NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Te ni Ireta Saimin Appli de Yume no Harem Seikatsu o Okuritai Volume 2 Chapter 1

Chapter 1

Awal yang Dimulai Lagi, Bro!


Aplikasi hipnotis──aku telah mendapatkan kekuatan untuk mengendalikan orang dan melakukan apa pun sesuka hatiku.

"Kukuku…… kukuku!"

Sambil menatap layar ponsel, aku yang tertawa mencurigakan ini pasti terlihat sangat menyeramkan.

Tapi karena ini adalah kamarku sendiri, tidak akan ada yang melihatku, jadi aku tidak perlu takut dianggap menjijikkan oleh siapa pun!

"Hei, Sobat──ini baru permulaan. Surga merah muda kita! Kehidupan hipnotis penuh kesenangan duniawi ini baru dimulai!"

Dengan menggunakan aplikasi hipnotis ini, aku akan memperlakukan gadis-gadis sesuka hatiku lebih dari yang sekarang!

"…… Fuh."

Lihatlah wajahku yang terpantul tipis di kaca jendela. Bukankah ini wajah penuh percaya diri yang sangat yakin bahwa dengan adanya si Sobat, aku bisa melakukan apa saja…… yah, menurutku sendiri, memiliki kepercayaan diri itu adalah hal yang bagus!

"…… Meski begitu."

Seolah-olah kegembiraanku mendingin dalam sekejap, aku menatap ponselku dengan tenang. Sobat…… saat membuka aplikasi hipnotis, yang menarik perhatianku adalah layar yang mirip bagan hubungan yang belakangan ini sangat membuatku penasaran. Berpusat pada namaku──Masaki Kai, benang merah muda dan benang hitam bergerak meliuk-liuk.

"…… Seperti biasa, isinya campuran antara hal mesum dan menyeramkan."

Liukan merah muda itu entah kenapa mirip tentakel dan terasa mesum, sedangkan liukan hitam terasa seperti kegelapan yang muncul di anime atau manga…… pada akhirnya, aku masih belum tahu apa sebenarnya benda ini.

"…… Fuhett."

Tapi…… begitu melihat sesuatu yang mengingatkan pada hal-hal mesum, yang terlintas di benakku adalah sosok dua orang gadis…… dua teman sekelas yang seksi, yang aku kenal setelah mendapatkan si Sobat, dan yang sudah aku hipnotis serta kuperlakukan sesuka hatiku!

"Kalau saja hari ini bukan hari libur, aku pasti sudah menyentuh mereka sesuka hati di sekolah…… tapi, kenyataan bahwa kami jadi akrab secara normal mulai memicu rasa bersalahku."

Ya…… aku sendiri merasa bingung kenapa bisa jadi begitu, tapi entah bagaimana aku bisa berteman dengan mereka, padahal aku sudah melakukan hal-hal buruk seperti melihat mereka dalam balutan pakaian dalam atau membenamkan wajahku ke dada mereka menggunakan hipnotis.

Aisaka Mari, seorang gadis gal yang seolah-olah merupakan perwujudan dari "Gal yang baik pada Otaku", dan Wazuma Saika, yang ternyata bukan seorang penyendiri biasa melainkan menyembunyikan kecantikan yang luar biasa.

“Kai-kun!”

“Kai-kun.”

Begitu aku memejamkan mata, sosok mereka dalam kondisi terhipnotis maupun tidak langsung muncul di kepala. Keduanya sangat cantik dan, lebih dari itu, memiliki bentuk tubuh luar biasa yang sulit dipercaya sebagai siswa SMA. Aku, yang bisa memperlakukan tubuh mereka sesuka hati, tidak diragukan lagi adalah orang paling bahagia di dunia ini.

"Kukuku."

Inilah puncak dari jalan bajingan yang sedang kucoba tempuh. Yah, meskipun aku sebenarnya agak penakut, kejadian baru-baru ini sempat menggoyahkan hatiku…… yaitu tentang seorang adik kelas yang menyembunyikan sifat aslinya.

Aku melarikan diri darinya karena dia berada di tingkat yang belum bisa kucapai, dan aku tidak tahu apakah aku harus menghormatinya atau tidak.

Itu terasa seperti dia sedang mengejekku bahwa aku masih belum cukup hebat, dan itu membuatku kesal.

"…… Ternyata dia seorang M sejati, ya."

Aku tahu di dunia ini ada S dan M…… orientasi seksual semacam itu. Tapi tetap saja, aku tidak menyangka akan mengetahui level puncaknya melalui si Sobat…….

"…… Baiklah! Mari lupakan hal itu untuk sementara!"

Untuk sementara, ya? Tapi aku tidak akan menyerah! Aku pasti akan memperlakukan dia…… adik kelas cantik itu, sesuka hatiku! Aku pasti akan menjangkaunya dengan tangan iblisku ini!!

"Uooooooooooooooo!!"

"Heh, berisik tahu, adik bodoh!"

Kira tidak ada siapa-siapa di rumah, ternyata serangan mendadak terjadi saat aku berteriak kencang. Pintu terbuka bersamaan dengan suara tiba-tiba, dan seorang wanita mungil mendekat dengan gerakan gesit!

"Kh!?"

"Hah!!"

Dia langsung mencengkeram pakaianku dan dengan gerakan mengalir melakukan sapuan kaki.

Meskipun terjadi mendadak, aku mencoba bertahan seolah ingin mengatakan hal ini tidak mempan padaku, tapi perlawananku sia-sia dan aku pun jatuh tersungkur.

"…… Jadi, apa yang Kakak lakukan?"

"Itu karena kamu berisik."

"…… Maaf."

"Ya sudah."

Eh, langsung dimaafkan begitu saja?! Si mungil ini tersenyum lebar sambil tetap menahanku…… bukan, dia memang mungil dan imut…… atau begitulah penilaian orang di luar sana, tapi bagiku dia bukan sekadar orang dengan penilaian seperti itu…… yah, tapi orang ini adalah keluarga yang berharga dan kakak yang bisa diandalkan. Tetap dalam posisi mengunci tubuhku, kakakku──yang bernama Masaki Miyako──tidak mau melepaskan kuncian gulatnya.

"Kak, bukannya tadi Kakak pergi?"

"Ah, iya…… rencananya begitu, tapi sepertinya mereka ada urusan mendadak. Sempat terpikir buat main dengan sisanya, tapi karena panas banget, akhirnya kami bubar."

"Heh…… ya jelas panaslah, ini kan sudah mau puncak musim panas?"

"Benar juga ya, tidak tahan rasanya."

Tapi berkat itu, aku jadi bisa melihat gadis-gadis berpakaian tipis! …… Namun, ada masalah mewah yang kualami; setiap wanita yang kulihat di sekolah atau di jalanan…… entah bagaimana, terasa kurang memuaskan setelah aku berinteraksi dengan Aisaka atau Wazuma. Nah, saat kami sedang bercanda sambil mengobrol begitu, tiba-tiba Kakak menyeringai dan mengatakan hal seperti ini:

"Menghabiskan hari libur sendirian begini, biar Kakak buat kamu yang sama sekali tidak punya bayangan cewek ini jadi berdebar-debar."

"……………"

Berdebar……? Barusan Kakak ini bilang 'berdebar'……?

"Heh, apa-apaan wajah itu?"

Tidak, tidak…… kalau itu Aisaka, Wazuma, atau kakak-kakak lainnya mungkin saja, tapi apa yang Kakak bicarakan dengan tubuh kekanak-kanakan begitu ingin membuatku berdebar?

"…… Hap!"

"Gyaaaaaaaaaaaaaa!?!?"

Sepertinya dia dengan jeli menangkap apa yang kupikirkan dari ekspresiku, sehingga dia mengunci gerakanku lebih kuat lagi sampai aku mengeluarkan teriakan yang mengganggu tetangga.

Setelah pertengkaran saudara yang terlalu keras untuk ukuran sekadar bercanda itu selesai, Kakak kembali dari dapur membawa gelas berisi teh gandum (mugicha).

"Nah, ini teh gandum permintaan maaf."

"Kalau mau minta maaf, jangan lakukan itu dari awal dong!"

"Ah?"

"Maafkan saya."

…… Fiuh, benar-benar kakak yang galak. Namun, karena dia sudah membawakan teh gandum dingin, lebih baik aku membasahi tenggorokanku yang kering ini. Glek, glek, kami berdua meminum teh gandum itu sampai bersuara…… dan serentak melepaskan gelas dari mulut sambil menghela napas lega.

"Mantap!"

"Enak banget!"

Teh gandum dingin memang yang terbaik di musim panas begini.

"…… Yah, biarpun aku bilang macam-macam, intinya aku sedang ingin mengurus adikku, atau mungkin ingin punya waktu berdua sebagai kakak-adik."

"Kakak……"

Kata-kata yang tiba-tiba itu membuat mataku terasa panas…… ah tidak juga, tapi jujur saja aku merasa senang. Setelah itu, kami menghabiskan waktu sampai sore dengan bermain game dan mengobrol santai, sampai akhirnya Kakak mengangkat topik itu.

"Benar-benar deh, aku senang melihatmu terlihat sangat ceria belakangan ini. Aku tahu kamu belum punya pacar, tapi sebenarnya ada apa ya?"

"Eeeh…… ya, yah, banyak hallah!"

Belakangan ini suasana hatiku memang sangat baik…… yah, itu wajar karena aku sedang melakukan hal-hal mesum dengan kekuatan si Sobat.

Aku pernah sekali…… tepatnya dialah orang pertama yang aku beri hipnotis, tapi itu hanya untuk memastikan kekuatannya saja dan aku tidak melakukan apa-apa…… tapi biar bagaimanapun, aku tidak mungkin menceritakannya pada Kakak.

"Yah, tidak apa-apa sih──Kai, seperti yang selalu kukatakan, aku ini kakakmu. Kalau ada masalah, panggillah aku. Aku pasti akan membantumu, oke?"

"…… Oh, makasih."

"Sama-sama♪"

Hah…… aku benar-benar punya kakak terbaik yang terlalu bagus untukku.

"……………"

Tapi maaf ya, Kak. Aku akan tetap menggunakan kekuatan si Sobat untuk melakukan hal-hal mesum!

"Nyengir-nyengir begitu, kamu pasti senang sekali ya."

Tentu saja aku senang! Hidupku selama ini bukannya tidak menyenangkan, pertemuan dengan Kakak, orang tua, dan teman-teman telah mewarnai hari-hariku dengan ceria.

Namun! Aku yang sekarang tidak diragukan lagi menjalani hari-hari yang jauh lebih luar biasa berkat kekuatan si Sobat.

Mulai sekarang pun aku akan melakukan hal sesuka hati pada gadis-gadis dengan kekuatan si Sobat…… karena itulah kegembiraan terbesarku saat ini!

◆◇◆

Nah, hadirin sekalian. Menurut kalian apa yang dimulai ketika sampai di sekolah? Belajar? Waktu bersama teman? Bagi sebagian orang mungkin ada berbagai bentuk masa muda di sana, tapi kalian salah besar! Bagiku, jika ada sekolah, maka apa yang dimulai…… tentu saja hal-hal mesum!

"Kukuku, sudah waktunya ya……"

Belakangan ini, pergi ke ruang kelas kosong saat istirahat siang sudah menjadi rutinitas harian. Di ponselku, si Sobat sudah aktif, dan aku sedang menunggu mereka di sini. Tak lama kemudian, mereka pun datang.

Sret! Pintu terbuka, dan dua orang yang kunantikan──Aisaka dan Wazuma──muncul dengan pandangan kosong. Saat melihatku, sudut mulut mereka sedikit melonggar.

"Maaf membuatmu menunggu, Masaki-kun."

"Apa kami…… sedikit terlambat?"

"Tidak juga, cepatlah masuk," begitulah isyarat tanganku saat memanggil mereka berdua. Aisaka dan Wazuma mendekatkan tubuh mereka seolah-olah menjepitku. Ini juga hal yang selalu dilakukan pertama kali saat sampai di sini…… yah, meski itu sebenarnya karena perintahku sih.

"Wah, hari ini pun aku merasa sangat bahagia bisa merasakan dada ekstra besar kalian berdua…… ini yang terbaik."

"Fufu, syukurlah."

"Aku akan melakukannya untukmu kapan saja."

Jika aku menoleh ke kanan, ada Aisaka yang menatapku dengan rambut terangnya yang bergoyang. Dalam arti yang positif, dia tetap menonjolkan aura gal-nya seperti biasa. Sejak kejadian itu, tidak ada masalah berarti dan dia tetap menjadi primadona kelas dengan keceriaannya. Dan dadanya besar.

Jika aku menoleh ke kiri, ada Wazuma yang menatapku dengan rambut hitam panjangnya yang berkilau. Saat pertama kali melihatnya, matanya tertutup dan memberikan kesan suram pada orang-orang di sekitarnya. Tapi sejak aku bekerja sama dengan Aisaka untuk menyelesaikan masalahnya, suasana hatinya membaik dan dia mulai memperlihatkan matanya serta kecantikan yang selama ini tersembunyi. Dan dadanya sangat besar.

"Hari ini pun, mari nikmati surga merah muda ini♪"

Meski meminjam kekuatan si Sobat, betapa bahagianya dijepit oleh dua gadis cantik berdada besar…… ini adalah kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Aku sudah berteman cukup akrab dengan Aisaka maupun Wazuma. Karena itulah aku merasa sedikit bersalah melakukan hal ini pada mereka, dan jika mereka tahu aku melakukan hal semacam ini, mereka pasti akan sangat membenciku, tapi aku tidak bisa berhenti. Karena romansa dan impian laki-laki tersimpan di dalam dada montok ini!

(Oh, benar juga, mari lakukan yang seperti biasa.)

Yang seperti biasa…… dimulai dari Aisaka dulu.

"Aisaka, aku selalu menanyakannya tapi hari ini pun sama──tidak ada apa-apa sejak saat itu, kan?"

"Tidak ada. Aku baik-baik saja."

"Mantan pacar brengsek itu tidak mengganggumu, atau pacar barunya tidak melakukan perundungan karena dendam, kan?"

"Enggak, tidak ada sama sekali."

Aku sudah tahu, tapi syukurlah kalau begitu. Baiklah, selanjutnya Wazuma.

"Kalau Wazuma──"

"Tidak apa-apa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan Masaki-kun."

"O-oh……"

"Seandainya terjadi sesuatu pun, sekarang sudah tidak apa-apa…… aku tidak lemah lagi."

"…… Begitu ya."

Dibandingkan Aisaka, tekanan dari Wazuma sedikit lebih kuat. Ekspresi mereka memang datar, dan bagi sebagian orang mungkin terlihat seperti sedang tidak senang, tapi ini bukan karena mereka kesal aku terus bertanya, melainkan karena kondisi mereka yang sedang terhipnotis.

"Yah, sepertinya kalian berdua baik-baik saja…… baguslah kalau begitu."

Aku tidak bisa membicarakan hal sensitif seperti ini dengan mereka dalam kondisi biasa…… tapi karena mereka dalam kondisi ini tidak bisa berbohong, aku bisa merasa sangat lega saat mereka bilang tidak ada apa-apa, karena itu adalah kebenaran.

"Masaki-kun benar-benar selalu menanyakannya ya?"

"Iya…… baik sekali."

"Sudah kubilang ini bukan karena aku baik. Kalau sesuatu terjadi pada kalian berdua, aku tidak bisa menghabiskan waktu bahagia seperti ini, kan?"

Ya, ini demi kepuasan diriku sendiri. Yah, meski begitu, karena aku sudah mengenal mereka, kalau mereka menderita di tempat yang tidak kuketahui…… meski aku tidak punya hak untuk ikut campur, aku pasti akan merasa tidak enak hati.

"Hmmmm."

Saat mengecek waktu, ternyata masih banyak sisa waktu…… fiuh, kalau begitu mari lakukan 'itu' seperti biasa.

"Aisaka, Wazuma, tolong lakukan Oppai Sandwich."

"Oke~"

"Aku mengerti."

Meskipun namanya terdengar konyol, ini adalah kata yang penuh dengan impian. Begitu aku memintanya, mereka berdua berdiri…… dan secara harfiah menjepit wajahku dengan dada montok mereka seolah-olah sedang membuat sandwich.

"Pafu-pafu……!"

"Terasa enak?"

"Apa kamu puas?"

Tentu saja terasa enak dan aku sangat puas. Sudah sewajarnya, kan!

(Tapi…… ternyata aku memang masih di usia di mana belum bisa menyentuh dengan inisiatif sendiri.)

Sungguh menyedihkan…… meski aku sudah berkali-kali memanggil mereka saat istirahat siang untuk menikmati waktu hadiah ini, aku masih belum bisa mengulurkan tanganku sendiri ke buah yang lembut ini. Entah kenapa aku merasa sungkan, atau singkatnya, aku memang pengecut.

"……………"

Sambil menerima pafu-pafu dari mereka berdua, aku teringat mimpi itu.

(Pada akhirnya…… apa maksud dari mimpi itu ya?)

Mimpi tentang pria lain yang menghipnotis wanita asing. Yah, kalau dibilang itu mirip dengan cerita hipnotis yang kuketahui, memang benar…… tapi aku merasa mimpi itu pasti memiliki suatu makna tertentu. Akhir dari mimpi itu adalah si pria terbungkus benang hitam misterius dan menghilang, lalu si wanita yang diperlakukan sesuka hati itu menatapku dengan mata penuh kebencian sambil mengulurkan tangan…… begitulah mimpinya.

"Masaki-kun?"

"Ada apa?"

"…… O-oh."

Tanpa sadar aku malah asyik melamun dan membuat mereka berdua khawatir.

Meski dalam kondisi terhipnotis, mereka tetap mengkhawatirkanku, dan mereka mencoba memikirkan apa yang bisa mereka lakukan sehingga membuatku makin senang…… terkadang aku bertanya-tanya hipnotis itu sebenarnya apa, tapi seperti yang sering kukatakan, daripada sekadar boneka yang hanya menurut, aku lebih suka kondisi yang seperti ini.

"Mungkinkah ini sama sekali tidak enak?"

"…… Katakan bagian mana yang tidak enak. Akan segera kuperbaiki."

"Ah, tidak, tidak! Bukan begitu sama sekali!"

Hanya karena aku melamun, sepertinya mereka berpikir aku tidak puas…… tapi tekanannya kuat sekali! Aisaka juga begitu, tapi semangat Wazuma benar-benar luar biasa…… ah.

"!?!"

Bruk! Dengan suara yang cukup keras, aku didorong sampai terjatuh oleh mereka berdua. Rasa sakit tumpul di punggungku langsung terhapus oleh 'buah' raksasa yang menekan wajahku, justru membuatku merasa sangat bahagia.

"Fumu…… dijepit dari kedua sisi memang enak, tapi didorong sampai jatuh begini juga luar biasa enak!"

"Annh♪ Jangan menggeliat di dalam dada begitu dong, Masaki-kun."

"…… Apa kamu mau memakannya?"

Suara yang menggoda itu membuatku berdebar, tapi aku tetap membalas dengan candaan bahwa ini bukan sesuatu yang bisa dimakan.

"Kalau begitu…… mau dihisap?"

"Sudah kubilang berhenti!"

Sambil menyenggol pelan bahu Wazuma, aku tetap mempertahankan posisi ini karena rasanya enak. Setelah merasa puas, aku meminta mereka melepaskan diri sebentar. Saat mengecek jam, waktu istirahat siang tinggal sekitar sepuluh menit lagi.

"…… Hah, kalau waktu hampir habis, aku jadi ingin menghela napas."

Tepat saat aku hendak menghela napas panjang──aku malah terperosok ke dalam situasi yang tak terduga.

"…… Eh?"

Karena merasa aneh, aku melihat ponselku dan menyadari baterainya tinggal sedikit…… lebih tepatnya tinggal satu persen.

"Ke-kenapa!?"

Aku jadi sangat panik sampai lupa kalau Aisaka dan Wazuma ada di dekatku. Kenapa, kok bisa!? Seingatku tadi malam aku sudah mencolokkan kabel charger dengan benar!? Saat pagi aku memang tidak mengeceknya…… tapi saat hipnotis terjadwal dan saat istirahat siang dimulai…… ah.

"A-AKU TERLALU SEMANGAT SAMPAI LUPA MENGECEKNYA!!"

Benar-benar kesalahan fatal! Meskipun aku menyesali hal itu, waktu tidak akan berhenti. Dengan kejamnya, dalam situasi terburuk ini, baterai ponselku habis total, dan daya ponsel pun mati bahkan sebelum aplikasi dipaksa berhenti.

(Gawat!?)

Sebelumnya aku pernah mengalami krisis serupa beberapa kali, tapi semuanya bisa dihindari sebelum baterai benar-benar habis…… tapi kali ini…….

"…… Lho?"

"Kenapa…… kita ada di sini?"

Bagiku, isi kepalaku hanya dipenuhi oleh rasa panik.

Tapi untungnya, aku sudah tidak sedang dipeluk oleh mereka, kami baru saja melepaskan diri jadi itu bagus…… tapi bagi mereka berdua, tiba-tiba mereka berada di ruang kelas kosong ini bersamaku…… tidak mungkin mereka tidak terkejut, kan?

Mata mereka yang tadi kosong kini kembali bersinar, dan dengan ekspresi bingung Aisaka serta Wazuma melihat sekeliling…… kemudian secara serentak, gerakan mereka berhenti saat melihatku.

"Masaki-kun……?"

"……?"

"H-halo kalian berdua. Hari ini cuacanya bagus ya……"

Bodoh! Kenapa aku malah menggunakan gaya bicara yang tidak biasa aku pakai begitu!

"Umm…… kalian tidak apa-apa?"

"…… Terjadi sesuatu?"

Tapi kali ini, kepanikanku justru membawa keberuntungan karena mereka malah mengkhawatirkanku. Bagi mereka berdua, situasi saat ini pasti tidak masuk akal…… meski begitu, aku merasa sangat bersalah karena mereka tetap mengkhawatirkanku, dan berkat itu pula aku bisa merasa lebih tenang.

"Tidak, aku tidak apa-apa."

"Begitu ya? Syukurlah."

"Iya…… syukurlah."

Lalu mereka berdua tersenyum manis. Hah~…… mereka berdua benar-benar terlalu baik sampai aku ingin menangis…… yah, meski begitu aku sama sekali tidak berniat berhenti melakukan hal-hal itu pada mereka di masa depan!

(Tapi, bagaimana cara menjelaskannya ya……)

Aku memutar otak dengan keras, tapi aku berpikir jika aku ragu-ragu di sini maka situasinya akan makin aneh, jadi aku memutuskan untuk mengarang alasan seadanya.

"Ngomong-ngomong, kenapa kalian berdua ada di sini? Ya-yah, aku juga terkejut ada di sini…… kenapa ya……?"

Payah! Cara mengarangku benar-benar payah!!

"Ngomong-ngomong…… kenapa kita di sini?"

"Rasanya, seperti dipanggil oleh seseorang……?"

Keduanya memang memiliki keraguan yang sangat wajar, tapi untungnya Aisaka mengganti topik pembicaraan.

Seolah-olah dia memang sudah tidak sabar ingin bicara, dia bercerita panjang lebar padaku tentang betapa akrabnya dia dengan Wazuma…… sepertinya bagi mereka, persahabatan dengan Wazuma lebih penting daripada keraguan kenapa mereka bisa ada di sini.

Aku merasa lega mendengar hal itu, sambil tetap menyesuaikan pembicaraan agar kegelisahanku tidak ketahuan.

"Kabarnya Saika belakangan ini juga sering jadi bahan pembicaraan para cowok ya. Apa ada yang melakukan hal yang mengganggu?"

"Itu juga tidak apa-apa. Setidaknya, supaya tidak dianggap buruk, di permukaan aku menanggapi mereka jika disapa…… tapi agak merepotkan sih."

Yah, meski aku menimpali pembicaraan, sebenarnya aku lebih banyak menjadi pendengar.

Aku biasanya tidak pernah mendengar percakapan sesama perempuan dari dekat seperti ini, jadi rasanya sangat segar saat mendengarkannya.

(Begitu ya…… sejak Wazuma memperlihatkan matanya, dia memang cantik sekali jadi wajar kalau jadi bahan pembicaraan.)

Hal yang paling banyak dibicarakan pasti bentuk tubuhnya yang sangat provokatif bahkan melampaui Aisaka, dan aku juga sudah mendengar hal itu.

Karena Wazuma selama ini terus menahan perlakuan dari ayahnya, hatinya terkikis dan atmosfernya menjadi suram…… tapi sekarang tidak lagi. Karena telah terbebas dari penderitaan itu, Wazuma menjadi ceria seperti sekarang.

"Wazuma, kalau ada apa-apa, kamu harus bicara padaku atau Aisaka, ya. Atmosfer dan ekspresimu akhirnya sudah jadi cerah begini…… aku tidak mau kalau sampai ada masalah lagi yang membuatmu murung."

"Masaki-kun…… iya. Terima kasih."

Meskipun ini baru dilakukan di antara kami, Wazuma mengangguk dengan senyum yang sering dia perlihatkan. …… Yah, aku merasa aku memang pandai bersilat lidah…… mungkinkah ini karena aku mengejar jalan bajingan dan hal mesum?

Tapi bukankah menyembunyikan apa yang kulakukan di balik layar sambil tetap mengkhawatirkan mereka itu terasa seperti seorang bajingan jahat yang keren?

"Benar, Saika. Kan ada aku dan Masaki-kun. Kita sudah jadi teman dan bahkan pernah menginap bersama, kan."

"Mari-san…… iya."

Mendengar kata-kata Aisaka, Saika mengangguk senang seperti sebelumnya.

Tapi begini ya…… bisa melihat persahabatan gadis cantik dari dekat memang bagus, tapi kalau kalian melakukannya sambil menjepitku, aku jadi agak malu, tahu?

(Aku sudah terbiasa dijepit oleh mereka dalam kondisi terhipnotis, tapi dalam kondisi sadar begini…… memalukan sekali.)

Padahal tidak ada kontak fisik yang memberikan sensasi lembut, tapi anehnya aku merasa jauh lebih malu daripada saat sedang menerima Oppai Sandwich dari mereka.

"Masaki-kun, apa kamu demam?"

"Wajahmu…… merah lho?"

"……………"

Anak-anak ini, apa mereka sengaja melakukan ini……? Aku berdehem untuk menutupi rasa maluku, lalu aku menoleh ke arah Aisaka.

"Wazuma juga begitu, tapi apa Aisaka baik-baik saja?"

"Eh?"

"Jangan 'eh' dong. Maksudku Aisaka juga, soal mantan pacarmu itu."

"Ah…… hehehe, tidak apa-apa kok, Masaki-kun. Tapi…… terima kasih ya."

"Tentu saja."

Meski tujuannya untuk mengalihkan pembicaraan, aku menanyakan hal yang sama sampai dua kali. Yah tapi…… terlepas dari hal mesum, jika aku mengikuti keadilan di dalam hatiku, karena aku sudah memperlakukan mereka sesuka hatiku dan karena aku mengenal mereka berkat kekuatan spesial si Sobat, aku ingin membantu mereka.

Apakah ini kebaikan?

Sama sekali bukan, aku hanya memprioritaskan keinginanku sendiri.

"Sebentar lagi istirahat siang berakhir lho. Ayo kembali?"

"Benar juga."

"Aku mengerti."

Tanpa terasa kami sudah mengobrol cukup lama sampai istirahat siang hampir berakhir. Bisa asyik mengobrol dengan dua orang gadis sampai lupa waktu adalah hal yang tak terbayangkan bagiku beberapa waktu lalu.

Dengan gerakan alami, kami bertiga keluar dari surga bernama ruang kelas kosong itu, lalu berpisah dengan Wazuma sebelum aku dan Aisaka kembali ke kelas.

"Masaki-kun."

"Ya?"

"Bukan cuma soal Saika…… tapi benar-benar terima kasih ya sudah perhatian padaku."

"…… Yah, itu sudah sewajarnya."

Aku membalas dengan senyuman yang (sok) keren padahal tidak cocok denganku. Aisaka merasa wajahku itu lucu sekali sampai dia terkikik, lalu dia mendekatkan tubuhnya dan berbisik:

"Kamu keren, lho."

"!?"

"Sampai jumpa ya~♪"

Setelah melakukan serangan mendadak dengan kata-kata itu, Aisaka melambaikan tangannya dan masuk ke kelas duluan.

"…… Dasar, jangan tiba-tiba bilang keren dong."

Tapi sepertinya aku merasa sangat senang dipuji begitu, sampai-sampai aku terus nyengir sehingga teman-temanku bertanya-tanya apakah terjadi sesuatu.

"…… Fiuh."

Sambil duduk di kursi dan mempersiapkan pelajaran selanjutnya, aku mengenang kejadian tadi.

"…… Fuhett."

Wah, itu benar-benar waktu yang luar biasa. Dada Aisaka maupun Wazuma yang sekali dirasakan tidak akan bisa dilupakan kelembutannya itu benar-benar harta karun yang luar biasa! Harta karun yang dicari oleh seluruh umat manusia!

"……?"

Karena merasa ada yang memerhatikan, aku menoleh ke arah itu…… seorang siswi teman sekelasku melihatku dengan ekspresi ngeri, sepertinya dia melihat dengan jelas wajahku yang sedang nyengir mesum ini.

"…… Maaf. Wajahku jadi aneh ya."

"Ah, tidak…… aku tidak berpikir itu menjijikkan kok…… tidak apa-apa."

"Ah, iya."

"Iya……"

"……………"

"……………"

Ekspresi itu jelas-jelas bilang kalau aku menjijikkan! Kalau itu teman cowok yang akrab, aku pasti sudah memberinya satu pukulan, tapi karena lawannya adalah perempuan aku tidak akan melakukannya…… lagipula penyebabnya memang aku sendiri sih.

Sudah pasti aku akan dicap sebagai orang menjijikkan di dalam pikirannya, tapi jika mengingat waktu yang kuhabiskan bersama Aisaka dan yang lainnya, hal itu bukan masalah besar!

"…… Hah."

Tetap saja aku menghela napas…… tapi biar bagaimanapun!

(…… Hahaha, tapi bekas luka di lengan Aisaka dan memar di tubuh Wazuma hampir semuanya sudah tidak terlihat lagi…… aku lega soal itu.)

Aisaka yang dikhianati mantan pacarnya, bahkan diabaikan oleh keluarganya sampai melakukan tindakan melukai diri sendiri. Wazuma yang tidak hanya memiliki hubungan terburuk dengan orang tuanya, tapi juga menerima kekerasan fisik dari ayah kandungnya.

Bekas luka masing-masing yang paling berkesan saat aku pertama kali bertemu mereka kini bisa dibilang sudah benar-benar hilang, jadi aku bisa merasa tenang.

(Syukurlah aku bukan tipe orang yang tidak bisa bergairah kalau tidak ada luka di tubuh perempuan.)

Sambil mengangguk-angguk merasa lega seperti itu, aku kembali membayangkan mereka dalam balutan pakaian dalam sambil berusaha tidak menunjukkannya di ekspresi wajahku.

“Saya seorang M.”

Tapi…… adik kelas M sejati yang sesekali melintas di pikiranku ini, tolong pergi dulu ya?

"…… Kufufu."

Nah, hari ini pun aku telah menikmati Oppai Sandwich, kira-kira apa langkah selanjutnya──hanya berkhayal begini saja sudah membuat hidup terasa sangat menyenangkan! Kehidupan hipnotisku bersama si Sobat baru saja dimulai!

♡ ♡ ♡

Aplikasi ini, tergantung cara penggunaannya, dapat menimbulkan perasaan yang kuat pada target. Apakah itu akan menjadi kebencian, atau sesuatu yang lain, itu semua tergantung pada Anda…… mohon bertanggung jawab atas tindakan Anda sendiri.

♡ ♡ ♡




Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close