Prolog
Langit Malam yang Kucari
Aku terus
berlari dan berlari, namun aku tetap tak bisa mengejarnya. Aku melompat dan
terbang, namun aku tetap tak bisa menggapainya.
Aku sudah sangat
terbiasa dengan kekalahan. Rasa rendah diri ini sudah menjadi teman baikku
sekarang.
Meski begitu, aku
percaya bahwa tak peduli seberapa sering aku membentur dinding, suatu saat
nanti aku akan mampu menggenggam masa depanku dengan kedua tangan. Asalkan aku
bisa terus merangsek maju tanpa kehilangan harapan.
Aku ingin hidup
seperti matahari, sesuai dengan namaku. Namun, kurasa tetap saja ada
malam-malam yang membuatku menggigil kedinginan seorang diri.
Karena di tempat
yang kutuju nanti, tidak akan ada orang yang sepertiku.
Mungkin memang
ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa diubah. Bahkan jika kau merasa cemas,
berjuang, dan meronta sekuat tenaga.
Mungkin setiap
ayunan pukulanku hanya akan berakhir sia-sia tanpa mengenai sasaran. ...Tidak,
tidak, bukan itu saja.
Di atas
segalanya, yang paling kutakutkan adalah jika api merah menyala di dalam diriku
ini padam hanya karena sebuah pemicu kecil.
Bahkan sampai
sekarang, pikiran itu terus membuatku termenung seraya memasang senyum tipis di
wajah.
Gedung
olahraga yang kosong sepulang sekolah... Bicaralah padaku.
Sepuluh tahun
dari sekarang... Dua puluh tahun dari sekarang... Apakah aku sudah melewati
hari ini tanpa penyesalan?
Bisakah aku
menoleh kembali ke masa ini dan mengatakan bahwa aku sudah melakukan yang
terbaik?
Hei,
gelang keringat yang lembap. Bicaralah padaku. Apakah cahaya matahariku sampai
ke hati seseorang yang berharga bagiku?
Aku ingin
membuktikannya dengan setiap jengkal tubuh kecilku ini.
Aku ingin
kepastian bahwa saat aku kehilangan kesabaran, saat aku bekerja keras hingga
mandi keringat yang bau, aku tidak terlihat payah.
Agar aku
tidak melakukan kesalahan, tidak kehilangan jati diri, dan tidak menyerah pada
diriku sendiri.
Aku sedang mencari bulan yang luas di langit sana. Bulan yang akan menerima seluruh gairah yang membara di dalam jiwaku.



Post a Comment