Chapter 7
Terima Kasih untuk Segalanya, Partnerku
"Aku
benar-benar sudah melakukan hal mesra... ya."
Melakukan
hal mesra dengan Mari dan yang lainnya... Aku telah mengalami sesuatu yang
levelnya jauh lebih tinggi daripada apa pun yang pernah kulakukan sebelumnya.
Dengan
Mari, Saika, dan Emu—bertiga sekaligus.
Kejadian
itu terukir kuat dalam ingatanku sebagai kenangan yang mungkin takkan pernah
bisa kulupakan seumur hidup.
"Ini...
bukan mimpi, kan?"
Kebahagiaan
seperti ini... terasa seperti mimpi, tapi ini nyata. Sudah sejauh ini, aku
takkan membiarkan ini hanya jadi mimpi. Menjaga agar waktu terbaik ini terus
berlanjut selamanya... itulah hal yang harus kulakukan mulai sekarang.
"............"
Aku sudah bisa
melihat visi masa depanku. Aku akan berusaha keras agar tetap menjadi pria yang
layak dicintai oleh gadis-gadis yang telah menyatakan perasaannya padaku...
Tekad itu pasti akan mendewasakanku, baik secara mental maupun fisik.
"Wajahmu
terlihat jauh lebih baik sekarang."
"Suasanamu
berubah ya? Ada apa?"
"Aku juga
penasaran soal itu. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi?"
Bukan hanya kakak
perempuanku yang sudah tahu situasinya, tapi Akira dan Shogo pun berkata
begitu. Kami mengobrol melalui telepon untuk saling memberi kabar terbaru.
Tentu saja aku tidak menceritakan hubunganku dengan Mari dan yang lainnya, tapi
sepertinya aura kebahagiaanku terpancar jelas hingga sampai kepada mereka.
Suatu saat
nanti... ya. Aku berharap bisa menceritakan hubungan kami, tapi aku ragu apakah
mereka bisa menerimanya... Itu hal yang sulit.
"Partner...
hari ini kondisimu benar-benar buruk ya."
Belakangan
ini, kondisi Partner sangat tidak stabil. Terutama sejak hari itu... hari di
mana Mari dan yang lainnya datang ke rumah dan mereka mencoba menghipnotisku,
kondisi Partner menurun drastis.
Aplikasi
memang bisa dibuka, tapi sering tertutup sendiri di tengah jalan, responnya
sangat lambat saat diketuk... atau terkadang membeku hingga harus dimatikan
paksa. Singkatnya, kondisi Partner sangat buruk.
Yah,
bukannya aku berniat menggunakan kekuatan Partner untuk menghipnotis seseorang,
tapi begitu gejala itu muncul, aku jadi khawatir dan terus mencoba
membukanya... Begitulah besarnya rasa cemas ini.
"...Apakah
waktu perpisahan sudah dekat?"
Meski tak ingin
mengakuinya, aku merasa saat perpisahan itu kian dekat. Ini hanya intuisi, tapi
aku yakin intuisiku ini tidak salah.
"Dia
bilang... dia merasa sudah puas."
Partner yang
selama ini hanya dimanfaatkan, mengatakan bahwa baru pertama kalinya dia
menerima ucapan terima kasih saat bersamaku. Setiap kali aku berterima kasih, Partner
merasa sangat senang.
Kegembiraan yang
dirasakan Partner—sosok yang awalnya hanya ada untuk menuruti perintah—ketika
pertama kali diberi ucapan terima kasih... Dia menyadari bahwa dirinya bukan
sekadar alat untuk dimanfaatkan, melainkan sosok yang bisa melakukan hal mulia
seperti membantu orang lain.
"...Sial.
Aku tidak bisa diam saja."
Ternyata
aku tipe orang yang tidak bisa duduk diam saat merasa cemas. Aku mengambil
ponsel dan hendak keluar, tapi ibu menghentikanku.
"Kai,
mau pergi ke mana?"
"...Ya,
begitulah. Aku tidak tahu bakal langsung pulang atau agak terlambat."
"Begitu ya... Yah, menyegarkan pikiran itu penting,
jadi pergilah."
"Menyegarkan pikiran... kesannya aku seperti sedang
tidak bersemangat saja."
"Ibu tahu kok. Papa juga memasang wajah seperti itu kalau sedang merasa cemas."
"...Begitu
ya. Kalau begitu, aku pergi dulu."
Ternyata aku
benar-benar mirip Papa, ya. Mengingat kami punya hubungan darah, itu hal yang
wajar, tapi aku merasa kakakku tidak seperti itu.
"Kalau Kakak
sedang cemas, dia pasti mengunciku dengan teknik bela diri... berarti di bagian
itu dia mirip Ibu ya."
Sambil bergumam
begitu, aku pergi berjalan-jalan tanpa tujuan. Aku tidak berniat belanja atau
makan di luar, jadi aku hanya membawa ponsel. Yah... saat ini aku hanya ingin
merasakan keberadaan Partner.
Mungkin karena
berjalan sambil melamun, tanpa sadar aku sudah sampai di tempat di mana rumah
Mari hampir terlihat. Aku ingin bertemu Mari, tapi untuk sekarang sepertinya
tidak usah, pikirku sambil tersenyum pahit. Datang ke sini bukan untuk bertemu
Mari, melainkan mungkin karena aku ingin menelusuri jejak perjalananku bersama Partner.
"Benar
juga... di sinilah aku bertemu dengan para mantan pacar Mari."
Saat melihat luka
yang menyedihkan di lengan Mari, aku yang mendengar situasinya langsung
bertindak.
"Kenangan
yang manis... kalau tidak salah awalnya mereka bilang 'ikut kami sebentar',
ya?"
Seingatku begitu.
Aku dipukul, ditertawakan oleh perempuan itu... lalu karena kesal, lahirlah
insiden legendaris 'Lari Maraton Telanjang'.
"Benar-benar
kenangan lama... hmm?"
Saat itu, aku
melihat sosok yang tidak asing dari kejauhan. Saat aku memperhatikannya, dia
juga menyadari keberadaanku dan langsung berlari ke arahku.
"Kai-kun?
Ada apa?"
Yang berlari
mendekat adalah Mari. Hari
ini pun dia tampil dengan gaya gal yang luar biasa! Saat dia berlari,
dadanya yang membal-mempul itu benar-benar memanjakan mata.
"Yo,
Mari. Itu... aku cuma lagi menelusuri kenangan bersama Partner."
"Kenangan
bersama Partner?"
Menelusuri
kenangan bersama Partner... ya, mari pakai alasan itu. Meski itu ide yang
muncul tiba-tiba, aku sudah memutuskan—tujuan hari ini adalah menelusuri
kenangan bersama Partner.
"Iya,
aku berkeliling mengenang masa-masa bersama Partner. Karena tujuannya cuma itu,
aku tidak bawa dompet atau apa pun... tapi aku agak menyesal karena jadi tidak
bisa beli minum."
"Begitu
ya..."
Harusnya
aku bawa dompet tadi... Tapi nasi sudah jadi bubur, lagipula suhu hari ini
tidak terlalu panas jadi aku masih bisa tahan.
"Kalau
begitu Mari, aku pergi du—"
Aku
hendak pergi, tapi tanganku digenggam kuat.
"Mari?"
"Hei, boleh
aku ikut?"
Itu ajakan yang
tiba-tiba, tapi aku mengangguk. Mari tersenyum senang dan berjalan di sampingku. Melihat senyumnya yang
begitu dekat, perasaan gelapku perlahan memudar.
Dan tentu
saja, aku jadi teringat kenangan mesra bersamanya. Sejak saat itu kami memang
belum melakukan apa-apa lagi, tapi berada di dekat Mari membuatku teringat
detail ekspresinya, suaranya yang menggoda, hingga tubuhnya yang empuk dan
sintal.
"Itu...
aku jadi ingat Mari yang sedang 'mesra'."
"Ahaha,
aku juga jadi ingat 'milik' Kai-kun♪ Rasanya menyenangkan ya bisa membicarakan
hal seperti ini, seperti pasangan kekasih yang hubungannya sudah jauh!"
"Benar!"
Kekasih...
bukankah itu sebutan yang terbaik!
"Mari, boleh
aku menciummu sebentar?"
"Tidak perlu
izin, ayo lakukan♡"
Meski aku yang
mengajak, Mari yang menutup mata seolah tidak sabar. Setelah memastikan tidak
ada orang di sekitar, aku mengecup bibir Mari dengan lembut... hangat, empuk,
dan sedikit basah oleh keringat.
"...Haha."
"Fufu♪"
Baiklah, setelah
suasana hatiku membaik, mari lanjut jalan! Kami melanjutkan langkah yang sempat
terhenti, berjalan-jalan santai tanpa arah. Rasanya agak memalukan karena aku
malah ditraktir minuman karena tidak bawa dompet, tapi setidaknya aku tidak akan
pingsan karena kepanasan.
Duduk di sebuah
bangku sambil memperhatikan arus orang yang lewat, aku mulai bercerita.
"Hal pertama
yang kulakukan setelah mendapatkan Partner adalah mencoba apa yang bisa dia
lakukan. Aku menyuruh seorang kakek yang sakit pinggang untuk lari pelan, dan
aku kaget saat dia benar-benar mulai berlari."
"Wah... itu
tidak apa-apa?"
"Aku
langsung melepaskannya, tapi katanya pinggangnya jadi agak enakan... itu
benar-benar mengejutkan."
Cerita tentang
kakek itu juga kenangan yang manis... lalu aku menunjuk ke arah bayangan sebuah
gedung.
"Setelah
punya aplikasi hipnotis, aku ingin melakukan hal mesra, jadi aku membawa
seorang kakak cantik ke sana."
"Tapi
kamu tidak melakukan hal mesra, kan?"
"Yah... kok
tahu?"
"Entah
kenapa, aku merasa Kai-kun tidak akan melakukannya."
"Ahaha...
tepat sekali. Begitu aku tanya apa yang sedang dia lakukan, dia bilang adiknya
ada kompetisi piano. Jadi aku minta maaf karena sudah menahannya, lalu
melepaskan hipnotisnya agar dia bisa pergi."
"Pfftt!"
Kenapa sampai
tertawa begitu, tapi memang lucu sih. Kakak itu benar-benar cantik dan dadanya
besar... tapi kalau dia bilang sedang terburu-buru demi adiknya, wajar kan
kalau aku ingin dia segera sampai?
"Ayo,
selanjutnya ke depan stasiun."
"Iya."
Kami bangkit dari
bangku dan menuju depan stasiun.
"Di sini...
aku membantu orang."
"Membantu
orang?"
"Ada seorang
bapak-bapak dituduh melakukan pelecehan oleh seorang wanita muda. Aku mendekat
perlahan, menggunakan kekuatan Partner... dan ternyata itu adalah tuduhan
palsu."
"Itu...
jahat sekali ya."
"Kan? Yah,
bagi wanita itu mungkin sebuah kemalangan karena ketahuan, tapi syukurlah bapak
itu bisa tertolong."
"Kamu sering
membantu orang ya."
"Entah
kenapa... aku melakukannya begitu saja."
Mengikuti arus
situasi, ternyata aku membantu seseorang. Itu semua bisa terjadi hanya karena
ada kekuatan Partner. Jika tidak ada Partner, aku pasti akan menghindar karena
malas terlibat masalah.
Tapi jika
dipikirkan lagi, itu berarti aku tidak akan pernah menyadari masalah Mari dan
yang lainnya, dan dunia di mana kami menjadi akrab ini tidak akan pernah ada.
"Pikir-pikir,
aku sudah sering menggunakan Partner, tapi aku benar-benar cuma melakukan hal
mesra dengan Mari dan yang lainnya, ya."
"Maksudnya?"
"Mungkin aku
sudah puas dengan kalian, atau malah... aku jadi cuma mau kalau itu kalian.
Kurasa begitu."
"Jujur
sekali ya♪ Seperti yang kubilang sebelumnya, itu artinya Kai-kun sudah
benar-benar bertekuk lutut karena pesona kami!"
"Benar
juga... lagipula kalian memang punya pesona yang terlalu luar biasa."
"Senangnya♪"
Mungkin
cuma Mari dan yang lainnya yang bilang senang mendengar perbuatanku. Aku masih
sering berpikir bahwa diterima oleh mereka adalah sebuah keajaiban yang tidak
wajar. Saat aku mengatakannya pada Mari, dia tersenyum dan menggenggam
tanganku.
"Wajar
atau tidak, itu karena situasiku yang seperti itu. Tapi aku akan mengatakannya berkali-kali. Aku
diselamatkan oleh Kai-kun... sejak saat itu kamu selalu mempedulikanku, dan
memberiku kata-kata yang kuinginkan."
"Ya."
"Nah,
sekarang pertanyaan."
Mari mengangkat
jari telunjuknya.
"Apakah ada
alasan untuk tidak jatuh cinta pada orang yang menyelamatkanmu dari
keputusasaan, selalu mempedulikanmu, lalu menjadi akrab dan saling
memahami?"
"...Kalau
aku sih, tidak ada."
"Benar
kan, aku juga tidak ada. Karena
kita spesial, makanya kita ada di sini sekarang. Kai-kun ini kadang tidak
percaya diri di bagian yang aneh ya... Apa kamu akan jadi percaya diri kalau di
sini aku teriak keras-keras 'Aku suka banget sama Kai-kun, aku cinta, ayo
lakukan hal mesra'?"
"Jangan ya!
Aku senang, tapi jangan di sini!?"
Saat itu juga
kita tidak akan bisa jalan di sini lagi, tahu. Mari tertawa dan bilang itu cuma
bercanda sambil meminum jusnya. Saat itu, sedikit jus tumpah dan tetesannya
menghilang ke dalam belahan dadanya yang besar.
Apa pun yang dia
lakukan terlihat seperti lukisan... atau mungkin terlihat erotis karena aku
sedang dikuasai nafsu, tapi mungkin itu bukti bahwa aku benar-benar
tergila-gila pada Mari.
"Ada
apa?"
"Enggak,
cuma jus yang tumpah dan hilang ke belahan dadamu itu... rasanya bagus."
"Ah~...
kalau begitu kapan-kapan, bagaimana kalau aku tuang jus ke sini lalu kamu
minum?"
"Apa itu...
sepertinya aku mau coba."
"Nanti kita
lakukan ya!"
Mari ini
benar-benar membiarkanku melakukan apa pun yang kuinginkan ya... Sesekali
tolong bilang itu dilarang karena terlalu mesra, kalau tidak aku akan ketagihan
dan makin melunjak, tahu?
"Hei
Mari."
"Apaa?"
"Itu... Mari
pada dasarnya tidak pernah menolak apa pun yang kukatakan, kan?"
"Memangnya
perlu menolak?"
"Te-terima
kasih... Mari mungkin tipe gadis yang bisa memanjakan dan merusak
laki-laki."
"Mungkin
saja♪ Aku sadar kok soal itu."
"Sadar
ya."
"Tapi aku
cuma merasa begitu pada Kai-kun. Aku tidak terpikir melakukan itu pada
laki-laki lain... Lagipula bukannya itu wajar? Terhadap laki-laki yang disukai,
seorang gadis ingin selalu dimanja, bahkan ingin membuatnya tidak berdaya agar
tetap berada di sisinya."
"Begitu
ya."
"Begitulah♪"
Begitu ya...
kalau begitu biarlah begini, pikirku sambil tertawa. Hanya saja, aku sama
sekali tidak berniat menjadi pria tak berguna yang hanya bisa bermanja padanya.
Aku ingin berada di sisinya sebagai pria yang bisa diandalkan... Yah,
tapi kalaupun aku menjadi pria manja, biarlah itu hanya saat bermesraan dengan
mereka.
"Baiklah,
selanjutnya... ah, kita jalan santai saja tanpa tujuan."
"Boleh~♪
Bersama Kai-kun, aku akan ikut ke mana pun!"
Aku bilang tanpa
tujuan karena tempat untuk dikunjungi sudah tidak banyak lagi. Lagipula,
sebagian besar momen saat aku menggunakan kekuatan Partner adalah untuk Mari
dan yang lainnya, jadi aku sudah tahu ini akan terjadi.
"Sisanya
soal Saika dan Emu. Menghipnotis ayah Saika agar dia jujur, dan menyuruh
penguntit yang mengikuti Emu pergi ke kantor polisi, seperti yang kamu
tahu."
Sisanya Mari
sudah tahu semua. Sambil terus berjalan tanpa henti, kami mampir ke taman yang
ramai oleh suara anak-anak. Mari yang tertarik dengan ayunan di taman langsung
duduk di sana.
"Meskipun
musim panas itu panas, jalan-jalan santai begini tidak buruk juga."
"Benar♪ Aku
juga suka jalan-jalan, tapi aku makin suka kalau Kai-kun ada di sampingku
seperti sekarang."
"...Haa,
berapa banyak kata-kata menyenangkan yang akan kamu berikan padaku, Mari?"
"Ini seperti
balasan untuk yang selama ini. Tapi jangan puas dulu ya? Karena mulai sekarang,
aku akan membuat Kai-kun makin suka padaku lebih dari sekarang."
Gawat juga ya... Aku menggaruk kepalaku. Padahal aku sudah
sangat malu begini, tapi Mari hanya merona sedikit dan terlihat tenang, rasanya
agak kesal. Tapi kalau cuma aku yang malu, itu curang kan? Makanya aku juga
akan mengucapkan kata-kata yang akan membuat Mari terkejut dan malu!
"Kalau begitu, aku akan tumbuh menjadi pria yang lebih
hebat lagi. Bukan cuma membuat Mari merasa begitu, tapi aku akan jadi pria yang
membuatmu makin ingin mengandalkanku, ingin dilindungi, dan merasa tidak tenang
kalau tidak ada di sampingku!"
"...-!"
Meskipun
terdengar gombal, aku tidak menyesal mengucapkannya. Sebagai buktinya, aku
tidak memalingkan pandangan dari Mari dan terus menatap matanya untuk
membuktikan kesungguhan kata-kataku. Apakah... ini kemenanganku!? Siapa yang memalingkan mata duluan, dia
kalah... ayo, bagaimana reaksimu, Mari!
"............"
"............"
Kami saling
menatap selama beberapa menit... Saat aku mulai berpikir apa sebenarnya yang
kami lakukan, Mari tersenyum dan mendekatkan wajahnya. Apa dia mau
menciumku...? Kupikir begitu, tapi dia hanya sedikit mendekatkan wajahnya,
posisi saling menatap kami tidak berubah.
"Hei
Kai-kun."
"...Ya?"
"Saling
menatap begini tidak terasa tidak nyaman, kan?"
"Eh? Tentu saja tidak."
"Benar
kan. Aku pernah dengar kalau kita bisa terus saling menatap seperti ini, itu
bukti bahwa kecocokan kita sangat luar biasa—aku bahagia♪"
"!! "
Aku masih bisa
terus menatapnya... bisa! Tapi kata-kata Mari barusan benar-benar serangan
telak bagiku, dan tanpa sengaja aku memalingkan pandangan. Sialan, aku
kalah...!
"Ehehe,
Kai-kun kalah!"
"Ja-jangan-jangan
kamu sudah tahu!?"
"Ternyata
benar ya? Entah kenapa aku merasa seperti itu♪"
Mari yang tampak
sangat puas memeluk kepalaku dengan lengannya yang terbuka lebar.
"Aduh!
Kai-kun manis sekali!!"
Hari ini pun
menjadi momen terbaik di mana aku didekap oleh dada yang empuk. Namun karena
berjalan di tengah cuaca panas, kaus Mari sudah menyerap keringat, dan aroma
manis yang menguap membuat kepalaku terasa sedikit pening. Setelah puas
memelukku, Mari yang melepaskan dekapannya berkata:
"Boleh aku
tanya... kenapa hari ini kamu ingin menelusuri kenangan bersama Partner?"
Kurasa Mari sudah
sedikit curiga. Namun karena dialah orang yang berbagi rahasia denganku, aku
menceritakan alasan jujurnya.
"Sepertinya
Partner... akan segera pergi."
"............"
"Kupikir
kami akan selalu bersama, dan sampai sekarang pun perasaanku tidak berubah.
Tapi aku merasa saat perpisahan itu sudah dekat... intuisiku berkata
begitu."
Perpisahan
dengan Partner sudah dekat. Saat diucapkan, rasa sedih dan kesepian yang tak
terlukiskan memenuhi dadaku hingga aku tidak bisa diam saja dan mengambil
ponselku.
"Lihat,
kondisinya seperti ini."
"...Ah."
Karena Mari
pernah menggunakan aplikasi hipnotis sekali, dia pasti sadar ada yang tidak
beres. Aplikasi itu sama sekali tidak merespon gerakan jariku, dan sekalinya
merespon, aplikasi itu langsung tertutup paksa... Rasanya kondisinya makin
parah dibandingkan saat di rumah tadi.
"...Yah,
intinya aku tidak bisa diam saja di rumah. Perpisahan dengan Partner sudah
dekat... meskipun aku paham, tapi sulit untuk menerimanya."
Paham tapi sulit
menerima. Bagiku, awalnya dia seharusnya hanya aplikasi hipnotis biasa, tapi
aku mulai memanggilnya Partner (rekan) dan mengandalkannya... Perasaanku
terhadap Partner sudah melampaui sekadar alat. Membantu orang, melewati krisis,
berkonsultasi tentang masalah, membicarakan perasaan. Ini bukan hubungan tuan
dan alat, melainkan seperti teman... atau mungkin rekan seperjuangan.
"Bisa
dibilang aku dan Partner adalah rekan seperjuangan yang saling menjaga
punggung. Karena aku sangat
menyayanginya, makanya aku merasa kesepian."
Tapi... apa yang
akan dipikirkan Partner kalau melihatku sekarang? Tiba-tiba aku
terpikir—Partner selalu memikirkanku... Dia sudah berkali-kali memberikan
kata-kata hangat yang membuatku lupa bahwa dia adalah sebuah aplikasi.
"Ah...
begitu ya... benar juga."
Di situ
aku menyadarinya. Jika perpisahan dengan Partner tidak bisa dihindari, maka di
saat-saat terakhir itu, baik aku maupun Partner tidak akan merasa senang kalau
aku terlihat murung seperti ini.
"Haha...
saat perpisahan itu memang harusnya dilakukan dengan senyuman."
Benar... jika di
akhir tidak ada senyuman, yang tersisa hanya kesedihan bagi kami berdua. Partner
sudah bilang bahwa 'Tuan akan baik-baik saja' kepadaku yang merasa cemas. Agar dia bisa pergi dengan tenang,
aku harus melepasnya dengan senyuman. Dengan pemikiran itu, aku yakin sekarang aku bisa tersenyum.
"Senyuman
yang bagus, Kai-kun."
"Tentu saja.
Terima kasih Mari, sudah menemaniku."
"Tidak,
aku hanya bisa berada di sampingmu."
"Tidak
juga. Keberadaanmu sangat berarti."
Saat kami
tertawa bersama—terjadi perubahan di layar ponsel, dan aplikasi Partner terbuka
dengan sendirinya.
"Ini...!"
"Partner...?"
Sambil
bertanya-tanya, perlahan-lahan tulisan muncul di layar.
『Tuan,
senyumanmu tadi sangat bagus. Jangan pernah lupakan senyuman itu, dan hiduplah dengan semangat. Itulah
keinginan terbesarku.』
Di tengah
kondisinya yang buruk, kata-kata yang mempedulikanku itu jelas-jelas milik Partner.
Begitu ya... sepertinya ini benar-benar saat perpisahan, aku merasakannya.
"Partner,
kamu mau pergi?"
『Ya.』
Jawabannya
singkat, tapi saat kenyataan itu terpampang jelas, rasanya sedih juga. Namun
jika aku membuat wajah murung lagi, saat-saat terakhir ini akan menjadi
kenangan pahit bagi Partner. Makanya, hal yang bisa kulakukan hanyalah
melepasnya dengan senyuman.
"...Tunggu
sebentar, Partner. Bisa bertahan sedikit lagi?"
『Tidak
masalah... tapi apa yang ingin Tuan lakukan?』
"Saika dan
Emu pasti ingin ikut melepasmu juga. Aku akan memanggil mereka sekarang, jadi
tolong bertahanlah sebentar lagi."
Sebelum aku
selesai bicara, Mari sudah menghubungi mereka berdua. Aku memberikan jempol
sebagai tanda 'asisten yang hebat', tapi gerakannya yang cepat benar-benar
membuatku ingin melakukan itu. Saika dan Emu bilang bisa segera datang, jadi
aku dan Mari bergegas pergi untuk menemui mereka di tengah jalan agar bisa
bergabung secepat mungkin.
『...Tak
disangka, aku akan mengalami hal seperti ini.』
"Itulah yang sudah kamu lakukan buat kami, Partner...
Kamulah yang menghubungkan kami semua, tahu?"
『...Saat
ini aku merasa sangat terpenuhi. Aku benar-benar merasa beruntung bisa bertemu
Tuan.』
"...Tolong,
bertahanlah sedikit lagi, Partner."
『Hal
sebegini tidak masalah. Aku sendiri pun masih ingin berada di sini sedikit lebih lama.』
Bagus, itu saja
sudah cukup untuk sekarang. Tak lama kemudian Saika dan Emu bergabung. Mereka berdua berkeringat dan
terengah-engah seperti kami, sepertinya mereka benar-benar terburu-buru datang
ke sini.
"Kalian
berdua, maaf ya tiba-tiba memanggil?"
"Tidak
apa-apa, karena ini hal yang penting."
"Benar.
Justru terima kasih sudah memanggil kami."
Kalian
berdua... benar-benar terima kasih ya.
"Semuanya,
mari masuk ke sana?"
Mari menunjuk ke
sebuah halte bus yang sudah tidak terpakai. Halte itu tua dan sedikit kotor,
tapi karena ada atapnya, kakek-nenek di sekitar sini sering menggunakannya
sebagai tempat istirahat.
"...Partner?
Semuanya sudah datang lho."
『...Ah,
wajah-wajah yang sudah tidak asing lagi bagiku. Orang-orang yang penting bagi
Tuan, dan orang-orang yang berhasil diselamatkan oleh sosok sepertiku.』
Melihat
tulisan yang muncul di layar, Saika dan Emu yang baru pertama kali melihatnya
langsung terbelalak. Aku dan
Mari pun tertawa melihat reaksi mereka, tapi berkat itu suasana jadi lebih
cair.
"Ini...
Partner?"
"Benar-benar...
ada di sana ya."
"Reaksinya
pasti begitu ya. Tapi Partner benar-benar ada di sini."
Hei Partner...
bagaimana perasaanmu sekarang? Semua orang yang terselamatkan oleh kekuatanmu
berkumpul di sini demi kamu. Mungkin karena aku memegang ponselnya, aku bisa
merasakan kegembiraan dan rasa lega Partner secara langsung melalui kulitku...
Pertama-tama aku merasa lega soal itu, tapi aku juga sadar bahwa sensasi ini
adalah selangkah lagi menuju perpisahan.
『Mari,
Saika, Emu... ya. Awalnya aku menghipnotis kalian sesuai perintah Tuan. Tapi
aku tak pernah menyangka hasilnya akan jadi seperti ini.』
Benar juga ya...
sampai sekarang pun aku masih berpikir begitu.
『Tuan
memang punya hasrat, tapi di saat yang sama dia juga sangat mempedulikan
kalian. Awalnya aku tidak bisa memahami Tuan, tapi sejak saat itu, melalui Tuan
aku belajar nikmatnya menyelamatkan seseorang, dan memahami mulianya rasa
terima kasih.』
Ada sedikit jeda,
tapi kata-kata Partner berlanjut.
『Aku
sangat senang ketika Tuan mengucapkan terima kasih. Itu saja sudah membuatku
sangat puas. Aku makin senang saat melihat Tuan akrab dengan para wanita yang
Tuan selamatkan menggunakan kekuatanku... Kekuatanku telah menjadi salah satu
alasan terciptanya pemandangan bahagia ini... Itu benar-benar membuatku senang.』
Melihat kata-kata
Partner, kenangan selama ini mengalir deras di pikiranku. Padahal aku baru saja
menelusuri kenangan bersama Mari, tapi hal-hal kecil yang sempat terlupakan pun
kembali muncul di benakku.
『Aku
yakin, aku dilahirkan untuk bertemu Tuan.』
"Hei,
jangan bicara hal yang mengharukan begitu. Aku kan cuma bergerak sesuka hatiku
pakai kekuatanmu."
『Fufu,
dan hasilnya adalah bentuk yang sekarang. Bagiku ini sangat menarik. Meskipun Tuan mencoba
menjadi orang jahat, Tuan tidak bisa melakukannya sepenuhnya. Sosok Tuan yang
memikirkan orang lain itu menarik, sekaligus sosok manusia yang aku sukai.』
"...Nah,
kira-kira begitulah. Partner ini terlalu memanjakanku."
Saat aku bilang
begitu pada Mari dan yang lainnya, mereka tertawa senang. Aku penasaran
bagaimana Partner memperhatikan interaksi kami, tapi aku ingin Mari dan yang
lainnya menyampaikan pesan mereka sekali lagi. Sampaikan kata-kata yang
diinginkan Partner... agar dia bisa pergi dengan tenang.
Sepertinya
perasaanku tersampaikan tanpa perlu diucapkan, dan Mari yang pertama bicara.
"Partner,
terima kasih sekali lagi ya. Lihat deh, di lenganku sudah tidak ada luka lagi
lho."
『Sangat
indah. Aku pernah melihat orang yang terpojok sepertimu, tapi baru kamulah
orang pertama yang menjadi seceria itu. Pertemuan dengan Tuan sepertinya
membawa hasil yang baik bagimu.』
"Tentu saja!
Pertemuanku dengan Kai-kun mengubahku... mengubah hidupku. Tapi di situ ada
keberadaan Partner... makanya terima kasih Partner. Aku sangat sayang Partner♪"
『Sayang...
ya. Terima kasih Mari, itu juga kata-kata yang membuatku senang.』
Kegembiraan Partner
tersampaikan padaku. Bagi Mari, Partner juga penyelamat nyawa dan sosok yang
menyelamatkan jiwanya dari kehancuran, makanya kata-kata itu keluar. Syukurlah
ya, Partner. Tapi kata-kata yang membuat Partner senang masih berlanjut lho?
"Partner,
ini pertama kalinya kita mengobrol ya. Aku sudah jadi jauh lebih ceria sejak
pertama kali Partner melihatku, kan?"
『Wajah
ceria yang sekarang jauh lebih baik daripada wajah murung waktu itu. Apa arti
dari kelahiranku... belum lama ini Saika punya pertanyaan yang sama denganku,
tapi sepertinya jawabannya sudah ada, kan?』
"Iya. Berada
di sisi Kai-kun, itulah arti hidupku. Memiliki perasaan seperti itu, itu juga
berkat Partner—terima kasih Partner."
『Ah...
aku juga berterima kasih. Terima kasih sudah menjadi seceria itu.』
Nah, terakhir
adalah Emu. Emu yang mengintip ke layar ponsel menunjukkan ekspresi serius
selama mendengarkan kata-kata Mari dan Saika, tapi terkadang dia mengangguk
sambil tersenyum. Mungkin itu reaksi karena dia paham penderitaan yang dialami
Mari dan Saika, tapi Mari dan Saika pun merasakan hal yang sama.
"Sekali
lagi, terima kasih banyak Partner. Aku juga bisa ada di sini sekarang karena
diselamatkan oleh Kai-senpai dan Partner."
『Syukurlah
kalau kamu tertolong. Yah, bagiku alih-alih tindakan Tuan untuk menolong Emu,
kejutan yang dirasakan Tuan saat mengetahui sifat asli Emu—meskipun aku tidak
tahu apakah itu sebutan yang tepat—jauh lebih berkesan bagiku.』
"Ya
ampun♪"
Hei, kalau itu
sih siapa pun bakal begitu! Harusnya itu jadi kenangan yang bisa ditertawakan,
tapi waktu itu benar-benar terlalu mengejutkan sampai-sampai aku sendiri yang
minta tolong padanya untuk pakai baju. ...Fuu, benar-benar kenangan yang
mengejutkan.
『Tuan
pasti akan menerima seluruh dirimu, Emu. Dan di sisi Tuan, Emu pasti akan
selalu bisa tersenyum. Jangan merasa sungkan hanya karena usiamu berbeda,
berdirilah dengan tegak sebagai sosok yang setara.』
"Ah... fufu,
benar juga. Terima kasih Partner."
Karena usianya
berbeda... ah, maksudnya karena dia lebih muda? Emu sama sekali tidak
menunjukkan sikap mempedulikan hal itu, tapi mungkin hanya Partner yang bisa
menyadarinya.
"Kamu tidak
perlu memedulikan hal itu, tahu? Kalau ada apa-apa langsung bilang saja. Tidak
perlu ada rasa sungkan di antara kita, kan?"
"Kai-senpai...
iya♪"
...Bagus, kalau
dia sudah tersenyum seperti itu berarti tidak apa-apa. Baiklah... setelah Partner
mendengar kata-kata dari Mari dan yang lainnya sekali lagi, ini benar-benar
saat perpisahan yang kian dekat.
"Partner."
『Tuan.』
"Sudah
waktunya ya."
『Ya,
sebentar lagi.』
"............"
Sedikit
lagi... dalam hitungan menit Partner akan menghilang. Padahal kupikir aku bisa terus tersenyum, tapi
saat kenyataan itu ada di depan mata, sudut mataku terasa panas. Meski begitu,
aku memperingatkan diriku sendiri untuk tetap bertahan.
"Duniaku
benar-benar berubah setelah bertemu Partner. Kurasa aku adalah contoh nyata
betapa manusia bisa berubah sejauh ini."
『Kurasa
perubahannya terlalu drastis. Tapi bagiku yang memperhatikan perubahan Tuan,
ini benar-benar menyenangkan. Karena Tuan yang sekaranglah, makanya sosok-sosok
yang berharga ini bisa tercipta.』
"Benar
juga... memang begitu. Terima kasih Partner—aku takkan melupakan Partner apa
pun yang terjadi. Kalau ada masalah di masa depan, aku akan mengingat bahwa
dulu aku punya Partner yang bisa diandalkan untuk menyemangati diriku."
『Begitu
ya... tidak buruk juga dibilang begitu. Tapi Tuan, jangan lupa bahwa di sisimu ada
sosok-sosok yang bisa kau andalkan. Daripada mengingatku, andalkanlah
gadis-gadis yang ada di sisimu itu. Mereka pasti akan lebih senang.』
"Apa-apaan,
kamu tidak suka kalau aku mengingatmu?"
『Bu-bukan
begitu! Aku juga senang... tapi... muuh.』
"Haha, yah
aku tahu apa yang mau kamu sampaikan. Tapi ya begitulah... Partner akan
terus hidup di dalam diriku selamanya. Selama aku mengingatnya, sosok itu tidak
akan pernah hilang."
『...Begitu ya. Kalau begitu biarlah aku hidup dalam ingatan
Tuan dan yang lainnya. Sebagai gantinya, apa pun yang terjadi, aku ingin Tuan
dan yang lainnya selalu bahagia.』
"Tentu
saja."
"Pasti."
"Iya."
"Janji."
Ini semacam sumpah untuk Partner. Mungkin karena situasinya sedang seperti ini,
rasanya kata-kata kami memiliki kekuatan yang melayang di tempat ini.
『Jujur
saja, aku sedikit berharap pada kekuatanku sendiri.』
"Berharap?"
『Ya...
kupikir sebelum menghilang, tidak apa-apa jika aku punya sedikit kekuatan
besar. Spesifiknya, jika aku bisa mengubah dunia dan memaksa orang-orang
menganggap hubungan Tuan adalah hal yang benar, pasti semuanya akan jadi lebih
mudah, kan?』
Bukankah itu
terlalu curang...? Tentu saja akan mudah jika punya kekuatan sehebat itu, tapi
kurasa hidup itu baru terasa hidup jika ada perjuangannya. Lagipula, aku yakin
kami bisa melewati apa pun yang terjadi.
"Itu terlalu
praktis ya... tapi tanpa melakukan itu pun kami akan baik-baik saja. Kami akan
mempertahankan hubungan kami dengan cara melewati segala rintangan itu."
Benar kan, aku
memberi isyarat mata kepada Mari dan yang lainnya, dan mereka mengangguk kuat.
『Fufu,
begitu ya... kalau begitu tindakanku barusan hanya akan merusak suasana saja.』
"Makanya,
awasi kami dengan tenang ya, Partner."
『Baiklah.
Aku akan
mengawasi Tuan dan yang lainnya dengan tenang.』
Zazat, layar ponsel mulai bergoyang.
"Sampai
jumpa, Partner."
"Selamat
tinggal, Partner."
"...Dah-dah."
"Semoga
sehat selalu."
『Tuan,
Mari, Saika, Emu... semoga kalian sehat selamanya.』
Zazaza, goyangan layar makin parah, tapi itu segera
berhenti.
"...Ah."
Saat aku
menyadarinya, ikon aplikasi hipnotis sudah menghilang. Aku bengong sejenak,
tapi aku tidak mencari-cari apakah aplikasi itu masih ada di suatu tempat.
"...Dia
benar-benar sudah pergi ya."
"Kai-kun..."
"Kamu tidak
apa-apa?"
"Kai-senpai...?"
"Hmm? Ah,
aku tidak apa-apa kok."
Kupikir
aku akan menangis begitu menyadari Partner sudah tidak ada. Tapi aku sendiri
kaget karena hatiku terasa tenang, mungkin karena... seperti yang kukatakan,
aku tahu Partner akan terus hidup di dalam diriku dan mengawasiku.
"Partner
ada di sini... makanya aku tidak merasa kesepian."
Tidak ada
kebohongan dalam kata-kata ini. Tapi mungkin suatu saat nanti ada hari di mana
aku ingin menangis... saat itu aku akan meminjam pelukan Mari dan yang lainnya.
Meski begitu,
memang benar suasana jadi sedikit suram. Untuk mencairkan suasana dan
mengubahnya jadi ceria, tentu saja dengan mengungkapkan perasaanku pada mereka.
"Mari,
Saika, Emu—sekali lagi, mohon bantuannya mulai sekarang. Agar Partner tidak
khawatir dan kembali lagi, mari kita pasti menjadi bahagia."
Begitu
aku mengatakannya, Mari dan yang lainnya serentak memelukku. Aku berusaha
menahan beban mereka bertiga, dan aku pun membalas memeluk mereka dengan
erat... Ah, kehangatan ini benar-benar menenangkan.
Setelah
puas berpelukan, Mari dan yang lainnya memberikan jawaban atas pertanyaanku
tadi dengan senyum lebar.
"Iya!
Kai-kun, aku mencintaimu!"
"Mencintaimu,
Kai-kun...!"
"Kai-senpai,
aku mencintai Senpai!"
Aku takkan
membiarkan ini hanya sekadar kata-kata... aku akan terus melanjutkannya mulai
sekarang. Jadi Partner—tolong awasi kami dengan tenang ya?
"...Lagipula
ya, memang sensasi ini yang terbaik."
"Ih, Kai-kun
ini."
"Dasar
penggila dada."
"Fufu♪ Ini
baru Kai-senpai yang seperti biasanya."
Lihat, kurasa
memang begini lebih baik. Kita mau apa hari ini? Sambil bertukar kata seperti
itu, kami mulai melangkah maju menuju masa depan yang baru.
"Oke!
Pokoknya yang penting bisa bareng kalian! Mari kita bermesraan sepuasnya~!!"
"Ooh!"
"Iya!"
"Mari kita
lakukan!"
Masa depan yang
kujalani bersama mereka, di mana pun itu pasti hanya ada harapan. Hatiku terasa
sangat cerah, sampai-sampai aku berpikir begitu.



Post a Comment