Chapter 4
Anak Ini Juga
Ternyata Punya Masalahnya Sendiri…!
Setelah berhasil menghipnotis Honma menyusul Aisaka dan
Aguma, aku merasa sangat lega.
Mengetahui hubungan keluarganya baik-baik saja dan dia tidak
sedang dalam kondisi tertekan adalah berkah bagiku; artinya, aku bisa melakukan
hal sesukaku padanya tanpa beban pikiran!
Ayo, Masaki Kai,
lakukan... lakukanlah!
Begitu pikirku,
namun sepertinya dunia ini masih ingin memberiku ujian.
"Penguntit,
ya……"
"Iya."
Entah kenapa...
aku sudah menduga hal ini akan terjadi.
Pada titik ini,
mengurus dua orang atau tiga orang tidak ada bedanya bagiku.
Bukan berarti aku
menyerah pada takdirku sendiri atau semacamnya, sama sekali tidak!
"Aku belum
membicarakan hal ini pada siapa pun…… karena aku baru benar-benar sadar sedang
dikuntit baru-baru ini."
"Begitu
ya……"
"Kembali ke
pembicaraan sebelumnya, aku bekerja paruh waktu di Maid Cafe."
"Ya."
"Tapi dalam
waktu dekat, aku berencana untuk berhenti."
Cerita
selanjutnya adalah kisah yang cukup umum.
Pelakunya adalah
seorang pria dewasa yang terlihat seperti pegawai kantoran. Dia mulai sering
datang tidak lama setelah Honma mulai bekerja di sana.
Awalnya memang
bukan penguntitan, tapi seiring berjalannya waktu saat Honma melayaninya
sebagai staf, pria itu tampaknya menumbuhkan rasa suka yang menyimpang.
Dia mulai
terus-menerus meminta nomor kontak, dan meski tidak pernah melakukannya saat
Honma pulang sekolah, pria itu sering membuntutinya saat dia pulang dari tempat
kerja paruh waktu.
"Dia baru
mulai membuntutiku akhir-akhir ini, karena itulah aku terpikir untuk
berhenti."
"Begitu ya…… Orang tua atau polisi, apa sudah kamu
beritahu?"
"…… Karena awalnya aku diajak teman, aku belum bilang
ke ayah maupun ibu kalau aku bekerja di Maid Cafe. Makanya aku belum
konsultasi soal penguntit ini…… intinya aku tidak mau membuat mereka khawatir
atau merepotkan mereka. Lagipula polisi…… apa mereka bisa diandalkan?"
Benar juga, aku sering dengar kalau kasus penguntit itu
biasanya tidak akan ditindak polisi sampai terjadi sesuatu yang nyata……
Dalam hal ini, memang banyak berita di media sosial tentang
kegagalan polisi menangani penguntit hingga berujung pada kasus pembunuhan.
"Tapi ya,
kalau sampai terjadi sesuatu padamu, keluargamu pasti sedih, kan?"
"Itu…… benar. Tapi lebih dari itu, aku belum pernah
mengalami hal seperti ini sebelumnya, jadi aku merasa bingung."
"Itu masuk akal…… dikuntit berkali-kali pasti rasanya
sangat tidak nyaman."
Aku mengembuskan napas panjang.
Honma bukannya tidak mau bertindak karena tidak ingin
merepotkan orang lain, tapi dia sepertinya berada dalam kondisi hampir panik
dan benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
"Aku…… yah, aku bukan orang yang bakal dikuntit siapa
pun, jadi jujur aku tidak paham penderitaanmu. Tapi kalau kamu mau cerita, aku yakin keluarga maupun teman-temanmu pasti
akan segera menolongmu."
"Begitukah……?"
"Pasti. Kamu
disayangi keluarga dan punya banyak teman, mereka pasti akan membantumu."
Kalau tidak
begitu, mana mungkin dia bisa menjadi gadis populer. Yah, soal keluarga itu
informasi dari Honma, tapi sisanya adalah hasil risetku sendiri.
"…… Tetap saja, orang yang melakukan penguntitan itu
tidak normal. Aku tidak bisa
melibatkan teman-temanku ke dalamnya."
"Haha, Honma
kelihatannya dingin, tapi ternyata sangat peduli pada teman ya."
"Aku ini
orang biasa kok."
Honma memalingkan
wajahnya dariku, menatap lurus ke depan sambil melanjutkan kata-katanya.
"Orang yang
bisa memuaskan hasratku…… selama dalam batas kewajaran, aku memang berpikir
siapa pun boleh. Tapi gara-gara kejadian ini, aku merasa hal itu sangat
menjijikkan…… dan dari lubuk hatiku, aku merasa benci."
"Bisa
dibilang ini jadi semacam terapi kejut yang keras ya."
Mendengar itu,
Honma tertunduk. Karena sudah cukup lama sejak aku mengaktifkan hipnotis, aku
mengecek baterai ponselku untuk berjaga-jaga. Masih ada sedikit sisa baterai.
Sambil memikirkan
apa yang harus dilakukan selanjutnya, Honma bergumam pelan.
"Tapi…… hidup beneran nggak pernah berjalan mulus
ya."
"Honma……?"
"Aku cuma
ingin mencari orang yang bisa memuaskan hasrat ini…… aku cuma ingin seseorang
yang mau memberikannya dalam batas kewajaran."
"Anu…… Honma-san?"
"Tapi malah umpan aneh yang terpancing…… benar-benar
tidak sesuai keinginan."
"Kamu
jangan-jangan sama sekali nggak merasa sedih ya? Malah menikmati situasi
ini?"
Meski aku
melontarkan protes, ini mungkin adalah perasaan jujur Honma. Bagaimanapun,
karena dia setahun di bawahku, dia tetaplah anak-anak. Seberani apa pun pola
pikirnya, wajar jika dia merasa takut saat menjadi target hasrat kotor orang
dewasa.
"Ujung-ujungnya
kamu takut juga, kan?"
"Itu…… benar. Membayangkan dia sampai datang ke rumah…… apalagi kalau aku melapor ke polisi…… dia mungkin
akan dendam, mengintai, dan menodongkan pisau. Itu menakutkan. Ada
kemungkinan aku bisa dibunuh begitu saja."
"……………"
"Dan lagi…… aku tidak mau orang-orang di dekatku
terluka."
Benar…… juga ya. Ujung-ujungnya, siapa pun pasti merasa takut. Aku segera menepis bayangan terburuk tentang
Honma yang sempat terlintas di benakku.
"Penguntit itu merepotkan ya…… akan lebih baik kalau
dia berhenti hanya dengan sekali teguran, tapi kalau semudah itu, nggak akan
ada yang namanya kasus kriminal."
"Iya……"
"…… Yah, akan kubantu."
"Eh……?"
Aku mengusap pelan kepala Honma yang sedang menengadah.
Mengusap kepala gadis tanpa izin itu memang tidak sopan, tapi seperti yang
kubilang berulang kali, Honma sedang terhipnotis jadi tidak ada masalah.
Aku punya Partner——aku sadar aku sedang besar kepala
hanya karena hal itu, tapi setelah mendengar langsung cerita Honma, keinginan
untuk menolongnya benar-benar muncul.
"Begini-begini, aku sudah menyelamatkan sekitar dua
gadis lho. Soal masalah apa, tentu aku tidak bisa bilang karena privasi, tapi
intinya aku punya pengalaman, jadi percayalah."
"……………"
Honma terus
menatapku dengan tatapan kosong…… tapi tetap saja, ditatap dengan mata seperti
itu membuatku merasa gugup secara aneh.
Dalam kondisi
terhipnotis, aku adalah sosok mutlak bagi mereka. Tapi mata yang seolah sangat
memuja ini membuatku merasa besar hati.
"Meskipun begitu, aku belum punya rencana pasti……
lagipula kalaupun berhasil, masalahnya akan selesai di tempat yang tidak
diketahui Honma yang asli, jadi mungkin bakal terasa membingungkan."
Dari sudut pandang Honma, dia mungkin bakal merasa:
"Eh, tiba-tiba masalahnya selesai sendiri, syukurlah kalau begitu"……?
Selain itu, kalau aku bilang pada Honma yang tidak terhipnotis bahwa aku akan
menyelesaikannya, dia pasti bakal curiga dari mana aku tahu soal itu.
"Tapi,
karena sudah memutuskan menolong, aku harus melakukannya——Honma, berikan
informasi tentang penguntit itu."
"Baik…… saya mengerti."
Pengumpulan informasi sebelum bertempur itu penting. Honma
memberitahu segalanya tentang penguntit itu tanpa rahasia, namun sayangnya soal
penampilan, itu hanya ada dalam ingatan Honma.
"Kamu nggak punya foto atau sesuatu yang bisa
mengidentifikasinya, kan?"
"Hal
menjijikkan seperti itu, meski ada pun aku tidak mau menyimpannya……"
"Benar
juga."
Jadi, saat ini
aku sama sekali tidak punya bahan apa pun untuk menentukan siapa si penguntit
itu.
"Tapi…… mungkin saja dia sedang berkeliaran di sekitar
sini. Rumahku ada di arah sebelah
sana."
"…… Ah~"
Begitu ya, kalau begitu akan lebih aman jika aku
mengantarnya pulang sampai ke rumah.
"Kalau
begitu, hari ini pulang saja dulu. Terima kasih ya Honma, sensasi payudaramu
tadi mantap sekali."
"Tidak…… apa benar hanya dengan menyentuhnya saja sudah
cukup?"
"Eh?"
"Anda bisa melepas pakaian saya sepuasnya, dan
melakukan segala macam hal memalukan——"
Ah iya…… tolong diam dulu! Honma menunjukkan ekspresi tidak
puas, seolah obrolan serius tadi tidak pernah terjadi…… anak ini benar-benar
luar biasa.
(Oke, kalau cuma mengantarnya pulang, baterainya masih
cukup.)
Meski begitu, aku tidak boleh lengah. Aku sudah
berpengalaman bahwa merasa tenang karena ada sisa baterai justru bisa berujung
sial. Tidak boleh lengah dalam situasi apa pun dan menjaga kondisi tetap prima
adalah kunci kesuksesan dalam segala hal…… jalan menuju penjahat sejati maupun
ahli mesum terbaik pun pasti melewati jalan yang sama.
"Ayo berangkat, Honma."
"Baik."
Maka, kami mulai berjalan menuju rumah Honma. Namun pada titik ini ada satu kekhawatiran……
yaitu, karena aku punya Partner, aku bisa menangani siapa pun yang
muncul. Tapi kekuatan Partner meski bisa menjangkau hingga tiga orang,
aku harus melepaskan hipnotis yang sedang berjalan sebelum memasang hipnotis
baru.
(Artinya…… kalau penguntit itu muncul di sini, dan aku
ingin menghipnotisnya sebagai perlawanan, Honma bakal sadar dari hipnotisnya.)
Meski sempat khawatir, sebenarnya itu bukan masalah besar. Pada akhirnya jika situasi itu terjadi,
melindungi Honma adalah prioritas utama…… soal kenapa kami sedang berduaan dan
kenapa aku tahu soal penguntit, aku tinggal berusaha menjelaskannya saja nanti.
"…… Senior."
"Ya?"
"Tadi saat Senior bilang mau menolong, aku sempat lupa
bertanya…… kenapa Senior mau melakukan sejauh itu?"
"Tentu saja
karena kamu adalah orang yang kuhisnotis dan kupermainkan sesukaku. Kalau
terjadi sesuatu padamu, aku nggak bisa main-main dengan tenang lagi, kan? Rasanya
ini bayaran yang terlalu murah, bukan?"
"…… Begitu ya."
Jelas saja
begitu. Bagi Aisaka, Aguma, maupun Honma…… tidak, bagi wanita mana pun,
dipermainkan tubuhnya adalah penghinaan terbesar. Dan aku melakukannya
melalui hipnotis…… meskipun tidak tersisa dalam ingatan mereka, ini adalah
semacam balas budi karena sudah membiarkanku melakukan hal serendah itu.
"Jadi ya…… percuma saja bilang begini ke Honma yang
sedang terhipnotis, tapi aku tidak butuh terima kasih. Saat kamu sadar nanti, silakan bingung sendiri
karena masalah penguntitmu tiba-tiba selesai tanpa kamu tahu."
"…… Fufu, gaya bicara dan kalimat macam apa itu."
"Mirip penjahat, kan?"
"Penjahat…… yah, kalau Senior bilang begitu, mungkin
memang benar."
Memang
benar, orang sepertiku ini tidak lain adalah penjahat. Entah apa yang lucu,
Honma memamerkan teknik tingkat tinggi yaitu tertawa kecil sambil tetap
memasang wajah datar.
"Tertawa
begitu berarti kamu nggak percaya aku ini penjahat ya? Apa aku perlu meremas
payudaramu sekarang sebagai buktinya!?"
Hari
sudah mulai gelap, itulah sebabnya aku berani mengatakannya karena tidak ada
orang lain. Aku mengatakannya karena ingin menakut-nakuti Honma
selayaknya penjahat…… tapi reaksi Honma berbeda dari bayanganku.
"…… Ah♡"
Pipi Honma merona merah. Begitu merahnya hingga terlihat
jelas bahkan di bawah cahaya matahari terbenam…… Bukannya pucat pasi ketakutan
seperti yang kubayangkan, tatapan matanya yang seolah memohon agar aku
benar-benar melakukannya justru membuatku yang merasa ngeri.
"…… Maaf ya, aku lupa kalau Honma itu memang tipe yang
begini."
"Kenapa
Senior malah jadi ciut! Ayo, remas saja, kan!? Remaslah sekuat tenaga!"
"E-eei,
berhenti!! Jangan mendekat, dasar mesum!"
Aku
mundur dengan tangan terangkat dari Honma yang berusaha mendekat. Padahal aku
benar-benar ingin melakukan hal mesum dengannya, dan tadi pun aku sangat
menikmati sensasi dadanya, tapi jadinya malah begini.
"…… Hei Honma, ternyata untuk bisa melakukan hal
mesum…… butuh keberanian yang besar sepertimu ya?"
"Benar, saya
rasa kita harus jujur pada hasrat kita."
"Kalau
kamu yang bilang, kredibilitasnya beda banget ya……"
Mengabaikan
niatku menjadi penjahat sejati, soal urusan mesum sepertinya aku harus belajar
banyak dari Honma suatu saat nanti.
Setelah
itu, aku berhasil mengantar Honma sampai rumah dengan selamat. Mengingat dia
adalah tipe gadis yang berbeda dari Aisaka dan Aguma, aku tidak bisa memungkiri
kalau aku sempat ngeri dengan selera hobinya, tapi obrolan dengan Honma
ternyata cukup menyenangkan.
"Tapi
ya, apa-apaan peranku ini, mengantar pulang gadis yang sedang terhipnotis
dengan selamat? Benar-benar aneh."
Sambil
bergumam begitu, aku melihat layar ponsel. Sisa baterai tinggal 2%…… meski aku
berniat langsung pulang, hari ini aku sudah tidak bisa menggunakan Partner
lagi pada siapa pun.
"Lepas
hipnotis."
Tepat saat aku
melepaskan hipnotis pada Honma, baterainya tinggal 1%.
"Nah,
saatnya pulang, tapi……"
Bukannya ke arah
rumahku, aku justru berbalik ke arah sebaliknya dan mulai berjalan.
"…… Haaa."
Tanpa sadar aku
menghela napas. Aku beneran cuma ingin menggunakan kekuatan Partner
untuk melakukan hal mesum pada gadis-gadis. Tapi saat kejadian Aisaka
maupun Aguma juga begini…… Ujung-ujungnya karena ingatan mereka tidak tersisa,
aku tidak perlu repot-repot melakukan hal ini sebagai bentuk bayaran.
Tapi aku malah bergaya keren ingin menolong dan
menjerumuskan diri sendiri ke dalam masalah…… Benar-benar, apa sih yang aku
lakukan.
"Ciri-ciri penguntitnya: Pria gemuk memakai jas,
berkacamata, dan rambutnya belah samping."
Sambil berpikir tidak mungkin semudah itu menemukannya, aku
mencari apakah aku bisa menemukan penguntit Honma. Karena sudah cukup jauh dari
rumah Honma, dia mungkin belum tahu alamat pastinya jadi kemungkinan bertemu di
sekitar sini cukup besar. Meski aneh rasanya berharap bertemu penguntit, aku
melihat sekeliling dengan saksama…… dan aku menemukan seorang pria.
"…… Eh?"
Jantungku berdegup kencang. Detak jantung yang keras ini
murni karena aku terkejut…… tidak kusangka aku akan langsung bertemu dengannya
di hari aku mendengar ceritanya.
"…… Serius nih."
Di ujung pandanganku, seorang pria sedang celingukan melihat
sekeliling. Mengenakan jas, berkacamata…… rambut belah samping dan bertubuh
gemuk…… wajahnya terlihat tenang seperti orang baik-baik, tapi matanya terlihat
agak memerah.
"…… Partner——"
Refleks aku mengeluarkan ponsel untuk meminjam kekuatan Partner,
tapi aku teringat baterainya sudah habis dan aku pun berdecak kesal.
"Cih……"
Decakan ini tentu bukan untuk Partner, tapi untuk
diriku sendiri.
"…… Kalau tahu bakal begini, aku nggak akan
membuang-buang waktu mengobrol dengan Honma tadi."
Yah, aku memang tidak bisa menang melawan sensasi payudara
yang ditempelkan…… tapi setidaknya, bisa memastikan wajah orang yang dicurigai
sebagai penguntit adalah sebuah keberuntungan. Sisanya tinggal memastikan
apakah benar itu dia…… saat sedang berpikir begitu, pandanganku dan pria itu
bertemu.
"っ……"
…… Fuu, ternyata memang menegangkan. Meskipun dia
tidak terlihat berbahaya dari luar, melihat kekotoran matanya yang mengintai
siswi SMA…… meski korbannya bukan aku, aku merasakan semacam ketakutan. Pria
yang matanya bertemu denganku itu langsung menghampiriku.
"Selamat malam, boleh aku tanya sesuatu?"
"…… Ada apa ya?"
Aku menjawab dengan wajah datar. Dari titik ini bau-bau
mencurigakan sudah sangat tercium, tolong jangan berikan pertanyaan yang
langsung berhubungan dengan penguntitan ya? Aku belum siap mental nih.
"Aku sedang mencari seseorang——apakah kamu kenal gadis
ini?"
Pria itu mengeluarkan foto Honma yang mengenakan pakaian Maid
Cafe, dan ada juga foto saat dia mengenakan seragam sekolah. Aku menahan diri sekuat tenaga
agar tidak berteriak "Sialan!" dan berusaha agar ekspresiku tidak
berubah.
"Nggak tahu…… memangnya dia kenapa?"
"Ah
tidak, hal sepele kok. Gadis ini dulu pernah menolongku. Aku ingin berterima
kasih. Sepertinya dia murid di sekolah yang sama denganmu, bukan? Kupikir kamu
mungkin tahu sesuatu."
Foto
seragam sekolah maupun baju pelayan, punya keduanya saja sudah sangat
mencurigakan, kan?
Tadi aku
merasa dia tidak punya aura penguntit, tapi melihatnya berusaha mengorek
informasi tentang Honma seperti ini rasanya sangat menjijikkan.
(Aku
memang nggak pantas bilang menjijikkan…… tapi sepertinya sudah dipastikan ya.)
Aku yakin pria
ini adalah penguntitnya. Memang tidak ada bukti kuat, tapi wajahnya sudah
terukir jelas di kepalaku. Pria itu menatapku dengan wajah ramah, tapi tentu
saja aku tidak akan menjawab pertanyaannya dengan jujur.
"Sayangnya
aku——"
Wajahnya sudah
kuingat, jadi aku berniat memberikan jawaban asal dengan percaya diri, namun
tepat saat itu: Ponselku yang sisa baterainya 1% berdering…… telepon dari
Kakak.
"Halo."
『Kai, kamu
sekarang di mana!? Sudah larut malam lho!』
"Ah maaf!
Aku akan segera pulang——"
"Tidak
apa-apa"…… baru saja aku mau melanjutkan kalimat itu, pria di depanku
tiba-tiba mencengkeram bahuku dengan keras.
"Hei!
Teleponnya nanti saja, cepat beritahu aku! Aku sudah repot-repot mencari sampai
jam segini tahu!"
『Eh, Kai? Apa
kamu sedang terlibat masalah?』
Dan di
saat yang paling buruk itu, daya ponselku benar-benar habis. Sial, mati di saat
yang paling nggak tepat, tapi aku memelototi pria yang mencengkeram bahuku itu.
"Seandainya
aku kenal gadis itu pun, mana mungkin aku memberitahu orang yang memaksaku
begini."
"Apa
katamu!?"
Mari kita coba
desak sedikit.
"Jangan-jangan Anda…… seorang penguntit ya?"
"っ…… Bicara apa kamu tiba-tiba!"
Pria itu terlihat
sangat goyah, lalu berbalik dan pergi. Reaksi yang sangat mudah dibaca begitu
tidak bagus lho…… Kamu harus belajar menjaga ekspresi wajah dalam situasi apa
pun sepertiku kalau mau bertahan hidup, tahu?
"…… Yah, begitulah."
Aku bergumam pelan, menatap punggung pria itu sampai
menghilang. Dia pergi ke arah yang berlawanan dari rumah Honma, jadi untuk saat
ini sepertinya aman.
"Tapi, dia sampai berani memaksa minta informasi
begitu, kalau sampai Honma menolaknya secara langsung, dia mungkin bakal main
kekerasan…… atau bahkan melakukan hal yang lebih parah karena terbawa
emosi."
…… Haah, aku mengembuskan napas paling panjang hari
ini.
Aku sempat berpikir untuk melihat situasi dulu atau menyusun
rencana yang lebih matang…… tapi orang itu harus segera ditangani.
Dengan begitu Honma tidak perlu merasa takut lagi, dan aku
yang tahu masalah ini pun tidak perlu pusing lagi…… Baiklah, besok akan kubuat
perhitungannya.
"Aduh, harus cepat pulang."
Teringat telepon yang terputus di saat paling buruk tadi,
aku segera berlari kencang. Sambil terengah-engah, rumahku akhirnya mulai
terlihat.
"Kai!"
"Eh!?"
Di bawah langit yang sudah benar-benar gelap, suara Kakak
menggema. Kakak yang juga terengah-engah sepertiku langsung melompat memelukku
begitu menemukanku.
"T-tunggu
sebentar, Kak?"
"Kamu
ini…… apa-apaan telepon tadi!? Tiba-tiba mati pas lagi adu mulut, terus
teleponmu nggak bisa dihubungi lagi!"
"…… Ah~"
Sepertinya aku sudah membuatnya sangat khawatir lebih dari
yang kubayangkan. Padahal waktu ada Aisaka dia terus-terusan menggodaku, tapi
sekarang dia terlihat sangat lega melihatku baik-baik saja.
"Maaf Kak.
Baterai ponselku habis tepat saat itu…… terus orang tadi itu cuma orang yang
lagi cari orang lain, karena aku nggak langsung jawab, dia jadi marah dan
mencengkeram bahuku."
"Hah? Apa-apaan…… padahal kamu nggak salah tapi dia
marah-marah dan merepotkanmu? Kasih tahu siapa dia, biar kuhajar!"
"T-tenang dulu Kak!"
Aku berusaha sekuat tenaga menahan Kakak yang sepertinya
sudah siap berangkat untuk memukul orang.
"Lihat, aku
nggak apa-apa kan? Lagipula Kakak nggak perlu sampai melakukan hal seperti
itu."
"Kamu itu
adikku, tahu! Wajar saja kalau aku minta pertanggungjawaban darinya."
"Aduh…… kenapa sih padahal biasanya hobinya menggodaku,
tapi di saat begini malah jadi Kakak yang keren!"
"Karena aku
ini Kakakmu! Tenang saja Kai…… aku janji tidak akan meninggalkan bukti."
"Mau
melakukan apa sih!?"
Gara-gara
menahan Kakak yang hampir mengamuk, aku jadi lelah lagi dengan alasan yang
berbeda…… Aku berhasil menenangkannya dan menyeretnya masuk ke rumah dengan
sedikit paksaan.
"Lagi apa
kalian?"
"Ada apa
sih……?"
Lihat, gara-gara
Kakak, Ibu dan Ayah jadi memandang kita dengan aneh! Untuk melarikan diri dari
tatapan kedua orang tua kami, aku menarik Kakak menuju kamar.
"Iya iya,
ayo tenang ya Kakakku sayang."
"Uu…… jangan mengusap kepalaku dong, Dasar Adik."
"Padahal cuma Adik tapi berani ya?"
"Berani banget…… tapi nggak usah berhenti juga nggak
apa-apa."
"Begitu?"
"Rasanya sesekali begini nggak buruk juga."
Kalau begitu,
izinkan aku melanjutkan mengusap kepalamu ya. Kakak mengeluarkan suara seperti
kucing "fmyah", ekspresinya terlihat sangat santai, pemandangan yang
pasti tidak pernah dilihat siapa pun di luar sana. Kalau dipikir-pikir, ini
juga bagian dari kedekatan antara kakak dan adik kandung ya.
"Tapi ya…… di dunia ini ternyata ada banyak macam orang
ya."
"Di universitas tempatku kuliah juga banyak kok.
Teman-temanku banyak yang aneh, dan ada juga yang punya reputasi buruk."
"Orang aneh sih nggak apa-apa, tapi kalau punya
reputasi buruk itu yang malas."
"Benar juga…… tapi yah, selama tidak terjadi apa-apa
padaku dan orang-orang terdekatku, biasanya aku nggak peduli."
Mungkin itu
pemikiran yang agak dingin, tapi dalam hal itu aku pun sama.
Berita kecelakaan
atau kematian di TV, selama itu orang asing, rasanya cuma seperti "oh ada
kejadian begitu ya", tidak jauh berbeda dengan itu.
"Jadi Kai,
beneran nggak ada apa-apa kan?"
"Nggak
apa-apa kok."
"Aku cuma
takut kamu bakal melakukan hal nekat di suatu tempat."
"Masa sih?
Kakak pikir aku punya keberanian sebesar itu?"
"Kamu
nggak sedih ngomong begitu? Tapi
yah, akhir-akhir ini kamu menunjukkan kemungkinan itu. Tanpa sepengetahuanku,
sepertinya kamu sudah mulai punya sisi maskulin yang peduli pada
perempuan."
Itu…… meskipun aku merasa bersalah karena sudah membuat
Kakak khawatir, kata-katanya membuatku senang. Pipiku sedikit merona, lalu aku teringat sesuatu.
"Ngomong-ngomong,
Kak."
"Apa?"
"Aguma…… belakangan ini dia berteman akrab dengan
Aisaka. Suatu saat mungkin mereka
berdua bakal main ke sini, jadi Kakak tolong sambut ya."
"Wah! Boleh saja…… tapi kamu hebat ya, sekarang sudah
berani mengajak gadis main ke rumah."
"Karena kami
sudah akrab! Intinya Kak, tolong ya nanti."
"Siap
komandan~"
Setelah itu Kakak
keluar kamar. Aku yang kini sendirian menghela napas teringat soal penguntit
itu…… Entah sudah berapa kali aku menghela napas hari ini.
"Intinya……
penentuannya adalah besok."
Maksudku, tidak
mungkin kan pria itu ternyata bukan penguntitnya setelah semua ini? Itulah
satu-satunya kekhawatiranku…… tapi yah, kalau pakai kekuatan Partner,
semuanya pasti beres.
Seberapa pun dia berontak atau seberapa pun sifat aslinya
yang kasar, semuanya akan dinetralkan dan kebenaran akan terungkap dengan
kekuatan Partner.
Setelah mandi dan
makan malam, aku kembali ke kamar dan ponselku sudah terisi penuh.
"…… Partner, mohon bantuannya lagi besok
ya."
Aku
mengaktifkan Partner di atas tempat tidur dan menatap layarnya
dalam-diam.
"Aku memang menggunakan kekuatan Partner untuk
melakukan hal sesukaku…… karena melakukan hal mesum adalah tujuan utama dari
aplikasi hipnotis, kan? Tapi…… justru karena ini kekuatan yang tidak normal,
aku jadi ingin menolong orang yang sudah kukenal…… Jadi Partner, terima
kasih sudah membantuku dalam berbagai hal."
Aslinya, aplikasi
hipnotis hanyalah sebuah alat. Namun, kekuatan inilah yang telah merevolusi
keseharianku yang membosankan…… itulah kenapa sudah sewajarnya aku berterima
kasih, dan itulah alasan kenapa aku memanggilnya Partner.
"Nah sekarang…… eh?"
Tiba-tiba, saat aku membuka layar yang mirip peta hubungan
itu, aku memiringkan kepala. Nama "Masaki Kai" di tengah masih sama……
dan benang merah jambu yang mesum itu juga masih ada, tapi benang-benang itu
terlihat bertambah banyak dibanding terakhir kali aku melihatnya.
"Perasaanku saja…… nggak mungkin, kan?"
Aku menatapnya lekat-lekat untuk beberapa saat, tapi tetap
saja tidak ada yang kupahami…… Karena hari ini melelahkan, meski masih agak
awal, aku memutuskan untuk tidur untuk mempersiapkan diri buat besok.
◆◇◆
Keesokan harinya.
Demi memastikan segalanya berjalan sempurna agar kekuatan Partner
bisa maksimal, aku tidak memanggil Aisaka maupun Aguma saat jam istirahat siang
hari ini.
Bagi mereka berdua, menghabiskan waktu denganku adalah
sumber energi untuk menjalani hidup, begitu pula bagiku…… tapi tidak menyangka
kalau tidak merasakan keempukan itu saja bisa membuatku merasa kesepian begini.
"…… Haah."
Karena
tidak kupanggil, tidak ada yang datang…… meskipun begitu, aku sekarang
berada di ruang kelas kosong setelah selesai makan siang.
"…… Hoaahm."
Tapi karena sepi, tidak seperti di kelas, aku jadi
mengantuk. Di tengah kebisingan kelas saja ada orang yang bisa tidur sambil
menelungkup di meja, apalagi di sini yang tenang dan lampunya mati, suasananya
sangat pas buat tidur.
"……………"
Sambil duduk di lantai yang dingin dan menyandarkan punggung
ke dinding, tepat saat aku mau memejamkan mata——terdengar suara pintu kelas
terbuka. Aku tersentak kaget dan langsung menoleh.
"Eh……?"
"…… Ternyata benar kamu di sini, Masaki-kun."
"Aguma……?"
Yang ada di sana
adalah Aguma. Aguma langsung menutup pintu dan berjalan mendekatiku, lalu duduk
di sampingku dan menyandarkan punggungnya ke dinding seperti yang kulakukan.
"Ada
apa……?"
"Karena ada
Masaki-kun, jadi aku terpikir ingin menghabiskan waktu di sini juga."
"Begitu ya…… cuma sampai jam istirahat selesai,
lho?"
"Tentu saja.
Kalau lebih dari itu aku bisa telat masuk kelas."
Kami berdua
tertawa bersama menyadari hal itu.
(……Duh, aku
beneran ingin pakai Partner dan melakukan hal sesukaku.)
Mumpung sedang
berduaan dengan Aguma, hasrat untuk menghipnotisnya dan bermain-main dengannya
seolah meluap-luap.
Tapi mengingat
kejadian sepulang sekolah nanti, aku sudah memantapkan hati untuk tidak
menggunakannya sama sekali hari ini!
Makanya, tahan, Kai…… laki-laki itu punya saat-saat di mana
dia harus menelan air matanya dan menahan diri!
"Tapi ya,
terlepas dari fakta kalau aku ada di sini…… kenapa kamu repot-repot ke sini
juga?"
"Itu…… mmm, soalnya waktu itu kamu di sini bersama
Matsuri-san, kan? Gara-gara itu, aku
terpikir mungkin saja Masaki-kun ada di sini lagi."
"Hee."
"Sedang apa?"
"Ah~…… yah, begitulah. Berbeda dengan di kelas, di sini
tenang dan gelapnya pas, jadi kupikir cocok banget buat tidur siang."
"Begitu ya."
Padahal sebenarnya aku sedang menahan hasrat ingin berbuat
mesum pada kalian, tapi hal itu tidak akan kuucapkan meski mulutku harus robek
sekalipun. Aguma sepertinya
benar-benar percaya pada kata-kataku tanpa curiga sedikit pun.
Lalu, Aguma
tiba-tiba mengatakan sesuatu yang tak terduga.
"Kalau
begitu, mau aku beri bantal pangkuan?"
"…… Eh?"
Mendengar
tawaran mendadak itu, mataku membelalak lebar. Di saat yang sama, aku curiga jangan-jangan Sihir
Pemesanan-ku masih bekerja. Tapi dilihat dari sisi mana pun, Aguma sedang
dalam kondisi sadar, jadi sulit dipercaya dia menawarkan hal seperti ini.
"Anu…… beneran mau?"
"Iya."
Puk, puk. Aguma menepuk pahanya.
"……………"
Ini serius…… boleh nih?
Soal bantal pangkuan,
aku memang pernah merasakannya sebelumnya, tapi itu karena aku memerintah
Aisaka yang sedang terhipnotis.
Aku sama sekali
tidak menyangka akan mendapatkannya dari mereka dalam kondisi sadar. Itulah
sebabnya, mataku terus bergerak bolak-balik antara wajah dan paha Aguma.
"Tidak
mau……?"
"Bukan
nggak mau…… tapi……"
"Kalau
begitu, silakan."
"Beneran……?"
"Iya."
Kalau begitu…… izinkan aku mencobanya. Dengan perasaan ragu-ragu, aku mendekatkan
kepalaku ke paha Aguma…… Iza!
"Permisi……"
Perlahan, aku merebahkan kepalaku di pahanya. Empuk…… ah
tidak, paha itu sebenarnya bagian dari kaki jadi terasa cukup kencang.
Tapi bukan itu…… ini bukan soal membicarakan hal yang tidak
romantis begitu.
Seperti yang kurasakan saat dengan Aisaka dulu, bantal
pangkuan itu adalah tindakan yang spesial…… rasanya benar-benar luar biasa!
"Bagaimana?"
"Nyaman banget…… tolong jangan anggap kesan jujurku ini
menjijikkan ya, kumohon."
"Fufu, tidak akan kok."
Syukurlah kalau begitu.
"…… Hmm."
Tapi ya…… pemandangan dari sini benar-benar spektakuler.
Dulu kancing baju Aisaka sempat terlepas, tapi Aguma mengancingkan bajunya
dengan rapi dan menjaganya dengan ketat.
Namun justru karena tertutup rapat begitu, bajunya terlihat
sangat sesak sampai-sampai aku seolah bisa mendengar jeritan kancingnya……
Inilah kekuatan dari Breast H-Cup, tingkat tempurnya benar-benar
membuatku tercengang.
"Aku
selalu berpikir."
"Tentang
apa?"
"Banyak
hal yang berubah sejak aku mengenal Masaki-kun…… benar-benar, perbedaannya bisa
dibilang seperti langit dan bumi lho."
"Itu
berlebihan. Aku kan cuma sedikit membantu."
"Bantuan
itu adalah sesuatu yang sangat besar bagiku…… Masaki-kun selalu rendah hati ya."
Padahal
aku tidak bermaksud rendah hati. Terlebih lagi, ini sebenarnya lebih ke arah
prestasi si Partner, dan apa yang kulakukan bukanlah sesuatu yang bisa
kubanggakan ke siapa pun.
"Aku cuma
melakukan apa yang ingin kulakukan…… kalau sekarang Aisaka maupun kamu terlihat
senang, itu sudah cukup bagiku."
Setelah itu Aguma
terdiam dan terus membiarkanku menggunakan pahanya sebagai bantal. Bagiku,
interaksi dengan Aguma tanpa menggunakan Partner ini tentu saja
membuatku tegang dari awal sampai akhir, tapi di saat yang sama aku merasa
sangat rileks.
"Sudah
waktunya kembali ya."
"Iya."
Aku
merentangkan tangan untuk melemaskan tubuh yang kaku karena berbaring.
Melihatku, Aguma tertawa kecil, namun saat dia hendak berdiri, dia tiba-tiba
terjatuh seperti anak rusa yang baru lahir dengan kaki gemetar.
"Aguma!?"
Karena
aku baru saja hendak berdiri, Aguma jatuh tepat ke dalam pelukanku saat aku
masih duduk bersila.
"……………"
"……………"
Kami
berdua saling berhadapan dalam posisi saling menyandarkan seluruh tubuh.
Sensasi
dada melimpah yang menekan tubuhku, serta kelembutan seluruh tubuhnya yang
membuatku ingin melingkarkan tangan dan memeluknya erat-erat, semua sensasi itu
berlari menembus benakku sebagai kenikmatan.
"Aguma…… kakimu kesemutan?"
"I-iya…… maaf ya, Masaki-kun."
Ternyata goyahnya
tadi memang karena kakinya kesemutan. Aku lega karena itu bukan gara-gara
dehidrasi atau pusing semacam itu, tapi…… apakah boleh aku mempertahankan Bonus
Mode ini untuk sementara?
"Boleh tetap
begini sebentar?"
"Aku sih nggak keberatan…… tapi, Aguma sendiri nggak
apa-apa?"
"Aku juga tidak keberatan…… justru…… ah tidak, bukan
apa-apa."
"Begitu ya."
Baiklah…… lima menit lagi sepertinya masih aman. Namun,
mungkin karena aku tahu kakinya sedang kesemutan, alih-alih hasrat mesum, sifat
jahilku justru muncul. Sedikit saja nggak apa-apa kali ya…… saat berpikir
begitu, aku sudah menyentuh telapak kaki Aguma.
"Uun-ah!"
Woi, jangan
mengeluarkan suara seksi begitu dong!?
"…… Masaki-kun?"
"Maaf."
Meski tatapannya terlihat lemah, aku tetap merasa
diintimidasi sehingga aku langsung minta maaf dengan jujur.
"Sebagai gantinya, tetaplah begini sampai waktu
terakhir."
"…… Baik."
Aku tidak punya pilihan lain selain mengangguk mendengar
nada suaranya yang terasa lebih menekan daripada Kakak.
Tapi kalau
dipikir-pikir, bukankah ini malah hadiah……?
Justru ini adalah
keuntungan bagiku, rasanya aku ingin terus begini selama waktu mengizinkan.
Ini
benar-benar di luar dugaan…… padahal aku sudah bersiap menjalani istirahat
siang yang sepi demi menghemat kekuatan Partner, tidak menyangka
keberuntungan seperti ini akan datang!
"…… Haha."
"Masaki-kun?"
Posisi ini tetap
terasa sangat nyaman, sebuah komposisi yang bisa dibilang favoritku…… namun
lebih dari rasa nyaman itu, aku mendapatkan kekuatan untuk berjuang sepulang
sekolah nanti.
"Hei,
Aguma."
Mungkin karena
itulah…… aku tiba-tiba melontarkan permintaan ini padanya.
"Kalau
boleh, maukah kamu memberiku semangat?"
"Eh?"
Tubuh yang tadi
menempel kini menjauh sedikit, Aguma membelalakkan matanya dengan bingung. Yah,
wajar saja kalau dia bingung tiba-tiba diminta begitu, tapi intinya aku ingin
dia mengatakannya.
"Ahaha…… maaf Aguma, tiba-tiba banget ya——"
"…… Semangat ya, Masaki-kun."
"…… Oke."
Tepat saat aku
berniat menyerah karena merasa permintaanku aneh, dia memberiku serangan
kejutan. Kini giliran mataku yang membelalak lebar, dan dia justru menarik
kepalaku lagi ke dadanya.
"Semangat, semangat, semangat."
…… Aku belum mau mati, tapi mati sekarang pun mungkin nggak
apa-apa.
Mati lemas di
dada wanita itu memalukan?
Jangan konyol,
aku ingin berteriak keras kalau ini adalah kehormatan bagi seorang laki-laki.
" Thanks, Aguma."
"…… Apa kamu mau menolong seseorang lagi?"
"Entahlah
ya."
"Jangan
memaksakan diri ya? Kalau terjadi sesuatu pada Masaki-kun, aku maupun
Matsuri-san akan sangat sedih."
"…… Iya."
Ahhh, seandainya dia sedang terhipnotis, aku pasti sudah bilang dia wanita yang hebat sambil meminta wajahku dibenamkan lebih dalam lagi ke dadanya itu…… tapi ya sudahlah.
Besok, kalau masalah Honma sudah beres, aku akan memberikan
perintah yang mantap padanya sebagai hadiah.
"Kelihatannya
sudah mendingan?"
"Iya, terima
kasih, Masaki-kun."
"Sama-sama."
Meski sepertinya
masih ada sedikit rasa kesemutan yang tersisa, aku membantu Aguma berdiri dan
kami keluar dari ruang kelas kosong itu.
Melakukan hal
mesum dengan cara memaksa melalui perintah memang bagus, tapi kejadian lucky
sukebe yang tak terduga seperti tadi juga punya daya tarik tersendiri.
Terima kasih, Aguma.
"Tadi sedang
apa bersama Saika?"
"——!?"
Bahuku tersentak
hebat saking kagetnya sampai aku melompat mundur dari tempatku berdiri.
"Ahaha,
bukannya kamu terlalu kaget?"
"……Aisaka,
ya."
Aisaka yang
tiba-tiba muncul di belakangku itu tertawa kecil melihat reaksiku.
Rasanya aku ingin
mengeluh kalau semua ini terjadi karena dia mengejutkanku, tapi karena suasana
hatiku sedang sangat baik sekarang, aku menahannya…… yah, semarah apa pun, aku tidak akan membentak
seorang gadis.
"Jadi, tadi
sedang apa bersama Saika?"
"Ah, itu…… cuma mengobrol sebentar saja."
"Benarkah~?"
"Hei,
wajahmu terlalu dekat!"
Aku meletakkan
tangan di bahu Aisaka yang mendekatkan wajahnya untuk menginterogasi, lalu
menekannya agar dia tidak mendekat lebih jauh.
"Hmm……? Tapi
kelihatannya aroma tubuh Saika menempel erat padamu, lho?"
"Bagaimana
bisa kamu tahu aromanya?"
"Tentu saja
aku tahu. Karena aku adalah aku."
Apa maksudnya,
sih?
Melihatku yang
terperangah, Aisaka tertawa dan bilang kalau dia cuma bercanda, lalu dia masuk
ke kelas sambil mengingatkanku kalau kami bisa telat masuk pelajaran.
"……Sialan,
apa-apaan sih dia. Tapi lihat saja nanti, Aisaka——aku akan mempermainkanmu lagi
sepuasnya bersama Aguma……!"
"Apa yang
kamu gumamkan di sana? Cepat masuk ke kelas."
"Baik, Pak!
Maaf!"
Karena ditegur
oleh guru dari belakang, aku buru-buru masuk ke kelas. Di dalam, Aisaka
tertawa lebih keras dari sebelumnya…… Dasar anak itu, dia pasti tahu kalau guru
tadi datang!?
(Pokoknya
setelah semuanya selesai, aku akan melakukan hal sesukaku pada kalian! Akan
kuremas-remas payudara kalian, jadi bersiaplah!!)
Demi mewujudkan
itu, aku harus benar-benar mengakhiri masalah penguntit ini hari ini.
◆◇◆
Begitu sepulang
sekolah tiba, aku langsung menuju ke maid cafe itu.
Meski begitu,
hari ini aku tidak datang sebagai pelanggan, melainkan hanya mengincar pria itu
sebagai targetku.
Honma sudah mulai
bekerja paruh waktu dan sedang melayani pelanggan.
Hingga giliran
kerja Honma berakhir, pria itu sama sekali tidak muncul…… yah, kemarin saja dia
datang larut malam, kemungkinan dia masih bekerja sekarang.
"Kalau
begitu, di hari libur perusahaan dia datang ke toko, dan saat tidak bisa datang
karena kerja, dia membuntuti Honma setelah pulang…… tidak bisakah dia
menggunakan kegigihannya itu untuk hal lain? Yah, aku memang tidak paham pola
pikir penguntit."
Jujur saja, aku
menyadari kalau maid cafe itu adalah toko yang sangat bagus.
Gara-gara itu,
rasanya menyenangkan juga jika bisa bertemu Honma lagi di sana, tapi masuk ke
toko seperti itu sendirian masih terlalu berat levelnya bagiku.
"……Nyam."
Sambil memakan
kentang goreng yang kubeli di toko dekat sini satu per satu, tanpa sadar aku
mencari-cari apakah ada orang yang sedang kesulitan di sekitarku.
Mungkin sejak
terlibat dengan Aisaka, Aguma, dan Honma, aku mulai merasakan kepuasan
tersendiri saat menolong orang.
"Yah, begitulah…… tapi aku bukan orang sebaik
itu."
Aku segera menepis pemikiranku sendiri dan memusatkan
konsentrasi ke arah maid cafe.
Setelah waktu yang lama berlalu dan senja mulai tiba, Honma
keluar dari toko dengan seragam sekolahnya.
"Sudah selesai, ya…… hm?"
Honma tampak waspada dan sesekali melirik ke sekeliling……
Tak jauh dari tempat Honma berdiri, aku menemukan pria itu.
"Kegigihannya benar-benar luar biasa, ya, bajingan
itu."
Berbeda dengan
kemarin, kali ini pria itu memasang wajah senang karena berhasil menemukan
Honma.
Sekarang sudah
dipastikan——dialah si penguntit. Untuk saat ini, mari aku mulai membuntutinya
juga.
"……………"
Setelah berjalan
cukup lama hingga kerumunan orang di sekitar mulai berkurang drastis.
Akhirnya pria itu mendekat dengan cepat ke arah Honma…… Aku
segera berlari sambil memegang ponsel, tapi suara lantang Honma menggema lebih
cepat dari gerakanku.
"Tolong
hentikan! Apa sebenarnya maksudmu melakukan penguntitan seperti ini!? Ini
adalah tindakan kriminal, tahu!?"
Suara itu
dipenuhi amarah yang jelas dan rasa muak yang mendalam.
Seandainya mereka
berada di tempat yang lebih ramai, pasti banyak orang yang akan menoleh……
mungkin pria itu sudah memperhitungkan hal ini.
"A-aku cuma
ingin lebih akrab denganmu…… Karena kamu sudah sangat baik padaku……"
"Itu kan
cuma interaksi antara pelayan dan pelanggan! Tidakkah kamu malu terus
membuntuti siswi SMA seperti ini? Lagipula, aku berencana untuk berhenti
dari toko itu…… Kumohon, berhentilah menguntitku!"
Mendengar kata-kata Honma, pria itu justru balik marah.
"Kenapa…… kenapa kamu tidak mengerti perasaanku!? Aku sangat mencintaimu, tahu!?"
"Hiih!?"
Pria itu
mengeluarkan senjata tajam kecil dari tasnya, tapi tentu saja aku tidak akan
membiarkannya melakukan lebih dari itu.
"Oke, sampai
di sini saja."
Untuk sementara,
aku memasang hipnotis pada Honma dan pria itu secara bersamaan.
Yah, karena
mereka berdua ada di sini, itu tidak bisa dihindari…… meski begitu, sekarang
tidak peduli seberapa banyak pisau yang dia pegang, itu tidak akan ada gunanya.
"Senior……?"
"……………"
Keduanya tampak
linglung, tapi hanya Honma yang bereaksi padaku.
Sama seperti
Aisaka dan yang lainnya, jika berinteraksi dalam jarak tertentu, ingatannya
akan tetap terjaga…… itu membuat segalanya jadi lebih mudah dan sangat
membantuku.
"Yo, Honma. Sesuai janjiku, aku datang untuk
menolong."
"Ah……"
"Seharusnya
ada prosedur tertentu untuk masalah seperti ini, tapi dari interaksi kemarin
aku tahu kalau orang ini mudah terbawa emosi. Jadi saat aku mengawasinya hari
ini, ternyata benar dugaanku."
"Mengawasi……?
Dan interaksi kemarin…… dengan orang ini?"
"Soal itu,
nanti saja kita bahas."
Sambil melindungi
Honma di belakang punggungku, aku mengalihkan pandangan ke arah pria itu dan
menanyakan inti masalahnya secara langsung.
"Tidak salah
lagi kalau kamu adalah orang yang melakukan penguntitan pada gadis ini,
kan?"
"Iya…… Dia adalah malaikatku. Berbeda dari orang lain, dia sangat baik
padaku."
Mendengar
kata "malaikat" yang diucapkan pria itu, Honma menunjukkan rasa muak
yang sangat jelas.
Meskipun dalam kondisi terhipnotis, dia bereaksi seperti
ini…… itu membuktikan betapa negatifnya perasaan Honma terhadap pria ini.
"Berbeda
dari orang lain……? Jangan-jangan, kamu juga melakukan penguntitan pada orang
lain?"
"Aku
cuma mengambil foto-fotonya secara diam-diam."
"Ternyata
kamu melakukannya juga, ya!"
I-ini benar-benar
level yang sudah tidak tertolong lagi.
Sambil berpikir
bahwa tidak mungkin ada keberuntungan semacam itu, aku melihat isi tas ransel
yang dibawa pria itu dan langsung terdiam seribu bahasa.
Salah satu barang
yang keluar adalah tumpukan foto dalam jumlah besar…… Di sana ada foto Honma
yang sepertinya baru diambil baru-baru ini, dan banyak foto wanita yang tidak
kukenal…… bahkan ada foto gadis-gadis kecil juga.
"Oi, oi,
kamu sampai melakukan sejauh ini?"
Bahkan, ada
celana dalam yang keluar dari sana.
Jika aku yang
dulu, aku pasti sudah tersipu hanya dengan melihat celana dalam ini, tapi
sekarang aku sudah pernah menyentuh payudara asli, jadi aku tidak akan goyah
hanya karena hal tingkat ini.
Meski aku
terdiam, itu karena rasa muakku.
"Ini, bukan
celana dalammu, kan, Honma?"
"Tentu saja
bukan. Ternyata orang ini juga pencuri celana dalam, ya."
Tatapan mata
Honma berubah menjadi lebih dingin, seolah dia tidak lagi melihat sesama
manusia melainkan gundukan sampah.
Ini benar-benar Ice Queen…… Di tengah pikiran yang
tidak pada tempatnya itu, aku memutuskan untuk menanyakan soal celana dalam ini
juga.
"Ini milik
siapa?"
"Milik
wanita sebelum aku mengincar dia."
"Jangan-jangan kamu…… berencana mencuri celana dalam
Honma juga kalau sudah tahu di mana rumahnya?"
"Tentu
saja."
"……Begitu
ya."
"Menjijikkan."
Mendengar
kata-kata Honma, aku pun ikut mengangguk setuju.
"……Meskipun
aku sendiri tidak dalam posisi untuk menertawakan orang lain itu
menjijikkan."
"Senior sama
sekali tidak menjijikkan. Jika yang Senior maksud adalah situasi saat ini……
sensasi aneh ini, aku sama sekali tidak merasa tidak nyaman."
"Be-begitu
ya……"
Aku sempat mundur
selangkah karena terdesak oleh semangat Honma, tapi untuk sekarang mari kita
selesaikan masalah ini secepatnya.
Kali ini, aku
sudah memikirkan penyelesaian seperti apa yang terbaik.
Hasilnya…… aku pikir akan lebih baik jika kebenaran
terungkap dengan cara yang paling tidak masuk akal bagi orang ini.
"Honma, aku akan membawa orang ini ke kantor polisi.
Semuanya akan berakhir setelah dia membeberkan segalanya——karena sudah ada
bukti nyata begini, polisi pasti akan melakukan penyelidikan melalui foto dan
celana dalam ini."
"Begitu ya……"
"Intinya, setelah dia mengakui segalanya, aku akan
membuatnya panik setengah mati. Dengan begitu, pikirannya tidak akan punya
waktu lagi untuk memikirkanmu."
Inilah hal yang hanya bisa dilakukan berkat kekuatan
supernatural dari Partner.
"Honma juga pasti tidak ingin melihat wajah orang ini
lagi, kan? Biar aku yang urus sisanya, jadi pulanglah."
"Eh, tapi……"
"Begitu sampai di rumah, hipnotisnya akan terlepas dan
kamu akan kembali normal…… mungkin soal ditodong pisau tadi akan sulit diingat,
tapi lupakanlah ingatan tentang pria ini secepat mungkin."
"……Tapi,"
"Sudahlah, cepat pulang."
Meski tampak enggan, Honma berbalik dan mulai berjalan
pergi.
Tetap saja, dia menoleh beberapa kali namun tidak pernah
mencoba untuk kembali, dia tetap mengikuti perintahku dan menjauh.
"Hah…… aku masih bocah jadi aku tidak tahu apa yang
terbaik. Padahal akan lebih mudah
kalau ingatannya bisa hilang hanya dengan satu perintah."
Sayangnya,
Partner tidak punya fungsi seperti itu.
Meski aku tahu
itu, aku tetap tidak bisa menahan diri untuk berkata demikian.
"Hei kamu,
pergilah menyerahkan diri ke polisi sekarang dan ceritakan semuanya secara
mendetail. Ceritakan dengan jujur apa yang sudah kamu lakukan, bukan hanya soal
kejadian kali ini tapi juga soal foto-foto ini. Dan setelah itu, lupakan
segalanya tentang Honma."
"Aku
mengerti."
Yang terakhir itu
hanyalah sebuah harapan, atau lebih tepatnya permohonan yang aku tahu tidak
akan terwujud.
"Nah, ayo
pergi."
Setelah itu, aku
mengawasinya sampai dia benar-benar masuk ke kantor polisi.
Karena pintunya
terbuat dari kaca, aku bisa melihat dengan jelas interaksinya di loket
petugas…… Pria itu dengan patuh menunjukkan isi tasnya, dan suasana tampak
menjadi gawat.
"……Sisanya
biarkan polisi yang mengurus."
Aku
memang melakukan tindakan ini demi menolong Honma.
Tapi
tidak bisa dipungkiri kalau ini juga menyebabkan hidup seorang pria menjadi
hancur berantakan…… Bukannya
aku tidak merasakan apa-apa soal itu, meski sekarang sudah terlambat.
"Jangan
jadi melankolis gara-gara hal begini, aku……"
Saat membantu
Aisaka maupun Aguma, aku menolong karena aku ingin menolong…… hanya
sebatas itu saja.
Dan kali ini pun sama…… entah kenapa, aku jadi berpikir
apakah orang-orang yang kukalahkan ini menganggapku licik.
Kekuatan yang tidak membiarkan seseorang berbohong dan
memaksa mereka mengeluarkan kebenaran yang paling tersembunyi sekalipun.
"……Ah, sudahlah, hentikan. Tidak peduli soal itu,
lagipula aku sendiri adalah seorang penjahat…… jadi aku tinggal bersikap masa
bodoh saja."
Di saat seperti
ini, mari pikirkan tentang Aisaka dan Aguma yang merupakan oase di hatiku……
tidak, karena masalah ini sudah beres, mari kita bergembira dan membayangkan
bagaimana aku bisa mempermainkan Honma sepuasnya!
"Menambahkan
Honma ke dalam daftar bersama Aisaka dan Aguma…… guhehe."
"Memangnya
aku kenapa?"
"Tentu saja
karena kamu juga akan bersamaku…… hm?"
Eh, tunggu dulu…… aku baru saja berbicara dengan siapa?
Saat aku menggerakkan pandanganku seperti mainan rusak, di
sana berdirilah Honma yang sedang terengah-engah.
◆◇◆
Kenapa tadi aku
terburu-buru sekali, ya?
Beberapa saat
setelah tiba di rumah, aku mendadak tersadar kembali…… Seolah ingatan yang
samar-samar mulai mencair sedikit demi sedikit, aku merasa seolah-olah dia…… Senior
ada di sampingku.
"Masaki Kai…… Senior."
Aku tidak pernah mengobrol banyak dengannya, apalagi bertemu
secara khusus.
Jika diingat dari
memori terdekat, pertemuan kami adalah di maid cafe…… Sejak saat itu,
entah kenapa aku merasa Senior berbeda dari orang lain.
"……………"
Jujur saja, aku
tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Hanya satu hal
yang bisa kukatakan, yaitu aku telah membuka hatiku pada Senior yang sebenarnya
hampir seperti orang asing bagiku…… entah kenapa, tapi aku bisa merasakannya
sendiri dengan ajaib.
Aku entah
bagaimana bisa tahu——hanya dengan sekali lihat, ada semacam kebaikan di dalam
dirinya yang tidak bisa dinilai dari penampilan luar orang tersebut.
"Senior."
"Honma…… kenapa kamu ada di sini?"
Dan,
setelah berlari mengikuti insting, di sanalah Senior berada.
Di
belakang Senior adalah kantor polisi…… Di loket yang kelihatannya menjadi
tempat pelaporan itu, pria penguntit yang belakangan ini menggangguku sedang
ditangkap.
Jujur saja, aku
sama sekali tidak paham situasinya…… tapi intuisiku mengatakan kalau Senior
telah melakukan sesuatu untukku…… entah kenapa, aku merasa begitu.
"Begitu sampai di rumah…… aku tidak terlalu ingat, tapi
entah kenapa aku merasa cemas dan akhirnya berlari ke sini. Aku tidak menyangka bisa bertemu Senior di
tempat seperti ini."
Bohong…… aku datang ke sini karena aku pikir aku bisa
bertemu Senior.
Apalagi di dalam sensasi yang melayang-layang antara mimpi
dan kenyataan ini, pria itu hampir menodongkan senjata tajam padaku…… tapi aku
merasa seolah Senior telah menyelamatkanku.
Bukan, entah kenapa aku yakin kalau hal semacam itu memang
benar-benar terjadi.
"Anu~…… sebenarnya tadi aku bertemu pria itu. Terus dia
tiba-tiba tersandung di depanku, dan dari dalamnya keluar banyak barang
berbahaya. Foto-fotomu dan wanita lain…… puncaknya adalah celana dalam juga
ada. Honma…… jangan-jangan kamu sedang dikuntit, ya?"
Aku mengangguk…… tapi Senior, bukankah Anda sudah tahu soal
itu?
"Iya…… aku terus dibuntuti oleh orang itu."
"Kalau
begitu semuanya berakhir dengan baik, kan? Itu…… aku bukan pelakunya
sih, tapi tadi ada barang-barang yang cukup sulit untuk disebutkan yang ikut
keluar."
"……Bagaimanapun juga, semuanya sudah berakhir,
ya."
Aku menutup mata
dan mencoba memanggil kembali ingatanku.
Seketika itu juga, barang-barang yang mungkin dimiliki pria
itu…… barang-barang yang dia bawa muncul sekilas di benakku, dan aku pun yakin
kalau dia pasti akan ditangkap.
"Yah,
sisanya biarkan polisi yang urus. Mungkin saja sekarang dia sudah tidak punya
celah lagi untuk memikirkanmu."
"Aku mengerti…… anu."
"Ya?"
"Terima
kasih banyak, Senior."
Aku membungkuk
dalam-dalam dan mengucapkan terima kasih kepada Senior.
"Aku tidak
melakukan hal yang pantas untuk mendapatkan terima kasih, lho. Aku cuma tidak
sengaja menemukannya saja."
"Tetap saja.
Jika Senior tidak bertindak, mungkin aku akan terus dibuntuti…… atau
yang terburuk, mungkin aku bisa saja terbunuh."
"Itu…… ah~"
Masalah penguntitan terkadang membawa tragedi yang tak
terbayangkan.
Hal itu sering
diberitakan di berita atau media sosial, jadi ada kemungkinan aku pun akan
menjadi korbannya…… tidak, aku yakin jika Senior tidak ada, hal itu pasti akan
benar-benar terjadi.
"Itu…… bukannya aku meragukanmu, tapi apa kamu percaya
padaku, Honma?"
"Aku percaya, kok——aku bisa memercayai Senior."
"……Begitu ya."
Senior menggaruk ujung hidungnya dengan malu-malu.
Sosoknya itu terlihat sangat manis, dan ekspresi malunya itu
mirip dengan Senior yang mengobrol denganku di maid cafe…… dan aku
merasa bahwa setelah itu pun aku menghabiskan waktu bersama Senior.
Ah, ingatan macam
apa sebenarnya ini…… aku sama sekali tidak paham, tapi hatiku tetap dipenuhi
rasa syukur kepada Senior.
"Yah, pokoknya…… semua ini hanyalah kebetulan belaka. Jadi kamu tidak perlu berterima kasih
padaku…… lagipula aku sudah mendapatkan imbalannya, kok."
"Eh……?"
"Ah…… bukan apa-apa!"
Senior memalingkan wajahnya dengan panik.
Namun di saat
itu, aku meragukan mataku sendiri…… karena aku melihat sesuatu yang hitam
mendekat dari balik punggung Senior.
"Senior!"
"Eh……?"
Saat aku menarik
tangan Senior yang terkejut, benang hitam itu lenyap seolah-olah tidak pernah
terjadi apa-apa.
Itu adalah
pemandangan yang tidak realistis sampai aku ragu apakah itu cuma ilusi optik,
tapi aku merasa bahwa benda itu adalah sesuatu yang tidak baik bagi Senior……
makanya aku langsung menarik tangannya seperti ini.
"A-ada
apa?"
"Ah tidak……
maafkan aku."
Aku langsung
meminta maaf karena sudah menarik tangannya secara tiba-tiba.
Setelah itu, aku
sebenarnya masih punya banyak hal yang ingin dibicarakan dengan Senior…… tapi
karena sudah larut malam, meski terasa berat hati, kami harus berpisah.
"Hati-hati
di jalan karena sudah gelap, ya? Jangan sampai diincar oleh penguntit lain
lagi!"
"Ih…… Senior ini ada-ada saja!"
Aku tidak mau
kalau sampai harus diincar penguntit berkali-kali!
Senior melambaikan tangannya dengan santai dan berjalan
pergi menjauh…… Aku terus menatap punggung Senior itu sampai dia tidak terlihat
lagi.
"Tidak
peduli apa yang terjadi…… kamu, Senior, telah menyelamatkanku…… jika aku
tahu itu, maka itu sudah cukup."
Seandainya Senior adalah orang yang mencurigakan atau orang
yang tidak bisa dipercaya, semua ini tidak akan terjadi.
Tapi seperti yang kukatakan tadi, aku percaya
padanya——kenyataan bahwa Senior itu baik dan telah menyelamatkanku dengan cara
apa pun tidak akan berubah.
『Kuku,
hei Honma. Aku akan mempermainkanmu sepuasnya!』
Selain Senior
yang baik hati, ada sosok Senior yang mengatakan hal semacam itu dengan gaya
yang entah kenapa tidak bisa dibenci, bercampur aduk di dalam diriku.
Apakah ini
imajinasiku? Ataukah ini sosok Senior yang sebenarnya?
"——♪"
Ah…… rasanya bergejolak.
Keinginan untuk mengabdi yang muncul dari lubuk hati
terdalam…… jangan-jangan, aku ingin Senior menjadi——Tuanku.
Seseorang
yang mendominasi segalanya tentangku, dan menyiksaku dengan cara yang mesum.
"……Hah!?"
Aku baru
saja berpisah dengan Senior dan tempat ini belum berubah, karena berada di
tengah kota, tentu saja ada banyak orang…… Aku jadi khawatir kalau aku tadi
memasang wajah aneh yang bisa membuatku dilaporkan ke polisi, aku pun melirik
ke sekeliling dengan cemas tapi sepertinya tidak apa-apa……?
"……Mari
pulang saja."
Dalam
perjalanan pulang, kepalaku hanya dipenuhi oleh sosok Senior.
Meskipun
penguntitnya sudah tertangkap, kenyataan bahwa aku berhenti dari maid cafe
tidak akan berubah…… Apakah aku akan punya kesempatan untuk mengobrol dengan
Senior secara normal lagi?
Hal itu terus
mengusik pikiranku.



Post a Comment