NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Te ni Ireta Saimin Appli de Yume no Harem Seikatsu o Okuritai Volume 4 Chapter 7

Chapter 7

Terima Kasih untuk Segalanya, Partnerku


"Aku benar-benar sudah melakukan hal mesra... ya."

Melakukan hal mesra dengan Mari dan yang lainnya... Aku telah mengalami sesuatu yang levelnya jauh lebih tinggi daripada apa pun yang pernah kulakukan sebelumnya.

Dengan Mari, Saika, dan Emu—bertiga sekaligus.

Kejadian itu terukir kuat dalam ingatanku sebagai kenangan yang mungkin takkan pernah bisa kulupakan seumur hidup.

"Ini... bukan mimpi, kan?"

Kebahagiaan seperti ini... terasa seperti mimpi, tapi ini nyata. Sudah sejauh ini, aku takkan membiarkan ini hanya jadi mimpi. Menjaga agar waktu terbaik ini terus berlanjut selamanya... itulah hal yang harus kulakukan mulai sekarang.

"............"

Aku sudah bisa melihat visi masa depanku. Aku akan berusaha keras agar tetap menjadi pria yang layak dicintai oleh gadis-gadis yang telah menyatakan perasaannya padaku... Tekad itu pasti akan mendewasakanku, baik secara mental maupun fisik.

"Wajahmu terlihat jauh lebih baik sekarang."

"Suasanamu berubah ya? Ada apa?"

"Aku juga penasaran soal itu. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi?"

Bukan hanya kakak perempuanku yang sudah tahu situasinya, tapi Akira dan Shogo pun berkata begitu. Kami mengobrol melalui telepon untuk saling memberi kabar terbaru. Tentu saja aku tidak menceritakan hubunganku dengan Mari dan yang lainnya, tapi sepertinya aura kebahagiaanku terpancar jelas hingga sampai kepada mereka.

Suatu saat nanti... ya. Aku berharap bisa menceritakan hubungan kami, tapi aku ragu apakah mereka bisa menerimanya... Itu hal yang sulit.

"Partner... hari ini kondisimu benar-benar buruk ya."

Belakangan ini, kondisi Partner sangat tidak stabil. Terutama sejak hari itu... hari di mana Mari dan yang lainnya datang ke rumah dan mereka mencoba menghipnotisku, kondisi Partner menurun drastis.

Aplikasi memang bisa dibuka, tapi sering tertutup sendiri di tengah jalan, responnya sangat lambat saat diketuk... atau terkadang membeku hingga harus dimatikan paksa. Singkatnya, kondisi Partner sangat buruk.

Yah, bukannya aku berniat menggunakan kekuatan Partner untuk menghipnotis seseorang, tapi begitu gejala itu muncul, aku jadi khawatir dan terus mencoba membukanya... Begitulah besarnya rasa cemas ini.

"...Apakah waktu perpisahan sudah dekat?"

Meski tak ingin mengakuinya, aku merasa saat perpisahan itu kian dekat. Ini hanya intuisi, tapi aku yakin intuisiku ini tidak salah.

"Dia bilang... dia merasa sudah puas."

Partner yang selama ini hanya dimanfaatkan, mengatakan bahwa baru pertama kalinya dia menerima ucapan terima kasih saat bersamaku. Setiap kali aku berterima kasih, Partner merasa sangat senang.

Kegembiraan yang dirasakan Partner—sosok yang awalnya hanya ada untuk menuruti perintah—ketika pertama kali diberi ucapan terima kasih... Dia menyadari bahwa dirinya bukan sekadar alat untuk dimanfaatkan, melainkan sosok yang bisa melakukan hal mulia seperti membantu orang lain.

"...Sial. Aku tidak bisa diam saja."

Ternyata aku tipe orang yang tidak bisa duduk diam saat merasa cemas. Aku mengambil ponsel dan hendak keluar, tapi ibu menghentikanku.

"Kai, mau pergi ke mana?"

"...Ya, begitulah. Aku tidak tahu bakal langsung pulang atau agak terlambat."

"Begitu ya... Yah, menyegarkan pikiran itu penting, jadi pergilah."

"Menyegarkan pikiran... kesannya aku seperti sedang tidak bersemangat saja."

"Ibu tahu kok. Papa juga memasang wajah seperti itu kalau sedang merasa cemas."

"...Begitu ya. Kalau begitu, aku pergi dulu."

Ternyata aku benar-benar mirip Papa, ya. Mengingat kami punya hubungan darah, itu hal yang wajar, tapi aku merasa kakakku tidak seperti itu.

"Kalau Kakak sedang cemas, dia pasti mengunciku dengan teknik bela diri... berarti di bagian itu dia mirip Ibu ya."

Sambil bergumam begitu, aku pergi berjalan-jalan tanpa tujuan. Aku tidak berniat belanja atau makan di luar, jadi aku hanya membawa ponsel. Yah... saat ini aku hanya ingin merasakan keberadaan Partner.

Mungkin karena berjalan sambil melamun, tanpa sadar aku sudah sampai di tempat di mana rumah Mari hampir terlihat. Aku ingin bertemu Mari, tapi untuk sekarang sepertinya tidak usah, pikirku sambil tersenyum pahit. Datang ke sini bukan untuk bertemu Mari, melainkan mungkin karena aku ingin menelusuri jejak perjalananku bersama Partner.

"Benar juga... di sinilah aku bertemu dengan para mantan pacar Mari."

Saat melihat luka yang menyedihkan di lengan Mari, aku yang mendengar situasinya langsung bertindak.

"Kenangan yang manis... kalau tidak salah awalnya mereka bilang 'ikut kami sebentar', ya?"

Seingatku begitu. Aku dipukul, ditertawakan oleh perempuan itu... lalu karena kesal, lahirlah insiden legendaris 'Lari Maraton Telanjang'.

"Benar-benar kenangan lama... hmm?"

Saat itu, aku melihat sosok yang tidak asing dari kejauhan. Saat aku memperhatikannya, dia juga menyadari keberadaanku dan langsung berlari ke arahku.

"Kai-kun? Ada apa?"

Yang berlari mendekat adalah Mari. Hari ini pun dia tampil dengan gaya gal yang luar biasa! Saat dia berlari, dadanya yang membal-mempul itu benar-benar memanjakan mata.

"Yo, Mari. Itu... aku cuma lagi menelusuri kenangan bersama Partner."

"Kenangan bersama Partner?"

Menelusuri kenangan bersama Partner... ya, mari pakai alasan itu. Meski itu ide yang muncul tiba-tiba, aku sudah memutuskan—tujuan hari ini adalah menelusuri kenangan bersama Partner.

"Iya, aku berkeliling mengenang masa-masa bersama Partner. Karena tujuannya cuma itu, aku tidak bawa dompet atau apa pun... tapi aku agak menyesal karena jadi tidak bisa beli minum."

"Begitu ya..."

Harusnya aku bawa dompet tadi... Tapi nasi sudah jadi bubur, lagipula suhu hari ini tidak terlalu panas jadi aku masih bisa tahan.

"Kalau begitu Mari, aku pergi du—"

Aku hendak pergi, tapi tanganku digenggam kuat.

"Mari?"

"Hei, boleh aku ikut?"

Itu ajakan yang tiba-tiba, tapi aku mengangguk. Mari tersenyum senang dan berjalan di sampingku. Melihat senyumnya yang begitu dekat, perasaan gelapku perlahan memudar.

Dan tentu saja, aku jadi teringat kenangan mesra bersamanya. Sejak saat itu kami memang belum melakukan apa-apa lagi, tapi berada di dekat Mari membuatku teringat detail ekspresinya, suaranya yang menggoda, hingga tubuhnya yang empuk dan sintal.

"Itu... aku jadi ingat Mari yang sedang 'mesra'."

"Ahaha, aku juga jadi ingat 'milik' Kai-kun♪ Rasanya menyenangkan ya bisa membicarakan hal seperti ini, seperti pasangan kekasih yang hubungannya sudah jauh!"

"Benar!"

Kekasih... bukankah itu sebutan yang terbaik!

"Mari, boleh aku menciummu sebentar?"

"Tidak perlu izin, ayo lakukan"

Meski aku yang mengajak, Mari yang menutup mata seolah tidak sabar. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitar, aku mengecup bibir Mari dengan lembut... hangat, empuk, dan sedikit basah oleh keringat.

"...Haha."

"Fufu♪"

Baiklah, setelah suasana hatiku membaik, mari lanjut jalan! Kami melanjutkan langkah yang sempat terhenti, berjalan-jalan santai tanpa arah. Rasanya agak memalukan karena aku malah ditraktir minuman karena tidak bawa dompet, tapi setidaknya aku tidak akan pingsan karena kepanasan.

Duduk di sebuah bangku sambil memperhatikan arus orang yang lewat, aku mulai bercerita.

"Hal pertama yang kulakukan setelah mendapatkan Partner adalah mencoba apa yang bisa dia lakukan. Aku menyuruh seorang kakek yang sakit pinggang untuk lari pelan, dan aku kaget saat dia benar-benar mulai berlari."

"Wah... itu tidak apa-apa?"

"Aku langsung melepaskannya, tapi katanya pinggangnya jadi agak enakan... itu benar-benar mengejutkan."

Cerita tentang kakek itu juga kenangan yang manis... lalu aku menunjuk ke arah bayangan sebuah gedung.

"Setelah punya aplikasi hipnotis, aku ingin melakukan hal mesra, jadi aku membawa seorang kakak cantik ke sana."

"Tapi kamu tidak melakukan hal mesra, kan?"

"Yah... kok tahu?"

"Entah kenapa, aku merasa Kai-kun tidak akan melakukannya."

"Ahaha... tepat sekali. Begitu aku tanya apa yang sedang dia lakukan, dia bilang adiknya ada kompetisi piano. Jadi aku minta maaf karena sudah menahannya, lalu melepaskan hipnotisnya agar dia bisa pergi."

"Pfftt!"

Kenapa sampai tertawa begitu, tapi memang lucu sih. Kakak itu benar-benar cantik dan dadanya besar... tapi kalau dia bilang sedang terburu-buru demi adiknya, wajar kan kalau aku ingin dia segera sampai?

"Ayo, selanjutnya ke depan stasiun."

"Iya."

Kami bangkit dari bangku dan menuju depan stasiun.

"Di sini... aku membantu orang."

"Membantu orang?"

"Ada seorang bapak-bapak dituduh melakukan pelecehan oleh seorang wanita muda. Aku mendekat perlahan, menggunakan kekuatan Partner... dan ternyata itu adalah tuduhan palsu."

"Itu... jahat sekali ya."

"Kan? Yah, bagi wanita itu mungkin sebuah kemalangan karena ketahuan, tapi syukurlah bapak itu bisa tertolong."

"Kamu sering membantu orang ya."

"Entah kenapa... aku melakukannya begitu saja."

Mengikuti arus situasi, ternyata aku membantu seseorang. Itu semua bisa terjadi hanya karena ada kekuatan Partner. Jika tidak ada Partner, aku pasti akan menghindar karena malas terlibat masalah.

Tapi jika dipikirkan lagi, itu berarti aku tidak akan pernah menyadari masalah Mari dan yang lainnya, dan dunia di mana kami menjadi akrab ini tidak akan pernah ada.

"Pikir-pikir, aku sudah sering menggunakan Partner, tapi aku benar-benar cuma melakukan hal mesra dengan Mari dan yang lainnya, ya."

"Maksudnya?"

"Mungkin aku sudah puas dengan kalian, atau malah... aku jadi cuma mau kalau itu kalian. Kurasa begitu."

"Jujur sekali ya♪ Seperti yang kubilang sebelumnya, itu artinya Kai-kun sudah benar-benar bertekuk lutut karena pesona kami!"

"Benar juga... lagipula kalian memang punya pesona yang terlalu luar biasa."

"Senangnya♪"

Mungkin cuma Mari dan yang lainnya yang bilang senang mendengar perbuatanku. Aku masih sering berpikir bahwa diterima oleh mereka adalah sebuah keajaiban yang tidak wajar. Saat aku mengatakannya pada Mari, dia tersenyum dan menggenggam tanganku.

"Wajar atau tidak, itu karena situasiku yang seperti itu. Tapi aku akan mengatakannya berkali-kali. Aku diselamatkan oleh Kai-kun... sejak saat itu kamu selalu mempedulikanku, dan memberiku kata-kata yang kuinginkan."

"Ya."

"Nah, sekarang pertanyaan."

Mari mengangkat jari telunjuknya.

"Apakah ada alasan untuk tidak jatuh cinta pada orang yang menyelamatkanmu dari keputusasaan, selalu mempedulikanmu, lalu menjadi akrab dan saling memahami?"

"...Kalau aku sih, tidak ada."

"Benar kan, aku juga tidak ada. Karena kita spesial, makanya kita ada di sini sekarang. Kai-kun ini kadang tidak percaya diri di bagian yang aneh ya... Apa kamu akan jadi percaya diri kalau di sini aku teriak keras-keras 'Aku suka banget sama Kai-kun, aku cinta, ayo lakukan hal mesra'?"

"Jangan ya! Aku senang, tapi jangan di sini!?"

Saat itu juga kita tidak akan bisa jalan di sini lagi, tahu. Mari tertawa dan bilang itu cuma bercanda sambil meminum jusnya. Saat itu, sedikit jus tumpah dan tetesannya menghilang ke dalam belahan dadanya yang besar.

Apa pun yang dia lakukan terlihat seperti lukisan... atau mungkin terlihat erotis karena aku sedang dikuasai nafsu, tapi mungkin itu bukti bahwa aku benar-benar tergila-gila pada Mari.

"Ada apa?"

"Enggak, cuma jus yang tumpah dan hilang ke belahan dadamu itu... rasanya bagus."

"Ah~... kalau begitu kapan-kapan, bagaimana kalau aku tuang jus ke sini lalu kamu minum?"

"Apa itu... sepertinya aku mau coba."

"Nanti kita lakukan ya!"

Mari ini benar-benar membiarkanku melakukan apa pun yang kuinginkan ya... Sesekali tolong bilang itu dilarang karena terlalu mesra, kalau tidak aku akan ketagihan dan makin melunjak, tahu?

"Hei Mari."

"Apaa?"

"Itu... Mari pada dasarnya tidak pernah menolak apa pun yang kukatakan, kan?"

"Memangnya perlu menolak?"

"Te-terima kasih... Mari mungkin tipe gadis yang bisa memanjakan dan merusak laki-laki."

"Mungkin saja♪ Aku sadar kok soal itu."

"Sadar ya."

"Tapi aku cuma merasa begitu pada Kai-kun. Aku tidak terpikir melakukan itu pada laki-laki lain... Lagipula bukannya itu wajar? Terhadap laki-laki yang disukai, seorang gadis ingin selalu dimanja, bahkan ingin membuatnya tidak berdaya agar tetap berada di sisinya."

"Begitu ya."

"Begitulah♪"

Begitu ya... kalau begitu biarlah begini, pikirku sambil tertawa. Hanya saja, aku sama sekali tidak berniat menjadi pria tak berguna yang hanya bisa bermanja padanya. Aku ingin berada di sisinya sebagai pria yang bisa diandalkan... Yah, tapi kalaupun aku menjadi pria manja, biarlah itu hanya saat bermesraan dengan mereka.

"Baiklah, selanjutnya... ah, kita jalan santai saja tanpa tujuan."

"Boleh~♪ Bersama Kai-kun, aku akan ikut ke mana pun!"

Aku bilang tanpa tujuan karena tempat untuk dikunjungi sudah tidak banyak lagi. Lagipula, sebagian besar momen saat aku menggunakan kekuatan Partner adalah untuk Mari dan yang lainnya, jadi aku sudah tahu ini akan terjadi.

"Sisanya soal Saika dan Emu. Menghipnotis ayah Saika agar dia jujur, dan menyuruh penguntit yang mengikuti Emu pergi ke kantor polisi, seperti yang kamu tahu."

Sisanya Mari sudah tahu semua. Sambil terus berjalan tanpa henti, kami mampir ke taman yang ramai oleh suara anak-anak. Mari yang tertarik dengan ayunan di taman langsung duduk di sana.

"Meskipun musim panas itu panas, jalan-jalan santai begini tidak buruk juga."

"Benar♪ Aku juga suka jalan-jalan, tapi aku makin suka kalau Kai-kun ada di sampingku seperti sekarang."

"...Haa, berapa banyak kata-kata menyenangkan yang akan kamu berikan padaku, Mari?"

"Ini seperti balasan untuk yang selama ini. Tapi jangan puas dulu ya? Karena mulai sekarang, aku akan membuat Kai-kun makin suka padaku lebih dari sekarang."

Gawat juga ya... Aku menggaruk kepalaku. Padahal aku sudah sangat malu begini, tapi Mari hanya merona sedikit dan terlihat tenang, rasanya agak kesal. Tapi kalau cuma aku yang malu, itu curang kan? Makanya aku juga akan mengucapkan kata-kata yang akan membuat Mari terkejut dan malu!

"Kalau begitu, aku akan tumbuh menjadi pria yang lebih hebat lagi. Bukan cuma membuat Mari merasa begitu, tapi aku akan jadi pria yang membuatmu makin ingin mengandalkanku, ingin dilindungi, dan merasa tidak tenang kalau tidak ada di sampingku!"

"...-!"

Meskipun terdengar gombal, aku tidak menyesal mengucapkannya. Sebagai buktinya, aku tidak memalingkan pandangan dari Mari dan terus menatap matanya untuk membuktikan kesungguhan kata-kataku. Apakah... ini kemenanganku!? Siapa yang memalingkan mata duluan, dia kalah... ayo, bagaimana reaksimu, Mari!

"............"

"............"

Kami saling menatap selama beberapa menit... Saat aku mulai berpikir apa sebenarnya yang kami lakukan, Mari tersenyum dan mendekatkan wajahnya. Apa dia mau menciumku...? Kupikir begitu, tapi dia hanya sedikit mendekatkan wajahnya, posisi saling menatap kami tidak berubah.

"Hei Kai-kun."

"...Ya?"

"Saling menatap begini tidak terasa tidak nyaman, kan?"

"Eh? Tentu saja tidak."

"Benar kan. Aku pernah dengar kalau kita bisa terus saling menatap seperti ini, itu bukti bahwa kecocokan kita sangat luar biasa—aku bahagia♪"

"!! "

Aku masih bisa terus menatapnya... bisa! Tapi kata-kata Mari barusan benar-benar serangan telak bagiku, dan tanpa sengaja aku memalingkan pandangan. Sialan, aku kalah...!

"Ehehe, Kai-kun kalah!"

"Ja-jangan-jangan kamu sudah tahu!?"

"Ternyata benar ya? Entah kenapa aku merasa seperti itu♪"

Mari yang tampak sangat puas memeluk kepalaku dengan lengannya yang terbuka lebar.

"Aduh! Kai-kun manis sekali!!"

Hari ini pun menjadi momen terbaik di mana aku didekap oleh dada yang empuk. Namun karena berjalan di tengah cuaca panas, kaus Mari sudah menyerap keringat, dan aroma manis yang menguap membuat kepalaku terasa sedikit pening. Setelah puas memelukku, Mari yang melepaskan dekapannya berkata:

"Boleh aku tanya... kenapa hari ini kamu ingin menelusuri kenangan bersama Partner?"

Kurasa Mari sudah sedikit curiga. Namun karena dialah orang yang berbagi rahasia denganku, aku menceritakan alasan jujurnya.

"Sepertinya Partner... akan segera pergi."

"............"

"Kupikir kami akan selalu bersama, dan sampai sekarang pun perasaanku tidak berubah. Tapi aku merasa saat perpisahan itu sudah dekat... intuisiku berkata begitu."

Perpisahan dengan Partner sudah dekat. Saat diucapkan, rasa sedih dan kesepian yang tak terlukiskan memenuhi dadaku hingga aku tidak bisa diam saja dan mengambil ponselku.

"Lihat, kondisinya seperti ini."

"...Ah."

Karena Mari pernah menggunakan aplikasi hipnotis sekali, dia pasti sadar ada yang tidak beres. Aplikasi itu sama sekali tidak merespon gerakan jariku, dan sekalinya merespon, aplikasi itu langsung tertutup paksa... Rasanya kondisinya makin parah dibandingkan saat di rumah tadi.

"...Yah, intinya aku tidak bisa diam saja di rumah. Perpisahan dengan Partner sudah dekat... meskipun aku paham, tapi sulit untuk menerimanya."

Paham tapi sulit menerima. Bagiku, awalnya dia seharusnya hanya aplikasi hipnotis biasa, tapi aku mulai memanggilnya Partner (rekan) dan mengandalkannya... Perasaanku terhadap Partner sudah melampaui sekadar alat. Membantu orang, melewati krisis, berkonsultasi tentang masalah, membicarakan perasaan. Ini bukan hubungan tuan dan alat, melainkan seperti teman... atau mungkin rekan seperjuangan.

"Bisa dibilang aku dan Partner adalah rekan seperjuangan yang saling menjaga punggung. Karena aku sangat menyayanginya, makanya aku merasa kesepian."

Tapi... apa yang akan dipikirkan Partner kalau melihatku sekarang? Tiba-tiba aku terpikir—Partner selalu memikirkanku... Dia sudah berkali-kali memberikan kata-kata hangat yang membuatku lupa bahwa dia adalah sebuah aplikasi.

"Ah... begitu ya... benar juga."

Di situ aku menyadarinya. Jika perpisahan dengan Partner tidak bisa dihindari, maka di saat-saat terakhir itu, baik aku maupun Partner tidak akan merasa senang kalau aku terlihat murung seperti ini.

"Haha... saat perpisahan itu memang harusnya dilakukan dengan senyuman."

Benar... jika di akhir tidak ada senyuman, yang tersisa hanya kesedihan bagi kami berdua. Partner sudah bilang bahwa 'Tuan akan baik-baik saja' kepadaku yang merasa cemas. Agar dia bisa pergi dengan tenang, aku harus melepasnya dengan senyuman. Dengan pemikiran itu, aku yakin sekarang aku bisa tersenyum.

"Senyuman yang bagus, Kai-kun."

"Tentu saja. Terima kasih Mari, sudah menemaniku."

"Tidak, aku hanya bisa berada di sampingmu."

"Tidak juga. Keberadaanmu sangat berarti."

Saat kami tertawa bersama—terjadi perubahan di layar ponsel, dan aplikasi Partner terbuka dengan sendirinya.

"Ini...!"

"Partner...?"

Sambil bertanya-tanya, perlahan-lahan tulisan muncul di layar.

Tuan, senyumanmu tadi sangat bagus. Jangan pernah lupakan senyuman itu, dan hiduplah dengan semangat. Itulah keinginan terbesarku.

Di tengah kondisinya yang buruk, kata-kata yang mempedulikanku itu jelas-jelas milik Partner. Begitu ya... sepertinya ini benar-benar saat perpisahan, aku merasakannya.

"Partner, kamu mau pergi?"

Ya.

Jawabannya singkat, tapi saat kenyataan itu terpampang jelas, rasanya sedih juga. Namun jika aku membuat wajah murung lagi, saat-saat terakhir ini akan menjadi kenangan pahit bagi Partner. Makanya, hal yang bisa kulakukan hanyalah melepasnya dengan senyuman.

"...Tunggu sebentar, Partner. Bisa bertahan sedikit lagi?"

Tidak masalah... tapi apa yang ingin Tuan lakukan?

"Saika dan Emu pasti ingin ikut melepasmu juga. Aku akan memanggil mereka sekarang, jadi tolong bertahanlah sebentar lagi."

Sebelum aku selesai bicara, Mari sudah menghubungi mereka berdua. Aku memberikan jempol sebagai tanda 'asisten yang hebat', tapi gerakannya yang cepat benar-benar membuatku ingin melakukan itu. Saika dan Emu bilang bisa segera datang, jadi aku dan Mari bergegas pergi untuk menemui mereka di tengah jalan agar bisa bergabung secepat mungkin.

...Tak disangka, aku akan mengalami hal seperti ini.

"Itulah yang sudah kamu lakukan buat kami, Partner... Kamulah yang menghubungkan kami semua, tahu?"

...Saat ini aku merasa sangat terpenuhi. Aku benar-benar merasa beruntung bisa bertemu Tuan.

"...Tolong, bertahanlah sedikit lagi, Partner."

Hal sebegini tidak masalah. Aku sendiri pun masih ingin berada di sini sedikit lebih lama.

Bagus, itu saja sudah cukup untuk sekarang. Tak lama kemudian Saika dan Emu bergabung. Mereka berdua berkeringat dan terengah-engah seperti kami, sepertinya mereka benar-benar terburu-buru datang ke sini.

"Kalian berdua, maaf ya tiba-tiba memanggil?"

"Tidak apa-apa, karena ini hal yang penting."

"Benar. Justru terima kasih sudah memanggil kami."

Kalian berdua... benar-benar terima kasih ya.

"Semuanya, mari masuk ke sana?"

Mari menunjuk ke sebuah halte bus yang sudah tidak terpakai. Halte itu tua dan sedikit kotor, tapi karena ada atapnya, kakek-nenek di sekitar sini sering menggunakannya sebagai tempat istirahat.

"...Partner? Semuanya sudah datang lho."

...Ah, wajah-wajah yang sudah tidak asing lagi bagiku. Orang-orang yang penting bagi Tuan, dan orang-orang yang berhasil diselamatkan oleh sosok sepertiku.

Melihat tulisan yang muncul di layar, Saika dan Emu yang baru pertama kali melihatnya langsung terbelalak. Aku dan Mari pun tertawa melihat reaksi mereka, tapi berkat itu suasana jadi lebih cair.

"Ini... Partner?"

"Benar-benar... ada di sana ya."

"Reaksinya pasti begitu ya. Tapi Partner benar-benar ada di sini."

Hei Partner... bagaimana perasaanmu sekarang? Semua orang yang terselamatkan oleh kekuatanmu berkumpul di sini demi kamu. Mungkin karena aku memegang ponselnya, aku bisa merasakan kegembiraan dan rasa lega Partner secara langsung melalui kulitku... Pertama-tama aku merasa lega soal itu, tapi aku juga sadar bahwa sensasi ini adalah selangkah lagi menuju perpisahan.

Mari, Saika, Emu... ya. Awalnya aku menghipnotis kalian sesuai perintah Tuan. Tapi aku tak pernah menyangka hasilnya akan jadi seperti ini.

Benar juga ya... sampai sekarang pun aku masih berpikir begitu.

Tuan memang punya hasrat, tapi di saat yang sama dia juga sangat mempedulikan kalian. Awalnya aku tidak bisa memahami Tuan, tapi sejak saat itu, melalui Tuan aku belajar nikmatnya menyelamatkan seseorang, dan memahami mulianya rasa terima kasih.

Ada sedikit jeda, tapi kata-kata Partner berlanjut.

Aku sangat senang ketika Tuan mengucapkan terima kasih. Itu saja sudah membuatku sangat puas. Aku makin senang saat melihat Tuan akrab dengan para wanita yang Tuan selamatkan menggunakan kekuatanku... Kekuatanku telah menjadi salah satu alasan terciptanya pemandangan bahagia ini... Itu benar-benar membuatku senang.

Melihat kata-kata Partner, kenangan selama ini mengalir deras di pikiranku. Padahal aku baru saja menelusuri kenangan bersama Mari, tapi hal-hal kecil yang sempat terlupakan pun kembali muncul di benakku.

Aku yakin, aku dilahirkan untuk bertemu Tuan.

"Hei, jangan bicara hal yang mengharukan begitu. Aku kan cuma bergerak sesuka hatiku pakai kekuatanmu."

Fufu, dan hasilnya adalah bentuk yang sekarang. Bagiku ini sangat menarik. Meskipun Tuan mencoba menjadi orang jahat, Tuan tidak bisa melakukannya sepenuhnya. Sosok Tuan yang memikirkan orang lain itu menarik, sekaligus sosok manusia yang aku sukai.

"...Nah, kira-kira begitulah. Partner ini terlalu memanjakanku."

Saat aku bilang begitu pada Mari dan yang lainnya, mereka tertawa senang. Aku penasaran bagaimana Partner memperhatikan interaksi kami, tapi aku ingin Mari dan yang lainnya menyampaikan pesan mereka sekali lagi. Sampaikan kata-kata yang diinginkan Partner... agar dia bisa pergi dengan tenang.

Sepertinya perasaanku tersampaikan tanpa perlu diucapkan, dan Mari yang pertama bicara.

"Partner, terima kasih sekali lagi ya. Lihat deh, di lenganku sudah tidak ada luka lagi lho."

Sangat indah. Aku pernah melihat orang yang terpojok sepertimu, tapi baru kamulah orang pertama yang menjadi seceria itu. Pertemuan dengan Tuan sepertinya membawa hasil yang baik bagimu.

"Tentu saja! Pertemuanku dengan Kai-kun mengubahku... mengubah hidupku. Tapi di situ ada keberadaan Partner... makanya terima kasih Partner. Aku sangat sayang Partner♪"

Sayang... ya. Terima kasih Mari, itu juga kata-kata yang membuatku senang.

Kegembiraan Partner tersampaikan padaku. Bagi Mari, Partner juga penyelamat nyawa dan sosok yang menyelamatkan jiwanya dari kehancuran, makanya kata-kata itu keluar. Syukurlah ya, Partner. Tapi kata-kata yang membuat Partner senang masih berlanjut lho?

"Partner, ini pertama kalinya kita mengobrol ya. Aku sudah jadi jauh lebih ceria sejak pertama kali Partner melihatku, kan?"

Wajah ceria yang sekarang jauh lebih baik daripada wajah murung waktu itu. Apa arti dari kelahiranku... belum lama ini Saika punya pertanyaan yang sama denganku, tapi sepertinya jawabannya sudah ada, kan?

"Iya. Berada di sisi Kai-kun, itulah arti hidupku. Memiliki perasaan seperti itu, itu juga berkat Partner—terima kasih Partner."

Ah... aku juga berterima kasih. Terima kasih sudah menjadi seceria itu.

Nah, terakhir adalah Emu. Emu yang mengintip ke layar ponsel menunjukkan ekspresi serius selama mendengarkan kata-kata Mari dan Saika, tapi terkadang dia mengangguk sambil tersenyum. Mungkin itu reaksi karena dia paham penderitaan yang dialami Mari dan Saika, tapi Mari dan Saika pun merasakan hal yang sama.

"Sekali lagi, terima kasih banyak Partner. Aku juga bisa ada di sini sekarang karena diselamatkan oleh Kai-senpai dan Partner."

Syukurlah kalau kamu tertolong. Yah, bagiku alih-alih tindakan Tuan untuk menolong Emu, kejutan yang dirasakan Tuan saat mengetahui sifat asli Emu—meskipun aku tidak tahu apakah itu sebutan yang tepat—jauh lebih berkesan bagiku.

"Ya ampun♪"

Hei, kalau itu sih siapa pun bakal begitu! Harusnya itu jadi kenangan yang bisa ditertawakan, tapi waktu itu benar-benar terlalu mengejutkan sampai-sampai aku sendiri yang minta tolong padanya untuk pakai baju. ...Fuu, benar-benar kenangan yang mengejutkan.

Tuan pasti akan menerima seluruh dirimu, Emu. Dan di sisi Tuan, Emu pasti akan selalu bisa tersenyum. Jangan merasa sungkan hanya karena usiamu berbeda, berdirilah dengan tegak sebagai sosok yang setara.

"Ah... fufu, benar juga. Terima kasih Partner."

Karena usianya berbeda... ah, maksudnya karena dia lebih muda? Emu sama sekali tidak menunjukkan sikap mempedulikan hal itu, tapi mungkin hanya Partner yang bisa menyadarinya.

"Kamu tidak perlu memedulikan hal itu, tahu? Kalau ada apa-apa langsung bilang saja. Tidak perlu ada rasa sungkan di antara kita, kan?"

"Kai-senpai... iya♪"

...Bagus, kalau dia sudah tersenyum seperti itu berarti tidak apa-apa. Baiklah... setelah Partner mendengar kata-kata dari Mari dan yang lainnya sekali lagi, ini benar-benar saat perpisahan yang kian dekat.

"Partner."

Tuan.

"Sudah waktunya ya."

Ya, sebentar lagi.

"............"

Sedikit lagi... dalam hitungan menit Partner akan menghilang. Padahal kupikir aku bisa terus tersenyum, tapi saat kenyataan itu ada di depan mata, sudut mataku terasa panas. Meski begitu, aku memperingatkan diriku sendiri untuk tetap bertahan.

"Duniaku benar-benar berubah setelah bertemu Partner. Kurasa aku adalah contoh nyata betapa manusia bisa berubah sejauh ini."

Kurasa perubahannya terlalu drastis. Tapi bagiku yang memperhatikan perubahan Tuan, ini benar-benar menyenangkan. Karena Tuan yang sekaranglah, makanya sosok-sosok yang berharga ini bisa tercipta.

"Benar juga... memang begitu. Terima kasih Partner—aku takkan melupakan Partner apa pun yang terjadi. Kalau ada masalah di masa depan, aku akan mengingat bahwa dulu aku punya Partner yang bisa diandalkan untuk menyemangati diriku."

Begitu ya... tidak buruk juga dibilang begitu. Tapi Tuan, jangan lupa bahwa di sisimu ada sosok-sosok yang bisa kau andalkan. Daripada mengingatku, andalkanlah gadis-gadis yang ada di sisimu itu. Mereka pasti akan lebih senang.

"Apa-apaan, kamu tidak suka kalau aku mengingatmu?"

Bu-bukan begitu! Aku juga senang... tapi... muuh.

"Haha, yah aku tahu apa yang mau kamu sampaikan. Tapi ya begitulah... Partner akan terus hidup di dalam diriku selamanya. Selama aku mengingatnya, sosok itu tidak akan pernah hilang."

...Begitu ya. Kalau begitu biarlah aku hidup dalam ingatan Tuan dan yang lainnya. Sebagai gantinya, apa pun yang terjadi, aku ingin Tuan dan yang lainnya selalu bahagia.

"Tentu saja."

"Pasti."

"Iya."

"Janji."

Ini semacam sumpah untuk Partner. Mungkin karena situasinya sedang seperti ini, rasanya kata-kata kami memiliki kekuatan yang melayang di tempat ini.

Jujur saja, aku sedikit berharap pada kekuatanku sendiri.

"Berharap?"

Ya... kupikir sebelum menghilang, tidak apa-apa jika aku punya sedikit kekuatan besar. Spesifiknya, jika aku bisa mengubah dunia dan memaksa orang-orang menganggap hubungan Tuan adalah hal yang benar, pasti semuanya akan jadi lebih mudah, kan?

Bukankah itu terlalu curang...? Tentu saja akan mudah jika punya kekuatan sehebat itu, tapi kurasa hidup itu baru terasa hidup jika ada perjuangannya. Lagipula, aku yakin kami bisa melewati apa pun yang terjadi.

"Itu terlalu praktis ya... tapi tanpa melakukan itu pun kami akan baik-baik saja. Kami akan mempertahankan hubungan kami dengan cara melewati segala rintangan itu."

Benar kan, aku memberi isyarat mata kepada Mari dan yang lainnya, dan mereka mengangguk kuat.

Fufu, begitu ya... kalau begitu tindakanku barusan hanya akan merusak suasana saja.

"Makanya, awasi kami dengan tenang ya, Partner."

Baiklah. Aku akan mengawasi Tuan dan yang lainnya dengan tenang.

Zazat, layar ponsel mulai bergoyang.

"Sampai jumpa, Partner."

"Selamat tinggal, Partner."

"...Dah-dah."

"Semoga sehat selalu."

Tuan, Mari, Saika, Emu... semoga kalian sehat selamanya.

Zazaza, goyangan layar makin parah, tapi itu segera berhenti.

"...Ah."

Saat aku menyadarinya, ikon aplikasi hipnotis sudah menghilang. Aku bengong sejenak, tapi aku tidak mencari-cari apakah aplikasi itu masih ada di suatu tempat.

"...Dia benar-benar sudah pergi ya."

"Kai-kun..."

"Kamu tidak apa-apa?"

"Kai-senpai...?"

"Hmm? Ah, aku tidak apa-apa kok."

Kupikir aku akan menangis begitu menyadari Partner sudah tidak ada. Tapi aku sendiri kaget karena hatiku terasa tenang, mungkin karena... seperti yang kukatakan, aku tahu Partner akan terus hidup di dalam diriku dan mengawasiku.

"Partner ada di sini... makanya aku tidak merasa kesepian."

Tidak ada kebohongan dalam kata-kata ini. Tapi mungkin suatu saat nanti ada hari di mana aku ingin menangis... saat itu aku akan meminjam pelukan Mari dan yang lainnya.

Meski begitu, memang benar suasana jadi sedikit suram. Untuk mencairkan suasana dan mengubahnya jadi ceria, tentu saja dengan mengungkapkan perasaanku pada mereka.

"Mari, Saika, Emu—sekali lagi, mohon bantuannya mulai sekarang. Agar Partner tidak khawatir dan kembali lagi, mari kita pasti menjadi bahagia."

Begitu aku mengatakannya, Mari dan yang lainnya serentak memelukku. Aku berusaha menahan beban mereka bertiga, dan aku pun membalas memeluk mereka dengan erat... Ah, kehangatan ini benar-benar menenangkan.

Setelah puas berpelukan, Mari dan yang lainnya memberikan jawaban atas pertanyaanku tadi dengan senyum lebar.

"Iya! Kai-kun, aku mencintaimu!"

"Mencintaimu, Kai-kun...!"

"Kai-senpai, aku mencintai Senpai!"

Aku takkan membiarkan ini hanya sekadar kata-kata... aku akan terus melanjutkannya mulai sekarang. Jadi Partner—tolong awasi kami dengan tenang ya?

"...Lagipula ya, memang sensasi ini yang terbaik."

"Ih, Kai-kun ini."

"Dasar penggila dada."

"Fufu♪ Ini baru Kai-senpai yang seperti biasanya."

Lihat, kurasa memang begini lebih baik. Kita mau apa hari ini? Sambil bertukar kata seperti itu, kami mulai melangkah maju menuju masa depan yang baru.

"Oke! Pokoknya yang penting bisa bareng kalian! Mari kita bermesraan sepuasnya~!!"

"Ooh!"

"Iya!"

"Mari kita lakukan!"

Masa depan yang kujalani bersama mereka, di mana pun itu pasti hanya ada harapan. Hatiku terasa sangat cerah, sampai-sampai aku berpikir begitu.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close