikirkan,
menghargai, dan membuka hati satu sama lain.
Terasa
bulat, lembut, dan hangat.
"Tapi
ya," ucap Yuko.
"Kalau
kita menginap nanti, aku... ingin membicarakan tentang orang yang
disukai."
Tumben
sekali bicaranya tersendat-sendat. Dia melirik ke samping seolah sedang
menunggu reaksi.
Yua
menanggapi dengan senyuman lembut yang tidak berubah.
"Bukankah
itu sama saja seperti biasanya?"
"Bukan soal
aku, tapi..."
Yua menepuk-nepuk
punggung Yuko dengan pelan.
"Dengar,
Saku-kun sedang memasang telinga lebar-lebar, jadi lanjutannya kapan-kapan
saja, ya?"
Entah kenapa, aku
langsung memasang wajah cengengesan dan bicara dengan nada yang sengaja dibuat
ringan.
"Yah,
digantung di sini?! Tolonglah, setidaknya kirimkan foto kalian pakai piyama
nanti!"
"Silakan
puas-puaskan saja dengan foto Mizushino-kun atau Asano-kun."
"Balasanmu
kasar sekali!"
Seketika Yuko pun
kembali tersenyum.
"Benar!
Melihat Ucchi pakai piyama itu kan hak istimewaku."
""Iya
kan~!""
Melihat mereka
berdua yang bersorak heboh, kata-kata egois seperti "Semoga selamanya
tetap begini" muncul di benakku, namun segera kuremas dan kusimpan
dalam-dalam di saku.
Sesekali Ingin
Melepas Dasi
(Bonus Gamers
Volume 3 / Haru)
"Hei, kamu itu..."
Beberapa hari setelah kami bermain lempar tangkap bola di
jam istirahat siang, Haru tiba-tiba bicara di waktu sepulang sekolah.
Biasanya dia akan langsung lari menuju tempat latihan klub,
tapi kali ini dia malah menelungkupkan wajahnya di atas meja dengan lesu.
Meski merasa
aneh, aku hanya memberinya isyarat lewat mata agar dia melanjutkan kalimatnya.
"Dulu, kamu
pernah bilang kalau pita tidak cocok untukku, kan?"
Karena belum
menangkap maksud sebenarnya, aku menjawab seadanya.
"Aku bilang
kamu lebih cocok pakai dasi daripada pita. Nuansanya sedikit berbeda."
"Sama saja,
tahu."
Entah ada
hubungannya dengan percakapan ini atau dia memang sudah curi start ganti
baju untuk latihan klub, dasi yang sudah dilepasnya terjuntai lemas di samping
meja.
Karena posisinya
yang membungkuk, bagian belakang kemejanya tertarik, memperlihatkan tengkuknya
yang indah.
Haru menatap
mataku lekat-lekat seolah sedang mencari sesuatu, lalu bergumam.
"Kenapa?"
"Kenapa,
ya..."
Aku mendadak
kehilangan kata-kata.
Sepertinya
suasana saat ini tidak tepat untuk melontarkan candaan seperti biasanya.
Maka, aku mencari
kata-kata yang sejujur mungkin.
"Anggap saja
itu caraku menutupi rasa malu."
Haru tetap
menelungkup, namun memiringkan kepalanya sedikit untuk meminta penjelasan lebih
lanjut.
"Maksudku,
aku merasa itu sudah jadi semacam aturan di antara kita, hal-hal semacam
itu."
"Hubungan
seperti teman laki-laki?"
"Yah, kalau
harus dijelaskan dalam satu kata, mungkin begitu. Lagipula, Haru juga tidak
pernah bilang kalau aku keren atau semacamnya, kan?"
Aku sengaja
mengatakannya sambil menyisakan celah untuk diprotes.
Sesuai dugaan,
Haru tertawa kecil.
"Itu sih
berarti kamu berasumsi kalau sebenarnya aku menganggapmu keren."
"Memangnya
salah?"
"Yah, tidak
salah sih."
Setelah
mengatakannya dengan mata yang tampak sayu seolah sedang demam, Haru langsung
membenamkan wajahnya ke dalam lipatan lengannya seakan baru saja melakukan
kesalahan besar.
Reaksinya sedikit
di luar dugaan, tapi melihatnya begitu membuatku tertawa kecil.
"Tuh kan,
pasti jadi begini."
Aku terus
bicara sambil memperhatikan telinganya yang memerah.
"Kalau
secantik Haru, pakai pita pun sudah pasti cocok. Apa perlu diucapkan dengan
kata-kata?"
"—Ukh.
Tunggu, berhenti, cukup pembicaraan ini!"
Haru
langsung menegakkan tubuhnya dan mengarahkan telapak tangan ke arahku.
"Bukan
begitu. Kemarin junior di klub basket ada yang bilang aku keren seperti cowok
tampan, jadi aku cuma berpikir, apa aku memang sejantan itu? Ternyata aku salah
orang untuk bertanya."
"Yah,
kalimat terakhir itu tidak perlu diucapkan. Mau kubuat kamu mati karena malu dengan
pujian-pujianku?"
Mendengar
ucapanku, Haru berdiri lalu meregangkan tubuhnya kuat-kuat.
Kemejanya menjadi
ketat, mempertegas lekukan dadanya yang meski tidak bisa dibilang besar, tapi
jelas-jelas tidak rata.
Karena
pembicaraan tadi, aku menjadi sedikit canggung dan memalingkan wajah.
Memang benar
bahwa kemampuan untuk berteman seperti sesama laki-laki adalah daya tarik Haru,
tapi jika ditanya apakah aku tidak melihatnya sebagai seorang gadis, jawabannya
adalah sama sekali tidak.
"Hei, hei,
Chitose."
Suara Haru sudah
kembali normal seperti biasanya.
"Aku juga
ingin mencoba bagian memukulnya. Yang bunyi kakiin itu."
"Kalau begitu, mau ke batting center?"
"Mau! Hari Sabtu besok aku hanya latihan pagi,
bagaimana kalau setelah itu?"
"Akan
kulatih kamu dengan keras, lho."
"Boleh
saja!"
Haru mengacungkan
jempolnya dengan senyum lebar.
Kami pun membawa
barang bawaan kami dan keluar dari kelas.
Gadis yang
berjalan di sampingku itu menyangkutkan dasinya di ujung jari, lalu
memutar-mutarnya dengan lihai.
"Kalau kita
memukul bola sekuat tenaga, rasanya bakal lega ya?" gumam Haru pelan.
"Tentu saja.
Sebagian besar masalah bakal ikut terbang bersama bolanya dan tidak jadi
masalah lagi."
"Bagus kalau
begitu."
Sepertinya dia
memutarnya terlalu bersemangat, karena dasi itu terlepas dari jari Haru.
Aku menangkapnya
di udara, lalu menyampirkannya kembali ke leher rampingnya.
Kamu memang
lebih cocok pakai dasi.
Gumamku dalam hati.
Ingin Menangkap tapi Tidak Bisa, Selalu Hanya
Menjadi Penonton
(Bonus Toranoana Volume 3 / Yuko)
Pada hari Sabtu
di akhir pekan setelah kasus penguntit Nanase selesai, aku pergi ke game
center bersama Yuko. Katanya, karena selama dua minggu terakhir aku sama
sekali tidak mempedulikannya demi menjadi pacar palsu Nanase, aku harus
memberikan kompensasi untuk itu.
"Lihat Saku,
aku hebat kan?!"
Di depanku, Yuko
sedang asyik bermain gim dansa.
Dia memang tampak
lihai melangkah ke sana kemari, tapi maaf, mataku hanya tertuju pada dada
ukuran E-nya yang berguncang hebat di balik blus off-shoulder tipisnya
itu.
"Hehehe,
skor tinggi~♪"
Aku menyodorkan
botol jus jeruk pada Yuko yang baru selesai bermain.
Saat dia
menerimanya dengan senang dan meminumnya dengan lahap, butiran keringat
mengalir di sepanjang leher menuju dadanya.
Hmm, pemandangan
yang indah, benar-benar indah.
"Hei, hei,
berikutnya main itu yuk."
Yuko menunjuk ke
mesin crane game.
"Nostalgia
ya, waktu kecil dulu aku cukup jago main ini."
"Kalau
begitu, ayo tanding siapa yang bisa dapat duluan!"
"Boleh
juga."
Kami berdua
menukarkan uang seribu yen, dan Yuko mencoba lebih dulu.
Di balik kaca,
berbagai macam boneka binatang menatap ke arah kami.
"Hmm, yaat,
hup!"
"Itu sih
cuma asal-asalan. Instingmu
benar-benar buruk ya."
Meskipun
semangatnya tinggi, penjepit yang digerakkan Yuko hanya mencengkeram udara di
tempat yang sama sekali tidak tepat.
"Menyebalkan!
Kalau begitu Saku ambilkan itu untukku, boneka anjingnya."
"Sini
dua ratus yen."
Begitu
aku menengadahkan tangan, dia langsung menepuknya.
"Bukan
begitu! Aku ingin Saku menghadiahkan boneka yang didapat sendiri!"
"Kenapa?"
"Habisnya~
Yuzuki pamer kalau dia diambilkan ikan mas koki kemarin."
Melihatnya
menggembungkan pipi, aku hanya bisa tersenyum getir menyadari alasannya.
"Iya, iya,
siap dilaksanakan."
Menirukan gaya
bicara Yuko, aku memasukkan dua koin seratus yen.
Melihat boneka
itu mengenakan semacam syal atau bandana di lehernya, sepertinya bagus jika aku
mengaitkannya di sana.
Aku menggerakkan
mesin itu ke samping, fokus pada salah satu dari empat lengan penjepit yang
posisinya paling pas.
"Saku stop, stop, di situ! Ahh..."
"Bisa diam sebentar tidak, ya?"
Berikutnya aku bergeser ke posisi yang memudahkan untuk
memperkirakan kedalamannya, lalu menekan tombol panah atas.
"Sekarang,
sekarang, sekarang! Ahh, sayang sekali."
"Akan
kubungkam mulutmu itu, ya."
"Silakan
dinikmati♡"
Ini bukan
waktunya memejamkan mata sambil memajukan bibir, tahu!
"Eh,
aaarghhh!"
Sepertinya
waktunya habis karena aku terdistraksi, dan penjepit itu hanya mencengkeram
kekosongan di tempat yang asal-asalan.
"Sayang
sekali, kamu payah ya~♪"
Yuko menautkan
tangan di belakang kepala sambil menjulurkan lidahnya.
"Baiklah,
Saku-kun menerima tantanganmu!"
Aku
menyingsingkan lengan bajuku kuat-kuat.
◆◇◆
Setelah
melewati berbagai gangguan dari Yuko, akhirnya aku berhasil mendapatkan boneka
anjing itu setelah menghabiskan seluruh uang seribu yen hasil tukar tadi.
Rasanya aku baru saja melewati pertarungan sia-sia yang luar biasa panjang.
Padahal
tadi dia terus mengganggu, tapi begitu penjepitnya mengait ke boneka, Yuko
malah bersorak, "Ayo, sedikit lagi! Semangat!".
"Sudah
puas?" tanyaku.
Sambil
memeluk boneka anjing berwajah agak konyol itu, dia tersenyum lebar dengan
sangat bahagia.
"Iya! Akan
kujaga baik-baik."
"Semoga
panjang umur ya, Shibamaro."
"Apa-apaan,
namanya tidak imut sama sekali!"
Setelah berkata
begitu, Yuko mengangkat Shibamaro ke depan wajahnya.
Sambil
menggerak-gerakkan kaki depan boneka itu, dia bicara dengan suara aneh yang
sengaja dibuat-buat.
"Apa
perasaanmu sudah sedikit membaik, Nyah?"
"Shibamaro,
ternyata kamu kucing ya?"
"...Apa
perasaanmu sudah sedikit membaik, Wan?"
Meskipun kami
terus bercanda, hatiku terasa hangat.
Apa-apaan,
ternyata alasan "kompensasi" itu cuma kedok saja ya.
"Berkatmu,
sih."
"Belakangan
ini dahimu terus berkerut, Wan."
"Memangnya
wajahku menakutkan?"
Kok-kok, Shibamaro mengangguk.
"Maaf sudah
membuatmu khawatir. Ayo kapan-kapan kita jalan-jalan lagi begini."
"Wan-wan!"
Boneka itu
menyalak senang sambil menerjang wajahku.
"Hei,
tunggu!"
"Heh-heh-heh-heh-heh."
"Jangan
kegirangan begitu!"
Setelah puas
bercanda, Yuko menyeringai.
"Aku dapat
ciuman Saku~!"
"Ciuman
tidak langsung lewat Shibamaro itu tidak dihitung."
"Kalau
begitu aku akan menciumnya banyak-banyak!"
Yuko mendekap
Shibamaro ke pipinya erat-erat.
Ah, pikirku.
Seandainya saja
bisa terus begini selamanya.
Meskipun ini
hanyalah bentuk kemanjaan atau kelemahan seseorang.
Cha-charin, aku menambahkan dua koin seratus yen
lagi.
Setidaknya agar
Shibamaro tidak menyalak sendirian karena kesepian.
Sampo dan Topi
(Bonus BOOK WALKER
Volume 3 / Yuzuki)
Di dalam kereta
Shinkansen saat perjalanan pulang dari Tokyo, aku mengirim pesan LINE kepada
Nanase.
Aku merasa sudah
seharusnya melaporkan hasil akhirnya kepada orang yang sudah mendorong
punggungku dua malam lalu.
Sesampainya di
Fukui dan berpisah dengan Kak Asuka, aku benar-benar dipaksa mentraktir Pak
Kura di Ramen Hachiban sebelum kami bubar. Pak tua itu malah memesan Yasai
Koku-uma Ramen ditambah gyoza, dia benar-benar seorang guru bukan sih?
Keluar dari
stasiun, tepat saat aku menghirup napas dalam-dalam udara kampung halaman yang
segar setelah semua beban di dada terangkat, ponselku bergetar.
Di layar
terpampang nama Nanase.
"Halo, ada
apa?"
Begitu aku
menjawab, suara yang terdengar sangat serius menyahut.
『Jangan
bicara, jalan terus ke kiri.』
Apa-apaan ini?
Saat aku mengedarkan pandangan ke sekitar, kalimat bernada ancaman kembali
menyusul.
『Ups,
jangan berisik. Kalau kamu sayang nyawamu, ikuti saja instruksinya dengan
patuh.』
Oh, begitu ya,
pikirku.
Intinya, ini cuma
candaan seperti biasanya.
Melihat gaya khas
Nanase ini, aku malah merasa lega dan bahuku yang tadinya tegang kini menjadi
rileks.
Mungkin terdengar
berlebihan karena aku hanya pergi ke Tokyo selama dua hari satu malam, tapi
bagaimanapun juga aku terus menjaga kewaspadaanku. Interaksi yang sudah sangat
mendarah daging ini membuatku benar-benar merasa telah kembali ke "rumah".
Aku menyahut
dengan suara yang sengaja dibuat memelas.
"A-aku akan
ikuti perintahmu. Tolong, biarkan aku hidup."
『Itu
tergantung kelakuanmu. Bertindaklah dengan sopan, anggun, hati-hati, dan
waspada, layaknya seorang putri bangsawan yang akan memulai debutnya di
lingkungan sosial.』
Sambil menahan
tawa mendengar kalimatnya yang hiperbolis, aku mulai berjalan ke arah yang
diperintahkan. Setelah berjalan beberapa saat dengan ponsel masih menempel di
telinga, Nanase kembali memberi instruksi.
『Belok
kanan di sana. Temukan aku tanpa ketahuan orang sekitar, lalu serahkan
"barang"-nya.』
Setelah berkata
begitu, sambungan telepon terputus.
Aku memasukkan
ponsel ke saku belakang, berbelok ke kanan, lalu berjalan menyusuri gedung
komersial Happiring yang berdinding kaca... dan ternyata aku tidak perlu
repot-repot mencarinya.
Meskipun
mengenakan topi, hoodie, dan celana pendek yang simpel bergaya tomboi,
gadis cantik yang berdiri di sana tetap terlihat mencolok dari kerumunan sambil
meniup permen karet hingga menggembung.
Begitu
aku mendekat, balon permen karetnya pecah.
Nanase
menggerakkan lidahnya dengan lihai untuk membersihkan sisa permen karet di
bibirnya, lalu mulai bicara.
"Hai."
"Jangan-jangan
kamu sengaja datang menjemputku?"
"Mana
mungkin, aku kebetulan saja sedang belanja di depan stasiun. Terlepas dari
itu..."
Dia menengadahkan
tangan seolah sedang menagih sesuatu.
"Berikan
'barang'-nya."
"Kamu masih
mau melanjutkan akting itu? Aku tidak baru saja melakukan transaksi
mencurigakan, tahu."
"Bukan
itu."
Nanase
tersenyum manis sambil memiringkan kepalanya.
"Tentu saja
kamu membelikan setidaknya satu oleh-oleh untukku, kan?"
"...Gimana
kalau Satsuki-gase saja?"
Saat aku
menyebutkan nama kue khas Fukui, dia membalasnya dengan desahan panjang yang
dilebih-lebihkan.
Kalau
dipikir-pikir lagi, terlepas dari teman-teman lain yang belum tahu situasinya,
aku memang seharusnya membelikan setidaknya satu oleh-oleh untuk Nanase.
Harusnya aku tidak usah repot-repot membelikan Tokyo Banana yang bahkan
tidak diminta oleh ayahnya Kak Asuka.
Saat aku
sedang berpikir begitu, Nanase menatapku lekat-lekat dari jarak dekat.
"Hmm."
"Apa?"
Pertanyaanku
tidak dijawab, dan wajahnya yang sempurna itu justru semakin mendekat.
Melewati
pipi kiri dan bibirku yang mendadak kaku, suara napas yang seolah sedang
memastikan sesuatu menggelitik telingaku.
—Hmm.
Sekali
lagi, suara cueknya membelai daun telingaku.
"Padahal
aku berniat menghiburmu kalau saja kamu dicampakkan dengan tragis setelah
mencoba menyelinap ke kamar kakak kelas idamanmu itu. Ternyata kamu malah
memasang wajah segar seolah sudah 'selesai' melakukan sesuatu ya."
"Mau aku
protes dari bagian mana dulu?"
"...Dariku?"
"Siang-siang
begini mesum sekali!"
Nanase melepas
topinya dan memutar-mutarnya di ujung jari. Saat dia menggelengkan kepala
pelan, rambut hitamnya yang indah berkilau menyebar layaknya gaun beledu.
Kemudian, dia
memakaikan topi di tangannya itu ke kepalaku.
Seketika, aroma
sampo yang manis tercium dan menyelimutiku dalam sekejap.
"Ternyata
tidak terlalu cocok, ya. Tidak terlihat seperti anak bisbol."
Ucap
Nanase dengan suara yang sedikit lebih lemah dari biasanya.
"Ada apa
tiba-tiba?"
"Hmm...
menimpa?"
"Menimpa
apa?"
"Mungkin...
memori."
"Topi
ini tidak mengeluarkan gelombang elektromagnetik aneh, kan?"
Mendengar
kata-kataku, Nanase tertawa lepas.
"Entahlah."
Dia mengambil
kembali topinya dengan lihai, memakainya lagi, lalu mulai melangkah pergi. Aku
segera mengejarnya.
"Nanase, mau
minum kopi dulu sebelum pulang?"
"Setuju.
Tapi kamu yang traktir sebagai ganti oleh-oleh, ya."
"Padahal
aku baru saja mentraktir Pak Kura di Ramen Hachiban..."
Sambil bertukar percakapan ringan seperti itu, kami mulai berjalan. Dan tiba-tiba, aku merasa aroma sampo Nanase masih tertinggal di rambutku.
Blue Moon yang Ingin Kulihat Bersamamu
(Festival Novel
Melonbooks / Asuka)
"Tiga puluh menit! ...Atau mungkin tolong tunggu
sebentar lagi di taman itu!"
Aku, Nishino Asuka, berkata sambil menekan rambut mencuat
bekas tidur yang melompat konyol dengan tanganku.
Di bawah jendela, kamu yang baru saja menyanyikan lagu senam
radio tadi, menatap ke arah sini dengan ekspresi yang sangat lembut dan sedikit
jahil, persis seperti wajah seorang anak laki-laki.
——Jika kamu
merasa ingin kawin lari, sentuh telinga kirimu sebagai tandanya.
Itu adalah
kalimat yang tak bisa disebut janji, sebuah ucapan yang terdengar seperti
gurauan.
Kalimat
sok keren yang sangat khas dirimu.
Memori
berharga yang terhubung dengan hari musim panas yang jauh itu.
Ternyata
kamu masih mengingatnya dengan baik, kamu menyadarinya... Kak Saku.
Jika aku
lengah sedikit saja, rasanya aku akan menangis tersedu-sedu, jadi aku buru-buru
menutup jendela.
Biasanya
aku bukan tipe orang yang mudah bangun tidur dengan segar, namun rentetan
kejadian tak terduga ini membuatku terjaga melampaui batas. Aku bernapas perlahan untuk menenangkan
kepalaku yang terasa panas membara.
Syuu, fuu, haa.
Tunggu, eeeh?!
Begitu aku
menjadi tenang, berbagai macam emosi—terutama rasa malu—langsung menyerbu.
Aku buru-buru
melihat ke cermin. Rambutku ternyata lebih berantakan dari dugaanku.
Karena belakangan
ini aku terlalu banyak pikiran dan tidak bisa tidur nyenyak, warna kulitku juga
tidak terlihat bagus. Terlebih
lagi, di balik piyama ini aku sedang tidak memakai bra—.
Begitu
menyadarinya, aku tidak bisa berdiri tegak lagi. Aku memegangi kepala dan
merosot duduk dengan lemas.
Tadi itu
cuma sekejap, jadi harusnya tidak apa-apa, kan?
Pachin. Aku menepuk kedua pipiku untuk
mengubah suasana hati.
Aku harus
segera bersiap, aku tidak punya waktu untuk bersantai.
Aku
keluar dari kamar dengan perlahan, lalu menuruni tangga dengan langkah yang
sangat berhati-hati.
Kamar
tidur Ayah dan Ibu ada di lantai dua, jadi jika aku menggunakan wastafel di
bawah tanpa menimbulkan suara gaduh, mereka tidak akan terbangun.
Aku
mencuci wajahku dengan saksama, lalu memakai masker wajah sebagai upaya
terakhir. Di kemasannya tertulis banyak kata-kata promosi yang memikat seperti
kelembapan tinggi, kulit transparan, hingga kulit putih berseri. Saat ini, aku
akan memercayai kata-kata itu!
Di cermin
di depanku, terpantul sosok diriku yang terlihat konyol seperti hantu bertopeng
noh yang sama sekali tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain.
Aku
menyikat gigi lebih lama dari biasanya, lalu memasukkan losion dan krim contoh
yang dikemas kecil-kecil ke dalam kantong kosmetik agar tidak memakan tempat.
Setelah
melepas masker, aku memakai riasan seperti biasa, lalu membubuhkan sedikit
perona pipi yang biasanya jarang kugunakan.
Setelah
merapikan rambut dengan teliti, aku kembali menyelinap ke kamarku.
Saat aku
mengeluarkan tas boston kulit dari lemari, tiba-tiba aku tersadar.
Eh,
jangan-jangan aku akan menginap bersama Kak Saku?
—Ukh.
Jika ini
adalah komik, pasti sudah ada efek suara kaaaa dengan wajah memerah dan
keringat yang mengalir di pipi. Mungkin asap akan mengepul dari kepalaku dan
mataku berubah menjadi pusaran berputar.
Aku
melanjutkan persiapan sambil berusaha tidak berpikir terlalu dalam, namun
tanganku berhenti tepat saat hendak membuka sebuah laci.
...Anu,
itu, soal pakaian dalam, bagaimana ya.
Bukan,
ini bukan begitu. Aku tidak sedang membayangkan hal yang aneh-aneh.
Berbagai
alasan yang entah ditujukan untuk siapa muncul satu per satu di kepalaku.
Setelah
waktu yang terasa agak terlalu lama untuk disebut sejenak berlalu, aku
memantapkan hati dan mengeluarkan tas belanja yang tersimpan di bagian paling
dalam lemari seolah sedang disembunyikan.
Di
dalamnya ada dua set pakaian dalam biru yang masih baru.
Warna ink
blue yang menyerupai tulisan pena tinta pada surat lama, dan warna blue
moon yang menyerupai langit malam yang kita lihat berdua pada musim panas
itu.
Sebenarnya aku
berniat mengenakannya pada hari yang biasa-biasa saja suatu saat nanti.
Misalnya saat aku
menemukan novel yang menarik, atau saat aku bisa menyapa kucing liar yang biasa
kutemui di tepi sungai. Pokoknya alasan sepele yang bisa membuat tertawa.
Aku mengambilnya
dengan ragu-ragu, lalu ───────.
Terakhir adalah
soal baju apa yang akan kupakai, namun untuk hal ini aku bisa memutuskannya
dengan cepat.
Setelah selesai
bersiap, aku menulis surat singkat untuk orang tuaku di atas kertas pesan yang
sama seperti yang pernah kuberikan padanya dulu, lalu meletakkannya di atas
meja makan.
Aku mengenakan
sepatu di pintu depan, mengatur ekspresi wajahku, lalu membuka pintu.
Sosok polos yang
tampak terkantuk-kantuk di bangku taman tertangkap oleh mataku. Rasanya sangat
nostalgia dan aku merasa dia begitu berharga saat aku melangkah mendekat.
Namun, tak peduli
seberapa banyak dirimu yang sekarang adalah Kak Saku, dan seberapa banyak
diriku yang sekarang adalah kamu.
Kak Asuka
berkata.
"...Ka-Kamu."
Mari kita mulai petualangannya.
Pembohong Adalah Awal Musim Panas
(Bonus Toranoana Volume 4 / Yuko x Haru)
Sore hari setelah
aku diperintahkan oleh Pak Kura untuk membersihkan kolam renang, aku, Aumi
Haru, hendak melangkah menuju klub dengan perasaan yang sedikit lebih berat
dari biasanya, sebelum sebuah suara menghentikanku dari belakang.
"Haru~!"
Mendengar suara
yang terdengar ceria itu, aku menoleh dan melihat Yuko yang mendekat sambil
tersenyum lebar.
"Mau latihan
sekarang? Boleh minta waktunya sebentar?"
Hee, jarang
sekali.
Sama seperti
Ucchi, kami memang sering mengobrol atau main bersama Chitose dan yang lainnya,
tapi kalau bicara secara personal begini, rasanya hampir tidak pernah.
"Yo, ada
apa?"
Begitu aku
bertanya, Yuko melangkah maju satu tindak lagi. Aroma parfum yang manis dan
mewah—namun tidak menusuk hidung—tercium samar tertiup angin.
Sepertinya
hal-hal seperti ini tidak akan pernah cocok denganku selamanya, pikirku sambil hampir saja mengembuskan
napas panjang.
"Anu, kalau
kamu tidak keberatan, bagaimana kalau besok tugas membersihkan kolam renangnya
tukar denganku?"
"Hah?"
Mendengar tawaran
yang sama sekali tak terduga itu, aku merespons dengan suara yang terdengar
konyol.
"Habisnya,
Haru kan baru jadi kapten baru, pasti lagi sibuk-sibuknya di klub, kan? Kalau
aku sih, bisa bolos klub dengan santai sambil bilang 'hari ini aku pulang ya~'.
Terlebih lagi, kalau bareng Saku, aku sama sekali tidak keberatan, kok!"
Mendengar
ucapannya yang begitu blak-blakan, aku tertawa kecil dalam hati.
Aku sadar
kalau aku ini tipe orang yang suka bicara apa adanya, tapi sepertinya aku masih
kalah kalau dibandingkan dengan Yuko.
Menurutku
ini adalah tawaran yang sangat menguntungkan.
Dengan
begitu aku bisa pergi latihan, dan Pak Kura pun sejujurnya tidak akan peduli
siapa yang membersihkan asalkan kolamnya bersih. Tidak akan ada orang yang
merasa dirugikan.
"Ah,
itu..."
Meskipun
begitu, aku malah membuang muka dan bergumam ragu.
"Aku sangat
menghargai niatmu, tapi ini kan hukuman karena aku ketiduran di kelas. Rasanya
tidak enak kalau malah melempar semuanya padamu, ya kan?"
Doubt, aku memprotes kata-kataku sendiri yang
baru saja keluar.
Sayangnya,
aku bukan tipe orang yang se-formal dan se-serius itu.
Lalu kenapa?
Kalau ditanya
begitu sekarang, aku hanya bisa menjawab: "entahlah".
Tidak, serius,
kenapa ya?
Tanpa memedulikan
kegalauanku, Yuko sepertinya langsung menerima alasan itu dan menggaruk pipinya
dengan lesu.
"Hmm, benar
juga ya. Yahh, padahal kupikir membersihkan kolam bersama Saku itu punya kesan
spesial dan bakal menyenangkan, sayang sekali."
Berusaha mengusir
rasa bersalah kecil karena telah membuat wajahnya mendung akibat perasaanku
yang ambigu, aku pun menyeringai lebar.
"Maaf ya,
Yuko."
"Enggak
apa-apa kok! Kalau begitu, semangat latihannya! Sampai jumpa besok~!"
Sambil melihat
punggungnya yang menjauh dengan rok yang melambai-lambai indah, aku
mengacak-acak rambutku dengan kasar.
Sial, apa yang
sebenarnya kulakukan?
Rambut panjang
yang halus dan indah, tangan dan kaki yang ramping nan lembut, dada yang besar,
serta kebaikan hangat yang dia sebarkan tanpa syarat.
Gadis seperti
itu, sudah pasti akan disukai oleh siapa pun, pikirku.
Dia benar-benar
kebalikan dariku.
Nah, sekarang...,
aku menepuk tas enamelku dan mengalihkan pikiranku sepenuhnya ke urusan klub.
Karena jika
tidak, aku bisa-bisa menyadari kenyataan bahwa sebenarnya aku sedikit
menantikan hari esok, dan justru itulah alasan kenapa aku merasa bersalah
sekarang.
Jarak Antara
Senior dan Junior
(Bonus Gamers
Volume 4 / Asuka x Haru)
Suatu Minggu siang.
Aku, Nishino Asuka, datang ke restoran Europe-ken untuk
makan siang yang sedikit terlambat bersama keluarga.
Saat turun dari mobil Ayah, terdengar suara riuh dari
lapangan di sebelah restoran.
Aku menoleh ke sana karena mengira ada pertandingan bisbol
amatir, dan seketika itu juga, jantungku berdegup kencang.
Eh,
bohong, kan? Kenapa?
Kak
Saku... sedang bermain bisbol.
Dia bersama
teman-teman sekelasnya.
"Apakah itu... Chitose-kun?"
Mungkin karena merasa aneh melihatku tak kunjung masuk ke
restoran, Ayah mendekat dari belakang dan bertanya.
"Maaf, aku
tidak mau makan siang. Kalau sudah selesai, kalian pulang duluan saja tidak
apa-apa."
"Ya ampun,
apa kamu tidak bisa menunggu sebentar saja? Kalau begitu, mumpung di sini, aku
juga ingin menyapanya."
"Tidak,
tidak usah. Jangan ke sana sama sekali."
"...... Begitu ya."
Sosok Ayah yang bahunya merosot dengan berlebihan itu
terlihat sedikit lucu, tapi aku sama sekali tidak punya waktu untuk
memedulikannya.
Perasaan pertama yang muncul adalah debaran yang membuatku
ingin berlari menghampirinya. Namun, perasaan berikutnya yang menyerang adalah
kesepian yang membuatku ingin melarikan diri dari sini.
Aku tahu dia
bukannya sengaja merahasiakannya dariku.
Dia pasti
berencana mengundangku ke sebuah pertandingan setelah persiapannya matang, lalu
menunjukkan wajah kerennya yang biasanya.
Namun, kenyataan
itu justru membuat dadaku terasa sangat sesak.
——Ternyata,
yang bisa menyalakan api di hatimu bukanlah aku, ya.
Bahkan, sampai
kapan pun aku tetaplah seorang senior. Aku baru saja melewatkan kesempatan
untuk memberikan bantuan kecil, tidak seperti gadis-gadis yang ada di sana
sekarang.
Jika aku melompat
ke dalam lingkaran itu, apakah kamu akan terkejut? Apakah kamu akan menggaruk
pipi dengan senyum yang sedikit bingung, atau justru tersipu malu dengan jujur?
Melakukan hal itu
mungkin hanya akan membuatku depresi karena dipaksa menyadari jarak satu tahun
usia di antara kita.
Tak peduli
seberapa keras aku berjuang, aku tetap tidak akan pernah bisa menjadi teman
sekelasmu.
Siapa yang berhasil melempar bola straight tepat ke
tengah hatimu?
Apakah Hiiragi-san? Uchida-san? Nanase-san? Atau....
Ah, setiap gadis punya kemungkinan yang terlalu besar
sampai-sampai aku merasa kesal sendiri.
——Meski
begitu, aku
melangkah maju.
Karena
aku sudah memutuskan untuk menghadapi sembilan bulan yang tersisa dengan
seluruh keberadaan seorang Nishino Asuka.
◆◇◆
Setelah
menyaksikan latihan mereka sampai hari gelap, aku keluar dari lapangan
bersamaan dengan teman-teman sekelasnya yang mulai bubar.
Tepat
saat aku ingin berjalan pulang dengan santai sambil meresapi sisa kehangatan
yang menyenangkan sekaligus rasa sepi yang kian bertambah, langkah kaki yang
ringan mendekat dari belakang.
"Senior
Nishino."
Saat
berbalik, gadis dengan kuncir kuda pendeklah yang memanggil namaku.
Sudah
kuduga, gumamku
dalam hati.
Aumi-san
mengusap keringat di dahinya dengan kasar menggunakan ujung bajunya.
"Tentang
apa yang Senior katakan waktu itu...."
Mendengar
itu, aku memasang senyum sedingin mungkin.
"Apakah
jawabannya ada di dalam dirimu sendiri?"
"Sepertinya
begitu. Hanya saja, aku merasa harus menyampaikan hal ini kepada Senior."
Hal-hal
seperti inilah yang menyebalkan, aku rasanya ingin mengembuskan napas panjang.
Kata-kata yang
lugas, perasaan yang jujur, dan senyum lebar yang panas serta menyilaukan yang
kini diarahkan padaku.
Benar-benar
tipe yang sulit kuhadapi.
Aku
sempat berpikir untuk membalas kata-katanya, tapi jika aku membuka mulut
sekarang, aku merasa akan sedikit membenci diriku sendiri, jadi aku hanya diam
sambil menyipitkan mata.
Setelah
menundukkan kepala sebagai salam pamit, Aumi-san berlari kembali menuju
lapangan tempat kamu berada.
Matahari
yang menerangi bulan—kenyataan yang tersusun rapi layaknya dongeng itu
membuatku merasa kesal.
Namun, aku punya
ceritaku sendiri.
Sambil menatap
langit malam yang berwarna biru tua, aku meremas rokku erat-erat.
Seandainya ini
adalah sebuah drama masa muda.
——Aku ingin
menjadi orang yang menuliskan halaman terakhirnya.
1 on 1 Milik Kita
(Bonus Animate Volume 4 / Yuzuki)
"Jangan..."
Aku, Nanase
Yuzuki, melakukan steal pada bola milik Umi yang sedang diperebutkan
dengan Todo Mai, lalu berkata sambil berpapasan dengannya.
"...meremehkanku."
Aku melepaskan
tembakan three-point dengan seluruh konsentrasi yang telah kupertajam
hingga batas maksimal.
Sesaat setelah
bola terlepas dari ujung jari, aku yakin bola itu akan masuk.
Benar saja, bola
itu mengikuti jalur yang kubayangkan di dalam kepala dan melewati jaring dengan
tenang.
Sejak
menerima usul Umi, aku terus mendedikasikan diri di balik layar. Namun, biar
begini, aku juga seorang atlet yang terbiasa bermandikan keringat.
Sejujurnya,
aku sudah hampir meledak sejak tadi.
Aku
merasa sangat marah pada rekan setim yang tidak tegas, pada situasi di mana
partnerku harus memikul peran yang menyebalkan, dan pada Todo Mai yang
meremehkan Umi seolah dia tidak setanding.
Terlebih
lagi, aku marah pada sikap mereka yang sama sekali tidak melirik ke arah sini,
dan fakta bahwa kesempatan untuk membangkitkan pria yang kucintai justru
direbut oleh rivalku.
Namun
yang paling membuatku muak adalah sosok wanita payah bernama Nanase Yuzuki yang
membiarkan situasi ini terjadi.
"Begitu ya,
ternyata kamu juga ada di sini. Siapa namamu?"
Todo Mai
mengangkat sudut bibirnya seolah baru menyadari keberadaanku sekarang.
Meskipun
aku merespons dengan dingin, dalam sekejap, bayangan pertandingan kemarin
melintas di benakku.
Benar-benar,
semuanya sama saja, aku
mengembuskan napas pendek.
Aku ini bukan
penonton yang duduk di pinggir panggung, tahu.
Chitose, sejak
kemarin kamu terlalu banyak melihat Umi.
Umi, kamu terlalu
berlebihan masuk ke mode gadis jatuh cinta.
Todo Mai, aku
akan menghancurkanmu.
Aku menatap papan
skor dengan tajam, lalu beralih menatap partnerku dan catwalk di sana.
——Aku telah
menyalakan api merah di hatiku.
Aku punya caraku
sendiri.
Aku tidak akan
bersikap sok pahlawan yang jujur dan berdarah panas.
Tapi, jangan lupa
bahwa di sini juga ada wanita yang sedang bertarung.
Jika tidak, aku
akan melahap kalian semua sampai ke tulang-tulangnya.
◆◇◆
Pada akhirnya,
kemenangan yang sudah hampir kami raih justru lepas dari jari kami di
detik-detik terakhir.
Yah, sudahlah. Masa depan tim sudah terlihat jelas.
Mungkin ungkapan "kalah dalam pertandingan tapi menang
dalam pertarungan" digunakan untuk situasi seperti ini.
Setelah bersenang-senang sebentar dengan yang lain, Umi
mendekat ke arahku.
"Ini mungkin tidak terlalu megah untuk sebuah pistol
tanda start."
Dia menunjukkan
telapak tangannya ke arahku.
"Tapi,
bolehkah aku menganggap pertandingan kita telah dimulai?"
Pachin. Aku menepukkan tanganku ke tangannya.
"Kamu bicara
begitu setelah melakukan false start, ya?"
Padahal kamu
sudah curi-curi kesempatan mengajak Chitose pulang bareng.
Melihat
Umi yang cengengesan, aku bergumam dalam hati.
Terlepas
dari urusan klub atau basket, setelah Senior Nishino, kini muncul lagi satu
rival yang sangat merepotkan, dan aku justru baru saja memberinya bantuan.
Aku ini
memang tipe yang tidak pernah kapok.
Meski
begitu, permainan Umi di akhir pertandingan tadi benar-benar luar biasa sampai
membuatku kagum.
Aku sangat
mengerti kenapa Todo Mai—dan juga pria itu—sampai terpesona melihatnya.
——Ternyata,
hanya ada satu Matahari (Rival) yang benar-benar aku akui.
Kekuatanmu
bukanlah refleks atau kecepatan yang luar biasa.
Kekuatanmu adalah
gairah membara yang mampu menerangi hati semua orang.
Aku tidak ingin
kalah darimu.
Meskipun kamu
adalah orang yang mengajariku keindahan dari berjuang mati-matian.
Meskipun kamu
adalah orang yang menolong pria yang telah menolongku.
Tidak, justru
karena itulah.
Layaknya seorang
atlet, aku ingin bertarung secara adil dan menang telak darimu.
Karena
itu, sekarang aku akan tersenyum menantang dan berkata:
"Mari bermain adil, aku sudah mencium Chitose,
lho."
Nah, majulah dari mana pun kamu mau.
Bulan Sebelum Larut Malam dan Matahari Sebelum
Fajar
Aku
menghirup napas perlahan, dan rasa nyeri yang menusuk di pangkal hidung
memberitahuku bahwa musim dingin sudah dekat.
Tanpa
sadar aku sedikit mengernyit dan menundukkan pandangan. Aku berpikir dengan
cukup dingin, kuharap ekspresi ini terlihat seperti kesedihan atau
penderitaan—pokoknya sesuatu yang pas untuk membuat laki-laki di depanku ini
merasa ragu—saat aku membuka mulut.
"Maaf,
aku tidak bisa berpacaran denganmu."
Aku
mengatakannya dengan tenang, namun tegas.
"Yuzuki,
sekarang kamu tidak punya pacar, kan? Apa memang aku tidak cukup baik?"
Mau
cukup baik atau tidak juga bukan itu masalahnya, pikirku.
Dia
adalah pemain inti kelas satu klub bola voli putra yang bertubuh tinggi seperti
Kaito dan memiliki wajah yang cukup tampan.
Aku
pernah melihatnya saat kegiatan klub, dan namanya terkadang muncul dalam
obrolan anak-anak klub basket putri sebagai "cowok keren", jadi aku
memang mengenalnya.
Tapi,
jangankan bertukar pesan LINE, kami bahkan seharusnya belum pernah bicara
secara pribadi sebelumnya.
Lagi pula, sejak
kapan dia mulai memanggil nama depanku begitu saja?
Biasanya kalau
mau memulai percintaan, bukankah estetika yang benar adalah mencoba menelepon
sekali saja di malam hari sepulang sekolah dengan berpura-pura tenang padahal
hati sangat gugup?
Meski memprotes
dalam hati, kepalaku tetap tenang mengamati situasi secara objektif.
Aku sudah
terbiasa dengan hal-hal seperti ini.
Aku
sedikit penasaran kemungkinan apa yang dia lihat sebelum dia merasa "cukup
baik", tapi aku tidak ingin menjadi begitu jahat sampai menanyakannya.
Lagipula,
jika dia menjawab, "Kupikir dengan tampangku ini aku punya peluang,"
aku akan merasa sedikit terluka karena dianggap sebagai wanita yang dangkal.
Aku
menunjukkan senyum malu-malu yang tampak agak ragu dan canggung.
"Yah,
aku memang tidak punya pacar, sih... tapi, sepertinya aku sudah punya 'partner'
yang sangat kucintai?"
Laki-laki
itu berseru, "Begitu yaaaa!", lalu mengacak-acak rambutnya sebelum
menengadah ke langit.
"Boleh aku
tanya siapa?"
"Maaf, aku
harus segera kembali latihan. Lagipula, lihat, tatapan dari luar sana sudah
mulai berisik."
Ini adalah depan
gedung klub di samping Aula Olahraga Kedua.
Sejujurnya,
meskipun hari ini adalah hari latihan mandiri karena ada rapat guru, memanggil
seseorang di tengah kegiatan klub untuk menyatakan cinta itu rasanya kurang
etis bagi sesama atlet. Dan lagi, para senior klub basket putri, untuk apa
kalian mengintip dari pintu Aula Olahraga Pertama di sebelah sana?
Yah, aku sudah
menduga hal ini sejak kalian dengan semangat mendorong punggungku saat aku
hendak menolak dengan alasan "masih latihan, nanti saja".
"Benar juga,
maaf, maaf. Kalau begitu, kalau kamu berubah pikiran, katakan saja kapan pun.
Kalau saat itu aku belum punya pacar—atau bahkan kalau sudah punya pun, aku
akan langsung memutuskannya demi kamu!"
Dengan kalimat
yang jujur sampai terasa menyegarkan itu, dia sedikit menaikkan kesan baiknya
di detik terakhir sebelum berlari pergi.
Aku mengembuskan
napas panjang, lalu melangkah menuju Aula Olahraga Pertama. Seketika itu juga,
beberapa kepala yang mengintip langsung menghilang dengan cepat.
Benar-benar
deh, mentang-mentang tidak ada Ibu Guru Misaki.
Aku menggosokkan
alas sepatu basketku pada kain pel di depan pintu sebelum masuk ke dalam.
Di aula olahraga
tempat banyak klub olahraga baru saja menyelesaikan turnamen pemula,
atmosfernya terasa agak santai dan kendur. Namun, suara cit, cit yang
tajam membelah udara saat seorang gadis dengan kuncir kuda kecil melompat
lincah.
Astaga, dia
bergerak sangat aktif padahal itu cuma latihan dasar yang membosankan.
Sepertinya dia
sama sekali tidak tertarik dengan urusan cinta orang lain, ya.
Bagus, itulah
partner yang kucintai.
Aku tidak
berbohong... jadi segini saja boleh, kan?
Aku tidak boleh
kalah. Aku menyemangati diri sendiri sambil mengencangkan kembali tali sepatu
basketku.
"Bola
laki-laki" kesayangan kami ada di sini.
Musim gugur kelas
satu SMA.
──Aku, Nanase
Yuzuki, masih belum mengenal cinta.
◆◇◆
Setelah
berkeringat selama sekitar satu jam, latihan mandiri pun berakhir.
Karena jadwal
khusus sekolah hari ini hanya sampai jam pelajaran kelima, waktu baru saja
menunjukkan lewat pukul setengah empat sore.
Setelah
membereskan bola dan pengatur waktu serta selesai mengepel, kami anak kelas
satu masuk ke ruang klub. Di sana, para senior kelas dua yang sudah selesai
berganti pakaian sedang asyik mengobrol.
Akhirnya,
aku mulai terbiasa dengan ruang tanpa kakak kelas tiga ini.
Padahal
mereka seharusnya sudah membersihkan tempat ini sebagai tanda perpisahan saat
pensiun, tapi setelah beberapa bulan, sekarang tempat ini sudah agak chagachaga
(berantakan). Sebenarnya aku merasa ini kurang pantas untuk klub yang isinya
perempuan semua, tapi mungkin semua klub olahraga memang seperti ini.
Saat aku
melepas kaos latihan dan mengusap tubuhku yang sedikit berkeringat, seseorang
tiba-tiba menempel di punggungku.
Embusan
napas tipis menggelitik telinga kiriku.
"Hyaa!"
Aku
buru-buru melompat menjauh, dan kulihat Kei-san, sang kapten, sedang menatapku
sambil menyeringai.
"Apa-apaan
sih, Kak."
Aku
bicara sambil menutupi braku seadanya menggunakan handuk olahraga di tangan.
Sesama
perempuan, aku memang tidak se-polos itu sampai merasa malu dilihat sekarang,
tapi aku tetap ingin menjaga kesopanan untuk tidak berkeliaran di ruang klub
hanya dengan pakaian dalam.
"Apa-apaan
apanya? Kamu kan sudah tahu~"
Kei-san melangkah
maju lagi, memasang ekspresi penuh arti sambil menyentuh pinggangku dengan
ujung jarinya.
"Tunggu,
hentikan, Kak."
Karena terasa
sangat geli, aku menggeliat. Melihat reaksiku, dia tampak puas dan mengangkat sudut bibirnya.
Dengan
tinggi badan di atas 170 cm dan sudah dipercaya menjadi Power Forward
sejak kelas satu, aku sangat menghormati Kei-san sebagai pemain.
Dia bukan
tipe pemain yang sangat jago basket, tapi dengan ketekunan yang tidak pernah
menyerah sampai akhir, aku sudah tidak tahu berapa kali tembakan three-point-ku
yang meleset berhasil dia masukkan kembali ke dalam ring.
Meskipun
dia sangat tegas selama pertandingan atau latihan, dia tidak kaku dalam
memaksakan disiplin atau hierarki senioritas, sehingga dia dicintai oleh semua
anggota klub.
Tidak
heran jika dia terpilih secara aklamasi sebagai kapten berikutnya saat anak
kelas tiga pensiun.
Hanya saja,
menurutku dia terlalu menyukai topik pembicaraan semacam ini.
Aah, padahal
kalau diam dia terlihat seperti wanita cantik yang gagah, tapi apa-apaan wajah
konyol itu?
Kei-san
memberikan jeda sejenak untuk membangun suasana sebelum bertanya.
"Cowok
tadi bilang apa saja?"
Dia pasti sudah
tahu kalau tadi itu adalah pernyataan cinta, jadi dia ingin tahu isinya secara
mendetail.
Menurutku itu
agak tidak sopan, tapi aku sudah belajar bahwa dalam situasi seperti ini,
berpura-pura tidak tahu pun tidak akan mempan.
"Hmm, dia
bilang dia suka celah antara penampilanku di sekolah dan saat latihan, atau dia
tertarik karena meskipun aku cantik tapi aku tidak sombong atau jaim, ya
semacam itulah."
Karena itu, aku
terbiasa menceritakan garis besar kejadiannya tanpa merusak kesan atau posisi
laki-laki yang menyatakan cintanya.
"Waa, masa
muda banget! Tapi, meskipun dia bilang begitu, bagian 'cantik'-nya harusnya
kamu hapus dong!"
"Aku merasa
merendah secara berlebihan untuk sebuah fakta itu malah terdengar
menyebalkan."
Saat aku
tersenyum bercanda, Kei-san memegangi kepalanya dengan berlebihan.
"Aku
ingin memperdengarkan ini pada cowok segar tadi!"
Mendengar
teriakan itu, rekan tim lain yang sejak tadi diam mendengarkan langsung tertawa
terbahak-bahak.
Kei-san
melanjutkan.
"Lagi pula
ya. Rasanya jarang ada gadis yang lebih jaim atau sombong daripada
Yuzuki."
Ya, soal itu aku
cukup sadar dan setuju.
"Padahal ini
klub olahraga sepulang latihan, tapi kok baunya wangi banget. Terus bra-nya,
padahal masih kelas satu tapi pakainya yang seksi begini."
"Kei-san,
kalau Kakak menyentuhnya, aku akan menjatuhkan dan menguliti Kakak tanpa ampun,
lho?"
Aku
melirik tangannya yang terulur ke arah dadaku sambil tersenyum manis.
"Senyummu
menyeramkan! Astaga, cowok-cowok yang mendekati Nana satu per satu itu apa
mereka tahu bagian seperti ini juga, bukan cuma luarnya saja?"
"Menurutku
tidak mungkin karena aku tidak memperlihatkannya. Di depan anak-anak perempuan
di kelas pun aku selalu 'jual mahal', ini adalah mode khusus sesama
teman."
Lebih tepatnya,
ini adalah mode di mana Nanase Yuzuki, yang terpilih menjadi pemain inti sejak
kelas satu dengan tampang seperti ini, tidak dijauhi oleh senior atau teman
sebayanya.
Aku sama sekali
tidak berniat mengatakan hal dongeng seperti "diriku yang sebenarnya ada
di tempat lain". Aku sudah berada di dunia atlet sejak SD, jadi aku merasa
cocok-cocok saja dengan atmosfer seperti ini.
Hanya saja, jika
ditanya apakah ada niat terselubung atau tidak, aku mungkin akan kesulitan
menjawabnya.
"Hmm?"
Kei-san menatapku
seolah sedang memastikan kenyamanan sepatu basket baru.
Merasa sedikit
tidak nyaman, aku bicara untuk mengalihkan suasana.
"Ngomong-ngomong,
bolehkah aku memakai baju sekarang?"
"Tidak
boleh!"
"Maaf,
seseorang tolong usir orang mencurigakan ini."
Mengabaikan
Kei-san yang memanyunkan bibirnya tidak puas, aku melepas celana pendek latihan
yang longgar dan mengambil tisu basah dari tas enamel. Aku menyeka tubuhku
dengan saksama, menggunakan semprotan deodoran tanpa aroma, dan menyemprotkan
parfum favoritku satu kali di pinggang.
Aku
sempat ragu sejenak, tapi akhirnya aku langsung memakai kemeja di atas bra
karena toh aku akan memakai kardigan juga.
"Nana."
Kei-san
yang duduk di bangku sambil menopang dagu dengan tangan di atas kakinya yang
jenjang, menatapku dari bawah.
"Memangnya
kamu sama sekali tidak berpikir ingin punya pacar?"
Aku
menjawab sambil mengancingkan kemeja.
"Tidak,
aku sedang menunggu pangeran berkuda putih, kok."
"Wah, cara
menghindarnya khas Nana sekali. Lalu, pangeran seperti apa yang kamu
inginkan?"
Sepertinya
interogasi Kei-san masih akan berlanjut.
Hanya karena aku
punya pengalaman buruk saat SMP, bukan berarti aku menderita fobia laki-laki.
Sama seperti ada
kue stroberi yang enak dan yang tidak enak, jika ada laki-laki brengsek seperti
itu, aku yakin laki-laki terbaik pasti ada di suatu tempat.
Sayangnya, sampai
sekarang aku belum pernah bertemu dengan orang yang bisa mencuri seluruh
hatiku.
Jadi, jujur saja
aku tidak tahu tipe ideal seperti apa yang kusukai.
Tentu saja, lebih
baik jika wajahnya tampan. Aku ingin dia lebih tinggi dariku, dan lebih baik
atletis daripada lembek.
Tapi bukankah
kebanyakan gadis juga menginginkan hal yang sama?
Lagi pula, kalau
kriterianya cuma itu, timbul pertanyaan kenapa aku menolak laki-laki tadi.
Meskipun
terdengar sombong, orang-orang yang menyatakan cinta padaku secara
terang-terangan biasanya sudah memenuhi syarat-syarat dasar tersebut.
Begitulah, kalau
boleh jujur....
"Ah,
mustahil bagi Kak Kei."
Sebuah suara yang
lugas dan sedikit lancang memotong pemikiranku.
"Yuzuki itu
tipe yang kalau menginginkan sesuatu, dia sudah memilikinya dari awal, atau dia
akan pergi merebutnya sendiri. Jangan harap ada sisi kewanitaan yang ingin
bergantung atau dilindungi laki-laki."
Orang yang
tertawa sambil melambaikan tangan di depan wajahnya itu, sudah pasti adalah
Haru.
"Hmm? Apa
maksudmu?"
Sebenarnya
ucapannya tidak salah—malah cukup tepat sasaran—tapi secara refleks aku
membalasnya seperti itu.
"Cinta itu
kan soal tertarik pada orang yang punya sesuatu yang tidak kita miliki? Apalagi
dengan kepribadian Yuzuki, tidak cukup kalau orang itu cuma punya apa yang
tidak dia punya. Kamu pasti mengkhayal tentang seseorang yang punya semua yang
kamu miliki, dan di atas itu, dia juga punya sesuatu yang tidak kamu miliki,
kan?"
Hal seperti
itu... mungkin ada benarnya, sedikit.
Justru karena aku
percaya diri dengan kemampuanku, jika benar-benar ada orang seperti itu, aku
mungkin akan merasa terpikat.
Yah, sejujurnya,
bukan berarti tidak ada laki-laki yang sedikit menarik perhatianku sejak masuk
SMA.
Tapi itu karena
dia adalah orang pertama yang membuatku merasa "mungkin kami mirip".
Rasanya lebih
dekat dengan perasaan menemukan seseorang yang bisa memahamiku, justru karena
itulah aku bisa memastikan kalau itu tidak akan pernah berkembang menjadi
perasaan cinta.
Rasanya kesal
harus setuju dengan kata-katanya, tapi jika dua orang seperti Nanase Yuzuki
bersandingan, yang tercipta hanyalah ketenangan yang terlalu teratur tanpa ada
satu riak pun yang muncul.
"Misalnya
ya," Haru melanjutkan karena merasa di atas angin.
"Laki-laki
yang sama sekali tidak peduli menjaga bentuk tubuh, tidak peduli gaya rambut
atau baju. Tapi, dia punya hati yang paling lurus dan kebaikan tanpa niat
terselubung daripada siapa pun. Apakah kamu akan jatuh cinta pada laki-laki
seperti itu?"
"Ukh, kalau
itu... eh, tunggu sebentar. Apa-apaan? Apa ini maksudnya aku tidak punya hati
yang lurus dan kebaikan tanpa niat terselubung?"
"Syukurlah,
setidaknya kamu masih punya sedikit kesadaran diri."
"Oke, ayo
kita kembali ke aula sekarang juga, Umi Haru."
Interaksi yang
entah sejak kapan menjadi rutinitas itu membuat suasana ruang klub menjadi
ramai.
Setelah Haru ikut
tertawa sejenak, dia meletakkan tangannya di bahuku.
"Lagi pula,
kamu..."
"Kamu tidak
akan suka pada laki-laki yang menyukai dirimu, kan?"
Astaga,
aku hanya bisa mengangkat bahu.
Padahal
belum ada satu tahun sejak kami mengakui satu sama lain sebagai partner
sekaligus rival, tapi kami sudah saling memahami sampai ke tingkat yang
menyebalkan.
Apa yang Haru
katakan itu benar.
Aku pasti tidak
akan bisa menyukai laki-laki yang bertekuk lutut begitu saja padaku.
Kupikir aku terus
mencari "bulan yang jauh" yang berada di tempat yang jauh lebih
tinggi, yang membuat Nanase Yuzuki ingin menjulurkan tangannya dengan
sungguh-sungguh.
...Yah, terlepas
dari itu, aku tidak akan membiarkan pembicaraan ini berakhir begitu saja dengan
perasaan enak baginya.
Aku
mengangkat sudut bibirku dengan nakal.
"Bicara
soal laki-laki di depan anak kecil yang masuk SMA tapi cuma punya bra
olahraga... rasanya kurang pas, ya?"
"Haaa? Hoo?
Kamu baru saja mengatakan hal yang tidak boleh dikatakan ya. Hari ini akan
kubuat semuanya jelas, ayo tanding 1 on 1, Nana!!"
Tentu saja, bra
itu bukan jenis yang dibelikan ibu untuk anak SD, tapi merek olahraga terkenal.
Aku juga punya
beberapa, tapi kalau cuma punya itu saja, rasanya tidak pantas sebagai siswi
SMA.
"Boleh saja.
Kalau aku menang, aku akan menyeretmu paksa ke toko pakaian dalam dan
mengajarimu dasar-dasar memilih pakaian dalam dari nol, Umi."
"...Kebalik."
Haru
bergumam pelan sambil memalingkan wajah.
"Kalau aku
menang... ajari aku."
"Tiba-tiba jadi imut begini, sih."
Pada saat itu, Kei-san yang sejak tadi diam menonton seolah
tidak tahan lagi dan tertawa terbahak-bahak.
"Luar
biasa, kalian memang kombinasi yang hebat."
Sambil
memegangi perutnya, dia berdiri.
"Nana
itu cerdas. Dia bisa melihat niat terselubung atau kerendahan hati orang lain.
Karena itulah dia selalu menarik diri dan menghadapinya dengan tenang. Sama
persis dengan gaya bermain basketnya."
Tapi ya,
dia melanjutkan.
"Pasti
suatu saat nanti, meskipun kamu menjadi penuh niat terselubung atau menjadi
rendah, tetap akan muncul laki-laki yang ingin kamu taklukkan."
Kei-san
tersenyum dengan ekspresi yang terlihat dewasa.
"Yah, ini cuma instingku, sih."
Aku tidak tahu apakah yang dia maksud adalah laki-laki dalam
arti harfiah, atau laki-laki sebagai "goal".
Tapi entah
kenapa, aku merasa suatu hari nanti aku akan mengingat kembali kata-katanya.
"Jadilah
wanita yang lebih hebat lagi, Nana, Umi. Agar tahun depan kami bisa menyerahkan tim ini
pada kalian dengan tenang."
Seolah ingin
mengakhiri pembicaraan, Kei-san memutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu.
Namun, dua tangan langsung mencengkeram tengkuk lehernya dengan kuat.
Aku berkata
dengan senyum lebar.
"Kakak pikir
setelah membuat keributan begini, Kakak boleh pergi begitu saja dengan gaya
keren?"
Haru
membuka mulutnya dengan menantang.
"Lagi pula,
tim baru ini belum mencapai apa pun, untuk apa memikirkan soal pensiun
sekarang. Tahun depan kita akan menghancurkan Ashikou dengan tim ini dan
berdiri di puncak, kan? Pertama-tama, jadilah wasit 1 on 1. Ada hal yang
ingin kucoba, dan setelah selesai, Kakak jadi lawan latihan. Aku ingin menambah
pola kombinasi dengan Nana, jadi mohon bantuannya."
Wah, ternyata
latihannya jauh lebih berat dari dugaanku, tapi ya sudahlah.
Kei-san
mengeluarkan suara memelas sambil meronta-ronta.
"Wasit?!
Lawan latihan?! Aku ini senior dan kapten, lho! Lagipula aku sudah ganti
baju!!"
"Kuliti dia,
Umi."
"Siap,
Nana."
"Hei, jangan
melepas bajuku seperti sedang bilang 'lepaskan'! A-aku ada janji kencan setelah
ini—"
""Tidak
mungkin ada.""
Kalau boleh
jujur, pikirku.
Jika suatu hari
nanti di masa depan yang jauh, hari di mana aku benar-benar jatuh cinta itu
tiba──.
Kuharap pangeran
itu sama sekali tidak mirip dengan Nanase Yuzuki. Dia sangat berdarah panas,
kikuk, berjuang mati-matian, dan lurus... seperti partner kecilku ini. Hanya
berandai-andai saja, sih.
◆◇◆
Tambahan satu jam
lagi.
Kei-san, Nana,
dan aku, Aumi Haru, benar-benar bertarung sengit bertiga sebelum akhirnya
latihan selesai.
Anak kelas satu
dan senior lainnya sepertinya sudah pulang duluan karena tidak sanggup meladeni
kami.
Setelah berganti
pakaian dengan cepat, Kei-san dan aku keluar dari ruang klub lebih dulu.
"Kei-san,
mau tunggu Yuzuki lalu makan bareng?"
"Tidak mau,
aku menolak! Kalau aku bersama kalian, ujung-ujungnya kita pasti bakal berakhir
tanding di Taman Higashi untuk menentukan siapa yang benar!"
"...Aku
tidak bisa menjamin itu tidak akan terjadi, sih."
Saat aku menjawab
dengan wajah serius, aku merasa mendengar suara "pshuu" seperti jiwa
yang keluar dari tubuhnya.
Lalu Kei-san
tersenyum dengan wajah tanpa beban.
"Kalian
memang hebat ya, Umi dan Nana."
"Begitukah?"
"Aku tidak
pernah punya partner yang bisa kupanggil begitu, jadi jujur saja aku iri. Tentu
saja teman-temanku sekarang luar biasa, tapi ini rasanya sedikit berbeda, kamu
mengerti kan?"
Yah, kurasa aku
mengerti.
Itu adalah
perasaan yang baru pertama kali aku rasakan sejak berada di tim yang sama
dengan Nana.
Saat aku
mengangguk diam, Kei-san melanjutkan dengan suara yang lembut.
"Tetaplah
seperti itu. Mungkin di masa depan, akan datang saat di mana kalian harus
bertarung sungguhan demi sesuatu yang tidak bisa kalian serahkan satu sama
lain. Tapi, tidak perlu berpikir macam-macam. Tetaplah menjadi Umi dan Nana
seperti hari ini, dan bertarunglah sampai kalian berdua puas."
"Sesuatu
yang tidak bisa diserahkan..."
Asal tahu
saja, aku ini orang yang tidak mau kalah. Soal basket tentu saja, dan soal apa
pun aku tidak berniat menyerah pada Nana.
Tapi jika
hal itu adalah sesuatu yang bagi gadis itu adalah satu-satunya bulan
miliknya....
Ah, percuma saja
memikirkan hal itu sekarang.
Tadi aku hampir
saja melamunkan hal puitis seperti apakah saatnya bulan dan matahari akan
bertumpang tindih.
"Yah, itu
cuma instingku saja, sih."
Kei-san berkata
dengan nada jahil, lalu pergi sambil melambaikan tangan sebagai salam pamit.
Aku juga sudah
tidak peduli dengan hal-hal sulit, dan langsung duduk di tangga pendek di depan
aula olahraga.
Langit entah
sejak kapan sudah berubah warna menjadi ungu kemerahan di bagian bawahnya.
Belakangan ini
biasanya saat keluar setelah klub berakhir hari sudah gelap gulita, jadi
rasanya agak segar.
Hasil 1 on 1?
Tentu saja Aumi
Haru-chan yang menang telak.
Karena ini adalah
pintu masuk untuk menyelesaikan masalah bra olahraga yang belakangan ini cukup
mengganggu pikiran kewanitaanku, aku bermain dengan sangat tajam seperti di
liga final pertandingan resmi.
Yah, aku tahu
alasannya terdengar memalukan bagi diriku sendiri.
Tapi hal-hal
seperti itu kan butuh alasan atau alasan pembenar, atau semacam jalan keluar
untuk menjelaskan kalau orang lain menyadarinya agar tidak malu?
Di klub olahraga
perempuan, masalah pakaian dalam itu kan biasanya sudah saling tahu satu sama
lain, dan citraku sudah terlanjur melekat dengan bra olahraga itu. Jadi kalau
tiba-tiba diganti, pasti bakal ditanya "Kenapa?".
Mungkin Yuzuki
yang sangat memahamiku sengaja memberikan usulan itu karena dia menyadari
konflik masa remajaku yang datang jauh lebih lambat daripada orang lain.
...Tidak, tidak
mungkin.
Tadi itu
benar-benar selisih tipis. Dasar itu orang, dia memasukkan banyak tembakan three-point
yang mengerikan. Kalau tadi aku kalah, aku pasti akan menyesal setengah mati
sampai di rumah karena tidak menerima tawaran pertamanya dengan jujur!
Benar, apa pun
yang terjadi nanti, aku tidak akan menyerah.
"Maaf
membuatmu menunggu."
Selagi aku
berpikir begitu, Yuzuki keluar dari ruang klub.
Kupikir perbedaan
waktu ini mungkin yang disebut dengan "kekuatan wanita". Begitu
memikirkannya, aku tiba-tiba merasa sedih pada diriku sendiri yang tadi begitu
emosional soal menang kalah.
"Haru, mau
makan sesuatu sebelum pulang?"
Tepat saat kami
mulai berjalan berdampingan.
"Eh?"
Yuzuki menunjuk
ke arah Gerbang Timur di depan kami.
Di sana ada Kaito
dan... Chitose.
Refleks aku ingin
berbalik jalan, tapi sepertinya mereka juga menyadari kami. Kaito melambaikan
tangannya dengan semangat.
"Haru!
Yuzuki!"
...Astaga, tidak
perlu berteriak sekeras itu juga terdengar, tahu.
Setelah bertukar
pandang dengan Yuzuki, kami menghampiri mereka. Kaito melanjutkan.
"Lelah ya?
Klub basket baru selesai? Bukannya hari ini latihan mandiri?"
Aku menjawab
dengan senyum samar untuk menutupi perasaanku yang tidak tenang.
"Yah,
latihan mandiri tim sudah selesai sejam yang lalu, sih..."
"Ah, hal
yang biasa itu ya."
Karena klub
basket putra sering latihan di aula yang sama di waktu yang sama, fakta bahwa
aku dan Yuzuki sering bertanding itu sudah rahasia umum.
"Kaito, apa
maksudmu dengan hal yang biasa?"
Chitose
yang mendengarkan di samping bereaksi.
"Ah,
Haru dan Yuzuki itu sering sekali bentrok dan tanding 1 on 1 setelah
latihan."
Chitose memasang
senyum yang entah kenapa terasa menyebalkan.
"Heh? Kalau
Haru sih aku tidak heran, tapi kalau Nanase itu mengejutkan."
Pertandingan
di bulan Juli hari itu.
Sebagai
sesama atlet yang hatinya benar-benar tersulut, aku mencari kesempatan untuk
terus mengajaknya bicara karena ingin memahaminya lebih dalam. Tanpa sadar, laki-laki ini mulai
memanggilku "Haru".
Jujur saja, saat
itu aku merasa sedikit senang.
Yah, semacam
perasaan penggemar yang mendapatkan tanda tangan dengan namanya tertulis dari
pemain yang dihormatinya, mungkin?
Lalu ketika
liburan musim panas berakhir, dia sudah bukan seorang atlet lagi.
"Hoho? Apa
maksud perkataanmu itu?"
Selagi aku
berpikir macam-macam, Yuzuki merespons.
Aku sudah cukup
terbiasa, tapi mode "jual mahal" miliknya ini tetap saja membuatku
merinding.
"Maksudku,
ternyata Nanase juga punya 'lawan' seperti itu."
"Tapi, orang
yang ingin menjadi 'lawan' seperti itu jauh lebih banyak, lho."
──Apakah kamu...
apakah kamu tidak punya lawan seperti itu?
"Mungkin
saja. Apa kebebasan untuk mencalonkan diri terjamin?"
"Jika
laki-laki itu tampan, aku akan mempertimbangkannya."
──Menyebalkan.
Menyebalkan menyebalkan menyebalkan menyebalkan menyebalkan menyebalkan
menyebalkan menyebalkan menyebalkan.
"Lalu, apa
yang kamu dan Kaito lakukan?"
Percakapan antara
Yuzuki dan Chitose berlanjut.
"Ah, Kaito
bilang dia ingin pergi karaoke. Kazuki juga bilang akan menyelesaikan latihan
mandirinya lebih awal, jadi kami sedang menunggunya. Kalau mau, Nanase dan Haru
ikut juga?"
"Hmm,
sesekali menikmati hal-hal berbau masa muda seperti itu juga..."
"──Aku tidak
ikut."
Saat aku
menyadarinya, mulutku sudah bergerak.
Dan lagi, suaraku
terdengar cukup keras.
Habisnya, entah
kenapa aku merasa sangat kesal.
Bukan karena dia
mengabaikanku dan bicara seolah sangat memahami Yuzuki, atau karena aku
menyadari Yuzuki tidak terlalu menganggap buruk Chitose, atau karena aku merasa
Chitose yang menyadari hal itu menarik garis dengan sangat rapi... Mungkin,
pasti, bukan itu semua.
──Kembalikan
dirimu yang hari itu. Aku memikirkan hal yang sangat egois itu.
Aku tahu, aku
mengerti, kalau bisa aku juga ingin mendengarkanmu.
Tentang
apa yang terjadi.
Tapi
tidak mungkin, kan?
Aku bukan
rekan timmu, bukan partnermu, bukan teman yang bisa diajak bicara dari hati ke
hati, dan tentu saja bukan kekasihmu.
Jika aku adalah
salah satu dari mereka, apakah kamu akan menceritakan semuanya padaku? Apakah
kamu akan mengeluh padaku? Apakah kamu akan menangis di depanku?
Apa-apaan karaoke
itu, jangan bercanda.
Kalau kamu
memegang mikrofon sebagai ganti pemukul bisbol, kamu benar-benar cuma jadi
cowok menyebalkan yang suka cengengesan.
"Maaf,
maaf."
Yuzuki
menggantikanku bicara karena aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi.
"Ngomong-ngomong,
hari ini aku dan Haru sudah janji mau pergi makan menu terbatas di
Hachiban."
"Daripada
kencan sepulang sekolah dengan cowok tampan begini, kalian lebih pilih
ramen?"
Kalimat Chitose
yang entah dia hanya menyesuaikan suasana atau memang cuma sekadar candaan
ringan itu membuatku kesal lagi.
Dirimu yang
sekarang ini sama sekali bukan laki-laki tampan.
"Anak muda,
kembalilah setelah kamu menjadi laki-laki yang bisa bersaing dengan
Hachiban."
"Maksudmu
aku harus merebut jiwa warga Prefektur Fukui? Itu tantangan yang sulit."
Lalu Yuzuki
menarik tanganku untuk berpamitan pada mereka berdua. Sebelum benar-benar
pergi, aku melirik ke belakang sebentar.
Aku yang sekarang
tidak bisa menjangkau perasaan yang tersembunyi di balik senyum tipis Chitose.
◆◇◆
"Maaf,
Yuzuki."
Ucapku sambil
menendang daun kering di jalan pulang dengan ujung kaki.
Kasa, kasa,
pari, pari.
Daun momiji yang
merah seperti matahari terinjak-injak oleh banyak orang.
"Tidak
apa-apa, aku memang benar-benar sedang ingin makan Hachiban. Nih, makan ini
supaya kamu tenang."
Sesuatu yang
ditekan ke dadaku yang kecil adalah permen ramune.
Aku membuka tutup
botolnya dan langsung menuangkannya banyak-banyak ke dalam mulut, lalu
mengunyahnya dengan keras.
Yuzuki
mengangkat bahu dengan ekspresi heran di sampingku.
Rasa manis yang
terasa nostalgia itu akhirnya mendinginkan kepalaku.
"Yuzuki,
kamu sebenarnya cukup menyukai Chitose, kan?"
"Yah,
begitulah. Tapi kurasa tidak sedalam dirimu."
"Aku
tidak..."
"Bicara
seperti itu setelah kehilangan kendali di depan laki-laki itu sama sekali tidak
meyakinkan."
"Laki-laki...
itu Chitose, tahu."
"Dia kan
laki-laki."
Begitukah?
pikirku.
Laki-laki atau
perempuan, aku tidak pernah memikirkannya.
Aku merasa dia
sangat keren, dan aku benar-benar hampir jatuh cinta padanya.
Tapi itu hanya
sebatas sebagai sesama atlet.
"Dia itu
seperti Todo Mai dari Ashikou," ucapku.
"Seseorang
yang ingin kukejar dan kuseberangi suatu hari nanti."
Kali ini Nana
benar-benar mengembuskan napas panjang yang sangat berat.
"Kalau
begitu, itu sih hampir sama saja dengan suka."
Hening sejenak,
lalu kami berdua tertawa bersamaan.
Kalau
dibilang begitu, mungkin benar juga.
Memang benar aku
suka Todo Mai, aku suka Chitose Saku, dan juga....
"Terima
kasih, Nana."
"Sama-sama,
Umi."
Bagi anak kecil
yang bahkan belum lulus dari bra olahraga, hal-hal sulit seperti itu aku belum
paham.
Tapi jika suatu
hari nanti, momen saat aku ingin mempersembahkan seluruh hati ini tiba──.
Kuharap orang itu
sama sekali tidak mirip denganku.
Dia selalu
menarik diri satu langkah untuk menjaga semua orang sambil terkadang mendorong
punggung mereka, dan dia menanggung semua kesedihan, penderitaan, bahkan
kelemahannya sendirian sambil tersenyum tenang... seperti partnerku yang gagah
ini.
Hanya
berandai-andai saja, sih.
Musim gugur kelas
satu SMA.
──Aku, Aumi Haru,
masih belum mengenal cinta.
Previous Chapter | ToC | End V5 SS



Post a Comment