NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Te ni Ireta Saimin Appli de Yume no Harem Seikatsu o Okuritai Volume 2 Chapter 2

Chapter 2

Tetap Bebas Berbuat Sesuka Hati, Bro!


Belakangan ini, aku merasa diperhatikan dengan cara yang aneh.

Pasalnya, selain karena aku akrab dengan gadis gal cantik kebanggaan kelas, fakta bahwa aku juga dekat dengan Wazuma, si cantik berdada besar yang—ah, lupakan soal "tersembunyi", itu sudah tidak tersembunyi lagi—membuatku cukup banyak menarik perhatian.

Tatapan dari gerombolan anak-anak mentereng di kelas yang selalu meremehkanku terasa menyakitkan... terutama dari mereka yang menyukai Aisaka.

(Padahal sebelumnya Aisaka sudah memperingatkan mereka, tapi mereka masih begini juga... Yah, mau mereka melakukan apa pun, sebenarnya bukan masalah bagiku.)

Tak peduli betapa gegabahnya tindakan yang mungkin mereka ambil, aku ini tidak terkalahkan berkat si "Sobat" (ponselku). Yah, meski aku berpikir tidak baik untuk bergantung sepenuhnya padanya, melumpuhkan orang adalah hal yang mudah. Jadi, meskipun aku ditatap seperti itu di kelas, aku tidak merasa perlu menciut.

"Waduh, waduh, hari ini pun banyak sekali tatapan yang tertuju padamu ya."

Nah, saat aku sedang memikirkan masalah itu—atau lebih tepatnya, bukan masalah sih—sebuah suara riang menggetarkan gendang telingaku.

"Selamat pagi, Shogo."

"Yo, Kai!"

Orang yang bertukar salam high-five denganku itu adalah Endo Shogo. Salah satu sahabat karibku dan seorang otaku yang bisa diandalkan... meskipun aku sendiri tidak yakin apa maksudnya "otaku yang bisa diandalkan".

"Tapi jujur saja, kami juga sedikit cemburu lho... Kenapa Kai bisa akrab sekali dengan Aisaka dan yang lainnya!"

"Yah, itu... ya, kami cuma jadi akrab saja."

Meski dia sudah seperti sahabat sejati, aku tidak menceritakan soal si Sobat padanya, dan sepertinya aku tidak akan pernah menceritakannya di masa depan. Mengingat isinya yang seperti itu, wajar saja kalau seseorang punya satu atau dua rahasia.

"Cih, bisa akrab dengan gadis cantik itu membuatku iri! Kalau soal Akira sih aku maklum, tapi kalau sampai Kai punya pacar, aku tidak akan memaafkannya!"

"Kenapa cuma aku yang tidak boleh! Lagipula, cuma karena aku akrab dengan Aisaka dan Wazuma, bukan berarti kami punya hubungan seperti itu, tahu!"

Sampah sepertiku mana mungkin bisa berpacaran dengan gadis-gadis cantik itu. Itu akan sangat tidak sopan kepada mereka sampai-sampai aku ingin memukuli diriku sendiri... Hah, mengatakannya malah membuatku sedih.

"Tapi ya, sebenarnya apa kamu tidak terpikir ingin berpacaran dengan gadis-gadis seperti mereka?"

"..............."

"Diam begitu berarti iya, kan?"

"... Ya iyalah, cowok mana yang tidak mau pacaran dengan gadis cantik seperti mereka? Selain cantik, kepribadian mereka baik, dan dada mereka juga besar."

"O-oh... kamu benar-benar mengatakannya sampai akhir ya."

Rasa malu tidak diperlukan dalam percakapan sesama lelaki. Ini soal semangat. Tentu saja, karena ini di ruang kelas dan bukan ruang pribadi, aku bicara pelan agar hanya Shogo yang bisa mendengarnya.

"Sejauh yang kulihat, tidak banyak gadis yang levelnya di atas Aisaka dan Wazuma, kan?"

Saat aku bertanya begitu, Shogo mengangguk.

"Benar, kan? Artinya mereka berdua memang secantik itu. Jadi, membayangkannya saja sudah pasti membuatku senang... meskipun itu terdengar menjijikkan."

"Haha, kalau kamu sudah bilang begitu, pembicaraan ini berakhir sudah."

Saat kami berdua tertawa terbahak-bahak, suasana kelas sedikit menjadi riuh.

"Pagi~!"

Suara gadis yang energik... itu suara Aisaka. Tanpa menoleh ke pintu pun aku tahu siapa yang datang, namun tatapanku tetap tersedot ke arahnya saat dia masuk ke kelas.

"Baru saja dibicarakan, orangnya muncul."

"..............."

Tak peduli laki-laki atau perempuan, Aisaka yang bertukar sapa dengan teman-temannya sambil tersenyum benar-benar imut.

Ya, dia imut, tapi... tatapanku tetap tertuju pada lengannya yang terlihat karena dia memakai baju lengan pendek.

"... Ya, lengannya terlihat cantik."

"Wah, kamu benar-benar jujur ya?"

"Ah..."

Gawat, tanpa sadar di depan Shogo aku malah membocorkan kata "cantik".

Sepertinya dia mengira aku sedang mengomentari penampilan Aisaka secara keseluruhan, sehingga aku harus rela diejek oleh Shogo yang menyeringai nakal untuk beberapa saat.

Yah, tapi fakta bahwa Aisaka itu manis atau cantik memang tidak berubah, jadi meskipun terasa menyebalkan, aku tidak membantahnya.

"...?"

Pada saat itu, pandanganku dan Aisaka bertemu. Tidak aneh kalau dia menyadarinya jika aku terus menatapnya, tapi Aisaka bahkan sampai menghentikan pembicaraannya sejenak untuk menatapku, sehingga perhatian orang lain pun ikut tertuju ke arah sini.

Tatapan para siswi sih biasa saja, tapi tatapan para siswa benar-benar tajam.

Di antara mereka, tentu saja ada gerombolan yang memperhatikanku tadi, dan juga orang yang sebelumnya mengeluh karena Aisaka mengajakku main boling.

Sejenak, Aisaka menyadari tatapan-tatapan itu dan memasang ekspresi galak, namun dia segera tersenyum lagi dan melambaikan tangan padaku.

"... Haha."

Tentu saja, aku membalas lambaian tangannya.

"Ooh... eh, serius nih? Bukannya kalian memang punya hubungan spesial?"

"Sudah kubilang bukan begitu."

Tatapan orang-orang itu memang menyebalkan... tapi, dilambai seperti itu membuatnya senang sampai tanpa sadar aku nyengir sendiri.

"Selamat pagi... lho, ada apa ini?"

"Oh, Akira. Si Kai ini lho, dia baru saja saling melambai dengan Aisaka."

"Heh?"

Orang yang datang sedikit terlambat itu adalah sahabatku yang satu lagi—Mukai Akira. Berbeda denganku dan Shogo, Akira adalah cowok tampan yang sangat menyebalkan. Begitu mendengar cerita Shogo, dia langsung menyeringai dengan wajahnya yang keren itu.

"Belakangan ini kalian memang sering jadi bahan pembicaraan, ya? Bisa saling melambai dengan gadis gal populer di kelas... ini membuatku penasaran, lho?"

"Benar, kan?"

 "..............."

Aduh, gara-gara ini, orang yang merepotkan malah bertambah satu. Karena Aisaka sudah tidak lagi melihat ke arah sini, aku terpaksa fokus pada pembicaraan di sini.

"Sudah, pembicaraan ini selesai! Lagipula, kamu rajin sekali ya, Akira? Meski masih pagi tapi sudah panas begini, kamu tetap ikut latihan pagi."

"Kamu mengakhirinya dengan paksa ya... Yah, karena turnamen terakhir sudah dekat, aku dan anggota klub lainnya harus melakukan apa yang kami bisa."

Sebagai anggota klub sepak bola, Akira akan menghadapi kompetisi tingkat SMA (Inter-High) musim panas ini. Bagi Akira yang sudah menekuni sepak bola sejak lama, ini adalah turnamen terakhir dalam kehidupan sekolahnya... Aku tahu betapa kerasnya dia berlatih, jadi aku ingin dia mendapatkan hasil yang bagus.

"Tolong, jangan sampai cedera ya?"

"Shogo, kamu sampai mengkhawatirkan hal itu?"

"Bodoh, kita kan teman, jadi itu wajar saja. Kalau sudah berlatih mati-matian tapi tidak bisa main karena cedera, kami yang mendukungmu pun akan merasa sedih."

"... Begitu ya."

Aku pun mengangguk setuju dengan kuat. Karena aku tahu betapa kerasnya dia berlatih, tentu saja dia sendiri yang akan merasa paling menyesal jika tidak bisa menunjukkannya. Tapi bagiku dan Shogo, fakta bahwa kami tidak bisa melihat aksi Akira juga akan terasa sangat mengecewakan.

"Akira, lebih dari yang kamu bayangkan, aku dan Shogo benar-benar mendukung dan memerhatikanmu. Jangan bilang kalau setelah tiga tahun bersama, kamu masih belum menyadarinya?"

"Kai... ya ampun, kalian berdua benar-benar sahabat terbaik."

Akira mengatakannya dengan wajah malu-malu. Aku dan Shogo saling bertukar pandang dan tertawa lebar.

"Ah, benar juga."

Lalu, entah apa yang kupikirkan, aku melanjutkan kata-kataku.

"Kalian berdua, kalau ada masalah apa pun, bilang saja ya? Aku akan menyelesaikan segalanya—"

Tiba-tiba, aku menghentikan kalimatku dan tersentak. Mungkin karena aku sudah terbiasa membantu Aisaka dan Wazuma, kata-kata itu keluar begitu saja tanpa sadar.

"Kenapa tiba-tiba begitu?"

"Haha, baiklah kalau ada masalah tolong bantu ya."

 "... Ah, iya."

Yah, untungnya mereka berdua tertawa senang dan menganggapnya angin lalu.

(... Aku harus sedikit berhati-hati.)

Aku pernah melihat di manga bahwa orang yang memiliki kekuatan besar cenderung menjadi sombong... Tidak boleh bagiku untuk menjadi sombong hanya karena aku punya si Sobat dan berpikir bisa melakukan apa saja.

"Ya-yah, pokoknya kalau ada apa-apa, konsultasikan saja padaku! Sebagai gantinya, aku juga akan berkonsultasi pada kalian!"

"Haha, oke!"

"Aku akan mengandalkanmu."

Mengatakan bahwa aku bisa melakukan apa saja hanya karena punya si Sobat itu... sejujurnya, memang ada hal yang tidak bisa dilakukan orang lain tapi bisa kulakukan.

Namun, mari kita lakukan hal-hal sesuka hati dengan cara yang cerdas tanpa menjadi sombong. Karena tidak ada yang lebih berbahaya daripada saat seseorang mulai besar kepala... Bagus, aku sudah tenang sekarang.

Setelah memantapkan hati, waktu pun berlalu hingga istirahat siang tiba.

(Meski aku bilang tidak boleh sombong...)

Wajar saja kalau aku jadi bersemangat saat istirahat siang tiba, kan!? Setelah makan bekal bersama Akira dan yang lainnya, aku kembali menuju ruang kelas kosong dengan perasaan gembira. Karena kejadian baterai habis dua hari lalu sempat membuatku ciut, hari ini aku hanya memanggil Aisaka saja lewat hipnotis terjadwal.

"Maaf membuatmu menunggu."

"Ya."

Kira-kira apa dia akan membawa Wazuma... ternyata tidak, dia datang sendirian. Aku merentangkan tangan seolah memerankan seorang pacar yang sedang menunggunya. Meskipun dengan ekspresi kosong, sudut mulutnya sedikit melonggar, dan dia pun menghambur ke pelukanku.

"Wah, akhirnya tiba juga waktu surgawi ini."

"Aku juga sudah menantikannya, tahu? Bisa berduaan seperti ini dengan Masaki-kun."

"Kuh! Kamu manis sekali bisa bilang begitu!"

Ah, gawat. Hei, Aisaka.

Aku sempat berpikir ingin kamu dalam kondisi terhipnotis selamanya di depanku... tapi itu tidak baik ya. Namun, melihat gadis semanis ini begitu patuh benar-benar luar biasa.

"Apa yang ingin kamu lakukan hari ini?"

"Hmm... kalau begitu, aku ingin tidur di pangkuanmu (hizamakura)."

"Aku mengerti."

Tapi tetap saja... sepertinya suaranya ada emosinya, ya?

Pada awalnya, suaranya tidak memiliki emosi sedikit pun... Tapi sekarang, meski tentu saja berbeda jika dibandingkan dengan biasanya, aku bisa merasakan adanya fluktuasi emosi.

"... Yah, kamu bisa merasa senang dan bisa juga marah, ya."

"Apa?"

"Ah, tidak... Maksudku Aisaka maupun Wazuma, meski dalam kondisi terhipnotis begini, kalian tetap punya fluktuasi emosi. Rasanya agak aneh membicarakan hal ini pada kalian yang sedang terhipnotis."

"Hee~?"

Bertanya tentang kondisi hipnotis kepada orang yang sedang dihipnotis benar-benar terasa segar.

"Nah, kamu mau tidur di pangkuanku, kan? Kemarilah."

"Eh?"

Aisaka memegang kepalaku saat aku masih duduk, lalu membimbingnya ke arah paha-pahanya.

Paha yang lembut menerima bagian belakang kepalaku, dan tepat di depan mataku, dada besar Aisaka tergantung... Eh, tunggu! Tiba-tiba Aisaka membuka kancing bajunya?!

"He-hei, Aisaka-san?"

"Tidak apa-apa, kan? Soalnya di sini cuma ada kita berdua."

"Yah, memang sih... tapi, apa itu masalahnya...?"

"Aku berpikir mungkin Masaki-kun akan senang kalau aku melakukan ini."

"Kh..."

Hei... hei, hei, hei! Meski dalam kondisi terhipnotis, dia benar-benar tahu titik kelemahanku sampai begini... Kuh!! A

da apa dengan gadis bernama Aisaka ini... potensinya untuk menyenangkan anak laki-laki masa puber terlalu luar biasa!

Apalagi, aku bisa melihat bagian bawah dadanya yang terbungkus pakaian dalam—pemandangan yang sangat maniak namun tepat sasaran secara erotis... Ini yang terbaik!

"Apa kamu tidak senang?"

"Senang sekali, Sista."

"Syukurlah♪"

Setelah itu, semuanya berjalan seperti biasa, waktu yang surgawi. Sambil tidur di pangkuannya—salah satu dari tiga hal teratas yang ingin dirasakan laki-laki dari seorang gadis—aku disuguhi pemandangan spektakuler bagian bawah dada yang terbungkus pakaian dalam karena kancingnya dibuka!

"... Hmm, ini bahkan lebih baik daripada melihatnya telanjang."

Rasanya aku merasa lebih bergairah daripada melihat gambar porno apa pun di ponsel. Tanpa sadar aku ingin menusukkan jariku ke bagian bawah dada itu dan merasakan langsung kelembutan serta kehangatannya, tapi karena aku adalah pengecut yang bisa dipercaya dan diandalkan, tidak mungkin aku berani melakukan tindakan nekat seperti itu.

"Membawa Aisaka dan Wazuma bertiga memang bagus... tapi interaksi berdua saja juga sayang untuk dilewatkan."

"Aku suka dua-duanya, tapi berduaan saja seperti ini juga terasa menyenangkan."

"... Begitu ya."

Aisaka yang biasa maupun Aisaka yang sekarang benar-benar seperti iblis kecil... Aku jadi sangat malu karena kata-katanya yang blak-blakan, dan sejak saat itu aku jadi lebih banyak diam. Seolah menghargai suasanaku, Aisaka tidak mencoba bertanya apa pun, dia hanya diam sambil mengusap-usap kepalaku.

"Hari ini pun... waktu ini akan segera berakhir ya."

"Eh? Ah..."

Seperti biasa, waktu surgawi ini berakhir dengan cepat. Khusus untuk hari ini, karena tidur di pangkuannya terasa terlalu nyaman, aku sempat tertidur, yang menjadi alasan kenapa waktu terasa berlalu lebih cepat.

Kupikir hari ini akan berakhir begitu saja... namun, sebuah usulan yang tak terduga—sebuah usulan kuat yang belum pernah ada sebelumnya untuk menggodaku—pun terlontar.

"Hei, Masaki-kun."

"Ya?"

"Kamu tadi terus memperhatikannya seolah-olah ingin menyentuhnya, kan?"

"... Memperhatikan apa?"

"Dada."

"Blak-blakan sekali ya!?"

Ya-yah, kalau bisa disentuh aku memang ingin menyentuhnya! Karena aku tidak bisa menyentuhnya, makanya aku terus menatap "barang berharga" itu sebelum aku tertidur, tahu!?

"Boleh kok kalau mau menyentuhnya?"

"... What?"

"Boleh saja, lho? Malahan, mungkin aku ingin kamu menyentuhnya."

INGIN AKU MENYENTUHNYA-AAAAAAA!?

Tanpa memedulikan kebingunganku, pipi Aisaka merona merah, dan dia perlahan-lahan mulai melepas kancing bajunya lagi... Aku hampir saja berteriak keras untuk menghentikannya, namun suara siswa yang berjalan di koridor terdengar, membuatku segera menutup mulut dengan tangan.

"Nah, silakan?"

"..............."

Dan akhirnya, kemolekannya pun terbebas.

Pakaian dalam renda hitam... rasanya aku ingin mengeluh "jangan pakai yang semesum itu untuk ukuran anak SMA", tapi di saat yang sama aku juga tidak mau mengeluh! Karena itu sangat cocok untuknya!

(Melihatnya sekali lagi, ini benar-benar luar biasa... Simfoni yang tercipta dari kulit putih bersih yang cantik dan volume yang melimpah serta terlihat lembut ini!)




Gawat, saking senangnya, kepalaku rasanya mau pecah. Biasanya aku tidak akan sanggup melangkah lebih jauh dari ini... Baru saja tadi pun, aku bahkan sempat menyerah untuk sekadar menyentuhkan jariku.

"……Beneran nggak apa-apa?"

"Iya."

Aku…… memang selama ini sama sekali belum pernah menyentuhnya. Tapi, keinginan untuk menyentuh itu selalu ada…… Lagipula, benda yang bisa disebut sebagai buah terlarang ini adalah tempat di mana impian setiap laki-laki terkumpul.

Aku menelan ludah, lalu memantapkan tekad dan menjulurkan tanganku. Perlahan…… sangat perlahan tanganku terulur, dan tepat sesaat sebelum bersentuhan, tanganku berhenti…… Seharusnya begitu.

"Ei!"

"!?!?"

Bersamaan dengan suara yang menggemaskan, Aisaka mencengkeram tanganku…… lalu menekannya ke dadanya. Sensasi keras dari balik bra terasa di telapak tanganku, tapi lebih dari itu, ujung jariku bisa merasakan kelembutan daging Aisaka.

Sangat lembut…… dan hangat, terlebih lagi, aku bisa merasakan detak jantung jauh di dalamnya.

"Gimana?"

"……Lembut banget."

"Kamu suka?"

"……Iya."

Ini…… sesuatu yang luar biasa hebat. Seolah-olah memiliki kekuatan sihir yang membuatku ingin terus menyentuhnya selamanya jika waktu tidak terbatas.

(Aku…… akhirnya menyentuhnya…… bahkan menyentuhnya secara langsung!?)

Badai kegembiraan mengamuk di dalam hatiku. Rasa pencapaian seolah-olah aku telah berdiri di satu tingkat yang lebih tinggi menyelimutiku. Hal ini bahkan membuatku berpikir bahwa mulai sekarang aku boleh melakukan apa pun yang kusuka…… Aku merasa seolah-olah telah menaiki satu anak tangga menuju kedewasaan.

"……Tapi, hipnotisnya beneran masih bekerja, kan?"

Karena merasa cemas, aku melihat ke arah ponselku. Baterainya masih ada dan si Partner masih menyala. Yah, kalau aplikasinya mati, Aisaka tidak mungkin melakukan hal seperti ini. Malah seharusnya dia sudah berteriak dan menamparku.

"Fufu, meski lagi liat ponsel, tangan yang satunya nggak lepas dari dadaku, ya?"

"……Yah, begitulah."

Tidak, tapi sensasi ini benar-benar luar biasa. Bahkan milik Aisaka saja sudah begini, aku jadi tidak bisa berhenti berfantasi tentang bagaimana rasanya dada Aguma yang volumenya lebih besar dari ini.

"Hehe, aku juga pengen nyobain punya Aguma, ya."

Tepat saat kata-kata rendahan itu keluar, Aisaka langsung menggembungkan pipinya.

"Ih…… padahal sekarang lagi nyentuh punyaku. Yah, Saika juga temen baikku sih, jadi nggak apa-apa juga, tapi tetap saja……"

"Ma-maaf deh……"

"Daripada minta maaf, mending fokus ke payudaraku aja, gimana?"

"Ah, iya."

……? Interaksi macam apa ini…… tapi ya sudahlah, karena aku bahagia, jadi tidak masalah!

"Hei, kamu tahu nggak?"

"Tahu apa?"

"Katanya, dada anak perempuan itu sama lembutnya sama lengan bagian atas."

"Aku pernah dengar itu di suatu tempat."

"Makanya, kalau mau memastikan sensasi lengan atas, sentuhlah dadaku, ya?"

"……Bukannya biasanya kebalik?"

Aisaka mengatakannya dengan wajah yang sangat serius, tapi bukankah seharusnya logika itu terbalik? Meski IQ Aisaka merosot drastis dibanding biasanya, aku tidak akan pernah melepaskan kesempatan emas…… momen bahagia ini.

Setelah puas menikmati kelembutannya dengan meremas-remas pelan, aku mengucapkan terima kasih kepada Aisaka dengan sikap seolah sedang berdoa kepada Tuhan.

"Terima kasih, Aisaka…… Ini waktu yang bener-bener luar biasa."

"Kalau Masaki-kun senang, aku juga ikut senang."

Aisaka tersenyum manis sambil mengatakan hal itu. Tidak hanya membiarkanku menyentuh dadanya, tapi dia juga tetap berkata seperti itu meski aku sudah meremasnya. Apa Aisaka ini seorang dewi? Atau lebih tepatnya, padahal aku sudah melakukan hal mesum, kenapa alih-alih merasa bersalah, aku malah merasa segar begini…… Hmm, entahlah.

"Kalau begitu Aisaka, kancing bajunya…… sudah terpasang rapi ya. Silakan balik duluan seperti biasa."

"Iya…… ah."

Di depan pintu ruang kelas yang kosong, Aisaka berhenti dan menoleh.

"Ada apa?"

"……………"

Tampak bimbang, tersenyum…… ekspresi apa pun itu, tatapan kosongnya tidak berubah. Dengan ekspresi yang campur aduk itu, Aisaka berkata:

"Aku…… ingin menghargai waktu ini. Perasaan melayang seperti berada di dalam mimpi…… Karena lawannya adalah Masaki-kun, aku merasa tenang karena aku tahu ini akan baik-baik saja."

"……?"

"Hati Masaki-kun itu sangat baik…… makanya, melihatmu malu-malu saat meminta hal yang mesum itu terasa manis…… fufu, yah, begitulah kira-kira."

Hanya mengatakan itu, Aisaka pun keluar dari kelas. Beberapa saat kemudian, hipnotis reservasi yang terus berlangsung sampai sekarang pun habis, dan Aisaka pasti sudah kembali ke kelas seperti biasanya.

"……Manis banget, ya."

Meski dibilang manis, karena aku laki-laki, aku tidak merasa…… begitu senang, tapi perasaanku tidak buruk juga. Sial, kalau dikatakan seperti itu, aku jadi kepikiran terus——padahal apa yang kulakukan ini seharusnya adalah hal yang rendah, tapi kalau begini, aku malah jadi makin ngelunjak.

"……Kuku, yah sudahlah. Kalau kamu bilang begitu, mulai sekarang aku bakal terus minta kamu nemenin aku!"

Sosokku yang terpantul di kaca jendela benar-benar menunjukkan wajah seorang penjahat besar. Sambil tersenyum kecut dan berpikir bahwa wajah seperti ini hanya bisa kutunjukkan pada kakakku, aku pun keluar dari ruang kelas kosong menyusul Aisaka…… namun, tepat sebelum kembali ke kelas, aku berpapasan dengan Aguma.

"Ah, Masaki-kun."

"Oh, Aguma."

Baru balik dari toilet, ya? Yah, meski aku ini cabul kelas teri yang paling rendah, tapi aku ini seorang gentleman, jadi meski aku berpikir begitu, aku tidak akan mengucapkannya.

(Sialan…… gara-gara interaksi sama Aisaka tadi, mataku jadi nggak bisa lepas dari dada Aguma.)

Ini gawat…… sampai-sampai, gara-gara sudah melewati satu batasan, aku jadi ingin menyentuh dada Aguma juga. Waktunya…… sudah tidak ada, jadi hari ini tidak mungkin, tapi apa berikutnya aku bisa…… tidak, bukan soal bisa atau tidak, aku harus melakukannya, Kai.

"Ketemu di lorong begini kebetulan banget ya…… eh nggak juga sih, tapi berpapasan dan saling liat muka begini nggak buruk juga."

"Iya…… mm, beneran. Tadi aku bilang 'ah', tapi begitu lihat bayangan orang, aku sudah mikir kalau itu pasti Masaki-kun."

"Heh……"

Aku juga langsung tahu kalau itu Aguma, jadi kita sama-sama tahu kalau begitu. Saat aku mengatakan itu, Aguma tertawa kecil, dan aku pun ikut tertawa tertular olehnya.

"Ya udah, aku balik ke kelas dulu ya. Sampai nanti, Aguma."

Saat aku hendak berpapasan dengannya, pergelangan tanganku dicengkeram dengan lemah. Tentu saja yang mencengkeramnya hanyalah Aguma yang ada di situ, dan dia sendiri tampak gugup seolah tidak tahu kenapa dia mencengkeramku sambil menatap ke arahku.

"……Anu, karena aku ngerasa belum puas ngobrol, ayo ngobrol sebentar lagi!"

"Ah…… iya!"

Ada apa ini? Apa dia merasa kesepian…… mungkin saja. Tentu saja waktunya tidak sebanyak saat bersama Aisaka, tapi aku memutuskan untuk menghabiskan sisa waktu yang sedikit ini bersama Aguma.

Kami berdua bersandar di dinding lorong sambil bertukar kata, namun orang-orang yang lewat tetap saja melirik ke arah kami. Meski tidak separah saat bersama Aisaka, tatapan dari para siswa yang sepertinya teman sekelas Aguma terasa cukup tajam.

(Gimana ya, orang-orang ini egois banget. Sebelum Aguma jadi ceria begini mereka nggak pernah melirik, bahkan saat Aguma dijahili dikit-dikit sama anak perempuan lain pun mereka pura-pura nggak tahu)

……Tapi, yang pura-pura tidak tahu itu termasuk aku juga, sih. Ujung-ujungnya, karena beda kelas, aku tidak mempedulikan kondisi Aguma…… yah, jumlah siswa per angkatan memang banyak jadi aku tidak memantau semuanya, tapi tetap saja kalau bukan karena si Partner, aku tidak akan pernah mengenal Aguma.

"……Menyebalkan."

"Eh?"

"Aku lagi asyik ngobrol sama Masaki-kun…… Masaki-kun juga mikir gitu, kan?"

"Tentu saja. Aku nggak pernah mikir kalau ngobrol sama kamu itu nggak asyik."

Dan tentu saja, aku juga mikir kalau kamu itu seksi.

"……Terima kasih, Masaki-kun. Iya…… kita, di antara kita berdua memang begitu, tapi orang-orang di sekitar seenaknya saja kasih tatapan kayak gitu. Padahal mereka nggak tahu apa-apa soal kita…… makanya itu menyebalkan."

Tatapan mata Aguma menajam dengan jelas. Ternyata benar kalau gadis cantik itu menakutkan saat marah, bahkan aku yang tidak ditatap langsung pun merasa Aguma agak seram. Siswa yang tertembus oleh tatapan Aguma langsung memalingkan wajah dan masuk ke kelas seolah tidak terjadi apa-apa.

"Barusan aku diselamatkan sama Aguma, ya?"

"Aku merasa 'menyelamatkan' itu agak kurang tepat, tapi setidaknya kalau mereka mau bilang sesuatu yang buruk soal Masaki-kun, aku nggak akan maafin."

"……Makasih ya, Aguma."

"Kita ini cuma saling bilang terima kasih terus ya."

Aku pun setuju dengan hal itu, dan kami tertawa bersama lagi. Tapi serius deh, Aguma benar-benar jadi ceria ya…… Bahkan sekarang pun begitu, aku yakin sebelum lulus dia pasti bakal ditembak berkali-kali.

"Hari ini aku senang bisa ngobrol sama Masaki-kun…… beneran sampai nanti ya."

"Haha, yah, kalau cuma ngobrol mah kapan aja bisa. Kita kan sudah tukaran kontak juga."

"Iya."

Aku mengantar kepulangan Aguma yang mengangguk lalu berbalik pergi, dan aku pun kembali ke kelas. Tapi…… istirahat siang hari ini terasa sangat padat karena waktu bersama Aisaka…… wahai diri sendiri, sungguh puas rasanya!

Sambil mengingat kenangan indah itu, aku menjalani pelajaran dengan penuh semangat dan tidak merasa mengantuk sedikit pun…… Dan sepertinya, takdir memberiku hadiah atas kerja kerasku itu.

Sebabnya, setelah seluruh pelajaran selesai dan sebelum bimbingan pulang dilakukan, di sela waktu kosong yang singkat——aku melihat Aguma lagi di lorong. Sepertinya kelas mereka baru saja selesai olahraga, jadi dia memakai baju olahraga. Akhir-akhir ini, karena mempertimbangkan risiko sengatan panas, pelajaran olahraga kebanyakan dilakukan di aula, tapi seberapa pun inddor-nya, suhu musim panas tidak bisa dibohongi…… artinya, Aguma yang sekarang agak bermandikan keringat…… bukan cuma agak, tapi aku mungkin bakal jadi gila saking bersemangatnya.

"Masaki-kun?"

Sekarang, untungnya hanya ada Aguma yang sedang berjalan. Keajaiban macam apa ini, keberuntungan macam apa ini…… ditambah lagi ponsel ada di kantong…… aku harus memanfaatkan keajaiban ini!

"Hipnotis!"

Seketika aku mengaktifkan si Partner, dan buru-buru masuk ke ruang kelas kosong bersama Aguma. Tentu saja waktunya sangat singkat, dan karena aku tidak ingin merepotkan Aguma, aku berencana menyelesaikannya dalam sekejap…… Aku tahu ini benar-benar tindakan cabul, tapi aku tidak bisa berhenti!

"Sekali saja, aku ingin coba menyentuh anak perempuan yang lagi keringatan…… gitu."

Saat aku mengutarakan hasrat itu, Aguma langsung menjauh sedikit.

"Aguma?"

"……Bukannya aku nggak suka disentuh sama Masaki-kun, tapi karena aku lagi keringatan, aku takut baunya nggak enak……"

Sambil berkata begitu, wajah Aguma memerah, tapi bagiku rasa malunya itu hanya meninggalkan kesan menggemaskan.

"Aku sama sekali nggak keberatan!"

"……Kalau gitu, boleh deh?"

Maka, karena sudah mendapat izin dari Aguma, saatnya waktu menyentuh dimulai!

"Yah, kalau kamu beneran bilang nggak mau sih aku bakal berhenti……"

Sambil membuat pembelaan seperti itu, aku mencoba menyentuh bahunya terlebih dahulu. Katanya dia baru saja main voli di aula, dan sepertinya dia cukup lama bergerak di lapangan. Sosok Aguma saat bermain voli…… pasti dua bolanya itu memantul-mantul dengan liar, aku iri setengah mati sama anak-anak di kelasnya, sialan.

"Basah banget ya……"

"Jangan dibilang terus-terusan dong……"

Aguma tampak malu, tapi sayang sekali waktunya terlalu sedikit. Padahal masih banyak hal yang ingin kulakukan…… Kalau begitu, terakhir aku akan coba menghirup aromanya sedikit.

"……Wanginya enak kok?"

"Beneran?"

Aku benar-benar mencobanya, dan sama sekali tidak ada bau asam keringat. Malahan, aroma manis yang dimiliki Aguma sendiri…… rasanya aroma itu menjadi lebih pekat karena keringat.

"Yah, soalnya aku biasanya sudah melakukan macam-macam dan sering mencium aroma Aguma sih, jadi rasanya aroma enak itu makin kuat saja."

"……………"

"Ini beneran pernyataan mesum banget sih, maafin ya. Habisnya aku suka banget sama tubuh Aguma, aromanya, dan semuanya."

"Be-begitu ya……♪"

Terakhir, aku membiarkannya memeluk kepalaku ke arah dadanya. Elastisitas yang terasa menekan dan sensasi sedikit lembap di kulit sama sekali tidak buruk…… dan seperti dugaan, aromanya harum sekali. Kenapa ya perempuan bisa punya aroma seharum ini…… Sambil memikirkan hal itu, aku menikmati interaksi dengan Aguma.

Wah…… bukankah hari ini benar-benar hari yang luar biasa? Istirahat siang bersama Aisaka, dan barusan juga bersama Aguma…… Meski untuk Aguma aku merasa sedikit berlebihan, tapi ini kan hiburan yang hanya bisa dilakukan olehku yang punya kekuatan bernama Partner, apa ada masalah!?

"……Fuu."

Sekali lagi, sungguh puas rasanya. Dengan wajah berseri-seri aku kembali ke kelas, namun di tengah jalan aku melihat ke langit lewat jendela.

"……Kayaknya mau hujan."

Sampai tadi cuacanya sangat bagus, dan ramalan cuaca pun bilang peluang hujan nol persen…… tapi awan hitam pekat mulai muncul, jadi mungkin hujan akan turun sebentar.

"Padahal aku nggak bawa payung…… Tolonglah jangan hujan."

Namun, doaku itu hancur berantakan dengan sia-sia. Setelah bimbingan pulang berakhir dan aku dalam perjalanan pulang sih masih oke, tapi saat jarak ke rumah tinggal sedikit lagi, aku diguyur hujan deras yang luar biasa. Kalau jaraknya dekat sih tinggal lari saja…… benar juga, tapi hujan ini begitu besar sampai-sampai keinginan untuk lari pun hilang.

"……Uwaa."

Kemeja, celana, bahkan tas pun basah kuyup.

"Handuk pun sudah nggak guna kalau begini……"

Kemejaku terasa berat karena menyerap air…… airnya merembes sampai ke celana dalam dan memberikan rasa dingin yang tidak nyaman. Handuk selembar pun tidak akan bisa menolong…… begitulah parahnya kondisiku.

"Ahhh."

Hujan deras ini seolah badai sedang datang, suara rintik hujan yang menghantam tanah terdengar sangat keras…… ditambah lagi ada paduan suara katak yang seolah menertawakanku yang basah kuyup ini.

"Gimana ya."

Kalau bisa, aku tidak ingin keluar dari halte bus tempatku berteduh ini sampai hujannya berhenti. Misalnya tidak berhenti pun, paling tidak kalau hujannya mengecil sedikit saja sudah syukur, tapi ini beneran level hujan deras yang jarang ditemui.

"……………"

Karena tidak ada yang bisa dilakukan, aku hanya diam di tempat sambil berdoa agar hujan berhenti. Namun ternyata di sana ada korban hujan deras lainnya selain aku…… apalagi dia adalah gadis yang sangat kukenal.

"Duh, apa-apaan sih hujan ini! Parah banget!!"

"……Aisaka?"

"Fueh?"

Gadis yang datang berteduh dalam keadaan basah kuyup sama sepertiku adalah Aisaka. Mungkin dia tidak menyangka akan ada orang di situ, Aisaka yang bereaksi terhadap suaraku sangat terkejut, sampai-sampai dia bengong dengan tampang yang sedikit konyol.

"……!?"

Hanya saja, aku segera memalingkan wajah. Sebab, karena dia berada dalam situasi yang sama denganku, keadaannya jadi gawat dalam berbagai arti. Rambut yang sudah ditata jadi berantakan mungkin keadaan darurat bagi anak perempuan, tapi yang jauh lebih gawat menurutku adalah kemeja yang menempel di kulitnya…… tentu saja warna kulitnya terlihat, dan bahkan pakaian dalam hitam yang dia perlihatkan dan kusentuh saat istirahat siang tadi pun hampir terlihat jelas.

"Apa yang……!?"

Aku tidak lihat! Aku sama sekali tidak lihat selain bagian ujungnya!! Pasti sekarang dia sedang menutupi dadanya, kan!? Gara-gara itu bentuk dadanya jadi berubah dan jadi makin luar biasa, kan!?

"……………"

"He-hei, Masaki-kun?"

"A-apa?"

"Aku nggak bakal marah kok meski dalam situasi begini. Walaupun malu sih……"

Eh, benarkah……? Kalau begitu…… aku pun kalah oleh rasa penasaran dan mengarahkan pandanganku.

"……………"

Wajah Aisaka memerah…… tapi dia sama sekali tidak marah. Seperti dugaanku, karena dia menutupi dadanya, lekukannya jadi terlihat luar biasa…… fuu, saat berpikir bahwa aku sudah menyentuh ini saat istirahat siang, rasanya sangat mendalam.

"……Hatchi!"

Saat itu, Aisaka bersin dengan suara yang imut. Memang ini musim yang hangat menjelang musim panas, tapi kalau sudah basah kuyup begini, wajar saja kalau tubuh mendingin dan merasa kedinginan…… karena aku pun terkadang sampai menggigil.

"Ma-maaf ya…… badanku agak kedinginan."

"Nggak kok……"

Nggak perlu minta maaf segala. Andai aku punya sesuatu yang hangat untuk dipakaikan padanya, tapi sayangnya hal seperti itu tidak ada di dekatku dan handuk pun sudah tidak berguna…… nah, saat itulah sebuah ide muncul di kepalaku.

"Anu Aisaka, hujan ini…… sepertinya bakal lama, kan? Sekarang sudah agak mendingan dibanding tadi, gimana kalau kamu ke rumahku saja buat mandi air hangat?"

Mendengar usulan itu, Aisaka terdiam kaku. Aku sempat berpikir mungkin aku sudah keterlaluan, tapi saat itu aku benar-benar tidak sedang memikirkan hal mesum…… aku hanya berpikir harus segera menghangatkan tubuh Aisaka.

"……Anu."

Kalau memang tidak mau ya tidak apa-apa kok, aku baru saja ingin menarik kembali usulanku, tapi Aisaka berkata begini:

"Boleh? Kalau nggak merepotkan Masaki-kun…… anu, boleh aku bertamu? Jarak ke rumahku dari sini lumayan jauh, dan aku juga nggak mau kena flu……"

"O-oke…… kalau begitu——"

Tepat saat kami hendak mulai berlari, korban hujan deras lainnya selain kami berlari masuk ke halte bus ini.

"Wah, hujannya parah sekali ya."

"Padahal pakai payung tapi tetap basah begini."

Yang masuk adalah pria paruh baya mengenakan setelan jas. Yang satu bertubuh kerempeng dan yang satu lagi agak tambun…… entah kenapa melihat kombinasi mereka membuatku merasa sedang melihat keseimbangan tonjolan yang pas. Kombinasi mereka seperti atasan dan bawahan yang sering terlihat di drama, tapi pria yang tambun itu mengarahkan pandangannya pada Aisaka, dan senyumnya melebar dengan jelas.

"Hoho……"

"……"

Itu adalah tatapan mesum yang sangat jelas. Aisaka menunjukkan rasa jijik terhadap tatapan yang sama sekali tidak ditutupi itu, dan aku sendiri merasa gerakanku sangat cepat sampai-sampai aku kagum pada diriku sendiri. Aku merangkul bahu Aisaka untuk menciptakan titik buta dari pria itu, lalu mulai berjalan sambil membimbingnya.

"Kalau sudah diputuskan, ayo buruan pergi."

"Ah…… iya!"

Beberapa saat kemudian kami sampai di rumah tanpa masalah berarti. Kedua orang tuaku belum pulang kerja, dan kakak perempuanku juga belum ada di rumah…… kumohon, kalau bisa pulanglah setelah Aisaka pergi.

"Aisaka, aku langsung antar ke kamar mandi. Ganti bajunya…… pakai punya kakakku saja, nggak apa-apa?"

"Iya, makasih ya Masaki-kun. Tapi kalau jalan begini nanti rumahmu basah——"

"Nggak usah dipikirin. Daripada mikirin itu, mending buruan mandi biar hangat."

"……Fufu, kamu maksa banget ya."

Tu-tunggu, cara bicaramu yang bilang 'maksa' itu kedengarannya mesum, tahu? Wajahnya yang memerah itu apa karena malu…… tidak, dalam kasus ini kemungkinan karena kedinginan juga ada, jadi aku harus segera mengantarnya.

"Lewat sini."

Untuk sementara, barang-barangnya ditaruh di depan pintu masuk, lalu aku membawanya ke ruang ganti.

"Baju seragam yang dilepas taruh situ saja…… ah tapi, aku sendiri nggak punya pengalaman begini jadi nggak tahu caranya. Pokoknya sampai kamu selesai mandi dan sudah tenang, terserah kamu saja mau gimana."

"Paham…… beneran, terima kasih banyak ya, Masaki-kun."

"Sudah kubilang nggak apa-apa kok."

"……Ehehe. Ah, benar juga."

"Mmm?"

"Bajunya aku pinjam ya……? Tapi soal pakaian dalam kamu nggak usah pikirin…… maksudku, biarpun itu punya kakakmu, tetap saja kurang enak kan?"

"Ah…… benar juga."

Memang sih, meski itu punya kakak kandungku, menyentuh pakaian dalamnya rasanya agak sungkan…… Dalam hal ini, kata-kata Aisaka sangat membantuku.

"Kalau begitu, silakan dinikmati."

"Aku bakal buruan keluar kok setelah hangat. Soalnya Masaki-kun juga basah, kan?"

"Ya memang sih…… tapi, pokoknya silakan santai saja~!"

Setelah meninggalkan ruang ganti, tujuanku adalah kamar kakakku.

"Permisi ya~"

Karena ini kamar kakakku yang sudah sangat kukenal, aku masuk dengan santai. Aku membuka lemari pakaian dan mengambil satu set baju santai milik kakakku, lalu sebelum kembali ke ruang ganti aku mengetuk pintu dulu. Bukannya jawaban, tapi malah suara pancuran air yang terdengar, jadi aku pikir dia tidak bisa menjawab dan aku pun membuka pintu perlahan.

"Aisaka~……?"

"Eh!? Ah, iya, soal baju ganti ya?"

"Iya…… aku taruh sini ya?"

"Iya! Makasih banyak ya!"

"……………"

Setelah menaruh baju di tempat yang mudah terlihat, sebelum keluar dari ruang ganti aku sempat melirik ke pintu menuju kamar mandi. Di balik sana ada Aisaka yang sedang telanjang…… atau lebih tepatnya siluetnya terlihat cukup jelas dan garis tubuhnya…… Ha!?

"Gawat gawat!"

Aku menggelengkan kepala dan segera keluar dari ruang ganti. Setelah itu aku mengambil barang-barang yang tergeletak di depan pintu masuk dan membawanya ke ruang tamu…… Karena sekarang bukan musimnya pakai penghangat ruangan, aku hanya bisa mengeringkannya dengan handuk sebisanya, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

"Tapi beneran deh…… hujannya nggak berhenti-berhenti ya."

Hujan yang sempat mengecil sesaat tadi malah jadi deras lagi. Di balik tembok rumah ini hujan lebat masih mengguyur…… kalau begini kakakku juga pasti bakal susah pulangnya, kan?

"……Tapi, rasanya nggak tenang ya ada Aisaka di rumah."

Waktu aku ke rumahnya pun begitu, tapi ketegangan ini sungguh luar biasa. Soalnya di tanganku ada aplikasi hipnotis, dan berbeda dengan di sekolah, ini adalah kesempatan emas di mana aku bisa melakukan apa saja sesukaku pada Aisaka. Tapi sampai barusan aku benar-benar hanya terpikir untuk segera menghangatkan tubuh Aisaka sampai-sampai si Partner benar-benar hilang dari kepalaku.

"Cara paling pas buat menghangatkan tubuh itu ya dengan seks telanjang…… berisik ah."

Sambil melakukan lawakan tunggal pelan, aku mengelap tas. Setelah waktu berlalu, akhirnya Aisaka kembali, namun sepertinya dia sedang menghadapi situasi yang sulit.

"A-anu…… Masaki-kun?"

"Sudah selesai…… eh, ada apa?"

"Anu…… itu……?"

"??"

Ada apa ya……? Aisaka yang hanya melongokkan kepalanya dari pintu ruang tamu terlihat ragu apakah dia harus masuk ke sini atau tidak.

"Ada masalah?"

"Itu lho…… anu…… soal baju kakakmu."

"Mmm…… eh? Ah, itu…… ha!?"

Melihat ada yang aneh dengan baju kakakku, seketika itu juga aku paham apa yang ingin dikatakan Aisaka——astaga, karena terlalu terburu-buru aku melupakan hal yang sangat penting!

(O-oh iyaaaaa!! Ukuran baju Aisaka sama kakakku kan beda jauh banget!)

Aisaka yang punya tubuh dengan gaya yang melampaui orang dewasa, dengan kakakku yang sering dikira bocah SMP…… kenapa aku bisa lupa hal sepenting ini!? Ah bukan maksudku menghina tubuh kakakku yang bocah itu sih…… ah sudahlah!!

"P-paham! Intinya kamu nggak bisa pakai karena kekecilan ya! Eh gimana ya…… baju ibuku? Kalau itu——"

"Bukan begitu! Tetap aku pakai kok. Soalnya…… kamu sudah capek-capek nyiapin, aku nggak mau bikin repot dengan nggak memakainya."

"Eh nggak merepotkan kok……"

Dan kemudian, Aisaka pun menampakkan dirinya. Seketika itu juga, semua suara seolah lenyap ke angkasa…… sebegitu sulitnya menggambarkan pemandangan di depanku dengan kata-kata.

"A-ahaha……"

Meski dia tertawa kecut, pipinya memerah, terlihat jelas kalau dia sedang malu.

(I-ini……!)

Tentu saja ini bukan kondisi telanjang seperti yang awalnya sempat kubayangkan…… Aisaka benar-benar memakai baju kakakku seperti yang dia katakan, tapi bajunya itu ketat sekali sampai mau meledak.

Pertama, soal kemejanya, garis lekukan dadanya terlihat sangat jelas, dan soal celananya, ritsletingnya tidak bisa tertutup rapat…… Sejujurnya aku kagum dia mau memakai dan memaksakan masuk ke celana itu, tapi aku benar-benar merasa payah karena kurang pertimbangan.

"Anu…… karena pakaian dalamku basah jadi aku nggak pakai…… aku bakal senang kalau kamu nggak terlalu memperhatikannya."

"!?"

Aku bukan orang bodoh yang tidak tahu apa arti kata-kata itu. Meski dia sudah berusaha menutupinya dengan tangan, di bagian dada yang tidak tertutupi dengan sempurna itu, sesuatu yang terlihat seperti puncak dari gundukan tersebut meski tidak terlihat jelas tapi nampak samar-samar.

"……Pasti sesak banget, kan? Mau pakai…… bajuku?"

"Ah…… iya. Boleh?"

"Tentu saja!"

Duh, kenapa nggak dari awal saja ya…… yah, meski ini juga agak gimana gitu sih. Ujung-ujungnya, aku memintanya untuk ganti lagi memakai baju dan celanaku. Selagi Aisaka ganti baju, aku pun mandi air hangat untuk menghangatkan tubuhku yang mendingin.

"……Fuu."

Aisaka…… dia sampai mukanya merah begitu, aku sudah melakukan hal yang buruk ya. Meski kejadian kali ini terlalu mendadak, kalau bisa aku ingin kembali ke saat sampai di rumah tadi.

"Tapi yang itu ya itu, yang ini ya ini……"

Tapi tetap saja…… sosok Aisaka yang berusaha keras memakai baju kakakku yang kecil itu akan kusimpan selamanya di dalam folder otakku.

"Waduh gawat gawat."

Gara-gara terlalu asyik berfantasi aku jadi mandi terlalu lama. Aku buru-buru mengeringkan badan, memakai baju baru dan menemui Aisaka…… tapi, entah kenapa aku merasa sangat gelisah.

"……?"

Ruang tamunya…… berisik?

"……Ja-jangan-jangan!?"

Bukannya aku tidak pernah memikirkan kemungkinan itu, tapi…… pokoknya karena sudah ada Aisaka di sini aku tidak bisa lari, aku harus menampakkan diri dengan berani!

"Ah, Masaki-kun!"

"Tunggu dulu, Kai! Kamu ini ya……!"

Yang menungguku saat kembali ke ruang tamu adalah Aisaka, dan kakakku. Karena sedang hujan lebat, rambut kakakku yang baru pulang juga sedikit basah tapi hanya segitu…… soal itu aku merasa lega, tapi bagi kakakku, melihat gadis asing yang tidak dia kenal memakai bajuku dan berada di rumah ini, situasinya benar-benar canggung.

"Aku sudah dengar ceritanya dari dia lho. Meski hujan lebat, hebat juga ya kamu masukin gadis yang basah kuyup ke dalam rumah."

"A-aku itu cuma……"

"Aku bukannya mau bilang kamu mesum atau apa kok. Aku malah terharu ternyata adikku ini orang yang baik ya."

Beneran nih…… kalau begitu sih baguslah.

"Ahaha…… itu, kakakmu orangnya baik banget ya? Aku juga sih, meski awalnya suasana waktu tatapan mata sama kakakmu itu luar biasa…… tapi setelah ngobrol sebentar ternyata jadinya begini."

"O-oh…… kalau gitu baguslah."

"Dia anak yang sopan dan baik ya. Padahal penampilannya kayak gal…… eh kalau bilang begini nanti kesannya aku punya prasangka buruk sama gal ya."

Benar lho itu prasangka! Tapi aku pun awalnya sempat berpikir hal yang sama soal Aisaka yang terlihat seperti gal sih…… beneran deh, prasangka itu tidak baik ya.

"Ngomong-ngomong, kenapa baju punyaku ada di sana?"

Saat itu, aku benar-benar sedang lengah…… siapa pun manusianya, kalau sedang lengah pasti bakal mengatakan hal yang tidak perlu dikatakan.

"Awalnya aku mau pakaikan ke Aisaka. Tapi karena bajunya punya kakak yang nggak beda jauh sama anak kecil jadi nggak mungkin muat——"

"……Humph!"

"Gafuh!?"

Seketika, sebuah pukulan backhand mendarat di perutku dengan kecepatan yang luar biasa.

◆◇◆

"Sialan! Apa-apaan sih, Kak!"

"Kamu itu selalu saja kebanyakan mulut! Oraaaaaaaa!"

"Keparat! Kakak pikir aku bakal kalah terus... guaaaaakh!"

Di depan mataku, Masaki-kun dan kakaknya sedang berkelahi…… yah, tidak sampai taraf itu sih, tapi mereka sedang melakukan adu teknik yang cukup sengit.

Awalnya aku terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba ini, tapi kalau dilihat dengan tenang, ini terasa seperti kakak-beradik yang sedang bercanda dengan sedikit kasar…… dan, Masaki-kun mungkin bakal marah kalau tahu, tapi melihat mereka malah membuat perasaanku jadi senang.

(Ahaha! Banyak sih temanku yang punya saudara, tapi baru kali ini aku melihat keakraban yang begitu terpancar nyata seperti ini.)

Keakraban…… benar-benar terasa sangat kuat. Bagi orang lain mungkin ini terlihat seperti pertengkaran, tapi aku benar-benar bisa memahami betapa dekatnya hubungan Masaki-kun dan kakaknya.

(Masaki-kun…… ternyata dia bisa pasang ekspresi wajah seperti itu juga.)

Itu adalah wajah yang tidak pernah dia perlihatkan di depanku maupun Saika…… wajah yang hanya bisa ditunjukkan kepada keluarga, sosok kakak yang paling bisa dia percayai lebih dari siapa pun.

"……………"

Sedikit saja, aku merasa iri pada kakaknya. Aku tidak tahu kenapa aku bisa merasa se-cemburu ini, tapi andai aku juga bisa bercengkerama seperti itu dengan Masaki-kun…… eh, bercengkerama bagaimana, apa sih yang aku pikirkan!?

"……Fuu."

Tapi bicara soal hari ini, benar-benar bencana ya. Padahal ramalan cuaca sama sekali tidak bilang akan hujan, tapi malah turun hujan sederas itu……!

Tapi…… aku merasa senang karena jadi bisa datang ke rumah Masaki-kun. Apalagi, apalagi! Sekarang aku sedang meminjam baju Masaki-kun…… ehehe, mungkin ini pertama kalinya ya…… aku merasa sesenang ini saat memakai baju laki-laki.

(Aku…… sebenarnya kenapa ya.)

Sejak bertemu Masaki-kun, aku sering sekali merasa seperti ini. Sampai sekarang, bisa dibilang aku hampir tidak punya titik temu dengannya, tapi karena masalahku sendiri dan masalah Saika…… berbagai hal terjadi sehingga waktu kebersamaanku dengan Masaki-kun bertambah, dan aku jadi lebih banyak berinteraksi dengannya.

(Aku…… suka waktu-waktu bersamanya.)

Aku suka menghabiskan waktu bersama Masaki-kun…… sekali lagi aku menyadarinya——bahwa itu benar adanya. Suara Masaki-kun sangat menenangkan, auranya juga penuh kehangatan dan kebaikan, terlebih lagi dia sangat mengkhawatirkanku…… jujur saja, aku sampai terpikir kenapa aku tidak menyadari keberadaan teman sekelas sehebat dia selama ini.

"Hei, Aisaka-chan."

"I-iya!?"

Mungkin karena sedang melamun, aku jadi sangat terkejut saat dipanggil oleh kakaknya. Masaki-kun masih dalam posisi dikunci dengan teknik bela diri, tapi sepertinya dia sudah menyerah untuk lepas dari kekangan kakaknya. Entah kenapa wajahnya seolah berkata 'jangan lihat penampilanku yang menyedihkan ini'.

"Aku ini kakaknya, jadi mungkin aku agak subjektif, tapi dia ini cowok yang bener-bener baik. Jadi aku bakal senang kalau ke depannya kalian tetap berteman akrab."

"T-tentu saja! Mulai sekarang dan seterusnya, aku ingin terus berteman baik dengan Masaki-kun!"

Kata-kata itu keluar begitu saja secara refleks. Kakaknya sempat membelalakkan mata karena suaraku yang keras, tapi dia segera tersenyum dan tampak sangat bahagia.

(……Benar-benar ajaib. Kakaknya ini badannya kecil atau lebih tepatnya kekanak-kanakan, tapi kenapa aura keibuannya luar biasa banget, ya?)

Wajar saja kalau aku berpikir sedikit kurang sopan begitu…… habisnya, ada gap yang besar dalam diri kakaknya.

"Ada apa?"

"Eh? Ah, tidak…… itu, aku cuma berpikir kalau Kakak benar-benar kakaknya Masaki-kun. Karena aku tahu Masaki-kun itu sangat baik dan orang yang hebat, jadi sudah sewajarnya kalau kakaknya juga orang yang sangat baik."

"Ara…… apa-apaan ini, ternyata zaman sekarang masih ada ya gadis SMA yang baik banget begini?"

Meski kata-kata itu keluar secara mendadak, itu benar-benar tulus dari hatiku. Karena kakaknya tampak senang, aku merasa lega karena tidak salah pilih kata…… lagipula kakaknya benar-benar imut, ya.

Akhirnya kakaknya melepaskan Masaki-kun dan mendekat ke arahku.

"Tapi ya…… aku tahu kalau Aisaka-chan itu anak baik, tapi apa pertumbuhan anak SMA zaman sekarang memang sepesat ini? Eh? Kenapa aku begini saja, padahal Aisaka-chan sampai sehebat ini……"

"A-ahaha…… tapi temanku ada yang gaya tubuhnya jauh lebih luar biasa, lho? Kalau tidak salah dia itu H-Cup."

"Eh, H-Cup!?"

Kakaknya mematung seolah baru saja disambar petir. Teman H-Cup yang kumaksud tentu saja Saika, tapi aku pun berpikir kalau gaya tubuh Saika memang luar biasa, jadi reaksi seperti itu wajar saja, kan?

"Dunia ini tidak adil…… padahal aku begini, tapi anak-anak yang lebih muda malah punya gaya tubuh sehebat itu……!!"

Melihat kakaknya yang meratap, Masaki-kun membuka suara.

"Dunia ini luas, tentu saja ada berbagai macam orang. Aku bukannya nggak paham kenapa Kakak merasa sesal begitu, tapi Kakak kan punya kelebihan sendiri. Kakak itu penuh dengan pesona sebagai manusia, jadi jangan pikirkan hal sepele begitu."

"Ka-Kai……!"

Mendengar kata-kata Masaki-kun, kakaknya langsung memeluknya dengan penuh haru. Masaki-kun tampak memasang wajah 'ya sudahlah', tapi kemampuannya untuk mengucapkan kata-kata seperti itu secara tulus adalah bukti kebaikannya…… fufu, benar kan, Masaki-kun itu memang orang yang baik dan lembut.

"……Tunggu, apa maksudmu hal sepele?"

"Hei, Kakak tahu kan maksudku bukan begitu?"

"Tahu kok~"

"……Puff!"

Aku tidak tahan untuk tidak tertawa melihat interaksi mereka yang lucu. Interaksi Masaki-kun dan kakaknya benar-benar menyenangkan untuk dilihat terus-menerus…… tapi, kalau aku yang melihat Masaki-kun begitu akrab dengan kakaknya malah memimpikan dia meminta hal mesum padaku setiap hari, apa itu artinya aku berdosa besar?

"……………"

Tapi, itu juga tidak bisa dihindari, kan…… soalnya di dalam mimpi yang kulihat hampir setiap hari itu, Masaki-kun yang biasanya memang baik terlihat menatapku dengan begitu lembut, dan tidak hanya itu, dia juga mendampingiku seolah ingin menyelamatkan hatiku. Ditambah lagi, di mimpi terakhir, Masaki-kun…… terlihat puas saat menyentuh dadaku.

"……"

"Aisaka?"

"Aisaka-chan? Wajahmu merah lho?"

"Ti-tidak ada apa-apa!"

Aduh, sudah deh! Bisa-bisanya aku memikirkan hal itu sampai begini…… tapi, habisnya Masaki-kun di mimpi itu meski mesum tapi sangat imut! Soalnya gap-nya luar biasa, lho!? Dia yang selalu mengkhawatirkanku yang punya luka di lengan gara-gara masalah mantan pacar dan keluarga…… dia yang begitu serius dan hebat, ternyata aslinya suka sekali dengan payudara. Gap itulah yang membuatku merasa dia menarik!

(……Aku ini kenapa jadi menggebu-gebu begini…… tapi, aku memang suka menghabiskan waktu bersama Masaki-kun!)

Pokoknya, aku harus menenangkan diri dulu.

"……Eh?"

Saat itu, tiba-tiba aku melihat pemandangan yang membuatku ragu pada mataku sendiri. Ada benang merah muda yang seolah menyelimuti kakaknya…… awalnya kukira aku salah lihat, tapi benang itu terus melayang-layang. Dan benang merah muda yang sama juga ada di telapak tanganku.

(Apa…… ini?)

Tapi itu hanya terjadi sesaat, di detik berikutnya semuanya lenyap tanpa bekas. Apa itu tadi……? Kenapa di telapak tanganku dan di sekitar Kakak ada……? Aku sama sekali tidak mengerti, tapi anehnya perasaanku tidak buruk…… malah sebaliknya, lewat benang itu aku merasa seolah punya kedekatan batin dengan kakaknya.

"Ada apa?"

"……Tidak."

Sepertinya aku membuat mereka khawatir karena melamun lagi. Kakaknya yang menengadah menatapku dari dekat, tiba-tiba menurunkan pandangannya perlahan dari wajahku…… menuju dadaku.

"Tadi aku juga sempat terpikir sih, tapi ini beneran luar biasa ya…… Hei Aisaka-chan, boleh aku sentuh payudaramu?"

"Hee? Kalau itu sih aku sama sekali tidak keberatan."

"Kalau begitu, permisi ya."

Kakaknya menempelkan tangannya dengan lembut ke dadaku, lalu meremasnya dengan tekanan yang berubah-ubah. ……Lho? Cara menyentuh ini…… mirip dengan Masaki-kun yang ada di mimpiku?

"Haa~ luar biasa ya. Kamu makan apa sih sampai bisa jadi begini……"

"He-hei Kak! Apa-apaan sih!"

Melihat tindakan kakaknya, Masaki-kun langsung memalingkan wajah. Ternyata benar…… cara menyentuh ini sama atau setidaknya mirip…… ternyata di bagian seperti ini pun mereka memang kakak-beradik, ya.

(Dan wajahnya yang malu itu…… benar-benar imut.)

Mengingatkanku pada dia yang ada di dalam mimpi…… haah, aku ini kenapa ya. Sambil menikmati interaksi dengan Masaki-kun dan kakaknya, di luar hujan sudah berhenti dan sinar matahari mulai masuk. Namun karena seragam dan pakaian dalamku belum kering sepenuhnya, hari ini aku memutuskan untuk pulang dengan meminjam baju Masaki-kun.

"Kalau begitu Aisaka-chan, datanglah main lagi kapan saja ya."

"Terima kasih banyak!"

Dilepas oleh kakaknya yang melambai, aku keluar rumah bersama Masaki-kun. Jarak dari sini ke rumahku lumayan jauh, tapi Masaki-kun bilang dia akan mengantarku. Tentu saja aku sempat menolak, tapi tidak hanya Masaki-kun, kakaknya pun menyuruhku melakukan hal yang sama.

"Masaki-kun, terima kasih ya."

"Nggak apa-apa kok. Seperti kata Kakak tadi, aku juga nggak mau kalau sampai terjadi apa-apa setelah kamu keluar dari rumahku."

"Kamu baik ya?"

"Hal begini sih belum masuk kategori baik. Aku cuma melakukan hal yang sewajarnya saja."

……Bisa mengatakan hal itu dengan wajah keren begitu, itulah yang namanya orang baik. Setelah itu, Masaki-kun mengantarku sampai benar-benar tiba di rumah, dan aku terus menatap punggungnya yang menjauh.

"……Ah."

Saat menatap punggung Masaki-kun, aku melihat pemandangan aneh lagi. Benang hitam yang menyelimuti Masaki-kun…… mirip dengan benang merah muda yang sempat kulihat tadi, tapi berbeda dengan itu, benang ini memberikan perasaan ngeri yang nyata.

"……Berhenti."

Aku tidak tahu fenomena apa ini…… tapi, aku merasa benang hitam itu akan membawa hal buruk pada Masaki-kun. Aku baru saja hendak berteriak secara refleks, namun benang merah muda yang muncul entah dari mana langsung menekan benang hitam itu sepenuhnya sampai menghilang.

"……?"

Mungkin karena aku menatapnya terlalu tajam, Masaki-kun menoleh. Sepertinya dia terkejut karena tidak menyangka aku masih memperhatikannya meski sudah sejauh ini, matanya membelalak kaget.

"Ahaha……"

Yah, wajar sih reaksinya begitu. Aku melambaikan tangan lagi tanda perpisahan, dan akhirnya Masaki-kun menghilang dari pandangan setelah berbelok di ujung jalan.

"Hujan deras tadi memang bencana, tapi pergi ke rumah Masaki-kun ternyata menyenangkan ya…… kakaknya juga sangat baik."

Apalagi, aku disuruh main lagi! Mengingat hal-hal yang baru saja terjadi membuatku tidak bisa berhenti senyum-senyum sendiri, sampai-sampai mungkin tetanggaku akan ngeri melihat wajahku. Tentu saja aku merasa malu ditatap seperti itu, jadi aku segera masuk ke rumah, menaruh barang di kamar…… lalu keluar lagi.

"Sayang kan kalau tidak keluar."

Alasanku keluar lagi adalah karena aku ingin memakai baju Masaki-kun sedikit lebih lama lagi. Karena sepertinya sudah tidak ada tanda-tanda akan hujan lagi, aku menikmati cahaya kemerahan dari langit dengan perasaan segar.

"~~♪~~♪"

Sambil bersenandung di tengah jalan, aku melihat seorang siswi. Siswi itu adalah adik kelas setingkat di bawahku…… kalau tidak salah, dia adalah gadis yang dijuluki Ratu Es. Namanya Honma Emu-san kalau tidak salah.

"Halo."

"……Halo juga."

Aku tahu nama dan wajahnya tapi tidak pernah berinteraksi, namun Honma-san menganggukkan kepalanya sedikit. Dia yang sama sekali tidak menunjukkan perubahan ekspresi…… benar-benar keren seperti rumor yang beredar. Tentu saja tidak ada interaksi lain, kami berpapasan begitu saja. Setelah Honma-san lewat, aku juga berpapasan dengan seorang pria yang matanya celingukan aneh, ada apa ya dengannya?

"……Orang mencurigakan?"

Sempat terpikir hal kurang sopan begitu, tapi karena kurasa itu keterlaluan, aku minta maaf dalam hati.

"……Ehe…… ehehe."

Tapi ujung-ujungnya, sesaat kemudian aku teringat lagi interaksi dengan Masaki-kun dan senyum-senyum lagi…… ah, iya. Mungkin hari ini lebih baik aku diam saja di rumah…… kalau tidak, bisa-bisa aku yang dilaporkan sebagai orang mencurigakan.

"Eh…… pesan?"

Tepat saat aku membalikkan badan menuju rumah, sebuah pesan dari Masaki-kun masuk.

Kita baru saja berpisah, tapi kamu nggak sakit, kan? Sekadar saran, mendingan kamu mandi air hangat biar rileks. Ya sudah, sampai ketemu besok di sekolah.

"……Ya ampun, kamu baik sekali sih."

Tidak perlu dikatakan lagi, hatiku menjadi hangat karena pesan dari Masaki-kun, dan senyumku makin tidak bisa ditahan. Aku membalas pesannya dengan ucapan terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku, lalu bergegas pulang.

Hanya saja…… ada satu hal yang mengganjal di pikiranku──sebenarnya tadi, saat berpapasan dengan Honma-san, aku merasakan sensasi yang aneh.

"……Rasanya mirip seperti saat dengan Kakak tadi."

Sesuatu yang mirip dengan apa yang kurasakan pada kakaknya Masaki-kun…… aku tidak bisa menjelaskannya, tapi aku merasa merasakannya lagi.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close