Chapter 4
Hari-hari di Kediaman Keluarga Marquis
Sehari setelah
Rest mengunjungi rumah kota keluarga Marquis Rosemary dan berduel dengan sang
kepala pelayan.
Albert Rosemary,
sang kepala keluarga Marquis, mengunjungi kediaman keluarga Viscount Kehormatan
Evern. Menerima kunjungan mendadak tersebut, Lucas Evern menyambutnya dengan
perasaan sangat gugup.
"T-Tuan
Direktur Rosemary, sungguh sebuah kehormatan Anda sudi berkunjung ke kediaman
kami yang sederhana ini...! Hari ini cuacanya sangat bagus, dan bunga-bunga di
taman sedang mekar-mekarnya...!"
"Cukup basa-basinya. Cepat duduk."
Albert yang sudah duduk di sofa ruang tamu menunjuk ke kursi
di hadapannya. Meski berada di rumah orang lain, sikapnya tampak sangat
berkuasa seolah itu rumahnya sendiri.
"U-ugh..."
Namun, Lucas tidak memiliki hak untuk memprotes. Albert
adalah Kepala Penyihir Istana, atasan langsung Lucas.
Mengingat putranya baru saja membahayakan putri-putri
Albert, kunjungan tanpa pemberitahuan ini membuat keringat dingin terus
mengucur di dahi Lucas.
(Ja-jangan-jangan, Marquis Rosemary datang secara langsung
karena urusan itu... Memangnya apa maunya?)
Lucas berusaha sekuat tenaga menahan lututnya agar tidak
gemetar. Albert pada dasarnya adalah atasan yang murah hati dan baik.
Beliau tidak pernah menyalahgunakan hak istimewa bangsawan
tinggi untuk bertindak sewenang-wenang, dan selalu bersedia mendengar keluh
kesah bawahan.
Selama tidak melakukan kesalahan fatal, beliau jarang sekali
memarahi bawahannya dengan keras.
Dan... Albert juga terkenal sangat lunak kepada kerabatnya,
serta sangat memanjakan istri dan putri-putrinya.
Alasan Lucas menggunakan Cedric untuk mendekati si kembar
adalah agar ia bisa memanfaatkan sisi lembut Albert itu sebagai pelindung
posisinya.
(Jika saja Cedric
bisa menaklukkan salah satu dari mereka, keluarga kami akan menjadi kerabat
Marquis Rosemary. Kami bisa mendapatkan perlindungan dari Marquis yang sangat
memanjakan keluarganya itu...!)
Jika itu terjadi,
kenaikan pangkat sebagai Penyihir Istana pasti akan berjalan mulus.
"Tujuanku
datang hari ini adalah membicarakan soal putramu."
"T-tentu soal Cedric, kan... Kejadian kemarin
benar-benar saya mohon maaf yang sebesar-besarnya! Sungguh... mohon ampuni kami...!"
Lucas langsung
bersujud di lantai untuk meminta maaf. Melakukan kesalahan yang tidak bisa
dimaafkan, ia merasa tidak punya pilihan lain selain memohon ampun.
"Bukan, bukan dia. Tapi putramu yang satunya
lagi."
"S-satunya lagi...?"
"Soal Rest-kun."
"Si
sampa—maksud saya, si Rest? Apa
si cacat itu sudah melakukan tindakan tidak sopan kepada Anda, Tuan
Marquis...!?"
"Sampah?
Cacat? Jangan-jangan... kau memanggil anak kandungmu sendiri dengan sebutan
seperti itu?"
"A-ah,
tidak...!"
Wajah Lucas
memucat karena salah bicara. Bibirnya gemetar hebat saat ia berusaha mengarang
alasan.
"...Sudahlah.
Aku datang hari ini bukan untuk mempermasalahkan kepribadianmu."
Albert mendengus,
lalu menyilangkan kaki sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Aku ingin
mengambil Rest-kun untuk tinggal di keluarga Marquis Rosemary."
"Ha... si
dia, ke keluarga Marquis...?"
"Ya, aku
berniat mempekerjakannya sebagai pelayan magang. Kau tidak keberatan,
kan?"
"T-tentu
saja saya tidak keberatan, tapi... anak itu kan 'tanpa mana'? Kenapa Tuan
Marquis mau...?"
Lucas benar-benar
bingung. Ia bisa mengerti jika mereka menginginkan Cedric yang jenius sihir,
tapi ia tidak paham alasan Albert menginginkan si cacat yang satu-satunya
kelebihannya hanyalah merawat kuda.
"Tanpa
mana...?"
Wajah Albert
sempat menunjukkan ekspresi tercengang sesaat, sebelum kembali ke wajah kaku
aslinya.
"...Memangnya
aku punya kewajiban untuk menjelaskan hal itu padamu?"
"T-tidak,
sama sekali tidak! Jika
Anda menginginkannya, dengan senang hati saya serahkan! Silakan gunakan dia
sesuka hati Anda!"
"Begitu
ya... aku senang kau bisa mengerti dengan cepat. Urusanku sudah selesai."
Albert
berdiri, dan kepala pelayan yang bersiap di sana segera membukakan pintu ruang
tamu.
"A-anu... Tuan Direktur...?"
"Sebagai
ganti anak itu, aku akan melupakan kesalahan memalukan yang dilakukan putra
kebanggaanmu. Kalau begitu, aku permisi."
"H-ha...
baik! Terima kasih banyak!"
Lucas kembali
menempelkan kepalanya ke lantai dan bersujud. Ia merasakan kehadiran Albert
meninggalkan ruangan, dan suara langkah kakinya semakin menjauh di koridor.
"A-aku
selamat...?"
Dengan
ragu, ia mengangkat kepalanya. Sosok Albert sudah tidak ada; dia sudah
meninggalkan kediaman.
"Aku
tidak tahu alasannya... tapi si cacat itu akhirnya berguna juga. Entah bagian
mana darinya yang disukai oleh Tuan Marquis..."
Jangan-jangan...
salah satu dari saudari Rosemary jatuh cinta pada pandangan pertama kepada
Rest? Pemikiran itu sempat terlintas di kepala Lucas, namun ia langsung tertawa
dan menepisnya.
(Kalau
Cedric yang luar biasa itu mungkin saja... tapi aku tidak yakin anak itu bisa
menarik perhatian putri bangsawan tinggi. Mungkin ini hanya sekadar iseng
saja.)
Sebagai
orang yang hanya menilai bakat yang terlihat, Lucas tetap tidak mengakui Rest.
(Kali ini memang
gagal... tapi hei, masih ada kesempatan. Tahun depan mereka akan sekolah di
akademi yang sama!)
Meski baru saja
melakukan kegagalan yang nyaris fatal, Lucas belum menyerah untuk mendapatkan
saudari Rosemary. Sang ayah yang angkuh dan berpikiran sempit itu berpikir
bahwa kegagalan kemarin hanyalah ketidaksengajaan. Ia yakin jika para putri
Marquis mengenal Cedric lebih dalam, mereka pasti akan menyukainya.
Sebab, Cedric
adalah seorang jenius. Berbeda dengan si cacat anak rakyat jelata itu... Cedric
adalah satu-satunya putra kebanggaannya.
"Begitu
masuk akademi, aku harus menyuruhnya merayu putri Marquis dengan
sungguh-sungguh... perlahan-lahan, dan pasti..."
Orang bodoh
disebut bodoh karena tidak belajar dari kegagalan. Lucas menyeringai sambil
memikirkan rencana bodohnya itu.
◇
Pertemuan antara
keluarga Marquis Rosemary dan keluarga Viscount Kehormatan Evern berakhir, dan
diputuskan bahwa Rest akan diasuh oleh keluarga Marquis. Dalam perjalanan
pulang di kereta kuda, Albert menghela napas panjang.
"Benar-benar...
pria yang sangat mengerikan."
"Benar,
Tuan. Pemandangan yang sangat menjijikkan."
Mendengar
kata-kata tuannya, kepala pelayan yang duduk di hadapannya menjawab. Sikap
memalukan yang ditunjukkan Lucas dalam pembicaraan tadi sudah cukup untuk
membuat mereka berdua muak.
"Aku
tahu dia terobsesi dengan status bangsawan dan memandang rendah rakyat jelata.
Aku juga tahu obsesinya terhadap bakat sihir sangat kuat. Tapi... aku tidak
menyangka dia akan memperlakukan putra kandungnya seburuk itu."
Selama
pembicaraan, Lucas terus memanggil Rest—yang seharusnya adalah anak
kandungnya—dengan sebutan 'itu', 'cacat', dan 'sampah'. Bagi Albert yang sangat
mencintai keluarganya, hal ini sangat tidak menyenangkan.
"Padahal
begitu, dia malah sangat lunak kepada putranya yang angkuh hanya karena punya
bakat. Sejujurnya, aku sampai ingin memecatnya dari posisi Penyihir
Istana."
"Bukankah
sebaiknya Anda memecatnya saja? Anda punya alasan yang cukup, bukan?"
Putra sulungnya
membawa putri-putri keluarga Marquis keluar dan membahayakan nyawa mereka.
Tidak ada yang akan menyalahkan Albert jika ia menuntut pertanggungjawaban dari
sang ayah.
"Yah...
pelan-pelan saja. Bagaimanapun, aku sudah memercayakan beberapa pekerjaan
padanya. Aku akan membiarkannya di posisi itu sampai ada penggantinya."
Penyihir Istana
memiliki beberapa tugas: menjadi perisai keluarga kerajaan, meneliti sihir dan
ramuan, hingga membasmi monster kuat. Lucas memegang tanggung jawab penting
dalam mengelola magic item yang berbahaya.
"Bagaimanapun
juga, pria itu memang kompeten sebagai penyihir... meskipun kepribadiannya
tidak layak dilihat."
"Karena
itulah Tuan Rest menyembunyikan bakat sihirnya, ya."
Dieble
menyipitkan mata dengan nada simpati. Lucas menyebut Rest 'tanpa mana', namun
Albert dan Dieble tahu bahwa itu adalah kesalahan besar. Mereka bisa menebak
bahwa Rest menyembunyikan bakatnya karena tidak memercayai ayahnya.
"Sesuai
permintaan para nona muda, kita berhasil mengambil Tuan Rest... tapi, apa
rencana Anda selanjutnya?"
"............"
Mendengar pertanyaan Dieble, Albert terdiam dengan wajah
pahit. Albert pun sadar bahwa
putri-putrinya menaruh perasaan pada Rest.
"Aku setuju
jika Tuan Rest menjadi tunangan nona muda. Dia pasti akan menjadi penyihir yang
hebat. Mengambil darahnya ke dalam keluarga Marquis Rosemary akan sangat
menguntungkan."
"...Aku
tahu."
Meski sangat
memanjakan putrinya, Albert tetaplah seorang bangsawan. Jika itu membawa
keuntungan bagi keluarga Marquis Rosemary, ia tidak keberatan menyerahkan
putrinya kepada Rest—terlebih jika putri-putrinya memang menginginkannya.
"Masalahnya
adalah... siapa di antara Nona Viola dan Nona Primula yang akan bertunangan
dengan Tuan Rest."
"U-ugh..."
"Siapa pun
yang Anda pilih, pasti akan memicu konflik..."
"............"
Mendengar poin
yang disampaikan Dieble, wajah Albert terlihat seolah baru saja menelan
serangga pahit. Baik Viola maupun Primula menyukai Rest, tapi Rest hanya ada
satu. Siapa pun yang bersatu dengan Rest, pasti akan meninggalkan luka di hati
yang lain.
"Keputusan
mengenai pertunangan nona muda ada di tangan Anda sebagai kepala keluarga.
Jadi..."
"Jangan
katakan itu! Kumohon, jangan katakan itu...!"
Albert memegangi
kepalanya. Jika ia memilih salah satu, ia pasti akan dibenci oleh yang lainnya.
Bagi Albert yang sangat memuja putrinya, hal itu sangat menyakitkan bagai
tubuhnya tercabik-cabik.
(Viola akan marah
seperti api yang berkobar. Primula akan marah seperti es yang sangat dingin...
Aku tidak mau keduanya. Benar-benar tidak mau...!)
Mengingat saat ia
dan Dieble dimarahi oleh si kembar tadi malam, Albert merasa takut dari lubuk
hatinya. Ia memang sudah dimaafkan dengan syarat menjemput Rest ke rumah
mereka, tapi masalah pasangan pernikahan ini kemungkinan besar akan menjadi
masalah seumur hidup.
"Uuuh, guuh,
nuuuuuu..."
"Bagaimana
kalau Tuan Rest menikahi keduanya saja?"
Melihat tuannya
yang menderita, Dieble bicara dengan nada yang tidak jelas apakah itu bercanda
atau serius.
"Bagi
bangsawan, poligami itu diperbolehkan, dan mungkin kedua nona muda justru akan
senang?"
"Tidak!
Tidak tidak tidak tidak!"
Albert
menggelengkan kepalanya dengan kuat menolak usulan si kepala pelayan.
"Aku
tahu Rest-kun adalah pemuda yang baik dan berbakat! Tapi... menyerahkan kedua putriku padanya itu
berlebihan. Benar-benar tidak mungkin!"
"Tapi...
jika Anda memilih salah satu, Anda pasti akan dibenci oleh yang satunya, kan?
Apakah Tuan bisa menahannya?"
"Ugh..."
"Ini soal
cara pandang. Jika Tuan Rest menjadi menantu dan menikahi kedua nona muda,
bukankah Anda tidak perlu melepaskan keduanya keluar dari rumah ini?"
"Itu...
mungkin benar, tapi... tapi, nuuuuuuuu..."
Di dalam
kereta yang melaju, Albert memegangi kepala dan tertunduk lesu. Viola, ataukah
Primula. Atau mengikuti saran Dieble. Hingga sampai di kediaman, Albert terus
mengeluarkan rintihan pilu akibat pilihan yang sulit tersebut.
◇
Beberapa
hari telah berlalu sejak Rest diasuh oleh keluarga Marquis Rosemary.
"Tidak
disangka, aku benar-benar diambil oleh keluarga Marquis Rosemary... Hidup ini
memang penuh kejutan."
Rest
bergumam sambil menyapu taman dengan sapu lidi. Menyelamatkan nyawa saudari
Rosemary di hutan, diundang ke rumah sebagai tanda terima kasih, hingga entah
kenapa harus berduel dengan Dieble, sang mantan Penyihir Istana.
Setelah
berbagai liku-liku itu, Rest akhirnya diterima sebagai pelayan magang di
keluarga Marquis Rosemary. Meski baru mulai tinggal di sini, hidupnya terasa
jauh lebih nyaman daripada yang dibayangkan.
Pertama, ia
mendapat tiga kali makan yang layak. Tentu saja, ia tidak perlu lagi makan di
lantai seperti anjing. Meski diberi tugas seperti menyapu sebagai pelayan
magang, hal itu tidak berbeda dengan saat ia berada di rumah lamanya. Bedanya,
sekarang ia mendapat upah, yang membuatnya ratusan kali lipat lebih baik.
Selain itu, di
sela-sela pekerjaan, ia juga diperbolehkan belajar. Ia diberikan materi
pelajaran yang diperlukan dan menghabiskan siang malam untuk mempersiapkan
ujian masuk Akademi Kerajaan.
"Tuan Rest,
apakah menyapunya sudah selesai?"
"Pak Dieble,
kebetulan baru saja selesai."
Di taman tempat
Rest menyapu, muncul kepala pelayan yang pernah berduel dengannya.
"Bagus kalau
begitu... kalau begitu, mari kita mulai hari ini?"
"Dengan
senang hati...!"
Rest segera
membereskan alat-alat kebersihan, lalu berdiri berhadapan langsung dengan
Dieble. Sejak tinggal
di sini, Rest melakukan latihan tempur dengan Dieble hampir setiap hari. Hal
ini bukan paksaan, melainkan permintaan dari Rest sendiri.
Duel
kemarin menyadarkannya bahwa ia benar-benar kurang pengalaman bertarung
antarmanusia.
Musuh
seorang penyihir bukan hanya monster; terkadang mereka harus melawan kriminal
atau prajurit musuh. Jika ia ingin hidup dari sihir, teknik bertarung
antarmanusia adalah hal yang mutlak diperlukan.
(Memiliki
guru seorang mantan Penyihir Istana adalah hal yang luar biasa. Tidak ada
alasan bagiku untuk tidak belajar.)
"Baiklah...
selama beberapa hari ini, aku sudah memintamu menguasai beberapa sihir dasar.
Semuanya adalah sihir yang berguna dalam pertempuran antarmanusia."
"Ya,
aku sudah menghafalnya. Tidak ada masalah."
"Sejujurnya...
aku mengira kau butuh waktu sebulan lebih hanya untuk menghafal sihir-sihir
itu. Aku tidak menyangka kau bisa menguasai semuanya dalam waktu kurang dari
seminggu."
Ekspresi
Dieble tampak antara kagum dan tercengang.
"Ini
adalah kejutan yang menyenangkan... namun mulai hari ini, kita akan masuk ke
latihan yang sesungguhnya. Pertama-tama,
lihatlah ke arah sana."
"Ya?"
Dieble menunjuk
ke arah yang sangat jauh. Saat pandangan Rest teralih ke sana... pada saat
berikutnya, sebuah hantaman menyerang perutnya.
"Kaha...!?"
"Maaf. Yang
ingin aku suruh kau lihat adalah kakiku."
Tumit Dieble
menghantam keras perut Rest, membuatnya langsung berlutut di tempat. Ia
terbatuk-batuk hebat hingga memuntahkan isi perutnya.
"A-apa
yang..."
"Dasar dari
pertempuran antarmanusia adalah 'jangan pernah lengah'. Musuh bisa menyerang
dengan cara apa pun. Terkecoh oleh kata-kata lawan adalah kesalahan
fatal."
"............!"
"Selain
sihir pengalih perhatian, musuh mungkin akan melakukan serangan mendadak,
menyembunyikan senjata, menyamar sebagai sekutu, atau menyandera orang lain.
Dalam pertempuran antarmanusia, kau harus memikirkan segala kemungkinan dan
bersiap untuk hal terburuk."
Sambil
bicara, Dieble mengulurkan tangannya. Rest hendak meraih tangan itu... namun ia
berhenti di detik terakhir.
"Ya, itu jawaban yang benar."
Dieble menunjukkan sebuah jarum tipis yang tersembunyi di
tangannya. Jika saja Rest meraih tangan itu, ia pasti sudah tertusuk jarum
tersebut.
"Ini hanyalah jarum jahit biasa... tapi jika itu musuh
yang mengincar nyawamu, mereka akan menggunakan jarum beracun."
"............"
"Jika kau lengah dan membahayakan dirimu sendiri, itu
bukan masalah karena hanya kau yang akan mati. Namun... dalam pertempuran
nyata, kematianmu sering kali mengakibatkan hilangnya nyawa orang-orang yang
ingin kau lindungi."
"Orang yang... ingin kulindungi?"
Tidak ada orang seperti itu... setidaknya bagi Rest saat
ini. Ibunya sudah meninggal, dan ia tidak memiliki keluarga atau teman.
"Mungkin saat ini memang tidak ada. Tapi... kelak
ketika kau memiliki orang yang berharga, kau pasti tidak ingin menangis karena
tidak memiliki kekuatan, kan?"
"!"
"Kalau begitu, berlatihlah seolah-olah kau akan mati
untuk menjadi kuat. Kekalahan tidak diizinkan dalam pertarungan untuk
melindungi seseorang. Gunakan segala cara, biarpun harus berlumuran lumpur atau
dicaci sebagai pengecut... kau harus menang. Penyihir tidak perlu memiliki
semangat ksatria yang merasa tidak apa-apa kalah asalkan bertarung dengan
jujur. Tanpa kemenangan, semuanya
tidak ada artinya."
Kata-kata Dieble
sangat keras dan kejam. Sulit dipercaya ia mengatakannya kepada anak berusia
empat belas tahun.
(Tapi... itu
adalah kebenaran. Tidak ada yang salah...)
"Bagus.
Kalau begitu, untuk latihan selanjutnya..."
"Earth
Ball!"
Sambil masih
terduduk di tanah, Rest mengaktifkan sihir tepat saat Dieble membelakanginya.
Sihir tanah itu meluncur ke arah belakang kepala Dieble... namun Dieble
memiringkan kepalanya dan menghindari serangan mendadak tersebut.
"Bagus
sekali. Yang barusan nilainya sempurna."
Dieble
berbalik sambil bertepuk tangan. Kerutan di wajahnya yang berhiaskan kumis
abu-abu semakin dalam saat ia memuji serangan kejutan Rest.
"Menjadi
anjing atau binatang sekalipun demi kemenangan... itulah jalan yang benar bagi
seorang penyihir. Kau memiliki bakat yang sangat besar."
"...Terima
kasih banyak."
Rest
memasang wajah masam meski dipuji. Serangan kejutannya berhasil dihindari.
Sebesar apa pun pujiannya, tanpa kemenangan semuanya tidak ada artinya...
begitulah ajaran Dieble.
"Fufu..."
Melihat
wajah Rest yang kesal, senyum Dieble semakin lebar.
"Sekali
lagi... mulai sekarang setiap hari, kau akan melakukan latihan tanding
denganku. Bukan hanya pertempuran bebas, kau juga akan merasakan pertarungan
tangan kosong tanpa sihir, pertarungan terbatas hanya dengan sihir tertentu,
hingga pertarungan dengan pembatasan pada anggota tubuh atau panca
indera."
"............"
"Sayangnya
teknik bela diriku adalah gaya liar, jadi aku tidak bisa mengajarimu jurus atau
seni bela diri resmi. Jika kau tertarik, pelajarilah sendiri sesukamu."
"...Maksud
Anda, curilah teknik di tengah pertarungan, ya."
Rest
mengangguk dan kali ini ia benar-benar berdiri. Karena ini latihan tempur
antarmanusia, ia mengira akan disuruh berlatih kumite atau teknik jatuh
seperti karate atau judo. Meski
jauh dari perkiraan, metode Dieble terasa lebih praktis untuk pertarungan
sungguhan.
(Jika aku bisa
menang melawan Pak Dieble, aku pasti akan menjadi jauh lebih kuat...!)
Bahkan melawan
ayahnya yang merupakan Penyihir Istana aktif pun, ia pasti bisa bertarung
secara langsung dan menang.
"Ayo kita
mulai... seranglah aku dari mana saja."
"Baik, aku datang... Pak Guru Dieble!"
Rest mengubah panggilannya dan menerjang pria yang kini
menjadi gurunya tersebut.
◇
Maka Rest pun mulai belajar sihir dan teknik tempur di bawah
bimbingan Dieble. Namun, sekuat apa
pun ia menjadi, itu saja tidak cukup untuk masuk ke Akademi Kerajaan. Ada tes
tertulis dalam ujian masuk, sehingga ia juga perlu belajar teori secara
paralel.
"Rest-kun,
ada yang tidak kau mengerti?"
"Tuan
Rest, soal ini dikerjakan dengan cara seperti ini lho."
"............"
Malam
hari setelah pekerjaan dan latihan selesai. Di dalam kamar pribadinya yang
luas—terlalu luas bagi seorang pelayan magang. Rest sedang belajar untuk ujian di antara Viola
dan Primula.
Viola berada di
sisi kanan meja, sementara Primula di sisi kiri. Keduanya menempelkan tubuh
mereka lebih dari yang diperlukan dan ikut melihat ke arah buku Rest.
Karena sedang
berada di dalam rumah, keduanya mengenakan pakaian yang terlihat seperti baju
tidur. Gaun malam tipis... atau mungkin lebih akrab disebut daster?
Pakaian itu
berbahan agak tipis untuk dikenakan di depan pria seumurannya; Viola mengenakan
warna kuning dan Primula mengenakan warna putih, mungkin disesuaikan dengan
warna rambut mereka.
(Apa-apaan ini...
kenapa mereka mengajariku belajar dengan pakaian yang begitu provokatif...?)
Rest berusaha
sekuat tenaga memusatkan konsentrasinya pada pelajaran, namun sebagian hatinya
terganggu oleh si kembar. Ini adalah rumah keluarga Marquis Rosemary, jadi
terserah mereka mau memakai baju apa. Rest tidak punya hak untuk memprotes.
Namun tetap saja, pakaian ini terlalu berbahaya bagi matanya. Bagi sebagian
orang, pakaian ini bisa disalahartikan sebagai ajakan.
(Ngomong-ngomong...
di manga mana ya aku baca kalau orang kelas atas tidak merasa apa-apa biarpun
kulitnya dilihat oleh orang rendah. Apa itu berarti mereka sama sekali tidak
menganggapku sebagai laki-laki?)
"...Sudah
selesai terjawab."
"Wah, benar
semua! Hebat, Rest-kun! Aku sampai ingin memberimu hadiah!"
"Tuan Rest
sangat cepat menangkap pelajaran! Kalau begini, kau pasti akan sempat mengejar
ujiannya!"
"Ugh..."
Sambil memuji
dengan suara ceria, keduanya semakin menempelkan tubuh mereka. Aroma bunga yang
harum tercium lembut. Di dunia ini tidak ada sampo atau sabun mandi cair, entah
dari mana aroma ini berasal.
Yang menyentuh
kedua lengannya adalah kehangatan kulit manusia dan sensasi lembut. Karena
pakaian tipis mereka, ukuran dan bentuk dadanya terasa sangat jelas. Rest bukan
lagi anak kecil yang tidak tahu sensasi apa itu. Wajahnya memerah secara alami,
dan lidahnya menjadi kelu.
"N-nona...
anu, itu menempel, um..."
Rest bicara
dengan suara tertahan. Karena sudah menjadi pelayan, ia tidak bisa lagi bicara
dengan nada santai seperti sebelumnya. Meski ia berusaha bicara dengan sopan,
kedua saudari itu justru mengerucutkan pipi mereka dengan wajah tidak puas.
"Jangan panggil 'Nona'. Panggil Viola!"
"Panggil Primula, Tuan Rest!"
"Ugh...!"
Keduanya semakin
menekan dada mereka yang berisi. Sensasi payudara yang berubah bentuk dengan
lembut itu adalah sesuatu yang belum pernah ia rasakan selain milik ibunya,
termasuk di kehidupan sebelumnya.
(Di kehidupan
sebelumnya aku mati saat SMA, jadi secara mental aku seharusnya sudah cukup
dewasa... tapi tidak disangka aku akan dipermainkan seperti ini...!)
"Rest-kun?"
"Tuan
Rest?"
"Ku... Nona
Viola, Nona Primula, aku mau mengerjakan soal berikutnya, jadi tolong menjauh
sedikit...!"
"Tidak perlu
pakai 'Nona'. Panggil nama saja."
"Tidak
perlu bahasa formal juga. Cepatlah terbiasa, ya."
Si kembar
tertawa nakal dan akhirnya menjauh dari Rest. Sensasi menyenangkan itu menjauh, menyisakan
perasaan lega sekaligus sedikit kecewa.
"Nah, kalau begitu mari kita lanjut ke soal berikutnya."
"Ini adalah
aplikasi dari soal yang tadi. Aku percaya Tuan Rest pasti bisa
menyelesaikannya."
"A... aku akan berusaha."
(Konsentrasi...
ya, konsentrasi pada soalnya! Jangan pikirkan mereka berdua lagi!)
Rest mengerahkan
seluruh sarafnya ke arah materi pelajaran di atas meja agar tidak terdistraksi
oleh si kembar.
(Aku adalah
mesin. Mesin yang hanya tahu cara menjawab soal dengan pikiran kosong. Aku
tidak tahu apa-apa selain itu. Jawab, jawab, jawab... Jangan berpikir. Rasakan!
Sensasi dada mereka berdu—bukan!)
Sambil melakukan tsukkomi
(protes diri) di dalam kepalanya, Rest akhirnya menyelesaikan semua soal itu.
"S-sudah
selesai...!"
"Iya, kerja
bagus."
"Mari kita
periksa jawabannya bersama."
"B-baik...
mohon bantuannya..."
Kehabisan tenaga
mental dalam berbagai arti, Rest terkulai lemas dalam keadaan linglung. Di sisi
lain, kedua saudari itu mengoreksi hasil kerjanya, namun tiba-tiba mereka
berseru sedih.
"Primula,
ada kesalahan di sini!"
"Benar, Kak.
Padahal ini kesalahan yang sangat mendasar!"
"Eh...!?"
Rest buru-buru
memeriksa, dan benar saja, salah satu soal memiliki jawaban yang keliru.
Padahal itu bukan soal yang sulit... penyebab kesalahannya murni karena kurang
teliti.
"Sayang sekali ya... Padahal kalau semua benar, aku
berniat memberimu hadiah..."
"Iya... benar-benar disayangkan..."
Keduanya bicara serempak dengan nada yang sedikit lesu.
"H-hadiah...?"
Isi hadiah itu
sangat membuat penasaran. Rasanya sayang sekali tidak mendapatkannya, tapi di
saat yang sama ia merasa lega... sebuah perasaan aneh yang sulit digambarkan.
"Mohon
maaf... padahal kalian berdua sudah repot-repot mengajariku. Ke depannya, aku
akan lebih berhati-hati agar hal ini tidak terulang..."
"Kalau
begitu Kak, bagaimana kalau sebagai ganti hadiah, kita berikan dia
'hukuman'!"
"He...?"
Primula
menangkupkan kedua tangannya seolah baru saja mendapat ide cemerlang.
"Itu ide
bagus! Primula, kau pintar sekali!"
"Eh? Ehh!?
Tu-tunggu... kalian berdua!?"
"Jangan
melawan. Diam ya, Rest-kun."
"Benar. Ini
adalah penalti karena salah menjawab soal yang mudah."
Keduanya mendekat
dengan wajah yang tampak sangat senang. Sekali lagi, sensasi lembut dan kenyal
menekan lengan Rest.
"Hiii...!"
"Kalau
begitu, hukumannya... dimulai...!"
"Tuan Rest,
mohon bersiaplah...!"
"Uhiii!?"
Menerima hukuman
dari kedua saudari itu, suara Rest melengking tinggi dalam teriakan yang aneh.
"Hauu... N-nona, Anda berdua terlalu berani..."
Sementara itu... di sudut ruangan, pelayan pribadi si kembar
berdiri dengan wajah merah padam.
Meski hanya untuk belajar, pelayan itu ditugaskan
mendampingi karena merasa tidak baik jika pemuda dan gadis muda berada di satu
ruangan yang sama... namun bagi gadis polos seumurannya, ia tampak tidak
berdaya untuk menghentikan aksi kedua majikannya.
◇
Saudari Rosemary yang sedang menggoda Rest yang tidak
terbiasa dengan wanita itu tampak memasang senyum menggoda.
Meski dari luar mereka terlihat tenang dan berkuasa,
kenyataannya tidaklah demikian.
(Aaah...
apa yang sedang kulakukan! Ini memalukan sekali...!)
Sambil
mengajari Rest dan menempelkan dadanya, Viola menjerit dalam hati.
Jika
diizinkan, ia ingin berguling-guling di lantai karena saking malunya.
Ia hanya
berusaha menahan rasa malunya sekuat tenaga demi menyaingi adik kembarnya,
Primula.
(Uuu...
kenapa Primula bisa bersikap tenang begitu. Menempel erat dengan laki-laki
sebaya, apalagi dengan pakaian yang sangat provokatif ini...!)
Viola
mengenakan daster kuning. Meski itu baju rumah, belahan dadanya yang menonjol
di luar kewajaran usianya terlihat jelas. Jika di depan keluarga atau sesama
wanita mungkin tidak apa-apa, tapi ini bukan pakaian yang pantas dipakai di
depan laki-laki sebaya.
(Tadinya
aku tidak berniat memakai baju seksi begini, ini semua gara-gara Primula
memakainya...)
Rencana
awalnya bukan begini. Ia berniat mengajar dengan pakaian yang pantas. Namun
karena Primula mengenakan daster, Viola terpaksa ikut-ikutan agar tidak kalah.
"Tuan
Rest, soal ini akan lebih mudah dimengerti jika Anda membaca buku referensi
yang ini."
"Anu...
begini benar?"
"Luar
biasa, Tuan Rest memang hebat!"
Setiap
kali Rest menyelesaikan soal, Primula memujinya sambil memeluknya. Viola yang
terbakar api persaingan segera menempelkan tubuhnya dari sisi yang berlawanan.
"Hebat,
Rest-kun! Teruskan begitu!"
(La-lagipula... Primula itu curang! Padahal biasanya dia
pendiam dan bersembunyi di belakangku... kenapa dia bisa se-agresif ini
terhadap Rest-kun!)
Bagi Viola, Primula adalah adik yang manis. Ia adalah
belahan jiwa yang sangat ia sayangi melebihi nyawanya sendiri. Adik yang
seharusnya ia lindungi... kini justru berdiri sebagai rival besar dalam
memperebutkan seorang pria.
(A-apa dia tumbuh
dewasa tanpa sepengetahuanku? Ataukah karena Rest-kun itu spesial? Dadanya juga
lebih besar dariku... kalau begini terus, Rest-kun bisa diambil olehnya!)
Rasa cemas
memuncak, Viola yang mulai panik pun semakin menekan payudaranya ke lengan
Rest. Di sisi lain, Primula yang menjadi sasaran persaingan kakaknya...
ternyata juga sedang berjuang dengan perasaannya sendiri.
(Maafkan aku,
Kak... sepertinya Primula sudah menjadi anak yang nakal.)
Sambil mengajar
Rest, Primula Rosemary meminta maaf kepada kakak tercintanya di dalam hati.
Karena sudah
bersama sejak lama, Primula tahu segalanya tentang kakaknya. Ia bisa melihat
kekacauan batin di balik sikap Viola yang terlihat tenang saat memeluk Rest.
(Kakak sepertinya serius... Aku sudah menduga dia akan
memakai daster untuk menyaingiku, tapi aku tidak menyangka dia akan bertindak
sejauh ini.)
Sambil
memeluk Rest dan menempelkan pipinya... Primula merasakan keseriusan kakaknya.
(Tapi... aku
tidak boleh kalah. Aku
tidak secantik Kakak, dan tidak punya pesona sehebat dia... Jadi, aku harus
berusaha keras agar setidaknya Tuan Rest bisa melirikku!)
Primulalah
yang pertama kali memakai daster seksi itu. Karena tidak percaya diri dengan
pesonanya, ia sengaja memilih pakaian yang berani. Efeknya luar biasa. Rest
bereaksi sangat jelas terhadap pakaian mereka dan tekanan dada yang ia rasakan.
(Tuan Rest
wajahnya sampai merah begitu, manis sekali...!)
Melihat Rest yang
memerah hingga ke leher, ekspresi Primula berubah seperti sedang menyayangi
hewan kecil. Sejak dulu Primula tidak pandai berurusan dengan laki-laki.
Sebagai putri
keluarga ternama, ia sering didekati laki-laki di pesta bangsawan... namun ia
tidak pernah merasakan apa pun selain rasa takut terhadap mereka.
(Meski begitu...
kenapa aku merasa tenang-tenang saja dengan Tuan Rest...?)
Anehnya, ia tidak
merasakan rasa takut atau tidak nyaman terhadap Rest.
Bahkan
dadanya—yang biasanya terasa tidak nyaman jika dipandang laki-laki—terasa biasa
saja saat dilihat oleh Rest.
Bukannya ia tidak
punya rasa malu, namun kenyataan bahwa penampilannya disukai oleh pria yang ia
cintai memberinya kebahagiaan dan rasa superioritas yang mengalahkan rasa
malunya.
(Dada yang
sedikit lebih besar dari Kakak... aku tidak menyangka hari di mana ini berguna
akan tiba.)
Meskipun wajah
mereka sangat mirip... entah kenapa ukuran dada Primula lebih besar. Dulu ia
sering merasa malu akan hal itu, namun ini pertama kalinya ia merasa senang.
(Mulai sekarang,
dada ini mungkin akan menjadi senjataku. Karena hanya ukuran dada inilah bagian
di mana aku bisa menang dari Kakak...)
"Auw...!"
Saat ia memeluk
lengan Rest seolah ingin menenggelamkannya di belahan dadanya yang dalam, bahu
Rest gemetar karena terkejut. Benar-benar manis... senyum di bibir Primula
semakin dalam.
"Mmph...!"
Viola yang
terbakar api rivalitas pun semakin erat memeluk Rest.
(Seperti
dugaan, Kakak langsung membalas... Tapi, aku juga tidak akan kalah!)
"Tuan
Rest, soal ini menggunakan rumus yang tadi lho?"
"B-baik,
aku mengerti..."
Primula
menekan dadanya lebih kuat lagi dan terus melancarkan serangan bertubi-tubi.
Sungguh
sebuah permainan takdir yang kejam, kedua saudari cantik ini jatuh cinta pada
orang yang sama. Di tengah persaingan dua gadis cantik itu, Rest hanya bisa
pasrah dipermainkan secara sepihak.
◇
Sementara
Rest sedang asyik bermesraan dengan saudari cantik di keluarga Marquis
Rosemary, ada seseorang yang sedang pusing kepala karena kehadiran pemuda itu
di rumahnya.
"............ Putriku tidak ada."
Di ruang makan kediaman, Albert bergumam sendirian sambil
duduk di meja makan yang luas. Saat itu adalah waktu makan malam, dan di
hadapan Albert tersaji berbagai hidangan mewah. Tumis daging domba, ikan meuniere,
salad, sup... semuanya adalah hidangan kelas atas yang dimasak dengan penuh
usaha.
Namun, ekspresi Albert yang seharusnya menikmati hidangan
lezat itu tampak muram. Sebab, kedua putri yang seharusnya ada di sana tidak
terlihat batang hidungnya.
"Nona muda sedang makan bersama Tuan Rest. Katanya
mereka akan makan di sela-sela belajar," ujar Dieble yang berdiri di
sampingnya.
"Gunuuu..."
Albert memasang wajah penuh penderitaan. Belakangan ini,
putri kesayangan Albert—Viola dan Primula—selalu menempel pada Rest. Selama
tidak ada urusan mendesak, mereka tidak mau beranjak dari sisinya.
Akibatnya, Albert terpaksa makan sendirian. Melihat putri
yang sangat ia manjakan menjadi akrab dengan pria lain saja sudah merupakan
siksaan, apalagi kini ia merasa diabaikan. Hal itu benar-benar menggerogoti
hati Albert.
"...Bagaimana kalau Anda mengundang Tuan Rest ke meja
makan ini? Jika dia ada di sini, para nona muda pasti akan makan di ruang makan
ini juga, bukan?"
"T-tidak...
itu tidak bisa!"
Albert
menolak saran Dieble dengan nada bicara yang agak keras.
"Meskipun
dia adalah favorit putriku, meskipun dia calon tunangan masa depan... saat ini
statusnya hanyalah pelayan magang! Tidak baik bagi wibawa di depan pelayan lain
jika aku membiarkannya makan di meja yang sama dengan majikan!"
"Saya rasa
itu sudah terlambat. Para pelayan sudah tahu bahwa Tuan Rest adalah orang yang
spesial," jawab Dieble dengan ekspresi sedikit tercengang.
Secara resmi,
Rest tinggal di kediaman Marquis sebagai pelayan magang. Namun, tidak ada satu
pun pelayan yang benar-benar menganggapnya sebagai pelayan. Hal itu karena
Viola dan Primula sangat perhatian pada Rest dan memperlakukannya dengan cara
yang menunjukkan bahwa mereka adalah 'wanita' di depan Rest.
Banyak pelayan
dan kepala pelayan yang bekerja di sana sudah menganggap bahwa Rest akan
menjadi menantu keluarga ini. Bahkan ada yang mulai memanggilnya dengan imbuhan
'Tuan' dan mencoba menjilat kepada pemuda yang mungkin akan menjadi majikan
mereka kelak.
"Memang ada
yang sempat iri karena Tuan Rest mendapat perlakuan istimewa... tapi setelah
saya biarkan mereka melihat latihan sihirnya, mereka langsung bungkam."
"...Bagaimana
perkembangan latihan tempurnya?"
"Sangat
lancar, bahkan terlalu lancar."
Dieble
mengangguk menjawab pertanyaan tuannya. Kemudian, dengan nada bicara yang lebih
tegas dari biasanya, ia bicara kepada Albert.
"Meskipun teknik tempur dan instingnya sedikit di atas
rata-rata... Tuan Rest adalah jenius sihir yang nyata. Saya sangat menyarankan
agar kita menariknya ke dalam keluarga Marquis Rosemary dengan cara apa pun...
bahkan jika harus menyerahkan kedua nona muda kepadanya!"
"A-apakah sehebat itu...?"
"Benar-benar sehebat itu...!"
Dieble mengangguk sangat dalam. Karena selalu mendampingi
latihan Rest, Dieble-lah yang paling memahami bakat pemuda itu.
"Insting dan daya ingatnya yang memungkinkan dia
menguasai sihir hanya dengan sekali lihat. Kapasitas mana yang seolah tidak
terbatas biarpun dia terus merapalkan sihir. Dia sudah memiliki kemampuan yang
setara dengan Penyihir Istana. Saat ini aku memang masih unggul sebagai
penyihir... namun dia akan melampauiku dalam waktu kurang dari satu
tahun."
"Begitu
ya... sampai sehebat itu..."
Dieble adalah
orang yang sangat tahu posisi sebagai kepala pelayan. Jarang sekali ia
menyatakan pendapatnya dengan begitu kuat.
(Berarti pemuda
bernama Rest itu memang bakat yang sangat langka... sepertinya kehebatan yang
ia tunjukkan dalam duel itu barulah puncaknya saja.)
Melihat
Albert yang sedang merenung, Dieble melanjutkan.
"Sebelumnya
saya menyarankan agar Anda menyerahkan kedua nona muda kepada Tuan Rest demi
menghormati keinginan mereka. Namun sekarang berbeda. Saya berpikir bahwa
menikahkan keduanya dengan Tuan Rest agar mereka melahirkan keturunan akan
membawa kemakmuran bagi keluarga Marquis Rosemary."
"...Jika
kau sampai bicara sejauh itu, berarti putri-putriku memang punya mata yang
bagus dalam menilai pria."
"Paling
lambat, sebaiknya Anda sudah mempertunangkan mereka sebelum masuk akademi.
Begitu dia masuk akademi, bakatnya pasti akan diketahui banyak orang. Bisa jadi akan terjadi perang perebutan
untuk menariknya ke keluarga lain."
Akademi Kerajaan
selain sebagai institusi pendidikan, juga merupakan tempat pencarian bakat.
Tempat bagi bangsawan untuk mencari bawahan, dan tempat bagi para gadis
bangsawan mencari pasangan nikah. Bangsawan bukanlah pihak yang begitu naif
hingga melewatkan aset berharga seperti Rest yang punya kepribadian baik dan
bakat luar biasa.
"...Baiklah.
Jika kau sampai bicara begitu, aku akan mempertimbangkan pertunangan mereka
berdua."
Albert akhirnya
menyerah dan bahunya merosot lesu. Ia merasa semua jalannya sudah ditutup. Jika
sudah begini, ia tidak punya alasan lagi untuk menolak.
"Tapi... itu
kalau dia benar-benar bisa masuk ke Akademi Kerajaan! Kalau dia gagal ujian,
semuanya akan sia-sia!"
"Tuan,
kemungkinan itu sangatlah kecil."
"Lagipula...
aku tidak tahu apakah istriku akan mengakui Rest-kun atau tidak. Irish akan
segera pulang, dan aku tidak tahu bagaimana dia akan memperlakukan
Rest-kun."
Mengingat wajah istrinya... Irish Rosemary, ekspresi Albert
menjadi mendung. Sebagai ibu dari si kembar, Irish memiliki kepribadian yang
cukup unik. Dia sangat manis kepada
orang yang ia sukai, namun memperlakukan orang yang tidak ia sukai seperti
sampah.
Tidak berlebihan
jika dikatakan bahwa keberhasilan Rest mendapatkan saudari cantik ini... pada
akhirnya bergantung pada apakah Irish akan menyukainya atau tidak.
"Sebaliknya,
jika Nyonya sudah mengakuinya, Tuan tidak akan bisa berkata apa-apa lagi.
Sulitnya menjadi menantu yang masuk ke keluarga istri adalah tidak bisa
membantah keinginan istri, ya."
"............"
Albert Rosemary.
Ia sendiri pun sebenarnya adalah menantu yang masuk ke keluarga Rosemary, dan
ia tidak berdaya di hadapan istrinya.
Sosok itu kembali ke kediaman sebulan setelah Rest diambil
oleh keluarga Marquis Rosemary.
"Nyonya Irish...?"
"Benar. Beliau adalah Nyonya Marquis Rosemary,
sekaligus ibu dari kedua nona muda. Beliau akan segera tiba di rumah kota ini."
Suatu pagi.
Kepala pelayan Dieble datang ke kamar Rest dan memberitahukan hal itu.
"Ngomong-ngomong...
aku belum pernah melihat Nyonya. Di mana beliau selama ini?"
"Beliau
sedang pergi ke negara tetangga untuk mendampingi Ratu. Nyonya adalah penyihir
yang sangat berbakat, dan beliau adalah teman sejak masa sekolah dengan
Ratu."
Dieble menjawab
pertanyaan Rest. Dari cerita yang ia dengar... pewaris sah keluarga Marquis
Rosemary sebenarnya adalah sang istri, sementara Albert hanyalah menantu yang
masuk ke keluarga tersebut.
Keluarga Marquis
Rosemary tampaknya merupakan garis keturunan matriarki, di mana kemungkinan
lahirnya anak perempuan sangatlah tinggi. Oleh karena itu, selama
turun-temurun, mereka selalu mengambil pria berbakat dari luar untuk menjadi
menantu.
"Keluarga Marquis Rosemary adalah keluarga penyihir
ternama. Kami makmur dengan
cara menarik orang berbakat dalam sihir dari luar. Karakteristik lain dari
keluarga kami adalah sering lahirnya wanita-wanita dengan paras yang
cantik."
"............"
Entah kenapa,
penekanan pada kata 'orang berbakat dalam sihir' itu membuat Rest merasa
sedikit terganggu.
"Terlepas
dari itu... sebaiknya aku juga memberi salam kepada Nyonya, bukan?"
"Tentu saja.
Saya sudah mengabari Nyonya tentang Tuan Rest melalui surat... dan beliau
sangat penasaran serta ingin bertemu dengan Anda."
"Begitu
ya... yah, itu wajar saja."
Putri-putrinya
membawa laki-laki asing ke dalam rumah. Sebagai seorang ibu, wajar jika ia
merasa penasaran.
"Baiklah.
Aku akan memberikan salam. Meski aku tidak terlalu paham tata krama terhadap
wanita bangsawan..."
"Jangan
khawatir, Nyonya adalah orang yang murah hati dan tidak terlalu peduli pada
tata krama formal... Oh, bicarakan tentang iblis, dia pun muncul."
Dieble
mengalihkan pandangannya ke jendela kamar. Rest pun ikut melihat ke luar, dan
sebuah kereta kuda mewah tiba di depan kediaman. Kereta itu ditarik oleh dua
ekor kuda putih, dan di sisi badan kereta terukir lambang keluarga Marquis
Rosemary.
"Nyonya
sudah pulang. Mari kita pergi menjemputnya."
"Baik."
Rest memastikan
pakaiannya tidak berantakan di depan cermin, lalu keluar kamar. Saat sampai di
lobi, sang Nyonya Marquis baru saja masuk melalui pintu utama.
Nyonya itu
mengenakan gaun berwarna hijau muda, dengan rambut emas bergelombang yang
terurai di punggungnya. Wajahnya tampak awet muda, dan ia memiliki sosok tubuh
yang molek yang terlihat bahkan dari balik gaunnya.
(Itu ibu dari
mereka berdua...? Bagaimana pun kelihatannya, dia tampak seperti masih berusia
dua puluh tahunan!?)
Ibu dari si kembar... Irish Rosemary, memiliki wajah yang
sangat mirip dengan putri-putrinya. Alih-alih seperti ibu dan anak, mereka
terlihat seperti kakak beradik yang berbeda usia atau seperti kakak sepupu.
"Ibu,
selamat datang di rumah!"
"Terima
kasih atas kerja kerasnya dalam perjalanan dinas, Ibu."
Viola dan Primula
yang sudah tiba lebih dulu di lobi menyambut ibu mereka. Melihat
putri-putrinya, wajah Irish berbinar dan ia langsung memeluk mereka berdua.
"Aku
pulang, putri-putriku yang manis! Kalian tampak sehat, aku sangat merindukan kalian!"
"Ibu juga
tampak sehat, syukurlah."
"Bagaimana
di Kekaisaran? Aku dengar di sana lebih dingin daripada di negara ini..."
"Iya, di
sana sudah turun salju, benar-benar merepotkan. Aku tidak menyangka harus
memakai mantel di musim seperti ini!"
Ibu dan anak itu
berbincang dengan hangat. Melihat kemiripan mereka, sang suami, Albert,
mendekat.
"Selamat
datang kembali, Irish. Aku senang kau pulang dengan selamat."
"Iya... aku sudah membaca suratmu. Sepertinya sedang
terjadi hal yang cukup menarik di sini, ya."
Irish tersenyum kepada suaminya, lalu pandangannya meluncur
dengan cepat. Matanya yang seolah mencari sesuatu akhirnya menangkap sosok Rest
yang berdiri agak jauh.
"Ah... jadi dia orangnya."
"Ah, Ibu! Izinkan aku mengenalkannya! Dia adalah Rest-kun!"
"Dia
penyelamat nyawa aku dan Kakak, dan sekarang dia tinggal di sini bersama
kita."
"Tak
disangka kalian berdua sampai membawa laki-laki ke rumah. Apa kalian sudah
masuk masa puber?"
Irish
berdiri tegak dan mendekati Rest. Rest yang merasa agak tegang pun
membungkukkan kepalanya.
"R-Rest!
Terima kasih sudah banyak dibantu oleh putri Anda!"
"Iya,
salam kenal. Aku juga berterima kasih karena kau sudah menolong putri-putriku.
Terima kasih ya."
"I-iya...!"
Nada
bicara Irish terasa tenang, seolah ada suasana yang menyambut kehadiran Rest.
(Sepertinya
dia tidak akan bilang 'aku tidak akan memaafkanmu karena mendekati putriku'...)
Rest merasa
lega... namun sesaat kemudian, ia dibuat terpana oleh kata-kata Irish
selanjutnya.
"Kalau
begitu, aku akan ganti baju dulu, jadi tunggu aku di luar."
"He...?"
"Ayo kita
duel satu lawan satu? Siapkan
dirimu karena aku akan menghajarmu sampai babak belur, ya?"
"............"
Melihat
Irish yang mengepalkan tinjunya sambil berkata demikian, wajah Rest langsung
berkedut ketakutan.
Setelah ditantang berduel oleh Irish, Rest pergi ke lapangan
latihan luar ruangan terlebih dahulu sementara Irish berganti ke pakaian yang
lebih memudahkan untuk bergerak. Sambil menunggu Irish datang bersama Dieble...
Rest menatap langit biru dengan perasaan bingung.
"Anu...
kenapa jadi begini ya...?"
"...Mohon
maaf atas sikap Nyonya."
Sambil berdiri
tanpa tujuan di lapangan latihan, Rest mengutarakan pertanyaan dari lubuk
hatinya. Dieble meminta maaf dengan wajah yang tampak sangat menyesal.
"Nyonya
itu... bagaimana ya bilangnya, beliau adalah tipe orang yang impulsif dan
sangat jujur... tipe orang yang hanya bisa bicara lewat sihir dan kepalan
tinju..."
"Anu...
maksud Anda, dia itu otot otak?"
"…………………… Iya."
Tanpa basa-basi, Dieble mengakui penilaian itu dengan nada
menderita. Nyonya Marquis Rosemary... Irish Rosemary, dari luar memang tampak
seperti wanita bangsawan yang cantik dan ibu muda yang lembut, namun
kenyataannya ia dikenal sebagai petarung yang sangat tangguh. Ia dikabarkan
memiliki kekuatan fisik yang luar biasa, bahkan pernah dikabarkan menghajar
sampai mati sekelompok pembunuh yang mengincar nyawa keluarga kerajaan
sendirian.
"Tolong jangan salah paham. Nyonya tidak membenci Tuan
Rest atau ingin mengusir Anda, beliau hanya ingin berbicara melalui kepalan
tinju saja. Beliau tidak memiliki niat jahat atau maksud buruk."
"Mungkin tidak ada niat jahat, tapi bagaimana dengan
maksud buruk? Kalau dipukul kan bisa luka?"
"Nyonya adalah ahli sihir penguatan fisik dan sihir
penyembuhan. Beliau tidak pandai sihir jarak jauh, tapi dalam pertarungan jarak
dekat, beliau mungkin lebih kuat daripada Tuan Marquis, bahkan mungkin lebih
kuat dari Komandan Ksatria."
"Komandan
Ksatria... maksud Anda Marquis Catreia itu? Serius?"
Komandan Ksatria
Marquis Catreia adalah orang yang sangat terkenal. Bahkan saat Rest masih hidup
sebagai rakyat jelata, ia sering mendengar rumor tentangnya. Beliau adalah
pahlawan yang berkali-kali menyelamatkan negara dalam pertempuran melawan
negara tetangga dan suku asing.
Marquis Catreia
yang berada di puncak kekuatan fisik, dan Marquis Rosemary yang berada di
puncak kekuatan sihir... keduanya dijuluki sebagai 'Dua Sayap' yang menopang
negara ini.
"Anu...
apakah aku akan dibunuh setelah ini?"
"T-tenang
saja. Nyonya pasti tidak akan bertarung dengan sungguh-sungguh. Beliau hanya
ingin menguji kemampuan Tuan Rest saja..."
"Maaf
membuatmu menunggu."
Suara wanita yang
tegas bergema. Saat ia menoleh, ia melihat Irish yang sudah berganti pakaian
menjadi seperti baju berkuda. Karena mengenakan atasan dan celana yang melekat
ketat di tubuhnya, lekuk tubuhnya yang molek terlihat sangat jelas.
““............””
Di belakang Irish, anggota keluarga Marquis Rosemary
lainnya... Viola, Primula, dan Albert mengikuti dengan ekspresi muram.
"R-Rest-kun!
Berjuanglah ya...! Maafkan kami karena jadi begini!"
"A-anu...
tolong jangan sampai terluka ya! Aku mendukungmu!"
Si kembar
berlari mendekat dan menggantungkan diri pada Rest. Keduanya tampak sangat
khawatir... dan memasang ekspresi yang sangat merasa bersalah.
"............"
Begitu
mata Albert bertemu dengan mata Rest, ia langsung memalingkan wajahnya. Ia
tampaknya sadar bahwa istrinya sedang bertindak liar, sehingga ia pun memasang
wajah yang merasa bersalah.
"Anu...
aku sudah memohon pada Ibu agar tidak berbuat kejam padamu. Ibu tidak bermaksud
jahat, jadi aku harap kau tidak membencinya..."
"Tidak
apa-apa... meskipun jadi repot, aku tidak merasa tidak nyaman kok."
Rest
menggelengkan kepalanya kepada Viola yang wajahnya mendung. Ia juga memberikan
senyum untuk menenangkan Primula.
"Wajar saja
jika seorang ibu waspada terhadap pria yang mendekati putrinya. Ini juga
kesempatan bagus untuk melihat hasil latihan tempurku dengan Pak Guru Dieble.
Aku akan menghadapinya dengan sekuat tenaga."
"Rest-kun..."
"Tuan
Rest..."
Keduanya menatap
dari jarak sangat dekat dengan mata yang berkaca-kaca. Sepertinya mereka sangat
senang dengan kata-kata penghiburan darinya, karena mereka langsung memeluk
kedua lengan Rest dengan erat.
(...Anu,
ini terlalu dekat. Aku merasa tidak enak di depan orang tua kalian.)
Ia tidak
keberatan dipandang dengan penuh perasaan, tapi ia ingin mereka tidak menempel
terlalu erat. Di sini ada
orang tua mereka. Tatapan dari kedua orang tua itu... terutama dari sang ayah,
Albert, terasa sangat menusuk.
"Ayo kita
mulai. Kalian menyingkirlah dulu."
Irish bicara
kepada mereka. Viola dan Primula melepaskan lengan Rest dengan perasaan enggan.
"Kalau
begitu... mohon bantuannya."
"Iya, sama-sama... Aku harap ini tidak menjadi sekadar
permainan sepihak bagiku."
Irish memasang senyum cantik di wajahnya. Sambil merasakan
sesuatu yang merinding di balik senyuman yang memikat itu, Rest mengambil jarak
beberapa meter dan berhadapan dengan Irish.
(Ini pertama kalinya aku bertarung dengan orang selain Pak
Guru Dieble... Lawanku mungkin lebih kuat dari Komandan Ksatria terkuat di
kerajaan. Kenapa aku selalu harus melawan orang yang jauh lebih kuat dariku,
ya...)
Ini adalah kedua kalinya ia berduel dengan seseorang di
lapangan latihan ini. Rest memantapkan hatinya dan memasang kuda-kuda ke arah
wanita sang Nyonya Marquis itu.
"Kalau begitu... mulai!"
Albert memberikan aba-aba, dan pertarungan pun dimulai. Pada
saat itu juga, wajah cantik Irish sudah berada tepat di depan matanya.
"Eh...?"
"Pertama,
satu pukulan."
Jarak itu
tertutup dalam waktu kurang dari satu detik. Padahal ia merasa belum sempat berkedip.
Terpesona oleh wajah yang tersenyum tipis itu hanya terjadi sesaat, karena pada
saat berikutnya ia dihantam oleh guncangan yang hebat.
"Hmph!"
"Gugh...!"
Pukulan
yang sangat kuat menghujam tubuh Rest.
"Guuuuuuuuu,
ini... luar biasa sekali!"
Rest secara
refleks menyilangkan kedua lengannya untuk menangkis serangan Irish.
Meskipun ia sudah
menggunakan dua sihir penguatan tubuh sekaligus, yaitu Physical Up dan Guard
Up, ia tetap merasakan guncangan yang luar biasa.
Rest
tidak sanggup menahan kekuatannya dan terlempar jauh ke belakang.
"Heh...
reaksimu tidak buruk. Output sihirmu biasa saja, tapi kecepatan
aktivasinya tidak ada cela. Yang terpenting, aku kagum kau bisa menggunakan
sihir Duo di usia semuda itu."
"T-terima
kasih..."
Irish
tidak melakukan serangan lanjutan dan hanya memutar-mutar lengannya. Jika ia
adalah prajurit atau penyihir biasa, pertarungan ini pasti sudah berakhir di
pukulan pertama tadi.
(K-kedua
lenganku mati rasa... tidak patah, kan?)
Kedua
lengan yang ia gunakan untuk bertahan memang tidak patah, namun terasa kaku dan
sulit digerakkan karena mati rasa. Tanpa melepaskan sihir penguatan, ia menggunakan Heal untuk
memulihkan kerusakan pada lengannya.
"Oho, sihir penyembuhan? Kau bahkan bisa melakukan Trio, ya? Kau benar-benar luar biasa."
"Anda
sendiri... bagaimana bisa menghasilkan kekuatan sebesar itu hanya dengan Physical
Up?"
Rest
mengutarakan pertanyaan yang muncul dari lubuk hatinya.
Berbeda
dengan Rest yang mengaktifkan beberapa sihir secara paralel, Irish hanya
menggunakan Physical Up. Rest juga menggunakan sihir yang sama, namun
jelas sekali ada jurang perbedaan yang sangat jauh dalam tingkat kemahiran
mereka.
"Sejak
lahir, output sihirku memang tinggi. Kalau yang satu ini, murni masalah bakat."
"...Bakat,
ya."
"Sebagai
gantinya... aku tidak pandai sihir serangan jarak jauh. Kurasa, tidak ada orang
yang bisa mendapatkan segalanya, bukan?"
"............"
Meskipun Rest
memiliki mana yang seolah tak terbatas, jumlah mana yang bisa ia masukkan ke
dalam satu sihir—dengan kata lain, tingginya output sihir—tidak bisa
dikatakan sehebat itu.
Bukannya rendah,
namun jika dibandingkan dengan mana tak terbatas dan bakat unik yang bisa
meniru sihir hanya dengan sekali lihat, hal itu tetap terasa biasa saja.
(Begitu
ya... benar juga, memang tidak mungkin bisa mendapatkan segalanya.)
Kalau
begitu, dia tidak punya pilihan selain bertarung dengan senjata yang
dimilikinya sekarang.
"Kalau
begitu... bagaimana dengan yang ini?"
Rest
memunculkan belasan Fireball di sekelilingnya.
Menciptakan
bola api dalam jumlah banyak jauh lebih mudah daripada mengaktifkan berbagai
jenis sihir secara bersamaan.
"Tembak!"
Bola api
dalam jumlah besar menyerbu Irish. Jumlah dan waktunya bukanlah sesuatu yang
bisa dihindari dengan mudah.
"Fufu...
serangan yang bagus. Aku suka."
Namun,
Irish dengan cepat menendang tanah dan melakukan gerakan langkah cepat. Karena
kecepatannya yang luar biasa, tubuh Irish tampak seolah membelah diri menjadi
beberapa bayangan di kiri dan kanan, menghindari gempuran bola api yang
merangsek maju.
"Aku
akan langsung menyerang. Bersiaplah."
Kemudian...
tanpa mengurangi kecepatannya, ia melesat masuk ke dalam jangkauan jarak dekat
Rest.
"Smoke
Screen!"
Rest
seketika menyebarkan asap putih ke sekelilingnya.
Dengan
menyembunyikan diri di dalam asap, pukulan Irish hanya mengenai udara kosong.
Ia benar-benar berhasil mengecohnya dengan asap tersebut.
"Boleh
juga...!"
"Thunder
Stun!"
Di dalam
asap, Rest melepaskan serangan fisik sekaligus sihir kepada Irish. Ia
menghantamkan pangkal telapak tangannya ke perut Irish dan menyarangkan
serangan kilat dari jarak nol.
"Ugh...!"
Tubuh
Irish bergetar kecil karena kejang.
Sihir
yang digunakan Rest adalah sihir untuk membuat lawan pingsan dengan kejutan
listrik. Itu adalah salah
satu sihir untuk pertarungan antarmanusia yang diajarkan oleh Dieble.
"Bagus,
dengan begini...!"
"...Sakit
juga, ya. Tapi, kau berani sekali meremehkanku dengan menggunakan sihir
non-letal."
"Apa!?"
Irish
mencengkeram lengan Rest yang masih menempel di perutnya.
Padahal ia sudah
melancarkan serangan itu dengan telak, namun ia hanya bisa menghentikan gerakan
Irish selama sesaat.
"Padahal
sudah ada Viola dan Primula... kau nakal sekali ya, berani menyentuh perut
wanita lain. Ini hukuman untukmu!"
"Uwaaaa!?"
Sambil tetap
mencengkeram lengannya, Irish mengayunkan tubuh Rest dan langsung melemparnya.
Tubuh Rest
memantul berkali-kali di tanah hingga menabrak tanaman hias di pinggir lapangan
latihan.
"Ugh... gugh..."
"Rest-kun!"
"Tuan Rest!"
"Jangan
keluar! Duel kami belum berakhir!"
Irish
membentak putri-putrinya yang hendak berlari mendekat dengan panik.
Seperti
yang dikatakan Irish, pertarungan belum berakhir. Rest berdiri kembali dari
tanah sambil memulihkan tubuhnya dengan sihir penyembuhan.
"Benar-benar...
keterlaluan..."
Bisa
berdiri kembali seperti ini adalah buah dari latihan bersama Dieble.
Berkat
sedikit terbiasa bertarung melawan manusia, ia entah bagaimana bisa melakukan ukemi
(teknik jatuh) dan menekan kerusakan hingga batas minimal.
(Jika dia
bisa menghindari semua bola api tadi, tidak ada gunanya menembakkan sihir jarak
jauh sebanyak apa pun... Lagipula, akan gawat kalau aku menembak sembarangan
dan rumah ini malah terbakar.)
Kalau
begitu, ia harus menggunakan tumpukan sihir penguatan dan meladeni pertarungan
jarak dekat, tapi Rest langsung meringis membayangkannya. Bertarung jarak dekat
dengan wanita bangsawan yang kekuatannya seperti gorila itu adalah tindakan
bunuh diri.
(Jika aku
bisa menggunakan sihir serangan area luas, cara bertarungku pasti berubah...
tapi sayangnya, aku belum diajarkan hal itu.)
Cara
bertarung yang ia pelajari dari Dieble lebih berfokus pada teknik penggunaan
sihir lemah yang dimodifikasi daripada serangan dengan daya hancur tinggi. Ia belum mempelajari serangan area atau
sihir area.
"Menemukan
satu tugas untuk masa depan. Ternyata bertarung dengan orang yang jauh lebih kuat memang sangat
mendidik..."
"Cara
bertarung dengan menggunakan berbagai sihir itu... kamu berguru pada Dieble,
ya?"
Irish
bertanya. Rest mengangguk sambil memfokuskan sebagian kesadarannya untuk
pemulihan.
"...Iya,
Pak Guru Dieble mengajariku banyak hal."
"Dulu
dia juga pernah mengambil murid, tapi katanya tidak ada yang bertahan lama. Dia
orang yang sangat keras, sih."
"Beliau
memang tidak lembut. Tapi,
itu hal yang wajar jika aku ingin menjadi kuat."
"Uun, tekad
yang bagus."
Irish memberikan
senyuman lembut yang seolah tidak menunjukkan bahwa mereka sedang berada di
tengah pertempuran.
"Dia sangat
mahir dalam cara penggunaan sihir, tapi kapasitas mananya sedikit. Aku ingin
melihat akan jadi seperti apa jadinya jika pemilik mana tidak masuk akal
sepertimu menguasai cara bertarungnya."
"...Terima
kasih. Aku akan berusaha agar bisa memenuhi ekspektasi Anda."
"Lakukanlah...
Nah, apa lukamu sudah sembuh?"
"...Berkat
bantuan Anda."
Rest mengepalkan
lalu membuka tangannya. Selama mereka berbicara, kerusakannya sudah sembuh
total.
Tentu saja
mananya sama sekali tidak berkurang dari kondisi awal.
(Dengan begini kita kembali ke titik awal. Bahkan bisa
dibilang aku sedikit unggul karena mana Nyonya Irish sudah berkurang. Tapi...)
Meskipun
begitu... kenapa ya. Ia tidak merasa perbedaan kekuatan mereka menipis sedikit
pun.
Rest merasa
justru dirinyalah yang terdesak. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
Padahal ia sudah
melakukan simulasi pertempuran dengan Dieble setiap hari, dan jika itu
pertarungan tanpa batasan, ia sudah bisa bertarung dengan seimbang bahkan
sedikit unggul.
(Tapi... Nyonya Irish terasa begitu jauh. Jauh lebih kuat
dari Pak Guru Dieble, dan tentu saja, jauh lebih kuat dariku...!)
"Rest-kun!"
"Tuan Rest!"
(Meski begitu... aku tidak boleh menyerah. Karena ada mereka
yang mendukungku!)
Viola dan Primula berteriak lantang memberikan dukungan
untuk Rest.
Ia tidak boleh menunjukkan penampilan yang memalukan di
depan mereka berdua. Meski ia berniat belajar darinya... ia akan menyesal jika
tidak mengerahkan seluruh kemampuannya.
(Tanpa trik lagi. Aku akan maju dari depan dengan sekuat
tenaga... dengan niat seolah ingin membunuh!)
"Ah, sepertinya kau sudah memantapkan hati. Mata yang
bagus, mata yang penuh semangat persaingan yang mirip dengan suamiku saat masih
muda dulu. Itu jenis mata yang aku sukai."
Irish mengangkat sudut bibirnya membentuk sabit dengan
riang.
"Kemarilah.
Aku akan memelukmu."
"Aku
datang...!"
Physical Up, Toughness, Accelerator, Earth
Wear... Rest mengaktifkan sihir Quartet.
Ia melapisi seluruh tubuhnya dengan zirah tanah dan memasang
kuda-kuda seperti akan melakukan crouching start.
"Quartet... kau bahkan bisa melakukan hal
seperti itu! Luar biasa!"
"Ooooooooooooooh!"
Bersamaan dengan pujian Irish, Rest menendang tanah dan
melesat maju.
Kecepatannya seolah tidak terpengaruh meski ia mengenakan
zirah tanah.
Momentum
dan bobotnya terasa seperti motor besar yang melaju lebih dari seratus
kilometer per jam.
Ia
berlari lurus dan langsung melakukan tackle ke arah tubuh lawan dari
depan.
"!"
"Ya, bagus. Benar-benar bagus."
Namun... Irish tidak menghindari serangan itu dan
menerimanya langsung dari depan.
Selain Physical Up, Irish juga menggunakan Toughness
untuk memperkuat tubuhnya.
Padahal Physical Up miliknya saja sudah sulit
dihadapi... di depan Irish yang memperkeras tubuhnya secara berlapis, serangan Quartet
miliknya sama sekali tidak mempan.
"Ini
hadiahmu. Seperti yang kubilang, aku akan memelukmu."
"Kaha...!"
Kedua lengan Irish memeluk Rest.
Zirah tanahnya hancur berkeping-keping dengan suara retakan
yang keras, dan tubuhnya diperas dengan kuat dalam posisi pelukan yang
mematikan.
(Pinggangku... mau... patah...!)
Kesadaran Rest mulai menjauh, dan ia pingsan begitu saja.
Duel kedua yang dilakukan di lapangan latihan. Rest kembali
menelan kekalahan, dan berakhir pingsan sama seperti sebelumnya.
◇
Setelah
duel berakhir, Rest yang tidak sadarkan diri dibawa ke kamarnya.
Untungnya,
nyawanya tidak terancam. Meskipun belum sadar, luka-lukanya sudah sembuh total
berkat sihir penyembuhan.
Viola dan
Primula berusaha sekuat tenaga untuk merawat Rest, namun leher mereka
dicengkeram oleh ibu mereka dan dibawa ke ruang keluarga kediaman.
"Tunggu... Ibu, apa yang..."
"Aku dan
Kakak mau merawat Tuan Rest...!"
"Kalian
berdua, menikahlah dengannya."
““He...?””
Saudari Rosemary
yang tadinya ingin memprotes langsung tertegun mendengar perkataan ibu mereka.
Meskipun
kepribadian mereka sangat berbeda... jika dilihat seperti ini, mereka memang
anak kembar. Keduanya mematung dengan ekspresi terkejut yang persis sama.
"Hei, Irish!
Apa-apaan tiba-tiba bicara begitu...!"
"Kamu diam
saja. Ini pembicaraan sesama wanita."
"Ugh..."
Albert yang
mencoba ikut campur langsung dibungkam oleh istrinya.
Kepada suami dan
putri-putrinya yang terdiam, Irish menyatakan dengan tegas.
"Kita akan
menyambutnya sebagai menantu keluarga Marquis Rosemary. Viola, Primula...
kalian berdua harus melahirkan anaknya, jadi bersiaplah."
"I-Ibu..."
"E-etoo...
apa boleh?"
Si kembar
bertanya balik dengan wajah ragu.
Keduanya memang ingin bersatu dengan Rest. Namun, mereka tidak menyangka bisa menjadi
istrinya bersama-sama.
Sebab, daripada
kedua saudari menikah dengan pria yang sama, akan lebih menguntungkan bagi
hubungan antar-keluarga bangsawan jika salah satu menikah dengan Rest dan yang
lainnya menikah dengan pria dari keluarga lain.
Bagi keluarga
bangsawan, putri adalah alat pernikahan politik. Menikahkan mereka dengan pria
yang sama berarti menyia-nyiakan alat yang berguna.
"Dia punya
nilai yang sebanding untuk mengambil kalian berdua sebagai istri. Aku
memastikannya dalam duel tadi."
Kepada suami dan
putri-putrinya yang terkejut, Irish berbicara dengan ekspresi tegas.
"Awalnya,
aku berniat membiarkan Viola mengambil menantu untuk meneruskan keluarga, dan
Primula menikah ke keluarga lain untuk membangun relasi. Tapi... ceritanya
berbeda jika menemukan orang berbakat sepertinya. Daripada membangun relasi ke
luar, melahirkan sebanyak mungkin anak yang mewarisi darahnya akan membawa
kemakmuran bagi keluarga Marquis Rosemary... dan negara ini."
"Ibu...
sepertinya sangat menyukai Rest-kun, ya."
"Jika sudah
saling pukul dengan kepalan tinju, aku bisa memahami hampir segalanya."
Benar-benar otot
otak. Viola dan Primula hanya bisa tersenyum kecut.
"Dulu, Ibu
pernah sekali bertarung dengan penyihir yang dijuluki 'Kaisar Langit'. Ketua
dari 'Dewan Bijak' dan penyihir terkuat di dunia. Rest-kun memang masih hijau
dan kurang pengalaman, tapi dia memiliki sesuatu yang sama dengan orang itu.
Dia pasti akan menjadi penyihir terkuat di negara ini."
"Kaisar
Langit...!"
Primula menahan
napas.
'Dewan Bijak'
adalah organisasi penyihir tertinggi di dunia ini. Sebuah perkumpulan yang
mengumpulkan para penyihir yang telah mencapai puncak tanpa memandang batas
negara. 'Kaisar Langit' adalah sosok yang menjadi ketua dari Dewan Bijak
tersebut.
"Jika bisa
menarik penyihir dengan bakat yang setara dengan orang itu, menyerahkan dua
putriku adalah harga yang murah. Seandainya kalian menangis menolak pun, aku
pasti akan mengikat kalian dan menyerahkan kalian padanya."
"............ Hei."
Mendengar pernyataan yang tidak jelas bercanda atau serius
itu, Albert tidak tahan lagi dan menyipitkan matanya.
"Jangan melotot begitu. Beruntung sekali aku tidak
perlu melakukan pemaksaan. Jika kalian berdua menyukainya, urusannya jadi lebih
cepat. Begitu ujian masuk Akademi
Kerajaan selesai, kalian bertiga akan bertunangan. Lalu menikah setelah lulus.
Dan segera buatlah anak."
"M-menikah..."
"M-membuat anak..."
Wajah Viola dan Primula memerah padam sambil saling
memandang.
Perkataan ibu
mereka adalah sesuatu yang sangat mereka harapkan. Meski begitu... saat
dikatakan secara langsung, rasa malu mereka tetap lebih besar.
"Minimal
kalian harus membuat tiga anak. Hubungan sebelum nikah boleh saja, tapi
perhatikan kontrasepsi. Anak yang lahir sebelum menikah tidak diakui hak
warisnya, jadi mereka akan kesulitan nanti."
"...Aku
tidak akan mengizinkan hubungan sebelum nikah."
Sang ibu
berbicara dengan santai, sementara sang ayah menggumamkan suara kebencian.
Viola
melirik ekspresi kedua orang tuanya dengan takut-takut, lalu bertanya dengan
nada suara rendah.
"Benarkah...
tidak apa-apa? Kami bertiga... boleh menikah...?"
"Sudah
kujelaskan tadi."
"Kalau
begitu... setelah lulus pun, aku bisa terus bersama Rest-kun dan Primula?"
"Kakak...!"
"Primula...!"
Si kembar
tersenyum lebar seperti bunga yang mekar, lalu saling berpelukan.
Meskipun
mereka adalah rival dalam memperebutkan Rest... namun sebelum itu, mereka
adalah saudara kembar.
Tentu
saja mereka tidak saling membenci. Memang sayang karena tidak bisa memiliki
Rest sendirian... tapi di atas itu semua, mereka senang karena tidak perlu lagi
bersaing sesama saudara.
"Primula...
kita akan terus bersama!"
"Bertiga bersama Tuan Rest juga... ya!"
Sambil
meneteskan air mata karena terharu, si kembar saling bertukar senyum.
Albert
yang tadinya kesal karena kedua putrinya diambil, saat melihat sosok mereka
berdua, dia pun menjatuhkan bahunya dan pasrah, "Mau bagaimana
lagi...". Ruang keluarga itu pun diliputi suasana yang hangat dan bahagia.
"Ah... benar
juga, aku lupa mengatakannya."
Namun...
perkataan yang tiba-tiba diucapkan Irish menghancurkan suasana damai tersebut.
"Selain
kalian berdua, dia juga akan menghamili beberapa wanita lain. Aku akan memilih
gadis-gadis seumurannya dari keluarga cabang atau pengikut... dalam beberapa
kasus, aku juga akan mengumpulkan istri ketiga atau selir dari keluarga lain
yang memiliki hubungan baik. Jadi, rukunlah dengan wanita-wanita lain itu,
ya."
““Eeeeeeh!?””
Padahal
masalahnya baru saja selesai... pernyataan sang ibu memunculkan riak
perselisihan baru.
Suara teriakan
adu argumen antara orang tua dan anak menggema dari ruang keluarga, dan
perdebatan yang kacau itu terus berlanjut hingga larut malam.



Post a Comment