NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Te ni Ireta Saimin Appli de Yume no Harem Seikatsu o Okuritai Volume 4 Chapter 5

Chapter 5

Saatnya Menyampaikan Perasaan


Beberapa hari telah berlalu sejak kencanku dengan Saika. Sejak saat itu, aku terus memikirkan perasaanku.

Namun semakin aku memikirkannya, semakin kuat keinginanku untuk terus bersama mereka... Jawaban itulah yang terus memenuhi kepalaku.

"......Muuu."

Dan hari ini pun, sejak bangun pagi buta, aku terus melanjutkan perenungan itu.

"Hei Partner, bagaimana menurutmu?"

Begitu aku bertanya ke arah ponsel, barisan kata kembali muncul di layar.

Bukankah sebaiknya Tuanku melakukan apa pun yang Tuanku inginkan? Karena baik Tuanku maupun mereka, sama-sama menginginkan pilihan tersebut.

"Iya, aku tahu sih, tapi..."

Omong-omong, mengobrol dengan Partner seperti ini sudah menjadi pemandangan yang biasa bagiku.

Pada malam setelah kencan dengan Saika, aku mencoba menyapa Partner. Ternyata dia tidak hanya memberikan balasan, tapi responsnya pun jauh lebih baik dari sebelumnya.

Karena itu, bagi diriku yang sekarang, keberadaan Partner adalah sosok yang paling dekat denganku.

Sebuah hubungan yang terjalin karena ia memiliki kekuatan misterius yang seharusnya tidak ada di dunia ini, dan karena dialah yang berbagi rahasia denganku.

Tuanku ingin bersama mereka. Dan mereka pun ingin bersama Tuanku... Aku bisa merasakannya dengan jelas karena aku menyentuh hati mereka.

"Heh..."

Hanya saja, aku tentu memahami perasaan Tuanku. Bagaimanapun, awal mula hubungan baik ini adalah karena kamu menggunakanku... Kamu menggunakan kekuatan itu saat mereka bahkan belum akrab denganmu, bukan? Kalau salah satu langkah saja, tidak akan aneh jika mereka membencimu, atau bahkan merasa dendam sampai ingin membunuhmu.

"......Benar juga."

Memang hasilnya sekarang berujung baik, tapi pasti ada garis waktu di mana masa depan buruk itu terjadi.

Rantai kebencian yang kulihat di ruang hampa yang gelap itu... pemandangan di mana seorang korban wanita membalas dendam kepada pria yang menggunakan aplikasi hipnotis.

Ada kemungkinan pria itu adalah aku, dan korbannya adalah Matsuri dan yang lainnya.

Tapi itu tidak terjadi... Tuanku kini telah menjadi sandaran hati bagi mereka. Itu sama sekali bukan karena kekuatan hipnosis, melainkan hasil dari usaha Tuanku yang terus menghadapi hati mereka dengan tulus.

Tuanku, tegakkanlah kepalamu. Tuanku menyukai mereka, dan mereka pun menyukai Tuanku. Itu adalah kenyataan yang tidak akan berubah, siapa pun yang mengatakannya.

"Kayaknya... kamu punya bakat jadi konselor ya, Partner?"

Mungkin karena dia adalah Partner-ku, kata-katanya meresap masuk ke dalam sanubariku dengan mudah.

Konselor, ya... Memang benar, jika menggunakan kekuatanku, lawan bicara akan dengan mudah membeberkan isi hatinya. Kita bisa kaya raya siapa pun kliennya, Tuanku.

"Jangan mulai merencanakan hal jahat, Partner."

Khkhkh.

".................."

Partner... dia mulai bisa melontarkan candaan yang terasa sangat manusiawi ya.

Bagaimana kalau sekalian saja Tuanku menceritakan tentangku? Dulu hanya Tuanku yang bisa melihatku, tapi sekarang orang lain pun sudah bisa melihat keberadaanku.

"Apa maksudmu dengan—"

Tepat saat itu, terdengar suara ketukan pintu, tok tok. Jika ketukannya sesopan itu, apakah Ibu atau Ayah...?

Berpikir demikian, aku mempersilakan masuk, namun yang muncul justru sosok yang tak terduga, yaitu Kakak.

"Lho, Kakak?!"

"Kenapa kaget begitu?"

Habisnya, aku tidak menyangka Kakak bakal mengetuk pintu! Meski tidak sampai protes, aku tetap diam sementara Kakak mendekat dan duduk di sampingku.

"Ada apa?"

"Kupikir kalau aku berada di dekatmu seperti ini, perasaanmu mungkin akan sedikit lebih tenang."

"!"

"Kamu itu benar-benar mudah dibaca. Kalau sedang ada masalah langsung kelihatan di wajah, tapi bukannya curhat, kamu malah memikulnya sendiri dan mencoba menyelesaikannya sendirian."

"Tapi, ini kan—"

"Iya, aku tahu. Kamu punya harga diri juga, kan? Makanya mungkin kamu merasa aku ini menyebalkan, tapi bagaimanapun, sebagai kakak, aku tidak bisa mengabaikan kondisi adikku."

Kakak mengatakannya sambil tersenyum, meski terlihat jelas dia sangat mengkhawatirkanku. Mana mungkin aku menganggapnya menyebalkan.

Lagipula, memperlakukan orang yang tulus mengkhawatirkanku dengan kasar adalah hal yang mustahil bagiku. ......Benar juga. Mungkin tidak ada salahnya mencoba berkonsultasi dengan Kakak.

Meskipun aku tidak tahu wajah seperti apa yang akan dia tunjukkan mengingat topiknya sangat sensitif, tapi jika memikirkan pilihan yang akan kuambil, ini adalah salah satu dinding yang harus kulalui.

"Begini, Kak."

"Ehm."

"Aku menganggap Matsuri, Saika, dan Emu sebagai orang yang sangat berharga."

"Kalian memang sangat akrab, ya. Apa kamu sudah menemukan jawaban yang mantap?"

Aku mengangguk kecil, lalu membiarkan kata-kataku meluncur begitu saja mengikuti dorongan hati.

"Aku... ingin bersama mereka bertiga. Aku menyukai mereka... aku tidak ingin kehilangan satu pun dari mereka... aku merasakannya seperti itu... dan sepertinya aku tidak bisa mengambil pilihan lain selain itu."

Jawabannya memang sudah ada, namun aku masih belum bisa melangkah maju.

Itulah sebabnya aku mencurahkan perasaan itu kepada Kakak... Tapi, kira-kira ekspresi seperti apa yang dia tunjukkan sekarang?

Aku tidak akan berbohong atau berpura-pura bahwa ini tidak terjadi. Namun tetap saja, rasa takut akan kata-kata seperti apa yang bakal dilontarkannya membuat hatiku gemetar tak henti.

"......Jadi, itulah jawaban Kai—tidak apa-apa, kan?"

Setelah terdiam sesaat, kata-kata yang keluar dari Kakak adalah... sebuah persetujuan yang tak terduga.

"......Eh?"

Wajar saja kalau aku refleks bertanya balik. Tentu saja aku tahu Kakak akan memikirkan masalah ini dengan serius, tapi aku benar-benar tidak menyangka dia akan menerimanya semudah ini.

"Lho, kenapa kaget sekali? Apa kata-kataku tidak cukup untuk memberimu dorongan?"

"Bukan... bukan begitu... Maksudku, aku bilang aku punya perasaan pada tiga orang sekaligus, lho?"

"Aku mengerti, kok. Makanya aku bilang, tidak apa-apa."

".................."

Kakak tertawa kecil, lalu mengulurkan tangannya ke kepalaku. Setelah menepuknya pelan dengan lembut, dia mengelusnya seolah-olah ingin menenangkan perasaanku.

"Aku tahu. Aku mengatakan ini setelah memahami segalanya tentangmu, dan aku juga paham bahwa ini akan jauh lebih sulit dari yang kamu bayangkan sekarang... Aku pun sadar bahwa kata-kata yang seharusnya diucapkan seorang kakak mungkin bukan seperti ini."




"Kakak..."

"Meski begitu, ya? Kalau kamu sudah mengeluarkan jawaban itu, Kakak ingin mendukungmu. Justru Kakak merasa kalau kamu melakukan itu... bagaimana ya? Rasanya itu bisa jadi pilihan terbaik juga bagi gadis-gadis itu."

Saat mengatakannya, Kakak memasang wajah lembut yang sangat aku sayangi. Tentu saja, aku masih bisa menangkap sedikit keraguan di matanya tentang apakah ini hal yang benar untuk diucapkan... Bagaimanapun, bagi Kakak pun, ini adalah hal yang sulit untuk disikapi.

"Lagipula, masa depan yang bahagia jauh lebih baik daripada masa depan yang buruk, kan? Memang kelihatannya akan banyak kesulitan, tapi rasanya tidak mungkin memisahkan kalian yang sudah begitu akrab dan saling peduli satu sama lain."

"...Haha."

"Kenapa malah ketawa?"

Kakak menggembungkan pipinya, membuatku tertawa kecut sambil meminta maaf berkali-kali.

"Tidak, aku cuma merasa lega saja. Pilihan yang kuambil ini kan bukan sesuatu yang patut dipuji, tapi aku tidak menyangka Kakak bakal bilang begitu."

"Kakak juga berpikir matang-matang, tahu! Kakak sudah memperhatikan kalian, dan ini adalah hasil penilaian Kakak. Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi gadis-gadis itu... sepertinya perasaan mereka jauh lebih 'berat' daripada yang kamu atau Kakak bayangkan."

Berat, ya... Memang sih, aku sempat merasakan aura-aura sedikit yandere dari mereka.

"Nah, itu saja pendapatku."

"...Iya. Terima kasih, Kak."

Jawabanku memang sudah bulat, tapi ini benar-benar menjadi dorongan terakhir. Selain menyampaikan perasaanku, aku juga punya keberanian untuk mengungkapkan hal yang selama ini kusembunyikan, apa pun risikonya.

"Tapi ya ampun, tidak sangka adikku ini bisa laku keras begini... Waktu di kolam renang aku sudah curiga, tapi benar-benar ya, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi."

"Jujur, aku juga berpikiran sama. Aku tidak pernah menyesal telah berinteraksi dengan Matsuri dan yang lainnya, malah aku merasa senang... Maksudku, siapa sih yang tidak senang bisa akrab dengan gadis-gadis cantik dan manis?"

"Kamu tidak perlu malu soal itu. Siapa pun pasti bakal senang kalau ada gadis-gadis cantik seperti mereka di sisinya."

"...Benar juga!"

"Tentu saja!"

Wah, aku benar-benar lega sudah bicara dengan Kakak! Kami tertawa bersama, tapi tiba-tiba semangat Kakak melonjak drastis dan dia mengatakan sesuatu yang mengejutkan.

"Yah, kalau kamu jadi menjalin hubungan baik dengan mereka, itu artinya aku bakal punya tiga adik perempuan yang imut sekaligus!"

Ah... ternyata ada ambisi seperti itu juga. Tapi Kakak benar-benar mendukungku dari lubuk hatinya... Dan di atas segalanya, karena dia juga sangat menyukai Matsuri dan yang lainnya, makanya dia bisa bicara sejauh ini.

"Meskipun begitu, sepertinya kalian harus menyembunyikan ini sampai batas tertentu. Kalau ada apa-apa, datang saja padaku. Aku akan membantu kalian."

"Siap!"

Serius, Kak, terima kasih banyak! Untuk menunjukkan kegembiraan dan rasa terima kasihku, aku memeluk Kakak erat-alih-alih diterima, aku malah dipukul pelan... Kenapa begitu?

"...Hm?"

"Ara, telepon?"

Saat aku sedang mengusap bagian yang dipukul, ponselku bergetar. Aku mengecek siapa yang menelepon dan nama Matsuri muncul di layar... Oh, waktunya benar-benar pas sekali!

"Halo?"

Ah, halo Kai-kun! Selamat siang! Ah, atau jangan-jangan kamu sedang tidur? Kalau iya, selaamat pagi!

Entah kenapa aku malah menyalakan speaker, dan suara Matsuri yang penuh semangat menggema ke seluruh ruangan. Aku dan Kakak saling berpandangan sambil memiringkan kepala, heran kenapa dia begitu bersemangat.

"Semangat banget?"

Ahaha! Maaf, maaf. Sebenarnya aku sedang di tempat karaoke sekarang. Baru saja masuk sih, tapi karena sudah lama tidak ke sini, aku jadi bersemangat.

"Begitu ya."

Sepertinya Matsuri memang sedang di karaoke.

Terus ya? Sebenarnya tadi aku berniat solo karaoke, tapi di tengah jalan aku bertemu Saika dan Emu-chan, jadi kami bergabung.

Kai-kun, dengar tidak?

Kai-senpai, apa suaraku terdengar?

Wah, mereka bertiga berkumpul, ya. Aku membayangkan betapa ramainya suasana di sana, tapi di saat yang sama, membayangkan tiga gadis cantik dengan dada melimpah berada dalam ruangan tertutup di tempat karaoke... itu terdengar sangat seksi.

"............"

Meskipun hanya suara, aku merasa sedikit gugup. Itu karena kejadian dengan Saika kemarin dan karena aku baru saja memikirkan mereka terus-menerus.

Kai-kun?

"Ah, iya, maaf. Tapi hebat juga ya kalian bertiga bisa bertemu secara tidak sengaja begitu?"

Dari pembicaraan tadi sepertinya mereka tidak berencana bertemu, jadi itu benar-benar kebetulan yang luar biasa.

Kan sudah kubilang~?

...Berarti sekarang mereka sedang bersama. Dalam kondisiku yang sudah membulatkan tekad ini, aku ingin bertemu mereka... tapi menanyakan apakah aku boleh ikut ke ruangan yang isinya cuma gadis-gadis itu rasanya sangat memalukan. Mungkin... sebaiknya aku tahan dulu. Tepat saat aku berpikir begitu, Matsuri justru memberikan tawaran yang tak terduga.

Aku meneleponmu bukan tanpa alasan. Kamu mau tidak ke sini sekarang? Ayo habiskan waktu bersama!

"...Hah?"

Meskipun itu yang kuharapkan, tawaran mendadak itu membuatku terpaku. Namun, yang menyadarkanku dari kebekuan memalukan itu adalah Kakak, yang memukul punggungku dengan keras.

"Sana, pergi."

Mendengar bisikan Kakak di telingaku yang tidak terdengar oleh Matsuri, aku mengangguk mantap.

"Oke. Aku juga ingin bertemu kalian... lagipula ada hal yang ingin kusampaikan, jadi aku akan ke sana sekarang."

...! Iya! Kami tunggu ya!

Telepon pun terputus, dan aku mengembuskan napas panjang.

"Fufu~ Kamu bilang ada yang ingin disampaikan, ya? Menutup jalan lari sendiri... jantan juga kamu."

"Yah, hal seperti ini butuh momentum. Kalau hasilnya buruk, tolong hibur aku ya, Kak."

"Itu tidak mungkin. Hasilnya pasti tidak akan buruk."

...Benar-benar ya, aku tidak bisa menang dari Kakak. Kekuatan Kakak untuk membuatku tenang dengan kata-katanya adalah yang terbaik di seluruh dunia. Tentu saja Ibu dan Ayah juga sama, tapi Kakak adalah yang nomor satu.

"Kalau begitu, aku berangkat!"

Sambil menyambar ponsel dan dompet, aku berlari keluar kamar!

"Tunggu, Kai!"

"Apa lagi!"

"Bagus kalau kamu buru-buru, tapi tenang dulu—kamu itu masih pakai piyama, tahu?"

"...Ups, maafkan kekhilafanku."

Aku mengerem mendadak dan segera berganti pakaian. Mengikuti momentum memang penting, tapi sampai lupa keadaan sekitar begini... aku harus lebih hati-hati. Tak lama kemudian aku selesai bersiap, dan kali ini benar-benar berlari keluar.

"Kak, aku pergi dulu!"

"Iya, hati-hati di jalan."

Aku ingin segera bertemu, aku ingin segera menyampaikannya. Perasaan itu tidak berubah bahkan setelah aku keluar rumah. Aku terus berlari menuju tujuan, tidak peduli meski bermandikan keringat. Tapi di tengah jalan... tepat saat gedung karaoke mulai terlihat, aku malah tertimpa masalah merepotkan.

"Ada apa itu...?"

Tak jauh dari pintu masuk tempat karaoke, ada dua orang yang sedang berkelahi hebat.

"Jangan bercanda ya! Beraninya kamu menggoda pacarku!"

"Hah!? Itu salahmu sendiri karena mengabaikannya!"

Hanya dari dua kalimat itu, aku langsung tahu alasan perkelahian mereka. Salah satu pria pipinya bengkak, dan yang satunya lagi mimisan; mereka pasti sudah saling pukul beberapa kali. Orang-orang di sekitar hanya menonton, tidak ada yang berani melerai. Yah, wajar saja sih, siapa juga yang mau ikut campur dalam keributan seperti ini... aku pun sama.

"...Tapi jangan berkelahi sampai berdarah-darah di depan anak-anak, dong."

Sama seperti kami, sekarang sedang masa libur musim panas. Banyak keluarga dengan anak kecil yang berjalan di sekitar sini, dan anak-anak itu tampak ketakutan sambil berpegangan pada orang tua mereka. Kedua pria yang sedang asyik berkelahi itu sepertinya sudah tidak peduli dengan sekitar... Hah, mau bagaimana lagi.

"Partner, pinjamkan aku kekuatanmu."

Sambil mengeluarkan ponsel, aku mendekat perlahan. Meskipun banyak mata tertuju ke arah mereka, biasanya jika kedua orang ini pergi, pandangan orang-orang akan ikut beralih... Aku hanya perlu memerintahkan mereka pergi dari sini.

"...Pasti aktif, kan?"

Aku agak khawatir karena belakangan ini kondisi Partner sedang kurang stabil... tapi aku harus mencobanya. Aku mendekati mereka dan mengaktifkan Partner. Seketika mereka berdua menjadi tenang. Sepertinya kali ini Hypnosis berhasil aktif dengan sempurna sejak awal.

"Berteriaklah yang aneh lalu pergi ke sana. Kalau mau berantem, lakukan di sana saja cuma berdua."

"Baik."

"Ah, iya."

Kedua pria itu kemudian mulai berteriak aneh dan lari menjauh. Orang-orang di sekitar terkejut dengan keheningan yang tiba-tiba, tapi karena perhatian mereka tertuju pada para pria yang lari itu, tidak ada satu pun mata yang tertuju padaku.

"...Kali ini berhasil aktif tanpa masalah."

"Apanya yang berhasil?"

"Apanya lagi kalau bukan hipnosis...?"

Tunggu, barusan aku menjawab suara siapa...? Dengan perasaan waswas, aku menoleh ke arah suara itu... dan ternyata di dekatku ada Matsuri yang menatapku dengan wajah agak terkejut.

"Ma-Matsuri!?"

Ini tepat di depan gedung karaoke. Mungkin dia keluar karena mendengar keributan, tapi karena terlalu mendadak, aku sampai hampir menjatuhkan ponselku saking kagetnya.

"Ah!"

Aku mencoba menangkap ponsel yang meluncur dari tanganku, tapi malah terpental dan jatuh tepat ke tangan Matsuri... dan kemudian.

"Aplikasi... hipnosis?"

Karena Partner masih aktif, wajar saja dia menyadarinya saat melihat layar. Tadinya aku memang berniat menceritakan soal aplikasi hipnotis ini atas saran Partner, tapi ketahuan dengan cara yang tidak terduga begini membuatku panik.

(Ternyata benar, sekarang orang lain pun bisa melihatnya...)

Itu sesuai dengan kata-kata Partner. Hanya saja bagi Matsuri, meskipun dia melihat layar aplikasi hipnotis, seharusnya dia hanya menganggapnya sebagai aplikasi mainan biasa... Namun tepat saat aku berpikir begitu, dia berkata:

"Orang-orang tadi... tiba-tiba berubah dan langsung pergi begitu saja, kan? Apa aplikasi ini... asli?"

"...Emm."

Normalnya, hal seperti ini tidak mungkin ada di dunia ini. Tapi meskipun dia baru saja melihat kejadian yang menentukan, mungkin justru karena Matsuri selalu memperhatikanku, dia merasa bahwa ini mungkin nyata.

"...Asli. Itu benar-benar asli."

"...Begitu ya."

"Aku ingin menyampaikan itu juga... ada hal yang ingin kusampaikan kepadamu."

Mendengar itu, Matsuri mengangguk mantap dan mengembalikan ponselku.

"Mereka berdua sudah menunggu."

"Iya."

Aku menggenggam balik tangan yang diulurkan Matsuri. Saat ditarik masuk ke dalam gedung, aku merasakan kepercayaan dari punggung Matsuri—sebuah kepercayaan bahwa dia akan menerima apa pun yang terjadi.

"Terima kasih, Matsuri."

"Ahaha, padahal aku belum bicara apa-apa, lho."

Tetap saja, terima kasih banyak, Matsuri.

"Silakan masuk~ Aku bawa Kai-kun ke sini~"

"Ah, akhirnya datang juga."

Di dalam ruangan yang sejuk, Saika dan Emu menyambutku dengan senyuman. Matsuri menunjuk kursi di antara mereka berdua, tapi karena aku ingin membicarakan hal penting, aku menolaknya dan memilih duduk di sisi berlawanan agar bisa berhadapan dengan mereka semua.

"...Eh, Matsuri-san?"

"Ah, iya. Aku duduk di sini saja."

Padahal aku sudah duduk di seberang, tapi Matsuri malah ikut duduk di sampingku. Yah, begini juga bisa mengobrol sih. Aku mulai dengan berterima kasih karena sudah diundang, lalu meminta maaf karena sudah mengganggu waktu karaoke mereka.

"Tidak apa-apa. Kami semua memang menunggu kata-kata dari Kai-kun."

"Iya."

"Benar sekali."

Wah, mereka benar-benar baik ya, aku hanya bisa tertawa kecut. Aku meminum jus yang sudah mereka siapkan untukku, membasahi tenggorokan yang kering untuk menenangkan diri.

"...Fuuuh, oke!"

Aku menepuk kedua pipiku dengan keras untuk membulatkan tekad. Matsuri di sampingku, serta Emu dan Saika di depanku menatapku dengan serius. Suasananya bukan suasana di mana aku bisa bercanda atau berbohong. Tapi ini bukan suasana yang canggung, melainkan suasana yang memberiku keberanian untuk menghadapi mereka dan mendorongku dari belakang.

"Anu, sekali lagi terima kasih sudah mengundangku hari ini. Aku sangat senang, dan aku benar-benar menantikan hari ini."

Dan aku tahu mereka merasakan hal yang sama. Aku ingin segera menyampaikan perasaan ini kepada mereka... tapi sebelum itu, ada hal yang harus kubicarakan—tentu saja soal Partner.

"Tapi sebelum itu, bolehkah aku bicara satu hal? Ini hal yang sangat penting, dan ini berkaitan dengan kalian juga."

"Berkaitan dengan kami...?"

"Senpai...?"

Saika dan Emu memiringkan kepala keheranan, sementara hanya Matsuri yang tidak menunjukkan reaksi dan menunggu kata-kataku.

"............"

Aku ingin jujur... aku mulai menggunakan Partner karena ingin menjadi orang bejat, dan pada akhirnya aku jadi akrab dengan mereka berkat kekuatan Partner. Bisa dibilang, aku telah berbuat curang. Sekarang aku sudah memantapkan hati, tapi bagaimanapun, aku ingin mereka memberikan penilaian setelah aku menceritakan apa yang telah kulakukan dengan Partner.

"Tadi aku sudah bicara sedikit pada Matsuri... sebenarnya, aku punya kekuatan yang agak spesial."

"Kekuatan spesial?"

"Emm... Anda tidak sedang bercanda, kan?"

Aku mengangguk mantap, lalu meletakkan ponselku di atas meja. Saat mereka semua mendekat untuk melihat, aku mengaktifkan Partner dan memberitahu mereka bahwa inilah kekuatan itu.

"Mungkin ini sulit dipercaya, tapi aplikasi hipnosis ini asli. Ini adalah alat yang bisa menentukan target hipnotis dan mengubahnya menjadi sosok yang hanya akan menuruti kata-kataku."

"Aplikasi... hipnosis."

"...Terdengar sangat indah."

...Emu-san? Abaikan dulu sifat masokis Emu yang muncul di saat seperti ini, Matsuri yang sejak tadi tidak terlihat terkejut akhirnya membuka suara.

"Sebenarnya tadi di luar ada dua pria yang berkelahi. Lalu saat Kai-kun mendekat, tiba-tiba mereka lari begitu saja seperti boneka yang kehilangan kehendaknya sendiri."

"Itu..."

"...Apa itu benar-benar asli?"

Pertanyaan apakah itu asli ditujukan kepadaku. Aku mengangguk mantap, dan tepat saat aku berpikir untuk memberikan demonstrasi, sebuah kesempatan muncul. Pintu diketuk, dan seorang pelayan datang membawakan kentang goreng.

"Permisi. Ini kentang goreng yang tadi dipesan!"

"Ah, iya benar... terima kasih!"

Kentang goreng yang baru matang dan terlihat lezat... Ah, aku baru ingat kalau aku belum makan apa pun sejak pagi. Tapi ini adalah kesempatan bagus. Pertama-tama aku meminta maaf dalam hati kepada pelayan itu, lalu aku menggunakan kekuatan Partner.

"...?"

"Mbak pelayan...?"

"...Inikah kekuatan hipnosis itu?"

Bukti yang lebih dari cukup ini membuat mereka semua terkejut. Pelayan yang tampak bengong itu telah berubah menjadi boneka yang hanya menuruti kata-kataku, tapi tentu saja aku tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh.

"Mbak pelayan, tadi pagi makan apa?"

"...Membakar roti tawar, ditaruh telur mata sapi di atasnya, lalu kumakan dengan lahap."

"Tolong katakan 'Kieeee' sambil berpose yang menurutmu paling keren."

"KIEEEEEEEEEEEEEEEE!!"

Oke, cukup sekian. Saat aku melepaskan kekuatan Partner, cahaya kembali ke mata pelayan itu.

"Eh... barusan aku... ah, permisi!"

Pelayan itu pergi dan keheningan kembali melanda. Matsuri dan yang lainnya menatap pintu untuk beberapa saat, lalu perlahan mengalihkan pandangan kembali padaku.

"...?"

Hanya saja, satu hal yang tak terduga adalah mereka bertiga tidak terlihat terlalu terkejut.

"Ternyata aplikasi hipnosis itu benar-benar ada ya."

"...Iya. Hebat juga."

"Hipnosis... luar biasa ya."

"...Eh."

Aku malah yang terpaku melihat betapa mudahnya mereka menerima hal itu, tapi aku melanjutkan pembicaraan karena masih ada hal yang harus kusampaikan.

"Dengan ini kurasa kalian sudah paham kekuatan Partner... maksudku aplikasi hipnotis ini. Dan pembicaraan yang jauh lebih penting dimulai dari sini. Aku sudah menggunakan aplikasi ini untuk melakukan banyak hal."

"Banyak... hal?"

"Iya."

Nah... dimulai dari sini. Jangan ada yang disembunyikan, jangan setengah-setengah... aku akan menghadapi gadis-gadis yang bilang menyukaiku ini dengan kata-kataku sendiri.

"Aku—"

Dari situ, aku menceritakan segalanya sejak aku mendapatkan Partner.

Tentang bagaimana aku mendekati Matsuri dan yang lainnya dengan tujuan mesum, tentang bagaimana aku mengetahui mereka sedang dalam kesulitan lalu menolongnya... dan bagaimana aku seolah menjadikan pertolongan itu sebagai alasan untuk memanggil mereka secara rutin dan berbuat sesuka hati, semuanya aku akui.

Bukan hanya hal-hal mesum yang kulakukan pada Matsuri dan yang lainnya, tapi juga bagaimana aku menyingkirkan orang-orang jahat yang mendekati mereka, dan bagaimana aku menghipnotis banyak orang untuk menguji kekuatan Partner... semuanya kusampaikan kepada mereka.

"...Begitulah ceritanya."

Setelah menceritakan segalanya, aku tidak sanggup mengangkat wajahku.

Padahal awalnya aku menatap mereka saat bicara, tapi di tengah cerita aku mulai menunduk... Mungkin karena aku takut melihat reaksi mereka setelah mendengar cerita ini.

"Hei, Kai-kun."

"...Iya."

Mendengar panggilan Matsuri, akhirnya aku mengangkat wajahku.

Aku penasaran dengan reaksi Saika dan Emu, tapi pandangan pertamaku tertuju pada Matsuri... Dia menatapku dengan tatapan yang sangat serius.

Kira-kira... kata-kata apa yang akan dia ucapkan kepadaku—

"Setelah melakukan hal mesum padaku, alasan kenapa kamu terpikir untuk melakukannya pada Saika dan Emu juga, apa karena daya tarikku kurang?"

"...Hah?"

"Jawab dengan jujur. Apa karena aku tidak punya daya tarik makanya kamu melakukan hal yang sama pada Saika dan Emu?"

"Bukan... itu..."

Aku kelabakan menghadapi rentetan pertanyaan dari Matsuri. Meski dia mengatakannya dengan tenang, aku tidak melihat tanda-tanda dia sedang marah.

Tetap saja, ditanya sambil didekati perlahan seperti ini membuatku merasa sangat tidak enak.

"Aku tidak bisa bilang Matsuri-san tidak menarik, tapi apa mungkin kamu tidak puas hanya dengan Matsuri-san makanya kamu datang kepadaku dan Emu-chan?"

"Benar juga... tapi di sisi lain aku malah senang sih♪"

"Emm... itu benar-benar bukan karena kalian tidak menarik atau apa..."

Mana mungkin Matsuri tidak menarik.

Lagipula, aku memang menggunakan Partner untuk mendekati mereka, tapi itu karena aku memang ingin merasakan "rasa" dari berbagai macam gadis!

Meskipun itu jawaban yang paling buruk, tapi intinya bukan karena aku tidak merasa tertarik pada Matsuri, oke!?

"Kai-kun."

"I-iya!"

Matsuri yang duduk di sampingku, entah sejak kapan sudah berada di jarak yang cukup dekat untuk berciuman.

Biasanya aroma manis dan lembut yang tercium darinya terasa menenangkan, tapi entah kenapa saat ini aroma itu malah membuat tengkukku terasa dingin... Matsuri mendorong tubuhku, dan aku pun terhempas ke atas sofa.

"Kai-kun... kalau seandainya kamu hanya menyentuhku saja dan langsung melakukannya sampai tuntas, apa mungkin kamu tidak akan menyentuh Saika dan Emu-chan?"

"Melakukannya sampai tuntas itu maksudnya..."

"Kamu tahu kan tanpa perlu kujelaskan? Kalau begitu, karena Kai-kun orangnya baik dan punya rasa tanggung jawab tinggi, mungkin kamu akan terus menjadi milikku seorang, kan?"

"............"

Itu... memang mungkin saja garis waktu seperti itu ada.

Tapi sekarang aku tidak bisa membayangkan dunia di mana aku tidak mengenal Saika atau Emu, jadi kurasa kondisi yang sekarang jauh lebih baik... kan?




"Itu tidak boleh. Sebaliknya, kamu harusnya tergila-gila padaku, bukan pada Matsuri-san."

"Kalau soal siapa yang paling mencintaimu, aku pun tidak akan kalah! Kai-senpai, kalau harus memilih, pasti aku si adik kelas yang imut ini, kan!?"

Aku didorong hingga telentang oleh Matsuri, sementara Saika dan Emu menatapku dari atas. Aku mulai merasa sedikit tidak sanggup mengikuti situasi ini, namun perdebatan mereka justru semakin memanas.

"Wanita kedua dan ketiga harap diam ya. Kai-kun itu milikku nomor satu."

"Aku tidak bisa diam saja. Matsuri-san sendiri yang salah karena tidak bergerak meski jadi yang pertama."

"Bukankah masalahnya ada pada kalian para senior yang tidak bisa memuaskannya saat ini?"

"Hah?"

"Ah?"

"Apa maksudnya?"

Percikan api seolah menyambar-nyambar di antara Matsuri dan yang lainnya. Aneh... harusnya aku yang berada dalam situasi untuk disalahkan, tapi kenapa malah mereka yang bertengkar begini!?

Tidak, lagipula siapa yang mengundang situasi ini... aku sendiri, kan! Sekali lagi kukatakan, sudah sewajarnya aku disalahkan, tapi aku benar-benar tidak ingin mereka bertengkar dan hubungan mereka menjadi buruk... jadi aku harus melakukan sesuatu!

"Tunggu dulu, semuanya!"

Aku mendorong Matsuri perlahan lalu bangkit berdiri. Dan... entah apa yang merasuki pikiranku, aku malah melontarkan kalimat seperti ini.

"Jangan bertengkar demi aku!"

...Yah, kepalaku langsung mendingin seketika. Maksudku adalah ingin mencairkan suasana demi memperbaiki keadaan ini... tapi hasilnya malah begini. Matsuri dan yang lainnya menatapku dalam diam, dan tatapan mereka terasa sangat menakutkan.

Rasanya aku ingin masuk ke dalam lubang saja... atau malah, aku merasa sangat menyesal sampai ingin seseorang membunuhku saja sekarang.

"Demi aku."

"Jangan."

"Bertengkar... ya?"

"Ugh..."

Hentikaaaannnnnn! Aku tahu ini sama sekali bukan situasi untuk bercanda, tapi bisakah kalian tidak mengulang kalimat itu bersama-sama!?

"Kai-kun, sebaiknya kamu duduk dulu di sana."

"Baik."

Aku tidak bisa membantah aura yang tidak menerima penolakan itu. Mereka berdiri di hadapanku yang sedang duduk sendirian, menatapku dari atas tanpa senyuman sedikit pun.

"Semua ini jadi begini karena kesalahan Kai-kun, kan?"

"...Benar sekali."

"Ehm, bagus kalau kamu paham. Ini salah Kai-kun."

"Iyaaa..."

"Kai-senpai yang paling bersalah dalam semua ini, tahu?"

"...Itu benar."

Di saat itulah, akhirnya Matsuri tersenyum kecil. Ekspresinya masih membawa kelembutan yang sama seperti biasanya, namun senyum itu juga tampak seperti seseorang yang baru saja memikirkan sebuah rencana jahat.

"Ini semua adalah benih yang Kai-kun tanam sendiri. Jadi, Kai-kun harus bertanggung jawab, kan?"

"...Ya, aku bersedia melakukan apa saja. Jadi katakanlah... apa yang harus aku lakukan untuk kalian?"

Aku menatap mata mereka dalam-dalam, menunggu saat di mana hukuman akan dijatuhkan. Perkembangannya menjadi sangat berbeda dari rencana awal, tapi ini adalah sesuatu yang harus kuterima... Ayo, katakan apa saja!

"Jadilah pacar kami."

"...Eh?"

"Aduh, apa tidak kedengaran? Jadilah pacar kami."

Menjadi pacar... Matsuri benar-benar mengatakan hal itu. Meskipun aku sempat terpaku sesaat, bukan berarti aku tidak memahami kata-kata itu. Menjadi pacar... itu artinya, menjadi kekasih.

"Benar. Kai-kun harus menjadi kekasih kami."

"Dengan begitu semuanya akan berakhir damai, kan, Kai-senpai?"

Mengikuti Matsuri, Saika dan Emu pun mengatakan hal yang sama. Meskipun aku terkejut dengan hal yang tiba-tiba ini, aku sama sekali tidak berniat lari, namun mereka mengerumuniku seolah menegaskan tidak akan membiarkanku lolos.

Matsuri dan Saika duduk mengapitku di sisi kiri dan kanan, sementara Emu berjongkok tepat di depanku. Tak perlu ditanya lagi bagaimana rasanya kehangatan dan kelembutan di kedua lenganku, tapi sosok Emu yang mendongak menatapku dari celah kakiku yang terbuka pun membuat jantungku berdebar.

"Jadi Kai-kun, apa jawabanmu?"

"Cepat beritahu kami."

"Bagaimana, Senpai?"

Ditanya begitu, mulutku bergerak secara alami. Meski terdengar menyedihkan, suasana di tempat ini mendorongku hingga aku bisa langsung mengutarakannya saat dipicu.

"Aku... ingin terus bersama kalian semua mulai sekarang. Aku ingin menjadi pacar kalian."

Bohong jika kubilang aku tidak terbawa suasana... tapi aku memiliki keyakinan bahwa inilah kata-kata yang sedang dituntut dariku saat ini. Mendengar kata-kataku yang ingin menjadi pacar mereka, mereka pun—

"Sip! Sudah diputuskan ya♪"

"...Berhasil♪"

"Fufu, keputusan sah♪"

Mereka memberikan senyuman lebar yang sangat mempesona sampai aku terpana melihatnya. Aku merasakan kebahagiaan sekaligus rasa lega melihat senyum itu, namun di sisi lain aku sedikit berpikir apakah ini benar-benar tidak apa-apa.

Karena aku... berniat menyampaikan perasaanku secara jujur, termasuk soal Partner, lalu meminta penilaian mereka. Aku datang ke sini agar tidak melakukan hal yang setengah-setengah dan membuat pilihan tanpa penyesalan sama sekali... tapi yah, mungkin ini yang namanya berakhir bahagia untuk semua pihak?

"Kai-kun... kamu merasa agak tertinggal ya?"

"...I-iya."

Benar sekali tebakanmu... Dibandingkan denganku yang masih belum lepas dari rasa bingung, Matsuri dan yang lainnya memasang senyum yang benar-benar bahagia... dan aku yakin alasannya adalah sesuatu yang sangat membahagiakan bagiku.

"Kai-kun, apa kamu menyukai kami?"

"Tentu saja aku sangat menyukai kalian. Lagipula, aku datang ke sini hari ini salah satunya karena ingin menyampaikan hal itu."

Bisa dibilang, hal ini jauh lebih penting daripada soal Partner.

"Aku juga suka."

"Aku juga."

"Aku juga, lho."

Dari kanan, kiri, dan depan, mereka menyatakan cinta secara bersamaan. Meski sudah sering mendengarnya, tetap saja ada kebahagiaan luar biasa saat perasaan itu disampaikan oleh mereka yang sedang dalam kesadaran penuh. Padahal aku sedang bingung dengan situasi ini, tapi aku malah tersenyum sendiri karena merasa senang dicintai... aku benar-benar pria yang payah.

"Pertama, aku ingin bilang agar tidak salah paham, kami sama sekali tidak sedang bertengkar, tahu? Itu tadi cuma improvisasi, atau bisa dibilang kami sedang menggodamu."

"Aku benar-benar sempat berpikir harus melakukan sesuatu, lho."

"Maaf, maaf♪ Tapi semua yang kami katakan itu sungguhan, lho? Baik aku, Saika, maupun Emu-chan sama sekali tidak punya niat untuk lepas dari Kai-kun. Makanya aku pikir, kami harus membuatmu menerima kami dengan cara apa pun♪"

Mendengar perkataan Matsuri, Saika dan Emu mengangguk mantap. Aku merasa lega karena ternyata tidak ada yang perlu dikhawatirkan sejak awal, namun tetap saja, masa lalu di mana aku menggunakan hipnotis pada mereka untuk melakukan berbagai hal tidak akan hilang. Aku berniat membicarakan hal itu sekali lagi, tapi sepertinya itu terbaca dari ekspresiku.

"Lagipula, bukankah Kai-kun terlalu memikirkannya?"

"Eh?"

Kekhawatiran yang kupendam langsung ditepis begitu saja. Seolah ingin bilang 'kenapa memikirkan hal seperti itu, kami saja tidak masalah', mereka benar-benar tampak tidak peduli sedikit pun.

"Selain kepada kami, kamu tidak melakukan hal-hal mesum, kan?"

"Itu sih... tentu saja tidak."

Aku tidak melakukan hal mesum selain kepada Matsuri dan yang lainnya. Aku berani bersumpah itu adalah kebenaran, tapi tetap saja, aku sudah melakukan banyak hal pada mereka saat kami belum akrab... menyentuh dada, menempelkan wajah, menyuruh mereka menggandeng lengan atau memelukku seperti kekasih, benar-benar banyak hal yang kulakukan.

"Bahkan setelah mendengar itu, perasaanku pada Kai-kun tidak akan berubah, tahu?"

"Matsuri..."

"Aplikasi hipnosis... tadi namanya Partner-san ya? Aku terselamatkan berkat kekuatan Partner-san... tentu saja itu juga berkat Kai-kun. Karena sekarang kamu adalah orang yang sangat kucintai, aku senang apa pun yang Kai-kun lakukan padaku... atau malah, aku ingin kamu melakukan lebih?"

Sambil berkata begitu, Matsuri mendekatkan wajahnya. Senyuman yang tampak seperti sedang menguji logikaku itu mungkin terasa begitu karena aroma wangi Matsuri yang tercium, dan itu mengingatkanku pada hari saat aku menginap di rumahnya.

Kejadian di kamar mandi, sebelum tidur... yang paling terngiang di benakku adalah dada! Tekstur kenyal yang menunjukkan gairah Matsuri pun teringat kembali dengan sangat jelas di saat ini.

"Sekarang aku menyukai Kai-kun, lho? Terlepas dari bagaimana awalnya, sekarang setelah aku mencintaimu, aku tidak keberatan apa pun yang kamu lakukan... malah sebaliknya!"

"!!"

"Fakta bahwa kamu mengincarku saat kita belum akrab itu artinya aku terlihat sangat menarik di mata Kai-kun, kan? Jadi bagiku ini sama sekali bukan hal buruk, justru rasanya luar biasa!"

Dengan senyum lebar, Matsuri mengatakan itu. ...Begitu ya, ternyata bisa diinterpretasikan seperti itu juga... Tapi, tetap saja aku merasa senang dicintai secara jujur begini, dan lebih dari itu, aku merasa lega karena ternyata semua ini berakhir baik. Tentu saja, bukan hanya Matsuri yang bicara begitu.

"Aku juga menyukai Kai-kun... karena sekarang aku hanya bisa memikirkanmu. Kamu telah mengubah takdirku... jadi apa pun yang kamu lakukan padaku, aku malah merasa senang karena itu artinya aku dibutuhkan olehmu."

"Saika..."

"Karena Kai-kun tertarik pada tubuhku makanya kita bisa seperti sekarang. Jadi aku merasa ingin memuji tubuhku sendiri karena sudah tumbuh dengan baik sejauh ini."

Setelah Matsuri, Saika pun memberikan kata-kata yang membahagiakan. Kalau diingat-ingat, dulu sekali... tepat setelah aku menghipnotis Saika, aku pernah bilang agar dia hidup demi aku. Karena aku membutuhkannya... jika dia tidak menemukan makna dalam hidupnya, maukah dia hidup untukku.

"Kai-senpai."

"Emu..."

"Aku pun sama, lho? Tidak seperti Matsuri-senpai atau Saika-senpai, karena aku beda angkatan, kemungkinan kita untuk saling mengenal itu sebenarnya kecil. Namun berkat Kai-senpai yang tertarik padaku, kita semua bisa menjadi akrab begini."

"...Benar juga."

Yah, meski aku sempat sangat terkejut saat mengetahui sifat asli Emu...

"Aku tidak menderita sampai hatiku menjerit seperti para senior. Namun fakta bahwa aku ditolong oleh Kai-senpai itu sama, dan sejak kita menghabiskan waktu bersama... fufu, kalau diingat kembali interaksi kita, wajar saja kan kalau aku jadi terpikat dan menyukaimu?"

"Be-begitu ya..."

"Benar, lho. Pertemuan kita memang berkat kekuatan Partner-san, tapi Kai-senpai yang biasanya pun sudah cukup menarik menurutku. Itulah alasan kenapa aku menyukai Kai-senpai."

Apakah sekarang aku... sedang berada di surga? Perasaan bahagia yang lebih dari biasanya ini menyelimutiku karena fakta bahwa meski aku sudah mengungkap segalanya, perasaan mereka padaku tidak berubah... fakta bahwa mereka mengatakannya bukan dalam kondisi terhipnotis melainkan dengan kesadaran penuh, membuatku sangat bahagia.

"...Haha, rasanya seperti mimpi... ternyata dibilang suka itu bisa sebahagia ini ya."

"Ah, Kai-kun menangis!"

"Kai-senpai! Apa perlu sapu tangan!?"

Tentu saja aku menangis... karena aku begitu bahagia dan terharu. Aku berniat menerima sapu tangan dari Emu, namun Saika berdiri di hadapanku sambil tersenyum manis.

"Saika?"

Apa yang akan dia... Tepat saat aku berpikir begitu, Saika memeluk kepalaku.

Tentu saja, tindakannya itu berarti dia mengajakku masuk ke dalam dekapan payudara besar berukuran cup H miliknya seperti biasa.

"Matsuri-san, Emu-chan, apa sih yang kalian lihat dari Kai-kun selama ini? Kai-kun itu selalu senang kalau diperlakukan begini, tahu."

Bahkan dia sampai mengatakan hal seperti itu. Benar, jika diperlakukan begini, rasa sedih dan perih pun langsung sirna.

Malah aku ini adalah pengagum payudara yang bahkan berpikir ingin tinggal di dalam payudara wanita selamanya. Ah, tenangnya... dada cup H Saika benar-benar yang terbaik!

"Akh...! Benar juga... karena tiba-tiba melihat air matanya, aku jadi keduluan oleh Saika!"

"Memang bersikap tenang itu yang utama ya... berikutnya aku akan menyembuhkan Kai-senpai dengan dadaku!"

Ekspresi seperti apa yang ditunjukkan Matsuri dan Emu saat menggumamkan itu? Aku ingin menjauhkan wajahku untuk melihat mereka, tapi Saika berbisik 'tidak boleh' di telingaku dan semakin mempererat pelukannya.

"Kai-kun harus lebih bermanja pada dadaku."

"...Baik."

"Uhn... ternyata melakukan ini juga membuatku merasa nyaman♪"

Menjawab di dalam gundukan daging lembut itu saja sudah sulit, tapi dia bilang dia suka sensasi saat aku bicara dalam kondisi begini?

Itu terlalu mesum!

Apa itu?

Apa sensasi getaran saat aku bicara itu yang membuatnya merasa nyaman!?

"Tunggu, Saika! Aku juga ingin menyembuhkan Kai-kun!"

"Tolong gantian, Saika-senpai!"

"...Muu, mau bagaimana lagi."

"Oyo?"

Saika melepaskanku secara perlahan, dan posisinya langsung digantikan oleh dada besar Matsuri.

Dada Saika memang terasa sangat nyaman, tapi karena Matsuri adalah orang yang pertama kali akrab denganku, ada rasa aman seolah aku baru saja pulang ke kampung halaman.

"...Oke, kalau begitu terakhir kuserahkan pada Emu-chan ya."

"Serahkan padaku! Kalau begitu Kai-senpai, kemarilah."

Meski dia bilang 'kemarilah', tapi sebelum aku menjawab pun aku sudah didekap oleh Emu. Payudara indah yang sedikit lebih kecil dibanding Matsuri dan Saika juga terasa nyaman... yah, meski dibilang lebih kecil, ukurannya tetap termasuk besar, jadi tetap bisa membenamkan wajahku dengan sempurna.

"...Fuu, aku puas♪"

Aku juga puas! Setelah Emu menjauh, aku kembali berhadapan dengan Matsuri dan yang lainnya.

"Anu... biarkan aku mengatakannya sekali lagi. Aku menyukai kalian semua—mulai sekarang... aku ingin kita terus bersama selamanya! Bahkan setelah lulus SMA, setelah jadi orang dewasa pun, tetaplah bersamaku selamanya!"

Mendengar kata-kataku, mereka mengangguk dengan mantap. Berhasil... aku berhasil! Aku merasa puas... karena inilah momen yang sangat kuharapkan.

Namun sepertinya, ada satu hal... hal yang sudah jelas namun sempat kulupakan.

Mereka memang bilang menyukaiku, namun perasaan itu ternyata jauh lebih berat dari yang kubayangkan... dan mereka ternyata sangat bergantung pada keberadaanku.

"Hei Kai-kun."

"Iya?"

"Baru sekarang aku bisa bilang, tapi aku ingin menjadi seperti ini dengan cara apa pun, lho. Karena aku... kami sangat menyukai Kai-kun. Bahkan jika harus membuat fakta yang tak terbantahkan secara paksa sekali pun?"

"...Maksudnya?"

Entah kenapa... suasana tiba-tiba menjadi agak mencekam? Matsuri bilang dia ingin hubungan ini terwujud dengan cara apa pun, dan sepertinya Saika serta Emu pun berpikiran sama.

"Kai-kun hanya punya pilihan untuk mengangguk... kami juga sudah memikirkan itu."

"Malah kami sempat mengobrol untuk membuat Kai-senpai semakin tergila-gila pada kami... sampai kamu merasa tidak tenang kalau kami tidak mendekatimu♪"

Mendengar kata-kata itu, tengkukku sedikit merinding. Mereka tidak memberitahuku secara spesifik apa yang akan mereka lakukan, tapi intinya mereka berniat terus menyerangku sampai aku memberikan jawaban yang mereka inginkan... mereka menceritakan itu sambil tertawa.

 ...Jadi intinya, aku memang tidak punya masa depan lain selain menerima mereka?

"...Apakah perempuan itu... sebenarnya sangat menakutkan?"

Mendengar gumamanku, Matsuri dan yang lainnya memasang senyum yang sangat cantik lalu mendekatiku, bukan hanya menempel erat, tapi mereka juga menghujaniku dengan ciuman yang sangat dalam.

◆◇◆

"Lho, Kai?"

Saat sampai di depan rumah, aku berpapasan dengan Kakak yang baru pulang belanja. Kakak mendekat perlahan sambil menatapku dengan cemas.

"...K-Kakak."

"Jadi bagaimana hasilnya... ayo cepat beritahu!"

Melihat Kakak yang sangat penasaran, aku memberikan jempol terlebih dahulu. Hanya dengan itu, Kakak mengerti apa yang telah terjadi dan tampak ikut bahagia seolah itu adalah urusannya sendiri. Tapi...

"Ke depannya akan sulit, lho. Berjuanglah."

"Iya... tapi begini Kak."

"Ada apa?"

"...Seandainya aku salah memilih, sepertinya aku akan dikurung oleh Matsuri dan yang lainnya, lalu diperas habis-habisan... dan pada akhirnya aku akan dibuat sampai tidak bisa hidup tanpa mereka."

"...Eh?"

Aku bisa merasakan kebingungan Kakak, tapi kata-kataku tidak berhenti.

"Padahal aku merasa sebagai pihak yang berjuang menyampaikan perasaan setulus hati agar mereka mau mengangguk, tapi ternyata sejak awal akulah pihak yang dipaksa untuk mengangguk."

"...Eh?"

Bagiku, hari ini adalah hari yang terbaik. Itu sudah pasti... tapi intinya, aku tidak menyangka akan merasa sangat lega karena perasaanku tersampaikan dengan selamat... benar-benar syukurlah.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close