Prolog
Apa Arti "Spesial" Bagiku
Bagiku,
kata "spesial" selalu terasa mengasingkan. Aku tidak pernah suka kata
itu ditujukan kepadaku, bahkan sejak aku masih kecil.
Rasanya
seperti diberitahu, "Hei, kamu tidak boleh bergabung dengan kelompok ini.
Kamu berbeda dari yang lain."
Jadi,
meskipun aku tahu semua orang menggunakan kata itu untuk menyiratkan sesuatu
yang baik, setiap kali mendengarnya, aku merasa sedikit menciut. Aku merasakan
perasaan aneh ini, seolah-olah aku tidak bisa berkomunikasi dengan baik bersama
orang lain.
Seakan-akan
hatiku yang kerdil entah bagaimana tidak bisa ikut bermain. Bahkan tidak dengan
laki-laki yang aku sukai.
Bahkan
tidak dengan gadis yang bisa kusebut sebagai sahabatku. Selama ini...
Tapi tahukah
kamu, akhirnya aku menemukannya. Dia selalu begitu sombong, terkadang malah kasar sekali.
Dia tidak
menganggap serius apa pun, selalu berusaha bersikap sok keren. Dia memang
bertingkah seperti berandalan, tapi jika menyangkut perempuan, dia cepat sekali
bersikap manis.
Dia
selalu percaya diri. Dan terkadang, dia menegurku secara langsung.
Dia
memasang senyuman saat ingin terlihat kuat. Dia mencoba bertingkah seperti anak
nakal, tapi dia baik kepada teman-teman laki-laki lainnya.
...Dia
adalah orang pertama dalam hidupku yang tidak memberiku perlakuan spesial. Mungkin alasannya sangat sederhana, tapi
hal itu saja sudah cukup untuk membuatku jatuh cinta.
Hari-hari dalam
hidupku, yang sebelumnya hanya berlalu dalam kekaburan transparan, kini menjadi
hidup dengan penuh warna. Begitu berwarnanya, hingga kamu pasti akan tertawa
jika mengetahuinya.
Konsep menjadi
"spesial" yang selalu kubenci, kini berubah menjadi sesuatu yang
kucintai. Hei, bagaimana jika...?
Bagaimana jika
matamu hanya tertuju padaku? Bagaimana jika kursi di sebelahmu adalah kursi
yang hanya boleh aku duduki?
Aku tidak akan
peduli jika aku berhenti menjadi spesial bagi orang lain. Dan aku tidak akan
peduli jika memang tidak.
—Aku hanya ingin menjadi satu-satunya yang spesial di matamu.



Post a Comment