NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Mugen no Majutsu Shi Maryoku Nashi de Heimin no Ko to Hakugai Sareta Ore ⁓ Jitsuha Mugen no Maryoku Mochi Volume 1 Chapter 5

Chapter 5

Kencan dan Ujian


"Rest-kun, selamat pagi."

"Tuan Rest, selamat pagi."

"S-Selamat pagi... Viola-san, Primula-san."

Melihat dua gadis cantik di hadapannya, Rest menelan ludah karena gugup.

Gadis berambut pirang yang mengenakan gaun terusan merah... Viola Rosemary. Gadis berambut perak yang mengenakan gaun terusan biru... Primula Rosemary.

Dua gadis cantik kelas atas itu mengenakan pakaian yang anggun dan sudah menunggu kedatangan Rest.

(Yang benar saja... Apa aku benar-benar akan pergi berkencan dengan mereka berdua...!?)

Ungkapan "kehormatan yang tidak pantas diterima" mungkin sangat cocok untuk menggambarkan keadaan Rest sekarang. Ini adalah keberuntungan yang mustahil. Bahkan sampai sekarang, ia masih mengira ini hanyalah mimpi.

Hari ini, Rest dijadwalkan pergi berbelanja dengan Viola dan Primula. Dengan kata lain... sebuah kencan. Atas usaha kerasnya dalam belajar dan berlatih, saudari Rosemary-lah yang mengajaknya pergi.

(E-Eeto... Mengajak kencan itu berarti, jangan-jangan mereka benar-benar punya perasaan itu...?)

Rest sama sekali tidak punya pengalaman asmara. Termasuk di kehidupan sebelumnya, ia belum pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis. Meski begitu... menerima perlakuan istimewa dan kontak fisik yang berlebihan, ia samar-samar menyadari bahwa Viola dan Primula menaruh hati padanya.

(Benar-benar... Kenapa harus aku? Memang aku menyelamatkan nyawa mereka, tapi hanya karena itu gadis secantik mereka mau dengan orang sepertiku...)

"Makanya, panggil nama saja tidak apa-apa. Aku kan sudah bilang dari kemarin?"

"Aku mengerti... Viola."

"Tuan Rest, aku juga."

"Iya... Primula."

Saat Rest memanggil tanpa gelar kehormatan, keduanya tersenyum malu dengan wajah bahagia.

"Omong-omong, Rest-kun. Apa tidak ada hal lain yang ingin kamu katakan pada kami?"

"Tuan Rest... Apa tidak ada kesan setelah melihat penampilan kami?"

Di depan Rest yang bingung, kedua saudari itu menatapnya penuh harap.

"Ah..."

Menyadari apa yang mereka inginkan, wajah Rest memerah. Sambil berdehem, ia memaksakan diri mengeluarkan kalimat yang seumur hidup belum pernah ia ucapkan.

"A-Anu... Sangat cocok untuk kalian. Kalian berdua, b-begitu cantik sampai aku mengira kalian adalah peri..."

““............!””

Mendengar kata-kata Rest, wajah Viola dan Primula tampak sangat tersentuh.

"Aku senang sekali, terima kasih!"

"Sangat, sangat senang...!"

Kemudian, kedua saudari itu menangkupkan tangan dan melompat-lompat kegirangan. Mereka benar-benar imut. Ujung gaun mereka melambai ringan, membuat mereka benar-benar terlihat seperti peri.

"Ugh..."

Itu jawaban yang tepat. Ia yakin telah membuat pilihan yang benar... tapi rasanya sangat memalukan. Ia tidak menyangka memuji pakaian perempuan bisa semalu ini.

(Syukurlah mereka senang... Gawat, wajahku pasti merah sekali...)

"Kalau begitu, mari kita berangkat! Kencan dimulai!"

"Ayo pergi, Tuan Rest!"

"Wah!"

Kedua saudari itu masing-masing memegang tangan kanan dan kiri Rest, lalu menariknya pergi. Sambil membiarkan tangannya ditarik... Rest berjalan menyusuri jalan utama ibu kota.

Sebagai putri bangsawan, biasanya mereka menggunakan kereta kuda saat bepergian. Namun hari ini, karena ini kencan, mereka memilih berjalan kaki.

Bahkan setelah sampai di pusat kota, kedua saudari itu tidak melepaskan tangan Rest. Tatapan penuh rasa ingin tahu dan iri tertuju pada Rest yang menggandeng dua gadis cantik.

"Rest-kun, apa ada barang yang ingin kamu beli?"

"Tidak ada, tapi... itu, tanganku..."

"Kalau begitu, maukah kamu menemani belanja aku dan Kakak?"

"I-Iya... Itu tidak masalah, tapi tangannya..."

"Lewat sini, ayo ikut!"

Rest mencoba mengusulkan untuk melepaskan tangan, tapi ia tidak diberi kesempatan bicara.

(A-Apa kencan memang seperti ini? Apa normal berjalan sambil terus bergandengan tangan?)

Karena kurangnya pengalaman, ia sama sekali tidak tahu. Lagi pula... jika bicara soal "normal", situasi kencan dengan dua orang sekaligus ini sudah sangat tidak biasa.

"Toko ini."

Tempat yang ditunjukkan mereka adalah toko pernak-pernik dengan eksterior yang modis. Gadis-gadis seusia mereka terus keluar masuk, menunjukkan toko itu sangat populer di kalangan wanita muda.

"Aku sudah lama ingin ke sini setelah direkomendasikan teman."

"Toko yang manis seperti yang kudengar ya. Ayo segera masuk."

Mereka bertiga masuk ke dalam. Di dalam toko yang tak kalah modis, terdapat banyak rak yang memajang aksesori hingga boneka.

"Hee... Koleksinya lengkap sekali."

"Benar, kan? Toko ini sedang jadi buah bibir di ibu kota!"

Viola membusungkan dadanya dengan bangga. Melihat dada yang terbungkus kain merah itu bergoyang sedikit, Rest refleks memalingkan wajah.

"Lihat ini, Kak. Boneka ini pembuatannya sangat rapi ya."

"Benar. Yang ini beruang, yang itu kucing... dan burung berwajah aneh ini apa ya?"

"Matanya tajam dan burung yang unik ya. Tapi, anehnya ini lucu."

"...Mungkin itu burung Shoebill."

Rest menjawab kebingungan mereka. Burung yang dipeluk Primula adalah boneka burung bernama Shoebill. Burung yang khas dengan tatapan tajam dan aura melankolis.

(Kenapa burung ini ada di dunia ini... Yah, tidak masalah sih, tapi selera menjadikannya boneka sungguh luar biasa...)

Entah siapa yang membuatnya... tapi tampaknya di dunia ini pun ada orang dengan selera yang unik. Kedua saudari itu memegang berbagai boneka dan aksesori sambil berseru riang.

"Hmm...?"

Di tengah keriuhan itu, mata Rest tertuju pada sebuah benda kecil. Sebuah sisir rambut dengan permata kecil yang tertanam di dalamnya. Tidak mencolok, tapi terlihat elegan dan harganya terjangkau.

"Oh..."

Sisir dengan desain yang sama tersedia dalam warna merah dan biru. Kebetulan sekali warnanya sama dengan gaun mereka. Rest melirik ke arah mereka yang sedang asyik belanja, lalu mengambil kedua sisir tersebut.

(Lebih murah dari dugaanku... Kalau harga segini, aku masih sanggup membelinya...)

Rest berpikir sejenak.

(Aku selalu berutang budi pada mereka, aku ingin memberikan sesuatu sebagai ucapan terima kasih...)

Gaji yang ia terima sebagai pelayan magang masih utuh. Karena ia tinggal di dalam rumah, tidak ada biaya hidup, dan ia tidak punya hobi karena terbiasa hidup miskin sejak kehidupan sebelumnya. Sebagai hadiah untuk mereka, ini adalah penggunaan uang yang tepat.

(Masalahnya adalah... aku belum pernah memberikan hadiah pada perempuan...)

Sambil memegang dua sisir itu, Rest menurunkan alisnya dengan cemas.

(Eeto... Dalam situasi seperti ini, apa yang harus kukatakan saat memberikannya? Ini bukan hari ulang tahun atau Natal, apa bilang karena biasanya sudah dibantu...?)

Lagipula... meski desainnya bagus, sisir ini adalah barang murah untuk rakyat jelata. Apa tidak apa-apa memberikan barang seperti ini pada putri seorang Marquis?

(Karena ini bukan barang yang dibawa-bawa di depan umum, aku tidak akan membuat mereka malu karena barang murah. Tapi, mereka pasti punya sisir yang jauh lebih bagus dari ini...)

"Rest-kun, apa yang sedang kamu lihat?"

Viola mengintip dari balik bahu Rest yang sedang ragu.

"Ara, sisir rambut yang cantik."

"Benar. Permathanya kecil tapi desainnya sangat elegan."

"U..."

Primula juga ikut menatap tangan Rest dengan penuh minat. Karena sudah begini... Rest tidak punya pilihan selain memantapkan hati.

"...I-Ini untuk kalian."

““Eh?””

"Aku ingin... itu, membelikannya untuk kalian..."

Rest bicara terbata-bata sambil berusaha mengeluarkan kata-kata itu. Tanpa melihat cermin pun ia tahu wajahnya sudah merah seperti tomat.

(M-Memberikan hadiah pada perempuan ternyata semalu ini...!)

"K-Kamu mau memberikan ini? Untuk kami?"

"Tuan Rest... memberikan hadiah...?"

Di sisi lain, Viola dan Primula membelalakkan mata karena terkejut. Meskipun kepribadian mereka bertolak belakang... saat menunjukkan ekspresi yang sama seperti ini, terlihat jelas bahwa wajah mereka memang identik.

"I-Iya... Itu... kalau tidak merepotkan kalian..."

"Aku senang sekali!"

"Sangat bahagia!"

Kedua saudari itu berteriak hampir bersamaan. Wajah mereka merona merah, dihiasi senyum lebar seolah-olah baru saja menggenggam kebahagiaan penuh di tangan mereka.

Melihat ekspresi itu... Rest yakin ia telah mengambil keputusan yang benar.

Setelah membeli sisir dan meminta dibungkus dengan rapi, mereka bertiga keluar dari toko. Hanya Rest yang berbelanja. Viola dan Primula tidak membeli apa pun.

Rest bertanya-tanya apa mereka tidak punya barang yang diinginkan... tapi mereka menjawab dengan senyum, "Kalau beli barang lain, rasa bahagianya nanti berkurang."

(Aku senang mereka bahagia... tapi kalau reaksinya sampai berlebihan begini, aku jadi merasa tidak enak.)

Sambil memikirkan hal itu, mereka menyusuri jalan utama dan sampai di sebuah restoran. Restoran dengan suasana tenang dan elegan menyambut mereka.

"Restoran ini juga aku tahu dari teman. Mari kita makan siang di sini."

Viola memimpin masuk, diikuti Rest dan Primula. Di dalam, sekitar separuh meja sudah terisi. Pelanggan dari berbagai usia tampak asyik mengobrol sambil menikmati hidangan.

Suasananya bukan seperti restoran mewah kelas atas, melainkan tempat di mana rakyat jelata bisa menikmati sedikit kemewahan.

"Selamat datang. Untuk tiga orang, ya? Silakan ke meja ini."

Pelayan segera melayani dan mengantar mereka ke meja di dekat jendela. Rest dan saudari Rosemary duduk berhadapan lalu membuka menu.

"Rest-kun, ada yang ingin kamu makan?"

"Tuan Rest, mau minum apa?"

"Ah, benar juga. Aku ikut kalian saja, tapi... oh?"

Menu itu dilengkapi nama masakan dan ilustrasi sederhana, dan salah satunya menarik perhatian Rest.

"Ini... jangan-jangan Cheese Fondue?"

Masakan di mana sayuran dan daging dicelupkan ke dalam keju panas yang meleleh... Cheese Fondue tercantum di menu.

(Ini terlihat sangat enak dan membuat penasaran, tapi hampir tidak pernah ada kesempatan untuk memakannya... setidaknya bagiku.)

Rest punya bayangan pribadi bahwa ini adalah makanan orang kaya atau orang sukses. Bagi Rest yang merupakan mahasiswa miskin di kehidupan sebelumnya, ini adalah makanan yang sangat asing.

"Ah, Rest-kun ingin makan ini ya?"

"Kelihatannya enak, aku juga tidak keberatan makan itu."

Melihat Rest yang terpaku pada menu, saudari Rosemary tersenyum hangat. Ia merasa malu, tapi rasa penasaran dan nafsu makannya menang. Rest memutuskan untuk menerima tawaran mereka.

Sepuluh menit setelah memesan, hidangan dan minuman tersaji di meja.

"Ooh...!"

““Wah...!””

Di tengah meja diletakkan panci berisi keju panas yang meleleh. Bahan makanan untuk tiga orang—potongan roti seukuran mulut, sayuran rebus, sosis, dan lainnya—juga dihidangkan.

"Kelihatannya lezat...!"

"Aromanya harum... ada campuran anggur di dalam kejunya ya."

"Ayo segera makan."

Rest, Viola, dan Primula masing-masing mengambil garpu dan mencelupkan bahan makanan ke dalam keju sesuka hati. Saat masuk ke mulut, rasa keju panas langsung menyebar.

"Panas... tapi enak...!"

Rest menahan panas sambil menelan makanan yang berlumur keju. Viola dan Primula juga menikmati Cheese Fondue dengan cara yang sama.

"Rasanya bisa menghangatkan tubuh. Brokolinya enak."

"Kentangnya juga terasa gurih, Kak Viola."

"Memang daginglah yang terbaik... Sosis ini luar biasa...!"

Hanya sekadar keju, tapi bukan sembarang keju. Rasa yang pekat dan benar-benar meleleh di mulut membuat Rest merasa terharu.

"Haf, haf."

"Fufu, Rest-kun makannya lahap sekali. Seperti anak kecil saja... Benar juga."

Entah apa yang ia pikirkan... Viola menusuk sayuran ke keju lalu menyodorkannya ke arah Rest.

"Ayo, aa~n."

"Mugh...!?"

Kejadian tiba-tiba itu membuat kentang hampir tersangkut di tenggorokan Rest.

"Goho, goho... Tidak usah, aku bisa makan sendiri..."

"Tidak apa-apa, kan. Aa~n."

"E-Eeto..."

"Apa kamu begitu benci menggunakan garpu yang sudah kupakai...? Aku jadi sedih."

"...Aku makan."

Jika dikatakan begitu, ia tidak punya pilihan selain memakannya. Rest membuka mulut dan memakan brokoli yang disodorkan Viola.

"Bagaimana? Enak?"

"...Enak."

Saat Rest memberikan kesan, sosis disodorkan dari arah lain.

"Tuan Rest, aa~n."

"Ooh..."

Seolah membakar semangat persaingan dengan kakaknya, kali ini Primula yang melakukan "aa~n".

"Aa~n..."

"Enak, Tuan Rest?"

"...Enak."

"Kalau begitu, sekali lagi, aa~n."

"Aku juga, aa~n."

"Aa~n..."

Setelah itu, Rest terus-menerus memakan bahan makanan yang disodorkan Viola dan Primula. Karena ia juga harus membalas melakukan "aa~n" kepada mereka berdua, pelanggan di sekitar mulai memperhatikan dan tertawa kecil. Saat Rest mulai merasa seperti anak burung yang disuapi induknya, akhirnya makan siang selesai.

"Hah... Terima kasih makanannya. Hati dan perutku sudah sangat penuh..."

"Nah... Rest-kun. Hari ini ada hal penting yang ingin aku bicarakan, apa boleh?"

Kepada Rest yang lemas karena kelelahan mental... Viola bicara dengan wajah serius, suasananya berubah drastis dari sebelumnya. Primula di sampingnya juga memasang ekspresi serius. Apa kemampuan berubah suasana dengan cepat ini adalah ciri khas perempuan?

"Rest-kun menyadarinya, kan? Tentang perasaan kami..."

"A-Aku dan Kakak, sejak pertama kali bertemu, sudah mengagumi Tuan Rest...!"

Keduanya menyatakan cinta dengan penuh tekad. Tentu saja, Rest sudah menyadarinya sedikit demi sedikit. Ia bukan batu atau kayu, mana mungkin ia tidak sadar dengan perasaan kedua saudari yang menunjukkannya secara terang-terangan.

"Tapi... kenapa aku? Apa karena aku menyelamatkan kalian dari serigala?"

"Ditolong memang salah satunya, tapi... aku terpikat oleh kekuatan dan ketulusanmu."

"Aku suka kebaikanmu. Meskipun sangat kuat, kamu sama sekali tidak sombong dan sangat penuh kasih sayang."

"............"

Viola dan Primula bicara bergantian. Alasan itu bagi Rest tidak terlalu masuk akal.

(Soal kekuatan aku tidak tahu... tapi aku tidak setulus itu, tidak juga baik atau penuh kasih. Aku merasa tidak pantas disukai wanita hebat seperti kalian...)

Meskipun memiliki kekuatan seperti mana tak terbatas, penilaian diri Rest luar biasa rendah. Alasannya adalah kurangnya kasih sayang. Disiksa orang tua di kehidupan sebelumnya maupun sekarang, ia tidak pernah mendapat kasih sayang yang cukup. Meski di kehidupan ini ia dicintai ibunya... sang ibu meninggal saat ia masih kecil.

Dirinya yang tidak dicintai tidaklah berharga. Di sudut hatinya, Rest selalu merendahkan dirinya sendiri.

"Mendapat pernyataan cinta dari dua orang sekaligus, aku rasa Rest-kun pasti bingung."

"Tapi... jika diperbolehkan, maukah kamu menjadi suami kami berdua?"

"Su-Suami mereka berdua? Maksudnya bukan memilih salah satu, tapi menikahi keduanya?"

Rest bingung dengan usulan yang mengejutkan itu, berbeda arti dari sebelumnya. Disukai saja sudah mengejutkan, apalagi perkembangan yang tidak terduga ini. Ia mengira alurnya adalah memilih salah satu di antara mereka.

"Jangan khawatir. Kami sudah mendapat izin dari Ibu."

"Malah Ibu yang sangat agresif. Beliau bilang kami harus benar-benar menjerat Tuan Rest."

"Bohong..."

Ibu mana di dunia ini yang menyodorkan putri-putrinya dan menyarankan hubungan segitiga? Ia tahu Irish Rosemary adalah orang aneh dari duel kemarin, tapi tetap saja ini keterlaluan.

"Keluarga Marquis Rosemary adalah keluarga penyihir ternama, dan mengklaim sebagai keluarga penyihir nomor satu di negara ini. Keluarga kami bersifat matriarki di mana anak perempuan lebih sering lahir, dan kami makmur dengan mengambil menantu yang hebat dari luar."

Kepada Rest yang bingung, Viola menjelaskan dengan nada tenang. Cerita itu pernah ia dengar sebelumnya dari Dieble.

"Ayah juga seorang menantu. Karena beliau penyihir hebat, Ibu jatuh cinta dan membawanya masuk. Bagi Ibu, Rest-kun yang punya mana tak terbatas dan insting bertarung yang setara dengan Ibu atau Dieble, sangatlah pantas meski harus menyerahkan kami berdua... Begitulah pemikiran Ibu."

"Aku rasa ini hal yang unik... tapi ini biasa terjadi di silsilah penyihir. Demi menjaga darah yang unggul, terkadang ada yang punya banyak istri atau selir, atau mengambil bibit dari luar."

"D-Dunia bangsawan macam apa ini..."

Lebih tepatnya dunia sihir. Setelah bereinkarnasi, ia kembali merasakan guncangan budaya karena perbedaan cara pandang.

"Jika Rest-kun tidak keberatan... itu, bertunanganlah dengan kami!"

"M-Mohon... Jadilah suami aku dan Kakak...!"

"Ugh... uh..."

Viola dan Primula menempelkan tubuh mereka dari kiri dan kanan sambil terus memohon. Sensasi lembut yang menyentuh lengan. Aroma manis dan segar khas perempuan. Kepala Rest mulai pusing, kemampuan berpikir normalnya mulai hilang.

"............!"

Di tengah semua itu... Rest menyadari sesuatu. Tubuh mereka berdua gemetar. Wajah mereka tegang karena gugup, dan mata mereka berkaca-kaca seolah mau menangis.

(Benar juga... Mereka menyatakan cinta, bahkan melamar pernikahan pada laki-laki. Mana mungkin tidak gugup...)

Rest merasa sangat malu pada dirinya sendiri. Gadis-gadis ini sudah mengumpulkan keberanian, sementara ia malah bersikap plin-plan dan tidak tegas. Sebagai laki-laki, itu sangat memalukan.

"...Aku mengerti perasaan kalian."

Rest menghela napas panjang, lalu memantapkan tekad yang lebih besar daripada saat memberikan hadiah tadi.

"Jujur, aku merasa sedikit pun tidak pantas untuk kalian. Orang sepertiku yang tidak punya apa-apa selain bakat sihir, tidak punya hak untuk mendapatkan Viola dan Primula."

"Tapi..."

"Tuan Rest...!"

"Karena itu... tolong tunggu sebentar lagi."

““!””

Ia menggenggam tangan keduanya yang mulai mengeluarkan suara sedih. Ia membungkus tangan mereka yang gemetar agar mereka tenang.

"Aku akan menjadi pria yang tidak memalukan untuk berdiri di samping kalian! Aku tidak akan membuat kalian menunggu lama... Setidaknya dalam satu tahun sampai masuk ke Akademi Kerajaan, aku akan menjadi orang yang bisa membusungkan dada dan berkata bahwa aku adalah tunangan Viola dan Primula! Jadi, beri aku sedikit waktu lagi...!"

"Rest-kun...!"

"Tuan Rest...!"

Keduanya mengeluarkan suara terharu, butiran air mata jatuh dari mata mereka.

"Terima kasih... Terima kasih banyak karena telah memikirkan hubungan kita dengan serius...!"

"Benar saja, Tuan Rest adalah orang yang seperti aku duga... Aku senang telah jatuh cinta padamu..."

"............"

Kedua saudari itu menggenggam tangannya lewat meja... tapi Rest sudah tidak kuat lagi.

(A-Aku mengatakannya... Aku sudah mengatakannya... Aku menjawab pernyataan cinta mereka...!)

Karena mengerahkan seluruh tenaga untuk menjawab perasaan mereka, kondisi mentalnya sekarang seolah hampir pingsan. Kapasitas hatinya hampir meledak, ia berusaha sekuat tenaga hanya untuk tetap sadar.

Masuk ke Akademi Kerajaan, menjadi penyihir hebat, dan menunjukkan pada orang tua angkat yang menyiksanya serta kakak tirinya. Dan... menjadi pria yang pantas untuk Viola dan Primula.

Itu adalah momen di mana tujuan baru ditambahkan dalam hidup Rest.

"Sepertinya kamu sudah memantapkan tekad ya... Kalau begitu, pergilah ke gunung."

"Ini terlalu mendadak... Nyonya."

Beberapa hari setelah menerima pernyataan cinta dari Viola dan Primula. Atas perintah Irish, ibu dari saudari tersebut, Rest tiba di sebuah tempat.

"Jadi ini Gunung Errors. Tidak setinggi Gunung Fuji, tapi memang tinggi dan terjal seperti yang kudengar."

Hari itu, Rest berada di sebuah gunung batu di bagian barat laut Kerajaan Eyewood. Gunung yang terjal itu sangat tinggi sampai puncaknya tidak terlihat, permukaan batunya yang gundul memberikan kesan yang kasar.

Tujuannya bukan untuk menyegarkan pikiran di sela-sela belajar ujian. Melainkan untuk pelatihan dan ujian.

"Aku dengar singa akan menjatuhkan anaknya dari gunung yang terjal... Apa kamu bisa mendapatkan kekuatan sejati jika hanya berlatih di tempat yang aman?"

Irish berkata demikian dan mengirim Rest sendirian ke tempat ini. Biasanya Rest belajar untuk ujian serta melatih sihir dan bertarung di rumah kota keluarga Marquis Rosemary. Irish mengkritik cara itu.

"Ini berdasarkan pengalamanku... Kekuatan yang benar-benar bisa diandalkan di saat genting adalah kekuatan yang ditempa dalam pertarungan sungguhan. Sepertinya latihan dasarmu sudah cukup, bukankah sudah saatnya mencobanya dalam pertarungan nyata?"

Singkatnya... ini adalah perintah untuk pergi ke tempat berbahaya dan melakukan hal berbahaya. Irish secara de facto adalah penguasa keluarga Marquis Rosemary.

Apa pun yang ia putuskan, bahkan sang kepala keluarga, Albert, tidak bisa menentangnya.

Viola dan Primula sudah memprotes keras... tapi kekuatan mereka tidak cukup, dan Rest harus mendaki gunung untuk pelatihan.

Gunung Errors adalah gunung yang tinggi dan terjal. Jarang ditemukan di Kerajaan Eyewood yang sebagian besar wilayahnya adalah dataran rendah. Ada banyak teori mengapa ada gunung batu tinggi di tengah dataran rendah yang rata. Ada yang bilang penyihir tingkat bijak menciptakannya dengan sihir, ada juga yang bilang raksasa di zaman mitos mendorongnya sampai ke sini.

(Intinya... alasan pastinya tidak diketahui, kan.)

Terlepas dari asal-usul gunung itu... apa yang harus dilakukan tetap sama. Rest harus mendaki sampai ke puncak gunung ini. Itu adalah ujian yang diberikan oleh Irish.

Gunung Errors, selain medannya yang terjal, juga dihuni oleh banyak monster. Meski tidak ada bijih tambang atau tanaman herbal yang bisa diambil... tempat ini sering dikunjungi oleh para praktisi bela diri atau sihir yang sedang berlatih.

"Baiklah... ayo mendaki."

Rest memantapkan hati dan mulai mendaki. Sambil menggendong ransel berisi perbekalan, ia menyusuri jalan setapak yang terjal.

"Fuu... Fuu..."

Sambil mengatur napas secara berirama, ia menginjak permukaan batu dengan hati-hati agar tidak terpeleset.

Gunung ini hampir tidak ditumbuhi pohon, hanya ada rumput pendek di beberapa tempat. Jika terpeleset, tidak ada tempat untuk berpegangan dan ia bisa jatuh puluhan meter ke bawah.

(Ini bukan sekadar mendaki gunung biasa... ini bisa jadi latihan sihir.)

Normalnya, untuk menaklukkan gunung batu ini dibutuhkan peralatan daki gunung khusus seperti crampon atau ice axe. Jika ingin menaklukkannya tanpa alat... pilihannya hanya menggunakan sihir.

Rest menggunakan Physical Up untuk memperkuat fisiknya, sambil menggunakan sihir seperti Wind Control dan Floating untuk menopang tubuhnya saat mendaki jalan yang terjal.

"Giii! Giii!"

"Wind Cutter"

Ditambah lagi... di tengah jalan, monster mulai menyerang. Rest menebas monster serangga seukuran bola sepak dengan bilah angin dan mengalahkannya.

Jika ia hanya fokus mendaki, kewaspadaannya terhadap monster akan melemah. Jika terlalu fokus melawan monster, ia bisa salah langkah. Ia perlu melakukan beberapa pekerjaan secara paralel, yang secara alami melatih kekuatan mental dan konsentrasinya.

(Jadi ini alasan Nyonya merekomendasikan tempat ini sebagai tempat latihan... Begitu ya, ini tempat yang cocok untuk menguji hasil latihan.)

Jika Rest menjadi menantu keluarga Marquis Rosemary, banyak kesulitan yang akan menimpanya. Dengan menaklukkan gunung ini, mungkin ia sedang diuji apakah ia punya kemampuan dan hati untuk menanggung ujian tersebut.

(Jujur aku merasa ini agak kejam... tapi orang yang tidak bisa melakukan ini memang tidak pantas mendapatkan Viola dan Primula!)

"Fuu... Fuu... Fuu...!"

Mana Rest tidak akan habis. Ia juga bisa memulihkan stamina dengan sihir penyembuhan, jadi ia tidak kelelahan secara fisik. Namun... karena situasi di mana satu kesalahan kecil bisa berujung pada kematian terus berlanjut, kelelahan mental tidak bisa dihindari.

Sambil berusaha menjaga konsentrasi agar tidak terputus, ia terus mendaki... dan akhirnya sampai di tengah gunung.

"Fuu... Akhirnya baru setengah jalan. Rasanya seperti kehilangan nyawa."

Setelah memastikan tidak ada monster di sekitar, Rest memutuskan untuk beristirahat sejenak. Duduk di batu terdekat dan melihat ke arah jalan yang telah ia lalui... pemandangan luar biasa terbentang di bawah sana.

Di balik gunung batu itu terdapat dataran hijau yang luas, dan di kejauhan terlihat sebuah kota. Jika ia menyipitkan mata, ia bisa melihat sosok manusia yang bergerak. Burung terbang dengan anggun di langit biru, dan kicauannya yang seperti suara seruling menggetarkan gendang telinganya.

(Pemandangan yang megah... Aku rasa aku mulai mengerti perasaan orang yang hobi mendaki gunung.)

Di kehidupan sebelumnya, setiap kali ada berita orang hilang di gunung, ia selalu heran mengapa orang rela mempertaruhkan nyawa untuk mendaki gunung. Namun setelah melihat pemandangan indah ini, ia mulai sedikit mengerti perasaan para pendaki.

(Gunung Errors jauh lebih rendah daripada Everest atau Gunung Fuji. Namun, pemandangan sehebat ini bisa terlihat. Jika gunungnya lebih tinggi, pasti akan jauh lebih mengharukan...)

Pemandangannya indah... tapi pasti ada juga kegembiraan karena berhasil melewati jalan yang sulit dan berdiri di puncak gunung. Jika ia bisa mendaki sampai puncak, Rest pun mungkin bisa merasakan sedikit kegembiraan itu.

"Ayo pergi...!"

Rest berdiri setelah memakan makanan darurat sederhana. Dengan perasaan yang sedikit lebih tenang dari sebelumnya, ia mendaki dari tengah gunung menuju puncak.

Ia ingin terus mendaki dengan semangat sampai puncak, namun semakin dekat ke puncak, jumlah monster yang ditemuinya semakin banyak.

"Gyaooooooooooo!"

"Wind Blade!"

"Gyaaa! Gyaaa!"

"Fire Cutter! Water Cutter!"

Setelah beberapa kali sihirnya mengenai kadal raksasa yang sekeras batu, akhirnya ia berhasil mengalahkannya. Masalahnya bukan hanya jumlah monsternya. Kekuatannya juga terus meningkat. Monster yang tidak bisa dikalahkan dengan satu serangan semakin banyak, dan ia kesulitan mencari atribut kelemahan mereka.

"Yare yare... akhirnya kalah juga..."

Setelah memastikan kadal itu mati, Rest menghela napas panjang.

(Hanya sedikit orang yang bisa mendaki sampai sini. Dan sebagian dari mereka berakhir seperti itu.)

Saat Rest melihat ke bawah kakinya, di sana tergeletak kerangka manusia. Apa karena monster, atau karena jatuh... alasannya tidak diketahui, tapi yang pasti mereka kalah dalam ujian gunung ini.

(Syukurlah aku punya mana tak terbatas... Kalau tidak ada sihir, aku sudah lama mati...)

Katanya tidak hanya penyihir, tapi pendekar pedang atau petarung juga datang ke gunung ini untuk berlatih. Bagi Rest yang terus dibantu oleh sihir, hal itu sulit dipercaya. Bagaimana cara mereka menaklukkan gunung ini tanpa sihir?

(Jika bisa mendaki gunung ini tanpa sihir, pasti mereka memiliki kemampuan fisik yang melampaui batas manusia. Aku ingin bertemu dengannya, tapi di sisi lain juga takut...)

"KYAAAAAAAAAAAAAA!"

"He...?"

Saat Rest hendak mendaki sampai puncak... tiba-tiba terdengar teriakan. Yang masuk ke jaringan indra Life Search yang ia aktifkan untuk mendeteksi monster bukanlah monster, melainkan aura manusia yang bergerak sangat cepat.

"S-Siapa pun tolong hentikan akuuuuuuuu!"

"Eh... EEH!?"

Seorang gadis terguling-guling dari atas gunung. Sambil memantul berkali-kali di atas permukaan batu yang keras, ia meluncur ke arah Rest secepat bola.

"HYAAAAAAAAAAAAAA!"

"Eeto... Ini kalau tidak ditolong bisa gawat, kan?"

Karena ia berteriak dengan suara yang masih terdengar bertenaga, rasanya tidak terlalu menyedihkan, tapi jika ia terus jatuh begitu saja, ia benar-benar bisa mati. Rest mengaktifkan sihir untuk menyelamatkan gadis itu.

(Kalau aku menangkapnya tepat dari depan, itu salah. Akhirnya kami berdua malah akan jatuh terguling...)

Ia harus mengurangi momentum gadis itu sebisa mungkin dan menangkapnya dengan kerusakan minimal.

"Wind Control"

Pertama, ia meniupkan angin dari bawah ke arah gadis itu untuk mengurangi kecepatannya sedikit saja. Dalam kecepatan seperti itu, ini hanya seperti hiburan... tapi tetap ada sedikit efek, kecepatannya sedikit melambat.

"Dan... Water Ball Amplification"

Ia mengaktifkan sihir air tingkat rendah dan menumpuk sihir untuk meningkatkan kekuatannya. Bola air yang muncul di hadapannya membesar, sampai massanya mencapai beberapa kali lipat massa manusia.

"KYAAAAAAAAAAAA... Wapp!?"

Gadis yang terguling sambil berteriak itu menabrak bola air. Karena momentumnya tidak bisa diredam sepenuhnya, ia keluar dari sisi lain, namun Rest yang sudah menunggu langsung menangkapnya.

"Physical Up...!"

Ia memperkuat kemampuan fisiknya dan berusaha menahan tubuh gadis itu. Mereka hampir jatuh terguling bersama... tapi entah bagaimana ia berhasil bertahan di detik-detik terakhir.

"Hah, hah... T-Tadi itu berbahaya sekali..."

"Fue... Aku selamat?"

Di pelukan Rest, gadis yang basah kuyup itu mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali. Gadis berambut merah pendek dengan bentuk tubuh yang ramping. Usianya sekitar sama dengan Rest.

Sensasi lembut terasa di lengan yang memeluknya. Jika dilihat baik-baik, wajahnya sangatlah cantik.

"K-Kamu sebenarnya siapa...?"

"Ah... jangan-jangan, kamu yang menolongku?"

Gadis itu mendongak, dan wajah Rest terpantul di matanya yang berwarna merah rubi.

"Terima kasih sudah menghentikanku! Namaku Yuri. Yuri Catreia. Kamu siapa?"

"A-Ah... Namaku Rest."

Rest memperkenalkan diri... tapi segera muncul pertanyaan.

"Hmm... Catreia...?"

Nama yang ia kenal. Bicara soal Catreia, yang pertama kali terlintas di pikiran adalah keluarga Marquis Catreia yang status bangsawannya setara dengan keluarga Marquis Rosemary.

"Itu... kalau tidak salah, nama Komandan Ksatria..."

"He? Ah, salah! Salah, salah!"

Gadis bernama Yuri itu tampak panik dan melambai-lambaikan tangannya.

"Aku tidak ada hubungan dengan Komandan Ksatria! Aku bukan putri Marquis Catreia, dan aku tidak sedang kabur dari rumah!?"

"Jadi kamu putri Marquis Catreia, dan sedang kabur dari rumah ya..."

Sepertinya dia tipe gadis yang tidak bisa berbohong. Ia bahkan mengatakan hal-hal yang tidak perlu dikatakan.

"Eeto... jadi, apa yang Nona Catreia lakukan..."

"Panggil Yuri saja. Aku juga akan memanggilmu Rest. Jangan pakai bahasa formal juga."

"...Yuri, itu."

Saat hendak menanyakan keadaannya, ia baru sadar kalau ia masih memeluk tubuh Yuri. Karena baru saja menabrak bola air, ia basah kuyup, dan pakaian celananya menempel ketat di tubuhnya. Alhasil, lekuk tubuhnya yang meski ramping tapi berisi terlihat jelas.

"Sebaiknya keringkan baju dulu... Dry"

Sambil memerah wajahnya, Rest menggunakan sihir untuk mengeringkan air di tubuh dan baju Yuri.

"Ini... luar biasa! Kamu penyihir hebat ya!"

"Sebaliknya, kamu itu apa... kenapa kamu mendaki gunung ini?"

"Aku sedang dalam perjalanan ke rumah tanteku di ibu kota... tapi aku sedikit tersesat."

"Tersesat katamu... Hah?"

"Padahal aku sudah melihat peta dengan benar... kenapa aku bisa sampai ke tempat seperti ini ya?"

"............"

Gunung Errors ada di barat laut Kerajaan Eyewood. Jika Yuri orang keluarga Marquis Catreia, dari wilayahnya itu berarti arah yang berlawanan dengan ibu kota.

"Menurut peta harusnya aku ke selatan... kalau selatan itu ke atas, kan?"

"Tidak, salah. Pasti salah."

Di peta datar tidak ada konsep atas dan bawah. Dan selatan itu biasanya ke arah bawah.

Lagipula... meskipun salah jalan, apa ia sengaja mendaki gunung terjal ini?

Padahal ada monster di tengah jalan... apa ia tidak merasa aneh?

"Ah, ternyata aku salah ya. Apa jangan-jangan di belokan tadi harusnya ke kanan?"

"Mungkin kesalahannya bukan di level itu."

"Sepertinya mendaki gunung adalah kesalahan ya... Omong-omong, Rest sedang apa?"

"Aku..."

Karena tidak ada alasan untuk menyembunyikannya, Rest menjelaskan singkat kronologi ia sampai mendaki gunung.

"Begitu ya, begitu ya. Untuk pelatihan sihir dan ujian ya. Hebat sekali!"

"...Terima kasih."

"Kalau begitu, aku juga ikut ke puncak bersama-sama ya."

"Kenapa!?"

Ia tidak mengerti maksudnya. Mengapa Rest dan Yuri harus mendaki puncak bersama-sama?

"Karena kamu sudah menolongku! Aku tidak bisa membiarkan penyelamat nyawaku pergi ke tempat berbahaya sendirian!"

"Tempat berbahaya..."

"Di puncak gunung ini ada monster burung besar. Dia menciptakan angin dengan sayapnya, dan aku juga terlempar jatuh karena itu."

"Ah, jadi karena itu kamu terguling dari arah puncak ya..."

Sekali lagi ia memastikan tubuh Yuri... meskipun ia terguling dengan kecepatan luar biasa, tidak ada luka yang menonjol. Paling hanya lecet saja.

Jika ia menabrakkan tubuh ke batu dengan kecepatan itu, harusnya tidak berakhir hanya dengan patah tulang atau memar.

(Apa kekuatan fisiknya ditingkatkan dengan sihir... atau jangan-jangan ada yang aneh...?)

"Yah, sudahlah... Heal"

"Oh?"

Saat Rest mengaktifkan sihir penyembuhan, luka lecet di tubuh Yuri sembuh.

"Hebat, kamu bisa mengobati luka juga ya."

"Yah, kalau cuma segini sih."

"Aku ditolong lagi ya. Sepertinya aku benar-benar harus mengantarmu sampai puncak."

"............"

Melihat senyum manis tanpa niat jahat itu, ia menelan kata-kata "Tidak usah, pulanglah".

"...Boleh saja sih. Tapi tolong, jangan jadi penghambat ya."

"Ah, tentu saja. Kalau aku jadi bahaya, tinggalkan saja tidak apa-apa."

"...Itu juga tidak mungkin, kan."

Rest kembali berjalan menuju puncak. Yuri berjalan di sampingnya.

"............"

Ia baru sadar setelah berangkat... Yuri tidak menggunakan sihir sama sekali.

Padahal Rest menggunakan sihir untuk memperkuat tubuh dan membantu langkahnya agar tidak terjatuh... tapi Yuri tidak melakukannya. Ia berjalan murni hanya dengan kemampuan fisiknya.

"~~~~♪"

Ditambah lagi, ia bersenandung sambil mendaki jalan yang terjal. Nadanya berantakan dan sumbang... tapi terlepas dari itu, ia tampak riang seolah sedang piknik.

(Kemampuan fisik dan keseimbangan yang luar biasa... Apa ia bisa memperkuat tubuh sehebat ini tanpa menggunakan sihir...?)

"Ada apa, Rest?"

"...Yuri benar-benar putri Komandan Ksatria? Orang yang disebut pendekar terkuat di kerajaan itu."

"T-t-t-t-t-t-t-tidak! Bukan!"

Mendengar pertanyaan Rest, Yuri tampak sangat panik dan gugup.

"Aku bukan putri Ayah... maksudku, putri Komandan Ksatria! Karena itu, aku tidak kabur dari rumah di wilayah kekuasaan dan tidak sedang mencoba lari ke rumah tante!"

"Kan sudah kubilang aku tidak tanya sampai ke situ... Begitu ya, ternyata benar ya..."

Marquis Catreia sang Komandan Ksatria... pria terkuat yang sejajar dengan Albert sang Direktur Penyihir Istana sebagai sayap raja. Jika dia putri orang sehebat itu, tidak aneh jika ia punya kemampuan fisik yang luar biasa.

"Ah, sampai. Puncaknya."

Dan... mereka sampai di puncak. Bagian teratas Gunung Errors berbentuk seperti meja bundar dengan ruang yang luas.

"Tidak ada monster..."




Rest mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan tak lama kemudian, ia menyadari keberadaan sesuatu yang tertangkap oleh Life Search miliknya.

Ada sesuatu yang mendekat dari langit dengan kecepatan luar biasa. Rest pun segera memasang dinding pertahanan sihir.

"Wind Wall...!"

"GYUIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!"

Yang muncul adalah seekor burung pemangsa raksasa. Ukurannya jauh lebih besar daripada kondor, burung terbesar di Bumi; ukurannya mencapai sebesar gajah dan ia melebarkan sayapnya sembari menukik turun.

"Waaa!"

Yuri menjerit.

Burung aneh itu mengepakkan sayap besarnya untuk menciptakan angin, mencoba menerbangkan mereka berdua. Jika Rest tidak menahannya dengan dinding angin, mereka pasti sudah jatuh terguling dari gunung seperti yang dialami Yuri tadi.

"Ini... jadi ini si Emperor Falcon!"

Rest pernah mendengar informasi tentang monster ini saat mengumpulkan data sebelum mendaki.

Penguasa Gunung Errors, burung aneh Emperor Falcon. Ia adalah salah satu penyebab utama gunung ini menjadi zona berbahaya, dan alasan mengapa hanya sedikit orang yang berhasil mencapai puncak adalah karena monster ini menjadikan area puncak sebagai wilayah kekuasaannya.

"GYUIIIIIIIIIIIII!"

"Aduh, aduh... aku harus menghadapi monster seperti ini, Nyonya benar-benar kejam."

Tugas yang diberikan Irish adalah pergi ke puncak gunung lalu kembali. Dengan kata lain, meski ia kembali tanpa mengalahkan burung aneh ini pun seharusnya tidak menjadi masalah.

(Tapi... kalau bagi Nyonya, mengalahkan monster yang ditemukan itu sudah sewajarnya dilakukan. Beliau pasti akan bilang aku tidak lulus kalau tidak bisa menang. Setidaknya, aku butuh bukti bahwa aku sudah bertarung dan memukul mundur makhluk ini...)

"Apa boleh buat... ayo lakukan!"

Rest segera memantapkan hati dan melepaskan tembakan Water Blade.

"GYUI!"

Namun... Emperor Falcon hanya perlu satu kepakan sayap untuk mencerai-berai bilah air itu dalam sekejap.

"Begitu ya, sihir tingkat rendah tidak akan mempan...!"

"Serahkan padaku!"

Sebelum Rest sempat mencegahnya, Yuri sudah melesat maju. Ia menendang tanah dan melompat ke arah Emperor Falcon, mencoba melayangkan tendangan ke bagian perutnya.

"GYUI!"

"Wah!? Awawawawawa!"

Namun... Yuri terhempas oleh angin yang dihasilkan Emperor Falcon dan terbang ke arah yang sama sekali salah.

"T-Tolong hentikan akuuuuuuuu!"

"Ah, ampun! Benar-benar merepotkan!"

Rest menggunakan sihir angin untuk menangkap Yuri yang hampir terjatuh.

"Sudah kubilang jangan jadi penghambat, kan!"

"Uuu... maaf."

Saat Rest tanpa sadar meninggikan suaranya, Yuri pun langsung tertunduk lesu.

"GYUIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!"

"Ugh... angin lagi...!"

"Bahaya!"

Emperor Falcon mengepakkan sayapnya dengan liar, menciptakan pusaran angin kencang. Kali ini Rest yang hampir tersapu oleh angin, namun Yuri memeluk tubuh Rest dengan erat dan mencengkeram batu di tanah.

"Waktunya membersihkan nama... kali ini aku yang akan melindungimu!"

"Ugh...!"

Yuri memeluk Rest dengan sangat kuat hingga mendekapnya ke dada. Berkat itu, sensasi lembut dan kenyal langsung menekan wajah Rest.

Yang mengejutkan adalah kekuatan genggaman Yuri. Ia menahan beban mereka dengan mencengkeram batu hanya dengan satu tangan, bahkan jari-jarinya sampai menusuk ke dalam batu.

(Di saat genting begini pun, dia masih belum mengaktifkan sihir... Apa dia punya kemampuan fisik sehebat ini tanpa mana!?)

Struktur tubuh macam apa yang ia miliki sebenarnya? Rest mulai ragu apakah dia benar-benar manusia.

(A-Ada banyak hal yang membuatku penasaran... tapi sekarang bukan saatnya membicarakan itu!)

"Serangan setengah hati hanya akan terpental oleh angin, kerusakannya tidak akan masuk...!"

Jika begitu, apa yang harus dilakukan... ia hanya perlu menembakkan sihir yang cukup kuat untuk mengalahkan angin itu.

"Thunderbolt!"

Setelah sedikit mengumpulkan tenaga, ia mengaktifkan sihir atribut petir tingkat menengah. Petir biru keputihan yang sangat kuat meledak dari tangan Rest dengan suara gemeretak yang nyaring.

"GYUI!?"

Ini adalah salah satu sihir yang dulu pernah ditembakkan oleh kakak tirinya kepadanya. Serangan kilat itu melesat menuju Emperor Falcon, namun bidikannya sedikit meleset dan hanya menyerempet sayapnya.

Meskipun ia berhasil menembus dinding pertahanan angin, tampaknya makhluk itu berhasil menghindar di saat terakhir.

"GYUI! GYUI!"

"Cih, cepat sekali... sepertinya sulit mendaratkan serangan telak pada makhluk itu...!"

Mungkin karena mulai merasa terancam oleh serangan Rest, Emperor Falcon terbang kian kemari dengan lincah, tidak membiarkan Rest mengunci sasaran.

Di saat yang sama, serangan anginnya tidak berhenti, dan jika Rest lengah sedikit saja, ia pasti akan terlempar.

"Rest, sihirmu hebat sekali!"

Sambil menahan tubuh Rest dengan kuat, Yuri berseru memuji.

"Bukankah kita bisa menang kalau kamu menembakkan serangan tadi berkali-kali sampai kena? Tenang saja, aku akan memegangimu erat-baik agar kamu tidak terbang!"

"Mugyuu..."

Yuri semakin mempererat pelukannya pada Rest.

Sesaat, pikiran nakal agar waktu ini bertahan sedikit lebih lama melintas di kepalanya, namun ia tidak boleh begitu.

Walaupun ini karena ketidaksengajaan... terus-menerus dipeluk di dada wanita yang bukan kekasihnya menimbulkan rasa bersalah yang besar.

(Serangan garis lurus tidak bisa menangkapnya. Kalau begitu... sihir area, ya.)

Jika itu sihir yang bisa menyerang area luas secara bersamaan, ia mungkin bisa menjatuhkan makhluk itu. Masalahnya adalah... sihir area termasuk sihir tingkat tinggi.

Dieble belum mengajarkannya, dan karena saat meninggalkan rumah Cedric juga belum menguasainya, Rest pun belum mempelajarinya.

(Nyonya pasti tahu kalau aku belum menguasai sihir tingkat tinggi... Tapi beliau tetap mengirimku ke sini, apa beliau benar-benar berniat membunuhku?)

Kedengarannya kejam... tapi kemungkinan besar Irish tidak berniat jahat. Beliau sengaja membiarkan Rest bertarung melawan musuh kuat yang belum bisa ia kalahkan sekarang dengan harapan ia akan naik level.

"...Akan kutunjukkan padanya."

Di tengah situasi putus asa ini, semangat kompetitif Rest berkobar dan ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Meskipun ini ujian yang terasa seperti dikerjai, hal itu justru membakar semangat pantang menyerahnya.

Selama ini ia hidup seperti terbuang di kediaman Marquis Rosemary, namun aslinya Rest adalah seorang "tunawisma" yang tak punya apa-apa. Ia adalah tipe orang yang justru mengeluarkan kekuatan aslinya saat terdesak. Ia ingin percaya bahwa Irish memberikan ujian sulit ini karena memahami sifat tersebut dan ingin mendorong pertumbuhannya.

"Tidak apa-apa. Aku belum pernah menggunakan sihir tingkat tinggi, bahkan belum pernah melihatnya... tapi kalau itu aku, pasti bisa!"

Ia mulai menyusun formula sihir di dalam kepalanya. Bukannya meniru orang lain, ia menarik keluar dan merakit formula sihir yang pernah ia baca di buku saat belajar untuk ujian.

Sebuah pemikiran paralel di tengah pertarungan melawan monster yang sedang berlangsung. Dalam kondisi ekstrem di mana bilah pedang seolah menempel di leher, Rest berhasil menyelesaikan apa yang harus ia lakukan tanpa membiarkan konsentrasinya terganggu.

"Thunderstorm!"

Akhirnya, sihir itu selesai. Rest mengangkat tangannya ke atas dan mengaktifkan sihir tingkat tinggi. Mana dalam jumlah besar yang belum pernah ada sebelumnya terkuras dari tubuhnya, melesat ke langit, dan meledak di sana.

Mana yang meletus di angkasa berubah menjadi petir yang tak terhitung jumlahnya, menghujani puncak gunung bagaikan hujan.

"GYUIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!?"

Tak mampu menghindari serangan dari arah yang tidak terduga, Emperor Falcon tertembus oleh petir. Tubuh raksasanya terhuyung-huyung, namun ia tetap bertahan di udara tanpa terjatuh.

"Thunderbolt!"

"GYUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!?"

Dan di sana, ia meluncurkan satu serangan pamungkas lagi. Saat makhluk itu sedang limbung, serangannya tepat mengenai sasaran, membuat Emperor Falcon menjerit kesakitan.

"GYUU, GYUI...!"

"Luar biasa... dia masih belum jatuh...!"

Emperor Falcon menggerakkan sayapnya, mencoba melarikan diri dari tempat itu. Meskipun sudah terkena serangan kilat yang cukup kuat... ketangguhannya di luar dugaan.

"Kalau begitu, akan kutembak berkali-kali sampai dia jatuh...!"

"Jangan lari!"

"He...?"

Rest hendak melakukan serangan pengejaran... namun perkembangan yang tidak terduga terjadi. Yuri yang tadinya memegangi Rest tiba-tiba bergerak. Ia melepaskan Rest, menendang tanah, dan melompat ke arah Emperor Falcon yang mencoba kabur.

"GYUIIIIIIIIII...!"

"Hei! Jangan lari... waaaa!"

Meskipun Yuri berhasil menyergap Emperor Falcon berkat kekuatan ototnya yang luar biasa, itu saja yang bisa ia lakukan. Ia terhempas oleh burung aneh yang meronta-ronta itu dan mulai terjatuh.

"HYAAAAAAAAAAAAAA!?"

"Ah, ampun! Benar-benar merepotkan saja!"

"Wapp!"

Rest segera mengaktifkan sihir, menciptakan bola air raksasa untuk menangkap Yuri.

"Maaf... aku ditolong lagi olehmu."

"...Dry."

Sekali lagi ia mengeringkan tubuh dan pakaian Yuri yang basah kuyup. Saat mendongak, burung raksasa itu sudah menjauh. Sihirnya pun sudah tidak akan sampai lagi.

"...Dia lolos ya."

Padahal ia ingin sekali mengalahkannya dan membawa bukti keberhasilan itu pulang. Jika begitu, Irish yang mengirimnya pasti tidak akan mengeluh.

"Gawat juga... yah, mau bagaimana lagi kalau dia sudah kabur."

"Maaf... Rest. Sepertinya aku melakukan hal yang tidak perlu..."

Yuri tampak tertunduk lesu dengan alis melengkung sedih.

"Kalau aku tidak bergerak, kamu pasti bisa mengalahkannya dengan sihir... tubuhku refleks bergerak sendiri tadi."

"Yah, memang ada orang yang seperti itu... tidak apa-apa kok."

Jaraknya juga cukup jauh, belum tentu serangannya bisa kena dengan pasti. Dalam pertarungan kali ini, meski Yuri sempat menjadi penghambat, ia juga sempat membantu. Rest tidak berniat menyalahkannya.

"Ah, omong-omong aku mendapatkan benda ini. Kalau mau, ambillah."

"Ini... bulu burung aneh itu?"

Yang diserahkan Yuri adalah sehelai bulu panjang yang ukurannya hampir sebesar lengan manusia. Itu adalah bulu sayap utama Emperor Falcon. Yuri mencabutnya saat ia menyergap burung itu tadi.

"Kalau ada ini, bisa jadi bukti kalau aku sudah sampai ke puncak dan mengusir musuh... ini sangat membantu!"

"Begitu ya, syukurlah kalau aku bisa sedikit berguna."

Yuri menghela napas lega dengan wajah lega. Rest pun merasakan hal yang sama. Dengan ini, ia bisa pulang ke kediaman Marquis Rosemary dengan kepala tegak.

(Terlepas dari itu... aku masih sangat hijau.)

Padahal ia merasa sudah cukup kuat, namun pertarungan kali ini menunjukkan betapa kurang berpengalamannya dia. Seandainya ia tahu lebih banyak sihir. Jika ia bisa menggunakan sihir yang lebih kuat, mungkin ia bisa menang dengan lebih mudah.

(Mungkin sudah saatnya aku menciptakan sihir orisinal yang sesuai dengan kepribadian dan sifatku sendiri...)

"Sihir orisinal, ya..."

"Tapi tadi itu bahaya sekali ya! Salah sedikit saja, kita bisa jatuh dari sini!"

Sambil mengabaikan Rest yang sedang merenung, Yuri melihat ke bawah dari puncak gunung. Dari atas sana, terbentang pemandangan yang jauh lebih indah daripada yang mereka lihat di tengah jalan tadi.

Dataran hijau yang luas di bawah sana. Hutan dan belukar yang tersebar di mana-mana. Di kejauhan, meski terlihat kecil, ibu kota pun bisa terlihat.

"Ah... Rest! Jangan-jangan itu ibu kota!?"

"Iya, benar. Di sanalah..."

"Syukurlah! Dengan begini aku bisa pergi ke ibu kota!"

Yuri bertepuk tangan kegirangan.

"Aku sempat berpikir akan jadi apa karena tersersat... tapi ternyata ini yang namanya jalan memutar yang paling cepat! Kalau dari sini lurus terus, aku bisa sampai ke ibu kota!"

"Ah, tidak... Yuri, kalau ke ibu kota biar aku yang antar—"

"Terima kasih, Rest! Aku benar-benar senang bisa bertemu denganmu!"

Tanpa mendengarkan perkataan Rest, Yuri meraih tangannya dan mengguncangnya kuat-baik ke atas dan ke bawah.

"Kita pasti akan bertemu lagi! Aku tidak akan pernah melupakanmu!"

"Eh, tidak, bukan itu maksudku—"

"Kalau begitu, sampai jumpa lagi!"

Yuri melompat seperti kelinci dan terjun ke bawah dari puncak gunung. Dengan kecepatan luar biasa bagaikan kelinci yang meloloskan diri, ia berlari kencang menuju kaki gunung.

Kecepatan dan momentumnya benar-benar mustahil untuk ditiru. Apakah Yuri meninggalkan rasa takutnya di dalam perut ibunya saat dilahirkan?

"...Orang macam apa dia itu sebenarnya."

Termasuk di kehidupan sebelumnya pun, ia belum pernah bertemu orang yang begitu polos dan tidak mau mendengarkan orang lain seperti Yuri. Rest merasa seolah baru saja melihat spesies langka.

"Tapi entah kenapa... aku merasa aku akan bertemu dengannya lagi."

Apakah itu hal baik atau buruk, ia sendiri tidak tahu. Rest merasakan firasat pertemuan kembali yang entah kenapa membuat dadanya berdebar kencang.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close