NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (NouCome) Volume 6 Chapter 6

Chapter 6

Anak Lelaki yang Jatuh Cinta Komedi Romantis


Itu semua terasa seperti air bah.

"Ka-Kamu adalah..."

Informasi mengalir deras ke dalam kepalaku sekaligus. Aku menatap tajam orang yang berdiri di depanku.

Kenapa... kenapa aku bisa melupakannya?

Tiga tahun lalu, pemandu bus ceria yang senang menggodaku itu tidak terlihat seperti ini.

Sifat, cara bicara, dan pembawaannya memang sama persis, tapi setidaknya, dia tidak memiliki rambut berwarna biru cerah seperti ini.

Benar, orang ini adalah—

"Sora...-san?"

Sosok yang tersenyum tipis di depanku adalah Tenjou Sora.

Cinta pertamaku.

Sora-san melepaskan ikatan rambutnya sambil tersenyum manis.

"Kita bertemu lagi ya, Kanade-kun."

◆◇◆

Tiga tahun lalu, cinta pertamaku hancur berkeping-keping dengan cara yang kejam, dan karena syok yang teramat sangat, aku jatuh pingsan.

Lalu, saat aku terbangun, aku telah melupakan seluruh kejadian yang terjadi selama tur bus tersebut.

Otakku menyegel dan menghapus fakta bahwa aku pernah mengikuti tur ini.

Jika tidak melakukannya, mungkin keseimbangan mentalku tidak akan bisa bertahan.

Ingatanku dimulai saat aku terbangun di tempat tidur di rumah. Orang tuaku bilang kalau aku terkapar karena demam tinggi selama beberapa hari.

Kalau dipikir-pikir sekarang, sikap Ayah dan Ibu saat itu memang terasa agak tidak wajar.

"Aku sudah... ingat semuanya, Sora-san."

"Fufu. Apa dalam situasi begini aku harus bilang 'selamat datang kembali'?"

Di sana, terpancar senyuman yang tidak berubah dari tiga tahun lalu.

"Apa sebenarnya... apa sebenarnya yang kamu lakukan?"

Aku bisa merasakan suaraku sendiri gemetar.

"Apa katamu? Tentu saja aku datang untuk menemui Kanade-kun."

Sikapnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Setelah melakukan hal sekejam itu... sekejam itu padaku... kenapa dia bisa memasang ekspresi seperti itu...

"Datang untuk menemuiku... kenapa?"

"Karena aku penasaran dengan Kanade-kun."

"Jangan bercanda!"

"Iih, jangan marah-marah begitu dong, dasar penggoda... Ah, aku sudah tidak perlu akting jadi pemandu bus lagi, ya."

"Kenapa... kenapa kamu berpura-pura menjadi Michiru-san?"

Sora-san memiringkan kepalanya, seolah-olah ingin berkata, 'Masa begitu saja tidak tahu?'

"Habisnya, kalau kita reuni dengan cara biasa kan tidak seru?"

"Tidak seru? Cuma gara-gara itu kamu melakukan hal serepot ini?"

"Iya, benar. Aku ingin melihat wajah Kanade-kun yang kebingungan saat mengingatku, seperti 'Eh? Eh? Apa maksudnya ini?'. Persis seperti wajahmu yang sekarang ini."

"......"

"Iya, iya, kejutan besarnya sukses ya! Daripada aku muncul secara normal dan bilang 'Kanade-kun, lama tidak jumpa', begini kan jauh lebih dramatis. Bagaimana, bagaimana? Apa aku mirip?"

...Bukan sekadar mirip lagi. Tingkah lakunya, intonasi bicaranya, pembawaannya, semuanya membuatku hanya bisa berpikir kalau dia adalah Michiru-san.

"Michiru-san yang asli... ada di mana?"

Sudut mulut Sora-san terangkat.

"Dia sudah aku minta untuk 'keluar dari panggung'."

"Keluar... panggung?"

Mendengar frasa itu, kecemasan yang tak terkira melintasi pikiranku.

"Fufu, bercanda kok, bercanda. Madobe Michiru sudah lama berhenti jadi pemandu bus dan pulang ke kampung halamannya. Aku punya sedikit koneksi, tahu. Aku memaksa perusahaan wisata itu agar bisa berpura-pura menjadi dia."

Jadi begitu masalahnya... tapi, hal yang sebenarnya ingin kuketahui bukan itu. Aku membuka mulut perlahan, berusaha agar jantungku yang berdegup kencang tidak ketahuan.

"Aku tanya sekali lagi. Kenapa baru sekarang kamu menemuiku... tidak, sebenarnya kamu ini... apa maumu?!"

Sora-san menatap mataku dan menjawab seketika.

"Aku ingin tahu soal cinta."

"......Eh?"

"Kanade-kun, aku ini tidak bisa memahami emosi yang disebut cinta."

Tidak bisa memahami cinta? Itu terdengar seperti—

"Benar, sama sepertimu."

"Aku dan Sora-san... sama?"

"Iya. Aku sejak lahir. Sedangkan kamu menjadi begitu karena perbuatanku. Meski ada perbedaan itu, kurasa bisa dibilang sekarang kita berdua berdiri di garis yang sama."

"......"

"Karena itulah... justru karena kamu yang sekarang, kamu menjadi sosok yang kubutuhkan."

Sora-san melanjutkan kata-katanya sambil terus menatap lurus ke mataku.

"Kanade-kun yang tiga tahun lalu masih belum cukup. Memang materi yang menarik, tapi paling banter aku hanya bisa melihatmu patah hati dan mengambil sampelmu sebagai salah satu pola perilaku asmara manusia."

Setiap kata yang diucapkan Sora-san membuat kenangan tiga tahun lalu bangkit kembali, membuat dadaku terasa sesak.

"Tapi, Kanade-kun yang sekarang berbeda. Tubuhmu sudah benar-benar tidak bisa menerima perasaan suka dari orang lain. Trauma saat itu menjadi semakin kuat setelah tiga tahun berlalu; membusuk, mengeruh, dan mengendap di dasar hatimu. Kamu adalah manusia... yang lebih hebat dari siapa pun yang pernah kuobservasi."

Monolog Sora-san berlanjut.

"Jika saja... jika saja Kanade-kun, yang memiliki kecacatan asmara di level yang mendekatiku ini... bisa jatuh cinta di depan mataku... mungkin aku juga bisa memahami apa itu cinta."

Itu adalah... cara berpikir yang sangat... sangat menyimpang.

"Aku sudah menunggu lama, tahu. Menunggu saat kamu bangkit kembali. Menunggu mentalmu pulih sampai kamu bisa menerima kenyataan meskipun aku mengungkap jati diriku."

Lalu Sora-san tertawa dengan nada senang.

"Tapi, ada kesalahan perhitungan yang membahagiakan. Prediksiku, aku harus menunggu setidaknya lima tahun lagi. Apakah caraku menghancurkanmu saat itu terlalu lembut... atau, apakah gadis-gadis ini memang sebegitu mempesonanya?"

Di sana, dia mengalihkan pandangannya ke arah Chocolat, Furano, dan Ouka.

"""......"""

Mereka bertiga hanya bisa terpaku, tidak mampu memahami situasi yang sedang terjadi. Sora-san melemparkan senyuman kepada mereka.

"Malah, peranku hampir saja direbut. Saat festival musim panas kemarin, perasaan Kanade-kun sempat sedikit goyah, kan?"

Apakah yang dia maksud adalah... saat Pilihan Mutlak itu menghilang? Kalau benar begitu, kenapa Sora-san yang tidak ada di sana bisa tahu?

"Yah, kalau urusannya selesai dengan kalian sih tidak apa-apa... tapi Kanade-kun memang tidak akan bisa jatuh cinta dengan benar sebelum traumanya sembuh."

Sora-san menyatakan deklarasinya kepada mereka bertiga.

"Karena itulah... maaf ya, tapi Kanade-kun adalah milikku."

"""APA—!"""

Mereka bertiga serentak terperanjat. Lalu Sora-san tersenyum manis, berbalik menghadapku—dan mengusap kepalaku.

"Anak pintar, anak pintar."

"Kh—"

Aku refleks menepis tangannya. Sensasi tangan Sora-san sama persis dengan tiga tahun lalu... dan karena sama itulah, rasa muak yang kurasakan menjadi berlipat ganda.

"Fufu, sepertinya aku memang dibenci ya. Yah, kalau tidak di level itu tidak akan ada artinya. Kanade-kun... aku akan membuatmu menyukaiku mulai dari kondisi terendah ini."

"Apa..."

Apa-apaan yang dikatakan orang ini?

"Semakin kamu menghindariku... semakin kamu membenciku... semakin kamu mendendam padaku, itu justru semakin bagus. Yah, sepertinya sekarang masih agak kurang sih. Pokoknya, aku harus mengobservasi cinta yang lahir dari situasi seputus asa itu... kalau tidak, tujuanku tidak akan tercapai."

"Kamu... sampai sejauh mana kamu akan—"

"Kanade-san, orang ini adalah..."

Chocolat menyelinap masuk ke antara aku dan Sora-san.

"Aduh, aduh, maaf ya sudah menyela di antara aku dan Kanade-kun tersayang, dasar Gadis Rongsokan."

Sora-san mengalihkan pandangannya ke arah Chocolat.

"Kalau Kanade-kun sampai menyukaiku... kamu akan menjadi dua kali lipat lebih malang, lho."

Sora-san melontarkan kalimat yang maknanya tidak kumengerti sepenuhnya, sambil memberikan senyum meremehkan kepada Chocolat.

"Lagipula kalau memang bakal menghilang... kamu pasti ingin dia menyukaimu, kan?"

Menghilang... apa maksud pembicaraannya? Selanjutnya Sora-san menatap Ouka dan Furano.

"Lalu, Ouka-chan dan Furano-chan di sana. Sampai kapan kalian mau mematung?"

"""......"""

Itu wajar saja. Aku yang merupakan pihak bersangkutan saja sudah kewalahan menerima kenyataan yang terjadi di depan mata.

Meminta mereka berdua yang tidak tahu apa-apa soal kejadian tiga tahun lalu untuk bereaksi adalah hal yang mustahil. Mereka pasti bingung harus mulai bertanya dari mana.

"Yah, karena kalian bungkam, biar aku beri tahu satu hal."

Sora-san menjeda kalimatnya, lalu melemparkan tatapan provokatif.

"Kanade-kun, kamu tahu tidak? Gadis-gadis ini, tadi mau menemb—"

"HENTIKAN!!"

Suara teriakan yang membelah udara bergema. Ouka dan Furano melotot tajam ke arah Sora-san.

"Bercanda kok, bercanda. Jangan pasang wajah seram begitu dong."

Sora-san melakukan gerakan dramatis yang dibuat-buat.

"Aku memang merasa bertanggung jawab. Gara-gara aku, Kanade-kun jadi super tidak peka. Gara-gara itu juga, kalian sepertinya jadi kesulitan setengah mati."

"""......"""

Ouka dan Furano kembali terdiam seribu bahasa.

"Yah, sepertinya kalian sudah hampir berhasil, tapi pada akhirnya cuma sampai di situ saja ya. Waktu kalian sudah habis."

Sambil berkata begitu, dia mendekatiku perlahan.

"Kanade-kun adalah milikku."

Tepat saat Sora-san maju selangkah lagi—


PILIH:

TERIMA TENJOU SORA

TOLAK TENJOU SORA

Di-Di saat seperti ini...!

...Tidak, kalau dipikir-pikir, ini mungkin sebuah kesempatan. Pilihan Mutlak adalah fenomena yang melampaui nalar manusia, di mana hasil pilihannya pasti akan terjadi.

Jika aku memilih nomor dua, Sora-san tidak akan bisa terlibat lagi denganku—

"Lenyaplah."

"......Eh?"

Tepat saat Sora-san mengucapkan kata itu—

Pilihan Mutlak menghilang tanpa bekas.

"Eh? ...Eh?"

A-Apa... yang... terjadi? Ini seolah-olah Sora-san bisa mengendalikan Pilihan Mutlak

"Lengah!"

"—?!"

Detik berikutnya, bibir Sora-san sudah membungkam mulutku.

Ugh... aa...

Ingatan tiga tahun lalu—berkecamuk di dalam otakku sekaligus. Aku dipermainkan... setelah dipermainkan habis-habisan... aku dicium seperti ini. Padahal Sora-san sama sekali... tidak punya perasaan padaku.

Muak muak muak muak muak muak muak! Perasaan hitam pekat menggerogoti dadaku dalam sekejap. Aku tidak mau aku tidak mau aku tidak mau aku tidak mau. Ciuman seperti ini... aku tidak menginginkannya!

Di depanku ada wajah Sora-san. Orang yang pernah kusukai itu, terlihat sangat cantik—sekaligus sangat menjijikkan.

Aku salah... menyukai Sora-san... menyukai manusia adalah sebuah kesalahan. Pantas saja otakku secara tidak sadar menyegel ingatan ini. Aku... aku tidak ingin mengingat hal seperti ini.

Kalau menyukai seseorang hanya akan memberikan perasaan... perasaan seperti ini... Aku tidak akan pernah mau jatuh cinta lagi—

"Hentikan!"

"Hentikan perbuatanmu!"

"Berhenti!"

Tangan-tangan diletakkan di bahu Sora-san, dan tubuhnya ditarik ke belakang.

"Uhuk, uhuk...!"

Setelah terlepas, aku terbatuk-batuk sambil melihat ke depan. Chocolat, Furano, dan Ouka berdiri menghadang di antara aku dan Sora-san, seolah-olah menjadi perisaiku.

"Iya, iya, benar juga ya. Kalau aku melakukan hal ini pada Kanade-kun, kalian pasti tidak akan tinggal diam."

Sora-san melemparkan senyum sinis kepada mereka bertiga. Sebaliknya, mereka bertiga—meski aku hanya bisa melihat punggung mereka—jelas-jelas sedang melotot tajam ke arah Sora-san.

"Jangan pasang wajah begitu dong, menakutkan tahu."

Bertolak belakang dengan ucapannya, Sora-san justru menunjukkan ekspresi senang.

"Ah, benar juga. Aku punya ide bagus."

Dia menepukkan tangannya di depan dada.

"Demi menghormati kalian, aku akan berhenti menyentuh Kanade-kun di sini. Tapi sebagai gantinya... bagaimana kalau Kanade-kun menerima hadiah yang luar biasa dariku?"

Hadiah?

Saat aku bersiap-siap memikirkan apa lagi yang akan dia lakukan—


PILIH:

JATUH CINTA PADA CHOCOLAT

JATUH CINTA PADA OUKA

JATUH CINTA PADA FURANO


"I-Ini adalah..."

Suaraku tidak sengaja lolos begitu saja. Ini adalah... pilihan yang sama dengan misi sebelumnya, saat festival musim panas—

"Benar, ini Pilihan Mutlak yang sama dengan saat festival musim panas kemarin."

"APA?!"

Pilihan Mutlak... Barusan Sora-san benar-benar mengucapkannya.

"Nah, nah, Kanade-kun... kira-kira siapa jati diriku yang sebenarnya?"

—Entah kenapa, dia tahu soal kejadian di festival itu.

—Entah kenapa, pilihan itu menghilang hanya dengan satu kata darinya.

—Entah kenapa, dia mengucapkan istilah Pilihan Mutlak.

Kesimpulan yang bisa ditarik dari hal ini adalah—

Mungkinkah... mungkinkah orang ini adalah... 'Tuhan Ketiga'? Biang keladi yang memaksaku menjalani kehidupan yang tidak masuk akal ini.

"Fufu, Kanade-kun, aku tahu kamu bingung, tapi lebih baik kamu segera memilih."

Bersamaan dengan kalimat Sora-san itu,

"Guaaaakh!!"

Sakit kepala yang luar biasa menyerangku.

"Kanade-san!"

"Amakusa-kun!"

"Kanade-chi!"

Mereka bertiga berubah pucat melihatku jatuh berlutut.

"...A-Aku tidak apa-apa."

Sambil menahan rasa sakit yang hebat, aku bangkit berdiri dengan lunglai.

Jangan bercanda... aku tidak akan pernah mau menyukai siapa pun lagi.

Kenangan tiga tahun lalu berputar-putar di kepalaku. Hal seperti itu... hal seperti itu sudah—

"Aku... sudah kapok jatuh cinta lagi!"

Aku menatap tajam ke arah Sora-san.

"Begitu ya. Tapi sayangnya, tekadmu itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan pilihan ini."

"Ugh, aaaaaakh!!"

Rasa sakit yang jauh lebih hebat dari sebelumnya menyerang, membuatku tersungkur ke tanah.

"Ayo, ayo, kalau tidak cepat memilih nanti kamu bisa mati lho."

Sora-san memprovokasiku dengan nada riang.

"A-AAAAAAAAGH!!"

Sakit kepala itu menyiksaku tanpa ampun.

"Padahal ini hal yang mudah, kenapa kamu ragu? Kanade-kun juga pasti tidak punya perasaan buruk terhadap mereka bertiga, kan?"

Aku tidak mau... aku tidak mau!

"Aku... aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi seumur hidu—UAAAAAAAGH!!"

Ti-Tidak bisa, ini sudah batasnya. Kesadaranku mulai...

Tepat saat aku hampir mencapai batas—

"......Eh?"

Ada sensasi hangat di telapak tanganku. Kesadaranku yang hampir hilang tertarik kembali. Aku perlahan membuka mataku yang sempat terpejam.




"Kanade-san."

"Kanade-chi."

"...Amakusa-kun."

Mereka bertiga menggenggam tanganku.

"Kanade-san, tidak apa-apa kok."

"Benar, kami ada di pihakmu!"

"Yah... karena begitulah keadaannya, sebaiknya kamu tenang saja."

Anehnya, aku merasa sakit kepalaku sedikit mereda.

"Aduh, aduh. Kanade-kun, kamu populer sekali ya."

Mendengar suara itu, mereka bertiga—tetap sambil menggenggam tanganku—mengarahkan pandangan mereka ke arah Sora-san.

"Fufu, Kanade-kun itu ya, tiga tahun lalu dicampakkan olehku dengan cara yang sangat kejam, sampai-sampai tubuhnya tidak bisa lagi merasakan asmara."

"""............"""

Chocolat, Furano, dan Ouka kembali menatapku, seolah menuntut konfirmasi apakah ucapan Sora-san itu benar atau tidak.

"Kh... hah... hah... itu benar."

Setidaknya sakit kepalaku sudah mereda sampai level di mana aku bisa bicara.

"...Tadi... aku sudah ingat semuanya... Aku... aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi... selamanya."

 "Amakusa-kun..."

"Hal seperti itu... perasaan menyakitkan seperti itu... sudah... cukup."

"Kanade-chi..."

"Aku dikhianati... padahal aku sangat menyukainya... padahal aku tulus..."

"Kanade-san..."

"Aku tidak butuh asmara... asmara itu tidak perlu ada. Dengan begitu—"

"Amakusa-kun."

Furano memotong kata-kataku.

"...Ada apa?"

"............"

Setelah keheningan sejenak, dia membuka mulutnya kembali seolah telah membulatkan tekad.

"Ini hanya pandangan umum... benar-benar hanya pandangan umum... tapi menurutku... asmara itu tidak seburuk itu."

"Furano..."

Lalu dia menatap mataku dengan tajam.

"Aku juga, anu... suatu saat nanti ingin mencobanya."

Deg. Jantungku berdegup kencang.

Lalu, suara lain terdengar.

"Kanade-chi... aku tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu... tapi ada satu hal yang ingin kukatakan."

"Ouka..."

Dia tersenyum ke arahku.

"Asmara itu... benar-benar bikin berdebar, mendebarkan, dan sangat menyenangkan lho!"

Deg. Jantungku kembali bergejolak hebat.

Ditambah lagi, suara yang lain.

"Kanade-san... tolong jangan katakan hal sedih seperti tidak mau jatuh cinta lagi."

"Chocolat..."

Dia menggenggam tanganku lebih erat, sementara tangannya yang lain mengusap kepalaku.

"Karena aku... karena kami semua, sangat menyukai Kanade-san!"

Deg. Seketika wajah mereka bertiga masuk ke dalam bidang pandangku secara bersamaan—

"Ah..."

Perasaan hitam pekat di dalam dadaku—lenyap seketika. Dan aku pun menyadarinya.

"Begitu ya... benar juga."

Gumamku sambil bangkit berdiri. Aku... selama ini salah berpikir.

"Oh, sepertinya kamu sudah membulatkan tekad ya. Jadi, siapa yang akan kamu pilih?"

Aku menatap tajam ke arah Sora-san lalu membuka mulut.

"Aku... tidak akan memilih siapa pun."

"Hm, apa maksudnya? Kalau begitu pilihannya tidak akan hilang lho."

"Kh...!"

Rasa sakit yang hebat kembali menyerang kepalaku. Tapi hal semacam itu... masa bodoh!

"Sora-san... terima kasih."

"Hah?"

Mendengar ucapanku yang tiba-tiba, Sora-san tertegun.

"Gara-gara kamu, aku memang mengingat berbagai hal yang mengerikan... tapi gara-gara kamu juga, aku jadi ingat hal yang sangat penting."

"Hal penting?"

"Bahwa menyukai seseorang... adalah hal yang luar biasa."

Benar... tidak peduli apa pun niat Sora-san... tidak peduli apa pun isi hati aslinya, fakta bahwa aku pernah jatuh cinta pada Sora-san adalah kenyataan. Dan perasaan yang kurasakan saat itu... adalah milikku sendiri.

Itu sangat menyenangkan... benar-benar sangat menyenangkan. Meski panggung yang diberikan padaku adalah palsu... tapi rasa cintaku saat itu adalah nyata.

"Aku... ingin menyukai seseorang lagi."

Berkat Furano, Ouka, dan Chocolat, aku bisa mendapatkan kembali perasaan itu.

"Tapi aku... akan memutuskan sendiri siapa orang yang akan kusukai."

Mana sudi aku... dipaksa oleh sebuah pilihan. Aku menatap lurus ke mata Sora-san.

"Karena itulah... aku tidak akan memilih siapa pun."

Apa yang akan terjadi setelah ini... aku tidak punya waktu untuk memikirkannya. Aku hanya menyampaikan kesimpulan yang tidak akan kugoyahkan.

"......Heh."

Sora-san tersenyum puas. Dan kemudian—

"......Eh?"

Seketika, rasa sakit di kepalaku lenyap tanpa bekas. Di saat yang sama, pilihan di dalam otakku juga musnah tak bersisa.

"......Sora-san?"

"Menarik. Kanade-kun—tidak, kalian semua benar-benar menarik ya."

Sora-san melirik ke arah Chocolat dan yang lainnya sejenak, lalu kembali menatapku.

"Oke, perubahan rencana. Kanade-kun, kurasa aku akan membiarkanmu melanjutkan komedi romantis sekolahmu sedikit lebih lama."

"Komedi romantis... sekolah?"

"Iya, iya. Kanade-kun, mungkin kamu sendiri tidak sadar, tapi kalau dilihat dari luar, kehidupan sekolahmu itu persis seperti komedi romantis yang sering ada di manga."

Begitu... kah? Aku sama sekali tidak merasakannya.

"Yah, selama ini elemen komedinya terlalu kuat sih... tapi karena sepertinya Kanade-kun sudah mulai 'bangun', kurasa ini akan jadi komedi romantis yang sesungguhnya."

Cara bicara Sora-san seolah dia sedang mengobservasi dari dunia lain... Jika benar dia adalah 'Tuhan', maka istilah itu tidaklah salah.

"Fufu. Pokoknya, aku menantikan komedi romantis sekolah yang layak tonton ya."

Aku masih belum paham apa tujuan sebenarnya dari orang ini.

"Nah, kira-kira Pilihan Mutlak menarik seperti apa lagi yang akan muncul ya?"

...Tidak, masa bodoh dengan tujuan Sora-san. Kalau dia mau melihat komedi romantis sekolah, akan kutunjukkan sebanyak apa pun yang dia mau.

Kalau Pilihan Mutlak menyuruhku melakukan hal-hal aneh, akan kulakukan sepuasnya. Akan kupamerkan sosok konyolku yang dia inginkan sampai dia puas.

Tapi... untuk pilihan yang menginjak-injak hati dan perasaan manusia—aku akan melawannya dengan sekuat tenaga. Pilihan yang memaksaku menyukai seseorang... tidak akan pernah kupilih sampai mati pun.

Lalu, atas keinginanku sendiri, aku akan jatuh cinta lagi. Aku akan menyukai seseorang... dan menendang Pilihan Mutlak ini keluar dari kepalaku.

Tidak, aku akan berhenti menyebutnya dengan kata 'Mutlak'. Tidak ada hal yang mutlak di dunia ini.

Buktinya, pemikiran 'mutlak tidak akan jatuh cinta lagi' milikku saja bisa dipatahkan. Aku tidak akan lagi bergerak sesuai keinginan pilihan-pilihan yang bersarang di kepalaku.

Komedi romantis sekolahku—tidak akan kubiarkan diganggu oleh pilihan di dalam otak.

[ BERSAMBUNG TO BE CONTINUED...]



Previous Chapter | ToC | End V6

0

Post a Comment

close