NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru Volume 6 Chapter 5 & Interlude 5

Chapter 5

Gadis yang Dilanda Kegalauan Komedi Romantis?


1

Pagi hari di hari ketiga perjalanan bus.

"Eungh..."

Aku terbangun di atas tempat tidur hotel.

"Ngh... Hmm?"

Dan di saat yang sama, aku menyadari sesuatu.

"UEEEEEEEHHH?!"

Kenapa............ KENAPA CHOCOLAT TIDUR DI SEBELAHKU?!

"Monyu monyu... Ehehe..."

Orang yang bersangkutan malah sedang mendengkur halus dengan wajah yang tampak sangat bahagia, tapi ini bukan situasi yang bisa dihadapi dengan santai.

...Tenang. Tenang dulu, ayo ingat-ingat kejadian kemarin.

Tadi malam, aku yakin sekali kalau aku masuk ke tempat tidur sendirian. Sebelum itu, tentu saja aku tidak minum alkohol, dan aku juga tidak ingat pernah mengalami kejadian yang membuatku hilang kesadaran.

Lagi pula, pintu kamar ini menggunakan kunci otomatis (auto-lock). Kalau begitu, kemungkinan jalur masuk lainnya adalah—

"Jendela, ya."

Seingatku, aku memang tidak mengunci jendelanya. Kamar Chocolat ada di sebelah, dan balkonnya menyambung dengan kamar ini, jadi secara fisik dia bisa masuk tanpa hambatan sama sekali.

...Yah, cara dia masuk sebenarnya tidak terlalu penting. Masalah utamanya adalah kenapa anak ini ada di sini.

"Benar-benar... lagi ngapain sih k—Ukh."

Begitu aku menyingkap selimutnya, aku langsung tersentak.

A-Apa-apaan penampilannya ini... Piyama yang hanya dia kenakan di bagian atas tubuhnya itu tersingkap dan—

"U-UWAAAAHHH?!"

Aku tidak sengaja melihatnya sekilas dan buru-buru memalingkan muka. A-Anak ini... DIA TIDAK PAKAI BAWAHAN!

A-Apa yang dia pikirkan?! Ini sih namanya hampir telanjang bulat!




Aku berusaha sekuat tenaga agar tidak melirik ke arah leher ke bawah sambil menggoyang-goyangkan tubuh Chocolat.

"Oi, bangun... Bangun, Chocolat!"

"Monyu monyu... Tadi enak sekali..."

Gawat... dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Lagipula, apanya yang "enak sekali" itu?!

"...Hm?"

Di sekitar mulut Chocolat menempel semacam sisa makanan dan cairan putih. Aku mengecek ke atas meja, dan benar saja, bungkusan cokelat 'Kinoko no March' yang seharusnya masih sisa lebih dari setengah sekarang sudah kosong melompong.

...Jangan-jangan, dia datang ke kamar ini karena terpancing aroma makanan, lalu langsung ketiduran di sini? Yah, kalau itu Chocolat, skenario konyol begitu sangat mungkin terjadi. Berarti cairan putih ini adalah...

Setelah kupastikan, ternyata yogurt kental (kalau bicara soal musim panas, memang harus seri yang kental-kental) yang kubeli di minimarket dan kusimpan di kulkas juga sudah habis diminum dan wadahnya dibuang ke tempat sampah.

"Fumyu?"

Akhirnya, Chocolat membuka matanya.

"Are? Kanade-hyan?"

Di atas tempat tidur, Chocolat duduk bersimpuh (onnanoko-zuwari) sambil mengucek matanya yang tampak masih mengantuk. Aku berhati-hati agar pandanganku tidak meluncur ke bawah, sambil mengambil celana jin dari tas dan mencoba menyerahkannya pada Chocolat.

"...Ceramah pemulihan moralnya nanti saja, pokoknya pakai ini dulu dan—"

"Ehehe~"

Tiba-tiba Chocolat menerjang dan memelukku.

"UWAAAAAAAAAAAGH!"

BAWAH! BAWAHMU ITU TIDAK PAKAI APA-APA! BAHAYA KALAU KAMU MENEMPEL BEGITU!!

"Hehe... Kanade-saaan."

Sial, dia benar-benar masih mengantuk. Dia memang bukan tipe yang langsung segar saat bangun tidur, tapi hari ini parah sekali.

"Le-Lepaskan aku!"

Dengan sekuat tenaga, aku mendorong Chocolat kembali ke atas tempat tidur.

"Ugyu... fumyuu..."

Sulit dipercaya, Chocolat malah kembali terlelap... Kalau begini terus, sepertinya akan sulit membangunkannya secara paksa.

"Ukh... aku harus segera melakukan sesuatu sebelum—hm?"

Tepat di belakangku, pintu masuk diketuk. Jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Siapa yang bertamu sepagi ini?

Aku mencoba menyahut dari balik pintu.

"I-Iya..."

"Amakusa-kun, selamat pagi York-Beni-maru."

...Suara ini, cara bicara ini, dan keberaniannya melontarkan lelucon yang hanya dipahami warga prefektur tertentu... tidak salah lagi, ini Furano.

Ini bencana... Kalau Furano sampai melihat situasi seperti ini, aku tidak tahu cacian macam apa yang akan ia lontarkan. Aku tidak tahu apa urusannya, tapi dia tidak boleh masuk. Sambil menahan napas, aku menyahut dari balik pintu.

"A-Ada apa?"

"Aku mendengar suara Amakusa-kun mengompol."

"Mana mungkin kedengaran, woi!"

"Ara, kamu tidak membantahnya ya."

"Sudah cukup dengan itu!"

Pagi-pagi begini sudah bahas konten dewasa saja...

"...Jadi, apa intinya?"

"...Setelah berteriak sekencang itu di pagi buta, masih tanya 'ada apa'?"

Suara saat aku menemukan Chocolat tadi, ya... Aku refleks berteriak, tapi apa sampai terdengar ke kamar Furano yang ada di seberang...?

"I-Itu, maaf ya. Apa aku membangunkanmu? Tapi, itu tadi bukan apa-apa kok—"

"Ah, ada Furanocchi."

Ukh... dan di saat terburuk ini, aku bahkan mendengar suara Ouka.

"Ara, apa Yuuouji-san juga mendengarnya?"

"Iya, iya. Kalau dengar teriakan sekencang itu, pasti penasaran kan. Aku jadi khawatir dan datang mengecek."

"Ou-Ouka juga... maaf ya sudah membuat kalian heboh."

"Habisnya kemarin Kanade-chi kelihatannya kurang sehat, jadi aku agak khawatir... Kalau bukan apa-apa sih syukur deh... Tapi Kanade-chi, kenapa tidak keluar?"

Ukh... Benar juga, rasanya tidak sopan terus bicara dari balik pintu kepada mereka berdua yang sudah repot-rempote datang karena khawatir. Kalau aku menolak secara berlebihan, malah akan terlihat mencurigakan. Chocolat sedang tidur di dalam, jadi kalau aku cuma melongokkan kepala sedikit dari pintu seharusnya tidak masalah.

Aku mengintip dari celah pintu.

Keduanya mengenakan piyama. Pasti mereka langsung lari ke sini setelah mendengar teriakanku (?). Dan pakaian mereka agak sedikit terbuka. Biasanya aku akan salah tingkah dan bingung harus melihat ke mana... tapi sekarang bukan saatnya untuk itu.

"Benar-benar tidak ada apa-apa kok... Aku cuma mimpi buruk sedikit..."

"Hee... sampai berteriak seperti itu, pasti mimpinya sangat mengerikan ya. Sebenarnya aku juga baru saja mimpi buruk yang lumayan seram, apa mimpimu lebih seram dari mimpiku?"

"...Memang kamu mimpi apa?"

"Gunung Fuji dan seekor Elang muncul."

"Bukannya itu pertanda keberuntungan?" (T/N: Referensi Hatsuyume, mimpi pertama di tahun baru yang dianggap membawa keberuntungan).

"Setelah itu, aku dikurung di ruangan sempit dan dipaksa hidup hanya dari hadiah undian sampai mati."

"Itu sih mimpinya si pelawak Nasubi!"

Hidup seperti itu selamanya... memang terdengar sangat mengerikan.

"Lalu, Amakusa-kun mimpi seram apa?"

"I-Itu, anu... itu..."

Aku kehilangan kata-kata. Aku bukan tipe yang jago improvisasi, jadi dalam situasi mendesak seperti ini, aku tidak bisa mengarang alasan dengan baik.

"...Bagaimana menurutmu, Yuuouji-san?"

Furano yang mengamat-amati wajahku dengan teliti bertanya pada Ouka di sebelahnya.

"Hmm. Rasanya baunya amis-amis bohong gitu ya~"

Kalau tidak salah, Ouka pernah bilang kalau dia bisa mendeteksi kebohongan orang dekat hanya dengan menatap matanya... Furano juga memberiku tatapan penuh curiga.

"Aku setuju dengan Yuuouji-san. Entah kenapa area di sekitar sini bau amis (peju)."

"Tentu saja tidak, woi!"

"Tapi Kanade-chi, kalau bukan apa-apa, kenapa kamu keringatan begitu?"

"...Eh?"

Begitu dibilang, aku baru sadar kalau wajahku sudah penuh dengan keringat dingin. Ukh... meski ini puncak musim panas, tapi jam segini belum sepanas itu... Gawat.

"...Ada yang aneh."

"Iya... aneh banget."

Ba-Bagaimana ini? Situasinya makin gawat... Sebelum aku makin banyak membuat kesalahan, aku harus memaksa mereka pergi.

"Se-Sebenarnya perutku agak sakit... Aku mau ke toilet sekarang, jadi tolong maklumi—"

"Fu... myuu"

...Ba-Baru saja, di dalam sana terdengar suara...

"Barusan... apa ada suara orang dari dalam?"

"Iya, iya, aku dengar dengan jelas!"

Igauan Chocolat terdengar jelas di telinga mereka berdua.

"Mencurigakan..."

"Tu-Tunggu, itu bukan seperti yang kalian—"

Ga-Gawat. Kalau begini terus aku tidak akan bisa berkelit lagi—


PILIH:

Beri alasan yang mencurigakan

Beri alasan yang mesum


...Rasanya kok dua-duanya hampir sama saja ya.

"Se-Sebenarnya kalau mau jujur... tadi pagi-pagi sekali aku nonton saluran dewasa... terus aku terlalu bersemangat sampai berteriak... ya, suara tadi itu cuma suara dari televisi yang bocor keluar... haha."

"".........""

Keduanya menatapku dengan pandangan yang sulit dijelaskan.

"Yah, nuansanya memang tidak seperti karangan belaka sih..."

"Hmm... tapi rasanya kok masih ada yang amis ya~"

Setidaknya rasa curiga mereka sedikit berkurang. Aku harus menuntaskannya di sini!

"Ka-Karena sudah kujelaskan alasannya, sudah kan? Aku mau ke toilet jadi cepat sana per—"

BRUK!

...SERIUSAN, BACA SITUASI DONG, KAMU!

"Barusan... seperti ada suara sesuatu yang jatuh ya."

"Iya, iya. Suara itu sepertinya bukan suara barang jatuh."

Keduanya sepertinya sudah mendapatkan sebuah keyakinan.

"...Kepala Detektif, aku memutuskan bahwa situasi ini sudah saatnya untuk penggerebekan."

"...Setuju."

Mereka saling bertukar pandang.

"Maka dari itu, ini peringatan terakhir, Amakusa-kun. Cepat buka atau aku tembak mati."

"Kenapa tiba-tiba jadi brutal begini!"

"Atau aku akan mencabut 'pistol' di selangkanganmu itu."

"Itu bukan lagi level brutal, woi!"

"Maksudku, aku akan mencabut pistol mainan di selangkanganmu."

"INI ASLI TAHU!"

Saat aku sedang sibuk membalas ucapan Furano, Ouka sudah mundur ke belakang untuk mengambil ancang-ancang lari.

"Haaai~ Kanade-chi, awas ya, menjauh dari pintu~"

"Tu-Tunggu sebenta—"

"TOOOOORRRRR!"

"GUAKHHH!"

Aku tidak kuat menahan drop kick dengan seluruh berat badannya itu dan langsung terpental.

"SERBUUUU!"

"Mari kita lihat... apa yang akan muncul di dalam."

Ouka dan Furano melangkahi aku yang terkapar di lantai dan merangsek masuk ke dalam ruangan.

"Tu-Tunggu dulu!"

Larangan dariku sia-sia, mereka berdua sudah sampai di depan tempat tidur. Di sana tergeletak gumpalan sesuatu yang terbungkus selimut.

Geliat... geliat...

"UWAAAAAAAGH!"

Aku buru-buru berlari mendekat, tapi sudah terlambat. Dari balik selimut itu muncul... Chocolat yang setengah telanjang.

"Monyu... Ah, Kanade-saaan."

"".........""

Mereka berdua mematung di tempat.

"A-Ah, tidak, ini salah paham!"

""............""

Wajah Ouka dan Furano seketika menjadi pucat pasi.

"Cho-Chocolat, ini salah kan? Ini tidak seperti itu kan? Cepat jelaskan pada Ouka dan Furano—"

"Tolong peyuuuk~"

SIALAAAAN! Di saat kritis begini dia masih saja mengigau!

""..................""

"Ti-Tidak, kalian berdua salah paham! Ini benar-benar..."

Sambil mati-matian melepaskan pelukan Chocolat, aku berusaha membela diri.

"Salah paham... ya. Kalau begitu, cairan putih yang menempel di mulut Chocolat-san itu sebenarnya apa?"

"I-Ini cuma yogur—"

"Cairannya Kanade-san... kental... enak sekali."

"KAMU SENGAJA NGOMONG BEGITU YA?!"

"Ehehe... jamurnya... di dalam mulut... banyak sekali."

"KAMU BENAR-BENAR PUNYA DENDAM PRIBADI YA?!"

Rasanya aku ingin mencubit pipinya sampai puas, tapi sekarang bukan saatnya.

"Kanade-chi... sama Chocolat-chi... sudah melakukan hal mesum..."

"Ka-Kan sudah kubilang ini salah paham. Saat aku sedang tidur, Chocolat masuk sendiri dan—"

"Are? Aku tidak pakai celana dalam..."

GYAAAAAAAGH!

"...Cukup sudah."

"...Kanade-chi... KANADE-CHI BODOOOOOOOH!"

"Ah, oi!"

Furano dan Ouka langsung lari keluar dari kamar begitu saja. Yang tersisa hanyalah aku yang memegang kepala dengan putus asa, dan Chocolat yang sepertinya masih belum mengerti situasi yang terjadi.

"Fue? Apa terjadi sesuatu?"

"KEJADIANNYA BANYAK BANGET, TAHU!"


2

Di dalam bus yang menuju destinasi terakhir perjalanan tur.

"A-Anu... Furano-san?"

"……"

Aku mencoba mengajaknya bicara, tapi aku benar-benar dikacaukan oleh aksi tutup mulutnya.

"Hei, dengarkan aku dulu. Sudah kujelaskan berkali-kali kalau itu cuma salah paham, kan?"

"Salah paham? Begitu ya... Jadi kamu sudah menikmati 'salah paha' (gokai) bersama Chocolat-san sebanyak lima kali (gokai) ya." (T/N: Gokai bisa berarti "salah paham" atau "lima kali").

"Kamu ngomong apa, sih?!"

"Diamlah, dasar bocah jamur pen*s."

"Apa-apaan sebutan itu?!"

"Kan sudah kubilang, diam."

"...Ma-Maaf."

Entah kenapa, karena tekanan auranya yang begitu kuat, aku malah berakhir meminta maaf.

"……"

Setelah itu, dia kembali bungkam dan tidak memberikan reaksi apa pun. ...Ini gawat.

Lalu, masih ada satu orang lagi yang harus kuluruskan kesalahpahamannya.

"Anu... Ouka-san."

"Puih."

Aku menghampiri kursi di samping Ouka yang duduk di belakang, mencoba untuk membujuknya, tapi dia juga sedang merajuk dan tidak memberiku celah sedikit pun.

"Kanade-chi mesum."

"Ukh..."

Kalau sudah dibilang begitu, aku tidak punya kata-kata untuk membalas. Meski tidak terjadi apa-apa, faktanya Chocolat yang setengah telanjang memang ada di kamarku...

"Bohong bilang lagi nonton video mesum, padahal di dalam lagi melakukan hal yang jauh lebih mesum..."

Dia menatapku dengan pandangan menghina (jitome).

"Ti-Tidak, makanya kan sudah kubilang itu tidak benar."

Di saat itu, Chocolat yang duduk di sebelah Ouka membuka suara.

"Benar itu, Ouka-san. Tidak terjadi apa-apa kok. Aku cuma sedang mengigau lalu menyelinap ke tempat tidur Kanade-san. Itu sih hal yang sudah biasa~"

"Sudah... biasa?"

"KENAPA KAMU MALAH NAMBAH-NAMBAHIN MASALAH, SIH!"

Yah, memang benar hal seperti itu sering terjadi (meskipun selalu langsung kuusir saat itu juga), tapi... kenapa harus bilang di sini, sekarang, di depan mereka?!

"Jadi biasanya... kalian melakukan hal seperti itu ya."

"Ti-Tidak, itu sal—"

"Gak mau tahu!"

Ouka benar-benar membuang muka dariku. ...Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa mereka berdua bisa semarah ini, ya?

Anggaplah mereka curiga kalau aku melakukan hal aneh dengan Chocolat, itu memang sebuah masalah. Tapi rasanya kemarahan mereka ini sedikit terlalu berlebihan jika hanya dianggap sebagai bentuk "kemuakan moral".

"Nihibi~"

"UWOH!"

Tiba-tiba wajah Michiru-san muncul di depanku, membuatku refleks melonjak kaget.

"Amakusa-chan, sini sebentar, sini sebentar."

Michiru-san langsung menarik tanganku dan menyeretku ke kursi bagian belakang. Lalu, dia duduk di kursi yang kosong dan memintaku duduk di sebelahnya... Hei, kerjalah sana!

"Mufufu, sepertinya sedang terjadi situasi yang cukup menarik, ya."

"...Bagi saya ini sama sekali tidak menarik."

"Jadi, Amakusa-chan pilih yang mana?"

"Pilih siapa?"

"Aduuh~ pura-pura bodoh ya, dasar penggoda~"

"Siapa yang pura-pura bodoh, apa maksud Anda?"

"Amakusa-chan... kamu serius nanya?"

"Mau serius atau tidak... saya benar-benar tidak paham maksudnya."

"……"

Michiru-san membelalakkan matanya dan terdiam sesaat, lalu...

"Pft... Ahahahaha!"

Tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak.

"A-Ada apa sebenarnya?"

"Pft, kuku... Kamu yang terbaik, Amakusa-chan! Kalian semua benar-benar komedi yang terbaik!"

Ucap Michiru-san sambil menepuk-nepuk pundakku dengan keras.

"Kan sudah saya bilang... bagi saya ini satu persen pun tidak lucu."

"Tidak, ini lucu sekali..."

Tiba-tiba nada suara Michiru-san merendah.

"Sangat lucu."

"...Michiru-san?"

Untuk sesaat, suasananya terasa berubah drastis, membuatku tanpa sadar menatap wajahnya dalam-dalam.

"Hm? Kenapa menatap kakakmu ini seperti itu? Jangan-jangan, kamu jatuh cinta (horeta)?"

"Bukan begitu..."

"Atau jangan-jangan, kamu pengin disodok (horareta)?"

"SIAPA PUN TOLONG BERHENTI BAHAS JOKE HOMO!"

...Ternyata dia tetap Michiru-san yang seperti biasanya.

Michiru-san berdiri dari kursinya dan melakukan peregangan.

"Nah, kalau begitu, cukup sudah menggoda Amakusa-chan-nya... selanjutnya ngapain lagi ya~"

Hei, kerjalah sana!


3

Bus berhenti di sebuah rest area besar untuk istirahat yang agak lama. Yukihira Furano berdiri di depan cermin toilet sambil merenung.

(Amakusa-kun... dasar bodoh.)

Tentu saja, Furano mengerti bahwa tidak ada apa-apa antara Kanade dan Chocolat. Karena dia tahu Kanade bukan tipe orang yang bisa melakukan hal "seperti itu". Pasti memang ada masalah tertentu yang membuat Chocolat menyelinap masuk.

Namun, mengerti bukan berarti dia bisa tertawa dan mengabaikannya begitu saja. Itu masalah lain.

Selama ini dia berusaha tidak memikirkannya, tapi kenyataannya Kanade dan Chocolat tinggal bersama.

Artinya, situasi seperti tadi pagi—bahkan mungkin lebih jauh lagi—bisa terjadi kapan saja.

(Uugh... tidak, tidak boleh!)

Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat seolah ingin mengusir bayangan mesum yang muncul di otaknya. ...Dia tidak bisa membiarkannya begini terus. Furano sadar dia harus segera menyatakan perasaannya.

(Kenapa... kenapa aku tidak bisa sedikit lebih jujur saja?)

Saat dia sedang mendesah meratapi ketidakberdayaannya sendiri,

"Yukihira-chan, sini sebentar, sini sebentar."

Seseorang menepuk bahu Furano. Saat menoleh, dia melihat sosok pemandu bus di sana.

"...Ada apa?"

Seketika Furano kembali ke mode "pencitraan" dan bertanya dengan wajah tanpa ekspresi.

"Begini, boleh aku tanya satu hal?"

"...Yah, selama itu hal yang bisa kujawab."

Pemandu bus ini benar-benar orang aneh (meskipun Furano merasa dirinya bukan orang yang tepat untuk bicara begitu). Furano memasang posisi waspada, bertanya-tanya apa yang akan ditanyakan.

"Yukihira-chan, kamu suka sama Amakusa-chan, kan?"

"⁉"

Mendengar tembakan langsung itu, mata Furano membelalak.

"Ha-Hal seperti itu..."

Baru saja Furano ingin membantah, si pemandu bus menyeringai dan mendahuluinya.

"Nyahaha, percuma saja mau disembunyikan. Siapa pun yang melihat pasti langsung tahu."

"……"

"Bukan cuma Chocolat-chan, Yuuouji-chan pun kelihatan jelas kalau dia suka Amakusa-kun, ya kan?"

"Memang... begitu ya."

Tanpa sadar, Furano menjawab dengan nada aslinya yang lemas.

"Are-are, kok tiba-tiba jadi kalem begini. Jangan-jangan Yukihira-chan... sedang 'akting' karakter ya?"

"……"

"Mufufu, sepertinya kamu memendam banyak hal ya~ Cerita dong sama Kakak?"

"……"

"Ayo lah, toh kita bakal berpisah hari ini. Kalau cerita sama orang asing seperti aku kan tidak akan ada beban, ya kan?"

"……"

"Kakak tahu banyak soal kejadian Amakusa-chan tiga tahun lalu, mungkin aku bisa sedikit membantumu~"

".................. A-Anu..."

Tanpa sadar, Furano mulai menceritakan perasaannya terhadap Kanade. Dia sempat berpikir kenapa dia menceritakan hal sepribadi ini pada orang yang baru ditemuinya lusa kemarin, tapi si pemandu bus ini sangat ahli memancing pembicaraan sampai-sampai curhatannya tidak bisa berhenti.

"—Tadi pagi juga parah sekali... meski aku tahu itu kecelakaan, tapi dia sama sekali tidak sadar kenapa aku marah—"

Akhirnya, Furano menumpahkan segalanya, termasuk kejadian tadi pagi.

"Iya, iya, ketidakpekaan Amakusa-chan itu sudah level penyakit ya~"

Setelah mendengar semuanya, si pemandu bus bersedekap dan mengangguk-angguk.

"I-Iya kan?! Anda juga berpikir begitu! Seperti yang kubilang tadi, Amakusa-kun itu selalu keterlaluan... sampai aku berpikir jangan-jangan dia sengaja pura-pura tidak sadar... meskipun secara sifat dia tidak mungkin melakukan hal selicik itu."

Si pemandu bus kemudian mengubah atmosfernya dan mulai bicara dengan serius.

"Begitu ya... Tapi, aku ingin kamu memaklumi dia soal itu."

"...Eh?"

"Ada alasan kenapa Amakusa-chan menjadi sangat tidak peka terhadap masalah cinta."

"Alasan...?"

Dia mengangguk mantap dan melanjutkan.

"Sebenarnya tiga tahun lalu, Amakusa-chan pernah jatuh cinta pada seorang gadis."

"Ja-Jatuh cinta⁉"

"Ah, apa itu membuatmu syok?"

"Ah, tidak... syok sih memang syok... tapi lebih dari itu, aku tidak bisa membayangkan Amakusa-kun menyukai seseorang..."

"Ah~ yah kalau lihat dia yang sekarang, wajar kalau kamu berpikir begitu. Tapi, Amakusa-chan tiga tahun lalu tidak seperti itu lho~"

Furano pun berusaha mengeluarkan kata-kata dengan perasaan ragu.

"Lalu... itu, siapa gadis yang dia sukai itu?"

"Aku."

"...Eh?"

Mendengar jawaban yang sangat tiba-tiba itu, mata Furano membulat sempurna.

"Iyaa~ Sebenarnya gadis yang dicintai Amakusa-chan tiga tahun lalu adalah aku! Begitu lho~"

"……"

"Oi-oii. Yukihira-chan, kasih reaksi dong. Aku jadi merasa garing sendirian nih."

"Ah, ma-maaf."

"Mufufu, wajahmu kelihatan lega sekali ya."

"Anu... saya sedang bicara serius..."

"Nyahaha, maaf-maaf, aku akan bicara tanpa bercanda sekarang."

Sesuai janjinya, dia merendahkan nada suaranya.

"Amakusa-chan dan gadis itu bertemu pertama kali di tur ini. Mereka merasa cocok dan langsung akrab. Di paruh kedua tur, atmosfer mereka sudah seperti sepasang kekasih meski belum resmi jadian. Dari sudut pandang orang lain pun mereka terlihat sangat serasi... Tapi,"

Dia menjeda kalimatnya, lalu bergumam pelan.

"Bagi Amakusa-chan... terjadi sesuatu yang sangat menyedihkan."

◆◇◆

"Sesuatu yang menyedihkan?"

Yuuouji Ouka mengulangi kata-kata yang baru saja didengarnya.

"Benar. Aku rasa itu adalah cinta pertama Amakusa-chan. Tapi, gara-gara kejadian menyedihkan itu... cinta itu hilang. Karena luka hati itu, tubuh Amakusa-chan jadi menolak segala hal tentang asmara."

"Menolak?"

"Melihat Amakusa-chan dua hari ini saja sudah kelihatan, kan? Level tidak pekanya itu sudah tidak wajar. Mirip karakter cowok di manga atau anime yang 'bebal'-nya minta ampun."

"Aku... juga berpikir begitu."

Kemarin di sungai pun, padahal Ouka sudah mengatakannya dengan sangat jelas, tapi Kanade sama sekali tidak sadar. Rasanya kalau tidak bicara langsung seperti Chocolat, perasaan itu tidak akan pernah sampai selamanya.

"Mungkin di bawah sadarnya, tanpa dia sadari sendiri, dia menutup diri dari rasa suka lawan jenis."

Ouka mengingat banyak hal yang mendukung teori itu. Terlalu parah kalau hanya disebut sebagai "tidak peka" biasa. Memang lebih masuk akal jika ada faktor penyebab di masa lalu.

"Tapi... kenapa Kak Pemandu tahu soal itu?" tanya Ouka penasaran.

"Karena saat kejadian itu terjadi, aku berada di posisi yang paling dekat dengan lokasi... Wah, pokoknya kacau sekali saat itu. Amakusa-chan dalam keadaan kalut dan menangis sesenggukan."

"Kanade-chi... menangis sesenggukan?"

Tiga tahun lalu berarti Kanade sudah kelas 2 SMP. Ouka tidak menyangka Kanade bisa menangis sebegitunya hanya karena hal kecil.

"Mungkin hatinya sudah tidak kuat menanggungnya... Otak Amakusa-chan, demi melindungi hatinya sendiri, akhirnya menyegel ingatan tersebut."

"Makanya... dia juga lupa soal Kakak Pemandu."

"Benar sekali. Setelah aku konfirmasi ke orang tuanya, ternyata dia benar-benar lupa semua kejadian selama tiga hari dua malam tur itu... Pasti kejadiannya sangat menyakitkan baginya. Karena itu aku juga pura-pura tidak tahu agar tidak memicunya."

"Tiga tahun lalu... apa yang sebenarnya terjadi pada Kanade-chi?"

"Yah, gadis yang dicintai Amakusa-chan itu—tidak, mulai dari sini bukan kapasitasku untuk menceritakannya secara sembarangan."

"Eh, ta-tapi aku penasaran banget!"

"Hmm, ini menyangkut masalah privasi Amakusa-chan sih~"

"Umuu..."

Kalau sudah dibilang begitu, Ouka tidak bisa bertanya lebih lanjut. Di samping Ouka yang merasa tidak tenang, si pemandu bus menepukkan tangannya seolah baru ingat sesuatu.

"Ah, benar juga. Aku memanggil Yuuouji-chan bukan untuk membicarakan itu."

Wajahnya yang tadi serius berubah kembali menjadi ceria seperti biasa.

"Dengar ya, dengar ya. Aku memberitahumu ini karena aku ada di pihak Yuuouji-chan."

Dia berbisik pelan di telinga Ouka.

"Yukihira-chan... katanya malam ini dia mau menyatakan cinta pada Amakusa-chan, lho."

◆◇◆

"Ouka-san akan menyatakan cinta pada Kanade-san...?"

Mata Chocolat membelalak karena terkejut.

"Iya, iya."

"Michiru-san, kalau melihat tingkah laku selama ini, rasanya itu tidak mungki—"

"Ada lho! Benar-benar bakal terjadi. Aku dengar sendiri dari orangnya jadi tidak salah lagi. Mungkin ini yang dinamakan efek suasana bebas musim panas dan liburan?"

"...Anggaplah itu benar... kenapa Anda memberitahukannya kepada saya?"

"Tadi kan sudah kubilang. Aku ini di pihak Chocolat-chan."

"Pihak... saya?"

"Benar. Setelah melihat kalian selama dua hari ini, menurutku yang paling cocok dengan Amakusa-chan adalah Chocolat-chan~"

Begitu mendengar itu, rambut di ujung ekor Chocolat berdiri tegak (pikon). Dia sendiri merasa aneh, tapi kalau perasaannya sedang meluap, tubuhnya sering bergerak sendiri.

"Be-Benarkah?"

"Benar, benar. Aku bisa lihat kalau Amakusa-chan sangat menganggap penting Chocolat-chan."

"Iya, Kanade-san memang sangat baik!"

"Tapi... kalau begini terus, posisimu bahaya."

"Eh?"

"Yuuouji-chan bilang mau menembaknya hari ini, dan Yukihira-chan juga tidak tahu kapan dia akan memberanikan diri... Meskipun menurutku Chocolat-chan yang paling cocok, tapi Kanade-chan merasa bagaimana kan cuma dia yang tahu."

"Tapi... saya kan sudah bilang 'suka' pada Kanade-san..."

"Naif! Naif sekali Chocolat-chan! Berpikir perasaanmu sudah tersampaikan hanya dengan bilang suka itu sama naifnya dengan calon penulis Light Novel yang berpikir kalau mereka debut bakal dapat royalti melimpah, dipanggil 'Guru', dipuja-puja, dan dikerubuti banyak gadis!"

"Eh? Lalu... apa yang harus saya lakukan?"

"Mufufu... jawabannya adalah ciuman."

"CIUMAN⁉"

"Benar, kiss-kiss. Menghadapi laki-laki bebal yang tidak mempan dikasih kata-kata, kamu harus menunjukkannya dengan tindakan!"

"Ta-Tapi kalau itu sih jelas terlalu—"

"Yah, aku cuma memberitahumu kalau itu salah satu bentuk ekspresi cinta. Selanjutnya mau bagaimana, itu tergantung Chocolat-chan sendiri~"

"Tergantung saya ya..."

"Sip. Kalau begitu, berjuanglah ya~!"

Sambil membelakangi Chocolat, pemandu bus itu melambaikan tangannya dan pergi begitu saja. Tinggalah Chocolat sendirian yang mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Tergantung... Diriku."

◆◇◆

Setelah menjauh dari Chocolat, si pemandu bus melihat ke arah langit sambil bergumam entah pada siapa.

"Nah... apakah Amakusa-chan bisa menjadi bahagia?"


4

Setelah istirahat panjang berakhir, bus kembali melaju.

"……"

"……"

"……"

...Entah kenapa, suasana di dalam bus terasa sangat berat. Sebelum ini pun, Furano dan Ouka sedang marah padaku, jadi atmosfernya memang tidak bisa dibilang bagus, tapi yang sekarang ini... levelnya berbeda.

"…………"

"…………"

"…………"

Sepertinya suasana ini bukan ditujukan padaku, melainkan ada ketegangan aneh di antara mereka bertiga, seolah-olah mereka sedang saling mengawasi dan menahan diri...

"He-Hei."

"?! "

Begitu aku mencoba memanggil Furano di sebelahku, tubuhnya tersentak kaget.

"A-Ada apa..."

"Kalian bertiga... bukankah merasa ada yang aneh?"

"Tidak ada yang aneh kok... yang aneh itu kamu, Amakusa-kun... Amakusa-kun... haah."

Ma-Masa sih... Furano berhenti melontarkan ejekan di tengah jalan? Dia kemudian membuang muka ke arah jendela dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Aku mencoba menoleh ke belakang untuk bertanya pada dua orang lainnya.

"Ouka, Chocolat."

"Eh, aa-anu, ada apa ya?"

"I-Iya, ada apa?"

...Ternyata mereka berdua juga aneh.

"Apa terjadi sesuatu di rest area tadi?"

"Gak ada apa-apa kok~"

"Tidak ada, sa-sama sekali tidak ada kejadian apa-apa."

...Cara mereka berbohong payah sekali. Jelas-jelas terjadi sesuatu.

"Dengar, sebenarnya ada ap—"

"BAAAN!"

"Uwah!"

Lagi-lagi Michiru-san menyela.

"Meledaklah kalian!"

"H-Hah?"

"Amakusa-chan, meledaklah! BOOOM!"

"A-Apa-apaan Anda ini tiba-tiba..."

Kepalaku sudah pening, tolong jangan berteriak kencang di dekat telingaku.

"Amakusa-chan. Menurutmu bagaimana melihat kondisi ketiga gadis ini?"

"Bagaimana apanya... ya, rasanya aneh saja..."

"DOOON!"

"Cukup sudah soal ledakannya..."

"Ini bukan ledakan. Kamu baru saja diincar oleh Moguro Fukuzou." (T/N: Referensi karakter dari anime Warau Salesman yang punya jurus "Don!").

"Dalam arti tertentu itu lebih seram dari ledakan!"

"DON!"

"Kali ini onomatope untuk manga One Piece?"

"GABACHO!"

"Kuno banget!"

"Aku sedang galau karena manga Shizukanaru Don sudah tamat, aku harus bagaimana?"

"Mana saya tahu!"

Meskipun itu memang karya legendaris... tapi Hide-chan di versi dramanya keren sekali ya. Terus pemeran Rawakura, Nagira Kenichi, itu benar-benar casting tingkat dewa.

"Cukup bercandanya... Amakusa-chan, bukankah sebaiknya kamu melakukan sesuatu terhadap atmosfer ini?"

"Saya ingin melakukannya, tapi saya benar-benar tidak tahu apa penyebabnya..."

"……Amakusa-chan, sepertinya memang lebih baik kamu meledak saja jadi kembang api yang indah."

"Saya bakal hilang tanpa bekas dong!"

"………………"

"………………"

"………………"

...Mereka bertiga sama sekali tidak bereaksi terhadap candaanku dan Michiru-san. Bus terus melaju menuju destinasi akhir sambil membawa suasana berat yang menyesakkan.


5

Yukihira Furano membulatkan tekad. Dirinya... menyukai Amakusa Kanade.

Saat mereka berbicara di kelas, saat dia ditemukan sedang merenung sendirian di atap sekolah, saat ikut dalam pertandingan kompetisi, saat ke kolam renang, saat pergi kencan simulasi, dia selalu merasakannya.

Meskipun dia baru mengakuinya pada diri sendiri setelah kejadian pesta cosplay... tapi dia sudah menyukainya jauh sebelum itu.

Namun, tidak ada kemajuan sedikit pun sejak saat itu. Jelas itu salahnya sendiri karena tidak bisa jujur. Gara-gara itu, dia selalu menyakiti Kanade dan berakhir membenci dirinya sendiri.

Tapi, dia pikir tidak apa-apa. Malahan belakangan ini, dia mulai merasa nyaman dengan jarak yang ambigu ini.

Akan tetapi, tadi di rest area, setelah mendengar kabar bahwa Chocolat berencana mencium Kanade, perasaan yang sangat kuat lahir di dadanya.

Aku tidak mau menyerahkannya... aku tidak mau dia diambil. Dia tahu ini perasaan yang buruk.

Tapi... perasaan itu jauh lebih kuat daripada keinginannya untuk menahan diri. Karena Yukihira Furano menyukai Amakusa Kanade.

Maka hari ini... dia akan menyatakan cintanya.

◆◇◆

Yuuouji Ouka membulatkan tekad. Awalnya, dia tidak terlalu mengerti. Dia hanya merasa senang saat bersama.

Dia pikir Kanade adalah orang lucu yang sering bertingkah aneh. Dia merasa Kanade berbeda dari cowok-cowok lain. Tapi dia tidak tahu apa bedanya.

Di tengah semua itu, celananya terlihat saat kencan dengan Konagi, terlihat lagi saat pertandingan kompetisi, bahkan dadanya tersentuh saat di kolam renang.

Setelah melalui berbagai kecelakaan itu, saat pesta cosplay, akhirnya dia mengerti.

Dirinya menyukai Amakusa Kanade.

Kanade itu tidak peka. Seperti yang dia dengar tadi, sepertinya terjadi sesuatu di masa lalu yang membuat Kanade secara tidak sadar menolak asmara.

Kalau begitu... dia ingin menghancurkan cangkang itu untuknya. Meskipun ada kejadian menyedihkan di masa lalu, dia ingin menimpanya dengan hal-hal yang jauh lebih menyenangkan.

Dia ingin Kanade merasa bahagia saat bersamanya. Selamanya... dia ingin selalu bersama.

Peran itu... dia ingin dirinyalah yang melakukannya, bukan Furano ataupun Chocolat. Karena Yuuouji Ouka menyukai Amakusa Kanade.

Maka hari ini... dia akan menyatakan cintanya.

◆◇◆

Chocolat membulatkan tekad. Saat mereka bertemu, dia sudah menyukainya.

Ingatannya memang samar, tapi katanya pelayan Tuhan dikirim ke dunia ini dengan perasaan suka yang sudah ditanamkan terhadap targetnya. K

arena itu, dia pikir dia menyukai Kanade karena alasan tersebut. Dia tidak pernah meragukannya.

Namun, seiring hari-hari yang mereka lalui bersama, dia mulai merasa itu berbeda. Ini bukan karena itu... perasaan suka ini bukan berasal dari perintah Tuhan.

Dia benar-benar menyadari bahwa ini adalah cinta saat pesta cosplay.

Sejak saat itu, dia berusaha mendekati Kanade agar bisa disukai sebagai seorang gadis.

Sebaliknya, Kanade seolah-olah selalu menarik garis batas terhadapnya. Mungkin karena Kanade orang yang serius, dia berpikir tidak bisa menjalin hubungan asmara sampai kutukan "Pilihan Mutlak" itu lenyap.

Jika demikian, dia seharusnya cukup mendukung Kanade dengan sekuat tenaga agar misinya berhasil, sesuai tugas aslinya... tapi. Tapi... dia sudah tidak bisa menunggu lagi.

Dia sudah tidak tahan lagi. Karena Chocolat menyukai Amakusa Kanade bukan sebagai pelayan Tuhan, melainkan sebagai Chocolat.

Maka hari ini... dia akan menyatakan cintanya sekali lagi.


6

"Ah... sudah jam segini ya."

Tanpa terasa, beberapa jam telah berlalu sejak kami tiba di taman observasi ini, dan hari mulai gelap.

Acara terakhir dalam tur bus ini adalah menikmati pemandangan malam dari taman observasi.

Taman ini sangat luas dan asri, jadi para peserta tur menghabiskan waktu dengan berkeliling taman sesuka hati sampai hari gelap.

Sedangkan aku... aku duduk sendirian di tempat terbuka yang menghadap pemandangan, terus berpikir.

Habisnya, begitu bus sampai di taman ini, Chocolat, Furano, dan Ouka langsung pergi entah ke mana, dan aku tidak punya teman untuk menghabiskan waktu.

Yah, karena banyak hal yang harus kupikirkan, aku tidak merasa bosan sih...

Pertama, soal misi ciuman... benar-benar tidak ada ide sama sekali.

Yah, karena batas waktunya adalah selama liburan musim panas, masih ada sisa waktu beberapa hari setelah pulang nanti... tapi mengingat siapa targetnya, kalau tidak diselesaikan di tur ini bisa gawat.

Seharusnya aku panik, tapi saat ini ada hal lain yang lebih mengganggu pikiranku. Ingatanku... sesuatu yang seharusnya terjadi tiga tahun lalu.

Selama tur ini, berkali-kali aku hampir mengingatnya, tapi setiap kali itu pula rasa mual yang hebat menghalangiku. Kenangan tentang seorang gadis.

Namun, di tahap akhir tur ini pun, aku hampir tidak bisa mengingat apa-apa.

Jika tur ini menapak tilas kejadian tiga tahun lalu, aku seharusnya pernah datang ke taman observasi ini juga... tapi tetap tidak bisa kuingat. Lagi pula, kalaupun aku hampir mengingatnya, rasa mual itu pasti akan—

"Hm?"

Aku merasakan kehadiran seseorang dan menoleh.

"Amakusa-kun."

"...Furano ya."

Di sana berdiri Furano dengan wajah yang sangat serius.

"Furano, soal di bus tadi—"

"Kanade-chi."

Lagi-lagi terdengar suara dari arah lain, aku menoleh.

"Ouka..."

Di sana berdiri Ouka yang juga memasang ekspresi tegang.

"Kanade-san."

Dan Chocolat pun muncul.

"Amakusa-kun."

"Kanade-chi."

"Kanade-san."

Panggilan mereka bertiga saling tumpang tindih dengan sempurna.

"A-Ada apa?"

Mereka bertiga saling bertukar pandang lalu terdiam. Lalu, beberapa detik kemudian.

"""A-Anu..."""

Lagi-lagi panggilan mereka bersamaan. Dan setelah keheningan selama beberapa detik lagi.

"Ada yang ingin kubicarakan, aku ingin kita bicara berdua saja."

"Boleh kita bicara berdua sebentar?"

"Saya ingin bicara berdua saja."

Kejadian tumpang tindih yang ketiga kalinya... Melihat ekspresi mereka, sepertinya mereka tidak sedang bercanda atau berencana melakukan ini.

"Ka-Kalian ini ada apa sih dari tadi? Benar-benar suasananya tidak seperti biasanya—"

"Haaai~ maaf ya menyela di tengah-tengah situasi yang agak rumit ini~"

Sebuah suara ceria membuyarkan ketegangan yang ada.

"...Michiru-san."

Benar-benar orang ini selalu muncul tiba-tiba.

"Sedang apa Anda di sini?"

"Mufufu, jangan tanya 'sedang apa', kan aku yang menciptakan situasi ini~"

Michiru-san menyeringai lalu menatap ke arah mereka bertiga.

"Yukihira-chan, Yuuouji-chan, Chocolat-chan, maaf ya~ Kakak sih niatnya baik, tapi tidak menyangka kalau timing kalian akan berbarengan begini~"

"""……"""

"Padahal aku menantikan siapa yang akan bicara duluan. Kalian semua terlalu lama mengambil keputusan~"

Setelah meracaukan hal yang tidak kupahami, Michiru-san menoleh padaku.

"Amakusa-chan, sebenarnya aku ingin menunggumu mengingatnya sendiri secara alami... tapi sepertinya waktu sudah habis."

Michiru-san menepuk jam tangannya dengan gerakan yang dilebih-lebihkan.

"Nah, Amakusa-chan, Kakak akan menceritakan sebuah kisah yang sangat bagus."

Kisah yang bagus? Kalau melihat alurnya... apakah ini soal ingatanku?

"Dahulu kala, di sebuah tempat, ada seorang anak laki-laki."

Michiru-san mulai berbicara dengan nada yang sangat dramatis seperti sandiwara.

"Anak itu jatuh cinta pada seorang gadis di sebuah perjalanan."

"...Eh?"

"Anak laki-laki itu merasa cocok dengan sang gadis, dan mereka menghabiskan waktu yang sangat menyenangkan. Di akhir tur, karena tidak ingin berpisah, dia menyatakan cintanya pada gadis itu."

Apa-apaan... kenapa orang ini tiba-tiba bicara seperti itu.

"Ternyata, jawaban sang gadis adalah 'Ya'."

"……"

Seiring cerita Michiru-san berlanjut, bagian dalam dadaku mulai bergejolak.

"Namun... terjadi sebuah kejadian yang sangat menyedihkan, dan anak laki-laki itu kehilangan seluruh ingatannya tentang sang gadis."

Michiru-san mendekat tepat di depan mataku.

"Nah, sekarang pertanyaannya. Tiga tahun lalu—apa yang sebenarnya terjadi pada gadis dan laki-laki itu?"

Apa yang... benar juga, apa yang terjadi? Aku... aku ingin tahu itu.

"Amakusa-chan, kamu sudah harus mengingatnya."

"...Tentang gadis itu?"

"Benar. Untuk memastikan, aku tanya sekali lagi. Amakusa-chan, apakah kamu benar-benar ingin mengingat tentang dia?"

"Eh?"

"Ingatan dengannya bagimu adalah ingatan yang menyakitkan... sangat menyakitkan, tapi kamu tetap ingin mengingatnya?"

"...Iya."

Aku mengangguk mantap. Sesakit apa pun ingatan itu, aku sudah tidak tahan lagi terus merasa resah tanpa tahu apa-apa seperti ini.

"Begitu ya..."

Michiru-san menundukkan wajahnya sesaat dengan ekspresi serius—

"Kalau begitu... apa boleh buat."

Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi sangat menggoda, sebuah ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dan kemudian—

"Selamat makan~"

"Ngh—"

"""⁉"""

Bibirnya membungkam mulutku.

"—!"

A-Apa? Apa? Apa yang sebenarnya terjadi?!

Kedua pipiku dicengkeram kuat oleh Michiru-san, membuatku tidak bisa bergerak. Aku... baru saja dicium?

Begitu aku menyadarinya—

"Ugh... ugh...!"

Rasa mual yang luar biasa... menyerangku!

"Masih belum ingat juga ya, Amakusa-chan?"

Michiru-san menatapku yang sedang membekap mulut dengan ekspresi yang entah kenapa terlihat senang.

"Kenapa... kenapa Anda melakukan ini..."

Saat aku bertanya pada Michiru-san, rasa mualku semakin menjadi, dan aku tidak tahan lagi sampai berlutut di tanah.

"Huek..."

"Sedikit lagi... sedikit lagi, Amakusa-chan. Kalau begitu, Kakak beri petunjuk besar ya."

"Petunjuk... besar?"




"Benar, nama gadis yang selama ini kamu kunci rapat-rapat di dasar lubuk hatimu."

Aku mendongak menatap Michiru-san, lalu bertanya.

"Nama gadis itu... siapa nama gadis itu?"

Michiru-san mengucapkannya dengan perlahan, namun sangat jelas.

"Tenjou Sora."

Amagami Sora... Tenjou Sora...

"Ah......"

Sensasi seolah otakku diputar balikkan secara paksa menghantamku dengan dahsyat—

Dan di detik itu juga... aku mengingat segalanya tentang kejadian tiga tahun lalu.



Interlude 5

Sebuah Kisah Tiga Tahun Lalu — Bagian 5


Taman observasi, destinasi terakhir dari tur bus ini.

"Sora-san, ayo kita ke sebelah sana!"

Aku sedang melayang di atas awan. Bagaimana tidak?

Sora-san baru saja menerima pernyataan cintaku.

Yah, lebih tepatnya bukan benar-benar menerima sih... tapi kurasa tidak salah kalau aku menganggapnya begitu.

"Fufu, jangan terburu-buru begitu, tidak apa-apa kok."

Seorang kakak perempuan yang baik hati dan cantik. Sora-san mendekat ke sampingku dan menggandeng tanganku.

"Ugh..."

Wajahku langsung memerah padam. Sora-san, yang menggandengku lebih dulu, juga tampak sedikit merona di pipinya. Kami pun berjalan berdampingan dalam diam.

"........"

Tidak ada percakapan, tapi keheningan itu terasa sangat nyaman. Menyenangkan.

Tanpa ragu lagi, saat ini adalah momen paling membahagiakan dalam hidupku. Setelah berjalan beberapa saat, aku menghentikan langkahku.

"Hm? Kanade-kun, ada apa?"

Semakin menyenangkan suatu momen... maka semakin sepi rasanya saat pesta itu berakhir.

Hari ini tur ini selesai... aku akan kehilangan kesempatan untuk bertemu Sora-san. Tempat tinggal Sora-san berada di prefektur yang berbeda dengan rumahku.

Kalau kami sudah bekerja mungkin lain cerita, tapi bagi sesama siswa SMP, jarak itu bukan jarak yang bisa ditempuh dengan mudah untuk sekadar bertemu.

Kemarin aku memang senang karena sudah bertukar nomor ponsel dan alamat email, dan aku menantikan interaksi kami setelah pulang nanti... tapi sekarang, setelah merasakan langsung kehangatan ini... kehangatan tangan Sora-san, rasanya aku tidak akan sanggup jika hanya berhubungan lewat alat komunikasi saja.

Setidaknya... setidaknya, aku ingin mengukir fakta bahwa aku pernah bersama Sora-san ke dalam ingatanku dengan bentuk yang lebih nyata.

"Anu... Sora-san."

"Hm? Apa itu?"

Mungkin ini ucapan yang terlalu mendadak. Tapi bagiku saat itu, tidak ada pilihan untuk "membaca situasi" lalu membatalkannya. Aku membulatkan tekad... dan mengatakannya.

"Anu................ bolehkah aku menciummu?"

Seketika, Sora-san menunjukkan ekspresi tertegun. Melihat wajah itu, aku langsung tersadar.

A-Aku ini sudah melunjak, berani-beraninya bicara begitu!

"Ma-Maaf, lupakan yang tadi!"

Sora-san menundukkan kepalanya, terdiam.

"......"

"A-Anu... apa kamu marah?"

Ti-Tidak. Aku benar-benar tidak mau kalau dia sampai membenciku! Namun, reaksi Sora-san di luar dugaan.

"...Boleh kok."

"...Eh?"

Aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Melihatku yang bengong, Sora-san membuka mulutnya sekali lagi.

"Kalau Kanade-kun... boleh kok."

Aku tidak percaya dengan kata-kata Sora-san.

"Ta-Tapi kan kita baru ketemu lusa kemarin. Ha-Hal seperti itu rasanya masih terlalu cepat, maksudku, bukannya harus lebih akrab lagi dulu..."

"Ka-Kanade-kun sendiri yang memulainya tadi."

"I-Iya, itu memang benar, tapi..."

Sora-san mengatakannya dengan wajah yang merah padam.

"Anu... jangan menganggapku gadis nakal ya."

Sora-san melanjutkan dengan suara yang hampir menghilang.

"Aku tidak akan membiarkan sembarang orang melakukan ini... karena ini Kanade-kun... makanya aku pikir tidak apa-apa."

Rasanya jantungku mau copot.

"Dengar ya... aku sudah berusaha keras berakting jadi kakak yang dewasa, tapi sebenarnya aku sudah mencapai batas. Kemarin saat kamu bilang suka padaku, rasanya jantungku mau melompat keluar tahu."

Sora-san menunduk malu. Tanpa sadar, aku mengusap kepalanya.

"A-Au..."

Orang ini... manis sekali.

"Benar... tidak apa-apa?"

Sora-san tetap menunduk sambil mengangguk kecil. Tapi... bagaimana cara berciuman itu?

Apakah sebaiknya aku memejamkan mata?

Haruskah aku memegang bahunya?

Berapa lama durasinya?

Berbagai pertanyaan berputar-putar di kepalaku, membuat tubuhku kaku seketika.

"Kanade-kun."

Sora-san mendongak dan tersenyum lembut.

"Tidak apa-apa... aku juga baru pertama kali."

Kata-kata itu membulatkan tekadku. Sora-san memejamkan matanya. Aku mencengkeram bahunya. Perlahan, aku mendekatkan mulutku ke bibir Sora-san. Aku... akan berciuman sekarang. Jantungku berdegup kencang seolah mau meledak. Kuatkan mentalmu... kamu laki-laki kan.

"Sora-san... aku mulai ya."

Tepat di saat bibir kami hampir bersentuhan—

"AHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"

Suara tawa keras menggema di sekitar kami.

"............Eh?"

Aku tidak tahu suara siapa itu. Saat aku melihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa selain kami berdua. Pemilik suara itu adalah—

"Sora............-san?"

Sora-san memasang senyuman yang sama persis seperti sebelumnya.

"Aduh, maaf ya. Kamu bergerak persis seperti yang kuharapkan, sampai-sampai aku tidak bisa menahannya lagi."

"Persis seperti yang diharapkan...?"

Tanpa paham maksudnya, aku hanya mengulangi ucapannya.

"Iya. Kamu polos sekali sampai terjebak dalam pancinganku dengan mudah."

"Pancingan... pancingan apa... maksud Anda?"

"Hmm, kalau bicara jujur sih, 'aku memancingmu agar kamu menyukaiku', kira-kira begitu."

Apa... apa yang dibicarakan orang ini?

"Eh? Tidak, tapi kan aku sendiri yang mulai menyukai Sora-san... eh? Eh?"

Aku sangat kalut sampai otakku tidak bisa berpikir jernih. Sora-san menyentuhkan tangannya ke pipiku sambil tersenyum.

"Aku bilang aku menyukaimu, kan?"

"......"

Aku mengangguk dalam diam.

"Maaf ya, itu bohong."

"......Eh?"

"Kan sudah kubilang. Hobiku adalah observasi manusia. Seluruh sikapku sejak bertemu denganmu pertama kali semuanya adalah akting untuk menciptakan situasi ini."

"Ja-Jadi... semua kebaikanmu padaku itu juga..."

"Iya, akting."

"Bo-Bohong. Padahal Sora-san terlihat sangat senang begitu..."

Jantungku berdegup dengan suara yang seolah mau pecah. Itu... senyum yang dia tunjukkan padaku semuanya hanya akting?

"Iya, karena aku membuatnya terlihat seperti itu."

"Bohong..."

"Wah~ pilihanku mengajakmu bicara memang tepat. Sejak pandangan pertama, aku sudah berpikir kalau anak ini kelihatannya murni dan mudah ditipu."

"Aku tidak mengerti... aku tidak mengerti, Sora-san."

"Ah, maaf ya. Aku bicara banyak sekaligus jadi kamu bingung ya. Aku harus bicara dengan lebih jelas lagi."

Sora-san mengatakannya dengan senyum lebar di wajahnya.

"Aku sama sekali tidak peduli padamu."

Sebuah guncangan dahsyat yang seolah mengakhiri dunia menghantamku.

"Se... perti itu... Anda berbohong... kan... Sora... san."

"Ah, itu dia! Ekspresi seperti itulah yang ingin kulihat."

Sora-san memasang senyuman yang berbeda dari sebelumnya, senyuman seperti tokoh antagonis di dalam manga.

"Konsep kali ini adalah: 'Seperti apa ekspresi seorang remaja laki-laki yang cinta pertamanya dihancurkan berkeping-keping'."

"Bohong... hal seperti itu... pasti bohong!"

"Patah hati juga merupakan salah satu aktivitas asmara yang luar biasa... aku merasa harus mulai menyerang dari sisi seperti ini agar tujuanku tercapai."

Sora-san menggumamkan hal-hal yang tidak kumengerti.

"Ugh... ugh..."

Tanpa sadar aku melangkah mundur sampai punggungku menabrak pohon. Di sana, Sora-san mendekatkan wajahnya padaku.

"Hei... ayo berciuman."

"......Ha?"

Apa yang dikatakan orang ini? Katanya tadi semuanya cuma akting... Ah, atau mungkin, yang barusan itu cuma candaan yang sangat buruk... Benar, mana mungkin Sora-san yang itu melakukan hal sekejam ini.

"Sora-san."

Aku menatap Sora-san dengan mata penuh harapan.

"Ah, maaf ya. Apa aku memberimu harapan yang aneh?"

Namun.

"Akan kukatakan sekali lagi—aku sama sekali tidak punya perasaan apa pun padamu."

"—!"

Keputusasaan kembali menghantamku.

"Ekspresi itu... benar-benar bagus."

Sora-san menjulurkan lidah merahnya sedikit.

"Kalau aku menciummu dalam situasi seperti ini... kira-kira kamu bakal jadi seperti apa ya?"

Orang ini... orang ini... mengerikan.

"Ayo Kanade-kun, mari kita berciuman."

"Ja-Jangan—"

"Aku tidak akan melepaskanmu."

Sora-san mencengkeram bahuku dengan tenaga yang sangat kuat. Lalu bibir Sora-san mendekat—

"Aku akan membuatmu... tidak bisa melupakanku selamanya."

"?! "

Mulutku dibungkam.

"Mmph! Mmph!"

Aku memberontak, tapi Sora-san tidak melepaskanku. Kenapa... kenapa jadi begini... Padahal tadi... semuanya terasa sangat menyenangkan.

Berbagai emosi menyerangku secara bersamaan, dan air mata mulai menggenang di mataku.

Padahal aku menyukainya... aku benar-benar... menyukainya. Sora-san melihat kondisiku itu, lalu melepaskan bibirnya dengan wajah puas.

"Aa... aa..."

Lututku gemetar hebat dan aku jatuh terduduk di sana.

"Ugh... aa..."

Dingin... padahal di sekitar terasa panas... tapi rasanya sangat dingin. Aku berlutut dengan kedua kaki sambil menggigil.

"Hei Kanade-kun, beri tahu aku. Bagaimana perasaanmu sekarang?"

Sora-san mengatakan sesuatu, suaranya masuk ke telingaku, tapi otakku tidak bisa memproses maknanya.

"Ayo, beri tahu aku. Apa itu asmara? Bagaimana rasanya jatuh cinta? Dan bagaimana rasanya saat perasaan itu dihancurkan? Aku tidak tahu, jadi beri tahu aku."

Sudah berakhir... rasanya... kesadaranku... mulai menjauh.

"Are? Jangan-jangan kamu mau pingsan ya?"

Di tengah kesadaranku yang memudar, hanya sensasi Sora-san yang mengusap kepalaku yang tersisa sampai akhir.

"Mari bertemu lagi."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close