NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Mugen no Majutsu Shi Maryoku Nashi de Heimin no Ko to Hakugai Sareta Ore ⁓ Jitsuha Mugen no Maryoku Mochi Volume 1 Prolog

Prolog

Akan Kubuat Jadi Tanpa Sihir


"Tolonglah, Dewa. Kumohon, biarkan anak ini menjadi 'No Magic'..."

(Eh... Memangnya lebih baik kalau tidak punya sihir?)

Mendengar doa sang ibu yang sedang mendekapnya, bayi itu—Rest—mengedipkan mata kecilnya dengan heran.

Tempat itu adalah sebuah kuil di sudut ibu kota. Sebuah karpet membentang membelah bagian tengah ruang peribadatan, dan di ujungnya, berdiri sebuah patung dewi yang menyerupai malaikat bersayap.

Di depan patung dewi itulah, Rest sedang didekap erat oleh wanita yang merupakan ibunya.

(Bukankah lebih baik kalau punya banyak sihir? Tapi kenapa... dia malah berdoa supaya aku tidak punya sihir? Apa maksudnya?)

Rest memiringkan kepalanya yang baru saja bisa tegak dengan bingung.

Meskipun dia adalah bayi yang belum genap berusia satu tahun, Rest sudah memiliki kesadaran diri yang kuat. Pasalnya, Rest adalah seorang reinkarnator yang membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya.

Rest memiliki ingatan hingga masa SMA saat dia tinggal di sebuah negara bernama "Jepang", dan ini adalah kehidupan keduanya.

Di kehidupan sebelumnya, Rest tidak diberkahi dengan sosok orang tua.

Ayahnya adalah seorang pemabuk. Sampah masyarakat tipikal yang terjerumus dalam kubangan judi. Ibunya pun sama saja, seorang wanita yang menelantarkan anak demi bersenang-senang dengan pria lain. Dia hidup di lingkungan yang begitu buruk, hingga rasanya seperti keajaiban dia bisa bertahan hidup sampai usia SMA.

Kehidupan sebelumnya itu berakhir dengan begitu cepat. Saat Rest mencoba menegur ayahnya yang hendak memakai uang hasil kerja paruh waktunya untuk taruhan pacuan kuda, pertengkaran hebat terjadi dan berakhir dengan dirinya ditikam hingga tewas.

Rest mati sembari mengutuk garis hidupnya yang terlalu malang... namun rupanya, Dewa itu benar-benar ada. Saat tersadar, Rest telah bereinkarnasi ke dunia yang berbeda dari Bumi dan sedang didekap oleh ibunya.

(Aku senang bisa dilahirkan oleh ibu yang baik hati... tapi sepertinya di kehidupan ini pun, ayahku tetaplah seorang bajingan.)

"Oi, cepatlah. Aku sibuk."

Pria yang berdiri agak jauh dari Rest dan ibunya itu mendecah kesal.

Pakaiannya mewah, namun wajahnya tampak sensitif. Sosok dengan rambut yang tertata kaku ke belakang itu adalah ayah kandung Rest.

"Jangan menyita waktuku hanya untuk hal sepele seperti diagnosis sihir. Cepat selesaikan."

Ucap sang ayah dengan wajah tidak senang.

Pria itu memang ayah Rest, namun ini adalah pertama kalinya mereka bertatap muka. Hal itu dikarenakan... ayahnya adalah seorang bangsawan, sementara ibunya adalah rakyat jelata yang miskin. Sang ayah memperkosa ibunya yang bekerja sebagai pelayan melalui kekerasan, dan Rest adalah hasil dari perbuatan tersebut.

Setelah melahirkan Rest, sang ibu hanya diberi sedikit uang lalu diusir dari kediaman bangsawan tersebut, sehingga dia harus membesarkan Rest sebagai ibu tunggal.

Dia menyambung hidup dengan bekerja di toko roti... namun saat Rest menginjak usia satu tahun, tiba-tiba ayahnya muncul. Ayahnya memaksa ibu dan anak itu pergi ke kuil untuk menjalani diagnosis sihir dari pendeta.

"...Nyonya, boleh saya mulai?"

Pendeta kuil itu menjulurkan kedua tangannya dengan tatapan prihatin.

"Serahkan anak ini kepada saya. Jangan khawatir, Dewi sedang mengawasi."

"Pak Pendeta... mohon bantuannya."

Sang ibu menyerahkan Rest dengan tangan yang gemetar. Pendeta itu menerima sang bayi dengan gerakan yang lembut.

"Kumohon, Dewi. Biarkan anak ini 'No Magic'... Biarkan dia 'No Magic'..."

Setelah menyerahkan anaknya, sang ibu menangkupkan kedua tangan dan berdoa dengan sangat sungguh-sungguh.

(Aku mengerti, Ibu.)

Rest mengerahkan sedikit niat dan menekan aliran sihir yang mengalir dari tubuhnya secara paksa. Entah apakah ini yang disebut sebagai berkah reinkarnasi, Rest terlahir dengan jumlah sihir yang sangat besar dan bahkan sudah menguasai cara untuk mengendalikannya.

(Dengan begini akan baik-baik saja. Jadi... tolong jangan menangis lagi.)

"Di bawah naungan Dewi, aku akan melihat kekuatan dari anak yang terberkati ini. Eli Ella Ildana. Wahai Dewi Cahaya yang agung, aku memohon agar cahaya terang menyinari masa depan anak ini..."

Pendeta yang mendekap Rest merapalkan sesuatu yang terdengar seperti mantra.

Seketika itu juga... patung dewi memancarkan cahaya, dan tubuh Rest pun diselimuti oleh pendar cahaya redup.

"...Begitu rupanya."

Beberapa detik berlalu dan cahaya itu menghilang. Pendeta itu mengangguk dalam dengan senyum lembut di wajahnya.

"Sepertinya anak ini tidak memiliki sihir. Dia 'No Magic'."

"Apa katamu...?"

Sang ayah mengerutkan dahi dengan terang-terangan.

"Walaupun dia anak haram yang lahir dari rakyat jelata, dia tetap mewarisi darahku yang merupakan penyihir istana, tahu? Jangan-jangan kau berbohong karena diminta oleh wanita ini?"

"Demi Dewi, hal semacam itu tidak mungkin terjadi."

Tegas sang pendeta. Bagi seorang rohaniwan seperti dia, kata-kata "Demi Dewi" memiliki beban yang sangat berat.

Sang ayah yang tadinya memasang wajah curiga tidak bisa lagi mendebatnya.

"...Jadi benar ya, ladang yang kering tidak akan menghasilkan panen. Benar-benar membuang-buang waktu."

Sang ayah menatap Rest dan ibunya bergantian dengan tatapan seolah melihat sampah.

"Kalau dia punya sihir yang cukup, aku berniat membawanya ke kediamanku... tapi aku tidak butuh sampah tak berguna yang 'No Magic'. Terserah kau mau apakan anak itu."

"Terima kasih banyak, saya akan merawatnya sendiri...!"

"Hmph."

Sang ayah mengeluarkan kantong kain kecil dari sakunya dan melemparkannya ke lantai.

Terdengar suara denting logam yang saling berbenturan. Kemungkinan besar isinya adalah uang.

"Ambil itu. Jangan pernah berani menampakkan wajah di rumahku, dan jangan pernah biarkan anak itu mengaku sebagai anakku. Kita tidak akan pernah bertemu lagi... Selamat tinggal."

Setelah berujar sepihak, sang ayah melangkah keluar dari kuil dengan cepat.

"Rest...!"

Sang ibu menerima kembali putranya dari sang pendeta dan mendekapnya erat-erat.

"Terima kasih, Dewi... Terima kasih banyak...!"

"Dewi selalu mengawasi kita. Semoga berkah menyertai anak itu."

Melihat sang ibu yang menangis bahagia sambil mendekap bayinya, sang pendeta mempersembahkan doa dengan wajah yang tenang.

(Begini lebih baik kan... Ibu.)

Meski wajahnya tampak agak sesak karena didekap terlalu kencang, Rest tersenyum ke arah ibunya.

Dia melepaskan sihir yang tadi ia tekan. Kekuatan pun meluap dari dasar tubuhnya. Jika Rest menjalani diagnosis sihir sekarang, pastinya hasilnya akan sangat berbeda dari yang tadi.

(Ayahku sepertinya seorang bangsawan... tapi aku tidak bisa melihat gambaran masa depan yang bahagia jika dibawa oleh pria itu. Jauh lebih baik hidup bersama Ibu meskipun miskin.)

Di kehidupan sebelumnya, dia tidak mendapatkan kasih sayang orang tua.

Namun di kehidupan ini, ada seorang ibu yang berdoa dan menangis demi dirinya. Ayahnya memang tampak seperti bajingan yang mirip dengan ayahnya yang dulu... namun tetap saja, ini akan menjadi kehidupan yang jauh lebih baik.

Merasakan kehangatan tubuh ibunya, Rest memejamkan mata dengan perasaan nyaman.




Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close