Chapter 1
Keluargaku adalah Keluarga “Beracun”
"Hihn!"
"Bruhihihi!"
"............ Cuma mimpi, ya."
Suara
ringkikan kuda bergema tepat di telinga. Embusan napas rendah yang menerpa
wajah menyentak Rest dari dunia mimpi kembali ke realitas.
Tempat
Rest tertidur adalah sebuah bangunan kecil di halaman kediaman—sebuah kandang
kuda.
Seekor
kuda menjulurkan leher dari balik pagar, menggigit dan menarik rambut Rest yang
tertimbun tumpukan jerami pakan.
"Iya,
aku tahu. Aku akan segera ambilkan air, tunggu sebentar."
Rest
bangkit sambil menahan kantuk dan menepuk-nepuk jerami yang menempel di
tubuhnya.
Tidur di
kandang kuda, dibangunkan oleh kuda, lalu merawat kuda... Itulah rutinitas
harian yang biasa dia jalani.
Dengan
gerakan terampil, Rest mengganti pakan dan air, lalu membersihkan bagian dalam
kandang dengan teliti. Saat dia mulai menyikat bulu-bulu kuda itu, mereka
mengeluarkan ringkikan yang terdengar nyaman.
"Hihn."
"Sekarang
sudah bersih dan terasa enak, kan, Jenny? Lucy?"
"Hin
hin."
"Ah, aku
juga merasa senang. Sudah lama aku tidak memimpikan Ibu."
Mengingat senyum
lembut ibunya, Rest tersenyum tipis.
Sudah tepat dua
tahun sejak ibunya berpulang ke haribaan Tuhan. Penyebabnya adalah wabah
penyakit. Rest telah berusaha mati-matian mengumpulkan uang untuk membeli obat,
namun sayangnya tidak sempat.
Bisa pergi dengan
tenang tanpa merasakan sakit yang berkepanjangan mungkin adalah satu-satunya
keberuntungan di tengah kemalangan tersebut.
Usia Rest
sekarang dua belas tahun. Dia
datang ke kediaman ini pada usia sepuluh tahun setelah kehilangan ibunya.
Usia dewasa di
negara ini adalah lima belas tahun. Sebelum mencapai usia itu, seseorang tidak
bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena itulah, Rest harus mengikuti
hukum negara dan diasuh oleh kerabat sedarahnya... yaitu ayahnya, pria yang
telah membuang dirinya dan ibunya.
(Yah, ayahku itu
pasti sebenarnya tidak mau menampungku...)
Sambil meratakan
jerami dengan alat tani, Rest menyipitkan matanya dengan dingin.
Belakangan dia
baru mengetahui kalau ayahnya, yang merupakan seorang penyihir istana, memiliki
musuh politik dan mereka saling menjatuhkan di istana kerajaan.
Raja yang
memimpin negara ini dikenal sebagai sosok yang bijaksana. Jika ayahnya ketahuan
menelantarkan anak yang kehilangan orang tua, itu bisa mengundang
ketidaksenangan raja.
Demi
tidak memberikan celah bagi musuh politiknya, dia terpaksa menampung Rest meski
dengan berat hati.
(Tetap
saja... membiarkanku tinggal di kandang kuda menunjukkan betapa buruknya sifat
pria itu. Yah, mungkin ini juga karena kejahatan istrinya.)
"Aah...
sudah waktunya, ya. Aku pergi dulu."
"Buhihin."
Dengan
wajah jemu, Rest mengusap kepala kuda-kudanya... lalu mengaktifkan sihir
sebagai sentuhan akhir.
"Clean."
Udara
segar mengalir ke dalam kandang kuda, melenyapkan kuman dan bau yang tersisa.
(Kalau
dia tahu aku sebenarnya bisa sihir, wajah seperti apa yang akan dia buat, ya...
Ah, tapi itu tidak penting.)
Rest
mengedikkan bahu dan keluar dari kandang kuda.
Rutinitas pagi
merawat kuda sudah selesai... namun masih ada satu pekerjaan yang paling
menjijikkan. Saatnya menjilat ayah, ibu tiri, dan kakak tiri yang selalu
memandang rendah dirinya.
◇
Ayah Rest, Lucas
Evern, yang menyandang gelar Viscount Kehormatan, adalah generasi kedua dari
keluarga bangsawan baru.
Kediaman yang ia
tempati tidak bisa dibilang besar untuk ukuran bangsawan. Meski begitu, jika dibandingkan
dengan kandang kuda, perbedaannya bagai langit dan bumi. Rumah itu terawat
dengan baik dan tampak megah dari luar.
Pelayan
yang bekerja di sana berjumlah sekitar sepuluh orang. Biasanya, kediaman
bangsawan besar akan mempekerjakan anak-anak dari keluarga bangsawan lain,
namun karena mereka adalah keluarga bangsawan baru, semua pelayannya berasal
dari rakyat jelata.
"Selamat
pagi."
"...Pagi.
Apa hari ini kau akan melakukan 'itu' lagi?"
"Ya, begitulah."
"Begitu ya... Semangatlah. Jangan menyerah."
Seorang pelayan muda menepuk bahu Rest dengan tatapan penuh
simpati.
Setelah masuk ke rumah dan menyapa para pelayan yang
berpapasan dengannya, Rest menuju ruang makan. Begitu dia mengetuk pintu, izin
masuk segera diberikan. Rest mengembuskan napas panjang sebelum membuka pintu.
"Permisi.
Semuanya, selamat pa—"
"Hiat!"
"Aduh...!"
Begitu pintu
terbuka, sesuatu yang keras melayang ke arahnya. Benda itu tepat mengenai dahi
Rest lalu jatuh ke lantai—sebuah batu seukuran telapak tangan.
"Ahahaha,
kena! Berhasil!"
Sambil bertepuk
tangan gembira, kakak tirinya, Cedric Evern, bersorak. Duduk di meja makan,
kakaknya itu tertawa terbahak-bahak melihat Rest yang dahinya mulai berdarah.
Meskipun disebut
kakak, selisih umur Rest dan Cedric hanya setengah tahun. Rest lahir dari
pelayan yang dihamili ayahnya saat sang istri sah sedang mengandung Cedric.
(Tapi... meski
umurnya sama, perlakuannya jauh berbeda.)
Rest mengeluarkan
kain lusuh seperti gombal dan menyeka darah yang mengalir dari dahinya.
Di dalam
ruangan itu ada tiga orang: sang pemilik rumah beserta istri dan anaknya. Meja makan sudah dipenuhi makanan, dan
mereka bertiga sedang menikmati sarapan.
"...Selamat
pagi. Tuan, Nyonya, Tuan Muda Cedric."
"............ Cih."
Tanpa mengungkit
soal lukanya sedikit pun, Rest menundukkan kepala menyapa mereka.
Lucas, ayah Rest
sekaligus pemilik rumah, sama sekali tidak menegur anak sulungnya yang
melakukan perundungan berlebihan itu. Dia hanya mendengus bosan.
"Aduh, hari
ini kau kotor sekali, ya. Melihatmu saja rasanya kemiskinanmu bisa menular ke
sini."
Suara sinis itu
datang dari Liza Evern, istri Lucas sekaligus ibu Cedric. Sang nyonya Viscount
Kehormatan itu menatap Rest seperti melihat tumpukan sampah. Sambil menunjuk ke
arah lantai dengan jarinya yang dicat kuku, dia mulai mengoceh.
"Anak
rendah yang lahir dari rahim kotor memang paling cocok makan seperti anjing! Cepat makan pakanmu hari ini!"
"Benar,
benar! Cepat makan sana, dasar darah kotor!"
Sambil tertawa
cekikikan, Cedric yang duduk di depan ibunya menghentak-hentakkan kakinya ke
lantai berkali-kali. Itu adalah perilaku yang sangat tidak sopan saat makan...
namun kedua orang tuanya tidak menegurnya.
"............"
Rest menundukkan
pandangannya ke lantai. Di sana, ada sebuah piring berisi sesuatu yang berwarna
cokelat. Ini adalah rutinitas setiap pagi. Mereka bertiga memerintahkan Rest
untuk merangkak seperti anjing saat makan.
"...Aku
makan sekarang."
Sambil menahan
penghinaan itu, Rest merangkak dengan kedua tangan dan kakinya lalu mulai
memakan makanannya. Dia tidak diizinkan menggunakan pisau atau garpu. Jika dia
tidak makan seperti anjing, punggungnya akan dicambuk.
"Ya ampun!
Betapa menjijikkannya! Begitu rakusnya dia ingin makan. Benar saja, kalau
ibunya rendah, anaknya pun ikut rendah! Memang benar-benar anak yang lahir dari
kucing pencuri!"
Melihat Rest yang
makan seperti anjing melahap hidangan sampah yang tidak jelas bentuknya, Liza
berujar penuh kebencian.
"Baik wanita
itu maupun anak ini... benar-benar memuakkan. Aku tidak tahan ada orang rendahan seperti ini
di ruangan yang sama denganku!"
Meski
berkata tidak tahan, Liza tidak pernah absen memanggil Rest ke ruang makan
setiap pagi. Liza belum memaafkan perselingkuhan suaminya hingga sekarang.
Dia
membenci Rest yang merupakan hasil dari perselingkuhan itu dan melampiaskan
amarahnya dengan menginjak-injak harga diri Rest seperti ini.
(Kecemburuan wanita memang mengerikan... Kalau mau protes,
harusnya dia bilang saja pada suaminya yang selingkuh itu.)
Sambil mematikan perasaannya saat makan, Rest dalam hati
merasa jengah pada wanita yang merupakan ibu tirinya tersebut.
Lucas menghamili ibu Rest dengan paksa saat ibunya bekerja
sebagai pelayan. Ibunya adalah korban sepenuhnya dan tidak seharusnya dibenci.
"Terima kasih atas makanannya! Nah, sekarang saatnya latihan sihir!"
Tampaknya dia
sudah selesai makan lebih dulu, Cedric pun berdiri. Saat hendak keluar dari ruang makan, dia
sengaja menginjak Rest yang masih merangkak.
"Ugh...!"
"Oi, hari
ini jadilah lawan latihanku lagi! Aku mau ganti baju dulu, tunggu di
halaman!"
"...Baik.
Tuan Muda Cedric."
Setelah Rest
menjawab dengan rintihan, Cedric tertawa "Ahahahaha!" dengan riang
dan keluar dari ruang makan.
"Mohon maaf,
Tuan, Nyonya. Meskipun Anda berdua masih makan... karena ada latihan Tuan Muda
Cedric, saya mohon izin undur diri."
"...Terserah kau."
"Mau bagaimana lagi... Awas saja kalau kau berani
melawan anakku!"
"Tentu saja tidak. Permisi."
Rest segera keluar dari ruang makan. Sejujurnya, dia
berterima kasih pada Cedric karena bisa melarikan diri dari suasana sarapan
yang tidak nyaman itu.
(...Benar-benar
orang-orang yang sombong. Apa
asyiknya melakukan hal seperti itu?)
"Heal."
Rest menyentuh
luka di dahinya dan mengaktifkan sihir. Luka yang tadinya mengeluarkan darah
menghilang dalam sekejap. Dia menggunakan sihir penyembuhan.
"Untuk
berjaga-jaga, sebaiknya aku lilitkan handuk..."
Agar kesembuhan
lukanya tidak ketahuan, dia melilitkan kain di kepalanya. Orang-orang di rumah
ini tidak peduli padanya, jadi dengan cara ini saja sudah cukup untuk
mengelabui mereka.
Meski sudah
tinggal bersama selama dua tahun, tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari
kalau Rest bisa menggunakan sihir.
"Nah... ayo
jalan."
Rest mengembuskan
napas lelah sembari berjalan menyusuri lorong menuju halaman rumah untuk
meladeni latihan Cedric.
◇
Lucas Evern, ayah dari Rest dan Cedric, adalah seorang
penyihir istana. Meskipun tugas
penyihir istana sangat luas, pekerjaan Lucas adalah mengelola barang-barang
sihir.
Dia menyimpan dan
mengelola peralatan sihir berbahaya yang tidak bisa ditaruh di istana di
kediamannya sendiri, dan dia selalu membanggakan hal itu sebagai bukti
kepercayaan dari Raja.
Meski memiliki
kepribadian sombong dan haus akan kehormatan, Lucas bukan sekadar omong kosong;
dia adalah salah satu pengguna sihir terbaik di negeri ini.
Bakat luar
biasanya itu diwarisi oleh Cedric, satu-satunya anak yang diakui oleh Lucas.
Namun... bukan
hanya bakatnya yang diwarisi, sifat buruk dan kepribadiannya yang menyimpang
pun ikut diturunkan sepenuhnya.
"Ahahahahaha!
Ayo, lari, lari!"
"Kh...!"
Cedric
menembakkan sihir satu demi satu. Bola api berukuran kepalan tangan, Fireball,
mengejar Rest yang berlari menghindar, membakar pakaian dan kulitnya.
"Ayo, ada
apa! Kalau kau berhenti, kau akan kena. Ahahahahaha!"
Sambil tertawa
terbahak-bahak yang memekakkan telinga, Cedric menghujamkan bola api ke arah
Rest yang berlari di halaman.
Cedric, yang
bercita-cita menjadi penyihir istana seperti ayahnya, menggunakan Rest sebagai
sasaran sihir untuk latihannya. Anak-anak tumbuh dengan melihat orang tuanya.
Melihat ayahnya
meremehkan Rest dan ibunya menyiksa Rest... Cedric pun menemukan kesenangan
yang sama dalam merundung adik tirinya.
Karena tidak ada
yang menghentikannya, latihan yang sudah seperti percobaan pembunuhan ini terus
meningkat intensitasnya.
"Ampun...
kumohon, berikan belas kasihan...!"
(Benar-benar
tidak ada bosannya... Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dia pasti
tidak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang benar.)
Sambil
memohon ampun dengan suara menyedihkan dan lari menghindar, Rest melontarkan
kata-kata hinaan di dalam benaknya.
(Keluarga
Viscount Kehormatan Evern ini memang tidak ada yang benar... Mulai dari ayah
yang memperkosa ibuku, hingga ibu tiri yang menyiksaku karena cemburu, tempat
ini benar-benar sarang sampah.)
"Baiklah, ini serangan terakhir! Rasakan sihir baruku
ini... Thunder Ball!"
"Uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"
Dengan suara berderak-derak, bola petir yang memancarkan
kilat ungu menghantam punggung Rest. Arus listrik yang terasa seperti cabikan
menyerang seluruh tubuhnya, membuat Rest jatuh tersungkur dan tidak bergerak.
"Apa, sudah selesai? Memang dasar anak rakyat jelata
tanpa sihir, tidak berguna!"
Cedric membusungkan dada dengan puas lalu menendang tubuh
Rest yang terkapar dengan ujung kakinya.
"Bersihkan
halaman ini, ya. Kalau kau malas-malasan, rasakan akibatnya!"
"............"
"Haha,
benar-benar seperti sampah! Sulit dipercaya kalau orang seperti ini adalah
adikku!"
Setelah
melontarkan hinaan terakhir, Cedric melangkah pergi meninggalkan halaman.
"Ya ampun...
akhirnya selesai juga."
Rest berpura-pura
pingsan sejenak, namun setelah merasa hawa keberadaan kakaknya menghilang, dia
bangkit berdiri.
"Hup..."
Begitu
berdiri, dia langsung mengaktifkan sihir. Dia menyembuhkan luka-lukanya dengan
sihir, lalu melenyapkan pasir dan lumpur yang menempel di tubuhnya hingga
bersih tanpa sisa.
Terlihat seolah
dia dihujani sihir tanpa perlawanan... padahal sebenarnya dia tidak menerima
kerusakan apa pun. Dia telah melindungi tubuhnya dengan sihir Physical Up
dan sengaja lari berlebihan sambil berpura-pura kesakitan.
"Sekarang sihir petir, ya... Dia cukup mahir
juga."
Setiap kali Cedric menguasai sihir baru, dia pasti akan
menjadikan Rest sebagai kelinci percobaan. Terlepas dari kepribadiannya, bakat
sihir Cedric memang nyata. Dia sudah menguasai sihir yang cukup beragam.
(Aku tidak tahu penyihir lain yang seumuran dengannya,
tapi... dia pasti termasuk hebat.)
Seandainya sifatnya baik, Rest pasti bisa menghormatinya
sebagai kakak dengan tulus.
Ada pepatah yang mengatakan Tuhan tidak memberikan dua
berkah sekaligus... tampaknya Dewi hanya memberikan Cedric bakat sihir, tanpa
memberinya kebaikan hati untuk menggunakan sihir itu dengan benar.
"Thunder Ball."
Rest mengolah sihirnya dan mengeluarkannya ke luar tubuh. Di telapak tangannya, muncul bola
petir yang berderak-derak. Itu adalah sihir yang sama persis dengan yang
digunakan Cedric tadi.
"Seperti
biasa, dia selalu memamerkan sihir baru yang dipelajarinya, jadi ini sangat
membantu untuk belajar."
Itulah
alasan mengapa Rest meladeni latihan Cedric tanpa melarikan diri. Ini juga
mungkin bagian dari berkah reinkarnasi... Rest memiliki kapasitas sihir yang
tak terbatas, dan terlebih lagi, dia bisa meniru sihir yang pernah dilihatnya
sekali saja dengan mudah.
Sebagai
anak rakyat jelata yang didiskriminasi, Rest tidak diberi kesempatan untuk
membaca buku atau belajar dari guru privat untuk mempelajari sihir. Namun...
berkat Cedric yang menjadikannya sasaran percobaan sihir, dia bisa mempelajari
banyak sihir seperti ini.
(Kalau
dia tahu dia berkontribusi pada pertumbuhan adik yang diremehkannya ini, wajah
seperti apa yang akan dibuat oleh kakak bodoh itu, ya.)
Cedric mungkin adalah jenius sihir. Namun... Rest yakin
bahwa dalam hal bakat murni, dirinyalah yang jauh lebih unggul.
Jika dia menunjukkan bakat ini kepada ayahnya, perlakuannya
mungkin akan berubah... tapi Rest sama sekali tidak ingin diakui oleh ayahnya.
"Belum...
masih terlalu dini untuk menunjukkan taring. Aku harus bersabar sampai
dewasa..."
Rest mengepalkan
tangannya, meyakinkan dirinya sendiri. Usia Rest baru dua belas tahun. Usia dewasa di negara ini adalah lima
belas tahun, jadi masih ada tiga tahun lagi.
Sehebat apa pun
sihir yang dia miliki, sebagai anak di bawah umur, dia tidak akan bisa
mendapatkan pekerjaan yang layak.
Karena itu, dia
belum akan menunjukkan taringnya sekarang. Sekarang adalah saatnya untuk tetap
mengasah kemampuan sihir dan mengumpulkan kekuatan sambil membiarkan dirinya
ditindas.
(Suatu saat aku
pasti akan melampaui mereka. Aku akan naik ke tempat yang lebih tinggi dari
ayah maupun Cedric...!)
Uang, status,
kekuasaan... dia akan mengungguli mereka dalam segala hal. Dia akan mencapai
posisi di mana dia bisa memandang rendah dan menginjak-injak orang-orang dari
keluarga Viscount Kehormatan Evern ini.
(Demi hal itu,
meskipun aku harus jadi kelinci percobaan sihir atau diperlakukan seperti
anjing, aku akan bertahan.)
Waktu
untuk bersabar. Menahan diri demi masa depan.
Waktu
untuk bersabar tidur di kandang kuda yang dingin oleh angin yang masuk melalui
celah-celah, dan makan sisa makanan seperti anjing.
Dengan
tekad yang kuat, Rest mengepalkan tangannya dan mulai membersihkan halaman.
◇
"Aku
pulang..."
"Hihn!"
Setelah
selesai membersihkan halaman, Rest kembali ke kandang kuda dan disambut oleh
ringkikan kedua kudanya. Sambil mengelus kepala kuda yang mendekat padanya, dia
mengamati sekeliling kandang.
"Ah... hari
ini ada kiriman lagi, ya. Aku jadi merasa tidak enak."
Di sudut kandang
kuda, terdapat sebuah bungkusan kain yang diletakkan agar tidak mencolok. Saat
dibuka, isinya adalah roti, daging kering, dan salep obat luka. Ini adalah
kiriman rahasia dari salah satu pelayan yang bekerja di kediaman tersebut.
Di antara pelayan
lama yang bekerja di sini, ada beberapa yang mengenal ibu Rest. Mereka merasa
iba dengan nasib Rest dan selalu berusaha mempedulikannya.
Mereka tidak bisa
membela Rest secara terang-terangan di depan majikan... jadi mereka memberikan
makanan secara sembunyi-sembunyi seperti ini.
(Ibu memiliki
rekan kerja yang baik, ya. Meskipun majikannya tidak begitu.)
"Enak..."
Rest
memakan rotinya dan menggigit daging keringnya. Meski rasanya sederhana,
perbedaannya sangat jauh jika dibandingkan dengan makanan sisa yang diberikan
di meja sarapan tadi.
"............"
Sambil
makan, dia tanpa sengaja menatap ke arah jendela kandang kuda.
Di
seberang sana terlihat gedung utama kediaman Viscount Kehormatan Evern, dengan
cahaya oranye dari perapian yang mengintip ke luar. Terlihat sangat hangat.
Berbeda
jauh dengan kandang kuda yang selalu diterpa angin dingin dari celah-celah
bangunan.
(Orang-orang
itu pasti tidak peduli meski aku kedinginan di sini...)
Liza sang
ibu tiri yang cemburu atau Cedric si kakak tiri mungkin masih bisa dimaklumi,
tapi kenapa Lucas sang ayah bisa memperlakukan Rest sedingin ini?
Padahal
Rest adalah anak kandungnya sendiri, anak yang lahir dari perbuatannya yang
memaksakan kehendak, tapi dia sama sekali tidak mau bertanggung jawab.
(Memangnya
bangsawan baru sehebat itu? Padahal cuma Viscount 'Kehormatan' yang bahkan
tidak punya wilayah kekuasaan. Sombong sekali padahal tidak jauh berbeda dengan
rakyat jelata.)
Rest
mengumpat dalam hati... namun jika dia berani mengucapkan kata-kata ini di
depan ayahnya, ayahnya pasti akan meledak marah dan menghajarnya habis-habisan.
Meskipun
keluarga Evern adalah bangsawan, gelar mereka tidak bisa diwariskan secara
turun-temurun.
Bangsawan
Kehormatan adalah gelar sementara yang melekat pada jabatan tertentu, dan jika
jabatan itu dilepaskan, gelar tersebut akan dicabut dan orang tersebut kembali
menjadi rakyat jelata.
Lucas
adalah penyihir istana yang berada langsung di bawah perintah Raja, dan karena
jabatan inilah dia diberikan status "Viscount Kehormatan".
Padahal
mereka berlagak sombong seolah-olah bangsawan sejati, kenyataannya mereka tidak
jauh berbeda dengan rakyat jelata.
(Tapi,
kalau Cedric mendapatkan gelar Viscount Kehormatan, mereka akan diakui sebagai
keluarga bangsawan resmi...)
Meskipun
Bangsawan Kehormatan adalah gelar sementara... jika tiga generasi
berturut-turut bisa mendapatkan gelar yang sama, mereka akan diakui sebagai
bangsawan turun-temurun yang resmi. Begitulah hukum yang berlaku.
Dalam
kasus keluarga Evern, kakek dan ayah mereka telah menjadi penyihir istana
selama dua generasi berturut-turut dan menerima gelar Viscount Kehormatan.
Jika
Cedric sebagai generasi ketiga bisa melakukan hal yang sama, dia akan diberikan
gelar "Viscount" yang bisa diwariskan dan menjadi bangsawan secara
resmi baik dalam nama maupun kenyataan.
(Karena
itulah... mereka sangat memuja Cedric yang lahir dengan bakat sihir tinggi dan
membiarkannya bersikap semena-mena. Benar-benar konyol sekali.)
Jika
memang menganggapnya pewaris penting, seharusnya mereka mendidiknya agar
memiliki budi pekerti yang baik.
Jika nanti menjadi Viscount resmi, kesempatan
untuk masuk ke pergaulan kelas atas akan semakin sering, dan jika tata kramanya
buruk, bukankah itu hanya akan mempermalukan diri sendiri?
(...Yah,
itu bukan urusanku. Aku tidak peduli meskipun Cedric mengundang kebencian
orang-orang penting di mana-mana. Lebih baik aku fokus mengasah kemampuan
sihirku saja.)
Begitu
mencapai usia dewasa lima belas tahun, dia akan pergi dari rumah ini dan
berjuang untuk meraih kesuksesan.
Sebelum
saat itu tiba, dia akan mengasah kemampuan sihirnya agar menjadi lebih kuat
meskipun hanya sedikit.
"...Malam
ini aku akan pergi ke hutan lagi."
Setelah
memasukkan potongan terakhir daging kering ke mulutnya, Rest bergumam.
Kediaman keluarga
Evern berada di pinggiran ibu kota, dan di dekat sana terdapat hutan yang
dihuni oleh monster. Rest rutin pergi ke sana untuk melatih sihirnya dengan
berburu monster.
◇
Tengah malam.
Setelah memastikan semua orang di rumah telah terlelap, Rest keluar dari
kandang kuda.
Langkah kakinya
hanya diterangi oleh cahaya dari tiga bulan berwarna merah, biru, dan kuning
yang menggantung di langit malam. Menatap ketiga bulan itu, Rest kembali
menyadari bahwa dia berada di dunia lain.
"Night
Scope."
Begitu
mengaktifkan sihir, pandangannya seketika menjadi terang. Berkat efek sihir
yang bisa menembus kegelapan malam, pemandangan di sekitarnya terlihat sejelas
di siang hari. Sihir ini bukan diajari oleh Cedric.
Sebagian besar
sihir yang dia kuasai—terutama sihir serangan—didapat dengan meniru sihir
Cedric saat menjadikannya kelinci percobaan, tapi selain itu dia juga menguasai
beberapa sihir lain.
Night Scope diajari oleh seorang pria paruh baya yang
sering duduk minum di gang belakang saat Rest masih tinggal berdua dengan
ibunya.
Rest tidak tahu
siapa pria itu sebenarnya, yang mengajarinya sihir sebagai ganti sepotong roti.
Namun, dia sangat
berterima kasih karena berkat pria itu dia bisa mempelajari sihir seperti Night
Scope, Unlock, dan Life Search.
(Mungkin
sebaiknya aku tidak usah memikirkan apa pekerjaan orang itu dulu... Melihat
jenis sihir yang dia ajarkan, dia pasti bukan orang baik-baik...)
Sambil mengenang
masa lalu, Rest sampai di pintu masuk hutan. Pepohonan yang tumbuh rimbun
menutupi cahaya bulan, membuat bagian dalam hutan tampak gelap gulita seperti
bagian dalam mulut monster.
Jika tidak
menggunakan sihir, dia tidak akan bisa melihat apa pun meski hanya sejauh satu
meter di depannya.
"Life
Search."
Menggunakan sihir
untuk mendeteksi keberadaan makhluk hidup, dia mencari monster.
Kebetulan ada
tanda keberadaan tiga monster di dekat pintu masuk hutan.
Saat mendekat
tanpa suara semaksimal mungkin... di sana terlihat tiga ekor serigala bermata
tiga dengan bola mata di dahi mereka, sedang rakus melahap sepotong daging.
(Yang dimakan itu............ uwek, Goblin, ya.)
Yang sedang dimakan oleh ketiga serigala itu adalah makhluk
seperti kera dengan kulit hijau. Itu adalah monster yang biasa disebut
'Goblin'.
Di dunia fantasi memang monster yang umum, tapi melihat
makhluk berbentuk manusia dilahap hingga tulang dan organ dalamnya terburai
bukanlah pemandangan yang menyenangkan.
"Gru?"
Salah satu serigala yang tadi asyik memakan daging Goblin
mendongak dan mulai mengendus-endus sekeliling. Tampaknya dia menyadari
keberadaan Rest dari bau atau hawa kehadirannya.
(Menyerang lebih dulu adalah kunci kemenangan... Ayo!)
"Thunder Ball!"
Rest melompat keluar dari bayangan pohon dan melepaskan
sihir yang baru saja dia pelajari. Bola petir yang berderak-derak ungu
menghantam salah satu serigala, membuat tubuhnya kejang-kejang hebat.
"Gruuuuuuuuuu!?"
"Gau!"
"Gaa!"
Melihat rekannya diserang, dua serigala lainnya menerjang ke
arah Rest.
"Thunder
Ball!"
"Gyan!"
Rest
tidak panik dan dengan tenang melepaskan tembakan kedua. Bola petir kedua juga
mengenai serigala tersebut. Dia hendak melepaskan tembakan ketiga... namun
serigala terakhir sudah lebih dulu menerjang.
"Gaaaaaaaaaaaaa!"
"Kh...!"
Refleks
dia melompat ke samping untuk menghindari serangan, namun cakaran monster itu
sempat menyambar lengannya, meninggalkan goresan merah. Meski rasa sakit sempat membuat wajahnya
meringis... jika dia panik di sini, itu hanya akan menguntungkan lawan.
(Jika hati kacau,
sihir pun akan kacau. Tenang, tenang...)
"Thunder
Ball!"
"Gaa!?"
Petir yang
dilepaskan setelah menenangkan diri itu mengenai serigala terakhir hingga ia
tumbang. Rest
mengembuskan napas lega dan memeriksa ketiga serigala yang tergeletak di tanah.
"Gru...
lu..."
"Ah...
ternyata kalian masih hidup, ya."
Mungkin karena
dia belum sepenuhnya menguasai sihir yang baru dipelajarinya itu. Ketiga
serigala itu lumpuh karena tersengat listrik dan tidak bisa bergerak, tapi
mereka semua masih bernapas.
"Aku akan menghabisi kalian... Wind Cutter!"
Dia melepaskan bilah angin dan memutus leher ketiga serigala
tersebut. Darah segar dalam jumlah banyak mengalir dari leher mereka dan
membasahi tanah.
(Thunder Ball adalah sihir yang lebih mementingkan
kecepatan daripada daya hancur, ya. Sepertinya bisa digunakan untuk mengecoh
lawan dengan membuatnya lumpuh.)
"Gii! Gii!"
"Oops...
sekarang giliran kalian, ya."
Dari
balik semak-semak muncul monster lain. Makhluk berbentuk manusia dengan ukuran
tubuh setara anak-anak... Goblin. Entah mereka datang untuk menolong kawan
mereka yang dimangsa serigala, atau terpancing oleh bau darah. Goblin-goblin
yang menggenggam pisau berkarat itu menatap Rest dengan tajam.
"Gigii!
Gigii!"
"Bukan
aku yang menghabisi kawan kalian. Jangan menatapku seperti itu."
"Gi!"
"Lagipula...
serangan kejutan kalian sudah ketahuan!"
Rest melompat ke
samping dengan lincah. Sesaat kemudian, seekor Goblin lain yang melompat dari
belakang mengayunkan gada ke tempat Rest berdiri tadi.
"Gii!?"
"Hampir saja
kalau aku tidak punya Life Search. Ini balasan dariku!"
Menggunakan sihir
Physical Up, dia menendang Goblin yang melakukan serangan kejutan tadi
hingga terpental. Sepertinya Goblin pertama tadi hanyalah umpan, agar Goblin
lainnya bisa memukulnya sampai mati dengan gada. Namun berkat Life
Search yang dimiliki Rest, serangan kejutan itu gagal total.
"Gi!"
"Water Cutter."
Dia melepaskan bilah air ke arah Goblin pertama. Goblin yang
mencoba lari setelah melihat kawannya dikalahkan itu pun tumbang dengan
punggung tersayat.
"Nah...
sekarang giliranmu."
"Gi...
i..."
Goblin
yang tadi ditendang terpental menabrak pohon dan masih bernapas. Dalam kondisi
tubuh yang diperkuat sihir, Rest menginjak kepalanya hingga hancur.
Tengkoraknya remuk, dan kepala Goblin itu menjadi hancur berantakan seperti
telur yang jatuh.
"Wah,
jadi berantakan... tapi aku sudah terbiasa."
Ini bukan
pertama kalinya Rest datang memburu monster. Pemandangan seperti ini sudah
menjadi hal biasa baginya.
Setelah
memastikan pertarungan berakhir, dia memeriksa sekeliling dengan sihir deteksi.
Tidak ada
tanda-tanda monster lain di dekat sana. Rest memutuskan untuk mengobati luka di
lengannya yang terkena cakaran serigala tadi.
"Heal."
Diselimuti
cahaya putih redup, luka itu pun tertutup. Orang yang mengajarinya sihir
penyembuhan bukanlah Cedric, melainkan pendeta yang dulu memeriksa sihir Rest
saat masih bayi dan memberikan diagnosis No Magic.
Pendeta
itu terus mempedulikan Rest dan ibunya, dan dialah yang menemani Rest saat
saat-saat terakhir ibunya.
'Ada
penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan sihir. Ibumu telah dipanggil ke
haribaan Dewi.'
Rest
ingat saat pendeta itu tahu bahwa dirinya yang seharusnya No Magic
ternyata bisa menggunakan sihir, beliau tidak merasa heran dan menganggapnya
sebagai kehendak Dewi.
'Seberat
apa pun cobaan yang kau hadapi, Dewi akan selalu menjagamu. Hiduplah dengan
benar dan jangan sampai salah melangkah.'
(Jika aku
tidak bertemu dengannya, mungkin aku sudah menggunakan kekuatan ini dengan cara
yang lebih gegabah...)
Mungkin
dia akan mencabik-cabik ibu tiri atau Cedric dalam amarahnya. Mungkin dia akan
membakar ayahnya yang telah menyakiti dan membuang ibunya dalam kebencian.
(Mungkin
aku bisa balas dendam jika aku mau. Dengan sihir ini, pasti...)
Meski
sudah menghabisi lima ekor monster dengan sihir, Rest sama sekali tidak merasa
kapasitas sihirnya berkurang. Rest memiliki sihir yang tak terbatas. Sebuah
kekuatan yang bisa disalahgunakan sepuasnya jika dia mau.
(Tapi...
jika aku balas dendam, mungkin Ibu atau Pak Pendeta akan sedih. Aku tidak boleh
melakukan sesuatu yang membuat mereka sedih.)
Di
kehidupan sebelumnya ada yang pernah berkata... balas dendam terbaik adalah
dengan menjadi bahagia.
Dia tidak
berniat membalas dendam pada mereka dengan cara kekerasan. Dia hanya akan...
mengincar posisi puncak. Dia akan mendapatkan kekuatan dan status yang
melampaui Lucas dan Cedric.
(Untuk
itu... aku harus mengasah kemampuan sihirku lebih dalam lagi dan menjadi lebih
kuat!)
Rest kembali mencari keberadaan monster dengan sihirnya di tengah hutan malam itu.
Prrolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment