Chapter 6
Partnerku Dipakai Orang Lain… Hah!?
"Besok,
aku ingin bertemu lagi.... Boleh
aku main ke sana?"
"Aku ingin
bertemu Kai-kun. Besok, boleh aku ke sana?"
"Aku ingin
bertemu Kai-senpai. Besok, bolehkah aku bertamu?"
Jika tiba-tiba
ada pesan seperti itu masuk secara bersamaan, wajah seperti apa yang akan
dibuat oleh seseorang?
"...Yah,
pasti jadi begini, kan."
Sosokku yang
terpantul di cermin... sedang menyeringai lebar. Tapi kurasa siapa pun pasti
akan jadi begini.... Maksudku, lihat saja, sekarang aku punya kekasih-kekasih
yang imut, cantik, dan seksi, lho? Siapa pun pasti bakal jadi gila begini.
"Apalagi
kebetulan besok Ayah dan Ibu juga tidak ada di rumah."
Kakak ada sih...
tapi bukankah dia bilang mau pergi main dengan teman kuliahnya? Seingatku dia
bilang begitu saat makan tadi, jadi kurasa tidak masalah. Aku pun membalas
pesan mereka bertiga.
"Cepat
banget...."
Balasan langsung
datang dari ketiganya, katanya mereka akan datang ke sini sejak pagi.
Omong-omong, dalam balasan Matsuri tertulis bahwa mereka sudah saling
berunding, jadi sepertinya ini bukan kebetulan mereka menghubungi secara
bersamaan.
"Besok
ya.... Ini pertama kalinya sejak hubungan kami resmi melangkah maju....
Uhhh!!"
Saat ini, aku
merasa sangat bersemangat sampai titik maksimal! Tidak masalah juga kalau ada
yang bilang aku menjijikkan atau menertawakanku karena berkhayal. Karena aku
benar-benar membayangkan masa depan bersama mereka!
「Tuan.」
"Waaaaah!?
Apa-apaan, ternyata kau toh, Partner."
Aplikasi hipnosis
itu tiba-tiba aktif sendiri dan memunculkan tulisan, membuatku kaget setengah
mati.
"Ada
apa, Partner?"
「Tuan
sedang bermimpi. Mimpi
yang aku buat.」
"Apa...
katamu...?"
Mimpi... mimpi!?
Jangan-jangan kebahagiaan sekarang ini hanyalah mimpi yang diperlihatkan
Partner padaku? Kau mau bilang kalau Partner menghipnotis dan hanya memberiku
mimpi indah!?
"Partner...
mungkinkah benar-benar—"
「Bercanda.」
"Sudah
kuduga."
Jangan lakukan
itu, jantungku hampir copot karena kupikir itu sungguhan. Terlepas dari candaan
Partner yang buruk bagi jantung, fakta bahwa dia tiba-tiba aktif dan melakukan
hal seperti ini menunjukkan bahwa dia benar-benar tidak terasa seperti mesin,
dalam artian yang baik.
"Yah,
sudahlah. Pokoknya hari ini aku tidur saja!"
Besok
pagi Matsuri dan yang lainnya akan datang. Walaupun masih lebih awal dari
biasanya, aku harus mengumpulkan tenaga dengan baik untuk menyambut besok.
"Kalau
begitu, selamat malam."
Begitu
lampu dimatikan dan aku memejamkan mata, rasa kantuk segera datang. Soal
Matsuri dan yang lainnya, soal besok... Tadinya kupikir aku tidak akan bisa
tidur karena terlalu bersemangat, tapi sepertinya aku sudah lelah tanpa
kusadari.
"...Partner,
jangan menghilang ya."
Tepat
sebelum benar-benar terlelap, aku menggumamkan hal itu dengan pelan. Aku tidak
tahu kenapa aku menyuarakan kecemasan seperti itu, tapi kondisi Partner yang
kurang stabil belakangan ini... mungkin itu adalah tanda perpisahan, dan aku
tidak bisa menahan diri untuk tidak berpikiran begitu.
◆◇◆
Keesokan
harinya, aku sudah penuh semangat sejak bangun tidur. Orang tuaku sudah pergi,
tapi karena Kakak masih ada di rumah, dia sempat membelalakkan mata melihat
tingkahku, namun segera mengerti.
"Apa
Matsuri-chan dan yang lainnya mau datang?"
"Benar
sekali!"
"Semangat
sekali kau ini...."
"Menyerahlah,
Kakakku tersayang, karena semangatku akan tetap tinggi untuk sementara
waktu!"
"...Yah, aku
mengerti perasaanmu sih."
Bagi Kakak,
tingkahku mungkin sangat menjengkelkan. Namun alasan dia tidak mengeluh adalah
karena dia memahami perasaanku dan ikut senang dari lubuk hatinya.
"Andai aku
juga punya pacar sepertimu, apa aku juga akan segembira ini ya?"
"Kakak punya
pacar...."
Tiba-tiba, aku
membayangkan sosok pria yang berdiri di samping Kakak. Jujur saja, rasanya agak
sedikit kesepian, tapi jika itu adalah orang yang dikencani Kakak, aku tidak
akan memaafkan siapa pun kecuali pria yang benar-benar tidak akan membuat Kakak
menangis.
"...Aku
tidak mau kalau dia bukan orang yang benar-benar bisa membahagiakan Kakak. Jika
tidak, aku akan memisahkan kalian meskipun Kakak menyukainya."
"Aduh aduh,
ini sih gawat, adikku ternyata sister complex ya."
"Aku bangga
jadi siscon."
"Fufu~♪"
Entah kenapa...
suasana hati Kakak terlihat sangat baik. Setelah ini Kakak juga akan pergi,
tapi sepertinya dia mau menyapa Matsuri dan yang lainnya sebentar sebelum
berangkat.
"...Oke!
Sudah siap."
Persiapan
menyambut Matsuri dan yang lainnya sudah selesai. Mereka bilang akan berkumpul
dulu baru datang ke sini, tapi aku terpikir untuk keluar sebentar ke depan
pintu untuk melihat... Tepat saat aku berpikir begitu, bel pintu berbunyi.
Aku bersama Kakak
menuju pintu depan untuk menyambut mereka. Begitu aku mengucapkan terima kasih
karena sudah datang di cuaca panas begini, Matsuri mencoba untuk langsung
memelukku, namun dia menyadari keberadaan Kakak di dekatku.
"Ah,
Miyako-san!"
"Ara,
padahal tidak apa-apa kalau mau langsung memeluk."
"Kalau
begitu, aku peluk."
"Boleh kami
memeluknya juga?"
Sambil
mendorong Matsuri ke samping, Saika dan Emu memeluk lenganku. Keduanya
berpakaian santai yang tampak sejuk, namun karena mereka berjalan di tengah
cuaca panas ini, terlihat ada sedikit keringat di kulit mereka.
"Aaa~!!"
Matsuri
berteriak kesal, dan melihat itu, Kakak tertawa kecil seolah merasa sangat
terhibur.
"Ternyata
kalian benar-benar sudah berpacaran ya. Bagaimana ya, entah soal adikku atau
soal Matsuri-chan dan yang lainnya... aku lega semuanya berakhir dengan
baik."
"Miyako-san...
terima kasih banyak!"
"Terima
kasih, Miyako-san."
"Mulai
sekarang, aku bisa memanggilmu Kakak tanpa sungkan lagi ya♪"
"Tentu saja!
Malah kalian semua boleh memanggilku Kakak! Lagipula, di masa depan memang akan jadi
begitu, kan?"
Kakak...
dia benar-benar bersemangat dipanggil "Kakak" sampai tingkahnya jadi
aneh. Sepertinya Kakak masih ingin mengobrol lebih lama, tapi karena temannya
sudah menunggu, dia segera berangkat.
"Kamu juga
cerita pada Miyako-san?"
"Iya,
lagipula Kakak juga yang mendorongku dari belakang."
"Begitu
ya.... Ehehe, rasanya senang ya kalau Miyako-san sudah tahu. Aku jadi bisa
bermanja padanya seperti Kai-kun!"
"Aku jadi
tidak sabar ingin bermanja pada Miyako-san."
"Bermanjalah
sepuas kalian. Kakak pasti akan sangat senang."
Dia sampai bilang
senang karena akan punya tiga adik perempuan, jadi dia pasti akan memanjakan
Matsuri dan yang lainnya meski tubuh mereka lebih besar darinya.
"Ayo masuk
ke kamarku. Aku sudah menyiapkan camilan."
"Ah,
benarkah? Sebenarnya tadi di jalan kami juga beli di minimarket."
"Ayo kita
makan semuanya saja."
Ah, jadi kantong
belanja itu isinya camilan ya.
"Saika-senpai?
Kalau makan semuanya... kita bisa gemuk, lho?"
"Tidak
apa-apa. Nutrisinya semua akan pergi ke dada."
"Ah, begitu
ya."
"Kau
langsung percaya saja!?"
Tapi bukankah itu
tidak hanya berlaku untuk Saika saja? Aku hampir mengatakan itu, tapi begitu
masuk kamar, Matsuri langsung memelukku dari depan, jadi aku menerimanya.
"Kai-kun
jadi milikku~♪"
"...Ahaha."
Tadi dia
terlihat sangat kesal sih.... Benar-benar terlalu imut! Jujur saja, masih ada bagian yang terasa kurang
nyata, tapi saat merasakan suhu tubuh mereka seperti ini, aku merasa tenang
karena tahu ini adalah kenyataan.
"Kita...
tidak perlu sungkan lagi untuk melakukan hal seperti ini, kan?"
"Tentu saja♪
Hei hei, Kai-kun boleh melakukan apa pun yang ingin kau lakukan, lho?"
"............"
Boleh melakukan
apa pun yang ingin kulakukan...!? Kata-kata itu memicu keinginan kuat dalam
hatiku... bukan sesuatu yang mesum yang mudah dimengerti, melainkan sesuatu
yang bisa kusebut sebagai rutinitas sehari-hari bagiku. Ya! Membenamkan wajah
ke payudara!
Jika dalam
kondisi menggunakan Partner, aku bisa melakukannya tanpa sungkan, tapi meskipun
sudah berpacaran, rasanya tetap malu untuk meminta hal itu pada mereka dalam
kondisi sadar.
"Sepertinya
memang tidak baik membiarkan Matsuri-san mengambil kesempatan."
"Benar
juga ya.... Meski kesal, aku harus mengakuinya."
"Fufun!
Akulah yang paling pertama akrab dengannya♪"
Hmm... Kalau
melihat situasi ini, tidak ada salahnya aku mencoba mengatakannya!
"Anu...
Matsuri."
"Apa?"
"Boleh aku
membenamkan wajahku di dadamu?"
Suaraku
terdengar tegang, tentu saja. Namun seolah ingin membuktikan bahwa keteganganku
itu sia-sia, Matsuri mengangguk mantap dan menarikku ke dekapan dadanya yang
besar dan lembut.
"Fnyon...!"
"Boleh kok~
Nih, kamu suka ini, kan~?"
Uwoooooooooooo
aku sukaaaaaaaaaaaaaaa!! Ah... memang harus begini! Bedanya dengan saat
menggunakan kekuatan Partner, aku tidak akan menghirup udara dengan napas
memburu di sela-sela belahan dada mereka... Yah, setidaknya tidak secara terang-terangan.
"Aku
agak berkeringat, apa tidak bau?"
Aku
menggelengkan kepala, mengisyaratkan bahwa itu tidak benar.
"Begitu
ya. Aku pakai parfum sedikit,
apa baunya enak?"
Aku
mengangguk, baunya sangat enak.
"Dada
aku lembut tidak?"
Aku
mengangguk, kekenyalannya yang terbaik.
"Kamu suka
dada aku?"
Iya.
"Mau
menghisapnya?"
Me-menghisap...!?
Aku yakin keguncanganku terpancar dari bahuku yang bergetar, dan aku bisa
merasakan Matsuri menahan napas sejenak.
"Tu-tunggu,
Saika!?"
"Itu
bagianku."
"Saika-senpai!?"
A-apa-apaan
keributan ini!? Begitu
mendengar teriakan Matsuri dan Emu yang terdengar seperti jeritan, tubuhku
ditarik dengan kuat. Aku mengerjapkan mata karena bingung... dan!?
"Sa-Saika!?"
Aku
segera mengerti alasan kenapa Matsuri dan yang lainnya berteriak. Karena Saika
sudah bertelanjang dada.... Ah
tidak, dia masih memakai bra, tapi tetap saja ini mengejutkan!!
"Ah, ini
mengganggu."
"Eh!?"
"Tunggu
dulu!?"
Hanya dengan satu
kata "mengganggu", Saika menanggalkan benteng terakhirnya itu.
Penampilannya sekarang sudah benar-benar seperti wanita cabul, tapi Saika tetap
mendekat... dan seperti Matsuri tadi, dia mendekap wajahku ke dadanya.
"Mguu!?"
"Kalau mau
menghisap dada, hisaplah punyaku."
Jika Matsuri
mendekap wajahku di belahan dadanya, Saika justru menempelkan ujung dadanya
tepat ke wajahku. Apalagi karena mulutku sedikit terbuka, sesuatu milik Saika
itu masuk dengan pas ke dalam mulutku.
Apa ini... apa
yang sebenarnya terjadi? Aku yang panik tanpa sengaja menjilatnya.
"Uhn...
nnh...♡"
Ini... suasana
ini bahaya! Tubuh Saika bergetar, dia mendesah menggoda, dan menatapku dengan
mata yang sayu. Dia terlihat sangat erotis, sampai-sampai wajahku terasa panas
hanya dengan menatapnya.
"Ki-kita
tenang dulu, Saika!"
"Ah..."
Benar,
biarkan aku tenang sebentar. Saat aku menjauhkan wajah, Saika menatapku dengan
sedih seolah bertanya kenapa aku menjauh... Tapi! Maksudku, kalau lebih dari ini... itu akan
gawat, kan!!
"Kita kan
sudah pacaran? Hal seperti ini biasa saja.... Kai-kun juga pasti punya banyak
hal yang ingin dilakukan, kan?"
"Itu...
memang ada sih."
Omong-omong, tak
mau kalah dari Saika, ternyata Matsuri dan Emu juga sudah menanggalkan pakaian
mereka entah sejak kapan. Tapi berbeda dengan Saika, mereka berdua masih
memakai pakaian dalam, jadi aku merasa lega.... Ah, tapi tidak bisa lega juga
karena dada Saika terpampang jelas!
"............"
Tapi... aku tidak
bisa menahan diri untuk tidak menatap dada yang luar biasa itu. Bukan hanya
besar tapi juga lembut, bentuknya bagus, dan kekenyalannya saat ditekan
benar-benar yang terbaik.... Ujungnya pun berwarna merah muda yang cantik.
"Nnh... aku
suka saat Kai-kun menatapku seperti itu♡"
Ditambah
lagi dia sendiri terlihat senang, ini benar-benar yang terbaik!! Namun karena
aku benar-benar ingin menenangkan diri sejenak, aku meminta Saika untuk memakai
branya kembali.
"...Fuu."
Aku
menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan hati, tapi gadis-gadis yang duduk
di sampingku masih dalam penampilan erotis yang memamerkan pakaian dalam
mereka.... Aku merasa agak
ngeri karena ternyata cara merasakannya bisa sangat berbeda antara kondisi
terhipnotis dan sadar.
"Anu...
sejujurnya aku sangat senang dan bersemangat.... Pokoknya ini yang terbaik,
tapi bukankah ini terlalu cepat...?"
"Benarkah?"
"Bukankah
ini biasa saja?"
"Biasa...
kan?"
Begitu ya... jadi
ini biasa saja. Untuk mendinginkan tubuh yang memanas, aku meminum jus dan
beristirahat sejenak.... Kemudian, Matsuri membuka suara.
"Hei
Kai-kun."
"Ya?"
"Kamu kan
sudah melakukan banyak hal pada kami menggunakan Partner-san, jadi bukankah
sudah terlambat untuk malu sekarang?"
"...Benar
juga ya."
Yah... kurasa itu
kartu terlarang. Bagiku, perbedaan apakah lawan bicaraku sedang terhipnotis
atau tidak itu sangat besar.... Rasanya aku jadi sedikit ciut.
"Kai-kun
harus lebih jujur pada diri sendiri."
"Benar
sekali. Apa Kai-senpai tidak ingin melakukannya? Secara legal, menggunakan
Partner-san pada kami seperti dalam dōjinshi mesum!"
"I-itu...!"
Jika ditanya
ingin atau tidak, tentu saja aku ingin! Sekarang aku tidak perlu lagi
bergantung pada kekuatan Partner untuk memeluk, menyentuh dada, atau
berciuman... tapi tetap saja, situasi di mana aku menghipnotis gadis dan
melakukan hal mesum adalah sesuatu yang aku idam-idamkan!
Melihat Matsuri
dan yang lainnya menyeringai ke arahku, aku berniat melakukannya dan meraih
ponsel, tapi kemudian aku melepaskannya lagi karena merasa sekarang bukan
saatnya.
"...Tidak,
kurasa aku lebih suka berinteraksi dengan kalian secara normal. Memang aku
sangat menikmati waktu-waktu sebelumnya, tapi.... Tapi.... Berada bersama
kalian yang sekarang ini jauh lebih menarik, jadi biarkan begini saja."
"Kai-kun...."
"Aku jadi
makin cinta."
"Ehehe, jadi
malu."
"Tapi! Kalau
aku sedang ingin, boleh saja kan! Melakukan permainan aplikasi hipnosis sebagai
kekasih.... Kedengarannya mesum dan menarik!"
Yah... aku masih
mengidamkan permainan mesum seperti itu! Aku tidak bisa berhenti
mengidamkannya.... Tapi apa yang kukatakan pada mereka juga bukan kebohongan,
jadi ini benar-benar membingungkan. ...Omong-omong, kapan Matsuri dan yang
lainnya akan memakai baju lagi ya.
Hanya ada kami di
rumah jadi tidak masalah sih, apalagi bagiku ini adalah cuci mata, tapi... aku
takut aku akan jadi "semangat" lagi dan itu merepotkan.
"Hei
Kai-kun, kalau boleh."
"Apa?"
"Boleh kami
melihat aplikasi hipnosis... Partner-san?"
Karena Matsuri
memintanya, aku mengaktifkan Partner lalu memberikannya pada Matsuri. Tentu
saja bukan hanya Matsuri, Saika dan Emu pun tampak penasaran dan ikut mengintip
ke layar.
"Ternyata
namanya memang tertulis Aplikasi Hipnosis ya."
"Layarnya
mesum."
"...Mirip
seperti yang sering kulihat di dōjinshi ya."
Ketiganya
mengamati dengan penuh minat.... Pemandangan yang aneh. Gadis-gadis yang
sekarang menjadi orang penting bagiku sedang melihat aplikasi mesum terkuat
yang selama ini telah membantuku.
"Apa kami
bisa menggunakannya juga?"
"Eh? Ah,
entahlah...."
Selain aku,
pemilik sebelumnya bisa menggunakannya... tapi itu karena dia adalah
pemiliknya. Aku tidak tahu apakah orang lain bisa menggunakannya saat
"Tuan" dari aplikasi hipnotis itu ada di sana.
"Aku belum
pernah mencobanya, wajar saja sih."
"Hmm...."
"Mau coba
menggunakannya padaku?"
"Eh?
Boleh!?"
Matsuri langsung
merespons, tapi Saika dan Emu juga sangat tertarik. Rasanya aneh jika
dihipnotis oleh seseorang, tapi jika itu Matsuri dan yang lainnya, aku merasa
tenang.
Aku mengajari
mereka cara menggunakan dan membatalkan hipnosis secara singkat, lalu menepuk
dadaku seolah menantang mereka.
"Ayo,
lakukan! Tapi.... Jangan lakukan hal yang terlalu aneh ya?"
Setidaknya... aku
harus memberi peringatan. Matsuri yang memegang ponsel menarik napas
dalam-dalam, lalu menggunakan kekuatan Partner seperti yang biasa kulakukan.
"...Ah."
Pada saat itu,
aku menyadari dengan jelas bahwa kekuatan itu telah aktif padaku. Karena aku
diselimuti oleh sensasi melayang yang aneh, dan aku merasa seperti menyentuh
hati Matsuri dan yang lainnya yang lembut, hangat, dan mencintaiku. Namun...
sensasi ini sangat kabur.
Apakah ini mimpi
atau kenyataan.... Aku bahkan tidak bisa berpikir lagi, dan hanya bisa
memikirkan Matsuri dan yang lainnya yang ada di depanku.
◆◇◆
"...Kai-kun?"
"Bagaimana?"
"Kai-senpai...?"
Kami menggunakan
Partner-san, apa hipnosisnya... sudah aktif pada Kai-kun? Cahaya di matanya
menghilang, dan Kai-kun menatap kami kembali dengan tatapan kosong.
"Inilah...
kondisi terhipnotis."
Aku merasa bahwa
Partner-san telah aktif tanpa masalah. Artinya sekarang... Kai-kun
adalah sosok yang akan menuruti perkataan kami.... Dia tidak akan menolak apa pun yang kami lakukan,
dan akan memenuhi permintaan kami.
"Glek."
Tanpa sadar aku
menelan ludah.... Aku merasa sangat bersemangat saat ini. Tentu saja aku tidak
akan melakukan hal jahat seperti yang Kai-kun katakan, tapi menurutku tidak ada
gadis yang tidak akan bersemangat dalam situasi seperti ini.
"Emm...
boleh aku yang pertama?"
"Iya... aku
akan melihatnya."
"Si-silakan...!"
...Fufu, Saika
dan Emu-chan juga terlihat sangat tegang. Bukan bermaksud untuk mencairkan
ketegangan, tapi ada hal yang ingin kutanyakan pada Kai-kun yang sekarang.
Kondisi terhipnotis tidak akan pernah bisa berbohong.... Itulah alasan kenapa
aku ingin bertanya pada Kai-kun.
"Kai-kun...
apakah kau menyukaiku?"
"Ya, aku
suka."
"Nnh...!"
Gawat... yang
barusan itu gawat. Meskipun dalam kondisi terhipnotis, aku benar-benar bahagia
mendengar Kai-kun bilang suka.... Apalagi karena itu adalah kata-kata jujur
yang pasti bukan kebohongan, rasa bahagia itu berlipat ganda.
"Seberapa
besar kau menyukaiku?"
"Seberapa
besar.... Sampai tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin ini terdengar
cengeng, tapi aku tidak bisa lagi membayangkan dunia tanpa kalian. Sebesar
itulah aku menyukai kalian.... Aku juga ingin melakukan hal mesum!"
Aku tentu
saja senang dia bilang suka. Dan dia bilang ingin melakukan hal mesum juga....
Aku sangat bahagia dari lubuk hati karena dia menginginkanku sebagai seorang
wanita dan menganggapku menarik. Tentu saja aku tahu Kai-kun yang biasanya juga
berpikir begitu, tapi dalam kondisi terhipnotis... melihat Kai-kun yang
sekarang sangat menginginkanku membuat tubuhku bergetar karena gairah.
"Ka-kalau
begitu... lakukan banyak hal mesum pada dadaku, ya?"
Kai-kun suka
dada.... Itulah alasan kenapa aku menyuarakan permintaan yang sebenarnya
hanyalah nafsuku belaka.
"A-ah...
nnh."
Kai-kun
mengangguk. Namun karena dia menatapku seolah bertanya apakah benar-benar tidak
apa-apa, aku melepaskan braku dan merentangkan kedua tangan seolah ingin
memberitahu bahwa itu tidak apa-apa. Melihatku yang dalam posisi menyambut,
Kai-kun mendekat dan menyentuh dadaku.
"Nnh... ahh♡"
Tangan Kai-kun
menyentuh dadaku.... Hanya dengan itu saja aku sudah sangat senang, apalagi
gerakannya yang seolah mengintip keadaanku karena khawatir itu sangatlah manis
dan menggemaskan.
"Matsuri...
bagaimana?"
"Apa
menyentuh saja cukup? Jangan sungkan jika ada hal lain yang ingin kau lakukan,
ya?"
Kata-kata itu
sepertinya memberikan dorongan pada Kai-kun. Padahal tadinya dia hanya meremas
dengan lembut atau membenamkan wajahnya, tapi kemudian dia mulai menjilat
kulitku seolah sedang menggerakkan lidahnya. Dan kemudian... dia mulai
menghisapnya.
"!!?"
Pada saat itu,
sensasi yang seolah menembus ubun-ubun membuatku ketagihan.
"Ini...
ini...."
Bukan, bukan akan
ketagihan... aku sudah ketagihan♡ Begitu ya.... Jadi inilah yang dirasakan
Kai-kun? Memang ini memberikan semacam kenikmatan lain, atau lebih tepatnya
rasa bersalah yang tak terlukiskan. Tubuhku panas.... Aku ingin Kai-kun lebih
banyak lagi!
Aku ingin
melakukan lebih banyak hal lagi untuk Kai-kun.... Wanita di dalam diriku
berteriak ingin membahagiakan Kai-kun!
"Jangan
hanya satu saja, maukah kau menghisap keduanya...?"
"Baik...!"
Jika hanya satu,
dia terlihat imut seperti bayi. Tapi sensasi dihisap keduanya sekaligus sama
sekali bukan bayi.... Ada keagresifan yang membuatku sadar bahwa dia adalah
seorang pria, dan itu membuatku merasa sangat mesum dan nyaman.
"...Kai-kun?
Sudah cukup."
"Baik....
Bagaimana tadi?"
"Anu...
sangat enak. Kurasa aku sudah tidak bisa hidup tanpa Kai-kun dalam banyak
hal♪"
Sangat... sangat
puas♪ Omong-omong, Saika dan Emu-chan menatap interaksiku dengan Kai-kun tanpa
berkedip sama sekali. Hanya dengan dilihat oleh mereka berdua yang juga sangat
mencintai Kai-kun saat aku menerima kasih sayang Kai-kun sepenuhnya, kenikmatan
yang diberikan Kai-kun terasa luar biasa♪
"Terlepas
dari kondisi terhipnotis atau tidak, hanya dengan bersentuhan seperti ini
dengan Kai-kun saja sudah begini.... Aku bisa jadi gila kalau berpikir bisa
melakukannya setiap hari♡"
"Ma-Matsuri-san...
berikutnya aku...!"
"Ah, iya!
Ini, Saika."
Aduh aduh, lihat
wajah Saika yang sudah tidak sabar itu. Tapi yah, aku tidak punya hak untuk
menggodanya. Karena aku sudah menjadi yang pertama, sekarang mari kita lihat
bagaimana Saika dan Emu-chan melakukannya dengan Kai-kun!
"...Kai-kun."
"Ya."
Saika memegang
ponsel dan memberikan perintah kepada Kai-kun.... Perintah seperti apa ya!?
"Peluk aku
dari belakang, dan lakukan hal mesum sambil membisikkan kata suka di
telingaku."
"...Oke."
Kai-kun
yang mengangguk pindah ke belakang Saika. Hanya dengan dipeluk dari belakang
pun Saika sudah terlihat bahagia, tapi jika dilakukan lebih dari ini... Saika, apa kau bisa tahan?
"Wa-wawa."
"Emu-chan,
ayo kita tonton bersama."
Kau pasti sudah
tidak sabar, tapi sekarang ayo tonton mereka berdua bersamaku. Kai-kun yang
memeluk Saika membisikkan sesuatu di telinganya.... Mungkin dia bilang suka,
tapi digabungkan dengan suasana di tempat ini, itu membuat ekspresi Saika
meleleh.
"Hanya
kata-kata saja tidak cukup.... Hei, lakukan hal yang mesum."
"...Oke."
Ahaha, Kai-kun
sepertinya masih tegang.
Tapi....
Pemandangan yang tersaji setelah itu membuat perasaanku dan Emu-chan yang hanya
menonton semakin membara.
Kai-kun yang
memeluk Saika mulai meremas dadanya sambil membisikkan kata suka di telinga
Saika.... Ekspresi Saika saat gendang telinganya digetarkan dan tubuhnya
dirangsang begitu mesum sampai-sampai membuatku yang sesama wanita pun merasa
panas.
"Annh...
uah...♡"
Wah... betapa
mesumnya. Saika adalah gadis yang sangat cantik, tapi orang lain selain kami
pasti menganggapnya sebagai gadis sastra yang pendiam.
Namun dengan
wajah cantik dan bentuk tubuh yang luar biasa, banyak juga laki-laki yang
mengincarnya.... Kudengar Saika lebih populer di kalangan laki-laki pendiam
daripada laki-laki yang mencolok.
Meski begitu,
Saika hanya melihat Kai-kun, dan dia hanya menunjukkan ekspresi seperti itu di
depan Kai-kun.... Sama seperti aku dan Emu-chan, Saika pun sepertinya tidak
akan pernah jatuh cinta pada siapa pun selain Kai-kun seumur hidupnya.
"Sentuh aku
langsung. Sama seperti yang kau lakukan pada Matsuri-san, aku ingin kau lebih
banyak lagi menyentuh tubuhku."
"...Baik."
"Ma-Matsuri-senpai,
saat itu juga begitu... tapi pemandangan mesum macam apa ini.... Nnh...!"
Saat aku
merangkul bahu Emu-chan yang bergetar, tubuhnya terasa sangat panas. Aku
tahu.... Aku tahu, Emu-chan. Melihat hal seperti itu pasti membuatmu merasa
mesum, kan?
Tubuhmu jadi panas dan kau tidak tahu harus berbuat apa,
kan?
Sampai-sampai kau
merasa cinta pada Kai-kun akan meluap dan membuatmu gila...!
"Saika, aku
suka padamu.... Apa pun yang terjadi aku akan melindungimu. Aku tidak akan
membiarkan tubuhmu terluka lagi."
"Kai-kun...?"
"Kulit yang cantik.... Matsuri dan Emu juga, kalian benar-benar cantik."
"A... ahh...!"
Menerima
kata-kata dan belaian Kai, tubuh Saika berguncang hebat. Seolah ingin mematri
momen interaksi mereka berdua ke dalam ingatan, aku dan Emu-chan sampai lupa
bicara dan terus terpaku menonton... Namun, aku merasa kata-kata yang
dibisikkan Kai tadi membawa perasaan tulus khas darinya.
"Itu pasti
perasaan jujur Kai-kun. Bahwa dia takkan membiarkan kita terluka... dia akan
melindungi kita apa pun yang terjadi."
"...Kai-senpai
benar-benar orang yang baik."
Kai-kun ingin
melakukan hal mesra dengan kami, atau meski bukan hal mesra pun, dia hanya
ingin bermanja-manja... Dia memiliki keinginan yang sama dengan kami. Namun,
jauh di lubuk hatinya, perasaan terkuat Kai-kun adalah ingin melindungi kami...
sebuah tekad kuat bahwa dia takkan pernah membiarkan kami terluka lagi.
"Ah, sudah
selesai ya."
"...Ahaha."
Sadar-sadar,
Saika sudah tergeletak lemas di lantai, tampak kelelahan.
"Haa...
haa... haa...♡"
Dengan pipi yang
merona merah, meski wajahnya tampak letih, Saika terlihat sangat bahagia.
Bra-nya terlepas, roknya tersingkap hingga celana dalamnya terlihat jelas. Apalagi
tubuhnya sesekali masih berkedut... Aku terus memperhatikannya, tapi ini
benar-benar terlalu mesra.
Memikirkan apa aku juga terlihat seperti itu tadi membuatku
malu... tapi, dengan begini kita impas, ya.
"Kalau
begitu, terakhir giliranku, Kai-senpai!"
Setelah menerima
ponsel dari Saika yang masih terengah-engah dan setengah melayang, Emu-chan
duduk tepat di depan Kai-kun.
"...Fuu,
puas sekali."
"Aku paham
setelah melihatnya. Tapi Saika, bukankah itu terlalu mesra?"
Saika duduk di
sampingku sambil membenarkan posisi bra-nya.
"Mari-san,
apa pantas kamu bicara begitu? Kamu juga tadi jadi seperti aku, tahu."
"Ya,
memang sih... tapi tadi hebat, kan?"
"Iya...
belaiannya memang luar biasa, tapi yang terpenting, aku merasa seluruh tubuhku
disirami kebaikan Kai-kun... itu yang paling mengesankan."
Ah~ ternyata
kata-kata itu juga sangat membekas di hati Saika. Aku juga ingin disentuh
sambil dibisikkan kata-kata seperti itu, tapi karena tadi aku membungkam mulut
Kai-kun dengan dadaku... itu hal yang mustahil ya♪
Nah, kira-kira
apa yang akan dikatakan Emu-chan?
"Anu...
Kai-senpai!"
"Ya."
"Itu...
tolong lakukan hal mesra padaku sambil mengekangku sampai terasa sakit!"
Me-mengekang
sampai terasa sakit...?
Saat aku menoleh,
Saika juga tampak bengong, tapi setidaknya kami sudah paham hobi—atau lebih
tepatnya selera—Emu-chan.
"Seperti
dugaan ya."
"Benar..."
Yah, tapi aku
juga penasaran akan jadi seperti apa!
"Aku tahu
selera Emu, tapi soal 'sakit' itu secara spesifiknya seperti apa...?"
"Itu,
mencekik leher... ah, maaf Senpai. Apa Senpai tidak suka hal seperti itu?"
"Yah, kalau
sampai sakit sih... Bagaimana kalau sebatas Free Play dengan mengikat
kedua tangan dan kaki saja...?"
Kai-kun!? Aku
tahu dia sedang dalam kondisi jujur... tapi mendengarnya langsung dari mulut
Kai-kun membuat jantungku berdebar!
"Maksudnya
Senpai ingin mengikat tangan dan kakiku lalu merenggut kebebasanku!? Senpai
ingin memonopoliku... dan mengikatku seerat itu!?"
Aah... tombol
Emu-chan benar-benar sudah menyala. Tapi dikekang tangan dan kakinya lalu
dibiarkan begitu saja, atau sedikit dikerjai... sepertinya tidak buruk... Kalau
lawannya Kai-kun, aku juga mungkin bisa jadi masokis...♪
"Hei
Mari-san... aku merasa ini tidak buruk juga."
"Selera kita
cocok ya. Kalau Kai-kun lawannya, pasti akan jadi permainan yang penuh
cinta."
Gaya
bermain kan ada bermacam-macam, hal seperti ini pun tidak buruk juga. Selagi aku dan Saika merencanakan sesuatu,
di sisi Emu-chan mulai ada pergerakan.
"I-ini...
enak sekali...♡"
Suara Emu-chan
yang takkan pernah terdengar di depan umum kini menggema. Yang dilakukan pada
Emu-chan sebenarnya sederhana, hanya pelukan erat dan seolah lehernya sedikit
ditekan... mungkin?
Meski tekanannya
sangat ringan hingga tak bisa disebut cekikan, namun situasi di mana dia
dikekang kuat oleh Kai-kun tampaknya memberikan gairah yang luar biasa bagi
Emu-chan.
"Aku selalu
mendambakannya... aku suka hal seperti ini, dan aku selalu ingin melakukan hal
mesra dengan Kai-senpai...!"
"...Kamu
manis sekali, Emu."
"Ahun♪ Apa
aku manis? Apa aku yang mengeluarkan suara memalukan begini terlihat manis?
Kalau begitu aku akan tunjukkan lebih banyak lagi! Jadi tolong, lakukan lebih
banyak lagi padaku! Seret keluar sisi diriku yang memalukan ini... sisi yang
Senpai sebut manis ini, lalu kotorilah aku sampai hancur berantakan♡"
Satu kata dari
Kai-kun sepertinya makin menyalakan tombol Emu-chan. Seolah melupakan
keberadaan kami, Emu-chan tampak sangat menikmatinya saat tubuhnya dipermainkan
sambil dikekang oleh Kai-kun, bahkan sampai berciuman.
Bukan hanya
rangsangan pada tubuhnya, situasi dan kata-kata dari Kai-kun makin membuatnya
senang.
"Meski aku
tidak punya hak bicara, tapi Emu-chan yang paling mesum ya."
"Setuju."
"…Pfftt!"
Pemandangan
memalukan Emu-chan memang menarik perhatian, tapi melihat Saika mengangguk
dengan wajah serius jauh lebih lucu. Setelah itu, Emu-chan pun menyelesaikan
interaksinya dengan Kai-kun yang sedang terhipnotis, dan duduk di sampingku
dengan wajah puas.
"Fuu... tadi
hebat sekali♡"
Suaranya masih
terdengar menggoda, tapi aku sangat mengerti perasaannya! Lagipula... kekuatan Partner
benar-benar luar biasa.
"Aku
berpikir sesuatu."
"Apa?"
"Ada
apa?"
"Aplikasi
hipnotis ini... kekuatannya benar-benar asli. Tergantung cara pakainya,
kekuatan ini bisa melakukan hal yang sangat besar... Tapi Kai-kun malah
menggunakan kekuatan yang terlalu kuat itu untuk menghabiskan waktu bersama
kita. Bukankah itu sangat mengharukan? Rasanya perasaanku pada Kai-kun jadi
makin kuat."
Mendengar
itu, mereka berdua mengangguk setuju. Jika dia mau, kekuatan ini bisa mengubah
banyak hal... bahkan tidak berlebihan jika disebut sebagai kekuatan untuk
mendominasi. Meski punya
kekuatan seperti itu, Kai-kun tetap memprioritaskan waktu bersama kami.
"Ini
berkat Partner... ya."
"Benar.
Berkat Kai-senpai bertemu Partner, kita bisa sebahagia ini sekarang."
Aku pun
mengangguk setuju. Di layar ponsel Kai-kun yang sudah kembali, Partner masih
aktif, seolah sedang menunggu instruksi selanjutnya.
"...Fufu, Partner—terima
kasih sudah datang ke sisi Kai-kun. Berkatmu, aku bisa akrab dengan Kai-kun dan
jadi tergila-gila padanya."
Menurut cerita
Kai-kun, dia bisa mengobrol dengan Partner, tapi sayangnya tidak ada balasan
untuk kata-kataku... Yah, mau bagaimana lagi. Saat aku tersenyum pahit, Saika
dan Emu-chan ikut mengintip ke layar ponsel.
"Partner,
terima kasih sudah menghubungkan kami. Berkatmu, aku bisa menemukan harapan hidup dan bertemu orang hebat seperti
Kai-kun."
"Awalnya aku
kira aplikasi hipnotis cuma buat jahil, tapi Partner berbeda. Kamu adalah Cupid
yang mempertemukanku dengan Kai-senpai. Terima kasih banyak."
Mendengar ucapan
terima kasih kami, tetap tidak ada perubahan pada Partner.
Meski begitu,
jika suaraku bisa sampai padanya, aku ingin menyampaikannya... Karena siapa pun
pasti ingin berterima kasih pada penolongnya, kan?
"...Eh,
Kai-kun!"
Di situ aku baru
ingat kalau Kai-kun masih dalam kondisi terhipnotis. Maaf ya! Bukannya
aku lupa... Sambil mencari alasan dalam hati, aku pun melepaskan hipnotis
Kai-kun.
"...-!"
Begitu
hipnotisnya lepas, wajah Kai-kun seketika memerah padam. Tadi pun wajahnya
sudah merah, tapi sekarang setelah sadar, wajahnya jauh lebih merah lagi.
"...Itu,
ingatannya tersisa samar-samar."
"Fufufu~♪
Begitu yaa♪"
Sudah kuduga! Aku
mengembalikan ponselnya sambil berterima kasih, tapi kemudian aku menyadari
sesuatu dan tersenyum nakal.
Hei Kai-kun, yang
kita lakukan tadi sangat mesra, kan? Bagian berharga milik Kai-kun...
sepertinya sedang semangat sekali. Bukankah sebagai gantinya, kami harus
membantu membuatmu merasa lega?
"………………"
Keinginanku untuk
membantunya itu tulus. Tapi sepertinya yang merasa sangat malu bukan cuma
Kai-kun, aku pun sama.
◆◇◆
Sensasi
yang tadi samar-samar. Saat
perasaan melayang seolah di angkasa menghilang, pikiranku seketika kembali
normal.
Di depanku ada
Mari dan yang lainnya yang bertelanjang dada... bukan, mereka masih mengenakan
pakaian dalam seadanya.
"...Uooooooooh!!"
Hanya dengan
menatap mereka selama satu atau dua detik saja, aku teringat semua hal yang
terasa seperti mimpi tadi. Sensasi barusan adalah saat aku berada di bawah
pengaruh kekuatan Partner.
Dan dalam kondisi
itu, aku menuruti keinginan Mari dan yang lainnya, melakukan hal-hal yang
benar-benar erotis.
Mengisap dada
Mari, meremas dada Saika, memeluk erat Emu sambil meremas dadanya juga... wah,
aku dipaksa melakukan hal luar biasa ya, terima kasih banyak!
"Kai-kun,
kamu baik-baik saja?"
"...Ya."
Mungkin karena
sudah berteriak sekencang tadi, aku jadi sedikit tenang.
Namun, selain
fakta bahwa aku baru saja melakukan hal yang melampaui batas, sensasi tubuh
mereka yang masih tertinggal di telapak tanganku sama sekali tidak mau hilang,
dan itu malah meningkatkan panas di tubuhku serta hasratku terhadap mereka.
Singkatnya, tubuhku bereaksi keras...!
"Itu... aku
lumayan ingat sih, tapi bagaimana menurut kalian?"
"Tadi
yang terbaik!"
"Sangat
bagus."
"Tentu
saja!"
Oh...
sepertinya responnya sangat positif. Karena ingatanku tersisa cukup banyak, aku
juga ingat momen saat Mari dan yang lainnya berterima kasih pada Partner.
Meski
sepertinya tidak ada balasan dari Partner untuk mereka, ada satu hal yang aku
pahami.
"Partner...
pasti merasa senang. Karena
Mari dan yang lainnya sudah berterima kasih padanya."
"Benarkah?
Kalau begitu aku juga senang♪"
Melihat mereka
gembira seperti itu, pasti tersampaikan juga pada Partner.
Tapi omong-omong,
kapan kalian bertiga mau pakai baju...?
Padahal tadi
sudah jadi obrolan yang menyentuh dan hasrat mesumku hampir hilang, tapi
pemandangan menggoda yang masuk ke penglihatanku ini malah menyudutkanku lagi.
"...Kai-kun."
"Ya?"
"Hati
Kai-kun... benar-benar lembut ya."
"Eh?"
Hatiku lembut... Aku bengong mendengar kata-kata tiba-tiba
itu.
Bukan hanya Saika yang bertanya, Mari dan Emu juga
mengangguk dengan senyum lembut di wajah mereka.
"Saat
memelukku tadi, kamu bilang takkan pernah membiarkanku terluka lagi. Aku tahu
kata-kata itu bukan cuma buatku, tapi juga buat Mari-san dan Emu-chan."
Ah~
... aku juga ingat-ingat lupa soal itu.
Setelah mengingat dengan jelas apa yang terjadi pada Saika
dan yang lainnya, tumbuh perasaan kuat bahwa selama aku masih hidup, aku takkan
membiarkan mereka terluka.
Apa pun yang terjadi aku akan melindungi mereka... apa pun
yang terjadi aku takkan membiarkan hubungan ini rusak.
Aku takkan
kehilangan mereka... aku takkan membuat mereka sedih atau mengkhianati mereka
apa pun yang terjadi.
"Kata-kata
jujur Kai-kun yang sudah seperti prinsip hidup... aku senang bisa menyentuh
kelembutan hati Kai-kun yang seperti itu♪"
"...Aduh,
malu sekali rasanya."
"Ahaha♪ Tapi
itu kan bukan buat sekarang saja, kan?"
"Itu hal
yang selalu Kai-senpai pikirkan. Senpai selalu memikirkan kami seperti itu
sepanjang waktu."
Uugh... kata-kata
mereka membuatku merinding malu!
"Ya, yah,
kalau soal itu sih mau bagaimana lagi. Saat memakai kekuatan Partner, aku tidak
bisa menyembunyikan apa pun, jadi aku sekalian melaporkan keadaan saat ini.
Anggap saja ini bukan sekadar balasan karena sudah melakukan hal sesuka hati,
tapi aku memang berharap tidak terjadi apa-apa pada Mari dan yang
lainnya."
Bagiku,
aku hanya mengucapkan prinsipku sendiri.
Namun sepertinya
itu sangat menusuk hati mereka, terlihat dari tatapan penuh perasaan besar yang
mereka tujukan padaku.
"Mungkin...
ini sudah terukir di alam bawah sadarku. Lagipula, cara kita jadi akrab dan
punya hubungan seperti ini pun bukan proses yang normal... makanya aku jadi
suka, suka sekali sampai tak tertahankan melebihi yang kukira."
Aku memanggil
nama Mari, Saika, dan Emu satu per satu.
"Mungkin ini
terdengar berlebihan... tapi, aku ingin kalian bersamaku sampai kita sama-sama
tua dan bisa menertawakan momen ini sebagai cerita masa lalu. Tolong jalani
hari-hari yang panjang itu bersamaku."
Lalu aku
menundukkan kepala. Meski kata-kata itu keluar karena terbawa suasana, itu
adalah kejujuran dari lubuk hatiku yang terdalam. Itu adalah janji untuk mereka
sekaligus permohonan agar mereka juga berjanji padaku.
"Iya♪ Aku
takkan pernah melepaskanmu. Aku akan selalu, selalu ada di sisi Kai-kun."
"Meski
dibilang tidak mau pun aku takkan pergi. Di sisi Kai-kun adalah tempat yang
kuinginkan."
"Sekalian
saja, tolong ikat aku dengan tali agar tidak pernah lepas dan tetaplah di
sisiku♪"
Emu...
benar-benar tidak berubah ya. Namun, kata-kata dari mereka membuat dadaku terasa hangat dan senyum tulus
pun terkembang.
Ah... apa tidak
apa-apa aku sebahagia ini?
Rasanya
ingin pamer ke banyak orang.
Yah, meski tidak
mungkin kulakukan, tapi intinya perasaanku sekarang sangat bahagia.
"Hei Kai-kun♡"
"I-iya!?"
Aku sadar dia
mendekat, tapi suara yang dibisikkan di telingaku itu terlalu manis dan
menggoda.
Suara yang sangat
manis seolah mengingatkan kembali pada momen tadi... Mari yang menatapku dari
jarak dekat, perlahan menunjuk ke bagian bawah tubuhku.
"Kamu sudah
membuat kami merasa sangat nyaman tadi, kan? Kami ingin membalas budi,
bagaimana?"
"Ba-balas
budi apa...?"
"Bagian itu
milik Kai-kun, sepertinya sangat tersiksa, ya? Kita kan sudah pacaran, dan
meski tadi tujuannya ingin mencoba kekuatan Partner... sebagai pacar, aku tidak
tega membiarkan Kai-kun menahannya sementara hanya kami yang merasa puas."
Tersenyum manis,
Mari memintaku untuk duduk di ranjang.
Tanpa
sempat memedulikan suara detak jantungku yang berisik, aku bergerak sesuai
perintah... Aku menurut karena memang aku berharap sesuatu.
"Aku
juga akan membantu."
"Aku
juga."
Saika dan Emu
menunjukkan ekspresi yang sama dengan Mari. Saika dan Emu duduk di kedua sisiku
di atas ranjang, sementara Mari duduk bersimpuh di antara kakiku.
"Aku tidak
bermaksud merepotkanmu, tapi tolong beri tahu kami. Apa yang Kai-kun ingin aku
lakukan?"
"Bukan cuma
Mari-san lho. Ayo, apa yang ingin kamu lakukan?"
"Katakan
saja apa pun, ya? Demi Kai-senpai, aku akan melakukan apa saja."
Kalian
bertiga... mesum sekali ya.
Aku hanya
bisa membatin begitu karena merasa tertinggal sendirian, tapi tetap saja
pemandangan di depanku ini bukan bohong... Pacar-pacarku yang erotis sedang
menanyakan apa yang kuinginkan.
Benar...
ya. Kami kan sudah pacaran... jadi melakukan hal seperti itu bukan hal yang
salah!
"...Baiklah."
Sambil
memantapkan hati, aku pun mengucapkan apa yang kuinginkan sekarang.
"...Itu,
aku ingin dibuat lega. Aku juga... ingin merasa enak!"
Aku
mengatakannya... aku benar-benar mengatakannya! Meski sudah tidak bisa menarik
kata-kataku lagi, Mari dan yang lainnya yang mendengar itu malah makin
meronakan pipi mereka dan mengangguk.
"Iya!
Serahkan pada kami."
"Pakai mulut
atau dada pun serahkan saja pada kami ya."
"Kai-senpai
yang jujur... manis sekali♪"
Begitulah, aku
pun menerima pelayanan dari Mari dan yang lainnya. Setelah itu saat ditanya
bagaimana rasanya, kurasa aku menjawabnya dengan senyum lebar bahwa itu tentu
saja terasa sangat nikmat.
"Lakukan
lagi nanti ya♡"
"Pasti harus
dilakukan lagi♡"
"Janji ya♡"
Aku pun tentu
saja mengangguk meminta dilakukan lagi.
Hari yang bersejarah di mana Mari dan yang lainnya mengenal Partner lebih dalam, dalam berbagai arti, benar-benar menjadi hari yang terbaik.



Post a Comment