Chapter 5
Gadis yang Dilanda Kegalauan ~Komedi Romantis?~
1
Pagi hari di hari
ketiga perjalanan bus.
"Eungh..."
Aku terbangun di
atas tempat tidur hotel.
"Ngh...
Hmm?"
Dan di saat yang
sama, aku menyadari sesuatu.
"UEEEEEEEHHH?!"
Kenapa............ KENAPA CHOCOLAT TIDUR DI SEBELAHKU?!
"Monyu monyu... Ehehe..."
Orang yang bersangkutan malah sedang mendengkur halus dengan
wajah yang tampak sangat bahagia, tapi ini bukan situasi yang bisa dihadapi
dengan santai.
...Tenang. Tenang
dulu, ayo ingat-ingat kejadian kemarin.
Tadi malam, aku
yakin sekali kalau aku masuk ke tempat tidur sendirian. Sebelum itu, tentu saja
aku tidak minum alkohol, dan aku juga tidak ingat pernah mengalami kejadian
yang membuatku hilang kesadaran.
Lagi pula, pintu
kamar ini menggunakan kunci otomatis (auto-lock). Kalau begitu,
kemungkinan jalur masuk lainnya adalah—
"Jendela,
ya."
Seingatku, aku
memang tidak mengunci jendelanya. Kamar Chocolat ada di sebelah, dan balkonnya
menyambung dengan kamar ini, jadi secara fisik dia bisa masuk tanpa hambatan
sama sekali.
...Yah, cara dia
masuk sebenarnya tidak terlalu penting. Masalah utamanya adalah kenapa anak ini
ada di sini.
"Benar-benar...
lagi ngapain sih k—Ukh."
Begitu
aku menyingkap selimutnya, aku langsung tersentak.
A-Apa-apaan
penampilannya ini... Piyama yang hanya dia kenakan di bagian atas tubuhnya itu
tersingkap dan—
"U-UWAAAAHHH?!"
Aku tidak sengaja
melihatnya sekilas dan buru-buru memalingkan muka. A-Anak ini... DIA
TIDAK PAKAI BAWAHAN!
A-Apa yang dia pikirkan?! Ini sih namanya hampir telanjang bulat!
Aku berusaha
sekuat tenaga agar tidak melirik ke arah leher ke bawah sambil
menggoyang-goyangkan tubuh Chocolat.
"Oi, bangun... Bangun, Chocolat!"
"Monyu monyu... Tadi enak sekali..."
Gawat... dia sama
sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Lagipula, apanya yang
"enak sekali" itu?!
"...Hm?"
Di sekitar mulut
Chocolat menempel semacam sisa makanan dan cairan putih. Aku mengecek ke atas
meja, dan benar saja, bungkusan cokelat 'Kinoko no March' yang seharusnya masih
sisa lebih dari setengah sekarang sudah kosong melompong.
...Jangan-jangan,
dia datang ke kamar ini karena terpancing aroma makanan, lalu langsung
ketiduran di sini? Yah, kalau itu Chocolat, skenario konyol begitu sangat
mungkin terjadi. Berarti cairan putih ini adalah...
Setelah
kupastikan, ternyata yogurt kental (kalau bicara soal musim panas, memang harus
seri yang kental-kental) yang kubeli di minimarket dan kusimpan di kulkas juga
sudah habis diminum dan wadahnya dibuang ke tempat sampah.
"Fumyu?"
Akhirnya, Chocolat membuka matanya.
"Are? Kanade-hyan?"
Di atas tempat tidur, Chocolat duduk bersimpuh (onnanoko-zuwari)
sambil mengucek matanya yang tampak masih mengantuk. Aku berhati-hati agar
pandanganku tidak meluncur ke bawah, sambil mengambil celana jin dari tas dan
mencoba menyerahkannya pada Chocolat.
"...Ceramah
pemulihan moralnya nanti saja, pokoknya pakai ini dulu dan—"
"Ehehe~"
Tiba-tiba
Chocolat menerjang dan memelukku.
"UWAAAAAAAAAAAGH!"
BAWAH! BAWAHMU
ITU TIDAK PAKAI APA-APA! BAHAYA KALAU KAMU MENEMPEL BEGITU!!
"Hehe... Kanade-saaan."
Sial, dia
benar-benar masih mengantuk. Dia memang bukan tipe yang langsung segar saat
bangun tidur, tapi hari ini parah sekali.
"Le-Lepaskan
aku!"
Dengan
sekuat tenaga, aku mendorong Chocolat kembali ke atas tempat tidur.
"Ugyu...
fumyuu..."
Sulit
dipercaya, Chocolat malah kembali terlelap... Kalau begini terus, sepertinya akan sulit
membangunkannya secara paksa.
"Ukh... aku
harus segera melakukan sesuatu sebelum—hm?"
Tepat di
belakangku, pintu masuk diketuk. Jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh
pagi. Siapa yang bertamu sepagi ini?
Aku mencoba
menyahut dari balik pintu.
"I-Iya..."
"Amakusa-kun,
selamat pagi York-Beni-maru."
...Suara ini,
cara bicara ini, dan keberaniannya melontarkan lelucon yang hanya dipahami
warga prefektur tertentu... tidak salah lagi, ini Furano.
Ini bencana...
Kalau Furano sampai melihat situasi seperti ini, aku tidak tahu cacian macam
apa yang akan ia lontarkan. Aku tidak tahu apa urusannya, tapi dia tidak
boleh masuk. Sambil menahan napas,
aku menyahut dari balik pintu.
"A-Ada
apa?"
"Aku
mendengar suara Amakusa-kun mengompol."
"Mana
mungkin kedengaran, woi!"
"Ara, kamu
tidak membantahnya ya."
"Sudah cukup
dengan itu!"
Pagi-pagi begini
sudah bahas konten dewasa saja...
"...Jadi,
apa intinya?"
"...Setelah
berteriak sekencang itu di pagi buta, masih tanya 'ada apa'?"
Suara saat aku
menemukan Chocolat tadi, ya... Aku refleks berteriak, tapi apa sampai terdengar ke kamar Furano yang
ada di seberang...?
"I-Itu, maaf
ya. Apa aku membangunkanmu? Tapi, itu tadi bukan apa-apa kok—"
"Ah, ada
Furanocchi."
Ukh... dan di
saat terburuk ini, aku bahkan mendengar suara Ouka.
"Ara, apa Yuuouji-san juga mendengarnya?"
"Iya, iya.
Kalau dengar teriakan sekencang itu, pasti penasaran kan. Aku jadi khawatir dan
datang mengecek."
"Ou-Ouka
juga... maaf ya sudah membuat kalian heboh."
"Habisnya
kemarin Kanade-chi kelihatannya kurang sehat, jadi aku agak khawatir... Kalau
bukan apa-apa sih syukur deh... Tapi Kanade-chi, kenapa tidak keluar?"
Ukh... Benar juga, rasanya tidak sopan terus bicara dari
balik pintu kepada mereka berdua yang sudah repot-rempote datang karena
khawatir. Kalau aku menolak secara berlebihan, malah akan terlihat
mencurigakan. Chocolat sedang tidur di dalam, jadi kalau aku cuma melongokkan
kepala sedikit dari pintu seharusnya tidak masalah.
Aku mengintip
dari celah pintu.
Keduanya
mengenakan piyama. Pasti mereka langsung lari ke sini setelah mendengar
teriakanku (?). Dan pakaian mereka agak sedikit terbuka. Biasanya aku akan
salah tingkah dan bingung harus melihat ke mana... tapi sekarang bukan saatnya
untuk itu.
"Benar-benar
tidak ada apa-apa kok... Aku cuma mimpi buruk sedikit..."
"Hee...
sampai berteriak seperti itu, pasti mimpinya sangat mengerikan ya. Sebenarnya
aku juga baru saja mimpi buruk yang lumayan seram, apa mimpimu lebih seram dari
mimpiku?"
"...Memang
kamu mimpi apa?"
"Gunung
Fuji dan seekor Elang muncul."
"Bukannya
itu pertanda keberuntungan?" (T/N: Referensi Hatsuyume, mimpi
pertama di tahun baru yang dianggap membawa keberuntungan).
"Setelah
itu, aku dikurung di ruangan sempit dan dipaksa hidup hanya dari hadiah undian
sampai mati."
"Itu sih
mimpinya si pelawak Nasubi!"
Hidup
seperti itu selamanya... memang terdengar sangat mengerikan.
"Lalu,
Amakusa-kun mimpi seram apa?"
"I-Itu,
anu... itu..."
Aku kehilangan
kata-kata. Aku bukan tipe yang jago improvisasi, jadi dalam situasi mendesak
seperti ini, aku tidak bisa mengarang alasan dengan baik.
"...Bagaimana
menurutmu, Yuuouji-san?"
Furano yang
mengamat-amati wajahku dengan teliti bertanya pada Ouka di sebelahnya.
"Hmm.
Rasanya baunya amis-amis bohong gitu ya~"
Kalau tidak
salah, Ouka pernah bilang kalau dia bisa mendeteksi kebohongan orang dekat
hanya dengan menatap matanya... Furano juga memberiku tatapan penuh curiga.
"Aku setuju
dengan Yuuouji-san. Entah kenapa area di sekitar sini bau amis (peju)."
"Tentu saja
tidak, woi!"
"Tapi Kanade-chi,
kalau bukan apa-apa, kenapa kamu keringatan begitu?"
"...Eh?"
Begitu dibilang,
aku baru sadar kalau wajahku sudah penuh dengan keringat dingin. Ukh... meski
ini puncak musim panas, tapi jam segini belum sepanas itu... Gawat.
"...Ada yang
aneh."
"Iya... aneh
banget."
Ba-Bagaimana ini?
Situasinya makin gawat... Sebelum aku makin banyak membuat kesalahan, aku harus
memaksa mereka pergi.
"Se-Sebenarnya
perutku agak sakit... Aku mau ke toilet sekarang, jadi tolong maklumi—"
"Fu...
myuu"
...Ba-Baru saja,
di dalam sana terdengar suara...
"Barusan...
apa ada suara orang dari dalam?"
"Iya, iya,
aku dengar dengan jelas!"
Igauan Chocolat
terdengar jelas di telinga mereka berdua.
"Mencurigakan..."
"Tu-Tunggu,
itu bukan seperti yang kalian—"
Ga-Gawat.
Kalau begini terus aku tidak akan bisa berkelit lagi—
PILIH:
① Beri alasan yang mencurigakan
② Beri alasan yang mesum
...Rasanya kok
dua-duanya hampir sama saja ya.
"Se-Sebenarnya
kalau mau jujur... tadi pagi-pagi sekali aku nonton saluran dewasa... terus aku
terlalu bersemangat sampai berteriak... ya, suara tadi itu cuma suara dari
televisi yang bocor keluar... haha."
"".........""
Keduanya
menatapku dengan pandangan yang sulit dijelaskan.
"Yah,
nuansanya memang tidak seperti karangan belaka sih..."
"Hmm...
tapi rasanya kok masih ada yang amis ya~"
Setidaknya
rasa curiga mereka sedikit berkurang. Aku harus menuntaskannya di sini!
"Ka-Karena
sudah kujelaskan alasannya, sudah kan? Aku mau ke toilet jadi cepat sana
per—"
BRUK!
...SERIUSAN,
BACA SITUASI DONG, KAMU!
"Barusan...
seperti ada suara sesuatu yang jatuh ya."
"Iya, iya.
Suara itu sepertinya bukan suara barang jatuh."
Keduanya
sepertinya sudah mendapatkan sebuah keyakinan.
"...Kepala
Detektif, aku memutuskan bahwa situasi ini sudah saatnya untuk
penggerebekan."
"...Setuju."
Mereka saling
bertukar pandang.
"Maka dari
itu, ini peringatan terakhir, Amakusa-kun. Cepat buka atau aku tembak mati."
"Kenapa
tiba-tiba jadi brutal begini!"
"Atau
aku akan mencabut 'pistol' di selangkanganmu itu."
"Itu
bukan lagi level brutal, woi!"
"Maksudku,
aku akan mencabut pistol mainan di selangkanganmu."
"INI
ASLI TAHU!"
Saat aku
sedang sibuk membalas ucapan Furano, Ouka sudah mundur ke belakang untuk
mengambil ancang-ancang lari.
"Haaai~
Kanade-chi, awas ya, menjauh dari pintu~"
"Tu-Tunggu
sebenta—"
"TOOOOORRRRR!"
"GUAKHHH!"
Aku tidak
kuat menahan drop kick dengan seluruh berat badannya itu dan langsung
terpental.
"SERBUUUU!"
"Mari kita
lihat... apa yang akan muncul di dalam."
Ouka dan
Furano melangkahi aku yang terkapar di lantai dan merangsek masuk ke dalam
ruangan.
"Tu-Tunggu
dulu!"
Larangan
dariku sia-sia, mereka berdua sudah sampai di depan tempat tidur. Di sana
tergeletak gumpalan sesuatu yang terbungkus selimut.
Geliat...
geliat...
"UWAAAAAAAGH!"
Aku
buru-buru berlari mendekat, tapi sudah terlambat. Dari balik selimut itu muncul... Chocolat
yang setengah telanjang.
"Monyu... Ah, Kanade-saaan."
"".........""
Mereka
berdua mematung di tempat.
"A-Ah, tidak, ini salah paham!"
""............""
Wajah Ouka dan
Furano seketika menjadi pucat pasi.
"Cho-Chocolat, ini salah kan? Ini tidak seperti itu kan? Cepat jelaskan pada Ouka dan Furano—"
"Tolong
peyuuuk~"
SIALAAAAN! Di
saat kritis begini dia masih saja mengigau!
""..................""
"Ti-Tidak,
kalian berdua salah paham! Ini benar-benar..."
Sambil
mati-matian melepaskan pelukan Chocolat, aku berusaha membela diri.
"Salah
paham... ya. Kalau begitu, cairan putih yang menempel di mulut Chocolat-san itu
sebenarnya apa?"
"I-Ini cuma
yogur—"
"Cairannya
Kanade-san... kental... enak sekali."
"KAMU
SENGAJA NGOMONG BEGITU YA?!"
"Ehehe...
jamurnya... di dalam mulut... banyak sekali."
"KAMU
BENAR-BENAR PUNYA DENDAM PRIBADI YA?!"
Rasanya aku ingin
mencubit pipinya sampai puas, tapi sekarang bukan saatnya.
"Kanade-chi...
sama Chocolat-chi... sudah melakukan hal mesum..."
"Ka-Kan
sudah kubilang ini salah paham. Saat aku sedang tidur, Chocolat masuk sendiri dan—"
"Are? Aku tidak pakai celana dalam..."
GYAAAAAAAGH!
"...Cukup sudah."
"...Kanade-chi... KANADE-CHI BODOOOOOOOH!"
"Ah, oi!"
Furano dan Ouka langsung lari keluar dari kamar begitu saja.
Yang tersisa hanyalah aku yang memegang kepala dengan putus asa, dan Chocolat
yang sepertinya masih belum mengerti situasi yang terjadi.
"Fue? Apa terjadi sesuatu?"
"KEJADIANNYA BANYAK BANGET, TAHU!"
2
Di dalam bus yang menuju destinasi terakhir perjalanan tur.
"A-Anu... Furano-san?"
"……"
Aku mencoba mengajaknya bicara, tapi aku benar-benar
dikacaukan oleh aksi tutup mulutnya.
"Hei,
dengarkan aku dulu. Sudah kujelaskan berkali-kali kalau itu cuma salah paham,
kan?"
"Salah
paham? Begitu ya... Jadi kamu sudah menikmati 'salah paha' (gokai)
bersama Chocolat-san sebanyak lima kali (gokai) ya." (T/N: Gokai
bisa berarti "salah paham" atau "lima kali").
"Kamu
ngomong apa, sih?!"
"Diamlah,
dasar bocah jamur pen*s."
"Apa-apaan
sebutan itu?!"
"Kan sudah
kubilang, diam."
"...Ma-Maaf."
Entah kenapa,
karena tekanan auranya yang begitu kuat, aku malah berakhir meminta maaf.
"……"
Setelah itu, dia kembali bungkam dan tidak memberikan reaksi
apa pun. ...Ini gawat.
Lalu, masih ada
satu orang lagi yang harus kuluruskan kesalahpahamannya.
"Anu...
Ouka-san."
"Puih."
Aku menghampiri
kursi di samping Ouka yang duduk di belakang, mencoba untuk membujuknya, tapi
dia juga sedang merajuk dan tidak memberiku celah sedikit pun.
"Kanade-chi
mesum."
"Ukh..."
Kalau sudah
dibilang begitu, aku tidak punya kata-kata untuk membalas. Meski tidak terjadi
apa-apa, faktanya Chocolat yang setengah telanjang memang ada di kamarku...
"Bohong
bilang lagi nonton video mesum, padahal di dalam lagi melakukan hal yang jauh
lebih mesum..."
Dia menatapku
dengan pandangan menghina (jitome).
"Ti-Tidak,
makanya kan sudah kubilang itu tidak benar."
Di saat itu,
Chocolat yang duduk di sebelah Ouka membuka suara.
"Benar itu,
Ouka-san. Tidak terjadi apa-apa kok. Aku cuma sedang mengigau lalu menyelinap ke tempat tidur Kanade-san.
Itu sih hal yang sudah biasa~"
"Sudah...
biasa?"
"KENAPA
KAMU MALAH NAMBAH-NAMBAHIN MASALAH, SIH!"
Yah,
memang benar hal seperti itu sering terjadi (meskipun selalu langsung kuusir
saat itu juga), tapi... kenapa harus bilang di sini, sekarang, di depan
mereka?!
"Jadi
biasanya... kalian melakukan hal seperti itu ya."
"Ti-Tidak,
itu sal—"
"Gak
mau tahu!"
Ouka
benar-benar membuang muka dariku. ...Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa mereka
berdua bisa semarah ini, ya?
Anggaplah mereka curiga kalau aku melakukan hal aneh dengan
Chocolat, itu memang sebuah masalah. Tapi rasanya kemarahan mereka ini sedikit
terlalu berlebihan jika hanya dianggap sebagai bentuk "kemuakan
moral".
"Nihibi~"
"UWOH!"
Tiba-tiba wajah Michiru-san muncul di depanku, membuatku
refleks melonjak kaget.
"Amakusa-chan,
sini sebentar, sini sebentar."
Michiru-san
langsung menarik tanganku dan menyeretku ke kursi bagian belakang. Lalu, dia
duduk di kursi yang kosong dan memintaku duduk di sebelahnya... Hei, kerjalah
sana!
"Mufufu,
sepertinya sedang terjadi situasi yang cukup menarik, ya."
"...Bagi
saya ini sama sekali tidak menarik."
"Jadi,
Amakusa-chan pilih yang mana?"
"Pilih
siapa?"
"Aduuh~
pura-pura bodoh ya, dasar penggoda~"
"Siapa yang
pura-pura bodoh, apa maksud Anda?"
"Amakusa-chan...
kamu serius nanya?"
"Mau serius
atau tidak... saya benar-benar tidak paham maksudnya."
"……"
Michiru-san
membelalakkan matanya dan terdiam sesaat, lalu...
"Pft...
Ahahahaha!"
Tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak.
"A-Ada apa sebenarnya?"
"Pft, kuku... Kamu yang terbaik, Amakusa-chan! Kalian semua benar-benar komedi
yang terbaik!"
Ucap
Michiru-san sambil menepuk-nepuk pundakku dengan keras.
"Kan
sudah saya bilang... bagi saya ini satu persen pun tidak lucu."
"Tidak,
ini lucu sekali..."
Tiba-tiba
nada suara Michiru-san merendah.
"Sangat
lucu."
"...Michiru-san?"
Untuk
sesaat, suasananya terasa berubah drastis, membuatku tanpa sadar menatap
wajahnya dalam-dalam.
"Hm? Kenapa
menatap kakakmu ini seperti itu? Jangan-jangan, kamu jatuh cinta (horeta)?"
"Bukan
begitu..."
"Atau
jangan-jangan, kamu pengin disodok (horareta)?"
"SIAPA PUN
TOLONG BERHENTI BAHAS JOKE HOMO!"
...Ternyata dia
tetap Michiru-san yang seperti biasanya.
Michiru-san
berdiri dari kursinya dan melakukan peregangan.
"Nah, kalau
begitu, cukup sudah menggoda Amakusa-chan-nya... selanjutnya ngapain lagi
ya~"
Hei, kerjalah
sana!
3
Bus berhenti di
sebuah rest area besar untuk istirahat yang agak lama. Yukihira Furano berdiri
di depan cermin toilet sambil merenung.
(Amakusa-kun...
dasar bodoh.)
Tentu saja,
Furano mengerti bahwa tidak ada apa-apa antara Kanade dan Chocolat. Karena dia
tahu Kanade bukan tipe orang yang bisa melakukan hal "seperti itu".
Pasti memang ada masalah tertentu yang membuat Chocolat menyelinap masuk.
Namun,
mengerti bukan berarti dia bisa tertawa dan mengabaikannya begitu saja. Itu
masalah lain.
Selama
ini dia berusaha tidak memikirkannya, tapi kenyataannya Kanade dan Chocolat
tinggal bersama.
Artinya, situasi
seperti tadi pagi—bahkan mungkin lebih jauh lagi—bisa terjadi kapan saja.
(Uugh... tidak,
tidak boleh!)
Dia menggelengkan
kepalanya kuat-kuat seolah ingin mengusir bayangan mesum yang muncul di
otaknya. ...Dia tidak bisa membiarkannya begini terus. Furano sadar dia harus
segera menyatakan perasaannya.
(Kenapa... kenapa
aku tidak bisa sedikit lebih jujur saja?)
Saat dia sedang
mendesah meratapi ketidakberdayaannya sendiri,
"Yukihira-chan,
sini sebentar, sini sebentar."
Seseorang menepuk
bahu Furano. Saat menoleh, dia melihat sosok pemandu bus di sana.
"...Ada
apa?"
Seketika Furano
kembali ke mode "pencitraan" dan bertanya dengan wajah tanpa
ekspresi.
"Begini,
boleh aku tanya satu hal?"
"...Yah,
selama itu hal yang bisa kujawab."
Pemandu bus ini
benar-benar orang aneh (meskipun Furano merasa dirinya bukan orang yang tepat
untuk bicara begitu). Furano memasang posisi waspada, bertanya-tanya apa yang
akan ditanyakan.
"Yukihira-chan,
kamu suka sama Amakusa-chan, kan?"
"⁉"
Mendengar
tembakan langsung itu, mata Furano membelalak.
"Ha-Hal
seperti itu..."
Baru saja
Furano ingin membantah, si pemandu bus menyeringai dan mendahuluinya.
"Nyahaha,
percuma saja mau disembunyikan. Siapa pun yang melihat pasti langsung
tahu."
"……"
"Bukan cuma
Chocolat-chan, Yuuouji-chan pun kelihatan jelas kalau dia suka Amakusa-kun, ya
kan?"
"Memang...
begitu ya."
Tanpa sadar,
Furano menjawab dengan nada aslinya yang lemas.
"Are-are, kok tiba-tiba jadi kalem begini. Jangan-jangan Yukihira-chan...
sedang 'akting' karakter ya?"
"……"
"Mufufu,
sepertinya kamu memendam banyak hal ya~ Cerita dong sama Kakak?"
"……"
"Ayo
lah, toh kita bakal berpisah hari ini. Kalau cerita sama orang asing seperti
aku kan tidak akan ada beban, ya kan?"
"……"
"Kakak
tahu banyak soal kejadian Amakusa-chan tiga tahun lalu, mungkin aku bisa
sedikit membantumu~"
"..................
A-Anu..."
Tanpa sadar,
Furano mulai menceritakan perasaannya terhadap Kanade. Dia sempat berpikir
kenapa dia menceritakan hal sepribadi ini pada orang yang baru ditemuinya lusa
kemarin, tapi si pemandu bus ini sangat ahli memancing pembicaraan
sampai-sampai curhatannya tidak bisa berhenti.
"—Tadi pagi
juga parah sekali... meski aku tahu itu kecelakaan, tapi dia sama sekali tidak
sadar kenapa aku marah—"
Akhirnya, Furano
menumpahkan segalanya, termasuk kejadian tadi pagi.
"Iya, iya,
ketidakpekaan Amakusa-chan itu sudah level penyakit ya~"
Setelah
mendengar semuanya, si pemandu bus bersedekap dan mengangguk-angguk.
"I-Iya
kan?! Anda juga berpikir begitu! Seperti yang kubilang tadi, Amakusa-kun itu
selalu keterlaluan... sampai aku berpikir jangan-jangan dia sengaja pura-pura
tidak sadar... meskipun secara sifat dia tidak mungkin melakukan hal selicik
itu."
Si
pemandu bus kemudian mengubah atmosfernya dan mulai bicara dengan serius.
"Begitu
ya... Tapi, aku ingin kamu memaklumi dia soal itu."
"...Eh?"
"Ada alasan
kenapa Amakusa-chan menjadi sangat tidak peka terhadap masalah cinta."
"Alasan...?"
Dia mengangguk
mantap dan melanjutkan.
"Sebenarnya
tiga tahun lalu, Amakusa-chan pernah jatuh cinta pada seorang gadis."
"Ja-Jatuh
cinta⁉"
"Ah, apa itu
membuatmu syok?"
"Ah,
tidak... syok sih memang syok... tapi lebih dari itu, aku tidak bisa
membayangkan Amakusa-kun menyukai seseorang..."
"Ah~ yah
kalau lihat dia yang sekarang, wajar kalau kamu berpikir begitu. Tapi,
Amakusa-chan tiga tahun lalu tidak seperti itu lho~"
Furano pun
berusaha mengeluarkan kata-kata dengan perasaan ragu.
"Lalu...
itu, siapa gadis yang dia sukai itu?"
"Aku."
"...Eh?"
Mendengar jawaban
yang sangat tiba-tiba itu, mata Furano membulat sempurna.
"Iyaa~
Sebenarnya gadis yang dicintai Amakusa-chan tiga tahun lalu adalah aku! Begitu
lho~"
"……"
"Oi-oii.
Yukihira-chan, kasih reaksi dong. Aku jadi merasa garing sendirian nih."
"Ah,
ma-maaf."
"Mufufu,
wajahmu kelihatan lega sekali ya."
"Anu... saya
sedang bicara serius..."
"Nyahaha,
maaf-maaf, aku akan bicara tanpa bercanda sekarang."
Sesuai janjinya,
dia merendahkan nada suaranya.
"Amakusa-chan
dan gadis itu bertemu pertama kali di tur ini. Mereka merasa cocok dan langsung
akrab. Di paruh kedua tur, atmosfer mereka sudah seperti sepasang kekasih meski
belum resmi jadian. Dari
sudut pandang orang lain pun mereka terlihat sangat serasi... Tapi,"
Dia menjeda
kalimatnya, lalu bergumam pelan.
"Bagi
Amakusa-chan... terjadi sesuatu yang sangat menyedihkan."
◆◇◆
"Sesuatu
yang menyedihkan?"
Yuuouji Ouka
mengulangi kata-kata yang baru saja didengarnya.
"Benar. Aku
rasa itu adalah cinta pertama Amakusa-chan. Tapi, gara-gara kejadian
menyedihkan itu... cinta itu hilang. Karena luka hati itu, tubuh Amakusa-chan
jadi menolak segala hal tentang asmara."
"Menolak?"
"Melihat
Amakusa-chan dua hari ini saja sudah kelihatan, kan? Level tidak pekanya itu
sudah tidak wajar. Mirip karakter cowok di manga atau anime yang 'bebal'-nya
minta ampun."
"Aku... juga
berpikir begitu."
Kemarin di sungai
pun, padahal Ouka sudah mengatakannya dengan sangat jelas, tapi Kanade sama
sekali tidak sadar. Rasanya kalau tidak bicara langsung seperti Chocolat,
perasaan itu tidak akan pernah sampai selamanya.
"Mungkin di
bawah sadarnya, tanpa dia sadari sendiri, dia menutup diri dari rasa suka lawan
jenis."
Ouka
mengingat banyak hal yang mendukung teori itu. Terlalu parah kalau hanya
disebut sebagai "tidak peka" biasa. Memang lebih masuk akal jika ada
faktor penyebab di masa lalu.
"Tapi...
kenapa Kak Pemandu tahu soal itu?" tanya Ouka penasaran.
"Karena saat
kejadian itu terjadi, aku berada di posisi yang paling dekat dengan lokasi...
Wah, pokoknya kacau sekali saat itu. Amakusa-chan dalam keadaan kalut
dan menangis sesenggukan."
"Kanade-chi... menangis sesenggukan?"
Tiga tahun lalu berarti Kanade sudah kelas 2 SMP. Ouka tidak
menyangka Kanade bisa menangis sebegitunya hanya karena hal kecil.
"Mungkin hatinya sudah tidak kuat menanggungnya... Otak
Amakusa-chan, demi melindungi hatinya sendiri, akhirnya menyegel ingatan
tersebut."
"Makanya...
dia juga lupa soal Kakak Pemandu."
"Benar
sekali. Setelah aku konfirmasi ke orang tuanya, ternyata dia benar-benar lupa
semua kejadian selama tiga hari dua malam tur itu... Pasti kejadiannya sangat
menyakitkan baginya. Karena itu aku juga pura-pura tidak tahu agar tidak
memicunya."
"Tiga tahun
lalu... apa yang sebenarnya terjadi pada Kanade-chi?"
"Yah, gadis
yang dicintai Amakusa-chan itu—tidak, mulai dari sini bukan kapasitasku untuk
menceritakannya secara sembarangan."
"Eh,
ta-tapi aku penasaran banget!"
"Hmm, ini
menyangkut masalah privasi Amakusa-chan sih~"
"Umuu..."
Kalau sudah
dibilang begitu, Ouka tidak bisa bertanya lebih lanjut. Di samping Ouka yang
merasa tidak tenang, si pemandu bus menepukkan tangannya seolah baru ingat
sesuatu.
"Ah, benar
juga. Aku memanggil Yuuouji-chan bukan untuk membicarakan itu."
Wajahnya yang
tadi serius berubah kembali menjadi ceria seperti biasa.
"Dengar ya,
dengar ya. Aku memberitahumu ini karena aku ada di pihak Yuuouji-chan."
Dia berbisik
pelan di telinga Ouka.
"Yukihira-chan...
katanya malam ini dia mau menyatakan cinta pada Amakusa-chan, lho."
◆◇◆
"Ouka-san
akan menyatakan cinta pada Kanade-san...?"
Mata Chocolat
membelalak karena terkejut.
"Iya,
iya."
"Michiru-san,
kalau melihat tingkah laku selama ini, rasanya itu tidak mungki—"
"Ada
lho! Benar-benar bakal terjadi. Aku dengar sendiri dari orangnya jadi tidak
salah lagi. Mungkin ini yang dinamakan efek suasana bebas musim panas dan
liburan?"
"...Anggaplah
itu benar... kenapa Anda memberitahukannya kepada saya?"
"Tadi
kan sudah kubilang. Aku ini di pihak Chocolat-chan."
"Pihak...
saya?"
"Benar.
Setelah melihat kalian selama dua hari ini, menurutku yang paling cocok dengan
Amakusa-chan adalah Chocolat-chan~"
Begitu
mendengar itu, rambut di ujung ekor Chocolat berdiri tegak (pikon). Dia
sendiri merasa aneh, tapi kalau perasaannya sedang meluap, tubuhnya sering
bergerak sendiri.
"Be-Benarkah?"
"Benar,
benar. Aku bisa lihat kalau Amakusa-chan sangat menganggap penting
Chocolat-chan."
"Iya,
Kanade-san memang sangat baik!"
"Tapi...
kalau begini terus, posisimu bahaya."
"Eh?"
"Yuuouji-chan
bilang mau menembaknya hari ini, dan Yukihira-chan juga tidak tahu kapan dia
akan memberanikan diri... Meskipun menurutku Chocolat-chan yang paling cocok,
tapi Kanade-chan merasa bagaimana kan cuma dia yang tahu."
"Tapi...
saya kan sudah bilang 'suka' pada Kanade-san..."
"Naif! Naif sekali Chocolat-chan! Berpikir perasaanmu
sudah tersampaikan hanya dengan bilang suka itu sama naifnya dengan calon
penulis Light Novel yang berpikir kalau mereka debut bakal dapat royalti
melimpah, dipanggil 'Guru', dipuja-puja, dan dikerubuti banyak gadis!"
"Eh? Lalu...
apa yang harus saya lakukan?"
"Mufufu... jawabannya adalah ciuman."
"CIUMAN⁉"
"Benar, kiss-kiss. Menghadapi laki-laki bebal
yang tidak mempan dikasih kata-kata, kamu harus menunjukkannya dengan
tindakan!"
"Ta-Tapi
kalau itu sih jelas terlalu—"
"Yah, aku
cuma memberitahumu kalau itu salah satu bentuk ekspresi cinta. Selanjutnya mau
bagaimana, itu tergantung Chocolat-chan sendiri~"
"Tergantung
saya ya..."
"Sip. Kalau
begitu, berjuanglah ya~!"
Sambil
membelakangi Chocolat, pemandu bus itu melambaikan tangannya dan pergi begitu
saja. Tinggalah Chocolat sendirian yang mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Tergantung...
Diriku."
◆◇◆
Setelah menjauh dari Chocolat, si pemandu bus melihat ke
arah langit sambil bergumam entah pada siapa.
"Nah... apakah Amakusa-chan bisa menjadi bahagia?"
4
Setelah istirahat
panjang berakhir, bus kembali melaju.
"……"
"……"
"……"
...Entah kenapa,
suasana di dalam bus terasa sangat berat. Sebelum ini pun, Furano dan Ouka
sedang marah padaku, jadi atmosfernya memang tidak bisa dibilang bagus, tapi
yang sekarang ini... levelnya berbeda.
"…………"
"…………"
"…………"
Sepertinya
suasana ini bukan ditujukan padaku, melainkan ada ketegangan aneh di antara
mereka bertiga, seolah-olah mereka sedang saling mengawasi dan menahan diri...
"He-Hei."
"?! "
Begitu aku mencoba memanggil Furano di sebelahku, tubuhnya
tersentak kaget.
"A-Ada apa..."
"Kalian bertiga... bukankah merasa ada yang aneh?"
"Tidak ada yang aneh kok... yang aneh itu kamu,
Amakusa-kun... Amakusa-kun...
haah."
Ma-Masa sih...
Furano berhenti melontarkan ejekan di tengah jalan? Dia kemudian
membuang muka ke arah jendela dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Aku mencoba menoleh ke belakang untuk bertanya pada dua
orang lainnya.
"Ouka,
Chocolat."
"Eh, aa-anu,
ada apa ya?"
"I-Iya, ada
apa?"
...Ternyata
mereka berdua juga aneh.
"Apa terjadi
sesuatu di rest area tadi?"
"Gak ada
apa-apa kok~"
"Tidak ada,
sa-sama sekali tidak ada kejadian apa-apa."
...Cara mereka
berbohong payah sekali. Jelas-jelas terjadi sesuatu.
"Dengar,
sebenarnya ada ap—"
"BAAAN!"
"Uwah!"
Lagi-lagi
Michiru-san menyela.
"Meledaklah
kalian!"
"H-Hah?"
"Amakusa-chan, meledaklah! BOOOM!"
"A-Apa-apaan Anda ini tiba-tiba..."
Kepalaku sudah pening, tolong jangan berteriak kencang di
dekat telingaku.
"Amakusa-chan. Menurutmu bagaimana melihat kondisi
ketiga gadis ini?"
"Bagaimana
apanya... ya, rasanya aneh saja..."
"DOOON!"
"Cukup sudah soal ledakannya..."
"Ini bukan ledakan. Kamu baru saja diincar oleh Moguro
Fukuzou." (T/N: Referensi karakter dari anime Warau Salesman yang
punya jurus "Don!").
"Dalam arti tertentu itu lebih seram dari
ledakan!"
"DON!"
"Kali ini
onomatope untuk manga One Piece?"
"GABACHO!"
"Kuno
banget!"
"Aku sedang
galau karena manga Shizukanaru Don sudah tamat, aku harus
bagaimana?"
"Mana saya
tahu!"
Meskipun itu
memang karya legendaris... tapi Hide-chan di versi dramanya keren sekali ya.
Terus pemeran Rawakura, Nagira Kenichi, itu benar-benar casting tingkat
dewa.
"Cukup
bercandanya... Amakusa-chan, bukankah sebaiknya kamu melakukan sesuatu terhadap
atmosfer ini?"
"Saya ingin melakukannya, tapi saya benar-benar tidak
tahu apa penyebabnya..."
"……Amakusa-chan, sepertinya memang lebih baik kamu
meledak saja jadi kembang api yang indah."
"Saya bakal hilang tanpa bekas dong!"
"………………"
"………………"
"………………"
...Mereka bertiga sama sekali tidak bereaksi terhadap
candaanku dan Michiru-san. Bus terus melaju menuju destinasi akhir sambil
membawa suasana berat yang menyesakkan.
5
Yukihira Furano
membulatkan tekad. Dirinya... menyukai Amakusa Kanade.
Saat mereka
berbicara di kelas, saat dia ditemukan sedang merenung sendirian di atap
sekolah, saat ikut dalam pertandingan kompetisi, saat ke kolam renang, saat
pergi kencan simulasi, dia selalu merasakannya.
Meskipun dia baru
mengakuinya pada diri sendiri setelah kejadian pesta cosplay... tapi dia sudah
menyukainya jauh sebelum itu.
Namun, tidak ada
kemajuan sedikit pun sejak saat itu. Jelas itu salahnya sendiri karena tidak
bisa jujur. Gara-gara itu, dia selalu menyakiti Kanade dan berakhir membenci
dirinya sendiri.
Tapi, dia pikir
tidak apa-apa. Malahan belakangan ini, dia mulai merasa nyaman dengan jarak
yang ambigu ini.
Akan tetapi, tadi
di rest area, setelah mendengar kabar bahwa Chocolat berencana mencium Kanade,
perasaan yang sangat kuat lahir di dadanya.
Aku tidak mau
menyerahkannya... aku tidak mau dia diambil. Dia tahu ini perasaan yang buruk.
Tapi... perasaan
itu jauh lebih kuat daripada keinginannya untuk menahan diri. Karena Yukihira
Furano menyukai Amakusa Kanade.
Maka hari ini...
dia akan menyatakan cintanya.
◆◇◆
Yuuouji Ouka
membulatkan tekad. Awalnya, dia tidak terlalu mengerti. Dia hanya merasa senang saat
bersama.
Dia pikir
Kanade adalah orang lucu yang sering bertingkah aneh. Dia merasa Kanade berbeda
dari cowok-cowok lain. Tapi dia tidak tahu apa bedanya.
Di tengah
semua itu, celananya terlihat saat kencan dengan Konagi, terlihat lagi saat
pertandingan kompetisi, bahkan dadanya tersentuh saat di kolam renang.
Setelah
melalui berbagai kecelakaan itu, saat pesta cosplay, akhirnya dia mengerti.
Dirinya
menyukai Amakusa Kanade.
Kanade
itu tidak peka. Seperti yang dia dengar tadi, sepertinya terjadi sesuatu di
masa lalu yang membuat Kanade secara tidak sadar menolak asmara.
Kalau
begitu... dia ingin menghancurkan cangkang itu untuknya. Meskipun ada kejadian
menyedihkan di masa lalu, dia ingin menimpanya dengan hal-hal yang jauh lebih
menyenangkan.
Dia ingin Kanade
merasa bahagia saat bersamanya. Selamanya... dia ingin selalu bersama.
Peran itu... dia
ingin dirinyalah yang melakukannya, bukan Furano ataupun Chocolat. Karena
Yuuouji Ouka menyukai Amakusa Kanade.
Maka hari ini...
dia akan menyatakan cintanya.
◆◇◆
Chocolat
membulatkan tekad. Saat mereka bertemu, dia sudah menyukainya.
Ingatannya memang
samar, tapi katanya pelayan Tuhan dikirim ke dunia ini dengan perasaan suka
yang sudah ditanamkan terhadap targetnya. K
arena itu, dia
pikir dia menyukai Kanade karena alasan tersebut. Dia tidak pernah
meragukannya.
Namun, seiring
hari-hari yang mereka lalui bersama, dia mulai merasa itu berbeda. Ini bukan
karena itu... perasaan suka ini bukan berasal dari perintah Tuhan.
Dia benar-benar
menyadari bahwa ini adalah cinta saat pesta cosplay.
Sejak saat itu,
dia berusaha mendekati Kanade agar bisa disukai sebagai seorang gadis.
Sebaliknya,
Kanade seolah-olah selalu menarik garis batas terhadapnya. Mungkin karena
Kanade orang yang serius, dia berpikir tidak bisa menjalin hubungan asmara
sampai kutukan "Pilihan Mutlak" itu lenyap.
Jika demikian,
dia seharusnya cukup mendukung Kanade dengan sekuat tenaga agar misinya
berhasil, sesuai tugas aslinya... tapi. Tapi... dia sudah tidak bisa menunggu
lagi.
Dia sudah tidak
tahan lagi. Karena Chocolat menyukai Amakusa Kanade bukan sebagai pelayan
Tuhan, melainkan sebagai Chocolat.
Maka hari ini...
dia akan menyatakan cintanya sekali lagi.
6
"Ah... sudah jam segini ya."
Tanpa terasa, beberapa jam telah berlalu sejak kami tiba di
taman observasi ini, dan hari mulai gelap.
Acara terakhir dalam tur bus ini adalah menikmati
pemandangan malam dari taman observasi.
Taman ini sangat luas dan asri, jadi para peserta tur
menghabiskan waktu dengan berkeliling taman sesuka hati sampai hari gelap.
Sedangkan aku... aku duduk sendirian di tempat terbuka yang
menghadap pemandangan, terus berpikir.
Habisnya, begitu bus sampai di taman ini, Chocolat, Furano,
dan Ouka langsung pergi entah ke mana, dan aku tidak punya teman untuk
menghabiskan waktu.
Yah, karena banyak hal yang harus kupikirkan, aku tidak
merasa bosan sih...
Pertama, soal misi ciuman... benar-benar tidak ada ide sama
sekali.
Yah, karena batas waktunya adalah selama liburan musim
panas, masih ada sisa waktu beberapa hari setelah pulang nanti... tapi
mengingat siapa targetnya, kalau tidak diselesaikan di tur ini bisa gawat.
Seharusnya aku panik, tapi saat ini ada hal lain yang lebih
mengganggu pikiranku. Ingatanku... sesuatu yang seharusnya terjadi tiga tahun
lalu.
Selama tur ini, berkali-kali aku hampir mengingatnya, tapi
setiap kali itu pula rasa mual yang hebat menghalangiku. Kenangan tentang
seorang gadis.
Namun, di tahap akhir tur ini pun, aku hampir tidak bisa
mengingat apa-apa.
Jika tur ini menapak tilas kejadian tiga tahun lalu, aku
seharusnya pernah datang ke taman observasi ini juga... tapi tetap tidak bisa
kuingat. Lagi pula, kalaupun aku
hampir mengingatnya, rasa mual itu pasti akan—
"Hm?"
Aku merasakan
kehadiran seseorang dan menoleh.
"Amakusa-kun."
"...Furano
ya."
Di sana berdiri
Furano dengan wajah yang sangat serius.
"Furano, soal di bus tadi—"
"Kanade-chi."
Lagi-lagi terdengar suara dari arah lain, aku menoleh.
"Ouka..."
Di sana berdiri Ouka yang juga memasang ekspresi tegang.
"Kanade-san."
Dan Chocolat pun muncul.
"Amakusa-kun."
"Kanade-chi."
"Kanade-san."
Panggilan
mereka bertiga saling tumpang tindih dengan sempurna.
"A-Ada apa?"
Mereka bertiga saling bertukar pandang lalu terdiam. Lalu, beberapa detik kemudian.
"""A-Anu..."""
Lagi-lagi
panggilan mereka bersamaan. Dan setelah keheningan selama beberapa detik lagi.
"Ada yang
ingin kubicarakan, aku ingin kita bicara berdua saja."
"Boleh kita
bicara berdua sebentar?"
"Saya ingin bicara berdua saja."
Kejadian tumpang tindih yang ketiga kalinya... Melihat
ekspresi mereka, sepertinya mereka tidak sedang bercanda atau berencana
melakukan ini.
"Ka-Kalian
ini ada apa sih dari tadi? Benar-benar suasananya tidak seperti biasanya—"
"Haaai~
maaf ya menyela di tengah-tengah situasi yang agak rumit ini~"
Sebuah
suara ceria membuyarkan ketegangan yang ada.
"...Michiru-san."
Benar-benar
orang ini selalu muncul tiba-tiba.
"Sedang
apa Anda di sini?"
"Mufufu,
jangan tanya 'sedang apa', kan aku yang menciptakan situasi ini~"
Michiru-san
menyeringai lalu menatap ke arah mereka bertiga.
"Yukihira-chan,
Yuuouji-chan, Chocolat-chan, maaf ya~ Kakak sih niatnya baik, tapi tidak
menyangka kalau timing kalian akan berbarengan begini~"
"""……"""
"Padahal aku
menantikan siapa yang akan bicara duluan. Kalian semua terlalu lama mengambil
keputusan~"
Setelah
meracaukan hal yang tidak kupahami, Michiru-san menoleh padaku.
"Amakusa-chan,
sebenarnya aku ingin menunggumu mengingatnya sendiri secara alami... tapi
sepertinya waktu sudah habis."
Michiru-san
menepuk jam tangannya dengan gerakan yang dilebih-lebihkan.
"Nah,
Amakusa-chan, Kakak akan menceritakan sebuah kisah yang sangat bagus."
Kisah yang bagus?
Kalau melihat alurnya... apakah ini soal ingatanku?
"Dahulu
kala, di sebuah tempat, ada seorang anak laki-laki."
Michiru-san
mulai berbicara dengan nada yang sangat dramatis seperti sandiwara.
"Anak itu
jatuh cinta pada seorang gadis di sebuah perjalanan."
"...Eh?"
"Anak
laki-laki itu merasa cocok dengan sang gadis, dan mereka menghabiskan waktu
yang sangat menyenangkan. Di akhir tur, karena tidak ingin berpisah, dia
menyatakan cintanya pada gadis itu."
Apa-apaan...
kenapa orang ini tiba-tiba bicara seperti itu.
"Ternyata,
jawaban sang gadis adalah 'Ya'."
"……"
Seiring cerita
Michiru-san berlanjut, bagian dalam dadaku mulai bergejolak.
"Namun...
terjadi sebuah kejadian yang sangat menyedihkan, dan anak laki-laki itu
kehilangan seluruh ingatannya tentang sang gadis."
Michiru-san
mendekat tepat di depan mataku.
"Nah,
sekarang pertanyaannya. Tiga tahun lalu—apa yang sebenarnya terjadi pada gadis
dan laki-laki itu?"
Apa yang... benar
juga, apa yang terjadi? Aku... aku ingin tahu itu.
"Amakusa-chan,
kamu sudah harus mengingatnya."
"...Tentang
gadis itu?"
"Benar.
Untuk memastikan, aku tanya sekali lagi. Amakusa-chan, apakah kamu benar-benar
ingin mengingat tentang dia?"
"Eh?"
"Ingatan
dengannya bagimu adalah ingatan yang menyakitkan... sangat menyakitkan, tapi
kamu tetap ingin mengingatnya?"
"...Iya."
Aku
mengangguk mantap. Sesakit apa pun ingatan itu, aku sudah tidak tahan lagi
terus merasa resah tanpa tahu apa-apa seperti ini.
"Begitu
ya..."
Michiru-san
menundukkan wajahnya sesaat dengan ekspresi serius—
"Kalau
begitu... apa boleh buat."
Tiba-tiba
wajahnya berubah menjadi sangat menggoda, sebuah ekspresi yang belum pernah
kulihat sebelumnya. Dan kemudian—
"Selamat
makan~"
"Ngh—"
"""⁉"""
Bibirnya
membungkam mulutku.
"—!"
A-Apa? Apa? Apa
yang sebenarnya terjadi?!
Kedua pipiku
dicengkeram kuat oleh Michiru-san, membuatku tidak bisa bergerak. Aku... baru
saja dicium?
Begitu aku
menyadarinya—
"Ugh...
ugh...!"
Rasa mual yang
luar biasa... menyerangku!
"Masih belum
ingat juga ya, Amakusa-chan?"
Michiru-san
menatapku yang sedang membekap mulut dengan ekspresi yang entah kenapa terlihat
senang.
"Kenapa...
kenapa Anda melakukan ini..."
Saat aku bertanya
pada Michiru-san, rasa mualku semakin menjadi, dan aku tidak tahan lagi sampai
berlutut di tanah.
"Huek..."
"Sedikit
lagi... sedikit lagi, Amakusa-chan. Kalau begitu, Kakak beri petunjuk besar
ya."
"Petunjuk...
besar?"
"Benar, nama
gadis yang selama ini kamu kunci rapat-rapat di dasar lubuk hatimu."
Aku mendongak menatap Michiru-san, lalu bertanya.
"Nama gadis itu... siapa nama gadis itu?"
Michiru-san mengucapkannya dengan perlahan, namun sangat
jelas.
"Tenjou Sora."
Amagami Sora... Tenjou Sora...
"Ah......"
Sensasi seolah otakku diputar balikkan secara paksa
menghantamku dengan dahsyat—
Dan di detik itu juga... aku mengingat segalanya tentang kejadian tiga tahun lalu.
Interlude 5
Sebuah Kisah Tiga
Tahun Lalu — Bagian 5
Taman observasi, destinasi terakhir dari tur bus ini.
"Sora-san,
ayo kita ke sebelah sana!"
Aku
sedang melayang di atas awan. Bagaimana tidak?
Sora-san baru
saja menerima pernyataan cintaku.
Yah, lebih
tepatnya bukan benar-benar menerima sih... tapi kurasa tidak salah kalau aku
menganggapnya begitu.
"Fufu,
jangan terburu-buru begitu, tidak apa-apa kok."
Seorang
kakak perempuan yang baik hati dan cantik. Sora-san mendekat ke sampingku dan
menggandeng tanganku.
"Ugh..."
Wajahku
langsung memerah padam. Sora-san, yang menggandengku lebih dulu, juga tampak
sedikit merona di pipinya. Kami
pun berjalan berdampingan dalam diam.
"........"
Tidak ada
percakapan, tapi keheningan itu terasa sangat nyaman. Menyenangkan.
Tanpa ragu lagi,
saat ini adalah momen paling membahagiakan dalam hidupku. Setelah berjalan
beberapa saat, aku menghentikan langkahku.
"Hm?
Kanade-kun, ada apa?"
Semakin
menyenangkan suatu momen... maka semakin sepi rasanya saat pesta itu berakhir.
Hari ini tur ini
selesai... aku akan kehilangan kesempatan untuk bertemu Sora-san. Tempat tinggal Sora-san berada di
prefektur yang berbeda dengan rumahku.
Kalau
kami sudah bekerja mungkin lain cerita, tapi bagi sesama siswa SMP, jarak itu
bukan jarak yang bisa ditempuh dengan mudah untuk sekadar bertemu.
Kemarin
aku memang senang karena sudah bertukar nomor ponsel dan alamat email, dan aku
menantikan interaksi kami setelah pulang nanti... tapi sekarang, setelah
merasakan langsung kehangatan ini... kehangatan tangan Sora-san, rasanya aku
tidak akan sanggup jika hanya berhubungan lewat alat komunikasi saja.
Setidaknya...
setidaknya, aku ingin mengukir fakta bahwa aku pernah bersama Sora-san ke dalam
ingatanku dengan bentuk yang lebih nyata.
"Anu...
Sora-san."
"Hm? Apa
itu?"
Mungkin ini
ucapan yang terlalu mendadak. Tapi bagiku saat itu, tidak ada pilihan untuk
"membaca situasi" lalu membatalkannya. Aku membulatkan tekad... dan
mengatakannya.
"Anu................
bolehkah aku menciummu?"
Seketika,
Sora-san menunjukkan ekspresi tertegun. Melihat wajah itu, aku langsung
tersadar.
A-Aku ini sudah
melunjak, berani-beraninya bicara begitu!
"Ma-Maaf,
lupakan yang tadi!"
Sora-san
menundukkan kepalanya, terdiam.
"......"
"A-Anu...
apa kamu marah?"
Ti-Tidak.
Aku benar-benar tidak mau kalau dia sampai membenciku! Namun, reaksi Sora-san
di luar dugaan.
"...Boleh
kok."
"...Eh?"
Aku tidak
mengerti apa yang dia katakan. Melihatku yang bengong, Sora-san membuka
mulutnya sekali lagi.
"Kalau
Kanade-kun... boleh kok."
Aku tidak percaya
dengan kata-kata Sora-san.
"Ta-Tapi kan
kita baru ketemu lusa kemarin. Ha-Hal seperti itu rasanya masih terlalu cepat,
maksudku, bukannya harus lebih akrab lagi dulu..."
"Ka-Kanade-kun
sendiri yang memulainya tadi."
"I-Iya, itu
memang benar, tapi..."
Sora-san
mengatakannya dengan wajah yang merah padam.
"Anu...
jangan menganggapku gadis nakal ya."
Sora-san
melanjutkan dengan suara yang hampir menghilang.
"Aku tidak
akan membiarkan sembarang orang melakukan ini... karena ini Kanade-kun...
makanya aku pikir tidak apa-apa."
Rasanya jantungku
mau copot.
"Dengar
ya... aku sudah berusaha keras berakting jadi kakak yang dewasa, tapi
sebenarnya aku sudah mencapai batas. Kemarin saat kamu bilang suka padaku,
rasanya jantungku mau melompat keluar tahu."
Sora-san menunduk
malu. Tanpa sadar, aku mengusap kepalanya.
"A-Au..."
Orang ini...
manis sekali.
"Benar...
tidak apa-apa?"
Sora-san
tetap menunduk sambil mengangguk kecil. Tapi... bagaimana cara berciuman
itu?
Apakah sebaiknya
aku memejamkan mata?
Haruskah aku
memegang bahunya?
Berapa lama
durasinya?
Berbagai
pertanyaan berputar-putar di kepalaku, membuat tubuhku kaku seketika.
"Kanade-kun."
Sora-san
mendongak dan tersenyum lembut.
"Tidak
apa-apa... aku juga baru pertama kali."
Kata-kata itu
membulatkan tekadku. Sora-san memejamkan matanya. Aku mencengkeram bahunya.
Perlahan, aku mendekatkan mulutku ke bibir Sora-san. Aku... akan berciuman
sekarang. Jantungku berdegup kencang seolah mau meledak. Kuatkan mentalmu...
kamu laki-laki kan.
"Sora-san...
aku mulai ya."
Tepat di
saat bibir kami hampir bersentuhan—
"AHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"
Suara tawa keras
menggema di sekitar kami.
"............Eh?"
Aku tidak tahu
suara siapa itu. Saat aku melihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa selain kami
berdua. Pemilik suara itu adalah—
"Sora............-san?"
Sora-san memasang
senyuman yang sama persis seperti sebelumnya.
"Aduh, maaf
ya. Kamu bergerak persis seperti yang kuharapkan, sampai-sampai aku tidak bisa
menahannya lagi."
"Persis
seperti yang diharapkan...?"
Tanpa paham
maksudnya, aku hanya mengulangi ucapannya.
"Iya. Kamu
polos sekali sampai terjebak dalam pancinganku dengan mudah."
"Pancingan... pancingan apa... maksud Anda?"
"Hmm, kalau bicara jujur sih, 'aku memancingmu agar
kamu menyukaiku', kira-kira begitu."
Apa... apa yang
dibicarakan orang ini?
"Eh? Tidak,
tapi kan aku sendiri yang mulai menyukai Sora-san... eh? Eh?"
Aku sangat kalut
sampai otakku tidak bisa berpikir jernih. Sora-san menyentuhkan tangannya ke
pipiku sambil tersenyum.
"Aku bilang
aku menyukaimu, kan?"
"......"
Aku mengangguk
dalam diam.
"Maaf ya,
itu bohong."
"......Eh?"
"Kan sudah
kubilang. Hobiku adalah observasi manusia. Seluruh sikapku sejak bertemu
denganmu pertama kali semuanya adalah akting untuk menciptakan situasi
ini."
"Ja-Jadi...
semua kebaikanmu padaku itu juga..."
"Iya,
akting."
"Bo-Bohong.
Padahal Sora-san terlihat sangat senang begitu..."
Jantungku
berdegup dengan suara yang seolah mau pecah. Itu... senyum yang dia tunjukkan padaku semuanya
hanya akting?
"Iya, karena
aku membuatnya terlihat seperti itu."
"Bohong..."
"Wah~
pilihanku mengajakmu bicara memang tepat. Sejak pandangan pertama, aku sudah
berpikir kalau anak ini kelihatannya murni dan mudah ditipu."
"Aku
tidak mengerti... aku tidak mengerti, Sora-san."
"Ah,
maaf ya. Aku bicara banyak sekaligus jadi kamu bingung ya. Aku harus bicara
dengan lebih jelas lagi."
Sora-san
mengatakannya dengan senyum lebar di wajahnya.
"Aku sama
sekali tidak peduli padamu."
Sebuah guncangan
dahsyat yang seolah mengakhiri dunia menghantamku.
"Se...
perti itu... Anda berbohong... kan... Sora... san."
"Ah, itu
dia! Ekspresi seperti itulah yang ingin kulihat."
Sora-san memasang
senyuman yang berbeda dari sebelumnya, senyuman seperti tokoh antagonis di
dalam manga.
"Konsep kali
ini adalah: 'Seperti apa ekspresi seorang remaja laki-laki yang cinta
pertamanya dihancurkan berkeping-keping'."
"Bohong...
hal seperti itu... pasti bohong!"
"Patah hati
juga merupakan salah satu aktivitas asmara yang luar biasa... aku merasa harus
mulai menyerang dari sisi seperti ini agar tujuanku tercapai."
Sora-san
menggumamkan hal-hal yang tidak kumengerti.
"Ugh...
ugh..."
Tanpa
sadar aku melangkah mundur sampai punggungku menabrak pohon. Di sana, Sora-san mendekatkan wajahnya
padaku.
"Hei... ayo
berciuman."
"......Ha?"
Apa yang
dikatakan orang ini? Katanya
tadi semuanya cuma akting... Ah, atau mungkin, yang barusan itu cuma candaan
yang sangat buruk... Benar, mana mungkin Sora-san yang itu melakukan hal
sekejam ini.
"Sora-san."
Aku menatap
Sora-san dengan mata penuh harapan.
"Ah, maaf
ya. Apa aku memberimu harapan yang aneh?"
Namun.
"Akan
kukatakan sekali lagi—aku sama sekali tidak punya perasaan apa pun
padamu."
"—!"
Keputusasaan
kembali menghantamku.
"Ekspresi
itu... benar-benar bagus."
Sora-san
menjulurkan lidah merahnya sedikit.
"Kalau aku
menciummu dalam situasi seperti ini... kira-kira kamu bakal jadi seperti apa
ya?"
Orang
ini... orang ini... mengerikan.
"Ayo
Kanade-kun, mari kita berciuman."
"Ja-Jangan—"
"Aku tidak
akan melepaskanmu."
Sora-san
mencengkeram bahuku dengan tenaga yang sangat kuat. Lalu bibir Sora-san mendekat—
"Aku akan
membuatmu... tidak bisa melupakanku selamanya."
"?! "
Mulutku dibungkam.
"Mmph! Mmph!"
Aku memberontak, tapi Sora-san tidak melepaskanku. Kenapa... kenapa jadi begini... Padahal
tadi... semuanya terasa sangat menyenangkan.
Berbagai emosi menyerangku secara bersamaan, dan air mata
mulai menggenang di mataku.
Padahal aku menyukainya... aku benar-benar... menyukainya.
Sora-san melihat kondisiku itu, lalu melepaskan bibirnya dengan wajah puas.
"Aa...
aa..."
Lututku gemetar
hebat dan aku jatuh terduduk di sana.
"Ugh...
aa..."
Dingin... padahal
di sekitar terasa panas... tapi rasanya sangat dingin. Aku berlutut dengan
kedua kaki sambil menggigil.
"Hei
Kanade-kun, beri tahu aku. Bagaimana perasaanmu sekarang?"
Sora-san
mengatakan sesuatu, suaranya masuk ke telingaku, tapi otakku tidak bisa
memproses maknanya.
"Ayo, beri
tahu aku. Apa itu asmara? Bagaimana rasanya jatuh cinta? Dan bagaimana rasanya
saat perasaan itu dihancurkan? Aku tidak tahu, jadi beri tahu aku."
Sudah berakhir...
rasanya... kesadaranku... mulai menjauh.
"Are?
Jangan-jangan kamu mau pingsan ya?"
Di tengah
kesadaranku yang memudar, hanya sensasi Sora-san yang mengusap kepalaku yang
tersisa sampai akhir.
"Mari
bertemu lagi."
Previous Chapter | ToC | Next Chapter



Post a Comment