NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Danjon de Tatakai Tsudzukete Nijuu-nen no Doutei Yuusha ⁓ Chijou ni Modottara Danjo-hi 1:1000 no Sekai datta Volume 1 Chapter 2

Chapter 2

Dunia Ini Dipenuhi oleh Para Dewi


Membawa orang yang sedang pingsan di dalam dungeon secara logika adalah tindakan yang sangat berbahaya.

"Istirahat sebentar, deh."

Ryuto mendekap Haruka melewati gua raksasa tersebut, lalu membuat tempat tidur sederhana di area dengan jarak pandang yang luas untuk beristirahat sejenak.

Meski begitu, selimut yang ia keluarkan dari tas ranselnya hanya ada satu. Jika ia membaringkan Haruka langsung di atas tanah, suhu tubuh gadis itu akan terserap dan bisa membuat kondisinya memburuk. Ryuto pun membaringkan Haruka di atas selimut, sementara ia sendiri duduk bersila di sampingnya.

"Tapi, kalau dilihat-lihat lagi..."

Ryuto memastikan sekali lagi; Haruka memang cantik. Karena matanya terpejam, kelopak matanya tertutup, namun bulu matanya ternyata sangat panjang.

Bibirnya tipis, merekah merah pucat seperti warna sakura, dan garis rahangnya terlihat tajam. Meski ada sedikit kotoran debu dan tanah, kulitnya putih bersih seperti salju. Jika diperhatikan baik-baik, ada tahi lalat kecil di bawah alis kanannya.

Saat sadar tadi, dia adalah gadis yang ceria dengan ekspresi yang berubah-ubah seperti anak kecil. Kalau diingat-ingat, selama masa sekolah dulu, Ryuto tidak punya kenalan gadis cantik tipe ortodoks seperti ini.

—Soalnya kepribadian Rinka agak bermasalah, sih.

Satu-satunya teman dekat Ryuto, Rinka, memang sangat cantik, tapi sifatnya punya "lekukan" yang ekstrem.

Cucu perempuan yang dibawa oleh Sage Agung Sirius dari dunia lain itu adalah anak ajaib dengan bakat yang melampaui kakeknya sendiri. Dalam pertempuran, dia adalah seorang Magic Gunner yang nyaris tanpa cela dengan penempatan sihir yang akurat.

Namun, di balik kehebatannya, dia sangat pemilih soal orang. Jika sudah akrab, dia akan menjadi sangat berdedikasi dan penuh kasih, tapi bagi orang asing, dia bisa bersikap sangat dingin.

Tapi, Ryuto menyukai Rinka yang seperti itu. Meski ia tidak pernah bisa menyampaikan perasaannya dengan jujur. Di saat yang sama, Ryuto teringat pada kakek Rinka, Sage Agung Sirius, sosok yang bisa dibilang sebagai awal dari segalanya.

Monster-monster tak terhitung jumlahnya yang mulai menyerang dunia tanpa peringatan.

Demi membasmi mereka, orang-orang berlomba-lomba menuju Grand Temple yang dibangun oleh Sage Agung Sirius dari dunia lain.

Jika pergi ke Grand Temple, mereka yang memiliki bakat bisa mendapatkan berkat dari roh. Hal itu membangkitkan kemampuan khusus yang disebut Skill, serta sihir yang melampaui mukjizat.

Kedamaian telah lenyap dari dunia. Monster berkeliaran di mana-mana seolah itu hal biasa, dan orang-orang dibantai.

Pasukan Bela Diri berubah nama menjadi Tentara Nasional, dan wajib militer pun diaktifkan kembali. Politisi mencoba mengendalikan situasi, namun kekacauan sudah mencapai puncaknya.

Ryuto, yang saat itu masih seorang pelajar dengan wajah kekanak-kanakan, pergi menuju Grand Temple demi melindungi kampung halaman dan keluarganya. Jika ia bisa mendapatkan Skill atau sihir, peluangnya untuk bertahan hidup akan meningkat.

—Dengar, Ryuto? Kalau situasinya bahaya, pokoknya kamu harus lari, ya.

Kakak perempuannya, yang saat itu sudah membangkitkan Skill dan sihir, melepas kepergian Ryuto dengan berat hati, namun matanya memancarkan kecemasan yang mendalam. Jika seseorang mendapatkan Skill atau sihir yang kuat, sudah pasti dia akan ditempatkan di garis depan pertempuran. Sebenarnya, kakaknya tidak ingin Ryuto pergi berperang.

—Duh, aku kan bukan bocah lagi. Aku bakal langsung terima ramalan suci terus pulang, kok.

Mendapatkan ramalan dan Skill di Grand Temple yang didirikan di beberapa titik di Jepang. Katanya, jika beruntung, seseorang bisa bertemu langsung dengan Sage Agung Sirius. Ryuto muda yang mendengar itu, pertama kali melihat sosok sang legenda di pintu masuk Grand Temple.

Sirius sedang menduduki sendirian sebuah bangku kayu panjang yang terletak di samping pintu besar.

Sosok penyelamat dari dunia lain yang datang untuk menyelamatkan bumi yang diinjak-injak oleh monster misterius itu, ternyata sangat jauh dari citra pahlawan yang dibayangkan Ryuto.

—Tua bangka yang besar banget, ya.

Itulah kesan pertamanya. Meski sedang duduk di bangku, tinggi badannya terasa tidak normal. Tentu saja, Sirius adalah pria raksasa dengan tinggi lebih dari dua meter dan berat badan sebanding dengan pesumo bertubuh kecil.

Usianya tidak diketahui pasti, tapi dilihat dari tekstur kulit wajah, kerutan yang tak terhitung jumlahnya, serta rambut dan janggut yang memutih, dia jelas sudah tua.

Sirius mengenakan topi kerucut seperti penyihir, sambil mengisap pipa tembakau besar yang mengeluarkan asap mengepul. Ryuto seketika terbungkus oleh kabut asap ungu yang aneh.

"Uhuk, uhuk!"

Bisa kena kanker paru-paru ini. Ryuto terbatuk sambil mengibaskan asap. Sirius terlihat sangat mirip dengan sosok Tolstoy di masa tuanya yang pernah Ryuto lihat di buku pelajaran sekolah. Ciri khasnya adalah janggut putih lebat yang menjuntai hingga ke dada. Di pinggangnya tersampit pedang lebar milik kaum barbar, dan sebuah tongkat raksasa bersandar di bangku.

Mata mereka bertemu. Ryuto menatap pria tua berwajah unik itu sambil mengupil.

"Bocah, untuk apa kau hidup saat ini?"

Itulah kalimat pertama yang diucapkan Sage Agung Sirius kepada Ryuto.

Penampilan Sirius, jika dilihat sekilas, memang mirip Santa Claus, tapi tatapan matanya tidak normal. Matanya berkilat tajam seperti binatang buas yang haus darah. Pupil matanya yang besar menyala seperti api biru keputihan. Tidak ada kesan lembut atau ramah yang biasanya ada pada orang tua; yang ada hanyalah aura kekerasan pekat yang seolah-olah dia bisa menghajarmu kapan saja. Seluruh tubuhnya mengeluarkan aroma khas yang bukan milik orang Jepang.

Ryuto yang biasanya bermental baja pun sempat terdiam karena terintimidasi. Mungkin karena kesal karena Ryuto tak kunjung menjawab, Sirius membuat bangku itu berderit dan melirik tajam ke arah Ryuto.

"Kenapa, Bocah? Kau tidak dengar pertanyaanku? Hmm, atau bahasa Jepang-ku tidak sampai padamu? Padahal si Satomi bilang bahasa Jepang-ku sudah oke, pelafalan dan tata bahasanya seharusnya sempurna."

"Kakek ini si Sage Agung itu? Nggak kelihatan sama sekali, tuh."

Begitu Ryuto mengatakannya, Sirius langsung menatap lurus ke arah Ryuto dengan matanya yang besar. Orang biasa pasti sudah gemetar ketakutan dan tidak bisa bicara. Begitu kuat tekanan yang dipancarkannya.

Kembali Sirius mengeluarkan suara bariton rendah yang menggetarkan perut.

"Hooh. Kalau begitu, Bocah... menurutmu aku ini kelihatan seperti apa?"

"Pembunuh haus darah."

Sirius mengetukkan pipa panjangnya ke tanah, lalu membusungkan dada dan tertawa terbahak-bahak. Alih-alih tertawa, suaranya lebih mirip raungan karnivora raksasa. Burung-burung gagak yang hinggap di pohon tepi jalan seketika terbang berhamburan ke langit. Ryuto membatin, tua bangka ini kenapa, sih?

"Pembunuh, ya? Begitu ya, jadi menurutmu aku ini pembunuh! Tidak sepenuhnya salah, sih. Memang benar, aku ini lebih suka membantai manusia atau monster dalam pertempuran daripada makan tiga kali sehari! Kalau tidak begitu, aku tidak akan sudi merangkak di dalam lubang seperti tikus mondok, pergi jauh-jauh ke negara orang lain hanya untuk melakukan kebaikan yang merepotkan ini! Benar, hakikatku adalah seorang pembunuh. Tapi tahu tidak, ada pembunuh yang lebih parah dariku. Dialah si Raja Iblis. Raja Iblis itu juga suka membunuh orang. Dalam hal itu, kami berdua mirip. Tapi yah, kami juga punya tanggung jawab karena gagal menghabisinya di negara sana. Yah, pelan-pelan akan kupojokkan lalu kupenyet sampai mati. Gahahaha! Nah, Bocah. Omong-omong, bagaimana dengan pertanyaan pertamaku tadi? Sepertinya kau belum menjawabnya."

"Aku mau meniduri perempuan cantik!"

Sirius sempat tertegun sejenak, namun detik berikutnya, ia membuka mulut lebarnya dan meledakkan tawa bodoh.

"Daaah-hah-hah! Benar sekali! Anak muda memang harus begitu! Apa gunanya hidup kalau tidak meniduri perempuan cantik! Hei, Bocah. Lihat ini. Ini foto-foto wanitaku yang kuambil di ponsel!"

"Waaah! Hebat banget, Kek! Kakak ini cantik banget, lho. Dada sama pantatnya gede juga! Apa dia artis AV? Kelihatan seksi banget!"

"Ooh, Satomi itu wanita hebat. Umurnya dua puluh enam, yah sudah agak berumur sih, tapi dada sama pantatnya kenyal banget, rasanya mantap kalau diremas! Kalau disuruh menjilat, dia bisa melakukannya semalaman. Aku memanjakannya setiap malam. Gahahaha, kau juga harus cepat-cepat cari wanitamu sendiri."

"Cih. Gimana caranya bisa dapat wanita sehebat itu? Keren banget, Kek. Aku jadi hormat sama Kakek."

"Apa-apaan kau ini, ternyata kau anak yang cukup manis, ya. Begini, pertama-tama... kau harus jadi kuat. Laki-laki itu harus kuat dulu kalau mau populer di depan wanita. Soalnya kau kelihatan tipe yang nggak bakal populer, sih."

"Cih. Habisnya, aku kan nggak ganteng."

"Bodoh. Wanita itu peduli tampang cuma di awal saja. Yang dibutuhkan laki-laki adalah kepercayaan diri. Dan kau kekurangan itu. Jangan banyak alasan, tunjukkan paksaanmu untuk menarik wanita, itulah yang menentukan kemenangan!"

"Begitu ya. Paksaan, ya?"

"Benar. Umurku tahun ini sembilan puluh dua, tapi urusan 'ranjang' aku tidak kalah dari anak muda. Sejak datang ke Jepang ini, aku sudah menghamili tiga orang. Chifuyu, Kasane, dan Mizuki. Semuanya wanita hebat."

"Gila, keren banget! Kek, itu kan namanya harem impian!"

"Begitulah. Tapi masih jauh dari kata harem. Paling tidak harus sampai satu lusin yang hamil. Waktu datang ke dunia ini, aku membawa cucu perempuanku, tapi dia itu seperti kuda liar. Kalau aku bawa wanita ke rumah, dia marahnya bukan main seperti setan. Gara-gara itu, sekarang kami tinggal di rumah yang berbeda. Sedihnya..."

"Gitu ya. Kasihan juga Kakek."

"Iya, aku kesepian. Tidak ada yang mau mengerti kesepianku. Kau baik juga ya, Bocah. Bagaimana kalau Rinka—cucu perempuanku? Aku beri izin khusus buatmu untuk menidurinya. Yah, dia memang kuda liar, sih. Tapi kau sepertinya punya potensi. Hmm? Mau coba menaklukkan cucuku?"

"Hah? Cucunya Kakek?"

"Apa-apaan muka itu. Tenang saja. Cucuku Rinka itu cantiknya luar biasa. Nih, lihat foto buktinya ini. Buka matamu lebar-lebar!"

"Waaah! Serius? Cantik banget, gila!"

"Gahahaha! Yah, Rinka itu keras kepala sampai aku pun kewalahan, tapi dia punya perasaan yang dalam. Dan hatinya lembut. Kalau kau bisa membuat Rinka jatuh cinta, dia akan mengabdi padamu seumur hidup. Karena dia itu setia dalam cinta, sama sepertiku."

"Ngomong apa sih, Kek. Apa Kakek sudah mulai pikun?"

"Yah, cukup omong kosongnya. Kau juga datang ke Grand Temple untuk menerima berkat, kan? Yang pertama adalah kekuatan. Kekuatan. Laki-laki itu dinilai dari kekuatannya. Kalau kau bisa menebas monster sampai habis sampai membuat Rinka jatuh cinta, kau bisa memilih wanita mana saja sesukamu. 'Burungmu' nggak bakal sempat kering, deh!"

"Wuaaa! Seriusan!? Kek, aku percaya padamu!"

"Dasar bocah polos."

Sirius mengetukkan ujung pipanya ke pinggiran bangku untuk membuang abu.

"Kakek bilang apa tadi?"

"Nggak, bukan apa-apa. Omong-omong, siapa namamu?"

"Hmm? Aku? Ryuto. Ryuto Sakazaki."

"—Ryuto, ya. Nama yang bagus. Mezbah Ramalan. Aku sendiri yang akan menyaksikannya secara langsung."

"Kek, apa nggak ada suster cantik yang masih muda?"

"Sayangnya tidak ada. Tapi, kalau Ryuto bisa beraksi hebat, wanita mana pun bisa kau dapatkan."

"Woooo! Aku jadi semangat!"

"Kalau begitu, ayo kita hajar!"

"Oke!"

Sirius berdiri lalu mengibaskan jubah merah tuanya dengan satu tangan. Sosoknya yang berdiri tegak terlihat sangat gagah, membuat Ryuto tanpa sadar mengepalkan tangannya dengan kuat. Tubuhnya terasa meluap oleh harapan dan mimpi.

Kepribadian Haruka yang dirasakan Ryuto dalam waktu singkat ini adalah ceria, lugu, dan tipe yang disukai siapa saja, semacam "gadis populer kelas satu" yang standar.

"Pantatku dingin."

Ryuto menyalakan api dengan sihir untuk penerangan dan menghangatkan diri. Di dalam dungeon, ada banyak benda yang terjatuh. Tergantung pada lantai dan areanya, lumut yang mengeluarkan cahaya kuat tumbuh liar, dan pepohonan unik juga tumbuh di sana. Ranting kering dan lumut kering yang ia kumpulkan bisa terbakar dengan cukup baik.

Suhu di dalam dungeon pada dasarnya stabil, namun di tempat-tempat tertentu di mana angin masuk, suhunya bisa menjadi sangat dingin.

Bagian atas tubuh Ryuto memang telanjang, namun karena sudah terbiasa dengan kehidupan bawah tanah yang lama, daya tahannya jauh lebih kuat dibanding orang biasa.

Ia mengendus-endus udara. Instingnya mengatakan, kemungkinan besar ia berada di tempat yang paling dekat dengan permukaan dibanding sebelumnya.

Terlalu lama berada di kegelapan membuat konsep waktu hancur. Bagi Ryuto mungkin terasa sekejap, namun mungkinkah sebenarnya sudah berlalu beberapa jam?

Jauh di ujung lorong, dari balik kegelapan, terdengar banyak langkah kaki mendekat. Sambil menyandarkan punggungnya di dinding batu, telinga Ryuto bergerak-gerak.

Ia dengan cepat menghitung jumlah orang dari langkah kakinya. Berbeda dengan monster, gerakan manusia lebih mudah dipahami. Tubuh Ryuto secara otomatis beralih ke mode waspada.

"Dua puluh, bukan, dua puluh satu orang ya? Banyak sekali."

Sosok-sosok yang mendekat itu sepertinya mencoba menggunakan Skill khusus untuk menyembunyikan hawa keberadaan dan langkah kaki mereka, namun bagi Ryuto yang bisa merasakan pergerakan ruang layaknya kelelawar, semuanya terasa transparan.

"Amatir sekali."

Haruka adalah seorang penjelajah; wajar jika ia mengira teman-temannya datang menyelamatkannya karena menyadari dia belum kembali.

"Hmm, apa ini?"

Tanpa aba-aba, suara elektronik berbunyi "bip" dan ponsel yang diletakkan di tanah bergetar. Getaran ponsel itu teratur dan terjadi secara berkala.

"Wa-wa-wa... eh, aduh, ini apa ya namanya?"

Ryuto mengambil ponsel itu dan mencoba mengutak-atiknya sembarangan, namun ia sangat bingung karena tidak tahu cara menghentikannya.

Kehidupan bawah tanah yang luar biasa lama telah merenggut insting pengoperasian perangkat elektronik yang bagi manusia modern adalah hal lumrah.

Ryuto memegang ponsel itu dengan canggung layaknya lansia yang pertama kali melihat perangkat tercanggih.

"Berhenti."

Saat itu, ponsel Haruka sebenarnya sedang memberitahukan adanya panggilan masuk. Jika saja Ryuto melihat layarnya, dia mungkin akan menyadarinya, namun karena ponsel itu langsung diletakkan terbalik, nama si penelepon tidak sempat terlihat.

Karena Ryuto berpindah tempat, ponsel itu akhirnya mencapai area jangkauan komunikasi.

Di dalam dungeon, internet memang mudah terhubung berkat stasiun pemancar kuat yang dipasang di berbagai titik, namun entah kenapa untuk panggilan telepon sering mengalami gangguan sinyal yang kuat.

Katanya, ini adalah efek samping karena Sage Agung Sirius, penyelamat dari dunia lain yang bertarung melawan Raja Iblis, sangat gemar menggunakan telepon saat perang dulu.

Raja Iblis yang mengetahui bahwa musuh bebuyutannya, Sage Agung Sirius, memberikan dampak efektif bagi pasukan Iblis melalui koordinasi telepon, mengalihkan frekuensi gelombang pengganggu secara besar-besaran ke arah sana. Namun, hingga saat ini hal tersebut belum terbukti secara teoritis.

"Ugh, nggak paham. Mending tanya langsung ke Haruka kalau dia sudah bangun."

Ryuto berdiri sambil memanggul pedang beserta sarungnya di bahu. Dari ketidakteraturan langkah kaki dan detak jantung manusia yang mendekat, ia tahu pasti bahwa pihak lawan tidak bersikap ramah padanya.

Ia berpikir lebih baik membangunkan Haruka agar lebih mudah menjelaskan, namun di saat emosi orang-orang itu sedang meluap, sepertinya mereka tidak akan mau mendengarkan penjelasannya.

Pokoknya, untuk berdialog, pertama-tama harus memberi kejutan besar dulu. Jika dianggap remeh, dia akan berakhir diinjak-injak secara sepihak. Ryuto mengetahui hal itu dari pengalaman pribadinya.

"Nah, kira-kira siapa yang akan muncul?"

Area di depan sedikit terbuka. Cukup luas untuk empat orang berjejer menyerang sekaligus. Saat Ryuto melangkah maju perlahan, tiba-tiba aroma harum yang manis tercium di ujung hidungnya.

"Berhenti di situ. Lalu, buang senjatamu."

Sebuah tuntutan sepihak. Ryuto yang selama ini hidup di dunia penuh pertumpahan darah, biasanya tidak akan pernah sudi menerima syarat seperti itu. Menghancurkan momentum lawan dulu. Apa sebaiknya ia melakukan serangan pertama? Lawan memang waspada, namun secara kemampuan, mereka bahkan bukan tandingannya.

Tapi—.

"Okaaaay!"

Ryuto mengeluarkan suara lemas, melepaskan pedangnya, dan mengangkat kedua tangannya. Ia tersenyum lebar. Sebab, orang-orang yang muncul untuk menyelamatkan Haruka, semuanya tanpa pengecualian, adalah wanita-wanita cantik yang membuat mata Ryuto silau.

◆◇◆

"Penjelajah Rank E, Haruka Shimomura, telah diamankan dengan selamat. Dilaporkan tidak ada luka yang serius."

"Syukurlah."

Ichihime Genma menghela napas lega setelah mendengar laporan dari sekretarisnya, Yurina Tsukikage. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi belakang mobil dan mengembuskan napas panjang.

"Kurangi kecepatannya. Lalu sampaikan terima kasih kepada tim penyelamat. Berikan kompensasi yang cukup dari dana rahasia. Membasmi Cerberus, meski dilakukan oleh Penjelajah Rank A sekalipun, pasti memakan korban yang tidak sedikit."

"Bukan, sebenarnya..."

Yurina tampak ragu. Sebuah keraguan yang tidak biasa baginya.

"Apa terjadi sesuatu pada anak itu?"

"Bukan begitu. Tapi kabarnya, Cerberus sudah dikalahkan sebelum tim penyelamat tiba di lokasi."

"Dikalahkan? Mustahil. Kalau begitu, apa ada tim Penjelajah lain yang kebetulan berada di sana dan mengalahkannya?"

"Tidak. Menurut laporan, saat Asosiasi menolongnya, ada seorang penjelajah laki-laki yang mendampinginya."

"Itu malah lebih mustahil lagi. Sejak awal, laki-laki yang terdaftar dalam daftar izin Penjelajah Asosiasi seharusnya cuma Shogen dan Yorimitsu milik keluarga kami. Lagipula, mereka berdua praktis cuma numpang nama dan tidak aktif sebagai Penjelajah."

—Sebagai kemungkinan, sosok penjelajah laki-laki yang bisa mengalahkan monster kelas Cerberus secara solo adalah...

Hanya Ichihime yang termasuk dalam Tim Penyelamat yang membasmi Raja Iblis dua puluh tahun lalu, suaminya Shogen Genma, dan sahabatnya Yorimitsu Satake yang masih hidup hingga sekaranglah yang mampu melakukannya.

Sejak awal, kemungkinan seorang laki-laki menjadi Penjelajah itu nyaris nol.

Raja Iblis memang telah dibasmi oleh Tim Penyelamat dua puluh tahun yang lalu. Namun, sesaat sebelum mati, Raja Iblis menyebarkan penyakit menular yang mengerikan untuk memusnahkan umat manusia, yang mengakibatkan jumlah laki-laki di dunia menurun drastis.

Daftar merah spesies yang terancam punah di dunia kini telah digantikan oleh 'Manusia' (Laki-laki).

Singkatnya, laki-laki adalah objek yang harus dilindungi. Meskipun dungeon masih tersisa di seluruh dunia dan monster muncul secara berkala hingga menyebabkan korban jiwa, jujur saja, korban yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas jauh lebih banyak.

Oleh karena itu, laki-laki yang dulunya terpaksa mempertaruhkan nyawa demi negara, sekarang dibesarkan dengan penuh kasih sayang, layaknya bunga di dalam rumah kaca, dan dijauhkan dari urusan kasar seperti menjadi Penjelajah.

"Jika itu benar..."

Napasnya secara alami menjadi memburu.

Ia sempat menyangkalnya sekali. Namun kemungkinan yang mustahil itu semakin menguat.

Setelah sempat menangis tadi, Ichihime sudah kembali tenang. Suara digital bisa dimanipulasi dengan cara apa pun. Ichihime punya banyak musuh politik. Ia tidak bisa menampik adanya rencana jahat untuk memancingnya masuk ke dalam dungeon dan membunuhnya secara diam-diam.

—Toh, kalau lawan memang punya niat seperti itu, aku pun sudah siap.

Pokoknya, saat ini tidak ada cara lain selain mendatangi lokasi dan memastikan faktanya sendiri. Mobil sudah memasuki jalan tol Shuto.

Meski hatinya tidak sabar, ia tetap mematuhi peraturan lalu lintas dan melaju dalam kecepatan normal menuju Ueno Dungeon, yang disebut sebagai dungeon nomor satu di ibu kota.

Ichihime mematikan tablet PC-nya dengan gelisah, lalu menatap matahari terbenam berwarna merah yang mulai turun dari balik gedung-gedung tinggi.

◆◇◆

"Hati-hati. Lawannya adalah monster yang bisa membantai Cerberus sendirian."

Loria Himejima, seorang Penjelajah Rank A, bergerak dengan hati-hati di dalam dungeon sambil menyiapkan tongkat sihir dan perisainya.

Loria yang tahun ini berusia dua puluh tahun adalah Penjelajah Rank A yang lulus dengan nilai luar biasa dari Sekolah Penjelajah Nasional, memiliki selera dan kemampuan yang langka.

Job-nya adalah Magic Swordsman. Ia ahli menggunakan teknik pedang dan sihir secara bersamaan.

Meski ia membawa dua puluh penjelajah pilihan atas perintah Asosiasi Penjelajah, jika lawannya adalah pembantai Cerberus, nyawanya tetap terancam.

—Tapi ini adalah kesempatan. Kesempatan yang baru datang lagi setelah beberapa tahun.

Loria memiliki tubuh atletis layaknya model dengan tinggi 172 cm dan berat 54 kg. Penampilannya juga sangat menonjol dibanding orang kebanyakan.

Mata besar, hidung mancung, dan bibir indah seperti kuncup sakura. Dan rekan-rekan yang dibawa Loria pun, semuanya tanpa kecuali, adalah gadis-gadis cantik.

Loria dan rekan-rekannya semuanya memiliki mimpi. Sebuah keinginan klise yang jika diucapkan dua puluh tahun lalu mungkin akan dianggap terlalu kuno dan dikritik sebagai diskriminasi oleh wanita di seluruh dunia. Yaitu—

Membangun keluarga yang bahagia.

Namun, agar Loria dan gadis-gadis seumurannya bisa mewujudkan keinginan itu, ada satu tembok besar yang menghalangi.

Laki-laki itu sedikit sekali.

Jumlah laki-laki di usia produktif sudah menipis, tidak hanya di Jepang tapi juga di seluruh dunia. Kelompok usia laki-laki dewasa yang paling banyak tersisa di Jepang adalah mereka yang berusia enam puluhan.

Di dunia di mana rasio populasi terbalik hanya dalam waktu dua puluh tahun, bagi wanita di usia subur untuk mendapatkan pasangan hidup yang sepadan adalah hal yang mustahil.

Berjalan di jalanan, pergi ke sekolah, atau ke tempat kerja, tidak ada laki-laki. Tengok ke kanan, wanita.

Tengok ke kiri, wanita. Atas, bawah, kiri, kanan, depan, belakang... ke mana pun memandang, yang ada cuma wanita, wanita, dan wanita.

Mungkin akan terasa sedikit bahagia jika bisa membangun hubungan semacam itu dengan sesama wanita, tapi...

Bukan karena kutukan Raja Iblis, tapi memang benar bahwa keinginan wanita untuk mencari laki-laki sekarang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Dalam sekejap, karena banyaknya laki-laki yang lenyap dari dunia, mungkin insting pelestarian spesies pada wanita mulai bekerja, sehingga dimulailah evolusi yang dramatis.

Pertama, gadis-gadis yang memasuki masa pertumbuhan setelah era kiamat (Apocalypse), atau mereka yang lahir ke dunia ini, tumbuh menjadi gadis-gadis dengan fitur wajah yang sangat tertata rapi seolah didesain oleh Tuhan sendiri.

Selain itu, seiring dengan bertambahnya tinggi badan, banyak gadis yang memiliki dada dan pantat besar serta kaki yang jenjang. Gadis-gadis dengan tubuh pendek bulat tipe Jomon sudah berkurang drastis.

Beberapa sarjana berpendapat bahwa demi menarik perhatian laki-laki secara efisien, wanita mengalami mutasi evolusi pada tubuh dan wajah mereka.

Singkatnya, hampir semua orang di jalanan adalah wanita cantik. Dan kecantikan mereka tidak seragam; ada ribuan variasi, tidak ada wajah hasil operasi plastik yang terlihat kaku, melainkan kecantikan alami yang memenuhi jalanan.

Namun, jumlah laki-laki tetap tidak bertambah. Jika ini bukan tragedi, lalu apa lagi? Jumlah individu wanita tetap banyak, namun laki-laki seiring berjalannya tahun entah kenapa justru menjadi makin "herbivora".

Tipe yang disukai laki-laki pun berubah. Dibandingkan wanita dengan tubuh molek yang dulunya disukai mayoritas, sekarang tipe tubuh mungil seperti anak-anak (loli) justru lebih disukai.

Dibandingkan tubuh montok yang dibutuhkan untuk reproduksi, para laki-laki justru beralih ke "buah yang belum matang". Dunia memang tidak berjalan sesuai keinginan.

—Po-pokoknya, aku harus mencetak prestasi dalam quest ini dan mendapatkan slot khusus sertifikasi seleksi dengan cara apa pun.

Di era modern, tidak hanya di Jepang, jika seorang wanita ingin melahirkan, pilihannya hanyalah beruntung mendapatkan hubungan seksual dengan laki-laki, atau mendapatkan benih berkualitas dari bank sperma yang terdaftar untuk melakukan inseminasi buatan. Jadi, bagi mereka yang bukan dari kelas istimewa, tidak ada pilihan selain bergantung pada bank sperma.

Namun, untuk menggunakan bank sperma pun, pertama-tama ada undian yang sangat bergantung pada keberuntungan, dan hambatannya sangat tinggi. Probabilitas wanita yang menginginkan anak untuk memenangkan undian sangatlah rendah.

Setelah pandemi, jumlah laki-laki menurun drastis, dan mereka segera "diamankan".

Mereka yang memiliki harta berlimpah atau kekuasaan akan mengurung laki-laki muda agar tidak terlihat oleh publik. Banyak wanita dengan tubuh sehat dan energi melimpah akhirnya memilih menjadi Penjelajah.

Penjelajah adalah profesi yang sangat populer saat ini, bahkan sekolah kejuruan nasionalnya pun dibangun di mana-mana.

Namun kenyataannya, ini adalah pekerjaan yang melampaui 3K (Kitsu, Kitanai, Kiken - Berat, Kotor, Bahaya), melainkan 4K karena ditambah Kurushii (Menderita).

Bagi mereka yang diberkati dengan Skill atau sihir khusus mungkin tidak masalah, namun bagi mereka yang hanya punya kemampuan biasa-biasa saja, bertarung melawan monster yang muncul di dungeon serta menggali dan mengangkut material adalah pekerjaan yang sangat berat.

Hanya saja, menjadi Penjelajah punya sisi "sekali untung langsung besar".

Jika berhasil menemukan area perburuan material baru atau sukses membasmi monster langka, keuntungan jutaan hingga puluhan juta yen bisa didapatkan.

Usaha yang dikerahkan pun sebenarnya hanya beberapa hari atau paling lama beberapa minggu.

Para wanita yang tidak punya hal lain untuk dibanggakan selain masa muda dan stamina, berbondong-bondong mendaftar jadi Penjelajah. Dalam hal ini, Loria adalah wanita yang benar-benar tidak beruntung.

Secara kemampuan, dia adalah Penjelajah Rank A yang berada tepat di bawah Rank S yang istimewa. Loria sudah menyelam ke dungeon sejak usia tiga belas tahun, memiliki pengalaman dan pengetahuan yang cukup.

Faktanya, jika terjadi masalah di dalam dungeon, dia adalah ahli yang akan segera dipanggil. Catatan prestasinya dalam membasmi monster setara Cerberus atau lebih sudah tidak bisa dihitung dengan satu tangan.

Normalnya, lima tahun lalu dia seharusnya sudah pensiun dan hidup bahagia dengan pasangan laki-laki yang hebat.

Faktanya, teman sekelasnya yang hanya Penjelajah Rank B atau C sudah menemukan pasangan, bahkan ada yang sedang hamil anak keempat menurut kabar dari aplikasi perpesanan "Laiso".

Loria memang sudah membantai banyak monster kuat, namun saking kuatnya serangannya, jasad monster tersebut hancur atau lenyap sehingga Asosiasi sulit melakukan konfirmasi.

Loria adalah seorang penakut. Atau jika ingin terdengar lebih keren, dia adalah tipe orang yang sangat berhati-hati. Dia lebih suka daging yang panggangannya matang sempurna, dan akan merasa ngeri jika melihat daging yang masih merah. Begitulah sifatnya.

Terlebih lagi, sejak lahir dia memiliki kandungan Mana yang sangat tinggi dalam tubuhnya. Hal ini sering membuat Loria melakukan overkill saat menghadapi monster—serangannya jauh melampaui apa yang dibutuhkan.

Meskipun kemampuan sihir dan pedangnya berada di kelas satu, jika dia melenyapkan monster sampai tak bersisa, pengawas ujian tidak akan bisa mengonfirmasi buruannya. Akibatnya, hampir mustahil baginya untuk mendapatkan uang hadiah.

Namun, fakta bahwa dia bisa naik hingga ke Rank A berkat segudang prestasinya, tak lain adalah karena kepribadiannya yang jujur dan tulus tanpa kepalsuan.

Sayangnya, tabungannya sangat sedikit untuk ukuran seorang petualang Rank A. Loria adalah tipe yang terlalu peduli pada orang lain; dia sering merogoh kocek pribadi untuk membelikan peralatan dan bahan yang dibutuhkan oleh rekan atau bawahannya.

Jika perlu, dia akan meminjamkan uang dengan murah hati. Lalu, setelah meminjamkannya, dia sering berjongkok di tempat sambil meratapi kecerobohannya sendiri, "Aaaah, kenapa aku melakukannya lagi?"

Singkat kata, dia terlalu baik hati.

◆◇◆

Dengan gerakan yang hati-hati namun secepat mungkin, Loria terus maju hingga sampai ke sebuah gua raksasa. Area itu sangat luas, kira-kira seukuran aula olahraga sekolah dasar, yang terbentang di ujung lorong. Adrenalin Loria mulai terpacu seiring langkah kakinya.

"Sisa-sisa Mana di sini luar biasa pekat."

Suhu di dalam dungeon yang seharusnya stabil, kini terasa sangat dingin menusuk tulang. Loria memasang posisi siaga dengan perisainya, sementara bahunya sedikit gemetar.

Uap putih memenuhi seluruh ruangan. Ditambah dengan kegelapan yang khas, jarak pandang menjadi sangat buruk. Padahal, dia sudah menggunakan sihir cahaya untuk menerangi sekitar, tapi entah mengapa kabut ini tidak kunjung sirna.

"Harap waspada, Kapten."

Wakilnya, Hojo Ichika, memegang pedang panjang di satu tangan sambil mengawasi sekeliling tanpa lengah. Dia adalah andalan di baris depan, seorang gadis berbakat yang berperan ganda sebagai Tanker sekaligus Attacker.

Ichika, dengan rambut hitam lurus dan poni rata layaknya boneka Jepang, sebenarnya adalah gadis cantik tipe ortodoks. Namun, saat dia tegang, kedua matanya akan bergerak liar ke arah yang berbeda seperti bunglon, yang sejujurnya agak menyeramkan.

Gadis delapan belas tahun itu tidak menyadari kebiasaannya. Meskipun dia berasal dari keluarga kaya dan sering dijodohkan dengan pria, dia selalu ditolak tiap kali bertemu. Karena kepribadiannya baik, orang-orang di sekitarnya tidak tega memberitahukan kekurangannya itu.

Loria pernah mencoba berterus terang padanya, "Anu, kurasa sebaiknya kau berhenti menggerakkan matamu seperti itu." Namun Ichika hanya menjawab, "Eh, apa maksud Anda?" yang membuat Loria bungkam. Loria benci dirinya yang terlalu lemah dalam berkomunikasi.

"Tidak mungkin... salju?"

Itu suara Ichika. Loria terpaku saat kepingan salju halus yang jatuh dari kegelapan hinggap di telapak tangannya. Kemudian, dia menatap ke depan dan tertegun.

Ada sebuah bongkahan es raksasa.

Di balik kabut putih, sebuah gunung es yang menyerupai batu karang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.

"Eh?"

Bongkahan es raksasa itu mulai runtuh sedikit demi sedikit.

Dalam waktu yang singkat, Loria menyadari bahwa objek tersebut adalah seekor monster raksasa.

Sekitar tiga puluh meter di depannya, seseorang berdiri di sana. Di sudut penglihatannya, tampak seorang gadis yang tergeletak telungkup. Tidak salah lagi, itu adalah Shimomura Haruka yang masuk dalam daftar pencarian.

Namun, sesuatu yang tertangkap oleh mata Loria benar-benar mengalihkan perhatiannya dari Haruka.

Seorang pria.

Begitu melihat sosok itu, tanpa sadar kemampuannya meningkat tajam.

Pria itu bertelanjang dada. Namun, dia jelas berbeda dari wanita.

Tubuhnya adalah gumpalan otot yang kencang tanpa lemak sedikit pun.

—Ini pertama kalinya aku melihatnya.

Dia muda. Meski Loria melihatnya setiap hari melalui gambar atau video, ini adalah pertama kalinya seumur hidup Loria melihat pria sebaya yang benar-benar hidup dan bergerak di depan matanya.

Loria, yang dilahirkan oleh ibunya melalui bank sperma, adalah generasi awal yang tidak mengenal sosok ayah.

Debaran jantung yang tak berhenti saat dia melihat pria hidup di kelas khusus waktu SMP dulu, kini berdentum dengan dampak yang jauh lebih hebat.

Mungkin dia belasan tahun, atau awal dua puluhan.

Pria yang memberi kuliah di kelas khusus dulu memang disebut muda, tapi usianya awal empat puluhan. Namun, pria di depannya ini memiliki kekencangan kulit dan fitur wajah yang benar-benar berbeda, terasa begitu segar. Matanya besar dan memancarkan kekuatan yang kuat.

Luka zig-zag yang menyambar di pipi kirinya seperti kilat sama sekali tidak mengurangi daya tariknya, melainkan menambah kesan gagah. Alisnya kuat, seolah dilukis dengan kuas. Batang hidungnya agak tinggi dan mancung sempurna.

Wajahnya terlihat aristokrat, namun aura yang terpancar dari sekujur tubuhnya mengingatkan pada serigala yang lapar.

"P-Pria!?"

"Eeeh, bohong!"

"Muda banget! Eh, apa? Dia muda! Bagaimana bisa?"

"Tuhan... Tuhan telah mengabulkan doaku!"

"Kiiiiii! Kieeeee!"

Anak buahnya serentak berteriak histeris. Ada yang menangkupkan tangan sambil berputar-putar di tempat. Ada yang tiba-tiba melepas pelindung tubuh dan mulai membuka jaket. Beberapa bahkan melompat-lompat sambil menjerit kegirangan seperti binatang—tindakan yang sangat memalukan bagi petualang kelas satu.

"T-Tenanglah kalian! Ini mungkin serangan ilusi dari monster!"

Loria memberikan peringatan.

"Berisik banget, sih!"

"Dia pacarku!"

"Tidak akan kubiarkan! Aku tidak mau berbagi!"

"Berikan 'Tuan Pria' itu pada kami juga!"

Loria mencoba menenangkan mereka, tapi para wanita itu justru berteriak dan mengerang keras.

Mereka hampir terlihat seperti binatang buas.

Tentu saja, Loria pun sama keringnya soal urusan pria.

Bagi para pejuang yang mempertaruhkan nyawa demi kekayaan setiap hari dan memimpikan pernikahan bahagia (catatan: lewat bank sperma), mustahil mereka bisa tetap tenang saat melihat pria asli.

Namun, coba pikirkan baik-baik. Bukankah aneh ada pria di dalam dungeon yang sangat berbahaya seperti ini? Ya, jelas aneh.

"Hei, menurutmu dia itu manusia? Atau monster yang menyamar?"

"Ha-hawawa..."

"Hah, tidak ada gunanya."

Loria bertanya pada wakilnya, Ichika, tapi gadis itu sedang dalam kondisi kacau balau dengan mata yang berputar-putar seperti bunglon. Tidak ada pilihan lain. Sebagai kapten, akulah yang harus melakukan kontak langsung secara pribadi. Ufufu, maaf ya semuanya. Waduh, ini gawat.

"Berhenti di situ. Lalu, buang senjatamu."

Ucap Loria dengan sikap tegas. Dia mengarahkan tongkat sihirnya sambil berdiri hanya berjarak tiga meter dari pria di depannya.

Pria itu menatap Loria dengan ekspresi bengong sambil mengucek matanya dengan telapak tangan.

Imutnya.

Entah kenapa, gerakan seperti anak kecil itu membangkitkan insting keibuan Loria yang luar biasa kuat, hingga dia hampir menjatuhkan tongkat sihirnya.

"Baiklah."

Pria itu menurut dan melemparkan pedang di tangannya, lalu mengulas senyum ramah. Dia tersenyum. Dia tersenyum padaku. Padaku, bukan pada orang lain. "Tuan Pria" ini sedang berkomunikasi denganku. Hanya dengan itu saja, rasanya aku bisa makan tiga piring nasi. Oke, aku harus mencatat ini dalam memori hatiku.

"Apakah kau manusia? Atau monster yang menyamar?"

"Hah? Apa yang kau bicarakan? Pokoknya aku ini pria sejak lahir. Hei, aku sudah membuang senjataku. Bisakah kau berhenti menodongkan benda berbahaya itu padaku?"

—Dia berbicara! Suaranya berat sekali! Uuugh, aku gugup!

"T-Tunggu sebentar. Namaku Himejima Loria, petualang Rank A dari Asosiasi. Pertama-tama, beri tahu aku ID Petualang dan namamu. Segalanya dimulai dari situ!"

"Aku Sakazaki. Aku tidak tahu apa itu ID."

"Tolong sebutkan namamu secara lengkap! Ini yang paling penting!"

"Pintar sekali! Meskipun identitas bisa diperiksa lewat ID, Anda sengaja memintanya menyebutkan nama agar bisa memperpendek jarak dengan Tuan Sakazaki secara alami!"

"Ichika, ini bagian yang penting, jadi jangan ganggu!"

"Ah, maaf ya. Namaku Sakazaki Ryuto. Apa begini sudah cukup? Soal ID itu, aku benar-benar tidak mengerti."

"Ryuto... Sakazaki Ryuto-san, ya."

—A-Aku baru saja mendengar nama seorang pria untuk pertama kalinya. Bukankah ini artinya kami berdua sudah ditakdirkan untuk bersatu!?

Untuk sesaat, sesuatu terlintas di sudut pikiran Loria, tapi sekarang bukan saatnya memikirkan hal lain.

Yang terpenting adalah kenyataan bahwa dia bisa menjalin kontak dengan seorang pria, apalagi yang muda dan hampir sebaya dengannya. Loria percaya sepenuhnya bahwa ini adalah anugerah Tuhan.

Grit... grit... grit...

Mera... mera... mera...

"Curang, cuma Kapten saja yang enak."

"Kami juga ingin mengobrol—maksudku, menjilat Tuan Ryuto."

—Tentu saja, aura kecemburuan dari dua puluh gadis di belakangnya diabaikan begitu saja.

"Lupa ID? Apa hal seperti itu mungkin terjadi? Baiklah, aku akan mencoba memeriksanya di situs web Asosiasi sekarang."

Loria menyerahkan tongkatnya pada Ichika dan mulai mencari nama Ryuto di ponselnya. Namun, tentu saja nama Ryuto tidak muncul dalam hasil pencarian.

"Hoho, jadi sekarang kita bisa memeriksa banyak hal lewat ponsel ya. Praktis sekali."

"Nkyah!"

Tiba-tiba Ryuto mendekatkan wajahnya ke arah Loria. Dia melihat! Tuan Ryuto sedang memperhatikanku dengan saksama!

—Aaah, kenapa dia mendekat di saat seperti ini!? Kalau aku tahu bakal begini, kemarin aku pasti pergi ke salon, perawatan kulit, oh, dan mengganti warna cat kuku!

"Ngh, ehem! Bolehkah aku memanggil Anda Ryuto-sama?"

"Hah? Boleh saja, tidak usah seformal itu. Panggil Ryuto saja cukup."

"Ahfun! T-Tidak, kalau begitu, Ryuto-san. Seperti yang kau tahu, dungeon berada di bawah yurisdiksi negara. Tahukah kau bahwa masuk tanpa izin bagi orang yang tidak terdaftar di Asosiasi adalah pelanggaran hukum pidana?"

"Deeeeh!? Benarkah? Maaf, aku tidak tahu."

"Aku memaafkanmu."

"Eh?"

—Gawat. Aku refleks menjawab sembarangan...

Lalu Loria tersadar. Sampai detik ini, dia sama sekali belum menanyai Ryuto tentang Shimomura Haruka—orang yang harus mereka selamatkan—yang sedang terbaring di kaki mereka.

"Maafkan aku. Bisa-bisanya aku... k-ehem, lupakan yang tadi."

"Hah..."

"Pokoknya, gadis di sana itu benar Shimomura Haruka yang dicari oleh Asosiasi Petualang, kan? Jika tidak keberatan, akan sangat membantu jika kau menceritakan apa yang terjadi sampai sekarang."

"Apa yang terjadi, ya?"

Bagi Ryuto, wanita yang muncul di depannya ini memiliki sikap yang lembut, baik, dan ramah.

—Dan yang terpenting, dia cantik.

Wanita cantik yang mengaku bernama Himejima Loria itu mengenakan pakaian dan perlengkapan yang pas di tubuh, serta memancarkan aroma yang sangat harum. Paha mulusnya yang terlihat sedikit juga tampak mempesona.

Begitu melihat Loria, Ryuto langsung menyukainya. Terhadap Ryuto yang tidak memahami situasi saat ini, awalnya Loria memang menunjukkan kecurigaan, namun setelah Ryuto menjelaskan situasinya, Loria mencatatnya dengan antusias, menangis tersedu-sedu mendengar ceritanya seolah mereka teman lama, dan merasa simpati.

"Begitu ya. Ryuto-san, kau sudah berjuang keras selama ini."

"Ah, tidak..."

—Tunggu, situasi apa ini?

Ryuto merasa sangat bingung di dalam dungeon, dikelilingi oleh Loria dan lebih dari dua puluh wanita cantik lainnya.

Kisah tentang Ryuto yang terus berkelana sendirian di dalam dungeon selama dua puluh tahun setelah mengalahkan Raja Iblis—

Pertemuannya dengan Shimomura Haruka—

Kemenangannya melawan Minotaur dan Cerberus sendirian—

Menceritakan semua itu tidak memakan waktu lebih dari lima belas menit. Namun, selama waktu itu, para anggota Asosiasi yang dibawa Loria perlahan-lahan memperpendek jarak, dan tanpa sadar telah mengepung Ryuto dari segala arah.

—K-Kok rasanya agak menyeramkan ya.

Awalnya para petualang itu mengepungnya dengan sungkan, namun seiring berjalannya waktu, mereka menjadi lebih berani mendekati Ryuto. Mereka menempelkan tangan ke bahu, lengan, dan pinggangnya sambil bernapas terengah-engah.

Semuanya terdiam seribu bahasa.

Hal itu terasa sangat aneh.

Ryuto merasakan tekanan yang tidak biasa.

Namun, karena tidak ada alasan untuk melawan, dia hanya diam saja.

"Begitu ya. Ryuto-san, kau sudah berjuang keras selama ini."

"Bukan, aku tidak keberatan sih, tapi kenapa dari tadi kau hanya mengatakan hal yang sama?"

Ryuto bingung melihat kalimat Loria yang terus berulang seperti mesin pemutar yang rusak.

"Kalau bicara soal Sakazaki Ryuto, itu adalah nama legenda yang mengalahkan Raja Iblis."

"Kasihan sekali. Dia pasti sangat lelah karena terlalu lama berkelana di dalam dungeon."

"Tatapan matanya terasa agak..."

Mendengar bisik-bisik dari para petualang figuran itu, Ryuto merasa ingin menghentakkan kakinya ke tanah. Benar-benar bukan perilaku orang yang usia sebenarnya sudah tiga puluh delapan tahun.

"Woi, kalian di sana! Aku bisa dengar, tahu! Aku ini waras!"

"I-Iya, kami mengerti. Kami mengerti, jadi tenanglah..."

"Nuuuuh. Tidak ada yang percaya. Terus, bagaimana cara membuktikan kalau aku adalah aku?"

"Biasanya dengan SIM, kartu identitas, atau kartu asuransi..."

"Aku tidak punya SIM, dan aku tidak tahu apa itu kartu identitas yang kau maksud. Ugh, kalau begini, meskipun aku bisa kembali ke permukaan, aku bakal dijebloskan ke penjara dengan alasan yang tidak jelas."

"...Untuk saat ini, karena kita tidak bisa mengonfirmasi apa pun di sini, bagaimana kalau kita keluar dulu dan memeriksanya pelan-pelan di kantor Asosiasi?"

Itu adalah usulan yang sangat masuk akal dan realistis.

"Benar juga. Lagipula, aku ingin sekali menghirup udara luar."

"Setuju! Ah, tapi. Ada satu permohonan kecil. Boleh?"

Loria menatap Ryuto dengan tatapan memohon dari bawah. Karena Ryuto lebih tinggi sekitar satu kepala, Loria otomatis harus mendongak. Ryuto sempat ragu sejenak karena nada bicaranya yang manis dan menggoda, namun dia mengangguk pelan.

"Permohonan apa?"

"Itu... tolong bertukar LINE dan nomor telepon denganku!"

"LINE?"

Ryuto terpaku menatap ponsel yang disodorkan Loria. Bagi Ryuto yang seolah-olah baru saja melakukan perjalanan waktu dari tahun 2005, yang biasa dia lihat hanyalah ponsel lipat atau garake. Dia mengerti nomor telepon, tapi LINE baru muncul tahun 2011, jadi tentu saja Ryuto yang terkurung di dungeon tidak mungkin mengetahuinya.

"Aku tahu nomor telepon, tapi apa itu LINE?"

"Ah, aku dengar pria jarang menggunakan media sosial karena bahaya kebocoran informasi. Kau tidak tahu LINE?"

Loria dengan cepat menunjuk ponsel di tangan Ryuto dan berkata dengan agak terburu-buru. Tentu saja, ponsel yang dipegang Ryuto adalah milik Haruka.

"Itu... kalau kau tidak tahu, aku akan mengajarimu cara mendaftarnya? Jadi, ya? Ayo bertukar? Lihat, ini sebentar saja kok! Ya? Ya?"

Loria merangsek maju dengan tekanan yang luar biasa.

Ryuto secara insting merasakan ketakutan dan tubuhnya menjadi kaku.

"Eh, tunggu sebentar—"

"Ayo, ayo, ayo, ayo!"

Mungkin karena Ryuto tidak menolak dengan keras, Loria menanggalkan topeng keanggunannya dan mulai mendekat dengan agresif.

"I-Iya, aku mengerti. Aku tidak begitu paham, tapi aku mengerti!"

"Gampang kok. Gampang ba-nget. Tekan ikon berbentuk orang nomor dua dari kanan, lalu tampilkan kode QR di tengah."

"Begini?"

Karena memiliki fleksibilitas otak yang lebih baik dari siapa pun, Ryuto mengikuti penjelasan Loria sekali dengar dan mengoperasikan ponsel itu dengan lancar hingga pendaftaran teman selesai. Melihat itu, para petualang figuran lainnya tentu tidak tinggal diam.

"Curang! Aku juga mau tukaran LINE dengan Ryuto-sama!"

"Jangan mencoba mendahului kami!"

"Ah, aku, setelah ini aku ya!"

"Aku juga mau tukaran!"

"Asyik! Aku dapat kontak 'Tuan Pria'!"

"Aku tidak akan membiarkan diriku disebut 'wanita tikus tanah' lagi selamanya!"

"Hei, antre dong!"

"Minggir kalian, dasar pengganggu!"

"Kubuat kalian menangis ya, bocah-bocah!"

Sebagai catatan, tidak ada yang tahu apakah selama beberapa hari ke depan mereka bisa bermimpi indah atau tidak, setelah fakta terungkap bahwa orang yang mereka ajak bertukar LINE sebenarnya bukan Ryuto, melainkan Haruka.

◆◇◆

Ryuto tidak pernah sekali pun menganggap dirinya lebih unggul dari orang lain. Saat dia masih remaja, bumi diinvasi oleh monster misterius, dan tanpa berpikir panjang, dia memutuskan untuk bertarung sebagai seorang petualang.

Mungkin dia memang jauh lebih berbakat menjadi petualang daripada yang dia kira. Terang saja, dunia yang kacau ini, dungeon yang bermunculan di seluruh penjuru dunia, dan monster yang keluar dari sana—bagi Ryuto, semuanya terasa tidak nyata.

Jika harus menggambarkannya, itu seperti festival. Suasana festival budaya atau festival olahraga yang berlanjut tanpa henti. Ryuto saat itu bertarung melawan monster dengan mempertaruhkan nyawa dan menjelajahi dungeon sampai muntah darah, namun rasanya seperti melihat kelanjutan mimpi sambil terjaga—begitulah keadaannya.

Tanpa sempat benar-benar mengenakan seragam SMP-nya, dia menghabiskan hari-harinya sebagai petualang. Dia menerima perintah dari negara untuk turun ke bawah tanah, dan Ryuto menyelesaikan misi-misi sulit itu satu demi satu.

Menghabiskan masa pubertas yang sensitif di usia tiga belas tahun di tengah pertarungan hidup dan mati mungkin telah membuatnya kehilangan sesuatu yang penting sebagai manusia.

Namun, di tengah semua itu, masa muda tetap ada. Alih-alih berkeringat dalam klub sekolah, dia mengasah keterampilan tempur dan sihirnya, memberikan segalanya dalam situasi kritis. Bedanya dengan olahraga biasa hanyalah satu kesalahan kecil bisa merenggut nyawa.

Jarang sekali ada orang dewasa di lokasi. 'Festival' pembasmian Raja Iblis ini diselenggarakan oleh para pemuda dan pemudi, dan akhirnya berakhir dengan kematian bos musuh.

Ryuto hampir tidak pernah hadir di sekolah, dan meskipun dia menerima buku pelajaran yang dibagikan, dia hampir tidak pernah membacanya. Pengetahuan dasar dan norma umum diajarkan oleh kakak perempuannya yang berusia satu tahun lebih tua, di sela-sela pertempuran atau waktu istirahat. Bagi Ryuto, belajar hanyalah sebuah hiburan semata.

Kakaknya, yang enam tahun lebih tua, selalu bicara dengan nada keras karena berusaha menggantikan sosok ibu yang meninggal lebih dulu, namun dia sebenarnya sangat perhatian—bahkan mungkin terlalu perhatian.

Ryuto selalu bersikap membangkang pada kakaknya, Kazumi.

Di depan teman-teman satu kelompoknya, dia merasa malu dan tidak bisa bersikap manis.

"Belajar itu hiburan yang lumayan untuk membunuh waktu ya."

Suatu hari, ketika dia tanpa sengaja melontarkan komentar seperti itu, kakaknya yang biasanya tenang tiba-tiba meneteskan air mata dalam diam.

Saat Ryuto dipanggil ke garis depan karena keterampilannya yang luar biasa, kakaknya sudah hampir lulus SMA. Bisa dikatakan, kakaknya mungkin adalah generasi terakhir yang bisa menjalani kehidupan sekolah yang damai.

Kini, kakaknya berdiri di sana. Di depan matanya. Setelah dilucuti senjatanya oleh Himejima Loria dari Asosiasi Petualang, Ryuto akhirnya bertemu kembali dengan kakaknya, Kazumi, setelah sekian lama.

"Kakak?"

"Ryuto... itu kau?"

Kazumi melangkah maju perlahan. Dia sudah menua. Itulah hal pertama yang terlintas di benak Ryuto. Tentu saja, jika dia membayangkan kakaknya di ingatan menjadi jauh lebih tua, sosok di depannya inilah hasilnya.

Namun, ingatan yang melekat kuat di kepala Ryuto adalah sosok gadis muda di usia dua puluhan.

Zuki... Bagian belakang kepalanya terasa sakit.

Saat mencoba mencocokkan realitas di depan matanya dengan ingatannya secara paksa, otaknya terasa mengalami bug. Satu hal yang pasti, suaranya hampir tidak berubah.

Mungkin karena itulah dia bisa menerimanya.

"Ini benar-benar Kak Kazumi?"

"Ryuto!"

"Wabu!"




Kenyataan tentang aliran waktu menghujam Ryuto dengan sangat telak. Meski waktu yang dia rasakan sendiri terasa singkat, namun saat mengalaminya langsung, dia sadar bahwa tahun-tahun yang dia habiskan dengan berkelana di dalam dungeon benar-benar sepanjang dua puluh tahun.

Selain itu, ada perbedaan suhu emosi di antara mereka. Sepanjang pengetahuan Ryuto, kakaknya yang enam tahun lebih tua itu tidak pernah menunjukkan emosinya secara terang-terangan seperti ini.

Kakaknya yang biasanya tampak tidak tergoyahkan oleh apa pun, kini memeluknya sambil menangis tersedu-sedu.

Ryuto sempat berpikir ini terlalu berlebihan. Namun, saat didekap oleh tubuh yang jauh lebih kecil darinya itu, dia kehilangan niat untuk bercanda atau menggoda suasana yang mengharukan tersebut.

"Bodoh. Kau terlalu lama kembali."

Kazumi mengangkat wajahnya yang semrawut oleh air mata. Ryuto samar-samar teringat hari saat ibu mereka meninggal, dan akhirnya ingatan itu tersambung lurus dengan momen sekarang.

"Maaf. Aku sudah membuatmu menunggu, Kak."

Secara mental maupun fisik, Ryuto tidak melewati usia delapan belas tahun.

Sebenarnya ada keraguan tentang keaslian situasi ini, namun saat dipaksa menjalani "reuni mengharukan" di sebuah ruangan yang penuh dengan anggota Asosiasi Petualang, polisi, hingga petugas pemadam kebakaran, rasa malu justru lebih dulu menguasai dirinya.

Prok, prok, prok!

Hujan tepuk tangan turun dari orang-orang di sekitarnya. Pokoknya, benar-benar memalukan.

Wajah Ryuto memerah padam, lalu dia mengacak-acak rambut panjangnya yang tumbuh sangat berantakan. Waktu dua puluh tahun memang nyata adanya di sana.

Setelah gelombang emosinya mereda, Kazumi perlahan melepaskan pelukannya. Bahkan dari sudut pandang Ryuto sebagai adik kandung, kakaknya tetap terlihat cantik, namun guratan waktu dua puluh tahun memang terukir jelas di wajahnya.

—Dia mirip sekali dengan Ibu.

"Ryuto. Untuk saat ini, aku sudah menyiapkan hotel, jadi ayo ke sana. Ada banyak sekali hal yang harus kita bicarakan, tapi sekarang istirahatlah dengan tenang."

"Ouh. Tapi sebelumnya, bagaimana dengan gadis bernama Haruka yang bersamaku?"

Untuk sesaat, Kazumi menunjukkan ekspresi pedih yang sulit digambarkan. Namun, dia segera memasang senyum seperti memakai topeng. Tidak berubah dari dulu; Kazumi selalu mencoba tersenyum setiap kali ada masalah. Senyuman menyembunyikan semua emosi.

Ryuto bukan tipe orang yang bisa bermain sandiwara. Dia melangkah maju dan bertanya secara langsung.

"Hei, jangan-jangan terjadi sesuatu padanya?"

"Gadis itu, Shimomura Haruka... hmm. Ceritanya panjang, tapi intinya dia selamat. Ada beberapa luka lecet, tapi tidak ada yang serius."

"Begitu ya, syukurlah."

"Fufun."

"Kenapa tertawa?"

"Aku lega karena kau tidak berubah sedikit pun dari dulu. Pokoknya, istirahatlah hari ini. Soal Haruka akan kita bicarakan lagi besok, ya."

Ryuto melemparkan pandangan gelisah ke arah orang-orang yang berkumpul, sementara Kazumi berkata dengan mata yang penuh kelembutan.

"Jangan khawatir, besok kau bisa bertemu semua orang. Selain kau, semuanya berhasil kembali dengan selamat."

"O-ouh."

Ryuto melihat wajah kakaknya dari dekat saat sang kakak menekan kedua pipinya sendiri dengan tangan. Berbeda dari ingatan, wajah kakaknya yang dia lihat tepat di depan mata sudah sesuai dengan usianya, dan Ryuto pun tidak bisa berkata apa-apa lagi.

◆◇◆

"Wah, empuk sekali."

Setelah diantar ke kamar hotel, Ryuto langsung duduk di atas tempat tidur yang diletakkan di ruang luas itu tanpa melepas sepatunya.

Dia belum pernah menginap di hotel kelas satu yang mewah seperti ini. Menghabiskan masa muda di masa perang dan dua puluh tahun di dalam dungeon, Ryuto hanya tahu Tokyo yang berada di bawah pembatasan logistik yang parah dan pemadaman lampu total.

Apakah dunia telah mendapatkan kedamaian setelah Raja Iblis dikalahkan?

Kemakmuran yang dia lihat sekarang sudah kembali seperti Jepang yang Ryuto kenal di masa kecilnya. Pemandangan kota yang dia lihat dari balik kaca mobil mewah terlihat sangat rapi.

Jalannya bukan lagi jalanan penuh retakan dan lubang yang bahkan tidak sempat diaspal seperti dulu.

Suasana kota tidak lagi suram; etalase toko yang memajang berbagai macam barang berwarna-warni memberikan kejutan budaya yang cukup besar bagi Ryuto.

"Lagipula, mbak resepsionisnya cantik sekali ya."

Resepsionis di lobi yang tadi hanya dilewatinya saja, di mata Ryuto, terlihat seperti wanita cantik kelas atas.

Ryuto menjatuhkan diri telungkup di atas selimut tempat tidur, lalu menghirup aromanya sedalam mungkin. Sambil menendang-nendangkan kedua kakinya, dia melepas sepatunya hingga terpental.

Sepatu kulit baru yang mengkilap itu terbang dan menghantam dinding.

"Waduh, gawat."

Sepatu bot lama yang sudah usang di dalam dungeon sudah dibuang karena hancur lebur.

Karena merasa kasihan pada Ryuto yang tidak punya sepatu layak, kakaknya menggantinya dengan sepatu yang telah disiapkan sebelum mereka meninggalkan kantor Asosiasi Petualang.

Ukurannya dua puluh sembilan sentimeter. Sepatu yang masih baru tanpa setitik pun lumpur itu membuat dada Ryuto berdebar girang hanya dengan melihatnya saja.

—Kota ini penuh dengan barang.

Itu membuktikan bahwa perdamaian telah kembali.

Tokyo yang diingat Ryuto hancur berantakan akibat pertempuran sengit dengan monster yang muncul dari labirin bawah tanah, hingga tidak menyisakan bentuk aslinya.

Namun, Tokyo yang dia lihat dari jendela mobil sekarang telah kembali ke pemandangan kota yang damai tanpa bayang-bayang peperangan, persis seperti yang diingatnya saat masih kecil.

Hanya dengan melihat itu, Ryuto merasa perjuangannya selama ini ada artinya. Fakta bahwa tidak ada lagi tanda-tanda masa perang juga menenangkan perasaan Ryuto.

"Gawat. Aku hampir ketiduran."

Ryuto melompat bangun dari tempat tidur dan mengambil gelas yang ada di atas meja.

Glek. Gelas dingin yang berembun itu tampak bersinar biru. Saat dia meminumnya, jus jeruk yang dinginnya pas itu mengalir dari rongga mulut ke tenggorokan. Dia menghabiskannya hampir dalam satu tarikan napas. Di saat yang sama, otaknya terasa tergelitik.

"E-Enak! Jus jeruk ternyata seenak ini?"

Tanpa sadar dia merasa pusing. Selama hampir dua puluh tahun dia berpantang makanan manis. Di dalam dungeon, rasa manis tidak pernah ada, dan untuk mencukupi kebutuhan vitamin, tidak ada pilihan lain selain memakan daging mentah monster yang masih berlumuran darah.

Manusia, seberapa pun parahnya situasi yang dihadapi, tidak akan pernah bisa melupakan rasa manis yang pernah mereka rasakan sekali saja. Ryuto terbuai oleh rasa manis yang baru dirasakannya lagi setelah dua puluh tahun.

"Sialan, ini enak banget. Nggak tahan. Segini mana cukup. Aku mau minum sampai perutku meledak. Kurang, nih! Hmm?"

—Kalau tidak salah, dia bilang telepon saja kalau butuh sesuatu.

Ryuto mengambil ponsel yang diberikan oleh kakaknya, lalu dengan gerakan tangan yang belum terbiasa, dia mengoperasikan layar baru yang bersih tanpa bekas sidik jari itu.

"Ya, dengan Tsukikage di sini."

"Ah, Yurina-san? Ini aku, Ryuto. Apa aku boleh minta jus lagi?"

"Tentu, akan segera saya bawakan ke kamar."

"Aduh, maaf ya. Ini enak banget, aku sampai kaget. Rasanya mau minum sampai kenyang. Ahahaha."

Terdengar tawa kecil Yurina di seberang telepon. Seketika itu juga Ryuto menjadi gugup. Tsukikage Yurina dikatakan sebagai sekretaris kakaknya, namun dia tetap tinggal di Hotel Teio ini khusus untuk mengurus keperluan Ryuto.

"Sepertinya Ryuto-sama sangat menyukai jus jeruknya, ya. Akan segera saya bawakan, jadi silakan bersantai di kamar sambil menunggu sebentar."

"Ah, baik."

Dengan terburu-buru Ryuto mematikan teleponnya. Kemudian, dia meletakkan ponsel di atas meja dan mengembuskan napas panjang.

"Gawat, gawat banget. Apa dia bakal ilfeel ya? Yurina-san cantik sekali, dan rasanya benar-benar seperti wanita dewasa."

Bagi Ryuto, Yurina yang tampil rapi dengan setelan celana yang tampak mahal adalah orang yang hidup di dunia yang berbeda.

"Nggak tahan deh. Kira-kira pria seperti apa ya yang bisa jadi pacar wanita cantik dan cekatan seperti dia?"

Ryuto berguling di sofa, mengangkat kedua kakinya ke arah langit-langit sambil menendang-nendang. Aroma feromon yang terpancar dari setelan jas yang pas di tubuh itu benar-benar tidak tertahankan bagi Ryuto yang baru kembali dari labirin bawah tanah.

"Yurina-san oke banget ya. Benar-benar tipe Dosekebe-the-Ecchi-Sex-Body, ya, setuju."

Dilihat dari usia aslinya yang tiga puluh delapan tahun, Yurina hanyalah seorang gadis yang enam belas tahun lebih muda darinya.

Namun bagi Ryuto yang hanya tahu soal bunuh-membunuh di dungeon dan dunia sekolah, Yurina adalah seorang kakak yang bekerja di "dunia orang dewasa yang normal dan benar".

"Tapi, Kakak jadi politisi? Apalagi jadi menteri, itu pasti bercanda kan. Dan Yurina-san, benar-benar terasa seperti 'Sekretaris Banget!', rasanya aku bisa merasakan erotisme orang dewasa di sana."

Ryuto duduk bersila di atas sofa sambil menopang dagu, lalu berpikir keras. Kemudian, dia mulai menyesali pembicaraannya yang sok akrab di telepon tadi.

—Gawat. Rasanya jadi canggung sekali.

"Benar juga, mandi saja deh."

Sebagai solusi sementara, Ryuto memutuskan untuk mandi. Saat ini, Ryuto mengenakan kemeja dan celana panjang yang disiapkan oleh Kazumi.

Meskipun pakaian jadi, bagi Ryuto yang otot tubuh bagian atasnya berkembang secara tidak normal, pakaian itu terasa sempit di beberapa bagian.

Lingkar perutnya memang ramping, namun bagian leher, bahu, dan lengannya terlalu tebal sehingga pakaiannya tampak sangat ketat.

"Hiat! Bail Out!"

Ryuto menanggalkan kemeja dan celana panjangnya sekaligus, lalu langsung menuju kamar mandi. Di belakangnya, sisa-sisa pakaian yang ditanggalkan berserakan di mana-mana.

"Ryuto-sama. Ini Tsukikage. Saya membawakan minuman untuk Anda."

Tsukikage Yurina mengetuk pintu kamar pelan sambil membawa kereta dorong berisi teko minuman bersama dua orang resepsionis.

"?"

Tidak ada jawaban. Secara refleks, ekspresi Yurina sedikit menegang.

Ada alasan mengapa Genma Kazumi—pahlawan dari kelompok penyelamat dunia sekaligus anggota parlemen berpengaruh dari Partai Minsei—menugaskan Yurina sebagai sekretaris ketiga untuk menjadi pengurus Ryuto. Tujuannya adalah untuk perlindungan pribadi Sakazaki Ryuto.

Meskipun suatu saat nanti akan diketahui publik, kembalinya Ryuto—sosok kunci dalam pembasmian Raja Iblis yang kini menjadi objek pemujaan agama baru sebagai "Pahlawan"—merupakan rahasia negara tingkat tinggi secara politik.

Oleh karena itu, seluruh kamar di lantai dua puluh tempat Ryuto menginap saat ini telah disewa oleh otoritas pemerintah. Yurina sendiri adalah seorang ahli yang menguasai berbagai keterampilan tempur dan merupakan mantan petualang hebat yang pernah mencapai Rank B.

Meskipun penampilannya terlihat ramping dengan tinggi seratus enam puluh tiga sentimeter, tubuhnya terlatih dengan sangat baik, dan hingga kini dia tidak pernah melewatkan latihan dua jam setiap harinya.

Dia memiliki kemampuan fisik super yang mampu melumpuhkan hingga sepuluh orang tentara terlatih atau agen polisi rahasia sekaligus. Wajah dan bentuk tubuhnya pun sangat menonjol; sebagai orang yang berasal dari daerah Tohoku, kulit putihnya memancarkan cahaya yang bening.

—Apakah terjadi sesuatu pada Ryuto-sama—?

Yurina dengan cepat membuka kunci dengan kartu akses lalu bergegas masuk ke dalam kamar. Ryuto tidak terlihat di mana pun. Saat dia mengedarkan pandangannya, pakaian berserakan di depan kamar mandi. Dia memasang telinga. Suara pancuran air terdengar, dan dia pun merasa lega.

"Maaf ya, Yurina-san! Aku lagi mandi nih! Taruh saja jusnya di situ!"

Suara Ryuto yang lantang menggema dari dalam kamar mandi. Saking kerasnya suara itu, Yurina tanpa sadar menutup salah satu telinganya.

Di dalam dungeon, suara cenderung mudah terserap, sehingga suara para petualang biasanya menjadi lebih keras. Namun, suara Ryuto ini benar-benar luar biasa. Apakah ini yang namanya perbedaan gender? Tiba-tiba dia menyadari para resepsionis yang membawakan jus tadi berdiri dengan senyuman yang aneh.

"A-Anu, di mana Ryuto-sama?"

"Apakah ada yang bisa kami bantu?"

Mata mereka berkaca-kaca dan pipi mereka memerah. Itu adalah tanda-tanda jelas dari gairah yang memuncak. Yurina mengernyitkan dahi dan mendengus mengejek.

"Terima kasih. Selebihnya akan saya urus sendiri, silakan tinggalkan ruangan."

Dia tahu niat mereka. Resepsionis ini pun mati-matian berusaha untuk sekadar melihat wajah agung Ryuto.

—Dasar betina-betina genit. Jangan bercanda ya.

"Silakan keluar!"

Yurina berucap sambil memancarkan niat membunuh, namun para resepsionis itu tetap mencoba bertahan meski merasa ketakutan. Nyali mereka cukup besar juga. Yurina tersenyum manis, lalu mendorong mereka yang masih menggerutu keluar ke koridor dan menutup pintu.

—Benar-benar orang-orang yang tidak tahu malu.

Meski berkata begitu, Yurina sendiri sudah berganti pakaian dari setelan celana menjadi rok. Alasannya jelas karena Ryuto tadi terus-menerus memperhatikan bokong para resepsionis itu.

—Sensei yang juga kakaknya mempercayakan pengurusan kepadaku. Artinya, aku sudah diakui oleh keluarga, kan? Iya, sudah. Harus sudah!

Yurina pun benar-benar sedang mengalami sindrom perawan tua yang parah.

"Hiat!"

Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. Karena kaget, Yurina mengeluarkan suara aneh dan melompat sedikit di tempat.

"Ah, maaf. Kukira kau sudah pulang."

Di sana berdiri seorang pemuda berotot perkasa yang hanya mengenakan celana pendek, dengan uap air yang mengepul dari tubuh bagian atasnya yang telanjang.

"A... a... afu."

Itu Ryuto. Yurina pernah melihat buku foto ilegal yang menampilkan tubuh pria telanjang, namun ini pertama kalinya dia melihat tubuh pria secara nyata.

Dia tidak bisa berkata-kata. Tubuh Ryuto dipenuhi dengan bekas luka yang tak terhitung jumlahnya, namun tubuh itu begitu kokoh hingga membuatnya terpesona. Ini bukan otot yang dibentuk lewat olahraga atau latihan biasa.

Tidak ada lemak berlebih sedikit pun; seluruh tubuhnya dibalut oleh otot-otot yang kuat dan kencang seperti kumpulan kawat baja.

Otot perutnya terbentuk sempurna dengan lapisan lemak tipis yang sangat sedikit. Kelenturan kaki, pinggang, dan lengannya membentuk garis indah yang mengingatkan pada hewan liar seperti harimau atau macan tutul.

Yurina selalu berpikir bahwa tubuh pria yang terlatih jauh lebih indah daripada tubuh wanita, dan buktinya ada tepat di depan matanya sekarang.

Dia merasakan kekuatan luar biasa yang membuatnya ingin memuja, ingin tunduk, hingga rasanya dia ingin jatuh tersungkur di sana. Ah, jika Ryuto memaksanya jatuh sekarang, dia yakin akan langsung bergairah saat itu juga. Cepatlah jatuhkan aku.

"Hei, ada apa? Kau tidak apa-apa, Yurina-san?"

Tanpa sadar dia merasa pusing, dan dengan cepat pinggang Yurina dirangkul oleh Ryuto. Dia hampir saja mengeluarkan suara yang tidak pantas, namun sisa logikanya berhasil menahannya.

"T-Tidak apa-apa. Jangan khawatir, aku tidak apa-apa."

"Tapi kau kelihatannya sama sekali tidak sedang baik-baik saja."

Yurina menyadari bahwa Ryuto benar-benar mengkhawatirkannya, dan dia pun merasa malu. Itu adalah pikiran yang kotor.

Kalau dipikir-pikir, Kazumi mempercayainya untuk mengurus adik tercintanya yang baru saja kembali. Tapi dia justru terombang-ambing oleh perasaan egois yang tidak berguna dan memikirkan hal-hal aneh terhadap Ryuto.

Tapi ya mau bagaimana lagi, tentu saja dia merasa begitu. Wajar saja, kan?

—Aaahn, Ryuto-sama. Lagi, lagi.

Mata mereka bertemu. Jelas sekali Ryuto menatapnya dengan mata yang tampak ketakutan. Yurina mencoba menjaga ketenangannya seperti biasa, dan sambil menahan tangis darah dalam hatinya, dia perlahan melepaskan diri dari Ryuto. Ah, menyebalkan. Tapi sebenarnya aku ingin dijatuhkan seperti ini saja. Aku ingin dia merobek setelanku sampai hancur dan memperlakukanku dengan kasar. Yurina mengusir khayalan itu dengan kemauan yang kuat. Hebat juga aku ini.

"Ryuto-sama. Ini jus segar yang Anda inginkan. Silakan dinikmati sepuasnya."

Yurina merasa dia sudah berhasil tersenyum dengan baik.

"Kenyang sekali."

Setelah menghabiskan sekitar lima liter jus jeruk, Ryuto berbaring di tempat tidur.

"Empuk sekali. Ufu."

Kalau dipikir-pikir, selama dua puluh tahun di dalam dungeon, Ryuto tidak pernah berbaring di atas tempat tidur yang lembut. Yang selalu ada hanyalah batu yang keras dan tanah yang dingin.

Dia selalu berada dalam ketegangan ekstrem, tidak tahu kapan monster akan menyerang jika dia lengah. Apakah perasaan melayang di atas awan surgawi itu seperti ini?

"Ngomong-ngomong, tadi itu lembut sekali ya."

Tadi dia refleks merangkul Yurina yang tampak pusing setelah keluar dari kamar mandi. Gadis bernama Haruka yang dia temui di dungeon juga lembut, namun pada Yurina ada tambahan aroma unik yang manis.

Benar-benar berbeda darinya. Makhluk lain yang disebut wanita. Mungkinkah suatu hari nanti dia bisa menjalin hubungan lebih dekat dengan mereka?

"Bagaimana ya."

Kepalanya terasa lunak. Punggung, bahu, lengan, dan kakinya terasa lunak. Begitu lunaknya sampai-sampai dia merasa aneh. Semakin dia sadar, rasa asing itu semakin bertambah. Tempat tidurnya pasti barang kualitas tertinggi. Seprainya juga baru tanpa ada kerutan, tidak ada alasan untuk mengeluh.

"Nggak bisa tidur, nih."

Gubrak! Dia jatuh dari tempat tidur dan berguling di lantai. Karpet yang terhampar itu memiliki bulu yang tebal dan sangat empuk, namun Ryuto merasakan kekerasan yang mantap darinya dan merasa sangat lega.

Lambat laun kesadarannya mulai menjauh. Seberapa besarkah dia merindukan hidup tanpa diserang musuh, tanpa takut dingin atau kelaparan?

Tanpa disadari Ryuto jatuh ke dalam tidur yang lelap, dan memimpikan mimpi pertama setelah dua puluh tahun. Mimpi yang manis dan penuh kerinduan.

"Kau ini, apa kau bodoh?"

"Oi, sebentar, siapa yang kau panggil bodoh?"

"Kau."

"Begitu ya. Jadi aku memang bodoh."

"Jangan malah setuju begitu!"

Tepat sebelum pembasmian Raja Iblis di bagian terdalam dungeon, Ryuto dimarahi habis-habisan oleh Rinka, salah satu rekan di kelompoknya.

Di dasar terdalam dungeon yang muncul di permukaan bumi. Jika mereka berhasil mengalahkan Raja Iblis yang merupakan biang keladi dari serangan ke seluruh dunia yang menelan puluhan juta korban jiwa, peperangan ini akan berakhir.

Anggota dari kelompok yang terpilih untuk mencapai prestasi luar biasa ini, yang disebut Kelompok Penyelamat Dunia, berpusat pada pemuda dan pemudi berusia belasan tahun.

Daftarnya adalah sebagai berikut—

Sakazaki Ryuto yang menggunakan sihir sesat, usia delapan belas tahun.

Genma Shogen sang pendekar pedang sebagai andalan serangan, usia delapan belas tahun.

Satake Yorimitsu sang pejuang perisai yang menahan semua serangan musuh sendirian, usia delapan belas tahun.

Sakazaki Kazumi sang petarung serba bisa yang bebas menggunakan sihir serangan dan pendukung, usia dua puluh empat tahun.

Dan cucu dari sang Bijak Agung dari dunia lain, Sirius—

Rinka Hoshioka Malmsteen, usia enam belas tahun yang ahli dalam sihir penyembuhan dan pendukung.

Di antara kelima orang itu, bakat Rinka, cucu dari Bijak Agung Sirius yang gugur di tengah pertempuran, adalah yang paling unggul. Namun di sisi lain, dia sangat pemalu dan awalnya tidak akrab dengan siapa pun.

Namun, cara Ryuto yang unik dalam mendekati orang tanpa mempedulikan jarak, dengan mudah menghancurkan dinding yang dimiliki Rinka.

Hasilnya, dia membuka hatinya kepada semua anggota kelompok, perlahan-lahan mulai akrab, dan akhirnya tumbuh menjadi rekan sejati yang terikat oleh ikatan yang kuat.

"Makanya! Bagian itulah yang kubilang bodoh!"

"Eh, jadi aku memang bodoh?"

"Eh, nggak sampai segitunya sih—"

"Kalau begitu aku jenius."

"Bukan!"

"Kenapa kau sewot sekali sih. Jangan berpikir terlalu sulit. Raja Iblis itu sudah hampir mati, kan? Sekarang tinggal aku saja yang pergi ke sana untuk memastikannya. Aku bilang aku akan pergi sebentar dan urusannya beres, jadi tidak perlu khawatir."

"Justru bagian itulah yang kubilang kau tidak berpikir panjang! Dasar bodoh, tidak berguna, mesum, pengintip sesat, pencuri pakaian dalam, keras kepala, tidak waras!"

"Oi, siapa yang kau panggil pria mesum budiman!"

"Siapa yang bilang budiman! Kau itu cuma gumpalan hasrat seksual yang sesat!"

"O-Oi, di saat terakhir begini kau malah bilang begitu. Rinka, kau..."

"Jangan bilang ini yang terakhir!"

"Kau... menangis—"

"Bodoh, bodoh, bodoh! Bodoh Ryuto! Bagaimana kalau Raja Iblisnya masih segar bugar!? Padahal dia itu lawan yang bahkan dengan kita semua pun hanya bisa kita desak sampai batas maksimal. Kenapa, kenapa kau harus menyeberangi jembatan berbahaya itu sendirian!? Tidak boleh, pokoknya tidak boleh! Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi!"

"Dengar dulu, mengertilah."

"Kalau cuma serangan terakhir, biarkan Shogen yang melakukannya! Seperti biasanya! Kalau si bodoh itu mati, tidak akan ada yang menyesal!"

"Woi."

"Dengar ya. Kakak akan menangis kalau kau begitu..."

"Tapi, si bodoh itu melihat jemuran pakaian dalamku dengan saksama."

"Baiklah, kita biarkan Shogen yang pergi."

"Kau ini ya!"

"Yah, bercanda saja. Luka Kakak cukup dalam. Di sini kita tidak bisa merawatnya dengan benar, dan Yorimitsu bahkan penuh dengan lubang luka karena melindungi kita. Lagipula, di antara kita semua yang lukanya paling ringan adalah aku yang cuma melepaskan sihir dari belakang. Kesempatan untuk menghabisi Raja Iblis cuma sekarang. Kau mengerti, kan?"

"Tapi..."

"Rinka. Kau pernah bilang, kan? Bahwa kau menyukaiku yang selalu berjuang keras."

"Ryuto."

"Aku pasti akan kembali. Percayalah padaku. Atau kepercayaanmu padaku itu cuma pura-pura?"

"Bukan pura-pura!"

Ryuto merasa bahwa Raja Iblis yang jatuh ke dalam lubang jurang maut masih hidup. Bukan hanya Rinka, rekan-rekan yang lain pun berusaha mati-matian menahan Ryuto. Namun, tidak ada yang bisa menghentikan tekad kuat Ryuto.

Kazumi, kakak kandung Ryuto, menolak lebih keras daripada Rinka soal Ryuto yang ingin turun ke dasar lubang. Meski mungkin akan menjadi perpisahan selamanya, karena hal itu sudah sangat jelas.

Rambut panjang Rinka yang berdiri di tepi jurang maut yang bersinar merah mengerikan itu berkibar tertiup angin sepoi-sepoi. Jubah sucinya yang tadinya tanpa setitik noda pun saat berangkat, kini kotor menghitam oleh darah musuh.

Meski begitu, Ryuto merasa dia sangat cantik. Ryuto perlahan merangkul Rinka yang tingginya satu kepala lebih pendek darinya. Gadis mungil itu memeluk Ryuto dengan kekuatan yang lebih besar dari yang dibayangkannya, dan dia tidak mau melepaskannya.

"Tolong, cepatlah kembali. Kalau tidak, aku tidak akan bisa menunggu selamanya, tahu?"

"Aku tidak mau itu terjadi."

Ryuto menjawab dengan nada ringan. Air mata jatuh dari mata emas Rinka. Di saat itulah, Ryuto bertekad untuk kembali ke permukaan hidup-hidup. Tidak peduli berapa tahun pun akan berlalu. Tidak peduli meski hubungan mereka berdua berubah. Selama dia masih hidup, mereka pasti bisa bertemu kembali.

◆◇◆

"Padahal aku bukan tipe orang yang bermimpi."

"Dengar ya, Ryuto. Ini makan malam kakak-adik pertama setelah sekian lama, bisakah kau pasang wajah yang sedikit lebih ceria?"

Pagi harinya— Ryuto yang baru bangun tidur sedang sarapan bersama kakaknya, Kazumi, di hotel setelah dua puluh tahun. Sudah berapa lama tepatnya sejak mereka terakhir kali duduk berdua di satu meja makan tanpa ada orang lain?

Sejak dia menjadi petualang yang masuk ke dungeon untuk membasmi monster di usia awal SMP, itulah terakhir kalinya dia makan berdua saja dengan Kazumi.

"Apa-apaan ekspresi wajah itu?"

"Tidak ada apa-apa. Wajahku memang begini dari sananya."

"Dengar ya. Ayah dan Ibu melahirkan kita dengan sehat, jadi bersyukurlah sedikit. Lagipula, wajahmu itu tidak buruk, jadi bersikaplah sedikit ramah."

"Iya, iya, aku mengerti. Kakak masih saja cerewet ya."

Ryuto menggigit telur mata sapi yang ditusuk dengan ujung garpu. Karena setengah matang, kuning telurnya yang meleleh segera mengalir jatuh.

"Tuh kan. Makanya lihat dulu kalau makan. Masih saja tidak becus dari dulu."

"Uugh."

Kazumi mengembuskan napas panjang lalu menyeka mulut dan celemek Ryuto dengan sapu tangan. Perbedaan usia mereka yang terlihat hampir dua puluh tahun membuatnya lebih terlihat seperti ibu dan anak daripada kakak-adik.

"Benar-benar ya, mulut besarmu itu tidak sembuh-sembuh juga. Setelah masa pemberontakan Yuto berakhir, sampai kapan aku harus terus mengurus anak?"

"Tunggu sebentar. Kak, siapa si Yuto itu?"

"Siapa lagi kalau bukan anakku."

"Eeeeeeh!?"

"Berisik! Jangan heboh begitu, kau kan sudah pria dewasa."

"T-t-t-tapi ini pertama kalinya aku dengar? Eh, punya anak? Berarti Kakak sudah menikah?"

"Dengar ya. Kau pikir aku ini apa?"

"Kukira kau tidak akan laku—eh, bohong."

"Aku menikah dua puluh tahun yang lalu. Yuto itu anak sulungku, dan berarti dia keponakanmu. Selamat, Tuan Paman."

"Paman? Aku jadi Paman? Tidak mungkin! Siapa pria nekat yang mau menikahi wanita ini?"

"Aku akan mempertemukanmu dengan pria nekat itu nanti. Cepat habiskan makananmu. Dari dulu kau itu cuma bisa bicara saja, ah, ya ampun, lihat, supnya tumpah!"

"Kan Kakak yang mulai pembicaraannya!?"

◆◇◆

"Yo, sudah lama ya. Tidak kusangka kita bisa bertemu lagi seperti ini."

"..."

Setelah selesai sarapan, Ryuto bertemu kembali dengan kawan lamanya, Genma Shogen, di ruang VIP Hotel Teio.

Shogen, yang tahun ini genap berusia tiga puluh delapan tahun dan sedang berada di puncak kejayaannya sebagai pria, terlihat sangat cocok mengenakan setelan jas double breasted yang membuatnya tampak gagah.

Rambutnya dipotong pendek, dan pada tubuhnya yang tegap dengan lengan serta kaki yang panjang untuk ukuran orang Jepang, setelan biru tua itu terlihat sangat menonjol.

Melihat ekspresi pria di depannya yang tampak sedikit tegang dan kaku, Ryuto merasakan sisa-sisa bayangan dari masa remaja mereka dulu, lalu dia bangkit dari kursinya.

"Kau Shogen? Kau jadi tua juga ya setelah kita tidak bertemu lama, oi."

"Cara bicaramu itu. Kau memang benar-benar Ryuto."

"Kudengar kau menikahi Kakak ya. Kau berani juga. Apa kau memperlakukannya dengan baik?"

"Tentu saja. Sampai sekarang pun kami masih bercinta setiap tiga hari sekali."

"Maaf, aku jadi mual sendiri mendengarnya."

"Hei, bolehkah aku marah sekarang?"

"Tolong jangan bilang begitu setelah memukulku."

Ryuto memegang kepalanya yang baru saja dipukul Kazumi saat pintu diketuk pelan.

"Waktunya habis ya. Maaf, aku ada rapat dan pertemuan setelah ini. Sayang, tolong jaga Ryuto ya. Kalian pasti punya banyak cerita yang ingin dibicarakan."

"Begitu juga denganmu."

"Tidak apa-apa. Mulai sekarang kita bisa bertemu kapan saja. Kita bicara lagi nanti malam ya."

"Ya."

Ekspresi Kazumi sedikit melunak lalu dia mencium pipi Shogen. Sekretaris Yurina yang menunggu di pintu yang terbuka memasang wajah seolah sedang melihat sesuatu yang mengharukan. Ryuto merangkak di samping sofa sambil menahan rasa mual yang bergejolak.

"Ada apa?"

"Tidak, aku cuma sedang mengalami kejutan budaya ringan."

"Jangan bilang begitu. Aku juga malu, tahu. Tapi kalau tidak dilakukan, dia bakal merajuk."

"Iya, iya, pasangan suami istri yang sangat mesra ya."

"Benar, kan?"

Shogen melangkah ke arah jendela sambil bermandikan sinar matahari pagi yang berkilauan, lalu tersenyum dengan agak malu-malu.

Ryuto menatap wajah Shogen dari samping, dan sambil merasa sedikit iri dengan ketenangan pria dewasa yang tidak dimilikinya, dia berdecak pelan.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close