Chapter 4
Kencan Bareng Saika, Bro!
"Kai-senpai,
terima kasih banyak untuk hari ini. Sampai-sampai begitu pulang pun aku terus
memikirkan Kai-senpai dan Miyako-san... Benar-benar semenyenangkan itu."
Saat aku kembali
ke kamar setelah selesai makan malam, pesan seperti itu masuk ke ponselku.
Pengirimnya tentu saja Emu yang hari ini berkunjung ke rumahku. Dia juga
mengatakan hal yang sama saat aku mengantarnya pulang tadi, tapi syukurlah
kalau dia benar-benar menikmatinya.
"...Serius,
tadi itu memang asyik banget."
Ada
banyak alasan kenapa aku merasa begitu, tapi bagiku, melihat Emu yang imut
sekaligus seksi adalah yang terbaik... Khkhkh! Bukan cuma aksi rutin
membenamkan wajah di dadanya, aku juga sempat berciuman dengannya, lho! Sama seperti saat dengan Matsuri dulu,
kenapa ya rasanya bisa bersentuhan dengan mereka itu luar biasa sekali!
"...Khkh,
wajahku jadi terlihat brengsek begini."
Sosokku
yang terpantul di cermin menampakkan ekspresi yang benar-benar tidak boleh
diperlihatkan pada orang lain. Namun, ekspresi konyol itu segera berubah
menjadi wajah yang penuh keraguan. Aku tahu persis alasannya, dan alasan
utamanya tidak lain adalah hal yang berkaitan dengan si Partner.
"...Hei,
Partner. Kamu sebenarnya kenapa sih?"
Aku tahu percuma
saja bertanya. Jika saja aku bisa berkomunikasi dengan Partner seperti dalam
ruang dimensi mimpi yang kulihat sebelumnya, urusannya pasti akan cepat
selesai.
"Partner... Hm?"
Saat aku sedang melamunkan soal Partner, tiba-tiba ponselku
menyala. Mengabaikan kebingunganku, aplikasi hipnosis itu pun ikut terbuka
sendiri dan memunculkan layar yang sudah sangat familier. Sebenarnya, apa yang
sedang terjadi...?
"Partner...?"
Bukan cuma ponselku yang aneh, tapi seolah-olah diriku
sendiri terputus dari dunia luar dan kesadaranku hanya tertuju pada ponsel. Sensasi ini entah kenapa mengingatkanku
pada ruang saat aku berkomunikasi dengan Partner dulu. Aku berpikir mungkin
suaraku bisa sampai padanya sekarang, jadi aku pun mulai bicara pada ponsel
itu.
"Apa
kamu mendengarku, Partner?"
...Lalu,
sederet kata muncul di layar.
『Tuanku,
maafkan aku soal belakangan ini. Sepertinya aku sudah membuatmu sedikit
kesulitan.』
"...Beneran
nyampe, dong."
Aku
terkejut bukan main, tapi aku segera melanjutkan kata-kataku.
"Tidak,
kamu tidak perlu minta maaf. Selama ini aku sudah sering terbantu, aku juga
sudah sering meminjam kekuatanmu, jadi mungkin saja kamu lelah, kan?"
Aku
bertanya dengan lembut, seolah ada seseorang di hadapanku. Tentu saja aku kaget
dengan pesan yang sepertinya dari si Partner ini, tapi aku tidak merasa ingin
ribut menanyakan apa maksud semua ini. Sekarang aku hanya ingin fokus
berkomunikasi dengannya.
『Lelah,
ya... mungkin saja. Padahal seharusnya, makna keberadaanku adalah untuk terus
mengabulkan semua keinginan Tuanku.』
"Bukankah
itu sedikit terlalu berat? Yah, memang sih aku kaget karena Partner tidak bisa
digunakan dengan lancar, tapi hanya dengan kamu berada di sisiku saja sudah
membuatku tenang, lho?"
『Ah...
aku sangat senang kamu berkata seperti itu. Bisa menjadi kekuatanmu, bisa
membantumu, adalah kebahagiaan yang tak terkira bagiku.』
"...Kamu ini
serius kenapa sih, Partner."
Percakapan
dengan Partner ini terasa agak menggelitik. Interaksiku dengan Matsuri, Saika,
maupun Emu memang membawaku ke momen kebahagiaan yang luar biasa, tapi
kata-kata Partner juga memberiku perasaan yang serupa.
"Yah,
bagiku Partner tetaplah Partner. Bisa dibilang seperti rekan seperjuangan yang
saling menjaga punggung satu sama lain. Karena aku orang yang simpel... aku
jadi malu sendiri kalau kamu bicara begitu."
Aku tidak
tahu apakah Partner punya mata atau tidak, tapi coba lihatlah. Cuma mengobrol
begini saja wajahku sudah terasa panas sekali. Tapi kalau boleh jujur, ini
karena aku menganggap Partner sebagai keberadaan yang unik... bukan sekadar
keberadaan digital belaka.
『Tuanku...』
"Apa?"
『Benar-benar...
pria yang berdosa, ya.』
"Ah—... di
momen ini, aku sedikit menyadarinya. Itu tandanya aku sangat memikirkanmu,
Partner."
『Memang
bagian itulah yang kumaksud. Tapi, karena itulah aku senang bisa bersama
Tuanku. Karena kamu telah memberiku perasaan seperti ini, dan memberitahuku
bahwa aku pun punya nilai untuk hidup.』
"...Ada apa
sih, Partner? Tiba-tiba bilang begitu... caramu bicara seolah-olah kamu akan
menghilang dalam waktu dekat saja."
Atas perkataanku
itu, Partner tidak memberikan balasan apa pun. Aku tidak mengejar lebih jauh
alasan kenapa dia tidak menjawab, dan hanya mengembuskan napas pendek untuk
menenangkan diri.
"...Lho?"
Saat itu, ponselku bergetar lagi. Aku buru-buru menatap
layar karena mengira itu balasan dari Partner, tapi ternyata itu telepon dari
Saika.
"Halo,
Saika?"
『Selamat malam,
Kai-kun. Apa aku mengganggumu?』
"Nggak, kok.
Aku punya banyak waktu buatmu."
『...Fufu, terima
kasih.』
Lagipula
obrolanku dengan Partner sudah selesai, dan aku memang sedang senggang.
『...Aku hanya
ingin mengobrol dengan Kai-kun. Karena ingin mendengar suaramu... makanya aku
menelepon.』
Wah... mungkin
ini terdengar klise, tapi suasana hatiku yang sempat mendung soal Partner
langsung mood-up seketika.
"Emm...
makasih ya, Saika."
Tapi, ya maklum
saja kalau aku jadi malu-malu kucing begini. Sepertinya rasa maluku tertangkap
oleh Saika, karena dia terdengar tertawa geli di seberang sana.
『Sebenarnya aku
ingin mendengar suara Kai-kun setiap hari seperti ini. Tapi kalau setiap hari,
kamu pasti lelah, kan? Makanya aku terus menahannya... dan hari ini, aku sudah
sampai batasnya jadi aku meneleponmu.』
Heh... apa dia
ini yandere? Baru saja aku berpikir begitu, Saika melanjutkan
kata-katanya.
『Tapi,
sepertinya bicara lewat telepon saja tidak cukup. Jadi, besok maukah kamu
berkencan denganku?』
"...Kencan?"
『Iya.』
Ajakan kencan
dari Saika... aku langsung menjawabnya.
"Oke. Besok,
kan?"
Tentu saja
jawabannya adalah iya. Mungkin aku terdengar tenang saat menjawab, tapi di
dalam hati, tension-ku sudah naik ke tingkat di mana aku harus berjuang
keras agar tidak melompat kegirangan. Meski rasa cemas soal Partner belum
hilang sepenuhnya... besok saat bertemu Saika, aku akan berusaha sebisa mungkin
agar tidak menunjukkannya di wajah. Kalau tidak, aku pasti akan membuat Saika
khawatir.
◆◇◆
Keesokan harinya,
aku keluar rumah dengan penampilan yang sudah oke punya.
Sensasi ini sama
seperti saat aku pergi ke rumah Matsuri dulu... tapi ini kencan, lho, kencan!
Gara-gara
itu aku baru bisa tidur larut malam dan sekarang agak mengantuk... Awas ya,
jangan sampai ketiduran di tengah jalan, wahai diriku!
"...Tapi
kalau begini terus, sepertinya aku bakal sampai jauh lebih awal dari
jadwal."
Tempat
janjinya adalah di depan stasiun, tapi kalau terus berjalan begini aku bakal
kepagian. Meski begitu, karena ini kencan dengan Saika, aku pikir tidak buruk
juga menunggu lawan bicara dalam situasi seperti ini. Jadi, meski tidak perlu,
aku mempercepat langkah kakiku.
"...Panas
banget, ya."
Tapi
tolonglah, baru jalan sebentar saja keringat sudah mengucur karena cuaca
sepanas ini.
Di
ramalan cuaca kemungkinan hujan adalah nol persen jadi aku tidak khawatir soal
hujan, tapi panasnya ini benar-benar menyiksa kalau tidak bercanda... Rasanya
aku ingin pergi ke kolam renang lagi.
Begitulah,
aku pun sampai di tempat janji di depan stasiun... tapi, lho?
"...Sudah
sampai, dong."
Di sana
sudah ada sosok Saika. Aku memastikan waktu di ponselku untuk jaga-jaga, tapi
ternyata memang masih sangat pagi... Sepertinya Saika berpikiran sama denganku, malah dia jauh lebih awal
dariku.
Memikirkan kalau
Saika mungkin sama bersemangatnya denganku membuatku merasa geli... tapi lebih
dari itu, aku terpesona oleh kecantikan Saika.
"...Ya aku
tahu sih, tapi si Saika ini benar-benar terlalu cantik."
Aku sudah
berkali-kali menyadari kalau Saika itu cantik. Jika dibandingkan dengan saat
pertama kali mengenalnya, perubahannya sangat drastis, sampai-sampai aku bisa
menceritakannya berulang kali tanpa merasa bosan.
"Buset...
seksi banget Saika hari ini."
Biasanya Saika
tidak suka memakai baju yang terlalu terbuka. Tapi hari ini, penampilannya
cukup berani menunjukkan kulit, bahkan punya aura mencolok yang mirip dengan
baju-baju yang biasa dipakai Matsuri.
Yah, mungkin
memang untuk menghalau panasnya musim panas, tapi karena yang memakainya itu
Saika, aku jadi berpikir yang macam-macam.
"...Aduh,
kalau aku bengong terus nanti malah ada orang bodoh yang berani menyapa
Saika."
Baru saja
berpikir begitu, seorang pria berambut pirang seumuran mahasiswa mulai
mendekatinya.
Karena ini Saika,
dia pasti tidak akan mau diajak pergi dan bisa menolak dengan sikap tegas.
Namun, kalau hal itu malah menyinggung perasaan si lawan dan dia mulai main
fisik, urusannya bakal panjang.
Kalau begitu,
sebelum itu terjadi aku harus segera menghampiri Saika, dan biarkan nafsu yang
seharusnya ditujukan pada Saika itu berubah menjadi kebencian padaku... Yah,
cuma bercanda sih.
"Saika!"
"...Ah."
Aku mengangkat
tangan dan berlari kecil menghampiri Saika. Begitu memastikan sosokku, ekspresi
datar Saika berubah menjadi senyuman, dan dia pun berlari ke arahku... eh,
dadanya mantul-mantul!?
Kalau pemilik
dada monster seperti Saika berlari, tentu saja dadanya bakal berguncang hebat!
Meskipun ini liburan musim panas, hari ini adalah hari Sabtu, jadi ada banyak
orang di sekitar dan tidak sedikit pasang mata yang tertuju pada Saika.
"Ups..."
"...Ketangkap."
Saika menggenggam
tanganku erat-erat, lalu berdiri berjajar di sampingku. Ucapannya yang bilang
kalau dia sudah menangkap tanganku itu cukup imut, tapi senyumannya dari jarak
sedekat ini jauh lebih imut lagi.
".................."
Tapiii... memang
dada Saika itu senjata maut ya, mataku jadi tersedot ke arah belahan dada yang
terlihat melimpah itu. Tapi kalau terus berhenti di sini, kencan kami tidak
akan maju-maju. Hari ini adalah kencan yang berharga... jadi aku harus
menikmatinya sampai puas!
"Nah, ayo
berangkat, Saika."
"Ehm."
Begitulah, tirai
kencan dengan Saika resmi dibuka. Setelah bertemu, kami langsung menuju ke dalam stasiun dan menunggu
kereta yang akan datang beberapa menit lagi.
Selama menunggu,
Saika terus-menerus menggenggam tanganku. Mungkin karena kerumunan orang yang
mau naik kereta jauh lebih banyak dibanding di luar stasiun, jadi dia
melakukannya agar tidak terpisah oleh arus orang.
"Oh, itu
keretanya."
Tak lama kemudian
kereta masuk ke peron. Saat pintu terbuka, banyak orang turun terlebih dahulu,
baru setelah itu aku dan Saika masuk ke dalam... tapi, serius deh orangnya
banyak banget!?
Tadinya aku ingin
duduk kalau ada kursi kosong, tapi kursi di dekat situ sudah terisi semua.
Sambil terdorong
oleh penumpang yang terus masuk dari belakang, aku berpindah ke bagian pinggir
untuk melindungi Saika... dan akhirnya, aku berhasil mengarahkannya ke dekat
dinding agar terlindungi dari penumpang lain.
Aku
tekankan lagi, orang di dalam kereta ini sangat banyak dan hampir penuh sesak.
Setelah beberapa kali pergantian penumpang nanti, barulah kami bisa turun di
stasiun tujuan... tapi kalau begini terus, sepertinya untuk sementara kami
bakal berhimpit-himpitan.
"Aku...
jarang naik kereta, jadi ini terasa cukup segar."
"Aku juga mirip-mirip begitu... ya."
Sama seperti
Saika, aku pun jarang sekali naik kereta. Entah itu pergi keluar atau main,
biasanya aku tidak melakukan perjalanan yang sampai harus menggunakan kereta
atau bus. ...Eh, daripada itu ada hal lain yang mengganggu pikiranku.
"Kai-kun?
Ada apa?"
"E-enggak,
kok..."
Ditanya begitu
oleh Saika, aku refleks membuang muka. Kenapa aku memalingkan wajah dari
Saika... dan apa yang mengganggu pikiranku—jawabannya ada pada dada Saika yang
bentuknya sangat tertekan di bagian dadaku.
Aku memang
sengaja menariknya ke dekat dinding agar terlindungi, tapi posisi Saika saat
ini adalah menghadap ke arahku.
Apa yang terjadi
jika kamu berhimpitan dengan Saika dalam posisi seperti itu?
Bukan cuma
kekenyalan yang luar biasa yang terasa di dadaku, tapi karena bajunya memang
memperlihatkan belahan dada, aku jadi tidak bisa mengalihkan pandangan dari
dadanya yang tertekan dengan sangat indah itu...!
"...Ah,
begitu ya? Dasar Kai-kun mesum."
"!?!"
Ke-ketahuan!?
Pipi Saika
sedikit merona, namun dia menggoyangkan tubuhnya dengan ekspresi dan gerakan
yang seolah memprovokasi.
Setelah bergoyang
ke kiri dan kanan, dia menambah gerakan naik turun, menekan kekenyalan
melimpahnya itu ke tubuhku tanpa sisa, sekaligus tampak sangat menikmati
situasi ini.
"Hei,
Kai-kun?"
"A-apaan..."
"Situasi
ini... mirip sekali dengan situasi di manga dewasa yang baru-baru ini
kubaca."
Manga dewasa... eh, apanya yang mirip!? Memang benar seperti
yang dibilang Saika, situasi ini mungkin cukup sering terlihat di manga dewasa.
Saling bertatapan di tengah kerumunan orang di kereta yang penuh sesak begini,
tubuh saling menempel sampai dada tertekan seperti ini, apalagi si cewek malah
memprovokasi seperti ini, benar-benar mirip manga dewasa, terima kasih banyak!
(...Eh, gawat!?)
Tiba-tiba, satu masalah muncul pada tubuhku. Meski aku sudah
sering menyentuh tubuh mereka berkat kekuatan Partner, kalau dalam kondisi
mendadak seperti ini... apalagi ditambah imajinasi liar yang terpancing,
tubuhku tentu saja bereaksi secara alami. Saat dengan Matsuri dan Emu pun tentu
saja jadi begini, tapi aku harus berusaha keras untuk menyembunyikannya!
"Di saat seperti ini, biasanya kereta berguncang dan
terjadi hal yang lebih berbahaya."
"Saika... kamu seneng banget ya?"
Padahal aku lagi berjuang keras buat nahan, kenapa Saika
malah begini sih...!
Jujur saja dalam situasi sekarang, apa yang dibilang Saika
itu sama sekali bukan bahan bercanda, jadi tolong jangan bilang hal-hal yang
seperti memicu flag begitu.
Eh, baru saja berpikir begitu, kereta sedikit berguncang.
Walaupun cuma guncangan ringan, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat
tubuhku balik menekan tubuh Saika.
"!?!"
"Nnh...!"
Gara-gara guncangan kecil tadi, kakiku jadi terselip di
antara kedua paha Saika. Mendengar suara desahan seksi yang sepertinya bukan
karena rasa sakit itu, jantungku berdegup kencang.
"Tuh kan,
jadi kejadian seperti yang kukatakan."
"I-iya
ya."
Ini...
ini gawat!? Kenapa gawat, karena gara-gara guncangan tadi, "adik
kecilku" yang sudah tegak jadi tertekan-tekan ke paha Saika. Untungnya
Saika sepertinya tidak sadar, tapi situasi di mana aku menempelkan "adik
kecil" yang bangun ke seorang gadis di kereta yang penuh sesak ini...
Syukurlah Saika benar-benar tidak sadar!
"Kai-kun...
dekat sekali."
"Yah...
kalau nempel begini sih jelas dekat."
Saking
dekatnya, kalau wajah kami sedikit saja bergeser, kami sudah bisa berciuman.
Kami saling terdiam... hanya aku yang berdoa agar urusan tubuh bagian bawahku
tidak ketahuan Saika, tapi entah kenapa mataku tiba-tiba tertuju ke orang di
sebelahku.
"?"
Di sana ada
seorang pria paruh baya. Om-om itu berdiri tepat di sampingku sambil melihat ke
luar jendela, tapi aku menyadari kalau dia sesekali melirik ke arah Saika.
"...Kai-kun♪"
Saika...
untungnya dia sedang asyik denganku, jadi om-om itu sama sekali tidak masuk
dalam radarnya, bahkan sepertinya dia tidak sadar kalau ada orang berdiri di
situ. Aku menggerakkan tubuhku sedikit untuk menutupi pandangan si om-om. Saat
itulah terdengar suara decakan lidah yang cukup jelas, seolah dia baru saja
mengaku kalau dia memang sedang mengintip.
"...Terima
kasih, Kai-kun."
"Buat
apa?"
Ah—...
sepertinya Saika juga menyadari tatapan om-om tadi. Meski begitu, pria yang
keren itu tidak akan sengaja bilang kalau dia baru saja melindunginya... yah,
walaupun kalau aku yang melakukannya sama sekali tidak terlihat keren sih.
"...Fuuuh."
Tapi
berkat kejadian tadi, urusan di bawah sana jadi agak tenang... terselamatkan
deh. Setelah merasa lega, tak
lama kemudian kereta pun sampai di stasiun tujuan.
"Ayo,
Saika."
"Ehm."
Kali ini aku yang
menggandeng tangan Saika untuk turun dari kereta. Karena ini tempat yang jarang
kami kunjungi, kami berdua sudah mencari tahu sebelumnya fasilitas apa saja
yang ada di sini, tapi intinya Saika hanya ingin kami bisa menghabiskan waktu
bersama.
"Hari ini,
ada satu tempat yang benar-benar ingin kukunjungi... selain itu, asal bisa
bersama Kai-kun saja aku sudah senang."
Yah, begitulah
katanya. Aku tidak tahu tempat apa yang sangat ingin dikunjungi Saika, tapi
meskipun tidak tahu, aku sendiri juga menantikannya.
"Kalau ada
tempat yang ingin Kai-kun datangi atau ada yang menarik perhatianmu, ayo kita
ke sana juga."
"Oke deh... Lho?"
Tanpa sadar aku
mengeluarkan suara karena melihat sebuah toko. Toko kostum cosplay...
Aku hanya berpikir ternyata ada toko seperti ini di sini, bukan berarti aku
ingin masuk. Namun, kostum yang terlihat melalui jendela kaca itu... terlihat
sangat seksi, dan aku jadi membayangkan bakal jadi seperti apa kalau Saika yang
memakainya.
"...Eh, sori
sori."
"Ayo
masuk."
"Eh?"
Tunggu sebentar,
Nona Saika!? Padahal aku tidak berniat masuk, tapi tanganku ditarik kuat oleh
Saika dan kami pun langsung masuk ke toko itu. Begitu masuk, berbagai kostum cosplay
langsung menyambut kami. Ada juga kostum dari anime atau manga yang aku tahu
lewat Shogo, dan aku pun refleks berseru kagum.
"Ada banyak
macamnya ya."
"Iya... eh,
tapi kenapa Saika ke sini?"
"Karena
sepertinya Kai-kun tertarik."
Ternyata ketahuan
juga ya! Seolah ingin bilang kalau isi pikiranku sudah terbaca, Saika tersenyum
geli sambil melihat-lihat seisi toko dengan penuh rasa ingin tahu.
"Aku belum
pernah ke toko seperti ini, jadi sejujurnya aku agak berdebar."
"Heh?"
Ternyata Saika
juga baru pertama kali ke toko seperti ini, sama sepertiku. Walaupun bukan toko
yang dikunjungi semua orang, tapi cukup banyak orang yang melihat-lihat kostum
karena tertarik seperti kami dan sepertinya mereka menikmatinya.
"...Ah,
ini—"
Saat sedang
melihat-lihat bagian dalam, kami masuk ke zona baju pelayan (maid).
Bicara soal baju pelayan, aku jadi teringat Emu yang baru-baru ini memakainya,
tapi baju pelayan yang dipajang di sini ada banyak jenisnya.
Ada rok mini, rok
panjang, ada yang bagian dadanya bolong bentuk hati... eh, ada juga tipe bolong
yang bisa memperlihatkan bagian bawah dada!?
"...Ternyata
di dunia nyata juga ada yang begini ya... ya wajar sih."
Soalnya
di media sosial memang ada orang yang mengunggah foto cosplay seperti
ini... Luar biasa juga kostumnya.
"Aku
tahu ini."
"Eh?"
"Ini
namanya Zuri-ana (lubang gesek), kan?"
".................."
Anu ya...
aku yang kaget sendiri sih memang salah, tapi aku harus jawab apa ya buat
pertanyaan itu?
"Kalau aku
memakai ini, apa bakal cocok?"
"...Kayaknya
bakal cocok nyaa."
"Nyaa?"
Gara-gara terlalu
sadar, akhiran bicaraku jadi aneh nyaa... Untuk berpura-pura tidak goyah, aku
berdehem keras lalu berjalan ke arah belakang.
O-o-omong-omong,
Saika sedang tertawa geli, sepertinya kegoyahanku benar-benar tertangkap
olehnya... Sialan. Kalau kamu terus tertawa begitu, nanti aku bakal pakai
Partner buat berbuat sesuka hati padamu, lho!
"Padahal
tidak perlu malu begitu."
"...Itu
karena kamu tiba-tiba bilang Zuri-ana, tahu?"
"Kai-kun,
kasih tahu dong? Di lubang itu, biasanya dimasukin apa?"
"...Ampun,
Nona Saika."
"Ufufu♪"
Senang sekali ya
kelihatannya, Saika! Tapi ya bagaimanapun juga, aku memang menikmati interaksi
seperti ini... benar-benar menikmatinya. Ternyata hanya dengan menghabiskan
waktu bersama Saika dan yang lainnya saja sudah membuatku bahagia.
"Karena kita
sudah sampai di toko begini, kalau ada yang Kai-kun suka, aku mau kok
mencobanya buatmu."
"...Apa
katamu?"
Dia mau memakai
kostum yang aku suka...!? Rasanya seperti ada aliran listrik dari ujung kepala
sampai ujung kaki, aku benar-benar kaget mendengar perkataan Saika. Bukannya
aku mau nafsuan, tapi berlawanan dengan mental bajaku, mataku malah terus
tertuju ke kostum-kostum itu.
"Sepertinya
ada layanan sewa kostum dan pemotretan juga, lho."
Toko ini
benar-benar yang terbaik. Aku juga merasa ingin mencoba cosplay, tapi
hal itu tidak penting sekarang! Kalau Saika memang bersemangat, aku harus
memintanya memakai sesuatu! Tapi karena aku pria yang beretika, aku akan tetap
menjaga batas kewajaran!
"Benar
tidak apa-apa?"
"Kenapa
jadi formal begitu? Iya,
boleh kok."
"Tidak ada
kata ditarik kembali ya?"
"Perempuan
tidak akan menarik kata-katanya, jadi tenang saja."
Sip, asyik! Kalau
begitu mari kita cari kostumnya! Dari situ, aku mulai mengedarkan pandangan
mencari kostum yang ingin kupakai pada Saika.
Jujur saja, pasti
ada banyak kostum yang cocok untuk Saika. Bahkan kostum paling sederhana pun
kalau dipakai oleh si cantik berdada monster seperti Saika, pasti bakal
terlihat indah dan seksi... Tapi karena kami tidak bisa menghabiskan seluruh
waktu di toko ini, sepertinya cukup satu kostum saja.
"Nah... mana ya yang bagus."
"Fufu,
kostum seperti apa yang bakal Kai-kun pakaikan padaku ya?"
Wah, dia
benar-benar bersemangat... aku terima tantanganmu, Saika! Aku akan memberikan
kostum yang masih wajar tapi tetap super seksi, kira-kira bagaimana ya reaksi
Saika nanti... yah, sudah terlambat buat menyesal! Tapi... pas dicari begini
ternyata susah juga menemukan yang pas. Kostum yang berjajar semuanya bagus,
dan aku yakin pasti cocok buat Saika... tapi belum ada yang bikin aku merasa
"ini dia!" gitu.
"...Lho?"
Di tengah
pencarian, aku berhenti di depan sebuah kostum.
"Ini..."
Yang menarik
perhatianku adalah spy suit. Kostum yang membungkus seluruh tubuh dari
leher ke bawah dengan setelan ketat yang mengilap... Melihat yang begini jadi
mengingatkanku pada manga dewasa di mana si agen rahasia tertangkap saat
menyusup ke markas musuh lalu disiksa secara mesum.
"Guh... ini
kayaknya terlalu seksi ya."
Tadi aku
sempat membayangkan sekejap... Saika yang memakai ini. Kalau memakai baju
seketat ini, bagian dada Saika pasti bakal jadi pemandangan yang luar biasa.
Atau jangan-jangan, memang itu yang ingin kulihat...? Lagipula kalau yang
membuatku merasa "ini dia!" adalah spy suit ini, bukankah
sebaiknya aku minta dia memakainya saja!
"Kai-kun?
Kamu suka yang ini?"
"!?!"
Saika menatap
setelan itu dengan penuh minat. Karena Saika ada di dekatku, kalau aku berhenti
dan memperhatikan sesuatu, dia tentu saja akan melihat hal yang sama.
"...Emm."
Dia memang bilang
kalau ada yang aku suka boleh dicoba, tapi kalau yang ini... bagaimana ya?
Aku pikir kostum
yang lebih normal mungkin lebih baik, tapi yang membuat aliran listrik
menyambar di kepalaku memang spy suit ini.
"...Aku
ingin melihat Saika memakai ini."
"Boleh. Akan
kupakaikan."
Saika sama sekali
tidak menunjukkan wajah keberatan, malah dia mengangguk sambil tersenyum.
Setelah itu kami
bicara dengan pelayan toko dan diantar ke ruang pemotretan khusus untuk dua
orang, lalu aku menunggu Saika selesai bersiap-siap. Beberapa menit
kemudian... Saika yang sudah berganti baju pun muncul.
"Maaf menunggu..."
"...Wah."
Aku diliputi sensasi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata,
sampai refleks berseru kagum. Saika yang muncul tentu saja memakai spy suit
ketat itu, tapi daya hancurnya benar-benar terlalu kuat.
Dada yang
melimpah, pinggang yang ramping, dan bentuk pantat yang indah. Garis tubuhnya
terlihat dengan sangat jelas dalam balutan setelan itu, tapi yang lebih menarik
perhatianku adalah bagian dadanya... Jangan-jangan dia tidak memakai pakaian dalam?
"Bagaimana...?
Kalau kamu diam saja aku jadi cemas."
"Eh!? Ah iya
sori! Anu... aku terpukau."
Ya, aku
benar-benar terpukau sekarang. Apalagi karena Saika yang bilang cemas itu jadi
malu dan memeluk tubuhnya sendiri, lengan yang dilingkarkan di tubuhnya itu
malah menekan dadanya yang besar sampai bentuknya jadi tidak karuan...
Pemandangan yang seolah bisa terdengar efek suara munyu itu membuat
kosakata di otakku hancur lebur.
"Eh itu...
terima kasih banyak!"
"...Syukurlah
kalau kamu senang."
Laki-laki mana
pun pasti bakal senang kalau dikasih beginian! Tentu saja sosok Saika yang
seperti ini cuma bisa kulihat sendiri!
Saat aku sedang
menikmati perasaan bahagia karena cuma aku yang bisa melihat pemandangan
terbaik ini, Saika memberi isyarat memanggil.
"Tidak mau
lihat lebih dekat? Ayo sini, Kai-kun."
...Fuuuh,
kayaknya aku memang harus maju. Dibilang begitu oleh Saika sendiri, sayang
sekali kalau aku tidak mendekat.
Aku pun mendekat
sampai ke jarak yang bisa disentuh jika aku mengulurkan tangan.
Dari situ,
berbagai bagian terlihat lebih jelas dibanding tadi, kerutan halus di
setelannya pun terlihat... dan yang terpenting, tonjolan kecil di dada yang
sedari tadi membuatku penasaran juga terlihat dengan sangat jelas.
"Guh...
cocok banget, dan seksi banget... ah emm... pokoknya mantap... ya."
"...Begitu?
Kalau begitu aku senang."
Gawat. Hidungku
mulai terasa panas... sensasi ini memberitahuku kalau sebentar lagi aku pasti
bakal mimisan.
"Tidak
mau ambil foto?"
"...Ah."
Benar
juga... tujuan utamanya kan memang pemotretan di sini. Aku mengatur layar
ponsel agar seluruh sosok Saika masuk ke dalam bingkai, lalu mengambil beberapa
foto.
Hanya dengan ini
saja aku sudah puas, tapi Saika malah mengatakan hal lain.
"Hei,
waktunya masih ada... masih banyak hal yang bisa dilakukan, lho."
"Banyak
hal?"
Saika mengangguk,
lalu menaruh jarinya di ritsleting bagian leher. Baru saja aku berpikir
'jangan-jangan', Saika perlahan-lahan menurunkan ritsleting itu... Saika
berhenti tepat saat ritsletingnya sampai di bawah dada.
"He-hei...!"
Ca-cara
melepasnya... kalau dilihat dari jarak sedekat ini daya hancurnya bukan main,
lho!?
Dari awal saja
daya hancurnya sudah gila, tapi ini seolah-olah Saika benar-benar ingin
membunuhku. Intinya, tingkat keseksiannya melonjak drastis.
Padahal dia sudah
melakukan sejauh ini, seharusnya dia menunjukkan wajah bangga, tapi Saika masih
terlihat malu-malu, dan itu benar-benar curang sekali.
"Terus...
yang ini begini."
Sebenarnya... apa
yang mau dilakukan Saika?
Karena ini ruang
pemotretan, ada berbagai macam aksesori yang tersedia, dan yang diambil Saika
adalah borgol mainan.
Setelah
mengaitkannya ke dinding, dia mengangkat tangannya ke atas kepala... lalu
menguncinya dengan borgol?
"Sekarang
sudah jadi."
"!?!"
Apa yang
dilakukan Saika... itu adalah sebuah arahan gaya. Baju setelan yang terbuka,
tangan yang terborgol, dan entah itu akting atau bukan, dia menatapku dengan
wajah yang sedikit ketakutan.
Sosok itu
benar-benar mirip seperti tokoh utama wanita yang akan diperlakukan macam-macam
setelah ini.
"Setelah
ini... apa yang akan kamu lakukan padaku...!?"
Sa-sampai
dialognya pun diucapkaaaan!? Bukan cuma kata-kata, dia juga sedikit melotot padaku, tapi ekspresi itu
sangat cocok dengan situasinya.
"...Izinkan
saya mengambil fotonya!"
Tentu saja aku
tidak meraba-raba atau melakukan hal mesum... aku tidak melakukannya.
Soalnya ini kan
di dalam toko, kalau aku melakukan hal yang keterlaluan nanti urusannya bukan
cuma dilarang masuk... kalau sampai dipanggil polisi kan tidak lucu.
Setelah mengambil foto-foto mantap di ponsel, karena waktunya juga sudah hampir habis, Saika pun masuk ke balik tirai untuk berganti baju.
"...Fuuuh."
Lelah juga...
lelah sih, tapi tadi benar-benar luar biasa.
Setelah itu, aku
keluar toko bersama Saika yang sudah selesai berganti baju... tapi sepertinya
aku sudah menderita penyakit kronis, karena pemandangan tadi menempel begitu
kuat di ingatanku sampai-sampai sosoknya dalam balutan spy suit terus
terbayang seperti halusinasi.
"Fotonya,
bisa tolong kirimkan padaku juga?"
"Eh? A-ah, tentu saja!"
Aku
segera mengirimkan foto-foto yang tadi kuambil kepada Saika. Omong-omong,
setelah mengambil foto situasi super seksi tadi, aku juga sempat berfoto berdua
dengannya... dan di situ aku benar-benar terlihat seperti penjahat di manga
dewasa.
"Posisimu
seperti orang yang bakal bilang, 'Heyoo, kalian lihat tidak?', ya,
Kai-kun."
"Jangan
diteruskan, ya?"
Aku juga
memikirkan hal yang sama, tapi kalau diucapkan begitu aku jadi malu juga. Nah,
tepat saat aku sedang berpikir hendak ke mana setelah ini, perutku berbunyi
pelan.
"Ah...
sudah hampir jam makan siang, ya."
"Sepertinya
kamu terlalu asyik bersenang-senang di toko tadi?"
"Yah,
begitulah..."
Benar,
sepertinya kami memang terlalu asyik bersenang-senang. Meski kami sudah datang
sejak pagi, tapi perjalanan ke stasiun, pindah kereta, jalan kaki ke toko,
ditambah menghabiskan waktu yang begitu "padat" di sana, wajar saja
kalau waktu berlalu begitu cepat.
"Aku...
rasanya ingin makan ramen lagi bersamamu, Kai-kun."
"Kalau
begitu, ayo cari ramen!"
Tanpa membuang
waktu, kami masuk ke kedai ramen terdekat. Meski aku sama sekali tidak tahu
tentang kedai-kedai di daerah sini, tempatnya terlihat sangat ramai, menandakan
bahwa ini adalah kedai populer. Aroma kuat khas kedai ramen menggoda selera
makanku, dan perutku kembali berbunyi.
"Aku pesan
ramen shoyu saja deh."
"Ah, kalau
begitu aku juga pesan yang sama."
Kami berdua pun
memesan ramen shoyu. Sambil menunggu pesanan diantar, aku mengedarkan pandangan
ke pelanggan di sekitar, tapi seperti dugaan, tidak ada sosok yang kukenal.
"Terima
kasih telah menunggu!"
Setelah menunggu
beberapa saat, ramen pun diantar ke meja. Aku tahu kedai mana pun pasti
menyajikan hidangan yang sudah teruji, tapi tetap saja, makan di tempat yang
baru pertama kali dikunjungi selalu memberikan sensasi berdebar yang bikin
ketagihan.
"Selamat
makan."
Aku mengatupkan
kedua tangan. Pertama, kucicipi kuahnya... enak. Lalu mienya... kumakan bersama
daun bawang dan chashu-nya... Mantap!
"Enak
ya."
"Iya.
Benar-benar enak."
Ini... ramen enak
yang nilainya seratus poin sempurna. Yah, pada dasarnya aku merasa semua ramen
yang dimakan di kedai itu enak, malah jarang sekali aku menemukan ramen yang
rasanya tidak enak. Tentu saja kedai seperti itu mungkin ada, tapi aku belum
pernah sial sampai masuk ke kedai macam itu.
"Kai-kun."
"Ya?"
"Nanti
siang, bolehkah kita pergi ke tempat yang ingin kukunjungi?"
"Tentu saja.
Lagipula dari awal memang itu tujuanku."
Benar. Pergi ke
tempat yang diinginkan Saika adalah tujuan utama kencan hari ini.
"...Fufu."
"Ada
apa?"
"Tidak, aku
hanya merasa ini sangat menyenangkan. Apa yang kita lakukan sekarang adalah
kencan... Menghabiskan waktu sesukaku bersama Kai-kun, makan makanan enak,
pergi ke tempat yang ingin kudatangi... hanya hal sederhana seperti itu, tapi
hal sesederhana itu terasa begitu berharga bagiku."
Sambil berkata begitu, Saika menarik tanganku. ...Untunglah
sekarang Saika tidak sedang melihatku. Karena saat ini wajahku pasti sudah
merah padam, dan aku yakin tidak akan sanggup menatap mata Saika secara
langsung.
Setelah itu, kami terus berjalan hingga sampai di sebuah
taman yang menghadap ke danau. Tempat itu cukup ramai oleh orang-orang yang
berfoto dengan latar belakang danau yang indah, dan kesanku adalah tempat ini
banyak didatangi oleh keluarga.
"Di
sini sangat indah, kan? Sepertinya banyak orang yang datang ke sini."
"Heh... jadi
kamu ingin ke sini?"
"Iya. Lebih
tepatnya, aku tertarik pada suatu hal."
"Hmm?"
"Itu."
"Tempat
penyewaan kapal...?"
Jari Saika
menunjuk ke arah dermaga kapal. Begitu ya... rupanya ini yang ingin dilakukan
Saika.
"Ayo?"
"Oke."
Kami segera
menuju tempat penyewaan kapal. Setelah mendengarkan penjelasan mengenai aturan
keselamatan dari petugas, kami pun meluncur ke tengah danau.
"Tadinya
kukira mendayung itu susah, tapi ternyata lumayan bisa juga."
"Kamu mahir,
Kai-kun. Bilang ya kalau kamu lelah?"
"Tidak,
biarkan aku saja yang melakukannya. Lagipula ini mulai terasa seru."
Ternyata
mendayung kapal dengan dayung kayu seperti ini cukup menyenangkan. Jika terus
begini mungkin lenganku akan pegal, tapi kalaupun itu terjadi, berhenti sejenak
di atas air juga bukan ide yang buruk.
"Ah, lihat
itu, Kai-kun."
"...Wah."
Dari arah
seberang, sebuah kapal berbentuk anak ayam mendekat. Kapal yang kunaiki bersama
Saika adalah kapal biasa, tapi ternyata memang ada ya kapal bentuk anak ayam
seperti itu.
"Hup."
Meski
tidak sampai bertabrakan, aku mengatur arah agar kami tetap menjaga jarak. Saat
berpapasan dengan kapal anak ayam itu, aku melihat penumpangnya adalah dua
orang pria. Sepertinya mereka benar-benar menikmati waktu mendayung, karena
mereka terlihat asyik saling tunjuk menentukan arah selanjutnya.
"Hal seperti
itu bagus juga ya."
"Iya...
mereka terlihat sangat senang."
Setelah
melirik singkat ke kapal itu, aku kembali mendayung. Ini pertama kalinya aku
berduaan saja dengan seorang gadis di atas danau... rasa gugup di awal tadi
sudah memudar, dan kini aku benar-benar menikmati waktu bersama Saika. Kami
menghabiskan waktu menyenangkan di atas air tanpa ada yang mengganggu, sambil
mengobrol tentang air yang jernih, menebak-nebak jenis ikan yang lewat, hingga
topik yang agak seram seperti apa jadinya kalau terjatuh ke air.
"Romantis...
ya?"
"Iya...
rasanya sangat tenang dan syahdu."
Suara air
yang mengalir tenang terasa sangat menenangkan. Jika aku memejamkan mata,
rasanya seperti sedang memakai earphone dan mendengarkan ASMR suara air.
"Kai-kun,
mau coba melewati kolong jembatan itu?"
"Oh, boleh
juga."
Aku memutar arah
kapal menuju jembatan yang bentuknya melengkung. Kalau aku berdiri, sepertinya
aku bisa menyentuh bagian bawah jembatan, tapi tentu saja aku tidak punya cukup
keberanian untuk melakukan hal berbahaya seperti itu.
"Satu,
dua... pelan-pelan lewat sini."
"Kai-kun
pintar mendayung."
Hehe, serahkan
saja padaku! Dengan kontrol kapal yang bahkan membuatku kaget sendiri, kami
melewati bawah jembatan secara perlahan. Saat aku mendongak, aku melihat sebuah tanda
berbentuk hati di sana.
"Tadi itu,
kamu lihat bentuk hati?"
"Iya, aku
lihat."
Sepertinya Saika
juga melihatnya. Itu pasti bukan sesuatu yang terbentuk secara tidak sengaja.
Tanda hati yang hanya terlihat saat melewati bawah jembatan dengan kapal...
benar-benar romantis, sampai-sampai aku sedikit tersenyum sendiri.
"...Fuuuh."
"Lelah?"
"Sedikit."
Aku melepaskan
dayung dan memutar bahuku sedikit. Wah, sepertinya besok lenganku bakal pegal-pegal. Menyedihkan memang,
tapi biasanya kalau menggunakan otot yang tidak biasa dipakai, hari berikutnya
pasti sakit. Tapi jika dipikir ini setimpal dengan waktu yang kuhabiskan
bersama Saika, pegal-pegal adalah harga yang murah.
Setelah
beristirahat sejenak, kami kembali ke dermaga.
"Saika."
"Iya...
ah."
Saat hendak turun
dari kapal, Saika kehilangan keseimbangannya. Karena tidak ingin terjadi
sesuatu pada Saika, tubuhku bergerak lebih cepat daripada otakku. Aku
mengulurkan tangan menopang tubuh Saika, dan dengan sedikit paksaan, aku
menariknya ke dalam pelukanku.
"Kamu tidak
apa-apa?"
"I-iya...
nnh."
Petugas dermaga
sempat berlari mendekat karena panik, tapi kami segera memberitahunya bahwa
kami baik-baik saja lalu pergi dari sana dan duduk di bangku di bawah pohon
yang rindang. Aku terus memperhatikan kondisi Saika selama kami berjalan ke
sini, tapi sepertinya dia tidak mengalami luka atau sakit di mana pun, jadi aku
bisa merasa lega.
"Yah,
meskipun tidak terbiasa, tapi tadi seru juga ya."
"Begitu?
Kalau kamu merasa begitu, aku senang."
"Aku
benar-benar senang sudah datang. Terima kasih ya, Saika... sudah mengajakku."
"Tidak,
justru aku yang berterima kasih, Kai-kun. Karena aku merasa benar-benar tidak
ingin kalah."
"Tidak ingin
kalah?"
Apa maksudnya?
Karena penasaran, aku menatap Saika lekat-lekat. Sambil terlihat malu-malu, dia
pun memberitahuku.
"Itu...
Kai-kun, kamu pernah menginap di rumah Matsuri-san, kan?"
"...Eh?"
"Aku
mendengarnya saat menelepon Matsuri-san. Dia bilang itu sangat menyenangkan,
dia bilang kamu menunjukkan sisi kerenmu... dia terdengar sangat bahagia."
".................."
Be-begitu ya...
rupanya Matsuri menceritakannya pada Saika. Bukannya aku melarangnya bercerita,
dan sekarang Matsuri maupun Saika sudah bisa dibilang sebagai sahabat dekat,
jadi tidak aneh kalau mereka saling bercerita hal seperti itu.
"Mendengar
itu, aku juga jadi ingin melakukan sesuatu bersamamu, Kai-kun. Karena ini libur
musim panas, kita tidak bisa bertemu di sekolah... makanya aku mengajakmu hari
ini."
"Jadi begitu
alasannya."
"Iya... Hei
Kai-kun. Tadi kita
melewati kolong jembatan, kan?"
"Ya."
"Terus
kita melihat tanda hati, kan? Sebenarnya jembatan itu punya legenda
kecil."
"Legenda?"
"Katanya,
dua orang yang melewati kolong jembatan itu dengan kapal akan bersatu...
begitulah legendanya."
"!"
Mendengar
kata-kata yang tak terduga itu, aku refleks menatap Saika. Dia menatap ke arah
jembatan untuk beberapa saat, lalu mengalihkan pandangannya padaku sambil
tersenyum tipis.
"Aku
menyukaimu, Kai-kun."
".................."
"Aku
menyukaimu sebagai seorang pria... aku ingin terus bersamamu mulai sekarang.
Aku ingin berbagi waktu dengamu selamanya."
Kata-kata Saika
meresap masuk ke dalam kepalaku dengan begitu lancar. Biasanya saat mendengar
sesuatu yang sulit dipercaya, seseorang akan bertanya balik untuk memastikan...
tapi kali ini aku tidak melakukannya, karena aku tahu bahwa kata-kata Saika
bukanlah sesuatu yang mengejutkan.
"Maaf ya
menyampaikannya secara tiba-tiba? Tapi, mengingat interaksi kita selama ini,
kurasa ini sudah tidak mengejutkan lagi."
"Benar...
juga ya."
"Makanya
kupikir tidak apa-apa jika aku mengatakannya. Tetap bersama dalam hubungan yang
sekarang pun tidak buruk, dan karena Kai-kun juga bilang ingin terus bersama...
aku tahu kita akan terus bersama. Tapi tetap saja, aku merasa ingin
menyampaikan perasaanku."
".................."
Itu benar-benar
sebuah pengakuan yang jujur dan apa adanya. Aku memejamkan mata seolah ingin
meresapi setiap kata dari Saika. Karena merasa tenggorokanku kering, kuminum
jus yang sudah kubeli sebelumnya.
"...Fuuuh."
Setelah itu, aku
mengambil napas dalam-dalam beberapa kali, lalu baru membuka suara.
"Terima
kasih ya, Saika. Aku sangat senang... benar-benar senang."
Benar... aku
sangat senang. Aku senang, tapi saat ini, menyedihkannya ada sisi dalam diriku
yang merasa tidak bisa langsung mengangguk setuju atas kata-kata itu. Serius
deh, kenapa sih aku punya kegalauan seperti ini? Meski dibilang galau pun ini
terlalu mewah, tapi begitu berada di posisi ini, rasanya sulit dan membuat
kepalaku sakit.
"Dari
posisimu, ini sulit, kan? Aku bisa tahu hanya dengan melihat ekspresimu itu...
karena baik aku, Matsuri-san, maupun Emu-chan, kami semua menyukai Kai-kun.
Kami semua telah diselamatkan olehmu... baik raga maupun jiwa kami."
".................."
"Kalau tidak
ada Kai-kun, kami mungkin tidak akan ada di sini... kamu sudah melakukan
sebanyak itu untuk kami. Karena itu, maafkan aku ya, Kai-kun."
"Eh?"
"Aku akan
mengatakan sesuatu yang akan makin membuatmu kesulitan, ya? Termasuk aku dan
juga Matsuri-san, sepertinya kami tidak bisa apa-apa tanpa Kai-kun. Kami sudah
tidak ingin lepas darimu lagi."
Tidak bisa
apa-apa tanpaku... ya.
Kurasa ini bukan
sekadar kata-kata manis belaka... Nah, apa jawaban yang paling tepat?
Jujur saja, aku
sudah memikirkan banyak hal. Sampai sekarang pun aku belum menemukan jawaban
yang pasti, tapi... yah... terus diam saja juga tidak jantan.
Meski apa yang
akan kukatakan ini juga memalukan, sepertinya tidak ada salahnya jika aku
memintanya untuk mendengarkanku kali ini.
"Hei
Saika... boleh aku bicara?"
"Boleh."
"Aku...
menyukai kalian semua."
Menyukai kalian
semua... pada akhirnya, hanya jawaban itu yang bisa kutemukan.
Perasaanku yang
bilang ingin terus bersama Saika dan yang lainnya itu bukan bohong. Aku
benar-benar ingin terus bersama kalian... jika itu disebut sebagai hubungan
yang spesial, maka aku memang menginginkannya dengan kalian bertiga.
"Aku... jadi
menyukai kalian semua."
"...Fufu,
begitu ya."
Hubungan kami
sudah terlalu dekat untuk disebut sebagai teman biasa. Memang benar aku pernah
berpikir ingin berbuat sesuka hati pada mereka dengan kekuatan Partner, dan aku
ingin mencapai puncak dari hasratku.
Malah aku sempat
bersemangat membayangkan betapa asyiknya jika aku punya hubungan semacam itu
dengan mereka bertiga, itu kan namanya harem.
Tapi
kenyataannya... aku tetap tidak melewati batas minimal, dan sepertinya aku
hanya ingin mempertahankan hubungan yang seperti biasa dengan mereka bertiga.
Tanpa ada yang
berubah, karena jika tidak menjadi lebih dari ini, aku tidak perlu memikirkan
hal-hal yang rumit... jadi sebenarnya, aku hanya menginginkan hubungan yang
sekarang ini terus berlanjut.
"Jika kamu
tidak membenci kami, aku sudah senang."
"Mana
mungkin aku membenci kalian... bukan cuma Saika, aku juga jadi sangat akrab
dengan Matsuri dan Emu... aku pun tidak ingin terpisah dari kalian bertiga,
makanya aku mengatakannya dengan jujur saat kita di kolam renang dulu."
"Iya. Dan
kami juga menjawabnya dengan jujur... aku sangat senang mengetahui Kai-kun
merasakan hal yang sama, sampai-sampai hari itu aku tidak bisa tidur untuk
waktu yang lama."
Aku juga mirip-mirip begitu, kok.
"...Jawabannya
sudah diputuskan... kurasa begitu. Tapi ini sulit ya... sial."
Satu jawaban
sebenarnya sudah keluar... tidak ada jawaban lain. Tapi alasan kenapa aku tidak
mengucapkannya adalah karena sisa logika dalam diriku, dan rasa takut apakah
ini benar-benar tidak apa-apa.
"Aku bisa
menunggu selamanya. Karena kami semua menyukai Kai-kun—jawaban apa pun itu,
kami pasti akan menerimanya."
"...Serius
deh, kalian ini benar-benar terlalu berharga untuk orang sepertiku."
"Itu
karena kami punya daya tarik yang bisa membuatmu bicara begitu. Dan Kai-kun pun, punya daya tarik yang
sama."
"Begitu
ya... haha, aku senang mendengarnya."
Partner... serius
deh, sepertinya kita sudah sampai di tempat yang luar biasa.
Sudah kukatakan
berkali-kali, padahal awalnya aku adalah orang bejat yang ingin menggunakan
Partner demi membangun surga dunia.
"Saika."
"Apa?"
"Aku akan
segera memberikan jawabannya... karena aku memang ingin melakukannya."
"Aku
mengerti."
Begitulah,
percakapan itu pun berakhir untuk sementara, dan kami mulai berjalan kembali.
Begitu mulai berjalan, kami saling menggenggam tangan.
Di saat seperti
ini, sebenarnya aku juga senang kalau dia menggandeng lenganku, tapi mungkin
karena cuaca panas dan tangan kami sedikit berkeringat, Saika menahan diri.
"Meski aku
membuatmu kesulitan, tapi untuk saat ini aku memimpin, kan? Karena menyampaikan
perasaan dengan jelas di awal itu akan selalu membekas di ingatan."
"...Jangan-jangan
karena itu, jadi begini?"
"Eh?"
"Maksudku...
rasanya jarak kita sekarang jadi jauh lebih dekat dari biasanya."
"Iya.
Soalnya aku tidak perlu menahan diri lagi."
Sepertinya
dugaanku benar, jarak kami terasa jauh lebih dekat setelah pembicaraan tadi. Sisa waktu kencan kami habiskan
dengan melupakan hal-hal sulit sejenak dan bersenang-senang.
Waktu
berlalu dan di dalam kereta saat perjalanan pulang, sepertinya Saika kelelahan
karena dia tertidur dengan bersandar di bahuku.
Aku
menatap wajah tidurnya yang imut sambil merenungkan kejadian hari ini.
"Aku...
harus bicara dengan semuanya."
Sambil
menggenggam tangan Saika yang terlelap, aku pun membulatkan tekad.
Aku tidak
akan memberikan kepura-puraan atau jawaban yang setengah-setengah... meskipun
itu bukan jawaban yang dianggap benar oleh dunia, aku akan memberikan jawaban
dengan kata-kata yang sudah kupikirkan matang-matang.
Karena itulah bentuk pertanggungjawabanku, dan juga bentuk dari keinginanku.



Post a Comment