NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Te ni Ireta Saimin Appli de Yume no Harem Seikatsu o Okuritai Volume 3 Chapter 7

Chapter 7

Inilah Ujung Perjalanannya, Bro!


"Tuanku benar-benar orang yang misterius. Menggunakan kekuatanku untuk membuat orang-orang menyukainya seperti itu... tidak, mungkin ini juga salah satu cara penggunaan yang tepat. Aku pun bisa menjadi kekuatan untuk melindungi seseorang... Tuanku jugalah yang membuatku menyadari hal ini. Tapi, sepertinya Tuanku tetaplah sosok yang setia pada hasratnya sendiri. Itu membuatku cukup lega, tapi mari kita lihat bagaimana cara Tuanku menghabiskan waktunya di masa depan."

"…?"

Tiba-tiba, aku merasa seolah rekanku baru saja membisikkan sesuatu.

"Tidak... sepertinya cuma perasaanku saja."

Bahkan saat aku melihat ke layar, tidak ada perubahan apa pun. Sepertinya aku hanya berhalusinasi. Padahal, jika aku bisa berinteraksi dengan rekanku dalam kesadaran yang jelas seperti ini, aku tidak hanya bisa mengenalnya lebih dalam, tapi mungkin aku juga bisa mengetahui lebih banyak tentang aplikasi hipnosis ini.

"Eh, tapi bukan itu masalahnya sekarang."

Aku mengalihkan pandangan dari ponsel dan menatap dua gadis yang berdiri di hadapanku. Saat sedang menuju sekolah seperti biasa, aku melihat gadis-gadis yang diganggu oleh berandalan, jadi aku menggunakan kekuatan rekanku untuk mengusir mereka dengan paksa.

...Eh? Kenapa aku malah menghipnosis gadis-gadis ini? Yah, bisa dibilang ini sudah jadi kebiasaan.

"Hehe, menghipnosis orang asing semudah mengembuskan napas... benar-benar dosa yang dalam."

Tanpa melakukan apa pun pada mereka, aku membiarkan kedua gadis itu berjalan lebih dulu, lalu melepaskan hipnosisnya setelah mereka cukup jauh.

Sambil berpikir bahwa hari ini aku kembali melakukan perbuatan baik bersama rekanku, aku pun melanjutkan perjalanan menuju sekolah.

Di tengah jalan, aku melihat punggung Matsuri yang sedang berjalan sendirian, dan secara alami aku memanggilnya.

"Matsuri!"

"Eh? Ah, Kai-kun!"

Begitu menoleh, wajah Matsuri langsung merekah dalam senyuman dan dia berlari kecil menghampiriku.

"Selamat pagi!"

"Selamat pagi."

Hmm... memang sapaan di pagi hari itu yang terbaik ya. Sambil memikirkan hal itu, aku mengangguk-angguk sendiri, lalu kami mulai berjalan berdampingan secara alami.

(Wah, benar-benar terasa seperti masa muda!)

Padahal kami tidak sedang berpacaran, tapi interaksi yang begitu akrab dan terasa spesial ini benar-benar menyenangkan sampai-sampai aku tidak bisa menahan cengiran di wajahku.

"Kenapa senyum-senyum sendiri begitu~?"

Tapi tentu saja, Matsuri yang berjalan di sampingku langsung menyadarinya. Sejak kami menghabiskan waktu bersama di tempat hiburan waktu itu, jarak di antara kami semakin terkikis hingga membuatku terkejut sendiri. Meski begitu, ditegur karena memasang wajah cengengesan begini rasanya malu sekali.

"Ugh..."

"Fufu~♪ Tidak perlu jaim sekarang, kan? Lagi pula ini kan aku dan Kai-kun. Aku juga suka kok melihat ekspresi Kai-kun yang seperti itu."

Matsuri berkata begitu sambil mencolek-colek pipiku.

"Anu... yang seperti ini jadi makin sering ya."

"Tentu saja bakal makin sering. Soalnya aku suka waktu-waktu seperti ini. Lagipula, karena kita berdua sudah mengatakannya, tidak perlu sungkan lagi, kan?"

"……………"

Benar... hal seperti ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah bagi kami. Bukan hanya saat berdua, frekuensi kami mengobrol saat di kelas pun meningkat, begitu juga dengan kontak fisik yang bertambah drastis.

(Kita... padahal tidak sedang pacaran ya.)

Ya, kami tidak berpacaran. Namun, jika terus menghabiskan waktu seperti ini, mustahil aku tidak terpikat oleh Matsuri yang berjalan di sampingku.

Anehnya, aku merasa puas dengan keadaan sekarang... mungkin karena selain hubungan baik kami dalam keadaan normal, interaksiku dengan mereka dalam kondisi terhipnosis juga membuatku merasa tercukupi.

(Saika dan Emu juga... kontak fisiknya jadi makin berani ya.)

Terutama Saika... serius, Saika itu luar biasa! Matsuri juga cukup hebat, tapi kalau Saika, dia selalu menempelkan tubuh sintalnya itu padaku sampai membuatku bergairah!

Sudah berapa kali aku harus menekan logikaku agar tidak melewati garis batas yang selama ini kujaga...!

(H-Hari ini... apa aku coba level yang lebih tinggi saja ya...!?)

Hari ini pun, aku berniat memanggil Matsuri dan yang lainnya dengan Reservation Hypnosis. Sejak kejadian itu aku tidak melakukan sesuatu yang aneh, tapi hari ini, mari kita coba sesuatu yang sedikit lebih ekstrem...!

Interaksi dengan mereka belakangan ini benar-benar menyudutkanku dalam berbagai arti, hingga membuatku membulatkan tekad seperti itu.

"Ayo, cepat jalan, Kai-kun♪"

"O-Oh!"

Tepat setelah pundakku ditepuk, tanganku langsung digenggam olehnya. Meski kami selalu berpegangan tangan seperti ini, biasanya dia akan melepaskannya begitu mendekati sekolah agar tidak memicu keributan... Tidak aneh kan kalau aku berpikir begitu?

(...Kalau aku memaksa, pasti bisa deh.)

Bukan hanya Matsuri, aku mungkin terlalu percaya diri karena memikirkan hal yang sama tentang Saika dan Emu... Atau lebih tepatnya, belakangan ini aku memang sedang tinggi hati, jadi mungkin ada baiknya jika seseorang memarahiku agar aku kembali sadar akan realita.

◆◇◆

"Kai-kun, apa rasanya enak?"

"Terbaik."

"Kai-kun, aku akan menempel lebih erat lagi."

"Uwooh!"

"Kai-senpai, biar aku jepit ya♪"

"Uoooooooooh!"

Begitu jam istirahat tiba, yang menantiku adalah surga.

Seperti biasa aku memanggil Matsuri dan yang lainnya, lalu membiarkan diriku diselimuti oleh kelembutan dan aroma manis mereka, menghabiskan waktu yang penuh kebahagiaan.

"Memang ini yang paling mantap... aku berjuang setiap hari demi saat-saat seperti ini."

"Bukankah itu berlebihan?"

"Mana ada yang berlebihan. Aku sudah tidak bisa hidup tanpa Matsuri dan yang lainnya."

Meskipun itu kata-kata yang hiperbolis, tidak ada ruginya mengatakannya. Hanya saja... saat tekanan dari mereka bertiga yang merapat padaku semakin kuat, genggaman tangan mereka juga mengencang seolah tidak berniat membiarkanku lepas.

"Kalau begitu, Kai-kun tidak akan bisa pergi, kan?"

"Kami juga merasakan hal yang sama."

"Iya. Kami tidak akan membiarkanmu kabur, lho?"

Mendengar bisikan mereka bertiga di telingaku, bulu kudukku langsung merinding. Padahal tekstur empuk dan kehangatan yang merambat dari tubuh mereka terasa nyata, tapi hawa dingin ini... apa-apaan?

Di tengah aku yang gemetaran sampai tidak bisa bersuara, Matsuri mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi.

"Kamu bilang mau terus bersama, kan? Kalau begitu, terus bersama selamanya adalah hal yang wajar, kan? Kami pun sama kok. Jadi, karena kita berdua merasakan hal yang sama, melakukan hal itu adalah yang terbaik, kan?"

Sekadar penjelasan singkat tentang posisi kami sekarang. Saika memelukku dari belakang, Emu memeluk lenganku, dan Matsuri menatapku tepat dari depan... Artinya, aku sama sekali tidak bisa memalingkan wajah dari Matsuri yang berdiri di depanku, dan hanya bisa saling menatap dengan matanya yang tampak kehilangan cahaya.

"Ma-Matsuri..."

Padahal dari awal aku sudah tidak bisa memalingkan pandangan, tapi Matsuri memegang kedua pipiku dengan tangannya dan menguncinya dengan kuat.

"Mana jawabannya?"

"…… Iya."

"Yup, anak pintar♪"

Anu... ini hipnosisnya benar-benar bekerja, kan? Aku sempat merasa cemas, tapi sepertinya baik-baik saja... Lagipula, kalau hipnosisnya lepas dalam kondisi begini, itu malah lebih menakutkan.

"Aku juga memikirkan hal yang sama, lho?"

"Aku juga, tahu?"

"Ah, iya."

Setelah didesak oleh Saika dan Emu juga, aku pun terpaksa mengangguk. Suasana yang tercipta seolah-olah kami sedang mengucapkan sumpah suci, membuatku tertawa getir, namun kemudian aku teringat.

"Hehe... Sebenarnya, hari ini aku terpikir untuk melakukan sesuatu yang levelnya sedikit lebih tinggi!"

"Sesuatu yang levelnya tinggi?"

Aku mengangguk, lalu meminta mereka untuk menjauh sebentar sebelum mengatakannya.

"…… Itu, bagaimana kalau kita ciuman?"

Bukan ciuman di pipi, tapi ciuman bibir. Aku sempat ragu apakah tidak apa-apa melewati garis itu, dan suaraku gemetar karena takut jika aku terlalu terburu-buru.

"Itu maksudnya, bibir dengan bibir?"

"I-Iya—"

Tidak, aku hampir saja meralat perkataanku dan mengatakan lupakan saja... Tapi sebelum sempat, Matsuri sudah membungkam mulutku—dengan menempelkan bibirnya sendiri.

"---!?"

"Mmph...♪"

Mataku membelalak karena terkejut... Tentu saja, aku bisa melihat wajah Matsuri yang memejamkan mata dalam jarak yang sangat dekat.

Sensasi lembut yang merambat di bibirku adalah bibir Matsuri... Otakku menolak untuk memahami apa yang sedang terjadi, dan seluruh aktivitasku berhenti total.

"……………"

"…… Ehehe."

Begitu menjauhkan wajahnya perlahan, Matsuri tersenyum dengan wajah yang tampak sangat malu. Matanya yang sedikit berkaca-kaca seolah menunjukkan rasa bahagia. Meski aku sedang kebingungan, aku tetap terpesona pada mata Matsuri yang indah seperti permata.

"Boleh... memangnya tidak apa-apa?"

"Tentu saja. Aku sayang sekali dengan Kai-kun "

"---!!"

Jantungku berdegup kencang. Namun, aku merasakan tatapan kuat yang menghujamku... Itu adalah Saika dan Emu.

"Aku juga mau."

"Aku juga mau melakukannya."

Setelah didesak oleh Saika dan Emu yang langsung merapat, aku hanya bisa mengangguk pasrah mengikuti arus... Dan aku pun bertukar ciuman dengan mereka berdua.

Karena berciuman dengan mereka bertiga berturut-turut, jantungku berdegup sangat kencang. Kegembiraan yang berdenyut hingga menyesakkan napas menyebar ke seluruh tubuh, membuat kepalaku pening seolah-olah sedang terkena heatstroke.

"Ciuman... aku benar-benar melakukannya."

"Kita sudah melakukannya ya♪"

"Akhirnya bisa juga♪"

"Ciuman... rasanya sangat enak sekali♪"

Berbanding terbalik dengan mereka bertiga yang tampak puas, aku malah merasa berdosa.

Maksudku, ciuman dengan tiga orang sekaligus...!? Padahal kami tidak pacaran, dan beberapa waktu lalu mereka bilang ciuman bibir itu tidak boleh!?

Tapi... tapi aku senang sekali!?

"Apa... tidak apa-apa kalau aku tidak merasa cemas...?"

"Tidak perlu cemas, kan? Lagipula kami semua senang kok."

"Tidak perlu khawatir sama sekali... karena aku benar-benar bahagia."

"Benar, Senpai. Jadi kalau Senpai merasa senang, kami pun juga ikut senang."

Dan terakhir, mereka sendiri yang memelukku. Kalau begitu... kalau begitu tidak apa-apa, kan. Aku meyakinkan diriku sendiri, dan seolah rasa sungkan telah hilang setelah melewati tembok ciuman bibir, aku kembali menikmati kelembutan mereka sepuas hati.

"Berikutnya, apa kita akan melakukan hal yang lebih mesum?"

"Aku menunggu... atau malah, mau kuserang?"

"Aku lebih suka kalau diserang...!"

Mesum... kalau tingkatannya di atas ciuman, berarti mesum yang sesungguhnya!? Tentu saja aku merasa ragu untuk melangkah ke sana... Tapi untuk saat ini, aku ingin menikmati sisa-sisa perasaan setelah berciuman tadi.

Aku meminta mereka bertiga kembali ke kelas lebih dulu. Saat ditinggal sendirian di ruang kelas kosong, aku mengenang kembali kejadian tadi.

"Wah... benar-benar luar biasa."

Kalau aku lengah sedikit saja... tidak, meski aku sudah waspada pun, cengiranku tidak bisa berhenti.

"Hei Rekan... akhirnya aku sampai ke tahap ciuman! Bagaimana ini... serius, kalau aku melangkah lebih jauh lagi, aku bakal jadi apa nanti!!"

Kalau aku bisa merasakan hal yang lebih dari ini, aku pasti tidak akan menyesal!

Tapi, kalau sudah begini, keinginanku untuk terus bersama Matsuri dan yang lainnya jadi semakin kuat... Aku bisa berpikir seperti ini, dan bisa menghabiskan waktu bahagia seperti hari ini, semuanya berkat pertemuanku dengan Rekan.

"Hehe, aku benar-benar berterima kasih padamu, Rekan. Tapi ini belum berakhir... ke depannya pun, teruslah pinjamkan kekuatanmu padaku ya!"

Aku akan terus menikmati hari-hari ini dengan caraku sendiri!

"Nah, sepertinya mereka bertiga sudah sampai di kelas ya?"

Saat aku kembali menatap layar ponsel di tanganku, mataku membelalak. Penyebabnya adalah layar yang gelap gulita... Aku sempat cemas kalau ponselnya rusak, tapi sepertinya baterainya habis begitu saja.

"Aku memakainya untuk mereka bertiga, dan tadi pagi juga sempat kupakai... Hmm?"

Tunggu... sejak kapan baterainya habis? Kapan baterainya mati, dan sampai kapan Matsuri dan yang lainnya berada dalam kondisi terhipnosis?

Meski aku merasa cemas karena kejadian yang tidak bisa kupastikan ini, aku merasa seolah Rekanku berkata bahwa aku tidak perlu memikirkannya.

"Waduh, aku juga harus kembali ke kelas—"

Sudah waktunya juga... Tapi, begitu aku keluar dari ruang kelas kosong, sebuah kejadian tak terduga terjadi.

"Ah, aku menunggumu lho, Kai-kun."

"Matsuri!?!?"

Ternyata, Matsuri sedang menunggu di luar. Dia segera menggenggam tanganku dan menarikku pergi.

"Ayo ayo, kalau tidak cepat kembali nanti bisa telat, lho?"

"A-Ah... tapi, sejak kapan kamu di sini?"

Mendengar pertanyaanku, Matsuri tersenyum kecil.

"Entahlah? Mungkin baru saja, atau mungkin sejak awal?"

Matsuri meletakkan jarinya di depan bibir, dan memberikan kedipan mata yang manis sambil berkata demikian.

Hei Rekan... apa ini benar-benar tidak apa-apa?

Sambil terpesona oleh senyuman cantik Matsuri, di dalam hati aku membisikkan pertanyaan itu pada rekanku.

◆◇◆

Aplikasi Hipnosis... Awalnya aku hanya menganggapnya sebagai benda untuk mewujudkan hasratku, tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau aplikasi ini akan memberiku hari-hari yang begitu indah.

Hanya satu hal yang bisa kukatakan dengan pasti—bahwa aku benar-benar sedang menjalani hari-hari yang paling luar biasa.


Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Seandainya Saika adalah Teman Masa Kecilku ~Gadis Pendiam Itu Tidak Pernah Menolakku~

"Se... selamat pagi, Kai-kun."

"Selamat pagi, Saika."

Hari ini pun, seperti biasa, aku berangkat ke sekolah bersama teman masa kecilku.

(...Yah, mungkin aku saja yang terlalu khawatir.)

Saika Azuma yang berjalan di sampingku ini adalah seseorang yang sudah lama sekali menjalin hubungan denganku.

Sifatnya memang tidak bisa dibilang ceria, dia cenderung pendiam dan jarang menonjolkan diri... Yah, orang-orang di sekitar memberikan julukan yang tidak mengenakkan padanya, seperti 'si gadis kusam' atau 'anak introvert'.

(...Sialan mereka semua.)

Padahal kata-kata bisa dengan mudah melukai perasaan seseorang, tapi mereka malah bicara seenaknya... Tentu saja tidak semua teman sekelas begitu, tapi tetap saja ini membuatku kesal.

(...Kusam, ya?)

Meski begitu, aku benar-benar meragukan kata 'kusam' itu.

Memang benar Saika itu suram, pendiam, poninya panjang sampai menutupi mata, dan kalau tiba-tiba muncul di belakangmu saat malam hari, kau pasti akan kaget karena mengira dia hantu.

Tapi, aku yakin wajah Saika itu benar-benar cantik... Selain itu, Saika juga memiliki dada besar yang rasanya tidak masuk akal untuk ukuran siswi SMA.

(Saika yang seperti itu dan aku... hhh.)

Kami tidak berpacaran... tapi kami memiliki hubungan yang sedikit 'nakal'.

Meski aku berjalan sambil melamun, sepertinya dia sadar kalau aku sedang melirik dadanya.

Saika yang menunjukkan senyum tipis kemudian menarik tanganku, membawaku ke balik bayang-bayang benda yang tersembunyi.

"Boleh, kok."

"Ugh..."

Saika membusungkan dadanya, seolah-olah mempersilakanku.

Dadanya yang terbungkus seragam itu tampak sangat penuh, seakan-akan kancingnya bisa terpental kapan saja.

Aku menelan ludah, mengulurkan tangan, dan meremas dada Saika.

"Nn... ngh... ahh..."

Seiring dengan gerakan jemariku, suara yang menggoda pun lolos dari mulut Saika.

(Inilah hubungan 'nakal' antara aku dan Saika.)

Ini sudah melampaui sekadar hubungan baik atau teman masa kecil... Meski tidak berpacaran, Saika tidak pernah bilang keberatan saat aku memperlakukannya sesuka hati seperti ini. Malah sebaliknya, dia seolah menginginkan sentuhanku.

(Ini bermula... karena aku menolongnya, kan?)

Sekarang masalah itu sudah selesai, tapi dulu Saika sering menerima kekerasan dari ayahnya.

Aku menyadari hal itu, lalu berbicara kepada kakek dan neneknya... Intinya aku sangat sibuk saat itu, tapi aku berhasil menyelamatkan Saika sebelum sesuatu yang buruk terjadi.

Mungkin Saika merasa sangat berterima kasih karena hal itu, dia bilang akan melakukan apa pun sebagai balas budi... Dan saat itu, aku kalah oleh rasa penasaran dan mengusulkan apakah aku boleh meremas dadanya.

Saika mengangguk setuju... dan begitulah hal ini terus berlanjut sampai sekarang.

"Hei, Saika..."

"Ada apa?"

"Kau... tidak benci, kan?"

"Aku tidak benci, kok. Karena ini Kai-kun."

"...!"

Aku meremas dada Saika sedikit lebih kuat.

Seandainya saja dia bilang benci... seandainya saja dia menunjukkan ekspresi tidak suka sedikit pun, aku pasti bisa berhenti. Namun, ekspresi Saika tidak berubah.

"..........."

Seberapa kuat pun aku menyentuhnya, Saika tetap diam menerima tanganku.

Seolah dia tidak akan pernah menentang apa pun yang kulakukan, seolah dia akan menerima segala hal yang datang dariku.

"Aku..."

"?"

"Aku... karena sudah diselamatkan oleh Kai-kun. Jadi, aku akan menerima apa pun yang Kai-kun lakukan... Karena kurasa, itu akan menjadi balas budi atas bantuanmu."

...Begitu ya, kalau begitu tidak apa-apa.

Jika Saika bilang tidak apa-apa, maka biarlah begitu. Aku pun melakukan tindakan yang lebih berani... Aku meletakkan jari pada kancing seragam Saika, lalu melepasnya dengan bunyi klik.

"Ngh..."

Begitu kancingnya terlepas, dadanya berguncang pelan.

Meski gundukan montok yang terbungkus pakaian dalam itu menampakkan dirinya, Saika tetap tidak mengubah ekspresinya... Tidak, pipinya sedikit memerah.

Selama ini selalu dari luar seragam... Jadi, menyentuhnya dari atas pakaian dalam maupun langsung ke kulit seperti ini adalah yang pertama kalinya.

"...Lunak sekali."

"Kau menyukainya?"

"A-ah... iya..."

Bahkan sampai tahap ini pun dia tidak merasa benci... Begitu ya, ternyata memang begitu.

Aku mengembuskan napas panjang dan mencoba memasang kembali kancing yang kulepas tadi... Tapi, kenapa saat melepasnya terasa mudah sekali, sementara saat mau memasangnya kembali malah sesulit ini!?

"I-ini terlalu besar tahu... tidak bisa tertutup dengan mudah!?"

"...Maaf. Maaf karena dadaku besar."

"Tidak, kau tidak perlu minta maaf!"

Kami ini... sedang melakukan komedi atau apa?

Karena aku sudah sedikit tenang, aku pun memutuskan untuk mengatakannya sekarang saja... Aku mengucapkan kata-kata yang sudah lama ingin kusampaikan.

"Anu, Saika."

"...Ya."

"Maukah kau pacaran denganku?"

"...Eh?"

"Maksudku pacaran yang sebenarnya... Aku, aku menyukai Saika."

Begitu aku mengatakannya, Saika membelalakkan mata dan gerakannya terhenti.

Sejujurnya, setelah melakukan hal sejauh ini, rasanya tidak mungkin kalau bilang tidak ada perasaan apa-apa... Karena sejak awal aku memang menyukai Saika, makanya aku melakukan ini.

"Boleh...? Apa boleh gadis sepertiku?"

"Tentu saja, kan? Lagipula mana mungkin aku... meremas dada orang yang kubenci?"

Meski itu adalah pernyataan cinta yang payah, hal itu menjadi awal baru bagiku dan Saika.

"Kai-kun, aku suka."

"A-aku juga suka!"

"Padahal tadi sudah meremas dada sesuka hati, tapi sekarang malah malu?"

Ngomong-ngomong, berkat berpacaran denganku, Saika menjadi lebih ceria dan populer... Namun, kisah tentang betapa sulitnya melindunginya, atau saat dia membangkitkan sifat yandere dan mencintaiku sampai ke tulang sumsum, itu adalah cerita untuk lain waktu.




Previous Chapter | ToC | End V3

0

Post a Comment

close