Chapter 7
Inilah Ujung
Perjalanannya, Bro!
♡ ♡ ♡
"Tuanku
benar-benar orang yang misterius. Menggunakan kekuatanku untuk membuat
orang-orang menyukainya seperti itu... tidak, mungkin ini juga salah satu cara
penggunaan yang tepat. Aku pun bisa menjadi kekuatan untuk melindungi
seseorang... Tuanku jugalah yang membuatku menyadari hal ini. Tapi, sepertinya
Tuanku tetaplah sosok yang setia pada hasratnya sendiri. Itu membuatku cukup
lega, tapi mari kita lihat bagaimana cara Tuanku menghabiskan waktunya di masa
depan."
♡ ♡ ♡
"…?"
Tiba-tiba, aku
merasa seolah rekanku baru saja membisikkan sesuatu.
"Tidak...
sepertinya cuma perasaanku saja."
Bahkan saat aku
melihat ke layar, tidak ada perubahan apa pun. Sepertinya aku hanya
berhalusinasi. Padahal, jika aku bisa berinteraksi dengan rekanku dalam
kesadaran yang jelas seperti ini, aku tidak hanya bisa mengenalnya lebih dalam,
tapi mungkin aku juga bisa mengetahui lebih banyak tentang aplikasi hipnosis
ini.
"Eh, tapi
bukan itu masalahnya sekarang."
Aku mengalihkan
pandangan dari ponsel dan menatap dua gadis yang berdiri di hadapanku. Saat
sedang menuju sekolah seperti biasa, aku melihat gadis-gadis yang diganggu oleh
berandalan, jadi aku menggunakan kekuatan rekanku untuk mengusir mereka dengan
paksa.
...Eh? Kenapa aku
malah menghipnosis gadis-gadis ini? Yah, bisa dibilang ini sudah jadi
kebiasaan.
"Hehe,
menghipnosis orang asing semudah mengembuskan napas... benar-benar dosa yang
dalam."
Tanpa melakukan
apa pun pada mereka, aku membiarkan kedua gadis itu berjalan lebih dulu, lalu
melepaskan hipnosisnya setelah mereka cukup jauh.
Sambil berpikir
bahwa hari ini aku kembali melakukan perbuatan baik bersama rekanku, aku pun
melanjutkan perjalanan menuju sekolah.
Di tengah jalan,
aku melihat punggung Matsuri yang sedang berjalan sendirian, dan secara alami
aku memanggilnya.
"Matsuri!"
"Eh? Ah,
Kai-kun!"
Begitu menoleh,
wajah Matsuri langsung merekah dalam senyuman dan dia berlari kecil
menghampiriku.
"Selamat
pagi!"
"Selamat
pagi."
Hmm... memang
sapaan di pagi hari itu yang terbaik ya. Sambil memikirkan hal itu, aku
mengangguk-angguk sendiri, lalu kami mulai berjalan berdampingan secara alami.
(Wah, benar-benar
terasa seperti masa muda!)
Padahal kami
tidak sedang berpacaran, tapi interaksi yang begitu akrab dan terasa spesial
ini benar-benar menyenangkan sampai-sampai aku tidak bisa menahan cengiran di
wajahku.
"Kenapa
senyum-senyum sendiri begitu~?"
Tapi
tentu saja, Matsuri yang berjalan di sampingku langsung menyadarinya. Sejak
kami menghabiskan waktu bersama di tempat hiburan waktu itu, jarak di antara
kami semakin terkikis hingga membuatku terkejut sendiri. Meski begitu, ditegur
karena memasang wajah cengengesan begini rasanya malu sekali.
"Ugh..."
"Fufu~♪
Tidak perlu jaim sekarang, kan? Lagi pula ini kan aku dan Kai-kun. Aku juga suka kok melihat ekspresi
Kai-kun yang seperti itu."
Matsuri
berkata begitu sambil mencolek-colek pipiku.
"Anu...
yang seperti ini jadi makin sering ya."
"Tentu
saja bakal makin sering. Soalnya aku suka waktu-waktu seperti ini. Lagipula,
karena kita berdua sudah mengatakannya, tidak perlu sungkan lagi, kan?"
"……………"
Benar...
hal seperti ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah bagi kami. Bukan hanya saat
berdua, frekuensi kami mengobrol saat di kelas pun meningkat, begitu juga
dengan kontak fisik yang bertambah drastis.
(Kita...
padahal tidak sedang pacaran ya.)
Ya, kami
tidak berpacaran. Namun, jika terus menghabiskan waktu seperti ini, mustahil
aku tidak terpikat oleh Matsuri yang berjalan di sampingku.
Anehnya,
aku merasa puas dengan keadaan sekarang... mungkin karena selain hubungan baik
kami dalam keadaan normal, interaksiku dengan mereka dalam kondisi terhipnosis
juga membuatku merasa tercukupi.
(Saika dan Emu
juga... kontak fisiknya jadi makin berani ya.)
Terutama Saika...
serius, Saika itu luar biasa! Matsuri juga cukup hebat, tapi kalau Saika, dia
selalu menempelkan tubuh sintalnya itu padaku sampai membuatku bergairah!
Sudah berapa kali
aku harus menekan logikaku agar tidak melewati garis batas yang selama ini
kujaga...!
(H-Hari ini...
apa aku coba level yang lebih tinggi saja ya...!?)
Hari ini
pun, aku berniat memanggil Matsuri dan yang lainnya dengan Reservation
Hypnosis. Sejak kejadian itu aku tidak melakukan sesuatu yang aneh, tapi
hari ini, mari kita coba sesuatu yang sedikit lebih ekstrem...!
Interaksi
dengan mereka belakangan ini benar-benar menyudutkanku dalam berbagai arti,
hingga membuatku membulatkan tekad seperti itu.
"Ayo, cepat
jalan, Kai-kun♪"
"O-Oh!"
Tepat setelah
pundakku ditepuk, tanganku langsung digenggam olehnya. Meski kami selalu
berpegangan tangan seperti ini, biasanya dia akan melepaskannya begitu
mendekati sekolah agar tidak memicu keributan... Tidak aneh kan kalau aku
berpikir begitu?
(...Kalau aku
memaksa, pasti bisa deh.)
Bukan hanya
Matsuri, aku mungkin terlalu percaya diri karena memikirkan hal yang sama
tentang Saika dan Emu... Atau lebih tepatnya, belakangan ini aku memang sedang
tinggi hati, jadi mungkin ada baiknya jika seseorang memarahiku agar aku
kembali sadar akan realita.
◆◇◆
"Kai-kun,
apa rasanya enak?"
"Terbaik."
"Kai-kun,
aku akan menempel lebih erat lagi."
"Uwooh!"
"Kai-senpai,
biar aku jepit ya♪"
"Uoooooooooh!"
Begitu jam
istirahat tiba, yang menantiku adalah surga.
Seperti biasa aku
memanggil Matsuri dan yang lainnya, lalu membiarkan diriku diselimuti oleh
kelembutan dan aroma manis mereka, menghabiskan waktu yang penuh kebahagiaan.
"Memang
ini yang paling mantap... aku berjuang setiap hari demi saat-saat seperti
ini."
"Bukankah
itu berlebihan?"
"Mana
ada yang berlebihan. Aku sudah tidak bisa hidup tanpa Matsuri dan yang
lainnya."
Meskipun itu
kata-kata yang hiperbolis, tidak ada ruginya mengatakannya. Hanya saja... saat
tekanan dari mereka bertiga yang merapat padaku semakin kuat, genggaman tangan
mereka juga mengencang seolah tidak berniat membiarkanku lepas.
"Kalau
begitu, Kai-kun tidak akan bisa pergi, kan?"
"Kami juga
merasakan hal yang sama."
"Iya. Kami
tidak akan membiarkanmu kabur, lho?"
Mendengar
bisikan mereka bertiga di telingaku, bulu kudukku langsung merinding. Padahal
tekstur empuk dan kehangatan yang merambat dari tubuh mereka terasa nyata, tapi
hawa dingin ini... apa-apaan?
Di tengah
aku yang gemetaran sampai tidak bisa bersuara, Matsuri mendekatkan wajahnya
lebih dekat lagi.
"Kamu
bilang mau terus bersama, kan? Kalau begitu, terus bersama selamanya adalah hal
yang wajar, kan? Kami pun
sama kok. Jadi, karena kita berdua merasakan hal yang sama, melakukan hal itu
adalah yang terbaik, kan?"
Sekadar
penjelasan singkat tentang posisi kami sekarang. Saika memelukku dari belakang,
Emu memeluk lenganku, dan Matsuri menatapku tepat dari depan... Artinya, aku
sama sekali tidak bisa memalingkan wajah dari Matsuri yang berdiri di depanku,
dan hanya bisa saling menatap dengan matanya yang tampak kehilangan cahaya.
"Ma-Matsuri..."
Padahal dari awal
aku sudah tidak bisa memalingkan pandangan, tapi Matsuri memegang kedua pipiku
dengan tangannya dan menguncinya dengan kuat.
"Mana jawabannya?"
"…… Iya."
"Yup, anak pintar♪"
Anu... ini hipnosisnya benar-benar bekerja, kan? Aku sempat merasa cemas, tapi sepertinya
baik-baik saja... Lagipula, kalau hipnosisnya lepas dalam kondisi begini, itu
malah lebih menakutkan.
"Aku juga
memikirkan hal yang sama, lho?"
"Aku juga,
tahu?"
"Ah,
iya."
Setelah didesak
oleh Saika dan Emu juga, aku pun terpaksa mengangguk. Suasana yang tercipta
seolah-olah kami sedang mengucapkan sumpah suci, membuatku tertawa getir, namun
kemudian aku teringat.
"Hehe... Sebenarnya, hari ini aku terpikir untuk
melakukan sesuatu yang levelnya sedikit lebih tinggi!"
"Sesuatu yang levelnya tinggi?"
Aku mengangguk, lalu meminta mereka untuk menjauh sebentar
sebelum mengatakannya.
"…… Itu, bagaimana kalau kita ciuman?"
Bukan ciuman di pipi, tapi ciuman bibir. Aku sempat ragu
apakah tidak apa-apa melewati garis itu, dan suaraku gemetar karena takut jika
aku terlalu terburu-buru.
"Itu
maksudnya, bibir dengan bibir?"
"I-Iya—"
Tidak, aku hampir
saja meralat perkataanku dan mengatakan lupakan saja... Tapi sebelum sempat,
Matsuri sudah membungkam mulutku—dengan menempelkan bibirnya sendiri.
"---!?"
"Mmph...♪"
Mataku membelalak
karena terkejut... Tentu saja, aku bisa melihat wajah Matsuri yang memejamkan
mata dalam jarak yang sangat dekat.
Sensasi lembut
yang merambat di bibirku adalah bibir Matsuri... Otakku menolak untuk memahami
apa yang sedang terjadi, dan seluruh aktivitasku berhenti total.
"……………"
"…… Ehehe."
Begitu menjauhkan wajahnya perlahan, Matsuri tersenyum
dengan wajah yang tampak sangat malu. Matanya yang sedikit berkaca-kaca seolah
menunjukkan rasa bahagia. Meski aku sedang kebingungan, aku tetap terpesona
pada mata Matsuri yang indah seperti permata.
"Boleh...
memangnya tidak apa-apa?"
"Tentu saja.
Aku sayang sekali dengan Kai-kun ♡"
"---!!"
Jantungku
berdegup kencang. Namun, aku merasakan tatapan kuat yang menghujamku... Itu
adalah Saika dan Emu.
"Aku juga
mau."
"Aku juga
mau melakukannya."
Setelah didesak
oleh Saika dan Emu yang langsung merapat, aku hanya bisa mengangguk pasrah
mengikuti arus... Dan aku pun bertukar ciuman dengan mereka berdua.
Karena berciuman
dengan mereka bertiga berturut-turut, jantungku berdegup sangat kencang.
Kegembiraan yang berdenyut hingga menyesakkan napas menyebar ke seluruh tubuh,
membuat kepalaku pening seolah-olah sedang terkena heatstroke.
"Ciuman...
aku benar-benar melakukannya."
"Kita sudah
melakukannya ya♪"
"Akhirnya
bisa juga♪"
"Ciuman...
rasanya sangat enak sekali♪"
Berbanding
terbalik dengan mereka bertiga yang tampak puas, aku malah merasa berdosa.
Maksudku,
ciuman dengan tiga orang sekaligus...!? Padahal kami tidak pacaran, dan
beberapa waktu lalu mereka bilang ciuman bibir itu tidak boleh!?
Tapi... tapi aku
senang sekali!?
"Apa...
tidak apa-apa kalau aku tidak merasa cemas...?"
"Tidak perlu
cemas, kan? Lagipula kami semua senang kok."
"Tidak perlu
khawatir sama sekali... karena aku benar-benar bahagia."
"Benar,
Senpai. Jadi kalau Senpai merasa senang, kami pun juga ikut senang."
Dan
terakhir, mereka sendiri yang memelukku. Kalau begitu... kalau begitu tidak
apa-apa, kan. Aku meyakinkan diriku sendiri, dan seolah rasa sungkan telah
hilang setelah melewati tembok ciuman bibir, aku kembali menikmati kelembutan
mereka sepuas hati.
"Berikutnya,
apa kita akan melakukan hal yang lebih mesum?"
"Aku
menunggu... atau malah, mau kuserang?"
"Aku lebih
suka kalau diserang...!"
Mesum... kalau
tingkatannya di atas ciuman, berarti mesum yang sesungguhnya!? Tentu
saja aku merasa ragu untuk melangkah ke sana... Tapi untuk saat ini, aku ingin
menikmati sisa-sisa perasaan setelah berciuman tadi.
Aku meminta
mereka bertiga kembali ke kelas lebih dulu. Saat ditinggal sendirian di ruang
kelas kosong, aku mengenang kembali kejadian tadi.
"Wah...
benar-benar luar biasa."
Kalau aku
lengah sedikit saja... tidak, meski aku sudah waspada pun, cengiranku tidak
bisa berhenti.
"Hei
Rekan... akhirnya aku sampai ke tahap ciuman! Bagaimana ini... serius, kalau
aku melangkah lebih jauh lagi, aku bakal jadi apa nanti!!"
Kalau aku bisa
merasakan hal yang lebih dari ini, aku pasti tidak akan menyesal!
Tapi, kalau sudah
begini, keinginanku untuk terus bersama Matsuri dan yang lainnya jadi semakin
kuat... Aku bisa berpikir seperti ini, dan bisa menghabiskan waktu bahagia
seperti hari ini, semuanya berkat pertemuanku dengan Rekan.
"Hehe, aku
benar-benar berterima kasih padamu, Rekan. Tapi ini belum berakhir... ke
depannya pun, teruslah pinjamkan kekuatanmu padaku ya!"
Aku akan terus
menikmati hari-hari ini dengan caraku sendiri!
"Nah,
sepertinya mereka bertiga sudah sampai di kelas ya?"
Saat aku kembali
menatap layar ponsel di tanganku, mataku membelalak. Penyebabnya adalah
layar yang gelap gulita... Aku sempat cemas kalau ponselnya rusak, tapi
sepertinya baterainya habis begitu saja.
"Aku memakainya untuk mereka bertiga, dan tadi pagi
juga sempat kupakai... Hmm?"
Tunggu... sejak
kapan baterainya habis? Kapan baterainya mati, dan sampai kapan Matsuri dan
yang lainnya berada dalam kondisi terhipnosis?
Meski aku merasa
cemas karena kejadian yang tidak bisa kupastikan ini, aku merasa seolah Rekanku
berkata bahwa aku tidak perlu memikirkannya.
"Waduh, aku
juga harus kembali ke kelas—"
Sudah waktunya juga... Tapi, begitu aku keluar dari ruang
kelas kosong, sebuah kejadian tak terduga terjadi.
"Ah, aku
menunggumu lho, Kai-kun."
"Matsuri!?!?"
Ternyata, Matsuri
sedang menunggu di luar. Dia segera menggenggam tanganku dan menarikku pergi.
"Ayo ayo,
kalau tidak cepat kembali nanti bisa telat, lho?"
"A-Ah...
tapi, sejak kapan kamu di sini?"
Mendengar
pertanyaanku, Matsuri tersenyum kecil.
"Entahlah?
Mungkin baru saja, atau mungkin sejak awal?"
Matsuri
meletakkan jarinya di depan bibir, dan memberikan kedipan mata yang manis
sambil berkata demikian.
Hei Rekan... apa
ini benar-benar tidak apa-apa?
Sambil terpesona
oleh senyuman cantik Matsuri, di dalam hati aku membisikkan pertanyaan itu pada
rekanku.
◆◇◆
Aplikasi Hipnosis... Awalnya aku hanya menganggapnya sebagai
benda untuk mewujudkan hasratku, tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau
aplikasi ini akan memberiku hari-hari yang begitu indah.
Hanya satu hal yang bisa kukatakan dengan pasti—bahwa aku
benar-benar sedang menjalani hari-hari yang paling luar biasa.
Bonus E-book:
Cerita Pendek Tambahan
Seandainya Saika
adalah Teman Masa Kecilku ~Gadis Pendiam Itu Tidak Pernah Menolakku~
"Se...
selamat pagi, Kai-kun."
"Selamat
pagi, Saika."
Hari ini pun,
seperti biasa, aku berangkat ke sekolah bersama teman masa kecilku.
(...Yah,
mungkin aku saja yang terlalu khawatir.)
Saika Azuma yang
berjalan di sampingku ini adalah seseorang yang sudah lama sekali menjalin
hubungan denganku.
Sifatnya memang
tidak bisa dibilang ceria, dia cenderung pendiam dan jarang menonjolkan diri...
Yah, orang-orang di
sekitar memberikan julukan yang tidak mengenakkan padanya, seperti 'si gadis
kusam' atau 'anak introvert'.
(...Sialan
mereka semua.)
Padahal kata-kata
bisa dengan mudah melukai perasaan seseorang, tapi mereka malah bicara
seenaknya... Tentu saja tidak semua teman sekelas begitu, tapi tetap saja ini
membuatku kesal.
(...Kusam,
ya?)
Meski begitu, aku
benar-benar meragukan kata 'kusam' itu.
Memang benar
Saika itu suram, pendiam, poninya panjang sampai menutupi mata, dan kalau
tiba-tiba muncul di belakangmu saat malam hari, kau pasti akan kaget karena
mengira dia hantu.
Tapi, aku yakin
wajah Saika itu benar-benar cantik... Selain itu, Saika juga memiliki dada
besar yang rasanya tidak masuk akal untuk ukuran siswi SMA.
(Saika yang
seperti itu dan aku... hhh.)
Kami tidak
berpacaran... tapi kami memiliki hubungan yang sedikit 'nakal'.
Meski aku
berjalan sambil melamun, sepertinya dia sadar kalau aku sedang melirik dadanya.
Saika yang
menunjukkan senyum tipis kemudian menarik tanganku, membawaku ke balik
bayang-bayang benda yang tersembunyi.
"Boleh,
kok."
"Ugh..."
Saika
membusungkan dadanya, seolah-olah mempersilakanku.
Dadanya yang
terbungkus seragam itu tampak sangat penuh, seakan-akan kancingnya bisa
terpental kapan saja.
Aku menelan
ludah, mengulurkan tangan, dan meremas dada Saika.
"Nn...
ngh... ahh..."
Seiring dengan
gerakan jemariku, suara yang menggoda pun lolos dari mulut Saika.
(Inilah
hubungan 'nakal' antara aku dan Saika.)
Ini sudah
melampaui sekadar hubungan baik atau teman masa kecil... Meski tidak
berpacaran, Saika tidak pernah bilang keberatan saat aku memperlakukannya
sesuka hati seperti ini. Malah sebaliknya, dia seolah menginginkan sentuhanku.
(Ini
bermula... karena aku menolongnya, kan?)
Sekarang masalah
itu sudah selesai, tapi dulu Saika sering menerima kekerasan dari ayahnya.
Aku menyadari hal
itu, lalu berbicara kepada kakek dan neneknya... Intinya aku sangat sibuk saat
itu, tapi aku berhasil menyelamatkan Saika sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
Mungkin Saika
merasa sangat berterima kasih karena hal itu, dia bilang akan melakukan apa pun
sebagai balas budi... Dan saat itu, aku kalah oleh rasa penasaran dan
mengusulkan apakah aku boleh meremas dadanya.
Saika
mengangguk setuju... dan begitulah hal ini terus berlanjut sampai sekarang.
"Hei,
Saika..."
"Ada
apa?"
"Kau...
tidak benci, kan?"
"Aku tidak
benci, kok. Karena ini Kai-kun."
"...!"
Aku meremas dada
Saika sedikit lebih kuat.
Seandainya saja
dia bilang benci... seandainya saja dia menunjukkan ekspresi tidak suka sedikit
pun, aku pasti bisa berhenti. Namun, ekspresi Saika tidak berubah.
"..........."
Seberapa kuat pun
aku menyentuhnya, Saika tetap diam menerima tanganku.
Seolah dia tidak
akan pernah menentang apa pun yang kulakukan, seolah dia akan menerima segala
hal yang datang dariku.
"Aku..."
"?"
"Aku...
karena sudah diselamatkan oleh Kai-kun. Jadi, aku akan menerima apa pun yang
Kai-kun lakukan... Karena kurasa, itu akan menjadi balas budi atas
bantuanmu."
...Begitu ya,
kalau begitu tidak apa-apa.
Jika Saika bilang
tidak apa-apa, maka biarlah begitu. Aku pun melakukan tindakan yang
lebih berani... Aku meletakkan jari pada kancing seragam Saika, lalu melepasnya
dengan bunyi klik.
"Ngh..."
Begitu kancingnya terlepas, dadanya berguncang pelan.
Meski gundukan montok yang terbungkus pakaian dalam itu
menampakkan dirinya, Saika tetap tidak mengubah ekspresinya... Tidak, pipinya
sedikit memerah.
Selama ini selalu
dari luar seragam... Jadi, menyentuhnya dari atas pakaian dalam maupun langsung
ke kulit seperti ini adalah yang pertama kalinya.
"...Lunak
sekali."
"Kau
menyukainya?"
"A-ah...
iya..."
Bahkan sampai
tahap ini pun dia tidak merasa benci... Begitu ya, ternyata memang begitu.
Aku
mengembuskan napas panjang dan mencoba memasang kembali kancing yang kulepas
tadi... Tapi, kenapa saat
melepasnya terasa mudah sekali, sementara saat mau memasangnya kembali malah
sesulit ini!?
"I-ini
terlalu besar tahu... tidak bisa tertutup dengan mudah!?"
"...Maaf.
Maaf karena dadaku besar."
"Tidak, kau
tidak perlu minta maaf!"
Kami ini...
sedang melakukan komedi atau apa?
Karena aku sudah
sedikit tenang, aku pun memutuskan untuk mengatakannya sekarang saja... Aku
mengucapkan kata-kata yang sudah lama ingin kusampaikan.
"Anu,
Saika."
"...Ya."
"Maukah kau
pacaran denganku?"
"...Eh?"
"Maksudku pacaran yang sebenarnya... Aku, aku menyukai
Saika."
Begitu aku
mengatakannya, Saika membelalakkan mata dan gerakannya terhenti.
Sejujurnya,
setelah melakukan hal sejauh ini, rasanya tidak mungkin kalau bilang tidak ada
perasaan apa-apa... Karena sejak awal aku memang menyukai Saika, makanya aku
melakukan ini.
"Boleh...?
Apa boleh gadis sepertiku?"
"Tentu saja,
kan? Lagipula mana mungkin aku... meremas dada orang yang kubenci?"
Meski itu adalah
pernyataan cinta yang payah, hal itu menjadi awal baru bagiku dan Saika.
"Kai-kun,
aku suka."
"A-aku juga
suka!"
"Padahal
tadi sudah meremas dada sesuka hati, tapi sekarang malah malu?"
Ngomong-ngomong,
berkat berpacaran denganku, Saika menjadi lebih ceria dan populer... Namun,
kisah tentang betapa sulitnya melindunginya, atau saat dia membangkitkan sifat yandere
dan mencintaiku sampai ke tulang sumsum, itu adalah cerita untuk lain waktu.
Previous Chapter | ToC | End V3



Post a Comment