NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Te ni Ireta Saimin Appli de Yume no Harem Seikatsu o Okuritai Volume 4 Chapter 8

Chapter 8

Ini Akhirnya! Makasih Banyak, Semuanya!

"Kai-kun."

"Ya."

Hari ini pun sama seperti biasanya, begitu kuliah selesai, Mari langsung memanggilku.

"Hari ini pun kamu sudah bekerja keras ya."

"Yah, begitulah... hoaaam."

Sambil menguap lebar, aku keluar dari ruang kelas bersama Mari.

"...Sudah cukup lama berlalu sejak saat itu, ya."

Berawal dari kejadian tak terduga bertemu dengan aplikasi hipnotis... Partner, hingga perpisahan kami, kini hampir dua tahun telah berlalu. Aku sudah lulus SMA dan sekarang berkuliah di universitas.

Meski aku harus berpisah dengan sahabat baikku sejak SMA, Akira dan Shogo, karena kelulusan, namun Mari dan Saika masuk ke universitas yang sama denganku sehingga kami selalu bisa bertemu muka. Emu pun seolah mengejar kami dan masuk ke universitas ini, jadi bahkan setelah lulus SMA pun kami tetap selalu bersama.

"Nah, ayo kita jemput Saika."

"Ehm!"

Karena Saika berada di jurusan yang berbeda, kami melangkah menuju ruang kelasnya. Berjalan di koridor kampus seperti ini, Mari yang ada di sampingku menarik banyak perhatian. Alasan utamanya pasti karena pesona Mari yang memang sudah cantik kini makin terpancar dewasa. Yah, soal ini tidak hanya berlaku untuk Mari saja, tapi juga untuk Saika dan Emu.

"Ada apa?"

"...Enggak, cuma merasa kamu benar-benar cantik saja."

"Terima kasih♪ Kai-kun juga selalu keren kok."

" Thanks."

Hampir dua tahun... waktu yang terasa panjang namun singkat bagi kami. Gadis-gadis ini terlihat mendekati usia dewasa dengan begitu jelas, dan itu benar-benar membuatku tergila-gila tanpa henti. Seiring berjalannya waktu, pesona mereka bertambah tanpa batas, dan terkadang itu memicu sedikit 'masalah'.

"Ah, ketemu... hei, dasar!"

Aku baru saja melihat sosok Saika, tapi Mari sudah berseru dengan tatapan tajam. Saika sedang didekati oleh seorang laki-laki. Berbeda dengan masa SMA, di tingkat universitas seperti ini banyak orang yang mencoba menggoda, bahkan ada yang memaksa—inilah yang kusebut sebagai 'masalah' tadi.

"Saika."

"Kami datang, Saika!"

Begitu kami memanggil Saika yang sama sekali tidak menyembunyikan ekspresi terganggunya, dia langsung berlari ke arah kami.

"Kai-kun! Mari-san!"

"Maaf Saika, membuatmu menunggu."

"Tidak apa-apa kok."

"Baguslah, kamu tidak diapa-apakan, kan? Kalau begitu, ayo pulang."

"T-tunggu sebentar—"

Kami mulai melangkah pergi, tapi laki-laki yang tidak mau menyerah mengejar Saika itu dengan gigih mengulurkan tangannya. Tentu saja aku dan Mari tidak membiarkannya. Begitu kami memelototinya dengan tajam, dia langsung terdiam dan tidak berani bicara lagi.

"Maaf ya, kalian berdua."

"Jangan minta maaf. Saika juga sudah terus menyampaikan penolakanmu, kan? Dia saja yang keras kepala, jadi dia yang salah."

"...Rasanya aku ingin bilang saja kalau kalian semua adalah pacarku."

Tentu saja ini hal yang wajar, tapi hubungan kami tidak diketahui oleh orang-orang di sekitar. Meski begitu, karena waktu yang kami habiskan bersama sangat banyak dan interaksi kami terlihat sangat akrab, orang-orang sepertinya sudah menduga kalau kami bukan sekadar teman biasa.

"...Hup!"

"Kyaa♪"

"...♪"

Setelah memastikan pandangan orang di sekitar berkurang, aku merangkul kedua gadis di sampingku ini.

Bersamaan dengan itu, aku menempelkan tanganku di dada mereka dan meremasnya pelan... Dada mereka yang tumbuh makin besar sejak SMA menyelimuti telapak tanganku dengan kehangatan dan elastisitas yang luar biasa. Hebat sekali ya... niatnya aku ingin meremasnya dengan tangan, tapi yang ada tanganku malah tenggelam dalam kelembutan mereka.

"Aduh, Kai-kun ini..."

"Kamu makin mesum saja ya... meski kami sendiri tidak punya hak bicara soal itu."

Memiliki kekasih-kekasih berkualitas tinggi di sisiku, aku tidak akan pernah bosan melakukan hal seperti ini berapa kali pun. Ini adalah bukti bahwa aku sangat tergila-gila pada mereka, jadi aku malah merasa bangga.

"Waktu SMA juga begitu, tapi setelah jadi mahasiswa pun tidak ada yang berubah ya. Sepertinya sampai kapan pun aku akan tetap jadi bocah mesum."

"Kami tidak benci sisi mesummu kok, malah kami ingin kamu melakukannya lebih sering lagi♪"

"Benar sekali. Kai-kun harus lebih dan lebih lagi menginginkan kami."

"Haha, terima kasih ya."

Lihat, karena mereka bicara begitu, rasanya benar-benar yang terbaik. Baiklah, kalau kami terus bermesraan di sini, aku tidak tahu apa yang akan dikatakan Emu nanti. Aku melepaskan tangan dari dada Mari dan Saika, lalu tak lama kemudian kami sampai di tempat pertemuan dengan Emu.

"Ah, Senpai semua!"

Sama seperti Saika tadi, Emu langsung berlari mendekat begitu melihat kami.

Sebutan 'Ratu Es' untuknya sudah jadi kenangan lama, namun sama seperti Mari dan yang lainnya, setelah menjadi mahasiswa Emu makin terlihat seperti wanita dewasa.

Hal ini membuat Emu mendapat perhatian dari para laki-laki melebihi Mari dan Saika.

"Kai-senpai!"

"Ups."

Aku menangkap Emu yang langsung melompat ke pelukanku. Ekspresi Emu yang melunak bahagia sama sekali tidak menunjukkan wibawa seorang Ratu Es, tapi memang Emu hanya menunjukkan ekspresi seperti ini saat berada di dekat kami.

"...Hmm?"

"A-ada apa?"

Tiba-tiba, Emu mulai mengendus aroma tubuhku. Aku hanya bisa tersenyum pahit karena sudah menduga akan ketahuan, dan benar saja, Emu langsung menggembungkan pipinya dan berkata:

"Senpai bermesraan lagi ya di tempat yang tidak ada aku...? Aku mencium aroma Senpai yang sedang dalam suasana hati mesra!"

"Kenapa kamu bisa tahu sih!"

Yang dimaksud Emu adalah kejadian aku meremas dada Mari dan Saika tadi. Dia sendiri bilang tidak terlalu paham kenapa, tapi sepertinya suasana hatiku yang sedang mesum langsung tersampaikan lewat aroma... Benar-benar kemampuan yang aneh ya.

"Kamu hebat ya bisa tahu, Emu-chan."

"Tentu saja tahu! Jadi, apa yang Senpai lakukan?"

"Aku meremas-remas dada mereka."

Ah... aku mengatakannya. Begitu mendengar itu, Emu langsung membusungkan dadanya ke arahku.

Tonjolan yang terlihat jelas dari balik pakaiannya itu bergoyang, dan ukurannya pun sudah tumbuh lebih besar dari masa SMA.

Meski begitu, ukurannya belum bisa menandingi Mari dan Saika, jadi bayangkan saja betapa besarnya mereka semua... Wah, benar-benar yang terbaik!

"Ini tidak adil, jadi aku juga—"

"Hup!"

"Annh♪"

Tentu saja aku melakukannya setelah memastikan tidak ada orang yang melihat.

Aku meremasnya lebih kuat dari Mari dan Saika tadi... tidak, lebih tepatnya aku meremas-remasnya sampai pakaiannya kusut. Emu mengeluarkan suara manja yang bahagia sambil menggoyangkan tubuhnya.

Omong-omong, kegiatan meremas dada ini bukan sekadar bentuk kontak fisik biasa... ini juga merupakan ajakan bagi kami untuk saling mencintai dengan hebat setelah ini.

"Baiklah, ayo pulang."

"Iya♪"

"Ayo cepat pulang."

"Baik♪"

Yah... sepertinya hari ini pun aku harus berjuang keras! Begitulah, tanpa mampir ke mana pun, kami kembali ke apartemen sewaan kami. Kami berempat tinggal bersama di sini.

Sebenarnya ini adalah keinginan kami sejak lama, dan berkat bantuan Kakak serta banyak orang lainnya, kami bisa menjalaninya sekarang.

Melelahkan memang, tapi ini adalah hasil dari usaha keras kami semua.

"Kai-kun, cepat, cepat"

Begitu kembali ke kamar, Mari yang sudah tidak sabar langsung menarik tanganku.

Aku melempar tas ke sofa ruang tamu, lalu meningkatkan gairah dengan ciuman panas yang melibatkan lidah... Tentu saja bukan hanya Mari, aku juga bertukar ciuman panas itu dengan Saika dan Emu.

"...Haha, sepertinya kalian sudah siap sepenuhnya ya."

"Kita semua sama saja kan"

"Kai-kun, ayo cepat"

"Kai-senpai, ayo segera ke sini"

Meskipun baru pulang dan hari masih terang, karena hanya ada kami di sini, kami bebas melakukan apa pun.

Sambil mematri rasa syukur atas kehidupan bahagia ini di dalam dada, aku merebahkan diri di atas mereka yang sudah mengeluarkan aroma menggoda.

◆◇◆

Saat ini, aku bisa bilang bahwa aku benar-benar bahagia. Hari-hari yang kujalani bersama Mari, Saika, dan Emu—gadis-gadis yang sangat kucintai dan kusayangi ini—begitu sempurna hingga tidak ada satu pun keluhan yang keluar.

Yah, aku sudah bersiap kalau tinggal bersama pasti akan muncul beberapa ketidakpuasan, tapi ternyata baik aku maupun mereka tidak merasakan hal itu sama sekali, sungguh luar biasa... Mungkin secara ajaib, kecocokan kami memang sangat sempurna.




"Hei Partner, kamu melihatnya, kan?"

Sejak Partner pergi, aku tidak pernah sekalipun melupakannya. Ada saat-saat di mana aku merasa kesepian, tapi bagiku, rasa sepi itu adalah perasaan berharga yang membuatku bisa mengenangnya kembali.

"Kami sekarang menjalani hidup seperti ini, tahu? Semuanya tersenyum... semuanya puas dengan keadaan sekarang... dan kami berjuang keras agar bisa terus seperti ini selamanya."

Sambil menggumamkan hal itu, aku mengintip ke layar ponselku. Yang terpantul di mataku hanyalah layar ponsel biasa yang selalu kulihat, dan tentu saja aplikasi hipnotis itu sudah tidak ada.

"Kai-kun?"

"Mari ya?"

"Ehm."

Mari tiba-tiba muncul dan berdiri di sampingku.

"Jangan-jangan, kamu sedang memikirkan Partner?"

"Ya."

Sepertinya suasana saat aku sedang melamun begini langsung bisa ia pahami. Namun, karena Mari tahu aku tidak sedang bersedih seperti biasanya, dia tidak menunjukkan tatapan cemas. Dia hanya menggenggam tanganku dengan lembut sambil tersenyum.

"Aku cuma berpikir, apa Partner sedang melihat kita sekarang. Kalau dia melihat, dia pasti akan merasa senang, kan?"

"Pasti dia senang. Lagipula, lihatlah kita, kita menjalani hidup dengan sangat bahagia sekarang."

"Benar juga."

Mulai sekarang pasti akan banyak hal sulit yang terjadi, tapi kami pasti bisa melaluinya. Mungkin orang akan menertawakanku karena ini terdengar seperti optimisme belaka, tapi dalam hal seperti ini, memiliki tekad yang kuat itu sangat penting. Kakakku saja pernah bilang, kalau ada tembok yang menghalangi, hancurkan saja sampai tidak bersisa.

Aku merangkul bahu Mari yang berdiri di sampingku, dan dia pun membalas dengan memeluk tubuhku.

"...Haa, aku benar-benar bahagia."

"Benar ya... Ah, Kai-kun, ada kabar baik lho!"

"Apa itu?"

"Ukuran dadaku bertambah besar lagi!"

"...A-apa!?"

Apa-apaan... apa dada itu masih terus tumbuh!? Dan lagi, apakah aku sudah dianggap sebagai 'penggila dada' sampai-sampai hal itu diberitahukan kepadaku sebagai kabar baik... Yah, tidak buruk juga sih! Malah itu yang terbaik!

"Ah, mereka bermesraan berdua lagi."

"Ditinggal sebentar saja sudah begini."

"Waa~ maaf, maaf! Aku tidak bermaksud begitu kok!"

"Ahaha..."

Saika dan Emu ikut bergabung, membuat suasana seketika menjadi jauh lebih ramai. Aku hanya bisa tersenyum pahit melihat pemandangan ini. Namun, pemandangan inilah... keberadaan mereka di sisiku inilah, yang paling kuinginkan.

Hei Partner, aku akan terus menjaga pemandangan ini mulai sekarang. Aku akan berusaha keras agar tidak ada seorang pun yang terluka, supaya kamu tidak perlu merasa khawatir dan pulang kembali ke sini. Jadi, tolong awasi kami terus, ya.

"Mari, Saika, Emu—mohon bantuannya mulai sekarang ya."

"Mohon bantuannya juga, Kai-kun♪"

"Sama-sama, mohon bantuannya juga♪"

"Mohon bantuannya ya♪"

Mendengar kata-kataku, mereka semua mengangguk dengan senyum lebar di wajah mereka.

Ingin menjalani hidup harem impian dengan aplikasi hipnotis yang kudapatkan... Mungkin aku pernah berpikir begitu dulu, tapi sekarang hal itu benar-benar menjadi kenyataan.

Jadi, intinya yang ingin kukatakan adalah, aplikasi hipnotis itu memang yang terbaik!




Previous Chapter | ToC | Afterword

0

Post a Comment

close