Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Chapter 3
Hari Keenam
Kehidupan di pulau tak berpenghuni memasuki hari keenam.
Saat aku terbangun, cahaya samar pagi menembus masuk lewat jendela kaca.
Di sampingku tertidur ketua kelas berambut hitam, Minori.
Saat tidur, sepertinya ia melepaskan ikatan kuncirnya, sehingga rambut hitam berkilau itu terhampar di atas futon.
Seiring dengan napas Minori, dadanya yang penuh bergerak pelan, membuat jantungku berdebar.
Dari tubuhnya tercium aroma herbal yang tercampur sabun, serta sedikit bau keringat.
"Hmm……"
"Selamat pagi, Minori."
Awalnya ia mengusap mata dengan wajah masih linglung, namun tampaknya segera memahami situasinya, lalu wajahnya memerah.
"S-selamat pagi, Sousuke-san. Benar juga… k-kemarin kita tidur bersama, ya."
Melihat wajahnya memerah, aku pun teringat kejadian semalam.
Hubungan yang kulakukan dengan Minori—yang malu-malu namun tetap merespons dengan aktif—sungguh terasa menggoda dan memikat.
Kalau terus memikirkannya, situasi di bawah sana bisa jadi gawat, jadi aku buru-buru menghentikan kilas balik ingatan itu.
"Ahaha, mimpi hari ini terasa panjang sekali."
"Benar, ya."
Pertama ada tiga jam di area bonus. Setelah itu, mimpi putih yang biasa.
Pilihan dua arah di hari kelima adalah "buah / sayuran". Entah karena gula lebih diutamakan daripada keseimbangan nutrisi, hasil voting memilih "buah". Dengan itu, jenis buah yang muncul di pulau akan bertambah.
Mulai hari ini, mungkin buah-buahan umum yang biasa dijumpai di supermarket juga bisa ditemukan di pulau.
"A-anu… Sousuke-san."
"Hm?"
Dengan pandangan menunduk, Minori berbicara sambil gelisah.
"J-jika tidak keberatan… itu… kau juga melakukannya dengan gadis lain, ya… itu…"
Aku menangkap maksudnya. Sambil merasa malu, aku menindih tubuh Minori dan mengecup bibirnya.
"……Baru sadar setelah melakukannya, tapi jangan-jangan ini bukan yang kau maksud?"
"T-tidak, ini benar. Fufu… terima kasih."
Melihat wajah Minori yang tampak bahagia membuat jantungku bergetar.
"Tidak, justru aku yang berterima kasih…"
Setelah itu aku bangkit dan menurunkan pandangan ke lantai, lalu menemukan sesuatu.
Panel surya yang dipilih Minori, dan gulungan kabel yang kupilih, ada di sana.
"Wah…! Minori, sepertinya barang yang kita pilih benar-benar terbawa kembali."
Minori pun duduk dan menatap lantai.
"Walaupun aku tahu aturannya, mengalaminya langsung tetap saja terasa mengejutkan."
"Iya."
Aku mulai terbiasa dengan papan tulis misterius yang serba bisa itu, tapi pusat perbelanjaan yang terasa seperti di Jepang benar-benar di luar dugaan.
"Mau langsung kita pasang?"
"Boleh. …Ah, tapi kalau dipikir dari segi efisiensi, tempat ini mungkin kurang cocok."
"Benar juga, di bawah tebing ini jadi sering terhalang bayangan."
"Sekarang kekuatan kita sudah cukup, mungkin sudah saatnya pindah."
Awalnya kami memilih lokasi di bawah tebing ini saat aku masih berdua dengan Chiyu. Dengan kombinasi makhluk fantasi Mashiro dan Mikron, sihir Minori, serta sumber daya melimpah di dalam ‘Inventory’-ku, menghadapi satu dua penyusup bukanlah masalah. Pindah ke tempat yang lebih terang seharusnya tidak apa-apa.
"Kalau begitu, itu memang ide yang bagus."
"Kita bicarakan dengan yang lain saat sarapan."
Aku menyimpan barang-barang yang ada di lantai. Saat itu Minori seperti teringat sesuatu dan membuka mulut.
"Sousuke-san, sebaiknya kau juga mengecek kamar Shion-san."
"Kulkas, ya. Iya, mari kita lakukan."
Chiyu dan Shouko hanya membawa pengering rambut, jadi tidak masalah.
Saat aku bangkit dari tempat tidur, Minori tampak gelisah. Aku kembali menangkap maksudnya.
"Ehm… jaraknya dekat, tapi mau jalan sambil bergandengan tangan?"
"……! Y-ya. Tolong."
Saat aku mengulurkan tangan, Minori menggenggamnya dengan hati-hati. Kami keluar ke lorong dan menuju kamar Shion.
"Shion, selamat pagi."
Aku menyapa sambil mengetuk pintu, dan pintu langsung terbuka. Pada saat itu, Minori segera melepaskan tanganku.
"Selamat pagi, Sousuke-kun. Minori-san juga."
"Kulkasnya… ada. Aku simpan lalu kita bawa."
"Hehe, terima kasih. Saat bangun tidur tiba-tiba ada di depan mata, aku kaget."
Setelah menyimpan kulkas, kami kembali ke lorong, dan Chiyu serta Shouko juga keluar. Di pelukan mereka ada pengering rambut.
"Selamat pagi, kalian berdua. Ngomong-ngomong, barang-barangnya tidak dikemas, ya."
"Mm. Tapi buku petunjuknya ada."
"Biasanya orang di toko bilang ‘tidak perlu kotak’, tapi kenapa kita juga begitu?"
"Mungkin karena kardus pun bisa jadi material berharga di pulau ini, jadi tidak termasuk sebagai ‘barang’?"
Menanggapi analisis Minori itu, Shion mengangguk.
"Mungkin benar. Di pulau ini, membawa barang pun biasanya pakai tangan. Kardus bonus juga jadi item berharga."
Hal-hal sepele dalam kehidupan sehari-hari memang bisa menjadi barang berharga di pulau tak berpenghuni ini—aku sudah merasakannya sejak awal perpindahan. Pakaian dalam yang kupakai bahkan pernah berjasa besar sebagai handuk.
Terasa sangat nostalgia, meski ini baru pagi hari keenam.
"Untuk sekarang, kita sarapan dulu, ya."
Atas usul Shion, semua mengangguk dan perlahan turun ke lantai bawah bersama-sama.
"Sou-kun, hari ini ayo cari pohon karet."
Chiyu berkata dengan mata berbinar, jelas membayangkan pengambilan lateks dan pembuatan kondom.
"I-itu juga boleh, tapi bukankah kamu penasaran dengan buah-buahan baru yang ditambahkan hari ini?"
Shouko mencoba mengalihkan topik sambil wajahnya memerah.
"A-ah, iya. Tapi sebelum itu, ada hal yang ingin kulakukan dulu."
"Katanya, agar panel surya bisa menghasilkan listrik dengan efisien, dia berpikir sebaiknya kita pindah ke tempat yang lebih terkena sinar matahari."
"Pindahan, ya~ Aku rasa itu ide bagus. Tempat ini juga bagus, tapi memang agak gelap."
Setibanya di lantai satu, kami semua menuju kamar mandi.
Di sana disiapkan sebuah tong berisi air dan ember untuk menimba. Masing-masing menimba air dan membasuh wajah.
Chiyu segera menyelesaikan cuci mukanya, lalu menuju kandang ayam untuk mengambil telur dan memberi makan.
Handuk disimpan tetap di ruang ganti, dan secara berkala aku membersihkan handuk yang sudah dipakai dengan cara menyimpannya lalu menata ulang.
Setelah itu, Shion dan Chiyu—yang memeluk telur-telur—menuju dapur. Sisanya pergi ke meja makan di ruang keluarga. Dari dapur, ruang keluarga terlihat jelas, jadi percakapan pun bisa dilakukan tanpa masalah.
"Mm. Dengan anggota seperti ini, kita bisa menetap di mana saja tanpa masalah."
"Aku ingin tempat yang kelihatan laut."
"Bagaimana kalau kita menjelajahi bagian atas tebing, dan kalau ada tempat yang bagus kita pindah ke sana? Kurasa kita bisa menemukan lokasi dengan sinar matahari dan pemandangan yang bagus."
"Baik. Kalau begitu setelah sarapan kita pindahan dulu. Setelah itu, kita bagi dua tim: satu untuk eksplorasi dan satu untuk pemasangan peralatan. Makan siang kita bersama, lalu rencana sore dibicarakan saat itu."
Semua tampaknya setuju, dan keputusan pun dibuat. Setelah itu pembicaraan beralih ke area bonus kemarin, lalu ramai membahas apa yang ingin dimiliki berikutnya.
Sarapan—atas permintaan kuat Shouko—adalah pancake. Di sampingnya ada bacon kriuk ala-ala buatan Shion dan telur orak-arik buatan Chiyu. Minumannya adalah susu domba. Pancake yang dilumuri banyak mentega dan sirup maple itu sangat lezat, dan semua memakannya dengan wajah bahagia.
Jika hanya melihat pemandangan ini, tak akan ada yang menyangka mereka adalah siswa SMA yang terdampar di pulau tak berpenghuni.
"Terima kasih atas makanannya! Kenyang banget~~!"
Shouko mengusap perutnya dengan wajah bahagia. Yang lain pun tampak puas. Setelah membereskan sarapan, kami semua keluar rumah.
"Untuk sementara, aku ingin naik ke atas tebing ini."
Biasanya, kami harus berjalan mencari jalur naik atau memanjat tebing. Namun, kami punya rekan yang bisa diandalkan.
"Kalau naik Mikron, cepat kok!"
Seperti kata Shouko. Mikron menyadari aku keluar dan terbang mendekat, lalu melilitkan tubuh panjangnya.
"Baik, baik. Bisa antar kami sampai ke atas sana?"
Saat aku bertanya sambil membelainya, ia mengangguk.
"Tapi bagaimana dengan Mashiro? Dia nggak mungkin naik Mikron, kan?"
"Mm. Mashiro akan mencari jalur naiknya sendiri!"
Kalau dia menemukannya, itu juga akan jadi informasi berharga bagi kami.
"Ayam-ayamnya juga ikut."
"Ah, Chiyu. Aku bantu."
Seperti saat pertama kali menangkapnya, kami akan mengangkutnya dengan keranjang. Sekarang jumlahnya sudah sepuluh ekor, jadi aku menjauh dari Mikron dan membantu Chiyu.
Setelah itu selesai, aku menyimpan semua elemen yang membentuk markas.
"Kemampuanmu benar-benar luar biasa, Sousuke-san…"
Melihat berbagai barang menghilang begitu saja, Minori bergumam.
"Sou-kun! Mashiro mencabut pagar untuk kita!"
Sebenarnya aku berniat meninggalkan pagar karena jika ditanam di tanah, ia dianggap "menyatu dengan bumi" dan tak bisa disimpan. Namun Mashiro meletakkan pagar yang ia gigit tepat di depanku.
"Terima kasih, Mashiro. Kalau pakai tangan manusia, menggali itu susah. Ini sangat membantu."
Aku mengelus kepalanya. Lalu aku dan Chiyu memanggul keranjang berisi ayam, dan semuanya menaiki punggung Mikron.
"Semuanya, hati-hati jangan sampai jatuh."
"Kalau berpegangan pada Mikron, aman kok!"
Mikron perlahan terangkat ke udara. Saat kejadian kemarin aku tak sempat merasakannya, tapi melihat ketinggian yang terus bertambah membuatku merasakan kegembiraan seperti saat pertama kali naik pesawat.
"…Kita terbang."
"Wah… Waktu Mashiro juga bikin kaget, tapi ini juga luar biasa…"
"……………………"
"Minorin, kamu nggak apa-apa? Kamu gemetar."
Mungkin Minori takut ketinggian.
"Maaf, Mikron. Begitu sampai di atas tebing, terbanglah rendah dekat tanah."
Tak lama kemudian, puncak tebing terlihat. Namun pemandangannya tak jauh berbeda dari sebelumnya—hamparan hutan.
Tidak, ada perbedaannya.
"Apel, ditemukan."
Chiyu bergumam. Benar saja, pohon apel berbuah merah langsung menarik perhatian.
"Wah, berarti ini yang baru ditempatkan hari ini, ya?"
"Banyak banget! Apel sepuasnya!?"
Shion dan Shouko ikut bersorak.
Jelas sekali lingkungan pulau ini dikendalikan oleh papan tulis misterius itu. Dalam lima hari terakhir, kami menemukan satu aturan.
Itu adalah "pemulihan" lingkungan—atau mungkin "regenerasi".
Pada hari pertama berpindah, demi menjaga alam, aku tidak memanen semua jamur dan buah yang kutemukan, melainkan menyisakan sebagian. Namun pulau ini sepenuhnya berada dalam kendali papan tulis misterius. Kepedulian semacam itu ternyata tak diperlukan.
Contoh yang paling mudah dipahami adalah pohon yang ditebang. Aku membiarkan akarnya—tunggulnya—tetap di sana, tetapi ketika melewati jalan itu di hari lain, aku terkejut.
Tunggul itu sudah hilang, dan di sana berdiri sebuah pohon baru. Seperti dalam game, ketika objek yang dihancurkan akan beregenerasi seiring waktu.
Pulau ini pun tampaknya mengembalikan perubahan lingkungan akibat ulah manusia. Bahan yang diambil juga sama. Tentu saja, wilayah yang menjadi target perubahan lingkungan baru—seperti "buah" kali ini atau "sumber air" sebelumnya—menjadi pengecualian.
Jika tempat yang tadinya ditumbuhi jamur berubah menjadi "sumber air", maka jamur tak akan bisa diambil lagi dari sana.
Namun selain pengecualian itu, hanya dengan memanfaatkan sistem ini saja, kami bisa terhindar dari kelaparan.
Begitu mengetahui satu lokasi jamur yang bisa dimakan, tinggal memanennya setiap kali beregenerasi. Apakah seseorang yang tiba-tiba dipindahkan ke hutan bisa menyadari dan memanfaatkan sistem ini—itu cerita lain lagi…
"Prioritasnya mencari lokasi pindahan, tapi ambil sedikit saja dulu."
Mikron dengan penuh perhatian mendekatkan tubuhnya ke pepohonan, sehingga masing-masing dari kami berhasil mendapatkan satu buah apel.
Setelah sedikit mengelapnya dengan seragam, aku pun menggigitnya. Tekstur renyah terdengar kres, dan daging buah yang segar menyebar di dalam mulut.
"Enak."
"Enaaak!"
"Manis sekali. Dimakan begitu saja sudah enak, tapi dibuat selai atau pai apel juga sepertinya bagus."
"Nanti kita petik lagi, ya."
"Benar. Kalau dimasukkan ke ‘Inventory’-nya Sousuke-san, tidak akan membusuk."
Minori berkata begitu setelah kembali tenang karena Mikron sudah terbang rendah dekat tanah.
Benar. Spesifikasi pulau ini dan kemampuanku sangat cocok satu sama lain. Meskipun hasil panen bisa beregenerasi, makanan tetap tidak bisa terhindar dari pembusukan.
Namun, di dalam ‘Inventory’-ku, waktu tidak berjalan, sehingga aku bisa menyimpannya sebanyak apa pun.
Artinya, mungkin hanya aku yang bisa menimbun makanan dan bahan secara tak terbatas.
Untuk sekarang kondisi masih tenang, tapi tidak ada jaminan cuaca di pulau ini akan selalu stabil. Jika suatu saat badai salju tiba-tiba terus berlanjut, selama aku menyimpan persediaan makanan dengan kemampuanku, teman-temanku tidak akan kelaparan.
"Gawat, tambahan buah ini bikin senang. Aku suka melon. Kira-kira ada melon nggak ya?"
Sambil Mikron berenang di antara pepohonan, Shouko berkata dengan wajah penuh kekaguman pada apel.
"Aku pernah dengar kalau melon dan semangka itu sebenarnya sayuran, tapi bagaimana ya?"
"Soal itu katanya berbeda-beda tergantung negara. Secara botani, tomat dan mentimun juga termasuk buah, tapi di Jepang hampir tidak ada yang menganggapnya begitu."
"Papan tulis misterius itu kelihatannya menentukan aturan berdasarkan akal sehat kita, jadi mungkin standar Jepang? Entah itu standar rumah tangga, penjual, atau distribusi, aku juga tidak tahu."
Kadang ada juga barang yang dikirim sebagai sayuran sesuai standar nasional, tapi dipajang di bagian buah di supermarket. Sama seperti camilan yang kadang diletakkan di bagian makanan ringan—tempat penjualan sering ditentukan oleh kebijakan toko.
"Kita cari saja langsung dan buktikan."
Ucapan Chiyu masuk akal. Kami pun menjauh dari pohon apel dan tak lama kemudian—menemukan sebuah sungai.
"Sungai, ditemukan."
"Ah, sekarang jadi pengen makan ikan deh."
"Ikan juga enak, ya."
"Karena dalam pemungutan suara daging yang terpilih, mungkin ikan tidak ada di pulau ini?"
"Kalau begitu, apakah pilihan yang tidak terpilih akan muncul lagi sebagai opsi dua pilihan di lain waktu?"
Aku juga penasaran, tapi sebelum benar-benar muncul, tidak ada cara untuk mengetahuinya. Atau mungkin kami bisa bertanya langsung pada papan tulis misterius itu.
"Terlepas dari ikan, sebagai tempat mendapatkan air ini sangat berguna."
"Benar. Mikron, coba cari apakah ada area terbuka di sekitar sini."
"Kalau terpaksa, aku bisa menebang pohon dengan sihir."
"Untuk menggali akarnya, mungkin kita bisa minta bantuan Mashiro."
Usulan Minori dan Shouko masuk akal, tapi aku agak khawatir soal pemulihan lingkungan. Jika kami membangun rumah di atas tanah yang digali, lalu pohonnya beregenerasi dan menembus rumah, itu akan jadi bencana.
Kami bergerak ke arah hulu sungai, dan setelah Mikron terbang sebentar, pandangan tiba-tiba terbuka.
"…Padang rumput."
Hamparan rumput luas seperti taman alam. Anginnya sejuk, dan tidak ada apa pun yang menghalangi pandangan. Rasanya seperti tempat yang cocok untuk membuka peternakan.
"Tempat ini bagus, kan?"
"Ya. Sinar mataharinya juga bagus."
"Karena dekat sungai, kalau nanti ikan ditambahkan, kita bisa langsung memancing."
"Karena pandangannya terbuka, kita juga bisa cepat menyadari jika ada hewan atau orang mendekat."
Tampaknya semua orang memberi penilaian positif.
Kami turun dari Mikron dan mulai mencari lokasi yang cocok untuk menempatkan rumah.
"Hmm, sekitar sini sepertinya pas. Sisanya tinggal minta Mashiro meratakannya…"
Ngomong-ngomong, tanah di bawah tebing juga dulu diratakan, tapi tempat itu tidak mengalami ‘regenerasi’.
Berarti tidak semuanya selalu kembali ke kondisi semula…?
Kalau dipikir-pikir, jika kehidupan di pulau ini berlangsung lama dan kami ingin membuat ladang, regenerasi lingkungan justru akan jadi penghalang.
Kalau begitu, masuk akal jika tanah itu sendiri tidak mengalami regenerasi.
Kalau pohon selalu beregenerasi, maka membuka hutan untuk membangun desa jelas mustahil. Namun karena ada area terbuka seperti padang rumput ini, mungkin memang itulah tempat yang harus kami cari.
"Mashiro lama juga, ya?"
Mendengar ucapan Shion, wajah Shouko tampak cemas.
"Hmm. Kalau Mashiro sih, harusnya nggak apa-apa…"
Saat itu juga, dari batas antara hutan dan padang rumput, sebuah tubuh besar berwarna putih muncul perlahan.
"Shouko, Mashiro datang!"
"Aku percaya padamu, Mashiro—! …Eh, itu apa?"
"Sepertinya dia membawa sesuatu."
"Jangan-jangan itu… orang?"
Yang dibawa Mashiro di mulutnya adalah seorang siswi dengan rambut krem yang panjang dan lembut. Karena mengenakan seragam sekolah kami, jelas dia adalah teman sekelas.
"M-Mashiro bawa pulang orang!?"
Ini mengejutkan, tapi jelas kami tak mungkin menyuruhnya mengembalikan ke tempat semula. Sepertinya dia tidak sadarkan diri, jadi kami harus merawatnya. Aku menggelar tikar dan membaringkan gadis itu di atasnya.
"Chiyu, tolong."
"Dimengerti—Penyembuhan Tingkat Menengah."
Cahaya putih menyelimuti tubuh gadis itu.
"Mm… mnn…"
Dengan suara yang agak menggoda, napas gadis itu perlahan menjadi stabil.
"Warna wajahnya sudah lebih baik."
"Dia terlihat agak kurus. Mungkin belum makan. Sebaiknya kita buatkan sup?"
"Oh, aku masih punya sisa sup jamur dari sebelumnya."
Masakan Shion memang tidak selalu habis sampai dasar panci setiap kali makan.
Sup yang dibuat dalam jumlah banyak bisa disimpan di ‘Inventory’-ku saat masih hangat dan dikeluarkan kapan saja. Kami memanfaatkan itu untuk menyajikan masakan yang sama beberapa kali.
"Oh iya, benar juga."
Shion mengangguk kecil, sepertinya baru teringat.
"Anak ini Roachi, kan?"
"Houzuki Roa-san."
Shouko memanggilnya dengan julukan, sementara Minori menyebutkan nama lengkapnya.
Rambut panjang berwarna krem yang bergelombang, serta mata dengan warna yang sama—meski saat ini tertutup.
Tinggi badannya di atas rata-rata, dan di antara para perempuan di kelompok kami, dia adalah yang paling tinggi kedua setelah Shouko. Ia memiliki dada besar sampai-sampai mendorong seragamnya, dan seingatku dia adalah gadis dengan kepribadian lembut.
Di kelas, dia tergabung dalam kelompok yang berbeda dari Shouko dan Shion, sehingga tidak ada satu pun dari kami yang benar-benar dekat dengannya. Sepertinya Shouko yang jago berkomunikasi dan Minori selaku ketua kelas setidaknya mengetahui namanya.
"Anggota harem Sou-kun bertambah satu."
Ucapan Chiyu membuat para perempuan menegang—atau setidaknya, begitu rasanya.
"H-hey…"
"Setengahnya bercanda."
"Separuh lagi serius, ya?"
"Dengan sifat Sou-kun, setelah memungutnya, dia tidak mungkin bersikap dingin. Kami juga tidak enak hati kalau menelantarkannya. Tapi kalau dibiarkan begitu saja jadi anggota, suasana semua orang bisa jadi tidak nyaman."
Saat ini, keempat gadis itu semuanya memiliki hubungan denganku.
Dalam kondisi seperti itu, membuatnya menjalani kehidupan kelompok sebagai ‘tamu’ saja sudah pasti terasa canggung.
Dan bagi keempat gadis itu juga, selama Houzuki ada di sekitar, mereka tidak bisa berbuat macam-macam denganku, sehingga perlu pertimbangan khusus. Tentu saja, bagiku pun sama. Awalnya mungkin tidak masalah, tetapi suasana yang canggung lambat laun bisa berujung pada runtuhnya kelompok. Logikanya bisa kupahami.
"Kita bisa berjalan lancar karena menjadikan Sousuke-kun sebagai pusat, jadi menurutku sebaiknya itu jangan dirusak."
"I-iya. Soal harem itu kita kesampingkan dulu, tapi setidaknya dia harus memahami bahwa ini adalah party dengan Sousuke-san sebagai pemimpinnya."
"I-iyah… aku juga paham kalau kita tidak bisa sembarang menjadikan siapa pun sebagai anggota…"
Shouko adalah anak yang paling banyak berkomunikasi dengan semua orang di kelas.
Karena itu pula, dialah yang mungkin paling menderita dengan kenyataan bahwa kami harus menyeleksi siapa yang bisa menjadi rekan. Namun pada saat yang sama, Shouko juga memahaminya.
Sulitnya menyelamatkan semua orang, dan beban yang akan dipaksakan pada rekan-rekan jika hal itu dipaksakan. Tidak ada satu pun dari kami yang berkata, "Aku ingin menyelamatkan si dia juga," karena semua menyadari hal itu.
Dan jika gadis ini akan kami terima sebagai rekan, maka kami semua harus memiliki tekad.
Karena tujuan kami adalah pulang bersama-sama, setiap anggota yang bertambah berarti jumlah "hak kepulangan" yang dibutuhkan juga bertambah. Menambah anggota sama saja dengan menerima perpanjangan hidup bertahan di pulau tak berpenghuni ini.
Seberapa pun nyamannya kehidupan kami sekarang, itu bukan hal yang mudah. Untuk saat ini masih ada kelonggaran, tapi kami tidak tahu apa yang akan "ditambahkan" ke depannya.
Jika papan tulis misterius ingin memberi kami rangsangan baru, bisa saja monster ditempatkan atau event yang keras diadakan. Dalam banyak arti, pemilihan rekan harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Meski begitu—
"Untuk sementara, kita tidak bisa begitu saja membiarkannya. Sampai kondisinya stabil, biarkan dia tinggal bersama kita."
"Lagipula, dari ceritanya kita mungkin bisa mendapatkan informasi baru."
"Apakah itu bohong atau tidak, aku yang akan menilainya."
"Ya. Sampai kita tahu apakah dia bisa dipercaya, sebaiknya kemampuan kita juga disembunyikan."
"Kemampuan craft-ku dan kemampuan pemanggilan Shouko sulit disembunyikan, tapi penjelasannya kita buat seminimal mungkin."
Misalnya, aku cukup menjelaskan bahwa aku punya kemampuan membuat barang. Shouko cukup mengatakan bahwa dia bisa memanggil makhluk ilusi. Mengetahui garis besar dan mengetahui detailnya adalah perbedaan yang sangat besar, jadi untuk sementara itu sudah cukup.
Aku juga penasaran apa yang dipilih Houzuki untuk dibawa ke pulau ini. Untuk sementara, aku menyerahkan urusan Houzuki pada para gadis, sementara aku meminta Mashiro meratakan tanah.
Mikron, seolah berkata "Aku juga bisa!", menurunkan tubuh panjangnya ke tanah dan mulai berguling-guling seperti anak kecil. Dengan berat badannya, meratakan tanah memang bukan masalah.
Makhluk ilusi kami benar-benar rajin dan sangat membantu. Meski begitu, Mikron sepertinya nanti perlu dimandikan.
Dengan kerja sama dua makhluk itu, tanah pun menjadi rata, lalu aku menempatkan markas.
Kamar mandi, kandang Fenrir, kandang ayam, tembok batu, serta fasilitas di sekitarnya juga ditempatkan, meski area tembok batu mungkin nanti bisa diperluas. Sebagai catatan, kulkas sudah kutempatkan di dapur.
"Minori, maaf, bisa minta bantuanmu memasang panel surya?"
"Tentu saja."
Karena itu adalah barang yang dia pilih, mungkin memang lebih baik dia yang menangani daripada aku sembarangan menyentuhnya.
Aku hanya berperan sebagai penempat, dan pekerjaan detailnya kuserahkan pada Minori.
"Sepertinya sudah cukup."
Perangkat yang terhubung ke panel surya memiliki monitor kecil yang menampilkan seberapa banyak daya yang tersimpan.
"Menghubungkannya ke kulkas mungkin setelah dayanya terisi cukup?"
"Untuk berjaga-jaga, begitu saja."
Kami berdiri, lalu memutuskan untuk membiarkan panel surya itu bekerja sementara.
"Sou-kun."
Saat Chiyu memanggil, aku menoleh dan rupanya Houzuki sudah sadar. Aku menempatkan nampan, sup jamur, dan segelas air agar tidak terlihat olehnya, lalu membawanya.
"…Di-dimana ini?"
Houzuki yang terbangun dan bangkit sedikit tampak mengedipkan mata kebingungan.
"Yo, Roachi."
"Sh-Shouko-san? Lalu Iyama-san, Yomiumi-san, Shijou-san, dan… Kuno-san?"
Selain Shouko yang sedikit berinteraksi dengannya, sepertinya dia memanggil yang lain dengan nama keluarga.
"Kami menemukanmu pingsan. Untuk sementara, minumlah air dan sup ini."
Mashiro dan Mikron saat ini berada di kandang Fenrir. Kalaupun akan memperkenalkan mereka, itu setelah dia memahami situasinya.
"Ya ampun, terima kasih banyak."
Houzuki menundukkan kepala kecil, lalu menerima nampan itu.
"Baki, gelas, sendok… bagaimana semua ini bisa ada di pulau ini… Ah, tidak, sebelum itu—aku terima."
Dia merapatkan tangan di depan dada, meneguk air perlahan, lalu dengan lembut menyesap sup. Gerak-geriknya sangat sopan, terasa jelas bahwa dia dibesarkan dengan baik.
Setelah minum sup, dia menghela napas lega.
"Rasanya menenangkan. Terima kasih, berkat ini aku jadi agak ten—eh!?"
Saat mengangkat pandangan dan melihat rumah kami, mata Houzuki membelalak.
"Ahaha, kaget ya? Aku ngerti, aku ngerti."
Shouko mengangguk setuju.
"Yang menciptakan semua ini adalah raja kita, Kuno Sousuke."
Chiyu, berhentilah melontarkan lelucon yang susah dipahami ke orang yang belum akrab. Lihat, Houzuki jadi kebingungan.
"R-raja…? Ngomong-ngomong, di mimpi itu yang mengatakan ‘kemampuan craft’ sepertinya Kuno-san…? Jadi, rumah sebagus ini dibuat oleh Kuno-san?"
Sepertinya Houzuki mengingatnya. Mungkin lebih banyak orang yang mendengar ucapanku saat itu daripada yang kukira.
"Houzuki-san memilih apa?"
Shion dengan halus melanjutkan pertanyaan dari pembahasan kemampuanku.
"Aku benar-benar tidak menyangka akan dilempar ke pulau tak berpenghuni. Tapi setelah mendengar jawaban ‘kemampuan’ dari Kuno-san, aku pun membayangkan kemampuan yang aku inginkan."
Berarti Houzuki juga pemilik kemampuan yang berharga.
"Bolehkah aku bertanya, kemampuan apa itu?"
"Kemampuan untuk mengetahui apa yang diinginkan orang lain."
Menanggapi pertanyaan Minori, Houzuki menjawab dengan jujur, namun setelah mendengarnya kami justru saling memiringkan kepala.
A-apa sebenarnya makna dari kemampuan itu? Tidak, jika bisa mengetahui apa yang diinginkan orang lain, tentu negosiasi akan jadi lebih mudah dan tingkat kesukaan pun bisa dinaikkan.
Shion pun pada awalnya memilih "kemampuan mengetahui kebohongan" dengan asumsi bahwa teman-teman sekelas akan berpindah bersama, jadi mungkin Houzuki juga tipe yang sama?
"Jadi, kamu memilih itu demi memperlancar kehidupan berkelompok?"
Shion bertanya memastikan, tetapi Houzuki menggelengkan kepala.
"Tidak. Aku sangat menyukai merawat dan melayani orang lain. Terutama saat melihat wajah bahagia mereka, aku merasa ikut bahagia. Jadi, jika aku tahu apa yang diinginkan orang lain, aku pikir aku bisa menjadi lebih bahagia lagi."
Jawaban itu di luar dugaan. Bisa dibilang tipe "suka mengabdi", versi yang lebih ekstrem?
Saat kulihat ke arah Shion, ia mengangguk meski wajahnya masih bingung. Artinya, ini memang perasaan Houzuki yang sesungguhnya.
"Ah! Aku ingat! Roachi, kamu kan kerja paruh waktu di kafe maid, ya?"
"Wah, ternyata Shouko-san sudah aku ceritakan ya? Ya, benar sekali. Tentu saja itu bukan tempat yang aneh-aneh, lho. Itu adalah kafe untuk para pria dan wanita terhormat yang memahami konsep maid dan tuan."
Kafe maid, ya. Aku tidak terlalu paham, tapi pernah dengar kalau pengunjung perempuannya juga cukup banyak. Tak kusangka ada teman sekelas yang bekerja di sana.
"Houzuki, selama ini kamu sendirian?"
"Iya. Aku menggigit buah-buahan yang aku kenali, lalu secara kebetulan menemukan sumber air yang ditambahkan di hari kedua dan menjadikannya sebagai markas. Namun… kemudian sumber air itu mulai didatangi beruang, aku ketakutan dan berpindah tempat, lalu tersesat di dalam hutan… Saat event pun aku hampir tidak bisa bergerak, sampai akhirnya pingsan. Ketika sadar, wajah kalian semua sudah ada di depan mataku—itulah kronologinya."
Shion mengangguk, jadi bisa dipastikan dia tidak berbohong.
Begitu ya, ternyata ada juga orang yang bahkan saat event tidak bisa bergerak dengan baik.
Dan juga, sesuatu yang baru ditambahkan belum tentu langsung menjadi penyelamat. Bagi siswi biasa, bertemu binatang buas tentu hanya akan menjadi ketakutan.
Jika saja dia bisa bertahan sampai hari ini, mungkin dia bisa memakan buah-buahan yang baru ditambahkan. Namun kalau begitu, mungkin kami tidak akan pernah bertemu. Entah mana yang lebih baik bagi dirinya.
—Namun, tetap saja, "kemampuan mengetahui apa yang diinginkan orang lain", ya.
Sejujurnya, aku sendiri ingin memanfaatkan kekuatannya untuk mengetahui apa yang diinginkan para anggota.
Mereka memang menyampaikan permintaan seperlunya, tapi aku tahu mereka juga sungkan padaku. Aku menghargai perhatian itu, tapi aku sendiri suka membuat sesuatu, jadi ingin melakukan sebanyak yang aku bisa.
"Baik. Kita uji saja. Apa yang aku inginkan?"
Chiyu melangkah maju. Saat Houzuki melihat sahabat masa kecilku itu, wajahnya langsung memerah. Lalu dengan wajah menunduk, dia menjawab pelan-pelan.
"U-um… kalau tidak salah, Iyama-san ingin… kon… e-eh, ‘alat kontrasepsi’…"
"Tepat."
Chiyu… mentalmu terlalu kuat. Namun tampaknya kemampuan Houzuki memang asli. Akurasinya juga cukup tinggi.
Suasana agak canggung, dan Houzuki kembali melanjutkan makannya. Setelah menghabiskan sup, ia berdiri perlahan dan membungkuk dalam-dalam pada kami.
"Terima kasih banyak telah menolongku. Dan aku tahu ini permintaan yang tidak sopan, tetapi jika kalian berkenan… bolehkah aku—dipekerjakan sebagai pelayan, sebagai maid?"
Gadis cantik yang lembut dan sopan itu tiba-tiba ingin bekerja sebagai maid.
"Dipekerjakan sebagai maid, maksudnya…"
Perkembangannya benar-benar di luar dugaan.
"Hmm. Panggil aku ‘ojou-sama’."
Makanya, Chiyu, berhentilah dengan lelucon yang susah dipahami itu.
"Baik, Chiyu Ojou-sama."
Dan kenapa Houzuki malah menanggapi dengan penuh semangat?
"E-eh, Houzuki-san? Kenapa harus maid?"
Shion bertanya dengan wajah bingung. Dari ekspresinya, tampaknya ia tahu bahwa keinginan Houzuki untuk bekerja sebagai maid bukanlah kebohongan. Justru karena bukan bohong, itulah yang membuatnya bingung. Memang, Houzuki pernah bekerja di kafe maid, tapi itu tidak otomatis berarti dia harus menjadi maid di sini.
"Melihat kalian, jelas bahwa kalian sudah memiliki ikatan. Pasti ada yang khawatir jika orang asing seperti aku masuk begitu saja. Namun, kalian telah menolongku. Untuk membalas budi itu, aku pikir setidaknya aku bisa bekerja sebagai maid terlebih dahulu…!"
Houzuki berbicara dengan penuh semangat. Ia juga sadar betul akan sulitnya bergabung dengan kelompok yang sudah terbentuk.
Karena itu, ia ingin menarik garis yang jelas dengan menempatkan dirinya sebagai pihak yang melayani terlebih dahulu.
Apalagi, dengan dalih membalas budi, jika kami merasa budi itu sudah terbalas, kami bisa membebaskannya—atau dalam kata lain, berpisah dengannya.
Ini bukan sekadar soal pengalaman kerja paruh waktu, melainkan usulan yang dipikirkan dengan tenang. Dalam situasi seperti ini, alih-alih memohon belas kasihan, ia justru menawarkan dirinya sebagai tenaga kerja—keberanian dan kecerdasannya itu, sejujurnya, membuatku simpati.
"L-lagipula, terus terang saja… sejak berpindah ke sini, aku tidak punya siapa pun untuk dilayani, jadi banyak yang terpendam… aku benar-benar ingin berguna bagi seseorang."
Houzuki memandang kami dengan tatapan penuh semangat.
—Kejujuran yang langsung ini juga hal yang baik.
Lalu, pandangan para gadis tertuju padaku. Mereka ingin mendengar pendapatku sebagai pemimpin.
"Sejujurnya, kami juga kesulitan jika harus langsung menjadikanmu rekan. Tapi mengusir orang yang sudah terlibat dengan kita juga terasa tidak enak. Usulan Houzuki menurutku pas sebagai jalan tengah."
Mendengar itu, wajah para gadis tampak lega. Mereka juga pasti tidak ingin mengusir teman sekelas jika memungkinkan.
Selain itu, dengan kemampuan Shion, kami sudah memastikan bahwa Houzuki hanya mengatakan kebenaran. Setelah melihat teman-teman sekelas yang dengan tenang berbohong saat event, keberadaan orang seperti Houzuki terasa sangat berharga.
"Kalau begitu, diterima dong? Senang bertemu denganmu, Roachi!"
"Hehe, memang sebagai maid, tapi kita kan teman sekelas, jadi perlakukan saja seperti biasa."
"Benar. Jangan memaksakan diri."
"Aku minta dipanggil ‘ojou-sama’."
"Baik. Shouko-sama, Shion-sama, Minori-sama, dan Chiyu Ojou-sama."
Dengan tangan disatukan di depan pinggang, Houzuki membungkuk dengan anggun. Lalu ia menatapku dan tersenyum.
"Mulai sekarang, aku akan mengabdi pada Anda—Tuan."
Saat gadis cantik mengatakan itu, jantungku berdegup.
"Y-ya, senang bertemu denganmu."
"Baiklah! Kalau begitu, Roachi, aku kenalkan juga makhluk-makhluk berbulu kami!"
"Makhluk berbulu… ya?"
"Kemarilah! Mashiro! Mikron!"
Dua makhluk itu keluar dari kandang Fenrir.
"Wah…! A-apa ini sebenarnya…?"
"Mereka adalah rekan yang kupanggil. Fenrir bernama Mashiro, dan naga bernama Mikron."
"Dan yang menemukan Houzuki lalu membawanya ke sini itu Mashiro, lho."
"……! Begitu rupanya, penyelamat nyawa aku. Atau lebih tepatnya, Fenrir penyelamat nyawa. Terima kasih banyak, Mashiro-sama. Senang bertemu dengan Anda, Mikron-sama."
Awalnya Houzuki tampak terkejut, namun ia segera merapikan sikapnya. Karena dirinya sendiri telah memperoleh sebuah kemampuan, mungkin ia sudah memiliki kesiapan mental untuk menerima kemampuan orang lain.
"Selain itu, kami juga punya sepuluh ekor ayam."
Benar juga, ayam-ayam itu masih dibiarkan di dalam keranjang. Kalau dibiarkan begitu saja tentu kasihan, jadi aku dan Chiyu segera memindahkan mereka ke kandang ayam. Melihat itu, Houzuki mengangguk.
"Itu pasti ‘telur ayam’ yang ditambahkan pada hari ketiga, ya. aku juga pernah menemukannya, tapi rasanya menakutkan untuk dimakan mentah…"
"Ah, mulai sekarang kita bisa memakannya setiap hari."
"Karena orangnya bertambah, jumlah ayam juga akan ditambah."
Karena sudah ditempatkan di pulau tak berpenghuni ini, kalau dicari pasti akan ditemukan.
"Kalau soal merawat ternak, serahkan saja padaku. Aku yang akan menanganinya."
"Oke. Aku juga akan melakukannya, tapi bantu aku."
"Baik, aku mengerti."
"Selanjutnya, bagaimana kalau kita mengajak berkeliling rumah?"
Sambil mengangguk pada usulan Shion, aku menambahkan,
"Ya. Tapi, seperti rencana semula, kita tetap bertindak dalam dua tim. Tim eksplorasi dan tim penjaga rumah."
Tim eksplorasi akan mencari buah-buahan dan… pohon karet.
Kalau masih ada waktu, kami akan mencari benda-benda yang kelihatannya berguna dan mengubahnya satu per satu menjadi item. Selain itu, menangkap ayam yang tadi disebut juga masuk rencana.
"Oh iya, benar. Kalau eksplorasi, sepertinya aku tidak terlalu berguna, jadi aku di tim penjaga rumah saja."
"Aku juga tinggal. Ada hal-hal yang harus kuajarkan pada maid."
Semoga saja dia tidak menanamkan hal-hal aneh.
"Kalau aku dan Mashiro sudah pasti, Minorin bagaimana?"
"Bolehkah aku ikut tim eksplorasi?"
Mungkin karena sungkan pada Houzuki, Minori tidak mengatakannya secara langsung, tapi sihirnya akan sangat berguna untuk menebang pohon dan semacamnya. Dengan begitu, jumlahnya menjadi tiga lawan tiga.
Mikron, yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan kami, mulai berguling-guling di tanah dengan ekspresi tidak puas. Mungkin karena ia tahu bahwa untuk eksplorasi Mashiro yang unggul dalam penciuman akan dipilih, sementara dirinya ditinggal sebagai penjaga rumah.
"Sore nanti, ajak aku naik ya, Mikron."
Begitu aku berkata, Mikron langsung melayang pelan ke udara.
"Wah… Tuan benar-benar dicintai bahkan oleh seekor naga."
Houzuki berseru dengan nada kagum.
"Makhluk yang dipanggil Shouko semuanya anak baik. Ngomong-ngomong, Houzuki—"
"Tolong, panggil saja aku Roa."
"O-oh, begitu. Baiklah, Roa. Sebelum berkeliling rumah, sebaiknya kamu mandi dulu."
Seragamnya sudah kotor, dan meskipun mungkin ia sempat mandi seadanya, tentu tubuhnya ingin dibersihkan dengan layak.
"……Maafkan penampilanku yang tidak sedap dipandang."
"Tidak, Roa pasti juga ingin merasa segar. Itu saja."
Ngomong-ngomong, soal pakaian ganti bagaimana ya.
"Oh iya. Roa, seragam maid yang biasa kamu pakai di tempat kerjamu itu seperti apa?"
"Kamu tertarik dengan pakaian maid!?"
Mata Roa berbinar dengan senang.
"Bukan begitu, maksudku… pakaian maid kan macam-macam, ya? Ada yang buat cosplay, yang fokus ke penampilan mencolok seperti karakter anime, atau yang benar-benar serius."
"Benar. Yang aku kenakan adalah tipe gaun panjang, dengan bagian terbuka yang minim."
"Hmm, begitu."
Aku membayangkannya di kepala. Saat ini bahan yang kami punya hanya kain rami dan wol, tapi kalau hanya membentuk modelnya, seharusnya masih bisa.
Kainnya diwarnai hitam dengan tinta untuk membuat gaun panjang hitam. Lalu celemek putih. Setelah itu… hiasan kepala yang disebut white brim. Bando bisa dibuat dari kayu, lalu dilapisi kain rapat-rapat. Jangan lupa hiasan renda.
"Baik."
Aku memunculkan pakaian maid di tanganku, lalu menyerahkannya pada Roa.
"I-ini adalah…!"
"Kalau mau, pakailah. Kalau tidak cocok, aku bisa menyiapkan pakaian lain."
"B-bolehkah aku menerimanya?"
"Ya."
Dengan ragu-ragu, Roa menerima pakaian maid itu.
"I-ini juga dibuat dengan ‘kemampuan crafting’?"
"Ya. Kalau bahan sudah terkumpul lebih banyak, mungkin aku juga bisa membuat kaus kaki atau sepatu yang cocok. Untuk sekarang, nanti saja."
Aku mengatakannya dengan santai, namun tiba-tiba Roa mulai meneteskan air mata.
"A-ada apa…? Tidak suka?"
"T-tidak… Hanya saja, aku tidak menyangka akan ada hari di mana aku bisa mengenakan pakaian maid lagi…"
Menghabiskan lima hari sendirian di pulau tak berpenghuni, rasa rindu pada Bumi dan keputusasaan karena tak bisa pulang pasti wajar.
Bagi Roa, pakaian maid adalah pengingat akan hari-hari menyenangkan bekerja paruh waktu di Bumi. Roa memeluk erat pakaian maid itu ke dadanya.
"Akan aku hargai sepenuh hati. Dan dengan mengenakan pakaian ini, aku akan melayani dengan segenap ketulusan aku…!"
"Y-ya. Aku mengandalkanmu."
Baiklah. Aku sedikit menjauh dan, dari balik dinding batu, menyiapkan air panas di bak mandi.
Setelah semuanya siap, kami hendak berangkat dengan menunggang Mashiro, tetapi—
Aku menyadari tatapan tajam dari para gadis. Baru kusadari, secara tidak langsung aku baru saja memberi pakaian khusus hanya pada anggota baru, Roa.
"A-ah. Tentu saja, Chiyu, Shouko, Shion, dan Shijou juga, kalau kalian menginginkan pakaian apa pun, bilang saja tanpa sungkan. Saat ini bahannya hanya kain rami dan wol, tapi sebisa mungkin akan kupenuhi."
Begitu tekanan dari keempat orang itu menghilang, aku menghela napas lega. Padahal, kalau dipikir-pikir, aku juga pernah memberi Shouko semacam pakaian renang… ah, sudahlah.
"Kalau begitu, pertama-tama mandi dulu ya, Roa-chan. Pemandian kami hebat, lho. Berkat Sousuke-kun, ada sampo dan sabun juga."
"Wah, memang pantas untuk Tuan."
"Dari ‘sasuga Sousuke’ akhirnya jadi ‘sasuga goshujin’."
Mendengar komentar Chiyu, aku tersenyum kecut. Situasinya memang cukup unik, tapi dengan bergabungnya Roa yang ingin menjadi maid, nuansa ‘dunia lain’ memang terasa makin kuat.
"Baik, ayo berangkat, Sousuke, Minorin."
Urutannya, Shouko, aku, lalu Minori, naik ke punggung Mashiro.
"Selamat jalan."
Setelah mengantar kami dengan pandangan, Roa tampaknya akan menuju pemandian.
"Ya, kami berangkat."
Banyak hal terjadi, tapi hari ini pun tetap hari eksplorasi.
◇
Pencarian pohon karet memakan waktu cukup lama.
Penciuman Mashiro memang tajam, tetapi apa yang ingin kami sampaikan ternyata sulit dipahaminya.
Aroma manis atau bau binatang masih bisa dimengerti, tapi kalau dibilang bau lateks, wajar saja kalau ia kebingungan.
Meski begitu, kami tetap memintanya mencari dengan petunjuk samar seperti "bau getah yang berbeda dari pohon lain, bukan seperti maple gula"… namun hasilnya—
Yang pertama ditemukan adalah pohon sapodilla. Dari pohon ini memang bisa diambil lateks, tapi jenisnya berbeda. Lateks dari sapodilla disebut chicle, dan digunakan sebagai bahan utama permen karet.
Waktu masih di Jepang, aku cukup sering mengunyah permen karet, jadi ini adalah temuan tak terduga. Pemanis dan perisa sepertinya bisa diakali dari bahan yang sudah kami dapatkan sejauh ini, dan kalau kurang, tinggal mengambil lagi.
Namun, itu soal lain. Tujuan utama kami tetap pohon karet. Pada akhirnya, penemuan ini bukan berkat penciuman Mashiro, melainkan berkat pengetahuan Minori.
Kemarin, saat mengunjungi area bonus, Minori sempat mampir ke toko buku sepulang dari toko elektronik dan melihat ensiklopedia tentang pohon karet, lalu mengingat bentuknya.
Daya ingatnya memang luar biasa, tapi fakta bahwa ia sampai melakukan riset seperti itu—bolehkah aku menganggap bahwa Minori juga sedikit berharap?
Saat sebelumnya ia membantuku melepaskan hasratku, ia memang sempat mengatakan hal serupa, tapi…Jantungku berdebar, namun sekarang saatnya bekerja.
"Ah! Kalau begitu aku dan Mashiro bakal ambil buah-buahan! Sousuke-san, pinjamkan keranjang dong~"
"Ah, baik. Kutitipkan padamu."
Keranjang tipe yang bisa dipasangkan pada tubuh Mashiro—yang pernah kupinjamkan sebelumnya. Dengan ini, meski aku tidak ikut, mereka bisa mengumpulkan banyak hasil sekaligus.
"Kutitipkan padamu ya, Shouko-san. Oh, karena buah, hati-hati jangan sampai hancur."
"Siap!"
Shouko memberi hormat ala tentara, lalu pergi bersama Mashiro.
"Shouko-san kadang bilang ‘ryo’, itu maksudnya apa ya?"
"Itu singkatan dari ‘ryoukai’—‘mengerti’."
"Oh begitu. Kalau ‘mochi-mochi no mochi’?"
"Itu bukan singkatan sih, tapi maksudnya ‘tentu saja’."
"Kalau ‘manpuku pukupuku pukupuku’, itu berarti kenyang, kan?"
"Sepertinya begitu."
"Hm… kalau melihat awal kata dan konteksnya, sepertinya aku masih bisa mengikutinya ke depannya."
"Kamu serius sekali ya… Baiklah, ayo kita juga mulai bekerja."
"Baik—Bilah Angin!"
Saat Minori mengarahkan tongkatnya, bilah angin muncul di ujungnya dan melesat ke arah target.
Beberapa detik kemudian, sebuah garis muncul di batang pohon, lalu pohon itu roboh mengikuti garis tersebut.
"Sihirmu memang hebat, Minori. Teruskan seperti ini."
Ketika aku memujinya dengan jujur, wajah Minori tampak berseri.
"I-iya…! Serahkan padaku!"
Karena kami tahu lingkungan alam akan beregenerasi, kami tak perlu sungkan. Minori menebang pohon-pohon dengan sihir anginnya, lalu aku mengubahnya menjadi item.
Sekalian, pohon dan tanaman di sekitarnya juga ditebang dan dimasukkan ke penyimpanan dalam jumlah besar.
Sementara Minori sibuk menebas sekeliling, aku mengecek inventory. Ternyata, seperti game sungguhan, ada fitur sortir—misalnya menampilkan berdasarkan "terbaru".
"Oh…! Dapat—‘getah susu pohon karet’!"
Saat kulihat daftar resep—terbuka!
Ada tulisan "kondom".
Jantungku langsung berdegup kencang. Sensasinya seperti pertama kali memegang majalah dewasa.
"B-begitu… Itu berarti Chiyu-san juga akan senang, ya."
Ketika kulihat ke arahnya, Minori menunduk dengan wajah merah menyala.
"M-maaf. Ini bukan topik yang pantas diucapkan dengan bersemangat."
"T-tidak… Aku juga, merasa senang… karena bisa menemukannya."
Meski jantungku masih berdebar, aku memberanikan diri bertanya.
"B-berarti… Minori juga tidak keberatan, ya?"
"……!"
Sambil menggenggam erat ujung roknya, Minori mengangguk pelan. Bahkan sampai telinganya memerah—jelas ia mengumpulkan keberanian besar untuk itu.
"B-begitu. Terima kasih… aku benar-benar senang."
"B-benarkah?"
"T-tentu saja. Bahkan, sejujurnya aku ingin memintanya sekarang juga. Hanya saja…"
Aku sudah berjanji akan melakukannya pertama kali dengan Chiyu.
"Tidak apa-apa, aku juga sudah mendengarnya…"
"Hah, begitu?"
"Iya. Mungkin Sousuke-san juga menyadarinya, tapi bukan cuma kali ini—setelah Chiyu-san menyelesaikan ‘pengalaman pertamanya’, barulah gadis-gadis lain boleh melakukan hal itu."
"Pengalaman pertama… Oh, kalau dipikir-pikir, memang begitu…"
Ciuman, sentuhan tangan, payudara, bahkan dengan mulut—semuanya memang Chiyu yang pertama.
"Eh? Tapi bagaimana dengan sumata (menjepit di antara paha)?"
"A-ah, itu… karena termasuk tindakan ‘menjepit’ dengan bagian tubuh, jadi dianggap boleh."
Seolah mengingat kembali diskusi para gadis, Minori berkata sambil memandang jauh.
"M-mengerti."
Bahkan dalam hal yang dilakukan dengan payudara pun, tiap gadis punya caranya sendiri—jadi sumata mungkin dianggap sebagai variasi dari tindakan ‘menjepit’ yang masih diperbolehkan.
"J-jadi… setelah Chiyu-san, kalau kamu mengajakku… aku akan, s-sangat senang."
"A-ah, baik."
Percakapan terhenti, dan suasana canggung mengalir.
"……Tapi. Kalau bukan tindakan seperti itu, maka… sekarang pun…"
Dengan suara pelan yang nyaris tak terdengar, kata-kata Minori meluncur—dan aku tidak melewatkannya.
"B-begitu. Kalau begitu, sambil menunggu Shouko dan Mashiro kembali… bolehkah aku memintanya?"
"I-iya…! Kita juga sudah cukup banyak mengambil hasil, dan daripada bergerak sembarangan, lebih baik menunggu, kan. Sementara itu, kurasa… sedikit bersentuhan masih diperbolehkan."
Karena banyak pohon sudah ditebang, area ini hampir seperti lapangan terbuka. Namun tetap saja ini hutan—cukup berjalan sedikit, kami sudah akan bertemu pohon lagi.
Aku menggandeng tangan Minori dan membawanya ke sebuah pohon di dekat kami. Kami berpelukan berhadapan langsung di sana, lalu saling berciuman dengan Minori.
Dari ciuman ringan seperti burung mematuk, perlahan-lahan berubah menjadi ciuman yang saling menyilangkan bibir.
Semalam giliran Minori yang bertugas, jadi kami melakukan berbagai hal saat itu, dan sepertinya Minori sudah mempelajarinya dalam satu malam. Dia telah menguasai teknik menggerakkan lidahnya dengan sensual, seolah-olah menjerat lidahku.
Terangsang oleh ciuman yang penuh gairah dengan Minori yang serius ini, aku memohon saat bibir kami terpisah.
"Boleh lagi dari belakang?"
Minori mengangguk sambil menjauh dariku, lalu meletakkan tangannya di pohon, dan mengarahkan pantat besarnya ke arahku.
Hanya dengan itu, tonjolan di selangkanganku menjadi dua kali lipat.
"Ehe, te, tentu saja... mau."
"Haha... sudah lancar menggunakannya ya."
"... Jika Sousuke-san suka melakukannya dari belakang denganku, aku senang."
Ponytail yang bergoyang, leher yang terlihat, rok panjang yang melambangkan keteguhannya, dan rasa superioritas karena gadis yang sangat serius seperti ini menerimaku dan menjulurkan pantatnya — semuanya menjadi bumbu yang membangkitkan gairah.
"Meski sudah melakukannya tadi malam, kalau berdua saja dengan Minori, aku jadi ingin lagi..."
"Be, begitu... Ka, kalau begitu, seperti ini...?"
Berkata begitu, Minori dengan kikuk menggoyangkan pantatnya ke kiri dan kanan. Roknya pun ikut bergoyang-goyang mengikuti gerakannya.
"... Termasuk fakta bahwa Minori melakukan hal seperti ini untukku, itu membuatku sangat terangsang."
Aku mengangkat rok panjangnya dan meletakkannya di punggungnya.
Celana dalam polos berwarna abu-abu pun terbuka. Dan, meski belum melakukan apa-apa, aku menyadari bahwa celana dalamnya sudah terdapat noda basah.
"Minori, celana dalammu basah, tahu."
"Ghh. Ja, jangan diungkit. Ini karena Sousuke-san..."
Suaranya terdengar serak karena rasa malu. Mungkinkah ini terjadi hanya karena antisipasi dan ciuman saja? Ketua kelas ini, terlalu imut.
Aku akhirnya mencapai batas kesabaranku, dengan cepat menurunkan celanaku, lalu menusukkan kontolku ke antara pahanya.
"Ah...! kontol Sousuke-san, masuk...!"
Bagian dalam paha yang montok dan halus itu hari ini juga terasa hangat, dan pinggangku yang sudah mulai bergerak tak bisa berhenti. Suaranya semakin lama semakin kental, mulai menciptakan suara mesum: pan-pan, pichu-pichu.
"Ah, ah, ah, nnh... fuu, fuu. Sousuke-san... gayanya kuat sekali...! Aku senang kau terangsang... Ann, kua, kuat... kontolmu kuat...!"
Bercampur dengan desau angin dan gemerisik daun, suara cairan mesum yang bergema di hutan dan suara manja Minori meningkatkan gairahku setiap detiknya.
"Minori, Minori...!"
Tanpa kusadari, aku memanggil namanya karena rasa akung yang meluap.
"Iya! Sousuke-san... Sousuke-san...! Aku, bagaimana? Ny, nyaman?"
"Aah...!"
"Syukurlah... Aku, aku juga... kontol Sousuke-san...! Nyaman...! Enak!"
Mendengar hal itu, aku kembali memahami betapa kuatnya makna kata-kata.
Selain kenikmatan dari perbuatan itu sendiri, mengetahui bahwa pihak perempuan juga merasakan kenikmatan berubah menjadi kebahagiaan dan kepercayaan diri, lalu memunculkan sesuatu seperti rasa terpenuhi dari dalam diri.
"Ah, ah… suka, suka, suka… aku suka, Sousuke-san…!"
Minori sering mengatakan ini di tengah-tengah perbuatan.
Setiap kali mendengarnya, jantungku berdebar; kata-kata ajaib yang tak pernah membosankan meski didengar berkali-kali.
Aku terus menggerakkan pinggang seperti kera untuk sementara waktu, sampai akhirnya batas itu tiba.
"Minori, sebentar lagi aku keluar…!"
"Eh… iya… iya… keluarkan…! Di tempat yang disukai Sousuke-san, banyak-banyak…!"
Sesaat sebelum crot, aku menarik kontolku dari pahanya dan menyemburkannya dengan kuat ke bokongnya yang besar.
"Ah… kena semua. Nnh… hari ini juga luar biasa."
Setiap kali, para gadis tidak pernah lupa melontarkan seruan tepat saat aku crot, demi menyenangkanku.
Pengabdian itu kembali memicu rasa puas dan gairah.
Sambil menikmati kenikmatan saat crot dan menurunkan pandangan, bokong Minori yang ternodai sperma memenuhi penglihatanku. Kulitnya yang halus menjadi lengket oleh cairan putih itu.
Perasaan penaklukan—bahwa akulah yang melakukannya—membuat tubuhku bergetar.
"Minori… bolehkah aku melihatnya sebentar?"
"…Hehe. Tentu saja. Silahkan nikmati sepuasnya pemandangan bokongku yang menjadi wadah sperma milikmu."
Mendengar kata-kata Minori, kontolku kembali bersemangat.
"…Bolehkah aku melihatnya sambil melakukannya sekali lagi?"
"Eh… t-tentu saja. Silahkan nikmati bokong besar yang bisa menerima sperma Sousuke-san sebanyak apa pun."
"…Tidak, Minori. Itu memang bikin sangat bergairah, tapi… tidak terlalu cabul?"
Lehernya sampai tengkuk memerah, jadi jelas dia juga malu.
"T-tapi… dengan begitu, Sousuke-san akan senang, kan? Kalau kamu memperhatikanku, aku senang…"
Ia menoleh hanya dengan lehernya, menatapku dengan mata yang berkaca-kaca dari bawah sambil berkata demikian.
Aku kembali menusukkan kontolku yang sudah mengeras lagi ke dalam dirinya.
"Ah…"
"Baik. Mulai sekarang aku akan sering memperhatikanmu, jadi mohon kerja samanya…"
"Iya…! Aku akan berusaha belajar banyak hal… jadi lakukan banyak hal yang cabul padaku…!"
Gairah karena merasa sedang mewarnai Minori—yang dulu begitu serius—sesuai seleraku, membuat pinggangku bergerak lebih kencang daripada sebelumnya.
Suara cabul kembali bergema di hutan.
Setelah total tiga atau empat kali selesai, kami mendengar langkah kaki Mashiro si Fenrir dan buru-buru membereskan semuanya—namun itu cerita lain.
◇
Saat pulang ke rumah, Mikron si naga hitam terbang menghampiriku begitu melihatku, jadi aku mengelus wajahnya.
Melihat itu, Minori menggantikanku membawa beberapa ayam hasil tangkapan ke kandang.
Karena anggota baru juga sudah bergabung, dan meskipun ayam-ayam itu bertelur banyak, aku bisa menyimpannya di inventory, jadi aku menangkap saja yang kutemukan.
Beberapa telur yang ada di dekat mereka juga kuambil.
"Hah? Lumpur dan rumputnya sudah hilang, jadi bersih ya."
Kotoran saat tanah diratakan untuk menempatkan rumah tampaknya sudah hilang. Bulunya juga sedikit lembap—mungkin habis mandi air.
"Selamat datang kembali, Tuan, Shouko-sama, Minori-sama."
Pintu masuk terbuka, Roa keluar dan memberi hormat dengan anggun. Ia mengenakan baju maid yang tadi kuberikan. Rambut dan kulitnya juga tampak kembali berkilau.
Tak kusangka, di pulau tak berpenghuni aku akan disambut oleh seorang pelayan.
"Ah, aku pulang. Baju pelayannya pas?"
"Pas sekali. Anda sudah menguasai kemampuan itu dengan cepat—seperti yang diharapkan dari Tuan."
Setelah berkali-kali menciptakan pakaian untuk para gadis, aku jadi bisa memperkirakan ukuran hanya dengan melihat.
"Syukurlah. Mikron juga, Roa yang memandikannya?"
"Iya. Apakah aku melakukan hal yang berlebihan?"
"Tidak, terima kasih."
"Yup yup, makasih Roachi! Sebagai balasan ada banyak buah, lho!"
Mungkin karena senang rekan makhluk khayalnya diperlakukan dengan baik, Shouko tersenyum lebar.
"Senang bisa berguna."
Saat itu, Mashiro si Fenrir mendekat dan mulai mendorong punggungku dengan ujung hidungnya.
…Baik, baik.
"Oh ya, Roa. Saat para gadis mandi malam nanti, bisakah kamu memandikan Mashiro juga? Kalian semua sudah berpengalaman kan, jadi pasti lebih mudah daripada sendirian."
Mashiro kami adalah Fenrir jantan yang sangat menyukai gadis-gadis.
"Baik, aku mengerti. …Maaf lancang, tapi apakah hanya Mashiro saja?"
"Hah?"
"Aku juga ingin membasuh punggung Tuan."
Roa mengatakan itu sambil menempelkan satu tangan ke pipinya yang memerah, membuatku terkejut.
"S-Sousuke-san bukan orang yang memaksa orang lain melakukan hal cabul seperti itu."
Minori yang baru selesai memasukkan ayam ke kandang dan ikut bergabung.
"Tentu saja. aku sudah mendengar tentang kepribadian Tuan dari Chiyu Ojou-sama dan Shion-sama. Karena itu, ini murni keinginan aku sendiri."
"Eh… kami sih sudah tahu Sousuke-kun orang baik, tapi Roachi kan belum pernah dekat dengannya, ‘kan? E-eh, melakukan hal-hal erotis dengan Sousuke-kun… bukankah terlalu cepat?"
Sebelum berpindah, aku juga tidak pernah dekat dengan Shion, tetapi karena kemampuannya "mengetahui kebohongan", ia bisa mempercayaiku. Sementara Roa hanya memiliki rasa terima kasih karena diselamatkan saat pingsan kelaparan.
Aku sendiri, meski berterima kasih jika ditolong orang, merasa itu terpisah dari urusan perasaan romantis. Menanggapi ucapan Shouko, Roa tersenyum lembut.
"Hehehe. Besarnya wadah hati Tuan tidak bisa diukur dengan waktu."
"Aku bukan orang dengan wadah sebesar itu."
"Tidak. Setidaknya di rumah ini, Tuan memiliki kualifikasi dan kapasitas sebagai pemimpin. Itu terlihat hanya dengan sedikit pengamatan."
"Begitukah…"
Melihat kondisi para pemindah di acara itu, mungkin benar rumah kami cukup teratur. Ada juga yang seperti Roa, tak mampu bergerak, dan masih banyak murid yang belum terlihat di lokasi pengamanan bola cahaya, jadi keadaan mereka belum diketahui.
"Yah, soal mandi kita kesampingkan dulu—aku lapar."
Shouko mengusap perutnya, mengucapkan "nanti dulu" dengan gaya seperti "mochi-mochi".
Di sampingnya, Minori tampak merenung seperti, "Apakah berirama itu penting…?" Tapi ini hanya ucapan spontan, jadi kalau maknanya kira-kira tersampaikan, tak perlu dipermasalahkan.
"Terkait itu, Shion-sama—eh, Kepala Koki—ingin makan siang di taman. Dengan segala kerendahan hati, katanya akan mengadakan pesta yakiniku sebagai sekaligus acara penyambutan aku."
"Yakiniku! Mantap!"
Anak laki-laki memang suka yakiniku.
"Waktu aku juga yakiniku, ya."
"Iya, iya. Rasanya jadi nostalgia deh."
Minori dan Shouko berkata demikian dengan nada mengenang. Mungkin karena setiap hari terasa begitu padat, meski baru hari keenam, aku bisa memahami mengapa rasanya seperti sudah lama berada di sini.
"Kalian tunggu di sini dulu. Aku mau lihat ke dapur, siapa tahu ada yang bisa kubantu."
Aku melewati pintu masuk sendirian dan menuju ke dapur.
"Ah, selamat datang kembali, Sousuke-kun."
"Selamat datang kembali, Tuan."
"Aku pulang. Maksudku, Chiyu, hentikan panggilan ‘Tuan’ itu."
"Bukan cuma punya rumah sendiri, bahkan mempekerjakan pelayan—itu bukan hal yang bisa dilakukan siswa SMA biasa."
Aku hendak menambahkan sesuatu, tetapi di tengah jalan aku menyadari ada suara bwooon seperti mesin yang menyala.
Melihat mesin besar yang berdiri kokoh di dapur, aku mengangguk.
"Kulkasnya sudah dapat listrik, ya."
"Iya. Mungkin masih perlu waktu sampai dingin, tapi sudah berfungsi kok."
Shion tampak senang.
"Syukurlah. Kalau bisa berjalan stabil, mungkin kita bisa menambah panel surya atau membeli yang baru."
"Hehe, iya."
"Ngomong-ngomong, Sou-kun. Barang yang kamu cari sudah dapat?"
"Barang apaan sih. Aku dapat banyak buah, dan macam-macam lainnya juga. Nanti bisa kamu cek?"
Aku menoleh ke arah Shion.
"Iya. Ah, buahnya mungkin ingin aku cek sebentar sekarang."
"Oke."
"Sou-kun, bukan itu maksudku. Yang aku inginkan."
Teman masa kecilku menarik ujung bajuku pelan.
"Telur, kan. Tenang, ayam tambahan juga tidak kulupakan."
"Kondom."
Chiyu yang sudah tak sabar mengatakannya secara blak-blakan.
"…Pohon karet. Aku cukup lama mencarinya, tapi akhirnya ketemu."
"Wah. Jadi, Sousuke-kun… itu, berhasil dibuat?"
Shion memerah, tapi wajahnya tampak sangat tertarik. Yang paling menginginkannya memang Chiyu, tapi rupanya gadis-gadis lain juga penasaran.
"A-ah. Resepnya juga sudah terbuka."
"Syukurlah, Sou-kun. Malam ini, jadilah pria dewasa."
Chiyu berkata begitu sambil menepuk pundakku.
"Kamu melihatnya dari sudut pandang apa sih…"
"Sudut pandang gadis polos yang keperawanannya akan diambil oleh Sou-kun."
"Ugh…"
Kalau sudah dibilang begitu, aku jadi tak bisa membalas apa-apa.
"A-ahaha. Cerita itu nanti saja, ya. Sekarang kita fokus makan siang dulu? Aku ingin Sousuke-kun bantu banyak hal—penyimpanan dan penataan, misalnya."
"Tentu, bilang saja."
Karena dagingnya akan dibakar di luar, masih mentah, tapi dapur sudah dipenuhi aroma sedap.
"Aku membuat sup telur."
"Oh, begitu. Bagus dong!"
Sepertinya cocok sekali dengan yakiniku.
"Hehe, Sousuke-kun yang jadi bersemangat karena yakiniku itu agak lucu, ya."
"Mm. Rasanya imut, seperti waktu kecil."
Mendengar Shion dan Chiyu berkata begitu, aku jadi malu karena terlalu bersemangat.
"Ka-kalian semua sudah menunggu di luar, jadi ayo cepat."
Kemampuanku sangat cocok untuk memindahkan barang dan menjaga makanan tetap hangat. Aku menyiapkan semuanya dengan cepat lalu keluar.
"Yakiniku~~!"
Di halaman, Shouko melompat-lompat kegirangan. Menemukan sesama pecinta yakiniku membuatku lega.
Kami membawa lentera yang sudah dinyalakan dari dapur. Saat hendak memanfaatkan apinya untuk membuat api unggun, aku berpikir sejenak.
"Makan sambil berdiri juga tidak apa-apa, kan?"
Lalu aku membuat meja dari batu. Bagian yang setara dengan laci meja kubuat agak dalam, lalu kuisi kayu bakar di sana. Jadilah meja dengan pelat batu seperti besi. Sebagai pelengkap, aku juga mengeluarkan meja kayu biasa di dekatnya.
Untuk yakiniku saja sebenarnya tak perlu meja, tapi karena ada hidangan lain, meja jadi berguna.
"Ooh! Hebat banget, Sousuke! Kalau begini, kita tak perlu lagi menaruh piring di tanah."
"Begitu rupanya. Meski tanpa logam, dengan ide Tuan, berbagai benda bisa dibentuk. Sungguh luar biasa."
Shouko dan Roa memujiku.
"Dagingnya ada daging babi hutan dan daging rusa. Daging rusa kita panggang pakai garam dan mentega, ya."
Shion mengambil piring daging di atas meja dan mulai menyusunnya di atas pelat dengan sumpit masak.
Tak lama kemudian, suara minyak mendesis dan aroma lezat menyebar di sekitar.
"Sousuke-kun, sebentar lagi bisa minta yang lainnya?"
"Serahkan padaku."
Aku menata di atas meja: panci tanah berisi sup telur, roti pipih seperti naan, serta mangkuk dan peralatan makan sesuai jumlah orang.
"Hah? Roti!?"
"Chapati, mungkin? Memang roti tanpa fermentasi bisa dibuat tanpa ragi."
Shouko membelalakkan mata, sementara Minori terkesan. Karena belum ada nasi, ini mungkin jadi pengganti makanan pokok. Yakiniku dengan roti memang tidak umum, tapi daging dan roti seharusnya cocok.
"Buah yang dibawa tim penjelajah bertiga dan Mashiro-kun, kita makan sebagai pencuci mulut, ya."
"Ah… sungguh luar biasa. Dengan mengerahkan kekuatan semua orang, kita bisa menikmati makanan seperti ini meski berada di pulau tak berpenghuni."
Roa menyatukan kedua tangannya, terharu.
"Semuanya, sudah matang!"
Kami mengambil sumpit dan piring, lalu memulai makan siang dengan mengucap "Selamat makan".
Pesta yakiniku di bawah langit biru mendapat sambutan luar biasa, baik karena suasana maupun rasanya.
Setelah makan dengan sangat puas, tibalah giliran pencuci mulut. Hari ini kami menikmati buah-buahan yang baru ditemukan.
Yang ditemukan Shouko ada empat: apel, jeruk, pisang, dan pir. Shion dan Roa dengan cekatan mengupasnya dan menyajikannya di piring untuk semua orang.
Sebagai catatan, pisang dimakan dengan cara dipetik langsung dari sisirnya oleh yang ingin, tapi mungkin karena kurang terasa sebagai "dessert setelah makan", tak ada yang menyentuhnya.
"Aku suka rasa pir yang segar ini."
Shouko berkata puas sambil memasukkan pir ke mulut dengan garpu kayu.
"Hehe. Pisang cocok untuk sarapan atau makan siang, atau mungkin dibuat pancake pisang gitu."
Shion berkata sambil tersenyum.
"Parfait juga bisa."
"Pancake dan parfait dua-duanya paling enak! Mau!"
Sulit dipercaya ini kehidupan di pulau tak berpenghuni, tapi kalau kami, sepertinya semua itu bisa diwujudkan.
"Ehm… ini buah apa ya?"
Roa yang sedang memotong sebuah buah memiringkan kepalanya.
"Itu buah dari pohon sawo."
Pohon sawo dikenal sebagai sumber chicle, bahan utama permen karet, tapi rupanya buahnya juga bisa dimakan.
"Yang menemukan Mashiro-san, lho."
"Oh iya, ada ya. Maksudku, buahnya juga bisa dimakan? Aku ingat pernah kaget saat dengar getahnya jadi bahan permen karet."
Minori dan Shouko, yang ikut menjelajah bersamaku, berkata,
"Aku penasaran rasanya seperti apa."
Chiyu memang tipe penantang. Tak mungkin hanya membiarkan teman masa kecilku saja yang mencoba, jadi aku ikut memakannya juga.
"Dilihat dari luarnya, bentuknya bulat seperti kentang…"
Saat dipotong, penampangnya jelas buah. Daging buahnya berwarna kuning pucat dengan biji hitam di dalamnya, dan bagian yang bisa dimakan cukup banyak.
Ketika aku memasukkan buah yang sudah dikupas Roa ke mulut, rasanya mengingatkanku pada sesuatu yang familiar.
"Ini… seperti kesemek yang lembut?"
"Manis sekali."
Melihat reaksiku dan Chiyu, yang lain pun ikut meraih buah itu.
"Enak enak!"
"Wah, benar juga. Lembut dan segar."
"Ya. Dibanding kesemek segar, mungkin lebih mirip kesemek kering."
"Lezat sekali."
Oh ya, baru sekarang terpikir, Roa juga ikut duduk makan bersama kami. Awalnya ia berkata, "Karena aku ini pelayan, seharusnya setelah para tuan selesai…", tapi tentu saja kami memintanya menyerah soal itu.
Begitulah, buah-buahan pun mendapat sambutan hangat, dan makan siang berakhir.
"Huff… aku sudah nggak bisa makan lagi. Perutku kenyang banget."
Shouko mengusap perutnya dengan wajah puas.
"Kalau begitu, mari kita bereskan…"
"Ah, Roa. Tidak apa-apa."
Aku menyimpan semua peralatan makan siang ke dalam inventory.
"Ya ampun…! M-mungkinkah, saat barang yang disimpan dikeluarkan kembali, kotorannya sudah hilang?"
"Betul."
"Itu kekuatan yang luar biasa. Tidak perlu mencuci piring ataupun pakaian… sungguh hebat, Tuan."
"Memang luar biasa, ya. Memindahkan barang, merapikan, membersihkan—semuanya biasanya makan waktu, tapi kalau ada Sousuke-kun, langsung beres."
"Maaf ya, teman masa kecilku ini terlalu curang."
"Hari ini juga ‘Sasuga-Sousuke’, ya."
"Benar. Sampai-sampai rasanya kami malah merepotkanmu dengan berbagai peran."
"Tidak, tidak… aku juga banyak dibantu. Tanpa kalian, aku tidak mungkin menjalani hidup seperti ini sendirian."
Tanpa Chiyu, luka kecil saja bisa berujung fatal. Tanpa Shion, kami tak bisa memasak dengan layak. Tanpa para makhluk berbulu milik Shouko, mobilitas kami akan turun drastis. Dan tanpa sihir Minori, efisiensi pengumpulan kayu dan batu tetap buruk.
"Aku juga akan berusaha sekuat tenaga agar bisa membantu semuanya."
Roa meneguhkan tekadnya. Shion berkata akan menyeduh teh, jadi kami kembali ke dalam rumah menuju ruang tamu.
"Roa."
Di lorong, aku memanggil pelayan sekelasku itu dengan suara pelan.
"Ada apa, Tuan?"
"Aku ingin minta tolong sesuatu."
Begitu kukatakan, Roa menempelkan tangan ke pipinya dan wajahnya memerah.
"Pengurusan hasrat, ya? …aku sudah siap."
Aku terkejut sejenak, lalu teringat bahwa pagi tadi ia tinggal di rumah bersama Chiyu. Pasti teman masa kecilku itu menanamkan ide yang aneh-aneh.
"B-bukan, bukan itu. Aku ingin kamu memberitahuku secara diam-diam, apa yang diinginkan semua orang."
"Ah, rupanya aku salah paham. Mohon maaf sebesar-besarnya, hukuman apa pun akan aku terima."
"Tidak ada hukuman, kok."
Melihat Roa membungkuk dalam-dalam, aku buru-buru memintanya mengangkat wajah.
Tunggu… dia bilang sudah siap tadi…? Sebagai lelaki normal, mendengar itu jelas bikin gelisah.
"Begitu ya? Pelayan yang lancang ini perlu dididik secara seksual…"
"Sudahlah, Roa. Kamu satu tipe dengan Chiyu, ya…?"
Aku menatapnya tajam, curiga ia sedang menggodaku dan menikmati reaksiku.
"Sama sekali tidak, Tuan."
"Entahlah."
"Mohon maafkan aku. Soal kemampuanku—semakin aku berkonsentrasi, semakin dalam aku bisa memahami apa yang diinginkan seseorang. Biasanya, yang terlihat hanyalah hal-hal yang mengapung di permukaan hati."
Sepertinya ia berhenti bercanda, jadi aku pun tak melanjutkan.
"Permukaan maksudnya… ‘yang sedang paling diinginkan saat ini’?"
"Benar sekali, Tuan."
Masuk akal. Apa yang diinginkan sekarang dan yang diinginkan sejak lama bisa berbeda. Ada juga orang yang menginginkan banyak hal sekaligus. Jika semuanya terbaca tanpa batas, informasi yang masuk akan terlalu banyak—jadi ketepatannya bergantung pada tingkat konsentrasi Roa.
"Kalau begitu, bisakah kamu memberiku info permukaan itu? Aku tahu ini menyangkut privasi… tapi kalau bisa didapatkan, aku ingin menyiapkannya."
Roa meletakkan tangan di dada dan memejamkan mata, tampak terharu.
"Aku tersentuh oleh kebaikan hati Tuan. Baiklah, akan aku beritahukan secara diam-diam."
"Terima kasih."
Untuk Chiyu, setelah kondom didapat, peringkat pertama menghilang dan digantikan oleh ‘stroberi’.
—Oh, jadi setelah makan buah, dia langsung teringat buah favoritnya.
Untuk Shion, yang diinginkan adalah ‘bumbu masak’. Ia memang berkreasi dengan apa yang ada, tapi sebagai penanggung jawab dapur, mungkin ia ingin variasi yang lebih luas.
Untuk Shouko, ‘melon’… ya, benar juga. Dia memang menginginkannya. Karena tidak ditemukan saat penjelajahan pagi, keinginannya pasti makin kuat.
Untuk Minori, ‘pakaian dalam yang lebih feminin’. Ini agak mengejutkan, tapi juga masuk akal. Sendirian mungkin tak masalah, tapi saat mandi bersama para perempuan lain, tentu ada saat-saat ia memperhatikannya. Tak aneh jika ia memikirkan bahwa hanya dirinya yang berpindah dengan pakaian dalam yang sederhana.
"Hm, hm. Memang jumlah barang yang bisa diciptakan terbatas, tapi yang bisa dicari masih cukup banyak. Itu melegakan."
Akan kucari saat penjelajahan sore nanti.
"Mereka pasti akan senang."
"Oh ya, Mashiro… itu sudah jelas. Tapi bisakah kamu juga mengecek keinginan Mikron nanti?"
Aku tahu Mashiro akan puas jika bisa menggendong gadis-gadis atau mandi bersama mereka.
"Yang diinginkan Mikron-sama adalah terbang di langit berdua saja dengan Tuan."
Tampaknya ia sudah mengeceknya.
"Ah, begitu. Kalau begitu bisa diwujudkan sore ini. Baik, lalu—Roa?"
"Ya?"
"Sekarang kamu juga bagian dari tim, kan? Lagi pula, keinginanmu sendiri, tanpa kemampuan pun kamu pasti tahu."
Roa membelalakkan mata, tampak terkejut.
"…A-aku sudah menerima seragam pelayan…"
"Tidak, soal pakaian itu terpisah. Kita memang mendengarkan permintaan semua orang."
"…………"
"Ah, aku tidak bermaksud memaksamu. Kalau tidak ingin mengatakan—"
"B-bukan begitu. aku hanya kaget ditanya tiba-tiba. Jangan dipikirkan…"
Mungkin ia tak menyangka akan ditanya tentang keinginannya sendiri. Entah kenapa pipi Roa memerah.
"Kalau begitu. Kalau kamu tidak keberatan, aku akan senang mendengarnya."
"E-eto… kalau memungkinkan diciptakan… sepatu yang cocok dengan seragam pelayan…"
"Begitu. Sepatu, ya."
Barang yang rasanya tidak aneh meski dipakai secara normal di Jepang modern selama ini sulit untuk dibuat. Namun, dengan ditemukannya pohon karet, karet pun kini bisa dihasilkan.
Bukankah ini bisa digunakan sebagai sol?
"Mohon jangan memaksakan diri. Dan juga, mohon utamakan yang lain dibandingkan diriku."
Pada Roa yang tampak cemas, aku membalas dengan senyuman.
"Tidak apa-apa. Lagi pula, sudah waktunya kita ke ruang tamu."
Menyadari bahwa kami tak kunjung datang, Shouko dan Chiyu menampakkan wajah mereka dari ruang tamu dan mengintip ke arah kami.
"Pria itu suka pelayan. Begitulah makhluknya."
"Anak laki-laki itu, dengan kostum apa pun pasti bisa merasakan unsur ero, kan."
"Bukan begitu maksudnya."
Aku masuk ke ruang tamu sambil tersenyum kecut, lalu menikmati teh bersama semua orang.
◇
"Wah~ Jadi begini rupanya!"
Shouko berkata dengan nada kagum.
Setelah menikmati waktu minum teh seusai makan, kami menatap peta yang terbentang di atas meja makan.
Kertasnya bisa dibuat dari bahan yang sudah ada, dan Minori yang menggambar peta itu. Ia merangkum informasi semua orang tentang lokasi dan bahan yang sejauh ini telah diketahui.
Masih banyak bagian kosong, tetapi di peta sudah tertulis berbagai hal.
Pantai tempat aku dan Chiyu pertama kali terbangun, area sekitar bawah tebing yang awalnya menjadi markas, dan danau "sumber air" yang terletak agak jauh dari bawah tebing tersebut.
Selain itu, ada lokasi pengambilan gandum, bit gula, anggur liar, getah maple gula, jamur, dan lain-lain.
Semua itu akan pulih kembali setelah beberapa waktu, jadi mengingat lokasinya sangatlah bermanfaat. Lalu, informasi baru tentang bagian atas tebing juga ditambahkan.
Pohon apel, sungai, padang rumput tempat markas baru didirikan. Pohon karet dan sapodilla yang ditemukan saat penjelajahan pagi, serta pir, jeruk, dan pisang yang ditemukan oleh Shouko dan Mashiro.
"Kalau keanehan pulau ini kita kesampingkan dulu…… Dalam enam hari bisa sejauh ini menjelajah, kalian benar-benar luar biasa."
Roa menunduk menatap peta dan menghela napas kagum.
Bagi dirinya yang sebelumnya hanya berjuang untuk bertahan hidup, wajar jika ia terkejut dengan banyaknya informasi yang kami miliki. Berkat kemampuan Shion, aku tahu bahwa ia tidak berbohong.
Ia bukan berasal dari kelompok lain, juga tidak sedang merencanakan sesuatu. Ia benar-benar hanya teman sekelas yang kebetulan pingsan karena kelelahan dan diselamatkan oleh kami.
Karena itu sudah jelas, kami pun berhenti menyembunyikan informasi.
"Sangat membantu, Minori. Selama tidak ada penempatan baru, informasi ini bisa langsung kita gunakan."
"Benar. Di pulau ini, hal seperti itu bisa saja terjadi. Jadi mari jangan lalai memperbarui informasi."
"Kalian memang hebat. Justru karena itu, maaf rasanya aku belum banyak berkontribusi."
"Shio-chan, tidak perlu dipikirkan. Setiap orang punya perannya."
"Betul. Shion-chan juga sudah bikin masakan super enak."
"Fufu, terima kasih kalian berdua."
Para perempuan di kelompok kami akrab sekali.
"Tim penjelajah, sebaiknya menghafal ini. Saat mencari hal baru, kalau bisa menghindari lokasi yang sudah dijelajahi, efisiensinya akan meningkat."
Mendengar ucapanku, Minori mengangguk. Kami sempat menatap peta bersama sambil sesekali menambahkan hal-hal yang teringat, lalu……
"Kalau kita mengikuti aliran sungai ini, mungkin ada teman sekelas lain yang menjadikannya sumber air."
Shion menunjuk bagian peta yang bergambar sungai sambil berkata demikian.
"Meski begitu, aku tidak ingin secara aktif mencarinya."
Ucapan Chiyu terdengar dingin, tetapi jelas itu demi menjaga kekompakan kelompok.
"Iya. Meski menemukan sesama orang yang ditransfer, belum tentu mereka bisa jadi rekan yang baik. Jadi ini cuma kemungkinan saja."
"Kalau mereka sudah menemukan sumber air, setidaknya tidak akan mati. Apalagi sekarang buah-buahan juga bertambah."
Dengan bertambahnya bahan pangan yang mudah dipahami, selama ada air, kami tidak akan kelaparan.
"Bukan hakku untuk mengatakan ini, tetapi kemampuan Tuan sangatlah luar biasa. Tergantung orangnya, ada kemungkinan mereka menjadi bergantung."
"Ah, yang sering muncul di manga itu, kan. Orang yang bilang, ‘Kamu kan kuat, jadi wajar kalau menolong orang.’ Padahal itu bukan hal yang pantas diucapkan oleh pihak yang ditolong."
Shouko berkata sambil mengernyit.
"Hanya karena satu kelas, bukan berarti kami bisa mengumpulkan ‘hak kembali’ untuk semua orang. Itu jelas berat."
Aku pun pernah melihat perkembangan serupa di karya fiksi, jadi menjawab sambil tersenyum kecut.
"Iya. Sou-kun tidak punya kewajiban melakukan itu."
"Setidaknya, harus orang yang berusaha berkontribusi dengan apa yang bisa ia lakukan untuk kelompok. Ini juga kata-kata yang kutujukan pada diriku sendiri."
Shion tampaknya masih memikirkan bahwa kesempatan berkontribusinya dengan kemampuan sendiri terbilang sedikit. Padahal pagi tadi pun ia sudah membantu dengan membaca hati Roa.
"Kalau aku sendiri, kemampuan ini pun sulit untuk benar-benar berguna, jadi aku ingin bekerja sigap sebagai pelayan."
"Masakan Shion membuat semua orang berterima kasih, dan kami juga sangat terbantu karena ada orang yang bisa mengurus rumah. Kalian berdua, jangan memaksakan diri."
Bersiap untuk penjelajahan sore, aku berdiri.
"Shouko, aku akan keluar bersama Mikron. Kami sudah janji sejak pagi."
"Oke oke. Aku akan memulai perjalanan mencari melon…!"
"Shouko-chan, aku juga ingin ikut. Ada sesuatu yang ingin kumakan."
"Tentu! Ayo bareng!"
"Kalau Mashiro dan Mikron sama-sama keluar, aku akan tetap tinggal sebagai petarung."
"Baik. Kutitipkan padamu, Minori."
"Baik, serahkan padaku."
Menanggapi ucapanku, Minori tersenyum.
"Hmm. Kalau begitu, aku akan…… membuat camilan untuk semua orang?"
"Izinkan aku membantu, Shion-sama."
"Fufu, kalau begitu kumohon bantuanmu, Roa-chan."
"Kue ya! Tidak sabar!"
"Senang ya, bahkan di pulau tak berpenghuni kita bisa punya waktu istirahat dengan camilan."
Meski tidak sebesar Shouko dan Chiyu, aku pun diam-diam menantikan camilan itu sambil melangkah ke luar.
"Mikron, ayo pergi bersama."
Mikron melesat datang dan melilit tubuhku.
"Baik baik. Kita pergi berdua."
Mendengar ucapanku, ia menggoyangkan tubuh panjangnya dengan gembira. Aku menaiki punggungnya, lalu menoleh pada Shouko dan Chiyu yang menaiki Mashiro.
"Kalau begitu, hati-hati di sana."
"Iya. Aku akan mengambil lebih banyak darimu, Sou-kun."
"Mengambil melon sebanyak-banyaknya lalu makan dengan cara mewah yang biasanya tidak bisa dilakukan, itu mimpiku!"
Ucapan Shouko entah kenapa terasa bisa kupahami.
Aku pernah melihat di televisi jus melon yang dibuat hanya dari melon, dan berpikir, "Kelihatannya enak, tapi kalau begitu mending dimakan biasa saja."
Namun, kalau bisa mendapatkannya segunung, mungkin sekali mencoba cara makan seperti itu pun tidak ada salahnya.
Saat aku memikirkan hal-hal itu, Mikron mulai terangkat ke udara.
"Aku ingin pergi ke tempat yang belum pernah kita datangi. Aku ingin terbang sambil memastikan kondisi di darat, jadi bisakah kau tidak menaikkan ketinggian terlalu tinggi?"
Mikron mengangguk, tetapi entah kenapa ia justru melesat naik tinggi ke udara.
"Uwooo…… Ohh, luar biasa……!"
Waktu kecil, aku pernah naik balon udara di sebuah acara, dan sensasinya mirip dengan itu. Tanah terasa jauh, angin terasa jelas, dan ada perasaan seolah aku bersentuhan langsung dengan langit.
"Hahaha……! Hebat, Mikron. Tapi, sedikit lebih rendah lagi…… ah, begitu."
Di area yang sudah dikenal, Mikron terbang tinggi, tetapi saat mendekati wilayah yang belum dijelajahi, ia mendekat ke tanah. Mungkin sambil tetap mendengarkan instruksiku, ia juga ingin mencoba terbang tinggi.
"Mikron, kalau kehidupan kita sudah lebih tenang, mari terbang bebas tanpa tujuan apa pun."
Saat aku berkata begitu, Mikron mengangguk dengan wajah gembira.
Kami terbang beberapa waktu di ketinggian sekitar puncak pepohonan. Di sela-sela hutan, terlihat sesuatu yang mirip ladang.
"Mikron……! Dekati tempat itu!"
Semakin Mikron mendekat, semakin jelas kondisi ladang itu.
Di bawah daun-daun besar…… itu—melon.
"Baik, baik. Penemuan pertama, ya."
Yang diinginkan Shouko adalah "melon".
"Itu buah yang diinginkan tuanmu, lho."
Meski Mikron sangat melekat padaku, pada dasarnya ia adalah makhluk yang dipanggil oleh Shouko.
Ia juga sangat menyukai Shouko sebagai tuannya. Bersama Mikron yang turun dengan gembira, aku mulai memanen melon. Dengan sabit batu kecil, aku memotong bagian buahnya dan menyimpannya.
"Hmm, sekarang aku sendirian. Lebih baik ingat tempatnya dan ambil lagi besok."
Setelah mendapatkan sekitar dua puluh buah, pinggangku mulai terasa agak sakit. Kalau istirahat sebentar, sepertinya masih bisa lanjut, tapi masih ada hal lain yang kucari.
"Baik, Mikron. Mau menemaniku sedikit lagi?"
Selanjutnya adalah "stroberi" milik Chiyu dan "bumbu" milik Shion. Stroberi mudah dikenali sekilas, sedangkan untuk bumbu, mungkin dengan menyimpan apa pun yang belum dikenal, ada sesuatu yang bisa ditemukan.
"Pakaian dalam" milik Minori dan "sepatu" milik Roa rencananya akan dibuat nanti.
Cukup sibuk juga, tetapi aku memang suka menemukan atau membuat item baru, jadi sejujurnya ini menyenangkan. Lagipula, terbang di udara bersama Mikron juga terasa sangat menyegarkan.
Dengan perasaan seperti itu, aku melanjutkan penjelajahan sore.
◇
Aku dan Mikron pulang hampir bersamaan dengan Mashiro, Shouko, dan Chiyu.
"Yo. Kalian juga sudah pulang."
"Ah, Sousuke…… iya, kami pulang……"
"……Kelihatannya penjelajahan Sou-kun berjalan lancar. Dari wajahmu saja sudah kelihatan."
Sebaliknya, melihat ekspresi Shouko dan Chiyu, tampaknya penjelajahan mereka tidak berjalan mulus. Mashiro pandai melacak bau yang pernah ia cium dan mencari hewan, tetapi untuk tumbuhan, mungkin karena cara manusia menjelaskannya, menemukan target secara tepat tampaknya sulit. Meski begitu, indra penciumannya tetap lebih dari cukup untuk disyukuri.
"Bukan berarti kalian tidak menemukan apa-apa, kan?"
"Hmm. Entah kenapa, tapi pokoknya kami ambil saja."
"Aku menemukan blueberry, bukan stroberi. Beda beri……"
Aku tidak senang atas kegagalan mereka, tetapi setidaknya penjelajahanku tidak sia-sia.
"Untuk sementara, boleh aku simpan?"
"Iya. Tolong beri tahu juga apakah bisa dimakan atau tidak."
"Kalau Shion-chan, pasti bisa mengolah blueberry jadi selai atau muffin."
Sambil mendengarkan suara para gadis, aku menyimpan keranjang yang terpasang pada Mashiro. Katanya, yang mereka bawa adalah "makuwauri", "blueberry", dan "nektarin".
"Sepertinya semuanya cocok untuk dikonsumsi, tapi untuk detailnya, lebih baik tanya Minori atau Shion."
"Syukurlah. Terima kasih juga, Mashiro~"
"Mm. Aku berterima kasih atas kerja Mashiro."
Mungkin merasa bertanggung jawab karena mereka tampak kecewa, Mashiro juga terlihat agak murung. Namun, begitu mereka berdua memeluk dan menghiburnya, ia langsung mendengus dengan penuh semangat. Fenrir yang sangat mudah dibaca.
"Selamat datang kembali, Tuan, Chiyu Ojou-sama, Shouko-sama."
Pintu masuk terbuka dan Roa menyambut kami.
"Ah, kami pulang. …Hm? Sepertinya ada bau manis."
"Ya. Kepala dapur Shion-sama sedang membuat kur—"
"Kue!? Mau, mau!"
"Tubuhku menginginkan manis……"
Byuun! Shouko dan Chiyu berlari masuk ke dalam rumah secepat angin.
"Ah, mohon jangan berlari di koridor……!"
Peringatan Roa mungkin tidak terdengar. Aku tersenyum kecut melihat mereka dan melangkah masuk.
"Bagaimana hasil penjelajahannya?"
"Berhasil. Berkat Roa, sepertinya aku bisa memberi semua orang apa yang mereka inginkan."
"Jika aku bisa membantu, aku sangat senang."
"Iya. Oh ya, sepatu untuk Roa juga."
"……! Y-ya. Terima kasih banyak."
Roa tersenyum dengan wajah malu sekaligus senang.
"Enaaak!"
Suara Shouko terdengar dari ruang tamu. Aku dan Roa saling berpandangan lalu tertawa.
"Kalau begitu, mari kita juga menikmati kuenya."
"Baik."
Seolah dituntun oleh aroma manis, kami menuju ruang tamu. Di sana, Shouko dan Chiyu melahap kuki yang ditumpuk penuh di piring. Minori memakannya satu per satu dengan tenang.
"Ah, Sousuke-kun, selamat datang kembali. Kalau mau, coba makan dan beri tahu pendapatmu."
"Terima kasih, Shion."
Aku mengambil satu dan memasukkannya ke mulut.
"Mm…… meleleh di mulut. Kue yang baru dipanggang memang luar biasa……!"
Kue yang rapuh menyebar di mulut, aroma mentega dan manisnya gula meledak, membuatku langsung ingin mengambil yang berikutnya.
"Kalau kue yang baru dipanggang disimpan, bukankah kita bisa makan kue renyah-lembut kapan saja!?"
"Iya, itu ide bagus."
"Fufu. Menurutku itu ide cemerlang sih, tapi yang hari ini sepertinya akan cepat habis, jadi mungkin mulai dari batch berikutnya."
Shion tertawa kecil dengan wajah senang melihat kuenya begitu laris.
Chiyu sampai memipihkan pipinya seperti tupai. Aku sempat khawatir mulutnya akan kering, tetapi ia menenggak susu domba sekaligus.
"Nikmatnya~~."
"Chiyu-san…… apakah kamu selalu makan seperti itu? Tapi tidak gemuk-gemuk, iri sekali."
Mendengar ucapan Minori, tangan Shouko langsung berhenti.
"Ah, aku sepertinya cukup sampai sini saja. L-lihat, nanti juga ada makan malam, kan!?"
Shouko berusaha menutupi. Mungkin ia merasa sedang menyamarkan, tetapi jelas ia bereaksi pada soal gemuk atau tidak.
"Aku tidak masalah. Semua nutrisi pergi ke dada."
Itu rasanya bukan kalimat yang biasanya diucapkan oleh orang itu sendiri……Bukankah itu biasanya ucapan karakter lain kepada tokoh berdada besar di manga?
Chiyu bertubuh kecil, kurus, dan berdada besar, jadi tak ada seorang pun yang bisa menyela ucapannya.
"Ah, hahaha. Untuk sekarang, kita makan malam saja ya. Sousuke-kun, kalau masih ada sisa kue, boleh minta tolong disimpan?"
"Ya. Tapi sebelum itu, ada sesuatu yang ingin kuberikan ke kalian semua."
Aku meminta semua orang duduk, lalu berdeham karena tegang.
"Tanpa izin sebelumnya, dengan meminjam kemampuan Roa, aku menyelidiki ‘apa yang kalian inginkan’."
Di hadapan semua orang, aku meletakkan kotak-kotak kecil yang dianyam dari sulur tanaman. Ukuran kotaknya berbeda-beda untuk tiap orang.
Mendengar bahwa keinginan mereka telah diselidiki, yang langsung memerah wajahnya hanya Minori, yang menginginkan "pakaian dalam".
Aku merasa sedikit bersalah soal ini, tapi kumohon dimaklumi.
"Kalau dibuka, isinya kondom?"
"……Tidak, yang diinginkan Chiyu itu keinginan nomor dua."
"Sousuke-kun, boleh dibuka sekarang?"
"Ya. Sekarang juga tidak apa-apa, nanti juga tidak masalah. Mau diperlihatkan ke semua orang atau tidak pun terserah. Gunakan sesukamu."
Chiyu tanpa ragu membuka tutup kotaknya dan matanya membelalak.
"……! Stroberi, kau menemukannya? Sou-kun, aku mencintaimu."
Selanjutnya Shouko juga membuka tutupnya, matanya berbinar.
"Oooh~! Melon! Sousuke yang menemukannya!? Terima kasih!"
Shion pun membuka kotaknya.
"Wah, banyak sekali. ……Eh, jahe segar, lalu ini…… bawang putih?"
"Mungkin tidak cocok sebagai hadiah, tapi kurasa itu sesuai dengan yang Shion inginkan……"
"Apa yang kau katakan? Aku senang sekali! Dengan ini variasi masakanku bertambah, dan aku bisa lebih berguna untuk semua orang! Hei, Sousuke-kun, masih banyak lagi isinya…… misalnya, ini apa ya?"
Yang dipegang Shion adalah buah seukuran telur yang sekilas tampak seperti kenari.
"Ehm…… itu tertulis ‘pala’. Kalau tidak salah, itu rempah—"
"Ini pala!? Luar biasa, Sousuke-kun! Ini salah satu dari empat rempah utama!"
Shion sangat bersemangat. Katanya, cocok untuk hidangan daging, juga berpadu baik dengan kentang dan produk susu, serta digunakan dalam pembuatan kue.
"Syukurlah kau senang. Sisanya itu ‘kayu manis’ dan—"
"Kayu manis!? Ah, ini jangan-jangan cinnamon stick!?"
Mungkin sejak awal ia memang pandai memasak, tetapi sejak menjabat sebagai kepala dapur, dirinya seperti ikan yang kembali ke air.
Ketertarikannya pada bahan makanan terasa makin meningkat.
Di tengah Shion yang sampai berseru, "Fuooh…… l-luar biasa sekali, Sousuke-kun!" dengan sedikit kehilangan karakternya karena terlalu antusias.
Minori yang sekilas membuka kotaknya langsung memerah wajahnya dan buru-buru menutupnya kembali. Isinya adalah "pakaian dalam". Tanpa kawat, bra-nya bertali, tetapi seharusnya tidak ada masalah untuk digunakan.
Aku mendekatinya dan berbicara dengan suara pelan.
"Kalau kau tidak ingin orang lain tahu, maaf. Tapi…… itu…… aku juga akan senang kalau bisa melihat Minori mengenakan berbagai pakaian."
Sedikit memalukan, tetapi kurasa lebih baik kukatakan dengan jujur.
"S-s-sungguh. T-tidak apa-apa, kau tidak perlu minta maaf. Dan itu…… a-aku senang."
Minori menunduk sedikit sambil tersenyum kikuk.
"Syukurlah. Kalau begitu…… lain kali, perlihatkan padaku ya."
"……! Y-ya. Tentu. A-aku juga ingin, b-banyak diperhatikan."
Ucapan yang begitu menggemaskan membuat jantungku berdebar. Lalu, yang terakhir adalah Roa. Saat kupandang, ia menatap kotaknya dengan wajah terpukau.
"Roa? Sepertinya ukurannya tidak masalah."
"Eh, a-ah, ya. Itu…… aku sampai terpesona. Tuan, bagaimana ini bisa dibuat?"
"Dari kulit hewan yang kita punya, yang cocok untuk sepatu adalah kulit rusa, jadi kupakai itu. Lalu kuwarnai dengan jelaga, dan solnya dari karet. Karena tidak ada logam, aku tidak bisa menambahkan hiasan yang mirip, tapi mohon maklumi."
"……Tidak, hasilnya luar biasa. Terima kasih banyak."
Aku bukan orang yang terlalu memedulikan fashion, tetapi aku tahu betapa pentingnya itu bagi mereka yang menyukainya.
Bisa jadi itu sesuatu yang mengangkat suasana hati, menegaskan diri, memberi kepercayaan diri, atau bahkan mengubah seseorang menjadi pribadi yang sama sekali berbeda.
Di pulau tak berpenghuni ini, kami dilempar begitu saja dengan pakaian seragam. Hari ini sudah hari keenam kehidupan seperti itu.
Bukan situasi untuk membicarakan fashion, tetapi bagi mereka yang menyukainya, hari-hari ini pasti berat.
Mendapatkan pakaian pelayan mungkin memiliki makna yang jauh lebih besar bagi Roa daripada yang kubayangkan. Melihatnya memeluk sepatu itu dengan penuh kasih, aku berpikir demikian.
"Tuan, bolehkah aku mencoba memakai sepatu yang diberikan?"
"Ya, tentu."
Roa berganti dari sandal rumah ke sepatu. Untuk bergerak di dalam rumah sebagai pelayan, sepatu memang lebih cocok daripada sandal. Dari sudut pandang orang Jepang mungkin terasa agak janggal, tetapi pasti akan terbiasa.
"Pas sekali."
"Dan sangat cocok untukmu."
"Menerima sesuatu yang begitu indah…… aku tidak tahu bagaimana harus membalasnya……"
Melihat Roa yang tampak bahagia sekaligus sungkan, Chiyu dan yang lain bereaksi.
"……Salah langkah. Seharusnya aku meminta sesuatu yang bisa disimpan sebagai bentuk nyata, lalu menunjukkan diri sebagai ‘teman masa kecil yang menjaga pemberian Sou-kun dengan baik’. Itu pasti menaikkan tingkat kesukaan."
"……! E-eh, apa kita juga sebaiknya mengubah keinginan kita sekarang? Tapi rasanya terlalu tidak tahu diri kalau banyak minta."
"Iya. Kita saja belum bisa membalas budi dengan cukup, menumpuknya lagi rasanya tidak enak."
"B-b-benar, ya."
Minori mengangguk sambil mengalihkan pandangan, tetapi kepanikan itu tidak luput dari perhatian para perempuan.
"……Minori-chan juga menerima sesuatu yang bentuknya nyata, kan?"
"Begitu? Coba ceritakan, Minorin, apa yang kau terima."
"Di saat kami semua meminta sesuatu yang akan hilang di perut, hadiah apa yang diterima Minori-chan dari Sousuke-kun?"
"B-bukan begitu. Meski kita satu kelompok, aku rasa privasi tetap diperlukan."
Sambil memeluk kotaknya, Minori mencoba kabur ke kamarnya, tetapi tiga orang itu perlahan mengepungnya.
"Berbagi informasi antar harem itu adalah dasar."
"Iya iya, berbagi info, Minorin!"
"Uu……"
Wajah Minori memerah. Terbongkarnya fakta bahwa hanya dirinya yang menerima pakaian dalam jelas memalukan baginya.
"Keinginan kalian tidak hanya akan dipenuhi kali ini saja, aku akan berusaha menyiapkannya sebisa mungkin. Jadi, maafkan Minori."
Dengan campur tanganku, ketiganya berhenti dengan enggan.
Memanfaatkan kesempatan itu, Minori pun naik ke lantai dua.
Yah, karena itu pakaian dalam, kalau dipakai sehari-hari, cepat atau lambat pasti ketahuan juga……Bagaimanapun, semua orang senang, jadi itu yang terpenting.
◇
Dengan begitu, hari keenam pun berlalu dengan lancar.
Setelah selesai mandi, makan malam pun usai, lalu kembali memakan buah sebagai hidangan penutup setelah makan, dan kemudian—malam tiba.
Akhirnya saat itu datang.
Di dalam ruangan yang diterangi lentera, aku berada dalam ketegangan sampai-sampai jantungku terasa akan meledak.
"Sou-kun"
Saat aku duduk di tepi tempat tidur sambil menunggu saat itu, terdengar suara dari luar kamar.
"A-ah"
Saat aku menjawab, pintu terbuka perlahan, dan Chiyu masuk dengan mengenakan seragam sekolah.
"Tidak ada anak laki-laki yang membenci seragam sekolah kan."
Kalau soal tepat sasaran menyerang titik lemahnya, sepertinya tak ada yang bisa mengalahkan Chiyu.
Soalnya, kelihatannya semua soal preferensi pribadiku sudah dia ketahui. Tapi alih-alih merasa jijik, dia justru berusaha mewujudkannya secara aktif—itulah sisi baik Chiyu.
"I-itu benar."
Tak ada gunanya menyangkal, jadi aku mengangguk.
"Kalau begitu, langsung saja… kita lakukan?"
Chiyu duduk di sampingku dan berkata begitu. Aku merasakan mulutku terasa anehnya kering. Mungkin karena terlalu tegang. Tapi setelah menguatkan tekad, aku membuka mulut.
"C-Chiyu. Sebelum itu, ada yang ingin aku sampaikan."
"Karena ini pertama kali, Penguatan Vitalitas itu merepotkan. Bisa robek soalnya."
"Aku tidak minta yang seperti itu!"
Tanpa sadar aku menyela. Tapi berkat itu, ketegangan di bahuku jadi agak mengendur.
"Kalau begitu… apa?"
Di bawah cahaya lembut lentera, mata birunya menatap ke atas ke arahku.
Aku menatap langsung mata itu—mata yang begitu indah sampai terasa bisa menelan siapa pun.
"Hari pertama… kau bilangnya setelah kembali ke Bumi, kan. Tapi kalau mau melakukan hal seperti ini, menurutku tetap sebaiknya aku menyampaikannya lebih dulu."
Saat kami berdua saja di dalam gubuk, aku sebenarnya sudah ingin menyampaikan perasaanku padanya, tapi saat itu ditunda.
"……!"
Kami adalah sahabat sejak taman kanak-kanak. Wajahnya secantik boneka, tapi karena ekspresinya minim dan suaranya datar, dia sering disalahpahami sebagai orang yang dingin. Padahal sebenarnya dia lembut, suka bercanda, dan berhati luas.
"Sejak TK, aku selalu menyukai Chiyu."
Mendengar pengakuanku, Chiyu membelalakkan mata, lalu setelah beberapa saat pipinya memerah—dan dia tersenyum.
"Aku tahu. Aku juga sama."
Detak jantung yang berdegup menyakitkan, keringat aneh, ujung jari yang terasa kesemutan, serta ketegangan wajah yang panas seperti terbakar—semuanya terasa seolah terbayar lunas.
Tanpa disadari siapa yang memulai, kami saling bertukar kecupan. Hanya bibir yang saling bersentuhan.
Hanya dengan itu saja, rasa bahagia memenuhi kepalaku.
"Mm… chu… chu…"
Mata Chiyu tampak basah, memantulkan cahaya lentera dan berkilau seperti langit penuh bintang.
Sekarang, gadis di hadapanku bukan lagi sekadar teman masa kecil, melainkan kekasih.
"Bohong. Aku yang lebih dulu. Aku sudah menyukaimu sejak lahir."
"Tapi kita baru saling kenal waktu TK."
"Takdir."
"O-oh begitu… kalau Chiyu yang bilang, mungkin memang begitu."
Mengatakan bahwa aku tidak percaya pada hal seperti itu rasanya terlalu tidak peka.
Saat kami terus saling mencium ringan seperti mematuk, tangan kami perlahan mulai meraba tubuh satu sama lain.
Aku melingkarkan tangan di punggungnya, dan seiring ciuman kami makin dalam, aku juga mengusap pinggul dan pahanya.
Sambil cekatan melepas kancing seragamku, Chiyu menurunkan bibirnya ke leher dan dadaku.
"Mm… fu… haa, haa… Sou-kun, tubuhmu terasa lebih kencang?"
Sambil menghembuskan napas panas, dia bertanya dengan nada agak heran.
"Kau juga merasa begitu? Sejak sekitar setelah event itu…"
Kami terus berbincang tanpa menghentikan sentuhan.
"…Bagaimanapun juga, tidak mungkin tiba-tiba jadi ramping berotot."
"Bukan sampai berotot sih…"
Dari tubuh biasa, lemak berlebih menghilang dan otot mulai sedikit terlihat. Seolah baru melangkah satu tahap menuju tubuh ramping berotot.
"…Ah."
"Ada apa?"
"Karena penguatan tenaga…?"
Mendengar itu, aku merasa masuk akal.
"Ah… mungkin itu."
Dalam kondisi menerima sihir penguatan dari Chiyu, aku berlatih berlari berdampingan dengan Mashiro. Bahkan saat event pun, aku terus berlari sambil menerima penguatan dan pemulihan tanpa henti. Jumlah aktivitasnya tak terukur.
Memang bisa bergerak lebih cepat itu bagus, tapi stamina tidak ikut bertambah, jadi rasanya benar-benar menyiksa.
Rasa sakit dan kelelahan itu hanya dipaksa disembuhkan dengan sihir penyembuhan, lalu aku terus bergerak.
Karena dipakai berlebihan, tubuhku mungkin jadi terlatih.
"Latihan penguatan tenaga?"
"Kalau begitu, mungkin sebaiknya terus kita lakukan ke depannya. Di pulau seperti ini, melatih kemampuan fisik dasar tidak ada ruginya."
Lagipula, kami juga punya cukup makanan untuk mengisi kembali energi yang terpakai.
"Kalau perut Sou-kun sampai terbentuk seperti cokelat batangan, pasti makin populer."
"Tidak, tidak… dengan jumlah sekarang saja sudah kebanyakan, hal seperti itu…"
"Di kelas kita ada 23 siswi, jadi masih bisa bertambah."
Kelas kami memang punya rasio siswi yang agak tinggi, dan entah kenapa semuanya berdada besar. Di antara mereka, yang paling besar—selain wakil wali kelas—adalah Chiyu.
"Chiyu, aku bukan ingin membangun harem dengan siswi sekelas, tahu…?"
"Aku tahu. Tapi kenyataannya semuanya berjalan dengan baik."
"Itu memang benar, tapi…"
Walaupun secara formal aku jadi pemimpin party, banyak hal yang bisa berjalan karena persiapan Chiyu dan pengertian semua orang.
"Dan sekarang, kau pasti juga sudah menyukai anak-anak yang lain."
"Ugh…"
Dengan semua yang terjadi, wajar kalau tumbuh rasa menguasai. Mereka semua menarik dan gadis-gadis yang luar biasa.
"Tidak apa-apa. Katakan juga pada yang lain bahwa kau menyukai mereka."
Memang terasa berat menerima perasaan mereka tapi tidak membalasnya.
"Chiyu benar-benar tidak apa-apa?"
"Iya. Aku juga menyukai semuanya. Lagipula—Sou-kun pasti akan berada di sisiku pada akhirnya."
"…Haha. Benar juga, namanya takdir."
"Betul."
Aku dan Chiyu kembali berciuman, lalu aku perlahan mendorongnya rebahan ke atas tempat tidur.
Saat aku membuka setengah bagian atas kancing seragamnya, dua gundukan dadanya yang tanpa bra langsung terayun dan tersingkap.
Sambil saling melahap ciuman, Chiyu dengan tangan kecilnya mengusap celanaku. Sambil merasakan kenikmatan yang membakar gairah itu, aku pun mengulurkan tangan kanan ke perut bagian bawahnya—dan saat itulah aku menyadari sesuatu.
"Ka-kamu juga tidak pakai yang bawah?"
"Chu. Mm, rero… mm, mau melepasnya?"
"…Itu lain kali saja."
"Siap."
Setelah beberapa saat saling membelit, meningkatkan gairah satu sama lain, suara cipratan air dari daerah intim Chiyu semakin lama semakin keras.
Saat aku melepas tanganku dan melihat jari-jariku, basah.
Hal itu membawa kegembiraan luar biasa bagiku. Seolah aku akhirnya memahami bahwa ada kenikmatan yang didapat dari membahagiakan pasangan, berbeda dengan kesenangan egois yang didapat dari masturbasi.
"So, Sou-kun... Ditatap-tatap seperti ini, aku malu... nnnn"
Saat jari-jariku merayap kembali ke daerah intimnya, pinggang rampingnya melompat ringan. Meski aku sudah pernah menyentuhnya sebelumnya dan pikir aku sudah tahu titik-titik dan caranya membuatnya senang, reaksinya hari ini terasa berlebihan, lebih hebat dari biasanya.
... Mungkinkah dia juga sedang bersemangat?
Berpikir seperti itu membuat darah yang mengalir di seluruh tubuhku terasa panas, tubuhku menjadi hangat.
Aku mendekatkan wajahku ke daerah intimnya yang tertutup rapat seperti kerang, dan mengulurkan lidahku.
"Sou, ku... n... ahh...!"
Teman masa kecilku yang wajahnya memerah dan mendistorsi ekspresinya karena kenikmatan, jauh dari bayangan ekspresi datarnya sehari-hari.
Melihatnya, kegembiraanku semakin meningkat, dan tanpa sadar aku terlalu bersemangat.
"Nggh"
Awalnya Chiyu menggeliat dengan sedih dan mengeluarkan suara manja, tetapi akhirnya batasnya tiba, dan dia menjepit kepalaku di antara pahanya.
"Huu... huu... Sou-kun, apa kamu berencana menghabiskan malam hanya dengan foreplay?"
Mata Chiyu yang memancarkan kesan marah, basah berlinang. Memang benar, ada batas untuk kenikmatan. Sepertinya aku kehilangan keseimbangan itu.
"Ma, maaf. Aku tidak tahu kapan harus berhenti."
"Tidak perlu memaksakan diri untuk terlalu bersemangat. Hari ini adalah pertama kalinya, tapi bukan yang terakhir."
Dan karena dia tersenyum tipis, aku merasa tetap tidak bisa mengalahkan teman masa kecil ini.
"Oke. Kalau begitu Chiyu... sudah waktunya?"
Aku jadi tidak bisa berhenti karena reaksi Chiyu yang menggemaskan, tapi kontolku juga dalam keadaan yang luar biasa.
"Ya... sudah, persiapan selesai."
"Kalau begitu, erm, mari kita mulai..."
"Iya. Berikan yang paling aku inginkan."
Mengapa dia harus mengatakannya dengan cara yang terdengar mesum? Ah, mungkin untuk membangkitkan gairahku.
Aku menurunkan celanaku dan menyiapkan 'kondom' di dekatku untuk dikenakan pada kontolku yang menengadah ke langit.
Warnanya bisa dibilang oranye muda. Bagian yang mengembang seperti tutup botol susu adalah bagian untuk menampung air mani setelah dikeluarkan.
Dengan menempatkannya di ujung batang, dan menggulung selubung yang terlilit ke bawah dengan terampil, alat kontrasepsi itu akan menutupi kontolku.
Karena tidak ada plastik, tidak ada kemasan persegi. Aku merasa sedikit kecewa, tapi yang penting isinya bisa dihasilkan, jadi tidak apa-apa. Karena ditempatkan langsung dari inventory, tidak ada masalah kebersihan.
"... Sou-kun, kamu terbiasa memakainya?"
Karena tatapan penuh keraguan dari Chiyu, untuk menghilangkan kesalahpahaman, aku memutuskan untuk jujur.
"... Aku berlatih diam-diam agar tidak gagal saat bersama Chiyu."
"Berlatih? Dengan perempuan lain?"
"Bukan! Itu... sendiri."
Wajahku memanas karena rasa malu. Melihat keadaanku, Chiyu sedikit mengendurkan ujung mulutnya.
"Sou-kun, lucu."
"......."
"Tidak apa. Aku juga banyak berlatih imajinasi kehilangan keperawanan, jadi sama aja."
Sambil berkata demikian, Chiyu dengan lembut mengangkat ujung roknya.
Memperlihatkan daerah intimnya dengan sukarela. Tempat yang kecil, tertutup rapat, dan licin itu membuktikan bahwa itu adalah gerbang kokoh yang belum pernah mengizinkan seorang pun pengunjung masuk.
Dan sekarang, yang memantulkan cahaya lentera adalah cairan kental yang menetes dari gerbang itu.
Tanpa sadar tenggorokanku berbunyi.
"Sou-kun... jangan buat aku menunggu lebih lama lagi."
"Ya, oke."
Aku menempatkan kontolku yang tegang hingga khawatir kondomnya akan pecah, di tepi daerah intimnya yang tertutup seperti kerang. Tapi entah karena terlalu rapat tertutup, atau karena pengalamanku yang kurang, setiap kali aku mencoba memasukkan, selalu terpeleset ke atas.
"Nn... So, Sou-kun. Jahat."
Chiyu menatapku dengan mata berkaca-kaca. Sepertinya dia pikir aku semakin menyiksanya.
Aku menarik napas dalam-dalam dan bersiap. Aku membuang bayangan bahwa dengan menempatkannya dan mendorong perlahan akan masuk, dan memikirkan kembali untuk mendorong ke dalam.
Aku merasa bersalah, tetapi jika terus begini, kita tidak akan pernah terhubung. Aku memastikan posisinya, menempatkannya di celah, dan membukanya dengan ujung batang.
"Ah..."
Chiyu mengeluarkan suara sedih. Merasa gerbang terbuka dengan suara "nichi...", aku merasakan kegembiraan luar biasa karena kelembutannya.
"So, Sou-kun... tidak apa, teruskan saja..."
"Ah... hh"
Sangat sempit, tapi kontolku mengenalinya sebagai lubang. Seperti menggali terowongan di istana pasir. Saat pinggangku maju sedikit demi sedikit, aku bisa merasakan bagian dalam vagina Chiyu terbuka.
Nichi... nichi... nichi... nyurun…
Aku menyerbu setengah jalan ke dalam Chiyu, tempat yang belum pernah dimasuki siapa pun sepanjang hidupnya.
Pada saat itu, aku menggeliat karena kenikmatan yang tak terkira. Meski dada dan mulut juga luar biasa, ini adalah kenyamanan yang tak terbandingkan.
Meski begitu, jika dipaksakan untuk dibandingkan. Seperti mata air panas, hangat hingga membuatku terkejut sejenak, lebih lembut dari bakpao, dan dengan cengkeraman yang tak tertandingi saat melakukannya sendiri, kontolku terbungkus.
"Hah... hah... hah... sudah masuk semua?"
Kulihat Chiyu mencengkeram alas tidur dengan kukuh sambil menancapkan kukunya, dan sebutir air mata mengalir dari matanya.
Dari daerah intimnya juga menetes warna merah, menceritakan keperawanannya yang hilang dan rasa sakitnya.
"Apa, apa kamu baik-baik saja?"
"Sudah masuk semua?"
Menghadapi pertanyaan yang sama dari teman masa kecilku, aku menggelengkan kepala.
"Masih, masih sedikit lagi."
"Masukkan, cepat."
"Ya, oke."
Di bawah tekanan yang tak terbantahkan, aku memajukan pinggangku sampai akhir.
Kenikmatan yang kira tadi adalah puncaknya, diperbarui ketika seluruh kontolku tertanam. Bagian terdalam terasa sangat panas, dan panas itu sepertinya merambat dari ujung kontolku.
"Nn... kuhh... ahh...!"
Chiyu yang telah menerima semua bagianku, menatapku ke atas dengan mata yang basah sambil mengeluarkan napas berat.
"Hah, hah... Sekarang sudah?"
"Ya, sudah masuk semua."
"Mm. Aku kehilangan keperawananku dengan Sou-kun. Sou-kun kehilangan keperjakaannya denganku. Senang?"
"Aku bahagia."
"Aku juga... tapi"
Chiyu mengerutkan wajahnya.
"── Ini, terlalu sakit. Penyembuhan Dasar."
Chiyu menggunakan sihir penyembuhan pada bagian intimnya sendiri.
── O, oh begitu ya, rupanya ada juga penggunaan seperti ini.
Secara sederhana, itu mungkin seperti luka robek, jadi sihir penyembuhan juga pasti efektif. Rasa sakitnya tampaknya segera mereda, dan wajah Chiyu pun mulai rileks.
"Bukannya sebaiknya kau gunakan itu lebih awal?"
Chiyu mengerutkan bibirnya dengan manja.
"Meski sakit, aku ingin menunggu sampai bisa menerima Sou-kun seutuhnya. ... Tidak boleh?"
Sudah kuketahui sejak dulu, teman masa kecilku ini sangat manis.
"Boleh saja. Terima kasih sudah berusaha keras."
"Yup. Asal kau paham. Sudah sembuh sekarang... jadi silahkan gerakkan sesukamu."
Dengan menggunakan sihir penyembuhan, dia mengatasi larangan bergerak kasar dengan seorang perawan. Ini mungkin khas pulau tak berpenghuni ini, atau lebih tepatnya khas Chiyu. Tapi sebagai pria, tidak ada yang lebih disyukuri daripada ini. Meski hanya berada di dalamnya sudah terasa sangat nikmat hingga hampir klimaks, naluriku berteriak ingin menggerakkan pinggang.
"Oke. Ayo mulai."
"Mm, datanglah."
Aku menarik pinggulku perlahan, lalu mendorongnya lagi. Hanya dengan itu, rasanya sangat nikmat hingga pinggulku seakan hancur. Tapi, mengingat ini adalah pengalaman dan posisi pertama kalinya, awalnya gerakan maju mundurku tidak lancar.
Frustasi, tapi segala hal memang ada masa pemula. Tanpa berpura-pura mahir, aku menggerakkan pinggang dengan caraku sendiri untuk mencoba memahami triknya.
"Nnh... ah... fuu... ah, ah... Karena Sou-kun, dari memekku keluar suara mesum."
Setiap kali pinggulku menghantam, terdengar suara picchu, pachu.
Suara erangan Chiyu, payudara besarnya yang bergoyang penuh semangat, suara cairan yang mesum, suara benturan pinggul, suara goyangan tempat tidur.
Semua itu memicu gairah, dan bersamaan dengan sensasi mendorong dari dalam vagina, menciptakan kenikmatan yang luar biasa.
Berapa lama aku menjelajahi dalam diri Chiyu? Mungkin puluhan menit, mungkin hanya beberapa menit.
Aku dan Chiyu sama-sama memercikkan keringat seperti mutiara, melompat-lompat di atas tempat tidur.
Lambat laun aku mulai memahami cara menggerakkan pinggang, sesekali meremas payudaranya, sesekali menggenggam tangannya, aku menggoyangkan pinggang dengan ritme yang menyenangkan.
"Ah, nnh, ah... Sou-kun... Sou-kun, Sou-kun..."
Teman masa kecilku yang memanggil namaku berulang kali terasa sangat manis, dan aku pun membalasnya dengan berulang kali memanggil, "Chiyu...!"
Dan akhirnya, saat itu tiba.
"Ah... Sou-kun, itu membengkak..."
"Chiyu, sebentar lagi...!"
Karena Chiyu membuka kedua tangannya, aku menangkap maksudnya dan mengambil posisi seperti hendak menindihnya.
Teman masa kecilku itu memelukku erat, melilitkan kakinya, lalu menempelkan bibirnya.
"Nnh, chu, rero, rero, chu... Sou-kun, keluar, keluarkan, langsung ke dalam memek teman masa kecilmu yang baru saja kehilangan keperawanan, ejakulasi pertama setelah lulus dari keperjakaan..."
Sampai detik terakhir, dia terus memanaskan gairahku.
Tidak, karena dia seperti itu, bahkan di saat seperti ini, dia pasti akan mengucapkan hal itu seperti biasa.
Sambil merasakan semua sensasi payudaranya yang menekan dadaku, bibir yang bertautan, seluruh tubuh yang saling terlilit, aku menghantamkan pinggulku, dan tepat saat kenikmatan mencapai puncaknya, aku melepaskannya.
"Chiyu...!"
Sesaat, perasaan euforia yang membuat kepalaku putih menyelimuti otakku, dan cairan sperma memancar dari ujung kontolku.
Chiyu segera mendekatkan bibirnya ke telingaku, membuat suara bibir dan berbisik ke gendang telingaku.
"Di dalam teman masa kecil yang sangat kucintai. Meski ini pertama kalinya, aku bisa merasakannya dengan Sou-kun, sampai akhir byuru-byuru di dalam memek teman masa kecil yang mesum, enak ya. Keluarkan sampai habis, bahkan setelah crot, hingga tidak ada yang lagi keluar."
"──!"
Diterjang oleh rasa bahagia, penguasaan, dan kepuasan, kepalaku hampir jadi aneh.
Sambil menggoyang-goyangkan pinggulku dengan gemetar, dibuat bahagia bahkan sampai ke telinga, aku tetap menempel padanya hingga denyutnya berhenti.
Saat gelombang kenikmatan mereda, aku bertatapan dengannya dan menyatukan bibir kami.
Aku menggigit bibirnya agak kasar, dan Chiyu membalas dengan menjulurkan lidahnya. Saat kami berpisah, air liur membentuk benang di antara lidah kami. Wajahnya terlihat leleh dengan cara yang belum pernah kulihat, dan pipinya pun memerah.
"Sou-kun, kondom di dalamnya membengkak sekali."
"Itu karena Chiyu..."
"Mungkin ya. Boleh lihat...?"
Aku perlahan mengangkat tubuh, menarik kontolku keluar. Berbeda dari sebelum masuk, batang yang basah dan memantulkan cahaya dengan mesum. Ujungnya membengkak seperti yang hanya terlihat di fiksi.
"... Aku tidak menggunakan Penguatan Vitalitas, tapi apa ada yang keluar sebanyak ini?"
Chiyu membelalakkan matanya.
"Tidak, aku juga tidak menyangka akan sebanyak ini... maksudku, Chiyu."
"Apa?"
"Jangan-jangan, 'Penyembuhan Dasar' segera setelah ejakulasi, sama seperti 'Penyembuhan Dasar' setelah 'Penguatan Kekuatan Fisik', juga jadi semacam latihan?"
Setiap kali aku lelah atau berejakulasi, Chiyu segera menggunakan sihir penyembuhan. Artinya, bahkan jika cairan sperma habis, produksi ulang segera dimulai.
Di pulau tak berpenghuni ini, jumlah pengulangannya sudah mencapai angka yang signifikan.
Seperti tubuhku yang menjadi lebih ramping. Mungkin saja staminaku tanpa sadar telah terlatih juga.
"Nanti, bahkan tanpa sihir, Sou-kun mungkin jadi pria yang sangat perkasa. Apa mungkin sudah begitu sekarang?"
"Sepertinya sedang menuju ke sana. Bagaimana kalau ini tetap begitu bahkan setelah kembali ke Bumi?"
"...? Biasa saja, lakukan saja setiap hari."
Chiyu berkata dengan santai. Sambil berkata demikian, dia melepas kondom dariku dan memasukkan kontol yang masih keras ke dalam mulutnya.
"...!"
"Nnh, chu, rero rero, re... chu, nn. Sudah bersih. Sou-kun, ini juga fetishmu kan."
Saat Chiyu melepas mulutnya, kontolku sudah kembali dalam kondisi siaga.
"Ch-Chiyu..."
"Aku tahu. Tapi sebelumnya..."
Chiyu memasukkan kondom itu ke dalam mulutnya dan membalikkan ujungnya ke bawah.
"Tidak mungkin, Chiyu…!"
Dia menampung seluruh sperma yang dialirkan kembali ke dalam mulutnya, memperlihatkannya padaku sambil mengerang kecil, lalu menutup bibir dan menelannya dalam beberapa kali tegukan.
Dia memang pernah menelannya sebelumnya, tapi sampai melakukan itu bahkan setelah dikeluarkan ke dalam kondom—itu di luar dugaan.
"Khepp… sudah keras lagi. Pakai yang kedua."
Chiyu melempar kondom bekas yang sudah kosong begitu saja ke lantai. Memang ada tempat sampah, tapi mungkin dia pikir cara itu akan membuatku lebih terangsang.
Jejak-jejak perbuatan yang berserakan di kamar seperti ini, bahkan dalam fiksi pun, menjadi properti yang bagus untuk menyampaikan suasana.
Chiyu yang benar-benar memahami seleraku bahkan ingin mereproduksi detail semacam itu.
"A-ah… tubuhmu tidak apa-apa?"
"Sudah kuobati dengan sihir, jadi tidak masalah. Lagipula… aku juga merasa enak."
Chiyu kembali berbaring telentang.
"Sou-kun, tanpa sihir, berapa kali kau bisa?"
Nada bicara Chiyu yang seperti sengaja memprovokasi itu jelas disengaja. Aku segera menyiapkan alat kontrasepsi kedua di tanganku dan memakainya.
"Aku akan menemanimu sampai Chiyu yang mencapai batas."
"…Aku terima tantangannya."
Pada celah yang masih agak tertutup, namun jelas menyisakan jejak kuat dari penyusup sebelumnya, aku menempelkan kontolku dan kembali mendorong pinggulku masuk.
"Ah…"
Kami saling menindih tubuh satu sama lain begitu lama sampai terasa seperti selamanya, menghabiskan stamina hingga bahkan tidak tahu kapan tertidur, lalu melepaskan kesadaran seperti pingsan.
◇
Saat aku terbangun, aku berada di aula pusat perbelanjaan dengan mengenakan seragam.
Karena ini baru kali kedua, nuansa "Jepang" atau "Bumi" yang meluap-luap ini tetap membuatku berdebar.
Aku sempat berpikir mungkin kami benar-benar sudah kembali ke Jepang.
Namun ternyata bukan begitu. Ini adalah area bonus yang terbuka karena aku—yang telah memperoleh "hak kembali"—memilih untuk menunda penggunaannya.
Aku dan rekan-rekanku dipanggil ke sini setiap malam, dan masing-masing diizinkan memilih satu barang yang dijual untuk dibawa pulang.
"Wah…! Ja-jadi benar-benar dipanggil ke pusat perbelanjaan itu…"
Yang terkejut adalah Roa. Karena ini di dalam mimpi, dia juga mengenakan seragam.
Mengingat sifat area bonus ini, semakin banyak orang, semakin besar keuntungannya, jadi untuk sementara aku mengajaknya bergabung ke dalam party. Jumlah maksimal termasuk aku adalah sepuluh orang, jadi masih ada ruang.
Karena ini fasilitas di daerah asal, sepertinya Roa juga mengenalnya. Namun tiga gadis selain Roa justru melirik ke arahku dan Chiyu. Menanggapi itu, Chiyu mengacungkan jempolnya dengan mantap.
"Misi berhasil."
Mungkin maksudnya dia berhasil menjalin hubungan denganku. Mendengar itu, ketiga gadis itu memerah.
"Ma-malam hari ketujuh giliranku, kan…"
"I-iya. Lalu malam kedelapan giliranku…"
"Berarti aku malam kesembilan… itu pun tergantung pada Sousuke-san."
Ketiganya berbisik-bisik. Roa menatap mereka dengan senyum hangat. Entah kenapa aku merasa canggung.
"Ah… itu… Roa juga baru pertama kali dan mungkin gugup, tapi kau sudah tahu apa yang kita lakukan di sini?"
Menyadari niatku untuk mengalihkan suasana, Roa menjawab dengan senyum cerah.
"Ya. Dengan berdiskusi terlebih dahulu di dalam party dan menentukan barang yang akan dibawa pulang, kita bisa memanfaatkan batas waktu tinggal tiga jam di area bonus ini tanpa menyia-nyiakannya."
Penjelasan tentang area bonus sudah selesai, dan barang yang akan dibeli juga sudah kami diskusikan bersama sebelum tidur.
"Benar. Karena anggota bertambah, jumlah barang yang bisa dibawa pulang menjadi enam."
"Namun sungguh seperti tuan yang luar biasa. Bukan hanya karena memperoleh ‘hak kembali’, tetapi karena mampu menahan godaan untuk pulang ke Jepang dan memilih bertahan bersama rekan-rekan."
"Itu sudah janji kami, dan aku tidak mungkin meninggalkan kalian."
"Hati seperti itu sungguh istimewa. Dalam kondisi ekstrem, ada orang yang akan mengutamakan keselamatan diri sendiri bahkan dengan meninggalkan kekasihnya, dan aku tidak menganggap itu sepenuhnya tercela. Namun, memilih bertahan demi orang lain adalah tindakan yang tanpa ragu mulia."
Ekspresi Roa begitu serius sampai aku tak bisa menganggapnya sebagai candaan.
"…Terima kasih."
"Tidak. Justru karena Tuan adalah orang seperti itu, semua orang menaruh kepercayaan penuh. Sebagai pelayan, aku merasa bangga."
Meski mengenakan seragam sekolah, sampai-sampai aku sempat berhalusinasi melihat pakaian maid—auranya memang sangat melekat.
"Mm. Teman masa kecil yang bisa dibanggakan."
"Iya. ‘Memang Sousuke’ ya. Tidak bisa lagi disingkat."
"Hehe, aku senang Roa-chan juga menyadari sisi hebat Sousuke-kun."
"Kalau bukan Sousuke-san, kurasa tidak mungkin menyatukan anggota seperti ini."
Aku sampai hanya bisa tersenyum malu karena terus dipuji.
Aku berdeham dan memaksa mengganti topik.
"Ayo jangan menyia-nyiakan waktu…!"
Semua orang tersenyum hangat dan mengikuti alur pembicaraan.
"Kalau begitu kita mulai. Hmm, yang pertama pengering rambut, ya. Roa-chan sudah bertambah, dan mungkin nanti anggota juga bertambah lagi."
Dengan dua pengering rambut, dua orang bisa mengeringkan rambut sekaligus, dan kini Roa juga ikut.
Untuk saat ini Roa masih anggota sementara, tapi melihat keseriusan dan caranya berbaur, kemungkinan besar dia akan menjadi anggota resmi. Tidak ada yang keberatan dengan pendapat Shion.
"Lalu, panel surya tambahan. Kita sudah tahu itu bisa digunakan tanpa masalah di lingkungan kita, dan akan berguna juga kalau nanti membeli peralatan listrik lain."
Seperti yang Minori katakan.
"Terus, TV layar besar! Kalau sudah gelap, tidak ada yang bisa dilakukan!"
Shouko berteriak. Soal ini juga disetujui semua orang.
Sebenarnya, karena gadis yang bertugas malam akan datang ke kamarku, aku pribadi tidak punya keluhan…
Namun tetap saja, setelah matahari terbenam berbahaya untuk menjelajah, dan kegiatan di rumah juga terbatas, jadi agak membosankan.
Aku pernah mendengar cerita bahwa dulu, saat malam tiba dan hanya ada cahaya bulan, lilin pun terlalu berharga sehingga orang-orang hanya bisa tidur—rasanya memang seperti itu. Bisa dimengerti kalau anak zaman sekarang merasa itu berat, jadi ini adalah pilihan bersama.
Lalu, kami beralih ke tahap pengujian.
"Pertanyaan untuk papan tulis misterius. Apa yang terjadi kalau kita mencoba menyiapkan fasilitas yang butuh koneksi internet di pulau itu?"
[Tidak mungkin terhubung ke internet. Mengenai apakah akan diimplementasikan di masa depan, kami juga tidak dapat menjawab.]
Menanggapi pertanyaan Chiyu, teks mengalir di monitor.
"Kalau bisa, tinggal colok perangkat output gambar saja, kita bisa menonton banyak hal tanpa batas."
Ada perangkat yang, jika terhubung Wi-Fi dan berlangganan layanan streaming, cukup dicolokkan ke TV untuk menonton semuanya.
Kalau internet tidak bisa dipakai, membeli perangkat itu pun tidak ada artinya.
"Kalau begitu, mau tak mau kita harus membeli perangkat lunaknya satu per satu."
"Supaya bisa menonton sebanyak mungkin, mari beli paket box set lengkap."
Perkataanku membuat Shouko bereaksi. Kami jelas tidak bisa pulang bersama-sama hari ini atau besok, jadi ke depannya kesempatan untuk datang ke sini pasti masih banyak.
Dengan kemampuan craft-ku pun aku tidak bisa menghasilkan film atau anime, jadi untuk barang-barang seperti itu kami bisa mengandalkan tempat ini. Maka kami menambahkan satu karya visual, sehingga totalnya menjadi "4 item".
"Selanjutnya… buku pelajaran."
"Benarkah itu tidak apa-apa?"
Minori berkata dengan nada cemas, tapi ekspresi semua orang justru cerah.
"Tentu! Maksudku, bukan cuma Minorin, semuanya juga bisa pakai. Bahkan, kami malah ingin kamu yang mengajari."
"Kita kan pulang sambil membawa ingatan kita. Kalau dipikir-pikir, belajar di sini pasti akan sangat membantu saat kembali ke Jepang."
"Iya. Nanti kita kumpulkan semua mata pelajaran, lalu setelah itu beli buku referensi juga, dan bidik peningkatan kemampuan akademik bareng-bareng."
"Ini memang cara memanfaatkan kehidupan di pulau tak berpenghuni yang hanya bisa dilakukan oleh party Tuan yang sudah membangun kehidupan yang stabil."
"Kalian semua… ah, terima kasih. Kalau begitu, mari kita adakan sesi belajar kapan pun."
Minori terlihat sangat senang.
Item terakhir kami pilih sebagai konsol game rumahan. Meski dibawa pulang hari ini pun belum bisa langsung dipakai karena belum ada perangkat lunaknya, ini untuk persiapan hari-hari berikutnya.
Semua orang mendesakku untuk menyebutkan barang yang kuinginkan, jadi aku menjawabnya. Sepertinya itu bentuk perhatian mereka—karena aku terlalu memikirkan para perempuan, mereka ingin aku juga memikirkan diriku sendiri. Kalau begitu, aku menerimanya.
Ke depannya, kalau kami membeli perangkat lunak atau menambah kontroler, jumlah game yang bisa dimainkan dan orang yang bisa ikut juga akan bertambah. Sebagai penggemar game, tentu aku senang. Dengan begitu, totalnya menjadi "6 item".
Kami mengamankan barang-barang yang diincar sambil memanfaatkan tiga jam sepenuhnya untuk menjelajahi mal.
Kami mencari barang yang ingin dibeli berikutnya, sekaligus meneliti bahan baku dan metode pembuatan untuk menargetkan produksi lewat "kemampuan crafting".
Tak terasa tiga jam berlalu, dan kami menyelesaikan seluruh "pilihan" barang. Penglihatanku memutih, lalu kami berpindah ke ruang putih yang biasa.
Pilihan dua arah setelah hari keenam pun dimulai.
◇
Ruang putih dengan papan tulis yang melayang. Hanya ada meja dan kursi, dan yang dipanggil adalah anggota party.
Aku, Chiyu, Shouko, Shion, Minori, ditambah Roa—enam orang.
"Jadi benar ya, orang-orang yang beraksi bersama memang dipanggil dalam satu kelompok."
Bagi Roa, ini pertama kalinya datang ke sini bersama orang lain—kecuali saat pertama—jadi dia terlihat terkejut.
[Hari keenam telah berakhir.]
[Penambahan monster akan diumumkan.]
Kalimat yang tampil di papan tulis membuat udara menjadi tegang.
"—!"
—Akhirnya datang juga…
Aku pernah memperkirakannya, tapi tak menyangka akan benar-benar terjadi. Pulau tak berpenghuni ini adalah dunia lain, dan tujuan papan tulis misterius itu adalah mengamati kami. Mereka ingin melihat bagaimana kami beradaptasi, dan jelas tidak menginginkan kehidupan yang monoton.
"Begitu kita mulai terbiasa bertahan hidup, mereka memberi kesulitan baru. Kepribadiannya buruk."
"Tunggu, tunggu. Monster itu apa? Maksudnya, monster seperti di manga atau game—slime atau goblin—akan muncul?"
"Aku berusaha tidak terlalu memikirkannya, tapi kalau Mashiro-kun ada, berarti sebagai monster musuh, Fenrir juga bisa saja muncul…"
Mendengar kata-kata Shion, Shouko memucat sambil berseru, "Eh!? Jangan…!"
"Aku tidak terlalu paham, tapi maksudnya makhluk imajiner akan muncul di dalam pulau ini…?"
"Bagi mereka yang tidak punya kekuatan bertarung, ini sangat berbahaya. Bahkan yang sudah mengamankan markas pun harus mengalihkan perhatian untuk pertahanan."
Minori dan Roa tetap tenang, namun wajah mereka tampak berpikir keras.
[• Tentang monster
Monster akan ditambahkan secara tidak berkala.
Monster yang ditempatkan akan dipilih oleh para peserta dengan menggunakan waktu ‘pertanyaan’.
Monster memiliki niat jahat terhadap manusia.
Monster dapat dikalahkan.
Saat aktivitas hidupnya berakhir, monster akan menghilang. Bagi mereka yang mengalahkan monster, poin akan ditambahkan.]
"Poin… benar juga. Saat kembali ke Jepang, kalau poinnya positif ada bonus, kan."
Sebaliknya, kalau negatif, ada penalti berupa koma selama sejumlah hari sesuai poin.
"Bukan cuma menambah krisis, mereka juga menyiapkan keuntungan. Makin licik."
"…Dan mereka tidak menjelaskan detail poinnya. Itu juga terasa seperti itu."
Shion mengangguk setuju dengan keluhan Chiyu.
"Itu juga ada sisi yang tak terhindarkan. Kalau misalnya diketahui bahwa satu penaklukan memberi ‘1’ poin, pasti akan muncul orang dengan ide-ide merepotkan."
"Eh? Minorin, maksudmu gimana?"
Menanggapi Shouko yang memiringkan kepala, aku berkata,
"Kemarin sempat dibahas soal penalti, kan?"
"Iya. Terus?"
"Tindakan pembunuhan, termasuk bunuh diri, dikenai penalti minus ‘1825’ poin. Sekitar lima tahun. Kalau di sini poin dari menaklukkan monster jadi jelas—perhitungannya bisa dibuat."
"Pe-perhitungan… jangan-jangan, ada yang akan berpikir membunuh orang lalu menutupinya dengan membunuh monster? I-itu—"
Hati Shouko yang percaya pada teman sekelas patut dihargai, tapi menurutku kami perlu memikirkan kemungkinan terburuk.
Lagipula, belum lama ini kami baru saja bertemu orang yang menembakkan senjata pada event sebelumnya. Dari sudut pandang lawan, aku yang menjatuhkan penjara batu mungkin juga tak jauh berbeda.
"Ini cuma kemungkinan. Selain itu, bukan hanya membunuh orang—ada juga yang mungkin berniat bunuh diri. Toh meski mati, mereka tetap bisa kembali ke Bumi. Kalau mereka lebih dulu mengumpulkan poin untuk meniadakan penalti, apa yang terjadi?"
"…Ah! Jadi bisa pulang ke Bumi tanpa risiko!?"
"Benar. Itu sama saja dengan mendapatkan ‘hak kembali’."
"Be-begitu ya. Pantas saja mereka tidak menjelaskan detail poin."
Shouko tampak paham. Karena jumlah poin yang diperoleh tidak diketahui, dan tidak ada cara untuk mengecek total poin, para peserta tidak bisa membuat penilaian itu.
Sepertinya poin hanya dimaksudkan sebagai faktor apakah saat clear nanti ada bonus tambahan atau tidak.
Kalau satu goblin bernilai ‘1’ poin, mungkin layak dilawan, tapi kalau ‘0,1’ poin, rasanya tidak cukup memotivasi untuk berburu aktif.
"Penambahan monster itu sendiri patut dikhawatirkan, tapi yang disebut waktu ‘pertanyaan’—itu berarti pemungutan suara dua pilihan, bukan? Artinya, akan ada hari di mana pada waktu yang sebelumnya menambahkan elemen yang membantu kita, justru monster yang ditambahkan."
Kekhawatiran Roa memang beralasan. Hari-hari di mana hanya elemen yang menguntungkan kami saja yang ditempatkan telah berakhir.
Mulai sekarang, berbagai masalah merepotkan juga akan bertambah.
"Sepertinya kita bakal makin sering mengandalkan Mashiro, Mikron, dan kekuatan Minori."
"Iya, serahkan padaku…!"
"Uuh… aku sih nggak mau, tapi mau bagaimana lagi…"
Shouko mungkin mengkhawatirkan para makhluk panggilan itu. Aku juga tidak ingin dua makhluk itu sampai terluka.
"Definisi penaklukan itu apa?"
Chiyu memastikan satu per satu.
[Pada saat monster menghentikan aktivitas hidupnya, orang yang terakhir memberikan damage akan menjadi penakluk.]
"Definisi damage?"
"Yang dimaksud adalah intervensi yang disertai luka."
—Yang bisa bertarung memang diuntungkan, tapi dengan begini non-petarung pun masih bisa mendapatkan poin.
Cukup bekerja sama dengan rekan, lalu memberi satu luka kecil saja—misalnya dengan pisau—pada monster yang sudah sekarat.
Karena poin diberikan kepada "orang yang terakhir memberikan damage".
[Pertanyaan. Kedelai atau jagung, mana yang dibutuhkan untuk kehidupan selanjutnya?]
Semua orang yang tadi tegang menghela napas lega.
Sepertinya bukan penambahan monster.
[Kedelai/Jagung]
Meski begitu, seperti biasa, masuk ke pertanyaan tanpa aba-aba sama sekali…Padahal kami belum sepenuhnya mencerna soal monster.
"…Sepertinya hari ini beda."
"Syukurlah mereka tidak sekejam langsung mengumumkan lalu langsung menerapkan."
"Eh, teman-teman. Katanya voting bebas, tapi hari ini boleh nggak kita pilih kedelai?"
Ekspresi Shion serius. Kedelai adalah bahan utama kecap dan miso, jadi wajar kalau sang kepala koki menginginkannya.
Lagipula, aku juga menginginkannya.
Kami saling mengangguk dan memilih kedelai. Namun, total suara terpecah, dan sempat jagung unggul.
Mungkin bagi teman-teman sekelas lainnya, jagung terlihat lebih menarik karena tinggal dikupas lalu dibakar atau direbus sudah bisa dimakan.
"Karena telah melewati suara mayoritas, voting ditutup.
"
"Mulai hari ketujuh, ‘kedelai’ akan ditempatkan di lingkungan."
"Yess…!"
Shion mengepalkan kedua tinjunya dengan lucu, tampak senang. Sepertinya kedelai berhasil menang. Mungkin juga karena kami sendiri sudah memegang enam suara.
Namun entah kenapa, rasanya jumlah kubu kedelai tiba-tiba bertambah banyak… atau cuma perasaanku saja?
Nah, kalau begini, hari ketujuh akan segera dimulai, tapi…
Kami tahu masih ada sedikit waktu sebelum itu, di mana kami bisa mengajukan pertanyaan pada papan tulis misterius.
"Kalian bilang ada syarat untuk membawa pulang ingatan dari pulau ini, tapi bagaimana dengan kondisi tubuh? Luka yang didapat di sini, apakah juga akan tercermin saat kembali?"
[Informasi tubuh fisik di pulau utama akan tercermin saat kepulangan. Cedera, penyakit, bekas luka, kemampuan fisik, pengalaman seksual, kehamilan, dan sebagainya akan diperbarui seolah-olah sudah ada sejak awal, jadi harap diperhatikan. Adapun segala perubahan mental terikat erat dengan ‘ingatan’, sehingga tidak akan tercermin kecuali memenuhi syarat untuk diwariskan.]
Jika manusia dibagi menjadi tubuh dan jiwa. Tubuh akan diwariskan apa adanya, lalu diperbarui ke tubuh di Bumi.
Sementara jiwa hanya bisa diwariskan jika memenuhi syarat. Sepertinya begitu maksudnya.
Artinya, tubuhku yang makin terlatih, serta stamina yang meningkat, juga akan terbawa pulang. Patut disyukuri, tapi juga agak menakutkan…
"Berarti, kondom itu memang wajib."
Chiyu bergumam pelan, membuat semua orang tersipu. Tapi itu hal yang penting. Karena kalau ada yang hamil di pulau ini, kehamilan itu akan ikut terbawa.
"Meskipun dibilang informasi tubuh akan diwariskan, kalau misalnya seseorang melahirkan di pulau ini, bagaimana jadinya?"
Terlepas dari soal apakah akan hamil atau berapa lama sampai melahirkan, itu hal yang memang mengganjal di benak Minori.
"Bayi akan diproses sebagai informasi yang terikat pada ‘tubuh’ sang ibu, dan akan tercermin saat kepulangan.
Tidak diperlukan ‘hak kembali’ secara terpisah."
Sesaat setelah jawaban itu muncul, pandanganku kembali diselimuti cahaya putih.
[Hari ketujuh dimulai.]






Post a Comment