Chapter 2
Dunia Ini Dipenuhi oleh Para Dewi
Membawa orang
yang sedang pingsan di dalam dungeon secara logika adalah tindakan yang sangat
berbahaya.
"Istirahat
sebentar, deh."
Ryuto mendekap
Haruka melewati gua raksasa tersebut, lalu membuat tempat tidur sederhana di
area dengan jarak pandang yang luas untuk beristirahat sejenak.
Meski begitu,
selimut yang ia keluarkan dari tas ranselnya hanya ada satu. Jika ia
membaringkan Haruka langsung di atas tanah, suhu tubuh gadis itu akan terserap
dan bisa membuat kondisinya memburuk. Ryuto pun membaringkan Haruka di atas
selimut, sementara ia sendiri duduk bersila di sampingnya.
"Tapi, kalau
dilihat-lihat lagi..."
Ryuto memastikan
sekali lagi; Haruka memang cantik. Karena matanya terpejam, kelopak matanya
tertutup, namun bulu matanya ternyata sangat panjang.
Bibirnya tipis,
merekah merah pucat seperti warna sakura, dan garis rahangnya terlihat tajam.
Meski ada sedikit kotoran debu dan tanah, kulitnya putih bersih seperti salju.
Jika diperhatikan baik-baik, ada tahi lalat kecil di bawah alis kanannya.
Saat sadar tadi,
dia adalah gadis yang ceria dengan ekspresi yang berubah-ubah seperti anak
kecil. Kalau diingat-ingat, selama masa sekolah dulu, Ryuto tidak punya kenalan
gadis cantik tipe ortodoks seperti ini.
—Soalnya
kepribadian Rinka agak bermasalah, sih.
Satu-satunya
teman dekat Ryuto, Rinka, memang sangat cantik, tapi sifatnya punya
"lekukan" yang ekstrem.
Cucu perempuan
yang dibawa oleh Sage Agung Sirius dari dunia lain itu adalah anak ajaib dengan
bakat yang melampaui kakeknya sendiri. Dalam pertempuran, dia adalah seorang Magic
Gunner yang nyaris tanpa cela dengan penempatan sihir yang akurat.
Namun, di balik
kehebatannya, dia sangat pemilih soal orang. Jika sudah akrab, dia akan menjadi
sangat berdedikasi dan penuh kasih, tapi bagi orang asing, dia bisa bersikap
sangat dingin.
Tapi, Ryuto
menyukai Rinka yang seperti itu. Meski ia tidak pernah bisa menyampaikan
perasaannya dengan jujur. Di saat yang sama, Ryuto teringat pada kakek Rinka,
Sage Agung Sirius, sosok yang bisa dibilang sebagai awal dari segalanya.
Monster-monster
tak terhitung jumlahnya yang mulai menyerang dunia tanpa peringatan.
Demi
membasmi mereka, orang-orang berlomba-lomba menuju Grand Temple yang dibangun
oleh Sage Agung Sirius dari dunia lain.
Jika
pergi ke Grand Temple, mereka yang memiliki bakat bisa mendapatkan berkat dari
roh. Hal itu membangkitkan kemampuan khusus yang disebut Skill, serta
sihir yang melampaui mukjizat.
Kedamaian
telah lenyap dari dunia. Monster berkeliaran di mana-mana seolah itu hal biasa,
dan orang-orang dibantai.
Pasukan
Bela Diri berubah nama menjadi Tentara Nasional, dan wajib militer pun
diaktifkan kembali. Politisi mencoba mengendalikan situasi, namun kekacauan
sudah mencapai puncaknya.
Ryuto,
yang saat itu masih seorang pelajar dengan wajah kekanak-kanakan, pergi menuju
Grand Temple demi melindungi kampung halaman dan keluarganya. Jika ia bisa mendapatkan Skill atau
sihir, peluangnya untuk bertahan hidup akan meningkat.
—Dengar, Ryuto?
Kalau situasinya bahaya, pokoknya kamu harus lari, ya.
Kakak
perempuannya, yang saat itu sudah membangkitkan Skill dan sihir, melepas
kepergian Ryuto dengan berat hati, namun matanya memancarkan kecemasan yang
mendalam. Jika seseorang mendapatkan Skill atau sihir yang kuat, sudah
pasti dia akan ditempatkan di garis depan pertempuran. Sebenarnya, kakaknya
tidak ingin Ryuto pergi berperang.
—Duh, aku kan
bukan bocah lagi. Aku
bakal langsung terima ramalan suci terus pulang, kok.
Mendapatkan
ramalan dan Skill di Grand Temple yang didirikan di beberapa titik di
Jepang. Katanya, jika beruntung, seseorang bisa bertemu langsung dengan Sage
Agung Sirius. Ryuto muda yang mendengar itu, pertama kali melihat sosok sang
legenda di pintu masuk Grand Temple.
Sirius
sedang menduduki sendirian sebuah bangku kayu panjang yang terletak di samping
pintu besar.
Sosok
penyelamat dari dunia lain yang datang untuk menyelamatkan bumi yang
diinjak-injak oleh monster misterius itu, ternyata sangat jauh dari citra
pahlawan yang dibayangkan Ryuto.
—Tua
bangka yang besar banget, ya.
Itulah
kesan pertamanya. Meski sedang duduk di bangku, tinggi badannya terasa tidak
normal. Tentu saja, Sirius adalah pria raksasa dengan tinggi lebih dari dua
meter dan berat badan sebanding dengan pesumo bertubuh kecil.
Usianya
tidak diketahui pasti, tapi dilihat dari tekstur kulit wajah, kerutan yang tak
terhitung jumlahnya, serta rambut dan janggut yang memutih, dia jelas sudah
tua.
Sirius
mengenakan topi kerucut seperti penyihir, sambil mengisap pipa tembakau besar
yang mengeluarkan asap mengepul. Ryuto seketika terbungkus oleh kabut asap ungu
yang aneh.
"Uhuk,
uhuk!"
Bisa kena kanker
paru-paru ini. Ryuto
terbatuk sambil mengibaskan asap. Sirius terlihat sangat mirip dengan sosok
Tolstoy di masa tuanya yang pernah Ryuto lihat di buku pelajaran sekolah. Ciri
khasnya adalah janggut putih lebat yang menjuntai hingga ke dada. Di
pinggangnya tersampit pedang lebar milik kaum barbar, dan sebuah tongkat
raksasa bersandar di bangku.
Mata
mereka bertemu. Ryuto menatap pria tua berwajah unik itu sambil mengupil.
"Bocah,
untuk apa kau hidup saat ini?"
Itulah kalimat
pertama yang diucapkan Sage Agung Sirius kepada Ryuto.
Penampilan
Sirius, jika dilihat sekilas, memang mirip Santa Claus, tapi tatapan matanya
tidak normal. Matanya berkilat tajam seperti binatang buas yang haus darah.
Pupil matanya yang besar menyala seperti api biru keputihan. Tidak ada kesan
lembut atau ramah yang biasanya ada pada orang tua; yang ada hanyalah aura
kekerasan pekat yang seolah-olah dia bisa menghajarmu kapan saja. Seluruh
tubuhnya mengeluarkan aroma khas yang bukan milik orang Jepang.
Ryuto yang
biasanya bermental baja pun sempat terdiam karena terintimidasi. Mungkin karena
kesal karena Ryuto tak kunjung menjawab, Sirius membuat bangku itu berderit dan
melirik tajam ke arah Ryuto.
"Kenapa,
Bocah? Kau tidak dengar pertanyaanku? Hmm, atau bahasa Jepang-ku tidak sampai
padamu? Padahal si Satomi bilang bahasa Jepang-ku sudah oke, pelafalan dan tata
bahasanya seharusnya sempurna."
"Kakek
ini si Sage Agung itu? Nggak
kelihatan sama sekali, tuh."
Begitu Ryuto
mengatakannya, Sirius langsung menatap lurus ke arah Ryuto dengan matanya yang
besar. Orang biasa pasti sudah gemetar ketakutan dan tidak bisa bicara. Begitu
kuat tekanan yang dipancarkannya.
Kembali Sirius
mengeluarkan suara bariton rendah yang menggetarkan perut.
"Hooh. Kalau
begitu, Bocah... menurutmu aku ini kelihatan seperti apa?"
"Pembunuh
haus darah."
Sirius
mengetukkan pipa panjangnya ke tanah, lalu membusungkan dada dan tertawa
terbahak-bahak. Alih-alih tertawa, suaranya lebih mirip raungan karnivora
raksasa. Burung-burung gagak yang hinggap di pohon tepi jalan seketika terbang
berhamburan ke langit. Ryuto membatin, tua bangka ini kenapa, sih?
"Pembunuh,
ya? Begitu ya, jadi menurutmu aku ini pembunuh! Tidak sepenuhnya salah, sih.
Memang benar, aku ini lebih suka membantai manusia atau monster dalam
pertempuran daripada makan tiga kali sehari! Kalau tidak begitu, aku tidak akan
sudi merangkak di dalam lubang seperti tikus mondok, pergi jauh-jauh ke negara
orang lain hanya untuk melakukan kebaikan yang merepotkan ini! Benar, hakikatku
adalah seorang pembunuh. Tapi tahu tidak, ada pembunuh yang lebih parah dariku.
Dialah si Raja Iblis. Raja Iblis itu juga suka membunuh orang. Dalam hal itu,
kami berdua mirip. Tapi yah, kami juga punya tanggung jawab karena gagal
menghabisinya di negara sana. Yah, pelan-pelan akan kupojokkan lalu kupenyet
sampai mati. Gahahaha! Nah, Bocah. Omong-omong, bagaimana dengan pertanyaan
pertamaku tadi? Sepertinya kau belum menjawabnya."
"Aku mau
meniduri perempuan cantik!"
Sirius sempat
tertegun sejenak, namun detik berikutnya, ia membuka mulut lebarnya dan
meledakkan tawa bodoh.
"Daaah-hah-hah!
Benar sekali! Anak
muda memang harus begitu! Apa
gunanya hidup kalau tidak meniduri perempuan cantik! Hei, Bocah. Lihat ini. Ini
foto-foto wanitaku yang kuambil di ponsel!"
"Waaah!
Hebat banget, Kek! Kakak ini cantik banget, lho. Dada sama pantatnya gede juga! Apa dia artis AV?
Kelihatan seksi banget!"
"Ooh, Satomi
itu wanita hebat. Umurnya dua puluh enam, yah sudah agak berumur sih, tapi dada
sama pantatnya kenyal banget, rasanya mantap kalau diremas! Kalau disuruh
menjilat, dia bisa melakukannya semalaman. Aku memanjakannya setiap malam.
Gahahaha, kau juga harus cepat-cepat cari wanitamu sendiri."
"Cih. Gimana
caranya bisa dapat wanita sehebat itu? Keren banget, Kek. Aku jadi hormat sama
Kakek."
"Apa-apaan
kau ini, ternyata kau anak yang cukup manis, ya. Begini, pertama-tama... kau
harus jadi kuat. Laki-laki itu harus kuat dulu kalau mau populer di depan
wanita. Soalnya kau kelihatan tipe yang nggak bakal populer, sih."
"Cih.
Habisnya, aku kan nggak ganteng."
"Bodoh.
Wanita itu peduli tampang cuma di awal saja. Yang dibutuhkan laki-laki adalah
kepercayaan diri. Dan kau kekurangan itu. Jangan banyak alasan, tunjukkan
paksaanmu untuk menarik wanita, itulah yang menentukan kemenangan!"
"Begitu ya.
Paksaan, ya?"
"Benar.
Umurku tahun ini sembilan puluh dua, tapi urusan 'ranjang' aku tidak kalah dari
anak muda. Sejak
datang ke Jepang ini, aku sudah menghamili tiga orang. Chifuyu, Kasane, dan
Mizuki. Semuanya wanita hebat."
"Gila,
keren banget! Kek, itu kan
namanya harem impian!"
"Begitulah.
Tapi masih jauh dari kata harem. Paling tidak harus sampai satu lusin yang hamil. Waktu datang ke dunia
ini, aku membawa cucu perempuanku, tapi dia itu seperti kuda liar. Kalau aku bawa wanita ke rumah, dia
marahnya bukan main seperti setan. Gara-gara itu, sekarang kami tinggal di rumah yang berbeda.
Sedihnya..."
"Gitu
ya. Kasihan juga Kakek."
"Iya,
aku kesepian. Tidak ada yang mau mengerti kesepianku. Kau baik juga ya,
Bocah. Bagaimana kalau Rinka—cucu perempuanku? Aku beri izin khusus buatmu
untuk menidurinya. Yah, dia memang
kuda liar, sih. Tapi kau sepertinya punya potensi. Hmm? Mau coba menaklukkan
cucuku?"
"Hah?
Cucunya Kakek?"
"Apa-apaan
muka itu. Tenang saja. Cucuku Rinka itu cantiknya luar biasa. Nih, lihat foto
buktinya ini. Buka matamu lebar-lebar!"
"Waaah!
Serius? Cantik banget, gila!"
"Gahahaha!
Yah, Rinka itu keras kepala sampai aku pun kewalahan, tapi dia punya perasaan
yang dalam. Dan hatinya lembut. Kalau kau bisa membuat Rinka jatuh cinta, dia
akan mengabdi padamu seumur hidup. Karena dia itu setia dalam cinta, sama
sepertiku."
"Ngomong apa
sih, Kek. Apa Kakek sudah mulai pikun?"
"Yah, cukup
omong kosongnya. Kau juga datang ke Grand Temple untuk menerima berkat, kan?
Yang pertama adalah kekuatan. Kekuatan. Laki-laki itu dinilai dari kekuatannya.
Kalau kau bisa menebas monster sampai habis sampai membuat Rinka jatuh cinta,
kau bisa memilih wanita mana saja sesukamu. 'Burungmu' nggak bakal sempat
kering, deh!"
"Wuaaa!
Seriusan!? Kek, aku percaya padamu!"
"Dasar bocah
polos."
Sirius
mengetukkan ujung pipanya ke pinggiran bangku untuk membuang abu.
"Kakek
bilang apa tadi?"
"Nggak,
bukan apa-apa. Omong-omong, siapa namamu?"
"Hmm? Aku? Ryuto. Ryuto Sakazaki."
"—Ryuto, ya. Nama yang bagus. Mezbah Ramalan. Aku
sendiri yang akan menyaksikannya secara langsung."
"Kek, apa nggak ada suster cantik yang masih
muda?"
"Sayangnya
tidak ada. Tapi, kalau Ryuto bisa beraksi hebat, wanita mana pun bisa kau
dapatkan."
"Woooo! Aku
jadi semangat!"
"Kalau
begitu, ayo kita hajar!"
"Oke!"
Sirius berdiri
lalu mengibaskan jubah merah tuanya dengan satu tangan. Sosoknya yang berdiri
tegak terlihat sangat gagah, membuat Ryuto tanpa sadar mengepalkan tangannya
dengan kuat. Tubuhnya terasa meluap oleh harapan dan mimpi.
Kepribadian
Haruka yang dirasakan Ryuto dalam waktu singkat ini adalah ceria, lugu, dan
tipe yang disukai siapa saja, semacam "gadis populer kelas satu" yang
standar.
"Pantatku
dingin."
Ryuto menyalakan
api dengan sihir untuk penerangan dan menghangatkan diri. Di dalam dungeon, ada
banyak benda yang terjatuh. Tergantung pada lantai dan areanya, lumut yang
mengeluarkan cahaya kuat tumbuh liar, dan pepohonan unik juga tumbuh di sana.
Ranting kering dan lumut kering yang ia kumpulkan bisa terbakar dengan cukup
baik.
Suhu di dalam
dungeon pada dasarnya stabil, namun di tempat-tempat tertentu di mana angin
masuk, suhunya bisa menjadi sangat dingin.
Bagian atas tubuh
Ryuto memang telanjang, namun karena sudah terbiasa dengan kehidupan bawah
tanah yang lama, daya tahannya jauh lebih kuat dibanding orang biasa.
Ia
mengendus-endus udara. Instingnya mengatakan, kemungkinan besar ia berada di
tempat yang paling dekat dengan permukaan dibanding sebelumnya.
Terlalu lama
berada di kegelapan membuat konsep waktu hancur. Bagi Ryuto mungkin terasa
sekejap, namun mungkinkah sebenarnya sudah berlalu beberapa jam?
Jauh di ujung
lorong, dari balik kegelapan, terdengar banyak langkah kaki mendekat. Sambil menyandarkan punggungnya di
dinding batu, telinga Ryuto bergerak-gerak.
Ia dengan
cepat menghitung jumlah orang dari langkah kakinya. Berbeda dengan monster,
gerakan manusia lebih mudah dipahami. Tubuh Ryuto secara otomatis beralih ke
mode waspada.
"Dua
puluh, bukan, dua puluh satu orang ya? Banyak sekali."
Sosok-sosok
yang mendekat itu sepertinya mencoba menggunakan Skill khusus untuk
menyembunyikan hawa keberadaan dan langkah kaki mereka, namun bagi Ryuto yang
bisa merasakan pergerakan ruang layaknya kelelawar, semuanya terasa transparan.
"Amatir
sekali."
Haruka
adalah seorang penjelajah; wajar jika ia mengira teman-temannya datang
menyelamatkannya karena menyadari dia belum kembali.
"Hmm,
apa ini?"
Tanpa
aba-aba, suara elektronik berbunyi "bip" dan ponsel yang diletakkan
di tanah bergetar. Getaran ponsel itu teratur dan terjadi secara berkala.
"Wa-wa-wa...
eh, aduh, ini apa ya namanya?"
Ryuto
mengambil ponsel itu dan mencoba mengutak-atiknya sembarangan, namun ia sangat
bingung karena tidak tahu cara menghentikannya.
Kehidupan
bawah tanah yang luar biasa lama telah merenggut insting pengoperasian
perangkat elektronik yang bagi manusia modern adalah hal lumrah.
Ryuto
memegang ponsel itu dengan canggung layaknya lansia yang pertama kali melihat
perangkat tercanggih.
"Berhenti."
Saat itu,
ponsel Haruka sebenarnya sedang memberitahukan adanya panggilan masuk. Jika
saja Ryuto melihat layarnya, dia mungkin akan menyadarinya, namun karena ponsel
itu langsung diletakkan terbalik, nama si penelepon tidak sempat terlihat.
Karena
Ryuto berpindah tempat, ponsel itu akhirnya mencapai area jangkauan komunikasi.
Di dalam
dungeon, internet memang mudah terhubung berkat stasiun pemancar kuat yang
dipasang di berbagai titik, namun entah kenapa untuk panggilan telepon sering
mengalami gangguan sinyal yang kuat.
Katanya,
ini adalah efek samping karena Sage Agung Sirius, penyelamat dari dunia lain
yang bertarung melawan Raja Iblis, sangat gemar menggunakan telepon saat perang
dulu.
Raja
Iblis yang mengetahui bahwa musuh bebuyutannya, Sage Agung Sirius, memberikan
dampak efektif bagi pasukan Iblis melalui koordinasi telepon, mengalihkan
frekuensi gelombang pengganggu secara besar-besaran ke arah sana. Namun, hingga
saat ini hal tersebut belum terbukti secara teoritis.
"Ugh,
nggak paham. Mending tanya langsung ke Haruka kalau dia sudah bangun."
Ryuto
berdiri sambil memanggul pedang beserta sarungnya di bahu. Dari
ketidakteraturan langkah kaki dan detak jantung manusia yang mendekat, ia tahu
pasti bahwa pihak lawan tidak bersikap ramah padanya.
Ia
berpikir lebih baik membangunkan Haruka agar lebih mudah menjelaskan, namun di
saat emosi orang-orang itu sedang meluap, sepertinya mereka tidak akan mau
mendengarkan penjelasannya.
Pokoknya,
untuk berdialog, pertama-tama harus memberi kejutan besar dulu. Jika dianggap
remeh, dia akan berakhir diinjak-injak secara sepihak. Ryuto mengetahui hal itu
dari pengalaman pribadinya.
"Nah,
kira-kira siapa yang akan muncul?"
Area di
depan sedikit terbuka. Cukup luas untuk empat orang berjejer menyerang
sekaligus. Saat Ryuto melangkah maju perlahan, tiba-tiba aroma harum yang manis
tercium di ujung hidungnya.
"Berhenti di
situ. Lalu, buang senjatamu."
Sebuah tuntutan
sepihak. Ryuto yang selama ini hidup di dunia penuh pertumpahan darah, biasanya
tidak akan pernah sudi menerima syarat seperti itu. Menghancurkan momentum
lawan dulu. Apa sebaiknya ia melakukan serangan pertama? Lawan memang waspada,
namun secara kemampuan, mereka bahkan bukan tandingannya.
Tapi—.
"Okaaaay!"
Ryuto
mengeluarkan suara lemas, melepaskan pedangnya, dan mengangkat kedua tangannya.
Ia tersenyum lebar. Sebab, orang-orang yang muncul untuk menyelamatkan Haruka,
semuanya tanpa pengecualian, adalah wanita-wanita cantik yang membuat mata
Ryuto silau.
◆◇◆
"Penjelajah
Rank E, Haruka Shimomura, telah diamankan dengan selamat. Dilaporkan tidak ada
luka yang serius."
"Syukurlah."
Ichihime Genma
menghela napas lega setelah mendengar laporan dari sekretarisnya, Yurina
Tsukikage. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi belakang mobil dan mengembuskan
napas panjang.
"Kurangi
kecepatannya. Lalu sampaikan terima kasih kepada tim penyelamat. Berikan
kompensasi yang cukup dari dana rahasia. Membasmi Cerberus, meski dilakukan
oleh Penjelajah Rank A sekalipun, pasti memakan korban yang tidak
sedikit."
"Bukan,
sebenarnya..."
Yurina tampak
ragu. Sebuah keraguan yang tidak biasa baginya.
"Apa terjadi
sesuatu pada anak itu?"
"Bukan
begitu. Tapi kabarnya, Cerberus sudah dikalahkan sebelum tim penyelamat tiba di
lokasi."
"Dikalahkan?
Mustahil. Kalau begitu, apa ada tim Penjelajah lain yang kebetulan berada di
sana dan mengalahkannya?"
"Tidak.
Menurut laporan, saat Asosiasi menolongnya, ada seorang penjelajah laki-laki
yang mendampinginya."
"Itu malah
lebih mustahil lagi. Sejak awal, laki-laki yang terdaftar dalam daftar izin
Penjelajah Asosiasi seharusnya cuma Shogen dan Yorimitsu milik keluarga kami.
Lagipula, mereka berdua praktis cuma numpang nama dan tidak aktif sebagai
Penjelajah."
—Sebagai
kemungkinan, sosok penjelajah laki-laki yang bisa mengalahkan monster kelas
Cerberus secara solo adalah...
Hanya Ichihime
yang termasuk dalam Tim Penyelamat yang membasmi Raja Iblis dua puluh tahun
lalu, suaminya Shogen Genma, dan sahabatnya Yorimitsu Satake yang masih hidup
hingga sekaranglah yang mampu melakukannya.
Sejak awal,
kemungkinan seorang laki-laki menjadi Penjelajah itu nyaris nol.
Raja Iblis memang
telah dibasmi oleh Tim Penyelamat dua puluh tahun yang lalu. Namun, sesaat
sebelum mati, Raja Iblis menyebarkan penyakit menular yang mengerikan untuk
memusnahkan umat manusia, yang mengakibatkan jumlah laki-laki di dunia menurun
drastis.
Daftar merah
spesies yang terancam punah di dunia kini telah digantikan oleh 'Manusia'
(Laki-laki).
Singkatnya,
laki-laki adalah objek yang harus dilindungi. Meskipun dungeon masih tersisa di
seluruh dunia dan monster muncul secara berkala hingga menyebabkan korban jiwa,
jujur saja, korban yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas jauh lebih
banyak.
Oleh karena itu,
laki-laki yang dulunya terpaksa mempertaruhkan nyawa demi negara, sekarang
dibesarkan dengan penuh kasih sayang, layaknya bunga di dalam rumah kaca, dan
dijauhkan dari urusan kasar seperti menjadi Penjelajah.
"Jika itu
benar..."
Napasnya secara
alami menjadi memburu.
Ia sempat
menyangkalnya sekali. Namun kemungkinan yang mustahil itu semakin menguat.
Setelah sempat
menangis tadi, Ichihime sudah kembali tenang. Suara digital bisa dimanipulasi
dengan cara apa pun. Ichihime punya banyak musuh politik. Ia tidak bisa
menampik adanya rencana jahat untuk memancingnya masuk ke dalam dungeon dan
membunuhnya secara diam-diam.
—Toh, kalau lawan
memang punya niat seperti itu, aku pun sudah siap.
Pokoknya, saat
ini tidak ada cara lain selain mendatangi lokasi dan memastikan faktanya
sendiri. Mobil sudah memasuki jalan tol Shuto.
Meski hatinya
tidak sabar, ia tetap mematuhi peraturan lalu lintas dan melaju dalam kecepatan
normal menuju Ueno Dungeon, yang disebut sebagai dungeon nomor satu di ibu
kota.
Ichihime
mematikan tablet PC-nya dengan gelisah, lalu menatap matahari terbenam berwarna
merah yang mulai turun dari balik gedung-gedung tinggi.
◆◇◆
"Hati-hati.
Lawannya adalah monster yang bisa membantai Cerberus sendirian."
Loria Himejima,
seorang Penjelajah Rank A, bergerak dengan hati-hati di dalam dungeon sambil
menyiapkan tongkat sihir dan perisainya.
Loria yang tahun
ini berusia dua puluh tahun adalah Penjelajah Rank A yang lulus dengan nilai
luar biasa dari Sekolah Penjelajah Nasional, memiliki selera dan kemampuan yang
langka.
Job-nya adalah Magic Swordsman. Ia ahli menggunakan
teknik pedang dan sihir secara bersamaan.
Meski ia membawa dua puluh penjelajah pilihan atas perintah
Asosiasi Penjelajah, jika lawannya adalah pembantai Cerberus, nyawanya tetap
terancam.
—Tapi ini adalah kesempatan. Kesempatan yang baru datang
lagi setelah beberapa tahun.
Loria
memiliki tubuh atletis layaknya model dengan tinggi 172 cm dan berat 54 kg.
Penampilannya juga sangat menonjol dibanding orang kebanyakan.
Mata
besar, hidung mancung, dan bibir indah seperti kuncup sakura. Dan rekan-rekan
yang dibawa Loria pun, semuanya tanpa kecuali, adalah gadis-gadis cantik.
Loria dan
rekan-rekannya semuanya memiliki mimpi. Sebuah keinginan klise yang jika
diucapkan dua puluh tahun lalu mungkin akan dianggap terlalu kuno dan dikritik
sebagai diskriminasi oleh wanita di seluruh dunia. Yaitu—
Membangun
keluarga yang bahagia.
Namun, agar Loria
dan gadis-gadis seumurannya bisa mewujudkan keinginan itu, ada satu tembok
besar yang menghalangi.
Laki-laki itu
sedikit sekali.
Jumlah laki-laki
di usia produktif sudah menipis, tidak hanya di Jepang tapi juga di seluruh
dunia. Kelompok usia laki-laki dewasa yang paling banyak tersisa di Jepang
adalah mereka yang berusia enam puluhan.
Di dunia di mana
rasio populasi terbalik hanya dalam waktu dua puluh tahun, bagi wanita di usia
subur untuk mendapatkan pasangan hidup yang sepadan adalah hal yang mustahil.
Berjalan di
jalanan, pergi ke sekolah, atau ke tempat kerja, tidak ada laki-laki. Tengok ke
kanan, wanita.
Tengok ke kiri,
wanita. Atas, bawah, kiri, kanan, depan, belakang... ke mana pun memandang,
yang ada cuma wanita, wanita, dan wanita.
Mungkin akan
terasa sedikit bahagia jika bisa membangun hubungan semacam itu dengan sesama
wanita, tapi...
Bukan karena
kutukan Raja Iblis, tapi memang benar bahwa keinginan wanita untuk mencari
laki-laki sekarang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Dalam sekejap,
karena banyaknya laki-laki yang lenyap dari dunia, mungkin insting pelestarian
spesies pada wanita mulai bekerja, sehingga dimulailah evolusi yang dramatis.
Pertama,
gadis-gadis yang memasuki masa pertumbuhan setelah era kiamat (Apocalypse),
atau mereka yang lahir ke dunia ini, tumbuh menjadi gadis-gadis dengan fitur
wajah yang sangat tertata rapi seolah didesain oleh Tuhan sendiri.
Selain itu,
seiring dengan bertambahnya tinggi badan, banyak gadis yang memiliki dada dan
pantat besar serta kaki yang jenjang. Gadis-gadis dengan tubuh pendek bulat
tipe Jomon sudah berkurang drastis.
Beberapa sarjana
berpendapat bahwa demi menarik perhatian laki-laki secara efisien, wanita
mengalami mutasi evolusi pada tubuh dan wajah mereka.
Singkatnya,
hampir semua orang di jalanan adalah wanita cantik. Dan kecantikan mereka tidak
seragam; ada ribuan variasi, tidak ada wajah hasil operasi plastik yang
terlihat kaku, melainkan kecantikan alami yang memenuhi jalanan.
Namun, jumlah
laki-laki tetap tidak bertambah. Jika ini bukan tragedi, lalu apa lagi? Jumlah
individu wanita tetap banyak, namun laki-laki seiring berjalannya tahun entah
kenapa justru menjadi makin "herbivora".
Tipe yang disukai
laki-laki pun berubah. Dibandingkan wanita dengan tubuh molek yang dulunya
disukai mayoritas, sekarang tipe tubuh mungil seperti anak-anak (loli) justru
lebih disukai.
Dibandingkan
tubuh montok yang dibutuhkan untuk reproduksi, para laki-laki justru beralih ke
"buah yang belum matang". Dunia memang tidak berjalan sesuai
keinginan.
—Po-pokoknya, aku
harus mencetak prestasi dalam quest ini dan mendapatkan slot khusus sertifikasi
seleksi dengan cara apa pun.
Di era modern,
tidak hanya di Jepang, jika seorang wanita ingin melahirkan, pilihannya
hanyalah beruntung mendapatkan hubungan seksual dengan laki-laki, atau
mendapatkan benih berkualitas dari bank sperma yang terdaftar untuk melakukan
inseminasi buatan. Jadi, bagi mereka yang bukan dari kelas istimewa, tidak ada
pilihan selain bergantung pada bank sperma.
Namun, untuk
menggunakan bank sperma pun, pertama-tama ada undian yang sangat bergantung
pada keberuntungan, dan hambatannya sangat tinggi. Probabilitas wanita yang
menginginkan anak untuk memenangkan undian sangatlah rendah.
Setelah pandemi,
jumlah laki-laki menurun drastis, dan mereka segera "diamankan".
Mereka yang
memiliki harta berlimpah atau kekuasaan akan mengurung laki-laki muda agar
tidak terlihat oleh publik. Banyak wanita dengan tubuh sehat dan energi
melimpah akhirnya memilih menjadi Penjelajah.
Penjelajah adalah
profesi yang sangat populer saat ini, bahkan sekolah kejuruan nasionalnya pun
dibangun di mana-mana.
Namun
kenyataannya, ini adalah pekerjaan yang melampaui 3K (Kitsu, Kitanai, Kiken -
Berat, Kotor, Bahaya), melainkan 4K karena ditambah Kurushii
(Menderita).
Bagi mereka yang
diberkati dengan Skill atau sihir khusus mungkin tidak masalah, namun
bagi mereka yang hanya punya kemampuan biasa-biasa saja, bertarung melawan
monster yang muncul di dungeon serta menggali dan mengangkut material adalah
pekerjaan yang sangat berat.
Hanya saja,
menjadi Penjelajah punya sisi "sekali untung langsung besar".
Jika berhasil
menemukan area perburuan material baru atau sukses membasmi monster langka,
keuntungan jutaan hingga puluhan juta yen bisa didapatkan.
Usaha yang
dikerahkan pun sebenarnya hanya beberapa hari atau paling lama beberapa minggu.
Para wanita yang
tidak punya hal lain untuk dibanggakan selain masa muda dan stamina,
berbondong-bondong mendaftar jadi Penjelajah. Dalam hal ini, Loria adalah
wanita yang benar-benar tidak beruntung.
Secara kemampuan,
dia adalah Penjelajah Rank A yang berada tepat di bawah Rank S yang istimewa.
Loria sudah menyelam ke dungeon sejak usia tiga belas tahun, memiliki
pengalaman dan pengetahuan yang cukup.
Faktanya, jika
terjadi masalah di dalam dungeon, dia adalah ahli yang akan segera dipanggil.
Catatan prestasinya dalam membasmi monster setara Cerberus atau lebih sudah
tidak bisa dihitung dengan satu tangan.
Normalnya, lima
tahun lalu dia seharusnya sudah pensiun dan hidup bahagia dengan pasangan
laki-laki yang hebat.
Faktanya, teman
sekelasnya yang hanya Penjelajah Rank B atau C sudah menemukan pasangan, bahkan
ada yang sedang hamil anak keempat menurut kabar dari aplikasi perpesanan
"Laiso".
Loria memang
sudah membantai banyak monster kuat, namun saking kuatnya serangannya, jasad
monster tersebut hancur atau lenyap sehingga Asosiasi sulit melakukan
konfirmasi.
Loria adalah
seorang penakut. Atau jika ingin terdengar lebih keren, dia adalah tipe orang
yang sangat berhati-hati. Dia lebih suka daging yang panggangannya matang
sempurna, dan akan merasa ngeri jika melihat daging yang masih merah. Begitulah
sifatnya.
Terlebih lagi,
sejak lahir dia memiliki kandungan Mana yang sangat tinggi dalam tubuhnya. Hal
ini sering membuat Loria melakukan overkill saat menghadapi
monster—serangannya jauh melampaui apa yang dibutuhkan.
Meskipun
kemampuan sihir dan pedangnya berada di kelas satu, jika dia melenyapkan
monster sampai tak bersisa, pengawas ujian tidak akan bisa mengonfirmasi
buruannya. Akibatnya, hampir mustahil baginya untuk mendapatkan uang hadiah.
Namun, fakta
bahwa dia bisa naik hingga ke Rank A berkat segudang prestasinya, tak
lain adalah karena kepribadiannya yang jujur dan tulus tanpa kepalsuan.
Sayangnya,
tabungannya sangat sedikit untuk ukuran seorang petualang Rank A. Loria
adalah tipe yang terlalu peduli pada orang lain; dia sering merogoh kocek
pribadi untuk membelikan peralatan dan bahan yang dibutuhkan oleh rekan atau
bawahannya.
Jika perlu, dia
akan meminjamkan uang dengan murah hati. Lalu, setelah meminjamkannya, dia
sering berjongkok di tempat sambil meratapi kecerobohannya sendiri,
"Aaaah, kenapa aku melakukannya lagi?"
Singkat
kata, dia terlalu baik hati.
◆◇◆
Dengan
gerakan yang hati-hati namun secepat mungkin, Loria terus maju hingga sampai ke
sebuah gua raksasa. Area itu sangat luas, kira-kira seukuran aula olahraga
sekolah dasar, yang terbentang di ujung lorong. Adrenalin Loria mulai terpacu seiring langkah
kakinya.
"Sisa-sisa
Mana di sini luar biasa pekat."
Suhu di dalam dungeon
yang seharusnya stabil, kini terasa sangat dingin menusuk tulang. Loria
memasang posisi siaga dengan perisainya, sementara bahunya sedikit gemetar.
Uap putih
memenuhi seluruh ruangan. Ditambah dengan kegelapan yang khas, jarak pandang
menjadi sangat buruk. Padahal, dia sudah menggunakan sihir cahaya untuk
menerangi sekitar, tapi entah mengapa kabut ini tidak kunjung sirna.
"Harap
waspada, Kapten."
Wakilnya, Hojo
Ichika, memegang pedang panjang di satu tangan sambil mengawasi sekeliling
tanpa lengah. Dia
adalah andalan di baris depan, seorang gadis berbakat yang berperan ganda
sebagai Tanker sekaligus Attacker.
Ichika,
dengan rambut hitam lurus dan poni rata layaknya boneka Jepang, sebenarnya
adalah gadis cantik tipe ortodoks. Namun, saat dia tegang, kedua matanya akan
bergerak liar ke arah yang berbeda seperti bunglon, yang sejujurnya agak
menyeramkan.
Gadis
delapan belas tahun itu tidak menyadari kebiasaannya. Meskipun dia berasal dari
keluarga kaya dan sering dijodohkan dengan pria, dia selalu ditolak tiap kali
bertemu. Karena kepribadiannya baik, orang-orang di sekitarnya tidak tega
memberitahukan kekurangannya itu.
Loria pernah
mencoba berterus terang padanya, "Anu, kurasa sebaiknya kau berhenti
menggerakkan matamu seperti itu." Namun Ichika hanya menjawab, "Eh,
apa maksud Anda?" yang membuat Loria bungkam. Loria benci dirinya yang
terlalu lemah dalam berkomunikasi.
"Tidak
mungkin... salju?"
Itu suara Ichika.
Loria terpaku saat kepingan salju halus yang jatuh dari kegelapan hinggap di
telapak tangannya. Kemudian, dia menatap ke depan dan tertegun.
Ada sebuah
bongkahan es raksasa.
Di balik kabut
putih, sebuah gunung es yang menyerupai batu karang tiba-tiba muncul di hadapan
mereka.
"Eh?"
Bongkahan es
raksasa itu mulai runtuh sedikit demi sedikit.
Dalam waktu yang
singkat, Loria menyadari bahwa objek tersebut adalah seekor monster raksasa.
Sekitar
tiga puluh meter di depannya, seseorang berdiri di sana. Di sudut
penglihatannya, tampak seorang gadis yang tergeletak telungkup. Tidak salah
lagi, itu adalah Shimomura Haruka yang masuk dalam daftar pencarian.
Namun,
sesuatu yang tertangkap oleh mata Loria benar-benar mengalihkan perhatiannya
dari Haruka.
Seorang pria.
Begitu melihat
sosok itu, tanpa sadar kemampuannya meningkat tajam.
Pria itu
bertelanjang dada. Namun, dia jelas berbeda dari wanita.
Tubuhnya adalah
gumpalan otot yang kencang tanpa lemak sedikit pun.
—Ini pertama
kalinya aku melihatnya.
Dia muda. Meski
Loria melihatnya setiap hari melalui gambar atau video, ini adalah pertama
kalinya seumur hidup Loria melihat pria sebaya yang benar-benar hidup dan
bergerak di depan matanya.
Loria, yang
dilahirkan oleh ibunya melalui bank sperma, adalah generasi awal yang tidak
mengenal sosok ayah.
Debaran jantung
yang tak berhenti saat dia melihat pria hidup di kelas khusus waktu SMP dulu,
kini berdentum dengan dampak yang jauh lebih hebat.
Mungkin dia
belasan tahun, atau awal dua puluhan.
Pria yang memberi
kuliah di kelas khusus dulu memang disebut muda, tapi usianya awal empat
puluhan. Namun, pria di depannya ini memiliki kekencangan kulit dan fitur wajah
yang benar-benar berbeda, terasa begitu segar. Matanya besar dan memancarkan
kekuatan yang kuat.
Luka zig-zag yang
menyambar di pipi kirinya seperti kilat sama sekali tidak mengurangi daya
tariknya, melainkan menambah kesan gagah. Alisnya kuat, seolah dilukis dengan
kuas. Batang hidungnya agak tinggi dan mancung sempurna.
Wajahnya terlihat
aristokrat, namun aura yang terpancar dari sekujur tubuhnya mengingatkan pada
serigala yang lapar.
"P-Pria!?"
"Eeeh, bohong!"
"Muda banget! Eh, apa? Dia muda! Bagaimana bisa?"
"Tuhan... Tuhan telah mengabulkan doaku!"
"Kiiiiii!
Kieeeee!"
Anak
buahnya serentak berteriak histeris. Ada yang menangkupkan tangan sambil
berputar-putar di tempat. Ada yang tiba-tiba melepas pelindung tubuh dan mulai
membuka jaket. Beberapa bahkan melompat-lompat sambil menjerit kegirangan
seperti binatang—tindakan yang sangat memalukan bagi petualang kelas satu.
"T-Tenanglah
kalian! Ini mungkin serangan ilusi dari monster!"
Loria memberikan
peringatan.
"Berisik
banget, sih!"
"Dia
pacarku!"
"Tidak akan
kubiarkan! Aku tidak mau berbagi!"
"Berikan
'Tuan Pria' itu pada kami juga!"
Loria mencoba
menenangkan mereka, tapi para wanita itu justru berteriak dan mengerang keras.
Mereka hampir
terlihat seperti binatang buas.
Tentu saja, Loria
pun sama keringnya soal urusan pria.
Bagi para pejuang
yang mempertaruhkan nyawa demi kekayaan setiap hari dan memimpikan pernikahan
bahagia (catatan: lewat bank sperma), mustahil mereka bisa tetap tenang saat
melihat pria asli.
Namun, coba
pikirkan baik-baik. Bukankah aneh ada pria di dalam dungeon yang sangat
berbahaya seperti ini? Ya, jelas aneh.
"Hei,
menurutmu dia itu manusia? Atau monster yang menyamar?"
"Ha-hawawa..."
"Hah, tidak
ada gunanya."
Loria bertanya
pada wakilnya, Ichika, tapi gadis itu sedang dalam kondisi kacau balau dengan
mata yang berputar-putar seperti bunglon. Tidak ada pilihan lain. Sebagai kapten, akulah
yang harus melakukan kontak langsung secara pribadi. Ufufu, maaf ya
semuanya. Waduh, ini gawat.
"Berhenti
di situ. Lalu, buang senjatamu."
Ucap
Loria dengan sikap tegas. Dia mengarahkan tongkat sihirnya sambil berdiri hanya
berjarak tiga meter dari pria di depannya.
Pria itu
menatap Loria dengan ekspresi bengong sambil mengucek matanya dengan telapak
tangan.
Imutnya.
Entah
kenapa, gerakan seperti anak kecil itu membangkitkan insting keibuan Loria yang
luar biasa kuat, hingga dia hampir menjatuhkan tongkat sihirnya.
"Baiklah."
Pria itu
menurut dan melemparkan pedang di tangannya, lalu mengulas senyum ramah. Dia
tersenyum. Dia tersenyum padaku. Padaku, bukan pada orang lain. "Tuan
Pria" ini sedang berkomunikasi denganku. Hanya dengan itu saja, rasanya aku bisa makan tiga
piring nasi. Oke, aku harus mencatat ini dalam memori hatiku.
"Apakah kau
manusia? Atau monster
yang menyamar?"
"Hah?
Apa yang kau bicarakan?
Pokoknya aku ini pria sejak lahir. Hei, aku sudah membuang senjataku. Bisakah
kau berhenti menodongkan benda berbahaya itu padaku?"
—Dia berbicara!
Suaranya berat sekali! Uuugh, aku gugup!
"T-Tunggu
sebentar. Namaku Himejima Loria, petualang Rank A dari Asosiasi.
Pertama-tama, beri tahu aku ID Petualang dan namamu. Segalanya dimulai dari
situ!"
"Aku
Sakazaki. Aku tidak tahu apa itu ID."
"Tolong
sebutkan namamu secara lengkap! Ini yang paling penting!"
"Pintar
sekali! Meskipun identitas bisa diperiksa lewat ID, Anda sengaja memintanya
menyebutkan nama agar bisa memperpendek jarak dengan Tuan Sakazaki secara
alami!"
"Ichika,
ini bagian yang penting, jadi jangan ganggu!"
"Ah, maaf
ya. Namaku Sakazaki Ryuto. Apa begini sudah cukup? Soal ID itu, aku benar-benar
tidak mengerti."
"Ryuto... Sakazaki Ryuto-san, ya."
—A-Aku baru saja
mendengar nama seorang pria untuk pertama kalinya. Bukankah ini artinya kami
berdua sudah ditakdirkan untuk bersatu!?
Untuk sesaat,
sesuatu terlintas di sudut pikiran Loria, tapi sekarang bukan saatnya
memikirkan hal lain.
Yang terpenting
adalah kenyataan bahwa dia bisa menjalin kontak dengan seorang pria, apalagi
yang muda dan hampir sebaya dengannya. Loria percaya sepenuhnya bahwa ini
adalah anugerah Tuhan.
Grit...
grit... grit...
Mera...
mera... mera...
"Curang,
cuma Kapten saja yang enak."
"Kami juga
ingin mengobrol—maksudku, menjilat Tuan Ryuto."
—Tentu saja, aura
kecemburuan dari dua puluh gadis di belakangnya diabaikan begitu saja.
"Lupa ID?
Apa hal seperti itu mungkin terjadi? Baiklah, aku akan mencoba memeriksanya di
situs web Asosiasi sekarang."
Loria menyerahkan
tongkatnya pada Ichika dan mulai mencari nama Ryuto di ponselnya. Namun,
tentu saja nama Ryuto tidak muncul dalam hasil pencarian.
"Hoho, jadi sekarang kita bisa memeriksa banyak hal
lewat ponsel ya. Praktis sekali."
"Nkyah!"
Tiba-tiba Ryuto mendekatkan wajahnya ke arah Loria. Dia melihat! Tuan Ryuto sedang
memperhatikanku dengan saksama!
—Aaah, kenapa dia
mendekat di saat seperti ini!? Kalau aku tahu bakal begini, kemarin aku pasti
pergi ke salon, perawatan kulit, oh, dan mengganti warna cat kuku!
"Ngh, ehem!
Bolehkah aku memanggil Anda Ryuto-sama?"
"Hah? Boleh
saja, tidak usah seformal itu. Panggil Ryuto saja cukup."
"Ahfun! T-Tidak, kalau begitu, Ryuto-san.
Seperti yang kau tahu, dungeon berada di bawah yurisdiksi negara.
Tahukah kau bahwa masuk tanpa izin bagi orang yang tidak terdaftar di Asosiasi
adalah pelanggaran hukum pidana?"
"Deeeeh!?
Benarkah? Maaf, aku tidak tahu."
"Aku
memaafkanmu."
"Eh?"
—Gawat.
Aku refleks menjawab sembarangan...
Lalu
Loria tersadar. Sampai detik ini, dia sama sekali belum menanyai Ryuto tentang
Shimomura Haruka—orang yang harus mereka selamatkan—yang sedang terbaring di
kaki mereka.
"Maafkan
aku. Bisa-bisanya aku... k-ehem, lupakan yang tadi."
"Hah..."
"Pokoknya,
gadis di sana itu benar Shimomura Haruka yang dicari oleh Asosiasi Petualang,
kan? Jika tidak keberatan,
akan sangat membantu jika kau menceritakan apa yang terjadi sampai
sekarang."
"Apa yang
terjadi, ya?"
Bagi Ryuto,
wanita yang muncul di depannya ini memiliki sikap yang lembut, baik, dan ramah.
—Dan yang
terpenting, dia cantik.
Wanita cantik
yang mengaku bernama Himejima Loria itu mengenakan pakaian dan perlengkapan
yang pas di tubuh, serta memancarkan aroma yang sangat harum. Paha mulusnya
yang terlihat sedikit juga tampak mempesona.
Begitu melihat
Loria, Ryuto langsung menyukainya. Terhadap Ryuto yang tidak memahami situasi
saat ini, awalnya Loria memang menunjukkan kecurigaan, namun setelah Ryuto
menjelaskan situasinya, Loria mencatatnya dengan antusias, menangis
tersedu-sedu mendengar ceritanya seolah mereka teman lama, dan merasa simpati.
"Begitu ya.
Ryuto-san, kau sudah berjuang keras selama ini."
"Ah,
tidak..."
—Tunggu, situasi
apa ini?
Ryuto merasa
sangat bingung di dalam dungeon, dikelilingi oleh Loria dan lebih dari
dua puluh wanita cantik lainnya.
Kisah tentang
Ryuto yang terus berkelana sendirian di dalam dungeon selama dua puluh
tahun setelah mengalahkan Raja Iblis—
Pertemuannya
dengan Shimomura Haruka—
Kemenangannya
melawan Minotaur dan Cerberus sendirian—
Menceritakan
semua itu tidak memakan waktu lebih dari lima belas menit. Namun, selama waktu
itu, para anggota Asosiasi yang dibawa Loria perlahan-lahan memperpendek jarak,
dan tanpa sadar telah mengepung Ryuto dari segala arah.
—K-Kok rasanya
agak menyeramkan ya.
Awalnya para
petualang itu mengepungnya dengan sungkan, namun seiring berjalannya waktu,
mereka menjadi lebih berani mendekati Ryuto. Mereka menempelkan tangan ke bahu, lengan, dan
pinggangnya sambil bernapas terengah-engah.
Semuanya terdiam
seribu bahasa.
Hal itu terasa
sangat aneh.
Ryuto merasakan
tekanan yang tidak biasa.
Namun, karena
tidak ada alasan untuk melawan, dia hanya diam saja.
"Begitu ya.
Ryuto-san, kau sudah berjuang keras selama ini."
"Bukan, aku
tidak keberatan sih, tapi kenapa dari tadi kau hanya mengatakan hal yang
sama?"
Ryuto
bingung melihat kalimat Loria yang terus berulang seperti mesin pemutar yang
rusak.
"Kalau
bicara soal Sakazaki Ryuto, itu adalah nama legenda yang mengalahkan Raja
Iblis."
"Kasihan
sekali. Dia pasti sangat lelah karena terlalu lama berkelana di dalam dungeon."
"Tatapan
matanya terasa agak..."
Mendengar
bisik-bisik dari para petualang figuran itu, Ryuto merasa ingin menghentakkan
kakinya ke tanah. Benar-benar bukan perilaku orang yang usia sebenarnya sudah
tiga puluh delapan tahun.
"Woi, kalian
di sana! Aku bisa dengar, tahu! Aku ini waras!"
"I-Iya,
kami mengerti. Kami mengerti, jadi tenanglah..."
"Nuuuuh.
Tidak ada yang percaya. Terus, bagaimana cara membuktikan kalau aku adalah
aku?"
"Biasanya
dengan SIM, kartu identitas, atau kartu asuransi..."
"Aku tidak
punya SIM, dan aku tidak tahu apa itu kartu identitas yang kau maksud. Ugh,
kalau begini, meskipun aku bisa kembali ke permukaan, aku bakal dijebloskan ke
penjara dengan alasan yang tidak jelas."
"...Untuk
saat ini, karena kita tidak bisa mengonfirmasi apa pun di sini, bagaimana kalau
kita keluar dulu dan memeriksanya pelan-pelan di kantor Asosiasi?"
Itu
adalah usulan yang sangat masuk akal dan realistis.
"Benar
juga. Lagipula, aku ingin
sekali menghirup udara luar."
"Setuju! Ah,
tapi. Ada satu permohonan kecil. Boleh?"
Loria menatap
Ryuto dengan tatapan memohon dari bawah. Karena Ryuto lebih tinggi sekitar satu
kepala, Loria otomatis harus mendongak. Ryuto sempat ragu sejenak karena nada
bicaranya yang manis dan menggoda, namun dia mengangguk pelan.
"Permohonan apa?"
"Itu... tolong bertukar LINE dan nomor telepon
denganku!"
"LINE?"
Ryuto terpaku menatap ponsel yang disodorkan Loria. Bagi
Ryuto yang seolah-olah baru saja melakukan perjalanan waktu dari tahun 2005,
yang biasa dia lihat hanyalah ponsel lipat atau garake. Dia mengerti
nomor telepon, tapi LINE baru muncul tahun 2011, jadi tentu saja Ryuto yang
terkurung di dungeon tidak mungkin mengetahuinya.
"Aku tahu
nomor telepon, tapi apa itu LINE?"
"Ah,
aku dengar pria jarang menggunakan media sosial karena bahaya kebocoran
informasi. Kau tidak tahu LINE?"
Loria
dengan cepat menunjuk ponsel di tangan Ryuto dan berkata dengan agak
terburu-buru. Tentu saja, ponsel yang dipegang Ryuto adalah milik Haruka.
"Itu...
kalau kau tidak tahu, aku akan mengajarimu cara mendaftarnya? Jadi, ya? Ayo
bertukar? Lihat, ini sebentar saja kok! Ya? Ya?"
Loria
merangsek maju dengan tekanan yang luar biasa.
Ryuto
secara insting merasakan ketakutan dan tubuhnya menjadi kaku.
"Eh,
tunggu sebentar—"
"Ayo,
ayo, ayo, ayo!"
Mungkin
karena Ryuto tidak menolak dengan keras, Loria menanggalkan topeng
keanggunannya dan mulai mendekat dengan agresif.
"I-Iya,
aku mengerti. Aku tidak begitu paham, tapi aku mengerti!"
"Gampang
kok. Gampang ba-nget. Tekan ikon berbentuk orang nomor dua dari kanan, lalu
tampilkan kode QR di tengah."
"Begini?"
Karena
memiliki fleksibilitas otak yang lebih baik dari siapa pun, Ryuto mengikuti
penjelasan Loria sekali dengar dan mengoperasikan ponsel itu dengan lancar
hingga pendaftaran teman selesai. Melihat itu, para petualang figuran lainnya
tentu tidak tinggal diam.
"Curang!
Aku juga mau tukaran LINE dengan Ryuto-sama!"
"Jangan
mencoba mendahului kami!"
"Ah,
aku, setelah ini aku ya!"
"Aku juga
mau tukaran!"
"Asyik! Aku
dapat kontak 'Tuan Pria'!"
"Aku tidak
akan membiarkan diriku disebut 'wanita tikus tanah' lagi selamanya!"
"Hei,
antre dong!"
"Minggir
kalian, dasar pengganggu!"
"Kubuat
kalian menangis ya, bocah-bocah!"
Sebagai catatan,
tidak ada yang tahu apakah selama beberapa hari ke depan mereka bisa bermimpi
indah atau tidak, setelah fakta terungkap bahwa orang yang mereka ajak bertukar
LINE sebenarnya bukan Ryuto, melainkan Haruka.
◆◇◆
Ryuto tidak
pernah sekali pun menganggap dirinya lebih unggul dari orang lain. Saat dia
masih remaja, bumi diinvasi oleh monster misterius, dan tanpa berpikir panjang,
dia memutuskan untuk bertarung sebagai seorang petualang.
Mungkin dia
memang jauh lebih berbakat menjadi petualang daripada yang dia kira. Terang
saja, dunia yang kacau ini, dungeon yang bermunculan di seluruh penjuru
dunia, dan monster yang keluar dari sana—bagi Ryuto, semuanya terasa tidak
nyata.
Jika harus
menggambarkannya, itu seperti festival. Suasana festival budaya atau festival
olahraga yang berlanjut tanpa henti. Ryuto saat itu bertarung melawan monster
dengan mempertaruhkan nyawa dan menjelajahi dungeon sampai muntah darah,
namun rasanya seperti melihat kelanjutan mimpi sambil terjaga—begitulah
keadaannya.
Tanpa sempat
benar-benar mengenakan seragam SMP-nya, dia menghabiskan hari-harinya sebagai
petualang. Dia menerima perintah dari negara untuk turun ke bawah tanah, dan
Ryuto menyelesaikan misi-misi sulit itu satu demi satu.
Menghabiskan masa
pubertas yang sensitif di usia tiga belas tahun di tengah pertarungan hidup dan
mati mungkin telah membuatnya kehilangan sesuatu yang penting sebagai manusia.
Namun, di tengah
semua itu, masa muda tetap ada. Alih-alih berkeringat dalam klub sekolah, dia
mengasah keterampilan tempur dan sihirnya, memberikan segalanya dalam situasi
kritis. Bedanya dengan olahraga biasa hanyalah satu kesalahan kecil bisa
merenggut nyawa.
Jarang sekali ada
orang dewasa di lokasi. 'Festival' pembasmian Raja Iblis ini diselenggarakan
oleh para pemuda dan pemudi, dan akhirnya berakhir dengan kematian bos musuh.
Ryuto hampir
tidak pernah hadir di sekolah, dan meskipun dia menerima buku pelajaran yang
dibagikan, dia hampir tidak pernah membacanya. Pengetahuan dasar dan norma umum
diajarkan oleh kakak perempuannya yang berusia satu tahun lebih tua, di
sela-sela pertempuran atau waktu istirahat. Bagi Ryuto, belajar hanyalah sebuah
hiburan semata.
Kakaknya, yang
enam tahun lebih tua, selalu bicara dengan nada keras karena berusaha
menggantikan sosok ibu yang meninggal lebih dulu, namun dia sebenarnya sangat
perhatian—bahkan mungkin terlalu perhatian.
Ryuto selalu
bersikap membangkang pada kakaknya, Kazumi.
Di depan
teman-teman satu kelompoknya, dia merasa malu dan tidak bisa bersikap manis.
"Belajar itu
hiburan yang lumayan untuk membunuh waktu ya."
Suatu hari,
ketika dia tanpa sengaja melontarkan komentar seperti itu, kakaknya yang
biasanya tenang tiba-tiba meneteskan air mata dalam diam.
Saat Ryuto
dipanggil ke garis depan karena keterampilannya yang luar biasa, kakaknya sudah
hampir lulus SMA. Bisa dikatakan, kakaknya mungkin adalah generasi terakhir
yang bisa menjalani kehidupan sekolah yang damai.
Kini, kakaknya
berdiri di sana. Di depan matanya. Setelah dilucuti senjatanya oleh Himejima
Loria dari Asosiasi Petualang, Ryuto akhirnya bertemu kembali dengan kakaknya,
Kazumi, setelah sekian lama.
"Kakak?"
"Ryuto...
itu kau?"
Kazumi melangkah
maju perlahan. Dia sudah menua. Itulah hal pertama yang terlintas di benak
Ryuto. Tentu saja, jika dia membayangkan kakaknya di ingatan menjadi jauh lebih
tua, sosok di depannya inilah hasilnya.
Namun, ingatan
yang melekat kuat di kepala Ryuto adalah sosok gadis muda di usia dua puluhan.
Zuki... Bagian belakang kepalanya terasa sakit.
Saat mencoba mencocokkan realitas di depan matanya dengan
ingatannya secara paksa, otaknya terasa mengalami bug. Satu hal yang pasti, suaranya hampir tidak
berubah.
Mungkin karena
itulah dia bisa menerimanya.
"Ini
benar-benar Kak Kazumi?"
"Ryuto!"
"Wabu!"
Kenyataan
tentang aliran waktu menghujam Ryuto dengan sangat telak. Meski waktu yang dia
rasakan sendiri terasa singkat, namun saat mengalaminya langsung, dia sadar
bahwa tahun-tahun yang dia habiskan dengan berkelana di dalam dungeon
benar-benar sepanjang dua puluh tahun.
Selain itu, ada
perbedaan suhu emosi di antara mereka. Sepanjang pengetahuan Ryuto, kakaknya
yang enam tahun lebih tua itu tidak pernah menunjukkan emosinya secara
terang-terangan seperti ini.
Kakaknya yang
biasanya tampak tidak tergoyahkan oleh apa pun, kini memeluknya sambil menangis
tersedu-sedu.
Ryuto
sempat berpikir ini terlalu berlebihan. Namun, saat didekap oleh tubuh yang
jauh lebih kecil darinya itu, dia kehilangan niat untuk bercanda atau menggoda
suasana yang mengharukan tersebut.
"Bodoh. Kau
terlalu lama kembali."
Kazumi mengangkat
wajahnya yang semrawut oleh air mata. Ryuto samar-samar teringat hari saat ibu
mereka meninggal, dan akhirnya ingatan itu tersambung lurus dengan momen
sekarang.
"Maaf. Aku
sudah membuatmu menunggu, Kak."
Secara
mental maupun fisik, Ryuto tidak melewati usia delapan belas tahun.
Sebenarnya
ada keraguan tentang keaslian situasi ini, namun saat dipaksa menjalani
"reuni mengharukan" di sebuah ruangan yang penuh dengan anggota
Asosiasi Petualang, polisi, hingga petugas pemadam kebakaran, rasa malu justru
lebih dulu menguasai dirinya.
Prok,
prok, prok!
Hujan
tepuk tangan turun dari orang-orang di sekitarnya. Pokoknya, benar-benar
memalukan.
Wajah
Ryuto memerah padam, lalu dia mengacak-acak rambut panjangnya yang tumbuh
sangat berantakan. Waktu dua puluh tahun memang nyata adanya di sana.
Setelah
gelombang emosinya mereda, Kazumi perlahan melepaskan pelukannya. Bahkan dari
sudut pandang Ryuto sebagai adik kandung, kakaknya tetap terlihat cantik, namun
guratan waktu dua puluh tahun memang terukir jelas di wajahnya.
—Dia
mirip sekali dengan Ibu.
"Ryuto.
Untuk saat ini, aku sudah menyiapkan hotel, jadi ayo ke sana. Ada banyak sekali
hal yang harus kita bicarakan, tapi sekarang istirahatlah dengan tenang."
"Ouh.
Tapi sebelumnya, bagaimana dengan gadis bernama Haruka yang bersamaku?"
Untuk
sesaat, Kazumi menunjukkan ekspresi pedih yang sulit digambarkan. Namun, dia
segera memasang senyum seperti memakai topeng. Tidak berubah dari dulu; Kazumi
selalu mencoba tersenyum setiap kali ada masalah. Senyuman menyembunyikan semua
emosi.
Ryuto
bukan tipe orang yang bisa bermain sandiwara. Dia melangkah maju dan bertanya
secara langsung.
"Hei,
jangan-jangan terjadi sesuatu padanya?"
"Gadis itu,
Shimomura Haruka... hmm. Ceritanya panjang, tapi intinya dia selamat. Ada
beberapa luka lecet, tapi tidak ada yang serius."
"Begitu ya,
syukurlah."
"Fufun."
"Kenapa
tertawa?"
"Aku lega
karena kau tidak berubah sedikit pun dari dulu. Pokoknya, istirahatlah hari
ini. Soal Haruka akan kita bicarakan lagi besok, ya."
Ryuto melemparkan
pandangan gelisah ke arah orang-orang yang berkumpul, sementara Kazumi berkata
dengan mata yang penuh kelembutan.
"Jangan
khawatir, besok kau bisa bertemu semua orang. Selain kau, semuanya berhasil
kembali dengan selamat."
"O-ouh."
Ryuto melihat
wajah kakaknya dari dekat saat sang kakak menekan kedua pipinya sendiri dengan
tangan. Berbeda dari ingatan, wajah kakaknya yang dia lihat tepat di depan mata
sudah sesuai dengan usianya, dan Ryuto pun tidak bisa berkata apa-apa lagi.
◆◇◆
"Wah, empuk
sekali."
Setelah diantar
ke kamar hotel, Ryuto langsung duduk di atas tempat tidur yang diletakkan di
ruang luas itu tanpa melepas sepatunya.
Dia belum pernah
menginap di hotel kelas satu yang mewah seperti ini. Menghabiskan masa muda di
masa perang dan dua puluh tahun di dalam dungeon, Ryuto hanya tahu Tokyo
yang berada di bawah pembatasan logistik yang parah dan pemadaman lampu total.
Apakah dunia
telah mendapatkan kedamaian setelah Raja Iblis dikalahkan?
Kemakmuran yang
dia lihat sekarang sudah kembali seperti Jepang yang Ryuto kenal di masa
kecilnya. Pemandangan kota yang dia lihat dari balik kaca mobil mewah terlihat
sangat rapi.
Jalannya bukan
lagi jalanan penuh retakan dan lubang yang bahkan tidak sempat diaspal seperti
dulu.
Suasana kota
tidak lagi suram; etalase toko yang memajang berbagai macam barang
berwarna-warni memberikan kejutan budaya yang cukup besar bagi Ryuto.
"Lagipula,
mbak resepsionisnya cantik sekali ya."
Resepsionis di
lobi yang tadi hanya dilewatinya saja, di mata Ryuto, terlihat seperti wanita
cantik kelas atas.
Ryuto menjatuhkan
diri telungkup di atas selimut tempat tidur, lalu menghirup aromanya sedalam
mungkin. Sambil menendang-nendangkan kedua kakinya, dia melepas sepatunya
hingga terpental.
Sepatu
kulit baru yang mengkilap itu terbang dan menghantam dinding.
"Waduh,
gawat."
Sepatu
bot lama yang sudah usang di dalam dungeon sudah dibuang karena hancur
lebur.
Karena
merasa kasihan pada Ryuto yang tidak punya sepatu layak, kakaknya menggantinya
dengan sepatu yang telah disiapkan sebelum mereka meninggalkan kantor Asosiasi
Petualang.
Ukurannya
dua puluh sembilan sentimeter. Sepatu yang masih baru tanpa setitik pun lumpur
itu membuat dada Ryuto berdebar girang hanya dengan melihatnya saja.
—Kota ini
penuh dengan barang.
Itu
membuktikan bahwa perdamaian telah kembali.
Tokyo
yang diingat Ryuto hancur berantakan akibat pertempuran sengit dengan monster
yang muncul dari labirin bawah tanah, hingga tidak menyisakan bentuk aslinya.
Namun,
Tokyo yang dia lihat dari jendela mobil sekarang telah kembali ke pemandangan
kota yang damai tanpa bayang-bayang peperangan, persis seperti yang diingatnya
saat masih kecil.
Hanya dengan
melihat itu, Ryuto merasa perjuangannya selama ini ada artinya. Fakta bahwa
tidak ada lagi tanda-tanda masa perang juga menenangkan perasaan Ryuto.
"Gawat. Aku
hampir ketiduran."
Ryuto
melompat bangun dari tempat tidur dan mengambil gelas yang ada di atas meja.
Glek. Gelas dingin yang berembun itu
tampak bersinar biru. Saat dia meminumnya, jus jeruk yang dinginnya pas itu
mengalir dari rongga mulut ke tenggorokan. Dia menghabiskannya hampir dalam satu tarikan
napas. Di saat yang sama, otaknya terasa tergelitik.
"E-Enak!
Jus jeruk ternyata seenak ini?"
Tanpa sadar dia
merasa pusing. Selama hampir dua puluh tahun dia berpantang makanan manis. Di
dalam dungeon, rasa manis tidak pernah ada, dan untuk mencukupi
kebutuhan vitamin, tidak ada pilihan lain selain memakan daging mentah monster
yang masih berlumuran darah.
Manusia, seberapa
pun parahnya situasi yang dihadapi, tidak akan pernah bisa melupakan rasa manis
yang pernah mereka rasakan sekali saja. Ryuto terbuai oleh rasa manis yang baru
dirasakannya lagi setelah dua puluh tahun.
"Sialan,
ini enak banget. Nggak tahan. Segini mana cukup. Aku mau minum sampai perutku meledak. Kurang, nih!
Hmm?"
—Kalau tidak
salah, dia bilang telepon saja kalau butuh sesuatu.
Ryuto mengambil
ponsel yang diberikan oleh kakaknya, lalu dengan gerakan tangan yang belum
terbiasa, dia mengoperasikan layar baru yang bersih tanpa bekas sidik jari itu.
"Ya,
dengan Tsukikage di sini."
"Ah,
Yurina-san? Ini aku, Ryuto. Apa aku boleh minta jus lagi?"
"Tentu, akan
segera saya bawakan ke kamar."
"Aduh, maaf
ya. Ini enak banget,
aku sampai kaget. Rasanya mau
minum sampai kenyang. Ahahaha."
Terdengar tawa
kecil Yurina di seberang telepon. Seketika itu juga Ryuto menjadi gugup.
Tsukikage Yurina dikatakan sebagai sekretaris kakaknya, namun dia tetap tinggal
di Hotel Teio ini khusus untuk mengurus keperluan Ryuto.
"Sepertinya
Ryuto-sama sangat menyukai jus jeruknya, ya. Akan segera saya bawakan, jadi
silakan bersantai di kamar sambil menunggu sebentar."
"Ah,
baik."
Dengan
terburu-buru Ryuto mematikan teleponnya. Kemudian, dia meletakkan ponsel di
atas meja dan mengembuskan napas panjang.
"Gawat,
gawat banget. Apa dia bakal ilfeel ya? Yurina-san cantik sekali, dan
rasanya benar-benar seperti wanita dewasa."
Bagi Ryuto, Yurina yang tampil rapi dengan setelan celana
yang tampak mahal adalah orang yang hidup di dunia yang berbeda.
"Nggak tahan deh. Kira-kira pria seperti apa ya yang
bisa jadi pacar wanita cantik dan cekatan seperti dia?"
Ryuto
berguling di sofa, mengangkat kedua kakinya ke arah langit-langit sambil
menendang-nendang. Aroma feromon yang terpancar dari setelan jas yang pas di
tubuh itu benar-benar tidak tertahankan bagi Ryuto yang baru kembali dari
labirin bawah tanah.
"Yurina-san oke banget ya. Benar-benar tipe Dosekebe-the-Ecchi-Sex-Body,
ya, setuju."
Dilihat dari usia aslinya yang tiga puluh delapan tahun,
Yurina hanyalah seorang gadis yang enam belas tahun lebih muda darinya.
Namun bagi Ryuto yang hanya tahu soal bunuh-membunuh di dungeon
dan dunia sekolah, Yurina adalah seorang kakak yang bekerja di "dunia
orang dewasa yang normal dan benar".
"Tapi, Kakak
jadi politisi? Apalagi jadi menteri, itu pasti bercanda kan. Dan Yurina-san,
benar-benar terasa seperti 'Sekretaris Banget!', rasanya aku bisa merasakan
erotisme orang dewasa di sana."
Ryuto duduk
bersila di atas sofa sambil menopang dagu, lalu berpikir keras. Kemudian, dia
mulai menyesali pembicaraannya yang sok akrab di telepon tadi.
—Gawat. Rasanya
jadi canggung sekali.
"Benar juga,
mandi saja deh."
Sebagai solusi
sementara, Ryuto memutuskan untuk mandi. Saat ini, Ryuto mengenakan kemeja dan
celana panjang yang disiapkan oleh Kazumi.
Meskipun pakaian
jadi, bagi Ryuto yang otot tubuh bagian atasnya berkembang secara tidak normal,
pakaian itu terasa sempit di beberapa bagian.
Lingkar perutnya
memang ramping, namun bagian leher, bahu, dan lengannya terlalu tebal sehingga
pakaiannya tampak sangat ketat.
"Hiat! Bail
Out!"
Ryuto
menanggalkan kemeja dan celana panjangnya sekaligus, lalu langsung menuju kamar
mandi. Di belakangnya, sisa-sisa pakaian yang ditanggalkan berserakan di
mana-mana.
"Ryuto-sama.
Ini Tsukikage. Saya membawakan minuman untuk Anda."
Tsukikage Yurina
mengetuk pintu kamar pelan sambil membawa kereta dorong berisi teko minuman
bersama dua orang resepsionis.
"?"
Tidak ada
jawaban. Secara refleks, ekspresi Yurina sedikit menegang.
Ada alasan
mengapa Genma Kazumi—pahlawan dari kelompok penyelamat dunia sekaligus anggota
parlemen berpengaruh dari Partai Minsei—menugaskan Yurina sebagai sekretaris
ketiga untuk menjadi pengurus Ryuto. Tujuannya adalah untuk perlindungan
pribadi Sakazaki Ryuto.
Meskipun suatu
saat nanti akan diketahui publik, kembalinya Ryuto—sosok kunci dalam pembasmian
Raja Iblis yang kini menjadi objek pemujaan agama baru sebagai
"Pahlawan"—merupakan rahasia negara tingkat tinggi secara politik.
Oleh karena itu,
seluruh kamar di lantai dua puluh tempat Ryuto menginap saat ini telah disewa
oleh otoritas pemerintah. Yurina sendiri adalah seorang ahli yang menguasai
berbagai keterampilan tempur dan merupakan mantan petualang hebat yang pernah
mencapai Rank B.
Meskipun
penampilannya terlihat ramping dengan tinggi seratus enam puluh tiga
sentimeter, tubuhnya terlatih dengan sangat baik, dan hingga kini dia tidak
pernah melewatkan latihan dua jam setiap harinya.
Dia memiliki
kemampuan fisik super yang mampu melumpuhkan hingga sepuluh orang tentara
terlatih atau agen polisi rahasia sekaligus. Wajah dan bentuk tubuhnya pun
sangat menonjol; sebagai orang yang berasal dari daerah Tohoku, kulit putihnya
memancarkan cahaya yang bening.
—Apakah terjadi
sesuatu pada Ryuto-sama—?
Yurina dengan
cepat membuka kunci dengan kartu akses lalu bergegas masuk ke dalam kamar.
Ryuto tidak terlihat di mana pun. Saat dia mengedarkan pandangannya, pakaian
berserakan di depan kamar mandi. Dia memasang telinga. Suara pancuran air
terdengar, dan dia pun merasa lega.
"Maaf ya,
Yurina-san! Aku lagi mandi nih! Taruh saja jusnya di situ!"
Suara
Ryuto yang lantang menggema dari dalam kamar mandi. Saking kerasnya suara itu, Yurina tanpa sadar
menutup salah satu telinganya.
Di dalam dungeon,
suara cenderung mudah terserap, sehingga suara para petualang biasanya menjadi
lebih keras. Namun, suara Ryuto ini benar-benar luar biasa. Apakah ini yang
namanya perbedaan gender? Tiba-tiba dia menyadari para resepsionis yang
membawakan jus tadi berdiri dengan senyuman yang aneh.
"A-Anu, di
mana Ryuto-sama?"
"Apakah ada
yang bisa kami bantu?"
Mata mereka
berkaca-kaca dan pipi mereka memerah. Itu adalah tanda-tanda jelas dari gairah
yang memuncak. Yurina mengernyitkan dahi dan mendengus mengejek.
"Terima
kasih. Selebihnya akan saya urus sendiri, silakan tinggalkan ruangan."
Dia tahu niat
mereka. Resepsionis ini pun mati-matian berusaha untuk sekadar melihat wajah
agung Ryuto.
—Dasar betina-betina genit. Jangan bercanda ya.
"Silakan keluar!"
Yurina berucap sambil memancarkan niat membunuh, namun para
resepsionis itu tetap mencoba bertahan meski merasa ketakutan. Nyali mereka
cukup besar juga. Yurina tersenyum manis, lalu mendorong mereka yang masih
menggerutu keluar ke koridor dan menutup pintu.
—Benar-benar
orang-orang yang tidak tahu malu.
Meski berkata
begitu, Yurina sendiri sudah berganti pakaian dari setelan celana menjadi rok.
Alasannya jelas karena Ryuto tadi terus-menerus memperhatikan bokong para
resepsionis itu.
—Sensei yang juga
kakaknya mempercayakan pengurusan kepadaku. Artinya, aku sudah diakui oleh
keluarga, kan? Iya, sudah. Harus sudah!
Yurina pun
benar-benar sedang mengalami sindrom perawan tua yang parah.
"Hiat!"
Pintu kamar mandi
tiba-tiba terbuka. Karena kaget, Yurina mengeluarkan suara aneh dan melompat
sedikit di tempat.
"Ah, maaf.
Kukira kau sudah pulang."
Di sana berdiri
seorang pemuda berotot perkasa yang hanya mengenakan celana pendek, dengan uap
air yang mengepul dari tubuh bagian atasnya yang telanjang.
"A... a... afu."
Itu Ryuto. Yurina pernah melihat buku foto ilegal yang
menampilkan tubuh pria telanjang, namun ini pertama kalinya dia melihat tubuh
pria secara nyata.
Dia tidak bisa
berkata-kata. Tubuh Ryuto dipenuhi dengan bekas luka yang tak terhitung
jumlahnya, namun tubuh itu begitu kokoh hingga membuatnya terpesona. Ini bukan
otot yang dibentuk lewat olahraga atau latihan biasa.
Tidak ada lemak
berlebih sedikit pun; seluruh tubuhnya dibalut oleh otot-otot yang kuat dan
kencang seperti kumpulan kawat baja.
Otot perutnya
terbentuk sempurna dengan lapisan lemak tipis yang sangat sedikit. Kelenturan
kaki, pinggang, dan lengannya membentuk garis indah yang mengingatkan pada
hewan liar seperti harimau atau macan tutul.
Yurina selalu
berpikir bahwa tubuh pria yang terlatih jauh lebih indah daripada tubuh wanita,
dan buktinya ada tepat di depan matanya sekarang.
Dia merasakan
kekuatan luar biasa yang membuatnya ingin memuja, ingin tunduk, hingga rasanya
dia ingin jatuh tersungkur di sana. Ah, jika Ryuto memaksanya jatuh sekarang,
dia yakin akan langsung bergairah saat itu juga. Cepatlah jatuhkan aku.
"Hei, ada
apa? Kau tidak apa-apa, Yurina-san?"
Tanpa sadar dia
merasa pusing, dan dengan cepat pinggang Yurina dirangkul oleh Ryuto. Dia
hampir saja mengeluarkan suara yang tidak pantas, namun sisa logikanya berhasil
menahannya.
"T-Tidak
apa-apa. Jangan khawatir, aku tidak apa-apa."
"Tapi kau
kelihatannya sama sekali tidak sedang baik-baik saja."
Yurina menyadari
bahwa Ryuto benar-benar mengkhawatirkannya, dan dia pun merasa malu. Itu adalah
pikiran yang kotor.
Kalau
dipikir-pikir, Kazumi mempercayainya untuk mengurus adik tercintanya yang baru
saja kembali. Tapi dia justru terombang-ambing oleh perasaan egois yang tidak
berguna dan memikirkan hal-hal aneh terhadap Ryuto.
Tapi ya mau
bagaimana lagi, tentu saja dia merasa begitu. Wajar saja, kan?
—Aaahn,
Ryuto-sama. Lagi, lagi.
Mata mereka
bertemu. Jelas sekali Ryuto menatapnya dengan mata yang tampak ketakutan.
Yurina mencoba menjaga ketenangannya seperti biasa, dan sambil menahan tangis
darah dalam hatinya, dia perlahan melepaskan diri dari Ryuto. Ah, menyebalkan.
Tapi sebenarnya aku ingin dijatuhkan seperti ini saja. Aku ingin dia merobek
setelanku sampai hancur dan memperlakukanku dengan kasar. Yurina mengusir
khayalan itu dengan kemauan yang kuat. Hebat juga aku ini.
"Ryuto-sama.
Ini jus segar yang Anda inginkan. Silakan dinikmati sepuasnya."
Yurina merasa dia
sudah berhasil tersenyum dengan baik.
"Kenyang
sekali."
Setelah
menghabiskan sekitar lima liter jus jeruk, Ryuto berbaring di tempat tidur.
"Empuk
sekali. Ufu."
Kalau
dipikir-pikir, selama dua puluh tahun di dalam dungeon, Ryuto tidak
pernah berbaring di atas tempat tidur yang lembut. Yang selalu ada hanyalah
batu yang keras dan tanah yang dingin.
Dia
selalu berada dalam ketegangan ekstrem, tidak tahu kapan monster akan menyerang
jika dia lengah. Apakah
perasaan melayang di atas awan surgawi itu seperti ini?
"Ngomong-ngomong,
tadi itu lembut sekali ya."
Tadi dia
refleks merangkul Yurina yang tampak pusing setelah keluar dari kamar mandi.
Gadis bernama Haruka yang dia temui di dungeon juga lembut, namun pada
Yurina ada tambahan aroma unik yang manis.
Benar-benar
berbeda darinya. Makhluk lain yang disebut wanita. Mungkinkah suatu hari nanti dia bisa menjalin
hubungan lebih dekat dengan mereka?
"Bagaimana
ya."
Kepalanya terasa
lunak. Punggung, bahu, lengan, dan kakinya terasa lunak. Begitu lunaknya
sampai-sampai dia merasa aneh. Semakin dia sadar, rasa asing itu semakin
bertambah. Tempat tidurnya pasti barang kualitas tertinggi. Seprainya juga baru
tanpa ada kerutan, tidak ada alasan untuk mengeluh.
"Nggak bisa
tidur, nih."
Gubrak! Dia jatuh dari tempat tidur dan berguling di
lantai. Karpet yang terhampar itu memiliki bulu yang tebal dan sangat empuk,
namun Ryuto merasakan kekerasan yang mantap darinya dan merasa sangat lega.
Lambat laun
kesadarannya mulai menjauh. Seberapa besarkah dia merindukan hidup tanpa
diserang musuh, tanpa takut dingin atau kelaparan?
Tanpa disadari
Ryuto jatuh ke dalam tidur yang lelap, dan memimpikan mimpi pertama setelah dua
puluh tahun. Mimpi yang manis dan penuh kerinduan.
"Kau ini,
apa kau bodoh?"
"Oi,
sebentar, siapa yang kau panggil bodoh?"
"Kau."
"Begitu
ya. Jadi aku memang bodoh."
"Jangan
malah setuju begitu!"
Tepat
sebelum pembasmian Raja Iblis di bagian terdalam dungeon, Ryuto dimarahi
habis-habisan oleh Rinka, salah satu rekan di kelompoknya.
Di dasar
terdalam dungeon yang muncul di permukaan bumi. Jika mereka berhasil
mengalahkan Raja Iblis yang merupakan biang keladi dari serangan ke seluruh
dunia yang menelan puluhan juta korban jiwa, peperangan ini akan berakhir.
Anggota
dari kelompok yang terpilih untuk mencapai prestasi luar biasa ini, yang
disebut Kelompok Penyelamat Dunia, berpusat pada pemuda dan pemudi berusia
belasan tahun.
Daftarnya
adalah sebagai berikut—
Sakazaki
Ryuto yang menggunakan sihir sesat, usia delapan belas tahun.
Genma
Shogen sang pendekar pedang sebagai andalan serangan, usia delapan belas tahun.
Satake
Yorimitsu sang pejuang perisai yang menahan semua serangan musuh sendirian,
usia delapan belas tahun.
Sakazaki
Kazumi sang petarung serba bisa yang bebas menggunakan sihir serangan dan
pendukung, usia dua puluh empat tahun.
Dan cucu
dari sang Bijak Agung dari dunia lain, Sirius—
Rinka
Hoshioka Malmsteen, usia enam belas tahun yang ahli dalam sihir penyembuhan dan
pendukung.
Di antara
kelima orang itu, bakat Rinka, cucu dari Bijak Agung Sirius yang gugur di
tengah pertempuran, adalah yang paling unggul. Namun di sisi lain, dia sangat pemalu dan awalnya
tidak akrab dengan siapa pun.
Namun, cara Ryuto
yang unik dalam mendekati orang tanpa mempedulikan jarak, dengan mudah
menghancurkan dinding yang dimiliki Rinka.
Hasilnya, dia
membuka hatinya kepada semua anggota kelompok, perlahan-lahan mulai akrab, dan
akhirnya tumbuh menjadi rekan sejati yang terikat oleh ikatan yang kuat.
"Makanya!
Bagian itulah yang kubilang bodoh!"
"Eh,
jadi aku memang bodoh?"
"Eh,
nggak sampai segitunya sih—"
"Kalau
begitu aku jenius."
"Bukan!"
"Kenapa kau
sewot sekali sih. Jangan berpikir terlalu sulit. Raja Iblis itu sudah hampir
mati, kan? Sekarang tinggal aku saja yang pergi ke sana untuk memastikannya. Aku bilang aku akan pergi sebentar
dan urusannya beres, jadi tidak perlu khawatir."
"Justru
bagian itulah yang kubilang kau tidak berpikir panjang! Dasar bodoh, tidak
berguna, mesum, pengintip sesat, pencuri pakaian dalam, keras kepala, tidak
waras!"
"Oi,
siapa yang kau panggil pria mesum budiman!"
"Siapa
yang bilang budiman! Kau itu cuma gumpalan hasrat seksual yang sesat!"
"O-Oi, di
saat terakhir begini kau malah bilang begitu. Rinka, kau..."
"Jangan
bilang ini yang terakhir!"
"Kau... menangis—"
"Bodoh, bodoh, bodoh! Bodoh Ryuto! Bagaimana kalau Raja
Iblisnya masih segar bugar!? Padahal dia itu lawan yang bahkan dengan kita
semua pun hanya bisa kita desak sampai batas maksimal. Kenapa, kenapa kau harus
menyeberangi jembatan berbahaya itu sendirian!? Tidak boleh, pokoknya tidak
boleh! Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi!"
"Dengar dulu, mengertilah."
"Kalau cuma serangan terakhir, biarkan Shogen yang
melakukannya! Seperti biasanya! Kalau si bodoh itu mati, tidak akan ada yang
menyesal!"
"Woi."
"Dengar ya. Kakak akan menangis kalau kau
begitu..."
"Tapi, si bodoh itu melihat jemuran pakaian dalamku
dengan saksama."
"Baiklah, kita biarkan Shogen yang pergi."
"Kau ini ya!"
"Yah, bercanda saja. Luka Kakak cukup dalam. Di sini
kita tidak bisa merawatnya dengan benar, dan Yorimitsu bahkan penuh dengan
lubang luka karena melindungi kita. Lagipula, di antara kita semua yang lukanya
paling ringan adalah aku yang cuma melepaskan sihir dari belakang. Kesempatan untuk menghabisi Raja Iblis
cuma sekarang. Kau mengerti, kan?"
"Tapi..."
"Rinka. Kau
pernah bilang, kan? Bahwa kau menyukaiku yang selalu berjuang keras."
"Ryuto."
"Aku pasti
akan kembali. Percayalah padaku. Atau kepercayaanmu padaku itu cuma
pura-pura?"
"Bukan
pura-pura!"
Ryuto merasa
bahwa Raja Iblis yang jatuh ke dalam lubang jurang maut masih hidup. Bukan
hanya Rinka, rekan-rekan yang lain pun berusaha mati-matian menahan Ryuto.
Namun, tidak ada yang bisa menghentikan tekad kuat Ryuto.
Kazumi, kakak
kandung Ryuto, menolak lebih keras daripada Rinka soal Ryuto yang ingin turun
ke dasar lubang. Meski mungkin akan menjadi perpisahan selamanya, karena hal
itu sudah sangat jelas.
Rambut panjang
Rinka yang berdiri di tepi jurang maut yang bersinar merah mengerikan itu
berkibar tertiup angin sepoi-sepoi. Jubah sucinya yang tadinya tanpa setitik
noda pun saat berangkat, kini kotor menghitam oleh darah musuh.
Meski begitu,
Ryuto merasa dia sangat cantik. Ryuto perlahan merangkul Rinka yang tingginya
satu kepala lebih pendek darinya. Gadis mungil itu memeluk Ryuto dengan
kekuatan yang lebih besar dari yang dibayangkannya, dan dia tidak mau
melepaskannya.
"Tolong,
cepatlah kembali. Kalau tidak, aku tidak akan bisa menunggu selamanya,
tahu?"
"Aku tidak
mau itu terjadi."
Ryuto menjawab
dengan nada ringan. Air mata jatuh dari mata emas Rinka. Di saat itulah, Ryuto
bertekad untuk kembali ke permukaan hidup-hidup. Tidak peduli berapa tahun pun
akan berlalu. Tidak peduli meski hubungan mereka berdua berubah. Selama dia
masih hidup, mereka pasti bisa bertemu kembali.
◆◇◆
"Padahal aku
bukan tipe orang yang bermimpi."
"Dengar ya,
Ryuto. Ini makan malam kakak-adik pertama setelah sekian lama, bisakah kau
pasang wajah yang sedikit lebih ceria?"
Pagi harinya—
Ryuto yang baru bangun tidur sedang sarapan bersama kakaknya, Kazumi, di hotel
setelah dua puluh tahun. Sudah berapa lama tepatnya sejak mereka terakhir kali
duduk berdua di satu meja makan tanpa ada orang lain?
Sejak dia menjadi
petualang yang masuk ke dungeon untuk membasmi monster di usia awal SMP,
itulah terakhir kalinya dia makan berdua saja dengan Kazumi.
"Apa-apaan
ekspresi wajah itu?"
"Tidak ada
apa-apa. Wajahku memang begini dari sananya."
"Dengar ya.
Ayah dan Ibu melahirkan kita dengan sehat, jadi bersyukurlah sedikit. Lagipula,
wajahmu itu tidak buruk, jadi bersikaplah sedikit ramah."
"Iya, iya,
aku mengerti. Kakak masih saja cerewet ya."
Ryuto menggigit
telur mata sapi yang ditusuk dengan ujung garpu. Karena setengah matang, kuning telurnya yang
meleleh segera mengalir jatuh.
"Tuh kan.
Makanya lihat dulu kalau makan. Masih saja tidak becus dari dulu."
"Uugh."
Kazumi
mengembuskan napas panjang lalu menyeka mulut dan celemek Ryuto dengan sapu
tangan. Perbedaan usia mereka yang terlihat hampir dua puluh tahun membuatnya
lebih terlihat seperti ibu dan anak daripada kakak-adik.
"Benar-benar
ya, mulut besarmu itu tidak sembuh-sembuh juga. Setelah masa pemberontakan Yuto
berakhir, sampai kapan aku harus terus mengurus anak?"
"Tunggu
sebentar. Kak, siapa si Yuto itu?"
"Siapa lagi
kalau bukan anakku."
"Eeeeeeh!?"
"Berisik!
Jangan heboh begitu, kau kan sudah pria dewasa."
"T-t-t-tapi
ini pertama kalinya aku dengar? Eh, punya anak? Berarti Kakak sudah
menikah?"
"Dengar ya.
Kau pikir aku ini apa?"
"Kukira kau
tidak akan laku—eh, bohong."
"Aku menikah
dua puluh tahun yang lalu. Yuto itu anak sulungku, dan berarti dia keponakanmu.
Selamat, Tuan Paman."
"Paman? Aku
jadi Paman? Tidak mungkin! Siapa pria nekat yang mau menikahi wanita ini?"
"Aku akan
mempertemukanmu dengan pria nekat itu nanti. Cepat habiskan makananmu. Dari
dulu kau itu cuma bisa bicara saja, ah, ya ampun, lihat, supnya tumpah!"
"Kan Kakak
yang mulai pembicaraannya!?"
◆◇◆
"Yo, sudah
lama ya. Tidak kusangka kita bisa bertemu lagi seperti ini."
"..."
Setelah selesai
sarapan, Ryuto bertemu kembali dengan kawan lamanya, Genma Shogen, di ruang VIP
Hotel Teio.
Shogen, yang
tahun ini genap berusia tiga puluh delapan tahun dan sedang berada di puncak
kejayaannya sebagai pria, terlihat sangat cocok mengenakan setelan jas double
breasted yang membuatnya tampak gagah.
Rambutnya
dipotong pendek, dan pada tubuhnya yang tegap dengan lengan serta kaki yang
panjang untuk ukuran orang Jepang, setelan biru tua itu terlihat sangat
menonjol.
Melihat ekspresi
pria di depannya yang tampak sedikit tegang dan kaku, Ryuto merasakan sisa-sisa
bayangan dari masa remaja mereka dulu, lalu dia bangkit dari kursinya.
"Kau Shogen?
Kau jadi tua juga ya setelah kita tidak bertemu lama, oi."
"Cara
bicaramu itu. Kau memang benar-benar Ryuto."
"Kudengar
kau menikahi Kakak ya. Kau berani juga. Apa kau memperlakukannya dengan
baik?"
"Tentu saja.
Sampai sekarang pun kami masih bercinta setiap tiga hari sekali."
"Maaf,
aku jadi mual sendiri mendengarnya."
"Hei,
bolehkah aku marah sekarang?"
"Tolong
jangan bilang begitu setelah memukulku."
Ryuto
memegang kepalanya yang baru saja dipukul Kazumi saat pintu diketuk pelan.
"Waktunya
habis ya. Maaf, aku ada rapat dan pertemuan setelah ini. Sayang, tolong jaga
Ryuto ya. Kalian pasti punya banyak cerita yang ingin dibicarakan."
"Begitu
juga denganmu."
"Tidak
apa-apa. Mulai sekarang kita
bisa bertemu kapan saja. Kita bicara lagi nanti malam ya."
"Ya."
Ekspresi Kazumi
sedikit melunak lalu dia mencium pipi Shogen. Sekretaris Yurina yang menunggu
di pintu yang terbuka memasang wajah seolah sedang melihat sesuatu yang
mengharukan. Ryuto
merangkak di samping sofa sambil menahan rasa mual yang bergejolak.
"Ada
apa?"
"Tidak,
aku cuma sedang mengalami kejutan budaya ringan."
"Jangan
bilang begitu. Aku juga malu, tahu. Tapi kalau tidak dilakukan, dia bakal
merajuk."
"Iya,
iya, pasangan suami istri yang sangat mesra ya."
"Benar,
kan?"
Shogen
melangkah ke arah jendela sambil bermandikan sinar matahari pagi yang
berkilauan, lalu tersenyum dengan agak malu-malu.
Ryuto menatap wajah Shogen dari samping, dan sambil merasa sedikit iri dengan ketenangan pria dewasa yang tidak dimilikinya, dia berdecak pelan.



Post a Comment