NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (NouCome) Volume 6 Chapter 1 & Interlude 1

Chapter 1

Kedatangan Natsuhiko Homo


1

Suatu hari di musim panas, saat libur panjang sudah melewati pertengahan jalan.


Pilih:

Menabrak dinding rumah secepat kilat.

Menabrak dinding rumah dalam kondisi telanjang bulat.


“...Wahai Tuan Pilihan. Cuaca panas begini, kamu rajin banget ya kerjanya.”

Meski aku mencoba menyapanya di dalam hati, sebanyak apa pun aku menunggu, tidak ada perubahan yang muncul pada pilihan tersebut.

“...Nggak bisa, ya?”

Tapi, malam festival musim panas waktu itu... aku yakin pilihan-pilihan ini sempat menghilang. Aku tidak mungkin salah karena aku merasakannya sendiri dengan seluruh tubuhku.

Namun, setelah kejadian itu, semuanya kembali ke spesifikasi semula. Tidak ada tanda-tanda bakal menghilang lagi.

“Ugh...!”

Lalu, sakit kepala yang sudah menjadi rutinitas itu menyerangku. ...Apa boleh buat.

Buka baju—tarik napas dalam—ragu-ragu—sakit kepala luar biasa—tekad bulat—tarik napas dalam lagi—ragu-ragu lagi—sakit kepala yang nggak main-main—ancang-ancang—UOOOOOOHH!Bugh!—Terkapar telanjang membentuk huruf X—SITUASI SAAT INI.

Aku ini... sebenarnya lagi ngapain, sih?

“Ufufufufufu.”

Tawa menjijikkan yang penuh celaan diri sendiri pun lolos dari mulutku. Mentalku rasanya hampir berbelok ke dark side.

Keharusan melakukan tindakan menyimpang di sekolah, dipandang rendah oleh para gadis, sampai terkapar telanjang di musim panas begini... semuanya... semuanya gara-gara Absolute Choice sialan ini!

Sambil memakai baju kembali, aku memikirkan cara untuk melenyapkan pilihan-pilihan ini. Maksudku, sebenarnya aku sudah tahu caranya.

Entah apa logikanya, tapi untuk melenyapkan pilihan terkutuk ini sepenuhnya, katanya aku hanya perlu jatuh cinta pada seseorang.

...Namun, ada masalah mendasar di sana. Sepertinya, aku yang sekarang tidak bisa jatuh cinta.

Padahal ini urusanku sendiri, tapi aku malah pakai kata "sepertinya". Habisnya, katanya dulu pernah terjadi sesuatu... meski aku sendiri lupa, tapi gara-gara "sesuatu" itu, aku jadi tidak bisa merasakan perasaan cinta kepada orang lain... Benar-benar penuh dengan kata "katanya", ya.

Ketua Kokubyakuin sepertinya tahu tentang "sesuatu" itu, tapi meski aku bertanya baik-baik, mana mungkin orang itu mau memberitahuku. Dan setiap kali aku mencoba mengingatnya sendiri, sakit kepala aneh menyerang dan menghambat pikiranku.

Sebenarnya, apa yang terjadi padaku di masa lalu...?

“Hm?”

Tepat saat aku berpikir sampai di situ, pintu ruang tamu terbuka dan Chocolat muncul.

“...Fumyuu.”

Rambutnya berantakan, matanya tampak sayu, dan langkah kakinya sempoyongan. Sepertinya dia masih setengah mengantuk.

“Selamat 'siang'.”

Waktu sudah hampir menunjukkan jam dua belas siang. Meski ini libur musim panas, dia tidur terlalu lama. Padahal, asal kalian tahu ya Ibu-ibu, dia ini semalam sudah tidur dari jam sembilan, lho.

“Ehehe. Selamat siaaang~”

...Percuma, dia tipe yang nggak bakal paham sindiran.

“Kanade-saaaann~”

“Jangan nempel-nempel!”

Chocolat bersandar padaku sambil masih terkantuk-kantuk. ...Jujur, ini nggak baik buat kesehatan jantungku.

“Ehehe, Kanade-san, aku suka bangett~”

“Kh...!”

Aku tahu Chocolat menyukaiku. Dan aku juga tahu kalau itu bukan sekadar 'like', melainkan bermakna 'love'. Tapi... tapi untuk saat ini, aku tidak bisa menerima perasaan itu.

“Le... pasin!”

Tepat saat aku mencoba melepaskan paksa pelukan Chocolat yang punya tenaga luar biasa kuat itu—

Kruyuuuk~

Perut Chocolat berbunyi dengan sangat meriah.

“Kanade-san...”

Chocolat menunjukkan ekspresi sedih seperti anjing yang dibuang.

“Lapar, ya?”

Kruyuuuk~

Bunyi perutnya seolah-olah menjadi jawaban...

“Ada nikujaga di kulkas, panaskan saja sendiri.”

KRUYUK!

Perutnya berbunyi dengan nada yang entah kenapa terdengar senang... Apa-apaan ini?

“Kamu... jangan-jangan bisa mengatur bunyi perutmu sendiri?”

“Hehe, perutku ini lebih jujur daripada mulutku, lho.”

Dia mulai memasang wajah bangga yang menyebalkan, jadi aku sedikit kesal. Tapi, kalau ekspresi lewat bulu ekor sih aku masih paham, tapi kalau lewat bunyi perut...

Aku coba mengetes sejauh mana dia bisa mengaturnya.

“Apa bunyi perutmu kalau lagi kesal?”

Kru, kruyuuuk...

Wah, hebat... Coba aku pastikan lagi.

“Kalau menang lawan 'Gunting' di suit Jepang?”

GUU. (Batu)

Uwoh, aku nggak ngerti gimana caranya, tapi bunyinya terdengar jelas seperti kata 'Batu'.

“Kalau lawakan artis komedi wanita yang sempat viral dulu?”

GUU GUGUU GUGUU GUGUU-!

“Ini sih levelnya udah bukan 'mengatur' lagi!”

KHOOOOOO~!

“Itu mah jelas-jelas bukan bunyi perut lagi, tahu!”

Gimana sih sistemnya? ...Jangan-jangan dia memasang alat di dalamnya, pikirku sambil memandangi perut Chocolat lekat-lekat.

“Ada apa? Di dalam nggak ada siapa-siapa, kok.”

...Chocolat mengucapkan kalimat ngeri dengan wajah polosnya. Makoto mati saja sana. (T/N: Referensi ke anime School Days).

KRUYUUUUUUUUK~

Kali ini, perut Chocolat berbunyi lebih keras dari sebelumnya.

“Ehehe, gara-gara olahraga tadi, aku jadi makin lapar.”

“Ooh, jadi yang tadi itu 'olahraga', ya...”

Mengabaikan aku yang melongo keheranan, Chocolat bergegas menuju kulkas. Kemudian, dia membuka pintu, memeriksa isinya, dan—

“Ga-Gawat, Kanade-san!”

Chocolat kembali dengan wajah pucat sambil memeluk wadah nikujaga.

“A-Ada apa?”

Karena ekspresinya terlihat sangat terdesak, aku pun ikut bersiaga.

“Ini nggak cukup sama sekaliii!”

“Mati kelaparan saja sana!”

Kalau aku memanjakannya di sini, sudah jelas dia bakal ngelunjak dan minta makan terus tanpa henti.

“Itu hukuman karena bangun kesiangan, tahan saja segitu.”

“Ja-Jahat! Kanade-san jahat, iblis, setan, Washizu!”

“Ejekanmu aneh banget, woi!”

Nggak sih, kalau melihat perkembangan belakangan ini, nggak bisa dibilang nggak ada hubungannya juga... tapi karena ini spoiler, aku nggak bisa bilang lebih dari ini.

“Uuu~ porsi sesedikit ini mah bakal 'hap' langsung habis dalam sekejap...”

...Bagian mana dari wadah besar yang isinya menggunung ini yang kamu bilang sedikit?

“Selamat makannn!”

“Uoh...!”

Pemandangan itu benar-benar hanya bisa digambarkan dengan kata 'hap'. Levelnya sudah sampai tahap di mana tidak akan aneh jika muncul efek suara melayang di udara. Aura 'sekali hap' ini sepertinya tidak akan bisa ditiru oleh orang lain.

Kalau setelah Hirari atau Aguri, apa bakal ada seri Perori? Mengingat tren belakangan ini, mungkin dipanggil Pero-chan juga boleh... Ah, aku sendiri jadi nggak paham apa yang aku bicarakan.

“Uuu~ tetap saja nggak cukup.”

Chocolat menempelkan pipinya ke meja sambil mengetuk-ngetuk pinggiran mangkuk dengan sumpit. Ting ting ting.

“Woi, itu nggak sopan, berhenti.”

“Iya... tapi Kanade-san... aku mau makan lagi.”

Dia menatapku dengan tatapan memelas yang luar biasa.

“Ugh... n-nggak boleh, nggak boleh.”

“Makan...”

“Ka-kan sudah dibilang nggak boleh.”

“Aku... lapar.”

“............”

Sepuluh menit kemudian, di depan Chocolat sudah berjejer beberapa jenis lauk pauk.

“Hoaaa...”

Mata Chocolat berbinar-binar sambil melahap masakan itu.

“Masakan Kanade-san memang paling enak!”

...Aku memang terlalu lembek.

“Haaaa~ aku bahagia banget~”

Mungkin ini yang dinamakan senyuman yang bikin meleleh. Kalau diperlihatkan wajah seperti ini, meski aku tahu ini salah, aku jadi ingin terus memberinya makan. Itu masalahnya.

“Hm?”

Tiba-tiba, ponselku berbunyi tanda ada pesan masuk. Saat aku membukanya, ternyata itu adalah Mission Pembatalan Kutukan dari 'Dewa' yang kini sudah menjadi rutinitas.

Kemarin isinya agak tidak biasa, di mana muncul hak penolakan dalam pilihan, tapi—

“Nah, kali ini apa ya...”

Sambil menghela napas, aku membukanya.

Amakusa Kanade harus memperlihatkan adegan dirinya sedang berciuman kepada salah satu dari: Chocolat, Yukihira Furano, atau Yuuouji Ouka. Batas waktu: Sampai liburan musim panas berakhir.

Apa... katamu.

Sebanyak apa pun aku membacanya ulang, tulisan itu tidak berubah sedikit pun. Ciuman, katamu... Maksudnya ciuman itu, kan?

Istilahnya Chu, atau Baiser, atau Seppun. Terserah sih, tapi apa cuma aku yang kalau mendengar kata Chuu malah kepikiran Kiteretsu...? Benar-benar nggak penting, sih.

Pikiranku sempat melantur sejenak, tapi... ciuman itu saja hambatannya sudah tinggi banget, terus aku harus memperlihatkannya ke Chocolat, Furano, atau Ouka? ...Nggak mungkin, ini mah impossible game!

Chocolat yang sudah selesai makan tiba-tiba memelukku dari belakang.

“Kanade-san, kali ini misinya apa?”

“Ja-Jangan nempel-nempel di musim panas yang panasnya minta ampun begini!”

Aku menjauhkan Chocolat yang mencoba menempel padaku dengan berbagai alasan. Dia sempat merengut muuu~ karena tidak puas, tapi seolah menyadari sesuatu, dia menepukkan tangannya.

“Ah, Kanade-san. Kalau bicara soal musim panas...”

“Ada apa?”

“Musim panas itu identik dengan HOMO!”

“...Hah?”

Chocolat melanjutkan dengan riang.

“Musim panas itu identik dengan HOMO!”

Kenapa harus diulang dua kali?

"Dan kalau bicara soal musim panas, tentu saja jawabannya adalah Natsuhiko-san!"

"Makanya aku tanya, itu siapa sih dari tadi...?"

Natsuhiko... Itu adalah nama yang sering sekali keluar dari mulut Chocolat. Sepertinya di dalam otak busuknya itu, sosok tersebut sudah ditetapkan sebagai pasangan homo-ku.

"Tunggu sebentar ya!"

Chocolat pergi meninggalkan ruang tamu dengan wajah riang, dan beberapa menit kemudian, dia kembali dengan ekspresi yang jauh lebih kegirangan lagi.

Di punggungnya, dia tampak sedang menggendong sesuatu yang berbentuk seperti manusia.

"...Apaan tuh?"

"Ini boneka Natsuhiko-san!"

Sambil tersenyum lebar, Chocolat menyodorkan benda yang dia bawa ke hadapanku—sebuah action figure berukuran asli dari Natsuhiko (?).

Mata tajam yang berkilat di balik kacamata, gaya rambut yang tersisir sangat rapi, dan pakaian yang bagian dadanya terbuka lebar.

Gimana ya bilangnya... Visualnya itu tipe-tipe orang yang nggak bakal terasa aneh kalau tiba-tiba muncul sambil menggigit bunga mawar.

Entah terbuat dari bahan apa, tapi detailnya benar-benar dibuat dengan sangat teliti. Kualitasnya tinggi nggak keruan. Kalau ini diproduksi massal, kayaknya bakal laku keras, deh...

"Ayo, ayo, Kanade-san!"

Mata Chocolat berbinar-binar penuh harap.

"Ayo, ayo apanya... Terus aku harus ngapain sama benda ini?"

"Silakan curahkan kasih sayangmu sepuas hati!"

"OGAH, SIAPA JUGA YANG MAU!"

"Mau digigit manja boleh, dijilat boleh, mau dikulum juga boleh banget, lho!"

"APANYA YANG DIKULUM?!"

Aku sudah tahu dari dulu kalau otak cewek ini memang busuk, tapi... kayaknya level ini sudah melampaui 'busuk' dan sudah sampai tahap 'fermentasi'.

"Lebih hebatnya lagi, Natsuhiko-san ini... Ternyata bisa bicara!"

Dengan semangat yang sangat tinggi, Chocolat menekan sebuah tombol.

Wah... besar sekali...

"Tiba-tiba ngomong apaan sih nih orang?!"

Punya Kanade-kun... sedikit lebih kecil dari ukuran standar.

"BERISIK!"

Sekali saja kuingin lihat, Kanade menutupi bagian depannya... (T/N: Referensi dari pantun pembuka komedian Rakugo, Utamaru Katsura).

"Kenapa malah jadi pantun begitu, sih!"

Ngomong-ngomong, aku terbuat dari bahan yang bisa dicuci, jadi bisa dipakai berkali-kali.

"Memangnya boneka pemuas nafsu?!"

Bukan, ini Natsuhiko.

"DIAM!"

Coba tanyakan, "Apakah ini Zonbi?"

"...Apakah ini Zonbi?" (T/N: Plesetan dari judul LN/Anime Kore wa Zombie Desu ka?).




"Bukan, ini Natsuhiko."

"NGESELIIIIIIINNNNN!!"

"Benar sekali, saya adalah Om-om Aneh~♪" (T/N: Referensi komedi klasik Ken Shimura, Henna Ojisan).

"Tuh kan, bukan Natsuhiko lagi!"

"Bukan, ini Natsuhiko."

"UGYAAAAAAAAAAAAAA!!"

"Punya Kanade-kun... sedikit lebih kecil dari ukuran standar."

"KENAPA HARUS DIULANG DUA KALI?!"

Sambil berteriak murka, aku membanting boneka Natsuhiko itu ke lantai.

"Kanade-san mau nyerang... Kanade-san mau nyerang!"

"Kamu juga, diam!"

Aku membentak Chocolat yang sedang kegirangan, lalu melirik ke arah boneka Natsuhiko yang tergeletak tak berdaya dengan tangan dan kaki menjuntai di lantai.

"Barang rongsokan begini, mending langsung dibuang aj—"

Tiba-tiba, sebuah ide melintas di kepalaku.

"............"

"Kanade-san, ada apa?"

Chocolat memiringkan kepalanya, melihatku yang tiba-tiba termenung.

"Enggak, cuma..."

Aku menjawab dengan ragu sambil memungut boneka Natsuhiko dari lantai. Lalu, aku menatap wajahnya dalam-dalam.

"........................"

...Yah, siapa tahu saja hal itu bisa terjadi, kan?

"Dengar, Chocolat. Perhatikan baik-baik... apa yang akan aku lakukan sekarang."

Setelah memantapkan tekad, meski dengan rasa jijik yang luar biasa, aku mendekatkan wajahku dan—

Mengecup bibir Natsuhiko.

"Ha-hauuu!"

Chocolat memekik kegirangan.

"Ya-Yatta! Akhirnya... akhirnya Kanade-san resmi jadi homo sejati!"

Aku ingin sekali membalasnya, tapi karena mulutku sedang 'terpakai', niat itu tidak tersampaikan.

Tapi, sensasi apa di bibir ini...? Terasa kenyal dan anehnya nyaman, yang malah membuatku makin kesal.

"Perjuangan selama tiga bulan... usahaku memutar 'CD untuk Membangkitkan Jiwa Homo' di samping Kanade-san yang sedang tidur akhirnya membuahkan hasil!"

Oalah, jadi kamu pelakunya?!

Sambil melotot ke arah Chocolat, aku melepaskan bibirku dari boneka Natsuhiko.

Nah... bagaimana hasilnya?

"........................"

Namun, sebanyak apa pun aku menunggu, email tanda misi selesai tidak kunjung tiba.

"Ternyata kalau lawan boneka nggak dihitung, ya..."

Mendengar gumamanku, Chocolat sepertinya salah paham. Bulu di ekornya langsung berdiri tegak karena semangat.

"Aku mengerti! Kalau begitu, nanti aku akan bawa Natsuhiko-san yang asli ke sini!"

"NGGAK USAH!"

Lagian, Natsuhiko itu beneran ada, ya...?

Yah, terlepas dari itu, sepertinya misi kali ini lebih baik tidak aku beritahukan pada Chocolat. Kalau dia tahu isinya, dia pasti akan bilang dengan wajah riang:

"Kalau begitu, aku akan ciuman sama Kanade-san di depan Ouka-san dan Furano-san!"

Meski Chocolat memang menyukaiku, memanfaatkan perasaannya hanya demi menyelesaikan misi itu rasanya sudah melanggar kemanusiaan.

Mau ada misi atau tidak, ciuman itu seharusnya dilakukan dengan orang yang benar-benar kita cintai secara tulus...

...Eh?

Tiba-tiba, ada yang mengganjal di pikiranku barusan.

"Ugh..."

Rasa mual mendadak menyerang, membuatku menutup mulut. A-apa ini... rasa mual yang sangat dahsyat.

"Kanade-san?"

Chocolat menatapku dengan tatapan khawatir.

"Nggak apa-apa... aku baik-baik saja."

Aku memberi isyarat tangan dan mencoba mengatur napas. Untungnya rasa mual itu segera reda... Apaan sih itu tadi?

"Fuu... Hmm?"

Tepat saat aku mengembuskan napas lega, bel pintu depan berbunyi.

"Ah, mungkin itu Natsuhiko-san!"

"MANA MUNGKIN!"

Meski membentaknya, aku melangkah ke depan dengan jantung berdebar dan membuka pintu... Gawat juga kalau itu beneran Natsuhiko.

"Permisi, paket!"

Ternyata cuma mas-mas kurir biasa. Aku mengembuskan napas lega.

Chocolat yang ada di belakangku tampak sedikit kecewa, tapi kemudian wajahnya tiba-tiba cerah seolah memikirkan sesuatu.

"Kalau gitu, sama mas ini juga boleh!"

"APAANNYA YANG BOLEH?!"

Sambil mengabaikan wajah bingung mas-mas kurir itu, aku menerima paketnya.

Sambil kembali ke ruang tamu, aku melihat kolom pengirim di kotak itu: 'Arable Travel'.

Kalau tidak salah, itu nama biro perjalanan yang terkenal sering membuat tur-tur nyeleneh. Saat kulihat nama penerimanya, tertulis Amakusa Kanade.

Biasanya brosur iklan memang bisa datang ke siapa saja, tapi kenapa mereka repot-repot mengirim paket lewat kurir?

Karena penasaran, aku pun membukanya.

"Wuaa!"

Duar! Seiring suara ledakan kecil, potongan kertas warna-warni (confetti) terbang keluar dari dalam kotak.

Saking kagetnya, aku sampai menjatuhkan kotaknya.

"A-apaan sih, mengagetkan saja."

Saat kupungut kembali, ada sebuah amplop di dasar kotak. Aku membukanya dan memeriksa surat di dalamnya.

Terima kasih atas dukungan Anda selama ini. Pertama-tama, izinkan kami meminta maaf atas ketidaksopanan terkait party popper kejutan yang kami sertakan. Kami yakin Anda pasti sangat terkejut... Ehehe, gimana rasanya? Kaget ya pas dengar bunyi 'Duar!' tadi? Gimana rasanya? Gimana?

Ngapajak berantem, ya?!

Nah, karena kita sudah mulai akrab, boleh ya kalau mulai sekarang bahasanya jadi lebih santai?

Nggak, nggak boleh lah...

Oh, boleh ya? Makasih ya. Kalau gitu, CEPETAN BELIIN GUE ROTI SANA!

Ini sih bukan bahasa santai lagi namanya!

Canda, ding. Cuma 'Michael Jordan' kok. (T/N: Plesetan dari jodan yang berarti candaan).

Uwah... garingnya tingkat dewa.

Michael Tomioka itu Yakisoban.

Terus kenapa?!

Kalau gitu, CEPETAN BELIIN GUE ROTI YAKISOBA SANA!

NGESELIIIIIINNNN!

Maaf, saya terlalu bercanda. Mari kita mulai ke kata pengantarnya.

Terus yang tadi itu apa?!

Ngomong-ngomong soal 'pengantar'... kalau 'yang depan jadi besar' itu namanya ereksi, kan?

Malah jadi mesum!

"Punya Kanade-kun... sedikit lebih kecil dari ukuran standar."

"KENAPA BONEKA NATSUHIKO-NYA MALAH NYAMBUNG?!"

Mereka ini habis latihan duet komedi atau gimana, sih?!

Oke, mari kita masuk ke intinya. Pada bulan Agustus tahun ini, perusahaan kami menyambut ulang tahun yang ke-25—

Setelah bagian itu, kalimatnya berubah menjadi bahasa yang formal dan sopan. Kenapa nggak dari tadi saja begini...

Singkatnya, dalam rangka ulang tahun Arable Travel ke-25, mereka mengadakan kampanye dengan mengundi pelanggan lama, dan pemenangnya akan diundang dalam tur bus 3 hari 2 malam secara gratis. Dan aku terpilih menjadi pemenangnya.

Orang tuaku memang suka jalan-jalan, dan seingatku sejak kecil aku sering diajak ke berbagai tempat.

Jadi, tidak aneh kalau ada pemberitahuan dari biro perjalanan, tapi kenapa tujuannya atas namaku dan bukan atas nama Ayah?

Perusahaan ini kelihatannya nggak becus, apa mereka salah tulis nama?

"...Coba aku tanya Ayah dulu, deh."

Aku menelepon Ayah yang berada jauh di Kyushu.

Sebenarnya aku malas bicara dengannya karena bikin capek... Tapi dipikir-pikir, sudah berapa bulan ya aku tidak melihat wajahnya? Setidaknya, sejak Chocolat tinggal di sini, dia belum pulang sekali pun.

Dibilang 'memberi kebebasan' sih kedengarannya keren, tapi rasanya aku cuma ditelantarkan saja...

"Tuuulululululu. Ah, apakah ini Bos?"

"...Boleh aku tutup teleponnya?"

...Anak sendiri telepon setelah sekian lama, sapaan pertamanya malah meniru Doppio (T/N: Karakter dari JoJo's Bizarre Adventure).

"Maaf, maaf. Ayah cuma mau melucu sedikit di telepon pertama setelah sekian lama dengan putraku tercinta. Kojirowo jadi agak bersemangat, nih."

"Bapak-bapak jangan panggil diri sendiri pakai nama kecil!"

"Apa... Pa-padahal Ayah merasa masih muda, masa... dipanggil bapak-bapak sama anak sendiri... Nggak pisang banget deh." (T/N: Plesetan dari Sonna bakana menjadi Sonna banana).

"Garingnya beneran khas bapak-bapak!"

"Yah, cuma bercanda. Omong-omong, ada perlu apa telepon Papa?"

"Geli banget! Seumur hidup aku nggak pernah panggil Papa!"

"Ah, fyi aja, panggil Papa di sini bukan maksud yang aneh-aneh ya, tapi maksudnya Ayah kandung."

"Aku tahu! Siapa juga yang bakal salah paham! Kan aku ini anak kandungmu!"

"Apa katamu? Anakku cuma 'si Joni' yang ada di selangkangan ini."

"Bercandanya sampah banget!"

"Oho, jadi ceritanya lagi main tebak-tebakan antara 'si Joni' sama 'Oinari-san' ya?" (T/N: Oinari adalah jenis sushi yang sering digunakan sebagai eufemisme untuk testis).

"DIAM!"

"Kanade... suaramu keras sekali... Jangan-jangan kamu lagi kena masa puber telat?"

"Kalau Ayah berhenti bercanda, aku bakal langsung diam!"

"Kanade... kalau nggak berhenti, Ayah bakal benar-benar jadi 'Gekio-ko Punpun-maru', lho." (T/N: Slang kuno yang berarti 'sangat marah').

"Nggak... yang harus berhenti itu Ayah, dan nggak usah maksa pakai bahasa anak gaul."

"Atau mungkin jadi 'Eki-chika Sanpun-maru'?" (T/N: Plesetan dari Punpun-maru menjadi properti perumahan 'dekat stasiun 3 menit').

"Itu sih perumahan strategis!"

"Masih mau melawan ya... kalau dibilangin pakai mulut nggak mempan, terpaksa Ayah pakai cara lain... Dengar ya, Ayah bakal ngomong kata-kata kasar, siapin mentalmu!"

"Ujung-ujungnya pakai mulut juga!"

"I-Ibumu punya pusar bodong!"

"Itu kan istri Ayah sendiri!"

Ugh... aku sampai kehabisan napas karena terlalu banyak melakukan tsukkomi.

Sifatku yang suka mengomentari tingkah aneh orang lain secara berlebihan ini sebagian besar memang pengaruh Ayah.

Sejak lahir sudah didampingi manusia yang hobi ngelawak nggak jelas begini, wajar kalau aku jadi orang yang hobi protes.

"Jadi, ada apa? Tumben sekali kamu menelepon."

Ayah akhirnya mau mendengarkan.

"Ah, sebenarnya begini..."

Beberapa menit kemudian, setelah Ayah selesai mendengar kronologi pengiriman tiket tersebut, dia tiba-tiba terdiam seru.

"Ayah... kenapa?"

"Kanade... jangan pergi ke tur itu."

Suaranya terdengar sangat berat. Ayah jarang sekali bersuara seserius ini, mungkin cuma sekali dalam beberapa tahun, jadi aku agak kaget.

"Beneran deh, kenapa sih, Yah? Sampai mode serius begitu..."

"...Nggak, Ayah sudah beberapa kali pakai jasa Arable Travel itu, tapi program turnya parah banget... Ayah hampir saja dikirim ikut 'Tur Keliling Tempat Pembuangan Kotoran Seluruh Negeri'."

"Serius?!"

Apa-apaan itu... rasanya itu sudah bukan level komplain lagi...

"Yah, aku juga nggak terlalu suka jalan-jalan sih. Lagian rencana liburan musim panas bagian akhir ini mau kupakai buat bersih-bersih rumah secara total, jadi emang nggak niat pergi. Aku cuma telepon karena mikir mungkin Ayah dan Ibu mau pakai tiketnya kalau pulang nanti."

"Begitu ya... syukurlah kalau gitu."

Dari balik telepon, aku tahu Ayah merasa sangat lega. Meskipun soal tempat pembuangan kotoran tadi mungkin cuma bercanda, tapi sepertinya perusahaan ini memang bermasalah...

"Oh, Kanade. Pas banget, Shirabe baru saja pulang."

Suara Ayah kembali ke nada biasanya saat menyebutkan nama Ibu.

"Ayah oper ke dia, ya."

"Eh? Nggak usah juga nggak ap—"

"Yuhuuu, Kanadeee!"

Suara yang kelewat ceria menggema dari telepon.

"I-Ibu, sudah lama ya."

"Ohooo, sudah lama-lama, sate gurame. Ah, ngomong-ngomong, pantat ikan gurame yang Ibu masak kemarin kenyal banget, lho... Hah! Ibu baru saja kepikiran produk luar biasa. Namanya Gurame-rame. Hmm... kedengarannya asyik, pasti bakal laris manis! Gurame yang ramai-ramai jadi Gurame-rame... Pu... hihi... ya ampun, aku ini emang jeniu—"

Klik.

...Aku mematikan teleponnya secara paksa.

Ya, ibuku, Amakusa Shirabe, adalah tipe pelawak yang lebih parah dari Ayah... ditambah lagi lawakannya itu garingnya nggak ketolongan. Badanku nggak bakal kuat kalau harus meladeni mereka berdua secara serius.

Masalahnya, refleks tsukkomi-ku ini sudah seperti gerakan otomatis, jadi aku nggak bisa membiarkannya begitu saja... Singkatnya, mematikan telepon adalah satu-satunya jalan ninja bagiku.

"Fuu..."

Aku menghela napas panjang. Kenapa cuma bicara sama orang tua sendiri saja bisa secapek ini.

"Nah... diapakan ya tiket ini."

Kalau perusahaannya separah itu, aku juga nggak mungkin memberikannya ke orang lain... Sambil menatap tiket di tangan, Chocolat yang tadi asyik mengunyah camilan mendekat ke arahku.

"Kanade-san, itu apa?"

"Ah, ini, sepertinya aku menang tiket jalan-jalan."

"JALAN-JALAN!"

Bulu ekor Chocolat langsung berdiri tegak seketika.

"Iya, tur bus 3 hari 2 malam katanya, tapi perusahaannya sepertinya kacau, jadi—"

"Aku mau ikut!"

Mata Chocolat berbinar-binar penuh harap.

Yah, bagiku sih terserah, tapi aku baru saja mendengar cerita ngeri dari Ayah... Lebih baik dihindari kalau bisa.

"Chocolat, kali ini jangan ya—"


Pilih:

Ikut tur 3 hari 2 malam bersama Chocolat

Ikut tur keliling tempat pembuangan kotoran bersama Chocolat


...Disuruh milih, dong.

Pilihan yang muncul biasanya adalah antara 'pilihan buruk' dan 'pilihan yang jauh lebih buruk'.

Masalahnya sekarang adalah, pilihan itu termasuk yang mana... Tapi sejujurnya, saat ini aku nggak punya niat sedikit pun untuk keliling tempat kotoran. Aku cuma bisa berdoa semoga pilihan lebih mendingan daripada itu.

"Kanade... jangan pergi ke tur itu."

Suara serius Ayah terngiang kembali di kepalaku, membuatku ragu sejenak... tapi akhirnya aku memilih .

"Ya sudah... kita pergi saja."

"Yaaaay!"

Mata Chocolat makin berbinar-binar.

"Di tempat wisata nanti, malam panas kita berdua akan—"

"Nggak bakal ada yang kayak gitu..."

"Kalau gitu, malam panas Kanade-san dan Natsuhiko-san akan—"

"SAMPAI KAPAN MAU BAHAS ITU TERUS!"

"Punya Kanade-kun... sedikit lebih kecil dari ukuran standar."

"DIAM KALIAN SEMUAAAAA!!"

Aku menendang boneka Natsuhiko sekuat tenaga.


2

"Panasnyaaa..."

Di bawah sinar matahari musim panas yang seakan membakar kulit, aku melangkah gontai menuju halte bus di depan stasiun yang menjadi titik kumpul.

Karena pilihan itu sudah terlanjur muncul, aku tidak punya jalan lain selain pergi. Tapi mengingat cerita Ayah kemarin, sepertinya aku tidak bisa berharap banyak pada isi tur ini...

"Jalan-jalan bareng Kanade-san~!"

Berbanding terbalik denganku yang lesu, Chocolat justru tampak sangat bersemangat tanpa memedulikan hawa panas sedikit pun.

Tumben-tumbenan, hari ini dia memakai one-piece panjang yang membuatnya terlihat lebih anggun.

Meski aku merasa agak asing karena tidak terbiasa melihatnya begitu, tapi harus kuakui baju itu sangat cocok untuknya.

"Tapi kamu ini... kenapa bawaannya banyak banget?"

Tas Chocolat tampak menggelembung sampai batas maksimal. Meski dia perempuan, rasanya ini terlalu berlebihan untuk perjalanan tiga hari dua malam.

"Hehe, soalnya di dalam sini isinya macam-macam, lho!"

Chocolat menyahut dengan wajah yang sangat riang. Tepat saat itu, terdengar suara teredam dari dalam tasnya.

Bukan, ini Natsuhiko.

"DIBAWA JUGA TERNYATA?!"

"Hehe, habisnya Natsuhiko-san makan tempat banget, jadinya celana dalamku nggak muat masuk tas."

"BUANG SEKARANG JUGA!"

Ngapain sih cewek ini... Nanti terpaksa aku suruh dia beli celana dalam di minimarket, deh.

"Tenang saja, Natsuhiko-san sudah aku pakaikan celana dalam bekas pakai milik Kanade-san, kok!"

"LEPASIN DAN BUANG SEKARANG JUGA!!"

"Ja-jahat banget, Kanade-san... Padahal ada pepatah 'Tinggalkan rasa malu di perjalanan', 'Tinggalkan celana dalam di perjalanan', dan 'Natsuhiko itu barang sekali pakai di perjalanan'..."

"Nggak usah dibikin jadi kata mutiara begitu!"

Lagipula aku nggak bakal pakai Natsuhiko-nya!

"Nggak apa-apa kok, Natsuhiko-san itu bisa dicuci dan dipakai berkali-kali!"

"MAKANYA AKU BILANG NGGAK BAKAL DIPAKAI!"

...Aku pun melangkah menuju halte bus dengan perasaan yang semakin suram.

◆◇◆

Beberapa menit kemudian.

"Oh, itu dia. Busnya sudah stand-by."

Tepat saat aku menemukan bus yang parkir di area bundaran jalan, dua suara memanggilku secara bersamaan dari dua arah berbeda.

"Ara."

"Ooh, Kanade-chi!"

Saat aku menoleh ke arah sumber suara... entah kenapa, di sana ada Furano dan Ouka.

"Ka-kalian berdua... kenapa bisa ada di sini?"

"Aku dapat tiketnya dari Ketua Kokuburyuin. Katanya tiketnya sisa, tapi dia sendiri tidak bisa pergi," jawab Furano.

"Aku juga sama! Ketua sendiri yang repot-repot mengantarkannya ke tempatku!" seru Ouka.

Oalah, jadi ini ulah orang itu...

"Kanade-san, kenapa celingak-celinguk begitu?"

"...Nggak ada apa-apa."

Aku mengedarkan pandangan ke sekitar, curiga kalau-kalau dia sedang mengawasi kami dari suatu tempat, tapi sosoknya tidak terlihat. Yah, kalau orang itu niat sembunyi, aku merasa mustahil bisa menemukannya...

Tapi kalau sudah begini, berarti tiket yang dikirim ke rumahku pun... Ketua-lah dalang di balik semua ini. Lalu aku teringat isi misi kali ini.

Melihatkan momen Amakusa Kanade sedang berciuman kepada salah satu dari: Chocolat, Yukihira Furano, atau Yuuouji Ouka.

Perjalanan di mana semua target berkumpul di satu tempat... Apa tujuan Ketua adalah membuatku menyelesaikan misi selama tiga hari dua malam ini? Tapi kalau cuma mau mengumpulkan semua orang, rasanya tidak perlu sampai repot-repot membuat tur segala... Apa ada maksud lain?

Di saat aku sedang tenggelam dalam pikiran, Furano membuka suara.

"...Tapi, kalau aku tahu Kanade-kun bakal ikut, aku pasti tidak akan datang."

"Eh?"

"Soalnya, aku dengar kabar kalau ada yang tidur dalam radius seratus meter dari Kanade-kun, dia bisa langsung hamil."

"MANA MUNGKIN, WOI!"

"Habisnya, kemampuan khusus Kanade-kun itu kan mengendalikan sperma dari jarak jauh, 'kan?"

"Kemampuan macam apa itu, hah?! Ampas banget!"

"Haa... kalau tahu Kanade-kun datang, aku benar-benar tidak akan ikut."

Furano menghela napas panjang dengan terang-terangan... Segitu bencinya ya dia sama aku. Melihat itu, Ouka menunjukkan ekspresi heran.

"Eh? Masa sih? Kata Ketua, Kanade-chi, Chocolat-chi, dan Furano-chi semuanya bakal ikut, jadi aku disuruh menantikannya."

"......Ugh."

"Oalah. Jadi ke Furano-chi dia nggak bilang, ya."

"............Ugh."

Wajah Furano tampak sedikit memerah.

"...Apa lihat-lihat!"

Begitu menyadari aku memperhatikannya, dia langsung melotot tajam ke arahku.

"N-nggak, bukan apa-apa..."

...Sepertinya lebih baik aku mengalihkan pembicaraan.

"Ta-tapi Ouka, penampilanmu hari ini warnanya berani banget, ya."

Aku mengalihkan pandangan ke arah Ouka. Dia memakai topi jerami, kamisol merah, dan hot pants denim biru yang sangat pendek. Vibes-nya benar-benar seperti orang yang bakal teriak "Gomu Gomu no—!" kapan saja.

"Masa sih? Gimana-gimana? Nggak aneh, 'kan?"

"Bukannya aneh, tapi menurutku itu cocok banget sama kamu."

"Yaaaay!"

Ouka kegirangan dengan sangat jujur.

"Tapi tapi, soal niat dandan kayaknya aku kalah sama Furano-chi, deh~"

Ouka malah melempar topik kembali ke Furano, padahal aku sudah susah payah mengalihkannya.

"...Maksudmu apa?"

Furano yang melotot itu sekarang mengenakan rok super mini yang belum pernah kulihat sebelumnya.

"E-enggak..."

Biasanya Ouka juga sering pakai rok mini, tapi rok Furano kali ini pendeknya luar biasa. Jujur saja, aku bingung harus membuang muka ke mana.

"...Karena rasanya menjijikkan, bisa berhenti melototi aku begitu?"

"A-aku nggak melotot segitunya, kok."

"...Karena rasanya menjijikkan, bisa berhenti me-masturbasi-i aku dengan matamu?"

"NGOMONG APAAN KAMU?!"

"Yah, Kanade-kun mau ngapain pun emang menjijik—ah."

Tiba-tiba, sesuatu terjatuh dari tas Furano.

"Hmm? Ini..."

Itu adalah bantal berbentuk karakter 'Shirobuta-kun' dari mainan UOG. Kenapa dia bawa barang beginian... Apa jangan-jangan dia tipe orang yang nggak bisa tidur kalau bantalnya diganti?




“……”

Wajah Furano tampak memerah samar... Yah, dia pasti malu, sih. Sepertinya dia memang berusaha keras menyembunyikan sisi dirinya yang suka barang-barang imut.

Aku memungut bantal Shirobuta-kun yang terguling di tanah.

"Nih."

"……"

Meski sudah aku sodorkan, Furano tidak kunjung menerimanya.

"Kenapa? Nggak mau?"

"……"

Begitu aku desak lagi, tanpa suara dia mengulurkan tangannya dan—

"Fubek!"

Tanpa ampun, dia melayangkan pukulan maut ke bantal itu. Shirobuta-kun yang malang pun terpental dan menghantam wajahku dengan telak.

Bantal itu membalul lalu jatuh mengenaskan ke tanah.

Dengan sigap, Furano langsung memungutnya lagi dan memeluknya erat-erat.

"……Jangan salah paham ya, aku bawa ini cuma buat dijadikan pelampiasan kalau tiba-tiba ada dorongan impulsif untuk melakukan kekerasan."

……Aduh, meski kamu bilang begitu sambil mengelus bantal itu dengan wajah yang mau menangis, sama sekali nggak ada wibawanya, tahu. Wajahmu itu seolah-olah tertulis 'Maaf ya, maaf ya' ke bantal itu.

"……Apa lihat-lihat?"

"N-nggak, bukan apa-apa..."

Dia melototiku dengan tatapan yang mengerikan... Duh, coba saja kasih sayangmu ke Shirobuta-kun itu dibagi sepersepuluhnya saja buat aku.

"Muuu—"

Tiba-tiba, suara Ouka terdengar dari belakang.

"Tuh kan... Kanade-chi kalau bicara sama Furano-chi kelihatan asyik banget."

"Hah? Bagian mananya yang kelihatan asyik menurutmu?"

"……Yang nggak sadar cuma Kanade-chi doang, tahu."

Kepalaku langsung dipenuhi tanda tanya. Apalagi Ouka juga ikut-ikutan melotot dengan mata setengah tertutup (jitome)... Akhir-akhir ini, Ouka makin sering bersikap begini, ya.

Padahal dulu dia selalu tersenyum ceria kapan pun dan di mana pun... Apa dia kena pengaruh buruk dari Furano?

"Wah wah, ada apa ini~?"

Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang.

"Hah?"

Saat aku berbalik, di sana berdiri seorang wanita yang tidak kukenal.

"Hmm, hmm... wajah ini..."

Sosok yang menatap wajahku lekat-lekat itu mengenakan seragam pemandu bus (bus guide).

"Jangan-jangan... kamu ini Amakusa-chan, ya?"

"Iya... benar, sih."

Wanita yang cantik. Rambut panjangnya yang disanggul ke atas tampak berkilau terkena pantulan sinar matahari.

"Tebakanku benar! Wih, sudah tiga tahun lewat tapi wajahmu tetap imut ya~"

Gaya bicaranya seolah-olah dia mengenalku... tapi aku sama sekali tidak ingat. Wanita secantik ini, kalau sekali lihat harusnya tidak bakal mudah lupa, sih...

"Eh? Kenapa? Jangan-jangan kamu lupa sama aku?"

"A-ah, nggak... itu..."

Karena dia mendekatkan wajahnya, aku jadi gugup dan bicara terbata-bata.

"Yah, sedih deh~ Kakak jadi pundung nih~"

Si mbak pemandu itu sengaja berlagak manja sambil meliukkan tubuhnya.

"Maaf... sejujurnya, saya sama sekali tidak ingat."

Pemandu itu mengangguk, seolah memahami sesuatu.

"Hmm, kalau melihat reaksimu, sepertinya kamu beneran lupa ya. Kamu itu, tiga tahun lalu pernah ikut tur bus 3 hari 2 malam dari Arable Travel ini, lho."

"……Eh?"

"Waktu itu kamu ikut bertiga bareng Ayah dan Ibumu."

"……Bareng Ayah dan Ibu?"

Benar-benar... benar-benar tidak ada dalam ingatanku.

Tiga tahun lalu itu berarti aku kelas dua SMP. Kalau aku masih balita sih wajar, tapi di usia segitu, tidak mungkin aku lupa kalau pernah ikut perjalanan selama tiga hari dua malam.

Tapi, rasanya tidak mungkin juga pemandu ini berbohong padaku.

Musim panas kelas dua SMP... apa yang aku lakukan saat itu?

Latihan klub seperti biasa, main bareng teman seperti biasa, mengerjakan PR seperti biasa... Iya, aku punya ingatan tentang masa-masa itu, tapi tetap saja aku tidak ingat soal pergi jalan-jalan—

Kanade... jangan pergi ke tur itu.

Tepat saat kalimat Ayah tadi mendadak terlintas di benakku—

"Ugh..."

Rasa mual tiba-tiba menyerang.

Ini... rasa mual yang sama seperti sebelumnya. Padahal kondisiku tidak sedang sakit... sebenarnya rasa mual yang tiba-tiba ini apa, sih?

"Lho lho, kamu nggak apa-apa?"

Pemandu itu membungkuk, mencoba mengintip wajahku yang sedang menutupi mulut.

"……"

Aku tidak bisa menjawab dan hanya balas menatapnya.

"Iih, kalau ditatap terus begitu, Kakak jadi malu nih~!"

Gaya santainya ini... rasanya aku pernah lihat...

"Ughh..."

Rasa mual yang lebih hebat menyerang lagi.

Dan kemudian, sebuah nama muncul di dalam kepalaku.

"Michiru...-san?"

Michiru... Madobe Michiru. Benar, nama pemandu ini adalah Madobe Michiru.

Aku menarik napas dalam-dalam perlahan untuk meredakan rasa mual sambil menatap wajahnya.

"Ooh! Amakusa-chan, kamu ingat! Yattaa, yey yey!"

Michiru-san berputar di tempat sambil memamerkan tanda V-sign. Gaya bicaranya yang berisik dan annoying ini... Benar, sepertinya aku dulu memanggil orang setipe ini dengan nama Michiru-san... rasanya begitu.

Namun, yang berhasil kuingat hanyalah namanya saja. Soal ingatan ikut tur tiga tahun lalu, atau ingatan tentang bagaimana aku berinteraksi dengan Michiru-san ini, semuanya masih kosong melompong.

"Nggak... baru namanya saja yang ingat."

"Begitu ya. Tapi nggak apa-apa, pelan-pelan juga bakal ingat sendiri, kan? Lagian, tur bus kali ini bakal melewati rute yang persis sama dengan tiga tahun lalu, kok!"

"……Eh?"

Kenapa situasinya terasa seperti sudah disiapkan begini? Sebenarnya apa yang direncanakan Ketua Kokuburyuin?

Dan... selain soal pemandu ini, aku merasa ada hal yang teramat sangat penting yang telah aku lupakan.

Sesuatu yang terjadi... tiga tahun yang lalu.



Interlude 1

Sebuah Kisah Tiga Tahun Lalu — Bagian 1


"Panasnya minta ampuuun..."

Di tengah terik matahari musim panas yang seolah bisa membuat otak meleleh, aku berjalan gontai menuju halte bus di depan stasiun, tempat kami berjanji untuk berkumpul.

Ayahku tiba-tiba saja mengajak ikut paket tur bus tiga hari dua malam. Mungkin kedengarannya aneh kalau aku sendiri yang mengatakannya, tapi karena selama ini aku tidak pernah mengalami masa puber yang pemberontak, aku sama sekali tidak keberatan pergi berlibur bersama orang tuaku.

Hanya saja...

"Torajiro-saaan..."

"Shirabe..."

...Di bawah cuaca seekstrem ini, tolonglah jangan bermesraan lengket begitu.

Ayahku, Amakusa Torajiro. Ibuku, Amakusa Shirabe.

Karena penampilan mereka berdua jauh lebih muda dari usia aslinya, di mata orang lain mereka mungkin cuma terlihat seperti pasangan usia dua puluhan yang sedang dimabuk asmara. Namun, kurasa mereka perlu sedikit sadar diri kalau putra mereka yang sudah kelas 2 SMP ini berdiri tepat di belakang mereka.

Dan kedua orang ini...

"Kanade... Dari tadi orang-orang yang lewat kok melirik ke arah sini terus ya? Jangan-jangan, pas kami nggak melihat, kamu lagi main naik-turunin celana dalam, ya?"

"APA-APAAN?! Memangnya kamu pikir anakmu ini apaan, hah?!"

Mereka melihat ke sini karena level kemesraan kalian itu sudah nggak wajar tahu!

"Yah, karena kamu itu anakku, aku nggak bakal heran kalau kamu melakukan hal aneh sehebat apa pun."

"Kenapa malah pasang muka bangga gitu?!"

"Torajiro-san, putra kita tidak akan melakukan hal yang setengah-setengah seperti itu. Kalau dia mau melakukannya, dia pasti akan melakukan gerakan 'biarkan celana dalam melorot selamanya'."

"Itu mah namanya cuma eksibisionis!"

"Kanade... Manusia itu pada dasarnya terlahir telanjang bulat, lho."

"Bukan itu masalahnya!"

"Kanade... Manusia itu pada dasarnya terlahir tanpa sehelai benang pun."

"Cuma ganti istilah doang juga nggak nolong!"

"Kanade... Manusia itu kalau berani telanjang di jalanan bakal langsung 'digelangin' polisi, lho."

"Kenapa malah jadi main rima begitu, sih!"

...Di sekolah, aku sering dibilang punya bakat jadi tsukkomi (tukang protes), dan itu jelas karena aku dibesarkan oleh orang tua yang kerjaannya boke (ngelawak) melulu tanpa henti.

"Sudahlah, aku sudah nggak sanggup meladeni mereka..."

Sambil merasa muak dengan mereka berdua, akhirnya kami sampai di terminal bus.

Begitu naik, mereka langsung mengambil posisi di kursi belakang dan mulai bermesraan lagi. Karena kursinya bebas, aku memutuskan untuk duduk di bagian depan agar bisa menjauh sejauh mungkin dari mereka.

Untungnya jumlah peserta tidak terlalu banyak, jadi bus pun berangkat dengan kursi di sebelahku yang masih kosong.

"Halo semuanyaaa! Masih semangat, kaaan?!"

Tak lama kemudian, sebuah suara dengan nada tinggi yang sangat energetik terdengar.

"Perkenalkan, saya Madobe Michiru yang akan memandu perjalanan kalian hari ini! Mohon bantuannya yaaa, kyarun~"

...Pemandu wisata bernama Madobe-san itu memang sangat cantik, tapi gayanya benar-benar bikin malu yang melihatnya.

Pakai bilang 'kyarun' segala... Zaman sekarang bahkan idol sok imut pun sudah nggak pakai kata-kata begitu.

"Lho, lho~ Anak laki-laki di sana, kenapa bengong melihat wajah Kakak? Terpesona ya?"

"Eh? Aku?"

"Iya, kamu. Namanya siapa?"

"Amakusa... Kanade."

"Ooh, Amakusa-chan ya~"

Ditambah lagi, dia sok akrab sekali.

"Kalau begitu, Amakusa-chan yang masih perjaka—"

"Bhuft!"

A-apa-apaan orang ini, tiba-tiba ngomong apa dia?!

"Muhufu~ Reaksinya kena sasaran ya, nyah."

Sial... Me-memang benar aku masih perjaka, tapi aku kan baru kelas 2 SMP! Nggak punya pengalaman begitu pun bukan sesuatu yang memalukan, kan... iya kan?

"A-aku... bukan perjaka, kok."

Saking paniknya, aku malah berbohong demi gengsi.

"Bohong bangeeet, dasar perjaka (wkwk)."

"Iya tuh, dasar perjaka (wkwk)."

"Kalian yang di belakang mending diam deh!"

Melihat anaknya dipanggil perjaka di depan orang asing, bukannya membela, orang tuaku malah ikut-ikutan meledek... Hebat juga aku bisa tumbuh tanpa jadi anak berandalan sampai sekarang.

"Nyahaha! Kalau begitu selanjutnya... Oh, Mas-mas yang di sana yang auranya mirip Pengawal Rumah (NEET)!"

Madobe-san mulai beralih meledek pria bertubuh agak tambun yang duduk di belakang... Sebenarnya ada apa sih dengan orang ini? Apa dia nggak takut kena komplain?

Aku memeriksa brosur yang terselip di rak, dan di sana tertulis: 'Paket Tur 3 Hari 2 Malam Tingkat Lanjut: Nikmati Sensasi Diledek Habis-habisan oleh Pemandu Wisata'.

Proyek macam apa ini... Kok bisa-bisanya lolos rapat...

Tapi ya, itu berarti semua penumpang di sini sudah tahu dan setuju dengan konsepnya... Benar-benar konten konyol yang bakal sangat disukai orang tuaku.

"...Haaah."

Tepat saat aku mengembuskan napas panjang,

"Kikiki."

Terdengar suara tawa kecil dari sampingku, dan secara refleks aku menoleh.

"—!"

Seketika itu juga, mataku terpaku.

Seorang gadis dengan rambut biru cerah yang seolah tembus pandang sedang berdiri di sana.

Sosoknya membuatku... benar-benar terpesona sepenuhnya.

"Ah, maaf ya, tiba-tiba tertawa begitu."

Gadis itu sepertinya salah paham dengan diamnya aku dan menunjukkan ekspresi sedikit merasa bersalah.

Aku langsung melambaikan tangan dengan heboh untuk menyangkalnya.

"E-eh, nggak kok... Bukan itu yang bikin aku kaget..."

Gadis itu pun tersenyum manis.

"Syukurlah kalau begitu."

"Ugh..."

Begitu melihat senyum itu, jantungku berdegup sangat kencang. A-apa-apaan ini...

"Hei, boleh aku duduk di sebelahmu?"

"Ah... Iya."

Aku mengangguk dalam kondisi pikiran yang masih melayang.

"Kalau begitu... Hap. Permisi, ya."

Saat dia duduk, aroma yang sangat harum tercium dari gadis itu.

"Maaf ya kalau aku tiba-tiba datang begini. Apa kamu sebenarnya ingin santai sendirian?"

"Ah, tidak, sama sekali tidak keberatan kok..."

Tanpa sadar aku malah bicara dengan bahasa formal.

"Begitu ya, syukurlah. Ah, pertama-tama kita harus kenalan dulu, ya. Aku Amagami Sora. Kelas 3 SMP."

Gadis yang memperkenalkan diri sebagai Sora itu tersenyum lembut.

Kelas 3 SMP, berarti dia setahun lebih tua dariku.

"Namamu Amakusa Kanade-kun, kan?"

"Ugh..."

Amagami-san sedikit mencondongkan tubuhnya ke arahku.

"I-itu... i-iya... be-benar..."

Aroma dari Amagami-san tercium semakin kuat, membuatku jadi sangat salah tingkah, tapi dia sepertinya tidak keberatan.

"Amakusa Kanade-kun, ya... Hmm, nama yang bagus."

"Te-terima kasih."

"Kanade-kun kelas berapa?"

"Ah, itu, aku... kelas 2."

"Fufu, berarti aku kakak kelasmu, ya."

Amagami-san mengatakan itu sambil mengusap kepalaku dengan lembut.

"Ugh... Ah..."

A-apa perasaan ini? Rasanya seolah... seolah ada batang besi panas yang dihunjamkan ke pusat tubuhku, seluruh badanku terasa sangat panas...

Wajahku pasti sudah merah padam sampai-sampai aku tidak berani menatap wajah Amagami-san secara langsung.

Perasaan ini... sebenarnya apa?



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close