Chapter 3
Yuk, Coba ke Kafe
Maid, Bro!
Beberapa hari telah berlalu sejak hari di mana aku dan
Aisaka terjebak hujan deras yang luar biasa hingga basah kuyup.
Bagiku, setiap
hari masih terasa menakjubkan karena aku terus menggunakan kekuatan si Partner
kepada Aisaka dan Aguma.
Namun belakangan
ini, aku merasa tekanan dari Aguma terasa begitu kuat... tepatnya, aku mulai
merasakannya sejak sehari setelah insiden dengan Aisaka itu.
"Anu...
Aguma-san? Kenapa suasana hatimu kelihatannya buruk sekali?"
"…… Entahlah."
Meski aku bertanya padanya, Aguma tetap bersikukuh menjawab
tidak tahu.
Apa maksudnya
dengan hipnotis...? Apa maksudnya dia tidak bisa berbohong...? Apa maksudnya
dia tidak bisa menyembunyikan rahasia?
Meski berbagai
pertanyaan itu berputar-putar di benakku, ekspresi Aguma yang sedang merajuk
itu terlalu manis hingga aku jadi tidak peduli lagi... yah, sebenarnya aku
peduli sih, tapi sensasi empuk yang kurasakan di lenganku seolah menghanyutkan
segalanya.
Aku merasa diriku
ini dangkal sekali, tapi laki-laki memang tidak akan pernah bisa menang melawan
payudara. Titik.
"Ada apa?
Mukamu kelihatan serius banget."
"Ah,
nggak……"
Dua puluh persen
pikiranku tertuju pada ekspresi Aguma yang penuh tekanan, dan delapan puluh
persen sisanya tertuju pada sensasi "aset berharga" miliknya yang
selalu membuatku merasa bahagia... Saat aku sedang melamun dengan pembagian
konsentrasi seperti itu, Shogo yang tiba-tiba sudah berada di sampingku
memanggil.
Aku tersentak dan
kembali tersadar, namun aku sama sekali tidak ingat apa yang baru saja Shogo
bicarakan.
"Yah, aku
sudah duga sih kalau kamu nggak dengerin dari tadi."
"Maaf, aku
tadi lagi mikirin sesuatu."
"Mikirin
apa?"
Tentu saja aku
tidak bisa bilang kalau aku sedang memikirkan Aisaka dan Aguma, jadi aku
berusaha mencari alasan untuk menutupinya.
Sambil
membayangkan dada besar mereka berdua yang masih membekas di kepalaku, aku
berusaha sekuat tenaga menahan pipiku agar tidak kendur kegirangan, lalu
memanggil Akira.
"Akira, ekskulmu gimana?"
"…… Kamu beneran nggak dengerin ya. Hari ini ekskul libur."
"Ah……"
…… Fuu, aku benar-benar tidak mendengarkan
pembicaraan mereka berdua.
Setelah aku menyimak kembali, sepertinya Shogo dan aku yang
biasanya punya banyak waktu luang sepulang sekolah ingin mengajak Akira
bergabung. Mumpung Akira juga sedang senggang karena ekskulnya libur, dia
mengusulkan agar kami bertiga menghabiskan waktu bersama.
"Kalau itu
sih aku mau saja."
"Ada ide mau
ke mana?"
Mendengar
pertanyaan Akira, Shogo tersenyum nakal.
"Pertanyaan
bagus! Begini, ingat tidak aku pernah cerita kalau di depan stasiun ada Maid
Cafe yang baru buka? Bagaimana kalau hari ini kita bertiga menyerbu ke
sana!?"
Pergi ke Maid
Cafe? Mendengar
usulan itu, aku dan Akira saling bertukar pandang.
Saat aku
kembali menatap Shogo, napasnya tampak memburu karena saking bersemangatnya. Sepertinya
dia benar-benar ingin pergi ke sana.
" Maid Cafe ya……"
"…… Aku pernah lihat di TV, tapi tempat seperti apa itu
sebenarnya?"
Kebetulan aku sendiri belum pernah ke Maid Cafe, dan
bagi Akira, tempat itu pasti terasa semakin asing lagi.
"Aku juga belum pernah, makanya aku nggak tahu! Tapi begini lho, pengalaman itu
kan berguna buat masa depan! Sebagai pemuda sehat yang hidup di masa sekarang,
setidaknya kita harus merasakan seperti apa rasanya Maid Cafe sekali
seumur hidup!"
"Logika macam apa itu……"
…… Namun, aku setuju kalau tempat itu memang membuat
penasaran.
Pengetahuanku tentang Maid Cafe hanya sebatas apa
yang kulihat di manga, anime, atau game, jadi aku sama sekali tidak bisa
membayangkan seperti apa wujud aslinya... Sejujurnya, aku sangat tertarik!
"…… Karena belum pernah, aku jadi penasaran juga
sih."
"Kan, apa
kubilang!? Kai saja setuju, gimana kalau kamu, Akira!?"
"O-oi,
jangan dekat-dekat mukamu!!"
Berbeda denganku
dan Shogo, Akira adalah anak klub sepak bola yang populer.
Aku mengira dia
tidak akan setuju meski kami berdua sangat ingin pergi... Namun di luar dugaan,
setelah berpikir sejenak, Akira memberikan jawaban yang mengejutkan.
"Begitu ya…… Baiklah. Kalau bukan karena kesempatan ini, aku mungkin nggak akan pernah pergi ke
tempat seperti itu. Kalau kalian berdua pergi, ajak aku juga."
"Haha! Nah,
gitu dong!!"
Mendengar Akira
minta diajak, Shogo kegirangan bukan main.
Yah, aku sendiri
pun merasa terkejut, tapi aku senang Akira mau ikut... Tidak, bukan begitu.
(Apa rasa
senangku ini karena aku bisa menghabiskan waktu bareng teman-teman... ya?)
Begitu aku
memikirkannya, perasaan itu terasa pas di hati.
Kalau mereka
sedang terhipnotis mungkin lain ceritanya, tapi di kondisi sadar dan sebagai
teman, aku tidak akan pernah sanggup mengucapkan hal memalukan seperti itu
kepada mereka.
"Kalau
begitu, ayo berangkat sekarang!"
"Oke."
"Sip."
Melihat
tingkah Shogo yang terlihat sangat berdebar dan antusias, aku dan Akira hanya
bisa tertawa kecil di belakangnya. Benar-benar pemandangan yang menggelikan.
Aku dan
Akira memang tertarik pada Maid Cafe, tapi tetap saja, si bodoh yang
satu itu berkali-kali lipat lebih antusias daripada kami.
"Ah,
Masaki-kun!"
"Eh?"
Tepat saat kami
tiba di rak sepatu, Aisaka dan Aguma sedang berada di sana bersama.
Begitu melihatku,
Aisaka langsung memanggil, dan Aguma pun ikut menoleh mengikutinya.
Soal ekspresi
Aguma yang sedikit cemberut itu... biarlah kusimpan dulu untuk nanti. Aku
meminta Akira dan Shogo menunggu sebentar, lalu menghampiri mereka berdua.
"Aisaka,
Aguma, kalian mau pulang bareng?"
"Iya~
rencananya kami mau mampir ke kafe sebentar."
"Heh."
"……………"
"…… Anu~, Aguma-san?"
Tatapan Aguma terasa menyakitkan!
Sambil menebarkan aura penuh tekanan yang mengingatkanku
pada kondisinya saat terhipnotis, aku sama sekali tidak tahu apa alasan di
balik wajah cemberutnya itu.
Aisaka yang berdiri di antara aku dan Aguma tampak
menganggap situasi kami lucu. Dia tertawa kecil lalu mendekat ke arahku.
"っ……"
Aku membiarkan Aisaka mendekat dengan begitu alami.
Jantungku berdegup kencang karena aroma harum yang
samar-samar tercium, namun aku memusatkan seluruh perhatianku pada Aisaka yang
kini mendekatkan wajahnya ke telingaku.
"Aku belum
bilang ke Masaki-kun, tapi kemarin aku cerita soal kejadian itu ke Saika."
"Kejadian
kemarin... maksudmu hari itu?"
"Iya benar!
Terus sepertinya Saika merasa agak kurang senang, atau lebih tepatnya... dia
jadi sedikit cemburu padaku."
"…… Ooh?"
Saat aku melirik ke arah Aguma, dia memalingkan wajahnya
lagi sambil mendengus pelan.
"Saika juga
sama sepertiku, dia ingin lebih akrab lagi dengan Masaki-kun. Makanya begitu
aku cerita kalau aku pernah main ke rumahmu, dia jadi begitu."
"…… Begitu ya?"
Yah, bagaimanapun juga... memang benar bagi Aguma, aku
adalah teman dekat yang setara dengan Aisaka.
Aguma sekarang sudah jauh lebih ceria dan populer dibanding
dulu... tapi sepertinya selain kami berdua, dia belum punya teman dekat lain.
"…… Kalau begitu."
Aku menghampiri Aguma dan mencoba bicara padanya.
"Anu, Aguma…… begini, lain kali…… apa kamu mau main ke
rumahku juga?"
"っ……! Boleh?"
"A-ah, iya…… waktu Aisaka datang, namamu juga sempat
disebut. Kakakku juga bilang
kalau dia sangat ingin bertemu denganmu."
Wajah
cemberutnya tadi langsung menghilang, dan kini dia menatapku dengan binar mata
penuh harapan yang luar biasa sampai-sampai aku tidak bisa menarik kembali
kata-kataku.
"Kalau
begitu, aku juga mau ikut lagi!"
"Ah, iya…… silakan."
Maka, tanpa bisa
melawan arus, satu janji pun terbentuk.
Mungkin karena
aku belum terbiasa mengundang perempuan ke rumah, aku jadi menggunakan kakakku
sebagai tameng... tapi kalau dipikir lagi dengan tenang, bukankah ini langkah
yang hebat dariku?
Ini adalah
pertama kalinya aku bisa menghabiskan waktu bersama mereka berdua di luar
sekolah sejak di rumah Aisaka... Artinya, aku akan bisa menikmati momen
kebahagiaan itu dalam waktu yang lama!!
(Mantap sekali…… guhehe)
Sambil menyembunyikan tawa menjijikkan yang mustahil
kuperlihatkan di wajah, aku melepas kepergian mereka berdua dalam hati.
"…… Ah!"
Tiba-tiba, aku
teringat akan keberadaan teman-temanku.
"…… Baiklah, mari kita menuju Maid Cafe!"
"Kamu tadi
lagi mengalihkan pembicaraan ya……"
"Kamu
beneran mengalihkan pembicaraan ya."
Habisnya kalau
aku dicecar terus, suasananya bakal jadi merepotkan.
Daripada begitu, aku mengajak mereka jalan dan mereka berdua
pun bergegas mengikutiku.
"…… Tapi ya, sekarang aku malah jadi merasa
gugup."
Begitu
mulai berjalan, Shogo langsung berujar demikian.
Apapun itu,
pengalaman pertama memang selalu membuat gugup, dan aku pun merasakan hal yang
sama.
Meski pada
dasarnya ini adalah sebuah kafe, tapi tujuannya adalah Maid Cafe...
Kemungkinan besar waktu untuk berinteraksi dengan perempuan akan sangat banyak,
dan itu cukup membuatku tegang.
"Bukankah
kita cuma bicara dengan perempuan yang pakai baju pelayan? Aku memang belum
pernah jadi nggak tahu sih, tapi apa perlu segugup itu?"
"Cih!
Beginilah kalau bicara sama cowok populer!!"
Shogo menepuk
kepala Akira dengan pelan, dan Akira membalas dengan bertanya apa yang dia
lakukan.
Adegan dua
laki-laki yang sedang bercanda ini sama sekali tidak menarik untuk dilihat,
tapi karena aku tahu betapa akrabnya kedua temanku ini, aku menikmati
pemandangan tersebut.
(Ahaha…… ini juga punya sisi bagusnya sendiri. Memang
asyik menggunakan hipnotis pada Aisaka atau Aguma sesuka hatiku, tapi
menghabiskan waktu bareng teman-teman seperti ini ternyata tidak buruk juga.)
Setelah itu, aku pun ikut bergabung dalam percakapan mereka
sambil menuju ke Maid Cafe.
…… Namun, di tengah waktu menyenangkan kami, muncul sesuatu
yang mengganggu.
"っ……"
"Oi oi,
apa-apaan kamu main tabrak saja!"
Tinggal sedikit
lagi kami sampai di Maid Cafe yang dituju.
Saat itu, kami
tidak sedang melengah dan hanya berjalan biasa, namun seorang laki-laki yang
penampilannya memberikan kesan berandalan menabrak Shogo.
"Anu…… tadi itu kamu yang menabrak——"
"Hah!?"
Mendengar bantahan Shogo, laki-laki itu menatap dengan
tatapan tajam yang mengancam.
Bagi Shogo yang tidak pernah berurusan dengan orang seperti
itu, wajar jika dia merasa takut dan mundur selangkah.
Akira hendak maju untuk melindungi Shogo yang ketakutan,
namun aku lebih cepat mengaktifkan si Partner——targetnya tentu saja
laki-laki itu.
"…… Eh?"
"Kenapa
dia……?"
"……………"
Laki-laki itu
mendadak tampak melamun dan gerakannya terhenti sepenuhnya.
Shogo dan
Akira terlihat bingung dengan apa yang terjadi. Bagi mereka, itu adalah
pemandangan yang sangat aneh hingga mereka sedikit lupa kalau baru saja
diganggu.
(Yah, mana
mungkin mereka terpikir kalau ada yang namanya aplikasi hipnotis.)
Tapi, inilah
kekuatan yang telah memberiku mimpi... Meski dalam bentuk seperti ini,
terima kasih ya, Partner, karena sudah melindungi temanku!
"…… Mm?"
Tepat setelah aku berterima kasih pada Partner di
dalam hati, aku merasa layar ponselku seolah bersinar, tapi... apa itu cuma
perasaanku saja?
"Ah...
sekarang bukan saatnya memikirkan itu."
Meski aku
berhasil menghentikan gerakan laki-laki itu, aku tidak bisa membiarkan
pemandangan aneh ini berlangsung terlalu lama.
Kecil
kemungkinannya sih... tapi aku tidak mau keberadaan Partner sampai
ketahuan... Kalau sampai itu terjadi, kehidupan merah jambuku bakal berakhir.
"Ini…… ada
apa dengan dia?"
"Entahlah……"
"Dia nggak
apa-apa……?"
Sambil
berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi, aku mendekati laki-laki itu perlahan.
Laki-laki yang
menatapku dengan mata kosong itu sudah sepenuhnya terhipnotis... tapi sayang
sekali, aku tidak punya hobi dipandang oleh laki-laki dalam kondisi seperti
itu!
"Cepat pergi
dari sini dengan kecepatan penuh."
"…… Paham."
Laki-laki
itu langsung berbalik dan berlari pergi dengan sangat cepat.
"Kai…… kamu tadi bilang sesuatu?"
"Nggak kok? Aku tadi cuma mendekat karena penasaran,
terus dia tiba-tiba pergi begitu saja."
"Ooh……"
Sesuai dugaanku,
kata-kataku sama sekali tidak dicurigai.
Merasa sudah
cukup, aku melepaskan hipnotisnya... yah, kalau dia lari secepat itu, sekarang
pasti dia sudah kelelahan dan tidak mungkin kembali lagi ke sini.
"Baguslah
nggak ada kejadian apa-apa. Aku dan Shogo kan nggak terbiasa berkelahi, jadi
malas kalau sampai adu jotos. Kamu juga, Akira, demi ekskulmu kan kamu pasti
mau menghindari perkelahian apa pun bentuknya, kan?"
"Benar juga…… aku sampai keringat dingin tadi."
"…… Kai, jangan-jangan kamu tadi maju itu
karena——"
Seolah memotong kata-kata Akira, aku bertepuk tangan dengan
keras.
"Sudahlah, ayo lupakan kejadian buruk tadi di Maid
Cafe!"
"Oh, benar juga!"
"…… Haha, ayo deh!"
Maka kami bertiga pun melangkah menuju Maid Cafe yang
sudah terlihat di depan mata.
…… Alasan kenapa aku memotong kata-kata Akira bukan karena
apa-apa, tapi karena masalahnya sudah selesai berkat kekuatan Partner.
Karena Akira sangat bersungguh-sungguh dengan ekskulnya
berbeda dariku dan Shogo, masalah sekecil apa pun di luar sekolah bisa
menghambat langkahnya... Jika ada kemungkinan sekecil apa pun perjuangan
sahabatku akan sia-sia, aku tidak akan ragu menggunakan kekuatan Partner
di tempat umum seperti tadi... Sesederhana itu alasannya.
◆◇◆
Meskipun sempat ada insiden, kami bertiga akhirnya
menginjakkan kaki di Maid Cafe untuk pertama kalinya seumur hidup.
Begitu melangkah masuk, tempat itu benar-benar terasa
seperti dunia lain.
Berbeda dengan kafe biasa, di sana ada gadis-gadis yang
mengenakan seragam pelayan yang tidak biasa dilihat di tempat umum... Disambut
dengan suara "Selamat datang kembali, Tuan Muda," aku yakin wajah
kami bertiga pasti sudah memerah saat itu.
"Ini daftar minumannya yaaa~"
"Wah…… banyak sekali pilihannya!"
"Tuan Muda
mau pesan yang manaaa?"
"Aku…… pesan yang ini saja deh."
Saat aku melirik, Shogo dan Akira sepertinya sudah mulai
terbiasa, namun tidak denganku.
"……………"
"……………"
Sebab, pelayan yang berdiri di depanku... adalah orang yang
sangat aku kenal.
"Tuan Muda,
Anda ingin memesan apa?"
"Ah, iya…… anu……"
Aku
memberanikan diri untuk melirik ke arahnya sedikit.
Gadis
yang mengenakan seragam pelayan itu... adalah adik kelasku, dan dia adalah
orang yang sebelumnya membuatku menyerah untuk menghipnotisnya karena hobinya
yang mengerikan——Honma Emu.
"Anu…… bisa pesan es kopi saja?"
"Baik, saya mengerti."
Setelah membungkuk dengan sopan, Honma pun pergi.
(E-eh…… Apa-apaan ini!?!?)
Kenapa…… kenapa Honma ada di sini!?
Wajar saja kalau penampilannya berbeda dengan saat di
sekolah, tapi aura yang dia pancarkan sekarang benar-benar berbeda dengan apa
yang kulihat selama ini sampai-sampai aku butuh waktu sesaat untuk
mengenalinya...
Meski dia terkenal dengan julukan Ratu Es, sepertinya bagi
Akira dan Shogo, mereka tidak akan pernah membayangkan kalau Honma bekerja di
tempat seperti ini... atau lebih tepatnya, karena mereka memang tidak pernah
bicara dengan Honma, mereka sama sekali tidak menyadarinya.
"Oi oi Kai, jangan gugup begitu dong."
"Kamu kelihatannya kaku banget."
"…… Aku tahu kok."
Sepertinya kedua
temanku lebih tertarik pada tingkahku daripada Honma... Yah, siapapun yang
sadar kalau itu Honma pasti bakal jadi seperti ini juga... Haah.
Tapi benar-benar
tidak menyangka kalau si Honma itu bekerja di Maid Cafe...
"…… Eh tapi, apa tidak apa-apa ya kalau dia kerja di
tempat seperti ini?"
"Nggak masalah kok! Seperti yang kalian lihat, ini kan
bukan tempat mesum, dan ini kafe yang membolehkan siswa SMA kerja paruh
waktu."
"Heh……"
(……Dunia ini ternyata sempit ya, banyak hal yang nggak
terduga.)
Meskipun saat masuk tadi Shogo dan yang lainnya juga
menyadari keberadaan Honma, sepertinya sekarang mereka sudah terlalu asyik
mengobrol dengan pelayan yang melayani mereka masing-masing.
(……Kalau
dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku bicara lagi dengannya sejak saat itu.)
Sejak hari di
mana aku pergi ke rumahnya dengan niat untuk melakukan hal sesukaku padanya
seperti yang kulakukan pada Aisaka dan Aguma.
Yah, bagi Honma
kejadian saat itu tidak ada dalam ingatannya, jadi dia tidak tahu kalau aku
pernah bicara dengannya atau fakta bahwa hobinya yang Masochist sudah
ketahuan olehku.
(Kalau begitu,
haruskah kujadikan rahasia itu sebagai senjata untuk mengancamnya…… ah,
nggak mungkin lah.)
Bisa dibilang…… meski aku sendiri pengguna aplikasi hipnotis
dan kata-kataku tidak punya kredibilitas, tapi mengancam itu rasanya salah. Itu
melanggar prinsipku.
Lagipula, intinya adalah bersenang-senang dengan gadis yang
sedang terhipnotis; kalau sampai mengancam wanita yang masih sadar, itu sih
namanya sudah bukan manusia lagi…… serius, aku benar-benar tidak punya hak
bicara soal moral, sih.
(Tapi…… karena ini Honma, jangan-jangan dia malah senang?
Atau justru dia bakal menatapku dengan tatapan sedingin es yang bisa membunuh
orang?)
Apapun itu…… rasanya agak ngeri juga.
Saat aku sedang memikirkan hal-hal kurang sopan itu dalam
skala besar, Honma kembali membawa es kopi yang kupesan.
"Mohon
menunggu lama, Tuan Muda."
"Oh…… t-terima kasih."
Honma menyodorkan gelasnya dengan gerakan gesit, namun
wajahnya tetap datar tanpa sedikit pun senyum. Aku sempat sangsi apa dia
benar-benar bisa bekerja melayani pelanggan begini, tapi mungkin justru karena
dia gadis cantik yang cocok dengan ekspresi datar ini, makanya terasa pas.
(Tapi kalau dilihat-lihat…… lumayan juga, ya.)
Aku mencuri pandang, mengamati Honma dari ujung kepala
sampai ujung kaki dalam sekejap. Ada bando dan rumbai-rumbai di berbagai bagian
bajunya, dan bagian itu memang terlihat manis…… tapi! Lebih dari itu, dia
memang benar-benar cantik. Dan yang terpenting, meski tidak seukuran Aisaka
atau Aguma, tubuhnya sangat proporsional dan tonjolan di bagian dadanya juga
sangat luar biasa! Karena dia
memakai tipe rok mini, paha montoknya juga tidak buruk…… Begitu ya,
sepertinya seragam pelayan adalah The Best Equipment.
"Tuan Muda……?"
"Oh, maaf, maaf."
Gawat, gawat, aku harus fokus pada apa yang ada di depanku
sekarang. Untuk mendinginkan kepalaku yang agak memanas, aku mengulurkan tangan
ke es kopi yang sangat dingin itu. Namun saat tanganku hampir menyentuhnya,
Honma menahanku.
"Tuan Muda, saya ingin merapal sihir agar minumannya
jadi enak. Maukah Anda mengucapkan mantranya bersama saya?"
"Mantra?"
"Iya——Moe Moe Kyun. Tolong ucapkan bersama-sama
ya."
"……………"
Ritual memalukan macam apa itu…… tapi ya sudahlah, di tempat
seperti ini hal itu memang biasa.
"…… Baiklah."
"Apakah Anda gugup?"
"Yah, begitulah……"
"Tidak
apa-apa kok kalau suaranya pelan, Senior."
"O-oh…… tunggu, kamu sudah tahu kalau itu aku?"
Ternyata Honma
juga sudah menyadari keberadaanku. Aku mengikuti gerakan Honma, membuat simbol
hati dengan jari-jariku.
"Moe moe…… Kyun."
"Moe moe Kyun♡"
Berbeda denganku yang suaranya gemetar karena malu, suara
Honma terdengar sangat manis…… meski wajahnya tetap datar.
"Silakan dinikmati."
"Oke…… aku minum ya."
Ada apa ini…… padahal cuma minum saja tapi rasanya
melelahkan sekali. Aku mengembuskan napas panjang, lalu akhirnya mencicipi es
kopinya.
"…… Enak."
"Terima kasih, Tuan Muda."
Wah, tidak bohong, ini beneran enak. Sesuai dengan hasil
riset kecil-kecilan yang kulakukan sebelumnya, meski kafe ini baru buka,
pelayanannya dan rasa makanannya punya reputasi yang sangat bagus.
"Apakah
cukup minumannya saja? Jika Anda merasa lapar, bagaimana kalau memesan
makanan?"
"Aku
penasaran sih, tapi karena ini sudah sore, kayaknya nggak usah deh."
"Begitu ya…… kalau begitu, mari kita masuk ke Talk
Time bersama pelayan."
" Talk Time?"
"Iya…… anu, jangan-jangan Anda sama sekali tidak ingat
penjelasan di depan tadi?"
"……………"
Maaf…… sepertinya gara-gara gugup, semuanya hilang dari
ingatanku.
Saat aku mengakuinya, Honma tidak mengubah ekspresinya,
namun dia menatapku seolah sedang melihat sesuatu yang merepotkan sambil
menjelaskan kembali. Talk Time adalah waktu setelah memesan di mana
pelanggan bisa menikmati obrolan sederhana dengan pelayan yang melayani meja
mereka.
"Wah,
Anzai-san sudah di sini sejak pembukaan toko ya!"
"Iya lhooo!
Banyak pelanggan yang datang jadi terasa menyenangkan!"
"Ini seru
banget ya. Aku jadi paham kenapa orang-orang sampai datang berkali-kali."
"Aduh, kamu
bisa saja bicara begitu."
Dari meja
sebelah, percakapan Shogo dan yang lainnya masih terdengar. Mereka sepertinya
sangat menikmati waktu obrolan mereka, jadi kurasa tidak ada salahnya aku juga
menikmati obrolan dengan Honma meskipun di tempat seperti ini.
(……Kukuku.)
Yah, lagipula aku
memang berniat menjadikannya target "main-main" suatu saat nanti.
Walaupun menggunakan kekuatan si Partner itu hal sepele bagiku, mari
manfaatkan kesempatan ini baik-baik——aku akan mengumpulkan berbagai informasi.
"Honma……"
"Iya."
"…… Itu."
"?"
…… Sial, setiap melihat wajah datar Honma, kata-kataku
langsung tertahan. Aguma juga sebenarnya kurang ekspresif, tapi karena aku
akrab dengannya, hal itu jadi tertutupi…… Tapi aku tidak boleh terlihat payah
dan gemetar di depan adik kelas sendiri. Aku menarik napas dalam-dalam untuk
menenangkan diri, lalu menanyakan hal yang mengganjal.
"Sebenarnya
kenapa kamu kerja di sini? Ah, kalau ini masalah pribadi yang nggak bisa
dibicarakan, nggak apa-apa kok."
"Tidak,
soal itu tidak masalah. Hari
ini dia tidak masuk, tapi awalnya karena diajak oleh teman."
"Teman ya……
tapi Maid Cafe itu pilihan yang cukup langka, kan?"
"Saya juga
berpikir begitu. Tapi yah…… ada sesuatu yang saya harapkan juga di sini."
"Hoo?"
Diajak teman
adalah alasan yang klise, ternyata Honma kalau diajak bakal mau kerja di Maid
Cafe juga, ya…… Tapi, saat Honma menyebutkan soal "hal yang
diharapkan", dia terlihat sedikit tersipu.
"Sekarang
boleh giliran saya yang bertanya?"
"Eh? Ah, iya."
"Senior…… apakah Anda sering datang ke Maid Cafe
seperti ini?"
"Nggak, ini pertama kalinya aku ke tempat begini. Yang
mengajak itu Shogo…… anak itu, tapi kupikir setidaknya sekali seumur hidup aku
harus merasakannya."
"Sekali seumur hidup…… itu keputusan dengan skala yang
cukup besar ya."
Lalu akhirnya, Honma mengulas senyum tipis. Jujur saja,
tanpa tersenyum pun penampilan Honma sudah sangat menawan dan aku paham kenapa
dia populer…… tapi dengan senyum kecil begini saja, rasanya julukan "Ratu
Es" itu bisa langsung lenyap seketika. (Meskipun aku sama sekali nggak tahu gimana dia kalau di kelas, sih.)
Setelah itu,
percakapan kami mengalir tanpa henti. Meskipun bayangan tentang Adult Toy
atau interaksi di rumahnya sesekali mengganggu pikiranku, obrolan kami nyambung
secara mengejutkan. Sejujurnya, aku tidak menyangka Honma ternyata seenak ini
diajak bicara.
"…… Rasanya aneh ya."
"Eh?"
Aku
memasang telinga saat mendengar Honma bergumam aneh.
"Saya
biasanya tidak pernah bicara seperti ini dengan orang yang tidak terlalu akrab.
Meskipun Anda adalah senior dari sekolah yang sama, saya merasa bicara dengan
Anda itu sangat mudah sampai-sampai saya merasa aneh sendiri."
"O-oh,
begitu ya……"
Bahkan
Honma sendiri sampai terkejut ya…… aneh juga. Bagiku, tentu saja rasanya tidak
buruk dikatakan begitu oleh gadis yang jarang bicara denganku, tapi di sisi
lain aku juga merasa heran kenapa bisa begitu. Seandainya aku ini cowok tampan
yang populer di kalangan gadis mungkin aku bakal paham, tapi sayangnya
kenyataannya tidak begitu…… Sedih juga ya mengakuinya sendiri.
"Senior…… apakah kita pernah bertemu secara spesial
sebelumnya, tapi sayangnya saya tidak ingat?"
"Eh?"
Honma mendekatkan wajahnya tiba-tiba. Di saat pelayan lain menjaga jarak tertentu, Honma
seolah melompati batasan itu dengan mudah…… jaraknya begitu dekat sampai-sampai
rasanya kami bisa berciuman jika bergerak sedikit lagi.
(……Dia beneran
cantik banget.)
Selain wajahnya
yang rupawan, aku merasa seolah akan tersedot ke dalam matanya.
"Senior, bagaimana…… menurut Anda?"
"Itu……"
Honma menatapku dengan mata yang seolah berkabut karena
panas, namun tiba-tiba dia tersentak sadar dan menarik dirinya kembali.
"M-maaf…… saya bicara yang aneh-aneh."
"N-nggak
apa-apa kok."
Cuma aku kaget
saja tadi……
Suasana canggung
masih menyelimuti kami berdua, dan sejujurnya aku jadi tidak berani menatap
wajahnya secara langsung. Namun tiba-tiba, Honma bertepuk tangan.
"O-oh iya!
Hari ini ada acara yang sedikit spesial, yaitu hari di mana pelanggan bisa
memberikan perintah kepada pelayan dalam batas kewajaran."
"Perintah……?"
"Iya, pelayan itu kan memang harus mengabdi pada
tuannya…… ini adalah acara untuk mewujudkan hal tersebut."
"Begitu ya……"
Yah, biasanya kan batasan antara pelanggan dan pelayan tidak
akan hancur…… Jadi ini acara untuk benar-benar mewujudkan hubungan Tuan dan
Pelayan.
"Dibilang begitu tiba-tiba juga bingung…… hmm."
"Apapun boleh, lho?"
"Apapun?"
Saat aku bertanya balik, Honma mengangguk tanpa ekspresi.
Duh…… dibilang begitu pun, aku tidak bisa langsung terpikir sesuatu. Aku tahu
ini cuma bagian dari acara, tapi tetap saja lawan bicaraku ini adalah adik
kelas……
"Ayo Tuan
Muda, berikan perintah Anda…… tolong minta seolah Anda ingin mendominasi
saya."
"Mendominasi……?"
Honma-san…… sifat M-mu agak kelihatan tuh. Meskipun wajah
aslinya datar, melihat pipinya yang sedikit memerah, aku merasa dia sedang
sangat berharap.
"K-kalau
begitu……"
"……………"
Saat itu, aku
juga merasa agak aneh. Karena meski diajak begitu, aku malah keceplosan
mengatakan hal yang seharusnya tidak pernah diucapkan di depan umum.
"Jilat…… jariku."
Seketika, aku
merasa dunia berhenti berputar. Aku segera tersadar dan menyadari kalau
perintah barusan itu benar-benar mesum, jadi aku berniat menariknya kembali
secepat mungkin…… Namun, Honma langsung menggenggam lembut jariku yang
tergeletak di meja.
"Jilat…… ya……♪ Baik, saya mengerti."
L-lho,
kok dia malah tersenyum senang begitu!? Honma mengangkat tanganku……
mendekatkannya ke wajahnya, dan tepat saat jariku hampir benar-benar dijilat,
gerakannya berhenti.
"…… Bercanda, tentu saja itu sulit dilakukan,
Senior."
"I-iya,
benar juga ya."
Dia menepuk punggung tanganku dengan ringan lalu
melepaskannya.
"…… Yah begitulah! Aku tadi cuma bercanda, atau lebih
tepatnya karena mendadak jadi pikiranku agak kacau!"
"Begitu ya?
Kalau begitu kita sama…… mungkin. Saya juga entah kenapa merasa suasana hati
saya lebih baik dari biasanya sampai ikut terbawa suasana."
…… Ah! Tunggu sebentar, jangan-jangan interaksi tadi dilihat
orang lain……! Begitu aku melirik ke arah Shogo dan yang lainnya, aku
mengembuskan napas lega karena tidak perlu khawatir.
"Aku juga
suka anime itu lhooo♪"
"Serius!?
Terus yang itu——"
"Semangat ya
buat turnamen sepak bolanya!"
"Siap…… saya
akan berusaha."
Mereka sudah
larut dalam dunianya sendiri…… jangan-jangan mereka berdua bakal jadi pelanggan
setia di sini?
"Ah, boleh
minta tambah es kopinya?"
"Baik, Tuan
Muda."
……Dipanggil Tuan
Muda ternyata rasanya tidak buruk juga. Setelah itu, aku membasahi
tenggorokanku yang mulai lelah bicara dengan es kopi yang dibawakan Honma.
Karena tempat
seperti ini memang fokus pada obrolan, mungkin itulah alasan kenapa
percakapanku dengan Honma terus berlanjut tanpa henti.
"Tapi
ya……"
"Kenapa?"
Honma bergumam
pelan.
"Saya tidak
pernah bicara dengan teman-teman Senior, jadi wajar saja, tapi ternyata mereka
benar-benar tidak tahu ya."
"Ah~……
sepertinya begitu. Habisnya, mana mungkin mereka terpikir kalau Honma bakal
kerja di tempat seperti ini?"
"Benar
juga."
Kalau tidak
begitu, mana mungkin rahasia ini tidak terbongkar. Yah, alasan lainnya mungkin
karena mereka berdua juga terlalu asyik mengobrol dengan pelayan masing-masing.
"Sudah hampir waktunya ya. Senior…… maksud saya, Tuan
Muda?"
"Ya?"
"Terakhir,
apakah Anda ingin mengambil Cheki?"
" Cheki……?
Apa itu sejenis camilan?"
Apa itu Cheki……?
Aku sempat
khawatir jangan-jangan ini hal yang memalukan kalau tidak tahu, tapi kebetulan
Shogo dan Akira juga sedang mendapat penjelasan soal itu.
Ternyata Cheki
adalah sebutan untuk foto berdua dengan pelayan yang melayani, dan Honma
menawarkan hal itu sebagai penutup.
"Akan ada
biaya tambahan, tapi……"
"Mumpung
sudah di sini, aku mau deh."
Ada biaya
tambahan?
Aku sudah
jauh-jauh datang ke Maid Cafe dan diberi penawaran khas tempat ini,
tidak ada alasan untuk menolak. Honma memanggil pelayan lain untuk memotret
kami.
Honma berdiri di
sampingku dan mendekatkan tubuhnya…… Aku terkejut karena jaraknya begitu dekat
sampai aku berdebar menghirup aroma harumnya.
"Tuan Muda?
Ada apa?"
"Ah nggak……
aku cuma kaget ternyata jaraknya sedekat ini."
"…… Karena ini Senior, saya rasa jaraknya memang
sengaja sedikit lebih dekat. Lagipula, coba lihat ke sana."
Dia menunjuk ke arah sahabatku yang juga sedang bersiap
difoto…… Akira sih biasa saja, tapi Shogo beneran terlihat kegirangan sampai
lubang hidungnya kembang kempis.
Tapi sepertinya tingkah Shogo itu justru jadi bahan hiburan
buat pelayan di sana, dia malah banyak melakukan kontak fisik untuk
menggodanya.
"Teman Senior…… polos sekali ya."
"Jangan bilang begitu…… tapi meskipun itu bukan aku,
rasanya malu banget lihatnya."
Mari lupakan
teman-temanku sejenak. Karena pelayan yang memegang kamera sepertinya sudah
mulai tidak sabar, aku memantapkan hati.
"Kalau
begitu Tuan Muda, mari kita tempelkan tangan kita dan membentuk lambang
hati."
"Oke."
Begitu ya…… cara fotonya begitu. Semuanya terasa segar dan
baru bagiku, membuat simbol hati dengan tangan bersama seorang gadis dan
mengabadikannya dalam foto sepertinya bakal jadi kenangan yang bagus.
"Oke, saya foto yaaa~"
"Ah, iya!"
"Senior, jangan kaku-kaku dong."
"…… Aku tahu kok."
Godaannya Honma membuat keteganganku sedikit mencair. Foto yang diambil langsung
dicetak, dan Honma mulai menulis pesan di foto itu.
"…… Sip, sudah selesai. Ini, Senior."
"Terima kasih."
Di foto yang diberikan Honma, tentu saja ada fotoku dan dia.
"…… Mukaku kaku banget ya?"
"Fufu, makanya tadi saya bilang jangan kaku-kaku,
kan?"
Nggak…… padahal aku merasa sudah cukup santai pas difoto
tadi, tapi pas kulihat hasilnya ternyata ekspresiku menyedihkan…… tapi ya
sudahlah, anggap saja ini foto yang punya "karakter" tersendiri.
"Aduh, maaf!"
"Kyaa!?"
Tiba-tiba, pelayan lain yang sedang terburu-buru menabrak
Honma. Akibat benturan itu, Honma sedikit kehilangan keseimbangan dan jatuh ke
arahku, jadi aku refleks menangkapnya.
"Kamu nggak
apa-apa?"
"I-iya……
maaf ya Senior."
Benturan tadi
tidak mungkin sampai melukainya, tapi menanyakan keadaannya adalah hal yang
wajar bagi seorang pria…… tapi tunggu, ini nggak ketahuan kan?
(Posisi
tanganku gawat banget……)
Tangan kiriku
yang menahan tubuhnya ternyata menyentuh dadanya.
Hanya dengan
sedikit tekanan saja, jariku pasti akan tenggelam ke dalam daging yang lembut
itu…… tapi, aku tidak akan melakukannya!
Di saat kekuatan
si Partner tidak aktif, aku tidak akan melakukan hal seperti itu!
Akhirnya,
sampai akhir pun Honma tidak menyadari hal tersebut. Karena waktu kami sudah habis, kami pun keluar
dari toko.
"Wah,
tadi itu benar-benar luar biasa!"
"Jujur,
tadinya aku meremehkan tempat itu…… kalau ada waktu luang aku mau ke sana
lagi."
Shogo dan Akira
terlihat sangat puas, terlihat jelas kalau mereka benar-benar merasa rileks.
"Ngomong-ngomong,
pelayan yang melayani Kai tadi cantik banget ya?"
"Rasanya aku
pernah lihat dia di suatu tempat…… tapi yah, semua pelayan di sana memang
cantik! Wajar kalau Kai gugup, nggak kayak kita!"
"Berisik
tahu!"
Lagipula, kalian
berdua juga tadi asyik banget sama pelayan kalian masing-masing sampai nggak
sadar kalau itu Honma, kan!? Terutama kamu, Shogo!
…… Haah, hari ini aku banyak menghela napas.
Tapi…… kenapa obrolanku dengan Honma tadi bisa sangat
nyambung ya?
Honma juga bilang kalau bicara denganku itu anehnya sangat
mudah…… akhirnya alasan itu tetap menjadi misteri.
(Tapi…… kuku.)
Aduh, kalau aku tidak waspada, senyum menjijikkan ini bisa
keluar.
Alasannya kenapa…… sederhana saja——Memang sebelumnya aku
sempat ciut gara-gara interaksi dengan Honma dan sempat mengurungkan niat untuk
melakukan hal sesukaku padanya.
Begitulah dampak guncangan saat bertemu Masochist
sungguhan, tapi interaksi hari ini tidak hanya meredam dampak tersebut, tapi
justru benar-benar membangkitkan hasratku terhadap Honma!
"Sudahlah soal aku. Ngomong-ngomong, habis ini mau ke
mana?"
"Mencurigakan…… yah, sudahlah. Hari ini kita bubar saja di sini, gimana?"
Mendengar
kata Shogo, aku dan Akira mengangguk.
"Boleh,
kita bubar saja."
"Oke.
Serius, tadi itu asyik banget. Sesekali ide mendadak Shogo nggak buruk
juga."
"Apa
maksudmu 'sesekali'!?"
Setelah
kami bertiga tertawa bersama untuk terakhir kalinya, kami pun berpisah.
Shogo dan
Akira langsung pulang karena tidak ada keperluan lain, tapi aku masih punya
sesuatu yang ingin kulakukan.
"Nah
sekarang, pas sekali dengan waktu Honma pulang kerja."
Sebenarnya
tadi aku sempat bertanya secara tidak langsung jam berapa dia selesai kerja. Dia memberitahuku tanpa curiga sedikit
pun, apa itu juga karena dia merasa nyaman bicara denganku?
"Yah,
mending kutanya langsung nanti! Ayo berangkat!"
Aku
menepuk kedua pipiku untuk menyemangati diri, lalu kembali ke area sekitar Maid
Cafe.
Setelah
menunggu sebentar, Honma keluar dari pintu belakang toko, jadi aku segera
menghampirinya dan mengaktifkan si Partner.
"…… Sip."
Maka, aku berhasil membuat Honma terhipnotis dan membawanya
menjauh dari sana.
"Aduh maaf ya Honma. Padahal kamu bilang begitu tadi,
tapi aslinya aku ini cuma berandalan yang menghipnotis gadis dan melakukan hal
sesukaku, lho."
"……………"
Hmm…… berbeda dengan Aisaka atau Aguma, tidak ada reaksi
khusus terhadap kata-kataku. Yah, mereka berdua juga awalnya begini sih,
mungkin ini yang normal…… Kalau dipikir-pikir, Aisaka dan Aguma itu sebenarnya
kenapa ya.
"Hmm…… Honma sudah terhipnotis, tapi karena sudah jam
segini, aku nggak bisa main-main terlalu lama. Sama seperti keluargaku, Honma
pasti juga nggak mau membuat keluarganya khawatir."
Terus kenapa aku
tetap melakukan ini? Cih! Justru karena aku tahu batasan mana yang aman……
itulah yang namanya disiplin.
"Ada taman
di dekat sini, ayo ke sana."
"Baik."
Maka kami berdua
tiba di taman, duduk di bangku dan menenangkan napas sejenak.
"…… Fiuuh."
Bukan karena lelah fisik…… tapi karena aku merasa tegang
akan melakukan hal "guhehe", makanya aku merasa agak capek.
"Rasanya nostalgia ya…… awal-awal dengan Aisaka dan
Aguma juga begini."
Nostalgia…… benar-benar kenangan yang sangat membekas.
"……………"
"Kukuku, padahal sebentar lagi akan kupermainkan
sesukaku, tapi wajahmu tetap tenang ya, Honma."
Dia hanyalah boneka yang hanya bisa menatapku dengan tatapan
kosong.
Namun…… karena ini di taman yang merupakan tempat umum,
masih ada beberapa anak kecil yang sedang bermain.
"…… Yah, kayaknya buat nyuruh kamu buka baju harus lain
kali deh. Meski nggak seukuran mereka berdua, nanti bakal kuremas juga kok
payudaramu itu."
"……………"
"Kalau begitu, bisakah kamu memeluk lenganku dari
sana?"
"Saya mengerti."
Karena ada orang
lain, mungkin batasannya cuma sampai di sini. Walaupun ada orang, sepertinya
anak-anak maupun wali mereka tidak peduli dan tidak menoleh ke arah kami sama
sekali. Sepertinya tidak ada kenalan Honma juga di sini, jadi tidak akan ada
rumor aneh yang beredar.
"Permisi."
"Oho!?"
Gara-gara terlalu
asyik melamun lagi, aku jadi lengah padahal itu permintaanku sendiri…… sensasi
lembut yang tiba-tiba terasa di lenganku benar-benar luar biasa, terlepas dari
ukurannya.
"Tolong tetap begitu sebentar…… ah, ini benar-benar
momen yang menenangkan."
"Saya
mengerti."
Setelah itu,
sesuai kata-kataku, aku membiarkannya tetap di posisi itu untuk sementara.
Menikmati sensasinya secara perlahan memang tidak buruk, tapi aku menyuarakan
hal yang ingin kutanyakan.
"Hei Honma,
soal interaksi tadi…… saat aku bilang 'jilat', bukannya kamu kelihatan
senang?"
"Benar…… Ah, saat itu saya merasa... orang ini sedang
menaklukkanku…… aku ingin dia melakukannya, begitulah pikiranku."
Ternyata beneran! Mendengar jawaban langsung yang sejujur
itu, aku yakin kalau instingku sama sekali tidak salah.
"Kalau begitu aku tanya lagi ya? Apa alasanmu bekerja
di Maid Cafe selain karena diajak teman…… dan apa 'hal yang diharapkan'
itu?"
"Saya berharap ada seseorang yang muncul dan menjadi
Tuan saya. Berbeda dengan di sekolah, di sini ada banyak macam orang yang
berkunjung."
"Ternyata
beneran itu alasannya!!"
Aku memberikan
sentilan pelan yang sama sekali tidak sakit di dahinya.
"…… Ternyata dia memang Masochist kelas berat."
Yah…… kalau tidak begitu, mana mungkin dia membawa borgol,
tali, atau Adult Toy, bahkan sampai pergi ke sekolah tanpa memakai
celana dalam…… benar juga ya!
"Honma……"
"Masih ada yang ingin Senior tanyakan? Silakan tanya
lebih banyak lagi…… aku tidak punya rahasia apa pun yang kusembunyikan."
"Hei, kenapa
kamu malah makin antusias begitu? Kenapa wajahmu memerah? Ah, waktu pertama
kali dulu kamu juga begini ya!?"
"Tusukan pertanyaan yang bertubi-tubi…… menusuk……
fufu."
"……………"
Ah, iya…… julukan Ratu Es itu terlalu remeh untuknya.
Ternyata gadis ini adalah Ratu Mesum…… meski aku bukan dalam
posisi bisa mengatai orang lain mesum, tapi gadis ini…… kuharap dia tidak
tertimpa masalah kedepannya.
Karena dia mencari rangsangan untuk memuaskan hasratnya
tidak hanya di sekolah tapi juga di luar, kuharap dia tidak terlibat tindak
kriminal yang aneh…… Kalau sampai ada om-om mesum yang tahu gadis cantik
seperti Honma punya hobi begitu, mereka pasti bakal berkerumun seperti lalat.
"Honma…… aku nggak berniat menceramahi hobi orang lain,
dan menurutku keseksianmu itu juga nggak buruk. Tapi…… kalau kamu sampai
terjebak oleh orang dewasa yang aneh-aneh gara-gara sifatmu itu, bakal repot
lho."
"…… Anda mencemaskanku?"
"Yah…… begitulah. Soalnya aku sudah diperbolehkan
merasakan payudaramu menempel begini, dan sudah pernah diperlihatkan tubuhmu
yang hampir telanjang juga. Sebagai laki-laki, sudah sewajarnya aku mencemaskan
wanita yang memberiku waktu bak mimpi seperti itu."
Habisnya, kalau terjadi sesuatu pada Honma, aku kan jadi
nggak bisa melakukan hal-hal enak seperti ini lagi.
"…… Senior itu baik, ya. Saat seperti ini, aku seolah bisa melihat inti
kebaikan yang Senior simpan."
"Jangan bicara mirip seperti Aisaka dan Aguma
dong……"
"Tadi di toko aku bilang kalau Senior itu enak diajak
bicara, mungkin itu penyebabnya."
Hmm…… aku sama sekali nggak paham. Tapi karena Honma
sekarang dalam kondisi tidak bisa berbohong…… dipuji begitu rasanya
menyenangkan juga.
"Hubunganmu dengan keluarga baik-baik saja, kan?"
"Eh? Iya."
"Kamu nggak menyakiti diri sendiri, atau mendapat
kekerasan fisik dari mereka, kan?"
"Tidak ada."
Sip, kalau mengecualikan hobinya yang merepotkan itu, tidak
ada nilai minus dalam diri Honma.
Meskipun tidak bisa hari ini, setidaknya lain kali aku bisa
mengerjainya dengan hal-hal mesum atau melakukan hal sesukaku dengan perasaan
lega.
"Nggak
ada hal yang membuatmu kesulitan, kan? Mana mungkin ada!"
Mendengar
kata-kataku yang penuh percaya diri itu…… Honma tidak mengangguk.
"…… Honma-san?"
Kenapa kamu malah
diam di situ……? Aku mengintip wajahnya, dan tiba-tiba aku merasakan deja vu
yang luar biasa…… anu, jangan-jangan……? Instingku di saat seperti ini
selalu saja sangat akurat dalam arti buruk…… aku tahu perasaan ini.
Lalu, Honma mulai bicara.
"Hal yang membuatku kesulitan…… sebenarnya, aku sedang
menjadi korban semacam penguntitan (stalking)."
"…… Ha-ah?"
Perlahan aku menaruh tangan yang tidak dipeluk Honma ke
dahi, lalu menengadah ke langit sambil mengembuskan napas panjang.
"…… Hei, Partner, kamu serius nggak lagi
memanipulasiku buat dipertemukan sama gadis-gadis bermasalah, kan?"
Aku mencoba melontarkan pertanyaan yang sama seperti waktu
itu ke arah ponsel di sakuku, tapi tentu saja tidak ada jawaban.
Aku mendesah, dan meski tidak sampai taraf putus asa, bahuku langsung merosot lemas karena kejadian "lagi-lagi seperti ini".



Post a Comment