Chapter 6
Akhirnya, Baju Renang yang Dijanjikan, Bro!
"Akhirnya datang juga…… saat yang dinantikan ini!"
Di
hadapanku, terbentang pemandangan ramai yang dipenuhi orang-orang. Minggu
ini…… meski di awal pekan terjadi banyak hal, aku akhirnya menyambut hari yang
sudah kunantikan sejak lama—yaitu hari janji untuk pergi ke fasilitas rekreasi
bersama Mari dan yang lainnya.
"……Tapi
benar-benar ya, banyak sekali yang terjadi."
Interaksi
dengan si Partner yang sampai sekarang masih terasa antara mimpi dan kenyataan,
keputusanku menghadapi aplikasi hipnotis dengan caraku sendiri, dan ditambah
lagi berbicara dengan Mari dan yang lainnya meski mereka dalam kondisi
terhipnotis…… lalu…… guhehe.
"Ups…… kalau lengah sedikit, aku bisa senyum-senyum
sendiri."
Membenamkan wajah di dada, bahkan sampai mencicipi sentuhan
payudara sudah dideklarasikan. Namun…… tapiii! Lewat kejadian tempo hari,
akhirnya 'ciuman' pun sudah diizinkan, membuat semangatku selama seminggu ini
meledak-ledak tidak keruan.
Sampai-sampai saat pulang ke rumah, Kakak dan orang tuaku
khawatir, di sekolah pun teman-temanku bertanya apa terjadi sesuatu…… Yah, aku
tidak menyangka tindakan ciuman bisa membuat orang sebahagia ini!
"Yah,
walau bukan bibir dengan bibir, sih."
Bagian itu…… rasanya memang terasa berbeda. Tapi entah
karena ciuman itu, atau karena pernyataan ulangku kepada mereka, benang merah
muda yang kulihat di diagram korelasi menjadi sangat tebal, seolah-olah hendak
menelanku balik seperti benang hitam.
"Tapi itu…… tetap saja terlihat nyaman."
Jika itu adalah perasaan positif yang diarahkan Mari dan
yang lainnya padaku dalam kondisi terhipnotis, maka benang hitam atau masa
depan alternatif yang mengerikan itu—meski bohong jika kubilang tidak
takut—rasanya tidak perlu terlalu dipikirkan.
"Nah…… tinggal sedikit lagi waktu sendiriku."
Aku yang sudah berganti pakaian renang kini telah tiba di
area kolam. Karena ini fasilitas yang baru buka tahun ini, semuanya terlihat
sangat bersih, dan berbagai wahana terlihat di mana-mana. Orang tua, muda, pria, dan wanita terlihat di
sana-sini. Wajah-wajah yang pernah kulihat di sekolah juga tampak sesekali,
jadi mungkin saja aku akan bertemu kenalan.
"Ayo, ayo,
cepat ke sini!" "Tunggu sebentar~!"
Anak SD laki-laki
dan perempuan berlari melewatiku. "Semangat sekali ya," pikirku,
sambil merasa cemas mereka akan terpeleset jika berlari di pinggir kolam
seperti itu. Namun,
mereka tidak jatuh dan langsung melompat ke dalam air dengan tawa lebar.
"……Bagus
ya."
Begitu
jadi anak SMA, rasanya tidak mungkin bisa heboh seperti itu lagi. Itulah kenapa
melihat anak kecil yang bersenang-senang membuat hatiku hangat dan wajahku
mengendur secara alami. Aku
merasa rindu, memikirkan apakah aku juga pernah punya masa kecil seperti itu.
"Kai-kuun!
Maaf membuatmu menunggu~!"
Tiba-tiba, sebuah
suara terdengar dari belakang. "Akhirnya dataaang!" teriakku dalam
hati sambil menguatkan diri menghadapi dampaknya, lalu berbalik.
"……Ooh."
"Maaf
menunggu♪" "……Maaf membuatmu menunggu." "Tidak apa-apa,
semuanya. Adikku bukan tipe yang bakal protes hanya karena disuruh
menunggu." "Syukurlah kalau begitu…… tapi kami memang sedikit
terlambat."
Di sana, tentu
saja ada Mari, Saika, Emu, dan Kakak. Mari dan Saika mengenakan bikini putih
dan hitam yang pernah mereka perlihatkan sebelumnya, sementara Kakak memakai
baju renang imut beraksen rimpel (frill). Dan baju renang Emu yang baru
pertama kali kulihat adalah bikini biru dengan rimpel seperti milik Kakak……
Luar biasa.
(Pemandangan
yang megah……)
Sosok Mari,
Saika, dan Emu yang berjejer dalam balutan baju renang sungguh spektakuler.
Dalam interaksi sehari-hari, aku sudah terbiasa melihat kulit mereka, belahan
dada mereka, bahkan saat mereka hanya memakai pakaian dalam. Ada orang yang
bilang baju renang dan pakaian dalam itu sama saja, tapi jika dilihat sedekat
ini, pesona yang hanya ada pada baju renang terpancar dengan sangat kuat.
"Hei, Adik
Bodoh, kenapa kau malah mematung?"
"……Bukan
begitu."
Tidak, tidak, aku
ingin berteriak kalau wajar saja jika aku mematung. Kakak yang berdiri di depan
sambil melipat tangan menyikut pinggangku, menyuruhku segera mengatakan sesuatu
yang manis.
"Ugh…… Anu, kalian semua terlihat sangat cocok."
"Dangkal
sekali."
Komentar Kakak
terasa seperti deja vu.
"Ahaha!
Terima kasih, Kai-kun!" "……Aku senang kalau kau berkata begitu."
"Hal seperti ini
juga tidak buruk ya."
Karena
mereka bertiga berkata begitu, aku merasa lega. Saat aku memasang wajah sombong
ke arah Kakak, Kakak justru tersenyum melihat mereka yang kegirangan, bukan ke
arahku…… Sial, kalau dia memasang wajah seperti itu, aku jadi tidak bisa
berkata apa-apa lagi.
"……Ah, benar
juga."
"Ada
apa?"
"Ternyata
Kakak juga terlihat imut, kok."
"……A-apa!?"
Diarahkan pujian
secara mendadak, wajah Kakak langsung memerah padam. Meski dia kakakku yang
mungil, aku benar-benar berpikir ekspresinya itu imut, dan baju renangnya
memang bagus…… Kukuku, karena itulah, demi membalas dendam atas
kelakuannya selama ini, aku akan terus menyerang!
"Lihat,
tadi kan banyak hal terjadi. Tapi dilihat sekali lagi, Kakak benar-benar imut."
"H-hentikan,
kenapa tiba-tiba sekali!"
"Mari
dan yang lainnya juga berpikir begitu, kan?"
Ah gawat…… aku rasa wajahku sekarang sedang menyeringai
lebar. Aku sama sekali tidak bisa menahan senyumku, iblis di dalam diriku
sedang bersorak-sorak ingin menjahili Kakak lebih jauh lagi.
"Kakak,
Anda benar-benar imut!" "……Sampai rasanya ingin kupeluk."
Mari dan
Saika pasti menyadari niatku, tapi mereka tetap mengatakannya dengan tulus,
membuat wajah Kakak semakin merah.
"Emu,
bagaimana menurutmu?"
"A-aku juga
merasa Kakak sangat imut!"
Emu sedikit
sungkan karena ini pertama kalinya mereka bertemu hari ini. Padahal Kakak
langsung bilang Emu anak baik saat pertama kali melihatnya, dan Emu juga cepat
akrab dengan Kakak…… tapi mungkin dalam hal seperti ini, rasa sungkan masih
muncul.
Nah, bagaimana
dengan kakakku tercinta……?
"Hauu!?"
Wajahnya semakin
merah dan ekspresinya sangat lucu!! Aku baru saja ingin memberikan serangan
susulan, tapi Kakak dengan cepat menyambar tangan Emu.
"Karena kita
baru saja bertemu, aku akan menjalin keakraban dengan Emu-chan! Ayo Emu-chan,
ikut denganku sebentar!"
"Ah,
baik!"
Kakak dan Emu
langsung berjalan pergi begitu saja.
"……Hah,
mengalahkan Raja Iblis memang menguras tenaga."
"Raja Iblis
itu maksudnya Kakakmu?"
"Tentu saja,
tapi tolong jangan bilang padanya, ya?"
"Eeeh?
Bagaimana yaaa?"
"……Mari-san?"
Bukankah
seharusnya kau bilang 'mengerti' di saat seperti ini!? Mari yang berdiri di
samping memberiku tatapan menggoda seolah sedang menimbang-nimbang, tapi entah
apa yang ia pikirkan, tiba-tiba pipinya memerah.
(Ugh, ekspresi itu…… hentikan karena itu membuatku gugup!)
Akhir-akhir ini,
aku merasa ekspresi seperti itu pada Mari…… bukan hanya dia, Saika dan Emu juga
semakin sering menunjukkannya…… tidak, sudah pasti bertambah. Meski terlihat
malu, ada sesuatu yang lembut dalam tatapan mereka…… ditatap seperti itu
membuat rasa maluku ikut merembes keluar.
(Aku jadi
teringat soal ciuman itu……)
Jam istirahat
hari Senin—aku teringat ciuman saat itu. Melihat ekspresi Mari dan Saika
sekarang, ditambah Emu yang sesekali menunjukkan wajah serupa, ingatan tentang
wajah mereka saat aku mencium mereka terus tumpang tindih.
"Ada
apa?" "Kondisimu buruk?" "Ah, tidak…… anu."
Ditatap
dari jarak dekat, aku segera memalingkan wajah.
"Jangan buang muka."
"!? "
Sebuah tangan dengan lembut menyentuh pipiku, memaksaku
kembali menatap mereka. Yang menyentuh pipiku adalah Mari, dan suasananya
seolah-olah ia tidak akan melepaskanku sebelum mendapat jawaban.
"Kondisiku tidak buruk…… kok? Cuma sedang memikirkan sesuatu saja."
"……Benarkah?"
"Ya……"
Begitu aku
mengangguk, ia perlahan melepaskan tangannya.
"Apa kau…… demam?"
Begitu Mari
menjauh, kali ini Saika yang menjulurkan tangan. Ia menyentuh keningku……
sepertinya Saika mengira aku sedang demam.
"Aku tidak
apa-apa! Lihat, aku sangat bersemangat!"
Aku menjawab
dengan pose otot (muscle pose) untuk menunjukkan kalau aku sehat
walafiat. Melihat itu, Saika dan Mari akhirnya tertawa kecil dan merasa lega.
"Lagipula,
mari kita nikmati ini!"
"Benar!"
"……Ehm."
Aku tidak tahu
sejauh mana Emu dan Kakak pergi, tapi karena ada Kakak di sisinya, Emu pasti
akan baik-baik saja. Jadi untuk sekarang, mari nikmati waktu kami.
"Sesuai
reputasinya, fasilitas rekreasi ini benar-benar terasa bagus ya."
"……Kolamnya besar, dan apa itu namanya? Perosotan air (Water Slider)?
Terlihat sangat seru."
Bukan hanya kolam
renang di mana banyak orang berenang bebas, ada juga perosotan air yang penuh
teriakan, dan secara pribadi aku menantikan kolam ombak besar yang arusnya
kuat…… pokoknya banyak wahana yang terlihat menyenangkan.
(Sejujurnya…… bagiku daripada kolam renang—)
Tatapan mataku
tertuju pada punggung mereka berdua. Rasanya aku ingin segera menghipnotis
mereka, pergi ke tempat tersembunyi, dan melakukan hal-hal sesukaku! Aku ingin
menggosokkan wajahku di atas bikini mereka, atau meremas gundukan kenyal itu
sepuas hati! Dan jika boleh lebih serakah lagi, aku ingin melepas tali tipis
itu dan membiarkannya terlepas!
(Tapi…… si Partner sedang ditinggal di loker ruang ganti)
Jadi,
imajinasiku tentang penggunaan si Partner hanya sebatas khayalan belaka…… Hah.
Di dalam hati aku menghela napas kecewa, tapi tiba-tiba terdengar suara imut
"Eii!" dan punggungku didorong hingga aku terjatuh ke dalam kolam.
"Ugh…… SIAPA ITUUUU!!"
Sambil
berteriak aku mengangkat wajah, dan melihat Mari yang sedang terkikik-kikik. Pelakunya pasti dia.
"Marii……!"
"Ahaha!
Kalau begitu, aku juga masuk~!"
Mengatakan itu,
Mari langsung melompat masuk tepat di sampingku, membuat wajahku terkena
cipratan air yang hebat.
"Buhaah!?"
Reaksi
berlebihan? Hari ini yang paling bersenang-senanglah yang menang! Didorong oleh
Mari atau disiram air pun aku tidak merasa kesal, justru terasa sangat
menyenangkan…… Aku benar-benar merasa bahagia dari lubuk hati.
"Fuh!
Rasanya segar ya!"
Mari yang
kepalanya muncul dari permukaan air mengguncangkan rambutnya untuk membuang
air. Pada saat itu, aku menatap tajam ke arah dadanya yang bergoyang kenyal
seperti slime, tapi lebih dari itu, sosoknya dengan rambut basah
terlihat sangat sensual. Aku sudah memikirkannya saat melihatnya basah kuyup
karena hujan waktu itu, tapi anak ini benar-benar nakal.
"……Hm?"
Aku terlalu
terfokus pada Mari, hingga menyadari kalau Saika tidak kunjung masuk ke kolam.
"Saika?"
"??"
Saika
berdiri mematung di pinggir kolam dengan ekspresi yang kaku. Ia mencoba
melangkah tapi terlihat ragu-ragu, seolah-olah takut pada air…… Tunggu,
mungkinkah?
"Saika…… apa mungkin kau tidak bisa berenang?"
"Ugh……" "Ah……" "……Ternyata begitu
ya."
Begitu ya…… jadi itu alasannya. Tempat kami sekarang sama sekali tidak dalam, jadi
seberapa takut pun dia pada air, tidak mungkin dia akan tenggelam.
"A-aku…… dulu pernah hampir tenggelam, jadi sejak itu……
sebenarnya aku agak tidak suka kolam renang."
"Aku baru
pertama kali mendengarnya……"
"……Maaf ya?
Tapi, karena aku ingin bermain bersama Kai-kun dan yang lainnya…… aku sangat
ingin ikut, jadi rasa senangku menang melawan traumaku."
Mendengar
kata-katanya yang begitu manis, aku tidak bisa menahan senyum. Mari pun tampaknya merasakan hal yang
sama, ia menjulurkan tangan ke arah Saika.
"Tidak
apa-apa, kami akan selalu ada di sampingmu dan tidak akan melepaskanmu."
"Benar,
Saika. Aku dan Mari akan menjagamu."
"……Ehm!"
Saika perlahan
mencelupkan kakinya ke air, lalu masuk ke dalam kolam. Seperti yang kukatakan
tadi, di sini dangkal dan tidak ada unsur yang membuatnya tenggelam…… tapi aku
harus hati-hati karena aku tidak tahu apa yang bisa memicu traumanya…… Dalam
kasus seperti ini, dalam atau dangkalnya air mungkin tidak ada hubungannya.
"……Aku
rasa aku tidak akan tenggelam jadi aku merasa tenang. Apalagi ada Kai-kun dan Mari-san di sampingku,
jadi tidak apa-apa♪"
"Iya, iya!
Syukurlah kalau begitu♪"
Mari memeluk
Saika dengan gembira, yang membuat ekspresi kaku Saika melunak. Ketika dua
gadis dengan tubuh luar biasa saling berpelukan, terciptalah pemandangan
provokatif yang memonopoli perhatian orang-orang di sekitar.
"Ooh……"
Aku sampai
mengepalkan tangan karena terlalu bersemangat. Namun, karena kebanyakan orang
yang menatap mereka adalah pria-pria berandal yang terlihat mengincar
kesempatan, aku tidak lupa memberikan tatapan tajam yang mengintimidasi agar
mereka menjauh.
"Kai-kun."
"A-apa—"
Begitu aku
berbalik saat dipanggil, wajahku langsung disiram air dalam jumlah banyak.
Karena serangan mendadak itu, air masuk ke hidung dan mulutku. Sambil terbatuk
kecil, aku menatap pelakunya dengan kesal yang dibuat-buat.
"Marii…… Saikaaa!"
"Ahaha!"
"……Fufu!"
Kalian malah
tertawa senang ya…… kalau itu mau kalian, baiklah! Aku meraup air sebanyak
mungkin dengan kedua tangan dan menyiramkannya ke arah mereka! Suatu
saat aku akan menyiramkan 'itu'-ku kepada kalian…… Ah, berisik!
"Rasakan
ini!"
"Ah! Kau
membalas ya!" "A-aku juga akan membalas!"
Terjadilah
pertarungan antara aku melawan mereka, kami terus saling menyiram air. Apa
yang sedang kami lakukan…… pikirku, tapi tetap saja rasanya menyenangkan. Itu
terus berlanjut sampai Mari yang sudah tidak sabar langsung menerjangku.
"Deii!"
"Apa!?"
Aku
dipeluk dengan erat, dan karena kami memakai baju renang, kulit kami saling
bergesekan. Mari tersenyum seolah benar-benar menikmati suasana di sini,
sepertinya ia tidak sadar kalau kami sedang berpelukan erat.
"Anu,
Mari-san……?"
"Ada
apa?"
Aku berdebar
melihat Mari yang menatapku dari jarak sangat dekat, namun sensasi tambahan
menyerangku.
"……………"
Tanpa suara,
Saika juga ikut memelukku. Di tengah kolam yang ramai oleh banyak orang,
dipeluk oleh dua gadis yang bukan hanya bertubuh indah tapi juga sangat cantik,
tentu saja kami menjadi pusat perhatian utama.
"Ngomong-ngomong…… Kakak dan Emu-chan pergi ke mana
ya?"
"E-entahlah……?"
"Tapi
mereka pasti sedang bersenang-senang. Kakak dan Emu-chan langsung akrab
tadi."
"Itu benar…… ya, benar sekali."
Maaf kalian
berdua, aku sama sekali tidak bisa fokus pada percakapan! Meskipun dalam kondisi begini,
sepertinya tidak ada berandal yang berani mendekat dan berkomentar macam-macam.
Walaupun kami jadi pusat
perhatian, suasananya tetap damai.
"……Aku,
mungkin ingin mencoba yang itu."
Saika
bergumam sambil menunjuk ke suatu arah.
"Water Slider ya."
"Bagus juga! Lagipula kita belum mencoba wahana apa pun sejak sampai di sini, ayo
pergi?"
Mengikuti usulan
Mari, kami keluar dari kolam sejenak. Namun…… karena kedua gadis itu
terus menggandeng lenganku bahkan setelah keluar dari kolam, kami mengundang
lebih banyak tatapan. Beberapa
orang bahkan secara terang-terangan mendecakkan lidah mereka dengan kesal.
(Hah! Kalau
punya sesuatu yang ingin dikatakan, katakan saja sini. Mari dan Saika akan
kulindungi!)
Tentu saja begitu
juga dengan Emu dan Kakak yang tidak ada di sini. Dulu aku hanya bisa dipukuli
oleh Murakami secara sepihak, tapi dipeluk oleh para gadis seperti ini, mana
mungkin aku tidak bersemangat…… Meski si Partner tidak ada dan aku merasa
takut, aku akan menunjukkan sisi kejantananku dalam melindungi mereka.
"Slider-nya
ada macam-macam ya."
"Yang ini
untuk satu orang, tapi yang di sana mungkin untuk beberapa orang?"
Water Slider memiliki berbagai ukuran, dan tampaknya
ada pintu masuk untuk satu orang atau rombongan.
"Waktu kita
masih banyak, kenapa kita tidak coba semuanya saja?"
"Benar!
Kalau begitu mari coba yang satu orang dulu."
"I-iya……!"
Maka dari itu,
kami pertama-tama menuju perosotan yang dinaiki sendiri-sendiri. Sambil menaiki
tangga ke atas, aku mencoba mencari sosok Emu dan Kakak, tapi mereka tidak
terlihat di mana pun. Apa yang sebenarnya sedang dilakukan dua orang itu?
"Emu-chan
dan Kakak ada di mana ya?"
"Entahlah."
Yah, seperti yang
kubilang tadi, jika bersama Kakak, Emu pasti akan baik-baik saja.
"Aku dan
Saika harus hati-hati ya?"
"Eh?"
"Lihat,
sepertinya kita akan meluncur dengan cukup cepat, jadi gawat kalau baju
renangnya sampai terlepas, kan?"
"……Begitu
ya, aku akan hati-hati."
Mungkinkah akan
ada kejadian baju renang terlepas!? Aku sempat menaruh harapan tipis, tapi
mengingat di sini banyak orang, aku tidak ingin mereka terlihat dalam kondisi
seperti itu. Rasa posesif kecil muncul dalam diriku, mungkin karena aku sudah
pernah menyentuh payudara dan mencium mereka.
"Kalau
sampai baju renangku terlepas di tengah jalan, aku akan minta bantuan
Kai-kun!"
"Iya…… aku akan memeluk Kai-kun untuk
menutupinya."
"O-oh……"
Kalau begitu…… bolehkah aku berharap ada yang terlepas?
Bisikan iblis menggema di kepalaku, tapi aku segera menahan diri karena ini
adalah fasilitas umum.
"Baik,
silakan masuk ke dalam setelah saya memberikan instruksi ya."
"Siap."
"Oke~!"
Setelah
menunggu beberapa saat, tibalah giliran kami. Tempat ini cukup tinggi……
dari sini sepertinya kami akan meluncur dengan kecepatan yang lumayan. Aku merasa antusias, tapi di saat yang
sama aku penasaran dengan keadaan Saika, jadi aku menoleh.
"Ahaha……" "……………"
Benar saja, wajah
Saika kembali kaku. Bahkan setelah sampai di sini pun dia bisa saja membatalkan
niatnya, tapi sepertinya Saika bertekad untuk meluncur dengan berani…… Maka
dari itu, tepat sebelum meluncur, aku berkata padanya.
"Saika, aku
akan menunggu di bawah, jadi tenang saja."
"Ah…… iya!"
Wajah Saika
melunak dan ia tersenyum. Aku memberinya jempol mantap. Di sampingnya juga ada
Mari, jadi kalau dia mendadak berubah pikiran pun tidak apa-apa…… Apapun yang
terjadi, aku hanya perlu menunggunya di bawah.
"Kalau
begitu, aku duluan ya."
Sesuai arahan
petugas, aku melemparkan diri ke dalam perosotan yang dialiri air. Merasakan
sensasi seperti meluncur di atas lantai yang licin, rasa segarnya luar biasa.
Semangatku naik menyadari beginilah rasanya Water Slider.
"Hia-haaa!"
Aku mencoba
berteriak, tapi dibandingkan teriakan yang kudengar sepanjang waktu, suaraku
mungkin terdengar biasa saja.
"Oh,
sepertinya hampir sampai."
Rasa segar yang
terasa panjang namun singkat itu pun berakhir. Aku mendarat di kolam tujuan,
air meredam tubuhku yang meluncur dengan kecepatan tinggi. Rasanya
sangat nikmat.
"Nah…… apakah Saika akan datang."
Setelah menunggu
beberapa saat, Saika benar-benar meluncur turun. Aku sempat melihatnya dengan
jelas meski hanya sesaat—ia meluncur dengan tangan bersedekap erat di depan
dada dan mata terpejam kuat…… lalu ia mendarat dengan cipratan air yang besar.
Begitu wajahnya
muncul dari air, ia mengguncangkan rambut hitam panjangnya dan melihat ke
sekeliling. Begitu menemukanku, ia langsung berlari mendekat.
"Kai-kun!"
"Ups……"
Saat aku
menangkap Saika yang menerjangku, payudara besar Saika tertekan di dadaku
hingga bentuknya berubah. Sambil menikmati sensasi itu secara maksimal, aku
mengusap dan menepuk punggungnya dengan lembut.
"Kau berani
juga ya. Bagaimana rasanya?"
"Tadinya takut…… tapi sepertinya menyenangkan."
"Begitu ya."
Kami tertawa bersama karena dia merasa senang, lalu menunggu
Mari yang seharusnya datang berikutnya. Tidak lama kemudian sosok Mari
terlihat, sepertinya dia sama sekali tidak takut karena dia meluncur sambil
bersorak keriangan dan mendarat dengan cipratan air yang megah.
"Fuh! Maaf
membuat kalian menunggu."
"Ya…… uu-ng!?"
"A-ah……!"
Mari
tersenyum lebar, tapi aku dan Saika justru terkejut. Pasalnya, kejadian yang
kupikir tidak akan mungkin terjadi, hal yang kutakuti…… tali baju renang Mari
terlepas, dan baju renangnya merosot jatuh.
Sejak
saat itu gerakanku sangat cepat—sebagai pengganti baju renang yang jatuh,
secara refleks aku menaruh kedua tanganku di payudara Mari demi menghindari
situasi terburuk.
"Fuh…… eh?"
"……Ka-Kai-kun?"
"……!?!?"
Tunggu, apa yang
sebenarnya kulakukan!? Aku ingin segera melepaskan tanganku, tapi jika
kulepaskan sekarang, itu justru akan menjadi masalah besar! Lagipula entah
kenapa tanganku seolah menempel seperti magnet dan tidak mau lepas!?
"Ma-maaf
Mari…… anu…… itu."
"Ti-tidak apa-apa…… untuk sekarang ayo kita masuk ke
dalam air sampai sebatas bahu?"
"B-baik……"
Sesuai instruksi Mari, kami menenggelamkan tubuh ke dalam
air. Tanganku masih menempel di
payudara Mari. Melalui telapak tanganku, bukan hanya kelembutannya saja yang
kurasakan, tapi sensasi tonjolan kecil di bagian tengahnya juga terasa dengan
sangat jelas…… saat menyadari hal itu, jari-jariku tanpa sadar memberikan
sedikit tekanan.
"Anngh!"
Suara desahan
nakal keluar dari mulut Mari. Dengan pipi merah dan mata yang sedikit
berkaca-kaca, sosoknya terlihat sangat provokatif, membuatku menelan ludah.
"Kau…… tidak apa-apa?"
Suara yang kupaksakan keluar itu bergetar, tapi untungnya
Saika segera mengambil baju renang yang terlepas, jadi kuserahkan sisanya
padanya!
"Dengan ini…… sudah aman, Mari-san."
"Iya…… terima kasih, Saika."
Mari segera
memakai kembali baju renangnya, sekarang semuanya sudah aman. Di saat kami
sedang heboh tadi, mungkin ada orang lain yang meluncur turun atau orang yang
melihat dari kejauhan, tapi kurasa bagian yang penting berhasil terlindungi……
sepertinya!
"……Anu,
Kai-kun juga terima kasih."
"Tidak,
aku……"
"Jangan
dipikirkan ya? Berkat tangan Kai-kun yang menahannya, aku sangat
tertolong."
"……Benar
juga. Kalau tidak ada Kai-kun, mungkin tadi sudah terlihat semuanya."
"Be-begitu ya…… syukurlah kalau begitu."
Karena Mari
berkata demikian, aku menghela napas lega.
"Ah, ketemu!
Kai! Mari-chan, Saika-chan juga!"
Saat itu, suara
Kakak menggema. Ketika aku melihat ke arah pinggir kolam, Emu dan Kakak sedang
melambaikan tangan. Sepertinya mereka akhirnya berniat untuk bergabung. Saika
berjalan ke arah mereka, dan kami pun menyusul dari belakang. Namun di tengah
jalan, Mari menepuk bahuku, jadi aku menghentikan langkah dan menoleh.
"Hm?"
"Hal yang
lebih dari itu…… apa kau pernah terpikir ingin melakukannya lebih jauh
lagi?"
"……Uee!?"
"Ehehe♪"
Mari yang
menertawakan reaksiku langsung berjalan pergi begitu saja.
"……Eh?"
Tadi itu…… apa maksud kata-katanya tadi!? Hal yang lebih
dari itu, maksudnya tindakan yang lebih jauh daripada menyentuh payudaranya
seperti tadi, kan? Berarti pertanyaannya apakah aku ingin melakukannya lebih
jauh, adalah sebuah pertanyaan pancingan untukku, kan!?
"……Eeh?"
"Hei Kai!
Apa yang kau lakukan di sana!"
Suara Kakak yang
sudah tidak sabar sampai ke telingaku yang sedang terpaku. Aku terburu-buru
menyusul Kakak dan yang lainnya. Aku bertanya pada Kakak apa yang ia lakukan
bersama Emu tadi.
"Cuma
mengobrol biasa kok. Aku sudah dengar sedikit darimu, tapi setelah bertemu
langsung dengannya, ada banyak hal yang ingin kutanyakan padanya."
"Huum?"
"Benar-benar ya…… seberapa hebat sih kau menolong orang
di tempat yang tidak kuketahui."
Sama seperti saat
Kakak mengetahui keadaan Mari dan Saika, aku kembali dipuji. Meski hasil
akhirnya berkat kekuatan si Partner, tetap saja dipuji oleh Kakak sendiri
membuat wajahku memerah senang.
"Ngomong-ngomong…… Kai."
"Apa?"
"Di antara
Mari-chan, Saika-chan, dan Emu-chan, siapa calon pacarmu?"
"!? "
Ca-calon pacar……!? Di tengah keterkejutanku karena
pertanyaan mendadak itu, Kakak melanjutkan dengan ekspresi yang sangat serius.
"Habisnya,
dilihat dari sisi mana pun, mereka bertiga sangat memercayaimu, kan? Dari
cerita mereka, juga cara mereka menatapmu…… itu artinya keberadaanmu sangat
besar bagi mereka."
"……………"
"Jadi pertanyaanku wajar, kan? Mereka bertiga punya
kepribadian yang baik, cantik…… dan tidak seperti aku, dada mereka besar semua,
sialan."
"Yang terakhir itu cuma iri—"
Kakak
memberiku tatapan tajam, dan aku langsung terdiam seperti katak yang ditatap
ular. Kakak terus menatapku
tajam selama beberapa saat, lalu tiba-tiba tertawa kecil.
"Yah,
sebagai Kakakmu aku akan terus memperhatikan bagaimana kelanjutannya. Tapi bagiku, aku ingin terus
berteman baik dengan mereka bertiga."
Setelah menutup
pembicaraan, Kakak menarik tanganku.
"Maaf
menunggu, semuanya."
"Tidak
apa-apa, Kak. Fufu,
kalian benar-benar akrab ya♪"
"Kai-senpai
jadi terlihat seperti anak kecil ya."
Melihat mereka
yang tampak gemas melihat kami berpegangan tangan, ada satu hal yang ingin
kutegaskan.
"Yang
terlihat kecil itu kan Kakak, bukan?"
"Ah?"
Manusia terkadang harus berani menghadapi kejahatan besar……
entah kenapa di depan Kakak, semangat bersaingku muncul. Inilah yang namanya
Kakak dan Adik!
Sebenarnya Kakak terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi
karena ada Mari dan yang lainnya, ia menahan diri.
Ini adalah momen
kemenangan langka bagiku…… meski mungkin nanti di rumah aku bakal kena batunya.
"Kau tidak
apa-apa……?"
Aku mengacungkan
jempol pada Saika yang mencemaskanku.
"Tidak
masalah. Walau mungkin nanti aku akan dibunuh saat pulang, tapi aku akan
melawan. Dan kekalahanku nanti juga sudah jadi kebiasaan."
"Apa itu
bisa disebut 'tidak apa-apa'……?"
"Tidak
apa-apa, pokoknya tidak apa-apa."
Aku memaksa Saika
untuk setuju dengan ucapanku. Setelah itu, agar semua orang bisa menikmati,
kami menuju perosotan air yang bisa dinaiki rombongan.
"Semuanya sudah duduk?"
"Sudah!" "Aman……!" "A-aku agak
takut, sih."
Kami berlima naik ke atas perahu ban bundar besar dan
menunggu saat meluncur.
Dengan memegang pegangan yang ada di sandaran ban, petugas
memastikan kesiapan kami lalu mengangguk.
"……?"
Saat itu, tatapanku beradu dengan Mari yang duduk di
depanku. Mungkin karena kejadian
tadi dan kata-katanya, entah kenapa aku tidak bisa memalingkan wajah darinya.
"……Ehehe♪"
"!? "
Begitu mata kami bertemu, Mari yang tersenyum menggoyangkan
tubuhnya.
Seolah-olah ia sedang memamerkan guncangan gundukan kenyal
miliknya tepat di depan mataku…… Melihat itu, aku jelas-jelas merasa gugup,
tapi untungnya tidak ada yang menyadarinya. Karena perahu ban mulai meluncur.
"Ups."
Karena terlalu fokus pada payudara kenyal Mari, tanpa sadar
aku melepaskan pegangan tanganku dan kehilangan keseimbangan.
"Wapuh!?"
"Ka-Kai-kun……?"
Demi menahan guncangan ban, aku akhirnya memeluk Saika yang
ada di sebelah kiriku.
(Le-lembutnya……!)
Saat aku memeluknya, tangan kananku tanpa sengaja langsung
meremas payudara Saika dengan sangat kuat.
Jauh lebih kuat daripada saat aku menyentuh payudara Mari
tadi, saking kuatnya sampai-sampai aku merasa mungkin akan meninggalkan bekas
di sana.
"Uun……"
"Ma, maaf──"
Aku segera mengangkat kedua tangan dan menjauh…… Tapi, apa
yang terjadi kemudian?
Sekali lagi, aku sulit menahan guncangan. Tubuhku limbung ke
arah Emu yang duduk di sebelah kanan, dan kedua tanganku yang mencari pegangan
malah terulur ke arahnya.
"Se, Senpai……?"
Dan lagi-lagi, aku berakhir memeluknya, sama seperti saat
bersama Saika tadi.
Meski situasi di sekitarku sedang kacau balau, perahu yang
kami tumpangi terus melaju di tengah aliran air yang deras dan guncangan hebat.
"Hyahhaa!
Gimana, Mari-cwan!"
"Mantap
banget, Miyako-swan!"
Berbeda
denganku yang terus-menerus mengalami insiden, Mari dan Kakak benar-benar
menikmati arus ini…… Lagipula,
apa-apaan itu Mari-chuan dan Miyako-shyan? Mereka bersemangat sekali!
Saat aku tengah
memandangi keasyikan mereka berdua, tiba-tiba ada tikungan tajam.
Guncangan yang
jauh lebih hebat dari sebelumnya membuatku tak bisa menjaga keseimbangan. Tanpa
sadar, aku memperkuat pelukanku pada Emu, dan akibatnya, kuku-kukuku sedikit
menekan kulitnya.
"N-ah♪"
"Ma,
maaf──"
Aku segera
melepaskan tangan, dan kali ini aku benar-benar mencengkeram pegangan perahu
dengan kuat.
(O-oh……!)
Namun, setelah
berhasil mengamankan posisi tubuhku, aku malah menemukan keasyikan yang lain
sama sekali.
Menyerahkan diri
pada guncangan arus? Menikmati sensasi mendebarkan karena hampir terlempar?
Hal-hal semacam itu jadi urusan belakangan! Kenapa?
(O-oppai-nya
goyang parah banget!?)
Bukan cuma aku
yang berusaha bertahan dari guncangan hebat ini. Mari, Saika, Emu, bahkan Kakak
juga sama…… Itu artinya, dada berukuran besar milik mereka bertiga—kecuali
Kakak—sedang memantul-mantul tepat di depan mataku!
Mau lihat ke
depan, ke kanan, atau ke kiri, pemandangan purun-purun yang memantul itu
benar-benar luar biasa. Tidak berlebihan jika kukatakan pemandangan ini hanya
bisa terwujud di seluncuran air ini!
"Iyaa~n,
takut tahu, Mari-chan!"
Dengan suara yang
jelas-jelas dibuat-buat, Kakak memeluk Mari. Tidak hanya itu, dia sengaja
membenamkan wajahnya ke dada Mari. Mari hanya bisa tertawa canggung sambil
merangkul tubuh mungil Kakak dengan satu tangan.
"……Kakakmu
lucu banget ya."
Baru saja
kudengar gumaman Mari, kejutan lain kembali menghantamku.
"Kai-kun."
"Kai-senpai."
Dari sisi kiri
dan kanan, Saika dan Emu memelukku. Kupikir mereka kehilangan keseimbangan
sepertiku, tapi jalan di depan sudah berupa tikungan landai menuju garis finis,
jadi bagian tersulitnya sudah lewat…… Dan begitu saja, perahu kami mencapai
finis dengan semburan air yang dahsyat, sementara air dingin mengguyur kami
layaknya hujan.
"Kai-kun,
terima kasih ya."
"Aku senang
Kai-senpai ada di sebelahku♪"
Saika dan Emu
melepaskan pelukannya, tapi aku terpaku untuk beberapa saat. Setelah
Mari, lalu Saika dan Emu juga…… Jika pengalaman seperti ini terus berlanjut
tanpa menggunakan kekuatan Si Sobat, aku jadi agak khawatir jangan-jangan nanti
aku bakal tertimpa kecelakaan sial setelah ini.
"Kai? Kenapa?"
"Ya…… Aku baru saja pergi ke surga."
"Apa guncangannya saking hebatnya sampai otakmu
geser?"
"Hebat
juga Kakak, bisa langsung paham."
"……Eh?"
Meski aku
ditatap dengan pandangan "kamu kenapa sih", apa yang Kakak katakan
sama sekali tidak salah, jadi aku tidak bisa menyangkalnya.
Setelah
turun dari perahu ban, tujuan kami selanjutnya adalah atraksi berikutnya. Itu
adalah kolam ombak ganas yang memang ingin kucoba secara pribadi. Sesuai
namanya, kolam itu menghasilkan ombak yang kuat. Walaupun seluncuran air tadi
sudah cukup menyenangkan, aku tetap ingin mencoba yang satu ini.
"Ugh……"
"Tidak
apa-apa, Saika. Ayo
gandengan tangan denganku saja, ya?"
"I-iya!"
Di depan
kolam ombak, Mari sedang menyemangati Saika yang sempat berhenti melangkah.
"Uoooooo!"
"Aku hanyut
nih~!"
"T-tunggu,
jangan lepas tanganku!"
"Wah, kalau
begini tinggal ikutin arus saja!"
Di dalam kolam di
mana melawan arus adalah hal yang mustahil, teriakan-teriakan gembira terdengar
bersahutan. Tentu saja, petugas pengawas berjaga dengan ketat untuk memastikan
tidak ada kecelakaan. Hal seperti inilah yang membuat reputasi dan keamanan fasilitas
ini tetap terjaga.
"Ternyata
arusnya lebih cepat dari bayanganku ya."
"Benar…… Eh?"
"Ada apa?"
Aku mengalihkan pandangan ke arah Emu yang berdiri di
sampingku, dan aku menyadari…… atau lebih tepatnya teringat. Tadi saat aku
tidak sengaja memeluknya, kukuku menekannya. Meskipun tidak berdarah, ada bekas
merah yang terlihat jelas di sana.
"Maaf Emu…… Apa itu sakit?"
"Eh? Ah, ini?"
Bekas itu ada di sekitar bahunya. Meskipun tidak berdarah, kelihatannya pasti
sakit…… Namun bertolak belakang dengan kekhawatiranku, Emu justru mengusap
bekas merah itu dengan ujung jarinya sambil tersenyum.
"Sama sekali
tidak sakit kok? Malah…… ufufu♪"
"Anu…… Emu-san?"
"Tidak
apa-apa, jadi jangan dipikirkan ya♪"
"……Baiklah."
Emu mulai
mengusap bekas merah itu dengan penuh kasih sayang. Aku pun mengalihkan
pandangan dari gadis yang sudah sepenuhnya berubah dari Emu menjadi
"M-chan" itu, lalu masuk ke dalam kolam berombak besar.
"Woah!?"
Begitu masuk,
arus yang sangat kuat langsung menerjang sampai aku hampir tidak bisa berdiri
diam di tempat. Tentu saja ini tidak berbahaya, tapi kalaupun aku secara ajaib
bisa berdiri diam, arus itu cukup kuat sampai-sampai orang yang hanyut dari
belakang pasti akan menabrakku.
"K-Kai!"
"Kakak!?"
Baru saja aku
mendengar suara Kakak, tiba-tiba punggungku dipeluk erat. Dia melingkarkan
kakinya ke perutku seolah tidak mau lepas, membuat tubuh kami menempel dengan
sangat rapat.
"Aku kaget,
ternyata arusnya lebih kuat dari dugaanku."
"Yah,
memang begitulah kolam ini."
Omong-omong,
Emu juga masuk belakangan, tapi dia berhasil maju dengan baik hingga sampai
tepat di sampingku.
"Kamu
tidak apa-apa?"
"Aku
baik-baik saja. Mari-senpai
dan Saika-senpai…… ah, mereka di sana."
Mari dan Saika
berada cukup jauh di depan kami. Meski dari kejauhan, aku bisa melihat Mari
yang menggenggam erat tangan Saika yang panik karena arus, memastikan agar
mereka tidak terpisah.
"Pelanggan
yang di sana!"
Tiba-tiba,
seorang petugas yang berdiri di pinggir kolam memanggilku. Dia berjalan
mengikuti gerakan kami dan pandangannya terus tertuju pada kami, jadi aku yakin
dia tidak salah orang.
"Ada
apa?"
"Apakah itu
adik Anda? Apa dia baik-baik saja?"
Sepertinya dia
khawatir melihat Kakak yang memelukku seperti itu. Namun, begitu petugas itu
menyebut "adik", pelukan lengan Kakak di tubuhku malah mengencang……
Walaupun dia tidak melakukan apa-apa lagi, aku takut untuk melihat wajahnya.
"……Fufu,
Kai-senpai dan Kakak ternyata punya hubungan seperti itu ya."
"Tunggu, Emu-chan. Jangan cuma menonton dengan senyum
hangat di situasi begini!"
"Ah~…… Memang sudah begini keadaannya, jadi kami tidak
apa-apa kok."
"Begitu
ya……?"
"Omong-omong,
dia ini kakakku."
"Ah, maaf
kalau begitu saya salah kira!"
Bagi Kakak,
mendapatkan permintaan maaf yang begitu sopan justru terasa seperti penghinaan.
Dia menepuk kepalaku seolah menyuruhku cepat jalan, lalu aku berjalan maju
bersama Emu sambil bergandengan tangan untuk bergabung dengan Mari dan yang
lainnya.
"Ah, Kai-kun…… eh, Kakak lucu sekali!"
"……Apa kamu
sedang bermanja-manja pada Kai-kun?"
"Manja…… Ah, sudahlah! Terserah kalian saja!"
Kakak akhirnya
menyerah. Dia membenamkan wajahnya di kepalaku dan mulai menggertakkan giginya
ke arahku…… Hei, berhenti, Kak!
"Garururuu!"
"……Kakak
hari ini kepribadiannya berubah drastis ya, apa karena ada Mari dan yang
lain?"
Kalau hanya ada
aku di sisinya, dia tidak akan menjadi seperti ini hanya untuk menutupi rasa
malunya. Selain karena Kakak menyukai Mari dan yang lainnya, sepertinya dia
ingin menunjukkan sosok kakak kelas yang bisa diandalkan di depan mereka.
(Yah, melihat
sisi Kakak yang seperti ini juga tidak buruk sih.)
Sambil berpikir
begitu, aku tersenyum kecut dan menikmati ombak untuk beberapa saat.
Setelah puas
bermain, kami keluar dari kolam dan menghabiskan waktu di area istirahat yang
tersedia untuk umum. Mungkin karena terlalu banyak bermain, Kakak akhirnya
tertidur lelap dengan napas yang tenang.
"Astaga…… Kakak ini benar-benar."
"Ahaha…… tapi dia tetap terlihat imut ya♪"
Ucap Mari yang menjadikan pangkuannya sebagai bantal untuk
Kakak. Melihat pemandangan ini, Mari malah terlihat seperti sang kakak dan
Kakakku terlihat seperti adiknya…… Tapi ya sudahlah, bagaimanapun juga, melihat
mereka dengan pakaian renang memang yang terbaik.
"Hanyaaa…… munyuuu……"
"I-imut
banget……!"
"Mengigau
begini apa tidak terlalu imut……!"
Berbeda
denganku yang merasa jengah, Saika dan Emu benar-benar terpesona oleh Kakak. Bagi Kakak, dianggap imut seperti ini
mungkin tidak dia benci, tapi pasti bukan itu tujuan utamanya…… Yah, tapi kalau
membuat semua orang senang, bukankah itu bagus?
"Bagiku pun,
ini pertama kalinya melihatnya begitu santai. Walaupun karena dia tidur jadi ya
wajar saja sih, tapi mungkin karena dipangku Mari makanya dia bisa setenang
itu?"
"Kalau
benar begitu aku senang. Aku ingin jadi lebih akrab lagi dengan Kakak."
Mari…… kamu benar-benar anak yang baik ya. Keinginan untuk
menjadi lebih akrab dengan Kakak ternyata bukan cuma dirasakan Mari, tapi juga
Saika dan Emu.
"Aku juga, aku ingin jadi lebih dekat dengan
Kakak."
"Aku juga sama. Aku ingin tahu lebih banyak tentang
Kakak."
Wah…… semuanya benar-benar terpesona pada Kakak ya. Sambil
melihat pemandangan hangat di mana mereka bertiga mengintip wajah tidur Kakak,
aku sendiri sedang memikirkan hal lain…… yaitu kata-kata yang diucapkan Kakak
tadi.
(Pacar…… ya.)
Benar,
tentang siapa yang akan kujadikan pacar. Sebagai anak laki-laki SMA, aku pun
punya kerinduan akan sosok pacar, dan ada keinginan untuk setidaknya punya satu
pacar selama masa SMA…… Terlebih lagi, jika gadis-gadis seperti Mari dan yang
lainnya yang menjadi pacarku, sisa masa sekolahku pasti akan sangat
menyenangkan.
(Jujur…… kalau boleh jujur, aku rasa kemungkinannya tidak
nol. Soalnya aku akrab dengan kepribadian asli mereka kan? Apalagi aku pernah menolong mereka……? Bahkan
kami sering bersentuhan fisik begini!?)
Mempertimbangkan
kejadian belakangan ini, bisa dibilang jarak di antara kami sudah sangat dekat.
Karena itu…… aku berpikir mungkin saja berhasil kalau aku menyatakan
cinta, tapi di sisi lain aku takut akan ada sesuatu yang menjadi tidak wajar.
Apalagi aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku terus menggunakan
kekuatan Si Sobat ke depannya.
"Kai-kun."
"Eh…… ada apa?"
Suara Mari
menarikku kembali dari lamunanku. Mari masih memangku Kakak yang tertidur, tapi
pandangannya menatap lurus ke arahku.
"……Bukan
cuma hari ini saja, tapi sebenarnya aku selalu merasa senang. Sejak aku mulai
berinteraksi dengan Kai-kun, tidak ada hari yang tidak terasa
menyenangkan."
"O-oh……"
"Bahkan bisa
dibilang, hari-hari di saat aku tidak bisa bertemu Kai-kun itu terasa
membosankan."
"B-begitu
ya……"
Tu-tunggu,
tiba-tiba ada apa ini……? Mari hari ini, baik kata-kata maupun gerak-geriknya,
seolah-olah sengaja membuatku sadar…… Aku ingin membuang muka karena malu
ditatap seperti itu, tapi aku tidak bisa melakukannya karena mata Mari terlihat
sangat serius.
"Di setiap momen pun, aku menyukai hari-hari yang
kuhabiskan bersamamu…… Aku ingin menjaga waktu ini dengan sepenuh hati── aku
ingin lebih lama lagi bersamamu."
Itu terdengar seperti sebuah pengakuan tulus. Mari tidak
mengubah ekspresinya setelah mengatakan itu sampai akhir, tapi aku yang
mendengarnya langsung merasakan pipiku memanas…… Namun, sepertinya bukan hanya
Mari yang ingin menyampaikan kata-kata yang membahagiakan itu.
"Aku juga
sama. Segalanya berubah sejak aku bertemu Kai-kun."
"Sa-Saika
juga……?"
"Aku tidak
mau kalah dari Mari-san…… tapi luar biasa kan? Padahal belum lama ini aku cuma
bisa bicara dengan suara pelan, tapi sekarang aku bisa bicara seperti
ini."
"Mungkin
memang benar begitu, tapi……"
"Ikatan ini…… aku ingin lebih menghargai hari-hariku
bersama Kai-kun. Aku ingin kita menghabiskan waktu bersama…… itulah yang selalu
kupikirkan saat ini."
Saika
bukan lagi gadis yang suram dan tertutup. Aku sudah tahu hal itu sejak lama,
tapi tetap saja, disampaikan secara langsung seperti ini membuatku sangat
malu…… Sebenarnya ini penyiksaan macam apa sih? Alih-alih senang, aku merasa
sangat malu sampai kepalaku rasanya mau meledak.
"Anu…… jangan-jangan urutan ini bakal berlanjut?"
"Iya,
tinggal aku yang belum."
Sudah
kudugaaaaa! Bukannya aku tidak senang ya? Tentu saja aku senang sekali, tapi kalau disuguhi
kata-kata serupa lagi, aku bisa gila!? Tanpa memedulikan apa yang ada di dalam
hatiku, Emu mulai berbicara menyusul Saika.
"Aku pun
berubah sejak bertemu Kai-senpai. Mungkin di kelas aku masih terlihat kaku,
tapi teman-temanku bilang ekspresi wajahku jadi lebih lembut dan suasanaku juga
berubah."
"Padahal
dulu kamu dijuluki Ratu Es ya?"
"Aku ingin
membuang julukan itu kapan saja. Lagipula, siapa sih yang pertama kali
mengatakannya…… benar-benar mengganggu, aku ingin sekali memprotes orang
itu."
Wajah Emu
terlihat sangat kesal dan matanya menajam, menunjukkan kemarahan pada entah
siapa yang memulai julukan itu.
"……Sudahlah,
itu tidak penting. Intinya, tidak diragukan lagi bahwa pertemuanku dengan
Kai-senpai adalah alasan dari perubahan itu. Selain itu, seperti yang dikatakan
Mari-senpai dan Saika-senpai, aku pun…… ingin menghabiskan lebih banyak waktu
bersama Kai-senpai."
Setelah
mengatakan itu, Emu langsung membuang muka. Namun, aku menyadari telinganya
memerah.
Di saat yang sama
ketika perasaan jujur Emu tersampaikan melalui kata-katanya, aku pun ikut
tersipu malu lebih hebat dari sebelumnya karena menyadari hal itu.
"Ugh……"
Panas…… pipiku, seluruh wajahku, bahkan tubuhku terasa
sangat panas.
Mari yang pertama bicara, Saika yang menyusul, dan Emu yang
tadinya membuang muka, semuanya sekarang menatapku…… Ketegangan yang
menyerangku akibat tatapan mereka bertiga benar-benar luar biasa.
Namun, di samping
rasa panas di tubuhku, aku juga merasakan semacam rasa haru.
(Ini…… rasanya sama seperti waktu itu.)
Satu hal yang
sama dari kata-kata mereka bertiga adalah keinginan untuk terus bersama…… Hal
itu mengingatkanku pada kata-kata yang mereka ucapkan saat dalam kondisi
hipnotis pada hari Senin lalu.
(Gadis-gadis saat itu…… dan sekarang, gadis-gadis di depanku
ini juga mengatakan hal yang sama…… itu membuatku sangat bahagia.)
Jika berada dalam situasi seperti ini, biasanya aku akan
kabur atau mencoba mengalihkan pembicaraan.
Tapi setelah diberi kata-kata yang membahagiakan seperti
itu, tidak memberikan jawaban rasanya benar-benar tidak jantan…… Karena itu,
aku membuka mulut untuk menjawab kata-kata mereka dengan jujur.
"Aku juga…… banyak hal terjadi sampai aku bisa akrab
dengan Mari dan yang lainnya, dan sejak itu waktu yang kita habiskan bersama
jadi bertambah. Seperti pergi jalan-jalan hari ini, dan akhir-akhir ini aku
memang banyak menghabiskan waktu bersama kalian."
Kencan setelah sekolah dengan Mari, berkunjung ke rumah
Saika dan Emu…… seolah-olah sudah direncanakan, belakangan ini aku memang
banyak menghabiskan waktu bersama mereka bertiga.
"……………"
Terlebih lagi,
ada saat-saat di mana kulit kami bersentuhan seperti hari ini, namun mereka
justru memberikan senyuman…… Setelah merasakan waktu bersama mereka yang begitu
dekat, nyaman, dan menyenangkan seperti ini, bukanlah hal yang aneh jika aku
merasa tidak ingin melepaskannya.
"Aku ingin
terus akrab dengan kalian selamanya…… aku juga berpikir begitu. Karena aku juga
sangat menyukai waktu yang kita habiskan bersama seperti ini!"
Tentu saja,
keinginan untuk menggunakan kekuatan Si Sobat sesuka hati juga merupakan
perasaan jujurku.
Tanpa sadar aku
bicara dengan suara yang agak keras, tapi Kakak tidak terbangun, dan
orang-orang di sekitar pun tidak ada yang merasa terganggu…… Setelah aku
selesai menyampaikan kata-kataku, yang menantiku adalah senyuman dari mereka
bertiga.
◆◇◆
"Iyaaa,
hari ini benar-benar menyenangkan ya!"
"Benar
juga ya……"
Kakak
yang berjalan di depanku tampak sangat puas, bahkan lebih puas dari yang pernah
kulihat sebelumnya.
Sebagai adiknya,
tentu saja aku merasa senang. Apalagi Mari dan yang lainnya juga terus-menerus
bilang kalau hari ini benar-benar seru.
(Benar-benar
hari yang indah.)
Aku tidak
bisa tidak berpikir demikian. Akhir dari waktu yang menyenangkan pasti akan
tiba…… Kasus kami pun bukan pengecualian. Kami sudah berpisah dengan
gadis-gadis yang tadi bersama kami, dan sisa-sisa keramaian yang bising itu
kini mulai memudar.
"Tapi
omong-omong, kamu hebat juga ya."
"Eh?"
Kakak
yang tadinya berjalan di depan tiba-tiba menoleh ke arahku. Ekspresinya tampak
menyeringai nakal, jelas sekali dia sedang memikirkan sesuatu yang tidak
beres…… Apa nih?
"Sebenarnya,
aku tadi bangun tahu."
"Bangun……!?"
"Aku
dengar semuanya, saat mereka bilang ingin terus bersamamu, dan juga jawaban
yang kamu berikan kepada mereka."
"!!??"
A-apa, dia dengar semuanya!? Berdiri tepat di depanku yang
sedang terpaku kaget, Kakak sama sekali tidak berusaha menyembunyikan seringai
kemenangannya saat menatapku. Dengan suasana hati yang tampak sangat bagus, dia
berjalan ke sampingku dan menyenggolku dengan sikutnya sambil melanjutkan
kata-katanya.
"Ingin bersama mereka bertiga…… ya. Bukankah itu bagus?
Yah, kurasa kamu tidak perlu terburu-buru untuk memutuskan jawaban lebih lanjut
dari itu."
"Kakak……"
"Perasaan yang tulus harus dihadapi dengan kejujuran
juga…… Yang paling buruk adalah kalau kamu malah menutup-nutupinya dengan cara
yang aneh dan akhirnya malah menyakiti salah satu pihak."
"……Ya, aku mengerti."
Saat aku mengangguk pada Kakak, senyuman Mari dan yang
lainnya terbayang kembali di benakku.
Perasaan suka
yang mereka tunjukkan itu sudah tidak diragukan lagi…… Aku pun berpikir bahwa
berpura-pura tidak tahu dan menutup-nutupi hal itu adalah hal yang rendah, tapi
memang benar bahwa aku sendiri belum yakin bagaimana harus menghadapinya.
Namun, jika
mereka terlihat sebahagia itu…… Fakta bahwa mereka mengangguk mendengar
kata-kataku seharusnya membuatku percaya diri bahwa jawabanku tidaklah salah.
"Tapi tetap
saja ya, adikku ternyata bisa sepopuler ini. Sebagai kakak, aku benar-benar
bangga padamu."
"……Hari ini
Kakak tumben sekali memujiku."
"Tentu saja,
karena kamu adikku kan? Lagipula aku juga sangat menyukai gadis-gadis itu……
Jadi secara pribadi, aku juga menantikan untuk bisa terus berinteraksi dengan
mereka ke depannya."
"Mari,
Saika, bahkan Emu yang baru saja bertemu hari ini juga bilang hal yang sama.
Mereka bilang ingin lebih akrab lagi dengan Kakak, dan Kakak itu orang yang
sangat baik."
"Aku senang
mendengarnya. Tapi, mereka semua sudah menyampaikan hal itu langsung padaku
tadi. Duh, benar-benar deh, mereka itu tipe-tipe penakluk kakak perempuan
ya."
Begitu ya,
ternyata mereka sudah menyampaikannya langsung kepada orangnya. Sepertinya
suasana hati Kakak sedang sangat bagus sampai-sampai dia berjalan sambil
bersenandung kecil.
"Ayo, cepat
pulang~!"
"Oke!"
Saat aku
mengangguk mendengar panggilannya dan hendak mulai melangkah, tiba-tiba aku
melihat ponselku.
Aku menyalakan Si
Sobat dan memanggil diagram hubungan── Benang hitam masih ada di sana, tapi
benang merah mudanya sekarang menjadi lebih tebal dan pekat dari sebelumnya.
"……Tebal
banget ya."
Apa ini juga
karena percakapan tadi……?
"……………"
"Hei! Cepat
ke sini!"
Kakak sudah
berada cukup jauh di depan. Berpikir bahwa suasana hatinya yang sedang bagus
bisa hancur kalau aku membuatnya menunggu lebih lama lagi, aku pun segera
berlari mengejarnya.
(Hei Sobat…… Dulu aku pernah bilang begini padamu, kan?
Bahwa mungkin saja kamu sengaja mempertemukanku hanya dengan gadis-gadis yang
bermasalah saja.)
Aku bertanya kepada Si Sobat di dalam kepalaku. Waktu itu aku sempat banyak mengeluh, tapi
sekarang, aku tidak punya kata lain selain terima kasih…… Karena aku tidak
pernah membayangkan bahwa memiliki Si Sobat akan membawakanku
pertemuan-pertemuan yang seindah ini.
"Maaf,
Kak! Tadi aku sedang melamun sebentar."
"Lama banget! Ayo, cepat pulang."
"Siap~"
Tapi…… kalau dipikir-pikir dengan tenang, antara Mari dan
yang lain dalam kondisi normal dengan kondisi terhipnotis.
Jika aku mencari perbedaannya, bukankah itu berarti aku
menjalin hubungan baik dengan total enam orang gadis?
Meski aku rasa itu hal yang berbeda, tapi memikirkannya saja
membuat hatiku sedikit berdebar, dan aku pun tersenyum.
Previous Chapter | ToC | Next Chapter



Post a Comment