NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Isekai Rakuraku Mujinto Life Volume 2 Chapter 4

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 4

Hari Ketujuh

"Fuaa. Chiyu… pagi… hm?"


Saat terbangun, Chiyu yang seharusnya ada di sampingku tidak terlihat. Tapi anehnya, aku masih merasakan kehangatan.


Lebih tepatnya, bagian bawah tubuhku terasa sangat hangat….


Terdengar suara pica-pica, jubojubo—tunggu, jangan-jangan…!?


Kesadaranku yang masih samar langsung terjaga sepenuhnya. Aku buru-buru menyingkap selimut, dan di sana ada teman masa kecilku yang berambut perak, Chiyu, menekuk tubuh di antara kedua lututku sambil memasukkan kontol itu ke dalam mulutnya.


"Mm. Pagi…"


"Ugh…. Chiyu, sampai sejauh ini juga…"


Begitu kusadari, kenikmatan langsung menyerbu. Hanya batang itu saja yang terendam dalam dunia hangat dan licin, dan rasa bahagia itu memenuhi otakku. Mau tak mau aku berpikir, dia pasti sudah menuntaskan semua karya yang pernah kusukai. Bahkan keinginan lelaki untuk dibangunkan oleh wanita cantik dengan cara seperti ini pun dia penuhi. Pengabdian Chiyu membuatku segera mencapai batas.


"Chiyu, sebentar lagi bahaya."


"Mm. Keluarin."


Chiyu mempercepat gerakan kepalanya. Gerakan yang semata-mata mendorongku untuk memancarkan itu membuat gairahku mencapai puncak, dan tepat setelah bangun tidur, aku pun melepaskan sperma ke dalam mulut teman masa kecilku.


"…Mm. Juu, juu~, mm, nku…"


Dia menampung semuanya di dalam mulut, memperlihatkannya kepadaku, lalu menelannya.


Setiap kali tenggorokannya bergerak, membayangkan cairan yang kuhasilkan masuk ke dalam dirinya membuat gairah yang tadinya hampir mereda kembali tersulut.


"Padahal kemarin kita sudah begitu… kental banget…. Perkembangan rencana absolutisasi Sou-kun berjalan lancar."


Chiyu sempat mengernyit sejenak sambil berkata begitu.


"Tolong hentikan rencana aneh itu."


Bagaimana kalau nanti aku cuma bisa mikirin hal mesum seharian penuh. Setelah menelan, Chiyu masih membersihkan batang itu dengan lidahnya secara telaten.


"Enak… nggak?"


"Nggak… maksudku, itu luar biasa. …Terima kasih."


"Mm. Jujur itu yang terbaik. …Ngomong-ngomong, Sou-kun. Kalau aku bilang aku juga mau, kamu bakal gimana?"


Seketika, di mata teman masa kecilku yang biasanya tanpa ekspresi, terlihat seolah ada kilau cabul.


"…Kalau buru-buru, masih sempat sarapan… ayamnya aman?"


"Iya. Hari jaga aku sudah bilang ke Roa dari kemarin."


"Persiapanmu sempurna."


Chiyu berbaring telentang di atas ranjang. Aku pun menindih tubuhnya.



Begitulah, kami jadi terlalu bersemangat sejak pagi, tapi masih sempat tiba di waktu sarapan, meski nyaris.


Lebih tepatnya, karena dipanggil dari lantai bawah, kami berdua bergegas ke meja makan….


Shion tersenyum pahit, Shouko berusaha bersikap biasa tapi wajahnya memerah, Minori menunduk dengan telinga memerah, dan Roa menatap kami dengan senyum hangat.


"Hari ini aku coba bikin pancake pisang seperti yang kita bicarakan kemarin."


Sambil menikmati pancake pisang buatan tangan Shion, telur orak-arik, dan susu domba dingin dari kulkas, obrolan pun beralih ke cerita mimpi semalam.


"Kita nggak tahu monster apa yang akan datang, tapi menurutku pertahanan markas bakal jadi penting. Paling buruk, setelah penambahan, eksplorasi bisa jadi sulit, jadi sebelum itu aku ingin kita mengumpulkan material."


"Kalau monster itu nokturnal, gaya hidup kita sendiri bisa berubah. Meski kita punya Mashiro dan Mikron, rasanya kasihan kalau semuanya diserahkan ke mereka."


"Makasi, Minorin. Mashiro dan Mikron memang bisa diandalkan, tapi menyuruh mereka bekerja 24 jam demi kita itu keterlaluan."


"Iya. Pagi ini kita bagi dua tim untuk eksplorasi. Sore harinya aku akan memperkuat pertahanan markas."


"Siap, bos."


"Jangan panggil aku bos."


Meski hubungan kami sudah berkembang, Chiyu tetaplah Chiyu. Itu sedikit membuatku senang.


"Kalau kita sudah capek siang hari, malamnya nonton drama bareng ya!"


Kami memang memilih TV dan perangkat video kemarin, jadi itu memungkinkan.


Pemilihan judul kuserahkan pada Shouko, dan dia menemukan box set drama luar negeri lengkap enam musim, jadi sepertinya kami bisa menghabiskan waktu cukup lama. 


Suatu saat aku juga ingin membawa pulang box set anime klasik. Demi bisa menikmatinya, kami perlu menyiapkan antisipasi monster.


"Benar. Siang kita kerja keras, malam kita bersenang-senang."


Kalau begitu, saatnya membagi tim.


"Untuk sementara, kita bagi dua tim dengan Mashiro dan Mikron sebagai inti. Mashiro sebaiknya ditemani Shouko, dan Mikron denganku. Setuju?"


"Oke, oke. Mikron itu suka banget sama Sousuke, jadi pasti senang."


"Ahaha, aku bersyukur."


"Soal perasaan suka ke Sou-kun, aku nggak mau kalah."


Chiyu bersaing dengan Mikron tanpa ekspresi.


"…A-ahaha, makasih."


Aku refleks jadi malu. Mendengar ucapan Chiyu, para gadis lain tampak ingin menambahkan sesuatu, tapi sambil menggerakkan bibir, mereka menelan kata-kata itu.


"Ngomonginnya bukan di sini ya."


"Harusnya lebih… ada suasananya."


"Berdua saja mungkin lebih tepat…."


Aku hanya menangkap bisikan-bisikan kecil itu.


"Karena Minori-sama tampaknya tidak suka tempat tinggi, mungkin lebih baik beliau bersama tim Mashiro."


Roa, yang sedari tadi memandang para gadis dengan senyum lembut, angkat bicara. Meski seharusnya dia belum pernah melihat Minori takut ketinggian secara langsung, mungkin dia mengetahuinya saat aku tidak ada.


"Iya, benar. Itu akan sangat membantu."


"Aku juga ikut tim Mashiro. Terlalu memonopoli Sou-kun juga nggak baik."


"Kalau begitu, aku dan Roa-chan di tim Mikron."


"Baik. Aku akan berusaha sebaik mungkin agar berguna."


Tim Mashiro beranggotakan Shouko, Minori, dan Chiyu.


Tim Mikron beranggotakan aku, Shion, dan Roa. Pembagian tim hari ini jadi seperti itu.


"Barang yang besar dan berat ditangani tim Mikron. Aku punya ‘Inventory’."


"Setidaknya sampai sekarang, tidak pernah ada kasus ‘tambahan’ saling menimpa. Jadi, kalau kita mau mencari kedelai, peta ini mungkin berguna."


"Jadi maksudnya, sesuatu yang ditambahkan lewat satu pilihan ganda tidak akan ditimpa oleh tambahan dari pilihan ganda lain?"


Penafsiran Shion tampaknya benar, dan Minori mengangguk.


"Iya, benar. Jadi, kalau kita mencari sesuatu yang baru ditempatkan, itu berarti mencarinya di lokasi yang sebelumnya tidak terkait dengan pilihan ganda."


Berarti, di tempat di mana pohon apel berada, meskipun ke depannya ada sesuatu yang ditambahkan, pohon apel itu akan tetap ditempatkan di sana. Ini memang baru kecenderungan saat ini, jadi masih ada kemungkinan berubah di masa depan, tapi tetap saja ini informasi yang berguna.


"Minorin, hebat banget. Kok bisa kepikiran hal begitu?"


"Tidak. Itu berkat kalian semua yang sudah mengingat lokasi-lokasi pengambilan bahan dan semacamnya."


"Kalau mau mencari kedelai, berarti di tempat yang belum dieksplorasi, atau lokasi yang tidak ada hubungannya dengan dua pilihan tadi. Oke, ingat."


Karena Minori menggambar satu peta lagi, kedua kelompok pun bisa memeriksanya.


"Terima kasih, Minori. Ini sangat membantu."


"…Ti-tidak apa-apa. Aku senang bisa berguna bagi semua orang."


Minori tampak sedikit malu-malu.


"Baik! Supaya tidak kalah dari Minorin, hari ini juga kita kumpulkan banyak-banyak!"


"Makanan yang kita kumpulkan bersama akan aku masak jadi enak, ya."


"Aku akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa mendukung kalian semua."


"Mm. Harem Sou-kun, berangkat."


"Jangan beri nama aneh."


Sambil menyela celetukan teman masa kecilku itu, kami pun keluar dari rumah.


Hasil musyawarah memutuskan bahwa kelompok Mikron akan menjelajahi area bawah tebing yang dulu menjadi markas, sementara kelompok Mashiro akan menjelajahi area atas tebing. 


Memang ada tempat untuk naik turun tebing, tetapi bahkan dengan kekuatan kaki Mashiro sekalipun itu tetap akan memutar jauh. Karena itulah, kelompok Mikron yang bisa terbang dan memotong jarak ditugaskan ke area bawah tebing.


"Wah…! I-ini, rasanya sungguh aneh dan menakjubkan…"


Di punggung Mikron yang sedang terbang, Roa berkata begitu. Kedengarannya seperti kagum, tapi juga sedikit takut.


"Hehe, iya ya. Tenang saja, Mikron-chan tidak akan menjatuhkan kita."


Aku berada di depan, Shion di belakangku, dan Roa di posisi paling belakang.


Melalui seragamku, dada Shion menekan punggungku, dan meskipun sudah hari ketujuh, jantungku masih saja berdebar.


Sambil menikmati sensasi itu di punggungku, kami terbang bersama Mikron menembus udara selama beberapa saat.


"Ah…! Mikron-chan, di sana!"


Shion menunjuk ke satu titik. Di bawah sana terlihat area terbuka seperti ladang. Namun yang paling mencolok adalah warnanya yang kecokelatan.


"Apakah sudah mengering…?"


"Daunnya, iya. Tapi kedelainya sendiri sepertinya pas untuk dipanen."


Menurut Shion, jika dipanen saat daunnya masih hijau, hasilnya akan menjadi edamame.


Pulau tak berpenghuni ini cukup baik hati, semua hasil panennya ditempatkan dalam kondisi siap dimakan atau paling pas untuk diambil, jadi kedelai pun mungkin diatur seperti ini. Tapi kalau begitu, sebagai pecinta edamame, aku juga ingin ladang dengan daun hijau… entah ada atau tidak.


Kami mendarat di tanah, lalu Shion berlari mendekati ladang yang berwarna cokelat itu. Terdengar suara kering samar. Sepertinya suara kedelai yang bergoyang di dalam polongnya.


"Sepertinya sempurna…!"


"Baik. Kalau begitu, kita panen."


"Apa yang harus kami lakukan?"


"Yang penting bagian kedelainya bisa diambil. Mau memotong dari pangkalnya juga boleh, atau dicabut langsung juga tidak apa-apa."


Shion menjawab pertanyaan Roa. Aku membagikan sabit batu dan keranjang punggung untuk panen kepada mereka berdua.


Aku sendiri mencoba kedua cara itu… tapi secara pribadi, mencabutnya terasa lebih praktis.


"Ini juga untuk ke depannya, jadi kita ambil sebanyak mungkin."


"Iya!"


"Baik, dimengerti."


Shion memotongnya satu per satu dengan hati-hati menggunakan sabit batu. Mikron menirukan caraku dan membantu dengan mencabut tanaman. Ia menyodokkan mulutnya, menggigit akar, lalu mengangkat kepala, dan tanaman itu pun tercabut.


Namun yang paling mengejutkan adalah Roa. Dengan gerakan secepat kilat, seolah terdengar suara shubababababa…!, kedelai terus-menerus dilemparkan ke dalam keranjang. Saat kami baru berhasil mencapai setengah satu baris, dia sudah menyelesaikan pengambilan baris kedua.


—Cepat…! Terlalu cepat…!


"Roa-chan, hebat ya. Aku tahu kamu cekatan waktu bantu masak dan bersih-bersih, tapi ini…"


"Ini adalah etika seorang maid."


…Sebenarnya, apa itu maid?


Kalau dipikir-pikir lagi, dia adalah orang dengan kemampuan bertahan hidup yang tinggi, sampai bisa bertahan hidup sendirian selama berhari-hari dan bahkan berhasil melarikan diri saat bertemu binatang buas di sumber air.


Kalau dalam kondisi prima, melakukan hal seperti ini mungkin saja… tapi tetap terasa agak berlebihan. Mungkin saja, kami telah merekrut seorang manusia super bernama maid.


Di pulau seperti ini, nilai seseorang yang bisa meningkatkan efisiensi pengambilan bahan tak perlu diragukan lagi. Meski begitu, kami juga tidak bisa menyerahkan semuanya pada dia, jadi aku, Shion, dan Mikron tetap melanjutkan panen dengan ritme kami sendiri.


"Tuan. Maaf, keranjang sudah penuh, jadi mohon izin untuk menyimpannya sebentar…"


"A-ah. Tentu saja."


"Terima kasih."


"Tidak, justru aku yang berterima kasih. Roa, kamu luar biasa."


"Tidak, sungguh berlebihan. Tanpa kemampuan Tuan, bahan-bahan ini tidak akan bersinar, dan tanpa keahlian Kepala Koki Shion-sama, bahan itu tidak akan berubah menjadi hidangan yang luar biasa. Dibandingkan itu, pekerjaanku masih jauh dari cukup…"


Meski berkata begitu, Roa terlihat senang.


"Kalau tidak ada bahan, kita tidak bisa melakukan apa-apa. Bisa mengumpulkannya saja sudah luar biasa."


"…Te-terima kasih. Kalau begitu, aku akan segera menyelesaikan sisanya."


Setelah aku menyerahkan keranjang yang sudah kosong, Roa kembali ke ladang untuk melanjutkan panen.


Pada akhirnya, ladang kedelai yang kami temukan itu menghilang tak sampai satu jam kemudian.


"Huff… capek juga ya…"


Shion tersenyum kecut sambil memegangi pinggangnya. Aku pun merasakan hal yang sama.


"Andai Chiyu ada di sini, kita bisa minta diberi Penyembuhan Dasar."


Meski begitu, dibandingkan sebelum berpindah ke sini, stamina kami sudah meningkat, jadi setelah istirahat sebentar, rasanya kami masih bisa bergerak lagi.


Roa sendiri, meskipun berkeringat, tetap berdiri dengan postur yang rapi.


Aku mengeluarkan botol minum dari ‘Inventory’ dan menyerahkannya pada mereka berdua.


"Terima kasih, Sousuke-kun."


"…Bahkan sampai detail sekecil ini pun bisa dibuat. Memang pantas disebut Tuan."


Itu adalah botol minum dengan mekanisme tutup yang berputar melalui alur-alur halus yang diukir. Sambil mengelus Mikron seolah mengapresiasinya, aku juga minum air. 


Karena air yang disimpan adalah air yang sebelumnya didinginkan di kulkas, rasanya dingin dan nyaman di tenggorokan.


Aku juga membagikan handuk kecil kepada semua orang, dan kami masing-masing mengusap keringat.


"Kerja bagus, semuanya. Setelah istirahat sebentar, kita lanjutkan eksplorasi."


Setelah mengambil jeda singkat untuk menenangkan napas yang masih terengah, kami kembali menaiki punggung Mikron.


Lalu, saat kami hendak memperluas langkah ke area yang tidak tercantum di peta—


Mikron mendadak berhenti di udara.


"Ada apa, Mikron? Menemukan sesuatu?"


Mikron memiringkan kepalanya, lalu menggerakkan kepalanya ke depan dan ke belakang. 


Pada saat itu juga, kepalanya membentur sesuatu di ruang kosong, dan riak pun menyebar di udara.


Seperti batu yang dijatuhkan ke permukaan danau.


"…Apa itu?"


Dengan Mikron mengulanginya beberapa kali, akhirnya aku bisa memahami. Ada semacam dinding tak terlihat, dan kami tidak bisa maju lebih jauh.


——Papan tulis misterius itu menyiapkan area yang tidak bisa dimasuki…?


——Tidak, kalau begitu seharusnya ada pengumuman.


"Berarti ini kemampuan?"


Aku teringat mimpi sebelum perpindahan. Selain itu, di antara para teman, kami juga sudah saling berbagi informasi. Aku telah merangkum ingatan tentang siapa menjawab apa.


"Kemampuan untuk menciptakan dinding tak terlihat, ya?"


Aku meminta Mikron terbang sebentar tanpa menyentuh dinding itu, dan tampaknya dinding tak terlihat tersebut mengelilingi area tertentu dalam bentuk balok.


"Anak yang menyebutkan kemampuan seperti itu, ada nggak ya… Ah, m-mungkin…"


Shion tampaknya menyadari sesuatu.


"Iya, ini sepertinya kemampuan penghalang."


Mimpi pertama. Setelah Shouko ikut masuk ke percakapan antara aku dan Chiyu.


Sempat berubah seperti adu ide kemampuan, dan ada seorang gadis yang berkata seperti ini—


——"Kemampuan untuk memasang penghalang yang membuat serangga, binatang, dan orang lain tidak bisa masuk."


Kami turun ke tanah dan mencoba memukul ruang yang tampak seperti batas. Rasanya seperti ada dinding transparan yang dipasang. Dan itu cukup keras. Anehnya, meski dipukul, tidak ada suara sama sekali.


Pemandangan di seberang terlihat menyatu dengan area kami, tetapi kaki tidak bisa melangkah masuk.


Seperti di dalam game. Pemandangannya terbentang luas, tapi tidak dirancang agar pemain bisa masuk. Rasanya benar-benar menyebalkan.


"Untuk sementara kita sudah tahu kira-kira luasnya. Kita hindari penghalang ini dan lanjutkan eksplorasi."


"Iya, benar."


"Kalian berdua punya gambaran siapa orang di dalamnya?"


"Aku tidak terlalu dekat, tapi dia satu kelompok dengan Shouko dan Shion, kan?"


"Hmm… lebih tepatnya, Shouko-chan yang aktif mengajaknya bicara. Sepertinya dia bukan tipe yang suka bergaul."


"Begitu ya. Soal apakah bisa berbicara menembus dinding itu atau tidak, kita kesampingkan dulu. Kalau pun bisa berdialog, sebaiknya kita bawa Shouko."


Aku tidak tahu ada berapa orang di dalam, tapi Shouko pasti akan senang menemukan temannya. Selain itu, kemampuan ini—tergantung cara pemakaiannya—bisa sangat berguna sebagai pertahanan melawan monster.


Kalau kami bisa bernegosiasi, misalnya memberikan makanan atau pakaian sebagai imbalan agar mereka memasang penghalang di sekitar markas kami, itu akan sangat membantu.


"Dengan kemampuan komunikasi Shouko-sama, mungkin itu bisa terwujud."


Sambil membicarakan hal itu bertiga, kami hendak kembali menaiki punggung Mikron—pada saat itu—


Dari dinding tak terlihat—sebuah lengan kurus menyembul keluar dan meraih tanganku.


"Apa—!"


Karena lengah, aku hampir tidak bisa melawan, dan tubuhku langsung ditarik menembus dinding tak terlihat itu dengan mulus.


Dan di sana berdiri seorang gadis cantik, pemilik tangan tersebut.


"…Kuno, ya. Kalian tadi sedang membicarakan Shouko, kan?"


Rambut bob biru tua yang jatuh ke depan, tatapan tajam, lebih tinggi dari Chiyu tapi masih tergolong kecil, dan bertubuh dada besar.


Aura serigala penyendiri yang terpancar dari dirinya menandakan bahwa dialah gadis yang menginginkan kemampuan penghalang itu.


Namanya, kalau tidak salah—Yumekai Serina.


Aku biasanya samar mengingat nama teman sekelas yang jarang berinteraksi, tapi karena dia teman Shouko, aku mengetahuinya.


"Yumekai… kau selamat, ya."


"Dari voting harian, kamu juga tahu kan kalau tidak ada yang mati."


Voting akan berakhir begitu mencapai suara mayoritas. Dengan empat puluh siswa, mayoritas tetap di angka dua puluh satu suara, jadi jelas tidak ada yang mati. Tapi hidup dan benar-benar baik-baik saja itu dua hal yang berbeda.


Aku mengamati penampilannya. Seragamnya agak kotor dan sedikit terurai, tapi tampaknya dicuci dengan air, tidak separah kondisi Roa saat pertama kali kami menemukannya. Sebagai gantinya, seragam itu berkerut—mungkin bekas diperas untuk mengeluarkan air, karena jelas tidak ada setrika. Wajahnya juga tidak tampak pucat, tetapi tubuhnya sangat kurus.


Memang dari awal tubuhnya seperti itu, jadi sulit juga menilai apakah dia benar-benar makan dengan cukup atau tidak.


"Apa yang kau lihat-lihat?"


"Ah, tidak, maaf."


"Tak perlu minta maaf sih…… sudah, ceritakan saja soal Shouko."


Sikapnya sangat dingin, tapi mungkin beginilah jarak yang wajar dengan perempuan yang tidak akrab. Selama ini, para perempuan yang kutemui memang kebetulan saja semuanya baik.


Aku melirik sebentar ke luar dinding. Dari luar, Yumekai tidak terlihat. Namun dari dalam, tampaknya semua di luar bisa terlihat jelas. Mikron terlihat panik menanduk-nanduk dinding berkali-kali, Shion tampak hampir menangis, dan Roa pucat. Suara mereka juga terdengar, sepertinya aku sudah membuat mereka sangat khawatir.


"Tidak masalah bicara, tapi pertama-tama aku ingin memberi tahu teman-teman di luar kalau aku baik-baik saja."


"……baiklah. Aku juga tidak berniat membuat teman sekelas menangis."


Setelah mendapat izin, aku mencoba mengeluarkan wajahku saja ke luar penghalang. Dari sisi dalam, rasanya seperti ada selaput tipis yang terbentang. Sensasinya mirip ketika hanya sebagian tubuh dimasukkan ke dalam air mandi.


"Tenang saja, aku tidak apa-apa."


"Kyaa! S- Sousuke-kun!?"


"Tu-tuan, apakah benar-benar selamat? Ke-keadaan Anda terlihat seperti hanya tinggal kepala saja……"


"Oh, jadi dari luar terlihat begitu ya. Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku akan bicara sebentar dengan Yumekai."


"Eh!? Sousuke-kun!?"


Lalu aku kembali masuk ke dalam penghalang.


"……kenapa kau tidak kabur?"


"Kau ingin aku kabur?"


"Itu bukan jawaban."


Yumekai menatapku tajam. Andai Shion ada di sini, dia pasti bisa langsung tahu kalau aku berbohong, tapi jelas itu tidak mungkin.


"Kau menarikku masuk karena aku terlihat seperti pemimpin, kan? Dan topiknya tadi soal Shouko. Artinya, kau bukan musuh—kau hanya khawatir pada temanmu. Tidak ada alasan bagiku untuk kabur."


Kalau benar berniat bermusuhan, seharusnya yang ditarik masuk itu perempuan, bukan laki-laki.


Fakta bahwa dia tidak melakukannya berarti dia ingin berbicara dengan orang yang tampak memegang keputusan.


"……oh begitu. Jadi, di mana Shouko sekarang?"


"Dia sedang bergerak bersama kami."


"Terus naga di luar itu apa? Monster memang belum muncul, kan?"


"Kau pasti mendengar kemampuan Shouko di mimpi pertama, kan?"


"Hah? ……oh, jadi itu sebabnya naganya berbulu? Karena bisa memanggil yang berbulu dan empuk? ……memang khas dia."


Yumekai tersenyum sesaat. Senyum hangat yang muncul ketika mengingat seorang teman.


"Kali ini giliranku bertanya, boleh?"


"Boleh. Itu adil."


"Kemampuanmu adalah memasang penghalang, kan?"


"Benar."


Dia tidak tampak terkejut karena aku sudah tahu. Mungkin dia sudah memperkirakan aku tahu dari ingatanku sendiri, atau dari penjelasan Shouko.


"Kalau ingatanku benar, penghalang ini bisa mencegah serangga, binatang, dan manusia masuk. Dan mengingat aku bisa masuk, berarti dengan syarat tertentu orang lain juga bisa."


"……lalu?"


"Aku ingin bernegosiasi. Aku ingin kau memasang penghalangmu di sekitar markas kami."


"Keuntunganku apa?"


"Kau masih ingat kemampuanku?"


"……bahkan belum pernah dengar. Aku cuma bereaksi pada Shouko dan menyebutkan kemampuanku sendiri."


"Ah, begitu. Kalau begitu aku jelaskan. Kemampuanku itu tipe pembuatan. Selama ada bahan, aku bisa melewati proses dan langsung mendapatkan hasil akhirnya."


"Hah? Itu keterlaluan praktisnya, kan?"


Sejauh ini, orang-orang yang kutemui di pulau ini langsung memahami betapa bergunanya kemampuan itu, jadi pembicaraan jadi cepat.


"Kalau menurutku, kemampuan penghalangmu juga tidak kalah hebat……"


"Tunggu, jadi apa sebenarnya kau ini? Bisa membuat baju dari serat, membuat gubuk dari kayu?"


"Ya, kurang lebih begitu."


"……kalau kau memilih kemampuan sambil memikirkan sejauh itu, kau hebat juga."


Tatapannya tetap tajam, tapi kata-katanya bernada kagum.


"Terima kasih. Jadi begini, aku akan berusaha menyiapkan apa pun yang kau butuhkan. Sebagai gantinya, lindungi markas kami dengan penghalangmu. Kalau kau belum punya tempat tinggal, aku bisa membuatkan rumah. Lalu perabot, baju ganti, handuk, sabun. Shion yang ada di luar itu jago masak, jadi makanan juga bisa kami sediakan."


Yumekai membeku mendengar ucapanku. Namun hanya beberapa detik, lalu dia tersentak kembali sadar.


"……entah kenapa, aku melihat Houzuki pakai seragam maid. Itu juga buatanmu?"


"Iya. Tapi perlu kujelaskan, aku tidak memaksanya memakainya."


"…………ada dua syarat."


"Katakan saja."


"Pertama, bawa Shouko ke sini. Maaf, aku tidak bisa langsung percaya semuanya. Bukan soal kemampuan, tapi soal dirimu."


"Itu wajar sih."


Justru akan aneh kalau dia langsung sepenuhnya percaya. Sebelum berpindah, Chiyu adalah teman masa kecilku, Shouko temanku, Shion mempercayaiku karena kemampuanku, dan Minori punya alasan pribadi untuk bersikap baik padaku.


Roa pun bersikap ramah karena pernah kami selamatkan saat dia hampir mati.


Kepercayaan itu dibangun. Dan sebagai gantinya, Yumekai ingin berbicara dengan Shouko yang sudah punya hubungan dengannya.


Melalui Shouko, dia ingin menilai apakah aku layak dipercaya.


"Syarat kedua—beri imbalannya sedikit demi sedikit."


"Hah? Itu tidak apa-apa?"


"Justru, apa kau yang tidak masalah? Kalau kau memberikannya sekaligus, aku tidak punya alasan untuk terus memasang penghalang di markasmu, kan."


Pemikiran itu masuk akal. Dia menyarankan pembayaran bertahap agar menjadi jaminan bahwa dia tidak akan mengkhianati kami. Sikapnya memang dingin, tapi dia anak yang baik.


"Kalau aku, soal itu tidak terlalu khawatir."


"Kenapa?"


"Kalau kau mengkhianati kami dan markas kami diserang monster, Shouko bisa terluka."


"……aku mungkin saja tidak peduli soal itu."


"Padahal kau khawatir pada Shouko sampai menarikku masuk ke dalam penghalang. Kalau kau tidak melakukan apa-apa, sebenarnya kau aman. Tapi kau tetap mengambil risiko. Padahal ada kemungkinan aku menyerangmu. Semua itu karena kau memikirkan Shouko."


"…………sudah, cukup. Aku mengerti."


Dia memalingkan pandangan dariku. Wajahnya terlihat kesal, tapi pipinya sedikit memerah.


"Untuk sementara, sore nanti aku akan datang lagi. Oh ya, kau punya makanan?"


"Hah? ……aku makan jamur dan buah-buahan sih."


Ini berarti aku harus membuka soal Inventory, tapi… kalau dia teman Shouko, seharusnya tidak masalah.


Di atas sebuah baki, aku menata "botol berisi sup hangat", "roti tanpa biji", "hidangan daging", "telur rebus", "garam", dan "beberapa buah" yang bisa langsung dimakan, lalu menyerahkannya padanya.


"Kalau mau, silakan dimakan."


"Eh? Kuno, tadi kau bagaimana caranya—"


"Penerapan dari kemampuanku. Aku bisa menyimpan dan mengeluarkan benda yang sudah kubuat."


Aku benar-benar ingin memastikan transaksi dengan Yumekai ini berhasil, jadi ada maksud juga untuk menunjukkan seberapa bergunanya pihak kami.


"……Terlalu praktis, bukan?"


"Tidak ada racunnya kok."


"Bukan itu yang aku khawatirkan. Kalian menginginkan kemampuanku, jadi membunuhku juga tidak ada gunanya."


"Ya juga sih."


"……Bawa Shouko lagi ke tempat yang sama nanti. Kalau jaraknya terlalu jauh, suaraku tidak sampai."


"Mengerti."


"——Kuno."


Sesaat sebelum aku keluar dari penghalang, Yumekai memanggilku. Ketika aku menoleh, dia memasang ekspresi rumit, ragu-ragu, lalu tetap memaksakan kata-kata ini keluar.


"Terima kasih untuk ini. Utangnya akan kubayar."


"Kalau begitu, pertimbangkan transaksi ini secara positif."


"Itu tergantung Shouko."


"Ahaha. Kalau begitu, sampai nanti sore."


"Baik."


Aku melangkah keluar dari penghalang.


"Sousuke-kun!"


"Ngmph……!?"


Dalam sekejap, Shion melompat ke dadaku. Aku terkejut oleh benturan dan sensasi tubuhnya.


"Dasar, penjelasanmu kurang banget! Aku benar-benar khawatir, tahu!"


Dengan suara bergetar seperti hendak menangis, dia berkata begitu, dan aku tidak bisa membalas apa-apa.


"Maaf……"


Aku menepuk-nepuk punggungnya.


"……Syukurlah kamu tidak apa-apa, tapi lain kali bicarakan dulu dengan lebih baik ya."


"Iya, benar. Mulai sekarang aku akan begitu. Sepertinya Yumekai ingin bertemu dengan Shouko."


"Begitu ya. Wajar sih, bertemu lagi dengan teman dekat pasti membahagiakan."


"……Aku juga memiliki teman-teman yang keselamatannya mengkhawatirkanku."


Shion dan Roa mengangguk seolah merasakan hal yang sama.


"Untuk sementara, kita kembali dulu."


Jika hasil terbaik bisa didapatkan, mungkin pertahanan yang luar biasa akan terbentuk. Lagipula, Shouko juga pasti senang bisa memastikan keselamatan teman-temannya.


Aku mengelus Mikron yang melilit tubuhku seolah menenangkannya, lalu naik ke punggungnya.



Saat kembali ke markas, kelompok Mashiro masih belum pulang.


"Sousuke-kun. Selagi menunggu yang lain, boleh aku minta tolong?"


Setelah turun dari Mikron dan berjalan menuju pintu masuk, Shion berkata dengan hati-hati.


"Tentu saja."


"Begini. Aku menemukan kedelai, jadi aku ingin membuat kecap dan miso."


"Oh, soal itu. Kalau bumbu, dengan ‘kemampuan Craft’ juga bisa dibuat, asal bahannya ada."


Namun wajahnya tetap tampak serius.


"Justru soal bahannya aku ingin bertanya. Perlu kedelai, garam, dan kouji……"


"Kouji itu……jamur, ya?"


"Iya. Dan karena jamur itu mikroorganisme, aku jadi bertanya-tanya, kalau bisa disimpan, jadinya bagaimana."


"Benar juga……"


Makhluk hidup memang tidak bisa disimpan begitu saja. Karena itu, hewan harus dibunuh terlebih dahulu……


Kami berdua sama-sama mengerang kecil sambil memutar otak.


"Maaf kalau aku keliru, tapi bukankah Tuan bisa menyimpan ‘jamur’?"


Ucapan Roa membuatku tersadar.


"Oh, benar juga. Seperti kata Roa."


Jamur juga termasuk fungi. Soal makhluk hidup atau tidak, pada akhirnya tergantung pengakuanku sendiri.


"Terima kasih."


Pernah juga aku memperluas penafsiranku sampai akhirnya bisa mengambil nigari dari air laut. Kalau begitu, mungkin dengan cara yang sama, aku juga bisa mendapatkan jamur kouji.


"Ngomong-ngomong, jamur kouji itu ada di mana?"


"Ehm, kalau di Jepang, katanya relatif ada di mana-mana……"


Tempat ini memang bukan Jepang, tapi tidak ada salahnya mencoba.


"Untuk sekarang, aku tidak bisa menyimpan udara itu sendiri…… begitu ya. Kita taruh tong di seluruh rumah, lalu menyimpannya. Mungkin ada sesuatu di dalamnya."


Kalau air di dalam tong bisa disimpan, seharusnya udara di dalam tong juga bisa.


Intinya, perlu wadah. Untuk mencoba berbagai kondisi, aku menaruh tong di banyak tempat: luar ruangan, dalam ruangan yang terkena sinar matahari, tempat yang tidak terkena matahari, kamar tidur, kamar mandi, dan lain-lain, lalu menyimpannya satu per satu.


"……Coba kulihat. Oh! Ada, Shion! ‘Jamur kouji’!"


"Wah……! Kamu benar-benar hebat, Sousuke-kun!"


"Sampai jamur pun bisa Tuan tangkap…… sungguh kemampuan yang luar biasa."


Aku juga mendapatkan ragi, jadi membuat roti pun sepertinya akan mudah. Untuk sekarang, Shion sudah menyiapkan biakan awal, jadi nanti bisa pakai itu. Yang penting, jamur kouji dulu.


"Kalau tidak salah…… aku punya catatan cara membuat bumbu, ya."


Kami bertiga menuju ruang tamu.


"Iya! Itu yang ditulis Minori-chan!"


Dengan memanfaatkan waktu tinggal di area bonus, masing-masing dari kami menghafal bahan dan cara membuat benda yang diinginkan, lalu setelah mimpi berakhir, segera menuliskannya dalam bentuk catatan.


Khususnya daya ingat Minori luar biasa, tingkat ketelitiannya lebih mirip salinan naskah daripada sekadar memo, jadi sangat membantu.


Biasanya, kouji dibuat dari beras, tetapi kali ini akan diganti dengan kouji kedelai. Proses seperti mengukus atau menyangrai kacang mungkin termasuk memasak, tetapi ‘kemampuan Craft’ tampaknya lebih mementingkan apa yang dibuat daripada prosesnya. Selama hasil akhirnya bukan masakan atau bahan makanan, semua tahapan bisa dilewati. Termasuk pembuatan kouji, fermentasi, dan pematangan.


Pekerjaan yang biasanya memakan waktu setengah tahun bisa selesai dalam sekejap dengan kekuatan ini. Kalau para pengrajin tahu, mungkin mereka akan marah besar, tapi aku hanya menggunakannya untuk bertahan hidup di pulau tak berpenghuni, jadi mohon dimaklumi.


Membangun rumah dalam sekejap pun sebenarnya cheat yang tidak seharusnya dibawa ke dunia nyata.


Kemampuan ini memang akan kubawa kembali ke Bumi, tapi aku tidak berniat menggunakannya untuk bertindak mencolok.


"Baik, selesai……!"


Miso ditempatkan dalam wadah plastik khas Jepang yang aku tiru dengan bahan kayu. Kecap dimasukkan ke botol kaca dengan cerat. Saat semuanya ditata di atas meja makan, mata Shion bersinar seperti langit penuh bintang.


Lalu dia menepukkan tangannya dengan cepat.


"Yeay……! Terima kasih, Sousuke-kun!"


Shion memelukku. Hanya dengan ini saja aku sudah merasa terbayar, benar-benar pria yang mudah puas.


"Itu juga kebutuhan kita semua, jadi jangan dipikirkan."


Meski berkata begitu, pipiku pasti memerah.


"Tidak, tetap kupikirkan! Oh iya! Ada makanan yang ingin kamu makan?"


"Hmm…… ah! Bisa buat jahe bakar?"


"Bagus! Bisa, bisa! Jahe yang kamu beri itu langsung kepakai!"


Baru kuingat, karena Shion ingin bumbu, aku sempat mengumpulkan berbagai bahan. Jahe juga termasuk di dalamnya.


"Kalau begitu, rasanya jadi ingin nasi, sup miso, dan kol…… tapi selain sup miso agak susah ya."


"Kol bisa diganti dengan sayuran daun lain, tapi beras memang sulit ya……"


"Untuk sup miso, isinya juga penting. Yang paling umum tentu tahu, bukan?"


Ucapan Roa mengingatkanku.


"Oh iya. Kita sudah punya nigari, berarti tahu juga sudah bisa dibuat."


Tapi resepnya tidak bertambah. Meski bukan masakan, juga bukan bumbu melainkan bahan makanan yang sah, pembuatannya tetap akan terkena penilaian memasak.


"Kalau cara membuat tahu, aku tahu caranya."


Karena Shion yang mengatakannya, aku mempersiapkan apa yang diperlukan dan menyerahkannya padanya.


"Menghancurkan kedelainya sedikit sulit sih."


"Ah, kalau begitu aku bantu."


"Tentu saja, saya juga akan membantu dengan senang hati."


Untuk beberapa waktu, kami bertiga dengan tekun menghancurkan kedelai. Seperti biasa, kekuatan seratus orang yang dimiliki Roa sangat membantu.


"Terima kasih, kalian berdua. Dari sini aku bisa sendiri kok."


"Oh ya?"


"Aku akan membantu sampai selesai."


"Hmm. Membuat tahu akan dilanjutkan, tapi masakannya ingin dilakukan setelah semuanya pulang... Lagipula kalian berdua pasti lelah setelah memungut hasil hutan kan? Terutama Sousuke-kun, kamu juga ada urusan harus pergi lagi siang nanti, jadi aku ingin kamu beristirahat sebentar."


Nanti kalau Chiyu menggunakan 'Penyembuhan Dasar' untukku, stamina akan pulih, tapi perhatiannya sangat berarti. Selain itu, mungkin dari sudut pandangnya, jika ada terlalu banyak orang di dapur justru akan mengganggu.


Kalau berdua mungkin masih tidak apa-apa, tapi bertiga mungkin terlalu banyak.


"Aku setuju jika Tuan beristirahat, tapi untuk aku, janganlah Tuan memikirkannya."


"Benarkah? Kalau begitu, Roa-chan, bisakah kamu memijat Sousuke-kun?"


Hm? Barusan, Shion sepertinya memberi isyarat mata ke Roa... Mungkin hanya perasaanku saja.


"Tidak, yang paling banyak bekerja saat memanen adalah Roa, aku tidak bisa meminta hal seperti itu padanya."


"—Baik, saya paham."


"Eh, Roa...?"


"Fufu, kalau begitu tolong ya."


"Kalau begitu, Tuan, silakan ke sini..."


Aku dibimbing tangannya dan naik ke lantai dua. Alur ini... jangan-jangan, Roa juga?


Setelah pengalaman dengan empat orang, aku mulai merasakan déjà vu. Lagipula, Roa pasti sudah mendengar tentang hubungan kami dari para wanita.


Dan dalam situasi itu, dia dengan sukarela ingin berduaan denganku...


"Apakah di kamar Tuan boleh?"


"Ah... Tidak, maksudku bukan itu... Em, Roa, apakah kamu baik-baik saja dengan ini?"


"Saya adalah maid yang melayani Tuan."


"Tidak, tidak... Itu aneh."


Melakukan hal seperti itu dalam hubungan tuan dan pelayan... Meskipun memang adegan seperti itu sering terlihat di buku-buku mesum.


Roa pada dasarnya bekerja di maid cafe, dan hubungan tuan-pelayan saat bekerja seharusnya dia artikan sebagai 'pekerjaan yang memberikan mimpi seperti itu'. 


Apakah dia tidak merasa jijik jika benar-benar diminta melakukan hal seperti itu?


Sementara aku berpikir begitu, kami tiba di kamarku. Tanpa bisa melawan dengan kuat, kami berdua sendirian di kamar.


"Memang benar, saya tidak akan melakukan hal seperti ini pada sembarang orang. Lagipula, saya tidak punya pengalaman pacaran sama sekali..."


Dia menganggukkan kepala dengan wajah memerah.


"Kalau begitu, malah semakin—"


Roa mendekatkankan tubuhnya ke dadaku, menatapku dari jarak dekat di mana bibir kami hampir bersentuhan.


"Meski begitu, dengan pemahaman penuh, saya memutuskan untuk melayani dengan sukarela. ...Apakah tidak diperlukan?"


Adakah pria yang bisa menolak hal seperti ini? Kalaupun ada, sepertinya aku bukan termasuk di antara mereka.


Pelanku, aku melingkarkan tanganku di pinggangnya. Kemudian Roa tersenyum lembut dan bahagia.


"Kalau begitu, saya permisi?"


Sambil menggerakkan rambut panjang bergelombang berwarna kremnya, gadis maid cantik nan lembut itu mendekatkan bibirnya.


Awalnya, hanya sentuhan ringan... chu... sekedar menyentuh. Dari sana suara ciuman perlahan menguat, dan dengan aku meresponsnya, bibir kami saling bertautan secara rumit.


"Chu... Nn... Inikah yang disebut ciuman... Meski hanya bibir yang bersentuhan, terasa panas... chu... nyaman... relo... dada ini berdebar kencang... Nn..."


Ketika bibir kami terpisah, air liur membentuk benang.


Melihat itu dengan wajah malu-malu, Roa membimbingku ke tempat tidur.


"Tuan, silakan telentang."


"A, aah..."


Aku tidak bisa menolaknya, tapi entah mengapa aku penasaran alasannya.


Saat aku telentang di tempat tidur, dia mulai dengan hati-hati membuka kancing seragamku.


"Roa, aku paham kamu, em, tidak merasa tidak suka... Tapi bolehkah aku bertanya alasannya?"


Mendengar ucapanku, dia menjawab sambil terus menggerakkan tangannya.


"Alasannya... Hmm, misalnya melihat keakraban yang baik antara semuanya, menerima kebaikan dari Tuan, ingin dijadikan maid resmi dari kelompok ini, penjelasan dari Chiyu-sama bahwa untuk itu perlu bergabung ke dalam harem, dan banyak alasan lain yang bisa ditambahkan belakangan..."


Ternyata ada pengaruh Chiyu juga ya. Meski baru sekarang kusadari, mungkin Chiyu adalah pusat spiritual kelompok ini.


Tapi yang kukhawatirkan sekarang bukan itu.


"Belakangan...?"


"Ya. Kemampuan saya, seperti yang Tuan ketahui, adalah 'kemampuan memahami apa yang diinginkan orang'. Saat pertama kali melihat Tuan, saya sangat terkejut."


"Eh? Apa aku menginginkan sesuatu yang aneh?"


Aku jadi agak cemas.


"Tidak. Yang Tuan inginkan adalah 'apa yang diinginkan para anggota'."


"...Ah, begitu rupanya."


Benar, aku memang ingin tahu apa yang diinginkan para wanita. Setelah itu, aku benar-benar bertanya pada Roa dan melakukan eksplorasi.


"Seiring dengan memahami situasi, kekaguman saya semakin kuat. Dengan kekuatan Kemampuan Craft yang serbaguna, dalam lingkungan seperti ini di mana tindakan seperti tiran pun bisa berlaku, tidak hanya memperlakukan anggota dengan setara, tapi juga dengan tulus menginginkan apa yang diinginkan anggota, betapa mulianya hati itu...!"


Mata Roa mulai bersinar penuh semangat.


Setelah membuka semua kancing, dia mendekatkan bibirnya seolah-olah hendak menindihku.


"Chu, chu. ... Sebelum mendapatkan kekuatan ini, saya cukup percaya diri bahwa saya mahir dalam merasakan apa yang diinginkan orang. Dengan mengamati dengan baik dan mengenal lawan bicara, itu bukanlah hal yang sulit."


Orang yang disebut 'pandai memperhatikan', pada dasarnya bukanlah seorang cenayang. 


Dalam situasi tertentu, jika seseorang memahami apa yang diinginkan oleh jenis orang tertentu, ia dapat menyiapkannya terlebih dahulu.


Jika mengenal lawan bicara dengan baik, akurasinya akan semakin tinggi.


Di meja sarapan, jika ada seseorang yang matanya melirik-lirik di atas meja di depan telur mata sapi — kita bisa menebak bahwa ia sedang mencari sesuatu untuk dituangkan. Jika mengenal orang tersebut, alih-alih menyodorkan semua bumbu, kita bisa memberikan garam secara tepat karena tahu bahwa orang itu menyukai garam.


Orang yang secara alami dapat menunjukkan kemampuan prediksi seperti itu di berbagai situasi, mungkin bisa disebut sebagai orang yang pandai memperhatikan.


Apakah Roa memang sejak lahir sudah mahir dalam kemampuan itu, ditambah dengan sifatnya yang suka merawat?


"Namun, meski saya yang mengatakannya, saya tidak bisa memenuhi semua keinginan."


Bibir Roa bergerak ke leherku. Dia menyedot kuat, chuuu, dan sensasi menggelitik merambat naik.


"Khususnya hubungan antara pria dan wanita, itu sulit bagi saya. Saya hanya ingin bisa membantu orang, namun banyak pria yang mengaitkannya dengan cinta dan asmara, sehingga sejak masuk SMP saya mulai membatasi interaksi dengan pria."


Bahkan di maid cafe tempatnya bekerja, sementara sebagian besar pelanggan menikmati situasi dengan pengertian, ada juga yang muncul dan jatuh cinta pada stafnya.


"Sekarang aku ingat, mungkin karena aku jarang melihat Roa berbicara dengan pria... nh..."


Bibirnya berpindah dari leherku ke bahu, tulang selangka, dan lalu—ke putingku.


Tonjolan kecil itu masuk ke dalam mulut Roa, dan saat dijilat lidah panjangnya, aku diserang sensasi yang tak pernah kurasakan sebelumnya. 


Bukan tidak nyaman. Bukan kenikmatan yang jelas seperti saat kontolku distimulasi, tapi juga tidak sepenuhnya tidak terkait. Perlahan-lahan otakku mulai menerima kenyamanan yang meresap ini.


"Meski ada yang menginginkan hati atau tubuh saya, saya tidak merasa ingin memberikannya. Karena—saya dulu berpikir bahwa yang saya inginkan adalah perasaan sukacita murni, seperti yang ditunjukkan anak-anak, yang tidak terkait dengan nafsu."


Seperti perasaan terpenuhi saat membantu orang dan mendapatkan ucapan terima kasih.


Semangat pelayanan Roa didorong oleh kebahagiaan kecil seperti itu. Jika salah paham dan dimintai hubungan romantis, dia pasti hanya akan merasa bingung.


"Dulu berpikir...?"


Itu berarti bentuk lampau.


"Ya. Meski mungkin hanya terasa sehari, setiap kali saya mengetahui apa yang Tuan lakukan, dan setiap kali hal-hal yang Tuan lakukan untuk saya bertambah, hati ini berdebar-debar, dan mata tidak bisa berpaling—saya menyadarinya."


Bibir Roa telah sampai di sekitar pusarku.


Dia melepaskan bibirnya sejenak, lalu mulai menggerakkan tangannya untuk membuka ikat pinggang celanaku.


"Meski memiliki kemampuan yang sama, berapa banyak pria yang bisa bersikap lembut seperti Tuan? Berapa banyak yang bisa menangguhkan 'Hak Kembali'? Berapa banyak yang bisa dengan tulus menginginkan apa yang diinginkan anggota, lebih dari keinginannya sendiri?"


Celanaku dilepaskan, dan celana dalam yang membengkak besar muncul. Melihat itu, Roa tersenyum dengan nafsu, dan terlihat agak senang.


"Saya menyadarinya. Saya ingin melayani bukan orang yang terus-menerus memaksakan keinginannya sendiri, melainkan orang yang bisa memperhatikan apa yang diinginkan orang lain."


Celana dalam diturunkan, dan kontol yang tegak berdiri terekspos. Roa membuka matanya lebar, dengan ekspresi terpesona dia menghela napas, "Hoo..."


"Jadi, alasannya adalah cinta pada pandangan pertama. Dan sejak itu, perasaan kagum saya semakin kuat."


"Roa..."


"Bolehkah saya melayani Tuan?"


Sengaja mungkin, Roa meminta persetujuan terakhir dariku.


"Ah, kumohon."


Mendengar ucapanku, dia tersenyum manis—dan menempelkan mulutnya pada kontolku. Seperti mencium kekasih, chu, chu, bibirnya menempel berulang kali.


Meski kenikmatannya sendiri seharusnya tidak terlalu besar, gerakan yang penuh kasih sayang itu membuat kegembiraanku memuncak.


"Mnn... Sudah memiliki barang yang bagus, tapi sekarang bahkan menjadi lebih besar satu lingkaran..."


Roa berhenti mencium sambil mengeluarkan suara terkejut, lalu perlahan mengangkat kepalanya.


Chuu...—sepertinya dia menempatkan ujungnya di bibirnya—lalu nyurun...!


Dalam sekejap kontolku tenggelam ke dalam mulutnya.


"Guh...!"


Gerakan mulut Roa tidak berhenti, berulang kali menarik batangku keluar lalu memasukkannya kembali ke dalam mulut. 


Tidak hanya itu. Sambil melilitkan lidah panjangnya pada kontolku, dia melakukan gerakan naik turun, sehingga kenikmatan yang berbeda dari sekadar menggunakan mulut biasa membanjiri pinggangku. 


Roa menempelkan kedua tangannya di tempat tidur sambil terus menstimulasi batangku hanya dengan gerakan kepalanya. Di saat yang sama, matanya terus menatapku, mengirimkan pandangan penuh kasih, jadi mustahil untuk menahannya.


Di depan teknik maid lembut yang terlalu menggairahkan, cairan keruh putih meledak tanpa peringatan.


"Roa, maaf... nh"


"Nnn...! Nku, chu, kok, kok... chu. Relo, relo."


Roa sempat menunjukkan ekspresi terkejut sejenak, namun langsung menyesuaikan diri.


Sambil menelan cairan sperma yang keluar tanpa tersisa, dia menjilati kontolku yang telah selesai crot seolah-olah merawatnya.


Ketika kenikmatan yang membuat kepalanya menjadi putih bersih mulai mereda, dia melepaskan mulutnya dari kontolku.


Kemudian, seolah ingin membersihkan air liur di sekitar mulutnya, dia mengusap bibirnya dengan jarinya sendiri.


"Mohon maaf, Tuan. saya mendengar dari Chiyu-sama bahwa Tuan menyukai jika ditampung di dalam mulut, namun saya malah menelannya."


Roa bukannya menyalahkan karena aku tiba-tiba mengeluarkannya, malah meminta maaf.


Dari ucapannya yang terasa agak terbalik itu, muncul kegembiraan yang tak terkatakan.


"Tidak... Aku yang harus minta maaf."


"Jangan khawatir. Jika Tuan bisa merasakan kenikmatan hingga keluar deras di mulut seorang maid, maka itu adalah kebahagiaan saya."


Sepertinya dia juga diberitahu tentang kecenderungan seksualku oleh Chiyu. Seperti biasa, aku merasa malu, tetapi berkat itulah aku bisa merasakan pengalaman seperti ini.


"Ah... Itu sangat menyenangkan."


"Saya tersanjung. Teknik yang saya asah dengan harapan suatu saat bertemu dengan tuan seumur hidup, ternyata bisa berguna. Itu yang terpenting."


Jadi, sejak sebelum pindah dunia, dia sudah berlatih untuk suatu saat punya kekasih...?


"Ah... Tapi, bukannya dulu kamu tidak tertarik pada cinta..."


Dengan kepala yang masih agak berkabut, aku mengingat kembali ucapannya.


"Bukan karena saya ingin hidup sendiri selamanya, hanya saja belum ada tuan yang membuat saya ingin menyerahkan hati dan tubuh. saya telah berlatih agar tidak mengecewakan ketika suatu saat menemukan orang yang ingin saya persembahkan segalanya."


Roa membusungkan dadanya, seolah berkata "Ehem!".


"Oh, begitu... ...Tapi apa tidak apa-apa memamerkan teknik seperti itu di pulau tak berpenghuni ini?"


Mendengar ucapanku, Roa memasang wajah ngambek.


"Betapa tidak peka, Tuanku. Maksudnya, aku sudah menemukannya."


Ia memalingkan pandangan dengan gerakan singkat, tampak kekanak-kanakan, namun sekaligus anggun.


"――――"


Ada perasaan ragu apakah aku memang pantas. Namun jika aku meminta maaf di sini, itu justru akan benar-benar tidak peka.


Setidaknya, agar bisa membuktikan bahwa pilihannya tidak salah, aku harus terus berusaha mulai sekarang.


"Terima kasih, Roa."


Kali ini sepertinya aku memilih jawaban yang benar, karena Roa tersenyum bahagia.


"Fufu. Jika Tuanku senang, itu yang paling utama."


Roa menampilkan senyum menggoda sambil dengan santai mengusap perut bawahku. Akibat rangsangan ringan itu, persiapan untuk yang kedua pun mulai berjalan.


Kami berdua sedang berada di kamar pribadiku seperti itu, namun……


"Aku pulang!"


Teriakan keras Shouko dari lantai bawah membuatku buru-buru mengenakan celana.


"Tuanku, biar aku yang mengancingkannya."


Tanpa sedikit pun panik, Roa menutup semua kancingku dalam sekejap dengan gerakan cepat.


Dengan kecepatan seperti itu, bukankah saat melepasnya juga bisa dilakukan dalam sekejap? Pikiran seperti itu terlintas.


"Itu tidak punya nilai emosional."


Seolah membaca pikiranku, Roa berkata demikian.


"…Masuk akal."


Sambil mengangguk setuju bahwa ia benar, kami berdua turun ke lantai satu untuk menyambut Shouko dan yang lainnya.


"Selamat datang kembali."


"Selamat datang kembali."


"Sousuke, Sousuke! Banyak banget, jadi tolong simpanin ya!"


Sepertinya fakta bahwa kami berdua berada di lantai dua tidak menimbulkan kecurigaan apa pun.


"Kerja bagus. Aku ke sana sekarang."


Aku keluar dan menyimpan keranjang raksasa yang terpasang pada Mashiro.


Melihat nama dan jumlah item yang ditampilkan di Inventory, aku dibuat kagum.


"Ini benar-benar banyak."


"Nahahaha! Kalau kami yang turun tangan, segini mah biasa!"


Shouko mengarahkanku tanda peace.


"Hm. Selalu habis-habisan, kalau capek tinggal pulih pakai sihir putih. Semakin bergerak, semakin diet. Sempurna."


Chiyu yang tadi memeriksa arah kandang ayam juga mengangguk puas.


"Itu… aku dengar dari Chiyu-san kalau tubuh Sousuke-san jadi lebih kencang dalam waktu singkat, jadi kami berpikir untuk ikut berusaha sedikit juga…"


Minori berkata sambil memainkan ujung rambut yang diikat ponytail, wajahnya tampak malu.


Begitu rupanya. Jadi memang ada alasan mereka begitu bersemangat mengumpulkan item. Sihir penyembuhan milik Chiyu juga memulihkan stamina, sehingga dengan mengulang olahraga dan pemulihan, tubuh bisa dilatih dengan kecepatan yang tak masuk akal secara normal. Dalam proses itu, lemak berlebih pun ikut berkurang, menjadikannya cocok untuk diet.


Meski begitu, tetap saja capek setengah mati, jadi butuh tekad. Selain itu, karena perut jadi cepat lapar setelah berolahraga, kalau tidak hati-hati, kalori yang terbakar bisa langsung tergantikan.


"Oh ya. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Shouko."


"Eh? Kenapa?"


Shouko yang tadi mengelus Mashiro seolah menghiburnya menoleh ke arahku.


"Kamu tahu tentang Yumekai, kan?"


"Ada apa dengan Serina? Jangan bilang kamu ketemu dia!?"


"Memang ketemu, tapi dia tidak bersamaku. Soal itu, nanti akan kujelaskan ke semuanya."


Kami pun menuju meja makan bersama. Begitu tiba di ruang tamu, Shouko langsung mendekatkan wajahnya.


"Terus!? Serina gimana!?"


Biasanya ia akan mengeluh lapar, tapi mungkin karena topiknya tentang teman, wajah Shouko terlihat serius. Aku pun menceritakan kejadian tadi kepada kelompok Mashiro. Setelah selesai menjelaskan garis besarnya—


"Ah! Iya, aku ingat! Soal penghalang atau semacamnya. Kayak di manga, yang bikin kotak atau tempat yang musuh nggak bisa masuk?"


"Benar."


Karena dia otaku, ia langsung paham, tapi memang biasanya orang akan bingung saat mendengar soal penghalang.


"…Dari ceritanya, itu kemampuan untuk membagi bagian dalam dan luar dengan menarik garis batas, lalu membatasi keluar-masuk di dalam area tersebut, begitu ya?"


Aku mengangguk pada Minori yang tampak berpikir.


"Penafsiran Minori benar. Pembatasannya juga cukup fleksibel, bisa menolak serangga, binatang, atau manusia."


"…Berarti, monster yang nanti ditambahkan juga bisa ditolak?"


Chiyu menangkap poin penting itu.


"Iya. Soal kekuatannya masih perlu diuji, tapi karena bisa diatur agar melarang keluar-masuk selain yang diizinkan, secara kemampuan seharusnya monster juga bisa ditolak."


"Hee, hee, berarti Serina juga boleh jadi teman, kan?"


Mata Shouko berbinar penuh harapan. Tidak ada yang memaksanya untuk mencari temannya, tapi bisa bergabung dengan teman yang kebetulan ditemui kembali tentu wajar untuk disambut dengan senang.


"Sejujurnya, itu tergantung Yumekai. Memikirkan soal monster yang bakal bertambah ke depannya, aku sih setuju kalau dia bergabung…"


"Eh? Ada yang nggak boleh?"


"Bukan begitu. Kalau mau jadi anggota, aku ingin memutuskannya lewat diskusi bersama seluruh party. …Lagipula sebelum itu, aku diminta untuk membawa Shouko dulu."


"Ooh! Kalau gitu ayo pergi, Sousuke!"


Shouko terlihat sudah tidak sabar ingin langsung berangkat.


"Iya. Tapi setelah makan aja. Aku juga sudah memberi Yumekai persediaan makanan, dan karena ada penghalang, tempatnya aman."


"U, i-iya. Maaf, aku jadi terlalu bersemangat."


Ia menggaruk pipinya dengan wajah malu.


"Nggak apa-apa. Wajar kok senang tahu temanmu selamat."


"…Iya. Terima kasih."


"Lagi pula, meskipun tidak bisa jadi anggota, aku ingin setidaknya menjalin hubungan kerja sama."


"Kerja sama?"


"Kira-kira, sebagai gantinya dia memasang penghalang di sekitar markas kita, kita memberikan barang hasil pembuatan kita."


"Oh begitu~. Jadi meskipun tidak bisa tinggal bersama, kita tetap bisa saling membantu."


Kalau ini bisa menjadi hubungan saling membantu, maka itu hubungan yang sehat dan sangat aku sambut. Aku ingin menghindari situasi di mana bantuan sepihak dari pihak kami menjadi hal yang biasa, jadi pemilihan rekan harus dilakukan dengan hati-hati.


Karena Shouko sudah tenang, aku pun mencoba mendengar pendapat semua orang.


Chiyu berkata, "Berguna untuk pertahanan. Aku setuju."


Shion berkata, "Kalau benar-benar melihatnya langsung, kelihatan jelas itu kemampuan yang luar biasa, jadi aku juga setuju."


Minori berkata, "Kalau bisa menjalin hubungan kerja sama, keuntungannya besar juga bagi kita. Lagipula dia teman dekat Shouko, jadi dari sisi itu aku rasa bisa dipercaya."


Roa berkata, "Pendapatku sebagai anggota sementara juga ingin didengar? …Kalau begitu, aku juga akan memberikan suara setuju. Dengan adanya penghalang, kita bisa membuat tamu yang tak diundang angkat kaki, menurutku itu sangat luar biasa."


Semuanya setuju.


"Terima kasih, semuanya!"


Mungkin karena temannya diterima, Shouko tampak sangat senang.


"Untuk sementara, sore ini aku dan Shouko akan pergi menemui Yumekai."


"Oke! Kalau begitu makan siang dulu—eh, bukannya baunya enak banget!?"


Shouko mengendus-endus sambil mengintip ke dapur. Benar saja, aroma miso dan kecap tercium harum.


"Fufu. Kelompok Mikron menemukan ladang kedelai, soalnya. Roa-chan berjasa besar saat panen, Sousuke-kun membuat miso dan kecap, lalu semuanya aku masak…!"


Hari ini Shion terlihat sedikit lebih bersemangat dari biasanya. Rupanya penambahan kedelai benar-benar membuatnya senang.


Memang, aroma sup miso yang menyebar di meja makan terasa menyenangkan.


Hari ketujuh sejak hal-hal yang biasa di Jepang hilang. Mungkin terdengar seperti waktu yang singkat, tapi bahkan perjalanan beberapa hari saja bisa membuat seseorang rindu rumah. 


Dalam kondisi tidak bisa pulang dengan bebas, perasaan itu wajar jika semakin kuat. Berkat sup miso, rasanya seperti kami berhasil merebut kembali sepotong kehidupan sehari-hari. Mungkin terdengar berlebihan, tapi itulah yang kurasakan.


"…Sou-kun, suka menu jahe panggang. Perutnya bakal dikuasai lagi."


Chiyu tampak mengkhawatirkan sesuatu. Melihat teman masa kecilku itu, aku tak bisa menahan tawa.


Sebagai catatan, jahe panggang dengan saus yang meresap itu dan sup miso tahu-wakame sama-sama luar biasa enaknya.


Aku sangat berterima kasih pada Shion sang kepala koki.



Setelah makan, aku keluar karena didesak Shouko yang sudah tak sabar.


"Lokasinya Mikron yang ingat, jadi kita minta dia mengantar."


"Oke! Kalau begitu Mashiro jaga rumah ya!"


Mashiro yang menengok dari kandang Fenrir bersuara seolah mengerti.


Mikron mendekat dengan kecepatan seakan meninggalkan angin di belakangnya, jadi aku mengelusnya lalu naik. Aku di depan, Shouko berpegangan di belakang. Sentuhan dadanya di punggungku tetap saja membuatku tegang.


"Kalau begitu, Mikron, tolong ke tempat yang tadi."


Mikron mengangguk-angguk lalu terbang naik. Ia langsung menuju area tempat penghalang tak terlihat itu berada.


"Ayo Mikron! Lurus ke tempat Serina berada!"


"Kalau lewat udara memang enak ya, nggak ada yang menghalangi, jadi bisa benar-benar lurus."


Sekali lagi aku bersyukur atas mobilitas para makhluk fantasi ini. Siswa biasa yang menjelajahi hutan dengan berjalan kaki pasti punya batas. Kalau sudah membuat markas, mereka harus kembali sebelum gelap, sehingga area jelajah otomatis menyempit. Kalau berhati-hati agar tidak tersesat, areanya akan makin kecil.


Akibatnya, jenis bahan yang bisa didapat pun terbatas. Aku teringat masa awal kami yang hampir hanya makan jamur. Meski ada hal baru yang ditambahkan, kalau di luar jangkauan, tetap saja tidak bisa didapatkan.


Namun kami tak perlu khawatir soal itu. Karena kami punya Mashiro dan Mikron.


"Makasih ya, Mikron."


Rasa syukur meluap, jadi aku mengelus naga hitam yang empuk itu.


"Hah? Memang sih Mikron anak baik, tapi kenapa tiba-tiba?"


"Cuma kerasa banget betapa berartinya dia."


"Oh ya? Kalau gitu, kamu juga boleh berterima kasih ke aku dong, yang manggil Mikron."


"Iya. Aku benar-benar terbantu karena ada Shouko."


Sikap positif dan keceriaannya jelas memberi pengaruh besar pada suasana cerah kelompok kami.


"Mufufu. Aku juga senang bisa ketemu lagi sama Sousuke."


Sambil berkata begitu, Shouko memelukku erat dari belakang.


Begitulah, sambil merasakan kebahagiaan di punggungku, kami terbang beberapa saat sampai Mikron mulai menurunkan ketinggian.


"Sepertinya sekitar sini."


"Kelihatannya cuma hutan biasa."


"Iya. Penghalangnya memang nggak kelihatan."


"Ah, iya ya. Kalau di manga suka digambar transparan biar pembaca ngerti."


"Sering banget. Efek buat pembaca, tapi di ceritanya sendiri dianggap nggak kelihatan."


Kalau realitas dalam cerita digambar apa adanya tapi tidak tersampaikan ke pembaca, itu juga percuma, jadi aku justru suka dengan efek seperti itu. Gambar penghalang yang terbentang juga kelihatan keren.


Sayangnya, penghalang milik Yumekai memang tidak bisa dilihat. Mikron turun hingga dekat tanah, lalu kami berdua turun.


Saat meraba-raba mencari batasnya, tanganku segera menyentuh sesuatu.


"Oh, di sini. Nggak kelihatan, tapi jelas ada dinding."


Melihatku menepuk-nepuk udara kosong, Shouko juga mengulurkan tangan.


"…Ah! Beneran ada. Aneh rasanya. Di balik sini, Serina ada, kan?"


Tiba-tiba, dari seberang batas, sepasang tangan terulur dan menarikku serta Shouko masuk.


"Whoa."


"Kya!"


Sedikit terkejut, tapi karena ini yang kedua kalinya, aku tidak panik.


Shouko tampaknya cukup terkejut, tapi begitu melihat orang yang berdiri di depannya, wajahnya langsung berubah ceria.


"…Beneran Shouko."


"Serina!"


Shouko memeluk Yumekai dengan erat, hampir sampai menggesekkan pipinya.


"Ganggu, ganggu. Lepasin."


"Hiks. Serina, kamu kurus banget…"


"Berisik. Dari awal juga begini. Kamu tahu kan."


"Seragammu juga kusut…"


"Habis dicuci air terus diperas, jadinya begini. Ngomong-ngomong, kenapa seragammu kelihatan kayak baru?"


"Di tempat kami, Sousuke yang beresin."


"Hah?"


Soal barang yang disimpan lalu ditata ulang jadi bersih memang belum aku jelaskan. Setelah aku jelaskan karena tatapan tajamnya, aku mendapat komentar, "…Kekuatan Kuno itu kebangetan praktisnya."


"Serina juga hebat dong! Bisa bikin penghalang kayak gitu!"


"…Ya, sih. Nggak ada yang ganggu itu enak. Tapi jujur aja, ribet juga."


Di Jepang modern, orang masih bisa hidup nyaman dengan meminimalkan interaksi dengan orang lain.


Namun kehidupan nyaman seperti itu tetap berdiri di atas pekerjaan orang lain, meskipun tidak saling bertatap muka. Kalau benar-benar sendirian di pulau tak berpenghuni ini, hasil akhirnya mungkin adalah hidup tanpa gangguan, tapi juga penuh ketidaknyamanan.


"Ngomong-ngomong, Serina sendirian?"


"Jelas. Ada sih yang ngumpulin anggota pas event, tapi aku nggak mau terlibat sama yang begituan."


"Ngumpulin anggota?"


Ucapan yang tanpa sengaja keluar dariku membuat Yumekai mengangguk.


"Kalian nggak ketemu mereka? Suou jadi pemimpin dan lagi coba bikin tim. Yang aku lihat sih cuma dia sama Matoba doang."


Suou Ryoka adalah ketua salah satu dari dua kelompok siswi besar, sejajar dengan Shouko.


Ada kelompok Shouko yang beranggotakan Shouko, Shion, dan Yumekai, serta kelompok Suou.


Ada juga yang tidak tergabung ke mana pun atau bersikap netral, seperti Roa dan teman-temannya, tapi sebagian besar biasanya masuk ke salah satu dari dua kelompok itu.


Sebagai catatan, Chiyu juga tidak tergabung ke kelompok mana pun. 


Bukan berarti mereka bermusuhan, tapi kelihatannya Suou punya rasa persaingan sepihak terhadap Shouko.


"Pantas saja… makanya jumlah orang yang kelihatan di event sedikit."


Matoba yang disebut Yumekai adalah gadis pemanah yang menembakkan panah ke bola cahaya.


Dia hanya menembak sekali lalu menghilang, mungkin karena tujuan utamanya mengumpulkan anggota, sementara bola cahaya hanya bonus kalau dapat. Kalau begitu, mungkin Kagemori yang terlihat bekerja sama dengannya juga bagian dari kelompok Suou.


"Pemimpin kelompok kami itu Sousuke."


"Shouko memang kelihatan perhatian banget sama Kuno."


"Eh, eh…! Kenapa ngomongnya sekarang sih!?"


Wajah Shouko langsung merah. Meski aku sudah tahu, tetap saja aku ikut merasa malu.


"Ngomong-ngomong, kita bahas soal kesepakatan saja."


"Kalau mau dialihkan pakai ‘ngomong-ngomong’, jangan dibahas dong dari awal!"


"Aku sudah tahu Shouko temanmu dan kamu percaya sama Kuno. Syarat yang diajukan juga menguntungkan buatku. Tapi kemampuan ini juga bukan tanpa batas."


"Ada batas luas yang bisa dikembangkan, atau jarak dari penggunanya?"


"…Cepat banget nangkapnya. Ya, kira-kira begitu. Jadi usulanku begini."


Kalau dirangkum, isi pembicaraan Yumekai adalah—


Kami pindah ke salah satu markas, lalu di sana dipasang penghalang.


Tidak berniat tinggal bersama, tapi ingin agar di dalam penghalang, kedua pihak bebas bergerak.


Selain jatah makanan, sesekali ingin seragamnya dibersihkan.


Entah kenapa… keinginannya terlalu sedikit.


"Ehm… Yumekai."


"Apa? Kebanyakan ya?"


"Kebalikannya."


Aku melirik Shouko.


"Shouko, jelasin dong perlakuan dasar di tempat kami."


"Siap! Kami punya rumah besar, jadi semua dapat satu kamar! Kamarnya ada kasur, futon hangat, meja, sama lentera! Makan tiga kali sehari buatan Shion dan enaknya kebangetan! Baju ganti dan piyama juga ada! Bisa mandi tiap hari, terus Sousuke bikinin sabun, sampo, lotion, dan macam-macam! Kalau capek atau luka, langsung disembuhin sama sihirnya Chiyu! Kalau ada yang susah, tanya Minori biasanya langsung dijelasin! Terus sekarang ada Roa, maid juga! Fenrir Mashiro dan naga hitam Mikron itu empuk banget! Ayam juga banyak, telur makan sepuasnya! Karena semua kerja sama, daging, sayur, jamur, sama buah juga melimpah! Semua itu standar kalau jadi anggota!"


Penjelasan panjang tanpa jeda itu membuat Yumekai… membeku.


Sepuluh detik, dua puluh detik berlalu. Shouko yang mulai khawatir menggoyang bahunya, dan barulah Yumekai tersadar.


"Maaf… kayaknya tadi aku mimpi lagi diceritain soal negeri utopia. Kamu tadi bilang apa soal perlakuan?"


"Yumekai, itu bukan mimpi."


"Hah? Tapi meskipun ada kerja sama, fondasi hidup kalian itu kan kemampuan Kuno? Kontribusi sama perlakuannya nggak seimbang. Apa? Kurangnya disuruh bayar pakai tubuh?"


"B-bu-bukan! Sousuke nggak bakal bilang gitu!"


Aku menghargai Shouko membelaku, tapi sejujurnya aku berharap dia lebih tenang. Soalnya Yumekai keburu salah paham dan memeluk tubuhnya sendiri sambil mundur selangkah.


"Masih ada hal yang belum aku ceritakan, tapi aku nggak akan pernah minta kamu menyerahkan tubuhmu. Tenang saja."


"Serina, ini bener. Sousuke itu bukan orang yang mikir untung rugi."


"…Oke, itu aku percaya. Tapi aku sendiri yang nggak bisa nerima. Aku maunya hubungan tanpa hutang. Kalau terlalu banyak berutang, rasanya nggak nyaman."


Perasaan itu, aku bisa mengerti.


"Kemampuan penghalangmu itu jauh lebih penting dari yang kamu kira. Kamu mungkin tahu, kemampuan akan berkembang kalau sering dipakai."


"Iya, itu benar."


Kalau dia terus mengembangkan penghalang sampai hari ketujuh, wajar kalau kemampuannya tumbuh.


"Aku ingin setiap kali jangkauan atau kekuatan penghalangmu meningkat, itu diterapkan. Dengan begitu, area yang bisa kami jelajahi dengan aman akan meluas, dan kami bisa tidur tanpa takut serangan monster. Keuntungan ini cukup besar sampai semua anggota sepakat ingin menyambutmu."


Serina menoleh ke Shouko.


"Iya! Semua setuju Serina jadi anggota!"


"…Oh ya? Jadi bukan cuma karena aku temannya Shouko, tapi karena kemampuan penghalangku dinilai berguna. …Meski begitu, rasanya masih dapat terlalu banyak. Tapi ya sudah, berarti ke depannya masih ada ruang buat membalas."


Setiap kali penghalang diperkuat, kontribusi Yumekai juga meningkat. Mungkin suatu hari, di benaknya sendiri, perlakuan sebagai anggota akan terasa seimbang.


"Kalau begitu… ya, mohon kerja samanya."


"Iya. Sama-sama."


"Yay! Serina juga jadi anggota!"


"Bukan anggota. Rekan transaksi."


Sepertinya Yumekai masih keberatan dengan kata "anggota".


"Eh? Kita kan teman."


"Sejak kapan?"


"Kejam!"


"…Ngomong-ngomong, anggota di pihakmu ada berapa orang?"


Sambil melepaskan Shouko yang menempel, Yumekai menatapku.


"Dengan Yumekai, jadi tujuh orang."


"…Kalau dari cerita tadi, berarti selain Kuno, semuanya perempuan dong?"


"…Iya, begitu."


Yumekai melangkah mundur satu langkah lagi.


"Ti-ti-ti-tidak begitu, Serina? Sousuke bukan memilih hanya perempuan lalu menjadikan mereka rekan, tahu?"


Shouko, aku senang kau membelaku lagi, tapi aku berharap kau bisa sedikit lebih tenang. Soalnya Yumekai sampai terlihat benar-benar kaget.


"……Eh, bercanda kok. Aku juga melihat para cowok di event, jadi aku tahu memilih yang seperti itu sebagai rekan justru aneh. Dengan standar Kuno, dia memilih orang dan kemampuan yang kira-kira bisa bekerja sama, kan."


Soal kemampuan, sejujurnya itu tidak mutlak. Tapi sekarang rasanya tidak perlu repot-repot menyangkal.


"Aku akan berusaha bekerja sepadan dengan perlakuan yang kuterima."


"Aku menyambutmu, Yumekai."


"Kalau begitu……aku akan ikut ke markasnya Kuno dan yang lain."


"Iya, tolong. Ada barang bawaan?"


"Tidak ada. Kalau begitu, aku lepaskan penghalangnya."


Dari luar tidak terlihat perubahan apa pun, tetapi pelepasan penghalang itu segera terbukti dengan cara lain.


Mikron mendekat. Dengan tubuhnya yang panjang, dia memeluk aku dan Shouko sekaligus.


"Uwo."


"Waw!"


Karena dililit Mikron, kami berdua otomatis saling menempel. Suhu tubuh dan aroma Shouko terasa begitu dekat, dan dadaku tertekan oleh payudaranya yang besar.


"M-Mikron. Kami baik-baik saja."


"I-iya, Mikron! Jadi lepaskan dong~"


"……Apa sebenarnya yang sedang aku lihat?"


Yumekai menatap kami dengan pandangan dingin.


Sambil mengelus Mikron yang akhirnya melepaskan kami, aku menjelaskan pada Yumekai.


"Makhluk yang dipanggil Shouko ini sangat menyukai tuannya, Shouko. Dia khawatir tentang apa yang terjadi di dalam penghalang."


"Hee……tapi sepertinya dia juga sangat menyukai Kuno."


"Yah, itu juga sih……"


Terutama Mikron, dia memang manja padaku.


"Mikron, bagus-bagus. Anak ini namanya Serina, dia temanku. Ayo akur, ya."


Mikron menatap Yumekai lekat-lekat sejenak, lalu seolah menyerah karena kata-kata Shouko, dia menggelengkan kepala.


"Baik, sepertinya perkenalan sudah selesai, kita pulang."


"Ah, Sousuke! Waktu pulang, aku di depan ya. Soalnya yang memanggil Mikron kan aku?"


Entah kenapa dia terlihat gelisah, mungkin karena di depan temannya dia ingin terlihat keren. Aku paham kalau yang di depan terasa lebih seperti tuan, jadi aku mengalah.


"Tunggu. Kalau begitu, Kuno harus berpegangan padaku, atau aku berpegangan pada Kuno, kan? Tidak lebih baik Kuno, Shouko, lalu aku?"


"Eh~? ……Ya, Serina juga perempuan, sih."


"Kalian menyimpulkan apa barusan? Apa pun itu, itu salah paham."


"Tidak apa-apa, nanti setelah sampai, biar Sousuke memandikanmu, ya."


"Itu salah paham total, pasti."


Mengesampingkan perasaan Yumekai yang sebenarnya, perhatian Shouko juga tidak sepenuhnya meleset.


Seragam dan tubuh memang dicuci di tempat berair, tapi tujuh hari seperti itu agak berat bagi orang modern.


"Kalau begitu, tetap aku yang di depan."


"Setuju, setuju."


"Hei, kalian berdua, bisa berhenti menatapku dengan pandangan penuh perhatian begitu tidak?"


Aku, Shouko, lalu Yumekai, menaiki Mikron berurutan.


"……Hyaa!"


Begitu Mikron melayang, terdengar suara melengking dari belakang.


"Suara tadi, jangan-jangan—"


"Serina, suaramu waktu kaget itu imut, ya."


"Berisik……!"


Entah apa yang dipikirkannya, Mikron tiba-tiba bergerak seperti wahana jet coaster.


"Myuaaa! Apa-apaan ini!? Naga ini tidak sedang balas dendam karena ditinggal di luar penghalang kan!?"


Biasanya dia memperhatikan kenyamanan kami saat ditunggangi, jadi kemungkinan dugaan Yumekai benar.


"Panggil dia Mikron dengan benar dong."


"Shouko……! Kamu ketawa, kan!"


"Aku tidak ketawa, myua."


"Jangan ngerjain aku……!"


Ternyata Yumekai bisa berteriak sekencang itu. Di kelas dia terkesan tipe downer, jadi ini terasa cukup segar. Dan sepertinya benar dia memang akrab dengan Shouko.


Kalau begini, dia pasti tidak butuh waktu lama untuk membaur dengan yang lain.


Begitulah, kami pun kembali ke markas bersama Yumekai, yang memiliki kemampuan "membentangkan penghalang."


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close