NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Te ni Ireta Saimin Appli de Yume no Harem Seikatsu o Okuritai Volume 2 Chapter 3

Chapter 3

Yuk, Coba ke Kafe Maid, Bro!


Beberapa hari telah berlalu sejak hari di mana aku dan Aisaka terjebak hujan deras yang luar biasa hingga basah kuyup.

Bagiku, setiap hari masih terasa menakjubkan karena aku terus menggunakan kekuatan si Partner kepada Aisaka dan Aguma.

Namun belakangan ini, aku merasa tekanan dari Aguma terasa begitu kuat... tepatnya, aku mulai merasakannya sejak sehari setelah insiden dengan Aisaka itu.

"Anu... Aguma-san? Kenapa suasana hatimu kelihatannya buruk sekali?"

"…… Entahlah."

Meski aku bertanya padanya, Aguma tetap bersikukuh menjawab tidak tahu.

Apa maksudnya dengan hipnotis...? Apa maksudnya dia tidak bisa berbohong...? Apa maksudnya dia tidak bisa menyembunyikan rahasia?

Meski berbagai pertanyaan itu berputar-putar di benakku, ekspresi Aguma yang sedang merajuk itu terlalu manis hingga aku jadi tidak peduli lagi... yah, sebenarnya aku peduli sih, tapi sensasi empuk yang kurasakan di lenganku seolah menghanyutkan segalanya.

Aku merasa diriku ini dangkal sekali, tapi laki-laki memang tidak akan pernah bisa menang melawan payudara. Titik.

"Ada apa? Mukamu kelihatan serius banget."

"Ah, nggak……"

Dua puluh persen pikiranku tertuju pada ekspresi Aguma yang penuh tekanan, dan delapan puluh persen sisanya tertuju pada sensasi "aset berharga" miliknya yang selalu membuatku merasa bahagia... Saat aku sedang melamun dengan pembagian konsentrasi seperti itu, Shogo yang tiba-tiba sudah berada di sampingku memanggil.

Aku tersentak dan kembali tersadar, namun aku sama sekali tidak ingat apa yang baru saja Shogo bicarakan.

"Yah, aku sudah duga sih kalau kamu nggak dengerin dari tadi."

"Maaf, aku tadi lagi mikirin sesuatu."

"Mikirin apa?"

Tentu saja aku tidak bisa bilang kalau aku sedang memikirkan Aisaka dan Aguma, jadi aku berusaha mencari alasan untuk menutupinya.

Sambil membayangkan dada besar mereka berdua yang masih membekas di kepalaku, aku berusaha sekuat tenaga menahan pipiku agar tidak kendur kegirangan, lalu memanggil Akira.

"Akira, ekskulmu gimana?"

"…… Kamu beneran nggak dengerin ya. Hari ini ekskul libur."

"Ah……"

…… Fuu, aku benar-benar tidak mendengarkan pembicaraan mereka berdua.

Setelah aku menyimak kembali, sepertinya Shogo dan aku yang biasanya punya banyak waktu luang sepulang sekolah ingin mengajak Akira bergabung. Mumpung Akira juga sedang senggang karena ekskulnya libur, dia mengusulkan agar kami bertiga menghabiskan waktu bersama.

"Kalau itu sih aku mau saja."

"Ada ide mau ke mana?"

Mendengar pertanyaan Akira, Shogo tersenyum nakal.

"Pertanyaan bagus! Begini, ingat tidak aku pernah cerita kalau di depan stasiun ada Maid Cafe yang baru buka? Bagaimana kalau hari ini kita bertiga menyerbu ke sana!?"

Pergi ke Maid Cafe? Mendengar usulan itu, aku dan Akira saling bertukar pandang.

Saat aku kembali menatap Shogo, napasnya tampak memburu karena saking bersemangatnya. Sepertinya dia benar-benar ingin pergi ke sana.

" Maid Cafe ya……"

"…… Aku pernah lihat di TV, tapi tempat seperti apa itu sebenarnya?"

Kebetulan aku sendiri belum pernah ke Maid Cafe, dan bagi Akira, tempat itu pasti terasa semakin asing lagi.

"Aku juga belum pernah, makanya aku nggak tahu! Tapi begini lho, pengalaman itu kan berguna buat masa depan! Sebagai pemuda sehat yang hidup di masa sekarang, setidaknya kita harus merasakan seperti apa rasanya Maid Cafe sekali seumur hidup!"

"Logika macam apa itu……"

…… Namun, aku setuju kalau tempat itu memang membuat penasaran.

Pengetahuanku tentang Maid Cafe hanya sebatas apa yang kulihat di manga, anime, atau game, jadi aku sama sekali tidak bisa membayangkan seperti apa wujud aslinya... Sejujurnya, aku sangat tertarik!

"…… Karena belum pernah, aku jadi penasaran juga sih."

"Kan, apa kubilang!? Kai saja setuju, gimana kalau kamu, Akira!?"

"O-oi, jangan dekat-dekat mukamu!!"

Berbeda denganku dan Shogo, Akira adalah anak klub sepak bola yang populer.

Aku mengira dia tidak akan setuju meski kami berdua sangat ingin pergi... Namun di luar dugaan, setelah berpikir sejenak, Akira memberikan jawaban yang mengejutkan.

"Begitu ya…… Baiklah. Kalau bukan karena kesempatan ini, aku mungkin nggak akan pernah pergi ke tempat seperti itu. Kalau kalian berdua pergi, ajak aku juga."

"Haha! Nah, gitu dong!!"

Mendengar Akira minta diajak, Shogo kegirangan bukan main.

Yah, aku sendiri pun merasa terkejut, tapi aku senang Akira mau ikut... Tidak, bukan begitu.

(Apa rasa senangku ini karena aku bisa menghabiskan waktu bareng teman-teman... ya?)

Begitu aku memikirkannya, perasaan itu terasa pas di hati.

Kalau mereka sedang terhipnotis mungkin lain ceritanya, tapi di kondisi sadar dan sebagai teman, aku tidak akan pernah sanggup mengucapkan hal memalukan seperti itu kepada mereka.

"Kalau begitu, ayo berangkat sekarang!"

"Oke."

"Sip."

Melihat tingkah Shogo yang terlihat sangat berdebar dan antusias, aku dan Akira hanya bisa tertawa kecil di belakangnya. Benar-benar pemandangan yang menggelikan.

Aku dan Akira memang tertarik pada Maid Cafe, tapi tetap saja, si bodoh yang satu itu berkali-kali lipat lebih antusias daripada kami.

"Ah, Masaki-kun!"

"Eh?"

Tepat saat kami tiba di rak sepatu, Aisaka dan Aguma sedang berada di sana bersama.

Begitu melihatku, Aisaka langsung memanggil, dan Aguma pun ikut menoleh mengikutinya.

Soal ekspresi Aguma yang sedikit cemberut itu... biarlah kusimpan dulu untuk nanti. Aku meminta Akira dan Shogo menunggu sebentar, lalu menghampiri mereka berdua.

"Aisaka, Aguma, kalian mau pulang bareng?"

"Iya~ rencananya kami mau mampir ke kafe sebentar."

"Heh."

"……………"

"…… Anu~, Aguma-san?"

Tatapan Aguma terasa menyakitkan!

Sambil menebarkan aura penuh tekanan yang mengingatkanku pada kondisinya saat terhipnotis, aku sama sekali tidak tahu apa alasan di balik wajah cemberutnya itu.

Aisaka yang berdiri di antara aku dan Aguma tampak menganggap situasi kami lucu. Dia tertawa kecil lalu mendekat ke arahku.

"……"

Aku membiarkan Aisaka mendekat dengan begitu alami.

Jantungku berdegup kencang karena aroma harum yang samar-samar tercium, namun aku memusatkan seluruh perhatianku pada Aisaka yang kini mendekatkan wajahnya ke telingaku.

"Aku belum bilang ke Masaki-kun, tapi kemarin aku cerita soal kejadian itu ke Saika."

"Kejadian kemarin... maksudmu hari itu?"

"Iya benar! Terus sepertinya Saika merasa agak kurang senang, atau lebih tepatnya... dia jadi sedikit cemburu padaku."

"…… Ooh?"

Saat aku melirik ke arah Aguma, dia memalingkan wajahnya lagi sambil mendengus pelan.

"Saika juga sama sepertiku, dia ingin lebih akrab lagi dengan Masaki-kun. Makanya begitu aku cerita kalau aku pernah main ke rumahmu, dia jadi begitu."

"…… Begitu ya?"

Yah, bagaimanapun juga... memang benar bagi Aguma, aku adalah teman dekat yang setara dengan Aisaka.

Aguma sekarang sudah jauh lebih ceria dan populer dibanding dulu... tapi sepertinya selain kami berdua, dia belum punya teman dekat lain.

"…… Kalau begitu."

Aku menghampiri Aguma dan mencoba bicara padanya.

"Anu, Aguma…… begini, lain kali…… apa kamu mau main ke rumahku juga?"

"……! Boleh?"

"A-ah, iya…… waktu Aisaka datang, namamu juga sempat disebut. Kakakku juga bilang kalau dia sangat ingin bertemu denganmu."

Wajah cemberutnya tadi langsung menghilang, dan kini dia menatapku dengan binar mata penuh harapan yang luar biasa sampai-sampai aku tidak bisa menarik kembali kata-kataku.

"Kalau begitu, aku juga mau ikut lagi!"

"Ah, iya…… silakan."

Maka, tanpa bisa melawan arus, satu janji pun terbentuk.

Mungkin karena aku belum terbiasa mengundang perempuan ke rumah, aku jadi menggunakan kakakku sebagai tameng... tapi kalau dipikir lagi dengan tenang, bukankah ini langkah yang hebat dariku?

Ini adalah pertama kalinya aku bisa menghabiskan waktu bersama mereka berdua di luar sekolah sejak di rumah Aisaka... Artinya, aku akan bisa menikmati momen kebahagiaan itu dalam waktu yang lama!!

(Mantap sekali…… guhehe)

Sambil menyembunyikan tawa menjijikkan yang mustahil kuperlihatkan di wajah, aku melepas kepergian mereka berdua dalam hati.

"…… Ah!"

Tiba-tiba, aku teringat akan keberadaan teman-temanku.

"…… Baiklah, mari kita menuju Maid Cafe!"

"Kamu tadi lagi mengalihkan pembicaraan ya……"

"Kamu beneran mengalihkan pembicaraan ya."

Habisnya kalau aku dicecar terus, suasananya bakal jadi merepotkan.

Daripada begitu, aku mengajak mereka jalan dan mereka berdua pun bergegas mengikutiku.

"…… Tapi ya, sekarang aku malah jadi merasa gugup."

Begitu mulai berjalan, Shogo langsung berujar demikian.

Apapun itu, pengalaman pertama memang selalu membuat gugup, dan aku pun merasakan hal yang sama.

Meski pada dasarnya ini adalah sebuah kafe, tapi tujuannya adalah Maid Cafe... Kemungkinan besar waktu untuk berinteraksi dengan perempuan akan sangat banyak, dan itu cukup membuatku tegang.

"Bukankah kita cuma bicara dengan perempuan yang pakai baju pelayan? Aku memang belum pernah jadi nggak tahu sih, tapi apa perlu segugup itu?"

"Cih! Beginilah kalau bicara sama cowok populer!!"

Shogo menepuk kepala Akira dengan pelan, dan Akira membalas dengan bertanya apa yang dia lakukan.

Adegan dua laki-laki yang sedang bercanda ini sama sekali tidak menarik untuk dilihat, tapi karena aku tahu betapa akrabnya kedua temanku ini, aku menikmati pemandangan tersebut.

(Ahaha…… ini juga punya sisi bagusnya sendiri. Memang asyik menggunakan hipnotis pada Aisaka atau Aguma sesuka hatiku, tapi menghabiskan waktu bareng teman-teman seperti ini ternyata tidak buruk juga.)

Setelah itu, aku pun ikut bergabung dalam percakapan mereka sambil menuju ke Maid Cafe.

…… Namun, di tengah waktu menyenangkan kami, muncul sesuatu yang mengganggu.

"……"

"Oi oi, apa-apaan kamu main tabrak saja!"

Tinggal sedikit lagi kami sampai di Maid Cafe yang dituju.

Saat itu, kami tidak sedang melengah dan hanya berjalan biasa, namun seorang laki-laki yang penampilannya memberikan kesan berandalan menabrak Shogo.

"Anu…… tadi itu kamu yang menabrak——"

"Hah!?"

Mendengar bantahan Shogo, laki-laki itu menatap dengan tatapan tajam yang mengancam.

Bagi Shogo yang tidak pernah berurusan dengan orang seperti itu, wajar jika dia merasa takut dan mundur selangkah.

Akira hendak maju untuk melindungi Shogo yang ketakutan, namun aku lebih cepat mengaktifkan si Partner——targetnya tentu saja laki-laki itu.

"…… Eh?"

"Kenapa dia……?"

"……………"

Laki-laki itu mendadak tampak melamun dan gerakannya terhenti sepenuhnya.

Shogo dan Akira terlihat bingung dengan apa yang terjadi. Bagi mereka, itu adalah pemandangan yang sangat aneh hingga mereka sedikit lupa kalau baru saja diganggu.

(Yah, mana mungkin mereka terpikir kalau ada yang namanya aplikasi hipnotis.)

Tapi, inilah kekuatan yang telah memberiku mimpi... Meski dalam bentuk seperti ini, terima kasih ya, Partner, karena sudah melindungi temanku!

"…… Mm?"

Tepat setelah aku berterima kasih pada Partner di dalam hati, aku merasa layar ponselku seolah bersinar, tapi... apa itu cuma perasaanku saja?

"Ah... sekarang bukan saatnya memikirkan itu."

Meski aku berhasil menghentikan gerakan laki-laki itu, aku tidak bisa membiarkan pemandangan aneh ini berlangsung terlalu lama.

Kecil kemungkinannya sih... tapi aku tidak mau keberadaan Partner sampai ketahuan... Kalau sampai itu terjadi, kehidupan merah jambuku bakal berakhir.

"Ini…… ada apa dengan dia?"

"Entahlah……"

"Dia nggak apa-apa……?"

Sambil berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi, aku mendekati laki-laki itu perlahan.

Laki-laki yang menatapku dengan mata kosong itu sudah sepenuhnya terhipnotis... tapi sayang sekali, aku tidak punya hobi dipandang oleh laki-laki dalam kondisi seperti itu!

"Cepat pergi dari sini dengan kecepatan penuh."

"…… Paham."

Laki-laki itu langsung berbalik dan berlari pergi dengan sangat cepat.

"Kai…… kamu tadi bilang sesuatu?"

"Nggak kok? Aku tadi cuma mendekat karena penasaran, terus dia tiba-tiba pergi begitu saja."

"Ooh……"

Sesuai dugaanku, kata-kataku sama sekali tidak dicurigai.

Merasa sudah cukup, aku melepaskan hipnotisnya... yah, kalau dia lari secepat itu, sekarang pasti dia sudah kelelahan dan tidak mungkin kembali lagi ke sini.

"Baguslah nggak ada kejadian apa-apa. Aku dan Shogo kan nggak terbiasa berkelahi, jadi malas kalau sampai adu jotos. Kamu juga, Akira, demi ekskulmu kan kamu pasti mau menghindari perkelahian apa pun bentuknya, kan?"

"Benar juga…… aku sampai keringat dingin tadi."

"…… Kai, jangan-jangan kamu tadi maju itu karena——"

Seolah memotong kata-kata Akira, aku bertepuk tangan dengan keras.

"Sudahlah, ayo lupakan kejadian buruk tadi di Maid Cafe!"

"Oh, benar juga!"

"…… Haha, ayo deh!"

Maka kami bertiga pun melangkah menuju Maid Cafe yang sudah terlihat di depan mata.

…… Alasan kenapa aku memotong kata-kata Akira bukan karena apa-apa, tapi karena masalahnya sudah selesai berkat kekuatan Partner.

Karena Akira sangat bersungguh-sungguh dengan ekskulnya berbeda dariku dan Shogo, masalah sekecil apa pun di luar sekolah bisa menghambat langkahnya... Jika ada kemungkinan sekecil apa pun perjuangan sahabatku akan sia-sia, aku tidak akan ragu menggunakan kekuatan Partner di tempat umum seperti tadi... Sesederhana itu alasannya.

◆◇◆

Meskipun sempat ada insiden, kami bertiga akhirnya menginjakkan kaki di Maid Cafe untuk pertama kalinya seumur hidup.

Begitu melangkah masuk, tempat itu benar-benar terasa seperti dunia lain.

Berbeda dengan kafe biasa, di sana ada gadis-gadis yang mengenakan seragam pelayan yang tidak biasa dilihat di tempat umum... Disambut dengan suara "Selamat datang kembali, Tuan Muda," aku yakin wajah kami bertiga pasti sudah memerah saat itu.

"Ini daftar minumannya yaaa~"

"Wah…… banyak sekali pilihannya!"

"Tuan Muda mau pesan yang manaaa?"

"Aku…… pesan yang ini saja deh."

Saat aku melirik, Shogo dan Akira sepertinya sudah mulai terbiasa, namun tidak denganku.

"……………"

"……………"

Sebab, pelayan yang berdiri di depanku... adalah orang yang sangat aku kenal.

"Tuan Muda, Anda ingin memesan apa?"

"Ah, iya…… anu……"

Aku memberanikan diri untuk melirik ke arahnya sedikit.

Gadis yang mengenakan seragam pelayan itu... adalah adik kelasku, dan dia adalah orang yang sebelumnya membuatku menyerah untuk menghipnotisnya karena hobinya yang mengerikan——Honma Emu.

"Anu…… bisa pesan es kopi saja?"

"Baik, saya mengerti."

Setelah membungkuk dengan sopan, Honma pun pergi.

(E-eh…… Apa-apaan ini!?!?)

Kenapa…… kenapa Honma ada di sini!?

Wajar saja kalau penampilannya berbeda dengan saat di sekolah, tapi aura yang dia pancarkan sekarang benar-benar berbeda dengan apa yang kulihat selama ini sampai-sampai aku butuh waktu sesaat untuk mengenalinya...

Meski dia terkenal dengan julukan Ratu Es, sepertinya bagi Akira dan Shogo, mereka tidak akan pernah membayangkan kalau Honma bekerja di tempat seperti ini... atau lebih tepatnya, karena mereka memang tidak pernah bicara dengan Honma, mereka sama sekali tidak menyadarinya.

"Oi oi Kai, jangan gugup begitu dong."

"Kamu kelihatannya kaku banget."

"…… Aku tahu kok."

Sepertinya kedua temanku lebih tertarik pada tingkahku daripada Honma... Yah, siapapun yang sadar kalau itu Honma pasti bakal jadi seperti ini juga... Haah.

Tapi benar-benar tidak menyangka kalau si Honma itu bekerja di Maid Cafe...

"…… Eh tapi, apa tidak apa-apa ya kalau dia kerja di tempat seperti ini?"

"Nggak masalah kok! Seperti yang kalian lihat, ini kan bukan tempat mesum, dan ini kafe yang membolehkan siswa SMA kerja paruh waktu."

"Heh……"

(……Dunia ini ternyata sempit ya, banyak hal yang nggak terduga.)

Meskipun saat masuk tadi Shogo dan yang lainnya juga menyadari keberadaan Honma, sepertinya sekarang mereka sudah terlalu asyik mengobrol dengan pelayan yang melayani mereka masing-masing.

(……Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku bicara lagi dengannya sejak saat itu.)

Sejak hari di mana aku pergi ke rumahnya dengan niat untuk melakukan hal sesukaku padanya seperti yang kulakukan pada Aisaka dan Aguma.

Yah, bagi Honma kejadian saat itu tidak ada dalam ingatannya, jadi dia tidak tahu kalau aku pernah bicara dengannya atau fakta bahwa hobinya yang Masochist sudah ketahuan olehku.




(Kalau begitu, haruskah kujadikan rahasia itu sebagai senjata untuk mengancamnya…… ah, nggak mungkin lah.)

Bisa dibilang…… meski aku sendiri pengguna aplikasi hipnotis dan kata-kataku tidak punya kredibilitas, tapi mengancam itu rasanya salah. Itu melanggar prinsipku.

Lagipula, intinya adalah bersenang-senang dengan gadis yang sedang terhipnotis; kalau sampai mengancam wanita yang masih sadar, itu sih namanya sudah bukan manusia lagi…… serius, aku benar-benar tidak punya hak bicara soal moral, sih.

(Tapi…… karena ini Honma, jangan-jangan dia malah senang? Atau justru dia bakal menatapku dengan tatapan sedingin es yang bisa membunuh orang?)

Apapun itu…… rasanya agak ngeri juga.

Saat aku sedang memikirkan hal-hal kurang sopan itu dalam skala besar, Honma kembali membawa es kopi yang kupesan.

"Mohon menunggu lama, Tuan Muda."

"Oh…… t-terima kasih."

Honma menyodorkan gelasnya dengan gerakan gesit, namun wajahnya tetap datar tanpa sedikit pun senyum. Aku sempat sangsi apa dia benar-benar bisa bekerja melayani pelanggan begini, tapi mungkin justru karena dia gadis cantik yang cocok dengan ekspresi datar ini, makanya terasa pas.

(Tapi kalau dilihat-lihat…… lumayan juga, ya.)

Aku mencuri pandang, mengamati Honma dari ujung kepala sampai ujung kaki dalam sekejap. Ada bando dan rumbai-rumbai di berbagai bagian bajunya, dan bagian itu memang terlihat manis…… tapi! Lebih dari itu, dia memang benar-benar cantik. Dan yang terpenting, meski tidak seukuran Aisaka atau Aguma, tubuhnya sangat proporsional dan tonjolan di bagian dadanya juga sangat luar biasa! Karena dia memakai tipe rok mini, paha montoknya juga tidak buruk…… Begitu ya, sepertinya seragam pelayan adalah The Best Equipment.

"Tuan Muda……?"

"Oh, maaf, maaf."

Gawat, gawat, aku harus fokus pada apa yang ada di depanku sekarang. Untuk mendinginkan kepalaku yang agak memanas, aku mengulurkan tangan ke es kopi yang sangat dingin itu. Namun saat tanganku hampir menyentuhnya, Honma menahanku.

"Tuan Muda, saya ingin merapal sihir agar minumannya jadi enak. Maukah Anda mengucapkan mantranya bersama saya?"

"Mantra?"

"Iya——Moe Moe Kyun. Tolong ucapkan bersama-sama ya."

"……………"

Ritual memalukan macam apa itu…… tapi ya sudahlah, di tempat seperti ini hal itu memang biasa.

"…… Baiklah."

"Apakah Anda gugup?"

"Yah, begitulah……"

"Tidak apa-apa kok kalau suaranya pelan, Senior."

"O-oh…… tunggu, kamu sudah tahu kalau itu aku?"

Ternyata Honma juga sudah menyadari keberadaanku. Aku mengikuti gerakan Honma, membuat simbol hati dengan jari-jariku.

"Moe moe…… Kyun."

"Moe moe Kyun"

Berbeda denganku yang suaranya gemetar karena malu, suara Honma terdengar sangat manis…… meski wajahnya tetap datar.

"Silakan dinikmati."

"Oke…… aku minum ya."

Ada apa ini…… padahal cuma minum saja tapi rasanya melelahkan sekali. Aku mengembuskan napas panjang, lalu akhirnya mencicipi es kopinya.

"…… Enak."

"Terima kasih, Tuan Muda."

Wah, tidak bohong, ini beneran enak. Sesuai dengan hasil riset kecil-kecilan yang kulakukan sebelumnya, meski kafe ini baru buka, pelayanannya dan rasa makanannya punya reputasi yang sangat bagus.

"Apakah cukup minumannya saja? Jika Anda merasa lapar, bagaimana kalau memesan makanan?"

"Aku penasaran sih, tapi karena ini sudah sore, kayaknya nggak usah deh."

"Begitu ya…… kalau begitu, mari kita masuk ke Talk Time bersama pelayan."

" Talk Time?"

"Iya…… anu, jangan-jangan Anda sama sekali tidak ingat penjelasan di depan tadi?"

"……………"

Maaf…… sepertinya gara-gara gugup, semuanya hilang dari ingatanku.

Saat aku mengakuinya, Honma tidak mengubah ekspresinya, namun dia menatapku seolah sedang melihat sesuatu yang merepotkan sambil menjelaskan kembali. Talk Time adalah waktu setelah memesan di mana pelanggan bisa menikmati obrolan sederhana dengan pelayan yang melayani meja mereka.

"Wah, Anzai-san sudah di sini sejak pembukaan toko ya!"

"Iya lhooo! Banyak pelanggan yang datang jadi terasa menyenangkan!"

"Ini seru banget ya. Aku jadi paham kenapa orang-orang sampai datang berkali-kali."

"Aduh, kamu bisa saja bicara begitu."

Dari meja sebelah, percakapan Shogo dan yang lainnya masih terdengar. Mereka sepertinya sangat menikmati waktu obrolan mereka, jadi kurasa tidak ada salahnya aku juga menikmati obrolan dengan Honma meskipun di tempat seperti ini.

(……Kukuku.)

Yah, lagipula aku memang berniat menjadikannya target "main-main" suatu saat nanti. Walaupun menggunakan kekuatan si Partner itu hal sepele bagiku, mari manfaatkan kesempatan ini baik-baik——aku akan mengumpulkan berbagai informasi.

"Honma……"

"Iya."

"…… Itu."

"?"

…… Sial, setiap melihat wajah datar Honma, kata-kataku langsung tertahan. Aguma juga sebenarnya kurang ekspresif, tapi karena aku akrab dengannya, hal itu jadi tertutupi…… Tapi aku tidak boleh terlihat payah dan gemetar di depan adik kelas sendiri. Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu menanyakan hal yang mengganjal.

"Sebenarnya kenapa kamu kerja di sini? Ah, kalau ini masalah pribadi yang nggak bisa dibicarakan, nggak apa-apa kok."

"Tidak, soal itu tidak masalah. Hari ini dia tidak masuk, tapi awalnya karena diajak oleh teman."

"Teman ya…… tapi Maid Cafe itu pilihan yang cukup langka, kan?"

"Saya juga berpikir begitu. Tapi yah…… ada sesuatu yang saya harapkan juga di sini."

"Hoo?"

Diajak teman adalah alasan yang klise, ternyata Honma kalau diajak bakal mau kerja di Maid Cafe juga, ya…… Tapi, saat Honma menyebutkan soal "hal yang diharapkan", dia terlihat sedikit tersipu.

"Sekarang boleh giliran saya yang bertanya?"

"Eh? Ah, iya."

"Senior…… apakah Anda sering datang ke Maid Cafe seperti ini?"

"Nggak, ini pertama kalinya aku ke tempat begini. Yang mengajak itu Shogo…… anak itu, tapi kupikir setidaknya sekali seumur hidup aku harus merasakannya."

"Sekali seumur hidup…… itu keputusan dengan skala yang cukup besar ya."

Lalu akhirnya, Honma mengulas senyum tipis. Jujur saja, tanpa tersenyum pun penampilan Honma sudah sangat menawan dan aku paham kenapa dia populer…… tapi dengan senyum kecil begini saja, rasanya julukan "Ratu Es" itu bisa langsung lenyap seketika. (Meskipun aku sama sekali nggak tahu gimana dia kalau di kelas, sih.)

Setelah itu, percakapan kami mengalir tanpa henti. Meskipun bayangan tentang Adult Toy atau interaksi di rumahnya sesekali mengganggu pikiranku, obrolan kami nyambung secara mengejutkan. Sejujurnya, aku tidak menyangka Honma ternyata seenak ini diajak bicara.

"…… Rasanya aneh ya."

"Eh?"

Aku memasang telinga saat mendengar Honma bergumam aneh.

"Saya biasanya tidak pernah bicara seperti ini dengan orang yang tidak terlalu akrab. Meskipun Anda adalah senior dari sekolah yang sama, saya merasa bicara dengan Anda itu sangat mudah sampai-sampai saya merasa aneh sendiri."

"O-oh, begitu ya……"

Bahkan Honma sendiri sampai terkejut ya…… aneh juga. Bagiku, tentu saja rasanya tidak buruk dikatakan begitu oleh gadis yang jarang bicara denganku, tapi di sisi lain aku juga merasa heran kenapa bisa begitu. Seandainya aku ini cowok tampan yang populer di kalangan gadis mungkin aku bakal paham, tapi sayangnya kenyataannya tidak begitu…… Sedih juga ya mengakuinya sendiri.

"Senior…… apakah kita pernah bertemu secara spesial sebelumnya, tapi sayangnya saya tidak ingat?"

"Eh?"

Honma mendekatkan wajahnya tiba-tiba. Di saat pelayan lain menjaga jarak tertentu, Honma seolah melompati batasan itu dengan mudah…… jaraknya begitu dekat sampai-sampai rasanya kami bisa berciuman jika bergerak sedikit lagi.

(……Dia beneran cantik banget.)

Selain wajahnya yang rupawan, aku merasa seolah akan tersedot ke dalam matanya.

"Senior, bagaimana…… menurut Anda?"

"Itu……"

Honma menatapku dengan mata yang seolah berkabut karena panas, namun tiba-tiba dia tersentak sadar dan menarik dirinya kembali.

"M-maaf…… saya bicara yang aneh-aneh."

"N-nggak apa-apa kok."

Cuma aku kaget saja tadi……

Suasana canggung masih menyelimuti kami berdua, dan sejujurnya aku jadi tidak berani menatap wajahnya secara langsung. Namun tiba-tiba, Honma bertepuk tangan.

"O-oh iya! Hari ini ada acara yang sedikit spesial, yaitu hari di mana pelanggan bisa memberikan perintah kepada pelayan dalam batas kewajaran."

"Perintah……?"

"Iya, pelayan itu kan memang harus mengabdi pada tuannya…… ini adalah acara untuk mewujudkan hal tersebut."

"Begitu ya……"

Yah, biasanya kan batasan antara pelanggan dan pelayan tidak akan hancur…… Jadi ini acara untuk benar-benar mewujudkan hubungan Tuan dan Pelayan.

"Dibilang begitu tiba-tiba juga bingung…… hmm."

"Apapun boleh, lho?"

"Apapun?"

Saat aku bertanya balik, Honma mengangguk tanpa ekspresi. Duh…… dibilang begitu pun, aku tidak bisa langsung terpikir sesuatu. Aku tahu ini cuma bagian dari acara, tapi tetap saja lawan bicaraku ini adalah adik kelas……

"Ayo Tuan Muda, berikan perintah Anda…… tolong minta seolah Anda ingin mendominasi saya."

"Mendominasi……?"

Honma-san…… sifat M-mu agak kelihatan tuh. Meskipun wajah aslinya datar, melihat pipinya yang sedikit memerah, aku merasa dia sedang sangat berharap.

"K-kalau begitu……"

"……………"

Saat itu, aku juga merasa agak aneh. Karena meski diajak begitu, aku malah keceplosan mengatakan hal yang seharusnya tidak pernah diucapkan di depan umum.

"Jilat…… jariku."

Seketika, aku merasa dunia berhenti berputar. Aku segera tersadar dan menyadari kalau perintah barusan itu benar-benar mesum, jadi aku berniat menariknya kembali secepat mungkin…… Namun, Honma langsung menggenggam lembut jariku yang tergeletak di meja.

"Jilat…… ya……♪ Baik, saya mengerti."

L-lho, kok dia malah tersenyum senang begitu!? Honma mengangkat tanganku…… mendekatkannya ke wajahnya, dan tepat saat jariku hampir benar-benar dijilat, gerakannya berhenti.

"…… Bercanda, tentu saja itu sulit dilakukan, Senior."

"I-iya, benar juga ya."

Dia menepuk punggung tanganku dengan ringan lalu melepaskannya.

"…… Yah begitulah! Aku tadi cuma bercanda, atau lebih tepatnya karena mendadak jadi pikiranku agak kacau!"

"Begitu ya? Kalau begitu kita sama…… mungkin. Saya juga entah kenapa merasa suasana hati saya lebih baik dari biasanya sampai ikut terbawa suasana."

…… Ah! Tunggu sebentar, jangan-jangan interaksi tadi dilihat orang lain……! Begitu aku melirik ke arah Shogo dan yang lainnya, aku mengembuskan napas lega karena tidak perlu khawatir.

"Aku juga suka anime itu lhooo♪"

"Serius!? Terus yang itu——"

"Semangat ya buat turnamen sepak bolanya!"

"Siap…… saya akan berusaha."

Mereka sudah larut dalam dunianya sendiri…… jangan-jangan mereka berdua bakal jadi pelanggan setia di sini?

"Ah, boleh minta tambah es kopinya?"

"Baik, Tuan Muda."

……Dipanggil Tuan Muda ternyata rasanya tidak buruk juga. Setelah itu, aku membasahi tenggorokanku yang mulai lelah bicara dengan es kopi yang dibawakan Honma.

Karena tempat seperti ini memang fokus pada obrolan, mungkin itulah alasan kenapa percakapanku dengan Honma terus berlanjut tanpa henti.

"Tapi ya……"

"Kenapa?"

Honma bergumam pelan.

"Saya tidak pernah bicara dengan teman-teman Senior, jadi wajar saja, tapi ternyata mereka benar-benar tidak tahu ya."

"Ah~…… sepertinya begitu. Habisnya, mana mungkin mereka terpikir kalau Honma bakal kerja di tempat seperti ini?"

"Benar juga."

Kalau tidak begitu, mana mungkin rahasia ini tidak terbongkar. Yah, alasan lainnya mungkin karena mereka berdua juga terlalu asyik mengobrol dengan pelayan masing-masing.

"Sudah hampir waktunya ya. Senior…… maksud saya, Tuan Muda?"

"Ya?"

"Terakhir, apakah Anda ingin mengambil Cheki?"

" Cheki……? Apa itu sejenis camilan?"

Apa itu Cheki……?

Aku sempat khawatir jangan-jangan ini hal yang memalukan kalau tidak tahu, tapi kebetulan Shogo dan Akira juga sedang mendapat penjelasan soal itu.

Ternyata Cheki adalah sebutan untuk foto berdua dengan pelayan yang melayani, dan Honma menawarkan hal itu sebagai penutup.

"Akan ada biaya tambahan, tapi……"

"Mumpung sudah di sini, aku mau deh."

Ada biaya tambahan?

Aku sudah jauh-jauh datang ke Maid Cafe dan diberi penawaran khas tempat ini, tidak ada alasan untuk menolak. Honma memanggil pelayan lain untuk memotret kami.

Honma berdiri di sampingku dan mendekatkan tubuhnya…… Aku terkejut karena jaraknya begitu dekat sampai aku berdebar menghirup aroma harumnya.

"Tuan Muda? Ada apa?"

"Ah nggak…… aku cuma kaget ternyata jaraknya sedekat ini."

"…… Karena ini Senior, saya rasa jaraknya memang sengaja sedikit lebih dekat. Lagipula, coba lihat ke sana."

Dia menunjuk ke arah sahabatku yang juga sedang bersiap difoto…… Akira sih biasa saja, tapi Shogo beneran terlihat kegirangan sampai lubang hidungnya kembang kempis.

Tapi sepertinya tingkah Shogo itu justru jadi bahan hiburan buat pelayan di sana, dia malah banyak melakukan kontak fisik untuk menggodanya.

"Teman Senior…… polos sekali ya."

"Jangan bilang begitu…… tapi meskipun itu bukan aku, rasanya malu banget lihatnya."

Mari lupakan teman-temanku sejenak. Karena pelayan yang memegang kamera sepertinya sudah mulai tidak sabar, aku memantapkan hati.

"Kalau begitu Tuan Muda, mari kita tempelkan tangan kita dan membentuk lambang hati."

"Oke."

Begitu ya…… cara fotonya begitu. Semuanya terasa segar dan baru bagiku, membuat simbol hati dengan tangan bersama seorang gadis dan mengabadikannya dalam foto sepertinya bakal jadi kenangan yang bagus.

"Oke, saya foto yaaa~"

"Ah, iya!"

"Senior, jangan kaku-kaku dong."

"…… Aku tahu kok."

Godaannya Honma membuat keteganganku sedikit mencair. Foto yang diambil langsung dicetak, dan Honma mulai menulis pesan di foto itu.

"…… Sip, sudah selesai. Ini, Senior."

"Terima kasih."

Di foto yang diberikan Honma, tentu saja ada fotoku dan dia.

"…… Mukaku kaku banget ya?"

"Fufu, makanya tadi saya bilang jangan kaku-kaku, kan?"

Nggak…… padahal aku merasa sudah cukup santai pas difoto tadi, tapi pas kulihat hasilnya ternyata ekspresiku menyedihkan…… tapi ya sudahlah, anggap saja ini foto yang punya "karakter" tersendiri.

"Aduh, maaf!"

"Kyaa!?"

Tiba-tiba, pelayan lain yang sedang terburu-buru menabrak Honma. Akibat benturan itu, Honma sedikit kehilangan keseimbangan dan jatuh ke arahku, jadi aku refleks menangkapnya.

"Kamu nggak apa-apa?"

"I-iya…… maaf ya Senior."

Benturan tadi tidak mungkin sampai melukainya, tapi menanyakan keadaannya adalah hal yang wajar bagi seorang pria…… tapi tunggu, ini nggak ketahuan kan?

(Posisi tanganku gawat banget……)

Tangan kiriku yang menahan tubuhnya ternyata menyentuh dadanya.

Hanya dengan sedikit tekanan saja, jariku pasti akan tenggelam ke dalam daging yang lembut itu…… tapi, aku tidak akan melakukannya!

Di saat kekuatan si Partner tidak aktif, aku tidak akan melakukan hal seperti itu!

Akhirnya, sampai akhir pun Honma tidak menyadari hal tersebut. Karena waktu kami sudah habis, kami pun keluar dari toko.

"Wah, tadi itu benar-benar luar biasa!"

"Jujur, tadinya aku meremehkan tempat itu…… kalau ada waktu luang aku mau ke sana lagi."

Shogo dan Akira terlihat sangat puas, terlihat jelas kalau mereka benar-benar merasa rileks.

"Ngomong-ngomong, pelayan yang melayani Kai tadi cantik banget ya?"

"Rasanya aku pernah lihat dia di suatu tempat…… tapi yah, semua pelayan di sana memang cantik! Wajar kalau Kai gugup, nggak kayak kita!"

"Berisik tahu!"

Lagipula, kalian berdua juga tadi asyik banget sama pelayan kalian masing-masing sampai nggak sadar kalau itu Honma, kan!? Terutama kamu, Shogo!

…… Haah, hari ini aku banyak menghela napas.

Tapi…… kenapa obrolanku dengan Honma tadi bisa sangat nyambung ya?

Honma juga bilang kalau bicara denganku itu anehnya sangat mudah…… akhirnya alasan itu tetap menjadi misteri.

(Tapi…… kuku.)

Aduh, kalau aku tidak waspada, senyum menjijikkan ini bisa keluar.

Alasannya kenapa…… sederhana saja——Memang sebelumnya aku sempat ciut gara-gara interaksi dengan Honma dan sempat mengurungkan niat untuk melakukan hal sesukaku padanya.

Begitulah dampak guncangan saat bertemu Masochist sungguhan, tapi interaksi hari ini tidak hanya meredam dampak tersebut, tapi justru benar-benar membangkitkan hasratku terhadap Honma!

"Sudahlah soal aku. Ngomong-ngomong, habis ini mau ke mana?"

"Mencurigakan…… yah, sudahlah. Hari ini kita bubar saja di sini, gimana?"

Mendengar kata Shogo, aku dan Akira mengangguk.

"Boleh, kita bubar saja."

"Oke. Serius, tadi itu asyik banget. Sesekali ide mendadak Shogo nggak buruk juga."

"Apa maksudmu 'sesekali'!?"

Setelah kami bertiga tertawa bersama untuk terakhir kalinya, kami pun berpisah.

Shogo dan Akira langsung pulang karena tidak ada keperluan lain, tapi aku masih punya sesuatu yang ingin kulakukan.

"Nah sekarang, pas sekali dengan waktu Honma pulang kerja."

Sebenarnya tadi aku sempat bertanya secara tidak langsung jam berapa dia selesai kerja. Dia memberitahuku tanpa curiga sedikit pun, apa itu juga karena dia merasa nyaman bicara denganku?

"Yah, mending kutanya langsung nanti! Ayo berangkat!"

Aku menepuk kedua pipiku untuk menyemangati diri, lalu kembali ke area sekitar Maid Cafe.

Setelah menunggu sebentar, Honma keluar dari pintu belakang toko, jadi aku segera menghampirinya dan mengaktifkan si Partner.

"…… Sip."

Maka, aku berhasil membuat Honma terhipnotis dan membawanya menjauh dari sana.

"Aduh maaf ya Honma. Padahal kamu bilang begitu tadi, tapi aslinya aku ini cuma berandalan yang menghipnotis gadis dan melakukan hal sesukaku, lho."

"……………"

Hmm…… berbeda dengan Aisaka atau Aguma, tidak ada reaksi khusus terhadap kata-kataku. Yah, mereka berdua juga awalnya begini sih, mungkin ini yang normal…… Kalau dipikir-pikir, Aisaka dan Aguma itu sebenarnya kenapa ya.

"Hmm…… Honma sudah terhipnotis, tapi karena sudah jam segini, aku nggak bisa main-main terlalu lama. Sama seperti keluargaku, Honma pasti juga nggak mau membuat keluarganya khawatir."

Terus kenapa aku tetap melakukan ini? Cih! Justru karena aku tahu batasan mana yang aman…… itulah yang namanya disiplin.

"Ada taman di dekat sini, ayo ke sana."

"Baik."

Maka kami berdua tiba di taman, duduk di bangku dan menenangkan napas sejenak.

"…… Fiuuh."

Bukan karena lelah fisik…… tapi karena aku merasa tegang akan melakukan hal "guhehe", makanya aku merasa agak capek.

"Rasanya nostalgia ya…… awal-awal dengan Aisaka dan Aguma juga begini."

Nostalgia…… benar-benar kenangan yang sangat membekas.

"……………"

"Kukuku, padahal sebentar lagi akan kupermainkan sesukaku, tapi wajahmu tetap tenang ya, Honma."

Dia hanyalah boneka yang hanya bisa menatapku dengan tatapan kosong.

Namun…… karena ini di taman yang merupakan tempat umum, masih ada beberapa anak kecil yang sedang bermain.

"…… Yah, kayaknya buat nyuruh kamu buka baju harus lain kali deh. Meski nggak seukuran mereka berdua, nanti bakal kuremas juga kok payudaramu itu."

"……………"

"Kalau begitu, bisakah kamu memeluk lenganku dari sana?"

"Saya mengerti."

Karena ada orang lain, mungkin batasannya cuma sampai di sini. Walaupun ada orang, sepertinya anak-anak maupun wali mereka tidak peduli dan tidak menoleh ke arah kami sama sekali. Sepertinya tidak ada kenalan Honma juga di sini, jadi tidak akan ada rumor aneh yang beredar.

"Permisi."

"Oho!?"

Gara-gara terlalu asyik melamun lagi, aku jadi lengah padahal itu permintaanku sendiri…… sensasi lembut yang tiba-tiba terasa di lenganku benar-benar luar biasa, terlepas dari ukurannya.

"Tolong tetap begitu sebentar…… ah, ini benar-benar momen yang menenangkan."

"Saya mengerti."

Setelah itu, sesuai kata-kataku, aku membiarkannya tetap di posisi itu untuk sementara. Menikmati sensasinya secara perlahan memang tidak buruk, tapi aku menyuarakan hal yang ingin kutanyakan.

"Hei Honma, soal interaksi tadi…… saat aku bilang 'jilat', bukannya kamu kelihatan senang?"

"Benar…… Ah, saat itu saya merasa... orang ini sedang menaklukkanku…… aku ingin dia melakukannya, begitulah pikiranku."

Ternyata beneran! Mendengar jawaban langsung yang sejujur itu, aku yakin kalau instingku sama sekali tidak salah.

"Kalau begitu aku tanya lagi ya? Apa alasanmu bekerja di Maid Cafe selain karena diajak teman…… dan apa 'hal yang diharapkan' itu?"

"Saya berharap ada seseorang yang muncul dan menjadi Tuan saya. Berbeda dengan di sekolah, di sini ada banyak macam orang yang berkunjung."

"Ternyata beneran itu alasannya!!"

Aku memberikan sentilan pelan yang sama sekali tidak sakit di dahinya.

"…… Ternyata dia memang Masochist kelas berat."




Yah…… kalau tidak begitu, mana mungkin dia membawa borgol, tali, atau Adult Toy, bahkan sampai pergi ke sekolah tanpa memakai celana dalam…… benar juga ya!

"Honma……"

"Masih ada yang ingin Senior tanyakan? Silakan tanya lebih banyak lagi…… aku tidak punya rahasia apa pun yang kusembunyikan."

"Hei, kenapa kamu malah makin antusias begitu? Kenapa wajahmu memerah? Ah, waktu pertama kali dulu kamu juga begini ya!?"

"Tusukan pertanyaan yang bertubi-tubi…… menusuk…… fufu."

"……………"

Ah, iya…… julukan Ratu Es itu terlalu remeh untuknya.

Ternyata gadis ini adalah Ratu Mesum…… meski aku bukan dalam posisi bisa mengatai orang lain mesum, tapi gadis ini…… kuharap dia tidak tertimpa masalah kedepannya.

Karena dia mencari rangsangan untuk memuaskan hasratnya tidak hanya di sekolah tapi juga di luar, kuharap dia tidak terlibat tindak kriminal yang aneh…… Kalau sampai ada om-om mesum yang tahu gadis cantik seperti Honma punya hobi begitu, mereka pasti bakal berkerumun seperti lalat.

"Honma…… aku nggak berniat menceramahi hobi orang lain, dan menurutku keseksianmu itu juga nggak buruk. Tapi…… kalau kamu sampai terjebak oleh orang dewasa yang aneh-aneh gara-gara sifatmu itu, bakal repot lho."

"…… Anda mencemaskanku?"

"Yah…… begitulah. Soalnya aku sudah diperbolehkan merasakan payudaramu menempel begini, dan sudah pernah diperlihatkan tubuhmu yang hampir telanjang juga. Sebagai laki-laki, sudah sewajarnya aku mencemaskan wanita yang memberiku waktu bak mimpi seperti itu."

Habisnya, kalau terjadi sesuatu pada Honma, aku kan jadi nggak bisa melakukan hal-hal enak seperti ini lagi.

"…… Senior itu baik, ya. Saat seperti ini, aku seolah bisa melihat inti kebaikan yang Senior simpan."

"Jangan bicara mirip seperti Aisaka dan Aguma dong……"

"Tadi di toko aku bilang kalau Senior itu enak diajak bicara, mungkin itu penyebabnya."

Hmm…… aku sama sekali nggak paham. Tapi karena Honma sekarang dalam kondisi tidak bisa berbohong…… dipuji begitu rasanya menyenangkan juga.

"Hubunganmu dengan keluarga baik-baik saja, kan?"

"Eh? Iya."

"Kamu nggak menyakiti diri sendiri, atau mendapat kekerasan fisik dari mereka, kan?"

"Tidak ada."

Sip, kalau mengecualikan hobinya yang merepotkan itu, tidak ada nilai minus dalam diri Honma.

Meskipun tidak bisa hari ini, setidaknya lain kali aku bisa mengerjainya dengan hal-hal mesum atau melakukan hal sesukaku dengan perasaan lega.

"Nggak ada hal yang membuatmu kesulitan, kan? Mana mungkin ada!"

Mendengar kata-kataku yang penuh percaya diri itu…… Honma tidak mengangguk.

"…… Honma-san?"

Kenapa kamu malah diam di situ……? Aku mengintip wajahnya, dan tiba-tiba aku merasakan deja vu yang luar biasa…… anu, jangan-jangan……? Instingku di saat seperti ini selalu saja sangat akurat dalam arti buruk…… aku tahu perasaan ini.

Lalu, Honma mulai bicara.

"Hal yang membuatku kesulitan…… sebenarnya, aku sedang menjadi korban semacam penguntitan (stalking)."

"…… Ha-ah?"

Perlahan aku menaruh tangan yang tidak dipeluk Honma ke dahi, lalu menengadah ke langit sambil mengembuskan napas panjang.

"…… Hei, Partner, kamu serius nggak lagi memanipulasiku buat dipertemukan sama gadis-gadis bermasalah, kan?"

Aku mencoba melontarkan pertanyaan yang sama seperti waktu itu ke arah ponsel di sakuku, tapi tentu saja tidak ada jawaban.

Aku mendesah, dan meski tidak sampai taraf putus asa, bahuku langsung merosot lemas karena kejadian "lagi-lagi seperti ini".




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close