Chapter 1
Kedatangan Natsuhiko ~Homo~
1
Suatu hari di
musim panas, saat libur panjang sudah melewati pertengahan jalan.
Pilih:
① Menabrak dinding rumah secepat
kilat.
② Menabrak dinding rumah dalam kondisi telanjang bulat.
“...Wahai Tuan
Pilihan. Cuaca panas begini, kamu rajin banget ya kerjanya.”
Meski aku mencoba
menyapanya di dalam hati, sebanyak apa pun aku menunggu, tidak ada perubahan
yang muncul pada pilihan tersebut.
“...Nggak bisa,
ya?”
Tapi, malam
festival musim panas waktu itu... aku yakin pilihan-pilihan ini sempat
menghilang. Aku tidak mungkin salah karena aku merasakannya sendiri dengan
seluruh tubuhku.
Namun, setelah
kejadian itu, semuanya kembali ke spesifikasi semula. Tidak ada tanda-tanda
bakal menghilang lagi.
“Ugh...!”
Lalu, sakit
kepala yang sudah menjadi rutinitas itu menyerangku. ...Apa boleh buat.
Buka baju—tarik napas
dalam—ragu-ragu—sakit kepala luar biasa—tekad bulat—tarik napas dalam
lagi—ragu-ragu lagi—sakit kepala yang nggak main-main—ancang-ancang—UOOOOOOHH!—Bugh!—Terkapar
telanjang membentuk huruf X—SITUASI SAAT INI.
Aku ini...
sebenarnya lagi ngapain, sih?
“Ufufufufufu.”
Tawa menjijikkan
yang penuh celaan diri sendiri pun lolos dari mulutku. Mentalku rasanya hampir
berbelok ke dark side.
Keharusan
melakukan tindakan menyimpang di sekolah, dipandang rendah oleh para gadis,
sampai terkapar telanjang di musim panas begini... semuanya... semuanya
gara-gara Absolute Choice sialan ini!
Sambil memakai
baju kembali, aku memikirkan cara untuk melenyapkan pilihan-pilihan ini.
Maksudku, sebenarnya aku sudah tahu caranya.
Entah apa
logikanya, tapi untuk melenyapkan pilihan terkutuk ini sepenuhnya, katanya aku
hanya perlu jatuh cinta pada seseorang.
...Namun, ada
masalah mendasar di sana. Sepertinya, aku yang sekarang tidak bisa jatuh cinta.
Padahal ini
urusanku sendiri, tapi aku malah pakai kata "sepertinya". Habisnya,
katanya dulu pernah terjadi sesuatu... meski aku sendiri lupa, tapi gara-gara
"sesuatu" itu, aku jadi tidak bisa merasakan perasaan cinta kepada
orang lain... Benar-benar penuh dengan kata "katanya", ya.
Ketua Kokubyakuin
sepertinya tahu tentang "sesuatu" itu, tapi meski aku bertanya
baik-baik, mana mungkin orang itu mau memberitahuku. Dan setiap kali aku
mencoba mengingatnya sendiri, sakit kepala aneh menyerang dan menghambat
pikiranku.
Sebenarnya, apa
yang terjadi padaku di masa lalu...?
“Hm?”
Tepat saat aku
berpikir sampai di situ, pintu ruang tamu terbuka dan Chocolat muncul.
“...Fumyuu.”
Rambutnya
berantakan, matanya tampak sayu, dan langkah kakinya sempoyongan. Sepertinya
dia masih setengah mengantuk.
“Selamat
'siang'.”
Waktu sudah
hampir menunjukkan jam dua belas siang. Meski ini libur musim panas, dia tidur
terlalu lama. Padahal, asal kalian tahu ya Ibu-ibu, dia ini semalam sudah tidur
dari jam sembilan, lho.
“Ehehe. Selamat
siaaang~”
...Percuma, dia
tipe yang nggak bakal paham sindiran.
“Kanade-saaaann~”
“Jangan
nempel-nempel!”
Chocolat
bersandar padaku sambil masih terkantuk-kantuk. ...Jujur, ini nggak baik buat kesehatan jantungku.
“Ehehe,
Kanade-san, aku suka bangett~”
“Kh...!”
Aku tahu Chocolat
menyukaiku. Dan aku juga tahu kalau itu bukan sekadar 'like', melainkan
bermakna 'love'. Tapi... tapi untuk saat ini, aku tidak bisa menerima
perasaan itu.
“Le... pasin!”
Tepat saat aku
mencoba melepaskan paksa pelukan Chocolat yang punya tenaga luar biasa kuat
itu—
Kruyuuuk~
Perut Chocolat
berbunyi dengan sangat meriah.
“Kanade-san...”
Chocolat
menunjukkan ekspresi sedih seperti anjing yang dibuang.
“Lapar, ya?”
Kruyuuuk~
Bunyi perutnya
seolah-olah menjadi jawaban...
“Ada nikujaga di
kulkas, panaskan saja sendiri.”
KRUYUK!
Perutnya berbunyi
dengan nada yang entah kenapa terdengar senang... Apa-apaan ini?
“Kamu...
jangan-jangan bisa mengatur bunyi perutmu sendiri?”
“Hehe, perutku
ini lebih jujur daripada mulutku, lho.”
Dia mulai
memasang wajah bangga yang menyebalkan, jadi aku sedikit kesal. Tapi, kalau
ekspresi lewat bulu ekor sih aku masih paham, tapi kalau lewat bunyi perut...
Aku coba mengetes
sejauh mana dia bisa mengaturnya.
“Apa bunyi
perutmu kalau lagi kesal?”
Kru, kruyuuuk...
Wah, hebat... Coba aku pastikan lagi.
“Kalau menang lawan 'Gunting' di suit Jepang?”
GUU. (Batu)
Uwoh, aku nggak ngerti gimana caranya, tapi bunyinya
terdengar jelas seperti kata 'Batu'.
“Kalau lawakan
artis komedi wanita yang sempat viral dulu?”
GUU GUGUU
GUGUU GUGUU-!
“Ini sih levelnya
udah bukan 'mengatur' lagi!”
KHOOOOOO~!
“Itu mah
jelas-jelas bukan bunyi perut lagi, tahu!”
Gimana sih sistemnya? ...Jangan-jangan dia memasang alat di
dalamnya, pikirku sambil memandangi perut Chocolat lekat-lekat.
“Ada apa? Di
dalam nggak ada siapa-siapa, kok.”
...Chocolat
mengucapkan kalimat ngeri dengan wajah polosnya. Makoto mati saja sana. (T/N:
Referensi ke anime School Days).
KRUYUUUUUUUUK~
Kali ini, perut
Chocolat berbunyi lebih keras dari sebelumnya.
“Ehehe, gara-gara
olahraga tadi, aku jadi makin lapar.”
“Ooh, jadi yang
tadi itu 'olahraga', ya...”
Mengabaikan aku
yang melongo keheranan, Chocolat bergegas menuju kulkas. Kemudian, dia membuka
pintu, memeriksa isinya, dan—
“Ga-Gawat,
Kanade-san!”
Chocolat kembali
dengan wajah pucat sambil memeluk wadah nikujaga.
“A-Ada apa?”
Karena
ekspresinya terlihat sangat terdesak, aku pun ikut bersiaga.
“Ini nggak cukup
sama sekaliii!”
“Mati kelaparan
saja sana!”
Kalau aku
memanjakannya di sini, sudah jelas dia bakal ngelunjak dan minta makan terus
tanpa henti.
“Itu hukuman
karena bangun kesiangan, tahan saja segitu.”
“Ja-Jahat!
Kanade-san jahat, iblis, setan, Washizu!”
“Ejekanmu aneh
banget, woi!”
Nggak sih, kalau
melihat perkembangan belakangan ini, nggak bisa dibilang nggak ada hubungannya
juga... tapi karena ini spoiler, aku nggak bisa bilang lebih dari ini.
“Uuu~ porsi
sesedikit ini mah bakal 'hap' langsung habis dalam sekejap...”
...Bagian mana
dari wadah besar yang isinya menggunung ini yang kamu bilang sedikit?
“Selamat
makannn!”
“Uoh...!”
Pemandangan itu
benar-benar hanya bisa digambarkan dengan kata 'hap'. Levelnya sudah sampai
tahap di mana tidak akan aneh jika muncul efek suara melayang di udara. Aura
'sekali hap' ini sepertinya tidak akan bisa ditiru oleh orang lain.
Kalau setelah Hirari
atau Aguri, apa bakal ada seri Perori? Mengingat tren
belakangan ini, mungkin dipanggil Pero-chan juga boleh... Ah, aku
sendiri jadi nggak paham apa yang aku bicarakan.
“Uuu~ tetap saja nggak cukup.”
Chocolat menempelkan pipinya ke meja sambil mengetuk-ngetuk
pinggiran mangkuk dengan sumpit. Ting ting ting.
“Woi, itu nggak sopan, berhenti.”
“Iya... tapi Kanade-san... aku mau makan lagi.”
Dia menatapku dengan tatapan memelas yang luar biasa.
“Ugh... n-nggak boleh, nggak boleh.”
“Makan...”
“Ka-kan sudah dibilang nggak boleh.”
“Aku... lapar.”
“............”
Sepuluh menit kemudian, di depan Chocolat sudah berjejer
beberapa jenis lauk pauk.
“Hoaaa...”
Mata Chocolat berbinar-binar sambil melahap masakan itu.
“Masakan
Kanade-san memang paling enak!”
...Aku
memang terlalu lembek.
“Haaaa~
aku bahagia banget~”
Mungkin
ini yang dinamakan senyuman yang bikin meleleh. Kalau diperlihatkan wajah
seperti ini, meski aku tahu ini salah, aku jadi ingin terus memberinya makan.
Itu masalahnya.
“Hm?”
Tiba-tiba,
ponselku berbunyi tanda ada pesan masuk. Saat aku membukanya, ternyata itu
adalah Mission Pembatalan Kutukan dari 'Dewa' yang kini sudah menjadi
rutinitas.
Kemarin isinya
agak tidak biasa, di mana muncul hak penolakan dalam pilihan, tapi—
“Nah, kali ini
apa ya...”
Sambil menghela
napas, aku membukanya.
《 Amakusa Kanade harus memperlihatkan adegan
dirinya sedang berciuman kepada salah satu dari: Chocolat, Yukihira Furano,
atau Yuuouji Ouka. Batas waktu: Sampai liburan musim panas berakhir. 》
Apa... katamu.
Sebanyak apa pun
aku membacanya ulang, tulisan itu tidak berubah sedikit pun. Ciuman,
katamu... Maksudnya ciuman itu, kan?
Istilahnya Chu,
atau Baiser, atau Seppun. Terserah sih, tapi apa cuma aku yang
kalau mendengar kata Chuu malah kepikiran Kiteretsu...? Benar-benar
nggak penting, sih.
Pikiranku sempat
melantur sejenak, tapi... ciuman itu saja hambatannya sudah tinggi banget,
terus aku harus memperlihatkannya ke Chocolat, Furano, atau Ouka? ...Nggak
mungkin, ini mah impossible game!
Chocolat yang
sudah selesai makan tiba-tiba memelukku dari belakang.
“Kanade-san, kali
ini misinya apa?”
“Ja-Jangan
nempel-nempel di musim panas yang panasnya minta ampun begini!”
Aku menjauhkan
Chocolat yang mencoba menempel padaku dengan berbagai alasan. Dia sempat
merengut muuu~ karena tidak puas, tapi seolah menyadari sesuatu, dia
menepukkan tangannya.
“Ah, Kanade-san.
Kalau bicara soal musim panas...”
“Ada apa?”
“Musim panas itu
identik dengan HOMO!”
“...Hah?”
Chocolat
melanjutkan dengan riang.
“Musim panas itu
identik dengan HOMO!”
Kenapa harus
diulang dua kali?
"Dan kalau
bicara soal musim panas, tentu saja jawabannya adalah Natsuhiko-san!"
"Makanya aku
tanya, itu siapa sih dari tadi...?"
Natsuhiko... Itu adalah nama yang sering sekali keluar dari
mulut Chocolat. Sepertinya di dalam otak busuknya itu, sosok tersebut sudah
ditetapkan sebagai pasangan homo-ku.
"Tunggu sebentar ya!"
Chocolat pergi meninggalkan ruang tamu dengan wajah riang,
dan beberapa menit kemudian, dia kembali dengan ekspresi yang jauh lebih
kegirangan lagi.
Di punggungnya, dia tampak sedang menggendong sesuatu yang
berbentuk seperti manusia.
"...Apaan
tuh?"
"Ini boneka
Natsuhiko-san!"
Sambil tersenyum
lebar, Chocolat menyodorkan benda yang dia bawa ke hadapanku—sebuah action
figure berukuran asli dari Natsuhiko (?).
Mata tajam yang
berkilat di balik kacamata, gaya rambut yang tersisir sangat rapi, dan pakaian
yang bagian dadanya terbuka lebar.
Gimana ya bilangnya... Visualnya itu tipe-tipe orang yang
nggak bakal terasa aneh kalau tiba-tiba muncul sambil menggigit bunga mawar.
Entah terbuat dari bahan apa, tapi detailnya benar-benar
dibuat dengan sangat teliti. Kualitasnya tinggi nggak keruan. Kalau ini
diproduksi massal, kayaknya bakal laku keras, deh...
"Ayo, ayo, Kanade-san!"
Mata Chocolat berbinar-binar penuh harap.
"Ayo, ayo apanya... Terus aku harus ngapain sama benda
ini?"
"Silakan
curahkan kasih sayangmu sepuas hati!"
"OGAH, SIAPA
JUGA YANG MAU!"
"Mau digigit
manja boleh, dijilat boleh, mau dikulum juga boleh banget, lho!"
"APANYA YANG
DIKULUM?!"
Aku sudah tahu
dari dulu kalau otak cewek ini memang busuk, tapi... kayaknya level ini sudah
melampaui 'busuk' dan sudah sampai tahap 'fermentasi'.
"Lebih hebatnya lagi, Natsuhiko-san ini... Ternyata
bisa bicara!"
Dengan
semangat yang sangat tinggi, Chocolat menekan sebuah tombol.
『Wah... besar sekali...』
"Tiba-tiba
ngomong apaan sih nih orang?!"
『Punya Kanade-kun... sedikit lebih kecil dari
ukuran standar.』
"BERISIK!"
『Sekali saja kuingin lihat, Kanade menutupi
bagian depannya...』 (T/N: Referensi dari pantun pembuka komedian Rakugo, Utamaru
Katsura).
"Kenapa
malah jadi pantun begitu, sih!"
『Ngomong-ngomong, aku terbuat dari bahan yang bisa dicuci, jadi bisa dipakai
berkali-kali.』
"Memangnya
boneka pemuas nafsu?!"
『Bukan, ini Natsuhiko.』
"DIAM!"
『Coba tanyakan, "Apakah ini Zonbi?"』
"...Apakah ini Zonbi?" (T/N: Plesetan dari judul LN/Anime Kore wa Zombie Desu ka?).
"Bukan, ini
Natsuhiko."
"NGESELIIIIIIINNNNN!!"
"Benar
sekali, saya adalah Om-om Aneh~♪" (T/N: Referensi komedi klasik Ken
Shimura, Henna Ojisan).
"Tuh
kan, bukan Natsuhiko lagi!"
"Bukan, ini
Natsuhiko."
"UGYAAAAAAAAAAAAAA!!"
"Punya
Kanade-kun... sedikit lebih kecil dari ukuran standar."
"KENAPA
HARUS DIULANG DUA KALI?!"
Sambil berteriak
murka, aku membanting boneka Natsuhiko itu ke lantai.
"Kanade-san mau nyerang... Kanade-san mau
nyerang!"
"Kamu juga, diam!"
Aku membentak Chocolat yang sedang kegirangan, lalu melirik
ke arah boneka Natsuhiko yang tergeletak tak berdaya dengan tangan dan kaki
menjuntai di lantai.
"Barang
rongsokan begini, mending langsung dibuang aj—"
Tiba-tiba,
sebuah ide melintas di kepalaku.
"............"
"Kanade-san,
ada apa?"
Chocolat
memiringkan kepalanya, melihatku yang tiba-tiba termenung.
"Enggak,
cuma..."
Aku
menjawab dengan ragu sambil memungut boneka Natsuhiko dari lantai. Lalu, aku
menatap wajahnya dalam-dalam.
"........................"
...Yah,
siapa tahu saja hal itu bisa terjadi, kan?
"Dengar,
Chocolat. Perhatikan baik-baik... apa yang akan aku lakukan sekarang."
Setelah
memantapkan tekad, meski dengan rasa jijik yang luar biasa, aku mendekatkan
wajahku dan—
Mengecup
bibir Natsuhiko.
"Ha-hauuu!"
Chocolat memekik
kegirangan.
"Ya-Yatta!
Akhirnya... akhirnya Kanade-san resmi jadi homo sejati!"
Aku ingin sekali
membalasnya, tapi karena mulutku sedang 'terpakai', niat itu tidak
tersampaikan.
Tapi, sensasi apa
di bibir ini...? Terasa kenyal dan anehnya nyaman, yang malah membuatku makin
kesal.
"Perjuangan
selama tiga bulan... usahaku memutar 'CD untuk Membangkitkan Jiwa Homo' di
samping Kanade-san yang sedang tidur akhirnya membuahkan hasil!"
Oalah, jadi
kamu pelakunya?!
Sambil melotot ke
arah Chocolat, aku melepaskan bibirku dari boneka Natsuhiko.
Nah... bagaimana
hasilnya?
"........................"
Namun, sebanyak
apa pun aku menunggu, email tanda misi selesai tidak kunjung tiba.
"Ternyata
kalau lawan boneka nggak dihitung, ya..."
Mendengar
gumamanku, Chocolat sepertinya salah paham. Bulu di ekornya langsung berdiri
tegak karena semangat.
"Aku
mengerti! Kalau begitu, nanti aku akan bawa Natsuhiko-san yang asli ke
sini!"
"NGGAK
USAH!"
Lagian, Natsuhiko
itu beneran ada, ya...?
Yah, terlepas
dari itu, sepertinya misi kali ini lebih baik tidak aku beritahukan pada
Chocolat. Kalau dia tahu isinya, dia pasti akan bilang dengan wajah riang:
"Kalau
begitu, aku akan ciuman sama Kanade-san di depan Ouka-san dan Furano-san!"
Meski Chocolat
memang menyukaiku, memanfaatkan perasaannya hanya demi menyelesaikan misi itu
rasanya sudah melanggar kemanusiaan.
Mau ada misi atau
tidak, ciuman itu seharusnya dilakukan dengan orang yang benar-benar kita
cintai secara tulus...
...Eh?
Tiba-tiba, ada
yang mengganjal di pikiranku barusan.
"Ugh..."
Rasa mual
mendadak menyerang, membuatku menutup mulut. A-apa ini... rasa mual yang sangat
dahsyat.
"Kanade-san?"
Chocolat menatapku dengan tatapan khawatir.
"Nggak apa-apa... aku baik-baik saja."
Aku
memberi isyarat tangan dan mencoba mengatur napas. Untungnya rasa mual itu segera reda... Apaan sih
itu tadi?
"Fuu...
Hmm?"
Tepat saat aku
mengembuskan napas lega, bel pintu depan berbunyi.
"Ah, mungkin
itu Natsuhiko-san!"
"MANA
MUNGKIN!"
Meski
membentaknya, aku melangkah ke depan dengan jantung berdebar dan membuka
pintu... Gawat juga kalau itu beneran Natsuhiko.
"Permisi,
paket!"
Ternyata cuma
mas-mas kurir biasa. Aku mengembuskan napas lega.
Chocolat yang ada
di belakangku tampak sedikit kecewa, tapi kemudian wajahnya tiba-tiba cerah
seolah memikirkan sesuatu.
"Kalau gitu,
sama mas ini juga boleh!"
"APAANNYA
YANG BOLEH?!"
Sambil
mengabaikan wajah bingung mas-mas kurir itu, aku menerima paketnya.
Sambil kembali ke
ruang tamu, aku melihat kolom pengirim di kotak itu: 'Arable Travel'.
Kalau
tidak salah, itu nama biro perjalanan yang terkenal sering membuat tur-tur
nyeleneh. Saat kulihat nama penerimanya, tertulis Amakusa Kanade.
Biasanya
brosur iklan memang bisa datang ke siapa saja, tapi kenapa mereka repot-repot
mengirim paket lewat kurir?
Karena penasaran,
aku pun membukanya.
"Wuaa!"
Duar! Seiring suara ledakan kecil, potongan
kertas warna-warni (confetti) terbang keluar dari dalam kotak.
Saking kagetnya,
aku sampai menjatuhkan kotaknya.
"A-apaan
sih, mengagetkan saja."
Saat kupungut
kembali, ada sebuah amplop di dasar kotak. Aku membukanya dan memeriksa surat
di dalamnya.
《Terima kasih atas dukungan Anda selama ini. Pertama-tama, izinkan kami
meminta maaf atas ketidaksopanan terkait party popper kejutan yang kami
sertakan. Kami yakin Anda pasti sangat terkejut... Ehehe, gimana
rasanya? Kaget ya pas dengar bunyi 'Duar!' tadi? Gimana rasanya? Gimana?》
Ngapajak berantem, ya?!
《Nah, karena kita sudah mulai
akrab, boleh ya kalau mulai sekarang bahasanya jadi lebih santai?》
Nggak, nggak boleh lah...
《Oh, boleh ya? Makasih ya. Kalau gitu, CEPETAN BELIIN GUE ROTI
SANA!》
Ini sih bukan
bahasa santai lagi namanya!
《Canda, ding. Cuma 'Michael Jordan' kok.》 (T/N: Plesetan dari jodan
yang berarti candaan).
Uwah...
garingnya tingkat dewa.
《Michael Tomioka itu Yakisoban.》
Terus
kenapa?!
《Kalau gitu, CEPETAN BELIIN GUE ROTI YAKISOBA
SANA!》
NGESELIIIIIINNNN!
《Maaf, saya terlalu bercanda. Mari kita mulai ke kata pengantarnya.》
Terus yang tadi
itu apa?!
《Ngomong-ngomong soal 'pengantar'... kalau 'yang depan jadi besar' itu
namanya ereksi, kan?》
Malah jadi mesum!
"Punya
Kanade-kun... sedikit lebih kecil dari ukuran standar."
"KENAPA
BONEKA NATSUHIKO-NYA MALAH NYAMBUNG?!"
Mereka ini habis
latihan duet komedi atau gimana, sih?!
《Oke, mari kita masuk ke intinya. Pada bulan
Agustus tahun ini, perusahaan kami menyambut ulang tahun yang ke-25—》
Setelah bagian
itu, kalimatnya berubah menjadi bahasa yang formal dan sopan. Kenapa nggak dari
tadi saja begini...
Singkatnya, dalam
rangka ulang tahun Arable Travel ke-25, mereka mengadakan kampanye dengan
mengundi pelanggan lama, dan pemenangnya akan diundang dalam tur bus 3 hari 2
malam secara gratis. Dan aku terpilih menjadi pemenangnya.
Orang tuaku
memang suka jalan-jalan, dan seingatku sejak kecil aku sering diajak ke
berbagai tempat.
Jadi, tidak aneh
kalau ada pemberitahuan dari biro perjalanan, tapi kenapa tujuannya atas namaku
dan bukan atas nama Ayah?
Perusahaan ini
kelihatannya nggak becus, apa mereka salah tulis nama?
"...Coba aku
tanya Ayah dulu, deh."
Aku menelepon
Ayah yang berada jauh di Kyushu.
Sebenarnya aku
malas bicara dengannya karena bikin capek... Tapi dipikir-pikir, sudah berapa
bulan ya aku tidak melihat wajahnya? Setidaknya, sejak Chocolat tinggal di
sini, dia belum pulang sekali pun.
Dibilang 'memberi
kebebasan' sih kedengarannya keren, tapi rasanya aku cuma ditelantarkan saja...
"Tuuulululululu.
Ah, apakah ini Bos?"
"...Boleh
aku tutup teleponnya?"
...Anak sendiri
telepon setelah sekian lama, sapaan pertamanya malah meniru Doppio (T/N:
Karakter dari JoJo's Bizarre Adventure).
"Maaf, maaf.
Ayah cuma mau melucu sedikit di telepon pertama setelah sekian lama dengan
putraku tercinta. Kojirowo jadi agak bersemangat, nih."
"Bapak-bapak
jangan panggil diri sendiri pakai nama kecil!"
"Apa...
Pa-padahal Ayah merasa masih muda, masa... dipanggil bapak-bapak sama anak
sendiri... Nggak pisang banget deh." (T/N: Plesetan dari Sonna
bakana menjadi Sonna banana).
"Garingnya
beneran khas bapak-bapak!"
"Yah, cuma
bercanda. Omong-omong, ada perlu apa telepon Papa?"
"Geli
banget! Seumur hidup aku nggak pernah panggil Papa!"
"Ah, fyi
aja, panggil Papa di sini bukan maksud yang aneh-aneh ya, tapi maksudnya Ayah
kandung."
"Aku tahu!
Siapa juga yang bakal salah paham! Kan aku ini anak kandungmu!"
"Apa katamu?
Anakku cuma 'si Joni' yang ada di selangkangan ini."
"Bercandanya
sampah banget!"
"Oho, jadi
ceritanya lagi main tebak-tebakan antara 'si Joni' sama 'Oinari-san' ya?"
(T/N: Oinari adalah jenis sushi yang sering digunakan sebagai eufemisme
untuk testis).
"DIAM!"
"Kanade...
suaramu keras sekali... Jangan-jangan kamu lagi kena masa puber telat?"
"Kalau
Ayah berhenti bercanda, aku bakal langsung diam!"
"Kanade...
kalau nggak berhenti, Ayah bakal benar-benar jadi 'Gekio-ko Punpun-maru',
lho." (T/N: Slang kuno yang berarti 'sangat marah').
"Nggak...
yang harus berhenti itu Ayah, dan nggak usah maksa pakai bahasa anak
gaul."
"Atau
mungkin jadi 'Eki-chika Sanpun-maru'?" (T/N: Plesetan dari Punpun-maru
menjadi properti perumahan 'dekat stasiun 3 menit').
"Itu sih
perumahan strategis!"
"Masih mau
melawan ya... kalau dibilangin pakai mulut nggak mempan, terpaksa Ayah pakai
cara lain... Dengar ya, Ayah bakal ngomong kata-kata kasar, siapin
mentalmu!"
"Ujung-ujungnya
pakai mulut juga!"
"I-Ibumu
punya pusar bodong!"
"Itu
kan istri Ayah sendiri!"
Ugh... aku sampai
kehabisan napas karena terlalu banyak melakukan tsukkomi.
Sifatku yang suka
mengomentari tingkah aneh orang lain secara berlebihan ini sebagian besar
memang pengaruh Ayah.
Sejak lahir sudah
didampingi manusia yang hobi ngelawak nggak jelas begini, wajar kalau aku jadi
orang yang hobi protes.
"Jadi, ada
apa? Tumben sekali kamu menelepon."
Ayah akhirnya mau
mendengarkan.
"Ah,
sebenarnya begini..."
Beberapa menit
kemudian, setelah Ayah selesai mendengar kronologi pengiriman tiket tersebut,
dia tiba-tiba terdiam seru.
"Ayah...
kenapa?"
"Kanade...
jangan pergi ke tur itu."
Suaranya
terdengar sangat berat. Ayah jarang sekali bersuara seserius ini, mungkin cuma
sekali dalam beberapa tahun, jadi aku agak kaget.
"Beneran
deh, kenapa sih, Yah? Sampai mode serius begitu..."
"...Nggak,
Ayah sudah beberapa kali pakai jasa Arable Travel itu, tapi program turnya
parah banget... Ayah hampir saja dikirim ikut 'Tur Keliling Tempat Pembuangan
Kotoran Seluruh Negeri'."
"Serius?!"
Apa-apaan itu...
rasanya itu sudah bukan level komplain lagi...
"Yah, aku
juga nggak terlalu suka jalan-jalan sih. Lagian rencana liburan musim panas
bagian akhir ini mau kupakai buat bersih-bersih rumah secara total, jadi emang
nggak niat pergi. Aku cuma telepon karena mikir mungkin Ayah dan Ibu mau pakai
tiketnya kalau pulang nanti."
"Begitu
ya... syukurlah kalau gitu."
Dari balik
telepon, aku tahu Ayah merasa sangat lega. Meskipun soal tempat pembuangan
kotoran tadi mungkin cuma bercanda, tapi sepertinya perusahaan ini memang
bermasalah...
"Oh, Kanade.
Pas banget, Shirabe baru saja pulang."
Suara Ayah
kembali ke nada biasanya saat menyebutkan nama Ibu.
"Ayah
oper ke dia, ya."
"Eh?
Nggak usah juga nggak ap—"
"Yuhuuu,
Kanadeee!"
Suara
yang kelewat ceria menggema dari telepon.
"I-Ibu, sudah lama ya."
"Ohooo,
sudah lama-lama, sate gurame. Ah, ngomong-ngomong, pantat ikan gurame
yang Ibu masak kemarin kenyal banget, lho... Hah! Ibu baru saja kepikiran
produk luar biasa. Namanya 《Gurame-rame》.
Hmm... kedengarannya asyik,
pasti bakal laris manis! Gurame yang ramai-ramai jadi Gurame-rame... Pu...
hihi... ya ampun, aku ini emang jeniu—"
Klik.
...Aku
mematikan teleponnya secara paksa.
Ya,
ibuku, Amakusa Shirabe, adalah tipe pelawak yang lebih parah dari Ayah...
ditambah lagi lawakannya itu garingnya nggak ketolongan. Badanku nggak bakal
kuat kalau harus meladeni mereka berdua secara serius.
Masalahnya,
refleks tsukkomi-ku ini sudah seperti gerakan otomatis, jadi aku nggak
bisa membiarkannya begitu saja... Singkatnya, mematikan telepon adalah satu-satunya jalan ninja bagiku.
"Fuu..."
Aku menghela
napas panjang. Kenapa cuma bicara sama orang tua sendiri saja bisa secapek ini.
"Nah...
diapakan ya tiket ini."
Kalau
perusahaannya separah itu, aku juga nggak mungkin memberikannya ke orang
lain... Sambil menatap tiket di tangan, Chocolat yang tadi asyik mengunyah
camilan mendekat ke arahku.
"Kanade-san,
itu apa?"
"Ah, ini,
sepertinya aku menang tiket jalan-jalan."
"JALAN-JALAN!"
Bulu ekor
Chocolat langsung berdiri tegak seketika.
"Iya, tur
bus 3 hari 2 malam katanya, tapi perusahaannya sepertinya kacau, jadi—"
"Aku mau
ikut!"
Mata Chocolat
berbinar-binar penuh harap.
Yah, bagiku sih
terserah, tapi aku baru saja mendengar cerita ngeri dari Ayah... Lebih baik
dihindari kalau bisa.
"Chocolat,
kali ini jangan ya—"
Pilih:
① Ikut tur 3 hari 2 malam bersama Chocolat
② Ikut tur keliling tempat pembuangan kotoran bersama Chocolat
...Disuruh milih, dong.
Pilihan yang muncul biasanya adalah antara 'pilihan buruk'
dan 'pilihan yang jauh lebih buruk'.
Masalahnya
sekarang adalah, pilihan ② itu termasuk yang mana... Tapi
sejujurnya, saat ini aku nggak punya niat sedikit pun untuk keliling tempat
kotoran. Aku cuma bisa berdoa semoga pilihan ① lebih
mendingan daripada itu.
"Kanade...
jangan pergi ke tur itu."
Suara
serius Ayah terngiang kembali di kepalaku, membuatku ragu sejenak... tapi
akhirnya aku memilih ①.
"Ya sudah...
kita pergi saja."
"Yaaaay!"
Mata Chocolat makin berbinar-binar.
"Di tempat
wisata nanti, malam panas kita berdua akan—"
"Nggak
bakal ada yang kayak gitu..."
"Kalau gitu,
malam panas Kanade-san dan Natsuhiko-san akan—"
"SAMPAI
KAPAN MAU BAHAS ITU TERUS!"
"Punya
Kanade-kun... sedikit lebih kecil dari ukuran standar."
"DIAM KALIAN
SEMUAAAAA!!"
Aku menendang
boneka Natsuhiko sekuat tenaga.
2
"Panasnyaaa..."
Di bawah sinar
matahari musim panas yang seakan membakar kulit, aku melangkah gontai menuju
halte bus di depan stasiun yang menjadi titik kumpul.
Karena pilihan
itu sudah terlanjur muncul, aku tidak punya jalan lain selain pergi. Tapi
mengingat cerita Ayah kemarin, sepertinya aku tidak bisa berharap banyak pada
isi tur ini...
"Jalan-jalan
bareng Kanade-san~!"
Berbanding
terbalik denganku yang lesu, Chocolat justru tampak sangat bersemangat tanpa
memedulikan hawa panas sedikit pun.
Tumben-tumbenan,
hari ini dia memakai one-piece panjang yang membuatnya terlihat lebih
anggun.
Meski aku merasa
agak asing karena tidak terbiasa melihatnya begitu, tapi harus kuakui baju itu
sangat cocok untuknya.
"Tapi kamu
ini... kenapa bawaannya banyak banget?"
Tas
Chocolat tampak menggelembung sampai batas maksimal. Meski dia perempuan, rasanya ini terlalu
berlebihan untuk perjalanan tiga hari dua malam.
"Hehe,
soalnya di dalam sini isinya macam-macam, lho!"
Chocolat menyahut
dengan wajah yang sangat riang. Tepat saat itu, terdengar suara teredam dari
dalam tasnya.
『Bukan, ini Natsuhiko.』
"DIBAWA JUGA
TERNYATA?!"
"Hehe,
habisnya Natsuhiko-san makan tempat banget, jadinya celana dalamku nggak muat
masuk tas."
"BUANG
SEKARANG JUGA!"
Ngapain sih cewek
ini... Nanti terpaksa aku suruh dia beli celana dalam di minimarket, deh.
"Tenang
saja, Natsuhiko-san sudah aku pakaikan celana dalam bekas pakai milik
Kanade-san, kok!"
"LEPASIN
DAN BUANG SEKARANG JUGA!!"
"Ja-jahat banget, Kanade-san... Padahal ada pepatah
'Tinggalkan rasa malu di perjalanan', 'Tinggalkan celana dalam di perjalanan',
dan 'Natsuhiko itu barang sekali pakai di perjalanan'..."
"Nggak usah
dibikin jadi kata mutiara begitu!"
Lagipula aku
nggak bakal pakai Natsuhiko-nya!
"Nggak
apa-apa kok, Natsuhiko-san itu bisa dicuci dan dipakai berkali-kali!"
"MAKANYA
AKU BILANG NGGAK BAKAL DIPAKAI!"
...Aku
pun melangkah menuju halte bus dengan perasaan yang semakin suram.
◆◇◆
Beberapa menit
kemudian.
"Oh, itu
dia. Busnya sudah stand-by."
Tepat saat aku
menemukan bus yang parkir di area bundaran jalan, dua suara memanggilku secara
bersamaan dari dua arah berbeda.
"Ara."
"Ooh,
Kanade-chi!"
Saat aku menoleh
ke arah sumber suara... entah kenapa, di sana ada Furano dan Ouka.
"Ka-kalian
berdua... kenapa bisa ada di sini?"
"Aku dapat
tiketnya dari Ketua Kokuburyuin. Katanya tiketnya sisa, tapi dia sendiri tidak
bisa pergi," jawab Furano.
"Aku juga
sama! Ketua sendiri yang repot-repot mengantarkannya ke tempatku!" seru
Ouka.
Oalah, jadi
ini ulah orang itu...
"Kanade-san, kenapa celingak-celinguk begitu?"
"...Nggak ada apa-apa."
Aku mengedarkan pandangan ke sekitar, curiga kalau-kalau dia
sedang mengawasi kami dari suatu tempat, tapi sosoknya tidak terlihat. Yah, kalau orang itu niat sembunyi, aku
merasa mustahil bisa menemukannya...
Tapi kalau sudah
begini, berarti tiket yang dikirim ke rumahku pun... Ketua-lah dalang di balik
semua ini. Lalu aku teringat isi misi kali ini.
Melihatkan
momen Amakusa Kanade sedang berciuman kepada salah satu dari: Chocolat,
Yukihira Furano, atau Yuuouji Ouka.
Perjalanan di
mana semua target berkumpul di satu tempat... Apa tujuan Ketua adalah membuatku
menyelesaikan misi selama tiga hari dua malam ini? Tapi kalau cuma mau
mengumpulkan semua orang, rasanya tidak perlu sampai repot-repot membuat tur
segala... Apa ada maksud lain?
Di saat aku
sedang tenggelam dalam pikiran, Furano membuka suara.
"...Tapi,
kalau aku tahu Kanade-kun bakal ikut, aku pasti tidak akan datang."
"Eh?"
"Soalnya,
aku dengar kabar kalau ada yang tidur dalam radius seratus meter dari
Kanade-kun, dia bisa langsung hamil."
"MANA
MUNGKIN, WOI!"
"Habisnya,
kemampuan khusus Kanade-kun itu kan mengendalikan sperma dari jarak jauh,
'kan?"
"Kemampuan
macam apa itu, hah?! Ampas banget!"
"Haa...
kalau tahu Kanade-kun datang, aku benar-benar tidak akan ikut."
Furano menghela
napas panjang dengan terang-terangan... Segitu bencinya ya dia sama aku.
Melihat itu, Ouka menunjukkan ekspresi heran.
"Eh? Masa
sih? Kata Ketua, Kanade-chi, Chocolat-chi, dan Furano-chi semuanya bakal ikut,
jadi aku disuruh menantikannya."
"......Ugh."
"Oalah. Jadi
ke Furano-chi dia nggak bilang, ya."
"............Ugh."
Wajah Furano
tampak sedikit memerah.
"...Apa
lihat-lihat!"
Begitu menyadari
aku memperhatikannya, dia langsung melotot tajam ke arahku.
"N-nggak,
bukan apa-apa..."
...Sepertinya
lebih baik aku mengalihkan pembicaraan.
"Ta-tapi
Ouka, penampilanmu hari ini warnanya berani banget, ya."
Aku mengalihkan
pandangan ke arah Ouka. Dia memakai topi jerami, kamisol merah, dan hot
pants denim biru yang sangat pendek. Vibes-nya benar-benar seperti orang
yang bakal teriak "Gomu Gomu no—!" kapan saja.
"Masa sih?
Gimana-gimana? Nggak aneh, 'kan?"
"Bukannya
aneh, tapi menurutku itu cocok banget sama kamu."
"Yaaaay!"
Ouka kegirangan
dengan sangat jujur.
"Tapi tapi,
soal niat dandan kayaknya aku kalah sama Furano-chi, deh~"
Ouka malah
melempar topik kembali ke Furano, padahal aku sudah susah payah mengalihkannya.
"...Maksudmu
apa?"
Furano yang
melotot itu sekarang mengenakan rok super mini yang belum pernah kulihat
sebelumnya.
"E-enggak..."
Biasanya Ouka
juga sering pakai rok mini, tapi rok Furano kali ini pendeknya luar biasa.
Jujur saja, aku bingung harus membuang muka ke mana.
"...Karena
rasanya menjijikkan, bisa berhenti melototi aku begitu?"
"A-aku nggak
melotot segitunya, kok."
"...Karena
rasanya menjijikkan, bisa berhenti me-masturbasi-i aku dengan matamu?"
"NGOMONG
APAAN KAMU?!"
"Yah,
Kanade-kun mau ngapain pun emang menjijik—ah."
Tiba-tiba,
sesuatu terjatuh dari tas Furano.
"Hmm?
Ini..."
Itu adalah bantal berbentuk karakter 'Shirobuta-kun' dari mainan UOG. Kenapa dia bawa barang beginian... Apa jangan-jangan dia tipe orang yang nggak bisa tidur kalau bantalnya diganti?
“……”
Wajah Furano
tampak memerah samar... Yah, dia pasti malu, sih. Sepertinya dia memang
berusaha keras menyembunyikan sisi dirinya yang suka barang-barang imut.
Aku memungut
bantal Shirobuta-kun yang terguling di tanah.
"Nih."
"……"
Meski sudah aku
sodorkan, Furano tidak kunjung menerimanya.
"Kenapa?
Nggak mau?"
"……"
Begitu aku desak
lagi, tanpa suara dia mengulurkan tangannya dan—
"Fubek!"
Tanpa ampun, dia
melayangkan pukulan maut ke bantal itu. Shirobuta-kun yang malang pun terpental
dan menghantam wajahku dengan telak.
Bantal itu
membalul lalu jatuh mengenaskan ke tanah.
Dengan
sigap, Furano langsung memungutnya lagi dan memeluknya erat-erat.
"……Jangan
salah paham ya, aku bawa ini cuma buat dijadikan pelampiasan kalau tiba-tiba
ada dorongan impulsif untuk melakukan kekerasan."
……Aduh,
meski kamu bilang begitu sambil mengelus bantal itu dengan wajah yang mau
menangis, sama sekali nggak ada wibawanya, tahu. Wajahmu itu seolah-olah
tertulis 'Maaf ya, maaf ya' ke bantal itu.
"……Apa
lihat-lihat?"
"N-nggak,
bukan apa-apa..."
Dia melototiku dengan tatapan yang mengerikan... Duh, coba
saja kasih sayangmu ke Shirobuta-kun itu dibagi sepersepuluhnya saja buat aku.
"Muuu—"
Tiba-tiba, suara Ouka terdengar dari belakang.
"Tuh kan... Kanade-chi kalau bicara sama Furano-chi
kelihatan asyik banget."
"Hah? Bagian
mananya yang kelihatan asyik menurutmu?"
"……Yang
nggak sadar cuma Kanade-chi doang, tahu."
Kepalaku
langsung dipenuhi tanda tanya. Apalagi Ouka juga ikut-ikutan melotot dengan
mata setengah tertutup (jitome)... Akhir-akhir ini, Ouka makin sering
bersikap begini, ya.
Padahal
dulu dia selalu tersenyum ceria kapan pun dan di mana pun... Apa dia kena
pengaruh buruk dari Furano?
"Wah
wah, ada apa ini~?"
Tiba-tiba
terdengar suara dari arah belakang.
"Hah?"
Saat aku
berbalik, di sana berdiri seorang wanita yang tidak kukenal.
"Hmm,
hmm... wajah ini..."
Sosok
yang menatap wajahku lekat-lekat itu mengenakan seragam pemandu bus (bus
guide).
"Jangan-jangan...
kamu ini Amakusa-chan, ya?"
"Iya... benar, sih."
Wanita yang cantik. Rambut panjangnya yang disanggul ke atas
tampak berkilau terkena pantulan sinar matahari.
"Tebakanku benar! Wih, sudah tiga tahun lewat tapi
wajahmu tetap imut ya~"
Gaya bicaranya seolah-olah dia mengenalku... tapi aku sama
sekali tidak ingat. Wanita secantik
ini, kalau sekali lihat harusnya tidak bakal mudah lupa, sih...
"Eh? Kenapa?
Jangan-jangan kamu lupa sama aku?"
"A-ah,
nggak... itu..."
Karena dia
mendekatkan wajahnya, aku jadi gugup dan bicara terbata-bata.
"Yah, sedih
deh~ Kakak jadi pundung nih~"
Si mbak
pemandu itu sengaja berlagak manja sambil meliukkan tubuhnya.
"Maaf...
sejujurnya, saya sama sekali tidak ingat."
Pemandu itu
mengangguk, seolah memahami sesuatu.
"Hmm, kalau
melihat reaksimu, sepertinya kamu beneran lupa ya. Kamu itu, tiga tahun lalu
pernah ikut tur bus 3 hari 2 malam dari Arable Travel ini, lho."
"……Eh?"
"Waktu itu
kamu ikut bertiga bareng Ayah dan Ibumu."
"……Bareng
Ayah dan Ibu?"
Benar-benar...
benar-benar tidak ada dalam ingatanku.
Tiga
tahun lalu itu berarti aku kelas dua SMP. Kalau aku masih balita sih wajar,
tapi di usia segitu, tidak mungkin aku lupa kalau pernah ikut perjalanan selama
tiga hari dua malam.
Tapi,
rasanya tidak mungkin juga pemandu ini berbohong padaku.
Musim panas kelas
dua SMP... apa yang aku lakukan saat itu?
Latihan
klub seperti biasa, main bareng teman seperti biasa, mengerjakan PR seperti
biasa... Iya, aku punya
ingatan tentang masa-masa itu, tapi tetap saja aku tidak ingat soal pergi
jalan-jalan—
『Kanade... jangan pergi ke tur itu.』
Tepat
saat kalimat Ayah tadi mendadak terlintas di benakku—
"Ugh..."
Rasa mual
tiba-tiba menyerang.
Ini... rasa mual
yang sama seperti sebelumnya. Padahal kondisiku tidak sedang sakit...
sebenarnya rasa mual yang tiba-tiba ini apa, sih?
"Lho lho,
kamu nggak apa-apa?"
Pemandu itu
membungkuk, mencoba mengintip wajahku yang sedang menutupi mulut.
"……"
Aku tidak bisa
menjawab dan hanya balas menatapnya.
"Iih, kalau
ditatap terus begitu, Kakak jadi malu nih~!"
Gaya santainya
ini... rasanya aku pernah lihat...
"Ughh..."
Rasa mual
yang lebih hebat menyerang lagi.
Dan
kemudian, sebuah nama muncul di dalam kepalaku.
"Michiru...-san?"
Michiru... Madobe Michiru. Benar, nama pemandu ini adalah
Madobe Michiru.
Aku menarik napas dalam-dalam perlahan untuk meredakan rasa
mual sambil menatap wajahnya.
"Ooh!
Amakusa-chan, kamu ingat! Yattaa, yey yey!"
Michiru-san
berputar di tempat sambil memamerkan tanda V-sign. Gaya bicaranya yang berisik
dan annoying ini... Benar, sepertinya aku dulu memanggil orang setipe
ini dengan nama Michiru-san... rasanya begitu.
Namun, yang
berhasil kuingat hanyalah namanya saja. Soal ingatan ikut tur tiga tahun lalu,
atau ingatan tentang bagaimana aku berinteraksi dengan Michiru-san ini,
semuanya masih kosong melompong.
"Nggak...
baru namanya saja yang ingat."
"Begitu ya.
Tapi nggak apa-apa, pelan-pelan juga bakal ingat sendiri, kan? Lagian, tur bus
kali ini bakal melewati rute yang persis sama dengan tiga tahun lalu,
kok!"
"……Eh?"
Kenapa situasinya
terasa seperti sudah disiapkan begini? Sebenarnya apa yang direncanakan Ketua
Kokuburyuin?
Dan... selain
soal pemandu ini, aku merasa ada hal yang teramat sangat penting yang telah aku
lupakan.
Sesuatu yang terjadi... tiga tahun yang lalu.
Interlude 1
Sebuah Kisah Tiga Tahun Lalu — Bagian 1
"Panasnya
minta ampuuun..."
Di tengah terik
matahari musim panas yang seolah bisa membuat otak meleleh, aku berjalan gontai
menuju halte bus di depan stasiun, tempat kami berjanji untuk berkumpul.
Ayahku tiba-tiba
saja mengajak ikut paket tur bus tiga hari dua malam. Mungkin kedengarannya
aneh kalau aku sendiri yang mengatakannya, tapi karena selama ini aku tidak
pernah mengalami masa puber yang pemberontak, aku sama sekali tidak keberatan
pergi berlibur bersama orang tuaku.
Hanya saja...
"Torajiro-saaan..."
"Shirabe..."
...Di
bawah cuaca seekstrem ini, tolonglah jangan bermesraan lengket begitu.
Ayahku,
Amakusa Torajiro. Ibuku, Amakusa Shirabe.
Karena
penampilan mereka berdua jauh lebih muda dari usia aslinya, di mata orang lain
mereka mungkin cuma terlihat seperti pasangan usia dua puluhan yang sedang
dimabuk asmara. Namun, kurasa mereka perlu sedikit sadar diri kalau putra
mereka yang sudah kelas 2 SMP ini berdiri tepat di belakang mereka.
Dan kedua
orang ini...
"Kanade...
Dari tadi orang-orang yang lewat kok melirik ke arah sini terus ya?
Jangan-jangan, pas kami nggak melihat, kamu lagi main naik-turunin celana
dalam, ya?"
"APA-APAAN?!
Memangnya kamu pikir anakmu ini apaan, hah?!"
Mereka melihat ke
sini karena level kemesraan kalian itu sudah nggak wajar tahu!
"Yah, karena
kamu itu anakku, aku nggak bakal heran kalau kamu melakukan hal aneh sehebat
apa pun."
"Kenapa
malah pasang muka bangga gitu?!"
"Torajiro-san,
putra kita tidak akan melakukan hal yang setengah-setengah seperti itu. Kalau
dia mau melakukannya, dia pasti akan melakukan gerakan 'biarkan celana dalam
melorot selamanya'."
"Itu mah
namanya cuma eksibisionis!"
"Kanade... Manusia itu pada dasarnya terlahir telanjang
bulat, lho."
"Bukan itu masalahnya!"
"Kanade... Manusia itu pada dasarnya terlahir tanpa
sehelai benang pun."
"Cuma ganti istilah doang juga nggak nolong!"
"Kanade... Manusia itu kalau berani telanjang di
jalanan bakal langsung 'digelangin' polisi, lho."
"Kenapa
malah jadi main rima begitu, sih!"
...Di sekolah,
aku sering dibilang punya bakat jadi tsukkomi (tukang protes), dan itu
jelas karena aku dibesarkan oleh orang tua yang kerjaannya boke
(ngelawak) melulu tanpa henti.
"Sudahlah,
aku sudah nggak sanggup meladeni mereka..."
Sambil
merasa muak dengan mereka berdua, akhirnya kami sampai di terminal bus.
Begitu
naik, mereka langsung mengambil posisi di kursi belakang dan mulai bermesraan
lagi. Karena kursinya bebas, aku memutuskan untuk duduk di bagian depan agar
bisa menjauh sejauh mungkin dari mereka.
Untungnya
jumlah peserta tidak terlalu banyak, jadi bus pun berangkat dengan kursi di
sebelahku yang masih kosong.
"Halo
semuanyaaa! Masih semangat, kaaan?!"
Tak lama
kemudian, sebuah suara dengan nada tinggi yang sangat energetik terdengar.
"Perkenalkan,
saya Madobe Michiru yang akan memandu perjalanan kalian hari ini! Mohon
bantuannya yaaa, kyarun~"
...Pemandu wisata
bernama Madobe-san itu memang sangat cantik, tapi gayanya benar-benar bikin
malu yang melihatnya.
Pakai bilang 'kyarun' segala... Zaman sekarang bahkan idol
sok imut pun sudah nggak pakai kata-kata begitu.
"Lho, lho~
Anak laki-laki di sana, kenapa bengong melihat wajah Kakak? Terpesona
ya?"
"Eh? Aku?"
"Iya, kamu. Namanya siapa?"
"Amakusa... Kanade."
"Ooh, Amakusa-chan ya~"
Ditambah lagi, dia sok akrab sekali.
"Kalau begitu, Amakusa-chan yang masih perjaka—"
"Bhuft!"
A-apa-apaan orang ini, tiba-tiba ngomong apa dia?!
"Muhufu~
Reaksinya kena sasaran ya, nyah."
Sial... Me-memang benar aku masih perjaka, tapi aku kan baru
kelas 2 SMP! Nggak punya
pengalaman begitu pun bukan sesuatu yang memalukan, kan... iya kan?
"A-aku...
bukan perjaka, kok."
Saking paniknya,
aku malah berbohong demi gengsi.
"Bohong
bangeeet, dasar perjaka (wkwk)."
"Iya tuh,
dasar perjaka (wkwk)."
"Kalian
yang di belakang mending diam deh!"
Melihat
anaknya dipanggil perjaka di depan orang asing, bukannya membela, orang tuaku
malah ikut-ikutan meledek... Hebat juga aku bisa tumbuh tanpa jadi anak
berandalan sampai sekarang.
"Nyahaha!
Kalau begitu selanjutnya... Oh, Mas-mas yang di sana yang auranya mirip
Pengawal Rumah (NEET)!"
Madobe-san mulai beralih meledek pria bertubuh agak tambun
yang duduk di belakang... Sebenarnya ada apa sih dengan orang ini? Apa dia
nggak takut kena komplain?
Aku memeriksa brosur yang terselip di rak, dan di sana
tertulis: 'Paket Tur 3 Hari 2 Malam Tingkat Lanjut: Nikmati Sensasi Diledek
Habis-habisan oleh Pemandu Wisata'.
Proyek macam apa ini... Kok bisa-bisanya lolos rapat...
Tapi ya, itu berarti semua penumpang di sini sudah tahu dan
setuju dengan konsepnya... Benar-benar konten konyol yang bakal sangat disukai
orang tuaku.
"...Haaah."
Tepat saat aku
mengembuskan napas panjang,
"Kikiki."
Terdengar suara
tawa kecil dari sampingku, dan secara refleks aku menoleh.
"—!"
Seketika itu
juga, mataku terpaku.
Seorang gadis
dengan rambut biru cerah yang seolah tembus pandang sedang berdiri di sana.
Sosoknya
membuatku... benar-benar terpesona sepenuhnya.
"Ah, maaf ya, tiba-tiba tertawa begitu."
Gadis itu sepertinya salah paham dengan diamnya aku dan
menunjukkan ekspresi sedikit merasa bersalah.
Aku
langsung melambaikan tangan dengan heboh untuk menyangkalnya.
"E-eh, nggak kok... Bukan itu yang bikin aku
kaget..."
Gadis itu
pun tersenyum manis.
"Syukurlah
kalau begitu."
"Ugh..."
Begitu
melihat senyum itu, jantungku berdegup sangat kencang. A-apa-apaan ini...
"Hei, boleh
aku duduk di sebelahmu?"
"Ah...
Iya."
Aku mengangguk
dalam kondisi pikiran yang masih melayang.
"Kalau
begitu... Hap. Permisi, ya."
Saat dia duduk,
aroma yang sangat harum tercium dari gadis itu.
"Maaf ya
kalau aku tiba-tiba datang begini. Apa kamu sebenarnya ingin santai
sendirian?"
"Ah, tidak,
sama sekali tidak keberatan kok..."
Tanpa
sadar aku malah bicara dengan bahasa formal.
"Begitu ya,
syukurlah. Ah, pertama-tama kita harus kenalan dulu, ya. Aku Amagami Sora.
Kelas 3 SMP."
Gadis yang
memperkenalkan diri sebagai Sora itu tersenyum lembut.
Kelas 3 SMP,
berarti dia setahun lebih tua dariku.
"Namamu
Amakusa Kanade-kun, kan?"
"Ugh..."
Amagami-san
sedikit mencondongkan tubuhnya ke arahku.
"I-itu... i-iya... be-benar..."
Aroma dari Amagami-san tercium semakin kuat, membuatku jadi
sangat salah tingkah, tapi dia sepertinya tidak keberatan.
"Amakusa Kanade-kun, ya... Hmm, nama yang bagus."
"Te-terima
kasih."
"Kanade-kun
kelas berapa?"
"Ah, itu,
aku... kelas 2."
"Fufu,
berarti aku kakak kelasmu, ya."
Amagami-san
mengatakan itu sambil mengusap kepalaku dengan lembut.
"Ugh...
Ah..."
A-apa perasaan
ini? Rasanya seolah... seolah ada batang besi panas yang dihunjamkan ke pusat
tubuhku, seluruh badanku terasa sangat panas...
Wajahku pasti
sudah merah padam sampai-sampai aku tidak berani menatap wajah Amagami-san
secara langsung.
Perasaan ini... sebenarnya apa?



Post a Comment